P. 1
Sejarah Perkembangan Akidah

Sejarah Perkembangan Akidah

|Views: 1,034|Likes:
Published by Ajwad Suhaimi

More info:

Published by: Ajwad Suhaimi on Mar 30, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/06/2015

pdf

text

original

AQIDAH PADA ZAMAN RASULULLAH

“Dan barangsiapa yg menta’ati Allah dan Rasul-Nya mereka itu akan bersama-
sama dgn orang-orang yang dianugerahi nikmat Allah yaitu Nabi-nabi para

siddiqin orang-orang yang mati syahid dan orang-orang soleh. Dan mereka

itulah teman yg sebaik-baiknya”

Pendahuluan Nilai suatu ilmu itu ditentukan oleh kandungan ilmu tersebut. Semakin

besar dan bermanfaat nilainya semakin penting untuk dipelajarinya. Ilmu yg paling

penting adalah ilmu yang mengenalkan kita kepada Allah SWT Sang Pencipta.

Sehingga orang yang tidak kenal Allah SWT disebut kafir walaupun dia Profesor,

Doktor tetapi pada hakikatnya dia bodoh.

Allah menciptakan manusia dengan seindah-indahnya dan selengkap-lengkapnya

dibanding dgn makhluk / ciptaan lainnya. Kemudian Allah membimbing mereka

dengan mengutus para Rasul-Nya . Dari sahabat Abu Umamah disebutkan bahawa

jumlah para Rasul 313 } agar mereka berjalan sesuai dengan kehendak Sang

Pencipta melalui wahyu yg dibawa oleh Para Rasul. Namun ada yang menerima

disebut Mukmin ada pula yg menolaknya disebut kafir serta ada yang ragu-ragu

disebut Munafik yg merupakan bagian dari kekafiran. Begitu pentingnya Aqidah ini

sehingga Nabi Muhammad penghulu para Nabi dan Rasul membimbing ummatnya

selama 13 tahun ketika berada di Mekkah,ini kerana aqidah adalalah landasan

semua tindakan.Aqidah adalah seperti kepala di dalam tubuh manusia. Maka,

apabila suatu ummat sudah rosak, bahagian yang harus dipulihkan adalah

kepalanya terlebih dahulu. Disinilah pentingnya aqidah ini. Apatah lagi ini bersangkut

paut kepada kebahagiaan di dunia dan akhirat. Aqidahlah kunci menuju syurga.

Aqidah dari segi bahasa bererti sesuatu yang mengikat. Pada keyakinan manusia

adalah suatu keyakinan yang mengikat hatinya dari segala keraguan. Aqidah

menurut syara‟ ialah keimanan kepada Allah, Malaikat- malaikat, Kitab-kitab, Para
Rasul, Hari Akhirat dan keimanan kepada takdir Allah iaitu qada‟ dan qadar.

Dalam syariat Islam terdiri dua bahagia utama. Pertama, Aqidah iaitu keyakinan pada

rukun iman itu letaknya di hati dan tidak ada kaitannya dengan cara-cara perbuatan .

Bahagian ini disebut pokok atau asas. Kedua, Perbuatan iaitu cara-cara amal atau

ibadah seperti solat, puasa, zakat dan seluruh bentuk ibadah disebut sebagai

cabang. Nilai perbuatan ini baik buruk, diterima atau tidak bergantung kepada yang

pertama itu tadi. Makanya syarat diterimanya ibadah itu ada dua pertama Ikhlas

kerana Allah SWT iaitu berdasarkan aqidah islamiyah yang benar. Kedua

Mengerjakan ibadahnya sesuai dgn petunjuk Rasulullah SAW. Ini disebut amal

sholeh. Ibadah yg memenuhi satu syarat saja umpamanya ikhlas saja tidak mengikuti

petunjuk Rasulullah SAW tertolak atau mengikuti Rasulullah SAW saja tapi tidak

ikhlas kerana faktor manusia umpamanya maka amal tersebut tertolak. Sampai

benar-benar memenuhi dua kriteria itu. Inilah makna yg terkandung dalam Al-Qur‟an

surah Al-Kahfi 110 yg artinya “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan

Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yg soleh dan janganlah ia

mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya.”

Perkembangan Aqidah Pada masa Rasulullah SAW, aqidah bukan merupakan

disiplin ilmu tersendiri kerana masalahnya sangat jelas dan tidak terjadi perbezaan-

perbezaan faham kalaupun terjadi langsung diterangkan oleh beliau. Makanya kita

dapatkan keterangan para sahabat yg artinya berbunyi “Kita diberikan keimanan

sebelum Al-Qur’an”

Pada masa pemerintahan khalifah Ali bin Abi Thalib timbul pemahaman -

pemahaman baru seperti kelompok Khawarij yg mengkafirkan Ali dan Muawiyah

kerana melakukan tahkim lewat utusan masing-masing iaitu Abu Musa Al-Asy‟ari dan

Amru bin Ash. Timbul pula kelompok Syiah yg menuhankan Ali bin Abi Thalib dan

timbul pula kelompok dari Irak yg menolak takdir dipelopori oleh Ma‟bad Al-Juhani
dan dibantah oleh Ibnu Umar kerana terjadinya penyimpangan-penyimpangan. Para

ulama menulis bantahan-bantahan dalam karya mereka.Aqidah juga digunakan

dengan istilah Tauhid ushuluddin As-Sunnah Al-Fiqhul Akbar Ahlus Sunnah wal

Jamaah atau istilah ahlul hadits atau salaf iaitu mereka yang berpegang atas jalan

Rasulullah SAW dari generasi abad pertama sampai generasi abad ketiga yang

mendapat pujian dari Nabi SAW. Ringkasnya Aqidah Islamiyah yg sahih boleh

disebut Tauhid fiqh akbar dan usuluddin. Sedangkan manhaj dan contohnya adalah

ahlul hadits ahlul sunnah dan salaf.

Bahaya Penyimpangan Pada Aqidah

Penyimpangan pada aqidah yg dialami oleh seseorang mengakibatkan dalam

seluruh kehidupannya bukan saja di dunia tetapi berlanjutan sebagai kesengsaraan

yang tidak berkesudahan di akhirat kelak. Dia akan berjalan tanpa arah yang jelas

dan penuh dengan keraguan dan menjadi peribadi yang sakit personaliti. Biasanya

penyimpangan itu disebabkan oleh sejumlah faktor diantaranya

Tidak menguasainya pemahaman aqidah yang benar kerana kurangnya pengertian

dan perhatian. Akibatnya berpaling dan tidak jarang menyalahi bahkan menentang

aqidah yg benar.

Fanatik kepada peninggalan adat dan keturunan. Karena itu dia menolak

aqidah yg benar. Seperti firman Allah SWT tentang ummat terdahulu yg

keberatan menerima aqidah yg dibawa oleh para Nabi dalam Surat Al-

Baqarah 170 yg artinya “Dan apabila dikatakan kepada mereka “Ikutlah apa

yg telah diturunkan Allah” mereka menjawab ” tetapi kami hanya mengikuti
apa yg telah kami dapati dari nenek moyang kami.” walaupun nenek moyang
mereka itu tidak mengetahui suatu apapun dan tidak mendapat petunjuk.”

Taklid buta kepada perkataan tokoh-tokoh yg dihormati tanpa melalui seleksi

yg tepat sesuai dgn argumen Al-Qur‟an dan Sunnah. Sehingga apabila tokoh

panutannya sesat maka ia ikut tersesat.

Berlebihan dalam mencintai dan mengangkat para wali dan orang sholeh yg

sudah meninggal dunia sehingga menempatkan mereka setara dgn Tuhan

atau dapat berbuat seperti perbuatan Tuhan. Hal itu krn menganggap mereka

sebagai penengah/arbiter antara dia dgn Allah. Kuburan-kuburan mereka

dijadikan tempat meminta bernadzar dan berbagai ibadah yg seharusnya

hanya ditujukan kepada Allah. Demikian itu pernah dilakukan oleh kaumnya

Nabi Nuh AS ketika mereka mengagungkan kuburan para sholihin. Lihat

Surah Nuh 23 yg artinya “Dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan

penyembahan} Wadd dan jangan pula Suwa’ Yaghuts Ya’uq dan Nasr.”

Lengah dan acuh tak acuh dalam mengkaji ajara Islam disebabkan silau

terhadap peradaban Barat yg materialistik itu. Tak jarang mengagungkan para

pemikir dan ilmuwan Barat serta hasil teknologi yg telah dicapainya sekaligus

menerima tingkah laku dan kebudayaan mereka.

Pendidikan di dalam rumah tangga banyak yang tidak berdasar ajaran Islam

sehingga anak tumbuh tidak mengenal aqidah Islam. Pada hal Nabi

Muhammad SAW telah memperingatkan yg artinya “Setiap anak yang lahir

berdasarkan fithrahnya maka kedua orang tuanya yg meyahudikannya

menashranikannya atau memajusikannya” .

Apabila anak terlepas dari bimbingan orang tua maka anak akan dipengaruhi oleh

acara / program television yang menyimpang sasarannya.

Peranan pendidikan rasmi tidak memberikan input yang cukup dalam pembinaan

keagamaan seseorang. Bayangkan apa yang boleh diperoleh dari 2 jam seminggu

dalam pelajaran agama itupun dengan informasi yang kurang. Ditambah lagi dengan

media cetak mahupun elektronik yang banyak tidak mendidik kearah aqidah.

Tidak ada jalan lain untuk menghindar bahkan menyingkirkan pengaruh negatif dari

hal-hal yg disebut diatas adalah dengan mendalami, memahami dan

mengaplikasikan Aqidah Islamiyah yang sahih agar hidup kita yang sekali dapat

berjalan sesuai kehendak Sang Khalik demi kebahagiaan dunia dan akhirat kita.

Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa‟ 69 yg artinya “Dan barangsiapa yg

menta’ati Allah dan Rasul-Nya mereka itu akan bersama-sama dgn orang-orang
yg dianugerahi ni’mat Allah yaitu Nabi-nabi para shiddiqin orang-orang yg mati
syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yg sebaik-baiknya.”

Dan juga dalam Surah An-Nahl 97 yg artinya “Barangsiapa yg mengerjakan amal

shaleh baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman maka

sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yg baik dan

sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dgn pahala yg lbh baik

dari apa yg telah mereka kerjakan.”

AKIDAH PADA ZAMAN SAHABAT

Justeru, apa yang dimaksudkan dengan sahabat pada bab ini ialah Khulafa‟ Ar-

Rasyidun. Sesungguhnya urusan akidah pada zaman mereka adalah seperti pada

zaman Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam . Maka sesungguhnya sahabat-sahabat talah

berjalan mengikut jejak langkah Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam daripada

kepentingan dengan perintah Allah dan meninggalkan apa yang dilarang oleh-Nya,

iaitu lebih memberi perhatian ke arah hukum-hukum amali. Mereka tidak

memandang luas kepada urusan-urusan I‟tiqadiyyah. Dan apabila terdapat perkara-

perkara baru yang timbul, maka mereka merujuk kepada kepada Kitab Allah dan

Hadis Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam jika didapati perkara yang ingin dicari.

Apabila tidak didapati, maka mereka merujuk kepada pendapat-pendapat

perseorangan atau melalui musyawarah sehingga tenang hati mereka kepada

pendapat tersebut dan mereka patuh kepadanya.

AKIDAH PADA PEMERINTAHAN BANI UMAIYAH

Setelah berhenti umat Islam dari usaha-usaha mempertahankan kedaulatan Islam.

Telah terbuka masa untuk memikirkan hukum-hukum agama dan dasar-dasar

akidah. Pada masa itu juga terdapat ramai yang memeluk agama Islam daripada

agama-agama lain, tetapi mereka masih terpengaruh dengan unsur-unsur agama

lama mereka. Maka telah lahirlah kebebasan berbicara tentang masalah-masalah

yang didiamkan oleh ulama‟ salaf iaitu memperkatakan mengenai masalah qadar.
Contohnya seperti Ma‟bad Al-Juhani , Ghailan Ad-Dimasyqi , dan Ja‟ad ibnu Dirham .
Mereka ini adalah tokoh-tokoh qadariyyah yang pertama. Para sahabat yang dapat

hidup sezaman dengan mereka seperti Abdullah ibnu Umar, Ibnu „Abbas, Anas bin

Malik, Jabir bin Abdullah, Abu Hurairah, dan sahabat-sahabat lain menyalahkan

mereka, serta menganjurkan masyarakat menjauhi dari mereka, jangan memberi

salam, jangan menengok orang yang sakit dari kalangan mereka, serta jangan

menyembahyangkan jenazah mereka.

Demikian pula muncul dalam fasa ini orang-orang yang mentiadakan qudrat dan

iradat dari manusia, agar Allah tidak mempunyai sekutu dalam sesuatu perbuatan-

Nya dan menidakkan pula sifat-sifat daripada Allah. Golongan ini dikendalikan oleh

Jaham ibnu Shafwan . Mereka ini dinamakan Jabariyyah atau Mujrabah. Dikatakan

demikian adalah kerana mengingat akidah yang mereka anut. Dan dikatakan juga

Jahmiyyah iaitu pengikut-pengikut Jaham ibnu Shafwan. Mereka juga dinamakan

Mu‟aththilah kerana mereka mentiadakan sifat-sifat Allah.

Sebahagian umat Islam yang berbuat maksiat beralasan untuk membenarkan

perbuatan dan tindakannya dengan qadar. Seorang berkata kepada Ibnu Umar, ada

segolongan manusia berzina, mencuri, meminum arak, membunuh orang, kemudian

berhujah bahawa mereka berbuat demikian itu adalah kerana itu adalah qadar yang

telah ditetapkan oleh Allah. Setelah Ibnu Umar mendengar pernyataan tersebut,

beliau marah dan mengatakan: “Maha Suci Allah, ilmu Allah tidak mendorong
mereka kepada berbuat maksiat”.

Di penghujung abad pertama hijrah terkenallah dalam masyarakat mazhab-mazhab

golongan Khawarij iaitu mengkafirkan orang yang mengerjakan dosa besar.

Hassan Al-Basri menetapkan pendapat yang menjadi anutan umum ummat Islam

iaitu orang yang mengerjakan dosa besar dipandang fasiq, tidak keluar dari

gelanggang mukmin. Pendapat Hassan ini dibantah keras oleh muridnya Wasil bin

atha‟ , dia ini mengatakan bahawa orang yang mengerjakan dosa besar berada di
antara dua tempat. Pendapatnya diikuti oleh „Amar ibnu „Ubaid . Oleh kerana mereka

mengasingakan diri dari majlis gurunya (Hassan) dari pendapat umum, maka mereka

dinamakan dengan nama Mu‟tazilah.

Oleh kerana golongan Qadariyyah dan Jahmiyyah tidak dapat berdiri sebagai satu

kumpulan, maka kedua-dua kumpulan itu adalah fahaman sahaja. Maka Qadariyyah

telah berpindah kepada nama Mu‟tazilah. Golongan mu‟tazilah tidak menerima nama
“mu‟tazilah”, malah mereka sendiri mengelarkan diri mereka sebagai Ahlul „Adli wat

Tauhid. Dikatakan mereka menamakan dengan nama demikian kerana mereka

menetapkan bahawa hamba ini mempunyai qudrat, bebas aktif dalam segala

tindakannya. Mereka juga percaya segala amalan mesti dipahalai dan diseksa.

Mereka menidakkan adanya kezaliman Allah (mansucikan Allah dengan sifat Adil).

Mereka juga menetapkan bahawa tiada sifat daripada Allah agar zat-zat Allah tidak

tersusun dari zat dan sifatNya supaya Allah benar-benar Esa .

-------------------------------------------------------------------------------------

Ma‟bad ibnu Khalid Al-Juhani adalah seorang tabi‟in. Dia adalah permulaan orang
yang memperkatakan masalah qadar dan menurut riwayat, dia mengambil fahaman

itu dari seorang Iraq yang beragama Nasrani yang kembali murtad sesudah Islam.

Ma‟bad telah dibunuh oleh Al-Hajjaj lantaran turut memberontak bersama-sama Ibnul
Asy‟ats pada tahun 80 hijrah.

Ghailan Ad-Dimasyqi ialah Abu Marwan Ghailan ibnu Muslim. Ayahnya seorang

budak yang telah dimerdekakan oleh Uthman bin „Affan. Dia datang ke Damasqus

dalam masa pemerintahan Hisyam ibnu Malik. Dia adalah seorang yang sangat

pandai berbicara. Dia mengikut Ma‟bad dalam fahaman Qadar.

Ja‟ad ibnu Dirham ialah seorang pendidik Marwan ibnu Muhammad. Dia salah

seorang yang menganut fahaman qadar dan orang yang mula-mula mengatakan Al-

Quran itu makhluk. Dia dibunuh oleh Khalid ibnu Abdullah Al-Qasri dalam

pemerintahan Hisyam bin Abdul Malik.

Jaham ibnu Shafwan ialah seorang persia yang memeluk agama Islam. Lama dia

bermukim di Kufah, dia bertemu dengan Ja‟ad dan menganuti beberapa

pendapatnya. Kemudiannya dia bersama-sama dengan Harith ibnu Syuraij

melancarkan pemberontakan terhadap bani Umayyah di Khurasan. Lalu tertawan

dan dibunuh. Kemudian Al-Harith pula dibunuh pada 128 hijrah.

Hassan Al-Basri ialah Abu Sa‟id al-Hassan ibnu Dinar ibnu Yasar Al-Basri. Seorang

tabi‟in terkenal. Beliau merupakan Imam penduduk Basrah dan seorang ulama‟
fuqaha‟ yang terkemuka. Lahir di Madinah dan dibesarkan dibawah asuhan „Ali bin

Abi Talib. Wafat pada tahun 110 hijrah.

Wasil bin Ata‟ adalah seorang ulama‟ berbangsa persia. Dia dilahirkan di Madinah

pada tahun 80 hijrah. Kemudian dia berpindah ke Basrah dan belajar dengan

Hassan Al-Basri. Kemudiannya dia mengasingkan diri dari majlis gurunya lantaran

perbezaan fahaman lalu membentuk majlisnya sendiri. Dia terkenal sebagai ahli

pidato yang terkemuka dan sangat pandai dalam berdebat membantah pendapat

orang. Wafat pada 131 hijrah.

„Amar ibnu Ubaid adalah seorang yang berbangsa persia dari muri-murid Hassan Al-
Basri, kemudiannya dia memilih untuk mengasingkan diri. Dia mengahwinkan

saudara perempuannya dengan Wasil bin Ata‟. Wafat pada tahun 144 hijrah.

MAZHAB AHLI SUNNAH WAL-JAMAAH

PENDAHULUAN

TAKDIRNYA mazhab Ahli's-Sunnah Wal-Jama'ah merupakan mazhab yang paling

dominan dalam sejarah ummat ini dan ianya merupakan mazhab yang orthodoks

dalam pengertian yang asalnya iaitu mazhab yang benar, asal, tepat mengikut apa

yang dikehendaki oleh ajaran dan amalan Islam itu sendiri. Walaupun di dalamnya

terdapat beberapa pendirian yang mengambil kira peristiwa sejarah awal Islam -

yang memang tidak boleh dielakkan - hakikat ajaran dan pendiriannya adalah hakikat

yang telah ada dalam Islam semenjak awal; penzahirannya dalam sejarah kemudian

dengan istilah-istilah itu adalah merupakan 'deployment' proses perkembangan

kemudian yang semestinya berlaku sebagaimana berkembangnya pokok daripada

biji benihnya dengan segala sifat-sifat yang telah ada padanya sejak awal

lagi. Dalam nota ringkas ini in sha'Allah akan ditelitikan sedikit sebanyak

perkembangannya dalam sejarah dan juga konsep-konsep asas yang terlibat dalam

perkembangan ini untuk memperingatkan kembali segi-segi demikian ini

berhubungan dengan identiti umat ini. Moga-moga ini mendatangkan faedah

bersama dan bukan merupakan sesuatu untuk kepentingan ilmiah semata, walau

bagaimana relevannya kepentingan ilmiah itu pada parasnya sendiri.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->