BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Pengeluaran Pemerintah Dalam konsep ekonomi makro, perekonomian tidak hanya terdiri dari konsumen dan produsen yang dikenal dengan perekonomian 2 sektor seperti yang dikemukakan dalam teori ekonomi klasik. Menurut ekonomi klasik, pelaku ekonomi terdiri dari 2 sektor saja, yaitu produsen (I) dan rumah tangga masyarakat (C). Dari penjumlahan kedua pelaku tersebutlah (C+I) adanya ekonomi (Y). Tetapi setelah terjadinya depresi ekonomi yang besar (great depression) tahun 1929, oleh J.M. Keynes diperkenalkan konsep ekonomi 3 sektor dengan menambahkan variabel pengeluaran pemerintah (government expenditure/G) dalam kegiatan ekonomi, sehingga ekonomi merupakan identitas dari Y = C + I + G. Pengeluaran atau konsumsi pemerintah merupakan anggaran belanja pemerintah untuk melaksanakan pengeluarannya dalam rangka pembelian barang-barang dan jasa yang ditujukan untuk kepentingan masyarakat dan menjalankan organisasi kepemerintahan. Di Indonesia, dalam pengeluaran pemerintah terdapat dua kategori pengeluaran, yaitu pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan. Pengeluaran pembangunan itu misalnya

membangun jalan, membangun sekolah dan lain sebagainya. Sedangkan pengeluaran rutin meliputi pengeluaran untuk membayar gaji pegawai pemerintah dan lainnya dalam rangka membiayai organisasi pemerintah. Kebijakan pemerintah untuk melakukan pengeluaran tersebut disebut dengan kebijakan fiskal (fiscal policy). Menurut Amir (2007), kebijakan pemerintah dalam bidang anggaran atau fiskal merupakan kebijakan yang menyangkut tiga hal, yaitu: 1. Kebijakan yang menyangkut pembelian atau pengeluaran pemerintah atas barang dan jasa; 2. Kebijakan yang menyangkut perpajakan;

12

3. Kebijakan pembayaran transfer: tunjangan sosial, tunjangan keamanan, tunjangan veteran dan tunjangan pengangguran. Dengan adanya, anggaran yang dikeluarkan pemerintah, maka setidaknya ada beberapa fungsi dari kebijakan belanja negara tersebut yaitu sebagai berikut: (Amir, 2007) 1. Fungsi alokasi Fungsi alokasi merupakan fungsi pemerintah dalam mengalokasikan faktor-faktor produksi yang tersedia dalam masyarakat yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat berupa barang dan jasa umum (public goods and services) agar tersedia dengan baik dan merata. 2. Fungsi distribusi Fungsi distribusi merupakan fungsi pemerintah dalam mendistribusikan pendapatan nasional dan hasil-hasil pembangunan secara adil dan merata kepada seluruh rakyat. 3. Fungsi stabilisasi Fungsi stabilisasi merupakan fungsi pemerintah dalam mempertahankan tingkat kesempatan kerja yang tinggi, tingkat kebutuhan pokok yang stabil serta tingkat pertumbuhan ekonomi yang memadai. 4. Fungsi dinamisatif Fungsi dinamisatif merupakan fungsi pemerintah untuk menggerakkan proses pembangunan ekonomi agar cepat tumbuh, berkembang dan maju. Pengeluaran atau belanja pemerintah yang akan dilakukan dalam suatu periode tertentu tergantung pada banyak faktor, yang penting diantaranya: (1) proyeksi jumlah pajak yang diterima; (2) tujuan-tujuan ekonomi yang ingin dicapai; dan (3) pertimbangan politik dan keamanan (Sukirno, 2004). Secara teoritik, kebijakan/politik anggaran (budget policy) dapat dibedakan menjadi anggaran tidak berimbang dan anggaran berimbang. Hasil yang dicapai dari kebijakan/politik anggaran merupakan interasi (resultan) dari dampak pajak dan pengeluran pemerintah terhadap output keseimbangan (Rahardja dan Manurung, 2005). Pengaruh pengeluaran pemerintah terhadap

13

perubahan

pendapatan

keseimbangan

adalah: .

.

Sedangkan

pengaruh pajak terhadap pendapatan adalah:

Anggaran tidak berimbang dapat dibedakan lagi menjadi anggaran defisit (defist budget) dan anggaran surplus (surplus budget). Anggaran defisit memang direncanakan untuk defisit, sebab pengeluaran pemerintah

direncanakan lebih besar dari penerimaan pemerintah (T < G atau G > T). Politik anggaran defisit biasanya ditempuh bila pemerintah ingin menstimulasi pertumbuhan ekonomi. Hal ini umumnya dilakukan bila perekonomian berada dalam kondisi resesi. Dengan asumsi kondisi awal anggaran pemerintah adalah anggaran berimbang (G = T), bila pemerintah menempuh anggaran defisit maka ∆G > ∆T, dimana ∆G ≥ 0 dan ∆T ≥ 0. Karena ∆G > 0 dan ∆G > ∆T, maka jika pemerintah menempuh kebijakan/politik anggaran defisit, pemerintah dianggap memilih kebijakan fiskal ekspansif. Kebalikan dari anggaran defisit, dalam anggaran surplus pemerintah merencanakan penerimaan lebih besar dari pengeluaran (T > G atau G < T). Dapat juga dikatakan pemerintah menempuh kebijakan/politik anggaran surplus bila ∆C < ∆T, di mana ∆G dan ∆T ≥ 0. Karena itu, kebijakan/politik anggaran surplus sering diidentikkan dengan kebijakan fiskal kontraktif. Selain itu, pemerintah dikatakan menempuh kebijakan/politik

anggaran berimbang bila pengeluaran direncanakan akan sama dengan penerimaan (G = T dan atau = ∆T) ∆G . Tidak ada ketentuan pokok dalam

kondisi ekonomi seperti apa kebijakan/politik anggaran berimbang ditempuh. Namun bila pemerintah memilih kebijakan/politik anggaran berimbang, dua hal utama yang ingin dicapai adalah peningkatan disiplin dan kepastian anggaran. Karena ∆G = ∆T, maka pegaruh anggaran berimbang terhadap keseimbangan ekonomi adalah ∆Y karena ∆G . Oleh karena ∆G = ∆T, maka: , atau . ∆Y karena ∆T

Di samping itu. yang berarti ∆Y=∆T=∆G 2. ∆G. Selain itu. sehingga lebih leluasa mengatur dan melaksanakan kewenangannya atas prakarsa sendiri sesuai dengan kepentingan masyarakat setempat dan potensi setiap daerah. penyelenggaraan otonomi daerah juga harus menjamin keserasian hubungan antardaerah dengan daerah lainnya. No. Aspek hubungan keuangan. pemanfataan sumberdaya alam dan sumberdaya lainnya dilaksanakan secara adil dan selaras. pelayanan umum. artinya harus mampu .2 Desentralisasi dan Otonomi Daerah Dengan diterapkannya UU.14 = 1. atau ∆Y=1. penyelenggaraan otonomi daerah harus selalu berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan selalu memperhatikan kepentingan dan aspirasi yang berkembang di masyarakat. Namun demikian. perlu diperhatikan pula peluang dan tantangan dalam persaingan global dengan memanfaatkan perkembangan ilmu dan teknologi. potensi dan keanekaragaman daerah. Seiring dengan prinsip tersebut. Hal yang tidak kalah pentingnya bahwa otonomi daerah juga harus mampu menjamin hubungan yang serasi antardaerah dengan pemerintah pusat. pemerintah daerah dalam rangka meningkatkan efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan otonomi daerah perlu memperhatikan hubungan antarsusunan pemerintahan dan antarpemerintahan daerah. artinya mampu membangun kerjasama antardaerah untuk meningkatkan kesejahteraan bersama dan mencegah ketimbangan antardaerah. ∆T. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah setiap daerah di Indonesia baik provinsi maupun kabupaten/kota diberikan kewenangan dalam melaksanakan pemerintahannya.

15 memelihara dan menjaga keutuhan wilayah Negara dan tetap tegaknya NKRI dalam rangka mewujudkan tujuan negara. Oleh karena itu. saat ini pemerintah daerah dapat bertindak . baik langsung maupun tidak langsung. penanggulangan kemiskinan seharusnya tidak lagi menjadi tanggung jawanb dan dilakukan oleh pemerintah pusat semata. Tanggung jawab demikian sebenarnya merupakan konsekuensi dari salah satu tujuan pelaksanaan otonomi daerah yakni menciptakan system layanan publik yang lebih baik. Dilihat dari perspektif tersebut. Beberapa faktor lain yang dapat menjadikan pelaksanaan otonomi daerah kondusif terhadap kebijakan penanggulangan kemiskinan adalah: (Rozi. pelaksanaan otonomi daerah memiliki potensi positif terhadap kondusifitas kebijakan penanggulangan kemiskinan. Dalam kewenangan yang dimiliki daerah. No 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah adalah “penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. maka rumusan definitif “desentralisasi“ dan “otonomi daerah” dalam UU. yang pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan serta kemandirian masyarakat. dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah dan/atau kepada instansi vertikal di wilayah tertentu”. 2007) 1. Membaca uraian tersebut. sehingga pemerintah daerah memiliki fleksibilitas yang tinggi dalam menggunakan dana tersebut sesuai dengan kepentingan dan prioritas daerah. Adanya kandungan aspek lokalitas yang tinggi dalam perumusan kebijakan publik juga menyebabkan pemerintah daerah dituntut untuk bersifat transparan dan akuntabel dalam menjalankan tata kelola kepemerintahan. Dengan kata lain. melekat pula kewenangan dan sekaligus tanggung jawab untuk secara proaktif mengupayakan kebijakan penanggulangan kemiskinan. Dana Alokasi Umum (DAU) diberikan kepada pemerintah daerah dalam bentuk block grant. termasuk kepentingan dalam menanggulangi kemiskinan. Di samping itu. efektif dan efisien.

kondisi dan kebutuhan daerah serta besaran pendanaan penyelenggaraan dokonsentrasi dan tugas pembantuan. 3. Dengan dana tersebut daerah yang bersangkutan relatif lebih mudah menentukan prioritas langkah-langkah penanggulangan kemiskinan.16 lebih tanggap dan pro-aktif dalam penanggulangan kemiskinan tanpa harus menunggu instruksi dari pemerintah di atasnya. dengan mempertimbangkan potensi. Hal ini penting dikemukakan karena dalam formula pembagian DAU juga tercakup variabel jumlah penduduk miskin. 2. Terkait dengan keuangan daerah. Daerah yang kaya dengan sumberdaya alam memperoleh penerimaan alokasi dana yang besar. sehingga akan lebih banyak lapangan kerja yang tersedia. sehingga pengurusannya lebih mudah dan dengan biaya lebih murah. 2005). No. Ijin penanaman modal dan kegiatan dunia usaha umumnya kini dapat diselesaikan di daerah. dalam UU. memberikan dana milyaran rupiah untuk pembangunan desa. proporsional. Beberapa kota/kabupaten yang mulai menerapkan sistem perijinan satu atap merupakan ilustrasi dan starting point untuk menuju proses perijinan yang lebih cepat.3 Desentralisasi Fiskal Salah satu permasalahan penting dalam pelaksanaan otonomi daerah terletak pada realitas penerimaan asli daerah (PAD). Jika dana-dana ini digunakan untuk kegiatankegiatan yang bersifat pro terhadap orang miskin. transparan dan bertanggung jawab dalam rangka pendanaan penyelenggaraan desentralisasi. . Bila iklim usaha di daerah telah menjadi lebih kondusif maka investor akan tertarik untuk menanamkan modalnya di daerah. 2. 32/2004 disebutkan: “perimbangan keuangan antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah adalah suatu sistem pembagian keuangan yang adil. demokratis. Kabupaten Kutai misalnya. transparan dan murah. ada harapan besar proporsi jumlah orang miskin di kabupaten tersebut akan cepat menurun (Saefudin.

17 Sebagai gambaran. Hibah atau penerimaan dari daerah propinsi atau daerah Kabupaten/Kota lainnya. Dana Alokasi Umum c. Hasil perusahaan milik daerah. Pinjaman Luar Negeri 1) Pinjaman bilateral 2) Pinjaman multilateral. dan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan. Semangat otonomi daerah yang disertai dengan desentralisasi fiskal didasari juga oleh keinginan yang kuat untuk meningkatkan pemerataan pendapatan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Pendapatan Asli Daerah a. Dengan adanya desentralisasi fiskal diharapkan nantinya pemerintah daerah akan lebih efektif dan mampu untuk memenuhi pelayanan publik yang dibutuhkan. b. Dana Perimbangan a. Lain-lain pendapatan asli daerah yang sah. Pinjaman Daerah a. Penerimaan lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 4. d. Dana Bagi Hasil b. Hasil pajak daerah b. antara lain hasil penjualan asset daerah dan jasa giro. Lain-lain pendapatan daerah yang sah a. 2. pembangunan sarana dan . antara lain meliputi: 1. berikut ini sumber-sumber penerimaan daerah dalam pelaksanaan desentralisasi. Hasil retribusi daerah c. Dana Alokasi Khusus 3. Pinjaman Dalam Negeri 1) Pemerintah pusat 2) Lembaga keuangan bank 3) Lembaga keuangan bukan bank 4) Masyarakat (penerbitan obligasi daerah) b.

penduduk lanjut usia dan lain sebagainya. tergantung kondisi daerah yang bersangkutan. dalam desentralisasi fiskal. Adapun tujuan transfer ini adalah pemerataan vertikal dan pemerataan horizontal. intensitas kegiatan ekonomi yang tinggi atau tidak. Hal ini menunjukkan bahwa transfer fiskal memiliki peran yang penting dalam mendukung pelaksanaan desentralisasi.18 perekonomian akan menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat sehingga pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan masyarakat (Pakasi. stabilitas dan kewajiban untuk menjaga tercapainya standar pelayanan minimum (SPM) di setiap daerah. Sidik (2002) mengemukakan bahwa kemampuan daerah untuk menghasilkan pendapatan sangat bervariasi. mengarahkan prioritas dan melakukan eksperimen dengan ide-ide baru. Hubungan antara desentralisasi . transfer dana dari pemerintah pusat kepada daerah merupakan hal yang tidak dapat dihindari. dengan transfer yang sama seharusnya juga menghasilkan penerimaan yang sama antardaerah. Menurut Tadjoeddin (2005). tingkat kemiskinan. Pemerataan Horizontal (Horizontal Equalization Transfer) Keseimbangan antara kebutuhan pendapatan dan kemampuan untuk menghasilkan pendapatan juga memiliki dimensi horizontal. Kondisi tersebut akhirnya menimbulkan ketimpangan vertikal antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah (Tadjoeddin. seperti memiliki kekayaan alam atau tidak. Transfer fiskal antara berbagai tingkat pemerintahan merupakan inti (core) dari suatu hubungan fiskal antartingkat pemerintahan. Pada dasarnya transfer pemerintah pusat kepada pemerintah daerah dapat dibedakan atas bagi hasil pendapatan dan bantuan. Artinya. Pemerataan vertical (Vertical Equalization Transfer) Pemerintah pusat menguasai sebagian besar sumber-sumber penerimaan (pajak) utama Negara. 2005). 2005). Pemerintah daerah hanya berwenang untuk memungut pajak-pajak yang berbasis lokal dan mobilitas yang rendah dengan karakteristik besaran penerimaannya relatif kurang signifikan. mengatasi efek pelayanan publik.

