1

MENGEMBANGKAN NILAI-NILAI AFEKTIF DALAM PEMBELAJARAN

Oleh:

C. Asri Budiningsih (KTP-FIP UNY)

Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Membangun Nilai-Nilai Kehidupan (Karakter) dalam Pendidikan, yang diselenggarakan di Fakultas Teknik UNY, pada tanggal 28 Juni 2009

YOGYAKARTA 2009

dan 3) ada tindakan yang sesuai dengan nilai-nilai tersebut. 2) model terintegrasi dalam semua bidang studi. Juga dikemukakan bahwa antara mengetahui suatu nilai sampai dengan mengamalkannya terdapat beberapa langkah yang harus dilakukan yaitu. atau khotbah. produktivitas. 4) model gabungan. Pendidikan nilai tidak dapat dilakukan melalui ceramah. Tiga unsur penting dalam mengembangkan nilai-nilai pada diri siswa/mahasiswa yaitu. Pengajar/guru harus memperhatikan ketiga unsur ini di dalam tugas mengajarnya agar nilai-nilai tersebut tidak sekedar sebagai pengetahuan semata bagi siswa/mahasiswa. bertanggungjawab. 5) motivasi (motivatio). atau cerita semata. serta mengembangkan kreativitas. Ada empat model pembelajaran yang dapat digunakan guna mengembangkan nilai-nilai afektif yaitu. 1) model sebagai mata pelajaran tersendiri. dan religi. meningkatkan kesadaran akan nilai-nilai kesatuan dalam kemajemukan. pengajar/guru perlu memfasilitasi terjadinya perkembangan kemampuan-kemampuan tersebut secara optimal. Karena teknik-teknik demikian hanya akan menambah pengetahuan tetapi jarang melahirkan pengalaman. kemanusiaan. memiliki kemandirian. 2) afeksi (afectio).2 Abstrak Agar kaum muda lebih menghargai keragaman. dimana masing-masing model memiliki kelebihan dan kelemahan. 2) memiliki perasaan tentang nilai yang dipelajari. berjiwa kepemimpinan serta mampu berkolaborasi. 1) kognisi (cognitio). tetapi benar-benar menjadi tindakan-tindakan nyata. 3) model di luar pengajaran. 3) volisi (volitio). 1) siswa/mahasiswa memiliki pengertian atau pemahaman tentang nilai yang dipelajari. nilai-nilai moral. berpikir kritis. 4) konasi (conatio). dan 6) praxis yaitu pengalaman. Pendahuluan . Ketiga unsur ini saling berkaitan.

uniformistik. Sistem pendidikan yang dianut bukan lagi suatu upaya pencerdasan kehidupan bangsa agar mampu mengenal realitas diri dan dunianya. yang sangat mewarnai pengemasan di berbagai bidang kehidupan. nilai-nilai moral. produktivitas. Orang-orang yang telah melewati sistem pendidikan. didekati dengan paradigma yang tidak mampu menggambarkan hakekat belajar dan pembelajaran secara komprehensif. pengembangan kreativitas. kemanusiaan. monolitik. kemandirian. . termasuk bidang pendidikan. dan religi. hakekat orang yang belajar. kurang memiliki kemampuan untuk mengelola kekacauan. Persoalan-persoalan tersebut tentunya bukanlah semata-mata menjadi tanggung jawab dunia pendidikan. Asumsi-asumsi yang melandasi program-program pendidikan sering kali tidak sejalan dengan hakekat belajar.3 Masalah-masalah kehidupan bermasyarakat yang ditandai oleh maraknya berbagai problem sosial bersumber dari lemahnya sumber daya manusia dan/atau modal sosial yang ada di masyarakat. berjiwa kepemimpinan serta kemampuan berkolaborasi kurang berkembang dengan baik. Pendidikan dan pembelajaran selama ini hanya mengagungkan pada pembentukan aspek-aspek kognitif dengan sedikit ketrampilan. Pola pikir inilah yang mengendalikan perilaku masyarakat. pendidikan di masyarakat dan di lembaga-lembaga pendidikan formal. Dunia pendidikan. Patut diduga bahwa problem-problem sosial yang terjadi selama ini bersumber dari perilaku manusia Indonesia yang sudah lama dibentuk ke dalam pola pikir sentralistik. dan hakekat orang yang mengajar. 2001) yang menutup proses perubahan dan perkembangan. sehingga orang-orang muda selalu menjadi korban kekacauan. Demikian juga kesadaran individu akan nilai-nilai kesatuan dalam kemajemukan. Praktekpraktek pendidikan dan pembelajaran sangat diwarnai oleh landasan teoretik dan konseptual yang tidak akurat. melainkan suatu upaya pembutaan kesadaran yang disengaja dan terencana (Berybe. lebih khusus lagi dunia belajar. berpikir kritis. Kesadaran dan penyadaran akan keragaman (pluralitas) bangsa masih jauh dari kenyataan. mulai dari pendidikan dalam keluarga. namun pendidikanlah yang paling banyak berperan terhadap munculnya persoalan-persoalan tersebut. tanggungjawab.

ini semua dianggap sebagai unsur-unsur penting dalam praktek-praktek pembelajaran. Demikian juga dengan pendapat Illich. Orang-orang muda digiring untuk selalu diam dan bersikap pasrah. Perilaku tertentu dapat dibentuk karena dikondisi dengan cara tertentu dengan menggunakan metode indoktrinasi. mulai dari pendidikan di tingkat yang paling dini hingga pendidikan tinggi. Sebab kesadaran . Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan reinforcement. kaum penindas dan tertindas. pendidikan yang instruksional yang antidialogis (Berybe. Teori ini hingga kini masih merajai praktek-praktek pembelajaran. yang memanipulasi peserta didik agar mereka dapat diperalat untuk melayani kepentingan kelompok yang berkuasa. Segelintir orang yang mengenyam pendidikan formal membentuk kubu elite sosial (setelah ada legitimasi yang berupa ijasah. dan akan menghilang bila dikenai hukuman. lembaga pendidikan semata-mata dijadikan alat legitimasi sekelompok elite sosial. 2001). dalam kenyataannya justru semakin dilegitimasi lewat metode dan sistem pendidikan yang paternalistik. reinforcement dan hukuman. Freire mengkritik. Pembentukan ini dilakukan dengan kebijakan penyeragaman pada berbagai hal di lembaga pendidikan. Teori ini mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. liberalisasi dan komersialisasi pendidikan serta kebutuhan sering kali terjadi. kepandaian dan kesempatan) dalam kehidupan bermasyarakat sering memegang peranan dan posisi kunci dalam menentukan kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Mereka seakan tidak boleh atau tidak semestinya tahu mengenai realitas diri dan dunianya yang tertindas. Hubungan stimulus-respon. proses monopolisasi kepentingan. perilaku yang tampak. pendidikan ala bank. Dalam kondisi demikian. tampak sekali mendukung sistem pendidikan tersebut.4 Teori stimulus-respon yang sudah bertahun-tahun dianut dan digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Tesis Freire yang bermula dari suatu keprihatinan akan praksis pendidikan yang dalam kenyataannya sebagai suatu proses pembenaran akan praktek-praktek penindasan yang sudah terlembaga. dengan menonjolkan kontradiksi antara subyek (pendidik) dan obyek (siswa/mahasiswa) pendidikan. selama ini lembaga pendidikan telah menjadi “alat penjinakan”. Sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan formal tampil dan menghadirkan dirinya sebagai suatu lembaga struktural baru yang justru menggali jurang (gap) sosial. pembentukan perilaku dengan penataan kondisi yang ketat. individu pasif.

4) Mengorganisasi . sekalipun studi ini belum cukup menjamin terbentuknya integritas pribadi yang ideal. nilai-nilai moral. produktivitas. dengan cara terlibat dan mengalami langsung proses pendemokrasian ketika mereka berada di dalam setting belajar. meliputi: 1) Menerima (ingin menerima. disamping menguasai substansi bidang keilmuan pada sisi kognitif dan psikomotorik. nilai dan emosi. diperlukan pula penguasaan pada aspek-aspek afektif. kemanusiaan. bertanggungjawab. dan religi. Bloom. meningkatkan kesadaran individu akan nilai-nilai kesatuan dalam kemajemukan. Keterlambatan hanya akan memunculkan peluang terjadinya peristiwa kekerasan sebagaimana yang terjadi akhir-akhir ini. suatu era yang ditandai oleh keragaman perilaku. Studi tentang pembelajaran aspek-aspek afektif tidak bersifat teknis melainkan refleksif. Domain afektif kaitannya dengan penguasaan suatu disiplin ilmu yang sedang dipelajari dikemukakan oleh Krathwohl. dan Masia sebagai 5 klasifikasi kemampuan afektif. redefinisi. memiliki kemandirian. agar lebih mampu menumbuhkembangkan anak-anak bangsa ini untuk lebih menghargai keragaman. Sudah saatnya orang-orang muda dipersiapkan untuk memasuki era demokratisasi. mengembangkan kreativitas. berjiwa kepemimpinan serta mampu berkolaborasi. berpikir kritis. atau dengan ungkapan lain. setia kepada nilai-nilai tertentu). sadar akan adanya sesuatu). Bagaimana pengajar/guru dapat memfasilitasi terjadinya perkembangan kemampuan siswa/mahasiswa pada aspek-aspek afektif tersebut secara optimal? Pembahasan Taksonomi Domain Afektif Agar lulusan pendidikan (PT) memiliki integritas pribadi di bidang keilmuannya secara optimal. Tiap klasifikasi dibagi menjadi bagian-bagian yang lebih khusus. 2) Merespon (aktif berpartisipasi). Kita perlu mengkajiulang. sikap. 3) Menghargai (menerima nilai-nilai.5 demikian akan membahayakan keseimbangan struktur masyarakat hirarkhis piramidal yang selama ini diinginkan oleh sekelompok elite sosial politis. kita perlu melakukan reformasi. dan reorientasi bahkan revolusi terhadap landasan teoritik dan konseptual tentang belajar dan pembelajaran. yaitu suatu refleksi tentang nilai-nilai dan/atau tema-tema yang berkaitan dengan perilaku manusia terutama pada pengembangan aspek perasaan. Studi tentang pembelajaran untuk aspek-aspek afektif dapat memberikan kontribusi yang berarti.

melihat keterkaitan antar nilai dan menetapkan nilai mana yang paling dominan baginya.Itulah sebabnya. berpikir kritis. atau paling tidak menyadari bahwa perangsang itu ada. selanjutnya mengorganisasi nilai-nilai ke suatu sistem nilai yang sifatnya amat pribadi. dan akhirnya berperilaku secara konsisten berdasarkan nilai yang dimiliki dan dipercayainya. aspek-aspek afektif dalam bentuk soft skills seperti kemampuan mengembangkan kreativitas. Merespon: Pada tingkat ini muncul keinginan untuk melakukan tindakan sebagai respon pada perangsang tersebut. Mengorganisasi: Individu yang sudah secara konsisten dan berhasil menampilkan suatu nilai. Selain domain afektif sebagaimana diuraikan di atas. ranah ini diurutkan ke dalam suatu garis kontinum dalam bentuk hierarkis dan pencapaiannya bersifat komulatif. keinginan untuk merespon. produktivitas. Bila ini terjadi. serta ingin terlibat lebih jauh ke dalam nilai tersebut. . Klasifikasi aspek-aspek afektif ini didasarkan pada asumsi bahwa perilaku tingkat yang lebih rendah merupakan prasyarat bagi perilaku tingkat yang lebih tinggi. pada suatu saat akan menghadapi situasi dimana lebih dari satu nilai yang bisa ditampilkan. Ini adalah tingkatan tertinggi dari aspek afektif. maka individu akan mulai ingin menata nilai-nilai itu ke dalam suatu sistem nilai. kepuasan yang didapat ketika merespon akan memunculkan penghargaan pada nilai itu. Pengamalan: Bertindak konsisten sesuai dengan nilai yang dimilikinya. Tindakan-tindakan dapat disertai dengan perasaan puas dan nikmat. di mana individu akan berlaku konsisten berdasarkan nilai yang dijunjungnya. 5) Bertindak/ Pengamalan (menjadikan nilai-nilai sebagai bagian dari pola hidupnya) Menerima: Kemampuan ini berkaitan dengan keinginan individu untuk terbuka atau peka pada perangsang atau pesan-pesan yang berasal dari lingkungannya. Pada tingkat ini muncul keinginan untuk menerima perangsang. Pada tahap ini individu dikatakan menerima suatu nilai dan mengembangkannya. Mulai dari tahap pertama yaitu menerima suatu nilai. Menghargai: Penyertaan rasa puas dan nikmat ketika melakukan respon pada perangsang menyebabkan individu ingin secara konsisten menampilkan tindakan itu dalam situasi yang serupa.6 (menghubung-hubungkan nilai-nilai yang dipercayainya).

Memang. dan juga perilaku sosialnya. dalam perkembangannya manusia tidak bisa dipisah-pisahkan ke dalam berbagai fungsi atau daya. memiliki kemandirian. Sikap bukanlah inti dari motivasi dan kompetensi sosial seseorang sebagaimana pada nilai serta moral dan etika. namun sikap berpengaruh terhadap pilihan seseorang. moral dan etika. motivasi.7 bertanggungjawab. berjiwa kepemimpinan serta kemampuan berkolaborasi. dan nilai-nilai lainnya). Martin dan Briggs menggambarkan bahwa emosi seseorang . berhubungan langsung dengan sikap seseorang. benar atau salah dengan cara menunjukkan alasan-alasan rasionalnya saja tidaklah cukup. Manusia merupakan suatu kesatuan totalitas. amat perlu dikembangkan. Penilaian kognitif juga berhubungan dengan perasaan. perkembangan kepribadian manusia (selfdevelopment) sebagai tujuan pendidikan merupakan komponen afektif paling inklusif yang mencakup nilai. dalam satu garis lurus sebagai persyaratan bagi perkembangan pribadi seseorang (self-development). Martin dan Briggs menggambarkan adanya hubungan langsung antara sikap dan nilai serta sikap dengan moral dan etika. sedangkan nilainilai lainnya. serta moral dan etika. Penghargaan terhadap keragaman. Menurut Martin dan Briggs (1986). dan religi. nilai estetis. nilai. Sedangkan sikap tidak berhubungan secara langsung dengan motivasi dan kompetensi sosial. Di bidang moral. berhubungan dengan salah satu aspek saja dalam diri manusia. Suatu perbuatan dinilai baik atau buruk. Di dalam bukunya yang berjudul “The Affective and Cognitive Domains: Integration for Instruction and Research”. motivasi dan kompetensi sosial. Nilai berkenaan dengan penilaian terhadap sesuatu yang berharga atau bernilai. kemanusiaan. moral dan etika. Sedangkan interes merupakan prerequisit bagi motivasi seseorang. Nilai lebih inklusif dari pada sikap (attitudes) dan berbeda dengan moral dan etika. Dalam diagram berikut Martin dan Briggs menempatkan kompetensi sosial. sedangkan moral dan etika berkenaan dengan penilaian tentang benar-salah. Dalam diri manusia akal budi terintegrasi dengan seluruh kepribadiannya. Mereka berpendapat bahwa perkembangan nilai. di mana berbagai fungsi atau daya dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan. (seperti nilai ekonomi. kewajiban moral berhubungan dengan pribadi manusia sebagai keseluruhan atau totalitas. perlu dimiliki oleh para siswa/mahasiswa. memiliki kesadaran akan nilai-nilai kesatuan dalam kemajemukan yang didasarkan pada nilai-nilai moral. motivasi.

interes. sikap toleran . Kompetensi sosial berhubungan langsung dengan atribusi. Atribusi ditempatkan sebagai komponen afektif yang paling akhir. Gambaran tentang hubungan di antara aspek-aspek afektif di atas dapat dijadikan acuan studi tentang pendidikan untuk mengembangkan sisi-sisi afektif dan soft-skills. Atribusi berhubungan langsung dengan perkembangan pribadi (self development). Aspek-aspek nilai lain yang ditawarkan dan menjadi perhatian untuk dikembangkan selain aspek-aspek di atas adalah: 1. serta aspek-aspek afektif lainnya. yaitu sikap tentang diri sendiri. sebab penilaian terhadap seseorang banyak dilakukan melalui interaksi sosial. Self-Development Attributions Social Competence Values Morals and Ethics Continuing Motivation Attitudes Attitudes about Self Interest Emotions Feeling Keterangan: : hubungan langsung : hubungan tidak langsung Diagram Taksonomi Domain Afektif (Adaptasi dari Martin & Briggs. Sedangkan perasaan berkaitan dengan emosi. kompetensi sosial. mensyukuri hidup dan percaya kepada Tuhan b. meliputi: a. Untuk menggambarkan hubungan sikap dan atribusi hanya dibatasi pada sub kategori sikap. Dari uraian di atas. Religiositas.8 mendasari perkembangan sikap. taksonomi domain afektif dapat dilihat pada diagram berikut. 1986) Maksud dari bahasan ini adalah untuk menunjukkan bahwa integritas kepribadian seseorang dapat dikembangkan melalui aspek kognitif dan aspek afektif.

keberanian untuk mengambil keputusan secara jernih dan benar dalam kebersamaan b. memupuk kemauan untuk mencapai tujuan b. Gender. melipui: a. Demokrasi.9 c. membuat acara yang sehat dan berguna 3. melipui: a. solidaritas yang benar dan baik c. menghargai kepemimpinan perempuan 4. mengenal kemampuan diri c. bersikap tidak mudah menyerah 9. penghargaan pada kebenaran sejati dan orang lain secara mendasar b. melipui: a. meliputi: a. penghargaan akan tatanan hidup bersama secara positif b. persahabatan sejati d. melipui: a. Daya juang. Keadilan. keadilan berdasar hati nurani 5. berorganisasi dengan baik dan benar e. menghargai dan menerima perbedaan dalam hidup bersama secara saling menghormati b. Sosialitas. melipui: a. penghargaan terhadap perempuan b. Tanggung jawab. Kejujuran yaitu menyatakan kebenaran sebagai penghormatan pada sesama 7. menggunakan hak dan melaksanakan kewajiban secara benar dan seimbang c. membangun kepercayaan diri d. menerima keunikan diri 8. Kemandirian. melipui: a. mendalami ajaran agama 2. berani menghadapi konsekuensi dari pilihan hidup . berani menerima realita kemenangan maupun kekalahan 6. kesempatan beraktivitas yang lebih luas bagi perempuan c.

Hidup bersama orang lain 3. Bertindak dan bersikap positif terhadap perempuan. Menunjukkan apresiasi terhadap tamu perempuan. menggunakan alam sesuai dengan kebutuhan secara wajar dan seimbang b. bertanggung jawab pada diri sendiri secara konsekuen. Penghargaan terhadap perempuan. mencintai kehidupan c. mengakui kelebihan orang lain. Mengakui kekurangan. Menghargai usaha dan pendapat orang lain. Kejujuran 7. atau keterbatasan diri sendiri. Tidak tergantung pada orang lain. atau teman. Keadilan 5. mengembangkan keseimbangan antara hak dan kewajiban c. No 1. Terbebaskan dari pengaruh ucapan atau 2. Kemandirian . Demokrasi 6. kesalahan. mengembangkan hidup bersama secara positif 10. Memperbaiki diri lewat saran-kritik dari orang lain. Penghargaan terhadap lingkungan alam. Tidak menganggap diri yang paling benar dalam setiap perbincangan. mengenali lingkungan alam dan penerapannya Deskripsi aspek nilai di atas adalah sbb. atau kegiatan. Mampu berinisiatif. Bisa menerima perbedaan pendapat. tugas. Nilai Religiositas Deskripsi Perilaku Mampu berterima kasih dan bersyukur. Gender 4. Selalu meng hindari sikap yang meremehkan perempuan. Menghindarkan diri dari sikap memihak. Mampu bertoleransi dalam setiap kegiatan di “masyarakatnya". Menghindari sikap bohong. Memandang positif sikap orang lain dan menghindarkan berburuk sangka. Menghindari tindakan mau menang sendiri. menghormati dan mencintai Tuhan yang diwujudkan dalam doa. Mempunyai penghargaan kepada hak-hak orang lain dan mengedepankan kewajiban diri. Memilih cara-cara terpuji dalam menempuh ujian. melipui: a. guru.10 b. Tidak ingin menang sendiri.

3) volisi (volitio). Penghargaan terhadap alam Pembelajaran aspek-aspek afektif Paul Suparno. Masingmasing model memiliki kelebihan dan kelemahan. Karena teknik-teknik demikian hanya akan menambah pengetahuan tetapi jarang melahirkan pengalaman. Daya juang Gigih dan percaya diri dalam mengerjakan setiap hal. Ketiga unsur ini saling berkaitan. Menghindari tindakan sia-sia baik dalam belajar maupun kegiatan. dan tindakan yang sesuai dengan nilai-nilai tersebut. 1) model sebagai mata pelajaran tersendiri. Sedangkan Lickona dalam bukunya Educating for Character (dalam Paul Suparno. Memahami dan menerima risiko atau akibat suatu tindakan baik terhadap diri sendiri dan orang lain. Menghindarkan diri dari tindakan corat-coret meja atau dinding kelas. dan 6) praxis yaitu pengalaman. Tidak melemparkan persoalan kepada orang lain. Pendidikan nilai tidak dapat dilakukan melalui ceramah. 9. Menghindarkan diri dari sikap menyalahkan orang lain atau pihak lain. dkk. pengertian atau pemahaman tentang nilai yang dipelajari. 3) model di luar pengajaran. 5) motivasi (motivatio). Optimal mewujudkan keinginannya dan tidak mudah putus asa. Menjaga kebersihan kelas dan lingkungan sekolah. 4) konasi (conatio). Menurutnya.11 perbuatan orang lain. 8. Tidak menampakkan sikap malas. (2002) mengemukakan ada empat model pembelajaran nilai (aspekaspek afektif). 1) kognisi (cognitio). Menurut Buchori (2002) antara pengetahuan atau cognitio dengan pengalaman atau praxis terdapat suatu jarak yang dapat panjang tetapi dapat pula pendek. atau khotbah. dkk. perasaan. 2) model terintegrasi dalam semua bidang studi. yaitu. antara mengetahui suatu nilai dengan mengamalkannya terdapat beberapa langkah yang harus dilakukan yaitu. atau cerita semata. Mengerjakan tugas-tugas dengan semestinya. Tanggung jawab 10. Memperhatikan sampah-sampah dan tanaman-tanaman di sekitarnya. 2) afeksi (afectio). 4) model gabungan. yaitu. Pengajar perlu . 2002) menekankan pentingnya diperhatikan tiga unsur dalam menanamkan nilai.

Perasaan ini sangat mempengaruhi seseorang untuk berbuat baik. Mereka dibantu untuk mengerti mengapa suatu nilai perlu dilakukan. Ketiga unsur yaitu. penalaran. perasaan terhadap suatu nilai perlu dikembangkan dengan memupuk perkembangan hati nurani dan sikap empati. perasaan.12 memperhatikan ketiga unsur ini agar nilai-nilai yang ditanamkan tidak sekedar sebagai pengetahuan semata. Ini sering kali disebut sebagai segi kognitif dari nilai. Oleh sebab itu. tetapi benar-benar menjadi tindakan-tindakan nyata. Perasaan mencintai kebaikan dan sikap empati terhadap orang lain merupakan ekspresi dari perasaan ini. Teori kognitifkonstruktivistik menekankan bahwa belajar lebih banyak ditentukan karena adanya karsa individu. dan tindakan yang dilandasi oleh nilai-nilai tersebut harus ada dan dikembangkan dalam pendidikan. Tantangan dunia pendidikan ke depan adalah mewujudkan proses demokratisasi belajar. rasionalitas. Lingkungan belajar yang kondusif untuk memunculkan tindakan-tindakan ini sangat diperlukan dalam pendidikan aspek-aspek afektif. Hal itu hanya dapat dicapai lewat proses pendidikan bebas dan metode pembelajaran aksi dialogal. Suatu proses pendemokrasian yang mencerminkan bahwa belajar adalah atas prakarsa individu. yaitu kemampuan untuk melakukan keputusan yang dilandasi oleh perasaan terhadap suatu nilai ke dalam perilaku-perilaku nyata. Demokrasi belajar berisi pengakuan hak seseorang untuk melakukan tindakan belajar sesuai dengan karakteristiknya. Tindakan. Strategi pembelajaran dan model-model pendidikan yang bersifat “bebas dan egaliter” akan mendukung perkembangan aspek-aspek afektif. Salah satu prasyarat terwujudnya masyarakat belajar yang demokratis adalah adanya pengemasan pembelajaran yang beragam dengan . Pengertian atau pemahaman terhadap suatu nilai adalah kesadaran. Keaktifan siswa/mahasiswa menjadi unsur amat penting dalam menentukan kesuksesan belajar. suatu pengambilan keputusan berdasarkan nilai-nilai tertentu. Tindakan-tindakan yang dilandasi oleh nilai-nilai yang dijunjung tinggi ini perlu difasilitasi agar muncul dan berkembang dalam pergaulan seharihari. atau alasan mengapa seseorang harus melakukan hal itu. Penataan kondisi bukan sebagai penyebab terjadinya belajar. Aktivitas mandiri adalah jaminan untuk mencapai hasil yang sejati. Sedangkan perasaan lebih pada kesadaran akan halhal yang baik dan tidak baik. tetapi sekedar memudahkan belajar. Segi kognitif ini perlu diajarkan kepada para siswa/mahasiswa.

Bentuk-bentuk hubungan antara pengajar dan siswa/mahasiswa perlu diperbaharui. Setiap siswa/mahasiswa satu persatu dan/atau bersama-sama perlu diberi kebebasan untuk melakukan pilihan-pilihan sesuai dengan apa yang mampu dan mau dilakukannya. Jika selama ini pengajar lebih otoriter. perlu diubah peranannya sebagai ibu/bapak. Mendidik juga berarti membantu siswa/mahasiswa untuk menjadi dirinya dan peka terhadap lingkungannya. Pada pelatihan terutama yang dibentuk adalah tingkah laku lahiriah. atau mitra. Ini merupakan kaidah yang sangat penting dalam penataan lingkungan belajar. Lebih jauh lagi. emosional dan mental dalam proses belajar. bergaya birokrat. tidak seragam. Sering kali terjadi. sarat komando. dan diajak menghayati kebinekaan yang saling melengkapi demi persaudaraan yang sehat. strategi pembelajaran. menghargai hak dan kewajiban sosial yang saling solider. Lembaga pendidikan merupakan tempat untuk mengembangkan seluruh potensi siswa/mahasiswa secara maksimal termasuk nilai-nilai sosial. Siswa/mahasiswa harus dididik untuk realis. kakak. dan evaluasi belajar. bahan ajar. Pengaturan lingkungan belajar sangat diperlukan agar siswa/mahasiswa mampu melakukan kontrol terhadap pemenuhan kebutuhan emosionalnya. Prakarsa siswa/mahasiswa untuk belajar akan mati bila kepadanya dihadapkan pada berbagai macam aturan yang tak ada kaitannya dengan belajar. dalam beberapa hal pengajar berperan sebagai murid dan siswa/mahasiswa justru sebagai gurunya. Proses belajar dalam hubungannya di antara siswa/mahasiswa satu dengan lainnya berubah. Mendidik bukan berarti sekedar menjadikan iswa/ mahasiswa trampil secara praktis terhadap lingkungannya. Banyaknya aturan yang sering kali dibuat oleh pengajar dan harus ditaatinya akan menyebabkan mereka selalu diliputi rasa takut. mengakui kehidupan yang multi-dimensional. Untuk mengembangkan agar manusia menjadi matang tidak cukup bila ia hanya dilatih tetapi juga harus dididik. sahabat. sedangkan pada pendidikan yang dibentuk adalah disposisi mental dan emosional (Sindhunata.13 cara menghapuskan penyeragaman kurikulum. instruktif. 2001). Lingkungan belajar yang demokratis memberi kebebasan kepada siswa/mahasiswa untuk melakukan pilihanpilihan tindakan belajar dan akan mendorong mereka untuk terlibat secara fisik. mereka akan kehilangan kebebasan berbuat dan . sehingga akan dapat memunculkan kegiatan-kegiatan yang kreatif-produktif.

Apa yang terjadi bila siswa/mahasiswa selalu dikuasai oleh rasa takut? Mereka akan mengembangkan pertahanan diri (defence mechanism). siswa ditantang dengan problem-problem kehidupan yang bersifat hipotetis. Di samping kebebasan. Penutup Pembelajaran nilai-nilai afektif bukanlah sebagai upaya guru untuk mengisi atau mentransfer begitu saja nilai-nilai. karakteristik siswa dan budayanya.14 melakukan kontrol diri. serta media pembelajaran lainnya. atau modul pembelajaran. siswa . Materi distruktur/diorganisasi sesuai dengan kemampuan siswa serta nilai-nilai yang dikembangkan. Realness bukan hanya harus dimiliki oleh siswa/mahasiswa. Materi atau isi pembelajaran yang tercantum di dalam buku-buku teks. Dalam kelompok-kelompok. Mereka sendirilah yang mestinya aktif mengkonstruksi pengetahuan dan sistem nilai yang diyakininya (Freire. dan akan selalu menyembunyikan ketidakmampuannya. hal penting yang perlu ada dalam lingkungan belajar untuk mengembangkan aspek-aspek afektif adalah realness. paket belajar. tetapi juga oleh semua orang yang terlibat dalam proses pembelajaran. beberapa yang mereka alami sendiri dan beberapa yang terjadi di dalam masyarakat. hendaknya diambil dari lingkungan sekitar siswa berupa masalah-masalah yang berkaitan dengan nilai-nilai khidupan yang perlu dipecahkan. mempunyai keberanian di samping rasa takut dan rasa cemas. bisa marah di samping juga bisa gembira. Para guru dan perancang pembelajaran dalam mengembangkan model atau strategi pembelajaran nilai mestinya berpijak pada aspek nilai yang akan dikembangkan. Guru sebagai fasilitator. Guru/pengajar tidak dapat memaksakan nilai-nilai kepada siswa/mahasiswa. Ini semua sangat penting untuk mengembangkan kemampuan mental yang produktif. melainkan cara-cara untuk mempertahankan diri mengatasi rasa takut. 1999). Sikap dan persepsi yang positif terhadap belajar menjadi modal dasar untuk memunculkan prakarsa belajar. Sadar bahwa individu mempunyai kekuatan di samping kelemahan. Dengan demikian mereka tidak akan mengalami growth in learning. sehingga yang dipelajari bukanlah pesan-pesan pembelajaran. Lingkungan belajar yang bebas dan yang didasari oleh realness dari semua pihak yang terlibat dalam proses pembelajaran akan dapat menumbuhkan sikap dan persepsi yang positif terhadap belajar.

(2001). Guru dapat menerangkan.. H. Strategi pembelajaran agar dirancang untuk memberikan kesempatan yang cukup bagi para siswa mengembangkan nilai-nilai. (2005). DCRG..D. N. Yogyakarta: FIP UNY Cohen. Degeng N. Pandangan behavioristik vs konstruktivistik: pemecahan masalah belajar abad XXI. & Strayer. The Cognitive Psychology of School Learning. . Situasi pembelajaran harus mendorong interaksi siswa dengan masyarakat atau lingkungannya yang terus-menerus mengalami perkembangan.S. Makalah Dies Natalis ke 47 FIP – UNY. Yogyakarta: Kanisius. atau menyanggah argumen-argumen itu. Jakarta: Depdiknas Dirjen Dikti. Pembelajaran melalui kegiatan bermain peran (role playing) dan partisipasi aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan perlu ditingkatkan. C. Dilema pelembagaan pendidikan. 32 Degeng. Boston. Belajar dan pembelajaran. D. mendukung. Sumber bacaan: Asri Budiningsih. E. bagaimana memberikan motivasi kepada siswa agar melakukan kegiatan tersebut.T. Asri Budiningsih. Jakarta: P. Empathy in Conduct Disordered and Comparison Youth. dkk. Malang: Makalah Seminar TEP. Toronto: Liitle. Journal of Developmental Psychology.15 beradu argumen dengan teman-teman mereka sendiri. (2001). Gagne. M (2002). Rineka Cipta Berybe. (1999).S. dalam Sindhunata. Buchori. Proyek Penelitian Untuk Pengembangan Pascasarjana/URGE. Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikti. Untuk itu guru perlu merencanakan kapan kegiatan-kegiatan tersebut dilaksanakan.. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Tahap Penalaran Moral Remaja: Analisis karakteristik siswa SLTP dan SMU di Jawa. J. 1985. 1989. Ilmu Pengajaran Taksonomi Variabel. Brown and Company. serta bagaimana mengkontrol dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan tersebut. 1996.. Revitalisasi Pendidikan Moral Dalam Menghadapi Tantangan Jaman. Pendidikan: kegelisahan sepanjang jaman.

Yogyakarta: Kanisius Newcomb. dan Philip. dkk.16 Gazda. F. W.. ASPEK-ASPEK AFEKTIF DALAM PEMBELAJARAN . Rinerhart and Winston..M. H. Balzer. T..C. Childers.Human Relations Development: A Manual for Educators (4th ed. E. G. R.R. Walters. Mangunwijaya. Yogyakarta: Kanisius.J. dalam Sindhunata. 1989.) Boston: Allyn & Bacon. F.P. Social Psychology: The Studi of Human Interaction. Pendidikan: kegelisahan sepanjang jaman. Pendidikan Budi Pekerti di Sekolah. (2002).. Paul Suparno. Ralph. Asbury. New York: Holt.C.T. Mencari visi dasar pendidikan.1991.. (2001).M.

pada hari SeninSelasa. Asri Budiningsih . Asri Budiningsih Fakultas Ilmu Pendidikan – Universitas Negeri Yogyakarta Makalah ini disajikan dalam rangka Workshop Audit Pembelajaran bagi “Pool of Auditor” dan Ketua Jurusan/Dosen di lingkungan UNEJ mengenai implementasi aspek afektif dalam pembelajaran beserta instrumen evaluasinya.17 Oleh: C. tanggal 8-9 Januari 2006 di Ruang Aula Lt.3 Kantor Pusat Universitas Jember Jn Kalimantan No. 37 Tegalboto Jember. DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JEMBER BADAN PENJAMINAN MUTU 2006 STRATEGI PEMBELAJARAN NILAI YANG HUMANISTIK Oleh: C.

18 Fakultas Ilmu Pendidikan – Universitas Negeri Yogyakarta Masyarakat Indonesia hingga kini masih berada dalam berbagai krisis. bangsa sendiri atau lainnya. Perasaan mencintai akan kebaikan dan sikap empati terhadap orang lain merupakan ekspresi dari sikap nilai yang perlu difasilitasi oleh guru. Humanisme menuntut terciptanya lembaga pendidikan yang dapat menjaga dan menghormati setiap pribadi. Guru mendukung dan menjelaskan argumen-argumen yang dikemukakan oleh siswa. sebagai manusia dalam arti sepenuhnya. demikian seterusnya. daerah. sehingga mereka merasa sejahtera tanpa takut terancam identitas dan kekhasan masing-masing. Institusi pendidikan yang humanis memiliki kerangka aturan serta konstitusional yang inklusif. Penyimpangan nilai-nilai tersebut tidak dapat hanya menjadi tanggung jawab pendidikan agama dan PPKn. Masalah-masalah tersebut dipilih untuk menimbulkan konflik-konflik kognitif. yang tidak berdasarkan pada pandangan satu golongan atau kelompok saja. kemudian menjelaskan argumentasi yang berada satu tahap lebih baik. keutuhan dan hak-hak asasi manusia tidak pandang apakah ia termasuk golongan primordial suku. Krisis nilai kemanusiaan dan kebangsaan belum dapat diatasi secara tuntas. Kemampuan untuk melakukan keputusan dan perasaan kemanusiaan ke dalam perilaku-perilaku nyata perlu dimunculkan dan dikembangkan dalam kehidupan bersama sehari-hari. yakni rasa tidak puas mengenai apa yang benar dan menimbulkan perbedaan pendapat yang merangsang berfikir di antara siswa. Suatu kemampuan untuk melihat dan merasakan kondisi orang lain tanpa memandang sekat-sekat primordial dan sosialnya. agama. melainkan yang dapat diterima oleh semua anggota dari golongan atau kelompok manapun sebagai anggota institusi. Materi pembelajaran dipusatkan pada suatu rangkaian masalah kemanusiaan yang harus didiskusikan bersama antara guru dan siswa. sehingga mereka merasa sejahtera tanpa takut terancam identitas dan kekhasan masing-masing. Guru menantang dengan menggunakan situasi-situasi baru dan menjelaskan semua argumen dari satu tahap yang melampaui tahap sebelumnya. Humanisme diartikan sebagai solidaritas berprinsip dengan orang lain apapun kondisi orang tersebut. Nilai-nilai ini akan berkembang jika pendidikan nilai bersifat humanis. Strategi pembelajaran yang humanis dikembangkan agar tercapai kemanusiaan transprimordial berupa kemampuan untuk menghormati martabat. tetapi juga menjadi tanggung jawab seluruh pengajar di sekolah. . Setiap orang dihormati sebagai persona. Guru menciptakan diskusi di antara siswa pada tingkat kemampuan yang berbeda. Pendidikanlah yang sesungguhnya paling besar kontribusinya terhadap situasi ini.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful