BAHAN DIKLAT TEKNIS SUBTANTIF DASAR (DTSD) KEPABEANAN DAN CUKAI

MODUL ( I – III)

MATERI KLASIFIKASI BARANG

OLEH : TIM PENYUSUN MODUL PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI

PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN BEA DAN CUKAI BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

JAKARTA 2007

MODUL I

SISTEM KLASIFIKASI BARANG MENURUT HARMONIZED SYSTEM

MATERI KLASIFIKASI BARANG OLEH : TIM PENYUSUN MODUL PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN BEA DAN CUKAI BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA JAKARTA 2007

Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Allah yang Maha Kuasa, bahwa Modul ini dapat diselesaikan sesuai waktunya.

Obyek dari kegiatan Direktorat Bea dan Cukai adalah barang. Dalam rangka penentapan tarif bea masuk dan kepentingan kepabeanan lainnya, seyogyanya petugas Ditjen Bea dan Cukai menambah keterampilam dalam mengklasifikasi barang agar pelayanan cepat dan negara tidak dirugikan dalam menetapkan besarnya bea masuk, karena ada kepastian tentang jenis barang dan penetapan tarif posnya.

Modul ini merupakan seri dari 3 buah modul mata pelajaran klasifikasi barang. Modul ini digunakan dalam Diklat Teksnis Substantif Dasar I Kepabeanan dan Cukai dengan judul “Catatan Penting dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia”

Dalam kesempatan ini, Penulis menghaturkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga dapat diselesaikannya Modul ini. Semoga Allah membalas atas amal kebaikan tersebut. Semoga Modul ini bermanfaat sebagai penambah wawasan dan media untuk penambah keterampilan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang.

Jakarta, Nopember 2007

Penulis

...................................1 Uraian................. Rangkuman....... 1.................................... Latihan 3................................................................................................2................................... Tujuan Pembelajaran Umum............ Contoh dan Non contoh............................... Rangkuman...............................................DAFTAR ISI Halalaman Kata Pengantar ................................. 1.................... 4................................ 3....................................... 1.........Deskripsi singkat...................................... Daftar Pustaka....... 3.........3...... Contoh dan Non contoh.............1...................................................... Latihan 2............................... 4.................................... 4 KEGIATAN BELAJAR 3 CATATAN PENTING PADA BTBMI....3..........................................................................................................................2.................................... 4.......... i ii 1 1 1 1 2 2 5 5 6 6 22 23 24 24 32 32 33 36 37 38 2 3 5 6 7 8 ...........3................................................ Tujuan Pembelajaran Khusus.......................1 Uraian....................................... 3.................................... Contoh dan Non contoh............... KEGIATAN BELAJAR 1 JENIS CATATAN PADA BTBMI……………………………..................... Test Formatif ...... Rangkuman... Daftar Isi ..... Umpan Balik........... 2........... Latihan 1.............................................1 Uraian....................... Kunci Jawaban ........................................................3...... 2..................... 2............................. 1 PENDAHULUAN ..........2.......................... KEGIATAN BELAJAR 2 STRUKTUR PENGELOMPOKAN BARANG PADA BTBMI................2........................................................

3. Seorang klasifikator harus memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang karena akan menentukan ketepatan dalam klasifikasi dalam Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang pada akhirnya menentukan ketepatan jumlah bea masuk dan pungutan impor lainnya yang harus dibayar. para Siswa diharapkan mampu memahami landasan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang berdasarkan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. PENDAHULUAN 1.1. Tujuan Instruksional Khusus Setelah mempelajari Modul ini para siswa diharapkan dapat menjelaskan : 1. . Identifikasi dan klasifikasi barang 2. Harmonized System (HS) 3.MODUL I KLASIFIKASI BARANG I. 1. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI ) 2007. Tujuan Instruksional Umum Setelah mempelajari modul ini. seorang klasifikator harus terlebih dahulu memahami pengetahuan barang dan pengetahuan mengenai klasifikasi barang. Deskripsi Singkat Seorang Pegawai Ditjen Bea dan Cukai harus menjadi seorang klasifikator dibidang kepabeanan Oleh karena itu. 1.2.

1. Informasi apa yang diperlukan untuk mengidentifikasi suatu barang dan darimana informasi tersebut diperoleh? Informasi yang diperlukan sebenarnya tergantung dari . Keakuratan mengklasifikasi tergantung dari keakuratan dalam mengidentifikasi barang. Setelah kita mendapatkan seluruh informasi yang dibutuhkan melalui identifikasi barang. Uraian. Sebelum mengklasifikasi suatu barang. Langkah ini dinamakan Identifikasi barang. Contoh dan Non Contoh 2. KEGIATAN BELAJAR 1 IDENTIFIKASI DAN KLASIFIKASI BARANG 2. Cara seperti ini tidak akurat dan sering menyebabkan terjadinya kesalahan klasifikasi yang mengakibatkan negara dirugikan.1. Perlu diingat bahwa setelah melakukan tahap klasifikasi. Langkah pertama dalam mengklasifikasi adalah apa yang akan diklasifikasikan.2. kita harus tahu lebih dulu spesifikasi barang itu. barulah kita dapat melakukan langkah kedua yaitu Klasifikasi barang. Diharapkan dengan menggunakan metode ini para siswa dapat dengan mudah mengklasifikasi barang. Dalam buku ini akan dijelaskan dengan singkat langkah-langkah praktis dalam mengklasifikasi barang. Namun sekali lagi perlu diingat. Seorang klasifikaotr tidak mungkin dapat mengklasifikasikan suatu barang dengan benar bila ia tidak tahu spesifikasi barang tersebut.1. baru diketahui bahwa informasi yang ada belum lengkap sehingga kita harus kembali melakukan identifikasi barang untuk memperoleh informasi yang diperlukan tersebut. Identifikasi dan Klasifikasi Barang Langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk dapat mengklasifikasi suatu barang dengan benar? Biasanya klasifikasi tersebut dilakukan dengan mencari langsung pos tarif yang dianggap sesuai. klasifikasi yang benar hanya dapat dilakukan apabila mengetahui jenis barang dan memahami aturanaturan mengklasifikasi dengan benar.

informasi yang diperlukan untuk mengklasifikasikan kuda hidup. atau kuda untuk sirkus). misalnya apakah bentuknya cair atau padat. kegunaan. Informasi yang diperlukan tentunya semakin banyak dan rumit. dan keterangan lainnya. buatan. Fisik barang itu sendiri sudah memberikan beberapa informasi yang kita butuhkan. . Bagaimana seandainya yang akan kita klasifikasikan adalah suatu bahan kimia? Barangkali sebelum mengklasifikasi kita memerlukan berbagai informasi mengenai barang kimia tersebut: apakah organik atau anorganik.uraian yang ada pada BTBMI yang berkaitan dengan barang bersangkutan. Semakin banyak informasi yang kita miliki tentang barang tersebut. apa kegunaannya. dan sebagainya. semakin mudah bagi kita untuk mengklasifikasikan barang karena tidak dibutuhkan informasi yang terlalu rumit (misalnya. untuk tujuan olah raga. apakah bentuk asal atau preparat. bagaimana pengemasnya. Informasi lain dapat kita peroleh dari berbagai sumber di atas. Semakin sederhana dan rinci uraian barang pada BTBMI. Demikian juga apabila barang tersebut berupa barang elektronik. bagaimana bentuknya. semakin akurat kita mengklasifikasikannya. Darimana kita dapat memperoleh informasi yang kita perlukan untuk mengklasifikasi suatu barang? bawah ini: Mari menjawab pertanyaan tesebut dengan memperhatikan bagan di Untuk mengetahui spesifikasi barang yang akan kita klasifikasikan. Berapa watt dan voltage tenaga listrik yang dibutuhkan. butiran atau bongkahan. banyak sumber informasi yang dapat kita gunakan. hanyalah kuda bibit. dan sebagainya. apa komposisinya.

BROSUR. elektronik. DATA BASE. bahan yang dominan? . campuran. kimia. NOTES ALPHABETI CAL INDEX. mesin? • What is it made of? Dibuat dari apa barang tersebut? ⇒ komposisi. KEMASAN INFORMASI DARI SUMBER LAIN: SK. setengah jadi. DAN LAIN LAIN. Identifikasi barang diperlukan untuk menjawab setidak-tidaknya empat pertanyaan dasar di bawah ini: • What is it? Barang apa yang diimpor? ⇒ bahan baku. MSDS. KATALOG. atau barang jadi? produk pertanian. DLL EXPL. INSTANSI/LEMBAGA TERTENTU KAMUS.C/A. DLL HASIL PENGUJIAN LABORATORIUM LITERATUR LAIN IDENTIFIKASI KLASIFIKASI KONDISI FISIK BARANG LABEL.

Kalau dari pabrik farmasi kecenderungannya grade farmasi atau kemurnian mendekati 100 %. bahan baku dan semua informasi mengenai barang. 2. Dengan kata lain.1.2. aksesoris. dari jenis pabrik apa. bagian dari barang lain. Demikian juga negara asal barang akan berpengaruh terhadap mutu atau harga barang. misalnya apakah pabrik farmasi atau pabrik produksi pipa plastik. fungsi. setelah 3W + 1H ⇒ What are the classifiable codes? Mengapa “What are classifiable codes?” (pos-pos. Namun pada umumnya suatu pos mencakup atau menguraikan satu kelompok barang sehingga sepintas lalu seakan-akan ada satu barang yang dicakup oleh dua atau lebih pos. bukan satu pos tertentu?). lebh dari satu macam kegunaan? • How is it imported? Bagaimana saat diimpor? ⇒ kemasan? belum lengkap? terurai? dalam bentuk set? Pertanyaan di atas harus dijawab sebelum kita memulai tahap klasifikasi. Langkah-Langkah Dalam Mengklasifikasi Barang 1) Prosedur Umum Klasifikasi Dalam mengklasifikasi barang menggunakan BTBMI. Kita dapat menemukan satu pos tertentu bila pos dimaksud dengan spesifik menguraikan jenis barangnya.• What for? Digunakan untuk apa? ⇒ kegunaan tertentu. barulah kita berusaha mencari pos yang tepat. Keterangan kemurnian barang akan berkaitan dengan harga barang tersebut. merumuskan identitas atau deskripsi barang tersebut. Keterangan pabrik atau produsen barang perlu diperhatikan. prosedur yang digunakan adalah sebagai berikut : • • • identifikasi barang yang akan diklasifikasikan. Apabila kita sudah mempunyai jawaban. mempelajari jenis. Untuk itu kita perlu mengantisipasi semua pos tarif yang mungkin untuk dipilih satu pos yang paling sesuai. . Hal ini untuk mengetahui grade atau kemurnian dari bahan tersebut.

kita bisa memilih bab-bab yang lebih spesifik. (c) Perhatikan penjelasan-penjelasan dalam catatan Bagian maupun catatan Bab yang berkaitan dengan barang yang akan kita klasifikasi. menentukan klasifikasi barang ke dalam BTBMI (dapat dimulai baik dari segi bahan baku menjadi barang jadi. kimia. bauatan. Dengan mengetahui spesifikasi barang. kemasan dan informasi lain yang bergunauntuk mengklasifikasi barang. biasanya kita sudah mempunyai gambaran umum apakah barang tersebut diklasifikasikan di bab tersebut atau di bab lainnya. Tahapan Mengklasifikasi Barang Dalam penjelasan ini disajikan tahapan mengklasifikasi barang secara garis besar. atau mesin. 2). Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. Pada tahap ini. Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System dan teori pendukung lainnya. Apabila ada catatan yang mengeluarkan barang tersebut dari Bab atau Bagian yang kita pilih. berat. mesin. pertanian. dan seterusnya). guna. barang kimia. Tahapan lebih rinci akan dijelaskan kemudian setelah memahami apa itu Harmonized System. Bila sudah kita tentukan.• • melihat buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI). Pada tahap ini kadang-kadang kita sudah dapat . Identitas barang meliputi : nama. Bab. proses sederhana dan proses canggih/kompleks. (d) Setelah menemukan satu bab yang paling sesuai berdasarkan kajian di atas. maka kita mulai menelusuri pos-pos yang mungkin mencakup barang yang akan kita klasifikasikan dalam bab tersebut. atau pos mana barang tersebut diklasifikasikan. mineral. misalnya barang tersebut produk pertanian. baca dan perhatikan baik-baik catatan Bagian dan catatan Bab yang berkaitan dengan pilihan bab atau bab-bab pada butir 1. (b) Pilih bab atau bab-bab yang berkaitan dengan spesifikasi barang tersebut. (a) Kita identifikasi dulu barang yang akan kita klasifikasi. fungsi. perhatikan pada Bagian.

kegunaannya. PPN.. maka langkah selanjutnya tinggal menentukan sub-pos (6-digit) dan pos tarif (9-digit) yang sesuai. bentuknya.2. Dalam tahap ini tentunya menggunakan kaidah-kaidah seperti yang ada dalam nomor 1 sampai dengan 10 Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System (e) Apabila sudah dipilih satu pos tarif yang benar-benar sesuai dengan uraian barang. Pertamina. Ingat. Bila akan diimpor sebuah pompa air yang menggunakan tenaga listrk. Jawaban 2. dalam penentuan sub-pos dan pos tarif pun kadang timbul permasalahan klasifikasi yang sama dengan penentuan pos (4-digit).menemukan pos yang mencakup barang tersebut dengan rinci.3. 3. bentuk asal atau preparat. 2. langkah selanjutnya adalah melihat pembebanannya (BM. Bagaimana langkah-langkah dalam meng klasifi kasi barang ? 3. atau cukai) dan ada atau tidak peraturan tata niaganya (IT. dan lain-lain. jangan lupa selalu menggunakan pembebanan yang up to date berdasarkan ketentuan yang terbaru.). Bila sudah kita temukan satu pos yang tepat. Bagaimana seandainya yang akan kita klasifikasikan adalah suatu bahan kimia? Sebelum mengklasifikasi kita memerlukan identifikasi untuk mendapatkan informasi mengenai: : organik atau anorganik. dan sebagainya. Karena pembebanan tersebut sering berubah. . PPnBM. data apa yang diperlukan mengenai pompa tersebut ? 1. Mengapa kita harus mengidentifikasi barang sebelum mengklasifikasinya ? 2. 2. Rangkuman Dalam kegiatan 1 telah dijelaskan dengan singkat langkah-langkah praktis dalam mengklasifikasi barang. komposisinya. Latihan 1 Pertanyaan 1. IP.

hanya pada sistem CCCN ini terdapat . fungsi.1. Uraian.1. yang berlaku sejak kemerdekaan Republik Indonesia sampai dengan 31 Desember 1972. Sistem Brussel Edisi 1975 (BTN 1975). HARMONIZED SYSTEM 3. prosedur yang digunakan adalah sebagai berikut : 1) identifikasi barang. Sistem Jenewa (Geneve Nomenclature). Sistem Customs Cooperation Council (CCCN). 5) menentukan klasifikasi barang 3. mulai berlaku sejak tanggal 1 Januari 1973 sampai dengan 30 Juni 1975. Indonesia telah menggunakan beberapa sistem klasifikasi untuk barang impor. 3) merumuskan identitas. pengangkutan dan statistik. 4 melihat BTBMI . Contoh dan Non Contoh 3. 1. bahan baku dan semua informasi mengenai barang. c. Sejarah Sistem Klasifikasi di Indonesia Sebelum diberlakukannya Harmonized System. Pada dasarnya sistem pentarifan ini sama dengan sistem sebelumnya.1. KEGIATAN BELAJAR 2. penetapan klasifikasi barang diatur lebih lanjut oleh Menteri Keuangan. Berdasarkan pasal 14 ayat 2 Undang-undang Kepabenan Indonesia Nomor 10 tahun 1995. yaitu : a. d. Pengantar Klasifikasi barang adalah suatu daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis dengan tujuan untuk mempermudah pentarifan transaksi perdagangan.Dalam mengklasifikasi barang menggunakan BTBMI. Pada saat ini sistem pengklasifikasian barang di Indonesia didasarkan pada Harmonized System dan dituangkan dalam bentuk suatu daftar tarif yang kita kenal dengan sebutan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. Sistem Brussel (Brussel Tariff Nomenclature atau BTN). b. Penetapan tarif ini merupakan penyempurnaan dari penetapan tarif sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 Juli 1975 sampai dengan 30 september 1980. 2) mempelajari jenis.

Mengapa HS ? Sejak tahun 1970. Sistem CCCN Edisi 1985 (CCCN 1985). .penyempurnaan sistem penomoran pada sub-pos dari dua digit menjadi tiga digit atau semula 6 digit menjadi 7 digit. Sistem ini diterapkan di Indonesia berdasarkan PP No. kelompok studi tersebut berhasil menyusun suatu nomenklatur (daftar klasifikasi barang berdasarkan kelompok-kelompok) yang dinamakan Harmonized Commodity Description and Coding System atau lebih dikenal dengan sebutan Harmonized System (HS). f. tetapi juga digunakan untuk kepentingan lain seperti statistik. Sistem Harmonisasi (Harmonized System). Customs Cooperation Council (CCC) yang sekarang dikenal dengan nama World Customs Organisation (Organisasi Pabean Dunia) telah membentuk suatu kelompok studi yang berusaha untuk menciptakan suatu nomenklatur klasifikasi barang yang tidak semata-mata untuk keperluan pabean. 26 tahun 1988 dan diwujudkan dalam bentuk Buku Tarif Bea Masuk Indonesia 1989 dan dinyatakan berlaku mulai tanggal 1 Januari 1989. nomenklatur tersebut disahkan dalam suatu konvensi yang dikenal dengan nama Konvensi HS. Namun sekarang hampir seluruh negara di dunia telah meratifikasi konvensi ini. Sistem ini merupakan penyempurnaan dari sistem CCCN sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 April 1987 sampai dengan 31 desember 1988. dan negosiasi perdagangan. 2. Pada akhir tahun 1986. Pada awalnya. Untuk memberikan kekuatan hukum yang pasti. Sistem CCCN ini mulai diberlakukan pada tanggal 1 Oktober 1980 sampai dengan 31 Maret 1985. Meskipun baru meratifikasi pada tahun 1993. sebenarnya Indonesia telah menggunakan BTBMI berdasarkan HS sejak tanggal 1 Januari 1989. konvensi HS ditandatangani oleh 70 negara yang sebagian besar adalah negara Eropa. e. pengangkutan. termasuk Indonesia yang telah meratifikasi konvensi HS dengan Keppres Nomor 35 tahun 1993.

produsen. Sederhana dan memberikan kepastian dalam hal aplikasi dan interpretasi yang benar dan sama untuk keperluan negosiasi. HS menggunakan dasar yang seragam untuk keperluan pentarifan secara internasional. pengangkut. dan aparat bea dan cukai. Merupakan kumpulan data yang seragam secara internasional sehingga dapat digunakan untuk mendukung analisis dan statistik perdagangan internasional. Mengapa HS dijadikan dasar klasifikasi secara internasional? Ada beberapa keuntungan yang didapat setiap negara yang mengadopsi HS sebagai pedoman klasifikasi barang. • Memperbaharui sistem klasifikasi barang sebelumnya. untuk memberikan perhatian kepada perkembangan teknologi dan masyarakat industri serta pola perdagangan Internasional. HS adalah pedoman klasifikasi yang sistematik untuk seluruh barang yang diperdagangkan secara internasional. • Memberikan Sistem Internasional yang resmi untuk pemberian Kode. perkembangan masyarakat industri dan pola perdagangan Internasional. untuk penetapan Tarif Pabean secara mendunia. yaitu: 1.2. dengan tujuan : • Memberikan keseragaman dalam daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis. Tujuan Harmonized System Adanya perbedaan sistem klasifikasi tarif antara negara di dunia. Menyadari hal yang demikian WCO pada tanggal 14 Juni 1983 meluncurkan HS yang mulai berlaku secara internasional pada tanggal 1 Januari 1988. 3. dokumentasi dan sebagainya. mengakibatkan timbulnya kesulitan dalam mengantisipasi kemajuan teknologi. • Memudahkan pengumpulan. 5.3.1. 2. 4. . eksportir. pembuatan dan analisis Statistik perdagangan dunia. Menggunakan “bahasa pabean” sehingga dapat dengan mudah dimengerti oleh importir. Pen jelasan dan penggolongan barang untuk tujuan perdagangan keperluan pengangkutan. seperti tarif pengangkutan.

Volume 2 (Bab 30. The Standard International Trade Classificatioan (SITC) 3. World Customs Organization (WCO). Untuk itu membaca Explanatory Notes harus selalu disesuaikan dengan konteksnya dalam HS. Volume 3 (Bab 64 . d. misalnya: a. Explanatory Notes yang digunakan saat ini adalah edisi kedua (tahun 1996) yang terdiri dari empat volume.3 Publikasi Pelengkap HS Harmonized System mempunyai beberapa publikasi pelengkap yang digunakan untuk lebih mempermudah klasifikasi barang. Publikasi dimaksud adalah: 1. Karena pentingnya Explanatory Notes ini. . explanatory notes merupakan interpretasi resmi (official interpretation) dari HS pada level internasional dan merupakan pelengkap yang sangat penting dari HS. dan Volume 4 (Bab 85 . 1 (Bab 1 . b.84). Explanatory Notes adalah referensi yang sangat diperlukan untuk mendapatkan interpretasi yang benar dari HS. Publikasi-publikasi tersebut juga diterbitkan oleh WCO.1. The International Union Railway (IUR). The International Air Transport Association (IATA). namun sebagaimana disetujui WCO. The Explanatory Notes to the Harmonized System (EN) Explanatory Notes bukan merupakan bagian yang integral dari HS. Explanatory Notes juga mengalami perubahan (amandemen) untuk menyesuaikan isinya dengan struktur HS. yaitu Vol.63). sebagian negara anggota WCO mensahkannya sebagai dokumen yang berkekuatan hukum Seiring perkembangan teknologi. e. c.HS telah dibuat sedemikian rupa sehingga standard klasifikasi barang dan sistem kode penomoran barang dapat dijadikan acuan untuk berbagai kebutuhan oleh berbagai lembaga internasional yang berkaitan dengan perdagangan.29).97). The International Chamber or Shipping (ICS).

2. Catatan Bagian. Sistem Pengkodean Harmonized System mempunyai dua karakteristik yang sangat mendasar. namun juga dipergunakan secara internasional dalam bidang lain seperti negosiasi perdagangan. semua negara mempunyai kesatuan persepsi tentang pengklasifikasian suatu barang. Structured nomenclature HS adalah nomenklatur yang terdiri dari 21 Bagian.4. yaitu Bab 77. dan sebagainya. dan Correlation Tables.Z). 2. dan . 98.241 pos. yaitu: 1. HS yang tersusun dari pos dan sub-pos. Masing-masing negara penandatangan konvensi (contracting party) dapat mengembangkan penggolongan 6-digit tersebut menjadi kelompok yang lebih spesifik sesuai dengan kebijaksanaan ekonomi dan industrinya. 3. Multipurpose nomenclature HS yang mempunyai 6 digit penggolongan.1. 96 Bab (+ Bab 77). pengangkutan. the Harmonized System Commodity Data Base (dalam bentuk CD-ROM). Publikasi lain yang merupakan pelengkap HS adalah the Compendium of Classification Opinions. 3. Alphabetical Index terdiri dari dua volume. merupakan pedoman mengklasifikasi barang yang sistematik dan seragam. WCO juga menerbitkan buku indeks yang dikenal dengan nama the Alphabetical Index. yaitu Volume I (A . dan Catatan Sub-Pos. dirancang tidak hanya untuk keperluan kepabeanan. statistik. Dispute Settled Classification Opinion.L) dan Volume II (M . the Training Modules. The Alphabetical Index Untuk mempermudah mengklasifikasikan suatu barang pada pos-pos atau sub-sub pos dalam nomenklatur HS atau Explanatory Notes. Dengan tetap berdasar kepada HS 6-digit. bersama dengan Ketentuan Umum Menginterpretasi. Ada tiga Bab yang belum digunakan dalam HS yang ada saat ini. dan 1. Catatan Bab.

Bab 77 dipersiapkan untuk keperluan di masa mendatang. sedangkan Bab 98 dan 99 digunakan untuk keperluan khusus bagi masing-masing contracting party. Catatan Bagian. bagian ini akan dibahas tersendiri. • Empat angka pertama menunjukkan Pos atau Heading dalam setiap bab. Mengingat pentingnya memahami KUM HS. c. Harmonized System mempunyai tiga bagian utama atau integral. Pada contoh di atas. misalnya untuk barang pos atau peralatan pelayaran. b. Catatan Bab. 01 Sub-pos (Sub-heading) 0101. barang dimaksud diklasifikasikan pada Bab 1. Sistem penomoran dalam HS terbagi menjadi Bab (2-digit). Kode-kode nomor tersebut mencakup uraian barang yang tersusun secara sistematis. KUM HS berisi enam prinsip dasar yang harus dipatuhi dalam mengklasifikasi barang. dan sub-pos (6-digit) dengan penjelasan sebagai berikut: 01 __ 01 11 Bab (Chapter) 1 Pos (Heading) 01. . 11 _______ ______________ • Dua angka pertama untuk menunjukkan pada bab mana barang itu diklasifikasikan. Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System (General Rules for the Interpretation of the HS). Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System (KUM HS) merupakan bagian terpenting yang harus dipahami sebelum melangkah lebih jauh untuk meng klasifikasikan barang menggunakan HS. HS menggunakan kode nomor dalam mengklasifikasikan barang. Pada contoh di atas. pos (4-digit). yaitu: a. Indonesia juga menggunakan Bab 98 untuk keperluan ekspor barang tertentu yang pada bulan April 1999 dicabut kembali. dan Catatan Sub-Pos. Pos (4-digit) dan Sub-pos (6-digit) yang disusun dengan sistematik. Seperti telah disinggung sebelumnya.99. barang dimaksud diklasifikasikan pada pos 01.01.

Apa tujuan Harmnized System 2. . Apa yang dimaksud dengan Harmonized 1. pengangkutan dan statistik. mengakibatkan timbulnya kesulitan dalam mengantisipasi kemajuan teknologi. 3. Perbedaan sistem klasifikasi tarif antara negara di dunia. System ? Jawaban 3. Pada saat ini sistem pengklasifikasian barang di Indonesia didasarkan pada Harmonized System dan dituangkan dalam bentuk suatu daftar tarif yang kita kenal dengan sebutan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. System ? 2.Latihan 3 Pertanyaan 1. Untuk keperluan nasional. barang dimaksud diklasifikasikan pada sub-pos 0101. Kode-kode nomor tersebut mencakup uraian barang yang tersusun secara sistematis. Bagaimana sistem penomoran Harmonized 3.3. 3. Indonesia menggunakan sistem penomoran 10 digit dalam BTBMI yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari sub-sub pos dalam HS. Rangkuman Klasifikasi barang adalah suatu daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis dengan tujuan untuk mempermudah pentarifan transaksi perdagangan. WCO meluncurkan HS yang mulai berlaku secara internasional pada tanggal 1 Januari 1988. perkembangan masyarakat industri dan pola perdagangan Internasional.2.11. Indonesia menggunakan sistem penomoran 10 digit dalam BTBMI yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari sub-sub pos dalam HS. Pada contoh di atas. HS menggunakan kode nomor dalam mengklasifikasikan barang. Penjelasan mengenai hal ini akan dibahas lebih rinci pada penjelasan berikutnya. Berdasarkan pasal 14 ayat 2 Undang-undang Kepabenan Indonesia Nomor 10 tahun 1995. Untuk keperluan nasional.• Enam angka pertama menunjukkan Sub Pos dalam setiap Pos.

c. Pemerintah menerbitkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor : 440/KMK. Sebagai . Perlindungan terhadap konsumen dalam negeri.1. barang dikelompokkan berdasarkan sistem klasifikasi barang”. Dasar Hukum Pada akhir tahun 1995. Pasal 14 ayat (1) UndangUndang ini menyebutkan bahwa “Untuk penetapan tarif Bea Masuk.1. Pemerintah bersama Dewan Perwakilan Rakyat telah berhasil membahas dan menyetujui Rancangan Undang-Undang Kepabeanan.05/1996 tanggal 21 Juni 1996 tentang Penetapan Sistem Klasifikasi Barang dan Besarnya Tarif Bea Masuk Atas Barang Impor. penetapan klasifikasi barang ditentukan oleh Menteri Keuangan. yang sebelumnya dikenal dengan nama Customs Cooperation Council sejak tanggal 30 April 1957. b. Indonesia telah menjadi anggota World Customs Organization. Uraian. 17 tahun 2006 . Dalam Pasal 1 Keputusan ini disebutkan “Untuk penetapan tarif Bea Masuk. Pengurangan hambatan dalam perdagangan Internasional guna mendukung terciptanya perdagangan bebas. KEGIATAN BELAJAR 3 BUKU TARIF BEA MASUK INDONESIA 4. Upaya peningkatan daya saing produk Indonesia dipasar Internasional.4. d.1. barang barang dikelompokkan berdasarkan sistem klasifikasi sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 1993 tentang Pengesahan International Convention The Harmonized Commodity Description and Coding System beserta protocol-nya”. Contoh dan Non Contoh 4. Pengaturan lebih lanjut penentuan klasifikasi barang dilakukan dengan memperhatikan: a. Atas dasar pertimbangan di atas. Pemenuhan perjanjian serta kesepakatan Internasional. yang kemudian dikenal dengan nama Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan saat ini telah diamandemend dengan UU no. Selanjutnya berdasarkan pasal 14 ayat 2 Undang-undang tersebut.

struktur Klasifikasi barang dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI) mengacu kepada sistem klasifikasi dari HS Convention. telah diterima oleh Indonesia. 01/1995 yang merupakan: 1. Penyempurnan Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 1988 tentang Perubahan dan Tambahan atas Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1969 tentang Pembebasan atas Impor dan Perubahan atas Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 1986 tentang Bea Masuk Tambahan Atas Barang Impor. Berbagai bantuan teknis dalam rangka menunjang kelancaran pelaksanaan sistem dan prosedur kepabeanan Internasional. Menindaklanjuti adanya amandemen HS 1996 tersebut. Dasar penetapan besarnya tarif bea masuk (bea masuk tambahan dilebur bersama bea masuk) untuk barang bersangkutan. Berdasarkan Artikel XVI HS Convention. World Customs Organization telah mengesahkan amandemen lampiran konvensi. 3. menjadi “HS versi 1996”.anggota WCO. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 639/KMK. Indonesia telah menunjukkan peran serta yang aktif dalam kegiatan WCO dan telah banyak menarik manfaat dari organisasi ini. 2. BTBMI terakhir dengan BTBMI tahun 2007 menggunakan HS . Pemerintah pada tanggal 29 Desember 1995 telah mengeluarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 639/KMK. yang semula mempergunakan HS versi 1992. Hingga saat ini BTBMI 1996 dimaksud telah beberapa kali diubah atau direvisi sesuai dengan perkembangan kebijaksanaan nasional.01/1995 di atas selanjutnya dijabarkan dalam bentuk penerbitan BTBMI edisi tahun 1996. Berdasarkan keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 35 tahun 1993. berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 81/KMK. Indonesia telah menjadi Contracting Party dari “International Convention on the Harmonized Commodity Description and Coding Sistem”. Sebagai tindak lanjutnya . Dasar penggunaan sistem klasifikasi barang berdasarkan HS versi 1996.05/1994 tanggal 16 Maret 1994 telah ditetapkan bahwa terhitung sejak 1 April 1994 .

3) 10 (sepuluh) digit merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia. Sekarang kta akan mempelajari tentang BTBMI. Struktur BTBMI Pada bab terdahulu kita telah mempelajari gambaran umum tentang Harmonized System.00 ) berasal dari teks AHTN. 4.2. ♦ yang 4 digit terakhirnya 00. Kolom : a.1. 2) 8 (delapan) digit berasal dari teks AHTN. b.00.00 ) berasal dari teks HS – WCO. Kolom kedua adalah kolom “Uraian Barang” dalam bahasa Indonesia yang disusun dengan pola sebagai berikut: 1) Uraian barang pada pos (4 digit) dan subpos (6 digit) merupakan terjemahan dari teks HS-WCO. Kolom pertama adalah kolom “Pos/Subpos/Pos Tarif” yang mencantumkan nomor pos/subpos sebagai berikut : 1) 4 (empat) dan 6 (enam) digit pertama berasal dari teks Harmonized System-World Customs Organization (HS-WCO).ver 2007 berdasarkan AHTN.21. 4) 4 (empat). BTBMI adalah buku tarif bea masuk yang digunakan di Indonesia semenjak 1989 yaitu. . 6 (enam) dan 10 (sepuluh) digit pada bab 98 merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia. mempunyai struktur sebagai berikut: BTBMI 1. beberapa tahun sebelum Indonesia meratifikasi HS Convention dan saat ini yang berlaku adalah BTBMI 2007 berdasarkan AHTN.11. BTBMI tidak lain adalah HS yang dimodifikasi atau dijabarkan lebih lanjut untuk digunakan dalam pentarifan dan penanganan barang impor ke Indonesia.00 ( misalnya 8709. kecuali: ♦ yang 2 digit terakhirnya 00 ( misalnya 8709.10.

. 4) Khusus uraian barang dalam bab 98 merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia.21.00.00.11. Kolom kelima adalah kolom “Bea Masuk CEPT” yang mencantumkan pembebanan tarif bea masuk yang berlaku untuk impor barang dari negara-negara ASEAN dalam rangka Skema CEPT berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 546/KMK. ♦ yang 4 digit terakhirnya 00.10. 4) Khusus uraian barang dalam bab 98 merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia. Kolom ketiga adalah kolom “Description of Goods” dalam bahasa Inggris yang disusun dengan pola sebagai berikut : 1) Uraian barang pos (4 digit) dan subpos (6 digit) merupakan teks HS-WCO dalam bahasa Inggris. Kolom keempat adalah kolom “Bea Masuk Umum” yang mencantumkan pembebanan tarif bea masuk atas barang impor berlaku umum berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 547/KMK.00 ) berasal dari teks HS – WCO.00 ) merupakan teks asli HS – WCO. d. ♦ yang 4 digit terakhirnya 00.00 ( misalnya 8709. kecuali: ♦ yang 2 digit terakhirnya 00 ( misalnya 8709.00 ) merupakan teks AHTN. kecuali : ♦ yang 2 digit terakhirnya 00 ( misalnya 8709. 3) Uraian barang pada pos tarif nasional (10 digit) merupakan terjemahan dari teks bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris.21.10. 2) Uraian barang pada subpos ASEAN (8 digit) merupakan teks AHTN dalam bahasa Inggris.00 ) berasal dari teks AHTN. c.00 ( misalnya 8709.2) Uraian barang pada subpos ASEAN (8 digit) merupakan terjemahan dari teks AHTN. e.11. 3) Uraian barang pada pos tarif nasional (10 digit) merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia.01/2003 tanggal 18 Desember 2003.01/2003 tanggal 18 Desember 2003.

serta ketentuan instansi teknis lainnya. Tanda strip (-) pada kolom Bea Masuk CEPT berarti komoditi pada pos tarif bersangkutan tidak termasuk dalam skema CEPT. Pencantuman tanda asterisk (*) pada kolom pembebanan tarif ditujukan untuk halhal sebagai berikut : a. Kolom ketujuh adalah kolom “PPnBM” yang mencantumkan pembebanan tarif PPnBM yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 569/KMK. b. Pencantuman tanda satu asterisk (*) pada kolom “Bea Masuk Umum” berarti pembebanan impornya mengikuti tarif pada pos tarif 87. 3.f.01 sampai dengan 87. PPnBM dan pemberlakuan . “PPnBM” dan “Larangan/Pembatasan” berarti pengenaan PPN. Kolom kesembilan adalah kolom “Keterangan” yang disediakan untuk mencantumkan keterangan tambahan yang dianggap perlu dan ketentuan lain yang belum ditampung pada kolom-kolom sebelumnya. Tanda strip (-) pada kolom PPN atau PPnBM berarti komoditi pada pos tariff bersangkutan tidak dikenakan pembebanan PPN atau PPnBM. i. Pencantuman tanda satu asterisk (*) pada kolom “PPN”.03/2003 tanggal 28 Januari 2003 dan Nomor 355/KMK. Pencantuman tanda strip (-) pada kolom pembebanan tarif ditujukan untuk hal-hal sebagai berikut : a.04/2000 dan Nomor 570/KMK. Kolom kedelapan adalah kolom “Larangan/Pembatasan” yang mencantumkan ketentuan larangan atau pembatasan barang impor berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 230/MPP/KEP/7/1997 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 62/MPP/KEP/02/2001 dan tata niaga impor dan peredaran bahan berbahaya tertentu ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 254/MPP/KEP/7/2000. 2.03/2003 tanggal 11 Agustus 2003. Kolom keenam adalah kolom “PPN” yang mencantumkan pembebanan tarif PPN berdasarkan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000. g.05.04/2000 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 39/KMK. h. b.

00 Selada kubis (selada bongkahan) (1) Dua digit pertama (07) menunjukkan Bab. (2) Empat digit pertama (0705) menunjukkan Pos. perhatikan contoh berikut: 0705. 4. terdapat juga BM Anti Dumping yang ditetapkan tersendiri oleh Menteri Keuangan.). besarnya BM.05: Selada (Lactuca sativa) dan chicory (Chicorium spp. Apabila terdapat keraguan dalam menginterpretasikan teks yang tercantum dalam Catatan Penjelasan Tambahan (SEN). . 19 dan 20. dan PPnBM ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Bab 07 : Sayuran. segar atau dingin. Sistem Penomoran Sistem penomoran klasifikasi dalam BTBMI menggunakan 10-digit dengan susunan 6 digit pertama mengacu pada konvensi HS. 2 digit selanjutnya mengacu kepada AHTN dan 2 digit terakhir adalah pecahan pos tarif nasional. PPN. Nomor Pos tarif (10-digit) dan uraiannya. Untuk memahami sistem penomoran tersebut.00. maka yang mengikat secara hukum adalah teks asli SEN dalam bahasa Inggris.3. PTNI (Peraturan Tata Niaga Impor) ditetapkan oleh Menteri Perindustrian dan Perdagangan.1. akar dan bonggol tertentu yang dapat dimakan. Kode Penomoran dan Pentakikan 1. Bea Masuk Anti Dumping berlaku di Indonesia sejak tanggal 1 April 1996 berlandaskan Undang-Undang Nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan sesuai pasal 18.11. 4 Catatan Penjelasan Tambahan (SEN) merupakan pedoman dalam menginterpretasikan pengertian maupun istilah teknis barang yang tercantum dalam Subpos pos tarif tertentu. Pos 07.ketentuan larangan/pembatasan berlaku hanya terhadap sebagian jenis barang atau sebagian kelompok barang dalam pos tarif bersangkutan. Perlu diingat bahwa selain BM yang tercantum dalam BTBMI.

d.). Apabila pos tarif 0705.19.10 .11.11 dan 0705 19.10) menunjukkan Sub-pos yaitu selada.Lain-lain) 2.11. digunakan dua takik (.10: .19: 0705. Sistem Takik Selain menggunakan sistem nomor.. Sub-pos 0705. demikian seterusnya sehingga diperoleh pengelompokan barang yang lebih rinci.05 Selada (Lactuca sativa) dan chicory (Chicorium spp.11 dipecah lagi menjadi pos tarif yang lebih rinci. dalam HS/BTBMI sub-pos 0705.000): 07. misalnya : . maka digunakan pemecahan menggunakan tiga takik pada digit 9 dan 10.11 dan 0705. segar atau dingin).00 : .-).00 -.11. b.00. khusus untuk negara Indonesia.-). dengan penjelasan sebagai berikut: a. Di bawah ini disajikan contoh sistem takik dengan menggunakan contoh yang sudah ada (pos tarif 0705..(3) Enam digit pertama (0705.Selada (4) Sepuluh digit pertama (0705.10 dipecah menjadi 0705. -) untuk mengklasifikasi barang. c.Selada * Ingat. Pos (4-digit) tidak diberi takik.00) menunjukkan Pos Tarif 0705.00. Penggunaan satu takik (-) dimulai pada uraian Sub-pos (6-digit). Bila uraian pada butir c dipecah lagi. 0705. Bila uraian pada butir b dipecah. 0705. HS/BTBMI juga menggunakan sistem takik (dash.10 tidak dicantumkan karena sub-pos tersebut dipecah lagi menjadi sub-pos 0705.00.Selada kubis (selada bongkolan). digunakan tiga takik (.

yaitu barang tertentu dan lain-lain.01 --Polimer dari etilena... perhatikan digit kelima dan keenam. .11. Pos 07. 20. maupun pos tarif) dibagi atau dirinci dengan dua cara. segar atau dingin) dibagi menjadi bibit dan lain-lain. • Bila pos dipecah menjadi sub-sub pos. Mari kita lihat contoh berikut: 39..Dingin Namun apabila ASEAN misalnya akan membagi dari subpos 0705.11.barang lainnya (lain-lain).. • Setiap kelompok barang di atas (baik dalam pos.10 .Dingin Perlu diperhatikan bahwa kadang-kadang nomor sub-pos atau pos tarif yang dipecah lebih lanjut tidak dicantumkan secara eksplisit dalam BTBMI.01 (Kentang. yaitu barang tertentu A . sub-pos.20. 30..10. segar atau dingin) dibagi menjadi ketimun dan ketimun acar saja..00 .barang tertentu B atau barang tertentu A .19. Barang tertentu mempunyai kode 10.07 (Ketimun dan ketimun acar..00 .barang tertentu B : Pos 07. Barang tertentu A .. maka : 0705.11.11 dan 0705. • Dalam HS/BTBMI hanya ada dua jenis barang.selada) karena sub-pos tersebut dipecah lebih lanjut menjadi 0705.0705.barang lainnya (lain-lain).11.10.11.Segar 0705. Contoh: Barang tertentu A .00. contoh : • sub-pos 0705. • Pemecahan pos tarif (10-digit) juga mengikuti pola di atas. 80.20 ..00. . Kedua jenis barang tersebut dapat dipecah kembali lagi menjadi dua kelompok di atas (barang tertentu dan lain-lain) yang lebih spesifik. dalam BTBMI tidak dicantumkan (hanya dicantumkan uraian barangnya yaitu: . dalam bentuk asal.Segar 0705...

• Barang tertentu mempunyai kode 10.Mutu kabel --.10. 20. perhatikan hal-hal berikut ini: • • • bandingkan kelompok barang “lain-lain” dimaksud dengan kelompok barang yang setara..00 --. .Lain-lain --Cair atau pasta --Bentuk lain : 3901. .22.. • Bila kode 10 dipecah lagi menjadi lebih rinci.00 --.10.21.10.23.Lain-lain.Digunakan dalam pembuatan kabel telepon atau kabel listrik 3901.30.. bandingkan dengan uraian barang pada bab-bab terdahulu.Butiran 3901.perhatikan dua digit terakhir. yaitu menjadi 11.3901. digunakan dalam pembuatan kabel telepon atau kabel listrik 3901.10. digunakan digit kesembilan. • Barang lainnya (lain-lain) diberi kode 90..10. Arti kata “lain-lain” Dalam klasifikasi BTBMI dengan sistem HS kata “Lain-lain”.29.10.Dalam bentuk padat -.10.91.10.10 3901.Mutu farmasi --. Sub-Pos dan Pos Tarif Nasional Untuk dapat memahami arti kata “Lain-lain” ....Polietilena berat jenis kurang dari 0.1. 99. Pos.00 --. berfungsi untuk menampung barang yang belum disebut pada uraian jenis barang sebelumnya. 19. bandingkan dengan uraian .00 -. 92.00 3901. 4. 30.00 3901. . 12.4.10.94: -. apabila kata “lain-lain” dimaksud terdapat pada bab. apabila kata “lain-lain” dimaksud terdapat pada pos. Kata “lain-lain” terdapat pada Bab.99..00 --.Lain-lain Untuk pemecahan pos tarif. • Demikian juga kode 900 bila dipecah menjadi 91.00 3901..

dan Lain-lain (3). Barang Lain-lain (2) dibagi menjadi barang C1. Lain-lain (2): barang selain B1 dan B2. B2. dalam pos yang sama. sehingga akan jelas kelompok barang mana yang akan dibandingkan dengan barang lain-lain barang lain-lain yang ingin kita ketahui. Lain-lain (1): barang selain A1 dan A2. Metode di atas dapat difahami dengan lebih mudah apabila kita dapat menggambarkannya dalam bentuk diagram pohon. Lain-lain (2) adalah termasuk kelompok barang A selain A1 dan . A2. bandingkan dengan uraian barang pada sub-sub pos terdahulu. • • apabila kata “lain-lain” dimaksud terdapat pada sub-pos. Lain-lain (3) adalah termasuk kelompok barang A selain A1 dan A2.barang pada pos-pos terdahulu dalam bab yang sama. Cara membaca: Lain-lain (3): barang selain C1 dan C2. pada sub-pos yang sama. selain B1 dan B2. Di bawah ini disajikan mengetahui kelompok barang yang termasuk lain-lain dengan menggunakan metode diagram pohon dengan contoh sebagai berikut: A A1 A2 Lain-lain (1) B1 B2 Lain-lain (2) C1 C2 Lain-lain (3) • • • • • • Barang A dibagi menjadi barang A1. bandingkan dengan uraian barang pada pos-pos tarif terdahulu. Barang Lain-lain (1) dibagi menjadi barang B1. C2. dan Lain-lain (1). apabila kata “lain-lain” dimaksud terdapat pada pos tarif. selain C1 dan C2. yang termasuk dalam Lain-lain (1). dan Lain-lain (2). Jadi. yang termasuk dalam barang A. yang termasuk dalam Lain-lain (2).

90 : . maupun catatan Sub-pos. Kata lainnya dalam pos ini berfungsi untuk menampung binatang hidup yang belum disebutkan pada pos-pos sebelumnya. • • • selain kuda. bagal dan hinnies. catatan Bab. selain binatang sejenis lembu. Secara lebih rinci judul bab tersebut dapat diuraikan menjadi “Tekstil dan barang tekstil. selain yang telah disebutkan pada Bab 50 sampai dengan Bab 62”. Lain-lain (3) adalah termasuk kelompok barang A selain A1 dan A2. selain B1 dan B2. b) Judul Pos.. pengertian kata lain-lain tersebut akan dapat dengan mudah dimengerti. Dalam diktat ini pengertian lain-lain dibatasi pemahamannya sebatas berkaitan dengan uraian jenis barang pada judul Bab. tanpa dikaitkan dengan catatan Bagian. Bab 63: Barang tekstil sudah jadi lainnya . Secara singkat makna kata lainnya berfungsi untuk menampung barang tekstil sudah jadi yang belum disebutkan pada bab-bab sebelumnya dalam Bagian XI. Secara lebih rinci uraian dalam sub-po stersebut dapat diuraikan menjadi: . selain babi selain biri-biri dan kambing selain unggas dari jenis : ayam spesies Gallus domesticus. hidup yang belum disebutkan pada sub-sub pos sebelumnya.A2. Pos 01.. kalkun dan ayam mutiara c) Judul Sub Pos Sub-pos 0102. Di bawah ini disajikan beberapa contoh pengertian kata lain-lain yang terdapat dalam BTBMI: a) Judul Bab. Subpos maupun Pos tarif nasional. keledai.Lain-lain Kata lain-lain dalam sub-pos ini berfungsi untuk menampung binatang sejenis lembu. bebek. Pos..06: Binatang hidup lainnya. Secara lebih rinci uraian pos tersebut dapat diuraikan menjadi: Binatang hidup. Dengan sedikit latihan menggunakan BTBMI.

• • selain kuda. Pasal berapa dalam Undang-undang no. Bagaimana cara membaca pengertian kata “Lain. termasuk binatang sejenis lembu. dalam penomoran HS ? 4. -) untuk mengklasifikasi barang Dalam klasifikasi BTBMI dengan sistem HS kata “Lain-lain”. Apa isi Buku Tarif Bea Masuk Indonesia ? 2. 1995 yang berkaitan dengan klasifikasi barang ? 2. Pos. namun bukan untuk bibit 4. 10 tahun 1. HS/BTBMI juga menggunakan sistem takik (dash.3. Jawaban 3. berdasarkan keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 35 tahun 1993. Dengan sedikit latihan menggunakan BTBMI. Apa yang dimaksud dengan sistem pentakikan 3.4. lain” dalam BTBMI ? 4. Sub-Pos dan Pos Tarif Nasional. keledai. berfungsi untuk menampung barang yang belum disebut pada uraian jenis barang sebelumnya.Binatang hidup. Sebagai tindak lanjutnya struktur Klasifikasi barang dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI) mengacu kepada sistem klasifikasi dari HS Convention Sistem penomoran klasifikasi dalam BTBMI menggunakan 10-digit dengan susunan 6 digit pertama mengacu pada konvensi HS dan 2 digit terakhir adalah pecahan pos tarif nasional. Rangkuman Indonesia telah menjadi Contracting Party dari “International Convention on the Harmonized Commodity Description and Coding Sistem”. bagal dan hinnies. pengertian kata lain-lain tersebut akan dapat dengan mudah dimengerti . Kata “lain-lain” terdapat pada Bab.2. Selain menggunakan sistem nomor. Latihan 3 Pertanyaan 1.

karena yang utama adalah uraian barangnya. ( B . ( B . Bab dan Subheading . 1. ( B . brosur.5.S ) HS bersifat harmonis karena standard klasifikasi dan sistem kode penomoran barang digunakan untuk berbagai kepentingan.S ) Apabila terdapat perbedaan sistem klasifikasi pada setiap negara akan memperpanjang waktu untuk penetapan bea masuk dan pengeluaran barang impor di pelabuhan. jenis dan spesifikasi lainnya secara akurat. ( B .S ) Customs Cooperation Council di Brussels pada tanggal 14 Juni 1983 menghasilkan Konvensi Internasional tentang The Harmonized Commodity Description and Coding System (HS) dan mulai berlaku di Indonesi sejak tanggal 1 Januari 1988 3. struktur HS terdiri dari : KUM HS . Fungsi dasar HS adalah untuk memberikan keseragaman dalam mengklasifikasi barang guna memberikan kemudahan pada perdagangan internasional 5. Heading.S ) Ditinjau dari fungsi pengklasifikasian. statistik.S ) Untuk mengklasifikasi barang diperlukan data mengenai nama. Salah satu tujuan HS adalah untuk memberikan ketidak seragaman secara internasional penggolongan barang dalam tarif pabean 4. . sub-heading dan penomoran hingga ke Pos tarif (10 digit).1. Demikian dalam kekuatan hukumnya sama. Informasi mengenai barang tersebut dapat kita peroleh melalui : kondisi fisik. Lingkarilah huruf B apabila pernyataan ini Saudara anggap benar dan huruf S apabila pernyataan Saudara anggap salah. seperti Pabean. udara dan kereta api. perdagangan internasional dan pengangkutan laut. label kemasan dan data lainnya 2. sertificate of analysis. Catatan Bagian. ( B . Test Formatif 5.

tanggal 1 Agustus 1988 c. pasal 115 c. tanggal 11 Januari 1989 3. karena uraian jenis barangnya tidak ada dalam BTBMI . Barang tidak dapat diklasifikasikan. melihat Buku Tarif Bea Masuk Indonesia dan menentukan klasifikasinya d. maka sebutkan pernyataan dibawah ini yang tidak benar a. a..5. tanggal 31 Januari 1988 d. atau d ) 1. Untuk penetapan tarif bea masuk. b dan c benar 4. The Harmonized Commodity Description and Coding System (HS) mulai berlaku secara internasional sejak : a. mengidentifikasi barang dengan mempelajari jenis dan spesifikasinya b.. Prosedur tersebut secara umum ialah .2.. barang dikelompokkan berdasarkan sistem klasifikasi barang. merumuskan identitas atau deskripsi barang tersebut c. Bunyi kalimat diatas sesuai dengan bunyi UU no. c. pasal 116 2. pasal 16 b. pasal 14 d.. b. Untuk mengklasifikasi barang. dikenal prosedur umum untuk mengklasifikasi barang. Jenis suatu jenis barang dimungkinkan tidak ada dalam HS b. Mengklasifikasi barang seluruhnya harus tepat secara eksak d.. Pilihlah jawaban yang Saudara anggap benar dengan cara melingkari huruf yang terdapat di depan jawaban tersebut a... Dapat terkait dengan beberapa bab c. 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan pada : a.. Dalam pengamatan sementara untuk mengklasifikasi barang. pernyataan a. tanggal 1 Januari 1989 b.

c 5. B. d 4. 4. harus mengacu kepada perkembangan terakhir besarnya penetapan Bea Masuk c. 2.1.. Jelaskan apa yang dimaksud dengan konvensi HS ? Mengapa kita memilih suatu system seperti HS dalam menentukan klasifikasi barang ? 4.2. B 5. KUNCI JAWABAN TEST FORMATIF Kelompok 5. 1 B.3. S Kelompok 5. Pencantuman besarnya Bea Masuk pada Buku tarif Bea Masuk Indonesia : a. b dan c benar 5. Sebutkan 3 Sistem dalam mengklasifikasi barang yang pernah digunakan Pemerintahan Republik Indonesia. Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan singkat dan benar 1. 5. d . S 3. hanyalah sementara (mengikuti surat Keputusan Menteri Keuangan RI) b. Sebutkan tujuan Harmonized System ? Apakah besarnya tarif bea masuk Indonesia secara hukum sesuai seperti apa yang tertulis dalam BTBMI tersebut ? 6. pernyataan a. b 3.5. 1. a 2. selalu berubah d. 3. sebelum HS ! 2.

dan aparat bea dan cukai. c) HS menggunakan dasar yang seragam untuk keperluan pentarifan secara internasional. pengangkut. e) Sederhana dan memberikan kepastian dalam hal aplikasi dan interpretasi yang benar dan sama untuk keperluan negosiasi. Sistem CCCN ini mulai diberlakukan pada tanggal 1 Oktober 1980 sampai dengan 31 Maret 1985. b) Sistem Customs Cooperation Council (CCCN). Nomor 1 a) Sistem Brussel Edisi 1975 (BTN 1975).3. Pada dasarnya sistem pentarifan ini sama dengan sistem sebelumnya. Sistem ini merupakan penyempurnaan dari sistem CCCN sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 April 1987 sampai dengan 31 desember 1988. Nomor 2 Pada akhir tahun 1986. b) HS adalah pedoman klasifikasi yang sistematik untuk seluruh barang yang diperdagangkan secara internasional. d) Menggunakan “bahasa pabean” sehingga dapat dengan mudah dimengerti oleh importir. produsen. Untuk memberikan kekuatan hukum yang pasti. Penetapan tarif ini merupakan penyempurnaan dari penetapan tarif sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 Juli 1975 sampai dengan 30 september 1980. hanya pada sistem CCCN ini terdapat penyempurnaan sistem penomoran pada sub-pos dari dua digit menjadi tiga digit atau semula 6 digit menjadi 7 digit. eksportir. nomenklatur disahkan dalam Konvensi HS Nomor 3 a) HS adalah pedoman klasifikasi yang sistematik untuk seluruh barang yang diperdagangkan secara internasional. kelompok studi tersebut berhasil menyusun suatu nomenklatur (daftar klasifikasi barang berdasarkan kelompok-kelompok) yang dinamakan Harmonized Commodity Description and Coding System atau lebih dikenal dengan sebutan Harmonized System (HS).Kelompok 6. c) Sistem CCCN Edisi 1985 (CCCN 1985). .

b) Memudahkan pengumpulan.. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Bandingkanlah hasil jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang ada di belakang modul ini.. Untuk kelompok C : Apabila benar seluruhnya nilai menjadi 100 . seperti tarif pengangkutan. dokumentasi dan sebagainya. dan .. untuk memberikan perhatian kepada perkembangan teknologi dan masyarakat industri serta pola perdagangan Internasional.... c) Memberikan Sistem Internasional yang resmi untuk pemberian Kode. Nomor 5 Buku tarif Bea Masuk Indonesia hanyalah suatu referensi praktis agar dapat secara optimal digunakan di lapangan.. Kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap terhadap materi kegiatan belajar Rumus Tingkat Penguasaan Untuk kelompok A dan B : Jumlah Jawaban yang benar dibagi 10 kemudian dikali 100 % = .. Ketentuan hukum yang legal adalah sesuai Surat Keputusan Menteri Keuangan tentang perubahan Tarif Bea Masuk Indonesia (lihat Kata Pengantar pada BBTBMI) 7. Nomor 4 a) Memberikan keseragaman dalam daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis. pembuatan dan analisis Statistik perdagangan dunia. d) Memperbaharui sistem klasifikasi barang sebelumnya. untuk penetapan Tarif Pabean secara mendunia.f) Merupakan kumpulan data yang seragam secara internasional sehingga dapat digunakan untuk mendukung analisis dan statistik perdagangan internasional. Hitunglah jumlah jawaban Anda yang benar atau sejauh mana Anda menguasai mata pelajaran tersebut... Pen jelasan dan penggolongan barang untuk tujuan perdagangan keperluan pengangkutan..

100 % = Baik sekali * 80 % . Hasilnya Baik ! akan tetapi. Anda harus mengulangi membaca Modul kembali. (1995) Pusdiklat Bea dan Cukai. Pengantar Klasifikasi Barang. Harmonized System. World Customs Organization. 2007 version b. Departemen Keuangan RI.89 % = Baik * 70 % .79 % = Cukup * 69 % = Kurang Kalau Anda mencapai tingkat penguasaan 80% keatas Anda dapat meneruskan kepada modul atau bagian pelajaran lain. Word Customs Organization.Untuk nilai keseluruhan maka dibagi rata-rata dari (A+B) dan C Arti tingkat penguasaan : * 90 % . 2007 d. Explanatory Notes. terutama bagian yang belum Anda kuasai 8. bila tingkat penguasaan Anda masih dibawah 80 %. Daftar Kepustakaan a. Jakarta *** MODUL II SISTEM KLASIFIKASI BARANG MENURUT HARMONIZED SYSTEM . Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (2007). Jakarta c.

Obyek dari kegiatan Direktorat Bea dan Cukai adalah barang.MATERI KLASIFIKASI BARANG OLEH : TIM PENYUSUN MODUL PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN BEA DAN CUKAI BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA JAKARTA 2007 Kata Pengantar Puji syukur kehadirat Allah yang Maha Kuasa. seyogyanya petugas Ditjen Bea dan . bahwa Modul ini dapat diselesaikan sesuai waktunya. Dalam rangka penentapan tarif bea masuk dan kepentingan kepabeanan lainnya.

Semoga Modul ini bermanfaat sebagai penambah wawasan dan media untuk penambah keterampilan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang. Nopember 2007 Penulis . Semoga Allah membalas atas amal kebaikan tersebut.Cukai menambah keterampilam dalam mengklasifikasi barang agar pelayanan cepat dan negara tidak dirugikan dalam menetapkan besarnya bea masuk. karena ada kepastian tentang jenis barang dan penetapan tarif posnya. Jakarta. Penulis menghaturkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga dapat diselesaikannya Modul ini. Modul ini merupakan seri dari 3 buah modul mata pelajaran klasifikasi barang. Modul ke 2 dengan judul Teknik Klasifikasi Barang digunakan dalam Diklat Teksnis Substantif Spesialis Kepabeanan dan Cukai Dalam kesempatan ini.

...... Kunci Jawaban .......... i ii 1 1 1 1 2 2 13 14 1 2 3 15 15 16 17 18 18 23 24 24 27 28 29 4 5 6 7 8 .......................................... 3.... 2.2.................................................................................................................. Daftar Pustaka............1....................................... PENDAHULUAN ............................................ Tujuan Pembelajaran Khusus..................... KEGIATAN BELAJAR 3 NOTA PENELITIAN KLASIFIKASI BARANG 4...........1 Uraian........... Daftar Isi .............. Contoh dan Non contoh................................................ 1.............. Rangkuman.................................................. Test Formatif ......................... Latihan 3............................................................ Latihan 2.... 3.............................. Rangkuman................................................................. 2................................Deskripsi singkat..........................................2. Umpan Balik...................... Rangkuman.................3.......1 Uraian...2..................... Latihan 1......................................................................DAFTAR ISI Halaman Kata Pengantar ........3............................... 1............... 2.................................................................... 1...................... Contoh dan Non contoh........1 Uraian.3......3. KEGIATAN BELAJAR 2 TAHAPAN MENGKLASIFIKASI BARANG.................................. KEGIATAN BELAJAR 1 KETENTUAN UMUM UNTUKMENGINTERPRETASI HS................................................................................................................2....... 4... Contoh dan Non contoh.... 3................................. 4.................................. Tujuan Pembelajaran Umum.................................................................................

1.2.3. 3. Tahapan dalam mengklasifikasi Barang. Tujuan Instruksional Khusus Setelah mempelajari Modul ini diharapkan para Siswa mampu menjelaskan : 1. Oleh karena itu. 1. . Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System 2.1. Tujuan Instruksional Umum Setelah mempelajari modul ini. para Siswa diharapkan mampu menerapkan ketentuan umum untuk menginterpretasi Harmonized System.MODUL II TEKNIK KLASIFIKASI BARANG I. Nota Penelitian Klasifikasi Barang. seorang klasifikator harus terlebih dahulu memahami pengetahuan barang dan pengetahuan mengenai klasifikasi barang. tahapan dalam mengklasifikasi barang dan membuat nota penelitian klasifikasi barang berdasarkan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. Deskripsi Singkat Seorang klasifikator dibidang kepabeanan harus dapat mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang dengan terampil. Seorang klasifikator harus memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang karena akan menentukan ketepatan pengisian Pemberitahuan Impor Barang yang pada akhirnya menentukan ketepatan jumlah bea masuk dan pungutan impor lainnya yang harus dibayar. PENDAHULUAN 1.

Setiap kali melakukan kegiatan klasifikasi barang. marilah kita KUM HS 1 : Judul Bagian. KEGIATAN 1 KETENTUAN UMUM UNTUK MENGINTERPRETASI HARMONIZED SYSTEM 2. Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 1 Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System (KUM HS) merupakan pintu gerbang untuk memasuki klasifikasi barang. Mengingat begitu kompleksnya teknik klasifikasi barang. Contoh dan Non Contoh 2.1. pelajari satu-persatu enam butir KUM HS tersebut. 1. catatan bab. Uraian. merupakan pertimbangan utama. sadar atau tidak.2. Uraian pada bab hanya untuk referensi saja. asalkan pos atau Catatan tersebut tidak menentukan lain : Penjelasan: HS adalah nomenklatur yang bersifat sistematik. catatan bagian. untuk tujuan hukum. Contohnya. salah satu ketentuan dalam KUM HS harus dipergunakan. tetapi karena sifatnya yang khusus dalam HS tidak diklasifikasikan pada bab 5 (produk hewani tidak dirinci atau termasuk dalam pos lainnya). tidak mungkin semua jenis barang dapat dicakup dengan persis pada setiap bab. Namun mengingat banyaknya jenis barang. KUM HS mutlak diperlukan sebagai pedoman dasar yang tidak boleh ditinggalkan. Uraian pos dan catatan-catatan tersebut Apabila pos dan catatan-catatan tersebut tidak menentukan lain. tidak mempunyai kekuatan hukum.1. klasifikasi harus ditentukan menurut uraian yang terdapat dalam pos dan berbagai Catatan Bagian atau Bab yang berkaitan serta menurut ketentuan-ketentuan berikut ini. dalam hal KUM HS 1 tidak bisa digunakan barulah digunakan KUM . Yang mempunyai kekuatan hukum adalah pos (heading). dan catatan sub-pos. tetapi diklasifikasikan khusus pada bab 50. Karena itu perlu diingat agar selalu mempertimbangkan semua bab atau pos yang mungkin mencakup suatu barang. Untuk itu. Bab dan Sub-bab hanya dimaksudkan untuk memudahkan referensi saja. sutera adalah produk hewani.

02 hanya untuk produk tertentu. barang yang tidak lengkap atau belum rampung tersebut memiliki karakter utama dari barang itu dalam keadaan lengkap atau rampung. dan 5.jenis keledai .dapat mendemontrasikan beberapa permainan dalam pertunjukan sirkus Pengklasifikasian apakah pada bab 1 atau bab 95 Perhatikan gambar keledai yang biasa digunakan untuk sirkus.1. catatan 2 Bab 31 menjelaskan pos 31. asalkan pada saat diajukan. Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 2a dan 2 b KUM HS 2 a : Setiap referensi untuk suatu barang dalam suatu pos harus dianggap meliputi juga referensi barang tersebut dalam keadaan tidak lengkap atau belum rampung. 2. Spesifikasi keledai : . . 4. Contohnya.HS 2. Referensi ini harus dianggap juga meliputi refensi untuk barang tersebut dalam keadaan lengkap atau rampung (atau yang berdasarkan ketentuan ini dapat digolongkan sebagai lengkap atau rampung) yang diajukan dalam keadaan belum dirakit atau terbongkar.umur 2 tahun . Batasan ini tidak boleh diperluas dengan menggunakan KUM HS 2(b). Bagaimana pengklasifikasiannya bila keledai tersebut diimpor oleh grup sirkus dari jerman ? 2. 3..

Barang yang terdiri lebih dari satu jenis bahan atau zat harus diklasifikasikan sesuai prinsip dari Ketentuan 3. Spesifikasi : Sepeda merk :”Bamby” .Ada alat perubah kecepatan . dan tiap setnya tidak ada sadel dan ban dalamnya.b) tidak ada sadelnya c) dalam keadaan terurai KUM HS 2 b : Setiap referensi untuk suatu bahan atau zat dalam pos. asalkan pada saat diimpor sudah mempunyai sifat utama sebagai barang lengkap atau rampung Sebagai contoh beberapa set sepeda yang diimpor dalam keadaan terurai. harus dianggap juga meliputi referensi untuk campuran atau kombinasi dari bahan atau zat itu dengan bahan atau zat lain. Namun tetap dianggap set sepeda karena sifat utamanya sebagai sepeda telah dimiliki. Setiap referensi untuk barang dari bahan atau zat tertentu harus dianggap juga meliputi referensi untuk barang yang sebagian atau seluruhnya terdiri dari bahan atau zat tersebut. Penjelasan: .Penjelasan: Barang tidak lengkap atau tidak rampung dianggap sebagai barang lengkap atau rampung.memiliki laher dalam as ban -bisa dikendarai oleh orang tua maupun anakanak : Perhatikan gambar sepeda diatas. Bagaimana pengklasifikasiannya bila sepeda tersebut : a) tidak dicat .

karena uraian posnya sudah menyebutkan bahwa produk dalam pos tersebut tidak dicampur. Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 3a. maka klasifikasiannya harus diberlakukan sebagai berikut : .bagian luarnya dilapisi plastik.03 (-lard oil. maka KUM HS 2(b) tidak berlaku. b dan c KUM HS 3 : Apabila dengan menerapkan Ketentuan 2 (b) atau untuk berbgaia alasan lain. Spesifikasi tutup botol : . Contoh.. Bagaimana pengklasifikasian tutup botol tersebut. KUM HS 2(b) tidak dapat digunakan (harus digunakan KUM HS 3). Ingat.Campuran atau kombinasi dua atau lebih bahan atau zat diklasifikasikan berdasarkan KUM HS 1. Sebagai contoh suatu susu yang telah ditambah sedikit vitamin. maka pengklasifikasiannya tetap sebagai susu. barang yang dengan pertimbangan awal dapat diklasifikasikan dalam dua pos atau lebih. Mengapa demikian ? karena sifat sebagai susunya tidak berubah.. apakah pada bab 45 atau bab 39 Perhatikan sumbat botol diatas. ketentuan ini hanya berlaku apabila pos atau catatan bagian atau catatan bab tidak menentukan lain. pos 15..1.Terbuat dari gabus . bagaimana bila sumbat botol bagian atas dilapis plastik ? 2.).3. .tidak diemulsi atau dicampur. Apabila tambahan atau campuran bahan atau zat menghilangkan sifat barang seperti diuraikan pada pos..

KUM HS 3(b). Penjelasan: Pos dengan uraian lebih spesifik lebih diutamakan dari pos dengan uraian yang lebih umum. Sekali lagi diingatkan.10. Pos yang menyebutkan nama barang lebih diutamakan dari pos yang menyebutkan kelompok barang. walaupun salah satu dari pos tersebut memberikan uraian yang lebih lengkap atau lebih tepat. harus diklasifikasikan pada pos terdahulu awal (berarti bertentangan dengan KUM HS 3c ).09 (self-contained motor). atau catatan bab tidak menentukan lain.05 dan juga dirinci pada pos 97. Contoh. Dalam hal ini KUM HS 3(c) tidak berlaku. maka pospos tersebut harus dianggap setara sepanjang berkaitan dengan barang tersebut. Penggunaan KUM HS 3 harus urut dari KUM HS 3(a). KUM HS 3 a : Pos yang memberikan uraian yang paling spesifik. Namun demikian. bukan pada pos 85. harus lebih diutamakan dari pos yang memberikan uraian yang lebih umum.03.Penjelasan: KUM HS 3 hanya dipergunakan bila KUM HS 2 tidak bisa dipergunakan. Saringan oli walau sebagai bagian dari mesin pada pos 8409.06. Contoh. catatan 4(b) bab 97 menentukan bahwa barang yang dirinci pada pos 97. namun pos 8421 uraian barangnya lebih rinci. catatan bagian. Apabila dua atau lebih pos menguraikan hanya bagian dari bahan atau zat yang terkandung dalam suatu barang campuran atau komposit. baru kemudian KUM HS 3(c).atau hanya merujuk kepada bagian dari bahan atau zat terkandung dalam campuran atau barang komposisi atau hanya merujuk kepada bagian dari barang dalam set yang disiapkan untuk penjualan eceran.08. KUM HS 3 baru dipergunakan apabila uraian pos. apabila dua pos atau lebih yang masing-masing pos hanya merujuk kepada bagian dari bahan atau zat yang terkandung dalam barang campuran atau barang komposisi.01 sampai dengan 97. Pos yang menyebutkan barang yang disebutkan secara rinci lebih diutamakan dari pos yang menyebutkan bagian suatu barang. bukan pada pos 87. atau bagian dari item dalam . tufted textile for motor cars diklasifikasikan pada pos 57. Contoh shavers/hair clippers diklasifikasikan pada pos 85.

sepanjang kriteria ini dapat diterapkan.13). dan handuk dari tekstil (63. Bisa langsung dijual tanpa perlu dibungkus/dikemas kembali (contoh. Penjelasan: KUM HS 3(b) hanya berlaku untuk campuran. dan bila KUM HS 3(a) tidak bisa digunakan. serta barang yang disiapkan dalam set untuk penjualan eceran. asalkan satu sama lain adapted to the other.10 (berdasarkan komponen yang memberikan .10). Beberapa produk/barang bersama-sama untuk keperluan/kegiatan tertentu.03).satu set barang untuk penjualan eceran. gunting (82. dan bersama-sama membentuk barang jadi yang secara normal tidak diperdagangkan terpisah. berat atau nilai. rak bumbu dengan beberapa botol tempat bumbu kosong. KUM HS 3(b) berlaku juga untuk komponen yang terpisah. jumlah. ready-to-eatmeal).02) diklasifikasikan pada pos 85. harus diklasifikasikan berdasarkan bahan atau komponen yang memberikan karakter utama barang tersebut. barang komposit yang terdiri dari komponen yang berbeda. maka KUM HS 3(a) tidak berlaku dan digunakan KUM HS 3(b) atau 3(c). meskipun salah satu pos lebih rinci dari pos lainnya. kemasan. yang tidak dapat diklasifikasikan berdasarkan referensi 3 (a).02). barang komposit yang terdiri dari bahan yang berbeda. dan bahan utama yang berkaitan dengan penggunaan barang.15). Yang dimaksud dengan karakter utama (Essential character) pada KUM HS ini mengacu pada bahan atau komponen. sikat (96. Contoh set: hairdressing set yang terdiri dari electric hair clipper (85. dikemas dalam tas kulit (42. KUM HS 3 b : Barang campuran dan barang komposisi yang terdiri dari bahan yang berbeda atau yang dibuat dari komponen yang berbeda. Yang dimaksud dengan barang dikemas dalam bentuk set untuk penjualan eceran yaitu: • • • Paling sedikit dua produk yang berbeda pos (sembilan sendok bukan set). mutually complementary. sisir (96. Contoh. dan barang yang dikemas dalam bentuk set untuk penjualan eceran.

kecap. dalam proporsi tertentu untuk keperluan industri (contoh. Tahukah Saudara ketika belum dimasak yang bungkusannya terdiri dari : mie. minuman).Supermi instan bungkus .06. bumbu. Bagaimana Saudara mengklasifikasi bila dalam keadaan mentah atau dalam bungkusan ? KUM HS 3 c: Apabila barang tidak dapat diklasifikasikan berdasarkan referensi 3 (a) atau 3(b). maka barang tersebut harus diklasifikasikan dalam pos tarif terakhir berdasarkan urutan penomorannya di antara pos tarif yang mempunyai pertimbangan yang setara.Van belt merk : :”Ando” . suatu bingkai berbentuk bujur sangkar yang 2 sisi terbuat dari kayu dan dua sisi lainnya terbuat dari logam.mengandung . bumbudan bahan lainnya. saus.merk :”Mi Enak” .14 dan pos 83.sifat utama). Spesifikasi Mie :Instan : . namun karena menurut KUM HS 3c. barang diklasifikasikan pada pos terakhir. Contohnya. yaitu pos Spesifikasi barang : . maka bingkai tersebut harus diklasifikasikan pada pos terakhir. saus. Penjelasan: Bila KUM HS 3(a) dan 3(b) tidak dapat digunakan. Bingkai ini ditinjau dari bahan baku memiliki bahan yang sama dan seimbang antara pos 44.Mengandung mie. bawang dan cabe Perhatikan mie instan yang sudah mask diatas. KUM HS 3(b) tidak berlaku untuk barang yang terdiri dari beberapa bagian yang dikemas terpisah (baik kemasan yang biasa digunakan maupun tidak).

penggunaan. b) Ketentuan ini mengenai barang-barang yang tidak dapat diklasifikasikan ke dalam salah satu pos dalam HS. sifatnya. harus Penjelasan: a) KUM HS 4 baru digunakan apabila KUM HS 1 sampai dengan KUM HS 3 tidak dapat digunakan. barang yang akan diklasifikasikan harus diperbandingkan dengan uraian barang dalam beberapa pos HS yang memiliki kesamaan jenis atau karakternya. bagaimana pengklasifikasiannya bila terbuat dari bahan plastik dan karet yang sama tebalnya ? 2. d) Persamaan dapat tergantung dari beberapa faktor seperti nama. diklasifikasikan ke dalam pos yang sesuai untuk barang yang paling menyerupai.4. Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 4 KUM HS 4: Barang yang tidak dapat diklasifikasikan berdasarkan referensi diatas.83. karena tidak ada uraian yang sesuai (misalnya yang baru muncul di pasaran dunia). Hal tersebut dilakukan untuk meneliti pada pos mana yang memiliki unsur kesamaan terbanyak. Berdasarkan KUM HS 4. tujuannya). . sifat. 4. dan seterusnya. Perhatikan vanbelt ini. Ketentuan ini menetapkan bahwa barang-barang tersebut harus digolongkan kedalam pos atas barang yang memiliki persamaan terbanyak.06. klasifikasi berdasarkan barang yang sifatnya paling sesuai (misalnya uraian barangnya.1. c) Pada waktu menerapkan ketentuan No.

Namun demikian. tidak memberikan sifat utama. biasa dijual bersama dengan barangnya. dan tempat semacam itu yang: • • • • • khusus dibuat untuk barang tertentu. tas instrumen musik. data teknis. dimasukkan bersama barangnya (bila dimasukkan terpisah diklasifikasikan pada pos tersendiri). internet. seperti literatur. tempat teleskop. dan sebagainya. tempat senjata. 5. ketentuan ini tidak berlaku untuk kemasan yang memberikan seluruh karakter utamanya. KUM HS 4 baru digunakan apabila benar-benar tidak ada lagi data atau informasi yang dapat diperoleh untuk mengidentifikasi barang dimaksud. sangat disarankan untuk mencari lebih dulu informasi tentang barang dimaksud dari berbagai sumber yang ada. kotak kalung dan kemasan semacam itu. cocok untuk penggunaan jangka panjang dan diajukan bersama barangnya. harus diklasifikasikan menurut barangnya. Contoh: tempat perhiasan. dan sebagainya. Untuk itu. sebelum memutuskan menggunakan KUM HS 4. kotak (boxes). . Penjelasan: KUM HS 5(a) berlaku untuk Peti (cases). dibentuk secara khusus atau pas untuk menyimpan barang atau perangkat barang tertentu. Ketentuan berikut ini harus diberlakukan terhadap barang tersebut di bawah ini : Tas kamera. digunakan untuk jangka waktu lama.Perlu diingatkan. tempat alat musik. apabila kemasan tersebut memang biasa dijual dengan barang tersebut. koper senapan. 2. Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 5 KUM HS 5 : Sebagai tambahan dari aturan di atas. tas instrumen gambar.1.

Terbuat dari karet yang dilapisi tekstil tebal Perhatikan gambar guitar dan kemasannya diatas. Namun demikian ketentuan ini tidak mengikat apabila bahan atau kemasan pembungkus tersebut secara nyata cocok untuk dipakai berulangulang. apabila bahan atau kemasan pembungkus tersebut memang biasa untuk membungkus barang tersebut. contohnya gas yang diimpor bersama pengemasnya (tabung gas di bawah tekanan). bahan pembungkus dan kemasan pembungkus yang diajukan bersama dengan barangnya harus diklasifikasikan menurut barangnya. Tempat semacam itu harus diklasifikasikan tersendiri Sebagai contoh. sedangkan pengemasnya diklasifikasikan pada pos tarif tabung gas.gitar dengan kemasannya . Penjelasan: Mengacu pada KUM HS 5(a). Ketentuan ini tidak berlaku untuk pembungkus/tempat simpan yang digunakan berulang-ulang (repetitive use). pembungkus/tempat simpan diklasifikasikan dengan barangnya bila biasa dipakai untuk barang tersebut. tempat teh dari perak dan tempat permen dari porselin berdekorasi China . maka gasnya diklasifikasikan pada pos tarif gas.merk :”Refly” . Ketentuan ini tidak berlaku untuk tempat simpan yang nilainya jauh lebih tinggi dari barang yang disimpan di dalamnya. Bagaimana Saudara mengklasifikasiguitar beserta kemasan diatas ? KUM HS 5 b : Berdasarkan aturan dari ketentuan nomor 5 (a) di atas.Spesifikasi barang : .

11 dan 7110.1. KUM HS 6 berlaku sepanjang konteksnya tidak menentukan lain. Kecuali apabila konteksnya menentukan lain. Artinya.2. atau catatan subpos harus tetap menjadi pertimbangan utama.merk :”Reflon” . dengan pengertian bahwa hanya subpos yang setara yang dapat diperbandingkan. catatan bab. catatan bagian.19). 6. Penjelasan: KUM HS 1 sampai dengan KUM HS 5 berlaku mutatis mutandis (secara langsung) untuk subsub pos pada satu pos yang sama (perbandingan pada takik yang sama).Spesifikasi barang : . serta ketentuan ini di atas dengan penyesuaian seperlunya. 2. Platinum pada catatan 4(b) Bab 71 tidak sama dengan Platinum pada catatan subpos 2 (khusus untuk sub-pos 7110.tabung gas berisi gas . untuk keperluan ketentuan ini diberlakukan juga catatan Bagian dan catatan Bab. Latihan .Terbuat baja tahan karat Bagaimana pengklasifikasian suatu gas beserta tabungnya yang dapat diisi ulang ? Tabung gas LPG dengan isinya LPG pada pos berapa dalam Harmonized System ? 2. Contohnya. Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 6 KUM HS 6 : Untuk tujuan hukum klasifikasi barang dalam sub pos dari suatu pos harus ditentukan berdasarkan uraian dari subpos tersebut dan catatan subpos bersangkutan.

Pertanyaan 1. Dalam mengklasifikasi barang gantungan kunci yang terdiri dari ring baja, rantai baja dan hiasan dari plastik, harus menggunakan KUM HS nomor berapa ? 1.

Jawaban

2. Sebutkan contoh barang yang dalam mengklasifikasinya menerapkan KUM HS nomor 3a (selain yang telah disebutkan

2.

contoh diatas)

3. Bagaimana menurut pendapat Saudara mengenai penggunaan KUM HS nomor 4 dalam prakteknya ?

3.

2.3. Rangkuman

Dalam mengklasifikasi barang dalam BTBMI diperlukan suatu pedoman. Pedoman tersebut adalah Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System (KUM HS) merupakan ketentuan untuk memasuki klasifikasi barang. Saat ini KUM HS hanya terdiri dari nomor 1 sampai dengan nomor 6. Dahulu sampai dengan 10, nomor 7 sampai 10 dihilangkan dan beberapa diantaranya menjadi surat keputusan Dirjen Bea dan Cukai

3. KEGIATAN BELAJAR 2 TAHAPAN MENGKLASIFIKASI BARANG

3.1. Uraian, Contoh dan Non Contoh

Secara lebih rinci, langkah-langkah berikut ini dapat digunakan untuk mengklasifikasi barang:

1. Kita identifikasi dulu barang yang akan kita klasifikasi.

Dengan mengetahui

spesifikasi barang, misalnya barang tersebut produk pertanian, barang kimia, atau mesin, kita bisa memilih bab-bab yang lebih spesifik.

2. Pilih bab atau bab-bab yang berkaitan dengan spesifikasi barang tersebut. Bila sudah kita tentukan, baca dan perhatikan baik-baik catatan Bagian dan catatan Bab yang berkaitan dengan pilihan bab atau bab-bab pada butir 1.

3. Perhatikan penjelasan-penjelasan dalam catatan Bagian maupun catatan Bab yang berkaitan dengan barang yang akan kita klasifikasi. Apabila ada catatan yang

mengeluarkan barang tersebut dari Bab atau Bagian yang kita pilih, perhatikan pada Bagian, Bab, atau pos mana barang tersebut diklasifikasikan.

4. Baca dan cermati catatan Bagian atau Bab (atau catatan Sub-pos dalam hal tertentu) yang ditunjuk oleh penjelasan pada butir 3. Kita ulangi proses pengklasifikasian pada butir 3. Pada tahap ini, biasanya kita sudah mempunyai gambaran umum apakah barang tersebut diklasifikasikan di bab tersebut atau di bab lainnya.

5. Setelah menemukan satu bab yang paling sesuai berdasarkan kajian di atas, maka kita mulai menelusuri pos-pos yang mungkin mencakup barang yang akan kita klasifikasikan dalam bab tersebut. Pada tahap ini kadang-kadang kita sudah dapat menemukan pos yang mencakup barang tersebut dengan rinci. Bila sudah kita

temukan satu pos yang tepat, maka langkah selanjutnya tinggal menentukan sub-pos (6-digit) dan pos tarif (9-digit) yang sesuai. Ingat, dalam penentuan sub-pos dan pos tarif pun kadang timbul permasalahan klasifikasi yang sama dengan penentuan pos

(4-digit). Sampai tahap ini sebenarnya kita sedang menggunakan KUM HS 1.

6. Apabila sepintas lalu ada beberapa pos yang sesuai dengan spesifikasi barang, kita mulai menggunakan KUM HS 2. Ingat, kita baru dapat menggunakan KUM HS 2 apabila KUM HS 1 benar-benasr tidak dapat digunakan. Cara untuk meyakinkan bahwa KUM HS 1 gugur adalah dengan berusaha membuktikan bahwa hanya ada satu pos yang sesuai untuk barang tersebut. Dalam hal KUM HS 1 tidak bisa diterapkan karena informasi atau data spesifikasi barang kurang lengkap, maka yang harus dikerjakan adalah mencari informasi atau data tersebut lebih dulu. Jangan terburu-buru menggunakan KUM HS 2 sebelum kita benar-benar yakin KUM HS 1 tidak dapat digunakan.

7. Dalam hal menggunakan KUM HS 3 (b), perlu diperhatikan bahwa yang dimaksud dengan sifat utama (essential character) meliputi berbagai aspek. Beberapa aspek yang dapat digunakan sebagai dasar penentuan sifat utama adalah fungsi/kegunaan, nilai (value), dan bentuk fisik (appearance). Usahakan paling tidak selalu

mempertimbangkan ketiga aspek tersebut sebelum menentukan sifat utama suatu barang campuran.

8. Dalam membandingkan pos-pos, sub-sub pos, atau pos-pos tarif, harus selalu diingat bahwa yang dibandingkan adalah pos-pos , sub-sub pos, atau pos-pos tarif yang setara (perhatikan takiknya). Ingat, dalam mengklasifikasi, perbandingan

dimaksud tidak berdasarkan pembebanan impornya!.

9. Apabila sudah dipilih satu pos tarif yang benar-benar sesuai dengan uraian barang, langkah selanjutnya adalah melihat pembebanannya (BM, PPN, PPnBM, atau cukai) dan ada atau tidak peraturan tata niaganya (IT, IP, Pertamina, dan lain-lain.). Karena pembebanan tersebut sering berubah, jangan lupa selalu menggunakan pembebanan yang up to date berdasarkan ketentuan yang terbaru.

3.2. Latihan

Bagaimana tahapan dalam mengklasifikasi barang agar menghasilkan pos tarif yang akurat ? 2. Jawaban 2. Mengapa dalam mengklsifikasi barang harus memperhatiakan bagian dan bab serta catatan bagian dan catatan babnya yang terkait dengan barang tersebut ? 3. Mengapa sebelum mengklasifikasi barang. Pengamatan uraian barang dalam BTBMI dengan melihat bagaian. 3. agar menghasilkan keputusan yang tepat sesuai aturan yang benar. Pada prinsipnya meliputi identifikasi barang. kemudian melihat uraian barang dalam BTBMI sesuai dengan yang akan diklasifikasi. bab dan catatan yang berkaitan dengan barang yang akan diklasifikasi. Berdasarkan pertimbangan tersebut baru ditentukan pos tarif yang tepat.Pertanyaan 1. Rangkuman Dalam proses mengklasifikasi barang diperlukan tahapan yang sesuai. mendeskripsikan jenis barang.3. diperlukan data mengenai barangnya ? Sebutkan contoh kasus ! 1. 3. .

4. Uraian Contoh dan Non Contoh 4. dan pembebanan impornya.1. Dalam diktat ini disajikan cara membuat uraian rinci klasifikasi barang Untuk memudahkan. Dalam mekanisme ini tidak jarang timbul perbedaan pendapat mengenai klasifikasi barang antara importir/PPJK dan aparat DJBC. Kerangka nota penelitian klasifikasi barang sebenarnya tidak baku. aparat DJBC diharuskan membuat uraian rinci yang menjelaskan dasar klasifikasi barang dimaksud. . Nota Penelitian Klasifikasi Barang Pada bagian akhir diktat ini disajikan juga contoh soal klasifikasi barang menggunakan nota penelitian klasifikasi barang. Soal tersebut dapat dijawab dengan menggunakan contoh nota penelitian di bawah ini: Contoh 1. Pengantar Berkaitan dengan klasifikasi barang. uraian rinci klasifikasi barang dimaksud kita sebut saja Nota Penelitian Klasifikasi Barang.1.2. Selanjutnya DJBC akan meneliti dan menetapkan klasifikasi barang tersebut. 4.1. KEGIATAN BELAJAR 3 NOTA PENELITIAN KLASIFIKASI BARANG 4. Sebagaimana selama ini telah berjalan. bisa singkat atau memerlukan uraian yang cukup panjang tergantung pada permasalahan yang dihadapi. klasifikasi.1. setidaknya ada dua fihak yang berkepentingan yaitu aparat DJBC dan importir/PPJK. tersebut. dalam rangka pengimporan importir/PPJK memberitahukan sendiri jenis barang. Dalam mempertahankan pendapatnya. Namun dalam diktat ini pembuatan nota penelitian klasifikasi barang tersebut diarahkan untuk mengikuti ketentuan-ketentuan dasar mengklasifikasi barang sesuai HS/BTBMI.

(Contoh ini umumnya diterapkan pada penelitian klasifikasi di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai): Nama Barang/Uraian Jenis Barang Spesifikasi Barang (Komposisi. kemasan. Explanatory Notes.Explanatory Notes atau referensi lainnya 4) Uraian klasifikasi barang .Bagian. Bab. Bab dan Sub pos • Uraian pos.1) Nama barang/uraian jenis barang 2) .bentuk.tuliskan mulai dari 2 digit. alasan/catatan Bag/Bab /Sub-pos yang terkait 3) .) Pos (pos-pos) Yang Mungkin (Bisa satu atau lebih kemungkinan pos tarif) Dasar Klasifikasi Catatan : Bagian. 6 digit dan 9 digit 5) Kesimpulan Contoh 2. kapasitas. BTBMI. dll. dan informasi atau referensi lainnya • • • Tentukan satu pos yang paling sesuai Tentukan sub-pos yang paling sesuai Tentukan pos tarif yang paling sesuai . 4 digit. kegunaan.

90.PPN … % PPh %.99..3. Bahan tersebut telah terdaftar dalam Farmakope Indonesia Alasan Klasifikasi : Arang kayu masuk Bab 44.90 Lain-lain .xxx BM x% PPN x%. 2. Praktek Pembuatan Nota Penelitian Klasifikasi Barang: 1.. 4.00 Lain-lain Kesimpulan : Norit diklasifikasikan pada pos tarif 3004..90.90 Lain-lain .Subpos 3004. Menurut catatan 1 (d) Bab 44 tidak meliputi arang aktif masuk pos 3802 .Kesimpulan Klasifikasi Barang Barang dimaksud dimaksud diklasifikasikan pada tarif xxxx. BM ….Bab 38 catatan 1 (d) tidak meliputi barang untuk obat …masuk Bab 30 Uraian klasifikasi : .99. . Obat dalam dosis tertentu.1. Nama dan Jenis barang : Norit mengandung arang aktif dari arang kayu dalam bentuk tablet 5 gram dipergunakan untuk mengatasi keracunan atau perut kembung.90. Nama dan Jenis barang : Shampo merk : KAO dalam tube 100 ml mengandung obat anti ketombe dan anti .00 % .Bab 30.Pos 3004.xx.Produk farmasi .Subpos 3004.Pos tarif 3004.

.Pos 1601 ..00.12.sosis .10 shampo ..Subpos 1601.. lihat cat 1 “.shampo Kesimpulan : Shampo mengandung obat anti kerontokan diklasifikasikan pada pos tarif 3305.Bila mengandung obat Bab 30 Lihat Bab 30 catatan 1(d) :Bab ini tidak meliputi pos 3303-3307 walau mengandung obat Uraian klasifikasi : .00…mengandung daging sapi Kesimpulan : Sosis daging sapi tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 1601. .. % .jamur atau kerontokan rambut Alasan Klasifikasi : .Shampo termasuk kosmetik Bab 33.Pos tarif 1601.10.90...00. Nama dan Jenis barang : Sosis daging sapi yang dimasak Alasan Klasifikasi : .diolah selain dari bab 2 dan 3 masuk Bab 16…” .00 BM ….10.PPN … % P 3.Subpos 3305. % .Makanan olahan masuk Bagian IV .PPN … % PPh %. . .00.. shampo Pos 3305.Olahan dari daging .00.Pos 3305 preparat digunakan pada rambut.Bab 16 .10.Bab 33.12.Lihat Bab 16 catatan 2 “Bab 16 meliputi olahan makanan mengandung daging lebih dari 20 % Uraian klasifikasi : .kosmetika… .90.. sosis .Pos tarif 3305.00 BM ….Olahan dari ikan masuk Bab 16.

Nama dan Jenis barang : Kawat pilinan dari baja terdiri dari 5 buah yang dipilin tidak diisolasi ukuran diameter 2.10.Bab 73.Bahan cat termasuk produk kimia bagian VI.Pos tarif 3907.90.. bahan pelarut yang mudah manguap 28 % dan bahan lainnya 13 % Alasan Klasifikasi : . Uraian klasifikasi : .10.Bab 39..Lihat Bagian XV catatan 2 “kawat dipilin masuk bagian untuk pemakaian umum pos 7312 …. (walau bagian untuk mobil derek) Uraian klasifikasi : .polimer .Pos tarif 7312.50.Lihat Bagian XVII catatan 2(B) bagian untuk pemakaian umum tidak boleh masuk Bab 87 .10. pos 3208 meliputi bahan yang mengandung bahan pelarut mudah menguap lebih dari 50 % ..00 ukuran 25 mm . .50.5 cm digunakan untuk penarik mobil derek Alasan Klasifikasi : .pelarut kurang dr 50 % ke pos 3907. Nama dan Jenis barang : Bahan untuk membuat cat besi mengandung bahan alkyd resin (poliester resin) 55 %..00 BM ….10.Subpos 3907.Pos 3907 poliester (alkid resin) .Barang dari logam tidak mulia masuk Bagian XV..kawat .Pos 7312 . cat masuk bab 32 ..Mobil derek masuk bab 87 .50 alkid (poliester) dari poliester .barang dari baja . % ..Subpos 7312.4..00 cair Kesimpulan : Bahan cat tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 3907..PPN … % PPh %. kawat dipilin .Lihat catatan 4 bab 32 .Barang dari logam tidak mulia masuk Bab 73. 5..

%. Nota penelitian klasifikasi barang 2.91.30.2.00 untuk bus mini Kesimpulan : Radiaotor tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 8708.PPN … % PPh %. Sebutkab tahapan dalam membuat nota penelitian klasifikasi barang ? 1. . % . -Sub pos 8708. Kendaraan Bab 87 Radiator bagian dari kendaraan bermotor berjalan bukan di rel. Bagiannya masuk pos 8708. radiator .10. Uraian klasifikasi : -Bab 87 Kendaraan yang bergerak selain diatas rel … -Pos 8708 bagian untuk kendaraan bermotor.Kesimpulan : Kawat tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 7312.00 BM …. 6. Latihan Pertanyaan 1.91. 4.Sub pos 8708.91. Jawaban 2.% PPN …% PPh….00 BM ….90.Pos tarif 8708.. seyogyanya memuat hal-hal apa saja ? .90 bagian dan aksesori lainnya …. Nama dan Jenis barang : Bagian dari kendaraan bermotor berupa : Radiator untuk mobil bus mini untuk pengangkutan 15 orang dengan mesin diesel dalam keadaan CKD masa total 10 ton Alasan Klasifikasi : -Kendaraan yang bergerak selain diatas rel… masuk Bagian XVII.30.

1. Pada umumnya hsil penelitian dituangkan dalam suatu format yang berisikan komponen : nama dan jenis barang. Dalam membuat nota penelitian klasifikasi barang ada yang sederhana dengan hanya menggunakan BTBMI. ( B . hasil analisa laboratorium atau sumber informasi lainnya 5.S) Pernyataan 3a pada KUM HS adalah Pos yang memuat uraian yang paling terinci harus lebih diutamakan daripada pos yang memuat uraian .S ) Pernyataan 2b pada KUM HS adalah Barang tidak lengkap atau tidak rampung dianggap sebagai barang lengkap atau rampung.1. uraian klasifikasi dan kesimpulan. Tidak mengikat secara hukum dalam mengklasifikasi 2. asalkan pada saat diimpor sudah mempunyai sifat utama sebagai lengkap atau rampung barang 3.S ) Judul Bagian.3. Mengapa dalam mengklasifikasi barang tidak hanya menyebutkan 9 digitnya atau kesimpulannya saja ? 3. alas an klasifikasi.3. Lingkarilah huruf B apabila pernyataan ini Saudara anggap benar dan huruf S apabila pernyataan Saudara anggap salah. ( B . 4. ( B . Bab dan Sub-bab pada Buku tarif Bea Masuk Indonesia hanya dimaksudkan untuk memudahkan penyebutan saja. namun dilapangan nama barang berdasarkan hasil pemeriksaan. ditambah informasi barang dari brosur. demikian juga hasil penelitian klasifikasi barang harus disajikan dalam bentuk format yang benar. Rangkuman Proses dalam mengklasifikasi barang harus seuai dengan aturan. Test Formatif 5.

berdasarkan KUM HS nomor : a. nama barang dan uraian jenis barang b. Pililihlah jawaban yang Saudara anggap benar dengan cara melingkari huruf yang terdapat di depan jawaban tersebut 1.S ) Sebelum mengklasifikasi barang. Larutan dengan kandungan asam cuka (acetic acid) lebih dari 10 % dikeluarkan dari bab 22 berdasarkan catatan : . bumbu. cocok untuk pemakaian jangka panjang dan diimpor lengkap dengan isinya. dengan bentuk atau kelengkapan khusus untuk menyimpan barang tertentu atau seperangkat barang tertentu.2.yang lebih umum sifatnya 4. harus diklasifikasikan dengan barang tersebut jika biasa dijual dengan barang itu 5. 3b d. peti instrumen dan tempat simpan yang semacam. b dan c benar 2. sebaiknya kita identifikasi dulu barang yang akan kita klasifikasi. Namun demikian nota tersebut setidak-tidaknya memuat tentang : a.alasan atau catatan yang digunakan c.S ) Pernyataan 5b pada KUM HS adalah Peti kamera. ( B . pernyataan a. Dalam membuat Nota Penelitian Klasifikasi Barang maka diperlukan kerangka yang singkat atau memerlukan uraian yang cukup panjang tergantung pada permasalahan yang dihadapi. 3a c. Uraian klasifikasi mulai 2 digit sampai dengan 9 digit d. Suatu kemasan mengandung mie. 5a 3. 2b b. ( B . diklasifikasikan sebagai mie pada bab 19. Dengan mengetahui spesifikasi barang maka akan lebih mendekati keakuratan dalam mengklasifikasi barang 6. saos dan bawang.

5a d.3. Mengapa sabun mandi mengandung obat pembasmi kuman walaupun mengandung obat tidak diklasifikasikan pada bab 30 sebagai produk farmasi. esklusif c. pengertian 4. 3. Sebutkan alasannya . ilustrasi d. namun diklasifikasikan pada bab 22 dikarenakan KUM HS nomor : a.04 atau 90. 5b 6. 3c c. Tentukan pos tarif dari barang tersebut dibawah ini 1. 3b b. Walalupun etil alkohol merupakan bahan kimia organik. definitif b. 3a 5.a. Automatic voltage regulator yang digunakan sebagai stabilizer otomatis untuk komputer harus diklasifikasikan pada pos 85. Tabung gas LPG yang berisi gas LPG tidak dapat diklasifikasikan menjadi stu pos tarif karena ketentuan menurut KUM HS nomor : a. 2a c. Mengapa olahan makanan yang terbuat dari daging sapi yang dikukus tidak diklasifikasikan pada bab 2 2. 1 b.32 . Mengapa tutup kepala (topi) pengaman untuk pengendara sepeda motor yang terbuat dari bahan plastik tidak diklasifikasikan pada bab 39 ? 4. 2b d.

B 4.5. Lihat catatan 1(e) Bab 30 .Ketentuan dan catatan apa yang digunakan dalam mengklasifikasi barang tersebut 6. tidak dikelantang dan tidak dimerserisasi. dari serat disisir dengan nomor benang 150 decitex. d 6.1. Benang tenun terbuat dari campuran 70 % kapas (cotton) dan 30 % nilon. B 2. dikukus dan pengolahan selain pada bab 2 diklasifikasikan pada bab 16. Pilihlah berganda 1.2. Pilihan B atau S 1. Essay Diberitahukan hanya 6 digitnya (sub posnya) 1. B 6. seperti dipanggang. d 2. a 5. Daging sapi hasil olahan sesuai bab 2 (pengolahan sementara/terbatas) diklasifikasikan pada bab 2.50. c 3. merupakan benang tunggal. Perhatikan pos tarif 1602. S 3. b 4.3. S 5. Bentuk pengolahan bukan sederhana. Lihat catatan 1 bab 16.000 2. Kunci Jawaban 6.

3. Lihat catatan 1(n) Bab 39

4. Lihat catatan 2(A) Bagian XI

5. Lihat catatan 6(b) Bab 90 Perhatikan sub-pos 5206.24.

7. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT

Bandingkanlah hasil jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang ada di belakang modul ini. Hitunglah jumlah jawaban Anda yang benar atau sejauh mana Anda menguasai mata pelajaran tersebut. Kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap terhadap materi kegiatan belajar

Rumus Tingkat Penguasaan Jumlah Jawaban Anda yang benar dibagi 15 kemudian dikali 100 % = ............ Arti tingkat penguasaan : * 90 % - 100 % = Baik sekali * 80 % * 70 % * 89 % = Baik 79 % = Cukup 69 % = Kurang

Kalau Anda mencapai tingkat penguasaan 80% keatas Anda dapat meneruskan kepada modul atau bagian pelajaran lain. Hasilnya Baik ! akan tetapi, bila tingkat penguasaan Anda masih dibawah 80 %, Anda harus mengulangi membaca Modul kembali, terutama bagian yang belum Anda kuasai

8. Kepustakaan

1. Harmonized System, Word Customs Organization, 2007 version 2. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (2007). Departemen Keuangan RI, Jakarta 3. Explanatory Notes, World Customs Organization, 2007

4. Pengantar Klasifikasi Barang. (1995) Pusdiklat Bea dan Cukai. Jakarta 5. Classification Disputes Settled by The Harmonized System Committee. Customs Organization (1994) World

***

8. Kepustakaan

1. Harmonized System, Word Customs Organization, 2007 version 2. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (2007). Departemen Keuangan RI, Jakarta 3. Explanatory Notes, World Customs Organization, 2007 4. Pengantar Klasifikasi Barang. (1995) Pusdiklat Bea dan Cukai. Jakarta 5. Classification Disputes Settled by The Harmonized System Committee. Customs Organization (1994) World

***

MODUL III SISTEM KLASIFIKASI BARANG MENURUT HARMONIZED SYSTEM MATERI KLASIFIKASI BARANG OLEH : TIM PENYUSUN MODUL PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN BEA DAN CUKAI BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA JAKARTA 2007 .

Jakarta. karena ada kepastian tentang jenis barang dan penetapan tarif posnya. Modul ini digunakan dalam Diklat Teksnis Substantif Dasar I Kepabeanan dan Cukai dengan judul “Catatan Penting dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia” Dalam kesempatan ini.Kata Pengantar Puji syukur kehadirat Allah yang Maha Kuasa. Obyek dari kegiatan Direktorat Bea dan Cukai adalah barang. Dalam rangka penentapan tarif bea masuk dan kepentingan kepabeanan lainnya. bahwa Modul ini dapat diselesaikan sesuai waktunya. Semoga Allah membalas atas amal kebaikan tersebut. seyogyanya petugas Ditjen Bea dan Cukai menambah keterampilam dalam mengklasifikasi barang agar pelayanan cepat dan negara tidak dirugikan dalam menetapkan besarnya bea masuk. Semoga Modul ini bermanfaat sebagai penambah wawasan dan media untuk penambah keterampilan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang. Penulis menghaturkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga dapat diselesaikannya Modul ini. Nopember 2007 Penulis . Modul ini merupakan seri dari 3 buah modul mata pelajaran klasifikasi barang.

................... Contoh dan Non contoh.........1 Uraian................................................. 3......................................2..1 Uraian.................... 1............DAFTAR ISI Halalaman Kata Pengantar . Daftar Isi ..................... Contoh dan Non contoh............................................ Umpan Balik...................... 3........................................................................ 4...................................... Rangkuman.................................... Rangkuman............ KEGIATAN BELAJAR 2 STRUKTUR PENGELOMPOKAN BARANG PADA BTBMI... 4.2.......................3........... Tujuan Pembelajaran Khusus.................................. 3............. Daftar Pustaka..............2............. 1..................................3...........................................................3........... 2................................................ KEGIATAN BELAJAR 1 JENIS CATATAN PADA BTBMI…………………………….......................................................................... Test Formatif ...........1.... Latihan 2........................ Latihan 3........................................ Tujuan Pembelajaran Umum................... Kunci Jawaban ...2...............................................1 Uraian................................Deskripsi singkat.................................................................... 2................... Rangkuman...............3........................ 4 KEGIATAN BELAJAR 3 CATATAN PENTING PADA BTBMI...................................................................... Contoh dan Non contoh......................... Latihan 1................... 4............................................. 1 PENDAHULUAN ....... i ii 1 1 1 1 2 2 5 5 6 6 22 23 24 24 32 32 33 36 37 38 2 3 5 6 7 8 ................................................... 1........................................ 2....................................

1.1. Tujuan Instruksional Umum Setelah mempelajari modul ini.2. Catatan Penting dalam BTBMI 2. para Siswa diharapkan mampu menjelaskan pengelompokkan barang dan jenis catatan berdasarkan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. Seorang klasifikator harus memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang karena akan menentukan ketepatan pengisian Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang pada akhirnya menentukan ketepatan jumlah bea masuk dan pungutan impor lainnya yang harus dibayar. seorang klasifikator harus terlebih dahulu memahami pengetahuan barang dan pengetahuan mengenai klasifikasi barang. PENDAHULUAN 1.3. Struktur pengelompokkan barang 3. Oleh karena itu. 1.MODUL III CATATAN PENTING DALAM BTBMI I. KEGIATAN BELAJAR 1 . Tujuan Instruksional Khusus Setelah mempelajari Modul ini diharapkan para Siswa mampu menjelaskan : 1. Jenis catatan pada BTBMI 2. Deskrifsi Singkat Untuk menjadi menjadi seorang klasifikator dibidang kepabeanan yang handal harus dapat mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang dengan terampil.

… … … … Preparat kontrasepsi kimia dengan bahan dasar hormon atau pembunuh sperma. Hemostatik bedah atau gigi steril yang dapat menyerap.1. . yang harus diklasifikasikan dalam pos tersebut dan tidak dalam pos lainnya dari Nomenklatur ini: (a) Catgut bedah steril.1.04 hanya berlaku untuk hal berikut ini. yaitu: 2. catatan-catatan dalam HS merupakan bagian integral yang harus diperhatikan benar-benar. Catatan-catatan tersebut dapat dibagi berdasarkan jenisnya. Catatan Bab. Catatan-catatan tersebut mempunyai kekuatan hukum sama seperti uraian pos atau sub-pos.2. Contoh: Catatan 4 Bab 30: Pos no. HS mempunyai Catatan Bagian. 2.1. Catatan Eksklusif Catatan yang mengeluarkan barang tertentu dari suatu pos atau sub-pos dan memasukkannya dalam pos atau sub-pos tertentu lainnya. (b) (c) (d) (e) (f) (g) (h) Laminaria steril dan laminaria steril yang dapat menggembung. Catatan Definitif Catatan yang menjelaskan pengklasifikasian suatu barang pada pos atau sekumpulan pos tertentu. Contoh dan Non Contoh Disamping KUM HS. 30.JENIS CATATAN PADA BTBMI 2. dan Catatan Sub-pos. bahan jahit bedah steril yang semacam itu dan perekat kertas steril untuk penutup luka bedah. Uraian.1.

(b) Usus.03.3.13).10. tali penahan celana.10 harus diklasifikasikan sebagai berikut: (a) Campuran dua produk atau lebih dari pos yang sama harus digolongkan dalam pos itu. apron dan pakaian pelindung lainnya. 05.04 sampai dengan 09.04) atau darah binatang (pos No. tetapi tidak termasuk arloji tangan (pos no.11 atau 30.01 sampai dengan 02.1.Contoh: Catatan 1 Bab 2: Bab ini tidak meliputi: (a) Produk dari jenis yang diuraikan dalam pos No. 09. atau (c) Lemak hewani. atau 02. (b) Catatan 1 Bab 9: Campuran dari produk dimaksud dalam pos no. untuk sarung tangan (termasuk sarung tangan olah raga).09 (Bab 15). selain produk dari pos No.08.4. 05. . 2. 02. istilah “barang pakaian dan perlengkapan pakaian” berlaku.1. 42. kandung kemih atau perut dari binatang (pos No.02). antara lain. 02. 2. tali sandang dan semua jenis gelang. Contoh : Catatan 3 Bab 42: Untuk keperluan pos no.Contoh: (a) Catatan 2 Bab 3: Dalam Bab ini pengertian “pellet” adalah produk-produk yang telah diaglomerasi baik secara langsung dengan cara dikompresi atau dengan penambahan sejumlah kecil bahan pengikat. Catatan Lain-lain Catatan yang menguraikan pengertian-pengertian yang bersifat teknis. 91. ikat pinggang. yang tidak layak atau tidak sesuai untuk konsumsi manusia. Catatan Ilustratif Catatan yang memberikan gambaran terhadap pengertian atau istilah yang perlu dijabarkan lebih lanjut.

12.01. dan (c) Barang dari pos no. 73. 91. 83. termasuk KUM HS..18 dan barang semacam itu dari logam tidak mulia lainnya. Dengan memperhatikan ketentuan dalam ayat di atas dan Catatan 1 Bab 83.15. Tatacara mengklasifikasi harus diikuti dengan urut agar benar-benar diperoleh hasil yang akurat. 73. 83. dari logam tidak mulia.07. barang dari Bab 82 atau 83 tidak termasuk dari Bab 72 sampai dengan 76 Bab 78 sampai dengan 81. 73. Explanatory Notes.10 dan bingkai serta kaca dari logam tidak mulia.15) apa yang disebut bagian dari barang tidaklah termasuk uraian tentang bagian untuk pemakaian umum seperti diuraikan di atas. selain pegas untuk lonceng atau arloji (pos no. 83.08. Membaca dengan teliti dan memahami catatan-catatan di atas. 83.04 sampai dengan 09. 73. Tambahan dari bahan lainnya ke dalam produk dari pos no.2. Mengklasifikasi barang tidak dapat dilakukan dengan hanya sekedar mencari satu pos tertentu saja.17 atau 73. (b) Pegas dan lembaran untuk pegas.02. sub-pos.(b) Campuran dua produk atau lebih dari pos yang berlainan harus digolongkan dalam pos no. dari pos no. dan pos tarif yang berkaitan dengan barang yang akan diklasifikasikan merupakan syarat mutlak yang harus dilakukan agar klasifikasi yang dilakukan benar-benar akurat. dan uraian pada pos. 83. Latihan .14). 09.10. Untuk beberapa hal cara seperti ini mungkin berhasil namun labih banyak risiko kegagalannya.10 (atau campuran seperti yang dimaksud dalam (a) atau (b) di atas) tidak mempengaruhi penggolongannya asalkan…. Dalam Bab 73 sampai dengan 76 dan 78 sampai dengan 82 (tetapi bukan dalam pos no. 09. (c) Catatan 2 Bagian XV: Dalam seluruh Nomenklatur. istilah “bagian untuk pemakaian umum” berarti: (a) Barang dari pos no. 2.06. 73.

Hal ini diperlukan agar jangan sampai salah dalam menempatkan pengelompokan barang sesuai Harmonized system.Pertanyaan 1.3. dan penjelasan.Sebutkan catatan ilustratif pada pada Bagian ? 1. illustratif. dikeluarkan. Sebutkan contoh catatan ekslusif pada Bab 71 ? 3. catatan definitive. Sebutkan contoh catatan definitif pada Bab 39 ? 2. 3. Rangkuman Catatan merupakan pintu gerbang dalam memasuk bagian dan bab dalam BTBMI. Secara garis besarnya pintu gerbang tersebut akan mengatur tentang suatu barang yang boleh dimasukan. atau dikeluarkan sebagian serta penjelasan lainyya. Jawaban 2. . 2. Secara singkat jenis catatan tersebut meliputi. eksklusive.

barang setengah jadi (semi-finished products). tepung. ikan. Terhadap produk yang telah mengalami proses lebih lanjut diklasifikasikan pada bab 19.1. Uraian. kecuali beberapa jenis minyak dan lemak tertentu (bab 15) dan kayu (bab 44). Sebagai contoh. sereal. demikian juga halnya dengan jangat. Bagian II mencakup produk sayuran. sepatu dari kulit binatang pada Bab 64. madu. produk makanan siap saji yang diawetkan diklasifikasikan pada Bagian IV. dan barang jadi (finished products). baik yang bisa dimakan atau tidak (tanaman. buah. binatang hidup diklasifikasikan pada Bab 1. bijibijian.). kulit. dan produk yang tidak dapat dimakan). barang dikelompokkan dalam 96 bab (dan bab 77 sebagai persiapan masa mendatang) yang dikelompokkan dalam 21 bagian. Namun beberapa jenis minyak dan lemak dikeluarkan dari bagian I dan diklasifikasikan pada bab 15.1. sayuran. produk yang dapat dimakan lainnya. Produk-produk yang termasuk bagian I dan II belum mengalami proses pengerjaan kecuali sampai tahap tertentu (dengan beberapa pengecualian). bab 20 atau bab 21. Di bawah ini disajikan urutan pengelompokan barang dalam HS/BTBMI: 1. Urutan pengelompokan ini juga berlaku untuk bab dan pos.1. Gambaran per Bagian Bagian I mencakup binatang hidup dan produk dari binatang (daging. Bagian III hanya terdiri dari bab 15 yang mencakup lemak dan minyak hewani dan . produk susu. Bab 1 sampai dengan bab 24 (Bagian I sampai dengan Bagian IV) mencakup produk-produk pertanian dalam arti luas. bahan yang tidak/belum dikerjakan (unworked products). telur.3. Pengelompokan tersebut berdasarkan urutan tingkat pengerjaannya. dsb. jangat dan kulit binatang pada Bab 41. bulu dan barang terbuat daripadanya (diklasifikasikan pada bagian VIII). yaitu bahan baku (raw material). KEGIATAN BELAJAR 2 STRUKTUR PENGELOMPOKAN BARANG PADA BTBMI 3. Contohnya. Gambaran Per Bagian Dalam Harmonized System (HS). Contoh dan Non Contoh 3.

Bab 17 meliputi gula dan bahan lainnya seperti sirop. cuka. bersamasama dengan produk industri makanan yang tidak dicakup bab-bab sebelumnya. KENTANG ) . telah diproses. dikukus atau diawetakan secara permanen. karena minyak nabati yang mudah menguap masuk Bab 33 sebagai minyak atsiri. HUBUNGAN BAGIAN I DAN II DENGAN BAGIAN IV: BAGIAN I & II DIPROSES LEBIH LANJUT >>>BAGIAN IV *BAB 2 BAB 3 (DAGING) (IKAN) > * BAB 16 *BAB 4 (SUSU) BAB 10 (GANDUM-GANDUMAN) > * BAB 19 BAB 11 (PRODUK-GILINGAN) *BAB 7 (SAYURAN) > * BAB 20 BAB 8 (BUAH-BUAHAN) BAB 11 (PRODUK GILINGAN. misalnya minyak goreng atau margarine yang siap dikonsumsi. Berbagai jenis gula yang murni secara kimiawi diklasifikasikan pada Bab 29. Demikian juga bahan pemanis tiruan masuk Bab 29. minuman keras.dan tembakau.nabati dan produk terbuat daripadanya (misalnya malam/wax). Minyak pada Bab II baik dalam keadaan mentah. Bagian IV mencakup produk minuman. madu tiruan dan karamel. Umumnya minyak tidak menguap. seperti saccharin dan dulcin. diantaranyadi goreng. Bab 16 meliputi daging atau ikan yang telah mengalami proses lebih lanjut.

Bagian ini terdiri dari 2 bab. batuan pada Bab 25 atau bijih logam pada Bab 26 . hasil tumbuk. telah dicuci. dan minyak bumi. dan sumber bahan organik pada Bab 27 seperti batu bara. maka produk barangbarang tersebut semakin bervariasi dan bertambah jenisnya. pupuk. sedangkan apabila merupakan hasil bentukan atau pahatan masuk Bab 68 dan kalau bahan tersebut merupakan hasil pembakaran maka masuk Bab 69. Komoditi plastik. Bagian VII mencakup plastik dan produk dari plastik (bab 39) dan karet dan produk dari karet (bab 40). yaitu bab 39 (Plastik dan Barang Dari Plastik) dan bab 40 (Karet dan Barang Dari Karet). hancur. kosmetik. Hasil pertambangan yang telah diolah secara lain. bahan peledak. baik sumber mineral anorganik seperti tanah. karet buatan serta barang dari plastik dan karet buatan banyak diimpor Indonesia. Sesuai dengan kemajuan teknologi. cat. Bagian VII mencakup plastik/barang dari plastik serta karet/barang dari karet. Struktur dalam Bab 39 secara garis besar adalah : .Bagian V mencakup produk mineral. Bagian VI mencakup produk-produk kimia. seperti garam. Batu-batuan setengah permata atau batu permata digolongkan pada Bab 71. sabun. dan lain-lain. hasil gilingan atau saringan. belerang dan batuan lainnya hanya dalam keadaan mentah (crude). misalnya dimurnikan sebagai bahan kimia anorganik masuk Bab 28. Kecuali kalau susunannya mensyaratkan lain. maka Bab 25 meliputi produk tambang. Karena kemajuan teknologi pembuatan barang. khususnya dalam rangka klasifikasi barang. maka pengenalan dan proses pengidentifikasi barang tersebut semakin sulit. baik yang berbentuk asal (primary form) maupun produk-produk industri kimia seperti produk farmasi.

Bagian IX mencakup produk yang berasal dari tumbuhan. mineral dan buatan manusia. barang dari kulit atau usus binatang (bab 42). Serat dapat berasal dari tumbuhan. Bahan dasar tekstil adalah serat. Bagian XI mencakup produk tekstil mulai dari sutera (bab 50) sampai dengan pakaian dan permadani (bab 63). goni dan sisal.. dan produk industri percetakan (bab 49). henneps. Bagian X juga masih mencakup produk yang berasal dari tumbuhan. seperti kayu dan barang dari kayu (bab 44). flaks. Perlu dicatat bahwa pos 42.. kertas karton dan barang terbuat daripadanya (bab 48). kertas. 4006 :TIDAK DIVULKANISASI : KARET PUGARAN : SISA. dan barang kerajinan tangan (bab 46). beberapa produk seperti furniture diklasifikasikan di bab lain (bab 94). Serat bila diproses akan menjadi benang. gabus dan barang dari gabus (bab 45). rami. kulit berbulu. Namun..01 dan 42. REJA. Serat dari tumbuhan atau disebut serat nabati. hewani. termasuk kulit berbulu imitasi (bab 43). kemudian dari benang menjadi kain atau produk tekstil lainnya.BAB 39 PLASTIK DAN BARANG DARI PLASTIK BAB 40 KARET DAN BARANG DARI KARET SUB-BAB 1 3901-3911 : POLIMER BUATAN 3912-3913 : POLIMER ALAMI 3914 : PENUKAR ION 4001-4002 : BAHAN KARET 4003 4004 4005 SUB-BAB II 3915 : SISA. Serat . misalnya serat kapas.02 juga mencakup produk-produk tertentu terbuat bukan dari kulit. REJA : COUMPOND 3916-3921 : BARANG SETENGAH JADI 3922-3924 : BARANG JADI 4007-40016 : BARANG SETENGAH JADI 4017 : KARET KERAS Bagian VIII mencakup produk-produk tertentu yang berasal dari binatang seperti jangat dan kulit (bab 41). yaitu pulp (bab 47).

(bab 66). dan barang dari rambut manusia (bab 67). tongkat jalan. Melalui data nomor benang. Bagian XIII mencakup produk-produk yang diperoleh dari batu. keramik (bab 69). dan semacam itu. perhiasan. bulu kelinci. yaitu serat sintetik dan serat artificial (tiruan). dll. Bagian XII mencakup produk alas kaki (bab 64). juga produk-produk tertentu dari bulu. (bab 68). logam mulia. Benang tersebut biasa disebut sebagai lusi dan pakan. Bagian XIV mencakup hanya bab 71 yaitu mencakup mutiara dan batu mulia. dan kaca/barang dari kaca (bab 70). poliester. contohnya kaos. Ada dua sistem yang dipakai dalam penomoran benang. semen. Kain rajut dibuat dengan jalan menjeratkan benang satu dengan yang lain atau pada benang itu sendiri. asetat sellulosa. poliurethan dan lainnya. 2.yang berasal dari hewan misalnya bulu domba atau bulu anak domba. Serat buatan manusia atau man made fiber terbagi dua. yaitu : 1. Bagian XV mencakup logam tidak mulia dan barang terbuat daripadanya. payung. dan uang logam. tutup kepala (bab 65). bunga buatan. benang pakan kalau dalam mesin rajut adalah yang bergerak menyilang benang lusi atau sesuai arah lebar kain. Istilah sintetik digunakan dalam hubungan bahan polimer seperti poliamida. dibuat dengan mesin tenun melalui cara menyilangkan kelompok benang satu terhadap yang lain. sedangkan serat tiruan digunakan dalam hubungan untuk bahan dari rayon viskosa. dll. Untuk memahami ini lihat Catatan 1 Bab 54. bulu kambing Angora (Mohair) dan sutera. gips. T shirt dan kain katun (lihat Bab 60 tentang jenis kain ini). Serat buatan adalah serat hasil industri kimia. plaster. Namun demikian bagian ini tidak mencakup barang dari logam dasar yang termasuk dalam bab- . bulu unta. Sistem penomoran benang langsung (Direct Yarn Number) Sistem penomoran benang tidak langsung (Indirect Yarn Number) Kain yang terbuat dari benang dengan cara tenun. bisa dilihat besar atau kecilnya suatu benang.

Bagian XIX hanya terdiri dari bab 93 yang mencakup senjata dan amunisi. 3.2. dll. dan alat transportasi lainnya (kereta api. jam (bab 91). ukuran. pesawat terbang. Dengan demikian dapat dimengerti apabila suatu barang yang sepintas termasuk dalam suatu bab ternyata diklasifikasikan pada bab lain. medis. sinematografi. mainan. dan peralatan olahraga (bab 95). Hal ini dapat difahami mengingat antara bab satu dengan bab lainnya kadang-kadang mencakup barang yang mengandung bahan yang sama atau merupakan proses lebih lanjut dari barang dalam bab sebelumnya. atau bedah (bab 90). Bagian XVII mencakup kendaraan. dan bangunan prefabrikasi (bab 94). peralatan permainan. Sebagai contoh. Perlu diingat bahwa judul bab bukan merupakan uraian yang bersifat mengikat secara hukum.1. Bagian XX mencakup furniture. peralatan mekanik. dan barang antik. perlengkapan penerangan. Bagian XXI hanya terdiri dari bab 97 yang mencakup hasil karya seni. lampu. papan nama iluminasi. kapal laut. Selain itu. fotografi. Bagian XVI mencakup mesin. di bawah ini disajikan gambaran keterkaitan antar bab dalam HS: . barang kegemaran kaum pengumpul.bab di belakangnya (seperti mesin dan kendaraan). Hubungan Antar Bab Apabila kita mempelajari Bab demi Bab Harmonized System. judul bab dalam HS sebagian besar bersifat umum. Bagian ini mempunyai pos dan sub-pos yang sangat besar dibandingkan dengan bagian lainnya. dan peralatan listrik. pesawat ruang angkasa. Bagian XVIII mencakup perlatan optik. kontrol.). dan perlatan musik (bab 92). dan bermacam-macam barang hasil pabrik (bab 96). akan kita dapati bahwa terdapat keterkaitan antara bab tertentu dengan bab atau beberapa bab lainnya.

melainkan pada bab 95 (pos 95. Adalah tidak mungkin untuk menggambarkan dengan rinci keterkaitan antas bab dalam diktat ini. Sebagai contoh. • Mesin dan peralatan mekanis diklasifikasikan pada bab 84 sedangkan mesin dan peralatan listrik diklasifikasikan pada bab 85. Produk yang dikemas dalam kedap udara dan mengalami pengolahan lebih jauh selain pengolahan dari Bab 2 maka diklasifikasikan pada bab 16. maka harus diklasifikasikan olahan makanan mengandung kokoa pada bab 18 (pos 18. dan sebagainya. Untuk mengetahui keterkaitan antara bab satu dengan bab lainnya. seperti mesin dengan motor listrik. Bila sudah berbentuk barang yang khusus dibuat untuk keperluan tertentu.03 (electric central heating boiler) dan pos 84. kotak jam dari plastik (bab 91). • Bab 6 meliputi semua tanaman hidup yang umumnya dimaksud untuk dijual oleh tukang bibit atau yang bergerak dibidang hortikultura yang serasi untuk ditanam atau dijadikan pajangan. Namun apabila etilene terpolimerisasi menjadi polietilena dengan jumlah unit monomer (n) 5 atau lebih. Barang dari plastik diklasifikasikan pada Bab 39. Tetapi apabila kembang gula tersebut mengandung kokoa. dingin.08). Contoh-contoh di atas adalah sebagian kecil contoh keterkaitan antar bab dalam HS.19 (wood dryer). Namun kuda hidup yang digunakan dalam sirkus tidak klasifikasikan pada bab 1. Namun demikian. buah atau buah berbonggol dan umbi-umbian tertentu. dan beberapa mesin lainnya.06). diasap dan dipanggang. Pada Bab 6 tidak termasuk benih. beberapa mesin dan peralatan tertentu tetap diklasifikasikan pada bab 84 meskipun elektrik. mesin pada pos 84. Daging pada Bab 2 hanya terhadap pengolahan terbatas seperti : segar. maka harus diklasifikasikan pada Bab 39 (plastik). • Bahan kimia etilena diklasifikasikan pada Bab 29 (bahan kimia organik). frame kacamata dari plastik (bab 90). kita dapat . Sayuran atau buah yang diawetkan dengan cuka atau dengan cara lain misalnya masuk Bab 20. barang tersebut diklasifikasikan di bab-bab lain.• • Bab 1 mencakup antara lain binatang hidup. • Kembang gula (sugar confectionery) diklasifikasikan pada bab 17. furniture dari plastik (bab 94).

tidak dirinci atau termasuk dalam pos lainnya BAGIAN II PRODUK NABATI BAB 6. 5. Sayuran.1. Binatang hidup 2. malti . gluten gandum. Bahan nabati untuk anyam-anyaman. Biji mengandung minyak dan buah mengandung minyak . teh.3. Bab Pada PADA BTBMI BAGIAN I BINATANG HIDUP. binatang lunak dan binatang air lainnya yang tidak bertulang belakang 4. Ikan dan udang-udangan. madu alam. bunga potong dan daun untuk hiasan 7. PRODUK HEWANI BAB 1. Pohon hidup dan tanaman lainnya. Lak. bermacam-macam butir. inulin . tanaman industri atau obat .melihat di catatan bab maupun catatan bagian. Buah & buah berbatok yang dapat dimakan. kulit dari buah jeruk dan melon 9. jerami dan makanan ternak. ekstrak nabati lainnya 14. biji dan buah. . Gandum-ganduman 11. Daging & sisanya yang dapat dimakan 3. tidak dirinci atau termasuk dalam pos lain. telur unggas. umbi akar dan yang semacam itu. Kopi. 13. 12. LEMAK OLAHAN YANG DAPAT DIMAKAN. Produk pabrik susu. Produk industri penggilingan . pati. Produk hewani. damar dan air. Untuk itu membaca catatan bab maupun catatan bagian merupakan kewajiban sebelum kita mengklasifikasikan suatu barang pada pos tertentu. akar dan bonggol tertentu yang dapat dimakan 8. mate dan rempah-rempah 10. produk nabati tidak dirinci atau termasuk pos lainnya BAGIAN III MINYAK DAN LEMAK HEWANI ATAU NABATI DAN PRODUK DISOSIASINYA. getah. produk hewani yang dapat dimakan. 2.

TEMBAKAU DAN TEMBA KAU PENGGANTI BUATAN BAB 16. minyak mineral dan produk sulingannya. Ampas. Bahan bakar mineral. tepung. Tembakau dan tembakau pengganti buatan. dan sisa dari industri makanan. pati atau susu. kacang atau bagian lain dari tanaman. Minuman. buah. olahan makanan hewan 24. Garam. belerang. Bermacam-macam olahan yang dapat dimakan 22. Olahan dari sayuran. BAGIAN V PRODUK MINERAL BAB 25.MALAM HEWANI ATAU NABATI Bab 15 (Judul Bab sama dengan Bagian) BAGIAN IV BAHAN MAKANAN OLAHAN. terak dan abu 27. MINUMAN. binatang lunak atau dari binatang air yang tidak bertulang belakang 17. 26. Bijih logam. 21. Gula dan kembang gula 18. Kakao & olahan kakao 19. Olahan dari daging. tanah dan batu. Olahan dari gandum-ganduman. dari ikan atau dari udang-udangan. MINUMAN KERAS DAN CUKA. malam mineral BAGIAN VI PRODUK INDUSTRI KIMIA DAN INDUSTRI YANG ADA HUBUNGANNYA DENGAN INDUSTRI KIMIA . 20. minuman keras dan cuka 23. kapur dan semen. bahan plester. produk industri kue. bahan mengandung bitumen.

senyawa organik atau organik dari logam mulia. Bahan kimia anorganik. kosmetika atau preparat pewangi 34. Ekstrak bahan samak atau bahan celup. wangi-wangian. KULIT SAMAK. Zat albumina . malam tiruan. modifikasi pati . dari logam tanah langka.BAB 28. preparat pelumas atau pembersih. PELANA TERMASUK PERLENGKAPANNYA DAN PAKAINAN KUDA. dari unsur radio aktif dan dari isotop 29. preparat pencuci. dempul dan damar lainnya. TAS TANGAN DAN TEMPAT SIMPAN SEMACAMNYA. 35. BARANG UNTUK BERPERGIAN. bahan celup. Aneka produk kimia BAGIAN VII PLASTIK DAN BARANG DARI PLASTIK. Sabun bahan organik penggiat permukaan. preparat pencuci. BARANG DARI USUS . Bahan peledak. pasta untuk membuat model. produk piroteknik. KULIT BERBULU DAN BARANGNYA. perekat . olahan tertentu yang mudah terbakar 37. tinta 33. cat dan vernis. “malam untuk mencetak gigi” dan preparat untuk gigi dengan bahan dasar gips. paduan piroforik. Minyak atsiri dan resinoida. Bahan kimia organik 30. pigmen dan bahan pewarna lainnya. korek api. malam olahan. Produk farmasi 31. KARET DAN BARANG DARI KARET BAB 39. enzim 36. Pupuk 32. bahan samak dan turunannya. Barang fotografi atau sinematografi 38. Plastik dan Barang dari plastik 40. Kulit dan Barang dari Kulit BAGIAN VIII JANGAT DAN KULIT MENTAH. lilin dan barang semacam itu. preparat pelumas.

ARANG KAYU. RUMPUT ESPARTO ATAU DARI BAHAN ANYAMAN LAINNYA. tas tangan dan wadah yang semacam itu. Barang dari kulit samak. Gabus dan barang dari gabus 46. arang kayu 45. BARANG DARI JERAMI. KERANJANG DAN BARANG ANYAMAN BAB 44. barang untuk bepergian. Jangat dan kulit mentah (lain dari kulit berbulu) dan kulit samak 42. Pulp dari kayu atau dari bahan sellulosa berserat lainnya. pelana termasuk perlengkapan dan pakaian kuda.(LAIN DARI USUS ULAT SUTERA) BAB 41. GABUS DAN BARANG DARI GABUS. Kulit berbulu dan kulit berbulu tiruan BAGIAN IX KAYU DAN BARANG DARI KAYU. Kayu dan barang dari kayu. kertas atau kertas karton (bekas dan sisa) yang diperoleh . barang dari usus hewan (lain dari pada usus ulat sutera) 43. dari rumput esparto atau dari bahan anyaman lainnya. Barang dari jerami. keranjang dan barang anyaman BAGIAN X PULP DARI KAYU ATAU DARI BAHAN SELLULOSA BERSERAT LAINNYA. KERTAS ATAU KERTAS KARTON (BEKAS DAN SISA) YANG DIPEROLEH KEMBALI. KERTAS DAN KERTAS KARTON DAN BARANGNYA BAB 47.

naskah ketikan dan rencana BAGIAN XI TEKSTIL DAN BARANG TEKSTIL BAB 50. Serat tekstil dari nabati lainnya . pakaian bekas dan barang tekstil bekas. bulu hewan halus atau kasar. bagian dari barang semacam 65. Tutup kepala dan bagiannya 66. tidak dirajut atau dikait 63. cambuk. renda. Kain rajutan atau kain kaitan 61. setelan. gambar dan produk lainnya dari industri percetakan. benang benang bulu kuda dan kain tenunan pintal. Kertas dan kertas karton. 55. Barang tekstil sudah jadi lainnya. tenunan. Sutera 56. surat kabar. Payung. Permadani dan tekstil penutup benang kertas dan tenunan dari lantai lainnya benang kertas 58. PECUT DAN BAGIANNYA. kain tekstil 54. gombal BAGIAN XII ALAS KAKI. pelindung kaki dan yang semacam itu . Kapas barang-barangnya 53. kain kempa dan bukan 51. sulaman 59. Alas kaki. Serat staple buatan hiasan. Barang dan perlengkapan pakaian. tongkat duduk. dilapisi. Barang cetakan. payung panas. ditutupi atau dibuat berlapis-lapis. dari kertas atau kertas karton 49. permadani. Barang dan perlengkapan pakaian. tongkat jalan. rajutan atau kaitan 62. TUTUP KEPALA. pecut dan bagiannya . Gumpalan. Kain tenunan khusus. barang dari pulp kertas. PAYUNG PANAS. TONGKAT JALAN. Kain tekstil diresapi. naskah tulisan tangan. BUNGA TIRUAN. CAMBUK. 57.48. BULU UNGGAS. barang tekstil dari jenis yang cocok untuk digunakan dalam industri 60. BARANG DARI RAMBUT MANUSIA BAB 64. benang khsusu. Filamen buatan berjumbai. PAYUNG. tali tambang dan kabel dan 52. TONGKAT DUDUK. OLAHAN DAN BARANGNYA. Wool.

Tembaga dan barang terbuat dari tembaga 75. gips. Aluminium dan barang terbuat dari 78.67. asbes. Barang dari besi dan baja 74. Logam tidak mulia lainnya. Timah hitam dan barang terbuat dari timah hitam 79. MIKA ATAU DARI BAHAN SEMACAM ITU. sermet. Bulu unggas dan bulu unggas olahan serta barang terbuat dari bulu unggas atau bullu unggas tiruan. Besi dan baja 73. Barang dari batu. Seng dan barang terbuat dari seng 80. PERHIASAN IMITASI. barang dari rambut manusia BAGIAN XIII BARANG DARI BATU. semen. BATU PERMATA ATAU SEMI PERMATA. ASBES. Timah dan barang terbuat dari timah 81. MATA UANG LOGAM BAB 71 (Judul Bab sama dengan judul Bagian) BAGIAN XV LOGAM TIDAK MULIA DAN BARANG DARI LOGAM TIDAK MULIA BAB 72. SEMEN. Nikel dan barang terbuat dari nikel 76. Kaca dan barang dari kaca BAGIAN XIV MUTIARA ALAM DAN MUTIARA BUDIDAYA. bunga tiruan. PRODUK KERAMIK. Produk keramik 70. mika atau bahan semacam itu 69. GIPS. barangnya . LOGAM MULIA. LOGAM MULIA KERAJANG DAN BARANGNYA. KACA DAN BARANG DARI KACA BAB 68.

Mesin dan alat listrik serta bagiannya. Kendaraan selain yang begerak diatas rel kereta api atau trem. bagiannya 85.sendok dan garpu. pesawat perekam dan reproduksi gambar dan suara untuk televisi.aluminium 82 Perkakas. PERLENGKAPAN LISTRIK.bagian bagiannya dari logam tidak mulia 83 Bermacam-macam barang dari logam tidak mulia BAGIAN XVI MESIN DAN PESAWAT MEKANIK. Lokomotif kereta api atau trem. dari logam tidak mulia. dan bagian serta perlengkapan dari barang yang semacam itu BAGIAN XVII KENDARAAN. perlengkapan isyarat lalu lintas mekanik dari segala jenis (termasuk elektronik) 87. Reaktor nuklir. DAN BAGIAN SERTA PERLENGKAPAN DARI BARANG YANG SEMACAM ITU BAB 84. pesawat perekam dan pesawat reproduksi suara. KENDARAAN AIR DAN PERLENG KAPAN PENGANGKUTAN YANG BERKAITAN BAB 86. PESAWAT TERBANG. barang tajam. PESAWAT PEREKAM ATAU REPRODUKSI SUARA DAN GAMBAR UNTUK TELEVISI. dan bagian serta . kendaran yang bergerak diatas rel dan bagiannya. BAGIANNYA PESAWAT PEREKAM DAN PESAWAT REPRODUKSI SUARA. mesin dan pesawat mekanik. peralatan. ketel uap. alat pemasang dan perlengkapan rel kereta api atau trem dan bagiannya.

LONCENG DAN ARLOJI. POTOGRAFI. dan bangunan terapung BAGIAN XVIII ALAT DAN APARAT OPTIK. bahtera. isyarat iluminasi. bagian dan perlengkapan dari barang seperti itu BAGIAN XIX SENJATA DAN AMUNISI. Kapal. serta bagiannya 89. peneliti. UKUR. bagian dan . papan nama iluminasi dan semacam itu. kasur tempat tidur. bantal dan kelengkapannya. BAGIAN DAN PERLENGKAPANNYA BAB 90.perlengkapannya 88. Instrumen musik . Kapal udara. Lonceng dan arloji dan bagiannya 92. Alat dan aparat optik. bagian dan perlengkapannya 91. lampu dan perlengkapan penerangan. tidak dirinci atau termasuk dalam pos manapun. Mainan. sinematografi. presisi. KEDOKTERAN DAN BEDAH. SINEMATOGRAFI. lapik kasur. ukur. pesawat ruang angkasa. PRESISI. kasur. kedokteran dan bedah. keperluan permainan dan keperluan olah raga. BAGIAN DAN KELENGKAPANNYA BAB 93 (judul sama dengan judul Bagian) BAGIAN XX BERMACAM-MACAM BARANG HASIL PABRIK BAB 94. bangunan prefabrikasi 95. Perabot rumah. fotografi. PENELITI. INSTRUMEN MUSIK.

Sebutkan posnya saja batu pualam yang masih bongkahan dan yang telah jadi ubin ? 1. Jawaban 2. hewani. . Bab 1 sampai dengan 77 dan bab 78 sampai dengan bab 98. Bermacam-macam barang hasil pabrik lain BAGIAN XXI HASIL KARYA SENI.2. nabati mineral dan selanjutnya kepada bahan kimia dan produknya. 2.kelengkapannya 96. Sebutkan pos saja untuk barang mentega dan margarin ? 2. barang untuk kemanan dan barang kelontong. 3.3. Latihan 2 Pertanyaan 1. Pengelompokan barang ini berawal dari binatang. BARANG KEGEMARAN KAUM PENGUMPUL DAN BARANG ANTIK BAB 97 (Judul Bab sama dengan Bagian) 2. barang presisi. proses setengah jadi dan barang jadi. Rangkuman BTBMI terdiri dari 21 Bagian. kendaraan. Terakhir dengan mesin. Urutan pengelompokan barang umumnya didasarkan atas bahan dasar. Daging sapi yang diolah sederhana masuk pos berapa ? Bagaimana bila telah dikukus masuk Bab berapa ? 3.

Pemahaman pengelompokan barang akan mempermudah dan mempercepat dalam mengklasifikasi.Sebaiknya seorang klasifikator yang bak akan memahami pengelompokan jenis barang dalam BTBMI .

tarragon. buah dari genus Capsicum atau dari genus Pimenta. sisa daging. Catatan-catatan penting tersebut adalah : 3. cress dan marjoram manis (Majorana hortensis atau Origanum majorana) yang dapat dimakan. labu kuning. cendawan tanah.11 dan 07. moluska atau invertebrata air lainnya. Catatan-catatan tersebut mempunyai kekuatan hukum sama seperti uraian pos atau sub-pos.09. 07. moluska atau invertebrata air . Contoh dan Non Contoh Disamping KUM HS. buah zaitun. 3.. kaper. Ketentuan ini tidak berlaku untuk produk diisi dari pos 19.03 atau 21.10.3 Bagian IV Bab 19 catan 1 1. ikan atau krustasea.12 kata "sayuran" meliputi jamur. dan Catatan Sub-pos. daging. terong.4. labu sumsum.Dalam pos 07. darah.02 atau olahan dari pos 21.. adas pedas.2 Bagian II Bab 16 Catatan 2 2. Catatan Bab. catatan-catatan dalam HS merupakan bagian integral yang harus diperhatikan benar-benar. KEGIATAN BELAJAR 3 CATATAN PENTING PADA BTBMI 3.. diklasifikasikan dalam pos pada Bab 16 yang sesuai dengan komponen atau komponen-komponen yang mendominasi menurut beratnya. lebih dari 20% menurut beratnya. jagung manis (Zea mays var. Uraian. sisa daging.1.Olahan makanan digolongkan dalam Bab ini asalkan mengandung sosis. ikan atau krustasea. saccharata). Dalam hal apabila olahan mengandung dua atau lebih produk yang disebut di atas. chervil.02.1. olahan makanan mengandung sosis.1 Bagian II Bab 7 Catatan 2 2. 3. darah.Bab ini tidak meliputi : (a) Kecuali dalam hal produk diisi dari pos 19. parsley.04.1. 07. daging. HS mempunyai Catatan Bagian.1. atau berbagai kombinasinya.

atau (c) Obat-obatan dan produk lain dari Bab 30..1.10 harus dipertimbangkan lebih dahulu daripada subpos lain dari pos 20... (b) Biskuit atau barang lain yang dibuat dari tepung atau dari pati.5 Bagian VI Bagian VI catatan 3 3. 3. diolah secara khusus untuk makanan hewan (pos 23.1. lebih dari 20% menurut beratnya (Bab 16). 3. dapat dikenali sebagai unsur yang saling melengkapi satu sama lain. (b) diajukan bersama.4 Bagian IV Bab 20 catatan subpos 2 2. atau berbagai kombinasinya. baik berdasarkan sifat atau perbandingan relatifnya. Subpos 2007. .09). disiapkan untuk penjualan eceran sebagai makanan bayi atau untuk keperluan diet. 3. beberapa atau seluruhnya yang digolongkan dalam Bagian ini dan dimaksudkan untuk dicampur bersama untuk memperoleh produk dari Bagian VI atau VII.Istilah "kopolimer" meliputi semua polimer yang unit monomer tunggalnya tidak ada yang beratnya 95% atau lebih menurut berat total kandungan polimer tersebut.Untuk keperluan subpos 2007. harus diklasifikasikan dalam pos yang sesuai dengan produk tersebut. asalkan unsur tersebut : (a) berdasarkan penyiapannya jelas dapat dikenal untuk digunakan bersamasama tanpa dibungkus ulang sebelumnya. pengawet atau keperluan lain.6 Bagian VII Bab 39 catatan 4 4. Olahan ini dapat mengandung sejumlah kecil buah yang dapat dilihat.1. istilah "olahan homogen" berarti olahan buah. Untuk penerapan definisi ini tidak memperhitungkan sejumlah kecil berbagai bahan yang ditambahkan pada olahan tersebut sebagai penyedap. dihomogenisasi secara halus.lainnya. dan (c) pada saat diajukan.10. dalam kemasan dengan berat bersih tidak melebihi 250 g.Barang yang disiapkan dalam set yang terdiri dari dua atau lebih unsur yang terpisah.07.

Dalam hal tidak terdapat unit komonomer tunggal yang mendominasi. block copolymer dan graft copolymer) dan campuran polimer harus diklasifikasikan dalam pos yang mencakup polimer dari unit komonomer tersebut yang beratnya mendominasi berat unit komonomer tunggal lainnya. tidak diperkenankan 3. seperti perentang. panjangnya akan kembali menjadi tidak lebih dari satu setengah kali panjang aslinya.Dalam Catatan 1 Bab ini dan dalam pos 40. bagian unit komonomer dari polimer yang termasuk dalam pos yang sama harus digolongkan bersama.09 atau 59.. Untuk keperluan pengujian ini..7 Bagian VII Bab 40 catatan 4 4. kopolimer (termasuk kopolikondensasi.Untuk keperluan Bab ini. seperti pengaktif dan akselerator vulkanisasi.1. keberadaan berbagai zat yang tidak diperlukan untuk ikatan silang. maka kopolimer atau campuran polimer harus diklasifikasikan dalam pos terakhir berdasarkan urutan penomoran di antara pos yang mempunyai pertimbangan yang setara. istilah "karet sintetik" berlaku untuk : (a) Zat sintetik tidak jenuh yang dapat diubah dengan tidak kembali ke sifat semula melalui vulkanisasi menggunakan belerang menjadi zat non termoplastik. dan setelah direntang hingga dua kali panjang aslinya selama lima menit.02. dapat ditambahkan zat yang diperlukan untuk ikatan silang.(A) Barang yang dapat diklasifikasikan dalam Bab 50 sampai dengan 55 atau dalam pos 58. yang pada suhu antara 18 C dan 29 C tidak akan putus bila di rentang hingga tiga kali panjang aslinya. peliat dan pengisi. kecuali apabila konteksnya menentukan lain. Untuk keperluan Catatan ini.8 Bagian XI Bagian XI catatan 2 2. produk kopoliadisi. 3. Apabila tidak satupun bahan tekstil yang . keberadaan zat yang dimaksud oleh Catatan 5 (b) (ii) dan (iii) juga diperkenankan.1.02 dan dari campuran dua bahan tekstil atau lebih harus diklasifikasikan seolah-olah seluruhnya terdiri dari satu bahan tekstil yang beratnya mendominasi berat setiap bahan tekstil lainnya. Namun demikian.

17 atau 73.15.9 Bagian XV Bagian XV catatan 2 2.10) dan benang berlogam (pos 56. (b) Pegas dan lembaran untuk pegas. Dalam Bab 73 sampai dengan 76 dan Bab 78 sampai dengan 82 (tetapi tidak dalam pos 73. (c) Apabila Bab 54 dan 55 berkaitan dengan berbagai Bab lainnya. selain pegas jam atau arloji (pos 91.05) harus diperlakukan sebagai bahan tekstil tunggal yang beratnya dianggap seperti berat keseluruhan komponennya. (B) Untuk keperluan ketentuan di atas : (a) Benang lilit dari bulu kuda (pos 51. istilah "bagian untuk pemakaian umum" berarti : (a) Barang dari pos 73. barang tersebut harus diklasifikasikan seolah-olah seluruhnya terdiri dari satu bahan tekstil yang termasuk dalam pos terakhir berdasarkan urutan penomoran di antara pos-pos dengan pertimbangan yang setara. dengan menentukan Babnya. 3. Dalam Nomenklatur ini. untuk pengklasifikasian kain tenunan. 83. dari pos 83.06. 83.10 dan bingkai serta cermin dari logam tidak mulia. 73.08.15) referensi untuk bagian barang tidak meliputi referensi untuk bagian pemakaian umum sebagaimana dirinci di atas. (d) Apabila Bab atau pos merujuk pada barang dari bahan tekstil yang berbeda .12. dan kemudian pos yang tepat dalam Bab tersebut. pertama.1.10 Bagian XVI Bagaian XVI catatan 3.07. 83. 4 dan 5 .mendominasi menurut beratnya.1. benang berlogam harus dianggap sebagai bahan tekstil. (b) Pilihan pos yang sesuai harus dilakukan. 73. maka bahan tersebut harus diperlakukan sebagai bahan tekstil tunggal.14).02. dan (c) Barang dari pos 83. dari logam tidak mulia. maka Bab 54 dan 55 harus diperlakukan sebagai Bab tunggal.18 dan barang semacam itu dari logam tidak mulia lainnya. 73. tanpa memperhatikan berbagai bahan yang tidak diklasifikasikan dalam Bab tersebut.01. 3.

selama berlangsungnya pengolahan. mesin gabungan yang terdiri dari dua atau lebih mesin yang dipasang bersama untuk membentuk satu kesatuan dan mesin lainnya yang dirancang untuk keperluan melakukan dua fungsi atau lebih yang saling melengkapi atau fungsi alternatif. (2) Diprogram secara bebas menurut kebutuhan pemakai. suatu mesin yang . melaksanakan program pengolahan yang memerlukan modifikasi pelaksanaannya. (3) Mengerjakan perhitungan aritmatika yang ditentukan oleh pemakai. harus diperlakukan seolah-olah kegunaan utamanya adalah kegunaan satu-satunya. 3. dengan kabel listrik atau dengan peralatan lainnya) yang dimaksudkan untuk digunakan bersama untuk melakukan fungsi tertentu secara jelas. (4) Tanpa intervensi manusia. instalasi. yang dapat : (1) Menyimpan program atau programprogram pengolahan dan sekurang-kurangnya data yang diperlukan segera untuk pelaksanaan program tersebut. dengan keputusan yang logis.Untuk keperluan Catatan ini. 5. 4..3.12 Bagian XVI Bagian XVI catatan 7 7. dengan peralatan penggerak.Untuk keperluan klasifikasi.1. perlengkapan.Apabila mesin (termasuk kombinasi mesin) terdiri dari komponen tersendiri (terpisah atau saling dihubungkan dengan pipa. permesinan. seluruhnya harus diklasifikasikan dalam pos yang sesuai dengan fungsi tersebut. istilah " mesin " berarti berbagai mesin. aparatus atau peralatan yang disebut dalam pos pada Bab 84 atau 85.. 3. yang termasuk dalam salah satu pos dalam Bab 84 atau 85. istilah "mesin pengolah data otomatis" berarti : (a) Mesin digital.1. Berdasarkan Catatan 2 pada Bab ini dan Catatan 3 pada Bagian XVI.11 Bagian XVI Bagian XVI catatan 5 5... mesin yang digunakan untuk lebih dari satu kegunaan.. dan.71.Kecuali apabila konteksnya menentukan lain.(A) Untuk keperluan pos 84. harus diklasifikasikan seolah-olah terdiri hanya dari komponen tersebut atau sebagai mesin tersebut yang melakukan fungsi utama.

Pos 84. . harus diklasifikasikan dalam pos 84.. benang tekstil atau berbagai bahan lainnya atau dari kombinasi bahan bahan tersebut.16 Bagian XVI Bab 85 catatan 4 4. 3.Untuk keperluan pos 85. sirkit tercetak dapat dilengkapi dengan elemen penghubung tidak dicetak. pencetakan timbul. menyearahkan. dapat diidentifikasi sebagai barang dari Bagian ini maupun tidak : (a) Sambungan. mesin pemilin atau mesin pembuat kabel) dari kawat logam. memodulasi atau memperkuat sinyal elektris (misalnya.16). tersendiri atau saling berhubungan menurut pola yang ditetapkan sebelumnya. pengetsaan) atau melalui teknik "sirkit film" berupa elemen konduktor. penyepuhan.79 juga meliputi mesin untuk membuat tali atau kabel (misalnya. juga tidak meliputi resistor.42. 3. Namun demikian. harus diklasifikasikan dalam pos 85. melalui berbagai proses pencetakan (misalnya. atau barang semacam itu dari plastik (Bab 39). atau induktansi khusus. Istilah " sirkit tercetak " tidak meliputi sirkit yang dikombinasi dengan elemen selain yang diperoleh selama proses pencetakan. Sirkit film tipis atau tebal yang terdiri dari elemen pasif dan aktif yang diperoleh selama proses teknologis yang sama. kapasitor). elemen semi konduktor).13 Bagaian XVII Bagian XVII catatan 2 2.1. dari logam tidak mulia (Bagian XV). selain elemen yang dapat memproduksi. cincin pipih atau sejenisnya dari berbagai bahan (diklasifikasikan menurut bahan utamanya atau dalam pos 84. resistor.79. kapasitor. kontak atau komponen tercetak lainnya (misalnya.84) atau barang lainnya dari karet divulkanisasi selain karet keras (pos 40. kecuali apabila konteksnya menentukan lain.34 "sirkit tercetak" adalah sirkit yang diperoleh dengan pembentukan di atas dasar pengisolasi.1.Istilah "bagian" serta "bagian dan aksesori" tidak berlaku untuk barang berikut. mesin penjalin.kegunaan utamanya tidak diuraikan dalam pos manapun atau yang tidak ada satupun kegunaannya merupakan kegunaan utama. sebagaimana dirinci dalam Catatan 2 Bagian XV.. (b) Bagian untuk pemakaian umum. induktansi.

3. dengan pengukuran nilai aktual secara konstan atau periodik. Bagian atau aksesori yang memenuhi uraian dalam dua pos atau lebih dari pos pada Bab-bab tersebut. (g) Barang dari Bab 90.06. (f) Mesin atau perlengkapan elektris (Bab 85).79.81 atau 84. (k) Lampu atau alat kelengkapan penerangan dari pos 94. (e) Mesin atau aparatus dari pos 84. tekanan atau variabel lainnya dari cairan atau gas secara otomatis. atau bagiannya.Pos 90. atau untuk mengontrol suhu secara otomatis.14 Bagian XVIII Bab 90 catatan 7 7..03).82 atau barang dari pos 84.(c) Barang dari Bab 82 (perkakas).05. distabilkan terhadap gangguan. 3.Referensi untuk "bagian" atau "aksesori" dalam Bab 86 sampai dengan 88 tidak berlaku untuk bagian atau aksesori yang tidak cocok untuk digunakan sematamata atau terutama dengan barang dari Bab-bab tersebut. barang dari pos 84.. yang dirancang untuk memberi . (ij) Senjata (Bab 93). harus diklasifikasikan menurut pos yang sesuai dengan penggunaan utama dari bagian atau aksesori tersebut.1.01 sampai dengan 84. yang pengoperasiannya tergantung pada fenomena listrik yang berubah-ubah menurut faktor yang dikontrol. yang penggunaannya tergantung maupun tidak pada fenomena elektris yang berubah-ubah menurut faktor yang harus dikontrol secara otomatis. atau (l) Sikat dari jenis yang digunakan sebagai bagian dari kendaraan ( pos 96. yang dirancang untuk memberi faktor tersebut untuk. (h) Barang dari Bab 91.83. tinggi permukaan.32 berlaku hanya untuk : (a) Instrumen dan aparatus untuk mengontrol arus. dan mempertahankannya pada nilai yang dikehendaki. asalkan barang tersebut merupakan bagian integral dari mesin atau motor. (d) Barang dari pos 83. dan (b) Regulator besaran listrik otomatis dan instrumen atau aparatus untuk mengontrol besaran bukan listrik secara otomatis.

bab maupun subpos yang bersifat mengikat. dan mempertahankannya pada nilai yang dikehendaki. Test Formatif .Bingkai yang terpasang pada lukisan.. Bahkan dalam KUM HS nomor satu dinyatakan bahwa hal yang mengikat dalam mengklasifikasi barang adalah catatan. Bagaimana pengklasifikasian motor untuk mobil mainan ? 4. Berbagai jenis barang akan dijelaskan dengan catatan dalam bagian. Apakah bingkai dan gambar yang sama mahal harganya diklasifikasikan dalam satu pos tarif ? 1. gambar. bingkai yang bukan merupakan jenis atau nilai yang wajar untuk barang tersebut. Latihan 3 Pertanyaan 1. barang cetakan atau litograf harus diklasifikasikan dengan barang tersebut. ukiran. baik catatan bagian. Merujuk pada Catatan ini. Bagaimana syarat komputer menurut Harmonized system pada Bab 84 ? 3. 5. Jawaban 2.1.15 Bagian XXI Bab 97 catatan 5 5.3. 4. Rangkuman Salah satu syarat menjadi seorang klasifikator yang baik adalah harus dapat memahami catatan penting. Catatan merupakan salah satu syarat penting dalam mengklasifikasi barang. Saringan udara untuk mesin diklasifikasikan pada pos berapa ? 5. bab maupun subpos. kolase atau plakat hiasan semacam itu. harus diklasifikasikan terpisah. 3. Sebutkan 3 contoh barang termasuk bagian untuk pemakaian umum ? 2.faktor ini untuk. dengan pengukuran nilai aktual secara konstan atau periodik.2. distabilkan terhadap gangguan. gambar pastel. 4. 3 4 5. asalkan dari jenis dan nilai yang wajar untuk barang tersebut.

Dalam membuat Nota Penelitian Klasifikasi Barang maka diperlukan kerangka yang . sebaiknya kita identifikasi dulu barang yang akan kita klasifikasi.2. 1. ( B . ( B . Dengan mengetahui spesifikasi barang maka akan lebih mendekati keakuratan dalam mengklasifikasi barang 5.S ) Judul Bagian. dengan bentuk atau kelengkapan khusus untuk menyimpan barang tertentu atau seperangkat barang tertentu. Bab dan Sub-bab pada Buku tarif Bea Masuk Indonesia hanya dimaksudkan untuk memudahkan penyebutan saja.1. Lingkarilah huruf B apabila pernyataan ini Saudara anggap benar dan huruf S apabila pernyataan Saudara anggap salah. ( B .S ) Pernyataan 5b pada KUM HS adalah Peti kamera.5. Pilihlah jawaban yang Saudara anggap benar dengan cara melingkari huruf yang terdapat di depan jawaban tersebut 6.S ) Sebelum mengklasifikasi barang.S ) Pernyataan 2b pada KUM HS adalah Barang tidak lengkap atau tidak rampung dianggap sebagai barang lengkap atau rampung.S) Pernyataan 3a pada KUM HS adalah Pos yang memuat uraian yang paling terinci harus lebih diutamakan daripada pos yang memuat uraian yang lebih umum sifatnya 4. Tidak mengikat secara hukum dalam mengklasifikasi 2. cocok untuk pemakaian jangka panjang dan diimpor lengkap dengan isinya. peti instrumen dan tempat simpan yang semacam. harus diklasifikasikan dengan barang tersebut jika biasa dijual dengan barang itu 5. asalkan pada saat diimpor sudah mempunyai sifat utama sebagai lengkap atau rampung barang 3. ( B . ( B .

Namun demikian nota tersebut setidak-tidaknya memuat tentang : a. Suatu kemasan mengandung mie. 5b . 3b b. 3a 10. Walalupun etil alkohol merupakan bahan kimia organik. b dan c benar 7.singkat atau memerlukan uraian yang cukup panjang tergantung pada permasalahan yang dihadapi. 3b d. Larutan dengan kandungan asam cuka (acetic acid) lebih dari 10 % dikeluarkan dari bab 22 berdasarkan catatan : a. bumbu. esklusif c. pengertian 9. 3a c. nama barang dan uraian jenis barang b. namun diklasifikasikan pada bab 22 dikarenakan KUM HS nomor : a.alasan atau catatan yang digunakan c. diklasifikasikan sebagai mie pada bab 19. Uraian klasifikasi mulai 2 digit sampai dengan 9 digit d. berdasarkan KUM HS nomor : a. definitif b. saos dan bawang. ilustrasi d. 2b d. 1 b. pernyataan a. Tabung gas LPG yang berisi gas LPG tidak dapat diklasifikasikan menjadi stu pos tarif karena ketentuan menurut KUM HS nomor : a. 5a 8. 5a d. 3c c. 2a c. 2b b.

04 atau 90. Sebutkan alasannya 10. 8.3.Ketentuan dan catatan apa yang digunakan dalam mengklasifikasi barang tersebut 6. Pilihan B atau S . Kunci Jawaban Tes Formatif 6. Mengapa olahan makanan yang terbuat dari daging sapi yang dikukus tidak diklasifikasikan pada bab 2 7. Mengapa sabun mandi mengandung obat pembasmi kuman walaupun mengandung obat tidak diklasifikasikan pada bab 30 sebagai produk farmasi.5. Automatic voltage regulator yang digunakan sebagai stabilizer otomatis untuk komputer harus diklasifikasikan pada pos 85. tidak dikelantang dan tidak dimerserisasi. Jawablah pertanyaan soal dibawah ini dengan ringkas 6. dari serat disisir dengan nomor benang 150 decitex. Benang tenun terbuat dari campuran 70 % kapas (cotton) dan 30 % nilon. Mengapa tutup kepala (topi) pengaman untuk pengendara sepeda motor yang terbuat dari bahan plastik tidak diklasifikasikan pada bab 39 ? 9. merupakan benang tunggal.32 .1.

7. Daging sapi hasil olahan sesuai bab 2 (pengolahan sementara/terbatas) diklasifikasikan pada bab 2. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Bandingkanlah hasil jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang ada di . S 5. S 3. dikukus dan pengolahan selain pada bab 2 diklasifikasikan pada bab 16. Lihat catatan 1(n) Bab 39 4. Perhatikan pos tarif 1602. d 2.2.24.50. B 6.3.1. Lihat catatan 6(b) Bab 90 Perhatikan sub-pos 5206. Lihat catatan 1 bab 16. Essay Diberitahukan hanya 6 digitnya (sub posnya) 1. Bentuk pengolahan bukan sederhana. c 3. B 2. B 4. a 5.000 2. b 4. d 6. Lihat catatan 1(e) Bab 30 3. Lihat catatan 2(A) Bagian XI 5. seperti dipanggang. Pilihlah berganda 1.

. Harmonized System..100 % = Baik sekali * 80 % * 70 % * 89 % = Baik 79 % = Cukup 69 % = Kurang Kalau Anda mencapai tingkat penguasaan 80% keatas Anda dapat meneruskan kepada modul atau bagian pelajaran lain.... Kepustakaan 1. 2007 version . Kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap terhadap materi kegiatan belajar Rumus Tingkat Penguasaan Jumlah Jawaban Anda yang benar dibagi 15 kemudian dikali 100 % = . Arti tingkat penguasaan : * 90 % ....belakang modul ini. Hitunglah jumlah jawaban Anda yang benar atau sejauh mana Anda menguasai mata pelajaran tersebut.. bila tingkat penguasaan Anda masih dibawah 80 %. Anda harus mengulangi membaca Modul kembali.. terutama bagian yang belum Anda kuasai 8. Hasilnya Baik ! akan tetapi.. Wordl Customs Organization.

2007 4. (1995) Pusdiklat Bea dan Cukai. Pengantar Klasifikasi Barang. Explanatory Notes. Classification Disputes Settled by The Harmonized System Committee. World Customs Organization.2. Jakarta 3. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (2007). Departemen Keuangan RI. Jakarta 5. World Customs Organization (1994) *** .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful