P. 1
Makalah Dinamika Konservasi Lahan Basah & Gambut Agrotek D 010 Faperta UNTAN

Makalah Dinamika Konservasi Lahan Basah & Gambut Agrotek D 010 Faperta UNTAN

|Views: 1,412|Likes:

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Dhieen Witiky Sheild on Apr 01, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/19/2013

pdf

text

original

MAKALAH DKLBG PENGELOLAAN TATA AIR DAN LAHAN PASANG SURUT DI KALIMANTAN BARAT

OLEH : KELOMPOK II AGROTEK D

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

HERIANTO ARBUNAH KORELIA NELIS IVIN PRAYUGO YANTO SYARIFUDIN RATNA YULITA AKIAU

C51110140 C51110141 C51110142 C51110143 C51110146 C51110147 C51110148 C51110149

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA PONTIANAK 2012
1

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah S.w.t, karena limpahan Rahmat dan Karunia-Nyalah maka kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini. Makalah ini merupakan tugas kelompok dari mata kuliah Dinamika Konservasi Lahan Basah dan Gambut, Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura. Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna dan masih memerlukan masukan, kritik dan saran dari semua pembaca agar kekurangan-kekurangan tersebut dapat diperbaiki untuk penulisan yang akan datang. Harapan kami semoga makalah ini berguna bagi siapa saja yang membacanya.

Pontianak, 17 Januari 2012 Team Penyusun,

2

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR DAFTAR ISI .............................................. i …………………………………………………………... ii

BAB I.PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Tujuan 1.3 Rumusan masalah …………………………………………………………... 1 …………………………………………………………... 1 …………………………………………………………... 1

BAB II.INJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian …………………………………………………………... 3

BAB III. PEMBAHASAN 3.1. Lahan pasang surut di KALBAR ………………………………………………. 7 3.2.Pengelolan tata air . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .7 ……………………………. 11

3.3.Kendala dan upaya manfaatan lahan pasang surut 3.4.Penyiapan lahan

……………………………………………… 12 ……………………………. 13 ……………………………. 14

3.5.Zona I: wilayah rawa pasang surut air asin/ payau 3.6.Zona II:wilayah rawa pasang surut air rawa

BAB IV. PENUTUP 4.1 Kesimpulan 4.2 Saran ……………………………………………… 17 ……………………………………………… 18

DAFTAR PUSTAKA

……………………………………………… 19

3

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Kalimantan adalah nama bagian wilayah Indonesia di Pulau Borneo Besar; yaitu pulau terbesar ketiga di dunia setelah Greenland dan Seluruh Pulau Irian. Kalimantan meliputi 73 % massa daratan Borneo. Pengembangan program ekstensifikasi pertanian diarahkan pada pemanfaatan lahan marginal seperti lahan rawa pasang surut. Lahan rawa pasang surut atau gambut adalah suatu wilayah rawa yang dipengaruhi oleh gerakan pasang surut air laut yang secara berkala mengalami luapan air pasang. Jadi lahan rawa pasang surut dapat dikatakan sebagai lahan yang memperoleh pengaruh pasang surut air laut atau sungai-sungai sekitarnya. Bila musim penghujan lahan-lahan ini tergenang air sampai satu meter diatas permukaan tanah, tetapi bila musim kering bahkan permukaan air tanah menjadi lebih besar 50 cm dibawah permukaan tanah. Bahwa lebak ialah lahan rawa yang tidak memperoleh pengaruh pasang surut air laut. Lahan rawa merupakan salah satu ekosistem yang sangat potensial untuk pengembangan pertanian. Luas lahan ini, diperkirakan sekitar 33,4 juta ha, yang terdiri atas lahan pasang surut sekitar 20 juta ha dan rawa lebak 13 juta ha. Namun demikian, ekosistem rawa, secara alami bersifat rapuh (fragile) oleh sebab itu dalam memanfaatkan lahan rawa dengan produktivitas optimal dan berkelanjutan, diperlukan teknologi pengelolaan lahan yang tepat dan terpadu.

1.2 Tujuan Untuk mengetahui dan manfaat Sistem Tata air dan Lahan Pasang Surut Serta Penyebarannya di Kalimantan Barat yang diterapkan.

1.3 Rumusan Masalah  Apa Kendala Pemanfaatan Lahan Pasang Surut ?  Bagaimana pengelolaan tata air pada lahan pasang surut di Kalimantan Barat ?  Apakah yang mempengaruhi terhadap faktor di lahan pasang surut di kalimantan barat ?  Proses dalam sistem irigasi yang diterapkan ?

4

 Perkembangan yang diterapkan dalam sistem irigasi pada lahan pasang surut di kalimantan barat ?

5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Lahan rawa adalah lahan yang sepanjang tahun, atau selama waktu yang panjang dalam setahun, selalu jenuh air (saturated) atau tergenang (waterlogged) air dangkal. Dalam pustaka, lahan rawa sering disebut dengan berbagai istilah, seperti “swamp”, “marsh”, “bog” dan “fen”, masing-masing mempunyai arti yang berbeda. “Swamp” adalah istilah umum untuk rawa, digunakan untuk menyatakan wilayah lahan, atau area yang secara permanen selalu jenuh air, permukaan air tanahnya dangkal, atau tergenang air dangkal hampir sepanjang waktu dalam setahun. Air umumnya tidak bergerak, atau tidak mengalir (stagnant), dan bagian dasar tanah berupa lumpur. Dalam kondisi alami, swamp ditumbuhi oleh berbagai vegetasi dari jenis semak-semak sampai pohon-pohonan, dan di daerah tropika biasanya berupa hutan rawa atau hutan gambut. “Marsh” adalah rawa yang genangan airnya bersifat tidak permanen, namun mengalami genangan banjir dari sungai atau air pasang dari laut secara periodik, dimana debu dan liat sebagai muatan sedimen sungai seringkali diendapkan. Tanahnya selalu jenuh air, dengan genangan relatif dangkal. Marsh biasanya dituwmbuhi berbagai tumbuhan akuatik, atau hidrofitik, berupa “reeds” (tumbuhan air sejenis gelagah, buluh atau rumputan tinggi, seperti Phragmites sp.), “sedges” (sejenis rumput rawa berbatang padat, tidak berbuluh, seperti famili Cyperaceae), dan “rushes” (sejenis rumput rawa, seperti purun, atau “mendong”, dari famili Juncaceae, yang batangnya dapat dianyam menjadi tikar, topi, atau keranjang). Marsh dibedakan menjadi "rawa pantai" (coastal marsh, atau saltwater marsh), dan "rawa pedalaman" (inland marsh, atau fresh water marsh) (SSSA, 1984; Monkhouse dan Small, 1978). “Bog” adalah rawa yang tergenang air dangkal, dimana permukaan tanahnya tertutup lapisan vegetasi yang melapuk, khususnya lumut spaghnum sebagai vegetasi dominan, yang menghasilkan lapisan gambut (ber-reaksi) masam. Ada dua macam bog, yaitu "blanket bog”, dan "raised bog”. Blanket bog adalah rawa yang terbentuk karena kondisi curah hujan tinggi, membentuk deposit gambut tersusun dari lumut spaghnum, menutupi tanah seperti selimut pada permukaan lahan yang relatif rata. Raised bog adalah akumulasi gambut masam yang tebal, disebut “hochmoor", yang dapat mencapai

6

ketebalan 5 meter, dan membentuk lapisan (gambut) berbentuk lensa pada suatu cekungan dangkal. “Fed” adalah rawa yang tanahnya jenuh air, ditumbuhi rumputan rawa sejenis “reeds”, “sedges”, dan “rushes”, tetapi air tanahnya ber-reaksi alkalis, biasanya mengandung kapur (CaCO3), atau netral. Umumnya membentuk lapisan gambut subur yang ber-reaksi netral, yang disebut “laagveen” atau “lowmoor”. Lahan rawa merupakan lahan basah, atau “wetland”, yang menurut definisi Ramsar Convention mencakup wilayah “marsh”, “fen”, lahan gambut (peatland), atau air, baik terbentuk secara alami atau buatan, dengan air yang tidak bergerak (static) atau mengalir, baik air tawar, payau, maupun air asin, termasuk juga wilayah laut yang kedalaman airnya, pada keadaan surut terendah tidak melebihi enam meter (Wibowo dan Suyatno, 1997). Lahan rawa sebenarnya merupakan lahan yang menempati posisi peralihan di antara sistem daratan dan sistem perairan (sungai, danau, atau laut), yaitu antara daratan dan laut, atau di daratan sendiri, antara wilayah lahan kering (uplands) dan sungai/danau. Karena menempati posisi peralihan antara sistem perairan dan daratan, maka lahan ini sepanjang tahun, atau dalam waktu yang panjang dalam setahun (beberapa bulan) tergenang dangkal, selalu jenuh air, atau mempunyai air tanah dangkal. Dalam kondisi alami, sebelum dibuka untuk lahan pertanian, lahan rawa ditumbuhi berbagai tumbuhan air, baik sejenis rumputan (reeds, sedges, dan rushes), vegetasi semak maupun kayukayuan/hutan, tanahnya jenuh air atau mempunyai permukaan air tanah dangkal, atau bahkan tergenang dangkal. Sistem usaha pertanian yang sudah berkembang dan sudah lama dikenal di Indonesia adalah sistem pertanian pada ekosistem lahan irigasi/sawah dan ekosistem lahan kering. Sedangkan ekosistem rawa yang terdiri dari lahan rawa pasang surut dan rawa lebak yang nota bene arealnya sangat luas dan sebagian telah direklamasi sejak 2030 tahun lalu, belum banyak disentuh secara sungguh-sungguh. Maksud reklamasi rawa, di samping menunjang program transmigrasi untuk penyebaran penduduk luar Jawa sekaligus perluasan lahan pertanian produktif di wilayah rawa tersebut. Tetapi kenyataan, sistem usaha pertanian lahan pasang surut dan lebak belum banyak diketahui dan dilirik oleh dunia usaha karena kurangnya keberpihakan semua pihak terkait untuk membangunnya. Padahal pertanian lahan pasang surut sangat potensial dan ibarat seekor gajah tidur yang kalau sudah dibangunkan akan merupakan sumber daya pertanian yang sangat besar di masa depan. Terlepas dari segala keberhasilan dan kegagalan yang mungkin terjadi sejak awal pembukaan dan
7

pengembangan lahan rawa untuk pertanian dan permukiman, penulis memiliki obsesi yang kuat bahwa lahan rawa pasang surut Indonesia merupakan new frontier bagi munculnya sentra produksi pertanian masa depan. Biaya yang telah dikeluarkan selama hampir 5 Pelita (1969-1994) membuka lahan rawa tidaklah sedikit dan itu harus ditindaklanjuti. Kondisi lahan pasang surut yang telah dibuka puluhan tahun lalu itu sekarang beragam, dari yang telah dan tetap menjadi semak-belukar sampai dengan yang sudah tertata menjadi sawah, seperti sawah di jalur pantura Jawa. Cukup luas lahan yang kondisinya perlu rehabilitasi terutama saluran sekunder, saluran tersier dan pintu-pintu air ke tahap pengembangan lanjut, agar layak fungsi dan secara teknis akan sangat mendorong keberhasilan usaha tani. Secara teknis lahan pasang surut layak dan cocok dibangun untuk pertanian dengan sistem usaha tani terpadu dengan basis tanaman pangan, tanaman industri (kelapa) dan ternak (ayam dan ruminansia kecil). Kenapa demikian? Karena kondisi alamnya, air selalu tersedia baik dari curah hujan maupun dari arus air pasang laut. Dapat dikatakan, air dari pasang surut dan sungai yang secara alami sudah ada di sana merupakan sumber daya penting dalam membangun sistem usaha pertanian lahan pasang surut berkelanjutan dengan orientasi pada sistem agribisnis. Penduduk yang sudah banyak bermukim di sana merupakan tenaga kerja yang dapat digunakan sebagai sumber tenaga walaupun pada awal-awal ini perlu secara terencana kualitas SDM-nya ditingkatkan dari yang unskilled menjadi tenaga terlatih yang memiliki keahlian di bidang pertanian lahan rawa. Yang perlu mendapat perhatian adalah penataan dan pengelolaan lahan harus dilakukan secara tepat dan hati-hati sebelum lahannya dibangun untuk satu sistem usaha pertanian. Sistem usaha pertanian lahan pasang surut dilihat dari aspek tipologi lahan tipe luapan air dan luas lahan serta teknologi yang sudah tersedia cukup menjanjikan. Lahan rawa pasang surut dapat dikelompokkan dalam empat tipologi utama yakni:

(1) lahan potensial, (2) lahan sulfat masam, (3) lahan gambut dan (4) lahan salin.

Sedangkan lahan rawa lebak dikelompokkan menjadi
8

(1) lahan lebak dangkal/pematang, (2) lebak tengahan dan (3) lahan lebak dalam. Berdasarkan siklus bulanan dan tingginya genangan air pasang di lahan pasang surut dapat dibedakan dengan empat tipe luapan, yaitu tipe luapan A (terluapi air baik saat pasang kecil maupun pasang besar), tipe luapan B (terluapi hanya saat pasang besar), tipe luapan C (tidak pernah terluapi air baik saat pasang besar maupun pasang kecil, tetapi kedalaman air tanahnya kurang dari 50 cm dari permukaan tanah) dan tipe luapan D (tidak terluapi air pasang sementara kedalaman air tanahnya lebih dari 50 cm dari permukaan tanah).

9

BAB III PEMBAHASAN
3.1 Lahan pasang surut di Kalimantan Barat DANAU SENTARUM : LAHAN BASAH TERBESAR DI ASIA Kawasan Danau Sentarum termasuk dalam daftar lokasi lahan basah terpenting di dunia. Predikat tersebut di dapat sejak tahun 1994. Lahan basah adalah salah satu ekosistem terpenting karena

memiliki banyak nilai ekonomi dan keragaman hayati biota darat dan air yang sangat tinggi, pengatur fungsi hidrologi bagi dan iklim mikro bagi suatu kawasan, dan menjadi tempat berkembang biak berbagai tumbuhan dan hewan yang penting bagi manusia. Keunikan dan nilai penting ekosistem lahan basah karena sifat pasang surutnya. Berbagai jenis hewan termasuk burung, ikan dan udang-udang berkembang biak mengikuti siklus pasang surut. Sifat pasang surut ini pula yang membuat lahan kaya akan makana untuk berbagai jenis hewan. Ekosistem lahan basah juga telah membentuk lahirnya kebudayaan trtua manusia di dunia yang penghidupaanya bergantung pada sumber daya lahan basah tersebut, misalnya Mesir dan Mesopotamia. Begitu pentingny lahan basah, hingga perhatian dunia tertuju pada ekosistem ini. Namum lagi-lagi soal pemerintah kita yang seakan-akan tertutup akan semua hal, sehingga cenderung mengabaikan atau malah mengubah kawasan ini.

3.2 Pengelolaan tata air A. Sistem Irigasi Terbatasnya persediaan air irigasi untuk usaha taninya selalu menjadi masalah. Salah satu kendala pada daerah ini adalah terbatasnya air untuk tanaman, oleh karena itu dibutuhkan sistem irigasi pada saat terjadi saat-saat dampak kering. kemarau Untuk atas

mengantisipasi

ketersediaan air untuk pertanian, penerapan beberapa Teknologi Tepat Guna akan
10

sangat membantu diantaranya adalah sistem irigasi mikro, Teknologi Embung, Sistem Irigasi Dam Parit (Channel Reservoir), dan Sistem Irigasi Kendi.

B. Sistem Irigasi Mikro Irigasi mikro adalah salah satu terobosan yang bisa dilakukan. Teknologi ini adalah suatu istilah bagi sistem irigasi yang mengaplikasikan air hanya di sekitar zona penakaran tanaman. Irigasi mikro ini meliputi irigasi tetes (drip irrigation), microspray dan mini-sprinkler. BBP Mekanisasi Pertanian telah melakukan pengembangan sistem irigasi mikro. Lokasi pengembangan pertama dilakukan di kebun percobaan BBP Mektan Serpong. Pengembangan sistem irigasi tetes (drip) diterapkan untuk budidaya cabai dan jagung manis. Sistem irigasi sprinkler diterapkan pada tanaman kacang tanah. Pengujian kinerja terhadap sistem irigasi tetes diperoleh bahwa tingkat keseragaman tetesan untuk tanaman cabai mencapai 82.82% (SU) dan 88.74% (DU) sedangkan untuk tanaman jagung 83.46% (SU) dan 88.21% (DU). Dengan hasil uji tersebut dapat dikatakan bahwa sistem irigasi tetes yang digunakan untuk tanaman cabai dan jagung termasuk dalam katagori BAIK. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat keseragaman tersebut antara lain adalah: kondisi filter air, kondisi lubang emitter yang tersumbat oleh tanah, perubahan koefisien gesek pada pipa lateral karena tumbuhnya lumut dsb.di lahan pasang surut Kalimantan barat yang dilaksanakan tahun anggaran 2006. Sistem irigasi yang diterapkan adalah irigasi tetes (drip) dengan menggunakan komponen emiter yang lebih murah (bekas tutup botol aqua). Hal ini merupakan terobosan baru untuk menjawab penggunaan teknologi tepat guna. Atas dasar beberapa terobosan baru yang telah dilakukan oleh BBP Mektan, diharapkan mampu mengurangi kesulitan petani di musim kemarau. Juga disadari bahwa terobosan penerapan irigasi mikro di lahan kering membutuhkan investasi awal yang mahal. Untuk mengurangi beban petani, peran pemerintah dan dinas terkait sangat diperlukan dalam pendampingan kelembagaan. Penguatan kelembagaan di tingkat petani harus segera

dilakukan, karena dengan kelembagaan yang kuat dapat mengelola sistem irigasi mikro dengan baik.

11

Diharapkan petani di lahan kering dapat memanfaatkan salah satu sistem irigasi dalam pertaniannya.

C. Embung Untuk mengantisipasi dampak kemarau atas ketersediaan air untuk pertanian, penerapan beberapa Teknologi Tepat Guna akan sangat membantu diantaranya adalah: Teknologi Embung. Teknologi ini pernah digalakkan beberapa tahun lalu dan telah terbukti berhasil pada daerah Semi Arid Tropic di dunia. Di beberapa tempat di Indonesia teknologi ini sudah diterapkan. Embung adalah kolam penampung air hujan untuk mensuplai air di musim kemarau, menurunkan volume aliran permukaan sekaligus meningkatkan cadangan air tanah, dan mengurangi kecepatan aliran permukaan hingga daya kikis dan daya angkutnya menurun. Teknologi Embung dapat meningkatkan intensitas tanah dan hasil usaha tani. Di Yogyakarta penanaman dapat dilakukan sepanjang tahun dengan pola padi, tembakau, jagung. Nilai usaha tani pada sawah tadah hujan meningkat dari Rp 4,3 juta/ha/tahun menjadi Rp 11,7 juta/ha/tahun. Pada lahan kering, maka usaha tani meningkat dari Rp 3,5 juta menjadi Rp 8,3 juta/ha/tahun. Selain itu, Embung juga dapat digunakan untuk pemeliharaan ikan, dan air embung dapat pula dimanfaatkan untuk minum bagi ternak. Dengan penerapan teknologi ini, dalam jangka panjang diharapkan muka air tanah naik sehingga dapat dibuat sumur untuk keperluan rumah tangga. Lokasi yang sesuai untuk konstruksi umum bagi teknologi embung adalah : 1) Lapisan tanah bagian bawah kedap air, 2) kemiringan lahan kurang dari 40%, 3) tidak langsung dilalui oleh saluran pembuangan air utama.

D. Sistem Irigasi Dam Parit (Channel Reservoir) Sistem Irigasi Dam Parit (Channel Reservoir), Sistem irigasi dam parit adalah sistem yang memanfaatkan aliran sungai dengan cara memotong aliran sungai dan mengumpulkan air dari aliran sungai tersebut untuk didistribusikan ke saluran irigasi yang ada. Dengan sistem ini, aliran permukaan dapat dikurangi sehingga dapat digunakan sebagai cara untuk penanggulangan banjir. Di samping itu, sistem ini dapat mengurangi sedimentasi dan pendangkalan sungai akibat
12

sedimentasi karena berkurangnya laju aliran permukaan, dan meningkatkan permukaan air tanah. Sistem ini dikembangkan oleh Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat Badan Litbang Pertanian.

E. Sistem Irigasi Kendi Guna mendapatkan sistem irigasi yang hemat air untuk daerah lahan kering dan ancaman kekeringan yang melanda beberapa wilayah di Indonesia setiap tahun Setiawan et al (1998) telah mengembangkan sistem irigasi kendi di Indonesia sejak tahun 1996. dengan sistem ini air irigasi diberikan langsung pada zona perakaran tanaman dan penanaman tanaman lain di sekitar zona pembasahan. Sistem Irigasi Kendi. Ini adalah salah satu bentuk pemberian air pada tanaman melalui zona per-akaran tanaman. Irigasi kendi ini dapat menghemat penggunaan air dengan cara mengatur melalui sifat porositas kendi. Mondal (1974) dan Stein (1990) memasukkan sistem irigasi kendi ke dalam sistem irigasi bawah permukaan. Selanjutnya Stein (1990)

menggolongkannya lagi ke dalam irigasi lokal (Local Irrigation), karena rembesarn air irigasi terjadi secara lambat dengan volume yang rendah (kecil) pada zona perakaran tanaman, sehingga hanya sebagian tanah yang terbasahi, maka sistem irigasi ini mampu mengurangi evaporasi dan perkolasi (Modal, 1978). Teknologi tersebut sudah pernah diujicobakan di lapangan dengan hasil memuaskan di beberapa daerah yaitu, NTB, NTT, Lombok Timur, Sukabumi, dan Bogor. Prof. DR. Budi Indra Setiawan yang melakukan penelitian tersebut, mengatakan bahwa lahan kering kini bisa menjadi lahan produktif terutama untuk budidaya hortikultura dengan menerapkan teknologi irigasi hemat air dan pupuk yaitu dengan teknologi irigasi kendi. Dijelaskan pula, penerapan teknologi tepat guna ini mampu meningkatkan pendapatan petani di desa-desa tertinggal yang pada umumnya berlokasi di lahan-lahan kering. Teknologi ini dapat menghemat penggunaan air dan pupuk pada budidaya tanaman di lahan terbuka, rumah kaca ataupun tanaman sela di antara tanaman perkebunan seperti cabai, lemon, melon, tomat dan lainnya. Dengan menggunakan kendi yang dirancang khusus agar dapat mengeluarkan keringat apabila diisi dengan air, bila kendi tersebut ditanam dalam tanah, maka air dalam kendi akan merembes melalui dindingnya kemudian membasahi tanah langsung ke daerah perakaran.
13

Sementara itu mengenai cara penggunanaanya, volume air dalam kendi dijaga agar selalu terisi air dengan menerapkan teknologi pemberian air bertekanan tetap yang dirancang khusus terbuat dari tangki air. Dengan demikian, pemberian air dan pupuk cair dapat dilakukan secara terpusat dan terkendali sehingga meringankan petani dalam mengairi tanamannya. Secara operasional, kendi ditanam di bawah tanah dekat dengan zona perakaran tanaman. Jumlah kendi yang ditanam tergantung pada jenis tanaman, kebutuhan air tanaman, suplai air serta porositas tanah dan kendi. Mekanisme pengisian air ke dalam kendi adalah dengan memasukkan air yang berasal dari air hujan atau sumber air lainnya melalui selang air. Pada waktu musim kering dimana ketersediaan air di dalam tanah berkurang, maka air dalam kendi akan mengalir ke luar melalui pori-pori kendi sesuai dengan prinsip hukum keseimbangan tekanan air di dalam tanah.

3.3 Kendala dan Upaya Pemanfaatan Lahan Pasang Surut Lahan pasang surut biasanya dicirikan oleh kombinasi bebeerapa kendala seperti ( Anwarhan dan Sulaiman, 1985): 1. pH rendah 2. genangan yang dalam 3. akumulasi zatzat beracun ( besi dan aluminium) 4. salinitas tinggi, kekurangan unsur hara 5. serangan hama dan penyakit 6. tumbuhnya gulma yang dominan. Pemanfaatan lahan pasangan surut yaitu sistem persawahan karena sistem ini paling tepat dan aman terutama terhadap kendala yang ditimbulkan akibat sifat fisik dan kimia tanah. Sistem sawah akan membuat tanah tetap dalam keadaan reduksi dan pada keadaan ini pirit tetap stabil di dalam tanah sehingga tidak membahayakan bagi tanaman padi (Widjaya-Adhi et al., 1992). Berhubungan dengan sistem ini maka pemilihan varietas yang sesuai, pengelolaan air dan pemanfaatan vegetasi alami merupakan kunci utama dalam memperoleh hasil yang optimal dan berkesinambungan. A. Pemilihan varietas untuk persawahan Sebagian besar petani di lahan pasang surut menggunakan padi varietas lokal. Di kalimantan selatan terdapat lebih dari 100 jenis padi lokal.

14

Meskipun masa semai sampai panen hampir satu tahun tetapi ada banyak keunggulannya antara lain : 1. Kegiatan budidaya padi lokal sekali setahun dimulai bulan April- Mei dan air di lahan mulai surut sehingga siap dilakukan penanaman. 2. Keadaan air cukup dalam ( bagi padi ungggul) pada saat tanam sedangkan padi lokal mampu tumbuh karena mempunyai batang yang cukup tinggi sehingga keadaan ini mengurangi serangan gulma. Saaat air lebih surut maka kanopi padi sudah sempurna menutupi permukaan tanah. akibatnya gulma yang tumbuh relatif kecil. Serangan hama walang sangit biasa menyerang pada bulan juni dapat dihindari karena fase masak susu terjadi pada bulan juli. Disamping itu, padi lokal biasa dipanen bulan Agustus-September sehinggga menghindari serangan tikus. 3. Pada musim tanam bulan April konsentrasi senyawa meracun seperti garam dan besi mulai menurun (Hasegawa et al., 2003). Hal ini disebabkan curah hujan bulan Desember-Maret yang tinggi, air hujan mengencerkan senyawa merracun pada level yang tidak mmbahayakan. 4. Varietas padi lokal mampu tumbuh pada suasana masam . 5. Akar padi varietas lokal (kal-bar) mampu mengeluarkan eksudat sehingga membuat pH di sekitar rhizoplane jauh lebih tinggi dibandingkan pH tanah. hal ini berasosiasi dengan adanya peningkatan ammonia (NH3) yang berasal dari orgaisme penambat N yaitu Spingomonas sp yang hidup di rhizoplane padi local. 6. Hasil antara 2 – 3 ton gabah/ha bahkan ada beberapa varietas yang mempunyai hasil > 3 ton/ha.

3.4 Penyiapan Lahan Karena lahan pasang surut yang relatif lebih beragam dari sawah irigasi, maka penyiapan lahannya juga berbeda. Penyiapan lahan dapat dilakukan dengan Tanpa Olah Tanah (TOT) dan Traktor. Penyiapan lahan tanpa olah tanah dilakukan pada tanah gambut atau lahan sulfat masam yang memiliki lapisan pirit 0 – 30 cm dari permukaan tanah. Sedangkan jika diolah dengan traktor dapat dilakukan pada lahan-lahan potensil yang memiliki lapisan pirit atau beracun > 30 cm dari permukaan tanah. Keuntungan pengolahan tanah dengan traktor adalah menyediakan media yang baik bagi tanaman dan mengurangi kepadatan tanah. Dalam keadaan alamiah, tanah-tanah pada lahan rawa
15

pasang surut merupakan tanah yang jenuh air atau tergenang dangkal, sepanjang tahun ataudalam waktu yang lama, beberapa bulan, dalam setahun. Dalam

klasifikasiTaksonomi Tanah (Soil Survey Staff, 1999), tanah rawa termasuk tanah basah,atau "wetsoils", yang dicirikan oleh kondisi aquik, yakni saat ini mengalami penjenuhan air dan reduksi secaraterus-menerus atau periodik. Proses pembentukan tanah yang dominan adalah pembentukan horison tanah tereduksi berwarna kelabukebiruan, disebut proses gleisasi, dan pembentukan lapisan gambut di permukaan. Bentuk wilayah, atau topografi lahan rawa pasang surut adalah sangat rata (flat) sejauh mata memandang, dengan ketinggian tempat relatif kecil, yaitu sekitar 0-0,5 m dpl di pinggir laut sampai sekitar 5 m dpl diwilayah lebih ke pedalaman dan zona II: wilayah rawa pasang surut air tawar. Sedangkan zona III: wilayah rawa lebak/rawa non pasang surut.

3.5 Zona I: Wilayah rawa pasang surut air asin/payau Wilayah rawa pasang surut air asin/payau merupakan bagian dari wilayah rawa pasang surut terdepan, yang berhubungan langsung dengan laut lepas. Biasanya, wilayah rawa ini menempati bagian terdepan dan pinggiran pulau-pulau delta serta bagian tepi estuari, yang dipengaruhi langsung oleh pasang surut air laut/salin. Sebagai contoh, di wilayah kalbar. Seperti telah diuraikan sebelumnya, di bagian terdepan terdapat “dataran lumpur”, atau “mud-flats”, yang terbenam sewaktu pasang dan muncul sebagai daratan lumpur tanpa vegetasi sewaktu air surut. Di belakang dataran lumpur, pada pantai yang ombaknya kuat dan pantainya berpasir, dapat terbentuk bukitbukit rendah (beting) pasir pantai. Tanah yang terbentuk di sini merupakan tanah berpasir. Di belakangnya terdapat danau-danau kecil dan sempit yang disebutlaguna (lagoons), biasanya ditempati tanahtanah basah bertekstur liat. Lebih kedalam ke arah daratan, dijumpai rawa pasang surut bergaram (tidal salt marsh)yang sebagian masih selalu digenangi pasang dan ditumbuhi hutan bakau/mangove. Sebagian lagi, di wilayah belakangnya terdapat bagian lahan yang kadang masih dipengaruhi air pasang melalui sungai-sungai kecil (creeks), namun juga sudah ada pengaruh air tawar (fresh-water) yang kuat dari wilayahhutan rawa dan gambut air tawar yang menempati depresi/cekungan lebih kedarat. Bagian lahan yang dipengaruhi air payau ini ditumbuhi banyak spesies,tetapi yang terutama adalah nipah (Nipa fruticans), panggang (Sonneratia acida),dan pedada (Aralicea ripe), tekstur liat berdebu, dan berwarna kelabu sampai coklat kekelabuan tua. Lapisan tanah bawah (subsoil) tereduksi, mentah sampai setengah matang, tekstur liat berdebu, dan umumnya
16

berwarna kelabu gelap-sangat gelap terkadang hitam, atau kelabu kehijauan. Pada bagian "dataran bergaram" yang ditumbuhi bakau/mangrove, karena pengaruh air laut pasang, tanahnya bersifat salin, mempunyai reaksi alkalis (pH>7,5), mengandung garam/salinitas tinggi, dan merupakan wilayah tipologi lahan salin. Pada bagian yang dipengaruhi air payau, tanah umumnya bereaksi mendekati netral (pH 6,5-7,5) karena pengaruh air tawar dengan kandungan garam lebih rendah, dan merupakan wilayah tipologi lahan agaksalin. Pada wilayah rawa belakang yang dipengaruhi air tawar, tanah bereaksi semakin masam, dan terbentuk lapisan gambut di permukaan, yang bersifat lebihmemasamkan tanah.Wilayah zona I, khususnya di bagian sub-landform "dataran bergaram",atau "saltmarsh", baik yang dipengaruhi air asin/salin maupun air payau, akibat salinitas atau kandungan garam yang masih tinggi, tanah umumnya tidak sesuaiuntuk pertanian.

3.6 Zona II: Wilayah rawa pasang surut air tawar Seperti telah diurai masih terdapat pada wilayah daerah aliran bagian bawah, tetapi lebih ke arah hulu, dimana pengaruh langsung air laut/salin sudah tidak ada lagi, tetapi energi pasang surut masih terasa berupa naik dan turunnya air (tawar) sungai mengikuti siklus gerakan airpasang surut. Wilayahnya dapat mencakup seluruh pulaupulau delta kecil, Penampang skematis sub-landform di antara dua sungai besar pada zona II lahan rawa pasang surut air tawar. Oleh karena pengaruh sungai masih kuat, di sepanjang pinggir sungai terbentuk tanggul sungai alam (natural levee) yang sempit dan lebarnyabervariasi, makin ke arah hilir relatif sempit dan tidak begitu nyata terlihat dilapangan. Tetapi ke arah hulu, kenampakannya di potret udara lebih jelas, terutama karena perbedaan vegetasi yang tumbuh. Lebarnya yang tercatat adalah sekitar 0,2-1 km, dan setempat-setempat sampai sekitar 2 km. Tanggulsungai dapat terbentuk sebagai akibat pengendapan muatan sedimen sungai yang terjadi selama berabad-abad, setiap kali sungai meluap ke daratan selamamusim hujan. Bahan endapan berupa debu halus dan lumpur, akan mengendap pertama-tama di pinggir sungai, sementara bahan yang lebih halus berupa liat,akan diendapkan pada wilayah di belakang tanggul. Tanah yang terbentuk dibagian tanggul sungai alam, merupakan endapan sungai (fluviatile) yang tebalnya beragam, dari sekitar 0,5 m sampai lebih dari 1,5 m, menutupi endapan dasar yang merupakan endapan marin. Oleh karena terbentuk dari bahan relative agak kasar, debu kasar dan halus serta lumpur, tanah tanggul sungai (leveesoils) umumnya bertekstur sedang, dengan kandungan fraksi debu relatif tinggi,seperti lempung, lempung berdebu, lempung liat berdebu, dan liat berdebu.
17

Pada wilayah di belakang tanggul sungai, permukaan tanah umumnya berangsur menurun ke arah cekungan/depresi besar di hampir bagian tengah wilayah di antara dua sungai besar. Wilayah di antara tanggul sungai dan cekungan/depresi besar di bagian tengah, disebut sub-landform dataran rawa belakang (backswamp) tanah dasar mineral tidak selalu terjadi secara berangsur, tetapi dapat juga menurun secara mendadak dalam jarak yang relatif pendek, dan menjadi bagian dari cekungan/depresi besar. Ini berarti dataran rawa belakangnya sangat sempit, atau tidak ada. Depresi besar di sekitar bagian tengah wilayah di antara dua sungai besar ditempati tanah gambut. Posisi depresi di berbagai wilayah pulau delta tidak selalu persis di bagian tengah, tetapi seringkali menyamping mengikuti bentuk pulau delta. Batasan tanah gambut yang sederhana adalah memiliki kandungan bahan organik lebih dari 65% (berdasarkan berat) dengan ketebalan gambut lebih dari 0,5 m. Definisi tanah gambut yang disebut Histosols dalam Taksonomi Tanah (Soil Survey Staff, 1999), lebih rumit, yaitu (i) harus tersusun dari bahan tanah organik, (ii) jenuh air selama 1 bulan atau lebih setiap tahun, dan (iii) ketebalannya minimal 0,4 atau 0,6 m tergantung dari tingkat dekomposisi bahan gambut dan bobot-jenisnya.. Tanah gambut yang menempati cekungan/depresi besar mempunyai ketebalan yang bervariasi. Di bagian pinggir ditempati gambut dangkal dengan ketebalan 0,5-1 m, dan gambut sedang dengan ketebalan 1-2 m, dan seringkali mengandung sisipan-sisipan lapisan tanah mineral. Keduanya biasanya merupakan gambut topogen yang relatif subur (eutrofik). Semakin ke bagian tengah depresi, lapisan gambut semakin tebal dan kesuburan bahan gambutnya cenderung makin menurun. Tanah gambut dalam (2-3 m) dan gambut sangatdalam (>3 m) yang terbentuk disebut gambut ombrogen, dengan tingkat kesuburan sedang (mesotrofik) sampai rendah (oligotrofik). Oleh karena perbedaan pertumbuhan vegetasi hutan di bagian pinggir dan bagian tengah cekungan, permukaan tanah gambut semakin meninggi di bagian tengah dan membentuk semacam kubah dari tanah gambut, yang disebut kubah gambut (peat dome). Ketinggian relatif di bagian tengah kubah, dapat mencapai sekitar 3-5 m.Pada awal pembukaan lahan rawa pasang surut di Sumatera danKalimantan, yang survei tanahnya dilakukan secara intensif antara tahun 1969dan 1984, banyak ditemukan wilayah kubah gambut di berbagai tempat, baik di Sumatera maupun di Kalimantan. Di Sumatera, kubah gambut ditemukan didaerah rawa Sumatera Selatan, seperti di Sugihan Kiri, Delta Upang, Delta Telang, Pulau Rimau, dan Karang Agung Ulu (Wiradinata dan Hardjosusastro,1979), serta di Delta Reteh antara S. Reteh dan S. Inderagiri di Provinsi Riau. Di Kalimantan Barat, terdapat beberapa kubah gambut besar di Delta S. Kapuas,
18

diantara S. Kapuas Kecil, Punggur Besar, Ambawang, dan Kubu-Terentang, pada wilayah rawa pasang surut sebelah selatan kota Pontianak, di bagian muara S.Kapuas (LPT, 1969).

19

BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan Lahan rawa adalah lahan yang sepanjang tahun, atau selama waktu yang panjang dalam setahun, selalu jenuh air (saturated) atau tergenang (waterlogged) air dangkal. Dalam pustaka, lahan rawa sering disebut dengan berbagai istilah, seperti “swamp”, “marsh”, “bog” dan “fen”, masing-masing mempunyai arti yang berbeda. Wilayah rawa pasang surut air asin/payau merupakan bagian dari wilayah rawa pasang surut terdepan, yang berhubungan langsung dengan laut lepas. Biasanya, wilayah rawa ini menempati bagian terdepan dan pinggiran pulau-pulau delta serta bagian tepi estuari, yang dipengaruhi langsung oleh pasang surut air laut/salin. Lahan pasang surut yang dikelompokkan kedalam 4 tipologi utama, yaitu: 1. Lahan potensial; yaitu lahan nnnnnyang memiliki kendala teknis agronomis yang paling ringan, jika dibandingkan dengan lahan lainnya. Karakteristik lahan potensial adalah tekstur liat, lapisan pirit berada pada kedalaman lebih dari 50 cm dari permukaan tanah, kandungan N dan P tersedia rendah, derajat keasaman (pH) 3,5 5,5 ; serta kandungan pasir kurang dari 5% dan debu 20%.

2. Lahan sulfat masam; dicirikan oleh kandungan senyawa sulfida tinggi dan lapisan pirit terletak pada kedalaman kurang dari 50 cm. Di lapang terdapat dua macam lahan sulfat masam, yaitu : a. Lahan sulfat masam potensial; dicirikan oleh belum teroksidasinya lapisan pirit dan pH di atas 3,5; b. Lahan sulfat masam aktual; dicirikan oleh telah teroksidasinya lapisan pirit, dan pH kurang dari 3,5. Kemasan tanah yang tinggi menyebabkan ketidakseimbangan hara, sehingga tanaman dapat mengalami kekahatan dan keracunan hara. 3. Lahan gambut; adalah lahan yang mempunyai lapisan gambut dengan berbagai ketebalan dan terbagi kedalam beberapa golongan yaitu : - bergambut; ketebalannya kurang dari 50 cm, - gambut dangkal; ketebalannya 50 - 100 cm, - gambut sedang ; ketebalannya 100 - 200 cm, - gambut dalam ; ketebalannya 200 - 300 cm, dan - gambut sangat dalam, ketebalannya di atas 300 cm.
20

4. Lahan salin; merupakan lahan yang dipengaruhi oleh intrusi air bergaram sehingga mempunyai daya hantar listrik lebih dari 4 MS / cm, tetapi mengandung unsur Na dapat dipertukarkan kurang dari 15%. Pendekatan yang ditempuh untuk mengatasi salinitas ini adalah dengan mengurangi terjadinya intrusi air bergaram dan mengusahakan komoditas serta varietas yang toleran terhadap salinitas.

4.2 Saran Sebaiknya pengembangan dan pengelolaan lahan pasang surut diantaranya adalah : 1. Lama dan kedalaman air banjir atau air pasang serta kualitas airnya; 2. Ketebalan, kandungan hara, dan kematangan gambut; 3. Kedalaman lapisan pirit dan kemasaman total potensial dan aktual setiap lapisan tanahnya; 4. Pengaruh luapan atau intrusi air asin/payau; 5. Tinggi muka air tanah dan keadaan substratum lahan, apakah endapan sungai, laut, atau pasir kuarsa

21

DAFTAR PUSTAKA
http://skripsi-konsultasi.blogspot.com/2011/03/karakteristik-dan-potensi-lahanpasang.html. Http://wikipedia/org/wiki/blogspot.wglflm.lahan pasang surut. Http://blogspot/org/sistem irigasi. http://blogspot/wglflm/hlm.pasang surut di kalimantan barat. http://rhee7.wordpress.com/2009/04/05/danau sintarum. /http://www.google.co.id/search?q=rawa di lahan pasang surut http://edukasi.kompasiana.com/2010/04/11/kalimantan barat yang terapkan . http://www.membuatblog.web.id/2010/02/kalbar sebagai lahan pasang surut. html http://www.google.co.id/search?q=irigasi yang diterapkan. http://agromedia.net/Artikel/manfaat dalam sistem irigasi.html

22

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->