Studi yang dilakukan dengan menggunakan analisis regresi multivarian menemukan bahwa desentralisasi politik yang diukur/diproksi dari election tiers. dan (2) desentralisasi – pelayanan publik/investasi yang lebih memihak penduduk miskin – pengurangan kemiskinan. Jalur 1 menunjukkan bahwa desentralisasi memungkinkan masyarakat sipil untuk berpartisipasi dalam proses kebijakan dan dengan demikian meningkatkan transparansi dan predictability dari pengambilan keputusan. desentralisasi fiskal yang diukur share of subnational expenditure. fiskal Pengurangan Kemiskinan Public Service/investment. yang terjadi melalui dua jalur. semuanya berdampak terhadap penurunan kemiskinan. Participation/Empowerment Government Desentralisasi politik. Hubungan Desentralisasi dengan Kemiskinan Pada gambar di atas ditunjukkan kaitan antara desentralisasi dengan berbagai bentuknya (desentralisasi politik.19 dengan kemiskinan dijelaskan dengan kerangka konseptual yang dikemukakan oleh Braun dan Grote dalam Usman (2005) seperti yang ditunjukkan dalam gambar di bawah ini. yaitu: (1) desentralisasi – partisipasi/pemberdayaan/tata kelola – pengurangan kemiskinan. administrasi. administrasi dan fiskal) dengan pengurangan kemiskinan. Studi Braun dan Grote dalam Rozi (2007) juga membuktikan bagaimana desentralisasi dengan berbagai bentuknya dapat menyebabkan penurunan pada kemiskinan. priotities/efficiency/targeting Sumber: Usman (2005) Gambar 1. desentralisasi administratif yang diukur dari size of population. Namun mereka kembali menekankan pentingnya melihat ketiga bentuk desentralisasi .

Selain studi Braun dan Grote dalam Rozi (2007). Dengan kata lain.20 tersebut secara bersama-sama (simultaneously) dan urutan (sequencing). Dari ketiga pengeluaran . yang mana yang memainkan peranan penting. dan desentralisasi fiskal tidak dapat secara otomatis membawa pada pengeluaran yang lebih memihak pada pengeluaran yang lebih memihak kaum miskin. et al (1998) menekankan perlunya dilakukan peninjauan kembali (reorienting) dalam pengaturan fiskal antartingkat pemerintahan untuk menjamin penyediaan layanan publik yang lebih responsif untuk mempercepat peningkatan standar konsumsi dari kaum miskin dan sekaligus untuk merespons preferensi yang beragam dari berbagai daerah atau wilayah. Hasil simulasi model pada pengeluaran pemerintah pada sektor pertanian. pemerataan pendapatan dan penurunan tingkat kemiskinan. Salah satu cara untuk menjamin insentif dan akuntabilitas di dalam penyediaan layanan publik adalah melalui pengaitan (linking) peningkatan penerimaan dengan keputusan pengeluaran dari pemerintah daerah pada batas-batas tertentu (at the margin). pendidikan dan kesehatan serta sektor perumahan berdampak positif terhadap kinerja ekonomi. untuk mewujudkan desentralisasi fiskal yang lebih efektif dan memihak kaum miskin. maka desentralisasi politik dan administratif merupakan prakondisi yang harus dipenuhi. khususnya tingkat kemiskinan. Efektifitas pemerintahan desentralisasi (decentralized government) di dalam penyediaan layanan publik yang efisien dapat ditingkatkan dengan melakukan reorientasi dalam pengaturan fiskal antartingkat pemerintahan untuk menyediakan insentif dan meningkatkan akuntabilitas. Rao. Usman (2005) juga melakukan penelitian dan menemukan bahwa otonomi daerah via desentralisasi fiskal memiliki arah yang positif terhadap kinerja fiskal dan perekonomian. Desentralisasi politik dan administratif menurut mereka sebaiknya dilakukan mendahului desentralisasi fiskal. Dalam upaya untuk lebih mengefektifkan peranan desentralisasi fiskal via transfer fiskal antartingkat pemerintahan dalam pengurangan kemiskinan.

Hasil penelitian Hernawan dan Dudi (2007) juga menemukan bahwa desentralisasi fiskal berdampak positif terhadap pemerataan keuangan dan kinerja pembangunan daerah. Kebijakan yang menyentuh langsung rakyat miskin seperti pembukaan lapangan kerja untuk menarik tenaga kerja. Paralel. baik di perkotaan maupun di perdesaan. Studi Rozi (2007) juga menemukan bahwa otonomi daerah dengan desentralisasi fiskalnya di Provinsi Riau mampu meningkatkan kinerja fiskal dan perekonomian daerah serta penurunan tingkat kemiskinan. studi yang dilakukan Elmi (2005) juga menemukan bahwa selama pelaksanaan kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah tahun 2004-2008 pengalokasian dana APBD oleh Pemda Kalimantan Selatan belum fokus pada kegiatan penanggulangan kemiskinan penduduk karena sebagian besar dana tersebut dialokasikan untuk membiayai kegiatan birokrasi di daerah.21 tersebut. Siregar (2001) juga mengemukakan bahwa bagi banyak daerah. Studi Lewis (2001) misalnya. sejumlah hasil penelitian yang terkait dengan dampak otonomi daerah via desentralisasi fiskalnya masih bervariasi. Namun demikian. peningkatan upah. peningkatan pengeluaran untuk sektor pertanian memberikan pengaruh yang paling besar. pengeluaran untuk pembangunan tahun anggaran 2001 (setelah otonomi daerah/desentralisasi) lebih rendah dari pos pengeluaran yang sama untuk tahun anggaran 2000 (setelah desentralisasi). bantuan dan subsidi yang diberikan kepada penduduk miskin langsung maupun tidak langsung berpengaruh signifikan dalam mengurangi tingkat kemiskinan daerah. menemukan bahwa Dana Alokasi Umum (DAU) yang menjadi sumber utama pendapatan daerah pada umumnya sebagian besar digunakan untuk membiayai pengeluaran rutin. sehingga anggaran untuk pembangunan menjadi kecil. Siregar dan Sinaga dalam Arifin (2006) mengemukakan bahwa kebijakan desentralisasi fiskal berdampak positif terhadap tingkat kemiskinan dan distribusi pendapatan. Usman. Studi Nanga (2006) menemukan bahwa transfer fiskal di Indonesia memiliki dampak yang cenderung memperburuk ketimpangan pendapatan dan .

Kedua. proses pembangunan di semua masyarakat paling tidak harus memiliki tiga tujuan inti. papan. sandang. pandangan banyak ahli ekonomi pembangunan terhadap pembangunan ekonomi masih diwarnai oleh dikotomi antara pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan. yaitu: pertama. sebenarnya secara umum kedua istilah tersebut diartikan secara tidak berbeda untuk proses-proses yang selama ini secara universal dimaksudkan sebagai pembangunan atau development (Rustiadi. peningkatan ketersediaan serta perluasan distribusi berbagai macam barang kebutuhan hidup yang pokok seperti pangan. 2007). 2. Menurut Todaro (2003) pembangunan merupakan suatu kenyataan fisik sekaligus tekad suatu masyarakat untuk berupaya sekeras mungkin melalui serangkaian kombinasi proses sosial. Istilah pembangunan seringkali digunakan dalam hal yang sama dengan pengembangan. Sehingga istilah pembangunan dan pengembangan (development) dapat saling dipertukarkan. Meski demikian. Karena itu. Kontroversi tersebut muncul disebabkan karena penerapan strategi pembangunan ekonomi yang mengacu pada pertumbuhan (growth) dan pemerataan (equity) belum menunjukkan hasil yang memuaskan. dan institusional demi mencapai kehidupan yang serba lebih baik. tidak secara otomatis terdapat pemerataan dalam pelayanan publik di Jawa Timur. peningkatan standar hidup . ekonomi. Masih adanya kontroversi antara mana yang lebih dahulu untuk dilakukan dan dicapai.4 Indikator Pembangunan Hingga saat ini. Namun berbagai kalangan di Indonesia cenderung menggunakan secara khusus istilah pengembangan untuk beberapa hal yang spesifik. pertumbuhan ekonomi atau pemerataan pembangunan. kesehatan dan perlindungan keamanan.22 kemiskinan. Wilopo dan Budiono (2007) juga menemukan bahwa meski terdapat peningkatan pendapatan daerah dan kebijakan anggaran berimbang yang dialokasikan oleh pemerintah daerah (kabupaten/kota) di Jawa Timur pada periode 2002-2004.

23 yang tidak hanya berupa peningkatan pendapatan. (c) persamaan gender. perluasan pilihan-pilihan ekonomis dan sosial bagi setiap individu serta bangsa secara keseluruhan. Secara regional atau kewilayahan. (d) penurunan angka kematian anak. Meningkatnya kesejahteraan masyarakat berarti menurunnya kemiskinan (Amir. (e) peningkatan kesehatan ibu.id). khususnya pembangunan manusia dan kemiskinan. Rumusan indikator pembangunan itu disebut sebagai Millenium Development Goals (MDGs). Ketiga ukuran keberhasilan di atas jika disimak lebih dalam adalah menuju satu sasaran akhir yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. perbaikan kualitas pendidikan. (b) penurunan jumlah kemiskinan. yang terdiri dari delapan indikator capaian pembangunan. para pakar pembangunan di tahun 70-an telah berhasil merumuskan tingkat pencapaian pembangunan dari tujuan yang ditetapkan dari suatu wilayah sebagaimana disajikan pada Tabel 1. (f) pelestarian lingkungan hidup. (d) perlawanan terhadap penyakit menular. melainkan juga menumbuhkan harga diri pada pribadi dan bangsa yang bersangkutan. Selain itu. 2007).undp. . Mengacu pada berbagai definisi pembangunan di atas. serta peningkatan perhatian atas nilai-nilai kultural dan kemanusiaan yang kesemuanya itu tidak hanya untuk memperbaiki kesejahteraan materiil. (g) membangun kerjasama global (www. (b) pendidikan untuk semua. tetapi juga meliputi penambahan penyediaan lapangan kerja. dan (c) penurunan tingkat pengangguran. Ketiga. yakni: (a) penghapusan kemiskinan. maka para ekonom merumuskan ukuran-ukuran keberhasilan pembangunan. Dudleey Seer dalam Todaro (2003) merumuskan ukuran-ukuran keberhasilan pembangunan sebagai berikut: (a) tingkat ketimpangan pendapatan. PBB juga telah merumuskan indikator pembangunan ekonomi.or.

kesehatan. Kelayakan finansial dan ekonomi a. Tujuan Pembangunan Pemerataan. Kemiskinan: good-service ratio. Keberimbangan Keadilan (equity) dan Keberlanjutan (sustainability) 1. dimensi ekonomi dan dimensi sosial Pengetahuan. BC Ratio c. pengangguran terselubung. Produksi-produksi utama: migas 1. Indikator-Indikator Pembangunan Basis/Pendekatan Pertumbuhan. 2. dan istilahistilah sejenis banyak digunakan dan saling dapat dipertukarkan pengertiannya walaupun masing-masing memiliki bobot penekanan pemahaman yang . LQ dan Shiff Share 4. Infrastruktur. aturan adat/budaya 1. Distribusi Pendapatan: Gini Ratio 2. Ketenagakerjaan: pengangguran terbuka. HDI dan IPM Degradasi Skalogram. central balance. Outcome. SDA. dll) 4. Spesialisasi. persentase konsumsi makanan. “daerah”. Sumberdaya sosial Input.24 Tabel 1. “kawasan”. aksesibilitas terhadap fasilitas Organisasi sosial. Impact Input dasar (SDM. Sumber daya manusia Sumber daya 2. pendapatan. Paradigma baru ini dapat mengacu kepada apa yang disebut dalil kedua fundamental ekonomi kesejahteraan bahwa sebenarnya pemerintah dapat memilih target pemerataan ekonomi yang diinginkan melalui transfer. skill. PDRB b. perpajakan dan subsidi (Rustiadi. Implementasi. “ruang”. setengah pengangguran 3. Regional balance: spatial balance. keunggulan komparatif dan kompetitif. etos kerja kompetensi. 3.5 Pengembangan Wilayah Di Indonesia berbagai konsep nomenklatur kewilayahan seperti “wilayah”. Pertumbuhan PDRB 2. garis kemiskinan (pendapatan setara beras. 2007). dan capital balance Dimensi lingkungan. Benefit. “area”. Input antara Sumber: Rustiadi (2007) Paradigma pembangunan baru diarahkan pada terjadinya pemerataan. pertumbuhan dan keberlanjutan dalam pembangunan ekonomi. IRR d. Output. BEP 3. PDRB Perkapita c. SDS). efisiensi Kelompok produktivitas dan Indikator-Indikator Pendapatan wilayah a. “regional”. Proses Pembangunan Sumber daya alam Sumber daya buatan/sarana dan prasaranan 4. NVP b.

25 berbeda-beda. mulai dirasakan perlunya pendekatan yang meninjau kota-desa kawasan produktif serta prasarana pendukungnya sebagai satu kawasan wilayah. sosial. melihat adanya keterkaitan dan ketidakseimbangan pengembangan wilayah tersebut diperlukan adanya perencanaan wilayah (regional planning). politik dan ideologi yang sekaligus untuk mengatasi adanya ketidakseimbangan pembangunan di perkotaan dan perdesaan. bahkan menghambat pembangunan itu sendiri. Perencanaan wilayah akan membantu pembuatan perencanaan di mana akan mengisi kebutuhan local. kegiatan ekonomi kota dan desa (sub-urban) adalah saling tergantung dalam konteks perubahan penduduk jangka pandang dan tenaga kerja. . 2006). Menurut Akil (2003) dalam Rustiadi (2006). Perencanaan wilayah akan membantu pemanfaatan sumberdaya lokal yang ada. Keterkaitan pembangunan perkotaan dan perdesaan begitu penting di mana keterkaitan ini diekspresikan dalam bentuk fisik. 2. 26/2007 dinyatakan bahwa wilayah adalah “ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan/atau fungsional”. ekonomi. Dalam konteks ini. sistem pemerintah dan administrasi pembangunan. Pada praktiknya. Menurut Shukla (2003) dalam Rustiadi (2006). pendekatan yang mengutamakan pertumbuhan tanpa memberikan perhatian pada pemerataan menyebabkan dampak negatif terhadap lingkungan. Secara teoritik. kawasan dan daerah. Melalui perencanaan wilayah ini dapat dicapai dua tujuan yaitu pembangunan dan berkelanjutan dengan: 1. Semuanya secara umum dapat diistilahkan dengan wilayah (region) (Rustiadi. dalam UU. sumberdaya fisik serta teknologi. Selanjutnya. No. tidak ada perbedaan nomenklatur antara istilah wilayah. pendekatan yang diterapkan dalam pengembangan wilayah di Indonesia sangat beragam karena dipengaruhi oleh perkembangan teori dan model pengembangan wilayah serta tatanan sosial-ekonomi. Dalam hubungan ini.

