Asuhan keperawatan ketuban pecah dini

BAB I
TINJAUAN TEORITIS
1.1. Konsep Dasar
1.1.1. Definisi
KPD ( Ketuban Pecah Dini ) adalah pecah nya ketuban sebelum terdapat tanda persalinan mulai
dan di tunggu satu jam belum terjadi inpartu sebagian besar KPD adalah hamil aterm di atas 27 minggu,
sedangkan dibawah 36 minggu tidak terlalu banyak
( Ida Bagus, 2001 )
KPD ( Ketuban Pecah Dini ) adalah ketuban yang pecah spontan yang terjadi pada sembarang usia
kehamilan sebelum persalinan di mulai ( Mansjoer Arif, 2000 : 310 )
Ketuban pecah dini adalah pecahnya selaput ketuban secara spontan satu jam atau lebih sebelum
terjadi tanda-tanda persalinan. (Arief Mansjoer, 1999 : 310)

1.1.2. Anatomi Fisiologi
Volume air ketuban pada kehamilan cukup bulan adalah 1000 – 1500 cc
Ciri-ciri kimiawi :
Air ketuban berwarna putih kekeruhan, berbau khas amis, dan berasa manis, reaksinya agak
alkalis atau netral, berat jenis 1,008. Komposisinya terdiri atas 98 % air, sisanya albumin, urea, asam urik,
kreatinin, sel-sel epitel, rambut lanugo, verniks kaseosa dan garam anorganik. Kadar protein kira-kira 2,6 gr
% per liter terutama sebagai albumin.
Dijumpai lecitin spingomyelin dalam air ketuban amat berguna untuk mengetahui apakah janin
sudah mempunyai paru-paru yang matang. Sebab peningkatan kadar lecitin pertanda bahwa permukaan
paru-paru diliputi zat surfaktan. Ini merupakan syarat bagi paru-paru untuk berkembang dan bernapas. Bila
persalinan berjalan lama atau ada gawat janin atau pada letak sungsang akan kita jumpai warna ketuban
keruh kehijau-hijauan, karena telah bercampur dengan mekonium.



 Fungsi Air Ketuban
1. Untuk proteksi janin.
2. Untuk mencegah perlengketan janin dengan amnion.
3. Agar janin dapat bergerak dengan bebas.
4. Regulasi terhadap panas dan perubahan suhu.
5. Mungkin untuk menambah suplai cairan janin
6. Meratakan tekanan intra – uterin dan membersihkan jalan lahir bila ketuban pecah.
7. Peredaran air ketuban dengan darah cukup lancar dan perputarannya cepat, kira-kira 350-500 cc.
 Asal Air Ketuban
1. Kencing janin (fetal urin)
2. Transudasi dari darah ibu
3. Sekresi dari epitel amnion
4. Asal campuran (mixed origin)
( Ida Bagus, 2001 )
1.1.3. Etiologi
Penyebab ketuban pecah dini (KPD) mempunyai dimensi multifaktorial yang dapat dijabarkan
sebagai berikut :
1.1.3.1. Serviks inkopeten
1.1.3.2. Ketegangan rahim berlebihan; kehamilan ganda, hidramnion
1.1.3.3. Kelainan letak janin dalam rahim, letak sunsang, letang lintang
1.1.3.4. Kemungkinan kesempitan panggul : perut gantung, bagian terendah belum masuk PAP, sepalopelvik
disproforsi
1.1.3.5. Kelainan bawaan dari selaput ketuban
1.1.3.6. Infeksi yang menyebabkan terjadi proses biomekanik pada selaput ketuban dalam bentuk proteolitik
sehingga menyebabkan ketuban pecah.
( Arif Monsjoer, dkk, 2001 : 310 )
1.1.4. Manifestasi Klinik
1.1.4.1. keluar ketuban warna putih, keruh, jernih, kuning, hijau / kecoklatan sedikit / banyak
1.1.4.2. dapat di sertai demam bila sudah ada infeksi
1.1.4.3. janin mudah teraba
1.1.4.4. pada periksa dalam selaput ketuban tidak ada , air ketuban sudah kering
1.1.4.5. inspeksikula, tampak air ketuban mengalir / selaput ketuban tidak ada dan air ketuban
ketuban sudah kering ( Arief Mansjoer, dkk,2001 : 310 )
1.1.5. Patofisiologi
Kantong amnion yang utuh berfungsi sebagai suatu mekanik terhadap. infeksi tetapi selain itu
cairan amnion mempunyai beberapa sifat bakteri ostatik yang dapat memainkan peran dalam pencegahan
kario amnionitis dan infeksi janin. Membran yang utuh bukan merupakan sawar mutlak terhadap infeksi
karena kolonisasibakteri terjadi 10% pasien dalam persalinan cukup bulan, dengan membrane yang utuh
sampai 25% pasien dalam persalinan kurang bulan. Janin kurang bulan dengan ketuban pecah dini, resiko
infeksi dan sepsis yang keberadaannya di dalam rahim ahkan dapat menjadi problematik, bagi ibu
resikonya bukan saja terjadi kariomnitis tetapi juga bisa terjadi kegagalan induksi, maka harus dilakukan
operasi section caesaria.






1.1.6. Komplikasi
1.1.6.1. infeksi
Infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban maupun asenden dari vagina atau infeksi
pada cairan ketuban bisa menyebabkan terjadinya KPD.
1.1.6.2. partus peterm
Persalinan preterm atau partus prematur adalah persalinan yang terjadi pada kehamilan kurang dari
37 minggu ( antara 20 – 37 minggu ) atau dengan berat janin kurang dari 2500 gram ( Manuaba, 1998 :
221)
1.1.6.3. prolap Tali pusat
Tali pusat menumbung
1.1.6.4. distasia ( partus Kering)
Pengeluaran cairan ketuban untuk waktu yang akan lama akan menyebabkan dry labour atau
persalinan kering
1.1.7. Pemeriksaan Penunjang
1.1.6.1. Pemeriksaan Leukosid darah > 15000 / ul bila terjadi infeksi
1.1.6.2. test lakmus merah berubah menjadi biru
1.1.6.3. amnio sentetis
1.1.6.4. USG ( menentukan usia kehamilan , indeks cairan amnion berkurang ) ( Arief Monsjoer, dkk, 2001 :
313 )
1.1.8. Penatalaksanaan
1.1.8.1. Keperawatan
a. Rawat rumah sakit dengan tirah baring.
b. Tidak ada tanda-tanda infeksi dan gawat janin.
c. Umur kehamilan kurang 37 minggu.
d. Antibiotik profilaksis dengan amoksisilin 3 x 500 mg selama 5 hari.
e. Memberikan tokolitik bila ada kontraksi uterus dan memberikan kortikosteroid untuk mematangkan fungsi
paru janin.
f. Jangan melakukan periksan dalam vagina kecuali ada tanda-tanda persalinan.
g. Melakukan terminasi kehamilan bila ada tanda-tanda infeksi atau gawat janin.
h. Bila dalam 3 x 24 jam tidak ada pelepasan air dan tidak ada kontraksi uterus maka lakukan mobilisasi
bertahap. Apabila pelepasan air berlangsung terus, lakukan terminasi kehamilan.
1.1.8.2. Medis
a. Bila didapatkan infeksi berat maka berikan antibiotik dosis tinggi. Bila ditemukan tanda-tanda inpartu,
infeksi dan gawat janin maka lakukan terminasi kehamilan.
b. Induksi atau akselerasi persalinan.
c. Lakukan seksiosesaria bila induksi atau akselerasi persalinan mengalami kegagalan.
d. Lakukan seksio histerektomi bila tanda-tanda infeksi uterus berat ditemukan.
ASUHAN KEPERAWATAN
1.2.1. pengkajian
1.2.1.1. Biodata klien
Biodata klien berisi tentang : Nama, Umur, Pendidikan, Pekerjaan, Suku, Agama, Alamat, No.
Medical Record, Nama Suami, Umur, Pendidikan, Pekerjaan , Suku, Agama, Alamat, Tanggal Pengkajian.
1.2.1.2. Keluhan utama :
keluar cairan warna putih, keruh, jernih, kuning, hijau / kecoklatan sedikit / banyak, pada periksa
dalam selaput ketuban tidak ada, air ketuban sudah kering, inspeksikula tampak air ketuban mengalir /
selaput ketuban tidak ada dan air ketuban sudahkering
1.2.1.3. Riwayat haid
Umur menarchi pertama kali, lama haid, jumlah darah yang keluar, konsistensi, siklus haid, hari
pertama haid dan terakhir, perkiraan tanggal partus
1.2.1.4.Riwayat Perkawinan
Kehamilan ini merupakan hasil pernikahan ke berapa? Apakah perkawinan sah atau tidak, atau tidak
direstui dengan orang tua ?

1.2.1.5. Riwayat Obstetris
Berapa kali dilakukan pemeriksaan ANC, hasil laboraturium : USG , darah, urine, keluhan selama
kehamilan termasuk situasi emosional dan impresi, upaya mengatasi keluhan, tindakan dan pengobatan
yang diperoleh
1.2.1.6.Riwayat penyakit dahulu
Penyakit yang pernah di diderita pada masa lalu, bagaimana cara pengobatan yang dijalani nya,
dimana mendapat pertolongan, apakah penyakit tersebut diderita sampai saat ini atau kambuh berulang –
ulang
1.2.1.7. Riwayat kesehatan keluarga
Adakah anggota keluarga yang menderita penyakit yang diturunkan secara genetic seperti panggul
sempit, apakah keluarga ada yg menderita penyakit menular, kelainan congenital atau gangguan kejiwaan
yang pernah di derita oleh keluarga
1.2.1.8. Kebiasaan sehari –hari
a. Pola nutrisi : pada umum nya klien dengan KPD mengalami penurunan nafsu makan, frekuensi minum klien juga
mengalami penurunan
b. Pola istirahat dan tidur : klien dengan KPD mengalami nyeri pada daerah pinggang sehingga pola tidur klien
menjadi terganggu, apakah mudah terganggu dengan suara-suara, posisi saat tidur (penekanan pada
perineum)
c. Pola eliminasi : Apakah terjadi diuresis, setelah melahirkan, adakah inkontinensia (hilangnya infolunter
pengeluaran urin),hilangnya kontrol blas, terjadi over distensi blass atau tidak atau retensi urine karena
rasa takut luka episiotomi, apakah perlu bantuan saat BAK. Pola BAB, freguensi, konsistensi,rasa takut
BAB karena luka perineum, kebiasaan penggunaan toilet.
d. Personal Hygiene : Pola mandi, kebersihan mulut dan gigi, penggunaan pembalut dan kebersihan genitalia,
pola berpakaian, tata rias rambut dan wajah
e. Aktifitas : Kemampuan mobilisasi klien dibatasi, karena klien dengan KPD di anjurkan untuk bedresh total
f. Rekreasi dan hiburan : Situasi atau tempat yang menyenangkan, kegiatan yang membuat fresh dan relaks.
1.2.1.9. pemeriksaan fisik
a. Pemeriksaan kesadaran klie, BB / TB, tekanan darah, nadi, pernafasan dan suhu
b. Head To Toe
· Rambut : warna rambut, jenis rambut, bau nya, apakah ada luka lesi / lecet
· Mata : sklera nya apakah ihterik / tdk, konjungtiva anemis / tidak, apakah palpebra oedema /
tidak,bagaimana fungsi penglihatan nya baik / tidak, apakah klien menggunakan alat bantu penglihatan /
tidak. Pada umu nya ibu hamil konjungtiva anemis
· Telinga : apakah simetris kiri dan kanan, apakah ada terdapat serumen / tidak, apakah klien menggunakan
alt bantu pendengaran / tidak, bagaimana fungsi pendengaran klien baik / tidak
· Hidung : apakah klien bernafas dengan cuping hidung / tidak, apakah terdapat serumen / tidak, apakah
fungsi penciuman klien baik / tidak
· Mulut dan gigi : bagaimana keadaan mukosa bibir klien, apakah lembab atau kering, keadaan gigi dan
gusi apakah ada peradangan dan pendarahan, apakah ada karies gigi / tidak, keadaan lidah klien bersih /
tidak, apakah keadaan mulut klien berbau / tidak. Pada ibu hamil pada umum nya berkaries gigi, hal itu
disebabkan karena ibu hamil mengalami penurunan kalsium
· Leher : apakah klien mengalami pembengkakan tyroid
· Paru – paru
I : warna kulit, apakah pengembangan dada nya simetris kiri dan kanan, apakah ada terdapat luka memar
/ lecet, frekuensi pernafasan nya
P : apakah ada teraba massa / tidak , apakah ada teraba pembengkakan / tidak, getaran dinding dada
apakah simetris / tidak antara kiri dan kanan
P : bunyi Paru
A : suara nafas
· Jantung
I : warna kulit, apakah ada luka lesi / lecet, ictus cordis apakah terlihat / tidak
P : frekuensi jantung berapa, apakah teraba ictus cordis pada ICS% Midclavikula
P : bunyi jantung
A : apakah ada suara tambahan / tidak pada jantung klien
· Abdomen
I : keadaan perut, warna nya, apakah ada / tidak luka lesi dan lecet
P : tinggi fundus klien, letak bayi, persentase kepala apakah sudah masuk PAP / belum
P : bunyi abdomen
A : bising usu klien, DJJ janin apakah masih terdengar / tidak
· Payudara : puting susu klien apakah menonjol / tidak,warna aerola, kondisi mamae, kondisi ASI klien,
apakah sudah mengeluarkan ASI /belum
· Ekstremitas
Atas : warna kulit, apakah ada luka lesi / memar, apakah ada oedema / tidak
Bawah : apakah ada luka memar / tidak , apakah oedema / tidak
· Genitalia : apakah ada varises atau tidak, apakah ada oedema / tidak pada daerah genitalia klien
· Intergumen : warna kulit, keadaan kulit, dan turgor kulit baik / tidak
1.2.2. Diagnosa Keperawatan
1.2.2.1. resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif, pecah ketuban, kerusakan kulit, penurunan
hemoglobin, pemajanan pada patogen
1.2.2.2. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan terjadi nya ketegangan otot rahim
1.2.2.3. Ansietas berhubungan dengan kurang nya pengetahuan atau konfirmasi tentang penyakit
1.2.2.4. Gangguan kebutuhan istirahat tidur berhubungan dengan adanya nyeri, peningkatan HIS
1.2.2.5.Intoleransi aktifitas b.d. kelemahan fisik
(Dangoes:2000)
1.2.3. Intevensi
No Diagn
osa
keper
awata
n
Tujua
n dan
kriteri
a
hasil
Inerv
ensi
Rasi
onal
1

Resik
o
infeks
i
berhu
bung
an
deng
an
prose
dur
invasi
f,
pecah
ketub
an,
kerus
Tujua
n :
-
infek
si
tidak
terjad
i
pada
ibu
kriteri
a
hasil
-
penc
apaia
n
-
Tinja
u
ulang
kondi
si/fak
tor
risiko
yang
ada
sebel
umny
a.
Catat
wakt
u
peca
-
Kon
disi
dasa
r ibu,
sepe
rti
diab
etes
atau
hem
oragi
,
meni
mbul
kan
pote
akan
kulit,
penur
unan
hemo
globin
,
pemaj
anan
pada
patog
en

tepat
wakt
u
pada
pemu
lihan
luka
tanpa
komp
likasi
h
ketub
an.
- Kaji
terha
dap
tanda
dan
gejal
a
infek
si
(misa
lnya:
penin
gkata
n
suhu,
nadi,
jumla
h sel
dara
h
nsial
resik
o
infek
si
atau
peny
emb
uhan
luka
yang
buru
k.
Resi
ko
korio
amni
oniti
s
meni
ngka
t
deng
putih,
atau
bau/
warn
a
rabas
vagin
a).
-
Berik
an
pera
wata
n
perin
eal
sedik
itnya
setia
p 4
jam
bila
ketub
an
berja
lann
ya
wakt
u,
sehi
ngga
meni
ngka
tkan
resik
o
infek
si
ibu
dan
janin
.
-
Peca
h
ketu
an
telah
peca
h
ban
terja
di
24ja
m
sebe
lum
pem
beda
han
dapa
t
men
yeba
bkan
amni
oniti
s
sebe
lum
inter
vens
i
beda
h
dan
dapa
t
men
guba
h
peny
emb
uhan
luka.
-
Untu
k
men
cega
h
agar
tidak
terja
di
infek
si


2










3









Gang
guan
rasa
nyam
an :
nyeri
berhu
bung
an
deng
an
terjadi
nya
keteg
anga
n otot
rahim



Tujua
n :
- rasa
nyeri
berku
rang
Kriter
ia
hasil
:
- klien
tamp
ak
tenan
g
- klien
tamp
ak
nyam
an
-
monit
or
tanda

tanda
vital :
TD,
pern
afasa
n,
nadi
dan
suhu
-
ajrak
an
klien
tekni
k
-
nyeri
dapa
t
men
gaki
batk
an
peni
ngka
tan
freku
esni
pern
afas
an
dan
nadi
-
untu









4












5




Ansie
tas
berhu
bung
an
deng
an
kuran
g nya
peng
etahu
an
atau
konfir
masi
tenta
ng
penya
kit






Tujua
n :
- klien
peng
etahu
an
klien
berta
mbah
setel
ah
diberi
kan
infor
masi
meng
enai
peny
akit
relak
sasi
- atur
posis
i
klien
-
berik
an
lingk
unga
n
yang
nyam
an
dan
batas
i
peng
unjun
g

-
k
men
gura
ngi
rasa
nyeri
yang
diras
akan
klien
-
untu
k
mem
berik
an
keny
ama
nan
pada
klien
- agar
klien










Gang
guan
kebut
uhan
istirah
at
tidur
berhu
bung
an
deng
an
adany
nya
kriteri
a
hasil
:
- klien
tidak
resah
lagi
deng
an
peya
kit
nya
-
menu
njukk
an
pema
hama
n
akan
prose
tinjau
prose
s
peny
akit
dan
hara
pan
masa
depa
n
-
doro
ng
perio
de
istira
hat
yang
adek
uat
deng
an
dapa
t
beris
tirah
at


-
mem
berik
an
peng
etah
uan
dasa
r
dima
na
klien
dapa
t
mem
buat
a
nyeri ,
penin
gkata
n HIS






Intole
ransi
aktifit
as
b.d.
kelem
ahan
fisik

s
peny
akit
dan
progn
osis




tujua
n :
-
kebut
uhan
istira
hat
tidur
klien
terpe
nuhi
Kriter
ia
aktifit
as
terjad
wal
-
berik
an
pelay
anan
kese
hatan
meng
enai
peny
akit
nya
-
jelas
kan
kepa
da
klien
apa
pilih
an
- agar
klien
tidak
mera
sa
jenu
h
dan
mem
perc
epat
pros
es
peny
emb
uhan
- agar
klien
men
gerti
deng
hasil
:
- klien
dapat
tidur
deng
an
tenan
g dan
tidak
gelis
ah
- klien
menu
njukk
an
pola
tidur
yang
adek
uat

Tujua
yg
terjad
i,
berik
an
kese
mpat
an
untuk
berta
nya
dan
berik
an
jawa
ban
yang
terbu
ka
dan
jujur

-
an
baha
ya
nya
infek
si
dan
peny
akit
nya
-
men
unju
kkan
realit
as
situa
si
yang
dapa
t
mem
bant
n:
-
aktivit
as
kemb
ali
sesu
ai
kema
mpua
n
pasie
n.
Kriter
ia
hasil:
-
pasie
n
bisa
berak
tivitas
seper
lakuk
an
peng
kajia
n
terha
dap
gang
guan
kebut
uhan
tidur
-
motiv
asi
klien
agar
meng
alihk
an
perh
atian
-
u
klien
atau
oran
g
terde
kat
men
erim
a
realit
as
dan
mula
i
men
erim
a
apa
yang
terja
di

ti
biasa
.
monit
or
kebut
uhan
tidur
-
cipta
kan
suas
ana
nyam
an


-
Bant
u
pasie
n
dala
m
mem
enuhi



- agar
dapa
t
mem
berik
an
gam
bara
n
sam
pai
seja
uh
man
a
kebu
tuha
n
tidur
terga
kebut
uhan
sehar
i-hari
semi
nimal
mung
kin.
- Beri
posis
i
nyam
an.
-
Anjur
kan
meng
hema
t
ener
gy
hinda
ri
nggu
-
deng
an
men
galih
kan
perh
atian
,
mak
a
perh
atian
klien
tidak
hany
a
tertuj
u
pada
rasa
nyeri
kegia
tan
yang
melel
ahka
n.
-
Jelas
kan
penti
ngny
a
mobil
isasi
diri.
sehi
ngga
mem
bant
u
relak
sasi
pada
klien
sew
aktu
tidur
-
untu
k
men
geta
hui
apak
ah
kebu
tuha
n
tidur
klien
terpe
nuhi
sepe
rti
bias
a
atau
belu
m
-
suas
ana
yang
tena
ng
dapa
t
mem
bant
u
relak
sasi
sehi
ngga
nyeri
berk
uran
g
dan
klien
bisa
tidur
- agar
kebu
tuha
n
seha
ri –
hari
klien
dapa
t
terpe
nuhi
sepe
rti
bias
a
nya
- agar
klien
mera
sa
nya
man
dan
tena
ng
-
kelel
ahan
dapa
t
men
yeba
bkan
lama
nya
pros
es
peny
emb
uhan
klien
,,jadi
deng
an
men
ghin
dari
kegi
atan
yang
mele
lahk
an
dapa
t
mem
bant
u
pros
es
peny
emb
uhan
-
pros
es
peny
emb
uhan
1.2.4. Implementasi
Setelah rencana keperawatan di susun, maka rencana tersebut diharapkan dalam tindakan nyata
untuk mencapai tujuan yang diharapkan, tindakan tersebut harus terperinci sehingga dapat diharapkan
tenaga pelaksanaan keperawatan dengan baik dan sesuai dengan waktu yang ditentukan
Implementasi ini juga dilakukan oleh si pembuat rencana keperawatan dan di dalam pelaksanaan
keperawatan itu kita harus menjunjung tinggi harkat dan martabat sebagai manusia yang unik
1.2.5. Evaluasi
Evaluasi adalah hasil akhir dari proses keperawatan dilakukan untuk mengetahui sampai dimana
keberhasilan tindakan yang diberikan sehingga dapat menentukan intervensi yang akan dilanjutkan



BAB II
TINJAUAN KASUS
2.1. Pengkajian
Tanggal pengkajian : 16 agustus 2010
2.1.1. Identitas klien
Nama : Ny.I
Umur : 20 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Status : Sudah menikah
Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Pendidikan : SMA
Alamat : situmbuak / Tilatang kamang
No.MR : 249226
Ruang Rawat : ruang Rawat Inap kebidanan RSUD Dr.Achmad
Muchtar Bukittinggi
Tgl masuk : 14 agustus 2010

Penanggung jawab
Nama : Tn.H
Umur : 25 tahun
Hub. Dg keluarga : suami
Pekerjaan : wiraswasta

2.1.2. Alasan masuk
Klien masuk IGD pada hari sabtu pukul 00.30 WIB, dengan keluhan keluar cairan
ketuban dari pervaginaan berwarna jernih dan tidak berbau
2.1.3. Riwayat kesehatan
2.1.3.1. Riwayat kesehatan sekarang
Klien mengatakan keluar cairan ketuban dari pervaginaan sejak malam, klien mengatakan cairan
ketuban yang keluar pervaginaan berwarna jernih dan tidak berbau,frekuensi ganti duk klien sebanyak 5x
sehari, klien mengatakan perut terasa sakit dari pinggang sampai ke ari – ari,nyeri yang dirasakan klien
nyeri sedang dengan skala nyeri 6,klien mengatakan susah tidur karena nyeri yang dirasakan,frekuensi
tidur klien hanya 7 jam sehari,klien mengatakan nafsu makan berkurang sejak beberapa hari yg lalu ,klien
mengatakan berat badan nya menurun,BB sehat 68 Kg BB sakit 64 Kg,klien sudah 2 hari tidak ada Buang
air besar, klien mengatakan cemas dan tidak mengetahui tentang penyakit yang di derita nya saat ini, klien
tampak meringis dan sering memegang perut nya, porsi makan yang dihabiskan klien hanya ½ porsi,klien
mengatakan selama dirumah sakit klien hanya beraktifitas di tempat tidur, aktifitas klien di rumah sakit
hanya di tempat tidur, DJJ bayi 135 x/i, HB 10,4 gr %, therapi yang diberikan ceftriaxon 2 x 1 gr dan
dexametason 2 x 1 amp

2.1.3.2. Riwayat Kesehatan dahulu
Klien sebelum nya tidak pernah mengalami penyakit yang di derita nya sekarang, klien juga tidak
ada penyakit jantung, DM, hipertensi

2.1.3.3. Riwayat kesehatan keluarga
Keluarga klien tidak ada memiliki penyakit keturunan, menular dan kejiwaan
2.1.3.4. Riwayat menstruasi
Menarche : 13 tahun
Siklus haid : teratur ( 1x/ bulan )
Lama haid : 5 – 8 hari
Ganti Duk : 2 – 3x / hari
Keluhan pd saat haid : nyeri pd saat haid
2.1.3.5. Riwayat Kehamilan
HPHT : 18 Desember 2009
TP : 25 September 2010
Kehamilan : G
1
P
0
A
0
H
0
( Gravid 1, partus belum ada, abortus tidak ada, hidup belum ada )
2.1.4. Pemeriksaan Fisik
2.1.4.1. Kesadaran : Compos Metis
2.1.4.2. BB / TB : 64 kg / 159 cm
2.1.4.3. Tanda – Tanda vital
TD : 110 / 80 mmhg P : 24x /i
N : 88x / i S : 36,2 º C
2.1.4.4. Head To Toe
a. Rambut : berwarna coklat, lurus, bersih, tidak berbau,tidak terdapat lesi
b. Mata : sklera tidak ihterik, konjungtiva anemis,pupil sama besar ka / ki, palpebra
tidak ada oedema, fungsi penglihatan baik,tidak menggunakan alat bantu
penglihatan,bereaksi terhadap cahaya
c. Telinga : simetris ka / ki , tidak terdapat serumen,tidak
menggunakan alat bantu pendengaran, fungsi pendengaran baik
d. Hidung : bernafas tidak menggunakan cuping hidung,tidak terdapat
serumen ,fungsi penciuman baik
e. Mulut dan Gigi : mukosa bibir lembab, keadaaan gigi dan gusi tidak ada peradangan
dan pendarahan, ada karies gigi, lidah bersih, keadaan mulut tidak berbau
f. leher : tidak terjadi pembengkakan tyroid
g. Paru – Paru :
I : warna kulit putih, pengembangan dada simetris ka / ki, tidak ada lesi / memar , bernafas tidak
menggunakan otot bantu pernafasan, frekuensi pernafasan 24x / i
P : tidak ada teraba massa, idak teraba pembengkakan, getaran dinding dada terasa simetris ka/ki
P : bunyi paru – paru resonan
A : suara nafas terdengar vesikuler
h. Jantung :
I : warna kulit dada putih,tidak ada lesi atau luka lecet, ictus cordis tidak terlihat
P : terasa ictus cordis teraba pada ICS5 midclavikula dan batas jantung teraba,frekuensi jantung 88x/i
P : bunyi jantung redup
A : tidak terdapat bunyi tambahan
I. Payudara : puting susu menonjong, aerola menghitam, mamae tidak
terlalu tegang
J. Abdomen
I : perut terlihat membuncit, kulit bersih, tidak ada luka lesi
P : fundus 3 jari di bawah px, letak bayi Puka, persentas kepala
P : timpany
A : bising usus ( + ), DJJ : 135x / i
L. Ekstremitas :
Atas : kulit berwana putih, terdapat luka bekas suntikan, tidak ada oedema
Bawah : tidak ada kelainan, tidak terdapat memar / luka lecet, tidak ada oedema
M. Genitalia : vagina keluar cairan berwarna jernih tapi tidak berbau, tidak
terdapat varises dan tidak ada oedema
N. Integumen : turgor kulit baik, kulit lembab tidak kering
2.1.5. Data Biologis
No Aktifit
as
Di
rumah
Di Rumah
sakit
1 Nutris
i
Maka
n
-
menu
- porsi
-
maka
nan
kesuk
aan
-
panta
ngan
minu
m

2x /
hari
Makan
an
biasa
1 porsi
Mie
goreng
Tidak
ada
pantan
gan

8
gelas /
hari

2x / hari
Makanan
lunak
½ porsi
Tidak ada
Tidak ada

5 gelas / hari
Tidak ada
Tidak ada
-
jumla
h
-
minu
man
kesuk
aan
-
panta
ngan
Jus
mangg
a
Tidak
ada
pantan
gan
2 Elimi
nasi
BAB
-
freku
ensi
-
warn
a
- bau
-
konsi


2x /
hari
Kuning
Khas
Padat
Tidak
ada
kesulit
an
BAB


Selama
masuk RS
klien belum
ada BAB ( 2
hari )




4x /hari
stensi
-
kesuli
tan
BAK
-
freku
ensi
-
warn
a
- bau
-
konsi
stensi
-
kesuli
tan




4x /
hari
Jernih
Khas
Cair
Tidak
ada
kesulit
an
BAK
Agak
kekuningan
karena
pengaruh obat
dan kurang
minum
Berbau obat
Cair
Tidak ada
kesulitan BAK
3 Istira
hat

Siang (

Siang
dan
tidur
-
waktu
tidur
- lama
tidur
-
kesuli
tan
tidur

-
),mala
m (
09.00 )
Siang (
-
),mala
m ( 10
jam )
Tidak
ada
kesulit
an
tidur
(11.00),malam
,(20.00)
Siang (2
jam),malam (7
jam)
Terasa nyeri
pada bagian
pinggang,
nyeri yg
dirasakan
hilang timbul
4






5
Perso
nal
Hygie
ne
-
mand
i
- cuci
ramb

2x/hari
1x/2
hari
3x/hari
Apabil
a
sudah
panjan

2x/hari
Belum ada
cuci rambut
3x/hari
Klien belum
ada potong
kuku
Klien hanya
ut
-
goso
k gigi
-
poton
g
kuku
aktifit
as
g saja
Klien
dapat
berakti
fitas
seperti
dapat
melak
ukan
pekerj
aan
rumah
beraktifitas di
tempat tidur,
dan aktifitas
dibantu oleh
suami nya

2.1.6. Riwayat Alergi
Klien tidak memiliki alergi ( baik alergi makanan maupun alergy obat – obatan
2.1.7. Riwayat psikologis
Klien mengatakan cemas dan tidak mengetahui tentang penyakit yang di alami nya saat ini. Klien dan suami
klien sering bertanya kepada perawat tentang penyakit nya
2.1.7. Riwayat Spritual
Selama di Rumah Sakit klien ada melakukan sholat 5 waktu
2.1.8. Riwayat Sosial Ekonomi
Suami klien bekerja sebagai wiraswasta, klien mengatakan gaji suami nya cukup untuk memenuhi
kebutuhan sehari – hari
2.1.9. Data Penunjang

2.1.10. Data Pengobatan
( 15 agustus
2010 )
Ceftriaxon
2 x 1 gr ( jam 09.00 – 21.00 )
Dexametason 2 x 1 amp ( jam 09.00 – 21.00 )
Amoxilin 3 x 1 (500 gr)
Vit C 3 x 1 (100 gr)

2.1.11. Data Fokus
2.1.11.1. Data Subjektif
a. Klien mengatakan keluar cairan ketuban dari pervaginaan sejak malam
b. klien mengatakan cairan ketuban yang keluar pervaginaan berwarna jernih dan tidak berbau
c. klien mengatakan perut terasa sakit dari pinggang sampai ke ari – ari
d. klien mengatakan susah tidur karena nyeri yang dirasakan
e. klien mengatakan cemas dan tidak mengetahui tentang penyakit yang di derita nya saat ini
f. klien mengatakan nafsu makan berkurang sejak beberapa hari yang lalu
g. klien mengatakan berat badan nya menurun
h. klien mengatakan sudah 2 hari tidak buang air besar
i. klien mengatakan selama di rumah sakit klien hanya beraktifitas ditempat tidur
2.1.11.2. Data Objektif
a. klien tampak lemah
Tgl Pemeriksaan Hasil Normal Kesan
15 agustus
2010
Hemoglobin
Leukosit
Trombosit
10,4 gr %
9100 / ul
204.000
13 – 16 gr %
5000 – 10000 / ul
15000 – 40000
Rendah
Normal
Normal
b. klien tampak cemas
c. porsi yang dihabiskan klien hanya ½ porsi
d. BB sehat 68 Kg, BB sakit 64 Kg
e. cairan yang keluar dari vagina berwarna jernih dan tidak berbau
f. frekuensi ganti duk klien sebanyak 5x dalam sehari
g. nyeri yang dirasakan klien nyeri sedang dengan skala nyeri 6
h. frekuensi tidur klien hanya 7 jam sehari
i. aktifitas klien di rumah sakit hanya di tempat tidur
j. therapi yg diberikan ceftriaxon 2 x 1 gr dan dexametason 2 x 1 amp
k. DJJ bayi 135 x / i
l. HB klien 10,4 gr %
m. klien sering bertanya tentang penyakit nya
n. TTV
TD : 110 /80 mmhg P : 24x/i
N : 88x/i S : 36,2º C
2.1.12. Analisa Data
No Data Etiology Problem
1 DS :
- klien
meng
ataka
n
keluar
cairan
ketub
an
dari
perva
ginaa
n
sejak
mala
m
- klien
meng
ataka
n
cairan
ketub
an
Ketuban
Pecah
Dini
Resiko
Infeksi
yang
keluar
perva
ginaa
n
berwa
rna
jernih
dan
tidak
berba
u
DO :
-
cairan
ketub
an
yang
keluar
dari
vagina
berwa
rna
jernih
dan
tidak
berba
u
-
frekue
nsi
ganti
duk
klien
seban
yak
5x
dalam
sehari
-
Thera
pi yg
diberik
an
ceftria
xn 2 x
1 gr
dan
dexa
metas
on 2 x
1 amp
2 DS :
- klien
meng
ataka
n
perut
terasa
sakit
dari
pingg
ang
samp
ai ke
ari –
ari
Ketegan
gan otot
rahim
Ganggu
an rasa
nyaman
: nyeri
- klien
meng
ataka
n
selam
a
dirum
ah
sakit
klien
berakt
ifitas
ditem
pat
tidur
DO :
- klien
tampa
k
merin
gis
dan
meme
gangi
perut
nya
- nyeri
yang
dirasa
kan
klien
nyeri
sedan
g
denga
n
skala
nyeri
6
-
aktifita
s klien
dirum
ah
sakit
ditem
pat
tidur
3












4








DS :
- klien
meng
ataka
n
cemas
terhad
ap
penya
kit
yang
di
derita
nya
- klien
meng
ataka
n tidak
meng
etahui
ttg
Kurang
nya
pengeta
huan
klien
tentang
penyakit
KPD








Peningk
atan HIS



Ansieta
s










Ganggu
an pola
istirahat
: tidur









5
penya
kit
yang
di
alami
nya
DO :
- klien
tampa
k
cemas
- klien
sering
bertan
ya
tentan
g
penya
kit nya
DS :
- klien
meng
ataka







Intake
yang
tidak
adekuat




Ganggu
an
pemenu
han
kebutuh
an
nutrisi
n
susah
tidur
karen
a
nyeri
yang
dirasa
kan
- klien
meng
ataka
n
frekue
nsi
tidur
hanya
7 jam
dalam
sehari
DO :
-
frekue
nsi
tidur
klien
hanya
7 jam
sehari
- klien
tampa
k
lemah

DS :
- klien
meng
ataka
n
kuran
g
nafsu
maka
n
sejak
beber
apa
hari
yang
lalu
- klien
meng
ataka
n
berat
badan
nya
menur
un
DO :
- porsi
maka
nan
yang
dihabi
skan
klien
½
porsi
- BB
sehat
68 Kg,
BB
sakit
64 Kg
- HB
klien
10,4
gr %


2.2. Diagnosa Keperawatan
2.2.1. Resiko Infeksi berhubungan dengan Ketuban Pecah Dini
2.2.2. Gangguan Rasa Nyaman:Nyeri berhubungan dengan ketegangan otot rahim
2.2.3. Ansietas berhubungan dengan kurang nya pengetahuan klien tentang penyakit KPD
2.2.4. Gangguan Pola istirahat Tidur berhubungan dengan Peningkatan HIS
2.2.5. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan intake yang tidak ade kuat

2.3. Intervensi
No Diagnosa keperawatan Tujuan dan kriteria hasil Intervensi Rasional
1` Resiko Infeksi b /d
Ketuban pecah dini
DS :
- klien mengatakan keluar
cairan dari pervaginaan
- klien mengatakan cairan
ketuban yang keluar
pervaginaan berwarna
jernih dan tidak berbau
DO :
- cairan yang keluar
berwarna jernih dan tidak
berbau
- frekuensi ganti duk klien
sebanyak 5x dalam sehari

Tujuan
- infeksi tidak terjadi
kriteria hasil
- tidak ada keluar lagi cairan dari
pervaginaan
- DJJ janin normal
- Leukosit klien kembali normal
- Suhu 36 – 37 °

- bina hubungan saling percaya melalui
komunikasi therapeutik
- pantau keadaan umum klien
- berikan lingkungan yang nyaman untuk klien
- berikan obat sesuai order dokter
- untuk memudahkan perawat
melakukan tindakan
- untuk melihat perkembangan
kesehatan klien
- agar istirahat klien terpenuhi
- proses penyembuhan klien
2 Gangguan rasa nyaman :
nyeri b / d ketegangan
otot rahim
DS :
- klien mengatakan perut
Tujuan
- nyeri ( - )
Kriteria hasil
- klien tampak tenang / rileks
- klien mengatakan rasa nyeri
- monitor TTV klien
- kaji skala nyeri ( 1 – 10 )
- ajarkan klien teknik relaksasi
- atur posisi klien
- berikan lingkungan yang nyaman dan batasi
- untuk mengetahui perkembangan
umum klien
- untuk mengetahui derajat nyeri
klien dan menentukan tindakan
yang akan dilakukan
terasa sakit dari pinggang
ke ari –ari
DO :
- klien tampak meringis
- klien tampak memegangi
perut nya
- nyeri yang dirasakan klien
nyeri sedang dengan skala
nyeri 6
pada perut klien berkurang
- TTV kembali normal
TD : 120 / 80 mmhg
N : 60 – 120 x/i
P :24 x /i
S :36 -37 °
pengunjung - untuk mengurangi nyeri yang
dirasakan oleh klien
- untuk memberikan kenyaman klien
- untuk mengurangi tingkat stres
klien, dan klien bisa beristirahat
3













Ansietas b / d kurang nya
pengetahuan klien
tentang penyakit KPD
DS :
- klien mengatakan cemas
terhadap
- penyakit nya
- klien mengatakan tidak
mengetahui tentang
penyakit yang di derita nya
DO :
- klien tampak cemas
- klien sering bertanya
tentang penyakit nya
Tujuan
- ansietas ( - )
Kriteria hasil
- klien sudah mengerti tentang
penyakit dan perawatan KPD
- klien tidak cemas lagi








- tinjau proses penyakit dan harapan masa
depan
- dorong klien untuk istirahat total
- berikan pelayanan kesehatan mengenai
penyakit nya









- memberikan pengetahuan dasar
dimana klien dapat membuat
pilihan
- untuk mempercepat proses
penyembuhan
- agar klien mengerti tentang
bahaya nya penyakit yang di derita
nyan











4













5
kepada perawat


Gangguan Pola istirahat
Tidur berhubungan
dengan Peningkatan HIS
DS :
- klien mengatakan susah
tidur karena nyeri yang
dirasakan
- klien mengatakan frekuensi
tidur hanya 7 jam dalam
sehari
DO :
- frekuensi tidur klien hanya
7 jam sehari
- klien tampak lemah
Gangguan pemenuhan
kebutuhan nutrisi
berhubungan dengan
intake yang tidak ade kuat
DS :
- klien mengatakan kurang




Tujuan :
- istirahat dan tidur klien
terpenuhi
Kriteria hasil :
- menunjukkan pola tidur yang
adekuat








Tujuan :
- kebutuhan nutrisi klien
terpenuhi
Kriteria hasil
- tidak menunjukkan tanda –





- kaji kebiasaan pola tidur patien
- berikan lingkungan yang nyaman seperti
keadaan ruangan dan penerangan ruangan
- batasi pengunjung










- timbang BB klien
- kaji tanda – tanda mal nutrisi
- auskultasi bising usus, catat ada nya nyeri
abdomen, mua muntah




- kebiasaan pola tidur klien dapat
mempengaruhi kualitas tidur klien
- agar klien merasa nyaman
- agar klien bisa beristirahat









- untuk mnegetahui peningkatan
atau penurunan berat badan klien
- untuk mengetahui indikator
kekurangan nutrisi
- gangguan nutrisi dapat
menyebabkan perubahan frekuensi







2.4. Implementasi dan Evaluasi
nafsu makan sejak
beberapa hari yang lalu
- klien mengatakan berat
badan nya menurun
DO :
- porsi makanan yang
dihabiskan klien ½ porsi
BB sehat 68 Kg, BB sakit 64
Kg



tanda mal nutrisi
- BB dalam batas normal
- menunjukkan pemasukan
yang adekuat
- motivasi klien untuk menghabiskan
makanan
- berikan makanan yang hangat dan
bervariasi
bising usus
- agar nutrisi klien terpenuhi
- menambah selera makan klien
No Hari / tgl Dx Jam Implementasi Evaluasi
1

Senin
16 agustus
I

08.00
WIB
- membina hubungan saling
percaya melalui komunikasi
S : klien mengatakan masih
ada keluar cairan dari





2010











II

08.45
WIB




09.30
WIB


11.00
WIB



11.25
WIB
11.30
WIB

13.00
WIB
therapeutik
- memantau keadaan umum klien,
seperti kesadaran klien ,cairan yg
keluar dari pervaginaan klien,
TD,N,S,P klien
R/p : cairan yg keluar dari
pervaginaan masih ada, kesadaran
baik,
- memberikan obat injeksi
Ceftriaxon 1 gr dan dexametason 1
amp ( IV )
R/p : ceftriaxon dan dexametasn
sudah diberikan
- memberikan lingkungan yang
nyaman seperti kenyamanan
ruangan dan membatasi
pengunjung
R/p : klien dapat beristirahat

- memonitor TD,N,P,S klien
- mengkaji skala nyeri ( 1 – 10 )
R/p : skala nyeri klien 6
- mengajarkan klien teknik relaksasi
pervaginaan tapi tidak begitu
banyak
O : warna cairan jernih dan
tidak berbau
A : masalah belum teratasi
P : intervensi 2 – 4
dilanjutkan








S : klien mengatakan
pinggang sampai ke ari – ari
masih terasa nyeri
O : klien tampak memegangi
pinggang dan meringis
A : masalah belum teratasi
P : intervensi 1 – 5
dilanjutkan

http://d3keperawatanperintis.blogspot.com/2011/01/asuhan-keperawatan-ketuban-pecah-
dini.html





13.45
WIB



14.00
WIB
dengan cara tarik nafas dalam
sebanyak 3 x
- R/p : klien dapat melakukan teknik
relaksasi yg di ajarkan ,nyeri sedikit
berkurang
- mengatur posisi klien dengan
miring kiri saban 2 jam
R/p : klien dapat melakukan miring
kekanan dank e kiri saban 2 jam
- memberikan lingkungan yang
nyaman dg batasi pengunjung
R/p : klien merasa tenang dan
dapat beristirahat
2 Selasa / 17
agustus 2010
08.00
WIB




Intervensi dihentikan
Klien pulang dengan
kemauan sendiri
Pd tgl 16 agustus 2010 pukul
17.30 WIB
ASUHAN KEPERAWATAN MATERNITAS PADA PASIEN DENGAN KETUBAN
PECAH DINI
Posted by nurse87 on 29 Mei 2009
Posted in: Keperawatan. Tagged: Maternitas. 13 komentar
A. Konsep Dasar Medik
1. Definisi
Ketuban pecah dini (KPD) adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda persalinan, dan
ditunggu satu jam belum dimulainya tanda persalinan. Waktu sejak pecah ketuban sampai terjadi
kontraksi rahim disebut “kejadian ketuban pecah dini” (periode laten)
Kejadian ketuban pecah dini mendekati 10 % dari semua persalinan. Pada umur kehamilan
kurang dari 34 minggu, kejadian sekitar 4 %. Sebagian dari ketuban pecah dini mempunyai
periode laten melebihi satu minggu. Early rupture of membrane adalah ketuban pecah pada fase
laten persalinan.
2. Anatomi Fisiologi
Darah terdiri dari elemen-elemen berbentuk dan plasma dalam jumlah setara. Elemen-elemen
berbentuk tersebut adalah sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping darah
(trombosit). Plasma terdiri dari 900 air dan 100 elektrolit, gas terlarut berbagai produk sisa
metabolisme dan zat-zat gizi misalnya gula asam amino, lemak, koleesterol, dan vitamin. Protein
dalam darah misalnya albumin dan imuno globilin ikut menyusun plasma.
1) Pembentukan Sel Darah
Sel darah merah, sel darah putih dan trombosit di bentuk di hati dan limfa pada sumsum tulang
belakang. Proses pembentukan sel-sel darah disebut hematopoiesis.
2) Sel Darah Merah
Sel darah merah tidak memiliki inti sel, mitokondria atau ribosom. Sel ini tidak dapat melakukan
mitosis. Fosforilasi oksidatif sel atau pembentuk hemoglobin yang mengangkut sebagian besar
oksigen yang diambil dari paru-paru ke sel-sel diseluruh tubuh. Sel darah matang di keluarkan
dari sumsum tulang dan hidup sekitar 120 hari untuk kemudian mengalami disentegrasi dan mati.
Sel darah di gambarkan berdasaran ukuran dan jumlah hemoglobin yang terdapat di dalam sel :
1. Nermositik : sel yang ukurannya normal
2. Nermokromik : sel dengan jumlah hemoglobin yang normal
3. Mikrositik : sel yang ukurannya terlalu kecil
4. Makrositik : sel yang ukurannya terlalu besar
5. Hipokromik : sel yang sejumlah Hbnya terlalu sedikit
6. Hiperkromik : sel yang sejumlah Hbnya terlalu banyak
3) Hemoglobin
Hemoglobin terdiri dari bahan yang mengandung besi yang disebut hem (heme) dan protein
globulin. Terdapat sekitar 300 molekul hemoglobin dalam setiap sel darah merah. Hemoglobin
dalam darah dapat mengikat oksigen secara partial atau total.
4) Pemecahan Sel Darah Merah
Apabila sel darah merah mulai berdisentegasi pada akhir masa hidupnya, sel tersebut
mengeluarkan hemoglobinnya kedalam sirkulasi. Hemoglobin diuraikan hati dan limfa. Molekul
globulin diubah menjadi asam-asam amino. Besi dismpan dihati dan lmfa sampai di gunakan
kembali oleh tubuh. Sisa molekul lainnya diubah menjadi bilirubin, yang kemudian dieksresikan
melalui tinja atau urin.
3. Etiologi
Penyebab ketuban pecah dini (KPD) mempunyai dimensi multifaktorial yang dapat dijabarkan
sebagai berikut :
 Serviks inkopeten
 Ketegangan rahim berlebihan; kehamilan ganda, hidramnion
 Kelainan letak janin dalam rahim, letak sunsang, letang lintang
 Kemungkinan kesempitan panggul : perut gantung, bagian terendah belum masuk PAP,
sepalopelvik disproforsi
 Kelainan bawaan dari selaput ketuban
 Infeksi yang menyebabkan terjadi proses biomekanik pada selaput ketuban dalam bentuk
proteolitik sehingga menyebabkan ketuban pecah.
4. Patofisiologi
Mekanisme terjadinya ketuban pecah dini dapat berlangsung sebagai berikut :
 Selaput ketuban tidak kuat sebagai akibat kurangnya jaringan ikat dan vaskularisasi
 Bila terjadi pembukaan serviks maka selaput ketuban sangat lemah dan mudah pecah dengan
mengeluarkan air ketuban.
5. Penatalaksanaan Ketuban Pecah Dini (KPD)
Sebagai gambaran umum untuk penatalaksanaan KPD dapat dijabarkan sebagai berikut :
 Pertahankan kehamilan sampai cukup matur, khususnya maturitas paru sehingga mengurangi
kejadian kegagalan perkembangan paru yang yang sehat
 Terjadi infeksi dalam rahim, yaitu korioamnionitis yang menjadi pemicu sepsis, meningitis janin,
dan persalinan prematuritas
 Dengan perkiraan janin sudah cukup besar dan persalinan diharapkan berlangsung dalam waktu
72 jam dapat diberikan kortikosteroid, sehingga kematangan paru janin dapat terjamin.
 Pada kehamilan 24 sampai 32 minggu yang menyebabkan menunggu berat janin cukup, perlu
dipertimbangkan untuk melakukan induksi persalinan, dengan kemungkinan janin tidak dapat
diselamatkan.
 Menghadapi KPD, diperlukan KIM terhadap ibu dan keluarga sehingga terdapat pengertian
bahwa tindakan mendadak mungkin dilakukan dengan pertimbangan untuk menyelamatkan ibu
dan mungkin harus mengorbankan janinnya.
 Pemeriksaan yang rutin dilakukan adalah USG untuk mengukur distansia biparietal dan peerlu
melakukan aspirasi air ketuban untuk melakukan pemeriksaan kematangan paru melalui
perbandingan L/S
 Waktu terminasi pada hamil aterm dapat dianjurkan selang waktu 6 jam sampai 24 jam, bila
tidak terjadi his spontan.
6. Tujuan umum dalam Asuhan Perawatan Bayi Baru Lahir adalah untuk :
1. Mempertahankan Pernapasan
- Segera setelah bayi lahir, bayi diletakkan dengan kepala lebih rendah dari pada badan agar
supaya lendir keluar dari mulut dan mencegah lendir dan kadang – kadang darah dan mekonium
masuk kesaluran pernafasan.
- Pengisapan lendir harus dilakukan dengan cepat dan lembut
- Bayi normal dalam beberapa detik sampai satu menit dengan membersihkan mulut dan
hidung dari lendir akan segera timbul pernafasan spontan
1. Mencegah Infeksi
- Usaha yang paling efektif untuk mencegah infeksi pada bayi baru lahir ialah mencuci
tangan sebelum memegang bayi dan perlengkapan yang digunakan untuk merawat bayi,
mengisolasi bayi yang sakit dan memakai pakaian yang bersih.
1. Memperhatikan suhu tubuh
- Suhu lingkungan mempengaruhi kehidupan dan kesehatan bayi baru lahir, karena bila suhu
lingkungan tidak ada; metabolisme dan konsumsi oksigen bayi akan meningkat.
- Segera setelah bayi lahir harus dikeringkan dan ditempatkan ditempat yang hangat. Setelah
suhu tubuh bayi stabil biasanya 1-2 jam sesudah lahir, bayi dibersihkan atau dimandikan.
1. Mengenal tanda-tanda sakit
- Kondisi bayi dapat berubah dengan cepat karena itu perlu diawasi dengan kontinyu.
- Beberapa tanda-tanda kelainan yang harts diperhatikan misalnya kulit, kening pada ban
pertama kesukaran pernapasan, kenaikan atau penurunan suhu tubuh, biru atau pucat, penyakit
kembung, problem makan, muntah, kejang-kejang, tidak Bab selama 12 jam dan Bak dalam 12
jam pertama kehidupan dan penurunan badan-badan bayi yang banyak.
7. Materi Perubahan Fisiologi pada Bayi Baru Lahir
1. Pernapasan dan peredaran darah
Pernapasan pertama pada bayi normal terjadi 30 detik sesudah kelahiran. Pernapasan ini timbul
sebagai akibat aktifitas normal dari susunan syaraf pusat dan perifer yang dibantu oleh beberapa
rangsangan lainnya. Seperti rangsangan hypoxaemia, sentuhan dan perubahan (perbedaan) suhu
dari dalam uterus dengan di luar uterus. Semua ini menyebabkan perangsangan pusat pernapasan
dalam otak yang meneruskan rangsangan tersebut untuk mengarahkan diafragma serta alat-alat
pernapasan lainnya.
1. Faeces
Faeces yang pertama keluar berupa pasta kental berwarna gelap dan lengket yang disebut
meconiumhal tersebut sebenarnya sudah ada sejak janin berumur 26 minggu dalam kandungan.
1. Memelihara Kulit
Mengingat bahaya infeksi kulit dengan Staphyloccocing, banyak rumah sakit tidak memandikan
bayi lagi, hanya darah dan meconium dibersihkan sedangkan dengan vernik caseosa dibiarkan.
1. Tali Pusat
Tali pusat diperiksa harus ada dua arteri dan satu vena, bila hanya didapat satu arteri mungkin
ada kelainan kongenital lain. Tali pusat biasanya lepas dalam 14 hari setelah lahir, paling sering
sekitar hari ke-10. Mengingat kemungkinan infeksi tindakan aseptik sangat harus diperhatikan
waktu merawat tali pusat.
1. Kehilangan Berat Badan
Karena selama 3 atau 4 hari yang pertama bayi boleh dikatakan hampir tidak kemasukkan cairan
sedangkan bayi mengeluarkan feces, urine dan keringat. Tidak mengherankan bahwa beratnya
turun sampai diimbangi oleh minum air susu yang cukup.
1. f. Refleks
Bayi menunjukkan beberapa refleks yang di sebut reflek primitive. Ada beberapa reflek
primitive :
1. Moro Refleksi
Dapat dilihat bila bayi dikagetkan atau sekonyong- konyong digerakkan.
1. Graps Refleksi
Bila telapak dirangsang, tangan akan memberi reaksi seperti menggenggam.
1. Walking Refleks
Bila telapak kaki ditekan pada sebuah bangku atau pada suatu tempat yang datar, maka bayi akan
bergerak seperti berjalan
1. Crossed Ectension Refleksi
Bila satu tangkai dipegang pada posisi extensi pada lutut dan telapak kaki sisi yang sama digores
dengan kuku/jarum pada tungkai yang lain akan berada dalam posisi Fleksi Adduksi kemudian
extensi
1. Rooting Refleksi
Rangsangan pada bibir atas bagian tengah mengakibatkan mulut terbuka dan rahang turun ke
bawah.
8. Ciri-Ciri Bayi Baru Lahir
 Nilai APGAR
Apgar score dinilai pada satu menit bayi setelah lahir dan yang kedua lima menit setelah lahir,
bayi yang normal nilai Apgarnya antara 7 – 10.
 Berat dan panjang badan
Berat badan merupakan index gizi dan pertumbuhan yang baik terutama berat badan merupakan
resultante pertumbuhan badan keseluruhan (normal BB : 2,5 - 4 kg). Panjang badan lain halnya
dengan berat badan, maka kenaikan tinggi badan tiap tahunnya terus menerus bertambah dari
lahir sampai dewasa, kecuali pada masa adolesensi (normal PB : 50 cm)
 Lingkar kepala dan dada
Pengukuran lingkaran kepala penting karena berhubungan dengan volume intrakranial dan dapat
dinilai kecepatan tumbulrannya otak, ( normal ) LK : 33 35,6 cm). Lingkar dada pada masa
neonatal terjadi juga pertambahan panjang atau lebar dada yang normal antara 30 cm, 33 cm, dan
36 cm.
9. Tindakan yang harus segera dilakukan pada Bayi dengan cara Pelaksanaannya
 Menghisap lendir dan merangsang pernafasan bayi
1. Pengertian
Adalah memberikan pertolongan kepada bayi untuk mengeluarkan kotoran yang berupa lendir
dan darah serta air ketuban dari mulut, tenggorokan, dan hidung bayi dengan cara menghisap
dengan alat.
1. Tujuan
1. membersihkan kotoran
2. merangsang agar anak bernafas
3. Cara menghisap lendir
4. Resusitasi
 Memberikan identitas bayi
1. nama nomor
2. sidik jari kaki
 Peralatan-peralatan disiapkan
Alat-alat :
1. Dua buah penjepit nadi
2. Gunting tali pusat
3. Kapas lidi
4. Benang pengikat tali pusat
5. Alkohol 70 %
6. Gaas steril
7. Iodium tintur 3 % / betadine 10 %
Cara kerja : Tali pusat dipotong dijepit dengan 2 buah penjepit nadi, diurut ke placenta ± 5 cm
lalu dipotong lagi klem di beri yodium tintur 3 % kemudian tali pusat diikat dengan 2 ikatan di
beri betadine dibungkus dengan kasa tali pusat.
 Menetes mata bayi
Tujuannya mencegah kemungkinan terjadinya infeksi karena kena kotoran waktu bayi melewati
jalan lahir
 Mengukur dan menimbang BB bayi baru lahir
 Memberi pakaian.
DAFTAR PUSTAKA
Asrining Surasmi, Siti Handayani, Heni Nur Kusuma, (2002), “Perawatan Bayi Risiko Tinggi”,
Jakarta : EGC.
Dr. Santosa NI, SKM (1990), “ Perawatan Kebidanan yang Berorientasi Pada Keluarga
(Perawatan II) “, Jakarta : Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Departemen Kesehatan Republik
Indonesia.
Marilyn E. Doengoes, Mary Frances Mooorhouse (2001), “Rencana Perawatan Maternal/Bayi “,
Jakarta : EGC.
Prof. Dr. Abdul Bari Saifudin, SPOG, MPHD ( 2002 ), “ Buku Panduan Praktis Pelayanan
Kesehatan Material & Neonatal “, : Jakarta : EGC.
Prof. dr. Ida Bagus Gde Manuaba, SpOG (1998), “Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan &
Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan”, Jakarta : EGC
http://nurse87.wordpress.com/2009/05/29/asuhan-keperawatan-maternitas-pada-pasien-dengan-
ketuban-pecah-dini/



BAB II
ISI

A. DEFINISI DAN KLASIFIKASI
Pendarahan antepartum adalah pendarahan yang terjadi setelah kehamilan 28 minggu.
Pendarahan antepartum merupakan pendarahan dari traktus genitalis yang terjadi antara
kehamilan minggu ke 28 awal partus.
Perdarahan setelah kehamilan 28 minggu biasanya lebih banyak dan lebih berbahaya
daripada sebelum kehamilan 28 minggu; oleh karena itu memerlukan penanganan yang berbeda.
Perdarahan antepartum yang berbahaya umumnya bersumber pada kelainan plasenta, sedangkan
perdarahan yang tidak bersumber pada kelainan plasenta umpamanya kelainan serviks biasanya
tidak seberapa berbahaya.
Perdarahan antepartum yang bersumber pada kelainan plasenta, yang secara klinis
biasanya tidak terlampau sukar untuk menentukannya, yaitu plasenta previa dan solusi plasenta.
Oleh karena itu klasifikasi klinis perdarahan antepartum dibagi sebagai berikut
a. Plasenta previa
b. Solusi plasenta
c. Perdarahan antepartum yang belum jelas sumbernya(idiopatik) seperti rupture sinus
marginalis,plasenta letak rendah dan vasa previa.
1. Plasenta Previa
Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat abnormal yaitu
pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir
(osteum uteri internal)
¯¤C·]Þ4C OÒ]+)C -)g¤C·)×)gC·)gCÞ O]Þ¢C-
) ¯ ¯·
× ¯¤C·]Þ4C OÒ]+)C 4E4C¤)· ¯·]¤4Ò4´ E·4)4O )Þ4]Ò
Þ4· -)4444O) O¤C·]Þ4C·
× Plasenta previa lateralis : hanya sebagian dari ostium tertutup oleh plasenta.·
× Plasenta previa marginalis : hanya pada pinggir ostium terdapat jaringan plasenta.·
× Plasenta previa letak rendah : bila plasenta berada 3-4cm diatas pinggir permukaan jalan lahir

Plasenta previa dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain :
1) Umur dan paritas
2) Hipoplasia Endometrium, bila kawin dan hamil pada usia muda
3) Endometrium cacat pada bekas persalinan berulang-ulang, bekas operasi, kuretase, dan manual
plasenta
4) Korpus luteum bereaksi lambat, dimana endometrium belum siap menerima hasil konsepsi.
5) Kehamilan janin kembar,.
6) Tumor-tumor, seperti mioma uteri, polip endometrium
7) Kadang-kadang pada malnutrisi.
8) Riwayat perokok.
Cirri-ciri plasenta previa :
a ) Perdarahan terjadi tanpa rasa sakit pada trimester III
b ) Sering terjadi pada malam hari saat pembentukan S.B.R
c ) Perdarahan dapat terjadi sedikit atau banyak sehingga menimbulkan gejala
d ) Perdarahan berwarna merah segar
e ) Letak janin abnormal
f) Adanya anemia dan renjatan yang sesuai dengan keluarnya darah
h) Denyut jantung janin ada
i) Teraba jaringan plasenta pada periksa dalam vagina
j) Penurunan kepala tidak masuk pintu atas panggul
1. Solusi Plasenta
Solusio plasenta adalah terlepasnya sebagian atau seluruh plasenta pada implantasi normal sebelum
janin lahir. Perdarahan dapat terjadi pada pembuluh darah plasenta atau uterus yang membentuk
hematom pada desisua, sehingga plasenta terdesak akhirnya terlepas. Apabila perdarahan sedikit,
hematom yang kecil itu hanya akan mendesak jaringan plasenta, peredaran darah antara uterus
dan plasenta belum terganggu dan tanda serta gejalanya pun tidak jelas.
Klasifikasi solusio plasenta berdasarkan tanda klinis dan derajat pelepasan plasenta yaitu :
1. Ringan : Perdarahan kurang 100-200 cc, uterus tidak tegang, belum ada tanda
renjatan, janin hidup, pelepasan plasenta kurang 1/6 bagian permukaan, kadar
fibrinogen plasma lebih 120 mg%.
2. Sedang : Perdarahan lebih 200 cc, uterus tegang, terdapat tanda pre renjatan,
gawat janin atau janin telah mati, pelepasan plasenta 1/4-2/3 bagian
permukaan, kadar fibrinogen plasma 120-150 mg%.
3. Berat : Uterus tegang dan berkontraksi tetanik, terdapat tanda renjatan, janin
mati, pelepasan plasenta bisa terjadi lebih 2/3 bagian atau keseluruhan.
1. Faktor vaskuler (80-90%), yaitu toksemia gravidarum, glomerulo nefritis kronika, dan hipertensi
esensial.Karena desakan darah tinggi, maka pembuluh darah mudah pecah, kemudian terjadi
haematoma retroplasenter dan plasenta sebagian terlepas.
2. Faktor trauma:
- Pengecilan yang tiba-tiba dari uterus pada hidramnion dan gemeli
- Tarikan pada tali pusat yang pendek akibat pergerakan janin yang banyak/bebas, versi luar, atau
pertolongan persalinan.
3. Faktor paritas.
Lebih banyak dijumpai pada multi daripada primi. Holmer mencatat bahwa dari 83 kasus
solusio plasenta dijumpai 45 multi dan 13 primi.
4. Pengaruh lain seperti anemia, malnutrisi, tekanan uterus pada vena cava inferior, dan lain-lain.
5. Trauma langsung seperti jatuh, kena tendang, dan lain-lain.tor yang mempengaruhi solusi plasenta
:
Ciri-ciri solusi plasenta:
a ) Perdarahan disertai rasa sakit
b ) Jalan asfiksia ringan sampai kematian intrauterin
c ) Gejala kardiovaskuler ringan sampai berat
d ) Abdomen menjadi tegang
e ) Perdarahan berwarna kehitaman
f ) Sakit perut terus menerus
g) Denyut jantung janin biasanya tidak ada
h) Teraba ketuban yang tegang pada periksa dalam vagina
i) Penurunan kepala dapat masuk pintu atas panggul
1. Vasa Previa
Vasa previa merupakan keadaan dimana pembuluh darah umbilikalis janin berinsersi dengan
vilamentosa yakni pada selaput ketuban. Etiologi vasa previa belum jelas.
Diagnosis vasa previa, Pada pemeriksaan dalam vagina diraba pembuluh darah pada selaput
ketuban. Pemeriksaan juga dapat dilakukan dengan inspekulo atau amnioskopi. Bila sudah
terjadi perdarahan maka akan diikuti dengan denyut jantung janin yang tidak beraturan,
deselerasi atau bradikardi, khususnya bila perdahan terjadi ketika atau beberapa saat setelah
selaput ketuban pecah. Darah ini berasal dari janin dan untuk mengetahuinya dapat dilakukan
dengan tes Apt dan tes Kleihauer-Betke serta hapusan darah tepi.
Penatalaksanaan vasa previa, Sangat bergantung pada status janin. Bila ada keraguan tentang
viabilitas janin, tentukan lebih dahulu umur kehamilan, ukuran janin, maturitas paru dan
pemantauan kesejahteraan janin dengan USG dan kardiotokografi. Bila janin hidup dan cukup
matur dapat dilakukan seksio sesar segera namun bila janin sudah meninggal atau imatur,
dilakukan persalinan pervaginam
A. PATOFISIOLOGI
1. Plasenta previa
Seluruh plasenta biasanya terletak pada segmen atau uterus. Kadang-kadang bagian atau seluruh
organ dapat melekat pada segmen bawah uterus, dimana hal ini dapat diketahui sebagai plasenta
previa. Karena segmen bawah agak merentang selama kehamilan lanjut dan persalinan, dalam
usaha mencapai dilatasi serviks dan kelahiran anak, pemisahan plasenta dari dinding usus sampai
tingkat tertentu tidak dapat dihindarkan sehingga terjadi pendarahan.
2. Solusi plasenta
Perdarahan dapat terjadi pada pembuluh darah plasenta atau uterus yang membentuk
hematom pada desisua, sehingga plasenta terdesak akhirnya terlepas. Apabila perdarahan sedikit,
hematom yang kecil itu hanya akan mendesak jaringan plasenta, peredaran darah antara uterus
dan plasenta belum terganggu dan tanda serta gejalanya pun tidak jelas.
Kejadiannya baru diketahui setelah plasenta lahir yang pada pemeriksaan didapatkan
cekungan pada permukaan maternalnya dengan bekuan darah lama yang warnanya kehitam-
hitaman.
Biasanya perdarahan akan berlangsung terus menerus karena otot uterus yang telah meregang oleh
kehamilan itu tidak mempu untuk lebih berkontraksi menghentikan pendarahannya. Akibatnya,
hematom retroplasenter akan bertambah besar, sehingga sebagian dan akhirnya seluruh plasenta
terlepas dari dinding uterus.
B. DIAGNOSA DAN GEJALA KLINIS
1) Plasenta Previa
 Anamnesis
- Keluhan utama Perdarahan pada kehamilan setelah 28 minggu atau pada kehamilan lanjut
(trimester III)
-Sifat perdarahan tanpa sebab, tanpa nyeri dan berulang.
 Inspeksi/inspekulo
- Perdarahan keluar pervaginam (dari dalam uterus)
- Tampak anemis
 Palpasi abdomen
- Janin sering blm cukup bulan, TFU masih rendah
- Sering dijumpai kesalahan letak janin
- Bagian terbawah janin belum turun
 . Pemeriksaan USG
- Evaluasi letak dan posisi plasenta.
- Posisi, presentasi, umur, tanda-tanda kehidupan janin.
- Transabdominal ultrasonography
1) Solusio Plasenta
 Anamnesis
. Perasaan sakit yang tiba-tiba di perut, kadang-kadang pasien bisa melokalisir tempat mana yang
paling sakit, dimana plasenta terlepas.

· Perdarahan pervaginam yang sifatnya bisa hebat dan sekonyong-konyong (non-recurrent) terdiri
dari darah segar dan bekuan-bekuan darah.
· Pergerakan anak mulai hebat kemudian terasa pelan dan akhirnya berhenti (anak tidak bergerak
lagi).
· Kepala terasa pusing, lemas, muntah, pucat, pandangan berkunang-kunang, ibu kelihatan anemis
tidak sesuai dengan banyaknya darah yang keluar.
· Kadang-kadang ibu dapat menceritakan trauma dan faktor kausal yang lain.
 Inspeksi
· Pasien gelisah, sering mengerang karena kesakitan.
· Pucat, sianosis, keringat dingin.
· Kelihatan darah keluar pervaginam
 Palpasi
· TFU naik karena terbentuknya retroplasenter hematoma; uterus tidak sesuai dengan tuanya
kehamilan.
· Uterus teraba tegang dan keras seperti papan yang disebut uterus in bois (wooden uterus) baik
waktu his maupun diluar his.
· Nyeri tekan terutama di tempat plasenta tadi terlepas.
· Bagian-bagian janin susah dikenali, karena perut (uterus) tegang.
 Auskultasi
Sulit, karena uterus tegang. Bila denyut jantung janin terdengar biasanya diatas 140, kemudian
turun dibawah 100 dan akhirnya hilang bila plasenta yang terlepas lebih dari sepertiga.
 Pemeriksaan dalam
· Serviks bisa telah terbuka atau masih tertutup.
· Kalau sudah terbuka maka ketuban dapat teraba menonjol dan tegang, baik sewaktu his maupun
diluar his.
· Kalau ketuban sudah pecah dan plasenta sudah terlepas seluruhnya, plasenta ini akan turun ke
bawah dan teraba pada pemeriksaan, disebut prolapsus plasenta, ini sering dikacaukan dengan
plasenta previa.
 Pemeriksaan umum.
· Tensi semula mungkin tinggi karena pasien sebelumnya menderita penyakit vaskuler, tetapi lambat
laun turun dan pasien jatuh syok.
· Nadi cepat, kecil, dan filiformis.
 Pemeriksaan Ultrasonography (USG).
Ultrasonography adalah suatu metode yang penting untuk mengetahui adanya pendarahan di dalam
uterus. Kualitas dan sensitifitas ultrasonografi dalam mendeteksi solusio plasenta telah
meningkat secra signifikan belakangan ini.
Tetapi bagaimanapun juga ini bukan metode yang sempurna dan sensitif untuk mendeteksi
solusio plasenta, tercatat hanya 25% kasus solusio plasenta yang ditegakkan dengan
USG.Solusio plasenta tampak sebagai gambaran gumpalan darah retroplacental, tetapi tidak
semua solusio plasenta yang di USG ditemukan gambaran seperti di atas. Pada fase akut, suatu
perdarahan biasanya hyperechoic, atau bahkan isoechoic, maka kita bandingkan dengan plasenta.
Gambaran konsisten yang mendukung diagnosa solusio plasenta antara lain adalah; gumpalan
hematom retroplasenta (hyperochoic hingga isoechoic pada fase akut, dan berubah menjadi
hypoechoic dalam satu minggu), gambaran perdarahan tersembunyi, gambaran perdarahan yang
meluas. Manfaat lainnya adalah USG dapat dipakai untuk menyingkirkan kemungkinan
penyebab lain perdarahan antepartum.
 Pemeriksaan laboratorium
. Urin
albumin (+); pada pemeriksaan sedimen terdapat silinder dan lekosit.
· Darah
Hb menurun (anemi), periksa golongan darah, kalau bisa cross match test
Karena pada solusio plasenta sering terjadi kelainan pembekuan darah a/hipofibrinogenemia, maka
diperiksakan pula COT (Clot Observation Test) tiap 1 jam, test kualitatif fibrinogen (fiberindex),
dan test kuantitatif fibrinogen (kadar normalnya 150 mg%).
 Pemeriksaan plasenta
· Sesudah bayi dan plasenta lahir, kita periksa plasentanya. Biasanya tampak tipis dan cekung di
bagian plasenta yang terlepas (krater) dan terdapat koagulum atau darah beku di belakang
plasenta, yang disebut hematoma retroplasenter.
A. PENATALAKSANAAN MEDIS
1. Plasenta Previa
Penatalaksanaan konservatif (mis.istirahat di tempat tidur sepanjang masa hamil)
biasanya dilakukan jika janin belum cukup matang karena perdarahan biasanya perdarahan
spontan awal pada plasenta previa tidak mengancam kehidupan ibu dan janin. Jika paru-paru
janin sudah matur dan kemungkinan hidup besar, pelahiran bisa dilakukan.
Setelah diagnosis plasenta previa ditegakkan, ibu biasanya tetap tinggal di Rumah sakit
dibawah supervisi yang ketat. Durasi kehamilan harus dipastikan dan , kecuali dalam keadaan
kondisi kedaruratan, kehamilan ditunda sampai setelah minggu ke-36, biasanya dilakukan
pelahiran sesaria bagi ibu dengan plasenta previa. (Cunningham, dkk, 1993)

2. Solusio plasenta
Pengobatan tergantung pada status ibu dan janin. Bila ada stress distress janin, perdarahan berat,
koagulopati, kemajuan persalinan yang buruk, atau peningkatan tonus rahim istirahat,dilakukan
persalinan sesaria. Jika ibu secara hemodinamik stabil,kelahiran pervaginam bisa diusahakan jika
janin hidup dan tidak dalam keadaan distress akut, atau jika janin mati. Penggantian cairan harus
dilakukan secara agresif bila terjadi perdarahan.

Darah dan ringer laktat diberikan dalam jumlah yang dapat mempertahankan haluaran urine 30
sampai 60ml per jam dan nilai hematokrit kira-kira 30% (Lowe, Cunningham,199)

ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a) Data Subjektif
A. Data umum
Biodata, identitas ibu hamil dan suaminya.
B. Keluhan utama
Keluhan pasien saat masuk RS adalah perdarahan pada kehamilan 28 minggu.
C. Riwayat kesehatan yang lalu
D. Riwayat kehamilan
- Haid terakhir
- Keluhan
- Imunisasi
E. Riwayat keluarga
- Riwayat penyakit ringan
- Penyakit berat
Keadaan psikososial
- Dukungan keluarga
- Pandangan terhadap kehamilan
F. Riwayat persalinan
G. Riwayat menstruasi
- Haid pertama
- Sirkulasi haid
- Lamanya haid
- Banyaknya darah haid
- Nyeri
- Haid terakhir

H. Riwayat perkawinan
- Status perkawinan
- Kawin pertama
- Lama kawin
Data Objektif
Pemeriksaan fisik
1. Umum
Pemeriksaan fisik umum meliputi pemeriksaan ibu hamil.
a. Rambut dan kulit
- Terjadi peningkatan pigmentasi pada areola, putting susu dan linea nigra.
- Striae atau tanda guratan bisa terjadi di daerah abdomen dan paha.
- Laju pertumbuhan rambut berkurang.
b. Wajah
- Mata : pucat, anemis
- Hidung
- Gigi dan mulut
c. Leher
d. Buah dada / payudara
- Peningkatan pigmentasi areola putting susu
- Bertambahnya ukuran dan noduler
e. Jantung dan paru
- Volume darah meningkat
- Peningkatan frekuensi nadi
- Penurunan resistensi pembuluh darah sistemik dan pembuluh darah pulmonal.
- Terjadi hiperventilasi selama kehamilan.
- Peningkatan volume tidal, penurunan resistensi jalan nafas.
- Diafragma meninggi
- Perubahan pernapasan abdomen menjadi pernapasan dada.
f. Abdomen
Palpasi abdomen :

b.) - Menentukan letak janin
- Menentukan tinggi fundus uteri
g. Vagina
- Peningkatan vaskularisasi yang menimbulkan warna kebiruan ( tanda Chandwick )
- Hipertropi epithelium
h. System musculoskeletal
- Persendian tulang pinggul yang mengendur
- Gaya berjalan yang canggung
- Terjadi pemisahan otot rectum abdominalis dinamakan dengan diastasis rectal
2. Khusus
- Tinggi fundus uteri
- Posisi dan persentasi janin
- Panggul dan janin lahir
- Denyut jantung janin
3. Pemeriksaan penunjang
- Pemeriksaan inspekulo
- Pemeriksaan radio isotopic
- Ultrasonografi
- Pemeriksaan dalam
2. Diagnosa keperawatan
+ Resiko tinggi cedera (janin) Yang berhubungan dengan penurunan perfusi uterin/plasenta akibat
perdarahan
+ Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan perdarahan hebat akibat plasenta previa
+ Resiko tinggi infeksi yang berhubungan dengan anemia dan perdarahan akibat plasenta previa
+ Rasa takut, berhubungan dengan keprihatinan ibu tentang kesejahteraan
Diri dan bayinya
3. Intervensi
1. Lakukan pemantauan keadaan ibu dan janin secara terus menerus, mencakup tanda-tanda vital,
tanpa perdarahan. haluaran perkemihan, pelacakan pemantauan elektronik, dan tanda
persalinan.
2. Jelaskan prosedur kepada ibu dan keluarganya.
3. Pemberian cairan Intra Vena atau produk darah sesuai pesanan.
4. Tinjau kembali aspek penting dari perawatan kritis yang telah diberikan ini :
- Sudahkah saya menanyakan kepada ibu tentang perdarahan ?
- Jika perdarahan ada sudahkan saya mengkaji kuantitasnya dengan teliti ?
- Sudahkan saya memantau keadaan janin dengan teliti ?
- Apakah ada tanda-tanda takikardi / deserasi ?
- Sudahkah saya waspada terhadap perubahan keadaan ibu ?
- Adakah tanda persalinan ? adakah perubahan yang dilaorkan ibu ?
- Sudahkah saya melakukan langkah untuk menolog ibu menjadi nyaman saat tirah
baring dengan cara menggosok punggung, memposisikan dengan bantal, pengalihan
aktivitas.
4. Evaluasi
1. Kondisi ibu tetap stabil atau perdarahan dapat dideteksi dengan tepat, serta terapi mulai diberikan.
2. Ibu dan bayi menjalani persalinan dan kelahiran yang aman.
http://tinevitamehi.blogspot.com/2011/04/askep-perdarahan-antepartum.html


ASKEP PADA PASIEN PERDARAHAN ANTEPARTUM
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
PERDARAHAN ANTEPARTUM
Perdarahan antepartum merupakan pendarahan dari traktus genitalis yang terjadi antara kehamilan minggu ke-
28 dan awal partus.
Pada satu kehamilan perdarahan dari traktus genitalis lebih sering dan serius jika terjadi pada tempat plasenta
dibandingkan dari sumber lain. Walaupun demikian plasenta menjadi organ defenitif jauh lebih dini dari
kehamilam 28 minggu dan perdarahan dapat terjadi lebih dini . Meskipun perdarahan sesudah saat ini lebih
sering terjadi. Walaupun perdarahan vaginal setelah minggu ke–29 harus dianggap mempunyai potensi serius .
perdarahan pada saat yang lebih dini dapat merupakan indikasi dari dua penyebab utama pedarahan anterpatum
yaitu;
• Plasenta previa
• Soluto plasenta
3.1. Plasenta previa
3.1.1 Pengertian
Pada keaadaan normal . Plasenta berimplantasi atau terletak di bagian fundus uterus. Plasenta previa adalah
plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutup sebagian atau
seluruh pembukaan jalan lahir.
3.1.2. Etiologi
Apa sebab terjadinya implatasi plasenta didaerah segmen bawah uterus tidak dapat dijelaskan. Namun
demikian terdapat beberapa faktor yang berhubungan dengan peningkatan kekerapan terjadi plasenta previa
yaitu :
• Parista
Makin banyak parista ibu, makin besar kemungkinan mengalami plasenta previa
• Usia ibu pada saat hamil. Bila usia ibu pada saat hamil 35 tahun atau lebih, makin besar kemungkinan
kehamilan plasenta previa.
• Umur dam paritas
- Pada primigravida umur diatas 35 th lebih sering dari umur dibawah 25 th.
- Pada paritas tinggi lebih sering dari pada paritas rendah
- Di Indonesia plasenta previa banyak dijumpai pada umur paritas kecil disebabkan banyak wanita Indonesia
menikah pada usia muda dimana endometrium belum matang.
• Adanya tumor-tumor : mioma uteri, polip endometrium.
• Kadang-kadang pada malnutrisi
Klasifikasi
Berdasarkan atas terabaya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu,plasenta previa
dibagi dalam 4 klasifikasi yaitu :
1) Plasenta previa totalis apabila seluruh pembukaan tertutup oleh jarngan plasenta
2) Plasenta previa parsialis apabila sebagian pembukaan ternutup oleh jaringan plasenta
3) Plasenta previa marginalis apabila pinggir plasenta berada terpat pada pinggir pembukaan
4) Plasenta letak rendah apabila tepi plasenta melampau segmen bawah tetapi tepinya tidak mencapai ostium
internum.
5)
3.1.3. Manifestasi klinis
• Perdarahan yang terjadi bisa sedikit atau banyak. Perdarahan yang terjadi pertama kali, biasanya tidak
banyak dan tidak berakibat fatal. Perdarahan berikutnya hampir selalu lebih banyak dari sebelumnya.
Perdarahan pertama sering terjadi pada triwulan ketiga.
• Pasien yang dating dengan perdarahan karena plasenta previa tidak mengeluh adanya rasa sakit.
• Pada uterus tidak teraba keras dan tidak tegang.
• Bagian terbawah janin biasanya belum masuk pintu atas panggul dan tidak jarang terjadi letak janin (letak
lintang atau letak sunsang)
• Janin mungkin masih hidup atau sudah mati, tergantung banyaknya perdarahan. Sebagian besar kasus,
janinnya masih hidup.
Gejala utama
• Perdarahan yang terjadi berwarna segar, tanpa alasan dan tanpa rasa nyeri merupakan gejala utama
Komplikasi
• Anemia karena perdarahan
• Syok
• Janin mati lahir dalam keadaan premature dan asphyxia berat.
3.1.4. Patofisiologi
Perdarahan anterpatum yang disebabkan oleh plasenta previa umumnya terjadi pada triwulan ketiga kehamilan
. Karena pada saat itu segmen bawah uterus lebih banyak mengalami perubahan berkaitan dengan makin
tuanya kehamilan .
Kemungkinan perdarahan anterpatum akibat plasenta previa dapat sejak kehamilan berusia 20 minggu. Pada
usia kehamilan ini segmen bawah uterus telah terbentuk dan mulai menipis.
Makin tua usia kehamilan segmen bawah uterus makin melebar dan serviks membuka. Dengan demikian
plasenta yang berimplitasi di segmen bawah uterus tersebut akan mengalami pergeseran dari tempat implantasi
dan akan menimbulkan perdarahan. Darahnya berwarna merah segar, bersumber pada sinus uterus yang atau
robekan sinis marginali dari plasenta.
3.1.5. Manajemen Therapeutik
Harus dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas operasi. Sebelum dirujuk, anjurkan pasien untuk tirah baring
total dengan menghadap kiri, tidak melakukan sanggama, menghindari peningkatan tekanan rongga perut
missal batuk,mengedan karena sulit buang air besar)
Gambar 35.3 Skema Penanganan
Plasenta previa
Pasang infuse cairan Nacl fisiologis. Bila tidak memungkinkan, beri cairan proposal. Pantau tekanan darah dan
frekuensi nadi pasien secara teratur tiap 15 menit untuk mendeteksi adanya hipotensi atau syok akibat
perdarahan. Pantau pula BJJ dan pergerakan janin.
Bila terjadi renjatan, segera lakukan resusitasi cairan dan trasfusi darah. Bila tidak teratasi, upayakan
penyelamatan optimal. Bila teratasi, perhatikan usia kehamilan.
Penanganan di rumah sakit dilakukan berdasarkan usia kehamilan. Bila terdapat renjetan, usia gestasi <37
minggu, taksiran berat janin <2.500 g, maka :
• Bila perdarahan sedikit, rawat sampai usia kehamilan 37 minggu, lalu lakukan mobilisasi bertahap. Beri
kortikosteroid 12 mg intravena per hari salma 3 hari
• Bila pendarahan berulang, lakukan PDMO. Bila ada kontraksi, tangani seperti persalinan preterm
Bila tidak ada renjetan, usia gestasi 37 minggu atau lebih,taksirkan berat janin 2.500 g atau lebih, lakukan
PDMO. Bila ternyata previa, lakukan persalinan perabdominan. Bila bukan, usahakan partus pervaginam.
3.1.6. Asuhan keperawatan
Perawatan adalah pelayanan esensial dilakukan oleh perawatan propesional. Bagi individu, keluarga dan
masyarakat yang mempunyai masalah kesehatan dengan tujuan menolong mereka meningkatkan kesehatan
semaksimal mungkin sesuai dengan profesinya.
Pelayanan keperawatan yang diberikan pada klien HAP atas indikasi plasenta previa akan berhasil apabila
asuhan keperawatan yang diberikan baik dan benar. Berdasarkan hal ini perawat dituntut memiliki
pengetahuan tentang penyakit klien dan tindakan apa saja yang harus dilakukan, selain itu perawat harus
berfikir dan bekerja secara dinamis.
Proses kererawatan digunakan oleh perawat untuk memecahkan masalah yang dihadapi klien, secara tuntas
yang didasari prinsip-prinsip ilmiah sertamempertimbangkan klien sebagai makluk yang utuh (bio, psiko,
social, dan spiritual) dan bersifat unik.
Penerapan proses keperawatan klien ni adalah empat tahap yaitu pengkajian, intervestasi dan evaluasi.
1. Pengkajian
Pengkajian adalah pendekatan yang sistematis untuk mengumpulkan data perkelompok dan menganalisanya
sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan untuk perawatan klien. Tujuan utama pengkajian adalah
untuk memberi gambaran secara terus menerus mengenai keadaan kesehatan yang memungkinkan perawat
merencanakan asal keperawatan pada klien HAP. Langkah pertama dalam pengkajian terhadap klien HAP
adalah mengumpulkan data. Adapun data-data yang dikumpulkan yaitu :
a. Identitas umum
b. Riwayat kesehatan
1. Riwayat kesehatan dahulu
- Adanya kemungkinan klien pernah mengalami riwayat diperlukan uterus seperti seksio sasaria curettage yang
berulang-ulang.
- Kemungkinan klien mengalami penyakit hipertensi DM, Hemofilia serta mengalami penyakit menular seperti
hepatitis.
- Kemungkinan pernah mengalami abortus
2. Riwayat kesehatan sekarang
- Biasanya terjadi perdarahan tanpa alasan
- Perdarahan tanpa rasa nyeri
- Perdarahan biasanya terjadi sejak triwulan ketiga atau sejak kehamilan 20 minggu.
3. Riwakat kesehatan keluarga
- Kemungkinan keluarga pernah mengalami kesulitan kehamilan lainnya.
- Kemungkinan ada keluarga yang menderita seperti ini
- Kemungkinan keluarga pernah mengalami kehamilan ganda.
- Kemungkinan keluarga menderita penyakit hipertensi DM, Hemofilia dan penyakit menular.
4. Riwayar Obstetri
Riwayat Haid/Menstruasi
- Minarche : 12 th
- Siklus : 28 hari
- Lamanya : ± 7 hari
- Baunya : amis
- Keluhan pada haid : tidak ada keluhan nyeri haid
5. Riwayat kehamilan dan persalinan
- Multigravida
- Kemungkinan abortus
- Kemungkinan pernah melakukan curettage
6. Riwayat nipas
- Lochea Rubra
Bagaimana baunya, amis
- Banyaknya 2 kali ganti duk besar
- Tentang laktasi
Colostrum ada
c. Pemeriksaan tanda-tanda vital
- Suhu tubuh, suhu akan meningkat jika terjadi infeksi
- Tekanan darah, akan menurun jika ditemui adanya tanda syok
- Pernapasan, nafas jika kebutuhan akan oksigen terpenuhi
- Nadi, nadi melemah jika ditemui tanda-tanda shok
d. Pemeriksaan fisik
- Kepala, seperti warna, keadaan dan kebersihan
- Muka, biasanya terdapat cloasmagrafidarum, muka kelihatan pucat.
- Mata biasanya konjugtiva anemis
- Thorak, biasanya bunyi nafas vesikuler, jenis pernapasan thoracoabdominal
- Abdomen
• Inspeksi : terdapat strie gravidarum
• Palpasi :
Leopoid I : Janin sering belum cukup bulan,jadi fundus uteri masih rendah
Leopoid II : Sering dijumpai kesalahan letak
Leopoid III : Bagian terbawah janin belum turun, apabila letak kepala biasanya kepala masih goyang atau
terapung(floating) atau mengolak diatas pintu atas panggul.
Leopoid IV : Kepala janin belum masuk pintu atas panggul
• Perkusi : Reflek lutut +/+
• Auskultasi : bunyi jantung janin bisa cepat lambat. Normal 120.160
- Genetalia biasanya pada vagina keluar dasar berwarna merah muda
- Ekstremitas. Kemungkinan udema atau varies. Kemungkinan akral dingin.
e. Pemeriksaan penunjang
- Data laboraturium, memungkinkan Hb rendah. Hb yang normal (12-14gr%)
leokosit meningkat (Normal 6000-1000 mm3). Trombosit menurun (normal 250
ribu – 500 ribu).
f. Data sosial ekonomi
Plaesnta previa dapat terjadi pada semua tingkat ekonomi namun pada umumnya terjadi pada golongan
menengah kebawah , hal ini juga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan yang dimilikinya.
Dari pengkajian yang telah diuraikan diatas dapat disusun beberapa diagnosa keperawatan yang
memungkinkan ditemukan pada klien HAP atas indikasi plasenta precia antara lain :
1. Resiko perdarahan berulang berhubungan dengan efek penanaman plasenta pada segmen bawah rahim (
Susan Martin Tucker,dkk 1988:523)
2. Gangguan pemenuhan kebutuhan sehari-hari berhubungan dengan ketidak mampuan merawat diri.
Sekunder keharusan bedrest (Linda Jual Carpenito edisio :326)
3. Resiko rawat janin : fital distress berhubungan dengan tidak ada kuatnya perfusi darah ke plasenta (Lynda
Jual Carpenito,2000: 1127) post seksio.
4. Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan trauma jaringan dan spasme otot perut (Susan Martin
Tucker,dkk 1988 : 624).
5. Intolerasi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik (Barbara Enggram :1998:371)
6. Resiko infeksi berhubungan dengan terbukanya tempat masuknya mikro organisme sekunder terhadap
luka operasi sesarea.
7. Kecemasan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang perawatan dan pengobatan (Susan
Martin Tucker,dkk 1988).
2. Perencanaan
Perencanaan keperawatan adalah bagian selanjutnya dari proses keperawatan. Dan hasil pengkajian seorang
perawat mampu menentukan rencana tindakan yang akan dilakukan pada klien. Perencanaan ini dikembangkan
sesuai dengan kebutuhan klien dan mengatasi masalahnya. Adapun rencana tindakan dari diagnosa tersebut
adalah :
DX I
Resiko perdarahan berulang berhubungan dengan efek penanaman plasenta pada segmen bawah rahim
Tujuan :
Klien tidak mengalami perdarahan berulang
Intervensi :
1. Anjurkan klien untuk membatasi perserakan
Rasional : Pergerakan yang banyak dapat mempermudah pelepasan plasenta sehingga dapat terjadi perdarahan
2. Kontrol tanda-tanda vital (TD, Nadi, Pernafasan, suhu)
Rasional : Dengan mengukur tanda-tanda vital dapat diketahui secara dini kemunduran atau kemajuan keadaan
klien.
3. Kontrol perdarahan pervaginam
Rasional : Dengan mengontrol perdarahan dapat diketahui perubahan perfusi jaringan pada plasenta sehingga
dapat melakukan tindakan segera.
4. Anjurakan klien untuk melaporkan segera bila ada tanda-tanda perdarahan lebih banyak
Rasional : Pelaporan tanda perdarahan dengan cepat dapat membantu dalam melakukan tindakan segera dalam
mengatasi keadaan klien.
5. Monitor bunyi jantung janin
Rasional : Denyut jantung lebih >160 serta< 100dapat menunjukkan gawat janin kemungkinan terjadi
gangguan perfusi pada plasenta
6. Kolaborasi dengan tim medis untuk mengakhiri kehamilan
Rasional : Dengan mengakhiri kehamilan dapat mengatasi perdarahan secara dini.
DX II
Gangguan pemenuhan ketuban sehari-hariberhubungan dengan ketidakmampuan merawat diri sekunder
keharusan bedres
Tujuan :
Pemenuhan kebutuhan klien sehari-hari terpenuhi
Intervensi :
1. Bina hubungan saling percaya antara perawat dengan klien dengan menggunakan komunikasi therapeutik
Rasional : Dengan melakukan komunikasi therapeutic diharapkan klien kooperatif dalam melakukan asuhan
keperawatan.
2. Bantu klien dalam pemenuhan kebutuhan dasar
Rasional engan membantu kebutuhan klien seperti mandi, BAB,BAK,sehingga kebutuhan klien terpenuhi,
3. Libatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan
Rasional : Dengan melibatkan keluarga, klien merasa tenang karena dilakukan oleh keluarga sendiri dan klien
merasa diperhatikan.
4. Dekatkan alat-alat yang dibutuhkan klien
Rasional : Dengan mendekatkan alat-alat kesisi klien dengan mudah dapat memenuhi kebutuhannya sendiri.
5. Anjurkan klien untuk memberi tahu perawat untuk memberikan bantuan
Rasional : Dengan memberi tahu perawat sehingga kebutuhan klien dapat terpenuhi.
DX III
Resiko rawat janin berhubungan dengan tidak adekuatnya perfusi darak ke plasenta
Tujuan :
Gawat janin tidak terjadi
Intervensi :
1. Istirahatkan klien
Rasional : melalui istirahat kemungkinan terjadinya pelepasan plasenta dapat dicegah
2. Anjurkan klien agar miring kekiri
Rasional : Posisi tidur menurunkan oklusi vena cava inferior oleh uterus dan meningkatkan aliran balik vena
ke jantung
3. Anjurkan klien untuk nafas dalam
Rasional : Dengan nafas dalam dapat meningkatkan konsumsi O2 pada ibu sehingga O2 janin terpenuhi
4. Kolaborasi dengan dokter tentang pemberian oksigen
Rasional : Dengan pemberian O2 dapat meningkatkan konsumsi O2 sehingga konsumsi pada janin meningkat.
5. Kolaborasi dengan dokter tentang pemberian kortikosteroit
Rasional : Korticosteroit dapat meningkatkan ketahanan sel terutama organ-organ vital pada janin.
DX IV
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan trauma jaringan dan spasme otot perut
Tujuan :
Rasa nyaman terpenuhi
Intervensi :
1. Kaji tingkat nyeri yang dirasakan klien
Rasional : Dengan mengkaji tingkat nyeri, kapan nyeri dirasakan oleh klien dapat disajikan sebagai dasar dan
pedoman dalam merencanakan tindakan keperawatan selanjutnya.
2. Jelaskan pada klien penyebab nyeri
Rasional : Dengan memberikan penjelasan pada klien diharapkan klien dapat beradaptasi dan mampu
mengatasi rasa nyeri yang dirasakan klien.
3. Atur posisi nyaman menurut klien tidak menimbulkan peregangan luka.
Rasional : Peregangan luka dapat meningkatkan rasa nyeri.
4. Alihkan perhatian klien dari rasa nyeri dengan mengajak klien berbicara.
Rasional: Dengan mengalihkan perhatian klien, diharapkan klien tidak terpusatkan pada rasa nyeri
5. Anjurkan dan latih klien teknik relaksasi (nafas dalam)
Rasional : Dengan teknik nafas dalam diharapkan pemasukan oksigen ke jaringan lancar dengan harapan rasa
nyeri dapat berkurang.
6. Kontrol vital sign klien
Rasional engan mengontrol/menukur vital sign klien dapat diketahui kemunduran atau kemajuan keadaan
klien untuk mengambil tindakan selanjutnya.
7. Kolaborasi dengan dokter dalam memberikan analgetik
Rasional : Analgetik dapat menekan pusat nyeri sehingga nyeridapat berkurang.
3.2. Solusio Plasenta
3.2.1. Pengertian
Solusio plasenta adalah lepasnya plasenta dari insersi sebelum waktunya
3.2.2. Etiologi
Belum diketahui pasti. Faktor predisposisi yang mungkin ialah hipertensi kronik, trauma eksternal, tali pusat
pendek, dekompresi terus mendadak, anomali atau tumor uterus, difisiensi gizi, merokok, konsumsi alcohol,
penyalahgunaan kokain, serta obstruksi vena kana inferior dan vena ovarika.
3.2.3. Patofisiologi
Terjadinya solusio plasentae dipicu oleh perdarahanke dalam basalis yang kemudian terbelah dan
meninggalkan lapisan tipis yang melekat pada miometrium sehingga terbentuk hematoma desidual yang
menyebabkan pelepasan,kompresi dan akhirnya penghancuran plasenta yang berdekatan dengan bagian
tersebut.
Ruptur pembuluh arteri spiralis desidua menyebabkan hematoma retroplasenta yang akan memutuskan lebih
banyak pembuluh darah. Hingga pelepasan plasenta makin luas dan mencapai tepi plasenta. Karena uterus
tetap berdistensi dengan adanya janin, uterus tidak mampu berkontraksi optimal untuk menekan pembuluh
darah tersebut. Selanjutnya darah yang mengalir keluar dapt melepaskan selaput ketuban.
3.2.4. Manifestasi Klinis
• Anamnesis : perdarahan biasanya pada trimester ketiga, perdarahan pervaginam berwarna kehitam-hitaman
yang sedikit sekali dan tanpa rasa nyeri sampai dengan yang disertai nyeri perut, uterus tegang, perdarahan
pervaginam yang banyak, syok dak kematian janin intrauterine.
• Pemeriksaan fisik tanda vital dapat normal sampai menunjukkan tanda syok.
• Pemeriksaan obstetric : nyeri tekan uterus dan tegang, bagian-bagian janin sukar dinilai, denyut jantung
janin sulit dinilai atau tidak ada, air ketuban berwarna kemerahan karena tercampur darah.
3.2.5. Manajemen Terapeutik
Harus dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas operasi. Sebelum dirujuk anjuran pasien untuk tirah baring
total dengan menghadap ke kiri, tidak melakukan senggama, menghindari peningkatan tekanan rongga perut
(misalnya batuk, mengedan karena sulit buang air besar). Pasang infus cairan NaCl fisiologis. Bila tidak
memungkinkan, berikan cairan peronai.
Pantau tekanan darah dan frekuensi nadi tiap 15 menit untuk mendeteksi adanya hipotensi atau syok akibat
pendarahan. Pantau pula BJJ dan pergerakan janin.Bila terdapat rejatan,segera lakukan resusitasi cairan dan
tranfusi darah. Bila tidak teratasi, Upayakan Penyelamatan optimal bila teratasi. Perhatikan keadaan
janin.Setelah rejatan diatasi, pertimbangkan seksio sesarea bila janin masih hidup atau persalinan pervaginam
diperkirakan akan berlangsung lama. Bila rejatan tidak dapat diatasi, upayakan tindakan penyelamatan yang
optimal.Setelah syok teratasi dan janin mati, lihat pembukaan. Bila lebih dari 6 cm,pecahkan ketuban lalu
infuse oksitosin. Bila kurang dari 6cm lakukan seksio sesarea.Bila tak terdapat rejatan dan usia gestasi kurang
dari 37 minggu atau taksiran berat janin kurang dari 2.500 gr.Penanganan berdasarkan berat atau ringannya
penyakit yaitu :
a). Solusio Plasenta Ringan
• Ekspektatif, bila ada perbaikan (perdarahan berhenti, kontraksi uterus tidak ada, janin hidup) dengan tirah
baring atasi anemia dan KTG serial,lalu tunggu persalinan spontan.
• Aktif, bila ada perburukan (perdarahan berlangsung terus, uterus berkontraksi, dapat mengancam
ibu/janin). Usahakan partus pervaginam dengan amniotomi atau infuse oksitosin bila memungkinkan. Jika
terus pendarahan,skor pelvic kurang dari 5 atau persalinan masih lama, lakukan seksio sesarea.
b). Solusio plasenta sedang/berat
Resusitasi cairan
Atasi anemia dengan pemberian transfuse darah
Partus pervaginam bila diperkirakan dapat berlangsung dalam 6 jam, perabdominan bila tak dapat
Bila terdapat rejatan, usia gestasi 37 minggu atau lebih, taksiran berat janin 2.500 gr atau lebih. Pikirkan partus
perabdominan bila persalinan pervaginam diperkirakan berlangsung lama.
Prognosis
Prognosis ibu tergantung luasnya plasenta yang terlepas dari dinding uterus, banyaknya perdarahan, derajat
kelainan pembekuan darah, ada tidaknya hipertensi menahun atau preeklamsia, tersembunyi tidaknya
perdarahan. Dan jarak antara terjadinya solusio plasentae sampai pengosongan uterus. Diperkirakan resiko
kematian ibi 0.5-5% dan kematian janin 50-80%.
3.2.6. Asuhan Keperawatan
a). Pengkajian
1). Data Biografi Demografi
Usia, jenis kelamin, pekerjaan serta identitas lain yang mendukug.
2). Riwayat Kesehatan
Riwayat penyakit dahulu(DM,gagal ginjal dan hipertensi)
Riwayat kesehatan keluarga
Riwayat kehamilan yang lalu
Riwayat ginekologis
Status kesehatan sekarang
Riwayat status nutrisi
3). Kebiasaan (merokok, penggunaan obat-obatan dan alkohol)
4). Status psikologis
5). Kepercayaan Keagamaan
6). Pemeriksaan Fisik
Vital sign (TD, nadi, respirasi dan suhu)
Tinggi badan dan berat badan (sebelum hamil dan setelah hamil)
Sistem kardiovaskuler, hipotensi, tachicardi, dan cyanosis)
Sistem perkemihan (intake dan output)
Sistem integument (udem,pucat, kulit dingin)
Sistem reproduksi (pemeriksa leopoid I – IV, kontraksi uterus yang meningkat. Status serviks, perdarahan
dengan darah warna merah kehitaman. Fundus uteri yang makin tinggi).
Status janin (DJJ menurun, pergerakan janin menurun).
7). Pemeriksaan penunjang (EKG,USG, laboraturium{darah lengkap, urine, dan kimia darah})
b). Diagnosa Keperawatan
1) Gangguan perfusi jaringan serta umum berhubungan dengan hipovelemik shock.
2) Gangguan perfusi jaringan : perdarahan berhubungan dengan gangguan pembekuan darah
3) Kecemasan berhubungan dengan kemungkinan efek negatif dari perdarahan atau pengeluaran kehamilan
4) Resiko tinggi terjadinya fetal distress berhubungan dengan perfusi oksigen yang tidak adekuatnya pada
plasenta
c). Intervensi Keperawatan
1) Gangguan perfusi jaringan secara umum berhubungan dengan hipovolemik shock
Tujuan : pefusi jaringan adekuat
Kriteria :
Tanda vital dalam batas normal
Kulit hangat dan kering
Nadi perifer adekuat
Tindakan mandiri :
a). Monitor tanda vital (TD, nadi, nafas,suhu, dan palpasi nadi perifer secara rutin)
R : permonitoran tanda vital dapat menunjukkan indikasi terjadinya pemulihan atau penurunan sirkulasi
b.) Kaji dan catat perdarahan pervaginam dan peningkatan tinggi fundus uteri.
R : Sebagai petunjuk untuk tindakan kedaruratan selanjutnya
c.) Monitor intake dan output untuk memperbaiki sirkulasi volume cairan.
R : pemberian intake cairan (secara parenatal) dapat membantu mempertahankan volume sirkulasi
Tindakan kolaborasi :
a. Pemberian oksigen sesuai indikasi
R : Pemberian oksigen dapat meningkatkan sirkulasi O2 pada jaringan
b. Pemberian tranfusi darah sesuai indikasi
R : pemberian tranfusi darah dapat membantu sirkulasi ke jaringan
2). Gangguan perfusi jaringan : perdarahan berhubungan dengan gangguan pembekuan darah
Tujuan : perfusi jaringan adekuatnya dan perdarahan teratasi
Kriteria :
• Keadaan umum ibu baik
• Pembekuan darah normal
• Tanda vital dalam batas normal
• Sirkulasi darah baik
Tindakan mandiri :
a. Kaji dan monitor perdarahan pervaginam yang abnormal
R : dapat dijadikan sebagai indikator dari faktor kegagalan pembekuan darah
b. Monitor sirkulasi darah serta tanda DIC (turunnya tingkat kekenyalan fibrinogen, pertambahan
prothrombin, tromboplastin dan pembekuan darah)
R : dapat mengintervensi tindakan selanjutnya yang cepat dan sesuai dengan masalah yang ditemukan.
c. Pemberian trasfusi dan komponen darah sesuai dengan indikasi
R : tranfusi darah dapat membantu pengurangan faktor pembekuan karena proses pembekuan yang abnormal .
d. Pemberian obat sesuai dengan indikasi
R : pemberian obat untuk menghentikan perdarahan dan mengurangi kegagalan faktor pembekuan darah
3). Resiko tinggi terjadinya fetal distress berhubungan dengan perfusi oksigen yang tidak adekuat pada
plasenta
Tujuan : perfusi oksigen pada janin adekuat
Kriteria :
• DJJ normal (120-160 x/menit)
• Kebutuhan oksigen janin terpenuhi
• Kontraksi uterus normal
• HIS normal
• Pergerakan janin baik
Tindakan mandiri :
a) Monitor DJJ dan pergerakan janin
R : gangguan perfusi plasenta dapat menurunkan oksigenisasi pada janin, sehingga pergerakan janin dan DJJ
tidak normal
b). Anjurkan ibu mempertahankan posisi tidur lateral
R : posisi lateral dapat memberikan sirkulasi yang optimum pada uterus dan plasenta
Tindakan kolaborasi :
a). Pemberian Oksigen sesuai indikasi
R : pemberian oksigen akan membantu sirkulasi oksigen ke janin menjadi adekuat
b). Menyiapkan klien untuk memeriksakan amniosintesis jika diperlukan
R : pemeriksaan amniosintesis dapat dijadikan indicator kegawatan darurat janin.
c). Persiapkan klien untuk dilakukan tindakan emergensi seperti section caesaria
R : tindakan section merupakan salah satu alternative menghindari terjadinya fetal distress
BAB IV
ASUHAN KEPERAWATAN PADA
PASIEN HYPEREMESIS
4.1. Pengertian
Hyperemasis gravidarum adalah mual dan muntah berlebihan sehingga pekerjaan sehari-hari dan keadaan
umum menjadi buruk. Mual dan muntah merupakan gangguan yang paling sering dijumpai pada kehamilan
trismeter 1. Kurang lebih pada 6 minggu setelah haid terakhir selama 10 minggu. Sekitar 60-80% primigravida
dan 40-60% multigravida mengalami mual dan muntah. Namun gejala ini menjadi lebih berat hanya pada 1
dari 1.000 kehamilan.
4.2. Etiologi
Belum diketahui pasti, namun beberapa faktor mempunyai pengaruh antara lain :
a) Faktor predisposisi, yaitu pamigravida, mola hidatidosa,dan kehamilan ganda
b) Faktor organic, yaitu alergi, masuknya vili khorialis dalam sirkulasi, perubahan metabolic akibat hamil
dan resistansi ibu yang menurun
c) Faktor psikologi
4.3. Patofisiologi
Perasaan mual akibat kadar estrogen meningkat. Mual dan muntah terus menerus dapat menyebabkan
dehidrasi, hiponatremia, hipokloremia.,penurunan klorida urin. Selanjutnya terjadi hemokosentrasi yang
mengurangi perfusi darah kejaringan dan menyebabkan tertimbunnya zat toksit. Pemakaian cadangan
karbonhidrat dan lemak menyebabkan oksidasi lemak tidak sempurna sehingga terjadi ketosis. Hipokalemia
akibat muntah dan ekskresi yang berlebihan selanjutnya menambah frekuensu muntah marusak hepar. Selaput
lender esofagus dan lambung dapat robek (sindrom Mallory-Weiss) sehingga terjadi perdarahan
gastrointestinal.
4.4 Manifestasi klinis
Menurut berat ringannya gejala, hiperemisis grafidarum dibagi dalam 3 tingkatan yaitu :
a) Tingkat I
Muntah terus menerus yang mempengaruhi keadaan umum, menimbulkan rasa lemah, nafsu makan tak ada,
berat badan turun dan nyeri apigastrium. Frekwensi nadi pasien naik sekitar 100 x/menit, tekanan darah sistolik
turun, turgor kulit berkurang, lidah kering dan mata cekung.
b) Tingkat II
Pasien tampak lemah dan apatis, lidah kotor, nadi kecil dan cepat, suhu kadang naik dan mata sedikit icterik.
Berat badan pasien turun, timbul hipotensi, hemokonsentrasi, oliguria, konstipasi, dan napas bau aseton.
c) Tingkat III.
Kesadaran pasien menurun dari samnolen sampai koma, muntah berhenti nadi kecil dan cepat, suhu meningkat
dan tekanan darah makin turun.
4.5 Penatalaksanaan
Bila pencegahan tidak berhasil, maka diperlukan pengobatan yaitu :
a) Penderita diisolasi dalam kamar yang tenang dan cerah dengan pertukaran udara yang baik. Kalori yang
diberikan secara parenteral dengan glukosa 5 % dalam cairan fisiologis sebanyak 2 – 3 liter sehari.
b) Diuresis selalu dikontrol untuk menjaga keseimbangan cairan
c) Bila selama 24 jam penderita tidak muntah dan keadaan umum bertambah baik, coba berikan makanan dan
minimaman yang sedikit demi sedikit ditambah.
d) Sedatif yang diberikan adalah fenobarbital
e) Dianjurkan pemberian vitamin B1 Dan B6 ditambah
f) Berikan terapi psikologis untuk meyakinkan pasien penyakitnya bisa disembuhkan serta menghilankan
rasa takut hamil dan konflik yang melatarbelakangi hiperemesis.
4.6. Asuhan Keperawatan
Pengkajian
Pengkajian pendekatan yang sistemik untuk mengumpulkan data, mengelompokkan data dan menganalisanya
sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan untuk perawatan klien. Tujuan utama dari pengkajian adalah
untuk memberikan gambaran secara terus menerus mengenai keadaan kesehatan klien yang memungkinkan
perawat merencanakan asuhan keperawatan pada klien.
Langkah pertama dalam pengkajian klien hyperemisis gravidarum adalah mengumpulkan data. Adapaun data-
data yang akan dikumpulkan adalah :
a) Data Riwayat Kesehatan.
1. Data Riwayat kesehatan sekarang
Pada riwayat kesehatan sekarang terdapat keluhan yang dirasakan oleh klien sesuai dengan gejala-gejala pada
hyperemisis gravidarum yaitu : mual, muntah yang terus menerus, merasa lemah dan kelelahan, merasa haus,
terasa asam dimulut, konstipasi dan demam.Kemudian dapat juga ditemukan berat badan yang menurun, turgor
kulit yang jelek, gangguan elektrolit. Terjadinya oliguria, tachicardi mata cekung dan ikterik.
2. Riwayat kesehatan dahulu
• Kemungkinan klien pernah mengalami hioremisis gravidarum
sebelumnya.
• Kemungkinan klien pernah mengalami penyakit yang berhubungan
dengan saluran pencernaan yang menyebabkan mual dan muntah.
3. Riwayat kesehatan keluarga
Kemungkinan adanya riwayat kehamilan ganda pada keluarga
b) Data fisik biologis
Data yang dapat ditemui pada klien hiperemisis gravidarum adalah mammae membesar, hiperpikmentasi
areola mammae, terdapat cloasma gravidarum, mukosa membrane dan bibir kering, turgor jelek, mata cekung
dan sedikit ikterik, klien terlihat lemah dan lelah, tachycardia, hipotensi, pusing kehilangan kesadaran dan
terasa asam di mulut.
c) Riwayat menstruasi
• Kemungkinan menarche usia 12 – 14 th
• Siklus 28 – 30 hari
• Lamanya 5 – 7 hari
• Banyaknya 2 – 3 kali ganti duk
• Kemungkinan ada keluhan waktu haid seperti nyeri, sakit kepala, muntah.
d) Riwayat perkawinan
Kemungkinan terjadi pada perkawinan usia muda
e) Riwayat kehamilan dan persalinan
• Hamil muda : Klien pusing, mual, muntah dan tidak ada nafsu makan.
• Hamil tua : Pemeriksaan umum terhadap klien tentang berat badan, tekanan
darah dan tingkat kesadaran.
f) Data psikologis
Riwayat psikologis sangat penting dikaji agar dapat diketahui keadaan jiwa klien sehubungan dengan reaksi
dan perilaku klien terhadap kehamilan. Keadaan jiwa klien yang labil, mudah marah, cemas, dan takut akan
kegagalan persalinan, mudah menangis, sedih dan kecewa dapat memperberat mual dan muntah. Pola
pertahanan diri yang digunakan klien hiperemisis gravidarum tergantung kepada pengalaman klien terhadap
kehamilan dan dukungan dari keluarga serta perawat.
g) Data sosial ekonomi.
Hiperemisis gravidarum bisa terjadi pada semua tingkat ekonomi. Namun pada umumnya terjadi pada
ekonomi tingkat menengah ke bawah, hal ini juga dipengaruhi oleh pengetahuan yang dimiliki.
h) Data penunjang
Data penunjang didapat dari hasil laboratorium yaitu pemeriksaan darah dan urine. Pemeriksaan darah yaitu
nilai haemoglobin dan hematokrit yang meningkat menunjukkan homokonsentrasi yang berkaitan dengan
dehidrasi. Pemeriksaan urinalisa yaitu urine yang sedikit dan mempunyai konsentrasi yang tinggi sebagai
akibat dehidrasi. Terdapatnya aseton dalam urine.
Diagnosa Keperawatan
Dari pengkajian yang telah diuraikan maka ada beberapa kemungkinan diagnosa
keperawatan yaitu:
1) Kekurangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan muntah yang berlebihan
dan pemasukan yang tidak adekuat (ireneM. Bobak, 1995: 637)
2) perubahan nutrisi ; b/d mual dan muntah yang terus menerus (Irene M.Bobak :638)
3) gangguan rasa nyaman : nyeri pada epigastrium b/d muntah yang berulang ( Marie
S Jaffe . 1989 hal 37 )
4) Gangguan eliminasi : konstipasi b/d intake makanan yang tidak adekuat ( Marie S .
Jaffe . 1989 hal 37 )
5) Tidak efektif nya pola pertahanan diri b/d efek psikologis terhadap kehamilan dan
perubahan sebagai ibu ( Sharon J Reeder .1987 hal 748)
6) Potensial perubahan nutrisi fetal b/d berkurang nya peredaran darah makanan ke
janin ( ( Sharon J Reeder .1987 hal 748)
Perencanaan
1) Kekurangan cairan dan elektrolit b/d muntah yang berlebihan dan pemasukan yang tidak adekwat
Tujuan : Kebutuhan cairan dan elektrolit tidak terganggu
Intervensi :
• Istirahatkan klien di tempat yang nyaman
Rasional : Istirahat akan menurunkan kebutuhan energi.Kerja metabolisme tidak meningkat sehingga tidak
merangsang untuk tidak terjadinya mual dan muntah
• Monitor vital sign serta tanda – tanda dehidrasi
Rasional : Dengan mengobservasi tanda-tanda kekurangan cairan dapat diketahui keadaan umum klien dan
sejauh mana kekurangan cairan pada klien.Tekanan darah menurun, suhu meningkat dan nadi meningkat
merupakan tanda-tanda dehidrasi dan hipovolemia
• Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian infuse
Rasoinal : Pemberian cairan infuse dapat mengganti jumlah cairan elektrolit yang hilang dengan cepat
• Monitor tetesan cairan infuse
Rasional : Jumlah dan tetesan infuse yang tidak tepat dapat menyebabkan terjadinya kelebihan atau
kekurangan cairan pada sistim sirkulasi.
• Catat intek dan out put
Rasional : Dengan mengetahui intek dan out put cairan diketahui keseimbangan cairan dalam tubuh.
• Setelah 24 jam pertama anjurkan minum tiap-tiap jam
Rasional : Minum yang sering dapat menambah pemasukan cairan melalui oral
2). Perubahan nutrisi ; Kurang dari keburuhan tubuh b/d muntah yang terus menerus
Tujuan: Kebutuhan nutrisi terpenuhi
Intervensi :
• Kaji kebutuhan nutrisi klien
Rasional : Dengan mengetahui kebutuhan nutrisi klien dapat diamati sejauh mana
kekurangan nutrisi pada klien dan tindakan selanjutnya.
• Observasi tanda-tanda kekurangan nutrisi
Rasional :Untuk mengetahui sejauh mana kekurangan nutrisi akibat muntah yang
berlebiahan.
• Setelah 24 jam pertama beri makanan dalam porsi kecil tapi sering
Rasional : makanan dalam porsi kecil dapat mengurangi pemenuhan lambung dan mengurangi pemenuhan
lambung dan mengurangi kerja peristaltik usus serta memudah kan penyerapan makanan .
• Berikan makanan dalam keadaan hangat dan bervariasi.
Rasional : Makanan yang hangat dan bervariasi dapat menambah nafsu makan .
• Beri makanan yang tidak berlemak dan tidak berminyak.
Rasional : makanan yang tidak berlemak dan berminyak mengurangi rangsangan saluran pencernaan
sehingga muntah berkurang.
• Anjurkan klien untuk memakan makanan yang kering dan tidak merangsang pencernaan (seperti roti dan
biscuit )
Rasional : makanan yang kering dan tidak merangsang pencernaan dapat mengurangi mual dan muntah .
• Beri klien motivasi agar mau menghabiskan makanan
Rasional : Klien merasa diperhatikan dan mau menghabiskan makanan
• Timbang berat badan klien.
Rasional : Dengan menimbang berat badan dapat diketahui keseimbangan berat badan sesuai usia kehamilan
dan pengaruh nutrisi.
3) Gangguan rasa nyaman : Nyeri pada epigastrium b/d muntah yang berulang.
Tujuan : Rasa nyaman terpenuhi .
Intervensi :
• Kaji tingkat nyeri.
Rasional : dengan mengkaji tingkat nyeri dapat diketahui tingkat nyeri pada klien
dan tindakan selanjutnya .
• Atur posisi klien dengan kepala lebihtinggi selama 30 menit setelah makan
Rasional : Dengan posisi kepala lebih tinggi dapat mengurangi tekanan pada
gastroinstestinal sehingga mengurangi muntah yang berulang .
• Perhatikan kebersihan mulut klien sebelumdan sesudah muntah .
Rasional : Kebersihan mulut yang baik dan terpelihara dapat menimbulkan ras nyaman dan muntah berkurang .
• Alihkan perhatian pada hal yang menyenangkan
Rasional : Dengan mengalihkan perhatian diharapkan klien dapat melupakan rasa
nyeri akibat muntah yang berulang.
• Anjurkan klien untuk beristirahat dan batasi pengunjung
Rasional : Dengan istirahat yang cukup dan membatasi pengunjung dapat
menambah ketenangan klien .
• Kolaborasi pemberian obat anti emetik dan sedative dengan dokter
Rasional : Obat anti emetic mengurangi muntah danobat sedative membuat klien
tenang sehingga mengurangi rasa nyeri .
4). Gangguan eliminasi : konstipasi b/d intake makanan yang tidak adekuat.
Tujuan :Eliminasi teratur.
Intervensi :
• Kaji pola eliminasi klien
Rasional : Untuk mengetahui kebiasaan eliminasi sehari hari
• Anjurkan klien makan buah-buahan dan sayuran
Rasional : Dengan memakan buah-buahan dan sayuran yang banyak dapat melancarkan BAB.
• Anjurkan klien untuk menghabiskan diet yang diberikan.
Rasional : Dengan menghabiskan diet yang diberikan intek makanan adekwat dan konstipasi tidak terjadi
• Anjurkan klien banyak minum
Rasional : Cairan yang banyak memperlunak veses sehingga mencegah komplikasi
• Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat pencahar.
Rasional : Pemberian obat pencahar dapat melancarkan BAB
5). Tidak efektifnya pola pertahanan diri b/d efek psikologis terhadap kehamilan dan perubahan sebagai ibu.
Tujuan: Pola pertahanan diri afektif
Intervensi :
• Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya secara langsung terhadap kehamilan.
Rasional : Dengan mengungkapkan perasaan klien dapat diketahui reaksi klien terhadap kehamilan
• Dengarkan keluhan klien dengan penuh perhatian
Rasional : Klien merasa diperhatikkan dan tidak sendiri dalam menghadapi masalah.
• Diskusikan bersama klien tentang masalah yang dihadapi dan pemecahan masalah yang dilakukan
Rasional : Melalui diskusi dapat diketahui pola pertahanan diri klien dalam menghadapi masalahnya
• Bantu klien dalam memecahkan masalahnya terutama yang berhubungan dengan kehamilan
Rasional : Dengan membantu memecahkan masalah klien da[pat menemukan pola pertahanan diri yang
efektif.
• Dukung klien jika pemecahkan masalah konstruktif
Rasional : Akan menambah percaya diri dalam melakukan pemecahan masalah.
• Libatkan keluarga dalam kehamilan klien
Rasional : Keluarga dapat diajak bekerja sama dalam memberikan dorongan pada klien terhadap
kehamilannya.
• Kolaborasi dengan ahli psikiatri jika diperlukan
Rasional : Untuk mengetahui adanya kemungkinan factor psikologis yang lebih berat sebagai penyebab
masalah.
6).Potensi perubahan nutrisi vetal b/d Berkurangnya peredaran darah dan makanan ke janin
Tujuan : Perkembangan janin tidak terganggu
Intervensi :
• Jelaskan pada klien pentingnya nutrisi bagi pertumbuhan dan perkembangan janin
Rasional : Agar klien menyadari akan pentingnya nutrisi bagi janin dank lien mengetahui kebutuhan
nutrisinya.
• Periksa Fundus uteri
Rasional : Untuk mengetahui fundus uteri yang sesuai dengan kehamilan
• Monitor denyut jantung janin
Rasional : Denyut jantung yang masih dalam keadaan normal dan aktif menandakan janin masih dalam
keadaan baik.
BAB V
GANGGUAN HEMATOLOGI
1. ANEMIA DALAM KEHAMILAN
Baik di Negara maju maupun di Negara berkembang, seseorang di sebut menderita anemia bika kadar
hemoglobin ( HB ) kurang dari 10 gr%, di sebut anemia berat, atau bila kurang dari 6 gr%, di sebut anemia
gravis .
Wanita tidak hamil mempunyai nilai normal hemoglobin 12-15 gr% dan hematokrit 35-54%. Angka-angka
tersebut juga berlaku untuk wanita hamil. Oleh karena itu, pemeriksaan, hematokrit dan hemoglobin harus
menjadi pemeriksaan darah rutin selama pengawasan antenatal.
Penyebab anemia umumnya adalah:
• Kurang gizi (malnutrisi )
• Kurang zat besi dalam diet
• Malabsorbsi
• kehilangan darah yang banyak: persalinan yang lalu, haid dll.
• Penyakit –penyakit kronik: tbc, paru, cacing usus, malaria dll.
Dalam kehamilan, jumlah darah bertambah (hyperemia / hipervolumia) karena itu terjadi pengenceran darah
karena sel-sel darah tidak sebanding pertambahannya dengan plasma darah. Perbandingan pertambahan
tersebut adalah:
• Plasma darah bertambah: 30%
• Sel-sel darah bertambah : 18%
• Hemoglobin bertambah : 19%
Secara fisiologis pengenceran darah ini adalah untuk membantu meringankan kerja jantung.
Pengaruh Anemia terhadap Kehamilan , persalinan , dan Nifas:
• Keguguran
• Partus Prematurus
• Inersia uteri dan partus lama, ibu lemah
• Atonia uteri dan menyebabkan pendarahan
• Syok
• Afibrinogenemia dan hipofibrinogenimia
• Infeksi intrapartum dan dalam nifas
• Bila terjadi anemia gravis (Hb di bawah 4 gr%) terjadi payah jantung, yang
bukan saja menyulitkan kehamilan dan persalinan, bahkan bisa fatal.
Pengaruh Anemia terhadap hasil konsepsi
Hasil konsepsi (janin, plasenta, darah) membutuhkan zat besi dalam jumlah besar untuk pembuatan butir-butir
darah merah dan pertumbuhannya, yaitu sebanyak berat besi. Jumlah ini membutuhkan 1\10 dari seluruh besi
dalam tubuh. Terjadinya anemia dalam kehamilan bergantung dari jumlah persediaan besi dalam hati,
limfa,dan sumsum tulang
Selama masih mempunyai cukup persediaan besi, Hb tidak akan turun dan bila persediaan ini habis, Hb akan
turun. Ini terjadi pada bulan 5-6 kehamilan, pada waktu janin membutuhkan banyak zat besi. Bila terjadi
anemia, pengaruhnya terhadap hasil konsepsi adalah:
• Keguguran
• Kematian jann dalam kandungan
• Kematian janin waktu lahir
• Kematian perinatal tinggi
• Prematuritas
• Dapatterjadi cacat bawaan
• Cadangan besi kurang
Klasifikasi Anemia dalam kehamilan
• Anemia defisiensi besi (62,3%)
• Anemia megaloblastik (29,05)
• Anemia hipoplastik (8,0%)
• Anemia hemolitik ( sel sickle) (0,7%)
Anemia defisiensi besi (62,3%)
Anemia jenis ini biasanya berbentuk normositik dan hipokromik serta paling banyak di jumpai. Penyebabnya
telah dibicarakan di atas sebagai penyebab anemia umumnya.
Pengobatan
Keperluan zat besi untuk wanita non-hamil, hamil, dan dalam laktasi yang di anjurkan adalah:
• FNB Amerika Serikat (1958): 12 mg-15mg-15mg.
• LIPI Indonesia (1968): 12mg-17mg-17mg.
Kemasan zat besi dapat di berikan peroral atau parenteral.
• Per oral: sulfas ferosus atau glukonas ferosus dengan dosis 3-5 x0,20mg.
• Parenteral: di berikan bila ibu hamil tidak tahan pemberian per oral atau absorbsi di saluran pencernaan
kurang baik, kemasan diberikan secara intra muskuler atau intravena. Kemasan ini antara lain : imferon,
jectover, dan ferrigen. Hasilnya lebih cepat dibandingkan per oral.
Anemia megaloblastik
Anemia megaloblastik biasanya berbentuk makrositik tau pernisiosa. Penyebany adalah karena kekurangan
asam folik, jarang sekali akibat karena kekurangan vitamin B12. biasanya karena malnutrisi dan infeksi yang
kronik
Pengobatan:
• asam folik 15-30mg per hari
• vitamin B12 3×1 tablet per hari
• sulvas ferosus 3×1 tablet per hari
• pada kasus berat dan pengobatan per oral hasilnya lamban sehingga dapat di
berikan tranfusi darah.
Anemia hipoplastik
Anemia hipoplastik disebabkan oleh hipofungsi sumsum tulang, membentuk sel-sel darah merah baru, untuk
diagnosis diperlukan pemeriksaan-pemeriksaan:
• Darah tepi lengkap
• Pemeriksaan pungsi sternal
• Pemeriksaan retikulosit dan lain-lain.
Anemia hemolitik
Anemia hemolitik disebabkan oleh penghancuran atau pemecahan sel darah merah yang lebih cepat dari
pembuatannya ini disebabkan oleh :
• Faktor intracorpusculer : dijumpai pada anemia hemolitik heriditer ; talasemia;
anemia sickle ( sabit); hemoglobinopati C, D,G, H , I; dan parasismal nocturnal
hemoglobinuria.
• Faktor ekstrakorpuskuler: disebabkan malaria, sepsis, keracunan zat logam, dan
dapat beserta obat-obatan ; leukemia, dll
Gejala utama adalah : Anemia dengan kelainan- kelainan gambaran darah, kelemahan, kelelahan serta gejala
komplikasi bila terjadi kelainan pada organ-organ vital.
II LEOKEMIA DAN KEHAMILAN
Leokemia dan kehamilan tidak begitu saling mempengaruhi, namun pada wanita leukemia, bila hamil, harus
memeriksakan diri secara lebih teratur dan lebih sering, karena ancaman terhadap kehamilan dan jiwanya tetap
ada.
Terhadap hasil konsepsi dapat terjadi abortus dan prematuritas. Bahaya perdarahan paska persalinan cukup
besar, karena pada leukemia terjadi gangguan pembekuan darah. Prognosis untuk ibu dan janin tidak begiti
baik.
Sampai sat ini belum ada obat-obat yang memuaskan terhadap leukemia. Cara pengobatan adalah :
• Radiasi : ini sangat membehayakan janin dalam kandungan, karena akan menimbulkan kelainan teratogenik
atau kematian janin dalam kandungan. Bila akan diberikan terapi radiasi dan kemoterapi, sebaiknya terlebih
dulu hasil konsepsi dikeluarkan ( abortus terapeutik)
• Transfusi darah
• Kemoterapi dan sirtotastika
• Anti metabilit
• Kortikosteroid
Pencegahan
• Wanita leukemia sebaiknya jangan hamil
• Dianjurkan memakai kontrasepsi / tubektomi
HEMOSTATIS DAN KELAINAN PEMBEKUAN DARAH
Penyakit ini adalah terhentinya atau penghentian aliran darah dari pembuluh darah yang terbuka atau terluka.
Ada 3 faktor dalam proses hemostasis:
1. Faktor ekstra vaskuler : factor jaringan seperti kulit, otot, subkutis dan
jaringan lain.
2. Faktor vaskuler yaitu dinding pembuluh darah
3. Faktor intra vaskuler yaitu : zat yang terdapat dalam pembuluh darah:
Implementasi
Setelah rencana tindakan keperawatan selanjutnya rencana tindakan tersebut diterapkan dalam situasi yang
nyata untuk mencapai tujuan yang diterapkan. Tindakan keperawatan harus mendetail agar semua tenaga
perawatan dapat menjalankan dengan baik dalam jangka waktu yang telah ditetapkan.
Dalam pelaksanaan tindakan keperawatan, perawat dapat langsung melaksanakannya pada klien dan perawat
dapat mendelegasikannya kepada orang lain yang dipercayai dibawah pengawasan yang masih seprofesi
dengan perawat.
Evaluasi
Evaluasi dari proses keperawatan adalah menilai hasil yang diharapkan terhadap perubahan peilaku klien dan
untuk mengetahui sejauh mana masalah klien teratasi. Disamping itu perawat juga melakukan umpan balik
atau pengkajian ulang jika tujuan yangh ditetapkan belum tercapai dan proses keperawatan segera
dimodifikasi.
BAB VI
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Pre-eklamsi adalah penyakit dengan tanda hipertensi, edema dan proteinuria yang timbul karena kehamilan .
penyakit ini mungkin timbul pada triwulan ketiga kehamilan , tetapi dapat terjadi sebelumnya misalnya karea
molahidatidosa.( Winknjosastro, 1997:282)
Perdarahan antepartum (HAP) merupakan perdarahan dari traktus genitalis yang terjadi antara kehamilan
mingggu ke -28 dan awal partus . Penyebab utama perdarahan antepartum adalah:
• Plasenta previa.
• Solutio plasenta.
Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah yang berlebihan sehingga pekerjaan sehari-hari terganggu
dan keadaan umum menjadi buruk .
Gangguan hematology adalah kelainan darah yang dapat ditemui pada ibu hamil yang dapat menyebabkan
kematiaqn pada janin maupun pada ibu.
Keempat factor diatas harus diwaspadai bila terjadi pada masa kehamilan dan perlu penanganan lebih dini .
5.2. Sasaran
Dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien pre-eklamsia, perdarahan antepartum , hyperemesis,
gangguan hematologi di perlukan pengkajian secara lengkap agar dapat menetapkan diagnosa keperawatan
secara cepat dan tepat terhadap klien sehingga tercapainya peningkatan kesejahteraan ibu dan anak.
http://ainicahayamata.wordpress.com/nursing-only/keperawatan-maternitas/askep-pada-pasien-
perdarahan-antepartum/


paru-paru diliputi zat surfaktan. Ini merupakan syarat bagi paru-paru untuk berkembang dan bernapas. Bila persalinan berjalan lama atau ada gawat janin atau pada letak sungsang akan kita jumpai warna ketuban keruh kehijau-hijauan, karena telah bercampur dengan mekonium.

Fungsi Air Ketuban

1. Untuk proteksi janin. 2. Untuk mencegah perlengketan janin dengan amnion. 3. Agar janin dapat bergerak dengan bebas. 4. Regulasi terhadap panas dan perubahan suhu. 5. Mungkin untuk menambah suplai cairan janin 6. Meratakan tekanan intra – uterin dan membersihkan jalan lahir bila ketuban pecah. 7. Peredaran air ketuban dengan darah cukup lancar dan perputarannya cepat, kira-kira 350-500 cc.

Asal Air Ketuban

1. Kencing janin (fetal urin) 2. Transudasi dari darah ibu 3. Sekresi dari epitel amnion 4. Asal campuran (mixed origin) ( Ida Bagus, 2001 ) 1.1.3. Etiologi Penyebab ketuban pecah dini (KPD) mempunyai dimensi multifaktorial yang dapat dijabarkan sebagai berikut : 1.1.3.1. Serviks inkopeten 1.1.3.2. Ketegangan rahim berlebihan; kehamilan ganda, hidramnion 1.1.3.3. Kelainan letak janin dalam rahim, letak sunsang, letang lintang 1.1.3.4. Kemungkinan kesempitan panggul : perut gantung, bagian terendah belum masuk PAP, sepalopelvik disproforsi 1.1.3.5. Kelainan bawaan dari selaput ketuban 1.1.3.6. Infeksi yang menyebabkan terjadi proses biomekanik pada selaput ketuban dalam bentuk proteolitik sehingga menyebabkan ketuban pecah. ( Arif Monsjoer, dkk, 2001 : 310 ) 1.1.4. Manifestasi Klinik

1.1.4.1. keluar ketuban warna putih, keruh, jernih, kuning, hijau / kecoklatan sedikit / banyak 1.1.4.2. dapat di sertai demam bila sudah ada infeksi 1.1.4.3. janin mudah teraba 1.1.4.4. pada periksa dalam selaput ketuban tidak ada , air ketuban sudah kering

inspeksikula. bagi ibu resikonya bukan saja terjadi kariomnitis tetapi juga bisa terjadi kegagalan induksi. Patofisiologi Kantong amnion yang utuh berfungsi sebagai suatu mekanik terhadap. dengan membrane yang utuh sampai 25% pasien dalam persalinan kurang bulan.1. maka harus dilakukan operasi section caesaria. Membran yang utuh bukan merupakan sawar mutlak terhadap infeksi karena kolonisasibakteri terjadi 10% pasien dalam persalinan cukup bulan.1. tampak air ketuban mengalir / selaput ketuban tidak ada dan air ketuban ketuban sudah kering ( Arief Mansjoer. resiko infeksi dan sepsis yang keberadaannya di dalam rahim ahkan dapat menjadi problematik.1.2001 : 310 ) 1. Janin kurang bulan dengan ketuban pecah dini. .5. infeksi tetapi selain itu cairan amnion mempunyai beberapa sifat bakteri ostatik yang dapat memainkan peran dalam pencegahan kario amnionitis dan infeksi janin.4. dkk.5.

6. distasia ( partus Kering) Pengeluaran cairan ketuban untuk waktu yang akan lama akan menyebabkan dry labour atau persalinan kering 1. c.1.6.1. Penatalaksanaan 1. Pemeriksaan Leukosid darah > 15000 / ul bila terjadi infeksi 1. infeksi Infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban maupun asenden dari vagina atau infeksi pada cairan ketuban bisa menyebabkan terjadinya KPD. indeks cairan amnion berkurang ) 313 ) 1.3.1.6. Tidak ada tanda-tanda infeksi dan gawat janin.1. 2001 : .1. Rawat rumah sakit dengan tirah baring.1.7.6. b. USG ( menentukan usia kehamilan .4.1.6. test lakmus merah berubah menjadi biru 1.4. dkk.2.6. prolap Tali pusat Tali pusat menumbung 1. 1998 : 221) 1. partus peterm Persalinan preterm atau partus prematur adalah persalinan yang terjadi pada kehamilan kurang dari 37 minggu ( antara 20 – 37 minggu ) atau dengan berat janin kurang dari 2500 gram ( Manuaba.1.1.1. 1.1.1.2. Komplikasi 1. ( Arief Monsjoer. Umur kehamilan kurang 37 minggu.6.8.8. Pemeriksaan Penunjang 1.1.1.1. Keperawatan a.1.6.3.6. amnio sentetis 1.

1. Melakukan terminasi kehamilan bila ada tanda-tanda infeksi atau gawat janin. c. f. b.2.1. Bila didapatkan infeksi berat maka berikan antibiotik dosis tinggi. Antibiotik profilaksis dengan amoksisilin 3 x 500 mg selama 5 hari.d. Bila ditemukan tanda-tanda inpartu. h.8. lakukan terminasi kehamilan. Memberikan tokolitik bila ada kontraksi uterus dan memberikan kortikosteroid untuk mematangkan fungsi paru janin. e. infeksi dan gawat janin maka lakukan terminasi kehamilan. Jangan melakukan periksan dalam vagina kecuali ada tanda-tanda persalinan. Medis a. Lakukan seksio histerektomi bila tanda-tanda infeksi uterus berat ditemukan. Induksi atau akselerasi persalinan. Apabila pelepasan air berlangsung terus. Lakukan seksiosesaria bila induksi atau akselerasi persalinan mengalami kegagalan. Bila dalam 3 x 24 jam tidak ada pelepasan air dan tidak ada kontraksi uterus maka lakukan mobilisasi bertahap. g. d. .

hari pertama haid dan terakhir.2. atau tidak direstui dengan orang tua ? 1. inspeksikula tampak air ketuban mengalir / selaput ketuban tidak ada dan air ketuban sudahkering 1. dimana mendapat pertolongan. keluhan selama kehamilan termasuk situasi emosional dan impresi.3.2. perkiraan tanggal partus 1. Agama.1. pada periksa dalam selaput ketuban tidak ada.4. Alamat. Nama Suami. 1. Umur. darah. hijau / kecoklatan sedikit / banyak. urine. lama haid. No. Medical Record.1. pengkajian 1.1.2. Pendidikan.1. keruh. hasil laboraturium : USG . upaya mengatasi keluhan. Pekerjaan . Suku.1. air ketuban sudah kering.Riwayat penyakit dahulu Penyakit yang pernah di diderita pada masa lalu.2. bagaimana cara pengobatan yang dijalani nya. Riwayat haid Umur menarchi pertama kali. Keluhan utama : keluar cairan warna putih. tindakan dan pengobatan yang diperoleh 1. Alamat. Pekerjaan. Biodata klien Biodata klien berisi tentang : Nama. Riwayat Obstetris Berapa kali dilakukan pemeriksaan ANC. apakah penyakit tersebut diderita sampai saat ini atau kambuh berulang – ulang .ASUHAN KEPERAWATAN 1. Pendidikan. siklus haid.2. jernih. Umur. Agama. kuning.6. konsistensi.2.2.1.2. Tanggal Pengkajian.Riwayat Perkawinan Kehamilan ini merupakan hasil pernikahan ke berapa? Apakah perkawinan sah atau tidak.1. jumlah darah yang keluar.5. Suku.1.

frekuensi minum klien juga mengalami penurunan b.rasa takut BAB karena luka perineum. kelainan congenital atau gangguan kejiwaan yang pernah di derita oleh keluarga 1. kegiatan yang membuat fresh dan relaks. tata rias rambut dan wajah e. kebersihan mulut dan gigi. kebiasaan penggunaan toilet.2. pemeriksaan fisik a. apakah ada luka lesi / lecet .9.2. 1. nadi. Pola BAB. bau nya. Pola nutrisi : pada umum nya klien dengan KPD mengalami penurunan nafsu makan.1. BB / TB. Pola istirahat dan tidur : klien dengan KPD mengalami nyeri pada daerah pinggang sehingga pola tidur klien menjadi terganggu. karena klien dengan KPD di anjurkan untuk bedresh total f. jenis rambut. Personal Hygiene : Pola mandi.1. d. apakah perlu bantuan saat BAK.hilangnya kontrol blas. terjadi over distensi blass atau tidak atau retensi urine karena rasa takut luka episiotomi. apakah mudah terganggu dengan suara-suara.8. adakah inkontinensia (hilangnya infolunter pengeluaran urin).2. Pola eliminasi : Apakah terjadi diuresis. penggunaan pembalut dan kebersihan genitalia. Aktifitas : Kemampuan mobilisasi klien dibatasi. pola berpakaian. pernafasan dan suhu Head To Toe  Rambut : warna rambut. apakah keluarga ada yg menderita penyakit menular. tekanan darah. setelah melahirkan.7. posisi saat tidur (penekanan pada perineum) c. b. Rekreasi dan hiburan : Situasi atau tempat yang menyenangkan. Pemeriksaan kesadaran klie. Riwayat kesehatan keluarga Adakah anggota keluarga yang menderita penyakit yang diturunkan secara genetic seperti panggul sempit. Kebiasaan sehari –hari a. freguensi. konsistensi.1.1.

apakah ada teraba pembengkakan / tidak. apakah palpebra oedema / tidak. getaran dinding dada apakah simetris / tidak antara kiri dan kanan P : bunyi Paru A : suara nafas  Jantung I : warna kulit. apakah teraba ictus cordis pada ICS% Midclavikula P : bunyi jantung A : apakah ada suara tambahan / tidak pada jantung klien .bagaimana fungsi penglihatan nya baik / tidak. Pada ibu hamil pada umum nya berkaries gigi. apakah ada terdapat serumen / tidak. apakah klien menggunakan alat bantu penglihatan / tidak. apakah klien menggunakan alt bantu pendengaran / tidak. keadaan lidah klien bersih / tidak. hal itu disebabkan karena ibu hamil mengalami penurunan kalsium  Leher : apakah klien mengalami pembengkakan tyroid  Paru – paru I : warna kulit. apakah ada karies gigi / tidak. bagaimana fungsi pendengaran klien baik / tidak  Hidung : apakah klien bernafas dengan cuping hidung / tidak. ictus cordis apakah terlihat / tidak P : frekuensi jantung berapa. apakah ada terdapat luka memar / lecet. apakah ada luka lesi / lecet. keadaan gigi dan gusi apakah ada peradangan dan pendarahan. apakah pengembangan dada nya simetris kiri dan kanan. Mata : sklera nya apakah ihterik / tdk. frekuensi pernafasan nya P : apakah ada teraba massa / tidak . apakah keadaan mulut klien berbau / tidak. Pada umu nya ibu hamil konjungtiva anemis  Telinga : apakah simetris kiri dan kanan. apakah terdapat serumen / tidak. konjungtiva anemis / tidak. apakah fungsi penciuman klien baik / tidak  Mulut dan gigi : bagaimana keadaan mukosa bibir klien. apakah lembab atau kering.

5.warna aerola. Diagnosa Keperawatan 1. apakah sudah mengeluarkan ASI /belum  Ekstremitas Atas : warna kulit. apakah ada oedema / tidak pada daerah genitalia klien  Intergumen : warna kulit.2. kondisi mamae.2.2. dan turgor kulit baik / tidak 1.2. warna nya.2.d. apakah ada oedema / tidak Bawah : apakah ada luka memar / tidak .2. DJJ janin apakah masih terdengar / tidak  Payudara : puting susu klien apakah menonjol / tidak. penurunan . kondisi ASI klien. persentase kepala apakah sudah masuk PAP / belum P : bunyi abdomen A : bising usu klien.2.2.4. Abdomen I : keadaan perut. pecah ketuban. hemoglobin. apakah ada / tidak luka lesi dan lecet P : tinggi fundus klien.2. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan terjadi nya ketegangan otot rahim 1.2. resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif. Gangguan kebutuhan istirahat tidur berhubungan dengan adanya nyeri.Intoleransi aktifitas b.2.2. pemajanan pada patogen 1. apakah oedema / tidak  Genitalia : apakah ada varises atau tidak.2. Ansietas berhubungan dengan kurang nya pengetahuan atau konfirmasi tentang penyakit 1. kelemahan fisik (Dangoes:2000) kerusakan kulit. letak bayi. keadaan kulit.3. peningkatan HIS 1. apakah ada luka lesi / memar.1.

2. Catat meni wakt mbul kan pote apaia u n peca .3. . pecah ketub an. kerus penc infek si tidak n dan kriteri a hasil Tujua n: Tinja u Kon disi Inerv ensi Rasi onal ulang dasa kondi r ibu. Intevensi No Diagn Tujua osa keper awata n 1 Resik o infeks i berhu bung an deng an prose dur invasi f. si/fak sepe rti diab etes atau terjad tor i pada ibu risiko yang ada kriteri sebel hem a hasil umny oragi a.1.

akan kulit, penur unan hemo

tepat wakt u pada -

h

nsial

ketub resik an. Kaji o infek si atau

pemu terha dap

globin lihan , luka

tanda peny emb uhan luka yang buru

pemaj tanpa dan anan pada patog en komp gejal likasi a infek si

(misa k. lnya: Resi

penin ko gkata korio n amni

suhu, oniti nadi, jumla h sel dara h s meni ngka t deng

putih, an atau bau/ warn a berja lann ya wakt

rabas u, vagin sehi a). Berik an pera wata n perin eal sedik itnya setia p4 jam bila Peca h ngga meni ngka tkan resik o infek si ibu dan janin .

ketub ketu

an telah peca h

ban terja di 24ja m sebe lum pem beda han dapa t men yeba bkan amni oniti s sebe lum inter vens i

Untu k men cega h agar tidak terja di infek .beda h dan dapa t men guba h peny emb uhan luka.

nadi dan tan freku esni pern afas ajrak an klien an dan nadi 3 an - terjadi tamp nya keteg anga n otot rahim ak tenan suhu g - klien tamp ak nyam tekni an k untu . pern batk an peni afasa ngka n.si 2 Gang guan rasa nyam an nyeri berhu bung an deng Tujua n: rasa nyeri monit nyeri or dapa tanda t men : berku – rang Kriter ia hasil : klien tanda gaki vital : TD.

relak sasi Ansie tas berhu bung an deng 4 an kuran atur posis Tujua i n: klien peng berik klien k men gura ngi rasa nyeri yang diras akan klien etahu an an lingk unga n g nya klien peng etahu an atau konfir masi tenta ng berta untu k mbah yang setel ah nyam mem an berik an diberi dan kan infor masi batas keny i peng ama nan penya meng unjun pada 5 kit enai peny akit g klien agar klien .

nya tinjau dapa kriteri prose t a hasil : klien tidak s peny akit dan hara beris tirah at resah pan lagi deng Gang guan kebut uhan istirah at tidur berhu bung an deng an an peya kit nya doro ng perio menu de njukk an istira hat masa mem depa n berik an peng etah uan dasa r dima na klien dapa t mem buat pema yang hama adek n akan uat deng adany prose an .

d. n: h dan hatan mem meng perc enai epat pros es peny emb jelas kan kepa da klien apa uhan agar klien men gerti deng kebut peny uhan istira akit nya kelem hat ahan fisik tidur klien terpe nuhi Kriter ia . peny penin gkata n HIS akit dan progn osis berik an mera sa pelay jenu anan kese tujua Intole ransiaktifit as b.a s aktifit as terjad wal pilih an agar klien tidak nyeri .

ya nya infek si dan peny dapat berik tidur deng an an kese mpat tenan an g dan untuk akit tidak gelis ah klien berta nya dan berik men unju kkan realit as situa si yang dapa t mem Tujua bant nya menu an njukk an pola tidur yang adek uat jawa ban yang terbu ka dan jujur .hasil : klien yg an terjad baha i.

Kriter ia hasil: pasie n bisa motiv asi klien agar uhan tidur realit as dan mula i men erim meng a alihk an apa yang terja di berak perh tivitas atian seper - .n: - lakuk an u klien atau oran g terde kat men erim aktivit peng as kajia kemb n ali sesu ai terha dap gang kema guan mpua kebut a n pasie n.

ti biasa . monit or kebut uhan tidur cipta kan suas ana agar dapa t mem berik an gam nyam bara an n sam pai Bant u seja uh man pasie a n dala m mem kebu tuha n tidur enuhi terga .

Beri atian posis i . perh . Anjur kan perh atian klien tidak meng hany hema a t ener gy tertuj u pada hinda rasa ri nyeri .kebut nggu uhan sehar deng i-hari semi an men nimal galih mung kan kin. mak nyam a an.

untu k men geta hui apak ah kebu tuha n ngga mem bant u relak sasi pada klien sew aktu tidur .kegia sehi tan yang melel ahka n. Jelas kan penti ngny a mobil isasi diri.

tidur klien terpe nuhi sepe rti bias a atau belu m suas ana yang tena ng dapa t mem bant u relak .

sasi sehi ngga nyeri berk uran g dan klien bisa tidur agar kebu tuha n seha ri – hari klien dapa t terpe nuhi .

sepe rti bias a nya agar klien mera sa nya man dan tena ng kelel ahan dapa t men yeba bkan lama .

nya pros es peny emb uhan klien ,,jadi deng an men ghin dari kegi atan yang mele lahk an dapa t mem bant

u pros es peny emb uhan pros es peny emb uhan

1.2.4. Implementasi Setelah rencana keperawatan di susun, maka rencana tersebut diharapkan dalam tindakan nyata untuk mencapai tujuan yang diharapkan, tindakan tersebut harus terperinci sehingga dapat diharapkan tenaga pelaksanaan keperawatan dengan baik dan sesuai dengan waktu yang ditentukan Implementasi ini juga dilakukan oleh si pembuat rencana keperawatan dan di dalam pelaksanaan keperawatan itu kita harus menjunjung tinggi harkat dan martabat sebagai manusia yang unik 1.2.5. Evaluasi Evaluasi adalah hasil akhir dari proses keperawatan dilakukan untuk mengetahui sampai dimana keberhasilan tindakan yang diberikan sehingga dapat menentukan intervensi yang akan dilanjutkan

H : 25 tahun : suami : wiraswasta .BAB II TINJAUAN KASUS 2.1.MR Ruang Rawat : Ny.Achmad : 16 agustus 2010 Muchtar Bukittinggi Tgl masuk : 14 agustus 2010 Penanggung jawab Nama Umur Hub.1. Dg keluarga Pekerjaan : Tn. Pengkajian Tanggal pengkajian 2.1.I : 20 tahun : Perempuan : Sudah menikah : Islam : Ibu rumah tangga : SMA : situmbuak / Tilatang kamang : 249226 : ruang Rawat Inap kebidanan RSUD Dr. Identitas klien Nama Umur Jenis kelamin Status Agama Pekerjaan Pendidikan Alamat No.

hipertensi 2.2.1. klien mengatakan perut terasa sakit dari pinggang sampai ke ari – ari. Alasan masuk Klien masuk IGD pada hari sabtu pukul 00. porsi makan yang dihabiskan klien hanya ½ porsi.3. klien mengatakan cemas dan tidak mengetahui tentang penyakit yang di derita nya saat ini.3.3.3.nyeri yang dirasakan klien nyeri sedang dengan skala nyeri 6.klien sudah 2 hari tidak ada Buang air besar.klien mengatakan nafsu makan berkurang sejak beberapa hari yg lalu .30 WIB. klien juga tidak ada penyakit jantung.1. therapi yang diberikan ceftriaxon 2 x 1 gr dan dexametason 2 x 1 amp cairan 2. DM. Riwayat Kesehatan dahulu Klien sebelum nya tidak pernah mengalami penyakit yang di derita nya sekarang. Riwayat kesehatan keluarga Keluarga klien tidak ada memiliki penyakit keturunan.2.frekuensi tidur klien hanya 7 jam sehari.1. Riwayat kesehatan 2.2. klien mengatakan cairan ketuban yang keluar pervaginaan berwarna jernih dan tidak berbau.4.klien mengatakan selama dirumah sakit klien hanya beraktifitas di tempat tidur.3.3.1.1. aktifitas klien di rumah sakit hanya di tempat tidur.frekuensi ganti duk klien sebanyak 5x sehari. dengan keluhan keluar ketuban dari pervaginaan berwarna jernih dan tidak berbau 2. menular dan kejiwaan 2. Riwayat menstruasi .1. klien tampak meringis dan sering memegang perut nya. Riwayat kesehatan sekarang Klien mengatakan keluar cairan ketuban dari pervaginaan sejak malam. DJJ bayi 135 x/i.1.4 gr %.klien mengatakan susah tidur karena nyeri yang dirasakan. HB 10.BB sehat 68 Kg BB sakit 64 Kg.klien mengatakan berat badan nya menurun.

lurus. Pemeriksaan Fisik 2.4. partus belum ada.tidak menggunakan alat bantu pendengaran.tidak : sklera tidak ihterik. d.1.1. Kesadaran 2.4.4.3.tidak menggunakan alat bantu : simetris ka / ki . Telinga terhadap cahaya baik.2 º C : Compos Metis : 64 kg / 159 cm 2.pupil sama besar terdapat lesi ka / ki. Hidung : bernafas tidak menggunakan cuping hidung. Rambut Mata : berwarna coklat.1. b.fungsi penciuman baik . tidak berbau. palpebra tidak ada oedema. tidak terdapat fungsi pendengaran baik serumen.4.tidak terdapat serumen .4.5.1. bersih. abortus tidak ada. Riwayat Kehamilan HPHT TP Kehamilan : 18 Desember 2009 : 25 September 2010 : G1 P0 A0 H0 ( Gravid 1. fungsi penglihatan penglihatan. Tanda – Tanda vital TD N : 110 / 80 mmhg : 88x / i P : 24x /i S : 36.3. konjungtiva anemis. BB / TB 2. hidup belum ada ) 2.1.4.1.bereaksi c.1.2.Menarche Siklus haid Lama haid Ganti Duk Keluhan pd saat haid : 13 tahun : teratur ( 1x/ bulan ) : 5 – 8 hari : 2 – 3x / hari : nyeri pd saat haid 2. Head To Toe a.

Payudara terlalu tegang J. keadaaan gigi dan gusi tidak ada dan pendarahan. : timpany : bising usus ( + ). Jantung : I P P A : warna kulit dada putih. idak teraba pembengkakan. DJJ : 135x / i L. ada karies gigi. mamae tidak : kulit berwana putih. bernafas tidak : warna kulit putih. tidak ada oedema lecet. Ekstremitas Atas : luka lesi persentas kepala : puting susu menonjong. letak bayi Puka. lidah peradangan bersih. Mulut dan Gigi : mukosa bibir lembab. tidak ada : fundus 3 jari di bawah px. aerola menghitam. Abdomen I P P A : perut terlihat membuncit.frekuensi jantung 88x/i : bunyi jantung redup : tidak terdapat bunyi tambahan I. ictus cordis tidak terlihat : terasa ictus cordis teraba pada ICS5 midclavikula dan batas jantung teraba.e. pengembangan dada simetris menggunakan otot bantu pernafasan. kulit bersih.tidak ada lesi atau luka lecet. g. getaran dinding dada terasa simetris ka/ki : bunyi paru – paru resonan : suara nafas terdengar vesikuler h. tidak terdapat memar / luka . frekuensi pernafasan 24x / i P P A : tidak ada teraba massa. I leher Paru – Paru : tidak terjadi pembengkakan tyroid : ka / ki. terdapat luka bekas suntikan. tidak ada oedema Bawah : tidak ada kelainan. keadaan mulut tidak berbau f. tidak ada lesi / memar .

Genitalia : vagina keluar cairan berwarna jernih tapi tidak berbau. Data Biologis No Aktifit as 1 Nutris i Maka n menu maka nan porsi 2x hari Makan an biasa 1 porsi Mie goreng 5 gelas / hari Tidak Tidak ada Tidak ada / 2x / hari Makanan lunak ½ porsi Tidak ada Tidak ada Di rumah Di Rumah sakit : turgor kulit baik.M.5.1. kulit lembab tidak kering kesuk ada aan panta ngan minu m 8 gelas / hari pantan gan . tidak terdapat varises dan tidak ada oedema N. Integumen 2.

jumla h minu man Jus mangg a Tidak ada pantan kesuk gan aan panta ngan 2 Elimi nasi BAB freku ensi warn a konsi bau 2x hari / Selama masuk RS belum Kuning klien Khas Padat Tidak ada kesulit an BAB 4x /hari ada BAB ( 2 hari ) .

stensi 4x kesuli hari tan BAK freku ensi warn a konsi stensi kesuli tan bau Jernih Khas Cair Tidak ada kesulit an BAK Agak / kekuningan karena pengaruh obat dan minum Berbau obat Cair Tidak ada kesulitan BAK kurang 3 Istira hat Siang ( Siang .

00) ( Siang (2 waktu 09.00 ) jam).malam .mala m (11.dan tidur - ).malam (7 tidur Siang ( jam) Terasa pada nyeri bagian lama tidur ).00). kesuli jam ) tan tidur Tidak ada kesulit an tidur nyeri dirasakan hilang timbul yg 4 Perso nal 2x/hari 2x/hari Belum ada Hygie 1x/2 ne mand 5 i hari 3x/hari Apabil a cuci sudah ramb panjan cuci rambut 3x/hari Klien ada kuku Klien hanya belum potong .(20.mala - m ( 10 pinggang.

7.1.ut goso k gigi poton g kuku aktifit as g saja Klien dapat berakti fitas seperti dapat melak ukan pekerj aan rumah beraktifitas di tempat dan tidur.1. Riwayat Alergi Klien tidak memiliki alergi ( baik alergi makanan maupun alergy obat – obatan 2.1.1. Klien dan suami klien sering bertanya kepada perawat tentang penyakit nya 2. Riwayat psikologis Klien mengatakan cemas dan tidak mengetahui tentang penyakit yang di alami nya saat ini. klien mengatakan gaji suami nya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari .7. aktifitas oleh dibantu suami nya 2. Riwayat Sosial Ekonomi Suami klien bekerja sebagai wiraswasta.8. Riwayat Spritual Selama di Rumah Sakit klien ada melakukan sholat 5 waktu 2.6.

11. Klien mengatakan keluar cairan ketuban dari pervaginaan sejak malam klien mengatakan cairan ketuban yang keluar pervaginaan berwarna jernih dan tidak berbau klien mengatakan perut terasa sakit dari pinggang sampai ke ari – ari klien mengatakan susah tidur karena nyeri yang dirasakan klien mengatakan cemas dan tidak mengetahui tentang penyakit yang di derita nya saat ini klien mengatakan nafsu makan berkurang sejak beberapa hari yang lalu klien mengatakan berat badan nya menurun klien mengatakan sudah 2 hari tidak buang air besar klien mengatakan selama di rumah sakit klien hanya beraktifitas ditempat tidur 2. i. h.00 – 21.2.1. c. d. e.00 ) Dexametason Amoxilin Vit C 2 x 1 amp ( jam 09.1. b.000 Normal 13 – 16 gr % 5000 – 10000 / ul 15000 – 40000 Kesan Rendah Normal Normal 2010 ) Ceftriaxon 2 x 1 gr ( jam 09.11. Data Objektif a. f. klien tampak lemah .2. Data Pengobatan ( 15 agustus 15 agustus 2010 Pemeriksaan Hemoglobin Leukosit Trombosit Hasil 10.1.1.1.00 ) 3 x 1 (500 gr) 3 x 1 (100 gr) 2.1.10. Data Penunjang Tgl 2. Data Subjektif a.4 gr % 9100 / ul 204.11.9. Data Fokus 2.00 – 21. g.

i. TTV TD : 110 /80 mmhg N : 88x/i 2. d. h. f. Analisa Data No Data Etiology Problem P : 24x/i S : 36.b. j. c. klien sering bertanya tentang penyakit nya n. l.2º C . g.12.4 gr % m. BB sakit 64 Kg cairan yang keluar dari vagina berwarna jernih dan tidak berbau frekuensi ganti duk klien sebanyak 5x dalam sehari nyeri yang dirasakan klien nyeri sedang dengan skala nyeri 6 frekuensi tidur klien hanya 7 jam sehari aktifitas klien di rumah sakit hanya di tempat tidur therapi yg diberikan ceftriaxon 2 x 1 gr dan dexametason 2 x 1 amp DJJ bayi 135 x / i HB klien 10. e. k. klien tampak cemas porsi yang dihabiskan klien hanya ½ porsi BB sehat 68 Kg.1.

1 - DS : Ketuban Resiko Infeksi klien Pecah meng ataka n keluar cairan ketub an dari perva ginaa n sejak mala m Dini - klien meng ataka n cairan ketub an .

yang keluar perva ginaa n berwa rna jernih dan tidak berba u DO : cairan ketub an yang keluar dari vagina berwa rna .

jernih dan tidak berba u frekue nsi ganti duk klien seban yak 5x dalam sehari Thera pi yg diberik an ceftria xn 2 x .

1 dan gr dexa metas on 2 x 1 amp 2 - DS : Ketegan Ganggu an rasa nyaman : nyeri klien gan otot meng ataka n perut terasa sakit dari pingg ang samp ai ke ari ari – rahim .

- klien meng ataka n selam a dirum ah sakit klien berakt ifitas ditem pat tidur DO : - klien tampa k merin gis dan meme .

gangi perut nya nyeri yang dirasa kan klien nyeri sedan g denga n skala nyeri 6 aktifita s klien dirum ah sakit ditem .

pat tidur 3 DS : Kurang Ansieta s klien nya meng ataka n pengeta huan klien cemas tentang terhad ap penya kit yang di 4 derita nya klien meng ataka Peningk Ganggu an pola istirahat : tidur penyakit KPD n tidak atan HIS meng etahui ttg .

penya kit yang 5 di alami nya DO : klien Intake tampa k yang tidak Ganggu an pemenu han kebutuh an nutrisi cemas adekuat klien sering bertan ya tentan g penya kit nya DS : klien meng ataka .

n susah tidur karen a nyeri yang dirasa kan klien meng ataka n frekue nsi tidur hanya 7 jam dalam sehari DO : frekue .

nsi tidur klien hanya 7 jam sehari klien tampa k lemah DS : klien meng ataka n kuran g nafsu maka n sejak beber .

apa hari yang lalu klien meng ataka n berat badan nya menur un DO : porsi maka nan yang dihabi skan klien ½ porsi .

4 gr % 2.2.2.5. Gangguan Pola istirahat Tidur berhubungan dengan Peningkatan HIS 2. Diagnosa Keperawatan 2.2.2. BB sakit 64 Kg - HB klien 10.- BB sehat 68 Kg.4. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan intake yang tidak ade kuat .2.3. Ansietas berhubungan dengan kurang nya pengetahuan klien tentang penyakit KPD 2.1.2. Resiko Infeksi berhubungan dengan Ketuban Pecah Dini 2.2. Gangguan Rasa Nyaman:Nyeri berhubungan dengan ketegangan otot rahim 2.

2.un kaji skala nyeri ( 1 – 10 ) ajarkan klien teknik relaksasi atur posisi klien - umu un klien - klien mengatakan perut - klien mengatakan rasa nyeri - berikan lingkungan yang nyaman dan batasi yang . Intervensi No 1` Diagnosa keperawatan Resiko Infeksi b Tujuan dan kriteria hasil /d Tujuan infeksi tidak terjadi kriteria hasil Intervensi bina hubungan saling percaya melalui komunikasi therapeutik pantau keadaan umum klien - untu Ketuban pecah dini DS : - mela untu klien mengatakan keluar cairan dari pervaginaan tidak ada keluar lagi cairan dari pervaginaan DJJ janin normal Leukosit klien kembali normal Suhu 36 – 37 ° - berikan lingkungan yang nyaman untuk klien berikan obat sesuai order dokter - kese aga - klien mengatakan cairan ketuban pervaginaan yang keluar berwarna - pro jernih dan tidak berbau DO : cairan yang keluar berwarna jernih dan tidak berbau frekuensi ganti duk klien sebanyak 5x dalam sehari 2 Gangguan rasa nyaman : Tujuan nyeri b / d ketegangan otot rahim DS : nyeri ( .3.) Kriteria hasil klien tampak tenang / rileks - - monitor TTV klien .

me depan dorong klien untuk istirahat total berikan pelayanan kesehatan mengenai penyakit nya - dima tentang penyakit KPD DS : - pilih klien sudah mengerti tentang - u klien mengatakan cemas penyakit dan perawatan KPD terhadap klien tidak cemas lagi peny ag - penyakit nya klien mengatakan tidak mengetahui tentang baha nyan penyakit yang di derita nya DO : klien tampak cemas klien tentang sering bertanya nya penyakit .tinjau proses penyakit dan harapan masa .terasa sakit dari pinggang pada perut klien berkurang ke ari –ari DO : klien tampak meringis TTV kembali normal TD : 120 / 80 mmhg N : 60 – 120 x/i pengunjung - un diras - untu un klien tampak memegangi P :24 x /i perut nya S :36 -37 ° klien - nyeri yang dirasakan klien nyeri sedang dengan skala nyeri 6 3 Ansietas b / d kurang nya Tujuan pengetahuan klien ansietas ( .) Kriteria hasil - .

kepada perawat Gangguan Pola istirahat Tidur 4 berhubungan Tujuan : istirahat dan tidur klien .kaji tanda – tanda mal nutrisi .tidak menunjukkan tanda – abdomen. mua muntah men . catat ada nya nyeri adekuat un atau u intake yang tidak ade kuat DS : - terpenuhi Kriteria hasil keku klien mengatakan kurang .batasi pengunjung dirasakan klien mengatakan frekuensi tidur hanya 7 jam dalam sehari DO : frekuensi tidur klien hanya 7 jam sehari klien tampak lemah Gangguan kebutuhan 5 berhubungan pemenuhan nutrisi Tujuan : dengan kebutuhan nutrisi klien .timbang BB klien .auskultasi bising usus.menunjukkan pola tidur yang .kaji kebiasaan pola tidur patien .berikan lingkungan yang nyaman seperti keadaan ruangan dan penerangan ruangan - keb dengan Peningkatan HIS DS : mem terpenuhi aga - klien mengatakan susah Kriteria hasil : aga tidur karena nyeri yang .

BB sakit 64 Kg 2.membina hubungan saling percaya melalui komunikasi Evaluasi S : klien mengatakan masih ada keluar cairan dari .berikan makanan yang hangat dan bervariasi men yang adekuat - porsi makanan yang dihabiskan klien ½ porsi BB sehat 68 Kg.nafsu makan sejak tanda mal nutrisi .BB dalam batas normal menunjukkan - motivasi klien untuk menghabiskan bisin - beberapa hari yang lalu - makanan aga klien mengatakan berat badan nya menurun DO : pemasukan .00 WIB Implementasi . Implementasi dan Evaluasi No 1 Hari / tgl Senin 16 agustus I Dx Jam 08.4.

S. kesadaran dilanjutkan 09.P klien R/p : cairan yg keluar dari pervaginaan tapi tidak begitu banyak O : warna cairan jernih dan tidak berbau A : masalah belum teratasi P : intervensi 2 – 4 pervaginaan masih ada.memantau keadaan umum klien.mengajarkan klien teknik relaksasi dilanjutkan .P.00 WIB R/p : skala nyeri klien 6 pengunjung R/p : klien dapat beristirahat S : klien mengatakan pinggang sampai ke ari – ari masih terasa nyeri O : klien tampak memegangi pinggang dan meringis A : masalah belum teratasi P : intervensi 1 – 5 .memberikan obat injeksi Ceftriaxon 1 gr dan dexametason 1 amp ( IV ) 11.N. TD.30 WIB baik.memonitor TD. seperti kesadaran klien .45 WIB therapeutik .S klien .mengkaji skala nyeri ( 1 – 10 ) 13. .30 WIB .2010 08.N.00 II WIB R/p : ceftriaxon dan dexametasn sudah diberikan .25 WIB 11.memberikan lingkungan yang nyaman seperti kenyamanan ruangan dan membatasi 11.cairan yg keluar dari pervaginaan klien.

00 WIB kekanan dank e kiri saban 2 jam .html .blogspot.00 WIB Intervensi dihentikan Klien pulang dengan kemauan sendiri Pd tgl 16 agustus 2010 pukul 17.nyeri sedikit berkurang .com/2011/01/asuhan-keperawatan-ketuban-pecahdini.mengatur posisi klien dengan miring kiri saban 2 jam R/p : klien dapat melakukan miring 14.R/p : klien dapat melakukan teknik 13.45 WIB relaksasi yg di ajarkan .30 WIB http://d3keperawatanperintis.dengan cara tarik nafas dalam sebanyak 3 x .memberikan lingkungan yang nyaman dg batasi pengunjung R/p : klien merasa tenang dan dapat beristirahat 2 Selasa / 17 agustus 2010 08.

2. Elemen-elemen berbentuk tersebut adalah sel darah merah (eritrosit). 5. kejadian sekitar 4 %. 2. 4. Protein dalam darah misalnya albumin dan imuno globilin ikut menyusun plasma. Sebagian dari ketuban pecah dini mempunyai periode laten melebihi satu minggu. Sel darah di gambarkan berdasaran ukuran dan jumlah hemoglobin yang terdapat di dalam sel : 1. dan ditunggu satu jam belum dimulainya tanda persalinan. Proses pembentukan sel-sel darah disebut hematopoiesis. dan keping darah (trombosit). Pada umur kehamilan kurang dari 34 minggu. Sel darah matang di keluarkan dari sumsum tulang dan hidup sekitar 120 hari untuk kemudian mengalami disentegrasi dan mati. sel darah putih (leukosit). gas terlarut berbagai produk sisa metabolisme dan zat-zat gizi misalnya gula asam amino. Fosforilasi oksidatif sel atau pembentuk hemoglobin yang mengangkut sebagian besar oksigen yang diambil dari paru-paru ke sel-sel diseluruh tubuh.ASUHAN KEPERAWATAN MATERNITAS PADA PASIEN DENGAN KETUBAN PECAH DINI Posted by nurse87 on 29 Mei 2009 Posted in: Keperawatan. dan vitamin. sel darah putih dan trombosit di bentuk di hati dan limfa pada sumsum tulang belakang. Plasma terdiri dari 900 air dan 100 elektrolit. lemak. Sel ini tidak dapat melakukan mitosis. 2) Sel Darah Merah Sel darah merah tidak memiliki inti sel. Definisi Ketuban pecah dini (KPD) adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda persalinan. Nermositik : sel yang ukurannya normal Nermokromik : sel dengan jumlah hemoglobin yang normal Mikrositik : sel yang ukurannya terlalu kecil Makrositik : sel yang ukurannya terlalu besar Hipokromik : sel yang sejumlah Hbnya terlalu sedikit . 3. Anatomi Fisiologi Darah terdiri dari elemen-elemen berbentuk dan plasma dalam jumlah setara. Early rupture of membrane adalah ketuban pecah pada fase laten persalinan. Tagged: Maternitas. 1) Pembentukan Sel Darah Sel darah merah. koleesterol. 13 komentar A. mitokondria atau ribosom. Konsep Dasar Medik 1. Waktu sejak pecah ketuban sampai terjadi kontraksi rahim disebut “kejadian ketuban pecah dini” (periode laten) Kejadian ketuban pecah dini mendekati 10 % dari semua persalinan.

Terdapat sekitar 300 molekul hemoglobin dalam setiap sel darah merah.6. 3. Sisa molekul lainnya diubah menjadi bilirubin. Patofisiologi Mekanisme terjadinya ketuban pecah dini dapat berlangsung sebagai berikut :   Selaput ketuban tidak kuat sebagai akibat kurangnya jaringan ikat dan vaskularisasi Bila terjadi pembukaan serviks maka selaput ketuban sangat lemah dan mudah pecah dengan mengeluarkan air ketuban. Hemoglobin dalam darah dapat mengikat oksigen secara partial atau total. 5. Hiperkromik : sel yang sejumlah Hbnya terlalu banyak 3) Hemoglobin Hemoglobin terdiri dari bahan yang mengandung besi yang disebut hem (heme) dan protein globulin. letak sunsang. 4) Pemecahan Sel Darah Merah Apabila sel darah merah mulai berdisentegasi pada akhir masa hidupnya. Molekul globulin diubah menjadi asam-asam amino. Etiologi Penyebab ketuban pecah dini (KPD) mempunyai dimensi multifaktorial yang dapat dijabarkan sebagai berikut :       Serviks inkopeten Ketegangan rahim berlebihan. yaitu korioamnionitis yang menjadi pemicu sepsis. Besi dismpan dihati dan lmfa sampai di gunakan kembali oleh tubuh. bagian terendah belum masuk PAP. yang kemudian dieksresikan melalui tinja atau urin. khususnya maturitas paru sehingga mengurangi kejadian kegagalan perkembangan paru yang yang sehat Terjadi infeksi dalam rahim. Penatalaksanaan Ketuban Pecah Dini (KPD) Sebagai gambaran umum untuk penatalaksanaan KPD dapat dijabarkan sebagai berikut :   Pertahankan kehamilan sampai cukup matur. 4. sepalopelvik disproforsi Kelainan bawaan dari selaput ketuban Infeksi yang menyebabkan terjadi proses biomekanik pada selaput ketuban dalam bentuk proteolitik sehingga menyebabkan ketuban pecah. kehamilan ganda. letang lintang Kemungkinan kesempitan panggul : perut gantung. hidramnion Kelainan letak janin dalam rahim. meningitis janin. Hemoglobin diuraikan hati dan limfa. dan persalinan prematuritas . sel tersebut mengeluarkan hemoglobinnya kedalam sirkulasi.

Menghadapi KPD. Pemeriksaan yang rutin dilakukan adalah USG untuk mengukur distansia biparietal dan peerlu melakukan aspirasi air ketuban untuk melakukan pemeriksaan kematangan paru melalui perbandingan L/S Waktu terminasi pada hamil aterm dapat dianjurkan selang waktu 6 jam sampai 24 jam. 1. karena bila suhu lingkungan tidak ada. dengan kemungkinan janin tidak dapat diselamatkan. Pengisapan lendir harus dilakukan dengan cepat dan lembut Bayi normal dalam beberapa detik sampai satu menit dengan membersihkan mulut dan hidung dari lendir akan segera timbul pernafasan spontan 1. Memperhatikan suhu tubuh Suhu lingkungan mempengaruhi kehidupan dan kesehatan bayi baru lahir. Mempertahankan Pernapasan Segera setelah bayi lahir. Setelah suhu tubuh bayi stabil biasanya 1-2 jam sesudah lahir. Tujuan umum dalam Asuhan Perawatan Bayi Baru Lahir adalah untuk : 1. metabolisme dan konsumsi oksigen bayi akan meningkat.     Dengan perkiraan janin sudah cukup besar dan persalinan diharapkan berlangsung dalam waktu 72 jam dapat diberikan kortikosteroid. Segera setelah bayi lahir harus dikeringkan dan ditempatkan ditempat yang hangat. bila tidak terjadi his spontan. Mencegah Infeksi Usaha yang paling efektif untuk mencegah infeksi pada bayi baru lahir ialah mencuci tangan sebelum memegang bayi dan perlengkapan yang digunakan untuk merawat bayi. mengisolasi bayi yang sakit dan memakai pakaian yang bersih. 6. diperlukan KIM terhadap ibu dan keluarga sehingga terdapat pengertian bahwa tindakan mendadak mungkin dilakukan dengan pertimbangan untuk menyelamatkan ibu dan mungkin harus mengorbankan janinnya. kening pada ban pertama kesukaran pernapasan. biru atau pucat. kenaikan atau penurunan suhu tubuh. perlu dipertimbangkan untuk melakukan induksi persalinan. bayi dibersihkan atau dimandikan. penyakit . bayi diletakkan dengan kepala lebih rendah dari pada badan agar supaya lendir keluar dari mulut dan mencegah lendir dan kadang – kadang darah dan mekonium masuk kesaluran pernafasan. Beberapa tanda-tanda kelainan yang harts diperhatikan misalnya kulit. 1. Pada kehamilan 24 sampai 32 minggu yang menyebabkan menunggu berat janin cukup. Mengenal tanda-tanda sakit - Kondisi bayi dapat berubah dengan cepat karena itu perlu diawasi dengan kontinyu. sehingga kematangan paru janin dapat terjamin.

Tali Pusat Tali pusat diperiksa harus ada dua arteri dan satu vena. 1. 1. Refleks Bayi menunjukkan beberapa refleks yang di sebut reflek primitive. 1. Kehilangan Berat Badan Karena selama 3 atau 4 hari yang pertama bayi boleh dikatakan hampir tidak kemasukkan cairan sedangkan bayi mengeluarkan feces. 1. Memelihara Kulit Mengingat bahaya infeksi kulit dengan Staphyloccocing. Ada beberapa reflek primitive : 1. Mengingat kemungkinan infeksi tindakan aseptik sangat harus diperhatikan waktu merawat tali pusat. 7. Materi Perubahan Fisiologi pada Bayi Baru Lahir 1. paling sering sekitar hari ke-10. Tidak mengherankan bahwa beratnya turun sampai diimbangi oleh minum air susu yang cukup.kembung. . Moro Refleksi Dapat dilihat bila bayi dikagetkan atau sekonyong. Semua ini menyebabkan perangsangan pusat pernapasan dalam otak yang meneruskan rangsangan tersebut untuk mengarahkan diafragma serta alat-alat pernapasan lainnya. muntah. Faeces Faeces yang pertama keluar berupa pasta kental berwarna gelap dan lengket yang disebut meconiumhal tersebut sebenarnya sudah ada sejak janin berumur 26 minggu dalam kandungan. banyak rumah sakit tidak memandikan bayi lagi. Pernapasan dan peredaran darah Pernapasan pertama pada bayi normal terjadi 30 detik sesudah kelahiran. Seperti rangsangan hypoxaemia. 1. Tali pusat biasanya lepas dalam 14 hari setelah lahir.konyong digerakkan. kejang-kejang. f. urine dan keringat. Pernapasan ini timbul sebagai akibat aktifitas normal dari susunan syaraf pusat dan perifer yang dibantu oleh beberapa rangsangan lainnya. hanya darah dan meconium dibersihkan sedangkan dengan vernik caseosa dibiarkan. problem makan. sentuhan dan perubahan (perbedaan) suhu dari dalam uterus dengan di luar uterus. tidak Bab selama 12 jam dan Bak dalam 12 jam pertama kehidupan dan penurunan badan-badan bayi yang banyak. bila hanya didapat satu arteri mungkin ada kelainan kongenital lain.

1. bayi yang normal nilai Apgarnya antara 7 – 10. 8. ( normal ) LK : 33 35. Panjang badan lain halnya dengan berat badan. Rooting Refleksi Rangsangan pada bibir atas bagian tengah mengakibatkan mulut terbuka dan rahang turun ke bawah. dan 36 cm. maka bayi akan bergerak seperti berjalan 1.6 cm). Lingkar dada pada masa neonatal terjadi juga pertambahan panjang atau lebar dada yang normal antara 30 cm. Graps Refleksi Bila telapak dirangsang. Pengertian .5 . 9.  Berat dan panjang badan Berat badan merupakan index gizi dan pertumbuhan yang baik terutama berat badan merupakan resultante pertumbuhan badan keseluruhan (normal BB : 2. tangan akan memberi reaksi seperti menggenggam. Ciri-Ciri Bayi Baru Lahir  Nilai APGAR Apgar score dinilai pada satu menit bayi setelah lahir dan yang kedua lima menit setelah lahir. 1.4 kg). Tindakan yang harus segera dilakukan pada Bayi dengan cara Pelaksanaannya  Menghisap lendir dan merangsang pernafasan bayi 1. Crossed Ectension Refleksi Bila satu tangkai dipegang pada posisi extensi pada lutut dan telapak kaki sisi yang sama digores dengan kuku/jarum pada tungkai yang lain akan berada dalam posisi Fleksi Adduksi kemudian extensi 1. kecuali pada masa adolesensi (normal PB : 50 cm)  Lingkar kepala dan dada Pengukuran lingkaran kepala penting karena berhubungan dengan volume intrakranial dan dapat dinilai kecepatan tumbulrannya otak. 33 cm. Walking Refleks Bila telapak kaki ditekan pada sebuah bangku atau pada suatu tempat yang datar. maka kenaikan tinggi badan tiap tahunnya terus menerus bertambah dari lahir sampai dewasa.

dan hidung bayi dengan cara menghisap dengan alat. 6. diurut ke placenta ± 5 cm lalu dipotong lagi klem di beri yodium tintur 3 % kemudian tali pusat diikat dengan 2 ikatan di beri betadine dibungkus dengan kasa tali pusat. “Perawatan Bayi Risiko Tinggi”. 3. 4. nama nomor 2. Heni Nur Kusuma. Dua buah penjepit nadi Gunting tali pusat Kapas lidi Benang pengikat tali pusat Alkohol 70 % Gaas steril Iodium tintur 3 % / betadine 10 % Cara kerja : Tali pusat dipotong dijepit dengan 2 buah penjepit nadi.Adalah memberikan pertolongan kepada bayi untuk mengeluarkan kotoran yang berupa lendir dan darah serta air ketuban dari mulut. DAFTAR PUSTAKA Asrining Surasmi. sidik jari kaki  Peralatan-peralatan disiapkan Alat-alat : 1. 3. (2002). 7. Siti Handayani. Jakarta : EGC.  Menetes mata bayi Tujuannya mencegah kemungkinan terjadinya infeksi karena kena kotoran waktu bayi melewati jalan lahir   Mengukur dan menimbang BB bayi baru lahir Memberi pakaian. tenggorokan. . Tujuan 1. 2. 4. 1. 5.  membersihkan kotoran merangsang agar anak bernafas Cara menghisap lendir Resusitasi Memberikan identitas bayi 1. 2.

sedangkan perdarahan yang tidak bersumber pada kelainan plasenta umpamanya kelainan serviks biasanya tidak seberapa berbahaya. SPOG. Pendarahan antepartum merupakan pendarahan dari traktus genitalis yang terjadi antara kehamilan minggu ke 28 awal partus. . “Rencana Perawatan Maternal/Bayi “. Prof. Oleh karena itu klasifikasi klinis perdarahan antepartum dibagi sebagai berikut Plasenta previa Solusi plasenta Perdarahan antepartum yang belum jelas sumbernya(idiopatik) seperti rupture sinus marginalis. b. Jakarta : EGC. Mary Frances Mooorhouse (2001). Prof. Marilyn E.Dr. Ida Bagus Gde Manuaba. Jakarta : EGC http://nurse87. “ Perawatan Kebidanan yang Berorientasi Pada Keluarga (Perawatan II) “.com/2009/05/29/asuhan-keperawatan-maternitas-pada-pasien-denganketuban-pecah-dini/ BAB II ISI A. Doengoes. Jakarta : Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Departemen Kesehatan Republik Indonesia. : Jakarta : EGC. oleh karena itu memerlukan penanganan yang berbeda. Dr. Perdarahan setelah kehamilan 28 minggu biasanya lebih banyak dan lebih berbahaya daripada sebelum kehamilan 28 minggu.wordpress. Penyakit Kandungan & Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan”. yang secara klinis biasanya tidak terlampau sukar untuk menentukannya. “ Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Material & Neonatal “. c. Perdarahan antepartum yang berbahaya umumnya bersumber pada kelainan plasenta. Plasenta Previa a. 1. Perdarahan antepartum yang bersumber pada kelainan plasenta. yaitu plasenta previa dan solusi plasenta. SKM (1990). “Ilmu Kebidanan. Santosa NI. Abdul Bari Saifudin. DEFINISI DAN KLASIFIKASI Pendarahan antepartum adalah pendarahan yang terjadi setelah kehamilan 28 minggu. MPHD ( 2002 ).plasenta letak rendah dan vasa previa. dr. SpOG (1998).

6) Tumor-tumor. Cirri-ciri plasenta previa : a ) Perdarahan terjadi tanpa rasa sakit pada trimester III b ) Sering terjadi pada malam hari saat pembentukan S. dan manual plasenta 4) Korpus luteum bereaksi lambat. Klasifikasi solusio plasenta berdasarkan tanda klinis dan derajat pelepasan plasenta yaitu : 1.R c ) Perdarahan dapat terjadi sedikit atau banyak sehingga menimbulkan gejala d ) Perdarahan berwarna merah segar e ) Letak janin abnormal f) Adanya anemia dan renjatan yang sesuai dengan keluarnya darah h) Denyut jantung janin ada i) Teraba jaringan plasenta pada periksa dalam vagina j) Penurunan kepala tidak masuk pintu atas panggul 1. 5) Kehamilan janin kembar. pelepasan plasenta kurang 1/6 bagian permukaan. Ringan : Perdarahan kurang 100-200 cc. terdapat tanda pre renjatan. Perdarahan dapat terjadi pada pembuluh darah plasenta atau uterus yang membentuk hematom pada desisua. bila kawin dan hamil pada usia muda 3) Endometrium cacat pada bekas persalinan berulang-ulang..  Plasenta previa marginalis : hanya pada pinggir ostium terdapat jaringan plasenta. uterus tidak tegang. kuretase. gawat janin atau janin telah mati. . 2. 8) Riwayat perokok. pelepasan plasenta 1/4-2/3 bagian permukaan. janin hidup. uterus tegang. Solusi Plasenta Solusio plasenta adalah terlepasnya sebagian atau seluruh plasenta pada implantasi normal sebelum janin lahir.  Plasenta previa letak rendah : bila plasenta berada 3-4cm diatas pinggir permukaan jalan lahir Plasenta previa dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain : 1) Umur dan paritas 2) Hipoplasia Endometrium. bekas operasi. seperti mioma uteri. Apabila perdarahan sedikit. hematom yang kecil itu hanya akan mendesak jaringan plasenta.Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat abnormal yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (osteum uteri internal)       Plasenta previa lateralis : hanya sebagian dari ostium tertutup oleh plasenta. kadar fibrinogen plasma 120-150 mg%. dimana endometrium belum siap menerima hasil konsepsi. polip endometrium 7) Kadang-kadang pada malnutrisi. peredaran darah antara uterus dan plasenta belum terganggu dan tanda serta gejalanya pun tidak jelas. kadar fibrinogen plasma lebih 120 mg%.B. sehingga plasenta terdesak akhirnya terlepas. belum ada tanda renjatan. Sedang : Perdarahan lebih 200 cc.

Diagnosis vasa previa. Etiologi vasa previa belum jelas. maka pembuluh darah mudah pecah. Lebih banyak dijumpai pada multi daripada primi. Trauma langsung seperti jatuh. 3. Penatalaksanaan vasa previa. Faktor paritas. Plasenta previa Seluruh plasenta biasanya terletak pada segmen atau uterus. kemudian terjadi haematoma retroplasenter dan plasenta sebagian terlepas. yaitu toksemia gravidarum. malnutrisi. Bila janin hidup dan cukup matur dapat dilakukan seksio sesar segera namun bila janin sudah meninggal atau imatur. Bila ada keraguan tentang viabilitas janin. dilakukan persalinan pervaginam A.Pengecilan yang tiba-tiba dari uterus pada hidramnion dan gemeli . dan lain-lain. Faktor vaskuler (80-90%). tekanan uterus pada vena cava inferior. Vasa Previa Vasa previa merupakan keadaan dimana pembuluh darah umbilikalis janin berinsersi dengan vilamentosa yakni pada selaput ketuban. dan lain-lain. versi luar. Berat : Uterus tegang dan berkontraksi tetanik. maturitas paru dan pemantauan kesejahteraan janin dengan USG dan kardiotokografi. kena tendang.tor yang mempengaruhi solusi plasenta : Ciri-ciri solusi plasenta: a ) Perdarahan disertai rasa sakit b ) Jalan asfiksia ringan sampai kematian intrauterin c ) Gejala kardiovaskuler ringan sampai berat d ) Abdomen menjadi tegang e ) Perdarahan berwarna kehitaman f ) Sakit perut terus menerus g) Denyut jantung janin biasanya tidak ada h) Teraba ketuban yang tegang pada periksa dalam vagina i) Penurunan kepala dapat masuk pintu atas panggul 1. deselerasi atau bradikardi. Faktor trauma: . tentukan lebih dahulu umur kehamilan. ukuran janin.Tarikan pada tali pusat yang pendek akibat pergerakan janin yang banyak/bebas. PATOFISIOLOGI 1. glomerulo nefritis kronika.3.Karena desakan darah tinggi. dan hipertensi esensial. 2. Darah ini berasal dari janin dan untuk mengetahuinya dapat dilakukan dengan tes Apt dan tes Kleihauer-Betke serta hapusan darah tepi. terdapat tanda renjatan. Pada pemeriksaan dalam vagina diraba pembuluh darah pada selaput ketuban. atau pertolongan persalinan. Bila sudah terjadi perdarahan maka akan diikuti dengan denyut jantung janin yang tidak beraturan. pelepasan plasenta bisa terjadi lebih 2/3 bagian atau keseluruhan. Karena segmen bawah agak merentang selama kehamilan lanjut dan persalinan. 1. 4. dalam usaha mencapai dilatasi serviks dan kelahiran anak. 5. Pemeriksaan juga dapat dilakukan dengan inspekulo atau amnioskopi. Kadang-kadang bagian atau seluruh organ dapat melekat pada segmen bawah uterus. dimana hal ini dapat diketahui sebagai plasenta previa. khususnya bila perdahan terjadi ketika atau beberapa saat setelah selaput ketuban pecah. pemisahan plasenta dari dinding usus sampai . Holmer mencatat bahwa dari 83 kasus solusio plasenta dijumpai 45 multi dan 13 primi. janin mati. Pengaruh lain seperti anemia. Sangat bergantung pada status janin.

peredaran darah antara uterus dan plasenta belum terganggu dan tanda serta gejalanya pun tidak jelas.  Inspeksi/inspekulo . · Kepala terasa pusing. muntah. B.Perdarahan keluar pervaginam (dari dalam uterus) . DIAGNOSA DAN GEJALA KLINIS 1) Plasenta Previa  Anamnesis . Biasanya perdarahan akan berlangsung terus menerus karena otot uterus yang telah meregang oleh kehamilan itu tidak mempu untuk lebih berkontraksi menghentikan pendarahannya. sering mengerang karena kesakitan.  Inspeksi · Pasien gelisah.Bagian terbawah janin belum turun  . . presentasi. pandangan berkunang-kunang. · Kadang-kadang ibu dapat menceritakan trauma dan faktor kausal yang lain.Posisi.Keluhan utama Perdarahan pada kehamilan setelah 28 minggu atau pada kehamilan lanjut (trimester III) -Sifat perdarahan tanpa sebab. tanda-tanda kehidupan janin. Kejadiannya baru diketahui setelah plasenta lahir yang pada pemeriksaan didapatkan cekungan pada permukaan maternalnya dengan bekuan darah lama yang warnanya kehitamhitaman. lemas. 2. · Pergerakan anak mulai hebat kemudian terasa pelan dan akhirnya berhenti (anak tidak bergerak lagi). kadang-kadang pasien bisa melokalisir tempat mana yang paling sakit. Pemeriksaan USG . dimana plasenta terlepas. pucat. Solusi plasenta Perdarahan dapat terjadi pada pembuluh darah plasenta atau uterus yang membentuk hematom pada desisua. Apabila perdarahan sedikit. . . Perasaan sakit yang tiba-tiba di perut. hematom retroplasenter akan bertambah besar. ·Perdarahan pervaginam yang sifatnya bisa hebat dan sekonyong-konyong (non-recurrent) terdiri dari darah segar dan bekuan-bekuan darah. sehingga plasenta terdesak akhirnya terlepas.Tampak anemis  Palpasi abdomen .Sering dijumpai kesalahan letak janin . tanpa nyeri dan berulang. hematom yang kecil itu hanya akan mendesak jaringan plasenta. sehingga sebagian dan akhirnya seluruh plasenta terlepas dari dinding uterus.Transabdominal ultrasonography 1) Solusio Plasenta  Anamnesis .Janin sering blm cukup bulan.Evaluasi letak dan posisi plasenta.tingkat tertentu tidak dapat dihindarkan sehingga terjadi pendarahan. umur. ibu kelihatan anemis tidak sesuai dengan banyaknya darah yang keluar. TFU masih rendah . Akibatnya.

· Pucat.  Pemeriksaan umum. uterus tidak sesuai dengan tuanya kehamilan. .  Pemeriksaan dalam · Serviks bisa telah terbuka atau masih tertutup. · Darah Hb menurun (anemi). Ultrasonography adalah suatu metode yang penting untuk mengetahui adanya pendarahan di dalam uterus. plasenta ini akan turun ke bawah dan teraba pada pemeriksaan.  Pemeriksaan laboratorium . tercatat hanya 25% kasus solusio plasenta yang ditegakkan dengan USG. tetapi tidak semua solusio plasenta yang di USG ditemukan gambaran seperti di atas. kemudian turun dibawah 100 dan akhirnya hilang bila plasenta yang terlepas lebih dari sepertiga. · Nadi cepat. suatu perdarahan biasanya hyperechoic. pada pemeriksaan sedimen terdapat silinder dan lekosit.Solusio plasenta tampak sebagai gambaran gumpalan darah retroplacental. · Bagian-bagian janin susah dikenali.  Pemeriksaan Ultrasonography (USG). test kualitatif fibrinogen (fiberindex). maka kita bandingkan dengan plasenta. · Kelihatan darah keluar pervaginam  Palpasi · TFU naik karena terbentuknya retroplasenter hematoma. tetapi lambat laun turun dan pasien jatuh syok. karena perut (uterus) tegang. sianosis. dan filiformis. · Nyeri tekan terutama di tempat plasenta tadi terlepas.  Auskultasi Sulit. kecil. baik sewaktu his maupun diluar his. Tetapi bagaimanapun juga ini bukan metode yang sempurna dan sensitif untuk mendeteksi solusio plasenta. maka diperiksakan pula COT (Clot Observation Test) tiap 1 jam. dan test kuantitatif fibrinogen (kadar normalnya 150 mg%). Pada fase akut. · Tensi semula mungkin tinggi karena pasien sebelumnya menderita penyakit vaskuler. atau bahkan isoechoic. gumpalan hematom retroplasenta (hyperochoic hingga isoechoic pada fase akut. kalau bisa cross match test Karena pada solusio plasenta sering terjadi kelainan pembekuan darah a/hipofibrinogenemia. · Uterus teraba tegang dan keras seperti papan yang disebut uterus in bois (wooden uterus) baik waktu his maupun diluar his. · Kalau ketuban sudah pecah dan plasenta sudah terlepas seluruhnya. gambaran perdarahan yang meluas. gambaran perdarahan tersembunyi. · Kalau sudah terbuka maka ketuban dapat teraba menonjol dan tegang. Urin albumin (+). disebut prolapsus plasenta. ini sering dikacaukan dengan plasenta previa. Gambaran konsisten yang mendukung diagnosa solusio plasenta antara lain adalah. keringat dingin. dan berubah menjadi hypoechoic dalam satu minggu). Manfaat lainnya adalah USG dapat dipakai untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab lain perdarahan antepartum. karena uterus tegang. Kualitas dan sensitifitas ultrasonografi dalam mendeteksi solusio plasenta telah meningkat secra signifikan belakangan ini. Bila denyut jantung janin terdengar biasanya diatas 140. periksa golongan darah.

ibu biasanya tetap tinggal di Rumah sakit dibawah supervisi yang ketat. Riwayat Riwayat penyakit Penyakit Keadaan Dukungan Pandangan terhadap F. Pengkajian a) Data A. kecuali dalam keadaan kondisi kedaruratan.istirahat di tempat tidur sepanjang masa hamil) biasanya dilakukan jika janin belum cukup matang karena perdarahan biasanya perdarahan spontan awal pada plasenta previa tidak mengancam kehidupan ibu dan janin. utama 28 minggu. Durasi kehamilan harus dipastikan dan . atau jika janin mati. kehamilan ditunda sampai setelah minggu ke-36. kita periksa plasentanya.dilakukan persalinan sesaria. lalu kehamilan terakhir Keluhan Imunisasi keluarga ringan berat psikososial keluarga kehamilan persalinan menstruasi .199) ASUHAN KEPERAWATAN 1. Riwayat kesehatan D. Riwayat dan kehamilan yang Subjektif umum suaminya. pelahiran bisa dilakukan. Pemeriksaan plasenta · Sesudah bayi dan plasenta lahir. Plasenta Previa Penatalaksanaan konservatif (mis. Keluhan Keluhan pasien saat masuk RS adalah perdarahan pada C.kelahiran pervaginam bisa diusahakan jika janin hidup dan tidak dalam keadaan distress akut. identitas ibu hamil B. Darah dan ringer laktat diberikan dalam jumlah yang dapat mempertahankan haluaran urine 30 sampai 60ml per jam dan nilai hematokrit kira-kira 30% (Lowe. perdarahan berat. A. dkk. Jika paru-paru janin sudah matur dan kemungkinan hidup besar. kemajuan persalinan yang buruk. Cunningham. yang disebut hematoma retroplasenter. Biasanya tampak tipis dan cekung di bagian plasenta yang terlepas (krater) dan terdapat koagulum atau darah beku di belakang plasenta. biasanya dilakukan pelahiran sesaria bagi ibu dengan plasenta previa. Setelah diagnosis plasenta previa ditegakkan. Penggantian cairan harus dilakukan secara agresif bila terjadi perdarahan. (Cunningham. Solusio plasenta Pengobatan tergantung pada status ibu dan janin. Bila ada stress distress janin. atau peningkatan tonus rahim istirahat. Data Biodata. Jika ibu secara hemodinamik stabil. PENATALAKSANAAN MEDIS 1. koagulopati. Riwayat Haid E. 1993) 2. Riwayat G.

Terjadi hiperventilasi selama kehamilan.Terjadi peningkatan pigmentasi pada areola. Rambut dan kulit . penurunan resistensi jalan nafas.) Menentukan letak janin . .. System musculoskeletal . Laju pertumbuhan rambut berkurang. Vagina . a.Lama kawin Haid Sirkulasi Lamanya Banyaknya darah pertama haid haid haid Nyeri Riwayat Status Kawin perkawinan perkawinan pertama Data Objektif Pemeriksaan fisik 1. Umum Pemeriksaan fisik umum meliputi pemeriksaan ibu hamil. b. Peningkatan volume tidal.Penurunan resistensi pembuluh darah sistemik dan pembuluh darah pulmonal. Abdomen Palpasi abdomen : b.Peningkatan vaskularisasi yang menimbulkan warna kebiruan ( tanda Chandwick ) Hipertropi epithelium h. Wajah Mata : pucat. Diafragma meninggi Perubahan pernapasan abdomen menjadi pernapasan dada.Haid terakhir H.Menentukan tinggi fundus uteri g. . Buah dada / payudara Peningkatan pigmentasi areola putting susu Bertambahnya ukuran dan noduler e. putting susu dan linea nigra. f. anemis Hidung Gigi dan mulut c.Striae atau tanda guratan bisa terjadi di daerah abdomen dan paha. Jantung dan paru Volume darah meningkat Peningkatan frekuensi nadi . Leher d.

Jika perdarahan ada sudahkan saya mengkaji kuantitasnya dengan teliti ? Sudahkan saya memantau keadaan janin dengan teliti ? Apakah ada tanda-tanda takikardi / deserasi ? Sudahkah saya waspada terhadap perubahan keadaan ibu ? . tanpa perdarahan. 2.com/2011/04/askep-perdarahan-antepartum. Lakukan pemantauan keadaan ibu dan janin secara terus menerus. Khusus Tinggi fundus uteri Posisi dan persentasi janin Panggul dan janin lahir Denyut jantung janin 3. 4.blogspot. berhubungan dengan keprihatinan ibu tentang kesejahteraan Diri dan bayinya 3.Sudahkah saya melakukan langkah untuk menolog ibu menjadi nyaman saat tirah baring dengan cara menggosok punggung. memposisikan dengan bantal. 2. pelacakan pemantauan elektronik. Evaluasi 1. dan tanda persalinan. pengalihan aktivitas. Pemberian cairan Intra Vena atau produk darah sesuai pesanan. mencakup tanda-tanda vital. Kondisi ibu tetap stabil atau perdarahan dapat dideteksi dengan tepat.Terjadi pemisahan otot rectum abdominalis dinamakan dengan diastasis rectal 2. Diagnosa keperawatan  Resiko tinggi cedera (janin) Yang berhubungan dengan penurunan perfusi uterin/plasenta akibat perdarahan  Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan perdarahan hebat akibat plasenta previa  Resiko tinggi infeksi yang berhubungan dengan anemia dan perdarahan akibat plasenta previa  Rasa takut. Tinjau kembali aspek penting dari perawatan kritis yang telah diberikan ini : Sudahkah saya menanyakan kepada ibu tentang perdarahan ? . Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan inspekulo Pemeriksaan radio isotopic Ultrasonografi . http://tinevitamehi. Jelaskan prosedur kepada ibu dan keluarganya. Ibu dan bayi menjalani persalinan dan kelahiran yang aman. haluaran perkemihan. Intervensi 1.html .Adakah tanda persalinan ? adakah perubahan yang dilaorkan ibu ? . 4. serta terapi mulai diberikan. 3.Persendian tulang pinggul yang mengendur Gaya berjalan yang canggung .Pemeriksaan dalam 2.

Di Indonesia plasenta previa banyak dijumpai pada umur paritas kecil disebabkan banyak wanita Indonesia menikah pada usia muda dimana endometrium belum matang. . • • 3. Walaupun perdarahan vaginal setelah minggu ke–29 harus dianggap mempunyai potensi serius . • Umur dam paritas . makin besar kemungkinan kehamilan plasenta previa.1 Plasenta Soluto Plasenta previa plasenta previa Pengertian Pada keaadaan normal . Meskipun perdarahan sesudah saat ini lebih sering terjadi. perdarahan pada saat yang lebih dini dapat merupakan indikasi dari dua penyebab utama pedarahan anterpatum yaitu. makin besar kemungkinan mengalami plasenta previa • Usia ibu pada saat hamil. polip endometrium. Pada satu kehamilan perdarahan dari traktus genitalis lebih sering dan serius jika terjadi pada tempat plasenta dibandingkan dari sumber lain. Walaupun demikian plasenta menjadi organ defenitif jauh lebih dini dari kehamilam 28 minggu dan perdarahan dapat terjadi lebih dini . • Kadang-kadang pada malnutrisi . Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutup sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir. Bila usia ibu pada saat hamil 35 tahun atau lebih. 3.Pada paritas tinggi lebih sering dari pada paritas rendah .2. • Adanya tumor-tumor : mioma uteri. 3.1. Plasenta berimplantasi atau terletak di bagian fundus uterus.1.1. Etiologi Apa sebab terjadinya implatasi plasenta didaerah segmen bawah uterus tidak dapat dijelaskan. Namun demikian terdapat beberapa faktor yang berhubungan dengan peningkatan kekerapan terjadi plasenta previa yaitu : • Parista Makin banyak parista ibu.Pada primigravida umur diatas 35 th lebih sering dari umur dibawah 25 th.ASKEP PADA PASIEN PERDARAHAN ANTEPARTUM ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN PERDARAHAN ANTEPARTUM Perdarahan antepartum merupakan pendarahan dari traktus genitalis yang terjadi antara kehamilan minggu ke28 dan awal partus.

Karena pada saat itu segmen bawah uterus lebih banyak mengalami perubahan berkaitan dengan makin tuanya kehamilan . Perdarahan yang terjadi pertama kali. tanpa alasan dan tanpa rasa nyeri merupakan gejala utama Komplikasi • Anemia karena perdarahan • Syok • Janin mati lahir dalam keadaan premature dan asphyxia berat. Perdarahan berikutnya hampir selalu lebih banyak dari sebelumnya. Patofisiologi Perdarahan anterpatum yang disebabkan oleh plasenta previa umumnya terjadi pada triwulan ketiga kehamilan . Pada usia kehamilan ini segmen bawah uterus telah terbentuk dan mulai menipis.Klasifikasi Berdasarkan atas terabaya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu. Sebagian besar kasus. Perdarahan pertama sering terjadi pada triwulan ketiga. Gejala utama • Perdarahan yang terjadi berwarna segar.1. biasanya tidak banyak dan tidak berakibat fatal. Kemungkinan perdarahan anterpatum akibat plasenta previa dapat sejak kehamilan berusia 20 minggu.4. 3. 5) 3. • Pada uterus tidak teraba keras dan tidak tegang. tergantung banyaknya perdarahan. • Bagian terbawah janin biasanya belum masuk pintu atas panggul dan tidak jarang terjadi letak janin (letak lintang atau letak sunsang) • Janin mungkin masih hidup atau sudah mati.3.plasenta previa dibagi dalam 4 klasifikasi yaitu : 1) Plasenta previa totalis apabila seluruh pembukaan tertutup oleh jarngan plasenta 2) Plasenta previa parsialis apabila sebagian pembukaan ternutup oleh jaringan plasenta 3) Plasenta previa marginalis apabila pinggir plasenta berada terpat pada pinggir pembukaan 4) Plasenta letak rendah apabila tepi plasenta melampau segmen bawah tetapi tepinya tidak mencapai ostium internum. Manifestasi klinis • Perdarahan yang terjadi bisa sedikit atau banyak. Makin tua usia kehamilan segmen bawah uterus makin melebar dan serviks membuka. janinnya masih hidup. Dengan demikian plasenta yang berimplitasi di segmen bawah uterus tersebut akan mengalami pergeseran dari tempat implantasi .1. • Pasien yang dating dengan perdarahan karena plasenta previa tidak mengeluh adanya rasa sakit.

dan spiritual) dan bersifat unik. intervestasi dan evaluasi. bersumber pada sinus uterus yang atau robekan sinis marginali dari plasenta.1. rawat sampai usia kehamilan 37 minggu. perhatikan usia kehamilan. Berdasarkan hal ini perawat dituntut memiliki pengetahuan tentang penyakit klien dan tindakan apa saja yang harus dilakukan. Bagi individu. usia gestasi 37 minggu atau lebih. lalu lakukan mobilisasi bertahap. social. Sebelum dirujuk. maka : • • Bila perdarahan sedikit. Proses kererawatan digunakan oleh perawat untuk memecahkan masalah yang dihadapi klien. Beri kortikosteroid 12 mg intravena per hari salma 3 hari Bila pendarahan berulang. beri cairan proposal. psiko. lakukan PDMO.1. Darahnya berwarna merah segar. Bila teratasi. 3.taksirkan berat janin 2. usia gestasi <37 minggu. tangani seperti persalinan preterm Bila tidak ada renjetan. . lakukan PDMO. 3. upayakan penyelamatan optimal. Asuhan keperawatan Perawatan adalah pelayanan esensial dilakukan oleh perawatan propesional. menghindari peningkatan tekanan rongga perut missal batuk. anjurkan pasien untuk tirah baring total dengan menghadap kiri.500 g. keluarga dan masyarakat yang mempunyai masalah kesehatan dengan tujuan menolong mereka meningkatkan kesehatan semaksimal mungkin sesuai dengan profesinya.6. Bila bukan. Pantau pula BJJ dan pergerakan janin. taksiran berat janin <2.5. Bila terjadi renjatan. Bila tidak teratasi. Bila ada kontraksi. secara tuntas yang didasari prinsip-prinsip ilmiah sertamempertimbangkan klien sebagai makluk yang utuh (bio. lakukan persalinan perabdominan. segera lakukan resusitasi cairan dan trasfusi darah. Manajemen Therapeutik Harus dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas operasi. selain itu perawat harus berfikir dan bekerja secara dinamis. Penerapan proses keperawatan klien ni adalah empat tahap yaitu pengkajian. tidak melakukan sanggama. usahakan partus pervaginam. Bila tidak memungkinkan.500 g atau lebih.dan akan menimbulkan perdarahan.3 Skema Penanganan Plasenta previa Pasang infuse cairan Nacl fisiologis. Bila terdapat renjetan. Pelayanan keperawatan yang diberikan pada klien HAP atas indikasi plasenta previa akan berhasil apabila asuhan keperawatan yang diberikan baik dan benar. Penanganan di rumah sakit dilakukan berdasarkan usia kehamilan.mengedan karena sulit buang air besar) Gambar 35. Bila ternyata previa. Pantau tekanan darah dan frekuensi nadi pasien secara teratur tiap 15 menit untuk mendeteksi adanya hipotensi atau syok akibat perdarahan.

Perdarahan biasanya terjadi sejak triwulan ketiga atau sejak kehamilan 20 minggu. Riwayat kesehatan 1. 4.Minarche . Identitas umum b. Hemofilia dan penyakit menular. 3.Lamanya . Riwayat kesehatan dahulu . Pengkajian Pengkajian adalah pendekatan yang sistematis untuk mengumpulkan data perkelompok dan menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan untuk perawatan klien. Langkah pertama dalam pengkajian terhadap klien HAP adalah mengumpulkan data.Kemungkinan keluarga menderita penyakit hipertensi DM.Keluhan pada haid : tidak ada keluhan nyeri haid 5.1.Kemungkinan klien mengalami penyakit hipertensi DM.Kemungkinan keluarga pernah mengalami kesulitan kehamilan lainnya. Adapun data-data yang dikumpulkan yaitu : a. Riwayat kehamilan dan persalinan .Kemungkinan pernah mengalami abortus 2.Adanya kemungkinan klien pernah mengalami riwayat diperlukan uterus seperti seksio sasaria curettage yang berulang-ulang.Kemungkinan keluarga pernah mengalami kehamilan ganda. Riwayar Obstetri Riwayat Haid/Menstruasi . Riwakat kesehatan keluarga .Siklus . Tujuan utama pengkajian adalah untuk memberi gambaran secara terus menerus mengenai keadaan kesehatan yang memungkinkan perawat merencanakan asal keperawatan pada klien HAP. . Hemofilia serta mengalami penyakit menular seperti hepatitis.Multigravida . . . .Baunya : 28 hari : ± 7 hari : amis : 12 th .Perdarahan tanpa rasa nyeri . Riwayat kesehatan sekarang Biasanya terjadi perdarahan tanpa alasan .Kemungkinan ada keluarga yang menderita seperti ini .

Pemeriksaan tanda-tanda vital .Mata biasanya konjugtiva anemis . muka kelihatan pucat. nafas jika kebutuhan akan oksigen terpenuhi . Hb yang normal (12-14gr%) .Ekstremitas. jenis pernapasan thoracoabdominal .Lochea Rubra Bagaimana baunya.Tekanan darah. Riwayat nipas . amis . nadi melemah jika ditemui tanda-tanda shok d. e.Nadi. Kemungkinan akral dingin. Leopoid IV : Kepala janin belum masuk pintu atas panggul • Perkusi : Reflek lutut +/+ • Auskultasi : bunyi jantung janin bisa cepat lambat.Data laboraturium. Pemeriksaan penunjang .Banyaknya 2 kali ganti duk besar . seperti warna..Tentang laktasi Colostrum ada c. memungkinkan Hb rendah.jadi fundus uteri masih rendah Leopoid II : Sering dijumpai kesalahan letak Leopoid III : Bagian terbawah janin belum turun.Pernapasan.Kemungkinan abortus . biasanya bunyi nafas vesikuler.Genetalia biasanya pada vagina keluar dasar berwarna merah muda . akan menurun jika ditemui adanya tanda syok .Abdomen • Inspeksi : terdapat strie gravidarum • Palpasi : Leopoid I : Janin sering belum cukup bulan.Kepala. Pemeriksaan fisik . .Suhu tubuh. apabila letak kepala biasanya kepala masih goyang atau terapung(floating) atau mengolak diatas pintu atas panggul. biasanya terdapat cloasmagrafidarum.160 .Muka.Thorak. suhu akan meningkat jika terjadi infeksi . Kemungkinan udema atau varies. Normal 120. keadaan dan kebersihan .Kemungkinan pernah melakukan curettage 6.

2000: 1127) post seksio. 6. Gangguan pemenuhan kebutuhan sehari-hari berhubungan dengan ketidak mampuan merawat diri. Dari pengkajian yang telah diuraikan diatas dapat disusun beberapa diagnosa keperawatan yang memungkinkan ditemukan pada klien HAP atas indikasi plasenta precia antara lain : 1. 5. f. 7. 2. Resiko perdarahan berulang berhubungan dengan efek penanaman plasenta pada segmen bawah rahim ( Susan Martin Tucker. Anjurkan klien untuk membatasi perserakan Rasional : Pergerakan yang banyak dapat mempermudah pelepasan plasenta sehingga dapat terjadi perdarahan .leokosit meningkat (Normal 6000-1000 mm3). Resiko rawat janin : fital distress berhubungan dengan tidak ada kuatnya perfusi darah ke plasenta (Lynda Jual Carpenito. Intolerasi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik (Barbara Enggram :1998:371) Resiko infeksi berhubungan dengan terbukanya tempat masuknya mikro organisme sekunder terhadap luka operasi sesarea. Kecemasan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang perawatan dan pengobatan (Susan Martin Tucker. Perencanaan Perencanaan keperawatan adalah bagian selanjutnya dari proses keperawatan. Data sosial ekonomi Plaesnta previa dapat terjadi pada semua tingkat ekonomi namun pada umumnya terjadi pada golongan menengah kebawah .dkk 1988 : 624). Dan hasil pengkajian seorang perawat mampu menentukan rencana tindakan yang akan dilakukan pada klien.dkk 1988:523) 2. Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan trauma jaringan dan spasme otot perut (Susan Martin Tucker. 4. Adapun rencana tindakan dari diagnosa tersebut adalah : DX I Resiko perdarahan berulang berhubungan dengan efek penanaman plasenta pada segmen bawah rahim Tujuan : Klien tidak mengalami perdarahan berulang Intervensi : 1.dkk 1988). Trombosit menurun (normal 250 ribu – 500 ribu). hal ini juga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan yang dimilikinya. Perencanaan ini dikembangkan sesuai dengan kebutuhan klien dan mengatasi masalahnya. Sekunder keharusan bedrest (Linda Jual Carpenito edisio :326) 3.

4. Monitor bunyi jantung janin Rasional : Denyut jantung lebih >160 serta< 100dapat menunjukkan gawat janin kemungkinan terjadi gangguan perfusi pada plasenta 6. BAB. Libatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan Rasional : Dengan melibatkan keluarga. klien merasa tenang karena dilakukan oleh keluarga sendiri dan klien merasa diperhatikan. 2.sehingga kebutuhan klien terpenuhi. Bina hubungan saling percaya antara perawat dengan klien dengan menggunakan komunikasi therapeutik Rasional : Dengan melakukan komunikasi therapeutic diharapkan klien kooperatif dalam melakukan asuhan keperawatan. . DX II Gangguan pemenuhan ketuban sehari-hariberhubungan dengan ketidakmampuan merawat diri sekunder keharusan bedres Tujuan : Pemenuhan kebutuhan klien sehari-hari terpenuhi Intervensi : 1. 3. Pernafasan. Nadi. Rasional 3.2. 5. Anjurakan klien untuk melaporkan segera bila ada tanda-tanda perdarahan lebih banyak Rasional : Pelaporan tanda perdarahan dengan cepat dapat membantu dalam melakukan tindakan segera dalam mengatasi keadaan klien. Bantu klien dalam pemenuhan kebutuhan dasar engan membantu kebutuhan klien seperti mandi. Kontrol tanda-tanda vital (TD. Kontrol perdarahan pervaginam Rasional : Dengan mengontrol perdarahan dapat diketahui perubahan perfusi jaringan pada plasenta sehingga dapat melakukan tindakan segera. suhu) Rasional : Dengan mengukur tanda-tanda vital dapat diketahui secara dini kemunduran atau kemajuan keadaan klien.BAK. Kolaborasi dengan tim medis untuk mengakhiri kehamilan Rasional : Dengan mengakhiri kehamilan dapat mengatasi perdarahan secara dini.

. kapan nyeri dirasakan oleh klien dapat disajikan sebagai dasar dan pedoman dalam merencanakan tindakan keperawatan selanjutnya. 5.4. DX III Resiko rawat janin berhubungan dengan tidak adekuatnya perfusi darak ke plasenta Tujuan : Gawat janin tidak terjadi Intervensi : 1. Dekatkan alat-alat yang dibutuhkan klien Rasional : Dengan mendekatkan alat-alat kesisi klien dengan mudah dapat memenuhi kebutuhannya sendiri. Kaji tingkat nyeri yang dirasakan klien Rasional : Dengan mengkaji tingkat nyeri. Anjurkan klien agar miring kekiri Rasional : Posisi tidur menurunkan oklusi vena cava inferior oleh uterus dan meningkatkan aliran balik vena ke jantung 3. Jelaskan pada klien penyebab nyeri Rasional : Dengan memberikan penjelasan pada klien diharapkan klien dapat beradaptasi dan mampu mengatasi rasa nyeri yang dirasakan klien. Istirahatkan klien Rasional : melalui istirahat kemungkinan terjadinya pelepasan plasenta dapat dicegah 2. DX IV Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan trauma jaringan dan spasme otot perut Tujuan : Rasa nyaman terpenuhi Intervensi : 1. 2. Kolaborasi dengan dokter tentang pemberian oksigen Rasional : Dengan pemberian O2 dapat meningkatkan konsumsi O2 sehingga konsumsi pada janin meningkat. Anjurkan klien untuk memberi tahu perawat untuk memberikan bantuan Rasional : Dengan memberi tahu perawat sehingga kebutuhan klien dapat terpenuhi. Anjurkan klien untuk nafas dalam Rasional : Dengan nafas dalam dapat meningkatkan konsumsi O2 pada ibu sehingga O2 janin terpenuhi 4. 5. Kolaborasi dengan dokter tentang pemberian kortikosteroit Rasional : Korticosteroit dapat meningkatkan ketahanan sel terutama organ-organ vital pada janin.

Rasional: Dengan mengalihkan perhatian klien. Alihkan perhatian klien dari rasa nyeri dengan mengajak klien berbicara. 3. Kolaborasi dengan dokter dalam memberikan analgetik Rasional : Analgetik dapat menekan pusat nyeri sehingga nyeridapat berkurang. Patofisiologi Terjadinya solusio plasentae dipicu oleh perdarahanke dalam basalis yang kemudian terbelah dan meninggalkan lapisan tipis yang melekat pada miometrium sehingga terbentuk hematoma desidual yang menyebabkan pelepasan. tali pusat pendek. konsumsi alcohol. Pengertian Solusio plasenta adalah lepasnya plasenta dari insersi sebelum waktunya 3. Faktor predisposisi yang mungkin ialah hipertensi kronik. Anjurkan dan latih klien teknik relaksasi (nafas dalam) Rasional : Dengan teknik nafas dalam diharapkan pemasukan oksigen ke jaringan lancar dengan harapan rasa nyeri dapat berkurang. Hingga pelepasan plasenta makin luas dan mencapai tepi plasenta. Solusio Plasenta 3. merokok. Rasional : Peregangan luka dapat meningkatkan rasa nyeri. serta obstruksi vena kana inferior dan vena ovarika.1.2. diharapkan klien tidak terpusatkan pada rasa nyeri 5. 3.2. Atur posisi nyaman menurut klien tidak menimbulkan peregangan luka. Ruptur pembuluh arteri spiralis desidua menyebabkan hematoma retroplasenta yang akan memutuskan lebih banyak pembuluh darah. Karena uterus tetap berdistensi dengan adanya janin.kompresi dan akhirnya penghancuran plasenta yang berdekatan dengan bagian tersebut. 4. Selanjutnya darah yang mengalir keluar dapt melepaskan selaput ketuban. 7.3. uterus tidak mampu berkontraksi optimal untuk menekan pembuluh darah tersebut. .2.3. penyalahgunaan kokain. difisiensi gizi.2. anomali atau tumor uterus. Kontrol vital sign klien engan mengontrol/menukur vital sign klien dapat diketahui kemunduran atau kemajuan keadaan Rasional klien untuk mengambil tindakan selanjutnya.2. Etiologi Belum diketahui pasti. 6. trauma eksternal. dekompresi terus mendadak.

uterus berkontraksi.2. • Pemeriksaan obstetric : nyeri tekan uterus dan tegang. tidak melakukan senggama. bila ada perbaikan (perdarahan berhenti. air ketuban berwarna kemerahan karena tercampur darah.segera lakukan resusitasi cairan dan tranfusi darah. bagian-bagian janin sukar dinilai. Usahakan partus pervaginam dengan amniotomi atau infuse oksitosin bila memungkinkan. Sebelum dirujuk anjuran pasien untuk tirah baring total dengan menghadap ke kiri. syok dak kematian janin intrauterine. perdarahan pervaginam berwarna kehitam-hitaman yang sedikit sekali dan tanpa rasa nyeri sampai dengan yang disertai nyeri perut.Bila terdapat rejatan.Setelah syok teratasi dan janin mati. Solusio Plasenta Ringan • Ekspektatif. perabdominan bila tak dapat Bila terdapat rejatan.5. mengedan karena sulit buang air besar).4. usia gestasi 37 minggu atau lebih. Manifestasi Klinis • Anamnesis : perdarahan biasanya pada trimester ketiga. dapat mengancam ibu/janin). Solusio plasenta sedang/berat Resusitasi cairan Atasi anemia dengan pemberian transfuse darah Partus pervaginam bila diperkirakan dapat berlangsung dalam 6 jam. pertimbangkan seksio sesarea bila janin masih hidup atau persalinan pervaginam diperkirakan akan berlangsung lama. 3.3.pecahkan ketuban lalu infuse oksitosin. Manajemen Terapeutik Harus dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas operasi.500 gr. denyut jantung janin sulit dinilai atau tidak ada. Pikirkan partus perabdominan bila persalinan pervaginam diperkirakan berlangsung lama. janin hidup) dengan tirah baring atasi anemia dan KTG serial. Jika terus pendarahan. • Pemeriksaan fisik tanda vital dapat normal sampai menunjukkan tanda syok.lalu tunggu persalinan spontan. Bila lebih dari 6 cm.Setelah rejatan diatasi. Bila tidak teratasi.Bila tak terdapat rejatan dan usia gestasi kurang dari 37 minggu atau taksiran berat janin kurang dari 2.skor pelvic kurang dari 5 atau persalinan masih lama. uterus tegang. Bila kurang dari 6cm lakukan seksio sesarea. Bila rejatan tidak dapat diatasi. lakukan seksio sesarea. Pantau pula BJJ dan pergerakan janin. lihat pembukaan.Penanganan berdasarkan berat atau ringannya penyakit yaitu : a). bila ada perburukan (perdarahan berlangsung terus. Bila tidak memungkinkan. menghindari peningkatan tekanan rongga perut (misalnya batuk. . berikan cairan peronai. • Aktif. taksiran berat janin 2. Pasang infus cairan NaCl fisiologis. b).500 gr atau lebih. Pantau tekanan darah dan frekuensi nadi tiap 15 menit untuk mendeteksi adanya hipotensi atau syok akibat pendarahan. kontraksi uterus tidak ada. perdarahan pervaginam yang banyak. Upayakan Penyelamatan optimal bila teratasi. upayakan tindakan penyelamatan yang optimal.2. Perhatikan keadaan janin.

Pemeriksaan penunjang (EKG.Prognosis Prognosis ibu tergantung luasnya plasenta yang terlepas dari dinding uterus. hipotensi. jenis kelamin. Asuhan Keperawatan a). dan kimia darah}) b). ada tidaknya hipertensi menahun atau preeklamsia. Fundus uteri yang makin tinggi). Pemeriksaan Fisik Vital sign (TD. respirasi dan suhu) Tinggi badan dan berat badan (sebelum hamil dan setelah hamil) Sistem kardiovaskuler. kontraksi uterus yang meningkat. Diperkirakan resiko kematian ibi 0. dan cyanosis) Sistem perkemihan (intake dan output) Sistem integument (udem. Status janin (DJJ menurun. Status psikologis 5). nadi. Diagnosa Keperawatan 1) Gangguan perfusi jaringan serta umum berhubungan dengan hipovelemik shock. Status serviks.6. Kepercayaan Keagamaan 6). Dan jarak antara terjadinya solusio plasentae sampai pengosongan uterus. urine. kulit dingin) Sistem reproduksi (pemeriksa leopoid I – IV. 2) Gangguan perfusi jaringan : perdarahan berhubungan dengan gangguan pembekuan darah 3) Kecemasan berhubungan dengan kemungkinan efek negatif dari perdarahan atau pengeluaran kehamilan .pucat.USG. 2).gagal ginjal dan hipertensi) Riwayat kesehatan keluarga Riwayat kehamilan yang lalu Riwayat ginekologis Status kesehatan sekarang Riwayat status nutrisi 3). tersembunyi tidaknya perdarahan. pekerjaan serta identitas lain yang mendukug. Data Biografi Demografi Usia. banyaknya perdarahan.2. penggunaan obat-obatan dan alkohol) 4). pergerakan janin menurun). laboraturium{darah lengkap. Kebiasaan (merokok. Pengkajian 1). 3. perdarahan dengan darah warna merah kehitaman. Riwayat Kesehatan Riwayat penyakit dahulu(DM.5-5% dan kematian janin 50-80%. derajat kelainan pembekuan darah. 7). tachicardi.

dan palpasi nadi perifer secara rutin) R : permonitoran tanda vital dapat menunjukkan indikasi terjadinya pemulihan atau penurunan sirkulasi b. Monitor tanda vital (TD. Pemberian tranfusi darah sesuai indikasi R : pemberian tranfusi darah dapat membantu sirkulasi ke jaringan 2). R : pemberian intake cairan (secara parenatal) dapat membantu mempertahankan volume sirkulasi Tindakan kolaborasi : a. nadi.) Monitor intake dan output untuk memperbaiki sirkulasi volume cairan. R : Sebagai petunjuk untuk tindakan kedaruratan selanjutnya c. Intervensi Keperawatan 1) Gangguan perfusi jaringan secara umum berhubungan dengan hipovolemik shock Tujuan : pefusi jaringan adekuat Kriteria : Tanda vital dalam batas normal Kulit hangat dan kering Nadi perifer adekuat Tindakan mandiri : a).4) Resiko tinggi terjadinya fetal distress berhubungan dengan perfusi oksigen yang tidak adekuatnya pada plasenta c).suhu. Pemberian oksigen sesuai indikasi R : Pemberian oksigen dapat meningkatkan sirkulasi O2 pada jaringan b. Gangguan perfusi jaringan : perdarahan berhubungan dengan gangguan pembekuan darah Tujuan : perfusi jaringan adekuatnya dan perdarahan teratasi Kriteria : • • • Keadaan umum ibu baik • Pembekuan darah normal Tanda vital dalam batas normal Sirkulasi darah baik Tindakan mandiri : a. Kaji dan monitor perdarahan pervaginam yang abnormal R : dapat dijadikan sebagai indikator dari faktor kegagalan pembekuan darah . nafas.) Kaji dan catat perdarahan pervaginam dan peningkatan tinggi fundus uteri.

Resiko tinggi terjadinya fetal distress berhubungan dengan perfusi oksigen yang tidak adekuat pada plasenta Tujuan : perfusi oksigen pada janin adekuat Kriteria : • DJJ normal (120-160 x/menit) • • Kebutuhan oksigen janin terpenuhi Kontraksi uterus normal • HIS normal • Pergerakan janin baik Tindakan mandiri : a) Monitor DJJ dan pergerakan janin R : gangguan perfusi plasenta dapat menurunkan oksigenisasi pada janin. Monitor sirkulasi darah serta tanda DIC (turunnya tingkat kekenyalan fibrinogen. pertambahan prothrombin. c. Menyiapkan klien untuk memeriksakan amniosintesis jika diperlukan R : pemeriksaan amniosintesis dapat dijadikan indicator kegawatan darurat janin. d. sehingga pergerakan janin dan DJJ tidak normal b). . Pemberian Oksigen sesuai indikasi R : pemberian oksigen akan membantu sirkulasi oksigen ke janin menjadi adekuat b). Anjurkan ibu mempertahankan posisi tidur lateral R : posisi lateral dapat memberikan sirkulasi yang optimum pada uterus dan plasenta Tindakan kolaborasi : a). Pemberian trasfusi dan komponen darah sesuai dengan indikasi R : tranfusi darah dapat membantu pengurangan faktor pembekuan karena proses pembekuan yang abnormal .b. tromboplastin dan pembekuan darah) R : dapat mengintervensi tindakan selanjutnya yang cepat dan sesuai dengan masalah yang ditemukan. Pemberian obat sesuai dengan indikasi R : pemberian obat untuk menghentikan perdarahan dan mengurangi kegagalan faktor pembekuan darah 3).

mola hidatidosa. Kurang lebih pada 6 minggu setelah haid terakhir selama 10 minggu.1. masuknya vili khorialis dalam sirkulasi.penurunan klorida urin. 4. Pengertian Hyperemasis gravidarum adalah mual dan muntah berlebihan sehingga pekerjaan sehari-hari dan keadaan umum menjadi buruk.dan kehamilan ganda b) Faktor organic. hipokloremia. berat badan turun dan nyeri apigastrium. turgor kulit berkurang. 4. yaitu alergi. Persiapkan klien untuk dilakukan tindakan emergensi seperti section caesaria R : tindakan section merupakan salah satu alternative menghindari terjadinya fetal distress BAB IV ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN HYPEREMESIS 4. Frekwensi nadi pasien naik sekitar 100 x/menit. yaitu pamigravida. Namun gejala ini menjadi lebih berat hanya pada 1 dari 1. Sekitar 60-80% primigravida dan 40-60% multigravida mengalami mual dan muntah. Pemakaian cadangan karbonhidrat dan lemak menyebabkan oksidasi lemak tidak sempurna sehingga terjadi ketosis. Patofisiologi Perasaan mual akibat kadar estrogen meningkat. tekanan darah sistolik turun. hiperemisis grafidarum dibagi dalam 3 tingkatan yaitu : a) Tingkat I Muntah terus menerus yang mempengaruhi keadaan umum. Mual dan muntah terus menerus dapat menyebabkan dehidrasi.000 kehamilan. menimbulkan rasa lemah. Etiologi Belum diketahui pasti. perubahan metabolic akibat hamil dan resistansi ibu yang menurun c) Faktor psikologi 4. lidah kering dan mata cekung.3. Selanjutnya terjadi hemokosentrasi yang mengurangi perfusi darah kejaringan dan menyebabkan tertimbunnya zat toksit. hiponatremia. nafsu makan tak ada.4 Manifestasi klinis Menurut berat ringannya gejala. Selaput lender esofagus dan lambung dapat robek (sindrom Mallory-Weiss) sehingga terjadi perdarahan gastrointestinal. namun beberapa faktor mempunyai pengaruh antara lain : a) Faktor predisposisi.. Hipokalemia akibat muntah dan ekskresi yang berlebihan selanjutnya menambah frekuensu muntah marusak hepar.2. Mual dan muntah merupakan gangguan yang paling sering dijumpai pada kehamilan trismeter 1.c). .

Adapaun datadata yang akan dikumpulkan adalah : a) Data Riwayat Kesehatan. suhu kadang naik dan mata sedikit icterik.b) Tingkat II Pasien tampak lemah dan apatis. . hemokonsentrasi. Berat badan pasien turun. Asuhan Keperawatan Pengkajian Pengkajian pendekatan yang sistemik untuk mengumpulkan data. muntah yang terus menerus. Kesadaran pasien menurun dari samnolen sampai koma. suhu meningkat dan tekanan darah makin turun. mengelompokkan data dan menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan untuk perawatan klien. nadi kecil dan cepat. maka diperlukan pengobatan yaitu : a) Penderita diisolasi dalam kamar yang tenang dan cerah dengan pertukaran udara yang baik. gangguan elektrolit. 4.6. turgor kulit yang jelek.Kemudian dapat juga ditemukan berat badan yang menurun. coba berikan makanan dan minimaman yang sedikit demi sedikit ditambah. muntah berhenti nadi kecil dan cepat. oliguria. konstipasi. c) Tingkat III. dan napas bau aseton. lidah kotor. Langkah pertama dalam pengkajian klien hyperemisis gravidarum adalah mengumpulkan data. Data Riwayat kesehatan sekarang Pada riwayat kesehatan sekarang terdapat keluhan yang dirasakan oleh klien sesuai dengan gejala-gejala pada hyperemisis gravidarum yaitu : mual. 4. d) Sedatif yang diberikan adalah fenobarbital e) Dianjurkan pemberian vitamin B1 Dan B6 ditambah f) Berikan terapi psikologis untuk meyakinkan pasien penyakitnya bisa disembuhkan serta menghilankan rasa takut hamil dan konflik yang melatarbelakangi hiperemesis. Terjadinya oliguria. Kalori yang diberikan secara parenteral dengan glukosa 5 % dalam cairan fisiologis sebanyak 2 – 3 liter sehari. tachicardi mata cekung dan ikterik. timbul hipotensi. 1.5 Penatalaksanaan Bila pencegahan tidak berhasil. terasa asam dimulut. Tujuan utama dari pengkajian adalah untuk memberikan gambaran secara terus menerus mengenai keadaan kesehatan klien yang memungkinkan perawat merencanakan asuhan keperawatan pada klien. b) Diuresis selalu dikontrol untuk menjaga keseimbangan cairan c) Bila selama 24 jam penderita tidak muntah dan keadaan umum bertambah baik. merasa lemah dan kelelahan. konstipasi dan demam. merasa haus.

klien terlihat lemah dan lelah. hipotensi. dan takut akan kegagalan persalinan. cemas. . mudah marah. mata cekung dan sedikit ikterik. sakit kepala. • Kemungkinan klien pernah mengalami penyakit yang berhubungan dengan saluran pencernaan yang menyebabkan mual dan muntah. turgor jelek. mual. muntah dan tidak ada nafsu makan. tachycardia. Pola pertahanan diri yang digunakan klien hiperemisis gravidarum tergantung kepada pengalaman klien terhadap kehamilan dan dukungan dari keluarga serta perawat.2. d) Riwayat perkawinan Kemungkinan terjadi pada perkawinan usia muda e) Riwayat kehamilan dan persalinan • Hamil muda : Klien pusing. Riwayat kesehatan dahulu • Kemungkinan klien pernah mengalami hioremisis gravidarum sebelumnya. sedih dan kecewa dapat memperberat mual dan muntah. 3. hiperpikmentasi areola mammae. tekanan darah dan tingkat kesadaran. c) Riwayat menstruasi • Kemungkinan menarche usia 12 – 14 th • Siklus 28 – 30 hari • Lamanya 5 – 7 hari • Banyaknya 2 – 3 kali ganti duk • Kemungkinan ada keluhan waktu haid seperti nyeri. terdapat cloasma gravidarum. mukosa membrane dan bibir kering. pusing kehilangan kesadaran dan terasa asam di mulut. f) Data psikologis Riwayat psikologis sangat penting dikaji agar dapat diketahui keadaan jiwa klien sehubungan dengan reaksi dan perilaku klien terhadap kehamilan. muntah. • Hamil tua : Pemeriksaan umum terhadap klien tentang berat badan. Riwayat kesehatan keluarga Kemungkinan adanya riwayat kehamilan ganda pada keluarga b) Data fisik biologis Data yang dapat ditemui pada klien hiperemisis gravidarum adalah mammae membesar. mudah menangis. Keadaan jiwa klien yang labil.

Kerja metabolisme tidak meningkat sehingga tidak merangsang untuk tidak terjadinya mual dan muntah . Jaffe . hal ini juga dipengaruhi oleh pengetahuan yang dimiliki. Terdapatnya aseton dalam urine. 1989 hal 37 ) 5) Tidak efektif nya pola pertahanan diri b/d efek psikologis terhadap kehamilan dan perubahan sebagai ibu ( Sharon J Reeder . 1989 hal 37 ) 4) Gangguan eliminasi : konstipasi b/d intake makanan yang tidak adekuat ( Marie S . Hiperemisis gravidarum bisa terjadi pada semua tingkat ekonomi. Pemeriksaan darah yaitu nilai haemoglobin dan hematokrit yang meningkat menunjukkan homokonsentrasi yang berkaitan dengan dehidrasi. Namun pada umumnya terjadi pada ekonomi tingkat menengah ke bawah. h) Data penunjang Data penunjang didapat dari hasil laboratorium yaitu pemeriksaan darah dan urine.1987 hal 748) 6) Potensial perubahan nutrisi fetal b/d berkurang nya peredaran darah makanan ke janin ( ( Sharon J Reeder . 1995: 637) 2) perubahan nutrisi . Diagnosa Keperawatan Dari pengkajian yang telah diuraikan maka ada beberapa kemungkinan diagnosa keperawatan yaitu: 1) Kekurangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan muntah yang berlebihan dan pemasukan yang tidak adekuat (ireneM. Pemeriksaan urinalisa yaitu urine yang sedikit dan mempunyai konsentrasi yang tinggi sebagai akibat dehidrasi.1987 hal 748) Perencanaan 1) Kekurangan cairan dan elektrolit b/d muntah yang berlebihan dan pemasukan yang tidak adekwat Tujuan : Kebutuhan cairan dan elektrolit tidak terganggu Intervensi : • Istirahatkan klien di tempat yang nyaman Rasional : Istirahat akan menurunkan kebutuhan energi.g) Data sosial ekonomi. Bobak. b/d mual dan muntah yang terus menerus (Irene M.Bobak :638) 3) gangguan rasa nyaman : nyeri pada epigastrium b/d muntah yang berulang ( Marie S Jaffe .

suhu meningkat dan nadi meningkat merupakan tanda-tanda dehidrasi dan hipovolemia • Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian infuse Rasoinal : Pemberian cairan infuse dapat mengganti jumlah cairan elektrolit yang hilang dengan cepat • Monitor tetesan cairan infuse Rasional : Jumlah dan tetesan infuse yang tidak tepat dapat menyebabkan terjadinya kelebihan atau kekurangan cairan pada sistim sirkulasi.Tekanan darah menurun. • Setelah 24 jam pertama anjurkan minum tiap-tiap jam Rasional : Minum yang sering dapat menambah pemasukan cairan melalui oral 2). • Berikan makanan dalam keadaan hangat dan bervariasi. • Setelah 24 jam pertama beri makanan dalam porsi kecil tapi sering Rasional : makanan dalam porsi kecil dapat mengurangi pemenuhan lambung dan mengurangi pemenuhan lambung dan mengurangi kerja peristaltik usus serta memudah kan penyerapan makanan . Kurang dari keburuhan tubuh b/d muntah yang terus menerus Tujuan: Kebutuhan nutrisi terpenuhi Intervensi : • Kaji kebutuhan nutrisi klien Rasional : Dengan mengetahui kebutuhan nutrisi klien dapat diamati sejauh mana kekurangan nutrisi pada klien dan tindakan selanjutnya. • Observasi tanda-tanda kekurangan nutrisi Rasional :Untuk mengetahui sejauh mana kekurangan nutrisi akibat muntah yang berlebiahan.• Monitor vital sign serta tanda – tanda dehidrasi Rasional : Dengan mengobservasi tanda-tanda kekurangan cairan dapat diketahui keadaan umum klien dan sejauh mana kekurangan cairan pada klien. Rasional : Makanan yang hangat dan bervariasi dapat menambah nafsu makan . Perubahan nutrisi . • Catat intek dan out put Rasional : Dengan mengetahui intek dan out put cairan diketahui keseimbangan cairan dalam tubuh. .

Intervensi : • Kaji tingkat nyeri. Rasional : Dengan menimbang berat badan dapat diketahui keseimbangan berat badan sesuai usia kehamilan dan pengaruh nutrisi. Rasional : Kebersihan mulut yang baik dan terpelihara dapat menimbulkan ras nyaman dan muntah berkurang . Rasional : makanan yang tidak berlemak dan berminyak mengurangi rangsangan saluran pencernaan sehingga muntah berkurang.• Beri makanan yang tidak berlemak dan tidak berminyak. • Alihkan perhatian pada hal yang menyenangkan Rasional : Dengan mengalihkan perhatian diharapkan klien dapat melupakan rasa nyeri akibat muntah yang berulang. 3) Gangguan rasa nyaman : Nyeri pada epigastrium b/d muntah yang berulang. . • Anjurkan klien untuk memakan makanan yang kering dan tidak merangsang pencernaan (seperti roti dan biscuit ) Rasional : makanan yang kering dan tidak merangsang pencernaan dapat mengurangi mual dan muntah . Rasional : dengan mengkaji tingkat nyeri dapat diketahui tingkat nyeri pada klien dan tindakan selanjutnya . • Atur posisi klien dengan kepala lebihtinggi selama 30 menit setelah makan Rasional : Dengan posisi kepala lebih tinggi dapat mengurangi tekanan pada gastroinstestinal sehingga mengurangi muntah yang berulang . • Beri klien motivasi agar mau menghabiskan makanan Rasional : Klien merasa diperhatikan dan mau menghabiskan makanan • Timbang berat badan klien. • Perhatikan kebersihan mulut klien sebelumdan sesudah muntah . Tujuan : Rasa nyaman terpenuhi .

4). . • Anjurkan klien untuk menghabiskan diet yang diberikan. Tidak efektifnya pola pertahanan diri b/d efek psikologis terhadap kehamilan dan perubahan sebagai ibu. Tujuan: Pola pertahanan diri afektif Intervensi : • Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya secara langsung terhadap kehamilan. Gangguan eliminasi : konstipasi b/d intake makanan yang tidak adekuat. Tujuan :Eliminasi teratur. Intervensi : • Kaji pola eliminasi klien Rasional : Untuk mengetahui kebiasaan eliminasi sehari hari • Anjurkan klien makan buah-buahan dan sayuran Rasional : Dengan memakan buah-buahan dan sayuran yang banyak dapat melancarkan BAB.• Anjurkan klien untuk beristirahat dan batasi pengunjung Rasional : Dengan istirahat yang cukup dan membatasi pengunjung dapat menambah ketenangan klien . Rasional : Dengan mengungkapkan perasaan klien dapat diketahui reaksi klien terhadap kehamilan • Dengarkan keluhan klien dengan penuh perhatian Rasional : Klien merasa diperhatikkan dan tidak sendiri dalam menghadapi masalah. Rasional : Pemberian obat pencahar dapat melancarkan BAB 5). • Kolaborasi pemberian obat anti emetik dan sedative dengan dokter Rasional : Obat anti emetic mengurangi muntah danobat sedative membuat klien tenang sehingga mengurangi rasa nyeri . Rasional : Dengan menghabiskan diet yang diberikan intek makanan adekwat dan konstipasi tidak terjadi • Anjurkan klien banyak minum Rasional : Cairan yang banyak memperlunak veses sehingga mencegah komplikasi • Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat pencahar.

• Dukung klien jika pemecahkan masalah konstruktif Rasional : Akan menambah percaya diri dalam melakukan pemecahan masalah. BAB V GANGGUAN HEMATOLOGI .Potensi perubahan nutrisi vetal b/d Berkurangnya peredaran darah dan makanan ke janin Tujuan : Perkembangan janin tidak terganggu Intervensi : • Jelaskan pada klien pentingnya nutrisi bagi pertumbuhan dan perkembangan janin Rasional : Agar klien menyadari akan pentingnya nutrisi bagi janin dank lien mengetahui kebutuhan nutrisinya. • Libatkan keluarga dalam kehamilan klien Rasional : Keluarga dapat diajak bekerja sama dalam memberikan dorongan pada klien terhadap kehamilannya. 6). • Periksa Fundus uteri Rasional : Untuk mengetahui fundus uteri yang sesuai dengan kehamilan • Monitor denyut jantung janin Rasional : Denyut jantung yang masih dalam keadaan normal dan aktif menandakan janin masih dalam keadaan baik.• Diskusikan bersama klien tentang masalah yang dihadapi dan pemecahan masalah yang dilakukan Rasional : Melalui diskusi dapat diketahui pola pertahanan diri klien dalam menghadapi masalahnya • Bantu klien dalam memecahkan masalahnya terutama yang berhubungan dengan kehamilan Rasional : Dengan membantu memecahkan masalah klien da[pat menemukan pola pertahanan diri yang efektif. • Kolaborasi dengan ahli psikiatri jika diperlukan Rasional : Untuk mengetahui adanya kemungkinan factor psikologis yang lebih berat sebagai penyebab masalah.

malaria dll. bahkan bisa fatal. jumlah darah bertambah (hyperemia / hipervolumia) karena itu terjadi pengenceran darah karena sel-sel darah tidak sebanding pertambahannya dengan plasma darah. ibu lemah • Atonia uteri dan menyebabkan pendarahan • Syok • Afibrinogenemia dan hipofibrinogenimia • Infeksi intrapartum dan dalam nifas • Bila terjadi anemia gravis (Hb di bawah 4 gr%) terjadi payah jantung. darah) membutuhkan zat besi dalam jumlah besar untuk pembuatan butir-butir . seseorang di sebut menderita anemia bika kadar hemoglobin ( HB ) kurang dari 10 gr%. Perbandingan pertambahan tersebut adalah: • Plasma darah bertambah: 30% • Sel-sel darah bertambah : 18% • Hemoglobin bertambah : 19% Secara fisiologis pengenceran darah ini adalah untuk membantu meringankan kerja jantung. Oleh karena itu. paru. Pengaruh Anemia terhadap Kehamilan . pemeriksaan. Pengaruh Anemia terhadap hasil konsepsi Hasil konsepsi (janin. atau bila kurang dari 6 gr%. cacing usus. • Penyakit –penyakit kronik: tbc. di sebut anemia gravis . Penyebab anemia umumnya adalah: • Kurang gizi (malnutrisi ) • Kurang zat besi dalam diet • Malabsorbsi • kehilangan darah yang banyak: persalinan yang lalu. hematokrit dan hemoglobin harus menjadi pemeriksaan darah rutin selama pengawasan antenatal. Dalam kehamilan. haid dll. persalinan . dan Nifas: • Keguguran • Partus Prematurus • Inersia uteri dan partus lama. ANEMIA DALAM KEHAMILAN Baik di Negara maju maupun di Negara berkembang. Angka-angka tersebut juga berlaku untuk wanita hamil.1. di sebut anemia berat. plasenta. yang bukan saja menyulitkan kehamilan dan persalinan. Wanita tidak hamil mempunyai nilai normal hemoglobin 12-15 gr% dan hematokrit 35-54%.

Penyebabnya telah dibicarakan di atas sebagai penyebab anemia umumnya. • Per oral: sulfas ferosus atau glukonas ferosus dengan dosis 3-5 x0.05) • Anemia hipoplastik (8.darah merah dan pertumbuhannya. Pengobatan Keperluan zat besi untuk wanita non-hamil. Hasilnya lebih cepat dibandingkan per oral. dan ferrigen. pada waktu janin membutuhkan banyak zat besi. Hb tidak akan turun dan bila persediaan ini habis. • LIPI Indonesia (1968): 12mg-17mg-17mg. • Parenteral: di berikan bila ibu hamil tidak tahan pemberian per oral atau absorbsi di saluran pencernaan kurang baik. Kemasan ini antara lain : imferon. Ini terjadi pada bulan 5-6 kehamilan. kemasan diberikan secara intra muskuler atau intravena.0%) • Anemia hemolitik ( sel sickle) (0. hamil. dan dalam laktasi yang di anjurkan adalah: • FNB Amerika Serikat (1958): 12 mg-15mg-15mg. Terjadinya anemia dalam kehamilan bergantung dari jumlah persediaan besi dalam hati. Hb akan turun.7%) Anemia defisiensi besi (62. Bila terjadi anemia. Kemasan zat besi dapat di berikan peroral atau parenteral.3%) • Anemia megaloblastik (29. Jumlah ini membutuhkan 1\10 dari seluruh besi dalam tubuh.dan sumsum tulang Selama masih mempunyai cukup persediaan besi. Penyebany adalah karena kekurangan . jectover. yaitu sebanyak berat besi. limfa. Anemia megaloblastik Anemia megaloblastik biasanya berbentuk makrositik tau pernisiosa.3%) Anemia jenis ini biasanya berbentuk normositik dan hipokromik serta paling banyak di jumpai.20mg. pengaruhnya terhadap hasil konsepsi adalah: • Keguguran • Kematian jann dalam kandungan • Kematian janin waktu lahir • Kematian perinatal tinggi • Prematuritas • Dapatterjadi cacat bawaan • Cadangan besi kurang Klasifikasi Anemia dalam kehamilan • Anemia defisiensi besi (62.

G. talasemia. Prognosis untuk ibu dan janin tidak begiti baik. dan dapat beserta obat-obatan . I. keracunan zat logam. sepsis.kelainan gambaran darah. anemia sickle ( sabit). Bahaya perdarahan paska persalinan cukup besar. II LEOKEMIA DAN KEHAMILAN Leokemia dan kehamilan tidak begitu saling mempengaruhi. membentuk sel-sel darah merah baru. Cara pengobatan adalah : . D. jarang sekali akibat karena kekurangan vitamin B12. leukemia. Anemia hemolitik Anemia hemolitik disebabkan oleh penghancuran atau pemecahan sel darah merah yang lebih cepat dari pembuatannya ini disebabkan oleh : • Faktor intracorpusculer : dijumpai pada anemia hemolitik heriditer . Terhadap hasil konsepsi dapat terjadi abortus dan prematuritas. dll Gejala utama adalah : Anemia dengan kelainan. hemoglobinopati C. H . harus memeriksakan diri secara lebih teratur dan lebih sering. karena ancaman terhadap kehamilan dan jiwanya tetap ada.asam folik. karena pada leukemia terjadi gangguan pembekuan darah. Sampai sat ini belum ada obat-obat yang memuaskan terhadap leukemia. Anemia hipoplastik Anemia hipoplastik disebabkan oleh hipofungsi sumsum tulang. • Faktor ekstrakorpuskuler: disebabkan malaria. namun pada wanita leukemia. dan parasismal nocturnal hemoglobinuria. kelemahan. kelelahan serta gejala komplikasi bila terjadi kelainan pada organ-organ vital. biasanya karena malnutrisi dan infeksi yang kronik Pengobatan: • asam folik 15-30mg per hari • vitamin B12 3×1 tablet per hari • sulvas ferosus 3×1 tablet per hari • pada kasus berat dan pengobatan per oral hasilnya lamban sehingga dapat di berikan tranfusi darah. bila hamil. untuk diagnosis diperlukan pemeriksaan-pemeriksaan: • Darah tepi lengkap • Pemeriksaan pungsi sternal • Pemeriksaan retikulosit dan lain-lain.

Disamping itu perawat juga melakukan umpan balik atau pengkajian ulang jika tujuan yangh ditetapkan belum tercapai dan proses keperawatan segera dimodifikasi. . Bila akan diberikan terapi radiasi dan kemoterapi. sebaiknya terlebih dulu hasil konsepsi dikeluarkan ( abortus terapeutik) • Transfusi darah • Kemoterapi dan sirtotastika • Anti metabilit • Kortikosteroid Pencegahan • Wanita leukemia sebaiknya jangan hamil • Dianjurkan memakai kontrasepsi / tubektomi HEMOSTATIS DAN KELAINAN PEMBEKUAN DARAH Penyakit ini adalah terhentinya atau penghentian aliran darah dari pembuluh darah yang terbuka atau terluka. Ada 3 faktor dalam proses hemostasis: 1. Faktor vaskuler yaitu dinding pembuluh darah 3. Tindakan keperawatan harus mendetail agar semua tenaga perawatan dapat menjalankan dengan baik dalam jangka waktu yang telah ditetapkan.• Radiasi : ini sangat membehayakan janin dalam kandungan. karena akan menimbulkan kelainan teratogenik atau kematian janin dalam kandungan. Faktor ekstra vaskuler : factor jaringan seperti kulit. Dalam pelaksanaan tindakan keperawatan. subkutis dan jaringan lain. Evaluasi Evaluasi dari proses keperawatan adalah menilai hasil yang diharapkan terhadap perubahan peilaku klien dan untuk mengetahui sejauh mana masalah klien teratasi. 2. perawat dapat langsung melaksanakannya pada klien dan perawat dapat mendelegasikannya kepada orang lain yang dipercayai dibawah pengawasan yang masih seprofesi dengan perawat. Faktor intra vaskuler yaitu : zat yang terdapat dalam pembuluh darah: Implementasi Setelah rencana tindakan keperawatan selanjutnya rencana tindakan tersebut diterapkan dalam situasi yang nyata untuk mencapai tujuan yang diterapkan. otot.

Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah yang berlebihan sehingga pekerjaan sehari-hari terganggu dan keadaan umum menjadi buruk . penyakit ini mungkin timbul pada triwulan ketiga kehamilan .com/nursing-only/keperawatan-maternitas/askep-pada-pasienperdarahan-antepartum/ . • Solutio plasenta. hyperemesis.wordpress. Kesimpulan Pre-eklamsi adalah penyakit dengan tanda hipertensi. tetapi dapat terjadi sebelumnya misalnya karea molahidatidosa. Gangguan hematology adalah kelainan darah yang dapat ditemui pada ibu hamil yang dapat menyebabkan kematiaqn pada janin maupun pada ibu.( Winknjosastro. Keempat factor diatas harus diwaspadai bila terjadi pada masa kehamilan dan perlu penanganan lebih dini . http://ainicahayamata.1. Penyebab utama perdarahan antepartum adalah: • Plasenta previa. 5. perdarahan antepartum . Sasaran Dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien pre-eklamsia.BAB VI PENUTUP 5. gangguan hematologi di perlukan pengkajian secara lengkap agar dapat menetapkan diagnosa keperawatan secara cepat dan tepat terhadap klien sehingga tercapainya peningkatan kesejahteraan ibu dan anak.2. 1997:282) Perdarahan antepartum (HAP) merupakan perdarahan dari traktus genitalis yang terjadi antara kehamilan mingggu ke -28 dan awal partus . edema dan proteinuria yang timbul karena kehamilan .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful