P. 1
Pathway Dhf New1 (1)

Pathway Dhf New1 (1)

|Views: 2,140|Likes:
Published by luna_coco

More info:

Published by: luna_coco on Apr 02, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/31/2013

pdf

text

original

PATHWAY DHF

Nyamuk Aedes aegypti pembawa virus dengue menggigit manusia virus dengue masuk sirkulasi darah / VIREMIA + Antibodi ( Ab ) Kompleks virus – antibodi dalam sirkulasi darah
Trombosit melepaskan histamin dan serotonin Permeabilitas membran kapiler↑ F.trombosit III dilepaskan pemakaian koagulopati↑ F.pembekuan↓ Agregasi trombosit Kerusakan trombosit Fungsi trombosit ↓ Trombosit dimusnahkan o/ RES trombositopenia hebat PERDARAHAN nyeri ulu MK:Nye ri Perdarahan sal.GI Hematemesis,melena Perdarahan gusi Kulit ekimosis perdarahan di hidung epistaksis

MK:Peningkatan suhu tubuh Demam dehidrasi penguapan berlebih MK:Cairan & elektrolit < Mual,muntah dehidrasi output ber>

DF ( Dengue Fever )

MK:nutrisi < Nyeri otot Sakit kepala
MK:Nyeri

Rasa mengecap terganggu mkn

tdk enak u/

Tdk mau makan Keb.nutrisi < MK:Resti nutrisi < kebut.tubuh Peradangan hati Hepatomegali MK:Nye ri t/g: -Nyeri -Mual,muntah MK:Nutrisi <

Rua m Aktivasi koagulas i Aktivasi F.Hageman(F. Plasminogen→plas min Penghancur anafilaktok an Fibrin FD P

kapiler pecah

Sistem Kini Permeabilit as Aktivasi sistem kolplemen membran kapiler↑ ( C3 & C5 )

anemia

petekie

perfusi jar.tdk adekuat MK:Perubahan perfusi penurunan kesadaran MK:Gg.Penurunan

anak gelisah IV: Derajat t/g:nadi ≠teraba.Asuhan Keperawatan pada Anak Melepas anafilatoks in ( C3a & C5a ) Permeabilitas membran kapiler↑ Kebocoran plasma Merembes masuk ke Menghilangnya ruang interstitial plasma dr dinding endotel Rongga Rongga pleura Efusi Asite Volume pleura s plasma ↓ Darah hipovolemi kental a hemokonsentr MK: asi Cairan < kebut.perdarahn pd sal.gelisah ota Hipoksia Penuruna n k MK: n kesadara Perfusi kesadara DI Asidosis jar. k akral MK: Penuruna dingin.Soegeng.perdar ahan gusi.Penyakit Infeksi Tropik pada Anak Sastoasmoro.perdarahan spontan(petekie.hipotensi.Kedaruratan pada Anak Soegijanto.GI Derajat III: t/g:nadi cepat&halus.Ilmu Penyakit Anak.tub Ht & Hb uh ↑ t/g:TD↓.ekim osis.epistaksis. tourniquet(+) Derajat II: uji t/g:demam. Diagnosa & Penatalaksanaan Suriadi.Sudigdo.≠adeku C metaboli Perdarah at an masif Kematia n MK: Gg.tekanan darah ≠terukur Sumber: Rampengan.gejala ≠spesifik.suplai O2 ke otak Askep DHF . kulit dingin.uji turniket+.Derajat DBD : Derajat I: t/g:demam.nadi syo cepat&lemah.

Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah suatu penyakit akut yang disebabkan oleh virus yang ditularkan oleh nyamuk aedes aegepty (Seoparman. Biasanya dengan cepat menyebar secara efidemik. Penyebab DHF . nyeri otot dan nyeri sendi yang disertai ruam atau tanpa ruam. 1996). DHF adalah demam khusus yang dibawa oleh aedes aegepty dan beberapa nyamuk lain yang menyebabkan terjadinya demam.( Asuhan Keperawatan pada Klien dengan DHF ) Pengertian DHF / Demam Berdarah DHF atau dikenal dengan istilah demam berdarah adalah penyakit yang disebabkan oleh Arbovirus ( arthro podborn virus ) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes ( Aedes Albopictus dan Aedes Aegepty ) nyamuk aides aegepty Menurut beberapa ahli pengertian DHF sebagai berikut: Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegepty (Christantie Efendy.1995 ). DHF sejenis virus yang tergolong arbo virus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegepty (betina) (Seoparman .Patrick manson. 1990). (Sir. Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang terdapat pada anak dan orang dewasa dengan gejala utama demam.2001).

hyperemia tenggorokan dan hal lain yang mungkin terjadi seperti pembesaran kelenjar getah bening. Kemudian virus akan bereaksi dengan antibody dan terbentuklah kompleks virus-antibody. terjadi hipotensi. terutama perdarahan saluran gastrointestinal pada DHF. nyeri otot. menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya faktor koagulasi (protombin dan fibrinogen) merupakan faktor penyebab terjadinya perdarahan hebat . Hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit > 20 %) menunjukkan atau menggambarkan adanya kebocoran (perembesan) plasma sehingga nilai hematokrit menjadi penting untuk patokan pemberian cairan intravena. Setelah pemberian cairan intravena. sehingga pemberian cairan intravena harus dikurangi kecepatan dan jumlahnya untuk mencegah terjadinya edema paru dan gagal jantung. trombositopenia dan gangguan koagulasi. penderita akan mengalami kekurangan cairan yang dapat mengakibatkan kondisi yang buruk bahkan bisa mengalami renjatan. peningkatan jumlah trombosit menunjukkan kebocoran plasma telah teratasi. ruam atau bintik-bintik merah pada kulit (petekie). Terjadinya trobositopenia. Dalam sirkulasi akan mengaktivasi system komplemen. mual. sakit kepala. dan pericard yang pada otopsi ternyata melebihi cairan yang diberikan melalui infus. Jika renjatan atau hipovolemik berlangsung lama akan timbul anoksia jaringan. dan hipoproteinemia serta efusi dan renjatan (syok). Gangguan hemostasis pada DHF menyangkut 3 faktor yaitu : perubahan vaskuler. pleura. . Pertama-tama yang terjadi adalah viremia yang mengakibatkan penderita mengalami demam. dua peptida yang berdaya untuk melepaskan histamine dan merupakan mediator kuat sebagai factor meningkatnya permeabilitas dinding kapiler pembuluh darah yang mengakibatkan terjadinya perembesan plasma ke ruang ekstra seluler. Perembesan plasma ke ruang ekstra seluler mengakibatkan berkurangnya volume plasma.Penyebab DHF adalah Arbovirus ( Arthropodborn Virus ) melalui gigitan nyamuk Aedes ( Aedes Albopictus dan Aedes Aegepty ) Patofisiologi DHF Virus akan masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypty. hemokonsentrasi. sebaliknya jika tidak mendapatkan cairan yang cukup. Adanya kebocoran plasma ke daerah ekstra vaskuler dibuktikan dengan ditemukannya cairan yang tertimbun dalam rongga serosa yaitu rongga peritoneum. pegal-pegal diseluruh tubuh. Akibat aktivasi C3 dan C5 akan dilepas C3a dan C5a. metabolik asidosis dan kematian apabila tidak segera diatasi dengan baik. pembesaran hati (Hepatomegali) dan pembesaran limpa (Splenomegali).

saluran pencernaan dan jaringan adrenal. paru. retroorbita Suara serak Batuk Epistaksis Disuria Nafsu makan menurun Muntah Ptekie Ekimosis Perdarahan gusi Muntah darah Hematuria masif Melena .Pada otopsi penderita DHF. ditemukan tanda-tanda perdarahan hampir di seluruh tubuh. seperti di kulit. Tanda dan Gejala DHF Tanda dan gejala penyakit DHF adalah : Meningkatnya suhu tubuh Nyeri pada otot seluruh tubuh Nyeri kepala menyeluruh atau berpusat pada supra orbita.

nadi cepat dan lemah. lemah. 4) Dengan atau tanpa renjatan. perdarahan : positif ekimosis gusi 3) Pembesaran hati yang nyeri tekan. 5) Kenaikan nilai Hematokrit / Hemokonsentrasi Klasifikasi DHF menurut WHO Derajat I Demam disertai gejala tidak khas. kulit dingin. tanpa ikterus. nyeri. seperti anoreksia. gelisah. Renjatan yang terjadi pada saat demam biasanya mempunyai prognosis buruk. Renjatan biasanya terjadi pada saat demam turun (hari ke-3 dan hari ke-7 sakit ). Epistaksis.Diagnosis DHF Patokan WHO (1986) untuk menegakkan diagnosis DHF adalah sebagai berikut : 1) Demam akut. 2) 1) 2) 3) 4) Hematemesis. Derajat III Kegagalan sirkulasi darah. terdapat manifestasi perdarahan ( uju tourniquet positif ) Derajat II Derajat I ditambah gejala perdarahan spontan dikulit dan perdarahan lain. Manifestasi Uji Petekia. hipotensi ) Derajat IV . yang tetap tinggi selama 2 – 7 hari kemudian turun secara lisis demam disertai gejala tidak spesifik. melena. perdarahan tourniquet purpura. tekanan nadi menurun ( 20 mmhg. lembab.

tekanan darah tak dapat diukur Pemeriksaan Diagnostik Darah Lengkap = Hemokonsentrasi ( Hemaokrit meningkat 20 % atau lebih ) Thrombocitopeni ( 100. 000/ mm3 atau kurang ) Serologi = Uji HI ( hemaaglutinaion Inhibition Test ) Rontgen Thorac = Effusi Pleura Pathways Askep DHF Penatalaksanaan .Nadi tak teraba.

Thrombosit Pada pasienDHF derajat I : Pasien diistirahatkan. tekanan darah menurun. dapat juga dilakukan kompres Jika kejang maka dapat diberi luminal ( antionvulsan ) untuk anak <1th dosis 50 mg Im dan untuk anak >1th 75 mg Im. beri infus. Ht. DHF tanpa Renjatan Beri minum banyak ( 1 ½ – 2 Liter / hari ) Obat anti piretik. Thrombocyt. Ht. Jika 15 menit kejang belum teratasi . anuria dan sakit perut. beri lagi luminal dengan dosis 3mg / kb BB ( anak <1th dan pada anak >1th diberikan 5 mg/ kg BB. beri kompres Pada pasien DHF derajat II : pengawasan tanda vital. Trombocyt tiap 4 Jam Observasi intik output jam . Pengawasan tanda – tanda vital secara kontinue tiap jam - Pemeriksaan Hb.Medik A. untuk menurunkan panas. kecil dan cepat. perhatikan gejala seperti nadi lemah. observasitanda vital tiap 3 tiap 4 jam beri minum 1 ½ liter – 2 liter per hari. periksa Hb. B. Ht. Berikan infus jika terus muntah dan hematokrit meningkat DHF dengan Renjatan Pasang infus RL Jika dengan infus tidak ada respon maka berikan plasma expander ( 20 – 30 ml/ kg BB ) Tranfusi jika Hb dan Ht turun Keperawatan 1. pemeriksaan Hb. .

rontgen). sakit saat menelan. Epistaksis. haus. 2. Peningkatan suhu tubuh Observasi / Ukur suhu tubuh secara periodik Beri minum banyak Berikan kompres Asuhan Keperawatan pada pasien DHF Pengkajian Pengkajian Keperawatan DHF Dalam memberikan asuhan keperawatan. . 1. pengkajian merupakan dasar utama dan hal penting dilakukan oleh perawat. warna dari perdarahan Pasang NGT pada pasien dengan perdarahan tractus Gastro Intestinal 2. 5. periksa Hb. 3. mual. konsultasi. observasi. Hasil pengkajian yang dilakukan perawat terkumpul dalam bentuk data. pemeriksaan (fisik. laboratorium. posisi semi fowler. beri o2 pengawasan tanda – tanda vital tiap 15 menit. 1995 yaitu : 1.) Sakit kepala.Pada pasien DHF derajat III : Infus guyur. data obyektif yang sering ditemukan menurut Christianti Effendy. pasang cateter. a).) Lemah.) Panas atau demam.) Anoreksia. Adapun metode atau cara pengumpulan data yang dilakukan dalam pengkajian : wawancara. Resiko Perdarahan Obsevasi perdarahan : Pteckie. Ht dan thrombocyt. Data subyektif Adalah data yang dikumpulkan berdasarkan keluhan pasien atau keluarga pada pasien DHF. obsrvasi productie urin tiap jam. 4. Hematomesis dan melena Catat banyak.) Nyeri ulu hati.

4) Hemokonsentrasi (hematokrit meningkat). epistaksis. melena. hematoma.3 terjadi leukopenia. 2) Mukosa mulut kering. 2) Trombositopenia. perdarahan gusi. tenggorokan. hati . lidah kotor. uji torniquet (+). dan limpa. Data obyektif : Adalah data yang diperoleh berdasarkan pengamatan perawat atas kondisi pasien. 3) Hemoglobin meningkat > 20 %. Data obyektif yang sering dijumpai pada penderita DHF antara lain : 1) Suhu tubuh tinggi. 8.6. peningkatan limfosit. ekimosis. b). aneosinofilia. monosit. gelisah. hipokloremia.) Nyeri pada otot dan sendi. 3) Tampak bintik merah pada kulit (petekia). 2) Ureum dan pH darah mungkin meningkat. 7. nafas dangkal. hiponatremia. epigastrik.) Pegal-pegal pada seluruh tubuh. Pemeriksaan laboratorium pada DHF akan dijumpai : 1) Ig G dengue positif. ekstremitas dingin. hipotensi. netropenia. dan basofil 1) SGOT/SGPT mungkin meningkat. 5) Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukkan hipoproteinemia. sianosis perifer. wajah tampak kemerahan. 4) Hiperemia pada 5) Nyeri tekan pada 6) Pada palpasi teraba adanya pembesaran 7) Pada renjatan (derajat IV) nadi cepat dan lemah.) Konstipasi (sembelit). menggigil.2 dan ke. Pada hari ke. hematemesis.

demam. 2) Nyeri berhubungan dengan proses patologis penyakit. 6) Resiko terjadi syok hypovolemik berhubungan dengan kurangnya volume cairan tubuh. Perencanaan 1) Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses penyakit (viremia). . anoreksia. 3) Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual. 4) Asidosis metabolik. 5) Pada pemeriksaan urine dijumpai albuminuria ringan.3) Waktu perdarahan memanjang. 9) Kecemasan berhubungan dengan kondisi pasien yang memburuk dan perdarahan yang dialami pasien. 1995) yaitu : 1) Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses penyakit (viremia). Diagnosa Keperawatan DHF Diagnosa keperawatan yang ditemukan pada pasien DHF (Christiante Effendy. muntah. 5) Gangguan aktivitas sehari-hari berhubungan dengan kondisi tubuh yang lemah. 8 ) Resiko terjadi perdarahan lebih lanjut berhubungan dengan trombositopenia. 4) Kurangnya volume cairan tubuh berhubungan dengan peningkatan permeabilitas dinding plasma. 7) Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif (pemasangan infus). Tujuan Suhu Pasien Intervensi : tubuh normal bebas (36 dari – Keperawatan DHF : 370C).

Kaji saat Rasional : untuk mengidentifikasi pola demam pasien. 1. Berikan terapi cairan intravena dan obat-obatan Rasional : pemberian cairan sangat penting bagi pasien dengan suhu tinggi. Nyeri berhubungan dengan proses patologis penyakit. 2. 3. 5. 2. Observasi tanda vital (suhu. Alihkan perhatian pasien dari rasa Rasional : Dengan melakukan aktivitas lain pasien dapat melupakan perhatiannya terhadap nyeri yang dialami. pernafasan) Rasional : tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien. usahakan 3. tebal. jam. Kaji tingkat nyeri Rasional : untuk mengetahui berapa berat nyeri yang dialami pasien.5 liter/24 jam. nadi. Anjurkan pasien untuk banyak minum (2. 2). . 4.±7) Rasional : Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak. 6. timbulnya setiap 3 demam. dokter. dan pakaian sesuai yang program hangat.1. dialami ruangan yang pasien tenang. Anjurkan untuk tidak memakai selimut Rasional : pakaian tipis membantu mengurangi penguapan tubuh. Tujuan Rasa Nyeri Intervensi : nyaman berkurang pasien atau yang situasi : terpenuhi. nyeri. Berikan posisi yang Rasional : Untuk mengurangi rasa nyeri nyaman. tensi. hilang. Berikan kompres Rasional : Dengan vasodilatasi dapat meningkatkan penguapan yang mempercepat penurunan suhu tubuh.

Ukur berat Rasional : Untuk mengetahui status gizi pasien badan pasien setiap minggu. Rasional : Antiemetik membantu pasien mengurangi rasa mual dan muntah dan diharapkan intake nutrisi pasien meningkat. Kurangnya volume cairan tubuh berhubungan dengan peningkatan permeabilitas . Berikan obat-obatan antiemetik sesuai program dokter. Kaji keluhan mual. 3. 4). sakit Rasional : Untuk menetapkan cara mengatasinya. hari. obat-obat analgetik 3). Kaji cara / bagaimana Rasional : Cara menghidangkan makanan dapat mempengaruhi nafsu makan pasien. Catat jumlah / porsi makanan yang Rasional : Untuk mengetahui pemenuhan kebutuhan nutrisi. pasien mampu menghabiskan makanan sesuai dengan posisi yang diberikan /dibutuhkan. kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual. Intervensi : 1. dihidangkan. Tujuan : Kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi. sering. dan muntah yang makanan seperti frekuensi pasien setiap dialami pasien.4. bubur. anoreksia. 4. 7. dalam porsi kecil dihabiskan dan oleh 5. muntah. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi. 2. Berikan makanan yang mudah ditelan Rasional : Membantu mengurangi kelelahan pasien dan meningkatkan asupan makanan . menelan. Berikan makanan Rasional : Untuk menghindari mual. Berikan Rasional : Analgetik dapat menekan atau mengurangi nyeri pasien. 6.

1. 5). Kaji hal-hal yang mampu atau yang tidak mampu dilakukan Rasional : Untuk mengetahui tingkat ketergantungan pasien dalam memenuhi kebutuhannya. Tujuan Pasien Kebutuhan Intervensi : mampu aktivitas mandiri setelah sehari-hari keluhan oleh : bebas demam. 4. Catat Rasional : Untuk mengetahui keseimbangan cairan. pucat. 2. 1. Gangguan aktivitas sehari-hari berhubungan dengan kondisi tubuh yang lemah. Berikan cairan intravena sesuai program dokter Rasional : Pemberian cairan IV sangat penting bagi pasien yang mengalami kekurangan cairan tubuh karena cairan tubuh karena cairan langsung masuk ke dalam pembuluh darah. Anjurkan pasien untuk Rasional : Asupan cairan sangat diperlukan untuk menambah volume cairan tubuh. output. pasien.dinding Tujuan Volume Intervensi : cairan plasma. : terpenuhi. 5. terpenuhi pasien. 2. Kaji keadaan umum pasien (lemah. . syock. intake dan banyak minum. Observasi tanda-tanda Rasional : Agar dapat segera dilakukan tindakan untuk menangani syok. takikardi) serta tanda-tanda Rasional : Menetapkan data dasar pasien untuk mengetahui penyimpangan dari keadaan normalnya. vital. 3. Kaji Rasional : Untuk mengidentifikasi masalah-masalah pasien.

hipovolemik. 1. trombosit Rasional : Untuk mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah yang dialami pasien sebagai acuan melakukan tindakan lebih lanjut. Monitor tanda Rasional : Perdarahan cepat diketahui dan dapat diatasi sehingga pasien tidak sampai syok hipovolemik. Bantu pasien untuk memenuhi kebutuhan aktivitasnya sehari-hari sesuai tingkat keterbatasan pasien. Lapor dokter bila tampak Rasional : Untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut sesegera mungkin. Letakkan barang-barang di tempat yang mudah terjangkau Rasional : Akan membantu pasien untuk memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa bantuan orang lain. Resiko terjadinya syok hypovolemik berhubungan dengan kurangnya volume cairan Tubuh Tujuan Tidak Tanda-tanda Keadaan Intervensi : terjadi vital dalam umum syok batas : hipovolemik. 6. 3. 4. hematokrit. 6). Observasi tanda-tanda vital Rasional : tanda vital normal menandakan keadaan umum baik. 5. baik. program syok dokter. . Monitor keadaan umum pasien Rasional : memantau kondisi pasien selama masa perawatan terutama pada saat terjadi perdarahan sehingga segera diketahui tanda syok dan dapat segera ditangani. tiap 2 sampai 3 jam. 4. Berikan transfusi sesuai Rasional : Untuk menggantikan volume darah serta komponen darah yang hilang. perdarahan. normal. Chek haemoglobin. oleh pasien.3. 2. Rasional : Pemberian bantuan sangat diperlukan oleh pasien pada saat kondisinya lemah dan perawat mempunyai tanggung jawab dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari pasien tanpa mengalami ketergantungan pada perawat.

1. Tujuan Tidak Jumlah Intervensi : terjadi tanda-tanda trombosit disertai banyak perdarahan perdarahan lebih : lanjut. Observasi daerah Rasional : Mengetahui tanda infeksi pada pemasangan infus.7). terjadi peradangan dapat diketahui dari penyimpangan nilai tanda vital. infus. 2. Anjurkan pasien untuk Rasional : Aktivitas pasien yang tidak terkontrol dapat menyebabkan perdarahan. tanda . Resiko terjadinya perdarahan lebih lanjut berhubungan dengan trombositopenia. 3. 2. Lakukan teknik aseptik saat melakukan tindakan pemasangan Rasional : Tindakan aseptik merupakan tindakan preventif terhadap kemungkinan terjadi infeksi. 8). pemasangan 4. 3. Segera cabut infus bila tampak adanya pembengkakan Rasional : Untuk menghindari kondisi yang lebih buruk atau penyulit lebih lanjut. istirahat lebih lanjut. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif (infus). meningkat. vital. 1. Observasi tanda-tanda Rasional : Menetapkan data dasar pasien. infus. atau plebitis. Monitor tanda penurunan trombosit yang Rasional : Penurunan trombosit merupakan tanda kebocoran pembuluh darah. Tujuan : Tidak Intervensi : terjadi infeksi pada pasien. gejala klinis. Beri penjelasan untuk segera melapor bila ada Rasional : Membantu pasien mendapatkan penanganan sedini mungkin.

Jelaskan obat yang diberikan Rasional : Memotivasi pasien untuk mau minum obat sesuai dosis yang diberikan. dialami dengan pasien. Implementasi Pelaksanaan tindakan keperawatan pada klien anak dengan DHF disesuaikan dengan intervensi yang telah direncanakan. Kaji rasa cemas Rasional : Menetapkan tingkat kecemasan yang dialami pasien. saling yang percaya dialami dan manfaatnya. Adapun sasaran evaluasi pada pasien demam berdarah dengue sebagai berikut : . pasien. 5. empati mengungkapkan perasaannya terapeutik 3. 9). 4. Evaluasi Keperawatan.4. Jalin hubungan Rasional : Pasien bersifat terbuka dengan perawat. pasien untuk 5. pasien. 4. Hasil asuhan keperawatan pada klien anak dengan DHF sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Evaluasi ini didasarkan pada hasil yang diharapkan atau perubahan yang terjadi pada pasien. Gunakan komunikasi Rasional : Agar segala sesuatu yang disampaikan diajarkan pada pasien memberikan hasil yang efektif. Beri kesempatan pada Rasional : Meringankan beban pikiran pasien. Tunjukkan sifat Rasional : Sikap empati akan membuat pasien merasa diperhatikan dengan baik. Kecemasan berhubungan dengan kondisi pasien yang memburuk dan perdarahan yang Tujuan : Kecemasan Intervensi : 1. berkurang. 2.

3) Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi. 9) Kecemasan pasien akan berkurang dan mendengarkan penjelasan dari perawat tentang proses penyakitnya. 5) Aktivitas sehari-hari pasien dapat terpenuhi. 2) Pasien akan mengungkapkan rasa nyeri berkurang.370C). 8 ) Tidak terjadi perdarahan lebih lanjut. pasien mampu menghabiskan makanan sesuai dengan porsi yang diberikan atau dibutuhkan. 4) Keseimbangan cairan akan tetap terjaga dan kebutuhan cairan pada pasien terpenuhi. Pencegahan DHF Menghindari atau mencegah berkembangnya nyamuk Aedes Aegepty dengan cara: Rumah selalu terang Tidak menggantung pakaian Bak / tempat penampungan air sering dibersihkan dan diganti airnya minimal 4 hari sekali Kubur barang – barang bekas yang memungkinkan sebagai tempat terkumpulnya air hujan Tutup tempat penampungan air Perencanaan pemulangan dan pendidikan kesehatan anak Berikan informasi tentang kebutuhan melakukan aktifitas sesuai dengan tingkat perkembangan dan kondisi fisik . pasien bebas dari demam. 6) Pasien akan mempertahankan sehingga tidak terjadi syok hypovolemik dengan tanda vital dalam batas normal.1) Suhu tubuh pasien normal (36. 7) Infeksi tidak terjadi.

S Purwo Sudomo. 1995 Prinsip – Prinsip Keperawatan Nancy Roper hal 269 – 267 . SKp. Editor : Sumarmo. Harry Gama.- Jelaskan terapi yang diberikan. Jakarta. Perawatan Pasien DHF. Effendy. dosis efek samping Menjelaskan gejala – gejala kekambuhan penyakit dan hal yang harus dilakukan untuk mengatasi gejala Tekankan untuk melakukan kontrol sesuai waktu yang ditentukan Daftar Pustaka Buku ajar IKA infeksi dan penyakit tropis IDAI Edisi I. Sri rejeki Bag IKA FKUI jkt 2002. Christantie. EGC.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->