P. 1
Asas-Asas Hukum Pidana

Asas-Asas Hukum Pidana

|Views: 332|Likes:
Published by Al-Amien Ainaya

More info:

Published by: Al-Amien Ainaya on Apr 02, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/14/2014

pdf

text

original

1

2

BAB I PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG Apakah hukum pidana itu ? pertanyaan ini sesungguhnya sangat sulit untuk dijawab, mengingat hukum pidana itu mempunyai banyak segi, yang masing-masing mempunyai arti sendirisendiri. Penerapan hukum pidana berkaitan dengan ruang lingkup hukum pidana itu sendiri dapat bersifat luas dan dapat pula bersifat sempit. Dalam tindak pidana dapat melihat seberapa jauh seseorang telah merugikan masyarakat dan pidana apa yang perlu dijatuhkan kepada orang tersebut karena telah melanggar hukum. Selain itu, tujuan hukum pidana tidak hanya tercapai dengan pengenaan pidana, tetapi merupakan upaya represif yang kuat berupa tindakan-tindakan pengamanan. Perlunya pemahaman terhadap teori-teori serta Asas-Asas Hukum Pidana tersebut bagi peserta diklat, maka Pusat Pendidikan Dan Pelatihan Kejaksaan R.I menyusun modul mengenai asas-asas hukum pidana dengan tujuan agar peserta Pendidikan dan Pelatihan

3

4

pendahuluan mengerti dan memahami teori-teori maupun asas-asas hukum pidana yang perlu diperhaitkan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai jaksa nantinya.

II. DESKRIPSI SINGKAT Modul asas-asas hukum pidana memberikan pemahaman bagi peserta pendidikan dan pelatihan tentang ruang lingkup berlakunya, tindak pidana, adanya hubungan sebab akibat (causaliteit, causalitat), sifat melawan hukum, kesalahan dan pertanggungjawaban pidana, kesengajaan, kealpaan, delik pelanggaran, pemidanaan, percobaan, penyertaan, penggabungan tindak pidana, dasar penghapus pidana, gugurnya wewenang menuntut dan menjalankan pidana.

B. Tujuan Instruksional Khusus Setelah mempelajari modul ini peserta diklat diharapkan mengetahui tentang ruang lingkup berlakunya, tindak pidana, adanya hubungan sebab akibat (causaliteit, causalitat), sifat melawan hukum, kesalahan dan pertanggungjawaban pidana, kesengajaan, kealpaan, delik pelanggaran, pemidanaan, percobaan, penyertaan, penggabungan tindak pidana, dasar penghapus pidana, gugurnya wewenang menuntut dan menjalankan pidana. IV. POKOK BAHASAN a. Ruang lingkup berlakunya Hukum Pidana. b. Tindak Pidana. c. Hubungan sebab akibat (causaliteit, causalitat). d. Sifat melawan hukum (rechtswdrig, unrecht, wederrechtelijk, onrechmatig). e. Kesalahan dan pertanggungjawaban pidana. f. Kesengajaan (dolus, intent, opzet, vorsatz).

III. TUJUAN PEMBELAJARAN A. Tujuan Intruksional Umum Setelah mempelajari modul ini peserta diharapkan mengetahui tentang teori, asas, delik tindak pidana dan dapat menerapkannya dalam melaksanakan tugas sebagai penyidik dan penuntut umum dalam penanganan perkara pidana.

g. Kealpaan (culpa). h. Kesalahan dalam delik pelanggaran. i. Pidana dan pemidanaan (hukum penitensier). j. Percobaan (poging, attempt). k. Penyertaan. l. Penggabungan tindak pidana (samenloop / concursus).

5

6

m. Alasan / dasar penghapus pidana (straffuitsluitingsgrond, grounds of impiunity.) n. Gugurnya kewenangan menjalankan pidana. V. FASILITAS / MEDIA Fasilitas dan media yang digunakan dalam proses pembelajaran Pengantar asas-asas hukum pidana antara lain : a) b) c) d) Modul asas-asas hukum pidana; Internet; Peraturan perundang-undangan; Literatur yang terkait. menuntut dan

BAB II RUANG LINGKUP BERLAKUNYA HUKUM PIDANA

A. RUANG

BERLAKUNYA

HUKUM

PIDANA

MENURUT WAKTU Penerapan hukum pidana atau suatu perundangundangan pidana berkaitan dengan waktu dan tempat perbuatan dilakukan. Serta berlakunya hukum pidana menurut waktu menyangkut

penerapan hukum pidana dari segi lain. Dalam hal seseorang melakukan perbuatan (feit) pidana sedangkan perbuatan tersebut belum diatur atau belum diberlakukan ketentuan yang bersangkutan, maka hal itu tidak dapat dituntut dan sama sekali tidak dapat dipidana. Asas Legalitas (nullum delictum nula poena sine praevia lege poenali) Terdapat dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP. Tidak dapat dipidana seseorang kecuali atas perbuatan yang dirumuskan dalam suatu

7 8 aturan perundang-undangan yang telah ada dimana adagium : nullum delictum nulla poena sine praevia lege poenali yang mengandung tiga prinsip dasar : terlebih dahulu. nilai-nilai agama. Dalam perkembangannya amandemen ke-2 UUD 1945 dalam Pasal 28 ayat (1) berbunyi dan berhak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun dan Pasal 28 J ayat (2) Undang-undang Dasar 1945 yang berbunyi : “Dalam menjalankan hak dan kebebasannya setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undangundang dengan maksud semata-mata untuk - Nulla poena sine lege (tiada pidana tanpa undang-undang) - Nulla Poena sine crimine (tiada pidana tanpa perbuatan pidana) - Nullum crimen sine poena tanpa legali (tiada perbuatan pidana undang-undang pidana yang terlebih dulu ada) Adagium ini menganjurkan supaya : 1) Dalam menentukan perbuatan- menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk perbuatan yang dilarang di dalam peraturan macamnya bukan saja tentang yang memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral. tetapi juga macamnya pidana yang diancamkan. Karenanya asas ini dapat pula dinyatakan sebagai asas konstitusional. 2) Dengan cara demikian maka orang Dalam catatan sejarah asas ini dirumuskan oleh Anselm von Feuerbach dalam teori : “vom psychologishen zwang (paksaan psikologis)” yang akan melakukan perbuatanyang dilarang itu telah mengetahui terlebih . perbuatan harusdirumuskan dengan jelas. keamanan dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis”.

9 10 dahulu pidana apa yangakan dijatuhkan kepadanya jika nanti betul-betul akan tetapi diperbolehkan penggunaan penafsiran ekstensif. 2) Untuk menentukan adanya perbuatan pidana tidak boleh digunakan analogi. Hal ini dirumuskan dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP. b) Tidak diperkenankan suatu Analogi dijatuhkan kepadanya. melakukan dilarang. c) Tidak dapat dipidana hanya berdasarkan kebiasaan (Hukum tidak tertulis). 3) Aturan-aturan berlaku surut. menyetujui Andaikata juga maka dia ternyata yang dia akan perbuatan dinpandang yang pidana ketentuan pidana berdasar peraturan perundang-undangan (formil). (pengenaan undang-undang terhadap perbuatan yang tidak diatur oleh undang-undang tersebut). Prof. 3) Dengan demikian dalam batin orang itu akan mendapat tekanan untuk tidak berbuat. . Schaffmeister dan Heijder merinci asas ini dalam pokok-pokok pikiran sebagai berikut : a) Tidak dapat dipidana kecuali ada hukum pidana tidak melakukan perbuatan. d) Tidak boleh ada perumusan delik yang kurang jelas (lex Certa). Moeljatno menjelaskan inti pengertian yang dimaksud dalam asas legalitas yaitu : 1) Tidak ada perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana kalau hal itu terlebih dahulu belum dinyatakan dalam suatu aturan undang-undang. e) Tidak boleh Retroaktif (berlaku surut) f) Tidak boleh ada ketentuan pidana diluar Undang-undang.

Asas Universal. Asas Personal (nasional aktif). akan melihat kepada berlakunya B. apabila ditinjau dari sudut Negara ada 2 (dua) pendapat yaitu : a. Dalam hal ini asas-asas hukum pidana menurut tempat : I. menganut prinsip nasional aktif. Asas Teritorial. dimana saja. RUANG BERLAKUNYA HUKUM PIDANA hukum pidana menurut ruang tempat dan MENURUT TEMPAT (LEX LOCI) Teori tetang ruang lingkup berlakunya hukum pidana nasional menurut tempat terjadinya. Pada bagian ini. I. Perbuatan (yurisdiksi hukum pidana nasional). asas Pandangan personal ini atau berdasarkan atau dengan cara yang ditentukan undang-undang. berkaitan pula dengan orang atau subyek. Asas Teritorial Asas ini diatur juga dalam Kitab UndangUndang Hukum Pidana (KUHP) yaitu dalam pasal 2 KUHP pidana yang menyatakan : berlaku bagi semua perbuatan pidana yang dilakukan oleh warga Negara. III. baik dilakuakan oleh warga negaranya sendiri maupun oleh orang lain (asas territorial). juga apabila perbuatan pidana itu dilakukan “Ketentuan dalam perundang- undangan Indonesia diterapkan bagi setiap . Perundang-undangan hukum pidana berlaku bagi semua perbuatan pidana yang terjadi diwilayah Negara. II. Asas Perlindungan (nasional pasif) IV.11 12 g) Penuntutan hanya dilakukan diluar disebut wilayah Negara. Perundang-undangan hukum pidana Ad. b.

Hal ini adalah wajar karena tiap-tiap orang yang berada dalam wilayah suatu Negara harus tunduk dan patuh kepada . Sedang dalam asas kedua (asas personal atau asas nasional yang aktif) menitik beratkan pada orang yang melakukan perbuatan pidana. Tujuan dari pasal ini adalah supaya perbuatan pidana yang terjadi di dalam kapal atau pesawat terbang yang berada di perairan bebas atau berada di wilayah udara bebas. warga Negara atau orang asing. tetapi tidak berarti bahwa perahu (kendaraan air) dan pesawat terbang lalu dianggap bagian wilayah Indonesia.13 14 orang yang melakukan suatu tindak pidana di Indonesia”. sehingga ada yang mengadili apabila terjadi suatu perbuatan pidana. sewajarnya berlaku bagi Negara yang berdaulat. Asas territorial lebih menitik beratkan pada terjadinya perbuatan pidana di dalam wilayah Negara tidak mempermasalahkan siapa pelakunya. Ketentuan ini memperluas berlakunya pasal 2 KUHP. tempat tidak terjadinya mempermasalahkan perbuatan pidana. Asas territorial yang pada saat ini banyak diikuti oleh Negaranegara di dunia termasuk Indonesia. dan ketentuan ini sudah peraturan-peraturan hukum Negara dimana yang bersangkutan berada. Pasal ini dengan tegas menyatakan asas territorial. tidak termasuk wilayah territorial suatu Negara. Perluasan dari Asas Teritorialitas diatur dalam pasal 3 KUHP yang menyatakan : “Ketentuan pidana perundang-undangan Indonesia berlaku bagi setiap orang yang di luar wilayah Indonesia melakukan tindak pidana didalan kendaraan air atau pesawat udara Indonesia”.

Pejabat-pejabat perwakilan asing dan keluarganya. Kapal merupakan bentuk khusus dari alat   Pejabat-pejabat Internasional. Asas-asas Extra Teritorial / kekebalan dan hak-hak Istimewa (Immunity and Previlege). Apabila ada warga Negara asing yang berada dalam suatu wilayah Negara telah melakukan tindak pidana dan tindak pidana dan tidak diadili menurut hukum Negara tersebut maka berarti diplomatik yang dalam perjalanan melalui Negara-negara lain atau menuju Negara lain. II. pelayaran. Di luar Indonesia atau di laut bebas dan laut wilayah Negara lain. bertentangan dengan kedaulatan Negara tersebut. Pejabat-pejabat Negara asing pemerintahan yang berstatus Ad.15 16 Setiap orang yang melakukan perbuatan pidana diatas alat pelayaran Indonesia diluar wilayah Indonesia.  Suatu angkatan bersenjata yang terpimpin. Pasal 5 KUHP hukum Pidana Indonesia berlaku bagi warga Negara Indonesa melakukan di luar Indonesia pidana yang tertentu perbuatan . badan Kapal-kapal perang dan pesawat udara militer / ABK diatas kapal maupun di luar kapal. Asas Personal Asas Personal atau Asas Nasional yang aktif tidak mungkin digunakan sepenuhnya terhadap warga Negara yang sedang berada dalam wilayah Negara lain yang kedudukannya sama-sama berdaulat.    Kepala Negara asing dan anggota keluarganya. Alat pelayaran pengertian lebih luas dari kapal.

17

18

Kejahatan terhadap keamanan Negara, martabat kepala Negara, penghasutan, dll. Pasal 5 KUHP menyatakan :

dilakukan

juga

jika

terdakwa

menjadi warga Negara sesudah melakukan perbuatan”. Sekalipun rumusan pasal 5 ini memuat

“(1).

Ketetentuan

pidana

dalam Indonesia

perkataan “diterapkan bagi warga Negara Indonesia yang diluar wilayah Indonesia”’, sehingga seolah-olah mengandung asas personal, akan tetapi sesungguhnya pasal 5 KUHP memuat asas melindungi

perundang-undangan

diterapkan bagi warga Negara yang di luar Indonesia melakukan : salah satu kejahatan yang

tersebut dalam Bab I dan Bab II Buku Kedua dan Pasal-Pasal 160, 161, 240, 279, 450 dan 451. Salah satu perbuatan yang oleh suatu ketentuan pidana dalam Indonesia kejahatan,

kepentingan nasional (asas nasional pasif) karena : Ketentuan pidana yang diberlakukan bagi warga Negara diluar wilayah territorial wilyah Indonesia tersebut hanya pasalpasal tertentu saja, yang dianggap penting sebagai perlindungan terhadap

perundang-undangan dipandang sebagai

sedangkan menurut perundangundangan Negara dimana

kepentingan nasional. Sedangkan untuk asas personal, harus diberlakukan seluruh perundang-undangan hukum pidana bagi warga Negara yang melakukan kejahatan

perbuatan itu dilakukan diancam dengan pidana. (2). Penuntutan perkara sebagaimana dimaksud dalam butir 2 dapat

di luar territorial wilayah Negara.

19

20

Ketentuan pasal 5 ayat (2) adalah untuk mencegah agar supaya warga Negara asing yang berbuat kejahatan di Negara asing tersebut, dengan jalan menjadi warga Negara Indonesia (naturalisasi). Bagi Jaksa maupun hakim Tindak Pidana yang dilakukan di negara asing tersebut, apakah menurut undang-undang disana merupakan kejahatan atau

perundang-undangan

Negara

dimana

perbuatan dilakukan terhadapnya tidak diancamkan pidana mati”. Latar belakang ketentuan pasal 6 ayat (1) butir 2 KUHP adalah untuk

melindungi kepentingan nasional timbal balik (mutual legal assistance). Oleh karena itu menurut Moeljatno, sudah sewajarnya pula diadakan imbangan pulu terhadap maksimum pidana yang mungkin dijatuhkan menurut KUHP

pelanggaran, tidak menjadi permasalahan, karena mungkin pembagian tindak

pidananya berbeda dengan di Indonesia, yang penting adalah bahwa tindak pidana tersebut di Negara asing tempat perbuatan dilakukan sedangkan diancam menurut dengan KUHP pidana, Indonesia

Negara asing tadi.

Ad. III. Asas Perlindungan Sekalipun asas personal tidak lagi

merupakan kejahatan, bukan pelanggaran. Ketentuan pasal 6 KUHP : “ Berlakunya pasal 5 ayat (1) butir 2 dibatasi sedemikian rupa sehingga tidak dijatuhkan pidana mati, jika menurut

digunakan sepenuhnya tetapi ada asas lain yang memungkinkan diberlakukannya hukum pidana nasional terhadap

perbuatan pidana yang terjadi di luar wilayah Negara

21

22

Pasal

4

KUHP

(seteleh

diubah

dan

talon, tanda deviden atau tanda bunga yang mengikuti surat atau sertifikat itu, dan tanda yang

ditambah

berdasarkan

Undang-undang

No. 4 Tahun 1976) “Ketentuan undangan pidana dalam perundang-

dikeluarkan sebagai pengganti surat tersebut atau menggunakan suratsurat tersebut di atas, yang palsu atau dipalsukan, seolah-olah asli dan tidak palsu; 4. Salah satu kejahatan yang disebut dalam Pasal-pasal 438, 444 sampai dengan 446 tentang pembajakan laut mengenai kertas mata yang dan pasal 447 tentang penyerahan kendaraan air kepada kekuasaan bajak laut dan pasal 479 huruf j tentang penguasaan pesawat udara secara melawan hukum, pasal 479 l, m, n dan o tentang kejahatan yang mengancam surat hutang atau penerbangan sipil. keselamatan Indonesia diterapkan bagi

setiap orang yang melakukan di luar Indonesia : 1. Salah satu kejahatan berdasarkan pasal-pasal 108 dan 131; 2. Suatu uang kejahatan atau 104, 106, 107,

uang

dikeluarkan oleh Negara atau bank, ataupun mengenai dan oleh materai merek yang yang

dikeluarkan digunakan Indonesia; 3. Pemalsuan

Pemerintah

sertifikat hutang atas tanggungan suatu daerah atau bagian daerah Indonesia, termasuk pula pemalsuan Dalam pasal 4 KUHP ini terkandung asas melindungi kepentingan yaitu melindungi kepentingan nasional dan melindungi

Asas Universal Berlakunya pasal 2-5 dan 8 KUHP dibatasi memberlakukan perundang-undangan pidana Indonesia bagi setiap orang yang di luar wilayah Negara Indonesia melakukan perbuatan-perbuatan yang merugikan kepentingan nasional. IV. . pemerintah Indonesia (pasal 4 ke-2) 3) Kejahatan surat-surat mengenai hutang pemalsuan sertifkat- atau sertifikat hutang yang dikeluarkan oleh Negara Indonesia atau bagianbagiannya (pasal 4 ke-3) Dikatakan nasional melindungi karena pasal 4 kepentingan KUHP ini 4) Kejahatan mengenai pembajakan kapal laut Indonesia dan pembajakan pesawat udara Indonesia (pasal 4 ke4) Ad. yaitu : 1) Kejahatan Negara martabat Republik dan / terhadap kejahatan kehormatan Indonesia keamanan terhadap Presiden Wakil oleh hukum pengecualian-pengecualian internasional. Bahwa dalam asas melindungi kepentingan internasional (asas universal) adalah dilandasi pemikiran bahwa setiap Negara di dunia wajib turut dan Presiden Republik Indonesia (pasal 4 ke-1) 2) Kejahatan mata uang mengenai atau pemalsuan uang kertas melaksanakan tata hukum sedunia (hukum internasional).23 24 kepentingan internasional (universal). Indonesia atau segel / materai dan merek yang digunakan oleh Pasal ini menentukan berlakunya hukum pidana nasional bagi setiap orang (baik warga Negara Indonesia maupun warga negara asing) yang di luar Indonesia melakukan kejahatan yang disebutkan dalam pasal tersebut.

maka asas yang berlaku diterapkan adalah asas melindungi kepentingan nasional (asas nasional pasif). . akan tetapi juga mungkin menyangkut mata uang atau uang kertas Negara asing. mengenai kepemilikan Indonesia. pembajakan kapal laut atau pesawat terbang adalah mengenai kepemilikan Negara asing. pesawat pembajakan terbang kapal. Pembajakan kapal laut atau pesawat terbang yang dimaksud dalam pasal 4 ke-4 KUHP dapat menyangkut kapal laut Indonesia atau pesawat terbang internasional (asas universal). dalam Bab XXVIII Buku Indonesia. Pasal 7 KUHP “Ketentuan pidana dalam perundang- undangan Indonesia berlaku bagi setiap pejabat yang di luar Indonsia melakukan salah satu tindak pidana sebagaimana dimaksudkan Kedua”. maka asas yang berlaku adalah asas melindungi kepentingan Pemalsuan mata uang atau uang kertas yang dimaksud dalam pasal 4 ke-2 KUHP menyangkut mata uang atau uang kertas Negara Indonesia. dan mungkin juga menyangkut kapal laut atau pesawat terbang Negara asing. adalah laut atau internasional (kepentingan universal) karena rumusan pasal 4 ke-2 KUHP (mengenai kejahatan pemalsuan mata uang atau uang kertas) dan pasal 4 ke-4 KUHP (mengenai pembajakan kapal laut dan pembajakan pesawat udara) tidak menyebutkan mata uang atau uang kertas Negara mana yang dipalsukan atau kapal laut dan pesawat terbang negara mana yan dibajak.25 26 Dikatakan melindungi kepentingan Jika pemalsuan mata uang atau uang kertas. Jika pemalsuan mata uang atau uang kertas.

419. Dalam hal demikian apakah pasal 7 KUHP masih dapat diterapkan ? untuk masalah tersebut harap diperhatikan pasal 16 UU No. 387. 417. 435) telah dirubah oleh Undang-undang No. pasal 5 sampai dengan pasal 14” Pasal 8 KUHP “Ketentuan pidana dalam perundang- tersebut (pasal 209. pidana satu sebagaimana dimaksudkan dalam Bab XXIX Buku Kedua dan Bab IX buku ketiga. 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas UU No. 416. 4 Tahun 1976 yang dimasukkan dalam KUHP pada Buku Kedua Bab XXIX A. begitu pula yang tersebut dalam peraturan mengenai surat laut dan pas kapal di Indonesia. yang di luar Indonesia. melakukan sekalipun salah di luar tindak perahu. pasal 3. pertimbangan lain untuk memasukkan Bab . 210. 425. 418. sarana atau keterangan untuk terjadinya tindak pidana korupsi dipidana dengan pidana yang sama sebagai pelaku tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud pidana tentang kejahatan penerbangan dan kejahatan terhadap sarana / prasarana penerbangan berdasarkan UU No. maupun dalam ordonansi perkapalan”. 31 Tahun 1999 tentang undangan Indonesia berlaku nahkoda dan penumpang perahu Indonesia. Dengan telah diundangkannya tindak pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang berbunyi : “setiap orang di luar wilayah Negara republik Indonesia yang memberikan bantuan. 420. 423. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dengan rumusan tersendiri sekalipun masih menyebut unsur-unsur yang terdapat dalam masing-masing pasal KUHP yang diacu. 388. 415.27 28 Pasal ini mengenai kejahatan jabatan yang sebagian besar sudah diserap menjadi tindak pidana korupsi. Akan tetapi pasal-pasal dalam pasal 2. kesempatan.

Menurut hukum adalah internasional teritoir kapal peran yang digunakan sebagai bagian dari kegiatan terorisme yang dilakukan oleh kelompok terorganisir pasal 9 KUHP. Hukum nasional suatu Negara tidak berlaku bagi mereka 2) Duta besar Negara asing beserta keluarganya meeka juga mempunyai hak eksteritorial. internasional. pada umumnya pengecualian yang diakui meliputi : 1) Kepala Negara beserta keluarga dari Negara sahabat. . dimana mereka mempunyai hak eksteritorial. Menurut Moeljatno. sekalipun ada di luar kapal.29 30 XXIX A Buku Kedua ke dalam pasal 8 KUHP adalah juga menjadi kenyataan bahwa kejahatan penerbangan sudah 3) Anak buah kapal perang asing yang berkunjung di suatu Negara. Diterapkannya pasal-pasal 2-5-7 dan 8 dibatasi oleh pengecualian-pengecualian yang diakui dalam hukum-hukum Negara mempunyainya 4) Tentara Negara asing yang ada di dalam wilayah Negara dengan persetujuan Negara itu.

dan orang tidak dapat diancam pidana jika tidak karena kejadian yang ditimbulkan olehnya”.H.31 32 BAB III TINDAK PIDANA a. PENGERTIAN TINDAK PIDANA Hingga saat ini belum ada kesepakatan para sarjana tentang pengertian Tindak pidana  Antara larangan dan ancaman pidana ada hubungan yang erat. pidana selalu mengatur tentang tindak pidana. . Terdapat 3 (tiga) hal yang perlu diperhatikan :  Perbuatan pidana adalah perbuatan oleh suatu aturan hukum dilarang dan diancam pidana. b. larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu. oleh karena antara kejadian dan orang yang menimbulkan kejadian itu ada hubungan erat pula.. Pandangan ini disebut pandangan dualistis yang sering dihadapkan dengan pandangan monistis yang tidak membedakan keduanya. ditujukan (criminal act) dan pertanggungjawaban pidana (criminal responsibility). Selanjutnya Moeljatno membedakan dengan tegas dapat dipidananya perbuatan (die strafbaarheid van het feit) dan dapat dipidananya orang (strafbaarheid van den person). bagi barang siapa yang melanggar aturan tersebut. Moeljatno S. “ Kejadian tidak dapat dilarang jika yang menimbulkan bukan orang. Sejalan dengan itu memisahkan pengertian perbuatan pidana (strafbaar feit). Menurut Prof. UNSUR-UNSUR TINDAK PIDANA Dalam suatu peraturan perundang-undangan ditimbulkan sedangkan kelakuan pidana kepada orang yang menimbulkan kejadian itu.  Larangan ditujukan kepada perbuatan (yaitu suatu keadaan oleh ancaman atau kejadian yang orang). Tindak Pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum.

Unsur Subyektif :  Orang yang mampu bertanggung jawab  Adanya kesalahan (dollus atau culpa). Diancam dengan pidana (statbaar gesteld) Melawan hukum (onrechtmatig) . Menurut  Simons. Perbuatan kesalahan. harus dilakukan dengan (strafbaar feit) adalah : Perbuatan manusia (positif atau negative.  Mungkin ada keadaan tertentu yang perundang-undangan pidana tentang perbuatanperbuatan yang dilarang dan disertai dengan sanksi. Unsur Obyektif :  Perbuatan orang  Akibat yang kelihatan dari perbuatan itu. mengetahui adanya tindak pidana. Perbuatan pidana menunjuk kepada sifat perbuatannya saja. Untuk   Dilakukan dengan kesalahan (met schuld in verband staand) Oleh orang yang mampu bertanggung jawab (toerekeningsvatoaar person). Dalam rumusan tersebut ditentukan beberapa unsur atau syarat yang menjadi ciri atau sifat khas dari larangan tadi sehingga dengan jelas dapat dibedakan dari perbuatan lain yang tidak dilarang. berbuat   atau tidak berbuat atau membiarkan). maka pada umumnya dirumuskan dalam peraturan Simons juga menyebutkan adanya unsur obyektif dan unsur subyektif dari tindak pidana (strafbaar feit).33 34 Sedangkan menurut Moeljatno “Tindak pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum. yaitu dapat dilarang dengan ancaman pidana kalau dilanggar. unsur-unsur tindak pidana menyertai perbuatan itu seperti dalam pasal 281 KUHP sifat “openbaar” atau “dimuka umum”. larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu bagi barang siapa yang melanggar larangan tersebut”.

531 KUHP Pasal 164 KUHP : barang jahat siapa untuk mengetahui permufakatan . Pasal 418 KUHP jo. Sementara menurut Moeljatno unsur-unsur Tahun 1971 atau pasal 11 UU No. 31 Tahun 1999 jo. Unsur obyektif atau non pribadi Yaitu mengenai keadaan di luar si pembuat. memperingan atau memperberat melakukan perbuatan. Kalau yang menerima hadiah bukan pegawai negeri maka tidak perbuatan pidana :  Perbuatan (manusia)  Yang memenuhi rumusan dalam undangundang (syarat formil)  Bersifat melawan hukum (syarat materiil) Unsur-unsur tindak pidana menurut Moeljatno terdiri dari : 1) Kelakuan dan akibat 2) Hal ikhwal atau keadaan tertentu yang menyertai perbuatan. UU No. Apabila penghasutan tidak dilakukan di muka umum maka tidak mungkin diterapkan pasal ini Unsur keadaan ini dapat berupa keadaan yang menentukan. 3 pidana yang dijatuhkan. Pasal 1 ayat (1) sub c UU No. misalnya pasal 160 KUHP tentang penghasutan di muka umum (supaya melakukan perbuatan pidana atau melakukan kekerasan terhadap penguasa umum). Unsur subyektif atau pribadi Yaitu mengenai diri orang yang mungkin diterapka pasal tersebut b. (1) Unsur keadaan yang menentukan misalnya dalam pasal 164. misalnya unsur pegawai negeri yang diperlukan dalam delik jabatan seperti dalam perkara tindak pidana korupsi. 165.35 36 Kesalahan ini dapat berhubungan dengan akibat dari perbuatan atau dengan keadaan mana perbuatan itu dilakukan. yang dibagi menjadi : a. 20 Tahun 2001 tentang pegawai negeri yang menerima hadiah.

Orang yang tidak melapor baru dapat dikatakan jika melakukan perbuatan pidana. Syarat tambahan tersebut tidak dipandang sebagai unsur delik (perbuatan pidana) tetapi sebagai syarat penuntutan. diancam. Apabila penganiayaan tersebut memberitahukannya kehakiman atau kepolisian atau kepada yang terancam.37 38 melakukan kejahatan tersebut pasal 104. Tentang hal kemudian terjadi kejahatan itu adalah merupakan unsur tambahan. ancaman pidana diperberat menjadi 5 tahun (pasal 351 ayat . 108. 106. 113. 115. 124. dengan pidana kurungan paling lama tiga bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah. Kewajiban untuk melapor kepada yang berwenang. Pasal 531 KUHP : barang siapa ketika menyaksikan bahwa ada orang yang sedang menghadapi maut. kejahatan tadi kemudian betul-betul terjadi. orang tadi baru melakukan perbuatan pidana. apabila kejahatan jadi dilakukan. (2) Keadaan tambahan yang memberatkan pidana Misalnya penganiayaan biasa pasal 351 ayat (1) KUHP diancam dengan pidana penjara paling lama 2 tahun 8 bulan. apabila mengetahui akan terjadinya suatu kejahatan. Keharusan memberi pertolongan pada orang yang sedang menghadapi bahaya maut jika tidak memberi pertolongan. kalau orang yang dalam keadaan bahaya tadi kemudian lalu meninggal dunia. dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah. jika kemudian orang itu meninggal. diancam. 187 dan 187 bis. tidak memberi pertolongan yang dapat diberikan menimbulkan luka berat. 107. dan pada saat kejahatan masih bisa dicegah dengan sengaja kepada tidak pejabat kepadanya tanpa selayaknya menimbulkan bahaya bagi dirinya atau orang lain.

Pengertian unsur-unsur tindak pidana kekerasan adalah pantang dilakukan atau sudah mengandung sifat melawan hukum. tetapi dalam praktek hal ini sangat penting dan menentukan bagi keberhasilan pembuktian perkara pidana. Unsur melawan hukum yang dinyatakan sebagai unsur tertulis misalnya pasal 362 KUHP dirumuskan sebagai pencurian yaitu pengambilan barang orang lain dengan maksud untuk memilikinya secara melawan hukum.39 40 2 KUHP). Apabila tidak dicantumkan maka apabila perbuatan yang didakwakan dapat dibuktikan maka secara diam-diam unsure itu dianggap ada. Apabila dicantumkan maka jaksa harus mencantumkan dalam dakwaannya dan dapat diketahui dari doktrin (pendapat ahli) ataupun dari yurisprudensi yan memberikan penafsiran terhadap rumusan . Tanpa ditambahkan kata melawan hukum setiap orang mengerti bahwa memaksa dengan kekerasan atau ancaman unsur-unsur permasalahan “pengertian” unsur-unsur tindak pidana bersifat teoritis. Adakalanya unsur ini tidak dirumuskan secara tertulis rumusan pasal. Misalnya pasal 285 KUHP : “dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh di luar perkawinan”. sebab sifat melawan hukum atau sifat pantang oleh karenanya harus dibuktikan. tentang dilakukan perbuatan sudah jelas dari istilah atau rumusan kata yang disebut. Luka berat dan mati adalah merupakan keadaan tambahan yang memberatkan pidana (3) Unsur melawan hukum Dalam perumusan delik unsur ini tidak selalu dinyatakan sebagai unsur tertulis. dan jika mengakibatkan mati ancaman pidana menjad 7 tahun (pasal 351 ayat 3 KUHP). Pentingnya pengertian Sekalipun pemahaman tindak terhadap pidana.

5) Mengarahkan jalannya penyidikan atau memudahkan aparat menerapkan peraturan hukum. 6) Menyusun requisitoir yaitu pada saat uraian penerapan fakta perbuatan kepada unsurunsur tindak pidana yang didakwakan. Biasa terjadi bahwa suatu alat bukti hanya penjelasan penegak berguna untuk menentukan pembuktian satu unsur tindak pidana. Bagi Jaksa pentingnya memahami pengertian unsur-unsur tindak pidana adalah : 1) Untuk menyusun surat dakwaan. harus diuraikan sejelas-jelasnya karena ini menjadi dasar atau dalil untuk berargumentasi. .41 42 undang-undang yang semula tidak jelas atau terjadi perubahan makna karena perkembangan pengertian dan jaman. akan diberikan sehingga hukum 4) Menentukan nilai suatu alat bukti untuk membuktikan unsur tindak pidana. maka pengertian-pengertian unsur tindak pidana yang dianut dalam doktrin atau kepada saksi atau ahli atau terdakwa untuk menjawab sesuai fakta-fakta yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana yang didakwakan. 2) Dapat menguraikan perbuatan terdakwa yang menggambarkan uraian unsur tindak pidana yang didakwakan sesuai dengan pengertian / penafsiran yang dianut oleh doktrin maupun yurisprudensi. agar dengan jelas. tidak seluruh unsur tindak pidana. atau biasa diulas dalam analisa hukum. Dalil-dalil yang digunakan dalam pembuktian akan secara dapat obyektif dipertanggungjawabkan karena berlandaskan teori dan bersifat ilmiah. 3) Mengarahkan pertanyaan-pertanyaan pemeriksaan di sidang pengadilan berjalan secara obyektif. yurisprudensi atau dengan cara penafsiran hukum.

terlepas apakah perbuatan itu diancam pidana dalam suatu undang-undang atau tidak. Perbedaan secara kwalitatif ini tidak dapat diterima. JENIS-JENIS TINDAK PIDANA Di bawah ini akan disebut berbagai pembagian jenis delik. 2. Rechtdelicten c. jadi yang benar-benar sebagai dirasakan oleh pelanggaran ini disebut oleh undang-undang. Wetsdelicten Ialah perbuatan yang oleh umum baru disadari sebagai tindak pidana karena undang-undang menyebutnya sebagai delik. Kejahatan dan Pelanggaran Pembagian delik atas kejahatan dan Ialah yang perbuatan yang bertentangan dengan keadilan. pencurian. Dengan ukuran ini lalu didapati 2 jenis delik. Ada yang mengatakan bahwa antara kedua jenis delik itu ada perbedaan yang bersifat kwalitatif. Ada dua pendapat : a. Misal : memarkir mobil di sebelah kanan jalan (mala quia ini prohibita). Tetapi ilmu pengetahuan mencari secara mengancamnya dengan pidana. sebab ada kejahatan yang baru disadari sebagai delik karena tercantum dalam undang-undang . Ia hanya membrisir atau memasukkan kejahatan dan dalam dalam kelompok kelompok pertama kedua masyarakat bertentangan dengan keadilan misal : pembunuhan. disebut Delik-delik intensif ukuran (kriterium) untuk membedakan kedua jenis delik itu. jadi karena ada undang-undang pelanggaran. 1.43 44 1. ialah : semacam “pelanggaran”. KUHP buku ke II memuat delik-delik yang disebut : pelanggaran criterium apakah yang dipergunakan untuk membedakan kedua jenis delik itu ? KUHP tidak memberi jawaban tentang hal ini. Delik-delik semacam ini disebut “kejahatan” (mala perse).

407. ialah “pelanggaran” itu lebih ringan dari pada “kejahatan”. 373. Dan sebaliknya ada “pelanggaran”. 315. b. yang benar-benar misalnya pasal 364.45 46 pidana. Kejahatan ringan : Dalam KUHP juga sebagai terdapat delik yang perumusannya dititikberatkan perbuatan yang dilarang. 382. 379. Ada yang mengatakan bahwa antara kedua jenis delik itu ada perbedaan yang bersifat kwantitatif. pencurian (pasal 362 KUHP). Delik tersebut telah selesai dengan dilakukannya dalam perbuatan seperti tercantum rumusan delik. Delik ini digolongkan kejahatan-kejahatan . 352. jadi sebenarnya tidak segera dirasakan sebagai bertentangan dengan rasa keadilan. Oleh karena perbedaan secara demikian itu tidak memuaskan maka dicari ukuran lain. 384. Delik materiil adalah delik yang perumusannya dititikberatkan kepada akibat yang tidak dikehendaki (dilarang). permusuhan atau penghinaan kepada salah satu atau lebih golongan rakyat di Indonesia (pasal 156 KUHP). sumpah pemalsuan palsu surat (pasal (pasal 242 263 KUHP). KUHP). 375. Pendirian ini hanya meletakkan kriterium pada perbedaan yang dilihat dari segi kriminologi. b. Misal : penghasutan (pasal 160 KUHP). Delik formil dan delik materiil (delik dengan perumusan secara formil dan delik dengan perumusan secara materiil) a. Delik formil itu adalah delik yang kepada dirasakan bertentangan dengan rasa keadilan. bahwa penggolongan-penggolongan dalam dua macam delik itu harus ditiadakan. 2. Mengenai pembagian delik dalam kejahatan dan pelanggaran itu terdapat suara-suara yang menentang. 302 (1). 210 KUHP). penyuapan (pasal 209. di muka umum menyatakan perasaan kebencian. Seminar Hukum Nasional 1963 tersebut di atas juga berpendapat.

ialah 4. delik ommisionis dan delik commisionis per ommisionen kecelakaan kereta api dengan sengaja tidak memindahkan wissel (pasal 194 KUHP). pertolongan (pasal 531 (enkelvoudige en samenge-stelde delicten) . ialah tidak melakukan sesuatu yang diperintahkan / yang diharuskan. 310. 338 KUHP b. 340 KUHP). Misal : seorang ibu yang membunuh anaknya dengan tidak memberi air susu (pasal 338. Delik commisionis : delik yang berupa pelanggaran terhadap larangan. commissa a. 5. tidak menolong orang yang memerlukan KUHP). 263. 197. Delik dolus dan delik culpa (doleuse en culpose delicten) a. penipuan (pasal 378 KUHP). misal : pasal-pasal 187. 197. Delik dolus : delik yang memuat unsur kesengajaan. 203. pembunuhan (pasal 338 KUHP). akan tetapi dapa dilakukan dengan cara tidak berbuat. 201. Misal : pembakaran (pasal 187 KUHP). pencurian. penipuan. 231 ayat 4 dan pasal 359. seorang penjaga wissel yang menyebabkan 3. Delik culpa : delik yang memuat kealpaan sebagai salah satu unsur misal : pasal 195. penggelapan. Batas antara delik formil dan materiil tidak tajam misalnya pasal 362. Delik commisionis. b.47 48 baru selesai apabila akibat yang tidak dikehendaki itu telah terjadi. misal : tidak menghadap sebagai saksi di muka pengadilan (pasal 522 KUHP). Delik commisionis per ommisionen commissa : delik yang berupa pelanggaan larangan (dus delik commissionis). 360 KUHP. Delik tunggal dan delik berangkai berbuat sesuatu yang dilarang. Delik ommisionis : delik yang berupa pelanggaran terhadap perintah. 245. c. Kalau belum maka paling banyak hanya ada percobaan.

b. 3 KUHP). : pasal 367. Delik tunggal : delik yang cukup dilakukan dengan perbuatan satu kali.49 50 a. : delik apabila yang baru a. : pasal 284. 310. Catatan : perlu dibedakan antara aduan den gugatan dan laporan. Delik-delik ini menurut sifatnya hanya dapat dituntut berdasarkan pengaduan. pencurian pada waktu malam hari dsb. ayat 2). Gugatan dipakai dalam acara perdata. 8. chantage pemberitahuan belaka tentang adanya sesuatu tindak pidana kepada Polisi atau Jaksa. Delik yang berlangsung terus dan delik selesai (voordurende en aflopende delicten) Delik yang berlangsung terus : delik yang mempunyai ciri bahwa keadaan terlarang itu berlangsung terus. misal : (pemerasan dengan ancaman pencemaran. Delik aduan yang absolut. tidak membayar hanya kemerdekaan seseorang (pasal 333 KUHP). Delik aduan dan delik laporan Laporan (klachtdelicten en niet klacht delicten) Delik aduan : delik yang penuntutannya hanya dilakukan apabila ada pengaduan dari pihak yang terkena (gelaedeerde partij) misal : penghinaan (pasal 310 dst. sebagai : penganiayaan yang menyebabkan luka berat atau matinya orang (pasal 351 ayat 2. ps. Delik aduan dibedakan menurut sifatnya. 332. Delik sederhana dan delik yang ada pemberatannya / peringannya (eenvoudige dan gequalificeerde / geprevisilierde delicten) Delik yang ada pemberatannya. misal : merampas pembuat dan orang yang terkena. misal : pasal 481 (penadahan sebagai kebiasaan) 6. . 335 ayat 1 sub 2 KUHP jo. Delik berangkai delik. b. ialah mis. 7. hutangnya karena kepada B A. jo 319 KUHP) perzinahan (pasal 284 KUHP). misal : A menggugat B di muka pengadilan. Delik aduan yang relative ialah mis. disebut relatif karena dalam delik-delik ini ada hubungan istimewa antara si merupakan dilakukan beberapa kali perbuatan.

yaitu : 1. c. . Ini dapat disimpulkan berdasarkan hal-hal sebagai berikut : a. Delik ekonomi (biasanya disebut tindak pidana ekonomi) dan bukan delik ekonomi Apa yang disebut tindak pidana ekonomi itu terdapat dalam pasal 1 UU Darurat No. 9. perampasan barang-barang tertentu c. UU darurat tentang tindak pidana dengan pidana kurungan 2. sehingga pada dasarnya hanya dapat dikenakan pada manusia. pidana kurungan d. pencabutan hak-hak tertentu b.51 52 (pasal 363). pidana pokok : a. dimumkannya keputusan hakim ekonomi. misal : penganiayaan (pasal 351 KUHP). memberi petunjuk bahwa yang dapat dipertanggungjawabkan itu adalah manusia. Rumusan delik dalam undang-undang lazim dimulai dengan kata-kata : “barang siapa yang Sifat dari pidana tersebut adalah sedemikian rupa. pencurian (pasal 362 KUHP). Ada delik yang ancaman ……. Kata “barang siapa” ini tidak dapat diartikan lain dari pada “orang”. pidana penjara c. pidana denda. bahwa unsur pertama tindak pidana itu adalah perbuatan orang. b. yang dapat diganti pidananya diperingan karena dilakukan dalam keadaan tertentu. Dalam pasal 10 KUHP disebutkan jenis-jenis pidana yang dapat dikenakan kepada tindak pidana. pada dasarnya yang dapat melakukan tindak pidana itu manusia (naturlijke personen). Delik ini disebut “geprivelegeerd delict”.”. pidana tambahan : a. misal : pembunuhan kanakkanak (pasal 341 KUHP). pidana mati b. 7 tahun 1955. SUBYEK TINDAK PIDANA Sebagaimana diuraika terdahulu. Delik sederhana. d. Dalam pemeriksaan perkara dan juga sifat dari hukum pidana yang dilihat ada / tidaknya kesalahan pada terdakwa.

v. Dalam perkembangannya apakah kecuali manusia tidak ada sesuatu yang dapat melakukan tindak pidana misalnya badan hukum ? dalam KUHP terdapat pasal yang seakan-akan menyinggung soal ini. Ordonansi obat bius S. akan tetapi disinipun yang diancam pidana adalah orang. sesuai dengan penjelasan (M. apabila dapat membuktikan bahwa pelanggaran itu dilakukan tanpa ikut campurnya. buka korporasinya. Dalam KUHP juga ada pasal lain yang pengendalian ketentuan yang mengatur apabila suatu badan (hukum) melakuka tindak pidana yang disebut dalam ordonansi-ordonansi itu. Dalam hukum positip Indonesia. penuntutan dan peradilan tindak pidana ekonomi (UU Darurat No. suatu perkumpulan atau badan (korporasi) lain. sesuatu Seorang fungsi anggota dalam pengurus sesuatu dapat pasal 169 : “ikut serta dalam perkumpulan yang terlarang”. Akan tetapi ajaran ini sudah ditinggalkan.1948-144) harga” dan (S. 33-368 pasal 25 ayat 7. dan juga pasal 398 dan 399. Pasal ini tidak menunjuk ke arah dapat dipidana suatu badan hukum. Atau dalam UU Darurat tentang pengusutan. ini disebut “pembalikan beban pembuktian” (omkering van bewijslast). misalnya dalam “ordonansi barang-barang yang diawasi” (S. 7 tahun 1955 pasal 15 dimana dalam ayat 1 dan 2 dengan tegas menyebutkan kelihatannya juga menyangkut korporasi sebagai subyek hukum. Keterangan : di dalam hukum acara. yang berbunyi : “suatu tindak pidana hanya dapat dilakukan oleh manusia”. Menurut pasal ini yang dapat dipidana adalah orang yang melakukan korporasi.53 54 d. Bahwasanya yang menjadi subyek tindak pidana itu adalah manusia. mengenai pengurus atau komisaris perseroan terbatas dan sebagainya yang dalam keadaan pailit merugikan perseroannya. Vide .T) terhadap pasal 59 KUHP. 27-278 jo.1948-295) “Ordonansi terdapat membebaskan diri. ialah pasal 59. Pengertian kesalahan yang dapat berupa kesengajaan dan kealpaan itu merupakan sikap dalam batin manusia.

bahwa korporasi dapat mempunyai kesalahan dan . : (terjemahan) Pompe (hal. Van Hattum (hal. ya bahkan kadang-kadang korporasi sajalah yang dapat menjadi pembuat. …………. sebaiknya pembentuk undang-undang membuat ketentuan-ketentuan umum dalam hal suatu tindak pidana dilakukan oleh suatu korporasi. korporasi dapat melakukan tindak pidana. Persoalan mengenai penyertaan dan kesalahan dalam pada itu akan kerap kali menjadi sumber perbedaan pendapat”. bahwa menurut Hoge Raad. sebab peradilan terhadap badan hukum kiranya akan menduduki tempat yang penting dalam hukum pidana kita. 477 van Hattum menulis a. bahkan mereka itu dapat mengemukakan alasan tidak adanya kesalahan sama sekali”. 147) : “agaknya perlu untuk menggambarkan pertumbuhan ajaran ini agak lebih luas dari pada biasanya dalam buku pelajaran. 83) menyatakan mengenai persoalan ini (terjemahan) “Untuk sebagian peradilan dengan dibantu oleh ilmu pengetahuan hukum harus menemukan sendiri penyelesaian untuk problem dalam materi baru ini”.55 56 bahwa badan hukum dapat menjadi subyek hukum pidana. Dalam pada itu sekarang suda pasti.l. Dan dalam hal.

Misalnya : Pasal 338 KUHP : Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain dihukum karena pembunuhan. 194 ayat 2. karena perbuatan X itu maka timbul akibat matinya A. bukan suatu essentialia. Hubungan sebab akibat (causaliteitsvraagstuk) ini penting dalam delik materiil. 188. maka delik (materiil) itu tidak ada. pembahayaan perkosaan kepentingan hukum. sebab jika disini tidak terjadi akibat yang dilarang dalam delik itu. 334 ayat 2 dan 3. 351 ayat 2 dan 3. maka harus dapat dibuktikan bahwa A. Kausalitas Didalam delik-delik yang dirumuskan secara materiil (selanjutnya disebut delik materiil). Berbeda dengan dengan delik formil terjadinya akibat itu hanya merupakan accidentalia. 355 ayat 2 dan 3 KUHP. CAUSALITAT) si A. Selain itu juga merupakan persoalan pada delik-delik yang dikualifikasi oleh akibatnya (door het gevolg gequafili ceerde delicten) misal pasalpasal : 187. Keadaan yang menentukan di sini adalah terampasnya nyawa seseorang. Contoh : matinya Oleh karenanya untuk dapat menuntut seseorang (misalnya X) yang dilakukan melakukan suatu perbuatan yang menyebabkan matinya seseorang. 195 ayat 2. pasal 333 ayat 2 dan 3. “akibat” ini artinya “perubahan atas suatu keadaan” dimana atau dapat berupa suatu terhadap terdapat unsur akibat sebagai suatu keadaan yang dilarang dan merupakan unsur yang menentukan (essentialia dari delik tersebut).57 58 BAB IV HUBUNGAN SEBAB AKIBAT (CAUSALITEIT. Perlu diketahui bahwa . Persoalan kausalias ini terjadi karena kesulitan untuk menetapkan apa yang menjadi sebab dari suatu akibat. paling banyak ada percobaan.

Tidak ada syarat yang dapat dihilangkan (lazim dirumuskan “nicht hiin weggedacht warden kann dan seterusnya) ditelusuri sampai ke sebab. Teori-teori hendak dagang misalnya dalam persoalan menetapkan hubungan obyektif antara perbuatan (manusia) dan akibat. menurut waktu. Dalam menetapkan apakah yang dapat dianggap sebagai sebab dari suatu kejadian. Akibat kongkrit harus bisa kongkrit. maka tidak akan terjadi akibat lingkungan hukum pidana saja. Contoh : A dilukai ringan. Teori Ekivalensi (aquivalenz-theorie) atau Bedingungstheorie atau teori condition sine qua non dari von Buri Teori ini mengatakan : tiap syarat adalah sebab. maka terjadilah beberapa teori kausalita. kemudian dibawa ke dokter. Kalau satu syarat dihilangkan. misalnya dalam filsafat. Penganiayaan ringan terhadap A itu juga merupakan sebab dari matinya A. tempat dan keadaannya. dan mempunyai nilai yang sama. belum tentu disebabkan karena kejadian “A” (post hoc non propter hoc). Dalam hubungan ini baik dipandang terlampau sederhana. Misalnya hukum perdata dalam penentuan ganti rugi dan dalam hukum asuransi.1. baik positif maupun negatif untuk timbulnya suatu akibat itu adalah sebab. lalu mati. dan semua syarat itu nilainya sama. akan tetapi juga dalam lapangan hukum lainnya.59 60 persoalan ini tidak hanya terdapat dalam B. bahwa kejadian “B” yang terjadi sesudah kejadian “A”. Teori-teori Kausalitas (ajaran-ajaran kausalitas) B. seperti yang senyata-nyatanya. Tiap syarat. Di tengah jalan ia kejatuhan genting. Teori ekivalensi ini memakai pengertian “sebab” sejalan dengan pengertian yang dipakai dalam logika. Persoalan ini pun terdapat dalam lapangan ilmu pengetahuan lainnya. sebab kalau satu syarat tidak ada maka akibatnya akan lain pula. Dalam filsafat terdapat “peringatan”. yang tidak dikehendaki oleh undang-undang. Akan tetapi sebenarnya tidak boleh tanpa menyebabkan berubahnya akibat. .

“bahwa “sebab itu adalah “the whole of antecedents” (1843). Jadi misal : B ditikam oleh A sampai mati. hubungan pidana. dari serentetan faktor yang aktif dan pasif dipilih sebab yang paling menentukan dari peristiwa tersebut. Yang merupakan sebab bukan hanya ditikam A. dan juga karena tori ini menarik secara luas sekali dalam membatasi lingkungan berlakunya antara jawaban pertanggung pertanggungjawaban pidana. harus dan dibedakan Di sini beberapa faktor yang kuat (dominant). apabila tidak ada pembuatan pisau. B. Van Hamel. sehingga tidak banyak menimbulkan persoalan. Teori-teori Individualisasi Teori-teori ini memilih secara post actum (inconcreto). Kritik / keberatan terhadap teori ini : hubungan kausal membentang ke belakang tanpa akhir. seorang penganut teori begitu Jadi pembuatan pisau itu juga “sebab” dan seterusnya. artinya setelah peristiwa kongkrit terjadi. maka ada teori-teori lain yang hendak membatasi teori tersebut teori-teori yang akan disebutkan di bawah ini. merupakan “akibat” dari “sebab” yang terjadi sebelumnya. sedang faktor-faktor lainnya dipisahkan sebagai faktorfaktor yang irrelevant (yang tidak perlu / penting). bahwa terlepas satu sama lain. sedang faktor-faktor lainnya . Teori ekivalensi ini dapat dipandang sebagai pangkal dari teori-teori lain. John Stuart Mill (di Inggris) dalam bukunya : Sistem of Logic berpendapat. sebab tiap-tiap “sebab” sebenarnya dengan bahwa kausal sebaik-baiknya”. apabila diperbaiki dan diatur oleh teori kesalahan yang harus diterapkan dijelaskan. Berhubungan dengan keberatan itu. mengambil dari sekian faktor yang menimbulkan akibat itu ekivalensi berpendapat bahwa “untuk hukum pidana teori ini boleh digunakan.61 62 dikemukakan. tetapi juga penjualan pisau itu kepada A dan penjualan pisau itu tidak ada.2. Kebaikan teori ini : mudah diterapkan.

b. Oleh karena itu teori ini disebut teori adequat (teori adequate. Seorang yang menyetir mobil terpaksa keseimbangan positif itu. atau tidaknya “Ubergewichtstheorie)” Dikatakan : sebab dari sesuatu perubahan adalah identik dengan perubahan dalam keseimbangan antara faktor yang menahan (negatif) dan faktor yang positif. Ini suatu akibat yang abnormal. Penganut- B. tentang Ada-quanzttheorie). Yang disebut “sebab” adalah syarat-syarat positif dalam keunggulannya (in ihrem Ubergerwicht-bobot yang melebihi) terhadap syarat-syarat yang negatif. Dalam teori ini dicari sebab yang adequate untuk timbulnya akibat yang bersangkutan (ad-aequare artinya dibuat sama). Teorinya disebut semacam itu. biasanya dapat mengakibatkan hidung keluar darah. Binding. Satu-satunya sebab ialah faktor atau syarat terakhir dan yang menghilangkan faktor Contoh-contoh ada hubungan sebab akibat yang adequat : a. Akan tetapi apabila orang yang pukul itu menjadi buta itu bukan akibat yang adequate. artinya menurut pengalaman hidup biasa.63 64 hanya merupakan syarat belaka. oleh karena ada pengendara sepeda hendak menyebrang . atau menurut perhitungan yang layak. memenangkan mengerem sekonyong-konyong.3. Suatu jotosan ang mengenai hidung. dimana faktor yang positif itu lebih unggul. Teori-teori generalisasi Teori-teori ini melihat secara ante factum (sebelum kejadian/in abstracto) apakah diantara serentetan syarat itu ada perbuatan manusia yang pada umumnya dapat menimbulkan akibat penganutnya tidak banyak antara lain : 1. yang tidak biasa. mempunyai kadar (kans) untuk itu. Birkmayer (1885) mengemukakan : sebab adalah syarat yang paling kuat (Ursache ist die wirksamste Bedingung) 2.

Dasar penentuan apakah suatu perbuatan itu dapat menimbulkan akibat ialah keadaan atau hal-hal yang secara obyektif kemudian si pembuatlah yang sepeda itu tidak merupakan penyebab yang adequate untuk timbulnya penyakit trauma tersebut. Penentuan subyektif (subjective ursprungliche Prognose).65 66 jalan yang membelok. 2. Jika biasanya menurut pengalaman sehari-hari. Seorang petani membakar tumpukan rumput kering (hooi). Akan tetapi apabila di daerah itu merupakan kebiasaan orang untuk bersembunyi atau menginap dalam tumpukan rumput. Jadi bukan yang diketahui atau yang dapat diketahui oleh sipembuat. Dianipun dapat dikatakan bahwa perbuatan pengendara menimbulkan akibat tertentu itu ? Mengenai hal ini ada beberapa pendirian. Disini yang dianggap sebab ialah apa yang oleh sipembuat dapat diketahui / diperkirakan bahwa apa yang dilakukan itu pada umumnya dapat menimbulkan akibat semacam itu (Von Kries jadi pandangan atau pengetahuan menentukan). Hal yang merupakan persoalan dalam teori ini ialah : bagaimanakah penentuannya. Disini disebut antara lain : 1. . diketahui atau pada umumnya diketahui. c. tidak timbul akibat semacam itu maka perbuatan petani itu bukanlah sebab. Adakah pen-sebab-an yang adequate ? Jawabannya tergantung dari keadaan. Penentuan obyektif. melainkan pengetahuan dari hakim. dimana secara kebetulan bersembunyi / tidur seorang penjahat hingga ikut mati terbakar. maka perbuatan petani itu benar-benar mempunyai kadar untuk matinya seseorang. bahwa suatu sebab itu pada umumnya cocok untuk disangka-sangka Pengendara pengendara mendapat mobil penyakit trauma karena menekan urat. oleh ini sedang ini tidak mobil.

Oleh karena itu lebih memuaskan apabila dipakai teori adequate. yang sangat membenci pekerjanya. sehingga juga tidak ada pemidanaan. Harapan itu Sebenarnya dalam teori kausal adequat subyektif (Von Kries) itu tersimpul unsur terkabul dan pekerjanya itu mati disambar petir. “objektive nachtragliche Prognose” mati. jadi sipembuat dapat membayangkan dan seharusnya dapat membayangkan.67 68 Dasar penentuan (Beurteilungs standpunkte) ini disebut (Rumelin). Sebab suatu perbuatan baru dianggap sebagai sebab yang adequate apabila sipembuat dapat mengira-ngirakan atau membayangkan dipandang terlalu jauh. Menurut teori ekivalensi : ya. Contoh : seorang majikan. apabila menuntut pengalaman manusia pada umumnya harus diperhitungkan kemungkinan. Simons : Dikatakan olehnya : “suatu perbuatan dapat disebut sebagai sebab dari suatu akibat. Dengan ini maka tidak ada hubungan kausal. sebab seandainya pekerja itu tidak disuruh keluar oleh majikan. maka ia juga menentukan pertanggunganjawab (pidana). jadi bukan teori kausalitas dalam arti yang sesungguhnya. Pada waktu hujan yang disertai petir ia menyuruh pekerjanya itu pergi ke suatu tempat dengan harapan agar orang itu disambar petir. Konsekwensi ini umumnya penentuan tentang kesalahan). Penyambaran petir adalah hal yang (voor zien) akan terjadinya akibat atau kalau orang umumnya membayangkan terjadinya akibat itu. oleh karena itu dapat dikatakan bahwa teori adequate subyektif dari von Kries ini bukan teori kausalitas yang murni. Oleh karena dalam ajaran tersebut tersimpul unsur kesalahan. Beberapa penganut teori adequat yang lain : 1. ingin sekali agar pekerja itu . maka ia tidak mati. melepasnya. Menurut teori ini : perbuatan menyuruh orang ke tempat lain pada umumnya tidak mempunyai kadar untuk kematian seseorang karena disambar petir. tetapi tidak berani kebetulan.

2. tidak terlihat tersebut di atas : teori ekuivalentie dapat dikatakan teori kausalitas yang benar. Mengenai teori adequat dari von Kries. Pompe : yang disebut sebab ialah perbuatanperbuatan yang dalam keadaan tertentu itu mempunyai strekking untuk menimbulkan menunjukkan perbuatan-perbuatan tersebut. bahwa alur peristiwa di dunia ini ada biasa dan normal. bahwa teori tersebut sesuai dengan jiwa hukum pidana. Dalam yurisprudensi Hindia Belanda. Tinjauan terhadap teori-teori kausalitas manusia pada umumnya dan sebagainya. biasanya. penentuan ada dan tidaknya unsur kesalahan pada sipembuat. dengan kadarnya memadai sesuatu akibat. akan tetapi selalu diberi suatu penambahan. ia menggunakan istilah-istilah yang tidak terang misalnya biasanya. Dalam hal ini teori adequat dapat apakah sebab sesuatu sesuatu rumusan perbuatan akibat delik itu yang yang dari dalam (presumptie). Hukum Pidana itu mempunyai tugas untuk melindungi kepentingan hukum terhadap perkosaan dan perbuatan yang membahayakan. Akan tetapi kelemahan teori ini tidak mudah dalam kenyataan. Syarat yang pada umumnya.69 70 bahwa dari perbuatan sendiri akan terjadi akibat itu”. 3. yang sesuai dengan asas konkordantie pada waktu itu. pengalaman akibat yang bersangkutan. dengan mengikuti hal ikhwal yang berada dan menurut pengalaman kita. Beliau katakan : “Kehidupan hukum dan perhubungan hukum itu terdiri atas persangkaan. dan memberi keterangan yang cukup memuaskan merupakan dimaksudkan bersangkutan. Kami (Ringkasan Hukum Pidana hal. Berhubung dengan tugas tersebut maka hukum pidana harus membuat “pagar” terhadap perbuatan-perbuatan yang agaknya mendatangkan kerugian. itu dapat juga dikatakan. kadar. Ini kesimpulan pengalaman kita sebagai manusia. mengikuti yurisprudensi Negeri Belanda. 47) berpendirian senada dengan Simons. itulah yang dianggap sebagai suatu sebab”. Teori ini ditambah dengan .

Pengendara sepeda motor terpental ke atas rel dan seketika itu dilindas oleh kereta api. Perbuatan terdakwa.71 72 dengan nyata teori mana yang dipakai. d. oleh karena antara perbuatan terdakwa dan terjadinya kecelakaan itu tidak terdapat hubungan yang langsung. Terlindasnya pengendara sepeda motor oleh kereta api itu dipandang oleh pengadilan sebagai akibat langsung dan segera dari penabrakan sepeda motor oleh mobil. Perbuatan terdakwa yang tidak menarik seorang pengemudi mobil yang sembrono dari tempat kemudi (stuur) dan membiarkan pengemudi Hooggerechtshof condong ke teori adequate. 147 hal 115) sebuah mobil menabrak sepeda motor. Putusan Politierechter Palembang 8 Nopember 1936 diperkuat oleh Hooggerechtshof 2 Pebruari 1937. Anak tersebut menabrak orang. oleh karena antara perbuatan ayah dan tabrakan itu tidak ada hubungan kausal yang langsung. Putusan Penagadilan Negeri Pontianak 7 Mei 1951. c. boleh disebut sebab dari tabrakan itu. bahwa antara perbuatan dan akibat harus ada hubungan yang langsung dan seketika (onmiddellijk en rechtsreeks) a. Putusan Raad van Justitie Batavia 23 Juli 1937 (. b. Akan tetapi dalam pada itu di dalam berbagai putusan pengadilan dapat ditunjukkan adanya persyaratan. hanya dipandang sebagai suatu syarat dan bukan sebab. Putusan Politierechter Bandung 5 April 1933 Seorang ayah yang membiarkan anaknya yang berumur 14 tahun mengendarai sepeda motornya. Maka matinya si korban dapat dipertanggungjawabkan atas kesalahan si terdakwa (pengendara mobil). oleh karena terdakwa sebagai orang yang mengatur pemasukan barang- (voorwaarde) dari tabrakan itu. Disini memang perbuatan si ayah dapat disebut syarat tersebut terus menyopir tidak dianggap sebagai sebab dari kecelakaan yang terjadi. yang membiarkan pengemudi itu tetap menyopir. akan tetapi tidak . dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi Jakarta Terdakwa sebagai kerani bertanggung jawab atas tenggelamnya satu kapal yang disebabkan oleh terlalu berat muatannya dan yang mengakibatkan 7 orang meninggal dunia.

73 74 barang angkutan dalam kapal in casu tidak mempedulikan peringatan-peringatan dari a. misal . Kausalitas dalam hal tidak berbuat Persoalan ini timbul dalam delik-delik omissi dan dalam delik comisionis per ommisionem commissa (delik omissi yang tak sesungguhnya). Jenis kedua ini sebenarnya delik commissi yang dilakukan dengan “tidak berbuat”. Tidak mungkin orang tidak berbuat bisa menimbulkan akibat. misal pergi ke toko. c. Teori ini disebut “teori berbuat yang sebelumnya”. Misal : dalam hal seorang ibu membunuh anaknya dengan tidak memberi susu. Yang disebut sebagai sebab ialah perbuatan yang mendahului akibat yang timbul. Yang disebut sebab ialah perbuatan yang positif yang dilakukan oleh sipembuat pada saat akibat itu timbul. Pendirian ini didasarkan kepada dalil ilmu pengetahuan alam yang berbunyi bahwa dari keadaan negatif tidak mungkin timbul kedaan positif. Pada delik omissi persoalannya mudah. C. b. karena kepergian ibu itu tidak bisa dianggap ada perhubungan dengan akibat itu. Teori ini dinamakan “teori berbuat lain. sehingga tidak ada persoalan tentang kausalitas. yang disebut sebagai sebab ialah “sesuatu yang dilakukan ibu itu pada saat ia tidak memberi susu itu. Dalam persoalan ini ada beberapa pendirian : ini). Teori inipun tidak dapat diterima. Pendirian ini tidak bisa diterima. Di dalam pertimbangan juga disebut bahwa perbuatan terdakwa mempunyai “hubungan erat” dengan “kecelakaan itu”. Pada delik ini ada pelanggaran larangan dengan “tidak berbuat”. karena dalil pengetahuan alam tidak tepat untuk dipakai dalam ilmu pengetahuan rokhani (seperti hukum pidana berbagai pihak tentang terlalu beratnya muatan pada waktu kapal akan berangkat. karena delik omissi itu adalah delik formil. Yang ada persoalan ialah pada delik commisionis per omission commissa.

mengingat keadaan yang kongkrit. bahwa tidak berbuat itu dapat menjadi sebab dari suatu akibat. 2) Seorang penjaga gudang membiarkan pencuri melakukan aksinya. ialah norma-norma lainyang berlaku dalam masyarakat yang teratur. tetapi memang sikap memindahkan wesel. sebab sulit dilihat hubungannya antara semacam itu sangat tercela (laakbaar) dan tidak patut. “Tidak berbuat” sebenarnya juga merupakan “perbuatan”. Teori inipun tidak memuaskan. apabila ia mempunyai kewajiban hukum untuk berbuat. Apakah orang tua bertanggung jawab sebagai ikut berbuat dalam diperbuat/dilakukan. Sedang menurut teori adequate. yang diharapkan untuk penerimaan jabatan dengan akibat yang timbul. Kewajiban itu timbul dari hukum. d. Maka dengan pengertian ini hal “tidak berbuat” pada hakekatnya sama dengan “berbuat sesuatu”. Kesimpulan mengenai kausalitas dalam hal tidak berbuat : sekarang tidak ada persoalan lagi. menurut ajaran ini yang menjadi sebab ialah apa yang dilakukan penjaga wesel. dalam arti dapat menjadi syarat untuk terjadinya suatu akibat. orang tuanya mengetahui hal ini. Di bawah ini diberi contoh-contoh apakah ada kewajiban berbuat atau tidak : 1) Ada anak yang dibunuh. Dalam delik commisionis per omissionem commissa (delik omissi yang tidak sesungguhnya) “tidak berbuat” itu bukannya “tidak berbuat sama sekali” akan tetapi “tidak berbuat sesuatu”. tidak hanya yang nyata-nyata tertulis dalam suatu peraturan tetapi juga dari peraturan-peraturan yang tidak tertulis. sebab sebagai penjaga ia berkewajiban untuk menjaga dan berbuat sesuatu. pembunuhan ? . ia dapat dipertanggungjawabkan. tetapi tidak berbuat apa-apa. Seseorang yang tidak berbuat dapat dikatakan sebab dari sesuatu akibat.75 76 seorang penjaga wesel yang menyebabkan kecelakaan kereta api karena tidak Jawab (Hof Amsterdam 23 Oktober 1883): tidak.

“tanpa izin” (zonder verlof) (pasal 496. . Istilah dan Pengertian KUHP memakai istilah bermacam-macam : a. 549). 168.77 78 dapat juga mempunyai kadar untuk terjadinya akibat. Wederrechtelijk. (wederrechtelijk) dalam pasal 167. 548. Akhirnya perlu diperhatiakn bahwa soal hubungan kausal ini terletak dalam segi obyektif (yang menyangkut perbuatan) dari keseluruhan syarat pemidanaan. jadi juga dapat menjadi “sebab”. 335 (1). BAB IV SIFAT MELAWAN HUKUM (Rechtswdrig. 510). b. “dengan melampaui kewenangannya” (pasal 430). 522. Unrecht. tegas dipakai istilah “melawan hukum”. “tanpa mengindahkan cara-cara yang ditentukan oleh peraturan umum” (pasal 429). jadi harus dibedakan dari persoalan kesalahan atau pertanggungan jawab pidana yang merupakan segi subyektifnya. Onrechmatig) A. dengan istilah lain misalnya : “tanpa mempunyai hak untuk itu” (pasal 303. ialah yang menyangkut orangnya.

Dalam bahasa Jerman ini disebut “tatbestandsmaszig”. Perbuatan mereka tidak melawan hukum. dan bukan terhadap si Pembuat. Unsur ini merupakan suatu penilaian obyektif terhadap perbuatan. Misalnya dalam melaksanakan perintah undang-undang (ps. tanpa kewenangan atau tanpa hak.R). Tasbestand dalam arti sempit ini terdiri atas tasbestand mer male. ialah masing-masing unsur dari rumusan delik. yang berhak atau rumusan delik sebagaimana dirumuskan dalam undang-undang”. bertentangan dengan hak (subyektief recht) orang lain (Noyon) 3.79 80 Alasan pembentuk undang-undang itu mencantumkan unsur sifat melawan hukum itu tegas-tegas dalam sesuatu rumusan delik karena pembentuk undangundang khawatir apalagi unsur melawan hukum itu tak dicantumkan dengan tegas. bertentangan dengan hukum (Simons) 2. hal ini tidak perlu bertentangan dengan hukum (H. memenuhi unsur-unsur delik tersebut pasal 338 KUHP. ialah unsur seluruhnya dari delik sebagaimana dirumuskan dalam peraturan pidana. sebab mungkin ada hal yang menghilangkan sifat melawan hukumnya perbuatan tersebut. berwenang untuk melakukan perbuatan-perbuatan sebagaimana dirumuskan dalam undang-undang itu. Tasbestand disini dalam arti sempit. 50 KUHP) : 1) regu penembak. Arti istilah bersifat melawan hukum itu terdapat tiga pendirian: 1. . Salah satu unsur dari tindak pidana adalah unsur sifat melawan hukum. Ia tidak dapat dikatakan melakukan kejahatan tersebut pasal 333 KUHP. Pengecualian atas tasbestand mer male. 2) Jaksa menahan orang yang sangat dicurigai telah melakukan kejahatan. Bilamana sesuatu perbuatan itu dikatakan melawan hukum ? Orang akan menjawab : “apabila perbuatan itu masuk dalam dapat dikecualikan atas perbuatan yang memenuhi rumusan delik (tatbestandsmaszig) itu tidak senantiasa bersifat melawan hukum. mungkin dipidana pula. yang menembak mati seorang terhukum yang telah dijatuhi hukuman pidana mati.

Oleh karena perempuan itu tidak mau membuka pintu rumahnya pintu didobrak. Perbuatan dokter hewan itu tegas-tegas masuk dalam rumusan delik . Alasan Arrest Hoge Raad 20 Pebruari 1933 Seorang dokter hewan di kota Huizen dengan sengaja memasukkan sapi-sapi yang sehat ke dalam kandang yang berisi sapi-sapi yang sudah sakit mulut dan kuku. Contoh lain yang mempermasalahkan unsur melawan hukum adalah : Putusan PN Sawahlunto 10 Setember 1936 sapi-sapi yang sehat itu. apalagi jauh dari dokter. Maka timbul persoalan ada tidaknya sifat melawan hukumnya perbuatan. Pengadilan Negeri berpendapat perbuatan Mamak cs melanggar pasal KUHP (merusak ketentraman rumah). Berhubung dengan pelanggaran adat ini. karena ia luka-luka berat dan tidak mungkin hidup terus. maka Mamak dari perempuan ini bersama-sama dengan orang lain mendatangi orang tersebut untuk dimintai menghapuskan sifat melawan hukumnya perbuatan terdapat di dalam undang-undang. dan memidana Mamak 3 bulan penjara dan lain-lainnya masing-masing 2 bulan. sehingga membahayakan permintaan sendiri. karena dalam ekspedisi di Kutub Selatan seorang bioloog membedah binatang-binatang (vivisectie) untuk penyelidikan ilmiah. Namun dalam kasus : seorang ayah memukul seorang pemuda yang memperkosa anak-anaknya seorang menembak mati temannya atas pertanggungjawaban dan untuk membawa laki-laki itu ke Wali Negeri.81 82 karena ia melaksanakan undang-undang (terdapat dalam peraturan hukum acara pidana) sehingga tidak ada unsur melawan hukum. Di dalam kedua contoh tersebut hal yang Seorang perempuan Minangkabau hidup bersama dengan seorang laki-laki dengan siapa ia menurut hukum adat dilarang kawin.

Ketika dituntut. apabila perbuatan diancam pidana dan Mahkamah Agung Belanda : Pasal 82 Undang- undang ternak tidak dapat diterapkan kepada dokter hewan itu. bahwa seseorang yang melakukan perbuatan yang diancam pidana itu mesti dipidana. apabila undang-undang sendiri tidak dengan tegas-tegas menyebut adanya dirumuskan sebagai suatu delik dalam undangundang. karena dalam hal ini sifat melawan hukumnya perbuatan ternyata tidak ada. “Memang boleh diakui. hanya berdasarkan suatu ketentuan undang-undang. Jadi menurut ajaran ini melawan hukum sama dengan melawan atau bertentangan dengan undang-undang alasan-alasan penghapus pidana. Pertimbangannya antara lain : “tidak dapat dikatakan. bahwa unsur sifat melawan hukum tidak dicantumkan di dalam rumusan delik dan meskipun demikian tidak ada pemidanaan. mungkin sekali dapat terjadi. yang masuk larangan dalam sesuatu undang-undang itu tidaklah mutlak bersifat melawan hukum. bahwa perbuatan itu dilakukan untuk kepentingan peternakan. Menurut Simons. sehingga oleh karenanya pasal yang bersangkutan yang tidak berlaku letterlijk terhadap memenuhi (hukum tertulis). sedang sifat melawan hukumnya perbuatan itu dapat hapus. .83 84 tesebut dalam pasal 82 undang-undang ternak. Putusan Pembagian Ajaran Sifat Melawan Hukum Menjawab persoalan tersebut maka hukum pidana membagi ajaran sifat melawan hukum dalam dua sudut pandang yaitu : 1. menurut ajaran sifat melawan hukum yang formil suatu perbuatan itu bersifat melawan hukum. ialah dengan sengaja menempatkan ternak dalam keadaan yang membahayakan / mengkhawatirkan. akan tetapi tidak adanya sifat melawan hukum itu hanyalah bisa diterima. dokter hewan mengemukakan pada pokoknya. bahwa suatu perbuatan. jika di dalam hukum positif terdapat alasan untuk suatu perbuatan secara rumusan delik”.

c) M. Mayer mengatakan : bersifat (hukum tertulis) dan juga bertentangan dengan hukum yang tidak tertulis termasuk tata susila dan sebagainya sebagaimana para sarjana yang . tidak hanya yang terdapat dalam undang-undang (yang tertulis) saja.E. maka tidak bersifat melawan hukum. jika perbuatan itu bertentangan dengan tujuan ketertiban hukum (den Zwecken der das Zusammenleben regelnden Recht sordnung widerspricht). Jadi menurut ajaran ini melawan hukum sama dengan bertentangan dengan undang-undang menganut ajaran sifat melawan hukum yang meteriil ialah : a) Von Liszt : perkosaan atau pembahayaan terhadap kepentingan hukum hanyalah bersifat melawan hukum materiil (materiel rechts widrig). Di sini menurut Zu Dohna perbuatan ayahnya tidak melawan hukum. Contohnya ialah seorang yang memukulpemuda yang memperkosa anak perempuannya. akan tetapis harus dilihat berlakunya azas-azas hukum yang tidak tertulis. b) Zu Dohna mengatakan : Suatu perbuatan itu tidak melawan hukum jika perbuatan itu merupakan upaya yang haq untuk tujuan yang haq (richtiges Mittel zum techten zwecke). kalau tidak bertentangan dengan tujuan itu. Alasan untuk menghapuskan sifat melawan hukum tidak boleh diambil di luar hukum positif dan juga alasan yang disebut dalam undang-undang tidak boleh diartikan lain daripada secara limitatief. menurut ajaran sifat melawan hukum yang materiil Suatu perbuatan itu melawan hukum atau tidak. 2. Sifat melawan hukumnya perbuatan yang nyatanyata masuk dalam rumusan delik itu dapat hapus berdasarkan ketentuan undang-undang dan juga berdasarkan aturan-aturan yang tidak tertulis (uber gezetzlich).85 86 pengecualian berlakunya ketentuan / larangan itu.

bila suatu perbuatan itu memenuhi rumusan delik. e) Van Hattum Dengan adanya keputusan Hoge Raad dengan itu menurut hemat saya (mer van Hattum) telah diterima ajaran sifat melawan hukum yang materiil oleh Hoge Raad dan telah dipecahkan persoalan mer azas-azas yang boleh dikatakan benar dalam ajaran “penentuan hukum” dewasa ini (in de hedendaagse leer Her rechtsvir onbetwist). berarti bertentangan dengan kulturnorm yang diakui oleh negara. 348 KUHP) bisa tidak melanggar hukum berdasarkan petunjuk eugenetisch atau sosial. Sifat melawan hukum itu. yang biasanya ada jika suatu perbuatan memenuhi rumusan delik dalam undang-undang. ia katakan : . (Eugenetiek adalah ajaran yang mempelajari perbaikan ras / keturunan). ditentukan oleh norma kebudayaan (kulturnorm). Persaksian terhadap sifat melawan hukum yang materiil itu harus dilakukan secara hatihati. maka itu menjadikan tanda / indikasi bahwa perbuatan itu bersifat melawan hukum. obyektif yang berdiri sendiri. tetapi mengenai hal itu harus diselidiki untuk tiap-tiap kejadian yang kongkrit. Kalau perbuatan itu sesuai dengan kulturnorm itu maka sifat melawan hukumnya hapus. apakah yang diharapkan oleh ketertiban hukum. Akan tetapi sifat itu hapus apabila diterobos dengan adanya tentang dokter hewan Huizen itu. d) Zevenbergen Onrechtmatigheid adalah syarat yang umum.87 88 Perbuatan itu melawan hukum materiil atau tidak. Kesimpulan mengenai persoalan melawan hukumnya perbuatan. Misal abortus protus (ps. Dalam hal ada keraguan mengenai sifat melawan hukum maka tidak boleh ada penjatuhan pidana. dan istimewa hakim harus membuka diri pada peristiwa-peristiwa yang kongkrit.

maka perlu dipertimbangkan betul- kebenaran keputusannya. Apabila ada persoalan mengenai hukum yang tidak tertulis yang bertentangan dengan hukum yang tertulis. yang dibuat dengan sah. sebab tiaptiap keputusan harus memuat alasan yang mendasari keputusan mengetahui itu. c). maka perlu dipertimbangkan betulbetul sampai dimanakah hukum tak tertulis itu dapat menyisihkan peraturan yang tertulis.89 90 alat pembenar (rechtvaardigingsgrond). . b). ialah masyarakat Pancasila mata. Maka hakim harus benar-benar masyarakat yang mempertimbangkan : a). pikiran dan perasaan hakim harus tajam untuk dapat menangkap masyarakat. Sampai dimanakah rasa keadilan dan keyakinan masyarakat dapat menyisihkan peraturan yang tertulis. Berkaitan dengan hukum tertulis maka hakim dalam perkara kongkrit yang sedang dihadapi harus betul sampai dimanakah hukum tak tertulis itu dapat menghapuskan kekuatan berlakunya peraturan yang tertulis dsb. Ini adalah beban yang berat bagi hakim. Apabila ada persoalan mengenai hukum yang tidak tertulis yang bertentangan dengan hukum yang tertulis. harus kepribadiannya bertanggung jawab masyarakat pada umumnya. Bagi mereka yang menganut ajaran sifat melawan hukum yang formil alasan pembenar itu hanya boleh diambil dan hukum yang tertulis. Benarkah yang dipandang adil oleh suatu golongan dalam masyarakat biasa. sedang penganut ajaran sifat melawan hukum yang materiil alasan itu boleh diambil dan luar hukum yang tertulis. baik secara formil maupun secara materiil. kedengaran apa agar yang sedang terjadi dalam tidak seluruh atas supaya Hakim putusannya dengan sumbang. juga dipandang adil / benar oleh seluruh bagaimanakah keadaan keadaan lebih-lebih masyarakat Indonesia dinamis yang bergerak menuju suatu masyarakat yang dicita-citakan. yang dibuat dengan sah.

. Pembuktian Unsur Sifat Melawan Hukum Unsur sifat melawan hukum itu ada dalam rumusan delik : 1. Nasional nanti dan masih berlakunya KUHP yang sekarang ini dimana juga masih tercantum azas seperti tersebut dalam pasal 1. Suatu negara yang mengakui azas nullum delictum dalam arti yang sebenarnya tidak mungkin menganut ajaran sifat melawan hukum yang materiil dalam fungsinya yang positif. dalam fungsinya yang positif Pengertian sifat melawan hukum yang materiil dalam fungsinya yang positif menganggap sesuatu perbuatan tetap sebagai sesuatu delik. Memang di daerah yang bersangkutan ada anggapan bahwa hutang nyawa harus disaur dengan nyawa. meskipun tidak nyata diancam dengan pidana dalam Kalau Seminar Hukum Nasional tersebut di atas menganut ajaran sifat melawan hukum yang materiil tentunya hal tersebut dalam fungsinya yang negatif.91 92 Mengenai pengertian melawan hukum yang materiil itu perlu dibedakan : dalam fungsinya yang negatif Ajaran sifat melawan hukum yang materiil dalam fungsinya yang negatif mengakui kemungkinan adanya hal-hal yang ada di luar undang-undang melawan hukumnya perbuatan yang memenuhi rumusan undang-undang. B. apabila bertentangan dengan hukum atau ukuran-ukuran lain yang ada di luar undang-undang. jadi hal tersebut sebagai alasan penghapus sifat melawan hukum. maka dalam hal ini adanya unsur tersebut harus dibuktikan undang-undang. Misal A membunuh B dengan alasan bahwa B telah membunuh C kakak dari A. Jadi disini diakui hukum yang tak tertulis sebagai sumber hukum yang positif. ada yang tercantum dengan tegas. Ini adalah konsekwensi dari diterimanya azas legalitas untuk KUHP.

bahwa itu tidak berarti bahwa dalam lapangan procesueel (acara pemeriksaan perkara) sifat itu harus dibebankan pembuktiannya kepada penuntut umum. Putatif Delik . unsur dianggap dengan diam-diam ada. Yang menganggap sifat melawan hukum mempunyai fungsi yang negatif adalah Simons. maka harus dibuktikan.93 94 2. b. Jika unsur sifat melawan hukum dianggap mempunyai fungsi yang positif untuk dengan pertanyaan apakah ada pengecualian yang menyebabkan hapusnya sifat melawan hukum”. “ajaran sifat melawan hukum untuk hukum pidana pada umumnya hanyalah mempunyai hubungan Dalam pembicaraan unsur sifat melawan hukum ini ada delik disebut wahn delict atau putativ delict. maka tidak perlu dibuktikan. Terhadap delikdelik semacam itu ada perbedaan paham : a. Ini terjadi jika seorang mengira telah melakukan delict. Jika unsur sifat melawan hukum dianggap mempunyai fungsi yang negatif (artinya : tidak ada unsur sifat melawan hukum pada perbuatan merupakan pengecualian untuk adanya suatu delik). mempunyai fungsi yang positif (merupakan unsur konstitutif) a. Beliau setuju.l. Prof. kecuali jika dibuktikan sesuatu delik (artinya ada delik kalau perbuatan itu bersifat melawan hukum). Hazewinkel-Suringa memandang sifat melawan hukum hanya sebagai tanda ciri dari tindak pidana. karena pada umumnya dengan mencocoki rumusan undang-undang sifat melawan hukumnya perbuatan sudah ternyata pula. van Hamel dan Zevenbergen. ada pula yang tidak tercantum. namun berpendirian. Sifat melawan hukum disini sebagai unsur konstitutif. padahal perbuatannya itu sama sekali bukan suatu C. Pendapat Simons. Yang menganggap sifat melawan hukum itu sebaliknya oleh terdakwa. Muljatno yang meskipun menganggap unsur sifat melawan hukum adalah syarat mutlak yang tak dapat ditinggalkan”. jika tak disebut dalam rumusan delik.

Pengertian Kemampuan Bertanggungjawab (Zurechnungsfahigkeit Toerekeningsvatbaarheid) Telah disebutkan. apabila ia tidak mampu – . Bilamana seseorang itu dikatakan mampu bertanggungjawab ? Apakah ukurannya untuk menyatakan adanya kemampuan bertanggung jawab itu ? KUHP tidak memberikan rumusannya. Dalam literatur hukum pidana Belanda dijumpai beberapa definisi untuk “kemampuan bertanggung jawab”. bahwa untuk adanya pertanggungjawab pidana diperlukan syarat bahwa pelaku mampu bertanggung jawab. Tidaklah mungkin seseorang dapat dipertanggungjawabkan bertanggung jawab. sebab perbuatannya itu tidak bersifat melawan hukum. BAB V KESALAHAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA 1.95 96 delik.

sebab masih dapat ditanyakan kapankah diartikan sebagai suatu keadaan psychis sedemikian. yang membenarkan adanya penerapan sesuatu upaya pemidanaan. Mampu untuk menentukan kehendaknya atas perbuatannya-perbuatannya itu : a. baik dilihat dari sudut umum maupun dari orangnya”. hidupnya dengan cara yang patut” ? Adapun Memorie van Toelichting (memori penjelasan) secara negative menyebutkan mengenai kemampuan bertanggung jawab itu. Dikatakan selanjutnya. Mampu untuk menyadari. Ia dapat menentukan kehendaknya sesuai dengan kesadaran tersebut. akan tetapi juga kurang jelas. yakni apabila : a. b. bahwa perbuatannya itu menurut pandangan masyarakat tidak dibolehkan c. Dalam hal ia ada dalam suatu keadaan yang sedemikian rupa. bahwa seseorang mampu seseorang itu dikatakan “dapat mempertahankan bertanggung jawab. Ia mampu untuk mengetahui atau menyadari bahwa perbuatannya bertentangan dengan hukum b.97 98 Simons : “kemampuan bertanggung jawab dapat Van Bemmelen : seseorang yang dapat dipertanggungjawabkan ialah orang yang dapat mempertahankan hidupnya dengan cara yang patut. Mampu untuk mengerti nilai dari akibat-akibat perbuatannya sendiri b. jika jiwanya sehat. antara lain demikian : Tidak ada kemampuan bertanggung jawab pada sipelaku Van Hamel : kemampuan bertanggung jawab adalah suatu keadaan normalitas psychis dan kematangan (kecerdasan) yang membawa 3 kemampuan : a. Definisi van Bemmelen ini singkat. Dalam hal ia tidak ada kebebasan untuk memilih antara berbuat dan tidak berbuat mengenai apa yang dilarang atau diperintahkan oleh undangundang. sehingga tidak dapat menginsyafi bahwa perbuatannya itu bertentangan .

bahwa orang yang melakukan perbuatan itu mempunyai kesalahan atau bersalah (subjective guilt). yang mampu. orang tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya atau jika dilihat dari sudut perbuatnnya. Pengertian Kesalahan Dipidananya seseorang tidaklah cukup dengan membuktikan bahwa orang itu telah melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hukum atau bersifat melawan hukum. Seorang terdakwa pada dasarnya dianggap (supposed) mampu bertanggung jawab.99 100 dengan hukum dan tidak dapat menentukan akibat perbuatannya. namun hal tersebut belum memenuhi syarat untuk penjatuhan pidana. ia mampu untuk menilai dengan pikiran atau perasaannya bahwa 2. perbuatannya harus dapat dipertanggungjawabkan kepada orang tersebut. Dalam hal ini berlaku asas “TIADA PIDANA TANPA KESALAHAN” atau Keine Strafe ohne Schuld atau Geen straf zonder Schuld atau Nulla Poena Sine Culpa (“culpa” disini dalam arti luas. tetapi untuk setiap kali dalam kejadian yang kongkrit dalam praktek peradilan menilai jiwa seorang terdakwa dengan ukuran-ukuran tadi tidaklah mudah. dipertanggungjawabkannya orang tersebut masih perlu adanya syarat. meliputi juga kesengajaan). Definisi-definisi tersebut memang ada manfaatnya. kecuali dinyatakan sebaliknya (lihat pembahasan tentang dasar-dasar penghapus pidana). Dalam persoalan kemampuan bertanggung jawab itu ditanyakan apakah seseorang itu merupakan “normadressat” (sasaran norma). Untuk dapat perbuatannya itu dilarang oleh undang-undang dan berbuat sesuai dengan pikiran atau perasaannya itu. Kesalahan 2. .1. apabila orang yang normal jiwanya itu mampu bertanggung jawab. Sebagai dasar untuk mengukur hal tersebut. Jadi meskipun perbuatannya memenuhi rumusan delik dalam undang-undang dan tidak dibenarkan (an objective breach of a penal provision). Dengan perkataan lain.

Pasal 6 ayat 2 Undang-undang Kekuasaan Kehakiman (UU No. Bahwa unsur kesalahan itu. Dengan demikian hukum pidana yang ada dewasa ini dapat disebut sebagai Sculdstrafrecht. Dalam ilmu hukum pidana dapat dilihat sebagai unsur yang menjadi persyaratan untuk dapat dipertanggungjawabkannya pelaku berpangkal pada pemikiran tentang hubungan antara perbuatan pertumbuhan dari hukum pidana yang menitikberatkan kepada perbuatan orang beserta akibatnya (Tatstrafrecht atau Erfolgstrafrecht) ke arah hukum pidana yang dengan kebebasan kehendak. menurut karena alat berpijak pada orang yang melakukan tindak pidana (taterstrafrecht). 2. Untuk salah. apabila ada orang yang dijatuhi pidana padahal ia sama sekali tidak bersalah. Akan bertentangan dengan rasa keadilan. tanpa meninggalkan sama sekali sifat dari Tatstrafrecht. adany pemidanaan harus ada kesalahan pada sipelaku. penjatuhan pidana disyaratkan adanya kesalahan pada si pelaku. unsur kesalahan sebagai syarat untuk penjatuhan pidana di Negara Anglo Saxon tampak dengan adanya maxim (asas) “Actus non facit reum nisi mens sit rea” atau disingkat dengan asas “mens rea”. Arti aslinya ialah “evil will” “guilty mind”. Mengenai hubungan . 4 / 2004) berbunyi : Tiada seorang juapun dapat dijatuhi pidana. Asas “tiada pidana tanpa kesalahan” yang telah disebutkan di atas mempunyai sejarahnya sendiri. sangat menentukan akibat dari perbuatan seseorang. mendapat keyakinan.101 102 Asas ini tidak tercantum dalam KUHP Indonesia atau dlam peraturan lain. telah bersalah atas perbuatan yang dituduhkan atas dirinya. namun berlakunya asas tersebut sekarang tidak diragukan. Mens rea merupakan subjective guilt melekat pada sipelaku subjective gilt ini berupa intent (kesengajaan setidak-tidaknya negligence (kealpaan). kecuali yang apabila sah pengadilan.2. bahwa seorang yang dianggap dapat bertanggung jawab. Dasar Pemikiran Filosofi dasar yang mempersoalkan kesalahan pembuktian undang-undang. Tidak berbeda dengan konsep yang berlaku dalam sistem hukum di Negara Eropa Kontinental. dapat juga dikenal dari pepatah (Jawa) “sing seleh” (yang bersalah pasti salah). artinya bahwa.

b. Dalam pandangan ketiga melihat bahwa ada dan tidak adanya kebebasan kehendak itu untuk hukum pidana tidak menjadi soal (irrelevant). dan bukannya pidana dalam arti penderitaan sebagai buah hasil kesalahan oleh si pelaku. Kesalahan seseorang tidak dihubungkan dengan ada dan tidak adanya kehendak bebas 1. maka tidak ada pencelaan. Tanpa ada kebebasan kehendak maka tidak ada kesalahan dan apabila tidak ada kesalahan. sehingga tidak ada pemidanaan. itu tak berarti bahwa orang yang melakukan tindak pidana tidak dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya. Tetapi reaksi terhadap perbuatan yang dilakukan itu berupa tindakan (maatregel) untuk ketertiban masyarakat. c. Justru karena tidak adanya kebebasan indeterminisme. Kesalahan Menurut Beberapa Sarjana tidak mempunyai kehendak bebas. Aliran klasik yang melahirkan pada manusia pandangan dasarnya mempunyai tidak punya kehendak bebas. Aliran positivist yang melahirkan pandangan determinisme mengatakan. Namun meskipun diakui bahwa tidak punya kehendak bebas. bahwa manusia kehendak itu maka ada pertanggungan-jawab dari seseorang atas perbuatannya. Ini berarti bahwa seseorang.103 104 antara kebebasan kehendak dengan ada atau tidak adanya kesalahan ada 3 pendapat dari : a. Keputusan kehendak ditentukan sepenuhnya oleh watak (dalam arti naPasalu-naPasalu manusia dalam hubungan kekuatan satu sama lain) dan motifmotif ialah perangsang-perangsang yang datang dari dalam atau dari luar yang mengakibatkan watak tersebut. sebab ia . yang bahwa kehendak bebas (free will) dan ini merupakan sebab dan segala keputusan kehendak. tidak dapat dicela atas perbuatannya atau dinyatakan mempunyai kesalahan. berpendapat.3.

bahwa “kesalahan dalam suatu delik merupakan pengertian psychologis. jika perbuatan dapat dan patut . dasarnya tanggungan jawab terhadap hukum pidana”. meliputi semua hal. a. b. VAN HAMEL mengatakan. die aus der Strafcat einen personlichen begrunden). Selanjutnya ia katakan : “Salah dosa berada. keadaan dapat psychisch dicelakakan (jiwa) kepada itu si celaan. dat bestaat uit een strafbaar feit en deswege een strafbare dader). d. di bawah ini disebutkan pendapat-pendapat dari berbagai penulis. Kesalahan adalah pertanggungan jawab dalam hukum (Schuld is de verant woordelijkheid rechtens)”. VAN HATTUM berpendapat : “Pengertian keseluruhan syarat yang memberi dasar untuk adanya pencelaan pribadi terhadap si pelaku tindak pidana (Schuldist der Erbegriiffder kesalahan yang paling luas memuat semua unsur dalam mana seseorang dipertanggungjawabkan menurut hukum pidana terhadap perbuatan yang melawan hukum. yang bersifat psychisch yang terdapat dapat Vcrraussetzungen. SIMONS mengartikan kesalahan itu sebagai pengertian yang “sociaal ethisch” dan Verwurf gegen den Tater keseluruhan yang berupa strafbaarfeit termasuk si pelakunya (al het geen psychisch is aan dat complex. perhubungan antara keadaan jiwa si pelaku dan terwujudnya unsur-unsur delik karena perbuatannya. KARNI yang mempergunakan istilah “salah dosa” mengatakan mengandung : “Pengertian Celaan salah ini dosa menjadi mengatakan antara lain : “Sebagai dasar untuk pertanggungan jawab dalam hukum pidana ia berupa keadaan psychisch dari si pelaku dan hubungannya terhadap perbuatannya. MEZGER mengatakan : kesalahan adalah c.105 106 Guna memberi pengertian lebih lanjut tentang kesalahan dalam arti yang seluas-luasnya. e.” dan dalam arti bahwa berdasarkan perbuatannya pelaku”.

. Yang bersifat melawan hukum itu adalah perbuatannya. Dalam arti ini kesalahan hanya dipandang sebagai hubungan psychologis (batin) antara pelaku dan perbuatannya. perbuatan itu Dari pengertian-pengertian kesalahan dari beberapa sarjana di atas maka pengertian kesalahan dapat dibagi dalam pengertian sebagai berikut : . Yang perbuatan atau akibat perbuatan. “Penilaian dari luar” ini merupakan pencelaan dengan memakai ukuran-ukuran yang terdapat dalam masyarakat. pada kesengajaan hubungan batin itu berupa menghendaki perbuatan (beserta akibatnya) dan pada kealpaan tidak ada kehendak demikian. ialah apa yang seharusnya diperbuat oleh sipelaku secara extreem dikatakan bahwa “kesalahan seseorang tidaklah terdapat pelanggaran dilakukan kesalahannya. baik dengan sengaja.107 108 dipertanggungkan atas si perbuat. ialah di dalamkepala dari mereka yang memberi penilaian terhadap sipelaku itu. tetapi di samping itu harus ada unsur penilaian atau unsur normatif terhadap perbuatannya. yang bertalian dengan kehendak si pelaku adalah kesalahan. f. POMPE mengatakan norma antara yang lain : “Pada karena Pandangan yang normatif tentang kesalahan ini menentukan kesalahan seseorang tidak hanya berdasar sikap batin atau hubungan batin antara pelaku dengan perbuatannya. perbuatan itu harus dilakukan. Pengertian kesalahan psychologisch. maupun dengan salah”.Pengertian kesalahan yang normatif mengandung perlawanan hak. Segi dalamnya. harus boleh dicela karena perbuatan itu. biasanya sifat melawan hukum itu merupakan segi luarnya. Penilaian normatif artinya penilaian (dari luar) mengenai hubungan antara sipelaku dengan perbuatannya. melainkan di dalam kepala orang-orang lain”. Hubungan batin tersebut bisa berupa kesengajaan atau kealpaan. Jadi di sini hanya digambarkan (deskriptif) keadaan batin berupa kehendak terhadap dalam kepala sipelaku.

di . seperti dikatakan oleh van Hamel. melainkan pencelaan berdasarkan hukum yang berlaku. Ini sejalan dengan pendapat. kesalahan dalam arti yang seluas-luasnya. Jadi orang yang bersalah melakukan sesuatu perbuatan.4. itu berarti bahwa perbuatan itu dapat dicelakakan kepadanya. ialah kemampuan bertanggungjawab dan tidak adanya alasan pencelaan terhadap seseorang yang telah melakukan tindak pidana. untuk adanya kesalahan hemat kami harus ada pencelaan ethis.109 110 memberi penilaian pada instansi terakhir adalah hakim. bahwa “das Recht ist das ethische Minimum”. menurut hakekatnya ia adalah hal dapat 1. Di dalam pengertian ini sikap batin si pelaku ialah. pencelaan disini bukannya pencelaan berdasarkan kesusilaan. Bukan “ethische schuld”. Kesalahan dalam Hukum Pidana Kesalahan ini dapat dilihat dari 2 sudut : a. melainkan “veranwoordelijkheid rechtens. yang berupa kesengajaan dan kealpaan tetap diperhatikan. 1. dan yang memuat segala syarat untuk hidup bersama. yang terdiri dari sesama penghapus kesalahan. Di samping itu ada unsur lain ialah penilaian mengenai keadaan jiwa sipelaku. Namun demikian. Arti “kesalahan” dalam hukum Pidana Dalam hukum pidana kesalahan memiliki 3 pengertian yaitu : a. betapapun kecilnya. Setidaktidaknya pelaku dapat dicela karena tidak menghormati tata dalam masyarakat. akan tetapi hanya merupakan unsur dari kesalahan atau unsur dari pertanggung-jawaban pidana. menurut akibatnya ia ada hal yang dapat hidupnya. dicelakakan (verwijtbaarheid) b. yang dapat disamakan dengan pengertian dihindarkannya (vermijdbaar-heid) perbuatan yang melawan hukum Dari pendapat-pendapat tersebut di atas maka dapatlah dimengerti bahwa kesalahan itu mengandung unsur “pertanggungjawaban dalam hukum pidana”.

misalnya dengan perbuatannya. Jadi apabila dikatakan. b. Dalam hal ini dipersoalkan sikap batin seseorang pelaku terhadap perbuatannya. maka itu berarti bahwa ia dapat dicela atas perbuatannya. opzet. yang berupa kesengajaan (dolus) atau kealpaan (culpa). kesengajaan intention) atau 2. ada kemungkinan bahwa ada keadaan yang mempengaruhi sipelaku sehingga kesalahannya hapus. berubahlah pengertian kesalahan yang psychologis menjadi pengertian kesalahan yang normatif (normativer schuldbegriff). c. Disini dipersoalkan apakah orang mampu. (dolus. c. b. kesalahan dalam arti bentuk kesalahan (sculdvorm) yang berupa : 1. Unsur-unsur dari kesalahan (dalam arti yang seluas-luasnya) Kesalahan dalam arti seluas-luasnya amat berkaitan dengan pertanggungjawaban pidana dimana meliputi : a. onachtzaamheid. Pemakaian istilah “kesalahan” dalam arti ini sebaiknya dihindarkan dan digunakan saja istilah “kealpaan”. tidak adanya alasan yang menghapus kesalahan atau tidak ada alasan pemaaf meskipun apa yang disebut dalam a dan b ada.111 112 dalamnya terkandung makna dapat dicelanya (verwijtbaarheid) sipelaku atas perbuatannya. kealpaan (culpa. hubungan batin antara sipelaku dengan tertentu menjadi “normadressat” yang fahrlassigkeit atau negligence). bahwa orang bersalah 2. Dengan diterimanya pengertian kesalahan (dalam arti luas) sebagai dapat maka dicelanya si pelaku atas perbuatannya. adanya sipelaku kemampuan bertanggungjawab pada atau keadaan jiwa melakukan sesuatu tindak pidana. vorzatz atau (schuldfahigkeit artinya zurechnungsfahigkeit). ini disebut bentuk-bentuk kesalahan. kesalahan dalam arti sempit. sipelaku harus normal. . ialah kealpaan (culpa) seperti yang disebutkan dalam b.2 di atas.

dapat dipidananya perbuatan (strafbaarheid van het feit) 2. (pertanggungan jawab bersangkutan harus pula dibuktikan terlebih dahulu bahwa perbuatannya bersifat melawan hukum. dapat dipidananya orangnya atau pelakunya mempunyai pertanggungan jawab pidana. Kalau ini tidak ada. Sebaliknya seseorang yang melakukan perbuatan yang melawan hukum tidak dengan sendirinya mempunyai kesalahan. artinya. Dalam pada itu harus diingat bahwa untuk adanya kesalahan dalam arti yang pidana) seluas-luasnya orang yang (strafbaarheid van de persoon). 49 KUHP) Kalau ketiga-tiga unsur ada maka orang yang bersangkutan bisa dinyatakan bersalah atau Itulah sebabnya. kalau perbuatannya tidak melawan hukum maka tidak ada perlunya untuk menerapkan kesalahan sipelaku. maka kita harus senantiasa menyadari akan dua pasangan dalam syarat-syarat pemidaan ialah adanya : 1. .113 114 adanya kelampauan batas pembelaan terpaksa (ps. sehingga bisa dipidana. artinya tidak dengan sendirinya dapat dicela atas perbuatan itu.

115 116 BAB VI KESENGAJAAN (DOLUS. Orang yang melakukan perbuatan dengan sengaja menghendaki perbuatan itu dan disamping itu Sengaja berarti membayangkan akan akibat timbulnya akibat perbuatannya. bahwa sengaja berarti menghendaki dan mengetahui apa yang dilakukan. melainkan hanya dapat membayangkannya. yang berisi menghendaki dan mengetahui itu. VORSATZ) mengetahui atau menyadari tentang apa yang dilakukan itu. Teori ini menitikberatkan b. yang dengan sengaja. menghendaki dan sadar akan perbuatannya. yang sengaja tidak memberi susu kepada anaknya. OPZET.v. dapat diambil dari M. mewujudkan unsur-unsur delik dalam rumusan undang-undang (Simons. Misal : seorang Ibu. yang mengartikan “kesengajaan” (opzet) sebagai : “menghendaki dan mengetahui” (willens en wetens). (Pompe : 166). maka dalam ilmu pengetahuan hukum pidana dapat disebut dua teori sebagai berikut: a. Jadi dapatlah dikatakan. 1.T. Zevenbergen) . Teori kehendak (wilstheorie) Inti Apakah yang diartikan dengan sengaja ? KUHP kita tidak memberi definisi. INTENT. orang tak bisa menghendaki akibat. Teori-teori Kesengajaan Berhubung dengan keadaan batin orang yang berbuat Unsur kedua dari kesalahan dalam arti yang seluasluasnya (pertanggungjawaban pidana) adalah hubungan batin antara si pelaku terhadap perbuatan. Petunjuk untuk dapat mengetahui arti kesengajaan. Hubungan batin ini bisa berupa kesengajaan atau kealpaan. (Memorie van Toelichting). Teori pengetahuan / membayangkan (voorstellingtheorie) kesengajaan adalah kehendak untuk dicelakakan kepada sipelaku itu.

Misal : A menempeleng B. Ia menghendaki perbuatan beserta akibatnya. Kalau akibat ini tidak akan ada. Bentuk Kesengajaan Dalam hal seseorang melakukan sesuatu agar B tidak membohong. dengan sengaja dapat dibedakan 3 bentuk sikap batin. kedua teori adalah sama. Perbedaannya adalah dalam istilahnya saja. akibat yang memang dituju sipelaku. jengkel dsb. maka ia tidak akan berbuat demikian. kedua-duanya mengakui bahwa dalam kesengajaan harus ada kehendak untuk berbuat. Perbuatan sipelaku bertujuan untuk menimbulkan akibat yang dilarang. Amenghendaki sakitnya B 2. yang menunjukkan tingkatan atau bentuk dari kesengajaan sebagai berikut : a. kesengajaan yang biasa dan sederhana. Dalam hal delik materiil harus dihubungkan faktor kausa yang menghubungkan perbuatan dengan akibat (kausalitas) dimana : 1. (Frank). kesengajaan dengan sadar kepastian (opzet met zekerheidsbewustzijn noodzakkelijkheidbewustzijn atau .117 118 pada apa yang diketahui atau dibayangkan oleh sipelaku ialah apa yang akan terjadi pada waktu ia akan berbuat. kesengajaan dengan sadar kemungkinan (dolus eventualis atau voorwaardelijk-opzet) Bentuk kesengajaan ini merupakan bentuk Terhadap perbuatan yang dilakukan sipelaku kedua teori itu tak ada perbedaan. dolus directus b. Dalam praktek penggunaannya. Perhatikan : haruslah ditoh:bedakan antara tujuan dan motif. kesengajaan sebagai maksud (opzet als oogmerk) untuk mencapai suatu tujuan (yang dekat). Ini dapat merupakan delik tersendiri atau tidak. Motif suatu perbuatan adalah alasan yang mendorong untuk berbuat misalnya cemburu. c.

menghindarkan diri dari peradilan dunia dan hendak . Jadi dalam kasus ini : Ada kesengajaan sebagai tujuan terhadap matinya B dan kesengajaan dengan keinsyafan kemungkinan kepastian atau keharusan sebagai syarat tercapainya tujuan. kematian tersebut tidak menjadi persoalan baginya. Dalam batin si A. Terhadap terbunuhnya B kesengajaan merupakan tujuan sedangkan terhadap rusaknya kaca (ps. akibat ini pasti timbul atau terjadi. oleh karena itu kesengajaan dianggap tertuju pula pada matinya istri B. 9 Maret 1911) kemungkinan terjadi kemudian ternyata benar-benar terjadi merupakan resiko yang harus diemban sipelaku. A tahu bahwa ada kemungkinan istri B. merasa bahwa akhirnya ia akan ketahuan. A mengirim kue taart yang beracun dengan maksud untuk membunuhnya. B duduk di balik kaca jendela restoran. akibat yang tidak didinginkan tetapi merupakan suatu keharusan untuk mencapai tujuan dalam no. 1 tadi. yang tidak berdosa itu juga akan makan kue tersebut dan meninggal karenanya. Contoh 1 : A hendak membunuh B dengan tembakan pistol. 406 KUHP) ada kesengajaan dengan keinsyafan Contoh 2 : A hendak membalas dendam B yang bertempat tinggal di Hoorn. Penembakan terhadap B pasti akan memecahkan kaca pemilik restoran itu.R. Ia ingin terhadap kematian istri B (Arrest H. meskipun A tahu akan hal terakhir ini namun ia tetap mengirim kue tersebut. Dalam hal ini ada keadaan tertentu yang semula merupakan diperkirakan sipelaku sebagai Contoh 3 : Seorang yang melakukan penggelapan.119 120 2.

121

122

membunuh dirinya dengan merencanakan sustu kecelakaan lalu – lintas, Ia menabrakkan mobil yang dikendarainya kepada otobis yang berisi penumpang. Tujuannya agar uang asuransinya yang sangat tinggi (1 ton) itu dapat dibayarkan kepada soprnya. Tetapi ini gagal, ia tidak mati, hanya luka-luka. Beberapa penumpang bis mengalami luka dan seorang diantaranya luka yang membahayakan jiwa. R.v.J (Raad van Justitie) Semarang yang diperkuat oleh Hoogerechtshof dalam tingkat banding

3. Dolus Eventualis Dolus eventualis lahir karena suatu keadaan dimana sikap batin pelaku dimana pelaku tidak menghendaki suatu tujuan untuk mewujudkan suatu tindak pidana, akan tetapi keadaan menyebabkan ia tidak dapat mengelak dari suatu keadaan tertentu. Contoh: Seorang mengendarai mobil angkutan umum dengan lajunya di jalan dalam kota. Dimuka ia lihat

menyatakan terdakwa bersalah telah melakukan penganiayaan berat. Pertimbangannya antara lain sebagai berikut: Meskipun terdakwa tidak mengharapkan penumpangpenumpang bis mendapat luka-luka, namun akibat ini ada dalam kesengajaanya, sebab iatetap melakukan perbuatan itu, meskipun ia sadr akan akibat yang mungkin terjadi. Kasus ini adalah pengalaman Jokers, ketika menjadi Jaksa Tinggi (Officier van Justitie) pada R.v.J di Semarang.

sekelompok anak yang sedang bermain-main. Apabila ia tetap dalam kecepatan yang sama tanpa

menghiraukan nasib anak-anak dan tanpa mengambil tindakan pencegahan, dan apabila akibat perbuatanya itu beberapa anak luka atau mati, maka disini ada kesengajaan unuk menganiaya atau membunuh, meskipun tidak dapat dikatakan bahwa ia

mengiginkan akibat tadi, namun jelas ia menghendaki hal itu, dalam arti, meskipun ia sadar akan

kemungkinan tentang luka dan matinya anak ia mendesak kesadaran itu kebelakang dan menerima

123

124

apa

boleh

buat

kemungkinan

itu,

dengan

Dalam kedua teori itu digambarkan, bahwa dalam batin si – pelaku terjadi suatu proses, bahwa ia lebih baik berbuat dari pada tidak berbuat. Disini ada suatu

melampiaskan naPasalunya untuk menegar kudanya. Di atas telah disebutkan 2 teori yang menerangkan bagaimana sikap batin seseorang yang melakukan perbuatan dengan sengaja. Bagaimanakah

yang tidak jelas, oleh karena itu disamping kedua teori itu ada teori yang disebut teori apa boleh buat (“In Kauf nehmen theorie”atau” op de koop toe nemen theorie”). Menurut teori apa boleh buat (“In Kauf nehmen theorie

menerangkan adanya kesengajaan dengan sadar kemungkinan (dolus eventualis) ? Berdasarkan menetapkan teori dalam kehendak, batinnya, jika bahwa sipelaku ia lebih

“atau”op de koop toe nemen theorie”) keadaan batin si pelaku berikut: a. akibat itu sebenarnya tidak dikehendaki, bahkan ia benci atau takut akan kemungkinan timbulnya akibat itu b. akan tetapi meskipun ia tidak menghendakinya, terhadap perbuatannya adalah sebagai

menghendaki perbuatan yang dilakukan itu, meskipun nanti akan ada akibat yang ia tidak harapkan, dari pada tidak berbuat, maka kesengajaan orang tersebut juga ditujukan kepada akibat yang tidak diharapkan itu. Berdasarkan teori pengetahuan, pelaku mengetahui / membayangkan akan kemungkinan terjadinyan akibat yang tak dikehendaki, tetapi bayangkan itu tidak mencegah dia untuk tidak berbuat; maka dapat dikatakan, bahwa kesengajaan diarahkan kepada akibat yang mungkin terjadi itu.

namun apabila toh keadaan/akibat itu timbul, apa boleh buat hak itu diterima juga, ini berarti ia berani memikul resiko.”

125

126

Dalam perdebatan di Eerste Kamsr mengenai W.v.S. Menteri Modderman mengatakan, bahwa

batin yang berupa kesengajaan (atau kealpaan) itu benar-benar ada pada pelaku. Orang tidak dapat secara pasti mengetahui mengetahui batin orang lain, lebih-lebih bagaimana keadaan batinnya pada waktu orang ini berbuat. Apabila orang ini dengan jujur menerangkan keadaan batinnya yang sebenarnya maka tidak ada kesukaran. Kalau tidak, maka sikap batinnya harus disimpulkan

“voorwaardelijkk opzet” (dolus eventualis) itu ada, apabila kehendak kita langsung ditujukan pada kejahatan tersebut, tetapi meskipun telah mengetahui bahwa keadaan tertentu masih akan terjadi, namun kita berbuat dengan tiada tercegah oleh kemungkinan terjadinya hal yang telah kita ketahui itu. Dengan teori apa boleh buat ini maka sebenarnya tidak perlu lagi untuk membedakan kesengajaan dengan sadar kepastian dan kesengajaan dengan sadar kemungkinan.

dari keadaan lahir, yang tampak dari luar. Jadi dalam banyak hal hakim baru mengobyektifkan adanya kesengajaan itu. Contoh Van Bemmelen:

Dalam

uraian-uraian si-pelaku

diatas

penentuan dengan

tentang melihat A melepaskan tembakan kepada B dalam jarak 2 meter. Meskipun A mungkin, bahwa ia mempunyai

kesengajaan

adalah

bagaimana sikap batinnya perbuatan ataupun akibat perbuatannya. Demikian itu karena kesengajaan dipandang sebagai sikap batin pelaku terhadap perbuatannya. Dengan teori-teori itu diusahakan untuk menetapkan kesengajaan sipelaku Dalam kejadian konkret tidaklah mudah bagi Hakim untuk menentukan bahwa sikap

kesengajaan untuk membunuh B, namun Hakim tetap akan menentukan adanya kesengajaan tersebut, kecuali apabila dapat diterima alasan-alasan yang sangat masuk akal bahwa A tidak tahu pistol itu berisi

ialah yang mengatakan bahwa: a. Persoalan ini berhubungan dengan masalah: apakah untuk adanya kesengajaan itu sipelaku harus menyadari bahwa perbuatannya itu dilarang (bersifat melawan hukum) ? Mengenai hal ini ada 2 pendapat. harus ada hubungan antara keadaan batin si-pelaku dengan melawan hukumnya perbuatan. di perlukan syarat. bahwa perbuatannya dilarang dan/atau dapat dipidana b. untuk adanya kesengajaan perlu bahwa sipelaku menyadari bahwa perbuatannya menghendaki perbuatan yang dilarang itu. Jadi menurut pendirian yang pertama. bahwa sengaja disini berarti dolus malus. artinya sengaja untuk berbuat jahat (boos opzet). maka itu berarti. Ia tak perlu tahu bahwa perbuatannya terlarang / sifat melawan hukum. bahwa pada sipelaku ada kesadaran. Hakim harus sangat berhati-hati. Kesengajaan berwarna (gekleurd) dan tidak berwarna (kleurloos). Penganutnya antara lain Zevenbergen. bahwa untuk adanya kesengajaan cukuplah bahwa sipelaku itu melawan hukum (dilarang). sifat kesengajaan itu berwarna dan kesengajaan melakukan pengetahuan sesuatu sipelaku perbuatan bahwa mencakup perbuatanya hubungannya perkataan adanya lain dengan tersimpul melawan adanya kesengajaan sifat kesadaran mengenai hukumnya perbuatan.” Untuk kesengajaan. ada sehingga ada pembebasan. Dikatakan. Dalam hal ini diragukan adanya kesenjajaan. dilarang. sedang ia tidak mengetahui bahwa . halaman 169). tahun 1924.127 128 atau bahwa matinya B itu disebabkan karena kekhilafan dari A. yang mengatakan (dalam bukunya leerboek van het Nederlandsch Strafrecht. Kesengajaan tidak berwarna Kalau dikatakan bahwa kesengajaan itu tak berwarna. Dapat saja sipelaku dikatakan berbuat dengan sengaja. bahwa: Kesengajaan dengan dalam dolus senantiasa molus.

151 dan 152 dan bandingkan letak perkataan sengaja dalam kedua pasal tersebut). M. tidak perlu ada “boos opzet”. artinya dilepaskan dari kekuasaan kesengajaan. Jonkers. Jadi tidak perlu dibuktikan bahwa .129 130 perbuatannya dengan hukum. Menurut M. Unsur yang terletak di muka M.T. Oleh Keberatan terhadap pendirian bahwa kesengajaan itu berwarna ialah akan merupakan beban yan berat bagi jaksa apabila untuk membuktikan adanya kesengajaan. Sebaliknya.v.v. memuat suatu asas yang mengatakan antara lain. dibelakang perkataan opzettelijk (dengan sengaja) dikuasai atau diliputi olehnya”. meskipun pada kenyataannya ia melakukan perbuatan yang dilarang. mengatakan demikian : “Akan tetapi untuk berbuat dengan sengaja itu apakah sipelaku tidak harus menyadari. ia tidak dapat dipidana. Pompe.T.v. itu dilarang atau bertentangan kesengajaan itu berwarna ialah kesalahan itu. yang melawan hukum.T. alasan bahwa (geobjektiveerd). jadi termasuk kesengajaan. (bacalah ps. bahwa “unsur-unsur delik yang terletak 4. berisi bahwa sipelaku harus sadar bahwa perbuatan itu keliru. bahwa tiap pada kali ia harus ada karena itu pembentuk undang-undang menetapkan dengan seksama dimana letak perkataan “opzettelijk” itu. bahwa ia melakukan suatu perbuatan yang menurut tata susila tidak dibenarkan (zadelijk ongeoorlooid) ? Cukupkah dengan adanya kesengajaan saja atau perlukah adanya “kesengajaanj jahat” (boos opzet) ? Jawabnya tidak akan lain dari pada itu. membuktikan terdakwa perkataan “opzettelijk” disebut “diobjektip-kan” kesadaran atau pengetahuan tentang dilarangnya perbuatan itu. Penganut-penganutnya antara lain : Simons. Perumusan Unsur Sengaja dalam KUHP Apabila ia sama sekali tidak sadar akan itu.

. ialah “dapat terjadinya bahaya umum atau bahaya maut tersebut”. misalnya dalam delik pencurian (pasal 362).. Menghadapi teks terjemahan yang diusahakan oleh beberapa penulis sekarang ini tidak ada jalan lain bagi pelaksana hukum misalnya hakim. Demikianlah teknik perundang-undangan yang diikuti oleh KUHP dalam teks Belanda. menyusun kalimat tentunya tidak dapat atau tidak . Di sini ada keadaan-keadaan.... pemalsuan surat (ps.T.. misalnya pada delik pencurian (ps. ialah apa yang disebut “Tendenz-delikte” atau “Absicht-delikte”.. itu tidak berlaku untuk semua delik. ada pendapat bahwa unsur tersebut bukannya unsur kesengajaan. oleh karena itu teknik perundang-undangan dalam memberi.v.sifat perbuatan dimaksud dalam rumusan delik yang bersangkutan.. (dengan tujuan untuk). 152.. ada pendapat bahwa unsur tersebut bukannya unsur kesengajaan.). dari Unsur ini yang diobjektipkan. Lihat ps. untu melihat teks aslinya ialah teks Bahasa Belanda dan mendasarkan penafsiran pada teks tersebut..... perlu mengikuti KUHP sepenuhnya. yang disebut di belakang perkataan sengaja.. yang sebenarnya bukan teks resmi. ialah yang disebut “Tendenz-delikte” atau Absicht-delikte”..(dengan tujuan untuk. Kesengajaan disini harus ditujukan kepada hal-hal apa saja ? Pecahkanlah sendiri ! Dalam hal itu asas yang dianut M..131 132 kesengajaan sipelaku ditujukan kepada hal tersebut.. pemalsuan surat (pasal 263).. Ada pengecualiannya. melainkan unsur melawan atau hukum arah subjektif. Lihat ps.... 303 KUHP.. 187 KUHP.. sehingga tak perlu dibuktian bahwa kesengajaan pelaku ditujukan kepada hal tersebut yang diobjektipkan.. Yang menjadi masalah ialah apabila kita menghadapi KUHP dalam teks Bahasa Indonesia. 263).. 362). apakah artinya sipelaku yang tidak perlu atau ditanyakan mengetahui menghendakinya. Pada delik-delik yang memuat unsur-unsur “met het oogmerk om . Pada delik-delik yang memuat unsur-unsur ”met het oogmerk om. seperti halnya ps... Tata bahasa kedua bahasa itu tidak sama..

.. Apabila ia dengan iktikad baik (te goeder trouw) mengira... Unsur ini memberi sifat atau arah dari perbuatan yang dimaksud dalam rumusan delik yang bersangkutan. Kesengajaan pelaku tidak perlu ditujukan kepada sifat melawan hukumnya perbuatan. Perkataan “en” (dan) menunjukkan kedudukan yang sejajar.. Dalam pasal ini jelas bahwa kesengajaan meliputi melawan hukumnya perbuatan dengan perkatan lain kesengajaan.. pandangan: Mengenai a.. vernielt. bahwa ia dalam keadaan tertentu boleh merampas kemerdekaan seseorang..... dalam merumuskan sesuatu delik. wordt. maka ia tak dapat dipidana...1.. onbruik baar maakt of wegmaakt... beschadigt. Pasal 406: Hij die opzettelijk en wederrechitelijk enig goed dat geheel of ten deele aan een onder toebe hoort.. Disini ada kesesatan yang bisa membebaskan.. jadi merumuskan sebagai “sengaja dan melawan hukum” (opzettelijk en wederrechtelijk)....133 134 melainkan unsur melawan hukum yang subjektif.. disamping ia berbuat dengan sengaja.... bahwa perbuatan yang dilakukan itu bertentangan dengan hukum...... Kata “dan” Dalam KUHP (teks Belanda). Dalam rumusan (dalam bahasa Belanda) yang demikian ini menjadi persoalan apakah sifat melawan hukumnya perbuatan juga hal harus ini diliputi terdapat oleh tiga “sengaja” dan perkataan “melawan hukum”. Contoh: Pasal 333: Hij die opzettelijk iemand wederrechtelijk van devrijhiid berooft of berooft houdt.. 4.. terdapat bentuk rumusan: Sengaja tanpa ada rumusan unsur melawan hukum (wederrechtelijk) Sengaja melawan hukum (wederrechtelijk) tanpa kata dan Meyisipkan kata “dan” diantara perkataan pelaku harus tahu.. dengan perkataan lain sifat melawan .

Jadi menurut pendapat ini dalam contoh tersebut di atas. maka unsur melawan hukum tidak diliputi oleh kesengajaan. si-pekerja tidak dapat dipidana karena ia sama sekali tidak mengetahui sifat melawan hukumya perbuatan yang ia lakukan. perkataan “sengaja” dan perkataan “melawan hukum” tidak mempunyai arti. tanpa diketahui olehnya rumah itu ganti pemilik. Hoge Raad mengikuti pendapat pertama. Contoh pasal 406 : Seorang pekerja yang mendapat perintah dari pemilik rumah untuk membongkar rumahnya. Pompe menganut pendapat melaksanakan perintah tersebut. Van Hamel. sesuai dengan asas. Muljatno perkataan “dan” diantara Berbeda dengan pendapat ke 2 tersebut. meskipun tidak ada perkataan “en” (dan) tersebut : Dalam hukum. Zevenbergen. yang berarti dua hal yang terpisah dan tidak berpengaruh satu sama lain. Dalam arrest tgl. tetapi sebelum melawan hukum “sebagai” sengaja melawan hukum. Perkataan “en” (dan) tidak ada artinya Langemeyer mengikuti pendapat yang ketiga. Semua delik yang menurut unsur “sengaja yang pertama. b. Sipelaku tidak perlu tahu bahwa perbuatannya melawan hukum. c. Simons. Ia dapat dipidana. Bagi Prof.135 136 hukum ini diobjektipkan. melawan hukum” dapat dibaca “sengaja dan melawan hukum”. 21 Desember 1914 dimuat antara lain : karena antara unsur kesengajaan dan unsur melawan hukum ada perkataan “en”. Ia terus saja membongkar. Jadi meskipun ada perkataan dan. Unsur sifat melawan hukum itu pendapat ini justru mengartikan sengaja dan . Ia merusak dengan sengaja dan dengan melawan hukum. pendapat ini diragukan. kesengajaan sipelaku harus ditujukan kepada melawan hukumnya perbuatan. sedang Vos. Perkataan “en” (dan) tidak ada artinya. bahwa semua unsur yang terletak di belakang perkataan sengaja dikuasai olehnya.

b. Menurut M. Kesengajaan Menurut Doktrin rencana lebih dulu”. 340. Ini terdapat dalam delik-delik yang dirumuskan dalam pasal 363. atau meracun reservoir air minum.137 138 harus dikuasai oleh unsur kesengajaan. 342 KUHP. dolus premeditatus Bentuk ini mengacu pada rumusan delik yang mensyaratkan unsur “dengan rencana lebih Unsurnya ialah pendirian bahwa kesengajaan dapat lebih pasti atau tidak.T. memikirkan secara wajar apa yang ia lakukan atau yang akan ia lakukan. Untuk dapat dikatakan “ada . dolus determinatus dan indeterminatus Dalam ilmu pengetahuan dikenal beberapa macam kesengajaan : a. sedang pada indeterminatus pelaku misalnya menembak ke arah gerombolan orang atau menembak dahulu” (met voorbedachte rade) sebagai unsur yang menentukan dalam pasal. si pelaku sebelum atau ketika melakukan tindak pidana tersebut. Pada dolus determinatus. van bedaard nedenken). 5. pelaku misalnya menghendaki dolus matinya orang tertentu. dan sebagainya. Istilah tersebut meliputi bagaimana terbentuknya “kesengajaan” dan bukan merupakan bentuk atau tingkat kesengajaan. dolus alternativus Dalam hal ini. untuk penumpang-penumpang dalam mobil yang tidak mau disuruh berhenti. Pelaku harus tahu bahwa yang dilakukan itu bersifat melawan hukum.v. sipelaku menghendaki atau A atau B. akibat yang satu atau yang lain “voorbedachte rade” diperlukan “saat memikirkan dengan tenang” (een tijdstip van kalm overleg. c.

Versari in re illicita Ajaran tentang “dolus indirectus” mengatakan. bahwa semua akibat dari perbuatan yang dipertanggung-jawabkan atas semua akibatnya. Ini oleh Code Penal dipandang sebagai “meutre”. Ajaran dolus indirectus ini mengingatkan orang kepada ajaran kuno (hukum kanonik) tentang pertanggung-jawab. dolus generalis Pada delik materiil harus ada hubungan kausal antara perbuatan terdakwa dan akibat yang tidak dikehendaki undang-undang. B jatuh dan dilindas mobil. Ajaran ini dengan tegas ditolak oleh pembentuk undang-undang. bahwa kesengajaan sipelaku tidak hanya ditukaun kepada perbuatannya. meskipun akibat itu tidak dapat dibayangkan sama sekali olehnya dan timbul secara kebetulan. Dolus ini ada. Misalnya A dan B berkelahi. dituju atau tidak dituju. itu dianggap sebagai hal yang ditimbulkan dengan sengaja. f. diduga atau tidak diduga. disengaja. illicita. Hazewinkel-Suringa menganggap hal ini sebagai suatu pengertian yang tidak baik. dolus directus Ini berarti.139 140 d. bermaksud telah untuk melakukan serangkaian perbuatan misalnya mencekik dan kemudian melemparnya ke dalam sungai. Dipertanggung-jawabkan dalam hukum pidana. e. Di Inggris dan Spanyol pengertian dolus indirectus adalah sama dengan apa yang kita sebut “dolus eventualis”. A memukul B. Menurut . Macam dolus ini masih dikenal oleh Code Penal Perancis. dolus indirectus.menurut melakukan ajaran perbuatan ialah ini versari seseorang terlarang in re yang juga Misalkan membunuh seseorang orang yang lain. apabila dari suatu perbuatan yang dilarang dan dilakukan dengan sengaja timbul akibat yang tidak diinginkan. melainkan juga kepada akibat perbuatannya.

Meskipun jalannya peristiwa tidak tepat seperti yang dibayangkan oleh sipelaku. menaruh bayi itu di pantai dengan harapan agar dibawa oleh arus pasang. Simons menyetujui jenis dolus ini. Perbuatan pertama (mencekik) dikualifikasikan sebagai “percobaan pembunuhan”.141 142 otopsi (pemeriksaan mayat) matinya orang ini disebabkan karena tenggelam. Contoh : Seorang Ibu yang ingin melepaskan diri dari bayinya. bagaimanapun telah tercapai. namun bayinya mati karena kelaparan . jadi pada waktu dilempar ke air ia belum mati. dalam arrestnya tanggal 26 Juni 1962. maka disini menurut von Hippel ada pembunuhan yang direncanakan. Pendirian von Hippel ada pembunuhan yang direncanakan. Menurut ajaran kuno disini ada dolus generalis. ialah harapan dari terdakwa secara umum agar orang yang dituju itu mati. Pendirian Von Hippel ini sama dengan pendapat H. (melempar ke kali) merupakan perbuatan yang terletak / di luar lapangan hukum pidana atau “menyebabkan kealpaannya”. Akan tetapi air pasangnya tidak setinggi yang matinya orang karena diharapkan. namun karena akibat yang dikenhendaki telah terjadi.R. Hazewinkel-Suringa menganggap hal tersebut secara dogmatis tidak tepat. sedang perbuatan kedua dan kedinginan.

kebakaran dst Pasal 231 (4) : Karena kealpaannya . ia berbuat kurang hati-hati atau kurang penduga-duga. Ini adalah delik-delik culpa (culpose delicten). Pasal 409 : Karena kealpaannya menyebabkan alat-alat perlengkapan (jalan api dsb) hancur dsb. Akibat ini timbul karena ia alpa. larangan pendek penghati-hati. dat de wet ook de peletusan. RECKLESSNESS.143 144 BAB VII KEALPAAN (CULPA) Pasal 359 : menyebabkan hilangnya dan sebagainnya barang yang disita Karena kealpaannya menyebabkan matinya orang Pasal 360 (CULPA dalam arti sempit). ia sembrono. SCHULD. membahayakan keamanan orang atau atau mendatangkan kerugian terhadap seseorang yang sedemikian besarnya dan tidak dapat diperbaiki lagi. teledor.NEGLIGENCE. Hal ini terdapat dalam beberapa delik. die de algemene vefligheid van onen of goederen zozeer in gevaar brengen of zo groot en onherstelbaar nadeel sipenyimpan bijzondere personen berokkenen. NALATIGHEID. kata “ schuld” sikap sembrono yang (kealpaan menyebabkan keadaan tadi)”. sedang dalam arti sempit adalah bentuk kesalahan yang berupa kealpaan. TELEDOR). sehingga umdang-undang juga bertindak terhadap (teledor). Suatu keadaan. : Karena kealpaannya menyebabkan orang luka berat dsb. Disamping sikap batin berupa kesengajaan ada pula sikap batin yang berupa kealpaan. Perkataan culpa dalam arti luas berarti kesalahan pada umumnya. Delik-delik itu dimuat antara lain dalam : Pasal 188 : Karena kealpaannya menimbulkan FAHRLASSIGKEIT. yang sedemikian barang. SEMBRONO. Dalam buku II KUHP terdapat beberapa pasal yang memuat unsur kealpaan.(er zijn feiten.

Pompe.T kealpaan disatu pihak berlawanan benar-benar dengan kesengajaan dan dipihal lain dengan hal yang kebetulan (toevel atau caous). dapat diduganya akibat d. akan tetapi bukannya kesengajaan yang ringan. Pengertian kealpaan atau culpa (dalam arti sempit) Menurut M. 2. Beberapa penulis menyebut beberapa syarat untuk adanya kealpaan: a. Hazenwinkel – Suringa Simons: Pada umumnya “schuld” (kealpaan) mempunyai dua unsur : 1. merupakan bentuk kesalahan yang lebih ringan dari pada kesengajaan. tidak mengadakan penghati-hati sebagaimana diharuskan oleh hukum.145 146 onvoorzichtigheid. moet tekeer gaan”) 1.v. het gebrek aan voorzorg. schuld. Tidak adanya penghati-hati. di samping Ilmu pengetahuan hukum dan jurispruden 2. Ada 3 macam yang masuk kealpaan mengartikan “schuld” (kealpaan) sebagai: 1. tidak mengadakan penduga-duga sebagaimana diharuskan oleh hukum. Van hamel Kealpaan mengandung dua syarat: 1. c. waar het feit prong heeft. (anachtzaamheid): . de tigheid. 2. kekurangan penduga – duga atau kekurangan penghati-hati. in een woord.kealpaan b.

Undang-undang mewajibkan seseorang untuk melakukan sesuatu atau Tetapi nomor 2 dan 3 hanya apabila mengetahui atau dapat mengetahuinyaitu menyangkut juga kewajiban untuk menghindarkan perbuatannya (=untuk tidak melakukan perbuatan). maka apabila perbuatannya itu mengakibatkan tabrakan. apabila datangnya bersamaan waktu maka kendaraan dari kiri harus didahulukan”. Misalnya. “Orang pada umunya” ini berarti bahwa tidak boleh orang yang paling cermat. Dapat mengetahui adanya kemungkinan (kunnen kennen van de mogelijkheid) a. Tidaklah mungkin diketahui bagaimana sikap batin seseorang yang sesungguh-sungguhnya maka haruslah ditetapkan dari luar bagaimana untuk tidak melakukan sesuatu.U.H. Sehingga orang lain luka berat. Kealpaan orang tersebut harus ditentukan secara normatif. paling hatihati.P) . Yang harus memegang ukuran normatif dari kealpaan itu adalah Hakim. dalam peraturan lalu-lintas ada ketentuan bahwa” di simpangan jalan.147 148 1. maka ia dapat dikatakan karena kealpaannya mengakibatkan orang lain seharusnya ia berbuat dengan mengambil ukuran sikap batin orang pada umunya apabila ada dalam situasi yang sama dengan si-pelaku itu. (Pasal. paling ahli dan sebagainya. b. dan tidak secara fisik atau psychis. 360 (1) K. Untuk menentukan adanya kealpaan ini harus dilihat peristiwa demi peristiwa. Mengetahui adanya kemungkinan (kennen der mogelijkheid) 3. Dapat mengirakan (kunnen venvachten) timbulnya akibat 2. Apabila seorang pengendara dalam hal ini berbuat lain ini berbuat lain daripada apa yang diatur itu.

Dalam diajukan delik alasan culpoos tidak mungkin (rechtvaar pembenar digingsgrond). Ia menyatakan antara lain “Memang culpa tidak mesti meliputi dapat dicelanya si-pelaku. bahwa dalam delik-delik culpa sifat melawan hukum telah tersimpul di dalam culpa itu sendiri. akan tetapi ia percaya dan mengharap-harap bahwa akibatnya tidak akan terjadi b. maka tidaklah mungkin perbuatan itu perbuatan yang 2.pelaku tidak berjalan secara tepat. jadi harus culpa lata dan bukanya culpa levis (kealpaan yang sangat ringan). Perbedaan itu bukanlah berarti bahwa kealpaan yang disadari itu sifatnya lebih berat dari pada kealpaan yang tidak disadari. Pada delik culpoos kesadaran si. Kerapkali justru karena tanpa berfikir akan kemungkinan timbulnya akibat malah terjadi akibat yang . Karena Bentuk kealpaan dapat dibagi dalam 2 (dua bentuk) yaitu a. namun culpa menunjukkan kepada tidak patutnya perbuatan itu dan jika perbuatan itu tidak bersifat melawan hukum. sesuatu akibat. Kealpaan yang disadari (bewuste schuld) Disini sipelaku dapat menyadari tentang apa yang dilakukan beserta akibatnya. c. padahal seharusnya ia dapat menduga sebelumnya.149 150 Dalam hubungan ini VOS mengemukakan. jadi tidak mungkin ada culpa. Bentuk kealpaan Pada dasarnya orang berfikirdan berbuat secara sadar. Dalam hali ini si pelaku melakukan sesuatu yang tidak menyadari kemungkinan akan timbulnya abnormal. Kealpaan yang tidak disadari (onbewuste schuld). Untuk adanya pemidanaan perlu adanya kekurangan hati-hati yang cukup besar.

VAN HATTUM mengatakan. Hemat kami perbedaan tersebut tidak banyak artinya. 360. 292 (delik-delik kesusilaan). Disamping itu ada delik-delik yang di dalam perumusanya memuat unsur kesengajaan dan kealpaan sekaligus. Misalnya: itu”. Rumusan yang dipakai dalam delik-delik tersebut ialah “diketahui” atau “mengerti” bentuk kesengajaan dan “sepatutnya harus di-duga” atau “seharusnya menduga bentuk kealpaan. Muljatno menamakan delik-delik tersebut sebagai delik yang salah satu unsurnya diculpakan. Pada delik-delik kesusilaan (pasal 287 dan pasal 288) ditujukan kepada “umur-wanita belum lima belas tahun. 3. Kealpaan merupakan pengertian yang normatif bukan suatu pengertian yang menyatakan keadan (bukan feitelijk begrip). Penentuan kealpaan seseorang harus dilakukan dari luar. 188. Pasal 287. Delik “pro parte dolus pro parte culpa” Delik-delik yang di-rumuskan dalam pasal 359. Pada delik-delik Pasal 483 dan Pasal 484 ditujukan kepada unsur “pelaku/orang yang Pasal 480 (penadahan) . harus disimpulkan dari situasi tertentu. 288. Pada delik penadahan ditujukan kepada hal “bahwa barang yang bersangkutan diperoleh dari kejahatan”. bagaimana saharusnya si-pelaku itu berbuat. Pada delik-delik ini kesengajaan atau kealpaan hanya tertuju kepada salah tertuju kepada salah satu unsur dari delik itu. bahwa Pasal 483. 409 dapat disebut delik-delik culpoos dalam arti yang sesungguhnya. yang tidak merupakan dolus eventualis”.151 152 sangat berat. bahwa belum mampu dikawin”. sedang ancaman pidananya sama. 484 (delik yang menyangkut pencetak dan penerbit). Pada delik Pasal 292 ditujukan kepada unsur “ belum cukup umur dari orang yang sama kelamin “kealpaan yang disadari itu adalah suatu sebutan yang mudah untuk bagian kesadaran kemungkinan (yang ada pada pelaku). atau kalau umurnya tak ternyata.

yang diketahui atau sepatutnya harus diduga. bahwa diperoleh dari kejahatan”. Kalau tidak. atau menetap diluar Indonesia. yang membebaskan terdakwa yang dituduh melakukan kurang-menduga-duga ? bagaimana keadaan mobilnya ? kalau lampunya kurang terang. Arrest Hooggerchtshof (dalam tingkat kasasi) yang membatalkan keputusan Raad van Justitie Medan. Cukup dicantumkan uraian kata-kata presis seperti apa yang dirumuskan dalam undang-undang. apakah ia kurang hati-hati dan dibuktikan dalam pemeriksaan pengadilan ditetapkan oleh Hakim.G. Pengendara gerobag alpa. terdakwa sebagai pengendara mobil tetap dipidana karena ia pada malam hari menabrak gerobag yang tidak memakai lampu. jadi tidak dilihat apakah terdakwa mengetahui. b. Dalam surat dakwaan: a. tidak dapat dituntut. dengan sama mengetahui orang yang tidur di jalan itu.H) menyatakan bahwa wet tidak mengharuskan adanya dugaan pada terdakwa sepatutnya harus menduga bahwa barang itu berasal dari kejahatan. Seorang pengemudi mobil pada pagi hari jam 03. tetapi ini tidak meniadakan kealpaan terdakwa. akan tetapi tetap harus ditinjau ada dan tidak adanya kealpaan pada pengemudi mobil. Contoh : a. Pembuktiannya cukup secara normatif. Ada dan tidak adanya kealpaan itu harus sekali tidak menagnggap penting apakah terdakwa betulbetul mempunyai dugaan atau tidak. dari maka kealpaannya. c.00 melanggar sekaligus 4 orang yang sedang tidur di tengah jalan raya. b. Kelapaan orang lain tidak dapat meniadakan kealpaan dari terdakwa. jadi misalnya untuk delik dalam pasal 480 : benda). Dalam kasus inipun tidak boleh dilihat “kealpaan orang lain”. maka ini merupakan lampunya indikasi normal. Hooggerechtshof (H. seharusnya ia Apabila dapat “schuldheling” (pasal 480). maka ini merupakan kealpaan. .153 154 menyuruh cetak pada saat penerbitan.

Dalam undang-undang unsur-unsur dinyatakan dengan tegas atau dapat diambil dari kata kerja dalam rumusan tindak pidana itu. : Pada pelanggaran hakim tidak perlu mengadakan pemeriksaan secara khusus tentang adanya kesengajaan. maka tidak perlu dicantumkan dalam surat tuduhan dan juga tidak perlu dibuktikan.T. artinya tidak disebut apakah perbuatan dilakukan dengan sengaja atau alpa. padahal dicampur Duduk perkara. Soalnya apakah terdakwa berbuat/tidak berbuat sesuatu yang bertentangan dengan Undang-undang atau tidak. Pada suatu ketika susu yang dilever oleh D itu ternyata tidak murni (dicampur air). Yang mengedarkan susu itu D. pengusaha (veehouder) menyuruh melever susu kepada para langganan. sebab kalau tidak tercantum dalam rumusan Undang-undang. lagi Persoalan kesalalahan pada tindak pidana berupa pelanggaran. Hal ini penting untuk hukum acara pidana.R tanggal 14 Pebruari 1916 (arrest air dan susu).. pelayan. Dalam rumusan tindak pidana berupa pelanggaran pada dasarnya tidak ada penyebutan tentang kesengajaan atau kealpaan. bahkan adanya kealpaan juga tidak.v. . Contoh : arrest H. A. D tidak tahu menahu tentang hal itu. Pada tidak pidana berupa kejahatan diperlukan adanya kesengajaan atau kealpaan.155 156 BAB VIII KESALAHAN DALAM DELIK PELANGGARAN Dalam hal ini berlakulah ajaran “fait materiel” (de leer an het matericle feit ajaran perbuatan materiil) dimana menurut M.B. pula tidak perlu memberi keputusan tentang hal tersebut. Pasal 303a dan 344 Peraturan Polisi Umum mengancam dengan pidana Barang siapa melever susu dengan nama susu murni.

v.B. tanpa menyelidiki terlebih dahulu apakah pelaku materiil (ialah D) tidak bertanggung-jawab atas perbuatan itu. tidak terjadi persoalan apakah pelaku materiil (D) dianggap tidak berhak untuk menyelidiki murni dan tidaknya susu yang disuruh melevernya. Permohonan kasasi ini ditolak oleh Hooge Raad.v. orang yang berbuat harus dipidana yang terdapat dalam Undangundang.S.B.H. sekalipun ternyata tidak ada kesalahan sama sekali (asas : afwezigheid van alle schuld).U. dituntut dan dalam tingkat banding dijatuhi pidana. memang dalam pasal 303 tidak disebut dengan tegas bahwa orang yang melakukan perbuatan itu harus mempunyai kesalahan (“enige schuld”). A. lebih-lebih pasal 303a dan 344 tersebut mengancam dengan pidana barang siapa melever susu yang tidak murni tanpa memandang ada kesalahan atau tidak.P). tidak ada suatu alasanpun.R. khususnya dalam pelanggaran. Telah dinyatakan terbukti bahwa penuntut kasasi (A A. yang memaksa untuk menganggap dalam hal unsur kesalahan tidak dicantumkan dalam rumusan delik. terutama dalam riwayat W. Rechtbank Amsterdam salah menerapkan Pasal 47 W. Ini merupakan tindak pidana berupa pelanggaran. dengan alasan yang lebih kurang demikian: a.B. dan terhadap alasan yang dikemukakan oleh A. akan tetapi ini tidak dapat disimpulkan bahwa orang yang tidak mempunyai kesalahan sama sekali (geheel gemis van schuld) peraturan ini dapat diterapkan kepada. H. sebab telah memutuskan secara tidak benar bahwa A. Hal mana tidak diketahui oleh D.157 158 dengan sesuatu (tidak murni). c. mengajukan kasasi. . telah menyuruh lakukan perbuatan yang dituduhkan. c. B) telah menyuruh pelayannya (D) untuk melever susu dengan sebutan “susu murni” padahal dicampur dengan air.B. b. pembentuk Undang-undang menyetujui sistem.S Belanda (Pasal 55 K. memberi pertimbangan antara lain sebagai berikut: a. b.

pengadilan & lembaga pemasyarakatan) yang berkenaan dengan penanganan & pengadilan kejahatan dan pelaku kejahatan. Pidana merupakan nestapa/derita yang dijatuhkan pengadilan) dengan dimana sengaja nestapa oleh itu negara (melalui pada dikenakan seseorang yang secara sah telah melanggar hukum pidana dan nestapa itu dijatuhkan melalui proses peradilan pidana. ajaran “fait materiel” pada pelanggaran ditinggalkan. maka: a. Adapun Proses Peradilan Pidana (the criminal) justice process) merupakan struktur. Dengan arrest itu.159 160 d. Untuk menerima sistim tersebut (dalam c). yang bertentangan dengan rasa keadilan dan asas ”tiada pidana tanpa kesalahan” yang juga dianut dalam hukum pidana kita. BAB IX PIDANA DAN PEMIDANAAN (HUKUM PENITENSIER) Sebelum membahas materi ini terlebih dahulu kita memahami apa yang dimaksud dengan pidana dan pemidanaan. Diakui untuk pertama kalinya oleh badan pengadilan yang tertinggi (Belanda) berlaku asas ”tiada pidana tanpa kesalahan” (geen straf zonder schuld). kejaksaan. hal ini harus tegas-tegas ternyata dalam rumusan delik. Arrest air dan susu penting untuk perkembangan hukum pidana. b. fungsi. Pemidanaan merupakan penjatuhan pidana/sentencing sebagai upaya yang sah yang dilandasi oleh hukum . dan proses pengambilan keputusan oleh sejumlah lembaga (kepolisian.

Pidana perlu dijatuhkan pada seseorang yang melakukan pelanggaran pidana karena pidana juga berfungsi (matregelstelsel). Sanksi berupa pidana maupun tindakan inilah yang akan dipelajari oleh hukum penitensier. 2.161 162 untuk mengenakan nestapa penderitaan pada seseorang yang melalui proses peradilan pidana terbukti secara sah dn meyakinkan bersalah melakukan suatu tindak pidana. Ilmu yang mempelajari pidana dan pemidanaan Punishment. yakni norma yang mencerminkan nilai dan struktur masyarakat yang merupakan terhadap reafirmasi “hati nurani simbolis bersama“ atas pelanggaran bentuk sebagai ketidaksetujuan terhadap perilaku tertentu. Dalam hal ini pidana sebagai bagian dari reaksi sosial manakala terjadi pelanggaran terhadap norma-norma yang berlaku. ISTILAH Ada beberapa istilah yang digunakan untuk materi ini. Tempat sanksi itu dijalankan. al: Hukum Penitensier. hukuman. Hukum Penitensier adalah segala peraturan positif mengenai sistem hukuman (strafstelsel) dan sistem tindakan . dan Jinayah. atau setidaknya tidak menyenangkan. Jadi pidana berbicara mengenai hukumannya dan pemidanaan berbicara mengenai proses penjatuhan hukuman itu sendiri. Hukum Sanksi. Menurut beberapa ahli hukum pidana lain. Jenis sanksi terhadap suatu pelanggaran dalam hal ini terhadap KUHP dan sumber-sumber hukum pidana lainnya (UU pidana yang memuat sanksi pidana dan UU non pidana yang memuat sanksi pidana). menurut Utrecht. Cara sanksi itu dijalankan. hukum penitensier ini merupakan sebagaian dari hukuman pidana positif yaitu bagian yang menentukan: 1. Bentuknya berupa konsekwensi yang menderitakan. 4. Hukuman. sebagai pranata sosial. menurut pendapat Moeljatno: lebih tepat ”pidana” untuk dinamakan Hukum Penitensier/Hukum Sanksi. 3.dan 5. Lamanya sanksi itu dijalani. Straf. Beratnya sanksi itu.

pembatasan kebebasan bergerak/kemerdekaan orang (pidana kurungan/penjara) dan perampasan terhadap nyawa (hukuman mati). Dikenakan pada seseorang penanggung jawab Pengadilan berdasarkan plakat tgl. Dipukul. jalan satu-satunya/tiada jalan lain). unsur-unsur atau ciri-ciri pidana meliputi: 1. al: 1. Diberikan dengan sengaja oleh badan yang memiliki kekuasaan (berwenang). peristiwa pidana menurut UU ( orang memenuhi rumusan delik/pasal). Menurut Utrecht suatu dan R. jalan terakhir. Ditahan/dimasukkan dalam penjara 6. SEJARAH PIDANA DAN PEMIDANAAN DI INDONESIA Pidana dan pemidanaan di Indonesia dimulai sejak Wetboek van Strafrecht (Wvs) diundangkan yaitu tahun 1915 dan berlaku di indonesia berdasarkan UU No. yang hukum bersifat pidana istimewa: merupakan sanksi terkadang dikatakan melanggar HAM karena melakukan perampasan terhadap harta kekayaan (pidana denda). 3. terikat pada suatu tiang (hanya untuk pelaku pembakar/pembunuh) 2. 4. Sedangkan R. 2. Soesilo mendefinisikan pidana / hukum sebagai perasaan tidak enak / sengsara yang dijatuhkan oleh Hakim dengan vonis kepada orang yang telah melanggar UU Hukum Pidana. . 22 April 1808. Dibakar hidup. Kerja paksa pada pekerjaan-pekerjaan umum. Dicap bakar. Di samping itu hukum pidana merupakan ultimum remedium (senjata pamungkas.Soesilo. Dimatikan dengan suatu keris 3. Sudarto juga berpendapat Jenis-jenis hukuman yang dapat dijatuhkan oleh demikian. Menurut Muladi dan Barda Nawawi Arief. Suatu pengenaan penderitaan/nestapa atau akibatakibat lain yang tidak menyenangkan. 1/1946 tentang KUHP (berdasarkan atas konkordansi). dipukul dengan rantai (pidana badan/corporal punishment) 5.163 164 menerjemahkan straf.

bukan hanya sekedar sebagai pembalasan.165 166 Selanjutnya kita akan membahas siapakah pihak yang berhak menuntut. Negara sebagai organisasi sosial tertinggi oleh karena itu sangat logis jika negara diberi tugas mempertahankan tata tertib masyarakat. dalam hal ini KUHP merupakan peraturan yang dibentuk oleh negara dan perbuatannya merupakan tindakan yang dapat dipertanggung jawabkan oleh pelaku (dilihat dari sudut subyektif). 2. Beysens seperti dikutip oleh Utrecht menyatakan pada dasarnya negaralah yang berhak. Tidak bboleh dengan maksud prevensi (melanggar etika) c. Teori Absolut/Retributif/Pembalasan (lex talionis). 2. Perbuatan tersebut dapat dicela (melanggar etika) b. Negara sebagai satu-satunya alat yang dapat menjamin kepastian hukum. hukuman harus memenuhi 3 syarat: a. sehingga bersifat seyogyanya hukuman memperbaiki/merehabilitasi karena pelaku kejahatan . Menurut Leo Polak (aliran retributif). Teori-Teori yang berkaitan dengan Pemidanaan Tujuan Pemidanaan Menurut Doktrin 1. 1. menyatakan bahwa penjatuhkan hukuman harus memiliki tujuan tertentu. Kant. karena perbuatan tersebut bertentangan dengan tata tertib negara (dilihat dari sudut obyektif).Leo Polak. Hegel. dan memaksa pelaku untuk menjalankan pidana. mengingat. menjatuhkan. para penganutnya antara lain E. Utrecht juga menambahkan bahwa negaralah yang berhak melakukan hal tersebut. Mereka berpandapat bahwa hukum adalah sesuatu yang harus ada sebagai konsekwensi dilakukannya kejahatan dengan demikian orang yang salah harus dihukum. Beratnya hukuman seimbang dengan beratnya delik. Hukuman pada umumnya bersifat menakutkan. Teori relatif / tujuan (utilitarian).

supaya jera/kapok. Tujuan yang lain adalah memberikan perlindungan agar orang   Merehabilitasi Pelaku Melindungi Masyarakat Saat ini sedang berkembang apa yang disebut sebagai Restorative Justice sebagai koreksi atas Retributive justice. merupakan gabungan dari teori-teori sebelumnya. Sehingga pidana bertujuan untuk:   Pembalasan.167 168 adalah orang yang “sakit moral” sehingga harus diobati. tidak merasa takut dan tidak mengalami kejahatan. jadi hukuman dijatuhkan untuk pencegahan yakni ditujukan pada masyarakat luas sebagai contoh pada masyarakat agar tidak meniru perbuatan atau kejahatan yang telah dilakukan (prevensi umum) dan ditujukan kepada si pelaku sendiri. Pemahaman ini telah diakomodir oleh R-KUHP tahun 2005. mencegah terjadinya tindak pidana a. Restorative Justice (keadilan yang merestorasi) secara umum bertujuan untuk membuat pelaku mengembalikan keadaan kepada kondisi semula. tidak mengulangi perbuatan/kejahatan serupa. Keadilan yang bukan saja menjatuhkan sanksi yang seimbang bagi pelaku namun juga memperhatikan keadilan bagi korban. Tujuan Pemidanaan berdasarkan Pasal 54 R-KUHP tahun 2005: Pasal 54 (1) Pemidanaan bertujuan: lain/masyarakat pada umumnya terlindung. Teori Gabungan. Jadi hukumanya lebih ditekankan pada treatment dan pembinaan yang disebut juga dengan model medis. 3. membuat pelaku menderita Upaya prevensi. tidak disakiti. mencegah dilakukanya tindak pidana dengan menegakkan norma hukum demi pengayoman masyarakat. Tujuan lain yang hendak dicapai dapat berupa upaya prevensi. . atau kejahatan lain (prevensi khusus).

Motif dan tujuan melakukan tindak pidana. Kesalahan pembuat tindak pidana.169 170 b. j. e. Pemaafan dari korban dan/atau keluarganya dan /atau. Dalam pasal 55 R-KUHP juga terdapat pedoman pemidanaan yang belum diatur dalam UU kita. Riwayat hidup dan keadaan sosial dan ekonomi pembuat tindak pidana h. Sikap dan tindakan pembuat sesudah melakukan tindak pidana. keadaan pribadi pembuat. atau keadaan pada waktu dilakukan perbuatan atau yang terjadi kemudian. c. Dari aturan diatas dapat dicermati bahwa dalam R-KUHP menganut teori prevensi. k. g. Pandangan masyarakat terhadap tindak pidana yang dilakukan. (2) Rintangan perbuatan. memaafkan terpidana. e. (1) Dalam pemidanaan wajib dipertimbangkan: a. Pengaruh tindak pidana terhadap korban atau keluarga korban. Apakah tindak pidana dilakukan dengan pembuat tindak pidana. Cara melakukan tindak pidana. memasyarakatkan terpidana dengan mengadakan pembinaan sehingga menjadi orang yang baik dan berguna. (2) Pemidanaan tidak dimaksudkan untuk menderitakan dan merendahkan martabat manusia . dapat dijadikan dasar pertimbangan untuk tidak menjatuhkan pidana atau mengenakan tindakan dengan mempertimbangkan segi keadilan dan kemanusiaan. dan mendatangkan rasa damai dalam masyarakat. d. c. Pasal 55. rehabilitasi dan restotaif dalam tujuan pemidanaannya. membebaskan rasa bersalah pada terpidana dan. menyelesaikan konflik yang ditimbulkan oleh f. i. Sikap batin pembuat tindak pidana. . d. Pengaruh pidana terhadap massa depan tindak pidana. memulihkan keseimbangan. Teori prevensi umum tercermin dari tujuan pemidanaan mencegah dilakukannya tindak berencana. b.

Dan restoratif terdapat dalam tujuan pemidanaan yang bertujuan untuk menyelesaikan konflik yang ditimbulkan oleh tindak pidana. Perampasan barang tertentu 3.20/1946) b. Jenis-jenis Hukuman/Pidana Menurut Pasal 10 KUHP : a. pengayoman kepada masyarakat. dan e. Tutupan (UU No. Hukuman Tambahan: (2) Urutan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menentukan berat ringannya pidana Pasal 66 Pidana mati merupakan pidana pokok yang bersifat khusus dan selalu diancamkan secara alternatif. Teori rehabilitasi dan resosialisasi tergambar dari tujuan pemidanaan untuk memasyarakatkan terpidana. pidana penjara. 1/1960. pidana tutupan c. Denda (UU No. dikonversi: dikali 15) 5. pidana kerja sosial. Hukuman Pokok: 1. membebaskan rasa bersalah pada terpidana.171 172 pidana dengan menegakkan norma hukum demi 1. pengumuman keputusan hakim Jenis-jenis Hukuman / Pidana Menurut R-KUHP: Pasal 65 (1) Pidana pokok terdiri atas: a. b. dan mendatangkan rasa damai dalam damai dalam masyarakat. dengan melakukan pembinaan sehingga menjadi orang yang baik dan berguna. memulihkan keseimbangan. pidana pengawasan d. pidana denda. Hukuman mati 2. Kurungan 4. Pasal 67 (1) Pidana tambahan terdiri atas: . Penjara (sementara waktu atau seumur hidup) 3. Pencabutan beberapa hak tertentu 2. dan memaafkan terpidana.

pengumuman putusan hakim. Hukuman mati dijalankan oleh algojo di tiang gantungan tercantum dalam perumusan tindak pidana. Uraian tentang jenis-jenis hukuman menurut KUHP: Hukuman/pidana Mati (diatur dalam pasal 11 jo Pasal 10 KUHP) (ps. b. Diluar KUHP. dan e. pencabutan hak tertentu.173 174 a. (2) Pidana tambahan dapat dijatuhkan bersama-sama dengan pidana pokok. perampasan barang tertentu dan/atau tagihan. sebagai pidana yang berdiri sendiri atau dapat dijatuhkan walaupun tidak hukum yang hidup dalam Tindak Pidana yang diancam dengan hukuman mati : A. c.     Terorisme Narkoba Korupsi Pelanggaran HAM Berat. 2/1964 : ditembak dibagian jantung dan/atau kepala dan tidak dilakukan di muka umum (rahasia. pemenuhan kewajiban adat setempat dan/atau kewajiban menurut masyarakat. . Kejahatan terhadap kemanusiaan dan genosida yang dilakukan secara meluas dan sistematis. tapi berdasarkan Penpres no. baik waktu dan tempat eksekusinya). (3) Pidana tambahan dapat dijatuhkan bersama-sama dengan pidana pokok. Dalam KUHP :      Pembunuhan berencana Kejahatan terhadap keamanan negara Pencurian dengan pemberatan Pemerasan dengan pemberatan Pembajakan di laut dengan pemberatan. pembayaran ganti kerugian. B. d.11 KUHP). sebagai pidana yang berdiri sendiri atau dapat dijatuhkan bersama-sama dengan pidana tambahan lain. (4) Pidana tambahan untuk percobaan dan pembantuan adalah sama dengan pidana tambahan untuk pidan pidananya.

Terhukum hanya melakukan kontak dengan penjaga sel/sipir penjara. Jika berkelakuan baik. di indonesia disebut sabagai Lembaga Pemasyarakatan (LP/lapas). AS : para hukuman terus menerus ditutup sendiri-sendiri dalam satu kamar sel. malam hari kembali ke sel. Dilakukan peringatan: Eksekusi baru dapat dilakukan jika orang gila itu sembuh dan wanita tersebut telah melahirkan. tapi ia tetap dilarang bergaul dengan terhukum lain Sistem Auburn. Untuk pemulihan kembali hubungan antara narapidana dan masyarakat.12/1995). menurut Utrecht :  Sistem Pennsylvania. Hukuman/Pidana Penjara (Menurut pasal-pasal dalam KUHP dan UU No. 12/1995 tentang Pemasyarakatan) Pasal 12 KUHP:  Hukuman penjara lamanya seumur hidup atau sementara/pidana penjara dilakukan dalam jangka waktu tertentu (min 1 hari-selama-lamanya 15 tahun atau dapat dijatuhkan selama 20 thn.175 176 Hukuman mati tidak dapat dijatuhkan pada anak. pidana mati tidak dapat dilakukan pada orang yang setelah dihukum menjadi gila dan wanita hamil. (inmates): Penghuninya Warga disebut Binaan  terhukum diperkenankan melakukan pekerjaan tangan dan secara terbatas dapat menerima tamu. Sistem Irlandia (Irish System) yang berasal dr mark system. tapi tidak boleh lebih dari 20 thn). dalam hal ini diterapkan hukum yang keras. maka hukumannya narapaidana/napi Pemasyarakatan (berdasarkan UU No. Terhukum diberikan waktu untuk merenung. disebut juga sebagai silent system. menggunakan penilaian. Kalau dibiarkan bergaul dengan napi lain dikhawatirkan bisa saja menjadi bertambah jahat. di mana para hukuman pada siang hari disuruh bekerja bersama-sama tapi tidak boleh saling bicara. menyesali perbuatannya dan diharapkan ia dapat memperbaiki diri. AS. Pembagian Sistem Penjara – gevangenisstelsel. Pidana penjara dilakukan di penjara (prison/jail). Para hukuman mula-mula ditempatkan dalam ruang tertutup terus menerus. New York. .

Mirip dengan sistem Irlandia namun titik berat lebih pada usaha-usaha untuk memperbaiki si pelaku. dan ticket to leave. Jika melakukan pelanggaran berat atau berkelakuan tidak baik ataupun melanggar aturan maka dimasukkan dalam sel sendirian. bersihkan kolam. disebut juga dengan tutupan sunyi. jadi terpidana diberikan pengajaran. Seperti LP Pemuda dan LP Anak laki-laki di Tangerang. kerja di bengkel LP untuk buat penerapannya ada ketentuan khusus dari Menteri Kehakiman (Minister of justice). menjahit. pendidikan dan pekerjaan yang nantinya bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat. AS). bersyarat).  Sistem Borstal (LONDON. Khusus untuk pelaku yang masih muda yaitu mereka yang berusia kurang dari 19 th. publik work prison. menyulam. Disebut sebagai penjara reformatory yakni tempat untuk memperbaiki orang menjadi warga masyarakat yang berguna. lalu secara bertahap diberi kelonggaran untuk bergaul satu sama lain. Banten. Minimum security/maximum security/Super Maximum Security (SMS) Napi pada umumnya boleh keluar dari sel pada pagi dan/atau siang hari.US). Boleh belajar/sekolah dlm LP. Kemudian diperkenankan kerja sama-sama. merangkai bunga dsb. . Pelepasan bersyarat dapat dilakukan jika telah menjalani dari ¾ hukumannya. masak di dapur. sore masuk sel sampai besok pagi. kerajinan/furniture. UK). Boleh bekerja di luar sel secara bersama-sama = kerja di kebon/taman. Memilih ‘BOS’ – mandor dr kalangan napi sendiri untuk mengatur napi : Tamping/building tender. Dalam    Di Indonesia diterapkan ke 5 nya :  Beberapa hukuman dimasukkan dalam satu sel atau 1 orang/1 sel. boleh membaca. dengar radio/nonton TV olah raga dsb. diperuntukan bagi terhukum yang berusia tidak lebih dari 30 thn. Ada jadwal kegiatannya.  Sistem Elmira (NY.177 178 diperingan : mulai dimasyarakatkan dan dapat diberikan the rise of feformatory (pelepasan  Sistem Osborne (NY.

menempuh hukumannya (pasal 15 KUHP). Untuk hukuman ini terdapat 1 yurisprudensi di Jogja.179 180 Antara warga binaan boleh saling berinteraksi sesuai dengan jam yang telah ditentukan. tapi lebih bebas. .20/1946) Pidana yang dijatuhkan oleh Hakim dengan reclassering).  Dapat diberikan jika pelepasan telah bersyarat 2/3 PBdr Dengan adanya pidana denda seringkali penerapan Hukum Pidana menjadi kabur karena pidana denda dianggap bukan pidana karena pelaku tadi ada di LP. 1/1960) mempertimbangkan bahwa perbuatan yang dilakukan didasari oleh suatu motivasi di yang penjara.  Meskipun hukuman penjara dilakukan bersamasama tapi tetap ada pemisahan mutlak :  Laki-laki dan perempuan  Orang dewasa dan anak di bawah umur  Orang yang dihukum/ditahan – orang yang dihukum karena upaya preventif  Orang militer dan orang sipil Pidana kurungan Dilaksanakan di penjara. Selain itu terdapat juga ketentuan tentang pidana percobaan seperti yang diatur dalam Pasal 14a KUHP. patut namun dihormati/dihargai. ada hak pistole yaitu tersedia fasilitas yang lebih dari terpidana penjara. Pidana Tutupan (UU No. Pidana Denda (Pasal 30 ayat (1) KUHP dan UU No. Tempatnya diberikan fasilitas yang lebih baik karena terpidana boleh membawa dan menikmati buku bacaan dan radio/tape.

Redaksi pasal ini jelas tidak merupakan suatu definisi.181 182 BAB X PERCOBAAN (POGING. sedangkan percobaan terhadap pelanggaran tidak dipidana sebagimana ditentukan dalam pasal 54 KUHP. Oleh karena itu percobaan pun terlalu rendah dari KUHP. Pada pasal 54 KUHP memperlihatkan adanya pemikiran dari para perumusnya bahwa delik pelanggaran bersifat lebih ringan dari pada kejahatan. Percobaan yang dapat dipidana menurut system KUHP bukanlah percobaan terhadap I. yaitu pasal 53 (1) yang menyatakan : “Mencoba melakukan kejahatan dipidana. PENGERTIAN Di dalam bab IX buku I KUHP (tentang arti beberapa istilah yang dipakai dalam kitab undang-undang). tidak dijumpai rumusan arti atau definisi mengenai apa yang dimaksud dengan istilah “percobaan”. tetapi hanya merumuskan syaratsyarat atau unsur-unsur yang menjadi batas misalnya : Percobaan duel / perkelahian tanding (pasal 184 ayat 5). jika niat untuk itu telah ternyata dari adanya permulaan pelaksanaan. . bukan semata-mata disebabkan karena kehendaknya sendiri”. Yang dapat dipidana hanyalah percobaan terhadap tindak pidana yang berupa “kejahatan” saja. dan tidak selesainya pelaksanaan itu. ATTEMPT) antara percobaan yang dapat dipidana dan yang tidak dapat dipidana. batasan KUHP hanya kapan semua jenis tindak pidana. Disamping itu perlu dicatat bahwa ketentuan umum dalam pasal 53 (1) diatas tidak berarti bahwa percobaan terhadap semua kejahatan dapat  dipidana. Pengecualian tersebut merumuskan mengenai dikatakan adanya percobaan untuk melakukan kejahatan yang dapat dipidana.

dan Porf. II. bukan memperluas . Jadi merupakan delik tersendiri (delictum sui generis). Termasuk pandangan pertama ini ialah : Prof. memenuhi semua unsur delik. Percobaan penganiayaan biasa (pasal 351 ayat 5). tetapi merupakan delik yang sempurna hanya dalam bentuk yang khusus/istimewa. dekictsvorm). Strafausdehnungsgrund (dasar/alasan perluasan pertanggungjawaban pidana). Ny. seseorang yang melakukan percobaan untuk melakukan suatu tindak pidana meskipin tidak Menurut melakukan pandangan sesuatu ini. Percobaan bukanlah bentuk delik yang tidak sempurna. tetap dapat dipidana apabila telah memenuhi rumusan pasal 53 KUHP. Percobaan penganiayaan ringan (pasal 352 ayat 2). SIFAT LEMBAGA PERCOBAAN Apakah percobaan itu merupakan suatu bentuk delik khusus yang berdiri sendiri ataukah hanya merupakan suatu delik yang tidak sempurna? Mengenai sifat dari percobaan ini terdapat dua pandangan : (1). percobaan pidana tindak merupakan satu kesatuan yang bulat dan lengkap.183 184    Percobaan penganiayaan ringan rumusan-rumusan delik. Percobaan dipandang sebagai (2). Hazewinkel-Suringa Seno Adji. Menurut pandangan ini. Oemar Percobaan dipandang sebagai Tatbestandausdehnungsgrund (perluasan delik). Dengan demikian menurut pandangan ini. percobaan tidak dipandang sebagai jenis atau bentuk delik yang tersendiri (delictum sui generis) tetapi dipandang sebagai bentuk delik yang tidak sempurna (onvolkomen dalam terhadap hewan (pasal 302 ayat 4). Jadi sifat percobaan adalah untuk memperluas dapat dipidananya orang.

walaupun pelaksanaan dari perbuatan itu sebenarnya Alasan Prof. sendiri dan merupakan delik selesai. Moelyatno. jadi pandangan sebagai delik yang berdiri sendiri. c. ialah : a. b. d. Dalam hukum adat tidak dikenal percobaan sebagai bentuk delik yang tidak sempurna (onvolkomen delictsvorm). jadi baru percobaan sebagai delik tersendiri. Pada dasarnya seseorang itu dipidana suatu delik. delik-delik maker (aanslagdelicten) dalam pasal 104. Dalam konsep “perbuatan karena melakukan merupakan Misalnya percobaan. keselamatan masyarakat. dapat pula misalnya dikemukakan contoh adanya pasal 163 bis. Mulyatno berpendapat bahwa pandangan pertama sesuai dengan alam atau masyarakat individual karena yang diutamakan adalah strafbaarheid van de person (sifat yang . Pompe dan Prof. Moelyatno memasukkan belum selesai. Dalam KUHP ada beberapa perbuatan sebagai yang delik dipandang berdiri Mengenai adanya dua pandangan tersebut diatas.185 186 Termasuk dalam pandangan kedua ini ialah Prof. Prof. dan 107 KUHP. Menurut pasal ini percobaan untuk melakukan penganjuran (poging tot uitloking) atau yang biasa juga disebut penganjuran yang gagal (mislukte uit-lokking) tetap dapat dipidana. pidana” (pandangan dualistis) ukuran suatu delik didasarkan pada pokok pikiran adanya sifat berbahayanya sendiri bagi perbuatan itu Mengenai contoh yang dikemukakan Prof Moelyatno terakhir ini. yang ada hanya delik selesai. 106.

dasar patut dipidananya percobaan terletak pada sikap batin atau watak yang berbahaya dari si pembuat. UNSUR-UNSUR PERCOBAAN Dari rumusan pasal 53 (1) KUHP diatas jelas terlihat bahwa unsur-unsur percobaan ialah : IV. mereka nampaknya lebih cendrung pada teori subyektif. . Termasuk penganut teori ini ialah Van Hamel. apabila dipakai secara murni akan membawa kepada ketidak adilan. dasar patut dipidananya percobaan terletak pada sifat berbahayanya perbuatan yang dilakukan oleh si pembuat.a. 2. Penganut teori ini antara lain Simons. Dengan demikian menurut beliau. Teori Obyektif Menurut teori ini.187 188 dipidananya orang). Teori Subyektif Menurut teori ini. yaitu : sikap batin pembuat yang berbahaya (segi subyektif) dan juga sifat berbahayanya perbuatan (segi obyektif). Menurut beliau rumusan delik percobaan dalam pasal 53 KUHP mengandung dua inti yaitu : yang subyektif (niat untuk melakukan kejahatan tertentu) dan yang obyektif (kejahatan tersebut telah mulai dilaksanakan tetapi tidak selesai). Teori obyektif-formil. yaitu : 2. Moelyatno dapat dikategorikan sebagai penganut teori campuran. Prof. III. Teori Campuran. dalam percobaan tidak mungkin dipilih salah satu diantara teori obyektif dan teori subyektif karena jika demikian berarti menyalahi dua inti dari delik percobaan itu. 3. Namun karena dalam kenyataanya. pelaksanaan dari teori ini tidak mudah. Teori ini melihat dasar patut dipidananya percobaan dari dua segi. ukurannya harus mencakup dua criteria tersebut (subyektif dan obyektif). DASAR PATUT DIPIDANANYA PERCOBAAN Mengenai dasar pemidanaan terhadap percobaan ini. terdapat beberapa teori sbb: 1. 2. Niat. Termasuk dalam teori ini ialah pendapat Langemeyer dan Jonkers.b. Yang menitik beratkan sifat berbahayanya perbuatan itu terhadap kepentingan / benda hukum.1. Teori ini terbagi dua. IV. Teori obyektif-materiil. Yang menitik beratkan sifat berbahayanya perbuatan itu terhadap tata hukum. sedangkan pandangan yang kedua sesuai kita dengan alam atau yang masyarakat sekarang karena diutamakan adalah perbuatan yang tak boleh dilakukan. Di samping itu beliau mengatakan bahwa baik teori subyektif maupun obyektif.

tetapi niat secara potensiil dapat berubah menjadi kesenjangan apabila sudah ditunaikan menjadi perbuatan yang dituju.189 190 Kebanyakan para sarjana berpendapat bahwa unsur niat sama dengan sengaja dalam segala tingkatan/coraknya. Dalam hal ini. dalam hal semua perbuatan yang diperlukan untuk kejahatan telah dilakukan. 2. yaitu subjectieve onrechtselement. Misal : A bermaksud membunuh B dengan pistol. sama kalau mengahadapi delik selesai. Dikatakan ada “percobaan selesai” apabila terdakwa telah melakukan semua perbuatan yang diperlukan untuk terjadinya kejahatan. Tetapi apabila dalam contoh diatas. disitu niat 100% menjadi kesengajaan. Menurut Moelyatno. maka isinya niat jangan diambilkan dari isinya kesengajaan apabila kejahatan timbul. dalam hal ini maka niat yang belum diwujudkan sebagai perbuatan (belum ditunaikan keluar) . Dari delik percobaan dapat mempunyai dua arti : 1. Niat jangan disamakan dengan kesenjangan. Picu (trekker) pistol telah ditarik. Dalam hal percobaan tertunda (percobaan terhenti atau tidak lengkap/geschorste poging/incompleted attempt). tetapi akibat yang terlarang tidak terjadi. Moelyatno terhadap unsur niat : a. untuk ini diperlukan pembuktian tersendiri bahwa isi yang tertentu tadi sudah ada sejak niat belum ditunakan jadi perbuatan. menurut Moelyatno. niat sama dengan kesengajaan. Dalam hal percobaan selesai (percobaan lengkap/voltoo-ide poging/completed attempt). c. perbuatan yang diperlukan untuk terjadinya kejahatan belum dilakukan (misal : picu belum ditarik) sehingga akibat yang terlarang juga belum ada maka dalam hal demikian dikatakan ada “percobaan tidak selesai/tertunda”. Catatan Prof. Tetapi kalau belum semua ditunaikan menjadi perbuatan maka niat masih ada dan merupakan sikap batin yang membari arah kepada perbuatan. niat hanya merupakan unsur sifat melawan hukum yang subyektif (subyektif onrechtselement). tetapi akibat yang dilarang tidak timbul (percobaan selesai/voltooidc poging). b. niat sudah berubah menjadi kesengajaan karena telah diwujudkan dalam bentuk perbuatan. tetapi ternyata pistol tersebut tidak meletus atau tembakan tidak mengenai sasaran. Oleh karena itu niat tidak sama dan tidak bisa disamakan dengan kesengajaan.

ia mematikan lampu teras. Dalam hal niat telah berubah menjadi kesengajaan. Ada permulaan pelaksanaan. b. IV. Prof. melepas kaca jendela dan baru saja A masuk rumah lewat jendela itu ia tertangkap. merupakan persoalan pokok dalam percobaan yang cukup sulit karena baik secara teori maupun praktek selalu dipersoalkan batas antara perbuatan persiapan (voorbereidingshandeling) dan perbuatan pelaksanaan (uitvoeringshandeling). perbuatan pelaksanaan ada apabila telah dimulai perbuatan yang disebut dalam rumusan delik. Bertolak dari pandangan atau teori percobaan yang subyektif. Pada delik formil.2. Bertolak dari pandangan atau teori percobaan yang obyektif materiil.191 192 masih tetap menjadi niat yaitu baru merupakan sikap batin yang mengarah kepada suatu perbuatan yang melawan hukum. A telah mempersipkan segala sesuatu peralatan untuk mencuri. Sesampainya di rumah B. Jadi yang dipentingkan atau yang dijadikan ukuran oleh VAN HAMEL ialah ternyata adanya sikap batin yang jahat dan berbahaya dari si pembuat. Pada delik materiil. VAN HAMEL berpendapat bahwa dikatakan ada perbuatan pelaksanaan apabila dilihat dari perbuatan yang telah dilakukan telah ternyata adanya kepastian niat untuk melakukan kejahatan. perbuatan pelaksanaan ada pabila telah dimulai/dilakukan perbuatan yang menurut sifatnya langsung dapat menimbulkan akibat yang dilarang oleh undang-undang tanpa mensyaratkan adanya perbuatan lain. Unsur kedua ini. SIMIONS berpendapat sbb : a. maka dalam hal ini dikatakan sudah ada . Moelyatno setuju dengan pendapat yang luas bahwa hal itu meliputi juga kesenjangan sebagai keinsyafan kemungkinan. Contoh untuk delik formil : A bermaksud melakukan pencurian dirumah B untuk melaksanakan aksinya. Apabila digunakan ukuran Van Hamel. Dalam memecahkan masalah ini para sarjana menghubungkannya dengan teori atau dasar-dasar patut dipidananya percobaan. Ukuran demikian menurut VAN HAMEL sesuai dengan ajaran hukum pidana yang lebih baru yang bertujuan memberantas kejahatan sampai ke akar-akarnya. kemudian pada malam hari ia mendatangi rumah B.

193

194

perbuatan pelaksanaan, tetapi menurut ukuran Simons baru merupakan perbuatan persiapan, karena belum mulai melakukan perbuatan seperti yang disebut dalam rumusan delik (pencurian : pasal 362 KUHP) yaitu “ mengambil barang “. Apabila A sudah mengambil barang dan pada saat itu ketahuan dan tertangkap, barulah dikatakan pada saat itu A telah melakukan perbuatan pelaksanaan yang oleh karenanya dapat dituntut telah melakukan percobaan pencurian. Contoh untuk delik materiil : A bermaksud membunuh B dengan meledakkan mobil yang dikendarainya dengan dinamit di suatu tempat yang dilalui B. A telah mempersiapkan dinamit dengan segala peralatan yang diperlukan dengan rapid an menunggu di samping saklar sampai B lewat ditempat itu. Apabila pada saat menunggu itu, gerak gerik A dicurigai dan akhirnya ditangkap, maka menurut ukuran Simons perbuatan A belum merupakan perbuatan pelaksanaan tetapi baru perbuatan persiapan, karena untuk meledakkan dinamit itu masih diperlukan perbuatan lain yaitu mengotakkan/menekan saklarnya.

Dalam menentukan adanya permulaan/perbuatan pelaksanaan dalam delik percobaan Prof Moelyatno berpendapat bahwa ada dua factor yang harus diperhatikan, yaitu : 1. Sifat atau inti dari delik percobaan, dan 2. Sifat atau inti dari delik pada umumnya Mengingat kedua factor tersebut, maka menurut beliau perbuatan pelaksanaan harus memenuhi 3 syarat yaitu : i. Secara Obyektif, apa yang telah dilakukan terdakwa harus mendekatkan kepada delik/kejahatn yang dituju atau dengan kata lain, harus mengandung potensi untuk mewujudkan delik tersebut; ii. Secara Subyektif, dipandang dari sudut niat, harus tidak ada keraguan lagi bahwa yang telah dilakukan oleh terdakwa itu ditujukan atau diarahkan pada delik/kejahatan yang tertentu tadi; iii. Bahwa apa yang telah dilakukan oleh terdakwa itu merupakan perbuatan yang bersifat melawan hukum.

V. PERCOBAAN DALAM YURISPRUDENSI

BEBERAPA

Yurispridensi yang terkenal ialah Arrest HR tahun 1934 tentang Eindhoven.

195

196

Kasus Posisi : H dituduh hendak membakar rumah R (dengan persetujuan R). Pada malam yang telah ditentukan H masuk kerumah R, menaruh pakaian dan barang-barang yang mudah terbakar di tiap kamar, yang semuanya dihubungkan satu sama lain dengan sumbu yang akhirnya dihubungkan pada kompor gas yang mengeluarkan api jika ditembakkan. Trekker (penarik pintol gas) diikatkan dengan tali dan melalui jendela, ujungnya digantungkan di luar rumah yang terletak di pinggir jalan kecil. Pakaianpakaian itu disiram bensin dan jika orang berjalan di tepi jalan menarik talinya maka pistol gas mengeluarkan api dan menyalakan kompor gas dan selanjutnya akan merata keseluruh rumah. Setelah pemasangan pistol dan tali itu selesai, H menyingkirkan benda-benda ke tempat lain. Sementara itu, karena tertarik bau bensin banyak orang berpendapat di dekat tali itu, sehingga H tak mugkin menyelesaikan maksudnya. Terhadap kasus tersebut peradilan (gerechtshop) di Her-togenbosch menyatakan bahwa perbuatan H adalah perbuatan permulaan pelaksanaan dan dijatuhi pidana 4 tahun penjara karena melanggar pasal 53 jo 187 KUHP. H mengajukan kasasi dengan alasan bahwa Hof telah salah menafsirkan pasal 53 KUHP dan mengatakan bahwa apa yang dilakukannya baru merupakan perbuatan persiapan. Jaksa Agung

Muda BEISER menyimpulkan bahwa perbuatan H baru merupakan perbuatan persiapan karena belum nyata-nyata merupakan pelaksanaan untuk melakukan pembakaran. Senada dengan konklusi Beiser, HOGE RAAD berpendapat bahwa perbuatan H baru merupakan perbuatan persiapan, karena belum merupakan perbuatan yang sangat diperlukan untuk pembakaran yang telah diniatkan, ialah yang tidak dapat tidak menuju kearah dan langsung berhubungan dengan kejahatan yang dituju dan juga menurut pengalaman nyata-nyata menuju pembakaran, tanpa sesuatu perbuatan lain dari si pembuat. Atas dasar alasan ini HR membatalkan putusan Hof dan H dilepaskan dari segala tuntutan. Apabila kasus dan putusan pengadilan di atas dihubungkan pendapat para Sarjana yang telah dikemukakan di atas, maka terlihat bahwa : - Konklusi Beiser dan terutama pendapat HR, lebih cocok dengan teori atau pendapat Simons (Teori Obyektif Materiil); - Putusan Hof, lebih sesuai dengan teori atau pendapat Duynstee (Teori Obyetif Formil) Terhadap putusan HR tersebut, DUYNSTEE sendiri menulis bahwa menurut pendapatnya terdakwa H telah mulai dengan perbuatan pelaksanaan pembakaran. Alasan yang dikemukakannya ialah :

197

198

a. Semua perbuatan terdakwa (H) saling berhubungan dan memenuhi rumusan delik; b. Jika HR menganggap perbuatan pelaksanaan yaitu perbuatan yang menimbulkan kejahatan (akibat) tanpa adanya perbuatan lain, berarti jika tiap perbuatan pelaksanaan akan menimbulkan akibat terlarang, maka perbuatan pelaksanaan hanya ada percobaan lengkap saja, ini tidak tepat karena di dalam teori dikenal juga adanya percobaan yang tidak lengkap. Mengenai kasus diatas, Prof. Moelyatno mengemukakan pendapatnya sbb : “Kalau perkara pembakaran di Eindhoven ditinjau dengan ukuran yang saya sarankan, maka mengenai syarat pertama tidak perlu diragukan adanya. Secara potensiil apa yang telah dilakukan terdakwa mendekatkan kepada kejahatan yang dituju. Juga mengenai syarat yang kedua yaitu bahwa yang dituju itu menimbulkan kebakaran, telah wajar. Tinggal syarat yang ketiga, yaitu apakah yang telah dilakukan itu sudah bersifat melawan hukum ? Kalau diingat bahwa rumah itu di diami orang lain di waktu orangnya tidak ada, hemat saya adalah perbuatan yang melanggar hukum. Jadi karena tiga-tiganya syarat sudah dipenuhi, hemat saya putusan yang yang diberikan

oleh Hof’s Hertogenbosch adalah tepat. Terdakwa telah melakukan delik percobaan pembakaran seperti yang ditentukan dalam pasal 53 juncto pasal 187 KUHP”. IV.3. Pelaksanaan tidak selesai bukan sematamata karena kehendak pelaku sendiri. Tidak selesainya pelaksanaan kejahatan yang dituju bukankarena kehendak sendiri, dapat terjadi dalam hal-hal sbb : a. Adanya penghalang fisik; Misal : tidak matinya orang yang ditembak, karena tangannya disentakkan orang sehingga tembakan menyimpang atau pistol terlepas. Termasuk dalam pengertian penghalang fisik ini ialah apabila adanya kerusakan pada alat yang digunakan (misal : pelurunya macet / tidak meletus, bom waktu yang jamnya rusak). b. Walaupun tidak ada penghalang fisik, tetapi tidak selesainya itu disebabkan karena akan adanya penghalang fisik. Misal : takut segera ditangkap karena gerak geriknya untuk mencuri telah diketahui oleh orang lain. c. Adanya penghalang yang disebabkan oleh factor-faktor / keadaan-keadaan

tetapi setelah diminumnya. maka ada pendapat bahwa unsur ketiga ini merupakan :  Alasan pengahpus pidana yang diformulir sebagai unsur (Pompe). tetapi dengan sukarela menghalau timbulnya akibat mutlak delik tersebut. Seno Adji).199 200 khusus pada obyek yang menjadi sasaran. ia segera memberikan obat penawar racun sehingga si korban tidak jadi meninggal. Misal : daya tahan orang yang ditembak cukup kuat sehingga tidak mati atau yang tertembak bagian yang tidak membahayakan.v. Dengan adanya penjelasan MvT tersebut. bahwa usaha yang paling tepat (efektif) untuk mencegah timbulnya kejahatan ialah menjamin tidak dipidananya orang yang telah mulai melakukan kejahatan tetapi kemudian dengan sukarela mengurungkan pelaksanaannya.T maksud dicantumkannya unsur ke-3 ini dalam pasal 53 KUHP ialah :  Untuk menjamin supaya orang yang dengan kehendaknya sendiri secara sukarela mengrungkan kejahatan yang telah dimulai tetapi belum terlaksana. maka dalam hal ini dikatakan ada pengunduran diri sukarela.  Alasan pemaaf (van Hattum.  Pertimbangan dari segi kemanfaatan (utilitas). barang yang kan dicuri terlalu berat walaupun si pencuri telah berusaha mengangkatnya sekuat tenaga. ia masih dapat meneruskannya. Tidak selesainya perbuatan karena kehendak sendiri.  Tindakan penyesalan (Tatiger Reue) yaitu meskipun perbuatan pelaksanaan sudah diselesaikan. Dalam hal tidak selesainya perbuatan itu karena kehendak sendiri. apabila menurut pandangan terdakwa. secara teori dapat dibedakan antara :  Pengunduran diri secara sukarela (Rucktritt) yaitu tidak menyelesaikan perbuatan pelaksanaan yang diperlukan untuk delik yang bersangkutan. tetapi ia tidak mau meneruskannya. tidak dipidana. Misal : Orang member racun pada minuman si korban. . maka menurut M. Sehubungan dengan masalah pengunduran diri sukarela ini. sering dirumuskan bahwa ada pengnduran diri sukarela.

Mengenai konsekwensi adanya unsur ke-3 dalam perumusan pasal 53 KUHP ini. sebab perbuatannya tetap tidak baik (yang baik adalah tidak mencoba sama sekali) sehingga tidak ada alasan untuk memaafkan ataupun membenarkan. untuk ditengah-tengah mengundurkan diri secara sukarela. maka saksi tersebut mencabut kembali keterangan palsunya itu. tetapi tidak dituntutnya itu karena dipandang lebuh berguna bagi masyarakat. Apakah saksi dapat dipidana karena percobaan sumpah palsu? HR dalam putusannya berpendapat bahwa saksi itu tidak dapat dipidana melakukan . Ini berarti apabila ada pengunduran diri secara sukarela. Prof. Jadi ada pertimbangan utilitas. Setelah Jaksa dan Hakim memperingatkan bahwa ia akan dituntut sumpah palsu. Moelyatno). Dengan perkataan lain. ada dua pendapat : a. Walaupun Prof. Mempunyai konsekuensi materiil Artinya unsur ketiga ini merupakan unsur yang melekat pada percobaan. tidak ada fait d’excuxe karena sifat tak baik perbuatan maupun kesalahn tetap ada.201 202  Alasan pengahpusan penuntutan (Vos. diberi stimulans bagi orang-orang lain yang mempunyai niat melakukan kejahatan. untuk adanya percobaan unsur ke-3 ini (tidak selesainya pelaksanaan perbuatan bukan karena kehendak sendiri) harus ada. Moelyatno tidak setuju dengan pendapat yang menyatakan unsur ke-3 ini sebagai alasan pemaaf (fait d’ex-cuse) maupun sebagai alasan pengahpus pidana. jadi bersifat accessoir (tidak berdiri sendiri). Pendapat serupa ini terlihat dalam putusan Hoge Raad tanggal 17 Juni 1889 tentang kasus sumpah palsu. seprti halnya dirumuskan pada pasal 367 (1) KUHP (pencurian antara suami-istri). Moelyatno memandang unsur ke-3 ini sebagai alasan penghapusan penuntutan. maka tidak ada percobaan. namun beliau tidak berkeberatan untuk menuntut orang yang secara sukarela telah mengurngkan niatnya itu apabila telah menimbulkan kerugian. Pertimbangan utilitas lain dikemukakan beliau ialah untuk menghemat tenaga dan biaya. Menurut beliau dengan tidak dituntutnya terdakwa. Dalam kasus ini ada tanda-tanda bahwa saksi yang dihadapkan ke persidangan diatas sumpah telah meberikan keterangan yang bertentangan dengan kenyataan (kesaksian palsu). dan pidananya dikurangi menurut kebijaksanaan Hakim. Dalam pengunduran sukarela (dan tindakan penyesalan/Tatiger Reue).

Pembeda antara percobaan mampu dan tidak mampu ini sebenarnya hanya pada mereka yang menganut teori percobaan yang obyektif. VI. Tidak selesainya delik atau tidak timbulnya akibat terlarang itu dapat disebabkan karena tidak mempunyai obyek (misal : mencoba menggugurkan bayi yang ternyata tidak hamil. Mempunyai konsekwensi formil (dibidang processuil) Artinya unsur ke-3 itu dicantumkan dalam pasal 153 maka unsur tersebut harus disebutkan didalam surat tuduhan dan dibuktikan. mencoba membunuh orang yang sudah mati. Menurut pendapat ini. sedangkan sipenganjur tetap dapat dipidana karena telah menganjurkan suatu perbuatan yang terlarang. b. Jadi pendapat kedua ini membedakan antara perbuatan yang dapat dipidana (criminal act) dan pertanggung jawaban pidana (criminal responsibility). Begitu pula si penganjur tidak dapat dipidana karena adanya pengunduran diri itu perbuatannya (saksi) tidak merupakan perbuatan terlarang. jadi tidak bersifat accessoir. PERCOBAAN MAMPU DAN TIDAK MAMPU Masalah percobaan mampu dan tidak mampu ini timbul sehubungan dengan telah dilakukannya perbuatan pelaksanaan tetapi delik yang dituju tidak selesai atau akibat yang terlarang menurut undang-undang tidak timbul. dsb) atau karena tidak mempunyai alat yang digunakan ( misal : mencoba membunuh orang dengan gula yang dikiranya racun). Jadi dalam kasus yang dikemukakan diatas. Dengan perkataan lain. unsur ke-3 ini tidak merupakan unsur yang melekat pada percobaan. meskipun ada pengunduran diri secara sukarela. ia merupakan unsur yang berdiri sendiri.203 204 percobaan sumpah palsu karena dalam hal ini ada pengunduran diri secara sukarela. Para penganut teori yang subyektif tidak mengenal pembedaan tersebut. mencuri uang dari sebuah peti uang yang ternyata kosong. Dalam kasus diatas si pembuat (saksi) tidak dipidana karena (menurut HR) disitu ada pengunduran diri secara sukarela. karena hanya menitik beratkan pada sifat bahayanya perbuatan. karena lebih . perbuatannya tetap dipandang sebagai perbuatan terlarang dan soal dipidana tidaknya si pembuat maupun si penganjur adalah masalah pertanggunganjawab. walaupun unsur ini tidak ada (yaitu karena adanya pengunduran diri secara sukarela) maka percobaan tetap dipandang ada.

Apabila dilihat sebagai jenis tersendiri.Keadaan tertentu dari alat pada waktu si pembuat melakukan perbuatan . Ukuran yang dikemukakan M.v.T itu ternyata tidak mudah : a.T diatas terlihat bahwa ketidakmampuan relative dapat dilihat dari dua segi : . Jika untuk terwujudnya kejahatan tertentu tersebut diperlukan adanya obyek. maka alat yang pada umumnya mampu untuk membunuh (misal warangan) dapat menjadi alat yang tidak mampu apabila jumlahnya tidak memenuhi dosis yang cukup mematikan (untuk arsenicum 5 mg). tetapi dapat menjadi alat yang .V.T membedakan antara :  Tidak mampu mutlak. Dari apa yang dikemukakan M. M. . Mengenai percobaan yang tidak mampu karena obyeknya. Dalam hal ini mungkin ada delik percobaan.T mengemukakan : “Syarat-syarat umum percobaan menurut pasal 53 KUHP ialah syarat-syarat percobaan untuk melakukan kejahatan yang tertentu didalam buku II KUHP. . Jadi menurut M. dapat dilihat secara abstrak untuk rata-rata orang dan dapat dilihat dari keadaan konkrit tertentu. yaitu bila dengan alat itu tidak ditimbulkan delik selesai karena justru hal ikhwal yang tertentu dalam mana si pembuat melakukan perbuatan atau justru karena keadaan tertentu dalam mana orang yang dituju itu berada.205 206 menitik beratkan pada sifat berbahayanya sikap batin atau watak si pembuat. dalam hal ini tidak mungkin ada delik percobaan.  Tidak mampu relative.v.T tidak mungkin ada percobaan pada obyek yang tidak mampu.v. yang ada hanya percobaan yang tidak mampu pada alatnya saja. Alat itu dapat dilihat sebagai jenis tersendiri dan dapat dilihat dari keadaan konkritnya : . b. yaitu bila dengan alat itu tidak pernah mungkin timbul delik selesai.v. Mengenai percobaan yang tidak mampu karena alatnya. sedangkan warangan (arsenicum) adalah mampu. maka juga tidak ada percobaan”. Kalau tidak ada obyeknya. maka gula adalah alat yang tidak mampu digunakan untuk membunuh. M.Gula adalah alat yang tidak mampu digunakan untuk membunuh orang pada umunya. maka percobaan melakukan kejahatan itupun harus ada obyeknya.Keadaan tertentu dari orang yang dituju. Begitu pula orang yang dituju.Apabila dilihat dari keadaan konkritnya.

maka para sarjana berusaha memberikan batas atau ukuran antara percobaan yang mampu dan tidak mampu. Sehubungan dengan tidak jelas dan tidak mudahnya ukuran yang diberikan oleh M. apabila perbuatan yang menggunakan alat yang tertentu itu dapat membahayakan benda hukum. dengan alat tersebut tidaklah akan ditimbulkan delik maka dalam hal demikian tidak ada percobaan yang mampu.207 208 mampu mematikan untuk orang yang berpenyakit diabetes. Ukuran atau batas percobaan mampu dan tidak mampu yang dikemukakan oleh para sarjana itu adalah sbb : 1. Tidak perlu bahwa bahaya itu harus nyatanyata ada dalam keadaan khusus dimana perbuatan itu dilakukan. Jika menurut keadaan normal.T itu. . maka banyak sarjana yang menyatakan bahwa batas antara absolute dan relative itu tergantung dari kehendak orang yang menggunakan (willekeurig).Warangan yang memenuhi dosis 5 mg. Berdasarkan hal-hal diatas. SIMONS Ada percobaan yang mampu. Karena pada hakekatnya masalah percobaan mampu dan tidak mampu ini dalah masalah hubungan kausal yang ada dalam lapangan obyeltif. Pompe. tetapi dapat juga dikatakan bahwa pistol adalah alat yang mampu untuk membunuh. Ukuran-ukuran kausalitas yang digunakan adalah teori generalisasi (adekuat) yang melihat secara ante factum (sebelum peristiwa/akibat) karena memang dalam hal percobaan. maka banyak sarjana (misal Simons. Sebaliknya . merupakan alat yang mampu untuk membunuh. namun dalam hal tertentu bersifat relative karena tidak ada pelurunya. Orang dapat mengatakan bahwa pistol yang demikian adalah alat yang absolut tidak mampu. Misal : percobaan pembunuhan dengan pistol yang tidak berpeluru. akibat yang merupakan delik yang dituju justru belum terjadi.v. tergantung dari cara berpikir seseorang mengenai sesuatu hal. Van Hattum) yang berusaha menentukan garis pembatas tersebut dengan menggunakan ukuran-ukuran dalam hubungan kausal. jadi tidak menggunakan teori individualisasi yang melihat sesudah terjadinya akibat (post factum). tetapi untuk orang yang sudah biasa warangan sejumlah itu tidak merupakan alat yang mematikan.

maka persangkaan bahwa alat itu tidak berbahaya akan lenyap dengan diajukan bukti-bukti sebaliknya. Dalam menggunakan hubungankausal yang adekuat itu. Dalam memformulir perbuatan terdakwa secara adekuat kausal itu. POMPE Ada percobaan mampu. . van Hattum seperti halnya Simons dan Pompe jelas-jelas menggunakan hubungan kausal yang adekuat. kedalam makanan orang lain. 3. jika perbuatan atau alat yang digunakan mempunyai kecendrungan (strekking) atau menurut sifatnya mampu untuk menimbulkan delik selesai. bukan warangan yang diberikan tetapi gula sehingga tidak menimbulkan kematian. tetap dikatakan ada percobaan karena meskipun sifat gula adalah tidak mampu secara . bukanlah percobaan yang mampu sebaliknya pemberian warangan pada orang yang normal adalah mampu jika jumlahnya memang dapat mematikan orang yang normal. tetapi karena kekeliruan apotik. absolute. Dalam hal demikian. VAN HATTUM Dalam menentukan percobaan mampu dan tidakmampu. van Hattum memberikan ukuran/pedoman sbb : a. Perbuatan demikian lalu dapat dipidana. Misal : . tetapi dalam keadaan tertentu dapat membahayakan dan dengan sengaja pula alat itu digunakan. karena rasa keadilan tidak membenarkan hal demikian member keuntungan kepada si pembuat.Ada orang membeli warangan di apotik untuk melakukan pembunuhan. tetapi penting dilihat dari keseluruhan perbuatan yaitu mencampurkan gula (yang diberikan oleh apotik) yang dikiranya warangan.Mencoba membunuh orang dengan mendoakan terus menerus supaya mati. b.209 210 jika alat yang pada umumnya tidak berbahaya. Hal-hal yang terjadi secara kebetulan jangan dimasukan. menurut van Hattum yang penting adalah bagaimana merumuskan (memformulir) perbuatan terdakwa yang bersangkutan. Hal-hal yang merintangi selesainya kejahatan yang dituju jangan dimasukkan. apabila perbuatan terdakwa ada hubungan kausal yang adekuat dengan akibat yang dilarang oleh undangundang. apabila pada hakekatnya perbuatan 2. Dikatakan ada percobaan yang mampu.

211

212

terdakwa membahayakan benda/kepentingan hukum (rechtsgoed). Misal : Dengan maksud menembak musuhnya, seseorang telah mengisi senapanya dengan peluru dan kemudian meletakkannya di suatu tempat untuk menunggu saat yang baik. Sementara itu dengan tidak diketahuinya ada orang lain mengososngkan senapanya itu, sehingga pada saat ditembakkan tidak menimbulkan akibat amtinya orang lain (musuhnya itu). Dalam hal yang demikian, menurut van Hattum janganlah perbuatan terdakwa diformulir sebagai percobaan yang tidak mampu karena kenyataannya ia membunuh dengan alat yang relative tidak mampu yaitu senapan yang kosong. Tetapi harus diformulirkan sbb : “mengarahkan senapan yang semula sudah diisi dengan peluru dan kemudian menembakkannya”. Perbuatan demikian merupakan yang pada umumnya dapat menimbulkan akibat matinya orang lain (jadi mempunyai hubungan kausal yang adekuat untuk adanya pembunuhan). Dengan demikian perbuatan terdakwa merupakan percobaan yang mampu. Tidak berbeda dengan menembakkan senapan yang pelurunya macet. Dari pendapat van Hattum diatas jelas terlihat bahwa “kosongnya pistol” merupakan hal yang

kebetulan dan mengisi senapandengan peluru dan menembakkannya” merupakan perbuatan yang membahayakan benda hukum orang lain (berupa nyawa). Van Hattum menyatakan bahwa makin banyak hal-hal konkrit yang dimasukkan dalam merumuskan perbuatan terdakwa, maka ketidakmampuan yang relative akan menjadi ketidakmampuan yang absolut. 4. MOELYATNO Dalam memecahkan masalah percobaan mampu dan tidak mampu ini, Prof. Moelyatno tidak mendasarkan pada teori adekuat kausal karena kenyataanya dalam percobaan tidak sampai menimbulkan kejahatan yang dituju (tidak timbul akibat terlarang). Ukuran yang dugunakan beliau dikembalikan pada ukuran patut dipidananya suatu delik, yaitu adanya perbuatan yang bersifat melawan hukum. Jadi ukurannya tidak ditetapkan secara kausatif, tetapi secara normatif. Dikatakan ada percobaan yang mampu apabila perbuatan terdakwa mendekatkan pada terjadinya delik selesai sedemikian rupa sehingga merupakan perbuatan yang melawan hukum. Perlu dicatat bahwa karena beliau menganut ajaran sifat melawan hukum yang materiil, maka perbuatan itu harus menggelisahkan masyarakat atau tidak pantas dilakukan.

213

214

Ukuran yang digunakan Prof. Moelyatno itu didasarkan pada Eindrucks theorie (teori kesan) yang berasal dari Von Bar, yang dikemukakan didalam bukunya Prof. Edmund Mezger (1952). Menurut teori ini, sudah cukup dikatakan ada percobaan, yang mampu apabila dalam keadaan tertentu ada perbuatan yang menimbulkan kesan keluar bahwa ada permulaan perbuatan yang dapat dipidana. Apabila suatu perbuatan dipandang dari sudut masyarakat telah menimbulkan kesan mengganggu atau melukai tata-hukum, dan oleh karena itu telah menggincangkan kesadaran umum mengenai kepastian berlakunya tata hukum tadi, maka perbuatan demikian sudah mengandung bahaya. Dengan demikian ternyata, menurut Mezger, bahwa di dalam teori kesan terdapat azas general preventive. Misal : perbuatan orang yang hendak membunuh dengan senjata yang ternyata kosong atau macet pelurunya, atau pencuri yang merogoh kantong orang lain yang ternyata kosong. Perbuatan-perbuatan demikian dilihat dari teori kesan sudah merupakan percobaan yang mampu dan oleh karenanya dapat dipidana, karena ada kesan dari luar yaitu dari sudut

masyarakat bahwa perbuatan-perbuatan itu telah mengganggu/ melukai tata hukum. Menurut Prof. Moelyatno, dengan memakai ukuran melawan hukumnya perbuatan dalam menentukan mampu tidaknya suatu percobaan berdasar teori kesan, tidak berarti bahwa sifat berbahaya tidaknya percobaan itu dilihat dari sudut hubungan kausal tidak perlu diperhatikan. Pertimbangan segi kausalitas ini tetap penting, tetapi bukan untuk menentukan mampu tidaknya suatu percobaan, melainkan untuk menentukan berat ringannya pidana yang akan dijatuhkan. Dalam hubungan ini beliau membandingkan dengan pasal 23 KUHP Swiss yang menentukan. “Jika alat yang dipakai untuk mencoba melakukan kejahatan, atau obyek/terhadap mana dilakukan kejahatan, adalah sedemikian rupa hingga perbuatan memang tidak mungkin dilaksanakan dengan alat atau terhadap obyek yang demikian itu, maka hakim boleh mengurangi pidana menurut kebijaksanaanya sendiri. Jika si pembuat berbuat karena kebodohan (unverstand) hakim boleh tidak menjatuhkan pidana”. 5. MANGEL AM TATBESTAND Telah dilemukakan diatas bahwa secara teoritis percobaan mampu dan tidak mampu dapat dibedakan mengenai obyeknya maupun

215

216

mengenal alatnya dan dapat pula dibedakan antara tidak mampu yang absolute dan relative. Karena tidak jelasnya batas penetu antara tidak mampu absolute danrelatif, tergantung dari kehendak/ cara berpikir seseorang (bersifat Willekeurig), maka ada pendapat seperti M.v.T yang tidak memasukkan kedalam lapangan percobaan tidak mampu apabila objek tidak mampu. Menurut pendapat aliran ini, percobaan tidak mampu karena obyeknya bukanlah delik percobaan karena tidak cukupnya atau tidak terpenuhinya unsur-unsur delik. Misal dalam hal membunuh orang yang sudah mati atau menggugurkan kandungan orang yang tidak hamil, disitu tidak terpenuhi unsur delik dalam pasal 333 KUHP yaitu harus adanya nyawa orang (hidup) yang dihilangkan dan unsur delik dalam pasal 346 KUHP (menggugurkan/mematikan kandungan) yaitu harus adanya seorang wanita yang benarbenar mengandung. Dalam ilmu hukum pidana Jerman, tidak adanya atau tidak lengkapnya/ tidak terpenuhinya unsur-unsur delik itu, disebut Mangel am Tatbestand (Mangel =kekurangan; Tatbestand = keadaan yang betul/sempurna atau mencocoki rumusan delik). Istilah ini dikemukakan oleh Graf zu Dohna (1910).

Yang setuju dengan pendapat ini ialah Simons dan Pompe. Menurut Pompe, dalam kedua contoh yang dikemukakan diatas tidak mungkin lagi dikatakan ada percobaan karena maksud/tujuan terdakwa sudah tercapai. Sedangkan van Hamel, tidak setuju dengan mereka yang memandang tidak ada percobaan apabila obyeknya tidak mampu. Menurut beliau memang benar bahwa membunuh bayi yang sudah mati atau menggugurkan kandungan orang yang tidak hamil adalah tidak mungkin, tetapi hal yang demikian sebenarnya tidak berbeda dengan membunuh bayi yang lahir hidup tetapi kemudian diganti dengan boneka atau mencuri uang dari sebuah kantong yang ternyata kosong. Demikian pula Jonkers tidak setuju bahwa dalam contoh-contoh di atas dikatakan tidak ada percobaan, karena sifat khusu dari percobaan ialah : a. Delik tidak selesai karena hal ikhwal yang tidak tergantung dari kehendak terdakwa; b. Oleh karena dalam pikiran terdakwa (dalam kasus-kasus diatas) adalah mungkin sekali akan melaksanakan delik yang dituju.

Dalam kedua contoh ini menurut Karni tujuanya sudah tercapai. jadi ini bukan Mangel am Tatbestand. . Sehubungan dengan masalah ini KARNI membedakan antara Mangel am Tatbestand dengan percobaan tidak mampu (istilah beliau “percobaan tak terkenan”). PEMIDANAAN TERHADAP PERCOBAAN Telah dikemukakan di muka bahwa menurut system KUHP. hanya saja unsur delik yang bersangkutan (pasal 332 dan pasal 362 KUHP) tidak terpenuhi secara sempurna. Bagaimanakah apabila kejahatan yangbersangkutan diancam pidana mati atau penajara seumur hidup.Orang yang melarikan perempuan yang ternyata sudah cukup umur. Ketidak sempurnaan dipenuhinya unsur delik inilah yang menurut Karni merupakan hakekat atau watak hukum dari Mangel am Tatbestand. Dalam hal demikian. Perbedaan ini terlihat pula dalam pendapat Utrecht. yang dapat dipidana hanyalah percobaan terhadap kejahatan. delik putatief merupakan “rechtsdwaling” sedangkan Mangel am Tatbestand merupakan “feitelijke dwaling”.217 218 Dari alasan yang kedua (b) ini jelas terlihat pandangan yang subyektif tentang percobaan. Sedangkan untuk mangel am Tatbestand dicontohkan sbb: . disini ada percobaan yang tidak mampu karena tujuan si pembuat tidak tercapai (jadi berbeda dengan pendapat Pompe). maksimum pidana yang dapat dijatuhkan hanya 15 tahun penjara. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa menurut . Dalam hal percobaan terhadap kejahatan. terdakwa tidak dapat dipidana karena memang tidak ada pasal yang dilanggar dan kepastian hukum terancam (jadi berlainan dengan van Hamel). maksimumnya ialah 10 tahun penjara. seperti halnya dalam pasal 340 KUHP (pembunuhan berencana)? Menurut pasal 53 (3).Orang yang mencuri barang yang ternyata sudah menjadi miliknya. Jadi misalnya untuk percobaan pembunuhan (pasal 53 jo pasal 338 KUHP). sedangkan terhadap pelanggaran tidak dipidana. maka menurut pasal 53 (2) KUHp maksimum pidana yang dapat dijatuhkan ialah maksimum pidana untuk kejahatan (pasal) yang bersangkutan dikurangi sepertiga. VII. Selanjutnya ditegaskan oleh Karni bahwa Mangel am Tatbestand ini merupakan “kekhilafan tentang anasir delik” yang harus dibedakan dengan salah sangka tentang adanya undang-undang (putatief delict). Dalam hal menggugurkan kandungan orang yang tidak hamil.

menurut pasal 53 (4) adalah sama dengan kejahatan selesai. 4. Participation (Perancis). hanya bentuknya tidak sempurna. van Hattum.Penganut a.Penyertaan merupakan suatu delik. Hazewinkel Suringa.Penyertaan dipandang sebagai persoalan pertanggung jawaban pidana . 2. Teilnahme/Tatermehrhaeit (Jerman). Sebagai Strafa sdehnungsgrund (dasar memperluas dapat dipidananya orang) : . Complicity (Inggris). BEBERAPA ISTILAH 1. Sebagai Tatbestandausdehnungsgrund (dasar memperluas dapat dipidananya perbuatan) : . Sedangkan untuk pidana tambahannya. BAB XI PENYERTAAN A.219 220 KUHP. B. Turut serta (Utrecht). . Turut campur dalam peristiwa pidana (Tresna). Delneming (Belanda). 3. maksimum pidana pokok untuk percobaan adalah lebih rendah daripada apabila kejahatan itu telah selesai seluruhnya. BEBERAPA PANDANGAN TENTANG SIFAT PENYERTAAN Filosofi dasar keberadaan lembaga penyertaan terdapat dua pandangan : 1.l : Simons. 2. Turut berbuat delik (Karni).

4.2. C. .3.1.3. Pembuat/dader (pasal 55) yang terdiri dari : . pandangan pertama tidak dikenal dalam hukum adat. Moelyatno.3. PEMBAGIAN PENYERTAAN 1.a. Organizer 3.Penyertaan dipandang bentuk khusus dari tindak pidana. b.2.1. d. Accessories (peserta pembantu). Autores. Menurut Prof.1. Terbagi dua : a. Tater (pembuat) 2.1. Instigator 3. c.2.221 222 .a. Pembagian tiga : 2. Dader / Pembuat (pasal 47 Belanda / pasal 55 KUHP Indonesia). Accessory D. Moelyatno pandangan yang pertama sesuai dengan alam/pandangan individual karena yang diprimairkan adalah “strafbaarheid van de person” (hal dapat dipidananya orang). Co principals (pembuat) 2. Menurut Moelyatno. Di Jerman : 2.2.1.c. Gehilfe (pembantu) b.a. 2.b. Di Inggris : d. d.b. jadi lebih ditekankan pada strafbaarheid van het feit” (hal dapat dipidananya perbuatan).b. Medeplichtige / pembantu (pasal 48 KUHP Belanda / pasal 56 KUHP Indonesia).Penganut a. Principals (peserta baku). PENYERTAAN MENURUT KUHP INDONESIA 1. Gehile (pembantu) 2. c. Code Penal Perancis dan Belgia : c. Urherber (pembuat) a.1.a. Executive of crime 3. Accessories (pembantu) 3. Von Feuerbach membagi penyertaan dalam dua bentuk : a. Roeslsn Saleh. KUHP Belanda dan Indonesia : b. Pembagian penyertaan menurut KUHP Indonesia adalah : a. Di Jepang : 2. Complices. Pembagian empat : Di Uni Sovyet : 3. Anstifter (penganjur) 2.2.1. pandangan yang kedua sesuai dengan alam Indonesia karena yang diutamakan adalah perbuatan yang tidak boleh dilakukan. .l : Pompe.2. Instigator (penganjur) 2. hanya bentuknya istimewa.2.Penyertaan merupakan suatu delik.

4. Pelaku (pleger) a. Mengenai hal ini ada beberapa pedoman : 1). pembantu pada saat kejahatan belum dilakukan. van Hattum.Penganut : HR. Pompe. Hazewinkel-Suringa. pembantu pada saat kejahatan dilakukan b. . Simons.2.223 224 a.Menurut pandangan ini.v. .Dengan demikian mereka yang disebut dalam pasal 55 diatas adalah pembuat.Pembuat hanyalah orang yang melakukan sendiri perbuatan yang sesuai dengan rumusan delik. yang menyuruh lakukan (doenpleger) a.1. yang turut serta (medepleger) a. jadi hanya pembuat materiil saja (yaitu pada no. Pleger (pelaku) a.1 pada pasal 55 di atas). mereka yang tersebut dalam pasal 55 hanya dipandang sebagai pembuat. Pandangan yang sempit (restrictief) : . b. van Hamel. b. jadi hanya disamakan saja dengan dader. Jonkers. Pandangan yang luas (extensief) : . Moelyatno. 2. Peradilan Indonesia Pembuat (dalam arti sempit yaitu pelaku) ialah orang yang menurut maksud pembuat undang-undang harus dipandang yang bertanggung jawab.2. Mengenai pengertian pembuat (dader). Dalam praktek sukar menentukannya. Pembantu / mendeplichtige (pasal 56) yang terdiri dari : b. terutama dalam hal pembuat undangundang tidak menentukan secara pasti siapa yang menjadi pembuat. .3. penganjur (uitlokker) b.1. Pelaku (pleger) ialah orang yang melakukan sendiri perbuatan yang memenuhi rumusan delik. .T. ada dua pandangan : a.Penganut : M.

didalamnya 3. 2).Alat yang dipakai adalah manusia. sedang perantara ini hanya diumpamakan sebagai alat. Janggal dan tidak pada tempatnya Alasan : Karena pasal 55 berada dibawah bab V yang berjudul “Penyertaan tersangkut beberapa pidana”. pada penyertaan apabila “mereka yang melakukan” (para pelaku) itu diartikan pembuat tunggal.Pembuat tidaklangsung (middelijke dader. Hal yang menyebabkan alat (pembuat materiil) tidak dapat dipertanggungjawabkan ialah : . b). doenpleger. c.Alat yang dipakai itu “berbuat” (bukan alat yang mati) . Doenpleger ialah orang yang melakukan perbuatan dengan perantaraan orang lain. tetapi tetap memberikan keadaan terlarang itu berlangsung terus. Mengenai hal ini ada dua pendapat : 1). Pompe Dader (dalam arti sempit) ialah orang yang mempunyai kewajiban untuk mengakhiri keadaan terlarang itu. Peradilan Belanda Dader (dalam arti sempit) ialah orang yang mempunyai kekuasaan/kemampuan untuk mengakhiri keadaan terlarang. Pada Doenpleger terdapat unsur-unsur sbb : . jadi plegers termasuk didalamnya “Pompe”. manus ministra) . auctor physicus. manus domina).Pembuat langsung (onmiddelijke dader.225 226 2). . Karena pasal 55 menyebut “ siapa-siapa yang dinamakan pembuat”. jadi plegers juga termasuk (Hazewinkel-Suringa). auctor intellectuals. 3). Dengan demikian : .Alat yang dipakai itu “tidak dapat dipertanggungjawabkan” unsur ketiga inilah yang merupakan tanda ciri dari doenpleger . Dapat dipahami Alasan : Karena pasal 55 menyebut “mereka yang dipidana” sebagai pembuat”. Kedudukan “pleger” dalam pasal 55 sering dipermasalahkan. Doenpleger (yang menyuruh lakukan) a).

karena tidakmungkin seorang A menyuruh oarng lain B melakukan sesuatu yang A sendiri tidak dapat melakukannya. Namun demikian. sedangkan B tidak mengetahui pemalsuan tersebut. Pendapat kedua : “tidak harus”.  Bila ia berbuat karena daya paksa (pasal 48)  Bila ia melakukannya atas perintah jabatan yang tidak sah seperti dimaksudkan dalam pasal 51 ayat (2). Dalam hal pembuat materiil (alat) seseorang yang belum cukup umur. jadi A tidak bisa menjadi pembuat langsung (onmiddelijke dader) oleh karena itu ia juga tidak bisa menjadi pembuat tidak langsung. maka tidak ada menuruh lakukan. d). B mengambilnya untuk diserahkan kepada A dan ia sama sekali tidak mempunyai maksud untuk memiliki bagi dirinya sendiri. (dalam undangundang) misal A menyuruh B (seorang kuli) untuk mengambil barang dari suatu tempat.1. . Pendapat pertama : “harus”. tetap dikatakan tidak ada doenpleger.  Bila ia keliru (sesat) mengenai salah satu unsur delik. Misalnya : A bukan pegawai negeri. maka ia tidak dapat melakukan “delik jabatan”. Apakah orang yang menyuruh lakukan (doenpleger) harus mempunyai kualitas sebagai pelaku ? ada dua pendapat : d.  Bila ia tidak mempunyai maksud seperti yang diisyaratkan untuk kejahatan ybs. maka A tidak bisa menjadi doenpleger. yang belum begitu sadar akan perbuatannya. Alasan. maka dalam hal ini dimungkinkan ada menyuruh lakukan.2. misalnya A menyuruh B untuk menguangkan pos wesel yang tanda tangannya dipalsu oleh A. d. apabila yang disuruh itu anak yang masih sangat muda sekali. c).227 228  Bila ia tidak sempuna pertumbuhan jiwanya atau rusak jiwanya (pasal 44). Jadi walaupun B (yang disuruh) adalah “ pegawai negeri. karena pada dasarnya KUHP menganggap orang yang belum cukup unur itu tetap mampu bertanggungjawab (lihat pasal 45 jo 47).

sehingga lalai menjalankan tugasnya dan timbul kecelakaan. maka A dapat dituntu karena menyuruh-lakukan tindak pidana yang tersebut dalam pasal 359 KUHP. sedang yang menyuruh-lakukan itu adlah pejabat”. Misal : A menyuruh seseorang pekerja B untuk melemparkan benda yang berat dari atap rumah ke bawah. Misal : A membius B seorang penjaga keamanan kereta api. e). Undang-undang tidak memberikan definisi 2). ada kualitas pribadi seperti pembuat materiil”. B mengira bahwa A telah mengadakan pengamanan seperlunya. Menurut M. dalam halo rang yang menyuruh-lakukan dapat menduga sebelumnya bahwa ka nada sesuatu akibat yang tidak diharapkan. akan tetapi ia justru dipidana walaupun ia tidak melakukan perbuatan”. tanpa menghiraukan apakah benda itu akan menimpa orang yang kebetulan ada / lewat di bawah atap rumah itu. 4. 21 April 1913 (kasus Walikota Zaan-dam) menyatakan : “Pasal 55 tidak menyatakan bahwa mereka yang menyuruh lakukan adalah dader. Pengertian : 1). sehingga untuk menjadi middelijke dader (doenpleger) tidak perlu . Jika karena lemparan itu ada yang tertimpa dan mati. akan tetapi juga sebaliknya. A tetap dikatakan sebagai doenpleger dalam delik omissi yang dilakukan oleh B. tetapi bahwa mereka dipidana sebagai dader.T : Orang yang turut serta melakukan (medepleger) ialah orang yang dengan sengaja turut Hazewinkel-Suringa : “Seorang peserta itu bukannya dipidana karena ia melakukan perbuatan (pidana). Arrest HR tgl.v. Walaupun A tidak berkualitas seperti B (yaitu tidak mempunyai kewajiban seperti B). Medepleger (orang yang turut serta) a.229 230 “Menyuruh-lakukan sesuatu delik jabatan tidak hanya terdapat apabila pembuat materiilnya adalah seorang pejabat. Mungkinkah ada menyuruh lakukan terhadap delik-colpoos? Mungkin. ialah apabila pelaksanaanya bukan.

Misal : dua orang pencopet (A dan B) saling bekerja sama. Misal : dua orang dengan bekerja sama melakukan pencurian disebuah gudang beras.Tidak seorangpun memenuhi unsur-unsur delik seluruhnya tetapi mereka bersama-sama mewujudkan delik itu misalnya : dalam pencurian dengan merusak (pasal 363 ayat (1) ke5) salah seorang melakukan penggangsiran. yang menggangsir b. cukup apabila ada pengertian antara peserta pada saat perbuatan dilakukan dengan tujuan menacpai hasil yang sama. Yang penting aialah harus ada kesenjangan secara sadar. Menurut Pompe. sedang B yang mengambil dompet orang itu.231 232 berbuat atau turut mengerjakan terjadinya sesuatu.  Ada pelaksanaan bersama secara fisik (gezamenlijke ultvoering/physieke samenwerking). salah seorang memenuhi semua unsur delik. bila orang yang satu hanya menghendaki untuk menganiaya. Syarat adanya medepleger :  Ada kerjasama secara sadar (bewuste samenwerking). 3). Adanya kesadaran bersama tidak berarti ada permufakatan lebih dulu. Persoalan kapan dikatakan ada perbuatan pelaksanaan merupakan persoalan yang sulit (ingat/lihat Bab VI tentang . Penentuan kehendak atau kesenjangan masing-masing peserta itu dilakukan secara normatif. Tidak ada turut serta. sedang kawannya menghendaki matinya si korban. “turut mengerjakan terjadinya sesuatu tindak pidana itu ada dua kemungkinan : Mereka masing-masing memenuhi semua unsur dalam rumusan delik. sedang yang lainnya tidak. sedang kawannya masuk rumah dan mengambil barang-barang yang kemudian diterimakan kepada kawannya tadi. A yang menabrak orang yang menjadi sasaran. .

orang turut serta melakukan adalah pembuat (dader) apabila ada beberapa orang bersama-sama melakukan delik. namun secara singkat dapat dikatakan bahwa perbuatan pelaksanaan berarti perbuatan yang langsung menimbulkan selesainya delik ybs. Status A terhadap barang ialah “memiliki dengan melawan hukum barang yang ada padanya bukan karena kejahatan “. Pembuat peserta sebagai pembuat harus mempunyai sifat yang oleh rumusan undang-undang diisyaratkan untuk daderschap. maka mereka timbal balik terhadap satu sama lain disebut pembuat peserta (mededader). Barang siapa tidak dapat menjadi pembuatan tunggal (alleendader) juga tidak dapat dinamakan pembuat peserta (mededader). Pendapat kedua : “tidak harus”. sedang suaminya “turut serta melakukan penggelapan” meskipun suaminya tidak memenuhi semua unsur yang terdapat dalam pasal 372. Yang penting disini harus ada kerjasama yang erat dan langsung. Batas antara perbuatan pelaksanaan dan perbuatan pembantuan sangatlah sulit dan hal ini akan dibicarakan dalam masalah pembantuan. Pendapat pertama : “harus”. Suami A menggadaikan gelang tersebut untuk kepentingannya sendiri. dengan persetujuan A. c.233 234 “percobaan”). Apakah medepleger harus mempunyai kualitas sebagai pelaku ? Mengenai hal ini ada dua penadapat : 1). Yurisprudensi putusan pengadilan Negeri Tulunganggung tanggal 5 Januari 1932 yang kasusnya sbb : A memegang gelang milik orang lain untuk dijualkan. hanya berlaku pada pembuat peserta yang mempunyai sifat-sifat tersebut. Sifat-sifat atau keadaan pribadi yang menentukan dapat dipidananya perbuatan. Medepleger adalah suatu bentuk daderschap (keadaan / sifat pelaku pembuat). Dalam kasus A dinyatakan salah melakukan penggelapan. 2). sedang status suaminya terhadap barang itu ialah .

Adapun perbedaannya sbb : Penganjuran Menyuruh-lakukan Menggerakkannya Sarana dengan sarana. Tercapainya hasil yangmerupakan delik (ditujukan pada akibat). Oleh karena itu mereka dapat dituntut bersama-sama melakukan perbuatan yang tersebut dalam pasal 55 jo pasal 359 KUHP. maka mungkin ada turut serta melakukan secara culpa. Uitlokker (penganjur) a. Akan tetapi jika kesengajaan itu hanya ditujukan kepada adanya kerjasama. Mungkinkah ada turut serta terhadap delik culpoos ? pada turut serta. ialah kepada perbuatan yang dilakukan bersama. pada penganjuran (uitlokking) ini ada usaha untuk menggerakkan orang lain sebagai pembuat materiil / auctor physicus. Kalau kesenjangan orang turut serta juga harus ditujukan untuk timbulnya delik culpa tersebut. Jadi hamper sama dengan menyuruhlakukan (doen-pleger).235 236 menggadaikan barang milik orang lain yang ada dalam kekuasaannya karena kejahatan”. d. Kerjasama dengan orang lain (ditujukan pada perbuatan). Pengertian : Pengajur ialah orang yang menggerakkan orang lain untuk melakukan suatu tindak pidana denganmenggunakan sarana-sarana yang ditentukan oleh undang-undang untuk melakukan kejahatan. 5. kesengajaannya ditujukan kepada : 1. Keduanya tidak menghendaki sampi matinya orang tersebut. Misal : A dan B bersama-sama melemparkan barang berat dari gedung bertingkat dan menimpa orang yang ada di bawah sampai mati. Dalam delik culpa orang tidak menghendaki terjadinya akibat. maka jelas tidak mungkin ada turut serta melakukan secara culpa. akan tetapi mereka bersamasama secara sadar melakukan pelemparan barang dan merekapun kurang berhati-hati serta patut menduga akibat yang timbul. 2.menggerakkannya . Yaitu ia dapat dari A dan tahu bahwa barang itu bukan milik A.

Pertanggungjawaban si penganjur. 4 dan 5 merupakan syarat yang melekat pada orang yang dianjurkan (pembuat materiil).  Putusan kehendak dari si pembuat materiil ditimbulkan karena hal-hal tersebut pada a dan b (jadi ada psychise causaliteit). Syarat penganjuran yang dapat dipidana : Berdasarkan pengertian diatas. sedangkan syarat 3. Mungkinkah ada penganjuran untuk melakukan delik culpa ? Mengenai hal ini ada beberapa pendapat : .237 238 sarana tertentu (limitatif) Pembuat materiil dapat dipertanggungjawa bkan (tidakmerupakan manus ministra) tidak ditentukan (tidak limitatif) Pembuat materiil tidak dapat dipertanggungjawa bkan (merupakan manus ministra) b.  Menggerakkannya dengan menggunakan upaya-upaya (sarana-sarana) seperti tersebut dalam undang-undang (bersifat limitatif). Mungkinkah ada percobaan pengajuran atau pengajuran yang gagal ? e. Dari lima syarat yang disebutkan diatas. Tidak mungkin.  c. d. c. Mungkinkah ada penganjuran untuk melakukan delik culpa ? Mengenai hal ini ada beberapa pendapat : 1. jelas bahwa syarat 1 dan 2 merupakan syarat yang harus ada pada si penganjur. Si pembuat materiil tersebut melakukan tindak pidana yang dianjurkan atau percobaan melakukan tindak pidana. maka syarat pengajuran yang dapat dipidana ialah :  Ada kesenjangan untuk menggerakkan orang lain melakukan perbuatan yang terlarang.  Pembuat materiil tersebut harus dipertanggungjawabkan dalam hukum pidana.

(b). Mungkinkah ada percobaan penganjuran atau penganjuran yang gagal ? Penganjuran yang gagal ini dapat terjadi dalam hal seseorang telah dengan sengaja menggerakkan orang lain untuk melakukan sesuatu tindak pidana dengan menggunakan salah satu sarana dalam pasal 55 (1) ke-2. d.239 240 (a). maka jika pengendara tersebut melanggar seseorang yang mengakibatkan mati. baru terpenuhi syarat 1 dan 2 atau syarat 1 s/d 3) seperti dikemukakan pada no. Pendapat ini antara lain dikemukakan oleh van Hamel dengan mengemukakan alasan bahwa sifat khas dari uitlokking ialah membujuk terjadinya perbuatan dengan sengaja. Simons menganggap bukannya mustahil dalam bentuk demikian seseorang dapat membujuk terjadinya sesuatu perbuatan dengan pengetahuan bahwa orang yang akan melakukan perbuatan itu dapat mengira-ngira kemungkinan terjadinya akibat yang tidak dikehendaki atau dapat mengirakan kemungkinan terjadinya akibat tersebut. dalam arti orang itu sebagai pembujuk mempunyai kesengajaan untuk menggerakkan agar orang lain melakukan perbuatan yang ternyata suatu delik culpa dan inklusif didalam perbuatan sengaja itu termasuk kealpaan. b diatas. Jadi. orang lain tersebut akan mengendarainya. Mungkin. Menurut Pompe orang nyata-nyata dapat sengaja menyuruh orang lain untuk melakukan delik culpa. pada pembujuk ada kesengajaan yang ditujukanuntuk menggerakkan orang lain untuk menyupir. (catatan : Dengan kata lain. . Misal : Seorang pemilik mobil sengaja meminjamkan mobilnya untuk dipakai orang lain dengan mengetahui bahwa dengan pemberian pinjaman itu. Tidak mungkin. Kalau orang lain itu tidak dapat menyupir hal mana diketahui oleh pembujuk. akan tetapi orang lain itu tidak mau melakukan atau mau melakukan akan tetapi tidak sampai dapat melaksanakan perbuatan yang dapat dipidana. ia dapat dikatakan melakukan tindak pidana dalam pasal 359. sedang pemilik mobil dapat dikatakan melakukan pembujukan untuk terjadinya pelanggaran pasal 359 itu. dan pula dalam arti bahwa yang di bujuk dan pembujuk mempunyai kealpaan yang diisyaratkan oleh undang-undang.

vos.p. D. Menururt KUHP Jerman itu. atau gehilfe / pembantu / medeplichtige). Dengan demikian apabila si pembuat  . Jadi lebih mendekati pandangan monistis.l si penganjur dipidana apabila orang yang dibujuk melakukan perbuatan yang dapat dipidana. Menurut pandangan ini. tindak pidana itu tidak terjadi maka si pengajur juga tidak dapat dipidana. Sehubungan dengan pandangan yang pertama diatas.l sipenganjur tetap dapat dipidana walaupun tindak pidana yang dianjurkan kepada si pelaku tidak terjadi.p. Catatan :  Dari uraian diatas jelas. dikenal apa yang dinamakan extreme accessoiriteit yaitu bahwa untuk adanya bentuk-bentuk penyertaan harus ada yang bertanggung jawab sebagai Tater (pelaku). “percobaan untuk penganjuran” tetap dapat dipidana. D. 2). strafbaarheid (sifat dapat dipidananya si penganjur digantungkan dari apa yang dilakukan oleh orang lain). Menurut pendapat ini. Jadi sudut pandangnya tidak membedakan antara sifat dapat dipidananya perbuatan (tindak pidana) dan sifat dapat dipidananya orang (pertanggungjawaban pidana). maka si pembuat materiil harus melakukan strafbare handlung. Simons. pengajuran itu ada apabila ada tindak pidana yang dilakukan oleh pembuat materiil. Karena dalam “percobaan untuk penganjuran” ini. untuk dapat memidana seseorang peserta sebagai Mittater (si turut-serta melakukan / medepleger. Pompe.241 242 Timbul masalah apakah terhadap percobaan untuk membujuk atau penganjuran yang gagal dapat dipidana ? mengenai hal ini sebelum adanya pasal 163 bis. Penganutnya : Hazewinkel-Suring. tetapi juga dapat dijatuhi pidana. dalam KUHP Jerman (sebelum perubahan tahun 1943). Jadi menurut pandangan kedua ini. van Hattum. Pendapat kedua : Penganjuran dipandang sebagai bentuk penyertaan yang tidak accessoir (berdiri sendiri = zelfstanding. Pendapat pertama : Penganjuran dipandang sebagai bentuk penyertaan yang bersifat accessoir (tidak berdiri sendiri = onzelfstandig). Penganutnya : Blok. ada / tidaknya penganjuran tidak tergantung pada ada tidaknya atau terjadi / tidaknya tindak pidana. ada dua pandangan : 1). anstifter / pengajur uitlokker. yang diartikan bukan saja melakukan perbuatan yang dilarang / diancam pidana. tidak bergantung pada yang lain). van Heml. bahwa menurut pendapat pertama (accessoir). Jomkers.

jadi jika seseorang dengan . jika tidak mengakibatkan kejahatan atau percobaan kejahatan yang dipidana. Pandangan accessoiriteit yang terbatas ini sesuai dengan pandangan dualistis (a. 2). bahwa sekali-kali tidak dapat dijatuhkan pidana yang lebih berat dari pada yang ditentukan terhadap percobaan kejahatan. 197 / jo Pasal diatas mengancam pidana terhadap pembujukan yang gagal dan juga yang tidak menimbulkan akibat.  Pertanggungjawaban peserta tidak lagi digantungkan pada pertanggungjawaban si pelaku atau peserta lainnya. atau jika percobaan itu tidak dipidana. Ruslan saleh) yang melihatnya dari dua sudut pandang : 1). sifat melawan hukumnya perbuatan dari si pembuat atau si pembantu baru timbul jika perbuatan dari si pembuat atau si pembantu baru timbul jika perbuatannya di hubungkan dengan pelaku atau peserta lainnya.243 244 materiil tidak dapat dijatuhi pidana (karena tidak ada kesalahan). Dengan demikian pasal ini menjadikan perbuatan “ pembujukan yang gagal” sebagai delik yang berdiri sendiri (delictum suigeneris). tidak dapat dijatuhkan pidana yang lebih berat dari yang ditentukan terhadap kejahatan itu sendiri. 1925 No. tetapi dengan ketentuan. setelah pada tahun 1925 (S. asal saja pelaku atau peserta lainnya itu telah melakukan sesuatu perbuatan yang dilarang. tetapi dipandang berdiri sendiri. Aturan tersebut tidak berlaku. jika tidak mengakibatkannya kejahatan atau percobaan kejahatan yang dipidana itu disebabakan karenakehendaknya sendiri. mencoba menggerakkan orang lain supaya melakukan kejahatan. Dari sudut perbuatan. diancam pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun atau denda paling banyak tiga ratus rupiah (sekarang menjadi Rp. Delik ini merupakan delik formil. Persoalan percobaan pengajuran atau penganjuran yang gagal ini sekarang sudah tidak menjadi persolan lagi.-). tidak mungkin ada penyertaan. Dari sudut pertanggungjawaban. 4. artinya perumusannya dititikberatkan pada perbuatan si pembuat. tiap-tiap peserta dipertanggungjawabkan sendiri-sendiri menurut sikap batinya masing-masing berhubung dengan apa yang diperbuatnya. pada umumnya tiap-tiap peserta tidak berdiri sendiri-sendiri. Barang siapa dengan menggunakan salah satu sarana tersebut dalam pasal 55 ke-2. 2).l Prof.500. 273) ditambahkan pasal 163 bis kedalam KUHP pasal ini berbunyi : 1).

245 246 salah satu sarana yang tersebut dalam pasal 55 ke-2 itu berusaha menggerakkan orang lain untuk melakukan kejahatan. Bagaimanakah apabila B yang dianjuri langsung membunuh C. maksimumnya 2 tahun 7 bulan. Jadi dapat juga dikenakan kepada “menyuruh lakukan / doenplegen yang gagal”. Apabila tidak terjadi atau gagalnya pengajuran A itu karena kehendak A sendiri. karena pembunuhan itu bukan dimaksud (disengaja) oleh A. asal saja sarana yang dipakai oleh si pembuat termasuk salah satu sarana untuk pembujukan yang tersebut dalam pasal 55 ayat (1) ke2. pasal 163 biss (2) merupakan alasan penghapus penuntutan. Dalam pasal 55 ayat (2) dinyatakan bahwa penganjur dipertanggungjawabkan terhadap perbuatan yang sengaja dianjurkannya beserta akibatnya. A masih dapat dipertanggungjawabkan berdasrkan pasal 163 bis. Moelyatno. Jadi maksimumnya bukan 6 tahun (perhatikan redaksi pasal 163 bis). B baru melaksankannya . Namun demikian. maka pasal 163 bis tidak dapat dikenakan pada A. Dalam hal ini pertanggungjawaban A bukan terhadap perbuatan “menganjurkan orang lain melakukan penganiayaan” (pasal 55 jo 351) tetapi “menganjurkan orang lain melakukan penganiayaan yang berakibat mati” (pasal 55 jo 351 ayat (3)). yaitu pembujukan yang gagal untuk penganiayaan. dalam hal ini matinya C tidak dapat dipertanggungjawabkan pada A (Jadi tidak dapat dituduh berdasar pasal 55 jo 338). Pertanggungjawaban si penganjur. Misal : A menganjurkan B untuk menganiaya C dan akibat penganiayaan itu C mati. Alasan penghapus pidananya tercantum dalam ayat (2). Perlu diperhatikan bahwa dalam pasal 163 bis itu digunakan kata-kata “mencoba / berusaha menggerakkan orang lain untuk…”. yaitu kalau penganiayaan biasa pasal 351 (1). kalau penganiayaan ringan pasal 352 maksimumnya 3 bulan. Menurut Prof. Ketentuan pasal 163 bis juga dapat dipertanggungjawabkan pada A dalam hal B (yang dianjuri) tidak mau melaksanakan anjuran dari A walaupun mungkin ia sudah menerima sesuatu pemberian / hadiah dari A. e. maka ia sudah dapat dipidana. Bagaimanakah apabila dalam melaksanakan anjuran A untuk menganiaya C itu. Maksimum pidana yang dapat dikenakan adalah maksimum pidana untuk penganiayaan yang terbukti sengaja dianjurkan oleh A. kalau penganiayaan yang direncanakan pasal 351 (1) maksimumnya 4 tahun penjara dst. jadi gagalnya pengajuran A karena kehendak orang yang ditujuk (B).

b. apakah A dapat dipertanggungjawabkan ? Ada pendapat bahwa dalam hal ini A tidak dapat dipertanggungjawabkan karena matinya D bukan yang dikenhendaki (disengaja dianjurkan) oleh A. Pendapat ini menghendaki adanya hubungan langsung antara kesengajaan si pembujuk dengan terjadinya delik yang dilakukan oleh orang yang dibujuk. ada dua jenis pembantu : Jenis pertama :  Waktunya : Pada saat kejadian dilakukan. maka dlam kasus diatas A juga dapat dipertanggungjawabkan terhadap matinya D apabila terbukti bahwa pada saat B (pembuat materiil) menembak C dapat dibayangkan kemungkinan tertembaknya orang lain (b) yang berada di dekat C. Sifat : Dilihat dari perbuatannya. maka perbuatan A tetap dapat disebut “membujuk untuk percobaan pembunuhan terhadap C” (pasal 55 jo 53 jo 338). Bagaimanakah terhadap matinya D. jadi karena tidak ada identitas (kesamaan) antara perbuatan yang dibujukkan dengan perbuatan yang benar–benar dilakukan. Jadi masalah pokoknya berkisar pada sampai seberapa jauh “kesengajaan” menurut pasal 55 (2) itu dapat dipertanggungjawabkan kepada di pembujuk. . Kalau A membujuk B untuk membunuh C dengan menggunakan pistol. tetapi karena “penyimpangan sasaran” (aberretio ictus / afdwalirgsgevallen) tembakan B mengenai D. Penetuan hal ini dilakukan secara normative oleh Hakim. apakah hanya bertanggung jawab terhadap “kesengajaan dengan maksud (yang langsung dituju)” atau meliputi juga seluruh corak kesengajaan.247 248 sampai taraf percobaan penganiayaan tidak dipidana dan ini berarti “tidak terjadi percobaan kejahatan yanmg dipidana” seperti disebutkan dalam pasal 163 bis. PEMBANTUAN (medeplichtige) a. 6. Artinya dipidananya pembantu tidak tergantung pada dapat tidaknya si pelaku dituntut pidana. Apabila pengertian “sengaja yang dianjurkan” dalam pasal 55 (2) meliputi juga dolus eventualis yang dilakukan oleh pembuat materiil. Jenis : Menurut pasal 56 KUHP. Pembantuan ini bersifat accessoir artinya untuk adanya pembantuan harus ada orang yang melakukan kejahatan (harus ada orang yang dibantu). Tetapi dilihat dari pertanggungjawaban tidak accessoir.

249 250  Caranya : Tidak ditentukan secara limitatif dalam undang-undang Jenis kedua :  Waktunya : sebelum kejahatan dilakukan. Pembantuan jenis pertama ini mirip dengan turut serta (medeplegen) perbedaannya sbb : Pembantuan Menurut ajaran penyertaan obyektif : perbuatannya hanya membantu / menunjang (ondersteuning shanling) Menurut ajaran subyektif :  Kesenjangan merupakan animus socii (hanya untuk memberi bantuan saja pada orang lain).  Caranya : Ditentukan secara limitatif dalam undang-undang (yaitu dengan cara : memberi kesempatan. sendiri. Terhadap kejahatan maupun pelanggaran dapat dipidana. ditimbulkan oleh adanya konsepsi yang saling bertentangan menganai batas-batas pertanggungjawaban para peserta. Terhadap pelanggaran tidak dipidana (pasal 60 KUHP). Maksimum pidananya dikurangi sepertiga (pasal 57-1). Sistem yang berasal dari hukm Romawi. Pembantuan jenis kedua ini mirip dengan penganjuran (uitlokking). yaitu : A. sarana atau keterangan). Perbedaannya adalah sebagai berikut : Penganjuran Kehendak untuk melakukan kejahatan pada pembuat materiil ditimbulkan oleh si pengajur (ada kausalitas psikhis) Pembantuan Kehendak jahat pada pembuat materiil sudah ada sejak semula (tidak ditimbulkan oleh si pembantu). Menurut system ini tiap-tiap peserta sama nilainya (sama jahatnya) dengan orang yang melakukan. . Maksimum pidananya sam dengan si pembuat.  Harus ada kerja sama yang disadari (bewuste samenworking)  Mempunyai kepentingan / tujuan kepentingan / tujuan sendiri. Adanya ajaran / teori penyertaan yang obyektif dan subyektif.  Tidak harus ada kerja sama yang disadari (beweste samenwerking)  Tidak mempunyai Turut Serta Menurut ajaran obyektif : perbuatan merupakan perbuatan pelaksanaan (uitvoering shandelling) Menurut ajaran subyektif :  Kesenjangan merupakan animus coauctores (diarahkan untuk terwujudnya delik).

ada kalanya sama berat dan ada kalanya lebih ringan dari pelaku. Sistem. - . Menurut Prof Moelyatno. Akan tetapi apabila dilhat perbedaan pertanggungjawabannya yaitu pembantu dipidana lebih ringan (dikurangi sepertiga) dari si pembuat. Dengan adanya dua bentuk penyertaan ini (yang dapat disamakan dengan pembagian autors dan complices di Prancis atau principals dan accessoir di Inggris. maka batas antara masing-masing bentuk penyertaan itu adalah prinsip sekali. artinya harus ditentukan secara tegas. tergantung dari perbuatan yang dilakukan. berarti menganut system yang pertama. maka jarang termasuk tater harus mempunyai tater-willen (niat untuk menganjurkan) dan yang termasuk Gehilfe harus mempunyai Gehilfewiller (niat untuk membantu orang lain). Pendirian inilah yang dikenal dengan teori atau ajaran penyertaan yang subyektif. maka ini berarti dianut yang kedua. yang dijadikan titik berat untuk menentukan batas antara pelaku dengan para peserta diletakkan pada perbuatannya dan saat bekerjanya masing-masing (jadi bersifat obyektif). Karena pertanggungjawaban para peserta itu berbeda. anstifter (penganjur) dan Gehilfe (pembantu). di Jerman dibedakan antara Tater (pembuat). Seperti telah dikemukakan. Berdasar teori subyektif. maka batas antara bentuk-bentuk penyertaan sama. sehingga mereka masingt-masing juga dipertanggungjawabkan sama dengan pelaku. maka batas antara bentukbentuk penyertaan tidaklah prinsip. kedua ini dianut dalam KUHP Jerman dan Swiss. Karena tiap-tiap peserta dipertanggungjawabkan sama. Adapun yang dijadikan batas antara masing-masing bentuk penyertaan dititik beratkan pada sikap batin masing-masing peserta. Sistem yang pertama ini terdapat dalam Code Penal Prancis dan dianut juga di Inggris. Pendirian inilah yang kemudian dikenal dengan teori atau jaran penyertaan obyektif. KUHP kita dapat digolongkan kedalam kelompok teori campuran karena : Dalam pasal 55 disebutkan “dipidana sebagai pembuat” dan dalam pasal 56 disebutkan “ dipidana sebagai pembantu”. Sistem yang berasal dari para jurist Italia dalam abad pertengahan. Oleh karena itu pertanggungjawabannya juga berbeda. B. Menurut system ini tiap-tiap peserta tidak dipandang sama nilainya (tidak sama jahatnya).251 252 tindak pidana itu sendiri.

Pertanggungjawaban pembantu. sehingga batas antara keduanya ditentukan menurut sikap batinnya. B). Perbedaan dalam pasal 55 antara pelaku orang yang menyuruh lakukan.Untuk menjadi orang yang menyuruh lakuka. apabila cara-cara yang digunakan untuk menganjurkan tersebut dalam pasal 55 (1) ke-2 dan si pembuat materiil dapat dipertanggungjawabkan. Prinsip ini terlihat didalam pasal 57 (1) dan (2) yaitu : . maka maksimum pidana untuk pembantu ialah 15 tahun penjara (ayat 2).Maksimum pidana poko untuk pembantuan dikurangi sepertiga (ayat 1). Pasal 231 (3) : Pembantu dipidana lebih berat dari si pembuat. tetapi cukup secara obyektif menurut bunyinya peraturan saja. bahwa apabila pada dasarnya KUHP kita menganut system Code Penal (system pertama) dengan pengecualian untuk pembantuan dianut system KUHP Jerman (system kedua). tetapi cukup bahwa : .253 254 Selanjutnya dikemukakan oleh beliau. KUHP mengamut system bahwa . Pada prinsipnya KUHP menganut system bahwa pidana poko untuk pembantu lebih ringan dari pembuat. Pidana tambahan untuk pembantu sama dengan ancaman terhadap kejahatannya itu sendiri. 2). Pasal 333 (4) : Pembantu dipidana sama berat dengan pembuat. Perbedaan antara keduanya jangan dicari dalam sikap batin masing-masing. b). dalah tidak prinsipil. (lihat juga pasal 349).Apabila kejahatan diancam pidana mati atau penjara seumur hidup. Dalam hubungan ini yang penting adalah perbedaan antara orang yang menyuruh lakukan dan penganjur. 3). maka konsekuensinya ialah : A). (lihat juga pasal 415 dan 417). dan . jadi sama dengan si pembuat (pasal 57 : 3). c. Perbedaan antara pembuat (dader) dan pembantu (megeplichtige)) adalah prinsipil. . apabila orang yang disuruh tidak dapat dipidana sebagai pembuat karena dipandang tidak mempunyai kesalahan. yang turut serta dan yang menganjurkan. Pengecualian terhadap prinsip ini terlihat dalam : a).Untuk menjadi pengajur sudah cukup. 1). Ini berarti batas antara mereka yang tergolong dalam “daders” itu tidak perlu ditentukan secara subyetif menurut niatnya masing-masing peserta. Dalam pertanggungjawaban seorang pembantu.

Medeplegen / turut serta (dianalogikan dengan “membantu”). 2. 3. menurut Vos. Ada pendapat dari Prof Moelyatno dan Prof. pasal 284 : perzinahan. delik baru terjadi kalau ada orang lain (kawan berbuat) yang mau harus ada. Unsur ini harus juga dipenuhi untuk : . artinya tidak digantungkan pada pertanggungjawaban si pembuat. ia berkelakuan seolah-olah (pura-pura) kehilangan kunci rumah A yang pada waktu itu lewat dan sama sekali tidak tahu bahwa B berdiri dimuka rumah orang lain dan telah merencanakan untuk mencuri. tetapi ternyata digunakan oleh B untuk mencuri atau untuk membunuh. F. Pasal 149 : Menyuap (membujuk) seseorang untuk tidak menjalankan haknya untuk memilih. 6. Misal pasal 57 (4) dan 58. 4).255 256 pertanggungjawabannya berdiri sendiri (tidak bersifat accessoir). pasal 297 : bigamy 4. 2. 5. bahwa system pemidanaan untuk pembantuan hendaknya dipakai system “facultative Minderbes Taftung / strafmilderung yaitu terserah pada hakim apakah terhadap pembantu pidananya akan dikurangi atau tidak. . Pada waktu B akan memasuki rumah C dengan maksud mencuri. pasal 287 : melakukan hubungan kelamin dengan anak perempuan di bawah umur 15 tahun. Dalam contoh-contoh diatas.Doenplegen / menyuruh lakukan (dianalogikan dengan “membujuk”) . Oemar sadji. E. PENYERTAAN MUTLAK PERLU (NOODZAKELIJKE DEELNEMING / NECESSARY COMPLICITY). Pasal 238 : membujuk orang untuk masuk dinas militer Negara asing. Pasal 345 : menolong orang lain untuk bunuh diri. Misal : 1. PENYERTAAN DENGAN KEALPAAN (CULPOSE DEELNEMING) Misal : 1. Dalam contoh-contoh diatas. artinya kesengajaan si pembantu harus diarahkan pada kejahatan yang bersangkutan. Terhadap kasus serupa itu Karni juga berpendapat A tidak dapat dipidana karena adanya unsur “sengaja” didalam pasal 56 merupakan anasir subyektif dari pembantuan. menolong B membuka kaca jendela sehingga B dapat masuk ke rumah C. A tidak dapat dipidana karena adanya untuk “membujuk” atau “membantu” menurut hukum pidana positif harus ada unsur sengaja. A memberi gunting kepada B yang katanya untuk menggunting kain.

membantu untuk menganjurkan (pasal 56 jo 55) – putusan Hoge Raad 25-1-1950 DALAM AAN . Membujuk untuk membujuk (pasal 55 jo 56). karena yang dimaksud dengan istilah “bekerja / berbuat bersama-sama” oleh beliau adalah sama dengan istilah “turut serta” (medeplegen). PERBUATAN PENYERTAAN PENYERTAAN (DEELNEMING DEELNEMINGSHANSELINGEN) Misal : 1. pasal 483 : menerbitkan tulisan / gambar yang dapat dipidana karena sifatnya. 4. Mr.putusan Rv j Batavia 20-3-1936 . H. 3. 482 : delik penadahan. Misal : 1. Karni menyebutnya dengan “istilah” bekerja bersama-sama yang diharuskan oleh penegasan delik . 2. TINDAKAN-TINDAKAN SESUDAH TERJADINYA TINDAK PIDANA SEBAGAI DELIK YANG BERDIRI SENDIRI. . kami menyatakan tidak keberatan untuk memidana anak gadis tersebut. Inilah yang dimaksud dengan penyertaan yang tidak dapat dihindarkan atau penyertaan yang harus dilakukan.putusan Rv j Senmarang 20-12-1937 2. Dalam pasal-pasal diatas ada yang menetapkan bahwa dipidana hanya si pelaku. G. pasal 221 : menyembunyikan penjahat. pasal 223 : menolong orang melepaskan diri dari tahanan. Dalam contoh-contoh diatas sebeanrnya juga merupakan bentuk penyertaan. membujuk untuk membantu (pasal 55 jo 56).putusan Rv j Batavia 8-5-1930 3. tetapi yang dilakukan setelah terjadinya tindak pidana lain. Kami mempersoalkan bagaimana apabila justru yang membujuk terjadinya delik itu adalah anak perempuan yang belum berumur 15 tahun itu ? terhadap hal ini. jadi istilah beliau dimasukkan dalam pengertian “noodzakelijke medeplegen” (turut serta yang diharuskan). .mu hukum pidana Jerman dikenal dengan istilah “Nachtaterschaft” atau “Begunstigung” (bentuk-bentuk “pemudahan”).putusan Landraad Batavia 18-21936 . tetapi ada juga yang menetapkan bahwa kawan pelakunya dapat dipidana. Pasal 480.257 258 apabila kawan berbuat itu tidak ada maka delik itu tidak dapat dilakukan. Mengenai pasal 287. Dalam il. 481.

259 260 Catatan : bagi mereka yang memandang “deelneming” sebagai “Tatbescandausdeh-nungsgrund”. jika satu orang. di mana untuk tindak pidana itu belumada putusan hakim diantaranya dan terhadap perkaraperkara pidana itu akan diperiksa serta diputus sekaligus. Namun bagi mereka yang memandangnya sebagi “strafausdehnungsgrund”. I.l : Pompe. . BEBERAPA PANDANGAN. Moelyatno. melakukan lebih dari 1 tindak pidana. contoh-contoh diatas dapat dimaklumi karena penyertaan dipandang sebagai “delichtum sui generic”. Yang memandang sebagai masalah pemberian pidana a. Ada dua kelompok pandangan persoalan concursus : mengenai 1.l HazewinkelSuringa 2. Yang memandang sebagai bentuk khusus dari tindak pidana a. yang dapat dipertanggungjawabkan secara pidana pada orang tersebut. contoh-contoh diatas dipandang tidak mungkin atau janggal. BAB XII GABUNGAN TINDAK PIDANA (SAMENLOOP / CONCURSUS) Dalam suatu tindak pidana dikatakan telah terjadi suatu perbarengan dalam kondisi. Mezger.

2. dan ada pula yang melihatnya dari sudut hukum yaitu yang dihubungkan dengan danya akibat / keadaan yang terlarang. khususnya dalam hal terdakwa hanya melakukan perbuatan.261 262 II. pasal 63 (suatu perbuatan masuk dalam lebih dari satu aturan pidana. “perbuatan” (feit) itu ada meninjaunya secara materiil. Perbarengan peraturan (concursus Idealis) pasal 63. Perbarengan perbuatan (Concursus Realis) pasal 65 s/d 71. terlepas dari unsur-unsur tanbahan (dikenal dengan jaran feit materiil). Ada perbuatan berlanjut. secara fisik jasmaniah. Menurut pendapat sarjana : Adanya istilah “perbuatan/feit” dalam pasal-pasal di atas menimbulkan masalah yang cukup sulit. Perbuatan berlanjut (Delictum Continuatum /Voortgezettehandeling) pasal 64. . namun demikian dari rumusan pasal-pasal diperoleh pengertian sbb :   Concursus Idealis. Menurut rumusan KUHP : Sebenarnya didalam KUHP tidak ada definisi mengenai Concursus. Kesulitan ini timbul karena dalam ilmu pengetahuan hukum pidana. apabila pasal 64 Seseorang melakukan beberapa. perbuatan tersebut masingmasing merupakan kejahatan atau pelanggaran antara perbuatan-perbuatan itu ada hubungan sedemikian rupa sehingga harus dipandang sebagai satu perbuatan berlanjut. Catatan : Diantara perbuatanperbuatan yang dilakukan pada (concursus realis dan perbuatan berlanjut) narus belum ada keputusan hakim. III. PENGERTIAN 1. 2. PENGATURAN DIDALAM KUHP Didalam KUHP diatur dalam pasal 63 s/d 71 yang terdiri dari : 1. yaitu dipikikan terlepas dari akibatnya. 3.

apabila orang melakukan sesuatu perbuatan konkrit yang diarahkan kepada satu tujuan merupakan benda / obyek aturan hukum. Misal : perkosaan dijalan umum. maka para sarjana mengemukakan beberapa pendapat : HAZEWINKEL-SURINGA Ada concursus Idealis apabila suatu perbuatan yang sudah memenuhi suatu rumusan delik. POMPE Ada concursus Idealis. perbuatan ini masuk pasal 294 (perbuatan cabul dengan anak sendiri yang belum cukup umur) dan pasal 287 (bersetubuh dengan wanita yang belim berusia 15 tahun diluar perkawinan). apabila : Dipandang dai sudut hukumpidana ada dua perbuatan atau lebih. Misalnya bersetubuh dengan anak sendiri yang belum berusia 15 th. disamping masuk 281 (melanggar kesusilaan di muka umum). - Contoh : Oranga dalam keadaan mabuk mengendarai mobil diwaktu malam tanpa lampu. yaitu: . TAVERNE Ada concursus Idealis .263 264 Sehubungan dengan kesulitan itu. Antara perbuatanperbuatan itu tidak dapat dipikirkan terlepas satu sama lain. mau tidak mau (eoipso) masuk pula dalam peraturan pidana lain. tetapi dilihat dari sudut hukumada dua perbuatan yang masingmasing dapat dipikirkan terlepas satu sama lain. Dalam hal ini perbuatan hanya satu yaitu “mengendarai mobil”.

v. SISTEM PEMBERIAN PIDANA / STELSEL PEMIDANAAN 1. Dengan sendirinya melakukan perbuatan (feit) yang lain pula.T mengenai criteria untuk adanya “perbuatan berlanjut” seperti dikemukakan diatas. memukul dan akhirnya membunuh. apabila : Dengan melanggar satu kepentingan hukum. melanggar pasal 285 (12 th penjara) dan pasal 281 (2 tahun 8 bulan penjara). Menurut ayat 1 digunakan system absorbsi. Jadi dalam hal ini ada Concursus Realis. Khusus mengenai penjelasan M. Misal : perkosaan dijalan umum. “mengendarai mobil dalam keadaan mabul” (menggambarkan keadaan orang / pelakunya) dan kedua “mengendarai mobil tanpa lampu diwaktu malam” (menggambarkan keadaan mobilnya).265 266 Pertama. Concursus Idealis (pasal 63). a). asal perbuatan itu dilakukan dalam rangka pelaksanaan tujuan. Simons . yaitu hanya dikenakan satu pidana pokok yang terberat. mengartikannya secara umum dan lebih luas yaitu “tidak berarti harus ada kehendak untuk tiap-tiap kejahatan”. IV. merobek bajunya. A melakukan serangkaian perbuatan-perbuatan berupa meludahi. - Contoh : Perkosaan dijalan umum (melanggar pasal 285 & 281 KUHP). VAN BEMMELEN Ada Concursus Idealis. Berdasar pengertian yang luas ini. Simons tidak sependapat. Mengenai syarat “ ada satu keputusan kehendak”. Misalnya untuk melampiaskan balas dendamnya kepada B. maka tidak perlu perbuatanperbuatan itu sejenis.

Dalam pasal 63 ayat (2) diatur ketentuan khusus yang menyimpang dari prinsip umum dalam ayat (1). Pasal 64 ayat (2) merupakan ketentuan khusus dalam hal pemalsuan dan perusakan mata uang.267 268 Maksimum pidana penjara yang dapat dikenakan ialah 12 tahun. dan jika berbeda-beda dikenakan satu aturan pidana. b). Misal A setelah memalsu mata uang (pasal 244 dengan ancaman pidana penjara 15 tahun) kemudian menggunakan / mengedarkan mata uang yang palsu itu (pasal 245 dengan ancaman pidana penjara 15 tahun). 1 tahun kurungan dan denda 5 juta rupiah. Perbuatan ibu ini dapat masuk dalam pasal 338 (15 tahun penjara dan pasal 341 (7 tahun penjara). d). dalam hal ini berlaku adagium “lex specialis derogate legi generali” Contoh : seorang ibu membunuh anaknya sendiri pada saat anaknya dilahirkan. dan jika berbeda-beda dikenakan ketentuan yang memuat ancaman pidana pokok yang terberat. Maksimum pidana penjara yang dikenakan ialah yang terdapat dalam pasal 341 (lex specialis) yaitu 7 tahun penjara. maka menurut VOS ditetapkan pidana pokok dengan tambahan yang paling berat. b). Menurut pasal 64 ayat (1). Dalam hal ini perbuatan A tidak dipandang sebagai concursus Realis. jadi misalnya memilih antara 1 minggu penjara. c). a). Perbuatan berlanjut (pasal 64). tetapi tetap dipandang sebagai perbuatan berlanjut sehingga ancaman maksimum pidananya dapat dikenakan 15 tahun penjara . maka pidana yang terberat adalah 1 minggu penjara. 2. Apabila menghadapi dua pilihan antara dua pidana pokok yang tidak sejenis. Apabila Hakim menghadapi pilihan antara dua pidana poko sejenis yang maksimumnya sama. pada prinsipnya berlaku system absorbsi yaitu hanya dikenakan satu aturan pidana. maka penetuan pidana yang terberat didasarkan pada urut-urutan jenis pidana seperti tersebut dalam pasal 10 (lihat pasal 69 ayat (1) jo pasal 10).

Berarti yang dikenakan adalah pasal 362 (pencurian). 378 (penipuan) atau 406 (perusakan barang). Untuk concursus realis berupa kejahatan yang diancam pidana pokok tidak sejenis berlaku pasal 66 yaitu semua jenis ancaman pidana untuk tiap-tiap kejahatan dijatuhkan. Pasal 64 ayat (3) merupakan ketentuan khusus dalam hal kejahatan-kejahatn ringan yang terdapat dalam pasal 364 (pencurian ringan).  A melakukan 2 jenis kejahatan yang masing. Misal :  A melakukan 3 jenis kejahatan yang masing-masing diancam pidana 4 tahun. karena melebihi jumlah maksimum pidana untuk masing-masing kejahatan tersebut. . a. 250. Concursus Realis (pasal 65 s/d 71). Apabila nilai kerugian yang timbul dari kejahatan-kejahatn ringan yang dilakukan sebagai perbuatan berlanjut itu lebih dari Rp. 379 (penipuan ringan) dan 407 (1) (perusakan barang ringan) yang dilakukan sebagai perbuatan berlanjut. Dalam hal ini yang dapat digunakan ialah 9 tahun + (1/3 x 9) tahun = 12 tahun penjara. Untuk concursus realis berupa kejahatan yang diancam pidana pokok sejenis.. maksimum pidana yang dapat dijatuhkan ialah jumlah ancaman pidananya yaitu 10 tahun penjara. b.masing diancam pidana penjara 1 tahun dan 9 tahun. Jadi disini berlaku system absorbsi yang dipertajam. berlaku pasal 65 yaitu hanya dikenakan satu pidana dengan ketentuan bahwa jumlah maksimum pidana tidak boleh lebih dari maksimum terberat ditambah sepertiga. 3.269 270 c). Misal : 1). system ini disebut system Kumulasi yang diperlunak. A melakukan 2 jenis kejahatan yang masing-masing diancam pidana 9 bulan kurungan dan dua tahun penjara. 5 tahun dan 9 tahun. tetapi jumlahnya tidak boleh melebihi maksimum piudana yang terberat ditambah sepertiga. 372 (penggelapan). 373 (penggelapan ringan).maka menurut pasal 64 ayat (3) dikenakan aturan pidana yang berlaku untuk kejahatan biasa. Dalam hal ini.

Bagaimanakah dalam hal A melakukan 2 jenis kejahatan yang masing-masing diancam 6 bulan penjara dan denda Rp. Adapun maksimumnya adalah 2 tahun ditambah (1/3 x 2) tahun = 2 tahun 9 bulan atau 33 bulan.000. tetapi karena menurut pasal 30 (3) maksimum kurungan pengganti 6 bulan.= Rp. 1. 18 tahun 1960.. .-_ Perhitungan blok mengenai jumlah pidana kurungan pengganti di atas masih didasarkan pada perhitungan lama sebelum adanya perubahan pidana denda 15 kali menurut UU No. 334.kurungan penggantinya sama dengan 134 hari (dibulatkan)... . 333.271 272 Dalam hal ini semua jenis pidana (penjara dan kurungan) harus dijatuhkan. Menurut perhitungan lama. 1. 1.000.maksimumnya kurungan penggantinya 6 bulan. Dengan demikian pidana yang dijatuhkan misalnya terdiri dari 2 tahun penjara dan 8 bulan kurungan. Dengan demikian maksimumnya ialah 6 + (1/3 x 6) bulan = 8 bulan.Menurut Noyon semuanya harus dijatuhkan yaitu 6 bulan penjara dan denda Rp. 2)..76. 1.- - - - - (atau dibulatkan menjadi Rp. tiap denda 50 sen atau kurang dihitung sama dengan satu hari kurungan pengganti.000. Dengan telah adanya perubahan pidana denda..Menurut blok perhitungannya sbb : pidana denda dijadikan dulu pidana kurungan pengganti yaitu maksimum 6 bulan (lihat pasal 30 KUHP).= Rp. Karena semua jenis pidana harus dijatuhkan maka 6 bulan ini dipecah menjadi 6 bulan penjara dan 2 bulan kurungan pengganti atau sama dengan 1/3 x Rp.-.30. maka untuk denda Rp. 1. maka 1 hari kurungan pengganti dihitung sama dengan Rp. 1.447.000.000.(yaitu 50 sen dikalikan 15) jadi untuk denda Rp. Dengan demikian apabila diikuti perhitungan menurut Blok di atas maka jumlah maksimum 8 bulan dapat dipecah misalnya menjadi 6 bulan penjara dan 2 bulan kurungan pengganti atau sama dengan denda 60/134 x Rp.? mengenai hal ini ada dua pendapat : .50. 7.000.

berlaku pasal 71 yang berbunyi sbb: “Jika seseorang setelah dijatuhi pidana kemudian dinyatakan salah lagi karena melakukan kejahatan atau pelanggaran lain sebelum ada putusan pidana itu. Kalau dipilih ancaman pidana yang sejenis. . d. Bagaimanakah dalam hal A melakukan dua jenis kejahatan yang terdapat dalam pasal 351 (diancam pidana 2 tahun 8 bulan penjara atau denda Rp. 364. Namun menurut pasal 70 ayat 2. 373. Untuk Concursus Realis berupa pelanggaran. maka maksimum pidana kurungan yang dapat dijatuhkan bukanlah (9+9) bulan = 18 bulan. Jadi misal A melakukan dua pelanggaran yang masing-masing diancam pidana kurungan 9 bulan.273 274 3).500. Untuk Concursus Realis berupa kejahatan ringan. system kumulasi itu dibatasi sampai maksimum 1 tahun 4 bulan kurungan.  Tetapi apabila A misalnya melakukan 3 kejahatan ringan yang masingmasing diancam pidana penjara 3 bulan. Maksimum pidana yang dapat dijatuhkan adalah 6 bulan penjara (system kumulasi). baik kejahatan maupun pelanggaran untuk diadili pada saat berlainan. 4.-) dalam pasal 360 (diancam pidana 5 tahun penjara atau 1 tahun kurungan ? Dalam hal ini hakim harus mengadakan “pilihan hukum” terlebih dahulu. 379 dan 482 berlaku pasal 70 bis yang menggunakan system kumulasi tetapi dengan pembatan maksimum untuk penjara 8 bulan. khusus untuk pasal 302 (1). maka maksimumnya adalah (6+9) bulan = 15 bulan. berlaku pasal 70 yang menggunakan system kumulasi. Misal A melakukan dua pelanggaran yang masing-masing diancam piadan kurungan 6 bulan dan 9 bulan. maka digunakan system absornsi yang dipertajam / diperberat (pasal 65). 352. Untuk Concursus Realis. tetapi maksimumnya adalah 1 tahun 4 bulan atau hanya 16 bulan. maka maksimumnya bukan 9 bulan penjara (kumulasi) tetapi 8 bulan penjara. Misal :  A melakukan pencurian ringan (pasal 364) dan penggelapan ringan (pasal 373) yang masing-masing diancam pidana 3 bulan penjara. e. maka pidana yang dahulu diperhitungkan pada pidana yang akan dijatuhkan dengan menggunakan aturan-aturan dalam bab ini mengenai c.

Kemudian A ditangkap dan diadili dalam satu keputusan. diancam 4 tahun penjara). Andaikata untuk keempat tindak pidana itu. dapatlah bunyi pasal 71 diatas dirumuskan secara singkat sbb : Putusan ke II = (putusan sekaligus) – (putusan ke-I). Misal : A melakukan kejahatan-kejahatan sbb :  Tgl. maka jika kemudian ternyata bahwa A pada tanggal 14/1 (jadi sebelum ada keputusan) melakukan penggelapan (pasal 372 yang diancam pidana penjara 4 tahun). . 5/1 : penganiayaan biasa (pasal 351 diancam 2 tahun 8 bulan). Dengan contoh diatas. 1/1 : pencurian (pasal 362.  Tgl. hakim menjatuhkan pidana 6 tahun penjara.275 276 hal perkara-perkara diadili pada saat yang sama”. 10/1 : penadahan (pasal 480. maka keputusan yang kedua kalinya ini untuk penggelapan itu paling banyak hanya dijatuhi pidana penjara selama 6 tahun 8 bulan (putusan sekaligus) dikurangi 6 tahu (putusanI) yaitu 8 bulan penjara.  Tgl.  Tgl. ancaman pidana 5 tahun penjara). diancam 4 tahun penjara). Maksimum pidana yang dapat dijatuhkan ialah 5 tahun + (1/3 x 5 tahun) = 6 tahun 8 bulan. 20/1 : penipuan (pasal 378.

v. tidak dapat dipidana.T menyebut 2 (dua) alasan :  Alasan tidak dapat dipertanggungjawabkannya seseorang yang terletak pada diri orang itu (inwendig). Pertumbuhan jiwa yang tidak sempurna atau terganggu karena sakit (pasal 44 KUHP) b. karena : 1) Orangnya tidak dapat dipersalahkan. aialah alasan-alasan yang memungkinkan orang yang melakukan perbuatan yang memenuhi rumusan delik. Umur yang masih muda (mengenai umur yang masih muda ini di Indonesia dan juga di negeri Belanda sejak tahun 1905 tidak lagi merupakan lasan penghapus pidana Dalam hukum pidana perlu dikemukakan materi tentang alasan-alasan yang mengecualikan dijatuhkannya hukuman. yakni : a. Berdasarkan sifatnya ini maka UU pidana mengandung kemungkinan akan dijatuhkannya hukuman yang adil bagi orang-orang tertentu yang mungkin saja tidak bersalah. mengurangkan dan memberatkan pidana”.277 278 BAB XIII ALASAN / DASAR PENGHAPUS PIDANA (Strafuitsluitingsgrond.T dari KUHP (Belanda) dalam penjelasannya mengenai alasan mengahpus pidana ini. Pembicaraan selanjutnya akan mengenai alasan penghapus pidana.v. Alasan atau Dasar Penghapusan Pidana merupakan hal-hal atau keadaan yang dapat mengakibatkan seseorang yang telah melakukan . Sehingga. Grounds Of Impunity) perbuatan yang dengan tegas dilarang dan diancam dengan hukuman oleh UU Pidana (KUHP). Bab I dan Bab II KUHP memuat : “ Alasan-alasan yang menghapuskan. M. tidak dihukum. UU pidana seperti UU lainnya mengatur hak-hal yang umum dan yang akan terjadi (mungkin akan terjadi). mengemukakan apa yang disebut “alasan-alasan tidak dapat dipertanggungjawabkannya seseorang atau alasanalasan tidak dapat dipidananya seseorang”. masih menurut Utrecht. karena menurut Utrecht. Dengan demikian materi ini menjadi penting untuk memperoleh kepastian dan keadilan hukum dalam penyelesaian suatu perkara pidana. meskipun orang tersebut melakukan suatu tindakan sesuai dengan lukisan perbuatan yang dilarang oleh UU pidana. M. UU pidana mengatur hal-hal yang bersifat abstrak dan hipotesis. 2) Perbuatannya tidak lagi merupakan perbuatan yang melawan hukum.

maka dibedakan dua jenis alasan penghapus pidana : a) Alasan pembenar (rechtvaardigingsgrond. b. Pasal 221 ayat (2) : menyimpan orang yang melakukan kejahatan dan sebagainya”. pasal 50 (peraturan perundangundangan) dan pasal 51 (1) (perintah jabatan). yaitu yang hanya berlaku unutk delik-delik tertentu saja. Alasan tidak dapat dipertanggungjawabkannya seseorang yang terletak di luar orang itu (uitwendig). Alasan penghapus pidana yang umum (starfuitingsgronden yang umum). yaitu: a. meskipun perbuatan ini telah memenuhi rumusan delik dalam undang-undang. b) Alasan pemaaf atau alasan penghapus kesalahan (schulduitsluittingsgrond-fait d’excuse. Kalau perbuatannya tidak melawan hukum maka tidak mungkin ada pemidanaan. dalam arti bahwa orang ini tidak dapat dicela (menurut hukum) . Melaksanakan Undang-undang (pasal 50). Alasan pemaaf menyangkut pribadi si pembuat. II. suami dan sebagainya (orang-orang yang masih ada hubungan darah). schuldausschliesungsgrund). yaitu yang berlaku umum untuk tiap-tiap delik dan disebut dalam pasal 44. d. Alasan pembenar menghapuskan sifat melawan hukumnya perbuatan. c. 48. sejalan dengan pembedaan antara dapat dipidananya perbuatan dan dapat dipidananya pembuat. Alasan pembenar yang terdapat dalam KUHP ialah pasal 48 (keadaan darurat). entschuldigungsdrund. ialah : 1.279 280  melainkan menjadi dasar untuk memperingan hukuman). Alasan penghapus pidana yang khusus (starfuitingsgronden yang khusus). misal : I. 2. 49.T. Selain perbedaan yang diterangkan dalam M. rechtfertigungsgrund). maka orang tersebut harus melaporkan. Melaksanakan perintah jabatan (pasal 51). Disini ia tidak dituntut jika ia hendak menghindarkan penuntut dari istri. 50 dan 51 KUHP. Pasal 166 KUHP : “Ketentuan-ketentuan pasal 164 dan 165 KUHP tidak berlaku pada orang yang karena pemberitahuan itu mendapat bahaya untuk dituntut sendiri dst………………………………………” Pasal 164 dan 165 memuat ketentuan : bila seseorang mengetahui ada makar terhadap suatu kejahatan yang membahayakan Ilmu pengetahuan hukum pidana juga mengadakan pembedaan lain. Daya paksa atau overmacht (pasal 48). Pembelaan terpaksa atau noodweer (pasal 249). ilmu pengetahuan hukm Pidana juga mengadakan pembedaan sendiri. Negara dan Kepala Negara. Penghapusan pidana dapat menyangkut perbuatan atau pembuatnya. fait justificatif.v. pasal 49 ayat (1) (pembelaan terpaksa).

48. Seperti diketahui M. Penafsiran bisa . Alasan pemaaf yang terdapat dalam KUHP ialah pasal 44 (tidak mampu bertanggungjawab). TIDAK MAMPU BERTANGGUNG JAWAB (PASAL 44) : Pasal 44 KUHP memuat ketentuan bahwa tidak dapat dipidana seseorang yang melakukan perbuatan DAYA PAKSA-OVERMACHT (PASAL 48 KUHP).281 282 dengan perkataan lain ia tidak bersalah atau tidak dapat dipertanggungjawabkan. Tidak adanya kemampuan bertanggung jawab mengahpuskan kesalahan mekipun perbuatannya tetap melawan hukum.v. dapat merupakan alasan pembenar dan dapat pula merupakan alasan pemaaf. 49. pasal 51 ayat (2) (dengan itikad baik melaksanakan perintah jabatan yang tidak sah). 50 dan 51 KUHP. selanjutnya dari hasil tersebut akan disampaikan di muka persidangan. Untuk membuktikan apakah seseorang yang melakukan tindakpidana ternyata tidak dapat dihukum dengan lasan pasal 44 KUHP. Adapun mengenai pasal 48 (daya paksa) ada dua kemungkinan. maka kita memerlukan ilmu pengetahuan lain yang dapat membantu yaitu psikiatri forensic. sehingga dalam hal ini dapat dikatakan suatu alasan penghapus kesalahan. Pasal 48 KUHP menentukan : “ tidak dipidana seseorang yang melakukan perbuatan yang didorong oleh daya paksa”. Pelaku akan diperiksa oleh seorang ahli (yang akan menyampaikan catatan medis). sehingga tidak mungkin pemidanaan. Apa yang diartikan dengan daya paksa ini dapat dijumpai dalam KUHP. Jadi disini ada alasan yang menghapuskan kesalahan si pembuat. yang tidak dapat dipertanggung jawabkan kepadanya karena kurang sempurna akal/jiwanya atau terganggu karena sakit. pasal 49 ayat (2) (noodweer exces). ALASAN PENGHAPUS PIDANA (UMUM) DALAM KUHP. Uraian berikut membahas tentang dasar penghapus pidana yang terdapat dalam pasal 44. meskipun perbuatannya bersifat melawan hukum.T menyebutkan sebagai tak dapat dipertanggung-jawabkan karena sebab yang terletak didalam si pembuat sendiri. (Mengenai pasal 44 KUHP ini hendaknya dilihat lagi Bab Kemampuan Bertanggung jawab yang membahas tentang kesalahan dan pertanggung jawaban pidana).

kasir bank. Maka dalam overmacht (daya paksa) dapat dibedakan dalam du hal : 1. vis absoluta (paksaan yang absolut). Perlawanan terhadap paksaan itu tak boleh disertai syarat-syarat yang tinggi sehingga harus menyerahkan nyawa misalnya. B dapat berpikir dan menentukan kehendaknya. Yang dimaksud dengan daya paksaan disini bukan paksaan mutlak. memberi sifat kepada tekanan atau paksaan itu. Memang ada paksaan tetapi masih ada kesempatan bagi B untuk mempertimbangkan apakah ia melanggar kewajibannya untuk menyimpan surat-surat berharga itu dan menyerahkannya kepada A atau sebaliknya.T dilukiskan sebagai : “setiap kekuatan.v.283 284 dilakukan dengan melihat penjelasan yang diberikan oleh pemerintah ketika undang-undang (Belanda) itu dibuat. Moelyatno hanya menyebut “karena penagruh daya paksa”). Contoh : A mengancam B. Ia ada ditengah-tengah dua hal yang sulit yang sama-sama buruknya. dan jalan lain juga tidak ada. . Dalam M. Pada overmacht (daya paksa) orang ada dalam keadaan dwangpositie (posisi terjepit). Kalimat “tidak dapat ditahan” menunjukkan. Antara sifat dari paksaan di satu pihak dan kepentingan hukum yang dilanggar oleh si pembuat di lain pihak harus ada keseiombangan. sehingga kaca pecah. Jadi harus ada kekuatan (daya) yang mendesak dia kepada suatu perbuatan yang dalam kata lain tak akan ia lakukan. Daya paksa yang absolute vis absoluta dapat disebabkan oleh kekuatan manusia atau alam. Dalam hal ini paksaan tersebut sama sekali tak dapat ditahan. yang tak dapat ditahan”. Contoh : tangan seseorang dipegang oleh orang lain dan dipukulkan pada kaca. Sifat dari daya paksa ialah bahwa ia datang dari luar diri si pembuat dan lebih kuat dari padanya. B dapat menolak. yang tidak memberi kesempatan kepada si pembuat menentukan kehendaknya. (Prof. 2. melainkan apa yang dapat diharapkan dari seseorang secara wajar. Keadaan ini harus ditinjau secara obyektif. masuk akal dan sesuai dengan keadaan. Hal yang disebut terakhir ini. setiap paksaan atau tekanan yang dapat ditahan”. bahwa menurut akal sehat tak dapat diharapkan dari si pembuat untuk mengadakan perlawanan. dengan meletakkan pistol di dada B. vis compulsive (paksaan yang relatif). Yang dimaksud denganm daya paksa dalam pasal 48 ialah daya paksa relative (vis complusiva). ia tidak menyerahkan dan ditembak mati. Istilah “gedrongen” (didorong) menunjukkan bahwa paksaan itu tak dapat diharapkan bahwa ia akan dapat mengadakan perlawanan. Maka orang yang pertama tadi tak dapat dikatakan telah melakukan perusakan benda (pasal 406 KUHP). untuk menyerahkan uang yang disimpan oleh B. jadi tak ada paksaan absolut.

Namun di Belanda sejak tahun lima puluhan ada perubahan pandangan.  Hakim tidak boleh begitu saja mengabaikan alasan keberatan hati nurani. Di Jerman untuk daya paksa ada istilah notigungstand (pasa. Dalam vis compulsiva (daya paksa relative) kita dibedakan daya paksa dalam arti sempit (atau paksaan psikis) dan keadaan darurat. maka kedua-duanya akan tenggelam. II. terdapat 3 bentuk dari keadaan darurat : I. Daya paksa dalam arti sempit ditimbulkan oleh orang sedang pada keadaan darurat. yang diatur dalam pasal 54 SGB. Misal : . paksaan itu datang dari hal di luar perbuatan orang KUHP kita tidak mengadakan pembedaan tersebut.  Keberatan hati nurani (terhadap masuk dinas tentara) bukan keadaan darurat. Kalau keduaduanya tetap berpegangan pada papan itu. namun menurut hukum perbuatan ini karena dapat difahami bahwa merupakan naluri setiap orang untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Ia harus memeriksa kemungkinannya masuk kedalam alasan penghapusan pidana yang umum. tanpa melihat sampai di mana si pembuat dapat di cela atas perbuatannya. Pertentangan antara kepentingan hukum dan kewajiban hukum. Mungkin ada orang yang memandang perbuatan itu bertentangan dengan norma kesusilaan. seorang diantaranya mendorong temannya sehingga yang di dorong mati tenggelam dan yang mendorong terhindar dari maut (cerita ini berasal dari CICERO). karena ada dalam keadaan darurat.R tgl 26 Juni 1916 (Arrest “tak mau masuk tentara”). Maka untuk menyelamatkan diri. 52 SGB) dan keadaan darurat disebut notstand.285 286 Paksaan Dario dalam : Kita mengambil contoh dari Arrest H. Dalam Arrest ini. Ada dua orang yang karena kapalnya karam hendak menyelamatkan diri dengan berpegangan pada sebuah papan. Hal ini tidak bisa diterima. KEADAAN DARURAT-NOODTOESTAND (PASAL 48 KUHP). padahal papan itu tak dapat menahan dua orang sekaligus. Menurut doktrin. Mereka tak mau taat pada undang-undang dan ingin mengikuti pandanganya sendiri mengenai keadilan dan kesusilaan yang menyimpang dari ketenatuan undang-undang. Pertentangan antara dua kepentingan hukum : Contoh klasik : “papan dari carneades”. Orang yang mendorong tersebut tidak dapat dipidana. orang yang tak mau masuk dinas tentara karena suara hati atau hati nuraninya keberatan tetap dihukum.

Di sini ia memilih tetap merahasiakan penyakit pasiennya. Dokter tersebut tak mau melaporkan pada atasan. Permintaan kasasi oleh jaksa terhadap putusan hakim yang menyatakan bahwa. sebab dengan memberi laporan pada atasannya ia berarti melanggar sumpah jabatan sebagai dokter yang harus merahasiakan semua penyakit dari para pasiennya. dan mahkamah tentara tinggi membebaskannya karena ia ada dalam keadaan darurat (putusan tgl. 2. maka penjual kacamata dapat dikatakan bertindak dalam keadaan memaksa dan khususnya dalam keadaan darurat. lalu masuk atau melewati rumah orang lain guna menyelamatkan barang-barangnya. terdakwa (opticien) tak dapat dipidana dan melepas terdakwa dari segala tuntutan.R (putusan tgl. tak dapat diterima oleh H. Disini dihadapkan pada dua kewajiban hukum :  Melaksanakan perintah dari atasannya (sebagai tentara)  Memegang teguh rahasia jabatan sebagai dokter. Pertentangan antara kewajiban hukum dangan kewajiban hukum : a) Seorang perwira kesehatan (dokter angkatan laut) diperintahkan atasannya untuk melaporkan apakah ada para perwira-perwira laut yang bebas tugas dan berkunjung ke darat . tetapi dokter tadi naik banding. Orang yang sedang menghadapi bahaya kebakaran rumahnya. sehingga pemilik took dilarang melakukan penjualan. Terdakwa ada dalam keadaan darurat. Oleh pengadilan tentara ia dikenakan hukuman 1 (satu) hari. Ia memberatkan salah satu. jadi ia tetap patuh pada sumpah kedokteran.287 288 1. VAN HATTUM dalam hal 351 membandingkan daya memaksa dengan noodtoestand sebagai berikut : Pada daya memaksa dalam arti sempit si pembuat berbuat atau tidak berbuat III. 26 November 1916). 15 Oktober 1923). Seorang pemilik toko kacamata kepada seorang yang kehilangan kacamatanya. Namun karena si pembeli itu ternyata tanpa kacamata tak dapat melihat. Ia merasa dalam keadaan seperti itu mempunyai kewajiban untuk menolong sesame (Arrest ini disebut Arrest optician). sehingga betul-betul dalam keadaan sangat memerlukan pertolongan. (kota pelabuhan) terjangkit penyakit kelamin. b) Seorang yang dalam satu hari (pada waktu yang bersamaan) dipanggil menjadi saksi di dua tempat. Padahal pada saat itu menurut peraturan penutupan took sudah jam tutup took.

Pasal 49 ayat (1) berbunyi :”tidak dapat dipidana seseorang yang melakukan perbuatan yang terpaksa dialkukan untuk membela dirinya sendiri atau orng lain. misalnya dengan tinju . Tidaklah dapat diharapkan dari seorang warga Negara menerima saja suatu perlakuan yang melawan hukum yang ditujukan kepada dirinya. tapi hal ini tidak perlu asal saja memenuhi syarat-syarat seperti tersebut diatas. Contoh serangan yang tidak merupakan tindak pidana. Istilah noodmeer atau pembelaan darurat tidak ada dalam KUHP sehingga untuk memahaminya kita memerlukan ajaran dari para ahli hukum pidana . Tidak terhadap semua serangan dapat diadakan pembelaan. BELA PAKSA-PEMBELAAN DARURAT-NOODWEER (PASAL 49 AYAT (1)). nyawa. adanya serangan. Dalam pembelaan darurat ada dua hal yang pokok : 1. Pada keadaan darurat si pembuat ada dalam suatu keadaan yang berbahaya yang memaksa atau mendorong dia untuk melakukan suatu pelanggaran terhadap undang-undang. Ia dororng oleh paksaan psikis dari luar yang sedemikian kuatnya. d. Syarat pembelaan : a. Bagi si pembuat tak ada penentuan kehendak secara bebas. c. melainkan pada serangan yang memenuhi syarat sebagai berikut : melawan hukum seketika dan langsung ditujukan pada diri sendiri / orang lain terhadap badan / tubuh. sehingga ia melakukan perbuatan yang sebenarnya tak ingin ia lakukan. membela peri kesopanan sendiri atau orang lain terhadap serangan yang melwan hukum yang mengancam langsung atau seketika itu juga”. ada pembelaan yang perlu diadakan terhadap serangan itu. b. seketika dan langsung b. subsidiaritas maksudnya tidak ada cara lain selain membela diri dan proporsionalitas artinya seimbang antara serangan dan pembelaan. a. Serangan itu dapat merupakan tindak pidana. dan harta benda 2. memenuhi asas subsidiaritas & proporsionalitas. Perbuatan orang yang membela diri itu seolah-olah mempertahankan haknya sendiri. kehormatan seksual. Padahal Negara dengan alat-alat perlengkapannya tidak dapat tepat pada waktunya melindungi kepentingan hukum dari orang yang diserang itu : maka pembelaan diri ini bersifat menghilangkan sifat melawan hukum.289 290 dikarenakan satu tekanan psikis oleh orang lain atau keadaan.

sedang dalam pembelaan darurat harus ada serangan. Sebagai contoh : pembunuh dengan pisau terhunus menyerbu korbannya. Dalam pembelaan daruart situasi darurat ini ditimbulkan oleh adanya perbuatan melawan hukum yang bisa dihadapi secara sah. Tentu saja perbuatan B itu harus dilihat dalam keadaan yang menyertai perbuatan itu. maka perbuatan b itu bukanlah perbuatan pembelaan karena terpaksa. sedang dalam pembelaan darurat. tetapi B lalu membalas. Dalam keadaan darurat orang dapat bertindak berdasarkan berbagai kepentingan atau alasan sedang dalam pembelaan darurat. Persoalan yang timbul pada serangan ialah : kapankah ada serangan dan kapankah serangan itu berakhir ? Sebagai contoh : A menunggu B di luar rumah. 3. kepentingan hukum dan kewajiban hukum serta kewajiban hukum dan kewajiban hukum. 4. dalam keadaan darurat tidak perlu adanya serangan. mengambil catatan untuk di fotocopy guna kepentingan majikannya tapi tidak untuk dimiliki sendiri. . karena disini terjadi serangan balasan. Dalam hubungan pembelaan darurat ini ada satu perbuatan orang yang disebut putatief noodweer. Kalau misal A menembak B tidak kena dan A tidak menunjukkan akan menembak lagi. maka perbuatan A tersebut. sedang dalam pembelaan darurat para penulis memandang sebagai alasan pembenar ialah sebagai penghapus sifat melawan hukum. Sifat keadaan darurat tidak ada keseragaman pendapat dari pada penulis yakni ada yang berpendirian sebagai alasan pemaaf dan ada sebagai alasan pembenar. Kapan serangan itu ada dan kapan serangan itu berlangsung menurut Hazewinkel-Suringa. 2. ialah : jika dapat dicegah atau dihilangkan. Apakah perbedaan pembelaan darurat ? antara keadaan darurat dan 1. pembelaan itu syarat-syarat sudah ditentukan secara limitative (pasal 49 ayat (1)). yakni menunggu belum dapat dikatakan serangan. hak berhadapan dengan bukan hak. Dalam keadaan darurat dapat dilihat adanya perbenturan antara kepentingan hukum. Istilah mengancam seketika dan langsung berarti bahwa serangan itu sedang berlangsung dan juga bahaya serangannya. dengan perkataan lain dalam keadaan darurat hak berhadapan dengan hak. disini kesengajaan dihilangkan karena orang mengira bahwa dia berada dalam keadaan di mana harus mengadakan pembelaan darurat dalam hal ini harus di lihat peristiwa dari peristiwa oleh karena itu maka harus diterangkan dalam proses verbal. Terhadap serangan yang tidak melawan hukum tidak mungkin ada pembelaan darurat.291 292 menyerbu seseorang.

dengan kata lain : antara kegoncangan jiwa tersebut dan serangan harus ada hubungan kausal. Disini juga yang perlu dilihat apakah serangan itu dapat menimbulkan akibat kegoncangan jiwa yang hebat bagi orang biasa pada umumnya. maka syarat pembelaan yang tersebut dalam pasal 49 ayat (1) disebut sebagai syarat dalam pasal 49 ayat (2). Untuk adanya kelampauan batas pembelaan darurat ini harus ada syarat-syarat sebagai berikut : 1. hasil perundang-undangan dari DPR dan/atau raja. apabila peraturan itu memberi wewenang untuk kewajiban . jika perbuatan itu merupakan akibat langsung dari suatu kegoncangan jiwa yang hebat yang disebabkan oleh serangan itu”. bingung. Mulamula Hoge Raad (HR) menafsirkan secara sempit. jadi sabagai alasan pemaaf sementara perbuatannya tetap bersifat melawan hukum. yaitu tiap peraturan yang dibuat oleh alat pembentuk undang-undang yang umum. 2. MENJALANKAN PERINTAH (PASAL 50 KUHP). Dalam hala ini umumnya cukup. Disini pembelaan itu perlu dan harus diadakan dan tidak ada jalan lain untuk bertindak. Kelampauan batas pembelaan yang diperlukan. pasal 49 ayat (2) dan ayat (1) itu mempunyai hubungan yang erat. kegoncangan jiwa yang hebat itu disebabkan karena adanya serangan. Tetapi kemudian pendapat HR berubah dan diartikan dalam arti materiil. melampaui asas subsidairitas dan proporsionalitas seperti yang diisyaratkan dalam pasala 49 ayat (1) KUHP. Pasal tersebut bunyinya : “tidak dipidana seseorang yang melampaui batas pembelaan yang diperlukan. Sifat dari noodweer exces adalah menghapuskan kesalahan (pertanggungjawaban pidana). Yang menyebabkan kegoncangan jiwa yang hebat itu harus penyerangan itu dan bukan misalnya karena sifat mudah tersinggung. Cara dan alat tersebut harus dibenarkan pula oleh keadaan. UNDANG-UNDANG Pasal 50 KUHP menentukan bahwa “tidak dipidana seseorang yang melakukan perbuatan untuk melaksanakan peraturan perundang-undangan”. Dalam hubungan ini persoalannya adalah apakah perlu bahwa peraturan perundang-undangan itu menentukan kewajiban untuk melakukan suatu perbuatan sebagai pelaksanaan.293 294 BELA PAKSA LAMPAU-NOODWEER EXCES (PASAL 49 AYAT 2 KUHP) (pelampauan batas pembelaan darurat atau bela paksa lampau batas) Istilah exces dalam pembelaan darurat tidak dapat kita jumpai dalam pasal 49 ayat (2). yang dimaksud dengan UU ialah : undang-undang dalam arti formil. 3. Pembelaan dilakukan sebagai akibat yang langsung dari kegoncangan jiwa yang hebat (suatu perasaan hati yang sangat panas). Termasuk disini adalah rasa tajut. dan mata gelap.

Yang diperbolehkan adalah tindakan eksekutor yang melaksanakan eksekusi terhadap terpidana mati. misalnya seperti permintaan bantuan oleh pamong praja kepada angkatan bersenjata (sesuai pasal 413 KUHP). Maka jika seorang melakukan perintah yangsah ini maka ia tidak melakukan perbuatan yang melawan hukum. Contoh kasus : seorang Letnan Polisi diperintah oleh Kolonel Polisi untuk menangkap pelaku tindak pidana. Jadi dalam tindakan ini seperti dalam daya memaksa dan dalam pembelaan darurat harus ada keseimbangan antara tujuan yang hendak dicapai dengan cara pelaksanaannya. Dalam pasal 51 inipun cara melaksanakan perintah harus patut dan wajar. untuk dapat membebaskan diri dari tuntutan hukum. Anatar orang yang diperintah dan orang yang memerintah harus ada hubungan jabatan dan harus ada hubungan sub-ordinasi (hubungan atasan dan bawahan). pula harus seimbang dan tidak boleh melampaui . wewenang atau kewajiban yang didasarkan kepada suatu peraturan. Perbuatan orang yang menjalankan peraturan undangundang tidak bersifat melawan hukum. Jadi dalam hal ini letnan polisi tersebut melaksanakan perintah jabatan yang sah. tidak dapat berlindung dibawah pasal 50 KUHP ini. Dalam hal ini dipakai pedoman : “lex specialis derogate legi generaki” atau “lex posterior derogate legi priori”. Bilamanakah perintah itu dikatakan sah ? apabila perintah itu berdasarkan tugas. maka orang dapat melaksanakan undang-undang sendiri. Dengan perkataan lain kewajiban / tugas itu diperintahkan oleh peraturan undang-undang. wajar dan masuk akal. Misalnya : Pejabat polisi. akan tetapi juga dapat menyuruh orang lain untuk melaksankannya. Kejengkelan pejabat tersebut tidak dapat membenarkan tindakannya. Jadi untuk dapat menggunakan pasal 50 ini maka tindakan harus dilakukan secara patut. Sesuai pasal 51 ayat (1) yang menyebutkan bahwa “tidak dipidana seseorang yang melakukan perbuatan untuk melaksankan perintah jabatan yang sah”. meskipun sifatnya sementara. MELAKSANKAN PERINTAH JABATAN (PASAL 51 AYAT (1) DAN (2)). Dalam hukum acara pidana dan hukum acara perdata dapat dijumpai adannya kewajiban dan tugas-tugas/wewenang yang diberikan pada pejabat/orang untuk bertindak. Kadang-kadang dalam melaksanakan peraturan undang-undang dapat bertentangan dengan peraturan lain. Colonel polisi tersebut berwenang untuk memerintahkannya. yang menembak mati seorang pengendara sepeda yang melanggar peraturan lalu lintas karena tidak mau berhenti tanda peluitnya. sehingga pasal 50 tersebut merupakan alasan pembenar.295 296 tersebut dalam melaksanakan perundang-undangan ini diberikan suatu kewajiban.

karena memukul seorang tahanan tidak termasuk wewenang dari seorang anggota polisi. sebabnya ialah pengeluaran dari pemerintah sudah ditentukan pos-pos tertentu. Sifat dari perbuatan seorang yang melakukan perbuatan karena perintah jabatan yang tidak sah ialah : perbuatannya tetap perbuatan yang melawan hukum. tetapi behubung dengan keadaan pribadinya maka ia tidak dapat dipidana. Perintah jabatan ini adalah alasan pembenar. perintah itu berada dalam lingkungan wewenang dari orang yang diperintah. akan tetapi pembuatnya tidak dipidana. Catatan : Mengenai ketaatan seorang bawahan kepada atasannya Hazewinkel-Suringa mengatakan. jika ia mengira dengan itikad baik bahwa perintah itu sah. tetapi ternyata perintah tidak beralasan atau tidak sah. Disini bendaharawan itu dapat dipidana. Andaikata bendaharawan tiu melaksanakan perintah tersebut tapa akibatnya ? perintah tersebut tidak sah karena pembelian mobil itu tidak termasuk dalam wewenang bendaharawan tersebut. Keadaan tersebut adalah merupakan alasan pemaaf. Contoh lainnya : Seorang kepala polisi memerintahkan anak buahnya untuk memukuli seorang tahanan yang menjengkelkan. Andaikata bawahan ini mengira bahwa perintah itu sah maka ia tetap dapat dipidana. bahwa ketaatan yang membuta tidak mendisculpeert” (tidak patut di pidananya perbuatan). yang tidak masuk dalam mata-anggaran. Disini agen polisi tidak dapat dipidana karena : ia patut menduga bahwa perintah itu sah dan pelaksanaan perintah itu ada dalam batas wewenangnya. karena ia patut menduga bahwa perintah itu tidak sah. dikatakan melakukan perintah jabatan yang tidak sah menghapuskan dapat dipidananya seseorang. apabila memenuhi syarat : 1. 2. misal : mobil. Sebagai contoh : seorang agen polisi mendapat perintah dari kepala kepolisian untuk menangkap seorang agitator dalam suatu rapat umum atau umumnya seorang yang dituduh telah melakukan kejahatan. Syarat pasal 51 ayat (2) KUHP. Contoh lainnya : Seorang kepala kantor memerintahkan kepada bendaharawan untuk mengeluarkan sejumlah uang guna sesuatu pembelian. .297 298 batas kepatutan. Dalam keadaan ini perbuatan orang ini tetap bersifat melawan hukum.

Dimuka telah dibicarakan tentang alasan penghapus pidana yang berupa alasan pembenar dan pemaaf (atau alasan penghapus kesalahan) yang terdapat dalam KUHP. f. gurur untuk menertibkan anakanak atau anak didiknya (tuchtrecht). AVAS merupakan singkatan dari afwezigheid van alle schuld. mewakili urusan orang lain (zaakwaarneming). diluar undang-undang pun ada alasan penghapus pidana. apoteker. apabila dapat diterima secara wajar bahwa ia boleh berbuat seperti itu. pada kenyataannya ialah bahwa tidak ada alasan penghapus pidana tersebut dalam hal ini ada alasan . Ia dapat berlindung pada “taksi” (avas). ijin atau persetujuan dari orang yang dirugikan kepada orang lain mengnai suatu perbuatan yang dapat dipidana. hak dari orang tua. Dapatkah orang tersebut dipidana ? sesuai dengan pendapat MJ van Bemmelen orang tersebut tidak dapat dijatuhi pidana. tidak adanya kesalahan sama sekali (avas. pada arrest susu dan air). terjadi eror fact (kekeliruan yang berkenaan dengan situasi factual) atau eror yuridis (kekeliruan yang berkenaan dengan situasi yuridis). apabila dilakukan tanpa ijin atau persetujuan (consent of the victim). b. d. Alasan penghapus pidana putatief merupakan alasan penghapus kesalahan atau alasan pemaaf. bidan dan penyelidik ilmiah (misalnya untuk vivisectie). Ada kemungkinan bahwa seseorang mengira telah berbuat sesuatu dalam daya paksa atau dalam keadaan pembelaan darurat atau dalam menjalankan undangundang atau dalam melaksanakan perintah jabatan yang sah. misalnya : a. tidak adanya unsur sifat melawan hukum yang materiil (arrest dikter hewan). hak yang timbul dari pekerjaan (beroepsrecht) seorang dokter. c.299 300 ALASAN PENGHAPUS PIDANA DI LUAR UU. Menurut Jan Remmelink. PENGHAPUS PIDANA PUTATIEF DAN penghapus pidana yang putatief. e. jika ada kasus-kasus di mana kita dapay membuktikan bahwa tiada kesalahan sama sekali maka kita dapat menggunakan avas untuk : kasus-kasus khusus. ALASAN AVAS.

Namun demikian terdapat beberapa hal yang menjadi dasar atas gugurnya kewenangan jaksa untuk melakukan penuntutan menurut KUHP adalah : a. Matinya terdakwa (pasal 77 KUHP) d. pencemaran nama baik (319) dan lain-lain. Pada prinsipnya kewenangan melakukan penuntutan hadir seketika ada dugaan terjadinya tindak pidana. Telah ada pembayaran denda maksimum kepada pejabat tertentu untuk pelanggaran yang hanya diancam dengan denda saja (pasal 82 KUHP). maka hukum memberikan pilihan kepadanya untuk mencegah atau memulai suatu proses penuntutan. Amnesti Delik Aduan. Abolisi b. Daluwarsa (pasal 78 KUHP) e. Kewenangan melakukan penuntutan pada prisipnya tidak berhubungan dengan kehendak perorangan kecuali dalam beberapa delik tertentu diantaranya perzinahan (pasal 284). persetubuhan terhadap anak dibawah umur (pasal 287-288). GUGURNYA KEWENAGAN MENUNTUT. delik aduan dibagi dalam dua bentuk : a. untuk melarikan wanita (pasal 332). Ne bis in idem (pasal 76 KUHP) c. . I.301 302 BAB XIV GUGURNYA KEWENANGAN MENUNTUT DAN MENJALANKAN PIDANA Sementara ketentuan diluar KUHP adalah : a.1. Delik Aduan Absolut Dalam hal dianggap bahwa kepentingan orang yang terkena tindak pidana itu melebihi kerugian yang diderita oleh umum. Tidak adanya pengaduan dalam hal delik aduan (pasal 72-75 KUHP) b. Bentuk Delik Aduan Dalam ilmu pengetahuan hukum pidana. Disini dianggap bahwa kepentingan umum dianggap langsung terkena sehingga pihak yang terkena tindak pidana itu harus menerima adanya penuntutan sekalipun ia sendiri tidak menghendakinya. Misal : A.

2. Disamping ketentuan umum tersebut diatas . pasal 335 (1) & (2) (perbuatan tidak menyenangkan) atau pasal 369 (pengancaman).303 304 Seorang perempuan muda yang telah disetubuhi boleh memilih untuk menikahi lakilaki yang menyetubuhinya daripada pelaku dijatuhi pidana. Dalam hal relasi antara sifat keperdataan yang lahir dari h8ubungan tersebut dapat menjadi alasan dalam mencegah terjadinya penuntutan. Kebanyakan delik-delik ini terkait dengan delik dibidang harta benda (pasal 367 KUHP). selama pemeriksaan dalam siding pengadilan . b. Yang berhak mengadu hanya suami / istri yang tercemar (ketentuan pasal 72 dan 73 diatas tidak berlaku). Yang berhak mengadu (subyek). misalnya :  Untuk perzinahan (pasal 284). atau Suami / istri (kecuali ybs tidak menghendaki). Delik aduan absolute ini dapat dijumpai antara lain dalam ketentuan pasal 293 (perbuatan cabul terhadap anak dibawah umur) pasal 322 (pelanggaran kewajiban menyimpan rahasia). sewaktu-waktu. Penarikan kembali pengaduan dapat dilakukan. Ketentuan umum menentukan : dalam pasal 72 KUHP 1) Jika ybs. ada pula ketentuan-ketentuan khusus. Baik hubungan karena keturunan / darah atau dalam hal hubungan perkawinan. II. Belum 18 th / belum cukup umur / dibawah pengampunan (pasal 72) :  Oleh wakil yang sah dalam perkara perdata. Delik Aduan relative Karakter delik aduan ini tidak terletak pada sifat kejahatan yang dilakukan melainkan pada hubungan antara pelaku / pembantu dan korban.  Wali pengawas / pengampu  Istrinya  Keluarga sedaraj garis lurus  Keluarga sedarah garis menyimpang sampai derajat ke-3 2) Jika ybs meninggal pasal 73 oleh :    Orang tuanya Anaknya.

Sering juga digunakan istilah “nemodebet bis vexari” (tidak seorangpun atas perbuatnya dapat diganggu / dibahayakan untuk kedua kalinya) yang dalam literature Angka Saxon diterjemahkan menjadi “No one could be put twice in jeopardy for tha same offerice”. B. Bertempat tinggal di Indonesia 6 bulan sejak mengetahui b. pada dasarnya .3. atau suaminya. oleh : wanita ybs. II.305 306 belum dimulai (ayat 4). Jadi ketentuan pasal 75 KUHP tidak berlaku. meskipun undang-undang memberikan jangka waktu 3 bulan (pasal 75). Diakuinya azas Neb is in idem ini terlihat dalam rumusan pasal 76 KUHP yang berbunyi (ayat (1) sub 1) sbb : “Kecuali dalam hal putusan haikm masih mungkin diulangi (herzeining). b) Untuk rasa kepastian bagi terdakwa yang telah mendapat keputusan. Memang selayakanya pengaduan mencakup pelaporan (aangifte) dengan permohonan dilakukannya penuntutan (verzoek tot vervolging). Dasar pikiran atau ratio dari azas ini ialah : a) Untuk menjaga martabat pengadilan (untuk tidak memerosotkan kewibawaan Negara). jaksa penuntut umum tak perlu menunggu lewatnya daluarsa menarik adauan.  Untuk melarikan wanita (pasal 332) Yang berhak mengadu :  Jika belum cukup umur oleh : wanita ybs. NE BIS IN IDEM (PASAL 76) Arti sebeanarnya dari neb is in idem ialah “tidak atau jangan dua kali yang sama”. Dibuatnya suatu pengaduan tidak dengan serta merta berarti bahwa ijin memberikan kewenangan penuntutan dilakukan secara final. Bila pengaduan sudah disampaikan.4. Akan tetapi jika aduan tersebut ditarik kembali. Bertempat tinggal di luar Indonesia 9 bulan sejak mengetahui adanya kejahatan. Tenggang waktu pengajuan pengaduan (pasal 74) a. atau orang yang harus memberi ijin bila wanita itu kawin  Jika sudah cukup umur. orang tidak boleh dituntut dua kali karena perbuatan yang oleh hakim Indonesia II. maka kewenangan menuntut menjadi hapus. Penarikan kembali aduan.

Jadi keputusan-keputusan tersebut sudah mengandung penentuan terbukti tidaknya tindak pidana atau kesalahan terdakwa. apabila dipenuhi syarat-syarat sbb :  Ada putusan yang berkekuatan hukum tetap. Pelepasan dari segala tuntutan hukum (ontslag van allerechtvervolging) pasal 191 ayat (2) KUHAP (dulu 314 RIB). Dengan adanya syarat ini berarti terhadap putusan tersebut harus sudah tidak ada alat hukum / upaya hukum (rechtsmiddel) yang dapat dipakai untuk merubah keputusan tersebut. misalnya : a. .  Orang terhadap siap putusan itu dijatuhkan adalah sama. Azas ne bis in idem tidak berlaku untuk keputusan hakim yang belum berhubungan dengan pokok perkara. Tentang tidak berwenangnya hakim untuk memeriksa perkara yang bersangkutan. Ada pendapat bahwa peninjauan kembali (herzeining) merupakan salah satu upaya hukum.1. Jadi menurut pendapat ini. Penjatuhan pidana pasal 193 ayat (1) KUHAP (dulu 315 RIB). Pembebasan (vrijspraak) pasal 191 (1) KUHAP (dulu 313 RIB).  Perbuatan (yang dituntut kedua kali) adalah sama dengan yang pernah diputus terdahulu itu. Dengan demikian penuntutan terhadap seseorang dapat hapus berdasar neb is in idem. Tentang tidak diterimanya tuntutan Jaksa karena terdakwa tidak melakukan kejahatan. III.307 308 terhadap dirinya telah diadili dengan putusan yang berkekuatan hukum tetap”. sehingga pengecualian yang tersebut dalam pasal 76 itu (yaitu adanya herzeining merupakan pengecualian terhadap azas ne bis in idem) sebenarnya tidak perlu. Keputusan hakim (yang berkekuatan hukum tetap) yang dimaksud disini adalah keputusan terhadap perbuatan atau perkara ybs. B. dengan adanya herzeining berarti putusan itu memang belum berkelanjutan dari tuntutan hukum yang pertama. b. yaitu yang dapat berupa : I. Adanya putusan hakim yang berkekuatan hukum tetap. jadi bukan merupakan tuntutan hukum yang kedua kali. yang biasanya disebut “penetapan-penetapan” (beschikking). II.

309 310 c.I. = voorwaardelijke invrijheidstelling).Yang sekuruhnya telah dijalani. b) Putusan yang berupa pelepasan dari tuntutan hukum. Adanya keputusan hakim yang menjadi syarat neb is in idem ini tidak hanya keputusan hakim Indonesia. atau. Begitu pula sebaliknya. Jadi tegasnya pasal 76 KUHP hanya berlaku untuk perkara-perkara pidana.Yang telah diberi ampun (grasi). menurut Pompe termasuk pidana bersyarat (V.V. Tetang tidak diterimanya perkara penuntutan sudah daluwarsa. Hal ini disebut dalam pasal 76 (2) dengan syarat putusan hakim asing tersebut harus berupa : a) Putusan yang berupa pembebasan. jadi keputusan mengenai hukum pidana. Dalam pengertian “telah dijalani seluruhnya” putusan hakim asing itu. Orang yang dituntut harus sama. maka putusan hakim mengnai hal ini tidak menghalangi untuk dilakukannya penuntutan dalam perkara pidananya. karena asing). Jadi dalam hal ini tidak ada neb is in idem. atau . tetapi dapat juga keputusan hakim Negara lain (hakim Dengan syarat-syarat diatas. Ini merupakan segi subyektif dari persyaratan neb is in idem. maka orang tersebut di Indonesia dapat dituntut lagi. apabila yang diputus adsalah perkara pidananya lebih dulu. Apabila misalnya seorang pengendara motor menabrak penjual soto dan dia dituntut secara perdata untuk memberi ganti rugi. Perlu pula diperhatikan bahwa putusanputusan hakim seperti dikemukakan diatas adalah putusan yang menyangkut perkara pidana. Apabila misalnya A dan B melakukan tindak pidana bersama-sama. Jadi pasal 76 KUHP tidak mengenai penetapanpenetapan. . c) Putusan berupa pemidanaan : . maka apabila keputusan hakim asing yang berupa pemidanaan baru sebagian dijalani. = voorwaardelijke veroordelling) dan pelepasan bersyarat (V. maka putusan ini tidak merupakan alasan untuk neb is in idem dalam perkara gugatan perdata. akan tetapi yang tertangkap dan dituntut pidana baru A. maka dalam hal B kemudian tertangkap ia tetap masih dapat dituntut walaupun misalnya A dibebaskan. Adanya penetapan-penetapan serupa itu tidak merupakan alasan untuk adanya neb is in idem.

Akan tetapi apabila dipandang sebagai concursus idealis. maka hanya dimungkinkan adanya satu kali penuntutan saja. Harus ada feit / perbuatan yang sama. Kalau kasus diatas dipandang sebagai concursus realis. Mula-mula terdakwa diputus dan dipidana karena menganiaya polisi (pasal 356 sub. maka dimungkinkan ada Dalam yurisprudensi. sehingga dapat dikatakan terdakwa melakukan beberapa perbuatan. Apabila dipandang sebagai concursus idealis. Perbuatan (yang dituntut kedua kali) adalah sama dengan yang pernah diputus terdahulu itu. Kasusnya : Orang yang sedang mabuk ditempat umum mengganggu ketentraman umum.311 312 - Yang wewenang untuk menjalankannya telah hapus karena kadaluwarsa. maka tidak ada neb is in idem. ajaran feit materiil pada neb is in idem telah ditinggalkan pada tahuan 1932. telah memukul dada dan menendang kaki seorang anggota polisi yang sedang menjalankan tugasnya. kemudian oleh jaksa dituntut lagi mengenai menggangu ketentraman umu dalam keadaan mabuk (pasal 492). maka ada neb is in idem. yaitu dengan Arrest HR 27 Juni 1932. B. Seandainya Jaksa hanya menuntut berdasar pasal 285 (perkosaan) saja dan ternyata tidak terbukti.2. penuntutan lagi. Catatan : Apabila dipandang sebagai concursus realis. Jaksa mengajukan kasasi ke Hoge Raad dengan . dan pengadilan tinggi menyatakan ada ne bis in idem. Ini segi obyektif dari neb is in idem (objective identiteit). Terdakwa banding. Misal : A melakukan pemerkosaan dijalan umum (pasal 285 dan 281). Tuntutan kedua ini oleh pengadilan diterima dan terdakwa dijatuhi pidana. Masalah ini merupakan masalah yang paling sukar. sehingga terdakwa lepas dari segala tuntutan. maka apakah Jaksa masih dapat menuntut yang kedua kalinya berdasar pasal 281 (melanggar kesusilaan dimuka umum) ? dan pakah putusan yang pertama merupakan res judicata (putusan yang neb is in idem)? Jawaban terhadap masalah ini tergantung atau berkisar pada apa yang dimaksud dengan “feit”. dimana hanya dipandang ada satu perbuatan. seperi halnya dijumpai dalam concursus/ gabungan tindak pidana. 2).

Persoalan feit / perbuatan pada pasal 76. artinya kemungkinana penuntutan kembali menjadi longgar. 2) Karena kealpaannya menyebabkan matinya orang lain (pasal 359). Dengan perubahan ini menurut Pompe. apabila terdakwa dibebaskan unutk tuduhan pencurian tercantum tgl. Berdasar tempat pencurian yang sebenarnya dilakukan yaitu di Stadion Diponegoro. halangan dalam penuntutan baru. Waktu terjadinya tindak pidana Misal seorang dituntut telah melakukan pencurian pada tgl 1 Juni 1979. 3) Dengan sengaja menganiaya yang berakibat mati (pasal 351 ayat (3)). Kesukaran dan ketidakpastian yang ditimbulkan oleh perkataan ”feit” dirubah menjadi “strafbaar feit”. sehingga tuntutan jaksa dapat diterima. Jaksa tidak dapat menuntut lagi berdasar tgl. disamping berlkaitan erat de4ngan masalah concursus.313 314 mengatakan bahwa perbuatan terdakwa itu merupakan dua perbuatan dipandang dari sudut hukum pidana. jjadi disini tidak ada perbuatan yang sama. Misal semula terdakwa dituduh mencuri di taman Diponegoro. tetapi didalam surat tuduhan tercantum tgl 1 Juli 1979. Yang betul. . Disini ada neb is in idem. dapat lebih merugikan kepentingan umum dari pada mengulangi percobaan untuk penerapan undang-undang pidana dengan setepat-tepatnya. kemudian dibebaskan. jaksa dapat mengajukan permintaan unutk “merubah surat tuduhan berdasar pasal 282 HIR. b. c. Dalam hala ini sebenarnya sebelum ada putusan. seperti dimaksud dalam pasal 76 HR melihat disini juga ada 2 perbuatan yang mempunyai cirri yang berlainan. penerapan pasal 76 lebih mudah. alternativitas dalam tuduhan dapat meliputi masalah : a. asal Feitnya tetap. Jaksa kemudian mengajukan tuduhan lagi. Namun diakui bahwa itu berarti menyempitkan berlakunya pasal 76. Tetapi menurut Pompe. Perbuatannya/ketentuan yang dilanggar : Misal : perbuatan A sebenarnya dapat dikualifisir dalam 3 kemungkinan yaitu : 1) Dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain (pasal 338). 1 Juni. Tempat terjadinya tindak pidana. Disinipun ada neb is in idem. juga berhubungan dengan masalah.

1. D. Untuk kejahatan yang diancam denda. D. D. Untuk kejahatan yang diancam pidana mati atau seumur hidup : daluwarsanya sesudah 18 tahun. DALUWARSA (VERJARING). Ditetapkannya lemabga daluarsa penuntutan dalam KUHP pada dasarnya dilandasi oleh beberapa pemikiran yaitu :  Dalam kenyataannya perputaran waktu tidak hanya secara perlahan menghapuskan akibat tindak pidana yang terjadi akan tetapi juga mengahpuskan keinginan untuk melakukan pembalasan. Konsekwensi dari pemikiran ini adalah bahwa kematian seorang tersangka atau terdakwa menyebabkan kewenangan seorang Jaksa penuntut menjadi gugur. kurungan atau penjara maksimum 3 tahun : daluwarsanya sesudah 6 tahun. Dalam hal ini tidak ada suatu tanggungjawab pidana diwariskan.315 316 C. Sementara kematian seseorang terpidana menyebabkan kewajiban menjalankan pidana menjadi terhapuskan. kecuali dalm hal-hal tertentu yang disebut dalam pasal tersebut yang menyangkut vorduurende delict (delik berlangsung terus lihat penjelasan . Karena itu adagium punier non (simper) necesse est (menghukum tidak selamanya perlu) menajdi dasar dari keberadaan lembaga ini. Tenggang Waktu Daluwarsa Penuntutan. tenggang daluwarsa mulai berlaku pada hari sesudah perbuatan dilakukan.  Berjalannya waktu sekaligus menghapuskan jejak-jejak tindak pidana yang menyebabkan kesulitan pembuktian. Untuk kejahatan yang diancam pidana penjara lebih dari 3 tahun daluwarsanya 12 tahun. MATINYA TERDAKWA (PASAL 77) DAN MATINYA TERPIDANA (PASAL 83). Menurut pasal 79. Hal ini wajar karena KUHP berpendirian bahwa yang dapat menjadi subyek hukum hanyalah orang dan pertanggungan jawab bersifat pribadi.  Bahwa pelaku setelah bertahun-tahun menyembunyikan diri sudah cukup terhukum dengan kehidupan yang tidak tenang dan penuh kecemasan.1 Daluwarsa Penuntutan.1. Namun demikian yang utama dari ketiga lasan itu adalah kebutuhan untuk memidana dan kesulitan pembuktian menjadi alasan utama. yaitu :     Untuk semua pelanggaran dan kejahatan percetakan : sesudah 1 tahun. Tenggang waktu daluwarsa ditetapkan dalam pasal 78 (1).

Menurut pasal 80 (2) sesudah terjadinya pencegahan (stuiting) mulai berjalan tenggang daluwarsa yang baru. tetap diperhitungkan terus. Hanya saja selama acara hukum perdata berlangsung dan belum selesai. sebelum diadakannya penundaan. Penangguhan (scorsing). - D. 330 dan 333). Pencegahan dan penangguhan. yaitu perselisihan menurut hukum perdata yang terlebih dulu harus diselesaikan sebelum acara pidana dapat diteruskan. Pada mulanya tindakan penuntutan diartikan secara luas yaitu mencakup juga tindakan-tindakan pengusutan (daad van opsporing). Hal ini dimaksudkan agar terdakwa tidak diberi kesempatan untuk menunda-nunda penyelesaian perkara perdatanya dengan perhitungan dapat dipenuhinya tenggang daluwarsa penuntutan pidana. daluwarsa dihitung keesokan hari setelah orang tersebut dibebaskan atau ditemukan meninggal dunia. - tuduhan. Tetapi yurisprudensi kemudian menerima pendapat yang lebih sempit. Menurut pasal 81 (1) tenggang daluwarsa penuntutan tertunda/tertangguhkan (geschorst) apabila ada perselisihan praejudisiil. jadi tindakan pengusutan tidak lagi dianggap termasuk tindakan penuntutan. Menurut pasal 80 (1) tenggang daluwarsa terhenti / tercegah (gestuit) apabila ada tindakan penuntutan (daad van vervolging). sehari setelah data tersebut dimasukkan dalam catatan register. tenggang daluwarsa tuntutan pidana.317 318 dalam bab tetang jenis delik). mendakwa / mengajukan . yaitu hanya perbuatan-perbuatan penuntut umum yang langsung menyangkutkan hakimdalam acara pidana (misal menyerahkan perkara ke siding. jadi selama terhentinya selama ada tindakan penuntutan tenggang waktunya tidak dihitung. Dalam hal ada penundaan/pertangguhan (schorsing) maka tenggang waktu yang telah dilalui. b. memohon revisi).2. Kejahatan terhadap kemerdekaan seseorang (pasal 328. dipertangguhkan. 329.1. a. Kejahatan terhadap register kependudukan (pasal 556-558 a). Adapun yang diatur dalam pasal 79 adalah : Kejahatan terhadap mata uang (pasal 244) perhitungan daluwarsa didasarkan pada waktu setelah uang dipakai atau diedarkan. Pencegahan (stuiting).

 Untuk kejahatan percetakan : daluwarsanya 5 tahun.319 320 D. . Tenggang waktu daluwarsanya diatur dalam pasal 84 (2). Tetapi ada putusan hakim yang sudah dapat dieksekusi sebelum keputusan itu berkekuatan tetap. D.2. D. pencegahan (stuiting) pencegahan (stuiting) terhadap daluwarsa hak untuk menjalankan / mengeksekusi pidana dapat terjadi dalam dua hal (pasal 85 ayat (2)) yaitu : 1) Jika terpidana melarikan diri selama menjalani pidana. tenggang daluwarsa baru dihitung pada keesokan harinya setelah melarikan diri. kewenangan Menurut pasal 85 (1) tenggang daluwarsa dihitung mulai pada keesokan harinya sesudah putusan hakim dapat dijalankan. Pencegahan Dan Penagguhan Daluwarsa Pemidanaan. yaitu “verstekvonnis” (keputusan diluar hadirnya terdakwa). Daluwarsa kewenangan menjalankan pidana. yaitu :  untuk semua pelanggaran : daluwarsanya 2 tahun. Pada umumnya memang putusan hakim yang berkakuatan hukum tetap.2. Perbedaannya disini adalah alasan kesulitan pembuktian tetunya tidak lagi relevan disini.  Untuk kejahatan lainnya : daluwarsanya sama dengan daluwarsa penuntutan (lihat pasal 78 ) ditambah sepertiga. Dalam hal ini. Daluwarsa Pemidanaan.2. a. bahwa pelaku setetlah bertahun-tahun menyembunyikan diri sudah cukup terhukum dengan kehidupan yang tidak tenang dan penuh kecemasan. Sama dengan daluarsa penuntutan maka landasan pemikiran atas daluarsa pemidanaan didasarkan kepada dua hal yaitu : 1.2. Ini tidak sama dengan putusan hakim yang inkracht van gewijsde (putusan ayat berkekuatan tetap).1. dalam kenyataannya perputaran waktu tidak hanya secara perlahan menghapuskan akibat tindak pidana yang terjadi akan tetapi juga menghapuskan keinginan unutk melakukan pembalasan 2. Pada ayat (3) ditetapkan bahwa : “tidak ada daluwarsa untuk mejalankan hukuman mati”.

Penundaan (schorsing) terhadap daluwarsa hak untuk mengeksekusi pidana dapat terjadi dalam dua hal (pasal 33 ayat (3) yaitu :  selama perjalanan pidana ditunda menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. tetapi pelaksanaannya dihapuskan atau dikurangi / diringankan. mulai berlaku tenggang daluwarsa baru. Hanya mengeksekusi sebagian saja Mengadakan komutasi yaitu jenis pidananya diganti. Dalam pasal 2 ayat (3) permohonan grasi hanya dapat diajukaqn 1 (satu) kali. Dasar pemikiran lembaga grasi menurut Remelink adalah keadaan pada waktu hakim menjatuhkan putusan tidak atau kurang diperhatikan atau mungkin pertimbangan dan yang bila (secara memadai sebelumnya ia keathui.321 322 2) Jika pelepasan bersyarat dicabut Dalam hal ini. penjara seumur hidup. Dengan demikian selama ada pencegahan. maka jangka lewat waktu yang telah dilalui hilang sama sekali (tidak dihitung). menurut ketentuan pasal 2 ayat (2) grasi hanya dapat dimohonkan bagi terpidana yang dijatuhi pidana mati. Perihal prosedur Grasi diatur dalam undangundang 22 tahun 2002. Grasi tidak menghilangkan putusan hakim ybs. Grasi. Grasi dapat dikabulkan manakala hukuman yang dijatuhkan dianggap tidak akan mencapai tujuan atau sasaran pemidanaan itu sendiri. E. kurungan diganti dengan denda. Keputusan hakim tetap ada. penagguhan (schorsing). Ketentuan Gugurnya Kewenangan Menuntut Dan Menjalankan Pidana di luar KUHP. walaupun perampasan kemerdekaan itu berhubung dengan pemidanaan lain. Jadi grasi dari presiden. dapat berupa :    Tidak mengeksekusi seluruhnya. misal penjara diganti kurungan. kecuali dalam hal : . b. penjara paling rendah 2 tahun.1. akan mendorongnya menjatuhkan pidana atau tindakan lain atau bahkan untuk tidak menjatuhkan sanksi sekalipun.  selama terpidana dirampas kemerdekaannya (ada calon tahanan). pidana mati diganti penjara seumur hidup. maka pada esok harinya setelah pencabutan. A.

kecuali dalam hal putusan pidana mati. Sementara pasal 3 permohonan grasi tidak menunda pelaksanaan putusan pemidanaan bagi terpidana. Dan dalam jangka waktu paling lambat 3 (tigta) bulan terhitung sejak tanggal diterimanya salinan permohonan dan berkas perkara sebagaimana dimaksud dalam pasal 9. Presiden memberikan keputusan atas permohonan grasi setelah memperhatikan pertimbangan Mahkamah Agung. Mahkamah Agung mengirimkan pertimbangan tertulis kepada Preisden. Permohonan grasi dan slinannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dapat disampaikan oleh terpidana melalui Kepala Lembaga Pemasyarakatan sebagaimana dimaksudkan pada ayat (3). permohonan grasi dapat diajukan oleh keluarga terpidana tanpa persetujuan terpidana (pasal 6 ayat (3)). penagdilan tingkat pertama mengirimkan salinan permohonan dan berkas perkara terpidana kepada Mahkamah Agung. keputusan Presiden dapat berupa pemberian atau penolakan grasi. Terpidana yang pernah diberi grasi dari pidana mati menjadi pidana penjara seumur hidup dan telah lewat waktu 2 (dua) tahun sejak tanggal keputusan pemberian grasi diterima. Permohonan grasi oleh terpidana atau kuasa hukumnya atau oleh keluarga terpidana. Kepala Lembaga Pemasyarakatan menyampaikan permohonan grasi tersebut kepada Presiden dan salinannya dikirimkan kepada pengadilan yang memutus perkara pada tingkat pertama paling lambat 7 hari terhitung sejak diterimanya permohonan grasi dan salinannya. Jangka waktu pemberian atau penolakan grasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) paling lambat 3 (tiga) bulan terhitung sejak diterimanya pertimbangan Mahkamah Agung. kuasa hukumnya. Dalam jangka waktu paling lambat 20 (dua puluh) haru terhitung sejak tanggal penerimaan salinan permohonan grasi sebagaimana dimaksud dalam pasal 8.323 324 I. Salinan permohonan grasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada pengadilan yang memutus perkara pada tingkat pertama untuk diteruskan kepada Mahkamah Agung. II. atau keluarganya kepada Presiden. Terpidana yang pernah ditolak permohonan grasinya dan telah lewat waktu 2 (dua) tahun sejak tanggal penolakan permohonan grasi tersebut. Permohonan grasi sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 dan pasal 7 diajukan secara tertulis oleh terpidana. . dengan persetujuan terpidana (pasal 6 (1-2)) kecuali dalam hal terpidana dijatuhi pidan mati.

3. Oleh karena itu amnesti mencakup perkara dalam fase ante sentantiam (sebelum dijatuhkanya putusan) maupun post sentantiam (pasca proses ajudikasi). abolisi merupakan hak prerogative presiden yang ditetapkan dalam UUD 1945 sebelum perubahan. termasuk putusan itu sendiri. E.325 326 E. Amnesti dapat didefinisikan sebagai pernyataan umum (yang diterbitkan dalam suatu aturan perundang-undangan) yang memuat pencabutan senua akibat pemidanaan dari suatu delik tertentu atau satu kelompok delik tertentu.2. terdakwa ataupun bukan. mereka yang identitasnya diketahui ataupun tidak namun bersalah melakukan tindakan tersebut. Amnesti. . Seperti halnya grasi dan amnesti. Abolisi. Abolisi mengandung pengertian penghapusan yang diberikan kepada perseorangan yang mencakup penghapusan seluruh akibat penghukuman seluruh akibat penjatuhan putusan. Dalam praktek amnesti diberikan karena alasan politik. Abolisi dengan demikian berlaku ante sentiam yang berkaitan dengan dilepaskannya kewenangan melakukan penuntutan atau pelanjutan dari penuntutan yang sudah dimulai. demi kepentingan semua terpidana maupun bukan.

2. Jadi tidak ditentukan jenis tindak pidana dan tidak ada daluwarsa dalam residivenya. Residive merupakan alasan untuk memperberat pidana yang akan dijatuhkan. Jadi dengan demikian KUHP termasuk ke dalam sistem Residive Khusus. 1. merupakan alasan untuk memperberat pidana yang akan dijatuhkan. yaitu : 2. Perbedaannya dengan Concursus Realis ialah pada Residive sudah ada putusan Pengadilan berupa pemidanaan yang telah MKHT sedangkan pada Concursus Realis terdakwa melakukan beberapa perbuatan pidana dan antara perbuatan sang satu dengan yang lain belum ada putrusan Pengadilan yang MKHT. Sistem Residive Khusus Menurut sistem ini tidak semua jenis pengulangan merupakan alasan pemberatan pidana. PENGERTIAN Residive atau pengulangan terjadi apabila seseorang yang melakukan suatu tindak pidana dan telah dijatuhi pidana dengan putusan hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap ( MKHT) atau “in kracht van gewijsde”. Sistim Residive Umum . kemudian melakukan tindak pidana lagi. MENURUT KUHP Dalam KUHP ketentuan mengenai Residive tidak diatur secara umum tetapi diatur secara khusus untuk kelompok tindak pidana tertentu baik berupa kejahatan maupun pelanggaran.327 328 BAB XV RESIDIVE ( PENGULANGAN TINDAK PIDANA) Menurut sistem ini. Pemberatan hanya dikenakan terhadap pengulangan yang dilakukan terhadap jenis tindak pidana tertentu dan yang dilakukan dalam tenggang waktu yang tertentu pula. Disamping itu di dalam KUHP juga memberikan syarat tenggang waktu pengulangan yang tertentu. setiap pengulangan terhadap jenis tindak pidana apapun dan dilakukan dalam waktu kapan saja. 1. Dalam ilmu hukum pidana dikenal ada dua sistem residive ini.

512. yaitu : Pasal : 489. Perlu diingat bahwa mengenai tenggang waktu dalam residive tersebut tidak sama. Residive terhadap kejahatan dalam pasal : 137(2). 501. Pasal 154. 303 bis dan 321 tenggang waktunya dua tahun . 216(3). .Tenggang waktu lima tahun. 155(2). Sedangkan untuk residive yang diatur dalam Pasal 486. Tindak Pidana Narkotika (UU 22 / 1997). 536.5/1997). 517. ancaman pidana ditambah sepertiga. 163 dan 393 tenggang waktunya lima tahun. 549 KUHP. 157. Pasal 78 s/d 85. b. Residive Kejahatan. 321(2). 541. 545. Ancaman pidana ditambah sepertiga ii. 216. 477 dan 488 KUHP mensyaratkan bahwa tindak pidana yang diulangi termasuk dalam kelompok jenis tindak pidana tersebut. 492. 544. 144(2). 163(2). Pasal : 137. ii. 393(2) dan 303 bis (2). 540. 144. misalnya : i. 208. 161. Syarat-syarat Recidive pelanggaran disebutkan dalam masing-masing pasal yang bersangkutan.329 330 a. Pasal 72. 516. 530. RECIDIVE DI LUAR KUHP Recidive diluar KUHP antara lain diatur di dalam Undang-Undang: i. iii. Residive Pelanggaran Residive dalam pelanggaran ada 14 jenis tindak pidana. 3. dan pasal 87. 208(2). 495. Jadi ada 11 jenis kejahatan yang apabila ada pengulangan menjadi alasan pemberat. 161(2). Tindak Pidana Psikotropika (UU No.

331 SOAL UJIAN DAFTAR PERTANYAAN MATERI DIKLAT ASAS-ASAS HUKUM PIDANA 1. 3. Apa yang dimaksud dengan Recidive ? . 5. Apa pentingnya bagai Jaksa memahami pengertian unsur-unsur tindak pidana ?. Jelaskan dimana diatur ruang berlakunya hukum pidana di dalam KUHP dan di luar KUHP ? 2. 4. Menurut Prof. Ruang berlakunya hukum pidana dapat dibedakan menurut waktu dan menurut tempat. Siapa yang dimaksud sebagai Pelaku (dader) menurut pasal 55 KUHP ?. Moeljatno apa saja yang menjadi unsur dari suatu perbuatan pidana ?.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->