P. 1
Bab 2

Bab 2

|Views: 302|Likes:
Published by Yogi Jambi

More info:

Published by: Yogi Jambi on Mar 30, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/06/2014

pdf

text

original

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Administrasi, Manajemen, dan Organisasi Keadaan administrasi dan manajemen dalam suatu organisasi harus mampu bergerak di tempat serba terbatas. Sumber manajemen yang selalu terbatas, baik secara kuantitas maupun kualitas merupakan tantangan bagi administrasi dan manajemen dalam mencapai tujuan organisasi dengan efektif. Pendayagunaan sumber manajemen merupakan langkah awal yang sangat penting merealisasikan program yang telah ditentukan agar tujuan organisasi dapat dicapai dengan efektif. 2.1.1. Administrasi Mengenai administrasi Soewarno Handayaningrat membagi ke dalam dua definisi secara sempit dan luas, yaitu : Administrasi secara sempit meliputi kegiatan catat mencatat, suratmenyurat, pembukuan ringan, ketik-mengetik, agenda dan sebagainya yang bersifat teknis ketatausahaan. Adapun pengertian administrasi secara luas adalah merupakan kegitan kerjasama yang dilakukan dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.3 Sedangkan menurut Sondang P. Siagian administrasi adalah “keseluruhan proses kerjasama antara dua orang manusia atau lebih yang didasarkan atas rasionalitas tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya”.4 Selanjutnya Dann Sugandha memberi definisi tentang administrasi sebagai berikut :

Soewarno Handayaningrat, Pengantar Studi Ilmu Administrasi dan Manajemen, CV. Haji Masagung, Jakarta: 1996. Hlm.2 4 Sondang P. Siagian, Op Cit. Hlm.3

3

10

11

Seluruh proses organisasi yang terdiri dari proses penentuan tujuan dan pencapaiannya dengan memanfaatkan sumber yang tersedia secara berdaya guna melalui beberapa orang secara terkoordinasi dengan menerapkan perencanaan, pembuatan keputusan dan perintah kerja, pimpinan serta penilaian dan pengawasan.5

Dari pendapat para ahli di atas terlihat bahwa penekanan pengertian administrasi adalah pada prosesnya, sehingga kegiatan kerjasama yang dilakukan dalam rangka pencapaian tujuan dilaksanakan secara sistematis mulai dari perencanaan hingga evaluasi. Inti dari uraian di atas menunjukan bahwa administrasi merupakan proses dari kegiatan kelompok untuk mencapai tujuan bersama, dengan ciriciri sebagai berikut : 1. Adanya sekelompok orang yang bekerjasama; 2. Adanya organisasi sebagai wadah pelaksanaan kegiatan; 3. Adanya tujuan yang hendak dicapai; 4. Adanya bimbingan, kepemimpinan, perencanaan, pengawasan, evaluasi dan sebagainya.

Berdasarkan ciri-ciri administrasi tersebut dapat disimpulkan bahwa administrasi adalah keseluruhan proses kerja sama dua orang atau lebih yang didasarkan pada rasionalitas tertentu, dimaksudkan dan ditujukan untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya, dan operasionalnya dilakukan melalui kerja sama secara

Dann Sugandha, Administrasi Strategi, Taktik dan Teknik Penciptaan Efisiensi, Intermedia. Jakarta: 1991. Hlm.9

5

12

teratur, ada yang memimpin dan ada pula yang mengendalikan. Mengenai pegawai A. W. Widjaja menjelaskan bahwa administrasi kepegawaian dikembangkan dengan tujuan : a. Penggunaan secara efektif tenaga kerja manusia; b. Tercipta, terpelihara serta terkembangkan hubungan kerja yang memberikan suasana kerja yang menyenangkan antar individu yang bekerja sama; c. Tercapainya perkembangan yang maksimal bagi masing-masing individu yang bekerja sama tersebut.6

Pokok-pokok persoalan dalam administrasi kepegawaian dirinci sebagai berikut : 1) Sistem kepegawaian; 2) Sistem pengadaan/penerimaan pegawai (pemilihan, penyajian, pengangkatan, penempatan); 3) Analisa tugas jabatan; 4) Sistem penggolongan jabatan dan kepangkatan; 5) Sistem penggajian; 6) Sistem penilaian kecakapan pegawai 7) Sistem kenaikan pangkat dan pemindahan jabatan; 8) Disiplin dan hukuman jabatan; 9) Sistem pemberhentian pegawai; 10) Sistem jaminan di hari tua (pensiun).7

2.1.2. Manajemen Keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuan dengan efektif sangat ditentukan oleh pelaksanaan fungsi manajemen secara tepat dan lengkap. Semakin banyak fungsi yang dilakukan akan semakin sempurna dalam mencapai tujuan organisasi. Dalam artian bahwa pelaksanaan fungsi manajemen sangat menentukan terhadap pencapaian efektivitas kerja.

A. W. Widjaja, Administrasi Kepegawaian: Suatu Pengantar, Edisi 2, Cetakan 4, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta: 1995. Hlm.16-17 7 Ibid

6

13

Untuk memahami tentang manajemen secara keseluruhan, maka terlebih dahulu harus mengetahui dan memahami definisi manajemen. Hal ini sangat penting oleh karena manajemen merupakan cabang dari ilmu sosial. Manajemen merupakan salah satu cabang ilmu sosial, sehingga untuk mendefinisikannya harus disesuaikan dengan obyek yang akan dibahas lebih lanjut. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan oleh karena sifat absolut dalam ilmu sosial tidak mendapat tempat yang universal. Maksudnya adalah setiap mendefinisikan akan sangat banyak berpengaruh oleh pengalaman, spesialisasi keahlian, latar belakang pendidikan, serta referensi yang melatar belakanginya. Menurut Sondang P. Siagian manajemen dapat didefinisikan sebagai : “kemampuan atau keterampilan untuk memperoleh sesuatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain”. Dengan demikian dapat pula dikatakan bahwa manajemen merupakan inti daripada administrasi karena memang manajemen merupakan alat pelaksana utama daripada administrasi.8 Sedangkan menurut A. W. Widjaja “Manajemen adalah seni dan ilmu perencanaan, pengorganisasian, penyusunan, pengarahan, dan pengontrolan human and natural resources untuk mencapai yang telah ditentukan lebih dahulu.”9 Kemudian Millet dalam Suwarto mendefinisikan bahwa :

“Management is the proces of directing and facilitating the work of people organized in formal group to achive a disered goal. (Manajemen adalah sebagai kelompok untuk memperoleh tujuan yang ditentukan).”10

8

Sondang P. Siagian, Op Cit, Hlm.5 A. W. Widjaja, Op Cit. Hlm.13 10 Suwarto, Dasar-dasar Teori Organisasi dan Manajemen, Widya Karya. Jakarta: 1996. Hlm.45
9

14

Selanjutnya menurut Malayu S.P. Hasibuan mendefinisikan bahwa : Manajemen berasal dari kata to manage yang berarti mengatur. Dalam hal ini, akan timbul masalah, problem, proses dan pertanyaan tentang apa yang diatur, siapa yang mengatur, mengapa harus diatur dan apa tujuan pengaturan tersebut. Manajemen juga menganalisa, menetapkan tujuan/sasaran serta mendeterminasi tugas-tugas dan kewajiban-kewajiban secara baik, efektif dan efisien. 11 Kemudian dapat juga penulis kemukakan arti manajemen menurut Stoner dalam buku T. Hani Handoko sebagai berikut : Management is the process of planning, organizing, leading, and contolling, the efforts of organizing members and of using all other organizational resources to achive stated organization goal (manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota dan penggunaan sumber-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan).12 Dari pendapat para ahli di atas walaupun menggunakan istilah yang berbeda-beda, umumnya mempunyai tujuan dan pengertian atau makna yang sama tentang “manajemen”. Manajemen sebagai suatu proses yang menggerakkan organisasi, sangat penting karena tanpa ada manajemen yang efektif tidak akan ada usaha yang berhasil secara maksimal. Manajemen diartikan sebagai alat untuk menggerakkan unsur-unsur penting dalam suatu organisasi yang terdiri dari : manusia, bahan-bahan, metode, mesin atau alat-alat, sistem dan pasar, guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan penerapan fungsi-fungsi dan prinsip-prinsip manajemen secara efektif dan efisien.

