Sri Nuryanti

USAHATANI TEBU PADA LAHAN SAWAH DAN TEGALAN DI YOGYAKARTA DAN JAWA TENGAH

Abstrak
Penelitian ini merupakan suatu usaha untuk mengkaji aspek finansial, yaitu biaya dan pendapatan usahatani tebu dengan variasi jenis lahan, luas garapan, dan pola tanam. Analisa komparatif dilakukan terhadap biaya dan pendapatan usahatani tebu antara sawah dan tegalan, luas garapan kurang dari satu dan lebih dari satu hektar, serta pola tanam tanam awal dan keprasan. Sampel ditentukan secara sengaja menurut lokasi jenis lahan (Bantul untuk sawah dan Klaten untuk tegalan). Disimpulkan bahwa usahatani tebu di lahan sawah lebih lebih menguntungkan diusahakan pada luasan lebih dari satu hektar dengan pola tanam awal. Sebaliknya di tegalan lebih menguntungkan pada lahan kurang dari satu hektar dengan pola keprasan. Implikasinya, acceleration program akan berhasil apabila diterapkan secara luas dengan pola tanam awal pada lahan sawah. Kata kunci: Tebu, sawah, tegalan, biaya, pendapatan.

Abstract This study was an investigation on financial aspect (cost and benefit) of sugar cane farming within land type using, holding size, and cultivation method variations. Comparative analysis was conducted on cost and benefit between wet and dry field, less and more than a hectare area, and plant cane and ratoon cultivation method. Purposive sampling was performed regarding to field type site (wet field at Bantul and dry field at Klaten). It was concluded that, sugar cane farming in wet field was more feasible done extensively by plant cane method. On the other hand, it was more feasible done on leass than a hectare area by ratoon method. The result implied that acceleration program supposed to be done on large wet field area by plant cane method. Key words: Sugar cane, wet field, dry field, benefit, cost.

PENDAHULUAN
Kemerosotan produktivitas tanaman tebu/gula yang dialami sejak pemberlakuan Inpres nomor 9/1975 tentang program Tebu Rakyat Intensifikasi masih terasa dampaknya sampai saat ini. Tidak

terpenuhinya kebutuhan bahan baku dan berujung pada ditutupnya sepuluh pabrik gula (PG) di Jawa merupakan salah satu bukti nyata bahwa penurunan produktivitas masih tersebut terus berlangsung. Kebijakan baru di sektor usahatani tebu di lahan kering belum sepenuhnya menunjukkan keberhasilan meningkatkan produktivitas tebu/gula. Pencanangan program akselerasi peningkatan produktivitas industri dula nasional dengan rencana kenaikan gula dari 1.8 juta ton tahun 2002 menjadi 3 juta ton pada tahun 2007, kenaikan areal tebu dari 346 000 hektar menjadi 380 000 hektar, dan kenaikan produktivitas gula dari 5 ton menjadi 8 ton tentunya memerlukan angka-angka akurat disertai skenario pencapaian yang layak (Mubyarto, 2003). Berbagai penelitian terhadap komoditas tebu maupun gula sudah banyak dilakukan, mengingat gula merupakan komoditas strategis dan sangat penting peranannya bagi perekonomian Indonesia . Dikatakan demikian karena setiap intervensi pemerintah dalam rangka mengembangkan industri gula perlu diikuti oleh campur tangan pemerintah pada pengembangan usahatani tebu dengan mengikutsertakan lebih banyak petani kecil dalam pengembangan usahatani tersebut. Harapannya pendapatan petani dan kesempatan kerja yang diciptakan dengan adanya pengembangan industri gula lebih merata dinikmati oleh petani (Simatupang, 1999). Kajian usahatani tebu yang telah dilakukan antara lain oleh Rahmat (1992) yang mendeskripsikan profil tebu rakyat di Jawa Timur secara umum bahwa tebu telah diterima petani sebagai komoditas yang memberi harapan sumber pendapatan rumah tangga. Usahatani tebu rakyat cenderung ekstensif dan petani cenderung untuk melakukan pengeprasan secara berulang. Seiring program akselerasi, kelayakan usahatani tebu masih harus terus dikahi guna meyakinkan petani bahwa usahatani tebu masih dapat diharapkan sebagai sumber pendapatan keluarga. Penelitian ini dilakukan untuk melihat kelayakan finansial usahatani dengan cara membandingkan variasi usahatani tebu. Variasi tersebut antara lain lahan beririgasi (sawah) dan bukan irigasi (tegalan), luas garapan sempit (kurang dari satu hektar) dan luas (lebih dari satu hektar), serta pola tanam (tanam awal dan keprasan).

METODOLOGI PENELITIAN
Lokasi dan Responden

Lokasi penelitian ditentukan secara sengaja dengan pertimbangan perbedaan karakteristik jenis lahan, yaitu lahan beririgasi (sawah) terletak di Kabupaten Bantul DI Yogyakarta dan lahan tidak beririgasi (tegalan) terletak di Kabupaten Klaten Jawa Tengah. Berdasarkan jenis lahan, sampel dibedakan menurut pola tanam, yaitu tanam awal dan keprasan. Pengumpulan data dilakukan dengan metode survey. Data biaya dan pendapatan usahatani dikumpulkan melalui wawancara dengan acuan daftar pertanyaan yang telah disiapkan (kuesioner). B. Metode Analisa

dan Py: harga produksi. Biaya saprodi meliputi pembelian bibit. Analisa usahatani dilakukan untuk melihat tingkat pendapatan petani.4% dari total biaya).Data usahatani tebu yang diperoleh dikelompokkan menurut jenis lahan asal responden. Tabel 1. Alokasi terbesar pada biaya saprodi untuk tegalan adalah biaya pembelian pupuk urea. Biaya dan Pendapatan Usahatani Tebu di Lahan Sawah (DI Yogyakarta) dan Tegalan (Jawa Tengah). Y: jumlah produksi. X: jumlah input produksi. pupuk. Petani menggunakan urea agar tanaman menjadi subur. sementara untuk tegalan rata-rata mencapai Rp 1. Petani yang mengusahakan tebu di lahan sawah mengeluarkan biaya yang lebih banyak. Biaya saprodi usahatani tebu di lahan sawah rata-rata mencapai Rp 2 juta/ha (23. Tegalan menunjukkan alokasi biaya biaya lain-lain 17.1% dari total biaya).6% dari total biaya merupakan proporsi biaya sewa lahan. sehingga dapat dihitung rasio pendapatan terhadap biaya (B/C ratio) untuk menentukan kelayakan usahatani tebu yang secara matematis dirumuskan: dan B/C = dengan : keuntungan.5% dari total biaya). Sebanyak 16. 2003 Uraian A Biaya Sawah (n = 26) Nilai % (Rp/Ha) Tegalan (n = 22) Nilai % (Rp/Ha) . Petani umumnya mengairi tanaman tebu di lahan sawah sedikitnya dua kali.5% dari total biaya) dibandingkan Rp 3. Berdasarkan jenis lahan. Usahatani dikatakan layak apabila nilai B/C ratio lebih besar dari satu. Sementara untuk biaya tenaga kerja pada lahan sawah yang memerlukan alokasi lebih besar daripada tegalan antara lain untuk biaya irigasi. sehingga menambah berat tebu. HASIL DAN PEMBAHASAN Sawah vs Tegalan Menurut jenis lahan yang diusahakan untuk tebu secara agregat dihitung biaya dan pendapatan petani di kedua wilayah penelitian (Tabel 1). Px: harga input produksi.2 juta/ha (58. dan pengeluaran biaya produksi. dan pestisida. Pengeluaran biaya tenaga kerja untuk lahan sawah juga relatif lebih tinggi daripada untuk tegalan.2% dari total biaya. yaitu Rp 5.3 juta/ha (24. Selain perbedaan pola tanam secara agregat dibandingkan skala usahatani tebu menurut luas garapan. dibedakan menurut pola tanamnya.5 juta/ha (63.

601.995422) dibandingkan di lahan sawah. Karena pola keprasan lebih menguntungkan.7% dari total biaya.013 8. sementara pada pola keprasan cukup melakukan penggantian pada tanaman yang mati (penyulaman).431. tersirat bahwa biaya sewa lahan sawah lebih mahal daripada tegalan.5 13.003 3.148.794032 23. yaitu tanam awal dan keprasan.402.829.462.6% dari total biaya. Karena pada pola tanam awal diperlukan biaya penanaman untuk budidaya. dengan cara sewa pun usahatani tebu masih menguntungkan kalau dilakukan dengan pola keprasan.172.5 17.992 10.3% dari total biaya.5 Sumber: Data primer.934 1.717 5.323.145 1. Pola keprasan lebih banyak dilakukan di wilayah Yogyakarta . maka pola ini lebih dipilih petani di lahan sawah. Tanaman yang baru tumbuh memerlukan pemeliharaan yang lebih intensif. Sementara dengan melihat perbandingan alokasi biaya.348 5.4 58. Artinya.851 1. Biaya tenaga kerja untuk pola tanam awal mencapai 70.426. Tabel 2. Berdasarkan data tersebut dapat dikatakan bahwa tebu lebih banyak diusahakan petani penyewa lahan. Catatan: rendemen sawah 6. Biaya saprodi pada pola tanam awal mencapai 28. Selain alasan mahalnya biaya bibit untuk pola tanam awal.995422 24.581 15.515 6. Karena usahatani tebu di lahan sawah dengan pola tersebut masih lebih menguntungkan dibandingkan dengan pola tanam awal (Tabel 2). DI Yogyakarta). 2003 (diolah). biaya yang harus dikeluarkan untuk upah tenaga kerja selama budidaya tebu juga lebih besar. yaitu sebesar 1. Tanam Awal vs Keprasan Tebu yang diusahakan di Yogyakarta meliputi dua pola tanam.Saprodi Tenaga Kerja Lain-lain TOTAL B Pendapatan C Keuntungan B/C Ratio 1.4% dari total biaya. 2003. sehingga kegiatan penyiangan juga harus lebih intensif dilakukan pada tanam awal. sehingga lebih sedikit proporsi petani yang menyewa sawah daripada tegalan. sementara untuk pola keprasan hanya 56. Perbedaan pengeluaran yang cukup besar terjadi pada biaya upah tenaga kerja.4 1.9% dari total biaya).643 931.3 100 79.990. .2 100 99. meskipun lahan yang diusahakan diperoleh dengan cara menyewa (pengeluaran sewa lahan 20. Artinya usahatani tebu di tegalan lebih menguntungkan dibandingkan di lahan sawah.05 dan rendemen tegalan 6.794032. Biaya dan Pendapatan Usahatani Tebu Tanam Awal dan Keprasan di Lahan Sawah (Bantul.5% dari total biaya.1 Sementara pada lahan sawah biaya sewa lahan sebesar 12.137 5. sementara untuk pola keprasan hanya 22.829.1 63. Nilai B/C ratio usahatani tebu di tegalan lebih besar (1.

992. dan iuran.003 4. Besarnya pendapatannya ini sangat terkait dengan tingkat rendemen tebu yang dihasilkan.3 100 79.2% dari biaya). Produktivitas tebu yang ditanam sejak awal rata-rata sebesar 954 ku tebu/ha.5 juta/ha (65.087 1.130 28.3 21.2% dari .902. pajak. Biaya usahatani tebu di tegalan yang diusahakan dengan pola tanam awal. Nilai B/C ratio usahatani tebu di lahan sawah dengan pola tanam awal lebih kecil (1.750 100 16. Fenomena ini menunjukkan bahwa usahatani tebu dengan pola keprasan dilakukan para petani bermodal yang mengusahakannya secara luas (skala besar) dengan menyewa lahan petani lain karena dianggap menguntungkan.4%) dialokasikan untuk biaya sewa.6 juta/ha (79.823. sisanya (21.Uraian A Biaya Saprodi Tenaga Kerja Lain-lain TOTAL B Pendapatan C Keuntungan B/C Ratio Tanam Awal (n = 10) Keprasan (n = 16) Nilai % Nilai % (Rp/Ha) (Rp/Ha) 2.119 0. Artinya. dan pajak) bahkan kurang dari satu% dari total biaya. Biaya pembelian bibit mencapai 16% biaya dari total biaya. sementara tebu yang dikepras sebesar 917 ku tebu/ha. Catatan: Rendemen tanam awal = 6. yaitu sebesar 1.399.9 9.567.4 juta per hektar.656058) daripada keprasan.6 1.656058 1. 2003 (diolah).0 dan keprasan = 6.295.496.6% dari total biaya.791691.2 Sumber: Data primer.5 6. Terdapat penghematan biaya bibit dan tenaga kerja. Namun dalam perhitungan keuntungan. Berdasarkan analisa cost benefit dari kedua pola tanam tebu di lahan sawah. Hal ini menunjukkan pola tanam awal di lahan sawah umumnya dilakukan oleh petani pemilik penggarap. sehingga keseluruhan biaya tercurah pada budidaya tanaman.791691 22. rata-rata keuntungan pola tanam awal lebih rendah.098 6. Sementara biaya di luar itu (sewa. Artinya usahatani tebu di lahan sawah lebih menguntungkan diusahakan secara keprasan.3 juta/ha. sementara pada pola keprasan pendapatannya sebesar Rp 14.069 8. tampak bahwa biaya usahatani tebu pola keprasan di Yogyakarta rata-rata sebesar Rp 9.854.939 1. Sementara pada pola tanam keprasan biaya saprodi dan tenaga kerja hanya sebesar 78.9 juta/ha.668.501 70. Pendapatan usahatani tebu pola tanam awal rata-rata sebesar Rp 16. pola keprasan lebih menguntungkan untuk dilakukan di lahan sawah. maka petani hanya membutuhkan sembialan% dari total biaya untuk mengganti tanaman yang mati apabila mempraktekkan pola keprasan. Secara finansial terdapat kecenderungan yang sama pada usahatani tebu di tegalan di daerah Klaten (Tabel 3). yaitu sebesar Rp 6.862.1 Alokasi biaya untuk saprodi dan tenaga kerja pada pola tanam awal mencapai 99. iuran.011 14.1 persen.774 65.6% dari biaya).6 87.772. sementara untuk pola keprasan sebesar Rp 6. Apabila diasumsikan petani menggunakan dosis yang sama untuk pupuk dan pestisida pada pola tanam awal dan keprasan.9 juta per hektar.524 6. 21.4 56. sementara dengan sistem keprasan hanya Rp 8.

Alokasi biaya tersebut. 2003 Uraian A Biaya Saprodi Tenaga Kerja Lain-lain TOTAL B Pendapatan C Keuntungan B/C Ratio Tanam Awal (n = 2) Nilai % (Rp/Ha) 1.2 Keprasan (n = 20) Nilai % (Rp/Ha) 1.165 3. maka diperlukan urea agar tanaman tebu tumbuh subur.361519 21. Petani berpendapat. meskipun sudah melampaui batas intensitas yang .152. Artinya.724.1 Perbedaan alokasi biaya untuk tenaga kerja pada kedua pola tanam di tegalan tidak cukup signifikan.906 824.002. Berbeda dengan petani di lahan sawah. Persentase sebesar itu.375 4.9% dari total biaya.7 juta per hektar.3% dialokasikan petani untuk membeli pupuk urea.375 11. Secara umum. Pola tanam awal memerlukan 55. Hal ini ditunjukkan dengan besarnya alokasi biaya sebesar sewa sebesar 22. sehingga beratnya bertambah.1 juta/ha.9% dari total biaya.619 5. guludan. Jawa Tengah).5% digunakan untuk membeli bibit. karena tegalan tidak subur.316 3.8% dari total biya.874. Perbedaan biaya yang cukup besar tersebut merupakan faktor pendorong petani untuk lebih sering melakukan keprasan. usahatani tebu dengan pola tanam awal pada tegalan di wilayah Kabupaten Klaten rata-rata memerlukan biaya sebesar Rp 8. sementara untuk pola keprasan rata-rata mencapai Rp 5. Tabel 3.total biayanya digunakan untuk penyediaan saprodi. Biaya penyediaan saprodi untuk pola keprasan justru mencapai 24.4 Sumber: Data primer.721.270. Catatan: Rendemen tanam awal = 6. 2003 (diolah).000 8. sehingga hanya petani yang mempunyai cukup modal yang tertarik untuk mengusahakannya. 9. meskipun dengan cara menyewa lahan.2 100 110.0 dan keprasan = 6. Biaya dan Pendapatan Usahatani Tebu Tanam Awal dan Keprasan di Tegalan (Klaten.9 16. umumnya dilakukan dengan mempersiapkan got.9% dari total biaya pada pola tanam awal dan 15.2 55.000.0 100 36. sifat usahatani tebu yang intensif memerlukan biaya yang besar.097.9 58.000 2.8 23.851.627.553 10.941 1. dan bedengan sebagai sarana drainase dan media tanam.103876 24.066 2.482 5.870. Perbedaan alokasi biaya yang cukup besar terjadi pada kegiatan pengolahan tanah. petani lahan kering umumnya adalah petani penyewa penggarap.6% dari total biaya pada pola keprasan. 5. Pola tanam awal. sementara untuk pola keprasan memerlukan 58.

934 954 917 912 886 935 1. Produktivitas tanam awa pada tegalan ratarata sebesar 713 ku tebu/ha. Baik pada lahan sawah maupun tegalan. Tabel 4.2% dari biaya) sementara pada pola keprasan keuntungan rata-rata mencapai Rp 5. yaitu Rp 11. Nilai B/C ratio usahatani tebu di tegalan dengan pola tanam awal jauh lebih kecil (1.098 7. Berdasarkan pola tanam (awal dan keprasan) diketahui bahwa produktivitas tanaman awal baik yang diusahakan di lahan sawah maupun lahan kering rata-rata lebih tinggi daripada tanaman keprasan ke-1 sampai dengan ke-3. pola tanam awal mempunyai produktivitas yang relatif lebih tinggi.567.88 1.601. Sehubungan dengan hal tersebut. Seperti disebutkan di muka.399. maka berimplikasi pada nilai keuntungan pola tanam awal justru lebih rendah.502 6. Berdasarkan Tabel 2 dan 3 diketahui bahwa komponen biaya usahatani tebu baik di lahan sawah maupun tegalan dengan pola tanam awal maupun keprasan alokasi biaya tenaga kerja mencapai lebih dari 50% dari total biaya.79 Lahan sawah • Tanam awal 9. Tingkat produktivitas tebu harus diperhatikan. Perbandingan Biaya Usahatani Tebu Tanam Awal dan Keprasan di Yogyakarta (Sawah) dan Jawa Tengah (Tegalan).750 16.direkomendasikan.431.571 14. yaitu sebesar Rp 3.073 7. Terdapat kecenderungan semakin sering dikepras maka produktivitasnya akan semakin turun.87 1.9 juta/ha dibandingkan Rp 10.4% dari biaya). sebagian besar petani bahkan melakukan keprasan lebih dari tiga kali karena masih menguntungkan.869.936.862.496.650 6.581 15. usahatani tebu di tegalan jauh lebih menguntungkan diusahakan dengan keprasan. 2002).66 1. sementara keprasan rata-rata sebesar 646 ku tebu/ha. bahwa penurunan produktivitas tiap kali kepras mencapai 20% dari produktivitas tanaman sebelumnya (P 3GI.366 14.79 1.295. Namun karena biaya pola tanam juga lebih tinggi.524 • Keprasan 8.361519) dibandingkan pola keprasan. dan keprasan lebih dari tiga kali (Tabel 4).774 6.103876. 1991).829.862. 2003 Sistem Tanam Biaya (Rp/Ha) Pendptan Keuntungan Produktvtas(Ku/Ha) B/C (Rp/Ha) (Rp/Ha) Ratio 6.876.6 juta/ha (110.7 juta/ha.017 Kepras 1-3 8. Tingginya komponen biaya tersebut merupakan petunjuk bahwa efisiensi penggunaan tenaga kerja merupakan faktor penting dalam usaha peningkatan keuntungan usahatani tebu (Irawan dan Budiman.806.011 14.2 juta/ha (36.087 6. yaitu sebesar 2.515 Kepras > 3 Rata-rata sawah Tegalan . Seperti halnya di lahan sawah. Hal ini berpengaruh pada pendapatan pola tanam awal menjadi lebih tinggi daripada pola keprasan.902.739.

097. Namun produktivitas tebu di tegalan jauh lebih rendah dan berbeda nyata dibandingkan tebu lahan sawah. kepras ke-1 sampai dengan ke-3. yaitu sebesar 2.081.941 5. karena dapat menghemat biaya bibit.316 Keprasan 5. Produktivitas tebu di lahan sawah untuk tanam awal. yaitu sebesar 1.27.464 11. maka produktivitas rata-rata tebu sawah menjadi rendah (Soentoro. Sempit (< 1 Ha) vs Luas (>1 Ha) Luas lahan yang diusahakan (garapan) untuk tanaman tebu menunjukkan skala usaha yang dikuasasi petani. apabila proporsi tebu keprasan semakin besar. Selain itu luas garapan juga menentukan tingkat efisiensi penggunaan saprodi.64 Rata-rata tegalan Sumber: Data primer.874. 2003 (diolah).Tanam awal 8.874. Seperti halnya pada lahan sawah.342 5. Luas garapan sangat menentukan pendapatan petani dalam mengusahakan tebu (Irawan dan Budiman.79) lebih besar daripada tegalan (1.721.468 Kepras > 3 • • 3.253. Secara teoritis penggunaan input yang sama dengan variasi yang proporsional terhadap luas lahan akan mengarahkan pada suatu keadaan yang memenuhi persyaratan fungsi produksi yang merupakan fungsi homogen berderajat satu (constant return to scale. 1991). dan meningkatkan kelayakan usahatani tebu dibanding tanaman non tebu. Keuntungan yang lebih tinggi pada tebu keprasan merupakan salah satu faktor yang mendorong petani tegalan untuk mengepras tebunya berulang kali.782. Biaya.167 Kepras 1-3 6. 1999).10 2.724. dan transportasi. 1999). maka secara agregat akan menurunkan produktivitas tebu (Soentoro. dan 489 ku tebu/ha. secara agregat.619 5.899 10. Menurut Soentoro et al.446.553 10.88.825 11. lahan sawah menunjukkan kelayakan usahatani terbesar pada pola keprasan lebih dari tiga jkali. et al. CRT). Usahatani tebu yang mempunyai skala usaha yang berkarakteristik demikian masih akan memberi pertambahan hasil yang semakin meningkat (Debertin. (1999).299.567 4. Rata-rata produktivitas tebu lahan sawah secara agregat adalah 935 ku tebu/ha. kepras ke-1 sampai dengan ke-3.066 4.627. 1986). tenaga kerja. 912. Apabila proporsi tebu lahan kering semakin besar. pengolahan tanah dan waktu. Meskipun di lahan sawah tebu tanam awal mempunyai produktivitas lebih tinggi daripada tebu keprasan.27 1.64).316 4.36 2. et al.390. nilai . Produktivitas tebu tanam awal dan kepras di lahan sawah relatif sama.152. Sementara produktivitas tebu di tegalan untuk tanaman awal. kelayakan usahatani terbesar diperoleh pada keprasan lebih dari tiga kali.004 713 463 609 489 588 1. dan 886 ku tebu/ha. 609.24 2. dan kepras lebih dari tiga masing-masing 713.375 11.298. dan kepras lebih dari tiga masing-masing 954. Namun. apabila usahatani tebu tanam awal pada satu jenis lahan diteruskan dengan tebu kepras maka akan semakin kompetitif terhadap tanaman alternatifnya.909. Berdasarkan nilai B/C ratio. kelayakan usahatani tebu lahan sawah (1.

dan pendapatan petani menurut luas garapan di lahan sawah dan tegalan di DI Yogyakarta dan Jawa Tengah dirangkum dalam Tabel 5.170 6. meningkat produktivitasnya karena ketersediaan irigasi yang lebih terjamin maupun kualitas bibit yang lebih baik.363.produksi.3%. tampak jelas apabila dibandingkan antara tanaman tebu tanam awal di lahan sawah dan tanaman tebu keprasan di tegalan. Sementara pada tebu keprasan di tegalan.443. mengalami penurunan pendapatan sebesar 10. luas garapan lebih dari satu hektar akan menunjukkan ekonomi skala usaha menurun.1%. untuk meningkatkan luas garapan tebu dari kurang menjadi lebih dari satu hektar diperlukan tambahan biaya sebesar 44.161 2. kelayakan perluasan skala usaha tersebut secara agregat meningkat sebesar 51%.349.828 14.74).4%.8 -10. yang akan meningkatkan pendapatan sebesar 23.403.1 0.625 11. 2003 Jenis lahan Biaya (Rp/Ha) Pendapatan Keuntungan B/C Ratio (Rp/Ha) (Rp/Ha) Lahan Sawah < 1 Ha 9.3 0.959.97 Perubahan -20.516.97) daripada luas garapan kurang dari satu hektar (1. maka akan menghemat biaya sebesar 20. 1. Artinya. Usahatani tebu yang memiliki produktivitas masukan lebih tinggi.429.261 5. 2003 (diolah). Tabel 5 menunjukkan nilai B/C ratio usahatani tebu di lahan sawah dengan luas garapan lebih dari satu hektar lebih tinggi (1.629.1% dan keuntungan sebesar 5. Sejalan dengan hasil penelitian Irawan dan Budiman (1991). Tabel 5.464.281.167.186. dan akhirnya masih memperoleh tambahan keuntungan sebesar 3. Sementara.636 1. .6 3. kondisi ekonomi skala usaha pada dasarnya terjadi karena perbedaan produktivitas masukan usahatani yang dapat disebabkan oleh pengaruh ketersediaan irigasi atau kualitas bibit yang digunakan. Biaya dan Pendapatan Usahatani Tebu Menurut Luas Garapan DI Yogyakarta (Sawah) dan Jawa Tengah (Tegalan). Apabila petani mengusahakan lahan kurang dari menjadi lebih dari satu hektar.52 (%)* Sumber: Data primer.74 > 1 Ha 7.86 Perubahan 44. * : Perubahan dari skala usaha kurang dari menjadi lebih dari satu hektar Menurut Irawan dan Budiman (1991).854 7.19 > 1 Ha 6. Secara agregat kelayakan usaha penambahan skala usahatani tebu tegalan meningkat sebesar 52%.8%. Tanaman tebu tanam awal di lahan sawah yang berproduktivitas lebih tinggi daripada tebu keprasan di tegalan.1 5.344 5.6%.705 16. Luas garapan lebih dari satu hektar dengan pola tanam awal masih dapat memperlihatkan ekonomi skala usaha yang meningkat.51 (%)* Tegalan < 1 Ha 4.025 1.4 23. ekonomi skala usaha yang masih menguntungkan akan terjadi pada ukuran usahatani yang lebih luas.711.183 9.

petani hanya menggunakan pucuk tebu dan jarang menggunakan bibit baru dengan alasan lebih murah. Dosis pemupukan tebu yang dilakukan petani di lokasi penelitian masih 20–45% di bawah dosis anjuran. sehingga kualitas tebu yang dihasilkan juga tidak dapat dipertanggungjawabkan untuk mengatasi penurunan kualitas dan kuantitas yang berdampak pada produktivitas tebu yang dihasilkan. Selain itu. KCl sebesar 126 kg/ha (63%). sementara tegalan rata-rata Rp 5. dan 200 kg/ha SP-36.5%). Dosis pemupukan tebu yang dianjurkan adalah 800 kg/ha ZA.Namun petani melakukan keprasan lebih dari empat kali bahkan sampai sepuluh kali. baik di Yogyakarta maupun di Klaten. sementara tegalan hanya 650 ku tebu/ha. Penurunan produktivitas tiap keprasan mencapai 20% dari produktivitas tanaman awal (P 3GI. Intensitas keprasan yang melebihi batas rekomendasi disertai penggunaan pucuk tebu untuk penyulaman akan menambah ketidakmurnian sifat bibit asli. Petani justru menggunakan pupuk urea dengan maksud untuk menambah berat tebu dan meningkatkan rendemen. terdapat beberapa hal yang menyebabkan produktivitas tebu menjadi rendah. ZA sebesar 702 kg/ha (87. dosis pemupukan yang dilakukan petani tebu di Klaten sebesar 55% dari dosis anjuran.8%). Berdasarkan kumulatif dosis yang dianjurkan petani tebu di Yogyakarta hanya menggunakan 79. dan SP-36 127 kg/ha (63. karena total biaya usahatani tebu di lahan sawah lebih tinggi daripada di tegalan. Secara kumulatif. Luas blok tebu tanam awal di lahan sawah hendaknya berukuran lebih luas daripada di tegalan. Berdasarkan produktivitas lahan. Namun. Sementara petani di Klaten rata-rata memupuk tanaman tebu di tegalan dengan dosis urea sebesar 100 kg/ha. Secara teoritis sistem kepras yang direkomendasikan hanya sampai dengan tanaman kepras ketiga atau keempat. masih rendahnya penggunaan bibit baru oleh petani.8 juta per hektar. 200 kg/ha KCl. Artinya. Pertama. usahatani tebu di lahan sawah lebih intensif dan padat modal dibandingkan usahatani tebu di tegalan. Hal ini berpengaruh terhadap pendapatan dan keuntungan.Usahatani tebu tanam awal pada lahan sawah memiliki ekonomi skala usaha yang lebih baik daripada usahatani tebu keprasan. KCl sebesar 90 kg/ha (45%). usaha mengelompokkan lahan para petani menjadi satu blok tanaman tertentu yang merupakan basis kegiatan usahatani tebu dapat diraih manfaat ekonomi skala usaha secara optimal.4 juta/ha.6% dari dosis anjuran. ZA sebesar 472 kg/ha (59%). 2002). kenyataanya berat maupun rendemen yang diharapkan tidak meningkat. Artinya.4% dari biaya). Sebagian besar petani mengusahakan tebu dengan pola keprasan. Secara umum. Berdasarkan nilai keuntungan tampak bahwa keuntungan usahatani tebu tegalan lebih tinggi (99. ditunjukkan oleh produktivitas tebu yang semakin menurun. Namun. Usahatani tebu lahan sawah rata-rata keuntungannya sebesar Rp 6. dalam kegiatan penyulaman. sehingga berakibat pada penurunan produktivitas. meskipun dilakukan pada ukuran usahatani (luas garapan) yang lebih luas.5% dari biaya) dibandingkan lahan sawah (79. lahan sawah dapat menghasilkan 930 ku tebu/ha. Petani di Yogyakarta rata-rata memupuk tanaman tebu di lahan sawah dengan dosis urea sebesar 586 kg/ha. Penyebab kedua adalah kegiatan pemupukan yang dilakukan petani untuk tebu di lokasi penelitian sangat rendah dibandingkan dosis pupuk yang dianjurkan. dan SP-36 sebesar 100 kg/ha (50%). maka keuntungan di tegalan justru lebih tinggi. .

Berdasarkan skala usahatani. p = positip. KESIMPULAN DAN IMPLIKASINYA Berdasarkan pembahasan di muka. Tabel 6. . Dukungan program dana talangan harus terus dipertahankan untuk memberi insentif bagi petani tebu yang menyediakan bahan baku industri gula Indonesia . Kenyataan pada petani dan temuan empiris kelayakan usaha ini bertolak belakang dengan teori yang direkomendasikan P 3GI. dapat disusun suatu tabel rangkuman perbandingan nilai B/C ratio berbagai variasi sebagai disajikan pada Tabel 6.Berdasarkan pembahasan di muka. Namun. Artinya. target akselerasi dapat dicapai dengan tingkat produktivitas tanaman yang baik dan ketersediaan sarana irigasi yang memenuhi. secara umum peningkatan skala usaha pada lahan sawah lebih menguntungkan dibandingkan tegalan dan dapat meningkatan kelayakan finansial lebih dari 50%. Berdasarkan pola tanam. Pemilihan Kategori Usahatani Tebu Luas Garapan Sempit (< 1 Ha) Pola Tanam Tanam awal• Keprasan• Kepras 1-3 Kepras > 3 Rata-rata Tanam awal• Keprasan• Kepras 1-3 Kepras > 3 Rata-rata Sawah np nn nn nn np pp pn pn pn pp Tegalan pn pp pp pp pn nn np np np nn Luas (> 1 Ha) Keterangan: n = negatip. khususnya apabila diusahakan dengan pola tanam awal pada skala usaha lebih dari satu hektar. tanaman keprasan lebih menguntungkan diusahakan baik di lahan sawah maupun tegalan dengan skala usaha kurang dari satu hektar. Berdasarkan Tabel 6 diketahui bahwa menurut jenis lahan usahatani tebu di lahan sawah secara umum lebih menguntungkan daripada tegalan. Secara umum peningkatan skala usaha akan lebih menguntungkan dilakukan pada lahan sawah dan dapat meningkatan kelayakan finansial lebih dari 50%. dapat disimpulkan bahwa menurut jenis lahannya usahatani tebu di lahan sawah secara umum lebih menguntungkan daripada tegalan. khususnya apabila diusahakan dengan pola tanam awal pada skala usaha lebih dari satu hektar. Implikasi dari kesimpulan di muka dikaitkan dengan program akselerasi pergulaan adalah usahatani tebu harus diusahakan secara luas atau ekstensif pada lahan sawah dengan pola tanam awal. baik di lahan sawah maupun tegalan. berdasarkan pola tanam. keprasan lebih menguntungkan dan layak diusahakan bahkan lebih dari tiga kali pada skala usaha kurang dari satu hektar.

100 juta. Klaten Dalam Angka Tahun 1998–2001.. D.Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Macmillan Publishing Co. N. Keunggulan Komparatif. Ekonomi Gula di Indonesia. Agricultural Production Economics. BPS Kabupaten Klaten. 1999. 1999. Isma’il. LPP Yogyakarta. 1991.L. 21 – 68. Hal 3-14. Simatupang. ISTECS Journal. Novi I. Nomor 1 dan 2.. Penelitian Kebijakan untuk Mendukung Akselerasi Peningkatan Produktivitas Industri Gula Nasional. Badan Pusat Statistik. 16 Juli 2003. Hal. 1999. dan Budiman H. Mubyarto. Oleh: Sri Nuryanti -. I. 1998–2001. Struktur Proteksi dan Perdagangan Internasional. Hal. 1986. Irawan. Makalah disampaikan pada Workshop Strategi Penelitian dan Pengembangan untuk Memacu Program akselerasi Peningkatan Produktivitas Industri Gula Nasional. M. dan Ali A. 1999. Peningkatan Industri Daya Saing Gula Nasional Sebagai Langkah MenujuPersaingan Bebas. 2/ Okt 1992. Abdul Muis SA.N. Yogyakarta Dalam Angka 1998–2001. Hal. 2003. IPB. Usahatani dan Tebu Rakyat Intensifikasi di Jawa. JAE. II/ No...M.. Rusastra. Farida Liestijati. P. 05/06/2010 .DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik. Oktober 1991. 2001. Bogor >> Tulis komentar anda. dapat utk kelola Sat. 1999. BPS Propinsi DI Yogyakarta. Ekonomi Gula di Indonesia. Soentoro. Analisis Efisiensi Penggunaan Masukan dan Ekonomi Skala UsahaTani Tebu di Jawa Timur. Amsari. B. Keterkaitan antar Industri dan Peranannya dalam Perekonomian Nasional. Debertin. 427 – 479. IPB. IPB. Hal. 1997–2002. 73 – 90. Nizwar S. 69 – 130. Rahmat. JAE Vol. Volume 10. II (2001).W. Ekonomi Gula di Indonesia.01:13 — Entrepreneur anggito (not verified) . 39 – 57. Achmad S. Profil Tebu Rakyat di Jawa Timur. Hal.

Sampai sekarang kita masih mengimpor komoditas seperti kedelai dan gula. setahun dpt 110 jt dong enak kan. 1 kotak dpt 3jt. jadi 3 jt X 7 X 10 = 210 jt. bisa kerjasam itu loh. Untuk prodiksi gula nasional harusnya mendapat perhatian menilik besarnya potensi yang dimiliki bangsa ini untuk mewujudkan swasembada gula.100 juta. . 1 ha = 7 kotak. 18 Maret 2011 BUDIDAYA TANAMAN TEBU Artikel Pertanian: TANAMAN TEBU ( Saccharum officinarum ) Indonesia adalah negara yang mempunyai areal lahan yang sangat luas sekali. kalo ada hub dong. dapat utk kelola lahan tebu 10 ha. Jika melihat trend saat ini yang mengedepankan bio energi seharusnya sudah mulai digalakkan penanaman tebu. Propinsi Jawa Timur termasuk salah satu propinsi di Pulau Jawa yang melaksanakan program akselerasi produktivitas gula nasional yang dicanangkan oleh Departemen Pertanian. ) Jumat. udah penuh nih. Kita bisa menilik apa yang telah dilakukan Pemerintah Jawa Timur dalam menjalankan program ini. di kudus. sayangnya kita belum memaksimalkan potensi pertanian dan perkebunan. ada nggak yang nawari lahan utk ditanam tebu. Tebu sebagai bahan baku pembuat gula masih terbelengkalai dalam pelaksanaanya. Tetes tebu yang merupakan produk dari tebu ini bisa dijadikan sebagai bahan baku biofuel.

PB 851. NPK. PS 863. modal. BZ 132. PS 851 dan PB 861. pemeliharaan. SP-36. Tingkat suku bunga pinjaman petani sebesar 16%/tahun. Daya Saing Finansial dan Ekonomi Usahatani Tebu Justifikasi yang digunakan untuk menganalisis daya saing finansial dan ekonomi usahatani tebu seperti berikut : 1. namun karena dana pinjaman yang diterima petani tidak sekaligus tetapi menurut jenis kegiatan (pengolahan tanah. PS 801424. Di Jawa Timur.pupuk organik dan bibit termasuk barang non tradable (domestik). KCL. PS 861. Pemupukan sebagai salah satu usaha peningkatan kesuburan tanah. Berdasarkan ini. Kombinasi jenis dan jumlah pupuk yang digunakan berkaitan erat dengan tingkat produktivitas dan rendemen tebu. namun sebagian besar petani telah menanam padi yang dihasilkan oleh P3GI. Program bongkar ratoon menjadi dambaan petani untuk mengganti varietas tanaman tebunya. swasta dan pihak PG sendiri. sedangkan tenaga kerja. tebang muat dan angkut (TMA) dan lainnya maka untuk suku bunga yang digunakan untuk perhitungan secara privat sebesar 8 persen. PS 80142. Salah satu dampak dari program ini. Produktivitas tanaman tebu dipengaruhi oleh berbagai faktor tidak hanya tipe lahan (sawah/tegalan) tetapi juga penggunaan sarana produksi dan teknik budidayanya. Walaupun terdapat bibit tebu yang berasal dari Luar negeri seperti Taiwan. sedangkan varietas yang sudah banyak ditanam oleh petani yaitu varietas Triton. sewa lahan.rekomendasi pemberian macam dan jenis pupuk harus didasarkan pada kebutuhan optimum dan terjadinya unsur hara dalam tanah disertai dengan pelaksanaan pemupukan yang efisien yaitu waktu pemberian dan cara pemberian. 2. pada jumlah dan kombinasi tertentu dapat menaikkan produksi tebu dan gula. Varietas yang sedang dikembangkan di Propinsi Jawa Timur yaitu varietas PS 862. . herbisida dan insektisida termasuk barang tradable (asing).Dengan kegiatan utama pembongkaran eks tanaman tebu ratoon dan pembangunan kebun bibit tebu. Pupuk urea. banyak dijumpai petani yang melakukan bongkar ratoon tanaman tebu dan diganti dengan bibit tebu yang berkualitas terutama yang dihasilkan oleh P3GI.

4. 3.5 juta – 8 juta per hektar. KCL : 120 US$/ton dan SP-36 : 193. Selain itu justifikasi untuk harga gula dan pupuk yang digunakan dalam analisis sebagai berikut : berdasarkan Commodity Price data Pinksheet yang dikeluarkan oleh World Bank Development Prospects menunjukkan bahwa harga gula rata-rata sebesar 170. Usahatani tebu di Propinsi Jawa Timur secara finansial menguntungkan. lebih tinggi daripada di lahan tegalan. pupuk urea : 210. nilai output.3. 5 juta per hektar. Harga sosial untuk pestisida dan herbisida sebesar 80 persen dari harga aktual di masing-masing lokasi penelitian. Pengurangan 20 persen merupakan tarif impor (10%) dan pajak pertambahan nilai (10%). ZA : 222. 2. Keuntungan Finansial dan Ekonomi Usahatani Tebu Keuntungan finansial (privat) merupakan indikator daya saing (competitiveness) dari sistem komoditas berdasarkan teknologi. tipe lahan dan tipe bibit.5 juta. Ratarata keuntungan sebesar Rp 2. keuntungan usahatani tebu yang ditanam pada lahan tegalan lebih tinggi daripada di lahan sawah dan pada tanam awal lebih tinggi daripada kepras.83 US$/ton.5 juta sampai Rp. Sistem usahatani tebu disemua lokasi mampu membayar korbanan biaya domestik yang efisien .3 US$/ton. Pertanaman tebu di Indonesia masih diusahakan di lahan sawah irigasi teknis. sawah tadah hujan dan lahan kering (tegalan). Rata-rata produktivitas tebu di lahan sawah mencapai lebih dari 100 ton per hektar.2. Kesimpulan 1. Tingkat keuntungan usahatani tebu bervariasi antar wilayah. biaya input dan transfer kebijakan yang ada. Kebijakan input yang diterapkan oleh pemerintah . Sedangkan keuntungan ekonomi (sosial) merupakan indikator keunggulan komparatif (comparative advantage) atau efisiensi dari sistem komoditas pada kondisi tidak ada distorsi pasar dan kebijakan pemerintah.8 US$/ton. Keuntungan ini akan lebih besar apabila dihitung dengan sewa lahan yang mencapai sekitar Rp.8 juta per hektar. Sewa lahan di Kabupatan Madiun dan Kediri lebih mahal dibandingkan dengan di Kabupaten Malang dan Jember. yaitu berkisar Rp 4 juta – Rp 5 juta/ha.37US$/ton. Rata-rata keuntungan usahatani tebu bekisar antara Rp. 2.Rp. Proporsi biaya tenaga kerja dan sewa lahan usahatani tebu di lahan sawah dan tegalan di Jawa Timur mencapai sekitar 70 persen terhadap total biaya usahatani tebu.Terdapat kecenderungan.

b) Tanaman tumbuh baik pada daerah beriklim panas dan lembab. (3) bibit rayungan dan (4) bibit siwilan a) Bibit pucuk Bibit diambil dari bagian pucuk tebu yang akan digiling berumur 12 bulan. Iklim a) Hujan yang merata diperlukan setelah tanaman berumur 8 bulan dan kebutuhan ini berkurang sampai menjelang panen. Media Tanam a) Tanah yang terbaik adalah tanah subur dan cukup air tetapi tidak tergenang b) Jika ditanam di tanah sawah dengan irigasi pengairan mudah di atur tetapi jika ditanam di ladang/tanah kering yang tadah hujan penanaman harus dilakukan di musim hujan. pertumbuhan bibit pucuk tidak memerlukan banyak air. II. bibit mudah diangkut karena tidak mudah rusak. Kelembaban yang baik untuk pertumbuhan tanaman ini > 70% c) Suhu udara berkisar antara 28-34 derajat C. Ketinggian Tempat Ketinggian tempat yang baik untuk pertumbuhan tebu adalah 5-500 m dpl. Daun kering yang membungkus batang tidak dibuang agar melindungi mata tebu. (2)bibit batang muda. Berasal dari tanaman berumur 5-7 bulan. SYARAT PERTUMBUHAN 1. 1.3. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA 2. Pembibitan Bibit yang akan ditanam berupa (1) bibit pucuk. Selain itu. b) Bibit batang muda Dikenal pula dengan nama bibit mentah / bibit krecekan. 1. harga jual gula yang dinikmati oleh petani lebih tinggi sekitar 35 – 40 persen dari harga jual gula seharusnya. Penggunaan bibit pucuk hanya dapat dilakukan jika kebun telah berporduksi.2. Biaya bibit lebih murah karena tidak memerlukan pembibitan.1. Jumlah mata (bakal tunas baru) yang diambil 2-3 sepanjang 20 cm.1.memberikan insentif bagi petani tebu berupa harga input yang dibayar petani hanya setengah dari harga input seharusnya. Seluruh batang tebu dapat diambil dan dijadikan .

000 m2. d) Bibit siwilan Bibit ini diambil dari tunas-tunas baru dari tanaman yang pucuknya sudah mati. Tanah galian ditumpuk di atas larikan diantara lubang tanam membentuk guludan. Setiap stek terdiri atas 2-3 mata tunas. 2. melintang dibuat dengan lebar 50 cm dan dalam 50 cm. b) Lubang tanam dibuat berupa parit dengan kedalaman 35 cm dengan jarak antar lubang tanam (parit) sejauh 1 m. Teknik Penanaman 2. Pembukaan Lahan a) Pada lahan sawah dibuat petakan berukuran 1. 2.1. Parit membujur.3. Pada cara ini tanah tidak seluruhnya diolah. 3. Bibit ini dibuat dengan cara: 1. Kelemahan bibit rayungan adalah tunas sering rusak pada waktu pengangkutan dan tidak dapat disimpan lama seperti halnya bibit bagal.2.1. Batang tanaman tebu dipangkas 1 bulan sebelum bibit rayungan dipakai. Penentuan Pola Tanam Umumnya tebu ditanam pada pola monokultur pada bulan Juni-Agustus (di tanah berpengairan) atau . tanaman dipotong. Selanjutnya dibuat parit keliling yang berjarak 1. Tanaman tebu dipupuk sebanyak 50 kg/ha Bibit ini memerlukan banyak air dan pertumbuhannya lebih cepat daripada bibit bagal.3 stek. Melepas daun-daun agar pertumbuhan mata tunas tidak terhambat 2.2. 2. c) Bibit rayungan (1 atau 2 tunas) Bibit diambil dari tanaman tebu khusus untuk pembibitan berupa stek yang tumbuh tunasnya tetapi akar belum keluar. Setelah tanam. daun pembungkus batang tidak dibuang. tanah guludan ini dipindahkan lagi ke tempat semula.3. Pengolahan Media Tanam Terdapat dua jenis cara mempersiapkan lahan perkebunan tebu yaitu cara reynoso dan bajak.3 m dari tepi lahan.2. Persiapan Disebut juga dengan cara Cemplongan dan dilakukan di tanah sawah. yang digali hanya lubang tanamnya 2. Perawatan bibit siwilan sama dengan bibit rayungan.2. Untuk mendapatkan bibit. 1 hektar tanaman kebun bibit rayungan dapat menghasilkan bibit untuk 10 hektar areal tebu. 1 hektar tanaman kebun bibit bagal dapat menghasilkan bibit untuk keperluan 10 hektar.

Pada cara pertama bibit diletakkan sepanjang aluran. Sulaman diambil dari persediaan bibit dengan cara membongkar tanaman beserta akar dan tanah padat di sekitarnya. Penyulaman pertama dilakukan pada minggu ke 3. Penyulaman kedua dilakukan 3-4 minggu setelah penyulaman pertama. Satu hari setelah tanam lakukan penyiraman jika tidak turun hujan. tanah digaris dengan kedalaman 5-10 cm. Pada kedua cara di atas bibit tebu diletakkan dengan cara direbahkan. Setelah itu tanaman disiram. Dibutuhkan 70. Untuk bibit rayungan bermata satu. sedangkan untuk rayungan bermata dua bibit dipendam dan tunasnya dihadapkan ke samping dengan kedalaman 1 cm. tanah disiram agar bibit bisa melekat ke tanah. Cara Penanaman Sebelum tanam.4. Penjarangan dan Penyulaman a) Sulaman pertama untuk tanaman yang berasal dari bibit rayungan bermata satu dilakukan 5-7 hari setelah tanam. b) Sulaman untuk tanaman yang berasal dari bibit rayungan bermata dua dilakukan tiga minggu setelah tanam (tanaman berdaun 3-4 helai).000 bibit. 2. Tanah disiram lagi dan dipadatkan. Bibit yang diperlukan dalam 1 ha adalah 20. bibit dimasukkan ke dalamnya dengan mata menghadap ke samping lalu bibit ditimbun dengan tanah. . tanah disirami dan bibit ditanam dan akhirnya ditimbun tanah. a) Bibit stek (potongan tebu) ditanam berimpitan secara memanjang agar jumlah anakan yang dihasilkan banyak. Penyiraman ini tidak boleh terlambat tetapi juga tidak boleh terlalu banyak.3. b) Untuk bibit bagal/generasi. 3.1.pada akhir musim hujan (di tanah tegalan/sawah tadah hujan). Terdapat dua cara bertanam tebu yaitu dalam aluran dan pada lubang tanam. Cara ini banyak dilakukan dikebun Reynoso.000 bibit stek/ha. Cara kedua bibit diletakan melintang sepanjang solokan penanaman dengan jarak 30-40 cm.4.2. ditutup tanah setebal 23 cm dan disiram. c) Sulaman untuk tanaman yang berasal dari bibit pucuk.5 bulan setelah tanam. bibit dipendam dan tunasnya dihadapkan ke samping dengan kemiringan 45 derajat. Pemeliharaan Tanaman 2. Bibit rayungan sulaman disiapkan di dekat tanaman yang diragukan pertumbuhannya. Penyulaman kedua dilakukan bersamaan dengan pemupukan dan penyiraman ke dua yaitu 1. Bibit yang mati dicabut. lubang diisi tanah gembur kering yang diambil dari guludan.

Pupuk diletakkan di lubang pupuk (dibuat dengan tugal) sejauh 7-10 cm dari bibit dan ditimbun tanah. 2. Hanya boleh dilakukan jika ada bencana alam atau serangan penyakit yang menyebabkan 50% tanaman mati. Tanaman sehat yang sudah besar dibongkar dengan hati-hati dan dipakai menyulan tanaman mati. b) Pembumbun ke dua dilakukan pada waktu umur 2 bulan. Pengairan dan Penyiraman Pengairan dilakukan dengan berbagai cara: .5. anakan tebu yang tidak tumbuh baik dibuang.4. digunakan zat pengatur tumbuh seperti Cytozyme (1 liter/ha) yang diberikan dua kali pada 45 dan 75 hst. d) Penyulaman ekstra dilakukan jika perlu beberapa hari sebelum pembumbunan ke 6. 160 kg TSP dan 300 kg KCl/ha).Kedua penyulaman ini dilakukan dengan cara yang sama dengan point (b) di atas. 2.6.dan (2) pada 30 hari setelah pemupukan ke satu dengan 10 gram urea per tanaman atau 200 kg urea per hektar.4. Pemupukan Pemupukan dilakukan dua kali yaitu (1) saat tanam atau sampai 7 hari setelah tanam dengan dosis 7 gram urea.4. Pemupukan dan penyiraman harus selesai dalam satu hari. Penyiangan Penyiangan gulma dilakukan bersamaan dengan saat pembubunan tanah dan dilakukan beberapa kali tergantung dari pertumbuhan gulma.4. 8 gram TSP dan 35 gram KCl per tanaman (120 kg urea. 2. Pembubunan Sebelum pembubunan tanah harus disirami sampai jenuh agar struktur tanah tidak rusak. Ruas bibit harus tertimbun tanah agar tidak cepat mengering. Pemberantasan gulma dengan herbisida di kebun dilaksanakan pada bulan Agustus sampai November dengan campuran 2-4 Kg Gesapas 80 dan 3-4 Kg Hedanol power. Setelah pemupukan semua petak segera disiram supaya pupuk tidak keluar dari daerah perakaran tebu. 2. Kurangi daun-daun tanaman sulaman agar penguapan tidak terlalu banyak dan beri pupuk 100-200 Kg/ha.4. 2.3. Agar rendeman tebu tinggi. e) Penyulaman bongkaran.4. c) Pembumbuna ke tiga dilakukan pada waktu umur 3 bulan.2. a) Pembumbunan pertama dilakukan pada waktu umur 3-4 minggu. Adanya penyulaman ekstra menunjukkan cara penanaman yang kurang baik. Perempalan Daun-daun kering harus dilepaskan sehingga ruas-ruas tebu bersih dari daun tebu kering dan menghindari kebakaran. Bersamaan dengan pelepasan daun kering. Tebal bumbunan tidak boleh lebih dari 5-8 cm secara merata. Perempalan pertama dilakukan pada saat 4 bulan setelah tanam dan yang kedua ketika tebu berumur 6-7 bulan.

penggerek batang jambon (Sesmia inferens) Gejala: daun yang terbuka mengalami khlorosis pada bagian pangkalnya. ruas membengkak. Waktu tanaman berumur 3 bulan. pada stadium lanjut dapat menyerang batang. 2. kadang-kadang batang menjadi busuk dan berbau tidak enak. Pengairan dilakukan pada saat: a) Waktu tanam b) Tanaman berada pada fase pertumbuhan vegetatif c) Pematangan. Gejala: terdapat noda merah pada bintik khlorosis di helai daun. Pengendalian: dengan suntikan insektisida Furadan 3G (0. Suntikan dilakukan jika terdapat 400 tanaman terserang dalam 1 hektar.1. insektisida Bulur Bordeaux 1% dan pengembusan tepung kapur tembaga. d) Membendung got-got sehingga air mengalir ke lubang tanam.5. c) Air siraman diambil dari saluran pengairan dan disiramkan ke tanaman. b) Penyiraman lubang tanam ketika tebu masih muda. penggerek batang abu-abu (Eucosma schismacaena). daun tidak membuka (cacat bentuk). 2. Pengendalian: tanah dijaga agar tetap kering.5. garis-garis merah tua di batang. penggerek batang berkilat (Chilitrae auricilia). Hama dan Penyakit 2. b) Dongkelan Penyebab: jamur Marasnius sach-hari Bagian yang diserang adalah jaringan tanaman sebelah dalam dan bibit di dederan/persemaian. Penyakit a) Pokkahbung Penyebab: Gibbrela moniliformis. terdapat titik-titik atau garisgaris berwarna merah di pangkal daun. sebagian daun tidak dapat tumbuh lagi. Hama a) Penggerek batang bergaris (Proceras cacchariphagus). sehingga daun dapat robek.a) Air dari bendungan dialirkan melalui saluran penanaman. warna daun menjadi hijau kekuningan dan terdapat lapisan jamur seperti kertas di sekeliling batang. daun tua mengering. pada serangan hebat. b) Tikus Pengendalian: dengan gropyokan secara bersama atau pengemposan belerang pada lubang yang dihuni tikus. bentuk daun berubah. lubang-lubang yang tersebar di daun. penggerek batang kuning (Chilotraea infuscatella). . Pengendalian: memakai bibit resisten. Gejala: tanaman tua dalam rumpun mati tiba-tiba. Bagian yang diserang adalah daun.2. kemudian daun muda.5 kg/ha) pada waktu tanaman berumur 3-5 bulan. dilakukan pengairan lagi melalui saluran-saluran kebun.5.

Penyebab: Xanthomonas albilicans. perbaikan sistim pembuangan air yang baik. Pengendalian: menjauhkan tanaman inang. Panen 2. b) Pangkal tebu .c) Noda kuning Penyebab: jamur Cercospora kopkei . daun kering. merendam bibit dalam air panas 52. 2. Ciri dan Umur Panen Umur panen tergantung dari jenis tebu: a) Varitas genjah masak optimal pada <> b) Varitas sedang masak optimal pada 12-14 bulan c) Varitas dalam masak optimal pada > 14 bulan. Timbul noda berwarna merah darah tidak teratur. Penyebab: bakteri. lebih banyak di daerah lembab daripada daerah kering.25% fenylraksa asetat. bibit yang sakit dicabut dan dibakar. e) Noda cincin Bagian yang diserang daun. Helai daun mati berwarna agak kehitaman. bagian tengah noda menjadi coklat. d) Penyakit nanas Penyebab: adalah jamur Ceratocytis paradoxa. g) Blendok Bagian yang diserang adalah daun tanaman muda berumur 1. Pengendalian: mencabut tanaman sakit dan membakarnya. Lakukan desinfeksi para pemotong bibit.1. Gejala: noda hijau tua di bawah helai daun.5-2 bulan pada musim kemarau.2. Bagian yang diserang adalah bibit yang telah dipotong. Pengendalian: Menanam bibit resisten (2878 POY. Phyllsticta saghina. Helmintosporium sachhari. Penyebab: jamur Heptosphaeria sacchari. Pengendalian: menanam bibit sehat.6. Gejala: bibit yang baru ditanam busuk dan buku berwarna abu-abu sampai hitam. Bagian yang diserang daun dan bagian-bagaian dengan kelembaban tinggi. serta tanah dijaga tetap kering. Gejala: terdapat pada khlorosis pada daun. pada serangan hebat seluruh daun bergaris hijau dan putih. 2. Cara Panen a) Mencangkul tanah di sekitar rumpun tebu sedalam 20 cm. 3016 POY). bagian bawah tertutup lapisan puiih kotor. warna coklat menjadi jernih. pada serangan lanjut. Gejala: warna merah bercampur hitam pada tempat potongan. Panen dilakukan pada bulan Agustus pada saat rendeman (persentase gula tebu) maksimal dicapai.6. bau seperti buah nanas. Pengendalian: luka potongan diberi ter atau desinfeksi dengan 0. Kemudian menyemprot dengan tepung belerang ditambah kalium permanganat. Pengendalian: adalah dengan memangkas dan membakar daun yang terserang. titik tumbah dan tunas berwarna merah. h) Virus mozaik Penyebab: Virus.5oC dan lonjoran bibit dijemur 1-2 hari. f) Busuk bibit Bagian yang diserang adalah bibit dengan gejala tanaman kekuningan dan layu. Gejala: noda kuning pucat pada daun muda yang berubah menjadi kuning terang.6.

6.1. Di tanah tegalan produksi tebu lebih rendah lagi yaitu pada TRI I tegalan adalah 90 ton/ha dan pada TRI II tegalan sebesar 80 tom/ha.dipotong dengan arit jika tanaman akan ditumbuhkan kembali. Potong akar batang dan 3 buku dari permukaan pangkal batang. 2.7. Perkiraan Produksi Hasil Tebu Rakyat Intensifikasi I di tanah sawah adalah 120 ton/ha dengan rendemen gula 10% sedangkan hasil TRI II di tanah sawah adalah 100 ton dengan rendemen 9%. c) Mencabut batang tebu sampai ke akarnya jika kebun akan dibongkar. Pengumpulan Hasil tanam dari lahan panen dikumpulkan dengan cara diikat untuk dibawa ke pengolahan.7.3.7. Batang dipotong dengan menyisakan 3 buku dari pangkal batang. Pascapanen 2. 2. Penyortiran dan Penggolongan Syarat batang tebu siap giling supaya rendeman baik: a) Tidak mengandung pucuk tebu b) Bersih dari daduk-daduk (pelepah daun yang mengering) c) Berumur maksimum 36 jam setelah tebang. . e) Batang tebu diikat menjadi satu (30-50 batang/ikatan) untuk dibawa ke pabrik untuk segera digiling Panen dilakukan satu kali di akhir musim tanam. d) Pucuk dibuang.. 2.2.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.