BAHAN DIKLAT TEKNIS SUBTANTIF DASAR (DTSD) KEPABEANAN DAN CUKAI

MODUL ( I – III)

MATERI KLASIFIKASI BARANG

OLEH : TIM PENYUSUN MODUL PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI

PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN BEA DAN CUKAI BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

JAKARTA 2007

MODUL I

SISTEM KLASIFIKASI BARANG MENURUT HARMONIZED SYSTEM

MATERI KLASIFIKASI BARANG OLEH : TIM PENYUSUN MODUL PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN BEA DAN CUKAI BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA JAKARTA 2007

Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Allah yang Maha Kuasa, bahwa Modul ini dapat diselesaikan sesuai waktunya.

Obyek dari kegiatan Direktorat Bea dan Cukai adalah barang. Dalam rangka penentapan tarif bea masuk dan kepentingan kepabeanan lainnya, seyogyanya petugas Ditjen Bea dan Cukai menambah keterampilam dalam mengklasifikasi barang agar pelayanan cepat dan negara tidak dirugikan dalam menetapkan besarnya bea masuk, karena ada kepastian tentang jenis barang dan penetapan tarif posnya.

Modul ini merupakan seri dari 3 buah modul mata pelajaran klasifikasi barang. Modul ini digunakan dalam Diklat Teksnis Substantif Dasar I Kepabeanan dan Cukai dengan judul “Catatan Penting dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia”

Dalam kesempatan ini, Penulis menghaturkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga dapat diselesaikannya Modul ini. Semoga Allah membalas atas amal kebaikan tersebut. Semoga Modul ini bermanfaat sebagai penambah wawasan dan media untuk penambah keterampilan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang.

Jakarta, Nopember 2007

Penulis

.. 1................2.............................................. i ii 1 1 1 1 2 2 5 5 6 6 22 23 24 24 32 32 33 36 37 38 2 3 5 6 7 8 ....... Umpan Balik.2.............. Latihan 1.............................................................................................DAFTAR ISI Halalaman Kata Pengantar ........................................................................... 4 KEGIATAN BELAJAR 3 CATATAN PENTING PADA BTBMI.......... Daftar Pustaka... 1............... 2................ 1 PENDAHULUAN .......................................................................2.. Contoh dan Non contoh... Latihan 3......... Contoh dan Non contoh......................................................... Rangkuman... Rangkuman......................................... 3.................................3............................................... Contoh dan Non contoh........................... 3......................................................................................................................................... KEGIATAN BELAJAR 2 STRUKTUR PENGELOMPOKAN BARANG PADA BTBMI......................................................................1...................... 1....... Latihan 2............................... 4................... Rangkuman.....................1 Uraian............ 3.......................................2..... Test Formatif ........... Daftar Isi ....Deskripsi singkat.................... 4..................................... KEGIATAN BELAJAR 1 JENIS CATATAN PADA BTBMI……………………………............................... 2.........3....................... 2....................................................1 Uraian.......... Tujuan Pembelajaran Umum....... Tujuan Pembelajaran Khusus..............................................3......1 Uraian........................................... 4........3................................. Kunci Jawaban ......................................

2. Seorang klasifikator harus memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang karena akan menentukan ketepatan dalam klasifikasi dalam Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang pada akhirnya menentukan ketepatan jumlah bea masuk dan pungutan impor lainnya yang harus dibayar. Identifikasi dan klasifikasi barang 2. Tujuan Instruksional Umum Setelah mempelajari modul ini. Deskripsi Singkat Seorang Pegawai Ditjen Bea dan Cukai harus menjadi seorang klasifikator dibidang kepabeanan Oleh karena itu.MODUL I KLASIFIKASI BARANG I. Tujuan Instruksional Khusus Setelah mempelajari Modul ini para siswa diharapkan dapat menjelaskan : 1. 1. PENDAHULUAN 1. 1. Harmonized System (HS) 3.1. para Siswa diharapkan mampu memahami landasan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang berdasarkan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI ) 2007. seorang klasifikator harus terlebih dahulu memahami pengetahuan barang dan pengetahuan mengenai klasifikasi barang.3. .

Keakuratan mengklasifikasi tergantung dari keakuratan dalam mengidentifikasi barang. kita harus tahu lebih dulu spesifikasi barang itu. Setelah kita mendapatkan seluruh informasi yang dibutuhkan melalui identifikasi barang. Langkah pertama dalam mengklasifikasi adalah apa yang akan diklasifikasikan. Cara seperti ini tidak akurat dan sering menyebabkan terjadinya kesalahan klasifikasi yang mengakibatkan negara dirugikan. KEGIATAN BELAJAR 1 IDENTIFIKASI DAN KLASIFIKASI BARANG 2. Diharapkan dengan menggunakan metode ini para siswa dapat dengan mudah mengklasifikasi barang. Sebelum mengklasifikasi suatu barang. Namun sekali lagi perlu diingat. Langkah ini dinamakan Identifikasi barang. Identifikasi dan Klasifikasi Barang Langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk dapat mengklasifikasi suatu barang dengan benar? Biasanya klasifikasi tersebut dilakukan dengan mencari langsung pos tarif yang dianggap sesuai. Informasi apa yang diperlukan untuk mengidentifikasi suatu barang dan darimana informasi tersebut diperoleh? Informasi yang diperlukan sebenarnya tergantung dari . baru diketahui bahwa informasi yang ada belum lengkap sehingga kita harus kembali melakukan identifikasi barang untuk memperoleh informasi yang diperlukan tersebut. Uraian. klasifikasi yang benar hanya dapat dilakukan apabila mengetahui jenis barang dan memahami aturanaturan mengklasifikasi dengan benar.2. Perlu diingat bahwa setelah melakukan tahap klasifikasi. Seorang klasifikaotr tidak mungkin dapat mengklasifikasikan suatu barang dengan benar bila ia tidak tahu spesifikasi barang tersebut. barulah kita dapat melakukan langkah kedua yaitu Klasifikasi barang.1.1. Contoh dan Non Contoh 2.1. Dalam buku ini akan dijelaskan dengan singkat langkah-langkah praktis dalam mengklasifikasi barang.

apa kegunaannya. Informasi yang diperlukan tentunya semakin banyak dan rumit. semakin akurat kita mengklasifikasikannya. semakin mudah bagi kita untuk mengklasifikasikan barang karena tidak dibutuhkan informasi yang terlalu rumit (misalnya. untuk tujuan olah raga. apakah bentuk asal atau preparat. bagaimana pengemasnya. . Bagaimana seandainya yang akan kita klasifikasikan adalah suatu bahan kimia? Barangkali sebelum mengklasifikasi kita memerlukan berbagai informasi mengenai barang kimia tersebut: apakah organik atau anorganik. Informasi lain dapat kita peroleh dari berbagai sumber di atas. butiran atau bongkahan. informasi yang diperlukan untuk mengklasifikasikan kuda hidup. hanyalah kuda bibit. Berapa watt dan voltage tenaga listrik yang dibutuhkan. Demikian juga apabila barang tersebut berupa barang elektronik. bagaimana bentuknya. dan sebagainya. misalnya apakah bentuknya cair atau padat. banyak sumber informasi yang dapat kita gunakan. atau kuda untuk sirkus). apa komposisinya. buatan. Fisik barang itu sendiri sudah memberikan beberapa informasi yang kita butuhkan. dan sebagainya. Semakin sederhana dan rinci uraian barang pada BTBMI. Semakin banyak informasi yang kita miliki tentang barang tersebut.uraian yang ada pada BTBMI yang berkaitan dengan barang bersangkutan. kegunaan. dan keterangan lainnya. Darimana kita dapat memperoleh informasi yang kita perlukan untuk mengklasifikasi suatu barang? bawah ini: Mari menjawab pertanyaan tesebut dengan memperhatikan bagan di Untuk mengetahui spesifikasi barang yang akan kita klasifikasikan.

DLL EXPL. NOTES ALPHABETI CAL INDEX. DATA BASE. KATALOG. setengah jadi. BROSUR. DLL HASIL PENGUJIAN LABORATORIUM LITERATUR LAIN IDENTIFIKASI KLASIFIKASI KONDISI FISIK BARANG LABEL. bahan yang dominan? .C/A. INSTANSI/LEMBAGA TERTENTU KAMUS. MSDS. campuran. kimia. DAN LAIN LAIN. Identifikasi barang diperlukan untuk menjawab setidak-tidaknya empat pertanyaan dasar di bawah ini: • What is it? Barang apa yang diimpor? ⇒ bahan baku. atau barang jadi? produk pertanian. mesin? • What is it made of? Dibuat dari apa barang tersebut? ⇒ komposisi. KEMASAN INFORMASI DARI SUMBER LAIN: SK. elektronik.

Langkah-Langkah Dalam Mengklasifikasi Barang 1) Prosedur Umum Klasifikasi Dalam mengklasifikasi barang menggunakan BTBMI. Keterangan pabrik atau produsen barang perlu diperhatikan. Kalau dari pabrik farmasi kecenderungannya grade farmasi atau kemurnian mendekati 100 %. setelah 3W + 1H ⇒ What are the classifiable codes? Mengapa “What are classifiable codes?” (pos-pos. barulah kita berusaha mencari pos yang tepat.• What for? Digunakan untuk apa? ⇒ kegunaan tertentu. 2. bukan satu pos tertentu?). fungsi. misalnya apakah pabrik farmasi atau pabrik produksi pipa plastik. bagian dari barang lain.1. lebh dari satu macam kegunaan? • How is it imported? Bagaimana saat diimpor? ⇒ kemasan? belum lengkap? terurai? dalam bentuk set? Pertanyaan di atas harus dijawab sebelum kita memulai tahap klasifikasi. Keterangan kemurnian barang akan berkaitan dengan harga barang tersebut. mempelajari jenis.2. Hal ini untuk mengetahui grade atau kemurnian dari bahan tersebut. . aksesoris. Untuk itu kita perlu mengantisipasi semua pos tarif yang mungkin untuk dipilih satu pos yang paling sesuai. Demikian juga negara asal barang akan berpengaruh terhadap mutu atau harga barang. merumuskan identitas atau deskripsi barang tersebut. prosedur yang digunakan adalah sebagai berikut : • • • identifikasi barang yang akan diklasifikasikan. Namun pada umumnya suatu pos mencakup atau menguraikan satu kelompok barang sehingga sepintas lalu seakan-akan ada satu barang yang dicakup oleh dua atau lebih pos. dari jenis pabrik apa. Kita dapat menemukan satu pos tertentu bila pos dimaksud dengan spesifik menguraikan jenis barangnya. Apabila kita sudah mempunyai jawaban. Dengan kata lain. bahan baku dan semua informasi mengenai barang.

kimia. (b) Pilih bab atau bab-bab yang berkaitan dengan spesifikasi barang tersebut. misalnya barang tersebut produk pertanian. (a) Kita identifikasi dulu barang yang akan kita klasifikasi. barang kimia. baca dan perhatikan baik-baik catatan Bagian dan catatan Bab yang berkaitan dengan pilihan bab atau bab-bab pada butir 1. biasanya kita sudah mempunyai gambaran umum apakah barang tersebut diklasifikasikan di bab tersebut atau di bab lainnya. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. Bab. mesin. dan seterusnya). menentukan klasifikasi barang ke dalam BTBMI (dapat dimulai baik dari segi bahan baku menjadi barang jadi. maka kita mulai menelusuri pos-pos yang mungkin mencakup barang yang akan kita klasifikasikan dalam bab tersebut. Pada tahap ini. (d) Setelah menemukan satu bab yang paling sesuai berdasarkan kajian di atas. Identitas barang meliputi : nama. kita bisa memilih bab-bab yang lebih spesifik. Apabila ada catatan yang mengeluarkan barang tersebut dari Bab atau Bagian yang kita pilih. Tahapan lebih rinci akan dijelaskan kemudian setelah memahami apa itu Harmonized System. (c) Perhatikan penjelasan-penjelasan dalam catatan Bagian maupun catatan Bab yang berkaitan dengan barang yang akan kita klasifikasi. atau mesin. 2). kemasan dan informasi lain yang bergunauntuk mengklasifikasi barang. guna. pertanian. proses sederhana dan proses canggih/kompleks. fungsi. Pada tahap ini kadang-kadang kita sudah dapat . Tahapan Mengklasifikasi Barang Dalam penjelasan ini disajikan tahapan mengklasifikasi barang secara garis besar. mineral. Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System dan teori pendukung lainnya. berat. perhatikan pada Bagian. atau pos mana barang tersebut diklasifikasikan. bauatan.• • melihat buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI). Dengan mengetahui spesifikasi barang. Bila sudah kita tentukan.

maka langkah selanjutnya tinggal menentukan sub-pos (6-digit) dan pos tarif (9-digit) yang sesuai. . Ingat. 3. bentuk asal atau preparat. Dalam tahap ini tentunya menggunakan kaidah-kaidah seperti yang ada dalam nomor 1 sampai dengan 10 Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System (e) Apabila sudah dipilih satu pos tarif yang benar-benar sesuai dengan uraian barang.. Mengapa kita harus mengidentifikasi barang sebelum mengklasifikasinya ? 2. Bagaimana seandainya yang akan kita klasifikasikan adalah suatu bahan kimia? Sebelum mengklasifikasi kita memerlukan identifikasi untuk mendapatkan informasi mengenai: : organik atau anorganik. dan lain-lain. PPnBM. Karena pembebanan tersebut sering berubah. Bila akan diimpor sebuah pompa air yang menggunakan tenaga listrk. Jawaban 2. Rangkuman Dalam kegiatan 1 telah dijelaskan dengan singkat langkah-langkah praktis dalam mengklasifikasi barang. IP. Latihan 1 Pertanyaan 1. PPN. dalam penentuan sub-pos dan pos tarif pun kadang timbul permasalahan klasifikasi yang sama dengan penentuan pos (4-digit).3. dan sebagainya. Pertamina. Bagaimana langkah-langkah dalam meng klasifi kasi barang ? 3. atau cukai) dan ada atau tidak peraturan tata niaganya (IT. data apa yang diperlukan mengenai pompa tersebut ? 1. 2.). 2. bentuknya.menemukan pos yang mencakup barang tersebut dengan rinci. komposisinya. Bila sudah kita temukan satu pos yang tepat. jangan lupa selalu menggunakan pembebanan yang up to date berdasarkan ketentuan yang terbaru. langkah selanjutnya adalah melihat pembebanannya (BM. kegunaannya.2.

1. Sistem Brussel (Brussel Tariff Nomenclature atau BTN). yaitu : a. Penetapan tarif ini merupakan penyempurnaan dari penetapan tarif sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 Juli 1975 sampai dengan 30 september 1980. 5) menentukan klasifikasi barang 3. 2) mempelajari jenis. HARMONIZED SYSTEM 3. prosedur yang digunakan adalah sebagai berikut : 1) identifikasi barang. Indonesia telah menggunakan beberapa sistem klasifikasi untuk barang impor. d. Sejarah Sistem Klasifikasi di Indonesia Sebelum diberlakukannya Harmonized System. 4 melihat BTBMI . Uraian. KEGIATAN BELAJAR 2.1. Sistem Jenewa (Geneve Nomenclature). Pada saat ini sistem pengklasifikasian barang di Indonesia didasarkan pada Harmonized System dan dituangkan dalam bentuk suatu daftar tarif yang kita kenal dengan sebutan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia.Dalam mengklasifikasi barang menggunakan BTBMI. mulai berlaku sejak tanggal 1 Januari 1973 sampai dengan 30 Juni 1975. Pada dasarnya sistem pentarifan ini sama dengan sistem sebelumnya. 1. Berdasarkan pasal 14 ayat 2 Undang-undang Kepabenan Indonesia Nomor 10 tahun 1995. Sistem Brussel Edisi 1975 (BTN 1975). fungsi. hanya pada sistem CCCN ini terdapat . pengangkutan dan statistik. b.1. c. 3) merumuskan identitas. penetapan klasifikasi barang diatur lebih lanjut oleh Menteri Keuangan. bahan baku dan semua informasi mengenai barang. yang berlaku sejak kemerdekaan Republik Indonesia sampai dengan 31 Desember 1972. Sistem Customs Cooperation Council (CCCN). Pengantar Klasifikasi barang adalah suatu daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis dengan tujuan untuk mempermudah pentarifan transaksi perdagangan. Contoh dan Non Contoh 3.

Untuk memberikan kekuatan hukum yang pasti. pengangkutan. dan negosiasi perdagangan. kelompok studi tersebut berhasil menyusun suatu nomenklatur (daftar klasifikasi barang berdasarkan kelompok-kelompok) yang dinamakan Harmonized Commodity Description and Coding System atau lebih dikenal dengan sebutan Harmonized System (HS). Namun sekarang hampir seluruh negara di dunia telah meratifikasi konvensi ini.penyempurnaan sistem penomoran pada sub-pos dari dua digit menjadi tiga digit atau semula 6 digit menjadi 7 digit. nomenklatur tersebut disahkan dalam suatu konvensi yang dikenal dengan nama Konvensi HS. 26 tahun 1988 dan diwujudkan dalam bentuk Buku Tarif Bea Masuk Indonesia 1989 dan dinyatakan berlaku mulai tanggal 1 Januari 1989. 2. konvensi HS ditandatangani oleh 70 negara yang sebagian besar adalah negara Eropa. Pada awalnya. Mengapa HS ? Sejak tahun 1970. Sistem ini merupakan penyempurnaan dari sistem CCCN sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 April 1987 sampai dengan 31 desember 1988. sebenarnya Indonesia telah menggunakan BTBMI berdasarkan HS sejak tanggal 1 Januari 1989. Sistem CCCN Edisi 1985 (CCCN 1985). . Sistem CCCN ini mulai diberlakukan pada tanggal 1 Oktober 1980 sampai dengan 31 Maret 1985. Customs Cooperation Council (CCC) yang sekarang dikenal dengan nama World Customs Organisation (Organisasi Pabean Dunia) telah membentuk suatu kelompok studi yang berusaha untuk menciptakan suatu nomenklatur klasifikasi barang yang tidak semata-mata untuk keperluan pabean. Pada akhir tahun 1986. f. Sistem Harmonisasi (Harmonized System). Meskipun baru meratifikasi pada tahun 1993. e. termasuk Indonesia yang telah meratifikasi konvensi HS dengan Keppres Nomor 35 tahun 1993. tetapi juga digunakan untuk kepentingan lain seperti statistik. Sistem ini diterapkan di Indonesia berdasarkan PP No.

untuk penetapan Tarif Pabean secara mendunia. HS menggunakan dasar yang seragam untuk keperluan pentarifan secara internasional. 5. seperti tarif pengangkutan. produsen. • Memudahkan pengumpulan. Tujuan Harmonized System Adanya perbedaan sistem klasifikasi tarif antara negara di dunia.1. untuk memberikan perhatian kepada perkembangan teknologi dan masyarakat industri serta pola perdagangan Internasional. 4. pembuatan dan analisis Statistik perdagangan dunia. Merupakan kumpulan data yang seragam secara internasional sehingga dapat digunakan untuk mendukung analisis dan statistik perdagangan internasional.2. 2. . dokumentasi dan sebagainya. perkembangan masyarakat industri dan pola perdagangan Internasional. • Memperbaharui sistem klasifikasi barang sebelumnya. Mengapa HS dijadikan dasar klasifikasi secara internasional? Ada beberapa keuntungan yang didapat setiap negara yang mengadopsi HS sebagai pedoman klasifikasi barang. • Memberikan Sistem Internasional yang resmi untuk pemberian Kode. Menyadari hal yang demikian WCO pada tanggal 14 Juni 1983 meluncurkan HS yang mulai berlaku secara internasional pada tanggal 1 Januari 1988. Menggunakan “bahasa pabean” sehingga dapat dengan mudah dimengerti oleh importir. Sederhana dan memberikan kepastian dalam hal aplikasi dan interpretasi yang benar dan sama untuk keperluan negosiasi. pengangkut. dan aparat bea dan cukai. HS adalah pedoman klasifikasi yang sistematik untuk seluruh barang yang diperdagangkan secara internasional.3. Pen jelasan dan penggolongan barang untuk tujuan perdagangan keperluan pengangkutan. 3. yaitu: 1. dengan tujuan : • Memberikan keseragaman dalam daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis. eksportir. mengakibatkan timbulnya kesulitan dalam mengantisipasi kemajuan teknologi.

misalnya: a. Volume 2 (Bab 30.HS telah dibuat sedemikian rupa sehingga standard klasifikasi barang dan sistem kode penomoran barang dapat dijadikan acuan untuk berbagai kebutuhan oleh berbagai lembaga internasional yang berkaitan dengan perdagangan. The International Chamber or Shipping (ICS). Publikasi-publikasi tersebut juga diterbitkan oleh WCO. Untuk itu membaca Explanatory Notes harus selalu disesuaikan dengan konteksnya dalam HS. The Explanatory Notes to the Harmonized System (EN) Explanatory Notes bukan merupakan bagian yang integral dari HS. e. 1 (Bab 1 . Publikasi dimaksud adalah: 1. sebagian negara anggota WCO mensahkannya sebagai dokumen yang berkekuatan hukum Seiring perkembangan teknologi.97).84).3 Publikasi Pelengkap HS Harmonized System mempunyai beberapa publikasi pelengkap yang digunakan untuk lebih mempermudah klasifikasi barang. c. World Customs Organization (WCO). The International Union Railway (IUR). namun sebagaimana disetujui WCO. . Explanatory Notes adalah referensi yang sangat diperlukan untuk mendapatkan interpretasi yang benar dari HS. The Standard International Trade Classificatioan (SITC) 3. b. Karena pentingnya Explanatory Notes ini.1. dan Volume 4 (Bab 85 . The International Air Transport Association (IATA). Volume 3 (Bab 64 .29).63). Explanatory Notes juga mengalami perubahan (amandemen) untuk menyesuaikan isinya dengan struktur HS. d. explanatory notes merupakan interpretasi resmi (official interpretation) dari HS pada level internasional dan merupakan pelengkap yang sangat penting dari HS. yaitu Vol. Explanatory Notes yang digunakan saat ini adalah edisi kedua (tahun 1996) yang terdiri dari empat volume.

Dispute Settled Classification Opinion. dan Correlation Tables.1.2. Masing-masing negara penandatangan konvensi (contracting party) dapat mengembangkan penggolongan 6-digit tersebut menjadi kelompok yang lebih spesifik sesuai dengan kebijaksanaan ekonomi dan industrinya. dan Catatan Sub-Pos. WCO juga menerbitkan buku indeks yang dikenal dengan nama the Alphabetical Index. yaitu: 1. 3. bersama dengan Ketentuan Umum Menginterpretasi. merupakan pedoman mengklasifikasi barang yang sistematik dan seragam.Z). Multipurpose nomenclature HS yang mempunyai 6 digit penggolongan. statistik. Dengan tetap berdasar kepada HS 6-digit. Ada tiga Bab yang belum digunakan dalam HS yang ada saat ini. Structured nomenclature HS adalah nomenklatur yang terdiri dari 21 Bagian. yaitu Volume I (A . Catatan Bagian. yaitu Bab 77.241 pos. 2. 98. semua negara mempunyai kesatuan persepsi tentang pengklasifikasian suatu barang. dan sebagainya. pengangkutan. Publikasi lain yang merupakan pelengkap HS adalah the Compendium of Classification Opinions. namun juga dipergunakan secara internasional dalam bidang lain seperti negosiasi perdagangan. the Training Modules. Catatan Bab.L) dan Volume II (M . 3. the Harmonized System Commodity Data Base (dalam bentuk CD-ROM). Alphabetical Index terdiri dari dua volume. 96 Bab (+ Bab 77). dan . Sistem Pengkodean Harmonized System mempunyai dua karakteristik yang sangat mendasar. dan 1. The Alphabetical Index Untuk mempermudah mengklasifikasikan suatu barang pada pos-pos atau sub-sub pos dalam nomenklatur HS atau Explanatory Notes.4. dirancang tidak hanya untuk keperluan kepabeanan. HS yang tersusun dari pos dan sub-pos.

Pos (4-digit) dan Sub-pos (6-digit) yang disusun dengan sistematik. Pada contoh di atas. Seperti telah disinggung sebelumnya. • Empat angka pertama menunjukkan Pos atau Heading dalam setiap bab. c. HS menggunakan kode nomor dalam mengklasifikasikan barang. 11 _______ ______________ • Dua angka pertama untuk menunjukkan pada bab mana barang itu diklasifikasikan. dan sub-pos (6-digit) dengan penjelasan sebagai berikut: 01 __ 01 11 Bab (Chapter) 1 Pos (Heading) 01. Bab 77 dipersiapkan untuk keperluan di masa mendatang. Catatan Bagian. dan Catatan Sub-Pos. yaitu: a. barang dimaksud diklasifikasikan pada Bab 1. Mengingat pentingnya memahami KUM HS. KUM HS berisi enam prinsip dasar yang harus dipatuhi dalam mengklasifikasi barang. Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System (KUM HS) merupakan bagian terpenting yang harus dipahami sebelum melangkah lebih jauh untuk meng klasifikasikan barang menggunakan HS. 01 Sub-pos (Sub-heading) 0101. misalnya untuk barang pos atau peralatan pelayaran.99. pos (4-digit). barang dimaksud diklasifikasikan pada pos 01.01. . b. Sistem penomoran dalam HS terbagi menjadi Bab (2-digit). Indonesia juga menggunakan Bab 98 untuk keperluan ekspor barang tertentu yang pada bulan April 1999 dicabut kembali. sedangkan Bab 98 dan 99 digunakan untuk keperluan khusus bagi masing-masing contracting party. bagian ini akan dibahas tersendiri. Harmonized System mempunyai tiga bagian utama atau integral. Pada contoh di atas. Kode-kode nomor tersebut mencakup uraian barang yang tersusun secara sistematis. Catatan Bab. Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System (General Rules for the Interpretation of the HS).

barang dimaksud diklasifikasikan pada sub-pos 0101. mengakibatkan timbulnya kesulitan dalam mengantisipasi kemajuan teknologi. Untuk keperluan nasional. System ? 2. Pada saat ini sistem pengklasifikasian barang di Indonesia didasarkan pada Harmonized System dan dituangkan dalam bentuk suatu daftar tarif yang kita kenal dengan sebutan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. Indonesia menggunakan sistem penomoran 10 digit dalam BTBMI yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari sub-sub pos dalam HS. Berdasarkan pasal 14 ayat 2 Undang-undang Kepabenan Indonesia Nomor 10 tahun 1995.2.• Enam angka pertama menunjukkan Sub Pos dalam setiap Pos. 3. Kode-kode nomor tersebut mencakup uraian barang yang tersusun secara sistematis. Perbedaan sistem klasifikasi tarif antara negara di dunia. System ? Jawaban 3. . Penjelasan mengenai hal ini akan dibahas lebih rinci pada penjelasan berikutnya. pengangkutan dan statistik. Pada contoh di atas. HS menggunakan kode nomor dalam mengklasifikasikan barang. Untuk keperluan nasional.Latihan 3 Pertanyaan 1. 3. perkembangan masyarakat industri dan pola perdagangan Internasional.3. Rangkuman Klasifikasi barang adalah suatu daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis dengan tujuan untuk mempermudah pentarifan transaksi perdagangan. Bagaimana sistem penomoran Harmonized 3. WCO meluncurkan HS yang mulai berlaku secara internasional pada tanggal 1 Januari 1988. Apa yang dimaksud dengan Harmonized 1. Indonesia menggunakan sistem penomoran 10 digit dalam BTBMI yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari sub-sub pos dalam HS. Apa tujuan Harmnized System 2.11.

penetapan klasifikasi barang ditentukan oleh Menteri Keuangan. Pemerintah menerbitkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor : 440/KMK. b.1.4. yang kemudian dikenal dengan nama Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan saat ini telah diamandemend dengan UU no. Contoh dan Non Contoh 4. Selanjutnya berdasarkan pasal 14 ayat 2 Undang-undang tersebut. Sebagai .1.1. Pengurangan hambatan dalam perdagangan Internasional guna mendukung terciptanya perdagangan bebas. d. barang barang dikelompokkan berdasarkan sistem klasifikasi sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 1993 tentang Pengesahan International Convention The Harmonized Commodity Description and Coding System beserta protocol-nya”. Dasar Hukum Pada akhir tahun 1995. Perlindungan terhadap konsumen dalam negeri. KEGIATAN BELAJAR 3 BUKU TARIF BEA MASUK INDONESIA 4. 17 tahun 2006 . yang sebelumnya dikenal dengan nama Customs Cooperation Council sejak tanggal 30 April 1957. Indonesia telah menjadi anggota World Customs Organization. c. Uraian. Pemenuhan perjanjian serta kesepakatan Internasional. Pengaturan lebih lanjut penentuan klasifikasi barang dilakukan dengan memperhatikan: a. barang dikelompokkan berdasarkan sistem klasifikasi barang”. Pemerintah bersama Dewan Perwakilan Rakyat telah berhasil membahas dan menyetujui Rancangan Undang-Undang Kepabeanan. Dalam Pasal 1 Keputusan ini disebutkan “Untuk penetapan tarif Bea Masuk.05/1996 tanggal 21 Juni 1996 tentang Penetapan Sistem Klasifikasi Barang dan Besarnya Tarif Bea Masuk Atas Barang Impor. Atas dasar pertimbangan di atas. Upaya peningkatan daya saing produk Indonesia dipasar Internasional. Pasal 14 ayat (1) UndangUndang ini menyebutkan bahwa “Untuk penetapan tarif Bea Masuk.

Penyempurnan Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 1988 tentang Perubahan dan Tambahan atas Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1969 tentang Pembebasan atas Impor dan Perubahan atas Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 1986 tentang Bea Masuk Tambahan Atas Barang Impor.01/1995 di atas selanjutnya dijabarkan dalam bentuk penerbitan BTBMI edisi tahun 1996. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 639/KMK. Dasar penetapan besarnya tarif bea masuk (bea masuk tambahan dilebur bersama bea masuk) untuk barang bersangkutan. BTBMI terakhir dengan BTBMI tahun 2007 menggunakan HS . Indonesia telah menunjukkan peran serta yang aktif dalam kegiatan WCO dan telah banyak menarik manfaat dari organisasi ini. 2.05/1994 tanggal 16 Maret 1994 telah ditetapkan bahwa terhitung sejak 1 April 1994 . yang semula mempergunakan HS versi 1992. Berdasarkan keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 35 tahun 1993. World Customs Organization telah mengesahkan amandemen lampiran konvensi. telah diterima oleh Indonesia. Pemerintah pada tanggal 29 Desember 1995 telah mengeluarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 639/KMK.anggota WCO. Menindaklanjuti adanya amandemen HS 1996 tersebut. struktur Klasifikasi barang dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI) mengacu kepada sistem klasifikasi dari HS Convention. Berdasarkan Artikel XVI HS Convention. Indonesia telah menjadi Contracting Party dari “International Convention on the Harmonized Commodity Description and Coding Sistem”. Berbagai bantuan teknis dalam rangka menunjang kelancaran pelaksanaan sistem dan prosedur kepabeanan Internasional. 3. berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 81/KMK. 01/1995 yang merupakan: 1. Sebagai tindak lanjutnya . menjadi “HS versi 1996”. Dasar penggunaan sistem klasifikasi barang berdasarkan HS versi 1996. Hingga saat ini BTBMI 1996 dimaksud telah beberapa kali diubah atau direvisi sesuai dengan perkembangan kebijaksanaan nasional.

Kolom kedua adalah kolom “Uraian Barang” dalam bahasa Indonesia yang disusun dengan pola sebagai berikut: 1) Uraian barang pada pos (4 digit) dan subpos (6 digit) merupakan terjemahan dari teks HS-WCO.00 ) berasal dari teks AHTN. BTBMI adalah buku tarif bea masuk yang digunakan di Indonesia semenjak 1989 yaitu. 4.2. b. Kolom : a. kecuali: ♦ yang 2 digit terakhirnya 00 ( misalnya 8709. 3) 10 (sepuluh) digit merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia. beberapa tahun sebelum Indonesia meratifikasi HS Convention dan saat ini yang berlaku adalah BTBMI 2007 berdasarkan AHTN. 2) 8 (delapan) digit berasal dari teks AHTN.00 ) berasal dari teks HS – WCO.00.00 ( misalnya 8709. . BTBMI tidak lain adalah HS yang dimodifikasi atau dijabarkan lebih lanjut untuk digunakan dalam pentarifan dan penanganan barang impor ke Indonesia.21.11. Kolom pertama adalah kolom “Pos/Subpos/Pos Tarif” yang mencantumkan nomor pos/subpos sebagai berikut : 1) 4 (empat) dan 6 (enam) digit pertama berasal dari teks Harmonized System-World Customs Organization (HS-WCO).ver 2007 berdasarkan AHTN. ♦ yang 4 digit terakhirnya 00. Struktur BTBMI Pada bab terdahulu kita telah mempelajari gambaran umum tentang Harmonized System. 6 (enam) dan 10 (sepuluh) digit pada bab 98 merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia. 4) 4 (empat). Sekarang kta akan mempelajari tentang BTBMI. mempunyai struktur sebagai berikut: BTBMI 1.10.1.

00. Kolom ketiga adalah kolom “Description of Goods” dalam bahasa Inggris yang disusun dengan pola sebagai berikut : 1) Uraian barang pos (4 digit) dan subpos (6 digit) merupakan teks HS-WCO dalam bahasa Inggris. ♦ yang 4 digit terakhirnya 00.2) Uraian barang pada subpos ASEAN (8 digit) merupakan terjemahan dari teks AHTN. .00.01/2003 tanggal 18 Desember 2003. 3) Uraian barang pada pos tarif nasional (10 digit) merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia. Kolom keempat adalah kolom “Bea Masuk Umum” yang mencantumkan pembebanan tarif bea masuk atas barang impor berlaku umum berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 547/KMK. 4) Khusus uraian barang dalam bab 98 merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia.00 ( misalnya 8709. 2) Uraian barang pada subpos ASEAN (8 digit) merupakan teks AHTN dalam bahasa Inggris.11.00 ) berasal dari teks HS – WCO.21.00 ) merupakan teks asli HS – WCO. kecuali : ♦ yang 2 digit terakhirnya 00 ( misalnya 8709. Kolom kelima adalah kolom “Bea Masuk CEPT” yang mencantumkan pembebanan tarif bea masuk yang berlaku untuk impor barang dari negara-negara ASEAN dalam rangka Skema CEPT berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 546/KMK.00 ) berasal dari teks AHTN. e.21.00 ) merupakan teks AHTN.11.01/2003 tanggal 18 Desember 2003. kecuali: ♦ yang 2 digit terakhirnya 00 ( misalnya 8709.10. 3) Uraian barang pada pos tarif nasional (10 digit) merupakan terjemahan dari teks bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris.10. 4) Khusus uraian barang dalam bab 98 merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia. ♦ yang 4 digit terakhirnya 00. c. d.00 ( misalnya 8709.

g. PPnBM dan pemberlakuan . Kolom keenam adalah kolom “PPN” yang mencantumkan pembebanan tarif PPN berdasarkan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000. Kolom kesembilan adalah kolom “Keterangan” yang disediakan untuk mencantumkan keterangan tambahan yang dianggap perlu dan ketentuan lain yang belum ditampung pada kolom-kolom sebelumnya. 3.05. serta ketentuan instansi teknis lainnya. Kolom ketujuh adalah kolom “PPnBM” yang mencantumkan pembebanan tarif PPnBM yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 569/KMK. Pencantuman tanda asterisk (*) pada kolom pembebanan tarif ditujukan untuk halhal sebagai berikut : a. “PPnBM” dan “Larangan/Pembatasan” berarti pengenaan PPN. Tanda strip (-) pada kolom Bea Masuk CEPT berarti komoditi pada pos tarif bersangkutan tidak termasuk dalam skema CEPT. Tanda strip (-) pada kolom PPN atau PPnBM berarti komoditi pada pos tariff bersangkutan tidak dikenakan pembebanan PPN atau PPnBM. Pencantuman tanda satu asterisk (*) pada kolom “Bea Masuk Umum” berarti pembebanan impornya mengikuti tarif pada pos tarif 87.f.01 sampai dengan 87. Pencantuman tanda strip (-) pada kolom pembebanan tarif ditujukan untuk hal-hal sebagai berikut : a.04/2000 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 39/KMK. Kolom kedelapan adalah kolom “Larangan/Pembatasan” yang mencantumkan ketentuan larangan atau pembatasan barang impor berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 230/MPP/KEP/7/1997 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 62/MPP/KEP/02/2001 dan tata niaga impor dan peredaran bahan berbahaya tertentu ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 254/MPP/KEP/7/2000. h. b.04/2000 dan Nomor 570/KMK. Pencantuman tanda satu asterisk (*) pada kolom “PPN”. i.03/2003 tanggal 11 Agustus 2003.03/2003 tanggal 28 Januari 2003 dan Nomor 355/KMK. b. 2.

4. Kode Penomoran dan Pentakikan 1.1.).00. 2 digit selanjutnya mengacu kepada AHTN dan 2 digit terakhir adalah pecahan pos tarif nasional. perhatikan contoh berikut: 0705. 19 dan 20. PTNI (Peraturan Tata Niaga Impor) ditetapkan oleh Menteri Perindustrian dan Perdagangan.ketentuan larangan/pembatasan berlaku hanya terhadap sebagian jenis barang atau sebagian kelompok barang dalam pos tarif bersangkutan. (2) Empat digit pertama (0705) menunjukkan Pos. dan PPnBM ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Perlu diingat bahwa selain BM yang tercantum dalam BTBMI.00 Selada kubis (selada bongkahan) (1) Dua digit pertama (07) menunjukkan Bab. Nomor Pos tarif (10-digit) dan uraiannya. Apabila terdapat keraguan dalam menginterpretasikan teks yang tercantum dalam Catatan Penjelasan Tambahan (SEN). Pos 07. Bea Masuk Anti Dumping berlaku di Indonesia sejak tanggal 1 April 1996 berlandaskan Undang-Undang Nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan sesuai pasal 18. segar atau dingin. akar dan bonggol tertentu yang dapat dimakan. besarnya BM. PPN.11.3. Sistem Penomoran Sistem penomoran klasifikasi dalam BTBMI menggunakan 10-digit dengan susunan 6 digit pertama mengacu pada konvensi HS. 4 Catatan Penjelasan Tambahan (SEN) merupakan pedoman dalam menginterpretasikan pengertian maupun istilah teknis barang yang tercantum dalam Subpos pos tarif tertentu.05: Selada (Lactuca sativa) dan chicory (Chicorium spp. . maka yang mengikat secara hukum adalah teks asli SEN dalam bahasa Inggris. terdapat juga BM Anti Dumping yang ditetapkan tersendiri oleh Menteri Keuangan. Bab 07 : Sayuran. Untuk memahami sistem penomoran tersebut.

maka digunakan pemecahan menggunakan tiga takik pada digit 9 dan 10. Penggunaan satu takik (-) dimulai pada uraian Sub-pos (6-digit).10 dipecah menjadi 0705. Apabila pos tarif 0705.00) menunjukkan Pos Tarif 0705. HS/BTBMI juga menggunakan sistem takik (dash.10 tidak dicantumkan karena sub-pos tersebut dipecah lagi menjadi sub-pos 0705. -) untuk mengklasifikasi barang. demikian seterusnya sehingga diperoleh pengelompokan barang yang lebih rinci.11 dipecah lagi menjadi pos tarif yang lebih rinci. dengan penjelasan sebagai berikut: a..10: . khusus untuk negara Indonesia..11.11.(3) Enam digit pertama (0705.-). Sistem Takik Selain menggunakan sistem nomor. Bila uraian pada butir c dipecah lagi.). d.Selada * Ingat. c. 0705. 0705.00 -. Sub-pos 0705.00 : .11 dan 0705 19. Pos (4-digit) tidak diberi takik. digunakan dua takik (.Selada (4) Sepuluh digit pertama (0705.-).000): 07.10 .10) menunjukkan Sub-pos yaitu selada. b. Di bawah ini disajikan contoh sistem takik dengan menggunakan contoh yang sudah ada (pos tarif 0705.00.19.Selada kubis (selada bongkolan).19: 0705.Lain-lain) 2. segar atau dingin).11.05 Selada (Lactuca sativa) dan chicory (Chicorium spp. digunakan tiga takik (.00.11 dan 0705. misalnya : . dalam HS/BTBMI sub-pos 0705. Bila uraian pada butir b dipecah.00.

10. contoh : • sub-pos 0705.00 .07 (Ketimun dan ketimun acar.barang tertentu B atau barang tertentu A .20. yaitu barang tertentu A . 20. yaitu barang tertentu dan lain-lain. dalam bentuk asal.selada) karena sub-pos tersebut dipecah lebih lanjut menjadi 0705.11 dan 0705.. Kedua jenis barang tersebut dapat dipecah kembali lagi menjadi dua kelompok di atas (barang tertentu dan lain-lain) yang lebih spesifik..00..barang lainnya (lain-lain).10 ..11.barang tertentu B : Pos 07. maka : 0705.10. sub-pos. 30.. • Pemecahan pos tarif (10-digit) juga mengikuti pola di atas. Contoh: Barang tertentu A . Pos 07.11.01 --Polimer dari etilena. maupun pos tarif) dibagi atau dirinci dengan dua cara.01 (Kentang. • Dalam HS/BTBMI hanya ada dua jenis barang. 80. • Setiap kelompok barang di atas (baik dalam pos. dalam BTBMI tidak dicantumkan (hanya dicantumkan uraian barangnya yaitu: .00 . segar atau dingin) dibagi menjadi ketimun dan ketimun acar saja..19. segar atau dingin) dibagi menjadi bibit dan lain-lain. Barang tertentu A .11. Mari kita lihat contoh berikut: 39. • Bila pos dipecah menjadi sub-sub pos.Segar 0705.00.Segar 0705. .... Barang tertentu mempunyai kode 10..Dingin Namun apabila ASEAN misalnya akan membagi dari subpos 0705..11.Dingin Perlu diperhatikan bahwa kadang-kadang nomor sub-pos atau pos tarif yang dipecah lebih lanjut tidak dicantumkan secara eksplisit dalam BTBMI.barang lainnya (lain-lain).0705.20 .11. . perhatikan digit kelima dan keenam.

10.Lain-lain --Cair atau pasta --Bentuk lain : 3901. berfungsi untuk menampung barang yang belum disebut pada uraian jenis barang sebelumnya.00 --.00 --. 30. 92..30. • Barang tertentu mempunyai kode 10.Polietilena berat jenis kurang dari 0.. 19. digunakan digit kesembilan. perhatikan hal-hal berikut ini: • • • bandingkan kelompok barang “lain-lain” dimaksud dengan kelompok barang yang setara.Digunakan dalam pembuatan kabel telepon atau kabel listrik 3901.00 --.00 3901. .4.3901.10. .10. 12. 4. Pos.00 3901.22. bandingkan dengan uraian .10. .10. Arti kata “lain-lain” Dalam klasifikasi BTBMI dengan sistem HS kata “Lain-lain”. Sub-Pos dan Pos Tarif Nasional Untuk dapat memahami arti kata “Lain-lain” . yaitu menjadi 11.10..10.00 -. 99.10 3901. • Bila kode 10 dipecah lagi menjadi lebih rinci..23.99.Dalam bentuk padat -.00 3901.21..10.91.1...Lain-lain Untuk pemecahan pos tarif. Kata “lain-lain” terdapat pada Bab. bandingkan dengan uraian barang pada bab-bab terdahulu. • Barang lainnya (lain-lain) diberi kode 90.perhatikan dua digit terakhir.Mutu farmasi --.. apabila kata “lain-lain” dimaksud terdapat pada bab.29.. 20.00 --.Lain-lain. digunakan dalam pembuatan kabel telepon atau kabel listrik 3901. apabila kata “lain-lain” dimaksud terdapat pada pos.94: -.Butiran 3901.Mutu kabel --.10. • Demikian juga kode 900 bila dipecah menjadi 91.

Lain-lain (2) adalah termasuk kelompok barang A selain A1 dan . yang termasuk dalam Lain-lain (2). selain B1 dan B2. C2. bandingkan dengan uraian barang pada sub-sub pos terdahulu. Lain-lain (3) adalah termasuk kelompok barang A selain A1 dan A2. Cara membaca: Lain-lain (3): barang selain C1 dan C2. B2. Jadi. Lain-lain (1): barang selain A1 dan A2. • • apabila kata “lain-lain” dimaksud terdapat pada sub-pos. Barang Lain-lain (1) dibagi menjadi barang B1. dalam pos yang sama. selain C1 dan C2. Di bawah ini disajikan mengetahui kelompok barang yang termasuk lain-lain dengan menggunakan metode diagram pohon dengan contoh sebagai berikut: A A1 A2 Lain-lain (1) B1 B2 Lain-lain (2) C1 C2 Lain-lain (3) • • • • • • Barang A dibagi menjadi barang A1. Barang Lain-lain (2) dibagi menjadi barang C1. apabila kata “lain-lain” dimaksud terdapat pada pos tarif. dan Lain-lain (2). A2.barang pada pos-pos terdahulu dalam bab yang sama. dan Lain-lain (3). dan Lain-lain (1). Metode di atas dapat difahami dengan lebih mudah apabila kita dapat menggambarkannya dalam bentuk diagram pohon. yang termasuk dalam barang A. yang termasuk dalam Lain-lain (1). pada sub-pos yang sama. sehingga akan jelas kelompok barang mana yang akan dibandingkan dengan barang lain-lain barang lain-lain yang ingin kita ketahui. bandingkan dengan uraian barang pada pos-pos tarif terdahulu. Lain-lain (2): barang selain B1 dan B2.

.90 : .Lain-lain Kata lain-lain dalam sub-pos ini berfungsi untuk menampung binatang sejenis lembu. maupun catatan Sub-pos. Secara lebih rinci uraian pos tersebut dapat diuraikan menjadi: Binatang hidup. Dalam diktat ini pengertian lain-lain dibatasi pemahamannya sebatas berkaitan dengan uraian jenis barang pada judul Bab. Secara singkat makna kata lainnya berfungsi untuk menampung barang tekstil sudah jadi yang belum disebutkan pada bab-bab sebelumnya dalam Bagian XI. Di bawah ini disajikan beberapa contoh pengertian kata lain-lain yang terdapat dalam BTBMI: a) Judul Bab. Subpos maupun Pos tarif nasional. keledai. selain binatang sejenis lembu.06: Binatang hidup lainnya.. Dengan sedikit latihan menggunakan BTBMI. Pos. Pos 01.A2.. • • • selain kuda. Bab 63: Barang tekstil sudah jadi lainnya . Secara lebih rinci uraian dalam sub-po stersebut dapat diuraikan menjadi: . b) Judul Pos. selain B1 dan B2. Secara lebih rinci judul bab tersebut dapat diuraikan menjadi “Tekstil dan barang tekstil. Kata lainnya dalam pos ini berfungsi untuk menampung binatang hidup yang belum disebutkan pada pos-pos sebelumnya. selain yang telah disebutkan pada Bab 50 sampai dengan Bab 62”. tanpa dikaitkan dengan catatan Bagian. kalkun dan ayam mutiara c) Judul Sub Pos Sub-pos 0102. bebek. hidup yang belum disebutkan pada sub-sub pos sebelumnya. Lain-lain (3) adalah termasuk kelompok barang A selain A1 dan A2. bagal dan hinnies. pengertian kata lain-lain tersebut akan dapat dengan mudah dimengerti. selain babi selain biri-biri dan kambing selain unggas dari jenis : ayam spesies Gallus domesticus. catatan Bab.

Rangkuman Indonesia telah menjadi Contracting Party dari “International Convention on the Harmonized Commodity Description and Coding Sistem”. 1995 yang berkaitan dengan klasifikasi barang ? 2. 10 tahun 1. Kata “lain-lain” terdapat pada Bab. Latihan 3 Pertanyaan 1. HS/BTBMI juga menggunakan sistem takik (dash. • • selain kuda. Apa yang dimaksud dengan sistem pentakikan 3. Apa isi Buku Tarif Bea Masuk Indonesia ? 2. berdasarkan keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 35 tahun 1993.4. lain” dalam BTBMI ? 4. bagal dan hinnies.3. namun bukan untuk bibit 4. keledai. dalam penomoran HS ? 4. berfungsi untuk menampung barang yang belum disebut pada uraian jenis barang sebelumnya. pengertian kata lain-lain tersebut akan dapat dengan mudah dimengerti . Pasal berapa dalam Undang-undang no. Dengan sedikit latihan menggunakan BTBMI. Jawaban 3. Sub-Pos dan Pos Tarif Nasional. Sebagai tindak lanjutnya struktur Klasifikasi barang dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI) mengacu kepada sistem klasifikasi dari HS Convention Sistem penomoran klasifikasi dalam BTBMI menggunakan 10-digit dengan susunan 6 digit pertama mengacu pada konvensi HS dan 2 digit terakhir adalah pecahan pos tarif nasional. Selain menggunakan sistem nomor. termasuk binatang sejenis lembu. Bagaimana cara membaca pengertian kata “Lain.2. -) untuk mengklasifikasi barang Dalam klasifikasi BTBMI dengan sistem HS kata “Lain-lain”.Binatang hidup. Pos.

( B . ( B . Fungsi dasar HS adalah untuk memberikan keseragaman dalam mengklasifikasi barang guna memberikan kemudahan pada perdagangan internasional 5. Bab dan Subheading . Test Formatif 5.S ) Untuk mengklasifikasi barang diperlukan data mengenai nama. Catatan Bagian. Heading. udara dan kereta api. perdagangan internasional dan pengangkutan laut. jenis dan spesifikasi lainnya secara akurat. Salah satu tujuan HS adalah untuk memberikan ketidak seragaman secara internasional penggolongan barang dalam tarif pabean 4. Demikian dalam kekuatan hukumnya sama. Informasi mengenai barang tersebut dapat kita peroleh melalui : kondisi fisik.S ) Apabila terdapat perbedaan sistem klasifikasi pada setiap negara akan memperpanjang waktu untuk penetapan bea masuk dan pengeluaran barang impor di pelabuhan.S ) HS bersifat harmonis karena standard klasifikasi dan sistem kode penomoran barang digunakan untuk berbagai kepentingan.5. Lingkarilah huruf B apabila pernyataan ini Saudara anggap benar dan huruf S apabila pernyataan Saudara anggap salah. brosur. statistik.1. ( B . sertificate of analysis.S ) Ditinjau dari fungsi pengklasifikasian. ( B . sub-heading dan penomoran hingga ke Pos tarif (10 digit). karena yang utama adalah uraian barangnya. 1.S ) Customs Cooperation Council di Brussels pada tanggal 14 Juni 1983 menghasilkan Konvensi Internasional tentang The Harmonized Commodity Description and Coding System (HS) dan mulai berlaku di Indonesi sejak tanggal 1 Januari 1988 3. struktur HS terdiri dari : KUM HS . ( B . seperti Pabean. label kemasan dan data lainnya 2. .

5.. tanggal 1 Januari 1989 b. atau d ) 1. pasal 115 c... Dalam pengamatan sementara untuk mengklasifikasi barang. Dapat terkait dengan beberapa bab c.. Mengklasifikasi barang seluruhnya harus tepat secara eksak d. Barang tidak dapat diklasifikasikan. Bunyi kalimat diatas sesuai dengan bunyi UU no. merumuskan identitas atau deskripsi barang tersebut c. pasal 116 2. Prosedur tersebut secara umum ialah . dikenal prosedur umum untuk mengklasifikasi barang. pasal 16 b. c. The Harmonized Commodity Description and Coding System (HS) mulai berlaku secara internasional sejak : a. tanggal 11 Januari 1989 3. b. tanggal 31 Januari 1988 d. Untuk penetapan tarif bea masuk.2. b dan c benar 4. barang dikelompokkan berdasarkan sistem klasifikasi barang. a. Untuk mengklasifikasi barang. mengidentifikasi barang dengan mempelajari jenis dan spesifikasinya b. karena uraian jenis barangnya tidak ada dalam BTBMI .. 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan pada : a. Pilihlah jawaban yang Saudara anggap benar dengan cara melingkari huruf yang terdapat di depan jawaban tersebut a.. Jenis suatu jenis barang dimungkinkan tidak ada dalam HS b. maka sebutkan pernyataan dibawah ini yang tidak benar a.. pasal 14 d. tanggal 1 Agustus 1988 c.. melihat Buku Tarif Bea Masuk Indonesia dan menentukan klasifikasinya d. pernyataan a.

B. 3.5. Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan singkat dan benar 1. d . a 2. d 4. S 3.. c 5. hanyalah sementara (mengikuti surat Keputusan Menteri Keuangan RI) b. b dan c benar 5.3. harus mengacu kepada perkembangan terakhir besarnya penetapan Bea Masuk c. pernyataan a. Sebutkan 3 Sistem dalam mengklasifikasi barang yang pernah digunakan Pemerintahan Republik Indonesia. Jelaskan apa yang dimaksud dengan konvensi HS ? Mengapa kita memilih suatu system seperti HS dalam menentukan klasifikasi barang ? 4. 1 B. 4. KUNCI JAWABAN TEST FORMATIF Kelompok 5. 2. sebelum HS ! 2. b 3.2. selalu berubah d. Pencantuman besarnya Bea Masuk pada Buku tarif Bea Masuk Indonesia : a. Sebutkan tujuan Harmonized System ? Apakah besarnya tarif bea masuk Indonesia secara hukum sesuai seperti apa yang tertulis dalam BTBMI tersebut ? 6. B 5.1. S Kelompok 5. 1. 5.

eksportir.Kelompok 6. nomenklatur disahkan dalam Konvensi HS Nomor 3 a) HS adalah pedoman klasifikasi yang sistematik untuk seluruh barang yang diperdagangkan secara internasional. c) Sistem CCCN Edisi 1985 (CCCN 1985). Nomor 1 a) Sistem Brussel Edisi 1975 (BTN 1975). c) HS menggunakan dasar yang seragam untuk keperluan pentarifan secara internasional. kelompok studi tersebut berhasil menyusun suatu nomenklatur (daftar klasifikasi barang berdasarkan kelompok-kelompok) yang dinamakan Harmonized Commodity Description and Coding System atau lebih dikenal dengan sebutan Harmonized System (HS). Nomor 2 Pada akhir tahun 1986. Penetapan tarif ini merupakan penyempurnaan dari penetapan tarif sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 Juli 1975 sampai dengan 30 september 1980. e) Sederhana dan memberikan kepastian dalam hal aplikasi dan interpretasi yang benar dan sama untuk keperluan negosiasi.3. . hanya pada sistem CCCN ini terdapat penyempurnaan sistem penomoran pada sub-pos dari dua digit menjadi tiga digit atau semula 6 digit menjadi 7 digit. Untuk memberikan kekuatan hukum yang pasti. pengangkut. b) HS adalah pedoman klasifikasi yang sistematik untuk seluruh barang yang diperdagangkan secara internasional. Sistem ini merupakan penyempurnaan dari sistem CCCN sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 April 1987 sampai dengan 31 desember 1988. produsen. b) Sistem Customs Cooperation Council (CCCN). Pada dasarnya sistem pentarifan ini sama dengan sistem sebelumnya. dan aparat bea dan cukai. Sistem CCCN ini mulai diberlakukan pada tanggal 1 Oktober 1980 sampai dengan 31 Maret 1985. d) Menggunakan “bahasa pabean” sehingga dapat dengan mudah dimengerti oleh importir.

UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Bandingkanlah hasil jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang ada di belakang modul ini. c) Memberikan Sistem Internasional yang resmi untuk pemberian Kode.. untuk penetapan Tarif Pabean secara mendunia.. Ketentuan hukum yang legal adalah sesuai Surat Keputusan Menteri Keuangan tentang perubahan Tarif Bea Masuk Indonesia (lihat Kata Pengantar pada BBTBMI) 7. d) Memperbaharui sistem klasifikasi barang sebelumnya. Nomor 4 a) Memberikan keseragaman dalam daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis. Nomor 5 Buku tarif Bea Masuk Indonesia hanyalah suatu referensi praktis agar dapat secara optimal digunakan di lapangan. dokumentasi dan sebagainya. pembuatan dan analisis Statistik perdagangan dunia. Kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap terhadap materi kegiatan belajar Rumus Tingkat Penguasaan Untuk kelompok A dan B : Jumlah Jawaban yang benar dibagi 10 kemudian dikali 100 % = .. Untuk kelompok C : Apabila benar seluruhnya nilai menjadi 100 . dan ... Pen jelasan dan penggolongan barang untuk tujuan perdagangan keperluan pengangkutan. untuk memberikan perhatian kepada perkembangan teknologi dan masyarakat industri serta pola perdagangan Internasional..f) Merupakan kumpulan data yang seragam secara internasional sehingga dapat digunakan untuk mendukung analisis dan statistik perdagangan internasional... seperti tarif pengangkutan... Hitunglah jumlah jawaban Anda yang benar atau sejauh mana Anda menguasai mata pelajaran tersebut.. b) Memudahkan pengumpulan.

Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (2007). Jakarta c. Anda harus mengulangi membaca Modul kembali. Jakarta *** MODUL II SISTEM KLASIFIKASI BARANG MENURUT HARMONIZED SYSTEM .100 % = Baik sekali * 80 % . 2007 version b. Daftar Kepustakaan a. Explanatory Notes. World Customs Organization.79 % = Cukup * 69 % = Kurang Kalau Anda mencapai tingkat penguasaan 80% keatas Anda dapat meneruskan kepada modul atau bagian pelajaran lain. bila tingkat penguasaan Anda masih dibawah 80 %. Hasilnya Baik ! akan tetapi. Word Customs Organization. Harmonized System. terutama bagian yang belum Anda kuasai 8. 2007 d.Untuk nilai keseluruhan maka dibagi rata-rata dari (A+B) dan C Arti tingkat penguasaan : * 90 % .89 % = Baik * 70 % . Departemen Keuangan RI. (1995) Pusdiklat Bea dan Cukai. Pengantar Klasifikasi Barang.

seyogyanya petugas Ditjen Bea dan . Dalam rangka penentapan tarif bea masuk dan kepentingan kepabeanan lainnya. Obyek dari kegiatan Direktorat Bea dan Cukai adalah barang. bahwa Modul ini dapat diselesaikan sesuai waktunya.MATERI KLASIFIKASI BARANG OLEH : TIM PENYUSUN MODUL PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN BEA DAN CUKAI BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA JAKARTA 2007 Kata Pengantar Puji syukur kehadirat Allah yang Maha Kuasa.

Modul ke 2 dengan judul Teknik Klasifikasi Barang digunakan dalam Diklat Teksnis Substantif Spesialis Kepabeanan dan Cukai Dalam kesempatan ini. Penulis menghaturkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga dapat diselesaikannya Modul ini. Modul ini merupakan seri dari 3 buah modul mata pelajaran klasifikasi barang. karena ada kepastian tentang jenis barang dan penetapan tarif posnya. Jakarta. Semoga Modul ini bermanfaat sebagai penambah wawasan dan media untuk penambah keterampilan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang. Semoga Allah membalas atas amal kebaikan tersebut. Nopember 2007 Penulis .Cukai menambah keterampilam dalam mengklasifikasi barang agar pelayanan cepat dan negara tidak dirugikan dalam menetapkan besarnya bea masuk.

................ 1......................................... Latihan 1. 1. 3........................ Tujuan Pembelajaran Khusus..... Daftar Pustaka................................. 3........... 4.................. Latihan 3.. Daftar Isi .................. KEGIATAN BELAJAR 3 NOTA PENELITIAN KLASIFIKASI BARANG 4.......................... 2........................2.. 3................... Tujuan Pembelajaran Umum....................3.......... Rangkuman.. 2............................... Umpan Balik.............1 Uraian. Latihan 2.....2........3................3...........................................................................................DAFTAR ISI Halaman Kata Pengantar ............................................................................ KEGIATAN BELAJAR 2 TAHAPAN MENGKLASIFIKASI BARANG.........................Deskripsi singkat................................. Contoh dan Non contoh..............................................................1............................................................................. 1.......................................... Contoh dan Non contoh.....................1 Uraian....2.................................... Contoh dan Non contoh.............................. Rangkuman................................................... i ii 1 1 1 1 2 2 13 14 1 2 3 15 15 16 17 18 18 23 24 24 27 28 29 4 5 6 7 8 ........................... 2..3.......... 4....................................................................................... KEGIATAN BELAJAR 1 KETENTUAN UMUM UNTUKMENGINTERPRETASI HS.................................................. Rangkuman.2......................................................................................1 Uraian............ PENDAHULUAN ................................................... Kunci Jawaban ...... Test Formatif .................................................................................

Deskripsi Singkat Seorang klasifikator dibidang kepabeanan harus dapat mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang dengan terampil. Tujuan Instruksional Khusus Setelah mempelajari Modul ini diharapkan para Siswa mampu menjelaskan : 1. Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System 2. . Tahapan dalam mengklasifikasi Barang. Oleh karena itu. Seorang klasifikator harus memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang karena akan menentukan ketepatan pengisian Pemberitahuan Impor Barang yang pada akhirnya menentukan ketepatan jumlah bea masuk dan pungutan impor lainnya yang harus dibayar. Tujuan Instruksional Umum Setelah mempelajari modul ini. Nota Penelitian Klasifikasi Barang. 1. 1.MODUL II TEKNIK KLASIFIKASI BARANG I.1. seorang klasifikator harus terlebih dahulu memahami pengetahuan barang dan pengetahuan mengenai klasifikasi barang. 3. PENDAHULUAN 1. tahapan dalam mengklasifikasi barang dan membuat nota penelitian klasifikasi barang berdasarkan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. para Siswa diharapkan mampu menerapkan ketentuan umum untuk menginterpretasi Harmonized System.2.3.

Contohnya. KEGIATAN 1 KETENTUAN UMUM UNTUK MENGINTERPRETASI HARMONIZED SYSTEM 2. 1. Karena itu perlu diingat agar selalu mempertimbangkan semua bab atau pos yang mungkin mencakup suatu barang. catatan bab. asalkan pos atau Catatan tersebut tidak menentukan lain : Penjelasan: HS adalah nomenklatur yang bersifat sistematik. marilah kita KUM HS 1 : Judul Bagian. tidak mungkin semua jenis barang dapat dicakup dengan persis pada setiap bab. klasifikasi harus ditentukan menurut uraian yang terdapat dalam pos dan berbagai Catatan Bagian atau Bab yang berkaitan serta menurut ketentuan-ketentuan berikut ini. tidak mempunyai kekuatan hukum. Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 1 Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System (KUM HS) merupakan pintu gerbang untuk memasuki klasifikasi barang. Uraian pada bab hanya untuk referensi saja. salah satu ketentuan dalam KUM HS harus dipergunakan. pelajari satu-persatu enam butir KUM HS tersebut. tetapi diklasifikasikan khusus pada bab 50. tetapi karena sifatnya yang khusus dalam HS tidak diklasifikasikan pada bab 5 (produk hewani tidak dirinci atau termasuk dalam pos lainnya). merupakan pertimbangan utama. Setiap kali melakukan kegiatan klasifikasi barang. sadar atau tidak. Namun mengingat banyaknya jenis barang.1.1. untuk tujuan hukum. sutera adalah produk hewani. Bab dan Sub-bab hanya dimaksudkan untuk memudahkan referensi saja.2. dalam hal KUM HS 1 tidak bisa digunakan barulah digunakan KUM . dan catatan sub-pos. Contoh dan Non Contoh 2. Uraian pos dan catatan-catatan tersebut Apabila pos dan catatan-catatan tersebut tidak menentukan lain. Yang mempunyai kekuatan hukum adalah pos (heading). Uraian. KUM HS mutlak diperlukan sebagai pedoman dasar yang tidak boleh ditinggalkan. catatan bagian. Untuk itu. Mengingat begitu kompleksnya teknik klasifikasi barang.

Spesifikasi keledai : .HS 2. 4. .dapat mendemontrasikan beberapa permainan dalam pertunjukan sirkus Pengklasifikasian apakah pada bab 1 atau bab 95 Perhatikan gambar keledai yang biasa digunakan untuk sirkus. catatan 2 Bab 31 menjelaskan pos 31. barang yang tidak lengkap atau belum rampung tersebut memiliki karakter utama dari barang itu dalam keadaan lengkap atau rampung. Contohnya. dan 5. Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 2a dan 2 b KUM HS 2 a : Setiap referensi untuk suatu barang dalam suatu pos harus dianggap meliputi juga referensi barang tersebut dalam keadaan tidak lengkap atau belum rampung. 3. Batasan ini tidak boleh diperluas dengan menggunakan KUM HS 2(b). 2. Referensi ini harus dianggap juga meliputi refensi untuk barang tersebut dalam keadaan lengkap atau rampung (atau yang berdasarkan ketentuan ini dapat digolongkan sebagai lengkap atau rampung) yang diajukan dalam keadaan belum dirakit atau terbongkar. Bagaimana pengklasifikasiannya bila keledai tersebut diimpor oleh grup sirkus dari jerman ? 2.02 hanya untuk produk tertentu.1. asalkan pada saat diajukan.umur 2 tahun .jenis keledai ..

dan tiap setnya tidak ada sadel dan ban dalamnya. Setiap referensi untuk barang dari bahan atau zat tertentu harus dianggap juga meliputi referensi untuk barang yang sebagian atau seluruhnya terdiri dari bahan atau zat tersebut. Bagaimana pengklasifikasiannya bila sepeda tersebut : a) tidak dicat .Penjelasan: Barang tidak lengkap atau tidak rampung dianggap sebagai barang lengkap atau rampung. harus dianggap juga meliputi referensi untuk campuran atau kombinasi dari bahan atau zat itu dengan bahan atau zat lain. Barang yang terdiri lebih dari satu jenis bahan atau zat harus diklasifikasikan sesuai prinsip dari Ketentuan 3.memiliki laher dalam as ban -bisa dikendarai oleh orang tua maupun anakanak : Perhatikan gambar sepeda diatas.b) tidak ada sadelnya c) dalam keadaan terurai KUM HS 2 b : Setiap referensi untuk suatu bahan atau zat dalam pos. Penjelasan: . Spesifikasi : Sepeda merk :”Bamby” . Namun tetap dianggap set sepeda karena sifat utamanya sebagai sepeda telah dimiliki.Ada alat perubah kecepatan . asalkan pada saat diimpor sudah mempunyai sifat utama sebagai barang lengkap atau rampung Sebagai contoh beberapa set sepeda yang diimpor dalam keadaan terurai.

Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 3a. apakah pada bab 45 atau bab 39 Perhatikan sumbat botol diatas. maka klasifikasiannya harus diberlakukan sebagai berikut : . KUM HS 2(b) tidak dapat digunakan (harus digunakan KUM HS 3).. maka pengklasifikasiannya tetap sebagai susu..bagian luarnya dilapisi plastik. Bagaimana pengklasifikasian tutup botol tersebut. maka KUM HS 2(b) tidak berlaku.1. Contoh. Mengapa demikian ? karena sifat sebagai susunya tidak berubah.. Sebagai contoh suatu susu yang telah ditambah sedikit vitamin. Spesifikasi tutup botol : . . ketentuan ini hanya berlaku apabila pos atau catatan bagian atau catatan bab tidak menentukan lain. bagaimana bila sumbat botol bagian atas dilapis plastik ? 2.Terbuat dari gabus .3.).. barang yang dengan pertimbangan awal dapat diklasifikasikan dalam dua pos atau lebih. Apabila tambahan atau campuran bahan atau zat menghilangkan sifat barang seperti diuraikan pada pos. pos 15. karena uraian posnya sudah menyebutkan bahwa produk dalam pos tersebut tidak dicampur. b dan c KUM HS 3 : Apabila dengan menerapkan Ketentuan 2 (b) atau untuk berbgaia alasan lain.tidak diemulsi atau dicampur. Ingat.03 (-lard oil.Campuran atau kombinasi dua atau lebih bahan atau zat diklasifikasikan berdasarkan KUM HS 1.

maka pospos tersebut harus dianggap setara sepanjang berkaitan dengan barang tersebut. harus lebih diutamakan dari pos yang memberikan uraian yang lebih umum. Namun demikian.10. bukan pada pos 85. Pos yang menyebutkan barang yang disebutkan secara rinci lebih diutamakan dari pos yang menyebutkan bagian suatu barang. atau bagian dari item dalam .06. Contoh. namun pos 8421 uraian barangnya lebih rinci. Contoh shavers/hair clippers diklasifikasikan pada pos 85. Penggunaan KUM HS 3 harus urut dari KUM HS 3(a). Saringan oli walau sebagai bagian dari mesin pada pos 8409. walaupun salah satu dari pos tersebut memberikan uraian yang lebih lengkap atau lebih tepat. apabila dua pos atau lebih yang masing-masing pos hanya merujuk kepada bagian dari bahan atau zat yang terkandung dalam barang campuran atau barang komposisi. tufted textile for motor cars diklasifikasikan pada pos 57.01 sampai dengan 97.09 (self-contained motor). catatan bagian.08. KUM HS 3(b). KUM HS 3 a : Pos yang memberikan uraian yang paling spesifik. atau catatan bab tidak menentukan lain. harus diklasifikasikan pada pos terdahulu awal (berarti bertentangan dengan KUM HS 3c ). Apabila dua atau lebih pos menguraikan hanya bagian dari bahan atau zat yang terkandung dalam suatu barang campuran atau komposit. KUM HS 3 baru dipergunakan apabila uraian pos.Penjelasan: KUM HS 3 hanya dipergunakan bila KUM HS 2 tidak bisa dipergunakan. Contoh.03. Pos yang menyebutkan nama barang lebih diutamakan dari pos yang menyebutkan kelompok barang. Sekali lagi diingatkan. bukan pada pos 87.atau hanya merujuk kepada bagian dari bahan atau zat terkandung dalam campuran atau barang komposisi atau hanya merujuk kepada bagian dari barang dalam set yang disiapkan untuk penjualan eceran. baru kemudian KUM HS 3(c). catatan 4(b) bab 97 menentukan bahwa barang yang dirinci pada pos 97. Penjelasan: Pos dengan uraian lebih spesifik lebih diutamakan dari pos dengan uraian yang lebih umum. Dalam hal ini KUM HS 3(c) tidak berlaku.05 dan juga dirinci pada pos 97.

10). dan bila KUM HS 3(a) tidak bisa digunakan. Beberapa produk/barang bersama-sama untuk keperluan/kegiatan tertentu. sepanjang kriteria ini dapat diterapkan. meskipun salah satu pos lebih rinci dari pos lainnya.satu set barang untuk penjualan eceran. dan barang yang dikemas dalam bentuk set untuk penjualan eceran. jumlah. harus diklasifikasikan berdasarkan bahan atau komponen yang memberikan karakter utama barang tersebut. serta barang yang disiapkan dalam set untuk penjualan eceran. Penjelasan: KUM HS 3(b) hanya berlaku untuk campuran. asalkan satu sama lain adapted to the other. Yang dimaksud dengan karakter utama (Essential character) pada KUM HS ini mengacu pada bahan atau komponen.15). Bisa langsung dijual tanpa perlu dibungkus/dikemas kembali (contoh. Contoh. ready-to-eatmeal). barang komposit yang terdiri dari bahan yang berbeda. dan bahan utama yang berkaitan dengan penggunaan barang. KUM HS 3 b : Barang campuran dan barang komposisi yang terdiri dari bahan yang berbeda atau yang dibuat dari komponen yang berbeda. KUM HS 3(b) berlaku juga untuk komponen yang terpisah. berat atau nilai.10 (berdasarkan komponen yang memberikan . mutually complementary. yang tidak dapat diklasifikasikan berdasarkan referensi 3 (a). Contoh set: hairdressing set yang terdiri dari electric hair clipper (85. dikemas dalam tas kulit (42. Yang dimaksud dengan barang dikemas dalam bentuk set untuk penjualan eceran yaitu: • • • Paling sedikit dua produk yang berbeda pos (sembilan sendok bukan set). kemasan. sikat (96.13). barang komposit yang terdiri dari komponen yang berbeda. dan bersama-sama membentuk barang jadi yang secara normal tidak diperdagangkan terpisah.02). dan handuk dari tekstil (63. gunting (82. sisir (96. rak bumbu dengan beberapa botol tempat bumbu kosong.02) diklasifikasikan pada pos 85. maka KUM HS 3(a) tidak berlaku dan digunakan KUM HS 3(b) atau 3(c).03).

merk :”Mi Enak” . dalam proporsi tertentu untuk keperluan industri (contoh.Van belt merk : :”Ando” . Penjelasan: Bila KUM HS 3(a) dan 3(b) tidak dapat digunakan. bumbudan bahan lainnya. maka bingkai tersebut harus diklasifikasikan pada pos terakhir. Bagaimana Saudara mengklasifikasi bila dalam keadaan mentah atau dalam bungkusan ? KUM HS 3 c: Apabila barang tidak dapat diklasifikasikan berdasarkan referensi 3 (a) atau 3(b). yaitu pos Spesifikasi barang : . minuman).Mengandung mie. KUM HS 3(b) tidak berlaku untuk barang yang terdiri dari beberapa bagian yang dikemas terpisah (baik kemasan yang biasa digunakan maupun tidak). Tahukah Saudara ketika belum dimasak yang bungkusannya terdiri dari : mie. Bingkai ini ditinjau dari bahan baku memiliki bahan yang sama dan seimbang antara pos 44. suatu bingkai berbentuk bujur sangkar yang 2 sisi terbuat dari kayu dan dua sisi lainnya terbuat dari logam. Contohnya. Spesifikasi Mie :Instan : . bawang dan cabe Perhatikan mie instan yang sudah mask diatas. kecap.14 dan pos 83. namun karena menurut KUM HS 3c. saus. barang diklasifikasikan pada pos terakhir. saus. bumbu. maka barang tersebut harus diklasifikasikan dalam pos tarif terakhir berdasarkan urutan penomorannya di antara pos tarif yang mempunyai pertimbangan yang setara.Supermi instan bungkus .mengandung .06.sifat utama).

c) Pada waktu menerapkan ketentuan No. d) Persamaan dapat tergantung dari beberapa faktor seperti nama. Ketentuan ini menetapkan bahwa barang-barang tersebut harus digolongkan kedalam pos atas barang yang memiliki persamaan terbanyak.83. sifatnya. tujuannya). Hal tersebut dilakukan untuk meneliti pada pos mana yang memiliki unsur kesamaan terbanyak. harus Penjelasan: a) KUM HS 4 baru digunakan apabila KUM HS 1 sampai dengan KUM HS 3 tidak dapat digunakan. penggunaan. Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 4 KUM HS 4: Barang yang tidak dapat diklasifikasikan berdasarkan referensi diatas. karena tidak ada uraian yang sesuai (misalnya yang baru muncul di pasaran dunia). . dan seterusnya.4. barang yang akan diklasifikasikan harus diperbandingkan dengan uraian barang dalam beberapa pos HS yang memiliki kesamaan jenis atau karakternya. sifat. b) Ketentuan ini mengenai barang-barang yang tidak dapat diklasifikasikan ke dalam salah satu pos dalam HS. Perhatikan vanbelt ini. 4.06.1. klasifikasi berdasarkan barang yang sifatnya paling sesuai (misalnya uraian barangnya. diklasifikasikan ke dalam pos yang sesuai untuk barang yang paling menyerupai. bagaimana pengklasifikasiannya bila terbuat dari bahan plastik dan karet yang sama tebalnya ? 2. Berdasarkan KUM HS 4.

apabila kemasan tersebut memang biasa dijual dengan barang tersebut. dan tempat semacam itu yang: • • • • • khusus dibuat untuk barang tertentu. internet. Ketentuan berikut ini harus diberlakukan terhadap barang tersebut di bawah ini : Tas kamera. cocok untuk penggunaan jangka panjang dan diajukan bersama barangnya. kotak (boxes). Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 5 KUM HS 5 : Sebagai tambahan dari aturan di atas. tas instrumen gambar.Perlu diingatkan. Namun demikian. tas instrumen musik. dan sebagainya. sangat disarankan untuk mencari lebih dulu informasi tentang barang dimaksud dari berbagai sumber yang ada. seperti literatur. kotak kalung dan kemasan semacam itu. dan sebagainya. data teknis. 5. biasa dijual bersama dengan barangnya. tempat alat musik. ketentuan ini tidak berlaku untuk kemasan yang memberikan seluruh karakter utamanya. dimasukkan bersama barangnya (bila dimasukkan terpisah diklasifikasikan pada pos tersendiri). tempat senjata. sebelum memutuskan menggunakan KUM HS 4. digunakan untuk jangka waktu lama. tempat teleskop. koper senapan. dibentuk secara khusus atau pas untuk menyimpan barang atau perangkat barang tertentu.1. Contoh: tempat perhiasan. KUM HS 4 baru digunakan apabila benar-benar tidak ada lagi data atau informasi yang dapat diperoleh untuk mengidentifikasi barang dimaksud. 2. harus diklasifikasikan menurut barangnya. Penjelasan: KUM HS 5(a) berlaku untuk Peti (cases). Untuk itu. tidak memberikan sifat utama. .

Namun demikian ketentuan ini tidak mengikat apabila bahan atau kemasan pembungkus tersebut secara nyata cocok untuk dipakai berulangulang. Tempat semacam itu harus diklasifikasikan tersendiri Sebagai contoh. maka gasnya diklasifikasikan pada pos tarif gas. contohnya gas yang diimpor bersama pengemasnya (tabung gas di bawah tekanan). tempat teh dari perak dan tempat permen dari porselin berdekorasi China .Spesifikasi barang : . bahan pembungkus dan kemasan pembungkus yang diajukan bersama dengan barangnya harus diklasifikasikan menurut barangnya.Terbuat dari karet yang dilapisi tekstil tebal Perhatikan gambar guitar dan kemasannya diatas. sedangkan pengemasnya diklasifikasikan pada pos tarif tabung gas.merk :”Refly” . pembungkus/tempat simpan diklasifikasikan dengan barangnya bila biasa dipakai untuk barang tersebut. Penjelasan: Mengacu pada KUM HS 5(a).gitar dengan kemasannya . Ketentuan ini tidak berlaku untuk tempat simpan yang nilainya jauh lebih tinggi dari barang yang disimpan di dalamnya. Bagaimana Saudara mengklasifikasiguitar beserta kemasan diatas ? KUM HS 5 b : Berdasarkan aturan dari ketentuan nomor 5 (a) di atas. apabila bahan atau kemasan pembungkus tersebut memang biasa untuk membungkus barang tersebut. Ketentuan ini tidak berlaku untuk pembungkus/tempat simpan yang digunakan berulang-ulang (repetitive use).

catatan bagian. atau catatan subpos harus tetap menjadi pertimbangan utama. Penjelasan: KUM HS 1 sampai dengan KUM HS 5 berlaku mutatis mutandis (secara langsung) untuk subsub pos pada satu pos yang sama (perbandingan pada takik yang sama). KUM HS 6 berlaku sepanjang konteksnya tidak menentukan lain.Terbuat baja tahan karat Bagaimana pengklasifikasian suatu gas beserta tabungnya yang dapat diisi ulang ? Tabung gas LPG dengan isinya LPG pada pos berapa dalam Harmonized System ? 2.merk :”Reflon” . dengan pengertian bahwa hanya subpos yang setara yang dapat diperbandingkan.2. catatan bab. Platinum pada catatan 4(b) Bab 71 tidak sama dengan Platinum pada catatan subpos 2 (khusus untuk sub-pos 7110. Artinya.Spesifikasi barang : . Latihan . serta ketentuan ini di atas dengan penyesuaian seperlunya.1. 2. Contohnya. untuk keperluan ketentuan ini diberlakukan juga catatan Bagian dan catatan Bab.tabung gas berisi gas .19). 6.11 dan 7110. Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 6 KUM HS 6 : Untuk tujuan hukum klasifikasi barang dalam sub pos dari suatu pos harus ditentukan berdasarkan uraian dari subpos tersebut dan catatan subpos bersangkutan. Kecuali apabila konteksnya menentukan lain.

Pertanyaan 1. Dalam mengklasifikasi barang gantungan kunci yang terdiri dari ring baja, rantai baja dan hiasan dari plastik, harus menggunakan KUM HS nomor berapa ? 1.

Jawaban

2. Sebutkan contoh barang yang dalam mengklasifikasinya menerapkan KUM HS nomor 3a (selain yang telah disebutkan

2.

contoh diatas)

3. Bagaimana menurut pendapat Saudara mengenai penggunaan KUM HS nomor 4 dalam prakteknya ?

3.

2.3. Rangkuman

Dalam mengklasifikasi barang dalam BTBMI diperlukan suatu pedoman. Pedoman tersebut adalah Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System (KUM HS) merupakan ketentuan untuk memasuki klasifikasi barang. Saat ini KUM HS hanya terdiri dari nomor 1 sampai dengan nomor 6. Dahulu sampai dengan 10, nomor 7 sampai 10 dihilangkan dan beberapa diantaranya menjadi surat keputusan Dirjen Bea dan Cukai

3. KEGIATAN BELAJAR 2 TAHAPAN MENGKLASIFIKASI BARANG

3.1. Uraian, Contoh dan Non Contoh

Secara lebih rinci, langkah-langkah berikut ini dapat digunakan untuk mengklasifikasi barang:

1. Kita identifikasi dulu barang yang akan kita klasifikasi.

Dengan mengetahui

spesifikasi barang, misalnya barang tersebut produk pertanian, barang kimia, atau mesin, kita bisa memilih bab-bab yang lebih spesifik.

2. Pilih bab atau bab-bab yang berkaitan dengan spesifikasi barang tersebut. Bila sudah kita tentukan, baca dan perhatikan baik-baik catatan Bagian dan catatan Bab yang berkaitan dengan pilihan bab atau bab-bab pada butir 1.

3. Perhatikan penjelasan-penjelasan dalam catatan Bagian maupun catatan Bab yang berkaitan dengan barang yang akan kita klasifikasi. Apabila ada catatan yang

mengeluarkan barang tersebut dari Bab atau Bagian yang kita pilih, perhatikan pada Bagian, Bab, atau pos mana barang tersebut diklasifikasikan.

4. Baca dan cermati catatan Bagian atau Bab (atau catatan Sub-pos dalam hal tertentu) yang ditunjuk oleh penjelasan pada butir 3. Kita ulangi proses pengklasifikasian pada butir 3. Pada tahap ini, biasanya kita sudah mempunyai gambaran umum apakah barang tersebut diklasifikasikan di bab tersebut atau di bab lainnya.

5. Setelah menemukan satu bab yang paling sesuai berdasarkan kajian di atas, maka kita mulai menelusuri pos-pos yang mungkin mencakup barang yang akan kita klasifikasikan dalam bab tersebut. Pada tahap ini kadang-kadang kita sudah dapat menemukan pos yang mencakup barang tersebut dengan rinci. Bila sudah kita

temukan satu pos yang tepat, maka langkah selanjutnya tinggal menentukan sub-pos (6-digit) dan pos tarif (9-digit) yang sesuai. Ingat, dalam penentuan sub-pos dan pos tarif pun kadang timbul permasalahan klasifikasi yang sama dengan penentuan pos

(4-digit). Sampai tahap ini sebenarnya kita sedang menggunakan KUM HS 1.

6. Apabila sepintas lalu ada beberapa pos yang sesuai dengan spesifikasi barang, kita mulai menggunakan KUM HS 2. Ingat, kita baru dapat menggunakan KUM HS 2 apabila KUM HS 1 benar-benasr tidak dapat digunakan. Cara untuk meyakinkan bahwa KUM HS 1 gugur adalah dengan berusaha membuktikan bahwa hanya ada satu pos yang sesuai untuk barang tersebut. Dalam hal KUM HS 1 tidak bisa diterapkan karena informasi atau data spesifikasi barang kurang lengkap, maka yang harus dikerjakan adalah mencari informasi atau data tersebut lebih dulu. Jangan terburu-buru menggunakan KUM HS 2 sebelum kita benar-benar yakin KUM HS 1 tidak dapat digunakan.

7. Dalam hal menggunakan KUM HS 3 (b), perlu diperhatikan bahwa yang dimaksud dengan sifat utama (essential character) meliputi berbagai aspek. Beberapa aspek yang dapat digunakan sebagai dasar penentuan sifat utama adalah fungsi/kegunaan, nilai (value), dan bentuk fisik (appearance). Usahakan paling tidak selalu

mempertimbangkan ketiga aspek tersebut sebelum menentukan sifat utama suatu barang campuran.

8. Dalam membandingkan pos-pos, sub-sub pos, atau pos-pos tarif, harus selalu diingat bahwa yang dibandingkan adalah pos-pos , sub-sub pos, atau pos-pos tarif yang setara (perhatikan takiknya). Ingat, dalam mengklasifikasi, perbandingan

dimaksud tidak berdasarkan pembebanan impornya!.

9. Apabila sudah dipilih satu pos tarif yang benar-benar sesuai dengan uraian barang, langkah selanjutnya adalah melihat pembebanannya (BM, PPN, PPnBM, atau cukai) dan ada atau tidak peraturan tata niaganya (IT, IP, Pertamina, dan lain-lain.). Karena pembebanan tersebut sering berubah, jangan lupa selalu menggunakan pembebanan yang up to date berdasarkan ketentuan yang terbaru.

3.2. Latihan

Pada prinsipnya meliputi identifikasi barang. .3. 3. diperlukan data mengenai barangnya ? Sebutkan contoh kasus ! 1. Rangkuman Dalam proses mengklasifikasi barang diperlukan tahapan yang sesuai. 3. kemudian melihat uraian barang dalam BTBMI sesuai dengan yang akan diklasifikasi. bab dan catatan yang berkaitan dengan barang yang akan diklasifikasi. Pengamatan uraian barang dalam BTBMI dengan melihat bagaian. Berdasarkan pertimbangan tersebut baru ditentukan pos tarif yang tepat. Mengapa dalam mengklsifikasi barang harus memperhatiakan bagian dan bab serta catatan bagian dan catatan babnya yang terkait dengan barang tersebut ? 3. Mengapa sebelum mengklasifikasi barang. Jawaban 2.Pertanyaan 1. agar menghasilkan keputusan yang tepat sesuai aturan yang benar. Bagaimana tahapan dalam mengklasifikasi barang agar menghasilkan pos tarif yang akurat ? 2. mendeskripsikan jenis barang.

Namun dalam diktat ini pembuatan nota penelitian klasifikasi barang tersebut diarahkan untuk mengikuti ketentuan-ketentuan dasar mengklasifikasi barang sesuai HS/BTBMI. uraian rinci klasifikasi barang dimaksud kita sebut saja Nota Penelitian Klasifikasi Barang. Kerangka nota penelitian klasifikasi barang sebenarnya tidak baku.1. 4. bisa singkat atau memerlukan uraian yang cukup panjang tergantung pada permasalahan yang dihadapi. Nota Penelitian Klasifikasi Barang Pada bagian akhir diktat ini disajikan juga contoh soal klasifikasi barang menggunakan nota penelitian klasifikasi barang. setidaknya ada dua fihak yang berkepentingan yaitu aparat DJBC dan importir/PPJK. dan pembebanan impornya.1. tersebut. Dalam mempertahankan pendapatnya. Dalam diktat ini disajikan cara membuat uraian rinci klasifikasi barang Untuk memudahkan. Selanjutnya DJBC akan meneliti dan menetapkan klasifikasi barang tersebut. klasifikasi.1. Uraian Contoh dan Non Contoh 4.1. Dalam mekanisme ini tidak jarang timbul perbedaan pendapat mengenai klasifikasi barang antara importir/PPJK dan aparat DJBC. aparat DJBC diharuskan membuat uraian rinci yang menjelaskan dasar klasifikasi barang dimaksud. Sebagaimana selama ini telah berjalan.4.2. KEGIATAN BELAJAR 3 NOTA PENELITIAN KLASIFIKASI BARANG 4. Pengantar Berkaitan dengan klasifikasi barang. . Soal tersebut dapat dijawab dengan menggunakan contoh nota penelitian di bawah ini: Contoh 1. dalam rangka pengimporan importir/PPJK memberitahukan sendiri jenis barang.

(Contoh ini umumnya diterapkan pada penelitian klasifikasi di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai): Nama Barang/Uraian Jenis Barang Spesifikasi Barang (Komposisi.Bagian.bentuk. Bab dan Sub pos • Uraian pos. kegunaan. alasan/catatan Bag/Bab /Sub-pos yang terkait 3) .Explanatory Notes atau referensi lainnya 4) Uraian klasifikasi barang .) Pos (pos-pos) Yang Mungkin (Bisa satu atau lebih kemungkinan pos tarif) Dasar Klasifikasi Catatan : Bagian. BTBMI.1) Nama barang/uraian jenis barang 2) . dll. kemasan. 6 digit dan 9 digit 5) Kesimpulan Contoh 2. 4 digit.tuliskan mulai dari 2 digit. dan informasi atau referensi lainnya • • • Tentukan satu pos yang paling sesuai Tentukan sub-pos yang paling sesuai Tentukan pos tarif yang paling sesuai . Bab. Explanatory Notes. kapasitas.

00 % .xx. Nama dan Jenis barang : Shampo merk : KAO dalam tube 100 ml mengandung obat anti ketombe dan anti . BM …..Subpos 3004. Bahan tersebut telah terdaftar dalam Farmakope Indonesia Alasan Klasifikasi : Arang kayu masuk Bab 44. Menurut catatan 1 (d) Bab 44 tidak meliputi arang aktif masuk pos 3802 .Bab 30..90 Lain-lain . Nama dan Jenis barang : Norit mengandung arang aktif dari arang kayu dalam bentuk tablet 5 gram dipergunakan untuk mengatasi keracunan atau perut kembung. Praktek Pembuatan Nota Penelitian Klasifikasi Barang: 1.Bab 38 catatan 1 (d) tidak meliputi barang untuk obat …masuk Bab 30 Uraian klasifikasi : .00 Lain-lain Kesimpulan : Norit diklasifikasikan pada pos tarif 3004. 4.Pos tarif 3004.99. 2.PPN … % PPh %.Kesimpulan Klasifikasi Barang Barang dimaksud dimaksud diklasifikasikan pada tarif xxxx. .xxx BM x% PPN x%. Obat dalam dosis tertentu.Produk farmasi .99.Subpos 3004..90.90 Lain-lain .1.90.Pos 3004.3.90.

Pos 1601 .Bila mengandung obat Bab 30 Lihat Bab 30 catatan 1(d) :Bab ini tidak meliputi pos 3303-3307 walau mengandung obat Uraian klasifikasi : .Pos tarif 1601.00 BM ….Bab 16 .Pos 3305 preparat digunakan pada rambut.00 BM ….00.shampo Kesimpulan : Shampo mengandung obat anti kerontokan diklasifikasikan pada pos tarif 3305.Bab 33.00.PPN … % PPh %. .jamur atau kerontokan rambut Alasan Klasifikasi : .00. sosis .PPN … % P 3..00. % .00…mengandung daging sapi Kesimpulan : Sosis daging sapi tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 1601.10.Makanan olahan masuk Bagian IV . shampo Pos 3305....Shampo termasuk kosmetik Bab 33.10 shampo . % .Lihat Bab 16 catatan 2 “Bab 16 meliputi olahan makanan mengandung daging lebih dari 20 % Uraian klasifikasi : ..Subpos 3305.Subpos 1601. Nama dan Jenis barang : Sosis daging sapi yang dimasak Alasan Klasifikasi : .diolah selain dari bab 2 dan 3 masuk Bab 16…” .Olahan dari daging ..10..Olahan dari ikan masuk Bab 16.sosis . . .90.12.12.10.kosmetika… .. lihat cat 1 “.Pos tarif 3305.90. .

.90.Bahan cat termasuk produk kimia bagian VI.50.50 alkid (poliester) dari poliester .barang dari baja .4.pelarut kurang dr 50 % ke pos 3907.....Bab 39.Pos 3907 poliester (alkid resin) .Lihat catatan 4 bab 32 .Pos tarif 7312..00 ukuran 25 mm .Barang dari logam tidak mulia masuk Bab 73.. (walau bagian untuk mobil derek) Uraian klasifikasi : .Barang dari logam tidak mulia masuk Bagian XV. pos 3208 meliputi bahan yang mengandung bahan pelarut mudah menguap lebih dari 50 % . % .10. .Bab 73.Mobil derek masuk bab 87 ..10. cat masuk bab 32 .Pos tarif 3907. 5.00 BM ….50.Subpos 3907.kawat .PPN … % PPh %. Uraian klasifikasi : .Subpos 7312. Nama dan Jenis barang : Kawat pilinan dari baja terdiri dari 5 buah yang dipilin tidak diisolasi ukuran diameter 2.10. bahan pelarut yang mudah manguap 28 % dan bahan lainnya 13 % Alasan Klasifikasi : ...Pos 7312 . kawat dipilin .10.Lihat Bagian XV catatan 2 “kawat dipilin masuk bagian untuk pemakaian umum pos 7312 ….polimer .5 cm digunakan untuk penarik mobil derek Alasan Klasifikasi : .Lihat Bagian XVII catatan 2(B) bagian untuk pemakaian umum tidak boleh masuk Bab 87 .00 cair Kesimpulan : Bahan cat tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 3907. Nama dan Jenis barang : Bahan untuk membuat cat besi mengandung bahan alkyd resin (poliester resin) 55 %.

30.. -Sub pos 8708. 4. Nota penelitian klasifikasi barang 2.Pos tarif 8708. 6.00 BM …. Sebutkab tahapan dalam membuat nota penelitian klasifikasi barang ? 1. Uraian klasifikasi : -Bab 87 Kendaraan yang bergerak selain diatas rel … -Pos 8708 bagian untuk kendaraan bermotor.10.91. Nama dan Jenis barang : Bagian dari kendaraan bermotor berupa : Radiator untuk mobil bus mini untuk pengangkutan 15 orang dengan mesin diesel dalam keadaan CKD masa total 10 ton Alasan Klasifikasi : -Kendaraan yang bergerak selain diatas rel… masuk Bagian XVII.Kesimpulan : Kawat tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 7312.%. radiator .91.2. Latihan Pertanyaan 1. .91.90.90 bagian dan aksesori lainnya ….00 untuk bus mini Kesimpulan : Radiaotor tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 8708.30. Kendaraan Bab 87 Radiator bagian dari kendaraan bermotor berjalan bukan di rel. % . Bagiannya masuk pos 8708. seyogyanya memuat hal-hal apa saja ? .Sub pos 8708.% PPN …% PPh….PPN … % PPh %.00 BM …. Jawaban 2.

3. Lingkarilah huruf B apabila pernyataan ini Saudara anggap benar dan huruf S apabila pernyataan Saudara anggap salah.3. Mengapa dalam mengklasifikasi barang tidak hanya menyebutkan 9 digitnya atau kesimpulannya saja ? 3.1. ( B . Tidak mengikat secara hukum dalam mengklasifikasi 2. ditambah informasi barang dari brosur. alas an klasifikasi. Pada umumnya hsil penelitian dituangkan dalam suatu format yang berisikan komponen : nama dan jenis barang. Bab dan Sub-bab pada Buku tarif Bea Masuk Indonesia hanya dimaksudkan untuk memudahkan penyebutan saja. Rangkuman Proses dalam mengklasifikasi barang harus seuai dengan aturan. uraian klasifikasi dan kesimpulan. hasil analisa laboratorium atau sumber informasi lainnya 5.S ) Pernyataan 2b pada KUM HS adalah Barang tidak lengkap atau tidak rampung dianggap sebagai barang lengkap atau rampung. 4. Dalam membuat nota penelitian klasifikasi barang ada yang sederhana dengan hanya menggunakan BTBMI.S ) Judul Bagian.S) Pernyataan 3a pada KUM HS adalah Pos yang memuat uraian yang paling terinci harus lebih diutamakan daripada pos yang memuat uraian . 1. ( B . namun dilapangan nama barang berdasarkan hasil pemeriksaan. Test Formatif 5. ( B . asalkan pada saat diimpor sudah mempunyai sifat utama sebagai lengkap atau rampung barang 3. demikian juga hasil penelitian klasifikasi barang harus disajikan dalam bentuk format yang benar.

3b d. Dalam membuat Nota Penelitian Klasifikasi Barang maka diperlukan kerangka yang singkat atau memerlukan uraian yang cukup panjang tergantung pada permasalahan yang dihadapi. ( B . 3a c.S ) Pernyataan 5b pada KUM HS adalah Peti kamera. Uraian klasifikasi mulai 2 digit sampai dengan 9 digit d. Larutan dengan kandungan asam cuka (acetic acid) lebih dari 10 % dikeluarkan dari bab 22 berdasarkan catatan : . Dengan mengetahui spesifikasi barang maka akan lebih mendekati keakuratan dalam mengklasifikasi barang 6. diklasifikasikan sebagai mie pada bab 19. Pililihlah jawaban yang Saudara anggap benar dengan cara melingkari huruf yang terdapat di depan jawaban tersebut 1. b dan c benar 2.yang lebih umum sifatnya 4. cocok untuk pemakaian jangka panjang dan diimpor lengkap dengan isinya. sebaiknya kita identifikasi dulu barang yang akan kita klasifikasi. 2b b. dengan bentuk atau kelengkapan khusus untuk menyimpan barang tertentu atau seperangkat barang tertentu. 5a 3. berdasarkan KUM HS nomor : a.alasan atau catatan yang digunakan c. harus diklasifikasikan dengan barang tersebut jika biasa dijual dengan barang itu 5.2. saos dan bawang. Suatu kemasan mengandung mie. Namun demikian nota tersebut setidak-tidaknya memuat tentang : a. bumbu. nama barang dan uraian jenis barang b. pernyataan a. ( B .S ) Sebelum mengklasifikasi barang. peti instrumen dan tempat simpan yang semacam.

5a d. 2b d. 3a 5. 5b 6. pengertian 4. ilustrasi d. Tentukan pos tarif dari barang tersebut dibawah ini 1.3.32 . Mengapa sabun mandi mengandung obat pembasmi kuman walaupun mengandung obat tidak diklasifikasikan pada bab 30 sebagai produk farmasi. namun diklasifikasikan pada bab 22 dikarenakan KUM HS nomor : a. 3c c. 1 b. 3. Automatic voltage regulator yang digunakan sebagai stabilizer otomatis untuk komputer harus diklasifikasikan pada pos 85. Mengapa tutup kepala (topi) pengaman untuk pengendara sepeda motor yang terbuat dari bahan plastik tidak diklasifikasikan pada bab 39 ? 4. Walalupun etil alkohol merupakan bahan kimia organik. Mengapa olahan makanan yang terbuat dari daging sapi yang dikukus tidak diklasifikasikan pada bab 2 2. esklusif c. Tabung gas LPG yang berisi gas LPG tidak dapat diklasifikasikan menjadi stu pos tarif karena ketentuan menurut KUM HS nomor : a. Sebutkan alasannya .04 atau 90. 2a c.a. 3b b. definitif b.

a 5. Pilihan B atau S 1. dikukus dan pengolahan selain pada bab 2 diklasifikasikan pada bab 16. B 4. Pilihlah berganda 1.1. Perhatikan pos tarif 1602.3. Daging sapi hasil olahan sesuai bab 2 (pengolahan sementara/terbatas) diklasifikasikan pada bab 2.50. S 5. Essay Diberitahukan hanya 6 digitnya (sub posnya) 1. d 6.5.000 2. Lihat catatan 1(e) Bab 30 . Lihat catatan 1 bab 16. seperti dipanggang.Ketentuan dan catatan apa yang digunakan dalam mengklasifikasi barang tersebut 6.2. Bentuk pengolahan bukan sederhana. B 2. b 4. d 2. tidak dikelantang dan tidak dimerserisasi. merupakan benang tunggal. Benang tenun terbuat dari campuran 70 % kapas (cotton) dan 30 % nilon. B 6. Kunci Jawaban 6. c 3. dari serat disisir dengan nomor benang 150 decitex. S 3.

3. Lihat catatan 1(n) Bab 39

4. Lihat catatan 2(A) Bagian XI

5. Lihat catatan 6(b) Bab 90 Perhatikan sub-pos 5206.24.

7. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT

Bandingkanlah hasil jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang ada di belakang modul ini. Hitunglah jumlah jawaban Anda yang benar atau sejauh mana Anda menguasai mata pelajaran tersebut. Kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap terhadap materi kegiatan belajar

Rumus Tingkat Penguasaan Jumlah Jawaban Anda yang benar dibagi 15 kemudian dikali 100 % = ............ Arti tingkat penguasaan : * 90 % - 100 % = Baik sekali * 80 % * 70 % * 89 % = Baik 79 % = Cukup 69 % = Kurang

Kalau Anda mencapai tingkat penguasaan 80% keatas Anda dapat meneruskan kepada modul atau bagian pelajaran lain. Hasilnya Baik ! akan tetapi, bila tingkat penguasaan Anda masih dibawah 80 %, Anda harus mengulangi membaca Modul kembali, terutama bagian yang belum Anda kuasai

8. Kepustakaan

1. Harmonized System, Word Customs Organization, 2007 version 2. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (2007). Departemen Keuangan RI, Jakarta 3. Explanatory Notes, World Customs Organization, 2007

4. Pengantar Klasifikasi Barang. (1995) Pusdiklat Bea dan Cukai. Jakarta 5. Classification Disputes Settled by The Harmonized System Committee. Customs Organization (1994) World

***

8. Kepustakaan

1. Harmonized System, Word Customs Organization, 2007 version 2. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (2007). Departemen Keuangan RI, Jakarta 3. Explanatory Notes, World Customs Organization, 2007 4. Pengantar Klasifikasi Barang. (1995) Pusdiklat Bea dan Cukai. Jakarta 5. Classification Disputes Settled by The Harmonized System Committee. Customs Organization (1994) World

***

MODUL III SISTEM KLASIFIKASI BARANG MENURUT HARMONIZED SYSTEM MATERI KLASIFIKASI BARANG OLEH : TIM PENYUSUN MODUL PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN BEA DAN CUKAI BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA JAKARTA 2007 .

Obyek dari kegiatan Direktorat Bea dan Cukai adalah barang. Modul ini digunakan dalam Diklat Teksnis Substantif Dasar I Kepabeanan dan Cukai dengan judul “Catatan Penting dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia” Dalam kesempatan ini. seyogyanya petugas Ditjen Bea dan Cukai menambah keterampilam dalam mengklasifikasi barang agar pelayanan cepat dan negara tidak dirugikan dalam menetapkan besarnya bea masuk. Penulis menghaturkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga dapat diselesaikannya Modul ini. Nopember 2007 Penulis . karena ada kepastian tentang jenis barang dan penetapan tarif posnya. bahwa Modul ini dapat diselesaikan sesuai waktunya. Dalam rangka penentapan tarif bea masuk dan kepentingan kepabeanan lainnya. Semoga Modul ini bermanfaat sebagai penambah wawasan dan media untuk penambah keterampilan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang.Kata Pengantar Puji syukur kehadirat Allah yang Maha Kuasa. Semoga Allah membalas atas amal kebaikan tersebut. Jakarta. Modul ini merupakan seri dari 3 buah modul mata pelajaran klasifikasi barang.

............... Rangkuman........................1... Umpan Balik.......... 4.......... Rangkuman........... 3........................ Contoh dan Non contoh...........................................................2........................ 2.............. Contoh dan Non contoh........ 3........................................... 4 KEGIATAN BELAJAR 3 CATATAN PENTING PADA BTBMI.........................2........................................................1 Uraian..................Deskripsi singkat.................. 3....................................................................................................................................................................... 1 PENDAHULUAN .......DAFTAR ISI Halalaman Kata Pengantar .. Latihan 3........... 2............................................................................ 1.................................................................................................................. 1........................................... KEGIATAN BELAJAR 1 JENIS CATATAN PADA BTBMI……………………………...........2.......3....................................... Tujuan Pembelajaran Khusus........................3.................. Test Formatif .............................. KEGIATAN BELAJAR 2 STRUKTUR PENGELOMPOKAN BARANG PADA BTBMI....................... Rangkuman....................... 4..... 2.................................................1 Uraian.......... i ii 1 1 1 1 2 2 5 5 6 6 22 23 24 24 32 32 33 36 37 38 2 3 5 6 7 8 ..................3.................................2......... Latihan 1............. Tujuan Pembelajaran Umum..................................... Daftar Pustaka....................................................................3..........1 Uraian.............. 1.. Daftar Isi .................. Kunci Jawaban ................ Latihan 2................................... 4................................... Contoh dan Non contoh...

Tujuan Instruksional Khusus Setelah mempelajari Modul ini diharapkan para Siswa mampu menjelaskan : 1. Oleh karena itu. Tujuan Instruksional Umum Setelah mempelajari modul ini.MODUL III CATATAN PENTING DALAM BTBMI I. KEGIATAN BELAJAR 1 . Catatan Penting dalam BTBMI 2.2. para Siswa diharapkan mampu menjelaskan pengelompokkan barang dan jenis catatan berdasarkan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. Jenis catatan pada BTBMI 2. 1.1. seorang klasifikator harus terlebih dahulu memahami pengetahuan barang dan pengetahuan mengenai klasifikasi barang.3. Seorang klasifikator harus memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang karena akan menentukan ketepatan pengisian Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang pada akhirnya menentukan ketepatan jumlah bea masuk dan pungutan impor lainnya yang harus dibayar. Struktur pengelompokkan barang 3. 1. Deskrifsi Singkat Untuk menjadi menjadi seorang klasifikator dibidang kepabeanan yang handal harus dapat mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang dengan terampil. PENDAHULUAN 1.

2.1. dan Catatan Sub-pos. 30. (b) (c) (d) (e) (f) (g) (h) Laminaria steril dan laminaria steril yang dapat menggembung.1. HS mempunyai Catatan Bagian. Catatan-catatan tersebut mempunyai kekuatan hukum sama seperti uraian pos atau sub-pos. Contoh: Catatan 4 Bab 30: Pos no. … … … … Preparat kontrasepsi kimia dengan bahan dasar hormon atau pembunuh sperma. Uraian. Catatan Definitif Catatan yang menjelaskan pengklasifikasian suatu barang pada pos atau sekumpulan pos tertentu.JENIS CATATAN PADA BTBMI 2. yaitu: 2.1.1.04 hanya berlaku untuk hal berikut ini. Catatan Eksklusif Catatan yang mengeluarkan barang tertentu dari suatu pos atau sub-pos dan memasukkannya dalam pos atau sub-pos tertentu lainnya. . Hemostatik bedah atau gigi steril yang dapat menyerap. Catatan Bab. Contoh dan Non Contoh Disamping KUM HS. bahan jahit bedah steril yang semacam itu dan perekat kertas steril untuk penutup luka bedah. catatan-catatan dalam HS merupakan bagian integral yang harus diperhatikan benar-benar. yang harus diklasifikasikan dalam pos tersebut dan tidak dalam pos lainnya dari Nomenklatur ini: (a) Catgut bedah steril. Catatan-catatan tersebut dapat dibagi berdasarkan jenisnya. 2.

Contoh : Catatan 3 Bab 42: Untuk keperluan pos no. tali penahan celana.09 (Bab 15).1. kandung kemih atau perut dari binatang (pos No. (b) Usus. ikat pinggang. . atau (c) Lemak hewani.Contoh: (a) Catatan 2 Bab 3: Dalam Bab ini pengertian “pellet” adalah produk-produk yang telah diaglomerasi baik secara langsung dengan cara dikompresi atau dengan penambahan sejumlah kecil bahan pengikat. 91. 2. 05. antara lain.01 sampai dengan 02. Catatan Lain-lain Catatan yang menguraikan pengertian-pengertian yang bersifat teknis. 2. selain produk dari pos No. 42. apron dan pakaian pelindung lainnya.13).10. 05. 02.4.04) atau darah binatang (pos No.04 sampai dengan 09. 09.02).Contoh: Catatan 1 Bab 2: Bab ini tidak meliputi: (a) Produk dari jenis yang diuraikan dalam pos No. yang tidak layak atau tidak sesuai untuk konsumsi manusia.11 atau 30. atau 02. tali sandang dan semua jenis gelang.3. 02. Catatan Ilustratif Catatan yang memberikan gambaran terhadap pengertian atau istilah yang perlu dijabarkan lebih lanjut. untuk sarung tangan (termasuk sarung tangan olah raga).10 harus diklasifikasikan sebagai berikut: (a) Campuran dua produk atau lebih dari pos yang sama harus digolongkan dalam pos itu.03. (b) Catatan 1 Bab 9: Campuran dari produk dimaksud dalam pos no.08. istilah “barang pakaian dan perlengkapan pakaian” berlaku.1. tetapi tidak termasuk arloji tangan (pos no.

termasuk KUM HS. Membaca dengan teliti dan memahami catatan-catatan di atas. 83. Dalam Bab 73 sampai dengan 76 dan 78 sampai dengan 82 (tetapi bukan dalam pos no. 83. dan pos tarif yang berkaitan dengan barang yang akan diklasifikasikan merupakan syarat mutlak yang harus dilakukan agar klasifikasi yang dilakukan benar-benar akurat. 73. 83. 2.15. Mengklasifikasi barang tidak dapat dilakukan dengan hanya sekedar mencari satu pos tertentu saja. 83. Explanatory Notes.14).02.04 sampai dengan 09. dari pos no.08. Tatacara mengklasifikasi harus diikuti dengan urut agar benar-benar diperoleh hasil yang akurat.10 (atau campuran seperti yang dimaksud dalam (a) atau (b) di atas) tidak mempengaruhi penggolongannya asalkan….01. Latihan .2. dan (c) Barang dari pos no. Untuk beberapa hal cara seperti ini mungkin berhasil namun labih banyak risiko kegagalannya. istilah “bagian untuk pemakaian umum” berarti: (a) Barang dari pos no. dari logam tidak mulia.06. barang dari Bab 82 atau 83 tidak termasuk dari Bab 72 sampai dengan 76 Bab 78 sampai dengan 81. Dengan memperhatikan ketentuan dalam ayat di atas dan Catatan 1 Bab 83. selain pegas untuk lonceng atau arloji (pos no. 73.17 atau 73. (c) Catatan 2 Bagian XV: Dalam seluruh Nomenklatur. 73. 09.10 dan bingkai serta kaca dari logam tidak mulia. dan uraian pada pos. 83. 09. Tambahan dari bahan lainnya ke dalam produk dari pos no.(b) Campuran dua produk atau lebih dari pos yang berlainan harus digolongkan dalam pos no.18 dan barang semacam itu dari logam tidak mulia lainnya.. sub-pos.12.15) apa yang disebut bagian dari barang tidaklah termasuk uraian tentang bagian untuk pemakaian umum seperti diuraikan di atas. (b) Pegas dan lembaran untuk pegas. 73. 91.10. 73.07.

eksklusive. catatan definitive. Sebutkan contoh catatan ekslusif pada Bab 71 ? 3. Hal ini diperlukan agar jangan sampai salah dalam menempatkan pengelompokan barang sesuai Harmonized system. Sebutkan contoh catatan definitif pada Bab 39 ? 2.Pertanyaan 1. 2.Sebutkan catatan ilustratif pada pada Bagian ? 1. Secara singkat jenis catatan tersebut meliputi. dikeluarkan. . Rangkuman Catatan merupakan pintu gerbang dalam memasuk bagian dan bab dalam BTBMI.3. illustratif. dan penjelasan. atau dikeluarkan sebagian serta penjelasan lainyya. Secara garis besarnya pintu gerbang tersebut akan mengatur tentang suatu barang yang boleh dimasukan. Jawaban 2. 3.

bulu dan barang terbuat daripadanya (diklasifikasikan pada bagian VIII). Terhadap produk yang telah mengalami proses lebih lanjut diklasifikasikan pada bab 19. telur. Contoh dan Non Contoh 3. jangat dan kulit binatang pada Bab 41. bijibijian. demikian juga halnya dengan jangat. Bagian III hanya terdiri dari bab 15 yang mencakup lemak dan minyak hewani dan .). Contohnya. bahan yang tidak/belum dikerjakan (unworked products). produk makanan siap saji yang diawetkan diklasifikasikan pada Bagian IV. sepatu dari kulit binatang pada Bab 64.1. kecuali beberapa jenis minyak dan lemak tertentu (bab 15) dan kayu (bab 44). produk susu. barang setengah jadi (semi-finished products). madu. Pengelompokan tersebut berdasarkan urutan tingkat pengerjaannya. Di bawah ini disajikan urutan pengelompokan barang dalam HS/BTBMI: 1. tepung. dsb. KEGIATAN BELAJAR 2 STRUKTUR PENGELOMPOKAN BARANG PADA BTBMI 3. Produk-produk yang termasuk bagian I dan II belum mengalami proses pengerjaan kecuali sampai tahap tertentu (dengan beberapa pengecualian). dan barang jadi (finished products). produk yang dapat dimakan lainnya. Urutan pengelompokan ini juga berlaku untuk bab dan pos. barang dikelompokkan dalam 96 bab (dan bab 77 sebagai persiapan masa mendatang) yang dikelompokkan dalam 21 bagian. binatang hidup diklasifikasikan pada Bab 1. baik yang bisa dimakan atau tidak (tanaman. ikan. Gambaran per Bagian Bagian I mencakup binatang hidup dan produk dari binatang (daging. bab 20 atau bab 21. Bab 1 sampai dengan bab 24 (Bagian I sampai dengan Bagian IV) mencakup produk-produk pertanian dalam arti luas.1. Bagian II mencakup produk sayuran. kulit. dan produk yang tidak dapat dimakan).3. sereal. Sebagai contoh. Uraian.1. yaitu bahan baku (raw material). Namun beberapa jenis minyak dan lemak dikeluarkan dari bagian I dan diklasifikasikan pada bab 15. Gambaran Per Bagian Dalam Harmonized System (HS). buah. sayuran.

bersamasama dengan produk industri makanan yang tidak dicakup bab-bab sebelumnya.dan tembakau. Umumnya minyak tidak menguap. karena minyak nabati yang mudah menguap masuk Bab 33 sebagai minyak atsiri. KENTANG ) . dikukus atau diawetakan secara permanen. misalnya minyak goreng atau margarine yang siap dikonsumsi. Demikian juga bahan pemanis tiruan masuk Bab 29. diantaranyadi goreng.nabati dan produk terbuat daripadanya (misalnya malam/wax). Bab 16 meliputi daging atau ikan yang telah mengalami proses lebih lanjut. cuka. Minyak pada Bab II baik dalam keadaan mentah. Berbagai jenis gula yang murni secara kimiawi diklasifikasikan pada Bab 29. Bagian IV mencakup produk minuman. minuman keras. HUBUNGAN BAGIAN I DAN II DENGAN BAGIAN IV: BAGIAN I & II DIPROSES LEBIH LANJUT >>>BAGIAN IV *BAB 2 BAB 3 (DAGING) (IKAN) > * BAB 16 *BAB 4 (SUSU) BAB 10 (GANDUM-GANDUMAN) > * BAB 19 BAB 11 (PRODUK-GILINGAN) *BAB 7 (SAYURAN) > * BAB 20 BAB 8 (BUAH-BUAHAN) BAB 11 (PRODUK GILINGAN. seperti saccharin dan dulcin. Bab 17 meliputi gula dan bahan lainnya seperti sirop. madu tiruan dan karamel. telah diproses.

belerang dan batuan lainnya hanya dalam keadaan mentah (crude). Kecuali kalau susunannya mensyaratkan lain. khususnya dalam rangka klasifikasi barang. sedangkan apabila merupakan hasil bentukan atau pahatan masuk Bab 68 dan kalau bahan tersebut merupakan hasil pembakaran maka masuk Bab 69. sabun. maka produk barangbarang tersebut semakin bervariasi dan bertambah jenisnya. Bagian ini terdiri dari 2 bab. Bagian VI mencakup produk-produk kimia. pupuk. hasil gilingan atau saringan. bahan peledak. dan lain-lain. Hasil pertambangan yang telah diolah secara lain. Batu-batuan setengah permata atau batu permata digolongkan pada Bab 71. hancur. yaitu bab 39 (Plastik dan Barang Dari Plastik) dan bab 40 (Karet dan Barang Dari Karet). karet buatan serta barang dari plastik dan karet buatan banyak diimpor Indonesia. seperti garam. batuan pada Bab 25 atau bijih logam pada Bab 26 . Struktur dalam Bab 39 secara garis besar adalah : . baik yang berbentuk asal (primary form) maupun produk-produk industri kimia seperti produk farmasi. misalnya dimurnikan sebagai bahan kimia anorganik masuk Bab 28. maka pengenalan dan proses pengidentifikasi barang tersebut semakin sulit. Sesuai dengan kemajuan teknologi. Bagian VII mencakup plastik/barang dari plastik serta karet/barang dari karet. telah dicuci. hasil tumbuk. maka Bab 25 meliputi produk tambang. kosmetik. dan sumber bahan organik pada Bab 27 seperti batu bara.Bagian V mencakup produk mineral. cat. Bagian VII mencakup plastik dan produk dari plastik (bab 39) dan karet dan produk dari karet (bab 40). dan minyak bumi. Karena kemajuan teknologi pembuatan barang. Komoditi plastik. baik sumber mineral anorganik seperti tanah.

dan barang kerajinan tangan (bab 46). goni dan sisal.. Namun. Bagian IX mencakup produk yang berasal dari tumbuhan. REJA.01 dan 42. Serat . mineral dan buatan manusia.. barang dari kulit atau usus binatang (bab 42). kertas karton dan barang terbuat daripadanya (bab 48). Bagian XI mencakup produk tekstil mulai dari sutera (bab 50) sampai dengan pakaian dan permadani (bab 63). Bagian X juga masih mencakup produk yang berasal dari tumbuhan. rami. beberapa produk seperti furniture diklasifikasikan di bab lain (bab 94). Serat bila diproses akan menjadi benang. Bahan dasar tekstil adalah serat. flaks. kertas. hewani. Serat dapat berasal dari tumbuhan. gabus dan barang dari gabus (bab 45). Serat dari tumbuhan atau disebut serat nabati. 4006 :TIDAK DIVULKANISASI : KARET PUGARAN : SISA. REJA : COUMPOND 3916-3921 : BARANG SETENGAH JADI 3922-3924 : BARANG JADI 4007-40016 : BARANG SETENGAH JADI 4017 : KARET KERAS Bagian VIII mencakup produk-produk tertentu yang berasal dari binatang seperti jangat dan kulit (bab 41). yaitu pulp (bab 47).02 juga mencakup produk-produk tertentu terbuat bukan dari kulit. seperti kayu dan barang dari kayu (bab 44).BAB 39 PLASTIK DAN BARANG DARI PLASTIK BAB 40 KARET DAN BARANG DARI KARET SUB-BAB 1 3901-3911 : POLIMER BUATAN 3912-3913 : POLIMER ALAMI 3914 : PENUKAR ION 4001-4002 : BAHAN KARET 4003 4004 4005 SUB-BAB II 3915 : SISA. kulit berbulu. dan produk industri percetakan (bab 49). termasuk kulit berbulu imitasi (bab 43). Perlu dicatat bahwa pos 42. henneps. misalnya serat kapas.. kemudian dari benang menjadi kain atau produk tekstil lainnya.

bunga buatan. Serat buatan adalah serat hasil industri kimia. perhiasan. semen. bulu kambing Angora (Mohair) dan sutera. asetat sellulosa. dibuat dengan mesin tenun melalui cara menyilangkan kelompok benang satu terhadap yang lain. poliurethan dan lainnya. dan barang dari rambut manusia (bab 67). Kain rajut dibuat dengan jalan menjeratkan benang satu dengan yang lain atau pada benang itu sendiri. tongkat jalan. dan uang logam. keramik (bab 69). plaster. bulu kelinci. Istilah sintetik digunakan dalam hubungan bahan polimer seperti poliamida. dll.yang berasal dari hewan misalnya bulu domba atau bulu anak domba. yaitu serat sintetik dan serat artificial (tiruan). Bagian XII mencakup produk alas kaki (bab 64). contohnya kaos. logam mulia. poliester. tutup kepala (bab 65). Sistem penomoran benang langsung (Direct Yarn Number) Sistem penomoran benang tidak langsung (Indirect Yarn Number) Kain yang terbuat dari benang dengan cara tenun. benang pakan kalau dalam mesin rajut adalah yang bergerak menyilang benang lusi atau sesuai arah lebar kain. T shirt dan kain katun (lihat Bab 60 tentang jenis kain ini). dan kaca/barang dari kaca (bab 70). Ada dua sistem yang dipakai dalam penomoran benang. Melalui data nomor benang. dll. juga produk-produk tertentu dari bulu. Bagian XIII mencakup produk-produk yang diperoleh dari batu. yaitu : 1. dan semacam itu. payung. Serat buatan manusia atau man made fiber terbagi dua. gips. Benang tersebut biasa disebut sebagai lusi dan pakan. (bab 66). 2. Bagian XV mencakup logam tidak mulia dan barang terbuat daripadanya. Untuk memahami ini lihat Catatan 1 Bab 54. Bagian XIV mencakup hanya bab 71 yaitu mencakup mutiara dan batu mulia. (bab 68). bisa dilihat besar atau kecilnya suatu benang. sedangkan serat tiruan digunakan dalam hubungan untuk bahan dari rayon viskosa. Namun demikian bagian ini tidak mencakup barang dari logam dasar yang termasuk dalam bab- . bulu unta.

atau bedah (bab 90). Bagian XIX hanya terdiri dari bab 93 yang mencakup senjata dan amunisi. kontrol. Hal ini dapat difahami mengingat antara bab satu dengan bab lainnya kadang-kadang mencakup barang yang mengandung bahan yang sama atau merupakan proses lebih lanjut dari barang dalam bab sebelumnya. Perlu diingat bahwa judul bab bukan merupakan uraian yang bersifat mengikat secara hukum. medis.bab di belakangnya (seperti mesin dan kendaraan). mainan. dan barang antik.2. akan kita dapati bahwa terdapat keterkaitan antara bab tertentu dengan bab atau beberapa bab lainnya. Hubungan Antar Bab Apabila kita mempelajari Bab demi Bab Harmonized System. dan alat transportasi lainnya (kereta api. di bawah ini disajikan gambaran keterkaitan antar bab dalam HS: . judul bab dalam HS sebagian besar bersifat umum. Sebagai contoh. dan peralatan olahraga (bab 95). peralatan mekanik. dan peralatan listrik. fotografi. dan bermacam-macam barang hasil pabrik (bab 96). 3. Bagian XVIII mencakup perlatan optik. Bagian XXI hanya terdiri dari bab 97 yang mencakup hasil karya seni. Bagian XX mencakup furniture. lampu. barang kegemaran kaum pengumpul. pesawat terbang. dan bangunan prefabrikasi (bab 94). Bagian XVII mencakup kendaraan. peralatan permainan. Dengan demikian dapat dimengerti apabila suatu barang yang sepintas termasuk dalam suatu bab ternyata diklasifikasikan pada bab lain. papan nama iluminasi. pesawat ruang angkasa.). jam (bab 91). kapal laut. Bagian XVI mencakup mesin. sinematografi. Bagian ini mempunyai pos dan sub-pos yang sangat besar dibandingkan dengan bagian lainnya. Selain itu.1. dll. dan perlatan musik (bab 92). ukuran. perlengkapan penerangan.

Produk yang dikemas dalam kedap udara dan mengalami pengolahan lebih jauh selain pengolahan dari Bab 2 maka diklasifikasikan pada bab 16. • Mesin dan peralatan mekanis diklasifikasikan pada bab 84 sedangkan mesin dan peralatan listrik diklasifikasikan pada bab 85. dingin.03 (electric central heating boiler) dan pos 84. diasap dan dipanggang. Bila sudah berbentuk barang yang khusus dibuat untuk keperluan tertentu. mesin pada pos 84. dan beberapa mesin lainnya.• • Bab 1 mencakup antara lain binatang hidup. Namun apabila etilene terpolimerisasi menjadi polietilena dengan jumlah unit monomer (n) 5 atau lebih. beberapa mesin dan peralatan tertentu tetap diklasifikasikan pada bab 84 meskipun elektrik.19 (wood dryer). Tetapi apabila kembang gula tersebut mengandung kokoa. • Bahan kimia etilena diklasifikasikan pada Bab 29 (bahan kimia organik). Untuk mengetahui keterkaitan antara bab satu dengan bab lainnya. dan sebagainya. barang tersebut diklasifikasikan di bab-bab lain. Namun kuda hidup yang digunakan dalam sirkus tidak klasifikasikan pada bab 1. • Kembang gula (sugar confectionery) diklasifikasikan pada bab 17. Daging pada Bab 2 hanya terhadap pengolahan terbatas seperti : segar. maka harus diklasifikasikan pada Bab 39 (plastik). Adalah tidak mungkin untuk menggambarkan dengan rinci keterkaitan antas bab dalam diktat ini. Barang dari plastik diklasifikasikan pada Bab 39. melainkan pada bab 95 (pos 95. Pada Bab 6 tidak termasuk benih. seperti mesin dengan motor listrik. Contoh-contoh di atas adalah sebagian kecil contoh keterkaitan antar bab dalam HS. furniture dari plastik (bab 94). maka harus diklasifikasikan olahan makanan mengandung kokoa pada bab 18 (pos 18.08).06). frame kacamata dari plastik (bab 90). buah atau buah berbonggol dan umbi-umbian tertentu. kotak jam dari plastik (bab 91). Namun demikian. Sebagai contoh. • Bab 6 meliputi semua tanaman hidup yang umumnya dimaksud untuk dijual oleh tukang bibit atau yang bergerak dibidang hortikultura yang serasi untuk ditanam atau dijadikan pajangan. kita dapat . Sayuran atau buah yang diawetkan dengan cuka atau dengan cara lain misalnya masuk Bab 20.

binatang lunak dan binatang air lainnya yang tidak bertulang belakang 4. Ikan dan udang-udangan. gluten gandum. Daging & sisanya yang dapat dimakan 3. biji dan buah. tidak dirinci atau termasuk dalam pos lain. bermacam-macam butir. pati. ekstrak nabati lainnya 14. Bab Pada PADA BTBMI BAGIAN I BINATANG HIDUP. 2. Kopi.1. bunga potong dan daun untuk hiasan 7. 12. malti .3. Bahan nabati untuk anyam-anyaman. mate dan rempah-rempah 10. damar dan air. produk nabati tidak dirinci atau termasuk pos lainnya BAGIAN III MINYAK DAN LEMAK HEWANI ATAU NABATI DAN PRODUK DISOSIASINYA. jerami dan makanan ternak. tidak dirinci atau termasuk dalam pos lainnya BAGIAN II PRODUK NABATI BAB 6. Produk hewani. Sayuran. . telur unggas. Gandum-ganduman 11. Biji mengandung minyak dan buah mengandung minyak . produk hewani yang dapat dimakan. Produk industri penggilingan . getah. Produk pabrik susu. akar dan bonggol tertentu yang dapat dimakan 8. tanaman industri atau obat . 13.melihat di catatan bab maupun catatan bagian. Untuk itu membaca catatan bab maupun catatan bagian merupakan kewajiban sebelum kita mengklasifikasikan suatu barang pada pos tertentu. madu alam. Buah & buah berbatok yang dapat dimakan. Lak. inulin . PRODUK HEWANI BAB 1. Binatang hidup 2. umbi akar dan yang semacam itu. teh. Pohon hidup dan tanaman lainnya. 5. LEMAK OLAHAN YANG DAPAT DIMAKAN. kulit dari buah jeruk dan melon 9.

bahan plester. MINUMAN. Olahan dari daging. Kakao & olahan kakao 19. BAGIAN V PRODUK MINERAL BAB 25. Minuman. Olahan dari gandum-ganduman. produk industri kue. malam mineral BAGIAN VI PRODUK INDUSTRI KIMIA DAN INDUSTRI YANG ADA HUBUNGANNYA DENGAN INDUSTRI KIMIA . binatang lunak atau dari binatang air yang tidak bertulang belakang 17. Bijih logam. kacang atau bagian lain dari tanaman. MINUMAN KERAS DAN CUKA. Bahan bakar mineral.MALAM HEWANI ATAU NABATI Bab 15 (Judul Bab sama dengan Bagian) BAGIAN IV BAHAN MAKANAN OLAHAN. kapur dan semen. 20. minuman keras dan cuka 23. minyak mineral dan produk sulingannya. pati atau susu. Bermacam-macam olahan yang dapat dimakan 22. Ampas. Olahan dari sayuran. Garam. olahan makanan hewan 24. terak dan abu 27. 21. Gula dan kembang gula 18. Tembakau dan tembakau pengganti buatan. tanah dan batu. bahan mengandung bitumen. TEMBAKAU DAN TEMBA KAU PENGGANTI BUATAN BAB 16. 26. dan sisa dari industri makanan. belerang. tepung. dari ikan atau dari udang-udangan. buah.

Barang fotografi atau sinematografi 38. Zat albumina . korek api. dempul dan damar lainnya. pasta untuk membuat model. preparat pelumas. senyawa organik atau organik dari logam mulia. TAS TANGAN DAN TEMPAT SIMPAN SEMACAMNYA. enzim 36. Minyak atsiri dan resinoida. Bahan peledak. wangi-wangian. “malam untuk mencetak gigi” dan preparat untuk gigi dengan bahan dasar gips. bahan samak dan turunannya. perekat . malam tiruan. dari logam tanah langka. Bahan kimia anorganik.BAB 28. KULIT SAMAK. Sabun bahan organik penggiat permukaan. BARANG UNTUK BERPERGIAN. Ekstrak bahan samak atau bahan celup. tinta 33. lilin dan barang semacam itu. Plastik dan Barang dari plastik 40. Produk farmasi 31. Aneka produk kimia BAGIAN VII PLASTIK DAN BARANG DARI PLASTIK. dari unsur radio aktif dan dari isotop 29. olahan tertentu yang mudah terbakar 37. modifikasi pati . preparat pelumas atau pembersih. cat dan vernis. produk piroteknik. bahan celup. KARET DAN BARANG DARI KARET BAB 39. PELANA TERMASUK PERLENGKAPANNYA DAN PAKAINAN KUDA. 35. Bahan kimia organik 30. KULIT BERBULU DAN BARANGNYA. malam olahan. kosmetika atau preparat pewangi 34. Kulit dan Barang dari Kulit BAGIAN VIII JANGAT DAN KULIT MENTAH. preparat pencuci. paduan piroforik. pigmen dan bahan pewarna lainnya. BARANG DARI USUS . Pupuk 32. preparat pencuci.

KERTAS ATAU KERTAS KARTON (BEKAS DAN SISA) YANG DIPEROLEH KEMBALI. ARANG KAYU. Barang dari jerami. RUMPUT ESPARTO ATAU DARI BAHAN ANYAMAN LAINNYA. Jangat dan kulit mentah (lain dari kulit berbulu) dan kulit samak 42. KERANJANG DAN BARANG ANYAMAN BAB 44. dari rumput esparto atau dari bahan anyaman lainnya. barang untuk bepergian. Barang dari kulit samak. keranjang dan barang anyaman BAGIAN X PULP DARI KAYU ATAU DARI BAHAN SELLULOSA BERSERAT LAINNYA. pelana termasuk perlengkapan dan pakaian kuda. KERTAS DAN KERTAS KARTON DAN BARANGNYA BAB 47. barang dari usus hewan (lain dari pada usus ulat sutera) 43. BARANG DARI JERAMI.(LAIN DARI USUS ULAT SUTERA) BAB 41. Kulit berbulu dan kulit berbulu tiruan BAGIAN IX KAYU DAN BARANG DARI KAYU. Pulp dari kayu atau dari bahan sellulosa berserat lainnya. Gabus dan barang dari gabus 46. GABUS DAN BARANG DARI GABUS. Kayu dan barang dari kayu. tas tangan dan wadah yang semacam itu. arang kayu 45. kertas atau kertas karton (bekas dan sisa) yang diperoleh .

rajutan atau kaitan 62. 55. kain kempa dan bukan 51. Kain tenunan khusus. setelan. TUTUP KEPALA. tongkat jalan. dilapisi. tali tambang dan kabel dan 52. sulaman 59. PAYUNG. dari kertas atau kertas karton 49. Alas kaki. tidak dirajut atau dikait 63. Barang tekstil sudah jadi lainnya. permadani. 57. TONGKAT DUDUK. BULU UNGGAS. Serat staple buatan hiasan. Kain rajutan atau kain kaitan 61. PECUT DAN BAGIANNYA. Gumpalan. naskah ketikan dan rencana BAGIAN XI TEKSTIL DAN BARANG TEKSTIL BAB 50. Permadani dan tekstil penutup benang kertas dan tenunan dari lantai lainnya benang kertas 58. PAYUNG PANAS. Wool. OLAHAN DAN BARANGNYA. Payung. pelindung kaki dan yang semacam itu . Filamen buatan berjumbai. CAMBUK. gombal BAGIAN XII ALAS KAKI. Kapas barang-barangnya 53. Barang cetakan. Kain tekstil diresapi. bagian dari barang semacam 65. ditutupi atau dibuat berlapis-lapis. benang khsusu. Kertas dan kertas karton. Serat tekstil dari nabati lainnya . BARANG DARI RAMBUT MANUSIA BAB 64. renda. Barang dan perlengkapan pakaian. pecut dan bagiannya . barang tekstil dari jenis yang cocok untuk digunakan dalam industri 60. TONGKAT JALAN.48. Barang dan perlengkapan pakaian. pakaian bekas dan barang tekstil bekas. naskah tulisan tangan. payung panas. barang dari pulp kertas. bulu hewan halus atau kasar. Sutera 56. surat kabar. kain tekstil 54. cambuk. tongkat duduk. gambar dan produk lainnya dari industri percetakan. tenunan. benang benang bulu kuda dan kain tenunan pintal. BUNGA TIRUAN. Tutup kepala dan bagiannya 66.

bunga tiruan. mika atau bahan semacam itu 69. sermet. barang dari rambut manusia BAGIAN XIII BARANG DARI BATU. Seng dan barang terbuat dari seng 80. asbes. semen. Tembaga dan barang terbuat dari tembaga 75. SEMEN.67. LOGAM MULIA KERAJANG DAN BARANGNYA. Aluminium dan barang terbuat dari 78. Barang dari batu. PERHIASAN IMITASI. Produk keramik 70. BATU PERMATA ATAU SEMI PERMATA. Bulu unggas dan bulu unggas olahan serta barang terbuat dari bulu unggas atau bullu unggas tiruan. ASBES. Timah hitam dan barang terbuat dari timah hitam 79. PRODUK KERAMIK. MATA UANG LOGAM BAB 71 (Judul Bab sama dengan judul Bagian) BAGIAN XV LOGAM TIDAK MULIA DAN BARANG DARI LOGAM TIDAK MULIA BAB 72. GIPS. Nikel dan barang terbuat dari nikel 76. Barang dari besi dan baja 74. LOGAM MULIA. KACA DAN BARANG DARI KACA BAB 68. barangnya . gips. Besi dan baja 73. Kaca dan barang dari kaca BAGIAN XIV MUTIARA ALAM DAN MUTIARA BUDIDAYA. Timah dan barang terbuat dari timah 81. MIKA ATAU DARI BAHAN SEMACAM ITU. Logam tidak mulia lainnya.

aluminium 82 Perkakas. Reaktor nuklir. PERLENGKAPAN LISTRIK. ketel uap. PESAWAT TERBANG. barang tajam. alat pemasang dan perlengkapan rel kereta api atau trem dan bagiannya. perlengkapan isyarat lalu lintas mekanik dari segala jenis (termasuk elektronik) 87. peralatan.sendok dan garpu. dan bagian serta perlengkapan dari barang yang semacam itu BAGIAN XVII KENDARAAN. Mesin dan alat listrik serta bagiannya.bagian bagiannya dari logam tidak mulia 83 Bermacam-macam barang dari logam tidak mulia BAGIAN XVI MESIN DAN PESAWAT MEKANIK. DAN BAGIAN SERTA PERLENGKAPAN DARI BARANG YANG SEMACAM ITU BAB 84. dan bagian serta . Lokomotif kereta api atau trem. PESAWAT PEREKAM ATAU REPRODUKSI SUARA DAN GAMBAR UNTUK TELEVISI. Kendaraan selain yang begerak diatas rel kereta api atau trem. pesawat perekam dan pesawat reproduksi suara. mesin dan pesawat mekanik. BAGIANNYA PESAWAT PEREKAM DAN PESAWAT REPRODUKSI SUARA. dari logam tidak mulia. pesawat perekam dan reproduksi gambar dan suara untuk televisi. kendaran yang bergerak diatas rel dan bagiannya. bagiannya 85. KENDARAAN AIR DAN PERLENG KAPAN PENGANGKUTAN YANG BERKAITAN BAB 86.

Kapal. bantal dan kelengkapannya. pesawat ruang angkasa. PRESISI. BAGIAN DAN PERLENGKAPANNYA BAB 90. kasur tempat tidur. presisi. Kapal udara. Perabot rumah. tidak dirinci atau termasuk dalam pos manapun. KEDOKTERAN DAN BEDAH. lampu dan perlengkapan penerangan. peneliti. bangunan prefabrikasi 95. UKUR. kedokteran dan bedah. LONCENG DAN ARLOJI. BAGIAN DAN KELENGKAPANNYA BAB 93 (judul sama dengan judul Bagian) BAGIAN XX BERMACAM-MACAM BARANG HASIL PABRIK BAB 94. SINEMATOGRAFI. INSTRUMEN MUSIK. bagian dan perlengkapan dari barang seperti itu BAGIAN XIX SENJATA DAN AMUNISI. kasur. dan bangunan terapung BAGIAN XVIII ALAT DAN APARAT OPTIK. serta bagiannya 89. Alat dan aparat optik. PENELITI. keperluan permainan dan keperluan olah raga. Mainan. bahtera. isyarat iluminasi. fotografi. Instrumen musik .perlengkapannya 88. sinematografi. POTOGRAFI. ukur. bagian dan perlengkapannya 91. bagian dan . lapik kasur. Lonceng dan arloji dan bagiannya 92. papan nama iluminasi dan semacam itu.

Sebutkan posnya saja batu pualam yang masih bongkahan dan yang telah jadi ubin ? 1. 2. kendaraan. BARANG KEGEMARAN KAUM PENGUMPUL DAN BARANG ANTIK BAB 97 (Judul Bab sama dengan Bagian) 2. Latihan 2 Pertanyaan 1. Pengelompokan barang ini berawal dari binatang. Bermacam-macam barang hasil pabrik lain BAGIAN XXI HASIL KARYA SENI. Urutan pengelompokan barang umumnya didasarkan atas bahan dasar. 3. proses setengah jadi dan barang jadi.kelengkapannya 96. Jawaban 2. Sebutkan pos saja untuk barang mentega dan margarin ? 2. hewani.3. Terakhir dengan mesin. Bab 1 sampai dengan 77 dan bab 78 sampai dengan bab 98. nabati mineral dan selanjutnya kepada bahan kimia dan produknya. barang untuk kemanan dan barang kelontong.2. barang presisi. Rangkuman BTBMI terdiri dari 21 Bagian. Daging sapi yang diolah sederhana masuk pos berapa ? Bagaimana bila telah dikukus masuk Bab berapa ? 3. .

Sebaiknya seorang klasifikator yang bak akan memahami pengelompokan jenis barang dalam BTBMI .Pemahaman pengelompokan barang akan mempermudah dan mempercepat dalam mengklasifikasi.

. KEGIATAN BELAJAR 3 CATATAN PENTING PADA BTBMI 3.11 dan 07. catatan-catatan dalam HS merupakan bagian integral yang harus diperhatikan benar-benar. adas pedas. Catatan Bab. Uraian. terong.04. darah. 07. lebih dari 20% menurut beratnya. HS mempunyai Catatan Bagian. Ketentuan ini tidak berlaku untuk produk diisi dari pos 19. buah dari genus Capsicum atau dari genus Pimenta. chervil. 07. sisa daging.1. Contoh dan Non Contoh Disamping KUM HS. Catatan-catatan tersebut mempunyai kekuatan hukum sama seperti uraian pos atau sub-pos. daging. atau berbagai kombinasinya.Bab ini tidak meliputi : (a) Kecuali dalam hal produk diisi dari pos 19. moluska atau invertebrata air lainnya. saccharata). 3. Dalam hal apabila olahan mengandung dua atau lebih produk yang disebut di atas.12 kata "sayuran" meliputi jamur.3 Bagian IV Bab 19 catan 1 1.03 atau 21.02 atau olahan dari pos 21. tarragon. sisa daging. diklasifikasikan dalam pos pada Bab 16 yang sesuai dengan komponen atau komponen-komponen yang mendominasi menurut beratnya.2 Bagian II Bab 16 Catatan 2 2. dan Catatan Sub-pos.1. moluska atau invertebrata air .1. cendawan tanah.. ikan atau krustasea. kaper. buah zaitun. daging. parsley. labu kuning.4. labu sumsum.02. olahan makanan mengandung sosis.Dalam pos 07. 3. ikan atau krustasea. cress dan marjoram manis (Majorana hortensis atau Origanum majorana) yang dapat dimakan.1. Catatan-catatan penting tersebut adalah : 3.09.. jagung manis (Zea mays var.10. darah.Olahan makanan digolongkan dalam Bab ini asalkan mengandung sosis.1 Bagian II Bab 7 Catatan 2 2.

Subpos 2007. (b) Biskuit atau barang lain yang dibuat dari tepung atau dari pati. dapat dikenali sebagai unsur yang saling melengkapi satu sama lain.. dalam kemasan dengan berat bersih tidak melebihi 250 g.5 Bagian VI Bagian VI catatan 3 3.10 harus dipertimbangkan lebih dahulu daripada subpos lain dari pos 20. asalkan unsur tersebut : (a) berdasarkan penyiapannya jelas dapat dikenal untuk digunakan bersamasama tanpa dibungkus ulang sebelumnya.1.Barang yang disiapkan dalam set yang terdiri dari dua atau lebih unsur yang terpisah.1. 3. dan (c) pada saat diajukan.09)..lainnya. dihomogenisasi secara halus. beberapa atau seluruhnya yang digolongkan dalam Bagian ini dan dimaksudkan untuk dicampur bersama untuk memperoleh produk dari Bagian VI atau VII. . (b) diajukan bersama.4 Bagian IV Bab 20 catatan subpos 2 2.6 Bagian VII Bab 39 catatan 4 4. baik berdasarkan sifat atau perbandingan relatifnya. pengawet atau keperluan lain. atau (c) Obat-obatan dan produk lain dari Bab 30. Untuk penerapan definisi ini tidak memperhitungkan sejumlah kecil berbagai bahan yang ditambahkan pada olahan tersebut sebagai penyedap. lebih dari 20% menurut beratnya (Bab 16). 3. disiapkan untuk penjualan eceran sebagai makanan bayi atau untuk keperluan diet. istilah "olahan homogen" berarti olahan buah.07.Istilah "kopolimer" meliputi semua polimer yang unit monomer tunggalnya tidak ada yang beratnya 95% atau lebih menurut berat total kandungan polimer tersebut. harus diklasifikasikan dalam pos yang sesuai dengan produk tersebut. 3.Untuk keperluan subpos 2007. diolah secara khusus untuk makanan hewan (pos 23. atau berbagai kombinasinya.10. Olahan ini dapat mengandung sejumlah kecil buah yang dapat dilihat.1..

keberadaan berbagai zat yang tidak diperlukan untuk ikatan silang. istilah "karet sintetik" berlaku untuk : (a) Zat sintetik tidak jenuh yang dapat diubah dengan tidak kembali ke sifat semula melalui vulkanisasi menggunakan belerang menjadi zat non termoplastik. produk kopoliadisi. Untuk keperluan pengujian ini. peliat dan pengisi. kopolimer (termasuk kopolikondensasi.7 Bagian VII Bab 40 catatan 4 4.1.02.1. Namun demikian. dan setelah direntang hingga dua kali panjang aslinya selama lima menit. Untuk keperluan Catatan ini. yang pada suhu antara 18 C dan 29 C tidak akan putus bila di rentang hingga tiga kali panjang aslinya.. seperti perentang. block copolymer dan graft copolymer) dan campuran polimer harus diklasifikasikan dalam pos yang mencakup polimer dari unit komonomer tersebut yang beratnya mendominasi berat unit komonomer tunggal lainnya. bagian unit komonomer dari polimer yang termasuk dalam pos yang sama harus digolongkan bersama.02 dan dari campuran dua bahan tekstil atau lebih harus diklasifikasikan seolah-olah seluruhnya terdiri dari satu bahan tekstil yang beratnya mendominasi berat setiap bahan tekstil lainnya. Apabila tidak satupun bahan tekstil yang .Dalam Catatan 1 Bab ini dan dalam pos 40.(A) Barang yang dapat diklasifikasikan dalam Bab 50 sampai dengan 55 atau dalam pos 58.. maka kopolimer atau campuran polimer harus diklasifikasikan dalam pos terakhir berdasarkan urutan penomoran di antara pos yang mempunyai pertimbangan yang setara. dapat ditambahkan zat yang diperlukan untuk ikatan silang. panjangnya akan kembali menjadi tidak lebih dari satu setengah kali panjang aslinya. kecuali apabila konteksnya menentukan lain.09 atau 59. tidak diperkenankan 3.Untuk keperluan Bab ini. keberadaan zat yang dimaksud oleh Catatan 5 (b) (ii) dan (iii) juga diperkenankan. 3.8 Bagian XI Bagian XI catatan 2 2. seperti pengaktif dan akselerator vulkanisasi. Dalam hal tidak terdapat unit komonomer tunggal yang mendominasi.

1.08.10 dan bingkai serta cermin dari logam tidak mulia.18 dan barang semacam itu dari logam tidak mulia lainnya. tanpa memperhatikan berbagai bahan yang tidak diklasifikasikan dalam Bab tersebut. 73. (d) Apabila Bab atau pos merujuk pada barang dari bahan tekstil yang berbeda .07. 3. (b) Pilihan pos yang sesuai harus dilakukan.10) dan benang berlogam (pos 56. maka bahan tersebut harus diperlakukan sebagai bahan tekstil tunggal. 83. barang tersebut harus diklasifikasikan seolah-olah seluruhnya terdiri dari satu bahan tekstil yang termasuk dalam pos terakhir berdasarkan urutan penomoran di antara pos-pos dengan pertimbangan yang setara. 4 dan 5 . istilah "bagian untuk pemakaian umum" berarti : (a) Barang dari pos 73.01. dari logam tidak mulia.15) referensi untuk bagian barang tidak meliputi referensi untuk bagian pemakaian umum sebagaimana dirinci di atas. dengan menentukan Babnya. selain pegas jam atau arloji (pos 91.06. (B) Untuk keperluan ketentuan di atas : (a) Benang lilit dari bulu kuda (pos 51. pertama.17 atau 73.14). (c) Apabila Bab 54 dan 55 berkaitan dengan berbagai Bab lainnya.10 Bagian XVI Bagaian XVI catatan 3. dari pos 83. benang berlogam harus dianggap sebagai bahan tekstil. untuk pengklasifikasian kain tenunan. 83.12. maka Bab 54 dan 55 harus diperlakukan sebagai Bab tunggal.15. dan kemudian pos yang tepat dalam Bab tersebut.05) harus diperlakukan sebagai bahan tekstil tunggal yang beratnya dianggap seperti berat keseluruhan komponennya.1.02. Dalam Nomenklatur ini.9 Bagian XV Bagian XV catatan 2 2. 83. (b) Pegas dan lembaran untuk pegas. 73. 3. 73.mendominasi menurut beratnya. dan (c) Barang dari pos 83. Dalam Bab 73 sampai dengan 76 dan Bab 78 sampai dengan 82 (tetapi tidak dalam pos 73.

dan. yang dapat : (1) Menyimpan program atau programprogram pengolahan dan sekurang-kurangnya data yang diperlukan segera untuk pelaksanaan program tersebut. harus diperlakukan seolah-olah kegunaan utamanya adalah kegunaan satu-satunya.71. (2) Diprogram secara bebas menurut kebutuhan pemakai. dengan kabel listrik atau dengan peralatan lainnya) yang dimaksudkan untuk digunakan bersama untuk melakukan fungsi tertentu secara jelas.1.3. suatu mesin yang .11 Bagian XVI Bagian XVI catatan 5 5. 3.Apabila mesin (termasuk kombinasi mesin) terdiri dari komponen tersendiri (terpisah atau saling dihubungkan dengan pipa. istilah " mesin " berarti berbagai mesin.Untuk keperluan klasifikasi..(A) Untuk keperluan pos 84.12 Bagian XVI Bagian XVI catatan 7 7. Berdasarkan Catatan 2 pada Bab ini dan Catatan 3 pada Bagian XVI. permesinan. mesin gabungan yang terdiri dari dua atau lebih mesin yang dipasang bersama untuk membentuk satu kesatuan dan mesin lainnya yang dirancang untuk keperluan melakukan dua fungsi atau lebih yang saling melengkapi atau fungsi alternatif. harus diklasifikasikan seolah-olah terdiri hanya dari komponen tersebut atau sebagai mesin tersebut yang melakukan fungsi utama. seluruhnya harus diklasifikasikan dalam pos yang sesuai dengan fungsi tersebut. aparatus atau peralatan yang disebut dalam pos pada Bab 84 atau 85. instalasi.. mesin yang digunakan untuk lebih dari satu kegunaan. melaksanakan program pengolahan yang memerlukan modifikasi pelaksanaannya.. perlengkapan. 3. selama berlangsungnya pengolahan. 4.. yang termasuk dalam salah satu pos dalam Bab 84 atau 85. (4) Tanpa intervensi manusia. (3) Mengerjakan perhitungan aritmatika yang ditentukan oleh pemakai. dengan peralatan penggerak. dengan keputusan yang logis.Kecuali apabila konteksnya menentukan lain.. istilah "mesin pengolah data otomatis" berarti : (a) Mesin digital.Untuk keperluan Catatan ini. 5.1.

cincin pipih atau sejenisnya dari berbagai bahan (diklasifikasikan menurut bahan utamanya atau dalam pos 84.79 juga meliputi mesin untuk membuat tali atau kabel (misalnya.. benang tekstil atau berbagai bahan lainnya atau dari kombinasi bahan bahan tersebut. 3. sirkit tercetak dapat dilengkapi dengan elemen penghubung tidak dicetak. dari logam tidak mulia (Bagian XV). resistor.Istilah "bagian" serta "bagian dan aksesori" tidak berlaku untuk barang berikut. penyepuhan. mesin penjalin. harus diklasifikasikan dalam pos 84.13 Bagaian XVII Bagian XVII catatan 2 2. kontak atau komponen tercetak lainnya (misalnya. .16 Bagian XVI Bab 85 catatan 4 4. dapat diidentifikasi sebagai barang dari Bagian ini maupun tidak : (a) Sambungan. mesin pemilin atau mesin pembuat kabel) dari kawat logam.1. sebagaimana dirinci dalam Catatan 2 Bagian XV. juga tidak meliputi resistor.42. melalui berbagai proses pencetakan (misalnya. (b) Bagian untuk pemakaian umum. tersendiri atau saling berhubungan menurut pola yang ditetapkan sebelumnya. Istilah " sirkit tercetak " tidak meliputi sirkit yang dikombinasi dengan elemen selain yang diperoleh selama proses pencetakan. Pos 84..16). 3. kapasitor). kecuali apabila konteksnya menentukan lain. Sirkit film tipis atau tebal yang terdiri dari elemen pasif dan aktif yang diperoleh selama proses teknologis yang sama. harus diklasifikasikan dalam pos 85.kegunaan utamanya tidak diuraikan dalam pos manapun atau yang tidak ada satupun kegunaannya merupakan kegunaan utama.34 "sirkit tercetak" adalah sirkit yang diperoleh dengan pembentukan di atas dasar pengisolasi. elemen semi konduktor).Untuk keperluan pos 85. kapasitor.79. atau barang semacam itu dari plastik (Bab 39).1. Namun demikian. induktansi. selain elemen yang dapat memproduksi. atau induktansi khusus. menyearahkan. memodulasi atau memperkuat sinyal elektris (misalnya. pengetsaan) atau melalui teknik "sirkit film" berupa elemen konduktor. pencetakan timbul.84) atau barang lainnya dari karet divulkanisasi selain karet keras (pos 40.

(ij) Senjata (Bab 93). harus diklasifikasikan menurut pos yang sesuai dengan penggunaan utama dari bagian atau aksesori tersebut. (g) Barang dari Bab 90. 3. (f) Mesin atau perlengkapan elektris (Bab 85). distabilkan terhadap gangguan. dan (b) Regulator besaran listrik otomatis dan instrumen atau aparatus untuk mengontrol besaran bukan listrik secara otomatis.79.. dan mempertahankannya pada nilai yang dikehendaki. dengan pengukuran nilai aktual secara konstan atau periodik. yang dirancang untuk memberi .05. (h) Barang dari Bab 91.01 sampai dengan 84. tinggi permukaan. yang penggunaannya tergantung maupun tidak pada fenomena elektris yang berubah-ubah menurut faktor yang harus dikontrol secara otomatis. Bagian atau aksesori yang memenuhi uraian dalam dua pos atau lebih dari pos pada Bab-bab tersebut. atau bagiannya. 3. (d) Barang dari pos 83.83. tekanan atau variabel lainnya dari cairan atau gas secara otomatis.(c) Barang dari Bab 82 (perkakas). (e) Mesin atau aparatus dari pos 84. asalkan barang tersebut merupakan bagian integral dari mesin atau motor.Referensi untuk "bagian" atau "aksesori" dalam Bab 86 sampai dengan 88 tidak berlaku untuk bagian atau aksesori yang tidak cocok untuk digunakan sematamata atau terutama dengan barang dari Bab-bab tersebut.1.32 berlaku hanya untuk : (a) Instrumen dan aparatus untuk mengontrol arus.. yang pengoperasiannya tergantung pada fenomena listrik yang berubah-ubah menurut faktor yang dikontrol. barang dari pos 84.06.Pos 90. yang dirancang untuk memberi faktor tersebut untuk. atau (l) Sikat dari jenis yang digunakan sebagai bagian dari kendaraan ( pos 96.82 atau barang dari pos 84. (k) Lampu atau alat kelengkapan penerangan dari pos 94.03).14 Bagian XVIII Bab 90 catatan 7 7. atau untuk mengontrol suhu secara otomatis.81 atau 84.

Merujuk pada Catatan ini. 3 4 5. Bahkan dalam KUM HS nomor satu dinyatakan bahwa hal yang mengikat dalam mengklasifikasi barang adalah catatan. gambar pastel. Apakah bingkai dan gambar yang sama mahal harganya diklasifikasikan dalam satu pos tarif ? 1. gambar. Sebutkan 3 contoh barang termasuk bagian untuk pemakaian umum ? 2. Latihan 3 Pertanyaan 1. baik catatan bagian. Catatan merupakan salah satu syarat penting dalam mengklasifikasi barang.1.faktor ini untuk. dan mempertahankannya pada nilai yang dikehendaki. 4. kolase atau plakat hiasan semacam itu. distabilkan terhadap gangguan. 4. bab maupun subpos. bab maupun subpos yang bersifat mengikat.15 Bagian XXI Bab 97 catatan 5 5. Bagaimana pengklasifikasian motor untuk mobil mainan ? 4. Bagaimana syarat komputer menurut Harmonized system pada Bab 84 ? 3.2. harus diklasifikasikan terpisah. Rangkuman Salah satu syarat menjadi seorang klasifikator yang baik adalah harus dapat memahami catatan penting. asalkan dari jenis dan nilai yang wajar untuk barang tersebut. bingkai yang bukan merupakan jenis atau nilai yang wajar untuk barang tersebut.. Saringan udara untuk mesin diklasifikasikan pada pos berapa ? 5. ukiran.Bingkai yang terpasang pada lukisan. Test Formatif . 3. Jawaban 2. dengan pengukuran nilai aktual secara konstan atau periodik. Berbagai jenis barang akan dijelaskan dengan catatan dalam bagian. 5.3. barang cetakan atau litograf harus diklasifikasikan dengan barang tersebut.

S ) Pernyataan 5b pada KUM HS adalah Peti kamera.S ) Sebelum mengklasifikasi barang.S ) Judul Bagian. Pilihlah jawaban yang Saudara anggap benar dengan cara melingkari huruf yang terdapat di depan jawaban tersebut 6.S ) Pernyataan 2b pada KUM HS adalah Barang tidak lengkap atau tidak rampung dianggap sebagai barang lengkap atau rampung. Dalam membuat Nota Penelitian Klasifikasi Barang maka diperlukan kerangka yang . Bab dan Sub-bab pada Buku tarif Bea Masuk Indonesia hanya dimaksudkan untuk memudahkan penyebutan saja.2. Tidak mengikat secara hukum dalam mengklasifikasi 2. ( B . dengan bentuk atau kelengkapan khusus untuk menyimpan barang tertentu atau seperangkat barang tertentu. cocok untuk pemakaian jangka panjang dan diimpor lengkap dengan isinya. Dengan mengetahui spesifikasi barang maka akan lebih mendekati keakuratan dalam mengklasifikasi barang 5. sebaiknya kita identifikasi dulu barang yang akan kita klasifikasi. ( B .1. 1.S) Pernyataan 3a pada KUM HS adalah Pos yang memuat uraian yang paling terinci harus lebih diutamakan daripada pos yang memuat uraian yang lebih umum sifatnya 4. ( B . ( B .5. Lingkarilah huruf B apabila pernyataan ini Saudara anggap benar dan huruf S apabila pernyataan Saudara anggap salah. asalkan pada saat diimpor sudah mempunyai sifat utama sebagai lengkap atau rampung barang 3. peti instrumen dan tempat simpan yang semacam. ( B . harus diklasifikasikan dengan barang tersebut jika biasa dijual dengan barang itu 5.

3b b. definitif b. 3a 10. esklusif c. Uraian klasifikasi mulai 2 digit sampai dengan 9 digit d. nama barang dan uraian jenis barang b. 3b d. pengertian 9. berdasarkan KUM HS nomor : a. ilustrasi d.singkat atau memerlukan uraian yang cukup panjang tergantung pada permasalahan yang dihadapi. saos dan bawang. Walalupun etil alkohol merupakan bahan kimia organik. Namun demikian nota tersebut setidak-tidaknya memuat tentang : a. b dan c benar 7. Larutan dengan kandungan asam cuka (acetic acid) lebih dari 10 % dikeluarkan dari bab 22 berdasarkan catatan : a. bumbu. 5b . 2b d. pernyataan a.alasan atau catatan yang digunakan c. 5a d. 5a 8. 3c c. 3a c. Tabung gas LPG yang berisi gas LPG tidak dapat diklasifikasikan menjadi stu pos tarif karena ketentuan menurut KUM HS nomor : a. 1 b. 2b b. diklasifikasikan sebagai mie pada bab 19. 2a c. namun diklasifikasikan pada bab 22 dikarenakan KUM HS nomor : a. Suatu kemasan mengandung mie.

tidak dikelantang dan tidak dimerserisasi.04 atau 90. Benang tenun terbuat dari campuran 70 % kapas (cotton) dan 30 % nilon. Mengapa tutup kepala (topi) pengaman untuk pengendara sepeda motor yang terbuat dari bahan plastik tidak diklasifikasikan pada bab 39 ? 9.Ketentuan dan catatan apa yang digunakan dalam mengklasifikasi barang tersebut 6. Pilihan B atau S .5. Sebutkan alasannya 10. Mengapa sabun mandi mengandung obat pembasmi kuman walaupun mengandung obat tidak diklasifikasikan pada bab 30 sebagai produk farmasi. Kunci Jawaban Tes Formatif 6. merupakan benang tunggal.1.32 . Jawablah pertanyaan soal dibawah ini dengan ringkas 6. Mengapa olahan makanan yang terbuat dari daging sapi yang dikukus tidak diklasifikasikan pada bab 2 7. Automatic voltage regulator yang digunakan sebagai stabilizer otomatis untuk komputer harus diklasifikasikan pada pos 85. dari serat disisir dengan nomor benang 150 decitex. 8.3.

B 6. Daging sapi hasil olahan sesuai bab 2 (pengolahan sementara/terbatas) diklasifikasikan pada bab 2. a 5. b 4. Pilihlah berganda 1. B 4. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Bandingkanlah hasil jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang ada di . Perhatikan pos tarif 1602. Lihat catatan 1(e) Bab 30 3. S 5. Bentuk pengolahan bukan sederhana. Lihat catatan 6(b) Bab 90 Perhatikan sub-pos 5206. Essay Diberitahukan hanya 6 digitnya (sub posnya) 1. Lihat catatan 1(n) Bab 39 4.50.3. d 6. seperti dipanggang. Lihat catatan 1 bab 16. dikukus dan pengolahan selain pada bab 2 diklasifikasikan pada bab 16.000 2. d 2. S 3. B 2. Lihat catatan 2(A) Bagian XI 5.24.2. c 3. 7.1.

Hitunglah jumlah jawaban Anda yang benar atau sejauh mana Anda menguasai mata pelajaran tersebut. terutama bagian yang belum Anda kuasai 8..belakang modul ini. Arti tingkat penguasaan : * 90 % . Kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap terhadap materi kegiatan belajar Rumus Tingkat Penguasaan Jumlah Jawaban Anda yang benar dibagi 15 kemudian dikali 100 % = ... Harmonized System.... Wordl Customs Organization. bila tingkat penguasaan Anda masih dibawah 80 %.100 % = Baik sekali * 80 % * 70 % * 89 % = Baik 79 % = Cukup 69 % = Kurang Kalau Anda mencapai tingkat penguasaan 80% keatas Anda dapat meneruskan kepada modul atau bagian pelajaran lain. Hasilnya Baik ! akan tetapi. 2007 version .... Kepustakaan 1.. Anda harus mengulangi membaca Modul kembali..

Departemen Keuangan RI. 2007 4.2. World Customs Organization (1994) *** . Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (2007). (1995) Pusdiklat Bea dan Cukai. Classification Disputes Settled by The Harmonized System Committee. World Customs Organization. Explanatory Notes. Pengantar Klasifikasi Barang. Jakarta 3. Jakarta 5.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful