ASUHAN KEPERAWATAN ANAK dengan TRAUMA PERKOSAAN Disusun Sebagai Tugas Mata Kuliah Neurobehavior II Dosen Pengampu : Chori

Elsera,S.Kep,Ns.

Disusun Oleh : 1. Anny Lianingsih 2. Deky Kurniawan 3. Ratna Prabandari 4. Ratna Dewi K 5. Indri Puji Astuti 6. Nena Agustina 7. Putri Purnamasari

S1 KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ( STIKES ) MUHAMMADIYAH KLATEN 2011/2012

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang Pelecehan yang berulang sering ditemui pada lebih dari setengah kasus pelecehan seksual di komunitas dan terdapat pada 75% kasus yang ditemukan di klinik. sexual abuse (kekerasan seksual) dikenal pada tahun 70-an dan 80-an. Penelitian lain telah mengarah pada perkiraan kekerasan pada anak yang lebih luas di Inggris, seperti dari Childhood Matters (1996): Sekitar 100 000 anak mengalami pengalaman seksual yang berpotensi mengarah ke seksual abuse (FKUI, 2006). Banyak anak yang mendapat perlakuan kurang manusiawi, bahkan tidak jarang dijadikan objek kesewenangan. Berdasarkan catatan Komisi Perlindungan Anak Indonesia, ada 481 kasus kekerasan anak (2003). Jumlah ini menjadi 547 kasus pada tahun 2004. Dari situ, ada 140 kasus kekerasan fisik, 80 kasus kekerasan psikis, 106 kasus kekerasan lainnya, dan 221 kasus kekerasan seksual. Gambaran paradoks tersebut memancing pertanyaan. Mengapa kekerasan seksual sering menimpa diri anak dan siapa yang paling berpotensi sebagai pelakunya? Di samping dapat menimbulkan dampak yang luar biasa pada diri si korban, kasus kekerasan seksual juga dapat menguji kebenaran dari pernyataan Singarimbun (2004), bahwa modernisasi sering diasosiasikan sebagai keserbabolehan melakukan hubungan seksual (Suda, 2006). Kekerasan seksual (sexual abuse) merupakan kasus yang menonjol yang terjadi pada anak-anak. Dalam catatan Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) pada tahun 1992-2002 terdapat 2.611 kasus (65,8 persen) dari 3.969 kasus kekerasan seksual dialami anak-anak di bawah usia 18 tahun. Dari jumlah itu, 75 persen korbannya adalah anak perempuan. Kasus yang menonjol terutama pemerkosaan (42,9 persen) dengan kejadian terjadi di rumah tinggal (35,7 persen).

Tujuan Penulisan o Tujuan umum Mahasiswa mampu melakukan asuhan keperawatan pada anak dengan sexual abuse
o

Tujuan khusus  Mahasiswa mampu melakukan pengkajian secara menyeluruh, baik bio psiko, sosio  Mahasiswa mampu menemukan masalah keperawatan yang sering dialami oleh penderita sexual abuse

   

Mahasiswa mampu merumuskan diagnosa keperawatan anak yang mengalami retardasi mental Mahasiswa mampu merumuskan tujuan keperawatan untuk mengatasi masalah anak dengan sexual abuse Mahasiswa mampu merumuskan rencana perawatan untuk mengatasi masalah keperawatan yang dialami anak dengan sexual abuse Mampu melakukan penyusunan rencan evaluasi atas tindakan yang akan dilakukan pada anak yang menderita sexual abuse

TINJAUAN TEORI

1. Definisi Sexual Abuse

Penyiksaan seksual (sexual abuse) terhadap anak disebut Pedofilian atau penyuka anakanak secara seksual. Seorang Pedofilia adalah orang yang melakukan aktivitas seksual dengan korban anak usia 13 tahun ke bawah. Penyakit ini ada dalam kategori Sadomasokisme : adalah suatu kecenderungan terhadap aktivitas seksual yang meliputi pengikatan atau menimbulkan rasa sakit atau penghinaan (Pramono, 2009). Kemudian klasifikasi kekerasan/penganiayaan seksual pada anak menurut Resna dan Darmawan (dalam Huraerah, 2006:60) diklasifikasi menjadi tiga kategori, antara lain: perkosaan, incest, dan eksploitasi. Perkosaan biasanya terjadi pada saat pelaku terlebih dahulu mengancam dengan memperlihatkan kekuatannya kepada anak. Incest, diartikan sebagai hubungan seksual atau aktivitas seksual lainnya antarindividu yang mempunyai hubungan dekat, yang perkawinan di antara mereka dilarang, baik oleh hukum, kultur, maupun agama. Eksploitasi seksual meliputi prostitusi dan pornografi (Suda, 2006). Kekerasan seksual (sexual abuse), dapat didefinisikan sebagai perilaku seksual secara fisik maupun non fisik oleh orang yang lebih tua atau memiliki kekuasaan terhadap korban, bertujuan untuk memuaskan hasrat seksual pelakunya. Korban mungkin saja belum atau tidak memahami perlakuan yang dilakukan terhadap dirinya, mereka hanya merasa tidak nyaman, sakit, takut, merasa bersalah, dan perasaan lain yang tidak menyenangkan.

Teori psikoanalitik. atau mengintip kamar tidur/kamar mandi (voyeurism). Perubahan dalam system limbik otak dapat mempengaruhi perilaku agresif pada beberapa individu 2. Kelainan otak. telah dilibatkan pada predisposisi pada perilaku agresif 2. seks oral. baik ikatan genetik langsung maupun karyotip genetik XYY telah diteliti sebagai kemungkinan 4. asetilkolin dan serotonin) dapat memainkan peranan dalam memudahkan dan menghambat impuls-impuls agresif 3. memaksa anak membuka pakaian. Pengaruh genetika. Teori sosiokultural (pengaruh sosial) Pengaruh sosial. Ilmuwan social yakin bahwa perilaku agresif terutama merupakan hasil dari struktur budaya dan social seseorang. exhibitionism. Individuindividu yang dianiaya seperti anak-anak atau yang orang tuanya mendisiplinkan dengan hukuman fisik lebih mungkin untuk berperilaku kejam sebagai orang dewasa 3. Teori pembelajaran. penetrasi vagina/anus menggunakan penis atau benda lain. majalah. dopamine. foto. Berbadai teori psikoanalitik telah membuat hipotesa bahwa agresi dan kekerasan adalah ekspresi terbuka dari ketidakperdayaan dan harga diri rendah.Kekerasan seksual (sexual abuse) pada anak mencakup penganiayaan seksual secara fisik dan non fisik. Sedangkan penganiyaan non fisik diantaranya memperlihatkan benda-benda yang bermuatan pornografi atau aktivitas seksual orang dewasa. eksploitasi anak dalam pornografi (gambar. Kekerasan fisik antara lain menyentuh alat kelamin atau bagian tubuh lain yang bersifat pribadi. Teori psikologis 1. Berbagai kelainan otak mencakup tumor. bermacam-macam neurotransmitter (misalnya epinefrin. . Pengaruh biokimia. Pengaruh-pengaruh social dapat berperan pada kekerasan saat individu menyadari bahwa kebutuhan dan hasrat mereka tidak dapat dipenuhi melalui cara-cara yang lazim dan mereka mengusahakan perilakuperilaku kejahatan dalam suatu usaha untuk memperoleh akhir yang diharapkan. Pengaruh neurofisiologis. Beberapa penyelidikan telah melibatkan herediter sebagai komponen pada predisposisi untuk perilaku agresif seksual. sampai tindak perkosaan. Teori biologis 1. norepinefrin. Etiologi/Penyebab Menurut Townsend (1998) factor yang predisposisi (yang berperan dalam pola penganiayaan anak (seksuak abuse) antara lain: 1. film. Menurut Freewebs (2006) kekerasan seksual (sexual abuse) pada anak sering muncul dalam berbagai kondisi dan lingkup sosial. trauma dan penyakitpenyakit tertentu (misalnya ensefalitis dan epilepsy). 2. buku). slide. yang timbul bila kebutuhan-kebutuhan masa anak terhadap kepuasan dan keamanan tidak terpenuhi 2. Teori ini mendalilkan bahwa perilaku agresif dan kekerasan dipelajari dari model yang membawa dan berpengaruh.

Walaupun berbeda-beda pada setiap kasus. beberapa kali dalam periode berdekatan. 5—11 Juni 2005:14) menulis beberapa pemicu terjadinya pencabulan terhadap anak. Ada beberapa pandangan berbeda penyebab kekerasan seksual yang menimpa anak. Sementara Magdalena Manik. Ketiga. melainkan melalui beberapa tahapan antara lain : . aktivis Forum Sayang Anak. pelaku tidak tahan melihat kemontokan tubuh anak perempuannya. Psikopatologi Menurut Tower (2002) dalam Maria (2008) kekerasan seksual pada anak dapat terjadi satu kali. Pertama. karena terpengaruh film porno (Atmadja. 2005:139 dalam Suda. dan organisasi lainnya. tidak memiliki pekerjaan tetap dan penghasilan yang mapan. pencabulan terhadap anak terjadi karena himpitan ekonomi. 1. pelaku tidak bisa lagi melakukan hubungan dengan istri karena alasan kesehatan atau telah lama menduda. kamp berlibur. orangtua dari teman sekolah. atau orang yang tinggal bersama dengan keluarga tersebut. 2006). Koran Tokoh (Edisi 337/TahunVII. Menurut Cok Gede Atmadja.• Kekerasan seksual dalam keluarga (Intrafamilial abuse) Mencakup kekerasan seksual yang dilakukan dalam keluarga inti atau majemuk. Bahkan. Kekerasan pada anak adopsi ataupun anak tiri juga termasuk dalam lingukup ini. seperti kegiatan pramuka. • Kekerasan seksual di luar keluarga (Extrafamilial abuse) Mencakup kekerasan yang dilakukan oleh orang dewasa yang kenal dengan anak tersebut dari berbagai sumber. Kedua. • • Ritualistic abuse Institutional abuse Mencakup kekerasan seksual dalam lingkup institusi tertentu seperti sekolah. serta tingkat pendidikan yang rendah. • Kekerasan seksual oleh orang yang tidak dikenal (Street or stranger abuse) Penyerangan pada anak-anak di tempat-tempat umum. khususnya oleh orangtua. teman. menyatakan pencabulan terhadap anak disebabkan meluasnya budaya permisif. Orang yang mencabuli anak-anak dianggap orang yang mengalami disfungsi karena kecanduan alkohol. seperti tetangga. atau melihat anak perempuannya ke luar kamar mandi menggunakan handuk. tempat penitipan anak. bisa pula pelaku melakukan pelecehan seksual terhadap anak perempuan. pelaku ingin menyempurnakan ilmu kebatinan yang sedang ditekuninya. kekerasan seksual tidak terjadi begitu saja. dan dapat melibatkan teman dari anggota keluarga. 2006). dan ketidakkonsistenan pihak kepolisian dalam mengambil tindakan hukum terhadap pelaku incest (Suda. atau kenalan dekat dengan sepengetahuan keluarga. bahkan menahun.

