Mudhorobah

Ikhwan Abidin Basri, MA Pengertian Secara bahasa mudhorobah berasal dari akar kata dhoroba - yadhribu - dhorban yang bermakna memukul. Dengan penambahan alif pada dho', maka kata ini memiliki konotasi "saling memukul" yang berarti mengandung subjek lebih dari satu orang. Para fukoha memandang mudhorobah dari akar kata ini dengan merujuk kepada pemakaiannya dalam alQur'an yang selalu disambung dengan kata depan "fi" kemudian dihubungkan dengan "alardh" yang memiliki pengertian berjalan di muka bumi. Ini merujuk kepada usaha perniagaan pada zaman dahulu yang dilakukan dengan cara berjalan ke tempat-tempat yang jauh, misalnya dari Makkah ke Syam dan ke Yaman. Mudhorobah merupakan bahasa yang biasa dipakai oleh penduduk Irak sedangkan penduduk Hijaz lebih suka menggunakan kata "qirodh" untuk merujuk pola perniagaan yang sama. Mereka menamakan qirodh yang berarti memotong karena si pemilik modal memotong dari sebagian hartanya untuk diniagakan dan memberikan sebagian dari labanya. Kadangkadang juga dinamakan dengan muqorodhoh yang berarti sama-sama memiliki hak untuk mendapatkan laba karena si pemilik modal memberikan modalnya sementara pengusaha meniagakannya dan keduanya sama-sama berbagi keuntungan. Dalam istilah fikih muamalah, mudhorobah adalah suatu bentuk perniagaan di mana si pemilik modal menyetorkan modalnya kepada pengusaha, yang selanjutnya disebut mudhorib, untuk diniagakan dengan keuntungan akan dibagi bersama sesuai dengan kesepakatan dari kedua belah pihak sedangkan kerugian, jika ada, akan ditanggung oleh si pemilik modal. Mudhorobah merupakan jenis akad tidak lazim yaitu suatu akad di mana salah satu pihak yang melaksanakan kontrak ini dapat membatalkan kontraknya tanpa harus menunggu persetujuan dari pihak yang lain. Mudhorobah dalam hal ini mirip wadiah. Landasan Syariah Para ulama sepakat bahwa landasan syariah mudhorobah dapat ditemukan dalam al-Qur'an, as-Sunnah, Ijma' dan qiyas. 1. Al-Qur'an " Dan orang-orang yang lain berjalan di muka bumi mencari keutamaan Allah" Q. S. alMuzammil : 20. Ayat ini menjelaskan bahwa mudhorobah ( berjalan di muka bumi) dengan tujuan mendapatkan keutamaan dari Allah (rizki). Dalam ayat yang lain Allah berfirman : " Maka apabila sholat (jum'at) telah ditunaikan, maka bertebaranlah di muka bumi dan carilah keutamaan Allah". Q.S al-Jum'ah : 10. Ayat-ayat senada masih banyak ditemukan dalam alQur'an yang dipandang oleh para fukoha sebagai basis dari diperbolehkannya mudhorobah. Dipandang secara umum, kandungan ayat di atas mencakup usaha mudhorobah karena mudhorobah dilaksanakan dengan berjalan-jalan di muka bumi dan ia merupakan salah satu bentuk mencari keutamaan Allah. 2. As-Sunnah Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa Abbas bin Abdul Muttholib apabila membayarkan hartanya untuk mudhorobah memberikan persyaratan kepada sang Mudhorib agar tidak menuruni lembah atau membeli binatang yang berparu-paru basah. Jika ia tidak mengindahkan persyaratan ini, maka ia harus menanggung resiko yang terjadi karenanya. Persyaratan ini disampaikan kepada Rasulullah SAW dan beliau membolehkannya." H. R. Thabrani dalam al-Ausath dengan sanad yang lemah. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Shuhaib bahwa Rasulullah SAW bersabda : Tiga perkara

