P. 1
4. MODUL DTSD Klasifikasi Barang

4. MODUL DTSD Klasifikasi Barang

|Views: 444|Likes:
Published by Satria Virgantara

More info:

Published by: Satria Virgantara on Mar 30, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/07/2014

pdf

text

original

BAHAN DIKLAT TEKNIS SUBTANTIF DASAR (DTSD) KEPABEANAN DAN CUKAI

MODUL ( I – III)

MATERI KLASIFIKASI BARANG

OLEH : TIM PENYUSUN MODUL PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI

PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN BEA DAN CUKAI BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

JAKARTA 2007

MODUL I

SISTEM KLASIFIKASI BARANG MENURUT HARMONIZED SYSTEM

MATERI KLASIFIKASI BARANG OLEH : TIM PENYUSUN MODUL PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN BEA DAN CUKAI BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA JAKARTA 2007

Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Allah yang Maha Kuasa, bahwa Modul ini dapat diselesaikan sesuai waktunya.

Obyek dari kegiatan Direktorat Bea dan Cukai adalah barang. Dalam rangka penentapan tarif bea masuk dan kepentingan kepabeanan lainnya, seyogyanya petugas Ditjen Bea dan Cukai menambah keterampilam dalam mengklasifikasi barang agar pelayanan cepat dan negara tidak dirugikan dalam menetapkan besarnya bea masuk, karena ada kepastian tentang jenis barang dan penetapan tarif posnya.

Modul ini merupakan seri dari 3 buah modul mata pelajaran klasifikasi barang. Modul ini digunakan dalam Diklat Teksnis Substantif Dasar I Kepabeanan dan Cukai dengan judul “Catatan Penting dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia”

Dalam kesempatan ini, Penulis menghaturkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga dapat diselesaikannya Modul ini. Semoga Allah membalas atas amal kebaikan tersebut. Semoga Modul ini bermanfaat sebagai penambah wawasan dan media untuk penambah keterampilan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang.

Jakarta, Nopember 2007

Penulis

................. Tujuan Pembelajaran Umum............... 4...................... Rangkuman........................... 3..1 Uraian.......... Contoh dan Non contoh..................................... 4....................... Test Formatif ....................................... 1 PENDAHULUAN .......3............... Contoh dan Non contoh..Deskripsi singkat.......... 2............ Latihan 1......................2..... 3........2.......................... 4.................... KEGIATAN BELAJAR 2 STRUKTUR PENGELOMPOKAN BARANG PADA BTBMI........... 4 KEGIATAN BELAJAR 3 CATATAN PENTING PADA BTBMI...................................................................................3......... 3....................................................................................... Daftar Isi .............................................2................... Rangkuman.3................................................................................. 2.... Umpan Balik............. 1............................................................... 2..........................................2.....................................................................1 Uraian................... Tujuan Pembelajaran Khusus............................. Kunci Jawaban .............. Daftar Pustaka.... 1................................. Rangkuman.............. i ii 1 1 1 1 2 2 5 5 6 6 22 23 24 24 32 32 33 36 37 38 2 3 5 6 7 8 ....................DAFTAR ISI Halalaman Kata Pengantar ....................................................1 Uraian................................................................................3..... KEGIATAN BELAJAR 1 JENIS CATATAN PADA BTBMI……………………………............................ Contoh dan Non contoh................1.................................................................... Latihan 2................................................................ 1.. Latihan 3......................................

Identifikasi dan klasifikasi barang 2. 1. seorang klasifikator harus terlebih dahulu memahami pengetahuan barang dan pengetahuan mengenai klasifikasi barang.1. PENDAHULUAN 1. 1. Deskripsi Singkat Seorang Pegawai Ditjen Bea dan Cukai harus menjadi seorang klasifikator dibidang kepabeanan Oleh karena itu.MODUL I KLASIFIKASI BARANG I.2.3. Harmonized System (HS) 3. Tujuan Instruksional Khusus Setelah mempelajari Modul ini para siswa diharapkan dapat menjelaskan : 1. para Siswa diharapkan mampu memahami landasan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang berdasarkan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. Seorang klasifikator harus memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang karena akan menentukan ketepatan dalam klasifikasi dalam Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang pada akhirnya menentukan ketepatan jumlah bea masuk dan pungutan impor lainnya yang harus dibayar. . Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI ) 2007. Tujuan Instruksional Umum Setelah mempelajari modul ini.

barulah kita dapat melakukan langkah kedua yaitu Klasifikasi barang. baru diketahui bahwa informasi yang ada belum lengkap sehingga kita harus kembali melakukan identifikasi barang untuk memperoleh informasi yang diperlukan tersebut. Namun sekali lagi perlu diingat. Seorang klasifikaotr tidak mungkin dapat mengklasifikasikan suatu barang dengan benar bila ia tidak tahu spesifikasi barang tersebut. Sebelum mengklasifikasi suatu barang. Langkah ini dinamakan Identifikasi barang. Informasi apa yang diperlukan untuk mengidentifikasi suatu barang dan darimana informasi tersebut diperoleh? Informasi yang diperlukan sebenarnya tergantung dari . Keakuratan mengklasifikasi tergantung dari keakuratan dalam mengidentifikasi barang. Langkah pertama dalam mengklasifikasi adalah apa yang akan diklasifikasikan. Contoh dan Non Contoh 2.1. Perlu diingat bahwa setelah melakukan tahap klasifikasi. Setelah kita mendapatkan seluruh informasi yang dibutuhkan melalui identifikasi barang.1.2. Diharapkan dengan menggunakan metode ini para siswa dapat dengan mudah mengklasifikasi barang. Uraian.1. KEGIATAN BELAJAR 1 IDENTIFIKASI DAN KLASIFIKASI BARANG 2. klasifikasi yang benar hanya dapat dilakukan apabila mengetahui jenis barang dan memahami aturanaturan mengklasifikasi dengan benar. kita harus tahu lebih dulu spesifikasi barang itu. Identifikasi dan Klasifikasi Barang Langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk dapat mengklasifikasi suatu barang dengan benar? Biasanya klasifikasi tersebut dilakukan dengan mencari langsung pos tarif yang dianggap sesuai. Dalam buku ini akan dijelaskan dengan singkat langkah-langkah praktis dalam mengklasifikasi barang. Cara seperti ini tidak akurat dan sering menyebabkan terjadinya kesalahan klasifikasi yang mengakibatkan negara dirugikan.

apakah bentuk asal atau preparat. Semakin banyak informasi yang kita miliki tentang barang tersebut. Bagaimana seandainya yang akan kita klasifikasikan adalah suatu bahan kimia? Barangkali sebelum mengklasifikasi kita memerlukan berbagai informasi mengenai barang kimia tersebut: apakah organik atau anorganik. Semakin sederhana dan rinci uraian barang pada BTBMI. kegunaan. apa komposisinya. apa kegunaannya. buatan. banyak sumber informasi yang dapat kita gunakan. Berapa watt dan voltage tenaga listrik yang dibutuhkan. hanyalah kuda bibit. bagaimana bentuknya. bagaimana pengemasnya. semakin mudah bagi kita untuk mengklasifikasikan barang karena tidak dibutuhkan informasi yang terlalu rumit (misalnya. untuk tujuan olah raga. . informasi yang diperlukan untuk mengklasifikasikan kuda hidup. Informasi lain dapat kita peroleh dari berbagai sumber di atas. dan sebagainya. butiran atau bongkahan. Fisik barang itu sendiri sudah memberikan beberapa informasi yang kita butuhkan. Darimana kita dapat memperoleh informasi yang kita perlukan untuk mengklasifikasi suatu barang? bawah ini: Mari menjawab pertanyaan tesebut dengan memperhatikan bagan di Untuk mengetahui spesifikasi barang yang akan kita klasifikasikan. Demikian juga apabila barang tersebut berupa barang elektronik. dan keterangan lainnya. Informasi yang diperlukan tentunya semakin banyak dan rumit. semakin akurat kita mengklasifikasikannya. misalnya apakah bentuknya cair atau padat. dan sebagainya. atau kuda untuk sirkus).uraian yang ada pada BTBMI yang berkaitan dengan barang bersangkutan.

MSDS. KEMASAN INFORMASI DARI SUMBER LAIN: SK. bahan yang dominan? . DAN LAIN LAIN. NOTES ALPHABETI CAL INDEX. kimia. setengah jadi. INSTANSI/LEMBAGA TERTENTU KAMUS. BROSUR. KATALOG. mesin? • What is it made of? Dibuat dari apa barang tersebut? ⇒ komposisi. Identifikasi barang diperlukan untuk menjawab setidak-tidaknya empat pertanyaan dasar di bawah ini: • What is it? Barang apa yang diimpor? ⇒ bahan baku. campuran.C/A. DLL EXPL. DLL HASIL PENGUJIAN LABORATORIUM LITERATUR LAIN IDENTIFIKASI KLASIFIKASI KONDISI FISIK BARANG LABEL. DATA BASE. elektronik. atau barang jadi? produk pertanian.

barulah kita berusaha mencari pos yang tepat. Langkah-Langkah Dalam Mengklasifikasi Barang 1) Prosedur Umum Klasifikasi Dalam mengklasifikasi barang menggunakan BTBMI. mempelajari jenis. . Keterangan pabrik atau produsen barang perlu diperhatikan.1. bahan baku dan semua informasi mengenai barang. prosedur yang digunakan adalah sebagai berikut : • • • identifikasi barang yang akan diklasifikasikan. Kita dapat menemukan satu pos tertentu bila pos dimaksud dengan spesifik menguraikan jenis barangnya. setelah 3W + 1H ⇒ What are the classifiable codes? Mengapa “What are classifiable codes?” (pos-pos.2. Hal ini untuk mengetahui grade atau kemurnian dari bahan tersebut. bagian dari barang lain. lebh dari satu macam kegunaan? • How is it imported? Bagaimana saat diimpor? ⇒ kemasan? belum lengkap? terurai? dalam bentuk set? Pertanyaan di atas harus dijawab sebelum kita memulai tahap klasifikasi. Namun pada umumnya suatu pos mencakup atau menguraikan satu kelompok barang sehingga sepintas lalu seakan-akan ada satu barang yang dicakup oleh dua atau lebih pos. Dengan kata lain. misalnya apakah pabrik farmasi atau pabrik produksi pipa plastik. merumuskan identitas atau deskripsi barang tersebut. bukan satu pos tertentu?). fungsi. Untuk itu kita perlu mengantisipasi semua pos tarif yang mungkin untuk dipilih satu pos yang paling sesuai. 2. dari jenis pabrik apa. Apabila kita sudah mempunyai jawaban.• What for? Digunakan untuk apa? ⇒ kegunaan tertentu. Kalau dari pabrik farmasi kecenderungannya grade farmasi atau kemurnian mendekati 100 %. aksesoris. Demikian juga negara asal barang akan berpengaruh terhadap mutu atau harga barang. Keterangan kemurnian barang akan berkaitan dengan harga barang tersebut.

biasanya kita sudah mempunyai gambaran umum apakah barang tersebut diklasifikasikan di bab tersebut atau di bab lainnya. Pada tahap ini. berat. (c) Perhatikan penjelasan-penjelasan dalam catatan Bagian maupun catatan Bab yang berkaitan dengan barang yang akan kita klasifikasi. Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System dan teori pendukung lainnya. mesin. Apabila ada catatan yang mengeluarkan barang tersebut dari Bab atau Bagian yang kita pilih. proses sederhana dan proses canggih/kompleks. mineral. Tahapan lebih rinci akan dijelaskan kemudian setelah memahami apa itu Harmonized System. baca dan perhatikan baik-baik catatan Bagian dan catatan Bab yang berkaitan dengan pilihan bab atau bab-bab pada butir 1. atau mesin. menentukan klasifikasi barang ke dalam BTBMI (dapat dimulai baik dari segi bahan baku menjadi barang jadi. (b) Pilih bab atau bab-bab yang berkaitan dengan spesifikasi barang tersebut. kimia. atau pos mana barang tersebut diklasifikasikan. (d) Setelah menemukan satu bab yang paling sesuai berdasarkan kajian di atas. fungsi. guna. (a) Kita identifikasi dulu barang yang akan kita klasifikasi.• • melihat buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI). barang kimia. kemasan dan informasi lain yang bergunauntuk mengklasifikasi barang. dan seterusnya). Identitas barang meliputi : nama. 2). kita bisa memilih bab-bab yang lebih spesifik. Pada tahap ini kadang-kadang kita sudah dapat . Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. Bab. bauatan. Dengan mengetahui spesifikasi barang. pertanian. misalnya barang tersebut produk pertanian. perhatikan pada Bagian. maka kita mulai menelusuri pos-pos yang mungkin mencakup barang yang akan kita klasifikasikan dalam bab tersebut. Bila sudah kita tentukan. Tahapan Mengklasifikasi Barang Dalam penjelasan ini disajikan tahapan mengklasifikasi barang secara garis besar.

kegunaannya. dalam penentuan sub-pos dan pos tarif pun kadang timbul permasalahan klasifikasi yang sama dengan penentuan pos (4-digit). atau cukai) dan ada atau tidak peraturan tata niaganya (IT. dan lain-lain..3. komposisinya.menemukan pos yang mencakup barang tersebut dengan rinci. Latihan 1 Pertanyaan 1. PPN. bentuk asal atau preparat.2. Dalam tahap ini tentunya menggunakan kaidah-kaidah seperti yang ada dalam nomor 1 sampai dengan 10 Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System (e) Apabila sudah dipilih satu pos tarif yang benar-benar sesuai dengan uraian barang. Bagaimana langkah-langkah dalam meng klasifi kasi barang ? 3. dan sebagainya. Ingat. langkah selanjutnya adalah melihat pembebanannya (BM. 3. . 2. bentuknya. PPnBM. Mengapa kita harus mengidentifikasi barang sebelum mengklasifikasinya ? 2. 2. Bila akan diimpor sebuah pompa air yang menggunakan tenaga listrk. Rangkuman Dalam kegiatan 1 telah dijelaskan dengan singkat langkah-langkah praktis dalam mengklasifikasi barang. jangan lupa selalu menggunakan pembebanan yang up to date berdasarkan ketentuan yang terbaru. Karena pembebanan tersebut sering berubah. IP. Bagaimana seandainya yang akan kita klasifikasikan adalah suatu bahan kimia? Sebelum mengklasifikasi kita memerlukan identifikasi untuk mendapatkan informasi mengenai: : organik atau anorganik. data apa yang diperlukan mengenai pompa tersebut ? 1. Pertamina. maka langkah selanjutnya tinggal menentukan sub-pos (6-digit) dan pos tarif (9-digit) yang sesuai. Jawaban 2.). Bila sudah kita temukan satu pos yang tepat.

yang berlaku sejak kemerdekaan Republik Indonesia sampai dengan 31 Desember 1972. Pada saat ini sistem pengklasifikasian barang di Indonesia didasarkan pada Harmonized System dan dituangkan dalam bentuk suatu daftar tarif yang kita kenal dengan sebutan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. c. Sistem Brussel Edisi 1975 (BTN 1975).1. d. Penetapan tarif ini merupakan penyempurnaan dari penetapan tarif sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 Juli 1975 sampai dengan 30 september 1980. mulai berlaku sejak tanggal 1 Januari 1973 sampai dengan 30 Juni 1975. 1. 4 melihat BTBMI . Pengantar Klasifikasi barang adalah suatu daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis dengan tujuan untuk mempermudah pentarifan transaksi perdagangan. fungsi.Dalam mengklasifikasi barang menggunakan BTBMI. Sistem Customs Cooperation Council (CCCN). KEGIATAN BELAJAR 2.1.1. HARMONIZED SYSTEM 3. 5) menentukan klasifikasi barang 3. Pada dasarnya sistem pentarifan ini sama dengan sistem sebelumnya. Sistem Jenewa (Geneve Nomenclature). bahan baku dan semua informasi mengenai barang. Berdasarkan pasal 14 ayat 2 Undang-undang Kepabenan Indonesia Nomor 10 tahun 1995. 3) merumuskan identitas. Uraian. prosedur yang digunakan adalah sebagai berikut : 1) identifikasi barang. penetapan klasifikasi barang diatur lebih lanjut oleh Menteri Keuangan. b. 2) mempelajari jenis. yaitu : a. pengangkutan dan statistik. Contoh dan Non Contoh 3. Sistem Brussel (Brussel Tariff Nomenclature atau BTN). Sejarah Sistem Klasifikasi di Indonesia Sebelum diberlakukannya Harmonized System. hanya pada sistem CCCN ini terdapat . Indonesia telah menggunakan beberapa sistem klasifikasi untuk barang impor.

Sistem CCCN Edisi 1985 (CCCN 1985). tetapi juga digunakan untuk kepentingan lain seperti statistik. Pada awalnya. Namun sekarang hampir seluruh negara di dunia telah meratifikasi konvensi ini. Sistem ini diterapkan di Indonesia berdasarkan PP No.penyempurnaan sistem penomoran pada sub-pos dari dua digit menjadi tiga digit atau semula 6 digit menjadi 7 digit. Customs Cooperation Council (CCC) yang sekarang dikenal dengan nama World Customs Organisation (Organisasi Pabean Dunia) telah membentuk suatu kelompok studi yang berusaha untuk menciptakan suatu nomenklatur klasifikasi barang yang tidak semata-mata untuk keperluan pabean. 2. Untuk memberikan kekuatan hukum yang pasti. Mengapa HS ? Sejak tahun 1970. Pada akhir tahun 1986. nomenklatur tersebut disahkan dalam suatu konvensi yang dikenal dengan nama Konvensi HS. e. pengangkutan. Meskipun baru meratifikasi pada tahun 1993. . Sistem ini merupakan penyempurnaan dari sistem CCCN sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 April 1987 sampai dengan 31 desember 1988. 26 tahun 1988 dan diwujudkan dalam bentuk Buku Tarif Bea Masuk Indonesia 1989 dan dinyatakan berlaku mulai tanggal 1 Januari 1989. sebenarnya Indonesia telah menggunakan BTBMI berdasarkan HS sejak tanggal 1 Januari 1989. konvensi HS ditandatangani oleh 70 negara yang sebagian besar adalah negara Eropa. f. dan negosiasi perdagangan. Sistem Harmonisasi (Harmonized System). kelompok studi tersebut berhasil menyusun suatu nomenklatur (daftar klasifikasi barang berdasarkan kelompok-kelompok) yang dinamakan Harmonized Commodity Description and Coding System atau lebih dikenal dengan sebutan Harmonized System (HS). Sistem CCCN ini mulai diberlakukan pada tanggal 1 Oktober 1980 sampai dengan 31 Maret 1985. termasuk Indonesia yang telah meratifikasi konvensi HS dengan Keppres Nomor 35 tahun 1993.

dengan tujuan : • Memberikan keseragaman dalam daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis. 4. • Memudahkan pengumpulan. pengangkut. Pen jelasan dan penggolongan barang untuk tujuan perdagangan keperluan pengangkutan. Tujuan Harmonized System Adanya perbedaan sistem klasifikasi tarif antara negara di dunia. Menggunakan “bahasa pabean” sehingga dapat dengan mudah dimengerti oleh importir. perkembangan masyarakat industri dan pola perdagangan Internasional. untuk memberikan perhatian kepada perkembangan teknologi dan masyarakat industri serta pola perdagangan Internasional.3. dan aparat bea dan cukai.1. 5. mengakibatkan timbulnya kesulitan dalam mengantisipasi kemajuan teknologi. untuk penetapan Tarif Pabean secara mendunia. Merupakan kumpulan data yang seragam secara internasional sehingga dapat digunakan untuk mendukung analisis dan statistik perdagangan internasional. HS adalah pedoman klasifikasi yang sistematik untuk seluruh barang yang diperdagangkan secara internasional. HS menggunakan dasar yang seragam untuk keperluan pentarifan secara internasional. produsen. eksportir. dokumentasi dan sebagainya. • Memberikan Sistem Internasional yang resmi untuk pemberian Kode. seperti tarif pengangkutan. 3. pembuatan dan analisis Statistik perdagangan dunia. Sederhana dan memberikan kepastian dalam hal aplikasi dan interpretasi yang benar dan sama untuk keperluan negosiasi. • Memperbaharui sistem klasifikasi barang sebelumnya. 2.2. . Mengapa HS dijadikan dasar klasifikasi secara internasional? Ada beberapa keuntungan yang didapat setiap negara yang mengadopsi HS sebagai pedoman klasifikasi barang. Menyadari hal yang demikian WCO pada tanggal 14 Juni 1983 meluncurkan HS yang mulai berlaku secara internasional pada tanggal 1 Januari 1988. yaitu: 1.

The International Chamber or Shipping (ICS).HS telah dibuat sedemikian rupa sehingga standard klasifikasi barang dan sistem kode penomoran barang dapat dijadikan acuan untuk berbagai kebutuhan oleh berbagai lembaga internasional yang berkaitan dengan perdagangan. Publikasi dimaksud adalah: 1. Volume 2 (Bab 30.84). . Volume 3 (Bab 64 .1. Explanatory Notes adalah referensi yang sangat diperlukan untuk mendapatkan interpretasi yang benar dari HS. misalnya: a.3 Publikasi Pelengkap HS Harmonized System mempunyai beberapa publikasi pelengkap yang digunakan untuk lebih mempermudah klasifikasi barang. Publikasi-publikasi tersebut juga diterbitkan oleh WCO. The International Union Railway (IUR). sebagian negara anggota WCO mensahkannya sebagai dokumen yang berkekuatan hukum Seiring perkembangan teknologi. Explanatory Notes yang digunakan saat ini adalah edisi kedua (tahun 1996) yang terdiri dari empat volume. The Standard International Trade Classificatioan (SITC) 3.97). namun sebagaimana disetujui WCO. The International Air Transport Association (IATA). Karena pentingnya Explanatory Notes ini. yaitu Vol.63). b. The Explanatory Notes to the Harmonized System (EN) Explanatory Notes bukan merupakan bagian yang integral dari HS. dan Volume 4 (Bab 85 . World Customs Organization (WCO).29). Explanatory Notes juga mengalami perubahan (amandemen) untuk menyesuaikan isinya dengan struktur HS. c. explanatory notes merupakan interpretasi resmi (official interpretation) dari HS pada level internasional dan merupakan pelengkap yang sangat penting dari HS. e. d. 1 (Bab 1 . Untuk itu membaca Explanatory Notes harus selalu disesuaikan dengan konteksnya dalam HS.

Structured nomenclature HS adalah nomenklatur yang terdiri dari 21 Bagian. Catatan Bagian. Sistem Pengkodean Harmonized System mempunyai dua karakteristik yang sangat mendasar. dirancang tidak hanya untuk keperluan kepabeanan. the Training Modules. the Harmonized System Commodity Data Base (dalam bentuk CD-ROM). dan sebagainya. Ada tiga Bab yang belum digunakan dalam HS yang ada saat ini. dan .2. Alphabetical Index terdiri dari dua volume. dan 1. HS yang tersusun dari pos dan sub-pos. dan Correlation Tables. dan Catatan Sub-Pos.L) dan Volume II (M . namun juga dipergunakan secara internasional dalam bidang lain seperti negosiasi perdagangan. Dispute Settled Classification Opinion. Publikasi lain yang merupakan pelengkap HS adalah the Compendium of Classification Opinions. yaitu Volume I (A . yaitu Bab 77. pengangkutan.1. Catatan Bab. bersama dengan Ketentuan Umum Menginterpretasi. Dengan tetap berdasar kepada HS 6-digit. 3. The Alphabetical Index Untuk mempermudah mengklasifikasikan suatu barang pada pos-pos atau sub-sub pos dalam nomenklatur HS atau Explanatory Notes. statistik. merupakan pedoman mengklasifikasi barang yang sistematik dan seragam.241 pos. yaitu: 1. Masing-masing negara penandatangan konvensi (contracting party) dapat mengembangkan penggolongan 6-digit tersebut menjadi kelompok yang lebih spesifik sesuai dengan kebijaksanaan ekonomi dan industrinya. 96 Bab (+ Bab 77).Z). 98.4. semua negara mempunyai kesatuan persepsi tentang pengklasifikasian suatu barang. WCO juga menerbitkan buku indeks yang dikenal dengan nama the Alphabetical Index. 2. Multipurpose nomenclature HS yang mempunyai 6 digit penggolongan. 3.

Pada contoh di atas. misalnya untuk barang pos atau peralatan pelayaran. 01 Sub-pos (Sub-heading) 0101. Seperti telah disinggung sebelumnya. HS menggunakan kode nomor dalam mengklasifikasikan barang. Catatan Bab. 11 _______ ______________ • Dua angka pertama untuk menunjukkan pada bab mana barang itu diklasifikasikan. Catatan Bagian. . sedangkan Bab 98 dan 99 digunakan untuk keperluan khusus bagi masing-masing contracting party. barang dimaksud diklasifikasikan pada pos 01. Pada contoh di atas. Pos (4-digit) dan Sub-pos (6-digit) yang disusun dengan sistematik. yaitu: a. Indonesia juga menggunakan Bab 98 untuk keperluan ekspor barang tertentu yang pada bulan April 1999 dicabut kembali.99. Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System (General Rules for the Interpretation of the HS). dan Catatan Sub-Pos. barang dimaksud diklasifikasikan pada Bab 1. Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System (KUM HS) merupakan bagian terpenting yang harus dipahami sebelum melangkah lebih jauh untuk meng klasifikasikan barang menggunakan HS. pos (4-digit). Harmonized System mempunyai tiga bagian utama atau integral. Kode-kode nomor tersebut mencakup uraian barang yang tersusun secara sistematis. KUM HS berisi enam prinsip dasar yang harus dipatuhi dalam mengklasifikasi barang. dan sub-pos (6-digit) dengan penjelasan sebagai berikut: 01 __ 01 11 Bab (Chapter) 1 Pos (Heading) 01. Bab 77 dipersiapkan untuk keperluan di masa mendatang. Mengingat pentingnya memahami KUM HS. Sistem penomoran dalam HS terbagi menjadi Bab (2-digit).01. c. b. • Empat angka pertama menunjukkan Pos atau Heading dalam setiap bab. bagian ini akan dibahas tersendiri.

System ? Jawaban 3.Latihan 3 Pertanyaan 1. WCO meluncurkan HS yang mulai berlaku secara internasional pada tanggal 1 Januari 1988.11. pengangkutan dan statistik.• Enam angka pertama menunjukkan Sub Pos dalam setiap Pos. Penjelasan mengenai hal ini akan dibahas lebih rinci pada penjelasan berikutnya. Apa tujuan Harmnized System 2.2. Indonesia menggunakan sistem penomoran 10 digit dalam BTBMI yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari sub-sub pos dalam HS. . barang dimaksud diklasifikasikan pada sub-pos 0101. Pada saat ini sistem pengklasifikasian barang di Indonesia didasarkan pada Harmonized System dan dituangkan dalam bentuk suatu daftar tarif yang kita kenal dengan sebutan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. Berdasarkan pasal 14 ayat 2 Undang-undang Kepabenan Indonesia Nomor 10 tahun 1995. Pada contoh di atas. 3. Untuk keperluan nasional. Perbedaan sistem klasifikasi tarif antara negara di dunia. 3. Apa yang dimaksud dengan Harmonized 1. perkembangan masyarakat industri dan pola perdagangan Internasional. Indonesia menggunakan sistem penomoran 10 digit dalam BTBMI yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari sub-sub pos dalam HS. Rangkuman Klasifikasi barang adalah suatu daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis dengan tujuan untuk mempermudah pentarifan transaksi perdagangan. System ? 2. HS menggunakan kode nomor dalam mengklasifikasikan barang. Kode-kode nomor tersebut mencakup uraian barang yang tersusun secara sistematis. mengakibatkan timbulnya kesulitan dalam mengantisipasi kemajuan teknologi.3. Untuk keperluan nasional. Bagaimana sistem penomoran Harmonized 3.

Dalam Pasal 1 Keputusan ini disebutkan “Untuk penetapan tarif Bea Masuk. Upaya peningkatan daya saing produk Indonesia dipasar Internasional. Contoh dan Non Contoh 4. Dasar Hukum Pada akhir tahun 1995. barang dikelompokkan berdasarkan sistem klasifikasi barang”. 17 tahun 2006 . barang barang dikelompokkan berdasarkan sistem klasifikasi sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 1993 tentang Pengesahan International Convention The Harmonized Commodity Description and Coding System beserta protocol-nya”. Pemenuhan perjanjian serta kesepakatan Internasional. Atas dasar pertimbangan di atas.4. Pengaturan lebih lanjut penentuan klasifikasi barang dilakukan dengan memperhatikan: a. b.1. yang kemudian dikenal dengan nama Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan saat ini telah diamandemend dengan UU no. Perlindungan terhadap konsumen dalam negeri. penetapan klasifikasi barang ditentukan oleh Menteri Keuangan. Sebagai . d. yang sebelumnya dikenal dengan nama Customs Cooperation Council sejak tanggal 30 April 1957. Selanjutnya berdasarkan pasal 14 ayat 2 Undang-undang tersebut. Pemerintah bersama Dewan Perwakilan Rakyat telah berhasil membahas dan menyetujui Rancangan Undang-Undang Kepabeanan. Indonesia telah menjadi anggota World Customs Organization. Pengurangan hambatan dalam perdagangan Internasional guna mendukung terciptanya perdagangan bebas. Pasal 14 ayat (1) UndangUndang ini menyebutkan bahwa “Untuk penetapan tarif Bea Masuk. Pemerintah menerbitkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor : 440/KMK. Uraian.1.05/1996 tanggal 21 Juni 1996 tentang Penetapan Sistem Klasifikasi Barang dan Besarnya Tarif Bea Masuk Atas Barang Impor. c. KEGIATAN BELAJAR 3 BUKU TARIF BEA MASUK INDONESIA 4.1.

Berdasarkan keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 35 tahun 1993. struktur Klasifikasi barang dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI) mengacu kepada sistem klasifikasi dari HS Convention.01/1995 di atas selanjutnya dijabarkan dalam bentuk penerbitan BTBMI edisi tahun 1996.anggota WCO.05/1994 tanggal 16 Maret 1994 telah ditetapkan bahwa terhitung sejak 1 April 1994 . 01/1995 yang merupakan: 1. Berbagai bantuan teknis dalam rangka menunjang kelancaran pelaksanaan sistem dan prosedur kepabeanan Internasional. Menindaklanjuti adanya amandemen HS 1996 tersebut. Indonesia telah menjadi Contracting Party dari “International Convention on the Harmonized Commodity Description and Coding Sistem”. 2. berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 81/KMK. BTBMI terakhir dengan BTBMI tahun 2007 menggunakan HS . World Customs Organization telah mengesahkan amandemen lampiran konvensi. telah diterima oleh Indonesia. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 639/KMK. 3. menjadi “HS versi 1996”. Berdasarkan Artikel XVI HS Convention. Dasar penetapan besarnya tarif bea masuk (bea masuk tambahan dilebur bersama bea masuk) untuk barang bersangkutan. Sebagai tindak lanjutnya . Hingga saat ini BTBMI 1996 dimaksud telah beberapa kali diubah atau direvisi sesuai dengan perkembangan kebijaksanaan nasional. yang semula mempergunakan HS versi 1992. Dasar penggunaan sistem klasifikasi barang berdasarkan HS versi 1996. Indonesia telah menunjukkan peran serta yang aktif dalam kegiatan WCO dan telah banyak menarik manfaat dari organisasi ini. Pemerintah pada tanggal 29 Desember 1995 telah mengeluarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 639/KMK. Penyempurnan Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 1988 tentang Perubahan dan Tambahan atas Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1969 tentang Pembebasan atas Impor dan Perubahan atas Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 1986 tentang Bea Masuk Tambahan Atas Barang Impor.

4. Sekarang kta akan mempelajari tentang BTBMI. kecuali: ♦ yang 2 digit terakhirnya 00 ( misalnya 8709. b.21. Kolom pertama adalah kolom “Pos/Subpos/Pos Tarif” yang mencantumkan nomor pos/subpos sebagai berikut : 1) 4 (empat) dan 6 (enam) digit pertama berasal dari teks Harmonized System-World Customs Organization (HS-WCO).10. Struktur BTBMI Pada bab terdahulu kita telah mempelajari gambaran umum tentang Harmonized System. 2) 8 (delapan) digit berasal dari teks AHTN.00.00 ( misalnya 8709. BTBMI adalah buku tarif bea masuk yang digunakan di Indonesia semenjak 1989 yaitu. . 6 (enam) dan 10 (sepuluh) digit pada bab 98 merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia. 3) 10 (sepuluh) digit merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia.11. beberapa tahun sebelum Indonesia meratifikasi HS Convention dan saat ini yang berlaku adalah BTBMI 2007 berdasarkan AHTN. BTBMI tidak lain adalah HS yang dimodifikasi atau dijabarkan lebih lanjut untuk digunakan dalam pentarifan dan penanganan barang impor ke Indonesia. Kolom kedua adalah kolom “Uraian Barang” dalam bahasa Indonesia yang disusun dengan pola sebagai berikut: 1) Uraian barang pada pos (4 digit) dan subpos (6 digit) merupakan terjemahan dari teks HS-WCO.00 ) berasal dari teks HS – WCO. mempunyai struktur sebagai berikut: BTBMI 1.2. Kolom : a.ver 2007 berdasarkan AHTN. 4) 4 (empat).00 ) berasal dari teks AHTN. ♦ yang 4 digit terakhirnya 00.1.

00 ) merupakan teks asli HS – WCO.21. e. d.00 ) berasal dari teks HS – WCO. 4) Khusus uraian barang dalam bab 98 merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia. c.01/2003 tanggal 18 Desember 2003. .2) Uraian barang pada subpos ASEAN (8 digit) merupakan terjemahan dari teks AHTN.00 ) merupakan teks AHTN.01/2003 tanggal 18 Desember 2003.00 ( misalnya 8709. ♦ yang 4 digit terakhirnya 00. 3) Uraian barang pada pos tarif nasional (10 digit) merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia. 2) Uraian barang pada subpos ASEAN (8 digit) merupakan teks AHTN dalam bahasa Inggris. Kolom ketiga adalah kolom “Description of Goods” dalam bahasa Inggris yang disusun dengan pola sebagai berikut : 1) Uraian barang pos (4 digit) dan subpos (6 digit) merupakan teks HS-WCO dalam bahasa Inggris. Kolom keempat adalah kolom “Bea Masuk Umum” yang mencantumkan pembebanan tarif bea masuk atas barang impor berlaku umum berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 547/KMK. kecuali : ♦ yang 2 digit terakhirnya 00 ( misalnya 8709.11.10. 3) Uraian barang pada pos tarif nasional (10 digit) merupakan terjemahan dari teks bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris.00. 4) Khusus uraian barang dalam bab 98 merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia.00 ( misalnya 8709.10.21.11.00 ) berasal dari teks AHTN. kecuali: ♦ yang 2 digit terakhirnya 00 ( misalnya 8709.00. Kolom kelima adalah kolom “Bea Masuk CEPT” yang mencantumkan pembebanan tarif bea masuk yang berlaku untuk impor barang dari negara-negara ASEAN dalam rangka Skema CEPT berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 546/KMK. ♦ yang 4 digit terakhirnya 00.

g.01 sampai dengan 87. Tanda strip (-) pada kolom PPN atau PPnBM berarti komoditi pada pos tariff bersangkutan tidak dikenakan pembebanan PPN atau PPnBM.04/2000 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 39/KMK. Tanda strip (-) pada kolom Bea Masuk CEPT berarti komoditi pada pos tarif bersangkutan tidak termasuk dalam skema CEPT. Pencantuman tanda satu asterisk (*) pada kolom “Bea Masuk Umum” berarti pembebanan impornya mengikuti tarif pada pos tarif 87. Pencantuman tanda asterisk (*) pada kolom pembebanan tarif ditujukan untuk halhal sebagai berikut : a. b. 3. Kolom keenam adalah kolom “PPN” yang mencantumkan pembebanan tarif PPN berdasarkan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000. h. serta ketentuan instansi teknis lainnya.05. PPnBM dan pemberlakuan .03/2003 tanggal 11 Agustus 2003. Kolom kesembilan adalah kolom “Keterangan” yang disediakan untuk mencantumkan keterangan tambahan yang dianggap perlu dan ketentuan lain yang belum ditampung pada kolom-kolom sebelumnya. “PPnBM” dan “Larangan/Pembatasan” berarti pengenaan PPN. Kolom ketujuh adalah kolom “PPnBM” yang mencantumkan pembebanan tarif PPnBM yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 569/KMK. Pencantuman tanda strip (-) pada kolom pembebanan tarif ditujukan untuk hal-hal sebagai berikut : a. 2. i. b.04/2000 dan Nomor 570/KMK. Pencantuman tanda satu asterisk (*) pada kolom “PPN”. Kolom kedelapan adalah kolom “Larangan/Pembatasan” yang mencantumkan ketentuan larangan atau pembatasan barang impor berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 230/MPP/KEP/7/1997 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 62/MPP/KEP/02/2001 dan tata niaga impor dan peredaran bahan berbahaya tertentu ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 254/MPP/KEP/7/2000.f.03/2003 tanggal 28 Januari 2003 dan Nomor 355/KMK.

Nomor Pos tarif (10-digit) dan uraiannya. 19 dan 20. segar atau dingin. perhatikan contoh berikut: 0705. 4 Catatan Penjelasan Tambahan (SEN) merupakan pedoman dalam menginterpretasikan pengertian maupun istilah teknis barang yang tercantum dalam Subpos pos tarif tertentu.11. Apabila terdapat keraguan dalam menginterpretasikan teks yang tercantum dalam Catatan Penjelasan Tambahan (SEN). Kode Penomoran dan Pentakikan 1. 2 digit selanjutnya mengacu kepada AHTN dan 2 digit terakhir adalah pecahan pos tarif nasional. Untuk memahami sistem penomoran tersebut. dan PPnBM ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Pos 07.3. besarnya BM.1. (2) Empat digit pertama (0705) menunjukkan Pos.00 Selada kubis (selada bongkahan) (1) Dua digit pertama (07) menunjukkan Bab.00. PTNI (Peraturan Tata Niaga Impor) ditetapkan oleh Menteri Perindustrian dan Perdagangan. terdapat juga BM Anti Dumping yang ditetapkan tersendiri oleh Menteri Keuangan. . PPN.ketentuan larangan/pembatasan berlaku hanya terhadap sebagian jenis barang atau sebagian kelompok barang dalam pos tarif bersangkutan. Perlu diingat bahwa selain BM yang tercantum dalam BTBMI. Bea Masuk Anti Dumping berlaku di Indonesia sejak tanggal 1 April 1996 berlandaskan Undang-Undang Nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan sesuai pasal 18. Bab 07 : Sayuran. Sistem Penomoran Sistem penomoran klasifikasi dalam BTBMI menggunakan 10-digit dengan susunan 6 digit pertama mengacu pada konvensi HS.). maka yang mengikat secara hukum adalah teks asli SEN dalam bahasa Inggris. akar dan bonggol tertentu yang dapat dimakan. 4.05: Selada (Lactuca sativa) dan chicory (Chicorium spp.

HS/BTBMI juga menggunakan sistem takik (dash. Di bawah ini disajikan contoh sistem takik dengan menggunakan contoh yang sudah ada (pos tarif 0705. c.00. dengan penjelasan sebagai berikut: a. khusus untuk negara Indonesia.11.10) menunjukkan Sub-pos yaitu selada. b.).00.00 -. Pos (4-digit) tidak diberi takik.00 : . Bila uraian pada butir c dipecah lagi. Penggunaan satu takik (-) dimulai pada uraian Sub-pos (6-digit). digunakan tiga takik (.19. dalam HS/BTBMI sub-pos 0705.11 dan 0705.11 dipecah lagi menjadi pos tarif yang lebih rinci.Lain-lain) 2.Selada * Ingat..10 tidak dicantumkan karena sub-pos tersebut dipecah lagi menjadi sub-pos 0705.11.19: 0705. 0705. digunakan dua takik (.00. demikian seterusnya sehingga diperoleh pengelompokan barang yang lebih rinci.05 Selada (Lactuca sativa) dan chicory (Chicorium spp. maka digunakan pemecahan menggunakan tiga takik pada digit 9 dan 10. -) untuk mengklasifikasi barang. d. Apabila pos tarif 0705.10: .11 dan 0705 19.Selada (4) Sepuluh digit pertama (0705.000): 07. 0705.-). segar atau dingin). misalnya : .Selada kubis (selada bongkolan). Bila uraian pada butir b dipecah. Sistem Takik Selain menggunakan sistem nomor..10 dipecah menjadi 0705.(3) Enam digit pertama (0705.-).10 .11. Sub-pos 0705.00) menunjukkan Pos Tarif 0705.

perhatikan digit kelima dan keenam.selada) karena sub-pos tersebut dipecah lebih lanjut menjadi 0705.00.20. segar atau dingin) dibagi menjadi ketimun dan ketimun acar saja.barang tertentu B : Pos 07.Segar 0705.Dingin Namun apabila ASEAN misalnya akan membagi dari subpos 0705.00 . maka : 0705. Barang tertentu A . Barang tertentu mempunyai kode 10. dalam BTBMI tidak dicantumkan (hanya dicantumkan uraian barangnya yaitu: .barang lainnya (lain-lain). . Mari kita lihat contoh berikut: 39. yaitu barang tertentu A .. 80..11. • Bila pos dipecah menjadi sub-sub pos. yaitu barang tertentu dan lain-lain.07 (Ketimun dan ketimun acar.00 . • Setiap kelompok barang di atas (baik dalam pos.Segar 0705.0705... segar atau dingin) dibagi menjadi bibit dan lain-lain.10.. contoh : • sub-pos 0705.19.. Pos 07.11.barang tertentu B atau barang tertentu A .11. • Pemecahan pos tarif (10-digit) juga mengikuti pola di atas.20 . • Dalam HS/BTBMI hanya ada dua jenis barang.10. .. 30.00. Kedua jenis barang tersebut dapat dipecah kembali lagi menjadi dua kelompok di atas (barang tertentu dan lain-lain) yang lebih spesifik. sub-pos... Contoh: Barang tertentu A .01 --Polimer dari etilena.10 .Dingin Perlu diperhatikan bahwa kadang-kadang nomor sub-pos atau pos tarif yang dipecah lebih lanjut tidak dicantumkan secara eksplisit dalam BTBMI..01 (Kentang.11. maupun pos tarif) dibagi atau dirinci dengan dua cara..11. 20.11 dan 0705.barang lainnya (lain-lain). dalam bentuk asal.

00 --.Lain-lain --Cair atau pasta --Bentuk lain : 3901.10 3901. berfungsi untuk menampung barang yang belum disebut pada uraian jenis barang sebelumnya.4. Pos. 4.21.. • Barang lainnya (lain-lain) diberi kode 90.00 --.10. 20. • Demikian juga kode 900 bila dipecah menjadi 91. 12. .22. .Mutu kabel --.30.Lain-lain Untuk pemecahan pos tarif..10.Butiran 3901.00 3901.Mutu farmasi --.23. digunakan digit kesembilan. apabila kata “lain-lain” dimaksud terdapat pada pos.3901..10. • Barang tertentu mempunyai kode 10. yaitu menjadi 11.1.00 3901...00 -.10.91. digunakan dalam pembuatan kabel telepon atau kabel listrik 3901. 19.. • Bila kode 10 dipecah lagi menjadi lebih rinci.29.Dalam bentuk padat -. 99. apabila kata “lain-lain” dimaksud terdapat pada bab.Lain-lain..99.Polietilena berat jenis kurang dari 0.10.00 --.00 --. 92.00 3901. Arti kata “lain-lain” Dalam klasifikasi BTBMI dengan sistem HS kata “Lain-lain”.94: -..perhatikan dua digit terakhir.10.Digunakan dalam pembuatan kabel telepon atau kabel listrik 3901. Sub-Pos dan Pos Tarif Nasional Untuk dapat memahami arti kata “Lain-lain” .10.10. bandingkan dengan uraian barang pada bab-bab terdahulu. bandingkan dengan uraian . Kata “lain-lain” terdapat pada Bab. . perhatikan hal-hal berikut ini: • • • bandingkan kelompok barang “lain-lain” dimaksud dengan kelompok barang yang setara. 30.10..

Lain-lain (3) adalah termasuk kelompok barang A selain A1 dan A2. sehingga akan jelas kelompok barang mana yang akan dibandingkan dengan barang lain-lain barang lain-lain yang ingin kita ketahui. A2. apabila kata “lain-lain” dimaksud terdapat pada pos tarif. dalam pos yang sama.barang pada pos-pos terdahulu dalam bab yang sama. dan Lain-lain (3). Cara membaca: Lain-lain (3): barang selain C1 dan C2. • • apabila kata “lain-lain” dimaksud terdapat pada sub-pos. selain C1 dan C2. Jadi. selain B1 dan B2. B2. Lain-lain (1): barang selain A1 dan A2. pada sub-pos yang sama. Metode di atas dapat difahami dengan lebih mudah apabila kita dapat menggambarkannya dalam bentuk diagram pohon. Lain-lain (2) adalah termasuk kelompok barang A selain A1 dan . Barang Lain-lain (1) dibagi menjadi barang B1. bandingkan dengan uraian barang pada pos-pos tarif terdahulu. Lain-lain (2): barang selain B1 dan B2. yang termasuk dalam barang A. yang termasuk dalam Lain-lain (2). dan Lain-lain (1). bandingkan dengan uraian barang pada sub-sub pos terdahulu. Di bawah ini disajikan mengetahui kelompok barang yang termasuk lain-lain dengan menggunakan metode diagram pohon dengan contoh sebagai berikut: A A1 A2 Lain-lain (1) B1 B2 Lain-lain (2) C1 C2 Lain-lain (3) • • • • • • Barang A dibagi menjadi barang A1. yang termasuk dalam Lain-lain (1). Barang Lain-lain (2) dibagi menjadi barang C1. C2. dan Lain-lain (2).

selain yang telah disebutkan pada Bab 50 sampai dengan Bab 62”.90 : . bebek.Lain-lain Kata lain-lain dalam sub-pos ini berfungsi untuk menampung binatang sejenis lembu. selain babi selain biri-biri dan kambing selain unggas dari jenis : ayam spesies Gallus domesticus.. Kata lainnya dalam pos ini berfungsi untuk menampung binatang hidup yang belum disebutkan pada pos-pos sebelumnya. Di bawah ini disajikan beberapa contoh pengertian kata lain-lain yang terdapat dalam BTBMI: a) Judul Bab. maupun catatan Sub-pos. • • • selain kuda. selain B1 dan B2. kalkun dan ayam mutiara c) Judul Sub Pos Sub-pos 0102. Bab 63: Barang tekstil sudah jadi lainnya . Secara lebih rinci judul bab tersebut dapat diuraikan menjadi “Tekstil dan barang tekstil. Secara singkat makna kata lainnya berfungsi untuk menampung barang tekstil sudah jadi yang belum disebutkan pada bab-bab sebelumnya dalam Bagian XI. Secara lebih rinci uraian pos tersebut dapat diuraikan menjadi: Binatang hidup. catatan Bab. Secara lebih rinci uraian dalam sub-po stersebut dapat diuraikan menjadi: . Subpos maupun Pos tarif nasional.A2. Pos. Pos 01. Dalam diktat ini pengertian lain-lain dibatasi pemahamannya sebatas berkaitan dengan uraian jenis barang pada judul Bab. pengertian kata lain-lain tersebut akan dapat dengan mudah dimengerti. Dengan sedikit latihan menggunakan BTBMI. bagal dan hinnies.. hidup yang belum disebutkan pada sub-sub pos sebelumnya. Lain-lain (3) adalah termasuk kelompok barang A selain A1 dan A2.. b) Judul Pos. selain binatang sejenis lembu.06: Binatang hidup lainnya. keledai. tanpa dikaitkan dengan catatan Bagian.

• • selain kuda.Binatang hidup.3. Pasal berapa dalam Undang-undang no. 10 tahun 1. Selain menggunakan sistem nomor. Pos. berdasarkan keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 35 tahun 1993. Apa isi Buku Tarif Bea Masuk Indonesia ? 2.4. Sub-Pos dan Pos Tarif Nasional. HS/BTBMI juga menggunakan sistem takik (dash. bagal dan hinnies. termasuk binatang sejenis lembu. Rangkuman Indonesia telah menjadi Contracting Party dari “International Convention on the Harmonized Commodity Description and Coding Sistem”. keledai. Bagaimana cara membaca pengertian kata “Lain.2. namun bukan untuk bibit 4. berfungsi untuk menampung barang yang belum disebut pada uraian jenis barang sebelumnya. dalam penomoran HS ? 4. Dengan sedikit latihan menggunakan BTBMI. Apa yang dimaksud dengan sistem pentakikan 3. Jawaban 3. Latihan 3 Pertanyaan 1. Sebagai tindak lanjutnya struktur Klasifikasi barang dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI) mengacu kepada sistem klasifikasi dari HS Convention Sistem penomoran klasifikasi dalam BTBMI menggunakan 10-digit dengan susunan 6 digit pertama mengacu pada konvensi HS dan 2 digit terakhir adalah pecahan pos tarif nasional. pengertian kata lain-lain tersebut akan dapat dengan mudah dimengerti . 1995 yang berkaitan dengan klasifikasi barang ? 2. -) untuk mengklasifikasi barang Dalam klasifikasi BTBMI dengan sistem HS kata “Lain-lain”. Kata “lain-lain” terdapat pada Bab. lain” dalam BTBMI ? 4.

( B . struktur HS terdiri dari : KUM HS . Test Formatif 5. jenis dan spesifikasi lainnya secara akurat. perdagangan internasional dan pengangkutan laut. seperti Pabean. Heading.S ) Customs Cooperation Council di Brussels pada tanggal 14 Juni 1983 menghasilkan Konvensi Internasional tentang The Harmonized Commodity Description and Coding System (HS) dan mulai berlaku di Indonesi sejak tanggal 1 Januari 1988 3. ( B . ( B . ( B .S ) Ditinjau dari fungsi pengklasifikasian. Salah satu tujuan HS adalah untuk memberikan ketidak seragaman secara internasional penggolongan barang dalam tarif pabean 4. ( B . Demikian dalam kekuatan hukumnya sama. . sub-heading dan penomoran hingga ke Pos tarif (10 digit).S ) Untuk mengklasifikasi barang diperlukan data mengenai nama.S ) Apabila terdapat perbedaan sistem klasifikasi pada setiap negara akan memperpanjang waktu untuk penetapan bea masuk dan pengeluaran barang impor di pelabuhan. 1. label kemasan dan data lainnya 2. Lingkarilah huruf B apabila pernyataan ini Saudara anggap benar dan huruf S apabila pernyataan Saudara anggap salah.5.S ) HS bersifat harmonis karena standard klasifikasi dan sistem kode penomoran barang digunakan untuk berbagai kepentingan. sertificate of analysis. Fungsi dasar HS adalah untuk memberikan keseragaman dalam mengklasifikasi barang guna memberikan kemudahan pada perdagangan internasional 5.1. brosur. udara dan kereta api. Bab dan Subheading . statistik. karena yang utama adalah uraian barangnya. Informasi mengenai barang tersebut dapat kita peroleh melalui : kondisi fisik. Catatan Bagian.

barang dikelompokkan berdasarkan sistem klasifikasi barang. tanggal 31 Januari 1988 d. Dapat terkait dengan beberapa bab c. Mengklasifikasi barang seluruhnya harus tepat secara eksak d.. Untuk penetapan tarif bea masuk. pernyataan a.. tanggal 1 Agustus 1988 c.. pasal 14 d. pasal 116 2. b. dikenal prosedur umum untuk mengklasifikasi barang.. pasal 115 c... a. atau d ) 1. Prosedur tersebut secara umum ialah . Pilihlah jawaban yang Saudara anggap benar dengan cara melingkari huruf yang terdapat di depan jawaban tersebut a. tanggal 11 Januari 1989 3. The Harmonized Commodity Description and Coding System (HS) mulai berlaku secara internasional sejak : a. b dan c benar 4.. melihat Buku Tarif Bea Masuk Indonesia dan menentukan klasifikasinya d.5. mengidentifikasi barang dengan mempelajari jenis dan spesifikasinya b. tanggal 1 Januari 1989 b..2. Barang tidak dapat diklasifikasikan. pasal 16 b. maka sebutkan pernyataan dibawah ini yang tidak benar a. Bunyi kalimat diatas sesuai dengan bunyi UU no. 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan pada : a. Jenis suatu jenis barang dimungkinkan tidak ada dalam HS b. c. karena uraian jenis barangnya tidak ada dalam BTBMI . merumuskan identitas atau deskripsi barang tersebut c. Dalam pengamatan sementara untuk mengklasifikasi barang. Untuk mengklasifikasi barang.

2. hanyalah sementara (mengikuti surat Keputusan Menteri Keuangan RI) b. 1 B.5. harus mengacu kepada perkembangan terakhir besarnya penetapan Bea Masuk c. d . Pencantuman besarnya Bea Masuk pada Buku tarif Bea Masuk Indonesia : a.1. b dan c benar 5. 4. Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan singkat dan benar 1. a 2. pernyataan a. 1. d 4. Sebutkan tujuan Harmonized System ? Apakah besarnya tarif bea masuk Indonesia secara hukum sesuai seperti apa yang tertulis dalam BTBMI tersebut ? 6. Jelaskan apa yang dimaksud dengan konvensi HS ? Mengapa kita memilih suatu system seperti HS dalam menentukan klasifikasi barang ? 4.. B 5. 5.3. Sebutkan 3 Sistem dalam mengklasifikasi barang yang pernah digunakan Pemerintahan Republik Indonesia. selalu berubah d. B. 3. S 3.2. b 3. c 5. sebelum HS ! 2. KUNCI JAWABAN TEST FORMATIF Kelompok 5. S Kelompok 5.

Pada dasarnya sistem pentarifan ini sama dengan sistem sebelumnya. nomenklatur disahkan dalam Konvensi HS Nomor 3 a) HS adalah pedoman klasifikasi yang sistematik untuk seluruh barang yang diperdagangkan secara internasional. produsen. pengangkut. Nomor 2 Pada akhir tahun 1986. b) Sistem Customs Cooperation Council (CCCN). Nomor 1 a) Sistem Brussel Edisi 1975 (BTN 1975). c) HS menggunakan dasar yang seragam untuk keperluan pentarifan secara internasional. . Sistem CCCN ini mulai diberlakukan pada tanggal 1 Oktober 1980 sampai dengan 31 Maret 1985.Kelompok 6. d) Menggunakan “bahasa pabean” sehingga dapat dengan mudah dimengerti oleh importir. hanya pada sistem CCCN ini terdapat penyempurnaan sistem penomoran pada sub-pos dari dua digit menjadi tiga digit atau semula 6 digit menjadi 7 digit. eksportir. Sistem ini merupakan penyempurnaan dari sistem CCCN sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 April 1987 sampai dengan 31 desember 1988. dan aparat bea dan cukai. b) HS adalah pedoman klasifikasi yang sistematik untuk seluruh barang yang diperdagangkan secara internasional. Penetapan tarif ini merupakan penyempurnaan dari penetapan tarif sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 Juli 1975 sampai dengan 30 september 1980. c) Sistem CCCN Edisi 1985 (CCCN 1985).3. e) Sederhana dan memberikan kepastian dalam hal aplikasi dan interpretasi yang benar dan sama untuk keperluan negosiasi. Untuk memberikan kekuatan hukum yang pasti. kelompok studi tersebut berhasil menyusun suatu nomenklatur (daftar klasifikasi barang berdasarkan kelompok-kelompok) yang dinamakan Harmonized Commodity Description and Coding System atau lebih dikenal dengan sebutan Harmonized System (HS).

Nomor 4 a) Memberikan keseragaman dalam daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis. dokumentasi dan sebagainya. c) Memberikan Sistem Internasional yang resmi untuk pemberian Kode. Hitunglah jumlah jawaban Anda yang benar atau sejauh mana Anda menguasai mata pelajaran tersebut. b) Memudahkan pengumpulan. Pen jelasan dan penggolongan barang untuk tujuan perdagangan keperluan pengangkutan. pembuatan dan analisis Statistik perdagangan dunia. d) Memperbaharui sistem klasifikasi barang sebelumnya. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Bandingkanlah hasil jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang ada di belakang modul ini. Untuk kelompok C : Apabila benar seluruhnya nilai menjadi 100 . dan .... untuk memberikan perhatian kepada perkembangan teknologi dan masyarakat industri serta pola perdagangan Internasional....f) Merupakan kumpulan data yang seragam secara internasional sehingga dapat digunakan untuk mendukung analisis dan statistik perdagangan internasional. untuk penetapan Tarif Pabean secara mendunia. Nomor 5 Buku tarif Bea Masuk Indonesia hanyalah suatu referensi praktis agar dapat secara optimal digunakan di lapangan. seperti tarif pengangkutan. Kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap terhadap materi kegiatan belajar Rumus Tingkat Penguasaan Untuk kelompok A dan B : Jumlah Jawaban yang benar dibagi 10 kemudian dikali 100 % = .. Ketentuan hukum yang legal adalah sesuai Surat Keputusan Menteri Keuangan tentang perubahan Tarif Bea Masuk Indonesia (lihat Kata Pengantar pada BBTBMI) 7.....

World Customs Organization. Jakarta c. bila tingkat penguasaan Anda masih dibawah 80 %. Pengantar Klasifikasi Barang. Word Customs Organization. Anda harus mengulangi membaca Modul kembali. 2007 d. terutama bagian yang belum Anda kuasai 8.79 % = Cukup * 69 % = Kurang Kalau Anda mencapai tingkat penguasaan 80% keatas Anda dapat meneruskan kepada modul atau bagian pelajaran lain. Explanatory Notes. Departemen Keuangan RI. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (2007). Hasilnya Baik ! akan tetapi. Harmonized System. Daftar Kepustakaan a. (1995) Pusdiklat Bea dan Cukai.100 % = Baik sekali * 80 % . 2007 version b.89 % = Baik * 70 % . Jakarta *** MODUL II SISTEM KLASIFIKASI BARANG MENURUT HARMONIZED SYSTEM .Untuk nilai keseluruhan maka dibagi rata-rata dari (A+B) dan C Arti tingkat penguasaan : * 90 % .

seyogyanya petugas Ditjen Bea dan . Obyek dari kegiatan Direktorat Bea dan Cukai adalah barang. Dalam rangka penentapan tarif bea masuk dan kepentingan kepabeanan lainnya.MATERI KLASIFIKASI BARANG OLEH : TIM PENYUSUN MODUL PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN BEA DAN CUKAI BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA JAKARTA 2007 Kata Pengantar Puji syukur kehadirat Allah yang Maha Kuasa. bahwa Modul ini dapat diselesaikan sesuai waktunya.

Semoga Allah membalas atas amal kebaikan tersebut. Semoga Modul ini bermanfaat sebagai penambah wawasan dan media untuk penambah keterampilan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang. Jakarta. Penulis menghaturkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga dapat diselesaikannya Modul ini.Cukai menambah keterampilam dalam mengklasifikasi barang agar pelayanan cepat dan negara tidak dirugikan dalam menetapkan besarnya bea masuk. Nopember 2007 Penulis . karena ada kepastian tentang jenis barang dan penetapan tarif posnya. Modul ke 2 dengan judul Teknik Klasifikasi Barang digunakan dalam Diklat Teksnis Substantif Spesialis Kepabeanan dan Cukai Dalam kesempatan ini. Modul ini merupakan seri dari 3 buah modul mata pelajaran klasifikasi barang.

...............................................................1 Uraian....................2..3.......... KEGIATAN BELAJAR 2 TAHAPAN MENGKLASIFIKASI BARANG.............. Kunci Jawaban ....................Deskripsi singkat.. Contoh dan Non contoh.............. Latihan 1... 2..3...................................................................................................................................................................................2.................... Umpan Balik....1 Uraian...... Test Formatif ... Rangkuman.........................................2..... KEGIATAN BELAJAR 3 NOTA PENELITIAN KLASIFIKASI BARANG 4..2............................3........................ 3................................ PENDAHULUAN ................... Daftar Isi ..................................................... Latihan 3............... Tujuan Pembelajaran Umum...................... i ii 1 1 1 1 2 2 13 14 1 2 3 15 15 16 17 18 18 23 24 24 27 28 29 4 5 6 7 8 ......... 1............................................................ 3. 3......DAFTAR ISI Halaman Kata Pengantar .. Contoh dan Non contoh......................................................................................1 Uraian........................ Rangkuman................................................................... 4................................................................... Contoh dan Non contoh................................................. 2........................................................ 1................. Rangkuman...........3......1................................................... KEGIATAN BELAJAR 1 KETENTUAN UMUM UNTUKMENGINTERPRETASI HS.......... 1............................................................ 4.................................................... Latihan 2........... Tujuan Pembelajaran Khusus............................ 2............. Daftar Pustaka...................

1. Nota Penelitian Klasifikasi Barang. Tujuan Instruksional Umum Setelah mempelajari modul ini. Tahapan dalam mengklasifikasi Barang. Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System 2. tahapan dalam mengklasifikasi barang dan membuat nota penelitian klasifikasi barang berdasarkan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. Seorang klasifikator harus memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang karena akan menentukan ketepatan pengisian Pemberitahuan Impor Barang yang pada akhirnya menentukan ketepatan jumlah bea masuk dan pungutan impor lainnya yang harus dibayar.MODUL II TEKNIK KLASIFIKASI BARANG I. PENDAHULUAN 1. 3. seorang klasifikator harus terlebih dahulu memahami pengetahuan barang dan pengetahuan mengenai klasifikasi barang. 1. para Siswa diharapkan mampu menerapkan ketentuan umum untuk menginterpretasi Harmonized System. . Deskripsi Singkat Seorang klasifikator dibidang kepabeanan harus dapat mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang dengan terampil. Tujuan Instruksional Khusus Setelah mempelajari Modul ini diharapkan para Siswa mampu menjelaskan : 1. Oleh karena itu.2.1.3.

pelajari satu-persatu enam butir KUM HS tersebut.2. Namun mengingat banyaknya jenis barang. sutera adalah produk hewani. Uraian pada bab hanya untuk referensi saja. marilah kita KUM HS 1 : Judul Bagian.1. Mengingat begitu kompleksnya teknik klasifikasi barang.1. 1. tetapi karena sifatnya yang khusus dalam HS tidak diklasifikasikan pada bab 5 (produk hewani tidak dirinci atau termasuk dalam pos lainnya). sadar atau tidak. klasifikasi harus ditentukan menurut uraian yang terdapat dalam pos dan berbagai Catatan Bagian atau Bab yang berkaitan serta menurut ketentuan-ketentuan berikut ini. salah satu ketentuan dalam KUM HS harus dipergunakan. KUM HS mutlak diperlukan sebagai pedoman dasar yang tidak boleh ditinggalkan. Uraian. Untuk itu. Setiap kali melakukan kegiatan klasifikasi barang. untuk tujuan hukum. dan catatan sub-pos. Contohnya. catatan bagian. KEGIATAN 1 KETENTUAN UMUM UNTUK MENGINTERPRETASI HARMONIZED SYSTEM 2. catatan bab. tidak mungkin semua jenis barang dapat dicakup dengan persis pada setiap bab. Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 1 Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System (KUM HS) merupakan pintu gerbang untuk memasuki klasifikasi barang. asalkan pos atau Catatan tersebut tidak menentukan lain : Penjelasan: HS adalah nomenklatur yang bersifat sistematik. merupakan pertimbangan utama. tetapi diklasifikasikan khusus pada bab 50. Contoh dan Non Contoh 2. Yang mempunyai kekuatan hukum adalah pos (heading). Karena itu perlu diingat agar selalu mempertimbangkan semua bab atau pos yang mungkin mencakup suatu barang. Bab dan Sub-bab hanya dimaksudkan untuk memudahkan referensi saja. tidak mempunyai kekuatan hukum. Uraian pos dan catatan-catatan tersebut Apabila pos dan catatan-catatan tersebut tidak menentukan lain. dalam hal KUM HS 1 tidak bisa digunakan barulah digunakan KUM .

Contohnya.. asalkan pada saat diajukan. Bagaimana pengklasifikasiannya bila keledai tersebut diimpor oleh grup sirkus dari jerman ? 2.umur 2 tahun . .02 hanya untuk produk tertentu. 4.dapat mendemontrasikan beberapa permainan dalam pertunjukan sirkus Pengklasifikasian apakah pada bab 1 atau bab 95 Perhatikan gambar keledai yang biasa digunakan untuk sirkus.jenis keledai . dan 5. Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 2a dan 2 b KUM HS 2 a : Setiap referensi untuk suatu barang dalam suatu pos harus dianggap meliputi juga referensi barang tersebut dalam keadaan tidak lengkap atau belum rampung.1. Batasan ini tidak boleh diperluas dengan menggunakan KUM HS 2(b). catatan 2 Bab 31 menjelaskan pos 31. 2. Spesifikasi keledai : . Referensi ini harus dianggap juga meliputi refensi untuk barang tersebut dalam keadaan lengkap atau rampung (atau yang berdasarkan ketentuan ini dapat digolongkan sebagai lengkap atau rampung) yang diajukan dalam keadaan belum dirakit atau terbongkar. barang yang tidak lengkap atau belum rampung tersebut memiliki karakter utama dari barang itu dalam keadaan lengkap atau rampung.HS 2. 3.

Spesifikasi : Sepeda merk :”Bamby” .memiliki laher dalam as ban -bisa dikendarai oleh orang tua maupun anakanak : Perhatikan gambar sepeda diatas. Setiap referensi untuk barang dari bahan atau zat tertentu harus dianggap juga meliputi referensi untuk barang yang sebagian atau seluruhnya terdiri dari bahan atau zat tersebut. asalkan pada saat diimpor sudah mempunyai sifat utama sebagai barang lengkap atau rampung Sebagai contoh beberapa set sepeda yang diimpor dalam keadaan terurai. Bagaimana pengklasifikasiannya bila sepeda tersebut : a) tidak dicat .Penjelasan: Barang tidak lengkap atau tidak rampung dianggap sebagai barang lengkap atau rampung. harus dianggap juga meliputi referensi untuk campuran atau kombinasi dari bahan atau zat itu dengan bahan atau zat lain.b) tidak ada sadelnya c) dalam keadaan terurai KUM HS 2 b : Setiap referensi untuk suatu bahan atau zat dalam pos. dan tiap setnya tidak ada sadel dan ban dalamnya. Barang yang terdiri lebih dari satu jenis bahan atau zat harus diklasifikasikan sesuai prinsip dari Ketentuan 3. Namun tetap dianggap set sepeda karena sifat utamanya sebagai sepeda telah dimiliki. Penjelasan: .Ada alat perubah kecepatan .

pos 15. maka KUM HS 2(b) tidak berlaku. Spesifikasi tutup botol : . Apabila tambahan atau campuran bahan atau zat menghilangkan sifat barang seperti diuraikan pada pos.tidak diemulsi atau dicampur. KUM HS 2(b) tidak dapat digunakan (harus digunakan KUM HS 3). maka klasifikasiannya harus diberlakukan sebagai berikut : .). ketentuan ini hanya berlaku apabila pos atau catatan bagian atau catatan bab tidak menentukan lain.Campuran atau kombinasi dua atau lebih bahan atau zat diklasifikasikan berdasarkan KUM HS 1. apakah pada bab 45 atau bab 39 Perhatikan sumbat botol diatas....bagian luarnya dilapisi plastik. karena uraian posnya sudah menyebutkan bahwa produk dalam pos tersebut tidak dicampur. Sebagai contoh suatu susu yang telah ditambah sedikit vitamin.03 (-lard oil. maka pengklasifikasiannya tetap sebagai susu. Mengapa demikian ? karena sifat sebagai susunya tidak berubah. Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 3a. . b dan c KUM HS 3 : Apabila dengan menerapkan Ketentuan 2 (b) atau untuk berbgaia alasan lain.1..Terbuat dari gabus . barang yang dengan pertimbangan awal dapat diklasifikasikan dalam dua pos atau lebih.3. Bagaimana pengklasifikasian tutup botol tersebut. bagaimana bila sumbat botol bagian atas dilapis plastik ? 2. Contoh. Ingat.

atau hanya merujuk kepada bagian dari bahan atau zat terkandung dalam campuran atau barang komposisi atau hanya merujuk kepada bagian dari barang dalam set yang disiapkan untuk penjualan eceran. apabila dua pos atau lebih yang masing-masing pos hanya merujuk kepada bagian dari bahan atau zat yang terkandung dalam barang campuran atau barang komposisi. catatan bagian.01 sampai dengan 97. Pos yang menyebutkan barang yang disebutkan secara rinci lebih diutamakan dari pos yang menyebutkan bagian suatu barang. KUM HS 3 a : Pos yang memberikan uraian yang paling spesifik. Saringan oli walau sebagai bagian dari mesin pada pos 8409. maka pospos tersebut harus dianggap setara sepanjang berkaitan dengan barang tersebut. Apabila dua atau lebih pos menguraikan hanya bagian dari bahan atau zat yang terkandung dalam suatu barang campuran atau komposit. bukan pada pos 85. tufted textile for motor cars diklasifikasikan pada pos 57. Contoh. Namun demikian. harus lebih diutamakan dari pos yang memberikan uraian yang lebih umum. Contoh shavers/hair clippers diklasifikasikan pada pos 85. baru kemudian KUM HS 3(c). KUM HS 3(b).03.10. KUM HS 3 baru dipergunakan apabila uraian pos. atau bagian dari item dalam . Contoh. harus diklasifikasikan pada pos terdahulu awal (berarti bertentangan dengan KUM HS 3c ). Penjelasan: Pos dengan uraian lebih spesifik lebih diutamakan dari pos dengan uraian yang lebih umum. Dalam hal ini KUM HS 3(c) tidak berlaku.08. catatan 4(b) bab 97 menentukan bahwa barang yang dirinci pada pos 97.05 dan juga dirinci pada pos 97.09 (self-contained motor).Penjelasan: KUM HS 3 hanya dipergunakan bila KUM HS 2 tidak bisa dipergunakan. bukan pada pos 87. atau catatan bab tidak menentukan lain. Penggunaan KUM HS 3 harus urut dari KUM HS 3(a). namun pos 8421 uraian barangnya lebih rinci. Sekali lagi diingatkan.06. walaupun salah satu dari pos tersebut memberikan uraian yang lebih lengkap atau lebih tepat. Pos yang menyebutkan nama barang lebih diutamakan dari pos yang menyebutkan kelompok barang.

Contoh. mutually complementary.15).satu set barang untuk penjualan eceran. Beberapa produk/barang bersama-sama untuk keperluan/kegiatan tertentu. dan handuk dari tekstil (63. Penjelasan: KUM HS 3(b) hanya berlaku untuk campuran. dan bila KUM HS 3(a) tidak bisa digunakan. dan bahan utama yang berkaitan dengan penggunaan barang.10). barang komposit yang terdiri dari bahan yang berbeda. dan bersama-sama membentuk barang jadi yang secara normal tidak diperdagangkan terpisah.02). yang tidak dapat diklasifikasikan berdasarkan referensi 3 (a). maka KUM HS 3(a) tidak berlaku dan digunakan KUM HS 3(b) atau 3(c). KUM HS 3 b : Barang campuran dan barang komposisi yang terdiri dari bahan yang berbeda atau yang dibuat dari komponen yang berbeda. serta barang yang disiapkan dalam set untuk penjualan eceran. Yang dimaksud dengan karakter utama (Essential character) pada KUM HS ini mengacu pada bahan atau komponen. Contoh set: hairdressing set yang terdiri dari electric hair clipper (85.03).10 (berdasarkan komponen yang memberikan . berat atau nilai. rak bumbu dengan beberapa botol tempat bumbu kosong.02) diklasifikasikan pada pos 85. Bisa langsung dijual tanpa perlu dibungkus/dikemas kembali (contoh. dikemas dalam tas kulit (42. harus diklasifikasikan berdasarkan bahan atau komponen yang memberikan karakter utama barang tersebut. KUM HS 3(b) berlaku juga untuk komponen yang terpisah. kemasan. sikat (96. jumlah.13). dan barang yang dikemas dalam bentuk set untuk penjualan eceran. sisir (96. ready-to-eatmeal). asalkan satu sama lain adapted to the other. gunting (82. meskipun salah satu pos lebih rinci dari pos lainnya. barang komposit yang terdiri dari komponen yang berbeda. Yang dimaksud dengan barang dikemas dalam bentuk set untuk penjualan eceran yaitu: • • • Paling sedikit dua produk yang berbeda pos (sembilan sendok bukan set). sepanjang kriteria ini dapat diterapkan.

Bingkai ini ditinjau dari bahan baku memiliki bahan yang sama dan seimbang antara pos 44. dalam proporsi tertentu untuk keperluan industri (contoh. Contohnya.06.Mengandung mie.merk :”Mi Enak” . Spesifikasi Mie :Instan : . barang diklasifikasikan pada pos terakhir. yaitu pos Spesifikasi barang : . maka barang tersebut harus diklasifikasikan dalam pos tarif terakhir berdasarkan urutan penomorannya di antara pos tarif yang mempunyai pertimbangan yang setara.Supermi instan bungkus .14 dan pos 83. Bagaimana Saudara mengklasifikasi bila dalam keadaan mentah atau dalam bungkusan ? KUM HS 3 c: Apabila barang tidak dapat diklasifikasikan berdasarkan referensi 3 (a) atau 3(b).Van belt merk : :”Ando” .mengandung . kecap. Tahukah Saudara ketika belum dimasak yang bungkusannya terdiri dari : mie. bumbudan bahan lainnya. saus. saus. Penjelasan: Bila KUM HS 3(a) dan 3(b) tidak dapat digunakan. minuman). maka bingkai tersebut harus diklasifikasikan pada pos terakhir. suatu bingkai berbentuk bujur sangkar yang 2 sisi terbuat dari kayu dan dua sisi lainnya terbuat dari logam. bumbu. namun karena menurut KUM HS 3c.sifat utama). bawang dan cabe Perhatikan mie instan yang sudah mask diatas. KUM HS 3(b) tidak berlaku untuk barang yang terdiri dari beberapa bagian yang dikemas terpisah (baik kemasan yang biasa digunakan maupun tidak).

karena tidak ada uraian yang sesuai (misalnya yang baru muncul di pasaran dunia). sifatnya. sifat.06. b) Ketentuan ini mengenai barang-barang yang tidak dapat diklasifikasikan ke dalam salah satu pos dalam HS. tujuannya). c) Pada waktu menerapkan ketentuan No. dan seterusnya. 4. Hal tersebut dilakukan untuk meneliti pada pos mana yang memiliki unsur kesamaan terbanyak. harus Penjelasan: a) KUM HS 4 baru digunakan apabila KUM HS 1 sampai dengan KUM HS 3 tidak dapat digunakan. barang yang akan diklasifikasikan harus diperbandingkan dengan uraian barang dalam beberapa pos HS yang memiliki kesamaan jenis atau karakternya.83.4. Berdasarkan KUM HS 4. d) Persamaan dapat tergantung dari beberapa faktor seperti nama. Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 4 KUM HS 4: Barang yang tidak dapat diklasifikasikan berdasarkan referensi diatas.1. klasifikasi berdasarkan barang yang sifatnya paling sesuai (misalnya uraian barangnya. penggunaan. Ketentuan ini menetapkan bahwa barang-barang tersebut harus digolongkan kedalam pos atas barang yang memiliki persamaan terbanyak. diklasifikasikan ke dalam pos yang sesuai untuk barang yang paling menyerupai. . Perhatikan vanbelt ini. bagaimana pengklasifikasiannya bila terbuat dari bahan plastik dan karet yang sama tebalnya ? 2.

Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 5 KUM HS 5 : Sebagai tambahan dari aturan di atas. koper senapan. tidak memberikan sifat utama. tas instrumen gambar. Namun demikian. KUM HS 4 baru digunakan apabila benar-benar tidak ada lagi data atau informasi yang dapat diperoleh untuk mengidentifikasi barang dimaksud. dan sebagainya. Penjelasan: KUM HS 5(a) berlaku untuk Peti (cases). tempat senjata. biasa dijual bersama dengan barangnya. . kotak kalung dan kemasan semacam itu. tempat alat musik. apabila kemasan tersebut memang biasa dijual dengan barang tersebut. tempat teleskop. seperti literatur. dimasukkan bersama barangnya (bila dimasukkan terpisah diklasifikasikan pada pos tersendiri). cocok untuk penggunaan jangka panjang dan diajukan bersama barangnya. kotak (boxes). sangat disarankan untuk mencari lebih dulu informasi tentang barang dimaksud dari berbagai sumber yang ada.Perlu diingatkan. Contoh: tempat perhiasan. data teknis. digunakan untuk jangka waktu lama. Untuk itu. dibentuk secara khusus atau pas untuk menyimpan barang atau perangkat barang tertentu. dan sebagainya. sebelum memutuskan menggunakan KUM HS 4. harus diklasifikasikan menurut barangnya. 5. dan tempat semacam itu yang: • • • • • khusus dibuat untuk barang tertentu. Ketentuan berikut ini harus diberlakukan terhadap barang tersebut di bawah ini : Tas kamera. tas instrumen musik. internet. 2.1. ketentuan ini tidak berlaku untuk kemasan yang memberikan seluruh karakter utamanya.

merk :”Refly” . Penjelasan: Mengacu pada KUM HS 5(a). Tempat semacam itu harus diklasifikasikan tersendiri Sebagai contoh. contohnya gas yang diimpor bersama pengemasnya (tabung gas di bawah tekanan). tempat teh dari perak dan tempat permen dari porselin berdekorasi China . apabila bahan atau kemasan pembungkus tersebut memang biasa untuk membungkus barang tersebut.Spesifikasi barang : . pembungkus/tempat simpan diklasifikasikan dengan barangnya bila biasa dipakai untuk barang tersebut. bahan pembungkus dan kemasan pembungkus yang diajukan bersama dengan barangnya harus diklasifikasikan menurut barangnya.Terbuat dari karet yang dilapisi tekstil tebal Perhatikan gambar guitar dan kemasannya diatas. Ketentuan ini tidak berlaku untuk pembungkus/tempat simpan yang digunakan berulang-ulang (repetitive use). Namun demikian ketentuan ini tidak mengikat apabila bahan atau kemasan pembungkus tersebut secara nyata cocok untuk dipakai berulangulang. Bagaimana Saudara mengklasifikasiguitar beserta kemasan diatas ? KUM HS 5 b : Berdasarkan aturan dari ketentuan nomor 5 (a) di atas. Ketentuan ini tidak berlaku untuk tempat simpan yang nilainya jauh lebih tinggi dari barang yang disimpan di dalamnya. sedangkan pengemasnya diklasifikasikan pada pos tarif tabung gas. maka gasnya diklasifikasikan pada pos tarif gas.gitar dengan kemasannya .

KUM HS 6 berlaku sepanjang konteksnya tidak menentukan lain. dengan pengertian bahwa hanya subpos yang setara yang dapat diperbandingkan. Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 6 KUM HS 6 : Untuk tujuan hukum klasifikasi barang dalam sub pos dari suatu pos harus ditentukan berdasarkan uraian dari subpos tersebut dan catatan subpos bersangkutan. 6.11 dan 7110. catatan bagian.19). catatan bab.1. Latihan . Artinya.Spesifikasi barang : . serta ketentuan ini di atas dengan penyesuaian seperlunya. atau catatan subpos harus tetap menjadi pertimbangan utama. Penjelasan: KUM HS 1 sampai dengan KUM HS 5 berlaku mutatis mutandis (secara langsung) untuk subsub pos pada satu pos yang sama (perbandingan pada takik yang sama).tabung gas berisi gas . untuk keperluan ketentuan ini diberlakukan juga catatan Bagian dan catatan Bab. Platinum pada catatan 4(b) Bab 71 tidak sama dengan Platinum pada catatan subpos 2 (khusus untuk sub-pos 7110.2.merk :”Reflon” .Terbuat baja tahan karat Bagaimana pengklasifikasian suatu gas beserta tabungnya yang dapat diisi ulang ? Tabung gas LPG dengan isinya LPG pada pos berapa dalam Harmonized System ? 2. Contohnya. Kecuali apabila konteksnya menentukan lain. 2.

Pertanyaan 1. Dalam mengklasifikasi barang gantungan kunci yang terdiri dari ring baja, rantai baja dan hiasan dari plastik, harus menggunakan KUM HS nomor berapa ? 1.

Jawaban

2. Sebutkan contoh barang yang dalam mengklasifikasinya menerapkan KUM HS nomor 3a (selain yang telah disebutkan

2.

contoh diatas)

3. Bagaimana menurut pendapat Saudara mengenai penggunaan KUM HS nomor 4 dalam prakteknya ?

3.

2.3. Rangkuman

Dalam mengklasifikasi barang dalam BTBMI diperlukan suatu pedoman. Pedoman tersebut adalah Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System (KUM HS) merupakan ketentuan untuk memasuki klasifikasi barang. Saat ini KUM HS hanya terdiri dari nomor 1 sampai dengan nomor 6. Dahulu sampai dengan 10, nomor 7 sampai 10 dihilangkan dan beberapa diantaranya menjadi surat keputusan Dirjen Bea dan Cukai

3. KEGIATAN BELAJAR 2 TAHAPAN MENGKLASIFIKASI BARANG

3.1. Uraian, Contoh dan Non Contoh

Secara lebih rinci, langkah-langkah berikut ini dapat digunakan untuk mengklasifikasi barang:

1. Kita identifikasi dulu barang yang akan kita klasifikasi.

Dengan mengetahui

spesifikasi barang, misalnya barang tersebut produk pertanian, barang kimia, atau mesin, kita bisa memilih bab-bab yang lebih spesifik.

2. Pilih bab atau bab-bab yang berkaitan dengan spesifikasi barang tersebut. Bila sudah kita tentukan, baca dan perhatikan baik-baik catatan Bagian dan catatan Bab yang berkaitan dengan pilihan bab atau bab-bab pada butir 1.

3. Perhatikan penjelasan-penjelasan dalam catatan Bagian maupun catatan Bab yang berkaitan dengan barang yang akan kita klasifikasi. Apabila ada catatan yang

mengeluarkan barang tersebut dari Bab atau Bagian yang kita pilih, perhatikan pada Bagian, Bab, atau pos mana barang tersebut diklasifikasikan.

4. Baca dan cermati catatan Bagian atau Bab (atau catatan Sub-pos dalam hal tertentu) yang ditunjuk oleh penjelasan pada butir 3. Kita ulangi proses pengklasifikasian pada butir 3. Pada tahap ini, biasanya kita sudah mempunyai gambaran umum apakah barang tersebut diklasifikasikan di bab tersebut atau di bab lainnya.

5. Setelah menemukan satu bab yang paling sesuai berdasarkan kajian di atas, maka kita mulai menelusuri pos-pos yang mungkin mencakup barang yang akan kita klasifikasikan dalam bab tersebut. Pada tahap ini kadang-kadang kita sudah dapat menemukan pos yang mencakup barang tersebut dengan rinci. Bila sudah kita

temukan satu pos yang tepat, maka langkah selanjutnya tinggal menentukan sub-pos (6-digit) dan pos tarif (9-digit) yang sesuai. Ingat, dalam penentuan sub-pos dan pos tarif pun kadang timbul permasalahan klasifikasi yang sama dengan penentuan pos

(4-digit). Sampai tahap ini sebenarnya kita sedang menggunakan KUM HS 1.

6. Apabila sepintas lalu ada beberapa pos yang sesuai dengan spesifikasi barang, kita mulai menggunakan KUM HS 2. Ingat, kita baru dapat menggunakan KUM HS 2 apabila KUM HS 1 benar-benasr tidak dapat digunakan. Cara untuk meyakinkan bahwa KUM HS 1 gugur adalah dengan berusaha membuktikan bahwa hanya ada satu pos yang sesuai untuk barang tersebut. Dalam hal KUM HS 1 tidak bisa diterapkan karena informasi atau data spesifikasi barang kurang lengkap, maka yang harus dikerjakan adalah mencari informasi atau data tersebut lebih dulu. Jangan terburu-buru menggunakan KUM HS 2 sebelum kita benar-benar yakin KUM HS 1 tidak dapat digunakan.

7. Dalam hal menggunakan KUM HS 3 (b), perlu diperhatikan bahwa yang dimaksud dengan sifat utama (essential character) meliputi berbagai aspek. Beberapa aspek yang dapat digunakan sebagai dasar penentuan sifat utama adalah fungsi/kegunaan, nilai (value), dan bentuk fisik (appearance). Usahakan paling tidak selalu

mempertimbangkan ketiga aspek tersebut sebelum menentukan sifat utama suatu barang campuran.

8. Dalam membandingkan pos-pos, sub-sub pos, atau pos-pos tarif, harus selalu diingat bahwa yang dibandingkan adalah pos-pos , sub-sub pos, atau pos-pos tarif yang setara (perhatikan takiknya). Ingat, dalam mengklasifikasi, perbandingan

dimaksud tidak berdasarkan pembebanan impornya!.

9. Apabila sudah dipilih satu pos tarif yang benar-benar sesuai dengan uraian barang, langkah selanjutnya adalah melihat pembebanannya (BM, PPN, PPnBM, atau cukai) dan ada atau tidak peraturan tata niaganya (IT, IP, Pertamina, dan lain-lain.). Karena pembebanan tersebut sering berubah, jangan lupa selalu menggunakan pembebanan yang up to date berdasarkan ketentuan yang terbaru.

3.2. Latihan

Pada prinsipnya meliputi identifikasi barang. diperlukan data mengenai barangnya ? Sebutkan contoh kasus ! 1. Jawaban 2. Berdasarkan pertimbangan tersebut baru ditentukan pos tarif yang tepat. agar menghasilkan keputusan yang tepat sesuai aturan yang benar.3. Mengapa dalam mengklsifikasi barang harus memperhatiakan bagian dan bab serta catatan bagian dan catatan babnya yang terkait dengan barang tersebut ? 3. 3. Bagaimana tahapan dalam mengklasifikasi barang agar menghasilkan pos tarif yang akurat ? 2. Pengamatan uraian barang dalam BTBMI dengan melihat bagaian. . 3. Mengapa sebelum mengklasifikasi barang. bab dan catatan yang berkaitan dengan barang yang akan diklasifikasi. Rangkuman Dalam proses mengklasifikasi barang diperlukan tahapan yang sesuai.Pertanyaan 1. mendeskripsikan jenis barang. kemudian melihat uraian barang dalam BTBMI sesuai dengan yang akan diklasifikasi.

2. Sebagaimana selama ini telah berjalan. Namun dalam diktat ini pembuatan nota penelitian klasifikasi barang tersebut diarahkan untuk mengikuti ketentuan-ketentuan dasar mengklasifikasi barang sesuai HS/BTBMI. Selanjutnya DJBC akan meneliti dan menetapkan klasifikasi barang tersebut. Dalam mempertahankan pendapatnya. KEGIATAN BELAJAR 3 NOTA PENELITIAN KLASIFIKASI BARANG 4.1. aparat DJBC diharuskan membuat uraian rinci yang menjelaskan dasar klasifikasi barang dimaksud. Dalam mekanisme ini tidak jarang timbul perbedaan pendapat mengenai klasifikasi barang antara importir/PPJK dan aparat DJBC. uraian rinci klasifikasi barang dimaksud kita sebut saja Nota Penelitian Klasifikasi Barang.4. Kerangka nota penelitian klasifikasi barang sebenarnya tidak baku. setidaknya ada dua fihak yang berkepentingan yaitu aparat DJBC dan importir/PPJK. Nota Penelitian Klasifikasi Barang Pada bagian akhir diktat ini disajikan juga contoh soal klasifikasi barang menggunakan nota penelitian klasifikasi barang.1. Uraian Contoh dan Non Contoh 4. 4. dalam rangka pengimporan importir/PPJK memberitahukan sendiri jenis barang. Dalam diktat ini disajikan cara membuat uraian rinci klasifikasi barang Untuk memudahkan. dan pembebanan impornya.1. Pengantar Berkaitan dengan klasifikasi barang. bisa singkat atau memerlukan uraian yang cukup panjang tergantung pada permasalahan yang dihadapi. Soal tersebut dapat dijawab dengan menggunakan contoh nota penelitian di bawah ini: Contoh 1. .1. tersebut. klasifikasi.

4 digit. (Contoh ini umumnya diterapkan pada penelitian klasifikasi di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai): Nama Barang/Uraian Jenis Barang Spesifikasi Barang (Komposisi. 6 digit dan 9 digit 5) Kesimpulan Contoh 2. Bab dan Sub pos • Uraian pos.) Pos (pos-pos) Yang Mungkin (Bisa satu atau lebih kemungkinan pos tarif) Dasar Klasifikasi Catatan : Bagian. Bab. Explanatory Notes. kemasan.Explanatory Notes atau referensi lainnya 4) Uraian klasifikasi barang . dll.1) Nama barang/uraian jenis barang 2) .bentuk. kegunaan. BTBMI. alasan/catatan Bag/Bab /Sub-pos yang terkait 3) .tuliskan mulai dari 2 digit.Bagian. kapasitas. dan informasi atau referensi lainnya • • • Tentukan satu pos yang paling sesuai Tentukan sub-pos yang paling sesuai Tentukan pos tarif yang paling sesuai .

99. Nama dan Jenis barang : Norit mengandung arang aktif dari arang kayu dalam bentuk tablet 5 gram dipergunakan untuk mengatasi keracunan atau perut kembung.Subpos 3004.3.Bab 30. Obat dalam dosis tertentu. BM ….Bab 38 catatan 1 (d) tidak meliputi barang untuk obat …masuk Bab 30 Uraian klasifikasi : . Bahan tersebut telah terdaftar dalam Farmakope Indonesia Alasan Klasifikasi : Arang kayu masuk Bab 44.90. 2.1.Pos tarif 3004. Praktek Pembuatan Nota Penelitian Klasifikasi Barang: 1.Produk farmasi .99.90.00 % . .xxx BM x% PPN x%.PPN … % PPh %..00 Lain-lain Kesimpulan : Norit diklasifikasikan pada pos tarif 3004.90.Subpos 3004. 4.90 Lain-lain .xx. Menurut catatan 1 (d) Bab 44 tidak meliputi arang aktif masuk pos 3802 .Pos 3004.Kesimpulan Klasifikasi Barang Barang dimaksud dimaksud diklasifikasikan pada tarif xxxx..90 Lain-lain . Nama dan Jenis barang : Shampo merk : KAO dalam tube 100 ml mengandung obat anti ketombe dan anti ..

12.10.10 shampo .PPN … % PPh %.00.PPN … % P 3.90.Lihat Bab 16 catatan 2 “Bab 16 meliputi olahan makanan mengandung daging lebih dari 20 % Uraian klasifikasi : . Nama dan Jenis barang : Sosis daging sapi yang dimasak Alasan Klasifikasi : .00.00. ..Pos tarif 1601.Shampo termasuk kosmetik Bab 33.Pos 1601 .sosis ..00 BM …..00.Pos tarif 3305. . lihat cat 1 “.jamur atau kerontokan rambut Alasan Klasifikasi : .Pos 3305 preparat digunakan pada rambut.Subpos 1601.10. sosis .diolah selain dari bab 2 dan 3 masuk Bab 16…” .Subpos 3305..Olahan dari ikan masuk Bab 16. .kosmetika… . .12..00…mengandung daging sapi Kesimpulan : Sosis daging sapi tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 1601.00 BM …. shampo Pos 3305... % .Bab 16 .10.shampo Kesimpulan : Shampo mengandung obat anti kerontokan diklasifikasikan pada pos tarif 3305.Makanan olahan masuk Bagian IV .Bila mengandung obat Bab 30 Lihat Bab 30 catatan 1(d) :Bab ini tidak meliputi pos 3303-3307 walau mengandung obat Uraian klasifikasi : .90.Olahan dari daging .. % .Bab 33.

% .barang dari baja .5 cm digunakan untuk penarik mobil derek Alasan Klasifikasi : .Lihat catatan 4 bab 32 .10.Pos tarif 7312. 5.50. ..pelarut kurang dr 50 % ke pos 3907.Mobil derek masuk bab 87 .00 cair Kesimpulan : Bahan cat tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 3907.50.Lihat Bagian XVII catatan 2(B) bagian untuk pemakaian umum tidak boleh masuk Bab 87 .. Uraian klasifikasi : .Pos tarif 3907....90.Bahan cat termasuk produk kimia bagian VI.PPN … % PPh %. (walau bagian untuk mobil derek) Uraian klasifikasi : .. Nama dan Jenis barang : Bahan untuk membuat cat besi mengandung bahan alkyd resin (poliester resin) 55 %.Bab 39.4..00 ukuran 25 mm ..Subpos 3907. cat masuk bab 32 .00 BM …. kawat dipilin .kawat .Lihat Bagian XV catatan 2 “kawat dipilin masuk bagian untuk pemakaian umum pos 7312 ….Pos 3907 poliester (alkid resin) .Subpos 7312.10.Pos 7312 . pos 3208 meliputi bahan yang mengandung bahan pelarut mudah menguap lebih dari 50 % .Bab 73.Barang dari logam tidak mulia masuk Bab 73.Barang dari logam tidak mulia masuk Bagian XV.50 alkid (poliester) dari poliester . Nama dan Jenis barang : Kawat pilinan dari baja terdiri dari 5 buah yang dipilin tidak diisolasi ukuran diameter 2..10..polimer . bahan pelarut yang mudah manguap 28 % dan bahan lainnya 13 % Alasan Klasifikasi : .10.

91. Uraian klasifikasi : -Bab 87 Kendaraan yang bergerak selain diatas rel … -Pos 8708 bagian untuk kendaraan bermotor.00 BM ….Kesimpulan : Kawat tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 7312..90 bagian dan aksesori lainnya ….91.91. % .PPN … % PPh %. radiator .2.30. seyogyanya memuat hal-hal apa saja ? . 4.00 BM …. -Sub pos 8708. Nota penelitian klasifikasi barang 2.00 untuk bus mini Kesimpulan : Radiaotor tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 8708. . Jawaban 2. Nama dan Jenis barang : Bagian dari kendaraan bermotor berupa : Radiator untuk mobil bus mini untuk pengangkutan 15 orang dengan mesin diesel dalam keadaan CKD masa total 10 ton Alasan Klasifikasi : -Kendaraan yang bergerak selain diatas rel… masuk Bagian XVII. Latihan Pertanyaan 1.% PPN …% PPh….30. Bagiannya masuk pos 8708.90. Sebutkab tahapan dalam membuat nota penelitian klasifikasi barang ? 1. 6.Pos tarif 8708.Sub pos 8708.10.%. Kendaraan Bab 87 Radiator bagian dari kendaraan bermotor berjalan bukan di rel.

asalkan pada saat diimpor sudah mempunyai sifat utama sebagai lengkap atau rampung barang 3. Lingkarilah huruf B apabila pernyataan ini Saudara anggap benar dan huruf S apabila pernyataan Saudara anggap salah. ditambah informasi barang dari brosur. Test Formatif 5. Mengapa dalam mengklasifikasi barang tidak hanya menyebutkan 9 digitnya atau kesimpulannya saja ? 3.S ) Pernyataan 2b pada KUM HS adalah Barang tidak lengkap atau tidak rampung dianggap sebagai barang lengkap atau rampung. Tidak mengikat secara hukum dalam mengklasifikasi 2. alas an klasifikasi. namun dilapangan nama barang berdasarkan hasil pemeriksaan. 4. ( B .1. ( B .S) Pernyataan 3a pada KUM HS adalah Pos yang memuat uraian yang paling terinci harus lebih diutamakan daripada pos yang memuat uraian . Rangkuman Proses dalam mengklasifikasi barang harus seuai dengan aturan. Dalam membuat nota penelitian klasifikasi barang ada yang sederhana dengan hanya menggunakan BTBMI.3. demikian juga hasil penelitian klasifikasi barang harus disajikan dalam bentuk format yang benar. Bab dan Sub-bab pada Buku tarif Bea Masuk Indonesia hanya dimaksudkan untuk memudahkan penyebutan saja.3. 1.S ) Judul Bagian. uraian klasifikasi dan kesimpulan. Pada umumnya hsil penelitian dituangkan dalam suatu format yang berisikan komponen : nama dan jenis barang. ( B . hasil analisa laboratorium atau sumber informasi lainnya 5.

Pililihlah jawaban yang Saudara anggap benar dengan cara melingkari huruf yang terdapat di depan jawaban tersebut 1. Uraian klasifikasi mulai 2 digit sampai dengan 9 digit d.S ) Sebelum mengklasifikasi barang. 5a 3. nama barang dan uraian jenis barang b. pernyataan a. cocok untuk pemakaian jangka panjang dan diimpor lengkap dengan isinya. Namun demikian nota tersebut setidak-tidaknya memuat tentang : a. diklasifikasikan sebagai mie pada bab 19. 2b b. 3a c. harus diklasifikasikan dengan barang tersebut jika biasa dijual dengan barang itu 5.yang lebih umum sifatnya 4. ( B .alasan atau catatan yang digunakan c. sebaiknya kita identifikasi dulu barang yang akan kita klasifikasi. Larutan dengan kandungan asam cuka (acetic acid) lebih dari 10 % dikeluarkan dari bab 22 berdasarkan catatan : . ( B . b dan c benar 2.S ) Pernyataan 5b pada KUM HS adalah Peti kamera. Suatu kemasan mengandung mie. bumbu. 3b d. Dalam membuat Nota Penelitian Klasifikasi Barang maka diperlukan kerangka yang singkat atau memerlukan uraian yang cukup panjang tergantung pada permasalahan yang dihadapi.2. saos dan bawang. peti instrumen dan tempat simpan yang semacam. Dengan mengetahui spesifikasi barang maka akan lebih mendekati keakuratan dalam mengklasifikasi barang 6. dengan bentuk atau kelengkapan khusus untuk menyimpan barang tertentu atau seperangkat barang tertentu. berdasarkan KUM HS nomor : a.

3b b. Mengapa olahan makanan yang terbuat dari daging sapi yang dikukus tidak diklasifikasikan pada bab 2 2. 3a 5. Mengapa sabun mandi mengandung obat pembasmi kuman walaupun mengandung obat tidak diklasifikasikan pada bab 30 sebagai produk farmasi. definitif b.a. Tabung gas LPG yang berisi gas LPG tidak dapat diklasifikasikan menjadi stu pos tarif karena ketentuan menurut KUM HS nomor : a. namun diklasifikasikan pada bab 22 dikarenakan KUM HS nomor : a.32 . ilustrasi d. 2b d. Mengapa tutup kepala (topi) pengaman untuk pengendara sepeda motor yang terbuat dari bahan plastik tidak diklasifikasikan pada bab 39 ? 4. 1 b.3. 3c c. 5a d. esklusif c. Tentukan pos tarif dari barang tersebut dibawah ini 1. Sebutkan alasannya . 3. Walalupun etil alkohol merupakan bahan kimia organik. pengertian 4. 5b 6. Automatic voltage regulator yang digunakan sebagai stabilizer otomatis untuk komputer harus diklasifikasikan pada pos 85.04 atau 90. 2a c.

Essay Diberitahukan hanya 6 digitnya (sub posnya) 1. seperti dipanggang. merupakan benang tunggal.50. Benang tenun terbuat dari campuran 70 % kapas (cotton) dan 30 % nilon.Ketentuan dan catatan apa yang digunakan dalam mengklasifikasi barang tersebut 6. B 4. S 3. Perhatikan pos tarif 1602.3. Pilihlah berganda 1. dari serat disisir dengan nomor benang 150 decitex. Kunci Jawaban 6. Bentuk pengolahan bukan sederhana. c 3. d 2. B 6. tidak dikelantang dan tidak dimerserisasi.2.5. a 5. b 4. B 2. Daging sapi hasil olahan sesuai bab 2 (pengolahan sementara/terbatas) diklasifikasikan pada bab 2. Pilihan B atau S 1.000 2. Lihat catatan 1(e) Bab 30 . S 5. dikukus dan pengolahan selain pada bab 2 diklasifikasikan pada bab 16. d 6. Lihat catatan 1 bab 16.1.

3. Lihat catatan 1(n) Bab 39

4. Lihat catatan 2(A) Bagian XI

5. Lihat catatan 6(b) Bab 90 Perhatikan sub-pos 5206.24.

7. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT

Bandingkanlah hasil jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang ada di belakang modul ini. Hitunglah jumlah jawaban Anda yang benar atau sejauh mana Anda menguasai mata pelajaran tersebut. Kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap terhadap materi kegiatan belajar

Rumus Tingkat Penguasaan Jumlah Jawaban Anda yang benar dibagi 15 kemudian dikali 100 % = ............ Arti tingkat penguasaan : * 90 % - 100 % = Baik sekali * 80 % * 70 % * 89 % = Baik 79 % = Cukup 69 % = Kurang

Kalau Anda mencapai tingkat penguasaan 80% keatas Anda dapat meneruskan kepada modul atau bagian pelajaran lain. Hasilnya Baik ! akan tetapi, bila tingkat penguasaan Anda masih dibawah 80 %, Anda harus mengulangi membaca Modul kembali, terutama bagian yang belum Anda kuasai

8. Kepustakaan

1. Harmonized System, Word Customs Organization, 2007 version 2. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (2007). Departemen Keuangan RI, Jakarta 3. Explanatory Notes, World Customs Organization, 2007

4. Pengantar Klasifikasi Barang. (1995) Pusdiklat Bea dan Cukai. Jakarta 5. Classification Disputes Settled by The Harmonized System Committee. Customs Organization (1994) World

***

8. Kepustakaan

1. Harmonized System, Word Customs Organization, 2007 version 2. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (2007). Departemen Keuangan RI, Jakarta 3. Explanatory Notes, World Customs Organization, 2007 4. Pengantar Klasifikasi Barang. (1995) Pusdiklat Bea dan Cukai. Jakarta 5. Classification Disputes Settled by The Harmonized System Committee. Customs Organization (1994) World

***

MODUL III SISTEM KLASIFIKASI BARANG MENURUT HARMONIZED SYSTEM MATERI KLASIFIKASI BARANG OLEH : TIM PENYUSUN MODUL PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN BEA DAN CUKAI BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA JAKARTA 2007 .

Kata Pengantar Puji syukur kehadirat Allah yang Maha Kuasa. karena ada kepastian tentang jenis barang dan penetapan tarif posnya. Modul ini merupakan seri dari 3 buah modul mata pelajaran klasifikasi barang. Semoga Allah membalas atas amal kebaikan tersebut. seyogyanya petugas Ditjen Bea dan Cukai menambah keterampilam dalam mengklasifikasi barang agar pelayanan cepat dan negara tidak dirugikan dalam menetapkan besarnya bea masuk. Modul ini digunakan dalam Diklat Teksnis Substantif Dasar I Kepabeanan dan Cukai dengan judul “Catatan Penting dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia” Dalam kesempatan ini. Nopember 2007 Penulis . Jakarta. Semoga Modul ini bermanfaat sebagai penambah wawasan dan media untuk penambah keterampilan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang. Dalam rangka penentapan tarif bea masuk dan kepentingan kepabeanan lainnya. Obyek dari kegiatan Direktorat Bea dan Cukai adalah barang. Penulis menghaturkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga dapat diselesaikannya Modul ini. bahwa Modul ini dapat diselesaikan sesuai waktunya.

....... 3...................... 4............ 1 PENDAHULUAN ...........................1 Uraian..............3......................................... KEGIATAN BELAJAR 2 STRUKTUR PENGELOMPOKAN BARANG PADA BTBMI.............................1 Uraian......... Contoh dan Non contoh........ Latihan 1.....Deskripsi singkat...................................... 2....... Tujuan Pembelajaran Khusus.........................................................................................................3........................................................ i ii 1 1 1 1 2 2 5 5 6 6 22 23 24 24 32 32 33 36 37 38 2 3 5 6 7 8 .................... 3................. 2......... Latihan 2................ Daftar Pustaka......................... Contoh dan Non contoh.......................... 3.............................................................................................. Latihan 3.................................................2.2....................................... Umpan Balik.................. Contoh dan Non contoh............................... 2............................. Rangkuman............................................. Test Formatif ............................................................................................................................. Daftar Isi ............................. 4.1......2.........................................2........... 1.....................3.......... KEGIATAN BELAJAR 1 JENIS CATATAN PADA BTBMI……………………………........................................... 1................. 4 KEGIATAN BELAJAR 3 CATATAN PENTING PADA BTBMI...........................................3......... Tujuan Pembelajaran Umum................................DAFTAR ISI Halalaman Kata Pengantar .................... 1................ Rangkuman.1 Uraian.......................... Rangkuman.................. 4.................................................. Kunci Jawaban ..............

1.1. Seorang klasifikator harus memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang karena akan menentukan ketepatan pengisian Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang pada akhirnya menentukan ketepatan jumlah bea masuk dan pungutan impor lainnya yang harus dibayar. Tujuan Instruksional Khusus Setelah mempelajari Modul ini diharapkan para Siswa mampu menjelaskan : 1. Struktur pengelompokkan barang 3. 1. KEGIATAN BELAJAR 1 .3. Tujuan Instruksional Umum Setelah mempelajari modul ini. Deskrifsi Singkat Untuk menjadi menjadi seorang klasifikator dibidang kepabeanan yang handal harus dapat mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang dengan terampil. Catatan Penting dalam BTBMI 2.MODUL III CATATAN PENTING DALAM BTBMI I. PENDAHULUAN 1. seorang klasifikator harus terlebih dahulu memahami pengetahuan barang dan pengetahuan mengenai klasifikasi barang.2. Oleh karena itu. Jenis catatan pada BTBMI 2. para Siswa diharapkan mampu menjelaskan pengelompokkan barang dan jenis catatan berdasarkan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia.

Hemostatik bedah atau gigi steril yang dapat menyerap.JENIS CATATAN PADA BTBMI 2. (b) (c) (d) (e) (f) (g) (h) Laminaria steril dan laminaria steril yang dapat menggembung. Contoh dan Non Contoh Disamping KUM HS. Catatan Eksklusif Catatan yang mengeluarkan barang tertentu dari suatu pos atau sub-pos dan memasukkannya dalam pos atau sub-pos tertentu lainnya. HS mempunyai Catatan Bagian. Uraian.1. yaitu: 2. … … … … Preparat kontrasepsi kimia dengan bahan dasar hormon atau pembunuh sperma. dan Catatan Sub-pos. 2.04 hanya berlaku untuk hal berikut ini.2. Catatan Definitif Catatan yang menjelaskan pengklasifikasian suatu barang pada pos atau sekumpulan pos tertentu. yang harus diklasifikasikan dalam pos tersebut dan tidak dalam pos lainnya dari Nomenklatur ini: (a) Catgut bedah steril. 30. catatan-catatan dalam HS merupakan bagian integral yang harus diperhatikan benar-benar. bahan jahit bedah steril yang semacam itu dan perekat kertas steril untuk penutup luka bedah.1. Catatan-catatan tersebut mempunyai kekuatan hukum sama seperti uraian pos atau sub-pos. Catatan-catatan tersebut dapat dibagi berdasarkan jenisnya. Contoh: Catatan 4 Bab 30: Pos no.1.1. Catatan Bab. .

4.02). apron dan pakaian pelindung lainnya.1.3. tetapi tidak termasuk arloji tangan (pos no.03.Contoh: (a) Catatan 2 Bab 3: Dalam Bab ini pengertian “pellet” adalah produk-produk yang telah diaglomerasi baik secara langsung dengan cara dikompresi atau dengan penambahan sejumlah kecil bahan pengikat.1. atau 02. 2.10 harus diklasifikasikan sebagai berikut: (a) Campuran dua produk atau lebih dari pos yang sama harus digolongkan dalam pos itu. atau (c) Lemak hewani. .Contoh: Catatan 1 Bab 2: Bab ini tidak meliputi: (a) Produk dari jenis yang diuraikan dalam pos No. 05. 02. Catatan Ilustratif Catatan yang memberikan gambaran terhadap pengertian atau istilah yang perlu dijabarkan lebih lanjut.09 (Bab 15). selain produk dari pos No. 91. istilah “barang pakaian dan perlengkapan pakaian” berlaku.11 atau 30. yang tidak layak atau tidak sesuai untuk konsumsi manusia. (b) Catatan 1 Bab 9: Campuran dari produk dimaksud dalam pos no. 2. 42.01 sampai dengan 02.10. Contoh : Catatan 3 Bab 42: Untuk keperluan pos no.13). kandung kemih atau perut dari binatang (pos No. 09. antara lain.04) atau darah binatang (pos No. tali penahan celana. untuk sarung tangan (termasuk sarung tangan olah raga). Catatan Lain-lain Catatan yang menguraikan pengertian-pengertian yang bersifat teknis. (b) Usus. tali sandang dan semua jenis gelang.04 sampai dengan 09.08. 05. 02. ikat pinggang.

04 sampai dengan 09. dari logam tidak mulia. Membaca dengan teliti dan memahami catatan-catatan di atas. (c) Catatan 2 Bagian XV: Dalam seluruh Nomenklatur. 73. Tambahan dari bahan lainnya ke dalam produk dari pos no.10 dan bingkai serta kaca dari logam tidak mulia. 91. barang dari Bab 82 atau 83 tidak termasuk dari Bab 72 sampai dengan 76 Bab 78 sampai dengan 81. istilah “bagian untuk pemakaian umum” berarti: (a) Barang dari pos no. Latihan .15. 73. dari pos no. 83.01.12.07. Tatacara mengklasifikasi harus diikuti dengan urut agar benar-benar diperoleh hasil yang akurat. 83. 83.2.15) apa yang disebut bagian dari barang tidaklah termasuk uraian tentang bagian untuk pemakaian umum seperti diuraikan di atas. dan pos tarif yang berkaitan dengan barang yang akan diklasifikasikan merupakan syarat mutlak yang harus dilakukan agar klasifikasi yang dilakukan benar-benar akurat.14).02.(b) Campuran dua produk atau lebih dari pos yang berlainan harus digolongkan dalam pos no. 09. Untuk beberapa hal cara seperti ini mungkin berhasil namun labih banyak risiko kegagalannya. (b) Pegas dan lembaran untuk pegas.08. Mengklasifikasi barang tidak dapat dilakukan dengan hanya sekedar mencari satu pos tertentu saja. Dengan memperhatikan ketentuan dalam ayat di atas dan Catatan 1 Bab 83. sub-pos..06. termasuk KUM HS.10. 83. 73. Explanatory Notes. dan uraian pada pos. 83.17 atau 73. dan (c) Barang dari pos no. Dalam Bab 73 sampai dengan 76 dan 78 sampai dengan 82 (tetapi bukan dalam pos no.18 dan barang semacam itu dari logam tidak mulia lainnya. selain pegas untuk lonceng atau arloji (pos no.10 (atau campuran seperti yang dimaksud dalam (a) atau (b) di atas) tidak mempengaruhi penggolongannya asalkan…. 73. 73. 09. 2.

eksklusive. illustratif. catatan definitive. 2. Sebutkan contoh catatan ekslusif pada Bab 71 ? 3. Secara garis besarnya pintu gerbang tersebut akan mengatur tentang suatu barang yang boleh dimasukan. Rangkuman Catatan merupakan pintu gerbang dalam memasuk bagian dan bab dalam BTBMI. . Secara singkat jenis catatan tersebut meliputi.Sebutkan catatan ilustratif pada pada Bagian ? 1. Jawaban 2. dikeluarkan.Pertanyaan 1. Sebutkan contoh catatan definitif pada Bab 39 ? 2. 3. atau dikeluarkan sebagian serta penjelasan lainyya. Hal ini diperlukan agar jangan sampai salah dalam menempatkan pengelompokan barang sesuai Harmonized system. dan penjelasan.3.

KEGIATAN BELAJAR 2 STRUKTUR PENGELOMPOKAN BARANG PADA BTBMI 3. telur. barang setengah jadi (semi-finished products). Bagian II mencakup produk sayuran. Namun beberapa jenis minyak dan lemak dikeluarkan dari bagian I dan diklasifikasikan pada bab 15. Gambaran per Bagian Bagian I mencakup binatang hidup dan produk dari binatang (daging. Gambaran Per Bagian Dalam Harmonized System (HS). Bab 1 sampai dengan bab 24 (Bagian I sampai dengan Bagian IV) mencakup produk-produk pertanian dalam arti luas. yaitu bahan baku (raw material). tepung.3. Di bawah ini disajikan urutan pengelompokan barang dalam HS/BTBMI: 1.1. bab 20 atau bab 21. demikian juga halnya dengan jangat. Sebagai contoh. Urutan pengelompokan ini juga berlaku untuk bab dan pos. binatang hidup diklasifikasikan pada Bab 1. kecuali beberapa jenis minyak dan lemak tertentu (bab 15) dan kayu (bab 44). sereal. Contohnya. bulu dan barang terbuat daripadanya (diklasifikasikan pada bagian VIII). dan produk yang tidak dapat dimakan). Uraian. Contoh dan Non Contoh 3.1. Produk-produk yang termasuk bagian I dan II belum mengalami proses pengerjaan kecuali sampai tahap tertentu (dengan beberapa pengecualian). produk makanan siap saji yang diawetkan diklasifikasikan pada Bagian IV. produk susu. Bagian III hanya terdiri dari bab 15 yang mencakup lemak dan minyak hewani dan . Terhadap produk yang telah mengalami proses lebih lanjut diklasifikasikan pada bab 19. dan barang jadi (finished products). Pengelompokan tersebut berdasarkan urutan tingkat pengerjaannya. baik yang bisa dimakan atau tidak (tanaman.1. sayuran. dsb. ikan. jangat dan kulit binatang pada Bab 41. kulit. barang dikelompokkan dalam 96 bab (dan bab 77 sebagai persiapan masa mendatang) yang dikelompokkan dalam 21 bagian. produk yang dapat dimakan lainnya. bahan yang tidak/belum dikerjakan (unworked products). buah. madu. bijibijian. sepatu dari kulit binatang pada Bab 64.).

misalnya minyak goreng atau margarine yang siap dikonsumsi. bersamasama dengan produk industri makanan yang tidak dicakup bab-bab sebelumnya. Bab 16 meliputi daging atau ikan yang telah mengalami proses lebih lanjut. Bagian IV mencakup produk minuman. Minyak pada Bab II baik dalam keadaan mentah. Berbagai jenis gula yang murni secara kimiawi diklasifikasikan pada Bab 29. cuka. HUBUNGAN BAGIAN I DAN II DENGAN BAGIAN IV: BAGIAN I & II DIPROSES LEBIH LANJUT >>>BAGIAN IV *BAB 2 BAB 3 (DAGING) (IKAN) > * BAB 16 *BAB 4 (SUSU) BAB 10 (GANDUM-GANDUMAN) > * BAB 19 BAB 11 (PRODUK-GILINGAN) *BAB 7 (SAYURAN) > * BAB 20 BAB 8 (BUAH-BUAHAN) BAB 11 (PRODUK GILINGAN. Umumnya minyak tidak menguap. diantaranyadi goreng.nabati dan produk terbuat daripadanya (misalnya malam/wax). KENTANG ) . telah diproses. dikukus atau diawetakan secara permanen. madu tiruan dan karamel. karena minyak nabati yang mudah menguap masuk Bab 33 sebagai minyak atsiri.dan tembakau. seperti saccharin dan dulcin. Bab 17 meliputi gula dan bahan lainnya seperti sirop. Demikian juga bahan pemanis tiruan masuk Bab 29. minuman keras.

Komoditi plastik. Bagian ini terdiri dari 2 bab.Bagian V mencakup produk mineral. Kecuali kalau susunannya mensyaratkan lain. Batu-batuan setengah permata atau batu permata digolongkan pada Bab 71. maka pengenalan dan proses pengidentifikasi barang tersebut semakin sulit. Bagian VI mencakup produk-produk kimia. yaitu bab 39 (Plastik dan Barang Dari Plastik) dan bab 40 (Karet dan Barang Dari Karet). baik sumber mineral anorganik seperti tanah. cat. pupuk. Struktur dalam Bab 39 secara garis besar adalah : . hasil gilingan atau saringan. Karena kemajuan teknologi pembuatan barang. Sesuai dengan kemajuan teknologi. telah dicuci. dan sumber bahan organik pada Bab 27 seperti batu bara. khususnya dalam rangka klasifikasi barang. bahan peledak. belerang dan batuan lainnya hanya dalam keadaan mentah (crude). Bagian VII mencakup plastik dan produk dari plastik (bab 39) dan karet dan produk dari karet (bab 40). maka produk barangbarang tersebut semakin bervariasi dan bertambah jenisnya. Hasil pertambangan yang telah diolah secara lain. maka Bab 25 meliputi produk tambang. dan minyak bumi. baik yang berbentuk asal (primary form) maupun produk-produk industri kimia seperti produk farmasi. kosmetik. sabun. seperti garam. karet buatan serta barang dari plastik dan karet buatan banyak diimpor Indonesia. batuan pada Bab 25 atau bijih logam pada Bab 26 . hancur. sedangkan apabila merupakan hasil bentukan atau pahatan masuk Bab 68 dan kalau bahan tersebut merupakan hasil pembakaran maka masuk Bab 69. Bagian VII mencakup plastik/barang dari plastik serta karet/barang dari karet. dan lain-lain. misalnya dimurnikan sebagai bahan kimia anorganik masuk Bab 28. hasil tumbuk.

. rami. Serat dari tumbuhan atau disebut serat nabati. dan produk industri percetakan (bab 49). henneps. Serat dapat berasal dari tumbuhan. mineral dan buatan manusia. Bahan dasar tekstil adalah serat.. beberapa produk seperti furniture diklasifikasikan di bab lain (bab 94). Perlu dicatat bahwa pos 42.BAB 39 PLASTIK DAN BARANG DARI PLASTIK BAB 40 KARET DAN BARANG DARI KARET SUB-BAB 1 3901-3911 : POLIMER BUATAN 3912-3913 : POLIMER ALAMI 3914 : PENUKAR ION 4001-4002 : BAHAN KARET 4003 4004 4005 SUB-BAB II 3915 : SISA. Bagian IX mencakup produk yang berasal dari tumbuhan. dan barang kerajinan tangan (bab 46).. goni dan sisal. Bagian X juga masih mencakup produk yang berasal dari tumbuhan. kemudian dari benang menjadi kain atau produk tekstil lainnya. barang dari kulit atau usus binatang (bab 42). kertas.02 juga mencakup produk-produk tertentu terbuat bukan dari kulit. Namun. yaitu pulp (bab 47). REJA. gabus dan barang dari gabus (bab 45). Serat . REJA : COUMPOND 3916-3921 : BARANG SETENGAH JADI 3922-3924 : BARANG JADI 4007-40016 : BARANG SETENGAH JADI 4017 : KARET KERAS Bagian VIII mencakup produk-produk tertentu yang berasal dari binatang seperti jangat dan kulit (bab 41). 4006 :TIDAK DIVULKANISASI : KARET PUGARAN : SISA. termasuk kulit berbulu imitasi (bab 43). misalnya serat kapas. kertas karton dan barang terbuat daripadanya (bab 48). flaks. Bagian XI mencakup produk tekstil mulai dari sutera (bab 50) sampai dengan pakaian dan permadani (bab 63). seperti kayu dan barang dari kayu (bab 44).01 dan 42. hewani. Serat bila diproses akan menjadi benang. kulit berbulu.

Bagian XIV mencakup hanya bab 71 yaitu mencakup mutiara dan batu mulia. Istilah sintetik digunakan dalam hubungan bahan polimer seperti poliamida. Sistem penomoran benang langsung (Direct Yarn Number) Sistem penomoran benang tidak langsung (Indirect Yarn Number) Kain yang terbuat dari benang dengan cara tenun. dan semacam itu. plaster. Bagian XIII mencakup produk-produk yang diperoleh dari batu. Ada dua sistem yang dipakai dalam penomoran benang. juga produk-produk tertentu dari bulu. perhiasan. Serat buatan adalah serat hasil industri kimia. yaitu : 1. tongkat jalan. dll. Serat buatan manusia atau man made fiber terbagi dua. dan uang logam. bisa dilihat besar atau kecilnya suatu benang. dibuat dengan mesin tenun melalui cara menyilangkan kelompok benang satu terhadap yang lain. payung. bulu kambing Angora (Mohair) dan sutera. Kain rajut dibuat dengan jalan menjeratkan benang satu dengan yang lain atau pada benang itu sendiri. bulu unta. Namun demikian bagian ini tidak mencakup barang dari logam dasar yang termasuk dalam bab- . Melalui data nomor benang. 2. semen. benang pakan kalau dalam mesin rajut adalah yang bergerak menyilang benang lusi atau sesuai arah lebar kain. (bab 68). Bagian XII mencakup produk alas kaki (bab 64). T shirt dan kain katun (lihat Bab 60 tentang jenis kain ini). asetat sellulosa. contohnya kaos. Bagian XV mencakup logam tidak mulia dan barang terbuat daripadanya. tutup kepala (bab 65). sedangkan serat tiruan digunakan dalam hubungan untuk bahan dari rayon viskosa. bunga buatan. gips.yang berasal dari hewan misalnya bulu domba atau bulu anak domba. (bab 66). bulu kelinci. logam mulia. yaitu serat sintetik dan serat artificial (tiruan). dll. poliester. keramik (bab 69). poliurethan dan lainnya. dan kaca/barang dari kaca (bab 70). dan barang dari rambut manusia (bab 67). Untuk memahami ini lihat Catatan 1 Bab 54. Benang tersebut biasa disebut sebagai lusi dan pakan.

barang kegemaran kaum pengumpul. dan perlatan musik (bab 92). peralatan permainan. Bagian XX mencakup furniture. lampu.2. sinematografi.bab di belakangnya (seperti mesin dan kendaraan). 3. Dengan demikian dapat dimengerti apabila suatu barang yang sepintas termasuk dalam suatu bab ternyata diklasifikasikan pada bab lain. di bawah ini disajikan gambaran keterkaitan antar bab dalam HS: . Selain itu. kapal laut. Bagian ini mempunyai pos dan sub-pos yang sangat besar dibandingkan dengan bagian lainnya. dan peralatan olahraga (bab 95). jam (bab 91).1. Bagian XXI hanya terdiri dari bab 97 yang mencakup hasil karya seni. akan kita dapati bahwa terdapat keterkaitan antara bab tertentu dengan bab atau beberapa bab lainnya. Bagian XVI mencakup mesin. fotografi. ukuran. medis. dan bangunan prefabrikasi (bab 94). dll. Bagian XIX hanya terdiri dari bab 93 yang mencakup senjata dan amunisi.). dan alat transportasi lainnya (kereta api. dan peralatan listrik. Sebagai contoh. Bagian XVII mencakup kendaraan. dan barang antik. Hubungan Antar Bab Apabila kita mempelajari Bab demi Bab Harmonized System. judul bab dalam HS sebagian besar bersifat umum. papan nama iluminasi. Bagian XVIII mencakup perlatan optik. pesawat ruang angkasa. perlengkapan penerangan. atau bedah (bab 90). dan bermacam-macam barang hasil pabrik (bab 96). peralatan mekanik. kontrol. pesawat terbang. Perlu diingat bahwa judul bab bukan merupakan uraian yang bersifat mengikat secara hukum. mainan. Hal ini dapat difahami mengingat antara bab satu dengan bab lainnya kadang-kadang mencakup barang yang mengandung bahan yang sama atau merupakan proses lebih lanjut dari barang dalam bab sebelumnya.

Untuk mengetahui keterkaitan antara bab satu dengan bab lainnya. dingin. • Bahan kimia etilena diklasifikasikan pada Bab 29 (bahan kimia organik). furniture dari plastik (bab 94).06). diasap dan dipanggang. kotak jam dari plastik (bab 91). maka harus diklasifikasikan olahan makanan mengandung kokoa pada bab 18 (pos 18. Sebagai contoh. • Mesin dan peralatan mekanis diklasifikasikan pada bab 84 sedangkan mesin dan peralatan listrik diklasifikasikan pada bab 85. dan sebagainya. beberapa mesin dan peralatan tertentu tetap diklasifikasikan pada bab 84 meskipun elektrik. buah atau buah berbonggol dan umbi-umbian tertentu. • Kembang gula (sugar confectionery) diklasifikasikan pada bab 17. • Bab 6 meliputi semua tanaman hidup yang umumnya dimaksud untuk dijual oleh tukang bibit atau yang bergerak dibidang hortikultura yang serasi untuk ditanam atau dijadikan pajangan. Contoh-contoh di atas adalah sebagian kecil contoh keterkaitan antar bab dalam HS. Namun demikian. Pada Bab 6 tidak termasuk benih.19 (wood dryer). Produk yang dikemas dalam kedap udara dan mengalami pengolahan lebih jauh selain pengolahan dari Bab 2 maka diklasifikasikan pada bab 16. Daging pada Bab 2 hanya terhadap pengolahan terbatas seperti : segar. frame kacamata dari plastik (bab 90). barang tersebut diklasifikasikan di bab-bab lain.08).• • Bab 1 mencakup antara lain binatang hidup. Barang dari plastik diklasifikasikan pada Bab 39. melainkan pada bab 95 (pos 95. Sayuran atau buah yang diawetkan dengan cuka atau dengan cara lain misalnya masuk Bab 20. mesin pada pos 84. Tetapi apabila kembang gula tersebut mengandung kokoa. kita dapat .03 (electric central heating boiler) dan pos 84. Namun apabila etilene terpolimerisasi menjadi polietilena dengan jumlah unit monomer (n) 5 atau lebih. Namun kuda hidup yang digunakan dalam sirkus tidak klasifikasikan pada bab 1. Adalah tidak mungkin untuk menggambarkan dengan rinci keterkaitan antas bab dalam diktat ini. Bila sudah berbentuk barang yang khusus dibuat untuk keperluan tertentu. seperti mesin dengan motor listrik. dan beberapa mesin lainnya. maka harus diklasifikasikan pada Bab 39 (plastik).

telur unggas. gluten gandum. pati. Sayuran. getah. Bab Pada PADA BTBMI BAGIAN I BINATANG HIDUP. Untuk itu membaca catatan bab maupun catatan bagian merupakan kewajiban sebelum kita mengklasifikasikan suatu barang pada pos tertentu. bunga potong dan daun untuk hiasan 7. 5. 2. 13. binatang lunak dan binatang air lainnya yang tidak bertulang belakang 4. Ikan dan udang-udangan.3. Produk industri penggilingan . Binatang hidup 2. ekstrak nabati lainnya 14. Pohon hidup dan tanaman lainnya. Bahan nabati untuk anyam-anyaman. . bermacam-macam butir. 12. Produk hewani. Daging & sisanya yang dapat dimakan 3. madu alam. Biji mengandung minyak dan buah mengandung minyak . Lak. Produk pabrik susu. tidak dirinci atau termasuk dalam pos lain. tanaman industri atau obat . produk nabati tidak dirinci atau termasuk pos lainnya BAGIAN III MINYAK DAN LEMAK HEWANI ATAU NABATI DAN PRODUK DISOSIASINYA. Buah & buah berbatok yang dapat dimakan. PRODUK HEWANI BAB 1. malti . tidak dirinci atau termasuk dalam pos lainnya BAGIAN II PRODUK NABATI BAB 6.1. damar dan air. Kopi. jerami dan makanan ternak.melihat di catatan bab maupun catatan bagian. akar dan bonggol tertentu yang dapat dimakan 8. kulit dari buah jeruk dan melon 9. produk hewani yang dapat dimakan. mate dan rempah-rempah 10. inulin . biji dan buah. LEMAK OLAHAN YANG DAPAT DIMAKAN. umbi akar dan yang semacam itu. Gandum-ganduman 11. teh.

binatang lunak atau dari binatang air yang tidak bertulang belakang 17. Garam. buah. Bahan bakar mineral. terak dan abu 27. bahan plester. Bermacam-macam olahan yang dapat dimakan 22. Minuman. 26. minyak mineral dan produk sulingannya. tepung. malam mineral BAGIAN VI PRODUK INDUSTRI KIMIA DAN INDUSTRI YANG ADA HUBUNGANNYA DENGAN INDUSTRI KIMIA . Gula dan kembang gula 18. Olahan dari gandum-ganduman. belerang. minuman keras dan cuka 23. kacang atau bagian lain dari tanaman.MALAM HEWANI ATAU NABATI Bab 15 (Judul Bab sama dengan Bagian) BAGIAN IV BAHAN MAKANAN OLAHAN. Olahan dari daging. Bijih logam. 20. dari ikan atau dari udang-udangan. TEMBAKAU DAN TEMBA KAU PENGGANTI BUATAN BAB 16. Kakao & olahan kakao 19. Tembakau dan tembakau pengganti buatan. bahan mengandung bitumen. Olahan dari sayuran. dan sisa dari industri makanan. 21. kapur dan semen. olahan makanan hewan 24. produk industri kue. Ampas. pati atau susu. MINUMAN KERAS DAN CUKA. MINUMAN. tanah dan batu. BAGIAN V PRODUK MINERAL BAB 25.

bahan samak dan turunannya. Sabun bahan organik penggiat permukaan. preparat pelumas atau pembersih. senyawa organik atau organik dari logam mulia. produk piroteknik. olahan tertentu yang mudah terbakar 37. preparat pencuci. KULIT BERBULU DAN BARANGNYA. Plastik dan Barang dari plastik 40. TAS TANGAN DAN TEMPAT SIMPAN SEMACAMNYA. tinta 33. lilin dan barang semacam itu. Zat albumina . Bahan kimia organik 30. Pupuk 32. dempul dan damar lainnya. Kulit dan Barang dari Kulit BAGIAN VIII JANGAT DAN KULIT MENTAH. 35. modifikasi pati . Minyak atsiri dan resinoida. preparat pencuci. wangi-wangian. Bahan kimia anorganik. preparat pelumas. Barang fotografi atau sinematografi 38. Ekstrak bahan samak atau bahan celup. pasta untuk membuat model. enzim 36. cat dan vernis. BARANG UNTUK BERPERGIAN. BARANG DARI USUS . “malam untuk mencetak gigi” dan preparat untuk gigi dengan bahan dasar gips. korek api. dari logam tanah langka. kosmetika atau preparat pewangi 34. dari unsur radio aktif dan dari isotop 29. Aneka produk kimia BAGIAN VII PLASTIK DAN BARANG DARI PLASTIK. KULIT SAMAK. PELANA TERMASUK PERLENGKAPANNYA DAN PAKAINAN KUDA. bahan celup. malam olahan. paduan piroforik. malam tiruan.BAB 28. KARET DAN BARANG DARI KARET BAB 39. perekat . Bahan peledak. Produk farmasi 31. pigmen dan bahan pewarna lainnya.

Kayu dan barang dari kayu. Barang dari jerami. KERTAS DAN KERTAS KARTON DAN BARANGNYA BAB 47. pelana termasuk perlengkapan dan pakaian kuda. tas tangan dan wadah yang semacam itu. Gabus dan barang dari gabus 46. barang dari usus hewan (lain dari pada usus ulat sutera) 43. BARANG DARI JERAMI. keranjang dan barang anyaman BAGIAN X PULP DARI KAYU ATAU DARI BAHAN SELLULOSA BERSERAT LAINNYA. ARANG KAYU. KERANJANG DAN BARANG ANYAMAN BAB 44. Pulp dari kayu atau dari bahan sellulosa berserat lainnya. arang kayu 45. kertas atau kertas karton (bekas dan sisa) yang diperoleh . Barang dari kulit samak. Kulit berbulu dan kulit berbulu tiruan BAGIAN IX KAYU DAN BARANG DARI KAYU. Jangat dan kulit mentah (lain dari kulit berbulu) dan kulit samak 42. KERTAS ATAU KERTAS KARTON (BEKAS DAN SISA) YANG DIPEROLEH KEMBALI. dari rumput esparto atau dari bahan anyaman lainnya.(LAIN DARI USUS ULAT SUTERA) BAB 41. RUMPUT ESPARTO ATAU DARI BAHAN ANYAMAN LAINNYA. barang untuk bepergian. GABUS DAN BARANG DARI GABUS.

bagian dari barang semacam 65. kain kempa dan bukan 51. tidak dirajut atau dikait 63. PAYUNG PANAS. pecut dan bagiannya . Alas kaki. barang tekstil dari jenis yang cocok untuk digunakan dalam industri 60. Payung. ditutupi atau dibuat berlapis-lapis. Barang tekstil sudah jadi lainnya. bulu hewan halus atau kasar. cambuk. Kain tenunan khusus. gambar dan produk lainnya dari industri percetakan. naskah ketikan dan rencana BAGIAN XI TEKSTIL DAN BARANG TEKSTIL BAB 50. BARANG DARI RAMBUT MANUSIA BAB 64. tongkat duduk. surat kabar. tongkat jalan. Filamen buatan berjumbai. sulaman 59. tenunan. benang khsusu. Gumpalan. setelan. dari kertas atau kertas karton 49. Sutera 56. Barang cetakan. TONGKAT JALAN. CAMBUK. BULU UNGGAS. rajutan atau kaitan 62. Barang dan perlengkapan pakaian. pakaian bekas dan barang tekstil bekas. barang dari pulp kertas. Serat staple buatan hiasan. Tutup kepala dan bagiannya 66. BUNGA TIRUAN. 57. Kain tekstil diresapi. Kapas barang-barangnya 53. TONGKAT DUDUK. tali tambang dan kabel dan 52. PECUT DAN BAGIANNYA. Kertas dan kertas karton. renda. Permadani dan tekstil penutup benang kertas dan tenunan dari lantai lainnya benang kertas 58. Serat tekstil dari nabati lainnya . Kain rajutan atau kain kaitan 61. pelindung kaki dan yang semacam itu . Wool. TUTUP KEPALA. gombal BAGIAN XII ALAS KAKI. OLAHAN DAN BARANGNYA. benang benang bulu kuda dan kain tenunan pintal. PAYUNG.48. Barang dan perlengkapan pakaian. naskah tulisan tangan. payung panas. 55. kain tekstil 54. permadani. dilapisi.

Kaca dan barang dari kaca BAGIAN XIV MUTIARA ALAM DAN MUTIARA BUDIDAYA. Produk keramik 70. bunga tiruan. Aluminium dan barang terbuat dari 78. GIPS. Nikel dan barang terbuat dari nikel 76. PERHIASAN IMITASI. Barang dari batu. LOGAM MULIA. MIKA ATAU DARI BAHAN SEMACAM ITU. semen. asbes. gips. Tembaga dan barang terbuat dari tembaga 75. Besi dan baja 73. PRODUK KERAMIK. Seng dan barang terbuat dari seng 80. barangnya . LOGAM MULIA KERAJANG DAN BARANGNYA. Barang dari besi dan baja 74. barang dari rambut manusia BAGIAN XIII BARANG DARI BATU. BATU PERMATA ATAU SEMI PERMATA. Timah hitam dan barang terbuat dari timah hitam 79.67. mika atau bahan semacam itu 69. KACA DAN BARANG DARI KACA BAB 68. MATA UANG LOGAM BAB 71 (Judul Bab sama dengan judul Bagian) BAGIAN XV LOGAM TIDAK MULIA DAN BARANG DARI LOGAM TIDAK MULIA BAB 72. SEMEN. ASBES. Logam tidak mulia lainnya. Bulu unggas dan bulu unggas olahan serta barang terbuat dari bulu unggas atau bullu unggas tiruan. sermet. Timah dan barang terbuat dari timah 81.

ketel uap. PERLENGKAPAN LISTRIK.bagian bagiannya dari logam tidak mulia 83 Bermacam-macam barang dari logam tidak mulia BAGIAN XVI MESIN DAN PESAWAT MEKANIK. dari logam tidak mulia.aluminium 82 Perkakas. dan bagian serta . perlengkapan isyarat lalu lintas mekanik dari segala jenis (termasuk elektronik) 87. dan bagian serta perlengkapan dari barang yang semacam itu BAGIAN XVII KENDARAAN. peralatan. Mesin dan alat listrik serta bagiannya. BAGIANNYA PESAWAT PEREKAM DAN PESAWAT REPRODUKSI SUARA. mesin dan pesawat mekanik.sendok dan garpu. PESAWAT PEREKAM ATAU REPRODUKSI SUARA DAN GAMBAR UNTUK TELEVISI. KENDARAAN AIR DAN PERLENG KAPAN PENGANGKUTAN YANG BERKAITAN BAB 86. barang tajam. Reaktor nuklir. Lokomotif kereta api atau trem. kendaran yang bergerak diatas rel dan bagiannya. pesawat perekam dan reproduksi gambar dan suara untuk televisi. pesawat perekam dan pesawat reproduksi suara. alat pemasang dan perlengkapan rel kereta api atau trem dan bagiannya. Kendaraan selain yang begerak diatas rel kereta api atau trem. PESAWAT TERBANG. bagiannya 85. DAN BAGIAN SERTA PERLENGKAPAN DARI BARANG YANG SEMACAM ITU BAB 84.

PENELITI. Alat dan aparat optik. bahtera. fotografi. sinematografi. LONCENG DAN ARLOJI. bangunan prefabrikasi 95. Kapal udara. bagian dan perlengkapannya 91. ukur. isyarat iluminasi. peneliti. tidak dirinci atau termasuk dalam pos manapun. presisi. Lonceng dan arloji dan bagiannya 92. keperluan permainan dan keperluan olah raga. papan nama iluminasi dan semacam itu. dan bangunan terapung BAGIAN XVIII ALAT DAN APARAT OPTIK. UKUR. kasur tempat tidur. lampu dan perlengkapan penerangan. Kapal. lapik kasur. SINEMATOGRAFI. PRESISI.perlengkapannya 88. pesawat ruang angkasa. Instrumen musik . serta bagiannya 89. Mainan. POTOGRAFI. kasur. BAGIAN DAN KELENGKAPANNYA BAB 93 (judul sama dengan judul Bagian) BAGIAN XX BERMACAM-MACAM BARANG HASIL PABRIK BAB 94. KEDOKTERAN DAN BEDAH. bantal dan kelengkapannya. kedokteran dan bedah. bagian dan perlengkapan dari barang seperti itu BAGIAN XIX SENJATA DAN AMUNISI. bagian dan . BAGIAN DAN PERLENGKAPANNYA BAB 90. INSTRUMEN MUSIK. Perabot rumah.

Pengelompokan barang ini berawal dari binatang. barang untuk kemanan dan barang kelontong. kendaraan. Jawaban 2.kelengkapannya 96.3. 3. .2. hewani. Bab 1 sampai dengan 77 dan bab 78 sampai dengan bab 98. Sebutkan pos saja untuk barang mentega dan margarin ? 2. Rangkuman BTBMI terdiri dari 21 Bagian. Bermacam-macam barang hasil pabrik lain BAGIAN XXI HASIL KARYA SENI. Sebutkan posnya saja batu pualam yang masih bongkahan dan yang telah jadi ubin ? 1. Urutan pengelompokan barang umumnya didasarkan atas bahan dasar. BARANG KEGEMARAN KAUM PENGUMPUL DAN BARANG ANTIK BAB 97 (Judul Bab sama dengan Bagian) 2. Daging sapi yang diolah sederhana masuk pos berapa ? Bagaimana bila telah dikukus masuk Bab berapa ? 3. nabati mineral dan selanjutnya kepada bahan kimia dan produknya. barang presisi. 2. Terakhir dengan mesin. proses setengah jadi dan barang jadi. Latihan 2 Pertanyaan 1.

Sebaiknya seorang klasifikator yang bak akan memahami pengelompokan jenis barang dalam BTBMI .Pemahaman pengelompokan barang akan mempermudah dan mempercepat dalam mengklasifikasi.

moluska atau invertebrata air lainnya.. buah zaitun. labu kuning.09.1 Bagian II Bab 7 Catatan 2 2. ikan atau krustasea. 3. Contoh dan Non Contoh Disamping KUM HS. cendawan tanah.. cress dan marjoram manis (Majorana hortensis atau Origanum majorana) yang dapat dimakan. olahan makanan mengandung sosis. lebih dari 20% menurut beratnya.Bab ini tidak meliputi : (a) Kecuali dalam hal produk diisi dari pos 19. atau berbagai kombinasinya. HS mempunyai Catatan Bagian. catatan-catatan dalam HS merupakan bagian integral yang harus diperhatikan benar-benar.10.4.04. chervil. ikan atau krustasea. jagung manis (Zea mays var. parsley. moluska atau invertebrata air . 3. KEGIATAN BELAJAR 3 CATATAN PENTING PADA BTBMI 3. saccharata).03 atau 21.Dalam pos 07.1.11 dan 07. kaper. sisa daging. Uraian. Catatan Bab..02 atau olahan dari pos 21. Ketentuan ini tidak berlaku untuk produk diisi dari pos 19.2 Bagian II Bab 16 Catatan 2 2.1. Catatan-catatan penting tersebut adalah : 3. adas pedas. tarragon. darah. terong.12 kata "sayuran" meliputi jamur. dan Catatan Sub-pos.1. labu sumsum. daging. Catatan-catatan tersebut mempunyai kekuatan hukum sama seperti uraian pos atau sub-pos.3 Bagian IV Bab 19 catan 1 1. 07. diklasifikasikan dalam pos pada Bab 16 yang sesuai dengan komponen atau komponen-komponen yang mendominasi menurut beratnya. 07. sisa daging.1.Olahan makanan digolongkan dalam Bab ini asalkan mengandung sosis. daging.02. buah dari genus Capsicum atau dari genus Pimenta. Dalam hal apabila olahan mengandung dua atau lebih produk yang disebut di atas. darah.

istilah "olahan homogen" berarti olahan buah. pengawet atau keperluan lain.1. Subpos 2007.09). diolah secara khusus untuk makanan hewan (pos 23. .1. 3. atau (c) Obat-obatan dan produk lain dari Bab 30.1. Olahan ini dapat mengandung sejumlah kecil buah yang dapat dilihat.. dalam kemasan dengan berat bersih tidak melebihi 250 g. disiapkan untuk penjualan eceran sebagai makanan bayi atau untuk keperluan diet.. dapat dikenali sebagai unsur yang saling melengkapi satu sama lain. asalkan unsur tersebut : (a) berdasarkan penyiapannya jelas dapat dikenal untuk digunakan bersamasama tanpa dibungkus ulang sebelumnya. lebih dari 20% menurut beratnya (Bab 16).Untuk keperluan subpos 2007.4 Bagian IV Bab 20 catatan subpos 2 2. beberapa atau seluruhnya yang digolongkan dalam Bagian ini dan dimaksudkan untuk dicampur bersama untuk memperoleh produk dari Bagian VI atau VII.6 Bagian VII Bab 39 catatan 4 4.lainnya. 3. harus diklasifikasikan dalam pos yang sesuai dengan produk tersebut.. dihomogenisasi secara halus. (b) Biskuit atau barang lain yang dibuat dari tepung atau dari pati.10.Barang yang disiapkan dalam set yang terdiri dari dua atau lebih unsur yang terpisah. baik berdasarkan sifat atau perbandingan relatifnya.07.10 harus dipertimbangkan lebih dahulu daripada subpos lain dari pos 20. Untuk penerapan definisi ini tidak memperhitungkan sejumlah kecil berbagai bahan yang ditambahkan pada olahan tersebut sebagai penyedap. (b) diajukan bersama. dan (c) pada saat diajukan.5 Bagian VI Bagian VI catatan 3 3. 3. atau berbagai kombinasinya.Istilah "kopolimer" meliputi semua polimer yang unit monomer tunggalnya tidak ada yang beratnya 95% atau lebih menurut berat total kandungan polimer tersebut.

(A) Barang yang dapat diklasifikasikan dalam Bab 50 sampai dengan 55 atau dalam pos 58.7 Bagian VII Bab 40 catatan 4 4. dapat ditambahkan zat yang diperlukan untuk ikatan silang.8 Bagian XI Bagian XI catatan 2 2. block copolymer dan graft copolymer) dan campuran polimer harus diklasifikasikan dalam pos yang mencakup polimer dari unit komonomer tersebut yang beratnya mendominasi berat unit komonomer tunggal lainnya. yang pada suhu antara 18 C dan 29 C tidak akan putus bila di rentang hingga tiga kali panjang aslinya. peliat dan pengisi.1. kecuali apabila konteksnya menentukan lain. keberadaan zat yang dimaksud oleh Catatan 5 (b) (ii) dan (iii) juga diperkenankan. 3. bagian unit komonomer dari polimer yang termasuk dalam pos yang sama harus digolongkan bersama.02 dan dari campuran dua bahan tekstil atau lebih harus diklasifikasikan seolah-olah seluruhnya terdiri dari satu bahan tekstil yang beratnya mendominasi berat setiap bahan tekstil lainnya. seperti perentang. panjangnya akan kembali menjadi tidak lebih dari satu setengah kali panjang aslinya.1. kopolimer (termasuk kopolikondensasi. Dalam hal tidak terdapat unit komonomer tunggal yang mendominasi.Dalam Catatan 1 Bab ini dan dalam pos 40. Namun demikian. dan setelah direntang hingga dua kali panjang aslinya selama lima menit. tidak diperkenankan 3. seperti pengaktif dan akselerator vulkanisasi. Apabila tidak satupun bahan tekstil yang .. produk kopoliadisi. keberadaan berbagai zat yang tidak diperlukan untuk ikatan silang.02.Untuk keperluan Bab ini. maka kopolimer atau campuran polimer harus diklasifikasikan dalam pos terakhir berdasarkan urutan penomoran di antara pos yang mempunyai pertimbangan yang setara.09 atau 59. istilah "karet sintetik" berlaku untuk : (a) Zat sintetik tidak jenuh yang dapat diubah dengan tidak kembali ke sifat semula melalui vulkanisasi menggunakan belerang menjadi zat non termoplastik. Untuk keperluan Catatan ini. Untuk keperluan pengujian ini..

dari logam tidak mulia.02.07. 4 dan 5 . (c) Apabila Bab 54 dan 55 berkaitan dengan berbagai Bab lainnya.10) dan benang berlogam (pos 56.10 Bagian XVI Bagaian XVI catatan 3. Dalam Nomenklatur ini.06. 83. barang tersebut harus diklasifikasikan seolah-olah seluruhnya terdiri dari satu bahan tekstil yang termasuk dalam pos terakhir berdasarkan urutan penomoran di antara pos-pos dengan pertimbangan yang setara. 3.01.05) harus diperlakukan sebagai bahan tekstil tunggal yang beratnya dianggap seperti berat keseluruhan komponennya. dan kemudian pos yang tepat dalam Bab tersebut. 3. selain pegas jam atau arloji (pos 91. (b) Pilihan pos yang sesuai harus dilakukan.1.15. 73.9 Bagian XV Bagian XV catatan 2 2.mendominasi menurut beratnya.10 dan bingkai serta cermin dari logam tidak mulia. dari pos 83. (d) Apabila Bab atau pos merujuk pada barang dari bahan tekstil yang berbeda . maka Bab 54 dan 55 harus diperlakukan sebagai Bab tunggal.15) referensi untuk bagian barang tidak meliputi referensi untuk bagian pemakaian umum sebagaimana dirinci di atas.12. (b) Pegas dan lembaran untuk pegas. 83.08. tanpa memperhatikan berbagai bahan yang tidak diklasifikasikan dalam Bab tersebut. dengan menentukan Babnya. untuk pengklasifikasian kain tenunan.17 atau 73. 83. benang berlogam harus dianggap sebagai bahan tekstil. (B) Untuk keperluan ketentuan di atas : (a) Benang lilit dari bulu kuda (pos 51.18 dan barang semacam itu dari logam tidak mulia lainnya. istilah "bagian untuk pemakaian umum" berarti : (a) Barang dari pos 73. 73. 73. maka bahan tersebut harus diperlakukan sebagai bahan tekstil tunggal.14). Dalam Bab 73 sampai dengan 76 dan Bab 78 sampai dengan 82 (tetapi tidak dalam pos 73. pertama.1. dan (c) Barang dari pos 83.

(4) Tanpa intervensi manusia. suatu mesin yang . yang termasuk dalam salah satu pos dalam Bab 84 atau 85.3.Untuk keperluan Catatan ini. dan. mesin gabungan yang terdiri dari dua atau lebih mesin yang dipasang bersama untuk membentuk satu kesatuan dan mesin lainnya yang dirancang untuk keperluan melakukan dua fungsi atau lebih yang saling melengkapi atau fungsi alternatif.Untuk keperluan klasifikasi. dengan peralatan penggerak. perlengkapan. mesin yang digunakan untuk lebih dari satu kegunaan.71. seluruhnya harus diklasifikasikan dalam pos yang sesuai dengan fungsi tersebut. aparatus atau peralatan yang disebut dalam pos pada Bab 84 atau 85. selama berlangsungnya pengolahan. 3.. 3.. instalasi. dengan kabel listrik atau dengan peralatan lainnya) yang dimaksudkan untuk digunakan bersama untuk melakukan fungsi tertentu secara jelas. istilah "mesin pengolah data otomatis" berarti : (a) Mesin digital.12 Bagian XVI Bagian XVI catatan 7 7. 4.(A) Untuk keperluan pos 84.. melaksanakan program pengolahan yang memerlukan modifikasi pelaksanaannya. permesinan.11 Bagian XVI Bagian XVI catatan 5 5..Apabila mesin (termasuk kombinasi mesin) terdiri dari komponen tersendiri (terpisah atau saling dihubungkan dengan pipa.1. 5. (2) Diprogram secara bebas menurut kebutuhan pemakai. dengan keputusan yang logis. harus diperlakukan seolah-olah kegunaan utamanya adalah kegunaan satu-satunya.. (3) Mengerjakan perhitungan aritmatika yang ditentukan oleh pemakai.Kecuali apabila konteksnya menentukan lain.1. Berdasarkan Catatan 2 pada Bab ini dan Catatan 3 pada Bagian XVI. harus diklasifikasikan seolah-olah terdiri hanya dari komponen tersebut atau sebagai mesin tersebut yang melakukan fungsi utama. yang dapat : (1) Menyimpan program atau programprogram pengolahan dan sekurang-kurangnya data yang diperlukan segera untuk pelaksanaan program tersebut. istilah " mesin " berarti berbagai mesin.

penyepuhan.42. sirkit tercetak dapat dilengkapi dengan elemen penghubung tidak dicetak. kapasitor). mesin penjalin. atau induktansi khusus.kegunaan utamanya tidak diuraikan dalam pos manapun atau yang tidak ada satupun kegunaannya merupakan kegunaan utama. dari logam tidak mulia (Bagian XV). Namun demikian. kontak atau komponen tercetak lainnya (misalnya. .84) atau barang lainnya dari karet divulkanisasi selain karet keras (pos 40. resistor.13 Bagaian XVII Bagian XVII catatan 2 2.1. selain elemen yang dapat memproduksi. tersendiri atau saling berhubungan menurut pola yang ditetapkan sebelumnya. kecuali apabila konteksnya menentukan lain. 3. juga tidak meliputi resistor.16 Bagian XVI Bab 85 catatan 4 4.16). 3.Istilah "bagian" serta "bagian dan aksesori" tidak berlaku untuk barang berikut. melalui berbagai proses pencetakan (misalnya. atau barang semacam itu dari plastik (Bab 39).Untuk keperluan pos 85. menyearahkan. (b) Bagian untuk pemakaian umum. pengetsaan) atau melalui teknik "sirkit film" berupa elemen konduktor.79. elemen semi konduktor). Pos 84. harus diklasifikasikan dalam pos 85.79 juga meliputi mesin untuk membuat tali atau kabel (misalnya. pencetakan timbul. Istilah " sirkit tercetak " tidak meliputi sirkit yang dikombinasi dengan elemen selain yang diperoleh selama proses pencetakan. kapasitor.34 "sirkit tercetak" adalah sirkit yang diperoleh dengan pembentukan di atas dasar pengisolasi. mesin pemilin atau mesin pembuat kabel) dari kawat logam. benang tekstil atau berbagai bahan lainnya atau dari kombinasi bahan bahan tersebut. dapat diidentifikasi sebagai barang dari Bagian ini maupun tidak : (a) Sambungan. induktansi. harus diklasifikasikan dalam pos 84.. cincin pipih atau sejenisnya dari berbagai bahan (diklasifikasikan menurut bahan utamanya atau dalam pos 84. sebagaimana dirinci dalam Catatan 2 Bagian XV. Sirkit film tipis atau tebal yang terdiri dari elemen pasif dan aktif yang diperoleh selama proses teknologis yang sama.1.. memodulasi atau memperkuat sinyal elektris (misalnya.

(e) Mesin atau aparatus dari pos 84..83. (ij) Senjata (Bab 93).Pos 90.(c) Barang dari Bab 82 (perkakas). tinggi permukaan.1.81 atau 84.14 Bagian XVIII Bab 90 catatan 7 7.03).05. (f) Mesin atau perlengkapan elektris (Bab 85). atau bagiannya. tekanan atau variabel lainnya dari cairan atau gas secara otomatis. yang dirancang untuk memberi . dengan pengukuran nilai aktual secara konstan atau periodik. 3. yang penggunaannya tergantung maupun tidak pada fenomena elektris yang berubah-ubah menurut faktor yang harus dikontrol secara otomatis. 3. asalkan barang tersebut merupakan bagian integral dari mesin atau motor. atau (l) Sikat dari jenis yang digunakan sebagai bagian dari kendaraan ( pos 96. (h) Barang dari Bab 91.82 atau barang dari pos 84. dan mempertahankannya pada nilai yang dikehendaki.Referensi untuk "bagian" atau "aksesori" dalam Bab 86 sampai dengan 88 tidak berlaku untuk bagian atau aksesori yang tidak cocok untuk digunakan sematamata atau terutama dengan barang dari Bab-bab tersebut.01 sampai dengan 84. dan (b) Regulator besaran listrik otomatis dan instrumen atau aparatus untuk mengontrol besaran bukan listrik secara otomatis.. (g) Barang dari Bab 90. harus diklasifikasikan menurut pos yang sesuai dengan penggunaan utama dari bagian atau aksesori tersebut. atau untuk mengontrol suhu secara otomatis. distabilkan terhadap gangguan.79.06. yang dirancang untuk memberi faktor tersebut untuk.32 berlaku hanya untuk : (a) Instrumen dan aparatus untuk mengontrol arus. Bagian atau aksesori yang memenuhi uraian dalam dua pos atau lebih dari pos pada Bab-bab tersebut. barang dari pos 84. (d) Barang dari pos 83. yang pengoperasiannya tergantung pada fenomena listrik yang berubah-ubah menurut faktor yang dikontrol. (k) Lampu atau alat kelengkapan penerangan dari pos 94.

Rangkuman Salah satu syarat menjadi seorang klasifikator yang baik adalah harus dapat memahami catatan penting. 4. ukiran.Bingkai yang terpasang pada lukisan. distabilkan terhadap gangguan.2. Merujuk pada Catatan ini. 3 4 5. Catatan merupakan salah satu syarat penting dalam mengklasifikasi barang. baik catatan bagian. gambar pastel. dan mempertahankannya pada nilai yang dikehendaki. Saringan udara untuk mesin diklasifikasikan pada pos berapa ? 5.1. 4.. kolase atau plakat hiasan semacam itu. Bagaimana pengklasifikasian motor untuk mobil mainan ? 4. dengan pengukuran nilai aktual secara konstan atau periodik. Bagaimana syarat komputer menurut Harmonized system pada Bab 84 ? 3. 3. Sebutkan 3 contoh barang termasuk bagian untuk pemakaian umum ? 2. Test Formatif . 5. bab maupun subpos yang bersifat mengikat. bab maupun subpos. Jawaban 2. barang cetakan atau litograf harus diklasifikasikan dengan barang tersebut. Latihan 3 Pertanyaan 1. asalkan dari jenis dan nilai yang wajar untuk barang tersebut. gambar.15 Bagian XXI Bab 97 catatan 5 5.faktor ini untuk. harus diklasifikasikan terpisah.3. bingkai yang bukan merupakan jenis atau nilai yang wajar untuk barang tersebut. Berbagai jenis barang akan dijelaskan dengan catatan dalam bagian. Apakah bingkai dan gambar yang sama mahal harganya diklasifikasikan dalam satu pos tarif ? 1. Bahkan dalam KUM HS nomor satu dinyatakan bahwa hal yang mengikat dalam mengklasifikasi barang adalah catatan.

S ) Pernyataan 2b pada KUM HS adalah Barang tidak lengkap atau tidak rampung dianggap sebagai barang lengkap atau rampung.S ) Judul Bagian. Bab dan Sub-bab pada Buku tarif Bea Masuk Indonesia hanya dimaksudkan untuk memudahkan penyebutan saja. Tidak mengikat secara hukum dalam mengklasifikasi 2. ( B .5. ( B . dengan bentuk atau kelengkapan khusus untuk menyimpan barang tertentu atau seperangkat barang tertentu.S ) Sebelum mengklasifikasi barang. Lingkarilah huruf B apabila pernyataan ini Saudara anggap benar dan huruf S apabila pernyataan Saudara anggap salah. harus diklasifikasikan dengan barang tersebut jika biasa dijual dengan barang itu 5.2. cocok untuk pemakaian jangka panjang dan diimpor lengkap dengan isinya.S ) Pernyataan 5b pada KUM HS adalah Peti kamera. peti instrumen dan tempat simpan yang semacam. asalkan pada saat diimpor sudah mempunyai sifat utama sebagai lengkap atau rampung barang 3. ( B . Dalam membuat Nota Penelitian Klasifikasi Barang maka diperlukan kerangka yang . 1.1. ( B . sebaiknya kita identifikasi dulu barang yang akan kita klasifikasi. ( B .S) Pernyataan 3a pada KUM HS adalah Pos yang memuat uraian yang paling terinci harus lebih diutamakan daripada pos yang memuat uraian yang lebih umum sifatnya 4. Dengan mengetahui spesifikasi barang maka akan lebih mendekati keakuratan dalam mengklasifikasi barang 5. Pilihlah jawaban yang Saudara anggap benar dengan cara melingkari huruf yang terdapat di depan jawaban tersebut 6.

berdasarkan KUM HS nomor : a. namun diklasifikasikan pada bab 22 dikarenakan KUM HS nomor : a. 3b d. 2b b. 2b d. Larutan dengan kandungan asam cuka (acetic acid) lebih dari 10 % dikeluarkan dari bab 22 berdasarkan catatan : a. 2a c. Tabung gas LPG yang berisi gas LPG tidak dapat diklasifikasikan menjadi stu pos tarif karena ketentuan menurut KUM HS nomor : a. bumbu. 3b b. Namun demikian nota tersebut setidak-tidaknya memuat tentang : a. 5b . Walalupun etil alkohol merupakan bahan kimia organik. 3a 10. Uraian klasifikasi mulai 2 digit sampai dengan 9 digit d. 3a c. 5a d. diklasifikasikan sebagai mie pada bab 19. 5a 8. saos dan bawang.singkat atau memerlukan uraian yang cukup panjang tergantung pada permasalahan yang dihadapi. pernyataan a. 3c c. Suatu kemasan mengandung mie. 1 b. nama barang dan uraian jenis barang b. ilustrasi d. esklusif c. definitif b.alasan atau catatan yang digunakan c. pengertian 9. b dan c benar 7.

Sebutkan alasannya 10. Benang tenun terbuat dari campuran 70 % kapas (cotton) dan 30 % nilon. Automatic voltage regulator yang digunakan sebagai stabilizer otomatis untuk komputer harus diklasifikasikan pada pos 85. Mengapa tutup kepala (topi) pengaman untuk pengendara sepeda motor yang terbuat dari bahan plastik tidak diklasifikasikan pada bab 39 ? 9. tidak dikelantang dan tidak dimerserisasi.3. Kunci Jawaban Tes Formatif 6. Mengapa olahan makanan yang terbuat dari daging sapi yang dikukus tidak diklasifikasikan pada bab 2 7. Mengapa sabun mandi mengandung obat pembasmi kuman walaupun mengandung obat tidak diklasifikasikan pada bab 30 sebagai produk farmasi.5.04 atau 90. Jawablah pertanyaan soal dibawah ini dengan ringkas 6.1. dari serat disisir dengan nomor benang 150 decitex. 8. Pilihan B atau S .32 . merupakan benang tunggal.Ketentuan dan catatan apa yang digunakan dalam mengklasifikasi barang tersebut 6.

1.2. B 6. Lihat catatan 6(b) Bab 90 Perhatikan sub-pos 5206. S 5. Lihat catatan 1 bab 16. Pilihlah berganda 1. Lihat catatan 1(e) Bab 30 3. a 5. b 4.000 2. S 3. d 6. Lihat catatan 1(n) Bab 39 4.50. Daging sapi hasil olahan sesuai bab 2 (pengolahan sementara/terbatas) diklasifikasikan pada bab 2. 7. d 2. B 4. c 3.3. B 2. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Bandingkanlah hasil jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang ada di .24. Lihat catatan 2(A) Bagian XI 5. Perhatikan pos tarif 1602. seperti dipanggang. Bentuk pengolahan bukan sederhana. dikukus dan pengolahan selain pada bab 2 diklasifikasikan pada bab 16. Essay Diberitahukan hanya 6 digitnya (sub posnya) 1.

.belakang modul ini. Arti tingkat penguasaan : * 90 % . Hitunglah jumlah jawaban Anda yang benar atau sejauh mana Anda menguasai mata pelajaran tersebut... Hasilnya Baik ! akan tetapi. terutama bagian yang belum Anda kuasai 8.. Anda harus mengulangi membaca Modul kembali. Wordl Customs Organization...100 % = Baik sekali * 80 % * 70 % * 89 % = Baik 79 % = Cukup 69 % = Kurang Kalau Anda mencapai tingkat penguasaan 80% keatas Anda dapat meneruskan kepada modul atau bagian pelajaran lain... Harmonized System. Kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap terhadap materi kegiatan belajar Rumus Tingkat Penguasaan Jumlah Jawaban Anda yang benar dibagi 15 kemudian dikali 100 % = ... bila tingkat penguasaan Anda masih dibawah 80 %.. Kepustakaan 1. 2007 version .

Explanatory Notes. World Customs Organization (1994) *** . Classification Disputes Settled by The Harmonized System Committee.2. World Customs Organization. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (2007). (1995) Pusdiklat Bea dan Cukai. Pengantar Klasifikasi Barang. Departemen Keuangan RI. Jakarta 5. 2007 4. Jakarta 3.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->