P. 1
Participatory Rural Appraisal

Participatory Rural Appraisal

|Views: 1,097|Likes:
Published by TAKI - TAKI

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: TAKI - TAKI on Apr 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/12/2013

pdf

text

original

[Type text

]

Participatory Rural Appraisal ( PRA ) : Alternatif Metodologi PS
( Disarikan dari Buku Participatory, Pemberdayaan dan Demokrasi Komunitas : Studio Driya Media dan KPMNT)

I. Pengantar PRA merupakan singkatan dari Participatory Rural Appraisal yang secara harfiah artinya pengkajian ( keadaan ) desa (secara ) partisipatif. PRA senantiasa berkembang, sehingga menurut Robert Chambers yang mempromotori dan mengembangkannya, mungkin tidak perlu untuk memberikan definisi final. Robert Chambers mendefinisikannya sebagai : “Sekumpulan pendekatan dan metode yang mendorong masyarakat (pedesaan) untuk turut serta meningkatkan dan menganalisis pengetahuan mereka mengenai hidup dan kondisi mereka sendiri agar mereka dapat membuat rencana dan tindakan”. Pada awalnya PRA berkembang sebagai kumpulan metode atau teknik – teknik ‘penelitian’ yang dilakukan oleh masyarakat oleh masyarakat sendiri, seperti yang didefinisikan oleh Robert Chambers di atas. PRA pada awalnya berkembang sebagai suatu alternative bagi penelitian sosial yang dikritik sebagai tindakan tidak bermanfaat bagi masyrakat karena hanya menggunaklan masyarakat sebagai obyek penelitian. Kalau pada penelitian sosial, agenda penelitian adalah milik ‘orang luar’, informasi yang hasil penelitian dibawa oleh ‘orang luar’ untuk kepentingannya sendiri maupun kalangannya, maka pada PRA, agenda ‘penelitian’ dikembangkan oleh masyarakat dengan difasilitasi oleh orang luar, sebagai proses refelksi kritis masyarakat tentang situasi dan persoalan yang mereka hadapi. Informasi hasilnya, digunakan oleh masyarakat untuk

mengembangkan program aksi mereka. Karena proses perkembangan PRA pada walanya seperti ini, banyak kalangan menggunakan PRA hanya untuk proses pengkajian saja.

[Type text]

[Type text]

Pada perkembangan berikutnya PRA menjadi metodologi pendekatan program yang lebih dari sekedar pengkajian untuk masyarakat, melainkan sebagai sebuah kerangka kerja pengembangan program partisipatif. Pada tahun 1990 – an penggunaan PRA berkembang pesat dalam upaya menemukan sebuah metodologi pendekatan yang bisa mendukung proses perencanaan yang lebih terdesentralisasi dan pengambilan keputusan secara lebih demokratis , yang memungkinkan masyarakat untuk ‘belajar bersama’, menganalisis, dan meningkatkan

pengetahuannya, serta untuk merencanakan dan melaksanakan kegiatan mereka sendiri.

II. PRA dan Metodologi Partisipatif

PRA sebagai metamorfosis dari RRA Participatory Rural Appraisal ( PRA ) seringkali dilekatkan dengan nama Robert Chambers, sehingga rasanya perlu dipahami peran Robert Chambers dalam pengembangan PRA. Robert Chambers adalah seorang akademisi yang gencar memperkenalkan konsep partisipasi dan PRA. Pada bukunya yang pertama ( Chambers, 1983), Chambers menyampaikan kritik terhadap penelitian sosial, khususnya metode survai, yang dianggapnya kurang atau bahkan tidak bermanfaat bagi masyarakat yang dijadikan sasaran penelitian. Biasanya seringkali terlalu lama diterbitkan sebagai laporan sehingga sudah ketinggalan, dan mahal. Pada buku pertamanya itu, Chambers memperkenalkan metode Rapid Rural Appraisal (RRA) sebagai alternative bagi para praktisi pembangunan yang memerlukan sebuah metodologi ‘penelitian’ yang bisa membantu mereka memahami masyarakat secara cepat, dengan informasi aktual, dan biaya murah, serta bisa mengajak masyarakat sebagai pelaku penelitian itu sendiri. Pada bukunya yang kedua (Chambers : 1987), Chambers menggunakan istilah Participatory Rural Appraisal (PRA) untuk menggantikan RRA. Perkembangan konsep RRA sampai PRA terutama pada pemikiran mengenai peran ‘Orang Luar’

[Type text]

[Type text]

(para ‘profesional’) bekerja di masyarakat dalam upaya mengatasi masalah kemiskinan dan pembangunan.

Meskipun terdapat berbagai sumber PRA, nampaknya RRA adalah sumber PRA yang paling langsung. PRA adalah metamorfosis dari RRA, sehingga PRA semula disebut dengan istilah ‘RRA partisipatif’ ( berkembang tahun 1980-an).

Perbandingan antara RRA dengan PRA menurut Robert Chambers :

RRA Kurun perkembangan Pembaharu waktu Akhir tahun

PRA 1970-an Akhir tahun 1980-an

(awal 1980-an) Kalangan Universitas

(awal tahun 1990-an) Kalangan LSM/Ornop

Pengguna Utama (main Kalangan users) Sumber pengetahuan donor

Universitas, Kalangan LSM/ornop

Pengetahuan Masyarakat Kemampuan Masyarakat setempat setempat Perilaku Memfasilitasi partisipasi

Inovasi ditujukan pada

Metode/teknik

Digunakan orang luar Menggali (ekstraktif) untuk Tujuan Pengumpulan (penelitian) Pelaku actors) Hasil-hasil panjang jangka Perencanaan, publikasi utama (main Orang luar (peneliti)

data Pemberdayaan masyarakat Masyarakat setempat

proyek, Pengembangan kelembagaan tindakan dan masyarakat

lokal yang berkelanjutan

[Type text]

[Type text]

PRA : Cabang PAR ? Robert Chambers menyatakan bahwa Participatory Action Research (PAR) atau sering disebut Kaji Tindak Partisipatif, merupakan salah satu sumber PRA. Tetapi ada pihak lain yang menganggap bahwa PRA adalah PAR yang berkembang di Negara-negara Selatan . Menurut Daniel Selener, nampaknya PRA termasuk ke dalam kelompok PAR di dalam pengembangan masyarakat. Pada dasarnya ada 3 agenda utama PAR, yaitu : pengkajian, pembelajaran dan aksi. Tujuan utamanya adalah memecahkan masalah praktis yang dirumuskan, dianalisa, dan diselesaikan oleh masyarakat sendiri. Tujuan strategis yang ingin dicapai adalah melakukan perubahan (transformasi sosial). Sedangkan dalam PRA lebih ditekankan pada perubahan perilaku individu-individu yang bekerja di dalam pengembangan masyarakat, ketimbang pada perubahan sosial seperti tujuan PAR. Asumsi – asumsi penting yang mendasari PAR :  Masyarakat dan perubahan sosial seharusnya dilihat dalam perspektif struktural,  baik mikro (komunitas,wilayah) maupun makro

(nasional,internasional). Tujuan riset aksi partisipatif adalah perubahan sosial secara radikal yang dilakukan melalui mobilisasi masyarakat basis (akar rumput) sebagai pelaku transformasi sosial itu sendiri.  Perubahan sosial itu berarti perubahan atau pergeseran kekuasaan yang ada di masyarakat, dimana pihak yang paling lemah dan tertindas dikuatkan.  Artinya, kerangka kerjanya adalah konfrontasi oleh kelompok tertindas terhadap sistem dominasi, pendekatan ini cenderung berorientasi pada konflik.  Pengetahuan masyarakat (indegenous knowlede) adalah dasar kerja yang paling penting untuk menggeser kekuasaan kelompok elite/kuat yang mendominasi pengetahuan ilmiah, dan sekaligus sebagai basis dasar terjadinya perubahan sosial yang menyeluruh.

[Type text]

[Type text]

III. Unsur – Unsur PRA Tiga pilar (unsur), utama PRA menurut Robert Chambers, yaitu :   Sikap perilaku orang luar yang seharusnya berperan sebagai fasilitator, bukan mendominasi ( seperti instruktur, penyuluh); Metode-metode/teknik-teknik PRA, sebagai alat untuk mengubah pendekatan searah (tertutup) menjadi pendekatan multi – arah (terbuka), pendekatan individu menjadi pendekatan kelompok, teknik belajar verbal (misalnya ceramah) menjadi visual, dan teknik analisa dengan mengukur atau menghitung menjadi teknik membandingkan.  Berbagi (sharing) pengetahuan, pengalaman, informasi, dan sumberdaya lain, di antara orang luar dan masyarakat.

[Type text]

[Type text]

Tiga unsur PRA ( menurut Robert Chambers)
    Mengalihkan pada masyarakat Percaya masyarakat bisa Mengembangkan proses dan improvisasi Duduk bersama, mengembangkan , belajar     Memfasilitasi Tidak terburu – burru Gembira Santai dan informal

SIKAP – PERILAKU

METODE METODE

SALING BERBAGI

      

Wawancara Pemetaan Mengurut Menilai Membuat diagram Presentasi Pelaksanaan kegiatan

    

Observasi Mendaftar Membandingkan Memperkirakan Menghitung

    

Informasi Pengetahuan Nilai – nilai Sumberdaya Perkawanan

[Type text]

[Type text]

IV. Prinsip Prinsip PRA Proses pembelajaran sebenarnya terjadi dalam keseluruhan proses-proses pengembangan masyarakat. PRA sebagai metodologi pengembangan program partisipatif merupakan pendekatan pembelajaran bersama masyarakat. Sebagai sebuah metodologi, terdapat prinsip – prinsip yang perlu diperhatikan dalam memfasilitasi proses pembelajaran masyarakat. Beberapa prinsip PRA yang dikembangkan oleh Robert Chambers, di Indonesia mengalami perkembangan disesuaikan dengan pengalaman penerapan PRA di lapangan. Prinsip – prinsip tersebut adalah : Prinsip mengutamakan yang terabaikan (keberpihakan) : bahwa di masyarakat ada kelompok masyarakat – biasanya merupakan bagian terbesar – yang terpinggirkan dan terabaikan oleh pembangunan. Kelompok masyarakat yang terabaikan ini harus diutamakan sebagai pemanfaat dan pemeran pembangunan. Keberpihakan ini ditujukan untuk membangun keseimbangan pola hubungan antara kelompok dominan dengan kelompok termarjinal dan miskin.

Keberpihakan adalah kosa kata yang sangat ideologis digunakan sebagai idiom gerakkan pembebasan kaum tertindas dan perjuangan emansipasi manusia. Prinsip pemberdayaan masyarakat : Pemberdayaan (empowerment) adalah upaya memperkuat kemampuan kelompok masyarakat yang lemah agar bisa mengontrol dan menentukan pilihan di dalam kehidupannya ( otonomi ). Dengan demikian, pemberdayaan berarti mengubah pola hubungan kekuasaan (power relationship) di antara kelompok dominan/berkuasa (powerfull) dan kelompok lemah (powerless) di masyarakat melalui peningkatan posisi kelompok masyarakat lemah. Pembedayaan hanya bisa dikatakan terjadi apabila perubahan pola hubungan kekuasaan itu terjadi. Prinsip masyarakat sebagai pelaku, orang luar sebagai fasilitator : ”orang luar” harus menyadari perannya sebagai Fasilitator dan bukannya sebagai ”guru”, ”penyuluh”, ”instruktur” bahkan atasan atau penguasa. Pernyataan ini bukanlah kata-kata biasa atau hanya sekedar anjuran agar para agen pembangunan bersikap rendah hati dan mau belajar dari pengetahuan lokal. Prinsip ini merupakan suatu sikap ideologis anti dominasi: yaitu dominasi para agen pembangunan terhadap

[Type text]

[Type text]

masyarakat marjinal. Dominasi orang luar juga merupakan penindasan, sengaja maupun tidak sengaja, karena dominasi akan melemahkan dan meminggirkan masyarakat. Prinsip santai dan informal : Agen pembangunan dan pihak-pihak yang bekerja bersama masyarakat, sebaiknya mengembangkan suasana yang bersifat luwes, terbuka, tidak memaksa, akrab, dan informal. Barangkali bersikap santai dan informal ini seperti sekedar tips bagi para agen pembangunan, tetapi hal ini sebenarnya prinsipil karena menunjukkan sikap nilai orang luar: apakah datang ke masyarakat untuk melebur, menjadi bagian dari masyarakat dan bersam-sama memperjuangkan praktek-praktek yang mendominasi dan melemahkan

masyarakat. Atau justru menjadi bagian dari pelaku dominasi. Prinsip – prinsip yang berkaitan dengan penghargaan dan pengembangan ilmu pengetahuan lokal (kearfian lokal) : Prinsip saling belajar dan menghargai perbedaan: Prinsip ini muncul dari kritik terhadap dominasi ilmu pengetahuan oleh kalangan akademisi atau agen pembangunan. Orang luar (agen pembangunan, peneliti sosial) seharusnya membantu masyarakat untuk menyusun pengalaman dan pengetahuan lokal yang ada. Hal ini bukanlah berarti bahwa masayrakat selamanya benar dan harus dibiarkan tidak berubah, atau anti pada pengetahuan dan teknologi baru (dari luar). Pengalaman dan pengetahuan masyarakat dan orang luar bisa saling melengkapi dan sama bernilainya selama masyarakat yang menentukan pilihan. Intinya : masyarakat didorong untuk mengenali lebih banyak pilihan, melakukan dialog dengan berbagai sumber pengetahuan, agar bisa melakukan analisa dan menentukan pilihan secara tepat. Prinsip triangulasi : Belajar bukanlah hanya pertukaran informasi, pengalaman, dan ilmu pengetahuan, melainkan juga upaya untuk mendorong terbangunnya ilmu pengetahuan dan kearifan lokal. Tujuannya adalah untuk melawan hegemoni ilmu pengetahuan ’luar’ yang dalam jangka panjang bisa membunuh inovasi dan kearifan lokal, tetapi menuduh masyarakat sebagai statis, kehilangan inovasi, dan anti perubahan. Untuk membangun ilmu pengetahuan yang tepat guna kita bisa menggunakan triangulasi yang merupakan bentuk ”pemerikasaan dan

[Type text]

[Type text]

pemerikasaan ulang” (check and re-check). Triangulasi dilakukan antara lain melalui penganekaragaman perspektif orang luar (keragaman disiplin ilmu atau pengalaman), penganekaragaman perspektif orang dalam (keragaman latar belakang, golongan masyarakat, keragaman tempat, jenis kelamin), dan variasi metode/teknik pembelajaran yang digunakan. Prinsip mengoptimalkan hasil : Belajar bersama masyarakat, bukanlah untuk belajar itu sendiri, melainkan untuk memperbaiki kehidupannya yang baik bagi kepentingan generasi sekarang maupun generasi selanjutnya. Penyusunan ilmu pengetahuan dan kearifan lokal bukanlah didasarkan pada obyektivitas ilmiah, karena tidak dimaksudkan untuk menyusun ilmu demi ilmu belaka. Berikut ini adalah prinsip-prinsip dalam penyusunan ilmu pengetahuan lokal :  Lebih baik kita tidak tahu tentang apa yang tidak perlu kita ketahui; ketahui secukupnya saja (optimal ignorance). Artinya : ilmu pengetahuan disusun untuk kebutuhan dan kelangsungan hidup komunitas yang bersangkutan.  Lebih baik kita tidak tahu apakah informasi itu bisa disebutkan benar seratus persen, tetapi diperkirakan mendekati kebenaran (appropriate bahwa informasi itu cenderung imprecision). Artinya : ilmu

pengetahuan disusun secara subyektif berdasarkan atas kesepakatan masayrakat yang berkepentingan. Prinsip orientasi praktis : PRA seringkali diartikan hanya sekedar kumpulan metode dan teknik untuk pengkajian (appraisal) atau penggalian informasi. Kata partisipasi dalam PRA kemudian menjadi sempit (abuse) menjadi ’penggalian informasi dengan cara – cara partisipatif’. Prinsip ‘orientasi praktis’ adalah mengingatkan kembali bahwa PRA, bukan hanya metode dan teknik pengumpulan informasi, melainkan terintegrasi pada pengembangan kegiatan (aksi). Terdapat tiga (3) agenda utama dalam PRA : pengkajian (yang tidak bersifat ekstraktif atau penggalian data) – pembelajaran (yang menitikberatkan pada penyadaran kritis) – dan pengembangan program aksi.

[Type text]

[Type text]

Prinsip keberlanjutan dan selang waktu : Kepentingan – kepentingan dan masalah – masalah masyarakat tidaklah tetap, tetapi berubah dan bergeser menurut waktu sesuai dengan perkembangan baru dalam masyarakat itu sendiri. Belajar adalah proses yang berlanjut seumur hidup, dari generasi ke generasi, dari jaman ke jaman. PRA bukanlah sebuah ‘paket kegiatan PRA’ yang selesai setelah kegiatan penggalian informasi dianggap cukup, dan orang luar yang memfasilitasi kegiatan pergi dari wilayah sasaran. Agen pembangunan mengembangkan proses pembelajaran agar masyarakat mampu bersikap adaptif dan inovatif terhadap perubahan yang terjadi terus menerus. Prinsip belajar dari kesalahan : Melakukan kesalahan adalah sesuatu yang wajar. Yang penting bukanlah kesempurnaan dalam penerapan, yang tentu sukar dicapai, tetapi penerapan sebaik – baiknya sesuai dengan kemampuan yang ada dan kemudian belajar dari kekurangan-kekurangan/kesalahan yang terjadi , agar pada kegiatan berikutnya menjadi lebih baik. Satu hal yang paling penting diperhatikan adalah bahwa belajar dari kesalahan bukanlah berarti “coba-coba”, melainkan suatu proses pembelajaran bertahap. Prinsip terbuka : Ilmu pengetahuan, teori, paradigma dan ideologi, teknologi, metode dan teknik, bukanlah sesuatu yang status tetapi terus berkembang. PRA juga bukan sebuah metodologi pendekatan yang telah selesai , sempurna dan pasti benar. Pengayaan metode/teknik – tekniknya, senantiasa bisa dikembangkan oleh para praktisinya, artinya PRA terbuka terhadap adaptasi dan innováis baru sesuai dengan nilai-nilai yang menjadi muatannya.

Metode/teknik dan Analisa PRA I. Pengantar Participatory Rural Appraisal (PRA) memiliki kekayaan sejumlah metode atau teknik yang diadopsi dari berbagai bidang lainnya. Teknik-teknik PRA hanyalah bagian dari PRA, karena PRA sebagai metodologi pengembangan program, mencakup hal yang lebih luas : yaitu kerangka konseptual, prinsip-prinsip, nilai ideologis, visi yang ingin dicapai, serta teknik yang dapat digunakan untuk mengaplikasikan pemikiran tentang partisipasi dan pemberdayaan masyarakat.

[Type text]

[Type text]

Dengan demikian PRA sebagai metodologi adalah sebuah kerangka kerja yang memiliki latar belakang teoritis serta tidak mungkin tidak memuat suatu paradigma dan filosofi tertentu. Sedangkan teknik PRA, merupakan alat – alat untuk mengembangkan proses – proses partisipasi. Metode semacam ini sebetulnya bukanlah barang yang benar-benar baru, karena moyang kita sejak dahulu kala sesungguhnya telah melakukannya, seperti perhitungan musim (pranata mangsa), juga ada tradisi hitungan-hitungan di masyarakat nelayan, sasi di masyarakat adat Maluku-untuk petani di Jawa dikenal dengan Ilmu Titen (ilmu pengamatan) dan sebagainya. Metode seperti ini dimaksudkan sebagai media dalam rangka membantu memfokuskan pada strategi yang dapat diaplikasikan pada komunitas, disamping juga dipakai secara perorangan dan dapat digunakan untuk pengamatan secara partisipatif. Dengan demikian metode/teknik PRA diadopsi dari berbagai bidang ilmu dan pengetahuan lokal sehingga sebagai alat yang tunggal, masing-masing sudah punya kaidah dan prinsip penggunaan. Tetapi sebagai alat yang digunakan dalam proses pembelajaran dan biasanya tidak berdiri sendiri (tidak tunggal), penggunaan sejumlah teknik PRA membutuhkan kreativitas dan adaptasi dari penggunanya baik dalam hal merancang proses maupun menyesuaikan alatalatnya, sehingga bisa disebut sebagai metode-metode pembelajaran. Jadi pada dasarnya teknik – teknik PRA adalah alat – alat untuk melakukan kajian (keadaan) wilayah tertentu. Teknik ini berupa visual (gambar atau bentuk lain yang bis dilihat) yang dipergunakan sebagai media diskusi masyarakat tentang keadaan diri mereka sendiri dan lingkungannya. Alat – alat visual ini merupakan media belajar bersama yang dipergunakan baik untuk masyarakat aksara ataupun melek aksara. Metode/teknik ini dalam penerapannya – dalam penggunaan masing-masing teknik – menggabungkan antara proses penggalian informasi (data) dan proses analisa masalah. Dalam penggalian informasi, penting untuk diperhatikan dalam menggunakan istilah ’data’ dan ’temuan’. ’Data’ merujuk pada opini, kuantitas dan lain-lain yang belum diproses, sementara ’temuan’ merujuk pada seperangkat data yang telah diinterpretasikan dan diberi bobot pengertian melalui analisis. yang buta

[Type text]

[Type text]

Istilah ’pengamatan’ merujuk pada setiap kali seperangkat data berikutnya telah dikumpulkan, dimana frekuensinya berganti –ganti tergantung kepada indikator.

II. Ciri serta Jenis Informasi Metode teknik PRA bukanlah alat cetakan yang dapat digunakan sama untuk berbagai wilayah. Meskipun setiap metode mempunyai karakteristik khusus, baik pada jenis informasi maupun cara analisis, namun sebenarnya tidak ada satu bentuk yang baku dalam penggunaan setiap metode/teknik PRA. Kita dapat saja memodifikasi baik dari segi isi informasi maupun kombinasi teknik analisanya. Paling penting untuk diperhatikan adalah prinsip (kaidah – kaidah) dari setiap alat kajian.

III. Teknik Analisa Metode Setiap metode/teknik PRA dapat digunakan dengan kombinasi beberapa cara analisis seperti yang diuraikan dalam tabel di bahwa ini : CONTOH – CONTOH Memberi nama untuk , setiap misalnya Contoh dari :

CARA ANALISA Memberi nama (naming) sesuatu

langkah/kegiatan pengelolaan pengangkutan

sampah. sampah

Rumah

Tangga, pemilahan, dsb Memberi nama untuk suatu

benda/tempat. Contoh : Balai Desa, rumah keluarga miskin dsb Mendaftarkan (listing) atau Mendaftarkan jenis-jenis komoditi yang dikembangkan komunitas Mendaftarkan jenis – jenis kegiatan pengelolaan ekonomi Mendaftarkan masalah-masalah yang

mengumpulkan ( collecting)

[Type text]

[Type text]

muncul

dalam

pengelolaan

usaha

masyarakat Mendaftarkan potensi-potensi – yang

dimiliki masyarakat Memberi nilai (scoring) Memberi nilai 1 10 untuk

membandingkan keunggulan sejumlah komoditi (matrisk rangking komoditi) Memberi nilai 1 – 10 untuk menilai bobot sejumlah masalah yang dirasakan masyarakat (matriks prioritas masalah) Memberi nilai 1 – 10 untuk

membandingkan jumlah kepemilikan lahan/ternak/kekayaan rangkinga); dsb Mengurutkan (sequencing) Mengurutkan komoditi berdasarkan (wealth

nilai keunggulannya Mengurutkan kegiatan berdasarkan

tahapan-tahapannya Mengurutkan kejadian berdasarkan

kronologi waktu, dsb

CARA ANALISA Membandingkan (comparing)

CONTOH – CONTOH Membandingkan sejumlah komoditi keunggulan berdasarkan

sejumlah kriteria Membandingkan beban kerja perempuan dengan laki – laki Membandingkan pendapatan dengan pengeluaran, dsb

[Type text]

[Type text]

Menghitung (counting) dan mengukur

Menghitung kebun Menghitung produksi

jumlah

ternak,

luas

jumlah/berat

hasil

Menghitung jumlah pendapatan, dsb Mengkaitkan/menghubungkan (linking/relating) Setelah mengumpulkan masalah

kemudian menganalisa sebab-akibat masalah Menghubungkan antara kegiatan atau keadaan dengan musim Menghubungkan masa lalu, masa kini, dengan masa depan Mengkaitkan produktivitas antara dengan tingkat faktor-faktor

lain (mekanisme pasar, teknologi) dsb Memperkirakan (estimasing) Memperkirakan tingkat produksi dari tahun ke tahun (menggunakan skore) Memperkirakan perubahan ke depan Memperkirakan penggolongan kecenderungan

kekayaan masyarakat dengan kriteriakriteria tertentu (misalnya :

kepemilikan lahan, jenis rumah, pola makan, dsb) Memilih atau menseleksi ( sorting) Memberi unggulan Membandingkan sejumlah komoditi dengan sejumlah kriteria penilaian untuk memilih komoditi unggulan Memilih prioritas masalah untuk nilai untuk komoditi

[Type text]

[Type text]

dijadikan kegiatan, dsb. Menceritakan (telling) atau Menceritakan kejadian – kejadian, menceritakan pengalaman Menggambarkan suatu permasalahan Menggambarkan kondisi sumberdaya alam di suatu wilayah Menggambarkan suatu wilayah Membuat diagram (diagraming) Menggunakan kegiatan/kejadian berdasarkan tahap – tahapnya menjadi alur proses (misal bagan alur produksi – pemasaran) Menggambarkan keterkaitan pola : hubungan diagram perekonomian di pengalaman –

menggambarkan (describing)

(misal

kelembagaan, bagan sistem usaha pertanian, pohion masalah) Membandingkan jumlah/volume

berbagai kegaiatn/keadaan (diagram batang, diagram kue, dsb) Membuat model ( modelling) Menggambar membuat maket Kelurahan, atau

Apabila kita memahami dengan baik karekteristik setiap metode/teknik, maka apabila diperlukan semua teknik dan metode PRA bisa dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan , bahkan juga bisa mengkombinasikan dan memadukan beberapa metode/teknik baru atau sebuah rangkaian diskusi. Yang penting diperhatikan adalah jangan sekali – kali menggunakan metode/teknik PRA secara mekanik – berulang – ulang menggunakan teknik yang sama padahal tidak sesuai dengan konteksnya.

[Type text]

[Type text]

IV. Penggunaan Metode, Analisa : Piramida Terbalik Proses piramida terbalik Apabila metode PRA digunakan untuk kegiatan pengkajian (misalnya penjajakan kebutuhan/need assesment atau evaluasi program yang biasanya membutuhkan kajian informasi yang cukup luas), maka analisa yang dilakukan merupakan suatu proses piramida terbalik. Artinya, diskusi teknik-teknik PRA pada awalnya mengkaji informasi yang lebih luas, sedangkan pada diskusi selanjutnya, informasi semakin fokus dan mendalam, melalui proses seleksi informasi kunci. Langkah-langkah atau proses piramida terbalik tersebut dapat digambarkan sbb :  Melaksanakan diskusi teknik PRA dengan informasi kunci yang telah diidentifikasi dari data – data sekunder. Bisa dipergunakan 2 – 3 teknik pertama untuk memperoleh informasi yang umum.  Selanjutnya, dari hasil diskusi teknik-teknik PRA di atas, diidentifikasi informasi-informasi kunci yang berasal dari masyarakat. Informasiinformasi kunci yang telah dibuat Tim PRA berdasarkan data sekunder, kemudian diperbaiki dan disesuaikan lagi.  Melanjutkan diskusi teknik-teknik PRA dengan lebih terfokus dan mendalam pada informasi-informasi kunci yang muncul setelah diskusi bersama masyarakat.   Menghubungkan satu informasi dengan informasi lainnya secara terus menerus selama proses berjalan, yaitu : Informasi yang dikaji suatu teknik sebaiknya memiliki fokus informasi tertentu agar lebih tajam dan mendalam; cek dan cek kembali (triangulasi) apakah informasi-informasi dalam teknik tersebut saling berkaitan dan tidak bertentangan.  Informasi yang dikaji untuk setiap teknik selalu saling melengkapi informasi hasil dari teknik yang telah digunakan sebelumnya; selain itu cek dan cek kembali (triangulasi) infromasi yang berkaitan dari satu teknik dengan teknik lainnya. Selidiki apabila terjadi informasi yang saling bertentangan.

[Type text]

[Type text]

Tim PRA atau Tim Fasilitator mendiskusikan mendokumentasikan dan secara

Piramida Terbalik Proses Pengkajian Bersama Masyarakat
Penentuan informasi kunci (berdasarkan data sekunder)

rapi dan sistematis semua hasil dikusi teknik – teknik PRA (informasi, masalah, potensi). Lakukan hal ini setiap hari supaya setiap saat dijadikan acuan diskusi berikutnya.  Bahas (kaji ulang) seluruh informasi temuan, dan tentukan hal-hal sebagai berikut :  Informasi apa yang

Diskusi Teknik (informasi umum/luas)

Penentuan informasi kunci dan penyesuaian teknik untuk diskusi

berikutnya
Diskusi teknik PRA (informasi lebih focus)

paling menonjol dan penting menurut

ungkapan masyarakat.  Masalah – masalah dan potensi apa yang paling menonjol dan penting menurut masyarakat.  Informasi apa yang ungkapan

Penentuan informasi kunci dan penyesuaian teknik (informasi semakin selektif )

masih perlu dilengkapi dan didalami.

Seterusnya sampai perumusan : pokok-pokok temuan, pelajaran bersama (lesson learned)

 Informasi apa yang kurang meyakinkan dan perlu di cek.

Apabila Tim PRA dibagi dalam beberapa sub – Tim, maka perlu diadakan pertemuan antar sub – Tim untuk berbagi informasi dan kaji ulang bersama. Pertemuan ini untuk mendiskusikan hasil temuan setiap sub – Tim serta untuk :

[Type text]

[Type text]

 Saling melengkapi informasi  Saling menghubungkan informasi  Saling menggabungkan informasi  Saling memberikan masukan tentang informasi-informasi yang dianggap meragukan (perlu di cek), kurang lengkap dan perlu diperdalam.   Melanjutkan diskusi teknik-teknik PRA untuk memperdalam pemahasan informasi/isu-isu penting. Diskusi teknik-teknik PRA untuk penjajakan kebutuhan (need assesment) biasanya dianggap cukup apabila :  Informasi yang dimunculkan dianggap cukup untuk menjelaskan keadaan, permasalahan dan potensi masyarakat.  Masalah-masalah dan potensi yang berhasil diidentifikasi dan dikumpulkan, dianggap memadai untuk bahan perencanaan kegiatan.  Diskusi teknik-teknik PRA untuk evaluasi program biasanya dianggap cukup apabila :  Informasi yang berhasil dimunculkan dianggap cukup untuk menjelaskan capaian program.  Masalah –masalah dan potensi yang berhasil dididentifikasi dan dikumpulkan, dianggap memadai sebagai bahan perencanaan kegiatan selanjutnya.

Triangulasi Informasi Triangulasi artinya mencek dan cek kembali informasi berdasarkan 3 hal : dari tekniknya, dari sumber informasinya, dan dari fasilitatornya. Dengan triangulasi, informasi yang diperoleh menjadi cukup memuaskan dan bisa

dipertanggungjawabkan ketepatannya.  Triangulasi dari tekniknya, informasi hasil dari suatu teknik, dibandingkan dengan informasi dari hasil teknik lainnya.  Triangulasi dari sumber informasinya: informasi dari suatu kelompok masyarakat, dibandingkan dengan kelompok masayrakat lainnya,

[Type text]

[Type text]

informasi laki-laki dibandingkan dengan infromasi perempuan, juga dibandingkan dengan informasi/data sekunder.  Triangulasi dari Fasilitatornya : informasi dari setiap sub – Tim Fasilitator dibandingkan informasi yang diserap oleh masing-masing fasilitator juga dibandingkan. Triangulasi selalu dilakukan terus menerus dalam proses Piramida terbalik di atas. Apabila informasi saling bertentangan atau tidak lengkap, perlu didiskusikan kembali atau dilengkapi kembali bersama masyarakat.

Tahapan Pemetaan Swadaya Langkah Satu : Persiapan Agar proses Pemetaan Swadaya (PS) memperoleh hasil yang optimal, dan memperkecil resiko kegagalan, serta mempermudah pelaksanaan di lapangan , maka perlu persiapan yang baik . Di bawah ini dijelaskan mengenai langkah – langkah minimal yang harus dilaksanakan sebelum mengawali Pemetaan Swadaya. Kegiatan 1 : Pembentukan Tim PS Pada tahap yang pertama, perlu disepakati dengan Tim Inti (Relawan), siapa yang akan memfasilitasi keseluruhan kegiatan Pemetaan Swadaya. Perlunya melibatkan relawan dalam proses ini, karena beberapa hal, yaitu :  Sesuai dengan pendekatan perencanaan partisipatif dan prinsip – prinsip dalam Pemetaan Swadaya, yaitu partisipasi, maka keterlibatan masyarakat menjadi bagian yang sangat penting untuk melaksanakan proses penanggulangan kebencanaannya sendiri, walaupun dalam tahapan belajar masih didampingi oleh Fasilitator Kelurahan.  Wilayah Kelurahan/desa dampingan yang cukup luas, mungkin juga dengan rentang jarak yang cukup jauh (terutama di luar Jawa), memberikan alternatif pilihan satuan analisa yang lebih kecil (komunitas) sehingga memerlukan Fasilitator yang cukup banyak, yang tentu saja tidak mungkin hanya dilakukan oleh Tim Fasilitator sendirian. Dengan

[Type text]

[Type text]

demikian keterlibatan warga untuk menjalankan peran Fasilitator dalam proses PS menjadi penting. Dalam pelaksanaannya, tidaklah mungkin keseluruhan warga masyarakat menjadi Fasilitator dalam proses PS, maka harus dikembangkan Tim yang akan terlibat untuk memfasilitasi dan mengorganisir proses yang disebut dengan Tim PS. Anggota Tim ini terdiri dari : (1) relawan – relawan warga yang mau

menyumbangkan waktu, tenaga, dan pikirannya ; (2) Tim Fasilitator dan apabila dirasa perlu dan memungkinkan jumlah Tim PS ini dapat ditambah dengan melibatkan (3) lembaga – lembaga atau individu yang mempunyai kepedulian dan atau kemampuan dalam hal-hal penggalian informasi dan kajian yang sifatnya teknis ( sebagai narasumber untuk bidang-bidang teknis tertentu ). Juga akan sangat membantu apabila terdapat anggota Tim yang ahli di bidang ilmu sosial kemasyarakatan. Kegiatan 2 : Bimbingan (coaching) Tim PS Memfasilitasi dan mengorganisir Pemetaan Swadaya, memerlukan kemampuan dan keterampilan khusus. Proses ini bisa jadi karena PS merupakan hal yang relatif baru untuk masyarakat, mengingat pendekatan perencanaan selama ini lebih banyak menggunakan pendekatan dari atas ke bawah. Oleh karena itu perlu pemberian pengetahuan dan keterampilan kepada Tim PS terutama mengenai :      Pemahaman metodologis Penggunaan alat – alat kajian Gambaran wilayah dan masyarakatnya Langkah – langkah pelaksanaan Dan hal lain yang dianggap perlu

Proses pemampuan Tim PS, dilaksanakan melalui bimbingan dari Tim Fasilitator atau pihak – pihak lain yang mempunyai kompetensi dalam bidang ini, yang bersedia bekerja secara sukarela. Dengan demikian, keterlibatan masyarakat (relawan) sebagai anggota Tim PS benar-benar dapat berarti. Proses pembekalan terhadap Tim PS ini perlu disesuaikan dengan karakter masyarakatnya. Sebaiknya dihindari penggunaan bahasa asing dan konsep yang abstrak

[Type text]

[Type text]

Kegiatan 3 : Pengembangan bahan – bahan sosialisasi Sebelum pelaksanaan kegiatan Pemetaan Swadaya, masyarakat perlu mengetahui dan menyadari pentingnya pelaksanaan kegiatan ini. Artinya sosialisasi bukan hanya memberikan informasi tetapi juga harus mampu membangun motivasi kepada warga masyarakat untuk turut terlibat alam setiap kegiatan. Untuk tujuan tersebut di atas, maka Tim Fasilitator ( bersama dengan Tim PS), harus menyiapkan bahan – bahan yang diperlukan untuk mensosialisasikan Kegiaatan PS. Materi sosialisai tidak hanya menyangkut prosedur pelaksanaan PS akan tetapi juga mengenai :     Mengapa siklus PS dilakukan ? Apa hubungannya PS dalam proses perencanaan partisipatif ? Mengapa harus Partisipatif ? Apa manfaat PS untuk masyarakat ? , dsb

Media yang dikembangkan adalah media informasional dan motivasional Kegiatan 4 : Kegiatan Pengkajian Data sekunder : Data atau informasi sekunder merupakan informasi yang sudah tersedia atau berasal dari dokumen yang ada. Data ini antara lain mencakup keterangan mengenai topografi serta kerentanan dan kerawanan kebencanaan di wilayah dampingan. Keadaan masyarakat dan lingkungan tempat masyarakat tinggal, yaitu : tataguna lahan, pengairan, jenis – jenis mata pencaharian masyarakat, pola konsumsi dan produksi, jumlah dan perubahan penduduk dari tahun ke tahun, kualitas dan fasilitas pendidikan, kualitas dan fasilitas kesehatan, program – program yang sudah ada sebelum PS, lembaga – lembaga masyarakat dan kegiatannya, dan lain – lain yang dianggap perlu. Tujuan dari pengumpulan data sekunder adalah :   Mendapatkan gambaran awal keadaan desa, baik masyarakat maupun lingkungannya Memperkirakan kebutuhan informasi tentang kebencanaan yang perlu dikaji lebih lanjut di lapangan sehingga Tim PS bisa menyusun rencana kajian.

[Type text]

[Type text]

Sebagai data pembanding terhadap informasi yang diperoleh langsung dari masyarakat ( fungsi triangulasi)

Bisa jadi data – data tersebut sudah terkumpul pada saat kegiatan penjajakan awal yang sudah dilaksanakan oleh Tim Fasilitator pada saat awal masuk ke wilayah sasaran atau dari hasil refleksi kebencanaan yang telah dilaksanakan dalam siklus sebelumnya. Kegiatan 5 : Penyusunan Rancangan Kajian Tahap selanjutnya dari kegiatan persiapan adalah menyusun rancangan kajian yang akan menjadi acuan penerapan diskusi – diskusi penggalian informasi dan proses kajian di lapangan. Sebelum melaksanakan kegiatan PS di lapangan maka seharusnya Tim PS

merancang metode dan teknik yang akan dipakai dalam melakukan penggalian informasi, pengkajian dan perumusan masalah. Rancangan kajian yang baik

merupakan langkah awal yang menentukan pada pekerjaan selanjutnya dalam melaksanaan Pemetaan Swadaya. Penyusunannya dilakukan oleh Fasilitator dengan anggota masyarakat yang telah dipesiapkan untuk menjadi anggota Tim Inti, serta stakeholder yang dapat membantu. Rancangan PS, berbeda dengan ‘Disain penelitian’ yang dilakukan oleh para peneliti yang sudah baku dan standar. Rancangan yang disusun bukanlah bentuk baku melainkan hanya sekedar acuan bagi pekerjaan di lapangan. Penyesuaianpenyesuaian akan dilakukan oleh Tim PS sesuai dengan proses di lapangan. Langkah – langkah penyusunan rancangan kajian PS : Kegiatan 5.1 : Penetapan Tujuan Penerapan PS Agar penerapan PS menjadi lebih jelas arahnya, gagasan-gagasan tersebut kemudian dirumuskan dalam suatu bentuk tujuan penerapan PS. Di dalam rancangan PS, tujuan ini dicantumkan sebagai hasil yang ingin dicapai dalam menyelenggarakan kegiatan penerapan PS. Tujuan yang berhubungan dengan Daur program Berdasarkan kepada Daur program dan siklus penanggulangan kebencanaan, maka PS dilaksanakan dengan tujuan untuk penjajakan kebutuhan.

[Type text]

[Type text]

Tujuan penerapan PS yang berhubungan dengan Isu (bidang program) Dalam konteks penanggulangan bencana, isu utama yang menjadi kajian adalah permasalahan kebencanaan akan tetapi di dalamnya tentu memuat isu – isu lain seperti pendidikan, sanitasi lingkungan, perumahan, kesehatan, ekonomi, kepemimpinan, kelembagaan , sensitivitas gender, masalah anak terlantar dan lainnya sesuai dengan masalah-masalah yang teridentifikasi pada saat refleksi kebencanaan. Kegiatan 5.2 : Penentuan Kebutuhan Informasi Setelah merumuskan tujuan PS, kemudian dilakukan penentuan kebutuhan informasi yang dianggap penting untuk dikaji di lapangan. Penentuan informasi ini diperlukan untuk menghemat waktu, tenaga, serta biaya, juga diharapkan dapat memaksimalkan proses dan hasil lapangan. Tanpa kegiatan ini bisa jadi kita banyak membuang waktu untuk mengumpulkan berbagai informasi yang ternyata tidak diperlukan. Langkah-langkah yang perlu dilakukan di dalam menentukan kebutuhan informasi antara lain adalah :  Menggunakan data sekunder dan hasil refleksi kebencanaan yang telah dianalisis sebagai dasar dari penentuan topik-topik informasi kajian selanjutnya; Anggota Tim PS yang merupakan anggota masyarakat bisa dimanfaatkan sebagai narasumber untuk mengambil keputusan tentang penentuan topik-topik yang penting.  Merumuskan tujuan khusus kajian dari setiap topik dan analisis kemungkinan keterkaitan satu topik dengan topik lainnya berdasarkan kepada data sekunder atau penjelasan dari masyarakat pada saat refleksi kebencanaan. Kebutuhan informasi ditentukan berdasarkan kepada : Kebutuhan informasi selain berdasarkan kajian data sekunder lokasi ditambah penjelasan dari narasumber, juga dipadukan dengan topik-topik yang berkaitan dengan isu program lembaga.

[Type text]

[Type text]

Fasilitator sebaiknya menyampaikan kepada masyarakat mengenai bidang garapan penanggulangan bencana yang paling utama, dengan demikian masyarakat juga mempertimbangkan keterbatasan penanggulangan bencana dalam proses menentukan kemungkinan kegiatan. Sedangkan untuk masalah/kebutuhan yang muncul di luar bidang penanggulangan bencana, sebaiknya diupayakan penggalian potensi lokal atau potensi swadaya masyarakat. Kegiatan 5.3 : Pemilihan Metode/Teknik Berdasarkan penentuan jenis informasi yang akan digali ( yang sudah ditentukan pada proses sebelumnya),maka dapat dipilih dan atau ditentukan teknik/metode yang sesuai untuk mengumpulkan informasi tertentu, tetapi sebenarnya tidak bersifat baku dan bisa dimodifikasi (dirubah sesuai kebutuhan). Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan teknik/metode :  Walau setiap teknik yang ada biasa digunakan untuk mengkaji informasi tertentu, tetapi sebenarnya bisa disesuaikan dengan jenis informasi lain.  Sebuah teknik kajian dikatakan memiliki penekanan khusus untuk mengkaji informasi tertentu sebenarnya tidak tepat. Memang benar, sebuah teknik telah biasa dipergunakan untuk mengkaji informasi tertentu, tetapi sebenarnya tidak harus demikian karena bisa dilakukan penyesuaian – penyesuaian.  Sebuah informasi juga tidak hanya diperoleh dari sebuah teknik saja, tetapi dapat pula dilengkapi dengan hasil yang didapat melalui teknik-teknik lainnya. Kegiatan 5.4 : Penentuan Sumber Informasi Penentuan sumber informasi bisa perlu bisa tidak, karena pada dasarnya penerapan PRA dalam PS tidak membatasi anggota masyarakat mana saja yang terlibat di dalam diskusi. Artinya, walaupun dipertimbangkan pemilihan masyarakat yang akan dilibatkan, tetapi tidak ada pembahasan yang ketat. Tetapi harus dipertimbangkan kohesivitas sosial di masing –masing lokasi yang menjadi satuan analisa (kajian), karena tingkat keakraban dan hubungan sosial bisa

[Type text]

[Type text]

mempengaruhi apakah warga tersebut bisa menjadi narasumber untuk masalahmasalah warga di sekitarnya. Beberapa contoh dalam mempertimbangkan pemilihan sumber informasi, antara lain :  Kajian tentang alur pemasaran akan lebih baik apabila memperoleh informasi dari anggota masyarakat yang bekerja sebagai ’pedagang – pengumpul’ bandar untuk memahami bagaimana proses pemasaran dilakukan setelah pengumpul itu membeli dari produsen.  Kajian mengenai jenis-jenis usaha produktif (menghasilkan uang) yang dilakukan oleh perempuan, akan lebih baik bila dilakukan secara khusus dengan kelompok ibu-ibu selain dengan kelompok diskusi campuran antara bapak-bapakn dan ibu-ibu (hasilnya seringkali berbeda) Kadang –kadang kita juga perlu ’menghindari’ sumber informasi tertentu. Misalnya : kajian kelembagaan desa/kelurahan sebaiknya dihindari kehadiran seseorang (tokoh suatu lembaga) di dalam diskusi dengan masyarakat yang sedang berkonflik dengannya, karena hal ini akan menimbulkan konflik terbuka. Sebaliknya kepada orang tersebut dilakukan pendekatan khusus Kegiatan 6 : Pembagian Tugas Tim PS Tugas – tugas utama yang diselenggarakan oleh Tim PS adalah : penyiapan bahan-bahan sosialisasi kepada warga masyarakat, sosialisasi kegiatan Pemetaan Swadaya, merumuskan tujuan dan menyusun rencana kegiatan serta membahas dan menyepakatinya bersama masyarakat, memandu dan memfasilitasi pelaksanaan sesuai tujuan, serta mempersiapkan perangkat – perangkat yang dibutuhkan untuk melaksanakannya. Untuk melakukan penerapan Pemetaan Swadaya perla diadakan pembagian tugas untuk masing-masing anggota Tim PS. Tugas – tugas tersebut adalah : Sosialisasi Sebelum pelaksanaan Pemetaan swadaya, harus dilaksanakan kegiatan sosialisasi , agar masyarakat bisa memahami arti pemetaan sawadaya bagi mereka. Dalam Tim, sebaiknya disepakti bersama siapa – siapa saja yang

[Type text]

[Type text]

akan terlibat dalam kegiatan ini, tergantung dari strategi sosialisasi dan media yang dikembangkan untuk sosialisai. Pembentukan ‘Panitia Lokal’ Persiapan – persiapan dan pelaksanaan yang dilakukan harus ada yang mengorganisir, untuk kepentingan tersebut maka sebaiknya dibentuk panitia pelaksanaan ( organizing committee) yang harus memastikan semua kegiatan dipersiapkan dan dilaksanakan dengan baik. Hal – hal yang perlu dipersiapkan adalah :      Menyiapkan undangan (peserta pertemuan sesuai disepakati) Mengundang baik secara lisan maupun tertulis,kepada warga untuk hadir dalam pertemuan/diskusi kajian Mempersiapkan tempat pertemuan ( bisa di rumah salah satu warga, balai RW atau tempat lain sesuai kesepakatan) Mempersiapkan konsumsi Mempersiapkan alat – alat dan bahan yang diperlukan yang telah

Tugas – tugas pelaksanaan Dalam pelaksanaan beberapa tugas dari Tim Pemandu Diskusi adalah :  Untuk keperluan proses pelaksanaan , sebaiknya diidentifikasi siapa saja yang mempunyai kemampuan memandu diskusi ( dapat dilihat dari kegiatan refelksi kebencanaan dan pada saat coaching Pemetaan Swadaya), siapa yang mampu untuk menjadi pemerhati proses dan pemerhati peserta, siapa pencatat proses. Kemudian sepakati bersama siapa saja yang akan bertugas untuk melaksanakan tugas-tugas tadi  Apabila jumlah Tim PS cukup banyak, biasanya dibagi ke dalam beberapa kelompok (Sub Tim) yang masing-masing akan

menyelenggarakan kegiatan pengkajian informasi dalam satu wilayah Kelurahan/Desa, sesuai satuan analisa yang disepakati ( Dusun, RW, Komunitas tukang ojek, dan sebagainya). Misalnya apabila Tim PS terdiri dari 12 orang, dibagi ke dalam 3 sub – Tim yang masingmasing terdiri dari Pemandu, pemerhati proses, dan pencatat.

[Type text]

[Type text]

Kegiatan 7 : Penentuan waktu dan tempat Waktu pelaksanaan kajian disepakati bersama masyarakat agar bisa berjalan dengan baik dan disesuaikan dengan ketersediaan waktu masyarakat. Biasanya, warga masyarakat tidak bisa mengikuti pertemuan sepanjang hari karena harus bekerja. Dengan demikian, sampaikan kepada masyarakat perkiraan lamanya waktu kegiatan, dan waktu-waktu pertemuan yang mungkin dilakukan pada setiap harinya. Sedangkan penyepakatan tempat , terdiri dari tempat anggota Tim PS yang berasal dari luar lokasi kelurahan/Desa dan tempat-tempat yang memungkinkan untuk menyelenggarakan pertemuan masyarakat. Biasanya masyarakat sendiri yang akan mengatur penyediaan tempat ini. Kegiatan 8 : Persiapan alat – alat dan bahan Alat – alat dan bahan yang diperlukan dalam kegiatan kajian adalah : kertas besar (plano), spidol besar beberapa warna, spidol kecil beberapa warna, lem, selotif, gunting, alat tulis, serta bahan – bahan lokal bisa berupa biji-bijian, kerikil, ranting dan sebagainya sesuai dengan kondisi wilayah setempat. Akan sangat baik apabila Tim PS juga mendokumentasikan kegiatan dalam bentuk rekaman diskusi dan pemotretan yang bisa dipergunakan kembali sebagai bahan diskusi dengan masyarakat apabila suatu saat diperlukan.

Langkah Dua : Pelaksanaan Kegiatan 1 : Sosialisasi ( Kunjungan persiapan dan pengakraban) Meskipun Tim Fasilitator sudah beberapa bulan mendampingi masyarakat, akan tetapi kegiatan ini tetap penting untuk dilakukan, sebagai kegiatan sosialisasi yang menerus. Kegiatan pengakraban ini seharunya akan lebih mudah dilakukan karena sebenarnya sebagian besar sudah terjadi dan sebagian besar anggota Tim PS adalah warga setempat. Tujuan dari kunjungan persiapan adalah :   Membangun kepercayaan, keterbukaan dan suasana akrab antara masyarakat dengan Tim PS. Mendapatkan gambaran awal keadaan wilayah (lokasi satuan analisa)

[Type text]

[Type text]

 

Menyampaikan dan membahas maksud dan tujuan kegiatan yang akan dilaksanakan kepada masyarakat. Mengembangkan rencana pelaksanaan PS bersama masyarakat.

Pengembangan rencana dapat dilakukan melalu diskusi pada pertemuan di tingkat kelurahan atau beberapa pertemuan kecil , pada saat kunjungan persiapan dilakukan. Kegiatan 2 : Petemuan awal dengan warga masyarakat Walaupun sebagain besar Tim PS adalah anggota masyarakat setempat, akan tetapi sebaiknya Tim ini memperkenalkan diri terlebih dahulu, dalam kaitannya dengan perannya sebagai Tim PS. Perkenalan ini bisa dilaksanakan dalam pertemuan – pertemuan kecil ataupun pertemuan di tingkat Kelurahan/Desa. Kesempatan pertemuan ini dapat dimanfaatkan oleh Tim PS untuk membahas kembali maksud dan tujuan kegiatan PS. Berikan gambaran singkat proses yang akan dilakukan. Fasilitasi agar masyarakat mengajukan pertanyaan –pertanyaan mengenai kegiatan yang akan dilakukan agar timbul kesadaran dan keinginan untuk terlibat di dalam kegiatan nanti karena memahami manfaat dan tujuannya. Kesempatan ini juga sangat baik dimanfaatkan untuk membahas jadwal pertemuan dengan masyarakat yang telah dirancang oleh Tim PS, dan buatlah kesepakatan waktu setiap pertemuan. Sampaikan juga kepada masyarakat bahwa jadwal ini mungkin perlu disesuaikan terus dengan proses yang berlangsung nanti. Artinya, bisa jadi akan dilakukan perubahan – perubahan . Kegiatan 3 : Pengumpulan Informasi Kegiatan pengkajian dilakukan dengan memakai metode/teknik PRA, yang beberapa di antaranya telah dikembangkan untuk kegiatan kajian kebencanaan. Akan tetapi alat – lata kajian ini juga disesuaikan dengan rancangan kajian yang telah disusun (tidak baku : untuk setiap wilayah perlu ada penyesuaian – penyesuaian).

[Type text]

[Type text]

Pada saat melakukan kajian, yang harus diperhatikan adalah : Mengawali dikusi dengan masyarakat :  Awali diskusi dengan menyampaikan maksud dan tujuan pertemuan , jelaskan kepada peserta pertemuan gambaran singkat mengenai teknik yang digunakan dan manfaat dari penggunaan teknik – teknik bagi mereka, dengan penekanan kepada bagaimana teknik – teknik tersebut dipergunakan untuk mengkaji suatu infromasi.  Paling penting harus diperhatikan di dalam diskusi adalah proses masyarakat untuk menganalisi informasi terhadap topik yang dibahas, bukan pengalihan untuk memahami dan menggunakan teknik PRA. Menetapkan fokus informasi Setelah diskusi pertama, biasanya muncul sejumlah infromasi yang dianggap penting. Tim PS memfasilitasi masyarakat untuk memilih topik bahasan selanjutnya. Diskusikan serta sepakati bersama mengapa topik tersebut penting untuk didikusikan lebih lanjut. Dengan demikian, proses pemilihan infromasi berikutnya selalu berasal dari gagasan-gagasan masyarakat. Untuk memudahkan, teknik yang pertama dipakai adalah pemetaan wilayah Kelurahan/Desa. Sedangkan teknik – teknik kajian berikutnya disesuaikan dengan topik informasi yang akan didiskusikan. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih dan menetapkan topik-topik kajian berikutnya agar informasi semakin dalam dan fokus pada sejumlah infromasi terpenting, adalah : Informasi setiap teknik selalu saling melengkapi; Artinya pengkajian pertama selalu dijadikan dasar atau bahan pemilihan topik kajian selanjutnya. Begitu juga dengan pengkajian berikutnya, selalu menggunakan bahan – bahan diskusi sebelumnya. Dengan demikian tidak terjadi banjir informasi yang tidak perlu, dan proses seleksi dan mempersempit bahasan ke dalam sejumlah topik tertentu yang paling penting berlangsung berdasarkan hasil diskusi.

[Type text]

[Type text]

Menghubungkan informasi yang diperoleh dalam setiap teknik; Pengkajian informasi dengan teknik PRA tidaklah berdiri sendiri. Artinya setiap kali dilakukan kajian selanjutnya, informasi yang pertama dijadikan bahan untuk cek – silang informasi (triangulasi). Apabila hasil dari satu teknik dengan teknik yang lain saling bertenatangan, hal tersebut harus didiskusikan sehingga kesalahan – kesalahan bisa langsung dikoreksi. Kaji ulang informasi Seringkali kita tidak menyadari bahwa kecepatan dan kemampuan setiap orang dalam mengikuti proses kajian ini, berbeda satu sama lain. Bisa saja sejumlah peserta telah memahami proses dengan baik, akan tetapi sebagian lainnya masih kebingungan menghubungkan satu keadaan dengan keadaan yang lain, satu informasi dengan infromasi yang lain. Kemampuan analisis peserta mungkin berbeda – beda . Karenanya , Tim PS harus memastikan hal ini dengan cara mengkaji ulang seluruh informasi bersama masyarakat, yaitu dengan menyampaikan rangkuman dan kesimpulan dari seluruh informasi. Berbagi informasi antar Sub – Tim PS Yang dimaksud ’berbagi informasi’ antar Sub – Tim adalah pembahasan bersama informasi-infromasi yang telah dikumpulkan. Caranya, dengan melakukan diskusi dalam Tim besar untuk :     Saling melengkapi informasi antar Sub – Tim Saling menghubungkan informasi antar Sub – Tim Mencek – silang informasi dari masyarakat dengan data sekunder, bila ada triangulasi Menentukan informasi – informasi yang dianggap masih ’meragukan’ atau kurang lengkap untuk di – cek silang kembali kepada masyarakat (triangulasi)   Membahas jadwal tentatif dan perubahan yang terjadi Merencanakan pembagian tugas sub – Tim untuk keesokan harinya.

[Type text]

[Type text]

Kegiatan 4 : Pendokumentasian Hasil Kajian Pendokumentasian (pencatatan), baik itu pencatatan proses maupun informasi yang muncul dalam diskusi, dilakukan pada setiap melakukan diskusi dengan teknik PRA. Setiap kali dilakukan diskusi teknik, terdapat anggota Tim PS yang mencatat. Gambar – gambar dan bagan – bagan yang dibuat pada saat melakukan kajian juga dikumpulkan dengan baik karena akan dipergunakan sebagai bahan diskusi pada saat perumusan masalah tingkat desa/kelurahan.

Langkah Tiga : Lokakarya Kelurahan/Desa untuk Perumusan Masalah Kegiatan 1 : persiapan bahan Seluruh infromasi hasil kajian tingkat dusun/RW dikumpulkan oleh Tim PS dan dikaji bersama. Untuk mempermudah proses, ditulis masing-masing pada selembar kertas besar mengenai :   Berbagai masalah yang terkumpul dari keseluruhan teknik Berbagai potensi yang terkumpul dari seluruh penerapan teknik

Kegiatan 2 : Penyepakatan waktu Sepakati waktu lokakarya dengan masyarakat, agar waktu pertemuan tidak mengganggu waktu warga masyarakat. Biasanya, pertemuan ini bisa sampai sehari penuh. Kegiatan 3 : Persiapan teknis Persiapan teknis yang perlu dilakukan antara lain adalah :      Menyepakati jadwal pertemuan dengan masyarakat Mengundang berbagai kelompok masyarakat untuk hadir dalam pertemuan (bisa dengan lisan bisa dengan menyebarkan undangan ) Mempersipakan tempat pertemuan ( yang agak luas ) Mempersiapkan konsumsi bersama masyarakat dan pihak Kelurahan/Desa Mempersiapkan alat dan bahan : kartu – kartu, kertas besar, lem, selotif dan alat tulis. Kegiatan 4 : Pelaksanaan Pembukaan, penyampaian maksud dan tujuan

[Type text]

[Type text]

Setelah peserta pertemuan terkumpul, maka Ketua ’Tim PS’ akan menyampaikan kembali maksud dan tujuan dari pertemuan ini. Juga biasanya dari pemuka masyarakat, seperti Kepala Desa/Lurah dan tokoh setempat, akan menyampaikan sambutan singkat. Penyajian seluruh hasil infromasi Tahap selanjutnya adalah penyampaian seluruh hasil kajian kepada peserta pertemuan. Apabila kajian dilakukan oleh Tim PS beserta masyarakat per dusun/RW, penyampaiannya dilakukan oleh masing-masing Seorang anggota masyarakat, mewakili dusun dusun.

masing-masing

menyampaikan dalam bentuk rangkuman, dan menyampaikan masalah – masalah utama yang ditemukan di dusunnya, serta potensi yang ada. Setiap temuan diskusikan dengan peserta. Pengorganisasian masalah Masalah – masalah yang muncul di masyarakat akan sangat beragam topik-topiknya. Topik –topik yang muncul pasti beragam dengan berbagai isu yang sebetulnya bisa jadi saling berkaitan. Semua masalah yang ada ditulis dalam kertas plano (dikumpulkan) , kemudian dikelompokkan berdasarkan kepada isu besar yang sama, misal kesehatan, pendidikan, dan sebagainya. Setelah semua masalah dikelompokkan kemudian ditarik hubungan sebab akibatnya menjadi pohon masalah, seperti yang dilaksanakan dalam refleksi kebencanaan, akan tetapi dalam kegiatan ini masalah – masalah yang muncul sudah lebih jelas karena hasil kajian yang mendalam. Masalah – masalah tersebut kemudian dirumuskan menjadi masalah tingkat Kelurahan/Desa. Langkah – langkah Pengorganisasian Masalah Masalah – masalah yang muncul di masyarakat akan sangat beragam topik – topiknya. Karena tidak mungkin untuk menangani semua masalah secara sekaligus pada saat yang bersamaan, perlu dilakukan ‘seleksi’ dengan proses pengorganisasian masalah. Langkah – langkah dalam pengorganisasian masalah

[Type text]

[Type text]

adalah pengumpulan masalah, pengelompokkan masalah, serta pengkajian hubungan sebab akibat masalah.

Langkah 1 : Pengumpulan Masalah Setelah penyajian seluruh hasil kajian, masalah – masalah yang muncul kemudian ditampilkan seluruhnya di atas kertas lebar yang ditempelkan di dinding. Masalah –masalah dapat saja dikurangi atau di drop atas usulan peserta , karena menurut mereka tidak layak dibahas. Misalnya : masalah “tidak ada bengkel atau radio rusak”, tidak dimasukkan ke dalam daftar masalah , sebab bukan yang benarbenar perlu. Biasanya pada saat pengkejian hubungan sebab akibat masalah, muncul tampilan masalah-masalah baru.

Langkah 2 : Pengelompokkan Masalah Tujuan dilakukannya pengelompokkan masalah ini antara lain :          Menyederhanakan tampilan seluruh permasalahan Mendiskusikan pembidangan perencanaan Desa/Kelurahan Mendiskusikan bidang/aspek kehidupan apa yang paling banyak masalah

Langkah langkah : Pengelompokkan masalah dilakukan dengan cara menyatukan masalahmasalah yang dianggap berada di satu topik. Tuliskan masing- masing masalah di atas kartu – kartu satu persatu saling berdekatan, bila dianggap sebagai kelompok masalah. Tempelkan dengan selotif kecil agar mudah dipindah (dikoreksi) Sepakati bersama setiap penempelan kartu masalah tersebut, jangan sampai ditentukan oleh pendapat seseorang yang dominan. Apabila pengelompokkan itu sudah dianggap baik, baru kartu –kartu di lem dengan kuat. Tuliskan dia atas kartu berwarna lain, nama topik untuk setiap kumpulan masalah (misal : masalah lembaga, penghasilan, pendidikan, dan sebagainya)

[Type text]

[Type text]

Langkah 3 : Kajian hubungan sebab akibat masalah : Tujuan kajian hubungan sebab akibat antara masalah – masalah yang ada, yaitu :    Mengkaji masalah – masalah mana yang menjadi penyebab dari masalah yang lain Mengkaji masalah – masalah yang paling banyak menyebabkan masalah lainnya, disebut sebagai akar masalah Mengkaji masalah – masalah mana yang menjadi akibat masalah yang lain. Manfaat kajian hubungan sebab akibat antara lain adalah :   Masyarakat melihat permasalahan yang mereka hadapi secara menyeluruh dalam bentuk visual (bagan hubungan sebab – akibat masalah ) Masyarakat menilai permasalahan itu sebagai suatu keadaan yang tidak bisa dipisah-pisahkan sehingga perlu dipecahkan bersama. Langkah – langkah pelaksanaannya :     Tempelkan kartu – kartu satu per satu saling berdekatan bila dianggap memiliki hubungan sebab akibat. Untuk memudahkan, mulailah dengan masalah – masalah yang berada di dalam satu kelompok (topik). Tempelkan dengan selotif kecil agar mudah dipindah (dikoreksi) Sepakati bersama hubungan sebab akibat itu, jangan hanya ditentukan oleh orang – orang tertentu yang dominan. Apabila pengelompokkan itu sudah dianggap baik, baru kartu-kartu di lem dengan kuat. Penting diperhatikan :  Berdasarkan pengalaman masyarakat masih sering tertukar dalam menetapkan masalah, sebab masalah dan akibat. Pemandu perlu menjelaskan pengertian ini berulang-ulang   Terkadang satu kartu masalah berhubungan dengan banyak kartu yang lain. Apabila perlu, satu masalah bisa dibuat menjadi bebetrapa kartu. Pemandu sebaiknya sabar dalam memfasilitasi diskusi. Biarkan peserta untuk memproses sendiri hubungan sebab akibat ini. Pemandu hanya

[Type text]

[Type text]

membantu dengan pertanyaan – pertanyaan untuk mempertimabngkan kesimpulan – kesimpulan dengan cermat. Seleksi Masalah Kajian hubungan sebab akibat sebaiknya dimulai dengan proses yang sederhana agar masyarakat secara bertahap mengenal cara analisis ini. Kartu – kartu masalah jangan dipergunakan terlalu banyak atau bagan (pohon masalah) yang dibuat tidak terlalu besar dahulu. Cara untuk melakukan seleksi, dari banyak masalah yang ada antara lain :  Sepakati bersama masyarakat, kelompok masalah mana yang paling utama dibahas dengan pertimbangan a.l : masalah itu mendesak (kebutuhan primer), kepentingan bersama, potensi mengembangkan kegiatan ada (potensi lokal maupun di luar )  Sepakati bersama masyarakat bahwa masalah mendesak atau gawat lainnya di luar kelompok di atas akan tetap dipertimbangkan di dalam memilih prioritas masalah nanti. Kegiatan 4 : Pendokumentasian Seluruh kegiatan lokakarya ini didokumentasikan, termasuk hasil – hasil pengorganisasian masalah yang akan dipakai dalam sebagai dasar penyusunan PPLPAB tingkat Kelurahan/Desa.

[Type text]

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->