P. 1
PENGERTIAN MUDHARABAH

PENGERTIAN MUDHARABAH

|Views: 336|Likes:
Published by Mizs Nur

More info:

Published by: Mizs Nur on Mar 31, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/13/2014

pdf

text

original

PENGERTIAN MUDHARABAH Oleh: M. Yusran Kamarullah Syarikah mudharabah memiliki dua istilah.

Yaitu mudharabah dan qiradh sesuai dengan penggunaannya di kalangan kaum Muslimin. Penduduk Iraq menggunakan istilah mudharabah untuk menyebut transaksi syarikah ini. Disebut sebagai mudharabah, karena diambil dari kata dharb di muka bumi. Yang artinya, melakukan perjalanan yang umumnya untuk berniaga dan berperang. Allah berfirman. “Artinya : (Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu) orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah ; dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah” [Al-Muzzammil : 20] Ada juga yang mengatakan diambil dari kata dharb (mengambil) keuntungan dengan saham yang dimiliki. Dalam istilah bahasa Hijaz, disebut juga dengan qiradh, karena diambil dari kata muqaradhah, yang artinya penyamaan dan penyeimbangan. Seperti yang dikatakan. “Dua orang penyair melakukan muqaradhah”, yakni saling membandingkan syair-syair mereka. Adapun yang dimaksud dengan qiradh disini, yaitu perbandingan antara usaha pengelola modal dan modal yang dimiliki pihak pemodal, sehingga keduanya seimbang. Ada juga yang menyatakan, bahwa kata itu diambil dari qardh, yakni memotong. Tikus itu melakukan qardh terhadap kain, yakni menggigitnya hingga putus. Artinya, dalam masalah ini, pemilik modal memotong sebagian hartanya untuk diserahkan kepada pengelola modal, dan dia juga akan memotong keuntungan usahanya. [1] Sedangkan menurut para ulama, istilah syarikah mudharabah memiliki pengertian, yaitu pihak pemodal (investor) menyerahkan sejumlah modal kepada pihak pengelola untuk diperdagangkan. Dan pemodal berhak mendapat bagian tertentu dari keuntungan. [2] Dengan kata lain, mudharabah adalah akad (transaksi) antara dua pihak. Salah satu pihak menyerahkan harta (modal) kepada yang lain agar diperdagangkan, dengan pembagian keuntungan di antara keduanya sesuai dengan kesepakatan. [3] Sehingga mudharabah adalah bentuk kerja sama antara dua pihak atau lebih. Dalam hal ini, pemilik modal (shahib al mal atau investor) mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola (mudharib) dengan suatu perjanjian pembagian keuntungan. [4] Bentuk ini menegaskan kerjasama dengan kontribusi 100% modal dari shahib al mal dan keahlian (pengelola) dari mudharib. HUKUM MUDHARABAH DALAM ISLAM Para ulama telah sepakat, sistem penanaman modal ini dibolehkan. Dasar hukum dari sistem jual beli ini adalah ijma ulama yang membolehkannya, seperti dinukilkan Ibnul Mundzir[5], Ibnu Hazm[6], Ibnu Taimiyah[7], dan lainnya. Ibnu Hazm mengatakan, “Semua bab dalam fiqih selalu memiliki dasar dalam Al-Qur‟an dan Sunnah yang kita ketahui –alhamdulillah- kecuali qiradh (mudharabah, -pen). Kami tidak mendapati satu dasarpun untuknya dalam Al-Qur‟an dan Sunnah. Namun dasarnya adalah ijma yang benar. Yang dapat kami pastikan, hal ini ada pada zaman Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam, beliau mengetahui dan menyetujuinya. Dan seandainya tidak demikian, maka tidak boleh” [8] Berkaitan dengan pandangan Ibnu Hazm tersebut, maka Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengomentari pernyataan Ibnu Hazm, bahwa : [1]. Bukan termasuk madzhab beliau (Ibnu Hazm) membenarkan ijma tanpa diketahui sandarannya dari AlQur‟an dan Sunnah, dan ia sendiri mengakui bahwa ia tidak mendapatkan dasar dalil mudharabah dalam AlQur‟an dan Sunnah. [2]. Ibnu Hazm tidak memandang, bahwa tidak adanya yang menyelisihi adalah ijma, padahal ia tidak memiliki disini kecuali ketidak-tahuan adanya yang menyelisihi [3]. Ibnu Hazm mengakui persetujuan Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam setelah mengetahui sistem mu‟amalah ini. Taqrir (persetujuan) Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam termasuk satu jenis sunnah, sehingga (pengakuan Ibnu Hazm) tidak adanya dasar dari sunnah menentang pernyataan beliu ini tentang taqrir ini. [4]. Jual beli (perdagangan) dengan keridhoan kedua belah pihak, yang ada dalam Al-Qur‟an meliputi juga qiradh dan mudharabah. [5]. Madzhab Ibnu Hazm menyatakan harus ada nash dalam Al-Qur‟an dan Sunnah atas setiap permasalahan, lalu bagaimana disini meniadakan dasar dalil qiradh dalam Al-Qur‟an dan Sunnah. [6]. Tidak ditemukannya dalil tidak menunjukkan ketidak adaannya. [7]. Atsar yang ada dalam hal ini dari Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam tidak sampai pada derajat pasti (qath‟i) dengan semua kandungannya, padahal Ibnu Hazm memastikan persetujuan Nabi dalam permasalahan ini.[9] Demikian juga Syaikh Al-Albani mengkritik pernyataan Ibnu Hazm di atas dengan menyatakan, ada beberapa bantahan (atas pernyataan beliau). Yang terpenting, bahwa asal dalam mu‟amalah adalah boleh, kecuali ada nash (yang melarang). Berbeda dengan ibadah, pada asalnya, dalam ibadah dilarang kecuali ada nash, sebagaimana dijelaskan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Qiradh dan mudharabah jelas termasuk yang pertama. Juga ada nash dalam Al-Qur‟an yang membolehkan perdagangan dengan keridhaan, dan ini mencakup qiradh. Ini semua cukup sebagai dalil kebolehannya dan dikuatkan dengan ijma yang beliau akui sendiri. [10] Dibagian lain, Ibnu Taimiyyah menyatakan : “Sebagian orang menjelaskan beberapa permasalahan yang ada ijma di dalamnya, namun tidak memiliki dasar nash seperti mudharabah. Hal itu tidak demikian. Mudharabah sudah masyhur di kalangan bangsa Arab Jahiliyah, apalagi pada bangsa Quraisy. Karena umumnya, perniagaan merupakan pekerjaan mereka. Pemilik harta menyerahkan hartanya kepada pengelola (Umaal). Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam sendiri pernah berangkat membawa harta orang lain sebelum kenabian, seperti memperdagangkan harta Khadijah. Juga kafilah dagang yang dipimpin Abu Sufyan, kebanyakan dengan sistem

” (namun) Umar tetap berkata. Maka syariat membolehkan adanya kerja sama ini untuk bisa saling mengambil manfaat. hanya terdiam saja. Ketika Islam datang. Sementara itu. wahai Amirul Mukminin. Kalau uang itu berkurang atau habis. Kedua : Mudharabah Al-Muqayyadah (Mudharabah Terbatas) Dalam hal ini pemilik modal (investor) menyerahkan modal kepada pengelola dan menentukan jenis usaha. maka beliau menyerahkan uang itu kepada mereka dan menulis surat untuk disampaikan kepada Umar bin Al-Khaththab. “Kami suka (dengan hal) itu”. tempat. Abdullah tetap diam. pemilik modal (shahib al mal atau investor) menyerahkan modal kepada pengelola tanpa pembatasan jenis usaha. [13] Kaum Muslimin sudah terbiasa melakukan kerja sama semacam itu hingga jaman sekarang ini. ataupun pihak-pihak yang dibolehkan bertransaksi dengan mudharib. ataupun dengan siapa pengelola bertransaksi. kemudian kalian jual di kota Al-Madinah. kecuali untuk mewujudkan kemaslahatan dan menolak kerusakan. “Tidak”. Beliau berkata. Umar segera mengambil modal beserta setengah keuntungannya. namun memiliki kemampuan untuk mengelola dan mengembangkannya. Maka dengan demikian terwujudlah kerja sama harta dan amal. Mereka berkata. Rasulullah menyetujuinya dan para sahabatpun berangkat dalam perniagaan harta orang lain secara mudharabah. Shahib al-mal (investor) memanfaatkan keahlian mudharib (pengelola). Dan tidak setiap orang yang mempunyai harta mampu berniaga. tempat dan waktu. mereka lewat di hadapan Abu Musa Al-Asy‟ari. karena cara ini sudah digunakan bangsa Quraisy secara turun-temurun. di antaranya yang diriwayatkan dalam Al-Muwattha [12] dari Zaid bin Aslam. agar Amirul Mukminin itu mengambil dari mereka uang yang dia titipkan. yakni Gubernur Bashrah. maka mudharabah dibenarkan dengan sunnah” [11] Hukum ini. kemudian beliau mengetahui. Sunnah disini adalah perkataan. [14] RUKUN –RUKUN MUDHARABAH Ijab dan qabul bagi mereka yang layak untuk melakukan transaksi ini dan tidak disyaratkan dengan lafaz tertentu akan tetapi boleh dengan kalimat yang menunjukkan Pada ma‟na mudharabah seperti yang sudah dijelaskan dalam kaidah fiqhiyah Al-I‟brotu lilmaqashid walma‟ani la lil alfaz walmabani. di berbagai masa dan tempat tanpa ada ulama yang menyalahkannya. Ketika beliau menyetujui. bila pengembangan modal dan peningkatan nilai suatu modal merupakan salah satu tujuan yang disyariatkan. sementara Ubaidillah langsung angkat bicara : “Tidak sepantasnya engkau berbuat demikian.mudharabah dengan Abu Sufyan dan selainnya. Begitu juga tidak setiap yang memiliki keahlian berdagang mempunyai modal. dari zaman jahiliyah hingga zaman Nabi. Ketika kembali. “Kalau aku bisa melakukan sesuatu yang berguna untuk kalian. Oleh sebab itu. Aku memimjamkannya kepada kalian. pasti akan aku lakukan”. Beliau berkata. sementara Ubaidillah tetap membantah. Allah Subhanahu wa Ta‟ala tidak mensyariatkan satu akad. Pertama : Mudharabah Al-Muthlaqah (Mudharabah Bebas} Adalah sistem mudharabah yang dalam hal ini. dan keuntungannya kalian ambil”. sehingga ia memberi kalian pinjaman? Kembalikan uang itu beserta keuntungannya”. Ini ada uang dari harta Allah yang akan aku kirimkan kepada Amirul Mukminin. Maka masing-masing kelebihan itu dibutuhkan oleh pihak lain. Beliau menyambut mereka berdua dan menerima mereka sebagai tamu dengan suka cita. Jenis ini memberikan kebebasan kepada mudhaarib (pengelola modal) untuk melakukan apa saja yang dipandang dapat mewujudkan kemaslahatan. JENIS-JENIS MUDHARABAH Para ulama membagi mudharabah menjadi dua jenis. dan beliau Shallallahu „alaihi wa sallam tidak melarangnya. untuk kalian belikan sesuatu di Iraq ini. Umar menjawab. Ada juga seseorang yang tidak memiliki harta. perbuatan dan persetujuan beliau. namun tidak mampu mengelolanya. mudharabah ini disyariatkan oleh Allah demi kepentingan kedua belah pihak. “berikan uang itu semuanya”. [15] . Kalian kembalikan modalnya kepada Amirul Mukminin. Islam mensyariatkan kerja sama mudharah untuk memudahkan seseorang. karena sebagian mereka memiliki harta.Tiba-tiba salah seorang di antara pegawai Umar berkata : “Bagaimana bila engkau menjadikannya sebagai investasi. bahwa ia menceritakan : Abdullah dan Ubaidillah bin Umar bin Al-Kaththab pernah keluar dalam satu pasukan ke negeri Iraq. pasti kami akan bertanggung jawab. melakukan dan tidak mengingkarin HIKMAH DISYARIATKANNYA AL-MUDHARABAH Tentulah sangat bijak. mereka menjual barang itu dan mendapat keuntungan. Ini merupakan konsensus yang diyakini umat. modal bisa berkembang hanya dengan dikelola dan diperniagakan. Adapaun Abdullah. Ketika mereka membayarkan uang itu kepada Umar. dari ayahnya. lantas Umar berkata : “Apakah setiap anggota pasukan diberi pinjaman oleh Abu Musa seperti yang diberikan kepada kalian berdua?” Mereka menjawab. kemudian beliau berkata : “Sepertinya aku bisa melakukannya. Aku jadikan itu sebagai investasi”. Sesampainya di kota Al-Madinah. “Ya. wahai Umar?”. Sedangkan mudharib (pengelola) memanfaatkan harta. sementara Abdullah dan Ubaidillah mengambil setengah keuntungan sisanya. “Apakah karena kalian adalah anak-anak Amirul Mukminin. juga dikuatkan dengan adanya amalan sebagian sahabat Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam. waktu.fiqh sunnah.

SYARAT DALAM MUDHARABAH [16] Pengertian syarat dalam mudharabah adalah. Apabila terdapat keuntungan. dan kapan pengelola ingin keluar dari qiradh. Syarat ini terbagi tiga : [1]. Ia berakhir dengan pembatalan salah seorang dari kedua belah pihak –siapa saja-. dengan kematian. Atau menentukan nilai satuan uang tertentu sebagai keuntungan. Contohnya. maka keduanya membagi keuntungan tersebut sesuai dengan kesepakatan. Syarat yang bukan dari kemaslahatan dan tuntutan akad.187 Perbedaan antara keduanya terletak pada pembatasan penggunaan modal sesuai permintaan investor. karena terdapat kemaslahatan dan tidak menyelisihi tuntutan maupun maksud akad perjajian mudharabah. Transaksi mudharabah ini juga bisa berakhir dengan meninggalnya salah satu pihak yang melakukan transaksi. dan yang satunya untuk pengelola. pembatasan tersebut berguna dan sama sekali tidak menyelisihi dalil syar‟i. Karena tidak ada syarat keberlangsungan secara terus menerus dalam transaksi usaha semacam ini. [2]. karena hak pengelola ada pada keuntungan. [20] 2.Mudharabah ini berakhir dengan pembatalan dari salah satu pihak. Pertama. Apabila pengelola meminta untuk menjualnya. Syarat yang meniadakan/menghapus tuntutan konsekwensi akad. kecuali dengan harga modal atau di bawah modalnya. atau mensyaratkan keuntungan satu dari dua usaha yang dikelola. maka masing-masing dari kedua belah pihak boleh memberhentikannya kapan saja dan tidak membutuhkan kehadiran dan keridhaan mitranya. dan tidak tampak kecuali dengan dijual. karena mengakibatkan keuntungan yang tidak jelas dari salah satu pihak. pemilik modal mensyaratkan kepada pengelola agar tidak membawa pergi harta tersebut ke luar negeri atau membawanya ke luar negeri. Yaitu syarat yang tidak menyelisihi tuntutan akad dan tidak pula menyelisihi tujuannya. Namun bila tidak tampak keuntungan. Syarat Yang Shahih (Dibenarkan). Menurut kesepakatan para ulama. Namun yang rajih. atau melakukan perniagaannya khusus di negeri tertentu atau jenis tertentu yang mudah didapatkan. [3]. Dengan demikian maka akadnya batal. karena merupakan hak milik kedua belah pihak. maka pemilik modal tidak dipaksa. seperti mensyaratkan tidak membeli sesuatu atau tidak menjual sesuatu atau tidak menjual.. Masing-masing pihak bisa membatalkan transaksi. sehingga wajib ditunaikan.Apabila sang a‟mil tidak bisa menjaga kemaslahatan harta sang pemilik atau keluar dari hakikat akad yang telah disepakati[21] . seperti mensyaratkan kepada pengelola untuk memberikan mudharabah kepadanya dari harta yang lainnya. Apabila berhenti dan harta berbentuk barang. Syarat ini disepakati ketidak benarannya. syarat-syarat yang demikian itu dibenarkan dan wajib dipenuhi. tidak memiliki keuntungan. karena hanya sekedar ijtihad dan dilakukan berdasarlkan kesepakatan dan keridhaan kedua belah pihak. maka berakhirlah usaha tersebut” [18] Imam Syafi‟i menyatakan : “Kapan saja pemilik modal ingin mengambil modalnya sebelum diusahakan dan sesudahnya. syarat-syarat yang ditetapkan salah satu pihak yang mengadakan kerjasama berkaitan dengan mudharabah. Kedua : Syarat Yang Fasad (Tidak Benar).Persyaratan pada jenis yang kedua ini diperselisihkan para ulama mengenai keabsahannya. Keuntungan usaha ini untuk pengelola modal. serta memiliki maslahat (kebaikan) untuk akad tersebut. maka pemilik modal dipaksa untuk menjualnya. Apabila meninggal atau gila atau hilang akal. meliputi dua syarat. maka harta tersebut diambil oleh pemilik modal. Demikianlah yang dirajihkan oleh penulis kitab Al-Fiqh Al-Muyassar halaman. Syarat ini disepakati kerusakannya. yaitu mencari keuntungan. lalu keduanya sepakat menjualnya atau membaginya. gila atau dibatasi karena idiot. sedangkan pemilik modal menolak dan tampak dalam usaha tersebut ada keuntungan. Hal itu. kapan saja dikehendaki. maka ia keluar darinya” [19] Apabila telah dihentikan dan harta (modal) utuh. maka ia seperti wakil dan tidak ada bedanya antara sebelum beraktivitas dan sesudahnya” [17] Sedangkan Imam An-Nawawi menyatakan : Penghentian qiradh dibolehkan. karena menyelisihi tuntutan dan maksud akad kerja sama. atau bahkan tidak mendapatkan keuntungan sama sekali. atau karena ia gila atau idiot. BERAKHIRNYA USAHA MUDHARABAH 1. Imam Ibnu Qudamah (wafat th 620H) menyarakan : “Mudharabah termasuk jenis akad yang diperbolehkan. karena ia beraktivitas pada harta orang lain dengan seizinnya. Misalnya mensyaratkan kepada pengelola pembagian keuntungan yang tidak jelas. karena ia diawalnya adalah perwakilan dan setelah itu menjadi syarikat. Apabila terdapat keuntungan. maka diperbolehkan. Syarat yang berakibat tidak jelasnya keuntungan.

Cet II.cit. op. cit (7/133) [3]. bacani. op. Beirut (5/294) [11].cit. Catatan tentang pelajaran Fiqih dari Syaikh Prof. karya Ibnu Utsaimin. Cet II. __________ Foote Note Foote Note [1]. 687 dan dibawakan juga oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu Fatawa (19/196) [13]. karya Prof Dr Abdullag bin Muhammad Ath-Thayar. Riyadh. kita dapat kembali memotivasi diri untuk belajar dan mengetahui tata aturan dalam mu‟amalah sehari-hari. karya Ibnu Hazm. tahqiq Abu Bilal Jamal Abdul Aal. Kairo.185.cit. Al-Mughni. tahqiq Abdullah bin Abdulmuhsin At-Turki. Penerbit Hajr (7/133).hal 114. hal. op. hal. Beirut. hal. hal. dan Kitab Al-Mughni.cit (7/172] [21. karya Prof Dr Abdullah bin Muhammad Ath-Thayar. karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. op.37 [5]. (7/172) [18].alfhu lil I‟lami al arabi Prev: Nikah dan ThalaQ reply 2 CommentsChronological Reverse Threaded . op. Th 1425H. hal.cit (7/175-177) [17]. Cet. hal. Bagian Fiqh Mu‟amalah.semoga yang sedikit ini bermanfaat .cit. 91-92 [10]. Muassasah Al-Jurais.]Fiqh sunnah.Demkian. Th 1412H.hal. Th 1405H. I. Al-Fiqhu Al-Muyassar.123 [15].cit (15/176) [19] Ibid (15/191) [20]. I. Al-Mughni.122 [2].186 [16]. Al-Maktab Islami. Mesir (4/266). op. Majmu Syarhu Al-Muhadzab. tanpa tahun dan cetakan.cit. Cet II.cit (7/133) [6]. op. 185. hal. Sehingga seharusnya. op. Hal ini juga diakui oleh PKES (Pusat Komunikasi Ekonomi Syari‟ah) Indonesia dalam buku saku Perbankan Syari‟at. Naqdh Maratib Al-Ijma. Al-Bunuk Al-Islamiyah Baina An-Nadzariyat wa Tathbiq. Th 1419H. Al-Bunuk Al-Islamiyah Baina An-Nadzariyat wa Tathbiq. op. Asy-Syarh Al-Mumti „Ala Zaad Al-Mustaqni.91-92 [9]. Al-Fiqh Al-Muyassar. Th 1423H. Majmu Fatawa (29/101) [8]. op. KSA hal. Al-Mughni. Al-Fiqhu Al-Muyassar. karya Syaikhul Islam yang dicetak sebagai foote note kitab Maratib Al-Ijma. Prof Dr Abdullah bin Muhammad Al-Muthliq dan Dr. Muhammad bin Ibrahim Alimusaa. Al-Bunuk Al-Islamiyah.91 [7]. Irwa Al-Ghalil fi Takhrij Ahadits Manar As-Sabil. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwa Al-Ghalil (5/290-291 [14]. op.cet. Penerbit Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah. Lihat Al-Mughni. 122 [4]. Maratib Al-Ijma.Dr Hamd Al-Hamad tahun ke 4 mata kuliah Hadits di Universitas Islam Madinah. Bab I. Cet. Al-Mughni. Th 1414H. Penerbit Dar Ibnu Al-Haitsam. hal. Majmu Fatawa (19/195-196) [12]. Maratib Al-Ijma. karya Ibnu Qudamah. hal.ke 2. Dalam kitab Al-Qiradh. tampaklah disini keadilan syari‟at Islam yang sangat memperhatikan keadaan kedua belah pihak yang melakukan mudharabah. Dari penjelasan singkat ini.cit.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->