P. 1
Laporan Praktikum Hukum Ohm

Laporan Praktikum Hukum Ohm

|Views: 17,240|Likes:
Published by Susita Pratiwi

More info:

Published by: Susita Pratiwi on Apr 01, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/05/2015

pdf

text

original

1

HUKUM OHM
(RL.1)
I. TUJUAN
1. Memahami rangkaian listrik seri dan paralel
2. Menentukan hambatan ekuivalen untuk rangkaian seri dan paralel.

II. DASAR TEORI
2.1 Pengertian Hukum Ohm
Pada tahun 1927, Georg Simon Ohm (1787-1854), ahli fisika berkebangsaan
Jerman melakukan suatu percobaan untuk menyelidiki hubungan antara kuat arus
yang melalui penghantar dengan tegangan pada ujung-ujung penghantar seperti yang
terlihat seperti gambar dibawah ini ;







Gambar 1. Rangkaian untuk menyelidiki hubungan antara tegangan V dengan kuat
arus I pada sebuah komponen
Hukum Ohm adalah suatu pernyataan bahwa besar arus listrik yang mengalir
melalui sebuah penghantar selalu berbanding lurus dengan beda potensial yang
diterapkan kepadanya. Sebuah benda penghantar dikatakan mematuhi hukum Ohm
apabila nilai resistansinya tidak bergantung terhadap besar dan polaritas beda
potensial yang dikenakan kepadanya. Bunyi hokum Ohm yaitu :
1. Besarnya arus listrik yang mengalir sebanding dengan besarnya beda
potensial (Tegangan). Untuk sementara tegangan dan beda potensial
dianggap sama walau sebenarnya kedua secara konsep berbeda. Secara
matematika di tuliskan I ∞ V atau V ∞ I, Untuk menghilangkan
kesebandingan ini maka perlu ditambahkan sebuah konstanta yang

2

kemudian di kenal dengan Hambatan (R) sehingga persamaannya
menjadi
V = I.R
Dimana V adalah tegangan listrik yag terdapat pada kedua ujung
penghantar (volt), I adalah arus listrik yang mengalir pada suatu
penghantar (A) dan R adalah nilai hambatan listrik (Ohm).
2. Perbandingan antara tegangan dengan kuat arus merupakan suatu
bilangan konstan yang disebut hambatan listrik. Secara matematika di
tuliskan V/I = R atau dituliskan V = I.R.
Hambatan suatu penghantar bergantung pada karateristik atau sifat-sifat
penghantar sendiri, yaitu:
- Hambatan jenisnya ( ) µ
- Panjang penghantar ( ) l
- Luas penampang penghantar ( )
2
m
2.1 Komponen Ohm dan Non-Ohm
Secara tegas, hukum ohm hanya berlaku untuk resistor karena pada resistor I
adalah sebanding dengan V untuk seluruh nilai I dan V. Komponen yang memenuhi
hukum kesebandingan I dan V disebut komponen ohmic, yang dicirikan oleh grafik
I– V berbentuk garis lurus condong ke atas melalui titik asal. Dalam banyak
komponen, hambatan yang didefinisikan oleh V = I.R tidaklah konstan tetapi
bergantung pada nilai-nilai V dan I. komponen-komponen seperti ini sebut komponen
non-ohmic grafik I terdapat V untuk komponen-komponen seperti ini tidak linier.
Besarnya hambatan suatu penghantar ditentukan oleh panjang (I), penampang
(A) dan hambatan jenis (P) penghantar secara matematis hubangan tesebut ditulis
sebagai berikut :

Penampang kawat umumnya berbentuk lingkaran, sehingga luas penampang.
4
2
2
D
r A
t
t = =
A
L
R µ =

3

Dengan r adalah jari-jari kawat dan D adalah diameter kawat keterangan :
- R : hambatan penghantar (ohm)
- t : Hambatan jenis penghantar (ohm mm
2
/m atau ohm m)
- P : panjang penghantar (m)
- A : luas panjang (m
2
)
Hambatan jenis suatu bahan adalah hambatan suatu bahan yang panjang 1 m
dan luas penampangnya 1 m
2
. misalnya hambatan jenis baja adalah 1,5 x 10
-7
ohm m.
Artinya kawat baja dengan panjang 1 m dan luas penampang 1 m
2
mempunyai
hambatan 0,15 ohm. Nilai hambatan jenis suatu penghantar bergantung pada jenis
penghantar dan suhu. Penghantar logam hambatan jenisnya akan jika suhunya
bertambah maka disesuaikan dengan perbesaran berikut :
( ) T t A + = o µ µ 1
Keterangan :
Pt : Hambatan jenis akhir
P : Hambatan jenis awal
o : koefisien suhu hambatan jenis
T A : perubahan suhu
Pada umumnya hambatan kawat juga akan naik jika suhunya bertambah dalam suatu
batas perubahah suhu tertentu, perubahan fraksi hambatan ( ) µo µ / A dibandingkan
dengan perubaha suhu ( T A ) sehingga :
T A =
A
o
µ
µ

Oleh karena hambatan penghantar sebanding dengan hambatan jenis, maka
didapat persamaan berikut :
RααΔ ΔR atau αΔT = =
A
R
R


4


2.3 Susunan Seri dan Paralel
Hambatan listrik suatu penghantar dapat disusun secara seri atau paralel. Dan
dapat pula disusun dengan cara gabungan antara susunan seri dan paralel.
A. Susunan Seri
Hambatan pengganti dari n hambatan listrik yang disusun secara seri dapat
dinyatakan dalam persamaan berikut :
R
5
= R
1
+ R
2
+ R
3
+ .. R
n

Pada hambatan susunan seri berikut empat prinsip yaitu :
- Susunan seri bertujuan untuk memperbesar hambatan suatu
rangkaian
- Kuat arus yang melalui tiap-tiap komponen sama yaitu sama
dengan kuat arus yang melalui hambatan pengganti serinya I
1
= I
2

= I
3
=….. = I
seri
.
- Tegangan pada ujung-ujung hambatan pengganti seri sama dengan
jumlah tegangan pada ujung-ujung tiap komponen V
seri
= V
1
+ V
2

+ V
3
+….
- Susunan seri berfungsi sebagi pembagi tegangan dimana tegangan
pada ujung-ujung tiap komponen sebanding dengan hambatannya.
V
1
: V
2
: V
3
:….= R
1
: R
2
: R
3
B. Susunan Paralel
Hambatan penganti dua komponen R
1
dan R
2
yang disusun secara
paralel dapat dihitung lebih cepat dengan persamaan khusus, yaitu :
2 1
2 1
jumlah
kali hasil
xR R
xR R
Rp = =
Secara umum untuk komponen-komponen yang disusun paralel, kebalikan
atau pengganti paralel sama dengan jumlah dari kebaikan tiap-tiap
hambtan.
¿
=
+ + + = =
n
i
R R R Rp
I
R
I
1
3 2 1
......
1 1 1


5

Pada hambatan susunan paralel berikut empat prinsip yaitu.
- Susunan paralel bertujuan untuk memperkecil hambtansuatu
rangkaian.
- Tegangan pada ujung-ujung tiap komponen sama, yaitu sama
dengan tegangan pada ujung-ujung hambatan pengganti
paralelnya.
V
1
= V
2
= V
3
=…. V= paralel.
- Kuat arus yang melakui hambtan pengganti paralel sama dengan
jumlah kuat arus yang melalui tiap-tiap komponen.
I
paralel
= I
1
+ I
2
+ I
3
+
- Susunan paralel berfungsi sebagai pengganti arus dimana kuat arus
yang melalui tiap-tiap komponen sebanding dengan kebalikan
hambtannya.
3 2 1
3 2 1
1 1 1
: :
R R R
I I I + + =

III. ALAT DAN BAHAN
Satu set peralatan untuk percobaan rangkaian listrik sederhana.
IV. PROSEDUR KERJA
- Rangkaian Seri
1. Peralatan dirangkai seperti gambar 1. Hambatan/resistansi yang digunakan
dicatat.
2. Rangkaian dihubungkan dengan sumber arus.
3. Alat pengukur arus diatur pada skala Current DC.
4. Alat pengukut tegangan diatur pada skala voltage DC.
5. Sumber arus dihidupkan, arus diatur sedemikian rupa agar arus = 0,25 A.
6. Tegangan yang dihasilkan dicatat.
7. Langkah 5 dan 6 dilakukan untuk arus I yang lain.



6







Gambar 3.1 Rangkaian seri

- Rangkaian Paralel
1. Peralatan dirangkai seperti gambar 2. Hambatan/resistansi yang digunakan
dicatat.
2. Rangkaian dihubungkan dengan sumber arus.
3. Alat pengukur arus diatur pada skala Current DC.
4. Alat pengukut tegangan diatur pada skala voltage DC.
5. Sumber arus dihidupkan, arus diatur sedemikian rupa agar arus = 0,25 A.
6. Tegangan yang dihasilkan dicatat.
7. Langkah 5 dan 6 dilakukan untuk arus I yang lain.






Gambar 3.2 Rangkaian Paralel

V. HASIL PENGAMATAN
No
Seri Paralel
Arus
(ampere)
Tegangan
(volt)
Arus
(ampere)
Tegangan
(volt)
1 3,5 x 10
-6
1,5
0,6 x 10
-3
1
1,5 1
1,5 1
1,5 1

7

1,5 1
2 6 x 10
-3

3
1,4 x 10
-3

2,6
3 2,6
3 2,6
3 2,6
3 2,6
3 9 x 10
-3

4
2,2 x 10
-3

4
4 4
4 4
4 4
4 4

VI. PERHITUNGAN
1. Hambatan
O = =
=
÷
3
3
10 6 , 428
10 . 5 , 3
5 , 1
x R
I
V
R

Dengan cara sama maka akan diperoleh :
No
Seri Paralel
Arus
(ampere)
Tegangan
(volt)
Hambatan
(Ω)
Arus
(ampere)
Tegangan
(volt)
Hambatan
(Ω)
1 3,5 x 10
-6
1,5 428,6 x 10
3
0,6 x 10
-3
1 1666,67
1,5 428,6 x 10
3
1 1666,67
1,5 428,6 x 10
3
1 1666,67
1,5 428,6 x 10
3
1 1666,67
1,5 428,6 x 10
3
1 1666,67
2 6 x 10
-3

3 500
1,4 x 10
-3

2,6 1857,1
3 500 2,6 1857,1
3 500 2,6 1857,1
3 500 2,6 1857,1
3 500 2,6 1857,1
3 9 x 10
-3

4 444,4
2,2 x 10
-3

4 1818,2
4 444,4 4 1818,2
4 444,4 4 1818,2
4 444,4 4 1818,2
4 444,4 4 1818,2

2. Regresi Linear
- Rangkaian Seri

8

( )
¿ ¿
¿
= =
=
|
|
|
|
.
|

\
|
÷ = ÷ =
n
i
n
i
n
i
n
Xi
Xi X Xi Sxx
1 1
1
2
2 2
( ) ( ) ( )
6
6 6 6 6
2
3
2
3
2
3
2
3
10 988 , 91
10 011688 , 25 10 81 10 36 10 225 , 1
3
10 0035 , 15
10 9 10 6 10 0035 , 0
÷
÷ ÷ ÷ ÷
÷
÷ ÷ ÷
=
÷ + + =
|
|
.
|

\
|
÷ + + =
x
x x x x
x
x x x


( )
¿ ¿
¿ ¿
= =
= =
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
÷ = ÷ =
n
i
n
i
n
i
n
i
n
Yi Xi
XiYi Yi X Xi Sxy
1 1
1 1 2

( ) ( ) ( ) { }
( ) ( )
3
3 3 3 3
3
3 3 3
10 495 , 11
10 5099 , 42 10 36 10 18 10 00525 , 0
3
5 , 8 10 0035 , 15
4 10 9 3 10 6 5 , 1 10 0035 , 0
÷
÷ ÷ ÷ ÷
÷
÷ ÷ ÷
=
÷ + + =
|
|
.
|

\
|
÷ + + =
x
x x x x
x x
x x x x x x

Sehingga diperoleh :
( )
875 , 2 , 10 9
85 , 2 , 10 6
49 , 1 , 10 0035 , 0
125 25 , 2
25 , 2 10 6 125 3
125
10 988 , 91
10 495 , 11
3
3
3
3
6
3
= =
= =
= =
+ =
= ÷ = ÷ =
= = =
÷
÷
÷
÷
÷
÷
makaY x X
makaY x X
makaY x X
X Y
x BiX Y Bo
x
x
SXX
SXY
Bi

- Rangkaian Paralel
( )
¿ ¿
¿
= =
=
|
|
|
|
.
|

\
|
÷ = ÷ =
n
i
n
i
n
i
n
Xi
Xi X Xi Sxx
1 1
1
2
2 2
( ) ( ) ( )
( )
6
6 6 6 6
2
3
2
3
2
3
2
3
10 2 , 5
10 96 , 1 10 84 , 4 10 96 , 1 10 36 , 0
3
10 2 , 4
10 2 , 2 10 4 , 1 10 6 , 0
÷
÷ ÷ ÷ ÷
÷
÷ ÷ ÷
=
÷ + + =
|
|
.
|

\
|
÷ + + =
x
x x x x
x
x x x

( )
¿ ¿
¿ ¿
= =
= =
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
÷ = ÷ =
n
i
n
i
n
i
n
i
n
Yi Xi
XiYi Yi X Xi Sxy
1 1
1 1 2


9

( ) ( ) ( ) { }
( ) ( )
3
3 3 3 3
3
3 3 3
10 4 , 2
10 64 , 10 10 8 , 8 10 64 , 3 10 6 , 0
3
6 , 7 10 . 2 , 4
4 10 . 2 , 2 6 , 2 10 . 4 , 1 1 10 . 6 , 0
÷
÷ ÷ ÷ ÷
÷
÷ ÷ ÷
=
÷ + + =
|
|
.
|

\
|
÷ + + =
x
x x x x
x
x x x

Sehingga diperoleh :
( )
9836 , 2 , 10 2 , 2
9532 . 1 , 10 4 , 1
7228 , 0 , 10 6 , 0
462 9532 , 1
9532 , 1 0014 , 0 462 6 , 2
462
10 2 , 5
10 4 , 2
3
3
3
3
3
= =
= =
= =
+ =
= ÷ = ÷ =
= = =
÷
÷
÷
÷
÷
makaY x X
makaY x X
makaY x X
X Y
BiX Y Bo
x
x
SXX
SXY
Bi


3. Hambatan R dari gradien
X
Y A

- Rangkaian seri
X
Y
M
A
A
=
O = =
÷
÷
=
÷ ÷ ÷
39 , 153
10 99 , 8
38 , 1
10 0053 , 0 10 9
495 , 1 875 , 2
3 3 3
x x x

- Rangkaian paralel
X
Y
M
A
A
=
O = =
÷
÷
=
÷ ÷
413 , 1
6 , 1
2608 , 2
10 6 , 0 10 2 , 2
7228 , 0 9836 , 2
3 3
x x


4. Rangkaian ekuivalen
- Rangkaian seri
Rs = E Ri = R
1
+ R
2
+ R
3
+ R
4

= 428,57 + 500 + 444,4
= 1372,97
- Rangkaian paralel

10

4 3 2 1
R
I
R
I
R
I
R
I
R
I
+ + + =

VII. RALAT KERAGUAN
Ralat keraguan percobaan rangkaian seri
- Untuk kuat arus (I)
I
I

( ) I I ÷

( )
2
I I ÷

3,5.10-3 3,5.10-3 0 0
3,5.10-3 3,5.10-3 0 0
3,5.10-3 3,5.10-3 0 0
3,5.10-3 3,5.10-3 0 0
3,5.10-3 3,5.10-3 0 0

( ) 0
2
= ÷ E I I

( )
( ) 1
2
÷
÷ E
= A
n n
I I
I

0
20
0
) 1 5 ( 5
0
= =
÷
=
Ralat nisbi = 0 % 100
10 . 5 , 3
0
% 100
3
= =
A
÷
x x
I
I

Kebenaran praktikum = 100% - 0% = 100%
Dengan cara yang sama maka akan diperoleh :
Perc. I
I

( )
2
I I ÷

I A

Kebenaran prak
1 3,5.10-3 3,5.10-3 0 0 100%
2 6.10-3 6.10-3 0 0 100%
3 9.10-3 9.10-3 0 0 100%

- Untuk tegangan (V)
V
V

( ) V V ÷

( )
2
V V ÷

1,5 1,5 0 0
1,5 1,5 0 0
1,5 1,5 0 0
1,5 1,5 0 0
1,5 1,5 0 0

( ) 0
2
= ÷ E V V


11

( )
( ) 1
2
÷
÷ E
= A
n n
V V
I

0
20
0
) 1 5 ( 5
0
= =
÷
=
Ralat nisbi = % 0 % 100
5 , 1
0
% 100 = =
A
x x
V
V

Kebenaran praktikum = 100% - 0% = 100%

Dengan cara yang sama maka akan diperoleh :
Perc V
V

( )
2
V V ÷

V A

Kebenaran
praktikum
1 1,5 1,5 0 0 100%
2 3 3 0 0 100%
3 4 4 0 0 100%

I I
V V
R R
A ±
A ±
= A ±
Untuk percobaan I
I I
V V
R R
A ±
A ±
= A ±
0 10 428
) 0 ( 10 428 10 428
10 . 5 , 3
0
5 , 1
0
10 . 5 , 3
5 , 1
10 . 5 , 3
5 , 1
0 10 . 5 , 3
0 5 , 1
3
3 3
3 3 3
3
± =
± =
|
|
.
|

\
|
+ ± =
±
±
=
÷ ÷ ÷
÷
x
x x

Ralat nisbi = % 100 x
R
R A

% 0 % 100
10 428
0
3
= = x
x

Kebenaran praktikum = 100% - 0% = 100%
Dengan cara yang sama maka akan diperoleh:
Perc
I V A ±

I I A ±

R R A ±

Kebenaran praktikum
1 1,5 + 0 0,0035.10-3 + 0 428.103 + 0 100%

12

2 3 + 0 6.10-3 + 0 500 + 0 100%
3 4 + 0 9.10-3 + 0 444,4 + 0 100%

Ralat keraguan percobaan rangkaian paralel
- Untuk kuat arus (I)
I
I

( ) I I ÷

( )
2
I I ÷

0,6.10-3 0,6.10-3 0 0
0,6.10-3 0,6.10-3 0 0
0,6.10-3 0,6.10-3 0 0
0,6.10-3 0,6.10-3 0 0
0,6.10-3 0,6.10-3 0 0

( ) 0
2
= ÷ E I I

( )
( ) 1
2
÷
÷ E
= A
n n
I I
I

0
) 1 5 ( 5
0
=
÷
=

Ralat nisbi = 0 % 100
10 . 6 , 0
0
% 100
3
= =
A
÷
x x
I
I

Kebenaran praktikum = 100% - 0% = 100%
Dengan cara yang sama maka akan diperoleh :
Perc. I
I

( )
2
I I ÷

I A

Kebenaran
praktiktikum
1 0,6.10-3 0,6.10-3 0 0 100%
2 1,4.10-3 1,4.10-3 0 0 100%
3 2,2.10-3 2,2.10-3 0 0 100%

- Untuk tegangan (V)
V
V

( ) V V ÷

( )
2
V V ÷

1 1 0 0
1 1 0 0
1 1 0 0
1 1 0 0
1 1 0 0

( ) 0
2
= ÷ E V V

( )
( ) 1
2
÷
÷ E
= A
n n
V V
I


13


0
20
0
) 1 5 ( 5
0
=
=
÷
=

Ralat nisbi = % 0 % 100
1
0
% 100 = =
A
x x
V
V

Kebenaran praktikum = 100% - 0% = 100%
Dengan cara yang sama maka akan diperoleh :
Perc V
V

( )
2
V V ÷

V A

Kebenaran
praktikum
1 1 1 0 0 100%
2 2,6 2,6 0 0 100%
3 4 4 0 0 100%

I I
V V
R R
A ±
A ±
= A ±
- Untuk percobaan I
I I
V V
R R
A ±
A ±
= A ±

0 67 , 1666
) 0 ( 67 , 1666 67 , 1666
10 . 6 , 0
0
1
0
10 . 6 , 0
1
10 . 6 , 0
1
0 10 . 6 , 0
0 1
3 3 3
3
± =
± =
|
|
.
|

\
|
+ ± =
±
±
=
÷ ÷ ÷
÷

Ralat nisbi = % 100 x
R
R A

% 0 % 100
67 , 1666
0
= = x
Kebenaran praktikum = 100% - 0% = 100%
Dengan cara yang sama maka akan diperoleh:
Perc
I V A ±

I I A ±

R R A ±

Kebenaran
praktikum
1 1 + 0 0,6.10-3 + 0 67 , 1666
+ 0
100%
2 2,6 + 0 1,4.10-3 + 0 1857,1 + 0 100%
3 4 + 0 2,2.10-3 + 0 1818,2 + 0 100%


14

VIII. GRAFIK




IX. PEMBAHASAN
Hukum Ohm adalah besar arus listrik yang mengalir melalui sebuah penghantar
selalu berbanding lurus dengan beda potensial yang diterapkan kepadanya. Praktikum
kali ini yaitu Hukum Ohm kali ini bertujuan untuk memahami rangkaian listrik seri
dan paralel serta menentukan hambatan ekuivalen untuk rangkaian seri dan paralel.
Praktikum Hukum Ohm ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu untuk rangkaian seri,
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
4
4.5
0 3,5.10 6.1 9.1
T
E
G
A
N
G
A
N

(
V
O
L
T
)

KUAT ARUS (AMPERE)
GRAFIK RANGKAIAN SERI
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
4
4.5
0 0,6.10 1,4.10 2,2.10
T
E
G
A
N
G
A
N

(
V
O
L
T
)

KUAT ARUS (AMPERE)
GRAFIK RANGKAIAN PARALEL

15

dan untuk rangkain paralel. Alat yang dipergunakan dalam percobaan ini adalah
amperemeter yang berfungsi untuk mengukur arus listrik yang mengalir, voltmeter
yang berfungsi untuk mengukur tegangan, sumber arus dan hambatan.
Percobaan yang pertama yaitu rangkaian seri. Alat disusun sesuai dengan
rangkaian seri. Percobaan ini dilakukan sebanyak empat kali dengan arus yang
berbeda-beda, diantaranya 2A,4A, dan 6A. Selanjutnya dengan arus yang sama percobaan
diulang lagi sebanyak lima kali untuk memperoleh data yang akurat. Hal yang diamati dalam
praktikum kali ini adalah besarnya tegangan yang dihasilkan dengan menggunakan
voltameter. Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan untuk sumber arus 2 V, arus
yang diperoleh adalah 3,5 A, dengan Tegangan 1,5V sehingga hambatan yang diperoleh
yaitu 428,6 x 10
3
. Untuk sumber arus 4V, arus yang diperoleh adalah 6A, dengan tegangan
4V dan hambatan yang diperoleh yaitu 500. Sedangkan untuk sumber arus 6V, arus yang
diperoleh adalah 9A dengan tegangan 4V, dan hambatan yang diperoleh yaitu 444,4.
Percobaan yang kedua yaitu rangkaian paralel. Alat disusun sesuai dengan
rangkaian paralel. Percobaan ini dilakukan sebanyak empat kali dengan arus yang
berbeda-beda, diantaranya 2A,4A, dan 6A. Selanjutnya dengan arus yang sama percobaan
diulang lagi sebanyak lima kali untuk memperoleh data yang akurat. Hal yang diamati dalam
praktikum kali ini adalah besarnya tegangan yang dihasilkan dengan menggunakan
voltameter. Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan untuk sumber arus 2 V, arus
yang diperoleh adalah 0,6 A, dengan Tegangan 1V, sedangkan untuk sumber arus 4V, arus
dan tegangan yang diperoleh bervariasi, untuk sumber arus 6V, arus yang diperoleh adalah
22A dengan tegangan 4V. Dari data yang diperoleh selanjutnya kita dapat menentukan
besarnya hambatan.
Berdasarkan grafik Rangkaian seri dan paralel diatas, maka dapat ditunjukkan bahwa
kuat arus listrik (I) berbanding dengan tegangan (V) dimana semakin besar kuat arus (I),
maka semakin besar pula tegangan (V) yang dihasilkan. Hal ini dapat ditunjukkan dengan
kurva yang menanjak kekanan. Untuk regresi linear rangkaian seri diperoleh Sxx yaitu
91,988x10
-6
, dan untuk Sxy diperoleh 11,495x10
-3
. Sedangkan untuk regresi linear rangkaian
paralel diperoleh Sxx yaitu 5,2x10
-6
, dan Sxy yaitu 2,4x10
-3
.
Setelah menentukan hambatan serta regresi linearnya, maka menentukan ralat
keraguan. Kebenaran praktikum dalam menentukan arus yang mengalir, maupun
tegangan yaitu 100%. Dalam melakukan praktikum Hukum Ohm, tidak terjadi
perubahan pada tegangan dan arus yang mengalir dengan sumber arus yang sama. Hal

16

ini disebabkan kemungkinan kesalahan praktikan dalam membaca amperemeter dan
voltmeter.

X. KESIMPULAN
1. Perubahan beda potensial akan diikuti perubahan arus secara linear jika hambatan
yang digunakan adalah tetap
2. Berdasarkan grafik rangkaian seri dan pararel diperoleh bahwa kuat arus (I)
sebanding tegangan (V) dimana grafiknya garis lurus condong ke atas dan melalui
titik asal 0 (0,1).
3. Hambatan listrik suatu penghantar dapat disusun secara seri atau paralel.
4. Hambatan suatu penghantar bergantung pada karateristik atau sifat-sifat
penghantar sendiri, diantaranya hambatan jenisnya, panjang penghantar, luas
penampang penghantar.
5. Kuat arus dalam rangkaian adalah sebanding dengan tegangan yang diberikan dan
berbanding terbalik dengan hambatannya.
6. Hambatan yang diperoleh untuk rangkaian seri dengan menggunakan sumber arus
yaitu 428,6 x 10
3
ohm, untuk 4 V hambatan yang diperoleh yaitu 500 ohm, dan
untuk 6V hambatan yang diperoleh yaitu 444,4 ohm.
7. Hambatan yang diperoleh untuk rangkaian paralel dengan menggunakan sumber
arus yaitu 1666,67 ohm, untuk 4 V hambatan yang diperoleh yaitu 1857,1 ohm,
dan untuk 6V hambatan yang diperoleh yaitu 1818,2 ohm.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->