P. 1
Pengadaan Tanah

Pengadaan Tanah

|Views: 298|Likes:
Published by bung ryan

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: bung ryan on Apr 01, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/25/2014

pdf

text

original

ADMINISTRASI PENGADAAN TANAH

A. Pengertian Pengadaan Tanah Pengadaan tanah adalah setiap kegiatan untuk mendapatkan tanah dengan cara memberikan ganti rugi kepada yang melepaskan atau menyerahkan tanah, bangunan, tanaman, dan benda-benda yang berkaitan dengan tanah. Pengadaan tanah dapat dilakukan oleh pihak swasta dan pemerintah. B. Tata Cara Pengadaan Tanah Dalam hal pengadaan tanah oleh pihak swasta, maka cara-cara yang dilakukan adalah melalui jual beli, tukar-menukar, atau cara lain yang disepakati oleh pihak-pihak yang bersangkutan, yang dapat dilakukan secara langsung antara pihak yang berkepentingan (misalnya: antara pengembang dengan pemegang hak) dengan pemberian ganti kerugian yang besar atau jenisnya ditentukan dalam musyawarah. Sedangkan dalam hal pengadaan tanah oleh pemerintah atau pemerintah daerah untuk pelaksanaan pembangunan demi kepentingan umum dapat dilaksanakan dengan cara pelepasan atau penyerahan hak atas tanah, atau juga dengan pencabutan hak atas tanah. Menurut Pasal 2 ayat (2) Peraturan Presiden Nomor 65 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, bahwa pengaturan pengadaan tanah untuk kepentingan umum ditegaskan sebagai berikut : Pengadaan dan rencana pemenuhan kebutuhan tanah yang diperlukan bagi pelaksanaan Pembangunan untuk kepentingan umum hanya dapat dilakukan apabila berdasarkan pada Rencana Tata Ruang Wilayah yang telah ditetapkan lebih dahulu Selanjutnya mengacu pada Pasal 4 ayat 2 Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang, disebutkan bahwa setiap orang berhak untuk :

1. Mengetahui rencana tata ruang; 2. Berperan serta dalam penyusunan rencana tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang; 3. Memperoleh penggantian yang layak atas kondisi yang dialaminya sebagai akibat pelaksanaan kegiatan pembangunan yang sesuai dengan rencana tata ruang. Pengadaan tanah untuk pelaksanaan pembangunan demi kepentingan umum dilakukan melalui musyawarah dengan tujuan memperoleh kesepakatan mengenai pelaksanaan pembangunan di lokasi yang ditentukan, beserta bentuk dan besar ganti kerugian. Proses musyawarah yang dilakukan oleh panitia pembebasan tanah dan pemegang hak ditujukan untuk memastikan bahwa pemegang hak memperoleh ganti kerugian yang layak terhadap tanahnya. Ganti kerugian itu dapat berupa uang, tanah pengganti (ruilslag), pemukiman kembali (relokasi) atau pembangunan fasilitas umum yang bermanfaat bagi masyarakat setempat. Di satu sisi proses pengadaan tanah bukanlah hal yang mudah dan sederhana, untuk itu diperlukan tim pengadaan tanah. Susunan Panitia Pengadaan Tanah Kabupaten atau Kota terdiri sebagai berikut: 1. Sekretaris Daerah sebagai ketua merangkap anggota. 2. Pejabat dari unsur perangkat daerah setingkat eselon II sebagai wakil ketua merangkap anggota. 3. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota atau pejabat yang ditunjuk sebagai sekretaris merangkap anggota. 4. Kepala Dinas/Kantor/Badan di Kabupaten/Kota yang terkait dengan pelaksanaan pengadaan tanah atau pejabat yang ditunjuk sebagai anggota. Susunan Panitia Pengadaan Tanah Provinsi terdiri sebagai berikut:

1. Sekretaris Daerah sebagai ketua merangkap anggota. 2. Pejabat daerah di Provinsi yang ditunjuk setingkat eselon II sebagai wakil ketua merangkap anggota. 3. Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi atau pejabat yang ditunjuk sebagai sekretaris merangkap anggota. 4. Kepala Dinas/Kantor/Badan di Provinsi yang terkait dengan pelaksanaan pengadaan tanah atau pejabat yang ditunjuk sebagai Anggota. Faktor penunjang keberhasilan dalam pengadaan tanah , baik oleh pihak swasta maupun pihak pemerintah yang memerlukan pengadaan tanah tersebut adalah keahlian dalam memperoleh informasi mengenai kondisi psikologis dari pemegang hak, latar belakang dan nilai historikal tanah tersebut agar dapat melakukan pendekatan serta memperhitungkan ganti kerugian yang sesuai dan wajar kepada para pemegang hak yang bersangkutan. C. Tahapan dalam Pelaksanaan Pengadaan Tanah untuk Instansi Pemerintah Adapun beberapa tahapan tersebut adalah sbb: 1. Penyusunan proposal Disiapkan oleh Instansi pemerintah yang memerlukan tanah, menguraikan : a. maksud dan tujuan pembangunan b. letak dan lokasi pembangunan c. luasan tanah yang diperlukan d. sumber pendanaan e. analisis kelayakan lingkungan (AMDAL)

2. Penetapan Lokasi Diajukan oleh Instansi pemerintah yang memerlukan tanah kepada : a. Bupati / Walikota atau Gubernur untuk wilayah DKI Jakarta

b. Apabila 2 wilayah Kabupaten / Kota atau lebih diajukan kepada Gubernur. c. Apabila 2 wilayah propinsi atau lebih, diajukan kepada Kepala BPN RI

d. Apabila terhadap penetapan lokasi dan kemudian dalam pelaksanaan kegiatan terdapat perubahan/penambahan desa/kelurahan agar segera dilakukan revisi dalam SK Penetapan Lokasi. e. Dalam rangka pengamanan lokasi pengadan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum agar mematuhi Surat Edaran Kepala BPN RI tanggal 13 Juli 2006 Nomor: 140.2-146A.

3. Publikasi Setelah diterimanya keputusan penetapan lokasi, instansi pemerintah yang memerlukan tanah dalam waktu paling lama 14 (empat belas ) hari wajib mempublikasikan rencana pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum kepada masyarakat, dengan cara langsung maupun tidak langsung melalui media cetak, elektronik dan lainnya, yang pelaksanaannya dibuat dengan berita acara.

4. Pembentukan Panitia Pengadaan Tanah (P2T) Untuk keperluan pengadaan tanah oleh Pemerintah/Pemerintah Daerah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum dibentuk Panitia Pengadaan Tanah yang pembentukan dan susunan keanggotaannya harus sesuai dengan ketentuan Pasal 14 ayat (1) dan (2), Pasal 15 ayat (1) dan (2) dan Pasal 16 ayat (1) dan (2) Peraturan Kepala BPN RI No. 3 Tahun 2007, dan dibentuk Sekretariat beserta susunan keanggotaan dengan Surat Keputusan Ketua Panitia Pengadaan Tanah. 5. Penyuluhan/Sosialisasi Setelah diterimanya permohonan Pengadaan Tanah oleh Instansi yang memerlukan tanah Panitia Pengadan Tanah bersama-sama dengan Instansi yang memerlukan tanah melaksanakan Penyuluhan/Sosialisasi pada masyarakat di lokasi dengan dituangkan dalam Berita Acara Hasil Penyuluhan.

6. Identifikasi dan Inventarisasi Setelah dilakukan pemasangan Tanda Batas lokasi oleh Instansi Pemerintah yang memerlukan tanah bersama-sama dengan Panitia Pengadaan Tanah. Selanjutnya dibentuk Satuan Tugas (satgas) dengan Surat Keputusan Ketua Panitia Pengadaan Tanah yang akan melakukan kegiatan identifikasi dan inventarisasi yang meliputi : a. pengukuran rincikan bidang tanah b. Inventarisasi dan identifikasi data fisik dan yuridis pemilik tanah yang terkena

pembentukan tanah (petugas BPN dibantu desa) c. Inventarisasi tanaman dari Instansi terkait (Dinas Pertanian) d. Inventarisasi Bangunan dari Instansi terkait (DPU )

7. Pengumuman Panita Pengadaan Tanah mengumumkan hasil inventarisasi dan identifikasi tanah dan/atau bangunan dan/atau tanaman dilakukan di Kantor Desa/Kelurahan dan/atau Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota selama 7 (tujuh) hari dan/atau melalui media cetak, elektronik selama 2 (dua) kali penerbitan, untuk memberikan kesempatan bagi pihak yang berkepentingan mengajukan keberatan. 8. Pengesahan Hasil Pengumuman a. Setelah jangka waktu pengumuman berakhir dan tidak ada keberatan maka

dibuat Berita Acara Pengesahan hasil pengumuman oleh Panitia Pengadaan Tanah. b. Apabila terdapat keberatan dan dapat dipertanggungjawabkan dilakukan revisi. c. Apabila keberatan tidak dapat dipertanggungjawabkan proses pengadaan tanah dilanjutkan. d. Apabila Keberatan mengenai sengketa kepemilikan maka penyelesaiannya diupayakan melalui musyawarah atau melalui Pengadilan.

9. Penilaian a. Penilaian harga tanah yang terkena pembangunan untuk kepentingan umum dilakukan oleh Lembaga Penilai Harga Tanah. Apabila saat dilakukan Pengadaan Tanah di Kabupaten/Kota atau disekitar Kabupaten/Kota yang bersangkutan belum terdapat Lembaga Penilai Harga Tanah yang sudah mendapat Lisensi dari Badan Pertanahan Nasional, maka Penilaian Harga Tanah dilakukan oleh Tim Penilai Harga Tanah yang dibentuk oleh Bupati/Walikota atau Gubernur untuk wilayah DKI Jakarta. b. Penentuan Lembaga Penilai Harga Tanah dilakukan oleh Instansi Pemerintah yang memerlukan tanah berpedoman pada Keputusan Keputusan Presiden No. 80 Tahun 2003 beserta perubahannya. c. Penilaian Harga Bangunan dan/atau Tanaman dan/atau benda-benda lain yang berkaitan dengan tanah dialkukan oleh Kepala Dinas/Kantor/Badan di

Kabupaten/Kota yang membidangi bangunan dan/atau benda lain yang berkaitan dengan tanah.

10. Musyawarah Musyawarah antara Instansi Pemerintah yang memerlukan tanah dengan para pemilik tanah mengenai : a. Rencana pembangunan untuk kepentingan umum dilokasi tersebut. b. Bentuk dan/atau besarnya ganti rugi. c. Musyawarah mengenai bentuk dan/atau besarnya ganti rugi berpedoman pada d. Kesepakatan para pihak. e. Hasil Penilaian Harga Tanah dan penilaian harga bangunan dan/atau tanaman dan/atau benda-benda lain yang berkaitan dengan tanah f. Tenggat waktu penyelesaian proyek pembangunan. g. Panitia Pengadaan Tanah membuat Berita Acara Hasil Pelaksanaan Musyawarah lokasi pembangunan untuk kepentingan umun dan penetapan bentuk dan/atau

besarnya ganti rugi yang ditandatangani oleh seluruh anggota panitia, Instansi Pemerintah yang memerlukan tanah dan para pemilik.

11. Keputusan Panitia Pengadaan Tanah (P2T) Berdasarkan berita acara hasil pelaksanaan musyawarah lokasi pembangunan untuk kepentingan umum dan penetapan bentuk dan/atau besarnya ganti rugi, Panitia Pengadaan Tanah menerbitkan keputusan mengenai bentuk dan/atau besarnya ganti rugi dan daftar nominatif pembayaran ganti rugi. Dalam hal tanah yang diperlukan bagi pelaksanaan pembangunan merupakan tanah instansi pemerintah, keputusan penetapan bentuk dan/atau besarnya ganti rugi dilakukan berdasarkan tata cara yang diatur dalam peraturan Perundang-undangan tentang Perbendaharaan Negara.

12. Pembayaran Ganti Rugi Berdasarkan keputusan mengenai bentuk dan/atau besarnya ganti rugi Panitia Pengadan Tanah memerintahkan kepada Insatansi Pemerintah yang memerlukan tanah untuk melakukan pembayaran ganti rugi kepada yang berhak dalam waktu paling lama 60 (enam puluh) hari sejak tangal keputusan tersebut ditetapkan apabila bentuk ganti rugi berupa uang dan terhadap bentuk ganti rugi selain uang tenggang waktu sesuai dengan kesepakatan para pihak. Untuk melindungi kepentingan yang berhak atas ganti rugi, seoarang penerima kuasa hanya dapat menerima kuasa dari (1) satu orang yang berhak atas ganti rugi. Surat kuasa untuk menerima ganti rugi harus dibuat dalam bentuk notariil dan disaksikan oleh dua orang saksi atau bagi daerah terpencil surat kuasa dibuat secara tertulis dan diketahui oleh Kepala Desa/Lurah atau yang setingkat dengan itu dan Camat. Bersamaan dengan pembayaran ganti rugi berupa uang, Instansi Pemerintah yang memerlukan tanah membuat tanda terima pembayaran ganti rugi, ditindakanjuti dengan Penandatanganan Pernyataan Pelepasan Hak atas tanah dan/atau bangunan dan/atau tanaman, dan oleh Panitia Pengadaan Tanah dibuat Berita Acara pembayaran ganti rugi dan pelepasan hak atas tanah. Pada saat penandatanganan pernyataan pelepasan hak atas

tanah yang berhak atas ganti rugi wajib menyerahkan dokumen asli bukti kepemilikan kepada Panitia Pengadaan Tanah.

13. Penitipan Ganti Rugi Penitipan ganti rugi diajukan oleh instansi pemerintah yang memerlukan tanah kepada Ketua Pengadilan Negeri setempat untuk memperoleh penetapan, dengan melampirkan persyaratan : a. Berita Acara pembayaran ganti rugi b. Berita Acara hasil pelaksanaan musyawarah dan penetapan bentuk dan besarnya ganti rugi. c. Keputusan Bupati / Walikota / Gubernur / Mendagri terhadap adanya keberatan; d. Keterangan dan alasan penitipan ganti rugi dan e. Surat-surat lain terkait penitipan ganti rugi. f. Penitipan ganti rugi dilakukan dalam hal : 1) Tidak ada kesepakatan nilai ganti rugi sedangkan musyawarah telah melewati jangka waktu 120 hari. 2) Yang berhak ganti tidak diketahui keberadaannya. 3) Obyek perkara dipengadilan dan belum memperoleh putusan yang berkekuatan hukum tetap. 4) Masih dipersengketakan kepemilikannya 5) Sedang diletakan sita oleh pihak yang berwenang. 6) Terhadap tanah yang uang ganti ruginya dititipkan di Pengadilan, belum dapat diajukan permohonan hak atas tanahnya.

14. Pemberkasan Panitia Pengadaan Tanah Kabupaten/Kota melakukan pemberkasan dokumen dan menyerahkannya kepada: a. Instansi Pemerintah yang memerlukan tanah berupa dokumen asli. b. Pertanahan Kabupaten/Kota berupa rekaman dokumen asli yang dilegalisasi oleh pejabat yang berwenang.

c. Instansi induk yang memerlukan tanah berupa rekaman dokumen asli yang dilegalisir oleh Pejabat yang berwenang. d. Bupati/Walikota atau Gubernur untuk wilayah DKI Jakarta berupa rekaman dokumen asli yang dilegalisir oleh Pejabat yang berwenang. e. Tugas dan tangung jawab Panitia Pengadan Tanah Kabupaten/Kota berakhir setelah penyerahan dokumen Pengadaan Tanah kepada Instansi Pemerintah yang memerlukan tanah dengan dibuat Berita Acara. f. Permasalahan yang lahir setelah berakhirnya pelaksanaan Pengadaan Tanah tidak menghalangi pembangunan fisik sedangkan bentuk dan tindak lanjut penyelesaian permasalahan tersebut sesuai dengan isi putusan penyelesaiannya

D. Permasalahan Pengadaan Tanah di Indonesia Permasalahan yang terkait dengan pembebasan tanah masyarakat untuk kepentingan umum senantiasa menimbulkan polemik. Disatu sisi, negara menjamin kepemilikan sah individu atas tanah, disisi lain pelaksana kekuasaan negara, yakni pemerintah berkewajiban menjalankan agenda pembangunan infrastruktur fisik yang seringkali harus mengorbankan nilai kepentingan individu. Kepentingan umum yang dijabarkan dari fungsi sosial tanah tidak kalah pentingnya dengan kepentingan individu pemilik yang dijabarkan dari fungsi ekonomi tanah. Artinya pada saat dibutuhkan demi kepentingan umum , kepentingan individu bisa dikompromikan bahkan dikalahkan dan hak milik atas tanah harus dilepaskan. Dalam hal ini Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28H menyatakan setiap orang juga berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil alih secara sewenang-wenang oleh siapapun. Hal tersebut mengandung makna perlunya mekanisme yang adil dalam proses pengambil alihan hak atas tanah. Dalam penanganan masalah pertanahan TAP MPR No. IX/MPR/2001 telah memberi arahan perlunya penanganan masalah pertanahan dengan menyelesaikan konflik-konflik pertanahan yang berkenaan dengan sumberdaya agraria yang timbul selama ini sekaligus dapat mengantisipasi konflik di masa mendatang guna menjamin terlaksananya penegakan hukum dengan didasarkan atas prinsip-prinsip antara lain memelihara dan mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, menghormati dan menjunjung tinggi hak asasi manusia, menghormati supremasi hukum dengan mengakomodasi keaneka ragaman

unifikasi

hukum,

mewujudkan penggunaan, alam,

keadilan

termasuk dan

kesetaraan

gender

dalam

penguasaan,pemilikan, agraria/sumberdaya

pemanfaatan

pemeliharaan sosial dan

sumberdaya sebagainya.

melaksanakan

fungsi

Disisi lain, para investor yang ingin berinvestasi di sektor infrastruktur tidak berani menanamkan modalnya, karena adanya kekuatiran walaupun proyeknya sudah disetujui untuk dibangun namun pada saat pembangunannya terhambat oleh persoalan pembebasan tanah, akibatnya penyelesaian proyek tertunda dan bahkan kemungkinan tidak dapat dioperasikan, sebagai contoh pembangunan lingkar luar jalan tol lingkar luar jakarta di ruas hankam-Cikunir dimana sejumlah kepala keluarga korban penggusuran meminta ganti rugi sesuai dengan SK Wali Kota Bekasi sebesar Rp. 1,35 juta untuk tanah bersertipikat dan Rp. 1,25 juta per meter persegi untuk tanah berstatus girik, padahal harga tanah berdasarkan Nilai Jual Obyek pajak (NJOP) di lokasi tersebut antara Rp. 300-350 ribu saja. Kejadian di atas menunjukkan bahwa ekses-ekses pengambil-alihan tanah untuk berbagai kepentingan itu sebagian disebabkan oleh kesenjangan antara das sollen sebagaimana tertuang dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku dengan das sein berupa kenyataan yang terjadi di lapangan. Dengan demikian permasalahan pertanahan yang terkait dengan pembebasan tanah pada masa kini sudah demikian kompleks dan tak bisa begitu saja terjawab oleh peraturan yang sudah ada, dan pelaksanaannya oleh aparat kerap diwarnai bias kepentingan dan kurangnya komunikasi ataupun sosialisasi pada akhirnya menumbuhkan prasangka publik yang tak kunjung selesai. Berbagai peraturan telah dikeluarkan Pemerintah untuk mengatur pembebasan tanah, yang kemudian istilah pembebasan tanah ini direvisi dengan istilah pengadaan tanah sejak dikeluarkannya Keputusan Presiden Nomor 55 tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk kepentingan Umum. Dengan adanya Keputusan Presiden Nomor 34 tahun 2003 tentang Kebijakan Nasional di Bidang Pertanahan, maka penyelenggaraan pengadaan tanah untuk kepentingan pembangunan dilaksanakan oleh Pemerintah Kota/Kabupaten. Keluarnya Peraturan Presiden Nomor 36 tahun 2005 untuk menyempurnakan Keppres Nomor 55 tahun 1993 karena Keppres tersebut dianggap belum memenuhi kebutuhan pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan

umum.Dalam konsiderans menimbang disebutkan bahwa latar belakang diterbitkannya Perpres Nomor 36 tahun 2005 yaitu, a)dengan meningkatnya pembangunan untuk kepentingan umum yang memerlukan tanah, maka pengadaannya perlu dilakukan secara cepat dan transparan dengan tetap memperhatikan prinsip penghormatan terhadap hak-hak yang sah atas tanah;b)bahwa pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum sebagaimana telah ditetapkan dengan Keputusan Presiden Nomor 55 tahun 1993 sudah tidak sesuai sebagai landasan hukum dalam rangka melaksanakan pembangunan untuk kepentingan umum. Adanya kontroversi mengenai Perpres Nomor 36 tahun 2005 yang dinilai sangat merugikan masyarakat, terutama mengenai persepsi kepentingan umum, proses musyawarah dan pencabutan hak mengakibatkan terjadinya revisi terhadap Perpres tersebut dengan keluarnya Perpres Nomor 65 tahun 2006 tentang Perubahan Terhadap Perpres Nomor 36 tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum. Dalam Perpres yang baru ini terdapat beberapa perubahan terutama mengenai materi kepentingan umum mengalami pengurangan menjadi 7 (tujuh) item meliputi a)jalan umum dan jalan tol, kereta api, saluran air minum/air bersih, saluran pembuangan air dan saniatasi;b) waduk, bendungan, bendungan irigasi dan bangunan pengairan

lainnya;c)pelabuhan, bandar udara, stasiun kereta api dan terminal;d)fasilitas keselamatan umum, seperti tanggul penanggulangan bahaya banjir, lahar danlain-lain bencana;e) tempat pembuangan sampah;f) cagar alam dan cagar budaya dan g) pembangkit,transmisi, distribusi tenaga listrik. Mekanismenya pun mengalami perubahan yakni terdapat unsur Lembaga Penilai Independen yang dalam Perpres Nomor 36 tahun 2005 dapat menetapkan harga namun dalam revisinya lembaga Independen hanya melakukan penilaian dasar ganti rugi sedangkan penetapan besarnya ganti rugi ditetapkan oleh Panitia pengadaan Tanah. Komposisi Panitia Pengadaan Tanah juga mengalami perubahan dengan masuknya unsur Badan Pertanahan Nasional dalam keanggotaan Panitia Pengadan Tanah. Data yang diperoleh dari PSH-PTIP BPN Pusat tahun 2006 menunjukkan sengketa/permasalahan pertanahan yang berkaitan dengan Pengadaan Tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum menempati urutan ke lima sebesar 2,51

% (dari total permasalahan pertanahan diseluruh Indonesia tahun 2000-2005), setelah sengketa penguasaan/pemilikan tanah sebesar 38,79 %, sengketa pelaksanaan putusan Pengadilan sebesar 24,87 %, sengketa pengukuran/pendaftaran tanah sebesar 18,57 % sengketa pemberian hak sebesar 10,92 dan urutan ke-enam atau terakhir adalah sengketa reclaiming ulayat sebesar 1,89 %. Walaupun secara kuantitas sengketa /permasalahan pengadaan tanah cukup rendah, namun karena menyangkut atau bersinggungan dengan hak azasi manusia maka permasalahan pengadaan tanah mendapat sorotan yang cukup tajam dari berbagai elemen masyarakat. Lahirnya Peraturan Presiden (Perpres) No 36/2005 sebagai akibat banyaknya proyek infrastruktur yang tidak terselesaikan karena ulah spekulan dan sebagian kecil masyarakat yang nakal. Padahal, pemerintah sudah berketetapan mempercepat pembangunan, yang memprioritaskan infrastruktur, supaya berdampak ikutan bagi kegiatan ekonomi. Sebagai contoh adalah proyek banjir kanal timur yang tak kunjung selesai akibat pembebasan tanah yang tertunda berlarut-larut. Akibatnya, setiap tahun warga Jakarta Timur terkena banjir. Demikian pula proyek jalan tol yang di banyak ruas terhenti karena pembebasan lahan. Uang yang telanjur dikeluarkan untuk proyek tol itu sedemikian besar sehingga berdampak pada hambatan kegiatan perekonomian secara menyeluruh. Mencermati fenomena permasalahan pengadaan tanah yang ada, kehadiran Perpres Nomor 36 tahun 2005 menurut Pengamat sosial ekonomi Gunawan Wiradi menilai Perpres No 36/2005 ini bersifat parsial karena persoalan mendasar adalah kondisi yang sengaja dibuat: negara tidak mampu membayar utang luar negeri sehingga negara donor dapat menyetirnya. Salah satu bentuk kendali negara pemberi utang adalah prinsip pengadaan infrastruktur yang menguntungkan mereka yang membuat negara terutang terikat dan harus mengadakan pembebasan tanah demi kepentingan negara donor.Padahal, menurut Gunawan Wiradi, dalam keadaan sekarang seharusnya kita memprioritaskan revitalisasi pertanian dan perkebunan dengan reformasi agrarian. Perpres No 36/2005 masih merupakan upaya mengatasi gejala dan tidak menuntaskan inti persoalan, yakni keadilan lewat reformasi agraria. Berdasarkan pengamatan Juanda Hermawan dari Pusat Kajian Kebijakan Hukum dan Ekonomi, sampai saat ini psikologi masyarakat dan kelompoknya terlalu apriori terhadap

ketentuan baru yang mengatur kepentingan umum, padahal dalam suasana perubahan ini kepentingan Bangsa yaitu pembangunan dan kepentingan yang lebih besar harus diutamakan dengan tidak mengabaikan kepentingan masyarakat perseorangan. Oleh karena itu menurutnya, Pemerintah perlu menetralisir dan dan memberikan penjelasan yang utuh terhadap masyarakat yang masih apriori dan traumatis atas bayang-bayang masa lalu (orde baru) yang menimbulkan prasangka dan kekecewaan publik berulang kembali sebaiknya disamping sosialisasi secara gencar juga perlu dilaksanakan konsultasi publik. Di tingkat provinsi, seperti DKI Jakarta, upaya tersebut sudah dijalankan. Upaya sosialisasi sering dilakukan Dinas Tata Kota DKI Jakarta sejak lama. Dari situ diharapkan masyarakat memahami bahwa Perpres No 36/2005 dan pembebasan lahan itu ditujukan untuk pembangunan infrastruktur. Sosialisasi di tingkat kecamatan meliputi ekspose gambar rencana dan rangkaian kegiatan lain. Pemerintah DKI terbuka bagi pengawasan warga, terkait dengan pembebasan lahan yang menyangkut pajak, penilaian, proses pembebasan, serta kontrol sosial. Transparansi terhadap keseluruhan proyek pun dikedepankan, termasuk akses bagi media massa. Namun, pengamat hukum Mas Achmad Santosa mengingatkan, hulu persoalan juga harus dilihat: akses informasi tata ruang. Masyarakat harus diberi akses seluasnya untuk mengetahui perencanaan sebuah kawasan demi menghindari spekulasi orang-orang yang lebih dulu tahu suatu rencana tata guna dan tata kuasa tanah. Seperti misalnya anggota panitia pembebasan atau oknum birokrasi yang mengatur tata ruang ada kemungkinan menutup informasi serta mencoba meraih keuntungan pribadi dengan menjadi spekulan atau bekerja sama dengan pihak ketiga. Di hilir belum ada ketentuan kuat mengenai status kepemilikan hak atas tanah yang selama ini mengandalkan secarik kertas. Perlu tata guna dan tata kuasa tanah secara menyeluruh karena undang-undang kita tidak mengakui buktibukti tradisional. Perpres No 36/2005 ini, menurut Mas Achmad Santosa, sangat positivis, sangat berdasar pada persoalan legal formal. Ini melemahkan posisi masyarakat, seperti komunitas adat, karena hak mereka atas tanah akan terabaikan.

Sehingga menurutnya seharusnya perpres ini muncul dalam satu paket dengan penataan ruang dan Undang-Undang Pokok Agraria.

REFERENSI

Buku:  Soesono. 2008. Prosedur Pendaftaran Tanah. Jakarta: Rineka Cipta  I Wayan Suandra. 1994. Hukum Pertanahan Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta

Artikel:  http://www.hukumproperti.com/tata-cara-pengadaan-tanah/  http://sarmanpsagala.wordpress.com/2011/01/10/tahapan-dalam-pelaksanaan-pengadaantanah-untuk-instansi-pemerintah/  http://triesakti.blogspot.com/2011/01/permasalahan-pengadaan-tanah  www.distrodocs.com/category/maksud-dan-tujuan-pengadaan-tanah  http://portaldaerah.bpn.go.id  www.taputkab.go.id

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->