serta antarpelaku pembangunan di dalam dan antardaerah. Tolok ukur pendapatan yang dimaksud antara lain pendapatan per kapita. Otonomi daerah mengisyaratkan pentingnya pendekatan pembangunan berbasis pengembangan wilayah dibanding pendekatan sektoral.26 3. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah berimplikasi luas dalam sistem perencanaan pembangunan wilayah-wilayah. berkeadilan dan berkelanjutan. perlu kiranya dilakukan perencanaan pembangunan yang berimbang secara spasial karena secara makro hal ini menjadi prasyarat bagi tumbuhnya perekonomian nasional yang lebih efisien. . No. bukan lagi pendekatan sektoral sebagaimana dilakukan pada masa lalu. antarspasial (keruangan). (2) menekankan aspek proses dibandingkan pendekatan-pendekatan yang menghasilkan produk-produk perencanaan berupa master plan dan sejenisnya. pengembangan wilayah harus mengandung prinsip-prinsip: (1) mengedepankan peranserta masyarakat dan memprioritaskan untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Menurut Rustiadi (2006). distribusi pendapatan dan jumlah penduduk miskin atau tingkat kemiskinan (Todaro. Sejak diberlakukannya UU. baik dengan pendekatan ekonomi maupun pendekatan nonekonomi. 2003). Pembangunan daerah di era otonomi daerah perlu dilaksanakan dengan pendekatan pengembangan wilayah yang terkoordinasi dan terintegrasi. 2.6 Konsep Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Hasil suatu kegiatan pembangunan dapat dinilai dengan berbagai cara dan tolok ukur. Pengukuran atau penilaian dengan pendekatan ekonomi pada umumnya menggunakan tingkat pendapatan sebagai tolok ukur. Pendekatan berbasis pengembangan wilayah dan lokal memandang penting keterpaduan antarsektoral. Pemerintah lebih berperan sebagai fasilitator pembangunan dari pada sebagai pelaksana. Untuk menghindari masalah-masalah pembangunan. Perencanaan wilayah membantu mengurangi pembangunan yang kurang berimbang antar dan dalam wilayah.

Dalam konsep tersebut penduduk ditempatkan sebagai tujuan akhir (the ultimated end) sedangkan upaya pembangunan dipandang sebagai sarana (principal means) untuk mencapai tujuan itu. penerapan tolok ukur pembangunan yang murni bersifat ekonomis tersebut. kondisi dan kualitas pelayanan kesehatan. . pemerataan. tingkat pendidikan.1 Definisi Pembangunan Manusia dan Pengukurannya UNDP (United Nation Development Programme) mendefenisikan pembangunan manusia sebagai suatu proses untuk memperluas pilihan-pilihan bagi penduduk. dengan demikian merupakan himpunan bagian dari model pembangunan manusia. kecukupan kebutuhan akan perumahan dan sebagainya (Todaro.27 Namun pada akhirnya. Pembangunan ekonomi. Contoh indikator sosial itu antara lain adalah tingkat melek hurup. Pemerataan Penduduk harus memiliki kesempatan/peluang yang sama untuk mendapatkan akses terhadap semua sumber daya ekonomi dan sosial. 2. Semua hambatan yang memperkecil kesempatan untuk memperoleh akses tersebut harus dihapus. agar lebih akurat dan bermanfaat harus didukung pula oleh indikator-indikator sosial (sosial indicators) nonekonomis. empat hal pokok yang perlu diperhatikan adalah produktivitas. Untuk menjamin tercapainya tujuan pembangunan manusia. 2. 2003).6. sehingga mereka dapat mengambil menfaat dari kesempatan yang ada dan berpartisipasi dalam kegiatan produktif yang dapat meningkatkan kualitas hidup. Produktivitas Penduduk harus dimampukan untuk meningkatkan produktivitas dan berpartisipasi penuh dalam proses penciptaan pendapatan dan nafkah. pemberdayaan (UNDP. Secara ringkas empat hal pokok tersebut mengandung prinsip-prinsip sebagai berikut: 1. 1995). kesinambungan.

Pemberdayaan Penduduk harus berpartisipasi penuh dalam keputusan dan proses yang akan menentukan (bentuk/arah) kehidupan mereka. sosial dan politik. serta untuk berpartisipasi dan mengambil manfaat dari proses pembangunan. Jika kedua sisi itu didak seimbang maka hasilnya adalah frustasi masyarakat. Model pertumbuhan ekonomi berkaitan dengan peningkatan pendapatan dan produksi nasional (GNP). Pendekatan kebutuhan dasar memfokuskan pada penyediaan barang dan jasa kebutuhan hidup. manusia. pendekatan kesejateraan dan pendekatan kebutuhan-kebutuhan dasar manusia. dan lingkungan selalu diperbaharui. Pembangunan manusia teruatama sebagai input dari proses produksi (sebagai suatu sarana bukan tujuan). kultural. pembangunan sumber daya manusia (SDM). ekonomi dan sosial. Kesinambungan Akses terhadap sumber daya ekonomi dan sosial harus dipastikan tidak hanya untuk generasi-generasi sekarang. dan menikmati kehidupa yang sesuai dengan harkat pribadi dan jasmani hak-hak azasi manusia merupakan bagian dari paradigm tersebut. 4. Sisi lainnya adalah pemanfaatan kapabilitas mereka untuk kegiatan-kegiatan yang bersifat produktif. Semua sumber daya fisik. Konsep pembangunan manusia dalam pengertian di atas jauh lebih baik dari pada teori-teori pembangunan ekonomi yang konvensional termasuk model pertumbuhan ekonomi. tetapi juga gernerasi yang akan datang. Sebenarnya paradigma pembangunan manusia tidak berhenti sampai disana. pendidikan dan keterampilan. Pilihan-pilihan tambahan yang dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat luas seperti kebebasan politik. paradigma pembangunan manusia memiliki dua sisi. Pendekatan kesejahteraan melihat manusia sebagai agen perubahan dalam pembangunan. . Sisi pertama berupa informasi kapabilitas manusia seperti perbaikan taraf kesehatan. sampai kesempatan untuk menjadi kreatif dan produktif. Dengan demikian.28 3.

Kemampuan dasar itu adalah umur panjang. dan tingkat pengeluaran dan konsumsi yang telah mencapai standar hidup yang layak.29 Untuk dapat membuat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) maka UNDP mensponsori sebuah proyek tahun 1989 yang dilaksanakan oleh tim ekonomi dan pembangunan. pesan dasar IPM perlu dilengkapi dengan kajian dan analisis yang dapat mengungkapkan dimensi-dimensi pembangunan manusia yang penting lainnya (yang tidak seluruhnya dapat diukur) seperti kebebasan politik. semakin dekat jalan yang harus ditempuh untuk mencapai sasaran itu. Semakin dekat nilai IPM suatu wilayah terhadap angka 100. 2. kemerataan antar generasi.6. maka IPM harus dilihat sebagai penyederhanaan dari realitas yang kompleks dari luasnya dimensi pembangunan manusia. pengetahuan dan daya beli. Tim tersebut menciptakan kemampuan dasar. Daya beli dikuantifikasikan terhadap kemampuan mengakses sumberdaya yang dibutuhkan untuk mencapai standar hidup yang layak.2 Metode Perhitungan dan Komponen-Komponen IPM Komponen IPM disusun dari tiga komponen yaitu lamanya hidup diukur dengan harapan hidup pada saat lahir. tingkat pendidikan diukur dengan kombinasi antara angka melek huruf pada penduduk dewasa (dengan bobot dua per tiga) dan rata-rata lama sekolah (dengan bobot sepertiga). Nilai IPM suatu negara atau wilayah menunjukkan seberapa jauh negara atau wilayah itu telah mencapai sasaran yang ditentukan yaitu angka harapan hidup 85 tahun. Oleh karena itu. pendidikan dasar bagi semua lapisan masyarakat (tanpa kecuali). Umur panjang yang dikuantifikasikan dalam umur harapan hidup saat lahir atau sering disebut Angka Harapan Hidup/AHH (eo). dan tingkat kehidupan yang layak yang diukur dengan pengeluaran perkapita yang . Karena hanya mencakup tiga komponen. kesinambungan lingkungan. Pengetahuan dikuantifikasikan dalam kemampuan baca tulis/ angka melek huruf dan ratarata lama bersekolah.

J) = (X (I.30 telah disesuaikan (PPP rupiah).J) -X (i-max) ) Melihat persamaan di atas. angka e0 yang disajikan pada laporan ini merupakan ekstrapolasi dari angka e0 pada akhir tahun 1992 dan akhir tahun 2008 yang merupakan penyesuaian dari angka kematian bayi (infant mortality rate) dalam periode yang sama. yaitu: angka melek huruf (Lit) dan rata-rata lama sekolah (MYS).J) -X (i-min) )/(X (I. . yaitu rata-rata jumlah tahun yang dihabiskan oleh penduduk usia 15 tahun ke atas di seluruh jenjang pendidikan formal yang pernah dijalani atau sedang menjalani. komponen tingkat pendidikan diukur dari dua indikator. Lamanya Hidup (Longevity) Lamanya hidup adalah kehidupan untuk bertahan lebih lama diukur dengan indikator harapan hidup pada saat lahir (life expectancy at birth) (e0). komponen IPM terdiri dari: 1. Tingkat Pendidikan Dalam perhitungan IPM. 2. 3. Indikator ini dihitung dari variabel pendidikan yang tertinggi yang ditamatkan dan tingkat pendidikan yang sedang ditamatkan dan tingkat pendidikan yang sedang diduduki. Angka melek huruf adalah persentase dari pendidik usia 15 tahun ke atas yang bisa membaca dan menulis dalam huruf latin atau huruf lainnya. Standar Hidup Standar hidup dalam perhitungan IPM didekati dari pengeluaran riil per kapita yang telah disesuaikan. Rata-rata lama sekolah. indeks ini merupakan rata-rata sederhana dari ketiga komponen tersebut diatas: IPM = 1/3 (Indeks X 1 + Indeks X 2 + Indeks X 3 ) Dimana: X1 X2 X3 = Lamanya hidup = Tingkat pendidikan = Tingkat kehidupan yang layak Indeks X (I.

Jusuf SK (2006) memberikan definisi pelayanan publik adalah pemberian pelayanan prima kepada masyarakat yang merupakan kewajiban aparatur negara sebagai abdi masyarakat. Menurutnya.31 2. yaitu: 1. seperti pelayanan dalam membuat identitas penduduk. dalam Prasojo. yaitu pelayanan yang menghasilkan berbagai bentuk dokumen resmi yang dibutuhkan oleh publik. 2006). dapat dikatakan bahwa pelayanan publik merupakan suatu upaya membantu atau memberi manfaat kepada publik melalui penyediaan barang dan atau jasa yang diperlukan oleh mereka Lonsdale dan Enyedia. Kelompok Pelayanan Barang. mengartikan service sebagai assiting or benefiting individuals trough making useful things available to them. pelayanan publik dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok. kelompok pelayanan jasa dapat dibagi ke dalam dua bagian besar yakni (1) pelayanan yang bersifat massal seperti transportasi. (2) pelayanan yang bersifat individual. Sementara itu. Misalnya pendidikan. surat izin mengendarai. and it involves things which people can not normally provide for themselves i. dari berbagai kelompok pelayanan publik diatas. pos dan sebagainya. kesehatan. Kelompok Pelayanan Administratif. Masih menurut Jusuf SK (2006). yaitu pelayanan yang menghasilkan berbagai bentuk/jenis barang yang digunakan oleh publik.e people must act collectivelly. Dengan demikian. penyediaan lembaga-lembaga pendidikan dan pemeliharaan keamanan. Sedangkan public service diberi makna sebagai someting made available to the whole of population. Merujuk pada definisi di atas. 3. 2. Kelompok Pelayanan Jasa. memeriksa kesehatan dan sebagainya. Lonsdale dan Enyedia misalnya. pusatpusat kesehatan. (Lonsdale dan Enyedia.7 Konsep Pelayanan Publik Terdapat sejumlah definisi mengenai pelayanan publik. yang dimaksud pelayanan publik adalah semua barang dan jasa publik (public goods and services) yang diatur dan . dalam Prasojo. yaitu pelayanan yang menghasilkan bebagai jasa yang dibutuhkan oleh publik. 2006). penyelenggaraan transportasi.

Kebutuhan pelayanan publik dipengaruhi oleh 3 (tiga) variabel utama (Bulkin. 1997): 1. seiring dengan meningkatnya . Mengingat sektor publik sangat terkait dengan keberadaan pemerintah. maka pelayanan publik juga daat disamakan dengan terminologi pelayanan pemerintah (government service) yang diartikan sebagai pemberian pelayanan oleh agen pemerintah melalui pegawainya (the delivery of a service by a government agency using its own employees) (Lonsdale dan Enyedia. yang ditempati penduduk. No. Hal ini mengingat biaya yang diperlukan dalam penyiapan infrastruktur pelayanan tidaklah kecil. jasa. dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik”. maka pelayanan barang publik yang dilakukan oleh instansi pemerintah yang sebagian atau seluruh dananya bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara dan/atau anggaran pendapatan dan belanja daerah. 2. 25/2009 tentang Pelayanan Publik menyebutkan bahwa pelayanan publik adalah “kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundangundangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang. semakin besar akan semakin besar pula infrastruktur yang dibutuhkan. Luas wilayah. 2006). 2006). 3. Dalam UU. semakin luas dan tersebarnya perkotaan. Membaca definisi di atas. Pemahaman tentang ciri-ciri pelayanan publik yang baik sangat bermanfaat bagi aparatur pemerintah untuk mempersiapkan sarana pelayanan dan program serta strategi yang akan diterapkan. Jumlah penduduk yang dilayani. permintaan akan jasa pelayanan umum bersifat elastis terhadap pendapatan (income elastis). dalam Prasojo.32 diselenggarakan oleh pemerintah dalam rangka membedakan dengan barang dan jasa publik yang diselenggarakan oleh swasta meskipun pengaturannya dilakukan oleh pemerintah (Prasojo. Pendapatan per kapita. semakin besar pula jumlah infrastruktur publik yang disediakan.

Efisiensi menyangkut pertimbangan tentang keberhasilan organisasi pelayanan publik mengalokasikan anggaran yang ada. 2002). (4) terjangkau. dan (4) daya tanggap. Lebih khusus. Keadilan mempertanyakan distribusi dan alokasi layanan yang diselenggarakan oleh organisasi pelayanan publik. yaitu: (1) produktivitas. daya tanggap ini menunjuk pada keselasaran antara program dan kegiatan pelayanan dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat. (3) keadilan. menyusun agenda dan prioritas pelayanan. nilai. Kumorotomo dalam Dwiyanto. (3) responsifitas. antara lain: (1) efisiensi. dan mengembangkan program-program pelayanan publik sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat. Keduanya mempersoalkan apakah tingkat efektifitas tertentu. memanfaatkan faktorfaktor produksi serta pertimbangan yang berasal dari rasionalitas ekonomi. Dalam UU. dan (5) terukur. Hal tersebut erat kaitannya dengan rasionalitas teknis. maka penting untuk diketahui indikator yang biasa digunakan untuk mengukur kinerja birokrasi publik. (2002) menggunan beberapa kriteria untuk dijadikan pedoman dalam menilai kinerja organisasi pelayanan publik. 1995 dalam Dwiyanto. Bidang ini dianggap . Disebabkan penyelenggaraan pelayanan publik disediakan oleh pemerintah. kebutuhan dan nilai-nilai dalam masyarakat dapat terpenuhi. Kriteria ini erat kaitannya dengan konsep ketercukupan dan kepantasan. Sementara daya tanggap berkaitan dengan kemampuan organisasi pelayanan publik untuk mengenali kebutuhan masyarakat. kriteria standar untuk mengukur kinerja pelayanan publik adalah (1) berkualitas. dan (5) akuntabilitas (Dwiyanto. misi.33 pendapatan penduduk cenderung membutuhkan tingkat pelayanan publik perkotaan yang lebih baik. 25/2009 tentang Pelayanan Publik. (2) kualitas layanan. Secara singkat. (4) responsibilitas. Efektifitas menyangkut apakah tujuan dari pelayanan publik tersebut tercapai. tujuan organisasi pelayanan publik serta fungsi agen pembangunan. (2) cepat. baik kualitas maupun kuantitas. (3) mudah. No. (2) efektifitas. Beberapa pelayanan barang/publik yang saat ini menjadi fokus perhatian adalah bidang pendidikan dan kesehatan.

Ketiga. khususnya dengan mengeluarkan gaji guru sebagai komponen 20 persen dalam UU No. pemerintah pusat perlu menaikkan tingkat pengeluaran yang ada sekarang menjadi lebih dari dua kali lipat dan menggunakan kenaikan anggaran itu untuk pengeluaran bukan gaji. Studi yang menarik dilakukan oleh Burchi (2006) menemukan bahwa pendidikan berkontribusi terhadap upaya ‘perlawanan’ terhadap kerentanan pangan di wilayah perdesaan di negara-negara berkembang dan dengan demikian merupakan kunci ketahanan pangan wilayah tersebut. Ada perbedaan yang cukup besar di bidang akses pendidikan dan mutu pendidikan di berbagai wilayah Indonesia. Penentuan target sumbersumber daya tambahan yang efektif diperlukan untuk menyediakan dana yang memadai di kabupaten/kota dan provinsi yang masih tertinggal agar dapat setara dengan daerah lain. Kedua. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Penafsiran saat ini tentang ketentuan dalam konstitusi yang menyatakan “20 persen ” untuk anggaran pendidikan.34 krusial dalam upaya mendorong kapabilitas manusia (human capital) dan oleh karena itu pemerintah di negara-negara berkembang terus berupaya untuk meningkatkan anggaran terhadap kedua bidang ini. anggaran untuk sektor pendidikan sebesar 17. Indonesia kini memiliki kelebihan jumlah . Jika ingin mencapai angka 20 persen untuk anggaran pendidikan. 2002). tingkat pengeluaran di Indonesia tersebut masih relatif lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara tetangga lainnya di kawasan Asia Timur. Keempat. Studi Bank Dunia (World Bank) (2007) menemukan bahwa: pertama. juga negara-negara anggota OECD. khususnya pendidikan dasar (SMP) terbukti nyata secara statistik berefek negatif terhadap kemiskinan. Akan tetapi. Studi Suryadarma dan Surhayadi (2009) menemukan bahwa pendidikan. sementara itu pengeluaran daerah secara keseluruhan untuk sektor pendidikan (termasuk gaji) perlu ditingkatkan setidaknya menjadi 45 persen dari total pengeluaran.2 persen telah menempatkan Indonesia sejajar dengan negara berkembang lainnya. merupakan sesuatu yang tidak realistis dan pada saat yang sama akan menimbulkan masalah. dengan definisi saat ini. (Morrison.

et al (2002) menemukan bahwa setelah pelaksanaan otonomi daerah pelayanan di sektor pendidikan. studi Toyamah. sementara untuk daerah-daerah terpencil masih terjadi kekurangan jumlah guru yang cukup besar. kesehatan. namun kondisi sarana dan prasarana pendukung pelayanan cenderung memburuk. Terkait dengan hal tersebut. dan infrastruktur belum berubah.35 guru di tingkat sekolah dasar dan di wilayah perkotaan. Sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah. sejumlah studi telah dilakukan untuk mengkaji pelaksanaan pelayanan publik. hasil studi yang terkait dengan pelaksanaan pelayanan publik di era otonomi daerah belum menunjukkan kinerja yang memuskan. Asumsi ini menekankan bahwa dengan desentralisasi administratif. terkait dengan kebutuhan dana yang tidak seimbang dengan dengan luas wilayah dan jumlah penduduk yang relatif sama. Bappenas dan UNDP (2008) juga menemukan banyak daerah belum secara optimal menyediakan pelayanan dasar (basic service) kepada masyarakat sehingga berimplikasi pada ketimpangan tingkat kesejahteraan nonpendapatan (nonmoneter) di daerah. tetapi juga menyediakan anggaran dalam pos APBD untuk pelayanan publik (desentralisasi fiskal). maka kebijakan pelayanan publik yang sebelum masa otonomi berada di tangan pemerintah pusat kini berada di tangan pemerintah daerah. Namun demikian. Studi ini menunjukkan. Masalah yang dihadapi dalam pelayanan publik ialah (i) tidak efektifnya penggunaan dana. (ii) ketersediaan tenaga pelayanan pada masyarakat karena perkembangan ekonomi dan fasilitas yang terbatas. . Tanggung jawab pemerintah daerah bukan hanya menyediakan standar pelayanan minimum (SPM). Studi-studi tersebut tentu berpijak pada asumsi desentralisasi administratif yang menjadi salah satu kerangka otonomi daerah adalah mendekatkan masyarakat dengan pemerintah setempat. secara umum kinerja pelayanan publik di Daerah Otonom Baru (DOB) cenderung menurun. dan (iii) masih terbatasnya pemanfaatan layanan publik publik yang diberikan.

dengan perbedaan rata-rata sebesar 2. 2. No. Persepsi seperti juga sensasi ditentukan oleh faktor-faktor personal dan situasional (Rahmat. Krech dan Crutchfield (Asngari.36 Studi yang dilakukan World Bank (2009) juga menemukan bahwa hampir 25% kondisi infrastruktur pendidikan di sejumlah daerah sangat rendah. Sementara Thoha (1999) menyatakan. perasaan dan penciuman. Tentang faktor-faktor yang berpengaruh pada persepsi. Persepsi adalah pengalaman tentang obyek dan hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. pendengaran. 1984) menyatakan bahwa ada dua golongan variabel yang mempengaruhi persepsi yaitu (1) variabel struktural yaitu faktor yang terkandung dalam rangsangan fisik dan proses neurofisikologi dan (2) variabel fungsional yaitu faktor-faktor yang terdapat dalam diri si pengamat seperti kebutuhan. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU. ada perbedaan mencolok antara capaian jenjang pendidikan penduduk di daerah perkotaan dan di daerah pedesaan. 2000). 2006). pengalaman masa lalu dan sifat-siat individual lainnya. tetapi juga atensi (perhatian).9 Kerangka Pikir Penelitian Desentralisasi sebagaimana telah diatur dalam UU.5 tahun (World Bank. persepsi adalah proses kognitif yang dialami oleh setiap orang di dalam memahami informasi tentang lingkungannya baik melalui penglihatan. Persepsi memberikan stimulasi inderawi. motivasi dan memori. suasana hati. yaitu . ekspektasi. 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat-Daerah menjadi memiliki dua aspek penting. Hubungan sensasi dan persepsi adalah jelas bahwa sensasi bagian dari persepsi. Studi World Bank juga menunjukkan.8 Konsep Persepsi Menurut Asngari (1984) persepsi adalah pemahaman atau pandangan seseorang tentang segala sesuatu yang ada di sekitarnya. 2. Walaupun begitu menafsirkan makna informasi inderawi tidak hanya melibatkan sensasi. No.

Salah satu indikator meningkatnya kesejahteraan masyarakat adalah mereka dapat dan mampu memenuhi kebutuhan dasarnya. Hal ini disebabkan manfaat tersebut dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat sebagai kebutuhan dasarnya seperti belanja pertanian. Dengan kata lain. Dengan demikian. mereka berada di atas garis kemiskinan sebagaimana ditetapkan oleh BPS. . baik yang berasal dari pendapatan asli daerah maupun dari dana perimbangan (DAU). syarat yang harus dipenuhi agar terciptanya permintaan terhadap tenaga kerja adalah adanya investasi. pendidikan. hal fundamental dari desentralisasi keuangan ini adalah kewenangan dalam fungsi alokasi dan distribusi belanja. Pendekatan neo-klasik menyatakan bahwa peningkatan kesejahteraan dapat dilakukan dengan cara penciptaan lapangan pekerjaan di kalangan penduduk. kesehatan. Selain itu.37 desentralisasi administratif dan desentralisasi keuangan/fiskal. 33/2004 adalah desentralisasi keuangan yang merupakan komponen inti dari konsep desentralisasi. semakin dekat hubungan antara pemerintah (region) dengan masyarakat. sebagaimana diatur dalam UU. Asumsinya. Sebab dalam teori dinyatakan bahwa setiap 1 (satu) persen pertumbuhan akan meningkatkan permintaan terhadap tenaga kerja sebesar empat ratus ribu orang. Namun demikian. Dari segi desentralisasi keuangan/fiskal. Kedua undang-undang ini tidak lain bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan kemandirian perekonomian daerah. Adanya desentralisasi keuangan merupakan konsekuensi dari adanya kewenangan untuk mengelola keuangan secara mandiri. Hal ini ditujukan agar terjadi pertumbuhan (growth). Secara teoretik. semakin bisa dipahami kebutuhan masyarakat akan suatu pelayanan. perumahan dan lain sebagainya. upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat ditempuh melalui sejumlah pendekatan. akan mengurangi pengangguran sebesar empat ratus ribu orang. No. dapat dinyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi 1 persen. Dari segi desentralisasi administratif didasarkan pada argumentasi bahwa pengelolaan oleh unit-unit pelayanan publik akan lebih efektif jika diserahkan kepada unit yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Sebab. tetapi juga menggambarkan sejauh mana tugas dan kewajiban yang diemban oleh pemerintah daerah yang bersangkutan dalam konteks desentralisasi dapat dilaksanakan. kinerja keuangan tidak saja mencerminkan arah dan pencapaian kebijakan fiskal dalam mendorong pembangunan daerah secara umum. meningkatnya kesempatan memperoleh pendidikan dan pada akhirnya akan meningkatkan kelayakan hidup masyarakat. Penjelasan UU.33/2004 mengatakan bahwa fungsi DAU adalah sebagai faktor pemerataan kapasitas fiskal dan sebagai wujud fungsi distribusi keuangan pemerintah. Dampak ikutan dari peningkatan pendapatan per kapita ini akan meningkatkan tingkat harapan hidup. Kinerja keuangan pemerintah daerah dapat diketahui dengan melihat ketergantungan fiskalnya.38 Selanjutnya. Derajat ketergantungan fiskal adalah suatu derajat yang mengukur sejauh mana pemerintah daerah dapat memenuhi kebutuhan fiskalnya untuk membiayai pembangunan. meningkatnya kesempatan masyarakat memperoleh pendidikan dan meningkatnya kelayakan hidup secara otomatis akan meningkatkan IPM. Dalam struktur keuangan negara khususnya Anggaran Belanja dan Pendapatan Daerah (APBD). Namun di dalam komponen DAU sendiri terdapat alokasi dasar yang merupakan gaji Pegawai Negeri Sipil di Daerah (PNSD) yang merupakan tanggung jawab pemerintah pusat secara umum. No. ketersediaan lapangan pekerjaan menjadikan masyarakat memiliki peluang untuk memperoleh pekerjaan yang pada gilirannya akan memperoleh pendapatan. agregasi pendapatan yang terjadi menyebabkan meningkatnya pendapatan per kapita. alokasi anggaran pengeluaran terdiri dari dua . Indikator lain dari kemandirian ekonomi tersebut adalah adanya kinerja keuangan yang baik dari pemerintah daerah yang bersangkutan. Meningkatnya tingkat harapan hidup. Sementara indikator kemandirian perekonomian daerah adalah daerah yang bersangkutan mampu memenuhi kebutuhan perekonomian daerah. Secara makroekonomi. termasuk pendanaan keuangan tanpa terlalu tergantung dengan pemerintah pusat. baik melalui alokasi dana perimbangan dari pusat maupun pendapatan asli daerah (PAD).

Sejalan dengan adanya otonomi. jika pemerintah daerah memberikan porsi anggaran pada pengeluaran untuk publik. permasalahan bidang pendidikan di Indonesia antara lain mencakup: fasilitas pelayanan pendidikan. Dengan demikian. seperti pendidikan. baik di tingkat dasar maupun lanjutan. Pendidikan memainkan peran kunci dalam membentuk kemampuan masyarakat untuk menyerap pengetahuan. khususnya untuk jenjang pendidikan menengah pertama dan yang lebih tinggi yang belum tersedia secara merata. . Sen dalam Todaro (2003) menyatakan bahawa pendidikan merupakan faktor penting dalam upaya mengurangi kemiskinan. maka tentu akan mendorong pada keberhasilan upaya penanggulangan masyarakat miskin. serta ketersediaan pendidik yang belum memadai. Dampak lanjutannya adalah. pendidikan merupakan hal yang fundamental untuk membentuk kapabilitas manusia. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009 disebutkan. baik secara kuantitas maupun kualitas. Pengeluaran publik yang bersifat investasi itulah terdapat komponen anggaran yang bersentuhan langsung dengan masyarakat miskin. Pengeluaran rutin bersifat konsumtif sedangkan pengeluaran publik bersifat investasi. Salah satu bentuk kongkrit dari alokasi pengeluaran publik adalah pengeluaran untuk pelayanan publik.39 yaitu pengeluaran rutin dan pengeluaran publik. wawasan dan teknologi modern untuk mengembangkan kapasitas dan kompetensi. sangat memungkinkan bagi daerah yang bersangkutan untuk memperbaiki kinerja pelayanan publik di bidang pendidikan. Sebab. menciptakan pertumbuhan ekonomi daerah/wilayah yang lebih progresif dan berkelanjutan. pendidikan juga dapat dilihat sebagai komponen pertumbuhan dan pembangunan yang vital. Oleh karena itu. Pemerintah daerah harus menyadari bahwa pendidikan merupakan faktor penting dalam mendorong pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Peningkatan pelayanan kepada masyarakat Percepatan pembangunan perekonomian daerah LKLK Percepatan pengelolaan potensi daerah Perbaikan kinerja keuangan daerah Pengeluaran pembangunan/publik /investasi untuk kesejahteraan masyarakat OTONOMI DAERAH Sisi Penerimaan (PAD. Pendidikan Peningkatan Investasi di Daerah Meningkatnya tingkat harapan hidup Peningkatan Output Ket: Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi Penciptaan Lapangan Pekerjaan Peningkatan Pendapatan Per Kapita/PDRB Kehidupan yang layak Meningkatnya partisipasi sekolah Peningkatan IPM hubungan rincian hubungan kausatif Gambar 2. No. 2. Dana Perimbangan. LainLain Pendapatan Daerah Yang Sah) Desentralisasi Fiskal (UU.40 1. 5. Kerangka Pikir Penelitian . Pinjaman Daerah. 3. 4.33/2004) Peningkatan Kinerja Keuangan Daerah Pengeluaran Rutin Sisi Pengeluaran Kewenangan pengelolaan keuangan secara mandiri Peningkatan Kapasitas Keuangan Peningkatan Alokasi Belanja Publik Pengeluaran Pembangunan Kemandirian Ekonomi Pertanian dan nonpertanian Infrastruktur Sosial & Pelayanan Publik Pelayanan Publik Bid.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful