BAHAN DIKLAT TEKNIS SUBTANTIF DASAR (DTSD) KEPABEANAN DAN CUKAI

MODUL ( I – III)

MATERI KLASIFIKASI BARANG

OLEH : TIM PENYUSUN MODUL PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI

PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN BEA DAN CUKAI BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

JAKARTA 2007

MODUL I

SISTEM KLASIFIKASI BARANG MENURUT HARMONIZED SYSTEM

MATERI KLASIFIKASI BARANG OLEH : TIM PENYUSUN MODUL PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN BEA DAN CUKAI BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA JAKARTA 2007

Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Allah yang Maha Kuasa, bahwa Modul ini dapat diselesaikan sesuai waktunya.

Obyek dari kegiatan Direktorat Bea dan Cukai adalah barang. Dalam rangka penentapan tarif bea masuk dan kepentingan kepabeanan lainnya, seyogyanya petugas Ditjen Bea dan Cukai menambah keterampilam dalam mengklasifikasi barang agar pelayanan cepat dan negara tidak dirugikan dalam menetapkan besarnya bea masuk, karena ada kepastian tentang jenis barang dan penetapan tarif posnya.

Modul ini merupakan seri dari 3 buah modul mata pelajaran klasifikasi barang. Modul ini digunakan dalam Diklat Teksnis Substantif Dasar I Kepabeanan dan Cukai dengan judul “Catatan Penting dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia”

Dalam kesempatan ini, Penulis menghaturkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga dapat diselesaikannya Modul ini. Semoga Allah membalas atas amal kebaikan tersebut. Semoga Modul ini bermanfaat sebagai penambah wawasan dan media untuk penambah keterampilan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang.

Jakarta, Nopember 2007

Penulis

.............. 1. 4 KEGIATAN BELAJAR 3 CATATAN PENTING PADA BTBMI.............................................................................................................................3............................. Tujuan Pembelajaran Khusus.....................................1 Uraian.............. Tujuan Pembelajaran Umum................................................................................................... 2................... KEGIATAN BELAJAR 2 STRUKTUR PENGELOMPOKAN BARANG PADA BTBMI..............................................................................1 Uraian. 4................. 1.3.........................3......Deskripsi singkat.................. Kunci Jawaban ...................2.... 4........................................................... Rangkuman... Daftar Isi ........ 1................................. 4................................................. 3......... Contoh dan Non contoh. Latihan 1................ Test Formatif ..................................................2.2.. Rangkuman........................................................................................................................DAFTAR ISI Halalaman Kata Pengantar ........................1............................................................ i ii 1 1 1 1 2 2 5 5 6 6 22 23 24 24 32 32 33 36 37 38 2 3 5 6 7 8 ....................... 2.......................2....................... Latihan 2. 2..................... Contoh dan Non contoh................................... Umpan Balik............... Rangkuman....................................................... Contoh dan Non contoh....................... Latihan 3........................................................ 3.. KEGIATAN BELAJAR 1 JENIS CATATAN PADA BTBMI……………………………................3...........1 Uraian.................... 3................................... 1 PENDAHULUAN ...... Daftar Pustaka.........................

PENDAHULUAN 1. Seorang klasifikator harus memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang karena akan menentukan ketepatan dalam klasifikasi dalam Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang pada akhirnya menentukan ketepatan jumlah bea masuk dan pungutan impor lainnya yang harus dibayar. Harmonized System (HS) 3. para Siswa diharapkan mampu memahami landasan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang berdasarkan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. Tujuan Instruksional Umum Setelah mempelajari modul ini.2. seorang klasifikator harus terlebih dahulu memahami pengetahuan barang dan pengetahuan mengenai klasifikasi barang.MODUL I KLASIFIKASI BARANG I. Deskripsi Singkat Seorang Pegawai Ditjen Bea dan Cukai harus menjadi seorang klasifikator dibidang kepabeanan Oleh karena itu.1. 1. 1. Identifikasi dan klasifikasi barang 2. Tujuan Instruksional Khusus Setelah mempelajari Modul ini para siswa diharapkan dapat menjelaskan : 1. . Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI ) 2007.3.

Contoh dan Non Contoh 2. Setelah kita mendapatkan seluruh informasi yang dibutuhkan melalui identifikasi barang. Langkah ini dinamakan Identifikasi barang. Seorang klasifikaotr tidak mungkin dapat mengklasifikasikan suatu barang dengan benar bila ia tidak tahu spesifikasi barang tersebut.1. Sebelum mengklasifikasi suatu barang. Namun sekali lagi perlu diingat. Uraian. Dalam buku ini akan dijelaskan dengan singkat langkah-langkah praktis dalam mengklasifikasi barang. Keakuratan mengklasifikasi tergantung dari keakuratan dalam mengidentifikasi barang. Identifikasi dan Klasifikasi Barang Langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk dapat mengklasifikasi suatu barang dengan benar? Biasanya klasifikasi tersebut dilakukan dengan mencari langsung pos tarif yang dianggap sesuai. Perlu diingat bahwa setelah melakukan tahap klasifikasi.2. kita harus tahu lebih dulu spesifikasi barang itu. KEGIATAN BELAJAR 1 IDENTIFIKASI DAN KLASIFIKASI BARANG 2. Langkah pertama dalam mengklasifikasi adalah apa yang akan diklasifikasikan. Diharapkan dengan menggunakan metode ini para siswa dapat dengan mudah mengklasifikasi barang.1. baru diketahui bahwa informasi yang ada belum lengkap sehingga kita harus kembali melakukan identifikasi barang untuk memperoleh informasi yang diperlukan tersebut. barulah kita dapat melakukan langkah kedua yaitu Klasifikasi barang. Informasi apa yang diperlukan untuk mengidentifikasi suatu barang dan darimana informasi tersebut diperoleh? Informasi yang diperlukan sebenarnya tergantung dari .1. klasifikasi yang benar hanya dapat dilakukan apabila mengetahui jenis barang dan memahami aturanaturan mengklasifikasi dengan benar. Cara seperti ini tidak akurat dan sering menyebabkan terjadinya kesalahan klasifikasi yang mengakibatkan negara dirugikan.

uraian yang ada pada BTBMI yang berkaitan dengan barang bersangkutan. Berapa watt dan voltage tenaga listrik yang dibutuhkan. atau kuda untuk sirkus). Informasi lain dapat kita peroleh dari berbagai sumber di atas. misalnya apakah bentuknya cair atau padat. butiran atau bongkahan. semakin mudah bagi kita untuk mengklasifikasikan barang karena tidak dibutuhkan informasi yang terlalu rumit (misalnya. Darimana kita dapat memperoleh informasi yang kita perlukan untuk mengklasifikasi suatu barang? bawah ini: Mari menjawab pertanyaan tesebut dengan memperhatikan bagan di Untuk mengetahui spesifikasi barang yang akan kita klasifikasikan. kegunaan. informasi yang diperlukan untuk mengklasifikasikan kuda hidup. dan sebagainya. banyak sumber informasi yang dapat kita gunakan. Demikian juga apabila barang tersebut berupa barang elektronik. Semakin banyak informasi yang kita miliki tentang barang tersebut. . bagaimana pengemasnya. dan sebagainya. apa kegunaannya. Fisik barang itu sendiri sudah memberikan beberapa informasi yang kita butuhkan. apakah bentuk asal atau preparat. untuk tujuan olah raga. buatan. Informasi yang diperlukan tentunya semakin banyak dan rumit. apa komposisinya. bagaimana bentuknya. semakin akurat kita mengklasifikasikannya. dan keterangan lainnya. Semakin sederhana dan rinci uraian barang pada BTBMI. hanyalah kuda bibit. Bagaimana seandainya yang akan kita klasifikasikan adalah suatu bahan kimia? Barangkali sebelum mengklasifikasi kita memerlukan berbagai informasi mengenai barang kimia tersebut: apakah organik atau anorganik.

C/A. elektronik. DLL HASIL PENGUJIAN LABORATORIUM LITERATUR LAIN IDENTIFIKASI KLASIFIKASI KONDISI FISIK BARANG LABEL. DAN LAIN LAIN. Identifikasi barang diperlukan untuk menjawab setidak-tidaknya empat pertanyaan dasar di bawah ini: • What is it? Barang apa yang diimpor? ⇒ bahan baku. mesin? • What is it made of? Dibuat dari apa barang tersebut? ⇒ komposisi. DATA BASE. DLL EXPL. atau barang jadi? produk pertanian. campuran. setengah jadi. bahan yang dominan? . kimia. KATALOG. INSTANSI/LEMBAGA TERTENTU KAMUS. KEMASAN INFORMASI DARI SUMBER LAIN: SK. MSDS. BROSUR. NOTES ALPHABETI CAL INDEX.

mempelajari jenis.1. Langkah-Langkah Dalam Mengklasifikasi Barang 1) Prosedur Umum Klasifikasi Dalam mengklasifikasi barang menggunakan BTBMI.• What for? Digunakan untuk apa? ⇒ kegunaan tertentu. Hal ini untuk mengetahui grade atau kemurnian dari bahan tersebut. lebh dari satu macam kegunaan? • How is it imported? Bagaimana saat diimpor? ⇒ kemasan? belum lengkap? terurai? dalam bentuk set? Pertanyaan di atas harus dijawab sebelum kita memulai tahap klasifikasi. Namun pada umumnya suatu pos mencakup atau menguraikan satu kelompok barang sehingga sepintas lalu seakan-akan ada satu barang yang dicakup oleh dua atau lebih pos. 2. bahan baku dan semua informasi mengenai barang. Kalau dari pabrik farmasi kecenderungannya grade farmasi atau kemurnian mendekati 100 %. Kita dapat menemukan satu pos tertentu bila pos dimaksud dengan spesifik menguraikan jenis barangnya. Apabila kita sudah mempunyai jawaban. . Demikian juga negara asal barang akan berpengaruh terhadap mutu atau harga barang. bukan satu pos tertentu?). merumuskan identitas atau deskripsi barang tersebut. setelah 3W + 1H ⇒ What are the classifiable codes? Mengapa “What are classifiable codes?” (pos-pos. barulah kita berusaha mencari pos yang tepat. Untuk itu kita perlu mengantisipasi semua pos tarif yang mungkin untuk dipilih satu pos yang paling sesuai. dari jenis pabrik apa.2. Dengan kata lain. fungsi. prosedur yang digunakan adalah sebagai berikut : • • • identifikasi barang yang akan diklasifikasikan. bagian dari barang lain. Keterangan pabrik atau produsen barang perlu diperhatikan. misalnya apakah pabrik farmasi atau pabrik produksi pipa plastik. aksesoris. Keterangan kemurnian barang akan berkaitan dengan harga barang tersebut.

Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. mineral. Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System dan teori pendukung lainnya. guna. Apabila ada catatan yang mengeluarkan barang tersebut dari Bab atau Bagian yang kita pilih. (b) Pilih bab atau bab-bab yang berkaitan dengan spesifikasi barang tersebut. kimia. berat. dan seterusnya). (d) Setelah menemukan satu bab yang paling sesuai berdasarkan kajian di atas. kemasan dan informasi lain yang bergunauntuk mengklasifikasi barang. biasanya kita sudah mempunyai gambaran umum apakah barang tersebut diklasifikasikan di bab tersebut atau di bab lainnya. kita bisa memilih bab-bab yang lebih spesifik. Identitas barang meliputi : nama. (a) Kita identifikasi dulu barang yang akan kita klasifikasi. Pada tahap ini kadang-kadang kita sudah dapat . barang kimia. Tahapan Mengklasifikasi Barang Dalam penjelasan ini disajikan tahapan mengklasifikasi barang secara garis besar. atau pos mana barang tersebut diklasifikasikan. (c) Perhatikan penjelasan-penjelasan dalam catatan Bagian maupun catatan Bab yang berkaitan dengan barang yang akan kita klasifikasi. pertanian. perhatikan pada Bagian. fungsi.• • melihat buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI). baca dan perhatikan baik-baik catatan Bagian dan catatan Bab yang berkaitan dengan pilihan bab atau bab-bab pada butir 1. Dengan mengetahui spesifikasi barang. Bila sudah kita tentukan. Bab. bauatan. atau mesin. misalnya barang tersebut produk pertanian. Tahapan lebih rinci akan dijelaskan kemudian setelah memahami apa itu Harmonized System. menentukan klasifikasi barang ke dalam BTBMI (dapat dimulai baik dari segi bahan baku menjadi barang jadi. proses sederhana dan proses canggih/kompleks. Pada tahap ini. 2). maka kita mulai menelusuri pos-pos yang mungkin mencakup barang yang akan kita klasifikasikan dalam bab tersebut. mesin.

Ingat.. Bila sudah kita temukan satu pos yang tepat. PPN. Bagaimana langkah-langkah dalam meng klasifi kasi barang ? 3.menemukan pos yang mencakup barang tersebut dengan rinci. komposisinya. Bagaimana seandainya yang akan kita klasifikasikan adalah suatu bahan kimia? Sebelum mengklasifikasi kita memerlukan identifikasi untuk mendapatkan informasi mengenai: : organik atau anorganik. dan lain-lain. . data apa yang diperlukan mengenai pompa tersebut ? 1. Rangkuman Dalam kegiatan 1 telah dijelaskan dengan singkat langkah-langkah praktis dalam mengklasifikasi barang.3. 2. IP. Pertamina. Mengapa kita harus mengidentifikasi barang sebelum mengklasifikasinya ? 2. maka langkah selanjutnya tinggal menentukan sub-pos (6-digit) dan pos tarif (9-digit) yang sesuai. bentuknya. dan sebagainya.2. 3. atau cukai) dan ada atau tidak peraturan tata niaganya (IT. Bila akan diimpor sebuah pompa air yang menggunakan tenaga listrk. jangan lupa selalu menggunakan pembebanan yang up to date berdasarkan ketentuan yang terbaru. Jawaban 2.). Karena pembebanan tersebut sering berubah. Latihan 1 Pertanyaan 1. 2. PPnBM. langkah selanjutnya adalah melihat pembebanannya (BM. kegunaannya. bentuk asal atau preparat. dalam penentuan sub-pos dan pos tarif pun kadang timbul permasalahan klasifikasi yang sama dengan penentuan pos (4-digit). Dalam tahap ini tentunya menggunakan kaidah-kaidah seperti yang ada dalam nomor 1 sampai dengan 10 Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System (e) Apabila sudah dipilih satu pos tarif yang benar-benar sesuai dengan uraian barang.

Sejarah Sistem Klasifikasi di Indonesia Sebelum diberlakukannya Harmonized System. penetapan klasifikasi barang diatur lebih lanjut oleh Menteri Keuangan. d. hanya pada sistem CCCN ini terdapat . Pada dasarnya sistem pentarifan ini sama dengan sistem sebelumnya. pengangkutan dan statistik. fungsi. Contoh dan Non Contoh 3. Penetapan tarif ini merupakan penyempurnaan dari penetapan tarif sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 Juli 1975 sampai dengan 30 september 1980. Sistem Customs Cooperation Council (CCCN). yaitu : a. b. Uraian. KEGIATAN BELAJAR 2. Berdasarkan pasal 14 ayat 2 Undang-undang Kepabenan Indonesia Nomor 10 tahun 1995. Sistem Jenewa (Geneve Nomenclature). 2) mempelajari jenis. yang berlaku sejak kemerdekaan Republik Indonesia sampai dengan 31 Desember 1972. 1. Pada saat ini sistem pengklasifikasian barang di Indonesia didasarkan pada Harmonized System dan dituangkan dalam bentuk suatu daftar tarif yang kita kenal dengan sebutan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia.Dalam mengklasifikasi barang menggunakan BTBMI. c. 3) merumuskan identitas.1. HARMONIZED SYSTEM 3. Sistem Brussel Edisi 1975 (BTN 1975). Indonesia telah menggunakan beberapa sistem klasifikasi untuk barang impor. Pengantar Klasifikasi barang adalah suatu daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis dengan tujuan untuk mempermudah pentarifan transaksi perdagangan. mulai berlaku sejak tanggal 1 Januari 1973 sampai dengan 30 Juni 1975. prosedur yang digunakan adalah sebagai berikut : 1) identifikasi barang. 5) menentukan klasifikasi barang 3. bahan baku dan semua informasi mengenai barang. Sistem Brussel (Brussel Tariff Nomenclature atau BTN). 4 melihat BTBMI .1.1.

dan negosiasi perdagangan. . Sistem ini merupakan penyempurnaan dari sistem CCCN sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 April 1987 sampai dengan 31 desember 1988. Customs Cooperation Council (CCC) yang sekarang dikenal dengan nama World Customs Organisation (Organisasi Pabean Dunia) telah membentuk suatu kelompok studi yang berusaha untuk menciptakan suatu nomenklatur klasifikasi barang yang tidak semata-mata untuk keperluan pabean. kelompok studi tersebut berhasil menyusun suatu nomenklatur (daftar klasifikasi barang berdasarkan kelompok-kelompok) yang dinamakan Harmonized Commodity Description and Coding System atau lebih dikenal dengan sebutan Harmonized System (HS). Pada awalnya. Sistem Harmonisasi (Harmonized System). nomenklatur tersebut disahkan dalam suatu konvensi yang dikenal dengan nama Konvensi HS. pengangkutan. Pada akhir tahun 1986. tetapi juga digunakan untuk kepentingan lain seperti statistik. Untuk memberikan kekuatan hukum yang pasti. Sistem CCCN ini mulai diberlakukan pada tanggal 1 Oktober 1980 sampai dengan 31 Maret 1985. 2. Meskipun baru meratifikasi pada tahun 1993. Sistem ini diterapkan di Indonesia berdasarkan PP No. termasuk Indonesia yang telah meratifikasi konvensi HS dengan Keppres Nomor 35 tahun 1993. konvensi HS ditandatangani oleh 70 negara yang sebagian besar adalah negara Eropa. Namun sekarang hampir seluruh negara di dunia telah meratifikasi konvensi ini. e. Mengapa HS ? Sejak tahun 1970. 26 tahun 1988 dan diwujudkan dalam bentuk Buku Tarif Bea Masuk Indonesia 1989 dan dinyatakan berlaku mulai tanggal 1 Januari 1989.penyempurnaan sistem penomoran pada sub-pos dari dua digit menjadi tiga digit atau semula 6 digit menjadi 7 digit. sebenarnya Indonesia telah menggunakan BTBMI berdasarkan HS sejak tanggal 1 Januari 1989. Sistem CCCN Edisi 1985 (CCCN 1985). f.

4. Menyadari hal yang demikian WCO pada tanggal 14 Juni 1983 meluncurkan HS yang mulai berlaku secara internasional pada tanggal 1 Januari 1988.2. • Memberikan Sistem Internasional yang resmi untuk pemberian Kode. Pen jelasan dan penggolongan barang untuk tujuan perdagangan keperluan pengangkutan. dan aparat bea dan cukai.1. Sederhana dan memberikan kepastian dalam hal aplikasi dan interpretasi yang benar dan sama untuk keperluan negosiasi. Mengapa HS dijadikan dasar klasifikasi secara internasional? Ada beberapa keuntungan yang didapat setiap negara yang mengadopsi HS sebagai pedoman klasifikasi barang. dokumentasi dan sebagainya. Merupakan kumpulan data yang seragam secara internasional sehingga dapat digunakan untuk mendukung analisis dan statistik perdagangan internasional. • Memudahkan pengumpulan. seperti tarif pengangkutan. produsen. 3. mengakibatkan timbulnya kesulitan dalam mengantisipasi kemajuan teknologi. untuk penetapan Tarif Pabean secara mendunia. pengangkut. Tujuan Harmonized System Adanya perbedaan sistem klasifikasi tarif antara negara di dunia. HS adalah pedoman klasifikasi yang sistematik untuk seluruh barang yang diperdagangkan secara internasional. dengan tujuan : • Memberikan keseragaman dalam daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis. 2. HS menggunakan dasar yang seragam untuk keperluan pentarifan secara internasional. 5. . Menggunakan “bahasa pabean” sehingga dapat dengan mudah dimengerti oleh importir. untuk memberikan perhatian kepada perkembangan teknologi dan masyarakat industri serta pola perdagangan Internasional. pembuatan dan analisis Statistik perdagangan dunia. yaitu: 1. • Memperbaharui sistem klasifikasi barang sebelumnya. eksportir.3. perkembangan masyarakat industri dan pola perdagangan Internasional.

97). Publikasi dimaksud adalah: 1. Explanatory Notes yang digunakan saat ini adalah edisi kedua (tahun 1996) yang terdiri dari empat volume. b. Publikasi-publikasi tersebut juga diterbitkan oleh WCO.29).1. Volume 3 (Bab 64 .HS telah dibuat sedemikian rupa sehingga standard klasifikasi barang dan sistem kode penomoran barang dapat dijadikan acuan untuk berbagai kebutuhan oleh berbagai lembaga internasional yang berkaitan dengan perdagangan. misalnya: a.63). yaitu Vol. The Standard International Trade Classificatioan (SITC) 3. c. Explanatory Notes adalah referensi yang sangat diperlukan untuk mendapatkan interpretasi yang benar dari HS. Karena pentingnya Explanatory Notes ini. Untuk itu membaca Explanatory Notes harus selalu disesuaikan dengan konteksnya dalam HS. d. 1 (Bab 1 .84). The International Air Transport Association (IATA). namun sebagaimana disetujui WCO. The Explanatory Notes to the Harmonized System (EN) Explanatory Notes bukan merupakan bagian yang integral dari HS. . Explanatory Notes juga mengalami perubahan (amandemen) untuk menyesuaikan isinya dengan struktur HS. The International Chamber or Shipping (ICS). dan Volume 4 (Bab 85 . World Customs Organization (WCO). e. explanatory notes merupakan interpretasi resmi (official interpretation) dari HS pada level internasional dan merupakan pelengkap yang sangat penting dari HS. sebagian negara anggota WCO mensahkannya sebagai dokumen yang berkekuatan hukum Seiring perkembangan teknologi.3 Publikasi Pelengkap HS Harmonized System mempunyai beberapa publikasi pelengkap yang digunakan untuk lebih mempermudah klasifikasi barang. Volume 2 (Bab 30. The International Union Railway (IUR).

dan Catatan Sub-Pos. Publikasi lain yang merupakan pelengkap HS adalah the Compendium of Classification Opinions. namun juga dipergunakan secara internasional dalam bidang lain seperti negosiasi perdagangan. 96 Bab (+ Bab 77). dan 1. Sistem Pengkodean Harmonized System mempunyai dua karakteristik yang sangat mendasar.241 pos.Z).1. 3. Dispute Settled Classification Opinion. yaitu Bab 77. Dengan tetap berdasar kepada HS 6-digit. bersama dengan Ketentuan Umum Menginterpretasi. dirancang tidak hanya untuk keperluan kepabeanan.L) dan Volume II (M . dan Correlation Tables. semua negara mempunyai kesatuan persepsi tentang pengklasifikasian suatu barang. the Harmonized System Commodity Data Base (dalam bentuk CD-ROM). WCO juga menerbitkan buku indeks yang dikenal dengan nama the Alphabetical Index. Multipurpose nomenclature HS yang mempunyai 6 digit penggolongan. pengangkutan. yaitu Volume I (A . 98. Ada tiga Bab yang belum digunakan dalam HS yang ada saat ini. dan sebagainya. Catatan Bagian. HS yang tersusun dari pos dan sub-pos. The Alphabetical Index Untuk mempermudah mengklasifikasikan suatu barang pada pos-pos atau sub-sub pos dalam nomenklatur HS atau Explanatory Notes. Structured nomenclature HS adalah nomenklatur yang terdiri dari 21 Bagian. merupakan pedoman mengklasifikasi barang yang sistematik dan seragam. Catatan Bab.2. yaitu: 1.4. the Training Modules. statistik. Alphabetical Index terdiri dari dua volume. 2. Masing-masing negara penandatangan konvensi (contracting party) dapat mengembangkan penggolongan 6-digit tersebut menjadi kelompok yang lebih spesifik sesuai dengan kebijaksanaan ekonomi dan industrinya. 3. dan .

c. Mengingat pentingnya memahami KUM HS. Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System (General Rules for the Interpretation of the HS). misalnya untuk barang pos atau peralatan pelayaran. Sistem penomoran dalam HS terbagi menjadi Bab (2-digit). b. . barang dimaksud diklasifikasikan pada pos 01. 11 _______ ______________ • Dua angka pertama untuk menunjukkan pada bab mana barang itu diklasifikasikan. • Empat angka pertama menunjukkan Pos atau Heading dalam setiap bab. Pada contoh di atas. 01 Sub-pos (Sub-heading) 0101. bagian ini akan dibahas tersendiri. Pada contoh di atas. Catatan Bagian.01. Harmonized System mempunyai tiga bagian utama atau integral. Indonesia juga menggunakan Bab 98 untuk keperluan ekspor barang tertentu yang pada bulan April 1999 dicabut kembali. Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System (KUM HS) merupakan bagian terpenting yang harus dipahami sebelum melangkah lebih jauh untuk meng klasifikasikan barang menggunakan HS. yaitu: a. Catatan Bab. Bab 77 dipersiapkan untuk keperluan di masa mendatang. sedangkan Bab 98 dan 99 digunakan untuk keperluan khusus bagi masing-masing contracting party. KUM HS berisi enam prinsip dasar yang harus dipatuhi dalam mengklasifikasi barang. HS menggunakan kode nomor dalam mengklasifikasikan barang. pos (4-digit). dan Catatan Sub-Pos. Seperti telah disinggung sebelumnya. barang dimaksud diklasifikasikan pada Bab 1.99. Kode-kode nomor tersebut mencakup uraian barang yang tersusun secara sistematis. dan sub-pos (6-digit) dengan penjelasan sebagai berikut: 01 __ 01 11 Bab (Chapter) 1 Pos (Heading) 01. Pos (4-digit) dan Sub-pos (6-digit) yang disusun dengan sistematik.

3. Apa tujuan Harmnized System 2. perkembangan masyarakat industri dan pola perdagangan Internasional. 3.2. Indonesia menggunakan sistem penomoran 10 digit dalam BTBMI yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari sub-sub pos dalam HS. mengakibatkan timbulnya kesulitan dalam mengantisipasi kemajuan teknologi. HS menggunakan kode nomor dalam mengklasifikasikan barang.11. barang dimaksud diklasifikasikan pada sub-pos 0101. Berdasarkan pasal 14 ayat 2 Undang-undang Kepabenan Indonesia Nomor 10 tahun 1995. System ? 2. Penjelasan mengenai hal ini akan dibahas lebih rinci pada penjelasan berikutnya.3.• Enam angka pertama menunjukkan Sub Pos dalam setiap Pos.Latihan 3 Pertanyaan 1. Pada contoh di atas. Untuk keperluan nasional. Bagaimana sistem penomoran Harmonized 3. pengangkutan dan statistik. . Pada saat ini sistem pengklasifikasian barang di Indonesia didasarkan pada Harmonized System dan dituangkan dalam bentuk suatu daftar tarif yang kita kenal dengan sebutan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. Apa yang dimaksud dengan Harmonized 1. Rangkuman Klasifikasi barang adalah suatu daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis dengan tujuan untuk mempermudah pentarifan transaksi perdagangan. Kode-kode nomor tersebut mencakup uraian barang yang tersusun secara sistematis. Untuk keperluan nasional. System ? Jawaban 3. Indonesia menggunakan sistem penomoran 10 digit dalam BTBMI yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari sub-sub pos dalam HS. Perbedaan sistem klasifikasi tarif antara negara di dunia. WCO meluncurkan HS yang mulai berlaku secara internasional pada tanggal 1 Januari 1988.

Pengurangan hambatan dalam perdagangan Internasional guna mendukung terciptanya perdagangan bebas.1. d. Pemerintah bersama Dewan Perwakilan Rakyat telah berhasil membahas dan menyetujui Rancangan Undang-Undang Kepabeanan.05/1996 tanggal 21 Juni 1996 tentang Penetapan Sistem Klasifikasi Barang dan Besarnya Tarif Bea Masuk Atas Barang Impor. Dasar Hukum Pada akhir tahun 1995. c. yang sebelumnya dikenal dengan nama Customs Cooperation Council sejak tanggal 30 April 1957. Selanjutnya berdasarkan pasal 14 ayat 2 Undang-undang tersebut. Contoh dan Non Contoh 4. Perlindungan terhadap konsumen dalam negeri. b. Dalam Pasal 1 Keputusan ini disebutkan “Untuk penetapan tarif Bea Masuk. Indonesia telah menjadi anggota World Customs Organization. Upaya peningkatan daya saing produk Indonesia dipasar Internasional. Uraian. Pasal 14 ayat (1) UndangUndang ini menyebutkan bahwa “Untuk penetapan tarif Bea Masuk. penetapan klasifikasi barang ditentukan oleh Menteri Keuangan. 17 tahun 2006 . barang barang dikelompokkan berdasarkan sistem klasifikasi sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 1993 tentang Pengesahan International Convention The Harmonized Commodity Description and Coding System beserta protocol-nya”. KEGIATAN BELAJAR 3 BUKU TARIF BEA MASUK INDONESIA 4.1. Pemenuhan perjanjian serta kesepakatan Internasional. Pemerintah menerbitkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor : 440/KMK. barang dikelompokkan berdasarkan sistem klasifikasi barang”.4.1. Pengaturan lebih lanjut penentuan klasifikasi barang dilakukan dengan memperhatikan: a. yang kemudian dikenal dengan nama Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan saat ini telah diamandemend dengan UU no. Sebagai . Atas dasar pertimbangan di atas.

BTBMI terakhir dengan BTBMI tahun 2007 menggunakan HS . berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 81/KMK. telah diterima oleh Indonesia. Hingga saat ini BTBMI 1996 dimaksud telah beberapa kali diubah atau direvisi sesuai dengan perkembangan kebijaksanaan nasional. 3. 2. Pemerintah pada tanggal 29 Desember 1995 telah mengeluarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 639/KMK. Indonesia telah menjadi Contracting Party dari “International Convention on the Harmonized Commodity Description and Coding Sistem”. Menindaklanjuti adanya amandemen HS 1996 tersebut. Dasar penggunaan sistem klasifikasi barang berdasarkan HS versi 1996. struktur Klasifikasi barang dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI) mengacu kepada sistem klasifikasi dari HS Convention.01/1995 di atas selanjutnya dijabarkan dalam bentuk penerbitan BTBMI edisi tahun 1996. Penyempurnan Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 1988 tentang Perubahan dan Tambahan atas Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1969 tentang Pembebasan atas Impor dan Perubahan atas Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 1986 tentang Bea Masuk Tambahan Atas Barang Impor. yang semula mempergunakan HS versi 1992. Dasar penetapan besarnya tarif bea masuk (bea masuk tambahan dilebur bersama bea masuk) untuk barang bersangkutan. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 639/KMK.05/1994 tanggal 16 Maret 1994 telah ditetapkan bahwa terhitung sejak 1 April 1994 . Berdasarkan Artikel XVI HS Convention. World Customs Organization telah mengesahkan amandemen lampiran konvensi. 01/1995 yang merupakan: 1. Indonesia telah menunjukkan peran serta yang aktif dalam kegiatan WCO dan telah banyak menarik manfaat dari organisasi ini. Berdasarkan keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 35 tahun 1993. menjadi “HS versi 1996”.anggota WCO. Sebagai tindak lanjutnya . Berbagai bantuan teknis dalam rangka menunjang kelancaran pelaksanaan sistem dan prosedur kepabeanan Internasional.

kecuali: ♦ yang 2 digit terakhirnya 00 ( misalnya 8709. ♦ yang 4 digit terakhirnya 00. . b. Struktur BTBMI Pada bab terdahulu kita telah mempelajari gambaran umum tentang Harmonized System. 3) 10 (sepuluh) digit merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia.11. Kolom kedua adalah kolom “Uraian Barang” dalam bahasa Indonesia yang disusun dengan pola sebagai berikut: 1) Uraian barang pada pos (4 digit) dan subpos (6 digit) merupakan terjemahan dari teks HS-WCO.1. 4) 4 (empat). Sekarang kta akan mempelajari tentang BTBMI.00 ) berasal dari teks AHTN.2. 4. beberapa tahun sebelum Indonesia meratifikasi HS Convention dan saat ini yang berlaku adalah BTBMI 2007 berdasarkan AHTN. Kolom : a.21.00.10. 2) 8 (delapan) digit berasal dari teks AHTN. BTBMI tidak lain adalah HS yang dimodifikasi atau dijabarkan lebih lanjut untuk digunakan dalam pentarifan dan penanganan barang impor ke Indonesia.00 ( misalnya 8709.00 ) berasal dari teks HS – WCO. BTBMI adalah buku tarif bea masuk yang digunakan di Indonesia semenjak 1989 yaitu.ver 2007 berdasarkan AHTN. mempunyai struktur sebagai berikut: BTBMI 1. 6 (enam) dan 10 (sepuluh) digit pada bab 98 merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia. Kolom pertama adalah kolom “Pos/Subpos/Pos Tarif” yang mencantumkan nomor pos/subpos sebagai berikut : 1) 4 (empat) dan 6 (enam) digit pertama berasal dari teks Harmonized System-World Customs Organization (HS-WCO).

10. 3) Uraian barang pada pos tarif nasional (10 digit) merupakan terjemahan dari teks bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris.00. c.00 ) merupakan teks AHTN. ♦ yang 4 digit terakhirnya 00. 2) Uraian barang pada subpos ASEAN (8 digit) merupakan teks AHTN dalam bahasa Inggris.01/2003 tanggal 18 Desember 2003.11. d.00. Kolom keempat adalah kolom “Bea Masuk Umum” yang mencantumkan pembebanan tarif bea masuk atas barang impor berlaku umum berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 547/KMK.00 ) merupakan teks asli HS – WCO. ♦ yang 4 digit terakhirnya 00.00 ) berasal dari teks AHTN. 4) Khusus uraian barang dalam bab 98 merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia. kecuali : ♦ yang 2 digit terakhirnya 00 ( misalnya 8709. kecuali: ♦ yang 2 digit terakhirnya 00 ( misalnya 8709. e.00 ) berasal dari teks HS – WCO.21. 4) Khusus uraian barang dalam bab 98 merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia.00 ( misalnya 8709.10. .2) Uraian barang pada subpos ASEAN (8 digit) merupakan terjemahan dari teks AHTN. 3) Uraian barang pada pos tarif nasional (10 digit) merupakan teks berasal dari uraian barang dalam bahasa Indonesia. Kolom kelima adalah kolom “Bea Masuk CEPT” yang mencantumkan pembebanan tarif bea masuk yang berlaku untuk impor barang dari negara-negara ASEAN dalam rangka Skema CEPT berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 546/KMK.01/2003 tanggal 18 Desember 2003. Kolom ketiga adalah kolom “Description of Goods” dalam bahasa Inggris yang disusun dengan pola sebagai berikut : 1) Uraian barang pos (4 digit) dan subpos (6 digit) merupakan teks HS-WCO dalam bahasa Inggris.21.11.00 ( misalnya 8709.

PPnBM dan pemberlakuan . Pencantuman tanda asterisk (*) pada kolom pembebanan tarif ditujukan untuk halhal sebagai berikut : a. Pencantuman tanda strip (-) pada kolom pembebanan tarif ditujukan untuk hal-hal sebagai berikut : a. Kolom kesembilan adalah kolom “Keterangan” yang disediakan untuk mencantumkan keterangan tambahan yang dianggap perlu dan ketentuan lain yang belum ditampung pada kolom-kolom sebelumnya. i. b. “PPnBM” dan “Larangan/Pembatasan” berarti pengenaan PPN. h. Kolom kedelapan adalah kolom “Larangan/Pembatasan” yang mencantumkan ketentuan larangan atau pembatasan barang impor berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 230/MPP/KEP/7/1997 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 62/MPP/KEP/02/2001 dan tata niaga impor dan peredaran bahan berbahaya tertentu ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 254/MPP/KEP/7/2000. 3. 2.f.03/2003 tanggal 28 Januari 2003 dan Nomor 355/KMK.04/2000 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 39/KMK.04/2000 dan Nomor 570/KMK. Tanda strip (-) pada kolom Bea Masuk CEPT berarti komoditi pada pos tarif bersangkutan tidak termasuk dalam skema CEPT.05. Pencantuman tanda satu asterisk (*) pada kolom “Bea Masuk Umum” berarti pembebanan impornya mengikuti tarif pada pos tarif 87.03/2003 tanggal 11 Agustus 2003.01 sampai dengan 87. g. Pencantuman tanda satu asterisk (*) pada kolom “PPN”. b. Tanda strip (-) pada kolom PPN atau PPnBM berarti komoditi pada pos tariff bersangkutan tidak dikenakan pembebanan PPN atau PPnBM. Kolom keenam adalah kolom “PPN” yang mencantumkan pembebanan tarif PPN berdasarkan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000. serta ketentuan instansi teknis lainnya. Kolom ketujuh adalah kolom “PPnBM” yang mencantumkan pembebanan tarif PPnBM yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 569/KMK.

akar dan bonggol tertentu yang dapat dimakan. Kode Penomoran dan Pentakikan 1. Bea Masuk Anti Dumping berlaku di Indonesia sejak tanggal 1 April 1996 berlandaskan Undang-Undang Nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan sesuai pasal 18. maka yang mengikat secara hukum adalah teks asli SEN dalam bahasa Inggris. (2) Empat digit pertama (0705) menunjukkan Pos.11. Perlu diingat bahwa selain BM yang tercantum dalam BTBMI. 4. perhatikan contoh berikut: 0705.1. 4 Catatan Penjelasan Tambahan (SEN) merupakan pedoman dalam menginterpretasikan pengertian maupun istilah teknis barang yang tercantum dalam Subpos pos tarif tertentu.3. Untuk memahami sistem penomoran tersebut. terdapat juga BM Anti Dumping yang ditetapkan tersendiri oleh Menteri Keuangan. Pos 07. dan PPnBM ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Bab 07 : Sayuran. Nomor Pos tarif (10-digit) dan uraiannya.05: Selada (Lactuca sativa) dan chicory (Chicorium spp.).00 Selada kubis (selada bongkahan) (1) Dua digit pertama (07) menunjukkan Bab. Apabila terdapat keraguan dalam menginterpretasikan teks yang tercantum dalam Catatan Penjelasan Tambahan (SEN). 19 dan 20.00. besarnya BM. . PTNI (Peraturan Tata Niaga Impor) ditetapkan oleh Menteri Perindustrian dan Perdagangan.ketentuan larangan/pembatasan berlaku hanya terhadap sebagian jenis barang atau sebagian kelompok barang dalam pos tarif bersangkutan. PPN. segar atau dingin. Sistem Penomoran Sistem penomoran klasifikasi dalam BTBMI menggunakan 10-digit dengan susunan 6 digit pertama mengacu pada konvensi HS. 2 digit selanjutnya mengacu kepada AHTN dan 2 digit terakhir adalah pecahan pos tarif nasional.

Penggunaan satu takik (-) dimulai pada uraian Sub-pos (6-digit). misalnya : .Selada (4) Sepuluh digit pertama (0705.00) menunjukkan Pos Tarif 0705.Lain-lain) 2.). digunakan tiga takik (.10 . Apabila pos tarif 0705.Selada kubis (selada bongkolan). c.Selada * Ingat.-).10: ..11 dan 0705 19.000): 07. Bila uraian pada butir b dipecah. -) untuk mengklasifikasi barang. demikian seterusnya sehingga diperoleh pengelompokan barang yang lebih rinci. khusus untuk negara Indonesia.10) menunjukkan Sub-pos yaitu selada. d.(3) Enam digit pertama (0705.10 tidak dicantumkan karena sub-pos tersebut dipecah lagi menjadi sub-pos 0705.19: 0705. 0705.00. Sub-pos 0705. Sistem Takik Selain menggunakan sistem nomor. Bila uraian pada butir c dipecah lagi.11 dipecah lagi menjadi pos tarif yang lebih rinci.00 : . maka digunakan pemecahan menggunakan tiga takik pada digit 9 dan 10. 0705. segar atau dingin). digunakan dua takik (. dalam HS/BTBMI sub-pos 0705.19.11.00. HS/BTBMI juga menggunakan sistem takik (dash.00 -.-).10 dipecah menjadi 0705.11 dan 0705. dengan penjelasan sebagai berikut: a.00.11..11.05 Selada (Lactuca sativa) dan chicory (Chicorium spp. b. Di bawah ini disajikan contoh sistem takik dengan menggunakan contoh yang sudah ada (pos tarif 0705. Pos (4-digit) tidak diberi takik.

20. Barang tertentu A . 30.Segar 0705. • Pemecahan pos tarif (10-digit) juga mengikuti pola di atas.barang lainnya (lain-lain).10 . yaitu barang tertentu A . maka : 0705.00.01 --Polimer dari etilena. dalam bentuk asal. dalam BTBMI tidak dicantumkan (hanya dicantumkan uraian barangnya yaitu: .10.barang lainnya (lain-lain). segar atau dingin) dibagi menjadi ketimun dan ketimun acar saja.00 . Barang tertentu mempunyai kode 10. sub-pos.0705.01 (Kentang. • Dalam HS/BTBMI hanya ada dua jenis barang..selada) karena sub-pos tersebut dipecah lebih lanjut menjadi 0705..20..19.00 .11 dan 0705. • Setiap kelompok barang di atas (baik dalam pos. . . Kedua jenis barang tersebut dapat dipecah kembali lagi menjadi dua kelompok di atas (barang tertentu dan lain-lain) yang lebih spesifik.11. Mari kita lihat contoh berikut: 39. 80.11.barang tertentu B : Pos 07..20 . maupun pos tarif) dibagi atau dirinci dengan dua cara.. Pos 07.07 (Ketimun dan ketimun acar. perhatikan digit kelima dan keenam..11.. yaitu barang tertentu dan lain-lain. contoh : • sub-pos 0705...10.11.11.Dingin Namun apabila ASEAN misalnya akan membagi dari subpos 0705.Dingin Perlu diperhatikan bahwa kadang-kadang nomor sub-pos atau pos tarif yang dipecah lebih lanjut tidak dicantumkan secara eksplisit dalam BTBMI. Contoh: Barang tertentu A .00... • Bila pos dipecah menjadi sub-sub pos.Segar 0705.barang tertentu B atau barang tertentu A . segar atau dingin) dibagi menjadi bibit dan lain-lain.

bandingkan dengan uraian . perhatikan hal-hal berikut ini: • • • bandingkan kelompok barang “lain-lain” dimaksud dengan kelompok barang yang setara.00 --.30. apabila kata “lain-lain” dimaksud terdapat pada pos.00 --.10. Kata “lain-lain” terdapat pada Bab. • Barang lainnya (lain-lain) diberi kode 90.3901.Lain-lain Untuk pemecahan pos tarif. digunakan dalam pembuatan kabel telepon atau kabel listrik 3901.23. ..00 3901. 99. 20.10.. • Bila kode 10 dipecah lagi menjadi lebih rinci. 12. Pos. apabila kata “lain-lain” dimaksud terdapat pada bab... Arti kata “lain-lain” Dalam klasifikasi BTBMI dengan sistem HS kata “Lain-lain”.Butiran 3901.10. digunakan digit kesembilan.. • Barang tertentu mempunyai kode 10.10 3901.Mutu kabel --.00 3901. . Sub-Pos dan Pos Tarif Nasional Untuk dapat memahami arti kata “Lain-lain” .29.10. • Demikian juga kode 900 bila dipecah menjadi 91.00 --.22.Lain-lain.00 --.. 92. bandingkan dengan uraian barang pada bab-bab terdahulu.Lain-lain --Cair atau pasta --Bentuk lain : 3901.91.Mutu farmasi --.10.00 -.99.10. yaitu menjadi 11.Digunakan dalam pembuatan kabel telepon atau kabel listrik 3901.Polietilena berat jenis kurang dari 0.Dalam bentuk padat -.1. .4..10. 30. berfungsi untuk menampung barang yang belum disebut pada uraian jenis barang sebelumnya.perhatikan dua digit terakhir.. 19.10.10.00 3901.. 4.94: -.21.

A2. Metode di atas dapat difahami dengan lebih mudah apabila kita dapat menggambarkannya dalam bentuk diagram pohon. yang termasuk dalam Lain-lain (2). pada sub-pos yang sama. Lain-lain (2): barang selain B1 dan B2. bandingkan dengan uraian barang pada sub-sub pos terdahulu. yang termasuk dalam Lain-lain (1). sehingga akan jelas kelompok barang mana yang akan dibandingkan dengan barang lain-lain barang lain-lain yang ingin kita ketahui. Barang Lain-lain (1) dibagi menjadi barang B1. selain C1 dan C2. B2. dalam pos yang sama. bandingkan dengan uraian barang pada pos-pos tarif terdahulu. dan Lain-lain (2). yang termasuk dalam barang A. Barang Lain-lain (2) dibagi menjadi barang C1. Lain-lain (3) adalah termasuk kelompok barang A selain A1 dan A2. Cara membaca: Lain-lain (3): barang selain C1 dan C2. Lain-lain (1): barang selain A1 dan A2. dan Lain-lain (3). Jadi. Lain-lain (2) adalah termasuk kelompok barang A selain A1 dan . Di bawah ini disajikan mengetahui kelompok barang yang termasuk lain-lain dengan menggunakan metode diagram pohon dengan contoh sebagai berikut: A A1 A2 Lain-lain (1) B1 B2 Lain-lain (2) C1 C2 Lain-lain (3) • • • • • • Barang A dibagi menjadi barang A1. apabila kata “lain-lain” dimaksud terdapat pada pos tarif. dan Lain-lain (1). • • apabila kata “lain-lain” dimaksud terdapat pada sub-pos.barang pada pos-pos terdahulu dalam bab yang sama. C2. selain B1 dan B2.

A2. tanpa dikaitkan dengan catatan Bagian. Pos.. hidup yang belum disebutkan pada sub-sub pos sebelumnya. selain babi selain biri-biri dan kambing selain unggas dari jenis : ayam spesies Gallus domesticus. Secara singkat makna kata lainnya berfungsi untuk menampung barang tekstil sudah jadi yang belum disebutkan pada bab-bab sebelumnya dalam Bagian XI. Secara lebih rinci uraian pos tersebut dapat diuraikan menjadi: Binatang hidup. maupun catatan Sub-pos.. Kata lainnya dalam pos ini berfungsi untuk menampung binatang hidup yang belum disebutkan pada pos-pos sebelumnya. bagal dan hinnies. Dengan sedikit latihan menggunakan BTBMI.90 : .06: Binatang hidup lainnya. bebek. Lain-lain (3) adalah termasuk kelompok barang A selain A1 dan A2. Pos 01. Dalam diktat ini pengertian lain-lain dibatasi pemahamannya sebatas berkaitan dengan uraian jenis barang pada judul Bab. Di bawah ini disajikan beberapa contoh pengertian kata lain-lain yang terdapat dalam BTBMI: a) Judul Bab. b) Judul Pos. Secara lebih rinci uraian dalam sub-po stersebut dapat diuraikan menjadi: . selain yang telah disebutkan pada Bab 50 sampai dengan Bab 62”. • • • selain kuda..Lain-lain Kata lain-lain dalam sub-pos ini berfungsi untuk menampung binatang sejenis lembu. pengertian kata lain-lain tersebut akan dapat dengan mudah dimengerti. Secara lebih rinci judul bab tersebut dapat diuraikan menjadi “Tekstil dan barang tekstil. Subpos maupun Pos tarif nasional. selain binatang sejenis lembu. selain B1 dan B2. kalkun dan ayam mutiara c) Judul Sub Pos Sub-pos 0102. Bab 63: Barang tekstil sudah jadi lainnya . keledai. catatan Bab.

HS/BTBMI juga menggunakan sistem takik (dash. Sebagai tindak lanjutnya struktur Klasifikasi barang dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI) mengacu kepada sistem klasifikasi dari HS Convention Sistem penomoran klasifikasi dalam BTBMI menggunakan 10-digit dengan susunan 6 digit pertama mengacu pada konvensi HS dan 2 digit terakhir adalah pecahan pos tarif nasional. Rangkuman Indonesia telah menjadi Contracting Party dari “International Convention on the Harmonized Commodity Description and Coding Sistem”. -) untuk mengklasifikasi barang Dalam klasifikasi BTBMI dengan sistem HS kata “Lain-lain”. pengertian kata lain-lain tersebut akan dapat dengan mudah dimengerti . Bagaimana cara membaca pengertian kata “Lain.3. Pasal berapa dalam Undang-undang no. Dengan sedikit latihan menggunakan BTBMI. namun bukan untuk bibit 4.2. Selain menggunakan sistem nomor. • • selain kuda. 1995 yang berkaitan dengan klasifikasi barang ? 2. Sub-Pos dan Pos Tarif Nasional. bagal dan hinnies. dalam penomoran HS ? 4. Latihan 3 Pertanyaan 1. berfungsi untuk menampung barang yang belum disebut pada uraian jenis barang sebelumnya. Pos. Apa isi Buku Tarif Bea Masuk Indonesia ? 2. Jawaban 3. keledai. Kata “lain-lain” terdapat pada Bab. 10 tahun 1. lain” dalam BTBMI ? 4. termasuk binatang sejenis lembu.4. Apa yang dimaksud dengan sistem pentakikan 3. berdasarkan keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 35 tahun 1993.Binatang hidup.

1. karena yang utama adalah uraian barangnya. Fungsi dasar HS adalah untuk memberikan keseragaman dalam mengklasifikasi barang guna memberikan kemudahan pada perdagangan internasional 5. . udara dan kereta api. Demikian dalam kekuatan hukumnya sama. ( B . statistik. sub-heading dan penomoran hingga ke Pos tarif (10 digit). ( B .S ) Customs Cooperation Council di Brussels pada tanggal 14 Juni 1983 menghasilkan Konvensi Internasional tentang The Harmonized Commodity Description and Coding System (HS) dan mulai berlaku di Indonesi sejak tanggal 1 Januari 1988 3. seperti Pabean.S ) Ditinjau dari fungsi pengklasifikasian. Test Formatif 5.S ) HS bersifat harmonis karena standard klasifikasi dan sistem kode penomoran barang digunakan untuk berbagai kepentingan. Lingkarilah huruf B apabila pernyataan ini Saudara anggap benar dan huruf S apabila pernyataan Saudara anggap salah.S ) Apabila terdapat perbedaan sistem klasifikasi pada setiap negara akan memperpanjang waktu untuk penetapan bea masuk dan pengeluaran barang impor di pelabuhan. jenis dan spesifikasi lainnya secara akurat. brosur. label kemasan dan data lainnya 2. Informasi mengenai barang tersebut dapat kita peroleh melalui : kondisi fisik. Catatan Bagian.S ) Untuk mengklasifikasi barang diperlukan data mengenai nama. sertificate of analysis. perdagangan internasional dan pengangkutan laut. Salah satu tujuan HS adalah untuk memberikan ketidak seragaman secara internasional penggolongan barang dalam tarif pabean 4.1.5. ( B . ( B . Bab dan Subheading . Heading. struktur HS terdiri dari : KUM HS . ( B .

Bunyi kalimat diatas sesuai dengan bunyi UU no.. b.. dikenal prosedur umum untuk mengklasifikasi barang. tanggal 11 Januari 1989 3. Prosedur tersebut secara umum ialah . tanggal 1 Agustus 1988 c. Dapat terkait dengan beberapa bab c.. pasal 16 b. maka sebutkan pernyataan dibawah ini yang tidak benar a. mengidentifikasi barang dengan mempelajari jenis dan spesifikasinya b. a. barang dikelompokkan berdasarkan sistem klasifikasi barang. Dalam pengamatan sementara untuk mengklasifikasi barang. pasal 116 2. c. merumuskan identitas atau deskripsi barang tersebut c.2. tanggal 31 Januari 1988 d. Untuk mengklasifikasi barang. pasal 14 d. Barang tidak dapat diklasifikasikan. Pilihlah jawaban yang Saudara anggap benar dengan cara melingkari huruf yang terdapat di depan jawaban tersebut a... melihat Buku Tarif Bea Masuk Indonesia dan menentukan klasifikasinya d. atau d ) 1.... 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan pada : a. b dan c benar 4. Jenis suatu jenis barang dimungkinkan tidak ada dalam HS b. pasal 115 c. tanggal 1 Januari 1989 b. karena uraian jenis barangnya tidak ada dalam BTBMI . Untuk penetapan tarif bea masuk. pernyataan a. The Harmonized Commodity Description and Coding System (HS) mulai berlaku secara internasional sejak : a.5. Mengklasifikasi barang seluruhnya harus tepat secara eksak d.

5. B.2. KUNCI JAWABAN TEST FORMATIF Kelompok 5. Pencantuman besarnya Bea Masuk pada Buku tarif Bea Masuk Indonesia : a. 4. 2. 3.. d 4. b dan c benar 5. Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan singkat dan benar 1. S 3. harus mengacu kepada perkembangan terakhir besarnya penetapan Bea Masuk c. Sebutkan tujuan Harmonized System ? Apakah besarnya tarif bea masuk Indonesia secara hukum sesuai seperti apa yang tertulis dalam BTBMI tersebut ? 6. Sebutkan 3 Sistem dalam mengklasifikasi barang yang pernah digunakan Pemerintahan Republik Indonesia. selalu berubah d. d . S Kelompok 5. B 5. b 3. 5. Jelaskan apa yang dimaksud dengan konvensi HS ? Mengapa kita memilih suatu system seperti HS dalam menentukan klasifikasi barang ? 4. 1 B. pernyataan a. sebelum HS ! 2. c 5.1. hanyalah sementara (mengikuti surat Keputusan Menteri Keuangan RI) b. a 2.3. 1.

Untuk memberikan kekuatan hukum yang pasti. hanya pada sistem CCCN ini terdapat penyempurnaan sistem penomoran pada sub-pos dari dua digit menjadi tiga digit atau semula 6 digit menjadi 7 digit. pengangkut. .3. c) HS menggunakan dasar yang seragam untuk keperluan pentarifan secara internasional. kelompok studi tersebut berhasil menyusun suatu nomenklatur (daftar klasifikasi barang berdasarkan kelompok-kelompok) yang dinamakan Harmonized Commodity Description and Coding System atau lebih dikenal dengan sebutan Harmonized System (HS). b) Sistem Customs Cooperation Council (CCCN). Penetapan tarif ini merupakan penyempurnaan dari penetapan tarif sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 Juli 1975 sampai dengan 30 september 1980.Kelompok 6. Nomor 1 a) Sistem Brussel Edisi 1975 (BTN 1975). Nomor 2 Pada akhir tahun 1986. e) Sederhana dan memberikan kepastian dalam hal aplikasi dan interpretasi yang benar dan sama untuk keperluan negosiasi. dan aparat bea dan cukai. d) Menggunakan “bahasa pabean” sehingga dapat dengan mudah dimengerti oleh importir. nomenklatur disahkan dalam Konvensi HS Nomor 3 a) HS adalah pedoman klasifikasi yang sistematik untuk seluruh barang yang diperdagangkan secara internasional. c) Sistem CCCN Edisi 1985 (CCCN 1985). Sistem ini merupakan penyempurnaan dari sistem CCCN sebelumnya dan mulai diberlakukan pada tanggal 1 April 1987 sampai dengan 31 desember 1988. Pada dasarnya sistem pentarifan ini sama dengan sistem sebelumnya. produsen. eksportir. Sistem CCCN ini mulai diberlakukan pada tanggal 1 Oktober 1980 sampai dengan 31 Maret 1985. b) HS adalah pedoman klasifikasi yang sistematik untuk seluruh barang yang diperdagangkan secara internasional.

. Nomor 5 Buku tarif Bea Masuk Indonesia hanyalah suatu referensi praktis agar dapat secara optimal digunakan di lapangan. untuk penetapan Tarif Pabean secara mendunia.. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Bandingkanlah hasil jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang ada di belakang modul ini. dokumentasi dan sebagainya.. pembuatan dan analisis Statistik perdagangan dunia. c) Memberikan Sistem Internasional yang resmi untuk pemberian Kode. Kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap terhadap materi kegiatan belajar Rumus Tingkat Penguasaan Untuk kelompok A dan B : Jumlah Jawaban yang benar dibagi 10 kemudian dikali 100 % = . Ketentuan hukum yang legal adalah sesuai Surat Keputusan Menteri Keuangan tentang perubahan Tarif Bea Masuk Indonesia (lihat Kata Pengantar pada BBTBMI) 7. d) Memperbaharui sistem klasifikasi barang sebelumnya. Hitunglah jumlah jawaban Anda yang benar atau sejauh mana Anda menguasai mata pelajaran tersebut.. b) Memudahkan pengumpulan. Nomor 4 a) Memberikan keseragaman dalam daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis. untuk memberikan perhatian kepada perkembangan teknologi dan masyarakat industri serta pola perdagangan Internasional..... dan .. Pen jelasan dan penggolongan barang untuk tujuan perdagangan keperluan pengangkutan. seperti tarif pengangkutan... Untuk kelompok C : Apabila benar seluruhnya nilai menjadi 100 .f) Merupakan kumpulan data yang seragam secara internasional sehingga dapat digunakan untuk mendukung analisis dan statistik perdagangan internasional.

Jakarta c. 2007 d.79 % = Cukup * 69 % = Kurang Kalau Anda mencapai tingkat penguasaan 80% keatas Anda dapat meneruskan kepada modul atau bagian pelajaran lain. terutama bagian yang belum Anda kuasai 8. Pengantar Klasifikasi Barang. (1995) Pusdiklat Bea dan Cukai. 2007 version b. Explanatory Notes. Anda harus mengulangi membaca Modul kembali. Harmonized System. Hasilnya Baik ! akan tetapi.Untuk nilai keseluruhan maka dibagi rata-rata dari (A+B) dan C Arti tingkat penguasaan : * 90 % . Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (2007). Departemen Keuangan RI. Jakarta *** MODUL II SISTEM KLASIFIKASI BARANG MENURUT HARMONIZED SYSTEM .100 % = Baik sekali * 80 % . Word Customs Organization. bila tingkat penguasaan Anda masih dibawah 80 %.89 % = Baik * 70 % . Daftar Kepustakaan a. World Customs Organization.

MATERI KLASIFIKASI BARANG OLEH : TIM PENYUSUN MODUL PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN BEA DAN CUKAI BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA JAKARTA 2007 Kata Pengantar Puji syukur kehadirat Allah yang Maha Kuasa. bahwa Modul ini dapat diselesaikan sesuai waktunya. seyogyanya petugas Ditjen Bea dan . Obyek dari kegiatan Direktorat Bea dan Cukai adalah barang. Dalam rangka penentapan tarif bea masuk dan kepentingan kepabeanan lainnya.

Cukai menambah keterampilam dalam mengklasifikasi barang agar pelayanan cepat dan negara tidak dirugikan dalam menetapkan besarnya bea masuk. Penulis menghaturkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga dapat diselesaikannya Modul ini. Modul ini merupakan seri dari 3 buah modul mata pelajaran klasifikasi barang. karena ada kepastian tentang jenis barang dan penetapan tarif posnya. Semoga Modul ini bermanfaat sebagai penambah wawasan dan media untuk penambah keterampilan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang. Semoga Allah membalas atas amal kebaikan tersebut. Jakarta. Nopember 2007 Penulis . Modul ke 2 dengan judul Teknik Klasifikasi Barang digunakan dalam Diklat Teksnis Substantif Spesialis Kepabeanan dan Cukai Dalam kesempatan ini.

.... Test Formatif . 4.......................................................................... Latihan 2............. Contoh dan Non contoh....1 Uraian.................3.... Contoh dan Non contoh............................. KEGIATAN BELAJAR 3 NOTA PENELITIAN KLASIFIKASI BARANG 4............................................... Tujuan Pembelajaran Umum..................................... PENDAHULUAN ..............................1 Uraian........................................................... Rangkuman.................... Rangkuman........................................................................... Tujuan Pembelajaran Khusus............................................. 3..............................................................................Deskripsi singkat..........2........................................2.................2....... 3...... 1............... Latihan 3................................................. 2..................................................3.........1 Uraian.............................................. KEGIATAN BELAJAR 2 TAHAPAN MENGKLASIFIKASI BARANG........ Daftar Isi .....3................................. Rangkuman......... 2............................ 1...............2..... i ii 1 1 1 1 2 2 13 14 1 2 3 15 15 16 17 18 18 23 24 24 27 28 29 4 5 6 7 8 .... Daftar Pustaka...... Umpan Balik...................................................................................................................................DAFTAR ISI Halaman Kata Pengantar ..................1................ Kunci Jawaban .................................................... Contoh dan Non contoh..... 2. 1..... Latihan 1................................................................................................................... KEGIATAN BELAJAR 1 KETENTUAN UMUM UNTUKMENGINTERPRETASI HS..................3..................... 4........... 3................

1. Tujuan Instruksional Umum Setelah mempelajari modul ini. Seorang klasifikator harus memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang karena akan menentukan ketepatan pengisian Pemberitahuan Impor Barang yang pada akhirnya menentukan ketepatan jumlah bea masuk dan pungutan impor lainnya yang harus dibayar. 1.1. para Siswa diharapkan mampu menerapkan ketentuan umum untuk menginterpretasi Harmonized System. Oleh karena itu. Nota Penelitian Klasifikasi Barang. Tujuan Instruksional Khusus Setelah mempelajari Modul ini diharapkan para Siswa mampu menjelaskan : 1. PENDAHULUAN 1. Deskripsi Singkat Seorang klasifikator dibidang kepabeanan harus dapat mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang dengan terampil. Ketentuan Umum Untuk Menginterpretasi Harmonized System 2. 3.MODUL II TEKNIK KLASIFIKASI BARANG I. tahapan dalam mengklasifikasi barang dan membuat nota penelitian klasifikasi barang berdasarkan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. seorang klasifikator harus terlebih dahulu memahami pengetahuan barang dan pengetahuan mengenai klasifikasi barang. Tahapan dalam mengklasifikasi Barang.2. .3.

klasifikasi harus ditentukan menurut uraian yang terdapat dalam pos dan berbagai Catatan Bagian atau Bab yang berkaitan serta menurut ketentuan-ketentuan berikut ini. 1. tidak mempunyai kekuatan hukum. Setiap kali melakukan kegiatan klasifikasi barang. dalam hal KUM HS 1 tidak bisa digunakan barulah digunakan KUM . dan catatan sub-pos. tidak mungkin semua jenis barang dapat dicakup dengan persis pada setiap bab. catatan bagian. Karena itu perlu diingat agar selalu mempertimbangkan semua bab atau pos yang mungkin mencakup suatu barang. tetapi karena sifatnya yang khusus dalam HS tidak diklasifikasikan pada bab 5 (produk hewani tidak dirinci atau termasuk dalam pos lainnya). Namun mengingat banyaknya jenis barang. Yang mempunyai kekuatan hukum adalah pos (heading).1. KUM HS mutlak diperlukan sebagai pedoman dasar yang tidak boleh ditinggalkan. salah satu ketentuan dalam KUM HS harus dipergunakan. marilah kita KUM HS 1 : Judul Bagian. merupakan pertimbangan utama. catatan bab.1. Contohnya. untuk tujuan hukum. Uraian pos dan catatan-catatan tersebut Apabila pos dan catatan-catatan tersebut tidak menentukan lain. Mengingat begitu kompleksnya teknik klasifikasi barang. sadar atau tidak. pelajari satu-persatu enam butir KUM HS tersebut. Untuk itu. sutera adalah produk hewani.2. Bab dan Sub-bab hanya dimaksudkan untuk memudahkan referensi saja. Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 1 Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System (KUM HS) merupakan pintu gerbang untuk memasuki klasifikasi barang. tetapi diklasifikasikan khusus pada bab 50. Uraian pada bab hanya untuk referensi saja. KEGIATAN 1 KETENTUAN UMUM UNTUK MENGINTERPRETASI HARMONIZED SYSTEM 2. Uraian. asalkan pos atau Catatan tersebut tidak menentukan lain : Penjelasan: HS adalah nomenklatur yang bersifat sistematik. Contoh dan Non Contoh 2.

1. Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 2a dan 2 b KUM HS 2 a : Setiap referensi untuk suatu barang dalam suatu pos harus dianggap meliputi juga referensi barang tersebut dalam keadaan tidak lengkap atau belum rampung. asalkan pada saat diajukan. Contohnya. . Referensi ini harus dianggap juga meliputi refensi untuk barang tersebut dalam keadaan lengkap atau rampung (atau yang berdasarkan ketentuan ini dapat digolongkan sebagai lengkap atau rampung) yang diajukan dalam keadaan belum dirakit atau terbongkar. barang yang tidak lengkap atau belum rampung tersebut memiliki karakter utama dari barang itu dalam keadaan lengkap atau rampung. catatan 2 Bab 31 menjelaskan pos 31.dapat mendemontrasikan beberapa permainan dalam pertunjukan sirkus Pengklasifikasian apakah pada bab 1 atau bab 95 Perhatikan gambar keledai yang biasa digunakan untuk sirkus.HS 2. Spesifikasi keledai : . Batasan ini tidak boleh diperluas dengan menggunakan KUM HS 2(b). 2. dan 5.jenis keledai . 4.. Bagaimana pengklasifikasiannya bila keledai tersebut diimpor oleh grup sirkus dari jerman ? 2. 3.02 hanya untuk produk tertentu.umur 2 tahun .

memiliki laher dalam as ban -bisa dikendarai oleh orang tua maupun anakanak : Perhatikan gambar sepeda diatas.Penjelasan: Barang tidak lengkap atau tidak rampung dianggap sebagai barang lengkap atau rampung. Bagaimana pengklasifikasiannya bila sepeda tersebut : a) tidak dicat . Setiap referensi untuk barang dari bahan atau zat tertentu harus dianggap juga meliputi referensi untuk barang yang sebagian atau seluruhnya terdiri dari bahan atau zat tersebut. Namun tetap dianggap set sepeda karena sifat utamanya sebagai sepeda telah dimiliki.Ada alat perubah kecepatan . Penjelasan: . harus dianggap juga meliputi referensi untuk campuran atau kombinasi dari bahan atau zat itu dengan bahan atau zat lain. Spesifikasi : Sepeda merk :”Bamby” .b) tidak ada sadelnya c) dalam keadaan terurai KUM HS 2 b : Setiap referensi untuk suatu bahan atau zat dalam pos. Barang yang terdiri lebih dari satu jenis bahan atau zat harus diklasifikasikan sesuai prinsip dari Ketentuan 3. asalkan pada saat diimpor sudah mempunyai sifat utama sebagai barang lengkap atau rampung Sebagai contoh beberapa set sepeda yang diimpor dalam keadaan terurai. dan tiap setnya tidak ada sadel dan ban dalamnya.

KUM HS 2(b) tidak dapat digunakan (harus digunakan KUM HS 3). maka klasifikasiannya harus diberlakukan sebagai berikut : . Contoh. pos 15. ketentuan ini hanya berlaku apabila pos atau catatan bagian atau catatan bab tidak menentukan lain.1.03 (-lard oil. barang yang dengan pertimbangan awal dapat diklasifikasikan dalam dua pos atau lebih.tidak diemulsi atau dicampur. maka KUM HS 2(b) tidak berlaku.. Apabila tambahan atau campuran bahan atau zat menghilangkan sifat barang seperti diuraikan pada pos. Bagaimana pengklasifikasian tutup botol tersebut.Campuran atau kombinasi dua atau lebih bahan atau zat diklasifikasikan berdasarkan KUM HS 1. . b dan c KUM HS 3 : Apabila dengan menerapkan Ketentuan 2 (b) atau untuk berbgaia alasan lain. bagaimana bila sumbat botol bagian atas dilapis plastik ? 2.bagian luarnya dilapisi plastik.. Mengapa demikian ? karena sifat sebagai susunya tidak berubah. Ingat.). Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 3a. karena uraian posnya sudah menyebutkan bahwa produk dalam pos tersebut tidak dicampur. apakah pada bab 45 atau bab 39 Perhatikan sumbat botol diatas..3. Spesifikasi tutup botol : .Terbuat dari gabus .. Sebagai contoh suatu susu yang telah ditambah sedikit vitamin. maka pengklasifikasiannya tetap sebagai susu.

Dalam hal ini KUM HS 3(c) tidak berlaku. Penggunaan KUM HS 3 harus urut dari KUM HS 3(a). Saringan oli walau sebagai bagian dari mesin pada pos 8409. apabila dua pos atau lebih yang masing-masing pos hanya merujuk kepada bagian dari bahan atau zat yang terkandung dalam barang campuran atau barang komposisi. Contoh.atau hanya merujuk kepada bagian dari bahan atau zat terkandung dalam campuran atau barang komposisi atau hanya merujuk kepada bagian dari barang dalam set yang disiapkan untuk penjualan eceran. Contoh. harus lebih diutamakan dari pos yang memberikan uraian yang lebih umum. bukan pada pos 85.08.03. walaupun salah satu dari pos tersebut memberikan uraian yang lebih lengkap atau lebih tepat. namun pos 8421 uraian barangnya lebih rinci.09 (self-contained motor). Apabila dua atau lebih pos menguraikan hanya bagian dari bahan atau zat yang terkandung dalam suatu barang campuran atau komposit. bukan pada pos 87. Sekali lagi diingatkan. atau bagian dari item dalam . Penjelasan: Pos dengan uraian lebih spesifik lebih diutamakan dari pos dengan uraian yang lebih umum. baru kemudian KUM HS 3(c).10.01 sampai dengan 97. Namun demikian. KUM HS 3(b). atau catatan bab tidak menentukan lain. Contoh shavers/hair clippers diklasifikasikan pada pos 85.Penjelasan: KUM HS 3 hanya dipergunakan bila KUM HS 2 tidak bisa dipergunakan. Pos yang menyebutkan barang yang disebutkan secara rinci lebih diutamakan dari pos yang menyebutkan bagian suatu barang.05 dan juga dirinci pada pos 97. tufted textile for motor cars diklasifikasikan pada pos 57.06. maka pospos tersebut harus dianggap setara sepanjang berkaitan dengan barang tersebut. KUM HS 3 baru dipergunakan apabila uraian pos. KUM HS 3 a : Pos yang memberikan uraian yang paling spesifik. Pos yang menyebutkan nama barang lebih diutamakan dari pos yang menyebutkan kelompok barang. catatan 4(b) bab 97 menentukan bahwa barang yang dirinci pada pos 97. harus diklasifikasikan pada pos terdahulu awal (berarti bertentangan dengan KUM HS 3c ). catatan bagian.

ready-to-eatmeal). Yang dimaksud dengan barang dikemas dalam bentuk set untuk penjualan eceran yaitu: • • • Paling sedikit dua produk yang berbeda pos (sembilan sendok bukan set).03). Bisa langsung dijual tanpa perlu dibungkus/dikemas kembali (contoh. Beberapa produk/barang bersama-sama untuk keperluan/kegiatan tertentu. Contoh. dan bila KUM HS 3(a) tidak bisa digunakan. gunting (82. harus diklasifikasikan berdasarkan bahan atau komponen yang memberikan karakter utama barang tersebut. berat atau nilai. sisir (96. sikat (96. barang komposit yang terdiri dari komponen yang berbeda. dan bahan utama yang berkaitan dengan penggunaan barang.02). maka KUM HS 3(a) tidak berlaku dan digunakan KUM HS 3(b) atau 3(c).10). Yang dimaksud dengan karakter utama (Essential character) pada KUM HS ini mengacu pada bahan atau komponen. rak bumbu dengan beberapa botol tempat bumbu kosong.10 (berdasarkan komponen yang memberikan . dan barang yang dikemas dalam bentuk set untuk penjualan eceran. KUM HS 3 b : Barang campuran dan barang komposisi yang terdiri dari bahan yang berbeda atau yang dibuat dari komponen yang berbeda. sepanjang kriteria ini dapat diterapkan. asalkan satu sama lain adapted to the other.15). serta barang yang disiapkan dalam set untuk penjualan eceran. kemasan. jumlah. barang komposit yang terdiri dari bahan yang berbeda. KUM HS 3(b) berlaku juga untuk komponen yang terpisah. mutually complementary. dan handuk dari tekstil (63. meskipun salah satu pos lebih rinci dari pos lainnya. Contoh set: hairdressing set yang terdiri dari electric hair clipper (85. dikemas dalam tas kulit (42.satu set barang untuk penjualan eceran.13). dan bersama-sama membentuk barang jadi yang secara normal tidak diperdagangkan terpisah. yang tidak dapat diklasifikasikan berdasarkan referensi 3 (a). Penjelasan: KUM HS 3(b) hanya berlaku untuk campuran.02) diklasifikasikan pada pos 85.

namun karena menurut KUM HS 3c.Mengandung mie. Penjelasan: Bila KUM HS 3(a) dan 3(b) tidak dapat digunakan. barang diklasifikasikan pada pos terakhir. bumbu. KUM HS 3(b) tidak berlaku untuk barang yang terdiri dari beberapa bagian yang dikemas terpisah (baik kemasan yang biasa digunakan maupun tidak). bumbudan bahan lainnya. saus.mengandung . maka bingkai tersebut harus diklasifikasikan pada pos terakhir.06.merk :”Mi Enak” . maka barang tersebut harus diklasifikasikan dalam pos tarif terakhir berdasarkan urutan penomorannya di antara pos tarif yang mempunyai pertimbangan yang setara. kecap. Tahukah Saudara ketika belum dimasak yang bungkusannya terdiri dari : mie. yaitu pos Spesifikasi barang : . minuman). Spesifikasi Mie :Instan : . suatu bingkai berbentuk bujur sangkar yang 2 sisi terbuat dari kayu dan dua sisi lainnya terbuat dari logam.Van belt merk : :”Ando” . dalam proporsi tertentu untuk keperluan industri (contoh.sifat utama).14 dan pos 83. Contohnya.Supermi instan bungkus . saus. Bingkai ini ditinjau dari bahan baku memiliki bahan yang sama dan seimbang antara pos 44. Bagaimana Saudara mengklasifikasi bila dalam keadaan mentah atau dalam bungkusan ? KUM HS 3 c: Apabila barang tidak dapat diklasifikasikan berdasarkan referensi 3 (a) atau 3(b). bawang dan cabe Perhatikan mie instan yang sudah mask diatas.

sifatnya. Perhatikan vanbelt ini. c) Pada waktu menerapkan ketentuan No. harus Penjelasan: a) KUM HS 4 baru digunakan apabila KUM HS 1 sampai dengan KUM HS 3 tidak dapat digunakan. d) Persamaan dapat tergantung dari beberapa faktor seperti nama. bagaimana pengklasifikasiannya bila terbuat dari bahan plastik dan karet yang sama tebalnya ? 2. tujuannya). 4. Berdasarkan KUM HS 4.06.83. b) Ketentuan ini mengenai barang-barang yang tidak dapat diklasifikasikan ke dalam salah satu pos dalam HS. dan seterusnya. Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 4 KUM HS 4: Barang yang tidak dapat diklasifikasikan berdasarkan referensi diatas. . sifat.1. karena tidak ada uraian yang sesuai (misalnya yang baru muncul di pasaran dunia). Hal tersebut dilakukan untuk meneliti pada pos mana yang memiliki unsur kesamaan terbanyak. barang yang akan diklasifikasikan harus diperbandingkan dengan uraian barang dalam beberapa pos HS yang memiliki kesamaan jenis atau karakternya.4. penggunaan. Ketentuan ini menetapkan bahwa barang-barang tersebut harus digolongkan kedalam pos atas barang yang memiliki persamaan terbanyak. klasifikasi berdasarkan barang yang sifatnya paling sesuai (misalnya uraian barangnya. diklasifikasikan ke dalam pos yang sesuai untuk barang yang paling menyerupai.

internet. Untuk itu. Namun demikian. data teknis. KUM HS 4 baru digunakan apabila benar-benar tidak ada lagi data atau informasi yang dapat diperoleh untuk mengidentifikasi barang dimaksud. koper senapan. dibentuk secara khusus atau pas untuk menyimpan barang atau perangkat barang tertentu. sebelum memutuskan menggunakan KUM HS 4. tas instrumen musik. seperti literatur. tempat senjata. tas instrumen gambar. Ketentuan berikut ini harus diberlakukan terhadap barang tersebut di bawah ini : Tas kamera. ketentuan ini tidak berlaku untuk kemasan yang memberikan seluruh karakter utamanya. biasa dijual bersama dengan barangnya. tempat teleskop. 5. Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 5 KUM HS 5 : Sebagai tambahan dari aturan di atas. cocok untuk penggunaan jangka panjang dan diajukan bersama barangnya. dimasukkan bersama barangnya (bila dimasukkan terpisah diklasifikasikan pada pos tersendiri). sangat disarankan untuk mencari lebih dulu informasi tentang barang dimaksud dari berbagai sumber yang ada.1. apabila kemasan tersebut memang biasa dijual dengan barang tersebut. dan tempat semacam itu yang: • • • • • khusus dibuat untuk barang tertentu. Contoh: tempat perhiasan. digunakan untuk jangka waktu lama. tempat alat musik. kotak kalung dan kemasan semacam itu. 2. harus diklasifikasikan menurut barangnya. tidak memberikan sifat utama. .Perlu diingatkan. dan sebagainya. dan sebagainya. Penjelasan: KUM HS 5(a) berlaku untuk Peti (cases). kotak (boxes).

maka gasnya diklasifikasikan pada pos tarif gas. Penjelasan: Mengacu pada KUM HS 5(a). Ketentuan ini tidak berlaku untuk tempat simpan yang nilainya jauh lebih tinggi dari barang yang disimpan di dalamnya. bahan pembungkus dan kemasan pembungkus yang diajukan bersama dengan barangnya harus diklasifikasikan menurut barangnya. Ketentuan ini tidak berlaku untuk pembungkus/tempat simpan yang digunakan berulang-ulang (repetitive use). tempat teh dari perak dan tempat permen dari porselin berdekorasi China . apabila bahan atau kemasan pembungkus tersebut memang biasa untuk membungkus barang tersebut.Terbuat dari karet yang dilapisi tekstil tebal Perhatikan gambar guitar dan kemasannya diatas. Namun demikian ketentuan ini tidak mengikat apabila bahan atau kemasan pembungkus tersebut secara nyata cocok untuk dipakai berulangulang. sedangkan pengemasnya diklasifikasikan pada pos tarif tabung gas. Tempat semacam itu harus diklasifikasikan tersendiri Sebagai contoh. contohnya gas yang diimpor bersama pengemasnya (tabung gas di bawah tekanan).merk :”Refly” .gitar dengan kemasannya . Bagaimana Saudara mengklasifikasiguitar beserta kemasan diatas ? KUM HS 5 b : Berdasarkan aturan dari ketentuan nomor 5 (a) di atas.Spesifikasi barang : . pembungkus/tempat simpan diklasifikasikan dengan barangnya bila biasa dipakai untuk barang tersebut.

merk :”Reflon” . untuk keperluan ketentuan ini diberlakukan juga catatan Bagian dan catatan Bab.Spesifikasi barang : . Latihan . Platinum pada catatan 4(b) Bab 71 tidak sama dengan Platinum pada catatan subpos 2 (khusus untuk sub-pos 7110. Kecuali apabila konteksnya menentukan lain.tabung gas berisi gas . Contohnya. dengan pengertian bahwa hanya subpos yang setara yang dapat diperbandingkan. serta ketentuan ini di atas dengan penyesuaian seperlunya. catatan bab. catatan bagian. atau catatan subpos harus tetap menjadi pertimbangan utama.11 dan 7110. Penjelasan: KUM HS 1 sampai dengan KUM HS 5 berlaku mutatis mutandis (secara langsung) untuk subsub pos pada satu pos yang sama (perbandingan pada takik yang sama). 2. KUM HS 6 berlaku sepanjang konteksnya tidak menentukan lain.1. Artinya.Terbuat baja tahan karat Bagaimana pengklasifikasian suatu gas beserta tabungnya yang dapat diisi ulang ? Tabung gas LPG dengan isinya LPG pada pos berapa dalam Harmonized System ? 2.19). Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System nomor 6 KUM HS 6 : Untuk tujuan hukum klasifikasi barang dalam sub pos dari suatu pos harus ditentukan berdasarkan uraian dari subpos tersebut dan catatan subpos bersangkutan.2. 6.

Pertanyaan 1. Dalam mengklasifikasi barang gantungan kunci yang terdiri dari ring baja, rantai baja dan hiasan dari plastik, harus menggunakan KUM HS nomor berapa ? 1.

Jawaban

2. Sebutkan contoh barang yang dalam mengklasifikasinya menerapkan KUM HS nomor 3a (selain yang telah disebutkan

2.

contoh diatas)

3. Bagaimana menurut pendapat Saudara mengenai penggunaan KUM HS nomor 4 dalam prakteknya ?

3.

2.3. Rangkuman

Dalam mengklasifikasi barang dalam BTBMI diperlukan suatu pedoman. Pedoman tersebut adalah Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System (KUM HS) merupakan ketentuan untuk memasuki klasifikasi barang. Saat ini KUM HS hanya terdiri dari nomor 1 sampai dengan nomor 6. Dahulu sampai dengan 10, nomor 7 sampai 10 dihilangkan dan beberapa diantaranya menjadi surat keputusan Dirjen Bea dan Cukai

3. KEGIATAN BELAJAR 2 TAHAPAN MENGKLASIFIKASI BARANG

3.1. Uraian, Contoh dan Non Contoh

Secara lebih rinci, langkah-langkah berikut ini dapat digunakan untuk mengklasifikasi barang:

1. Kita identifikasi dulu barang yang akan kita klasifikasi.

Dengan mengetahui

spesifikasi barang, misalnya barang tersebut produk pertanian, barang kimia, atau mesin, kita bisa memilih bab-bab yang lebih spesifik.

2. Pilih bab atau bab-bab yang berkaitan dengan spesifikasi barang tersebut. Bila sudah kita tentukan, baca dan perhatikan baik-baik catatan Bagian dan catatan Bab yang berkaitan dengan pilihan bab atau bab-bab pada butir 1.

3. Perhatikan penjelasan-penjelasan dalam catatan Bagian maupun catatan Bab yang berkaitan dengan barang yang akan kita klasifikasi. Apabila ada catatan yang

mengeluarkan barang tersebut dari Bab atau Bagian yang kita pilih, perhatikan pada Bagian, Bab, atau pos mana barang tersebut diklasifikasikan.

4. Baca dan cermati catatan Bagian atau Bab (atau catatan Sub-pos dalam hal tertentu) yang ditunjuk oleh penjelasan pada butir 3. Kita ulangi proses pengklasifikasian pada butir 3. Pada tahap ini, biasanya kita sudah mempunyai gambaran umum apakah barang tersebut diklasifikasikan di bab tersebut atau di bab lainnya.

5. Setelah menemukan satu bab yang paling sesuai berdasarkan kajian di atas, maka kita mulai menelusuri pos-pos yang mungkin mencakup barang yang akan kita klasifikasikan dalam bab tersebut. Pada tahap ini kadang-kadang kita sudah dapat menemukan pos yang mencakup barang tersebut dengan rinci. Bila sudah kita

temukan satu pos yang tepat, maka langkah selanjutnya tinggal menentukan sub-pos (6-digit) dan pos tarif (9-digit) yang sesuai. Ingat, dalam penentuan sub-pos dan pos tarif pun kadang timbul permasalahan klasifikasi yang sama dengan penentuan pos

(4-digit). Sampai tahap ini sebenarnya kita sedang menggunakan KUM HS 1.

6. Apabila sepintas lalu ada beberapa pos yang sesuai dengan spesifikasi barang, kita mulai menggunakan KUM HS 2. Ingat, kita baru dapat menggunakan KUM HS 2 apabila KUM HS 1 benar-benasr tidak dapat digunakan. Cara untuk meyakinkan bahwa KUM HS 1 gugur adalah dengan berusaha membuktikan bahwa hanya ada satu pos yang sesuai untuk barang tersebut. Dalam hal KUM HS 1 tidak bisa diterapkan karena informasi atau data spesifikasi barang kurang lengkap, maka yang harus dikerjakan adalah mencari informasi atau data tersebut lebih dulu. Jangan terburu-buru menggunakan KUM HS 2 sebelum kita benar-benar yakin KUM HS 1 tidak dapat digunakan.

7. Dalam hal menggunakan KUM HS 3 (b), perlu diperhatikan bahwa yang dimaksud dengan sifat utama (essential character) meliputi berbagai aspek. Beberapa aspek yang dapat digunakan sebagai dasar penentuan sifat utama adalah fungsi/kegunaan, nilai (value), dan bentuk fisik (appearance). Usahakan paling tidak selalu

mempertimbangkan ketiga aspek tersebut sebelum menentukan sifat utama suatu barang campuran.

8. Dalam membandingkan pos-pos, sub-sub pos, atau pos-pos tarif, harus selalu diingat bahwa yang dibandingkan adalah pos-pos , sub-sub pos, atau pos-pos tarif yang setara (perhatikan takiknya). Ingat, dalam mengklasifikasi, perbandingan

dimaksud tidak berdasarkan pembebanan impornya!.

9. Apabila sudah dipilih satu pos tarif yang benar-benar sesuai dengan uraian barang, langkah selanjutnya adalah melihat pembebanannya (BM, PPN, PPnBM, atau cukai) dan ada atau tidak peraturan tata niaganya (IT, IP, Pertamina, dan lain-lain.). Karena pembebanan tersebut sering berubah, jangan lupa selalu menggunakan pembebanan yang up to date berdasarkan ketentuan yang terbaru.

3.2. Latihan

Jawaban 2. bab dan catatan yang berkaitan dengan barang yang akan diklasifikasi.3. diperlukan data mengenai barangnya ? Sebutkan contoh kasus ! 1.Pertanyaan 1. Berdasarkan pertimbangan tersebut baru ditentukan pos tarif yang tepat. Bagaimana tahapan dalam mengklasifikasi barang agar menghasilkan pos tarif yang akurat ? 2. . Pengamatan uraian barang dalam BTBMI dengan melihat bagaian. agar menghasilkan keputusan yang tepat sesuai aturan yang benar. kemudian melihat uraian barang dalam BTBMI sesuai dengan yang akan diklasifikasi. Mengapa sebelum mengklasifikasi barang. Pada prinsipnya meliputi identifikasi barang. 3. Rangkuman Dalam proses mengklasifikasi barang diperlukan tahapan yang sesuai. Mengapa dalam mengklsifikasi barang harus memperhatiakan bagian dan bab serta catatan bagian dan catatan babnya yang terkait dengan barang tersebut ? 3. 3. mendeskripsikan jenis barang.

KEGIATAN BELAJAR 3 NOTA PENELITIAN KLASIFIKASI BARANG 4. Selanjutnya DJBC akan meneliti dan menetapkan klasifikasi barang tersebut. aparat DJBC diharuskan membuat uraian rinci yang menjelaskan dasar klasifikasi barang dimaksud. setidaknya ada dua fihak yang berkepentingan yaitu aparat DJBC dan importir/PPJK. Kerangka nota penelitian klasifikasi barang sebenarnya tidak baku.1.1. bisa singkat atau memerlukan uraian yang cukup panjang tergantung pada permasalahan yang dihadapi.1. Sebagaimana selama ini telah berjalan. dan pembebanan impornya. dalam rangka pengimporan importir/PPJK memberitahukan sendiri jenis barang.4. . klasifikasi. Uraian Contoh dan Non Contoh 4. 4. Nota Penelitian Klasifikasi Barang Pada bagian akhir diktat ini disajikan juga contoh soal klasifikasi barang menggunakan nota penelitian klasifikasi barang. Dalam mempertahankan pendapatnya. Pengantar Berkaitan dengan klasifikasi barang.2. tersebut. Dalam diktat ini disajikan cara membuat uraian rinci klasifikasi barang Untuk memudahkan. Dalam mekanisme ini tidak jarang timbul perbedaan pendapat mengenai klasifikasi barang antara importir/PPJK dan aparat DJBC. Namun dalam diktat ini pembuatan nota penelitian klasifikasi barang tersebut diarahkan untuk mengikuti ketentuan-ketentuan dasar mengklasifikasi barang sesuai HS/BTBMI.1. Soal tersebut dapat dijawab dengan menggunakan contoh nota penelitian di bawah ini: Contoh 1. uraian rinci klasifikasi barang dimaksud kita sebut saja Nota Penelitian Klasifikasi Barang.

bentuk. BTBMI. (Contoh ini umumnya diterapkan pada penelitian klasifikasi di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai): Nama Barang/Uraian Jenis Barang Spesifikasi Barang (Komposisi. 4 digit. dan informasi atau referensi lainnya • • • Tentukan satu pos yang paling sesuai Tentukan sub-pos yang paling sesuai Tentukan pos tarif yang paling sesuai .Bagian.1) Nama barang/uraian jenis barang 2) . 6 digit dan 9 digit 5) Kesimpulan Contoh 2.) Pos (pos-pos) Yang Mungkin (Bisa satu atau lebih kemungkinan pos tarif) Dasar Klasifikasi Catatan : Bagian. kegunaan.tuliskan mulai dari 2 digit. alasan/catatan Bag/Bab /Sub-pos yang terkait 3) . kapasitas. Explanatory Notes.Explanatory Notes atau referensi lainnya 4) Uraian klasifikasi barang . Bab dan Sub pos • Uraian pos. Bab. dll. kemasan.

00 % . Praktek Pembuatan Nota Penelitian Klasifikasi Barang: 1.xxx BM x% PPN x%.90.3.PPN … % PPh %. Menurut catatan 1 (d) Bab 44 tidak meliputi arang aktif masuk pos 3802 .Subpos 3004. .Pos 3004.Produk farmasi . Nama dan Jenis barang : Shampo merk : KAO dalam tube 100 ml mengandung obat anti ketombe dan anti .Kesimpulan Klasifikasi Barang Barang dimaksud dimaksud diklasifikasikan pada tarif xxxx. 2.99. Bahan tersebut telah terdaftar dalam Farmakope Indonesia Alasan Klasifikasi : Arang kayu masuk Bab 44.Bab 30.90.xx...90 Lain-lain . Obat dalam dosis tertentu. Nama dan Jenis barang : Norit mengandung arang aktif dari arang kayu dalam bentuk tablet 5 gram dipergunakan untuk mengatasi keracunan atau perut kembung.99. BM ….Pos tarif 3004..Bab 38 catatan 1 (d) tidak meliputi barang untuk obat …masuk Bab 30 Uraian klasifikasi : .00 Lain-lain Kesimpulan : Norit diklasifikasikan pada pos tarif 3004.90.1.90 Lain-lain . 4.Subpos 3004.

diolah selain dari bab 2 dan 3 masuk Bab 16…” .10.10 shampo .90. .Olahan dari daging .Pos 3305 preparat digunakan pada rambut.12.Pos tarif 3305.12..00..00…mengandung daging sapi Kesimpulan : Sosis daging sapi tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 1601.Pos 1601 .Bila mengandung obat Bab 30 Lihat Bab 30 catatan 1(d) :Bab ini tidak meliputi pos 3303-3307 walau mengandung obat Uraian klasifikasi : ..Bab 33. lihat cat 1 “..Subpos 1601.. . sosis . .Bab 16 .Pos tarif 1601.PPN … % P 3.00. shampo Pos 3305.jamur atau kerontokan rambut Alasan Klasifikasi : .shampo Kesimpulan : Shampo mengandung obat anti kerontokan diklasifikasikan pada pos tarif 3305.Shampo termasuk kosmetik Bab 33.sosis .Lihat Bab 16 catatan 2 “Bab 16 meliputi olahan makanan mengandung daging lebih dari 20 % Uraian klasifikasi : . % . Nama dan Jenis barang : Sosis daging sapi yang dimasak Alasan Klasifikasi : .00.10.Subpos 3305..PPN … % PPh %.90. .kosmetika… . % ...00 BM ….00.Makanan olahan masuk Bagian IV .00 BM ….10.Olahan dari ikan masuk Bab 16.

polimer .Bab 73. Nama dan Jenis barang : Bahan untuk membuat cat besi mengandung bahan alkyd resin (poliester resin) 55 %. pos 3208 meliputi bahan yang mengandung bahan pelarut mudah menguap lebih dari 50 % ..00 ukuran 25 mm .Bab 39..4. 5..barang dari baja .10.Mobil derek masuk bab 87 .Pos tarif 3907.Pos 7312 .Lihat Bagian XVII catatan 2(B) bagian untuk pemakaian umum tidak boleh masuk Bab 87 .5 cm digunakan untuk penarik mobil derek Alasan Klasifikasi : .Bahan cat termasuk produk kimia bagian VI.Barang dari logam tidak mulia masuk Bagian XV.Pos 3907 poliester (alkid resin) . Uraian klasifikasi : . % .Lihat catatan 4 bab 32 .10. (walau bagian untuk mobil derek) Uraian klasifikasi : . cat masuk bab 32 .50..Subpos 7312.Pos tarif 7312.00 BM ….10.10.90. kawat dipilin .kawat . .50 alkid (poliester) dari poliester ..Barang dari logam tidak mulia masuk Bab 73..Subpos 3907..50. bahan pelarut yang mudah manguap 28 % dan bahan lainnya 13 % Alasan Klasifikasi : .. Nama dan Jenis barang : Kawat pilinan dari baja terdiri dari 5 buah yang dipilin tidak diisolasi ukuran diameter 2.00 cair Kesimpulan : Bahan cat tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 3907.PPN … % PPh %.Lihat Bagian XV catatan 2 “kawat dipilin masuk bagian untuk pemakaian umum pos 7312 …..pelarut kurang dr 50 % ke pos 3907..

91.00 untuk bus mini Kesimpulan : Radiaotor tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 8708..90 bagian dan aksesori lainnya ….00 BM …. -Sub pos 8708.91. Bagiannya masuk pos 8708.30.90. Sebutkab tahapan dalam membuat nota penelitian klasifikasi barang ? 1.00 BM …. Latihan Pertanyaan 1. 4.%.10. Uraian klasifikasi : -Bab 87 Kendaraan yang bergerak selain diatas rel … -Pos 8708 bagian untuk kendaraan bermotor.Kesimpulan : Kawat tersebut diklasifikasikan pada pos tarif 7312.PPN … % PPh %. Kendaraan Bab 87 Radiator bagian dari kendaraan bermotor berjalan bukan di rel.30.91. . Nota penelitian klasifikasi barang 2. Jawaban 2. seyogyanya memuat hal-hal apa saja ? . % .Pos tarif 8708. radiator . 6.2.% PPN …% PPh…. Nama dan Jenis barang : Bagian dari kendaraan bermotor berupa : Radiator untuk mobil bus mini untuk pengangkutan 15 orang dengan mesin diesel dalam keadaan CKD masa total 10 ton Alasan Klasifikasi : -Kendaraan yang bergerak selain diatas rel… masuk Bagian XVII.Sub pos 8708.

( B . alas an klasifikasi. asalkan pada saat diimpor sudah mempunyai sifat utama sebagai lengkap atau rampung barang 3. Test Formatif 5. demikian juga hasil penelitian klasifikasi barang harus disajikan dalam bentuk format yang benar.3. ( B . Rangkuman Proses dalam mengklasifikasi barang harus seuai dengan aturan.3. namun dilapangan nama barang berdasarkan hasil pemeriksaan. ditambah informasi barang dari brosur. Bab dan Sub-bab pada Buku tarif Bea Masuk Indonesia hanya dimaksudkan untuk memudahkan penyebutan saja. Mengapa dalam mengklasifikasi barang tidak hanya menyebutkan 9 digitnya atau kesimpulannya saja ? 3. 1. uraian klasifikasi dan kesimpulan. 4.1. Dalam membuat nota penelitian klasifikasi barang ada yang sederhana dengan hanya menggunakan BTBMI.S ) Pernyataan 2b pada KUM HS adalah Barang tidak lengkap atau tidak rampung dianggap sebagai barang lengkap atau rampung. Lingkarilah huruf B apabila pernyataan ini Saudara anggap benar dan huruf S apabila pernyataan Saudara anggap salah. hasil analisa laboratorium atau sumber informasi lainnya 5.S ) Judul Bagian. Tidak mengikat secara hukum dalam mengklasifikasi 2. ( B .S) Pernyataan 3a pada KUM HS adalah Pos yang memuat uraian yang paling terinci harus lebih diutamakan daripada pos yang memuat uraian . Pada umumnya hsil penelitian dituangkan dalam suatu format yang berisikan komponen : nama dan jenis barang.

S ) Pernyataan 5b pada KUM HS adalah Peti kamera. 2b b. sebaiknya kita identifikasi dulu barang yang akan kita klasifikasi.S ) Sebelum mengklasifikasi barang. Uraian klasifikasi mulai 2 digit sampai dengan 9 digit d. 5a 3. bumbu. Dengan mengetahui spesifikasi barang maka akan lebih mendekati keakuratan dalam mengklasifikasi barang 6. Pililihlah jawaban yang Saudara anggap benar dengan cara melingkari huruf yang terdapat di depan jawaban tersebut 1.2. 3a c. Namun demikian nota tersebut setidak-tidaknya memuat tentang : a. ( B . pernyataan a. cocok untuk pemakaian jangka panjang dan diimpor lengkap dengan isinya. b dan c benar 2. diklasifikasikan sebagai mie pada bab 19. Larutan dengan kandungan asam cuka (acetic acid) lebih dari 10 % dikeluarkan dari bab 22 berdasarkan catatan : . Dalam membuat Nota Penelitian Klasifikasi Barang maka diperlukan kerangka yang singkat atau memerlukan uraian yang cukup panjang tergantung pada permasalahan yang dihadapi. nama barang dan uraian jenis barang b. peti instrumen dan tempat simpan yang semacam. ( B . dengan bentuk atau kelengkapan khusus untuk menyimpan barang tertentu atau seperangkat barang tertentu. saos dan bawang.yang lebih umum sifatnya 4. berdasarkan KUM HS nomor : a. 3b d. harus diklasifikasikan dengan barang tersebut jika biasa dijual dengan barang itu 5.alasan atau catatan yang digunakan c. Suatu kemasan mengandung mie.

2b d. Tentukan pos tarif dari barang tersebut dibawah ini 1. definitif b. 3. Automatic voltage regulator yang digunakan sebagai stabilizer otomatis untuk komputer harus diklasifikasikan pada pos 85. esklusif c.a. 2a c. Walalupun etil alkohol merupakan bahan kimia organik. 3c c. Mengapa olahan makanan yang terbuat dari daging sapi yang dikukus tidak diklasifikasikan pada bab 2 2. ilustrasi d. 5b 6. 1 b.32 .04 atau 90. Sebutkan alasannya . namun diklasifikasikan pada bab 22 dikarenakan KUM HS nomor : a. Tabung gas LPG yang berisi gas LPG tidak dapat diklasifikasikan menjadi stu pos tarif karena ketentuan menurut KUM HS nomor : a. Mengapa tutup kepala (topi) pengaman untuk pengendara sepeda motor yang terbuat dari bahan plastik tidak diklasifikasikan pada bab 39 ? 4. 3b b. Mengapa sabun mandi mengandung obat pembasmi kuman walaupun mengandung obat tidak diklasifikasikan pada bab 30 sebagai produk farmasi. pengertian 4.3. 5a d. 3a 5.

Kunci Jawaban 6. Benang tenun terbuat dari campuran 70 % kapas (cotton) dan 30 % nilon.3. seperti dipanggang. a 5. d 2.000 2.50. Perhatikan pos tarif 1602. Pilihan B atau S 1. d 6. B 6. Essay Diberitahukan hanya 6 digitnya (sub posnya) 1.5. tidak dikelantang dan tidak dimerserisasi. S 3. B 2. dari serat disisir dengan nomor benang 150 decitex. Daging sapi hasil olahan sesuai bab 2 (pengolahan sementara/terbatas) diklasifikasikan pada bab 2. dikukus dan pengolahan selain pada bab 2 diklasifikasikan pada bab 16.2.1. c 3. Pilihlah berganda 1. Bentuk pengolahan bukan sederhana. Lihat catatan 1 bab 16. B 4. S 5. Lihat catatan 1(e) Bab 30 .Ketentuan dan catatan apa yang digunakan dalam mengklasifikasi barang tersebut 6. b 4. merupakan benang tunggal.

3. Lihat catatan 1(n) Bab 39

4. Lihat catatan 2(A) Bagian XI

5. Lihat catatan 6(b) Bab 90 Perhatikan sub-pos 5206.24.

7. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT

Bandingkanlah hasil jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang ada di belakang modul ini. Hitunglah jumlah jawaban Anda yang benar atau sejauh mana Anda menguasai mata pelajaran tersebut. Kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap terhadap materi kegiatan belajar

Rumus Tingkat Penguasaan Jumlah Jawaban Anda yang benar dibagi 15 kemudian dikali 100 % = ............ Arti tingkat penguasaan : * 90 % - 100 % = Baik sekali * 80 % * 70 % * 89 % = Baik 79 % = Cukup 69 % = Kurang

Kalau Anda mencapai tingkat penguasaan 80% keatas Anda dapat meneruskan kepada modul atau bagian pelajaran lain. Hasilnya Baik ! akan tetapi, bila tingkat penguasaan Anda masih dibawah 80 %, Anda harus mengulangi membaca Modul kembali, terutama bagian yang belum Anda kuasai

8. Kepustakaan

1. Harmonized System, Word Customs Organization, 2007 version 2. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (2007). Departemen Keuangan RI, Jakarta 3. Explanatory Notes, World Customs Organization, 2007

4. Pengantar Klasifikasi Barang. (1995) Pusdiklat Bea dan Cukai. Jakarta 5. Classification Disputes Settled by The Harmonized System Committee. Customs Organization (1994) World

***

8. Kepustakaan

1. Harmonized System, Word Customs Organization, 2007 version 2. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (2007). Departemen Keuangan RI, Jakarta 3. Explanatory Notes, World Customs Organization, 2007 4. Pengantar Klasifikasi Barang. (1995) Pusdiklat Bea dan Cukai. Jakarta 5. Classification Disputes Settled by The Harmonized System Committee. Customs Organization (1994) World

***

MODUL III SISTEM KLASIFIKASI BARANG MENURUT HARMONIZED SYSTEM MATERI KLASIFIKASI BARANG OLEH : TIM PENYUSUN MODUL PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN BEA DAN CUKAI BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA JAKARTA 2007 .

Modul ini digunakan dalam Diklat Teksnis Substantif Dasar I Kepabeanan dan Cukai dengan judul “Catatan Penting dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia” Dalam kesempatan ini. Penulis menghaturkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga dapat diselesaikannya Modul ini. Semoga Allah membalas atas amal kebaikan tersebut. Modul ini merupakan seri dari 3 buah modul mata pelajaran klasifikasi barang. bahwa Modul ini dapat diselesaikan sesuai waktunya. Dalam rangka penentapan tarif bea masuk dan kepentingan kepabeanan lainnya. Jakarta. Nopember 2007 Penulis . seyogyanya petugas Ditjen Bea dan Cukai menambah keterampilam dalam mengklasifikasi barang agar pelayanan cepat dan negara tidak dirugikan dalam menetapkan besarnya bea masuk. Semoga Modul ini bermanfaat sebagai penambah wawasan dan media untuk penambah keterampilan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang.Kata Pengantar Puji syukur kehadirat Allah yang Maha Kuasa. Obyek dari kegiatan Direktorat Bea dan Cukai adalah barang. karena ada kepastian tentang jenis barang dan penetapan tarif posnya.

.........3..........................................2................................. Daftar Isi .............................................................2......................1 Uraian............... 3........... Test Formatif .......................................... Rangkuman..........2.......... 4......... KEGIATAN BELAJAR 1 JENIS CATATAN PADA BTBMI……………………………............................................ 2.... Rangkuman.................................................................. 1 PENDAHULUAN ..............1 Uraian........ Tujuan Pembelajaran Umum....Deskripsi singkat................1..... Contoh dan Non contoh....... KEGIATAN BELAJAR 2 STRUKTUR PENGELOMPOKAN BARANG PADA BTBMI.... 4 KEGIATAN BELAJAR 3 CATATAN PENTING PADA BTBMI...........................3................................................................................. Latihan 1............................................................................................................................................. Contoh dan Non contoh................................................................................................................................. 1.. 3......... Tujuan Pembelajaran Khusus........2.............. 2...................................... 2.. 4...................................... i ii 1 1 1 1 2 2 5 5 6 6 22 23 24 24 32 32 33 36 37 38 2 3 5 6 7 8 ...............................DAFTAR ISI Halalaman Kata Pengantar .. Umpan Balik...................................................... Rangkuman............................................................. Daftar Pustaka............................................................................ Contoh dan Non contoh.....3....................................... Latihan 3..........................................3................................. 1... 3............. 4........1 Uraian............. 1....... Latihan 2...... Kunci Jawaban ..............

1. Oleh karena itu. Jenis catatan pada BTBMI 2. para Siswa diharapkan mampu menjelaskan pengelompokkan barang dan jenis catatan berdasarkan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia. seorang klasifikator harus terlebih dahulu memahami pengetahuan barang dan pengetahuan mengenai klasifikasi barang. Deskrifsi Singkat Untuk menjadi menjadi seorang klasifikator dibidang kepabeanan yang handal harus dapat mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang dengan terampil.2. Seorang klasifikator harus memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi dan mengklasifikasi barang karena akan menentukan ketepatan pengisian Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang pada akhirnya menentukan ketepatan jumlah bea masuk dan pungutan impor lainnya yang harus dibayar. KEGIATAN BELAJAR 1 . PENDAHULUAN 1. 1.3. Tujuan Instruksional Khusus Setelah mempelajari Modul ini diharapkan para Siswa mampu menjelaskan : 1. Struktur pengelompokkan barang 3.MODUL III CATATAN PENTING DALAM BTBMI I.1. Catatan Penting dalam BTBMI 2. Tujuan Instruksional Umum Setelah mempelajari modul ini.

Uraian. Catatan Definitif Catatan yang menjelaskan pengklasifikasian suatu barang pada pos atau sekumpulan pos tertentu. yang harus diklasifikasikan dalam pos tersebut dan tidak dalam pos lainnya dari Nomenklatur ini: (a) Catgut bedah steril. Catatan Bab. catatan-catatan dalam HS merupakan bagian integral yang harus diperhatikan benar-benar. yaitu: 2. dan Catatan Sub-pos. Catatan Eksklusif Catatan yang mengeluarkan barang tertentu dari suatu pos atau sub-pos dan memasukkannya dalam pos atau sub-pos tertentu lainnya.1. (b) (c) (d) (e) (f) (g) (h) Laminaria steril dan laminaria steril yang dapat menggembung. Contoh dan Non Contoh Disamping KUM HS. Catatan-catatan tersebut mempunyai kekuatan hukum sama seperti uraian pos atau sub-pos. Hemostatik bedah atau gigi steril yang dapat menyerap. … … … … Preparat kontrasepsi kimia dengan bahan dasar hormon atau pembunuh sperma.1. Contoh: Catatan 4 Bab 30: Pos no.1.1. 2. .JENIS CATATAN PADA BTBMI 2.04 hanya berlaku untuk hal berikut ini. bahan jahit bedah steril yang semacam itu dan perekat kertas steril untuk penutup luka bedah. 30.2. HS mempunyai Catatan Bagian. Catatan-catatan tersebut dapat dibagi berdasarkan jenisnya.

tali sandang dan semua jenis gelang. yang tidak layak atau tidak sesuai untuk konsumsi manusia. 05. 42.04 sampai dengan 09.01 sampai dengan 02. 2. .08.09 (Bab 15). 05. tetapi tidak termasuk arloji tangan (pos no. 91.03.10.13).1. 2. kandung kemih atau perut dari binatang (pos No.4. Contoh : Catatan 3 Bab 42: Untuk keperluan pos no. (b) Catatan 1 Bab 9: Campuran dari produk dimaksud dalam pos no.3. (b) Usus. 02. tali penahan celana.10 harus diklasifikasikan sebagai berikut: (a) Campuran dua produk atau lebih dari pos yang sama harus digolongkan dalam pos itu.04) atau darah binatang (pos No. antara lain. atau 02. ikat pinggang.02). 09. Catatan Ilustratif Catatan yang memberikan gambaran terhadap pengertian atau istilah yang perlu dijabarkan lebih lanjut. untuk sarung tangan (termasuk sarung tangan olah raga).1. selain produk dari pos No. apron dan pakaian pelindung lainnya.11 atau 30. atau (c) Lemak hewani. 02. istilah “barang pakaian dan perlengkapan pakaian” berlaku.Contoh: (a) Catatan 2 Bab 3: Dalam Bab ini pengertian “pellet” adalah produk-produk yang telah diaglomerasi baik secara langsung dengan cara dikompresi atau dengan penambahan sejumlah kecil bahan pengikat.Contoh: Catatan 1 Bab 2: Bab ini tidak meliputi: (a) Produk dari jenis yang diuraikan dalam pos No. Catatan Lain-lain Catatan yang menguraikan pengertian-pengertian yang bersifat teknis.

dan pos tarif yang berkaitan dengan barang yang akan diklasifikasikan merupakan syarat mutlak yang harus dilakukan agar klasifikasi yang dilakukan benar-benar akurat. Dengan memperhatikan ketentuan dalam ayat di atas dan Catatan 1 Bab 83. 73.14). Explanatory Notes. 2. (b) Pegas dan lembaran untuk pegas. (c) Catatan 2 Bagian XV: Dalam seluruh Nomenklatur. 09. 91. 83.15) apa yang disebut bagian dari barang tidaklah termasuk uraian tentang bagian untuk pemakaian umum seperti diuraikan di atas.07.08. 73. dan uraian pada pos. dari logam tidak mulia.01. sub-pos. barang dari Bab 82 atau 83 tidak termasuk dari Bab 72 sampai dengan 76 Bab 78 sampai dengan 81. Tambahan dari bahan lainnya ke dalam produk dari pos no.17 atau 73. Dalam Bab 73 sampai dengan 76 dan 78 sampai dengan 82 (tetapi bukan dalam pos no. termasuk KUM HS.02.04 sampai dengan 09.15. istilah “bagian untuk pemakaian umum” berarti: (a) Barang dari pos no. 73.2.18 dan barang semacam itu dari logam tidak mulia lainnya. 73. dan (c) Barang dari pos no. 09. Membaca dengan teliti dan memahami catatan-catatan di atas. Tatacara mengklasifikasi harus diikuti dengan urut agar benar-benar diperoleh hasil yang akurat. 83. 73. Latihan .(b) Campuran dua produk atau lebih dari pos yang berlainan harus digolongkan dalam pos no. dari pos no. Mengklasifikasi barang tidak dapat dilakukan dengan hanya sekedar mencari satu pos tertentu saja.12.10 (atau campuran seperti yang dimaksud dalam (a) atau (b) di atas) tidak mempengaruhi penggolongannya asalkan…. 83. 83.10.06.10 dan bingkai serta kaca dari logam tidak mulia. selain pegas untuk lonceng atau arloji (pos no.. 83. Untuk beberapa hal cara seperti ini mungkin berhasil namun labih banyak risiko kegagalannya.

Rangkuman Catatan merupakan pintu gerbang dalam memasuk bagian dan bab dalam BTBMI. dikeluarkan. Hal ini diperlukan agar jangan sampai salah dalam menempatkan pengelompokan barang sesuai Harmonized system.3. eksklusive. 3. Sebutkan contoh catatan definitif pada Bab 39 ? 2. Jawaban 2. Secara garis besarnya pintu gerbang tersebut akan mengatur tentang suatu barang yang boleh dimasukan. catatan definitive. Secara singkat jenis catatan tersebut meliputi.Pertanyaan 1. . atau dikeluarkan sebagian serta penjelasan lainyya. illustratif.Sebutkan catatan ilustratif pada pada Bagian ? 1. Sebutkan contoh catatan ekslusif pada Bab 71 ? 3. dan penjelasan. 2.

). sayuran. yaitu bahan baku (raw material). Uraian. madu. demikian juga halnya dengan jangat. Namun beberapa jenis minyak dan lemak dikeluarkan dari bagian I dan diklasifikasikan pada bab 15. tepung. Urutan pengelompokan ini juga berlaku untuk bab dan pos. telur. sepatu dari kulit binatang pada Bab 64. Di bawah ini disajikan urutan pengelompokan barang dalam HS/BTBMI: 1. jangat dan kulit binatang pada Bab 41. produk makanan siap saji yang diawetkan diklasifikasikan pada Bagian IV. barang setengah jadi (semi-finished products). baik yang bisa dimakan atau tidak (tanaman. kecuali beberapa jenis minyak dan lemak tertentu (bab 15) dan kayu (bab 44). dan barang jadi (finished products).1. bijibijian. Terhadap produk yang telah mengalami proses lebih lanjut diklasifikasikan pada bab 19. produk susu. barang dikelompokkan dalam 96 bab (dan bab 77 sebagai persiapan masa mendatang) yang dikelompokkan dalam 21 bagian. KEGIATAN BELAJAR 2 STRUKTUR PENGELOMPOKAN BARANG PADA BTBMI 3. Produk-produk yang termasuk bagian I dan II belum mengalami proses pengerjaan kecuali sampai tahap tertentu (dengan beberapa pengecualian). ikan. Bagian III hanya terdiri dari bab 15 yang mencakup lemak dan minyak hewani dan . Gambaran per Bagian Bagian I mencakup binatang hidup dan produk dari binatang (daging. binatang hidup diklasifikasikan pada Bab 1. bahan yang tidak/belum dikerjakan (unworked products). kulit. dsb.1. Contoh dan Non Contoh 3. Pengelompokan tersebut berdasarkan urutan tingkat pengerjaannya. bab 20 atau bab 21.1.3. Gambaran Per Bagian Dalam Harmonized System (HS). buah. Sebagai contoh. Contohnya. dan produk yang tidak dapat dimakan). produk yang dapat dimakan lainnya. bulu dan barang terbuat daripadanya (diklasifikasikan pada bagian VIII). Bab 1 sampai dengan bab 24 (Bagian I sampai dengan Bagian IV) mencakup produk-produk pertanian dalam arti luas. Bagian II mencakup produk sayuran. sereal.

misalnya minyak goreng atau margarine yang siap dikonsumsi. Bab 17 meliputi gula dan bahan lainnya seperti sirop. KENTANG ) . dikukus atau diawetakan secara permanen. seperti saccharin dan dulcin. Minyak pada Bab II baik dalam keadaan mentah. Bab 16 meliputi daging atau ikan yang telah mengalami proses lebih lanjut. diantaranyadi goreng. bersamasama dengan produk industri makanan yang tidak dicakup bab-bab sebelumnya.nabati dan produk terbuat daripadanya (misalnya malam/wax). Umumnya minyak tidak menguap. karena minyak nabati yang mudah menguap masuk Bab 33 sebagai minyak atsiri. Demikian juga bahan pemanis tiruan masuk Bab 29. madu tiruan dan karamel. minuman keras. telah diproses. Berbagai jenis gula yang murni secara kimiawi diklasifikasikan pada Bab 29.dan tembakau. HUBUNGAN BAGIAN I DAN II DENGAN BAGIAN IV: BAGIAN I & II DIPROSES LEBIH LANJUT >>>BAGIAN IV *BAB 2 BAB 3 (DAGING) (IKAN) > * BAB 16 *BAB 4 (SUSU) BAB 10 (GANDUM-GANDUMAN) > * BAB 19 BAB 11 (PRODUK-GILINGAN) *BAB 7 (SAYURAN) > * BAB 20 BAB 8 (BUAH-BUAHAN) BAB 11 (PRODUK GILINGAN. cuka. Bagian IV mencakup produk minuman.

maka produk barangbarang tersebut semakin bervariasi dan bertambah jenisnya. kosmetik. Batu-batuan setengah permata atau batu permata digolongkan pada Bab 71. baik yang berbentuk asal (primary form) maupun produk-produk industri kimia seperti produk farmasi. Kecuali kalau susunannya mensyaratkan lain. Sesuai dengan kemajuan teknologi. Komoditi plastik. seperti garam. baik sumber mineral anorganik seperti tanah. Bagian VI mencakup produk-produk kimia. dan sumber bahan organik pada Bab 27 seperti batu bara. maka Bab 25 meliputi produk tambang. maka pengenalan dan proses pengidentifikasi barang tersebut semakin sulit. telah dicuci. Karena kemajuan teknologi pembuatan barang. Bagian VII mencakup plastik dan produk dari plastik (bab 39) dan karet dan produk dari karet (bab 40). Bagian VII mencakup plastik/barang dari plastik serta karet/barang dari karet. yaitu bab 39 (Plastik dan Barang Dari Plastik) dan bab 40 (Karet dan Barang Dari Karet). karet buatan serta barang dari plastik dan karet buatan banyak diimpor Indonesia. pupuk.Bagian V mencakup produk mineral. Struktur dalam Bab 39 secara garis besar adalah : . dan lain-lain. Bagian ini terdiri dari 2 bab. cat. misalnya dimurnikan sebagai bahan kimia anorganik masuk Bab 28. bahan peledak. sedangkan apabila merupakan hasil bentukan atau pahatan masuk Bab 68 dan kalau bahan tersebut merupakan hasil pembakaran maka masuk Bab 69. sabun. batuan pada Bab 25 atau bijih logam pada Bab 26 . dan minyak bumi. hancur. belerang dan batuan lainnya hanya dalam keadaan mentah (crude). hasil tumbuk. khususnya dalam rangka klasifikasi barang. Hasil pertambangan yang telah diolah secara lain. hasil gilingan atau saringan.

Bahan dasar tekstil adalah serat. goni dan sisal. hewani. REJA : COUMPOND 3916-3921 : BARANG SETENGAH JADI 3922-3924 : BARANG JADI 4007-40016 : BARANG SETENGAH JADI 4017 : KARET KERAS Bagian VIII mencakup produk-produk tertentu yang berasal dari binatang seperti jangat dan kulit (bab 41). dan barang kerajinan tangan (bab 46). kertas karton dan barang terbuat daripadanya (bab 48). Perlu dicatat bahwa pos 42. kulit berbulu.. Namun. Serat bila diproses akan menjadi benang. beberapa produk seperti furniture diklasifikasikan di bab lain (bab 94).. misalnya serat kapas. Serat dapat berasal dari tumbuhan. Serat dari tumbuhan atau disebut serat nabati. flaks.02 juga mencakup produk-produk tertentu terbuat bukan dari kulit. Bagian XI mencakup produk tekstil mulai dari sutera (bab 50) sampai dengan pakaian dan permadani (bab 63). mineral dan buatan manusia.01 dan 42. kertas. seperti kayu dan barang dari kayu (bab 44). Bagian X juga masih mencakup produk yang berasal dari tumbuhan. termasuk kulit berbulu imitasi (bab 43). REJA. gabus dan barang dari gabus (bab 45). dan produk industri percetakan (bab 49). rami. Bagian IX mencakup produk yang berasal dari tumbuhan.BAB 39 PLASTIK DAN BARANG DARI PLASTIK BAB 40 KARET DAN BARANG DARI KARET SUB-BAB 1 3901-3911 : POLIMER BUATAN 3912-3913 : POLIMER ALAMI 3914 : PENUKAR ION 4001-4002 : BAHAN KARET 4003 4004 4005 SUB-BAB II 3915 : SISA.. Serat . 4006 :TIDAK DIVULKANISASI : KARET PUGARAN : SISA. henneps. yaitu pulp (bab 47). barang dari kulit atau usus binatang (bab 42). kemudian dari benang menjadi kain atau produk tekstil lainnya.

dan uang logam. poliurethan dan lainnya. contohnya kaos. dll. Benang tersebut biasa disebut sebagai lusi dan pakan. Bagian XV mencakup logam tidak mulia dan barang terbuat daripadanya. Ada dua sistem yang dipakai dalam penomoran benang. (bab 66). tongkat jalan. Bagian XII mencakup produk alas kaki (bab 64). dll. (bab 68). plaster. bunga buatan. dan kaca/barang dari kaca (bab 70). Istilah sintetik digunakan dalam hubungan bahan polimer seperti poliamida. 2. tutup kepala (bab 65). bulu kambing Angora (Mohair) dan sutera. asetat sellulosa. poliester. T shirt dan kain katun (lihat Bab 60 tentang jenis kain ini). keramik (bab 69). Sistem penomoran benang langsung (Direct Yarn Number) Sistem penomoran benang tidak langsung (Indirect Yarn Number) Kain yang terbuat dari benang dengan cara tenun. yaitu : 1. juga produk-produk tertentu dari bulu. dibuat dengan mesin tenun melalui cara menyilangkan kelompok benang satu terhadap yang lain. Kain rajut dibuat dengan jalan menjeratkan benang satu dengan yang lain atau pada benang itu sendiri. Untuk memahami ini lihat Catatan 1 Bab 54. Serat buatan adalah serat hasil industri kimia.yang berasal dari hewan misalnya bulu domba atau bulu anak domba. benang pakan kalau dalam mesin rajut adalah yang bergerak menyilang benang lusi atau sesuai arah lebar kain. logam mulia. Serat buatan manusia atau man made fiber terbagi dua. dan semacam itu. Namun demikian bagian ini tidak mencakup barang dari logam dasar yang termasuk dalam bab- . Bagian XIV mencakup hanya bab 71 yaitu mencakup mutiara dan batu mulia. semen. Bagian XIII mencakup produk-produk yang diperoleh dari batu. bulu kelinci. perhiasan. dan barang dari rambut manusia (bab 67). Melalui data nomor benang. gips. payung. bisa dilihat besar atau kecilnya suatu benang. bulu unta. yaitu serat sintetik dan serat artificial (tiruan). sedangkan serat tiruan digunakan dalam hubungan untuk bahan dari rayon viskosa.

kapal laut. di bawah ini disajikan gambaran keterkaitan antar bab dalam HS: . kontrol. dan alat transportasi lainnya (kereta api. dan perlatan musik (bab 92). dan bangunan prefabrikasi (bab 94). Bagian XX mencakup furniture. atau bedah (bab 90). mainan. jam (bab 91). Bagian XVI mencakup mesin. Bagian XVII mencakup kendaraan. dan bermacam-macam barang hasil pabrik (bab 96). papan nama iluminasi. dan peralatan listrik. Hubungan Antar Bab Apabila kita mempelajari Bab demi Bab Harmonized System. fotografi. peralatan mekanik. perlengkapan penerangan. Bagian XIX hanya terdiri dari bab 93 yang mencakup senjata dan amunisi. pesawat ruang angkasa. Dengan demikian dapat dimengerti apabila suatu barang yang sepintas termasuk dalam suatu bab ternyata diklasifikasikan pada bab lain. lampu. barang kegemaran kaum pengumpul. dan barang antik. Perlu diingat bahwa judul bab bukan merupakan uraian yang bersifat mengikat secara hukum. sinematografi. judul bab dalam HS sebagian besar bersifat umum. Sebagai contoh.1. Bagian XXI hanya terdiri dari bab 97 yang mencakup hasil karya seni. ukuran. dll.2. 3. akan kita dapati bahwa terdapat keterkaitan antara bab tertentu dengan bab atau beberapa bab lainnya. Hal ini dapat difahami mengingat antara bab satu dengan bab lainnya kadang-kadang mencakup barang yang mengandung bahan yang sama atau merupakan proses lebih lanjut dari barang dalam bab sebelumnya.bab di belakangnya (seperti mesin dan kendaraan). Bagian XVIII mencakup perlatan optik. dan peralatan olahraga (bab 95). pesawat terbang. Selain itu. peralatan permainan. Bagian ini mempunyai pos dan sub-pos yang sangat besar dibandingkan dengan bagian lainnya.). medis.

08). frame kacamata dari plastik (bab 90). Pada Bab 6 tidak termasuk benih. Tetapi apabila kembang gula tersebut mengandung kokoa. • Bahan kimia etilena diklasifikasikan pada Bab 29 (bahan kimia organik). mesin pada pos 84. kita dapat . dan beberapa mesin lainnya. seperti mesin dengan motor listrik. Sebagai contoh. maka harus diklasifikasikan olahan makanan mengandung kokoa pada bab 18 (pos 18. diasap dan dipanggang. Namun apabila etilene terpolimerisasi menjadi polietilena dengan jumlah unit monomer (n) 5 atau lebih.06). Contoh-contoh di atas adalah sebagian kecil contoh keterkaitan antar bab dalam HS. Untuk mengetahui keterkaitan antara bab satu dengan bab lainnya. melainkan pada bab 95 (pos 95. Namun kuda hidup yang digunakan dalam sirkus tidak klasifikasikan pada bab 1. beberapa mesin dan peralatan tertentu tetap diklasifikasikan pada bab 84 meskipun elektrik. maka harus diklasifikasikan pada Bab 39 (plastik).• • Bab 1 mencakup antara lain binatang hidup. • Mesin dan peralatan mekanis diklasifikasikan pada bab 84 sedangkan mesin dan peralatan listrik diklasifikasikan pada bab 85. Daging pada Bab 2 hanya terhadap pengolahan terbatas seperti : segar. • Kembang gula (sugar confectionery) diklasifikasikan pada bab 17. dingin. Namun demikian. Adalah tidak mungkin untuk menggambarkan dengan rinci keterkaitan antas bab dalam diktat ini. furniture dari plastik (bab 94). kotak jam dari plastik (bab 91). Sayuran atau buah yang diawetkan dengan cuka atau dengan cara lain misalnya masuk Bab 20.19 (wood dryer). Barang dari plastik diklasifikasikan pada Bab 39. barang tersebut diklasifikasikan di bab-bab lain. Bila sudah berbentuk barang yang khusus dibuat untuk keperluan tertentu. Produk yang dikemas dalam kedap udara dan mengalami pengolahan lebih jauh selain pengolahan dari Bab 2 maka diklasifikasikan pada bab 16. • Bab 6 meliputi semua tanaman hidup yang umumnya dimaksud untuk dijual oleh tukang bibit atau yang bergerak dibidang hortikultura yang serasi untuk ditanam atau dijadikan pajangan. dan sebagainya.03 (electric central heating boiler) dan pos 84. buah atau buah berbonggol dan umbi-umbian tertentu.

Biji mengandung minyak dan buah mengandung minyak . pati. mate dan rempah-rempah 10. produk nabati tidak dirinci atau termasuk pos lainnya BAGIAN III MINYAK DAN LEMAK HEWANI ATAU NABATI DAN PRODUK DISOSIASINYA. tanaman industri atau obat .3. Untuk itu membaca catatan bab maupun catatan bagian merupakan kewajiban sebelum kita mengklasifikasikan suatu barang pada pos tertentu. Bahan nabati untuk anyam-anyaman. 2. Produk hewani. Bab Pada PADA BTBMI BAGIAN I BINATANG HIDUP. 13. kulit dari buah jeruk dan melon 9. 12. bermacam-macam butir. biji dan buah. inulin .melihat di catatan bab maupun catatan bagian. ekstrak nabati lainnya 14. Kopi. damar dan air. telur unggas. Gandum-ganduman 11. getah. Produk pabrik susu. Sayuran. Daging & sisanya yang dapat dimakan 3. 5. tidak dirinci atau termasuk dalam pos lainnya BAGIAN II PRODUK NABATI BAB 6. jerami dan makanan ternak. malti . tidak dirinci atau termasuk dalam pos lain. Produk industri penggilingan . PRODUK HEWANI BAB 1. umbi akar dan yang semacam itu.1. Ikan dan udang-udangan. bunga potong dan daun untuk hiasan 7. Lak. gluten gandum. madu alam. binatang lunak dan binatang air lainnya yang tidak bertulang belakang 4. LEMAK OLAHAN YANG DAPAT DIMAKAN. Binatang hidup 2. akar dan bonggol tertentu yang dapat dimakan 8. Buah & buah berbatok yang dapat dimakan. produk hewani yang dapat dimakan. Pohon hidup dan tanaman lainnya. . teh.

MINUMAN.MALAM HEWANI ATAU NABATI Bab 15 (Judul Bab sama dengan Bagian) BAGIAN IV BAHAN MAKANAN OLAHAN. Bahan bakar mineral. terak dan abu 27. 20. pati atau susu. tanah dan batu. kacang atau bagian lain dari tanaman. Ampas. olahan makanan hewan 24. minyak mineral dan produk sulingannya. Bermacam-macam olahan yang dapat dimakan 22. Olahan dari gandum-ganduman. kapur dan semen. Olahan dari daging. Bijih logam. minuman keras dan cuka 23. bahan mengandung bitumen. Kakao & olahan kakao 19. Gula dan kembang gula 18. TEMBAKAU DAN TEMBA KAU PENGGANTI BUATAN BAB 16. tepung. buah. Garam. dari ikan atau dari udang-udangan. malam mineral BAGIAN VI PRODUK INDUSTRI KIMIA DAN INDUSTRI YANG ADA HUBUNGANNYA DENGAN INDUSTRI KIMIA . Tembakau dan tembakau pengganti buatan. BAGIAN V PRODUK MINERAL BAB 25. 26. bahan plester. Olahan dari sayuran. produk industri kue. Minuman. 21. MINUMAN KERAS DAN CUKA. dan sisa dari industri makanan. belerang. binatang lunak atau dari binatang air yang tidak bertulang belakang 17.

bahan samak dan turunannya. korek api. BARANG UNTUK BERPERGIAN. senyawa organik atau organik dari logam mulia. Zat albumina . Sabun bahan organik penggiat permukaan. Aneka produk kimia BAGIAN VII PLASTIK DAN BARANG DARI PLASTIK. pasta untuk membuat model. pigmen dan bahan pewarna lainnya. KULIT BERBULU DAN BARANGNYA. PELANA TERMASUK PERLENGKAPANNYA DAN PAKAINAN KUDA. Minyak atsiri dan resinoida. Pupuk 32. Plastik dan Barang dari plastik 40. preparat pencuci. perekat . olahan tertentu yang mudah terbakar 37. dari logam tanah langka. wangi-wangian. paduan piroforik. enzim 36. cat dan vernis. “malam untuk mencetak gigi” dan preparat untuk gigi dengan bahan dasar gips.BAB 28. preparat pencuci. Bahan kimia anorganik. lilin dan barang semacam itu. dari unsur radio aktif dan dari isotop 29. preparat pelumas atau pembersih. dempul dan damar lainnya. kosmetika atau preparat pewangi 34. Ekstrak bahan samak atau bahan celup. KARET DAN BARANG DARI KARET BAB 39. preparat pelumas. 35. modifikasi pati . BARANG DARI USUS . Bahan peledak. tinta 33. TAS TANGAN DAN TEMPAT SIMPAN SEMACAMNYA. produk piroteknik. Bahan kimia organik 30. bahan celup. malam tiruan. Barang fotografi atau sinematografi 38. Kulit dan Barang dari Kulit BAGIAN VIII JANGAT DAN KULIT MENTAH. Produk farmasi 31. KULIT SAMAK. malam olahan.

pelana termasuk perlengkapan dan pakaian kuda. KERTAS DAN KERTAS KARTON DAN BARANGNYA BAB 47. Barang dari kulit samak. barang untuk bepergian. Gabus dan barang dari gabus 46. arang kayu 45. KERTAS ATAU KERTAS KARTON (BEKAS DAN SISA) YANG DIPEROLEH KEMBALI. BARANG DARI JERAMI. Jangat dan kulit mentah (lain dari kulit berbulu) dan kulit samak 42. barang dari usus hewan (lain dari pada usus ulat sutera) 43. Kulit berbulu dan kulit berbulu tiruan BAGIAN IX KAYU DAN BARANG DARI KAYU. Kayu dan barang dari kayu. tas tangan dan wadah yang semacam itu. ARANG KAYU. kertas atau kertas karton (bekas dan sisa) yang diperoleh . Barang dari jerami. Pulp dari kayu atau dari bahan sellulosa berserat lainnya. GABUS DAN BARANG DARI GABUS. dari rumput esparto atau dari bahan anyaman lainnya. RUMPUT ESPARTO ATAU DARI BAHAN ANYAMAN LAINNYA. KERANJANG DAN BARANG ANYAMAN BAB 44.(LAIN DARI USUS ULAT SUTERA) BAB 41. keranjang dan barang anyaman BAGIAN X PULP DARI KAYU ATAU DARI BAHAN SELLULOSA BERSERAT LAINNYA.

kain tekstil 54. Barang cetakan. Tutup kepala dan bagiannya 66. Barang dan perlengkapan pakaian. pelindung kaki dan yang semacam itu . pecut dan bagiannya . 57. Kertas dan kertas karton. Barang dan perlengkapan pakaian. kain kempa dan bukan 51. tongkat jalan.48. tidak dirajut atau dikait 63. Serat tekstil dari nabati lainnya . Kapas barang-barangnya 53. surat kabar. dilapisi. cambuk. Alas kaki. BULU UNGGAS. Kain tekstil diresapi. Barang tekstil sudah jadi lainnya. 55. OLAHAN DAN BARANGNYA. benang khsusu. barang tekstil dari jenis yang cocok untuk digunakan dalam industri 60. BARANG DARI RAMBUT MANUSIA BAB 64. Gumpalan. rajutan atau kaitan 62. permadani. bagian dari barang semacam 65. barang dari pulp kertas. benang benang bulu kuda dan kain tenunan pintal. Permadani dan tekstil penutup benang kertas dan tenunan dari lantai lainnya benang kertas 58. Wool. naskah tulisan tangan. Filamen buatan berjumbai. TUTUP KEPALA. renda. BUNGA TIRUAN. gambar dan produk lainnya dari industri percetakan. tenunan. setelan. Kain rajutan atau kain kaitan 61. gombal BAGIAN XII ALAS KAKI. Sutera 56. payung panas. sulaman 59. Kain tenunan khusus. PAYUNG. TONGKAT DUDUK. PECUT DAN BAGIANNYA. TONGKAT JALAN. pakaian bekas dan barang tekstil bekas. bulu hewan halus atau kasar. PAYUNG PANAS. Payung. CAMBUK. dari kertas atau kertas karton 49. ditutupi atau dibuat berlapis-lapis. Serat staple buatan hiasan. tongkat duduk. tali tambang dan kabel dan 52. naskah ketikan dan rencana BAGIAN XI TEKSTIL DAN BARANG TEKSTIL BAB 50.

semen. Tembaga dan barang terbuat dari tembaga 75. GIPS. LOGAM MULIA KERAJANG DAN BARANGNYA. mika atau bahan semacam itu 69. ASBES. Timah dan barang terbuat dari timah 81. Barang dari batu. BATU PERMATA ATAU SEMI PERMATA. MIKA ATAU DARI BAHAN SEMACAM ITU. Seng dan barang terbuat dari seng 80. Bulu unggas dan bulu unggas olahan serta barang terbuat dari bulu unggas atau bullu unggas tiruan. sermet. Nikel dan barang terbuat dari nikel 76. asbes. barangnya . LOGAM MULIA. Aluminium dan barang terbuat dari 78. gips. Besi dan baja 73. MATA UANG LOGAM BAB 71 (Judul Bab sama dengan judul Bagian) BAGIAN XV LOGAM TIDAK MULIA DAN BARANG DARI LOGAM TIDAK MULIA BAB 72. Logam tidak mulia lainnya. Produk keramik 70. Timah hitam dan barang terbuat dari timah hitam 79. barang dari rambut manusia BAGIAN XIII BARANG DARI BATU. SEMEN. PRODUK KERAMIK. PERHIASAN IMITASI. Kaca dan barang dari kaca BAGIAN XIV MUTIARA ALAM DAN MUTIARA BUDIDAYA. Barang dari besi dan baja 74. KACA DAN BARANG DARI KACA BAB 68. bunga tiruan.67.

Reaktor nuklir. PERLENGKAPAN LISTRIK. PESAWAT PEREKAM ATAU REPRODUKSI SUARA DAN GAMBAR UNTUK TELEVISI. barang tajam. mesin dan pesawat mekanik.bagian bagiannya dari logam tidak mulia 83 Bermacam-macam barang dari logam tidak mulia BAGIAN XVI MESIN DAN PESAWAT MEKANIK. perlengkapan isyarat lalu lintas mekanik dari segala jenis (termasuk elektronik) 87. PESAWAT TERBANG. dan bagian serta perlengkapan dari barang yang semacam itu BAGIAN XVII KENDARAAN. DAN BAGIAN SERTA PERLENGKAPAN DARI BARANG YANG SEMACAM ITU BAB 84. alat pemasang dan perlengkapan rel kereta api atau trem dan bagiannya. pesawat perekam dan pesawat reproduksi suara. peralatan.sendok dan garpu. dari logam tidak mulia. ketel uap. bagiannya 85. kendaran yang bergerak diatas rel dan bagiannya. BAGIANNYA PESAWAT PEREKAM DAN PESAWAT REPRODUKSI SUARA. pesawat perekam dan reproduksi gambar dan suara untuk televisi. dan bagian serta . Lokomotif kereta api atau trem.aluminium 82 Perkakas. Kendaraan selain yang begerak diatas rel kereta api atau trem. KENDARAAN AIR DAN PERLENG KAPAN PENGANGKUTAN YANG BERKAITAN BAB 86. Mesin dan alat listrik serta bagiannya.

bangunan prefabrikasi 95. Kapal udara. Lonceng dan arloji dan bagiannya 92. kedokteran dan bedah. bahtera. lampu dan perlengkapan penerangan. PENELITI. bagian dan perlengkapan dari barang seperti itu BAGIAN XIX SENJATA DAN AMUNISI. sinematografi. isyarat iluminasi. papan nama iluminasi dan semacam itu. Alat dan aparat optik. BAGIAN DAN KELENGKAPANNYA BAB 93 (judul sama dengan judul Bagian) BAGIAN XX BERMACAM-MACAM BARANG HASIL PABRIK BAB 94.perlengkapannya 88. kasur tempat tidur. bagian dan . PRESISI. ukur. dan bangunan terapung BAGIAN XVIII ALAT DAN APARAT OPTIK. peneliti. pesawat ruang angkasa. SINEMATOGRAFI. Mainan. bagian dan perlengkapannya 91. keperluan permainan dan keperluan olah raga. tidak dirinci atau termasuk dalam pos manapun. serta bagiannya 89. BAGIAN DAN PERLENGKAPANNYA BAB 90. KEDOKTERAN DAN BEDAH. bantal dan kelengkapannya. Kapal. presisi. fotografi. INSTRUMEN MUSIK. lapik kasur. UKUR. LONCENG DAN ARLOJI. Perabot rumah. kasur. POTOGRAFI. Instrumen musik .

Sebutkan posnya saja batu pualam yang masih bongkahan dan yang telah jadi ubin ? 1. Latihan 2 Pertanyaan 1. barang untuk kemanan dan barang kelontong. Terakhir dengan mesin. Bermacam-macam barang hasil pabrik lain BAGIAN XXI HASIL KARYA SENI. proses setengah jadi dan barang jadi.kelengkapannya 96.2. Sebutkan pos saja untuk barang mentega dan margarin ? 2. barang presisi. Bab 1 sampai dengan 77 dan bab 78 sampai dengan bab 98. kendaraan. Jawaban 2. Urutan pengelompokan barang umumnya didasarkan atas bahan dasar. . hewani. nabati mineral dan selanjutnya kepada bahan kimia dan produknya. Pengelompokan barang ini berawal dari binatang. Daging sapi yang diolah sederhana masuk pos berapa ? Bagaimana bila telah dikukus masuk Bab berapa ? 3. BARANG KEGEMARAN KAUM PENGUMPUL DAN BARANG ANTIK BAB 97 (Judul Bab sama dengan Bagian) 2. 2. Rangkuman BTBMI terdiri dari 21 Bagian.3. 3.

Sebaiknya seorang klasifikator yang bak akan memahami pengelompokan jenis barang dalam BTBMI .Pemahaman pengelompokan barang akan mempermudah dan mempercepat dalam mengklasifikasi.

02 atau olahan dari pos 21. chervil. Ketentuan ini tidak berlaku untuk produk diisi dari pos 19. saccharata). Dalam hal apabila olahan mengandung dua atau lebih produk yang disebut di atas.1. KEGIATAN BELAJAR 3 CATATAN PENTING PADA BTBMI 3.Olahan makanan digolongkan dalam Bab ini asalkan mengandung sosis.11 dan 07.3 Bagian IV Bab 19 catan 1 1.09.4. Catatan Bab. moluska atau invertebrata air lainnya.Dalam pos 07..12 kata "sayuran" meliputi jamur. buah dari genus Capsicum atau dari genus Pimenta.03 atau 21. Catatan-catatan tersebut mempunyai kekuatan hukum sama seperti uraian pos atau sub-pos. Catatan-catatan penting tersebut adalah : 3. ikan atau krustasea. tarragon. lebih dari 20% menurut beratnya. kaper. sisa daging. Uraian.1. daging. daging. darah. labu sumsum. Contoh dan Non Contoh Disamping KUM HS.1 Bagian II Bab 7 Catatan 2 2.2 Bagian II Bab 16 Catatan 2 2. HS mempunyai Catatan Bagian. 07. cendawan tanah. diklasifikasikan dalam pos pada Bab 16 yang sesuai dengan komponen atau komponen-komponen yang mendominasi menurut beratnya.1.04. 07. olahan makanan mengandung sosis. buah zaitun. terong. cress dan marjoram manis (Majorana hortensis atau Origanum majorana) yang dapat dimakan. catatan-catatan dalam HS merupakan bagian integral yang harus diperhatikan benar-benar. 3.10. moluska atau invertebrata air ..02.Bab ini tidak meliputi : (a) Kecuali dalam hal produk diisi dari pos 19. jagung manis (Zea mays var. sisa daging.1. adas pedas. 3. dan Catatan Sub-pos.. atau berbagai kombinasinya. darah. ikan atau krustasea. parsley. labu kuning.

dapat dikenali sebagai unsur yang saling melengkapi satu sama lain. harus diklasifikasikan dalam pos yang sesuai dengan produk tersebut. atau (c) Obat-obatan dan produk lain dari Bab 30. beberapa atau seluruhnya yang digolongkan dalam Bagian ini dan dimaksudkan untuk dicampur bersama untuk memperoleh produk dari Bagian VI atau VII. dalam kemasan dengan berat bersih tidak melebihi 250 g. . baik berdasarkan sifat atau perbandingan relatifnya..10. dan (c) pada saat diajukan. istilah "olahan homogen" berarti olahan buah.1.1.5 Bagian VI Bagian VI catatan 3 3. atau berbagai kombinasinya.07..lainnya. (b) Biskuit atau barang lain yang dibuat dari tepung atau dari pati.10 harus dipertimbangkan lebih dahulu daripada subpos lain dari pos 20. disiapkan untuk penjualan eceran sebagai makanan bayi atau untuk keperluan diet. 3.09). asalkan unsur tersebut : (a) berdasarkan penyiapannya jelas dapat dikenal untuk digunakan bersamasama tanpa dibungkus ulang sebelumnya. 3. (b) diajukan bersama.Untuk keperluan subpos 2007.Istilah "kopolimer" meliputi semua polimer yang unit monomer tunggalnya tidak ada yang beratnya 95% atau lebih menurut berat total kandungan polimer tersebut.4 Bagian IV Bab 20 catatan subpos 2 2. lebih dari 20% menurut beratnya (Bab 16).6 Bagian VII Bab 39 catatan 4 4. diolah secara khusus untuk makanan hewan (pos 23. dihomogenisasi secara halus.1.. pengawet atau keperluan lain. 3. Subpos 2007. Olahan ini dapat mengandung sejumlah kecil buah yang dapat dilihat. Untuk penerapan definisi ini tidak memperhitungkan sejumlah kecil berbagai bahan yang ditambahkan pada olahan tersebut sebagai penyedap.Barang yang disiapkan dalam set yang terdiri dari dua atau lebih unsur yang terpisah.

kopolimer (termasuk kopolikondensasi.1.Dalam Catatan 1 Bab ini dan dalam pos 40. Dalam hal tidak terdapat unit komonomer tunggal yang mendominasi. tidak diperkenankan 3.(A) Barang yang dapat diklasifikasikan dalam Bab 50 sampai dengan 55 atau dalam pos 58... seperti pengaktif dan akselerator vulkanisasi. dan setelah direntang hingga dua kali panjang aslinya selama lima menit.Untuk keperluan Bab ini. 3.1. seperti perentang. bagian unit komonomer dari polimer yang termasuk dalam pos yang sama harus digolongkan bersama. dapat ditambahkan zat yang diperlukan untuk ikatan silang. maka kopolimer atau campuran polimer harus diklasifikasikan dalam pos terakhir berdasarkan urutan penomoran di antara pos yang mempunyai pertimbangan yang setara.8 Bagian XI Bagian XI catatan 2 2. Apabila tidak satupun bahan tekstil yang .7 Bagian VII Bab 40 catatan 4 4. Namun demikian. produk kopoliadisi.02. yang pada suhu antara 18 C dan 29 C tidak akan putus bila di rentang hingga tiga kali panjang aslinya. Untuk keperluan Catatan ini. block copolymer dan graft copolymer) dan campuran polimer harus diklasifikasikan dalam pos yang mencakup polimer dari unit komonomer tersebut yang beratnya mendominasi berat unit komonomer tunggal lainnya. istilah "karet sintetik" berlaku untuk : (a) Zat sintetik tidak jenuh yang dapat diubah dengan tidak kembali ke sifat semula melalui vulkanisasi menggunakan belerang menjadi zat non termoplastik.09 atau 59. Untuk keperluan pengujian ini. keberadaan zat yang dimaksud oleh Catatan 5 (b) (ii) dan (iii) juga diperkenankan. panjangnya akan kembali menjadi tidak lebih dari satu setengah kali panjang aslinya. keberadaan berbagai zat yang tidak diperlukan untuk ikatan silang. kecuali apabila konteksnya menentukan lain.02 dan dari campuran dua bahan tekstil atau lebih harus diklasifikasikan seolah-olah seluruhnya terdiri dari satu bahan tekstil yang beratnya mendominasi berat setiap bahan tekstil lainnya. peliat dan pengisi.

(B) Untuk keperluan ketentuan di atas : (a) Benang lilit dari bulu kuda (pos 51.07. barang tersebut harus diklasifikasikan seolah-olah seluruhnya terdiri dari satu bahan tekstil yang termasuk dalam pos terakhir berdasarkan urutan penomoran di antara pos-pos dengan pertimbangan yang setara. (c) Apabila Bab 54 dan 55 berkaitan dengan berbagai Bab lainnya. 73. 73. 3.08. 73.18 dan barang semacam itu dari logam tidak mulia lainnya. 83.14). benang berlogam harus dianggap sebagai bahan tekstil. (b) Pilihan pos yang sesuai harus dilakukan.9 Bagian XV Bagian XV catatan 2 2. maka bahan tersebut harus diperlakukan sebagai bahan tekstil tunggal. tanpa memperhatikan berbagai bahan yang tidak diklasifikasikan dalam Bab tersebut.1. dari logam tidak mulia. (d) Apabila Bab atau pos merujuk pada barang dari bahan tekstil yang berbeda .mendominasi menurut beratnya. pertama.06.05) harus diperlakukan sebagai bahan tekstil tunggal yang beratnya dianggap seperti berat keseluruhan komponennya. (b) Pegas dan lembaran untuk pegas. 83. dari pos 83. Dalam Nomenklatur ini. istilah "bagian untuk pemakaian umum" berarti : (a) Barang dari pos 73. selain pegas jam atau arloji (pos 91. dan (c) Barang dari pos 83.10) dan benang berlogam (pos 56.15) referensi untuk bagian barang tidak meliputi referensi untuk bagian pemakaian umum sebagaimana dirinci di atas.01.10 dan bingkai serta cermin dari logam tidak mulia.17 atau 73. maka Bab 54 dan 55 harus diperlakukan sebagai Bab tunggal. dengan menentukan Babnya.10 Bagian XVI Bagaian XVI catatan 3. 3.15. Dalam Bab 73 sampai dengan 76 dan Bab 78 sampai dengan 82 (tetapi tidak dalam pos 73.12.1. untuk pengklasifikasian kain tenunan. 4 dan 5 . 83.02. dan kemudian pos yang tepat dalam Bab tersebut.

.Apabila mesin (termasuk kombinasi mesin) terdiri dari komponen tersendiri (terpisah atau saling dihubungkan dengan pipa. mesin yang digunakan untuk lebih dari satu kegunaan.71. melaksanakan program pengolahan yang memerlukan modifikasi pelaksanaannya. 3. (2) Diprogram secara bebas menurut kebutuhan pemakai. 5.... perlengkapan. permesinan. dengan kabel listrik atau dengan peralatan lainnya) yang dimaksudkan untuk digunakan bersama untuk melakukan fungsi tertentu secara jelas. suatu mesin yang . istilah "mesin pengolah data otomatis" berarti : (a) Mesin digital.Untuk keperluan Catatan ini. istilah " mesin " berarti berbagai mesin.3. 4.12 Bagian XVI Bagian XVI catatan 7 7. selama berlangsungnya pengolahan.. (4) Tanpa intervensi manusia. dan. mesin gabungan yang terdiri dari dua atau lebih mesin yang dipasang bersama untuk membentuk satu kesatuan dan mesin lainnya yang dirancang untuk keperluan melakukan dua fungsi atau lebih yang saling melengkapi atau fungsi alternatif. yang termasuk dalam salah satu pos dalam Bab 84 atau 85.1.Untuk keperluan klasifikasi. Berdasarkan Catatan 2 pada Bab ini dan Catatan 3 pada Bagian XVI. (3) Mengerjakan perhitungan aritmatika yang ditentukan oleh pemakai. 3.Kecuali apabila konteksnya menentukan lain.1.(A) Untuk keperluan pos 84. instalasi.11 Bagian XVI Bagian XVI catatan 5 5. aparatus atau peralatan yang disebut dalam pos pada Bab 84 atau 85. dengan peralatan penggerak. seluruhnya harus diklasifikasikan dalam pos yang sesuai dengan fungsi tersebut. dengan keputusan yang logis. harus diklasifikasikan seolah-olah terdiri hanya dari komponen tersebut atau sebagai mesin tersebut yang melakukan fungsi utama. harus diperlakukan seolah-olah kegunaan utamanya adalah kegunaan satu-satunya. yang dapat : (1) Menyimpan program atau programprogram pengolahan dan sekurang-kurangnya data yang diperlukan segera untuk pelaksanaan program tersebut.

cincin pipih atau sejenisnya dari berbagai bahan (diklasifikasikan menurut bahan utamanya atau dalam pos 84. elemen semi konduktor). (b) Bagian untuk pemakaian umum.79. Namun demikian. atau barang semacam itu dari plastik (Bab 39).. kapasitor..16). juga tidak meliputi resistor. Pos 84.42. sebagaimana dirinci dalam Catatan 2 Bagian XV. pencetakan timbul.16 Bagian XVI Bab 85 catatan 4 4. penyepuhan. kecuali apabila konteksnya menentukan lain. harus diklasifikasikan dalam pos 85. dapat diidentifikasi sebagai barang dari Bagian ini maupun tidak : (a) Sambungan. Istilah " sirkit tercetak " tidak meliputi sirkit yang dikombinasi dengan elemen selain yang diperoleh selama proses pencetakan. mesin penjalin. 3. kontak atau komponen tercetak lainnya (misalnya. selain elemen yang dapat memproduksi. induktansi. memodulasi atau memperkuat sinyal elektris (misalnya. harus diklasifikasikan dalam pos 84. tersendiri atau saling berhubungan menurut pola yang ditetapkan sebelumnya.1. mesin pemilin atau mesin pembuat kabel) dari kawat logam.84) atau barang lainnya dari karet divulkanisasi selain karet keras (pos 40. menyearahkan.Istilah "bagian" serta "bagian dan aksesori" tidak berlaku untuk barang berikut. resistor.1.kegunaan utamanya tidak diuraikan dalam pos manapun atau yang tidak ada satupun kegunaannya merupakan kegunaan utama. sirkit tercetak dapat dilengkapi dengan elemen penghubung tidak dicetak. pengetsaan) atau melalui teknik "sirkit film" berupa elemen konduktor. kapasitor). benang tekstil atau berbagai bahan lainnya atau dari kombinasi bahan bahan tersebut.79 juga meliputi mesin untuk membuat tali atau kabel (misalnya. atau induktansi khusus. dari logam tidak mulia (Bagian XV). 3.13 Bagaian XVII Bagian XVII catatan 2 2. melalui berbagai proses pencetakan (misalnya.Untuk keperluan pos 85. Sirkit film tipis atau tebal yang terdiri dari elemen pasif dan aktif yang diperoleh selama proses teknologis yang sama. .34 "sirkit tercetak" adalah sirkit yang diperoleh dengan pembentukan di atas dasar pengisolasi.

06. barang dari pos 84.1.Referensi untuk "bagian" atau "aksesori" dalam Bab 86 sampai dengan 88 tidak berlaku untuk bagian atau aksesori yang tidak cocok untuk digunakan sematamata atau terutama dengan barang dari Bab-bab tersebut. (e) Mesin atau aparatus dari pos 84... (k) Lampu atau alat kelengkapan penerangan dari pos 94. dan mempertahankannya pada nilai yang dikehendaki.14 Bagian XVIII Bab 90 catatan 7 7.(c) Barang dari Bab 82 (perkakas). atau (l) Sikat dari jenis yang digunakan sebagai bagian dari kendaraan ( pos 96. (ij) Senjata (Bab 93). (g) Barang dari Bab 90. dengan pengukuran nilai aktual secara konstan atau periodik.32 berlaku hanya untuk : (a) Instrumen dan aparatus untuk mengontrol arus.79.01 sampai dengan 84. distabilkan terhadap gangguan. 3. harus diklasifikasikan menurut pos yang sesuai dengan penggunaan utama dari bagian atau aksesori tersebut. yang penggunaannya tergantung maupun tidak pada fenomena elektris yang berubah-ubah menurut faktor yang harus dikontrol secara otomatis. Bagian atau aksesori yang memenuhi uraian dalam dua pos atau lebih dari pos pada Bab-bab tersebut.82 atau barang dari pos 84.05. yang pengoperasiannya tergantung pada fenomena listrik yang berubah-ubah menurut faktor yang dikontrol. tinggi permukaan. asalkan barang tersebut merupakan bagian integral dari mesin atau motor. yang dirancang untuk memberi faktor tersebut untuk. tekanan atau variabel lainnya dari cairan atau gas secara otomatis. (h) Barang dari Bab 91. dan (b) Regulator besaran listrik otomatis dan instrumen atau aparatus untuk mengontrol besaran bukan listrik secara otomatis. (f) Mesin atau perlengkapan elektris (Bab 85).03). 3.81 atau 84. atau untuk mengontrol suhu secara otomatis.83.Pos 90. yang dirancang untuk memberi . (d) Barang dari pos 83. atau bagiannya.

Catatan merupakan salah satu syarat penting dalam mengklasifikasi barang. dan mempertahankannya pada nilai yang dikehendaki.. gambar pastel. Berbagai jenis barang akan dijelaskan dengan catatan dalam bagian. bingkai yang bukan merupakan jenis atau nilai yang wajar untuk barang tersebut. barang cetakan atau litograf harus diklasifikasikan dengan barang tersebut.3. 5. 4. Rangkuman Salah satu syarat menjadi seorang klasifikator yang baik adalah harus dapat memahami catatan penting.1. Apakah bingkai dan gambar yang sama mahal harganya diklasifikasikan dalam satu pos tarif ? 1. Test Formatif . kolase atau plakat hiasan semacam itu. bab maupun subpos.Bingkai yang terpasang pada lukisan. ukiran. Saringan udara untuk mesin diklasifikasikan pada pos berapa ? 5.2. bab maupun subpos yang bersifat mengikat. Bagaimana pengklasifikasian motor untuk mobil mainan ? 4. asalkan dari jenis dan nilai yang wajar untuk barang tersebut. Jawaban 2. Merujuk pada Catatan ini. 3. distabilkan terhadap gangguan. 4. Bahkan dalam KUM HS nomor satu dinyatakan bahwa hal yang mengikat dalam mengklasifikasi barang adalah catatan. dengan pengukuran nilai aktual secara konstan atau periodik. 3 4 5. Bagaimana syarat komputer menurut Harmonized system pada Bab 84 ? 3. baik catatan bagian. harus diklasifikasikan terpisah.faktor ini untuk. Sebutkan 3 contoh barang termasuk bagian untuk pemakaian umum ? 2. Latihan 3 Pertanyaan 1.15 Bagian XXI Bab 97 catatan 5 5. gambar.

( B . ( B . 1. Tidak mengikat secara hukum dalam mengklasifikasi 2. asalkan pada saat diimpor sudah mempunyai sifat utama sebagai lengkap atau rampung barang 3.S ) Pernyataan 5b pada KUM HS adalah Peti kamera.S ) Pernyataan 2b pada KUM HS adalah Barang tidak lengkap atau tidak rampung dianggap sebagai barang lengkap atau rampung. Dalam membuat Nota Penelitian Klasifikasi Barang maka diperlukan kerangka yang . sebaiknya kita identifikasi dulu barang yang akan kita klasifikasi. peti instrumen dan tempat simpan yang semacam. Dengan mengetahui spesifikasi barang maka akan lebih mendekati keakuratan dalam mengklasifikasi barang 5. ( B .S) Pernyataan 3a pada KUM HS adalah Pos yang memuat uraian yang paling terinci harus lebih diutamakan daripada pos yang memuat uraian yang lebih umum sifatnya 4.S ) Judul Bagian. harus diklasifikasikan dengan barang tersebut jika biasa dijual dengan barang itu 5. ( B . dengan bentuk atau kelengkapan khusus untuk menyimpan barang tertentu atau seperangkat barang tertentu.S ) Sebelum mengklasifikasi barang.2. cocok untuk pemakaian jangka panjang dan diimpor lengkap dengan isinya.5. Bab dan Sub-bab pada Buku tarif Bea Masuk Indonesia hanya dimaksudkan untuk memudahkan penyebutan saja. Pilihlah jawaban yang Saudara anggap benar dengan cara melingkari huruf yang terdapat di depan jawaban tersebut 6. Lingkarilah huruf B apabila pernyataan ini Saudara anggap benar dan huruf S apabila pernyataan Saudara anggap salah. ( B .1.

Namun demikian nota tersebut setidak-tidaknya memuat tentang : a. 2b d. b dan c benar 7. Walalupun etil alkohol merupakan bahan kimia organik. 2b b. 3b b. 5b . pengertian 9. 3b d. Suatu kemasan mengandung mie. Tabung gas LPG yang berisi gas LPG tidak dapat diklasifikasikan menjadi stu pos tarif karena ketentuan menurut KUM HS nomor : a. Uraian klasifikasi mulai 2 digit sampai dengan 9 digit d. 1 b. ilustrasi d.alasan atau catatan yang digunakan c. 5a d. definitif b. 3a c. diklasifikasikan sebagai mie pada bab 19. 3c c. berdasarkan KUM HS nomor : a. 3a 10.singkat atau memerlukan uraian yang cukup panjang tergantung pada permasalahan yang dihadapi. namun diklasifikasikan pada bab 22 dikarenakan KUM HS nomor : a. bumbu. esklusif c. 2a c. pernyataan a. saos dan bawang. nama barang dan uraian jenis barang b. Larutan dengan kandungan asam cuka (acetic acid) lebih dari 10 % dikeluarkan dari bab 22 berdasarkan catatan : a. 5a 8.

04 atau 90. Mengapa sabun mandi mengandung obat pembasmi kuman walaupun mengandung obat tidak diklasifikasikan pada bab 30 sebagai produk farmasi.Ketentuan dan catatan apa yang digunakan dalam mengklasifikasi barang tersebut 6.1. tidak dikelantang dan tidak dimerserisasi.3. Automatic voltage regulator yang digunakan sebagai stabilizer otomatis untuk komputer harus diklasifikasikan pada pos 85. Kunci Jawaban Tes Formatif 6. Benang tenun terbuat dari campuran 70 % kapas (cotton) dan 30 % nilon. Sebutkan alasannya 10. merupakan benang tunggal. Mengapa olahan makanan yang terbuat dari daging sapi yang dikukus tidak diklasifikasikan pada bab 2 7.5. Mengapa tutup kepala (topi) pengaman untuk pengendara sepeda motor yang terbuat dari bahan plastik tidak diklasifikasikan pada bab 39 ? 9. dari serat disisir dengan nomor benang 150 decitex. 8. Jawablah pertanyaan soal dibawah ini dengan ringkas 6.32 . Pilihan B atau S .

7. seperti dipanggang. Lihat catatan 6(b) Bab 90 Perhatikan sub-pos 5206. B 4. Lihat catatan 2(A) Bagian XI 5. Daging sapi hasil olahan sesuai bab 2 (pengolahan sementara/terbatas) diklasifikasikan pada bab 2. Essay Diberitahukan hanya 6 digitnya (sub posnya) 1.2. dikukus dan pengolahan selain pada bab 2 diklasifikasikan pada bab 16. Perhatikan pos tarif 1602. Bentuk pengolahan bukan sederhana. B 6. Lihat catatan 1(n) Bab 39 4.50. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Bandingkanlah hasil jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang ada di .24. Lihat catatan 1 bab 16. Pilihlah berganda 1. d 6. Lihat catatan 1(e) Bab 30 3. c 3. b 4. B 2. S 3.3. a 5.000 2. d 2. S 5.1.

bila tingkat penguasaan Anda masih dibawah 80 %. Hasilnya Baik ! akan tetapi.belakang modul ini. 2007 version .. Arti tingkat penguasaan : * 90 % . terutama bagian yang belum Anda kuasai 8... Kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap terhadap materi kegiatan belajar Rumus Tingkat Penguasaan Jumlah Jawaban Anda yang benar dibagi 15 kemudian dikali 100 % = . Anda harus mengulangi membaca Modul kembali. Hitunglah jumlah jawaban Anda yang benar atau sejauh mana Anda menguasai mata pelajaran tersebut. Wordl Customs Organization. Harmonized System....100 % = Baik sekali * 80 % * 70 % * 89 % = Baik 79 % = Cukup 69 % = Kurang Kalau Anda mencapai tingkat penguasaan 80% keatas Anda dapat meneruskan kepada modul atau bagian pelajaran lain...... Kepustakaan 1.

World Customs Organization (1994) *** . Pengantar Klasifikasi Barang. Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (2007).2. Jakarta 3. 2007 4. Jakarta 5. (1995) Pusdiklat Bea dan Cukai. Explanatory Notes. Classification Disputes Settled by The Harmonized System Committee. World Customs Organization. Departemen Keuangan RI.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.