P. 1
HUKUM+ADAT

HUKUM+ADAT

|Views: 76|Likes:
Published by Dianta Yudi Pratama

More info:

Published by: Dianta Yudi Pratama on Apr 02, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/02/2012

pdf

text

original

HUKUM ADAT

DOSEN MATA KULIAH : M. HOLYONE, SH

DISUSUN OLEH : CINDY SUNDARY NPM : 10411733000081

UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA 2011

KATA PENGANTAR Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wata΄ala. karena berkat rahmat-Nya kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudu Hukum Adat. Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. oleh karena itu saya mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.Januari 2011 Penyusun . Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua. Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Ilmu Hukum. Makalah ini masih jauh dari sempurna. Karawang 16.

Pengertian hukum adat 2.1 Sifat hukum adapt 2.3 Wilayah hukum adapt indonesia BAB III Kesimpulan BAB IV Daftar Pustaka .DAFTAR ISI Halaman Judul Kata Pengantar Daftarisi BAB I 1.3 Corak hukum adapt 2. Pendahuluan BAB II 2.

Ide kodifikasi dan unifikasi diprakasai kolonial yang berwawasan universalistis. Pada era Orde Baru pencarian model hukum nasional memenuhi panggilan zaman untuk menjadi dasar-dasar utama pembangunan hukum nasional.BAB I PENDAHULUAN Hukum adat adalah sistem hukum yang dikenal dalam lingkungan kehidupan sosial di Indonesia dan negara-negara Asia lainnya seperti Jepang. dimana hukum adat adalah hukum yang neniliki perasaan keadilan masyarakat local yang pluralistis. Sumbernya adalah peraturan-peraturan hukum tidak tertulis yang tumbuh dan berkembang dan dipertahankan dengan kesadaran hukum masyarakatnya. Dimana hukum kolonial yang bertentangan dengan hukum adat adalah merupakan tugas dan komitmen Pemerintah Orde Baru untuk melakukan unifikasi dan kodifikasi kedalam hukum nasional. dimana badan kehakiman diidealkan menjadi hakim yang bebas serta pembagian kekuasaan dalam pemerintahan adalah harapan sebagai badan yang mandiri dan kreatif untuk merintis pembaharuan hukum lewat mengartikulasian hukum dan moral rakyat. dimana mengukuhkan hukum adat akan berarti mengukuhi pluralisme hukum dan tidak berpihak kepada hukum nasional yang diunifikasikan (dalam wujud kodifikasi). maka hukum adat memiliki kemampuan menyesuaikan diri dan elastis. terlihat bahwa hukum adat plastis dan dinamis serta selalu berubah secara kekal. hal terlihat dari terwujudnya kedalam hukum nasional yaitu dengan mengangkat hukum rakyat/hukum adat menjadi hukum nasional terlihat pada naskah sumpah pemuda pada tahun 1928 bahwa hukum adat layak diangkat menjadi hukum nasional yang modern. India. Karena peraturan-peraturan ini tidak tertulis dan tumbuh kembang. telah melakukan konsolidasi dengan dukungan politik militer dan topangan birokrasi yang distrukturkan secara monolitik . Keberadaan hukum adat tidak pernah akan mundur atau tergeser dari percaturan politik dalam membangun hukum nasional. dan Tiongkok..

pada saat masalah operasionalisasi dan pengefektifan terhadap faham hukum sebagai perekayasa ditangan Pemerintah yang lebih efektif.serta mudah dikontrol secara sentral. mengingat peran hukum adat dalam pembangunan hukum nasional sangat mendesak yang secara riil tidak tercatat terlalu besar. terkecuali klaim akan kebenaran moral. . Resultante pada era Orde Baru telah terlanjur terjadi karena kekuatan dan kekuasaan riil eksekutif dihadapan badan-badan perwakilan telah menjadi tradisi di Indonesia sejak jaman kolonial dan pada masa sebelumnya dan juga adanya alasanalasan lainnya.

Istilah Hukum Adat atau adatrecht pertama kali digunakan pada tahun 1906.. ekonomi. di antara kondisi minimum tersebut. hukum bukan hal penting yang utama. ia memandang hukum adat identik dengan hukum kebiasaan. dan negara berkembang akan beruntung bila mereka dapat mengembangkan variannya sendiri mengenai isi dari „the rule of law‟ (Tamanaha 1998). ialah adanya sikap legal ethnocentrism. Namun kajian secara sistimatis dilakukan oleh Snouck Hourgronye. Raffles. orang Irlandia yang melakukan penelitian di Bengkulu. tapi tidaklah cukup untuk pembangunan ekonomi. kemudian diikuti oleh Muntinghe.. namun belum mencukupi untuk melaksanakan pembangunan politik. dan ia sebagai peletak teori Receptie. bila meminjam istilah Spradley dan McCurdy (1975). sikap legal ethnocentrism itu mengundang kritik. hukum modern (dalam hal ini state law) itu perlu.BAB II PENGERTIAN HUKUM ADAT Pemahaman mengenai hukum adat selama ini. yakni: the tendency to view the law of other cultures through the concepts and assumptions of Western. Catatan penting yang dapat diberikan berkenaan dengan Law and Development tersebut ialah: . antara lain: a) cenderung meniadakan eksistensi dari hukum pada pelbagai masyarakat.. ketika Snouck Hurgronye menggunakan istilah ini untuk menunjukkan bentuk-bentuk adat yang mempunyai konsekwensi hukum. semasa dikuasai Inggris. . yang terjadi. Padahal. politik serta sumberdaya alam dan manusia. adanya „the rule of law‟ cukup menolong. yang pertama kali menggunakan istilah adatrecht (hukum adat). Hukum adat dieksplorasi secara ilmiah pertama kali dilakukan oleh William Marsden (1783). aspek kultural. Pusat kegawatan utama adalah pada campuran antara: sejarah negara yang unik. dan b) cenderung mengambil bentuk sistem hukum barat sebagai dasar dari penelaahan dan penyusunan kebijakan.

Kemudian dilanjutkan oleh van Vallenhoven dengan pendekatan positivisme sebagai acuan berfikirnya. berdasarkan itu ia sering disebut Bapak Hukum Adat. memahami dan mempelajari perkembangan hukum adat atau hukum adat dalam perkembangannya. hak ulayat atau pertuanan (beschikings-rechts). Kluckhon mengemukakan: nilai merupakan “a conception of desirable” (suatu konsepsi yang diinginkan). Mengkaji hukum adat dari berbagai sudut pandang. keadilan. Selanjutnya Teer Haar. dan (3) menemukan keajekannya (regelmaat). Ia mengemukakan konsep hukum adat. keutuhan menentukan corak. dan hukum adat akan mampu menyesuaian dengan kebutuhan dan tuntutan dalam masyarakat yang akan terus berubah. karakter hukum adat. namun tetap menunjukkan apa yang disebut hukum adat. keselarasan. Maka nilai ada beberapa tingkatan. ia mengemukakan Teori Keputusan (beslissingenleer-theorie). kebersamaan dan lain sebagainya. ia dengan mendasarkan analisisnya pada Teori Keputusan yang dikemukakan oleh John Chipman Grey menyatakan. sifat. lingkaran hukum adat (adatrechtskringen). karena itu lebih berbicara hal-hal yang bersifat kongkrit. Hukum adat sebagai hukum yang dibangun berdasarkan paradigma atau nilainilai: harmoni. memperlihatkan keadaan (gestelheid). 2. Maka hukum lebih banyak ditujukan pada nilai-nilai sekunder yaitu nilai-nilai yang berguna untuk memecahkan persoalan kongkrit . akan menentukan bagaimana hukum adat dalam perkembangannya. ia mempetakan Hindia Belanda (Indonesia-sekarang) ke dalam 19 lingkungan hukum adat secara sistematik. yaitu: 1. bersifat abstrak dan tetap seperti: kejujuran. Oleh karena itu pemahaman pengertian. ia berpendapat ilmu hukum harus memenuhi tiga prasyarat. (2) kelanjutan (veloop). Nilai subsider berkenaan dengan kegunaan. pendekatan metodologis menjadi penting sekali untuk dapat melihat. Nilai Primer merupakan nilai pegangan hidup bagi suatu masyarakat. semua hukum dibuat oleh hakim (Judge made law). berdasarkan itu. keluhuran budi. yaitu: (1). seperti: masyarakat hukum atau persekutuan hukum (rechtsgemeenschap).

Timbulnya nilai sekunder tersebut. namun pendasaran pada nilai sekunder. 2.sesungguhnya juga didasarkan pada nilai primer. Beberapa definisi hukum adat yang dikemukakan para ahli hukum. komplek ini disebut Hukum Adat 4. Dewan Propinsi dan sebagainya). baik di kota maupun di desa-desa. yang bersifat hukum oleh karena ada kesadaran keadilan umum.yang sedang dihadapi masyarakat. Soekanto. Hukum . Prof. yang pada umumnya tidak tertulis yang oleh masyarakat dianggap patut dan mengikat para anggota masyarakat. tidak dikodifikasikan dan bersifat paksaan mempunyai sanksi (dari itu hukum). yang menunjukkan aturan-aturan kebiasaan yang berlaku di kalangan masyarakat yang tidak berbentuk peraturanperundangan yang dibentuk oleh penguasa pemerintahan. Prof. atau orang-perorang. merumuskan hukum adat: Komplek adat adat inilah yang kebanyakan tidak dikitabkan. Prof.termasuk hukum adat . Hukum adat merupakan istilah tehnis ilmiah. SH menegaskan rumusan Van Vallenhoven dimaksud memang cocok untuk mendeskripsikan apa yang dinamakan Adat Recht pada jaman tersebut bukan untuk Hukum Adat pada masa kini. merumuskan Hukum Adat: Hukum adat adalah synomim dari hukum yang tidak tertulis di dalam peraturan legislative (statuary law). hukum yang hidup sebagai peraturan kebiasaan yang dipertahankan di dalam pergaulan hidup. Soeripto: Hukum adat adalah semua aturan-aturan/ peraturan-peraturan adat tingkah laku yang bersifat hukum di segala kehidupan orang Indonesia. hukum yang hidup sebagai konvensi di badan-badan hukum Negara (Parlemen. antara lain sebagai berikut: 1. 3. bahwa aturan-aturan/ peraturan itu harus dipertahankan oleh . Nilai sekunder bisa berubah menyesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan dan menjawab persoalan yang ada dalam masyarakat. telah melalui penyaringan (sannering) oleh nilai-nilai primer. yang pertama kali menyebut hukum adat memberikan definisi hukum adat sebagai : “ Himpunan peraturan tentang perilaku yang berlaku bagi orang pribumi dan timur asing pada satu pihak yang mempunyai sanksi (karena bersifat hukum) dan pada pihak lain berada dalam keadaan tidak dikodifikasikan (karena adat). sifatnya lebih nyata dilihat dan dipahami. Prof. jadi mempunyai akibat hukum. Soepomo.Van Vallenhoven. Abdulrahman .

yang menurut Satjipto Raharjo.petugas hukum dan petugas masyarakat dengan upaya paksa atau ancaman hukuman (sanksi). padahal di desa-desa. 6. yang merupakan genusnya Selanjutnya dalam memahami perkembangan hukum adat dalam masyarakat. akan tetap ada sebagai kelengkapan dari Hukum Nasional. Menurut Soepomo. maka berkembang kemudian hukum yang hidup dalam masyarakat (living law) yang lazim dipergunakan untuk. Penyebutan Hukum Adat untuk hukum yang tidak tertulis tidak mengurangi peranannya dalam memberikan . Dengan kata lain memahami hukum adat harus dilakukan secara dinamik. Dalam berbagai seminar. Van Vallenhoven merumuskan: Jikalau dari atas (penguasa) telah diputuskan untuk mempertahankan Hukum Adat padahal hukum itu sudah mati. maka penetapan itu akan sia-sia belaka. di ladang-ladang dan di pasar-pasar hukum itu masih kokoh dan kuat. Suroyo Wignjodipuro: Hukum adat adalah suatu kompleks norma-norma yang bersumber apada perasaan keadilan rakyat yang selalu berkembang serta meliputi peraturan tingkat laku manusia dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat. maka Prof. sebagian besar tidak tertulis. dan selaras antara atas – yang memutuskan – dan bawah yang menggunakan . maka hakim-pun akan sia-sia belaka. Sebaliknya seandainya telah diputuskan dari atas bahwa Hukum Adat harus diganti. Sudjito Sastrodiharjo menegaskan: Ilmu hukum bukan hanya mempelajari apa yang disebut das sollen. Hukum adat merupakan species dari hukum tidak tertulis.agar dapat diketahui dan dipahami perkembangannya. 5. menunjukkan berbagai macam hukum yang tumbuh dan berkembang dengan sendirinya di dalam masyarakat. yang disana sini mengandung unsur agama. 7. Hukum adat adalah suatu hukum yang hidup karena ia menjelmakan perasaan hukum yang nyata dari rakyat. karena mempunyai akibat hukum (sanksi). hukum kebiasaan dengan ciri khas yang merupakan pedoman kehidupan rakyat dalam menyelenggarakan tata kedilan dan kesejahteran masyarakat dan bersifat kekeluargaan. Hardjito Notopuro: Hukum Adat adalah hukum tidak tertulis. tetapi pertama kali harus mengingat das sein. 8. Seminar Hukum Adat dan pembinaan Hukum Nasional: Hukum adat diartikan sebagai Hukum Indonesia asli yang tidak tertulis dalam bentuk perundangundangan Republik Indonesia.

Riil perbuatan hukum dinyatakan sah bila dilakukan secara kongkrit bentuk perbuatan hukumnya. 2. kepentingan-kepentingan yang tidak terucapkan dalam hukum tertulis. Sifat Hukum Adat. yang bersifat majemuk. Azas perwakilan dan musyawaratan dalam sistem pemerintahan Sifat Corak Hukum Adat. 2. yaitu: 1. 28/10/2008 klas F . Hukum adat berbeda dengan hukum bersumberkan Romawi atau Eropa Kontinental lainnya. Sifat yang menjadi ciri daripada hukum adat sebagai 3 C adalah: 1. Commun atau komunal atau kekeluargaan (masyarakat lebih penting daripada individu). Azas fungsi sosial hak miliknya. Contant atau Tunai perbuatan hukum dalam hukum adat sah bila dilakukan secara tunai. Azas Gotong royong. Azas persetujuan sebagai dasar kekuasaan umum. 3. sebagai dasar mengikatnya perbuatan hukum.penyaluran dari kebiasaan. sehingga hukum adat mempunyai fungsi social atau keadilan social. Congkrete atau Nyata. 3. Azas azas Hukum Adat Hukum adat yang tumbuh dari cita-cita dan alam pikiran masyarakat Indonesia. Hukum adat bersifat pragmatisme –realisme artinya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang bersifat fungsional religius. namun ternyata dapat dilacak azas-azasnya. 4.

3. Hukum adat mempunyai sifat visual. 2. Sunaryati Hartono. Mempunyai corak magisch – religius.Djojodigoeno menyebut hukum adat mempunyai sifat: statis. Surnarjati Hartono sesungguhnya hendak mengatakan bahwa hukum adat bukan khas Indonesia. artinya. Statis. karena hukum adat dapat mengikuti perkembangan masyarakat. menyatakan : Dengan perspektif perbandingan. Mempunyai sifat kebersamaan yang kuat . tidak hanya di Asia tetapi juga di Eropa dan Amerika.hubungan-hubungan hukum dianggap hanya terjadi oleh karena ditetapkan dengan suatu ikatan yang dapat dilihat (atau tanda yang tampak). yang Plastis/Fleksibel. merupakan makluk dalam ikatan kemasyarakatan yang erat . Sistem hukum itu diliputi oleh pikiran serba kongkrit. kelenturan hukum adat sesuai kebutuhan dan kemauan masyarakat. menusia menurut hukum adat. artinya . yang berhubungan dengan pandangan hidup alam Indonesia. Sistem hukum adat mempergunakan hubungan-hubungan yang kongkrit tadi dalam pengatur pergaulan hidup. . 4. hukum adat selalu ada dalam amsyarakat. namun dapat ditemukan juga di berbagai masyarakat lain yang masih bersifat pra industri di luar Indonesia. Corak Hukum Adat Soepomo mengatakan: Corak atau pola – pola tertentu di dalam hukum adat yang merupakan perwujudkan dari struktur kejiwaan dan cara berfikir yang tertentu oleh karena itu unsur-unsur hukum adat adalah: 1. maka ketiga ciri dapat ditemukan dalam hukum yang berlaku dalam masyarakat agraris atau pra industri. Dinamis. dinamis dan plastis 1. rasa kebersamaan mana meliputi sebuah lapangan hukum adat. 2. artinya hukum adat sangat memperhatikan banyaknya dan berulang-ulangnya hubungan-hubungan hidup yang kongkret. 3.

2. artinya ia lebih mengutamakan kepentingan bersama. 3. Artinya dalam lembaga-lembaga hukum adat diisi menurut tuntutan waktu tempat dan keadaan serta segalanya diukur dengan azas pokok. Keagamaan (Magis-religeius).Moch Koesnoe mengemukakan corak hukum adat: 1. 7. jual beli serah terima bersamaan (samenval van momentum) 5. Kebersamaan (Komunal). sebagai satu kesatuan yang utuh. Artinya dalam hukum adat kehidupan manusia selalu dilihat dalam wujud kelompok. sehingga kepentingan pribadi diliputi kepentingan bersama. Hukum adat lebih mengutamakan bekerja dengan azas-azas pokok . . terbuka. artinya perilaku hukum atau kaedah-kaedah hukumnya berkaitan dengan kepercayaan terhadap yanag gaib dan atau berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Hilman Hadikusuma mengemukakan corak hukum adat adalah: 1.artinya jelas. terang dan tunai. Dapat berubah dan Menyesuaikan. dan keselarasan dalam hidup bersama. Menjadi tugas kalangan yang menjalankan hukum adat untuk banyak mempunyai pengetahuan dan pengalaman agar mengetahui berbagai kemungkinan arti kiasan dimaksud. Tradisional. Kongkrit/ Visual. Segala bentuk rumusan adat yang berupa kata-kata adalah suatu kiasan saja. Ujudnya rumah gadang. 4. yakni: kerukunan. Visual artinya dapat terlihat. 3. 2. . nyata berujud. tanah pusaka (Minangkabau) . 4. kepatutan. 6. Terbuka dan Sederhana. artinya bersifat turun menurun. Ijab – kabul. berlaku dan dipertahankan oleh masyarakat bersangkutan. Dudu sanak dudu kadang yang yen mati melu kelangan (Jw). tanpak. Masyarakat sebagai keseluruhan selalu menjadi pokok perhatiannya. 8. Musyawarah dan Mufakat. Pemberian kepercayaan yang besar dan penuh kepada para petugas hukum adat untuk melaksanakan hukum adat. Tidak dikodifikasi.

Istilah Hukum Adat pertama kali diperkenalkan secara ilmiah oleh Prof. hukum perhutangan). Oleh karena itu pola pikir dan paradigma berfikir adat sering masih mengakar dalam kehidupan masyarakat sehari-hari sekalipun ia sudah memasuki kehidupan dan aktifitas yang disebut modern. Hukum tertulis ini secara lebih detil terdiri dari hukum ada yang tercatat (beschreven). ada juga hukum tertulis. karena hukum hanya akan efektif dengan kultur dan corak masyaraktnya. 2. Istilah ini kemudian dikembangkan secara ilmiah oleh Cornelis van Vollenhoven yang dikenal sebagai pakar Hukum Adat di Hindia Belanda (sebelum menjadi Indonesia). 3. C. Wilayah hukum adat di Indonesia Dari 19 daerah lingkungan hukum (rechtskring) di Indonesia. Prof. Menurut hukum adat. Snouck Hurgronje dalam bukunya yang berjudul "De Atjehers" menyebutkan istilah hukum adat sebagai "adat recht" (bahasa Belanda) yaitu untuk memberi nama pada satu sistem pengendalian sosial (social control) yang hidup dalam Masyarakat Indonesia.Sifat dan corak hukum adat tersebut timbul dan menyatu dalam kehidupan masyarakatnya. Kemudian pada tahun 1893. dan hukum adat yang didokumentasikan (gedocumenteerch) seperti dokumentasi awig-awig di Bali. . Dr. Hukum Adat mengenai tata negara Hukum Adat mengenai warga (hukum pertalian sanak. selain hukum tidak tertulis. seperti yang dituliskan oleh para penulis sarjana hukum yang cukup terkenal di Indonesia. yaitu: 1. Pendapat lain terkait bentuk dari hukum adat. wilayah yang dikenal sebagai Indonesia sekarang ini dapat dibagi menjadi beberapa lingkungan atau lingkaran adat (Adatrechtkringen). C Snouck Hurgronje. hukum tanah. Hukum Adat mengenai delik (hukum pidana). sistem hukum adat dibagi dalam tiga kelompok. Dr.

Bali dan Lombok 21. 8. Jawa Mataraman .Seorang pakar Belanda. 5. Nusa Tenggara dan Timor 20. Papua 19. Maluku Ambon 17. 4. Maluku Utara 16. 6. Maluku Tenggara 18. Sangihe-Talaud 12. 2. Cornelis van Vollenhoven adalah yang pertama mencanangkan gagasan seperti ini. Sulawesi Selatan (Bugis/Makassar) 15. Jawa dan Madura (Jawa Pesisiran) 22. Aceh Gayo dan Batak Nias dan sekitarnya Minangkabau Mentawai Sumatra Selatan Enggano Melayu Bangka dan Belitung 10. 7. 3. 9. Toraja 14. Gorontalo 13. Kalimantan (Dayak) 11. Menurutnya daerah di Nusantara menurut hukum adat bisa dibagi menjadi 23 lingkungan adat berikut: 1.

.KESIMPULAN Sejak awal manusia diciptakan telah dikarunia akal. maka ia akan menjadi kebiasaan orang itu dan seterusnya sampai kebiaasaan itu menjadi adat. pikiran dan prilaku yang ketiga hal ini mendorong timbulnya “kebiasaan pribadi “. dan apabila kebiasaan ini ditiru oleh orang lain. jadi adat adalah kebiasaan masyarakat yang harus dilaksanakan oleh masyarakat yang bersangkutan.

Melton Putra Jakarta 1991. Pengantar Hukum Indonesia.Prof. Kancil C.J. Vab Alpeldoom.DAFTAR PUSTAKA Sudarsono. Jakarta 2008.Mr L. . Pengantar Hukum Indonesia.SH. Drs. Jakarta 1973.Dr.Pengantar Ilmu Hukum.SH. Drs.S.C. Perca.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->