P. 1
unud-440-938566202-thesis - final

unud-440-938566202-thesis - final

|Views: 1,609|Likes:

More info:

Published by: Tere Hexa HapisQueen on Mar 31, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/25/2013

pdf

text

original

Penelitian dalam bidang morfologi sudah banyak dilakukan oleh para

linguis. Hal ini tentu saja akan sangat membantu dalam penelitian ini, antara lain

dapat membuka wawasan tentang topik yang sama dan mengetahui sampai sejauh

mana topik ini sudah diteliti. Seperti telah disinggung sebelumnya bahwa hasil

penelitian yang berkaitan dengan morfologi bahasa Perancis khususnya masalah

nominalisasi dengan menggunakan Teori Morfologi Generatif belum ada. Oleh

sebab itu, dianggap perlu untuk meninjau beberapa karya tulis yang membahas

masalah morfologi bahasa Perancis dan sejumlah penelitian Morfologi Generatif

di luar bahasa Perancis. Jadi, pada bagian ini diuraikan hasil-hasil penelitian yang

berkaitan dengan Morfologi Generatif terutama dalam derivasi ataupun afiksasi.

Dalam uraian berikut terkandung cakupan penelitian, teori yang digunakan, proses

analisisnya, dan hasil yang diperoleh.

Pramesti (2008) dalam tesisnya yang berjudul “Adjektiva Derivational

dalam Bahasa Jepang : Sebuah Kajian Morfologi Generatif” mengkaji aturan dan

proses pembentukan adjektiva dalam bahasa Jepang dengan afiks derivasional,

termasuk menganalisis fungsi dan makna, serta mengidentifikasi perbedaan antara

adjektiva turunan dan adjektiva bukan turunan dilihat dari distribusinya dalam

kalimat. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa adjektiva derivasional

10

11

dalam bahasa Jepang dapat dibentuk dengan menggunakan prefiks {fu-, ko-, dan

ka-} dan sufiks {-(i)ta, -rashi, -ppo, dan –teki}. Adjektiva turunan dan adjektiva

bukan turunan berbeda kontribusinya dalam kalimat. Adjektiva turunan hanya

dapat muncul satu kali dalam sebuah kalimat, sedangkan adjektiva bukan turunan

dapat muncul dan menduduki lebih dari satu fungsi sintaksis. Walupun tulisan ini

membahas adjektiva bahasa Jepang, penelitian ini dapat memberikan gambaran

tentang proses derivasi dengan menggunakan teori morfologi generatif sehingga

dapat dijadikan sebagai acuan dalam penulisan penelitian ini.

Simpen (2008) menulis sebuah artikel pada Jurnal Linguistika berjudul

“Afiksasi Bahasa Bali : Sebuah Kajian Morfologi Generatif”. Kajian ini berangkat

dari fenomena kebahasaan, khususnya bahasa Bali dalam bidang morfologi, di

mana sebagian besar kajian morfologi menggunakan Teori Struktural yang dirasa

kurang relevan untuk diterapkan dalam proses pembentukan kata. Misalnya untuk

bentuk mebisan ‘berbus’ dan niyuk ‘menggunakan alat dengan tiyuk/ pisau’ tidak

pernah digunakan dalam percakapan, sedangkan bentuk medokaran ‘berdelman’,

mesepedaan ‘bersepeda’, numbeg ‘mencangkul’ sangat biasa digunakan dalam

bahasa Bali. Sehubungan dengan itu, dalam penelitian ini digunakan Teori

Morfologi Generatif, yaitu teori baru yang dianggap mampu memberikan

penjelasan (explanation adequacy) terhadap fenomena yang ada. Dengan cara ini

diharapkan tidak ada bias dalam proses afiksasi. Prinsip dasar dalam Morfologi

Generatif adalah proses pembentukan kata dapat menghasilkan bentuk wajar,

bentuk potensial, dan bentuk aneh. Mekanisme pembentukan kata biasa melalui

idiosinkresi, penyaringan, dan pemblokan.

12

Teori ini juga mengenal adanya penutur yang ideal, yang secara intuitif

berbekal kemampuan bahasa bawaan. Oleh karena itu, teori ini mampu

menjelaskan bentuk-bentuk potensial dan bentuk-bentuk aneh sejenis niyuk;

nyilet, memotlot, memensil. Halle (1973) dan Aronoff (1976) merupakan dua ahli

yang memberi warna pada penelitian morfologi generatif. Di samping itu, Scalise

(1984) dan Dardjowidjojo (1988) adalah dua ahli yang sangat berperanan dalam

pemahaman teori morfologi generatif, khususnya yang berkembang di Indonesia.

Walaupun bahasa yang digunakan sebagai objek penelitian dalam dua penelitian

di atas tidak serumpun dengan bahasa yang menjadi objek penelitian penulis,

penelitian-penelitian tersebut dapat dijadikan kajian pustaka yang memberi

banyak sumbangan dalam penelitian penulis. Hal itu mengingat pembahasan

proses afiksasi dengan menggunakan teori Morfologi Generatif dapat memberikan

kontribusi dalam penelitian ini yang juga akan membedah proses nominalisasi

adjektiva dengan menggunakan teori tersebut.

Dubois dan Langane (1973: 120) dalam bukunya La Nouvelle Grammaire

du Fran ais mengemukakan bahwa kata yang diperoleh setelah penambahan

sufiks dan setelah melalui suatu proses transformasi kalimat disebut kata

derivasional (mots dérivés). Mereka juga membahas sufiks yang digunakan dalam

transformasi suatu bentuk dasar menjadi grup nomina dapat dibagi menjadi dua

kelompok tergantung dari bentuk dasarnya apakah merupakan bentuk dasar

adjektiva atau participe (suatu bentuk dalam sistem kata kerja bahasa Perancis).

13

Sufiks-sufiks yang ditambahkan pada bentuk adjektiva, antara lain {-at, -

ce, -erie, -esse, -eur, -ie, -ise, -ité, -itude, -isme}, sedangkan sufiks-sufiks yang

digunakan pada bentuk participe atau kata kerja adalah {-age, -e, -ment, -tion,

-ure}. Di dalam buku ini, sama sekali tidak dibahas tentang bagaimana proses

pembentukan kata derivasional dengan menggunakan sufiks-sufiks tersebut,

demikian pula dengan makna yang dihasilkan dari proses derivasi tersebut. Selain

itu, juga tidak disinggung mengenai bentuk derivasi melalui proses konversi.

Namun, buku ini telah memberikan kontribusi yang berarti dalam penelitian ini

dan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam transformasi kalimat dan

menentukan sufiks-sufiks pembentuk nomina.

Kajian berikutnya adalah sebuah artikel pada jurnal Folia Linguistika

dengan judul “The Nominalization of Adjectives in French: From Morphological

Conversion to Categorial Mismatch” oleh Lauwers (2008). Penelitian ini

membahas nominalisasi adjektiva yang terfokus hanya pada nominalisasi dengan

zero derivation atau dengan tanpa penambahan afiks pada bentuk dasarnya.

Contoh le bavard ‘si cerewet (orang)’, l’aveugle ‘si buta (orang), le faux ‘yang

salah’, le vrai ‘kebenaran’. Hal seperti ini juga sering disebut dengan proses

konversi, yaitu perubahan kelas kata tanpa pembubuhan afiks. Penelitian ini

menggunakan pendekatan secara sintaksis dan dianalisis berdasarkan distorsi

kategorial (distortion categorielle). Jadi, dalam penelitian ini tidak diuraikan

mengenai proses nominalisasi adjektiva dengan menggunakan afiksasi.

Kontribusinya dalam penulisan penelitian ini adalah tentang bentuk-bentuk

14

konversi adjektiva menjadi nomina dan makna yang terbentuk dari proses tersebut

sesuai dengan konteks dalam kalimat.

Kajian yang terakhir adalah “Nominalizations and the Structure of

Adjectives” oleh Roy (2007). Dalam artikel ini dipaparkan mengenai struktur

adjektiva dan implikasinya pada nominalisasi adjektiva. Ada dua sumber jenis

adjektiva, yaitu predikatif dan atributif. Adjektiva predikatif adalah adjektiva

yang dalam kalimat memerlukan kata kerja keadaan sebagai penghubung,

sedangkan adjektiva atributif adalah adjektiva yang muncul sebagai modifier dari

nomina yang diterangkannya, seperti diungkapkan pada contoh berikut.

a. She is a beautiful dancer
Adj.atributif
‘Dia adalah seorang penari cantik’
b. The dancer is beautiful

Adj.predikatif

‘Penari itu cantik’

Selanjutnya dikatakan bahwa hanya struktur adjektiva predikatif yang

dapat mengalami nominalisasi. Kemudian dipaparkan mengenai struktur sintaksis

kedua tipe adjektiva tersebut. Setelah itu disebutkan bahwa ada dua kelas nomina

yang dibentuk dari dasar adjektiva, yaitu sebagai berikut.

1. Nomina keadaan (State-nominals)

La popularité de ses chansons m’impressionné

DEF.f.sg popularitas PREP POSS.2pl. N.f.pl.lagu ku.memukau
‘Kepopuleran lagu-lagunya memukauku’

Nomina ini mendeskripsikan suatu keadaan dan memerlukan struktur

argumen serta hanya dapat diderivasikan dari adjektiva predikatif.

15

2. Nomina kualitas (quality-nominals)

La fierté l’ aveugle

DEF.f.sg kebanggan COD-dia buta
‘Kebanggaan membutakan dia’

Sebaliknya, nomina kualitas tidak memerlukan struktur argumen dan

menggambarkan suatu kualitas.

Secara umum penelitian ini cukup menarik terutama tentang struktur

adjektiva dan implikasinya pada nominalisasi, sedangkan kelemahannya adalah

penjelasan mengenai bagaimana proses pembentukan nomina dari adjektiva masih

sangat kurang.

Berdasarkan kajian-kajian di atas, dapat dikatakan bahwa penelitian

mengenai derivasi dalam bahasa Perancis, terutama tentang nominalisasi adjektiva

masih perlu dilakukan untuk menambah keragaman penelitian tentang kajian

morfologi. Penelitian ini memiliki perbedaan dengan penelitian-penelitian

sebelumnya. Dalam dua penelitian pertama, objek bahasanya jelas berbeda

(bahasa Jepang dan bahasa Bali), namun sama-sama menggunakan Teori

Morfologi Generatif untuk menggambarkan proses afiksasi sehingga dapat

dijadikan acuan untuk menganalisis data pada penelitian ini. Pada tiga kajian

berikutnya yang juga membahas proses nominalisasi adjektiva dalam bahasa

Perancis, sejauh ini hanya sebatas mendeskripsikan jenis-jenis afiks derivasional

dan proses derivasi adjektiva menjadi nomina hanya digambarkan secara

struktural. Di samping itu, teori Morfologi Generatif belum pernah diterapkan

dalam proses analisis nominalisasi adjektiva oleh para linguis Perancis.

16

2.2 Konsep

Sebelum pemaparan teori yang akan digunakan dalam penelitian ini,

disampaikan juga konsep dasar yang dianggap relevan sebagai pendukung untuk

dapat lebih memahami topik dan bermanfaat untuk menyamakan persepsi

terhadap istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian ini. Konsep-konsep

tersebut diuraikan berikut ini.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->