Malayu S.P. Hasibuan, Teori dan Praktek Pengambilan Keputusan, CV. Haji Masagung. Jakarta: 1993. Hlm.2 12 T. Hani Handoko, Manajemen, BPFE, Yogyakarta: 1997. Hlm.8

11

15

Fungsi manajemen menurut Luther M. Gullick dalam buku Winardi adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Planning (Perencanaan) Organizing (Pengorganisasian) Staffing (Pengadaan Tenaga Kerja) Directing (Pemberian Bimbingan) Coordinating (Pengkoordinasian) Reporting (Pelaporan) Budgetting (Penganggaran)13 menurut George R. Terry dalam buku Winardi

Kemudian

mengklasifiksaikan fungsi manajemen yang disingkatnya menjadi POAC : 1. Planning (Perencanaan) 2. Organizing (Pengorganisasian) 3. Actuating (Menggerakan) 4. Controlling (Pengawasan)14 Selanjutnya Koontz dan O‟Donnell dalam buku Soewarno

Handayaningrat mengatakan bahwa fungsi manajemen terdiri dari : 1. 2. 3. 4. 5. Perencanaan (Planning) Pengorganisasian (Organizing) Penyusunan Pegawai (Staffing) Pembinaan Kerja (Directing) Pengawasan (Coordinating) 15

Fungsi manajemen yang telah dikemukakan di atas, terdiri dari beberapa pendapat. Walaupun demikian, pendapat tersebut pada dasarnya terdapat keseragaman cara berpikir. Hal ini terbukti dari adanya tiga fungsi yang sama dikemukakan oleh para ahli. Fungsi-fungsi itu ialah perencanaan (yang merupakan pengarahan kegiatan-kegiatan organisasi), pengorganisasian
Winardi, Azas-Azas Manajemen, CV. Mandar Maju. Bandung: 2000. Hlm.4 Ibid 15 Soewarno Handayaningrat, Op Cit. Hlm.22
14 13

16

(berbagai usaha menciptakan wadah yang sesuai dengan kebutuhan), dan pengawasan (sebagai usaha mengamati pelaksanaan rencana yang telah dibuat). Mengenai fungsi manajemen di atas, secara keseluruhan

menempatkan perencanaan

(planning) pada urutan paling atas, dengan

demikian semua para ahli menganggap perencanaan merupakan hal paling penting dalam fungsi manajemen tersebut. Dikaitkan dengan pariwisata, tidak terlepas dari adanya perencanaan dan pengorganisasian terhadap produk sumber daya manusia di sektor pariwisata sehingga dapat meningkatkan pendapatan daerah. Usaha untuk menjamin agar seluruh fungsi tersebut dapat berlangsung dengan efektif, maka diperlukan sumber-sumber yang lengkap dan tepat. Sumber manajemen tersebut, menurut Malayu S.P. Hasibuan yaitu : a. Man (Sumber daya manusia dengan keahlian tertentu sesuai dengan kebutuhan organisasi dalam mencapai tujuan); b. Money (Modal dalam bentuk uang untuk berbagai bentuk biaya, baik penggajian, pengadaan alat dan bahan, penyediaan sarana dan prasarana dan lain-lain); c. Materials (Alat untuk pelaksanaan pekerjaan sebagai media yang digunakan untuk melakukan semua kegiatan oleh manusia); d. Minute (Waktu pelaksanaan pekerjaan, disesuaikan dengan target dari input lainnya untuk mewujudkan output yang ditentukan dalam rencana); e. Methods (Cara kerja yang digunakan untuk kelangsungan pekerjaan yang tertib dan teratur).16

Mengenai pengertian administrasi dan manajemen ini, Dann Sugandha mengemukakan pendapatnya bahwa : Pada saat pembicaraan mengenai manajemen sering juga disebut administrasi sebagai tugas pemimpin puncak

16

Malayu S.P. Hasibuan, Op Cit. Hlm.27

17

(top management) yaitu menyusun kebijaksanaan, yang pelaksanaannya dilakukan oleh menajemen yaitu pemimpin lainnya di bawah pemimpin puncak.17

2.1.2.1. Konsep Manajemen Sumber Daya Manusia Sumber daya manusia merupakan asset yang paling berharga bagi suatu organisasi, karena dianggap sebagai salah satu faktor produksi, sekaligus juga menjadi perencana, pemikir dan pelaku. Agar sumber daya manusia dapat digunakan secara berdayaguna dan berhasil guna dalam pencapaian tujuan organisasi dan tujuan individu, maka perlu adanya manajemen sumber daya manusia. Manajemen sumber daya manusia pada hakekatnya adalah penerapan manajemen, khususnya untuk sumber daya manusia. Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia sebagaimana yang dikemukakan oleh Flippo dalam buku Bambang Wahyudi mendefinisikan bahwa : Manajemen Sumber Daya Manusia merupakan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan dari pada pengadaan, pengembangan, pemberian balas jasa, pengintegrasian, pemeliharaan dan pemisahan sumber daya manusia ke suatu titik akhir dimana tujuan-tujuan perorangan, organisasi dan masyarakat terpenuhi.18

Sedangkan menurut Prabu Mangkunegara mendefinisikan bahwa :

17 18

Dann Sugandha, Op Cit. Hlm.43 Bambang Wahyudi, Manajemen Sumber Daya Manusia, Sulita. Bandung: 1996. Hlm.6

18

Manajemen Sumber Daya Manusia merupakan suatu perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, pelaksanaan, dan pengawasan terhadap pengendalian, pengembangan, pemberian balas jasa, pengintegrasian, pemeliharaan dan pemisahan tenaga kerja dalam rangka mencapai tujuan.19

Selanjutnya

T.

Hani

Handoko

mengatakan

bahwa

Manajemen Sumber Daya Manusia adalah “penarikan, seleksi, pengembangan, pemeliharaan, dan penggunaan sumber daya manusia untuk mencapai baik tujuan-tujuan organisasi maupun tujuan individu”.20 Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa manajemen sumber daya manusia merupakan suatu proses yang terdiri dari : 1) Rekrutmen atau pengadaan sumber daya manusia. 2) Seleksi sumber daya manusia. 3) Pengembangan sumber daya manusia. 4) Pemeliharaan sumber daya manusia. 5) Pemisahan sumber daya manusia.

Dari ke lima poin di atas, semuanya harus dijalankan secara bertahap dan berkesinambungan agar sumber daya manusia/pegawai yang ada dalam suatu organisasi dapat didayagunakan untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien.
Prabu Mangkunegara, Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan, PT Remaja Rosdakarya. Bandung: 2000. Hlm.2 20 T. Hani Handoko, Manajemen Sumber Daya Manusia, Edisi 2, BPFE, Yogyakarta : 1998. Hlm.4
19

19

Hal ini senada dengan yang dikatakan oleh Simamora yang memberikan penjelasan bahwa : “Manajemen Sumber Daya Manusia merupakan aktivitas-aktivitas atau kegiatan-kegaiatan yang

dilaksanakan agar sumber daya manusia di dalam organisasi dapat digunakan secara efektif supaya mencapai berbagai tujuan”.21 Dari pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Manajemen Sumber Daya Manusia adalah suatu proses/kegiatan yang dilakukan untuk memberdayakan sumber daya manusia yang ada dalam organisasi secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan organisasi.

2.1.2.2. Tujuan Manajemen Sumber Daya Manusia Setiap kegiatan yang dilaksanakan muaranya berakhir pada tujuan, kegiatan apapun bentuknya tentu memiliki spesifikasi tujuan yang diterapkan sebelumnya. Begitu pula halnya yang terjadi pada manajemen sumber daya manusia yang kegiatan-kegiatannya tergambar pada fungsi-fungsi manajemen yang bermula dari perencanaan dan berakhir pada penggunaan, orientasi terakhir dari kegiatan tersebut adalah upaya dalam mencapai tujuan organisasi. Menyangkut tujuan dari penerapan Manajemen Sumber Daya Manusia ini, manajemen Bambang Wahyudi menyatakan “tujuan pokok sumber daya manusia adalah mewujudkan

21

Henry Simamora, Manajemen Sumber Daya Manusia, STIE YPKN. Yogyakarta: 1999.

20

pendayagunaan secara optimal sumber daya manusia di dalam suatu organisasi”.22 Sedangkan Sedarmayanti mengemukakan tujuan Manajemen Sumber Daya Manusia adalah “untuk meningkatkan kontribusi pegawai terhadap organisasi dalam rangka mencapai produktivitas yang bersangkutan”. 23 Dari uraian tersebut dapat dikemukakan bahwa Manajemen Sumber Daya Manusia adalah suatu langkah-langkah yang bertujuan untuk memberdayakan sumber daya manusia dalam organisasi secara optimal dalam mencapai produktivitas.

2.1.2.3. Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia Mengingat manajemen adalah induk dari segala cabang manajemen lainnya, hal demikian tentunya berlaku pula dalam perumusan fungsi manajemen sumber daya manusia. Menurut Malayu S. P. Hasibuan fungsi-fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia terdiri dari “perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengendalian, pengadaan, pengembangan, kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan, kedisiplinan dan pemberhentian”. 24 Prabu Mangkunegara mengemukakan bahwa terdapat enam fungsi operatif Manejemen Sumber Daya Manusia, yaitu :

Bambang Wahyudi, Manajemen Sumber Daya Manusia, Sulita. Bandung: 1996. Hlm.3 Sedarmayanti, Loc Cit. 24 Malayu S.P. Hasibuan, Manajemen Sumber Daya Manusia, PT. Toko Gunung Agung. Jakarta: 1997. Hlm.24
23

22

21

1) Pengadaan Tenaga Kerja, terdiri dari : a. Perencanaan Sumber Daya Manusia; b. Analisis Jabatan; c. Penarikan Pegawai; d. Penempatan Kerja; e. Orientasi Kerja (job orientation). 2) Pengembangan Tenaga Kerja, mencakup : a. Pendidikan dan Pelatihan (training and development); b. Pengembangan (karier); c. Penilaian Prestasi Kerja. 3) Pemberian Balas Jasa mencakup : a. Balas Jasa Langsung terdiri dari : - Gaji/upah; - Insentif. b. Balas Jasa Tak Langsung terdiri dari : - Keuntungan (benefit); - Pelayanan/kesejahteraan (services). 4) Integrasi, mencakup : a. Kebutuhan Karyawan; b. Motivasi Kerja; c. Kepuasan Kerja; d. Partisipasi Kerja. 5) Pemeliharaan Tenaga Kerja mencakup : a. Komunitas Kerja; b. Kesehatan dan Keselamatan Kerja; c. Pengendalian Konflik Kerja; d. Konseling Kerja. 6) Pemisahan Tenaga Kerja mencakup : Pemberhentian Karyawan.25

Untuk mendukung berbagai kegiatan yang merupakan fungsi-fungsi operasional Manajemen Sumber Daya Manusia, maka ruang lingkup Manajemen Sumber Daya Manusia dilengkapi dengan kegiatan-kegiatan yang merupakan alat Manajemen Sumber Daya Manusia yaitu analisis jabatan (job analysis), penilaian prestasi kerja (performance appraisal), dan evaluasi jabatan (job evaluation).

25

Prabu Mangkunegara, Loc Cit.

22

2.1.3. Organisasi Sebagai alat administrasi dan manajemen, organisasi dapat ditinjau dari sudut pandang. Pertama : organisasi dapat dipandang sebagai “wadah” dimana kegiatan administrasi dan manajemen dijalankan. Kedua : organisasi dipandang sebagai “ proses” dimana dianalisa interaksi antara orang – orang yang menjadi anggota organisasi . Menurut A. W. Widjaja organisasi adalah suatu alat untuk melaksanakan tujuan tertentu.26 Sedangkan menurut Sondang P. Siagian organisasi adalah : “Setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerja bersama serta secara formal terikat dalam rangka pencapaian sesuatu tujuan yang telah ditentukan dalam ikatan mana terdapat seorang/beberapa orang yang disebut atasan dan seorang/sekelompok orang yang disebut bawahan”.27

Definisi di atas menunjukkan bahwa organisasi dapat ditinjau dari dua segi pandangan, yaitu : 1. Organisasi dijalankan; 2. Organisasi sebagai rangkaian hirarki antara orang-orang dalam suatu ikatan formal.28 sebagai wadah dimana kegiatan-kegiatan administrasi

Menurut A.W. Widjaja terdapat beberapa syarat mengenai organisasi, yaitu : a) Adanya 2 orang atau lebih;
26 27

A. W. Widjaja, Op Cit. Hlm.127 Sondang P. Siagian, Op Cit. Hlm.7 28 Ibid. Hlm.8

23

b) c) d) e)

Harus mempunyai tujuan yang sama; Ada kerja sama; Koordinasi; Ada komunikasi.29

Pentingnya organisasi sebagai alat administrasi dan manajemen terlihat jika bergerak tidaknya organisasi ke arah pencapaian tujuan sangat tergantung atas kemampuan manusia dalam organisasi menggerakan organisasi itu ke arah yang telah ditetapkan. Jika dikatakan bahwa organisasi merupakan alat administrasi dan manajemen, Sondang P. Siagian mempunyai dua sudut pandangan mengenai hal ini, yaitu : Pertama : Organisasi dapat dipandang sebagai “wadah” dimana kegiatankegiatan administrasi dan manajemen dijalankan; Kedua : Organisai dapat dipandang sebagai proses dimana dianalisa interaction antara orang-orang yang menjadi anggota organisasi itu.30 Menurut Sondang P. Siagian organisasi yang baik adalah suatu organisasi yang memiliki cirri-ciri (sifat-sifat) sebagai berikut : 1. Terdapat tujuan yang jelas; 2. Tujuan organisasi harus dipahami oleh setiap orang di dalam organisasi; 3. Tujuan organisasi harus diterima oleh setiap orang dalam organisasi; 4. Adanya kesatuan arah (unity of direction); 5. Adanya kesatuan perintah (unity of command); 6. Adanya keseimbangan antara wewenang dan tanggung jawab seseorang; 7. Adanya pembagian tugas (distribution of work); 8. Struktur organisasi harus disusun sesederhana mungkin; 9. Pola dasar organisasi harus relatif permanen; 10. Adanya jaminan jabatan (security of tenure);

29 30

A. W. Widjaja, Op Cit. Hlm.13 Sondang P. Siagian, Op Cit. Hlm.117

24

11. Balas jasa yang diberikan kepada setiap orang harus setimpal dengan jasa yang diberikan; 12. Penempatan orang yang sesuai dengan keahliannya (The right man in the right place).31

2.2. Pengertian Peranan Peranan sangat penting untuk memahami perilaku yang diharapkan dari suatu posisi tertentu dalam suatu organisasi, peranan tersebut dapat didefinisikan sebagai harapan yang berhubungan dengan kedudukan khusus, peranan juga dapat mencakup sikap dan nilai-nilai jenis perilaku tertentu. Pengertian peranan dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia adalah “bagian dari tugas yang harus dilaksanakan”.32 Sedangkan Soeryono Soekanto memberikan batasan bahwa : Peranan adalah merupakan aspek dinamis dari status (kedudukan), apabila seseorang atau beberapa orang atau organisasi melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka ia atau mereka tersebut atau organisasi tersebut menjalankan peranannya.33 Selanjutnya Sondang P. Siagian menyatakan bahwa: “Peranan adalah sikap dan tindakan seseorang yang menunjukkan tugas dan fungsi, tanggung jawab, wewenang yang dilakukan seseorang sesuai dengan kedudukannya”. 34 Hal ini berarti bahwa peranan menentukan apa yang diperbuatnya serta langkah yang diambil guna menjalankan tugas, fungsi, tanggung jawab, serta wewenang .

Ibid. Hlm.119-121 WJS Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta: 1976 33 Soeryono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, UI Press, Jakarta: 1981. Hlm.146 34 Sondang P. Siagian, Manajemen Dasar Pengertian dan Masalah, CV. Haji Masagung, Jakarta: 1997. Hlm.36
32

31

25

Kemudian

Miftah

Thoha

menyatakan

bahwa:

“Suatu

peranan

dirumuskan sebagai suatu rangkaian perilaku yang teratur, yang ditimbulkan karena suatu jabatan tertentu atau karena adanya suatu kantor yang mudah dikenal”.35 Berdasarkan pendapat tersebut di atas bahwa peranan merupakan suatu langkah atau perilaku seseorang dalam situasi dan kondisi tertentu dalam bentuk kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan kedudukan dalam suatu organisasi. Jadi peranan di sini merupakan aktivitas atau kegiatan seseorang atau sekelompok orang dalam menjalankan tugas dan fungsi, tanggung jawab serta wewenang dalam organisasi karena setiap posisi dalam suatu struktur kelompok berkaitan dengan peranan tertentu yang memerlukan perilaku yang sesuai pula. Oleh karena itu yang dimaksud dengan peranan pegawai adalah polapola perilaku yang diharapkan dan ditampilkan oleh pegawai dalam menjalankan tugas dan fungsinya untuk melakukan pekerjaannya sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

2.3. Pengertian Pegawai Mengenai Pegawai menurut Desy Anwar dalam kamus bahasa Indonesia mendefinisikan bahwa “Pegawai adalah orang yang bekerja pada pemerintah, perusahaan dan sebagainya; alat perkakas; pengawasan: sifat-sifat pegawai, segala sesuatu mengenai pegawai”.36 Sedangkan Soedaryono mendefinisikan bahwa : “Pegawai atau karyawan adalah golongan masyarakat yang melakukan

penghidupannya dengan bekerja dalam kesatuan organisasi baik kesatuan kerja

Miftah Thoha, Pembinaan Organisasi, Proses Diagnosa dan Intervensi, Rajawali Press. Jakarta: 1990. Hlm.83 36 Desy Anwar, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Terbaru, Amelia Surabaya, Surabaya: 2003

35

26

pemerintah, maupun kesatuan kerja swasta”.37 Selanjutnya A. W. Widjaja mendefinisikan bahwa pegawai adalah tenaga kerja manusia, jasmaniah maupun rohaniah (mental dan fikiran), yang senantiasa dibutuhkan dan karena itu menjadi salah-satu modal pokok dalam badan usaha kerja sama untuk mencapai tujuan tertentu (organisasi).38 Istilah “pegawai” mengandung pengertian sebagai berikut : 1. Menjadi anggota suatu usaha kerja sama (organisasi) dengan maksud memperoleh balas jasa/imbalan kompensasi atas jasa yang telah diberikan; 2. Berada di dalam sistem kerja yang sifatnya lugas/pamrih; 3. Berkedudukan sebagai „penerima kerja‟ dan berhadapan dengan pihak „pemberi kerja‟ (majikan); 4. Kedudukan sebagai “penerima kerja” itu diperoleh setelah melalui proses penerimaan; dan 5. Akan menghadapi saat pemberhentian (pemutusan hubungan kerja antara “pemberi kerja” dengan “penerima kerja”).39

Menurut A. W. Widjaja pembinaan kepegawaian mempunyai sasaransasaran sebagai berikut : 1) Mengusahakan agar satuan-satuan organisasi mempunyai jumlah dan mutu pegawai yang lebih rasional sesuai dengan tugas-tugas pekerjaan yang dipunyai; 2) Menjamin loyalitas tunggal kepada tujuan organisasi dan kepada organisasi itu sendiri; 3) Memelihara dan meningkatkan prestasi dan efisiensi kerja baik jumlah maupun mutunya; 4) Menjamin adanya efektivitas dan efisiensi dalam pelaksanaan kerja; 5) Memelihara moral pegawai; 6) Penertiban pegawai, terutama menyangkut aspek mental dan disiplin.40

Pada dasarnya setiap manusia mempunyai dua macam kebutuhan pokok. Pertama, ia mempunyai kebutuhan yang berbentuk materi; Kedua, ia mempunyai
37 38

Soedaryono, Tata Laksana Kantor, 2006. Hlm.42 A. W. Widjaja, Op Cit. Hlm.15 39 ibid 40 Ibid. Hlm.18

27

kebutuhan yang berbentuk non-materi. Mengenai kebutuhan manusia itu Abraham H. Maslow menggolongkan kebutuhan-kebutuhan manusia ke dalam lima tingkatan kebutuhan (Five hierarcy of needs), kelima kebutuhan itu adalah sebagai berikut : 1. Kebutuhan-kebutuhan yang bersifat fisiologis (Physiological Needs) a. Sandang, b. Pangan, dan c. Tempat berlindung (istilah dalam bahasa jawa : papan). 2. Kebutuhan-kebutuhan keamanan (Safety Needs) a. Kebutuhan akan keamanan jiwa; b. Kebutuhan akan keamanan harta. 3. Kebutuhan-kebutuhan sosial (Social Needs) a. Kebutuhan akan perasaan diterima oleh orang lain di mana ia hidup dan bekerja (sense of belonging); b. Kebutuhan akan perasaan dihormati karena setiap manusia merasa dirinya penting (sense of importance); c. Kebutuhan akan perasaan maju dan tidak gagal (sense of achievement); d. Kebutuhan akan perasaan “ikut serta” (sense of participation). 4. Kebutuhan-kebutuhan akan prestise (Esteem Needs) 5. Kebutuhan-kebutuhan mempertinggi kapasitas kerja (Selfactualization).41

2.4. Pengertian Optimalisasi Optimalisasi secara etimologis berasal dari bahasa Inggris yaitu

“Optimalization” yang memiliki arti pencapaian hasil terbaik sesuai dengan target atau tujuan tertentu yang telah ditentukan sebelumnya. Sementara menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia “Optimalisasi berasal dari kata optimal yang berarti terbaik, tertinggi, paling menguntungkan. Mengoptimalkan adalah menjadikan paling baik, menjadikan paling tinggi. Optimalisasi atau pengoptimalan merupakan proses, cara, perbuatan mengoptimalkan”.42

41 42

Sondang P. Siagian, Filsafat Administrasi, Op Cit, Hlm.131-133 Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka. Jakarta: 1994

28

Selanjutnya menurut A. W. Widjaja “Optimalisasi sebagai suatu proses untuk menentukan penyelesaian yang paling baik atau tinggi dari masalah manajemen”.43 Dengan demikian optimalisasi merupakan suatu proses kegiatan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dengan hasil yang terbaik atau tinggi dari masalah manajemen dari suatu organisasi. Hal ini berarti organisasi berusaha semaksimal mungkin untuk menjadikan organsiasi menjadi yang terbaik mampu berkompetisi dengan organisasi lainnya.

2.5. Pengertian Pendapatan Daerah Menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 Pendapatan Daerah adalah semua hak daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan.44 Dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah sebagai konsekuensi asas desentralisasi Pemerintah Daerah akan dapat melaksanakan fungsinya dengan baik, jika didukung dengan keuangan yang cukup. Jadi faktor keuangan merupakan faktor yang essensial untuk melaksanakaan otonomi daerah, seperti dijelaskan oleh Pamudji sebagai berikut : Pemerintah Daerah tidak akan dapat melaksanakan fungsinya dengan efektif dan efisien tanpa biaya yang cukup untuk memberikan pelayanan dan pembangunan dan keuangan inilah yang merupakan salah satu kriteria untuk mengetahui secara nyata kemampuan Daerah dalam mengurus rumah tangganya sendiri.45

43 44

A. W. Widjaja, Op Cit. Hlm.55 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah 45 Pamudji, Pembinaan Perkotaan di Indonesia, Ichtiar, Jakarta: 1980. Hlm.61

29

Berdasarkan Undang-undang No. 32 Tahun 2004 pasal 157 tentang Pemerintahan Daerah, sumber pendapatan daerah terdiri atas pendapatan asli daerah yang selanjutnya disebut PAD, dana perimbangan, dan lain-lain pendapatan daerah yang sah.46 Besarnya pendapatan asli daerah merupakan salah satu tanda keberhasilan Pemerintah Daerah untuk menggali potensi yang dimiliki oleh daerah yang bersangkutan. Menurut pasal 157 Undang-undang No. 32 Tahun 2004, jenis-jenis pendapatan asli daerah adalah hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan PAD yang sah.47

2.6. Pengertian Pariwisata Secara etimologis kata „pariwisata‟ berasal dari bahasa Sangsekerta yang terdiri dari dua suku kata, yaitu kata „pari‟ yang berarti banyak, berkali-kali, berputar-putar atau lengkap dan kata „wisata‟ yang berarti perjalanan atau bepergian. Menurut Oka A Yoeti bahwa : Pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan untuk sementara waktu, yang diselenggarakan dari suatu tempat ke tempat lain dengan maksud bukan untuk berusaha (busines) atau mencari nafkah di tempat yang dikunjungi, tetapi semata-mata untuk menikmati perjalanan tersebut guna pertamasyaaan dan rekreasi atau untuk memenuhi keinginan yang beranekaragam.48 Sedangkan menurut Salah Wahab : Pariwisata adalah salah satu jenis industri baru mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang cepat dalam menyediakan lapangan kerja, peningkatan penghasilan, standar hidup serta menstimulasi sektor-sektor
46 47

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004, Loc Cit Ibid 48 Oka A Yoety, Pengantar Ilmu Pariwisata, Angkasa, Bandung: 1996. Hlm.118

30

produktivitas lainnya. Selanjutnya, sebagai sektor yang kompleks ia juga meliputi industri-industri klasik yang sebenarnya seperti industri kerajinan tangan dan cendera mata, penginapan dan transportasi secara ekonomi juga dipandang sebagai industri.49

Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 menjelaskan bahwa : Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, Pemerintah, dan Pemerintah Daerah.50 Berdasarkan definisi di atas dapat diartikan bahwa Pariwisata sebagai suatu kegiatan yang mengarah kepada industri, sangat memerlukan cara penanganan yang baik, menuntut perencanaan dan teknik manajemen, dalam artian pimpinan harus merumuskan sumber-sumber yang tersedia serta mendayagunakannya dan

memperhitungkan faktor-faktor yang mempengaruhinya secara tepat. Kepariwisataan berfungsi memenuhi kebutuhan jasmani, rohani, dan intelektual setiap wisatawan dengan rekreasi dan perjalanan serta meningkatkan pendapatan negara untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat.51 Disebutkan juga bahwa : Kepariwisataan bertujuan untuk : (a) meningkatkan pertumbuhan ekonomi, (b) meningkatkan kesejahteraan rakyat, (c) menghapus kemiskinan, (d) mengatasi pengangguran, (e) melestarikan alam, lingkungan, dan sumber daya, (f) memajukan kebudayaan, (g) mengangkat citra bangsa, (h) memupuk rasa cinta tanah air, (i) memperkukuh jati diri dan kesatuan bangsa, dan (j) mempererat persahabatan antar bangsa.52

49 50

Salah Wahab, Manajemen Pariwisata, Jemmars, Jakarta: 1992. Hlm.34 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan 51 Ibid 52 Ibid

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->