Misalnya dalam ijab si pemilik modal mengatakan " Aku membayar harta ini sebagai modal mudhorobah dan keuntungan akan kita bagi 60% dan 40%". Tidak disyaratkan mudhorobah harus dilakukan oleh seorang Muslim. Qiyas Mudhorobah dapat dipandang sama dengan Musaqoh yang memang dihajatkan dalam masyarakat. Syarat-syarat Mudhorobah Persyaratan dalam akad mudhorobah dapat merujuk kepada pihak yang melakukan akad seperti pemodal dan pengusaha. Sementara itu mudhorobah muqoyyadah adalah jenis mudhorobah yang pada akadnya dicantumkan persyaratan-persyaratan tertentu misalnya hanya boleh berusaha di kota tertentu.yang di dalamnya terdapat berkah yaitu jual beli secara tangguh. Sedangkan menurut jumhur ulama rukun mudhorobah ada tiga macam yaitu adanya pemilik modal dan mudhorib. Misalnya si pemilik modal menarik kembali modalnya atau pengusaha mengembalikan modalnya kepadanya. dalam waktu tertentu atau dengan orang tertentu. 3. Rukun Mudhorobah Menurut madzhab Hanafi rukun mudhorobah itu ada dua yaitu Ijab dan Qobul. Ijma' Diriwayatkan dari sejumlah sahabat bahwa mereka membayarkan harta anak yatim secara mudhorobah dan tak seorangpun ada yang menyangkal hal itu. Pembatalan semacam ini tidak menganggu sama sekali substansi mudhorobah. Ikatan-ikatan ini membuat mudhorobah menjadi terikat dan sempit. untuk jual beli barang tertentu. Ini disebabkan karena ada orang yang punya kebun atau tanah pertanian tetapi tidak memiliki kehlian untuk merawatnya dan memerlukan orang lain yang lebih ahli untuk mengelola kebun dan tanamannya itu. Yang dimaksud dengan mudhorobah muthlaqoh adalah konttrak mudhorobah yang tidak memiliki ikatan tertentu. ia dapat diusahakan oleh orang-orang non-Islam. Hadis inipun sanadnya lemah. adanya modal. Kalimat ini tidak mengandung ikatan apa-apa seperti tidak menyebutkan usaha apa yang akan dikerjakan dengan modal mudhorobah dan ketentuan-ketentuan lain. 4. Hal ini jelas merupakan suatu bentuk ijma' di kalangan para sahabat. Dengan demikian dapat dipertemukan sinerji antara pemilik kebun dan pengelolanya kemudian berbagi keuntungan dari hasil yang telah dipetik. Hal ini dikarenakan sang mudhorib mengelola modal orang lain dan ini mengandung makna perwakilan. Adapun syarat utama bagi pemodal dan mudhorib (Aqidaan) adalah keduanya harus memiliki kemampuan untuk diwakili dan mewakilkan. masing-masing pihak masih memiliki hak untuk membatalkan akad itu. Jenis-jenis mudhorobah Secara umum mudhorobah dapat dibagi menjadi dua macam golongan yaitu mudhorobah muthlaqoh dan mudhorobah muqoyyadah. Sifat akad mudhorobah Kontrak mudhorobah sebelum diimplementasikan secara nyata dalam usaha oleh sang mudhorib belum menjadi akad lazim. maka ketika itu ia berubah menjadi akad lazim dan tidak diperbolehkan salah satu pihak untuk membatalkan tanpa persetujuan dari pihak yang lain. . mudhorobah dan mencampur gandum dan jelai untuk kepentingan keluarga dan bukan untuk dijual". Artinya ketika akad sudah disetujui oleh si pemilik modal dan pengusaha. modal yang disetor dan keuntungan yang akan diraih. kerja dan keuntungan dan adanya shighot yaitu Ijab dan Qobul. Hanya saja ketika akad ini sudah nyata-nyata dilaksanakan oleh sang mudhorib.

Kalau ia muthlaqoh. Jika memang dalam akad tersebut tidak dijelaskan masing-masing porsi. yang pertama adalah bahwa modal itu harus berupa mata uang yang berlaku di pasaran. Masing-masing pihak harus mendapatkan penjelasan yang benar. Dalam hal mudhorobah muqoyyadah. Kedua. keuntungan harus dapat diketahui ukurannya. Ia harus tunduk kepada persyaratan dari pihak pemodal. Jika tidak diketahui ukurannya akan menimbulkan ketidakjelasan dalam pembagian keuntungan. Ketentuan hukum tentang pengelolaan mudhorib dalam mudhorobah ada tiga macam. Persyaratan yang berkaitan dengan keuntungan antara lain. maka sang mudhorib bebas untuk melakukan usaha selama hal itu masih dalam batas-batas yang diperbolehkan oleh syara'. Tidak diperbolehkan modal yang disetor itu dalam bentuk barang baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak. Bilamana tidak terjadi penyerahan modal kepadanya maka tidak ada makna bagi mudhorobah karena tidak mungkin diimplementasikan secara nyata. Ketiga. Pertanyaan.. persyaratan ini batal tetapi tidak membatalkan hukum mudhorobah yang sedang diimplementasikan. Tidak diperbolehkan pembagian keuntungan dengan menyatakan nilai nominal misalnya Rp.000. 80. hal-hal yang tidak boleh dilaksanakan kecuali telah mendapatkan izinnya secara terang seperti . modal yang disetor harus diserahkan kepada sang mudhorib.bagi sang mudhorib karena hal itu belum tentu mencerminkan keuntungan sebenarnya yang diraih. maka kedudukan hukumnya adalah sebagai orang yang diberi amanat seperti halnya dalam wadiah. terang dan memadai tentang porsi keuntungannya. Bila mana ia melakukan transaksi apapun dalam usaha ini.Persyaratan yang berkaitan dengan modal yang disetor antara lain. Hal ini dikarenakan akad mudhorobah mengandung pengertian pembagian keuntungan 50% dan 50% karena ia merupakan bentuk dari musyarokah yang menghendaki persamaan dalam porsi. pertama. Kedua. Kedua.. Misalnya si pemodal mengatakan " Niagakan hartaku ini dengan mudhorobah dan kamu dapat memanfaatkan pendapatmu sendiri di dalamnya atau mewakilkannya kepada orang lain". Seandainya modal itu berupa barang.bagi si pemodal atau Rp. hal-hal yang dapat dilaksanakan oleh mudhorib di mana hal itu dianggap sudah menjadi kebiasaan menurut adat istiadat. Berapapun keuntungan yang direalisasikan dalam mudhorobah. keuntungan merupakan bagian yang dibagi bersama dengan perbandingan yang tegas seperti 30% : 70% atau 40% : 60% misalnya. maka kedudukannya bisa berubah dengan mengacu kepada jenis-jenis mudhorobah yang dipilih. 2. Keempat.000. Ini dimaksudkan agar nilai modal yang disetor itu mudah ditentukan. Kedudukan Hukum Mudhorobah yang Sah 1. 100. yaitu pertama. maka kemungkinannya sulit menentukan nilai yang paling tepat dan berakibat pada ghoror yang mungkin akan menjadi faktor pemicu persengketaan di kemudian hari. Berkaitan dengan pola pengelolaan mudhorobah oleh sang mudhorib. jika dalam akad mudhorobah disyaratkan bahwa kerugian yang timbul akan ditanggung oleh sang mudhorib bagaimanakah hukumnya? Menurut madzhab Hanafi. maka itu semua dilakukan dalam kapasitasnya sebagai seorang wakil. maka pembagiannya menjadi 50% dan 50%. Artinya mudhorobah tetap sah dan tetap dapat dilanjutkan. Bagi sang mudhorib yang mengelola aset pemilik modal. modal yang disetor harus berbentuk uang yang dihadirkan ketika usaha mudhorobah dilakasanakan dan bukan berupa utang atau harta lain yang tidak dapat dihadirkan. Ia menerima titipan dari sang pemilik modal tanpa ada penggantian seperti dalam jual beli. maka sang mudhorib tidak diperbolehkan bergerak leluasa dan bebas memilih peluang usaha yang ada. modal yang disetor harus diketahui ukurannya. Tidak dibenarkan porsi keuntungan ini tidak diterangkan kepada mereka. Ketiga. maka hal itu harus dibagi bersama-sama kepada masing-masing pihak. mewakilkan kepada orang lain dan lain-lain. hal-hal bukan menjadi wilayah kekuasaannya kecuali memang diberikan izin untuk mengelola dengan pendapatnya sendiri. Misalnya melakukan jual beli.

Adapun besarnya beaya operasi ini ditentukan oleh kebiasaan yang berlaku dengan menghindari kemubadziran. Murtadnya si pemilik modal atau terbunuh dalam keadaan murtad. Berkaitan dengan hak-hak mudhorib yang dapat ia nikmati pada saat menjalankan usaha mudhorobah yaitu. beaya operasi dan keuntungan yang disepakati dalam kontrak. Kedua. 3. Apabila ternyata usaha ini tidak mendapatkan keuntungan.id . 1. pertama. Mudhorobah gugur atau batal karena fasakh atau ada larangan untuk mengelola dan ini dinyatakan dalam persyaratan. Yang dimaksud dengan mudhorib melaksanakan mudhorobah yang kedua adalah kenyataan dalam lapangan bilamana sang mudhorib dalam perniagaannya melakukan akad mudhorobah kembali kepada orang lain dengan modal yang ia telah terima dari si pemilik modal. Ini membatalkan mudhorobah karena penyakit gila menghilangkan "ahliah" orang tersebut. Sumber : www. Golongan ini berpendapat bahwa mudhorib pertama tidak bertanggung jawab terhadap modal yang diserahkannya kepada mudhorib kedua kecuali jika yang terakhir ini telah benar-benar melaksanakan perniagaan dan mendapatkan keuntungan atau kerugian. jika memang ada. Sang pemilik modal mendapatkannya sesuai dengan kesepakatan antara dia dan mudhorib pertama. Akad mudhorobah akan berakhir atau batal dengan kejadian-kejadian di bawah ini. sang mudhorib mendapatkan bagian keuntungan yang telah disepakati dalam kontrak jika memang menghasilkan laba. maka hal itu diambilkan dari modal karena merupakan bagian penyusutan dari modal. 3. Hanafiyah tidak membolehkan mudhorib menggunakan modal mudhorobah untuk beaya operasi kecuali diizinkan oleh pemodal. Berkaitan dengan sang pemilik modal. Beaya operasi ini akan diambil dari keuntungan . Mudhorib Melaksanakan mudhorobah yang Kedua.co.tazkia. Hancurnya modal di tangan mudhorib sebelum dapat dilaksanakan kontrak mudhorobah ini. maka mudhorib tidak mendapatkan apa-apa. Mudhorobah berakhir karena akad mudhorobah ini mengandung arti perwakilan dan dalam suatu akad yang menerima perwakilan menjadi gugur atau batal jika yang mewakilan atau yang melaksanakan perwakilan itu meninggal dunia. Jika tidak ada laba. Sedangkan jumhur ulama membolehkannya. Sementara itu bagian keuntungan dari mudhorib dibagi berdua dengan mudhorib yang kecua sesuai dengan porsi bagian yang telah disepakati antara keduanya. Pembagian keuntungan di sini adalah sebagai berikut. 4. Salah satu pihak hilang akal seperti gila.memberikan hibah kepada orang lain. Pembatal Mudhorobah. 4. 2. Meninggalnya salah satu dari orang yang melaksanakan akad seperti meningalnya pemilik modal atau mudhorib. Ini tidak berlaku bagi sang mudhorib. Sudah jelas bahwa ia berhak mendapatkan labanya yang telah ditentukan porsinya di depan pada waktu akan disetujui. Ahliah ialah kemampuan orang untuk dapat dibebani oleh hukum. 5. Menurut madzhab Hanafi hal ini tidak diperbolehkan kecuali jika modal itu diserahkan kepada pemilik modal. Ini membatalkannya karena tidak memungkinkan lagi dilanjutkan implementasi akad mudhorobah karena modalnya tidak ada.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful