Asuhan keperawatan ketuban pecah dini

BAB I
TINJAUAN TEORITIS
1.1. Konsep Dasar
1.1.1. Definisi
KPD ( Ketuban Pecah Dini ) adalah pecah nya ketuban sebelum terdapat tanda persalinan mulai
dan di tunggu satu jam belum terjadi inpartu sebagian besar KPD adalah hamil aterm di atas 27 minggu,
sedangkan dibawah 36 minggu tidak terlalu banyak
( Ida Bagus, 2001 )
KPD ( Ketuban Pecah Dini ) adalah ketuban yang pecah spontan yang terjadi pada sembarang usia
kehamilan sebelum persalinan di mulai ( Mansjoer Arif, 2000 : 310 )
Ketuban pecah dini adalah pecahnya selaput ketuban secara spontan satu jam atau lebih sebelum
terjadi tanda-tanda persalinan. (Arief Mansjoer, 1999 : 310)

1.1.2. Anatomi Fisiologi
Volume air ketuban pada kehamilan cukup bulan adalah 1000 – 1500 cc
Ciri-ciri kimiawi :
Air ketuban berwarna putih kekeruhan, berbau khas amis, dan berasa manis, reaksinya agak
alkalis atau netral, berat jenis 1,008. Komposisinya terdiri atas 98 % air, sisanya albumin, urea, asam urik,
kreatinin, sel-sel epitel, rambut lanugo, verniks kaseosa dan garam anorganik. Kadar protein kira-kira 2,6 gr
% per liter terutama sebagai albumin.
Dijumpai lecitin spingomyelin dalam air ketuban amat berguna untuk mengetahui apakah janin
sudah mempunyai paru-paru yang matang. Sebab peningkatan kadar lecitin pertanda bahwa permukaan
paru-paru diliputi zat surfaktan. Ini merupakan syarat bagi paru-paru untuk berkembang dan bernapas. Bila
persalinan berjalan lama atau ada gawat janin atau pada letak sungsang akan kita jumpai warna ketuban
keruh kehijau-hijauan, karena telah bercampur dengan mekonium.



 Fungsi Air Ketuban
1. Untuk proteksi janin.
2. Untuk mencegah perlengketan janin dengan amnion.
3. Agar janin dapat bergerak dengan bebas.
4. Regulasi terhadap panas dan perubahan suhu.
5. Mungkin untuk menambah suplai cairan janin
6. Meratakan tekanan intra – uterin dan membersihkan jalan lahir bila ketuban pecah.
7. Peredaran air ketuban dengan darah cukup lancar dan perputarannya cepat, kira-kira 350-500 cc.
 Asal Air Ketuban
1. Kencing janin (fetal urin)
2. Transudasi dari darah ibu
3. Sekresi dari epitel amnion
4. Asal campuran (mixed origin)
( Ida Bagus, 2001 )
1.1.3. Etiologi
Penyebab ketuban pecah dini (KPD) mempunyai dimensi multifaktorial yang dapat dijabarkan
sebagai berikut :
1.1.3.1. Serviks inkopeten
1.1.3.2. Ketegangan rahim berlebihan; kehamilan ganda, hidramnion
1.1.3.3. Kelainan letak janin dalam rahim, letak sunsang, letang lintang
1.1.3.4. Kemungkinan kesempitan panggul : perut gantung, bagian terendah belum masuk PAP, sepalopelvik
disproforsi
1.1.3.5. Kelainan bawaan dari selaput ketuban
1.1.3.6. Infeksi yang menyebabkan terjadi proses biomekanik pada selaput ketuban dalam bentuk proteolitik
sehingga menyebabkan ketuban pecah.
( Arif Monsjoer, dkk, 2001 : 310 )
1.1.4. Manifestasi Klinik
1.1.4.1. keluar ketuban warna putih, keruh, jernih, kuning, hijau / kecoklatan sedikit / banyak
1.1.4.2. dapat di sertai demam bila sudah ada infeksi
1.1.4.3. janin mudah teraba
1.1.4.4. pada periksa dalam selaput ketuban tidak ada , air ketuban sudah kering
1.1.4.5. inspeksikula, tampak air ketuban mengalir / selaput ketuban tidak ada dan air ketuban
ketuban sudah kering ( Arief Mansjoer, dkk,2001 : 310 )
1.1.5. Patofisiologi
Kantong amnion yang utuh berfungsi sebagai suatu mekanik terhadap. infeksi tetapi selain itu
cairan amnion mempunyai beberapa sifat bakteri ostatik yang dapat memainkan peran dalam pencegahan
kario amnionitis dan infeksi janin. Membran yang utuh bukan merupakan sawar mutlak terhadap infeksi
karena kolonisasibakteri terjadi 10% pasien dalam persalinan cukup bulan, dengan membrane yang utuh
sampai 25% pasien dalam persalinan kurang bulan. Janin kurang bulan dengan ketuban pecah dini, resiko
infeksi dan sepsis yang keberadaannya di dalam rahim ahkan dapat menjadi problematik, bagi ibu
resikonya bukan saja terjadi kariomnitis tetapi juga bisa terjadi kegagalan induksi, maka harus dilakukan
operasi section caesaria.






1.1.6. Komplikasi
1.1.6.1. infeksi
Infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban maupun asenden dari vagina atau infeksi
pada cairan ketuban bisa menyebabkan terjadinya KPD.
1.1.6.2. partus peterm
Persalinan preterm atau partus prematur adalah persalinan yang terjadi pada kehamilan kurang dari
37 minggu ( antara 20 – 37 minggu ) atau dengan berat janin kurang dari 2500 gram ( Manuaba, 1998 :
221)
1.1.6.3. prolap Tali pusat
Tali pusat menumbung
1.1.6.4. distasia ( partus Kering)
Pengeluaran cairan ketuban untuk waktu yang akan lama akan menyebabkan dry labour atau
persalinan kering
1.1.7. Pemeriksaan Penunjang
1.1.6.1. Pemeriksaan Leukosid darah > 15000 / ul bila terjadi infeksi
1.1.6.2. test lakmus merah berubah menjadi biru
1.1.6.3. amnio sentetis
1.1.6.4. USG ( menentukan usia kehamilan , indeks cairan amnion berkurang ) ( Arief Monsjoer, dkk, 2001 :
313 )
1.1.8. Penatalaksanaan
1.1.8.1. Keperawatan
a. Rawat rumah sakit dengan tirah baring.
b. Tidak ada tanda-tanda infeksi dan gawat janin.
c. Umur kehamilan kurang 37 minggu.
d. Antibiotik profilaksis dengan amoksisilin 3 x 500 mg selama 5 hari.
e. Memberikan tokolitik bila ada kontraksi uterus dan memberikan kortikosteroid untuk mematangkan fungsi
paru janin.
f. Jangan melakukan periksan dalam vagina kecuali ada tanda-tanda persalinan.
g. Melakukan terminasi kehamilan bila ada tanda-tanda infeksi atau gawat janin.
h. Bila dalam 3 x 24 jam tidak ada pelepasan air dan tidak ada kontraksi uterus maka lakukan mobilisasi
bertahap. Apabila pelepasan air berlangsung terus, lakukan terminasi kehamilan.
1.1.8.2. Medis
a. Bila didapatkan infeksi berat maka berikan antibiotik dosis tinggi. Bila ditemukan tanda-tanda inpartu,
infeksi dan gawat janin maka lakukan terminasi kehamilan.
b. Induksi atau akselerasi persalinan.
c. Lakukan seksiosesaria bila induksi atau akselerasi persalinan mengalami kegagalan.
d. Lakukan seksio histerektomi bila tanda-tanda infeksi uterus berat ditemukan.
ASUHAN KEPERAWATAN
1.2.1. pengkajian
1.2.1.1. Biodata klien
Biodata klien berisi tentang : Nama, Umur, Pendidikan, Pekerjaan, Suku, Agama, Alamat, No.
Medical Record, Nama Suami, Umur, Pendidikan, Pekerjaan , Suku, Agama, Alamat, Tanggal Pengkajian.
1.2.1.2. Keluhan utama :
keluar cairan warna putih, keruh, jernih, kuning, hijau / kecoklatan sedikit / banyak, pada periksa
dalam selaput ketuban tidak ada, air ketuban sudah kering, inspeksikula tampak air ketuban mengalir /
selaput ketuban tidak ada dan air ketuban sudahkering
1.2.1.3. Riwayat haid
Umur menarchi pertama kali, lama haid, jumlah darah yang keluar, konsistensi, siklus haid, hari
pertama haid dan terakhir, perkiraan tanggal partus
1.2.1.4.Riwayat Perkawinan
Kehamilan ini merupakan hasil pernikahan ke berapa? Apakah perkawinan sah atau tidak, atau tidak
direstui dengan orang tua ?

1.2.1.5. Riwayat Obstetris
Berapa kali dilakukan pemeriksaan ANC, hasil laboraturium : USG , darah, urine, keluhan selama
kehamilan termasuk situasi emosional dan impresi, upaya mengatasi keluhan, tindakan dan pengobatan
yang diperoleh
1.2.1.6.Riwayat penyakit dahulu
Penyakit yang pernah di diderita pada masa lalu, bagaimana cara pengobatan yang dijalani nya,
dimana mendapat pertolongan, apakah penyakit tersebut diderita sampai saat ini atau kambuh berulang –
ulang
1.2.1.7. Riwayat kesehatan keluarga
Adakah anggota keluarga yang menderita penyakit yang diturunkan secara genetic seperti panggul
sempit, apakah keluarga ada yg menderita penyakit menular, kelainan congenital atau gangguan kejiwaan
yang pernah di derita oleh keluarga
1.2.1.8. Kebiasaan sehari –hari
a. Pola nutrisi : pada umum nya klien dengan KPD mengalami penurunan nafsu makan, frekuensi minum klien juga
mengalami penurunan
b. Pola istirahat dan tidur : klien dengan KPD mengalami nyeri pada daerah pinggang sehingga pola tidur klien
menjadi terganggu, apakah mudah terganggu dengan suara-suara, posisi saat tidur (penekanan pada
perineum)
c. Pola eliminasi : Apakah terjadi diuresis, setelah melahirkan, adakah inkontinensia (hilangnya infolunter
pengeluaran urin),hilangnya kontrol blas, terjadi over distensi blass atau tidak atau retensi urine karena
rasa takut luka episiotomi, apakah perlu bantuan saat BAK. Pola BAB, freguensi, konsistensi,rasa takut
BAB karena luka perineum, kebiasaan penggunaan toilet.
d. Personal Hygiene : Pola mandi, kebersihan mulut dan gigi, penggunaan pembalut dan kebersihan genitalia,
pola berpakaian, tata rias rambut dan wajah
e. Aktifitas : Kemampuan mobilisasi klien dibatasi, karena klien dengan KPD di anjurkan untuk bedresh total
f. Rekreasi dan hiburan : Situasi atau tempat yang menyenangkan, kegiatan yang membuat fresh dan relaks.
1.2.1.9. pemeriksaan fisik
a. Pemeriksaan kesadaran klie, BB / TB, tekanan darah, nadi, pernafasan dan suhu
b. Head To Toe
· Rambut : warna rambut, jenis rambut, bau nya, apakah ada luka lesi / lecet
· Mata : sklera nya apakah ihterik / tdk, konjungtiva anemis / tidak, apakah palpebra oedema /
tidak,bagaimana fungsi penglihatan nya baik / tidak, apakah klien menggunakan alat bantu penglihatan /
tidak. Pada umu nya ibu hamil konjungtiva anemis
· Telinga : apakah simetris kiri dan kanan, apakah ada terdapat serumen / tidak, apakah klien menggunakan
alt bantu pendengaran / tidak, bagaimana fungsi pendengaran klien baik / tidak
· Hidung : apakah klien bernafas dengan cuping hidung / tidak, apakah terdapat serumen / tidak, apakah
fungsi penciuman klien baik / tidak
· Mulut dan gigi : bagaimana keadaan mukosa bibir klien, apakah lembab atau kering, keadaan gigi dan
gusi apakah ada peradangan dan pendarahan, apakah ada karies gigi / tidak, keadaan lidah klien bersih /
tidak, apakah keadaan mulut klien berbau / tidak. Pada ibu hamil pada umum nya berkaries gigi, hal itu
disebabkan karena ibu hamil mengalami penurunan kalsium
· Leher : apakah klien mengalami pembengkakan tyroid
· Paru – paru
I : warna kulit, apakah pengembangan dada nya simetris kiri dan kanan, apakah ada terdapat luka memar
/ lecet, frekuensi pernafasan nya
P : apakah ada teraba massa / tidak , apakah ada teraba pembengkakan / tidak, getaran dinding dada
apakah simetris / tidak antara kiri dan kanan
P : bunyi Paru
A : suara nafas
· Jantung
I : warna kulit, apakah ada luka lesi / lecet, ictus cordis apakah terlihat / tidak
P : frekuensi jantung berapa, apakah teraba ictus cordis pada ICS% Midclavikula
P : bunyi jantung
A : apakah ada suara tambahan / tidak pada jantung klien
· Abdomen
I : keadaan perut, warna nya, apakah ada / tidak luka lesi dan lecet
P : tinggi fundus klien, letak bayi, persentase kepala apakah sudah masuk PAP / belum
P : bunyi abdomen
A : bising usu klien, DJJ janin apakah masih terdengar / tidak
· Payudara : puting susu klien apakah menonjol / tidak,warna aerola, kondisi mamae, kondisi ASI klien,
apakah sudah mengeluarkan ASI /belum
· Ekstremitas
Atas : warna kulit, apakah ada luka lesi / memar, apakah ada oedema / tidak
Bawah : apakah ada luka memar / tidak , apakah oedema / tidak
· Genitalia : apakah ada varises atau tidak, apakah ada oedema / tidak pada daerah genitalia klien
· Intergumen : warna kulit, keadaan kulit, dan turgor kulit baik / tidak
1.2.2. Diagnosa Keperawatan
1.2.2.1. resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif, pecah ketuban, kerusakan kulit, penurunan
hemoglobin, pemajanan pada patogen
1.2.2.2. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan terjadi nya ketegangan otot rahim
1.2.2.3. Ansietas berhubungan dengan kurang nya pengetahuan atau konfirmasi tentang penyakit
1.2.2.4. Gangguan kebutuhan istirahat tidur berhubungan dengan adanya nyeri, peningkatan HIS
1.2.2.5.Intoleransi aktifitas b.d. kelemahan fisik
(Dangoes:2000)
1.2.3. Intevensi
No Diagn
osa
keper
awata
n
Tujua
n dan
kriteri
a
hasil
Inerv
ensi
Rasi
onal
1

Resik
o
infeks
i
berhu
bung
an
deng
an
prose
dur
invasi
f,
pecah
ketub
an,
kerus
Tujua
n :
-
infek
si
tidak
terjad
i
pada
ibu
kriteri
a
hasil
-
penc
apaia
n
-
Tinja
u
ulang
kondi
si/fak
tor
risiko
yang
ada
sebel
umny
a.
Catat
wakt
u
peca
-
Kon
disi
dasa
r ibu,
sepe
rti
diab
etes
atau
hem
oragi
,
meni
mbul
kan
pote
akan
kulit,
penur
unan
hemo
globin
,
pemaj
anan
pada
patog
en

tepat
wakt
u
pada
pemu
lihan
luka
tanpa
komp
likasi
h
ketub
an.
- Kaji
terha
dap
tanda
dan
gejal
a
infek
si
(misa
lnya:
penin
gkata
n
suhu,
nadi,
jumla
h sel
dara
h
nsial
resik
o
infek
si
atau
peny
emb
uhan
luka
yang
buru
k.
Resi
ko
korio
amni
oniti
s
meni
ngka
t
deng
putih,
atau
bau/
warn
a
rabas
vagin
a).
-
Berik
an
pera
wata
n
perin
eal
sedik
itnya
setia
p 4
jam
bila
ketub
an
berja
lann
ya
wakt
u,
sehi
ngga
meni
ngka
tkan
resik
o
infek
si
ibu
dan
janin
.
-
Peca
h
ketu
an
telah
peca
h
ban
terja
di
24ja
m
sebe
lum
pem
beda
han
dapa
t
men
yeba
bkan
amni
oniti
s
sebe
lum
inter
vens
i
beda
h
dan
dapa
t
men
guba
h
peny
emb
uhan
luka.
-
Untu
k
men
cega
h
agar
tidak
terja
di
infek
si


2










3









Gang
guan
rasa
nyam
an :
nyeri
berhu
bung
an
deng
an
terjadi
nya
keteg
anga
n otot
rahim



Tujua
n :
- rasa
nyeri
berku
rang
Kriter
ia
hasil
:
- klien
tamp
ak
tenan
g
- klien
tamp
ak
nyam
an
-
monit
or
tanda

tanda
vital :
TD,
pern
afasa
n,
nadi
dan
suhu
-
ajrak
an
klien
tekni
k
-
nyeri
dapa
t
men
gaki
batk
an
peni
ngka
tan
freku
esni
pern
afas
an
dan
nadi
-
untu









4












5




Ansie
tas
berhu
bung
an
deng
an
kuran
g nya
peng
etahu
an
atau
konfir
masi
tenta
ng
penya
kit






Tujua
n :
- klien
peng
etahu
an
klien
berta
mbah
setel
ah
diberi
kan
infor
masi
meng
enai
peny
akit
relak
sasi
- atur
posis
i
klien
-
berik
an
lingk
unga
n
yang
nyam
an
dan
batas
i
peng
unjun
g

-
k
men
gura
ngi
rasa
nyeri
yang
diras
akan
klien
-
untu
k
mem
berik
an
keny
ama
nan
pada
klien
- agar
klien










Gang
guan
kebut
uhan
istirah
at
tidur
berhu
bung
an
deng
an
adany
nya
kriteri
a
hasil
:
- klien
tidak
resah
lagi
deng
an
peya
kit
nya
-
menu
njukk
an
pema
hama
n
akan
prose
tinjau
prose
s
peny
akit
dan
hara
pan
masa
depa
n
-
doro
ng
perio
de
istira
hat
yang
adek
uat
deng
an
dapa
t
beris
tirah
at


-
mem
berik
an
peng
etah
uan
dasa
r
dima
na
klien
dapa
t
mem
buat
a
nyeri ,
penin
gkata
n HIS






Intole
ransi
aktifit
as
b.d.
kelem
ahan
fisik

s
peny
akit
dan
progn
osis




tujua
n :
-
kebut
uhan
istira
hat
tidur
klien
terpe
nuhi
Kriter
ia
aktifit
as
terjad
wal
-
berik
an
pelay
anan
kese
hatan
meng
enai
peny
akit
nya
-
jelas
kan
kepa
da
klien
apa
pilih
an
- agar
klien
tidak
mera
sa
jenu
h
dan
mem
perc
epat
pros
es
peny
emb
uhan
- agar
klien
men
gerti
deng
hasil
:
- klien
dapat
tidur
deng
an
tenan
g dan
tidak
gelis
ah
- klien
menu
njukk
an
pola
tidur
yang
adek
uat

Tujua
yg
terjad
i,
berik
an
kese
mpat
an
untuk
berta
nya
dan
berik
an
jawa
ban
yang
terbu
ka
dan
jujur

-
an
baha
ya
nya
infek
si
dan
peny
akit
nya
-
men
unju
kkan
realit
as
situa
si
yang
dapa
t
mem
bant
n:
-
aktivit
as
kemb
ali
sesu
ai
kema
mpua
n
pasie
n.
Kriter
ia
hasil:
-
pasie
n
bisa
berak
tivitas
seper
lakuk
an
peng
kajia
n
terha
dap
gang
guan
kebut
uhan
tidur
-
motiv
asi
klien
agar
meng
alihk
an
perh
atian
-
u
klien
atau
oran
g
terde
kat
men
erim
a
realit
as
dan
mula
i
men
erim
a
apa
yang
terja
di

ti
biasa
.
monit
or
kebut
uhan
tidur
-
cipta
kan
suas
ana
nyam
an


-
Bant
u
pasie
n
dala
m
mem
enuhi



- agar
dapa
t
mem
berik
an
gam
bara
n
sam
pai
seja
uh
man
a
kebu
tuha
n
tidur
terga
kebut
uhan
sehar
i-hari
semi
nimal
mung
kin.
- Beri
posis
i
nyam
an.
-
Anjur
kan
meng
hema
t
ener
gy
hinda
ri
nggu
-
deng
an
men
galih
kan
perh
atian
,
mak
a
perh
atian
klien
tidak
hany
a
tertuj
u
pada
rasa
nyeri
kegia
tan
yang
melel
ahka
n.
-
Jelas
kan
penti
ngny
a
mobil
isasi
diri.
sehi
ngga
mem
bant
u
relak
sasi
pada
klien
sew
aktu
tidur
-
untu
k
men
geta
hui
apak
ah
kebu
tuha
n
tidur
klien
terpe
nuhi
sepe
rti
bias
a
atau
belu
m
-
suas
ana
yang
tena
ng
dapa
t
mem
bant
u
relak
sasi
sehi
ngga
nyeri
berk
uran
g
dan
klien
bisa
tidur
- agar
kebu
tuha
n
seha
ri –
hari
klien
dapa
t
terpe
nuhi
sepe
rti
bias
a
nya
- agar
klien
mera
sa
nya
man
dan
tena
ng
-
kelel
ahan
dapa
t
men
yeba
bkan
lama
nya
pros
es
peny
emb
uhan
klien
,,jadi
deng
an
men
ghin
dari
kegi
atan
yang
mele
lahk
an
dapa
t
mem
bant
u
pros
es
peny
emb
uhan
-
pros
es
peny
emb
uhan
1.2.4. Implementasi
Setelah rencana keperawatan di susun, maka rencana tersebut diharapkan dalam tindakan nyata
untuk mencapai tujuan yang diharapkan, tindakan tersebut harus terperinci sehingga dapat diharapkan
tenaga pelaksanaan keperawatan dengan baik dan sesuai dengan waktu yang ditentukan
Implementasi ini juga dilakukan oleh si pembuat rencana keperawatan dan di dalam pelaksanaan
keperawatan itu kita harus menjunjung tinggi harkat dan martabat sebagai manusia yang unik
1.2.5. Evaluasi
Evaluasi adalah hasil akhir dari proses keperawatan dilakukan untuk mengetahui sampai dimana
keberhasilan tindakan yang diberikan sehingga dapat menentukan intervensi yang akan dilanjutkan



BAB II
TINJAUAN KASUS
2.1. Pengkajian
Tanggal pengkajian : 16 agustus 2010
2.1.1. Identitas klien
Nama : Ny.I
Umur : 20 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Status : Sudah menikah
Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Pendidikan : SMA
Alamat : situmbuak / Tilatang kamang
No.MR : 249226
Ruang Rawat : ruang Rawat Inap kebidanan RSUD Dr.Achmad
Muchtar Bukittinggi
Tgl masuk : 14 agustus 2010

Penanggung jawab
Nama : Tn.H
Umur : 25 tahun
Hub. Dg keluarga : suami
Pekerjaan : wiraswasta

2.1.2. Alasan masuk
Klien masuk IGD pada hari sabtu pukul 00.30 WIB, dengan keluhan keluar cairan
ketuban dari pervaginaan berwarna jernih dan tidak berbau
2.1.3. Riwayat kesehatan
2.1.3.1. Riwayat kesehatan sekarang
Klien mengatakan keluar cairan ketuban dari pervaginaan sejak malam, klien mengatakan cairan
ketuban yang keluar pervaginaan berwarna jernih dan tidak berbau,frekuensi ganti duk klien sebanyak 5x
sehari, klien mengatakan perut terasa sakit dari pinggang sampai ke ari – ari,nyeri yang dirasakan klien
nyeri sedang dengan skala nyeri 6,klien mengatakan susah tidur karena nyeri yang dirasakan,frekuensi
tidur klien hanya 7 jam sehari,klien mengatakan nafsu makan berkurang sejak beberapa hari yg lalu ,klien
mengatakan berat badan nya menurun,BB sehat 68 Kg BB sakit 64 Kg,klien sudah 2 hari tidak ada Buang
air besar, klien mengatakan cemas dan tidak mengetahui tentang penyakit yang di derita nya saat ini, klien
tampak meringis dan sering memegang perut nya, porsi makan yang dihabiskan klien hanya ½ porsi,klien
mengatakan selama dirumah sakit klien hanya beraktifitas di tempat tidur, aktifitas klien di rumah sakit
hanya di tempat tidur, DJJ bayi 135 x/i, HB 10,4 gr %, therapi yang diberikan ceftriaxon 2 x 1 gr dan
dexametason 2 x 1 amp

2.1.3.2. Riwayat Kesehatan dahulu
Klien sebelum nya tidak pernah mengalami penyakit yang di derita nya sekarang, klien juga tidak
ada penyakit jantung, DM, hipertensi

2.1.3.3. Riwayat kesehatan keluarga
Keluarga klien tidak ada memiliki penyakit keturunan, menular dan kejiwaan
2.1.3.4. Riwayat menstruasi
Menarche : 13 tahun
Siklus haid : teratur ( 1x/ bulan )
Lama haid : 5 – 8 hari
Ganti Duk : 2 – 3x / hari
Keluhan pd saat haid : nyeri pd saat haid
2.1.3.5. Riwayat Kehamilan
HPHT : 18 Desember 2009
TP : 25 September 2010
Kehamilan : G
1
P
0
A
0
H
0
( Gravid 1, partus belum ada, abortus tidak ada, hidup belum ada )
2.1.4. Pemeriksaan Fisik
2.1.4.1. Kesadaran : Compos Metis
2.1.4.2. BB / TB : 64 kg / 159 cm
2.1.4.3. Tanda – Tanda vital
TD : 110 / 80 mmhg P : 24x /i
N : 88x / i S : 36,2 º C
2.1.4.4. Head To Toe
a. Rambut : berwarna coklat, lurus, bersih, tidak berbau,tidak terdapat lesi
b. Mata : sklera tidak ihterik, konjungtiva anemis,pupil sama besar ka / ki, palpebra
tidak ada oedema, fungsi penglihatan baik,tidak menggunakan alat bantu
penglihatan,bereaksi terhadap cahaya
c. Telinga : simetris ka / ki , tidak terdapat serumen,tidak
menggunakan alat bantu pendengaran, fungsi pendengaran baik
d. Hidung : bernafas tidak menggunakan cuping hidung,tidak terdapat
serumen ,fungsi penciuman baik
e. Mulut dan Gigi : mukosa bibir lembab, keadaaan gigi dan gusi tidak ada peradangan
dan pendarahan, ada karies gigi, lidah bersih, keadaan mulut tidak berbau
f. leher : tidak terjadi pembengkakan tyroid
g. Paru – Paru :
I : warna kulit putih, pengembangan dada simetris ka / ki, tidak ada lesi / memar , bernafas tidak
menggunakan otot bantu pernafasan, frekuensi pernafasan 24x / i
P : tidak ada teraba massa, idak teraba pembengkakan, getaran dinding dada terasa simetris ka/ki
P : bunyi paru – paru resonan
A : suara nafas terdengar vesikuler
h. Jantung :
I : warna kulit dada putih,tidak ada lesi atau luka lecet, ictus cordis tidak terlihat
P : terasa ictus cordis teraba pada ICS5 midclavikula dan batas jantung teraba,frekuensi jantung 88x/i
P : bunyi jantung redup
A : tidak terdapat bunyi tambahan
I. Payudara : puting susu menonjong, aerola menghitam, mamae tidak
terlalu tegang
J. Abdomen
I : perut terlihat membuncit, kulit bersih, tidak ada luka lesi
P : fundus 3 jari di bawah px, letak bayi Puka, persentas kepala
P : timpany
A : bising usus ( + ), DJJ : 135x / i
L. Ekstremitas :
Atas : kulit berwana putih, terdapat luka bekas suntikan, tidak ada oedema
Bawah : tidak ada kelainan, tidak terdapat memar / luka lecet, tidak ada oedema
M. Genitalia : vagina keluar cairan berwarna jernih tapi tidak berbau, tidak
terdapat varises dan tidak ada oedema
N. Integumen : turgor kulit baik, kulit lembab tidak kering
2.1.5. Data Biologis
No Aktifit
as
Di
rumah
Di Rumah
sakit
1 Nutris
i
Maka
n
-
menu
- porsi
-
maka
nan
kesuk
aan
-
panta
ngan
minu
m

2x /
hari
Makan
an
biasa
1 porsi
Mie
goreng
Tidak
ada
pantan
gan

8
gelas /
hari

2x / hari
Makanan
lunak
½ porsi
Tidak ada
Tidak ada

5 gelas / hari
Tidak ada
Tidak ada
-
jumla
h
-
minu
man
kesuk
aan
-
panta
ngan
Jus
mangg
a
Tidak
ada
pantan
gan
2 Elimi
nasi
BAB
-
freku
ensi
-
warn
a
- bau
-
konsi


2x /
hari
Kuning
Khas
Padat
Tidak
ada
kesulit
an
BAB


Selama
masuk RS
klien belum
ada BAB ( 2
hari )




4x /hari
stensi
-
kesuli
tan
BAK
-
freku
ensi
-
warn
a
- bau
-
konsi
stensi
-
kesuli
tan




4x /
hari
Jernih
Khas
Cair
Tidak
ada
kesulit
an
BAK
Agak
kekuningan
karena
pengaruh obat
dan kurang
minum
Berbau obat
Cair
Tidak ada
kesulitan BAK
3 Istira
hat

Siang (

Siang
dan
tidur
-
waktu
tidur
- lama
tidur
-
kesuli
tan
tidur

-
),mala
m (
09.00 )
Siang (
-
),mala
m ( 10
jam )
Tidak
ada
kesulit
an
tidur
(11.00),malam
,(20.00)
Siang (2
jam),malam (7
jam)
Terasa nyeri
pada bagian
pinggang,
nyeri yg
dirasakan
hilang timbul
4






5
Perso
nal
Hygie
ne
-
mand
i
- cuci
ramb

2x/hari
1x/2
hari
3x/hari
Apabil
a
sudah
panjan

2x/hari
Belum ada
cuci rambut
3x/hari
Klien belum
ada potong
kuku
Klien hanya
ut
-
goso
k gigi
-
poton
g
kuku
aktifit
as
g saja
Klien
dapat
berakti
fitas
seperti
dapat
melak
ukan
pekerj
aan
rumah
beraktifitas di
tempat tidur,
dan aktifitas
dibantu oleh
suami nya

2.1.6. Riwayat Alergi
Klien tidak memiliki alergi ( baik alergi makanan maupun alergy obat – obatan
2.1.7. Riwayat psikologis
Klien mengatakan cemas dan tidak mengetahui tentang penyakit yang di alami nya saat ini. Klien dan suami
klien sering bertanya kepada perawat tentang penyakit nya
2.1.7. Riwayat Spritual
Selama di Rumah Sakit klien ada melakukan sholat 5 waktu
2.1.8. Riwayat Sosial Ekonomi
Suami klien bekerja sebagai wiraswasta, klien mengatakan gaji suami nya cukup untuk memenuhi
kebutuhan sehari – hari
2.1.9. Data Penunjang

2.1.10. Data Pengobatan
( 15 agustus
2010 )
Ceftriaxon
2 x 1 gr ( jam 09.00 – 21.00 )
Dexametason 2 x 1 amp ( jam 09.00 – 21.00 )
Amoxilin 3 x 1 (500 gr)
Vit C 3 x 1 (100 gr)

2.1.11. Data Fokus
2.1.11.1. Data Subjektif
a. Klien mengatakan keluar cairan ketuban dari pervaginaan sejak malam
b. klien mengatakan cairan ketuban yang keluar pervaginaan berwarna jernih dan tidak berbau
c. klien mengatakan perut terasa sakit dari pinggang sampai ke ari – ari
d. klien mengatakan susah tidur karena nyeri yang dirasakan
e. klien mengatakan cemas dan tidak mengetahui tentang penyakit yang di derita nya saat ini
f. klien mengatakan nafsu makan berkurang sejak beberapa hari yang lalu
g. klien mengatakan berat badan nya menurun
h. klien mengatakan sudah 2 hari tidak buang air besar
i. klien mengatakan selama di rumah sakit klien hanya beraktifitas ditempat tidur
2.1.11.2. Data Objektif
a. klien tampak lemah
Tgl Pemeriksaan Hasil Normal Kesan
15 agustus
2010
Hemoglobin
Leukosit
Trombosit
10,4 gr %
9100 / ul
204.000
13 – 16 gr %
5000 – 10000 / ul
15000 – 40000
Rendah
Normal
Normal
b. klien tampak cemas
c. porsi yang dihabiskan klien hanya ½ porsi
d. BB sehat 68 Kg, BB sakit 64 Kg
e. cairan yang keluar dari vagina berwarna jernih dan tidak berbau
f. frekuensi ganti duk klien sebanyak 5x dalam sehari
g. nyeri yang dirasakan klien nyeri sedang dengan skala nyeri 6
h. frekuensi tidur klien hanya 7 jam sehari
i. aktifitas klien di rumah sakit hanya di tempat tidur
j. therapi yg diberikan ceftriaxon 2 x 1 gr dan dexametason 2 x 1 amp
k. DJJ bayi 135 x / i
l. HB klien 10,4 gr %
m. klien sering bertanya tentang penyakit nya
n. TTV
TD : 110 /80 mmhg P : 24x/i
N : 88x/i S : 36,2º C
2.1.12. Analisa Data
No Data Etiology Problem
1 DS :
- klien
meng
ataka
n
keluar
cairan
ketub
an
dari
perva
ginaa
n
sejak
mala
m
- klien
meng
ataka
n
cairan
ketub
an
Ketuban
Pecah
Dini
Resiko
Infeksi
yang
keluar
perva
ginaa
n
berwa
rna
jernih
dan
tidak
berba
u
DO :
-
cairan
ketub
an
yang
keluar
dari
vagina
berwa
rna
jernih
dan
tidak
berba
u
-
frekue
nsi
ganti
duk
klien
seban
yak
5x
dalam
sehari
-
Thera
pi yg
diberik
an
ceftria
xn 2 x
1 gr
dan
dexa
metas
on 2 x
1 amp
2 DS :
- klien
meng
ataka
n
perut
terasa
sakit
dari
pingg
ang
samp
ai ke
ari –
ari
Ketegan
gan otot
rahim
Ganggu
an rasa
nyaman
: nyeri
- klien
meng
ataka
n
selam
a
dirum
ah
sakit
klien
berakt
ifitas
ditem
pat
tidur
DO :
- klien
tampa
k
merin
gis
dan
meme
gangi
perut
nya
- nyeri
yang
dirasa
kan
klien
nyeri
sedan
g
denga
n
skala
nyeri
6
-
aktifita
s klien
dirum
ah
sakit
ditem
pat
tidur
3












4








DS :
- klien
meng
ataka
n
cemas
terhad
ap
penya
kit
yang
di
derita
nya
- klien
meng
ataka
n tidak
meng
etahui
ttg
Kurang
nya
pengeta
huan
klien
tentang
penyakit
KPD








Peningk
atan HIS



Ansieta
s










Ganggu
an pola
istirahat
: tidur









5
penya
kit
yang
di
alami
nya
DO :
- klien
tampa
k
cemas
- klien
sering
bertan
ya
tentan
g
penya
kit nya
DS :
- klien
meng
ataka







Intake
yang
tidak
adekuat




Ganggu
an
pemenu
han
kebutuh
an
nutrisi
n
susah
tidur
karen
a
nyeri
yang
dirasa
kan
- klien
meng
ataka
n
frekue
nsi
tidur
hanya
7 jam
dalam
sehari
DO :
-
frekue
nsi
tidur
klien
hanya
7 jam
sehari
- klien
tampa
k
lemah

DS :
- klien
meng
ataka
n
kuran
g
nafsu
maka
n
sejak
beber
apa
hari
yang
lalu
- klien
meng
ataka
n
berat
badan
nya
menur
un
DO :
- porsi
maka
nan
yang
dihabi
skan
klien
½
porsi
- BB
sehat
68 Kg,
BB
sakit
64 Kg
- HB
klien
10,4
gr %


2.2. Diagnosa Keperawatan
2.2.1. Resiko Infeksi berhubungan dengan Ketuban Pecah Dini
2.2.2. Gangguan Rasa Nyaman:Nyeri berhubungan dengan ketegangan otot rahim
2.2.3. Ansietas berhubungan dengan kurang nya pengetahuan klien tentang penyakit KPD
2.2.4. Gangguan Pola istirahat Tidur berhubungan dengan Peningkatan HIS
2.2.5. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan intake yang tidak ade kuat

2.3. Intervensi
No Diagnosa keperawatan Tujuan dan kriteria hasil Intervensi Rasional
1` Resiko Infeksi b /d
Ketuban pecah dini
DS :
- klien mengatakan keluar
cairan dari pervaginaan
- klien mengatakan cairan
ketuban yang keluar
pervaginaan berwarna
jernih dan tidak berbau
DO :
- cairan yang keluar
berwarna jernih dan tidak
berbau
- frekuensi ganti duk klien
sebanyak 5x dalam sehari

Tujuan
- infeksi tidak terjadi
kriteria hasil
- tidak ada keluar lagi cairan dari
pervaginaan
- DJJ janin normal
- Leukosit klien kembali normal
- Suhu 36 – 37 °

- bina hubungan saling percaya melalui
komunikasi therapeutik
- pantau keadaan umum klien
- berikan lingkungan yang nyaman untuk klien
- berikan obat sesuai order dokter
- untuk memudahkan perawat
melakukan tindakan
- untuk melihat perkembangan
kesehatan klien
- agar istirahat klien terpenuhi
- proses penyembuhan klien
2 Gangguan rasa nyaman :
nyeri b / d ketegangan
otot rahim
DS :
- klien mengatakan perut
Tujuan
- nyeri ( - )
Kriteria hasil
- klien tampak tenang / rileks
- klien mengatakan rasa nyeri
- monitor TTV klien
- kaji skala nyeri ( 1 – 10 )
- ajarkan klien teknik relaksasi
- atur posisi klien
- berikan lingkungan yang nyaman dan batasi
- untuk mengetahui perkembangan
umum klien
- untuk mengetahui derajat nyeri
klien dan menentukan tindakan
yang akan dilakukan
terasa sakit dari pinggang
ke ari –ari
DO :
- klien tampak meringis
- klien tampak memegangi
perut nya
- nyeri yang dirasakan klien
nyeri sedang dengan skala
nyeri 6
pada perut klien berkurang
- TTV kembali normal
TD : 120 / 80 mmhg
N : 60 – 120 x/i
P :24 x /i
S :36 -37 °
pengunjung - untuk mengurangi nyeri yang
dirasakan oleh klien
- untuk memberikan kenyaman klien
- untuk mengurangi tingkat stres
klien, dan klien bisa beristirahat
3













Ansietas b / d kurang nya
pengetahuan klien
tentang penyakit KPD
DS :
- klien mengatakan cemas
terhadap
- penyakit nya
- klien mengatakan tidak
mengetahui tentang
penyakit yang di derita nya
DO :
- klien tampak cemas
- klien sering bertanya
tentang penyakit nya
Tujuan
- ansietas ( - )
Kriteria hasil
- klien sudah mengerti tentang
penyakit dan perawatan KPD
- klien tidak cemas lagi








- tinjau proses penyakit dan harapan masa
depan
- dorong klien untuk istirahat total
- berikan pelayanan kesehatan mengenai
penyakit nya









- memberikan pengetahuan dasar
dimana klien dapat membuat
pilihan
- untuk mempercepat proses
penyembuhan
- agar klien mengerti tentang
bahaya nya penyakit yang di derita
nyan











4













5
kepada perawat


Gangguan Pola istirahat
Tidur berhubungan
dengan Peningkatan HIS
DS :
- klien mengatakan susah
tidur karena nyeri yang
dirasakan
- klien mengatakan frekuensi
tidur hanya 7 jam dalam
sehari
DO :
- frekuensi tidur klien hanya
7 jam sehari
- klien tampak lemah
Gangguan pemenuhan
kebutuhan nutrisi
berhubungan dengan
intake yang tidak ade kuat
DS :
- klien mengatakan kurang




Tujuan :
- istirahat dan tidur klien
terpenuhi
Kriteria hasil :
- menunjukkan pola tidur yang
adekuat








Tujuan :
- kebutuhan nutrisi klien
terpenuhi
Kriteria hasil
- tidak menunjukkan tanda –





- kaji kebiasaan pola tidur patien
- berikan lingkungan yang nyaman seperti
keadaan ruangan dan penerangan ruangan
- batasi pengunjung










- timbang BB klien
- kaji tanda – tanda mal nutrisi
- auskultasi bising usus, catat ada nya nyeri
abdomen, mua muntah




- kebiasaan pola tidur klien dapat
mempengaruhi kualitas tidur klien
- agar klien merasa nyaman
- agar klien bisa beristirahat









- untuk mnegetahui peningkatan
atau penurunan berat badan klien
- untuk mengetahui indikator
kekurangan nutrisi
- gangguan nutrisi dapat
menyebabkan perubahan frekuensi







2.4. Implementasi dan Evaluasi
nafsu makan sejak
beberapa hari yang lalu
- klien mengatakan berat
badan nya menurun
DO :
- porsi makanan yang
dihabiskan klien ½ porsi
BB sehat 68 Kg, BB sakit 64
Kg



tanda mal nutrisi
- BB dalam batas normal
- menunjukkan pemasukan
yang adekuat
- motivasi klien untuk menghabiskan
makanan
- berikan makanan yang hangat dan
bervariasi
bising usus
- agar nutrisi klien terpenuhi
- menambah selera makan klien
No Hari / tgl Dx Jam Implementasi Evaluasi
1

Senin
16 agustus
I

08.00
WIB
- membina hubungan saling
percaya melalui komunikasi
S : klien mengatakan masih
ada keluar cairan dari





2010











II

08.45
WIB




09.30
WIB


11.00
WIB



11.25
WIB
11.30
WIB

13.00
WIB
therapeutik
- memantau keadaan umum klien,
seperti kesadaran klien ,cairan yg
keluar dari pervaginaan klien,
TD,N,S,P klien
R/p : cairan yg keluar dari
pervaginaan masih ada, kesadaran
baik,
- memberikan obat injeksi
Ceftriaxon 1 gr dan dexametason 1
amp ( IV )
R/p : ceftriaxon dan dexametasn
sudah diberikan
- memberikan lingkungan yang
nyaman seperti kenyamanan
ruangan dan membatasi
pengunjung
R/p : klien dapat beristirahat

- memonitor TD,N,P,S klien
- mengkaji skala nyeri ( 1 – 10 )
R/p : skala nyeri klien 6
- mengajarkan klien teknik relaksasi
pervaginaan tapi tidak begitu
banyak
O : warna cairan jernih dan
tidak berbau
A : masalah belum teratasi
P : intervensi 2 – 4
dilanjutkan








S : klien mengatakan
pinggang sampai ke ari – ari
masih terasa nyeri
O : klien tampak memegangi
pinggang dan meringis
A : masalah belum teratasi
P : intervensi 1 – 5
dilanjutkan

http://d3keperawatanperintis.blogspot.com/2011/01/asuhan-keperawatan-ketuban-pecah-
dini.html





13.45
WIB



14.00
WIB
dengan cara tarik nafas dalam
sebanyak 3 x
- R/p : klien dapat melakukan teknik
relaksasi yg di ajarkan ,nyeri sedikit
berkurang
- mengatur posisi klien dengan
miring kiri saban 2 jam
R/p : klien dapat melakukan miring
kekanan dank e kiri saban 2 jam
- memberikan lingkungan yang
nyaman dg batasi pengunjung
R/p : klien merasa tenang dan
dapat beristirahat
2 Selasa / 17
agustus 2010
08.00
WIB




Intervensi dihentikan
Klien pulang dengan
kemauan sendiri
Pd tgl 16 agustus 2010 pukul
17.30 WIB
ASUHAN KEPERAWATAN MATERNITAS PADA PASIEN DENGAN KETUBAN
PECAH DINI
Posted by nurse87 on 29 Mei 2009
Posted in: Keperawatan. Tagged: Maternitas. 13 komentar
A. Konsep Dasar Medik
1. Definisi
Ketuban pecah dini (KPD) adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda persalinan, dan
ditunggu satu jam belum dimulainya tanda persalinan. Waktu sejak pecah ketuban sampai terjadi
kontraksi rahim disebut “kejadian ketuban pecah dini” (periode laten)
Kejadian ketuban pecah dini mendekati 10 % dari semua persalinan. Pada umur kehamilan
kurang dari 34 minggu, kejadian sekitar 4 %. Sebagian dari ketuban pecah dini mempunyai
periode laten melebihi satu minggu. Early rupture of membrane adalah ketuban pecah pada fase
laten persalinan.
2. Anatomi Fisiologi
Darah terdiri dari elemen-elemen berbentuk dan plasma dalam jumlah setara. Elemen-elemen
berbentuk tersebut adalah sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping darah
(trombosit). Plasma terdiri dari 900 air dan 100 elektrolit, gas terlarut berbagai produk sisa
metabolisme dan zat-zat gizi misalnya gula asam amino, lemak, koleesterol, dan vitamin. Protein
dalam darah misalnya albumin dan imuno globilin ikut menyusun plasma.
1) Pembentukan Sel Darah
Sel darah merah, sel darah putih dan trombosit di bentuk di hati dan limfa pada sumsum tulang
belakang. Proses pembentukan sel-sel darah disebut hematopoiesis.
2) Sel Darah Merah
Sel darah merah tidak memiliki inti sel, mitokondria atau ribosom. Sel ini tidak dapat melakukan
mitosis. Fosforilasi oksidatif sel atau pembentuk hemoglobin yang mengangkut sebagian besar
oksigen yang diambil dari paru-paru ke sel-sel diseluruh tubuh. Sel darah matang di keluarkan
dari sumsum tulang dan hidup sekitar 120 hari untuk kemudian mengalami disentegrasi dan mati.
Sel darah di gambarkan berdasaran ukuran dan jumlah hemoglobin yang terdapat di dalam sel :
1. Nermositik : sel yang ukurannya normal
2. Nermokromik : sel dengan jumlah hemoglobin yang normal
3. Mikrositik : sel yang ukurannya terlalu kecil
4. Makrositik : sel yang ukurannya terlalu besar
5. Hipokromik : sel yang sejumlah Hbnya terlalu sedikit
6. Hiperkromik : sel yang sejumlah Hbnya terlalu banyak
3) Hemoglobin
Hemoglobin terdiri dari bahan yang mengandung besi yang disebut hem (heme) dan protein
globulin. Terdapat sekitar 300 molekul hemoglobin dalam setiap sel darah merah. Hemoglobin
dalam darah dapat mengikat oksigen secara partial atau total.
4) Pemecahan Sel Darah Merah
Apabila sel darah merah mulai berdisentegasi pada akhir masa hidupnya, sel tersebut
mengeluarkan hemoglobinnya kedalam sirkulasi. Hemoglobin diuraikan hati dan limfa. Molekul
globulin diubah menjadi asam-asam amino. Besi dismpan dihati dan lmfa sampai di gunakan
kembali oleh tubuh. Sisa molekul lainnya diubah menjadi bilirubin, yang kemudian dieksresikan
melalui tinja atau urin.
3. Etiologi
Penyebab ketuban pecah dini (KPD) mempunyai dimensi multifaktorial yang dapat dijabarkan
sebagai berikut :
 Serviks inkopeten
 Ketegangan rahim berlebihan; kehamilan ganda, hidramnion
 Kelainan letak janin dalam rahim, letak sunsang, letang lintang
 Kemungkinan kesempitan panggul : perut gantung, bagian terendah belum masuk PAP,
sepalopelvik disproforsi
 Kelainan bawaan dari selaput ketuban
 Infeksi yang menyebabkan terjadi proses biomekanik pada selaput ketuban dalam bentuk
proteolitik sehingga menyebabkan ketuban pecah.
4. Patofisiologi
Mekanisme terjadinya ketuban pecah dini dapat berlangsung sebagai berikut :
 Selaput ketuban tidak kuat sebagai akibat kurangnya jaringan ikat dan vaskularisasi
 Bila terjadi pembukaan serviks maka selaput ketuban sangat lemah dan mudah pecah dengan
mengeluarkan air ketuban.
5. Penatalaksanaan Ketuban Pecah Dini (KPD)
Sebagai gambaran umum untuk penatalaksanaan KPD dapat dijabarkan sebagai berikut :
 Pertahankan kehamilan sampai cukup matur, khususnya maturitas paru sehingga mengurangi
kejadian kegagalan perkembangan paru yang yang sehat
 Terjadi infeksi dalam rahim, yaitu korioamnionitis yang menjadi pemicu sepsis, meningitis janin,
dan persalinan prematuritas
 Dengan perkiraan janin sudah cukup besar dan persalinan diharapkan berlangsung dalam waktu
72 jam dapat diberikan kortikosteroid, sehingga kematangan paru janin dapat terjamin.
 Pada kehamilan 24 sampai 32 minggu yang menyebabkan menunggu berat janin cukup, perlu
dipertimbangkan untuk melakukan induksi persalinan, dengan kemungkinan janin tidak dapat
diselamatkan.
 Menghadapi KPD, diperlukan KIM terhadap ibu dan keluarga sehingga terdapat pengertian
bahwa tindakan mendadak mungkin dilakukan dengan pertimbangan untuk menyelamatkan ibu
dan mungkin harus mengorbankan janinnya.
 Pemeriksaan yang rutin dilakukan adalah USG untuk mengukur distansia biparietal dan peerlu
melakukan aspirasi air ketuban untuk melakukan pemeriksaan kematangan paru melalui
perbandingan L/S
 Waktu terminasi pada hamil aterm dapat dianjurkan selang waktu 6 jam sampai 24 jam, bila
tidak terjadi his spontan.
6. Tujuan umum dalam Asuhan Perawatan Bayi Baru Lahir adalah untuk :
1. Mempertahankan Pernapasan
- Segera setelah bayi lahir, bayi diletakkan dengan kepala lebih rendah dari pada badan agar
supaya lendir keluar dari mulut dan mencegah lendir dan kadang – kadang darah dan mekonium
masuk kesaluran pernafasan.
- Pengisapan lendir harus dilakukan dengan cepat dan lembut
- Bayi normal dalam beberapa detik sampai satu menit dengan membersihkan mulut dan
hidung dari lendir akan segera timbul pernafasan spontan
1. Mencegah Infeksi
- Usaha yang paling efektif untuk mencegah infeksi pada bayi baru lahir ialah mencuci
tangan sebelum memegang bayi dan perlengkapan yang digunakan untuk merawat bayi,
mengisolasi bayi yang sakit dan memakai pakaian yang bersih.
1. Memperhatikan suhu tubuh
- Suhu lingkungan mempengaruhi kehidupan dan kesehatan bayi baru lahir, karena bila suhu
lingkungan tidak ada; metabolisme dan konsumsi oksigen bayi akan meningkat.
- Segera setelah bayi lahir harus dikeringkan dan ditempatkan ditempat yang hangat. Setelah
suhu tubuh bayi stabil biasanya 1-2 jam sesudah lahir, bayi dibersihkan atau dimandikan.
1. Mengenal tanda-tanda sakit
- Kondisi bayi dapat berubah dengan cepat karena itu perlu diawasi dengan kontinyu.
- Beberapa tanda-tanda kelainan yang harts diperhatikan misalnya kulit, kening pada ban
pertama kesukaran pernapasan, kenaikan atau penurunan suhu tubuh, biru atau pucat, penyakit
kembung, problem makan, muntah, kejang-kejang, tidak Bab selama 12 jam dan Bak dalam 12
jam pertama kehidupan dan penurunan badan-badan bayi yang banyak.
7. Materi Perubahan Fisiologi pada Bayi Baru Lahir
1. Pernapasan dan peredaran darah
Pernapasan pertama pada bayi normal terjadi 30 detik sesudah kelahiran. Pernapasan ini timbul
sebagai akibat aktifitas normal dari susunan syaraf pusat dan perifer yang dibantu oleh beberapa
rangsangan lainnya. Seperti rangsangan hypoxaemia, sentuhan dan perubahan (perbedaan) suhu
dari dalam uterus dengan di luar uterus. Semua ini menyebabkan perangsangan pusat pernapasan
dalam otak yang meneruskan rangsangan tersebut untuk mengarahkan diafragma serta alat-alat
pernapasan lainnya.
1. Faeces
Faeces yang pertama keluar berupa pasta kental berwarna gelap dan lengket yang disebut
meconiumhal tersebut sebenarnya sudah ada sejak janin berumur 26 minggu dalam kandungan.
1. Memelihara Kulit
Mengingat bahaya infeksi kulit dengan Staphyloccocing, banyak rumah sakit tidak memandikan
bayi lagi, hanya darah dan meconium dibersihkan sedangkan dengan vernik caseosa dibiarkan.
1. Tali Pusat
Tali pusat diperiksa harus ada dua arteri dan satu vena, bila hanya didapat satu arteri mungkin
ada kelainan kongenital lain. Tali pusat biasanya lepas dalam 14 hari setelah lahir, paling sering
sekitar hari ke-10. Mengingat kemungkinan infeksi tindakan aseptik sangat harus diperhatikan
waktu merawat tali pusat.
1. Kehilangan Berat Badan
Karena selama 3 atau 4 hari yang pertama bayi boleh dikatakan hampir tidak kemasukkan cairan
sedangkan bayi mengeluarkan feces, urine dan keringat. Tidak mengherankan bahwa beratnya
turun sampai diimbangi oleh minum air susu yang cukup.
1. f. Refleks
Bayi menunjukkan beberapa refleks yang di sebut reflek primitive. Ada beberapa reflek
primitive :
1. Moro Refleksi
Dapat dilihat bila bayi dikagetkan atau sekonyong- konyong digerakkan.
1. Graps Refleksi
Bila telapak dirangsang, tangan akan memberi reaksi seperti menggenggam.
1. Walking Refleks
Bila telapak kaki ditekan pada sebuah bangku atau pada suatu tempat yang datar, maka bayi akan
bergerak seperti berjalan
1. Crossed Ectension Refleksi
Bila satu tangkai dipegang pada posisi extensi pada lutut dan telapak kaki sisi yang sama digores
dengan kuku/jarum pada tungkai yang lain akan berada dalam posisi Fleksi Adduksi kemudian
extensi
1. Rooting Refleksi
Rangsangan pada bibir atas bagian tengah mengakibatkan mulut terbuka dan rahang turun ke
bawah.
8. Ciri-Ciri Bayi Baru Lahir
 Nilai APGAR
Apgar score dinilai pada satu menit bayi setelah lahir dan yang kedua lima menit setelah lahir,
bayi yang normal nilai Apgarnya antara 7 – 10.
 Berat dan panjang badan
Berat badan merupakan index gizi dan pertumbuhan yang baik terutama berat badan merupakan
resultante pertumbuhan badan keseluruhan (normal BB : 2,5 - 4 kg). Panjang badan lain halnya
dengan berat badan, maka kenaikan tinggi badan tiap tahunnya terus menerus bertambah dari
lahir sampai dewasa, kecuali pada masa adolesensi (normal PB : 50 cm)
 Lingkar kepala dan dada
Pengukuran lingkaran kepala penting karena berhubungan dengan volume intrakranial dan dapat
dinilai kecepatan tumbulrannya otak, ( normal ) LK : 33 35,6 cm). Lingkar dada pada masa
neonatal terjadi juga pertambahan panjang atau lebar dada yang normal antara 30 cm, 33 cm, dan
36 cm.
9. Tindakan yang harus segera dilakukan pada Bayi dengan cara Pelaksanaannya
 Menghisap lendir dan merangsang pernafasan bayi
1. Pengertian
Adalah memberikan pertolongan kepada bayi untuk mengeluarkan kotoran yang berupa lendir
dan darah serta air ketuban dari mulut, tenggorokan, dan hidung bayi dengan cara menghisap
dengan alat.
1. Tujuan
1. membersihkan kotoran
2. merangsang agar anak bernafas
3. Cara menghisap lendir
4. Resusitasi
 Memberikan identitas bayi
1. nama nomor
2. sidik jari kaki
 Peralatan-peralatan disiapkan
Alat-alat :
1. Dua buah penjepit nadi
2. Gunting tali pusat
3. Kapas lidi
4. Benang pengikat tali pusat
5. Alkohol 70 %
6. Gaas steril
7. Iodium tintur 3 % / betadine 10 %
Cara kerja : Tali pusat dipotong dijepit dengan 2 buah penjepit nadi, diurut ke placenta ± 5 cm
lalu dipotong lagi klem di beri yodium tintur 3 % kemudian tali pusat diikat dengan 2 ikatan di
beri betadine dibungkus dengan kasa tali pusat.
 Menetes mata bayi
Tujuannya mencegah kemungkinan terjadinya infeksi karena kena kotoran waktu bayi melewati
jalan lahir
 Mengukur dan menimbang BB bayi baru lahir
 Memberi pakaian.
DAFTAR PUSTAKA
Asrining Surasmi, Siti Handayani, Heni Nur Kusuma, (2002), “Perawatan Bayi Risiko Tinggi”,
Jakarta : EGC.
Dr. Santosa NI, SKM (1990), “ Perawatan Kebidanan yang Berorientasi Pada Keluarga
(Perawatan II) “, Jakarta : Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Departemen Kesehatan Republik
Indonesia.
Marilyn E. Doengoes, Mary Frances Mooorhouse (2001), “Rencana Perawatan Maternal/Bayi “,
Jakarta : EGC.
Prof. Dr. Abdul Bari Saifudin, SPOG, MPHD ( 2002 ), “ Buku Panduan Praktis Pelayanan
Kesehatan Material & Neonatal “, : Jakarta : EGC.
Prof. dr. Ida Bagus Gde Manuaba, SpOG (1998), “Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan &
Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan”, Jakarta : EGC
http://nurse87.wordpress.com/2009/05/29/asuhan-keperawatan-maternitas-pada-pasien-dengan-
ketuban-pecah-dini/



BAB II
ISI

A. DEFINISI DAN KLASIFIKASI
Pendarahan antepartum adalah pendarahan yang terjadi setelah kehamilan 28 minggu.
Pendarahan antepartum merupakan pendarahan dari traktus genitalis yang terjadi antara
kehamilan minggu ke 28 awal partus.
Perdarahan setelah kehamilan 28 minggu biasanya lebih banyak dan lebih berbahaya
daripada sebelum kehamilan 28 minggu; oleh karena itu memerlukan penanganan yang berbeda.
Perdarahan antepartum yang berbahaya umumnya bersumber pada kelainan plasenta, sedangkan
perdarahan yang tidak bersumber pada kelainan plasenta umpamanya kelainan serviks biasanya
tidak seberapa berbahaya.
Perdarahan antepartum yang bersumber pada kelainan plasenta, yang secara klinis
biasanya tidak terlampau sukar untuk menentukannya, yaitu plasenta previa dan solusi plasenta.
Oleh karena itu klasifikasi klinis perdarahan antepartum dibagi sebagai berikut
a. Plasenta previa
b. Solusi plasenta
c. Perdarahan antepartum yang belum jelas sumbernya(idiopatik) seperti rupture sinus
marginalis,plasenta letak rendah dan vasa previa.
1. Plasenta Previa
Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat abnormal yaitu
pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir
(osteum uteri internal)
¯¤C·]Þ4C OÒ]+)C -)g¤C·)×)gC·)gCÞ O]Þ¢C-
) ¯ ¯·
× ¯¤C·]Þ4C OÒ]+)C 4E4C¤)· ¯·]¤4Ò4´ E·4)4O )Þ4]Ò
Þ4· -)4444O) O¤C·]Þ4C·
× Plasenta previa lateralis : hanya sebagian dari ostium tertutup oleh plasenta.·
× Plasenta previa marginalis : hanya pada pinggir ostium terdapat jaringan plasenta.·
× Plasenta previa letak rendah : bila plasenta berada 3-4cm diatas pinggir permukaan jalan lahir

Plasenta previa dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain :
1) Umur dan paritas
2) Hipoplasia Endometrium, bila kawin dan hamil pada usia muda
3) Endometrium cacat pada bekas persalinan berulang-ulang, bekas operasi, kuretase, dan manual
plasenta
4) Korpus luteum bereaksi lambat, dimana endometrium belum siap menerima hasil konsepsi.
5) Kehamilan janin kembar,.
6) Tumor-tumor, seperti mioma uteri, polip endometrium
7) Kadang-kadang pada malnutrisi.
8) Riwayat perokok.
Cirri-ciri plasenta previa :
a ) Perdarahan terjadi tanpa rasa sakit pada trimester III
b ) Sering terjadi pada malam hari saat pembentukan S.B.R
c ) Perdarahan dapat terjadi sedikit atau banyak sehingga menimbulkan gejala
d ) Perdarahan berwarna merah segar
e ) Letak janin abnormal
f) Adanya anemia dan renjatan yang sesuai dengan keluarnya darah
h) Denyut jantung janin ada
i) Teraba jaringan plasenta pada periksa dalam vagina
j) Penurunan kepala tidak masuk pintu atas panggul
1. Solusi Plasenta
Solusio plasenta adalah terlepasnya sebagian atau seluruh plasenta pada implantasi normal sebelum
janin lahir. Perdarahan dapat terjadi pada pembuluh darah plasenta atau uterus yang membentuk
hematom pada desisua, sehingga plasenta terdesak akhirnya terlepas. Apabila perdarahan sedikit,
hematom yang kecil itu hanya akan mendesak jaringan plasenta, peredaran darah antara uterus
dan plasenta belum terganggu dan tanda serta gejalanya pun tidak jelas.
Klasifikasi solusio plasenta berdasarkan tanda klinis dan derajat pelepasan plasenta yaitu :
1. Ringan : Perdarahan kurang 100-200 cc, uterus tidak tegang, belum ada tanda
renjatan, janin hidup, pelepasan plasenta kurang 1/6 bagian permukaan, kadar
fibrinogen plasma lebih 120 mg%.
2. Sedang : Perdarahan lebih 200 cc, uterus tegang, terdapat tanda pre renjatan,
gawat janin atau janin telah mati, pelepasan plasenta 1/4-2/3 bagian
permukaan, kadar fibrinogen plasma 120-150 mg%.
3. Berat : Uterus tegang dan berkontraksi tetanik, terdapat tanda renjatan, janin
mati, pelepasan plasenta bisa terjadi lebih 2/3 bagian atau keseluruhan.
1. Faktor vaskuler (80-90%), yaitu toksemia gravidarum, glomerulo nefritis kronika, dan hipertensi
esensial.Karena desakan darah tinggi, maka pembuluh darah mudah pecah, kemudian terjadi
haematoma retroplasenter dan plasenta sebagian terlepas.
2. Faktor trauma:
- Pengecilan yang tiba-tiba dari uterus pada hidramnion dan gemeli
- Tarikan pada tali pusat yang pendek akibat pergerakan janin yang banyak/bebas, versi luar, atau
pertolongan persalinan.
3. Faktor paritas.
Lebih banyak dijumpai pada multi daripada primi. Holmer mencatat bahwa dari 83 kasus
solusio plasenta dijumpai 45 multi dan 13 primi.
4. Pengaruh lain seperti anemia, malnutrisi, tekanan uterus pada vena cava inferior, dan lain-lain.
5. Trauma langsung seperti jatuh, kena tendang, dan lain-lain.tor yang mempengaruhi solusi plasenta
:
Ciri-ciri solusi plasenta:
a ) Perdarahan disertai rasa sakit
b ) Jalan asfiksia ringan sampai kematian intrauterin
c ) Gejala kardiovaskuler ringan sampai berat
d ) Abdomen menjadi tegang
e ) Perdarahan berwarna kehitaman
f ) Sakit perut terus menerus
g) Denyut jantung janin biasanya tidak ada
h) Teraba ketuban yang tegang pada periksa dalam vagina
i) Penurunan kepala dapat masuk pintu atas panggul
1. Vasa Previa
Vasa previa merupakan keadaan dimana pembuluh darah umbilikalis janin berinsersi dengan
vilamentosa yakni pada selaput ketuban. Etiologi vasa previa belum jelas.
Diagnosis vasa previa, Pada pemeriksaan dalam vagina diraba pembuluh darah pada selaput
ketuban. Pemeriksaan juga dapat dilakukan dengan inspekulo atau amnioskopi. Bila sudah
terjadi perdarahan maka akan diikuti dengan denyut jantung janin yang tidak beraturan,
deselerasi atau bradikardi, khususnya bila perdahan terjadi ketika atau beberapa saat setelah
selaput ketuban pecah. Darah ini berasal dari janin dan untuk mengetahuinya dapat dilakukan
dengan tes Apt dan tes Kleihauer-Betke serta hapusan darah tepi.
Penatalaksanaan vasa previa, Sangat bergantung pada status janin. Bila ada keraguan tentang
viabilitas janin, tentukan lebih dahulu umur kehamilan, ukuran janin, maturitas paru dan
pemantauan kesejahteraan janin dengan USG dan kardiotokografi. Bila janin hidup dan cukup
matur dapat dilakukan seksio sesar segera namun bila janin sudah meninggal atau imatur,
dilakukan persalinan pervaginam
A. PATOFISIOLOGI
1. Plasenta previa
Seluruh plasenta biasanya terletak pada segmen atau uterus. Kadang-kadang bagian atau seluruh
organ dapat melekat pada segmen bawah uterus, dimana hal ini dapat diketahui sebagai plasenta
previa. Karena segmen bawah agak merentang selama kehamilan lanjut dan persalinan, dalam
usaha mencapai dilatasi serviks dan kelahiran anak, pemisahan plasenta dari dinding usus sampai
tingkat tertentu tidak dapat dihindarkan sehingga terjadi pendarahan.
2. Solusi plasenta
Perdarahan dapat terjadi pada pembuluh darah plasenta atau uterus yang membentuk
hematom pada desisua, sehingga plasenta terdesak akhirnya terlepas. Apabila perdarahan sedikit,
hematom yang kecil itu hanya akan mendesak jaringan plasenta, peredaran darah antara uterus
dan plasenta belum terganggu dan tanda serta gejalanya pun tidak jelas.
Kejadiannya baru diketahui setelah plasenta lahir yang pada pemeriksaan didapatkan
cekungan pada permukaan maternalnya dengan bekuan darah lama yang warnanya kehitam-
hitaman.
Biasanya perdarahan akan berlangsung terus menerus karena otot uterus yang telah meregang oleh
kehamilan itu tidak mempu untuk lebih berkontraksi menghentikan pendarahannya. Akibatnya,
hematom retroplasenter akan bertambah besar, sehingga sebagian dan akhirnya seluruh plasenta
terlepas dari dinding uterus.
B. DIAGNOSA DAN GEJALA KLINIS
1) Plasenta Previa
 Anamnesis
- Keluhan utama Perdarahan pada kehamilan setelah 28 minggu atau pada kehamilan lanjut
(trimester III)
-Sifat perdarahan tanpa sebab, tanpa nyeri dan berulang.
 Inspeksi/inspekulo
- Perdarahan keluar pervaginam (dari dalam uterus)
- Tampak anemis
 Palpasi abdomen
- Janin sering blm cukup bulan, TFU masih rendah
- Sering dijumpai kesalahan letak janin
- Bagian terbawah janin belum turun
 . Pemeriksaan USG
- Evaluasi letak dan posisi plasenta.
- Posisi, presentasi, umur, tanda-tanda kehidupan janin.
- Transabdominal ultrasonography
1) Solusio Plasenta
 Anamnesis
. Perasaan sakit yang tiba-tiba di perut, kadang-kadang pasien bisa melokalisir tempat mana yang
paling sakit, dimana plasenta terlepas.

· Perdarahan pervaginam yang sifatnya bisa hebat dan sekonyong-konyong (non-recurrent) terdiri
dari darah segar dan bekuan-bekuan darah.
· Pergerakan anak mulai hebat kemudian terasa pelan dan akhirnya berhenti (anak tidak bergerak
lagi).
· Kepala terasa pusing, lemas, muntah, pucat, pandangan berkunang-kunang, ibu kelihatan anemis
tidak sesuai dengan banyaknya darah yang keluar.
· Kadang-kadang ibu dapat menceritakan trauma dan faktor kausal yang lain.
 Inspeksi
· Pasien gelisah, sering mengerang karena kesakitan.
· Pucat, sianosis, keringat dingin.
· Kelihatan darah keluar pervaginam
 Palpasi
· TFU naik karena terbentuknya retroplasenter hematoma; uterus tidak sesuai dengan tuanya
kehamilan.
· Uterus teraba tegang dan keras seperti papan yang disebut uterus in bois (wooden uterus) baik
waktu his maupun diluar his.
· Nyeri tekan terutama di tempat plasenta tadi terlepas.
· Bagian-bagian janin susah dikenali, karena perut (uterus) tegang.
 Auskultasi
Sulit, karena uterus tegang. Bila denyut jantung janin terdengar biasanya diatas 140, kemudian
turun dibawah 100 dan akhirnya hilang bila plasenta yang terlepas lebih dari sepertiga.
 Pemeriksaan dalam
· Serviks bisa telah terbuka atau masih tertutup.
· Kalau sudah terbuka maka ketuban dapat teraba menonjol dan tegang, baik sewaktu his maupun
diluar his.
· Kalau ketuban sudah pecah dan plasenta sudah terlepas seluruhnya, plasenta ini akan turun ke
bawah dan teraba pada pemeriksaan, disebut prolapsus plasenta, ini sering dikacaukan dengan
plasenta previa.
 Pemeriksaan umum.
· Tensi semula mungkin tinggi karena pasien sebelumnya menderita penyakit vaskuler, tetapi lambat
laun turun dan pasien jatuh syok.
· Nadi cepat, kecil, dan filiformis.
 Pemeriksaan Ultrasonography (USG).
Ultrasonography adalah suatu metode yang penting untuk mengetahui adanya pendarahan di dalam
uterus. Kualitas dan sensitifitas ultrasonografi dalam mendeteksi solusio plasenta telah
meningkat secra signifikan belakangan ini.
Tetapi bagaimanapun juga ini bukan metode yang sempurna dan sensitif untuk mendeteksi
solusio plasenta, tercatat hanya 25% kasus solusio plasenta yang ditegakkan dengan
USG.Solusio plasenta tampak sebagai gambaran gumpalan darah retroplacental, tetapi tidak
semua solusio plasenta yang di USG ditemukan gambaran seperti di atas. Pada fase akut, suatu
perdarahan biasanya hyperechoic, atau bahkan isoechoic, maka kita bandingkan dengan plasenta.
Gambaran konsisten yang mendukung diagnosa solusio plasenta antara lain adalah; gumpalan
hematom retroplasenta (hyperochoic hingga isoechoic pada fase akut, dan berubah menjadi
hypoechoic dalam satu minggu), gambaran perdarahan tersembunyi, gambaran perdarahan yang
meluas. Manfaat lainnya adalah USG dapat dipakai untuk menyingkirkan kemungkinan
penyebab lain perdarahan antepartum.
 Pemeriksaan laboratorium
. Urin
albumin (+); pada pemeriksaan sedimen terdapat silinder dan lekosit.
· Darah
Hb menurun (anemi), periksa golongan darah, kalau bisa cross match test
Karena pada solusio plasenta sering terjadi kelainan pembekuan darah a/hipofibrinogenemia, maka
diperiksakan pula COT (Clot Observation Test) tiap 1 jam, test kualitatif fibrinogen (fiberindex),
dan test kuantitatif fibrinogen (kadar normalnya 150 mg%).
 Pemeriksaan plasenta
· Sesudah bayi dan plasenta lahir, kita periksa plasentanya. Biasanya tampak tipis dan cekung di
bagian plasenta yang terlepas (krater) dan terdapat koagulum atau darah beku di belakang
plasenta, yang disebut hematoma retroplasenter.
A. PENATALAKSANAAN MEDIS
1. Plasenta Previa
Penatalaksanaan konservatif (mis.istirahat di tempat tidur sepanjang masa hamil)
biasanya dilakukan jika janin belum cukup matang karena perdarahan biasanya perdarahan
spontan awal pada plasenta previa tidak mengancam kehidupan ibu dan janin. Jika paru-paru
janin sudah matur dan kemungkinan hidup besar, pelahiran bisa dilakukan.
Setelah diagnosis plasenta previa ditegakkan, ibu biasanya tetap tinggal di Rumah sakit
dibawah supervisi yang ketat. Durasi kehamilan harus dipastikan dan , kecuali dalam keadaan
kondisi kedaruratan, kehamilan ditunda sampai setelah minggu ke-36, biasanya dilakukan
pelahiran sesaria bagi ibu dengan plasenta previa. (Cunningham, dkk, 1993)

2. Solusio plasenta
Pengobatan tergantung pada status ibu dan janin. Bila ada stress distress janin, perdarahan berat,
koagulopati, kemajuan persalinan yang buruk, atau peningkatan tonus rahim istirahat,dilakukan
persalinan sesaria. Jika ibu secara hemodinamik stabil,kelahiran pervaginam bisa diusahakan jika
janin hidup dan tidak dalam keadaan distress akut, atau jika janin mati. Penggantian cairan harus
dilakukan secara agresif bila terjadi perdarahan.

Darah dan ringer laktat diberikan dalam jumlah yang dapat mempertahankan haluaran urine 30
sampai 60ml per jam dan nilai hematokrit kira-kira 30% (Lowe, Cunningham,199)

ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a) Data Subjektif
A. Data umum
Biodata, identitas ibu hamil dan suaminya.
B. Keluhan utama
Keluhan pasien saat masuk RS adalah perdarahan pada kehamilan 28 minggu.
C. Riwayat kesehatan yang lalu
D. Riwayat kehamilan
- Haid terakhir
- Keluhan
- Imunisasi
E. Riwayat keluarga
- Riwayat penyakit ringan
- Penyakit berat
Keadaan psikososial
- Dukungan keluarga
- Pandangan terhadap kehamilan
F. Riwayat persalinan
G. Riwayat menstruasi
- Haid pertama
- Sirkulasi haid
- Lamanya haid
- Banyaknya darah haid
- Nyeri
- Haid terakhir

H. Riwayat perkawinan
- Status perkawinan
- Kawin pertama
- Lama kawin
Data Objektif
Pemeriksaan fisik
1. Umum
Pemeriksaan fisik umum meliputi pemeriksaan ibu hamil.
a. Rambut dan kulit
- Terjadi peningkatan pigmentasi pada areola, putting susu dan linea nigra.
- Striae atau tanda guratan bisa terjadi di daerah abdomen dan paha.
- Laju pertumbuhan rambut berkurang.
b. Wajah
- Mata : pucat, anemis
- Hidung
- Gigi dan mulut
c. Leher
d. Buah dada / payudara
- Peningkatan pigmentasi areola putting susu
- Bertambahnya ukuran dan noduler
e. Jantung dan paru
- Volume darah meningkat
- Peningkatan frekuensi nadi
- Penurunan resistensi pembuluh darah sistemik dan pembuluh darah pulmonal.
- Terjadi hiperventilasi selama kehamilan.
- Peningkatan volume tidal, penurunan resistensi jalan nafas.
- Diafragma meninggi
- Perubahan pernapasan abdomen menjadi pernapasan dada.
f. Abdomen
Palpasi abdomen :

b.) - Menentukan letak janin
- Menentukan tinggi fundus uteri
g. Vagina
- Peningkatan vaskularisasi yang menimbulkan warna kebiruan ( tanda Chandwick )
- Hipertropi epithelium
h. System musculoskeletal
- Persendian tulang pinggul yang mengendur
- Gaya berjalan yang canggung
- Terjadi pemisahan otot rectum abdominalis dinamakan dengan diastasis rectal
2. Khusus
- Tinggi fundus uteri
- Posisi dan persentasi janin
- Panggul dan janin lahir
- Denyut jantung janin
3. Pemeriksaan penunjang
- Pemeriksaan inspekulo
- Pemeriksaan radio isotopic
- Ultrasonografi
- Pemeriksaan dalam
2. Diagnosa keperawatan
+ Resiko tinggi cedera (janin) Yang berhubungan dengan penurunan perfusi uterin/plasenta akibat
perdarahan
+ Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan perdarahan hebat akibat plasenta previa
+ Resiko tinggi infeksi yang berhubungan dengan anemia dan perdarahan akibat plasenta previa
+ Rasa takut, berhubungan dengan keprihatinan ibu tentang kesejahteraan
Diri dan bayinya
3. Intervensi
1. Lakukan pemantauan keadaan ibu dan janin secara terus menerus, mencakup tanda-tanda vital,
tanpa perdarahan. haluaran perkemihan, pelacakan pemantauan elektronik, dan tanda
persalinan.
2. Jelaskan prosedur kepada ibu dan keluarganya.
3. Pemberian cairan Intra Vena atau produk darah sesuai pesanan.
4. Tinjau kembali aspek penting dari perawatan kritis yang telah diberikan ini :
- Sudahkah saya menanyakan kepada ibu tentang perdarahan ?
- Jika perdarahan ada sudahkan saya mengkaji kuantitasnya dengan teliti ?
- Sudahkan saya memantau keadaan janin dengan teliti ?
- Apakah ada tanda-tanda takikardi / deserasi ?
- Sudahkah saya waspada terhadap perubahan keadaan ibu ?
- Adakah tanda persalinan ? adakah perubahan yang dilaorkan ibu ?
- Sudahkah saya melakukan langkah untuk menolog ibu menjadi nyaman saat tirah
baring dengan cara menggosok punggung, memposisikan dengan bantal, pengalihan
aktivitas.
4. Evaluasi
1. Kondisi ibu tetap stabil atau perdarahan dapat dideteksi dengan tepat, serta terapi mulai diberikan.
2. Ibu dan bayi menjalani persalinan dan kelahiran yang aman.
http://tinevitamehi.blogspot.com/2011/04/askep-perdarahan-antepartum.html


ASKEP PADA PASIEN PERDARAHAN ANTEPARTUM
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
PERDARAHAN ANTEPARTUM
Perdarahan antepartum merupakan pendarahan dari traktus genitalis yang terjadi antara kehamilan minggu ke-
28 dan awal partus.
Pada satu kehamilan perdarahan dari traktus genitalis lebih sering dan serius jika terjadi pada tempat plasenta
dibandingkan dari sumber lain. Walaupun demikian plasenta menjadi organ defenitif jauh lebih dini dari
kehamilam 28 minggu dan perdarahan dapat terjadi lebih dini . Meskipun perdarahan sesudah saat ini lebih
sering terjadi. Walaupun perdarahan vaginal setelah minggu ke–29 harus dianggap mempunyai potensi serius .
perdarahan pada saat yang lebih dini dapat merupakan indikasi dari dua penyebab utama pedarahan anterpatum
yaitu;
• Plasenta previa
• Soluto plasenta
3.1. Plasenta previa
3.1.1 Pengertian
Pada keaadaan normal . Plasenta berimplantasi atau terletak di bagian fundus uterus. Plasenta previa adalah
plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutup sebagian atau
seluruh pembukaan jalan lahir.
3.1.2. Etiologi
Apa sebab terjadinya implatasi plasenta didaerah segmen bawah uterus tidak dapat dijelaskan. Namun
demikian terdapat beberapa faktor yang berhubungan dengan peningkatan kekerapan terjadi plasenta previa
yaitu :
• Parista
Makin banyak parista ibu, makin besar kemungkinan mengalami plasenta previa
• Usia ibu pada saat hamil. Bila usia ibu pada saat hamil 35 tahun atau lebih, makin besar kemungkinan
kehamilan plasenta previa.
• Umur dam paritas
- Pada primigravida umur diatas 35 th lebih sering dari umur dibawah 25 th.
- Pada paritas tinggi lebih sering dari pada paritas rendah
- Di Indonesia plasenta previa banyak dijumpai pada umur paritas kecil disebabkan banyak wanita Indonesia
menikah pada usia muda dimana endometrium belum matang.
• Adanya tumor-tumor : mioma uteri, polip endometrium.
• Kadang-kadang pada malnutrisi
Klasifikasi
Berdasarkan atas terabaya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu,plasenta previa
dibagi dalam 4 klasifikasi yaitu :
1) Plasenta previa totalis apabila seluruh pembukaan tertutup oleh jarngan plasenta
2) Plasenta previa parsialis apabila sebagian pembukaan ternutup oleh jaringan plasenta
3) Plasenta previa marginalis apabila pinggir plasenta berada terpat pada pinggir pembukaan
4) Plasenta letak rendah apabila tepi plasenta melampau segmen bawah tetapi tepinya tidak mencapai ostium
internum.
5)
3.1.3. Manifestasi klinis
• Perdarahan yang terjadi bisa sedikit atau banyak. Perdarahan yang terjadi pertama kali, biasanya tidak
banyak dan tidak berakibat fatal. Perdarahan berikutnya hampir selalu lebih banyak dari sebelumnya.
Perdarahan pertama sering terjadi pada triwulan ketiga.
• Pasien yang dating dengan perdarahan karena plasenta previa tidak mengeluh adanya rasa sakit.
• Pada uterus tidak teraba keras dan tidak tegang.
• Bagian terbawah janin biasanya belum masuk pintu atas panggul dan tidak jarang terjadi letak janin (letak
lintang atau letak sunsang)
• Janin mungkin masih hidup atau sudah mati, tergantung banyaknya perdarahan. Sebagian besar kasus,
janinnya masih hidup.
Gejala utama
• Perdarahan yang terjadi berwarna segar, tanpa alasan dan tanpa rasa nyeri merupakan gejala utama
Komplikasi
• Anemia karena perdarahan
• Syok
• Janin mati lahir dalam keadaan premature dan asphyxia berat.
3.1.4. Patofisiologi
Perdarahan anterpatum yang disebabkan oleh plasenta previa umumnya terjadi pada triwulan ketiga kehamilan
. Karena pada saat itu segmen bawah uterus lebih banyak mengalami perubahan berkaitan dengan makin
tuanya kehamilan .
Kemungkinan perdarahan anterpatum akibat plasenta previa dapat sejak kehamilan berusia 20 minggu. Pada
usia kehamilan ini segmen bawah uterus telah terbentuk dan mulai menipis.
Makin tua usia kehamilan segmen bawah uterus makin melebar dan serviks membuka. Dengan demikian
plasenta yang berimplitasi di segmen bawah uterus tersebut akan mengalami pergeseran dari tempat implantasi
dan akan menimbulkan perdarahan. Darahnya berwarna merah segar, bersumber pada sinus uterus yang atau
robekan sinis marginali dari plasenta.
3.1.5. Manajemen Therapeutik
Harus dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas operasi. Sebelum dirujuk, anjurkan pasien untuk tirah baring
total dengan menghadap kiri, tidak melakukan sanggama, menghindari peningkatan tekanan rongga perut
missal batuk,mengedan karena sulit buang air besar)
Gambar 35.3 Skema Penanganan
Plasenta previa
Pasang infuse cairan Nacl fisiologis. Bila tidak memungkinkan, beri cairan proposal. Pantau tekanan darah dan
frekuensi nadi pasien secara teratur tiap 15 menit untuk mendeteksi adanya hipotensi atau syok akibat
perdarahan. Pantau pula BJJ dan pergerakan janin.
Bila terjadi renjatan, segera lakukan resusitasi cairan dan trasfusi darah. Bila tidak teratasi, upayakan
penyelamatan optimal. Bila teratasi, perhatikan usia kehamilan.
Penanganan di rumah sakit dilakukan berdasarkan usia kehamilan. Bila terdapat renjetan, usia gestasi <37
minggu, taksiran berat janin <2.500 g, maka :
• Bila perdarahan sedikit, rawat sampai usia kehamilan 37 minggu, lalu lakukan mobilisasi bertahap. Beri
kortikosteroid 12 mg intravena per hari salma 3 hari
• Bila pendarahan berulang, lakukan PDMO. Bila ada kontraksi, tangani seperti persalinan preterm
Bila tidak ada renjetan, usia gestasi 37 minggu atau lebih,taksirkan berat janin 2.500 g atau lebih, lakukan
PDMO. Bila ternyata previa, lakukan persalinan perabdominan. Bila bukan, usahakan partus pervaginam.
3.1.6. Asuhan keperawatan
Perawatan adalah pelayanan esensial dilakukan oleh perawatan propesional. Bagi individu, keluarga dan
masyarakat yang mempunyai masalah kesehatan dengan tujuan menolong mereka meningkatkan kesehatan
semaksimal mungkin sesuai dengan profesinya.
Pelayanan keperawatan yang diberikan pada klien HAP atas indikasi plasenta previa akan berhasil apabila
asuhan keperawatan yang diberikan baik dan benar. Berdasarkan hal ini perawat dituntut memiliki
pengetahuan tentang penyakit klien dan tindakan apa saja yang harus dilakukan, selain itu perawat harus
berfikir dan bekerja secara dinamis.
Proses kererawatan digunakan oleh perawat untuk memecahkan masalah yang dihadapi klien, secara tuntas
yang didasari prinsip-prinsip ilmiah sertamempertimbangkan klien sebagai makluk yang utuh (bio, psiko,
social, dan spiritual) dan bersifat unik.
Penerapan proses keperawatan klien ni adalah empat tahap yaitu pengkajian, intervestasi dan evaluasi.
1. Pengkajian
Pengkajian adalah pendekatan yang sistematis untuk mengumpulkan data perkelompok dan menganalisanya
sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan untuk perawatan klien. Tujuan utama pengkajian adalah
untuk memberi gambaran secara terus menerus mengenai keadaan kesehatan yang memungkinkan perawat
merencanakan asal keperawatan pada klien HAP. Langkah pertama dalam pengkajian terhadap klien HAP
adalah mengumpulkan data. Adapun data-data yang dikumpulkan yaitu :
a. Identitas umum
b. Riwayat kesehatan
1. Riwayat kesehatan dahulu
- Adanya kemungkinan klien pernah mengalami riwayat diperlukan uterus seperti seksio sasaria curettage yang
berulang-ulang.
- Kemungkinan klien mengalami penyakit hipertensi DM, Hemofilia serta mengalami penyakit menular seperti
hepatitis.
- Kemungkinan pernah mengalami abortus
2. Riwayat kesehatan sekarang
- Biasanya terjadi perdarahan tanpa alasan
- Perdarahan tanpa rasa nyeri
- Perdarahan biasanya terjadi sejak triwulan ketiga atau sejak kehamilan 20 minggu.
3. Riwakat kesehatan keluarga
- Kemungkinan keluarga pernah mengalami kesulitan kehamilan lainnya.
- Kemungkinan ada keluarga yang menderita seperti ini
- Kemungkinan keluarga pernah mengalami kehamilan ganda.
- Kemungkinan keluarga menderita penyakit hipertensi DM, Hemofilia dan penyakit menular.
4. Riwayar Obstetri
Riwayat Haid/Menstruasi
- Minarche : 12 th
- Siklus : 28 hari
- Lamanya : ± 7 hari
- Baunya : amis
- Keluhan pada haid : tidak ada keluhan nyeri haid
5. Riwayat kehamilan dan persalinan
- Multigravida
- Kemungkinan abortus
- Kemungkinan pernah melakukan curettage
6. Riwayat nipas
- Lochea Rubra
Bagaimana baunya, amis
- Banyaknya 2 kali ganti duk besar
- Tentang laktasi
Colostrum ada
c. Pemeriksaan tanda-tanda vital
- Suhu tubuh, suhu akan meningkat jika terjadi infeksi
- Tekanan darah, akan menurun jika ditemui adanya tanda syok
- Pernapasan, nafas jika kebutuhan akan oksigen terpenuhi
- Nadi, nadi melemah jika ditemui tanda-tanda shok
d. Pemeriksaan fisik
- Kepala, seperti warna, keadaan dan kebersihan
- Muka, biasanya terdapat cloasmagrafidarum, muka kelihatan pucat.
- Mata biasanya konjugtiva anemis
- Thorak, biasanya bunyi nafas vesikuler, jenis pernapasan thoracoabdominal
- Abdomen
• Inspeksi : terdapat strie gravidarum
• Palpasi :
Leopoid I : Janin sering belum cukup bulan,jadi fundus uteri masih rendah
Leopoid II : Sering dijumpai kesalahan letak
Leopoid III : Bagian terbawah janin belum turun, apabila letak kepala biasanya kepala masih goyang atau
terapung(floating) atau mengolak diatas pintu atas panggul.
Leopoid IV : Kepala janin belum masuk pintu atas panggul
• Perkusi : Reflek lutut +/+
• Auskultasi : bunyi jantung janin bisa cepat lambat. Normal 120.160
- Genetalia biasanya pada vagina keluar dasar berwarna merah muda
- Ekstremitas. Kemungkinan udema atau varies. Kemungkinan akral dingin.
e. Pemeriksaan penunjang
- Data laboraturium, memungkinkan Hb rendah. Hb yang normal (12-14gr%)
leokosit meningkat (Normal 6000-1000 mm3). Trombosit menurun (normal 250
ribu – 500 ribu).
f. Data sosial ekonomi
Plaesnta previa dapat terjadi pada semua tingkat ekonomi namun pada umumnya terjadi pada golongan
menengah kebawah , hal ini juga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan yang dimilikinya.
Dari pengkajian yang telah diuraikan diatas dapat disusun beberapa diagnosa keperawatan yang
memungkinkan ditemukan pada klien HAP atas indikasi plasenta precia antara lain :
1. Resiko perdarahan berulang berhubungan dengan efek penanaman plasenta pada segmen bawah rahim (
Susan Martin Tucker,dkk 1988:523)
2. Gangguan pemenuhan kebutuhan sehari-hari berhubungan dengan ketidak mampuan merawat diri.
Sekunder keharusan bedrest (Linda Jual Carpenito edisio :326)
3. Resiko rawat janin : fital distress berhubungan dengan tidak ada kuatnya perfusi darah ke plasenta (Lynda
Jual Carpenito,2000: 1127) post seksio.
4. Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan trauma jaringan dan spasme otot perut (Susan Martin
Tucker,dkk 1988 : 624).
5. Intolerasi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik (Barbara Enggram :1998:371)
6. Resiko infeksi berhubungan dengan terbukanya tempat masuknya mikro organisme sekunder terhadap
luka operasi sesarea.
7. Kecemasan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang perawatan dan pengobatan (Susan
Martin Tucker,dkk 1988).
2. Perencanaan
Perencanaan keperawatan adalah bagian selanjutnya dari proses keperawatan. Dan hasil pengkajian seorang
perawat mampu menentukan rencana tindakan yang akan dilakukan pada klien. Perencanaan ini dikembangkan
sesuai dengan kebutuhan klien dan mengatasi masalahnya. Adapun rencana tindakan dari diagnosa tersebut
adalah :
DX I
Resiko perdarahan berulang berhubungan dengan efek penanaman plasenta pada segmen bawah rahim
Tujuan :
Klien tidak mengalami perdarahan berulang
Intervensi :
1. Anjurkan klien untuk membatasi perserakan
Rasional : Pergerakan yang banyak dapat mempermudah pelepasan plasenta sehingga dapat terjadi perdarahan
2. Kontrol tanda-tanda vital (TD, Nadi, Pernafasan, suhu)
Rasional : Dengan mengukur tanda-tanda vital dapat diketahui secara dini kemunduran atau kemajuan keadaan
klien.
3. Kontrol perdarahan pervaginam
Rasional : Dengan mengontrol perdarahan dapat diketahui perubahan perfusi jaringan pada plasenta sehingga
dapat melakukan tindakan segera.
4. Anjurakan klien untuk melaporkan segera bila ada tanda-tanda perdarahan lebih banyak
Rasional : Pelaporan tanda perdarahan dengan cepat dapat membantu dalam melakukan tindakan segera dalam
mengatasi keadaan klien.
5. Monitor bunyi jantung janin
Rasional : Denyut jantung lebih >160 serta< 100dapat menunjukkan gawat janin kemungkinan terjadi
gangguan perfusi pada plasenta
6. Kolaborasi dengan tim medis untuk mengakhiri kehamilan
Rasional : Dengan mengakhiri kehamilan dapat mengatasi perdarahan secara dini.
DX II
Gangguan pemenuhan ketuban sehari-hariberhubungan dengan ketidakmampuan merawat diri sekunder
keharusan bedres
Tujuan :
Pemenuhan kebutuhan klien sehari-hari terpenuhi
Intervensi :
1. Bina hubungan saling percaya antara perawat dengan klien dengan menggunakan komunikasi therapeutik
Rasional : Dengan melakukan komunikasi therapeutic diharapkan klien kooperatif dalam melakukan asuhan
keperawatan.
2. Bantu klien dalam pemenuhan kebutuhan dasar
Rasional engan membantu kebutuhan klien seperti mandi, BAB,BAK,sehingga kebutuhan klien terpenuhi,
3. Libatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan
Rasional : Dengan melibatkan keluarga, klien merasa tenang karena dilakukan oleh keluarga sendiri dan klien
merasa diperhatikan.
4. Dekatkan alat-alat yang dibutuhkan klien
Rasional : Dengan mendekatkan alat-alat kesisi klien dengan mudah dapat memenuhi kebutuhannya sendiri.
5. Anjurkan klien untuk memberi tahu perawat untuk memberikan bantuan
Rasional : Dengan memberi tahu perawat sehingga kebutuhan klien dapat terpenuhi.
DX III
Resiko rawat janin berhubungan dengan tidak adekuatnya perfusi darak ke plasenta
Tujuan :
Gawat janin tidak terjadi
Intervensi :
1. Istirahatkan klien
Rasional : melalui istirahat kemungkinan terjadinya pelepasan plasenta dapat dicegah
2. Anjurkan klien agar miring kekiri
Rasional : Posisi tidur menurunkan oklusi vena cava inferior oleh uterus dan meningkatkan aliran balik vena
ke jantung
3. Anjurkan klien untuk nafas dalam
Rasional : Dengan nafas dalam dapat meningkatkan konsumsi O2 pada ibu sehingga O2 janin terpenuhi
4. Kolaborasi dengan dokter tentang pemberian oksigen
Rasional : Dengan pemberian O2 dapat meningkatkan konsumsi O2 sehingga konsumsi pada janin meningkat.
5. Kolaborasi dengan dokter tentang pemberian kortikosteroit
Rasional : Korticosteroit dapat meningkatkan ketahanan sel terutama organ-organ vital pada janin.
DX IV
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan trauma jaringan dan spasme otot perut
Tujuan :
Rasa nyaman terpenuhi
Intervensi :
1. Kaji tingkat nyeri yang dirasakan klien
Rasional : Dengan mengkaji tingkat nyeri, kapan nyeri dirasakan oleh klien dapat disajikan sebagai dasar dan
pedoman dalam merencanakan tindakan keperawatan selanjutnya.
2. Jelaskan pada klien penyebab nyeri
Rasional : Dengan memberikan penjelasan pada klien diharapkan klien dapat beradaptasi dan mampu
mengatasi rasa nyeri yang dirasakan klien.
3. Atur posisi nyaman menurut klien tidak menimbulkan peregangan luka.
Rasional : Peregangan luka dapat meningkatkan rasa nyeri.
4. Alihkan perhatian klien dari rasa nyeri dengan mengajak klien berbicara.
Rasional: Dengan mengalihkan perhatian klien, diharapkan klien tidak terpusatkan pada rasa nyeri
5. Anjurkan dan latih klien teknik relaksasi (nafas dalam)
Rasional : Dengan teknik nafas dalam diharapkan pemasukan oksigen ke jaringan lancar dengan harapan rasa
nyeri dapat berkurang.
6. Kontrol vital sign klien
Rasional engan mengontrol/menukur vital sign klien dapat diketahui kemunduran atau kemajuan keadaan
klien untuk mengambil tindakan selanjutnya.
7. Kolaborasi dengan dokter dalam memberikan analgetik
Rasional : Analgetik dapat menekan pusat nyeri sehingga nyeridapat berkurang.
3.2. Solusio Plasenta
3.2.1. Pengertian
Solusio plasenta adalah lepasnya plasenta dari insersi sebelum waktunya
3.2.2. Etiologi
Belum diketahui pasti. Faktor predisposisi yang mungkin ialah hipertensi kronik, trauma eksternal, tali pusat
pendek, dekompresi terus mendadak, anomali atau tumor uterus, difisiensi gizi, merokok, konsumsi alcohol,
penyalahgunaan kokain, serta obstruksi vena kana inferior dan vena ovarika.
3.2.3. Patofisiologi
Terjadinya solusio plasentae dipicu oleh perdarahanke dalam basalis yang kemudian terbelah dan
meninggalkan lapisan tipis yang melekat pada miometrium sehingga terbentuk hematoma desidual yang
menyebabkan pelepasan,kompresi dan akhirnya penghancuran plasenta yang berdekatan dengan bagian
tersebut.
Ruptur pembuluh arteri spiralis desidua menyebabkan hematoma retroplasenta yang akan memutuskan lebih
banyak pembuluh darah. Hingga pelepasan plasenta makin luas dan mencapai tepi plasenta. Karena uterus
tetap berdistensi dengan adanya janin, uterus tidak mampu berkontraksi optimal untuk menekan pembuluh
darah tersebut. Selanjutnya darah yang mengalir keluar dapt melepaskan selaput ketuban.
3.2.4. Manifestasi Klinis
• Anamnesis : perdarahan biasanya pada trimester ketiga, perdarahan pervaginam berwarna kehitam-hitaman
yang sedikit sekali dan tanpa rasa nyeri sampai dengan yang disertai nyeri perut, uterus tegang, perdarahan
pervaginam yang banyak, syok dak kematian janin intrauterine.
• Pemeriksaan fisik tanda vital dapat normal sampai menunjukkan tanda syok.
• Pemeriksaan obstetric : nyeri tekan uterus dan tegang, bagian-bagian janin sukar dinilai, denyut jantung
janin sulit dinilai atau tidak ada, air ketuban berwarna kemerahan karena tercampur darah.
3.2.5. Manajemen Terapeutik
Harus dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas operasi. Sebelum dirujuk anjuran pasien untuk tirah baring
total dengan menghadap ke kiri, tidak melakukan senggama, menghindari peningkatan tekanan rongga perut
(misalnya batuk, mengedan karena sulit buang air besar). Pasang infus cairan NaCl fisiologis. Bila tidak
memungkinkan, berikan cairan peronai.
Pantau tekanan darah dan frekuensi nadi tiap 15 menit untuk mendeteksi adanya hipotensi atau syok akibat
pendarahan. Pantau pula BJJ dan pergerakan janin.Bila terdapat rejatan,segera lakukan resusitasi cairan dan
tranfusi darah. Bila tidak teratasi, Upayakan Penyelamatan optimal bila teratasi. Perhatikan keadaan
janin.Setelah rejatan diatasi, pertimbangkan seksio sesarea bila janin masih hidup atau persalinan pervaginam
diperkirakan akan berlangsung lama. Bila rejatan tidak dapat diatasi, upayakan tindakan penyelamatan yang
optimal.Setelah syok teratasi dan janin mati, lihat pembukaan. Bila lebih dari 6 cm,pecahkan ketuban lalu
infuse oksitosin. Bila kurang dari 6cm lakukan seksio sesarea.Bila tak terdapat rejatan dan usia gestasi kurang
dari 37 minggu atau taksiran berat janin kurang dari 2.500 gr.Penanganan berdasarkan berat atau ringannya
penyakit yaitu :
a). Solusio Plasenta Ringan
• Ekspektatif, bila ada perbaikan (perdarahan berhenti, kontraksi uterus tidak ada, janin hidup) dengan tirah
baring atasi anemia dan KTG serial,lalu tunggu persalinan spontan.
• Aktif, bila ada perburukan (perdarahan berlangsung terus, uterus berkontraksi, dapat mengancam
ibu/janin). Usahakan partus pervaginam dengan amniotomi atau infuse oksitosin bila memungkinkan. Jika
terus pendarahan,skor pelvic kurang dari 5 atau persalinan masih lama, lakukan seksio sesarea.
b). Solusio plasenta sedang/berat
Resusitasi cairan
Atasi anemia dengan pemberian transfuse darah
Partus pervaginam bila diperkirakan dapat berlangsung dalam 6 jam, perabdominan bila tak dapat
Bila terdapat rejatan, usia gestasi 37 minggu atau lebih, taksiran berat janin 2.500 gr atau lebih. Pikirkan partus
perabdominan bila persalinan pervaginam diperkirakan berlangsung lama.
Prognosis
Prognosis ibu tergantung luasnya plasenta yang terlepas dari dinding uterus, banyaknya perdarahan, derajat
kelainan pembekuan darah, ada tidaknya hipertensi menahun atau preeklamsia, tersembunyi tidaknya
perdarahan. Dan jarak antara terjadinya solusio plasentae sampai pengosongan uterus. Diperkirakan resiko
kematian ibi 0.5-5% dan kematian janin 50-80%.
3.2.6. Asuhan Keperawatan
a). Pengkajian
1). Data Biografi Demografi
Usia, jenis kelamin, pekerjaan serta identitas lain yang mendukug.
2). Riwayat Kesehatan
Riwayat penyakit dahulu(DM,gagal ginjal dan hipertensi)
Riwayat kesehatan keluarga
Riwayat kehamilan yang lalu
Riwayat ginekologis
Status kesehatan sekarang
Riwayat status nutrisi
3). Kebiasaan (merokok, penggunaan obat-obatan dan alkohol)
4). Status psikologis
5). Kepercayaan Keagamaan
6). Pemeriksaan Fisik
Vital sign (TD, nadi, respirasi dan suhu)
Tinggi badan dan berat badan (sebelum hamil dan setelah hamil)
Sistem kardiovaskuler, hipotensi, tachicardi, dan cyanosis)
Sistem perkemihan (intake dan output)
Sistem integument (udem,pucat, kulit dingin)
Sistem reproduksi (pemeriksa leopoid I – IV, kontraksi uterus yang meningkat. Status serviks, perdarahan
dengan darah warna merah kehitaman. Fundus uteri yang makin tinggi).
Status janin (DJJ menurun, pergerakan janin menurun).
7). Pemeriksaan penunjang (EKG,USG, laboraturium{darah lengkap, urine, dan kimia darah})
b). Diagnosa Keperawatan
1) Gangguan perfusi jaringan serta umum berhubungan dengan hipovelemik shock.
2) Gangguan perfusi jaringan : perdarahan berhubungan dengan gangguan pembekuan darah
3) Kecemasan berhubungan dengan kemungkinan efek negatif dari perdarahan atau pengeluaran kehamilan
4) Resiko tinggi terjadinya fetal distress berhubungan dengan perfusi oksigen yang tidak adekuatnya pada
plasenta
c). Intervensi Keperawatan
1) Gangguan perfusi jaringan secara umum berhubungan dengan hipovolemik shock
Tujuan : pefusi jaringan adekuat
Kriteria :
Tanda vital dalam batas normal
Kulit hangat dan kering
Nadi perifer adekuat
Tindakan mandiri :
a). Monitor tanda vital (TD, nadi, nafas,suhu, dan palpasi nadi perifer secara rutin)
R : permonitoran tanda vital dapat menunjukkan indikasi terjadinya pemulihan atau penurunan sirkulasi
b.) Kaji dan catat perdarahan pervaginam dan peningkatan tinggi fundus uteri.
R : Sebagai petunjuk untuk tindakan kedaruratan selanjutnya
c.) Monitor intake dan output untuk memperbaiki sirkulasi volume cairan.
R : pemberian intake cairan (secara parenatal) dapat membantu mempertahankan volume sirkulasi
Tindakan kolaborasi :
a. Pemberian oksigen sesuai indikasi
R : Pemberian oksigen dapat meningkatkan sirkulasi O2 pada jaringan
b. Pemberian tranfusi darah sesuai indikasi
R : pemberian tranfusi darah dapat membantu sirkulasi ke jaringan
2). Gangguan perfusi jaringan : perdarahan berhubungan dengan gangguan pembekuan darah
Tujuan : perfusi jaringan adekuatnya dan perdarahan teratasi
Kriteria :
• Keadaan umum ibu baik
• Pembekuan darah normal
• Tanda vital dalam batas normal
• Sirkulasi darah baik
Tindakan mandiri :
a. Kaji dan monitor perdarahan pervaginam yang abnormal
R : dapat dijadikan sebagai indikator dari faktor kegagalan pembekuan darah
b. Monitor sirkulasi darah serta tanda DIC (turunnya tingkat kekenyalan fibrinogen, pertambahan
prothrombin, tromboplastin dan pembekuan darah)
R : dapat mengintervensi tindakan selanjutnya yang cepat dan sesuai dengan masalah yang ditemukan.
c. Pemberian trasfusi dan komponen darah sesuai dengan indikasi
R : tranfusi darah dapat membantu pengurangan faktor pembekuan karena proses pembekuan yang abnormal .
d. Pemberian obat sesuai dengan indikasi
R : pemberian obat untuk menghentikan perdarahan dan mengurangi kegagalan faktor pembekuan darah
3). Resiko tinggi terjadinya fetal distress berhubungan dengan perfusi oksigen yang tidak adekuat pada
plasenta
Tujuan : perfusi oksigen pada janin adekuat
Kriteria :
• DJJ normal (120-160 x/menit)
• Kebutuhan oksigen janin terpenuhi
• Kontraksi uterus normal
• HIS normal
• Pergerakan janin baik
Tindakan mandiri :
a) Monitor DJJ dan pergerakan janin
R : gangguan perfusi plasenta dapat menurunkan oksigenisasi pada janin, sehingga pergerakan janin dan DJJ
tidak normal
b). Anjurkan ibu mempertahankan posisi tidur lateral
R : posisi lateral dapat memberikan sirkulasi yang optimum pada uterus dan plasenta
Tindakan kolaborasi :
a). Pemberian Oksigen sesuai indikasi
R : pemberian oksigen akan membantu sirkulasi oksigen ke janin menjadi adekuat
b). Menyiapkan klien untuk memeriksakan amniosintesis jika diperlukan
R : pemeriksaan amniosintesis dapat dijadikan indicator kegawatan darurat janin.
c). Persiapkan klien untuk dilakukan tindakan emergensi seperti section caesaria
R : tindakan section merupakan salah satu alternative menghindari terjadinya fetal distress
BAB IV
ASUHAN KEPERAWATAN PADA
PASIEN HYPEREMESIS
4.1. Pengertian
Hyperemasis gravidarum adalah mual dan muntah berlebihan sehingga pekerjaan sehari-hari dan keadaan
umum menjadi buruk. Mual dan muntah merupakan gangguan yang paling sering dijumpai pada kehamilan
trismeter 1. Kurang lebih pada 6 minggu setelah haid terakhir selama 10 minggu. Sekitar 60-80% primigravida
dan 40-60% multigravida mengalami mual dan muntah. Namun gejala ini menjadi lebih berat hanya pada 1
dari 1.000 kehamilan.
4.2. Etiologi
Belum diketahui pasti, namun beberapa faktor mempunyai pengaruh antara lain :
a) Faktor predisposisi, yaitu pamigravida, mola hidatidosa,dan kehamilan ganda
b) Faktor organic, yaitu alergi, masuknya vili khorialis dalam sirkulasi, perubahan metabolic akibat hamil
dan resistansi ibu yang menurun
c) Faktor psikologi
4.3. Patofisiologi
Perasaan mual akibat kadar estrogen meningkat. Mual dan muntah terus menerus dapat menyebabkan
dehidrasi, hiponatremia, hipokloremia.,penurunan klorida urin. Selanjutnya terjadi hemokosentrasi yang
mengurangi perfusi darah kejaringan dan menyebabkan tertimbunnya zat toksit. Pemakaian cadangan
karbonhidrat dan lemak menyebabkan oksidasi lemak tidak sempurna sehingga terjadi ketosis. Hipokalemia
akibat muntah dan ekskresi yang berlebihan selanjutnya menambah frekuensu muntah marusak hepar. Selaput
lender esofagus dan lambung dapat robek (sindrom Mallory-Weiss) sehingga terjadi perdarahan
gastrointestinal.
4.4 Manifestasi klinis
Menurut berat ringannya gejala, hiperemisis grafidarum dibagi dalam 3 tingkatan yaitu :
a) Tingkat I
Muntah terus menerus yang mempengaruhi keadaan umum, menimbulkan rasa lemah, nafsu makan tak ada,
berat badan turun dan nyeri apigastrium. Frekwensi nadi pasien naik sekitar 100 x/menit, tekanan darah sistolik
turun, turgor kulit berkurang, lidah kering dan mata cekung.
b) Tingkat II
Pasien tampak lemah dan apatis, lidah kotor, nadi kecil dan cepat, suhu kadang naik dan mata sedikit icterik.
Berat badan pasien turun, timbul hipotensi, hemokonsentrasi, oliguria, konstipasi, dan napas bau aseton.
c) Tingkat III.
Kesadaran pasien menurun dari samnolen sampai koma, muntah berhenti nadi kecil dan cepat, suhu meningkat
dan tekanan darah makin turun.
4.5 Penatalaksanaan
Bila pencegahan tidak berhasil, maka diperlukan pengobatan yaitu :
a) Penderita diisolasi dalam kamar yang tenang dan cerah dengan pertukaran udara yang baik. Kalori yang
diberikan secara parenteral dengan glukosa 5 % dalam cairan fisiologis sebanyak 2 – 3 liter sehari.
b) Diuresis selalu dikontrol untuk menjaga keseimbangan cairan
c) Bila selama 24 jam penderita tidak muntah dan keadaan umum bertambah baik, coba berikan makanan dan
minimaman yang sedikit demi sedikit ditambah.
d) Sedatif yang diberikan adalah fenobarbital
e) Dianjurkan pemberian vitamin B1 Dan B6 ditambah
f) Berikan terapi psikologis untuk meyakinkan pasien penyakitnya bisa disembuhkan serta menghilankan
rasa takut hamil dan konflik yang melatarbelakangi hiperemesis.
4.6. Asuhan Keperawatan
Pengkajian
Pengkajian pendekatan yang sistemik untuk mengumpulkan data, mengelompokkan data dan menganalisanya
sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan untuk perawatan klien. Tujuan utama dari pengkajian adalah
untuk memberikan gambaran secara terus menerus mengenai keadaan kesehatan klien yang memungkinkan
perawat merencanakan asuhan keperawatan pada klien.
Langkah pertama dalam pengkajian klien hyperemisis gravidarum adalah mengumpulkan data. Adapaun data-
data yang akan dikumpulkan adalah :
a) Data Riwayat Kesehatan.
1. Data Riwayat kesehatan sekarang
Pada riwayat kesehatan sekarang terdapat keluhan yang dirasakan oleh klien sesuai dengan gejala-gejala pada
hyperemisis gravidarum yaitu : mual, muntah yang terus menerus, merasa lemah dan kelelahan, merasa haus,
terasa asam dimulut, konstipasi dan demam.Kemudian dapat juga ditemukan berat badan yang menurun, turgor
kulit yang jelek, gangguan elektrolit. Terjadinya oliguria, tachicardi mata cekung dan ikterik.
2. Riwayat kesehatan dahulu
• Kemungkinan klien pernah mengalami hioremisis gravidarum
sebelumnya.
• Kemungkinan klien pernah mengalami penyakit yang berhubungan
dengan saluran pencernaan yang menyebabkan mual dan muntah.
3. Riwayat kesehatan keluarga
Kemungkinan adanya riwayat kehamilan ganda pada keluarga
b) Data fisik biologis
Data yang dapat ditemui pada klien hiperemisis gravidarum adalah mammae membesar, hiperpikmentasi
areola mammae, terdapat cloasma gravidarum, mukosa membrane dan bibir kering, turgor jelek, mata cekung
dan sedikit ikterik, klien terlihat lemah dan lelah, tachycardia, hipotensi, pusing kehilangan kesadaran dan
terasa asam di mulut.
c) Riwayat menstruasi
• Kemungkinan menarche usia 12 – 14 th
• Siklus 28 – 30 hari
• Lamanya 5 – 7 hari
• Banyaknya 2 – 3 kali ganti duk
• Kemungkinan ada keluhan waktu haid seperti nyeri, sakit kepala, muntah.
d) Riwayat perkawinan
Kemungkinan terjadi pada perkawinan usia muda
e) Riwayat kehamilan dan persalinan
• Hamil muda : Klien pusing, mual, muntah dan tidak ada nafsu makan.
• Hamil tua : Pemeriksaan umum terhadap klien tentang berat badan, tekanan
darah dan tingkat kesadaran.
f) Data psikologis
Riwayat psikologis sangat penting dikaji agar dapat diketahui keadaan jiwa klien sehubungan dengan reaksi
dan perilaku klien terhadap kehamilan. Keadaan jiwa klien yang labil, mudah marah, cemas, dan takut akan
kegagalan persalinan, mudah menangis, sedih dan kecewa dapat memperberat mual dan muntah. Pola
pertahanan diri yang digunakan klien hiperemisis gravidarum tergantung kepada pengalaman klien terhadap
kehamilan dan dukungan dari keluarga serta perawat.
g) Data sosial ekonomi.
Hiperemisis gravidarum bisa terjadi pada semua tingkat ekonomi. Namun pada umumnya terjadi pada
ekonomi tingkat menengah ke bawah, hal ini juga dipengaruhi oleh pengetahuan yang dimiliki.
h) Data penunjang
Data penunjang didapat dari hasil laboratorium yaitu pemeriksaan darah dan urine. Pemeriksaan darah yaitu
nilai haemoglobin dan hematokrit yang meningkat menunjukkan homokonsentrasi yang berkaitan dengan
dehidrasi. Pemeriksaan urinalisa yaitu urine yang sedikit dan mempunyai konsentrasi yang tinggi sebagai
akibat dehidrasi. Terdapatnya aseton dalam urine.
Diagnosa Keperawatan
Dari pengkajian yang telah diuraikan maka ada beberapa kemungkinan diagnosa
keperawatan yaitu:
1) Kekurangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan muntah yang berlebihan
dan pemasukan yang tidak adekuat (ireneM. Bobak, 1995: 637)
2) perubahan nutrisi ; b/d mual dan muntah yang terus menerus (Irene M.Bobak :638)
3) gangguan rasa nyaman : nyeri pada epigastrium b/d muntah yang berulang ( Marie
S Jaffe . 1989 hal 37 )
4) Gangguan eliminasi : konstipasi b/d intake makanan yang tidak adekuat ( Marie S .
Jaffe . 1989 hal 37 )
5) Tidak efektif nya pola pertahanan diri b/d efek psikologis terhadap kehamilan dan
perubahan sebagai ibu ( Sharon J Reeder .1987 hal 748)
6) Potensial perubahan nutrisi fetal b/d berkurang nya peredaran darah makanan ke
janin ( ( Sharon J Reeder .1987 hal 748)
Perencanaan
1) Kekurangan cairan dan elektrolit b/d muntah yang berlebihan dan pemasukan yang tidak adekwat
Tujuan : Kebutuhan cairan dan elektrolit tidak terganggu
Intervensi :
• Istirahatkan klien di tempat yang nyaman
Rasional : Istirahat akan menurunkan kebutuhan energi.Kerja metabolisme tidak meningkat sehingga tidak
merangsang untuk tidak terjadinya mual dan muntah
• Monitor vital sign serta tanda – tanda dehidrasi
Rasional : Dengan mengobservasi tanda-tanda kekurangan cairan dapat diketahui keadaan umum klien dan
sejauh mana kekurangan cairan pada klien.Tekanan darah menurun, suhu meningkat dan nadi meningkat
merupakan tanda-tanda dehidrasi dan hipovolemia
• Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian infuse
Rasoinal : Pemberian cairan infuse dapat mengganti jumlah cairan elektrolit yang hilang dengan cepat
• Monitor tetesan cairan infuse
Rasional : Jumlah dan tetesan infuse yang tidak tepat dapat menyebabkan terjadinya kelebihan atau
kekurangan cairan pada sistim sirkulasi.
• Catat intek dan out put
Rasional : Dengan mengetahui intek dan out put cairan diketahui keseimbangan cairan dalam tubuh.
• Setelah 24 jam pertama anjurkan minum tiap-tiap jam
Rasional : Minum yang sering dapat menambah pemasukan cairan melalui oral
2). Perubahan nutrisi ; Kurang dari keburuhan tubuh b/d muntah yang terus menerus
Tujuan: Kebutuhan nutrisi terpenuhi
Intervensi :
• Kaji kebutuhan nutrisi klien
Rasional : Dengan mengetahui kebutuhan nutrisi klien dapat diamati sejauh mana
kekurangan nutrisi pada klien dan tindakan selanjutnya.
• Observasi tanda-tanda kekurangan nutrisi
Rasional :Untuk mengetahui sejauh mana kekurangan nutrisi akibat muntah yang
berlebiahan.
• Setelah 24 jam pertama beri makanan dalam porsi kecil tapi sering
Rasional : makanan dalam porsi kecil dapat mengurangi pemenuhan lambung dan mengurangi pemenuhan
lambung dan mengurangi kerja peristaltik usus serta memudah kan penyerapan makanan .
• Berikan makanan dalam keadaan hangat dan bervariasi.
Rasional : Makanan yang hangat dan bervariasi dapat menambah nafsu makan .
• Beri makanan yang tidak berlemak dan tidak berminyak.
Rasional : makanan yang tidak berlemak dan berminyak mengurangi rangsangan saluran pencernaan
sehingga muntah berkurang.
• Anjurkan klien untuk memakan makanan yang kering dan tidak merangsang pencernaan (seperti roti dan
biscuit )
Rasional : makanan yang kering dan tidak merangsang pencernaan dapat mengurangi mual dan muntah .
• Beri klien motivasi agar mau menghabiskan makanan
Rasional : Klien merasa diperhatikan dan mau menghabiskan makanan
• Timbang berat badan klien.
Rasional : Dengan menimbang berat badan dapat diketahui keseimbangan berat badan sesuai usia kehamilan
dan pengaruh nutrisi.
3) Gangguan rasa nyaman : Nyeri pada epigastrium b/d muntah yang berulang.
Tujuan : Rasa nyaman terpenuhi .
Intervensi :
• Kaji tingkat nyeri.
Rasional : dengan mengkaji tingkat nyeri dapat diketahui tingkat nyeri pada klien
dan tindakan selanjutnya .
• Atur posisi klien dengan kepala lebihtinggi selama 30 menit setelah makan
Rasional : Dengan posisi kepala lebih tinggi dapat mengurangi tekanan pada
gastroinstestinal sehingga mengurangi muntah yang berulang .
• Perhatikan kebersihan mulut klien sebelumdan sesudah muntah .
Rasional : Kebersihan mulut yang baik dan terpelihara dapat menimbulkan ras nyaman dan muntah berkurang .
• Alihkan perhatian pada hal yang menyenangkan
Rasional : Dengan mengalihkan perhatian diharapkan klien dapat melupakan rasa
nyeri akibat muntah yang berulang.
• Anjurkan klien untuk beristirahat dan batasi pengunjung
Rasional : Dengan istirahat yang cukup dan membatasi pengunjung dapat
menambah ketenangan klien .
• Kolaborasi pemberian obat anti emetik dan sedative dengan dokter
Rasional : Obat anti emetic mengurangi muntah danobat sedative membuat klien
tenang sehingga mengurangi rasa nyeri .
4). Gangguan eliminasi : konstipasi b/d intake makanan yang tidak adekuat.
Tujuan :Eliminasi teratur.
Intervensi :
• Kaji pola eliminasi klien
Rasional : Untuk mengetahui kebiasaan eliminasi sehari hari
• Anjurkan klien makan buah-buahan dan sayuran
Rasional : Dengan memakan buah-buahan dan sayuran yang banyak dapat melancarkan BAB.
• Anjurkan klien untuk menghabiskan diet yang diberikan.
Rasional : Dengan menghabiskan diet yang diberikan intek makanan adekwat dan konstipasi tidak terjadi
• Anjurkan klien banyak minum
Rasional : Cairan yang banyak memperlunak veses sehingga mencegah komplikasi
• Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat pencahar.
Rasional : Pemberian obat pencahar dapat melancarkan BAB
5). Tidak efektifnya pola pertahanan diri b/d efek psikologis terhadap kehamilan dan perubahan sebagai ibu.
Tujuan: Pola pertahanan diri afektif
Intervensi :
• Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya secara langsung terhadap kehamilan.
Rasional : Dengan mengungkapkan perasaan klien dapat diketahui reaksi klien terhadap kehamilan
• Dengarkan keluhan klien dengan penuh perhatian
Rasional : Klien merasa diperhatikkan dan tidak sendiri dalam menghadapi masalah.
• Diskusikan bersama klien tentang masalah yang dihadapi dan pemecahan masalah yang dilakukan
Rasional : Melalui diskusi dapat diketahui pola pertahanan diri klien dalam menghadapi masalahnya
• Bantu klien dalam memecahkan masalahnya terutama yang berhubungan dengan kehamilan
Rasional : Dengan membantu memecahkan masalah klien da[pat menemukan pola pertahanan diri yang
efektif.
• Dukung klien jika pemecahkan masalah konstruktif
Rasional : Akan menambah percaya diri dalam melakukan pemecahan masalah.
• Libatkan keluarga dalam kehamilan klien
Rasional : Keluarga dapat diajak bekerja sama dalam memberikan dorongan pada klien terhadap
kehamilannya.
• Kolaborasi dengan ahli psikiatri jika diperlukan
Rasional : Untuk mengetahui adanya kemungkinan factor psikologis yang lebih berat sebagai penyebab
masalah.
6).Potensi perubahan nutrisi vetal b/d Berkurangnya peredaran darah dan makanan ke janin
Tujuan : Perkembangan janin tidak terganggu
Intervensi :
• Jelaskan pada klien pentingnya nutrisi bagi pertumbuhan dan perkembangan janin
Rasional : Agar klien menyadari akan pentingnya nutrisi bagi janin dank lien mengetahui kebutuhan
nutrisinya.
• Periksa Fundus uteri
Rasional : Untuk mengetahui fundus uteri yang sesuai dengan kehamilan
• Monitor denyut jantung janin
Rasional : Denyut jantung yang masih dalam keadaan normal dan aktif menandakan janin masih dalam
keadaan baik.
BAB V
GANGGUAN HEMATOLOGI
1. ANEMIA DALAM KEHAMILAN
Baik di Negara maju maupun di Negara berkembang, seseorang di sebut menderita anemia bika kadar
hemoglobin ( HB ) kurang dari 10 gr%, di sebut anemia berat, atau bila kurang dari 6 gr%, di sebut anemia
gravis .
Wanita tidak hamil mempunyai nilai normal hemoglobin 12-15 gr% dan hematokrit 35-54%. Angka-angka
tersebut juga berlaku untuk wanita hamil. Oleh karena itu, pemeriksaan, hematokrit dan hemoglobin harus
menjadi pemeriksaan darah rutin selama pengawasan antenatal.
Penyebab anemia umumnya adalah:
• Kurang gizi (malnutrisi )
• Kurang zat besi dalam diet
• Malabsorbsi
• kehilangan darah yang banyak: persalinan yang lalu, haid dll.
• Penyakit –penyakit kronik: tbc, paru, cacing usus, malaria dll.
Dalam kehamilan, jumlah darah bertambah (hyperemia / hipervolumia) karena itu terjadi pengenceran darah
karena sel-sel darah tidak sebanding pertambahannya dengan plasma darah. Perbandingan pertambahan
tersebut adalah:
• Plasma darah bertambah: 30%
• Sel-sel darah bertambah : 18%
• Hemoglobin bertambah : 19%
Secara fisiologis pengenceran darah ini adalah untuk membantu meringankan kerja jantung.
Pengaruh Anemia terhadap Kehamilan , persalinan , dan Nifas:
• Keguguran
• Partus Prematurus
• Inersia uteri dan partus lama, ibu lemah
• Atonia uteri dan menyebabkan pendarahan
• Syok
• Afibrinogenemia dan hipofibrinogenimia
• Infeksi intrapartum dan dalam nifas
• Bila terjadi anemia gravis (Hb di bawah 4 gr%) terjadi payah jantung, yang
bukan saja menyulitkan kehamilan dan persalinan, bahkan bisa fatal.
Pengaruh Anemia terhadap hasil konsepsi
Hasil konsepsi (janin, plasenta, darah) membutuhkan zat besi dalam jumlah besar untuk pembuatan butir-butir
darah merah dan pertumbuhannya, yaitu sebanyak berat besi. Jumlah ini membutuhkan 1\10 dari seluruh besi
dalam tubuh. Terjadinya anemia dalam kehamilan bergantung dari jumlah persediaan besi dalam hati,
limfa,dan sumsum tulang
Selama masih mempunyai cukup persediaan besi, Hb tidak akan turun dan bila persediaan ini habis, Hb akan
turun. Ini terjadi pada bulan 5-6 kehamilan, pada waktu janin membutuhkan banyak zat besi. Bila terjadi
anemia, pengaruhnya terhadap hasil konsepsi adalah:
• Keguguran
• Kematian jann dalam kandungan
• Kematian janin waktu lahir
• Kematian perinatal tinggi
• Prematuritas
• Dapatterjadi cacat bawaan
• Cadangan besi kurang
Klasifikasi Anemia dalam kehamilan
• Anemia defisiensi besi (62,3%)
• Anemia megaloblastik (29,05)
• Anemia hipoplastik (8,0%)
• Anemia hemolitik ( sel sickle) (0,7%)
Anemia defisiensi besi (62,3%)
Anemia jenis ini biasanya berbentuk normositik dan hipokromik serta paling banyak di jumpai. Penyebabnya
telah dibicarakan di atas sebagai penyebab anemia umumnya.
Pengobatan
Keperluan zat besi untuk wanita non-hamil, hamil, dan dalam laktasi yang di anjurkan adalah:
• FNB Amerika Serikat (1958): 12 mg-15mg-15mg.
• LIPI Indonesia (1968): 12mg-17mg-17mg.
Kemasan zat besi dapat di berikan peroral atau parenteral.
• Per oral: sulfas ferosus atau glukonas ferosus dengan dosis 3-5 x0,20mg.
• Parenteral: di berikan bila ibu hamil tidak tahan pemberian per oral atau absorbsi di saluran pencernaan
kurang baik, kemasan diberikan secara intra muskuler atau intravena. Kemasan ini antara lain : imferon,
jectover, dan ferrigen. Hasilnya lebih cepat dibandingkan per oral.
Anemia megaloblastik
Anemia megaloblastik biasanya berbentuk makrositik tau pernisiosa. Penyebany adalah karena kekurangan
asam folik, jarang sekali akibat karena kekurangan vitamin B12. biasanya karena malnutrisi dan infeksi yang
kronik
Pengobatan:
• asam folik 15-30mg per hari
• vitamin B12 3×1 tablet per hari
• sulvas ferosus 3×1 tablet per hari
• pada kasus berat dan pengobatan per oral hasilnya lamban sehingga dapat di
berikan tranfusi darah.
Anemia hipoplastik
Anemia hipoplastik disebabkan oleh hipofungsi sumsum tulang, membentuk sel-sel darah merah baru, untuk
diagnosis diperlukan pemeriksaan-pemeriksaan:
• Darah tepi lengkap
• Pemeriksaan pungsi sternal
• Pemeriksaan retikulosit dan lain-lain.
Anemia hemolitik
Anemia hemolitik disebabkan oleh penghancuran atau pemecahan sel darah merah yang lebih cepat dari
pembuatannya ini disebabkan oleh :
• Faktor intracorpusculer : dijumpai pada anemia hemolitik heriditer ; talasemia;
anemia sickle ( sabit); hemoglobinopati C, D,G, H , I; dan parasismal nocturnal
hemoglobinuria.
• Faktor ekstrakorpuskuler: disebabkan malaria, sepsis, keracunan zat logam, dan
dapat beserta obat-obatan ; leukemia, dll
Gejala utama adalah : Anemia dengan kelainan- kelainan gambaran darah, kelemahan, kelelahan serta gejala
komplikasi bila terjadi kelainan pada organ-organ vital.
II LEOKEMIA DAN KEHAMILAN
Leokemia dan kehamilan tidak begitu saling mempengaruhi, namun pada wanita leukemia, bila hamil, harus
memeriksakan diri secara lebih teratur dan lebih sering, karena ancaman terhadap kehamilan dan jiwanya tetap
ada.
Terhadap hasil konsepsi dapat terjadi abortus dan prematuritas. Bahaya perdarahan paska persalinan cukup
besar, karena pada leukemia terjadi gangguan pembekuan darah. Prognosis untuk ibu dan janin tidak begiti
baik.
Sampai sat ini belum ada obat-obat yang memuaskan terhadap leukemia. Cara pengobatan adalah :
• Radiasi : ini sangat membehayakan janin dalam kandungan, karena akan menimbulkan kelainan teratogenik
atau kematian janin dalam kandungan. Bila akan diberikan terapi radiasi dan kemoterapi, sebaiknya terlebih
dulu hasil konsepsi dikeluarkan ( abortus terapeutik)
• Transfusi darah
• Kemoterapi dan sirtotastika
• Anti metabilit
• Kortikosteroid
Pencegahan
• Wanita leukemia sebaiknya jangan hamil
• Dianjurkan memakai kontrasepsi / tubektomi
HEMOSTATIS DAN KELAINAN PEMBEKUAN DARAH
Penyakit ini adalah terhentinya atau penghentian aliran darah dari pembuluh darah yang terbuka atau terluka.
Ada 3 faktor dalam proses hemostasis:
1. Faktor ekstra vaskuler : factor jaringan seperti kulit, otot, subkutis dan
jaringan lain.
2. Faktor vaskuler yaitu dinding pembuluh darah
3. Faktor intra vaskuler yaitu : zat yang terdapat dalam pembuluh darah:
Implementasi
Setelah rencana tindakan keperawatan selanjutnya rencana tindakan tersebut diterapkan dalam situasi yang
nyata untuk mencapai tujuan yang diterapkan. Tindakan keperawatan harus mendetail agar semua tenaga
perawatan dapat menjalankan dengan baik dalam jangka waktu yang telah ditetapkan.
Dalam pelaksanaan tindakan keperawatan, perawat dapat langsung melaksanakannya pada klien dan perawat
dapat mendelegasikannya kepada orang lain yang dipercayai dibawah pengawasan yang masih seprofesi
dengan perawat.
Evaluasi
Evaluasi dari proses keperawatan adalah menilai hasil yang diharapkan terhadap perubahan peilaku klien dan
untuk mengetahui sejauh mana masalah klien teratasi. Disamping itu perawat juga melakukan umpan balik
atau pengkajian ulang jika tujuan yangh ditetapkan belum tercapai dan proses keperawatan segera
dimodifikasi.
BAB VI
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Pre-eklamsi adalah penyakit dengan tanda hipertensi, edema dan proteinuria yang timbul karena kehamilan .
penyakit ini mungkin timbul pada triwulan ketiga kehamilan , tetapi dapat terjadi sebelumnya misalnya karea
molahidatidosa.( Winknjosastro, 1997:282)
Perdarahan antepartum (HAP) merupakan perdarahan dari traktus genitalis yang terjadi antara kehamilan
mingggu ke -28 dan awal partus . Penyebab utama perdarahan antepartum adalah:
• Plasenta previa.
• Solutio plasenta.
Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah yang berlebihan sehingga pekerjaan sehari-hari terganggu
dan keadaan umum menjadi buruk .
Gangguan hematology adalah kelainan darah yang dapat ditemui pada ibu hamil yang dapat menyebabkan
kematiaqn pada janin maupun pada ibu.
Keempat factor diatas harus diwaspadai bila terjadi pada masa kehamilan dan perlu penanganan lebih dini .
5.2. Sasaran
Dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien pre-eklamsia, perdarahan antepartum , hyperemesis,
gangguan hematologi di perlukan pengkajian secara lengkap agar dapat menetapkan diagnosa keperawatan
secara cepat dan tepat terhadap klien sehingga tercapainya peningkatan kesejahteraan ibu dan anak.
http://ainicahayamata.wordpress.com/nursing-only/keperawatan-maternitas/askep-pada-pasien-
perdarahan-antepartum/


paru-paru diliputi zat surfaktan. Ini merupakan syarat bagi paru-paru untuk berkembang dan bernapas. Bila persalinan berjalan lama atau ada gawat janin atau pada letak sungsang akan kita jumpai warna ketuban keruh kehijau-hijauan, karena telah bercampur dengan mekonium.

Fungsi Air Ketuban

1. Untuk proteksi janin. 2. Untuk mencegah perlengketan janin dengan amnion. 3. Agar janin dapat bergerak dengan bebas. 4. Regulasi terhadap panas dan perubahan suhu. 5. Mungkin untuk menambah suplai cairan janin 6. Meratakan tekanan intra – uterin dan membersihkan jalan lahir bila ketuban pecah. 7. Peredaran air ketuban dengan darah cukup lancar dan perputarannya cepat, kira-kira 350-500 cc.

Asal Air Ketuban

1. Kencing janin (fetal urin) 2. Transudasi dari darah ibu 3. Sekresi dari epitel amnion 4. Asal campuran (mixed origin) ( Ida Bagus, 2001 ) 1.1.3. Etiologi Penyebab ketuban pecah dini (KPD) mempunyai dimensi multifaktorial yang dapat dijabarkan sebagai berikut : 1.1.3.1. Serviks inkopeten 1.1.3.2. Ketegangan rahim berlebihan; kehamilan ganda, hidramnion 1.1.3.3. Kelainan letak janin dalam rahim, letak sunsang, letang lintang 1.1.3.4. Kemungkinan kesempitan panggul : perut gantung, bagian terendah belum masuk PAP, sepalopelvik disproforsi 1.1.3.5. Kelainan bawaan dari selaput ketuban 1.1.3.6. Infeksi yang menyebabkan terjadi proses biomekanik pada selaput ketuban dalam bentuk proteolitik sehingga menyebabkan ketuban pecah. ( Arif Monsjoer, dkk, 2001 : 310 ) 1.1.4. Manifestasi Klinik

1.1.4.1. keluar ketuban warna putih, keruh, jernih, kuning, hijau / kecoklatan sedikit / banyak 1.1.4.2. dapat di sertai demam bila sudah ada infeksi 1.1.4.3. janin mudah teraba 1.1.4.4. pada periksa dalam selaput ketuban tidak ada , air ketuban sudah kering

Patofisiologi Kantong amnion yang utuh berfungsi sebagai suatu mekanik terhadap.2001 : 310 ) 1.5.1.1. Janin kurang bulan dengan ketuban pecah dini. resiko infeksi dan sepsis yang keberadaannya di dalam rahim ahkan dapat menjadi problematik. dkk. infeksi tetapi selain itu cairan amnion mempunyai beberapa sifat bakteri ostatik yang dapat memainkan peran dalam pencegahan kario amnionitis dan infeksi janin.5. dengan membrane yang utuh sampai 25% pasien dalam persalinan kurang bulan.4.1. tampak air ketuban mengalir / selaput ketuban tidak ada dan air ketuban ketuban sudah kering ( Arief Mansjoer. . maka harus dilakukan operasi section caesaria. Membran yang utuh bukan merupakan sawar mutlak terhadap infeksi karena kolonisasibakteri terjadi 10% pasien dalam persalinan cukup bulan. bagi ibu resikonya bukan saja terjadi kariomnitis tetapi juga bisa terjadi kegagalan induksi. inspeksikula.

c.1. ( Arief Monsjoer.6. Penatalaksanaan 1. Komplikasi 1. USG ( menentukan usia kehamilan . Pemeriksaan Leukosid darah > 15000 / ul bila terjadi infeksi 1. test lakmus merah berubah menjadi biru 1. partus peterm Persalinan preterm atau partus prematur adalah persalinan yang terjadi pada kehamilan kurang dari 37 minggu ( antara 20 – 37 minggu ) atau dengan berat janin kurang dari 2500 gram ( Manuaba.1.6.6. indeks cairan amnion berkurang ) 313 ) 1.1.3. Pemeriksaan Penunjang 1.1.2. distasia ( partus Kering) Pengeluaran cairan ketuban untuk waktu yang akan lama akan menyebabkan dry labour atau persalinan kering 1.6. amnio sentetis 1.7. dkk.1.1. 1998 : 221) 1.6. prolap Tali pusat Tali pusat menumbung 1.1. Keperawatan a.3.8. infeksi Infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban maupun asenden dari vagina atau infeksi pada cairan ketuban bisa menyebabkan terjadinya KPD.1.2. 2001 : .1. Umur kehamilan kurang 37 minggu.1.4.1.4. b.1. Tidak ada tanda-tanda infeksi dan gawat janin.1.6.1.6.8.1.6.6. Rawat rumah sakit dengan tirah baring. 1.1.

h. Bila ditemukan tanda-tanda inpartu. Lakukan seksio histerektomi bila tanda-tanda infeksi uterus berat ditemukan. infeksi dan gawat janin maka lakukan terminasi kehamilan. 1. Memberikan tokolitik bila ada kontraksi uterus dan memberikan kortikosteroid untuk mematangkan fungsi paru janin. Bila dalam 3 x 24 jam tidak ada pelepasan air dan tidak ada kontraksi uterus maka lakukan mobilisasi bertahap. Lakukan seksiosesaria bila induksi atau akselerasi persalinan mengalami kegagalan.8. Jangan melakukan periksan dalam vagina kecuali ada tanda-tanda persalinan. b. e. . Induksi atau akselerasi persalinan.2. d.d. Apabila pelepasan air berlangsung terus. Melakukan terminasi kehamilan bila ada tanda-tanda infeksi atau gawat janin. Medis a. lakukan terminasi kehamilan. Bila didapatkan infeksi berat maka berikan antibiotik dosis tinggi. c. Antibiotik profilaksis dengan amoksisilin 3 x 500 mg selama 5 hari.1. g. f.

urine.1. Agama.3. hasil laboraturium : USG .2. kuning.2. konsistensi.1. Alamat. Riwayat Obstetris Berapa kali dilakukan pemeriksaan ANC. Suku. bagaimana cara pengobatan yang dijalani nya. jumlah darah yang keluar. hari pertama haid dan terakhir.Riwayat Perkawinan Kehamilan ini merupakan hasil pernikahan ke berapa? Apakah perkawinan sah atau tidak.1. pengkajian 1. lama haid. apakah penyakit tersebut diderita sampai saat ini atau kambuh berulang – ulang .2. keluhan selama kehamilan termasuk situasi emosional dan impresi. air ketuban sudah kering.4. keruh. upaya mengatasi keluhan.5.Riwayat penyakit dahulu Penyakit yang pernah di diderita pada masa lalu. Pendidikan. jernih. perkiraan tanggal partus 1.1.2.6.1.2.2.ASUHAN KEPERAWATAN 1. siklus haid. Alamat.2. dimana mendapat pertolongan. Umur. Agama.2. Umur.1.1. tindakan dan pengobatan yang diperoleh 1. inspeksikula tampak air ketuban mengalir / selaput ketuban tidak ada dan air ketuban sudahkering 1. 1. Riwayat haid Umur menarchi pertama kali. hijau / kecoklatan sedikit / banyak. Tanggal Pengkajian. pada periksa dalam selaput ketuban tidak ada. No. atau tidak direstui dengan orang tua ? 1. darah. Pendidikan. Suku. Medical Record. Keluhan utama : keluar cairan warna putih. Biodata klien Biodata klien berisi tentang : Nama. Pekerjaan. Nama Suami. Pekerjaan .1.

Rekreasi dan hiburan : Situasi atau tempat yang menyenangkan. jenis rambut.2.hilangnya kontrol blas. nadi. penggunaan pembalut dan kebersihan genitalia. tekanan darah. apakah ada luka lesi / lecet . tata rias rambut dan wajah e. Personal Hygiene : Pola mandi. terjadi over distensi blass atau tidak atau retensi urine karena rasa takut luka episiotomi.8.1. b. apakah perlu bantuan saat BAK.2.1. setelah melahirkan.rasa takut BAB karena luka perineum.7. d. pemeriksaan fisik a. kegiatan yang membuat fresh dan relaks. Pola istirahat dan tidur : klien dengan KPD mengalami nyeri pada daerah pinggang sehingga pola tidur klien menjadi terganggu. apakah keluarga ada yg menderita penyakit menular. Pemeriksaan kesadaran klie. freguensi. Riwayat kesehatan keluarga Adakah anggota keluarga yang menderita penyakit yang diturunkan secara genetic seperti panggul sempit. Pola BAB. bau nya. kebiasaan penggunaan toilet. apakah mudah terganggu dengan suara-suara. Pola eliminasi : Apakah terjadi diuresis.9.1. frekuensi minum klien juga mengalami penurunan b. adakah inkontinensia (hilangnya infolunter pengeluaran urin). kebersihan mulut dan gigi. karena klien dengan KPD di anjurkan untuk bedresh total f. Kebiasaan sehari –hari a.2. 1. posisi saat tidur (penekanan pada perineum) c. BB / TB.1. kelainan congenital atau gangguan kejiwaan yang pernah di derita oleh keluarga 1. konsistensi. Pola nutrisi : pada umum nya klien dengan KPD mengalami penurunan nafsu makan. pola berpakaian. Aktifitas : Kemampuan mobilisasi klien dibatasi. pernafasan dan suhu Head To Toe  Rambut : warna rambut.

apakah lembab atau kering. Pada ibu hamil pada umum nya berkaries gigi. apakah pengembangan dada nya simetris kiri dan kanan. apakah fungsi penciuman klien baik / tidak  Mulut dan gigi : bagaimana keadaan mukosa bibir klien. Mata : sklera nya apakah ihterik / tdk. apakah palpebra oedema / tidak. apakah teraba ictus cordis pada ICS% Midclavikula P : bunyi jantung A : apakah ada suara tambahan / tidak pada jantung klien . apakah klien menggunakan alt bantu pendengaran / tidak.bagaimana fungsi penglihatan nya baik / tidak. apakah klien menggunakan alat bantu penglihatan / tidak. apakah ada karies gigi / tidak. Pada umu nya ibu hamil konjungtiva anemis  Telinga : apakah simetris kiri dan kanan. apakah ada luka lesi / lecet. apakah ada terdapat luka memar / lecet. getaran dinding dada apakah simetris / tidak antara kiri dan kanan P : bunyi Paru A : suara nafas  Jantung I : warna kulit. bagaimana fungsi pendengaran klien baik / tidak  Hidung : apakah klien bernafas dengan cuping hidung / tidak. keadaan lidah klien bersih / tidak. apakah ada terdapat serumen / tidak. konjungtiva anemis / tidak. frekuensi pernafasan nya P : apakah ada teraba massa / tidak . apakah keadaan mulut klien berbau / tidak. keadaan gigi dan gusi apakah ada peradangan dan pendarahan. hal itu disebabkan karena ibu hamil mengalami penurunan kalsium  Leher : apakah klien mengalami pembengkakan tyroid  Paru – paru I : warna kulit. apakah terdapat serumen / tidak. apakah ada teraba pembengkakan / tidak. ictus cordis apakah terlihat / tidak P : frekuensi jantung berapa.

2. kondisi ASI klien. pemajanan pada patogen 1. kelemahan fisik (Dangoes:2000) kerusakan kulit.2. apakah ada oedema / tidak pada daerah genitalia klien  Intergumen : warna kulit. DJJ janin apakah masih terdengar / tidak  Payudara : puting susu klien apakah menonjol / tidak. Gangguan kebutuhan istirahat tidur berhubungan dengan adanya nyeri. warna nya. Abdomen I : keadaan perut. apakah ada oedema / tidak Bawah : apakah ada luka memar / tidak . kondisi mamae.2. persentase kepala apakah sudah masuk PAP / belum P : bunyi abdomen A : bising usu klien.2.2.2. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan terjadi nya ketegangan otot rahim 1. pecah ketuban. Ansietas berhubungan dengan kurang nya pengetahuan atau konfirmasi tentang penyakit 1. apakah sudah mengeluarkan ASI /belum  Ekstremitas Atas : warna kulit.2.2.4.2. letak bayi.d. Diagnosa Keperawatan 1.2.3.Intoleransi aktifitas b.warna aerola. hemoglobin.5.2.2. dan turgor kulit baik / tidak 1. penurunan . apakah ada luka lesi / memar. peningkatan HIS 1. apakah oedema / tidak  Genitalia : apakah ada varises atau tidak. resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif.1. keadaan kulit. apakah ada / tidak luka lesi dan lecet P : tinggi fundus klien.2.

2. Catat meni wakt mbul kan pote apaia u n peca . si/fak sepe rti diab etes atau terjad tor i pada ibu risiko yang ada kriteri sebel hem a hasil umny oragi a.1.3. . Intevensi No Diagn Tujua osa keper awata n 1 Resik o infeks i berhu bung an deng an prose dur invasi f. pecah ketub an. kerus penc infek si tidak n dan kriteri a hasil Tujua n: Tinja u Kon disi Inerv ensi Rasi onal ulang dasa kondi r ibu.

akan kulit, penur unan hemo

tepat wakt u pada -

h

nsial

ketub resik an. Kaji o infek si atau

pemu terha dap

globin lihan , luka

tanda peny emb uhan luka yang buru

pemaj tanpa dan anan pada patog en komp gejal likasi a infek si

(misa k. lnya: Resi

penin ko gkata korio n amni

suhu, oniti nadi, jumla h sel dara h s meni ngka t deng

putih, an atau bau/ warn a berja lann ya wakt

rabas u, vagin sehi a). Berik an pera wata n perin eal sedik itnya setia p4 jam bila Peca h ngga meni ngka tkan resik o infek si ibu dan janin .

ketub ketu

an telah peca h

ban terja di 24ja m sebe lum pem beda han dapa t men yeba bkan amni oniti s sebe lum inter vens i

Untu k men cega h agar tidak terja di infek .beda h dan dapa t men guba h peny emb uhan luka.

si 2 Gang guan rasa nyam an nyeri berhu bung an deng Tujua n: rasa nyeri monit nyeri or dapa tanda t men : berku – rang Kriter ia hasil : klien tanda gaki vital : TD. pern batk an peni afasa ngka n. nadi dan tan freku esni pern afas ajrak an klien an dan nadi 3 an - terjadi tamp nya keteg anga n otot rahim ak tenan suhu g - klien tamp ak nyam tekni an k untu .

relak sasi Ansie tas berhu bung an deng 4 an kuran atur posis Tujua i n: klien peng berik klien k men gura ngi rasa nyeri yang diras akan klien etahu an an lingk unga n g nya klien peng etahu an atau konfir masi tenta ng berta untu k mbah yang setel ah nyam mem an berik an diberi dan kan infor masi batas keny i peng ama nan penya meng unjun pada 5 kit enai peny akit g klien agar klien .

nya tinjau dapa kriteri prose t a hasil : klien tidak s peny akit dan hara beris tirah at resah pan lagi deng Gang guan kebut uhan istirah at tidur berhu bung an deng an an peya kit nya doro ng perio menu de njukk an istira hat masa mem depa n berik an peng etah uan dasa r dima na klien dapa t mem buat pema yang hama adek n akan uat deng adany prose an .

peny penin gkata n HIS akit dan progn osis berik an mera sa pelay jenu anan kese tujua Intole ransiaktifit as b.a s aktifit as terjad wal pilih an agar klien tidak nyeri . n: h dan hatan mem meng perc enai epat pros es peny emb jelas kan kepa da klien apa uhan agar klien men gerti deng kebut peny uhan istira akit nya kelem hat ahan fisik tidur klien terpe nuhi Kriter ia .d.

ya nya infek si dan peny dapat berik tidur deng an an kese mpat tenan an g dan untuk akit tidak gelis ah klien berta nya dan berik men unju kkan realit as situa si yang dapa t mem Tujua bant nya menu an njukk an pola tidur yang adek uat jawa ban yang terbu ka dan jujur .hasil : klien yg an terjad baha i.

n: - lakuk an u klien atau oran g terde kat men erim aktivit peng as kajia kemb n ali sesu ai terha dap gang kema guan mpua kebut a n pasie n. Kriter ia hasil: pasie n bisa motiv asi klien agar uhan tidur realit as dan mula i men erim meng a alihk an apa yang terja di berak perh tivitas atian seper - .

monit or kebut uhan tidur cipta kan suas ana agar dapa t mem berik an gam nyam bara an n sam pai Bant u seja uh man pasie a n dala m mem kebu tuha n tidur enuhi terga .ti biasa .

Beri atian posis i . perh .kebut nggu uhan sehar deng i-hari semi an men nimal galih mung kan kin. Anjur kan perh atian klien tidak meng hany hema a t ener gy tertuj u pada hinda rasa ri nyeri . mak nyam a an.

kegia sehi tan yang melel ahka n. untu k men geta hui apak ah kebu tuha n ngga mem bant u relak sasi pada klien sew aktu tidur . Jelas kan penti ngny a mobil isasi diri.

tidur klien terpe nuhi sepe rti bias a atau belu m suas ana yang tena ng dapa t mem bant u relak .

sasi sehi ngga nyeri berk uran g dan klien bisa tidur agar kebu tuha n seha ri – hari klien dapa t terpe nuhi .

sepe rti bias a nya agar klien mera sa nya man dan tena ng kelel ahan dapa t men yeba bkan lama .

nya pros es peny emb uhan klien ,,jadi deng an men ghin dari kegi atan yang mele lahk an dapa t mem bant

u pros es peny emb uhan pros es peny emb uhan

1.2.4. Implementasi Setelah rencana keperawatan di susun, maka rencana tersebut diharapkan dalam tindakan nyata untuk mencapai tujuan yang diharapkan, tindakan tersebut harus terperinci sehingga dapat diharapkan tenaga pelaksanaan keperawatan dengan baik dan sesuai dengan waktu yang ditentukan Implementasi ini juga dilakukan oleh si pembuat rencana keperawatan dan di dalam pelaksanaan keperawatan itu kita harus menjunjung tinggi harkat dan martabat sebagai manusia yang unik 1.2.5. Evaluasi Evaluasi adalah hasil akhir dari proses keperawatan dilakukan untuk mengetahui sampai dimana keberhasilan tindakan yang diberikan sehingga dapat menentukan intervensi yang akan dilanjutkan

Identitas klien Nama Umur Jenis kelamin Status Agama Pekerjaan Pendidikan Alamat No.1. Pengkajian Tanggal pengkajian 2.H : 25 tahun : suami : wiraswasta .I : 20 tahun : Perempuan : Sudah menikah : Islam : Ibu rumah tangga : SMA : situmbuak / Tilatang kamang : 249226 : ruang Rawat Inap kebidanan RSUD Dr.1.MR Ruang Rawat : Ny.1.BAB II TINJAUAN KASUS 2.Achmad : 16 agustus 2010 Muchtar Bukittinggi Tgl masuk : 14 agustus 2010 Penanggung jawab Nama Umur Hub. Dg keluarga Pekerjaan : Tn.

dengan keluhan keluar ketuban dari pervaginaan berwarna jernih dan tidak berbau 2.1. Riwayat kesehatan keluarga Keluarga klien tidak ada memiliki penyakit keturunan.klien mengatakan selama dirumah sakit klien hanya beraktifitas di tempat tidur.2.klien mengatakan susah tidur karena nyeri yang dirasakan. hipertensi 2. aktifitas klien di rumah sakit hanya di tempat tidur.3.1.frekuensi ganti duk klien sebanyak 5x sehari.2. Riwayat kesehatan sekarang Klien mengatakan keluar cairan ketuban dari pervaginaan sejak malam. Riwayat Kesehatan dahulu Klien sebelum nya tidak pernah mengalami penyakit yang di derita nya sekarang. menular dan kejiwaan 2. Alasan masuk Klien masuk IGD pada hari sabtu pukul 00.3.klien mengatakan berat badan nya menurun.4 gr %.2. klien tampak meringis dan sering memegang perut nya. klien mengatakan perut terasa sakit dari pinggang sampai ke ari – ari.frekuensi tidur klien hanya 7 jam sehari.1.1. Riwayat menstruasi .1.3. porsi makan yang dihabiskan klien hanya ½ porsi.4. klien juga tidak ada penyakit jantung. therapi yang diberikan ceftriaxon 2 x 1 gr dan dexametason 2 x 1 amp cairan 2.klien mengatakan nafsu makan berkurang sejak beberapa hari yg lalu .3. DM.30 WIB.1. klien mengatakan cemas dan tidak mengetahui tentang penyakit yang di derita nya saat ini. HB 10. Riwayat kesehatan 2.klien sudah 2 hari tidak ada Buang air besar. klien mengatakan cairan ketuban yang keluar pervaginaan berwarna jernih dan tidak berbau.1.3.BB sehat 68 Kg BB sakit 64 Kg. DJJ bayi 135 x/i.3.nyeri yang dirasakan klien nyeri sedang dengan skala nyeri 6.

Hidung : bernafas tidak menggunakan cuping hidung.2.4. lurus. Tanda – Tanda vital TD N : 110 / 80 mmhg : 88x / i P : 24x /i S : 36. b.1.tidak : sklera tidak ihterik. d.1. bersih. fungsi penglihatan penglihatan. hidup belum ada ) 2.4. tidak terdapat fungsi pendengaran baik serumen.3.fungsi penciuman baik .4. Rambut Mata : berwarna coklat.tidak menggunakan alat bantu pendengaran. partus belum ada.4.tidak terdapat serumen . Riwayat Kehamilan HPHT TP Kehamilan : 18 Desember 2009 : 25 September 2010 : G1 P0 A0 H0 ( Gravid 1.1.4. palpebra tidak ada oedema.1. Telinga terhadap cahaya baik.5. BB / TB 2.tidak menggunakan alat bantu : simetris ka / ki .1.1.pupil sama besar terdapat lesi ka / ki. abortus tidak ada.3. Kesadaran 2. tidak berbau. Pemeriksaan Fisik 2. konjungtiva anemis.1. Head To Toe a.Menarche Siklus haid Lama haid Ganti Duk Keluhan pd saat haid : 13 tahun : teratur ( 1x/ bulan ) : 5 – 8 hari : 2 – 3x / hari : nyeri pd saat haid 2.bereaksi c.4.2 º C : Compos Metis : 64 kg / 159 cm 2.

Jantung : I P P A : warna kulit dada putih. aerola menghitam. tidak ada lesi / memar . DJJ : 135x / i L. Mulut dan Gigi : mukosa bibir lembab. keadaaan gigi dan gusi tidak ada dan pendarahan. tidak ada : fundus 3 jari di bawah px. keadaan mulut tidak berbau f. bernafas tidak : warna kulit putih. kulit bersih.e. getaran dinding dada terasa simetris ka/ki : bunyi paru – paru resonan : suara nafas terdengar vesikuler h. tidak ada oedema Bawah : tidak ada kelainan.frekuensi jantung 88x/i : bunyi jantung redup : tidak terdapat bunyi tambahan I. Ekstremitas Atas : luka lesi persentas kepala : puting susu menonjong. lidah peradangan bersih. tidak ada oedema lecet. letak bayi Puka. ictus cordis tidak terlihat : terasa ictus cordis teraba pada ICS5 midclavikula dan batas jantung teraba. terdapat luka bekas suntikan. frekuensi pernafasan 24x / i P P A : tidak ada teraba massa. I leher Paru – Paru : tidak terjadi pembengkakan tyroid : ka / ki. Payudara terlalu tegang J. ada karies gigi.tidak ada lesi atau luka lecet. mamae tidak : kulit berwana putih. g. tidak terdapat memar / luka . : timpany : bising usus ( + ). pengembangan dada simetris menggunakan otot bantu pernafasan. Abdomen I P P A : perut terlihat membuncit. idak teraba pembengkakan.

Genitalia : vagina keluar cairan berwarna jernih tapi tidak berbau.M. Integumen 2. Data Biologis No Aktifit as 1 Nutris i Maka n menu maka nan porsi 2x hari Makan an biasa 1 porsi Mie goreng 5 gelas / hari Tidak Tidak ada Tidak ada / 2x / hari Makanan lunak ½ porsi Tidak ada Tidak ada Di rumah Di Rumah sakit : turgor kulit baik.1. kulit lembab tidak kering kesuk ada aan panta ngan minu m 8 gelas / hari pantan gan . tidak terdapat varises dan tidak ada oedema N.5.

jumla h minu man Jus mangg a Tidak ada pantan kesuk gan aan panta ngan 2 Elimi nasi BAB freku ensi warn a konsi bau 2x hari / Selama masuk RS belum Kuning klien Khas Padat Tidak ada kesulit an BAB 4x /hari ada BAB ( 2 hari ) .

stensi 4x kesuli hari tan BAK freku ensi warn a konsi stensi kesuli tan bau Jernih Khas Cair Tidak ada kesulit an BAK Agak / kekuningan karena pengaruh obat dan minum Berbau obat Cair Tidak ada kesulitan BAK kurang 3 Istira hat Siang ( Siang .

(20.00 ) jam).dan tidur - ).00) ( Siang (2 waktu 09.mala m (11.malam . kesuli jam ) tan tidur Tidak ada kesulit an tidur nyeri dirasakan hilang timbul yg 4 Perso nal 2x/hari 2x/hari Belum ada Hygie 1x/2 ne mand 5 i hari 3x/hari Apabil a cuci sudah ramb panjan cuci rambut 3x/hari Klien ada kuku Klien hanya belum potong .malam (7 tidur Siang ( jam) Terasa pada nyeri bagian lama tidur ).mala - m ( 10 pinggang.00).

8.7. Riwayat Spritual Selama di Rumah Sakit klien ada melakukan sholat 5 waktu 2.6.7. Riwayat psikologis Klien mengatakan cemas dan tidak mengetahui tentang penyakit yang di alami nya saat ini.1. klien mengatakan gaji suami nya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari .1.1.1. Riwayat Alergi Klien tidak memiliki alergi ( baik alergi makanan maupun alergy obat – obatan 2. aktifitas oleh dibantu suami nya 2. Riwayat Sosial Ekonomi Suami klien bekerja sebagai wiraswasta. Klien dan suami klien sering bertanya kepada perawat tentang penyakit nya 2.ut goso k gigi poton g kuku aktifit as g saja Klien dapat berakti fitas seperti dapat melak ukan pekerj aan rumah beraktifitas di tempat dan tidur.

f. klien tampak lemah . h.1.1. Data Fokus 2.11. g. Data Pengobatan ( 15 agustus 15 agustus 2010 Pemeriksaan Hemoglobin Leukosit Trombosit Hasil 10.1.2.11. e.1.000 Normal 13 – 16 gr % 5000 – 10000 / ul 15000 – 40000 Kesan Rendah Normal Normal 2010 ) Ceftriaxon 2 x 1 gr ( jam 09.00 – 21.9. b.00 ) Dexametason Amoxilin Vit C 2 x 1 amp ( jam 09.10. Data Subjektif a. d. c.00 ) 3 x 1 (500 gr) 3 x 1 (100 gr) 2.2.1. Klien mengatakan keluar cairan ketuban dari pervaginaan sejak malam klien mengatakan cairan ketuban yang keluar pervaginaan berwarna jernih dan tidak berbau klien mengatakan perut terasa sakit dari pinggang sampai ke ari – ari klien mengatakan susah tidur karena nyeri yang dirasakan klien mengatakan cemas dan tidak mengetahui tentang penyakit yang di derita nya saat ini klien mengatakan nafsu makan berkurang sejak beberapa hari yang lalu klien mengatakan berat badan nya menurun klien mengatakan sudah 2 hari tidak buang air besar klien mengatakan selama di rumah sakit klien hanya beraktifitas ditempat tidur 2.11. Data Penunjang Tgl 2.4 gr % 9100 / ul 204.1.00 – 21. i. Data Objektif a.

b. c. klien sering bertanya tentang penyakit nya n. i. k.1. l. Analisa Data No Data Etiology Problem P : 24x/i S : 36. BB sakit 64 Kg cairan yang keluar dari vagina berwarna jernih dan tidak berbau frekuensi ganti duk klien sebanyak 5x dalam sehari nyeri yang dirasakan klien nyeri sedang dengan skala nyeri 6 frekuensi tidur klien hanya 7 jam sehari aktifitas klien di rumah sakit hanya di tempat tidur therapi yg diberikan ceftriaxon 2 x 1 gr dan dexametason 2 x 1 amp DJJ bayi 135 x / i HB klien 10.2º C . f. j. h. klien tampak cemas porsi yang dihabiskan klien hanya ½ porsi BB sehat 68 Kg.4 gr % m.12. e. TTV TD : 110 /80 mmhg N : 88x/i 2. d. g.

1 - DS : Ketuban Resiko Infeksi klien Pecah meng ataka n keluar cairan ketub an dari perva ginaa n sejak mala m Dini - klien meng ataka n cairan ketub an .

yang keluar perva ginaa n berwa rna jernih dan tidak berba u DO : cairan ketub an yang keluar dari vagina berwa rna .

jernih dan tidak berba u frekue nsi ganti duk klien seban yak 5x dalam sehari Thera pi yg diberik an ceftria xn 2 x .

1 dan gr dexa metas on 2 x 1 amp 2 - DS : Ketegan Ganggu an rasa nyaman : nyeri klien gan otot meng ataka n perut terasa sakit dari pingg ang samp ai ke ari ari – rahim .

- klien meng ataka n selam a dirum ah sakit klien berakt ifitas ditem pat tidur DO : - klien tampa k merin gis dan meme .

gangi perut nya nyeri yang dirasa kan klien nyeri sedan g denga n skala nyeri 6 aktifita s klien dirum ah sakit ditem .

pat tidur 3 DS : Kurang Ansieta s klien nya meng ataka n pengeta huan klien cemas tentang terhad ap penya kit yang di 4 derita nya klien meng ataka Peningk Ganggu an pola istirahat : tidur penyakit KPD n tidak atan HIS meng etahui ttg .

penya kit yang 5 di alami nya DO : klien Intake tampa k yang tidak Ganggu an pemenu han kebutuh an nutrisi cemas adekuat klien sering bertan ya tentan g penya kit nya DS : klien meng ataka .

n susah tidur karen a nyeri yang dirasa kan klien meng ataka n frekue nsi tidur hanya 7 jam dalam sehari DO : frekue .

nsi tidur klien hanya 7 jam sehari klien tampa k lemah DS : klien meng ataka n kuran g nafsu maka n sejak beber .

apa hari yang lalu klien meng ataka n berat badan nya menur un DO : porsi maka nan yang dihabi skan klien ½ porsi .

Diagnosa Keperawatan 2.2. Ansietas berhubungan dengan kurang nya pengetahuan klien tentang penyakit KPD 2.4 gr % 2.2. Gangguan Pola istirahat Tidur berhubungan dengan Peningkatan HIS 2.1.2.2.2.4. Resiko Infeksi berhubungan dengan Ketuban Pecah Dini 2. BB sakit 64 Kg - HB klien 10.3.2.2.- BB sehat 68 Kg. Gangguan Rasa Nyaman:Nyeri berhubungan dengan ketegangan otot rahim 2. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan intake yang tidak ade kuat .5.

un kaji skala nyeri ( 1 – 10 ) ajarkan klien teknik relaksasi atur posisi klien - umu un klien - klien mengatakan perut - klien mengatakan rasa nyeri - berikan lingkungan yang nyaman dan batasi yang .3.) Kriteria hasil klien tampak tenang / rileks - - monitor TTV klien .2. Intervensi No 1` Diagnosa keperawatan Resiko Infeksi b Tujuan dan kriteria hasil /d Tujuan infeksi tidak terjadi kriteria hasil Intervensi bina hubungan saling percaya melalui komunikasi therapeutik pantau keadaan umum klien - untu Ketuban pecah dini DS : - mela untu klien mengatakan keluar cairan dari pervaginaan tidak ada keluar lagi cairan dari pervaginaan DJJ janin normal Leukosit klien kembali normal Suhu 36 – 37 ° - berikan lingkungan yang nyaman untuk klien berikan obat sesuai order dokter - kese aga - klien mengatakan cairan ketuban pervaginaan yang keluar berwarna - pro jernih dan tidak berbau DO : cairan yang keluar berwarna jernih dan tidak berbau frekuensi ganti duk klien sebanyak 5x dalam sehari 2 Gangguan rasa nyaman : Tujuan nyeri b / d ketegangan otot rahim DS : nyeri ( .

me depan dorong klien untuk istirahat total berikan pelayanan kesehatan mengenai penyakit nya - dima tentang penyakit KPD DS : - pilih klien sudah mengerti tentang - u klien mengatakan cemas penyakit dan perawatan KPD terhadap klien tidak cemas lagi peny ag - penyakit nya klien mengatakan tidak mengetahui tentang baha nyan penyakit yang di derita nya DO : klien tampak cemas klien tentang sering bertanya nya penyakit .tinjau proses penyakit dan harapan masa .) Kriteria hasil - .terasa sakit dari pinggang pada perut klien berkurang ke ari –ari DO : klien tampak meringis TTV kembali normal TD : 120 / 80 mmhg N : 60 – 120 x/i pengunjung - un diras - untu un klien tampak memegangi P :24 x /i perut nya S :36 -37 ° klien - nyeri yang dirasakan klien nyeri sedang dengan skala nyeri 6 3 Ansietas b / d kurang nya Tujuan pengetahuan klien ansietas ( .

berikan lingkungan yang nyaman seperti keadaan ruangan dan penerangan ruangan - keb dengan Peningkatan HIS DS : mem terpenuhi aga - klien mengatakan susah Kriteria hasil : aga tidur karena nyeri yang .auskultasi bising usus. catat ada nya nyeri adekuat un atau u intake yang tidak ade kuat DS : - terpenuhi Kriteria hasil keku klien mengatakan kurang .batasi pengunjung dirasakan klien mengatakan frekuensi tidur hanya 7 jam dalam sehari DO : frekuensi tidur klien hanya 7 jam sehari klien tampak lemah Gangguan kebutuhan 5 berhubungan pemenuhan nutrisi Tujuan : dengan kebutuhan nutrisi klien .kepada perawat Gangguan Pola istirahat Tidur 4 berhubungan Tujuan : istirahat dan tidur klien . mua muntah men .kaji kebiasaan pola tidur patien .menunjukkan pola tidur yang .kaji tanda – tanda mal nutrisi .tidak menunjukkan tanda – abdomen.timbang BB klien .

BB sakit 64 Kg 2.berikan makanan yang hangat dan bervariasi men yang adekuat - porsi makanan yang dihabiskan klien ½ porsi BB sehat 68 Kg.membina hubungan saling percaya melalui komunikasi Evaluasi S : klien mengatakan masih ada keluar cairan dari .00 WIB Implementasi .4.nafsu makan sejak tanda mal nutrisi . Implementasi dan Evaluasi No 1 Hari / tgl Senin 16 agustus I Dx Jam 08.BB dalam batas normal menunjukkan - motivasi klien untuk menghabiskan bisin - beberapa hari yang lalu - makanan aga klien mengatakan berat badan nya menurun DO : pemasukan .

00 II WIB R/p : ceftriaxon dan dexametasn sudah diberikan .mengajarkan klien teknik relaksasi dilanjutkan .cairan yg keluar dari pervaginaan klien.25 WIB 11.memantau keadaan umum klien.S. seperti kesadaran klien .N.N.memberikan obat injeksi Ceftriaxon 1 gr dan dexametason 1 amp ( IV ) 11.30 WIB baik.memonitor TD.45 WIB therapeutik . .P klien R/p : cairan yg keluar dari pervaginaan tapi tidak begitu banyak O : warna cairan jernih dan tidak berbau A : masalah belum teratasi P : intervensi 2 – 4 pervaginaan masih ada. TD.memberikan lingkungan yang nyaman seperti kenyamanan ruangan dan membatasi 11.2010 08.P.mengkaji skala nyeri ( 1 – 10 ) 13. kesadaran dilanjutkan 09.S klien .00 WIB R/p : skala nyeri klien 6 pengunjung R/p : klien dapat beristirahat S : klien mengatakan pinggang sampai ke ari – ari masih terasa nyeri O : klien tampak memegangi pinggang dan meringis A : masalah belum teratasi P : intervensi 1 – 5 .30 WIB .

30 WIB http://d3keperawatanperintis.00 WIB kekanan dank e kiri saban 2 jam .00 WIB Intervensi dihentikan Klien pulang dengan kemauan sendiri Pd tgl 16 agustus 2010 pukul 17.nyeri sedikit berkurang .dengan cara tarik nafas dalam sebanyak 3 x .blogspot.html .45 WIB relaksasi yg di ajarkan .com/2011/01/asuhan-keperawatan-ketuban-pecahdini.mengatur posisi klien dengan miring kiri saban 2 jam R/p : klien dapat melakukan miring 14.memberikan lingkungan yang nyaman dg batasi pengunjung R/p : klien merasa tenang dan dapat beristirahat 2 Selasa / 17 agustus 2010 08.R/p : klien dapat melakukan teknik 13.

dan keping darah (trombosit). 3. Plasma terdiri dari 900 air dan 100 elektrolit. 1) Pembentukan Sel Darah Sel darah merah. Tagged: Maternitas. Protein dalam darah misalnya albumin dan imuno globilin ikut menyusun plasma. Sebagian dari ketuban pecah dini mempunyai periode laten melebihi satu minggu. 2. 13 komentar A. mitokondria atau ribosom. 2) Sel Darah Merah Sel darah merah tidak memiliki inti sel. Elemen-elemen berbentuk tersebut adalah sel darah merah (eritrosit). Pada umur kehamilan kurang dari 34 minggu. lemak. Anatomi Fisiologi Darah terdiri dari elemen-elemen berbentuk dan plasma dalam jumlah setara. Nermositik : sel yang ukurannya normal Nermokromik : sel dengan jumlah hemoglobin yang normal Mikrositik : sel yang ukurannya terlalu kecil Makrositik : sel yang ukurannya terlalu besar Hipokromik : sel yang sejumlah Hbnya terlalu sedikit . sel darah putih dan trombosit di bentuk di hati dan limfa pada sumsum tulang belakang. Waktu sejak pecah ketuban sampai terjadi kontraksi rahim disebut “kejadian ketuban pecah dini” (periode laten) Kejadian ketuban pecah dini mendekati 10 % dari semua persalinan. koleesterol. Definisi Ketuban pecah dini (KPD) adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda persalinan. Proses pembentukan sel-sel darah disebut hematopoiesis. gas terlarut berbagai produk sisa metabolisme dan zat-zat gizi misalnya gula asam amino. dan ditunggu satu jam belum dimulainya tanda persalinan. sel darah putih (leukosit).ASUHAN KEPERAWATAN MATERNITAS PADA PASIEN DENGAN KETUBAN PECAH DINI Posted by nurse87 on 29 Mei 2009 Posted in: Keperawatan. 4. kejadian sekitar 4 %. dan vitamin. Fosforilasi oksidatif sel atau pembentuk hemoglobin yang mengangkut sebagian besar oksigen yang diambil dari paru-paru ke sel-sel diseluruh tubuh. Sel darah di gambarkan berdasaran ukuran dan jumlah hemoglobin yang terdapat di dalam sel : 1. Early rupture of membrane adalah ketuban pecah pada fase laten persalinan. Konsep Dasar Medik 1. 5. Sel darah matang di keluarkan dari sumsum tulang dan hidup sekitar 120 hari untuk kemudian mengalami disentegrasi dan mati. Sel ini tidak dapat melakukan mitosis. 2.

meningitis janin. Etiologi Penyebab ketuban pecah dini (KPD) mempunyai dimensi multifaktorial yang dapat dijabarkan sebagai berikut :       Serviks inkopeten Ketegangan rahim berlebihan. Hemoglobin dalam darah dapat mengikat oksigen secara partial atau total. Penatalaksanaan Ketuban Pecah Dini (KPD) Sebagai gambaran umum untuk penatalaksanaan KPD dapat dijabarkan sebagai berikut :   Pertahankan kehamilan sampai cukup matur. kehamilan ganda. 5. hidramnion Kelainan letak janin dalam rahim. khususnya maturitas paru sehingga mengurangi kejadian kegagalan perkembangan paru yang yang sehat Terjadi infeksi dalam rahim. Terdapat sekitar 300 molekul hemoglobin dalam setiap sel darah merah.6. sel tersebut mengeluarkan hemoglobinnya kedalam sirkulasi. 4. 4) Pemecahan Sel Darah Merah Apabila sel darah merah mulai berdisentegasi pada akhir masa hidupnya. sepalopelvik disproforsi Kelainan bawaan dari selaput ketuban Infeksi yang menyebabkan terjadi proses biomekanik pada selaput ketuban dalam bentuk proteolitik sehingga menyebabkan ketuban pecah. letang lintang Kemungkinan kesempitan panggul : perut gantung. Hemoglobin diuraikan hati dan limfa. yang kemudian dieksresikan melalui tinja atau urin. Sisa molekul lainnya diubah menjadi bilirubin. dan persalinan prematuritas . Hiperkromik : sel yang sejumlah Hbnya terlalu banyak 3) Hemoglobin Hemoglobin terdiri dari bahan yang mengandung besi yang disebut hem (heme) dan protein globulin. yaitu korioamnionitis yang menjadi pemicu sepsis. letak sunsang. bagian terendah belum masuk PAP. Molekul globulin diubah menjadi asam-asam amino. 3. Besi dismpan dihati dan lmfa sampai di gunakan kembali oleh tubuh. Patofisiologi Mekanisme terjadinya ketuban pecah dini dapat berlangsung sebagai berikut :   Selaput ketuban tidak kuat sebagai akibat kurangnya jaringan ikat dan vaskularisasi Bila terjadi pembukaan serviks maka selaput ketuban sangat lemah dan mudah pecah dengan mengeluarkan air ketuban.

dengan kemungkinan janin tidak dapat diselamatkan. Segera setelah bayi lahir harus dikeringkan dan ditempatkan ditempat yang hangat. perlu dipertimbangkan untuk melakukan induksi persalinan. Menghadapi KPD. Pada kehamilan 24 sampai 32 minggu yang menyebabkan menunggu berat janin cukup. diperlukan KIM terhadap ibu dan keluarga sehingga terdapat pengertian bahwa tindakan mendadak mungkin dilakukan dengan pertimbangan untuk menyelamatkan ibu dan mungkin harus mengorbankan janinnya. karena bila suhu lingkungan tidak ada. Mencegah Infeksi Usaha yang paling efektif untuk mencegah infeksi pada bayi baru lahir ialah mencuci tangan sebelum memegang bayi dan perlengkapan yang digunakan untuk merawat bayi.     Dengan perkiraan janin sudah cukup besar dan persalinan diharapkan berlangsung dalam waktu 72 jam dapat diberikan kortikosteroid. Tujuan umum dalam Asuhan Perawatan Bayi Baru Lahir adalah untuk : 1. Pengisapan lendir harus dilakukan dengan cepat dan lembut Bayi normal dalam beberapa detik sampai satu menit dengan membersihkan mulut dan hidung dari lendir akan segera timbul pernafasan spontan 1. bayi diletakkan dengan kepala lebih rendah dari pada badan agar supaya lendir keluar dari mulut dan mencegah lendir dan kadang – kadang darah dan mekonium masuk kesaluran pernafasan. 6. Beberapa tanda-tanda kelainan yang harts diperhatikan misalnya kulit. penyakit . kening pada ban pertama kesukaran pernapasan. bayi dibersihkan atau dimandikan. 1. Mempertahankan Pernapasan Segera setelah bayi lahir. bila tidak terjadi his spontan. mengisolasi bayi yang sakit dan memakai pakaian yang bersih. Pemeriksaan yang rutin dilakukan adalah USG untuk mengukur distansia biparietal dan peerlu melakukan aspirasi air ketuban untuk melakukan pemeriksaan kematangan paru melalui perbandingan L/S Waktu terminasi pada hamil aterm dapat dianjurkan selang waktu 6 jam sampai 24 jam. biru atau pucat. metabolisme dan konsumsi oksigen bayi akan meningkat. sehingga kematangan paru janin dapat terjamin. 1. kenaikan atau penurunan suhu tubuh. Mengenal tanda-tanda sakit - Kondisi bayi dapat berubah dengan cepat karena itu perlu diawasi dengan kontinyu. Memperhatikan suhu tubuh Suhu lingkungan mempengaruhi kehidupan dan kesehatan bayi baru lahir. Setelah suhu tubuh bayi stabil biasanya 1-2 jam sesudah lahir.

1. sentuhan dan perubahan (perbedaan) suhu dari dalam uterus dengan di luar uterus. Faeces Faeces yang pertama keluar berupa pasta kental berwarna gelap dan lengket yang disebut meconiumhal tersebut sebenarnya sudah ada sejak janin berumur 26 minggu dalam kandungan. . Pernapasan dan peredaran darah Pernapasan pertama pada bayi normal terjadi 30 detik sesudah kelahiran. Materi Perubahan Fisiologi pada Bayi Baru Lahir 1. Tidak mengherankan bahwa beratnya turun sampai diimbangi oleh minum air susu yang cukup. tidak Bab selama 12 jam dan Bak dalam 12 jam pertama kehidupan dan penurunan badan-badan bayi yang banyak. problem makan. urine dan keringat. Memelihara Kulit Mengingat bahaya infeksi kulit dengan Staphyloccocing. Refleks Bayi menunjukkan beberapa refleks yang di sebut reflek primitive. 7. 1. 1. Tali pusat biasanya lepas dalam 14 hari setelah lahir. Tali Pusat Tali pusat diperiksa harus ada dua arteri dan satu vena. kejang-kejang. f. Pernapasan ini timbul sebagai akibat aktifitas normal dari susunan syaraf pusat dan perifer yang dibantu oleh beberapa rangsangan lainnya.konyong digerakkan. hanya darah dan meconium dibersihkan sedangkan dengan vernik caseosa dibiarkan. banyak rumah sakit tidak memandikan bayi lagi. 1. 1.kembung. Kehilangan Berat Badan Karena selama 3 atau 4 hari yang pertama bayi boleh dikatakan hampir tidak kemasukkan cairan sedangkan bayi mengeluarkan feces. paling sering sekitar hari ke-10. Mengingat kemungkinan infeksi tindakan aseptik sangat harus diperhatikan waktu merawat tali pusat. Ada beberapa reflek primitive : 1. bila hanya didapat satu arteri mungkin ada kelainan kongenital lain. Seperti rangsangan hypoxaemia. Semua ini menyebabkan perangsangan pusat pernapasan dalam otak yang meneruskan rangsangan tersebut untuk mengarahkan diafragma serta alat-alat pernapasan lainnya. Moro Refleksi Dapat dilihat bila bayi dikagetkan atau sekonyong. muntah.

Walking Refleks Bila telapak kaki ditekan pada sebuah bangku atau pada suatu tempat yang datar. kecuali pada masa adolesensi (normal PB : 50 cm)  Lingkar kepala dan dada Pengukuran lingkaran kepala penting karena berhubungan dengan volume intrakranial dan dapat dinilai kecepatan tumbulrannya otak. maka kenaikan tinggi badan tiap tahunnya terus menerus bertambah dari lahir sampai dewasa.4 kg). dan 36 cm. 8. 1. bayi yang normal nilai Apgarnya antara 7 – 10. Pengertian . Rooting Refleksi Rangsangan pada bibir atas bagian tengah mengakibatkan mulut terbuka dan rahang turun ke bawah. Panjang badan lain halnya dengan berat badan. ( normal ) LK : 33 35. Lingkar dada pada masa neonatal terjadi juga pertambahan panjang atau lebar dada yang normal antara 30 cm.5 . Tindakan yang harus segera dilakukan pada Bayi dengan cara Pelaksanaannya  Menghisap lendir dan merangsang pernafasan bayi 1. Crossed Ectension Refleksi Bila satu tangkai dipegang pada posisi extensi pada lutut dan telapak kaki sisi yang sama digores dengan kuku/jarum pada tungkai yang lain akan berada dalam posisi Fleksi Adduksi kemudian extensi 1.6 cm). Ciri-Ciri Bayi Baru Lahir  Nilai APGAR Apgar score dinilai pada satu menit bayi setelah lahir dan yang kedua lima menit setelah lahir. 33 cm. Graps Refleksi Bila telapak dirangsang. maka bayi akan bergerak seperti berjalan 1.  Berat dan panjang badan Berat badan merupakan index gizi dan pertumbuhan yang baik terutama berat badan merupakan resultante pertumbuhan badan keseluruhan (normal BB : 2. 9. tangan akan memberi reaksi seperti menggenggam.1.

5. 4. dan hidung bayi dengan cara menghisap dengan alat. 6. 3. 3.  membersihkan kotoran merangsang agar anak bernafas Cara menghisap lendir Resusitasi Memberikan identitas bayi 1. Siti Handayani. (2002). tenggorokan. 7. 4. 2. “Perawatan Bayi Risiko Tinggi”. Heni Nur Kusuma. diurut ke placenta ± 5 cm lalu dipotong lagi klem di beri yodium tintur 3 % kemudian tali pusat diikat dengan 2 ikatan di beri betadine dibungkus dengan kasa tali pusat. Tujuan 1. Dua buah penjepit nadi Gunting tali pusat Kapas lidi Benang pengikat tali pusat Alkohol 70 % Gaas steril Iodium tintur 3 % / betadine 10 % Cara kerja : Tali pusat dipotong dijepit dengan 2 buah penjepit nadi. 2. . DAFTAR PUSTAKA Asrining Surasmi. Jakarta : EGC. 1.  Menetes mata bayi Tujuannya mencegah kemungkinan terjadinya infeksi karena kena kotoran waktu bayi melewati jalan lahir   Mengukur dan menimbang BB bayi baru lahir Memberi pakaian.Adalah memberikan pertolongan kepada bayi untuk mengeluarkan kotoran yang berupa lendir dan darah serta air ketuban dari mulut. sidik jari kaki  Peralatan-peralatan disiapkan Alat-alat : 1. nama nomor 2.

Abdul Bari Saifudin. Jakarta : EGC http://nurse87. Doengoes.wordpress. Perdarahan antepartum yang berbahaya umumnya bersumber pada kelainan plasenta. Prof. Jakarta : EGC. Pendarahan antepartum merupakan pendarahan dari traktus genitalis yang terjadi antara kehamilan minggu ke 28 awal partus. Jakarta : Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Departemen Kesehatan Republik Indonesia. “Ilmu Kebidanan. : Jakarta : EGC. MPHD ( 2002 ). Dr. Plasenta Previa a. Perdarahan setelah kehamilan 28 minggu biasanya lebih banyak dan lebih berbahaya daripada sebelum kehamilan 28 minggu. 1. sedangkan perdarahan yang tidak bersumber pada kelainan plasenta umpamanya kelainan serviks biasanya tidak seberapa berbahaya. SKM (1990). Marilyn E. “ Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Material & Neonatal “. “Rencana Perawatan Maternal/Bayi “. .Dr. DEFINISI DAN KLASIFIKASI Pendarahan antepartum adalah pendarahan yang terjadi setelah kehamilan 28 minggu. yang secara klinis biasanya tidak terlampau sukar untuk menentukannya. Prof. Santosa NI. b. SPOG.plasenta letak rendah dan vasa previa.com/2009/05/29/asuhan-keperawatan-maternitas-pada-pasien-denganketuban-pecah-dini/ BAB II ISI A. oleh karena itu memerlukan penanganan yang berbeda. dr. Mary Frances Mooorhouse (2001). Ida Bagus Gde Manuaba. Oleh karena itu klasifikasi klinis perdarahan antepartum dibagi sebagai berikut Plasenta previa Solusi plasenta Perdarahan antepartum yang belum jelas sumbernya(idiopatik) seperti rupture sinus marginalis. SpOG (1998). c. Penyakit Kandungan & Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan”. “ Perawatan Kebidanan yang Berorientasi Pada Keluarga (Perawatan II) “. yaitu plasenta previa dan solusi plasenta. Perdarahan antepartum yang bersumber pada kelainan plasenta.

peredaran darah antara uterus dan plasenta belum terganggu dan tanda serta gejalanya pun tidak jelas. Apabila perdarahan sedikit. kadar fibrinogen plasma 120-150 mg%. 8) Riwayat perokok. uterus tegang. Solusi Plasenta Solusio plasenta adalah terlepasnya sebagian atau seluruh plasenta pada implantasi normal sebelum janin lahir. pelepasan plasenta 1/4-2/3 bagian permukaan. 6) Tumor-tumor..B. gawat janin atau janin telah mati. hematom yang kecil itu hanya akan mendesak jaringan plasenta. uterus tidak tegang.  Plasenta previa letak rendah : bila plasenta berada 3-4cm diatas pinggir permukaan jalan lahir Plasenta previa dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain : 1) Umur dan paritas 2) Hipoplasia Endometrium. 5) Kehamilan janin kembar. polip endometrium 7) Kadang-kadang pada malnutrisi. kuretase. dimana endometrium belum siap menerima hasil konsepsi. seperti mioma uteri. Ringan : Perdarahan kurang 100-200 cc.R c ) Perdarahan dapat terjadi sedikit atau banyak sehingga menimbulkan gejala d ) Perdarahan berwarna merah segar e ) Letak janin abnormal f) Adanya anemia dan renjatan yang sesuai dengan keluarnya darah h) Denyut jantung janin ada i) Teraba jaringan plasenta pada periksa dalam vagina j) Penurunan kepala tidak masuk pintu atas panggul 1. Sedang : Perdarahan lebih 200 cc. pelepasan plasenta kurang 1/6 bagian permukaan. sehingga plasenta terdesak akhirnya terlepas. kadar fibrinogen plasma lebih 120 mg%. 2. Cirri-ciri plasenta previa : a ) Perdarahan terjadi tanpa rasa sakit pada trimester III b ) Sering terjadi pada malam hari saat pembentukan S. belum ada tanda renjatan. Klasifikasi solusio plasenta berdasarkan tanda klinis dan derajat pelepasan plasenta yaitu : 1. janin hidup. Perdarahan dapat terjadi pada pembuluh darah plasenta atau uterus yang membentuk hematom pada desisua. dan manual plasenta 4) Korpus luteum bereaksi lambat. bekas operasi. . bila kawin dan hamil pada usia muda 3) Endometrium cacat pada bekas persalinan berulang-ulang.  Plasenta previa marginalis : hanya pada pinggir ostium terdapat jaringan plasenta. terdapat tanda pre renjatan.Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat abnormal yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (osteum uteri internal)       Plasenta previa lateralis : hanya sebagian dari ostium tertutup oleh plasenta.

Sangat bergantung pada status janin.3. dilakukan persalinan pervaginam A. Faktor trauma: . Penatalaksanaan vasa previa. PATOFISIOLOGI 1. dan lain-lain.Pengecilan yang tiba-tiba dari uterus pada hidramnion dan gemeli . 3. Karena segmen bawah agak merentang selama kehamilan lanjut dan persalinan. terdapat tanda renjatan. Pengaruh lain seperti anemia. tekanan uterus pada vena cava inferior. dalam usaha mencapai dilatasi serviks dan kelahiran anak. Berat : Uterus tegang dan berkontraksi tetanik. 5. janin mati. dimana hal ini dapat diketahui sebagai plasenta previa.Karena desakan darah tinggi. Holmer mencatat bahwa dari 83 kasus solusio plasenta dijumpai 45 multi dan 13 primi.tor yang mempengaruhi solusi plasenta : Ciri-ciri solusi plasenta: a ) Perdarahan disertai rasa sakit b ) Jalan asfiksia ringan sampai kematian intrauterin c ) Gejala kardiovaskuler ringan sampai berat d ) Abdomen menjadi tegang e ) Perdarahan berwarna kehitaman f ) Sakit perut terus menerus g) Denyut jantung janin biasanya tidak ada h) Teraba ketuban yang tegang pada periksa dalam vagina i) Penurunan kepala dapat masuk pintu atas panggul 1. glomerulo nefritis kronika. Plasenta previa Seluruh plasenta biasanya terletak pada segmen atau uterus. kemudian terjadi haematoma retroplasenter dan plasenta sebagian terlepas. maka pembuluh darah mudah pecah. dan hipertensi esensial. Kadang-kadang bagian atau seluruh organ dapat melekat pada segmen bawah uterus. Trauma langsung seperti jatuh. deselerasi atau bradikardi. Faktor paritas. versi luar. atau pertolongan persalinan. Diagnosis vasa previa. Bila ada keraguan tentang viabilitas janin. pelepasan plasenta bisa terjadi lebih 2/3 bagian atau keseluruhan. Etiologi vasa previa belum jelas. pemisahan plasenta dari dinding usus sampai . Lebih banyak dijumpai pada multi daripada primi. Vasa Previa Vasa previa merupakan keadaan dimana pembuluh darah umbilikalis janin berinsersi dengan vilamentosa yakni pada selaput ketuban. khususnya bila perdahan terjadi ketika atau beberapa saat setelah selaput ketuban pecah. Bila janin hidup dan cukup matur dapat dilakukan seksio sesar segera namun bila janin sudah meninggal atau imatur. 2. 4. 1. Pemeriksaan juga dapat dilakukan dengan inspekulo atau amnioskopi. tentukan lebih dahulu umur kehamilan. Faktor vaskuler (80-90%). kena tendang. ukuran janin. maturitas paru dan pemantauan kesejahteraan janin dengan USG dan kardiotokografi. Bila sudah terjadi perdarahan maka akan diikuti dengan denyut jantung janin yang tidak beraturan.Tarikan pada tali pusat yang pendek akibat pergerakan janin yang banyak/bebas. malnutrisi. Darah ini berasal dari janin dan untuk mengetahuinya dapat dilakukan dengan tes Apt dan tes Kleihauer-Betke serta hapusan darah tepi. Pada pemeriksaan dalam vagina diraba pembuluh darah pada selaput ketuban. dan lain-lain. yaitu toksemia gravidarum.

Keluhan utama Perdarahan pada kehamilan setelah 28 minggu atau pada kehamilan lanjut (trimester III) -Sifat perdarahan tanpa sebab. presentasi.Perdarahan keluar pervaginam (dari dalam uterus) . muntah. kadang-kadang pasien bisa melokalisir tempat mana yang paling sakit. 2. sehingga plasenta terdesak akhirnya terlepas. Pemeriksaan USG .Posisi. · Pergerakan anak mulai hebat kemudian terasa pelan dan akhirnya berhenti (anak tidak bergerak lagi).Sering dijumpai kesalahan letak janin . . sering mengerang karena kesakitan. B. Perasaan sakit yang tiba-tiba di perut.  Inspeksi · Pasien gelisah. Akibatnya. TFU masih rendah . hematom yang kecil itu hanya akan mendesak jaringan plasenta. Biasanya perdarahan akan berlangsung terus menerus karena otot uterus yang telah meregang oleh kehamilan itu tidak mempu untuk lebih berkontraksi menghentikan pendarahannya.Tampak anemis  Palpasi abdomen .Bagian terbawah janin belum turun  . umur.tingkat tertentu tidak dapat dihindarkan sehingga terjadi pendarahan. peredaran darah antara uterus dan plasenta belum terganggu dan tanda serta gejalanya pun tidak jelas. DIAGNOSA DAN GEJALA KLINIS 1) Plasenta Previa  Anamnesis . sehingga sebagian dan akhirnya seluruh plasenta terlepas dari dinding uterus.Evaluasi letak dan posisi plasenta. dimana plasenta terlepas. tanda-tanda kehidupan janin. tanpa nyeri dan berulang. ·Perdarahan pervaginam yang sifatnya bisa hebat dan sekonyong-konyong (non-recurrent) terdiri dari darah segar dan bekuan-bekuan darah. Apabila perdarahan sedikit. Solusi plasenta Perdarahan dapat terjadi pada pembuluh darah plasenta atau uterus yang membentuk hematom pada desisua.Janin sering blm cukup bulan. · Kepala terasa pusing. . Kejadiannya baru diketahui setelah plasenta lahir yang pada pemeriksaan didapatkan cekungan pada permukaan maternalnya dengan bekuan darah lama yang warnanya kehitamhitaman. · Kadang-kadang ibu dapat menceritakan trauma dan faktor kausal yang lain. pucat. pandangan berkunang-kunang.Transabdominal ultrasonography 1) Solusio Plasenta  Anamnesis . lemas.  Inspeksi/inspekulo . hematom retroplasenter akan bertambah besar. ibu kelihatan anemis tidak sesuai dengan banyaknya darah yang keluar. .

suatu perdarahan biasanya hyperechoic.  Pemeriksaan dalam · Serviks bisa telah terbuka atau masih tertutup. maka kita bandingkan dengan plasenta.  Pemeriksaan laboratorium . · Kelihatan darah keluar pervaginam  Palpasi · TFU naik karena terbentuknya retroplasenter hematoma. kalau bisa cross match test Karena pada solusio plasenta sering terjadi kelainan pembekuan darah a/hipofibrinogenemia. kecil. gambaran perdarahan yang meluas. atau bahkan isoechoic. karena uterus tegang. karena perut (uterus) tegang. ini sering dikacaukan dengan plasenta previa. · Uterus teraba tegang dan keras seperti papan yang disebut uterus in bois (wooden uterus) baik waktu his maupun diluar his. · Kalau ketuban sudah pecah dan plasenta sudah terlepas seluruhnya. tercatat hanya 25% kasus solusio plasenta yang ditegakkan dengan USG. Gambaran konsisten yang mendukung diagnosa solusio plasenta antara lain adalah. Ultrasonography adalah suatu metode yang penting untuk mengetahui adanya pendarahan di dalam uterus. test kualitatif fibrinogen (fiberindex). uterus tidak sesuai dengan tuanya kehamilan. dan test kuantitatif fibrinogen (kadar normalnya 150 mg%). · Nyeri tekan terutama di tempat plasenta tadi terlepas.· Pucat. gumpalan hematom retroplasenta (hyperochoic hingga isoechoic pada fase akut. tetapi lambat laun turun dan pasien jatuh syok. maka diperiksakan pula COT (Clot Observation Test) tiap 1 jam. disebut prolapsus plasenta. Pada fase akut. dan filiformis. · Bagian-bagian janin susah dikenali. Kualitas dan sensitifitas ultrasonografi dalam mendeteksi solusio plasenta telah meningkat secra signifikan belakangan ini. kemudian turun dibawah 100 dan akhirnya hilang bila plasenta yang terlepas lebih dari sepertiga.  Pemeriksaan umum. baik sewaktu his maupun diluar his. tetapi tidak semua solusio plasenta yang di USG ditemukan gambaran seperti di atas. pada pemeriksaan sedimen terdapat silinder dan lekosit. · Nadi cepat. keringat dingin. periksa golongan darah. Tetapi bagaimanapun juga ini bukan metode yang sempurna dan sensitif untuk mendeteksi solusio plasenta. gambaran perdarahan tersembunyi.Solusio plasenta tampak sebagai gambaran gumpalan darah retroplacental. plasenta ini akan turun ke bawah dan teraba pada pemeriksaan.  Pemeriksaan Ultrasonography (USG).  Auskultasi Sulit. · Tensi semula mungkin tinggi karena pasien sebelumnya menderita penyakit vaskuler. Manfaat lainnya adalah USG dapat dipakai untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab lain perdarahan antepartum. dan berubah menjadi hypoechoic dalam satu minggu). sianosis. Urin albumin (+). · Kalau sudah terbuka maka ketuban dapat teraba menonjol dan tegang. Bila denyut jantung janin terdengar biasanya diatas 140. · Darah Hb menurun (anemi). .

Riwayat dan kehamilan yang Subjektif umum suaminya. Riwayat G. Setelah diagnosis plasenta previa ditegakkan. pelahiran bisa dilakukan. Bila ada stress distress janin. Jika ibu secara hemodinamik stabil. Riwayat kesehatan D. Biasanya tampak tipis dan cekung di bagian plasenta yang terlepas (krater) dan terdapat koagulum atau darah beku di belakang plasenta. Pemeriksaan plasenta · Sesudah bayi dan plasenta lahir.kelahiran pervaginam bisa diusahakan jika janin hidup dan tidak dalam keadaan distress akut. ibu biasanya tetap tinggal di Rumah sakit dibawah supervisi yang ketat. Keluhan Keluhan pasien saat masuk RS adalah perdarahan pada C. utama 28 minggu.dilakukan persalinan sesaria. (Cunningham. Data Biodata. PENATALAKSANAAN MEDIS 1. yang disebut hematoma retroplasenter. Plasenta Previa Penatalaksanaan konservatif (mis. Darah dan ringer laktat diberikan dalam jumlah yang dapat mempertahankan haluaran urine 30 sampai 60ml per jam dan nilai hematokrit kira-kira 30% (Lowe.istirahat di tempat tidur sepanjang masa hamil) biasanya dilakukan jika janin belum cukup matang karena perdarahan biasanya perdarahan spontan awal pada plasenta previa tidak mengancam kehidupan ibu dan janin. Jika paru-paru janin sudah matur dan kemungkinan hidup besar. identitas ibu hamil B. Pengkajian a) Data A. koagulopati. biasanya dilakukan pelahiran sesaria bagi ibu dengan plasenta previa. kecuali dalam keadaan kondisi kedaruratan. kita periksa plasentanya. 1993) 2. atau jika janin mati. dkk. Penggantian cairan harus dilakukan secara agresif bila terjadi perdarahan. kemajuan persalinan yang buruk. atau peningkatan tonus rahim istirahat. Cunningham. Riwayat Haid E. Riwayat Riwayat penyakit Penyakit Keadaan Dukungan Pandangan terhadap F. kehamilan ditunda sampai setelah minggu ke-36. perdarahan berat.199) ASUHAN KEPERAWATAN 1. lalu kehamilan terakhir Keluhan Imunisasi keluarga ringan berat psikososial keluarga kehamilan persalinan menstruasi . Solusio plasenta Pengobatan tergantung pada status ibu dan janin. A. Durasi kehamilan harus dipastikan dan .

penurunan resistensi jalan nafas. Wajah Mata : pucat.Lama kawin Haid Sirkulasi Lamanya Banyaknya darah pertama haid haid haid Nyeri Riwayat Status Kawin perkawinan perkawinan pertama Data Objektif Pemeriksaan fisik 1. f.Striae atau tanda guratan bisa terjadi di daerah abdomen dan paha. Terjadi hiperventilasi selama kehamilan. Vagina . anemis Hidung Gigi dan mulut c. Abdomen Palpasi abdomen : b. b. Laju pertumbuhan rambut berkurang. putting susu dan linea nigra. Leher d.Penurunan resistensi pembuluh darah sistemik dan pembuluh darah pulmonal. Jantung dan paru Volume darah meningkat Peningkatan frekuensi nadi . Diafragma meninggi Perubahan pernapasan abdomen menjadi pernapasan dada.Haid terakhir H. Umum Pemeriksaan fisik umum meliputi pemeriksaan ibu hamil. Buah dada / payudara Peningkatan pigmentasi areola putting susu Bertambahnya ukuran dan noduler e.. a. Peningkatan volume tidal. Rambut dan kulit .Terjadi peningkatan pigmentasi pada areola.) Menentukan letak janin . .Peningkatan vaskularisasi yang menimbulkan warna kebiruan ( tanda Chandwick ) Hipertropi epithelium h.Menentukan tinggi fundus uteri g. . System musculoskeletal .

Sudahkah saya melakukan langkah untuk menolog ibu menjadi nyaman saat tirah baring dengan cara menggosok punggung. Intervensi 1. Evaluasi 1. dan tanda persalinan. Ibu dan bayi menjalani persalinan dan kelahiran yang aman. 3. tanpa perdarahan. Khusus Tinggi fundus uteri Posisi dan persentasi janin Panggul dan janin lahir Denyut jantung janin 3. serta terapi mulai diberikan. Diagnosa keperawatan  Resiko tinggi cedera (janin) Yang berhubungan dengan penurunan perfusi uterin/plasenta akibat perdarahan  Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan perdarahan hebat akibat plasenta previa  Resiko tinggi infeksi yang berhubungan dengan anemia dan perdarahan akibat plasenta previa  Rasa takut. Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan inspekulo Pemeriksaan radio isotopic Ultrasonografi .Pemeriksaan dalam 2. 4. berhubungan dengan keprihatinan ibu tentang kesejahteraan Diri dan bayinya 3.com/2011/04/askep-perdarahan-antepartum.blogspot. http://tinevitamehi. mencakup tanda-tanda vital. haluaran perkemihan. Kondisi ibu tetap stabil atau perdarahan dapat dideteksi dengan tepat. pelacakan pemantauan elektronik.html .Persendian tulang pinggul yang mengendur Gaya berjalan yang canggung . Pemberian cairan Intra Vena atau produk darah sesuai pesanan.Adakah tanda persalinan ? adakah perubahan yang dilaorkan ibu ? . memposisikan dengan bantal. pengalihan aktivitas. 2.Jika perdarahan ada sudahkan saya mengkaji kuantitasnya dengan teliti ? Sudahkan saya memantau keadaan janin dengan teliti ? Apakah ada tanda-tanda takikardi / deserasi ? Sudahkah saya waspada terhadap perubahan keadaan ibu ? . Tinjau kembali aspek penting dari perawatan kritis yang telah diberikan ini : Sudahkah saya menanyakan kepada ibu tentang perdarahan ? . Lakukan pemantauan keadaan ibu dan janin secara terus menerus.Terjadi pemisahan otot rectum abdominalis dinamakan dengan diastasis rectal 2. 4. 2. Jelaskan prosedur kepada ibu dan keluarganya.

3.1. makin besar kemungkinan mengalami plasenta previa • Usia ibu pada saat hamil. Meskipun perdarahan sesudah saat ini lebih sering terjadi.2. Walaupun demikian plasenta menjadi organ defenitif jauh lebih dini dari kehamilam 28 minggu dan perdarahan dapat terjadi lebih dini . Bila usia ibu pada saat hamil 35 tahun atau lebih. Pada satu kehamilan perdarahan dari traktus genitalis lebih sering dan serius jika terjadi pada tempat plasenta dibandingkan dari sumber lain. polip endometrium. makin besar kemungkinan kehamilan plasenta previa. Plasenta berimplantasi atau terletak di bagian fundus uterus. • Adanya tumor-tumor : mioma uteri.Pada primigravida umur diatas 35 th lebih sering dari umur dibawah 25 th.Di Indonesia plasenta previa banyak dijumpai pada umur paritas kecil disebabkan banyak wanita Indonesia menikah pada usia muda dimana endometrium belum matang. 3.ASKEP PADA PASIEN PERDARAHAN ANTEPARTUM ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN PERDARAHAN ANTEPARTUM Perdarahan antepartum merupakan pendarahan dari traktus genitalis yang terjadi antara kehamilan minggu ke28 dan awal partus. Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutup sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir. . • • 3.1 Plasenta Soluto Plasenta previa plasenta previa Pengertian Pada keaadaan normal . • Kadang-kadang pada malnutrisi .1.Pada paritas tinggi lebih sering dari pada paritas rendah . • Umur dam paritas . perdarahan pada saat yang lebih dini dapat merupakan indikasi dari dua penyebab utama pedarahan anterpatum yaitu.1. Namun demikian terdapat beberapa faktor yang berhubungan dengan peningkatan kekerapan terjadi plasenta previa yaitu : • Parista Makin banyak parista ibu. Walaupun perdarahan vaginal setelah minggu ke–29 harus dianggap mempunyai potensi serius . Etiologi Apa sebab terjadinya implatasi plasenta didaerah segmen bawah uterus tidak dapat dijelaskan.

Karena pada saat itu segmen bawah uterus lebih banyak mengalami perubahan berkaitan dengan makin tuanya kehamilan .plasenta previa dibagi dalam 4 klasifikasi yaitu : 1) Plasenta previa totalis apabila seluruh pembukaan tertutup oleh jarngan plasenta 2) Plasenta previa parsialis apabila sebagian pembukaan ternutup oleh jaringan plasenta 3) Plasenta previa marginalis apabila pinggir plasenta berada terpat pada pinggir pembukaan 4) Plasenta letak rendah apabila tepi plasenta melampau segmen bawah tetapi tepinya tidak mencapai ostium internum. tergantung banyaknya perdarahan. Pada usia kehamilan ini segmen bawah uterus telah terbentuk dan mulai menipis. • Bagian terbawah janin biasanya belum masuk pintu atas panggul dan tidak jarang terjadi letak janin (letak lintang atau letak sunsang) • Janin mungkin masih hidup atau sudah mati. Manifestasi klinis • Perdarahan yang terjadi bisa sedikit atau banyak. Dengan demikian plasenta yang berimplitasi di segmen bawah uterus tersebut akan mengalami pergeseran dari tempat implantasi .1.4.1. 5) 3. Patofisiologi Perdarahan anterpatum yang disebabkan oleh plasenta previa umumnya terjadi pada triwulan ketiga kehamilan . Sebagian besar kasus. biasanya tidak banyak dan tidak berakibat fatal. Kemungkinan perdarahan anterpatum akibat plasenta previa dapat sejak kehamilan berusia 20 minggu. Gejala utama • Perdarahan yang terjadi berwarna segar. Perdarahan yang terjadi pertama kali. tanpa alasan dan tanpa rasa nyeri merupakan gejala utama Komplikasi • Anemia karena perdarahan • Syok • Janin mati lahir dalam keadaan premature dan asphyxia berat. janinnya masih hidup. Perdarahan pertama sering terjadi pada triwulan ketiga. • Pada uterus tidak teraba keras dan tidak tegang.3. • Pasien yang dating dengan perdarahan karena plasenta previa tidak mengeluh adanya rasa sakit. Perdarahan berikutnya hampir selalu lebih banyak dari sebelumnya. Makin tua usia kehamilan segmen bawah uterus makin melebar dan serviks membuka.Klasifikasi Berdasarkan atas terabaya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu. 3.

upayakan penyelamatan optimal. tidak melakukan sanggama. Proses kererawatan digunakan oleh perawat untuk memecahkan masalah yang dihadapi klien. lakukan PDMO.mengedan karena sulit buang air besar) Gambar 35. anjurkan pasien untuk tirah baring total dengan menghadap kiri. Pelayanan keperawatan yang diberikan pada klien HAP atas indikasi plasenta previa akan berhasil apabila asuhan keperawatan yang diberikan baik dan benar. Bila terjadi renjatan. Bila terdapat renjetan. Bila teratasi. dan spiritual) dan bersifat unik.3 Skema Penanganan Plasenta previa Pasang infuse cairan Nacl fisiologis. Sebelum dirujuk.dan akan menimbulkan perdarahan. taksiran berat janin <2.taksirkan berat janin 2. menghindari peningkatan tekanan rongga perut missal batuk. maka : • • Bila perdarahan sedikit. rawat sampai usia kehamilan 37 minggu. bersumber pada sinus uterus yang atau robekan sinis marginali dari plasenta. Berdasarkan hal ini perawat dituntut memiliki pengetahuan tentang penyakit klien dan tindakan apa saja yang harus dilakukan.1. usahakan partus pervaginam. psiko. selain itu perawat harus berfikir dan bekerja secara dinamis. social. Bila tidak teratasi. . lalu lakukan mobilisasi bertahap.500 g.6. usia gestasi 37 minggu atau lebih.500 g atau lebih. Manajemen Therapeutik Harus dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas operasi. Bagi individu. perhatikan usia kehamilan. 3. tangani seperti persalinan preterm Bila tidak ada renjetan. Darahnya berwarna merah segar. Penerapan proses keperawatan klien ni adalah empat tahap yaitu pengkajian. Penanganan di rumah sakit dilakukan berdasarkan usia kehamilan. keluarga dan masyarakat yang mempunyai masalah kesehatan dengan tujuan menolong mereka meningkatkan kesehatan semaksimal mungkin sesuai dengan profesinya. Bila bukan. Bila tidak memungkinkan. usia gestasi <37 minggu. lakukan persalinan perabdominan.5. Bila ada kontraksi. Beri kortikosteroid 12 mg intravena per hari salma 3 hari Bila pendarahan berulang. secara tuntas yang didasari prinsip-prinsip ilmiah sertamempertimbangkan klien sebagai makluk yang utuh (bio. lakukan PDMO. Bila ternyata previa. Asuhan keperawatan Perawatan adalah pelayanan esensial dilakukan oleh perawatan propesional. beri cairan proposal. Pantau tekanan darah dan frekuensi nadi pasien secara teratur tiap 15 menit untuk mendeteksi adanya hipotensi atau syok akibat perdarahan. segera lakukan resusitasi cairan dan trasfusi darah. Pantau pula BJJ dan pergerakan janin. 3. intervestasi dan evaluasi.1.

Riwakat kesehatan keluarga .Kemungkinan klien mengalami penyakit hipertensi DM. .Kemungkinan ada keluarga yang menderita seperti ini . Tujuan utama pengkajian adalah untuk memberi gambaran secara terus menerus mengenai keadaan kesehatan yang memungkinkan perawat merencanakan asal keperawatan pada klien HAP. .Adanya kemungkinan klien pernah mengalami riwayat diperlukan uterus seperti seksio sasaria curettage yang berulang-ulang.Keluhan pada haid : tidak ada keluhan nyeri haid 5.1. 4. Hemofilia serta mengalami penyakit menular seperti hepatitis. Riwayat kehamilan dan persalinan . . Identitas umum b. Riwayat kesehatan dahulu . Riwayar Obstetri Riwayat Haid/Menstruasi .Siklus . Riwayat kesehatan 1.Lamanya .Perdarahan tanpa rasa nyeri . Adapun data-data yang dikumpulkan yaitu : a.Perdarahan biasanya terjadi sejak triwulan ketiga atau sejak kehamilan 20 minggu.Multigravida . . Pengkajian Pengkajian adalah pendekatan yang sistematis untuk mengumpulkan data perkelompok dan menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan untuk perawatan klien. 3.Kemungkinan keluarga pernah mengalami kesulitan kehamilan lainnya.Minarche .Kemungkinan keluarga menderita penyakit hipertensi DM. Langkah pertama dalam pengkajian terhadap klien HAP adalah mengumpulkan data.Baunya : 28 hari : ± 7 hari : amis : 12 th . Hemofilia dan penyakit menular.Kemungkinan pernah mengalami abortus 2.Kemungkinan keluarga pernah mengalami kehamilan ganda. Riwayat kesehatan sekarang Biasanya terjadi perdarahan tanpa alasan .

Abdomen • Inspeksi : terdapat strie gravidarum • Palpasi : Leopoid I : Janin sering belum cukup bulan. Hb yang normal (12-14gr%) .Genetalia biasanya pada vagina keluar dasar berwarna merah muda .jadi fundus uteri masih rendah Leopoid II : Sering dijumpai kesalahan letak Leopoid III : Bagian terbawah janin belum turun. biasanya terdapat cloasmagrafidarum. .Muka.Tekanan darah. nadi melemah jika ditemui tanda-tanda shok d.. seperti warna.Banyaknya 2 kali ganti duk besar . Normal 120.Kepala. e.Nadi. nafas jika kebutuhan akan oksigen terpenuhi .Suhu tubuh. suhu akan meningkat jika terjadi infeksi . Pemeriksaan penunjang . Pemeriksaan tanda-tanda vital .Kemungkinan pernah melakukan curettage 6. Pemeriksaan fisik . muka kelihatan pucat.Tentang laktasi Colostrum ada c. akan menurun jika ditemui adanya tanda syok .160 . memungkinkan Hb rendah. keadaan dan kebersihan . Kemungkinan akral dingin.Ekstremitas. biasanya bunyi nafas vesikuler.Mata biasanya konjugtiva anemis .Data laboraturium.Pernapasan. jenis pernapasan thoracoabdominal . amis .Thorak. Kemungkinan udema atau varies. apabila letak kepala biasanya kepala masih goyang atau terapung(floating) atau mengolak diatas pintu atas panggul. Riwayat nipas .Lochea Rubra Bagaimana baunya.Kemungkinan abortus . Leopoid IV : Kepala janin belum masuk pintu atas panggul • Perkusi : Reflek lutut +/+ • Auskultasi : bunyi jantung janin bisa cepat lambat.

dkk 1988:523) 2. Kecemasan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang perawatan dan pengobatan (Susan Martin Tucker. Resiko rawat janin : fital distress berhubungan dengan tidak ada kuatnya perfusi darah ke plasenta (Lynda Jual Carpenito. 6. Dan hasil pengkajian seorang perawat mampu menentukan rencana tindakan yang akan dilakukan pada klien. Intolerasi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik (Barbara Enggram :1998:371) Resiko infeksi berhubungan dengan terbukanya tempat masuknya mikro organisme sekunder terhadap luka operasi sesarea. Trombosit menurun (normal 250 ribu – 500 ribu).dkk 1988 : 624). 4.dkk 1988). hal ini juga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan yang dimilikinya. Dari pengkajian yang telah diuraikan diatas dapat disusun beberapa diagnosa keperawatan yang memungkinkan ditemukan pada klien HAP atas indikasi plasenta precia antara lain : 1. Perencanaan ini dikembangkan sesuai dengan kebutuhan klien dan mengatasi masalahnya. Perencanaan Perencanaan keperawatan adalah bagian selanjutnya dari proses keperawatan.leokosit meningkat (Normal 6000-1000 mm3). Gangguan pemenuhan kebutuhan sehari-hari berhubungan dengan ketidak mampuan merawat diri. Anjurkan klien untuk membatasi perserakan Rasional : Pergerakan yang banyak dapat mempermudah pelepasan plasenta sehingga dapat terjadi perdarahan . 7. f. Adapun rencana tindakan dari diagnosa tersebut adalah : DX I Resiko perdarahan berulang berhubungan dengan efek penanaman plasenta pada segmen bawah rahim Tujuan : Klien tidak mengalami perdarahan berulang Intervensi : 1. 5. Sekunder keharusan bedrest (Linda Jual Carpenito edisio :326) 3. Resiko perdarahan berulang berhubungan dengan efek penanaman plasenta pada segmen bawah rahim ( Susan Martin Tucker. Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan trauma jaringan dan spasme otot perut (Susan Martin Tucker. Data sosial ekonomi Plaesnta previa dapat terjadi pada semua tingkat ekonomi namun pada umumnya terjadi pada golongan menengah kebawah . 2.2000: 1127) post seksio.

Bina hubungan saling percaya antara perawat dengan klien dengan menggunakan komunikasi therapeutik Rasional : Dengan melakukan komunikasi therapeutic diharapkan klien kooperatif dalam melakukan asuhan keperawatan. suhu) Rasional : Dengan mengukur tanda-tanda vital dapat diketahui secara dini kemunduran atau kemajuan keadaan klien. 3. Bantu klien dalam pemenuhan kebutuhan dasar engan membantu kebutuhan klien seperti mandi. DX II Gangguan pemenuhan ketuban sehari-hariberhubungan dengan ketidakmampuan merawat diri sekunder keharusan bedres Tujuan : Pemenuhan kebutuhan klien sehari-hari terpenuhi Intervensi : 1. Libatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan Rasional : Dengan melibatkan keluarga.sehingga kebutuhan klien terpenuhi.2. Anjurakan klien untuk melaporkan segera bila ada tanda-tanda perdarahan lebih banyak Rasional : Pelaporan tanda perdarahan dengan cepat dapat membantu dalam melakukan tindakan segera dalam mengatasi keadaan klien.BAK. Rasional 3. 2. klien merasa tenang karena dilakukan oleh keluarga sendiri dan klien merasa diperhatikan. Monitor bunyi jantung janin Rasional : Denyut jantung lebih >160 serta< 100dapat menunjukkan gawat janin kemungkinan terjadi gangguan perfusi pada plasenta 6. Kontrol tanda-tanda vital (TD. BAB. 5. Pernafasan. Kolaborasi dengan tim medis untuk mengakhiri kehamilan Rasional : Dengan mengakhiri kehamilan dapat mengatasi perdarahan secara dini. Kontrol perdarahan pervaginam Rasional : Dengan mengontrol perdarahan dapat diketahui perubahan perfusi jaringan pada plasenta sehingga dapat melakukan tindakan segera. . Nadi. 4.

kapan nyeri dirasakan oleh klien dapat disajikan sebagai dasar dan pedoman dalam merencanakan tindakan keperawatan selanjutnya. 5. . 5. Kolaborasi dengan dokter tentang pemberian oksigen Rasional : Dengan pemberian O2 dapat meningkatkan konsumsi O2 sehingga konsumsi pada janin meningkat. Anjurkan klien untuk memberi tahu perawat untuk memberikan bantuan Rasional : Dengan memberi tahu perawat sehingga kebutuhan klien dapat terpenuhi. 2. Anjurkan klien untuk nafas dalam Rasional : Dengan nafas dalam dapat meningkatkan konsumsi O2 pada ibu sehingga O2 janin terpenuhi 4. DX IV Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan trauma jaringan dan spasme otot perut Tujuan : Rasa nyaman terpenuhi Intervensi : 1.4. Dekatkan alat-alat yang dibutuhkan klien Rasional : Dengan mendekatkan alat-alat kesisi klien dengan mudah dapat memenuhi kebutuhannya sendiri. Jelaskan pada klien penyebab nyeri Rasional : Dengan memberikan penjelasan pada klien diharapkan klien dapat beradaptasi dan mampu mengatasi rasa nyeri yang dirasakan klien. Kolaborasi dengan dokter tentang pemberian kortikosteroit Rasional : Korticosteroit dapat meningkatkan ketahanan sel terutama organ-organ vital pada janin. Kaji tingkat nyeri yang dirasakan klien Rasional : Dengan mengkaji tingkat nyeri. Anjurkan klien agar miring kekiri Rasional : Posisi tidur menurunkan oklusi vena cava inferior oleh uterus dan meningkatkan aliran balik vena ke jantung 3. Istirahatkan klien Rasional : melalui istirahat kemungkinan terjadinya pelepasan plasenta dapat dicegah 2. DX III Resiko rawat janin berhubungan dengan tidak adekuatnya perfusi darak ke plasenta Tujuan : Gawat janin tidak terjadi Intervensi : 1.

anomali atau tumor uterus. Rasional : Peregangan luka dapat meningkatkan rasa nyeri. merokok. 6. Etiologi Belum diketahui pasti. Alihkan perhatian klien dari rasa nyeri dengan mengajak klien berbicara. Solusio Plasenta 3. serta obstruksi vena kana inferior dan vena ovarika.2. . uterus tidak mampu berkontraksi optimal untuk menekan pembuluh darah tersebut. konsumsi alcohol. 4. 7. Atur posisi nyaman menurut klien tidak menimbulkan peregangan luka. Pengertian Solusio plasenta adalah lepasnya plasenta dari insersi sebelum waktunya 3. 3. 3. trauma eksternal. Anjurkan dan latih klien teknik relaksasi (nafas dalam) Rasional : Dengan teknik nafas dalam diharapkan pemasukan oksigen ke jaringan lancar dengan harapan rasa nyeri dapat berkurang. dekompresi terus mendadak. diharapkan klien tidak terpusatkan pada rasa nyeri 5.3. Selanjutnya darah yang mengalir keluar dapt melepaskan selaput ketuban. penyalahgunaan kokain. Rasional: Dengan mengalihkan perhatian klien.2.2.2. difisiensi gizi. Hingga pelepasan plasenta makin luas dan mencapai tepi plasenta. Karena uterus tetap berdistensi dengan adanya janin. Faktor predisposisi yang mungkin ialah hipertensi kronik. tali pusat pendek.2. Kontrol vital sign klien engan mengontrol/menukur vital sign klien dapat diketahui kemunduran atau kemajuan keadaan Rasional klien untuk mengambil tindakan selanjutnya. Kolaborasi dengan dokter dalam memberikan analgetik Rasional : Analgetik dapat menekan pusat nyeri sehingga nyeridapat berkurang.1. Ruptur pembuluh arteri spiralis desidua menyebabkan hematoma retroplasenta yang akan memutuskan lebih banyak pembuluh darah.3. Patofisiologi Terjadinya solusio plasentae dipicu oleh perdarahanke dalam basalis yang kemudian terbelah dan meninggalkan lapisan tipis yang melekat pada miometrium sehingga terbentuk hematoma desidual yang menyebabkan pelepasan.kompresi dan akhirnya penghancuran plasenta yang berdekatan dengan bagian tersebut.

Bila rejatan tidak dapat diatasi.Bila terdapat rejatan. usia gestasi 37 minggu atau lebih. uterus tegang. Jika terus pendarahan. syok dak kematian janin intrauterine. Usahakan partus pervaginam dengan amniotomi atau infuse oksitosin bila memungkinkan.Bila tak terdapat rejatan dan usia gestasi kurang dari 37 minggu atau taksiran berat janin kurang dari 2.500 gr. • Pemeriksaan fisik tanda vital dapat normal sampai menunjukkan tanda syok. . pertimbangkan seksio sesarea bila janin masih hidup atau persalinan pervaginam diperkirakan akan berlangsung lama.Setelah syok teratasi dan janin mati. denyut jantung janin sulit dinilai atau tidak ada. mengedan karena sulit buang air besar). dapat mengancam ibu/janin).2. Bila kurang dari 6cm lakukan seksio sesarea.500 gr atau lebih. uterus berkontraksi. Manajemen Terapeutik Harus dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas operasi. bila ada perbaikan (perdarahan berhenti. Solusio plasenta sedang/berat Resusitasi cairan Atasi anemia dengan pemberian transfuse darah Partus pervaginam bila diperkirakan dapat berlangsung dalam 6 jam.Setelah rejatan diatasi. Manifestasi Klinis • Anamnesis : perdarahan biasanya pada trimester ketiga. tidak melakukan senggama. menghindari peningkatan tekanan rongga perut (misalnya batuk. janin hidup) dengan tirah baring atasi anemia dan KTG serial. Upayakan Penyelamatan optimal bila teratasi.Penanganan berdasarkan berat atau ringannya penyakit yaitu : a). berikan cairan peronai. Solusio Plasenta Ringan • Ekspektatif. lihat pembukaan. • Pemeriksaan obstetric : nyeri tekan uterus dan tegang.lalu tunggu persalinan spontan. Sebelum dirujuk anjuran pasien untuk tirah baring total dengan menghadap ke kiri.pecahkan ketuban lalu infuse oksitosin. air ketuban berwarna kemerahan karena tercampur darah. bila ada perburukan (perdarahan berlangsung terus.4.3. Pantau tekanan darah dan frekuensi nadi tiap 15 menit untuk mendeteksi adanya hipotensi atau syok akibat pendarahan. Perhatikan keadaan janin. Bila lebih dari 6 cm.5. lakukan seksio sesarea. Pasang infus cairan NaCl fisiologis. perdarahan pervaginam berwarna kehitam-hitaman yang sedikit sekali dan tanpa rasa nyeri sampai dengan yang disertai nyeri perut. Pantau pula BJJ dan pergerakan janin. perdarahan pervaginam yang banyak. perabdominan bila tak dapat Bila terdapat rejatan. Bila tidak teratasi. taksiran berat janin 2.2. Pikirkan partus perabdominan bila persalinan pervaginam diperkirakan berlangsung lama. 3. upayakan tindakan penyelamatan yang optimal. b). bagian-bagian janin sukar dinilai. Bila tidak memungkinkan. • Aktif.segera lakukan resusitasi cairan dan tranfusi darah.skor pelvic kurang dari 5 atau persalinan masih lama. kontraksi uterus tidak ada.

tachicardi. Asuhan Keperawatan a). Riwayat Kesehatan Riwayat penyakit dahulu(DM. ada tidaknya hipertensi menahun atau preeklamsia. laboraturium{darah lengkap. urine. Status janin (DJJ menurun. kulit dingin) Sistem reproduksi (pemeriksa leopoid I – IV. Pengkajian 1).6. Dan jarak antara terjadinya solusio plasentae sampai pengosongan uterus. Kebiasaan (merokok. jenis kelamin. perdarahan dengan darah warna merah kehitaman. derajat kelainan pembekuan darah. respirasi dan suhu) Tinggi badan dan berat badan (sebelum hamil dan setelah hamil) Sistem kardiovaskuler. 3. Pemeriksaan Fisik Vital sign (TD. 7).2.5-5% dan kematian janin 50-80%. dan cyanosis) Sistem perkemihan (intake dan output) Sistem integument (udem. Kepercayaan Keagamaan 6). Diperkirakan resiko kematian ibi 0.Prognosis Prognosis ibu tergantung luasnya plasenta yang terlepas dari dinding uterus. 2).USG. nadi.pucat. hipotensi. Data Biografi Demografi Usia. Fundus uteri yang makin tinggi). Status psikologis 5). banyaknya perdarahan. pergerakan janin menurun). dan kimia darah}) b). 2) Gangguan perfusi jaringan : perdarahan berhubungan dengan gangguan pembekuan darah 3) Kecemasan berhubungan dengan kemungkinan efek negatif dari perdarahan atau pengeluaran kehamilan . kontraksi uterus yang meningkat. Pemeriksaan penunjang (EKG.gagal ginjal dan hipertensi) Riwayat kesehatan keluarga Riwayat kehamilan yang lalu Riwayat ginekologis Status kesehatan sekarang Riwayat status nutrisi 3). pekerjaan serta identitas lain yang mendukug. Diagnosa Keperawatan 1) Gangguan perfusi jaringan serta umum berhubungan dengan hipovelemik shock. Status serviks. tersembunyi tidaknya perdarahan. penggunaan obat-obatan dan alkohol) 4).

nadi.4) Resiko tinggi terjadinya fetal distress berhubungan dengan perfusi oksigen yang tidak adekuatnya pada plasenta c). Pemberian tranfusi darah sesuai indikasi R : pemberian tranfusi darah dapat membantu sirkulasi ke jaringan 2).) Monitor intake dan output untuk memperbaiki sirkulasi volume cairan. nafas. R : pemberian intake cairan (secara parenatal) dapat membantu mempertahankan volume sirkulasi Tindakan kolaborasi : a. Kaji dan monitor perdarahan pervaginam yang abnormal R : dapat dijadikan sebagai indikator dari faktor kegagalan pembekuan darah . Intervensi Keperawatan 1) Gangguan perfusi jaringan secara umum berhubungan dengan hipovolemik shock Tujuan : pefusi jaringan adekuat Kriteria : Tanda vital dalam batas normal Kulit hangat dan kering Nadi perifer adekuat Tindakan mandiri : a).suhu. Monitor tanda vital (TD.) Kaji dan catat perdarahan pervaginam dan peningkatan tinggi fundus uteri. R : Sebagai petunjuk untuk tindakan kedaruratan selanjutnya c. dan palpasi nadi perifer secara rutin) R : permonitoran tanda vital dapat menunjukkan indikasi terjadinya pemulihan atau penurunan sirkulasi b. Pemberian oksigen sesuai indikasi R : Pemberian oksigen dapat meningkatkan sirkulasi O2 pada jaringan b. Gangguan perfusi jaringan : perdarahan berhubungan dengan gangguan pembekuan darah Tujuan : perfusi jaringan adekuatnya dan perdarahan teratasi Kriteria : • • • Keadaan umum ibu baik • Pembekuan darah normal Tanda vital dalam batas normal Sirkulasi darah baik Tindakan mandiri : a.

c. sehingga pergerakan janin dan DJJ tidak normal b). Pemberian obat sesuai dengan indikasi R : pemberian obat untuk menghentikan perdarahan dan mengurangi kegagalan faktor pembekuan darah 3). d. Pemberian Oksigen sesuai indikasi R : pemberian oksigen akan membantu sirkulasi oksigen ke janin menjadi adekuat b). Pemberian trasfusi dan komponen darah sesuai dengan indikasi R : tranfusi darah dapat membantu pengurangan faktor pembekuan karena proses pembekuan yang abnormal . Anjurkan ibu mempertahankan posisi tidur lateral R : posisi lateral dapat memberikan sirkulasi yang optimum pada uterus dan plasenta Tindakan kolaborasi : a). Menyiapkan klien untuk memeriksakan amniosintesis jika diperlukan R : pemeriksaan amniosintesis dapat dijadikan indicator kegawatan darurat janin. Monitor sirkulasi darah serta tanda DIC (turunnya tingkat kekenyalan fibrinogen.b. Resiko tinggi terjadinya fetal distress berhubungan dengan perfusi oksigen yang tidak adekuat pada plasenta Tujuan : perfusi oksigen pada janin adekuat Kriteria : • DJJ normal (120-160 x/menit) • • Kebutuhan oksigen janin terpenuhi Kontraksi uterus normal • HIS normal • Pergerakan janin baik Tindakan mandiri : a) Monitor DJJ dan pergerakan janin R : gangguan perfusi plasenta dapat menurunkan oksigenisasi pada janin. . pertambahan prothrombin. tromboplastin dan pembekuan darah) R : dapat mengintervensi tindakan selanjutnya yang cepat dan sesuai dengan masalah yang ditemukan.

Pemakaian cadangan karbonhidrat dan lemak menyebabkan oksidasi lemak tidak sempurna sehingga terjadi ketosis. yaitu alergi. nafsu makan tak ada. Mual dan muntah merupakan gangguan yang paling sering dijumpai pada kehamilan trismeter 1.000 kehamilan. tekanan darah sistolik turun. hiperemisis grafidarum dibagi dalam 3 tingkatan yaitu : a) Tingkat I Muntah terus menerus yang mempengaruhi keadaan umum. Pengertian Hyperemasis gravidarum adalah mual dan muntah berlebihan sehingga pekerjaan sehari-hari dan keadaan umum menjadi buruk. Selaput lender esofagus dan lambung dapat robek (sindrom Mallory-Weiss) sehingga terjadi perdarahan gastrointestinal. Mual dan muntah terus menerus dapat menyebabkan dehidrasi. Kurang lebih pada 6 minggu setelah haid terakhir selama 10 minggu. Selanjutnya terjadi hemokosentrasi yang mengurangi perfusi darah kejaringan dan menyebabkan tertimbunnya zat toksit. Etiologi Belum diketahui pasti.2. 4. hiponatremia. Patofisiologi Perasaan mual akibat kadar estrogen meningkat. Sekitar 60-80% primigravida dan 40-60% multigravida mengalami mual dan muntah. mola hidatidosa. hipokloremia. Hipokalemia akibat muntah dan ekskresi yang berlebihan selanjutnya menambah frekuensu muntah marusak hepar.penurunan klorida urin. perubahan metabolic akibat hamil dan resistansi ibu yang menurun c) Faktor psikologi 4.dan kehamilan ganda b) Faktor organic. menimbulkan rasa lemah. berat badan turun dan nyeri apigastrium.. 4.4 Manifestasi klinis Menurut berat ringannya gejala. yaitu pamigravida. . lidah kering dan mata cekung. masuknya vili khorialis dalam sirkulasi.c). turgor kulit berkurang.3. namun beberapa faktor mempunyai pengaruh antara lain : a) Faktor predisposisi. Namun gejala ini menjadi lebih berat hanya pada 1 dari 1. Frekwensi nadi pasien naik sekitar 100 x/menit. Persiapkan klien untuk dilakukan tindakan emergensi seperti section caesaria R : tindakan section merupakan salah satu alternative menghindari terjadinya fetal distress BAB IV ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN HYPEREMESIS 4.1.

hemokonsentrasi. d) Sedatif yang diberikan adalah fenobarbital e) Dianjurkan pemberian vitamin B1 Dan B6 ditambah f) Berikan terapi psikologis untuk meyakinkan pasien penyakitnya bisa disembuhkan serta menghilankan rasa takut hamil dan konflik yang melatarbelakangi hiperemesis. dan napas bau aseton. . merasa lemah dan kelelahan. konstipasi dan demam. suhu kadang naik dan mata sedikit icterik. Kesadaran pasien menurun dari samnolen sampai koma. Data Riwayat kesehatan sekarang Pada riwayat kesehatan sekarang terdapat keluhan yang dirasakan oleh klien sesuai dengan gejala-gejala pada hyperemisis gravidarum yaitu : mual.6. 1. muntah yang terus menerus. lidah kotor. tachicardi mata cekung dan ikterik. terasa asam dimulut. coba berikan makanan dan minimaman yang sedikit demi sedikit ditambah. mengelompokkan data dan menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan untuk perawatan klien. oliguria. konstipasi. turgor kulit yang jelek.b) Tingkat II Pasien tampak lemah dan apatis. c) Tingkat III. maka diperlukan pengobatan yaitu : a) Penderita diisolasi dalam kamar yang tenang dan cerah dengan pertukaran udara yang baik. Berat badan pasien turun. nadi kecil dan cepat. timbul hipotensi. merasa haus. Langkah pertama dalam pengkajian klien hyperemisis gravidarum adalah mengumpulkan data. gangguan elektrolit. suhu meningkat dan tekanan darah makin turun. b) Diuresis selalu dikontrol untuk menjaga keseimbangan cairan c) Bila selama 24 jam penderita tidak muntah dan keadaan umum bertambah baik. Terjadinya oliguria. Asuhan Keperawatan Pengkajian Pengkajian pendekatan yang sistemik untuk mengumpulkan data. Kalori yang diberikan secara parenteral dengan glukosa 5 % dalam cairan fisiologis sebanyak 2 – 3 liter sehari. Tujuan utama dari pengkajian adalah untuk memberikan gambaran secara terus menerus mengenai keadaan kesehatan klien yang memungkinkan perawat merencanakan asuhan keperawatan pada klien.5 Penatalaksanaan Bila pencegahan tidak berhasil. Adapaun datadata yang akan dikumpulkan adalah : a) Data Riwayat Kesehatan.Kemudian dapat juga ditemukan berat badan yang menurun. 4. muntah berhenti nadi kecil dan cepat. 4.

cemas. mudah marah. klien terlihat lemah dan lelah. c) Riwayat menstruasi • Kemungkinan menarche usia 12 – 14 th • Siklus 28 – 30 hari • Lamanya 5 – 7 hari • Banyaknya 2 – 3 kali ganti duk • Kemungkinan ada keluhan waktu haid seperti nyeri. sakit kepala. • Hamil tua : Pemeriksaan umum terhadap klien tentang berat badan.2. Riwayat kesehatan dahulu • Kemungkinan klien pernah mengalami hioremisis gravidarum sebelumnya. mata cekung dan sedikit ikterik. turgor jelek. 3. . Pola pertahanan diri yang digunakan klien hiperemisis gravidarum tergantung kepada pengalaman klien terhadap kehamilan dan dukungan dari keluarga serta perawat. • Kemungkinan klien pernah mengalami penyakit yang berhubungan dengan saluran pencernaan yang menyebabkan mual dan muntah. pusing kehilangan kesadaran dan terasa asam di mulut. mual. Riwayat kesehatan keluarga Kemungkinan adanya riwayat kehamilan ganda pada keluarga b) Data fisik biologis Data yang dapat ditemui pada klien hiperemisis gravidarum adalah mammae membesar. f) Data psikologis Riwayat psikologis sangat penting dikaji agar dapat diketahui keadaan jiwa klien sehubungan dengan reaksi dan perilaku klien terhadap kehamilan. mudah menangis. tekanan darah dan tingkat kesadaran. hiperpikmentasi areola mammae. d) Riwayat perkawinan Kemungkinan terjadi pada perkawinan usia muda e) Riwayat kehamilan dan persalinan • Hamil muda : Klien pusing. terdapat cloasma gravidarum. mukosa membrane dan bibir kering. tachycardia. muntah dan tidak ada nafsu makan. Keadaan jiwa klien yang labil. muntah. hipotensi. dan takut akan kegagalan persalinan. sedih dan kecewa dapat memperberat mual dan muntah.

h) Data penunjang Data penunjang didapat dari hasil laboratorium yaitu pemeriksaan darah dan urine. Diagnosa Keperawatan Dari pengkajian yang telah diuraikan maka ada beberapa kemungkinan diagnosa keperawatan yaitu: 1) Kekurangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan muntah yang berlebihan dan pemasukan yang tidak adekuat (ireneM. hal ini juga dipengaruhi oleh pengetahuan yang dimiliki.Kerja metabolisme tidak meningkat sehingga tidak merangsang untuk tidak terjadinya mual dan muntah . Hiperemisis gravidarum bisa terjadi pada semua tingkat ekonomi. 1989 hal 37 ) 5) Tidak efektif nya pola pertahanan diri b/d efek psikologis terhadap kehamilan dan perubahan sebagai ibu ( Sharon J Reeder . 1995: 637) 2) perubahan nutrisi .1987 hal 748) 6) Potensial perubahan nutrisi fetal b/d berkurang nya peredaran darah makanan ke janin ( ( Sharon J Reeder .1987 hal 748) Perencanaan 1) Kekurangan cairan dan elektrolit b/d muntah yang berlebihan dan pemasukan yang tidak adekwat Tujuan : Kebutuhan cairan dan elektrolit tidak terganggu Intervensi : • Istirahatkan klien di tempat yang nyaman Rasional : Istirahat akan menurunkan kebutuhan energi. Namun pada umumnya terjadi pada ekonomi tingkat menengah ke bawah. b/d mual dan muntah yang terus menerus (Irene M.Bobak :638) 3) gangguan rasa nyaman : nyeri pada epigastrium b/d muntah yang berulang ( Marie S Jaffe . Pemeriksaan urinalisa yaitu urine yang sedikit dan mempunyai konsentrasi yang tinggi sebagai akibat dehidrasi. Terdapatnya aseton dalam urine. Bobak. Jaffe .g) Data sosial ekonomi. Pemeriksaan darah yaitu nilai haemoglobin dan hematokrit yang meningkat menunjukkan homokonsentrasi yang berkaitan dengan dehidrasi. 1989 hal 37 ) 4) Gangguan eliminasi : konstipasi b/d intake makanan yang tidak adekuat ( Marie S .

. • Berikan makanan dalam keadaan hangat dan bervariasi. • Setelah 24 jam pertama beri makanan dalam porsi kecil tapi sering Rasional : makanan dalam porsi kecil dapat mengurangi pemenuhan lambung dan mengurangi pemenuhan lambung dan mengurangi kerja peristaltik usus serta memudah kan penyerapan makanan . Rasional : Makanan yang hangat dan bervariasi dapat menambah nafsu makan . • Observasi tanda-tanda kekurangan nutrisi Rasional :Untuk mengetahui sejauh mana kekurangan nutrisi akibat muntah yang berlebiahan. • Setelah 24 jam pertama anjurkan minum tiap-tiap jam Rasional : Minum yang sering dapat menambah pemasukan cairan melalui oral 2). suhu meningkat dan nadi meningkat merupakan tanda-tanda dehidrasi dan hipovolemia • Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian infuse Rasoinal : Pemberian cairan infuse dapat mengganti jumlah cairan elektrolit yang hilang dengan cepat • Monitor tetesan cairan infuse Rasional : Jumlah dan tetesan infuse yang tidak tepat dapat menyebabkan terjadinya kelebihan atau kekurangan cairan pada sistim sirkulasi. Perubahan nutrisi . Kurang dari keburuhan tubuh b/d muntah yang terus menerus Tujuan: Kebutuhan nutrisi terpenuhi Intervensi : • Kaji kebutuhan nutrisi klien Rasional : Dengan mengetahui kebutuhan nutrisi klien dapat diamati sejauh mana kekurangan nutrisi pada klien dan tindakan selanjutnya. • Catat intek dan out put Rasional : Dengan mengetahui intek dan out put cairan diketahui keseimbangan cairan dalam tubuh.Tekanan darah menurun.• Monitor vital sign serta tanda – tanda dehidrasi Rasional : Dengan mengobservasi tanda-tanda kekurangan cairan dapat diketahui keadaan umum klien dan sejauh mana kekurangan cairan pada klien.

Rasional : dengan mengkaji tingkat nyeri dapat diketahui tingkat nyeri pada klien dan tindakan selanjutnya . Rasional : Kebersihan mulut yang baik dan terpelihara dapat menimbulkan ras nyaman dan muntah berkurang . Tujuan : Rasa nyaman terpenuhi . Rasional : makanan yang tidak berlemak dan berminyak mengurangi rangsangan saluran pencernaan sehingga muntah berkurang. . Rasional : Dengan menimbang berat badan dapat diketahui keseimbangan berat badan sesuai usia kehamilan dan pengaruh nutrisi. • Atur posisi klien dengan kepala lebihtinggi selama 30 menit setelah makan Rasional : Dengan posisi kepala lebih tinggi dapat mengurangi tekanan pada gastroinstestinal sehingga mengurangi muntah yang berulang . Intervensi : • Kaji tingkat nyeri. 3) Gangguan rasa nyaman : Nyeri pada epigastrium b/d muntah yang berulang. • Alihkan perhatian pada hal yang menyenangkan Rasional : Dengan mengalihkan perhatian diharapkan klien dapat melupakan rasa nyeri akibat muntah yang berulang. • Perhatikan kebersihan mulut klien sebelumdan sesudah muntah .• Beri makanan yang tidak berlemak dan tidak berminyak. • Beri klien motivasi agar mau menghabiskan makanan Rasional : Klien merasa diperhatikan dan mau menghabiskan makanan • Timbang berat badan klien. • Anjurkan klien untuk memakan makanan yang kering dan tidak merangsang pencernaan (seperti roti dan biscuit ) Rasional : makanan yang kering dan tidak merangsang pencernaan dapat mengurangi mual dan muntah .

• Anjurkan klien untuk menghabiskan diet yang diberikan. Rasional : Pemberian obat pencahar dapat melancarkan BAB 5). Gangguan eliminasi : konstipasi b/d intake makanan yang tidak adekuat. Rasional : Dengan menghabiskan diet yang diberikan intek makanan adekwat dan konstipasi tidak terjadi • Anjurkan klien banyak minum Rasional : Cairan yang banyak memperlunak veses sehingga mencegah komplikasi • Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat pencahar. 4). • Kolaborasi pemberian obat anti emetik dan sedative dengan dokter Rasional : Obat anti emetic mengurangi muntah danobat sedative membuat klien tenang sehingga mengurangi rasa nyeri . Rasional : Dengan mengungkapkan perasaan klien dapat diketahui reaksi klien terhadap kehamilan • Dengarkan keluhan klien dengan penuh perhatian Rasional : Klien merasa diperhatikkan dan tidak sendiri dalam menghadapi masalah. Tujuan: Pola pertahanan diri afektif Intervensi : • Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya secara langsung terhadap kehamilan. . Intervensi : • Kaji pola eliminasi klien Rasional : Untuk mengetahui kebiasaan eliminasi sehari hari • Anjurkan klien makan buah-buahan dan sayuran Rasional : Dengan memakan buah-buahan dan sayuran yang banyak dapat melancarkan BAB.• Anjurkan klien untuk beristirahat dan batasi pengunjung Rasional : Dengan istirahat yang cukup dan membatasi pengunjung dapat menambah ketenangan klien . Tidak efektifnya pola pertahanan diri b/d efek psikologis terhadap kehamilan dan perubahan sebagai ibu. Tujuan :Eliminasi teratur.

• Libatkan keluarga dalam kehamilan klien Rasional : Keluarga dapat diajak bekerja sama dalam memberikan dorongan pada klien terhadap kehamilannya. BAB V GANGGUAN HEMATOLOGI .• Diskusikan bersama klien tentang masalah yang dihadapi dan pemecahan masalah yang dilakukan Rasional : Melalui diskusi dapat diketahui pola pertahanan diri klien dalam menghadapi masalahnya • Bantu klien dalam memecahkan masalahnya terutama yang berhubungan dengan kehamilan Rasional : Dengan membantu memecahkan masalah klien da[pat menemukan pola pertahanan diri yang efektif. 6).Potensi perubahan nutrisi vetal b/d Berkurangnya peredaran darah dan makanan ke janin Tujuan : Perkembangan janin tidak terganggu Intervensi : • Jelaskan pada klien pentingnya nutrisi bagi pertumbuhan dan perkembangan janin Rasional : Agar klien menyadari akan pentingnya nutrisi bagi janin dank lien mengetahui kebutuhan nutrisinya. • Dukung klien jika pemecahkan masalah konstruktif Rasional : Akan menambah percaya diri dalam melakukan pemecahan masalah. • Kolaborasi dengan ahli psikiatri jika diperlukan Rasional : Untuk mengetahui adanya kemungkinan factor psikologis yang lebih berat sebagai penyebab masalah. • Periksa Fundus uteri Rasional : Untuk mengetahui fundus uteri yang sesuai dengan kehamilan • Monitor denyut jantung janin Rasional : Denyut jantung yang masih dalam keadaan normal dan aktif menandakan janin masih dalam keadaan baik.

di sebut anemia berat. yang bukan saja menyulitkan kehamilan dan persalinan. Angka-angka tersebut juga berlaku untuk wanita hamil. persalinan . ibu lemah • Atonia uteri dan menyebabkan pendarahan • Syok • Afibrinogenemia dan hipofibrinogenimia • Infeksi intrapartum dan dalam nifas • Bila terjadi anemia gravis (Hb di bawah 4 gr%) terjadi payah jantung. darah) membutuhkan zat besi dalam jumlah besar untuk pembuatan butir-butir . dan Nifas: • Keguguran • Partus Prematurus • Inersia uteri dan partus lama. seseorang di sebut menderita anemia bika kadar hemoglobin ( HB ) kurang dari 10 gr%. bahkan bisa fatal. haid dll. Perbandingan pertambahan tersebut adalah: • Plasma darah bertambah: 30% • Sel-sel darah bertambah : 18% • Hemoglobin bertambah : 19% Secara fisiologis pengenceran darah ini adalah untuk membantu meringankan kerja jantung. ANEMIA DALAM KEHAMILAN Baik di Negara maju maupun di Negara berkembang. paru. hematokrit dan hemoglobin harus menjadi pemeriksaan darah rutin selama pengawasan antenatal. pemeriksaan. Pengaruh Anemia terhadap hasil konsepsi Hasil konsepsi (janin. malaria dll. Dalam kehamilan. jumlah darah bertambah (hyperemia / hipervolumia) karena itu terjadi pengenceran darah karena sel-sel darah tidak sebanding pertambahannya dengan plasma darah.1. cacing usus. Wanita tidak hamil mempunyai nilai normal hemoglobin 12-15 gr% dan hematokrit 35-54%. plasenta. • Penyakit –penyakit kronik: tbc. Oleh karena itu. atau bila kurang dari 6 gr%. Pengaruh Anemia terhadap Kehamilan . Penyebab anemia umumnya adalah: • Kurang gizi (malnutrisi ) • Kurang zat besi dalam diet • Malabsorbsi • kehilangan darah yang banyak: persalinan yang lalu. di sebut anemia gravis .

20mg. Terjadinya anemia dalam kehamilan bergantung dari jumlah persediaan besi dalam hati. Pengobatan Keperluan zat besi untuk wanita non-hamil. Penyebabnya telah dibicarakan di atas sebagai penyebab anemia umumnya. kemasan diberikan secara intra muskuler atau intravena. Kemasan ini antara lain : imferon.7%) Anemia defisiensi besi (62. Jumlah ini membutuhkan 1\10 dari seluruh besi dalam tubuh. jectover. dan dalam laktasi yang di anjurkan adalah: • FNB Amerika Serikat (1958): 12 mg-15mg-15mg.05) • Anemia hipoplastik (8. Ini terjadi pada bulan 5-6 kehamilan.3%) Anemia jenis ini biasanya berbentuk normositik dan hipokromik serta paling banyak di jumpai. Penyebany adalah karena kekurangan .darah merah dan pertumbuhannya. Hasilnya lebih cepat dibandingkan per oral. • LIPI Indonesia (1968): 12mg-17mg-17mg. Kemasan zat besi dapat di berikan peroral atau parenteral. Hb akan turun. Anemia megaloblastik Anemia megaloblastik biasanya berbentuk makrositik tau pernisiosa. dan ferrigen. limfa. Hb tidak akan turun dan bila persediaan ini habis. • Per oral: sulfas ferosus atau glukonas ferosus dengan dosis 3-5 x0.3%) • Anemia megaloblastik (29. pada waktu janin membutuhkan banyak zat besi. Bila terjadi anemia. pengaruhnya terhadap hasil konsepsi adalah: • Keguguran • Kematian jann dalam kandungan • Kematian janin waktu lahir • Kematian perinatal tinggi • Prematuritas • Dapatterjadi cacat bawaan • Cadangan besi kurang Klasifikasi Anemia dalam kehamilan • Anemia defisiensi besi (62. hamil.dan sumsum tulang Selama masih mempunyai cukup persediaan besi. • Parenteral: di berikan bila ibu hamil tidak tahan pemberian per oral atau absorbsi di saluran pencernaan kurang baik.0%) • Anemia hemolitik ( sel sickle) (0. yaitu sebanyak berat besi.

karena pada leukemia terjadi gangguan pembekuan darah. Sampai sat ini belum ada obat-obat yang memuaskan terhadap leukemia. untuk diagnosis diperlukan pemeriksaan-pemeriksaan: • Darah tepi lengkap • Pemeriksaan pungsi sternal • Pemeriksaan retikulosit dan lain-lain. membentuk sel-sel darah merah baru. hemoglobinopati C. Prognosis untuk ibu dan janin tidak begiti baik. Terhadap hasil konsepsi dapat terjadi abortus dan prematuritas. Anemia hemolitik Anemia hemolitik disebabkan oleh penghancuran atau pemecahan sel darah merah yang lebih cepat dari pembuatannya ini disebabkan oleh : • Faktor intracorpusculer : dijumpai pada anemia hemolitik heriditer .G. leukemia. dan parasismal nocturnal hemoglobinuria. Bahaya perdarahan paska persalinan cukup besar. I. namun pada wanita leukemia. jarang sekali akibat karena kekurangan vitamin B12. harus memeriksakan diri secara lebih teratur dan lebih sering.asam folik. keracunan zat logam. D. Anemia hipoplastik Anemia hipoplastik disebabkan oleh hipofungsi sumsum tulang. talasemia. H . dan dapat beserta obat-obatan . anemia sickle ( sabit). karena ancaman terhadap kehamilan dan jiwanya tetap ada. kelelahan serta gejala komplikasi bila terjadi kelainan pada organ-organ vital. dll Gejala utama adalah : Anemia dengan kelainan. sepsis. bila hamil. Cara pengobatan adalah : . • Faktor ekstrakorpuskuler: disebabkan malaria. II LEOKEMIA DAN KEHAMILAN Leokemia dan kehamilan tidak begitu saling mempengaruhi. biasanya karena malnutrisi dan infeksi yang kronik Pengobatan: • asam folik 15-30mg per hari • vitamin B12 3×1 tablet per hari • sulvas ferosus 3×1 tablet per hari • pada kasus berat dan pengobatan per oral hasilnya lamban sehingga dapat di berikan tranfusi darah. kelemahan.kelainan gambaran darah.

karena akan menimbulkan kelainan teratogenik atau kematian janin dalam kandungan. Evaluasi Evaluasi dari proses keperawatan adalah menilai hasil yang diharapkan terhadap perubahan peilaku klien dan untuk mengetahui sejauh mana masalah klien teratasi. sebaiknya terlebih dulu hasil konsepsi dikeluarkan ( abortus terapeutik) • Transfusi darah • Kemoterapi dan sirtotastika • Anti metabilit • Kortikosteroid Pencegahan • Wanita leukemia sebaiknya jangan hamil • Dianjurkan memakai kontrasepsi / tubektomi HEMOSTATIS DAN KELAINAN PEMBEKUAN DARAH Penyakit ini adalah terhentinya atau penghentian aliran darah dari pembuluh darah yang terbuka atau terluka. 2. Dalam pelaksanaan tindakan keperawatan. Ada 3 faktor dalam proses hemostasis: 1. otot. Faktor vaskuler yaitu dinding pembuluh darah 3. Disamping itu perawat juga melakukan umpan balik atau pengkajian ulang jika tujuan yangh ditetapkan belum tercapai dan proses keperawatan segera dimodifikasi. Tindakan keperawatan harus mendetail agar semua tenaga perawatan dapat menjalankan dengan baik dalam jangka waktu yang telah ditetapkan. Faktor intra vaskuler yaitu : zat yang terdapat dalam pembuluh darah: Implementasi Setelah rencana tindakan keperawatan selanjutnya rencana tindakan tersebut diterapkan dalam situasi yang nyata untuk mencapai tujuan yang diterapkan. Bila akan diberikan terapi radiasi dan kemoterapi. Faktor ekstra vaskuler : factor jaringan seperti kulit. subkutis dan jaringan lain. . perawat dapat langsung melaksanakannya pada klien dan perawat dapat mendelegasikannya kepada orang lain yang dipercayai dibawah pengawasan yang masih seprofesi dengan perawat.• Radiasi : ini sangat membehayakan janin dalam kandungan.

Kesimpulan Pre-eklamsi adalah penyakit dengan tanda hipertensi. penyakit ini mungkin timbul pada triwulan ketiga kehamilan .wordpress. edema dan proteinuria yang timbul karena kehamilan .( Winknjosastro.com/nursing-only/keperawatan-maternitas/askep-pada-pasienperdarahan-antepartum/ . perdarahan antepartum . Penyebab utama perdarahan antepartum adalah: • Plasenta previa. 1997:282) Perdarahan antepartum (HAP) merupakan perdarahan dari traktus genitalis yang terjadi antara kehamilan mingggu ke -28 dan awal partus .2. 5. http://ainicahayamata. hyperemesis.1. Keempat factor diatas harus diwaspadai bila terjadi pada masa kehamilan dan perlu penanganan lebih dini . tetapi dapat terjadi sebelumnya misalnya karea molahidatidosa.BAB VI PENUTUP 5. gangguan hematologi di perlukan pengkajian secara lengkap agar dapat menetapkan diagnosa keperawatan secara cepat dan tepat terhadap klien sehingga tercapainya peningkatan kesejahteraan ibu dan anak. Gangguan hematology adalah kelainan darah yang dapat ditemui pada ibu hamil yang dapat menyebabkan kematiaqn pada janin maupun pada ibu. Sasaran Dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien pre-eklamsia. Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah yang berlebihan sehingga pekerjaan sehari-hari terganggu dan keadaan umum menjadi buruk . • Solutio plasenta.