pelaku memperlihatkan alat kelaminnya 4.1. pelaku membuat korban merasa nyaman. dilakukan oleh pelaku sendiri atau pelaku dan korban saling menstimulasi 7. adalah tahapan dimana korban mau menceritakan pengalamannya kepada orang lain. Pelaku mencoba menyentuh sisi kbutuhan anak akan kasih saying dan perhhatian. sehingga ia merasa aman. 6. pelaku mengancam korban agar merahasiakan apa yang terjadi kepada orang lain. Sodomi 9. Tidak hanya kehadiran secara fisik. Masturbasi. 5. 3. Petting 10. traumatic – PTSD (post traumatik stress disorder) Agresif. penerimaan dari orang lain. Pelaku mencium korban dengan pakaian lengkap 5. 2008). atau pada saat mereka akan menikah. tidak percaya diri Rasa takut. Oral sex. Kemungkinan korban merahasiakan pengalamannya sampai berusia dewasa. Penetrasi alat kelamin pelaku Anak yang memiliki resiko mengalami kekerasan seksual biasanya adalah anakanak yang biasa ditinggalkan sendiri dan tidak mendapat pengawasan dari orang yanglebih dewasa. Pelaku meraba-raba bagian tubuhnya sendiri 3. kedekatan emosional antara ibu dan anak pun merupakan faktor yang penting (Maria. alat kelamin. Tahap kedua. mulai dari : 1. 2008). Perilaku yang terjadi bisa saja hanya berupa mengintip sampai perilaku yang intensitasnya berat. Tahap berikutnya. Pelaku membuka pakaiannya sendiri 2. ada kemungkinan gangguan tersebut di 'tekan' sehingga tidak teramati dari luar sampai ada pemicu yang menampilkan gejolak emosi mereka. Pelaku "mencobai" korban sedikit demi sedikit. Pada anak lainnya. misalnya saat anak memasuki usia remaja dan mulai dekat dengan lawan jenis. 7. selain itu. Setelah kejadian tersebut. 2. atau mencoba menyamakannya dengan permainan dan menjanjikan imbalan material yang menyenangkan. . dan bagian lainnya 6. Pelaku dapat mengintimidasi secara halus ataupun bersikap memaksa secara kasar. Tahap awal. Stress: akut. Ia menyakinkan bahwa apa yang dilakukannya "tidak salah" secara moral. terutama ibu. Menurut Maria (2008) dampak kekerasan seksual pada anak adalah sebagai berikut : 4. dengan menstimilasi alat kelamin korban 8. cemas Perilaku seksual yang tidak wajar untuk anak seusianya Tidak diragukan lagi bahwa kekerasan seksual dapat memberikan dampak jangka pendek maupun jangka panjang bagi korbannya. sangat mungkin anak yang menjadi korban kekerasan seksual kemudian justru malah menjadi pelaku kekerasan seksual terhadap anak lain (Maria. Pelaku meraba bagian-bagian tubuh korban : payudara. menjadi pelaku kekerasan. yaitu memakasa anak untuk melakukan hubungan seksual. atau menceritakannya kepada orang yang mempunyai kedekatan emosional dengannya. adalah interaksi seksual.

fisur pada anus. baby-sittter. Selain itu. impotensi. baik dari perlakuan langsung maupun dari media yang dilihatnya. atau sangat mungkin teman sebaya. salah satu penyebabnya adalah untuk mengatasi trauma akibat kekesaran seksual yang dialaminya. khususnya anak perempuan di masyarakat. Akibatnya. dan lainnya. Kemungkinan pelaku penah menjadi korban kekerasan seksual sebelumnya. 2002 dalam Maria. guru. Kondisi ini bisa diperparah lagi karena usia tua. Berbagai bentuk kekerasan seksual terhadap anak.Menghadapi anak yang mengalami kekerasan seksual. misalnya tetangga. kekerasan seksual mungkin pula dilakukan oleh orang tua angkat/tiri. suku. Dilakukan oleh ayah. atau orang lain yang tinggal serumah dengan korban. 9. tindakan tersebut berkaitan dengan label yang diberikan masyarakat kepada laki-laki. Efek klinis pencabulan berkisar dari pendarahan pada genital dan anus. Ini menimbulkan rasa tidak aman dan kekawatiran yang mendalam (Suda. atau sekedar memenuhi rasa ingin tahu. sopir. dan penipisan/kerusakan hymen pada vagina. Sebagian besar pelaku adalah pria dan orang yang melakukan orang yang cukup dikenal oleh korban. baik secara ekonomi maupun psikologis. hendaknya tetap mempertimbangkan faktor psikologis. hendaknya ditelusuri dengan mendalam faktor yang mendorong anak menjadi pelakukekerasan seksual. 2008) : 8.atau menirukan perilaku orang lain. Begitu pula hubungan seksual mereka dengan istrinya bisa terganggu. Lakilaki harus jantan menangani sektor publik dan urusan seksual. Kekerasan yang dilakukan oleh orang lain di luar anggota keluarga Kekerasan seksual dapat dilakukan oleh siapa saja. Kekerasan yang dilakukan oleh anggota keluarga. 2008). 2006). Pelaku bisa saja mengalami kelainan seperti paedophilia. Berikut ini jenis-jenis kekerasan seksual berdasarkan pelakunya (Tower. Anak sebagai pelaku kekerasan seksual. Tidak hanya pada posisi anak sebagai korban. Dengan adanya azas praduga tak bersalah. Kemungkinan motif kekerasan yang dilakukannya adalah untuk eksploitasi-memuaskan rasa ingin tahu. agama. pecandu seks. Efek psikologis pencabulan terhadap anak umumnya berjangka panjang. dan sebagainya. harga diri mereka dalam keluarga dan masyarakat mengalami goncangan. kekhawatiran ukuran dan fungsi penis. tapi juga perlu penanganan yang baik pada anak sebagai pelaku kekerasan. antara lain: kemarahan. yang tentunya berisiko mengalami stres bahkan trauma. tidak dibatasi perbedaan jenis kelamin. ejakulasi dini. ibu atau saudara kandung. selalu diwarnai kekerasan fisik atau psikologis. atau menirukan kejadian yang dialami sebelumnya. sangat mungkin sebelumnya adalah korban dari kekerasan seksual yang dilakukan oleh pelaku lain. tingkat sosial ekonomi. Jika meminjam gagasan Giddens (2004) tentang kekerasan laki-laki dalam menyalurkan libidonya. . meluasnya sistem ekonomi kapitalisme global mengakibatkan banyak orang termarjinal. pembesaran liang vagina dan anus. kata Maria. Di sisi lain. bahkan terhimpit. agar anak tidak dua kali menjadi korban (Maria.

mimpi buruk. Gejalanya sama ditambah tanda-tanda berikut: 1. Balita 1. antara lain memar pada alat kelamin atau mulut. dan ngompol). 1991 dalam Minangsari (2007). Ada anak-anak yang menyimpan rahasia pelecehan seksual yang dialaminya dengan bersikap "manis" dan patuh. kesedihan. mimpi buruk. antara lain sangat takut kepada siapa saja atau pada tempat tertentu atau orang tertentu. gangguan tidur (susah tidur. 3. mencium secara seksual. Tanda-tanda fisik. sembelit. anak mengeluh sakit karena perlakuan seksual. iritasi kencing. Tanda pada perilaku emosional dan sosial: kelakuan yang tiba-tiba berubah. Tanda perilaku emosional dan sosial.kecemasan. menurut riset. Gejala seorang anak yang mengalami pelecehan seksual tidak selalu jelas. korban pelecehan seksual adalah anak laki-laki dan perempuan berusia bayi sampai usia 18 tahun. kiranya perlu segera mempertimbangkan kemungkinan anak telah mengalami pelecehan seksual. Manifestasi Klinik Patricia A Moran dalam buku Slayer of the Soul. mengatakan. seperti mengisap jempol. perubahan kelakuan yang tiba-tiba. melakukan aktivitas seksual terang-terangan pada saudara atau teman sebaya. Tanda fisik: antara lain perilaku regresif. dan perubahan perilaku baik menjadi buruk 1. Tanda pada perilaku seksual: masturbasi berlebihan. . 2. Meskipun pelecehan seksual terhadap anak tidak memperlihatkan bukti mutlak. Tanda dan indikasi ini diambil Jeanne Wess dari buku yang sama: 1. tahu banyak tentang aktivitas seksual. dan rasa ingin tahu berlebihan tentang masalah seksual. tetapi jika tanda-tanda di bawah ini tampak pada anak dan terlihat terusmenerus dalam jangka waktu panjang. mendesakkan tubuh. berusaha agar tidak menjadi pusat perhatian. penyakit kelamin. menarik diri atau depresi. keluhan somatik seperti sakit kepala yang terus-menerus. Kebanyakan pelakunya adalah orang yang mereka kenal dan percaya. kebingungan. rasa tak Iman. sakit perut. hiperaktif. serta perkembangan terhambat. dan sakit kerongkongan tanpa penyebab jelas bisa merupakan indikasi seks oral. 2. Anak usia prasekolah 2. ketakutan.

melacur. Ansietas berlebihan dan tidak percaya kepada orang lain 7. Perawatan Menurut Suda (2006) ada beberapa model program counseling yang dapat diberikan kepada anak yang mengalami sexual abuse. mimpi buruk. Pemeriksaan Penunjang Menurut Doenges et. Sedangkan menurut Townsend (1998) simtomatologi dari penganiayaan/kekerasan seksual pada anak (sexual abuse) antara lain : 1. atau kelakuan seksual lain yang tak biasa. dorongan masturbasi. hubungan dengan teman terganggu. 2.1. pengendalian berlebihan atau di bawah pengendalian. gangguan tidur. seks di luar nikah. al (2007) pemeriksaan diagnostic yang dilakukan pada anak dengan sexual abuse bergantung pada situasi dan kebutuhan individu. Penganiyaan seksual pada anak yang lain 1. menggaruk daerah tersebut secara sering atau gelisah saat duduk 4. Remaja Tandanya sama dengan di atas dan kelakuan yang merusak diri sendiri. depresi. nilai turun. Artinya. sedih. gangguan makan. segan. Uji skrining (misalnya Daftar Periksa Perilaku Anak). menarik diri. telat atau bolos. tidak percaya kepada orang dewasa. Kemerahan atau gatal pada daerah genital. peningkatan nilai pada skala internalisasi yang menggambarkan perilaku antara lain ketakutan. kehamilan dini. depresi. Sering muntah 5. Pada kasus tersebut kesalahan dan tanggung jawa . agresif dan antisosial. seperti susah konsentrasi. lesu. pikiran bunuh diri. Anak usia sekolah Memperlihatkan tanda-tanda di atas serta perubahan kemampuan belajar. Perilaku menggairahkan. 2. Kesulitan atau nyeri saat berjalan atau duduk 3. tak suka disentuh. terapi difokuskan pada pengambangan konsepsi. serta menghindari hal-hal sekitar buka pakaian. the dynamics of sexual abuse. Pertama. bermain seks dewasa sebelum waktunya 6. 2. melarikan din. penggunaan obat terlarang atau alkohol. berbagai kenakalan remaja. Penatalaksanaan Medis dan Perawatan 1. Infeksi saluran kemih yang sering 2.

Pertama. Keempat. konsep dasar dalam teknik ini adalah perasaanperasaan seseorang mengenai beragam jenis dalam kehidupannya dipengaruhi oleh pikiran-pikiran mengenai kejadian tersebut secara berulang-lingkar. 9.al. Artinya. Kedua. 8. Menurut Suda (2006) jika mengacu pada manifesto kelompok pemenang penghargaan Nobel Perdamaian. Ketiga. tekanan politik. menyadarkan anak-anak yang menjadi korban bahwa mereka sebenarnya bukanlah korban. menumbuhkan sikap murah hati berbagi waktu dan materi dengan tujuan mengakhiri keterkucilan. ketidakadilan. melainkan orang yang mampu bertahan (survivor) dalam menghadapi masalah sexual abuse. terlebih dahulu harus diidentifikasi kemampuan anak yang mengalami sexual abuse untuk mengenali berbagai perasaan. berkata tidak terhadap sentuhan-sentuhan yang tidak diinginkan. 3. Pengobatan Pemberian antidepresan sesuai indikasi dapat membantu anak mengatasi perasaan sedih dan putus asa serta kemjauan dalam terapi. 4. Artinya. pekerja sosial. ada upaya untuk meminimalisirnya. protective behaviors counseling. baik pada saat mengalami sexual abuse maupun sesudahnya. dan ekonomi. Anak dijamin tidak disalahkan meskipun telah terjadi kontak seksual. mempertahankan kebebasan berpendapat dan keanekaragaman budaya dengan mengedepankan dialog dan sikap mau mendengarkan orang lain. 5. survivor/self-esteem counseling. Artinya. menjauh secepatnya dari orang yang kelihatan sebagai abusive person. Kemudian mereka didorong untuk mengekspresikan perasaanperasaannya yang tidak menyenangkan. Kelima. Pelatihan anak prasekolah dapat dibatasi. atau kepada orang tua. atau lembaga peradilan yang tidak dapat melindungi mereka. Kedua. 2007) BAB III ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN KEKERASAN SEKSUAL ANAK (SEXUAL ABUSE) . dengan menolak kekerasan dengan segala bentuknya. melaporkan pada orangtua atau orang dewasa yang dipercaya dapat membantu menghentikan perlakuan salah. Usia anak dan situasi penganiayaan seksual mempengaruhi kedalaman depresi anak (Doenges. Selanjutnya mereka diberi kesempatan untuk secara tepat memfokuskan perasaan marahnya terhadap pelaku yang telah menyakitinya. feeling counseling. Ketiga. 6. . 7. Artinya. polisi. et. menerapkan prinsip antikekerasan aktif. cognitif terapy.berada pada pelaku bukan pada korban. anak-anak dilatih menguasai keterampilan mengurangi kerentannya sesuai dengan usia.

Apakah ketika dilahirkan neonatus menangis ? 2. menangis menjadi sesuatu yang berbeda. diam saja apabila ada orang asing) ? 2. mengoceh spontan atau berekasi dengan mengoceh) ? 4. berceloteh. menagan benda di tangan walaupun hanya sebentar)? 3. Bagaimana kemampuan menghisap ? 4. Kapan mulai mengangkat kepala ? 5. Bagaimanan kemampuan motorik halus anak (misalnya memegang suatu objek. komtrol kepala sempurna. memperhatikan tangan dan kaki. Bagaimana perkembangan adaptasi sosial anak (misalnya : mengamati tangannya. memegang benda tetapi terlepas. Bagaimana kemampuan motorik halus anak (misalnya kemampuan untuk mengikuti garis tengah bila kita memberikan respons terhadap jari atau tangan) ? 6. Pengkajian Menurut Hidayat (2005) pengkajian perkembangan anak berdasarkan umur atau usia anak antara lain 1. membentuk siklus tidur bangun. membedakan wajah-wajah yang dikenal dan tidak dikenal. posisi lengan dan tungkai kurang fleksi danm berusaha untuk merangkan) ? 2. mulai mampu mengucapkan kata ooh/ahh. memegang benda dengan kedua tangan. senang menatap wajah-wajah yang dikenalnya. Neonatus (0-28 hari) 1. Bagaimana perkembangan motorik kasar anak (misalnya dapat telungkup pada alas dan sudah mulau mengangkat kepala dengan melakukan gerakan menekan kedua tangannya dan pada bulan keempat sudah mulai mampu memalingkan ke kanan dan ke . mencoba duduk sebentar dengan ditopang. berguling dari terlentang ke miring. penciuman. dapat berbunyi huruf hidup. walaupun tidur dalams ehari lebih sedikit dari waktu terhaga. tertawa dan berteriak. Bagaimana kemampuan anak dalam beradaptasi (misalnya tersenyum dan mulai menatap muka untuk mengenali seseorang ? 2.1. dapat duduk dengan kepala tegak. mengenal ibunya dengan penglihatan. Bagaimana kemampuan motorik kasar anak (misalnya mengangkat kepala saat tengkurap. 1. mengangkat kepala sambil berbaring terlentang. Bayi usia 1-4 bulan. jatuh terduduk dipangkuan ketika disokong pada posisi berdiri. Bayi Umur 4-8 bulan 1. Bagaimana kemampuan memutar-mutar kepala ? 3. Bagaimana kemampuan berbahasa anak (menangis. mencoba memegang benda dan memaksukkan dalam mulut. pendengaran dan kontak. bereaksi terhadap suara atau bel) ? 7. tersenyum pada wajah manusia. mengikuti objek dari satu sisi ke sisi lain. Masa bayi /Infant (28 – 1 tahun) 1. tersenyum spontan dan membalas senyum bila diajak tersenyum. Bagimana kemampuan berbahasan anak (kemampuan bersuara dan tersenyum.

menyatakan keinginan. tertawa. menjerit. Bagaimana kemampuan beradaptasi sosial anak (misalnya merasa terpaksa jika ada orang asing. mampu menaiki tangga dengan cara satu tangan dipegang. Bagaimana kemampuan berbahasan anak (misalnya : menirukan bunyi atau kata-kata. mampu berlari-lari kecil. Bagaimana perkembangan motorik kasar anak (misalnya: mampu melanhkah dan berjalan tegak. Bagaimana kemampuan berbahasa anak (misalnya : memiliki sepuluh perbendaharaan kata. berdiri 2 detik dan berdiri sendiri) ? 2. Masa Toddler 1. menendang bolan dan mulai melompat)? 2. mampu menirukan dan mengenal serta responsif terhadap orang lain sangat tinggi. sudah mulai minum dengan cangkir. berayun ke depan dan kebelakang. menolek ke arah suara dan menoleh ke arah sumber bunyi. mampu mengambilnya dan mampu memegang dengan jari dan ibu jari. menirukan kegiatan orang lain. mudah frustasi dan memukul-mukul dengan lengan dan kaki jika sedang kesal)? 3. Bagaimana perkembangan motorik halus anak (misalnya : mencoba menyusun atau membuat menara pada kubus)? 3. sudah mulai mampu duduk dengan kepala tegak. Bayi Umur 8-12 bulan 1. Bagaimana perkembangan motorik halus anak (misalnya : sudah mulai mengamati benda. membenturkannya dan mampy menaruh benda atau kubus ketempatnya)? 3. Bagaimana perkembangan berbahasa anak (misalnya : mulai mengatakan papa mama yang belum spesifik. menggunakan kata yang terdiri dari dua suku kata dan dapat membuat dua bunyi vokal yang bersamaan seperti ba-ba)? 4. mulai menggunakan ibu jari dan jari telunjuk untuk memegang. takut akan kehadiran orang asing. sudah mampu membalik badan. . mulai bermain dengan mainan. main-main bola atau lainnya dengan orang) ? 3. mampu menunjukkan dua gambar. Bagaimana kemampuan motorik kasar anak (misalnya duduk tanpa pegangan. memindahkan obajek dari satu tangan ke tangan yang lain) ? 3. menumpu beban pada kaki dan dada terangkat dan menumpu pada lengan. Bagaimana perkembangan kemampuan adaptasi sosial anak (misalnya kemampuan bertepuk tangan. bangkit dengan kepala tegak. dapat mengucapkan 1-2 kata)? 4. menggunakan bahu dan tangan sebagai satu kesatuan. mengambil objek dengan tangan tertangkup. mengoceh hingga mengatakan dengan spesifik. mengeksplorasi benda yangs edang dipegang.kiri . bila diberi kubus mampu memindahkannya. mampu menahan kedua benda di kedua tangan secara simultan. berdiri dengan pegangan. berguling dari terlentang ke tengkurap dan dapat dudu dengan bantuan selama waktu singkat) ? 2. Bagaimana kemampuan motorik halus anak (misalnya mencari dan meraih benda kecil. menggunakan vokalisasi semakin banyak. bangkit terus berdiri.

mengertio beberapa kata sifat dan sebagainya. membuat permintaan sederhana dengan gaya tubuh. membuat posisi merangkan dan berjalan dengan bantuan) ? 2. Bagaimana perkembangan berbahasa anak (misalnya : mampu menyebutkan empat gambar. Bagaimana perkembangan motorik kasar anak (misalnya: kemampuan untuk berdiri dengan satu kaki selama 1-5 detik. makan dengan jari. menggunakan tangannya untuk bermain. berespons terhadap panggilan dan orang-orang anggota keluarga dekat)? 4. melompat dengan satu kaki. Bagaimana perkembangan motorik halus anak (misalnya : kemampuan menggoyangkan jari-jari kaki. Bagaimana kematangan identitas seksual ? 4. mengerti empat kata depan. Masa Prasekolah (Preschool) 1. menirukan bebagai bunyi kata. Masa adolensence 1. Bagaimana perkembangan adaptasi sosial anak (misalnya : bermain dengan permainan sederhana. menunjukkan peningkatan kecemasan terhadap perpisahan. Masa school age 1. menagis jika dimarahi. Bagaimana kemampua anak dalam belajar di sekolah ? 6. orang dan aktivitas. mengenali anggota keluarga) ? 5. Bagaimana kemampuan kemandirian anak dilingkungan luar rumah ? 2. Bagaimana kemampuan anak mengatasi masalah yang dialami disekolah ? 3. minum dari cangkir dengan bantuan menggunakan sendok dengan bantuan. Bagaimana rasa tanggung jawab anak dalam mengerjakan tugas di sekolah? 6. Bagaimana remaja dapat menjalankan tugas perkembangannya sebagai remaja ? . menggambar dua atau tiga bagian. memahami arti larangan. menggunakan bunyi yntum mengidentifikasi objek. menyebutkan kegunaan benda.mampu mengkombinasikan kata-kata. Bagaimanan kemampuan remaja dalam melakukan adaptasi terhadap perubahan bentuk dan fungsi tubuh yang dialami ? 3. Bagaimana kemampuan remaja dalam mengatasi masalah yang dialami secara mandiri ? 2. menempatkan objek ke dalam wadah. mulai menggosok gigi serta mencoba memakai baju) ? 4. memilih garis yang lebih panjang dan menggambar orang. melepas objek dengan jari lurus. Bagaimana kemampuan anak dalam berinteraksi sosial dengan teman sekolah ? 7. mampu menjepit benda. membuat coretan diatas kertas)? 3. Bagaimana kepercayaan diri anak saat berada di sekolah ? 5. menyebutkan satu hingga dua warna. menjelajah. Bagaimana kemampuan beradaptasi sosial anak (menyesuaikan dengan lingkungan sekolah)? 4. berjalan dengan tumit ke jari kaki. melambaikan tangan. mulai mampu menunjukkan lambaian anggota badan) ? 4. Bagaimana ketrampilan membaca dan menulis anak ? 8. makan sendiri. Bagaimana kemampuan anak dalam beradaptasi sosial (misalnya: membantu kegiatan di rumah. menyuapi boneka. menghitung atau mengartikan dua kata.

perubahan finansial. objek tertentu. tempat. perilaku tidak sesuai dengan usia 2. Neurosensori 1. perubahan berat badan. menyalahkan diri sendiri/meminta ampun karena tindakannya terhadap orang tua. kegagalan memperoleh berat badan yang sesuai . makan berlebihan. Pencapaian diri negatif. sikap menunduk. mungkin sangat waspada. ketrampilan koping terbatas. kepribadian ganda. 11. Makan dan minum : Muntah sering. Perilaku ekstrem (tingkah laku sangat agresif/menuntut). Kecemburuan patologis. Enuresisi. Manifestasi psikiatrik (misal : fenomena disosiatif meliputi kepribadian ganda (penganiayaan seksual). mimpi burukm.al (2007) pengkajian anak yang mengalami penganiayaan seksual (sexual abus) antara lain : 7. perubahan selera makan (anoreksia). Perubahan tonus sfingter. Infeksi saluran kemih yang berulang 3. Mandi berlebihan/ansietas (penganiayaan seksual). Permusuhan terhadap/objek/tidak percaya pada orang lain 9. marah. 4. kurang empati terhadap orang lain. 6. cinta. Perubahan alam perasaan. takut (terutama jika ada pelaku) 6.memasak) ? Menurut Doenges et. 3.5. enkopresis. 5. 10.) 3. kebaikan dan penyesalan yang dalam setelah penganiayaan seksual terjadi. Perasaan bersalah. kesulitan konsentrasi/membuat keputusan. Aktivitas atau istirahat : Masalah tidur (misalnya tidak padat tidur atau tidur berlebihan. gangguan kepribadian ambang (koeban inses dewasa) . Integritas ego 1. cemas dan depresi. tidur di tempat yang asing. Menghisap jempol atau perilaku kebiasaan lain : gelisah (korban selamat). keletihan. Penghindaran atau takut pada orang. perselisihan dalam pernikahan) 7. pengendalian impuls yang buruk. Membantung. sangat amuk atau pasivitas dan menarik diri. Afek tidak sesuai. berjalan saat tidur. Higiene 1. Eliminasi 1. putus asa dan atau tidak berdaya 4. Melaporkan faktor stres (misalnya keluarga tidak bekerja. 12. lap[oran adanya pengingatan kembali. Pikiran tidak terorganisasi. pola hidup. Status mental : memori tidak sadar. periode amnesia. Minimisasi atau penyangkalan signifikasi perilaku (mekanisme pertahanan yang paling dominan/menonjol) 5. Mengenakan pakaian yang tidak sesuai dengan kondisi cuaca (penganiayaan seksual) atau tidak adekuat memberi perlindungan. Bagaiman kemampuan remaja dalam membantu pekerjaan orang tua di rumah (misalnya membersihkan rumah. Harga diri rendah (pelaku/korban penganiayaan seksual yang selamat. 8. takut dan malu. 2. penampilan kotor/tidak terpelihara. 2. 2.

keterlibatan dalam aktivitas dengan risiko tinggi 4. Perilaku mencederai diri sendiri (bunuh diri). meliputi masturbasi kompulsif. Kecurigaan yang berlebihan tentang seks. sakit kepala) 14. penurunan penghargaan atau pengakuan verbal.al (2007) diagnosa keperawatan yang dapat dirumuskan pada anak yang mengalami sexual abuse antara lain : 1. Interaksi sosial Merikan diri dari rumah. laserasi himen linier. fisura anal. ruam/gatal di area genital. rokok) ada bagian botak di kepala.7. Perubahan kewaspadaan/aktivitas seksual. 2. Sindrom trauma perkosaan berhubungan dengan menjadi korban perkosaan seksual yang dilakukan dengan menggunakan kekuatan dan berlawanan dengan keinginan dan persetujuan pribadi seseorang 2. pola interaksi dalam keluarga secara verbal kurang responsif. terbakar (tersiran air panas. Adanya defisit neurologis/kerusakaan SSP tanpa tanda-tanda cedera eksternal 13. biasanya terjadi dalam waktu lama. spastik kolon. perubahan tonus sfingter. . 2. Kurangnya pengawasan sesuai usia. Keamanan 1. Memar. Pencapaian restasi dis ekolah rendah atau prestasi di sekolah menurun. permainan seks dewasa sebelum waktunya. 3. Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan pengasuhan yang tidak adekuat dan penderitaan oleh pengasuh dari nyeri fisik atau cidera dengan tujuan untuk menyebabkan bahaya. 16. merasa rendah diri. kecenderungan mengulang atau melakukan kembali pengalaman inses. nyeri panggul kronis. perdarahan yang tidak wajar. Diagnosa Keperawatan Menurut Townsend (1998). hemoroid. 3. tidak ada perhatian yang dapat menghindari bahaya di dalam rumah 15. tanda bekas gigitan. secara seksual menganiaya anak lain. riwayat bermacam kecelakaan. jaringan parut. dan Doenges et. Seksualitas 1. bilur pada kulit. Adanya PMS. 2. Perdarahan vagina . goresan kulit. Ketidakberdayaan berhubungan dengan harga diri rendah 3. vaginitis. bagian mukosa berlendir. peningkatan penggunaan perintah langsung dan pernyataan kritik. laserasi. Cedera berulang. Nyeri atau ketidaknyamanan Bergantung pada cedera/bentuk penganiayaan seksual Berbagai keluhan somatik (misalnya nyeri perut. kutil genital atau kehamilan (terutama pada anak). fraktur/ cedera internal.

memulai proses penyembuhan psikologis. Sindrom trauma perkosaan berhubungan dengan menjadi korban perkosaan seksual yang dilakukan dengan menggunakan kekuatan dan berlawanan dengan keinginan dan persetujuan pribadi seseorang Tujuan : Tujuan jangka pendek : Luka fisik anak akan sembuh tanpa komplikasi Tujuan jangka panjang : anak akan mengalami resolusi berduka yang sehat. Ia mungkin juga sangat ragu-ragu dengan dirinya dan menyalahkan diri sendiri dan pernyataan-pernyataan ini membangkitkan rasa percaya secara bertahap dan memvalidasi harga diri anak . Gangguan harga diri rendah berhubungan dengan koping individu tidak efektif 6. marah atau saling menyalahkan diantara anggota keluarga mengenai perilaku anak.4. Smith (1987) menghubungkan pentingnya mengkomunikasikan empat ucapan berikut ini pada korban perkosaan (saya prihatin hal ini terjadi padamu. saya senang anda hidup. Rasional : Wanita tau anak yang telah diperkosa secara seksual takut terhadap kehidupannya dan harus diyakinkan kembali keamanannya. rasa takut terhadap kegagalan. kurang umpan balik atau umpan balik negatif yang berulang yang mengakibatkan penurunan makna diri 8. interpretasi yang salah tentang informasi 3. Apapun keputusan yang Anda buat pada saat pengorbanan adalah hak seseorang karena anda hidup.al (2007) intervensi keperawatan yang dapat dirumuskan untuk mengatasi diagnosa keperawatan diatas antara lain : 1. Ansietas (sedang sampai berat) berhubungan dengan ancaman konsep diri. Intervensi: 1. Ini bukan kesalahan anda. Townsend (1998). prognosis. disfungsi system keluarga dan hubungan antara orang tua dan anak yang tidak memuaskan 5. Intervensi Keperawatan Menurut Videbeck (2008). Anda adalah korban. dan Doenges et. Koping keluarga tidak efektif berhubungan dengan perasaan bersalah yang berlebihan. Koping defensif berhubungan dengan harga diri rendah. anda tidak bersalah. Gangguan pola tidur berhubungan dengan a nsietas dan hiperaktif 7. kepenatan orang tua karena menghadapi anak dengan gangguan dalam jengka waktu lama 9. perawatan diri dan kebutuhan terapi berhubungan dengan kurang sumber informasi. anda aman disini. Defisit pengetahuan tentang kondisi.

2. dan seorang perawat sebagai pembela anak dapat menolong untuk mengurangi trauma dari pengumpulan bukti 5. Dengarkan. Ketidakberdayaan berhubungan dengan harga diri rendah Tujuan : Tujuan jangka pendek : Anak mengenali dan menyatakan secara verbal pilihanpilihan yang tersedia dengan demikian merasakan beberapa kontrol terhadap situasi kehidupan (dimensi waktu ditentukan secara individu) Tujuan jangka panjang : Anak memperlihatkan kontrol situasi kehidupan dengan membuat keputusan tentang apa yang harus dilakukan berkenaan dengan hidup bersama siklus penganiyaan seksual (dimensi waktu ditentukan secara individual) Intervensi : . Jumlah yang rinci mungkin dibutuhkan untuk tindak lanjut secara legal. anak mungkin membutuhkan bantuan dari orang lain selama periode segera pascakrisis. Diskusikan dengan anak siapa yang dapat dihubung untuk memberikan dukungan atau bantuan. Jelaskan setiap prosedur pengkajian yang akan dilakukan dan mengapa dilakukan. Pastikan bahwa pengumpulan data dilakukan dalam perawatan. Pastikan bahwa anak memiliki privasi yang adekuat untuk semua intervensi-intervensi segera pasca krisis. Atau mengumpulkan bukti segera Rasional : Anak pasca trauma sangat rentan. Cobaan sedikit mungkin orang yang memberikan perawatan segera atau mengumpulkan bukti segera. Berikan informasi tentang rujukan setelah perawatan Rasional : Karena ansietas berat dan rasa takut. kelompok pembela masyarakat) 2. tetapi tidak menyelidiki Rasional : Mendengarkan dengan tidak menghakimi memberikan kesempatan untuk katarsis bahwa anak perlu memulai pemulihan. Penambahan orang dalam lingkungannya meningkatkan perasaan rentan ini dan bertindak meningkatkan ansietas 4. klinik kesehatan jiwa. cara tidak menghakimi Rasional : Untuk menurunkan ketakutan atau ansietas dan untuk meningkaytkan rasa percaya 3. Dorong anak untuk menghitung jumlahs erangan kekerasan seksual. Berikan informasi rujukan tertulis untuk referensi selanjutnya (misalnya psikoterapi.

. Tanyakan pertanyaan tentang apakah hal ini telah terjadi sebelumnya. Dorong untuk mendiskusikan peristiwa pemerkosaan yang telah dilakukan. Jika seoran anak wantia datang sendiri atau berserta dengan orang tuanya. Jika pelaku kekerasan seksual minum obat bius. Hal ini dapat mencakup hotline krisis. mengambiul foto jika anak mengijinkan merupakan ide yang baik Rasional : Keamanan anak merupakan prioritas keperawatan. Berikan dukungan. ya itu telah terjadi. Sekarang ke mana anda ingin pergi dari sini ?. tempat perlindungan. Burgess (1990) menyatakan "Korban perlu dibuat sadar tentang berbagai sumber yang tersedia untuk dirinya. Foto dapat digunakan sebagai bukti jika tuntutan dilakukan 2. Pastikan bahwa usaha-usaha menyelamatkan tidak diusahakan oleh perawat.1. Dalam berkolaburasi dengan tim medis. berbagai tempat konseling. jika anak tersebut memiliki tempat yang aman untuk pergi dan apakah ia berminat dalam tuntutan yang mendesak Rasional : Beberapa anak wanita berusaha untuk menyimpan rahasia tentang bagimana cedera seksual yang dideritanya terjadi dalam usaha untuk melindungi orang tuanya atau saudaranya atau karena mereka takut bahwa orang tuanya atau saudaranya akan membunuh mereka jika menceritakan hal tersebut 4. tetapi ingat bahwa keputusan akhir harus dibuat oleh anak Rasional : Membuat keputusan untuk dirinya sendiri memberikan rasa kontrol situasi kehidupannya sendiri. pastikan tentang keselamatannya. fraktur. tetapi kewenangan yang sesungguhnya datang hanya saat ia memilih untuk menggunakan pengetahuan itu bagi keuntungannya sendiri. Rasional : Pengetahuan tentang pilihan-pilihan yang tersedia dapat membantu menurunkan rasa tidak berdaya dari korban. kelompok-kelompok masyarakat untuk wanita dan anak yang pernah dianiaya secara seksual. pastikan bahwa semua cedera fisik. Tekankan pentingnya keamanan. Memberikan penilaian dan nasehat adalah tidak terapeutik 5. luka bakar mendapatkan perhatian segera. smith (1987) menyarankan suatu pernyataan seperti. kemungkinan besar ia tidak jujur sepenuhnya tentang cederanya atau pengalaman seksualnya 3. Bawa anak wanita tersebut ke dalam area yang pribadi untuk melakukan wawancara Rasional : Jika anak disertai dengan pria yang melakukan pelecehan seksual pada anak.

3. apakah penjelasan ini berlasan? Apakah cedera tersebut konsisten dengan penjelasan yang diberikan? Apakah cedera tersebut konsisten dengan kemampuan perkembangan anak ? Rasional : Ketakutan terhadap hukuman penjara atau kehilangan kesempatan memelihara anak mungkin menempatkan orang tua penyiksa pada sikap membela diri. rasa takut yang berlebihan. misalnya kemaluan. dan adanya usaha untuk menutupu keterlibatan merupakan suatu pertahanan diri yang umum yang dapat dilepaskan dalam suatu wawancara yang dalam. hiperaktivitas hebat. Tujuan : Tujuan jangka pendek : Anak akan mengembangkan hubungan saling percaya dengan perawat dan melaporkan bagaimana tanda cedera terjadi (dimensi waktu ditentukan secara individu) Tujuan jangka panjang : Anak akan mendemonstrasikan perilaku yang konsisten dengan usia tumbuh dan kembangnya. biasanya terjadi dalam waktu lama. perilaku yang tidaks esuai dengan usianya Rasional : Suatu pemeriksaan fisik yang akurat dan seksama dibutuhkan agar perawatan yang tepat dapat diberikan untuk pasien 2. Jangan mengabaikan atau melalaikan kemungkinan penganiayaan seksual. Pertimbangkan jika cidera dilaporkan sebagai suatu kecelakaan. Kaji tanda nonverbal penganiayaan. Mereka mungkin tidak ingin untuk disentuh. Ketidaksesuaian dapat ditandai dalam deskripsi kejadian. Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan pengasuhan yang tidak adekuat dan penderitaan oleh pengasuh dari nyeri fisik atau cidera dengan tujuan untuk menyebabkan bahaya. Intervensi : 1. apatis. Buat catatab yang teliti dari luka memarnya (dalam berbagai tahap penyembuhan). dan keluhan anak tentang area nyeri pada derah yang spesifik. Gunakan pertandingan atau terapi bermain untuk memperoleh rasa percaya anak. perilaku agresif. Adakan wawancara yang dalam dengan orang tua atau orang dekat yang menyertai anak. Lakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh pada anak. Jenis-jenis aktivitas bermain ini dapat memberikan suatu lingkungan yang tidak mengancam yang dapat meningkatkan usaha anak untuk mendiskusikan masalah-masalah yang menyakitkan ini . 3. laserasi. menarik diri. Gunakan teknik-teknik ini untuk membantu dalam menjelaskan sisi lain dari cerita anak tersebut Rasional : Menetapkan hubungan saling percaya dengans eorang anak yang teraniaya sangatlah sukar.

Anak mampu menundakan pemuasan terhadap keinginannya. Pastikan bahwa sasaran-sasarannya adalah realistis Rasional : penting bagi anak untuk nmencapai sesuatu. keduanya pada saty ke satu basis dan pada aktivitas-aktivitas kelompok . Anak mampu mengekspresikan kemarahan dengan cara yang dapat diterima secara sosial 3. tanpa terpaksa untuk menipulasi orang lain 2. pemadam kebakaran. Laporan dibuat oleh Departemen Pelayanan Sosial dan rehabiulitasi atau Badan penyelenggara Hukum. guru-guru. Alasan untuk mencirugai ditetapkan saat ada tanda-tanda ketidaksesuaian atau ketidakkonsistenan dalam menjelaskan cedera pada anak. pengasuh-pengasuh anak. Tentukan apakah cedera yang dialami dibenarkan untuk dilaporkan kepada yang berwenang. serta penganiayaan dan pengabaian anak Tujuan : Anak mengembangkan dan menggunakan keterampilan koping yang sesuai dengan umur dan dapat diterima sosial dengan kriteria hasil : 1. Koping individu tidak efektif berhubungan dengankelainan fungsi dari system keluarga dan perkembangan ego yang terlambat. maka rencana untuk aktivitas-aktivitas di mana kemungkinan untuk sukses adalah mungkin.4. semau terapis kesehatan jiwa. Sediakan waktu bersama anak. Sampaikan perhatian tanpa syarat pada anak Rasional : Komunikasi dari pada penerimaan anda terhadapnya sebagai makhluk hidup yang berguna dapat meningkatkan harga diri 6. Undang-Undang negara yang spesifik harus masuk ke dalam keputusan apakah ya atau tidak untuk melaporkan dugaan penganiayaan seksual anak. Rasional : Suatu laporan (umumhya dibuat) jika ada alasan untuk mencurigai bahwa seseorang anak telah dicederai sebagai suatu akibat penganiayaan seksual. Anak mampu mengungkapkan kemampuan-kemampuan koping alternatif yang dapat diterima secara sosial sesuai dengan gaya hidup dari yang ia rencanakan untuk menggunakannya sebagai respons terhadap rasa frustasi Intervensi: 4. anggota medis gawat darurat dan anggota penyelenggara hukum. Sukses meningkatkan harga diri 5. Kebanayakan negara membutuhkan individu-individu berikut melaporkan kasus dari anak yang dicurigai dianiaya seksual : semua pekerja kesehatan. 4.

Beri pangakuan tentang kerja keras yang berhasil dan penguatan positif bagi usaha-usaha yang dilakukan Rasional : Pengakuan dan penguatan positif meningkatkan harga diri 5. Menemani anak dalam mengidentifikasi aspek-aspek positif dari dan dalam mengembangkan rencana-rencana untuk merubah karakteristik yang lihatnya sebagai negatif Rasional : identifikasi aspek-aspek positif anak dapat membantu mengembangkan aspek positif sehingga mempunyai koping individu yang efektif 8. Sediakan aktivitas-aktivitas yang diarahkan pada penurunan tegangan dan pengurangan ansietas (misalnya berjalan atau joging. konsisten di dalam berespons dan bersedia. Memberi dorongan dan dukungan kepada anak dalam menghadapi rasa takut terhadap kegagalan dengan mengikuti aktivitas-aktivitas terapi dan melaksanakan tugas-tugas baru. Bersikap jujur. Bantu anak mengurangi penggunaan penyangkalan sebagai suatu mekanisme sikap defensif. Intervensi : 1. Ansietas (sedang sampai berat) berhubungan dengan ancaman konsep diri. Memberikan bantuan yang positif bagi identifikasi masalah dan pengembangan dari perilaku-perilaku koping yang lebih adaptif Rasional : Penguatan positif membantu meningkatkan harga diri dan meningkatkan penggunaan perilaku-perilaku yang dapat diterima oleh anak 9. ketersediaan dan penerimaan meningkatkan kepercayaan pada hubungan anak dengan staf atau perawat 2. Bentuk hubungan kepercayaan dengan anak. Tunjukkan rasa hormat yang positif dan tulus Rasional : Kejujuran. disfungsi system keluarga dan hubungan antara orang tua dan anak yang tidak memuaskan Tujuan : Anak mampu mempertahankan ansietas di bawah tingkat sedang. sebagaimana yang ditandai oleh tidak adanya perilaku-perilaku yang tidak perilaku yang tidak mampu dalam memberi respons terhadap stres . pekerjaan rumah tangga. permainan-permainan kelompok .Rasional : Hal ini untuk menyampaikan pada anak bahwa anda merasa bahwa dia berharga bagi waktu anda 7. rasa takut terhadap kegagalan. latihan dengan musik. bola voli.

Dengan berkurangnta ansietas. Tawarkan bantuan pada wajtu-waktu terjadi peningkatan ansietas. Gunakan mekanismemekanisme pertahanan projeksi dan pemibdahan yang dilebih-lebihkan 4. Kaji untuk keefektifitasannya.Rasional : tegangan dan ansietas dilepaskan dengan aman dan dengan manfaat bagi anak melalui aktivitas-aktivitas fisik 3. Pastikan kembali akan keselamatan fisik dan fisiologis Rasional : Keamanan anak adalah prioritas keperawatan 6. Berhasil pada responsrespons alternatif pada kejadian selanjutnyta Rasional : Rencana tindakan memberikan anak perasaan aman untuk penanganan yang lebih berhasil terhadap kondisi yang sulit jika terjadi lagi 8. alprazolam) memberikan perasaan lega terhadap efekefek yang tidak berjalan dari ansietas dan mempermudah kerjasama anak dengan terapi 6. Gangguan pola tidur berhubungan dengan ansietas dan hiperaktif Tujuan : . temani anak untuk mengetahui peristiwaperistiwa tertentu yang mendahului serangannya. Anjurkan anak untuk mengidentifikasi perasaan-perasaan yang sebenarnya dan untuk mengenali sensiri perasaan-perasaan tersebut padanya Rasional : Anak-anak vemas sering menolak hubungan antara masalahmasalah emosi dengan ansietas mereka. dan beri petunjukkepada anak mengenai kemungkinan efek-efek samping yang memberi penharuh berlawanan Rasional : Obat-obatan terhadap ansietas (misalnya diazepam. Berikan obat-obatan dengan obat penenang sesuai dengan yang diperintahkan. Bagaimanapun juga anak harus berhati-hati terhadap penggunaannya Rasional : sebagaimana ansietas dapat membantu mengembangkan kecurigaan pada beberapa individu yang dapat salah menafsirkan sentuhan sebagai suatu agresi 7. klordiasepoksida. Penggunaan sentuhan menyenangkan bagi beberaoa anak. Perawat harus mempertahankan suasana tentang Rasional : Ansietas dengan mudah dapat menular pada orang lain 5.

Duduk dengan anak sampai dia tertidur Rasional : kehadiran seseorang yang dipercaya memberikan rasa aman 7. catat keadaan-keadaan yang menganggu tidur Rasional : Masalah harus diidentifikasi sebelum bantuan dapat diberikan 5.Anak mampu untuk mencapai tidur tidak terganggu selama 6 sampai 7 jamn setiap malam dengan kriteria hasil: 1. Berikan sarana perawatan yang membantu tidur (misalnya : gosok punggung. Anak mampu untuk mulai tidur dalam 30 menit dan tidur selama 6 sampai 7 jam tanpa terbangun Intervensi : 4. Anak mengungkapkan tidak adanya gangguan-gangguan pada waktu tidur 2. hindari terjadinya deviasi dari jadwal ini Rasional : Tubuh memberikan reaksi menyesuaikan kepada suatu siklus rutin dari istirahat dan aktivitas 10. Pastikan bahwa makanan dan minuman yang mengandung kafein dihilangkan dari diet anak Rasional : Kafein adalah stimulan SSP yang dapat mengganggu tidur 8. kurang umpan balik atau umpan balik negatif yang berulang yang mengakibatkan penurunan makna diri . Tidak ada gangguan-gangguan yang dialamti oleh perawat 3. Beri jaminan ketersediaan kepada anak jika dia terbangun pada malam hari dan dalam keadaan ketakutan Rasional : Kehadiran seseorang yang dipercaya memberikan rasa aman 7. Buat jam-jam tidur yang rutin. Amati pola tidur anak. Koping defensif berhubungan dengan harga diri rendah. susu hangat dan mandi air hangat) Rasional : Sarana-sarana ini meningkatkan relaksasi dan membuat bisa tidur 9. Kaji gangguan-gangguan pola tidur yang berlangsung berhubungan dengan rasa takut dan ansietas-ansietas tertentu Rasional : Ansietas yang dirasakan oleh anak dapat mengganggu pola tidur anak sehingfga perlu diidentifikasi penyebabnya 6. latihan gerak relaksasi dengan musik lembut.

Berikan informasi ini dengan cara yang tidak mengancam dapat membantu untuk mengeliminasi perilaku yang tidak diinginkan 8. Berikan segera sebenarnya umpan balik yang tidaj mengancam untuk perilaku-perilaku yang tidak dapat diterima Rasional : Anak mungkin kurang pengetahuan tentang bagaiamna dia diterima oleh orang lain. Anak tidak menertawakan atau mengkritik orang lain 4. Berikan dengans egera umpan balik positif bagi perilaku-perilaku yang dapat diterima Rasional : Umpan balik positif meningkatkan harga diri dan memberi semangat untuk mengulangi perilaku-perilaku yang diinginkan . Bantu anak untuk mengidentifikasi situasi-situasi yang menimbulkan sifat defensif dan praktik bermain peran dengan respons-respons yang lebih sesuai Rasional : Bermain peran memberikan percaya diri untuk menghadapi situasi-situasi yang sulit jika hal-hal tersebut benar-benar terjadi 9. seperti menyalahkan oprang lain karena prilakunya sendiri Rasional : Pengenalan masalah adalah langkah pertama pada proses perubahan ke arah resolusi 7. Anak mengungkapkan dan menerima tanggung jawab terhadap perilakunya sendiri 2. Anak mengungkapkan korelasi antara perasaan-perasaan ketidakseimbangan dan keperluan untuk mempertahankan ego melalui rasionalisasi dan kemuliaan 3. perilaku merasionalisasi atau mengekspresikan pikiran waham kebesaran dengan kriteria hasil : 1. Anak berinteraksi dengan orang lain dengan situasi-situasi kelompok tanpa bersikap defensif Intervensi : 5. Kenali dan dukung kekuatan-kekuatan ego dasar Rasional : memfokuskan pada spek-aspek positif dari kepribadian dapat membantu untuk memperbaiki konsep diri 6. Beri semangat kepada anak untuk menteahui dan mengungkapkan dan bagaimana perasaan ini menimbulkan perilaku defensif.Tujuan : Anak akan mendemonstrasikan kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain tanpa menjadi defensif.

pada keadaan di mana metode-metode koping baru tertentu terbukti tidak efektif 8. Mengungkatkan dan mengatasi perilaku negatif pada anak 2. marah atau saling menyalahkan diantara anggota keluarga mengenai perilaku anak. konkret dan memerlukan tindakan-tindakan yang cocok untuk mencapai sasaransasaran ini Rasional : Keberhasilan akan meningkatkan harga diri 11. Berikan informasi dan material yang berhubungan dengan gangguan anak dan teknik menjadi orang tua yang efektif Rasional : Pengetahuan dan ketrampilan yang tepat dapat meningkatkan keefektifan peran orang tua 4. kepenatan orang tua karena menghadapi anak dengan gangguan dalam jangka waktu lama Tujuan : Orang tua mendemonstrasikan metode intervensi yang lebih konsisten dan efektif dalam berespons perilaku anak dengan kriteria hasil : 1. Beri umpan balik positif dan dorong metode menjadi orang tua yang efektif Rasional : Penguatan positif dapat meningkatkan harga diri dan mendorong kontinuitas upaya . Koping keluarga tidak efektif berhubungan dengan perasaan bersalah yang berlebihan. Evaluasi dengan anak keefektifan perilaku-perilaku yang baru dan diskusikan adanya perubahan untuk perbaikan Rasional : Karena keterbatasan kemampuan untuk memecahkan masalah. Membantu anak untu menetapkan sasaran-sasaran yang realistis. Mengidentifikasi dan menggunakan sistem pendukung yang diperlukan Intervensi : 3.10. bantuan mungkin diperlukan untuk menetapkan kembali dan mengembangkan strategi baru. Dorong individu untuk mengungkapkan perasaan secara verbal dan menggali alternatif cara berhubungan dengan anak Rasional : Konseling suportif dapat membantu keluarga dalam mengembangkan strategi koping 5.

aula yang ramai Rasional : Peredaan dalam stimulasi lingkungan dapat menurunkan distraktibilitas. Beri materi petunjuk format tertulis dan lisan dengan penjelasan langkah demi langkah Rasional : Keterampilan belajar yang terurut akan meningkat. Mencapai tujuan kognitive yang konsisten sesuai tingkat temperamen Intervensi : 3. seperti bus sekolah. Libatkan saudara kandung dalam diskusi keluarga dan perencanaan interaksi keluarga yang lebih efektif Rasional : Masalah keluarga mempengaruhi semua anggota keluarga dan tindakan lebih efektif bila setiap orang terlibat dalam terapi tersebut 7. Defisit pengetahuan tentang kondisi. menghindari rasa terisolasi 4. ruang kelas berisi dirinya sendiri. aktivitas kelompok kecil. kelas menjadi orang tua Rasional : mengembangkan sistem pendukung dapat meningkatkan kepercayaan diri dan keefektifan orang tua. perawatan diri dan kebutuhan terapi berhubungan dengan kurang sumber informasi. termasuk kelompok pendukung orang tua. Libatkan dalam konseling keluarga Rasional : terapi keluarga dapat membantu mengatasi masalah global yang mempengaruhi seluruh struktur keluarga. kafetaria yang ramai. Gangguan pada salah satu anggota keluarga akan mempengaruhi seluruh anggota keluarga 8. Mengajarkan anak keterampilan pemecahan masalah. Kelompok kecil dapat meningkatkan kemampuan untuk tepat pada tugas dan membantu klien mempelajari interaksi yang tepat dengan orang lain. Berpartisipasi dalam pembelajaran dan m. Pemberian model peran atau harapan untuk masa depan 9. Hindari tempat yang terlalu banyak stimulasi. Keterampilan efektif dapat meningkatkan tingkat prestasi . perlunya terapi dalam kemampuan perkembangan dengan kriteria hasil : 1. Rujuk pada sumber komunitas esuai indikasi.ulai bertanya dan mencari informasi secara mandiri 2.6. Berikan lingkungan yang tenang. prognosis. interpretasi yang salah tentang informasi Tujuan : Mengungkapkan secara verbal pemahaman tentang penyebab masalah perilaku. mempraktikkan contoh situasional.

terus berjatuhan. Ajarkan anak dan keluarga tentang penggunaan psikostimulan dan antisipasi respons perilaku Rasional : penggunaan psikostimulan mungkin tidak mengakibatkan perbaikan kenaikan kelas tanpa perubahan pada ketrampilan studi anak 6. • Evaluasi Hasil yang diharapkan dari pemberian asuhan keperawatan pada anak dengan penganiayaan seksual (sexual abuse) antara lain : 1. dan keluarga Rasional : keefektifan kognitif paling mungkin meningkat ketika terapi tidak terfragmentasi. 5.5. 6. Anak mendemosntrasikan rasa percaya kepada perawat utama melalui mendiskusikan perlakuan penganiayaan melalui penggunaan terapi bermain 10. dengan anak-anak sebagai korbannya. 2. juga tidak terlewatkannya intervensi signifikan karena kurangnya komunikasi interdisiplin. 3. anak. Selain itu. Koordinasi seluruh rencana terapi dengan sekolah personel sederajat. 7. 8. Anak mendemonstrasikan suatu penurunan dalam perilaku agresif BAB IV ISUE TENTANG SEXUAL ABUSE DI MASYARAKAT DAN PEMBAHASAN 1. tetangganya sekaligus teman mengajinya. Kompas pada 13 Mei 2008 juga memberitakan. 4. Kompas pada 11 Mei 2008 memberitakan seorang remaja usia 18 tahun melakukan sodomi terhadap lima bocah usia 11 hingga 15 tahun. Isue Di Masyarakat Tentang Sexual Abuse Korban pelecehan seksual (sexual abuse). Anak tidak mengalami ansietas panik lagi Anak mendemonstrasikan derajat percaya kepada perawat primer Anak menerima perhatian dengan segera terhadap cedera fisiknya Anak memulai perilaku yang konsisten terhadap respons berduka Anak mendapatkan perhatian segera untuk cedera fisiknya jika ada Anak menyatakan secara verbal jaminan keamanannya dengan segera Anak mendiskusikan situasi kehidupannya dengan perawat primer Anak mampu menyatakan secara verbal pilihan –pilihan yang tersedia untuk dirinya yang dari hal ini ia menerima bantuan 9. seorang kakek berusia 57 tahun divonis 8 tahun penjara karena memerkosa dua anak perempuan .

yakni yang dilakukan oleh tersangka berusia 23 tahun terhadap korban berusia 7 tahun sebanyak 6 kali selama tiga bulan terakhir. justru mempermudah pelaku memangsa korbannya. Korban harus menanggung stigma dari masyarakat ketika aib yang menimpa mereka diketahui banyak orang. Sering terjadi bahwa beberapa korban berjatuhan oleh pelaku yang sama. namun berdampak serius pada dimensi psikologis korban. bersalah. turut dimanfaatkan pelaku untuk melaksanakan niatnya secara berulang. Kasus sodomi kembali diberitakan Kompas pada 17 Mei 2008. dan penyuapan. seperti perdarahan di dubur atau vagina. Ini dapat terjadi karena kelihaian sang pelaku memanipulasi korban melalui paksaan. Pembahasan Kasus yang terungkap selalu merupakan puncak gunung es karena banyak kasus serupa tidak pernah terungkap.usia 12 dan 13 tahun. Hampir bisa dipastikan bahwa korban yang menderita pelecehan seksual berulang kali dan berkelanjutan mengalami masalah mengintegrasikan kesadaran. dan rasa tidak berdaya. integritas korban menjadi hancur dan kepribadiannya tercabik. ancaman. Belum lagi perasaan bahwa masalah mereka justru akan bertambah rumit saat melapor. emosi. menegaskan kekurangmengertian sebagian masyarakat kita akan masalah ini. Sering kali pelaku melakukan kamuflase memanfaatkan kecenderungan masyarakat kita yang ramah dan suka saling menolong. ada korban yang mengalami pelecehan beberapa kali. maupun seksual. Pernyataan orangtua salah seorang korban sodomi. yang mengira anaknyalah yang memerkosa karena ia laki-laki. Akibat perbuatan pelaku. Padahal. dan . Aparat penegak hukum yang kurang memahami masalah ini juga memperparah trauma yang terjadi karena mengajukan pertanyaan yang justru menyudutkan korban. Kekurangpahaman akan masalah seksual dan penyimpangannya turut menyuburkan perbuatan keji pelaku. dan kesedihan mendalam. juga oleh pelaku yang sama. bujukan. Sifat baik masyarakat ini. Kombinasi paradoksal antara rangsangan seksual dengan rasa malu. Belum lagi kemungkinan bahwa pelaku sering dihukum ringan atau dibebaskan dengan alasan kurangnya bukti. ironisnya. Dalam hal korban melibatkan diri dalam perbuatan seks secara sukarela. marah. trauma. Malu. sangat berpengaruh negatif terhadap perkembangan psikoseksual anak. perasaan. takut. Faktor ketidakmatangan korban usia muda ini patut menjadi fokus perhatian. pelaku tetap harus dianggap bersalah karena telah mengeksploitasi ketidakmatangan korban demi kepuasan dirinya. membuat sebagian besar korban dan keluarga korban enggan melaporkan malapetaka yang menimpa mereka. depresi. masih ada begitu banyak kasus yang tidak menimbulkan trauma fisik yang berarti. Kebanyakan kasus baru terbongkar setelah korban mengalami gejala fisik serius. 1. Kondisi anak yang belum matang secara kognisi. korban memerlukan penanganan segera untuk mengurangi penderitaannya dan mencegah masalah yang mungkin muncul di kemudian hari. Padahal. Selain itu.

masalah seksual. 1991). Mereka memerlukan penanganan yang segera dan manusiawi. 1995). Artinya. Dengan demikian. Penanganan yang adekuat dapat mencegah problem menjadi semakin serius. menunjukkan adanya dampak yang secara signifikan lebih serius pada anak yang mengalami pelecehan berkali-kali dibandingkan dengan anak yang mengalami kejadian itu hanya sekali.emosinya. Penelitian menunjukkan. penganiayaan diri dan bunuh diri. sebagian korban sebenarnya mengalami penundaan kemunculan gejala itu.laki korban pelecehan seksual. pelaku sebetulnya adalah penderita pedofilia. Ini tidak berarti bahwa pelaku yang melakukan pelecehan seksual tidak dapat dituntut tanggung jawabnya. teladan kehidupan seksualitas orangtua yang bersih adalah unsur positif yang . Selain itu. Sebagian korban menderita stres pasca trauma (post-traumatic stress disorder). mengalami masalah perilaku. antara lain dapat muncul dalam bentuk gangguan makan seperti anoreksia atau bulimia. 1995). Patut menjadi catatan bahwa anak laki. gejala kejiwaan serius baru muncul setelah mereka dewasa. antara lain dengan tidak mengeksploitasi pengalaman getir yang mereka alami di media massa. Keterbukaan dan penerimaan orangtua terhadap anak akan memampukan anak mengomunikasikan secara bebas apa saja yang mereka alami. Meski tidak ditemukan gejala kejiwaan yang berarti pada beberapa korban. dan lebih besar kemungkinannya menyalahgunakan zat psikoaktif (Bagley dalam Rekers. berpotensi menjadi pelaku pedofilia (orang yang melakukan aktivitas seksual dengan korban anak usia 13 tahun ke bawah) pada masa remaja atau masa dewasa mereka (Bagley dalam Rekers. Studi yang luas. Artinya. Korban pelecehan seksual berusia muda seyogianya menjadi perhatian kita. korban pelecehan seks di masa kecil mereka. Mereka juga menghukum diri dengan berbagai cara. hancurnya penghargaan diri. Orangtua diharapkan memperhatikan keharmonisan rumah tangga mereka. gejala somatik (merasa sakit serius padahal sehat secara fisik). Kita perlu mengurangi penderitaan korban. kecemasan. Kenyataan ini menunjukkan bahwa film porno sebagai alasan terjadinya sodomi lebih sering merupakan penyebab sekunder. yang mengalami penolakan dan diabaikan dalam keluarganya. Eratnya relasi orangtua-anak membantu orangtua memantau pergaulan anaknya dan mencegah lebih banyak problem yang terkait dengan masalah relasi sosial anaknya. Berulangnya tindakan pelecehan tanpa diketahui masyarakat sekitar menunjukkan adanya perencanaan yang disengaja oleh pelaku untuk menjerat korbannya. juga menghentikan jatuhnya lebih banyak korban. anak yang dididik dengan baik dalam keluarga harmonis memungkinkan mereka memperoleh kepercayaan diri tinggi dan berdaya tahan lebih tangguh sehingga mereka tidak mudah menjadi korban seksual berkepanjangan. atau depresi berkepanjangan (Calhoun & Atkeson. Remaja yang semasa kecilnya menjadi korban seks juga sangat rentan terhadap stres. anak punya keberanian untuk segera melaporkan tindak pelecehan seksual bila mereka atau teman mereka mengalaminya. dan yang tidak dapat mengendalikan nafsunya ketika memperoleh rangsangan dari film porno. bermasalah secara seksual. Stigmatisasi terhadap korban juga perlu dihindarkan dan hal ini perlu dipahami termasuk oleh aparat penegak hukum. yang dilakukan Bagley. cenderung menarik diri dari sekolah dan teman sebaya.

Kemungkinan motif kekerasan yang dilakukannya adalah untuk eksploitasi-memuaskan rasa ingin tahu. atau menirukan kejadian yang dialami sebelumnya. Mereka perlu memperoleh bekal untuk menghindarkan anaknya menjadi korban seks teman atau orang dewasa. jumlah yang terlihat belum tentu menunjukkan fakta yang sesungguhnya. Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap penegakan hukum merupakan salah satu faktor meningkatnya pelaporan kasus kekerasan seksual. 1998). Salah satu upaya yang banyak dilakukan di negara maju adalah dengan mengajarkan kepada orangtua bagaimana membuat anak mampu membedakan sentuhan yang pantas (sebagai pertanda kasih sayang) dengan yang tidak pantas (yang diarahkan pada daerah erogen). Hal ini belum tentu merupakan indikator meningkatnya jumlah kasus. sangat mungkin sebelumnya adalah korban dari kekerasan seksual yang dilakukan oleh pelaku lain. Dengan adanya azas praduga tak bersalah. Penganiayaan seksual pada anak didefinisikan sebagai adanya tindakan seksual yang mencakup tetapi tidak dibatas pada insiden membuka pakaian. Mudahnya pelaku pelecehan seks memperoleh film porno menunjukkan semakin tolerannya kita terhadap penyimpangan seksual di sekitar kita. Berbagai tindak pelecehan seksual yang terjadi mengindikasikan adanya penyakit sosial di masyarakat kita. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 1. Anak sebagai pelaku kekerasan seksual.memberi arah bagi anak sehingga anak mampu mengembangkan kehidupan seks yang sehat pula. karena fenomena yang terjadi adalah fenomena gunung es. orangtua perlu memberi rasa aman kepada anak agar ia dapat bercerita lebih detail. Orangtua juga perlu diberi informasi dan pendidikan seks yang sehat. menyentuh dengan cara yang tidak pantas dan penetrasi (koitus seksual). . hendaknya ditelusuri dengan mendalam faktor yang mendorong anak menjadi pelakukekerasan seksual. yang dilakukan dengan seorang anak untuk kesenangan seksual orang dewasa. Kebanyakan anak yang mengalami pelecehan seksual dapat memberi gambaran detail tentang aktivitas seks yang seharusnya belum dipahami oleh anak seusia mereka. agar anak tidak dua kali menjadi korban (Maria. Kesimpulan Kasus kekerasan seksual yang dialami oleh anak dibawah umur belakangan ini semakin banyak muncul dipermukaan. baik dari perlakuan langsung maupun dari media yang dilihatnya. Insest telah didefinisikan sebagai eksploitasi seksual pada seorang anak di bawah usia 18 tahun oleh kerabat atau buka kerabat yang merupakan orang dipercaya dalam keluarga (Townsend. 2008). Bila ada sentuhan yang tidak pantas mereka terima.

!. kesedihan. M. Saran Berdasarkan asuhan keperawatan anak pada retardasi mental maka disarankan : 1. M. Sekolah Sekolah dapat bekerja sama dengan keluarga dan para dokter untuk membantu anak korban aniaya seksual di sekolah.11/kesehatan/news/0307/21/103523. mimpi buruk.F. fisur pada anus. ketakutan. mengatur kegiatan harian. antara lain: kemarahan. Moorhouse. kebingungan. (2007). http://64. menggunakan jadwal untuk pekerjaan rumah. Townsend. DAFTAR PUSTAKA Doengoes. Korban Pelecehan Seksual Usia Muda . (2003). Edisi 3. 2. H. dan perubahan perilaku baik menjadi buruk 1.Efek klinis pencabulan berkisar dari pendarahan pada genital dan anus.htm. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC Elia. Keluarga/Orang tua Keluarga atau orang tua dalam membantu anak yang mengalami seksual abuse harus memberikan perawatan anak dengan metode yang berbeda dengan anak yang normal. dan memperpertahankan aturan secara konsisten dan berimbang. Efek psikologis pencabulan terhadap anak umumnya berjangka panjang.71. rasa tak Iman. Diakses tanggal 26 April 2009 . dan penipisan/kerusakan hymen pada vagina.E. kecemasan. Komunikasi terbuka antara orangtua dan staf sekolah dapat merupakan kunci keberhasilan anak dalam menyesuaikan diri di sekolah.. pembesaran liang vagina dan anus. M.203. Oleh karena itu hendaknya orang tua atau keluarga menyusun kegiatan sehingga anak mempunyai rutinitas yang sama tiap hari. Rencana asuhan keperawatan Psikiatri (terjemahan). 3. Perawat Perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada anak dengan seksual abuse dapat melibatkan anak dalam brain Gym untuk memfokuskan perhatian anak dan melupakan peristiwa trauma akibat penganiayaan seksual.C.

freewebs.id/detail.kesrepro. (2008). http://www.info/?q=node/194. (2006).dradio1034fm.com/group/ urantiaindonesia/message/1516. http://www. http://groups. Diakses tanggal 26 April 2009 Minangsari.htm. B. Pola Child Sexual Abuse.freewebs. Diakses tanggal 26 April 2009 Freewebs. (2006). D. Pendahuluan Sebuah Tinjauan . I. (2006). (2009).or. Merespons Anak yang Mengalami Pelecehan Seksual!.yahoo. Topik Interaktif: "Membedah Penyebab Kekerasan Seksual terhadap Anak"Penyebab Kekerasan Seksual terhadap Anak http://www. (2007. M.php? option=com_content&task=view&id=1656&Itemid=62. Hadapi Kekerasan Seksual Pada Anak Hendaknya Tetap Mempertimbangkan Faktor Psikologis http://apindonesia.C. Diakses tanggal 26 April 2009 Pramono. Buku Saku Diagnosa Keperawatan pada Keperawatan Psikiatri pedoman Untuk Pembuatan rencana Perawatan (terjemahan). http://www.com /new/index.php?id=4269. Jakarta : penerbit Buku Kedokteran EGC . Penyiksaan Anak. Diakses 26 April 2009 Maria. Diakses tanggal 26 April 2009 Townsend.htm.FKUI.K. Edisi 3. Diakses tanggal 26 April 2009 Suda. (1998).com/ forensik_sexual_abuse/.com/ childabusea1/.

com/2009/06/bab-i-pendahuluan-latar-belakang_19.html .http://kayunanan.blogspot.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful