BAHAN DIKLAT TEKNIS SUBTANTIF DASAR (DTSD) KEPABEANAN DAN CUKAI

MODUL ( I – III)

MATERI KLASIFIKASI BARANG

OLEH : TIM PENYUSUN MODUL PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI

PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN BEA DAN CUKAI BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

JAKARTA 2007

MODUL I

SISTEM KLASIFIKASI BARANG MENURUT HARMONIZED SYSTEM

MATERI KLASIFIKASI BARANG OLEH : TIM PENYUSUN MODUL PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN BEA DAN CUKAI BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA JAKARTA 2007

Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Allah yang Maha Kuasa, bahwa Modul ini dapat diselesaikan sesuai waktunya.

Obyek dari kegiatan Direktorat Bea dan Cukai adalah barang. Dalam rangka penentapan tarif bea masuk dan kepentingan kepabeanan lainnya, seyogyanya petugas Ditjen Bea dan Cukai menambah keterampilam dalam mengklasifikasi barang agar pelayanan cepat dan negara tidak dirugikan dalam menetapkan besarnya bea masuk, karena ada kepastian tentang jenis barang dan penetapan tarif posnya.

Modul ini merupakan seri dari 3 buah modul mata pelajaran klasifikasi barang. Modul ini digunakan dalam Diklat Teksnis Substantif Dasar I Kepabeanan dan Cukai dengan judul “Catatan Penting dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia”

Dalam kesempatan ini, Penulis menghaturkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga dapat diselesaikannya Modul ini. Semoga Allah membalas atas amal kebaikan tersebut. Semoga Modul ini bermanfaat sebagai penambah wawasan dan media untuk penambah keterampilan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang.

Jakarta, Nopember 2007

Penulis

..... Daftar Pustaka....................................... 2.. Umpan Balik............1 Uraian...2..................3......................................................................... Tujuan Pembelajaran Umum............................................................................................................ 1................ 3................................. Contoh dan Non contoh......3.......................................................... Latihan 3........... 1 PENDAHULUAN ..............1 Uraian..................................................DAFTAR ISI Halalaman Kata Pengantar ...... Tujuan Pembelajaran Khusus....................................... 4...................................... Latihan 2....................... 3........... 4.........................................1 Uraian............................................................... Kunci Jawaban ...................................................................... Contoh dan Non contoh....................................... 3.... 2...... Rangkuman................................2......Deskripsi singkat....................................... KEGIATAN BELAJAR 1 JENIS CATATAN PADA BTBMI…………………………….... KEGIATAN BELAJAR 2 STRUKTUR PENGELOMPOKAN BARANG PADA BTBMI..................................... 1......................................... Rangkuman...... Rangkuman..2............................................. Test Formatif ..........3..2...............1.................. 4 KEGIATAN BELAJAR 3 CATATAN PENTING PADA BTBMI............................. Daftar Isi .................................................................... Contoh dan Non contoh.............................3................................................................. 2........... 1...................... i ii 1 1 1 1 2 2 5 5 6 6 22 23 24 24 32 32 33 36 37 38 2 3 5 6 7 8 .. Latihan 1...................................... 4.......................

Harmonized System (HS) 3. Seorang klasifikator harus memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang karena akan menentukan ketepatan dalam klasifikasi dalam Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang pada akhirnya menentukan ketepatan jumlah bea masuk dan pungutan impor lainnya yang harus dibayar. para Siswa diharapkan mampu memahami landasan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang berdasarkan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. 1. . 1. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI ) 2007.3.MODUL I KLASIFIKASI BARANG I. Identifikasi dan klasifikasi barang 2. Tujuan Instruksional Khusus Setelah mempelajari Modul ini para siswa diharapkan dapat menjelaskan : 1. PENDAHULUAN 1. seorang klasifikator harus terlebih dahulu memahami pengetahuan barang dan pengetahuan mengenai klasifikasi barang.2.1. Deskripsi Singkat Seorang Pegawai Ditjen Bea dan Cukai harus menjadi seorang klasifikator dibidang kepabeanan Oleh karena itu. Tujuan Instruksional Umum Setelah mempelajari modul ini.

kita harus tahu lebih dulu spesifikasi barang itu. Langkah pertama dalam mengklasifikasi adalah apa yang akan diklasifikasikan. Seorang klasifikaotr tidak mungkin dapat mengklasifikasikan suatu barang dengan benar bila ia tidak tahu spesifikasi barang tersebut. Namun sekali lagi perlu diingat.2. klasifikasi yang benar hanya dapat dilakukan apabila mengetahui jenis barang dan memahami aturanaturan mengklasifikasi dengan benar. Identifikasi dan Klasifikasi Barang Langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk dapat mengklasifikasi suatu barang dengan benar? Biasanya klasifikasi tersebut dilakukan dengan mencari langsung pos tarif yang dianggap sesuai. Perlu diingat bahwa setelah melakukan tahap klasifikasi. barulah kita dapat melakukan langkah kedua yaitu Klasifikasi barang. Diharapkan dengan menggunakan metode ini para siswa dapat dengan mudah mengklasifikasi barang. Contoh dan Non Contoh 2. Keakuratan mengklasifikasi tergantung dari keakuratan dalam mengidentifikasi barang. Informasi apa yang diperlukan untuk mengidentifikasi suatu barang dan darimana informasi tersebut diperoleh? Informasi yang diperlukan sebenarnya tergantung dari .1. KEGIATAN BELAJAR 1 IDENTIFIKASI DAN KLASIFIKASI BARANG 2. Cara seperti ini tidak akurat dan sering menyebabkan terjadinya kesalahan klasifikasi yang mengakibatkan negara dirugikan. Sebelum mengklasifikasi suatu barang. baru diketahui bahwa informasi yang ada belum lengkap sehingga kita harus kembali melakukan identifikasi barang untuk memperoleh informasi yang diperlukan tersebut. Uraian. Langkah ini dinamakan Identifikasi barang. Dalam buku ini akan dijelaskan dengan singkat langkah-langkah praktis dalam mengklasifikasi barang.1. Setelah kita mendapatkan seluruh informasi yang dibutuhkan melalui identifikasi barang.1.

uraian yang ada pada BTBMI yang berkaitan dengan barang bersangkutan. semakin mudah bagi kita untuk mengklasifikasikan barang karena tidak dibutuhkan informasi yang terlalu rumit (misalnya. apa kegunaannya. bagaimana pengemasnya. informasi yang diperlukan untuk mengklasifikasikan kuda hidup. Darimana kita dapat memperoleh informasi yang kita perlukan untuk mengklasifikasi suatu barang? bawah ini: Mari menjawab pertanyaan tesebut dengan memperhatikan bagan di Untuk mengetahui spesifikasi barang yang akan kita klasifikasikan. Berapa watt dan voltage tenaga listrik yang dibutuhkan. semakin akurat kita mengklasifikasikannya. apa komposisinya. untuk tujuan olah raga. Informasi yang diperlukan tentunya semakin banyak dan rumit. Demikian juga apabila barang tersebut berupa barang elektronik. dan sebagainya. Semakin sederhana dan rinci uraian barang pada BTBMI. Bagaimana seandainya yang akan kita klasifikasikan adalah suatu bahan kimia? Barangkali sebelum mengklasifikasi kita memerlukan berbagai informasi mengenai barang kimia tersebut: apakah organik atau anorganik. banyak sumber informasi yang dapat kita gunakan. Fisik barang itu sendiri sudah memberikan beberapa informasi yang kita butuhkan. Semakin banyak informasi yang kita miliki tentang barang tersebut. atau kuda untuk sirkus). kegunaan. hanyalah kuda bibit. misalnya apakah bentuknya cair atau padat. dan keterangan lainnya. buatan. . butiran atau bongkahan. Informasi lain dapat kita peroleh dari berbagai sumber di atas. apakah bentuk asal atau preparat. bagaimana bentuknya. dan sebagainya.

BROSUR. mesin? • What is it made of? Dibuat dari apa barang tersebut? ⇒ komposisi. DATA BASE. DLL HASIL PENGUJIAN LABORATORIUM LITERATUR LAIN IDENTIFIKASI KLASIFIKASI KONDISI FISIK BARANG LABEL. DLL EXPL. KEMASAN INFORMASI DARI SUMBER LAIN: SK.C/A. atau barang jadi? produk pertanian. setengah jadi. MSDS. campuran. bahan yang dominan? . INSTANSI/LEMBAGA TERTENTU KAMUS. KATALOG. NOTES ALPHABETI CAL INDEX. Identifikasi barang diperlukan untuk menjawab setidak-tidaknya empat pertanyaan dasar di bawah ini: • What is it? Barang apa yang diimpor? ⇒ bahan baku. DAN LAIN LAIN. kimia. elektronik.

bukan satu pos tertentu?). merumuskan identitas atau deskripsi barang tersebut. Langkah-Langkah Dalam Mengklasifikasi Barang 1) Prosedur Umum Klasifikasi Dalam mengklasifikasi barang menggunakan BTBMI. . Hal ini untuk mengetahui grade atau kemurnian dari bahan tersebut. Dengan kata lain. dari jenis pabrik apa. fungsi. 2.• What for? Digunakan untuk apa? ⇒ kegunaan tertentu. aksesoris.2. Demikian juga negara asal barang akan berpengaruh terhadap mutu atau harga barang. Kalau dari pabrik farmasi kecenderungannya grade farmasi atau kemurnian mendekati 100 %. bahan baku dan semua informasi mengenai barang. setelah 3W + 1H ⇒ What are the classifiable codes? Mengapa “What are classifiable codes?” (pos-pos. bagian dari barang lain. lebh dari satu macam kegunaan? • How is it imported? Bagaimana saat diimpor? ⇒ kemasan? belum lengkap? terurai? dalam bentuk set? Pertanyaan di atas harus dijawab sebelum kita memulai tahap klasifikasi. Keterangan pabrik atau produsen barang perlu diperhatikan. misalnya apakah pabrik farmasi atau pabrik produksi pipa plastik. Namun pada umumnya suatu pos mencakup atau menguraikan satu kelompok barang sehingga sepintas lalu seakan-akan ada satu barang yang dicakup oleh dua atau lebih pos. Kita dapat menemukan satu pos tertentu bila pos dimaksud dengan spesifik menguraikan jenis barangnya. mempelajari jenis.1. Apabila kita sudah mempunyai jawaban. Untuk itu kita perlu mengantisipasi semua pos tarif yang mungkin untuk dipilih satu pos yang paling sesuai. prosedur yang digunakan adalah sebagai berikut : • • • identifikasi barang yang akan diklasifikasikan. Keterangan kemurnian barang akan berkaitan dengan harga barang tersebut. barulah kita berusaha mencari pos yang tepat.

Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. 2). Identitas barang meliputi : nama. Tahapan Mengklasifikasi Barang Dalam penjelasan ini disajikan tahapan mengklasifikasi barang secara garis besar. mineral. kita bisa memilih bab-bab yang lebih spesifik. atau pos mana barang tersebut diklasifikasikan. kimia. Bab. (d) Setelah menemukan satu bab yang paling sesuai berdasarkan kajian di atas. Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System dan teori pendukung lainnya. (b) Pilih bab atau bab-bab yang berkaitan dengan spesifikasi barang tersebut. dan seterusnya). (c) Perhatikan penjelasan-penjelasan dalam catatan Bagian maupun catatan Bab yang berkaitan dengan barang yang akan kita klasifikasi. barang kimia. misalnya barang tersebut produk pertanian. Apabila ada catatan yang mengeluarkan barang tersebut dari Bab atau Bagian yang kita pilih. biasanya kita sudah mempunyai gambaran umum apakah barang tersebut diklasifikasikan di bab tersebut atau di bab lainnya. bauatan. mesin. berat. proses sederhana dan proses canggih/kompleks. maka kita mulai menelusuri pos-pos yang mungkin mencakup barang yang akan kita klasifikasikan dalam bab tersebut. atau mesin. menentukan klasifikasi barang ke dalam BTBMI (dapat dimulai baik dari segi bahan baku menjadi barang jadi. Bila sudah kita tentukan. guna. (a) Kita identifikasi dulu barang yang akan kita klasifikasi. kemasan dan informasi lain yang bergunauntuk mengklasifikasi barang. Tahapan lebih rinci akan dijelaskan kemudian setelah memahami apa itu Harmonized System. Dengan mengetahui spesifikasi barang. pertanian. fungsi. Pada tahap ini. baca dan perhatikan baik-baik catatan Bagian dan catatan Bab yang berkaitan dengan pilihan bab atau bab-bab pada butir 1. perhatikan pada Bagian. Pada tahap ini kadang-kadang kita sudah dapat .• • melihat buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI).

. Bila sudah kita temukan satu pos yang tepat. jangan lupa selalu menggunakan pembebanan yang up to date berdasarkan ketentuan yang terbaru. IP. Karena pembebanan tersebut sering berubah. dalam penentuan sub-pos dan pos tarif pun kadang timbul permasalahan klasifikasi yang sama dengan penentuan pos (4-digit). kegunaannya. Jawaban 2. 2.. 2. Bagaimana langkah-langkah dalam meng klasifi kasi barang ? 3. data apa yang diperlukan mengenai pompa tersebut ? 1. Pertamina. Ingat.3.2. Mengapa kita harus mengidentifikasi barang sebelum mengklasifikasinya ? 2. dan sebagainya. dan lain-lain. Rangkuman Dalam kegiatan 1 telah dijelaskan dengan singkat langkah-langkah praktis dalam mengklasifikasi barang. langkah selanjutnya adalah melihat pembebanannya (BM. bentuk asal atau preparat.).menemukan pos yang mencakup barang tersebut dengan rinci. 3. maka langkah selanjutnya tinggal menentukan sub-pos (6-digit) dan pos tarif (9-digit) yang sesuai. atau cukai) dan ada atau tidak peraturan tata niaganya (IT. Bila akan diimpor sebuah pompa air yang menggunakan tenaga listrk. komposisinya. PPnBM. Latihan 1 Pertanyaan 1. bentuknya. Bagaimana seandainya yang akan kita klasifikasikan adalah suatu bahan kimia? Sebelum mengklasifikasi kita memerlukan identifikasi untuk mendapatkan informasi mengenai: : organik atau anorganik. Dalam tahap ini tentunya menggunakan kaidah-kaidah seperti yang ada dalam nomor 1 sampai dengan 10 Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System (e) Apabila sudah dipilih satu pos tarif yang benar-benar sesuai dengan uraian barang. PPN.

Contoh dan Non Contoh 3. Pada saat ini sistem pengklasifikasian barang di Indonesia didasarkan pada Harmonized System dan dituangkan dalam bentuk suatu daftar tarif yang kita kenal dengan sebutan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. Sistem Customs Cooperation Council (CCCN). Sistem Jenewa (Geneve Nomenclature). Indonesia telah menggunakan beberapa sistem klasifikasi untuk barang impor. prosedur yang digunakan adalah sebagai berikut : 1) identifikasi barang. Pada dasarnya sistem pentarifan ini sama dengan sistem sebelumnya. c. d. Sistem Brussel (Brussel Tariff Nomenclature atau BTN). pengangkutan dan statistik. fungsi. Uraian. KEGIATAN BELAJAR 2. Sejarah Sistem Klasifikasi di Indonesia Sebelum diberlakukannya Harmonized System. Berdasarkan pasal 14 ayat 2 Undang-undang Kepabenan Indonesia Nomor 10 tahun 1995. 3) merumuskan identitas. b. bahan baku dan semua informasi mengenai barang. 4 melihat BTBMI . 5) menentukan klasifikasi barang 3.1. penetapan klasifikasi barang diatur lebih lanjut oleh Menteri Keuangan. mulai berlaku sejak tanggal 1 Januari 1973 sampai dengan 30 Juni 1975.1. yang berlaku sejak kemerdekaan Republik Indonesia sampai dengan 31 Desember 1972. 2) mempelajari jenis. Pengantar Klasifikasi barang adalah suatu daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis dengan tujuan untuk mempermudah pentarifan transaksi perdagangan.Dalam mengklasifikasi barang menggunakan BTBMI. yaitu : a. Penetapan tarif ini merupakan penyempurnaan dari penetapan tarif sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 Juli 1975 sampai dengan 30 september 1980. 1. Sistem Brussel Edisi 1975 (BTN 1975). HARMONIZED SYSTEM 3. hanya pada sistem CCCN ini terdapat .1.

nomenklatur tersebut disahkan dalam suatu konvensi yang dikenal dengan nama Konvensi HS. Namun sekarang hampir seluruh negara di dunia telah meratifikasi konvensi ini. Sistem CCCN ini mulai diberlakukan pada tanggal 1 Oktober 1980 sampai dengan 31 Maret 1985. f. Untuk memberikan kekuatan hukum yang pasti. Mengapa HS ? Sejak tahun 1970. Pada akhir tahun 1986. Meskipun baru meratifikasi pada tahun 1993. Sistem ini diterapkan di Indonesia berdasarkan PP No.penyempurnaan sistem penomoran pada sub-pos dari dua digit menjadi tiga digit atau semula 6 digit menjadi 7 digit. konvensi HS ditandatangani oleh 70 negara yang sebagian besar adalah negara Eropa. Customs Cooperation Council (CCC) yang sekarang dikenal dengan nama World Customs Organisation (Organisasi Pabean Dunia) telah membentuk suatu kelompok studi yang berusaha untuk menciptakan suatu nomenklatur klasifikasi barang yang tidak semata-mata untuk keperluan pabean. 2. Sistem ini merupakan penyempurnaan dari sistem CCCN sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 April 1987 sampai dengan 31 desember 1988. kelompok studi tersebut berhasil menyusun suatu nomenklatur (daftar klasifikasi barang berdasarkan kelompok-kelompok) yang dinamakan Harmonized Commodity Description and Coding System atau lebih dikenal dengan sebutan Harmonized System (HS). pengangkutan. Pada awalnya. . tetapi juga digunakan untuk kepentingan lain seperti statistik. Sistem CCCN Edisi 1985 (CCCN 1985). termasuk Indonesia yang telah meratifikasi konvensi HS dengan Keppres Nomor 35 tahun 1993. Sistem Harmonisasi (Harmonized System). 26 tahun 1988 dan diwujudkan dalam bentuk Buku Tarif Bea Masuk Indonesia 1989 dan dinyatakan berlaku mulai tanggal 1 Januari 1989. dan negosiasi perdagangan. sebenarnya Indonesia telah menggunakan BTBMI berdasarkan HS sejak tanggal 1 Januari 1989. e.

pembuatan dan analisis Statistik perdagangan dunia. perkembangan masyarakat industri dan pola perdagangan Internasional. • Memperbaharui sistem klasifikasi barang sebelumnya. Mengapa HS dijadikan dasar klasifikasi secara internasional? Ada beberapa keuntungan yang didapat setiap negara yang mengadopsi HS sebagai pedoman klasifikasi barang. untuk penetapan Tarif Pabean secara mendunia. HS menggunakan dasar yang seragam untuk keperluan pentarifan secara internasional. • Memberikan Sistem Internasional yang resmi untuk pemberian Kode. mengakibatkan timbulnya kesulitan dalam mengantisipasi kemajuan teknologi. 4.1. dan aparat bea dan cukai. 3. eksportir. 5. pengangkut. Pen jelasan dan penggolongan barang untuk tujuan perdagangan keperluan pengangkutan. dengan tujuan : • Memberikan keseragaman dalam daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis. seperti tarif pengangkutan. Menggunakan “bahasa pabean” sehingga dapat dengan mudah dimengerti oleh importir. yaitu: 1. HS adalah pedoman klasifikasi yang sistematik untuk seluruh barang yang diperdagangkan secara internasional. Sederhana dan memberikan kepastian dalam hal aplikasi dan interpretasi yang benar dan sama untuk keperluan negosiasi.2. untuk memberikan perhatian kepada perkembangan teknologi dan masyarakat industri serta pola perdagangan Internasional. dokumentasi dan sebagainya. Menyadari hal yang demikian WCO pada tanggal 14 Juni 1983 meluncurkan HS yang mulai berlaku secara internasional pada tanggal 1 Januari 1988. • Memudahkan pengumpulan. 2. Merupakan kumpulan data yang seragam secara internasional sehingga dapat digunakan untuk mendukung analisis dan statistik perdagangan internasional. . Tujuan Harmonized System Adanya perbedaan sistem klasifikasi tarif antara negara di dunia.3. produsen.

The International Union Railway (IUR). b.84). dan Volume 4 (Bab 85 .HS telah dibuat sedemikian rupa sehingga standard klasifikasi barang dan sistem kode penomoran barang dapat dijadikan acuan untuk berbagai kebutuhan oleh berbagai lembaga internasional yang berkaitan dengan perdagangan.29). d. World Customs Organization (WCO). misalnya: a. namun sebagaimana disetujui WCO. explanatory notes merupakan interpretasi resmi (official interpretation) dari HS pada level internasional dan merupakan pelengkap yang sangat penting dari HS.1.97). Untuk itu membaca Explanatory Notes harus selalu disesuaikan dengan konteksnya dalam HS. yaitu Vol.63). e. Publikasi-publikasi tersebut juga diterbitkan oleh WCO.3 Publikasi Pelengkap HS Harmonized System mempunyai beberapa publikasi pelengkap yang digunakan untuk lebih mempermudah klasifikasi barang. The Explanatory Notes to the Harmonized System (EN) Explanatory Notes bukan merupakan bagian yang integral dari HS. Explanatory Notes adalah referensi yang sangat diperlukan untuk mendapatkan interpretasi yang benar dari HS. Publikasi dimaksud adalah: 1. The International Air Transport Association (IATA). Explanatory Notes juga mengalami perubahan (amandemen) untuk menyesuaikan isinya dengan struktur HS. . Volume 3 (Bab 64 . Volume 2 (Bab 30. sebagian negara anggota WCO mensahkannya sebagai dokumen yang berkekuatan hukum Seiring perkembangan teknologi. Karena pentingnya Explanatory Notes ini. The International Chamber or Shipping (ICS). 1 (Bab 1 . Explanatory Notes yang digunakan saat ini adalah edisi kedua (tahun 1996) yang terdiri dari empat volume. The Standard International Trade Classificatioan (SITC) 3. c.

dan . namun juga dipergunakan secara internasional dalam bidang lain seperti negosiasi perdagangan. 3. dan sebagainya. yaitu: 1. Catatan Bagian. 3. 2. Structured nomenclature HS adalah nomenklatur yang terdiri dari 21 Bagian. Publikasi lain yang merupakan pelengkap HS adalah the Compendium of Classification Opinions. HS yang tersusun dari pos dan sub-pos.Z). the Training Modules.1. The Alphabetical Index Untuk mempermudah mengklasifikasikan suatu barang pada pos-pos atau sub-sub pos dalam nomenklatur HS atau Explanatory Notes. merupakan pedoman mengklasifikasi barang yang sistematik dan seragam. yaitu Volume I (A .L) dan Volume II (M . statistik. Catatan Bab. the Harmonized System Commodity Data Base (dalam bentuk CD-ROM). yaitu Bab 77. dirancang tidak hanya untuk keperluan kepabeanan. 96 Bab (+ Bab 77). 98. Multipurpose nomenclature HS yang mempunyai 6 digit penggolongan. Dengan tetap berdasar kepada HS 6-digit.241 pos. dan Catatan Sub-Pos. Sistem Pengkodean Harmonized System mempunyai dua karakteristik yang sangat mendasar. Alphabetical Index terdiri dari dua volume. semua negara mempunyai kesatuan persepsi tentang pengklasifikasian suatu barang.4. dan Correlation Tables. Ada tiga Bab yang belum digunakan dalam HS yang ada saat ini. Masing-masing negara penandatangan konvensi (contracting party) dapat mengembangkan penggolongan 6-digit tersebut menjadi kelompok yang lebih spesifik sesuai dengan kebijaksanaan ekonomi dan industrinya. dan 1.2. WCO juga menerbitkan buku indeks yang dikenal dengan nama the Alphabetical Index. bersama dengan Ketentuan Umum Menginterpretasi. Dispute Settled Classification Opinion. pengangkutan.

01. barang dimaksud diklasifikasikan pada pos 01. yaitu: a. Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System (KUM HS) merupakan bagian terpenting yang harus dipahami sebelum melangkah lebih jauh untuk meng klasifikasikan barang menggunakan HS. Sistem penomoran dalam HS terbagi menjadi Bab (2-digit). Harmonized System mempunyai tiga bagian utama atau integral. Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System (General Rules for the Interpretation of the HS). 01 Sub-pos (Sub-heading) 0101. . 11 _______ ______________ • Dua angka pertama untuk menunjukkan pada bab mana barang itu diklasifikasikan. • Empat angka pertama menunjukkan Pos atau Heading dalam setiap bab. dan sub-pos (6-digit) dengan penjelasan sebagai berikut: 01 __ 01 11 Bab (Chapter) 1 Pos (Heading) 01. HS menggunakan kode nomor dalam mengklasifikasikan barang. bagian ini akan dibahas tersendiri. misalnya untuk barang pos atau peralatan pelayaran. Kode-kode nomor tersebut mencakup uraian barang yang tersusun secara sistematis. KUM HS berisi enam prinsip dasar yang harus dipatuhi dalam mengklasifikasi barang. Pos (4-digit) dan Sub-pos (6-digit) yang disusun dengan sistematik. dan Catatan Sub-Pos. Catatan Bagian. sedangkan Bab 98 dan 99 digunakan untuk keperluan khusus bagi masing-masing contracting party. Pada contoh di atas. c. Catatan Bab. Seperti telah disinggung sebelumnya. Mengingat pentingnya memahami KUM HS. barang dimaksud diklasifikasikan pada Bab 1. b. Pada contoh di atas. pos (4-digit). Indonesia juga menggunakan Bab 98 untuk keperluan ekspor barang tertentu yang pada bulan April 1999 dicabut kembali.99. Bab 77 dipersiapkan untuk keperluan di masa mendatang.

Indonesia menggunakan sistem penomoran 10 digit dalam BTBMI yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari sub-sub pos dalam HS. 3. perkembangan masyarakat industri dan pola perdagangan Internasional. 3. Indonesia menggunakan sistem penomoran 10 digit dalam BTBMI yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari sub-sub pos dalam HS. Rangkuman Klasifikasi barang adalah suatu daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis dengan tujuan untuk mempermudah pentarifan transaksi perdagangan. Perbedaan sistem klasifikasi tarif antara negara di dunia. Pada contoh di atas. WCO meluncurkan HS yang mulai berlaku secara internasional pada tanggal 1 Januari 1988. Apa tujuan Harmnized System 2. System ? Jawaban 3. Penjelasan mengenai hal ini akan dibahas lebih rinci pada penjelasan berikutnya. barang dimaksud diklasifikasikan pada sub-pos 0101. .3. Untuk keperluan nasional.• Enam angka pertama menunjukkan Sub Pos dalam setiap Pos. Kode-kode nomor tersebut mencakup uraian barang yang tersusun secara sistematis. mengakibatkan timbulnya kesulitan dalam mengantisipasi kemajuan teknologi.Latihan 3 Pertanyaan 1. HS menggunakan kode nomor dalam mengklasifikasikan barang.11. Untuk keperluan nasional. Berdasarkan pasal 14 ayat 2 Undang-undang Kepabenan Indonesia Nomor 10 tahun 1995. pengangkutan dan statistik. System ? 2. Apa yang dimaksud dengan Harmonized 1.2. Pada saat ini sistem pengklasifikasian barang di Indonesia didasarkan pada Harmonized System dan dituangkan dalam bentuk suatu daftar tarif yang kita kenal dengan sebutan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. Bagaimana sistem penomoran Harmonized 3.

17 tahun 2006 . Selanjutnya berdasarkan pasal 14 ayat 2 Undang-undang tersebut. Atas dasar pertimbangan di atas. Dasar Hukum Pada akhir tahun 1995. Sebagai . c. KEGIATAN BELAJAR 3 BUKU TARIF BEA MASUK INDONESIA 4. Upaya peningkatan daya saing produk Indonesia dipasar Internasional. Pasal 14 ayat (1) UndangUndang ini menyebutkan bahwa “Untuk penetapan tarif Bea Masuk. Pemerintah menerbitkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor : 440/KMK. Pengaturan lebih lanjut penentuan klasifikasi barang dilakukan dengan memperhatikan: a.1. Dalam Pasal 1 Keputusan ini disebutkan “Untuk penetapan tarif Bea Masuk. Pengurangan hambatan dalam perdagangan Internasional guna mendukung terciptanya perdagangan bebas.05/1996 tanggal 21 Juni 1996 tentang Penetapan Sistem Klasifikasi Barang dan Besarnya Tarif Bea Masuk Atas Barang Impor. yang kemudian dikenal dengan nama Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan saat ini telah diamandemend dengan UU no. Perlindungan terhadap konsumen dalam negeri.4. b. Indonesia telah menjadi anggota World Customs Organization. penetapan klasifikasi barang ditentukan oleh Menteri Keuangan. barang dikelompokkan berdasarkan sistem klasifikasi barang”. Uraian. d. barang barang dikelompokkan berdasarkan sistem klasifikasi sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 1993 tentang Pengesahan International Convention The Harmonized Commodity Description and Coding System beserta protocol-nya”. Contoh dan Non Contoh 4.1. yang sebelumnya dikenal dengan nama Customs Cooperation Council sejak tanggal 30 April 1957. Pemerintah bersama Dewan Perwakilan Rakyat telah berhasil membahas dan menyetujui Rancangan Undang-Undang Kepabeanan.1. Pemenuhan perjanjian serta kesepakatan Internasional.

05/1994 tanggal 16 Maret 1994 telah ditetapkan bahwa terhitung sejak 1 April 1994 . struktur Klasifikasi barang dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI) mengacu kepada sistem klasifikasi dari HS Convention. Indonesia telah menjadi Contracting Party dari “International Convention on the Harmonized Commodity Description and Coding Sistem”. Dasar penetapan besarnya tarif bea masuk (bea masuk tambahan dilebur bersama bea masuk) untuk barang bersangkutan. Hingga saat ini BTBMI 1996 dimaksud telah beberapa kali diubah atau direvisi sesuai dengan perkembangan kebijaksanaan nasional. Sebagai tindak lanjutnya . Menindaklanjuti adanya amandemen HS 1996 tersebut. 2. Berbagai bantuan teknis dalam rangka menunjang kelancaran pelaksanaan sistem dan prosedur kepabeanan Internasional. menjadi “HS versi 1996”. Berdasarkan keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 35 tahun 1993. World Customs Organization telah mengesahkan amandemen lampiran konvensi.01/1995 di atas selanjutnya dijabarkan dalam bentuk penerbitan BTBMI edisi tahun 1996. Pemerintah pada tanggal 29 Desember 1995 telah mengeluarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 639/KMK. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 639/KMK. berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 81/KMK.anggota WCO. Berdasarkan Artikel XVI HS Convention. 3. yang semula mempergunakan HS versi 1992. telah diterima oleh Indonesia. Penyempurnan Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 1988 tentang Perubahan dan Tambahan atas Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1969 tentang Pembebasan atas Impor dan Perubahan atas Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 1986 tentang Bea Masuk Tambahan Atas Barang Impor. BTBMI terakhir dengan BTBMI tahun 2007 menggunakan HS . Dasar penggunaan sistem klasifikasi barang berdasarkan HS versi 1996. 01/1995 yang merupakan: 1. Indonesia telah menunjukkan peran serta yang aktif dalam kegiatan WCO dan telah banyak menarik manfaat dari organisasi ini.

00 ) berasal dari teks AHTN. 3) 10 (sepuluh) digit merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia.ver 2007 berdasarkan AHTN.1.00.00 ) berasal dari teks HS – WCO. 2) 8 (delapan) digit berasal dari teks AHTN.2.21. BTBMI tidak lain adalah HS yang dimodifikasi atau dijabarkan lebih lanjut untuk digunakan dalam pentarifan dan penanganan barang impor ke Indonesia. mempunyai struktur sebagai berikut: BTBMI 1. b.10. BTBMI adalah buku tarif bea masuk yang digunakan di Indonesia semenjak 1989 yaitu. 4.11. ♦ yang 4 digit terakhirnya 00. 6 (enam) dan 10 (sepuluh) digit pada bab 98 merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia. kecuali: ♦ yang 2 digit terakhirnya 00 ( misalnya 8709. Kolom : a. Struktur BTBMI Pada bab terdahulu kita telah mempelajari gambaran umum tentang Harmonized System.00 ( misalnya 8709. . beberapa tahun sebelum Indonesia meratifikasi HS Convention dan saat ini yang berlaku adalah BTBMI 2007 berdasarkan AHTN. Kolom kedua adalah kolom “Uraian Barang” dalam bahasa Indonesia yang disusun dengan pola sebagai berikut: 1) Uraian barang pada pos (4 digit) dan subpos (6 digit) merupakan terjemahan dari teks HS-WCO. Kolom pertama adalah kolom “Pos/Subpos/Pos Tarif” yang mencantumkan nomor pos/subpos sebagai berikut : 1) 4 (empat) dan 6 (enam) digit pertama berasal dari teks Harmonized System-World Customs Organization (HS-WCO). 4) 4 (empat). Sekarang kta akan mempelajari tentang BTBMI.

Kolom keempat adalah kolom “Bea Masuk Umum” yang mencantumkan pembebanan tarif bea masuk atas barang impor berlaku umum berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 547/KMK. 3) Uraian barang pada pos tarif nasional (10 digit) merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia.01/2003 tanggal 18 Desember 2003.11. Kolom kelima adalah kolom “Bea Masuk CEPT” yang mencantumkan pembebanan tarif bea masuk yang berlaku untuk impor barang dari negara-negara ASEAN dalam rangka Skema CEPT berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 546/KMK.10. e. Kolom ketiga adalah kolom “Description of Goods” dalam bahasa Inggris yang disusun dengan pola sebagai berikut : 1) Uraian barang pos (4 digit) dan subpos (6 digit) merupakan teks HS-WCO dalam bahasa Inggris.00 ) berasal dari teks HS – WCO. c. 4) Khusus uraian barang dalam bab 98 merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia. ♦ yang 4 digit terakhirnya 00.00.00 ) merupakan teks asli HS – WCO.00 ) merupakan teks AHTN.00 ( misalnya 8709.11.00 ( misalnya 8709. d.00 ) berasal dari teks AHTN. .01/2003 tanggal 18 Desember 2003.00. 2) Uraian barang pada subpos ASEAN (8 digit) merupakan teks AHTN dalam bahasa Inggris.10. 4) Khusus uraian barang dalam bab 98 merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia. 3) Uraian barang pada pos tarif nasional (10 digit) merupakan terjemahan dari teks bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris. ♦ yang 4 digit terakhirnya 00.21. kecuali : ♦ yang 2 digit terakhirnya 00 ( misalnya 8709.21. kecuali: ♦ yang 2 digit terakhirnya 00 ( misalnya 8709.2) Uraian barang pada subpos ASEAN (8 digit) merupakan terjemahan dari teks AHTN.

Pencantuman tanda satu asterisk (*) pada kolom “PPN”. PPnBM dan pemberlakuan .01 sampai dengan 87. Pencantuman tanda asterisk (*) pada kolom pembebanan tarif ditujukan untuk halhal sebagai berikut : a.05. h. 2. Tanda strip (-) pada kolom PPN atau PPnBM berarti komoditi pada pos tariff bersangkutan tidak dikenakan pembebanan PPN atau PPnBM. Tanda strip (-) pada kolom Bea Masuk CEPT berarti komoditi pada pos tarif bersangkutan tidak termasuk dalam skema CEPT. “PPnBM” dan “Larangan/Pembatasan” berarti pengenaan PPN. Pencantuman tanda strip (-) pada kolom pembebanan tarif ditujukan untuk hal-hal sebagai berikut : a. Pencantuman tanda satu asterisk (*) pada kolom “Bea Masuk Umum” berarti pembebanan impornya mengikuti tarif pada pos tarif 87. b. i. Kolom kesembilan adalah kolom “Keterangan” yang disediakan untuk mencantumkan keterangan tambahan yang dianggap perlu dan ketentuan lain yang belum ditampung pada kolom-kolom sebelumnya.03/2003 tanggal 28 Januari 2003 dan Nomor 355/KMK.04/2000 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 39/KMK.03/2003 tanggal 11 Agustus 2003. Kolom keenam adalah kolom “PPN” yang mencantumkan pembebanan tarif PPN berdasarkan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000. g. b. Kolom ketujuh adalah kolom “PPnBM” yang mencantumkan pembebanan tarif PPnBM yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 569/KMK.f. Kolom kedelapan adalah kolom “Larangan/Pembatasan” yang mencantumkan ketentuan larangan atau pembatasan barang impor berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 230/MPP/KEP/7/1997 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 62/MPP/KEP/02/2001 dan tata niaga impor dan peredaran bahan berbahaya tertentu ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 254/MPP/KEP/7/2000.04/2000 dan Nomor 570/KMK. 3. serta ketentuan instansi teknis lainnya.

terdapat juga BM Anti Dumping yang ditetapkan tersendiri oleh Menteri Keuangan.3. 4 Catatan Penjelasan Tambahan (SEN) merupakan pedoman dalam menginterpretasikan pengertian maupun istilah teknis barang yang tercantum dalam Subpos pos tarif tertentu. akar dan bonggol tertentu yang dapat dimakan. 19 dan 20. Pos 07.05: Selada (Lactuca sativa) dan chicory (Chicorium spp. segar atau dingin. besarnya BM. Untuk memahami sistem penomoran tersebut. maka yang mengikat secara hukum adalah teks asli SEN dalam bahasa Inggris.ketentuan larangan/pembatasan berlaku hanya terhadap sebagian jenis barang atau sebagian kelompok barang dalam pos tarif bersangkutan. Sistem Penomoran Sistem penomoran klasifikasi dalam BTBMI menggunakan 10-digit dengan susunan 6 digit pertama mengacu pada konvensi HS.1.00 Selada kubis (selada bongkahan) (1) Dua digit pertama (07) menunjukkan Bab. .11. 4. Bea Masuk Anti Dumping berlaku di Indonesia sejak tanggal 1 April 1996 berlandaskan Undang-Undang Nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan sesuai pasal 18. 2 digit selanjutnya mengacu kepada AHTN dan 2 digit terakhir adalah pecahan pos tarif nasional. Nomor Pos tarif (10-digit) dan uraiannya. PTNI (Peraturan Tata Niaga Impor) ditetapkan oleh Menteri Perindustrian dan Perdagangan. PPN. (2) Empat digit pertama (0705) menunjukkan Pos. dan PPnBM ditetapkan oleh Menteri Keuangan. perhatikan contoh berikut: 0705. Kode Penomoran dan Pentakikan 1. Bab 07 : Sayuran.00.). Apabila terdapat keraguan dalam menginterpretasikan teks yang tercantum dalam Catatan Penjelasan Tambahan (SEN). Perlu diingat bahwa selain BM yang tercantum dalam BTBMI.

Sub-pos 0705.10 dipecah menjadi 0705. misalnya : .10) menunjukkan Sub-pos yaitu selada.-). c.05 Selada (Lactuca sativa) dan chicory (Chicorium spp. Apabila pos tarif 0705.11.00) menunjukkan Pos Tarif 0705. 0705. Bila uraian pada butir c dipecah lagi. HS/BTBMI juga menggunakan sistem takik (dash. b.Selada * Ingat.00 -.. -) untuk mengklasifikasi barang. segar atau dingin).10: . digunakan tiga takik (.19.Selada kubis (selada bongkolan). 0705.000): 07.10 .11 dipecah lagi menjadi pos tarif yang lebih rinci.Lain-lain) 2. Penggunaan satu takik (-) dimulai pada uraian Sub-pos (6-digit).11 dan 0705 19.19: 0705.11. d.00. Di bawah ini disajikan contoh sistem takik dengan menggunakan contoh yang sudah ada (pos tarif 0705..00. dengan penjelasan sebagai berikut: a. demikian seterusnya sehingga diperoleh pengelompokan barang yang lebih rinci. maka digunakan pemecahan menggunakan tiga takik pada digit 9 dan 10. dalam HS/BTBMI sub-pos 0705. digunakan dua takik (.00.10 tidak dicantumkan karena sub-pos tersebut dipecah lagi menjadi sub-pos 0705. Pos (4-digit) tidak diberi takik.Selada (4) Sepuluh digit pertama (0705.-). khusus untuk negara Indonesia.00 : .11.11 dan 0705.).(3) Enam digit pertama (0705. Sistem Takik Selain menggunakan sistem nomor. Bila uraian pada butir b dipecah.

11. dalam bentuk asal.20.11...11 dan 0705. 80.Dingin Perlu diperhatikan bahwa kadang-kadang nomor sub-pos atau pos tarif yang dipecah lebih lanjut tidak dicantumkan secara eksplisit dalam BTBMI.10.selada) karena sub-pos tersebut dipecah lebih lanjut menjadi 0705.20 . • Setiap kelompok barang di atas (baik dalam pos. segar atau dingin) dibagi menjadi bibit dan lain-lain..Dingin Namun apabila ASEAN misalnya akan membagi dari subpos 0705.00 . • Pemecahan pos tarif (10-digit) juga mengikuti pola di atas.. perhatikan digit kelima dan keenam. • Bila pos dipecah menjadi sub-sub pos. yaitu barang tertentu A .19. sub-pos. maka : 0705. . Kedua jenis barang tersebut dapat dipecah kembali lagi menjadi dua kelompok di atas (barang tertentu dan lain-lain) yang lebih spesifik.barang lainnya (lain-lain).01 --Polimer dari etilena.. segar atau dingin) dibagi menjadi ketimun dan ketimun acar saja. 30. yaitu barang tertentu dan lain-lain. Pos 07.07 (Ketimun dan ketimun acar. contoh : • sub-pos 0705.00.Segar 0705.0705... Contoh: Barang tertentu A .Segar 0705.01 (Kentang. . • Dalam HS/BTBMI hanya ada dua jenis barang... dalam BTBMI tidak dicantumkan (hanya dicantumkan uraian barangnya yaitu: .10.11. maupun pos tarif) dibagi atau dirinci dengan dua cara.barang tertentu B : Pos 07. Barang tertentu A .barang tertentu B atau barang tertentu A . Mari kita lihat contoh berikut: 39. Barang tertentu mempunyai kode 10..10 .11.00 .11..barang lainnya (lain-lain).00. 20.

10..00 --. Pos.Polietilena berat jenis kurang dari 0. digunakan dalam pembuatan kabel telepon atau kabel listrik 3901.10..91. 19.00 --.00 3901. apabila kata “lain-lain” dimaksud terdapat pada bab. 4. apabila kata “lain-lain” dimaksud terdapat pada pos. 20.99.. .Mutu farmasi --. bandingkan dengan uraian barang pada bab-bab terdahulu.10 3901. digunakan digit kesembilan.21. • Barang lainnya (lain-lain) diberi kode 90.. • Barang tertentu mempunyai kode 10.Mutu kabel --.10. bandingkan dengan uraian . Kata “lain-lain” terdapat pada Bab. 99.1.94: -. berfungsi untuk menampung barang yang belum disebut pada uraian jenis barang sebelumnya.Butiran 3901. 12.22.Lain-lain.00 --.10.perhatikan dua digit terakhir. . 30.10.00 --.Lain-lain Untuk pemecahan pos tarif. yaitu menjadi 11.29.10.10.10. Sub-Pos dan Pos Tarif Nasional Untuk dapat memahami arti kata “Lain-lain” .4.23. • Demikian juga kode 900 bila dipecah menjadi 91.00 -.. 92.10...00 3901.00 3901. Arti kata “lain-lain” Dalam klasifikasi BTBMI dengan sistem HS kata “Lain-lain”.. perhatikan hal-hal berikut ini: • • • bandingkan kelompok barang “lain-lain” dimaksud dengan kelompok barang yang setara.Digunakan dalam pembuatan kabel telepon atau kabel listrik 3901.Lain-lain --Cair atau pasta --Bentuk lain : 3901. .Dalam bentuk padat -. • Bila kode 10 dipecah lagi menjadi lebih rinci.30.3901..

Jadi. pada sub-pos yang sama. dan Lain-lain (2). Lain-lain (2): barang selain B1 dan B2. A2. C2. sehingga akan jelas kelompok barang mana yang akan dibandingkan dengan barang lain-lain barang lain-lain yang ingin kita ketahui. yang termasuk dalam barang A. • • apabila kata “lain-lain” dimaksud terdapat pada sub-pos. dan Lain-lain (3). Lain-lain (3) adalah termasuk kelompok barang A selain A1 dan A2. bandingkan dengan uraian barang pada pos-pos tarif terdahulu. Lain-lain (2) adalah termasuk kelompok barang A selain A1 dan . dan Lain-lain (1). selain B1 dan B2. Lain-lain (1): barang selain A1 dan A2. Barang Lain-lain (1) dibagi menjadi barang B1. Di bawah ini disajikan mengetahui kelompok barang yang termasuk lain-lain dengan menggunakan metode diagram pohon dengan contoh sebagai berikut: A A1 A2 Lain-lain (1) B1 B2 Lain-lain (2) C1 C2 Lain-lain (3) • • • • • • Barang A dibagi menjadi barang A1. apabila kata “lain-lain” dimaksud terdapat pada pos tarif. Metode di atas dapat difahami dengan lebih mudah apabila kita dapat menggambarkannya dalam bentuk diagram pohon. yang termasuk dalam Lain-lain (1). Barang Lain-lain (2) dibagi menjadi barang C1. B2. Cara membaca: Lain-lain (3): barang selain C1 dan C2. dalam pos yang sama. yang termasuk dalam Lain-lain (2). selain C1 dan C2. bandingkan dengan uraian barang pada sub-sub pos terdahulu.barang pada pos-pos terdahulu dalam bab yang sama.

Secara lebih rinci uraian dalam sub-po stersebut dapat diuraikan menjadi: . Kata lainnya dalam pos ini berfungsi untuk menampung binatang hidup yang belum disebutkan pada pos-pos sebelumnya. Pos. Pos 01.Lain-lain Kata lain-lain dalam sub-pos ini berfungsi untuk menampung binatang sejenis lembu. b) Judul Pos. catatan Bab. selain B1 dan B2.90 : . Subpos maupun Pos tarif nasional. Lain-lain (3) adalah termasuk kelompok barang A selain A1 dan A2.. keledai.A2. selain yang telah disebutkan pada Bab 50 sampai dengan Bab 62”. Dengan sedikit latihan menggunakan BTBMI. Dalam diktat ini pengertian lain-lain dibatasi pemahamannya sebatas berkaitan dengan uraian jenis barang pada judul Bab. • • • selain kuda. pengertian kata lain-lain tersebut akan dapat dengan mudah dimengerti. kalkun dan ayam mutiara c) Judul Sub Pos Sub-pos 0102. Secara lebih rinci uraian pos tersebut dapat diuraikan menjadi: Binatang hidup. hidup yang belum disebutkan pada sub-sub pos sebelumnya..06: Binatang hidup lainnya. Secara singkat makna kata lainnya berfungsi untuk menampung barang tekstil sudah jadi yang belum disebutkan pada bab-bab sebelumnya dalam Bagian XI. selain babi selain biri-biri dan kambing selain unggas dari jenis : ayam spesies Gallus domesticus. selain binatang sejenis lembu. maupun catatan Sub-pos. bebek.. Di bawah ini disajikan beberapa contoh pengertian kata lain-lain yang terdapat dalam BTBMI: a) Judul Bab. bagal dan hinnies. tanpa dikaitkan dengan catatan Bagian. Bab 63: Barang tekstil sudah jadi lainnya . Secara lebih rinci judul bab tersebut dapat diuraikan menjadi “Tekstil dan barang tekstil.

Apa isi Buku Tarif Bea Masuk Indonesia ? 2. dalam penomoran HS ? 4.3. berfungsi untuk menampung barang yang belum disebut pada uraian jenis barang sebelumnya. Latihan 3 Pertanyaan 1. bagal dan hinnies. termasuk binatang sejenis lembu. namun bukan untuk bibit 4. Pasal berapa dalam Undang-undang no. Bagaimana cara membaca pengertian kata “Lain. Selain menggunakan sistem nomor. 10 tahun 1. Apa yang dimaksud dengan sistem pentakikan 3. Rangkuman Indonesia telah menjadi Contracting Party dari “International Convention on the Harmonized Commodity Description and Coding Sistem”. 1995 yang berkaitan dengan klasifikasi barang ? 2. Kata “lain-lain” terdapat pada Bab.2. Jawaban 3. berdasarkan keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 35 tahun 1993. pengertian kata lain-lain tersebut akan dapat dengan mudah dimengerti .Binatang hidup. • • selain kuda. HS/BTBMI juga menggunakan sistem takik (dash. keledai. lain” dalam BTBMI ? 4. Pos. Sub-Pos dan Pos Tarif Nasional.4. Dengan sedikit latihan menggunakan BTBMI. -) untuk mengklasifikasi barang Dalam klasifikasi BTBMI dengan sistem HS kata “Lain-lain”. Sebagai tindak lanjutnya struktur Klasifikasi barang dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI) mengacu kepada sistem klasifikasi dari HS Convention Sistem penomoran klasifikasi dalam BTBMI menggunakan 10-digit dengan susunan 6 digit pertama mengacu pada konvensi HS dan 2 digit terakhir adalah pecahan pos tarif nasional.

1. Informasi mengenai barang tersebut dapat kita peroleh melalui : kondisi fisik.5. ( B . brosur. Heading. perdagangan internasional dan pengangkutan laut. statistik.S ) Untuk mengklasifikasi barang diperlukan data mengenai nama.S ) Apabila terdapat perbedaan sistem klasifikasi pada setiap negara akan memperpanjang waktu untuk penetapan bea masuk dan pengeluaran barang impor di pelabuhan. label kemasan dan data lainnya 2. .1. ( B . jenis dan spesifikasi lainnya secara akurat. ( B . sertificate of analysis. ( B . udara dan kereta api. Demikian dalam kekuatan hukumnya sama. Salah satu tujuan HS adalah untuk memberikan ketidak seragaman secara internasional penggolongan barang dalam tarif pabean 4. Fungsi dasar HS adalah untuk memberikan keseragaman dalam mengklasifikasi barang guna memberikan kemudahan pada perdagangan internasional 5.S ) HS bersifat harmonis karena standard klasifikasi dan sistem kode penomoran barang digunakan untuk berbagai kepentingan. Test Formatif 5. Lingkarilah huruf B apabila pernyataan ini Saudara anggap benar dan huruf S apabila pernyataan Saudara anggap salah. Bab dan Subheading . sub-heading dan penomoran hingga ke Pos tarif (10 digit). karena yang utama adalah uraian barangnya. seperti Pabean.S ) Ditinjau dari fungsi pengklasifikasian. struktur HS terdiri dari : KUM HS .S ) Customs Cooperation Council di Brussels pada tanggal 14 Juni 1983 menghasilkan Konvensi Internasional tentang The Harmonized Commodity Description and Coding System (HS) dan mulai berlaku di Indonesi sejak tanggal 1 Januari 1988 3. ( B . Catatan Bagian.

merumuskan identitas atau deskripsi barang tersebut c. b dan c benar 4. Untuk penetapan tarif bea masuk. Untuk mengklasifikasi barang. pasal 16 b... Mengklasifikasi barang seluruhnya harus tepat secara eksak d. tanggal 11 Januari 1989 3. pernyataan a. Jenis suatu jenis barang dimungkinkan tidak ada dalam HS b... Dalam pengamatan sementara untuk mengklasifikasi barang. barang dikelompokkan berdasarkan sistem klasifikasi barang. mengidentifikasi barang dengan mempelajari jenis dan spesifikasinya b. atau d ) 1.. maka sebutkan pernyataan dibawah ini yang tidak benar a. Prosedur tersebut secara umum ialah . a. Dapat terkait dengan beberapa bab c..2. tanggal 1 Agustus 1988 c. pasal 115 c. b.. c. 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan pada : a. Pilihlah jawaban yang Saudara anggap benar dengan cara melingkari huruf yang terdapat di depan jawaban tersebut a. karena uraian jenis barangnya tidak ada dalam BTBMI . Bunyi kalimat diatas sesuai dengan bunyi UU no. melihat Buku Tarif Bea Masuk Indonesia dan menentukan klasifikasinya d. pasal 116 2.5. tanggal 31 Januari 1988 d. pasal 14 d. dikenal prosedur umum untuk mengklasifikasi barang. The Harmonized Commodity Description and Coding System (HS) mulai berlaku secara internasional sejak : a. Barang tidak dapat diklasifikasikan.. tanggal 1 Januari 1989 b.

1 B. harus mengacu kepada perkembangan terakhir besarnya penetapan Bea Masuk c. sebelum HS ! 2. B 5. Sebutkan tujuan Harmonized System ? Apakah besarnya tarif bea masuk Indonesia secara hukum sesuai seperti apa yang tertulis dalam BTBMI tersebut ? 6. hanyalah sementara (mengikuti surat Keputusan Menteri Keuangan RI) b. c 5. KUNCI JAWABAN TEST FORMATIF Kelompok 5. selalu berubah d. b dan c benar 5. B. b 3. 4. Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan singkat dan benar 1. 5.3. d 4. Pencantuman besarnya Bea Masuk pada Buku tarif Bea Masuk Indonesia : a. a 2. 3.5. pernyataan a. 1. Sebutkan 3 Sistem dalam mengklasifikasi barang yang pernah digunakan Pemerintahan Republik Indonesia.1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan konvensi HS ? Mengapa kita memilih suatu system seperti HS dalam menentukan klasifikasi barang ? 4. 2. d .2. S 3. S Kelompok 5..

kelompok studi tersebut berhasil menyusun suatu nomenklatur (daftar klasifikasi barang berdasarkan kelompok-kelompok) yang dinamakan Harmonized Commodity Description and Coding System atau lebih dikenal dengan sebutan Harmonized System (HS). Untuk memberikan kekuatan hukum yang pasti. Pada dasarnya sistem pentarifan ini sama dengan sistem sebelumnya. b) Sistem Customs Cooperation Council (CCCN). Nomor 2 Pada akhir tahun 1986. Penetapan tarif ini merupakan penyempurnaan dari penetapan tarif sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 Juli 1975 sampai dengan 30 september 1980. c) Sistem CCCN Edisi 1985 (CCCN 1985). pengangkut.Kelompok 6. d) Menggunakan “bahasa pabean” sehingga dapat dengan mudah dimengerti oleh importir. produsen. Sistem ini merupakan penyempurnaan dari sistem CCCN sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 April 1987 sampai dengan 31 desember 1988. eksportir. . c) HS menggunakan dasar yang seragam untuk keperluan pentarifan secara internasional. e) Sederhana dan memberikan kepastian dalam hal aplikasi dan interpretasi yang benar dan sama untuk keperluan negosiasi. nomenklatur disahkan dalam Konvensi HS Nomor 3 a) HS adalah pedoman klasifikasi yang sistematik untuk seluruh barang yang diperdagangkan secara internasional. Nomor 1 a) Sistem Brussel Edisi 1975 (BTN 1975).3. dan aparat bea dan cukai. Sistem CCCN ini mulai diberlakukan pada tanggal 1 Oktober 1980 sampai dengan 31 Maret 1985. b) HS adalah pedoman klasifikasi yang sistematik untuk seluruh barang yang diperdagangkan secara internasional. hanya pada sistem CCCN ini terdapat penyempurnaan sistem penomoran pada sub-pos dari dua digit menjadi tiga digit atau semula 6 digit menjadi 7 digit.

. dan . d) Memperbaharui sistem klasifikasi barang sebelumnya... c) Memberikan Sistem Internasional yang resmi untuk pemberian Kode.. dokumentasi dan sebagainya. Pen jelasan dan penggolongan barang untuk tujuan perdagangan keperluan pengangkutan.f) Merupakan kumpulan data yang seragam secara internasional sehingga dapat digunakan untuk mendukung analisis dan statistik perdagangan internasional. Untuk kelompok C : Apabila benar seluruhnya nilai menjadi 100 . Nomor 4 a) Memberikan keseragaman dalam daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis.. b) Memudahkan pengumpulan... Kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap terhadap materi kegiatan belajar Rumus Tingkat Penguasaan Untuk kelompok A dan B : Jumlah Jawaban yang benar dibagi 10 kemudian dikali 100 % = . untuk memberikan perhatian kepada perkembangan teknologi dan masyarakat industri serta pola perdagangan Internasional... Hitunglah jumlah jawaban Anda yang benar atau sejauh mana Anda menguasai mata pelajaran tersebut. Ketentuan hukum yang legal adalah sesuai Surat Keputusan Menteri Keuangan tentang perubahan Tarif Bea Masuk Indonesia (lihat Kata Pengantar pada BBTBMI) 7.. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Bandingkanlah hasil jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang ada di belakang modul ini.. seperti tarif pengangkutan. pembuatan dan analisis Statistik perdagangan dunia. Nomor 5 Buku tarif Bea Masuk Indonesia hanyalah suatu referensi praktis agar dapat secara optimal digunakan di lapangan. untuk penetapan Tarif Pabean secara mendunia.

100 % = Baik sekali * 80 % . (1995) Pusdiklat Bea dan Cukai. World Customs Organization.Untuk nilai keseluruhan maka dibagi rata-rata dari (A+B) dan C Arti tingkat penguasaan : * 90 % . Harmonized System. Daftar Kepustakaan a. Pengantar Klasifikasi Barang. 2007 version b. Jakarta c. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (2007). Hasilnya Baik ! akan tetapi. Departemen Keuangan RI. Word Customs Organization. Anda harus mengulangi membaca Modul kembali.89 % = Baik * 70 % .79 % = Cukup * 69 % = Kurang Kalau Anda mencapai tingkat penguasaan 80% keatas Anda dapat meneruskan kepada modul atau bagian pelajaran lain. Explanatory Notes. bila tingkat penguasaan Anda masih dibawah 80 %. terutama bagian yang belum Anda kuasai 8. 2007 d. Jakarta *** MODUL II SISTEM KLASIFIKASI BARANG MENURUT HARMONIZED SYSTEM .

MATERI KLASIFIKASI BARANG OLEH : TIM PENYUSUN MODUL PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN BEA DAN CUKAI BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA JAKARTA 2007 Kata Pengantar Puji syukur kehadirat Allah yang Maha Kuasa. Dalam rangka penentapan tarif bea masuk dan kepentingan kepabeanan lainnya. seyogyanya petugas Ditjen Bea dan . Obyek dari kegiatan Direktorat Bea dan Cukai adalah barang. bahwa Modul ini dapat diselesaikan sesuai waktunya.

Cukai menambah keterampilam dalam mengklasifikasi barang agar pelayanan cepat dan negara tidak dirugikan dalam menetapkan besarnya bea masuk. Semoga Modul ini bermanfaat sebagai penambah wawasan dan media untuk penambah keterampilan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang. Nopember 2007 Penulis . karena ada kepastian tentang jenis barang dan penetapan tarif posnya. Modul ini merupakan seri dari 3 buah modul mata pelajaran klasifikasi barang. Penulis menghaturkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga dapat diselesaikannya Modul ini. Modul ke 2 dengan judul Teknik Klasifikasi Barang digunakan dalam Diklat Teksnis Substantif Spesialis Kepabeanan dan Cukai Dalam kesempatan ini. Jakarta. Semoga Allah membalas atas amal kebaikan tersebut.

.......................... Latihan 1......................................................................................................................................... 2......................1 Uraian.....................1 Uraian.... 1...................................................................................1 Uraian................................ 3........ i ii 1 1 1 1 2 2 13 14 1 2 3 15 15 16 17 18 18 23 24 24 27 28 29 4 5 6 7 8 ............................................... 2....................................................................... Daftar Pustaka....................... Latihan 3...............2.................................. KEGIATAN BELAJAR 1 KETENTUAN UMUM UNTUKMENGINTERPRETASI HS...... 3.................................................... KEGIATAN BELAJAR 2 TAHAPAN MENGKLASIFIKASI BARANG.......... 4. 3................................................1..................................... 4.......................... 1..............Deskripsi singkat................ 1................................2................................................................... Umpan Balik................ Rangkuman..................3....... KEGIATAN BELAJAR 3 NOTA PENELITIAN KLASIFIKASI BARANG 4........................... Contoh dan Non contoh................ Rangkuman..............................3............................................. Test Formatif .... Tujuan Pembelajaran Umum........ Rangkuman................. Latihan 2......................... Daftar Isi ..........3.............2........ Contoh dan Non contoh.......................2.......................... PENDAHULUAN ...... 2. Kunci Jawaban ..................................................................................... Tujuan Pembelajaran Khusus..................DAFTAR ISI Halaman Kata Pengantar ...........3............................................... Contoh dan Non contoh...............

1. .3.1. Deskripsi Singkat Seorang klasifikator dibidang kepabeanan harus dapat mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang dengan terampil. seorang klasifikator harus terlebih dahulu memahami pengetahuan barang dan pengetahuan mengenai klasifikasi barang. Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System 2. tahapan dalam mengklasifikasi barang dan membuat nota penelitian klasifikasi barang berdasarkan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. Nota Penelitian Klasifikasi Barang. para Siswa diharapkan mampu menerapkan ketentuan umum untuk menginterpretasi Harmonized System. 1. 3. Tahapan dalam mengklasifikasi Barang. Tujuan Instruksional Umum Setelah mempelajari modul ini.2.MODUL II TEKNIK KLASIFIKASI BARANG I. Tujuan Instruksional Khusus Setelah mempelajari Modul ini diharapkan para Siswa mampu menjelaskan : 1. Oleh karena itu. PENDAHULUAN 1. Seorang klasifikator harus memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang karena akan menentukan ketepatan pengisian Pemberitahuan Impor Barang yang pada akhirnya menentukan ketepatan jumlah bea masuk dan pungutan impor lainnya yang harus dibayar.

Setiap kali melakukan kegiatan klasifikasi barang. Bab dan Sub-bab hanya dimaksudkan untuk memudahkan referensi saja. Contohnya. Uraian pos dan catatan-catatan tersebut Apabila pos dan catatan-catatan tersebut tidak menentukan lain. sadar atau tidak. merupakan pertimbangan utama. Mengingat begitu kompleksnya teknik klasifikasi barang. asalkan pos atau Catatan tersebut tidak menentukan lain : Penjelasan: HS adalah nomenklatur yang bersifat sistematik. 1. tidak mempunyai kekuatan hukum. Untuk itu. pelajari satu-persatu enam butir KUM HS tersebut. KEGIATAN 1 KETENTUAN UMUM UNTUK MENGINTERPRETASI HARMONIZED SYSTEM 2. Namun mengingat banyaknya jenis barang. dalam hal KUM HS 1 tidak bisa digunakan barulah digunakan KUM . dan catatan sub-pos. Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 1 Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System (KUM HS) merupakan pintu gerbang untuk memasuki klasifikasi barang. marilah kita KUM HS 1 : Judul Bagian. untuk tujuan hukum. sutera adalah produk hewani. tidak mungkin semua jenis barang dapat dicakup dengan persis pada setiap bab. Contoh dan Non Contoh 2.1. Karena itu perlu diingat agar selalu mempertimbangkan semua bab atau pos yang mungkin mencakup suatu barang. catatan bagian. Uraian pada bab hanya untuk referensi saja. tetapi diklasifikasikan khusus pada bab 50.2. tetapi karena sifatnya yang khusus dalam HS tidak diklasifikasikan pada bab 5 (produk hewani tidak dirinci atau termasuk dalam pos lainnya). Uraian. KUM HS mutlak diperlukan sebagai pedoman dasar yang tidak boleh ditinggalkan. Yang mempunyai kekuatan hukum adalah pos (heading). klasifikasi harus ditentukan menurut uraian yang terdapat dalam pos dan berbagai Catatan Bagian atau Bab yang berkaitan serta menurut ketentuan-ketentuan berikut ini. salah satu ketentuan dalam KUM HS harus dipergunakan.1. catatan bab.

dan 5.jenis keledai . Spesifikasi keledai : . . Contohnya. 3.HS 2. Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 2a dan 2 b KUM HS 2 a : Setiap referensi untuk suatu barang dalam suatu pos harus dianggap meliputi juga referensi barang tersebut dalam keadaan tidak lengkap atau belum rampung. asalkan pada saat diajukan.1. 2.umur 2 tahun . Bagaimana pengklasifikasiannya bila keledai tersebut diimpor oleh grup sirkus dari jerman ? 2.02 hanya untuk produk tertentu. Referensi ini harus dianggap juga meliputi refensi untuk barang tersebut dalam keadaan lengkap atau rampung (atau yang berdasarkan ketentuan ini dapat digolongkan sebagai lengkap atau rampung) yang diajukan dalam keadaan belum dirakit atau terbongkar. catatan 2 Bab 31 menjelaskan pos 31. 4.dapat mendemontrasikan beberapa permainan dalam pertunjukan sirkus Pengklasifikasian apakah pada bab 1 atau bab 95 Perhatikan gambar keledai yang biasa digunakan untuk sirkus. Batasan ini tidak boleh diperluas dengan menggunakan KUM HS 2(b). barang yang tidak lengkap atau belum rampung tersebut memiliki karakter utama dari barang itu dalam keadaan lengkap atau rampung..

Spesifikasi : Sepeda merk :”Bamby” . asalkan pada saat diimpor sudah mempunyai sifat utama sebagai barang lengkap atau rampung Sebagai contoh beberapa set sepeda yang diimpor dalam keadaan terurai.memiliki laher dalam as ban -bisa dikendarai oleh orang tua maupun anakanak : Perhatikan gambar sepeda diatas. harus dianggap juga meliputi referensi untuk campuran atau kombinasi dari bahan atau zat itu dengan bahan atau zat lain.Ada alat perubah kecepatan .Penjelasan: Barang tidak lengkap atau tidak rampung dianggap sebagai barang lengkap atau rampung. Penjelasan: . Setiap referensi untuk barang dari bahan atau zat tertentu harus dianggap juga meliputi referensi untuk barang yang sebagian atau seluruhnya terdiri dari bahan atau zat tersebut.b) tidak ada sadelnya c) dalam keadaan terurai KUM HS 2 b : Setiap referensi untuk suatu bahan atau zat dalam pos. dan tiap setnya tidak ada sadel dan ban dalamnya. Barang yang terdiri lebih dari satu jenis bahan atau zat harus diklasifikasikan sesuai prinsip dari Ketentuan 3. Namun tetap dianggap set sepeda karena sifat utamanya sebagai sepeda telah dimiliki. Bagaimana pengklasifikasiannya bila sepeda tersebut : a) tidak dicat .

.Terbuat dari gabus . KUM HS 2(b) tidak dapat digunakan (harus digunakan KUM HS 3). maka pengklasifikasiannya tetap sebagai susu.03 (-lard oil. maka KUM HS 2(b) tidak berlaku.. ketentuan ini hanya berlaku apabila pos atau catatan bagian atau catatan bab tidak menentukan lain. Apabila tambahan atau campuran bahan atau zat menghilangkan sifat barang seperti diuraikan pada pos..Campuran atau kombinasi dua atau lebih bahan atau zat diklasifikasikan berdasarkan KUM HS 1. Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 3a...bagian luarnya dilapisi plastik. Mengapa demikian ? karena sifat sebagai susunya tidak berubah. maka klasifikasiannya harus diberlakukan sebagai berikut : .1.). Ingat. bagaimana bila sumbat botol bagian atas dilapis plastik ? 2. Bagaimana pengklasifikasian tutup botol tersebut. barang yang dengan pertimbangan awal dapat diklasifikasikan dalam dua pos atau lebih.3. b dan c KUM HS 3 : Apabila dengan menerapkan Ketentuan 2 (b) atau untuk berbgaia alasan lain. Sebagai contoh suatu susu yang telah ditambah sedikit vitamin. Contoh. pos 15. Spesifikasi tutup botol : .tidak diemulsi atau dicampur. apakah pada bab 45 atau bab 39 Perhatikan sumbat botol diatas. karena uraian posnya sudah menyebutkan bahwa produk dalam pos tersebut tidak dicampur.

catatan 4(b) bab 97 menentukan bahwa barang yang dirinci pada pos 97. bukan pada pos 85.06.10. baru kemudian KUM HS 3(c).08.03. apabila dua pos atau lebih yang masing-masing pos hanya merujuk kepada bagian dari bahan atau zat yang terkandung dalam barang campuran atau barang komposisi. atau catatan bab tidak menentukan lain. Pos yang menyebutkan barang yang disebutkan secara rinci lebih diutamakan dari pos yang menyebutkan bagian suatu barang. Contoh. harus lebih diutamakan dari pos yang memberikan uraian yang lebih umum. Pos yang menyebutkan nama barang lebih diutamakan dari pos yang menyebutkan kelompok barang. KUM HS 3 a : Pos yang memberikan uraian yang paling spesifik. maka pospos tersebut harus dianggap setara sepanjang berkaitan dengan barang tersebut. Dalam hal ini KUM HS 3(c) tidak berlaku. Contoh.05 dan juga dirinci pada pos 97. walaupun salah satu dari pos tersebut memberikan uraian yang lebih lengkap atau lebih tepat.09 (self-contained motor). namun pos 8421 uraian barangnya lebih rinci. bukan pada pos 87. KUM HS 3(b). tufted textile for motor cars diklasifikasikan pada pos 57. Penggunaan KUM HS 3 harus urut dari KUM HS 3(a).Penjelasan: KUM HS 3 hanya dipergunakan bila KUM HS 2 tidak bisa dipergunakan. Contoh shavers/hair clippers diklasifikasikan pada pos 85. Apabila dua atau lebih pos menguraikan hanya bagian dari bahan atau zat yang terkandung dalam suatu barang campuran atau komposit.atau hanya merujuk kepada bagian dari bahan atau zat terkandung dalam campuran atau barang komposisi atau hanya merujuk kepada bagian dari barang dalam set yang disiapkan untuk penjualan eceran. harus diklasifikasikan pada pos terdahulu awal (berarti bertentangan dengan KUM HS 3c ). atau bagian dari item dalam .01 sampai dengan 97. catatan bagian. Namun demikian. Penjelasan: Pos dengan uraian lebih spesifik lebih diutamakan dari pos dengan uraian yang lebih umum. Sekali lagi diingatkan. Saringan oli walau sebagai bagian dari mesin pada pos 8409. KUM HS 3 baru dipergunakan apabila uraian pos.

mutually complementary. meskipun salah satu pos lebih rinci dari pos lainnya. dan bila KUM HS 3(a) tidak bisa digunakan. dan bahan utama yang berkaitan dengan penggunaan barang.03).10). Beberapa produk/barang bersama-sama untuk keperluan/kegiatan tertentu. ready-to-eatmeal). Contoh.13). serta barang yang disiapkan dalam set untuk penjualan eceran. rak bumbu dengan beberapa botol tempat bumbu kosong. Contoh set: hairdressing set yang terdiri dari electric hair clipper (85.02).02) diklasifikasikan pada pos 85.10 (berdasarkan komponen yang memberikan . KUM HS 3(b) berlaku juga untuk komponen yang terpisah.15). dan bersama-sama membentuk barang jadi yang secara normal tidak diperdagangkan terpisah. dan handuk dari tekstil (63. KUM HS 3 b : Barang campuran dan barang komposisi yang terdiri dari bahan yang berbeda atau yang dibuat dari komponen yang berbeda. barang komposit yang terdiri dari bahan yang berbeda. yang tidak dapat diklasifikasikan berdasarkan referensi 3 (a). sepanjang kriteria ini dapat diterapkan. Yang dimaksud dengan barang dikemas dalam bentuk set untuk penjualan eceran yaitu: • • • Paling sedikit dua produk yang berbeda pos (sembilan sendok bukan set). sikat (96. berat atau nilai.satu set barang untuk penjualan eceran. dikemas dalam tas kulit (42. barang komposit yang terdiri dari komponen yang berbeda. gunting (82. Penjelasan: KUM HS 3(b) hanya berlaku untuk campuran. dan barang yang dikemas dalam bentuk set untuk penjualan eceran. kemasan. harus diklasifikasikan berdasarkan bahan atau komponen yang memberikan karakter utama barang tersebut. asalkan satu sama lain adapted to the other. maka KUM HS 3(a) tidak berlaku dan digunakan KUM HS 3(b) atau 3(c). sisir (96. jumlah. Yang dimaksud dengan karakter utama (Essential character) pada KUM HS ini mengacu pada bahan atau komponen. Bisa langsung dijual tanpa perlu dibungkus/dikemas kembali (contoh.

yaitu pos Spesifikasi barang : . bumbudan bahan lainnya. bumbu. saus. Bagaimana Saudara mengklasifikasi bila dalam keadaan mentah atau dalam bungkusan ? KUM HS 3 c: Apabila barang tidak dapat diklasifikasikan berdasarkan referensi 3 (a) atau 3(b).sifat utama).merk :”Mi Enak” . Penjelasan: Bila KUM HS 3(a) dan 3(b) tidak dapat digunakan. dalam proporsi tertentu untuk keperluan industri (contoh.mengandung . Spesifikasi Mie :Instan : . Tahukah Saudara ketika belum dimasak yang bungkusannya terdiri dari : mie.06.Van belt merk : :”Ando” . kecap. Contohnya. maka barang tersebut harus diklasifikasikan dalam pos tarif terakhir berdasarkan urutan penomorannya di antara pos tarif yang mempunyai pertimbangan yang setara.Supermi instan bungkus . barang diklasifikasikan pada pos terakhir.Mengandung mie. saus. namun karena menurut KUM HS 3c. maka bingkai tersebut harus diklasifikasikan pada pos terakhir. suatu bingkai berbentuk bujur sangkar yang 2 sisi terbuat dari kayu dan dua sisi lainnya terbuat dari logam. bawang dan cabe Perhatikan mie instan yang sudah mask diatas. minuman). Bingkai ini ditinjau dari bahan baku memiliki bahan yang sama dan seimbang antara pos 44.14 dan pos 83. KUM HS 3(b) tidak berlaku untuk barang yang terdiri dari beberapa bagian yang dikemas terpisah (baik kemasan yang biasa digunakan maupun tidak).

Berdasarkan KUM HS 4. d) Persamaan dapat tergantung dari beberapa faktor seperti nama.06. 4.4. Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 4 KUM HS 4: Barang yang tidak dapat diklasifikasikan berdasarkan referensi diatas. barang yang akan diklasifikasikan harus diperbandingkan dengan uraian barang dalam beberapa pos HS yang memiliki kesamaan jenis atau karakternya. Perhatikan vanbelt ini. dan seterusnya. diklasifikasikan ke dalam pos yang sesuai untuk barang yang paling menyerupai. . bagaimana pengklasifikasiannya bila terbuat dari bahan plastik dan karet yang sama tebalnya ? 2.83. tujuannya). sifat. sifatnya. harus Penjelasan: a) KUM HS 4 baru digunakan apabila KUM HS 1 sampai dengan KUM HS 3 tidak dapat digunakan.1. karena tidak ada uraian yang sesuai (misalnya yang baru muncul di pasaran dunia). klasifikasi berdasarkan barang yang sifatnya paling sesuai (misalnya uraian barangnya. c) Pada waktu menerapkan ketentuan No. penggunaan. Ketentuan ini menetapkan bahwa barang-barang tersebut harus digolongkan kedalam pos atas barang yang memiliki persamaan terbanyak. Hal tersebut dilakukan untuk meneliti pada pos mana yang memiliki unsur kesamaan terbanyak. b) Ketentuan ini mengenai barang-barang yang tidak dapat diklasifikasikan ke dalam salah satu pos dalam HS.

data teknis.1. biasa dijual bersama dengan barangnya. tas instrumen musik. Ketentuan berikut ini harus diberlakukan terhadap barang tersebut di bawah ini : Tas kamera. dan sebagainya. sangat disarankan untuk mencari lebih dulu informasi tentang barang dimaksud dari berbagai sumber yang ada.Perlu diingatkan. . cocok untuk penggunaan jangka panjang dan diajukan bersama barangnya. Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 5 KUM HS 5 : Sebagai tambahan dari aturan di atas. 5. tas instrumen gambar. tempat alat musik. tidak memberikan sifat utama. Contoh: tempat perhiasan. dimasukkan bersama barangnya (bila dimasukkan terpisah diklasifikasikan pada pos tersendiri). ketentuan ini tidak berlaku untuk kemasan yang memberikan seluruh karakter utamanya. digunakan untuk jangka waktu lama. sebelum memutuskan menggunakan KUM HS 4. KUM HS 4 baru digunakan apabila benar-benar tidak ada lagi data atau informasi yang dapat diperoleh untuk mengidentifikasi barang dimaksud. internet. dan tempat semacam itu yang: • • • • • khusus dibuat untuk barang tertentu. apabila kemasan tersebut memang biasa dijual dengan barang tersebut. Untuk itu. 2. koper senapan. seperti literatur. kotak kalung dan kemasan semacam itu. harus diklasifikasikan menurut barangnya. Penjelasan: KUM HS 5(a) berlaku untuk Peti (cases). Namun demikian. tempat teleskop. tempat senjata. dibentuk secara khusus atau pas untuk menyimpan barang atau perangkat barang tertentu. dan sebagainya. kotak (boxes).

pembungkus/tempat simpan diklasifikasikan dengan barangnya bila biasa dipakai untuk barang tersebut. sedangkan pengemasnya diklasifikasikan pada pos tarif tabung gas. contohnya gas yang diimpor bersama pengemasnya (tabung gas di bawah tekanan). Ketentuan ini tidak berlaku untuk tempat simpan yang nilainya jauh lebih tinggi dari barang yang disimpan di dalamnya. Penjelasan: Mengacu pada KUM HS 5(a).Spesifikasi barang : . bahan pembungkus dan kemasan pembungkus yang diajukan bersama dengan barangnya harus diklasifikasikan menurut barangnya. apabila bahan atau kemasan pembungkus tersebut memang biasa untuk membungkus barang tersebut.gitar dengan kemasannya . Namun demikian ketentuan ini tidak mengikat apabila bahan atau kemasan pembungkus tersebut secara nyata cocok untuk dipakai berulangulang. Bagaimana Saudara mengklasifikasiguitar beserta kemasan diatas ? KUM HS 5 b : Berdasarkan aturan dari ketentuan nomor 5 (a) di atas. maka gasnya diklasifikasikan pada pos tarif gas. Ketentuan ini tidak berlaku untuk pembungkus/tempat simpan yang digunakan berulang-ulang (repetitive use). tempat teh dari perak dan tempat permen dari porselin berdekorasi China .merk :”Refly” . Tempat semacam itu harus diklasifikasikan tersendiri Sebagai contoh.Terbuat dari karet yang dilapisi tekstil tebal Perhatikan gambar guitar dan kemasannya diatas.

merk :”Reflon” . Penjelasan: KUM HS 1 sampai dengan KUM HS 5 berlaku mutatis mutandis (secara langsung) untuk subsub pos pada satu pos yang sama (perbandingan pada takik yang sama).2.tabung gas berisi gas . catatan bab. 2. KUM HS 6 berlaku sepanjang konteksnya tidak menentukan lain. serta ketentuan ini di atas dengan penyesuaian seperlunya. dengan pengertian bahwa hanya subpos yang setara yang dapat diperbandingkan. Latihan . untuk keperluan ketentuan ini diberlakukan juga catatan Bagian dan catatan Bab. Artinya.Spesifikasi barang : .1. 6. Kecuali apabila konteksnya menentukan lain.11 dan 7110.Terbuat baja tahan karat Bagaimana pengklasifikasian suatu gas beserta tabungnya yang dapat diisi ulang ? Tabung gas LPG dengan isinya LPG pada pos berapa dalam Harmonized System ? 2. catatan bagian. Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 6 KUM HS 6 : Untuk tujuan hukum klasifikasi barang dalam sub pos dari suatu pos harus ditentukan berdasarkan uraian dari subpos tersebut dan catatan subpos bersangkutan. atau catatan subpos harus tetap menjadi pertimbangan utama. Contohnya. Platinum pada catatan 4(b) Bab 71 tidak sama dengan Platinum pada catatan subpos 2 (khusus untuk sub-pos 7110.19).

Pertanyaan 1. Dalam mengklasifikasi barang gantungan kunci yang terdiri dari ring baja, rantai baja dan hiasan dari plastik, harus menggunakan KUM HS nomor berapa ? 1.

Jawaban

2. Sebutkan contoh barang yang dalam mengklasifikasinya menerapkan KUM HS nomor 3a (selain yang telah disebutkan

2.

contoh diatas)

3. Bagaimana menurut pendapat Saudara mengenai penggunaan KUM HS nomor 4 dalam prakteknya ?

3.

2.3. Rangkuman

Dalam mengklasifikasi barang dalam BTBMI diperlukan suatu pedoman. Pedoman tersebut adalah Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System (KUM HS) merupakan ketentuan untuk memasuki klasifikasi barang. Saat ini KUM HS hanya terdiri dari nomor 1 sampai dengan nomor 6. Dahulu sampai dengan 10, nomor 7 sampai 10 dihilangkan dan beberapa diantaranya menjadi surat keputusan Dirjen Bea dan Cukai

3. KEGIATAN BELAJAR 2 TAHAPAN MENGKLASIFIKASI BARANG

3.1. Uraian, Contoh dan Non Contoh

Secara lebih rinci, langkah-langkah berikut ini dapat digunakan untuk mengklasifikasi barang:

1. Kita identifikasi dulu barang yang akan kita klasifikasi.

Dengan mengetahui

spesifikasi barang, misalnya barang tersebut produk pertanian, barang kimia, atau mesin, kita bisa memilih bab-bab yang lebih spesifik.

2. Pilih bab atau bab-bab yang berkaitan dengan spesifikasi barang tersebut. Bila sudah kita tentukan, baca dan perhatikan baik-baik catatan Bagian dan catatan Bab yang berkaitan dengan pilihan bab atau bab-bab pada butir 1.

3. Perhatikan penjelasan-penjelasan dalam catatan Bagian maupun catatan Bab yang berkaitan dengan barang yang akan kita klasifikasi. Apabila ada catatan yang

mengeluarkan barang tersebut dari Bab atau Bagian yang kita pilih, perhatikan pada Bagian, Bab, atau pos mana barang tersebut diklasifikasikan.

4. Baca dan cermati catatan Bagian atau Bab (atau catatan Sub-pos dalam hal tertentu) yang ditunjuk oleh penjelasan pada butir 3. Kita ulangi proses pengklasifikasian pada butir 3. Pada tahap ini, biasanya kita sudah mempunyai gambaran umum apakah barang tersebut diklasifikasikan di bab tersebut atau di bab lainnya.

5. Setelah menemukan satu bab yang paling sesuai berdasarkan kajian di atas, maka kita mulai menelusuri pos-pos yang mungkin mencakup barang yang akan kita klasifikasikan dalam bab tersebut. Pada tahap ini kadang-kadang kita sudah dapat menemukan pos yang mencakup barang tersebut dengan rinci. Bila sudah kita

temukan satu pos yang tepat, maka langkah selanjutnya tinggal menentukan sub-pos (6-digit) dan pos tarif (9-digit) yang sesuai. Ingat, dalam penentuan sub-pos dan pos tarif pun kadang timbul permasalahan klasifikasi yang sama dengan penentuan pos

(4-digit). Sampai tahap ini sebenarnya kita sedang menggunakan KUM HS 1.

6. Apabila sepintas lalu ada beberapa pos yang sesuai dengan spesifikasi barang, kita mulai menggunakan KUM HS 2. Ingat, kita baru dapat menggunakan KUM HS 2 apabila KUM HS 1 benar-benasr tidak dapat digunakan. Cara untuk meyakinkan bahwa KUM HS 1 gugur adalah dengan berusaha membuktikan bahwa hanya ada satu pos yang sesuai untuk barang tersebut. Dalam hal KUM HS 1 tidak bisa diterapkan karena informasi atau data spesifikasi barang kurang lengkap, maka yang harus dikerjakan adalah mencari informasi atau data tersebut lebih dulu. Jangan terburu-buru menggunakan KUM HS 2 sebelum kita benar-benar yakin KUM HS 1 tidak dapat digunakan.

7. Dalam hal menggunakan KUM HS 3 (b), perlu diperhatikan bahwa yang dimaksud dengan sifat utama (essential character) meliputi berbagai aspek. Beberapa aspek yang dapat digunakan sebagai dasar penentuan sifat utama adalah fungsi/kegunaan, nilai (value), dan bentuk fisik (appearance). Usahakan paling tidak selalu

mempertimbangkan ketiga aspek tersebut sebelum menentukan sifat utama suatu barang campuran.

8. Dalam membandingkan pos-pos, sub-sub pos, atau pos-pos tarif, harus selalu diingat bahwa yang dibandingkan adalah pos-pos , sub-sub pos, atau pos-pos tarif yang setara (perhatikan takiknya). Ingat, dalam mengklasifikasi, perbandingan

dimaksud tidak berdasarkan pembebanan impornya!.

9. Apabila sudah dipilih satu pos tarif yang benar-benar sesuai dengan uraian barang, langkah selanjutnya adalah melihat pembebanannya (BM, PPN, PPnBM, atau cukai) dan ada atau tidak peraturan tata niaganya (IT, IP, Pertamina, dan lain-lain.). Karena pembebanan tersebut sering berubah, jangan lupa selalu menggunakan pembebanan yang up to date berdasarkan ketentuan yang terbaru.

3.2. Latihan

Pengamatan uraian barang dalam BTBMI dengan melihat bagaian.Pertanyaan 1. Pada prinsipnya meliputi identifikasi barang. kemudian melihat uraian barang dalam BTBMI sesuai dengan yang akan diklasifikasi. . bab dan catatan yang berkaitan dengan barang yang akan diklasifikasi. Rangkuman Dalam proses mengklasifikasi barang diperlukan tahapan yang sesuai. Bagaimana tahapan dalam mengklasifikasi barang agar menghasilkan pos tarif yang akurat ? 2.3. agar menghasilkan keputusan yang tepat sesuai aturan yang benar. diperlukan data mengenai barangnya ? Sebutkan contoh kasus ! 1. Jawaban 2. 3. Berdasarkan pertimbangan tersebut baru ditentukan pos tarif yang tepat. mendeskripsikan jenis barang. Mengapa dalam mengklsifikasi barang harus memperhatiakan bagian dan bab serta catatan bagian dan catatan babnya yang terkait dengan barang tersebut ? 3. 3. Mengapa sebelum mengklasifikasi barang.

2. . Dalam mekanisme ini tidak jarang timbul perbedaan pendapat mengenai klasifikasi barang antara importir/PPJK dan aparat DJBC. Sebagaimana selama ini telah berjalan. dalam rangka pengimporan importir/PPJK memberitahukan sendiri jenis barang.1. Kerangka nota penelitian klasifikasi barang sebenarnya tidak baku. setidaknya ada dua fihak yang berkepentingan yaitu aparat DJBC dan importir/PPJK. Nota Penelitian Klasifikasi Barang Pada bagian akhir diktat ini disajikan juga contoh soal klasifikasi barang menggunakan nota penelitian klasifikasi barang. Uraian Contoh dan Non Contoh 4. Dalam mempertahankan pendapatnya. KEGIATAN BELAJAR 3 NOTA PENELITIAN KLASIFIKASI BARANG 4. Soal tersebut dapat dijawab dengan menggunakan contoh nota penelitian di bawah ini: Contoh 1. Namun dalam diktat ini pembuatan nota penelitian klasifikasi barang tersebut diarahkan untuk mengikuti ketentuan-ketentuan dasar mengklasifikasi barang sesuai HS/BTBMI.4. dan pembebanan impornya. Pengantar Berkaitan dengan klasifikasi barang. bisa singkat atau memerlukan uraian yang cukup panjang tergantung pada permasalahan yang dihadapi. Dalam diktat ini disajikan cara membuat uraian rinci klasifikasi barang Untuk memudahkan.1.1. 4. Selanjutnya DJBC akan meneliti dan menetapkan klasifikasi barang tersebut. aparat DJBC diharuskan membuat uraian rinci yang menjelaskan dasar klasifikasi barang dimaksud.1. tersebut. uraian rinci klasifikasi barang dimaksud kita sebut saja Nota Penelitian Klasifikasi Barang. klasifikasi.

BTBMI. dan informasi atau referensi lainnya • • • Tentukan satu pos yang paling sesuai Tentukan sub-pos yang paling sesuai Tentukan pos tarif yang paling sesuai . 6 digit dan 9 digit 5) Kesimpulan Contoh 2.Bagian.1) Nama barang/uraian jenis barang 2) . 4 digit. (Contoh ini umumnya diterapkan pada penelitian klasifikasi di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai): Nama Barang/Uraian Jenis Barang Spesifikasi Barang (Komposisi.Explanatory Notes atau referensi lainnya 4) Uraian klasifikasi barang . alasan/catatan Bag/Bab /Sub-pos yang terkait 3) . kegunaan. Bab. Explanatory Notes.bentuk. dll. kapasitas. Bab dan Sub pos • Uraian pos. kemasan.) Pos (pos-pos) Yang Mungkin (Bisa satu atau lebih kemungkinan pos tarif) Dasar Klasifikasi Catatan : Bagian.tuliskan mulai dari 2 digit.

Kesimpulan Klasifikasi Barang Barang dimaksud dimaksud diklasifikasikan pada tarif xxxx.Pos 3004..Subpos 3004.PPN … % PPh %.00 Lain-lain Kesimpulan : Norit diklasifikasikan pada pos tarif 3004.90.Bab 38 catatan 1 (d) tidak meliputi barang untuk obat …masuk Bab 30 Uraian klasifikasi : .Pos tarif 3004. 2.xxx BM x% PPN x%.99.00 % . Menurut catatan 1 (d) Bab 44 tidak meliputi arang aktif masuk pos 3802 . .1. 4.3.Bab 30. Obat dalam dosis tertentu.. Nama dan Jenis barang : Norit mengandung arang aktif dari arang kayu dalam bentuk tablet 5 gram dipergunakan untuk mengatasi keracunan atau perut kembung.xx.. Praktek Pembuatan Nota Penelitian Klasifikasi Barang: 1. BM ….90 Lain-lain .90 Lain-lain . Bahan tersebut telah terdaftar dalam Farmakope Indonesia Alasan Klasifikasi : Arang kayu masuk Bab 44. Nama dan Jenis barang : Shampo merk : KAO dalam tube 100 ml mengandung obat anti ketombe dan anti .90.Subpos 3004.99.Produk farmasi .90.

sosis .Olahan dari daging ....00 BM ….Makanan olahan masuk Bagian IV . % .PPN … % PPh %.10 shampo .00.shampo Kesimpulan : Shampo mengandung obat anti kerontokan diklasifikasikan pada pos tarif 3305.Pos tarif 3305.Pos 3305 preparat digunakan pada rambut.jamur atau kerontokan rambut Alasan Klasifikasi : ..PPN … % P 3. Nama dan Jenis barang : Sosis daging sapi yang dimasak Alasan Klasifikasi : .diolah selain dari bab 2 dan 3 masuk Bab 16…” .kosmetika… .Subpos 1601.Bab 33. . shampo Pos 3305.Bila mengandung obat Bab 30 Lihat Bab 30 catatan 1(d) :Bab ini tidak meliputi pos 3303-3307 walau mengandung obat Uraian klasifikasi : . lihat cat 1 “.Lihat Bab 16 catatan 2 “Bab 16 meliputi olahan makanan mengandung daging lebih dari 20 % Uraian klasifikasi : ..90.00.00..Pos 1601 .12.sosis . % .90.Pos tarif 1601.00…mengandung daging sapi Kesimpulan : Sosis daging sapi tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 1601.10..Shampo termasuk kosmetik Bab 33.00 BM ….10.12.Subpos 3305. . .00.Olahan dari ikan masuk Bab 16.. .Bab 16 .10.

Nama dan Jenis barang : Kawat pilinan dari baja terdiri dari 5 buah yang dipilin tidak diisolasi ukuran diameter 2.50.10..50 alkid (poliester) dari poliester .Lihat catatan 4 bab 32 . bahan pelarut yang mudah manguap 28 % dan bahan lainnya 13 % Alasan Klasifikasi : .. .polimer .Bahan cat termasuk produk kimia bagian VI.. pos 3208 meliputi bahan yang mengandung bahan pelarut mudah menguap lebih dari 50 % .Barang dari logam tidak mulia masuk Bagian XV.Subpos 3907.. Nama dan Jenis barang : Bahan untuk membuat cat besi mengandung bahan alkyd resin (poliester resin) 55 %.10.barang dari baja .Pos tarif 7312.Barang dari logam tidak mulia masuk Bab 73.Pos tarif 3907..90.00 cair Kesimpulan : Bahan cat tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 3907.00 BM ….10..Pos 3907 poliester (alkid resin) .Bab 39.Bab 73.50.10.pelarut kurang dr 50 % ke pos 3907. 5.PPN … % PPh %..Mobil derek masuk bab 87 . Uraian klasifikasi : . (walau bagian untuk mobil derek) Uraian klasifikasi : ..4. cat masuk bab 32 . % ..Subpos 7312.00 ukuran 25 mm .kawat .Pos 7312 .5 cm digunakan untuk penarik mobil derek Alasan Klasifikasi : .Lihat Bagian XV catatan 2 “kawat dipilin masuk bagian untuk pemakaian umum pos 7312 …. kawat dipilin .Lihat Bagian XVII catatan 2(B) bagian untuk pemakaian umum tidak boleh masuk Bab 87 ..

30. 4.00 BM …. seyogyanya memuat hal-hal apa saja ? .90. Bagiannya masuk pos 8708.91..00 untuk bus mini Kesimpulan : Radiaotor tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 8708.90 bagian dan aksesori lainnya …. radiator . Sebutkab tahapan dalam membuat nota penelitian klasifikasi barang ? 1.PPN … % PPh %. .Pos tarif 8708. -Sub pos 8708. Jawaban 2. Uraian klasifikasi : -Bab 87 Kendaraan yang bergerak selain diatas rel … -Pos 8708 bagian untuk kendaraan bermotor.Sub pos 8708.10. Latihan Pertanyaan 1.% PPN …% PPh…. % .91. Nota penelitian klasifikasi barang 2.2. Kendaraan Bab 87 Radiator bagian dari kendaraan bermotor berjalan bukan di rel. 6.00 BM ….30.Kesimpulan : Kawat tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 7312.91. Nama dan Jenis barang : Bagian dari kendaraan bermotor berupa : Radiator untuk mobil bus mini untuk pengangkutan 15 orang dengan mesin diesel dalam keadaan CKD masa total 10 ton Alasan Klasifikasi : -Kendaraan yang bergerak selain diatas rel… masuk Bagian XVII.%.

4. alas an klasifikasi. Rangkuman Proses dalam mengklasifikasi barang harus seuai dengan aturan. Pada umumnya hsil penelitian dituangkan dalam suatu format yang berisikan komponen : nama dan jenis barang. hasil analisa laboratorium atau sumber informasi lainnya 5. ditambah informasi barang dari brosur. ( B . uraian klasifikasi dan kesimpulan. Dalam membuat nota penelitian klasifikasi barang ada yang sederhana dengan hanya menggunakan BTBMI. Bab dan Sub-bab pada Buku tarif Bea Masuk Indonesia hanya dimaksudkan untuk memudahkan penyebutan saja.3.1. ( B .S) Pernyataan 3a pada KUM HS adalah Pos yang memuat uraian yang paling terinci harus lebih diutamakan daripada pos yang memuat uraian . Mengapa dalam mengklasifikasi barang tidak hanya menyebutkan 9 digitnya atau kesimpulannya saja ? 3. Test Formatif 5. ( B . 1.3.S ) Judul Bagian. demikian juga hasil penelitian klasifikasi barang harus disajikan dalam bentuk format yang benar. namun dilapangan nama barang berdasarkan hasil pemeriksaan. asalkan pada saat diimpor sudah mempunyai sifat utama sebagai lengkap atau rampung barang 3. Lingkarilah huruf B apabila pernyataan ini Saudara anggap benar dan huruf S apabila pernyataan Saudara anggap salah.S ) Pernyataan 2b pada KUM HS adalah Barang tidak lengkap atau tidak rampung dianggap sebagai barang lengkap atau rampung. Tidak mengikat secara hukum dalam mengklasifikasi 2.

Namun demikian nota tersebut setidak-tidaknya memuat tentang : a. 2b b. Dengan mengetahui spesifikasi barang maka akan lebih mendekati keakuratan dalam mengklasifikasi barang 6. Larutan dengan kandungan asam cuka (acetic acid) lebih dari 10 % dikeluarkan dari bab 22 berdasarkan catatan : . ( B .2. sebaiknya kita identifikasi dulu barang yang akan kita klasifikasi. b dan c benar 2. 3a c. dengan bentuk atau kelengkapan khusus untuk menyimpan barang tertentu atau seperangkat barang tertentu.alasan atau catatan yang digunakan c. nama barang dan uraian jenis barang b. bumbu. Suatu kemasan mengandung mie.S ) Pernyataan 5b pada KUM HS adalah Peti kamera. ( B . 5a 3. saos dan bawang.S ) Sebelum mengklasifikasi barang. berdasarkan KUM HS nomor : a. Pililihlah jawaban yang Saudara anggap benar dengan cara melingkari huruf yang terdapat di depan jawaban tersebut 1.yang lebih umum sifatnya 4. pernyataan a. Uraian klasifikasi mulai 2 digit sampai dengan 9 digit d. peti instrumen dan tempat simpan yang semacam. harus diklasifikasikan dengan barang tersebut jika biasa dijual dengan barang itu 5. cocok untuk pemakaian jangka panjang dan diimpor lengkap dengan isinya. Dalam membuat Nota Penelitian Klasifikasi Barang maka diperlukan kerangka yang singkat atau memerlukan uraian yang cukup panjang tergantung pada permasalahan yang dihadapi. diklasifikasikan sebagai mie pada bab 19. 3b d.

3b b. ilustrasi d. 2a c. definitif b. namun diklasifikasikan pada bab 22 dikarenakan KUM HS nomor : a.a. Tentukan pos tarif dari barang tersebut dibawah ini 1. 5b 6. 1 b. Walalupun etil alkohol merupakan bahan kimia organik. 3c c. pengertian 4. Mengapa tutup kepala (topi) pengaman untuk pengendara sepeda motor yang terbuat dari bahan plastik tidak diklasifikasikan pada bab 39 ? 4.32 .3. Automatic voltage regulator yang digunakan sebagai stabilizer otomatis untuk komputer harus diklasifikasikan pada pos 85. esklusif c. 2b d. 3a 5. 3. 5a d.04 atau 90. Mengapa olahan makanan yang terbuat dari daging sapi yang dikukus tidak diklasifikasikan pada bab 2 2. Mengapa sabun mandi mengandung obat pembasmi kuman walaupun mengandung obat tidak diklasifikasikan pada bab 30 sebagai produk farmasi. Tabung gas LPG yang berisi gas LPG tidak dapat diklasifikasikan menjadi stu pos tarif karena ketentuan menurut KUM HS nomor : a. Sebutkan alasannya .

50. S 3. Kunci Jawaban 6. a 5. merupakan benang tunggal. B 2. d 2. B 6. dikukus dan pengolahan selain pada bab 2 diklasifikasikan pada bab 16. S 5.Ketentuan dan catatan apa yang digunakan dalam mengklasifikasi barang tersebut 6.2. seperti dipanggang. b 4. Benang tenun terbuat dari campuran 70 % kapas (cotton) dan 30 % nilon. Lihat catatan 1 bab 16.3. tidak dikelantang dan tidak dimerserisasi. Lihat catatan 1(e) Bab 30 . Pilihlah berganda 1. B 4. d 6. Daging sapi hasil olahan sesuai bab 2 (pengolahan sementara/terbatas) diklasifikasikan pada bab 2. Pilihan B atau S 1. Bentuk pengolahan bukan sederhana.5.000 2. Essay Diberitahukan hanya 6 digitnya (sub posnya) 1. Perhatikan pos tarif 1602. dari serat disisir dengan nomor benang 150 decitex. c 3.1.

3. Lihat catatan 1(n) Bab 39

4. Lihat catatan 2(A) Bagian XI

5. Lihat catatan 6(b) Bab 90 Perhatikan sub-pos 5206.24.

7. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT

Bandingkanlah hasil jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang ada di belakang modul ini. Hitunglah jumlah jawaban Anda yang benar atau sejauh mana Anda menguasai mata pelajaran tersebut. Kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap terhadap materi kegiatan belajar

Rumus Tingkat Penguasaan Jumlah Jawaban Anda yang benar dibagi 15 kemudian dikali 100 % = ............ Arti tingkat penguasaan : * 90 % - 100 % = Baik sekali * 80 % * 70 % * 89 % = Baik 79 % = Cukup 69 % = Kurang

Kalau Anda mencapai tingkat penguasaan 80% keatas Anda dapat meneruskan kepada modul atau bagian pelajaran lain. Hasilnya Baik ! akan tetapi, bila tingkat penguasaan Anda masih dibawah 80 %, Anda harus mengulangi membaca Modul kembali, terutama bagian yang belum Anda kuasai

8. Kepustakaan

1. Harmonized System, Word Customs Organization, 2007 version 2. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (2007). Departemen Keuangan RI, Jakarta 3. Explanatory Notes, World Customs Organization, 2007

4. Pengantar Klasifikasi Barang. (1995) Pusdiklat Bea dan Cukai. Jakarta 5. Classification Disputes Settled by The Harmonized System Committee. Customs Organization (1994) World

***

8. Kepustakaan

1. Harmonized System, Word Customs Organization, 2007 version 2. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (2007). Departemen Keuangan RI, Jakarta 3. Explanatory Notes, World Customs Organization, 2007 4. Pengantar Klasifikasi Barang. (1995) Pusdiklat Bea dan Cukai. Jakarta 5. Classification Disputes Settled by The Harmonized System Committee. Customs Organization (1994) World

***

MODUL III SISTEM KLASIFIKASI BARANG MENURUT HARMONIZED SYSTEM MATERI KLASIFIKASI BARANG OLEH : TIM PENYUSUN MODUL PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN BEA DAN CUKAI BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA JAKARTA 2007 .

Jakarta. Penulis menghaturkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga dapat diselesaikannya Modul ini.Kata Pengantar Puji syukur kehadirat Allah yang Maha Kuasa. Semoga Allah membalas atas amal kebaikan tersebut. Modul ini merupakan seri dari 3 buah modul mata pelajaran klasifikasi barang. bahwa Modul ini dapat diselesaikan sesuai waktunya. Semoga Modul ini bermanfaat sebagai penambah wawasan dan media untuk penambah keterampilan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang. Dalam rangka penentapan tarif bea masuk dan kepentingan kepabeanan lainnya. karena ada kepastian tentang jenis barang dan penetapan tarif posnya. Modul ini digunakan dalam Diklat Teksnis Substantif Dasar I Kepabeanan dan Cukai dengan judul “Catatan Penting dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia” Dalam kesempatan ini. Obyek dari kegiatan Direktorat Bea dan Cukai adalah barang. Nopember 2007 Penulis . seyogyanya petugas Ditjen Bea dan Cukai menambah keterampilam dalam mengklasifikasi barang agar pelayanan cepat dan negara tidak dirugikan dalam menetapkan besarnya bea masuk.

..............3...................... 4.......... KEGIATAN BELAJAR 1 JENIS CATATAN PADA BTBMI……………………………................................ 4..................2................................................. Contoh dan Non contoh............ 2..... Kunci Jawaban ............. Tujuan Pembelajaran Umum................................1 Uraian............................................. Daftar Isi ................. Tujuan Pembelajaran Khusus.....................DAFTAR ISI Halalaman Kata Pengantar ........... Latihan 3.......... 2............................................................................ Contoh dan Non contoh............. 1.........................................................2.... 1.............................................3. 3....... Latihan 1.................................................................. 4............... 4 KEGIATAN BELAJAR 3 CATATAN PENTING PADA BTBMI........................ 3......................................2.........3......... Umpan Balik...................1 Uraian. Rangkuman.....1 Uraian...2......................................................................................... Rangkuman..................................................................................................1................................................................................. Latihan 2......................................................... 1.............. Contoh dan Non contoh...................3.................... Test Formatif ........................................................Deskripsi singkat..................... Daftar Pustaka..................... i ii 1 1 1 1 2 2 5 5 6 6 22 23 24 24 32 32 33 36 37 38 2 3 5 6 7 8 ........................................ KEGIATAN BELAJAR 2 STRUKTUR PENGELOMPOKAN BARANG PADA BTBMI................ Rangkuman. 2.......................................... 1 PENDAHULUAN ............. 3.........................................

1. Jenis catatan pada BTBMI 2. PENDAHULUAN 1. 1. Oleh karena itu.2. seorang klasifikator harus terlebih dahulu memahami pengetahuan barang dan pengetahuan mengenai klasifikasi barang.3. Tujuan Instruksional Umum Setelah mempelajari modul ini. Tujuan Instruksional Khusus Setelah mempelajari Modul ini diharapkan para Siswa mampu menjelaskan : 1. Seorang klasifikator harus memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang karena akan menentukan ketepatan pengisian Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang pada akhirnya menentukan ketepatan jumlah bea masuk dan pungutan impor lainnya yang harus dibayar.MODUL III CATATAN PENTING DALAM BTBMI I. Deskrifsi Singkat Untuk menjadi menjadi seorang klasifikator dibidang kepabeanan yang handal harus dapat mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang dengan terampil. para Siswa diharapkan mampu menjelaskan pengelompokkan barang dan jenis catatan berdasarkan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. Struktur pengelompokkan barang 3. Catatan Penting dalam BTBMI 2. 1. KEGIATAN BELAJAR 1 .

Uraian.1. Catatan Eksklusif Catatan yang mengeluarkan barang tertentu dari suatu pos atau sub-pos dan memasukkannya dalam pos atau sub-pos tertentu lainnya. … … … … Preparat kontrasepsi kimia dengan bahan dasar hormon atau pembunuh sperma.1. HS mempunyai Catatan Bagian. Catatan-catatan tersebut dapat dibagi berdasarkan jenisnya. bahan jahit bedah steril yang semacam itu dan perekat kertas steril untuk penutup luka bedah. Catatan Bab. Catatan Definitif Catatan yang menjelaskan pengklasifikasian suatu barang pada pos atau sekumpulan pos tertentu.JENIS CATATAN PADA BTBMI 2. dan Catatan Sub-pos.1. 30. Hemostatik bedah atau gigi steril yang dapat menyerap.2. yaitu: 2. yang harus diklasifikasikan dalam pos tersebut dan tidak dalam pos lainnya dari Nomenklatur ini: (a) Catgut bedah steril. (b) (c) (d) (e) (f) (g) (h) Laminaria steril dan laminaria steril yang dapat menggembung.04 hanya berlaku untuk hal berikut ini. 2.1. Catatan-catatan tersebut mempunyai kekuatan hukum sama seperti uraian pos atau sub-pos. . Contoh dan Non Contoh Disamping KUM HS. Contoh: Catatan 4 Bab 30: Pos no. catatan-catatan dalam HS merupakan bagian integral yang harus diperhatikan benar-benar.

11 atau 30. 09. Catatan Lain-lain Catatan yang menguraikan pengertian-pengertian yang bersifat teknis. apron dan pakaian pelindung lainnya. tetapi tidak termasuk arloji tangan (pos no. 02.13). Contoh : Catatan 3 Bab 42: Untuk keperluan pos no. (b) Usus. antara lain. ikat pinggang.10. istilah “barang pakaian dan perlengkapan pakaian” berlaku. yang tidak layak atau tidak sesuai untuk konsumsi manusia. 2. 02.Contoh: (a) Catatan 2 Bab 3: Dalam Bab ini pengertian “pellet” adalah produk-produk yang telah diaglomerasi baik secara langsung dengan cara dikompresi atau dengan penambahan sejumlah kecil bahan pengikat. 05. tali penahan celana.02).01 sampai dengan 02. untuk sarung tangan (termasuk sarung tangan olah raga).1.09 (Bab 15).4.04 sampai dengan 09. atau (c) Lemak hewani. Catatan Ilustratif Catatan yang memberikan gambaran terhadap pengertian atau istilah yang perlu dijabarkan lebih lanjut. 42. .3.10 harus diklasifikasikan sebagai berikut: (a) Campuran dua produk atau lebih dari pos yang sama harus digolongkan dalam pos itu.08.1. kandung kemih atau perut dari binatang (pos No.Contoh: Catatan 1 Bab 2: Bab ini tidak meliputi: (a) Produk dari jenis yang diuraikan dalam pos No. atau 02. 2.03. 05. selain produk dari pos No. (b) Catatan 1 Bab 9: Campuran dari produk dimaksud dalam pos no.04) atau darah binatang (pos No. tali sandang dan semua jenis gelang. 91.

15. 91.10 (atau campuran seperti yang dimaksud dalam (a) atau (b) di atas) tidak mempengaruhi penggolongannya asalkan…. (c) Catatan 2 Bagian XV: Dalam seluruh Nomenklatur.06.07.18 dan barang semacam itu dari logam tidak mulia lainnya. Latihan .10 dan bingkai serta kaca dari logam tidak mulia. 83. Membaca dengan teliti dan memahami catatan-catatan di atas. Tatacara mengklasifikasi harus diikuti dengan urut agar benar-benar diperoleh hasil yang akurat. (b) Pegas dan lembaran untuk pegas. 83.(b) Campuran dua produk atau lebih dari pos yang berlainan harus digolongkan dalam pos no.14).15) apa yang disebut bagian dari barang tidaklah termasuk uraian tentang bagian untuk pemakaian umum seperti diuraikan di atas. Tambahan dari bahan lainnya ke dalam produk dari pos no. Dengan memperhatikan ketentuan dalam ayat di atas dan Catatan 1 Bab 83. dan pos tarif yang berkaitan dengan barang yang akan diklasifikasikan merupakan syarat mutlak yang harus dilakukan agar klasifikasi yang dilakukan benar-benar akurat. dari pos no. dan (c) Barang dari pos no. 73.08.17 atau 73. selain pegas untuk lonceng atau arloji (pos no. 83.12. 73.2. dan uraian pada pos. Mengklasifikasi barang tidak dapat dilakukan dengan hanya sekedar mencari satu pos tertentu saja. termasuk KUM HS. sub-pos. Untuk beberapa hal cara seperti ini mungkin berhasil namun labih banyak risiko kegagalannya. 73. Explanatory Notes. Dalam Bab 73 sampai dengan 76 dan 78 sampai dengan 82 (tetapi bukan dalam pos no. 2. 09.02. 73. barang dari Bab 82 atau 83 tidak termasuk dari Bab 72 sampai dengan 76 Bab 78 sampai dengan 81. 73.04 sampai dengan 09. 83.10.01.. dari logam tidak mulia. 83. 09. istilah “bagian untuk pemakaian umum” berarti: (a) Barang dari pos no.

atau dikeluarkan sebagian serta penjelasan lainyya. illustratif. Sebutkan contoh catatan ekslusif pada Bab 71 ? 3. catatan definitive. eksklusive. dan penjelasan. Rangkuman Catatan merupakan pintu gerbang dalam memasuk bagian dan bab dalam BTBMI. Sebutkan contoh catatan definitif pada Bab 39 ? 2. Hal ini diperlukan agar jangan sampai salah dalam menempatkan pengelompokan barang sesuai Harmonized system. . Secara garis besarnya pintu gerbang tersebut akan mengatur tentang suatu barang yang boleh dimasukan. Jawaban 2.Pertanyaan 1. 2. 3.3.Sebutkan catatan ilustratif pada pada Bagian ? 1. dikeluarkan. Secara singkat jenis catatan tersebut meliputi.

bahan yang tidak/belum dikerjakan (unworked products). produk makanan siap saji yang diawetkan diklasifikasikan pada Bagian IV. Di bawah ini disajikan urutan pengelompokan barang dalam HS/BTBMI: 1. Uraian. dsb. Sebagai contoh.1.1. Terhadap produk yang telah mengalami proses lebih lanjut diklasifikasikan pada bab 19. bijibijian. binatang hidup diklasifikasikan pada Bab 1. Contoh dan Non Contoh 3. Urutan pengelompokan ini juga berlaku untuk bab dan pos. baik yang bisa dimakan atau tidak (tanaman. barang dikelompokkan dalam 96 bab (dan bab 77 sebagai persiapan masa mendatang) yang dikelompokkan dalam 21 bagian. ikan. Bagian III hanya terdiri dari bab 15 yang mencakup lemak dan minyak hewani dan . sayuran. yaitu bahan baku (raw material). KEGIATAN BELAJAR 2 STRUKTUR PENGELOMPOKAN BARANG PADA BTBMI 3. produk yang dapat dimakan lainnya. dan produk yang tidak dapat dimakan). madu. kecuali beberapa jenis minyak dan lemak tertentu (bab 15) dan kayu (bab 44). Bagian II mencakup produk sayuran. Bab 1 sampai dengan bab 24 (Bagian I sampai dengan Bagian IV) mencakup produk-produk pertanian dalam arti luas. telur. barang setengah jadi (semi-finished products). bulu dan barang terbuat daripadanya (diklasifikasikan pada bagian VIII). produk susu.3. dan barang jadi (finished products).). sereal. jangat dan kulit binatang pada Bab 41. Contohnya. demikian juga halnya dengan jangat. tepung. kulit. bab 20 atau bab 21. Pengelompokan tersebut berdasarkan urutan tingkat pengerjaannya. Gambaran per Bagian Bagian I mencakup binatang hidup dan produk dari binatang (daging. buah. Gambaran Per Bagian Dalam Harmonized System (HS). sepatu dari kulit binatang pada Bab 64. Produk-produk yang termasuk bagian I dan II belum mengalami proses pengerjaan kecuali sampai tahap tertentu (dengan beberapa pengecualian). Namun beberapa jenis minyak dan lemak dikeluarkan dari bagian I dan diklasifikasikan pada bab 15.1.

nabati dan produk terbuat daripadanya (misalnya malam/wax). dikukus atau diawetakan secara permanen. bersamasama dengan produk industri makanan yang tidak dicakup bab-bab sebelumnya. Berbagai jenis gula yang murni secara kimiawi diklasifikasikan pada Bab 29. diantaranyadi goreng. Minyak pada Bab II baik dalam keadaan mentah. seperti saccharin dan dulcin.dan tembakau. misalnya minyak goreng atau margarine yang siap dikonsumsi. Umumnya minyak tidak menguap. Demikian juga bahan pemanis tiruan masuk Bab 29. minuman keras. HUBUNGAN BAGIAN I DAN II DENGAN BAGIAN IV: BAGIAN I & II DIPROSES LEBIH LANJUT >>>BAGIAN IV *BAB 2 BAB 3 (DAGING) (IKAN) > * BAB 16 *BAB 4 (SUSU) BAB 10 (GANDUM-GANDUMAN) > * BAB 19 BAB 11 (PRODUK-GILINGAN) *BAB 7 (SAYURAN) > * BAB 20 BAB 8 (BUAH-BUAHAN) BAB 11 (PRODUK GILINGAN. KENTANG ) . madu tiruan dan karamel. Bagian IV mencakup produk minuman. cuka. Bab 16 meliputi daging atau ikan yang telah mengalami proses lebih lanjut. Bab 17 meliputi gula dan bahan lainnya seperti sirop. karena minyak nabati yang mudah menguap masuk Bab 33 sebagai minyak atsiri. telah diproses.

baik sumber mineral anorganik seperti tanah. belerang dan batuan lainnya hanya dalam keadaan mentah (crude). Bagian VII mencakup plastik/barang dari plastik serta karet/barang dari karet. Kecuali kalau susunannya mensyaratkan lain. dan minyak bumi. Struktur dalam Bab 39 secara garis besar adalah : . dan sumber bahan organik pada Bab 27 seperti batu bara. Bagian ini terdiri dari 2 bab. maka Bab 25 meliputi produk tambang. sedangkan apabila merupakan hasil bentukan atau pahatan masuk Bab 68 dan kalau bahan tersebut merupakan hasil pembakaran maka masuk Bab 69. Batu-batuan setengah permata atau batu permata digolongkan pada Bab 71. Hasil pertambangan yang telah diolah secara lain. dan lain-lain. maka pengenalan dan proses pengidentifikasi barang tersebut semakin sulit. telah dicuci. karet buatan serta barang dari plastik dan karet buatan banyak diimpor Indonesia.Bagian V mencakup produk mineral. Bagian VII mencakup plastik dan produk dari plastik (bab 39) dan karet dan produk dari karet (bab 40). cat. misalnya dimurnikan sebagai bahan kimia anorganik masuk Bab 28. Bagian VI mencakup produk-produk kimia. seperti garam. khususnya dalam rangka klasifikasi barang. sabun. hancur. yaitu bab 39 (Plastik dan Barang Dari Plastik) dan bab 40 (Karet dan Barang Dari Karet). pupuk. kosmetik. hasil gilingan atau saringan. baik yang berbentuk asal (primary form) maupun produk-produk industri kimia seperti produk farmasi. bahan peledak. Komoditi plastik. hasil tumbuk. Sesuai dengan kemajuan teknologi. batuan pada Bab 25 atau bijih logam pada Bab 26 . maka produk barangbarang tersebut semakin bervariasi dan bertambah jenisnya. Karena kemajuan teknologi pembuatan barang.

mineral dan buatan manusia. Bahan dasar tekstil adalah serat. kertas. kertas karton dan barang terbuat daripadanya (bab 48). barang dari kulit atau usus binatang (bab 42). Bagian XI mencakup produk tekstil mulai dari sutera (bab 50) sampai dengan pakaian dan permadani (bab 63).. flaks. goni dan sisal. gabus dan barang dari gabus (bab 45). henneps.02 juga mencakup produk-produk tertentu terbuat bukan dari kulit. dan barang kerajinan tangan (bab 46). beberapa produk seperti furniture diklasifikasikan di bab lain (bab 94). Serat dapat berasal dari tumbuhan.. kemudian dari benang menjadi kain atau produk tekstil lainnya. Serat . yaitu pulp (bab 47). 4006 :TIDAK DIVULKANISASI : KARET PUGARAN : SISA.BAB 39 PLASTIK DAN BARANG DARI PLASTIK BAB 40 KARET DAN BARANG DARI KARET SUB-BAB 1 3901-3911 : POLIMER BUATAN 3912-3913 : POLIMER ALAMI 3914 : PENUKAR ION 4001-4002 : BAHAN KARET 4003 4004 4005 SUB-BAB II 3915 : SISA. Serat bila diproses akan menjadi benang. Serat dari tumbuhan atau disebut serat nabati. Bagian IX mencakup produk yang berasal dari tumbuhan. kulit berbulu. dan produk industri percetakan (bab 49).01 dan 42. Bagian X juga masih mencakup produk yang berasal dari tumbuhan. hewani. Perlu dicatat bahwa pos 42. rami. REJA. Namun. misalnya serat kapas. termasuk kulit berbulu imitasi (bab 43).. REJA : COUMPOND 3916-3921 : BARANG SETENGAH JADI 3922-3924 : BARANG JADI 4007-40016 : BARANG SETENGAH JADI 4017 : KARET KERAS Bagian VIII mencakup produk-produk tertentu yang berasal dari binatang seperti jangat dan kulit (bab 41). seperti kayu dan barang dari kayu (bab 44).

bunga buatan. dan uang logam. bulu unta. dan semacam itu. Bagian XII mencakup produk alas kaki (bab 64). dan barang dari rambut manusia (bab 67). poliurethan dan lainnya. dll.yang berasal dari hewan misalnya bulu domba atau bulu anak domba. yaitu serat sintetik dan serat artificial (tiruan). Bagian XV mencakup logam tidak mulia dan barang terbuat daripadanya. Untuk memahami ini lihat Catatan 1 Bab 54. Melalui data nomor benang. (bab 66). poliester. benang pakan kalau dalam mesin rajut adalah yang bergerak menyilang benang lusi atau sesuai arah lebar kain. Ada dua sistem yang dipakai dalam penomoran benang. keramik (bab 69). T shirt dan kain katun (lihat Bab 60 tentang jenis kain ini). Istilah sintetik digunakan dalam hubungan bahan polimer seperti poliamida. semen. logam mulia. contohnya kaos. sedangkan serat tiruan digunakan dalam hubungan untuk bahan dari rayon viskosa. Serat buatan adalah serat hasil industri kimia. plaster. dibuat dengan mesin tenun melalui cara menyilangkan kelompok benang satu terhadap yang lain. yaitu : 1. juga produk-produk tertentu dari bulu. tongkat jalan. Bagian XIV mencakup hanya bab 71 yaitu mencakup mutiara dan batu mulia. bulu kambing Angora (Mohair) dan sutera. bisa dilihat besar atau kecilnya suatu benang. asetat sellulosa. dan kaca/barang dari kaca (bab 70). (bab 68). 2. Serat buatan manusia atau man made fiber terbagi dua. gips. Namun demikian bagian ini tidak mencakup barang dari logam dasar yang termasuk dalam bab- . dll. perhiasan. Kain rajut dibuat dengan jalan menjeratkan benang satu dengan yang lain atau pada benang itu sendiri. bulu kelinci. Benang tersebut biasa disebut sebagai lusi dan pakan. tutup kepala (bab 65). payung. Sistem penomoran benang langsung (Direct Yarn Number) Sistem penomoran benang tidak langsung (Indirect Yarn Number) Kain yang terbuat dari benang dengan cara tenun. Bagian XIII mencakup produk-produk yang diperoleh dari batu.

peralatan permainan. jam (bab 91). perlengkapan penerangan. pesawat terbang. barang kegemaran kaum pengumpul. dan peralatan olahraga (bab 95). Perlu diingat bahwa judul bab bukan merupakan uraian yang bersifat mengikat secara hukum. judul bab dalam HS sebagian besar bersifat umum. lampu. dll. dan barang antik. Bagian ini mempunyai pos dan sub-pos yang sangat besar dibandingkan dengan bagian lainnya. fotografi. dan peralatan listrik. Bagian XXI hanya terdiri dari bab 97 yang mencakup hasil karya seni.2.bab di belakangnya (seperti mesin dan kendaraan). Bagian XIX hanya terdiri dari bab 93 yang mencakup senjata dan amunisi. peralatan mekanik. di bawah ini disajikan gambaran keterkaitan antar bab dalam HS: .). pesawat ruang angkasa.1. medis. Hubungan Antar Bab Apabila kita mempelajari Bab demi Bab Harmonized System. Bagian XVII mencakup kendaraan. dan bermacam-macam barang hasil pabrik (bab 96). Selain itu. dan bangunan prefabrikasi (bab 94). Bagian XVI mencakup mesin. kontrol. Sebagai contoh. papan nama iluminasi. Bagian XVIII mencakup perlatan optik. atau bedah (bab 90). Hal ini dapat difahami mengingat antara bab satu dengan bab lainnya kadang-kadang mencakup barang yang mengandung bahan yang sama atau merupakan proses lebih lanjut dari barang dalam bab sebelumnya. Dengan demikian dapat dimengerti apabila suatu barang yang sepintas termasuk dalam suatu bab ternyata diklasifikasikan pada bab lain. sinematografi. ukuran. Bagian XX mencakup furniture. 3. dan perlatan musik (bab 92). kapal laut. mainan. akan kita dapati bahwa terdapat keterkaitan antara bab tertentu dengan bab atau beberapa bab lainnya. dan alat transportasi lainnya (kereta api.

frame kacamata dari plastik (bab 90). maka harus diklasifikasikan olahan makanan mengandung kokoa pada bab 18 (pos 18. • Bab 6 meliputi semua tanaman hidup yang umumnya dimaksud untuk dijual oleh tukang bibit atau yang bergerak dibidang hortikultura yang serasi untuk ditanam atau dijadikan pajangan. Bila sudah berbentuk barang yang khusus dibuat untuk keperluan tertentu. Sebagai contoh. dingin. seperti mesin dengan motor listrik. Daging pada Bab 2 hanya terhadap pengolahan terbatas seperti : segar. Pada Bab 6 tidak termasuk benih. Namun demikian.06).08). Adalah tidak mungkin untuk menggambarkan dengan rinci keterkaitan antas bab dalam diktat ini. buah atau buah berbonggol dan umbi-umbian tertentu. Contoh-contoh di atas adalah sebagian kecil contoh keterkaitan antar bab dalam HS. furniture dari plastik (bab 94).03 (electric central heating boiler) dan pos 84. mesin pada pos 84. Barang dari plastik diklasifikasikan pada Bab 39. Untuk mengetahui keterkaitan antara bab satu dengan bab lainnya. dan beberapa mesin lainnya. melainkan pada bab 95 (pos 95. • Bahan kimia etilena diklasifikasikan pada Bab 29 (bahan kimia organik). Produk yang dikemas dalam kedap udara dan mengalami pengolahan lebih jauh selain pengolahan dari Bab 2 maka diklasifikasikan pada bab 16. Namun apabila etilene terpolimerisasi menjadi polietilena dengan jumlah unit monomer (n) 5 atau lebih. Sayuran atau buah yang diawetkan dengan cuka atau dengan cara lain misalnya masuk Bab 20. • Kembang gula (sugar confectionery) diklasifikasikan pada bab 17. diasap dan dipanggang. Tetapi apabila kembang gula tersebut mengandung kokoa.19 (wood dryer). kita dapat . beberapa mesin dan peralatan tertentu tetap diklasifikasikan pada bab 84 meskipun elektrik. barang tersebut diklasifikasikan di bab-bab lain. dan sebagainya. Namun kuda hidup yang digunakan dalam sirkus tidak klasifikasikan pada bab 1. maka harus diklasifikasikan pada Bab 39 (plastik). • Mesin dan peralatan mekanis diklasifikasikan pada bab 84 sedangkan mesin dan peralatan listrik diklasifikasikan pada bab 85.• • Bab 1 mencakup antara lain binatang hidup. kotak jam dari plastik (bab 91).

Produk hewani. binatang lunak dan binatang air lainnya yang tidak bertulang belakang 4. Produk industri penggilingan . umbi akar dan yang semacam itu. Untuk itu membaca catatan bab maupun catatan bagian merupakan kewajiban sebelum kita mengklasifikasikan suatu barang pada pos tertentu. teh. malti . akar dan bonggol tertentu yang dapat dimakan 8. Biji mengandung minyak dan buah mengandung minyak . 13. madu alam. bunga potong dan daun untuk hiasan 7. Daging & sisanya yang dapat dimakan 3. Sayuran. ekstrak nabati lainnya 14.1. . telur unggas. jerami dan makanan ternak. damar dan air. 5. tanaman industri atau obat . kulit dari buah jeruk dan melon 9. Lak. produk nabati tidak dirinci atau termasuk pos lainnya BAGIAN III MINYAK DAN LEMAK HEWANI ATAU NABATI DAN PRODUK DISOSIASINYA. Kopi. 2. mate dan rempah-rempah 10. PRODUK HEWANI BAB 1. getah. Ikan dan udang-udangan. Bahan nabati untuk anyam-anyaman.melihat di catatan bab maupun catatan bagian. tidak dirinci atau termasuk dalam pos lainnya BAGIAN II PRODUK NABATI BAB 6. Gandum-ganduman 11. LEMAK OLAHAN YANG DAPAT DIMAKAN. bermacam-macam butir.3. produk hewani yang dapat dimakan. 12. Pohon hidup dan tanaman lainnya. biji dan buah. Binatang hidup 2. tidak dirinci atau termasuk dalam pos lain. gluten gandum. pati. inulin . Buah & buah berbatok yang dapat dimakan. Bab Pada PADA BTBMI BAGIAN I BINATANG HIDUP. Produk pabrik susu.

BAGIAN V PRODUK MINERAL BAB 25. malam mineral BAGIAN VI PRODUK INDUSTRI KIMIA DAN INDUSTRI YANG ADA HUBUNGANNYA DENGAN INDUSTRI KIMIA . bahan mengandung bitumen. pati atau susu. Gula dan kembang gula 18. Tembakau dan tembakau pengganti buatan. produk industri kue. MINUMAN. dari ikan atau dari udang-udangan. terak dan abu 27. kapur dan semen. tepung. 21. binatang lunak atau dari binatang air yang tidak bertulang belakang 17. dan sisa dari industri makanan. Bahan bakar mineral. MINUMAN KERAS DAN CUKA. Bijih logam. bahan plester. Olahan dari sayuran. 26. Ampas. Kakao & olahan kakao 19. minyak mineral dan produk sulingannya.MALAM HEWANI ATAU NABATI Bab 15 (Judul Bab sama dengan Bagian) BAGIAN IV BAHAN MAKANAN OLAHAN. Olahan dari gandum-ganduman. kacang atau bagian lain dari tanaman. Garam. minuman keras dan cuka 23. TEMBAKAU DAN TEMBA KAU PENGGANTI BUATAN BAB 16. belerang. olahan makanan hewan 24. tanah dan batu. Bermacam-macam olahan yang dapat dimakan 22. 20. Olahan dari daging. Minuman. buah.

BARANG DARI USUS . lilin dan barang semacam itu. dari unsur radio aktif dan dari isotop 29. Minyak atsiri dan resinoida. Sabun bahan organik penggiat permukaan. Zat albumina . tinta 33. wangi-wangian. Bahan peledak.BAB 28. enzim 36. Kulit dan Barang dari Kulit BAGIAN VIII JANGAT DAN KULIT MENTAH. dari logam tanah langka. “malam untuk mencetak gigi” dan preparat untuk gigi dengan bahan dasar gips. KULIT BERBULU DAN BARANGNYA. preparat pelumas atau pembersih. cat dan vernis. preparat pencuci. 35. Aneka produk kimia BAGIAN VII PLASTIK DAN BARANG DARI PLASTIK. Bahan kimia organik 30. malam olahan. Bahan kimia anorganik. modifikasi pati . preparat pencuci. pigmen dan bahan pewarna lainnya. Produk farmasi 31. paduan piroforik. Barang fotografi atau sinematografi 38. bahan samak dan turunannya. produk piroteknik. korek api. bahan celup. KULIT SAMAK. dempul dan damar lainnya. KARET DAN BARANG DARI KARET BAB 39. TAS TANGAN DAN TEMPAT SIMPAN SEMACAMNYA. perekat . olahan tertentu yang mudah terbakar 37. preparat pelumas. PELANA TERMASUK PERLENGKAPANNYA DAN PAKAINAN KUDA. Plastik dan Barang dari plastik 40. malam tiruan. kosmetika atau preparat pewangi 34. senyawa organik atau organik dari logam mulia. Pupuk 32. Ekstrak bahan samak atau bahan celup. BARANG UNTUK BERPERGIAN. pasta untuk membuat model.

Pulp dari kayu atau dari bahan sellulosa berserat lainnya. KERTAS DAN KERTAS KARTON DAN BARANGNYA BAB 47. Kulit berbulu dan kulit berbulu tiruan BAGIAN IX KAYU DAN BARANG DARI KAYU. KERANJANG DAN BARANG ANYAMAN BAB 44. Kayu dan barang dari kayu. BARANG DARI JERAMI. Barang dari kulit samak. barang untuk bepergian. RUMPUT ESPARTO ATAU DARI BAHAN ANYAMAN LAINNYA. GABUS DAN BARANG DARI GABUS. dari rumput esparto atau dari bahan anyaman lainnya. Barang dari jerami. keranjang dan barang anyaman BAGIAN X PULP DARI KAYU ATAU DARI BAHAN SELLULOSA BERSERAT LAINNYA. KERTAS ATAU KERTAS KARTON (BEKAS DAN SISA) YANG DIPEROLEH KEMBALI. pelana termasuk perlengkapan dan pakaian kuda. Gabus dan barang dari gabus 46. barang dari usus hewan (lain dari pada usus ulat sutera) 43. kertas atau kertas karton (bekas dan sisa) yang diperoleh .(LAIN DARI USUS ULAT SUTERA) BAB 41. ARANG KAYU. Jangat dan kulit mentah (lain dari kulit berbulu) dan kulit samak 42. arang kayu 45. tas tangan dan wadah yang semacam itu.

cambuk. kain kempa dan bukan 51. Barang cetakan. sulaman 59. tongkat duduk. Wool. surat kabar. benang khsusu. bagian dari barang semacam 65. naskah ketikan dan rencana BAGIAN XI TEKSTIL DAN BARANG TEKSTIL BAB 50. bulu hewan halus atau kasar. BULU UNGGAS. Kain rajutan atau kain kaitan 61. Kapas barang-barangnya 53. naskah tulisan tangan. TUTUP KEPALA. CAMBUK. barang dari pulp kertas. dari kertas atau kertas karton 49. 57. BARANG DARI RAMBUT MANUSIA BAB 64. gombal BAGIAN XII ALAS KAKI. Kain tekstil diresapi. kain tekstil 54. gambar dan produk lainnya dari industri percetakan. barang tekstil dari jenis yang cocok untuk digunakan dalam industri 60. Barang tekstil sudah jadi lainnya. Tutup kepala dan bagiannya 66. PECUT DAN BAGIANNYA. Filamen buatan berjumbai. tenunan. dilapisi. Barang dan perlengkapan pakaian. Serat tekstil dari nabati lainnya . tongkat jalan.48. Kain tenunan khusus. Payung. Gumpalan. Alas kaki. tali tambang dan kabel dan 52. TONGKAT DUDUK. benang benang bulu kuda dan kain tenunan pintal. Barang dan perlengkapan pakaian. TONGKAT JALAN. BUNGA TIRUAN. renda. Serat staple buatan hiasan. pecut dan bagiannya . rajutan atau kaitan 62. Sutera 56. ditutupi atau dibuat berlapis-lapis. Permadani dan tekstil penutup benang kertas dan tenunan dari lantai lainnya benang kertas 58. pelindung kaki dan yang semacam itu . OLAHAN DAN BARANGNYA. permadani. tidak dirajut atau dikait 63. setelan. 55. PAYUNG. payung panas. pakaian bekas dan barang tekstil bekas. Kertas dan kertas karton. PAYUNG PANAS.

MIKA ATAU DARI BAHAN SEMACAM ITU. Nikel dan barang terbuat dari nikel 76. sermet. Timah hitam dan barang terbuat dari timah hitam 79. barangnya . bunga tiruan. mika atau bahan semacam itu 69. Timah dan barang terbuat dari timah 81. Kaca dan barang dari kaca BAGIAN XIV MUTIARA ALAM DAN MUTIARA BUDIDAYA. ASBES. LOGAM MULIA KERAJANG DAN BARANGNYA. semen. Produk keramik 70. Barang dari batu. Aluminium dan barang terbuat dari 78. BATU PERMATA ATAU SEMI PERMATA. SEMEN. barang dari rambut manusia BAGIAN XIII BARANG DARI BATU. Logam tidak mulia lainnya. Barang dari besi dan baja 74. MATA UANG LOGAM BAB 71 (Judul Bab sama dengan judul Bagian) BAGIAN XV LOGAM TIDAK MULIA DAN BARANG DARI LOGAM TIDAK MULIA BAB 72. KACA DAN BARANG DARI KACA BAB 68.67. PERHIASAN IMITASI. PRODUK KERAMIK. Tembaga dan barang terbuat dari tembaga 75. asbes. Bulu unggas dan bulu unggas olahan serta barang terbuat dari bulu unggas atau bullu unggas tiruan. Besi dan baja 73. GIPS. Seng dan barang terbuat dari seng 80. LOGAM MULIA. gips.

BAGIANNYA PESAWAT PEREKAM DAN PESAWAT REPRODUKSI SUARA. Lokomotif kereta api atau trem. barang tajam. DAN BAGIAN SERTA PERLENGKAPAN DARI BARANG YANG SEMACAM ITU BAB 84. Kendaraan selain yang begerak diatas rel kereta api atau trem. Mesin dan alat listrik serta bagiannya. dan bagian serta . PESAWAT TERBANG. perlengkapan isyarat lalu lintas mekanik dari segala jenis (termasuk elektronik) 87. mesin dan pesawat mekanik. Reaktor nuklir. dari logam tidak mulia.sendok dan garpu. ketel uap. bagiannya 85. pesawat perekam dan reproduksi gambar dan suara untuk televisi. alat pemasang dan perlengkapan rel kereta api atau trem dan bagiannya.bagian bagiannya dari logam tidak mulia 83 Bermacam-macam barang dari logam tidak mulia BAGIAN XVI MESIN DAN PESAWAT MEKANIK. kendaran yang bergerak diatas rel dan bagiannya. PESAWAT PEREKAM ATAU REPRODUKSI SUARA DAN GAMBAR UNTUK TELEVISI. pesawat perekam dan pesawat reproduksi suara. KENDARAAN AIR DAN PERLENG KAPAN PENGANGKUTAN YANG BERKAITAN BAB 86.aluminium 82 Perkakas. peralatan. PERLENGKAPAN LISTRIK. dan bagian serta perlengkapan dari barang yang semacam itu BAGIAN XVII KENDARAAN.

bagian dan perlengkapan dari barang seperti itu BAGIAN XIX SENJATA DAN AMUNISI. PRESISI. peneliti. dan bangunan terapung BAGIAN XVIII ALAT DAN APARAT OPTIK. Lonceng dan arloji dan bagiannya 92. bagian dan . ukur. papan nama iluminasi dan semacam itu. kasur. POTOGRAFI. fotografi. keperluan permainan dan keperluan olah raga. PENELITI. pesawat ruang angkasa. serta bagiannya 89. lampu dan perlengkapan penerangan. Mainan. bahtera. SINEMATOGRAFI. Kapal. BAGIAN DAN KELENGKAPANNYA BAB 93 (judul sama dengan judul Bagian) BAGIAN XX BERMACAM-MACAM BARANG HASIL PABRIK BAB 94. Alat dan aparat optik. isyarat iluminasi. bangunan prefabrikasi 95. LONCENG DAN ARLOJI. sinematografi. Perabot rumah. kedokteran dan bedah. tidak dirinci atau termasuk dalam pos manapun. Kapal udara. BAGIAN DAN PERLENGKAPANNYA BAB 90.perlengkapannya 88. presisi. bantal dan kelengkapannya. UKUR. lapik kasur. Instrumen musik . KEDOKTERAN DAN BEDAH. bagian dan perlengkapannya 91. INSTRUMEN MUSIK. kasur tempat tidur.

proses setengah jadi dan barang jadi. 3. Terakhir dengan mesin.2.kelengkapannya 96. Sebutkan posnya saja batu pualam yang masih bongkahan dan yang telah jadi ubin ? 1. Bab 1 sampai dengan 77 dan bab 78 sampai dengan bab 98. Bermacam-macam barang hasil pabrik lain BAGIAN XXI HASIL KARYA SENI. Rangkuman BTBMI terdiri dari 21 Bagian. Daging sapi yang diolah sederhana masuk pos berapa ? Bagaimana bila telah dikukus masuk Bab berapa ? 3. Sebutkan pos saja untuk barang mentega dan margarin ? 2. . Latihan 2 Pertanyaan 1. Pengelompokan barang ini berawal dari binatang. barang untuk kemanan dan barang kelontong. kendaraan. barang presisi. Jawaban 2. hewani. Urutan pengelompokan barang umumnya didasarkan atas bahan dasar. BARANG KEGEMARAN KAUM PENGUMPUL DAN BARANG ANTIK BAB 97 (Judul Bab sama dengan Bagian) 2.3. 2. nabati mineral dan selanjutnya kepada bahan kimia dan produknya.

Pemahaman pengelompokan barang akan mempermudah dan mempercepat dalam mengklasifikasi.Sebaiknya seorang klasifikator yang bak akan memahami pengelompokan jenis barang dalam BTBMI .

03 atau 21. HS mempunyai Catatan Bagian. 07. moluska atau invertebrata air .10. Catatan Bab. 3. KEGIATAN BELAJAR 3 CATATAN PENTING PADA BTBMI 3. Contoh dan Non Contoh Disamping KUM HS. sisa daging.04. parsley.02 atau olahan dari pos 21. Ketentuan ini tidak berlaku untuk produk diisi dari pos 19.3 Bagian IV Bab 19 catan 1 1.02..Bab ini tidak meliputi : (a) Kecuali dalam hal produk diisi dari pos 19. darah.. lebih dari 20% menurut beratnya. 07. buah dari genus Capsicum atau dari genus Pimenta. Dalam hal apabila olahan mengandung dua atau lebih produk yang disebut di atas. cress dan marjoram manis (Majorana hortensis atau Origanum majorana) yang dapat dimakan. labu sumsum. jagung manis (Zea mays var. terong. diklasifikasikan dalam pos pada Bab 16 yang sesuai dengan komponen atau komponen-komponen yang mendominasi menurut beratnya. adas pedas.. buah zaitun.Dalam pos 07. 3.12 kata "sayuran" meliputi jamur.1. daging. ikan atau krustasea. Catatan-catatan tersebut mempunyai kekuatan hukum sama seperti uraian pos atau sub-pos.09. sisa daging. Uraian. chervil. daging. darah. ikan atau krustasea. atau berbagai kombinasinya.2 Bagian II Bab 16 Catatan 2 2. olahan makanan mengandung sosis.1. moluska atau invertebrata air lainnya. Catatan-catatan penting tersebut adalah : 3.1. tarragon. kaper.4. labu kuning.1 Bagian II Bab 7 Catatan 2 2.1.Olahan makanan digolongkan dalam Bab ini asalkan mengandung sosis.11 dan 07. saccharata). catatan-catatan dalam HS merupakan bagian integral yang harus diperhatikan benar-benar. cendawan tanah. dan Catatan Sub-pos.

pengawet atau keperluan lain.1. (b) diajukan bersama. istilah "olahan homogen" berarti olahan buah.Istilah "kopolimer" meliputi semua polimer yang unit monomer tunggalnya tidak ada yang beratnya 95% atau lebih menurut berat total kandungan polimer tersebut. Subpos 2007.07. asalkan unsur tersebut : (a) berdasarkan penyiapannya jelas dapat dikenal untuk digunakan bersamasama tanpa dibungkus ulang sebelumnya.5 Bagian VI Bagian VI catatan 3 3.lainnya. dapat dikenali sebagai unsur yang saling melengkapi satu sama lain. dihomogenisasi secara halus.1. Untuk penerapan definisi ini tidak memperhitungkan sejumlah kecil berbagai bahan yang ditambahkan pada olahan tersebut sebagai penyedap. atau (c) Obat-obatan dan produk lain dari Bab 30. Olahan ini dapat mengandung sejumlah kecil buah yang dapat dilihat. (b) Biskuit atau barang lain yang dibuat dari tepung atau dari pati. 3. baik berdasarkan sifat atau perbandingan relatifnya..6 Bagian VII Bab 39 catatan 4 4. harus diklasifikasikan dalam pos yang sesuai dengan produk tersebut.. atau berbagai kombinasinya. dan (c) pada saat diajukan. disiapkan untuk penjualan eceran sebagai makanan bayi atau untuk keperluan diet.Barang yang disiapkan dalam set yang terdiri dari dua atau lebih unsur yang terpisah. diolah secara khusus untuk makanan hewan (pos 23.09). dalam kemasan dengan berat bersih tidak melebihi 250 g.10 harus dipertimbangkan lebih dahulu daripada subpos lain dari pos 20. lebih dari 20% menurut beratnya (Bab 16). 3. 3. .1.4 Bagian IV Bab 20 catatan subpos 2 2. beberapa atau seluruhnya yang digolongkan dalam Bagian ini dan dimaksudkan untuk dicampur bersama untuk memperoleh produk dari Bagian VI atau VII.10.Untuk keperluan subpos 2007..

block copolymer dan graft copolymer) dan campuran polimer harus diklasifikasikan dalam pos yang mencakup polimer dari unit komonomer tersebut yang beratnya mendominasi berat unit komonomer tunggal lainnya. dan setelah direntang hingga dua kali panjang aslinya selama lima menit. tidak diperkenankan 3.09 atau 59. Dalam hal tidak terdapat unit komonomer tunggal yang mendominasi. Apabila tidak satupun bahan tekstil yang .7 Bagian VII Bab 40 catatan 4 4.Untuk keperluan Bab ini.02 dan dari campuran dua bahan tekstil atau lebih harus diklasifikasikan seolah-olah seluruhnya terdiri dari satu bahan tekstil yang beratnya mendominasi berat setiap bahan tekstil lainnya. yang pada suhu antara 18 C dan 29 C tidak akan putus bila di rentang hingga tiga kali panjang aslinya. dapat ditambahkan zat yang diperlukan untuk ikatan silang. Untuk keperluan Catatan ini. peliat dan pengisi. maka kopolimer atau campuran polimer harus diklasifikasikan dalam pos terakhir berdasarkan urutan penomoran di antara pos yang mempunyai pertimbangan yang setara.1. produk kopoliadisi. bagian unit komonomer dari polimer yang termasuk dalam pos yang sama harus digolongkan bersama. panjangnya akan kembali menjadi tidak lebih dari satu setengah kali panjang aslinya. kopolimer (termasuk kopolikondensasi.Dalam Catatan 1 Bab ini dan dalam pos 40. keberadaan berbagai zat yang tidak diperlukan untuk ikatan silang.02. keberadaan zat yang dimaksud oleh Catatan 5 (b) (ii) dan (iii) juga diperkenankan. Untuk keperluan pengujian ini. Namun demikian. seperti perentang.(A) Barang yang dapat diklasifikasikan dalam Bab 50 sampai dengan 55 atau dalam pos 58. 3.8 Bagian XI Bagian XI catatan 2 2.. kecuali apabila konteksnya menentukan lain.1.. istilah "karet sintetik" berlaku untuk : (a) Zat sintetik tidak jenuh yang dapat diubah dengan tidak kembali ke sifat semula melalui vulkanisasi menggunakan belerang menjadi zat non termoplastik. seperti pengaktif dan akselerator vulkanisasi.

83.08. 4 dan 5 .01.15) referensi untuk bagian barang tidak meliputi referensi untuk bagian pemakaian umum sebagaimana dirinci di atas.02.07. (B) Untuk keperluan ketentuan di atas : (a) Benang lilit dari bulu kuda (pos 51. (d) Apabila Bab atau pos merujuk pada barang dari bahan tekstil yang berbeda .17 atau 73. 83. maka bahan tersebut harus diperlakukan sebagai bahan tekstil tunggal. 3. selain pegas jam atau arloji (pos 91. dari logam tidak mulia.9 Bagian XV Bagian XV catatan 2 2. 73. Dalam Nomenklatur ini.10 Bagian XVI Bagaian XVI catatan 3.10 dan bingkai serta cermin dari logam tidak mulia.14). benang berlogam harus dianggap sebagai bahan tekstil. untuk pengklasifikasian kain tenunan. tanpa memperhatikan berbagai bahan yang tidak diklasifikasikan dalam Bab tersebut.05) harus diperlakukan sebagai bahan tekstil tunggal yang beratnya dianggap seperti berat keseluruhan komponennya.1. 3. (b) Pegas dan lembaran untuk pegas. barang tersebut harus diklasifikasikan seolah-olah seluruhnya terdiri dari satu bahan tekstil yang termasuk dalam pos terakhir berdasarkan urutan penomoran di antara pos-pos dengan pertimbangan yang setara. dan (c) Barang dari pos 83.1. 73. dan kemudian pos yang tepat dalam Bab tersebut. pertama. 73. maka Bab 54 dan 55 harus diperlakukan sebagai Bab tunggal. Dalam Bab 73 sampai dengan 76 dan Bab 78 sampai dengan 82 (tetapi tidak dalam pos 73.18 dan barang semacam itu dari logam tidak mulia lainnya.15. dengan menentukan Babnya. (c) Apabila Bab 54 dan 55 berkaitan dengan berbagai Bab lainnya.12. dari pos 83.mendominasi menurut beratnya.10) dan benang berlogam (pos 56. 83.06. istilah "bagian untuk pemakaian umum" berarti : (a) Barang dari pos 73. (b) Pilihan pos yang sesuai harus dilakukan.

harus diperlakukan seolah-olah kegunaan utamanya adalah kegunaan satu-satunya. yang dapat : (1) Menyimpan program atau programprogram pengolahan dan sekurang-kurangnya data yang diperlukan segera untuk pelaksanaan program tersebut. harus diklasifikasikan seolah-olah terdiri hanya dari komponen tersebut atau sebagai mesin tersebut yang melakukan fungsi utama. Berdasarkan Catatan 2 pada Bab ini dan Catatan 3 pada Bagian XVI.11 Bagian XVI Bagian XVI catatan 5 5.12 Bagian XVI Bagian XVI catatan 7 7.1. dengan peralatan penggerak. dan.Kecuali apabila konteksnya menentukan lain. 3.1. selama berlangsungnya pengolahan.Apabila mesin (termasuk kombinasi mesin) terdiri dari komponen tersendiri (terpisah atau saling dihubungkan dengan pipa. perlengkapan. 5.Untuk keperluan Catatan ini.71.. istilah " mesin " berarti berbagai mesin. 4.(A) Untuk keperluan pos 84. suatu mesin yang . permesinan. (2) Diprogram secara bebas menurut kebutuhan pemakai.. instalasi.Untuk keperluan klasifikasi. istilah "mesin pengolah data otomatis" berarti : (a) Mesin digital. 3. (3) Mengerjakan perhitungan aritmatika yang ditentukan oleh pemakai.. mesin yang digunakan untuk lebih dari satu kegunaan. mesin gabungan yang terdiri dari dua atau lebih mesin yang dipasang bersama untuk membentuk satu kesatuan dan mesin lainnya yang dirancang untuk keperluan melakukan dua fungsi atau lebih yang saling melengkapi atau fungsi alternatif. aparatus atau peralatan yang disebut dalam pos pada Bab 84 atau 85. seluruhnya harus diklasifikasikan dalam pos yang sesuai dengan fungsi tersebut.3. yang termasuk dalam salah satu pos dalam Bab 84 atau 85. dengan kabel listrik atau dengan peralatan lainnya) yang dimaksudkan untuk digunakan bersama untuk melakukan fungsi tertentu secara jelas.. (4) Tanpa intervensi manusia. dengan keputusan yang logis.. melaksanakan program pengolahan yang memerlukan modifikasi pelaksanaannya.

kapasitor). .1.. atau barang semacam itu dari plastik (Bab 39). atau induktansi khusus.16 Bagian XVI Bab 85 catatan 4 4.kegunaan utamanya tidak diuraikan dalam pos manapun atau yang tidak ada satupun kegunaannya merupakan kegunaan utama. Istilah " sirkit tercetak " tidak meliputi sirkit yang dikombinasi dengan elemen selain yang diperoleh selama proses pencetakan. 3. juga tidak meliputi resistor. kecuali apabila konteksnya menentukan lain. melalui berbagai proses pencetakan (misalnya. resistor.. elemen semi konduktor). tersendiri atau saling berhubungan menurut pola yang ditetapkan sebelumnya. mesin penjalin. Sirkit film tipis atau tebal yang terdiri dari elemen pasif dan aktif yang diperoleh selama proses teknologis yang sama. selain elemen yang dapat memproduksi.1.13 Bagaian XVII Bagian XVII catatan 2 2. benang tekstil atau berbagai bahan lainnya atau dari kombinasi bahan bahan tersebut. mesin pemilin atau mesin pembuat kabel) dari kawat logam.Istilah "bagian" serta "bagian dan aksesori" tidak berlaku untuk barang berikut. (b) Bagian untuk pemakaian umum. harus diklasifikasikan dalam pos 84. induktansi. memodulasi atau memperkuat sinyal elektris (misalnya. menyearahkan.Untuk keperluan pos 85. Namun demikian. pengetsaan) atau melalui teknik "sirkit film" berupa elemen konduktor. kontak atau komponen tercetak lainnya (misalnya. 3. sebagaimana dirinci dalam Catatan 2 Bagian XV.84) atau barang lainnya dari karet divulkanisasi selain karet keras (pos 40. cincin pipih atau sejenisnya dari berbagai bahan (diklasifikasikan menurut bahan utamanya atau dalam pos 84. dapat diidentifikasi sebagai barang dari Bagian ini maupun tidak : (a) Sambungan. dari logam tidak mulia (Bagian XV).34 "sirkit tercetak" adalah sirkit yang diperoleh dengan pembentukan di atas dasar pengisolasi. pencetakan timbul. sirkit tercetak dapat dilengkapi dengan elemen penghubung tidak dicetak.79 juga meliputi mesin untuk membuat tali atau kabel (misalnya. Pos 84. kapasitor.79. penyepuhan.16).42. harus diklasifikasikan dalam pos 85.

distabilkan terhadap gangguan. yang pengoperasiannya tergantung pada fenomena listrik yang berubah-ubah menurut faktor yang dikontrol. Bagian atau aksesori yang memenuhi uraian dalam dua pos atau lebih dari pos pada Bab-bab tersebut. dengan pengukuran nilai aktual secara konstan atau periodik. dan mempertahankannya pada nilai yang dikehendaki. yang dirancang untuk memberi .14 Bagian XVIII Bab 90 catatan 7 7. atau bagiannya. 3. dan (b) Regulator besaran listrik otomatis dan instrumen atau aparatus untuk mengontrol besaran bukan listrik secara otomatis. (k) Lampu atau alat kelengkapan penerangan dari pos 94. (g) Barang dari Bab 90. atau untuk mengontrol suhu secara otomatis. (e) Mesin atau aparatus dari pos 84. (d) Barang dari pos 83. asalkan barang tersebut merupakan bagian integral dari mesin atau motor.81 atau 84.06. (ij) Senjata (Bab 93).. barang dari pos 84.82 atau barang dari pos 84.(c) Barang dari Bab 82 (perkakas).83. (h) Barang dari Bab 91. 3. atau (l) Sikat dari jenis yang digunakan sebagai bagian dari kendaraan ( pos 96.Referensi untuk "bagian" atau "aksesori" dalam Bab 86 sampai dengan 88 tidak berlaku untuk bagian atau aksesori yang tidak cocok untuk digunakan sematamata atau terutama dengan barang dari Bab-bab tersebut.Pos 90.. (f) Mesin atau perlengkapan elektris (Bab 85).79.05.01 sampai dengan 84. harus diklasifikasikan menurut pos yang sesuai dengan penggunaan utama dari bagian atau aksesori tersebut. yang penggunaannya tergantung maupun tidak pada fenomena elektris yang berubah-ubah menurut faktor yang harus dikontrol secara otomatis.03). tekanan atau variabel lainnya dari cairan atau gas secara otomatis.32 berlaku hanya untuk : (a) Instrumen dan aparatus untuk mengontrol arus. tinggi permukaan. yang dirancang untuk memberi faktor tersebut untuk.1.

Bingkai yang terpasang pada lukisan. bab maupun subpos. 4. Latihan 3 Pertanyaan 1. Merujuk pada Catatan ini. Bahkan dalam KUM HS nomor satu dinyatakan bahwa hal yang mengikat dalam mengklasifikasi barang adalah catatan. 5. distabilkan terhadap gangguan. barang cetakan atau litograf harus diklasifikasikan dengan barang tersebut. Bagaimana syarat komputer menurut Harmonized system pada Bab 84 ? 3. dan mempertahankannya pada nilai yang dikehendaki.. Bagaimana pengklasifikasian motor untuk mobil mainan ? 4. asalkan dari jenis dan nilai yang wajar untuk barang tersebut.15 Bagian XXI Bab 97 catatan 5 5. bingkai yang bukan merupakan jenis atau nilai yang wajar untuk barang tersebut. Catatan merupakan salah satu syarat penting dalam mengklasifikasi barang. dengan pengukuran nilai aktual secara konstan atau periodik. kolase atau plakat hiasan semacam itu. Jawaban 2. 3 4 5. ukiran. 4. baik catatan bagian. Saringan udara untuk mesin diklasifikasikan pada pos berapa ? 5. Berbagai jenis barang akan dijelaskan dengan catatan dalam bagian. Rangkuman Salah satu syarat menjadi seorang klasifikator yang baik adalah harus dapat memahami catatan penting. 3.faktor ini untuk. gambar pastel. Sebutkan 3 contoh barang termasuk bagian untuk pemakaian umum ? 2.3. gambar. bab maupun subpos yang bersifat mengikat.1. harus diklasifikasikan terpisah. Apakah bingkai dan gambar yang sama mahal harganya diklasifikasikan dalam satu pos tarif ? 1.2. Test Formatif .

harus diklasifikasikan dengan barang tersebut jika biasa dijual dengan barang itu 5.1. Dengan mengetahui spesifikasi barang maka akan lebih mendekati keakuratan dalam mengklasifikasi barang 5. Dalam membuat Nota Penelitian Klasifikasi Barang maka diperlukan kerangka yang . ( B . ( B .S ) Sebelum mengklasifikasi barang. Bab dan Sub-bab pada Buku tarif Bea Masuk Indonesia hanya dimaksudkan untuk memudahkan penyebutan saja. asalkan pada saat diimpor sudah mempunyai sifat utama sebagai lengkap atau rampung barang 3. cocok untuk pemakaian jangka panjang dan diimpor lengkap dengan isinya.S ) Judul Bagian. ( B . ( B .2.5.S ) Pernyataan 5b pada KUM HS adalah Peti kamera.S ) Pernyataan 2b pada KUM HS adalah Barang tidak lengkap atau tidak rampung dianggap sebagai barang lengkap atau rampung. Tidak mengikat secara hukum dalam mengklasifikasi 2. ( B . 1. peti instrumen dan tempat simpan yang semacam. sebaiknya kita identifikasi dulu barang yang akan kita klasifikasi. Lingkarilah huruf B apabila pernyataan ini Saudara anggap benar dan huruf S apabila pernyataan Saudara anggap salah. Pilihlah jawaban yang Saudara anggap benar dengan cara melingkari huruf yang terdapat di depan jawaban tersebut 6. dengan bentuk atau kelengkapan khusus untuk menyimpan barang tertentu atau seperangkat barang tertentu.S) Pernyataan 3a pada KUM HS adalah Pos yang memuat uraian yang paling terinci harus lebih diutamakan daripada pos yang memuat uraian yang lebih umum sifatnya 4.

3a c. 2b d. definitif b. bumbu. pengertian 9. 3b b. 5a d. pernyataan a. 2a c. Uraian klasifikasi mulai 2 digit sampai dengan 9 digit d. 3a 10. esklusif c. ilustrasi d.singkat atau memerlukan uraian yang cukup panjang tergantung pada permasalahan yang dihadapi. diklasifikasikan sebagai mie pada bab 19. berdasarkan KUM HS nomor : a. 5a 8. 2b b. Suatu kemasan mengandung mie. b dan c benar 7. saos dan bawang. Namun demikian nota tersebut setidak-tidaknya memuat tentang : a. 3b d. Tabung gas LPG yang berisi gas LPG tidak dapat diklasifikasikan menjadi stu pos tarif karena ketentuan menurut KUM HS nomor : a.alasan atau catatan yang digunakan c. Walalupun etil alkohol merupakan bahan kimia organik. 5b . Larutan dengan kandungan asam cuka (acetic acid) lebih dari 10 % dikeluarkan dari bab 22 berdasarkan catatan : a. 1 b. namun diklasifikasikan pada bab 22 dikarenakan KUM HS nomor : a. nama barang dan uraian jenis barang b. 3c c.

1. Benang tenun terbuat dari campuran 70 % kapas (cotton) dan 30 % nilon. tidak dikelantang dan tidak dimerserisasi. Mengapa tutup kepala (topi) pengaman untuk pengendara sepeda motor yang terbuat dari bahan plastik tidak diklasifikasikan pada bab 39 ? 9. Mengapa olahan makanan yang terbuat dari daging sapi yang dikukus tidak diklasifikasikan pada bab 2 7. Kunci Jawaban Tes Formatif 6. 8. Pilihan B atau S .Ketentuan dan catatan apa yang digunakan dalam mengklasifikasi barang tersebut 6. Sebutkan alasannya 10.3. Jawablah pertanyaan soal dibawah ini dengan ringkas 6.04 atau 90.32 . dari serat disisir dengan nomor benang 150 decitex. merupakan benang tunggal. Mengapa sabun mandi mengandung obat pembasmi kuman walaupun mengandung obat tidak diklasifikasikan pada bab 30 sebagai produk farmasi.5. Automatic voltage regulator yang digunakan sebagai stabilizer otomatis untuk komputer harus diklasifikasikan pada pos 85.

Bentuk pengolahan bukan sederhana.50. B 6. Lihat catatan 6(b) Bab 90 Perhatikan sub-pos 5206. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Bandingkanlah hasil jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang ada di . Lihat catatan 1(e) Bab 30 3. B 2.3. Pilihlah berganda 1. S 3.000 2.1. b 4. Essay Diberitahukan hanya 6 digitnya (sub posnya) 1.24. d 2. c 3. d 6. Lihat catatan 1 bab 16. Lihat catatan 2(A) Bagian XI 5. 7. B 4. Daging sapi hasil olahan sesuai bab 2 (pengolahan sementara/terbatas) diklasifikasikan pada bab 2. Lihat catatan 1(n) Bab 39 4.2. seperti dipanggang. S 5. dikukus dan pengolahan selain pada bab 2 diklasifikasikan pada bab 16. Perhatikan pos tarif 1602. a 5.

2007 version .. Kepustakaan 1. Wordl Customs Organization. Arti tingkat penguasaan : * 90 % .. bila tingkat penguasaan Anda masih dibawah 80 %...belakang modul ini. Hitunglah jumlah jawaban Anda yang benar atau sejauh mana Anda menguasai mata pelajaran tersebut... Kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap terhadap materi kegiatan belajar Rumus Tingkat Penguasaan Jumlah Jawaban Anda yang benar dibagi 15 kemudian dikali 100 % = .. Harmonized System.100 % = Baik sekali * 80 % * 70 % * 89 % = Baik 79 % = Cukup 69 % = Kurang Kalau Anda mencapai tingkat penguasaan 80% keatas Anda dapat meneruskan kepada modul atau bagian pelajaran lain.. Hasilnya Baik ! akan tetapi. Anda harus mengulangi membaca Modul kembali. terutama bagian yang belum Anda kuasai 8....

Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (2007). Jakarta 5. Classification Disputes Settled by The Harmonized System Committee. Jakarta 3. Pengantar Klasifikasi Barang. Explanatory Notes. World Customs Organization (1994) *** .2. World Customs Organization. (1995) Pusdiklat Bea dan Cukai. 2007 4. Departemen Keuangan RI.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful