BAHAN DIKLAT TEKNIS SUBTANTIF DASAR (DTSD) KEPABEANAN DAN CUKAI

MODUL ( I – III)

MATERI KLASIFIKASI BARANG

OLEH : TIM PENYUSUN MODUL PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI

PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN BEA DAN CUKAI BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

JAKARTA 2007

MODUL I

SISTEM KLASIFIKASI BARANG MENURUT HARMONIZED SYSTEM

MATERI KLASIFIKASI BARANG OLEH : TIM PENYUSUN MODUL PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN BEA DAN CUKAI BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA JAKARTA 2007

Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Allah yang Maha Kuasa, bahwa Modul ini dapat diselesaikan sesuai waktunya.

Obyek dari kegiatan Direktorat Bea dan Cukai adalah barang. Dalam rangka penentapan tarif bea masuk dan kepentingan kepabeanan lainnya, seyogyanya petugas Ditjen Bea dan Cukai menambah keterampilam dalam mengklasifikasi barang agar pelayanan cepat dan negara tidak dirugikan dalam menetapkan besarnya bea masuk, karena ada kepastian tentang jenis barang dan penetapan tarif posnya.

Modul ini merupakan seri dari 3 buah modul mata pelajaran klasifikasi barang. Modul ini digunakan dalam Diklat Teksnis Substantif Dasar I Kepabeanan dan Cukai dengan judul “Catatan Penting dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia”

Dalam kesempatan ini, Penulis menghaturkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga dapat diselesaikannya Modul ini. Semoga Allah membalas atas amal kebaikan tersebut. Semoga Modul ini bermanfaat sebagai penambah wawasan dan media untuk penambah keterampilan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang.

Jakarta, Nopember 2007

Penulis

..... KEGIATAN BELAJAR 1 JENIS CATATAN PADA BTBMI……………………………............................................................................. Rangkuman................. Umpan Balik......................... 1 PENDAHULUAN ........ 4..................3............................................................................................ 4 KEGIATAN BELAJAR 3 CATATAN PENTING PADA BTBMI.............. Daftar Isi ..................................... Daftar Pustaka........................................... 4........................................... Tujuan Pembelajaran Khusus............................1 Uraian............................. Contoh dan Non contoh....................................................Deskripsi singkat........ KEGIATAN BELAJAR 2 STRUKTUR PENGELOMPOKAN BARANG PADA BTBMI......2................................................... 2..................................... Test Formatif .......................................... 3........................... Contoh dan Non contoh....... 2..... 1.............2....................................3........................ 3...............................3......1 Uraian... Latihan 1...........1 Uraian........ Tujuan Pembelajaran Umum................................................................... 2........................ 1..............DAFTAR ISI Halalaman Kata Pengantar ...................................3............2....................................................................................... Rangkuman................... 4...........................................1................. 3............................................... 1...........................................................2.... Kunci Jawaban .... Latihan 2............................. Rangkuman........................ Contoh dan Non contoh.............. i ii 1 1 1 1 2 2 5 5 6 6 22 23 24 24 32 32 33 36 37 38 2 3 5 6 7 8 ........... Latihan 3...................

3. Seorang klasifikator harus memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang karena akan menentukan ketepatan dalam klasifikasi dalam Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang pada akhirnya menentukan ketepatan jumlah bea masuk dan pungutan impor lainnya yang harus dibayar. Tujuan Instruksional Khusus Setelah mempelajari Modul ini para siswa diharapkan dapat menjelaskan : 1. Tujuan Instruksional Umum Setelah mempelajari modul ini. Identifikasi dan klasifikasi barang 2.1. seorang klasifikator harus terlebih dahulu memahami pengetahuan barang dan pengetahuan mengenai klasifikasi barang.MODUL I KLASIFIKASI BARANG I. Harmonized System (HS) 3.2. Deskripsi Singkat Seorang Pegawai Ditjen Bea dan Cukai harus menjadi seorang klasifikator dibidang kepabeanan Oleh karena itu. para Siswa diharapkan mampu memahami landasan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang berdasarkan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. 1. 1. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI ) 2007. . PENDAHULUAN 1.

Setelah kita mendapatkan seluruh informasi yang dibutuhkan melalui identifikasi barang. Namun sekali lagi perlu diingat. Dalam buku ini akan dijelaskan dengan singkat langkah-langkah praktis dalam mengklasifikasi barang. Perlu diingat bahwa setelah melakukan tahap klasifikasi. klasifikasi yang benar hanya dapat dilakukan apabila mengetahui jenis barang dan memahami aturanaturan mengklasifikasi dengan benar. Informasi apa yang diperlukan untuk mengidentifikasi suatu barang dan darimana informasi tersebut diperoleh? Informasi yang diperlukan sebenarnya tergantung dari . Langkah pertama dalam mengklasifikasi adalah apa yang akan diklasifikasikan. Seorang klasifikaotr tidak mungkin dapat mengklasifikasikan suatu barang dengan benar bila ia tidak tahu spesifikasi barang tersebut.2.1. kita harus tahu lebih dulu spesifikasi barang itu. Keakuratan mengklasifikasi tergantung dari keakuratan dalam mengidentifikasi barang. Langkah ini dinamakan Identifikasi barang. Uraian. barulah kita dapat melakukan langkah kedua yaitu Klasifikasi barang. Diharapkan dengan menggunakan metode ini para siswa dapat dengan mudah mengklasifikasi barang. Identifikasi dan Klasifikasi Barang Langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk dapat mengklasifikasi suatu barang dengan benar? Biasanya klasifikasi tersebut dilakukan dengan mencari langsung pos tarif yang dianggap sesuai. baru diketahui bahwa informasi yang ada belum lengkap sehingga kita harus kembali melakukan identifikasi barang untuk memperoleh informasi yang diperlukan tersebut. Sebelum mengklasifikasi suatu barang.1. Contoh dan Non Contoh 2. KEGIATAN BELAJAR 1 IDENTIFIKASI DAN KLASIFIKASI BARANG 2.1. Cara seperti ini tidak akurat dan sering menyebabkan terjadinya kesalahan klasifikasi yang mengakibatkan negara dirugikan.

Demikian juga apabila barang tersebut berupa barang elektronik. untuk tujuan olah raga. apa kegunaannya. Semakin sederhana dan rinci uraian barang pada BTBMI. Informasi lain dapat kita peroleh dari berbagai sumber di atas. misalnya apakah bentuknya cair atau padat. kegunaan. atau kuda untuk sirkus). Darimana kita dapat memperoleh informasi yang kita perlukan untuk mengklasifikasi suatu barang? bawah ini: Mari menjawab pertanyaan tesebut dengan memperhatikan bagan di Untuk mengetahui spesifikasi barang yang akan kita klasifikasikan. hanyalah kuda bibit. buatan. bagaimana bentuknya. . butiran atau bongkahan. dan keterangan lainnya. semakin akurat kita mengklasifikasikannya. Berapa watt dan voltage tenaga listrik yang dibutuhkan. banyak sumber informasi yang dapat kita gunakan. informasi yang diperlukan untuk mengklasifikasikan kuda hidup. dan sebagainya. Informasi yang diperlukan tentunya semakin banyak dan rumit.uraian yang ada pada BTBMI yang berkaitan dengan barang bersangkutan. bagaimana pengemasnya. Fisik barang itu sendiri sudah memberikan beberapa informasi yang kita butuhkan. dan sebagainya. Semakin banyak informasi yang kita miliki tentang barang tersebut. apa komposisinya. Bagaimana seandainya yang akan kita klasifikasikan adalah suatu bahan kimia? Barangkali sebelum mengklasifikasi kita memerlukan berbagai informasi mengenai barang kimia tersebut: apakah organik atau anorganik. apakah bentuk asal atau preparat. semakin mudah bagi kita untuk mengklasifikasikan barang karena tidak dibutuhkan informasi yang terlalu rumit (misalnya.

DAN LAIN LAIN. DLL EXPL. elektronik. setengah jadi. DLL HASIL PENGUJIAN LABORATORIUM LITERATUR LAIN IDENTIFIKASI KLASIFIKASI KONDISI FISIK BARANG LABEL. INSTANSI/LEMBAGA TERTENTU KAMUS. kimia.C/A. KEMASAN INFORMASI DARI SUMBER LAIN: SK. DATA BASE. KATALOG. campuran. BROSUR. NOTES ALPHABETI CAL INDEX. Identifikasi barang diperlukan untuk menjawab setidak-tidaknya empat pertanyaan dasar di bawah ini: • What is it? Barang apa yang diimpor? ⇒ bahan baku. atau barang jadi? produk pertanian. bahan yang dominan? . mesin? • What is it made of? Dibuat dari apa barang tersebut? ⇒ komposisi. MSDS.

Demikian juga negara asal barang akan berpengaruh terhadap mutu atau harga barang.2.1. barulah kita berusaha mencari pos yang tepat. bagian dari barang lain. bahan baku dan semua informasi mengenai barang. lebh dari satu macam kegunaan? • How is it imported? Bagaimana saat diimpor? ⇒ kemasan? belum lengkap? terurai? dalam bentuk set? Pertanyaan di atas harus dijawab sebelum kita memulai tahap klasifikasi. mempelajari jenis. Keterangan pabrik atau produsen barang perlu diperhatikan. Untuk itu kita perlu mengantisipasi semua pos tarif yang mungkin untuk dipilih satu pos yang paling sesuai. fungsi. setelah 3W + 1H ⇒ What are the classifiable codes? Mengapa “What are classifiable codes?” (pos-pos. merumuskan identitas atau deskripsi barang tersebut. bukan satu pos tertentu?). Hal ini untuk mengetahui grade atau kemurnian dari bahan tersebut. aksesoris. misalnya apakah pabrik farmasi atau pabrik produksi pipa plastik. dari jenis pabrik apa. Kalau dari pabrik farmasi kecenderungannya grade farmasi atau kemurnian mendekati 100 %. Langkah-Langkah Dalam Mengklasifikasi Barang 1) Prosedur Umum Klasifikasi Dalam mengklasifikasi barang menggunakan BTBMI. Dengan kata lain. . 2. Apabila kita sudah mempunyai jawaban. Namun pada umumnya suatu pos mencakup atau menguraikan satu kelompok barang sehingga sepintas lalu seakan-akan ada satu barang yang dicakup oleh dua atau lebih pos.• What for? Digunakan untuk apa? ⇒ kegunaan tertentu. Kita dapat menemukan satu pos tertentu bila pos dimaksud dengan spesifik menguraikan jenis barangnya. Keterangan kemurnian barang akan berkaitan dengan harga barang tersebut. prosedur yang digunakan adalah sebagai berikut : • • • identifikasi barang yang akan diklasifikasikan.

maka kita mulai menelusuri pos-pos yang mungkin mencakup barang yang akan kita klasifikasikan dalam bab tersebut. menentukan klasifikasi barang ke dalam BTBMI (dapat dimulai baik dari segi bahan baku menjadi barang jadi. Pada tahap ini kadang-kadang kita sudah dapat . Bila sudah kita tentukan. guna. Dengan mengetahui spesifikasi barang. Apabila ada catatan yang mengeluarkan barang tersebut dari Bab atau Bagian yang kita pilih. biasanya kita sudah mempunyai gambaran umum apakah barang tersebut diklasifikasikan di bab tersebut atau di bab lainnya. (d) Setelah menemukan satu bab yang paling sesuai berdasarkan kajian di atas. fungsi. baca dan perhatikan baik-baik catatan Bagian dan catatan Bab yang berkaitan dengan pilihan bab atau bab-bab pada butir 1. barang kimia. 2). mesin. (c) Perhatikan penjelasan-penjelasan dalam catatan Bagian maupun catatan Bab yang berkaitan dengan barang yang akan kita klasifikasi. dan seterusnya). Tahapan lebih rinci akan dijelaskan kemudian setelah memahami apa itu Harmonized System. Bab. proses sederhana dan proses canggih/kompleks. atau mesin. berat. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. Pada tahap ini. mineral. (b) Pilih bab atau bab-bab yang berkaitan dengan spesifikasi barang tersebut. (a) Kita identifikasi dulu barang yang akan kita klasifikasi. misalnya barang tersebut produk pertanian. kemasan dan informasi lain yang bergunauntuk mengklasifikasi barang. Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System dan teori pendukung lainnya. pertanian. Tahapan Mengklasifikasi Barang Dalam penjelasan ini disajikan tahapan mengklasifikasi barang secara garis besar.• • melihat buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI). kita bisa memilih bab-bab yang lebih spesifik. atau pos mana barang tersebut diklasifikasikan. perhatikan pada Bagian. Identitas barang meliputi : nama. bauatan. kimia.

Pertamina. dan sebagainya. Bila sudah kita temukan satu pos yang tepat. . kegunaannya. 2. IP. Dalam tahap ini tentunya menggunakan kaidah-kaidah seperti yang ada dalam nomor 1 sampai dengan 10 Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System (e) Apabila sudah dipilih satu pos tarif yang benar-benar sesuai dengan uraian barang. Bagaimana seandainya yang akan kita klasifikasikan adalah suatu bahan kimia? Sebelum mengklasifikasi kita memerlukan identifikasi untuk mendapatkan informasi mengenai: : organik atau anorganik. Rangkuman Dalam kegiatan 1 telah dijelaskan dengan singkat langkah-langkah praktis dalam mengklasifikasi barang. data apa yang diperlukan mengenai pompa tersebut ? 1. 3. komposisinya. Ingat. Bagaimana langkah-langkah dalam meng klasifi kasi barang ? 3.). Karena pembebanan tersebut sering berubah. Jawaban 2.menemukan pos yang mencakup barang tersebut dengan rinci. dan lain-lain. Bila akan diimpor sebuah pompa air yang menggunakan tenaga listrk. atau cukai) dan ada atau tidak peraturan tata niaganya (IT. PPnBM. PPN. bentuk asal atau preparat. maka langkah selanjutnya tinggal menentukan sub-pos (6-digit) dan pos tarif (9-digit) yang sesuai. langkah selanjutnya adalah melihat pembebanannya (BM. bentuknya. Mengapa kita harus mengidentifikasi barang sebelum mengklasifikasinya ? 2. 2.2. dalam penentuan sub-pos dan pos tarif pun kadang timbul permasalahan klasifikasi yang sama dengan penentuan pos (4-digit). Latihan 1 Pertanyaan 1.. jangan lupa selalu menggunakan pembebanan yang up to date berdasarkan ketentuan yang terbaru.3.

1. HARMONIZED SYSTEM 3. Sistem Customs Cooperation Council (CCCN). KEGIATAN BELAJAR 2. 1. hanya pada sistem CCCN ini terdapat . 2) mempelajari jenis.Dalam mengklasifikasi barang menggunakan BTBMI. c. yaitu : a. bahan baku dan semua informasi mengenai barang. Uraian. Pada dasarnya sistem pentarifan ini sama dengan sistem sebelumnya. Penetapan tarif ini merupakan penyempurnaan dari penetapan tarif sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 Juli 1975 sampai dengan 30 september 1980.1. d. b. Sistem Brussel Edisi 1975 (BTN 1975). Sistem Jenewa (Geneve Nomenclature). 3) merumuskan identitas. yang berlaku sejak kemerdekaan Republik Indonesia sampai dengan 31 Desember 1972. Sistem Brussel (Brussel Tariff Nomenclature atau BTN). Pada saat ini sistem pengklasifikasian barang di Indonesia didasarkan pada Harmonized System dan dituangkan dalam bentuk suatu daftar tarif yang kita kenal dengan sebutan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. fungsi. prosedur yang digunakan adalah sebagai berikut : 1) identifikasi barang. Berdasarkan pasal 14 ayat 2 Undang-undang Kepabenan Indonesia Nomor 10 tahun 1995. mulai berlaku sejak tanggal 1 Januari 1973 sampai dengan 30 Juni 1975. Indonesia telah menggunakan beberapa sistem klasifikasi untuk barang impor. penetapan klasifikasi barang diatur lebih lanjut oleh Menteri Keuangan. Contoh dan Non Contoh 3. Sejarah Sistem Klasifikasi di Indonesia Sebelum diberlakukannya Harmonized System. 5) menentukan klasifikasi barang 3. Pengantar Klasifikasi barang adalah suatu daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis dengan tujuan untuk mempermudah pentarifan transaksi perdagangan. pengangkutan dan statistik.1. 4 melihat BTBMI .

2. sebenarnya Indonesia telah menggunakan BTBMI berdasarkan HS sejak tanggal 1 Januari 1989. pengangkutan. . tetapi juga digunakan untuk kepentingan lain seperti statistik. Sistem Harmonisasi (Harmonized System). 26 tahun 1988 dan diwujudkan dalam bentuk Buku Tarif Bea Masuk Indonesia 1989 dan dinyatakan berlaku mulai tanggal 1 Januari 1989.penyempurnaan sistem penomoran pada sub-pos dari dua digit menjadi tiga digit atau semula 6 digit menjadi 7 digit. Mengapa HS ? Sejak tahun 1970. f. Pada akhir tahun 1986. kelompok studi tersebut berhasil menyusun suatu nomenklatur (daftar klasifikasi barang berdasarkan kelompok-kelompok) yang dinamakan Harmonized Commodity Description and Coding System atau lebih dikenal dengan sebutan Harmonized System (HS). Sistem CCCN ini mulai diberlakukan pada tanggal 1 Oktober 1980 sampai dengan 31 Maret 1985. Sistem ini merupakan penyempurnaan dari sistem CCCN sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 April 1987 sampai dengan 31 desember 1988. Sistem CCCN Edisi 1985 (CCCN 1985). Sistem ini diterapkan di Indonesia berdasarkan PP No. konvensi HS ditandatangani oleh 70 negara yang sebagian besar adalah negara Eropa. Meskipun baru meratifikasi pada tahun 1993. e. Namun sekarang hampir seluruh negara di dunia telah meratifikasi konvensi ini. Customs Cooperation Council (CCC) yang sekarang dikenal dengan nama World Customs Organisation (Organisasi Pabean Dunia) telah membentuk suatu kelompok studi yang berusaha untuk menciptakan suatu nomenklatur klasifikasi barang yang tidak semata-mata untuk keperluan pabean. dan negosiasi perdagangan. nomenklatur tersebut disahkan dalam suatu konvensi yang dikenal dengan nama Konvensi HS. termasuk Indonesia yang telah meratifikasi konvensi HS dengan Keppres Nomor 35 tahun 1993. Pada awalnya. Untuk memberikan kekuatan hukum yang pasti.

• Memperbaharui sistem klasifikasi barang sebelumnya. Menyadari hal yang demikian WCO pada tanggal 14 Juni 1983 meluncurkan HS yang mulai berlaku secara internasional pada tanggal 1 Januari 1988. Sederhana dan memberikan kepastian dalam hal aplikasi dan interpretasi yang benar dan sama untuk keperluan negosiasi. eksportir.3. .2. • Memberikan Sistem Internasional yang resmi untuk pemberian Kode. seperti tarif pengangkutan. yaitu: 1. mengakibatkan timbulnya kesulitan dalam mengantisipasi kemajuan teknologi. Menggunakan “bahasa pabean” sehingga dapat dengan mudah dimengerti oleh importir. 4. Tujuan Harmonized System Adanya perbedaan sistem klasifikasi tarif antara negara di dunia. untuk penetapan Tarif Pabean secara mendunia. Merupakan kumpulan data yang seragam secara internasional sehingga dapat digunakan untuk mendukung analisis dan statistik perdagangan internasional. dan aparat bea dan cukai. Pen jelasan dan penggolongan barang untuk tujuan perdagangan keperluan pengangkutan. HS menggunakan dasar yang seragam untuk keperluan pentarifan secara internasional. dokumentasi dan sebagainya. • Memudahkan pengumpulan. 3. perkembangan masyarakat industri dan pola perdagangan Internasional. produsen. pengangkut. untuk memberikan perhatian kepada perkembangan teknologi dan masyarakat industri serta pola perdagangan Internasional.1. HS adalah pedoman klasifikasi yang sistematik untuk seluruh barang yang diperdagangkan secara internasional. 5. pembuatan dan analisis Statistik perdagangan dunia. dengan tujuan : • Memberikan keseragaman dalam daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis. 2. Mengapa HS dijadikan dasar klasifikasi secara internasional? Ada beberapa keuntungan yang didapat setiap negara yang mengadopsi HS sebagai pedoman klasifikasi barang.

Volume 2 (Bab 30. Volume 3 (Bab 64 . explanatory notes merupakan interpretasi resmi (official interpretation) dari HS pada level internasional dan merupakan pelengkap yang sangat penting dari HS. The International Chamber or Shipping (ICS).84).29).HS telah dibuat sedemikian rupa sehingga standard klasifikasi barang dan sistem kode penomoran barang dapat dijadikan acuan untuk berbagai kebutuhan oleh berbagai lembaga internasional yang berkaitan dengan perdagangan. Karena pentingnya Explanatory Notes ini. Explanatory Notes yang digunakan saat ini adalah edisi kedua (tahun 1996) yang terdiri dari empat volume.97). b. Explanatory Notes adalah referensi yang sangat diperlukan untuk mendapatkan interpretasi yang benar dari HS. e. Untuk itu membaca Explanatory Notes harus selalu disesuaikan dengan konteksnya dalam HS. Publikasi-publikasi tersebut juga diterbitkan oleh WCO. misalnya: a. c. 1 (Bab 1 . namun sebagaimana disetujui WCO. sebagian negara anggota WCO mensahkannya sebagai dokumen yang berkekuatan hukum Seiring perkembangan teknologi.63). The International Union Railway (IUR). yaitu Vol. . World Customs Organization (WCO). The International Air Transport Association (IATA). Explanatory Notes juga mengalami perubahan (amandemen) untuk menyesuaikan isinya dengan struktur HS. Publikasi dimaksud adalah: 1. The Explanatory Notes to the Harmonized System (EN) Explanatory Notes bukan merupakan bagian yang integral dari HS. dan Volume 4 (Bab 85 .3 Publikasi Pelengkap HS Harmonized System mempunyai beberapa publikasi pelengkap yang digunakan untuk lebih mempermudah klasifikasi barang. d. The Standard International Trade Classificatioan (SITC) 3.1.

namun juga dipergunakan secara internasional dalam bidang lain seperti negosiasi perdagangan. 2. statistik.L) dan Volume II (M .241 pos. dan sebagainya. 98.Z). semua negara mempunyai kesatuan persepsi tentang pengklasifikasian suatu barang. pengangkutan. dan . Dengan tetap berdasar kepada HS 6-digit. dirancang tidak hanya untuk keperluan kepabeanan. Structured nomenclature HS adalah nomenklatur yang terdiri dari 21 Bagian. Multipurpose nomenclature HS yang mempunyai 6 digit penggolongan. Alphabetical Index terdiri dari dua volume. yaitu: 1.1. Masing-masing negara penandatangan konvensi (contracting party) dapat mengembangkan penggolongan 6-digit tersebut menjadi kelompok yang lebih spesifik sesuai dengan kebijaksanaan ekonomi dan industrinya. the Harmonized System Commodity Data Base (dalam bentuk CD-ROM). Catatan Bab. merupakan pedoman mengklasifikasi barang yang sistematik dan seragam. The Alphabetical Index Untuk mempermudah mengklasifikasikan suatu barang pada pos-pos atau sub-sub pos dalam nomenklatur HS atau Explanatory Notes. Catatan Bagian. Publikasi lain yang merupakan pelengkap HS adalah the Compendium of Classification Opinions. bersama dengan Ketentuan Umum Menginterpretasi. 96 Bab (+ Bab 77). WCO juga menerbitkan buku indeks yang dikenal dengan nama the Alphabetical Index. dan Correlation Tables. dan Catatan Sub-Pos. the Training Modules. yaitu Bab 77. 3.4. yaitu Volume I (A .2. dan 1. HS yang tersusun dari pos dan sub-pos. Ada tiga Bab yang belum digunakan dalam HS yang ada saat ini. Dispute Settled Classification Opinion. Sistem Pengkodean Harmonized System mempunyai dua karakteristik yang sangat mendasar. 3.

b. Indonesia juga menggunakan Bab 98 untuk keperluan ekspor barang tertentu yang pada bulan April 1999 dicabut kembali. sedangkan Bab 98 dan 99 digunakan untuk keperluan khusus bagi masing-masing contracting party. pos (4-digit). Sistem penomoran dalam HS terbagi menjadi Bab (2-digit). Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System (General Rules for the Interpretation of the HS). dan sub-pos (6-digit) dengan penjelasan sebagai berikut: 01 __ 01 11 Bab (Chapter) 1 Pos (Heading) 01. Mengingat pentingnya memahami KUM HS. Pada contoh di atas. bagian ini akan dibahas tersendiri. Bab 77 dipersiapkan untuk keperluan di masa mendatang. barang dimaksud diklasifikasikan pada Bab 1. yaitu: a. Harmonized System mempunyai tiga bagian utama atau integral. misalnya untuk barang pos atau peralatan pelayaran. 01 Sub-pos (Sub-heading) 0101.99. HS menggunakan kode nomor dalam mengklasifikasikan barang. Seperti telah disinggung sebelumnya. Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System (KUM HS) merupakan bagian terpenting yang harus dipahami sebelum melangkah lebih jauh untuk meng klasifikasikan barang menggunakan HS. • Empat angka pertama menunjukkan Pos atau Heading dalam setiap bab. KUM HS berisi enam prinsip dasar yang harus dipatuhi dalam mengklasifikasi barang. barang dimaksud diklasifikasikan pada pos 01. Catatan Bab. . Pos (4-digit) dan Sub-pos (6-digit) yang disusun dengan sistematik. Catatan Bagian. c. Kode-kode nomor tersebut mencakup uraian barang yang tersusun secara sistematis. dan Catatan Sub-Pos. Pada contoh di atas. 11 _______ ______________ • Dua angka pertama untuk menunjukkan pada bab mana barang itu diklasifikasikan.01.

.Latihan 3 Pertanyaan 1. System ? 2. Penjelasan mengenai hal ini akan dibahas lebih rinci pada penjelasan berikutnya. HS menggunakan kode nomor dalam mengklasifikasikan barang. Kode-kode nomor tersebut mencakup uraian barang yang tersusun secara sistematis. Perbedaan sistem klasifikasi tarif antara negara di dunia.2. Indonesia menggunakan sistem penomoran 10 digit dalam BTBMI yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari sub-sub pos dalam HS. 3. barang dimaksud diklasifikasikan pada sub-pos 0101.• Enam angka pertama menunjukkan Sub Pos dalam setiap Pos. Indonesia menggunakan sistem penomoran 10 digit dalam BTBMI yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari sub-sub pos dalam HS. perkembangan masyarakat industri dan pola perdagangan Internasional. Pada saat ini sistem pengklasifikasian barang di Indonesia didasarkan pada Harmonized System dan dituangkan dalam bentuk suatu daftar tarif yang kita kenal dengan sebutan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia.3. Berdasarkan pasal 14 ayat 2 Undang-undang Kepabenan Indonesia Nomor 10 tahun 1995. Apa tujuan Harmnized System 2. mengakibatkan timbulnya kesulitan dalam mengantisipasi kemajuan teknologi. WCO meluncurkan HS yang mulai berlaku secara internasional pada tanggal 1 Januari 1988. Untuk keperluan nasional. Apa yang dimaksud dengan Harmonized 1. Pada contoh di atas. Bagaimana sistem penomoran Harmonized 3. pengangkutan dan statistik. System ? Jawaban 3. 3.11. Rangkuman Klasifikasi barang adalah suatu daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis dengan tujuan untuk mempermudah pentarifan transaksi perdagangan. Untuk keperluan nasional.

Atas dasar pertimbangan di atas. Dalam Pasal 1 Keputusan ini disebutkan “Untuk penetapan tarif Bea Masuk. Upaya peningkatan daya saing produk Indonesia dipasar Internasional. yang sebelumnya dikenal dengan nama Customs Cooperation Council sejak tanggal 30 April 1957. Pasal 14 ayat (1) UndangUndang ini menyebutkan bahwa “Untuk penetapan tarif Bea Masuk. penetapan klasifikasi barang ditentukan oleh Menteri Keuangan. Contoh dan Non Contoh 4.1. 17 tahun 2006 . Pengurangan hambatan dalam perdagangan Internasional guna mendukung terciptanya perdagangan bebas. Pengaturan lebih lanjut penentuan klasifikasi barang dilakukan dengan memperhatikan: a.1. Indonesia telah menjadi anggota World Customs Organization. Selanjutnya berdasarkan pasal 14 ayat 2 Undang-undang tersebut. barang dikelompokkan berdasarkan sistem klasifikasi barang”. b. Uraian. Pemerintah menerbitkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor : 440/KMK. Perlindungan terhadap konsumen dalam negeri.1. KEGIATAN BELAJAR 3 BUKU TARIF BEA MASUK INDONESIA 4. Pemenuhan perjanjian serta kesepakatan Internasional.4. c. Dasar Hukum Pada akhir tahun 1995. Sebagai . yang kemudian dikenal dengan nama Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan saat ini telah diamandemend dengan UU no. barang barang dikelompokkan berdasarkan sistem klasifikasi sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 1993 tentang Pengesahan International Convention The Harmonized Commodity Description and Coding System beserta protocol-nya”. d. Pemerintah bersama Dewan Perwakilan Rakyat telah berhasil membahas dan menyetujui Rancangan Undang-Undang Kepabeanan.05/1996 tanggal 21 Juni 1996 tentang Penetapan Sistem Klasifikasi Barang dan Besarnya Tarif Bea Masuk Atas Barang Impor.

05/1994 tanggal 16 Maret 1994 telah ditetapkan bahwa terhitung sejak 1 April 1994 . Dasar penetapan besarnya tarif bea masuk (bea masuk tambahan dilebur bersama bea masuk) untuk barang bersangkutan. BTBMI terakhir dengan BTBMI tahun 2007 menggunakan HS . Dasar penggunaan sistem klasifikasi barang berdasarkan HS versi 1996. Menindaklanjuti adanya amandemen HS 1996 tersebut. Indonesia telah menunjukkan peran serta yang aktif dalam kegiatan WCO dan telah banyak menarik manfaat dari organisasi ini.01/1995 di atas selanjutnya dijabarkan dalam bentuk penerbitan BTBMI edisi tahun 1996. 2. Penyempurnan Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 1988 tentang Perubahan dan Tambahan atas Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1969 tentang Pembebasan atas Impor dan Perubahan atas Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 1986 tentang Bea Masuk Tambahan Atas Barang Impor. Pemerintah pada tanggal 29 Desember 1995 telah mengeluarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 639/KMK. yang semula mempergunakan HS versi 1992. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 639/KMK. struktur Klasifikasi barang dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI) mengacu kepada sistem klasifikasi dari HS Convention. Berbagai bantuan teknis dalam rangka menunjang kelancaran pelaksanaan sistem dan prosedur kepabeanan Internasional. menjadi “HS versi 1996”. World Customs Organization telah mengesahkan amandemen lampiran konvensi. Hingga saat ini BTBMI 1996 dimaksud telah beberapa kali diubah atau direvisi sesuai dengan perkembangan kebijaksanaan nasional. telah diterima oleh Indonesia. Sebagai tindak lanjutnya . 3. berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 81/KMK. 01/1995 yang merupakan: 1. Indonesia telah menjadi Contracting Party dari “International Convention on the Harmonized Commodity Description and Coding Sistem”. Berdasarkan Artikel XVI HS Convention. Berdasarkan keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 35 tahun 1993.anggota WCO.

21. beberapa tahun sebelum Indonesia meratifikasi HS Convention dan saat ini yang berlaku adalah BTBMI 2007 berdasarkan AHTN.00. 6 (enam) dan 10 (sepuluh) digit pada bab 98 merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia. Struktur BTBMI Pada bab terdahulu kita telah mempelajari gambaran umum tentang Harmonized System.00 ( misalnya 8709. BTBMI tidak lain adalah HS yang dimodifikasi atau dijabarkan lebih lanjut untuk digunakan dalam pentarifan dan penanganan barang impor ke Indonesia. mempunyai struktur sebagai berikut: BTBMI 1. 3) 10 (sepuluh) digit merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia.2.ver 2007 berdasarkan AHTN. Kolom kedua adalah kolom “Uraian Barang” dalam bahasa Indonesia yang disusun dengan pola sebagai berikut: 1) Uraian barang pada pos (4 digit) dan subpos (6 digit) merupakan terjemahan dari teks HS-WCO. 4. BTBMI adalah buku tarif bea masuk yang digunakan di Indonesia semenjak 1989 yaitu.11. kecuali: ♦ yang 2 digit terakhirnya 00 ( misalnya 8709.00 ) berasal dari teks AHTN. Sekarang kta akan mempelajari tentang BTBMI. ♦ yang 4 digit terakhirnya 00. . Kolom : a.00 ) berasal dari teks HS – WCO. Kolom pertama adalah kolom “Pos/Subpos/Pos Tarif” yang mencantumkan nomor pos/subpos sebagai berikut : 1) 4 (empat) dan 6 (enam) digit pertama berasal dari teks Harmonized System-World Customs Organization (HS-WCO). b.10. 4) 4 (empat).1. 2) 8 (delapan) digit berasal dari teks AHTN.

00 ( misalnya 8709.00. .01/2003 tanggal 18 Desember 2003.10.00 ) merupakan teks AHTN. 3) Uraian barang pada pos tarif nasional (10 digit) merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia. Kolom kelima adalah kolom “Bea Masuk CEPT” yang mencantumkan pembebanan tarif bea masuk yang berlaku untuk impor barang dari negara-negara ASEAN dalam rangka Skema CEPT berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 546/KMK.00 ( misalnya 8709.00.21.10.00 ) berasal dari teks AHTN.00 ) merupakan teks asli HS – WCO. Kolom ketiga adalah kolom “Description of Goods” dalam bahasa Inggris yang disusun dengan pola sebagai berikut : 1) Uraian barang pos (4 digit) dan subpos (6 digit) merupakan teks HS-WCO dalam bahasa Inggris. Kolom keempat adalah kolom “Bea Masuk Umum” yang mencantumkan pembebanan tarif bea masuk atas barang impor berlaku umum berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 547/KMK. 4) Khusus uraian barang dalam bab 98 merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia. 4) Khusus uraian barang dalam bab 98 merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia.2) Uraian barang pada subpos ASEAN (8 digit) merupakan terjemahan dari teks AHTN. ♦ yang 4 digit terakhirnya 00.01/2003 tanggal 18 Desember 2003.11.11. kecuali : ♦ yang 2 digit terakhirnya 00 ( misalnya 8709. 2) Uraian barang pada subpos ASEAN (8 digit) merupakan teks AHTN dalam bahasa Inggris. c. d.00 ) berasal dari teks HS – WCO. ♦ yang 4 digit terakhirnya 00. kecuali: ♦ yang 2 digit terakhirnya 00 ( misalnya 8709. 3) Uraian barang pada pos tarif nasional (10 digit) merupakan terjemahan dari teks bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris. e.21.

05. PPnBM dan pemberlakuan . b. Pencantuman tanda satu asterisk (*) pada kolom “Bea Masuk Umum” berarti pembebanan impornya mengikuti tarif pada pos tarif 87.04/2000 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 39/KMK. Kolom kedelapan adalah kolom “Larangan/Pembatasan” yang mencantumkan ketentuan larangan atau pembatasan barang impor berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 230/MPP/KEP/7/1997 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 62/MPP/KEP/02/2001 dan tata niaga impor dan peredaran bahan berbahaya tertentu ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 254/MPP/KEP/7/2000. “PPnBM” dan “Larangan/Pembatasan” berarti pengenaan PPN. Pencantuman tanda asterisk (*) pada kolom pembebanan tarif ditujukan untuk halhal sebagai berikut : a. 2. h. serta ketentuan instansi teknis lainnya.04/2000 dan Nomor 570/KMK.03/2003 tanggal 28 Januari 2003 dan Nomor 355/KMK. Pencantuman tanda satu asterisk (*) pada kolom “PPN”. i.f. Tanda strip (-) pada kolom Bea Masuk CEPT berarti komoditi pada pos tarif bersangkutan tidak termasuk dalam skema CEPT. Kolom kesembilan adalah kolom “Keterangan” yang disediakan untuk mencantumkan keterangan tambahan yang dianggap perlu dan ketentuan lain yang belum ditampung pada kolom-kolom sebelumnya.03/2003 tanggal 11 Agustus 2003. Kolom ketujuh adalah kolom “PPnBM” yang mencantumkan pembebanan tarif PPnBM yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 569/KMK. Tanda strip (-) pada kolom PPN atau PPnBM berarti komoditi pada pos tariff bersangkutan tidak dikenakan pembebanan PPN atau PPnBM. 3. g.01 sampai dengan 87. Pencantuman tanda strip (-) pada kolom pembebanan tarif ditujukan untuk hal-hal sebagai berikut : a. b. Kolom keenam adalah kolom “PPN” yang mencantumkan pembebanan tarif PPN berdasarkan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000.

4. Perlu diingat bahwa selain BM yang tercantum dalam BTBMI. Nomor Pos tarif (10-digit) dan uraiannya. Bab 07 : Sayuran.3.00 Selada kubis (selada bongkahan) (1) Dua digit pertama (07) menunjukkan Bab.00. terdapat juga BM Anti Dumping yang ditetapkan tersendiri oleh Menteri Keuangan.ketentuan larangan/pembatasan berlaku hanya terhadap sebagian jenis barang atau sebagian kelompok barang dalam pos tarif bersangkutan. dan PPnBM ditetapkan oleh Menteri Keuangan. segar atau dingin. besarnya BM. Kode Penomoran dan Pentakikan 1. Pos 07. 4 Catatan Penjelasan Tambahan (SEN) merupakan pedoman dalam menginterpretasikan pengertian maupun istilah teknis barang yang tercantum dalam Subpos pos tarif tertentu. Sistem Penomoran Sistem penomoran klasifikasi dalam BTBMI menggunakan 10-digit dengan susunan 6 digit pertama mengacu pada konvensi HS. Untuk memahami sistem penomoran tersebut. 19 dan 20. (2) Empat digit pertama (0705) menunjukkan Pos. PTNI (Peraturan Tata Niaga Impor) ditetapkan oleh Menteri Perindustrian dan Perdagangan. Apabila terdapat keraguan dalam menginterpretasikan teks yang tercantum dalam Catatan Penjelasan Tambahan (SEN). maka yang mengikat secara hukum adalah teks asli SEN dalam bahasa Inggris. Bea Masuk Anti Dumping berlaku di Indonesia sejak tanggal 1 April 1996 berlandaskan Undang-Undang Nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan sesuai pasal 18.11. akar dan bonggol tertentu yang dapat dimakan. .1. 2 digit selanjutnya mengacu kepada AHTN dan 2 digit terakhir adalah pecahan pos tarif nasional. PPN.05: Selada (Lactuca sativa) dan chicory (Chicorium spp. perhatikan contoh berikut: 0705.).

).00. 0705. Apabila pos tarif 0705. Bila uraian pada butir b dipecah.Selada (4) Sepuluh digit pertama (0705.00. misalnya : . Di bawah ini disajikan contoh sistem takik dengan menggunakan contoh yang sudah ada (pos tarif 0705. Pos (4-digit) tidak diberi takik. demikian seterusnya sehingga diperoleh pengelompokan barang yang lebih rinci. b. Bila uraian pada butir c dipecah lagi.-).11 dan 0705 19.00 : .000): 07.10 . segar atau dingin).11 dipecah lagi menjadi pos tarif yang lebih rinci..10: .19: 0705.10 tidak dicantumkan karena sub-pos tersebut dipecah lagi menjadi sub-pos 0705. c. khusus untuk negara Indonesia. digunakan dua takik (.11. 0705.19.00) menunjukkan Pos Tarif 0705. -) untuk mengklasifikasi barang. HS/BTBMI juga menggunakan sistem takik (dash.Selada * Ingat. Sub-pos 0705.10) menunjukkan Sub-pos yaitu selada. dengan penjelasan sebagai berikut: a. digunakan tiga takik (.10 dipecah menjadi 0705. d.Selada kubis (selada bongkolan).11.Lain-lain) 2.11. maka digunakan pemecahan menggunakan tiga takik pada digit 9 dan 10. dalam HS/BTBMI sub-pos 0705. Sistem Takik Selain menggunakan sistem nomor.11 dan 0705.-).05 Selada (Lactuca sativa) dan chicory (Chicorium spp.(3) Enam digit pertama (0705..00 -. Penggunaan satu takik (-) dimulai pada uraian Sub-pos (6-digit).00.

barang lainnya (lain-lain). Barang tertentu mempunyai kode 10.11.10 .Dingin Perlu diperhatikan bahwa kadang-kadang nomor sub-pos atau pos tarif yang dipecah lebih lanjut tidak dicantumkan secara eksplisit dalam BTBMI. yaitu barang tertentu A . yaitu barang tertentu dan lain-lain.11 dan 0705.01 (Kentang. maupun pos tarif) dibagi atau dirinci dengan dua cara.. 80.11..10. 30. Kedua jenis barang tersebut dapat dipecah kembali lagi menjadi dua kelompok di atas (barang tertentu dan lain-lain) yang lebih spesifik.barang tertentu B atau barang tertentu A . contoh : • sub-pos 0705...00... dalam bentuk asal. .Segar 0705.0705.Dingin Namun apabila ASEAN misalnya akan membagi dari subpos 0705..07 (Ketimun dan ketimun acar.11.10.Segar 0705. • Dalam HS/BTBMI hanya ada dua jenis barang. perhatikan digit kelima dan keenam.. maka : 0705. sub-pos.barang tertentu B : Pos 07.11. dalam BTBMI tidak dicantumkan (hanya dicantumkan uraian barangnya yaitu: .20 . • Bila pos dipecah menjadi sub-sub pos.00 .00.barang lainnya (lain-lain). Pos 07. • Setiap kelompok barang di atas (baik dalam pos. Mari kita lihat contoh berikut: 39.. Contoh: Barang tertentu A . segar atau dingin) dibagi menjadi bibit dan lain-lain. Barang tertentu A .11. . 20.20. • Pemecahan pos tarif (10-digit) juga mengikuti pola di atas.19.01 --Polimer dari etilena..00 . segar atau dingin) dibagi menjadi ketimun dan ketimun acar saja.selada) karena sub-pos tersebut dipecah lebih lanjut menjadi 0705..

bandingkan dengan uraian barang pada bab-bab terdahulu.. Pos. perhatikan hal-hal berikut ini: • • • bandingkan kelompok barang “lain-lain” dimaksud dengan kelompok barang yang setara.Lain-lain Untuk pemecahan pos tarif.10. • Barang tertentu mempunyai kode 10. 20.10.00 3901.Butiran 3901.00 --.10..10.. 4. berfungsi untuk menampung barang yang belum disebut pada uraian jenis barang sebelumnya.00 --.10.Digunakan dalam pembuatan kabel telepon atau kabel listrik 3901..Dalam bentuk padat -.3901.29. bandingkan dengan uraian . . apabila kata “lain-lain” dimaksud terdapat pada pos. digunakan digit kesembilan.00 --. digunakan dalam pembuatan kabel telepon atau kabel listrik 3901.30. • Demikian juga kode 900 bila dipecah menjadi 91. yaitu menjadi 11. Sub-Pos dan Pos Tarif Nasional Untuk dapat memahami arti kata “Lain-lain” .Mutu kabel --.Lain-lain. 99.10. .99.10 3901.perhatikan dua digit terakhir.22.94: -... Kata “lain-lain” terdapat pada Bab. 12.Mutu farmasi --. Arti kata “lain-lain” Dalam klasifikasi BTBMI dengan sistem HS kata “Lain-lain”. apabila kata “lain-lain” dimaksud terdapat pada bab.21.Lain-lain --Cair atau pasta --Bentuk lain : 3901.10.23. • Bila kode 10 dipecah lagi menjadi lebih rinci..Polietilena berat jenis kurang dari 0.10.10.91.00 3901. • Barang lainnya (lain-lain) diberi kode 90.00 3901. 92..00 --. . 19. 30.4.00 -..1.

yang termasuk dalam Lain-lain (1). dan Lain-lain (1). • • apabila kata “lain-lain” dimaksud terdapat pada sub-pos. pada sub-pos yang sama. bandingkan dengan uraian barang pada sub-sub pos terdahulu. selain C1 dan C2.barang pada pos-pos terdahulu dalam bab yang sama. Cara membaca: Lain-lain (3): barang selain C1 dan C2. Di bawah ini disajikan mengetahui kelompok barang yang termasuk lain-lain dengan menggunakan metode diagram pohon dengan contoh sebagai berikut: A A1 A2 Lain-lain (1) B1 B2 Lain-lain (2) C1 C2 Lain-lain (3) • • • • • • Barang A dibagi menjadi barang A1. yang termasuk dalam Lain-lain (2). bandingkan dengan uraian barang pada pos-pos tarif terdahulu. Barang Lain-lain (2) dibagi menjadi barang C1. Lain-lain (2): barang selain B1 dan B2. Jadi. A2. Metode di atas dapat difahami dengan lebih mudah apabila kita dapat menggambarkannya dalam bentuk diagram pohon. B2. yang termasuk dalam barang A. dan Lain-lain (2). apabila kata “lain-lain” dimaksud terdapat pada pos tarif. dan Lain-lain (3). C2. Lain-lain (3) adalah termasuk kelompok barang A selain A1 dan A2. Lain-lain (2) adalah termasuk kelompok barang A selain A1 dan . Barang Lain-lain (1) dibagi menjadi barang B1. selain B1 dan B2. dalam pos yang sama. sehingga akan jelas kelompok barang mana yang akan dibandingkan dengan barang lain-lain barang lain-lain yang ingin kita ketahui. Lain-lain (1): barang selain A1 dan A2.

. Secara lebih rinci uraian pos tersebut dapat diuraikan menjadi: Binatang hidup. Di bawah ini disajikan beberapa contoh pengertian kata lain-lain yang terdapat dalam BTBMI: a) Judul Bab. Secara singkat makna kata lainnya berfungsi untuk menampung barang tekstil sudah jadi yang belum disebutkan pada bab-bab sebelumnya dalam Bagian XI. Dengan sedikit latihan menggunakan BTBMI..06: Binatang hidup lainnya.. kalkun dan ayam mutiara c) Judul Sub Pos Sub-pos 0102. selain binatang sejenis lembu. hidup yang belum disebutkan pada sub-sub pos sebelumnya. selain B1 dan B2. bagal dan hinnies. bebek. Lain-lain (3) adalah termasuk kelompok barang A selain A1 dan A2. selain yang telah disebutkan pada Bab 50 sampai dengan Bab 62”. Subpos maupun Pos tarif nasional. Dalam diktat ini pengertian lain-lain dibatasi pemahamannya sebatas berkaitan dengan uraian jenis barang pada judul Bab. maupun catatan Sub-pos. catatan Bab. selain babi selain biri-biri dan kambing selain unggas dari jenis : ayam spesies Gallus domesticus. keledai. Bab 63: Barang tekstil sudah jadi lainnya . Pos. Secara lebih rinci uraian dalam sub-po stersebut dapat diuraikan menjadi: .90 : .A2. Pos 01. Secara lebih rinci judul bab tersebut dapat diuraikan menjadi “Tekstil dan barang tekstil. Kata lainnya dalam pos ini berfungsi untuk menampung binatang hidup yang belum disebutkan pada pos-pos sebelumnya. • • • selain kuda. pengertian kata lain-lain tersebut akan dapat dengan mudah dimengerti. tanpa dikaitkan dengan catatan Bagian. b) Judul Pos.Lain-lain Kata lain-lain dalam sub-pos ini berfungsi untuk menampung binatang sejenis lembu.

Bagaimana cara membaca pengertian kata “Lain. Rangkuman Indonesia telah menjadi Contracting Party dari “International Convention on the Harmonized Commodity Description and Coding Sistem”. Selain menggunakan sistem nomor. namun bukan untuk bibit 4. Sub-Pos dan Pos Tarif Nasional. 1995 yang berkaitan dengan klasifikasi barang ? 2. dalam penomoran HS ? 4. berdasarkan keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 35 tahun 1993. -) untuk mengklasifikasi barang Dalam klasifikasi BTBMI dengan sistem HS kata “Lain-lain”. Kata “lain-lain” terdapat pada Bab.3. Dengan sedikit latihan menggunakan BTBMI. HS/BTBMI juga menggunakan sistem takik (dash. Jawaban 3. Sebagai tindak lanjutnya struktur Klasifikasi barang dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI) mengacu kepada sistem klasifikasi dari HS Convention Sistem penomoran klasifikasi dalam BTBMI menggunakan 10-digit dengan susunan 6 digit pertama mengacu pada konvensi HS dan 2 digit terakhir adalah pecahan pos tarif nasional.Binatang hidup. Apa yang dimaksud dengan sistem pentakikan 3. bagal dan hinnies. • • selain kuda. Pos. lain” dalam BTBMI ? 4. keledai. termasuk binatang sejenis lembu. pengertian kata lain-lain tersebut akan dapat dengan mudah dimengerti . Latihan 3 Pertanyaan 1. berfungsi untuk menampung barang yang belum disebut pada uraian jenis barang sebelumnya. Apa isi Buku Tarif Bea Masuk Indonesia ? 2.2. 10 tahun 1. Pasal berapa dalam Undang-undang no.4.

S ) Ditinjau dari fungsi pengklasifikasian. . Heading. statistik. seperti Pabean. Demikian dalam kekuatan hukumnya sama. perdagangan internasional dan pengangkutan laut. ( B . label kemasan dan data lainnya 2. Fungsi dasar HS adalah untuk memberikan keseragaman dalam mengklasifikasi barang guna memberikan kemudahan pada perdagangan internasional 5. ( B . karena yang utama adalah uraian barangnya. sertificate of analysis. jenis dan spesifikasi lainnya secara akurat.5. ( B . Lingkarilah huruf B apabila pernyataan ini Saudara anggap benar dan huruf S apabila pernyataan Saudara anggap salah. Test Formatif 5.1. Catatan Bagian. ( B . Bab dan Subheading . ( B . 1. Salah satu tujuan HS adalah untuk memberikan ketidak seragaman secara internasional penggolongan barang dalam tarif pabean 4. sub-heading dan penomoran hingga ke Pos tarif (10 digit). struktur HS terdiri dari : KUM HS .S ) Untuk mengklasifikasi barang diperlukan data mengenai nama. brosur. udara dan kereta api. Informasi mengenai barang tersebut dapat kita peroleh melalui : kondisi fisik.S ) HS bersifat harmonis karena standard klasifikasi dan sistem kode penomoran barang digunakan untuk berbagai kepentingan.S ) Apabila terdapat perbedaan sistem klasifikasi pada setiap negara akan memperpanjang waktu untuk penetapan bea masuk dan pengeluaran barang impor di pelabuhan.S ) Customs Cooperation Council di Brussels pada tanggal 14 Juni 1983 menghasilkan Konvensi Internasional tentang The Harmonized Commodity Description and Coding System (HS) dan mulai berlaku di Indonesi sejak tanggal 1 Januari 1988 3.

Prosedur tersebut secara umum ialah .. Dalam pengamatan sementara untuk mengklasifikasi barang. Barang tidak dapat diklasifikasikan. mengidentifikasi barang dengan mempelajari jenis dan spesifikasinya b.5.. merumuskan identitas atau deskripsi barang tersebut c. melihat Buku Tarif Bea Masuk Indonesia dan menentukan klasifikasinya d. Bunyi kalimat diatas sesuai dengan bunyi UU no.2. Untuk mengklasifikasi barang. Untuk penetapan tarif bea masuk. b dan c benar 4.. b. Mengklasifikasi barang seluruhnya harus tepat secara eksak d... pernyataan a. Dapat terkait dengan beberapa bab c. tanggal 1 Agustus 1988 c. pasal 115 c. Pilihlah jawaban yang Saudara anggap benar dengan cara melingkari huruf yang terdapat di depan jawaban tersebut a. 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan pada : a. tanggal 31 Januari 1988 d. pasal 16 b. Jenis suatu jenis barang dimungkinkan tidak ada dalam HS b. maka sebutkan pernyataan dibawah ini yang tidak benar a.. barang dikelompokkan berdasarkan sistem klasifikasi barang. c. tanggal 11 Januari 1989 3.. a. dikenal prosedur umum untuk mengklasifikasi barang. pasal 116 2. The Harmonized Commodity Description and Coding System (HS) mulai berlaku secara internasional sejak : a. atau d ) 1. karena uraian jenis barangnya tidak ada dalam BTBMI .. tanggal 1 Januari 1989 b. pasal 14 d.

b 3. B 5. 1 B. Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan singkat dan benar 1. KUNCI JAWABAN TEST FORMATIF Kelompok 5. b dan c benar 5.5. a 2. S 3. Sebutkan 3 Sistem dalam mengklasifikasi barang yang pernah digunakan Pemerintahan Republik Indonesia. hanyalah sementara (mengikuti surat Keputusan Menteri Keuangan RI) b. 2. d .3. B. selalu berubah d.. harus mengacu kepada perkembangan terakhir besarnya penetapan Bea Masuk c. pernyataan a.2. 1. Sebutkan tujuan Harmonized System ? Apakah besarnya tarif bea masuk Indonesia secara hukum sesuai seperti apa yang tertulis dalam BTBMI tersebut ? 6. c 5. sebelum HS ! 2. Pencantuman besarnya Bea Masuk pada Buku tarif Bea Masuk Indonesia : a. 5. 4.1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan konvensi HS ? Mengapa kita memilih suatu system seperti HS dalam menentukan klasifikasi barang ? 4. d 4. S Kelompok 5. 3.

d) Menggunakan “bahasa pabean” sehingga dapat dengan mudah dimengerti oleh importir. Sistem CCCN ini mulai diberlakukan pada tanggal 1 Oktober 1980 sampai dengan 31 Maret 1985. e) Sederhana dan memberikan kepastian dalam hal aplikasi dan interpretasi yang benar dan sama untuk keperluan negosiasi. kelompok studi tersebut berhasil menyusun suatu nomenklatur (daftar klasifikasi barang berdasarkan kelompok-kelompok) yang dinamakan Harmonized Commodity Description and Coding System atau lebih dikenal dengan sebutan Harmonized System (HS). produsen. b) HS adalah pedoman klasifikasi yang sistematik untuk seluruh barang yang diperdagangkan secara internasional. Nomor 2 Pada akhir tahun 1986. Nomor 1 a) Sistem Brussel Edisi 1975 (BTN 1975).3. Untuk memberikan kekuatan hukum yang pasti. eksportir. hanya pada sistem CCCN ini terdapat penyempurnaan sistem penomoran pada sub-pos dari dua digit menjadi tiga digit atau semula 6 digit menjadi 7 digit. . pengangkut. dan aparat bea dan cukai. c) HS menggunakan dasar yang seragam untuk keperluan pentarifan secara internasional. Penetapan tarif ini merupakan penyempurnaan dari penetapan tarif sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 Juli 1975 sampai dengan 30 september 1980. Sistem ini merupakan penyempurnaan dari sistem CCCN sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 April 1987 sampai dengan 31 desember 1988. nomenklatur disahkan dalam Konvensi HS Nomor 3 a) HS adalah pedoman klasifikasi yang sistematik untuk seluruh barang yang diperdagangkan secara internasional. b) Sistem Customs Cooperation Council (CCCN). c) Sistem CCCN Edisi 1985 (CCCN 1985).Kelompok 6. Pada dasarnya sistem pentarifan ini sama dengan sistem sebelumnya.

. untuk penetapan Tarif Pabean secara mendunia.f) Merupakan kumpulan data yang seragam secara internasional sehingga dapat digunakan untuk mendukung analisis dan statistik perdagangan internasional.. d) Memperbaharui sistem klasifikasi barang sebelumnya.. b) Memudahkan pengumpulan. Nomor 4 a) Memberikan keseragaman dalam daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis. untuk memberikan perhatian kepada perkembangan teknologi dan masyarakat industri serta pola perdagangan Internasional.. dan . dokumentasi dan sebagainya.... UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Bandingkanlah hasil jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang ada di belakang modul ini. Ketentuan hukum yang legal adalah sesuai Surat Keputusan Menteri Keuangan tentang perubahan Tarif Bea Masuk Indonesia (lihat Kata Pengantar pada BBTBMI) 7. Nomor 5 Buku tarif Bea Masuk Indonesia hanyalah suatu referensi praktis agar dapat secara optimal digunakan di lapangan.. pembuatan dan analisis Statistik perdagangan dunia. seperti tarif pengangkutan. Kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap terhadap materi kegiatan belajar Rumus Tingkat Penguasaan Untuk kelompok A dan B : Jumlah Jawaban yang benar dibagi 10 kemudian dikali 100 % = .. Hitunglah jumlah jawaban Anda yang benar atau sejauh mana Anda menguasai mata pelajaran tersebut. c) Memberikan Sistem Internasional yang resmi untuk pemberian Kode.. Pen jelasan dan penggolongan barang untuk tujuan perdagangan keperluan pengangkutan. Untuk kelompok C : Apabila benar seluruhnya nilai menjadi 100 ..

Jakarta c.Untuk nilai keseluruhan maka dibagi rata-rata dari (A+B) dan C Arti tingkat penguasaan : * 90 % . Harmonized System. (1995) Pusdiklat Bea dan Cukai. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (2007). Jakarta *** MODUL II SISTEM KLASIFIKASI BARANG MENURUT HARMONIZED SYSTEM . World Customs Organization. Word Customs Organization. Hasilnya Baik ! akan tetapi. 2007 d. bila tingkat penguasaan Anda masih dibawah 80 %. terutama bagian yang belum Anda kuasai 8.89 % = Baik * 70 % .100 % = Baik sekali * 80 % . Anda harus mengulangi membaca Modul kembali. 2007 version b. Daftar Kepustakaan a. Pengantar Klasifikasi Barang.79 % = Cukup * 69 % = Kurang Kalau Anda mencapai tingkat penguasaan 80% keatas Anda dapat meneruskan kepada modul atau bagian pelajaran lain. Departemen Keuangan RI. Explanatory Notes.

MATERI KLASIFIKASI BARANG OLEH : TIM PENYUSUN MODUL PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN BEA DAN CUKAI BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA JAKARTA 2007 Kata Pengantar Puji syukur kehadirat Allah yang Maha Kuasa. Dalam rangka penentapan tarif bea masuk dan kepentingan kepabeanan lainnya. Obyek dari kegiatan Direktorat Bea dan Cukai adalah barang. seyogyanya petugas Ditjen Bea dan . bahwa Modul ini dapat diselesaikan sesuai waktunya.

Modul ini merupakan seri dari 3 buah modul mata pelajaran klasifikasi barang.Cukai menambah keterampilam dalam mengklasifikasi barang agar pelayanan cepat dan negara tidak dirugikan dalam menetapkan besarnya bea masuk. Modul ke 2 dengan judul Teknik Klasifikasi Barang digunakan dalam Diklat Teksnis Substantif Spesialis Kepabeanan dan Cukai Dalam kesempatan ini. Semoga Modul ini bermanfaat sebagai penambah wawasan dan media untuk penambah keterampilan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang. Jakarta. Nopember 2007 Penulis . Semoga Allah membalas atas amal kebaikan tersebut. karena ada kepastian tentang jenis barang dan penetapan tarif posnya. Penulis menghaturkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga dapat diselesaikannya Modul ini.

......................................................... Rangkuman........3.2.................................1 Uraian. 3..................... Tujuan Pembelajaran Umum.......................................................... Contoh dan Non contoh........................... Contoh dan Non contoh.................................................. 4...................................................DAFTAR ISI Halaman Kata Pengantar ............................................................................................... 1........................ Rangkuman........................... Latihan 1....................... 1..................... Daftar Isi ... 3................................................ KEGIATAN BELAJAR 1 KETENTUAN UMUM UNTUKMENGINTERPRETASI HS........................................................... Test Formatif .3.............2.... Rangkuman....................................................................................................2...........................1 Uraian.......... KEGIATAN BELAJAR 3 NOTA PENELITIAN KLASIFIKASI BARANG 4..................................... PENDAHULUAN ............................ KEGIATAN BELAJAR 2 TAHAPAN MENGKLASIFIKASI BARANG....... Umpan Balik....3...................... Latihan 2..1........................................................... 2..........1 Uraian.................................................. Latihan 3................................................ 2...... Daftar Pustaka..... Tujuan Pembelajaran Khusus......................................................... 4.................................................................................... Kunci Jawaban .................................. 3...... 1......... Contoh dan Non contoh...............3.........Deskripsi singkat........ i ii 1 1 1 1 2 2 13 14 1 2 3 15 15 16 17 18 18 23 24 24 27 28 29 4 5 6 7 8 ................2............ 2..................

1. Deskripsi Singkat Seorang klasifikator dibidang kepabeanan harus dapat mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang dengan terampil. Tahapan dalam mengklasifikasi Barang. Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System 2.2. tahapan dalam mengklasifikasi barang dan membuat nota penelitian klasifikasi barang berdasarkan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia.1. 1. seorang klasifikator harus terlebih dahulu memahami pengetahuan barang dan pengetahuan mengenai klasifikasi barang. Tujuan Instruksional Umum Setelah mempelajari modul ini. . 3. PENDAHULUAN 1. Oleh karena itu.MODUL II TEKNIK KLASIFIKASI BARANG I. Nota Penelitian Klasifikasi Barang. Tujuan Instruksional Khusus Setelah mempelajari Modul ini diharapkan para Siswa mampu menjelaskan : 1. Seorang klasifikator harus memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang karena akan menentukan ketepatan pengisian Pemberitahuan Impor Barang yang pada akhirnya menentukan ketepatan jumlah bea masuk dan pungutan impor lainnya yang harus dibayar.3. para Siswa diharapkan mampu menerapkan ketentuan umum untuk menginterpretasi Harmonized System.

Uraian pos dan catatan-catatan tersebut Apabila pos dan catatan-catatan tersebut tidak menentukan lain. Bab dan Sub-bab hanya dimaksudkan untuk memudahkan referensi saja. dan catatan sub-pos. sutera adalah produk hewani. KEGIATAN 1 KETENTUAN UMUM UNTUK MENGINTERPRETASI HARMONIZED SYSTEM 2. Contohnya. Uraian pada bab hanya untuk referensi saja. salah satu ketentuan dalam KUM HS harus dipergunakan. sadar atau tidak. Yang mempunyai kekuatan hukum adalah pos (heading). catatan bagian. 1. dalam hal KUM HS 1 tidak bisa digunakan barulah digunakan KUM . KUM HS mutlak diperlukan sebagai pedoman dasar yang tidak boleh ditinggalkan. tidak mungkin semua jenis barang dapat dicakup dengan persis pada setiap bab. Karena itu perlu diingat agar selalu mempertimbangkan semua bab atau pos yang mungkin mencakup suatu barang. Untuk itu.1.2. catatan bab. untuk tujuan hukum. Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 1 Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System (KUM HS) merupakan pintu gerbang untuk memasuki klasifikasi barang. pelajari satu-persatu enam butir KUM HS tersebut. Contoh dan Non Contoh 2. asalkan pos atau Catatan tersebut tidak menentukan lain : Penjelasan: HS adalah nomenklatur yang bersifat sistematik.1. tetapi karena sifatnya yang khusus dalam HS tidak diklasifikasikan pada bab 5 (produk hewani tidak dirinci atau termasuk dalam pos lainnya). Setiap kali melakukan kegiatan klasifikasi barang. Namun mengingat banyaknya jenis barang. Mengingat begitu kompleksnya teknik klasifikasi barang. tidak mempunyai kekuatan hukum. marilah kita KUM HS 1 : Judul Bagian. Uraian. klasifikasi harus ditentukan menurut uraian yang terdapat dalam pos dan berbagai Catatan Bagian atau Bab yang berkaitan serta menurut ketentuan-ketentuan berikut ini. merupakan pertimbangan utama. tetapi diklasifikasikan khusus pada bab 50.

4. Bagaimana pengklasifikasiannya bila keledai tersebut diimpor oleh grup sirkus dari jerman ? 2. asalkan pada saat diajukan. . catatan 2 Bab 31 menjelaskan pos 31. dan 5. Referensi ini harus dianggap juga meliputi refensi untuk barang tersebut dalam keadaan lengkap atau rampung (atau yang berdasarkan ketentuan ini dapat digolongkan sebagai lengkap atau rampung) yang diajukan dalam keadaan belum dirakit atau terbongkar.jenis keledai . Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 2a dan 2 b KUM HS 2 a : Setiap referensi untuk suatu barang dalam suatu pos harus dianggap meliputi juga referensi barang tersebut dalam keadaan tidak lengkap atau belum rampung. Spesifikasi keledai : .HS 2.umur 2 tahun . Batasan ini tidak boleh diperluas dengan menggunakan KUM HS 2(b).02 hanya untuk produk tertentu. 2.1.. 3.dapat mendemontrasikan beberapa permainan dalam pertunjukan sirkus Pengklasifikasian apakah pada bab 1 atau bab 95 Perhatikan gambar keledai yang biasa digunakan untuk sirkus. barang yang tidak lengkap atau belum rampung tersebut memiliki karakter utama dari barang itu dalam keadaan lengkap atau rampung. Contohnya.

harus dianggap juga meliputi referensi untuk campuran atau kombinasi dari bahan atau zat itu dengan bahan atau zat lain. Bagaimana pengklasifikasiannya bila sepeda tersebut : a) tidak dicat . Penjelasan: . Setiap referensi untuk barang dari bahan atau zat tertentu harus dianggap juga meliputi referensi untuk barang yang sebagian atau seluruhnya terdiri dari bahan atau zat tersebut. Namun tetap dianggap set sepeda karena sifat utamanya sebagai sepeda telah dimiliki.memiliki laher dalam as ban -bisa dikendarai oleh orang tua maupun anakanak : Perhatikan gambar sepeda diatas.b) tidak ada sadelnya c) dalam keadaan terurai KUM HS 2 b : Setiap referensi untuk suatu bahan atau zat dalam pos. Spesifikasi : Sepeda merk :”Bamby” . dan tiap setnya tidak ada sadel dan ban dalamnya.Ada alat perubah kecepatan .Penjelasan: Barang tidak lengkap atau tidak rampung dianggap sebagai barang lengkap atau rampung. asalkan pada saat diimpor sudah mempunyai sifat utama sebagai barang lengkap atau rampung Sebagai contoh beberapa set sepeda yang diimpor dalam keadaan terurai. Barang yang terdiri lebih dari satu jenis bahan atau zat harus diklasifikasikan sesuai prinsip dari Ketentuan 3.

Bagaimana pengklasifikasian tutup botol tersebut. ketentuan ini hanya berlaku apabila pos atau catatan bagian atau catatan bab tidak menentukan lain.. KUM HS 2(b) tidak dapat digunakan (harus digunakan KUM HS 3). apakah pada bab 45 atau bab 39 Perhatikan sumbat botol diatas. karena uraian posnya sudah menyebutkan bahwa produk dalam pos tersebut tidak dicampur.Terbuat dari gabus . Mengapa demikian ? karena sifat sebagai susunya tidak berubah.). maka KUM HS 2(b) tidak berlaku. barang yang dengan pertimbangan awal dapat diklasifikasikan dalam dua pos atau lebih. Apabila tambahan atau campuran bahan atau zat menghilangkan sifat barang seperti diuraikan pada pos.. b dan c KUM HS 3 : Apabila dengan menerapkan Ketentuan 2 (b) atau untuk berbgaia alasan lain. . maka pengklasifikasiannya tetap sebagai susu. pos 15.03 (-lard oil. Ingat. maka klasifikasiannya harus diberlakukan sebagai berikut : .. Contoh. Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 3a. Sebagai contoh suatu susu yang telah ditambah sedikit vitamin. Spesifikasi tutup botol : .3.tidak diemulsi atau dicampur.1..Campuran atau kombinasi dua atau lebih bahan atau zat diklasifikasikan berdasarkan KUM HS 1. bagaimana bila sumbat botol bagian atas dilapis plastik ? 2.bagian luarnya dilapisi plastik.

harus lebih diutamakan dari pos yang memberikan uraian yang lebih umum. baru kemudian KUM HS 3(c). Dalam hal ini KUM HS 3(c) tidak berlaku.atau hanya merujuk kepada bagian dari bahan atau zat terkandung dalam campuran atau barang komposisi atau hanya merujuk kepada bagian dari barang dalam set yang disiapkan untuk penjualan eceran. Contoh.10.05 dan juga dirinci pada pos 97. bukan pada pos 87.08. catatan 4(b) bab 97 menentukan bahwa barang yang dirinci pada pos 97. harus diklasifikasikan pada pos terdahulu awal (berarti bertentangan dengan KUM HS 3c ). Saringan oli walau sebagai bagian dari mesin pada pos 8409. KUM HS 3(b). Penggunaan KUM HS 3 harus urut dari KUM HS 3(a).01 sampai dengan 97. tufted textile for motor cars diklasifikasikan pada pos 57.09 (self-contained motor). Contoh shavers/hair clippers diklasifikasikan pada pos 85. Contoh. namun pos 8421 uraian barangnya lebih rinci. Apabila dua atau lebih pos menguraikan hanya bagian dari bahan atau zat yang terkandung dalam suatu barang campuran atau komposit. apabila dua pos atau lebih yang masing-masing pos hanya merujuk kepada bagian dari bahan atau zat yang terkandung dalam barang campuran atau barang komposisi. Penjelasan: Pos dengan uraian lebih spesifik lebih diutamakan dari pos dengan uraian yang lebih umum.03. atau catatan bab tidak menentukan lain. catatan bagian. atau bagian dari item dalam .06. KUM HS 3 baru dipergunakan apabila uraian pos.Penjelasan: KUM HS 3 hanya dipergunakan bila KUM HS 2 tidak bisa dipergunakan. bukan pada pos 85. Sekali lagi diingatkan. Pos yang menyebutkan nama barang lebih diutamakan dari pos yang menyebutkan kelompok barang. maka pospos tersebut harus dianggap setara sepanjang berkaitan dengan barang tersebut. walaupun salah satu dari pos tersebut memberikan uraian yang lebih lengkap atau lebih tepat. Pos yang menyebutkan barang yang disebutkan secara rinci lebih diutamakan dari pos yang menyebutkan bagian suatu barang. Namun demikian. KUM HS 3 a : Pos yang memberikan uraian yang paling spesifik.

jumlah. dan bahan utama yang berkaitan dengan penggunaan barang. dan handuk dari tekstil (63. sisir (96. dan bersama-sama membentuk barang jadi yang secara normal tidak diperdagangkan terpisah. asalkan satu sama lain adapted to the other. Contoh. Bisa langsung dijual tanpa perlu dibungkus/dikemas kembali (contoh. dan barang yang dikemas dalam bentuk set untuk penjualan eceran. meskipun salah satu pos lebih rinci dari pos lainnya. ready-to-eatmeal). harus diklasifikasikan berdasarkan bahan atau komponen yang memberikan karakter utama barang tersebut. sikat (96. maka KUM HS 3(a) tidak berlaku dan digunakan KUM HS 3(b) atau 3(c). barang komposit yang terdiri dari komponen yang berbeda. yang tidak dapat diklasifikasikan berdasarkan referensi 3 (a). dikemas dalam tas kulit (42.10). KUM HS 3 b : Barang campuran dan barang komposisi yang terdiri dari bahan yang berbeda atau yang dibuat dari komponen yang berbeda. Penjelasan: KUM HS 3(b) hanya berlaku untuk campuran. serta barang yang disiapkan dalam set untuk penjualan eceran. mutually complementary.15). dan bila KUM HS 3(a) tidak bisa digunakan.03).satu set barang untuk penjualan eceran. Yang dimaksud dengan barang dikemas dalam bentuk set untuk penjualan eceran yaitu: • • • Paling sedikit dua produk yang berbeda pos (sembilan sendok bukan set).10 (berdasarkan komponen yang memberikan . Beberapa produk/barang bersama-sama untuk keperluan/kegiatan tertentu. Yang dimaksud dengan karakter utama (Essential character) pada KUM HS ini mengacu pada bahan atau komponen. barang komposit yang terdiri dari bahan yang berbeda. gunting (82. Contoh set: hairdressing set yang terdiri dari electric hair clipper (85.02). rak bumbu dengan beberapa botol tempat bumbu kosong.02) diklasifikasikan pada pos 85. sepanjang kriteria ini dapat diterapkan.13). KUM HS 3(b) berlaku juga untuk komponen yang terpisah. kemasan. berat atau nilai.

saus.sifat utama).Mengandung mie. KUM HS 3(b) tidak berlaku untuk barang yang terdiri dari beberapa bagian yang dikemas terpisah (baik kemasan yang biasa digunakan maupun tidak). minuman). barang diklasifikasikan pada pos terakhir.14 dan pos 83.mengandung .06. namun karena menurut KUM HS 3c. bawang dan cabe Perhatikan mie instan yang sudah mask diatas. saus.Supermi instan bungkus .merk :”Mi Enak” . Tahukah Saudara ketika belum dimasak yang bungkusannya terdiri dari : mie. bumbu. suatu bingkai berbentuk bujur sangkar yang 2 sisi terbuat dari kayu dan dua sisi lainnya terbuat dari logam. Contohnya. Spesifikasi Mie :Instan : . bumbudan bahan lainnya. yaitu pos Spesifikasi barang : . Bagaimana Saudara mengklasifikasi bila dalam keadaan mentah atau dalam bungkusan ? KUM HS 3 c: Apabila barang tidak dapat diklasifikasikan berdasarkan referensi 3 (a) atau 3(b). maka barang tersebut harus diklasifikasikan dalam pos tarif terakhir berdasarkan urutan penomorannya di antara pos tarif yang mempunyai pertimbangan yang setara.Van belt merk : :”Ando” . kecap. dalam proporsi tertentu untuk keperluan industri (contoh. Penjelasan: Bila KUM HS 3(a) dan 3(b) tidak dapat digunakan. maka bingkai tersebut harus diklasifikasikan pada pos terakhir. Bingkai ini ditinjau dari bahan baku memiliki bahan yang sama dan seimbang antara pos 44.

sifat.06. b) Ketentuan ini mengenai barang-barang yang tidak dapat diklasifikasikan ke dalam salah satu pos dalam HS. tujuannya). c) Pada waktu menerapkan ketentuan No. Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 4 KUM HS 4: Barang yang tidak dapat diklasifikasikan berdasarkan referensi diatas. Ketentuan ini menetapkan bahwa barang-barang tersebut harus digolongkan kedalam pos atas barang yang memiliki persamaan terbanyak. karena tidak ada uraian yang sesuai (misalnya yang baru muncul di pasaran dunia). . sifatnya. Hal tersebut dilakukan untuk meneliti pada pos mana yang memiliki unsur kesamaan terbanyak. d) Persamaan dapat tergantung dari beberapa faktor seperti nama. penggunaan. barang yang akan diklasifikasikan harus diperbandingkan dengan uraian barang dalam beberapa pos HS yang memiliki kesamaan jenis atau karakternya. Perhatikan vanbelt ini. 4. diklasifikasikan ke dalam pos yang sesuai untuk barang yang paling menyerupai.4. harus Penjelasan: a) KUM HS 4 baru digunakan apabila KUM HS 1 sampai dengan KUM HS 3 tidak dapat digunakan. Berdasarkan KUM HS 4.83.1. dan seterusnya. bagaimana pengklasifikasiannya bila terbuat dari bahan plastik dan karet yang sama tebalnya ? 2. klasifikasi berdasarkan barang yang sifatnya paling sesuai (misalnya uraian barangnya.

dan sebagainya. data teknis. Ketentuan berikut ini harus diberlakukan terhadap barang tersebut di bawah ini : Tas kamera. . koper senapan. kotak kalung dan kemasan semacam itu. 2. cocok untuk penggunaan jangka panjang dan diajukan bersama barangnya. kotak (boxes). dan tempat semacam itu yang: • • • • • khusus dibuat untuk barang tertentu. KUM HS 4 baru digunakan apabila benar-benar tidak ada lagi data atau informasi yang dapat diperoleh untuk mengidentifikasi barang dimaksud. biasa dijual bersama dengan barangnya. tempat alat musik. dibentuk secara khusus atau pas untuk menyimpan barang atau perangkat barang tertentu. tas instrumen musik. Namun demikian. tempat teleskop. digunakan untuk jangka waktu lama.Perlu diingatkan. Penjelasan: KUM HS 5(a) berlaku untuk Peti (cases). sangat disarankan untuk mencari lebih dulu informasi tentang barang dimaksud dari berbagai sumber yang ada. Contoh: tempat perhiasan. dimasukkan bersama barangnya (bila dimasukkan terpisah diklasifikasikan pada pos tersendiri). apabila kemasan tersebut memang biasa dijual dengan barang tersebut.1. Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 5 KUM HS 5 : Sebagai tambahan dari aturan di atas. seperti literatur. sebelum memutuskan menggunakan KUM HS 4. dan sebagainya. ketentuan ini tidak berlaku untuk kemasan yang memberikan seluruh karakter utamanya. tas instrumen gambar. internet. harus diklasifikasikan menurut barangnya. Untuk itu. 5. tempat senjata. tidak memberikan sifat utama.

Penjelasan: Mengacu pada KUM HS 5(a). apabila bahan atau kemasan pembungkus tersebut memang biasa untuk membungkus barang tersebut. maka gasnya diklasifikasikan pada pos tarif gas. Ketentuan ini tidak berlaku untuk pembungkus/tempat simpan yang digunakan berulang-ulang (repetitive use).Terbuat dari karet yang dilapisi tekstil tebal Perhatikan gambar guitar dan kemasannya diatas.gitar dengan kemasannya . contohnya gas yang diimpor bersama pengemasnya (tabung gas di bawah tekanan). sedangkan pengemasnya diklasifikasikan pada pos tarif tabung gas. Tempat semacam itu harus diklasifikasikan tersendiri Sebagai contoh. bahan pembungkus dan kemasan pembungkus yang diajukan bersama dengan barangnya harus diklasifikasikan menurut barangnya.merk :”Refly” . Bagaimana Saudara mengklasifikasiguitar beserta kemasan diatas ? KUM HS 5 b : Berdasarkan aturan dari ketentuan nomor 5 (a) di atas.Spesifikasi barang : . Namun demikian ketentuan ini tidak mengikat apabila bahan atau kemasan pembungkus tersebut secara nyata cocok untuk dipakai berulangulang. Ketentuan ini tidak berlaku untuk tempat simpan yang nilainya jauh lebih tinggi dari barang yang disimpan di dalamnya. pembungkus/tempat simpan diklasifikasikan dengan barangnya bila biasa dipakai untuk barang tersebut. tempat teh dari perak dan tempat permen dari porselin berdekorasi China .

19). atau catatan subpos harus tetap menjadi pertimbangan utama. untuk keperluan ketentuan ini diberlakukan juga catatan Bagian dan catatan Bab. Penjelasan: KUM HS 1 sampai dengan KUM HS 5 berlaku mutatis mutandis (secara langsung) untuk subsub pos pada satu pos yang sama (perbandingan pada takik yang sama).Spesifikasi barang : . serta ketentuan ini di atas dengan penyesuaian seperlunya.tabung gas berisi gas .1. catatan bab. KUM HS 6 berlaku sepanjang konteksnya tidak menentukan lain.11 dan 7110. dengan pengertian bahwa hanya subpos yang setara yang dapat diperbandingkan.2. Contohnya. catatan bagian.Terbuat baja tahan karat Bagaimana pengklasifikasian suatu gas beserta tabungnya yang dapat diisi ulang ? Tabung gas LPG dengan isinya LPG pada pos berapa dalam Harmonized System ? 2. 6. Kecuali apabila konteksnya menentukan lain.merk :”Reflon” . Platinum pada catatan 4(b) Bab 71 tidak sama dengan Platinum pada catatan subpos 2 (khusus untuk sub-pos 7110. Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 6 KUM HS 6 : Untuk tujuan hukum klasifikasi barang dalam sub pos dari suatu pos harus ditentukan berdasarkan uraian dari subpos tersebut dan catatan subpos bersangkutan. Artinya. Latihan . 2.

Pertanyaan 1. Dalam mengklasifikasi barang gantungan kunci yang terdiri dari ring baja, rantai baja dan hiasan dari plastik, harus menggunakan KUM HS nomor berapa ? 1.

Jawaban

2. Sebutkan contoh barang yang dalam mengklasifikasinya menerapkan KUM HS nomor 3a (selain yang telah disebutkan

2.

contoh diatas)

3. Bagaimana menurut pendapat Saudara mengenai penggunaan KUM HS nomor 4 dalam prakteknya ?

3.

2.3. Rangkuman

Dalam mengklasifikasi barang dalam BTBMI diperlukan suatu pedoman. Pedoman tersebut adalah Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System (KUM HS) merupakan ketentuan untuk memasuki klasifikasi barang. Saat ini KUM HS hanya terdiri dari nomor 1 sampai dengan nomor 6. Dahulu sampai dengan 10, nomor 7 sampai 10 dihilangkan dan beberapa diantaranya menjadi surat keputusan Dirjen Bea dan Cukai

3. KEGIATAN BELAJAR 2 TAHAPAN MENGKLASIFIKASI BARANG

3.1. Uraian, Contoh dan Non Contoh

Secara lebih rinci, langkah-langkah berikut ini dapat digunakan untuk mengklasifikasi barang:

1. Kita identifikasi dulu barang yang akan kita klasifikasi.

Dengan mengetahui

spesifikasi barang, misalnya barang tersebut produk pertanian, barang kimia, atau mesin, kita bisa memilih bab-bab yang lebih spesifik.

2. Pilih bab atau bab-bab yang berkaitan dengan spesifikasi barang tersebut. Bila sudah kita tentukan, baca dan perhatikan baik-baik catatan Bagian dan catatan Bab yang berkaitan dengan pilihan bab atau bab-bab pada butir 1.

3. Perhatikan penjelasan-penjelasan dalam catatan Bagian maupun catatan Bab yang berkaitan dengan barang yang akan kita klasifikasi. Apabila ada catatan yang

mengeluarkan barang tersebut dari Bab atau Bagian yang kita pilih, perhatikan pada Bagian, Bab, atau pos mana barang tersebut diklasifikasikan.

4. Baca dan cermati catatan Bagian atau Bab (atau catatan Sub-pos dalam hal tertentu) yang ditunjuk oleh penjelasan pada butir 3. Kita ulangi proses pengklasifikasian pada butir 3. Pada tahap ini, biasanya kita sudah mempunyai gambaran umum apakah barang tersebut diklasifikasikan di bab tersebut atau di bab lainnya.

5. Setelah menemukan satu bab yang paling sesuai berdasarkan kajian di atas, maka kita mulai menelusuri pos-pos yang mungkin mencakup barang yang akan kita klasifikasikan dalam bab tersebut. Pada tahap ini kadang-kadang kita sudah dapat menemukan pos yang mencakup barang tersebut dengan rinci. Bila sudah kita

temukan satu pos yang tepat, maka langkah selanjutnya tinggal menentukan sub-pos (6-digit) dan pos tarif (9-digit) yang sesuai. Ingat, dalam penentuan sub-pos dan pos tarif pun kadang timbul permasalahan klasifikasi yang sama dengan penentuan pos

(4-digit). Sampai tahap ini sebenarnya kita sedang menggunakan KUM HS 1.

6. Apabila sepintas lalu ada beberapa pos yang sesuai dengan spesifikasi barang, kita mulai menggunakan KUM HS 2. Ingat, kita baru dapat menggunakan KUM HS 2 apabila KUM HS 1 benar-benasr tidak dapat digunakan. Cara untuk meyakinkan bahwa KUM HS 1 gugur adalah dengan berusaha membuktikan bahwa hanya ada satu pos yang sesuai untuk barang tersebut. Dalam hal KUM HS 1 tidak bisa diterapkan karena informasi atau data spesifikasi barang kurang lengkap, maka yang harus dikerjakan adalah mencari informasi atau data tersebut lebih dulu. Jangan terburu-buru menggunakan KUM HS 2 sebelum kita benar-benar yakin KUM HS 1 tidak dapat digunakan.

7. Dalam hal menggunakan KUM HS 3 (b), perlu diperhatikan bahwa yang dimaksud dengan sifat utama (essential character) meliputi berbagai aspek. Beberapa aspek yang dapat digunakan sebagai dasar penentuan sifat utama adalah fungsi/kegunaan, nilai (value), dan bentuk fisik (appearance). Usahakan paling tidak selalu

mempertimbangkan ketiga aspek tersebut sebelum menentukan sifat utama suatu barang campuran.

8. Dalam membandingkan pos-pos, sub-sub pos, atau pos-pos tarif, harus selalu diingat bahwa yang dibandingkan adalah pos-pos , sub-sub pos, atau pos-pos tarif yang setara (perhatikan takiknya). Ingat, dalam mengklasifikasi, perbandingan

dimaksud tidak berdasarkan pembebanan impornya!.

9. Apabila sudah dipilih satu pos tarif yang benar-benar sesuai dengan uraian barang, langkah selanjutnya adalah melihat pembebanannya (BM, PPN, PPnBM, atau cukai) dan ada atau tidak peraturan tata niaganya (IT, IP, Pertamina, dan lain-lain.). Karena pembebanan tersebut sering berubah, jangan lupa selalu menggunakan pembebanan yang up to date berdasarkan ketentuan yang terbaru.

3.2. Latihan

Pertanyaan 1.3. Pengamatan uraian barang dalam BTBMI dengan melihat bagaian. agar menghasilkan keputusan yang tepat sesuai aturan yang benar. diperlukan data mengenai barangnya ? Sebutkan contoh kasus ! 1. 3. Berdasarkan pertimbangan tersebut baru ditentukan pos tarif yang tepat. Mengapa sebelum mengklasifikasi barang. Bagaimana tahapan dalam mengklasifikasi barang agar menghasilkan pos tarif yang akurat ? 2. Jawaban 2. mendeskripsikan jenis barang. . Pada prinsipnya meliputi identifikasi barang. bab dan catatan yang berkaitan dengan barang yang akan diklasifikasi. kemudian melihat uraian barang dalam BTBMI sesuai dengan yang akan diklasifikasi. 3. Rangkuman Dalam proses mengklasifikasi barang diperlukan tahapan yang sesuai. Mengapa dalam mengklsifikasi barang harus memperhatiakan bagian dan bab serta catatan bagian dan catatan babnya yang terkait dengan barang tersebut ? 3.

Sebagaimana selama ini telah berjalan.1. Uraian Contoh dan Non Contoh 4. 4. Soal tersebut dapat dijawab dengan menggunakan contoh nota penelitian di bawah ini: Contoh 1. uraian rinci klasifikasi barang dimaksud kita sebut saja Nota Penelitian Klasifikasi Barang. KEGIATAN BELAJAR 3 NOTA PENELITIAN KLASIFIKASI BARANG 4. dan pembebanan impornya. Kerangka nota penelitian klasifikasi barang sebenarnya tidak baku. Dalam mempertahankan pendapatnya. tersebut. Dalam mekanisme ini tidak jarang timbul perbedaan pendapat mengenai klasifikasi barang antara importir/PPJK dan aparat DJBC. dalam rangka pengimporan importir/PPJK memberitahukan sendiri jenis barang. Dalam diktat ini disajikan cara membuat uraian rinci klasifikasi barang Untuk memudahkan. Nota Penelitian Klasifikasi Barang Pada bagian akhir diktat ini disajikan juga contoh soal klasifikasi barang menggunakan nota penelitian klasifikasi barang.4. bisa singkat atau memerlukan uraian yang cukup panjang tergantung pada permasalahan yang dihadapi. . Namun dalam diktat ini pembuatan nota penelitian klasifikasi barang tersebut diarahkan untuk mengikuti ketentuan-ketentuan dasar mengklasifikasi barang sesuai HS/BTBMI. Pengantar Berkaitan dengan klasifikasi barang. Selanjutnya DJBC akan meneliti dan menetapkan klasifikasi barang tersebut.1. aparat DJBC diharuskan membuat uraian rinci yang menjelaskan dasar klasifikasi barang dimaksud. setidaknya ada dua fihak yang berkepentingan yaitu aparat DJBC dan importir/PPJK. klasifikasi.2.1.1.

kemasan.Bagian.Explanatory Notes atau referensi lainnya 4) Uraian klasifikasi barang . Bab dan Sub pos • Uraian pos. 6 digit dan 9 digit 5) Kesimpulan Contoh 2. dll. kegunaan. Explanatory Notes. (Contoh ini umumnya diterapkan pada penelitian klasifikasi di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai): Nama Barang/Uraian Jenis Barang Spesifikasi Barang (Komposisi. dan informasi atau referensi lainnya • • • Tentukan satu pos yang paling sesuai Tentukan sub-pos yang paling sesuai Tentukan pos tarif yang paling sesuai . alasan/catatan Bag/Bab /Sub-pos yang terkait 3) . kapasitas.1) Nama barang/uraian jenis barang 2) . 4 digit.tuliskan mulai dari 2 digit.bentuk.) Pos (pos-pos) Yang Mungkin (Bisa satu atau lebih kemungkinan pos tarif) Dasar Klasifikasi Catatan : Bagian. Bab. BTBMI.

90.Bab 30.1.90.Subpos 3004.Subpos 3004.99.99.90 Lain-lain . BM …. Nama dan Jenis barang : Norit mengandung arang aktif dari arang kayu dalam bentuk tablet 5 gram dipergunakan untuk mengatasi keracunan atau perut kembung. Menurut catatan 1 (d) Bab 44 tidak meliputi arang aktif masuk pos 3802 .Produk farmasi .PPN … % PPh %.00 % . 4.00 Lain-lain Kesimpulan : Norit diklasifikasikan pada pos tarif 3004. 2. Obat dalam dosis tertentu.Pos 3004. .xx.90 Lain-lain .Kesimpulan Klasifikasi Barang Barang dimaksud dimaksud diklasifikasikan pada tarif xxxx.3. Nama dan Jenis barang : Shampo merk : KAO dalam tube 100 ml mengandung obat anti ketombe dan anti .Pos tarif 3004.90...xxx BM x% PPN x%. Bahan tersebut telah terdaftar dalam Farmakope Indonesia Alasan Klasifikasi : Arang kayu masuk Bab 44.Bab 38 catatan 1 (d) tidak meliputi barang untuk obat …masuk Bab 30 Uraian klasifikasi : .. Praktek Pembuatan Nota Penelitian Klasifikasi Barang: 1.

.10.PPN … % PPh %.jamur atau kerontokan rambut Alasan Klasifikasi : .10.12. .00.Olahan dari daging ..00…mengandung daging sapi Kesimpulan : Sosis daging sapi tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 1601.00.00 BM ….sosis .Bab 33.00.Bila mengandung obat Bab 30 Lihat Bab 30 catatan 1(d) :Bab ini tidak meliputi pos 3303-3307 walau mengandung obat Uraian klasifikasi : . shampo Pos 3305.Pos tarif 1601.Subpos 3305.Subpos 1601.shampo Kesimpulan : Shampo mengandung obat anti kerontokan diklasifikasikan pada pos tarif 3305..Pos tarif 3305.12.Shampo termasuk kosmetik Bab 33.Bab 16 ..90.Olahan dari ikan masuk Bab 16.. % .10 shampo . % .00 BM ….90. .kosmetika… .Pos 1601 .PPN … % P 3. Nama dan Jenis barang : Sosis daging sapi yang dimasak Alasan Klasifikasi : . sosis . lihat cat 1 “.00. .10.Makanan olahan masuk Bagian IV ...Lihat Bab 16 catatan 2 “Bab 16 meliputi olahan makanan mengandung daging lebih dari 20 % Uraian klasifikasi : .diolah selain dari bab 2 dan 3 masuk Bab 16…” .Pos 3305 preparat digunakan pada rambut...

Lihat Bagian XV catatan 2 “kawat dipilin masuk bagian untuk pemakaian umum pos 7312 ….00 BM …. % .10.10.barang dari baja .10.PPN … % PPh %.90.4.. kawat dipilin .Mobil derek masuk bab 87 .Bab 39.polimer ..pelarut kurang dr 50 % ke pos 3907.Pos 3907 poliester (alkid resin) .Lihat catatan 4 bab 32 .50 alkid (poliester) dari poliester ..5 cm digunakan untuk penarik mobil derek Alasan Klasifikasi : ..Barang dari logam tidak mulia masuk Bab 73. Uraian klasifikasi : . cat masuk bab 32 .Subpos 7312.00 cair Kesimpulan : Bahan cat tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 3907. pos 3208 meliputi bahan yang mengandung bahan pelarut mudah menguap lebih dari 50 % . (walau bagian untuk mobil derek) Uraian klasifikasi : .Bahan cat termasuk produk kimia bagian VI..kawat .00 ukuran 25 mm .. Nama dan Jenis barang : Bahan untuk membuat cat besi mengandung bahan alkyd resin (poliester resin) 55 %.. bahan pelarut yang mudah manguap 28 % dan bahan lainnya 13 % Alasan Klasifikasi : .Bab 73.Lihat Bagian XVII catatan 2(B) bagian untuk pemakaian umum tidak boleh masuk Bab 87 .Subpos 3907.Pos tarif 3907. . Nama dan Jenis barang : Kawat pilinan dari baja terdiri dari 5 buah yang dipilin tidak diisolasi ukuran diameter 2.10..50.Barang dari logam tidak mulia masuk Bagian XV.Pos tarif 7312.Pos 7312 ...50. 5.

10. Nota penelitian klasifikasi barang 2.30.00 untuk bus mini Kesimpulan : Radiaotor tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 8708. % .00 BM …. Jawaban 2.00 BM …. seyogyanya memuat hal-hal apa saja ? . 4. . 6.%.91. Bagiannya masuk pos 8708. Sebutkab tahapan dalam membuat nota penelitian klasifikasi barang ? 1.Sub pos 8708.% PPN …% PPh….90 bagian dan aksesori lainnya …. -Sub pos 8708.2. Nama dan Jenis barang : Bagian dari kendaraan bermotor berupa : Radiator untuk mobil bus mini untuk pengangkutan 15 orang dengan mesin diesel dalam keadaan CKD masa total 10 ton Alasan Klasifikasi : -Kendaraan yang bergerak selain diatas rel… masuk Bagian XVII. radiator ..91. Latihan Pertanyaan 1.90.30. Uraian klasifikasi : -Bab 87 Kendaraan yang bergerak selain diatas rel … -Pos 8708 bagian untuk kendaraan bermotor.Pos tarif 8708.PPN … % PPh %. Kendaraan Bab 87 Radiator bagian dari kendaraan bermotor berjalan bukan di rel.91.Kesimpulan : Kawat tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 7312.

Tidak mengikat secara hukum dalam mengklasifikasi 2.S ) Judul Bagian.3. hasil analisa laboratorium atau sumber informasi lainnya 5.S) Pernyataan 3a pada KUM HS adalah Pos yang memuat uraian yang paling terinci harus lebih diutamakan daripada pos yang memuat uraian . Mengapa dalam mengklasifikasi barang tidak hanya menyebutkan 9 digitnya atau kesimpulannya saja ? 3. 4. ( B . namun dilapangan nama barang berdasarkan hasil pemeriksaan. ( B . Lingkarilah huruf B apabila pernyataan ini Saudara anggap benar dan huruf S apabila pernyataan Saudara anggap salah. uraian klasifikasi dan kesimpulan.S ) Pernyataan 2b pada KUM HS adalah Barang tidak lengkap atau tidak rampung dianggap sebagai barang lengkap atau rampung.3. Pada umumnya hsil penelitian dituangkan dalam suatu format yang berisikan komponen : nama dan jenis barang. Rangkuman Proses dalam mengklasifikasi barang harus seuai dengan aturan. Test Formatif 5. ditambah informasi barang dari brosur. Bab dan Sub-bab pada Buku tarif Bea Masuk Indonesia hanya dimaksudkan untuk memudahkan penyebutan saja. Dalam membuat nota penelitian klasifikasi barang ada yang sederhana dengan hanya menggunakan BTBMI. demikian juga hasil penelitian klasifikasi barang harus disajikan dalam bentuk format yang benar. alas an klasifikasi.1. ( B . asalkan pada saat diimpor sudah mempunyai sifat utama sebagai lengkap atau rampung barang 3. 1.

Namun demikian nota tersebut setidak-tidaknya memuat tentang : a. 3b d. ( B . Larutan dengan kandungan asam cuka (acetic acid) lebih dari 10 % dikeluarkan dari bab 22 berdasarkan catatan : . dengan bentuk atau kelengkapan khusus untuk menyimpan barang tertentu atau seperangkat barang tertentu. 2b b. pernyataan a. berdasarkan KUM HS nomor : a. 3a c. saos dan bawang. harus diklasifikasikan dengan barang tersebut jika biasa dijual dengan barang itu 5. diklasifikasikan sebagai mie pada bab 19.S ) Sebelum mengklasifikasi barang. peti instrumen dan tempat simpan yang semacam. ( B . Suatu kemasan mengandung mie.2. Dalam membuat Nota Penelitian Klasifikasi Barang maka diperlukan kerangka yang singkat atau memerlukan uraian yang cukup panjang tergantung pada permasalahan yang dihadapi. Dengan mengetahui spesifikasi barang maka akan lebih mendekati keakuratan dalam mengklasifikasi barang 6. b dan c benar 2.yang lebih umum sifatnya 4. nama barang dan uraian jenis barang b.alasan atau catatan yang digunakan c. cocok untuk pemakaian jangka panjang dan diimpor lengkap dengan isinya. sebaiknya kita identifikasi dulu barang yang akan kita klasifikasi. Pililihlah jawaban yang Saudara anggap benar dengan cara melingkari huruf yang terdapat di depan jawaban tersebut 1. 5a 3. bumbu.S ) Pernyataan 5b pada KUM HS adalah Peti kamera. Uraian klasifikasi mulai 2 digit sampai dengan 9 digit d.

esklusif c. 1 b. Tabung gas LPG yang berisi gas LPG tidak dapat diklasifikasikan menjadi stu pos tarif karena ketentuan menurut KUM HS nomor : a.04 atau 90. 2b d.32 . 3a 5. Tentukan pos tarif dari barang tersebut dibawah ini 1. Sebutkan alasannya . 3. Mengapa tutup kepala (topi) pengaman untuk pengendara sepeda motor yang terbuat dari bahan plastik tidak diklasifikasikan pada bab 39 ? 4. namun diklasifikasikan pada bab 22 dikarenakan KUM HS nomor : a. Mengapa sabun mandi mengandung obat pembasmi kuman walaupun mengandung obat tidak diklasifikasikan pada bab 30 sebagai produk farmasi. definitif b.a. Mengapa olahan makanan yang terbuat dari daging sapi yang dikukus tidak diklasifikasikan pada bab 2 2.3. ilustrasi d. 2a c. 3b b. Automatic voltage regulator yang digunakan sebagai stabilizer otomatis untuk komputer harus diklasifikasikan pada pos 85. 3c c. 5a d. Walalupun etil alkohol merupakan bahan kimia organik. pengertian 4. 5b 6.

Lihat catatan 1 bab 16.1. B 6. Pilihlah berganda 1. Kunci Jawaban 6.50. c 3.3. Essay Diberitahukan hanya 6 digitnya (sub posnya) 1. B 2. dari serat disisir dengan nomor benang 150 decitex. S 5. b 4. tidak dikelantang dan tidak dimerserisasi. merupakan benang tunggal. B 4.000 2. a 5. Perhatikan pos tarif 1602.5. S 3. Lihat catatan 1(e) Bab 30 . Pilihan B atau S 1. d 6. Bentuk pengolahan bukan sederhana. d 2.2. Daging sapi hasil olahan sesuai bab 2 (pengolahan sementara/terbatas) diklasifikasikan pada bab 2. Benang tenun terbuat dari campuran 70 % kapas (cotton) dan 30 % nilon.Ketentuan dan catatan apa yang digunakan dalam mengklasifikasi barang tersebut 6. dikukus dan pengolahan selain pada bab 2 diklasifikasikan pada bab 16. seperti dipanggang.

3. Lihat catatan 1(n) Bab 39

4. Lihat catatan 2(A) Bagian XI

5. Lihat catatan 6(b) Bab 90 Perhatikan sub-pos 5206.24.

7. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT

Bandingkanlah hasil jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang ada di belakang modul ini. Hitunglah jumlah jawaban Anda yang benar atau sejauh mana Anda menguasai mata pelajaran tersebut. Kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap terhadap materi kegiatan belajar

Rumus Tingkat Penguasaan Jumlah Jawaban Anda yang benar dibagi 15 kemudian dikali 100 % = ............ Arti tingkat penguasaan : * 90 % - 100 % = Baik sekali * 80 % * 70 % * 89 % = Baik 79 % = Cukup 69 % = Kurang

Kalau Anda mencapai tingkat penguasaan 80% keatas Anda dapat meneruskan kepada modul atau bagian pelajaran lain. Hasilnya Baik ! akan tetapi, bila tingkat penguasaan Anda masih dibawah 80 %, Anda harus mengulangi membaca Modul kembali, terutama bagian yang belum Anda kuasai

8. Kepustakaan

1. Harmonized System, Word Customs Organization, 2007 version 2. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (2007). Departemen Keuangan RI, Jakarta 3. Explanatory Notes, World Customs Organization, 2007

4. Pengantar Klasifikasi Barang. (1995) Pusdiklat Bea dan Cukai. Jakarta 5. Classification Disputes Settled by The Harmonized System Committee. Customs Organization (1994) World

***

8. Kepustakaan

1. Harmonized System, Word Customs Organization, 2007 version 2. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (2007). Departemen Keuangan RI, Jakarta 3. Explanatory Notes, World Customs Organization, 2007 4. Pengantar Klasifikasi Barang. (1995) Pusdiklat Bea dan Cukai. Jakarta 5. Classification Disputes Settled by The Harmonized System Committee. Customs Organization (1994) World

***

MODUL III SISTEM KLASIFIKASI BARANG MENURUT HARMONIZED SYSTEM MATERI KLASIFIKASI BARANG OLEH : TIM PENYUSUN MODUL PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN BEA DAN CUKAI BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA JAKARTA 2007 .

Jakarta. Obyek dari kegiatan Direktorat Bea dan Cukai adalah barang. Nopember 2007 Penulis . Modul ini digunakan dalam Diklat Teksnis Substantif Dasar I Kepabeanan dan Cukai dengan judul “Catatan Penting dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia” Dalam kesempatan ini. Semoga Allah membalas atas amal kebaikan tersebut. Semoga Modul ini bermanfaat sebagai penambah wawasan dan media untuk penambah keterampilan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang. seyogyanya petugas Ditjen Bea dan Cukai menambah keterampilam dalam mengklasifikasi barang agar pelayanan cepat dan negara tidak dirugikan dalam menetapkan besarnya bea masuk. Dalam rangka penentapan tarif bea masuk dan kepentingan kepabeanan lainnya. Modul ini merupakan seri dari 3 buah modul mata pelajaran klasifikasi barang. bahwa Modul ini dapat diselesaikan sesuai waktunya.Kata Pengantar Puji syukur kehadirat Allah yang Maha Kuasa. Penulis menghaturkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga dapat diselesaikannya Modul ini. karena ada kepastian tentang jenis barang dan penetapan tarif posnya.

.............................................................................................. KEGIATAN BELAJAR 1 JENIS CATATAN PADA BTBMI…………………………….........................................2............................................................... 3.....1 Uraian................. Tujuan Pembelajaran Khusus................3..........1 Uraian......... 1............ 4.............................................................................. 1...... Daftar Pustaka............2...... Contoh dan Non contoh................................................... Latihan 2.......................................................... 4................ Rangkuman........... 1......................................... Test Formatif ............................... Rangkuman.. 2............. Daftar Isi ........... 3........ Kunci Jawaban ........Deskripsi singkat........ Latihan 1........................... Contoh dan Non contoh...DAFTAR ISI Halalaman Kata Pengantar ..... Rangkuman..........................................3.............................................. i ii 1 1 1 1 2 2 5 5 6 6 22 23 24 24 32 32 33 36 37 38 2 3 5 6 7 8 .... Tujuan Pembelajaran Umum.... Contoh dan Non contoh.......................... 1 PENDAHULUAN .......................................... Umpan Balik.........................3............1.. 4.......3..................................................................... KEGIATAN BELAJAR 2 STRUKTUR PENGELOMPOKAN BARANG PADA BTBMI...................... Latihan 3......................................................................... 4 KEGIATAN BELAJAR 3 CATATAN PENTING PADA BTBMI................................................2............................ 2................................................. 3......................................................2............................................................. 2.........................................1 Uraian...............

Tujuan Instruksional Umum Setelah mempelajari modul ini. para Siswa diharapkan mampu menjelaskan pengelompokkan barang dan jenis catatan berdasarkan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. 1. KEGIATAN BELAJAR 1 . Deskrifsi Singkat Untuk menjadi menjadi seorang klasifikator dibidang kepabeanan yang handal harus dapat mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang dengan terampil. seorang klasifikator harus terlebih dahulu memahami pengetahuan barang dan pengetahuan mengenai klasifikasi barang. Seorang klasifikator harus memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang karena akan menentukan ketepatan pengisian Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang pada akhirnya menentukan ketepatan jumlah bea masuk dan pungutan impor lainnya yang harus dibayar. Jenis catatan pada BTBMI 2.3. Oleh karena itu.1. Struktur pengelompokkan barang 3. 1.MODUL III CATATAN PENTING DALAM BTBMI I. PENDAHULUAN 1.2. Tujuan Instruksional Khusus Setelah mempelajari Modul ini diharapkan para Siswa mampu menjelaskan : 1. Catatan Penting dalam BTBMI 2.

yang harus diklasifikasikan dalam pos tersebut dan tidak dalam pos lainnya dari Nomenklatur ini: (a) Catgut bedah steril. Hemostatik bedah atau gigi steril yang dapat menyerap.04 hanya berlaku untuk hal berikut ini. HS mempunyai Catatan Bagian. bahan jahit bedah steril yang semacam itu dan perekat kertas steril untuk penutup luka bedah. Catatan Eksklusif Catatan yang mengeluarkan barang tertentu dari suatu pos atau sub-pos dan memasukkannya dalam pos atau sub-pos tertentu lainnya. (b) (c) (d) (e) (f) (g) (h) Laminaria steril dan laminaria steril yang dapat menggembung. catatan-catatan dalam HS merupakan bagian integral yang harus diperhatikan benar-benar. dan Catatan Sub-pos.JENIS CATATAN PADA BTBMI 2. Uraian.1. Catatan Bab. Contoh dan Non Contoh Disamping KUM HS.2. yaitu: 2.1. 30.1. … … … … Preparat kontrasepsi kimia dengan bahan dasar hormon atau pembunuh sperma. Catatan-catatan tersebut mempunyai kekuatan hukum sama seperti uraian pos atau sub-pos. Contoh: Catatan 4 Bab 30: Pos no.1. . Catatan Definitif Catatan yang menjelaskan pengklasifikasian suatu barang pada pos atau sekumpulan pos tertentu. 2. Catatan-catatan tersebut dapat dibagi berdasarkan jenisnya.

11 atau 30. 02. 05. 02.Contoh: Catatan 1 Bab 2: Bab ini tidak meliputi: (a) Produk dari jenis yang diuraikan dalam pos No.02). istilah “barang pakaian dan perlengkapan pakaian” berlaku. tetapi tidak termasuk arloji tangan (pos no. untuk sarung tangan (termasuk sarung tangan olah raga).1. .03. (b) Catatan 1 Bab 9: Campuran dari produk dimaksud dalam pos no. Catatan Ilustratif Catatan yang memberikan gambaran terhadap pengertian atau istilah yang perlu dijabarkan lebih lanjut. selain produk dari pos No. 91.1. 42.3. 09. Catatan Lain-lain Catatan yang menguraikan pengertian-pengertian yang bersifat teknis. apron dan pakaian pelindung lainnya.10.Contoh: (a) Catatan 2 Bab 3: Dalam Bab ini pengertian “pellet” adalah produk-produk yang telah diaglomerasi baik secara langsung dengan cara dikompresi atau dengan penambahan sejumlah kecil bahan pengikat.10 harus diklasifikasikan sebagai berikut: (a) Campuran dua produk atau lebih dari pos yang sama harus digolongkan dalam pos itu.09 (Bab 15).4.13). atau (c) Lemak hewani. yang tidak layak atau tidak sesuai untuk konsumsi manusia.01 sampai dengan 02. (b) Usus. 2. antara lain. tali penahan celana. atau 02. ikat pinggang. tali sandang dan semua jenis gelang.08. 2. 05. Contoh : Catatan 3 Bab 42: Untuk keperluan pos no. kandung kemih atau perut dari binatang (pos No.04) atau darah binatang (pos No.04 sampai dengan 09.

Tatacara mengklasifikasi harus diikuti dengan urut agar benar-benar diperoleh hasil yang akurat.14)..10 (atau campuran seperti yang dimaksud dalam (a) atau (b) di atas) tidak mempengaruhi penggolongannya asalkan….02. Untuk beberapa hal cara seperti ini mungkin berhasil namun labih banyak risiko kegagalannya.18 dan barang semacam itu dari logam tidak mulia lainnya.04 sampai dengan 09. 73. selain pegas untuk lonceng atau arloji (pos no. 83. 73.15.(b) Campuran dua produk atau lebih dari pos yang berlainan harus digolongkan dalam pos no. 2. 73.06.07. sub-pos. 83. Mengklasifikasi barang tidak dapat dilakukan dengan hanya sekedar mencari satu pos tertentu saja.01. 83.10. 09. dan uraian pada pos. dan pos tarif yang berkaitan dengan barang yang akan diklasifikasikan merupakan syarat mutlak yang harus dilakukan agar klasifikasi yang dilakukan benar-benar akurat. dan (c) Barang dari pos no. (c) Catatan 2 Bagian XV: Dalam seluruh Nomenklatur. Latihan . barang dari Bab 82 atau 83 tidak termasuk dari Bab 72 sampai dengan 76 Bab 78 sampai dengan 81. Tambahan dari bahan lainnya ke dalam produk dari pos no. 73. 83. 91. istilah “bagian untuk pemakaian umum” berarti: (a) Barang dari pos no. dari logam tidak mulia.12. Membaca dengan teliti dan memahami catatan-catatan di atas. Explanatory Notes. 73. Dengan memperhatikan ketentuan dalam ayat di atas dan Catatan 1 Bab 83. 09.08. termasuk KUM HS. (b) Pegas dan lembaran untuk pegas. dari pos no. 83.15) apa yang disebut bagian dari barang tidaklah termasuk uraian tentang bagian untuk pemakaian umum seperti diuraikan di atas.2. Dalam Bab 73 sampai dengan 76 dan 78 sampai dengan 82 (tetapi bukan dalam pos no.17 atau 73.10 dan bingkai serta kaca dari logam tidak mulia.

Sebutkan contoh catatan ekslusif pada Bab 71 ? 3. Sebutkan contoh catatan definitif pada Bab 39 ? 2. catatan definitive. atau dikeluarkan sebagian serta penjelasan lainyya. dan penjelasan. . illustratif.Sebutkan catatan ilustratif pada pada Bagian ? 1. Jawaban 2. Rangkuman Catatan merupakan pintu gerbang dalam memasuk bagian dan bab dalam BTBMI. 3. eksklusive.3. dikeluarkan. Secara garis besarnya pintu gerbang tersebut akan mengatur tentang suatu barang yang boleh dimasukan. Hal ini diperlukan agar jangan sampai salah dalam menempatkan pengelompokan barang sesuai Harmonized system. Secara singkat jenis catatan tersebut meliputi. 2.Pertanyaan 1.

Contoh dan Non Contoh 3. bijibijian.1. barang setengah jadi (semi-finished products). Namun beberapa jenis minyak dan lemak dikeluarkan dari bagian I dan diklasifikasikan pada bab 15.3. produk makanan siap saji yang diawetkan diklasifikasikan pada Bagian IV. kulit. dan barang jadi (finished products). Bagian II mencakup produk sayuran. sepatu dari kulit binatang pada Bab 64. Gambaran Per Bagian Dalam Harmonized System (HS). produk yang dapat dimakan lainnya. dan produk yang tidak dapat dimakan). yaitu bahan baku (raw material). Produk-produk yang termasuk bagian I dan II belum mengalami proses pengerjaan kecuali sampai tahap tertentu (dengan beberapa pengecualian). Di bawah ini disajikan urutan pengelompokan barang dalam HS/BTBMI: 1. produk susu. kecuali beberapa jenis minyak dan lemak tertentu (bab 15) dan kayu (bab 44).1. bahan yang tidak/belum dikerjakan (unworked products). barang dikelompokkan dalam 96 bab (dan bab 77 sebagai persiapan masa mendatang) yang dikelompokkan dalam 21 bagian. Bagian III hanya terdiri dari bab 15 yang mencakup lemak dan minyak hewani dan . Gambaran per Bagian Bagian I mencakup binatang hidup dan produk dari binatang (daging. Pengelompokan tersebut berdasarkan urutan tingkat pengerjaannya.1. binatang hidup diklasifikasikan pada Bab 1. Urutan pengelompokan ini juga berlaku untuk bab dan pos. Contohnya. Uraian. Terhadap produk yang telah mengalami proses lebih lanjut diklasifikasikan pada bab 19. bab 20 atau bab 21. telur. jangat dan kulit binatang pada Bab 41. dsb. baik yang bisa dimakan atau tidak (tanaman. KEGIATAN BELAJAR 2 STRUKTUR PENGELOMPOKAN BARANG PADA BTBMI 3. madu. sayuran. tepung. Sebagai contoh. bulu dan barang terbuat daripadanya (diklasifikasikan pada bagian VIII). buah.). sereal. ikan. Bab 1 sampai dengan bab 24 (Bagian I sampai dengan Bagian IV) mencakup produk-produk pertanian dalam arti luas. demikian juga halnya dengan jangat.

HUBUNGAN BAGIAN I DAN II DENGAN BAGIAN IV: BAGIAN I & II DIPROSES LEBIH LANJUT >>>BAGIAN IV *BAB 2 BAB 3 (DAGING) (IKAN) > * BAB 16 *BAB 4 (SUSU) BAB 10 (GANDUM-GANDUMAN) > * BAB 19 BAB 11 (PRODUK-GILINGAN) *BAB 7 (SAYURAN) > * BAB 20 BAB 8 (BUAH-BUAHAN) BAB 11 (PRODUK GILINGAN. KENTANG ) . karena minyak nabati yang mudah menguap masuk Bab 33 sebagai minyak atsiri.nabati dan produk terbuat daripadanya (misalnya malam/wax). diantaranyadi goreng. Demikian juga bahan pemanis tiruan masuk Bab 29. Bagian IV mencakup produk minuman. telah diproses. seperti saccharin dan dulcin. cuka. misalnya minyak goreng atau margarine yang siap dikonsumsi. Umumnya minyak tidak menguap.dan tembakau. minuman keras. Bab 17 meliputi gula dan bahan lainnya seperti sirop. Minyak pada Bab II baik dalam keadaan mentah. dikukus atau diawetakan secara permanen. bersamasama dengan produk industri makanan yang tidak dicakup bab-bab sebelumnya. Berbagai jenis gula yang murni secara kimiawi diklasifikasikan pada Bab 29. Bab 16 meliputi daging atau ikan yang telah mengalami proses lebih lanjut. madu tiruan dan karamel.

Bagian VI mencakup produk-produk kimia. Struktur dalam Bab 39 secara garis besar adalah : . batuan pada Bab 25 atau bijih logam pada Bab 26 . maka produk barangbarang tersebut semakin bervariasi dan bertambah jenisnya. Bagian ini terdiri dari 2 bab. dan lain-lain. telah dicuci. baik yang berbentuk asal (primary form) maupun produk-produk industri kimia seperti produk farmasi. Batu-batuan setengah permata atau batu permata digolongkan pada Bab 71. hancur. Komoditi plastik. Bagian VII mencakup plastik dan produk dari plastik (bab 39) dan karet dan produk dari karet (bab 40). Karena kemajuan teknologi pembuatan barang. hasil gilingan atau saringan. dan sumber bahan organik pada Bab 27 seperti batu bara. cat. Sesuai dengan kemajuan teknologi. seperti garam. sabun. yaitu bab 39 (Plastik dan Barang Dari Plastik) dan bab 40 (Karet dan Barang Dari Karet). belerang dan batuan lainnya hanya dalam keadaan mentah (crude). bahan peledak. dan minyak bumi.Bagian V mencakup produk mineral. maka pengenalan dan proses pengidentifikasi barang tersebut semakin sulit. misalnya dimurnikan sebagai bahan kimia anorganik masuk Bab 28. sedangkan apabila merupakan hasil bentukan atau pahatan masuk Bab 68 dan kalau bahan tersebut merupakan hasil pembakaran maka masuk Bab 69. karet buatan serta barang dari plastik dan karet buatan banyak diimpor Indonesia. hasil tumbuk. khususnya dalam rangka klasifikasi barang. pupuk. Hasil pertambangan yang telah diolah secara lain. Kecuali kalau susunannya mensyaratkan lain. Bagian VII mencakup plastik/barang dari plastik serta karet/barang dari karet. maka Bab 25 meliputi produk tambang. baik sumber mineral anorganik seperti tanah. kosmetik.

REJA : COUMPOND 3916-3921 : BARANG SETENGAH JADI 3922-3924 : BARANG JADI 4007-40016 : BARANG SETENGAH JADI 4017 : KARET KERAS Bagian VIII mencakup produk-produk tertentu yang berasal dari binatang seperti jangat dan kulit (bab 41). Serat bila diproses akan menjadi benang. henneps. termasuk kulit berbulu imitasi (bab 43). flaks. barang dari kulit atau usus binatang (bab 42). Bagian X juga masih mencakup produk yang berasal dari tumbuhan. goni dan sisal. kertas.BAB 39 PLASTIK DAN BARANG DARI PLASTIK BAB 40 KARET DAN BARANG DARI KARET SUB-BAB 1 3901-3911 : POLIMER BUATAN 3912-3913 : POLIMER ALAMI 3914 : PENUKAR ION 4001-4002 : BAHAN KARET 4003 4004 4005 SUB-BAB II 3915 : SISA. beberapa produk seperti furniture diklasifikasikan di bab lain (bab 94). seperti kayu dan barang dari kayu (bab 44). Bahan dasar tekstil adalah serat... Bagian XI mencakup produk tekstil mulai dari sutera (bab 50) sampai dengan pakaian dan permadani (bab 63). kemudian dari benang menjadi kain atau produk tekstil lainnya. Serat dapat berasal dari tumbuhan.01 dan 42. Serat dari tumbuhan atau disebut serat nabati. 4006 :TIDAK DIVULKANISASI : KARET PUGARAN : SISA. Namun.02 juga mencakup produk-produk tertentu terbuat bukan dari kulit. dan produk industri percetakan (bab 49). mineral dan buatan manusia. Perlu dicatat bahwa pos 42.. Serat . misalnya serat kapas. rami. kertas karton dan barang terbuat daripadanya (bab 48). kulit berbulu. hewani. Bagian IX mencakup produk yang berasal dari tumbuhan. REJA. dan barang kerajinan tangan (bab 46). yaitu pulp (bab 47). gabus dan barang dari gabus (bab 45).

Bagian XII mencakup produk alas kaki (bab 64). Serat buatan manusia atau man made fiber terbagi dua. bulu kelinci. asetat sellulosa. contohnya kaos. dan uang logam. dan semacam itu. plaster. Untuk memahami ini lihat Catatan 1 Bab 54. dan barang dari rambut manusia (bab 67). payung. logam mulia. tongkat jalan. yaitu : 1. bunga buatan. Bagian XIII mencakup produk-produk yang diperoleh dari batu. 2. Ada dua sistem yang dipakai dalam penomoran benang. Bagian XV mencakup logam tidak mulia dan barang terbuat daripadanya. bulu kambing Angora (Mohair) dan sutera. poliester. sedangkan serat tiruan digunakan dalam hubungan untuk bahan dari rayon viskosa. tutup kepala (bab 65). dll. dll. Kain rajut dibuat dengan jalan menjeratkan benang satu dengan yang lain atau pada benang itu sendiri. Melalui data nomor benang. juga produk-produk tertentu dari bulu. Sistem penomoran benang langsung (Direct Yarn Number) Sistem penomoran benang tidak langsung (Indirect Yarn Number) Kain yang terbuat dari benang dengan cara tenun. keramik (bab 69). gips. Serat buatan adalah serat hasil industri kimia. (bab 66). Bagian XIV mencakup hanya bab 71 yaitu mencakup mutiara dan batu mulia. semen. yaitu serat sintetik dan serat artificial (tiruan). bisa dilihat besar atau kecilnya suatu benang. T shirt dan kain katun (lihat Bab 60 tentang jenis kain ini). dibuat dengan mesin tenun melalui cara menyilangkan kelompok benang satu terhadap yang lain.yang berasal dari hewan misalnya bulu domba atau bulu anak domba. benang pakan kalau dalam mesin rajut adalah yang bergerak menyilang benang lusi atau sesuai arah lebar kain. (bab 68). Benang tersebut biasa disebut sebagai lusi dan pakan. Namun demikian bagian ini tidak mencakup barang dari logam dasar yang termasuk dalam bab- . Istilah sintetik digunakan dalam hubungan bahan polimer seperti poliamida. dan kaca/barang dari kaca (bab 70). bulu unta. perhiasan. poliurethan dan lainnya.

jam (bab 91). Hal ini dapat difahami mengingat antara bab satu dengan bab lainnya kadang-kadang mencakup barang yang mengandung bahan yang sama atau merupakan proses lebih lanjut dari barang dalam bab sebelumnya.). sinematografi. peralatan permainan.1. dll. dan perlatan musik (bab 92).bab di belakangnya (seperti mesin dan kendaraan). judul bab dalam HS sebagian besar bersifat umum. papan nama iluminasi. pesawat terbang. akan kita dapati bahwa terdapat keterkaitan antara bab tertentu dengan bab atau beberapa bab lainnya. Dengan demikian dapat dimengerti apabila suatu barang yang sepintas termasuk dalam suatu bab ternyata diklasifikasikan pada bab lain. Bagian XVI mencakup mesin. kapal laut. fotografi. peralatan mekanik. dan bangunan prefabrikasi (bab 94). Bagian XIX hanya terdiri dari bab 93 yang mencakup senjata dan amunisi. Hubungan Antar Bab Apabila kita mempelajari Bab demi Bab Harmonized System. Selain itu. dan peralatan olahraga (bab 95). lampu. pesawat ruang angkasa. dan barang antik. perlengkapan penerangan. Bagian XVII mencakup kendaraan. mainan. di bawah ini disajikan gambaran keterkaitan antar bab dalam HS: . Bagian XVIII mencakup perlatan optik. 3. medis. kontrol. ukuran. barang kegemaran kaum pengumpul. dan alat transportasi lainnya (kereta api. Bagian ini mempunyai pos dan sub-pos yang sangat besar dibandingkan dengan bagian lainnya. Sebagai contoh. Perlu diingat bahwa judul bab bukan merupakan uraian yang bersifat mengikat secara hukum. dan peralatan listrik. dan bermacam-macam barang hasil pabrik (bab 96). atau bedah (bab 90).2. Bagian XX mencakup furniture. Bagian XXI hanya terdiri dari bab 97 yang mencakup hasil karya seni.

19 (wood dryer). Tetapi apabila kembang gula tersebut mengandung kokoa. Sayuran atau buah yang diawetkan dengan cuka atau dengan cara lain misalnya masuk Bab 20. furniture dari plastik (bab 94). mesin pada pos 84.• • Bab 1 mencakup antara lain binatang hidup. beberapa mesin dan peralatan tertentu tetap diklasifikasikan pada bab 84 meskipun elektrik. dan beberapa mesin lainnya. Namun demikian. maka harus diklasifikasikan olahan makanan mengandung kokoa pada bab 18 (pos 18.08). • Mesin dan peralatan mekanis diklasifikasikan pada bab 84 sedangkan mesin dan peralatan listrik diklasifikasikan pada bab 85.03 (electric central heating boiler) dan pos 84.06). Contoh-contoh di atas adalah sebagian kecil contoh keterkaitan antar bab dalam HS. Namun kuda hidup yang digunakan dalam sirkus tidak klasifikasikan pada bab 1. Adalah tidak mungkin untuk menggambarkan dengan rinci keterkaitan antas bab dalam diktat ini. Pada Bab 6 tidak termasuk benih. maka harus diklasifikasikan pada Bab 39 (plastik). Bila sudah berbentuk barang yang khusus dibuat untuk keperluan tertentu. Untuk mengetahui keterkaitan antara bab satu dengan bab lainnya. Barang dari plastik diklasifikasikan pada Bab 39. buah atau buah berbonggol dan umbi-umbian tertentu. frame kacamata dari plastik (bab 90). kita dapat . • Bab 6 meliputi semua tanaman hidup yang umumnya dimaksud untuk dijual oleh tukang bibit atau yang bergerak dibidang hortikultura yang serasi untuk ditanam atau dijadikan pajangan. kotak jam dari plastik (bab 91). • Bahan kimia etilena diklasifikasikan pada Bab 29 (bahan kimia organik). Namun apabila etilene terpolimerisasi menjadi polietilena dengan jumlah unit monomer (n) 5 atau lebih. seperti mesin dengan motor listrik. Produk yang dikemas dalam kedap udara dan mengalami pengolahan lebih jauh selain pengolahan dari Bab 2 maka diklasifikasikan pada bab 16. melainkan pada bab 95 (pos 95. Daging pada Bab 2 hanya terhadap pengolahan terbatas seperti : segar. Sebagai contoh. dingin. • Kembang gula (sugar confectionery) diklasifikasikan pada bab 17. diasap dan dipanggang. dan sebagainya. barang tersebut diklasifikasikan di bab-bab lain.

Produk hewani. teh.1. Daging & sisanya yang dapat dimakan 3. . PRODUK HEWANI BAB 1. Produk industri penggilingan . jerami dan makanan ternak. Ikan dan udang-udangan. bermacam-macam butir. gluten gandum.3. Binatang hidup 2. tanaman industri atau obat . Lak. mate dan rempah-rempah 10. Untuk itu membaca catatan bab maupun catatan bagian merupakan kewajiban sebelum kita mengklasifikasikan suatu barang pada pos tertentu. 2. Kopi. getah. Biji mengandung minyak dan buah mengandung minyak .melihat di catatan bab maupun catatan bagian. Bab Pada PADA BTBMI BAGIAN I BINATANG HIDUP. Gandum-ganduman 11. LEMAK OLAHAN YANG DAPAT DIMAKAN. madu alam. 5. tidak dirinci atau termasuk dalam pos lainnya BAGIAN II PRODUK NABATI BAB 6. ekstrak nabati lainnya 14. 12. telur unggas. Bahan nabati untuk anyam-anyaman. bunga potong dan daun untuk hiasan 7. tidak dirinci atau termasuk dalam pos lain. inulin . Produk pabrik susu. damar dan air. malti . 13. akar dan bonggol tertentu yang dapat dimakan 8. umbi akar dan yang semacam itu. Buah & buah berbatok yang dapat dimakan. kulit dari buah jeruk dan melon 9. biji dan buah. pati. Sayuran. binatang lunak dan binatang air lainnya yang tidak bertulang belakang 4. Pohon hidup dan tanaman lainnya. produk hewani yang dapat dimakan. produk nabati tidak dirinci atau termasuk pos lainnya BAGIAN III MINYAK DAN LEMAK HEWANI ATAU NABATI DAN PRODUK DISOSIASINYA.

MINUMAN. bahan plester. malam mineral BAGIAN VI PRODUK INDUSTRI KIMIA DAN INDUSTRI YANG ADA HUBUNGANNYA DENGAN INDUSTRI KIMIA . Kakao & olahan kakao 19. Olahan dari sayuran. produk industri kue. 21. dari ikan atau dari udang-udangan. pati atau susu. tepung. BAGIAN V PRODUK MINERAL BAB 25. 20. minuman keras dan cuka 23. Minuman. Olahan dari daging. olahan makanan hewan 24. Bijih logam. Tembakau dan tembakau pengganti buatan. Bahan bakar mineral. bahan mengandung bitumen. binatang lunak atau dari binatang air yang tidak bertulang belakang 17. Bermacam-macam olahan yang dapat dimakan 22. belerang. kapur dan semen. kacang atau bagian lain dari tanaman. dan sisa dari industri makanan. terak dan abu 27. Gula dan kembang gula 18. MINUMAN KERAS DAN CUKA. Garam. Ampas. 26. minyak mineral dan produk sulingannya. TEMBAKAU DAN TEMBA KAU PENGGANTI BUATAN BAB 16. buah.MALAM HEWANI ATAU NABATI Bab 15 (Judul Bab sama dengan Bagian) BAGIAN IV BAHAN MAKANAN OLAHAN. tanah dan batu. Olahan dari gandum-ganduman.

Pupuk 32. Produk farmasi 31. pigmen dan bahan pewarna lainnya. Kulit dan Barang dari Kulit BAGIAN VIII JANGAT DAN KULIT MENTAH. enzim 36. 35. cat dan vernis. Ekstrak bahan samak atau bahan celup. paduan piroforik. dempul dan damar lainnya. BARANG DARI USUS . Plastik dan Barang dari plastik 40. Aneka produk kimia BAGIAN VII PLASTIK DAN BARANG DARI PLASTIK. PELANA TERMASUK PERLENGKAPANNYA DAN PAKAINAN KUDA.BAB 28. bahan samak dan turunannya. kosmetika atau preparat pewangi 34. TAS TANGAN DAN TEMPAT SIMPAN SEMACAMNYA. KARET DAN BARANG DARI KARET BAB 39. preparat pelumas. KULIT SAMAK. tinta 33. lilin dan barang semacam itu. KULIT BERBULU DAN BARANGNYA. Zat albumina . bahan celup. preparat pelumas atau pembersih. modifikasi pati . Bahan kimia organik 30. malam olahan. BARANG UNTUK BERPERGIAN. olahan tertentu yang mudah terbakar 37. wangi-wangian. preparat pencuci. Barang fotografi atau sinematografi 38. pasta untuk membuat model. preparat pencuci. Minyak atsiri dan resinoida. korek api. senyawa organik atau organik dari logam mulia. malam tiruan. Sabun bahan organik penggiat permukaan. produk piroteknik. “malam untuk mencetak gigi” dan preparat untuk gigi dengan bahan dasar gips. dari logam tanah langka. perekat . dari unsur radio aktif dan dari isotop 29. Bahan peledak. Bahan kimia anorganik.

keranjang dan barang anyaman BAGIAN X PULP DARI KAYU ATAU DARI BAHAN SELLULOSA BERSERAT LAINNYA. RUMPUT ESPARTO ATAU DARI BAHAN ANYAMAN LAINNYA. arang kayu 45. barang untuk bepergian. Kulit berbulu dan kulit berbulu tiruan BAGIAN IX KAYU DAN BARANG DARI KAYU. KERANJANG DAN BARANG ANYAMAN BAB 44. Jangat dan kulit mentah (lain dari kulit berbulu) dan kulit samak 42. BARANG DARI JERAMI. dari rumput esparto atau dari bahan anyaman lainnya. GABUS DAN BARANG DARI GABUS. KERTAS DAN KERTAS KARTON DAN BARANGNYA BAB 47. KERTAS ATAU KERTAS KARTON (BEKAS DAN SISA) YANG DIPEROLEH KEMBALI. barang dari usus hewan (lain dari pada usus ulat sutera) 43. kertas atau kertas karton (bekas dan sisa) yang diperoleh . Barang dari jerami.(LAIN DARI USUS ULAT SUTERA) BAB 41. Pulp dari kayu atau dari bahan sellulosa berserat lainnya. Gabus dan barang dari gabus 46. ARANG KAYU. pelana termasuk perlengkapan dan pakaian kuda. tas tangan dan wadah yang semacam itu. Kayu dan barang dari kayu. Barang dari kulit samak.

Filamen buatan berjumbai. barang tekstil dari jenis yang cocok untuk digunakan dalam industri 60. Payung. Kertas dan kertas karton. tidak dirajut atau dikait 63. BULU UNGGAS. surat kabar. Serat staple buatan hiasan. PECUT DAN BAGIANNYA. TUTUP KEPALA. benang khsusu. OLAHAN DAN BARANGNYA. renda. naskah ketikan dan rencana BAGIAN XI TEKSTIL DAN BARANG TEKSTIL BAB 50. tali tambang dan kabel dan 52. naskah tulisan tangan. ditutupi atau dibuat berlapis-lapis. gombal BAGIAN XII ALAS KAKI. dilapisi. tenunan. Gumpalan. Kain tenunan khusus. kain kempa dan bukan 51. TONGKAT JALAN. gambar dan produk lainnya dari industri percetakan. PAYUNG. BUNGA TIRUAN. Tutup kepala dan bagiannya 66. 55. Kain tekstil diresapi. Permadani dan tekstil penutup benang kertas dan tenunan dari lantai lainnya benang kertas 58. PAYUNG PANAS. Kain rajutan atau kain kaitan 61. kain tekstil 54. Sutera 56. bagian dari barang semacam 65. 57. barang dari pulp kertas. Barang dan perlengkapan pakaian. sulaman 59. benang benang bulu kuda dan kain tenunan pintal. dari kertas atau kertas karton 49. TONGKAT DUDUK. Barang tekstil sudah jadi lainnya. pakaian bekas dan barang tekstil bekas. bulu hewan halus atau kasar. pecut dan bagiannya . Serat tekstil dari nabati lainnya .48. Barang dan perlengkapan pakaian. cambuk. CAMBUK. payung panas. Alas kaki. BARANG DARI RAMBUT MANUSIA BAB 64. rajutan atau kaitan 62. Wool. pelindung kaki dan yang semacam itu . tongkat duduk. Kapas barang-barangnya 53. permadani. Barang cetakan. setelan. tongkat jalan.

LOGAM MULIA KERAJANG DAN BARANGNYA. Barang dari besi dan baja 74. Produk keramik 70. Besi dan baja 73. ASBES. barangnya . PERHIASAN IMITASI. sermet. Aluminium dan barang terbuat dari 78. BATU PERMATA ATAU SEMI PERMATA. Seng dan barang terbuat dari seng 80. gips. GIPS. PRODUK KERAMIK. Nikel dan barang terbuat dari nikel 76. MATA UANG LOGAM BAB 71 (Judul Bab sama dengan judul Bagian) BAGIAN XV LOGAM TIDAK MULIA DAN BARANG DARI LOGAM TIDAK MULIA BAB 72. barang dari rambut manusia BAGIAN XIII BARANG DARI BATU. Bulu unggas dan bulu unggas olahan serta barang terbuat dari bulu unggas atau bullu unggas tiruan. Barang dari batu. LOGAM MULIA. SEMEN. MIKA ATAU DARI BAHAN SEMACAM ITU. Logam tidak mulia lainnya. semen. mika atau bahan semacam itu 69. Tembaga dan barang terbuat dari tembaga 75. bunga tiruan. asbes. Timah dan barang terbuat dari timah 81.67. KACA DAN BARANG DARI KACA BAB 68. Timah hitam dan barang terbuat dari timah hitam 79. Kaca dan barang dari kaca BAGIAN XIV MUTIARA ALAM DAN MUTIARA BUDIDAYA.

alat pemasang dan perlengkapan rel kereta api atau trem dan bagiannya. dan bagian serta perlengkapan dari barang yang semacam itu BAGIAN XVII KENDARAAN. ketel uap. PESAWAT PEREKAM ATAU REPRODUKSI SUARA DAN GAMBAR UNTUK TELEVISI. DAN BAGIAN SERTA PERLENGKAPAN DARI BARANG YANG SEMACAM ITU BAB 84. bagiannya 85.bagian bagiannya dari logam tidak mulia 83 Bermacam-macam barang dari logam tidak mulia BAGIAN XVI MESIN DAN PESAWAT MEKANIK. mesin dan pesawat mekanik. perlengkapan isyarat lalu lintas mekanik dari segala jenis (termasuk elektronik) 87. Reaktor nuklir. KENDARAAN AIR DAN PERLENG KAPAN PENGANGKUTAN YANG BERKAITAN BAB 86. dari logam tidak mulia. BAGIANNYA PESAWAT PEREKAM DAN PESAWAT REPRODUKSI SUARA. PERLENGKAPAN LISTRIK. dan bagian serta . PESAWAT TERBANG.sendok dan garpu. Mesin dan alat listrik serta bagiannya.aluminium 82 Perkakas. peralatan. Lokomotif kereta api atau trem. kendaran yang bergerak diatas rel dan bagiannya. pesawat perekam dan reproduksi gambar dan suara untuk televisi. barang tajam. Kendaraan selain yang begerak diatas rel kereta api atau trem. pesawat perekam dan pesawat reproduksi suara.

bangunan prefabrikasi 95. dan bangunan terapung BAGIAN XVIII ALAT DAN APARAT OPTIK. pesawat ruang angkasa. bahtera. Alat dan aparat optik. SINEMATOGRAFI. peneliti. PRESISI. BAGIAN DAN KELENGKAPANNYA BAB 93 (judul sama dengan judul Bagian) BAGIAN XX BERMACAM-MACAM BARANG HASIL PABRIK BAB 94. papan nama iluminasi dan semacam itu. tidak dirinci atau termasuk dalam pos manapun. KEDOKTERAN DAN BEDAH. bagian dan perlengkapan dari barang seperti itu BAGIAN XIX SENJATA DAN AMUNISI. ukur. lampu dan perlengkapan penerangan. Perabot rumah.perlengkapannya 88. Kapal. sinematografi. presisi. bagian dan perlengkapannya 91. lapik kasur. isyarat iluminasi. BAGIAN DAN PERLENGKAPANNYA BAB 90. keperluan permainan dan keperluan olah raga. Mainan. bantal dan kelengkapannya. LONCENG DAN ARLOJI. Kapal udara. Instrumen musik . PENELITI. kasur tempat tidur. bagian dan . fotografi. serta bagiannya 89. Lonceng dan arloji dan bagiannya 92. INSTRUMEN MUSIK. kedokteran dan bedah. kasur. POTOGRAFI. UKUR.

2. 3. Rangkuman BTBMI terdiri dari 21 Bagian. Latihan 2 Pertanyaan 1. barang untuk kemanan dan barang kelontong. .kelengkapannya 96. proses setengah jadi dan barang jadi. Daging sapi yang diolah sederhana masuk pos berapa ? Bagaimana bila telah dikukus masuk Bab berapa ? 3. Pengelompokan barang ini berawal dari binatang. Urutan pengelompokan barang umumnya didasarkan atas bahan dasar. 2. kendaraan. Sebutkan pos saja untuk barang mentega dan margarin ? 2. Bab 1 sampai dengan 77 dan bab 78 sampai dengan bab 98. hewani.3. nabati mineral dan selanjutnya kepada bahan kimia dan produknya. Jawaban 2. BARANG KEGEMARAN KAUM PENGUMPUL DAN BARANG ANTIK BAB 97 (Judul Bab sama dengan Bagian) 2. Terakhir dengan mesin. Bermacam-macam barang hasil pabrik lain BAGIAN XXI HASIL KARYA SENI. Sebutkan posnya saja batu pualam yang masih bongkahan dan yang telah jadi ubin ? 1. barang presisi.

Sebaiknya seorang klasifikator yang bak akan memahami pengelompokan jenis barang dalam BTBMI .Pemahaman pengelompokan barang akan mempermudah dan mempercepat dalam mengklasifikasi.

. buah dari genus Capsicum atau dari genus Pimenta.12 kata "sayuran" meliputi jamur. sisa daging. darah. diklasifikasikan dalam pos pada Bab 16 yang sesuai dengan komponen atau komponen-komponen yang mendominasi menurut beratnya.04. 07.4. tarragon.. moluska atau invertebrata air lainnya. jagung manis (Zea mays var.03 atau 21.10.1. dan Catatan Sub-pos. Dalam hal apabila olahan mengandung dua atau lebih produk yang disebut di atas.02. olahan makanan mengandung sosis.1 Bagian II Bab 7 Catatan 2 2. daging. Ketentuan ini tidak berlaku untuk produk diisi dari pos 19. kaper.1. parsley.2 Bagian II Bab 16 Catatan 2 2. chervil. daging. KEGIATAN BELAJAR 3 CATATAN PENTING PADA BTBMI 3.Olahan makanan digolongkan dalam Bab ini asalkan mengandung sosis.1. Uraian. Contoh dan Non Contoh Disamping KUM HS. 07. atau berbagai kombinasinya.09. adas pedas.Bab ini tidak meliputi : (a) Kecuali dalam hal produk diisi dari pos 19. darah. ikan atau krustasea. moluska atau invertebrata air . saccharata). sisa daging. terong.02 atau olahan dari pos 21. Catatan-catatan tersebut mempunyai kekuatan hukum sama seperti uraian pos atau sub-pos.Dalam pos 07. HS mempunyai Catatan Bagian.1. Catatan-catatan penting tersebut adalah : 3. catatan-catatan dalam HS merupakan bagian integral yang harus diperhatikan benar-benar.11 dan 07. 3. Catatan Bab. ikan atau krustasea. cendawan tanah. buah zaitun..3 Bagian IV Bab 19 catan 1 1. 3. cress dan marjoram manis (Majorana hortensis atau Origanum majorana) yang dapat dimakan. lebih dari 20% menurut beratnya. labu sumsum. labu kuning.

3. lebih dari 20% menurut beratnya (Bab 16). baik berdasarkan sifat atau perbandingan relatifnya. istilah "olahan homogen" berarti olahan buah.4 Bagian IV Bab 20 catatan subpos 2 2.10.10 harus dipertimbangkan lebih dahulu daripada subpos lain dari pos 20.Barang yang disiapkan dalam set yang terdiri dari dua atau lebih unsur yang terpisah. (b) Biskuit atau barang lain yang dibuat dari tepung atau dari pati.1.lainnya. dalam kemasan dengan berat bersih tidak melebihi 250 g.. Untuk penerapan definisi ini tidak memperhitungkan sejumlah kecil berbagai bahan yang ditambahkan pada olahan tersebut sebagai penyedap. atau berbagai kombinasinya.09). asalkan unsur tersebut : (a) berdasarkan penyiapannya jelas dapat dikenal untuk digunakan bersamasama tanpa dibungkus ulang sebelumnya. diolah secara khusus untuk makanan hewan (pos 23.Istilah "kopolimer" meliputi semua polimer yang unit monomer tunggalnya tidak ada yang beratnya 95% atau lebih menurut berat total kandungan polimer tersebut. . dapat dikenali sebagai unsur yang saling melengkapi satu sama lain.5 Bagian VI Bagian VI catatan 3 3.Untuk keperluan subpos 2007. harus diklasifikasikan dalam pos yang sesuai dengan produk tersebut.1. atau (c) Obat-obatan dan produk lain dari Bab 30. disiapkan untuk penjualan eceran sebagai makanan bayi atau untuk keperluan diet. beberapa atau seluruhnya yang digolongkan dalam Bagian ini dan dimaksudkan untuk dicampur bersama untuk memperoleh produk dari Bagian VI atau VII. dan (c) pada saat diajukan.07... 3.1. dihomogenisasi secara halus.6 Bagian VII Bab 39 catatan 4 4. Subpos 2007. Olahan ini dapat mengandung sejumlah kecil buah yang dapat dilihat. pengawet atau keperluan lain. (b) diajukan bersama. 3.

Untuk keperluan pengujian ini. Untuk keperluan Catatan ini. tidak diperkenankan 3. 3.Dalam Catatan 1 Bab ini dan dalam pos 40. Namun demikian.02 dan dari campuran dua bahan tekstil atau lebih harus diklasifikasikan seolah-olah seluruhnya terdiri dari satu bahan tekstil yang beratnya mendominasi berat setiap bahan tekstil lainnya. block copolymer dan graft copolymer) dan campuran polimer harus diklasifikasikan dalam pos yang mencakup polimer dari unit komonomer tersebut yang beratnya mendominasi berat unit komonomer tunggal lainnya. keberadaan zat yang dimaksud oleh Catatan 5 (b) (ii) dan (iii) juga diperkenankan.1. Apabila tidak satupun bahan tekstil yang .09 atau 59. seperti perentang. Dalam hal tidak terdapat unit komonomer tunggal yang mendominasi..1.(A) Barang yang dapat diklasifikasikan dalam Bab 50 sampai dengan 55 atau dalam pos 58. kecuali apabila konteksnya menentukan lain. dapat ditambahkan zat yang diperlukan untuk ikatan silang. maka kopolimer atau campuran polimer harus diklasifikasikan dalam pos terakhir berdasarkan urutan penomoran di antara pos yang mempunyai pertimbangan yang setara. produk kopoliadisi. seperti pengaktif dan akselerator vulkanisasi. panjangnya akan kembali menjadi tidak lebih dari satu setengah kali panjang aslinya.Untuk keperluan Bab ini. kopolimer (termasuk kopolikondensasi. yang pada suhu antara 18 C dan 29 C tidak akan putus bila di rentang hingga tiga kali panjang aslinya. peliat dan pengisi.. bagian unit komonomer dari polimer yang termasuk dalam pos yang sama harus digolongkan bersama. dan setelah direntang hingga dua kali panjang aslinya selama lima menit.02. keberadaan berbagai zat yang tidak diperlukan untuk ikatan silang. istilah "karet sintetik" berlaku untuk : (a) Zat sintetik tidak jenuh yang dapat diubah dengan tidak kembali ke sifat semula melalui vulkanisasi menggunakan belerang menjadi zat non termoplastik.8 Bagian XI Bagian XI catatan 2 2.7 Bagian VII Bab 40 catatan 4 4.

08.01. 73. 73. 83. pertama.10) dan benang berlogam (pos 56.mendominasi menurut beratnya.15) referensi untuk bagian barang tidak meliputi referensi untuk bagian pemakaian umum sebagaimana dirinci di atas. (b) Pilihan pos yang sesuai harus dilakukan.17 atau 73. tanpa memperhatikan berbagai bahan yang tidak diklasifikasikan dalam Bab tersebut.10 dan bingkai serta cermin dari logam tidak mulia. (c) Apabila Bab 54 dan 55 berkaitan dengan berbagai Bab lainnya. maka Bab 54 dan 55 harus diperlakukan sebagai Bab tunggal. Dalam Nomenklatur ini.06.14). benang berlogam harus dianggap sebagai bahan tekstil. dan kemudian pos yang tepat dalam Bab tersebut.1. dan (c) Barang dari pos 83. maka bahan tersebut harus diperlakukan sebagai bahan tekstil tunggal.1. (B) Untuk keperluan ketentuan di atas : (a) Benang lilit dari bulu kuda (pos 51. Dalam Bab 73 sampai dengan 76 dan Bab 78 sampai dengan 82 (tetapi tidak dalam pos 73. selain pegas jam atau arloji (pos 91. 83.18 dan barang semacam itu dari logam tidak mulia lainnya.05) harus diperlakukan sebagai bahan tekstil tunggal yang beratnya dianggap seperti berat keseluruhan komponennya. dari logam tidak mulia.10 Bagian XVI Bagaian XVI catatan 3.02. 4 dan 5 . (b) Pegas dan lembaran untuk pegas. untuk pengklasifikasian kain tenunan. dengan menentukan Babnya. (d) Apabila Bab atau pos merujuk pada barang dari bahan tekstil yang berbeda . istilah "bagian untuk pemakaian umum" berarti : (a) Barang dari pos 73. 83. 3. 73.9 Bagian XV Bagian XV catatan 2 2.12.15. barang tersebut harus diklasifikasikan seolah-olah seluruhnya terdiri dari satu bahan tekstil yang termasuk dalam pos terakhir berdasarkan urutan penomoran di antara pos-pos dengan pertimbangan yang setara. dari pos 83.07. 3.

harus diklasifikasikan seolah-olah terdiri hanya dari komponen tersebut atau sebagai mesin tersebut yang melakukan fungsi utama. mesin gabungan yang terdiri dari dua atau lebih mesin yang dipasang bersama untuk membentuk satu kesatuan dan mesin lainnya yang dirancang untuk keperluan melakukan dua fungsi atau lebih yang saling melengkapi atau fungsi alternatif.. 5.Kecuali apabila konteksnya menentukan lain. selama berlangsungnya pengolahan. (2) Diprogram secara bebas menurut kebutuhan pemakai. harus diperlakukan seolah-olah kegunaan utamanya adalah kegunaan satu-satunya. 3..1. istilah "mesin pengolah data otomatis" berarti : (a) Mesin digital.Untuk keperluan klasifikasi.71. mesin yang digunakan untuk lebih dari satu kegunaan..(A) Untuk keperluan pos 84. 3.1. suatu mesin yang .. (3) Mengerjakan perhitungan aritmatika yang ditentukan oleh pemakai.Untuk keperluan Catatan ini. dengan kabel listrik atau dengan peralatan lainnya) yang dimaksudkan untuk digunakan bersama untuk melakukan fungsi tertentu secara jelas. (4) Tanpa intervensi manusia. dengan keputusan yang logis. yang termasuk dalam salah satu pos dalam Bab 84 atau 85. dengan peralatan penggerak. Berdasarkan Catatan 2 pada Bab ini dan Catatan 3 pada Bagian XVI. yang dapat : (1) Menyimpan program atau programprogram pengolahan dan sekurang-kurangnya data yang diperlukan segera untuk pelaksanaan program tersebut.. instalasi. perlengkapan.12 Bagian XVI Bagian XVI catatan 7 7. istilah " mesin " berarti berbagai mesin.3. aparatus atau peralatan yang disebut dalam pos pada Bab 84 atau 85.Apabila mesin (termasuk kombinasi mesin) terdiri dari komponen tersendiri (terpisah atau saling dihubungkan dengan pipa.11 Bagian XVI Bagian XVI catatan 5 5. permesinan. 4. melaksanakan program pengolahan yang memerlukan modifikasi pelaksanaannya. dan. seluruhnya harus diklasifikasikan dalam pos yang sesuai dengan fungsi tersebut.

79 juga meliputi mesin untuk membuat tali atau kabel (misalnya. atau barang semacam itu dari plastik (Bab 39). penyepuhan. Pos 84.kegunaan utamanya tidak diuraikan dalam pos manapun atau yang tidak ada satupun kegunaannya merupakan kegunaan utama. 3. memodulasi atau memperkuat sinyal elektris (misalnya. dapat diidentifikasi sebagai barang dari Bagian ini maupun tidak : (a) Sambungan. harus diklasifikasikan dalam pos 85. (b) Bagian untuk pemakaian umum.. resistor. sirkit tercetak dapat dilengkapi dengan elemen penghubung tidak dicetak.16 Bagian XVI Bab 85 catatan 4 4..34 "sirkit tercetak" adalah sirkit yang diperoleh dengan pembentukan di atas dasar pengisolasi. atau induktansi khusus. kontak atau komponen tercetak lainnya (misalnya. 3.Untuk keperluan pos 85.84) atau barang lainnya dari karet divulkanisasi selain karet keras (pos 40. selain elemen yang dapat memproduksi.79.1.42.Istilah "bagian" serta "bagian dan aksesori" tidak berlaku untuk barang berikut.1.13 Bagaian XVII Bagian XVII catatan 2 2. benang tekstil atau berbagai bahan lainnya atau dari kombinasi bahan bahan tersebut. kecuali apabila konteksnya menentukan lain. kapasitor. mesin pemilin atau mesin pembuat kabel) dari kawat logam. Istilah " sirkit tercetak " tidak meliputi sirkit yang dikombinasi dengan elemen selain yang diperoleh selama proses pencetakan. . pencetakan timbul. elemen semi konduktor). cincin pipih atau sejenisnya dari berbagai bahan (diklasifikasikan menurut bahan utamanya atau dalam pos 84. Sirkit film tipis atau tebal yang terdiri dari elemen pasif dan aktif yang diperoleh selama proses teknologis yang sama. harus diklasifikasikan dalam pos 84. induktansi. Namun demikian. dari logam tidak mulia (Bagian XV). tersendiri atau saling berhubungan menurut pola yang ditetapkan sebelumnya. menyearahkan. juga tidak meliputi resistor. melalui berbagai proses pencetakan (misalnya. sebagaimana dirinci dalam Catatan 2 Bagian XV. mesin penjalin.16). kapasitor). pengetsaan) atau melalui teknik "sirkit film" berupa elemen konduktor.

32 berlaku hanya untuk : (a) Instrumen dan aparatus untuk mengontrol arus.79.Referensi untuk "bagian" atau "aksesori" dalam Bab 86 sampai dengan 88 tidak berlaku untuk bagian atau aksesori yang tidak cocok untuk digunakan sematamata atau terutama dengan barang dari Bab-bab tersebut.83. 3. (ij) Senjata (Bab 93). yang dirancang untuk memberi faktor tersebut untuk.(c) Barang dari Bab 82 (perkakas). asalkan barang tersebut merupakan bagian integral dari mesin atau motor. yang dirancang untuk memberi . distabilkan terhadap gangguan. yang penggunaannya tergantung maupun tidak pada fenomena elektris yang berubah-ubah menurut faktor yang harus dikontrol secara otomatis.01 sampai dengan 84. Bagian atau aksesori yang memenuhi uraian dalam dua pos atau lebih dari pos pada Bab-bab tersebut. yang pengoperasiannya tergantung pada fenomena listrik yang berubah-ubah menurut faktor yang dikontrol. dengan pengukuran nilai aktual secara konstan atau periodik.. (k) Lampu atau alat kelengkapan penerangan dari pos 94. 3.Pos 90. harus diklasifikasikan menurut pos yang sesuai dengan penggunaan utama dari bagian atau aksesori tersebut.03). (e) Mesin atau aparatus dari pos 84. atau bagiannya.05. tinggi permukaan.06. dan mempertahankannya pada nilai yang dikehendaki. tekanan atau variabel lainnya dari cairan atau gas secara otomatis.81 atau 84. (g) Barang dari Bab 90. barang dari pos 84. (d) Barang dari pos 83. atau untuk mengontrol suhu secara otomatis. (h) Barang dari Bab 91. dan (b) Regulator besaran listrik otomatis dan instrumen atau aparatus untuk mengontrol besaran bukan listrik secara otomatis.14 Bagian XVIII Bab 90 catatan 7 7. (f) Mesin atau perlengkapan elektris (Bab 85).1.82 atau barang dari pos 84. atau (l) Sikat dari jenis yang digunakan sebagai bagian dari kendaraan ( pos 96..

Catatan merupakan salah satu syarat penting dalam mengklasifikasi barang.. 4. distabilkan terhadap gangguan.15 Bagian XXI Bab 97 catatan 5 5.3. 3. Apakah bingkai dan gambar yang sama mahal harganya diklasifikasikan dalam satu pos tarif ? 1.Bingkai yang terpasang pada lukisan. Berbagai jenis barang akan dijelaskan dengan catatan dalam bagian. dan mempertahankannya pada nilai yang dikehendaki. gambar. bingkai yang bukan merupakan jenis atau nilai yang wajar untuk barang tersebut. 5. Test Formatif . Merujuk pada Catatan ini. asalkan dari jenis dan nilai yang wajar untuk barang tersebut. Bahkan dalam KUM HS nomor satu dinyatakan bahwa hal yang mengikat dalam mengklasifikasi barang adalah catatan.faktor ini untuk. Jawaban 2. Sebutkan 3 contoh barang termasuk bagian untuk pemakaian umum ? 2. dengan pengukuran nilai aktual secara konstan atau periodik. bab maupun subpos. bab maupun subpos yang bersifat mengikat. baik catatan bagian. Bagaimana pengklasifikasian motor untuk mobil mainan ? 4. Rangkuman Salah satu syarat menjadi seorang klasifikator yang baik adalah harus dapat memahami catatan penting. barang cetakan atau litograf harus diklasifikasikan dengan barang tersebut. Latihan 3 Pertanyaan 1. kolase atau plakat hiasan semacam itu. gambar pastel. Saringan udara untuk mesin diklasifikasikan pada pos berapa ? 5. ukiran.1. 4. harus diklasifikasikan terpisah. 3 4 5.2. Bagaimana syarat komputer menurut Harmonized system pada Bab 84 ? 3.

dengan bentuk atau kelengkapan khusus untuk menyimpan barang tertentu atau seperangkat barang tertentu. Tidak mengikat secara hukum dalam mengklasifikasi 2. ( B . Dengan mengetahui spesifikasi barang maka akan lebih mendekati keakuratan dalam mengklasifikasi barang 5.1. cocok untuk pemakaian jangka panjang dan diimpor lengkap dengan isinya. ( B . asalkan pada saat diimpor sudah mempunyai sifat utama sebagai lengkap atau rampung barang 3. Pilihlah jawaban yang Saudara anggap benar dengan cara melingkari huruf yang terdapat di depan jawaban tersebut 6. Lingkarilah huruf B apabila pernyataan ini Saudara anggap benar dan huruf S apabila pernyataan Saudara anggap salah.S ) Judul Bagian. 1.S) Pernyataan 3a pada KUM HS adalah Pos yang memuat uraian yang paling terinci harus lebih diutamakan daripada pos yang memuat uraian yang lebih umum sifatnya 4.S ) Sebelum mengklasifikasi barang. peti instrumen dan tempat simpan yang semacam.2. ( B . Dalam membuat Nota Penelitian Klasifikasi Barang maka diperlukan kerangka yang .S ) Pernyataan 5b pada KUM HS adalah Peti kamera. harus diklasifikasikan dengan barang tersebut jika biasa dijual dengan barang itu 5. sebaiknya kita identifikasi dulu barang yang akan kita klasifikasi. Bab dan Sub-bab pada Buku tarif Bea Masuk Indonesia hanya dimaksudkan untuk memudahkan penyebutan saja.S ) Pernyataan 2b pada KUM HS adalah Barang tidak lengkap atau tidak rampung dianggap sebagai barang lengkap atau rampung. ( B . ( B .5.

2b d. 1 b. Tabung gas LPG yang berisi gas LPG tidak dapat diklasifikasikan menjadi stu pos tarif karena ketentuan menurut KUM HS nomor : a. 2a c. diklasifikasikan sebagai mie pada bab 19. b dan c benar 7. Walalupun etil alkohol merupakan bahan kimia organik.singkat atau memerlukan uraian yang cukup panjang tergantung pada permasalahan yang dihadapi. 2b b. 5a 8. Uraian klasifikasi mulai 2 digit sampai dengan 9 digit d. nama barang dan uraian jenis barang b. 3b b. 3c c.alasan atau catatan yang digunakan c. 5a d. berdasarkan KUM HS nomor : a. Namun demikian nota tersebut setidak-tidaknya memuat tentang : a. Larutan dengan kandungan asam cuka (acetic acid) lebih dari 10 % dikeluarkan dari bab 22 berdasarkan catatan : a. namun diklasifikasikan pada bab 22 dikarenakan KUM HS nomor : a. 3a 10. bumbu. 3a c. pernyataan a. saos dan bawang. 3b d. esklusif c. Suatu kemasan mengandung mie. definitif b. pengertian 9. 5b . ilustrasi d.

Mengapa olahan makanan yang terbuat dari daging sapi yang dikukus tidak diklasifikasikan pada bab 2 7. 8. Jawablah pertanyaan soal dibawah ini dengan ringkas 6. Sebutkan alasannya 10. tidak dikelantang dan tidak dimerserisasi.04 atau 90. Pilihan B atau S . Mengapa sabun mandi mengandung obat pembasmi kuman walaupun mengandung obat tidak diklasifikasikan pada bab 30 sebagai produk farmasi. Automatic voltage regulator yang digunakan sebagai stabilizer otomatis untuk komputer harus diklasifikasikan pada pos 85. dari serat disisir dengan nomor benang 150 decitex.5.Ketentuan dan catatan apa yang digunakan dalam mengklasifikasi barang tersebut 6. merupakan benang tunggal. Mengapa tutup kepala (topi) pengaman untuk pengendara sepeda motor yang terbuat dari bahan plastik tidak diklasifikasikan pada bab 39 ? 9. Benang tenun terbuat dari campuran 70 % kapas (cotton) dan 30 % nilon.3.32 .1. Kunci Jawaban Tes Formatif 6.

S 3.3. Lihat catatan 6(b) Bab 90 Perhatikan sub-pos 5206. b 4. Lihat catatan 1 bab 16. B 4.000 2. dikukus dan pengolahan selain pada bab 2 diklasifikasikan pada bab 16. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Bandingkanlah hasil jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang ada di . B 6.24. Perhatikan pos tarif 1602. c 3. Lihat catatan 1(n) Bab 39 4. Bentuk pengolahan bukan sederhana. seperti dipanggang. Essay Diberitahukan hanya 6 digitnya (sub posnya) 1. B 2. Pilihlah berganda 1. 7. S 5. a 5. Daging sapi hasil olahan sesuai bab 2 (pengolahan sementara/terbatas) diklasifikasikan pada bab 2.1. d 6. Lihat catatan 2(A) Bagian XI 5.50. d 2. Lihat catatan 1(e) Bab 30 3.2.

.. bila tingkat penguasaan Anda masih dibawah 80 %. Kepustakaan 1.. Arti tingkat penguasaan : * 90 % ... 2007 version . Hasilnya Baik ! akan tetapi. Kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap terhadap materi kegiatan belajar Rumus Tingkat Penguasaan Jumlah Jawaban Anda yang benar dibagi 15 kemudian dikali 100 % = ...belakang modul ini....100 % = Baik sekali * 80 % * 70 % * 89 % = Baik 79 % = Cukup 69 % = Kurang Kalau Anda mencapai tingkat penguasaan 80% keatas Anda dapat meneruskan kepada modul atau bagian pelajaran lain. Harmonized System. Anda harus mengulangi membaca Modul kembali.. Wordl Customs Organization. terutama bagian yang belum Anda kuasai 8. Hitunglah jumlah jawaban Anda yang benar atau sejauh mana Anda menguasai mata pelajaran tersebut.

Departemen Keuangan RI. Classification Disputes Settled by The Harmonized System Committee. (1995) Pusdiklat Bea dan Cukai. Pengantar Klasifikasi Barang. Explanatory Notes. 2007 4. World Customs Organization. Jakarta 5. Jakarta 3.2. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (2007). World Customs Organization (1994) *** .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful