P. 1
Proposal Rjl

Proposal Rjl

|Views: 227|Likes:
Published by Irha Maya

More info:

Published by: Irha Maya on Mar 31, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/31/2015

pdf

text

original

1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Udang merupakan salah satu komoditas perikanan unggulan dalam program revitalisasi perikanan. Pada awalnya, jenis udang yang

dibudidayakan di air payau adalah udang putih windu (Litopenaeus vannamei), namun setelah mewabahnya penyakit yang mengakibatkan menurunnya usaha budidaya putih udang untuk windu, pemerintah kemudian usaha

mengintroduksi

udang

membangkitkan

kembali

perudangan di Indonesia sekaligus sebagai upaya untuk mendiversifikasi komoditas perikanan. Udang putih merupakan salah satu jenis udang yang telah menjadi perhatian dunia perikanan karena pertumbuhannya yang cukup cepat dan mempunyai nilai ekonomis tinggi sebagaimana ditunjukkan dengan semakin meningkatnya permintaan pasar udang putih, baik di dalam maupun luar negeri. Hal ini berarti peluang untuk mengembangkan komoditas udang putih semakin tinggi. Oleh karena itu, setelah melalui serangkaian penelitian dan kajian, maka pemerintah melalui SK Menteri KP No. 41/2001 secara resmi melepas udang putih sebagai varietas unggul pada tanggal 12 juli 2001 (Poernomo, 2002). Udang putih memiliki beberapa keunggulan dibanding spesies udang lainnya. Menurut Subjakto (2005), komposisi daging udang putih (66-68%) lebih tinggi dibandingkan udang windu. Tingkat kelulusanhidup (sintasan) udang putih bisa mencapai 80-100% (Duraippah et al, 2000), bahkan dapat

2

mencapai 91% dengan produktivitas lebih dari 13.600 kg/ha (Boyd dan Clay, 2002). Selain itu, udang putih memiliki toleransi salinitas yang luas atau euryhalin (Haliman dan Adijaya, 2005) sehingga dapat dipelihara di daerah perairan pantai dengan kisaran salinitas 1-40 ppt (Bray et al., 1994). Tingginya tingkat sintasan udang putih dikarenakan benihnya sudah dapat diperoleh dari induk yang sudah berhasil didomestikasi sehingga benur yang dihasilkan tidak liar dan tingkat kanibalisme rendah. Benur udang putih juga sudah ada yang bersifat SPF (Spesific Pathogen Free), yaitu benur yang bebas dari beberapa jenis penyakit (pathogen), sehingga memudahkan petambak dalam proses budidaya. Kelulushidupan udang putih juga dipengaruhi oleh daya tahannya terhadap penyakit. Udang putih mempunyai daya tahan lebih kuat terhadap serangan penyakit White Spot Syndrome Virus (WSSV), meskipun ditemukan pula beberapa kasus udang yang terinfeksi (Soto et al.,2001). Benih merupakan salah satu faktor produksi yang sangat berperan penting dalam menunjang keberhasilan budidaya. Lahan budidaya yang begitu ideal yang disertai pengelolaan yang sangat intensif akan sia-sia jika tanpa diimbangi dengan kualitas dan kuantitas benih yang baik. Benih merupakan cetak biru (blue print) dari produk yang dihasilkan oleh kegiatan budidaya. Cetak biru yang dimaksud mencakup dimensi yang luas, seperti sintasan, pertumbuhan, komposisi kimia, umur panen, ketahanan terhadap hama dan penyakit, dan lain lain. Dengan demikian, manajemen pembenihan merupakan salah satu faktor penentu dalam menghasilkan kualitas dan kuantitas produksi yang optimal.

pakan merupakan salah satu dari empat komponen input penting selain ketiga komponen input lainnya. pakan yang berkualitas pada umumnya juga memiliki harga yang tinggi sehingga dapat membebani total biaya produksi. sumber makanan yang biasa digunakan adalah makanan alami.3 Pada sistem manajemen pembenihan. manajemen pakan yang kurang tepat berakibat pada penurunan efisiensi pemanfaatan pakan. yakni benih itu sendiri sebagai objek pembenihan. Pada stadia larva. Demikian juga kandungan gizi pakan alami seringkali sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan pascalarva udang putih. dan bak atau tangki sebagai wadah pembenihan. Penggunaan pakan yang berkualitas dapat meningkatkan laju pertumbuhan organisme. namun penggunaaan pakan alami yang berlanjut secara praktis dan ekonomis tidak menguntungkan. Fenomenafenomena terkait dengan pakan tersebut perlu mendapat perhatian yang serius dalam kegiatan pembenihan. Oleh karena itu pemberian pakan buatan yang tepat (waktu dan jenis) merupakan faktor penting yang perlu diperhatikan dalam manajemen pemberian pakan. Pada konteks tersebut diperlukan sebuah kajian untuk mengetahui waktu penggantian jenis pakan alami yang tepat oleh pakan buatan dalam rangka meningkatkan pertumbuhan dan sintasan pascalarva udang putih. Selain itu. air sebagai media pembenihan. Untuk menunjang proses fisiologis dalam rangka menopang pertumbuhan dan sintasan dibutuhkan makanan sebagai sumber energi. Namun. Demikian juga dengan kualitas pakan yang dapat menurun dikarenakan berbagai faktor penyebab. .

4 B. Rumusan Masalah Berdasarkan deskripsi latar belakang. maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : “Bagaimana pengaruh waktu penggantian pakan alami oleh pakan buatan terhadap pertumbuhan dan sintasan pascalarva udang putih” ? C. Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai bahan informasi tentang saat yang tepat dalam penggantian pakan alami oleh pakan buatan sehingga dapat lebih mengefisienkan dan mengefektifkan penggunaan pakan dan memacu pertumbuhan larva udang putih. . Tujuan dan Manfaat Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu penggantian pakan alami oleh pakan buatan terhadap pertumbuhan dan sintasan pascalarva udang putih.

5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Udang Putih (Penaeus vannamei) Taksonomi udang putih menurut klasifikasi Wyban dan Sweeney (1991) sebagai berikut : Kingdom Subkingdom Filum Subfilum Kelas Subkelas Superordo Ordo Subordo Familia Genus Spesies : : : : : : : : : : : : Animalia Metazoa Arthropoda Crustacea Malacostraca Eumalacostraca Eucarida Decapoda Dendrobrachiata Penaeidae Litopenaeus Litopenaeus vannamei . Udang putih yang dikenal masyarakat dengan vanname ini berasal dari Perairan Amerika Tengah. Gambar 1. Biologi Udang Putih (Litopenaeus vannamei) Udang putih merupakan spesies introduksi yang dibudidayakan di Indonesia sejak awal tahun 2000-an. Udang vaname dikenal dengan pasific white shrimp dan disebut udang putih karena berwarna putih bening dengan corak kebiru-biruan.

Pada bagian abdomen terdapat pleopoda (kaki renang) sebanyak 5 pasang dan pada ruas keenam terdapat ekor (uropoda) yang bagian ujungnya terdapat telson. 2. dan 3 terdapat capit pada bagian ujungnya yang disebut chella. serta 6 ruas pada abdomen dengan ekor pada bagian belakangnya (Wyban dan Sweeney. Bagian depan kerapas memanjang dan meruncing disebut rostrum.6 Seluruh bagian tubuh udang putih tertutup kerangka luar yang terbuat dari chitin yang disebut eksoskeleton. Kaki jalan (periopoda) sebanyak 5 pasang yang pada kaki 1. Morfologi Udang Putih (Penaeus vannamei) Wyban dan Sweeney (1991) selanjutnya menguraikan bahwa pada bagian chepalotorax terdapat antenula (sungut kecil). Secara morfologis. mandibula (rahang). Chepalotorax terdiri dari 13 ruas. . 1991). Gambar 2. tubuh terdiri dari 2 bagian. antenna (sungut besar). dan maxilla yang dilengkapi dengan maxsiliped. scophocerit (sirip kepal). Chepalotorax tertutup oleh kelopak kepala yang disebut carapacae. yaitu 5 ruas pada kepala dan 8 ruas pada dada. yaitu bagian kepala yang menyatu dengan dada (chepalotorax) dan bagian perut (abdomen).

Sejalan dengan bertambahnya umur. dan asam lemak. termasuk jenis pemakan segala (omnivora). Namun di tambak budidaya dapat dilakukan feeding dengan frekuensi yang lebih banyak untuk memacu pertumbuhannya. dapat hidup pada kisaran salinitas lebar (euryhaline). Udang mengalami pergantian kulit (moulting) secara periodik untuk tumbuh. suka memangsa sesama jenis (kanibal). seperti protein. proses moulting terjadi setiap hari dan biasanya terjadi pada malam hari. antara 7 – 20 hari sekali. Bila makanan mengandung senyawa organik. sedangkan pada siang hari sebagian dari mereka bersembunyi di dalam substrat atau lumpur. maka udang akan mendekati sumber makanan tersebut. asam amino. Melalui bantuan sinyal kimiawi yang ditangkap. dan mencari makan lewat organ sensor (chemoreseptor). Subjakto (2005) menjelaskan bahwa waktu yang dibutuhkan untuk melakukan moulting tergantung jenis dan umur udang. termasuk udang putih. Nafsu makan udang mulai menurun pada 1 – 2 hari sebelum moulting dan aktivitas makannya berhenti total sesaat akan moulting. tipe pemakan lambat tetapi terus-menerus (continous feeder). menyukai hidup di dasar tambak (bentik).7 Haliman dan Adijaya (2005) menyatakan bahwa sifat-sifat penting udang vannamei adalah aktif pada kondisi gelap (nokturnal). vannamei merupakan hewan nocturnal yang aktif pada malam hari untuk mencari makan. Persiapan yang dilakukan udang putih sebelum moulting adalah menyimpan cadangan makanan . siklus moulting semakin lama. Secara alami L. udang akan merespon makanan dengan mendekati atau menjauhi sumber makanan. Saat udang masih kecil (fase tebar).

respirasi. 2002). Pakan Setiap kegiatan usaha budidaya perikanan selalu mengharapkan keuntungan yang diperoleh dari pertumbuhan organisme peliharaan. dan proses fisiologis lainnya. Wyban dan Sweeney (1991) menyatakan bahwa pertumbuhan udang putih tergantung dua faktor. pemeliharaan tubuh dan pertahanan diri terhadap penyakit. Pertumbuhan tersebut terjadi karena adanya sisa energi setelah digunakan untuk proses metabolisme. pakan yang baik bagi udang putih adalah pakan yang mengandung protein minimal 30% dengan kestabilan pakan dalam air minimal bertahan selama 3-4 jam setelah ditebar. baik pertumbuhan bobot maupun pertumbuhan panjang. namun akan menurun apabila kondisi lingkungan dan nutrisi tidak cocok (Wickins dan Lee. yaitu frekuensi moulting (waktu antara moulting) dan peningkatan pertumbuhan (berapa pertumbuhan setiap moulting baru). pencernaan. Menurut Tacon (1987). B. Kecepatan pertumbuhan merupakan fungsi kedua faktor tersebut. lemak.8 berupa lemak di dalam kelenjar pencernaan. 2008). udang putih juga memerlukan nutrien tertentu dalam jenis dan jumlah tertentu untuk pertumbuhan. Seperti halnya hewan lainnya. Nutrisi merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam pertumbuhan organisme. dan karbohidrat. Energi tersebut diperoleh dari energi yang terkandung dalam pakan yang dimakan oleh organisme yang dipelihara (Mudjiman. . Pakan harus mengandung nutrisi yang lengkap dan seimbang bagi kebutuhan udang putih. Nutrien secara makro meliputi protein.

Jenis-jenisnya dapat berupa plankton (fitoplankton dan zooplankton). . nekton. Jenis pakan alami dapat berupa bahan nabati maupun hewani. Pakan alami (natural feed). pakan ikan termasuk udang. Keunggulan pakan buatan. yaitu pakan yang sengaja disiapkan dan dibuat yang terdiri dari ramuan beberapa bahan baku yang kemudian diproses lebih lanjut sehingga bentuknya berubah dari bentuk aslinya. maka tidak saja memberikan kehidupan pada udang tersebut. dan lain-lain. Pakan ini diperoleh dari pengambilan di alam. Kandungan karbohibrat untuk makanan larva udang diperkirakan lebih rendah 20%. yaitu pelengkap kebutuhan organisme peliharaan selaian pakan alami maupun sebagai pakan lengkap. organisme bentos. tetapi juga akan mempercepat pertumbuhannya. alga dasar (kelekap). Menurut Mudjiman (2008). tergantung pada jenis organisme yang dibudidayakan. secara umum dapat dibedakan atas 2 jenis. tetapi beberapa diantaranya melalui kultur makan alami. yaitu pakan yang diberi untuk mengganti seluruh kebutuhan makanan organisme peliharaan. yaitu : 1. 2. detritus campur bakteri dan cendawan. alga filamen (lumut).9 Konsentrasi lemak dalam pakan komersial untuk induk udang berkisar 10% dan 3% lebih tinggi untuk benih udang. yaitu pakan yang tumbuh sendiri di tempat pemeliharaan organisme yang bersangkutan. Jika pakan yang diberikan pada udang putih mempunyai nilai nutrisi yang cukup tinggi. Pakan buatan (artificial feed). Pakan ini dapat digunakan sebagai pakan tambahan.

Pengelolaan pakan harus dilakukan sebaik mungkin dengan memperhatikan apa. 1987). kandungan gizi. ukuran frekuensi. serta siklus alat pencernaan guna memaksimalkan penggunaan pakan (Tacon. Adiwidjaya. sehingga dapat tercipta budidaya udang yang berkelanjutan (Adiwidjaya et al. lebih tahan lama. Oleh karena itu. dkk. Penggunaan pakan yang efisien dalam usaha budidaya sangat penting kerena pakan merupakan faktor produksi yang paling tinggi biayanya. bentuk dan ukuran dapat diatur. FCR adalah perbandingan antara berat pakan yang digunakan dengan jumlah berat ikan/udang yang dihasilkan.10 antara lain : lebih mudah diperoleh.(2005) menguraikan bahwa program pemberian pakan pada budidaya udang putih merupakan langkah awal yang harus diperhatikan untuk menentukan jenis. 2005). kapan. dan total kebutuhan pakan selama masa pemeliharaan Nutrisi dan pemberian pakan memegang peranan penting untuk kelangsungan usaha budidaya hewan akuatik. di mana semakin rendah nilai FCR- .0 – 2. upaya perbaikan komposisi nutrisi dan perbaikan efisiensi penggunaan pakan tambahan perlu dilakukan guna menigkatkan produksi hasil perikanan budidaya dan mengurangi biaya pengadaan pakan. Salah satu metode untuk mengukur tingkat efisiensi penggunaan pakan adalah dengan metode Feed Conversion Ratio (FCR). dan lain-lain. serta meminimalkan produksi limbah pada media budidaya. berapa kali. Pakan buatan untuk ikan dan udang berkisar antara 2. Penerapan feeding ragim hendaknya disesuikan dengan tingkah laku kultivan. berapa banyak.5 atau kurang dari itu. dimana ikan/udang diberi pakan.

2002). Pertumbuhan adalah sebuah perubahan ukuran dari individu. Sintasan dan Pertumbuhan Sintasan atau tingkat kelangsungan hidup merupakan suatu nilai perbandingan antara jumlah organisme yang hidup di akhir pemeliharaan dengan jumlah organisme awal saat penebaran yang dinyatakan dalam bentuk persen. Metamorfosa dihubungkan dengan reorganisasi jaringan pada stadia pasca .4. 1995). biasanya meningkat serta dapat diukur dalam unit-unit panjang. Faktor lingkungan dan makanan merupakan hal yang paling mempengaruhi tingkat kelulusan hidup organisme secara langsung (Holliday. 2008) dan konversi pakan udang putih menurut (Boyd dan Clay. berat atau energi (Wootton. baik pada waktu proses fisiologis normal maupun rusak karena luka. regenerasi. Definisi sederhana pertumbuhan dapat dirumuskan sebagai pertambahan ukuran panjang atau berat dalam satuan waktu. metamorfosa Regenerasi berkaitan dengan kondisi binatang/hewan yang memiliki kemampuan untuk menyusun kembali jaringan/bagian tubuh yang telah hilang. Affandi dan Tang (2002) menyatakan bahwa beberapa aspek yang berkaitan proses dengan fisiologis pertumbuhan adalah individu terutama yang dan berkaitan moulting. 1969).2002) berkisar 1. 2002).11 nya. berarti semakin efisien (Mudjiman. C. sedangkan pertumbuhan bagi populasi sebagai pertambahan jumlah atau kuantitas (Effendie.3 – 1. di mana semakin besar nilai persentase menunjukkan makin banyak organisme yang hidup selama pemeliharaan (Effendie.

Hal ini terjadi apabila ada kelebihan input energi dan asam amino (protein) yang berasal dari makanan. Pertambahan panjang dan bobot tubuh akan terhambat bila tidak didahului oleh ganti kulit. Pada krustase (udang).12 embrio yang biasanya dialami suatu organisme dalam rangka mempersiapkan diri untuk hidup dalam suatu habitat yang berbeda. perawatan bagian-bagian tubuh atau mengganti sel-sel yang sudah tidak terpakai. produksi organ seksual. Pertumbuhan dalam individu ialah pertambahan jaringan akibat dari pembelahan sel secara mitosis. 2002). Pengertian moulting berkenaan dengan proses pelepasan secara periodik cangkang yang sudah tua dan pembentukan cangkang baru dengan ukuran yang lebih besar. Jika dilihat lebih lanjut sebenarnya pertumbuhan merupakan proses biologis yang kompleks dimana banyak faktor mempengaruhinya. yaitu frekuensi moulting (waktu antara moulting) dan peningkatan pertumbuhan (berapa pertumbuhan setiap moulting baru) (Wyban dan Sweeney. pertumbuhan udang vaname tergantung dua faktor. pergerakan. 1991). Bahan yang berasal dari makanan akan digunakan oleh tubuh untuk metabolism dasar. Apabila terdapat bahan berlebih dari keperluan tersebut akan dibuat sel baru sebagai penambahan . Seperti halnya arthropoda lain. Kecepatan pertumbuhan merupakan fungsi kedua faktor tersebut. Bahan-bahan tidak berguna akan dikeluarkan dari tubuh melalui eksresi. namun akan menurun apabila kondisi lingkungan dan nutrisi tidak cocok (Wickins dan Lee. pertumbuhan terjadi secara berkala setelah pergantian kulit.

Setiap jenis organisme perairan dapat hidup dan melakukan semua aktifitas kehidupan dengan baik jika ditunjang oleh kualitas perairan. sedangkan menurut Haliman dan Adijaya (2005) bahwa suhu optimal bagi pertumbuhan udang putih adalah 26 – 320C . dan amoniak. dan daya kelangsungan hidup (Kinne. Udang putih mempunyai kisaran kualitas air tertentu dan toleransi berbeda-beda untuk melangsungkan aktifitas kehidupannya dengan baik. Suhu air sangat mempengaruhi laju metabolisme dan pertumbuhan organisme perairan (Effendi.13 unit atau penggantian sel dari bagian tubuh. Cholik dan Ahmad (1981) menyatakan suhu optimal bagi pertumbuhan udang antara 27 – 290C. 2003). Salinitas merupakan faktor yang secara langsung dapat mempengaruhi kehidupan organisme. Kualitas Air Air beserta kandungan yang terlarut didalamnya merupakan media bagi kehidupan organisme perairan. Beberapa paramater kualitas air yang penting dalam budidaya udang putih adalah suhu. D. Salah satu aspek fisiologis organisme yang dipengaruhi oleh salinitas adalah tekanan dan konsentrasi osmotik serta konsentrasi ion . baik secara fisik. salinitas. 2002). yakni jumlah pakan yang dikonsumsi. oksigen terlarut. Kelangsungan hidup organisme perairan ditentukan oleh kualitas perairannya. Menurut Boyd (1991) bahwa laju biokimia akan meningkat 2 kali lipat setiap peningkatan suhu 10 0C. 1964). nilai konversi makanan. Secara keseluruhan resultannya merupakan perubahan ukuran (Effendie. pH. laju pertumbuhan. kimia maupun biologi.

1992). udang vanamei dapat hidup pada kisaran salinitas yang lebar dari 0. bahkan beberapa penelitian menunjukkan bahwa pada salinitas 5 ppt masih layak untuk pertumbuhan udang putih (Soemardjati dan Suriawan. Nilai pH menggambarkan intensitas keasaman suatu perairan dan mewakili konsentrasi ion-ion hidrogen (Effendi. Stickney (1979) menyatakan bahwa kekurangan oksigen terlarut akan membahayakan organisme air karena dapat menyebabkan stres. 2005). Udang putih dapat tumbuh optimal pada salinitas 15 – 25 ppt.5 – 45 ppt. kadar oksigen optimal untuk budidaya udang vanamei > 3 mg/l dengan toleransi 2 mg/l. mudah terkena penyakit. Menurut Suprapto (2005).14 dalam cairan tubuh (Holliday. 2003). baik untuk respirasi organisme maupun dekomposisi bahan organik dalam perairan. Perbedaan konsentrasi cairan tubuh ikan dengan konsentrasi lingkungannya akan mengganggu kelangsungan poses fisiologis yang normal dalam tubuh ikan. Untuk mengatasi hal tersebut ikan akan melakukan proses osmoregulasi. 2006). Apabila salinitas meningkat maka pertumbuhan udang akan melambat karena energi lebih banyak terserap untuk proses osmoregulasi dibandingkan untuk pertumbuhan (Haliman dan Adijaya. Udang dapat hidup . Oksigen terlarut merupakan faktor yang sangat penting bagi kehidupan organisme. Kadar oksigen terlarut yang optimum bagi udang adalah di atas 4 mg/l (Chien. 1969). dan bahkan kematian. Menurut McGrow dan Scarpa (2003). Haliman dan Adijaya (2005) menyatakan bahwa kandungan oksigen terlarut sangat mempengaruhi metabolisme tubuh udang.

1 mg/l (Liu. Wyban dan Sweeny (1991) mengemukakan bahwa kisaran pH air yang cocok untuk budidaya udang vanamei secara intensif antara 7.0. 1991). Kandungan oksigen yang tinggi akan menyebabkan kandungan amoniak menjadi rendah karena dioksidasi menjadi NH4 yang dapat dimanfaatkan oleh fitoplankton dalam proses fotosintesis (Widigdo dan Soewardi. Kandungan amoniak sangat terkait dengan tingkat oksidasi di dalam air. Menurut Cholik dan Ahmad (1981).9 dengan nilai optimum 8. 1999). Toksisitas amoniak meningkat dengan menurunnya kadar oksigen terlarut. Selain itu pH air yang rendah akan menyebabkan kesulitan dalam ganti kulit dimana kulit menjadi lembek serta kelangsungan hidup menjadi rendah (Chien. Konsentrasi pH air akan berpengaruh terhadap nafsu makan udang dan reaksi kimiawi di dalam air. 1989). Konsentrasi NH3 yang relatif aman untuk udang adalah di bawah 0. . Amoniak merupakan salah satu hasil sampingan dari proses perombakan bahan organik di dalam air yang bersifat racun. amonia merupakan penyebab yang secara langsung dapat menurunkan sintasan.4 – 8. 1992).15 baik pada pH 6 – 9 (Boyd.

B.16 BAB III METODE PENELITIAN A. Kecamatan Segeri Mandalle Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan Provinsi Sulawesi Selatan. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan selama kurang lebih 1 bulan (Januari sampai dengan Februari 2012) di Laboratorium Politeknik Pertanian (Politani) Negeri Pangkep. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali sehingga diperoleh 15 unit satuan percobaan. 1989). yaitu suatu metode yang digunakan untuk mendapatkan datadata yang dilakukan dengan percobaan di laboratorium dan pengamatan secara langsung dan sistematis terhadap kejadian-kejadian obyek yang diteliti (Sudjana. Metode dan Rancangan Penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen laboratoris. Tata letak satuan percobaan setelah di acak dapat dilihat pada gambar berikut : B2 D2 A2 C2 B1 E3 C3 A1 E1 D3 D1 B3 E2 A3 C1 .

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nama Benih udang putih (PL7) Pakan Chironomus sp Pakan komersil Akuarium Air payau Aerator Saringan Selang Timbangan elektrik Bak fiber glass Keterangan Hewan uji Pakan alami Pakan buatan Wadah percobaan Media uji Aerasi media uji Penyaringan media uji Penyiponan Pengukuran berat larva dan dosis pakan Penampungan hewan dan media uji . Tata Letak Satuan Percobaan Perlakuan yang diujicobakan adalah waktu penggantian pakan alami oleh pakan buatan pada masa percobaan pascalarva udang putih dengan urutan perlakuan sebagaimana tersaji pada tabel berikut : Tabel 1.17 Gambar 3. Bahan dan Alat Penelitian No. Perlakuan Percobaan Perlakuan A Perlakuan B Perlakuan C Perlakuan D Perlakuan E : : : : : Pemberian pakan buatan selama masa percobaan Waktu penggantian pakan alami oleh pakan buatan pada hari ke-7 masa percobaan Waktu penggantian pakan alami oleh pakan buatan pada hari ke-14 masa percobaan Waktu penggantian pakan alami oleh pakan buatan pada hari ke-21 masa percobaan Pemberiaan pakan alami selama masa percobaan C. Bahan dan Alat Penelitian Bahan dan alat dan digunalan pada penelitian ini disajikan pada tabel sebagai berikut : Tabel 2.

Air yang digunakan sebagai media penampungan dan media percobaan diambil dari tempat pembenihan di mana hewan uji tersebut diperoleh. Wadah percobaan berupa akuarium sebanyak 15 unit dengan ukuran 60 x 40 x 30 cm dibersihkan dan dibilas dengan air bersih. Prosedur dan Pengambilan Data Penelitian Penelitian diawali dengan tahap persiapan alat dan bahan penelitian. selanjutnya hewan uji dimasukkan ke dalam akuarium sebanyak 25 ekor per akuarium. Sebelum air tersebut di bawa.18 11 12 13 14 15 Termometer Refraktometer DO Meter pH Meter Spektrofotometer Pengukuran Pengukuran Pengukuran Pengukuran Pengukuran suhu salinitas oksigen terlarut pH amoniak D. Selanjutnya wadah tersebut diatur secara acak menurut tata letak satuan percobaan. Hewan uji ini ditampung selama 1 hari pada bak penampungan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Pascalarva udang putih yang digunakan sebagai hewan uji adalah PL7 sebanyak 375 ekor yang didapatkan dari salah satu tempat pembenihan udang putih di Kabupaten Barru Sulawesi Selatan. Setelah alat dan bahan percobaan telah dipersiapkan. parameter kualitas air masing-masing wadah diukur dan diatur agar parameternya relatif homogen dan berada . terlebih dahulu diukur parameter kualitas airnya sebagai acuan penyesuaian jika terjadi perubahan saat di lokasi percobaan. Sebelum hewan uji dimasukkan. Kemudian masing-masing unit akuarium di isi air dengan volume 50 liter per akuarium dan diaerasi selama 1 hari sehingga kelarutan oksigennya jenuh.

Penyiponan sisa-sisa pakan dilakukan sekali sehari sebelum penggantian air. Kotoran dan sisa pakan yang tertinggal di dasar wadah di sipon setiap hari dan sisa pakan tersebut dihitung sebagai pakan tak terkonsumsi. yaitu 10 – 20% dari berat biomassa (Subjakto. Jika dalam wadah perlakuan masih terdapat pakan yang tersisa.00 siang.00 pagi. Selama percobaan berlangsung kualitas air dipertahankan pada kisaran yang optimal masing-masing paramater. Penggantian air dilakukan setiap hari sebanyak 30 – 40% (Subjakto. Dosis pakan per hari ditentukan berdasarkan pendekatan biomassa. jam 18. maka pemberian pakan dikurangi.19 dalam kisaran yang dapat ditolerir. dan jam 24.00 sore. Pengambilan data penelitian terkait dengan pertumbuhan dan sintasan dilakukan melalui pengukuran berat dan jumlah hewan uji setiap 7 hari selama 28 hari masa percobaan. jam 12. Hewan uji ditimbang sebanyak 5 ekor sampel dari setiap unit percobaan dan hasil pengukuran tersebut selanjutnya digunakan untuk menentukan rata-rata berat individu pada penghitungan laju pertumbuhan. Demikian juga dengan ukuran hewan uji terlebih dahulu diseleksi dan ditimbang agar beratnya relatif seragam dan sekaligus digunakan sebagai data berat awal hewan uji. Jumlah hewan uji juga dihitung dari setiap . 2005) dengan frekuensi pemberian 4 kali dalam sehari (jam 06. Pemberian pakan dilakukan secara ad libitum dengan kombinasi pakan alami dan pakan buatan berdasarkan perlakuan. 2005) dengan air pengganti yang telah dipersiapkan sebelumnya dan dilaksanakan sebelum pemberian pakan pada siang hari.00 malam).

Peubah Penelitian Untuk mengetahui pengaruh waktu penggantian pakan alami oleh pakan buatan terhadap pertumbuhan dan sintasan pascalarva udang putih.x 100% t Dimana : SGR = Specific Growth Rate atau Laju pertumbuhan spesifik harian hewan uji (%/hari) . Pertumbuhan Mutlak : W = Wt – Wo Dimana : W Wt Wo = Pertumbuhan mutlak rata-rata hewan uji (gram) = Berat rata-rata hewan uji pada akhir percobaan (gram) = Berat rata-rata hewan uji pada awal percobaan (gram) (Effendie. Pertumbuhan Peubah yang diukur sebagai indikator pertumbuhan hewan uji adalah pertumbuhan mutlak dan laju pertumbuhan spesifik harian yang dihitung dengan berpedoman pada rumus sebagai berikut : a. maka peubah atau parameter yang diukur dalam penelitian ini diuraikan sebagai berikut : 1.20 unit percobaan dan hasil perhitungan tersebut selanjutnya digunakan untuk menentukan sintasan. E. Laju Pertumbuhan Spesifik Harian : Ln Wt – Ln Wo SGR = ---------------------------. 2002) b. Parameter kualitas air diukur di tempat percobaan (insitu) dengan alat ukur tertentu dan dilakukan setiap hari.

Sintasan Sintasan atau kelangsungan hidup hewan uji dihitung dengan berpedoman pada rumus sebagai berikut : Nt SR = --------.x 100% No Dimana : SR Nt No = Survival Rate atau sintasan hewan uji (%) = Jumlah hewan uji pada akhir percobaan (ekor) = Jumlah hewan uji pada awal percobaan (ekor) (Effendie. 2002) 2.x 100 Wt – Wo Dimana : FCR Wpkn Wt Wo = Rasio konversi pakan = Jumlah pakan yang dikonsumsi (gram) = Berat hewan uji pada akhir percobaan (gram) = Berat hewan uji pada awal percobaan (gram) (New. 2002) 3.21 Wt Wo t = Berat rata-rata hewan uji pada akhir percobaan (gram) = Berat rata-rata hewan uji pada awal percobaan (gram) = Periode waktu pemeliharaan (hari) (Effendie. Rasio Konversi Pakan Rasio konversi pakan atau Food Convertion Rate (FCR) dihitung dengan berpedoman pada rumus sebagai berikut : Wpkn FCR = ------------------. 1987) 4. Kualitas Air .

Tabel 3. Analisis Data Untuk mengetahui pengaruh waktu penggantian pakan alami oleh pakan buatan terhadap pertumbuhan dan sintasan pascalarva udang putih. maka data dianalisis melalui analisis ragam dengan tingkat kepercayaan 95%. Metode dan Waktu Pengukuran Parameter Kualitas Air No. 1 2 3 4 5 Paramater Suhu (oC) Salinitas (ppt) O2 terlarut (ppm) pH Amoniak (ppm) Alat Ukur Termometer Refraktometer DO Meter pH Meter Spektrofotometer Metode Ukur Insitu Insitu Insitu Insitu Insitu Waktu Ukur Setiap hari Setiap hari Setiap hari Setiap hari Setiap hari F.22 Paramater kualitas air yang digunakan sebagai media uji percobaan diukur dengan alat. 1991). Alat. Data parameter kualitas air ditabulasi dan diintepretasikan secara deskriptif. Jika terdapat perbedaan antar nilai tengah perlakuan. maka data dianalisis lanjut dengan uji Duncan untuk mengetahui beda nyata antar perlakuan (Steel dan Torrie. dan waktu pengukuran sebagaimana yang tersaji pada Tabel 3. metode. Analisis deskriptif bertujuan untuk menggambarkan sifat sesuatu yang tengah berlangsung pada saat penelitian dilakukan dan memeriksa sebab-sebab dan pengaruh dari suatu gejala tertentu (Nazir. . 1998).

and Clay. 2005.M. WP.E.W. DKP. BPBAP. Work in Progress for Public Discussion. W.W. S. 2005.. New York.. Swadaya. C. World Aquaculture Society. Duraippah. Israngkura. Aris Supramono dan Subiyanto. dan U. R. F. Auburn University. Adijaya. Jepara. Udang Vannamei.. Ahmad. Manajemen Pakan dan Pendugaan Populasi Pada Budidaya Udang. Ditjen. Studi Pendahuluan : Pengaruh Starvasi terhadap Pertumbuhan dan Produksi Udang Putih. Herman.T. Lawrence. Jakarta. Effendie.... J. R. 2002. Published by the Consorsium. dan D. Publishing Company Inc. Bulletin Penelitian Perikanan. 2002. 1964..I. Fisiologi Hewan Air. 2003. Triyono. A. 1969.E. C. 1994. dan T. Bogor. Affandi. Evaluation of Belize Aquaculture LTD. H. Sustainable Shrimp Farming: Estimation of Survival Fuction. Y. Yogyakarta. O. F. 1991. Holliday. 1981. The Effect of Salinity on the Eggs and Larvae of Teleostei.. No. Kinne.L. Effendi. A. Bray. Jakarta. Chien. M. Boyd. Pustaka Nusatama. with Observations on the Interaction of IHHN Virus and Salinity.. Water Quality Management for Pond Fish Culture. Riau. Oceanography and Marine Biology Annual. A. The Effect of Salinity on Growth and Survival of Penaeus vannamei. Haliman. Tang. Sae Hae. Boyd. Jurusan MSP FPIK IPB. ES. 1992.A. 31.. The effect of Temperature and Salinity on Marine and Brakhiswater Animals..23 DAFTAR PUSTAKA Adiwidjaya. . Leung-Trujillo J.G. USA Cholik. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Water Quality Requirements and Management for Marine Shrimp Culture. Unri Press. A Superintensive Shrimp Aquaculture System. 2002. 2000. Perikanan Budidaya.R..H. CREED Publicion. Biologi Perikanan. Aquaculture.. Telaah Kualitas Air bagi Pengelolaaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan.

Lotz.24 Liu.Oxford Widigdo.C. Petunjuk Teknis Budidaya Udang Vanname di Tambak. Bogor. Shrimp Disease. . Book Company. 1989.B.F. M. 2008. Ranching and Culture. Petunjuk Teknis Budidaya Udang Vanamei. Situbondo. Abdomen. Sudjana.O. Desain dan Analisis Eksperimen. Feed and Feeding of Fish dan Shrimp. 2002. B dan K. Poernomo.R. Balai Budidaya Air Payau. V. Journal of Shellfish Research. Transmission of White Spot Syndrome Virus (WSSV) to Litopenaeus vannamei from Infected Cephalothorax. CV. Ghalia Indonesia.. Penebar Swadaya. 1991. NewYork Subjakto. J. Juknis. S. Feeding Methods.G. 2005. R. Penerbit Tarsito. Crustacean Farming.I. John Willey and Sons. and D. Tacon. Wickins. J. Edisi Ketiga. Minimum Environmental Potassium for Survival of Pasific White Shrimp Litopenaeus vannamei (Bonne) in Freshwater. Nazir. W. 2005. 2002... 1987. 1987. A. Perkembangan Udang Putih Vannamei (Penaeus vannamei) di Jawa Timur. Lee.. Petunjuk Teknis Pembenihan Udang Vannamei. Balai Budidaya Air Payau. 1989.J. 2003.M. Torrie. Situbondo.D and J. Suriawan... Makassar. McGraw-Hill. Vol. Jakarta... 7/B. 1998. Scarpa.. Standard Operation Procedure (SOP) Budidaya Udang Windu di Proyek Pandu TIR Karawang. Rome. C. Makanan Ikan. FAO-Italy. The Field Document No. Shervette. Jakarta.A. New. Soemardhati.. McGraw. FAO. Blackwell Science. Principles of Warmwater Aquaculture. Prevention and Treatment. 45. INC. Suprapto. Soewardi.. M. dan A. Kerjasama PPTIR Karawang dengan FPIK IPB. Steel.H. Mudjiman. 1979. America Soybean Association. Bandar Lampung Soto. United Nations Development Programme. Metode Penelitian. The Nutrition and Feeding of Farmed and Shrimp. Disampaikan dalam Temu Bisnis Udang. Italy. 1999. and J. London Stickney.R. A. W. 19 Oktober 2002. or Whole Shrimp Cadaver. Biotirta. R. Bandung. Ahmad. 2001. Soybeans. Principles and Procedures of Statistics. 2006. USA. Disease of Aquatic Organisms.

R. The Oceanic Institute.. Honolulu.25 Wootton. and J. Sweeney. The Oceanic Institut Shrimp Manual. Wyban. 1995. Ecology of Teleost Fishes. Intensif Shrimp Production Technology. Chapman and Hall. New York. J.N. .A. J. 1991.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->