P. 1
04210012-rahmat-hidayat

04210012-rahmat-hidayat

|Views: 53|Likes:
Published by Akhyar Satria Fu

More info:

Published by: Akhyar Satria Fu on Apr 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/03/2012

pdf

text

original

1

PEMIKIRAN MUHAMMAD QURAISH SHIHAB TENTANG POLIGAMI

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan
Mencapai Gelar Sarjana Hukum Islam (S.HI)

Oleh :
RAHMAT HIDAYAT
NIM : 04210012/S-1










PROGRAM STUDI AL-AHWAL AL-SYAKHSHIYAH
FAKULTAS SYARI’AH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
MALANG
2008


2
MOTTO

  ¸ ¸¸ ¸Β ΒΒ Β´ ´ ´ ´ ρ ρρ ρ   ¸ ¸¸ ¸µ µµ µ¸ ¸¸ ¸G GG G≈ ≈≈ ≈ ƒ ƒƒ ƒ# ## #´ ´ ´ ´    β ββ β & && & , ,, , = == = { {{ { / // / 3 33 3 9 99 9   ¸ ¸¸ ¸ Β ΒΒ Β ¯ ¯¯ ¯Ν ΝΝ Ν 3 33 3¸ ¸¸ ¸¡ ¡¡ ¡ Ρ ΡΡ Ρ & && & % %% %´ ´´ ´` `` `≡ ≡≡ ≡´ ´ ´ ´ ρ ρρ ρ — —— — & && & # ## # θ θθ θ` `` `Ζ ΖΖ Ζ 3 33 3` `` `¡ ¡¡ ¡ F FF F¸ ¸¸ ¸ 9 99 9 $ $$ $ γ γγ γ Š ŠŠ Š 9 99 9¸ ¸¸ ¸) )) ) Ÿ ŸŸ Ÿ≅ ≅≅ ≅ è èè è _ __ _´ ´ ´ ´ ρ ρρ ρ Ν ΝΝ Ν 6 66 6´ ´ ´ ´ Ζ ΖΖ Ζ    / // /
ο οο ο Š ŠŠ Š´ ´ ´ ´ θ θθ θ Β ΒΒ Β π ππ π ϑ ϑϑ ϑ m mm m´ ´ ´ ´ ‘ ‘‘ ‘´ ´ ´ ´ ρ ρρ ρ β ββ β¸ ¸¸ ¸) )) ) ’ ’’ ’¸ ¸¸ ¸û ûû û 7 77 7¸ ¸¸ ¸9 99 9≡ ≡≡ ≡ Œ ŒŒ Œ ¸ ¸¸ ¸M MM M≈ ≈≈ ≈ ƒ ƒƒ ƒ ψ ψψ ψ ¸ ¸¸ ¸Θ ΘΘ Θ¯ ¯¯ ¯θ θθ θ ) )) )¸ ¸¸ ¸ 9 99 9 β ββ βρ ρρ ρ` `` `   3 33 3 G GG G ƒ ƒƒ ƒ

”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-
isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya,
dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang
demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”
(Q.S Ar-Ruum: 21)
1















1
Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya (edisi revisi, Semarang: PT.
Kumudasmoro Grafindo Semarang, 1994), 644.


3
PERSEMBAHAN

Alhamdulillah, puji syukur selalu terpanjatkan ke hadirat Allah SWT, dengan segala rahmat dan
hidayah –Nya. Shalawat serta salam tak lupa dihaturkan ke haribaan junjungan Nabi besar
Sayyidul Anbiya Muhammad SAW yang telah memperjuangkan agama yang haq.
Kupersembahankan karya tulis ini untuk :
Bapak dan Ibuku tercinta, Bapak Suroso dan Ibu Marfu’atun, dorongan dan bait doa yang tak
pernah henti menjadi motivasi semangat dalam hidupku untuk selalu mempersembahkan yang
terbaik Moga Alllah selalu menjaga keduanya di Dunia maupun di Akhirat.
Mbakku Sri Dewi Handayani dan Masku Andi Santoso terima kasih untuk do’a dan
supportnya.
Tak lupa buat Dinda Rohma seorang terkasih yang Allah ciptakan untuk menemani dalam
perjalanan hidupku.
Saudara-saudaraku yang selalu menyemangatiku untuk menjadi yang bermanfaat dan dapat
dibanggakan.










4
SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Rahmat Hidayat
NIM : 04210012
Alamat : Menanti, Kecamatan Bilah Hulu, Kabupaten Labuhan Batu
Sumatera Utara 21462
Menyatakan bahwa Skripsi yang saya buat untuk memenuhi persyaratan kelulusan
pada Program Studi Al-Ahwal Al-Syakhshiyah Fakultas Syari’ah Universitas Islam
Negeri (UIN) Malang, dengan judul:
PEMIKIRAN MUHAMMAD QURAISH SHIHAB TENTANG POLIGAMI

adalah hasil karya saya sendiri, bukan duplikasi dari karya orang lain.
Selanjutnya, apabila dikemudian hari ada claim dari pihak lain, bukan menjadi
tanggung jawab Dosen Pembimbing dan atau Pengelola Fakultas Syari’ah
Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, tetapi menjadi tanggung jawab saya sendiri.
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan tanpa paksaan dari
siapapun.

Malang, 24 Oktober 2008
Penulis

Rahmat Hidayat
NIM. 04210012




5
PERSETUJUAN PEMBIMBING

Pembimbing penulisan skripsi saudara Rahmat Hidayat, NIM 04210012, mahasiswa
Fakultas Syari’ah Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, setelah membaca,
mengamati kembali berbagai data yang ada di dalamnya dan mengoreksi, maka
skripsi yang bersangkutan dengan judul:
PEMIKIRAN MUHAMMAD QURAISH SHIHAB TENTANG POLIGAMI


Telah dianggap memenuhi syarat-syarat ilmiah untuk disetujui dan
diajukan pada majelis dewan penguji.

Malang, 24 Oktober 2008
Pembimbing

H. Isroqunnajah, M.Ag
NIP. 150 278 262





6
PEMIKIRAN MUHAMMAD QURAISH SHIHAB TENTANG POLIGAMI

SKRIPSI
Nama : Rahmat Hidayat
NIM : 04210012
Jurusan : Al-Ahwal As-Syakhshiyyah
Fakultas : Syari’ah
Tanggal, 24 Oktober 2008
Yang mengajukan
Rahmat Hidayat
04210012/S-1
Telah disetujui oleh:
Pembimbing

H. Isroqunnajah, M.Ag
NIP. 150 278 262
Mengetahui
Dekan Fakultas Syari’ah

Drs. H. Dahlan Tamrin, M.Ag
NIP. 150 216 425


7
PENGESAHAN SKRIPSI
Dewan penguji skripsi saudara Rahmat Hidayat, NIM. 04210012, Mahasiswa
Fakultas Syari’ah angkatan 2004, dengan judul:
PEMIKIRAN MUHAMMAD QURAISH SHIHAB TENTANG POLIGAMI

Telah dinyatakan LULUS dan berhak menyandang gelar Sarjana Hukum Islam (SHI)
Dewan Penguji:
1. Musleh Herry, S.H, M.Hum (Ketua Penguji) ( )
NIP. 150 294 456

2. H. Isroqunnajah, M.Ag (Sekretaris Penguji) ( )
NIP. 150 278 262

3. Dr. Umi Sumbulah, M.Ag (Penguji Utama) ( )
NIP. 150 289 266


Malang, 29 Oktober 2008
Dekan Fakultas Syari’ah

Drs. H. Dahlan Tamrin M.Ag.
NIP. 150 216 425


8
KATA PENGANTAR
Dengan pertolongan Allah Swt dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan
penulisan skripsi ini sebagai tugas akhir dalam menyelesaikan studi tingkat pertama
dalam jenjang akademis dengan judul “PEMIKIRAN MUHAMMAD QURAISH
SHIHAB TENTANG POLIGAMI.” Shalawat dan salam atas Nabi Muhammad
saw, keluarga dan sahabat, serta ummatnya yang setia sampai hari kiamat.
Penelitian ini tidak mungkin akan terwujud tanpa bantuan banyak pihak. Oleh
karena itu, maka dengan segala kerendahan hati penulis menghaturkan ucapan terima
kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Imam Suprayogo, selaku Rektor Universitas Islam Negeri (UIN)
Malang.
2. Bapak Drs. H. Dahlan Tamrin M.Ag, selaku Dekan Fakultas Syari’ah Universitas
Islam Negeri (UIN) Malang.
3. Bapak H. Isroqunnajah, M.Ag, selaku dosen pembimbing yang dengan sabar dan
tulus ikhlas telah mengorbankan waktu, pikiran serta tenaga dalam membimbing
penulisan dan penyusunan skripsi ini.
4. Segenap dosen Fakultas Syari’ah Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, yang
telah banyak berperan aktif dalam menyumbangkan ilmu, wawasan dan
pengetahuannya kepada penulis.
5. Bapak dan Ibuku tercinta dan saudaraku mbak Dewi dan mas Andi yang
senantiasa memberikan kasih sayang, dukungan, baik materil maupun spritual
sampai selesainya skripsi ini.


9
6. KH. Marzuki Mustamar dan Seluruh keluarga besar Pondok Pesantren
Sabilurrosyad, Gasek-Sukun Malang.
7. Adinda Rohma dan tujuh cahaya hidupku, semoga Allah menjadikan kami dari
golongan orang yang taqwa.
8. Teman-teman satu angkatan Fakultas Syari’ah tahun 2004. Hasanuddin Berutu
(Sidikalang), Sulaeman (Cirebon), Ramadha (Nganjuk), Ali Akbar (Makassar),
Tuti (NTB), Solikhah (Pasuruan), Juwartin (Ngantang), Elmi (Kediri), Anis
(Madiun), Wiwin (Pasuruan), Aisyah, Fifin (Pamekasan), Wahyu (Bengkulu),
dan lainnya yang tidak dapat di sebutkan satu persatu.
9. Teman-teman dan Sedulurku, Mas Qowim, Mas Heri, Mas Hanan, Zainuddin,
Kamsay, Zen, Irfan, Amin, teman-teman kamar Sunan Ampel, Hubeb, Syahrul,
Gus fik, Muttaqin Jambi, teman-teman P.P Sabilurrosyad. Teman kontrakan
Slamet Sidoarjo, Fikri, Tabi’in, Ridho, Shodiq, Alfu, Agung, Umam, Saudah,
Husna, Adik-adik di FKMM-SUMUT, Fitri, Rizky, Lily, Fahmi, Ronny, Rifa,
Neta, Eva, Ziza, Reza, dan lainnya yang tidak dapat di sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari sepenuh hati bahwa penyelesaian tugas akhir ini masih
jauh dari sempurna karena keterbatasan kemampuan, pengetahuan, wawasan dan
pengalaman penulis. Untuk itu penulis sangat berharap semoga dapat bermanfaat
bagi penulis dan bagi orang yang membacanya. Amin ya rabbal ‘alamin.
Malang, 24 Oktober 2008

Penulis


10
DAFTAR ISI

Halaman Judul
Halaman Motto........................................................................................... i
Halaman Persembahan...............................................................................ii
Halaman Pernyataan................................................................................. iii
Halaman Persetujuan Pembimbing .......................................................... iv
Halaman Pengajuan Skripsi....................................................................... v
Halaman Pengesahan................................................................................. vi
Kata Pengantar..........................................................................................vii
Daftar Isi .................................................................................................... ix
Abstrak....................................................................................................... xi

BAB I. PENDAHULUAN...........................................................................1
A. Latar Belakang Masalah....................................................................1
B. Rumusan Masalah.............................................................................8
C. Tujuan Penelitian ..............................................................................9
D. Manfaat Penelitian ............................................................................9
E. Penelitian Terdahulu .........................................................................9
F. Metode Penelitian............................................................................. 11
1. Jenis Penelitian .......................................................................... 11
2. Metode Pengumpulan Data ........................................................ 11
3. Sistematika Pembahasan............................................................ 13




11
BAB II. KAJIAN TEORI .......................................................................... 14
A. Pengertian Poligami ......................................................................... 14
B. Sejarah Poligami .............................................................................. 15
1. Poligami Pra-Islam.................................................................... 19
2. Poligami Pada Masa Islam......................................................... 22
C. Poligami Dalam Al-Qur’an dan Hadits ............................................. 37
D. Poligami Dalam Hukum Yang Berlaku DiIndonesia......................... 41

Bab III. Poligami Dalam Perspektif Muhammad Quraish Shihab.......... 49
A. Biografi Muhammad Quraish Shihab ............................................... 49
B. Poligami Menurut Muhammad Quraish Shihab ................................ 53

Bab IV. Analisa Data ................................................................................. 71

Bab V. Penutup.......................................................................................... 86

Daftar Pustaka
Lampiran









12
Abstrak
Rahmat Hidayat (04210012). Pemikiran Muhammad Quraish Shihab Tentang
Poligami. Fakultas Syari’ah Jurusan Al-Ahwal Al-Syakhshiyah Universitas Islam
Negeri Malang (UIN) Malang. Dosen Pembimbing: H. Isroqunnajah, M.Ag.

Kata kunci: Pemikiran, Poligami, Muhammad Quraish Shihab
Poligami sudah muncul sejak dahulu sebelum agama Islam lahir, dimana hal
poligami tersebut sudah dilakukan oleh orang-orang Yunani dahulu, dan poligami
juga dikenal oleh syariat agama-agama sebelum Islam.
Dalam memahami ayat tentang poligami terjadi perbedaan sehingga
menimbulkan pro dan kontra. Perbedaan tersebut terjadi dalam memahami ayat
poligami tersebut. Oleh karena itu perlu ada pemahaman yang lebih mendalam lagi
untuk memahami ayat poligami tersebut, dan juga harus melihat kepada aspek
sejarah pada masa pelaksanaan poligami baik pada masa Rasulullah dan juga
melihat situasi dan kondisi masyarakat, apakah membutuhkan poligami atau tidak,
sehingga dapat menjadi solusi atau sebaliknya.
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pemikiran
Muhammad Quraish Shihab tentang poligami dan juga implikasi dari pemikiran
tersebut.
Penelitian ini merupakan penelitian literatur (Library Research). Sumber data
yang digunakan meliputi primer dan sekunder. Dalam pengumpulan data, peneliti
mengumpulkan buku-buku Quraish Shihab yang membahas poligami yang kemudian
memaparkannya. Hasil analisis terhadap permasalahan yang dibahas dipaparkan
secara deskriptif dalam laporan hasil penelitian.
Muhammad Quraish Shihab berpendapat bahwa poligami seperti pintu
darurat yang boleh dibuka dalam keadaan tertentu saja, dan dengan syarat yang tidak
ringan. Sehingga poligami merupakan salah satu alternatif dalam kondisi darurat saja
dan orang yang ingin melakukan poligami haruslah memiliki pengetahuan tentang
kasih sayang, dukungan baik materil maupun spritual sampai selesainya skripsi ini.
poligami dan dapat memenuhi persyaratan dan ketentuan dalam melakukan poligami.




13











BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pernikahan merupakan hal yang fitrah bagi setiap manusia yang bertujuan
untuk melangsungkan kehidupan. Allah menciptakan makhluk dengan berpasang-
pasangan, dengan naluri makhluk masing-masing memiliki pasangan dan berupaya
bertemu dengan pasangannya.
2
Sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an surat
adz-Dzariyat: 49 :
¸Β´ρ ¸≅2 ¸`« $Ψ)=z ¸`ρ— /3=è9 βρ`.‹?

2
M. Quraish Shihab, Pengantin Al-Qur’an, Kalung Permata Buat Anak-anakku (Cet. III, Jakarta:
Lentera Hati, 2007), 2.


14
Artinya: Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu
mengingat kebesaran Allah.

Dari sinilah dapat dipahami bahwa setiap manusia sangat mendambakan
setiap pasangannya dan dapat hidup bersama dengan pasangannya tersebut, sehingga
dalam mengarungi kehidupannya tidak merasa sendiri, melainkan ada seseorang
yang menemani dan mendampingi baik suka maupun duka.
Sedangkan di dalam agama Islam pernikahan merupakan suatu ibadah.
Karena tujuan pernikahan itu sendiri untuk menciptakan rasa tenang, bahagia,
sejahterah atau dengan kata lain untuk membentuk sakinah, mawaddah, wa rahmah.
Sebagaimana Allah jelaskan dalam firman-Nya yang terdapat dalam al-Qur’an surat
ar-Rum: 21:
¸Β´ρ ¸µ¸G≈ƒ#´ β& ,={ /39 ¸Β ¯Ν3¸¡Ρ& %´`≡´ρ—& #θ`Ζ3`¡F¸9 $γŠ9¸) Ÿ≅è_´ρ Ν6´Ζ/ οŠ´θΒ
πϑm´‘´ρ β¸) ’¸û 7¸9≡Œ ¸M≈ƒψ ¸Θ¯θ)¸9 βρ`3Gƒ ∩⊄⊇∪

Artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu
isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa
tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
bagi kaum yang berfikir.

Keadaan tersebut merupakan dambaan setiap pasangan yang melakukan
pernikahan untuk mengarungi kebahagiaan, cinta dan kasih sayang dalam suatu
bingkai keluarga yang itu merupakan bagian dari komunitas masyarakat terkecil dan
sebuah keluaga diharapkan akan menjadi sumber mata air kebahagian, cinta, dan
kasih sayang seluruh anggota keluarga nantinya.
Namun, terkadang hal itu tidak dapat terwujud yaitu hidup dengan satu
pasangan saja (sepasang suami isteri), hal ini terjadi karena beberapa faktor, seperti


15
salah satu antara suami isteri tersebut tidak mendapatkan suatu kebahagiaan atau
merasa kurang, sehingga membutuhkan dari yang lain. Oleh karena itu dibutuhkan
solusi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, dalam menyelesaikan permasalan
tersebut sudah dikenal sejak dahulu di masyarakat dengan poligami.
Poligini adalah ikatan perkawinan yang salah satu pihak (suami) mengawini
beberapa (lebih dari satu) isteri dalam waktu yang bersamaan.
Namun, permasalahan poligami tersebut sampai sekarang masih banyak
menimbulkan kontroversi dan mengalami pro dan kontra. Permasalahan poligami
pernah menjadi sorotan publik ketika berpoligaminya da’i selebritis, kondang dan
menjadi idola para wanita KH Abdullah Gymnastiar yang lebih terkenal dengan
sebutan AA Gym yang telah menguak kembali polemik lama mengenai eksistensi
poligami dalam Islam.
Menanggapi permasalahan tersebut, terjadi tambah ramainya pesan pendek
melalui handphone (sms) kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sehingga
membuat orang nomor satu di Indonesia tersebut serta merta mengadakan sidang
singkat dengan para menterinya, antara lain Menteri Agama, Menteri Pemberdayaan
Perempuan, dan menteri-menteri lain yang terkait. Isi dari sidang singkat tersebut
berupa peninjauan kembali Undang-undang No.1 tahun 1974 tentang perkawinan
tersebut.
3

Sikap pro maupun kontra terhadap poligami sebenarnya sangat bergantung
pada latar belakang sosial budaya dalam suatu komunitas dan sejauh mana

3
Titik Triwulan Tutik dan Trianto, Poligami Perspektif Perikatan Nikah, Telaah Kontekstual Menurut
Hukum Islam dan Undang-undang Perkawinan No.1 Tahun 1974 (Cet. I, Jakarta: Prestasi
Pustakaraya, 2007), 2.


16
pemahaman suatu kelompok masyarakat (bahkan dalam tingkat negara) terhadap
ajaran agama (Islam) mengenai poligami itu sendiri.
Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang plural, sehingga dapat di
maklumi bila dalam memahami makna di balik hukum Islam khususnya mengenai
poligami terjadi pro dan kontra.
Pada golongan yang pro atau sepakat dengan poligami itu, mereka memahami
bahwa praktik poligami adalah suatu yang di bolehkan didalam al-Qur’an
sebagaimana termaktup dalam Q.S an-Nisa: 3 tersebut, dan juga melihat bolehnya
poligami tersebut di pandang dari sisi atau sudut pandang bahwa praktik poligami
tersebut dalam rangka untuk menyelesaikan suatu problem yang terjadi di dalam
keluarga secara khusus maupun masyarakat secara umum yang mana dalam praktik
poligami tersebut dapat mendapatkan maslahah.
Sedangkan pada golongan yang kontra atau tidak sepakat dengan poligami
mengutarakan dengan berbagai pendapatnya, karena hal itu merupakan “penindasan”
terhadap kaum wanita. Dan mereka juga berdalil pada al-Qur’an yang terdapat dalam
surat an-Nisa: 3, bahwa asas yang berlaku dalam agama Islam adalah monogami, hal
tersebut terlihat pada akhir ayat tersebut dimana apabila para suami takut tidak
berlaku adil maka seyogyanya melakukan monogami (menikah tidak lebih hanya
satu isteri saja). Dan juga yang terdapat dalam al-Qur’an surat an-Nisa: 129, ayat
tersebut mengutarakan bahwa suami tidak mungkin dapat berlaku berlaku adil,
sehingga tidak mungkin dapat melakukan praktik poligami. Dari sinilah dapat
dipahami bahwa pada dasarnya ajaran agama Islam dalam hal pernikahan berasaskan
kepada asas monogami.


17
Dalam menyikapi poligami, harus dilihat dari berbagai sisi. Tidak bisa hanya
memandang dari keuntungan dari pihak suami yang melakukan poligami.
Dalil yang bisa digunakan untuk mempersoalkan poligami, yaitu berbagai
kewajiban yang ditetapkan oleh Islam untuk orang yang berpoligami. Kewajiban
yang paling pokok adalah bisa berlaku adil kepada isteri-isterinya dan bisa
memberikan nafkah kepada mereka. Jika tidak memenuhi kewajiban, maka ancaman
akhiratnya sangat berat. Oleh karena itu, jika kira-kira tidak bisa memenuhi berbagai
tanggung jawab dan kewajibannya, maka jangan coba-coba melakukan poligami.
Dalil tentang berpoligami dalam agama Islam sangatlah kuat, tidak diragukan
lagi, mulai dari al-Qur’an, hadits maupun pernyataan ulama-ulama salaf. Tetapi,
kemudian poligami menjadi isu yang selalu memancing reaksi di Indonesia yang
mana mayoritas penduduknya muslim.
Masalah poligami ini hanyalah pertarungan opini, sehingga menimbulkan pro
dan kontra. Namun, jika kedua belah pihak yang pro dan kontra tersebut sama-sama
jernih dalam bersikap dan berpandangan, maka poligami bisa menjadi solusi
ekonomi, solusi moral dan juga kesucian diri, baik laki-laki maupun perempuan. Bila
seluruh lelaki yang ekonominya mapan mendapat rekomendasi kawin dua dari
isterinya, maka minimal hal itu akan mengurangi angka pelacuran karena alasan
ekonomi.
4
Namun, juga dibarengi dengan syarat-syarat dan ketentuan yang telah di
tentukan, sehingga poligami benar-benar dapat menjadi solusi di tengah masyarakat
dan tidak ada yang merasa dirugikan atas praktik poligami tersebut.

4
Ahmad Dairobi, Poligami dan Kekuatan Opini Perempuan, Buletin Sidogiri, edisi 13, tahun ke II,
Dzul Hijjah 1427 H, hal 14.


18
Dan yang menjadikan perbedaan sehingga menimbulkan pro dan kontra
tersebut adalah terkait dalam memahami, memaknai dan menafsiri ayat poligami itu
sendiri, sehingga terjadi perbedaan dibanyak kalangan. Perbedaan tersebut
dipengaruhi oleh banyak faktor, ada yang setuju dan ada juga yang menentang,
dalam pertentangan tersebut didukung dengan argumen-argumen yang menguatkan
pendapatnya, yang sama-sama menggunakan dalil Al-Qur’an dan Hadits, yang
membedakannya adalah dalam memahami, memaknai dan menafsiri ayat poligami
tersebut, dengan perbedaan tersebut menghasilkan pemikiran yang berbeda dan
berimplikasi pada hukum yang dihasilkan yang kemudian menjadi bervariasi pula
terkait dengan pelaksanaan hukumnya.
Oleh karena itulah, sampai saat sekarang ini poligami masih menimbulkan
polemik bagi banyak kalangan. Karena poligami atau mempunyai lebih dari satu
isteri itu, terdapat didalam Al-qur’an, seperti yang terdapat dalam Q.S An-Nisa: 3
β¸)´ρ Λ¸z āω& #θܸ¡)? ’¸û ‘´Κ≈G´‹9# #θs¸3Ρ$ù $Β ´>$Û Ν39 ´¸Β ¸$¡¸Ψ9# _WΒ ]≈=O´ρ
ì≈/'‘´ρ β¸*ù `ΟF¸z āω& #θ9¸‰è? ο‰¸n≡´θù ρ& $Β M3=Β ¯Ν3`Ψ≈ϑƒ& 7¸9≡Œ ´’ΤŠ& āω& #θ9θ`è?
Artinya: Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak)
perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah
wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian
jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang
saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih
dekat kepada tidak berbuat aniaya.



Dan juga pada al-Qur’an surat an-Nisa: 129
9´ρ #θ`苸ÜF`¡@ β& #θ9¸‰è? / ¸$¡¸Ψ9# ¯θ9´ρ ¯ΝF¹m Ÿξù #θ=Š¸ϑ? ≅2 ¸≅Šϑ9#
$δρ'‘‹Gù ¸π)‾=èϑ9$. β¸)´ρ #θs¸=`Á? #θ)−G?´ρ χ¸*ù ´!# β%. #´‘θî $ϑŠ¸m¯‘ ∩⊇⊄∪


19
Artinya: Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-
isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, Karena itu
janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga
kamu biarkan yang lain terkatung-katung. dan jika kamu mengadakan
perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), Maka Sesungguhnya
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Pemikiran terhadap satu ayat hukum dalam Al-Qur’an selalu berimbas pada
pembentukan implikasi hukumnya. Itu tak lain karena pemikiran tersebut yang
diwujudkan dalam satu karya pemahaman, pemaknaan, dan juga penafsiran itu
sesungguhnya merupakan satu bagian dari usaha untuk mendekatkan teks dengan
realitas kontemporer. Oleh karena itu diperlukan pemahaman, pemaknaan dan
penafsiran yang teliti untuk dapat menjelaskan petunjuk-petunjuk dan pesan-pesan
Al-Qua’an.
5
Bahkan M.Quraish Shihab dalam bukunya membumikan Al-Qur’an
menjelaskan bahwa pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, melalui penafsiran-
penafsirannya, mempunyai peranan yang sangat besar bagi maju mundurnya umat.
Sekaligus penafsiran-penafsiran itu dapat mencerminkan perkembangan serta corak
pemikiran mereka.
6
Demikian juga dengan pemikiran terhadap ayat-ayat hukum.
Satu pemikiran dengan pemikiran lainnya tidak mustahil berbeda pendapat, karena
hal itu dipengaruhi oleh lingkungan dimana dan kapan ia hidup. Pemikiran terhadap
satu ayat hukum selalu berimbas pula pada perubahan-perubahan dalam pelaksanaan
hukum itu sendiri. Pemikiran terhadap satu ayat hukum juga tidak sepi dari
pengaruh-pengaruh luar teks sebagai pangkal pemikiran.
Demikian juga dengan Muhammad Quraish Shihab yang akan diteliti ini.
Quraish Shihab adalah seorang ulama dan cendekiawan muslim dan juga sebagai
mufassir yang cukup terkenal dengan kitab tafsirnya Al-Mishbah.

5
M. Alfatih Suryadilaga, dkk, Metodologi Ilmu Tafsir (Yogyakarta: Teras, 2005), 108.
6
M.Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an (Bandung: Mizan, 1995), 83.


20
Pemikiran beliau dalam memahami, memaknai dan menafsiri ayat-ayat
hukum dalam Al-Qur’an patut di perhatikan karena beliau di kenal luas di
masyarakat yang pastinya berdampak luas pula dalam pemikiran hukum Islam.
Penelitian ini bermaksud melihat pemikiran Muhammad Quraish Shihab
dalam memahami ayat tentang poligami dalam Al-Qur’an yang dikaitkan dengan
konteks sejarah dan realita masa kini.
Oleh karena itulah, kami tertarik menelaah dan menganalisis pemikiran
Quraish Shihab dalam masalah poligami, yaitu bagaimana beliau memahami terkait
tentang ayat-ayat poligami. Dalam hal ini peneliti menelaah pemikiran Quraish
Shihab tentang poligami, peneliti dalam menelaah pemikiran Quraish Shihab tersebut
dengan menelaah dari buku-buku dan juga hasil penafsiran Quraish Shihab tentang
ayat poligami yang terdapat dalam tafsir Al-Mishbah. Dari hasil pemikiran Quraish
Shihab tersebut dapat ditarik suatu pemahaman dalam masalah poligami, sehingga
dapat ditarik suatu implikasi hukum dari pemikiran tersebut.

B. Rumusan Masalah
Dengan memperhatikan latar belakang masalah yang penulis ungkapkan di
atas, maka akan timbul permasalahan yang banyak. Dan agar lebih fokus, maka
permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah yang terkait dengan
pemikiran dari Muhammad Quraish Shihab terkait masalah poligami. Oleh sebab itu,
yang termasuk permasalahan disini adalah:
1. Bagaimana Pemikiran Quraish Shihab tentang poligami?
2. Bagaimana Implikasi Hukum Dari Pemikiran Tersebut?



21
C. Tujuan Penelitian
Berkaitan dengan permasalahan diatas, maka disini terdapat beberapa tujuan
yang ingin dicapai oleh peneliti, yaitu: untuk mengetahui pemikiran Quraish Shihab
tentang poligami, dan implikasi hukum dari pemikiran Quraish Shihab tersebut.

D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah:
1. Teoritis
a. Untuk memperkaya khasanah keilmuan dalam hal masalah poligami.
b. Untuk memberikan kontribusi keilmuan bagi Fakultas Syariah UIN Malang
tentang poligami.
2. Praktis
Dapat dijadikan sumber wacana bagi setiap pembaca dalam hal poligami.
Sehingga dapat memberikan masukan dan wawasan terkait dengan poligami.

E. Penelitian Terdahulu
Untuk mengetahui lebih jelas tentang penelitian ini, kiranya penting untuk
mengetahui penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian ini baik secara teori
maupun kontribusi keilmuan. Penelitian yang dilakukan oleh:
Jumhairiyah, pada tahun 2001 dengan judul “Konsepsi dan Aplikasi Adil
Sebagai Salah Satu Syarat Poligami (Studi Kasus Pada Perizinan Poligami
diPengadilan Agama Malang dan Persepsi Adil Menurut Para Isteri)”. Dalam
penelitin ini, penulis memaparkan bahwa secara konsep syarat adil sebagai salah satu
syarat poligami yang terdapat dalam permohonan izin poligami di Pengadilan Agama


22
Malang yang mengacu pada semua aspek bidang perkawinan yang diatur dalam
Undang-undang No 1 tahun 1974. Sedangkan konsep adil dalam poligami menurut
para isteri adalah lancarnya materi, penggiliran yang tepat, nafkah dan kasih sayang.
Islami Rahayu, pada tahun 2003 dengan judul “Poligami Sebagai Salah Satu
Alternatif Mengangkat Derajat Kaum Wanita (Studi Komparatif Terhadap
Pandangan Ulama Dalam Hukum Islam dan Undang-undang No 1 tahun
1974)”. Dalam penelitian ini, penulis membagi kepada dua kelompok ulama yang
setuju dengan poligami dan kelompok yang tidak setuju terhadap poligami. Dimana
kekuatan argumenasi kelompok yang setuju dan kelompok yang tidak setuju
terhadap poligami hal tersebut terletak pada kemashlahatan dan kemudharatan dagi
wanitan dan kesanggupan untuk berlaku adil diantara isteri-isterinya. Sedangkan
tingkat relevansinya terletak pada tingkat harga diri, kehormatan, dan derajat kaum
wanita itu sendiri.
Masfida Eri Mahani, pada tahun 2004 dengan judul “Pandangan Hakim
Terhadap Pernyataan Berlaku Adil Dalam Poligami (Studi Kasus di Pengadilan
Agama Malang)”. Dalam penelitian ini, penulis menyatakan bahwa pernyataan
berlaku adil dalam poligami menurut beberapa hakim sangat bervariasi, dari hasil
wawancara penulis dengan empat hakim hanya ada satu hakim yang menyatakan
bahwa pernyataan adil dalam poligami merupakan keharusan atau prasyarat untuk
dapat diterimanya izin poligami. Lain halnya pendapat hakim yang lainnya yang
menyatakan bahwa tanpa pernyataan adil poligami dapat berlangsung.
Noer Aini Rachman, pada tahun 2007 dengan judul ”Poligami Dalam
Pandangan Ulama ( Studi Pada pengasuh Pondok Pesantren di Kecamatan
Kraksaan Kabupaten Probolinggo)”. Dalam penelitian ini, penulis dalam hal ini


23
meneliti terkait dengan pandangan ulama atau kiai yang bermonogami dan yang
berpoligami terhadap praktek poligami. Dimana kesemuanya dari kiai menyetujui
praktik poligami karena menurut para kiai ada dasar hukum dan telah dipraktekkan
pada masa Rasulullah SAW.
Dari beberapa penelitian diatas, bahwa penelitian ini belum pernah diteliti
tentang pemikiran hukum Quraish Shihab dan juga implikasi hukumnya. Dalam hal
ini menelaah dari buku-buku Quraish Shihab yang membahas tentang poligami, dan
penelitian ini merupakan penelitian literatur atau kajian pustaka.

F. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini bersifat kepustakaan murni (Library Research), deskriptif
analitis dengan metode pendekatan conten analysis, yaitu menggambarkan secara
umum tentang objek yng akan diteliti.
7

Dalam hal ini peneliti memaparkan pemikiran Quraish Shihab terkait dengan
poligami, yang kemudian ditarik suatu implikasi hukum dari pemikirannya.
2. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standar untuk
memperoleh data yang diperlukan. Selalu ada hubungan antara metode pengumpulan
data dengan masalah penelitian yang akan dipecahkan.
8




7
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum (Jakarta: Universitas Indonesia, 1984), 48.
8
M. Alfatih Suryadilaga, dkk, Op.Cit., 171.


24
a. Sumber data
Pengelompokan data kepustakaan berdasarkan kekuatan mengikat dari isinya,
adalah:
a. Bahan primer, yakni bahan utama dalam penelitian, yaitu bahan pustaka yang
berisikan tentang pemikiran Quraish shihab terkait poligami. Dalam bahan
primer ini, peneliti membagi lagi menjadi dua, yang menjadi bahan primer adalah
karya Quraish shihab dalam buku Perempuan dan bahan sekunder yaitu
Wawasan Al-Qur’an, dan tafsir Al-Mishbah yang di jadikan bahan utama dalam
penelitian.
b. Bahan sekunder, yaitu bahan pustaka yamg berisi tentang informasi yang
menjelaskan dan membahas tentang bahan primer.
9
Dalam hal ini buku-buku
atau artikel-artikel dan juga buletin yang mendukung dari bahan primer tersebut.

b. Pengolahan dan Analisa data
Menurut Patton, Analisis data adalah proses mengatur urutan data,
mengorganisasikannya kedalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian dasar. Ia
membedakannya dengan penafsiran, yaitu dengan memberikan arti yang signifikan
terhadap hasil analisis, menjelaskan pola uraian, dan mencari hubungan diantara
dimensi-dimensi uraian.
10

Dalam metode ini dilakukan dengan melihat dan menelaah pemikiran dari
Quraish Shihab terkait dengan poligami, serta melihat implikasi hukum dari
pemikirannya.

9
Burhan Ashshofa, Metode Penelitian Hukum (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2004), 103.
10
Lexy J.Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005), 280.


25
G. Sistematika Pembahasan
Untuk lebih mempermudah dalam memahami isi pembahasan hasil penelitian
yang dalam bentuk skripsi ini, maka dalam pembahasannya peneliti membagi
menjadi lima bab agar tersusun secara sistematis. Dengan perincian sebagai berikut :
Bab satu dalam hal ini penelitian akan memberi gambaran kenapa hal tersebut
harus teliti, dan dalam bab ini berisi latar belakang yang memberi gambaran umum
atas permasalahan yang akan diteliti, rumusan masalah kepada apa yang akan di
teliti, sehingga tidak membuat melebar pembahasan, tujuan dan manfaat penelitian
ini, penelitian terdahulu, metode penelitian, dan juga dalam pengelolahan data.
Bab dua berisi tentang poligami dalam Islam, yang meliputi pengertian
poligami, sejarah poligami, yang meliputi poligami Pra-Islam, poligami pada masa
Islam, poligami dalam Al-Qur’an dan Hadits, dan juga poligami ditinjau dari hukum
di Indonesia. Hal ini bertujuan untuk memberikan deskripsi secara umum mengenai
obyek penelitian yang diambil dari berbagai referensi.
Bab III berisi tentang biografi Muhammad Quraish Shihab dan juga poligami
menurut Quraish Shihab. Untuk mengetahui bagaimana pemikiran Quraish Shihab,
dengan memaparkan karyanya, yaitu dalam buku-bukunya yang membahas tentang
poligami.
Pada Bab IV analisis data mengenai pemikiran Quraish Shihab dan Implikasi
hukum dari pemikiran tersebut. Pembahasan ini ditulis sebagai telaah atas
pertanyaan- pertanyaan dalam rumusan masalah.
Bab lima penutup, yang berisi kesimpulan merupakan penjelasan secara
singkat, padat, dan jelas terhadap hasil penelitian. Sehingga mempermudah dalam
memahami dari hasil penelitian ini.


26












BAB II
POLIGAMI DALAM ISLAM

A. Pengertian Poligami
Kata poligami berasal dari bahasa Yunani, yaitu poly atau polus yang berarti
banyak dan gamein atau gamos yang berarti kawin atau perkawinan. Jadi menurut
bahasa poligami adalah “suatu perkawinan yang banyak” atau “suatu perkawinan
yang lebih dari seorang” baik pria maupun wanita. Sedangkan poligami menurut
istilah adalah ikatan perkawinan yang salah satu pihak mengawini beberapa (lebih
dari satu) dalam waktu bersamaan.
11


11
Abuddin Nata, dkk, Insiklopedi Islam (Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002, jilid III), 107.


27
Poligami ini dapat digolongkan menjadi tiga bentuk, yaitu:
a. Poligini adalah sistem perkawinan yang membolehkan seorang laki-laki
memiliki atau mengawini beberapa perempuan sebagai isterinya dalam waktu
yang bersamaan.
b. Poliandri adalah sistem perkawinan yang membolehkan seorang perempuan
mempunyai suami lebih dari satu orang dalam waktu yang bersamaan.
c. Perkawinan kelompok merupakan kombinasi poliandri dan poligini.
12


Namun poligami yang berkembang di masyarakat adalah seorang suami yang
mempunyai isteri lebih dari satu. Untuk memudahkan pemahaman pembaca, maka
peneliti disini tetap menggunakan istilah poligami untuk poligini tersebut.

B. Sejarah Poligami
Keberadaan poligami atau menikah lebih dari seorang isteri dalam lintasan
sejarah bukan merupakan masalah baru. Poligami telah ada dalam kehidupan
manusia sejak dahulu kala di antara berbagai kelompok masyarakat di berbagai
kawasan dunia. Orang-orang Arab telah berpoligami jauh sebelum kedatangan Islam,
demikian pula masyarakat lain di sebagian besar kawasan dunia selama masa itu,
termasuk di Indonesia. Para raja dan pembesar kerajaan umumnya memiliki isteri
lebih dari seorang.
13
Poligami ada setiap zaman sebelum Nabi Muhammad, poligami

12
Chandra Sabtia Irawan, Perkawinan Dalam Islam Monogami atau Poligami (Cet. I. Yogyakarta:
An-Naba’, 2007), 21.
13
Soekanto, Meninjau Hukum Adat Indonesia: Suatu Pengantar Untuk Mempelajari Hukum Adat.
(Cet.III, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996), 105.


28
ini juga telah dilakukan oleh orang-orang Yunani yang berkebudayaan tinggi dan
bangsa-bangsa lainnya di dunia.
14

Bila orang menelaah kitab suci agama Yahudi dan Nasrani, maka akan
mendapatkan bahwa poligami telah merupakan jalan hidup yang diterima. Semua
nabi yang disebutkan dalam Talmud, Perjanjian Lama (Bibble), dan Al-Qur’an,
beristeri lebih dari seorang, seperti Nabi Ibrahim, Nabi daud, Nabi Sulaiman dan
lain-lain.
15

Para ahli ilmu pengetahuan yang mengadakan pembahasan sekitar sebab-
sebab poligami mempunyai beberapa pendapat, antara lain:
1. Poligami timbul sebagai pengaruh dari sifat yang ada pada laki-laki terhadap
wanita.
2. Poligami adalah pengaruh dari faktor seksual yang ada pada laki-laki dan wanita.
3. Poligami adalah pengaruh Undang-undang alam yang amat mempermudah hidup
wanita lebih mudah dari hidup kaum lelaki.
16

1. Sifat yang ada pada laki-laki terhadap wanita
Secara fungsi wanita di ciptakan sebagai pendamping pria (suami), ibu rumah
tangga yang akan melahirkan anak, menyusui, mengasuh dan melayani suami serta
memelihara kesinambungan dalam keluarga, dan pria adalah pemimpin dari kaum
wanita, kepala rumah tangga, pencari nafkah bagi kehidupan dan juga Pembina

14
Yusuf Wibisono, Monogami Atau Poligami, Masalah Sepanjang Masa (Cet. I, Jakarta: Bulan
Bintang, 1980), 47.
15
Abdul Rahman I Doi, Shari’ah The Islamic Law, terjemahan, Basri Iba Asghary dan Wadi Masturi,
Perkawinan Dalam Syari’at Islam (Cet. II Jakarta: PT Rineka Cipta, 1996), 46.
16
Syekh Mahmud Syaltut, al-Islam Aqidah wa Syari’ah, alih bahasa Fachruddin dan Nasharuddin,
Aqidah dan Syari’at Islam (Cet.I Jakarta: PT. Bina Aksara, 1984), 195.


29
kehidupan keluarga. Sehingga tidak salah apabila pria adalah pelindung keluarga
(wanita). Sebagaimana firman Allah dalam surat an-Nisa: 34 yang berbunyi:
`Α%`¸¯9# šχθ`Β≡¯θ% ’?ã ¸$¡¸Ψ9# $ϑ¸/ Ÿ≅āÒù ´!# `ΟγŸÒè/ ’?ã ¸Ùè/ $ϑ¸/´ρ #θ)Ρ& ¸Β
¯Ν¸γ¸9≡´θΒ& M≈s¸=≈¯Á9$ù M≈G¸Ζ≈% M≈à¸≈m ¸=‹ó=¸9 $ϑ¸/ á¸m ´!# ¸L≈9#´ρ βθù$ƒB
∅δ—θ±Σ ∅δθ´à¸èù ´δρ`fδ#´ρ ’¸û ¸ì¸_$ŸÒϑ9# ´δθ/¸ŽÑ#´ρ β¸*ù ¯Ν6´ΖèÛ& Ÿξù
#θó¯7? ´¸κ¯Ž=ã ξ‹¸6™ β¸) ´!# šχ%. $¯Š¸=ã #Ž¸6Ÿ2 ∩⊂⊆∪
Artinya: Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh Karena Allah
Telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain
(wanita), dan Karena mereka (laki-laki) Telah menafkahkan sebagian dari
harta mereka. sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada
Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh Karena Allah
Telah memelihara (mereka). wanita-wanita yang kamu khawatirkan
nusyuznya, Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat
tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu,
Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.
Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.

Sifat ini yang mendorong laki-laki untuk memiliki sebanyak mungkin wanita.
Sifat itu kalau memang ada dan boleh dijadikan sebab untuk gejala-gejala poligami,
terang pula bahwa itu bukan bertujuan menguasai dan memiliki semata-mata
melainkankan bertujuan memperkenankan panggilan seksual yang ada pada laki-laki.
2. Pengaruh dari faktor seksual yang ada pada laki-laki dan wanita
Wanita secara kodrati diciptakan berbeda dengan pria, baik dari fungsi
maupun fisik. Secara fisik (jasmani) wanita diciptakan dengan sosok lebih lemah,
feminism, dan lmbut budi pekertinya dibanding pria, termasuk di dalamnya sistem
reproduksi biologisnya. Sedangkan pria memiliki postur tubuh yang gentle, perkasa,
berotot, dan kuat. Kondisi biologis demikian berpengaruh terhadap perilaku seksual
mereka.


30
Pengaruh dari faktor seksual yang ada pada laki-laki dan wanita tersebut
menuntut senantiasa adanya kekuatan dan kesediaan untuk itu. Dalam pada itu, pada
wanita terjadi di mana kesediaannya sama sekali tidak ada, seperti dalam masa haid,
mengandung, melahirkan dan nifas. Juga kesediaan masa penerimaan wanita lebih
pendek dari pada masa kesediaan laki-laki. Masa kesediaan wanita habis sampai
wanita berhenti haid, sedangkan kesediaan laki-laki mengingat kesehatan dan
kekuatan badannya sampai kepada umur 40 atau 50 tahun. Bahkan hasil medis
menentukan, bahwa seorang laki-laki memiliki kekuatan seksual selama dalam
kondisi sehat. Artinya, bagi laki-laki kesediaan seksual tidak mengenal batas umur
asalkan kondisi tubuhnya sehat. Hal ini akan mengancam kesehatan dan susila laki-
laki jika tidak di salurkan.
Berdasarkan demikian, bahwa poligami untuk memelihara kesucian dan
kesopanan adalah suatu yang baik, asal sanggup mengendalikan hati untuk adil
antara isteri.
3. Pengaruh Undang-undang alam yang amat mempermudah hidup wanita lebih
mudah dari hidup kaum lelaki
Undang-undang alam menentukan kekejaman alam terhadap laki-laki yang
menyebabkan tingkat angka kematian di kalangan laki-laki lebih tinggi dari pada
dikalangan perempuan. Kalau tidak ada sebab-sebabnya selain peperangan yang
selalu dikobarkan diseluruh pelosok dunia, itu saja sudah cukup kiranya untuk
membuktikan kekejaman alam terhadap laki-laki. Apalagi kalau dipikirkan bahaya
peperangan yang menyikat jiwa laki-laki dan mengakibatkan kebanyakan penduduk
terdiri anak-anak, orang tua, dan wanita. Tambah lagi menghadang kesulitan
perjuangan hidup yang meminta korban nyawa, terutama di lapisan yang melakukan


31
pekerjaan di antara besi dan api, di dasar lautan, di tengah-tengah ombak dan
gelombang serta pekerjaan lain yang banyak menimbulkan resiko korban jiwa bagi
laki-laki.
Itulah sebab-sebab sosial, biologis, dan norma menurut pendapat para sarjana
dan ahli-ahli penyelidik. Sebab-sebab itu dirumuskan oleh karenanya poligami
mendapatkan kedududukan kuat dalam pergaulan di zaman dahulu.
Dan poligami pada dasarnya merupakan kodrati yang dimiliki oleh manusia
(lelaki) yang keberadaannya sudah ada sejak peradaban manusia itu sendiri.
17

1. Poligami Pra-Islam
Praktek poligami sudah dilakukan sejak sebelum agama Islam lahir, hal itu
terlihat sudah dipaktikkan oleh masyarakat sejak dahulu, dan juga agama Yahudi dan
Nasrani tidak melarang poligami, hal itu terdapat dalam Talmud, Perjanjian Lama
(Bibble), dan Al-Qur’an, bahwa Nabi-nabi terdahulu juga beristeri lebih dari seorang,
seperti Nabi Ibrahim, Nabi daud, Nabi Sulaiman dan lain-lain.
Namun, praktik poligami sebelum Islam dilakukan tanpa batas. Bahkan
diArab sebelum Islam juga telah dipraktikkan poligami yang tanpa batas tersebut.
Bentuk poligami ini di kenal pula oleh orang-orang Medes, Babilonia, Abbesinia,
dan Persia. Nabi Muhammad saw membolehkan poligami di antara masyarakatnya
karena hal itu telah dipraktekkan juga oleh orang-orang Yunani yang diantaranya
bahkan seorang isteri bukan hanya dapat dipertukarkan tetapi juga bisa diperjual
belikan secara lazim antara mereka.
18


17
Titik Triwulan Tutik dan Trianto, Op.Cit., 62.
18
Titik Triwulan Tutik dan Trianto, Ibid, 57.


32
Bahkan budaya Arab sebelum Islam mengenal institusi pernikahan yang
kurang beradab, dimana tidak saja para laki-laki memilih banyak isteri, bahkan para
perempuan menggauli banyak pria dan menjadikannya suami.
19

Poligami sudah dikenal sejak lama oleh orang-orang Mesir, Perancis,
Asyuria, Babilonia, dan India, sebagaimana diketahui oleh orang-orang Rusia dan
Jerman, sebagian raja-raja Yunani, dan sebagaimana juga yang telah diberitakan oleh
agama Yahudi dan kitab mereka tidak melarang adanya poligami.
Risalah Taurat memberikan kebebasan kepada kaumnya untuk berpoligami
tanpa ada batasan-batasan tertentu, yakni jumlah perempuan yang boleh dinikahi.
Taurat juga menyebutkan beberapa Nabi yang melakukan poligami tanpa
menyebutkan jumlahnya. Taurat menyebutkan, “Seorang perempuan dengan
saudara perempuannya tidak boleh dijadikan isteri simpanan untuk membuka
keburukannya dalam hidupnya”. Maksud kitab ini adalah tidak pernah ada
pengharaman terhadap poligami, tetapi yang diharamkan apabila seorang laki-laki
menikahi saudara perempuan isterinya.
Kitab Taurat ini juga mengandung berita yang mengatakan bahwa nabi Daud
memiliki 99 isteri dari perempuan merdeka dan 300 isteri dari budak. Sedangkan Isa
bin Ishaq memiliki isteri lebih dari satu, sebagaimana terkandung dalam Taurat,
“Maka, Isa pergi ke Ismail untuk memeristeri Mahlah binti Ismail bin Ibrahim,
saudara perempuan Nabayut, atas isteri-isterinya”.
Taurat juga menyebutkan bahwa nabi Sulaiman a.s memiliki lebih dari satu
isteri dengan mengatakan: “Dia (Sulaiman a.s) memiliki 900 isteri dari perempuan
bebas dan 300 dari budak.”

19
Chandra Sabtia Irawan, Op.Cit, 25.


33
Rasulullah bersabda,”Sulaiman bin Daud a.s. berkata, Saya akan tidur
dengan isteri-isteri saya sebanyak 99 orang dalam satu malam, yang akan
menghasilkan para penunggang kuda dalam berjihad. Kemudian sahabat Sulaiman
berkata insya Allah. Tetapi nabi Sulaiman tidak mengatakan insya Allah, sehingga
dari semua isterinya itu, tidak ada yang hamil kecuali satu perempuan saja yang
melahirkan seorang anak laki-laki yang cacat kakinya. Orang yang bersama
Rasullah berpendapat apabila Sulaiman a.s mengucapkan insya Allah, maka semua
anaknya akan menjadi penunggang kuda yang mampu berjihad di jalan Allah”.
Hadits tersebut menegaskan bahwa nabi Sulaiman melakukan poligami. Jadi
poligami pernah lahir dalam syariat-syariat sebelum Islam. Ketika Allah swt
mengutus Musa a.s maka dia menetapkan poligami tanpa ada batasan jumlah wanita
yang boleh dinikahi. Sehingga Bani Talmud memberikan batasan dalam berpoligami.
Lain halnya dengan dengan Bani Israil yang mengharamkannya dan sebagian mereka
menghalalkannya dengan alasan apabila isterinya sakit, mandul, berkhianat, dan
sebagainya. Menurut Yahudi bahwa Talmud membolehkan poligami tetapi memberi
batasan tertentu.
Dasar poligami telah muncul pada zaman Bani Israil, dan tidak ada undang-
undang regional ataupun syariat yang melarangnya. Dan Yahudi hidup dalam
kelompok masyarakat yang sudah terbiasa dengan poligami sampai akhirnya terdapat
ketetapan gereja yang melarang poligami, untuk menekan kehidupan masyarakat
pada saat itu. Ketetapan tersebut terjadi kurang lebih pada abad sebelas yang
dipublikasikan oleh Dewan Gereja dikota Warmes, Jerman. Pada mulanya ketetapan
ini hanya berlaku bagi orang Yahudi di Jerman dan diutara Perancis. Yang
kemudian menyebar keseluruh umat Yahudi di Eropa. Undang-undang perdata


34
Yahudi telah memtuskan untuk melarang poligami, dan mengharuskan untuk
bersumpah setia ketika mengadakan akad nikah. Apabila seorang laki-laki ingin
menikah dengan perempuan lain lagi, maka dia harus menceraikan isteri pertamanya
dan memberikan semua hak-haknya, kecuali apabila isterinya membolehkan untuk
menikah lagi, dan dengan lapang hati untuk berkeluarga dengan dua isteri dan
berbuat adil antara keduanya. Mereka juga dibolehkan untuk berpoligami, seperti
apabila isterinya mandul.
20

Apabila kita melihat dari penjelasan diatas maka kita akan dapat mengetahui
bahwa praktek poligami sudah terjadi pada zaman Bani Israil yaitu dari golongan
orang-orang Yahudi.
Agama al-Masih, pada dasarnya tidak melarang umatnya untuk berpoligami,
bahkan dalam ajarannya terdapat nash yang membolehkan mereka untuk
berpoligami, sebagaimana yang dikatakan oleh Bulls yang mengatakan, “Seharusnya
para uskup tidak hanya memiliki satu isteri saja”. Begitu juga dia mengatakan,
“Seharusnya penjaga gereja memiliki isteri satu”.
21

Dari keterangan diatas bahwa poligami sudah dilakukan atau dipraktikkan
sebelum agama Islam muncul.


2. Poligami Pada Masa Islam
Islam membolehkan poligami untuk tujuan kemaslahatan yang ditetapkan
bagi tuntunan kehidupan. Allah paling mengetahui kemaslahatan hambanya. Allah

20
Karim Hilmi Farhat Ahmad, Ta’addu az-Zauzah fi al-Adyan diterjemahkan oleh Munirul Abidin
Farhan, Poligami Berkah atau Musibah (Cet. I, Jakarta: Senayan Publishing, 2007), 6.
21
Karim Hilmi Ahmad, Ibid., 9.


35
mensyariatkan poligami untuk diterima tanpa keraguan demi kebahagian seorang
mukmin didunia dan akhirat. Islam tidak menciptakan aturan poligami dan tidak
mewajibkan poligami terhadap kaum muslimin. Dan hukum dibolehkannya telah
didahului oleh agama-agama lainnya, seperti agama Yahudi dan Nasrani.
Kedatangan Islam memberikan landasan dan dasar yang kuat untuk mengatur
dan serta membatasi keburukan dan kemudharatannya yang terdapat dalam
masyarakat yang melakukan poligami.
Tujuan semua itu adalah untuk memelihara hak-hak wanita, memelihara
kemuliaan mereka yang dahulu terabaikan karena poligami yang tanpa ikatan,
persyaratan, dan jumlah tertentu.
Syariat Islam tidak menjadikan poligami sebagai kewajiban terhadap laki-laki
muslim dan tidak mewajibkan pihak wanita atau keluarganya menagawinkan
anaknya dengan laki-laki yang telah beristeri satu atau lebih. Syariat memberikan
hak kepada wanita dan keluarganya untuk menerima poligami jika terdapat manfaat
atau maslahat bagi putri mereka, dan mereka berhak menolak jika dikhawatirkan
sebaliknya.
Seorang wanita yang bersedia dimadu membuktikan kerelaan dan
kepuasannya bahwa perkawinannya itu tidak akan mengakibatkan kemudharatan,
mengabaikan haknya, atau merendahkan martabatnya.
Syariat poligami dan pembatasannya terdapat dalam dua ayat firman Allah
berikut ini:
a.Q.S an-Nisa: 3


36
β¸)´ρ Λ¸z āω& #θܸ¡)? ’¸û ‘´Κ≈G´‹9# #θs¸3Ρ$ù $Β ´>$Û Ν39 ´¸Β ¸$¡¸Ψ9# _WΒ ]≈=O´ρ
ì≈/'‘´ρ β¸*ù `ΟF¸z āω& #θ9¸‰è? ο‰¸n≡´θù ρ& $Β M3=Β ¯Ν3`Ψ≈ϑƒ& 7¸9≡Œ ´’ΤŠ& āω& #θ9θ`è?
Artinya: Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak)
perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah
wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian
jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang
saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih
dekat kepada tidak berbuat aniaya.

b.Q.S an-Nisa: 129
9´ρ #θ`苸ÜF`¡@ β& #θ9¸‰è? / ¸$¡¸Ψ9# ¯θ9´ρ ¯ΝF¹m Ÿξù #θ=Š¸ϑ? ≅2 ¸≅Šϑ9#
$δρ'‘‹Gù ¸π)‾=èϑ9$. β¸)´ρ #θs¸=`Á? #θ)−G?´ρ χ¸*ù ´!# β%. #´‘θî $ϑŠ¸m¯‘ ∩⊇⊄∪
Artinya: Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-
isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, Karena itu
janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga
kamu biarkan yang lain terkatung-katung. dan jika kamu mengadakan
perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), Maka Sesungguhnya
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Kedua ayat di atas cukup menjelaskan hal-hal yang telah dipahami
Rasulullah, sahabat-sahabatnya, tabi’in, dan jumhur ulama muslimin tentang hukum-
hukum berikut ini:
1. Boleh berpoligami paling banyak hingga empat orang isteri.
2. Disyariatkan dapat berbuat adil diantara isteri-isterinya. Barang siapa yang
belum mampu memenuhi ketentuan diatas, dia tidak boleh mengawini wanita
lebih dari satu orang. Seorang laki-laki yang sebenarnya meyakini dirinya
tidak akan mampu berbuat adil, tetapi tetap melakukan poligami, dikatakan
bahwa akad nikahnya sah, tetapi dia telah berbuat dosa.
3. Keadilan yang disyaratkan oleh ayat diatas mencakup keadilan dalam tempat
tinggal, makan, dan minum, serta perlakuan lahir bathin.


37
4. Kemampuan suami dalam hal nafkah kepada isteri kedua dan anak-anaknya.

Ayat kedua ditafsirkan bahwa keadilan yang berkaitan dengan kasih sayang
dan kecenderungan hati tidak mungkin terlaksana. Tetapi, seorang suami tidak boleh
menjauhi isteri pertamanya dan membiarkannya terkatung-katung, tidak
diperlakukan sebagai isteri, dan juga tidak dicerai. Suami harus memperlakukan
isterinya dengan baik agar memperoleh cintanya. Allah tidak menuntut suami atas
kecenderungan hatinya asalkan tidak berlebih-lebihan dan tetap mengindahkan isteri
pertamanya.
22
dan juga poligami dilakukan kalau memang lelaki itu merasa aman
tidak akan terganggu dengan isteri-isterinya. Dia tidak akan melalaikan hak Allah
pada dirinya lantaran isteri-isterinya dan tidak tersibukkan dengan mereka untuk
beribadah kepada Allah.
23

Dalam masalah fisik material, Rasulullah saw sangat adil kepada seluruh
isterinya, tetapi beliau lebih menaruh kecenderungan cintanya kepada ‘Aisyah ra
melebihi isteri-isteri lainnya. Tentang kecenderungan cintanya itu, beliau berdoa
kepada Allah: “Ya Allah, ini adalah bagian yang bisa kumiliki, maka janganlah
menuntut aku terhadap apa yang Engkau miliki dan yang tidak aku miliki”.
Kalangan yang tidak memahami syariat Islam mengklaim bahwa al-Qur’an
melarang poligami dalam dua ayat diatas. Menurut mereka, ayat pertama
membolehkan praktik poligami dengan syarat harus ada keadilan di antara isteri-
isterinya, sedangkan ayat kedua menetapkan bahwa keadilan terhadap isteri

22
Musfir Husain aj-Jahrani, Nazharatun fi Ta’addudi az-Zaujat diterjemahkan Muh. Suten Ritonga,
Poligami Dari Berbagai Persepsi (Cet. II, Jakarta: Gema Insani Press, 1997), 41.
23
Abu Abdillah Musthofa al-Adawi, Ahkam an-Nikah wa az-Zifaf, diterjemahkan Aris Munandar dan
Eko Haryono, Tanya Jawab Masalah Nikah Dari A sampai Z (Cet. I; Yogyakarta: Media Hidayah,
2005), 298.


38
merupakan hal yang mustahil. Dengan demikian, praktik poligami harus memenuhi
persyratan-persyaratan yang mustahil dapat dipenuhi sehingga poligami itu dilarang.
Kita lihat bahwa tuduhan itu tidaklah benar karena alasan-alasan di bawah
ini:
1. Bersikap adil yang disyaratkat pada ayat pertama “...maka kawinilah wanita-
wanita lain yang kamu cintai...” (Q.S an-Nisa: 3) bukanlah adil yang di
tetapkan sebagai mustahil yang tercantum pada ayat kedua: “...sekali-kali
tidak akan dapat berlaku adil diantara isteri-isterimu walaupun kamu sangat
ingin berlaku demikian...” ( Q.S an-Nisa: 129). Adil pada ayat pertama erat
kaitannya dengan masalah fisik (material) yang terasa, seperti papan,
sandang, pangan, giliran bermalam, dan perlakuan. Adapun adil yang
mustahil direalisasikan oleh manusia adalah keadilan yang berkaitan dengan
masalah immaterial, seperti kecintaan dan kecenderungan hati.
2. Tidak masuk akal jika Allah membolehkan praktik poligami kemudian
dikaitkan dengan persyaratan yang mustahil dapat dilakukan manusia. Jika
Allah menghendaki, untuk melarangnya, pasti Dia akan langsung
melarangnya dengan satu ungkapan kita (lafal) yang tercantum dalam satu
ayat.
3. Nash al-Qur’an atas pengharaman menghimpun dua isteri yang bersaudara
kandung, seperti dalam ayat berikut ini, Q.S an-Nisa: 23 :
MΒ¸¯`m ¯Ν6‹=ã ¯Ν3G≈γΒ& ¯Ν3?$Ψ/´ρ ¯Ν6?≡´θz&´ρ ¯Ν3G≈´ϑã´ρ ¯Ν3G≈=≈z´ρ
N$Ψ/´ρ ¸ˆ{# N$Ψ/´ρ ¸Mz{# `Ν6F≈γΒ&´ρ ¸L≈9# ¯Ν3Ψèʯ‘& Ν6?≡´θz&´ρ


39
š∅¸Β ¸πè≈ʯ9# M≈γΒ&´ρ ¯Ν3¸←$¡¸Σ `Ν66¸×‾≈/´‘´ρ ¸L≈9# ’¸û Ν2¸‘θf`m ¸Β
`Ν3¸←$¡¸Σ ¸L≈9# ΟF=zŠ ´¸γ¸/ β¸*ù ¯Ν9 #θΡθ3? ΟF=zŠ ∅¸γ¸/ Ÿξù y$Ψ`_
¯Ν6‹=æ `≅¸×‾≈=m´ρ `Ν6¸←$Ψ¯/& ¸‹9# ¸Β ¯Ν6¸7≈=¹& β&´ρ #θ`èϑf? š /
¸Gz{# āω¸) $Β ‰% #=™ āχ¸) ´!# β%. #´‘θî $ϑŠ¸m¯‘ ∩⊄⊂∪
Artinya: Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang
perempuan saudara-saudaramu yang perempuan, Saudara-saudara
bapakmu yang perempuan; Saudara-saudara ibumu yang
perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang
laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang
perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan
sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang
dalam pemeliharaanmu dari isteri yang Telah kamu campuri, tetapi
jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu
ceraikan), Maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan
diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan
menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang
bersaudara, kecuali yang Telah terjadi pada masa lampau;
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

4. Rasullah saw pernah memerintah para suami yang memiliki isteri lebih dari
empat (diantaranya Qais bin Tsabit beristeri delapan orang dan Naufal bin
Muawiyah beristeri lima orang) untuk menceraikan lebihnya jika praktik
poligami mereka telah keluar dari ketentuan. Hal-hal tersebut merupakan
argumenasi atau dalil yang kuat tentang bolehnya melakukan praktik
poligami.
5. Rasulullah saw pun juga melakukan paktik poligami dan ketika wafat beliau
meninggalkan sembilan orang isteri. Para sahabat dan kaum muslimin pun
melakukan praktik poligami.
24


24
Musfir Husain aj-Jahrani, Op.Cit., 44.


40
Poligami ini juga bukan kewajiban bagi setiap muslim, dalam hal ini sebagian
ulama fuqaha berpendapat bahwa seorang wanita berhak membuat perjanjian dengan
laki-laki yang akan menikahinya bahwa setelah menikah nanti dia tidak akan
dimadu, jika ternyata suami tidak mampu menepati janji, artinya dia ternyata
menikah lagi, isteri berhak mengajukan cerai.
Tidak diragukan bahwa dalam agama Islam menetapkan poligami dengan
kandungan hikmah yang sangat tinggi serta membawa maslahat bagi semua lapisan
masyarakat baik secara langsung ataupun tidak, kemaslahatan tersebut paling tidak,
meliputi tiga hal yaitu:
1. Mengatasi Problem Sosial
Poligami dalam kehidupan masyarakat kita sering dipandang sebagai suatu
problem yang sangat ditakuti kaum wanita. Padahal justru karena tidak
diterapkannya sistem poligami, maka problem terus meningkat dikalangan kaum
wanita. Namun, amat mengherankan karena justru problem ini tidak ditakuti
walaupun telah membuat wanita menderita. Hal itu terjadi karena kurangnya
pemahaman makna dan sasaran poligami serta kurangnya persiapan bagi yang
melakukan poligami. Ada problem sosial yang tidak dapat dipungkiri keberadaannya
sehingga menuntut agar poligami diterapkan dalam kehidupan masyarakat, yaitu:
Berkurangnya kaum pria akibat perang baik sebab politik maupun agama. Di Eropa
telah terjadi dua kali perang dunia yang telah menelan korban mencapai jutaan kaum
pria. Sehingga masyarakat Eropa dipenuhi dengan kaum wanita yang telah
kehilangan suami dan gadis-gadis yang masih menunggu giliran sampai memasuki
usia lanjut. Karena itu, sangat logis jika organisasi wanita di Eropa seperti jerman
menuntut pemerintah setempat agar poligami diperbolehkan bagi setiap laki-laki


41
yang mampu. Atau dengan kata lain, mereka menuntut agar ditetapkan atas setiap
pria berkewajiban memenuhi keperluan wanita lebih dari satu orang karena setiap
seorang laki-laki diperlukan untuk melindungi lebih dari seorang perempuan.
25

2. Mengatasi Problem Pribadi
Poligami sangat berperan dalam mengatasi problem pribadi yang muncul
dengan beberapa sebab seperti isteri mandul, sementara suami mengharapkan untuk
memiliki keturunan, isteri memiliki penyakit yang tidak dapat disembuhkan, suami
yang sering keluar kota atau negeri yang tidak mungkin membawa isteri, dan suami
yang memiliki kekuatan seksual yang tinggi.
Hal ini merupakan pilihan tepat untuk berpoligami dari pada isteri di ceraikan
dan menjadi janda, dalam kondisi seperti inilah yang akan menjadi problem lagi bagi
wanita.
3. Mengatasi Kerusakan Akhlak
Secara umum, laki-laki dan wanita yang berpoligami sesuai dengan syariat
akan diantarkan kepada kehidupan yang istiqamah, dan hidupnya jauh dari kesesatan.
Bagaimanapun, poligami mampu memelihara kebaikan akhlak, memperkuat
hubungan kemasyarakatan, serta menciptakan ketenangan dan keamanan hidup.
Poligami merupakan solusi syariat untuk memelihara manusia agar tidak jatuh
kepada kehidupan yang asusila (melampiaskan hawa nafsunya secara liar).
Allah swt telah mensyariatkan poligami untuk hamba-Nya. Dalam hal ini,
Islam telah mengatur dan membatasi praktik poligami dengan syarat-syarat poligami
dalam tiga faktor berikut ini:
a. Faktor Jumlah

25
Saiful Islam Mubarak, Poligami Antara Pro dan Kontra (Cet. II, Bandung: Syamil, 2007), 20.


42
b. Faktor Nafkah
c. Faktor Keadilan di Antara Para Isteri
a. Faktor Jumlah
Peraturan poligami telah di kenal dan dibolehkan sebelum Islam lahir dan itu
berlaku di kalangan penganut agama-agama lain, seperti Yahudi, Majusi, dan juga
yang lainnya. Agama-agama tersebut membolehkan praktik poligami dengan jumlah
yang tidak terbatas.
Aturan tentang poligami memang sudah dikenal dan berlaku dalam kabilah-
kabilah Arab Jahiliyah tanpa batasan tertentu. Telah dikatakan bahwa ada hadits
yang mengatakan terdapatnya poligami di kalangan orang-orang Arab ketika mereka
memeluk agama Islam dan tanpa pembatasan jumlah. Seperti yang diriwayatkan dari
Ghailan bin Salamah ats Tsaqafi bahwa dirinya memiliki sepuluh orang isteri. Ketika
masuk Islam, Rasulullah saw berkata: “ Pilih empat orang dan ceraikan yang
lainnya”. Dan juga Naufal bin Muawiyah berkata: “Tatkala aku masuk Islam, aku
memiliki lima orang isteri. Rasulullah saw berkata: “Ceraikanlah yang satu dan
pertahankan yang empat”.
Setelah Islam lahir, dasar-dasar dan syarat poligami diatur sedemikian rupa
sehingga jelaslah bahwa jumlah yang di perbolehkan adalah empat orang dan
ditekankan prinsip keadilan di antara para isteri dalam masalah fisik material atau
nafkah bagi isteri dan anak-anaknya.
Pada dasarnya, poligami dibolehkan dalam Islam dan bukan dengan syarat
karena Isteri pertama sakit atau mandul, selama suami mampu memenuhi beban
nafkah kepada isteri dan anak-anaknya.


43
Umar ibnul Khattab telah menawarkan anaknya, hafshah, kepada Abu Bakar
yang telah mempunyai isteri lebih dari seorang dan isteri-isterinya itu tidak dalam
keadaan sakit atau mandul. Namun, Abu Bakar menolak dengan halus tawaran
tersebut, begitu juga dengan Utsman, hingga akhirnya dinikahi oleh Nabi saw.
Dalam hal ini, umat muslim telah sepakat mengatakan bahwa tidak boleh
terjadi poligami untuk lebih dari empat orang wanita walaupun ada beberapa
kalangan ada berbeda, hal ini terkait dengan penafsiran Q.S an-Nisa: 3 tersebut. Dan
terkait pembatasan jumlah hanya empat orang itu, telah terbukti sejak kehidupan
Rasulullah saw sampai dengan sekarang. Adapun mengenai praktik poligami
Rasulullah saw hingga sembilan orang isteri, itu merupakan kekhususan beliau yang
tidak boleh ditiru oleh umatnya.
26

Terkait dengan hikmah yang terkandung dalam pembatasan jumlah empat
orang wanita (tidak kurang dan tidak lebih). Kalangan pakar hanya menduga-duga
penyebab pembatasan jumlah wanita yang boleh dimadu hanya empat orang.
Ada yang berpendapat mungkin disesuaikan dengan adaptasi dari empat
musim, ada yang menyimpulkan jumlah laki-laki satu banding empat, ada yang
berpendapat karena kalangan laki-laki mencoba menghimpun berbagai jenis wanita
pendek, tinggi, kurus, dan gemuk dalam soal bentuk tubuh, ada juga yang karena
menginginkan dari jenis kulit, putih, pirang, hitam manis, dan kuning langsat.
Ada juga berpendapat karena ingin menghimpun wanita yang beragama kuat,
berparas cantik, keturunan bangsawan, dan memiliki harta (empat perkara ini
merupakan hal yang dipandang sebagai pertimbangan laki-laki dalam memilih isteri).
Batasan itupun sesuai dengan situasi bulanan kaum wanita yang meliputi masa haid.

26
Musfir Husain aj-Jahrani, Op.Cit., 54.


44
Jika dia memiliki empat isteri, dia akan mendapati diantara isteri-isterinya satu orang
yang telah suci.
Secara universal, pernyataan tersebut hanyalah intepretasi ijtihadiah dan
pendapat yang bisa benar dan juga bisa tidak. Dan hanya Allah-lah yang Maha Tahu.
b. Faktor Nafkah
Nafkah mencakup makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan alat-alat
rumah tangga yang umum. Laki-laki yang ingin menikah pertama-tama harus mampu
menyediakan biaya untuk menafkahi wanita yang akan dinikahi. Sebagaimana
menurut syariat, jika seorang laki-laki belum memiliki sumber rizki atau penghasilan
untuk menafkahi isteri, dia belum dibolehkan kawin. Hal pertama yang harus
diperhatikan laki-laki dan perempuan dalam berumah tangga adalah pemenuhan
kebutuhan material.
27
Dengan kecukupan materi, maka akan dapat diraih
ketentraman, maka disini letak sasaran nikah mendapat sakinah (ketenangan) karena
terpenuhinya kebutuhan materi.
28

Menurut ijma’, hukum memberi nafkaf itu adalah wajib, sebagaimana wasiat
Nabi pada hajjatul wada’: “Bertakwalah kamu dalam urusan wanita, sesungguhnya
kamu telah mengambil mereka dengan amanah Allah. Dan telah dihalalkan
kepadamu kesucian mereka dengan kalimat Allah. Dan bagimu atas mereka, yaitu
tidak menginjak tempat tidurmu seseorang yang kamu tidak sukai. Jika mereka
berbuat demikian pukullah mereka dengan pukulan yang tidak memberi bekas.

27
Husain Mazhariri, Akhlak dar Khoneh diterjemahkan Abdullah Assegaf, Membangun Surga Dalam
Rumah Tangga (Cet. X, Jakarta: Cahaya, 2006), 247.
28
Umay M. Dja’far Shiddieq, Indahnya Keluarga Sakinah Dalam Naungan al-Qur’an dan as-Sunah
(Cet. I, Jakarta: Zakia Press, 2004), 16.


45
Kewajiban kamu atas mereka bahwa kamu menafkahi mereka dan memberi pakaian
dengan baik”.
Pada hadits yang lain Rasulullah saw ditanya tentang kewajiban nafkah suami
terhadap isterinya, beliau menjawab:
“Beri makan dia jika kamu makan, beri pakaian dia jika kamu berpakaian,
jangan pukul muka (wajah), jangan menjelek-jelekkan dia, dan jangan menjauhi dia
kecuali di dalam rumah”.
29

Dengan demikian, tidak ada ikhtilaf di antara fuqaha tentang kewajiban suami
terhadap isterinya, baik makanan, pakaian, tempat tinggal, dan kebutuhan-kebutuhan
lainnya.
c. Faktor Keadilan di Antara Para Isteri
Dalam Q.S an-Nisa: 3 merupakan dasar keadilan yang harus ditegakkan.
Keadilan yang dimaksud adalah keadilan yang mampu diwujudkan manusia dalam
kehidupan sehari-harinya, yaitu persamaan diantara isteri-isteri dalam urusan
sandang, pangan, rumah tempat tinggal, dan perlakuan yang layak terhadap mereka
masing-masing. Adapun keadilan dalam urusan yang tidak mampu diwujudkan dan
disamakan seperti cinta atau kecenderungan hati, maka suami tidak dituntut
mewujudkannya. Allah swt berfirman dalam surat al-Baqarah: 286:
Ÿω #¸=3`ƒ ´!# $´¡Ρ āω¸) $γè`™`ρ
“Allah tidak memberati seseorang melainkan sesuai dengan
kesanggupannya…”

29
Musfir Husain aj-Jahrani., Op.Cit., 57.


46
Kecintaan terhadap seseorang isteri dan kecenderungan hati padanya
berkenaan dengan surat an-Nisa: 129: “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat
berlaku adil diantara isteri-isterimu walaupun kamu sangat ingin berbuat
demikian…”.
Adil yang dituntut pada ayat pertama mencakup adil dalam hal-hal yang
berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan yang bersifat dzahir atau nyata.
Rasulullah saw adalah orang yang paling mengetahui tentang agama dan
paling berhasrat melaksanakan keadilan diantara isteri-isterinya, dimana beliau
pernah berdoa: “Ya, Allah bagian yang aku miliki dan janganlah Engkau
menyalahkan aku dalam hal yang tidak aku miliki”, karena beliau lebih mencintai
Aisyah daripada isteri-isterinya yang lain. Allah swt mengingatkan kita agar hati dan
kecintaan kita tidak terlalu cenderung kepada salah seorang isteri sementara yang
lain dilupakan dan ditelantarkan.
Apabila seorang muslim ingin berpoligami, sedangkan dia yakin bahwa
dirinya tidak mampu menerapkan keadilan diantara isteri-isterinya dalam masalah
kebutuhan materi, maka itu adalah dosa di sisi Allah, dan wajib baginya untuk tidak
kawin lebih dari seorang isteri. Rasulullah bersabda: “Apabila ada seorang laki-laki
mempunyai dua orang isteri dan tidak berlaku adil diantara keduanya, maka dia akan
datang pada hari kiamat dengan badannya miring”.
Masalah yang berkaitan dengan bermalamnya seorang suami dengan isteri-
isterinya harus jelas, sehingga dari situ akan terdapat jadwal kapan seorang suami
berada di rumah isteri yang satu jika dia memiliki rumah atau di kamar yang khusus.
Pembagian jadwal yang jelas seperti itu harus sama bagi isteri yang sehat, sakit, haid,
atau nifas, karena yang di maksud dengan bermalam beramanya (suami-isteri) itu


47
adalah hiburan dan kesenangan bagi isteri karena seorang suami terhibur oleh
isterinya meskipun tanpa bersetubuh, tetapi juga dengan saling memandang,
berbincang-bincang, pegang memegang, berciuman dan lain sebagainya. Karena hal
tersebut sebagai bentuk adil dalam melayani isteri, baik itu urusan nafkah, tempat
tinggal, pakaian, giliran dan segala hal yang bersifat lahiriah.
30

Penyamarataan dalam hubungan jima’ antara isteri yang satu dengan isteri
yang lain tidaklah wajib atas suami. Penyamarataan dalam jima’ sebaiknya satu hari
satu malam untuk setiap isteri. Boleh juga dilakukan pembagian dengan dua malam
atau tiga malam. Dalam hal ini, menginapnya seorang suami di tempat seorang isteri
tidak boleh lebih dari tiga malam kecuali atas kesepakatan isteri-isteri lainnya.
Jika suatu waktu suami bepergian dan dia memerlukan di temani salah
seorang dari isteri-isterinya, dia berhak untuk memilih salah satu diantara mereka.
Apabila hal itu di tolak oleh isteri-isteri yang lain dan menimbulkan sengketa,
hendaknya suami mengundi di antara mereka untuk menentukan siapa yang akan
menemaninya. Hal seperti itu juga dilakukan oleh Rasulullah saw yaitu dengan cara
undian untuk menemaninya dalam perjalanan. Di dalam sebuah hadits yang
diriwayatkan oleh Aisyah ra dikatakan: “Bahwasanya Nabi saw bila ingin bepergian,
beliau mengundi di antara para isterinya. Siapa yang terpilih dalam undian itu, dialah
yang akan menemani Nabi saw” (HR. Abu Daud).
Jika seorang suami menikah dengan seorang janda, dia di haruskan tinggal
(tidur bersama) isterinya itu selama tiga hari dan jika mengawini seorang gadis
(perawan), dia harus tinggal bersamanya selama tujuh hari. Dalam hal ini, isteri-isteri
yang lama tidak berhak menuntut diperlakukan seperti isteri yang baru (muda).

30
Abd. Rahman Ghazaly, Fiqh Munakahat (Cet. II, Jakarta: Kencana, 2006), 129.


48
Demikian ketiga syarat yang ditetapkan syariat Islam dalam hal berpoligami.
Dan juga tidak boleh memadu dua orang yang mahram, yaitu mengawini dua orang
kakak beradik sebagaimana ketetapan dalam kitab Allah swt. Tujuan diharamkannya
menghimpun dua orang bersaudara dalam poligami adalah untuk menjaga hubungan
cinta dan kasih saying diantara anggota keluarga muslim. Bagaimanapun, setiap
isteri senantiasa mengusahakan agar kebaikan suaminya hanya terlimpah kepadanya
sehingga akan tumbuh kebencian dan kecemburuan jika suaminya memberikan
sesuatu kepada orang tua, kakak atau adiknya. Karena itulah Allah melarang para
laki-laki memadu dua wanita kakak beradik. Jika hal itu dilanggar, para isteri akan
saling menghalangi dalam memperoleh kebaikan suami sehingga terputuslah
hubungan cinta dan kasih saying antara mereka yang bersaudara kandung, atau
paling tidak muncul kecemburuan dan persengketaan di antara mereka.
31

Ada beberapa adab yang perlu di pelihara seorang suami dalam bergaul
dengan isteri-isterinya, yaitu antara lain:
1. Persamaan sikap dalam pergaulan sehari-hari.
2. Tidak membeberkan apa yang terjadi antara dia dan salah seorang dari
isterinya di hadapan isteri-isterinya yang lain, termasuk hubungan intim
suami isteri.
3. Jangan menyebut kekurangan atau memuji (yang berlebihan) isteri-isteri
yang lain. Menyebutkan kekurangan akan menyebabkan dia merasa di
hina dan memuji-muji menyebabkan mereka dengki kepadanya.
4. Seorang suami harus memelihara hubungan antaristeri sehingga tidak
terjadi seorang isteri membicarakan kejelekan atau kekurangan isteri yang

31
Musfir Husain aj-Jahrani., Op.Cit., 63.


49
lain di hadapannya. Jika hal tersebut terjadi, dia harus menasehatinya dan
menyebutkan kebaikan isteri yang di bicarakan kejelekannya, khususnya
jika isteri yang bersangkutan tidak hadir.
5. Seorang suami hendaknya mengantisipasi dengan baik ungkapan isteri
yang keliru dan di dorong oleh perasaan cemburu, baik diarahkan
kepadanya atau kepada salah seorang dari isteri-isterinya yang lain
tersebut.

C. Poligami dalam Al-Qur’an dan Hadits
1. Q.S an-Nisa: 3
β¸)´ρ Λ¸z āω& #θܸ¡)? ’¸û ‘´Κ≈G´‹9# #θs¸3Ρ$ù $Β ´>$Û Ν39 ´¸Β ¸$¡¸Ψ9# _WΒ ]≈=O´ρ
ì≈/'‘´ρ β¸*ù `ΟF¸z āω& #θ9¸‰è? ο‰¸n≡´θù ρ& $Β M3=Β ¯Ν3`Ψ≈ϑƒ& 7¸9≡Œ ´’ΤŠ& āω& #θ9θ`è?
Artinya: Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak)
perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah
wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian
jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang
saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih
dekat kepada tidak berbuat aniaya.
Dari ayat ini apabila dibaca secara harfiah, sangat jelas bahwa ada tekanan
lebih pada perlakuan adil. Dan seharusnya ini tidak ditentukan oleh si suami
sendirian apakah dia bisa memperlakukan para isterinya dengan adil atau tidak.
32

2. Q.S an-Nisa: 127

32
Abu Fikri, Poligami yang tak Melukai Hati (Cet. I, Bandung: Mizan, 2007), 84.


50
7ΡθGG`¡„´ρ ’¸û ¸$¡¸Ψ9# ¸≅% ´!# ¯Ν6‹¸G`ƒ ´¸γŠ¸ù $Β´ρ ‘=F`ƒ ¯Ν6‹=æ ’¸û ¸=≈G¸39# ’¸û
‘ϑ≈Gƒ ¸$¡¸Ψ9# ¸L≈9# Ÿω ´γΡθ?σ? $Β =¸G. ´γ9 βθ6?´ ρ β& ´δθs¸3Ζ?
¸èÒF`¡ϑ9#´ρ š∅¸Β ¸β≡$!¸θ9# χ&´ρ #θ`Βθ)? ’ϑ≈F´‹=¸9 ¸Ý`¡¸)9$¸/ $Β´ρ #θ=è? ¸Β ¸Ž¯z
β¸*ù ´!# β%. ¸µ¸/ $ϑŠ¸=ã ∩⊇⊄∠∪
Artinya: Dan mereka minta fatwa kepadamu tentang para wanita. Katakanlah: "Allah
memberi fatwa kepadamu tentang mereka, dan apa yang dibacakan
kepadamu dalam Al Quran (juga memfatwakan) tentang para wanita yatim
yang kamu tidak memberikan kepada mereka apa yang ditetapkan untuk
mereka, sedang kamu ingin mengawini mereka dan tentang anak-anak yang
masih dipandang lemah. dan (Allah menyuruh kamu) supaya kamu
mengurus anak-anak yatim secara adil. dan kebajikan apa saja yang kamu
kerjakan, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahuinya.

3. Q.S an-Nisa: 129
9´ρ #θ`苸ÜF`¡@ β& #θ9¸‰è? / ¸$¡¸Ψ9# ¯θ9´ρ ¯ΝF¹m Ÿξù #θ=Š¸ϑ? ≅2 ¸≅Šϑ9#
$δρ'‘‹Gù ¸π)‾=èϑ9$. β¸)´ρ #θs¸=`Á? #θ)−G?´ρ χ¸*ù ´!# β%. #´‘θî $ϑŠ¸m¯‘ ∩⊇⊄∪
Artinya: Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-
isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, Karena itu
janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga
kamu biarkan yang lain terkatung-katung. dan jika kamu mengadakan
perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), Maka Sesungguhnya
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Asbabun Nuzul (sebab turunnya) Q.S an-Nisa: 127
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ada seorang laki-laki, ahli waris
dan wali seorang putri yatim, menggabungkan seluruh harta si yatim itu dengan
hartanya, sampai pada barang yang sekecil-kecilnya. Bahkan sampai-sampai ia mau
menikahinya dan tidak mau menikahkannya dengan orang lain, karena takut harta


51
bendanya terlepas dari tangannya. Wanita yatim itu dilarang menikah sama sekali.
Maka turunlah ayat ini (Q.S an-Nisa: 127) yang menjelaskan bagaimana seharusnya
mengurus anak yatim. Diriwayatkan oleh Bukhari yang bersumber dari Aisyah.
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa Jabir mempunyai saudara misan
wanita yang rupanya jelek, tapi mempunyai harta warisan dari ayahnya. Jabir sendiri
enggan menikahinya dan juga tidak mau menikahkannya kepada orang lain, karena
takut harta bendanya lepas dari tangannya, dibawa oleh suaminya. Ia bertanya
kepada Rasulullah saw, lalu turunlah ayat ini (Q.S an-Nisa: 127) sebagai pedoman
bagi mereka yang mengurus anak yatim. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang
bersumber dari as-Suddi.
33

Adapun penjelasan tentang surat an-Nisa: 3 terdapat dalam kitab Shahih
Bukhari pada Bab 18: Firman Allah ’Azza wa Jalla: ”Dan jika kamu khawatir tidak
dapat berlaku adil terhadap anak-anak yatim...” (Q.S an-Nisa: 3).

Diriwayatkan dari ’Aisyah ra bahwa dia ditanya oleh Urwah mengenai firman
Allah swt: ”Dan jika kamu khawatir tidak dapat berlaku adil terhadap anak-anak
yatim...” (Q.S an-Nisa: 3). Kemudian ’Aisyah menyatakan kepada Urwah: ”Wahai

33
Asbabun Nuzul, Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-Ayat Al-qur’an, (edisi kedua Cet. VIII,
Bandung: Diponegoro, 2006), 173.


52
putra saudara perempuanku! Anak perempuan yatim yang dimaksud dalam ayat
tersebut berada dalam asuhan walinya yang mengurus hartanya, kemudian wali
tersebut terpikat oleh harta dan kecantikan anak yatim itu sehingga dia ingin
mengawininya tanpa berlaku adil dalam memberikan maskawin, yakni hanya
memberinya maskawin sebanding dengan apa yang diberikan kepadanya oleh laki-
laki lain. Dengan adanya kasus tersebut maka wali yang mengasuh perempuan yatim
dilarang mengawininya kecuali jika bisa berlaku adil dan memberinya maskawin
lebih tinggi dari pada apa yang diberikan oleh laki-laki lain pada umumnya. Para
wali yatim tersebut diperintahkan menikahi perempuan-perempuan lain yang baik
bagi mereka (jika mereka khawatir tidak dapat berlaku adil terhadap anak-anak yatim
yang ada dalam perwalian mereka)”. ’Aisyah ra melanjutkan: Sesudah ayat ini,
orang-orang meminta fatwa kepada Rasulullah saw., maka Allah menurunkan ayat
lagi (yang artinya): ”Mereka meminta fatwa kepadamu mengenai para wanita”. (Q.S
an-Nisa: 127). Adapun lanjutan ayat (yang artinya): ”...sedangkan kamu ingin
mengawini mereka...” (Q.S an-Nisa: 127) adalah karena kebiasaan wali yang tidak
suka mengawini perempuan yatim dalam perwaliannya yang hartanya hanya sedikit
dan tidak seberapa cantik. Dengan demikian, mereka para wali yang mengurus
perempuan-perempuan yatim yang menyukai harta dan kecantikan mereka di larang
menikahi mereka kecuali dengan adil, karena seandainya yatim-yatim tersebut hanya
berharta sedikit dan tidak cantik tentu wali-wali mereka tidak ingin menikahi
mereka. (HR. Bukhari).
34

Hadits tentang mengundi isteri mana yang akan di ajak pergi

34
Imam az-Zabidi, Mukhtashar Shahih al-Bukhari diterjemahkan Achmad Zaidun, Ringkasan Hadits
Shahih al-Bukhari (Cet. I, Jakarta: Pustaka Amani, 2002), 849.


53

”Diriwayatkan dari Aisyah ra bahwa apabila Nabi saw akan bepergian jauh,
beliau mengundi isteri-isterinya (untuk menentukan isteri yang mana yang akan
diajak pergi). Suatu ketika undian jatuh kepada Aisyah dan Hafshah. Pada malam
hari biasanya Rasulullah saw berjalan bersama Aisyah dan bercakap-cakap
dengannya. Hafshah berkata kepada Aisyah: ” Ayo kita coba, nanti malam kamu
menaiki ontaku dan aku menaiki ontamu, kemudian kita lihat nanti, apa yang akan
terjadi dengan Nabi saw”. Aisyah mengatakan: ”Ya”. Maka Hafshah menaiki onta
Aisyah, lalu pada malam itu Nabi saw mendekati onta Aisyah yang dinaiki oleh
Hafshah lalu beliau mengucapkan salam kepada Aisyah (Nabi saw mengira bahwa
Aisyah berada diatas ontanya sendiri). Nabi saw terus berjalan di samping onta
Aisyah tersebut sehingga mereka semua turun, sementara Aisyah sendiri tertinggal.
Ketika semua orang turun, kaki Aisyah terjepit kayu idzkhir dan berkata: ”Ya Tuhan!
Perintahkan kalajengking atau ular menggigitku, karena aku tidak kuasa mengatakan
sesuatu kepada Nabi saw”.
35
(H.R Bukhari).

D. Poligami dalam Hukum yang Berlaku di Indonesia
Poligami merupakan salah satu persoalan dalam perkawinan yang paling
banyak dibicarakan sekaligus kontroversial. Satu sisi poligami ditolak dengan

35
Imam az-Zabidi, Ibid, 920.


54
berbagai macam argumenasi baik yang bersifat normatif, psikologis bahkan selalu
dikaitkan dengan ketidakadilan jender. Pada sisi yang lain, poligami dikampanyekan
dianggap memiliki sandaran normatif yang tegas dan dipandang sebagai salah satu
alternatif untuk menyelesaikan fenomena selingkuh dan prostitusi.
a. Poligami dalam Perspektif UU No. 1 tahun 1974
Kendatipun Undang-undang perkawinan menganut asas monogami seperti
yang terdapat didalam pasal 3 ayat 1 yang menyatakan, Pada dasarnya dalam suatu
perkawinan seorang pria hanya boleh mempunyai seorang isteri. Seorang wanita
hanya boleh mempunyai seorang suami.
36
Namun pada bagian yang lain dinyatakan
bahwa dalam keadaan tertentu poligami dibenarkan. Seperti yang tercantum dalam
UU No 1 tahun 1974 pada pasal 3 ayat 2 yang berbunyi, Pengadilan dapat memberi
izin kepada seorang suami untuk beristeri lebih dari seorang apabila dikehendaki
oleh pihak-pihak yang bersangkutan.
37
Kebolehan poligami di dalam undang-undang
perkawinan sebenarnya hanyalah pengecualian dan untuk itu pasal-pasalnya
mencamtumkan alasan-alasan yang membolehkan poligami tersebut.
Dalam pasal 4 pada ayat 2 Undang-undang perkawinan dinyatakan; seorang
suami yang akan beristeri lebih dari seorang apabila:
a. Isteri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai isteri.
b. Isteri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan.
c. Isteri tidak dapat melahirkan keturunan.
Tampaknya alasan-alasan ini bernuansa fisik kecuali alasan nomor tiga,
terkesan karena suami tidak memperoleh kepuasan yang maksimal dari isterinya,

36
UU No.1 tahun 1974, Lembaran Negara RI tahun 1974 nomor 1.
37
UU No.1 tahun 1974, Ibid.


55
maka alternatifnya adalah poligami. Namun demikian ternyata undang-undang
perkawinan juga memuat syarat-syarat untuk kebolehan poligami. Seperti yang
termuat dalam pasal 5 ayat 1 undang-undang perkawinan, syarat-syarat yang
dipenuhi bagi seorang suami yang ingin melakukan poligami ialah:
1. Adanya persetujuan dari isteri/isteri-isteri;
2. Adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan hidup isteri-
isteri dan anak-anak mereka;
3. Adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap isteri dan anak-
anak mereka.
Untuk membedakan persyaratan yang ada dalam pasal 4 dan 5 adalah pasal 4
disebut dengan persyaratan alternatif yang artinya salah satu harus ada untuk dapat
mengajukan permohonan poligami. Sedangkan pasal 5 adalah Persyaratan kumulatif
dimana seluruhnya harus dapat dipenuhi suami yang akan melakukan poligami.
38

Ketentuan syarat-syarat bersifat kumulatif tersebut dalam arti bahwa kesemua syarat
yang tersebut harus terpenuhi dan dibuktikan dengan persetujuan tertulis untuk
diperbolehkannya berpoligami.
39

Terkait dengan prosedur melaksanakan poligami, aturannya dapat dilihat
didalam PP No.9/1975. pada pasal 40 dinyatakan:
Apabila seorang suami bermaksud untuk beristeri lebih dari seorang, maka ia
wajib mengajukan permohonan secara tertulis kepada pengadilan.

38
Amiur Nuruddin dan Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam diIndonesia, Studi Kritis
Perkembangan Hukum Islam dan Fikih, UU No.1/1974 sampai KHI (Jakarta: Prenada Media, 2004),
164.
39
N. Rosyidah Rakhmawati, Poligami diIndonesia dilihat dari Aspek Yuridis Normatif editor
Rochayah Machali, Wacana Poligami diIndonesia (Cet. I, Bandung: Mizan, 2005), 30.


56
Sedangkan tugas pengadilan di atur di dalam pasal 41 PP N0. 9 tahun 1975
yang berbunyi sebagai berikut:
Pengadilan kemudian memeriksa mengenai:
a. ada atau tidaknya alasan yang memungkinkan seseorang suami kawin
lagi.
b. Ada atau tidaknya adanya persetujuan dari isteri, baik persetujuan lisan
maupun tertulis, apabila persetujuan itu merupakan persetujuan lisan,
persetujuan itu harus diucapkan di depan sidang pengadilan.
c. Ada atau tidaknya adanya kemampuan suami untuk menjamin keperluan
hidup isteri-isteri dan anak-anak, dengan memperlihatkan:
i. Surat keterangan mengenai penghasilan suami yang ditandatangani
oleh bendahara tempat bekerja; atau
ii. Surat keterangan pajak penghasilan; atau
iii. Surat keterangan lain yang dapat di terima oleh pengadilan
d. Ada atau tidaknya adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil
terhadap isteri-isteri dan anak-anak mereka dengan pernyataan atau janji
dari suami yang dibuat dalam bentuk yang di tetapkan untuk itu.
Berikutnya pada pasal 42 juga dijelaskan keharusan pengadilan untuk
memanggil para isteri untuk memberikan penjelasan atau kesaksian. Di dalam pasal
ini juga dijelaskan, bahwa pengadilan diberi waktu selama 30 hari untuk memeriksa
permohonan poligami setelah diajukan oleh suami lengkap dengan persyaratannya.
Pengadilan Agama memiliki wewenang untuk memberi izin kepada
seseorang untuk melakukan poligami. Hal ini dinyatakan di dalam pasal 43 yang
berbunyi:


57
Apabila Pengadilan berpendapat bahwa cukup alasan bagi pemohon untuk
beristeri lebih dari seorang, maka pengadilan memberikan putusannya yang
berupa izin untuk beristeri lebih dari seorang.
Izin Pengadilan Agama tampaknya menjadi sangat menentukan, sehingga
didalam pasal 44 dijelaskan bahwa Pegawai Pencatat di larang untuk melakukan
pencatatan perkawinan seorang suami yang akan beristeri lebih dari seorang sebelum
adanya izin Pengadilan.

b. Poligami dalam Perspektif Kompilasi Hukum Islam (KHI)
Sementara itu, masalah poligami juga diatur dalam Kompilasi Hukum Islam
(KHI). Secara umum, peraturan mengenai poligami dalam KHI dapat dibedakan
menjadi dua: pengaturan mengenai proses poligami dan pengaturan mengenai syarat-
syarat poligami.
40
Kompilasi Hukum Islam (KHI) memuat masalah poligami ini pada
bagian IX dengan judul, Beristeri lebih dari satu orang yang diungkapkan dari pasal
55 sampai pasal 59. pada pasal 55 dinyatakan:
1. beristeri lebih dari satu orang pada waktu bersamaan, terbatas hanya
sampai empat orang isteri.
2. Syarat utama beristeri lebih dari satu orang, suami harus mampu
berlaku adil terhadap isteri-isteri dan anak-anaknya.
3. Apabila Syarat utama yang disebut pada ayat (2) tidak mungkin
dipenuhi, suami dilarang beristeri lebih dari satu orang.
Lebih lanjut dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) pada pasal 56 di jelaskan:

40
Jaih Mubarok, Modernisasi Hukum Perkawinan di Indonesia (Cet. I, Bandung: Pustaka Bani
Quraisy, 2005), 129.


58
1. Suami yang hendak beristeri lebih dari satu orang harus mendapat izin
dari Pengadilan Agama.
2. Pengajuan permohonan izin dimaksudkan pada ayat 1 dilakukan
menurut tata cara sebagaimana diatur dalam Bab VII PP No.9 tahun
1975.
3. Perkawinan yang di lakukan dengan isteri kedua, ketiga atau keempat
tanpa izin dari Pengadilan Agama, tidak mempunyai kekuatan hukum.
41


Terkait dengan prosedur poligami. Pada pasal 57 di jelaskan:
Pengadilan Agama hanya memberi izin kepada suami yang akan beristeri
lebih dari seorang apabila:
a. Isteri tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai isteri.
b. Isteri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat di sembuhkan.
c. Isteri tidak dapat melahirkan keturunan.
Selain syarat-syarat yang telah di terangkan di atas, terdapat syarat-syarat lain
juga yang harus dipenuhi oleh suami yang akan melakukan pernikahan poligami atau
beristeri lebih dari seorang. Seperti yang di jelaskan pada pasal 58 Kompilasi Hukum
Islam (KHI), yang berbunyi:
1. Selain syarat utama yang di sebut pada pasal 55 ayat 2 maka untuk
memperoleh izin Pengadilan Agama, harus pula dipenuhi syarat-syarat
yang ditentukan pada pasal 5 undang-undang No.1 tahun 1974, yaitu:
a. adanya persetujuan isteri;

41
Zainuddin Ali, Hukum Perdata Islam diIndonesia (Cet. I, Jakarta: Sinar Grafika, 2006), 48.


59
b. adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan hidup
isteri-isteri dan anak-anak mereka.
2. Dengan tidak mengurangi ketentuan pasal 41 huruf b Peraturan
Pemerintah No.9 tahun 1975, persetujuan isteri atau isteri-isteri dapat
diberikan secara tertulis atau dengan lisan, tetapi sekalipun telah ada
persetujuan tertulis, persetujuan ini dipertegas dengan persetujuan lisan
isteri pada siding Pengadilan Agama.
3. Persetujuan dimaksud pada ayat 1 huruf a tidak diperlukan bagi seorang
suami apabila isteri atau isteri-isterinya tidak mungkin dimintai
persetujuannya dan tidak dapat menjadi pihak dalam perjanjian atau
apabila tidak ada kabar dari isteri atau isteri-isterinya sekurang-kurangnya
2 (dua) tahun atau karena sebab lain yang perlu mendapat penilaian
Hakim.
Selanjutnya pada pasal 59 Kompilasi Hukum Islam (KHI) juga digambarkan
betapa besarnya wewenang Pengadilan Agama dalam memberikan persetujuan
kepada suaminya untuk berpoligami, persetujuan itu dapat diambil alih oleh
Pengadilan Agama. Lebih lengkapnya bunyi pasal tersebut sebagai berikut:
Dalam hal isteri tidak mau memberikan persetujuan, dan permohonan izin
untuk beristeri lebih dari satu orang berdasarkan atas salah satu alasan yang
diatur dalam pasal 55 ayat (2) dan 57, Pengadilan Agama dapat menetapkan
tentang pemberian izin setelah memeriksa dan mendengar isteri yang


60
bersangkutan di persidangan Pengadilan Agama, dan terhadap penetapan ini
isteri atau suami dapat mengajukan banding atau kasasi.
42

Demikianlah penjelasan tentang poligami bila di tinjau dari sudut pandang
atau dari perspektif perundang-undangan yang berlaku di Negara Republik
Indonesia. Bila kita melihat dari pemaparan penjelasan di atas, maka perundang-
undangan di Indonesia juga mengatur terkait dengan masalah poligami, hal ini
tertuang pada Undang-undang Perkawinan No.1 tahun 1974 , Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia No. 9 tahun 1975 tentang pelaksanaan Undang-undang Nomor 1
tahun 1974 tentang perkawinan, maupun juga terdapat dalam Kompilasi Hukum
Islam (KHI).










42
Inpres RI Nomor 1 tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam.


61



BAB III
POLIGAMI DALAM PERSPEKTIF MUHAMMAD QURAISH SHIHAB

A. Biografi Muhammad Quraish Shihab
Muhammad Quraish Shihab, dilahirkan di Rappang, Sulawesi Selatan, 16
Februari 1944. Ia merupakan ulama dan cendekiawan muslim Indonesia yang dikenal
sebagai ahli dalam bidang tafsir al-Qur’an.
Ayah Quraish Shihab, adalah Prof. KH Abdurrahman Shihab, seorang ulama
dan guru besar dalam bidang tafsir. Abdurrahman Shihab dipandang sebagai salah
seorang tokoh pendidik yang memiliki reputasi yang baik dikalangan masyarakat
Sulawesi Selatan. Kontribusinya dalam dunia pendidikan terbukti dari usahanya
membina dua perguruan tinggi di Ujungpandang, yaitu Universitas Muslim
Indonesia (UMI), sebuah perguruan tinggi swasta terbesar dikawasan Indonesia
bagian timur, dan IAIN Alauddin Ujungpandang. Ia juga tercatat sebagai mantan
rector pada kedua perguruan tinggi tersebut: UMI 1959-1965 dan IAIN 1972-1977.
Sebagai putra dari seorang guru besar, Quraish Shihab mendapatkan motivasi
awal dan benih kecintaan terhadap bidang studi tafsir dari ayahnya yang sering


62
mengajak anak-anaknya duduk bersama. Pada saat-saat seperti inilah sang ayah
menyampaikan nasehatnya yang kebanyakan berupa ayat-ayat al-Qur’an.
Pendidikan formalnya dimulai dari sekolah dasar di Ujungpandang. Setelah
itu ia melanjutkan kesekolah lanjutan tingkat pertama di kota Malang sambil
“nyantri” di Pondok Pesantren Darul Hadits al-Falaqiyah di kota yang sama. Untuk
lebih mendalami studi keislamannya, Quraish Shihab dikirim oleh ayahnya ke al-
Azhar, Cairo, pada tahun 1958 dan diterima di kelas dua tsanawiyah. Setelah itu, ia
melanjutkan studinya ke Universitas al-Azhar pada fakultas Ushuluddin, Jurusan
Tafsir dan Hadits. Pada tahun 1967 ia meraih gelar LC (setingkat sarjana S1). Dua
tahun kemudian (1969), Quraish Shihab berhasil meraih gelar M.A pada jurusan
yang sama dengan thesis berjudul “al-I’jaz at-tasyri’I li al-Qur’an al-Karim”
(kemukjizatan al-Qur’an al-Karim dari segi hukum).
Pada tahun 1973 ia di panggil pulang oleh ayahnya yang ketika itu menjabat
rector, untuk membantu mengelola pendidikan di IAIN Alauddin. Ia menjadi wakil
rector bidang akademis dan kemahasiswaan sampai tahun 1980. Di samping
menduduki jabatan resmi itu, ia juga sering mewakili ayahnya yang uzur karena usia
dalam menjalankan tugas-tugas pokok tertentu. Berturut-turut setelah itu, Quraish
Shihab diserahi berbagai jabatan, seperti koordinator Perguruan Tinggi Swasta
Wilayah VII Indonesia bagian timur, pembantu pimpinan kepolisian Indonesia timur
dalam bidang pembinaan mental, dan sederetan jabatan lainnya diluar kampus.
Dicelah-celah kesibukannya ia masih sempat merampungkan beberapa tugas
penelitian, antara lain “Penerapan Kerukunan Hidup Beragama di Indonesia Timur
(1975)” dan “Masalah Wakaf Sulawesi Selatan (1978)”.


63
Untuk mewujudkan cita-citanya mendalami studi tafsir, pada tahun 1980,
Quraish Shihab kembali lagi menuntut ilmu ke almamaternya, al-Azhar, mengambil
spesialisasi dalam studi tafsir al-Qur’an. Ia hanya memerlukan waktu dua tahun
untuk meraih gelar doktor dalam bidang ini. Disertasinya yang berjudul “Najm ad-
Durar li al-Biqaa’i Tahqiq wa Diraasah (suatu kajian terhadap kitab Nazm ad-Durar
[rangkaian mutiara] karya sl-Biqa’i) berhasil dipertahankannya dengan predikat
summa cum laude dengan penghargaan Mumtaz ma’a martabah asy-syaraf al-ula
(sarjana teladan dengan prestasi istimewa).
Setelah pulang ke tanah air, Quraish Shihab kembali mengabdi di tempat
tugasnya semula, IAIN Alauddin di Ujungpandang. Namun, dua tahun kemudian
(1984) ia ditarik ke Jakarta sebagai dosen pada fakultas Ushuluddin dan Fakultas
Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah.
Karena keahliannya dalam bidang kajian al-Qur’an, Quraish tidak
memerlukan waktu lama untuk dikenal dikalangan masyarakat intelektual Indonesia.
Dalam waktu singkat ia segera dilibatkan dalam berbagai forum tingkat nasional,
antara lain menjadi wakil ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia, sejak 1984), anggota
Lajnah Pentashih al-Qur’an Departemen Agama (sejak 1989), dan anggota Badan
Pertimbangan Pendidikan nasional (sejak 1989). Selain itu, ia juga aktif diberbagai
organisasi lain seperti Organisasi Perhimpunan Ilmu-Ilmu Syariat, Konsorsium Ilmu-
Ilmu Agama Depdikbud, dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Di
samping itu ia tetap memberikan ceramah keagamaan dalam berbagai forum dan
menghadiri berbagai kegiatan ilmiah, baik di dalam maupun di luar negeri. Sejak
tahun 1993 pemerintah mempercayainya untuk mengemban tugas sebagai rektor
IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selain itu ia juga menjadi direktur Pendidikan


64
Kader Ulama (PKU) yang merupakan salah satu usaha MUI untuk membina kader-
kader ulama di tanah air. Dan Menteri Agama Kabinet Pembangunan VII (1998).
Dalam bidang intelektual kontribusinya terbukti dari beberapa karya tulisnya.
Karyanya berupa artikel singkat muncul secara rutin pada rubrik “Pelita Hati” dalam
surat kabar Pelita dan pada rubrik “Hikmah” dalam surat kabar Republika. Adapun
yang berupa uraian tafsir muncul pada rubrik “Tafsir al-amanah” dalam majalah
Amanah yang kemudian dikompilasikan dan diterbitkan menjadi buku dengan judul
Tafsir al-Amanah jilid I. Sejumlah makalah dan ceramah tertulisnya sejak tahun
1975 dikumpulkan dan diterbitkan dalam bentuk dua buah buku oleh penerbit Mizan
dengan judul “Membumikan” al-Qur’an (1992) dan Lentera Hati (1994). Karya
lainnya adalah Tafsir al-Manar, Keistimewaan dan Kelemahannya (Ujungpandang,
IAIN Alauddin, 1984), Filsafat Hukum Islam (Jakarta, Departemen Agama, 1987),
dan Mahkota Tuntunan Ilahi (Tafsir al-Fatihah) (Jakarta, Untagma, 1988.
43
Dan
adapun dari karya ilmiahnya yang berbentuk buku adalah Tafsir Al-Mishbah, Pesan,
Kesan Dan Keserasian Al-qur’an sebanyak 15 vol (Lentera hati, 2002), Wawasan Al-
Qur’an: Tafsir Maudhu’i Atas Pelbagai Persoalan Umat (Mizan, 1996), Perempuan
Dari Cinta Sampai Seks Dari Nikah Mut’ah Sampai Nikah Sunnah Dari Bias Lama
Sampai Bias Baru (Lentera Hati, 2005), Pengantin al-Qur’an, Kalung Permata Buat
Anak-Anakku (Lentera Hati, 2007). Dan lain sebagainya yang belum tertuang dalam
tulisan ini.

B. Poligami Menurut Muhammad Quraish Shihab

43
Hasan Muarif Ambary (et al), Ensiklopedi Islam, (Cet. V, Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve,
2000), 112.


65
Poligami sudah dikenal umat manusia sejak dahulu, bahkan juga dikenal oleh
agama-agama sebelum Islam, seperti yang terdapat dalam perjanjian lama yang
membenarkan adanya poligami.
Agama Islam membenarkan poligami berdasarkan firman Allah dalam Q.S
An-Nisa ayat 3 yang menyatakan:
β¸)´ρ Λ¸z āω& #θܸ¡)? ’¸û ‘´Κ≈G´‹9# #θs¸3Ρ$ù $Β ´>$Û Ν39 ´¸Β ¸$¡¸Ψ9# _WΒ ]≈=O´ρ
ì≈/'‘´ρ β¸*ù `ΟF¸z āω& #θ9¸‰è? ο‰¸n≡´θù ρ& $Β M3=Β ¯Ν3`Ψ≈ϑƒ& 7¸9≡Œ ´’ΤŠ& āω& #θ9θ`è?
Artinya: Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak)
perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah
wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian
jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang
saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih
dekat kepada tidak berbuat aniaya.

Ayat di atas, yang berbicara tentang bolehnya berpoligami, turun berkaitan
dengan sikap sementara pemelihara anak yatim perempuan yang bermaksud
menikahi mereka karena harta mereka, tetapi enggan berlaku adil. Ada beberapa hal
yang perlu digaris bawahi pada ayat diatas.
44

1. Ayat diatas ditujukan kepada pemelihara anak-anak yatim yang hendak menikahi
mereka tanpa berlaku “adil”. Secara redaksional, orang boleh jadi berkata, jika
demikian, izin berpoligami hanya diberikan kepada para pemelihara anak-anak
yatim, bukan kepada setiap orang. Kendati konteksnya demikian, karena
redaksinya bersifat umum, dan karena kenyataannya sejak masa nabi Muhammad
saw dan sahabat beliau menunjukkan bahwa yang tidak memelihara anak yatim

44
M. Quraish Shihab, Perempuan Dari Cinta Samapi Seks, Dari Nikah Mut’ah sampai Nikah Sunah,
Dari Bias Lama Sampai Bias Baru (Cet. III, Jakarta: Lentera Hati, 2006),162.


66
pun berpoligami, dan itu terjadi sepengetahuan Rasulullah saw, maka tidaklah
tepat menjadikan ayat diatas hanya terbatas kepada para pemelihara anak-anak
yatim.
2. kata “khiftum” yang biasa diartikan takut, yang juga dapat berarti mengetahui,
menunjukkan bahwa siapa yang yakin atau menduga keras atau bahkan menduga
tidak akan berlaku adil terhadap isteri-isterinya – yang yatim maupun yang bukan
– maka mereka itu tidak diperkenankan oleh ayat diatas melakukan poligami.
Yang diperkenankan oleh ayat diatas hanyalah yang yakin atau menduga keras
dapat berlaku adil. Yang ragu, apakah bisa berlaku adil atau tidak, seyogianya
tidak diizinkan berpoligami.
3. Ayat diatas menggunakan kata tuqsithuu dan ta’diluu yang keduanya
diterjemahkan berlaku adil. Ada ulama yang mempersamakan maknanya dan ada
juga yang membedakannya dengan berkata bahwa tuqsithuu adalah berlaku adil
antara dua orang atau lebih, keadilan yang menjadikan keduanya senang.
Sedangkan, ta’diluu adalah berlaku baik terhadap orang lain maupun diri sendiri,
tapi keadilan itu bisa saja tidak menyenangkan salah satu pihak. Jika makna
kedua ini dipahami, itu berarti izin berpoligami hanya diberikan kepada mereka
yang menduga bahwa langkahnya itu dia harapkan dapat menyenangkan semua
isteri yang dinikahinya. Ini dipahami dari kata tuqsithuu, tetapi kalau itu tidak
tercapai, paling tidak ia harus berlaku adil, walaupun itu bisa tidak
menyenangkan salah satu diantara mereka.
4. Firman-Nya: Maka Nikahilah apa yang kamu senangi bukan siapa yang kamu
senangi, bukan dimaksudkan – seperti tulis sementara ulama lama yang memiliki
bias – untuk mengisyaratkan bahwa perempuan kurang berakal, dengan alasan


67
yang dimulai dengan apa adalah bagi suatu yang tidak berakal dan siapa untuk
yang berakal. Sekali lagi, bukan itu tujuannya. Akan tetapi, agaknya pemilihan
kata itu bertujuan untuk menekankan sifat perempuan itu, bukan orang tertentu,
nama, atau keturunannya. Bukankah jika anda berkata: “Siapa yang dia nikahi?”
Maka, anda menanti jawaban tentang perempuan tertentu, namanya dan anak
siapa dia? Sedangkan, bila anda bertanya dengan menggunakan kata apa,
jawabannya yang anda nantikan adalah sifat dari yang ditanyakan itu, misalnya
janda atau gadis, cantik atau tidak, orang baik, atau tidak dan sebagainya.
5. Huruf (و ) wauw pada ayat diatas bukan berarti dan, melainkan berarti atau
sehingga dua-dua, tiga-tiga, atau empat-empat bukan izin menjumlah angka-
angka tersebut sehingga dibolehkan berpoligami dengan sembilan atau bahkan
delapan belas perempuan. Di samping secara redaksional ayat tersebut tidak
bermakna demikian, Rasulullah saw pun secara tegas memerintahkan Gilan Ibnu
Ummayyah ats-Tsaqafi yang ketika itu memiliki sepuluh isteri agar
mencukupkan dengan empat orang dan menceraikan selainnya. Redaksi ayat ini
mirip dengan ucapan seseorang yang melarang orang lain makan makanan
tertentu, dan untuk menguatkan larangan itu dia berkata: “Jika anda khawatir
akan sakit bila makan makanan ini, habiskan saja makanan selainnya yang ada
dihadapan anda”. Tentu saja, perintah menghabiskan makanan lain itu hanya
sekedar menekankan perlunya mengindahkan larangan untuk tidak makan
makanan tertentu itu.
45

Perlu digarisbawahi bahwa ayat poligami ini tidak membuat peraturan baru
tentang poligami karena poligami telah dikenal dan dilaksanakan oleh penganut

45
M. Quraish Shihab, Ibid, 165.


68
berbagai syariat agama serta adat-istiadat masyarakat sebelum turunnya ayat ini.
Ayat ini tidak juga menganjurkan apalagi mewajibkan poligami, tetapi ia hanya
berbicara tentang bolehnya poligami, tetapi ini pun dengan syarat yang ketat
sehingga bisa dikatakan kebolehannya berlaku dalam keadaan darurat saja.
46
Dan itu
pun merupakan pintu kecil yang hanya dapat dilalui oleh siapa yang sangat amat
membutuhkan, dan dengan syarat yang tidak ringan.
47

Islam mendambakan kebahagiaan keluarga, kebahagiaan yang antara lain
didukung oleh cinta kepada pasangan. Cinta yang sebenarnya menuntut agar
seseorang tidak mencintai kecuali pasangannya. Ada ungkapan literatur agama yang
menyatakan:
Q-- ¸- ~---ا ن'-= ¸-Vو د;=;-ا ن'-ر
“Tidak ada didalam hati dua cinta, sebagaimana tidak ada dalam wujud ini
dua Tuhan”.

Demikian pandangan tentang cinta disejalankan dengan pandangan tentang
keesahan Tuhan. Keduanya berdasarkan tauhid (kesatuan). Itulah yang ideal, itulah
yang didambakan – kalau enggan berkata oleh pasangan suami isteri – maka paling
tidak itulah yang didambakan oleh isteri dan bila seorang benar-benar mencintai,
bukan hanya mengorbankan apa yang boleh atau dapat dimilikinya (dalam hal ini
berpoligami), melainkan juga mengorbankan jiwa raganya demi cinta.
Dengan demikian, pembahasan tentang poligami dalam pandangan al-Qur’an
hendaknya tidak ditinjau dari segi ideal atau baik dan buruknya, tetapi harus dilihat

46
Anshori Fahmie, Siapa Bilang Poligami Itu Sunah (Cet. I, Depok: Pustaka IIMaN, 2007), 50.
47
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an (Cet. IV, Jakarta:
Lentera Hati, 2005), 341.


69
dari sudut pandang penetapan hukum dalam aneka kondisi yang mungkin terjadi.
48

Serta melihat pula sisi pemilihan aneka alternatif yang terbaik.
Adalah wajar bagi suatu perundangan, apalagi agama yang bersifat universal
dan berlaku untuk setiap waktu dan tempat, mempersiapkan ketetapan hukum yang
boleh jadi terjadi pada suatu ketika, walaupun kejadian itu baru merupakan
kemungkinan.
Ada beberapa alasan Quraish Shihab dalam memperbolehkan poligami
adalah:
1. Peperangan yang hingga kini terjadi lebih banyak merenggut nyawa laki-laki dari
pada perempuan. Seperti yang terjadi beberapa tahun yang lalu, sekian banyak
perempuan di Jerman Barat menghimbau agar poligami dapat dibenarkan, walau
hanya untuk beberapa tahun saja, namun pemerintah dan gereja tidak
mengijinkan, sehingga ini menjadi suatu problem yang membutuhkan
penyelesaian.
2. Adanya penyakit parah ataupun kemandulan. Maka pintu poligami merupakan
suatu jalan yang tepat, namun dengan syarat-syarat yang tidak ringan seperti
harus dapat berlaku adil.
Namun dalam hal ini Quraish Shihab menekankan bahwa poligami ini bukan
merupakan sebuah anjuran, apalagi menjadi sebuah kewajiban. Ada beberapa
argumen beliau, yaitu:
1. Argumen Quraish Shihab adalah merujuk pada ayat an-Nisa ayat 3 tersebut,
dimana beliau berpendapat “Seandainya poligami tersebut sebuah anjuran,

48
M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i Atas Pelbagai Persoalan Umat (Cet.
XIX, Jakarta: Mizan, 2007), 200.


70
pastilah Allah menciptakan perempuan lebih banyak empat kali lipat dari pada
jumlah laki-laki karena tidak mungkin Allah menganjurkan sesuatu, kalau apa
yang dianjurkan tidak tersedia. Ayat ini hanya memberi wadah bagi mereka yang
menginginkannya ketika menghadapi kondisi atau kasus tertentu, dan ini
merupakan alasan logis untuk tidak menutup rapat atau mengunci mati pintu
poligami yang di benarkan oleh ayat tersebut dengan syarat yang tidak ringan
itu”.
49

2. Bahwa perintah yang terdapat didalam ayat tersebut dimulai dengan bilangan
dua-dua, tiga-tiga, atau empat-empat, baru perintah bermonogami kalau
khawatir tidak dapat berlaku adil. Menurut Quraish Shihab pendapat tersebut
tidak dapat diterima karena pandangan tersebut, baik dari makna redaksi ayat
maupun konteksnya, dan juga dari segi kenyataan sosiologis yang didalamnya
perbandingan perempuan dan lelaki tidak mencapai empat banding satu, bahkan
dua banding satu. Dan bukan juga tidak dapat dikatakan bahwa Rasul saw
menikah lebih dari satu perempuan dan pernikahan semacam ini hendaknya
diteladani, karena tidak semua yang wajib atau yang terlarang bagi Rasulullah,
wajib atau terlarang pula bagi umatnya. Seperti, wajib bangun malam, tidak
boleh menerima zakat. Dan poligami Rasulullah tersebut guna mensukseskan
misi dakwanya.
3. Rasulullah baru berpoligami setelah pernikahan pertamanya sekian lama setelah
meninggal isteri beliau, Khadijah ra. Dan diketahui bahwa Rasulullah menikah
dengan Khadijah pada usia 25 tahun. Lima belas tahun setelah pernikahan
dengan Khadijah ra, beliau diangkat menjadi Rasul. Dan isteri beliau (Khadijah

49
M.Quraish Shihab, Perempuan, Op.Cit, hal 168.


71
ra) wafat pada tahun ke-9 kenabian. Ini berarti beliau bermonogami selama 25
tahun. Lalu, setelah tiga atau empat tahun sesudah wafatnya Khadijah ra, baru
menggauli Aisyah ra, yakni pada tahun ke-3 H, sedangkan beliau wafat pada
tahun ke-11 H dalam usia 63 tahun. Ini berarti beliau berpoligami hanya sekitar
delapan tahun, jauh lebih pendek daripada hidup bermonogami beliau. Jadi
seharusnya meneladani yang lebih lama. Dan juga meneladaninya dalam memilih
calon-calon isteri yang telah mencapai usia senja. Dan meneladani beliau dalam
kesetiaannya yang demikian besar pada isteri yang pertamanya, sampai-sampai
beliau menyatakan kecintaan dan kesetiaannya walau dihadapan isteri-isteri
beliau yang lain. Namun realita yang terjadi pada saat sekarang ini, kebanyakan
orang yang melakukan poligami berbeda dengan yang dilakukan Rasulullah,
dimana dapat kita lihat alasan poligami sekarang ini salah satunya adalah karena
isteri tidak dapat memberikan keturunan. Hal ini berbeda dengan poligami yang
dilakukan Rasulullah.
Perlu juga di ingat juga bahwa semua yang beliau nikahi, kecuali Aisyah ra,
ialah janda-janda yang sebagian diantaranya sudah memasuki usia senja atau tidak
lagi memiliki daya tarik yang memikat. Dengan demikian, pernikahan beliau
kesemuanya untuk tujuan menyukseskan dakwah atau membantu dan
menyelamatkan para perempuan yang kehilangan suami itu.
Saudah binti Zam’ah ra, seorang wanita tua suaminya meninggal
diperantauan (Etiopia) sehingga ia terpaksa kembali ke Mekkah menanggung beban
kehidupan bersama anak-anaknya dengan resiko dipaksa murtad.
Hindun Binti Abi Umayyah ra, yang dikenal dengan Ummu Salamah,
suaminya Abdullah al-Makhzumi, yang juga anak pamannya – luka dalam perang


72
Uhud kemudian gugur – juga seorang tua, sampai-sampai pada mulanya Ummu
Salamah ra menolak lamaran Rasul saw, sebagaimana telah menolak sebelumnya
lamaran Abu Bakar dan Umar ra akan tetapi, pada akhirnya, Ummu Salamah ra
bersedia menerima lamaran Rasul saw demi meraih kehormatan dipersunting
pesuruh Allah dan demi anak-anaknya.
Ramlah, putri Abu Sufyan ra, meninggalkan orangtuanya untuk berhijrah ke
Habasyah (Etiopia) bersama suaminya, tetapi sang suami kemudian memeluk agama
Nasrani disana dan menceraikannya sehingga ia hidup sendiri di perantauan. Maka,
melalui Negus, Penguasa Etiopia, Nabi saw melamarnya dengan harapan
mengangkatnya dari jurang penderitaan, sekaligus menjalin hubungan dengan
ayahnya yang ketika itu merupakan salah satu tokoh utama kaum musyrikin
diMekkah. Dan mungkin perkawinan itulah yang menjadi landasan hubungan
silaturrahim karena kekeluargaan antara Rasulullah saw dengan Abu Sufyan, yang
kemudian menyebabkan Abu Sufyan tertarik perhatiannya kepada agama Islam,
setelah tadinya ia menantang keras.
50
Dia lalu keluar dari kegelapan musyrik menuju
cahaya Islam.
Huriyah binti Alharis ra adalah putri kepala suku dan termasuk salah seorang
yang ditawan pasukan Islam. Nabi saw menikahinya sambil memerdekakannya
dengan harapan kaum muslimin dapat membebaskan para tawanan yang mereka
tawan sehingga hasilnya seperti yang beliau harapkan, yakni semua tawanan yang
dibebaskan pada akhirnya memeluk agama Islam. Huriyah sendiri memilih untuk
menetap bersama Nabi Muhammad saw dan enggan kembali bersama ayahnya.

50
Abbas Mahmoud al-‘akkad, al-Mar’atul fil Qur’an diterjemahkan Chadidjah Nasution, Wanita
Dalam Al-Qur’an (Cet. II, Jakarta: Bulan Bintang, 1984), 153.


73
Hafshah putri Umar Ibnu al-Khaththab ra ketika suaminya wafat, ayahnya
merasa sedih melihat anaknya hidup sendiri. Maka ia “menawarkan” putrinya kepada
putrinya kepada Abu Bakar ra untuk dipersunting, tetapi yang ditawari tidak
menyambut, sehingga tawaran diajukan kepada Utsman ra, Utsman pun diam. Nah
ketika itu Umar mengadukan kesedihannya kepada Nabi Muhammad, yang
kemudian bersedia menikahi Hafshah ra demi persahabatan dan demitidak
membedakan Umar ra dengan sahabatnya abu Bakar ra, yang sebelum ini putrinya
telah beliau nikahi, yakni Aisyah ra.
Syafiyah binti Huyay ra, putri pemimpim Yahudi dari Bani Quraizhah yang
ditawan setelah kekalahan mereka dalam pengepungan yang dilakukan oleh Nabi
Muhammad saw, diberi pilihan kembali kepada keluarganya atau tinggal bersama
Nabi dalam keadaan bebas merdeka. Dia memilih untuk tinggal bersama Nabi.
Dirumah itu, Shafiyah hidup terhormat sampai suatu ketika Nabi saw mendengar
seseorang yang memakinya bertubuh pendek, maka Nabi menghibur Shafiyah sambil
mengecam dengan keras pemakinya.
Zainab binti Jahesy ra – sepupu Nabi Muhammad saw – dinikahkan langsung
oleh Nabi dengan bekas anak angkat dan budak beliau, Zaid Ibnu Haritsah ra. Rumah
tangga mereka tidak bahagia sehingga mereka bercerai dan sebagai penanggung
jawab pernikahan itu, Nabi Muhammad menikahinya atas perintah Allah, sekaligus
untuk membatalkan adat jahiliyah yang menganggap anak angkat sebagai anak
kandung sehingga ayah angkatnya tidak boleh menikahi bekas isteri anak angkatnya


74
itu (baca Q.S al-Ahzab : 36-37). Hal ini menandakan poligami Rasulullah adalah
karena ada kepentingan pemberlakuan hukum.
51

Zainab binti Khuzaimah ra suaminya gugur dalam perang Uhud dan tidak ada
seorang pun – dari kaum muslimin ketika itu – yang berminat. Maka, Nabi
Muhammad saw pun menikahinya.
Itulah isteri-isteri Nabi Muhammad saw, yang keseluruhannya janda, kecuali
Aisyah ra – yang beliau nikahi setelah bermonogami hingga usia 50 tahun lebih.
Isteri-isteri yang disebut diatas yang disebut diatas inilah yang sering kali disorot
oleh mereka yang tidak mau tahu atau enggan memahami latar belakang pernikahan
itu.
Quraish Shihab juga berargumen menanggapi orang yang melarang poligami
dengan memberi interpretasi terhadap ayat-ayat al-Qur’an atau hadits-hadits Nabi
saw. Yang menurut Quraish Shihab jauh dari kebenaran, karena mereka yang
melarang poligami hanya mengambil sepenggal ayat, dan mengabaikan kelanjutan
ayat guna mendukung pendapat yang mereka inginkan. Sebagian dari mereka
menampilkan penggalan pertama dari Q.S an-Nisa: 129 yang menyatakan:
9´ρ #θ`苸ÜF`¡@ β& #θ9¸‰è? / ¸$¡¸Ψ9# ¯θ9´ρ ¯ΝF¹ m
Artinya: Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-
isteri(kamu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian…

Mereka menampilkan untuk tujuan menutup rapat-rapat pintu poligami
dengan alasan bahwa keadilan dalam berpoligami – oleh ayat ini – secara tegas
dinyatakan tidak akan mungkin tercapai sehingga mereka berkata, “Berdasar firman

51
Abdul Ghany A.R, Zauzat an-Nabi Muhammad Saw wa Hikmat Ta’addudihin, diterjemahkan Dwi
Ratnasari, Mengapa Rasulullah Berpoligami dan Sebaiknya kita tidak (Cet. I, Yogyakarta: Diva Press,
2004), 13.


75
Allah itu, poligami harus dilarang!” pendapat ini jauh dari kebenaran karena mereka
mengabaikan lanjutan ayat diatas yang menyatakan:
Ÿξù #θ=Š¸ϑ? ≅2 ¸≅Šϑ9# $δρ'‘‹Gù ¸π)‾=èϑ9$.
Artinya: Karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai),
sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung…

Lanjutan ayat ini mengisyaratkan bahwa keadilan yang tidak mungkin dapat
tercapai itu adalah dari segi kecenderungan hati yang memang berada diluar
kemampuan manusia.
Nabi Muhammad saw sendiri, sebagaimana dinyatakan oleh isteri beliau,
Aisyah ra, berlaku adil terhadap isteri-isteri beliau yang lain, tetapi dalam saat yang
sama beliau mengakui dengan mengadu kepada Allah bahwa:

“Ya Allah, inilah bagian (keadilan) yang berada dalam kemampuanku. Maka
janganlah tuntut aku menyangkut (keadilan cinta) yang berada diluar
kemampuanku”. (HR. an-Nasa’i).
Hal ini juga berarti keadilan yang dituntut bukan keadilan yang menyangkut
kecenderungan hati, melainkan keadilan material yang memang dapat terukur.
Mereka yang bermaksud menutup rapat-rapat pintu poligami itu mengabaikan
juga kenyataan bahwa pada masa Nabi saw, sahabat-sahabat beliau berpoligami –
tanpa dilarang oleh Nabi saw.
52
Dari sini dapat dipahami bahwa poligami tidak
dilarang, dan juga tidak melanggar terhadap teks yang digunakan orang yang
mencoba menutup pintu poligami tersebut.

52
M. Quraish Shihab, Perempuan. Op.Cit, 176.


76
Sementara menurut Quraish Shihab orang yang melarang poligami dengan
alasan dampak buruk yang diakibatkan dari poligami sangat besar. Mereka beralasan
longgarnya syarat poligami ditambah dengan rendahnya kesadaran dan pengetahuan
tentang tuntunan agama serta makna dan tujuan pernikahan yang mengakibatkan
mudharat yang menimpa isteri karena terjadi iri, juga berdampak pada anak-anak
dari perlakuan ibu tiri maupun ayahnya sendiri, bila cenderung kepada salah satu
isteri yang dicintainya. Perlakuan buruk inilah yang akan mengakibatkan hubungan
antara anak-anak pun memburuk, bahkan sampai hubungan antar-keluarga. Dampak
buruk inilah yang mengantarkan sementara orang melarang poligami secara mutlak.
Dalam hal ini Quraish Shihab dalam menanggapi pendapat yang menutup
rapat-rapat pintu poligami dengan alasan bahwa poligami berdampak buruk dan
menimbulkan mudharat yang besar, menurut Quraish Shihab sebelum menutup mati
pintu poligami, perlu diketahui bahwa poligami yang mengakibatkan dampak buruk
yang dilukiskan diatas adalah yang dilakukan oleh mereka yang tidak mengikuti
tuntunan agama. Terjadinya pelanggaran terhadap ketentuan hukum bukanlah alasan
yang tepat untuk membatalkan ketentuan hukum itu, apalagi bila pembatalan tersebut
mengakibatkan dampak buruk bagi masyarakat. Disini perlu disadari bahwa dalam
masyarakat yang melarang poligami atau menilainya buruk – baik di Timur lebih-
lebih di Barat – telah mewabah hubungan seks bebas atau tanpa nikah dan muncul
perempuan-perempuan simpanan serta pernikahan dibawah tangan. Ini mempunyai
dampak yang sangat buruk lagi bagi masyarakat, lebih-lebih terhadap para
perempuan.
53


53
M. Quraish Shihab, Ibid, 177.


77
Disini, kalau membandingkan hal tersebut dengan poligami bersyarat yang
ditetapkan oleh al-Qur’an, kita akan melihat bahwa apa yang ditawarkan Islam
sungguh jauh lebih manusiawi dan bermoral dibanding dengan apa yang terjadi
ditengah masyarakat yang melarang poligami.
Poligami yang diajarkan Islam tidak membenarkan seorang laki-laki
berhubungan seks, kecuali dengan empat perempuan, melalui pernikahan yang sah
dan permanen.
Dalam ajaran Islam, pernikahan tidak boleh dilakukan secara diam-diam
tanpa saksi-saksi, bahkan seharusnya atau paling tidak dengan restu wali. Islam
menganjurkan agar dilakukan pesta dan dirayakan dengan bunyi-bunyian (musik)
yang menggambarkan kesyukuran dan kegembiraan. Bandingkanlah dengan
pernikahan rahasia atau wanita-wanita simpanan dan sebagainya yang terjadi
dimana-mana.
Anak yang lahir dari pernikahan akibat poligami adalah anak yang sah
sehingga ayahnya bertanggung jawab untuk membesarkan dan mendidiknya. Hal ini
berbeda dengan anak-anak yang dilahirkan dari hubungan gelap. Ia sering
digugurkan sebelum lahir dan kalaupun dibiarkan hidup, tidak jarang dibuang
ketempat sampah atau hamper selalu tidak diakui oleh “ayah”-nya. Sang ibu
kandung, bila mengakuinya – seandainya ia masih mengakui norma agama dan
budaya – akan menanggung malu yang dibawa mati.
Atas dasar itulah banyak ulama dewasa ini menetapkan syarat-syarat buat
bolehnya berpoligami – tanpa melarangnya secara mutlak dan juga tidak membuka
pintu poligami selebar-lebarnya, sebagaimana yang banyak terjadi dewasa ini.


78
Ulama besar dan pakar hukum Islam Mesir, Abu Zahrah, dalam bukunya al-
Ahwal asy-Syakhshiyah, menegaskan bahwa tidak terdapat dalam teks ayat al-Qur’an
yang menghalangi pemerintah untuk menetapkan syarat-syarat yang mengantar
kepada keadilan, pergaulan baik, dan kewajiban infak dalam hal pernikahan. “Tidak
ada dalam al-Qur’an sesuatu yang melarang untuk menempuh jalan tersebut.
Sayyidina Umar ra pada masanya menetapkan sekian banyak peraturan guna
mengatur masyarakat mematuhi ketentuan-ketentuan Allah”.
Pandangan Abu Zahrah diatas tidak melebihi penetapan Sayyidina Umar ra.
Yang menetapkan jatuhnya talak tiga yang diucapkan selaligus dalam satu majelis –
bukannya hanya jatuh satu talak saja, sebagaimana dipahami dari teks ayat yang
terdapat dalam Q.S al-Baqarah: 229 – dan sebagaimana yang berlaku pada masa
Nabi saw, karena dalam pertimbangan Umar ra, para suami ketika itu perlu
dididik/dijatuhi sanksi sebab pada ketika itu mereka seenaknya saja menjatuhkan
talak dan tidak mengikuti tuntunan Allah tentang perlunya kehati-hatian dalam hal
tersebut.
Quraish Shihab mengemukakan dengan contoh diatas adalah bahwa banyak
jalan yang dapat ditempuh guna menghalangi ketidakadilan terhadap perempuan,
termasuk dalam hal poligami, tanpa harus mengorbankan teks atau memberinya
penafsiran yang sama sekali tidak sejalan dengan kandungan teks itu sendiri, antara
lain seperti yang ditempuh oleh mereka yang menafsirkan ayat yang berbicara
tentang ketidakmungkinan keadilan dalam hal poligami atau melarangnya secara
mutlak.
Dalam hal ini Quraish Shihab menegaskan bahwa teks ayat diatas dan
penjelasan Nabi saw, tentu saja bukan berarti membuka pintu poligami lebar-lebar


79
tanpa batas dan syarat. Dalam yang sama, ia tidak juga dapat dikatakan menutup
pintu poligami rapat-rapat, sebagaimana yang dikehendaki oleh sementara orang.
Disamping itu, poligami bukan anjuran, melainkan salah satu solusi yang diberikan
kepada mereka yang sangat membutuhkan dan memenuhi syarat-syarat poligami.
Poligami menurut Quraish Shihab mirip dengan pintu darurat dalam pesawat
terbang, yang hanya boleh dibuka dalam keadaan emergency tertentu; yang duduk
disamping pintu darurat pun haruslah mereka yang memiliki pengetahuan dan
kemampuan membukanya serta baru diperkenankan membukanya pada saat
mendapat izin dari pilot.
54

Dalam hal poligami, Islam membenarkan lelaki menghimpun dalam saat
yang bersamaan empat orang isteri, sedangkan melarang perempuan tidak
diperbolehkan kecuali dengan seorang lelaki atau dilarang poliandri.
Disini, baik dikemukakan masyarakat manusia pernah mengenal poliandri.
Dalam masyarakat jahiliyah di Jazirah Arab dahulu – disamping pelacuran seperti
yang dikenal pada dewasa ini – dikenal juga apa yang dinamai nikah al-Istibdha’
yakni seorang suami membiarkan isterinya digauli – untuk masa tertentu – oleh
seorang lelaki dengan harapan memperoleh keturunan yang berkualitas melalui lelaki
pilihannya. Begitu isterinya hamil, hubungan tersebut segera dihentikan.
Bentuk poliandri yang lain adalah “percampuran” seorang perempuan dengan
sekelompok lelaki (tidak lebih dari sepuluh orang). Lalu, apabila dia melahirkan,
perempuan itu menunjuk salah seorang dari anggota kelompok yang menggaulinya
untuk dijadikan sebagai ayah dari anaknya, dan yang bersangkutan tidak dapat
mengelak dari tanggung jawabnya sebagai ayah.

54
M. Quraish Shihab, Ibid, 180.


80
Kendati poliandri dikenal oleh masyarakat tertentu pada masa lalu, ternyata ia
tidak berhasil dan akhirnya ditinggalkan. Kegagalan itu utamanya disebabkan
poliandri bertentangan dengan kodrat lelaki dan perempuan sekaligus serta karena
kekaburan status anak yang dilahirkan. Manusia mendambakan anak yang jelas
statusnya. Jika telah dibuahi oleh seorang lelaki, seorang perempuan tidak dapat lagi
dibuahi oleh lelaki lain selama buah tersebut masih berada dalam kandungannya. Ini
berbeda dengan lelaki yang dapat membuahi sekian banyak perempuan. Dari sinilah
poliandri tidak di benarkan karena terkait dengan status anak tersebut. Memang
benar dengan kemajuan teknologi dapat menguji untuk mengetahui siapa ayah anak
tersebut, terlalu panjang jika harus dilakukan pemeriksaan laboratorium dan
menghabiskan dana yang tidak sedikit.
Poliandri juga akan menimbulkan permasalahan baru yakni terkait dalam hal
rumah tangga, yaitu masalah pemimpin rumah tangga, akan terjadi kekacauan,
karena yang menjadi kepala rumah tangga biasanya suami. Dan juga masalah dalam
hubungan seks. Binatang saja enggan bergiliran, apalagi manusia. Binatang saja
memiliki “kehormatan dan kecemburuan” apalagi manusia terhormat.
Boleh jadi, ada yang tidak menerima pendapat ilmuan yang menyatakan
bahwa fitrah pria cenderung berpoligami dan fitrah wanita cenderung bermonogami.
Hal tersebut dapat dilihat, Negara-negara yang membolehkan prostitusi, melakukan
pemeriksaan kesehatan rutin bagi perempuan-perempuan berperilaku seks bebas, dan
tidak melakukannya bagi pasangan yang sah. Hal tersebut dikarenakan kenyataan
menunjukkan bahwa perempuan hanya diciptakan untuk disentuh oleh cairan yang
bersih, yakni sperma satu orang (sperma satu orang lelaki). Begitu terlibat dua laki-
laki dalam hubungan seksual dengan seorang perempuan, ketika itu pula cairan yang


81
merupakan benih anak itu tidak bersih lagi dan sangat dikhawatirkan menjangkitkan
penyakit. Kenyataan ini menjadi bukti yang sangat jelas menyangkut hal ini.
Poligami boleh jadi dinilai sebagai keistimewaan bagi lelaki. Adapun
poliandri, sedikit atau banyak tidak dapat dinilai sebagai keistimewaan bagi
perempuan. Karena lelaki cenderung menginginkan jasad perempuan, sedangkan
perempuan mendambakan hati lelaki.
Banyak lelaki apabila telah menguasai jasad perempuan, ia tidak terlalu
membutuhkan hatinya. Karena itu, dalam berpoligami, seorang suami sering kali
tidak memedulikan hati isterinya yang lain, sedangkan perempuan sebaliknya.
Memang, ada dua unsur utama dalam pernikahan, yakni unsur jasmani dan
rohani. Unsur jasmani tercermin dalam dorongan seksual yang meluap pada masa
muda dan berangsur menurun menjelang tua, sedangkan unsur rohani tercermin
dalam perasaan cinta dan kasih sayang yang mestinya dari hari kehari menguat dan
menguat. Nah, salah satu perbedaan antara lelaki dan perempuan adalah lelaki
biasanya lebih memerhatikan unsur jasmani atau paling tidak seimbang – pada masa
mudanya – antara unsur jadsmani dan rohani itu, sedangkan perempuan selalu
mementingkan unsur rohani, cinta dan kasih sayang. Itu pula sebabnya ada sekian
banyak perempuan dewasa ini yang rela membiarkan suaminya “melacur” asal dia
jangan dimadu, karena dimadu dapat menjadi bukti pudar atau berkurangnya cinta.
Disisi lain, anak yang tumbuh dalam rahim seorang isteri menjadikan ibu
yang mengandungnya membutuhkan kasih sayang, bukan saja guna kepentingan
dirinya, melainkan juga untuk kepentingan anak yang dikandungnya. Kasih sayang
isteri/ibu tidak dapat terpenuhi kecuali dalam suasana cinta penuh seorang suami.
Inilah antara lain yang membuktikan bahwa perempuan memang cenderung bersifat


82
monogami. Karena itu, ajakan agar mereka berpoliandri tidak akan disambut oleh
perempuan-perempuan yang mengikuti kodratnya.
55

Dari sini dapat dilihat bahwa poligami bisa dapat di jadikan alternatif baik
secara individu maupun kolektif. Secara individu, terjadi antara lain pada saat isteri
tidak dapat melaksanakan fungsinya yang ketika itu ia lebih baik dimadu daripada
dicerai, dan secara kolektif terjadi seandainya jumlah perempuan lebih banyak
daripada jumlah lelaki.













55
M. Quraish Shihab, Ibid, 184.


83

BAB IV
ANALISIS DATA
Analisis dalam bab ini akan mengangkat permasalahan poligami yang masih
banyak mengundang pro dan kontra baik dikalangan intelektual maupun masyarakat.
Menganalisis ayat-ayat tentang poligami melihat dari pemikiran Muhammad Quraish
Shihab tentang poligami, dan implikasi hukumnya.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, munculnya praktik poligami sudah
ada atau berlaku sebelum Islam lahir, dimana praktik poligami yang dilakukan
sebelum lahirnya agama Islam dilakukan tanpa batas dan tidak ada ketentuan atau
syarat.
Datangnya agama Islam melakukan perubahan besar terhadap praktik
poligami sebelumnya, dimana dalam ajaran agama Islam membatasi jumlah isteri
dan memberi syarat-syarat dan ketentuan yang harus dilakukan suami yang
melakukan praktik poligami. Poligami perlu diatur dalam islam, karena poligami
merupakan bagian dari kehidupan masyarakat, sementara itu agama Islam mengatur
seluruh aspek kehidupan dan juga berlaku disetiap zaman dan tempat. Sehingga
wajar bila Islam mengatur poligami, karena harus bersifat universal agar dapat
digunakan dalam setiap keadaan dan waktu.
Poligami sampai saat sekarang ini, masih menjadi pembicaraan yang hangat
untuk di bicarakan, karena masalah poligami ini masih menimbulkan banyak
perspektif terkait pelaksanaan poligami tersebut. Hal tersebut tidak lain karena terkait
dengan perbedaan dalam memahami ayat yang menerangkan poligami tersebut.


84
Perbedaan tersebut dalam memahami ayat yang terdapat dalam surat an-Nisa:
3, yang berbunyi sebagai berikut:
β¸)´ρ Λ¸z āω& #θܸ¡)? ’¸û ‘´Κ≈G´‹9# #θs¸3Ρ$ù $Β ´>$Û Ν39 ´¸Β ¸$¡¸Ψ9# _WΒ ]≈=O´ρ
ì≈/'‘´ρ β¸*ù `ΟF¸z āω& #θ9¸‰è? ο‰¸n≡´θù ρ& $Β M3=Β ¯Ν3`Ψ≈ϑƒ& 7¸9≡Œ ´’ΤŠ& āω& #θ9θ`è?
Artinya: Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak)
perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah
wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian
jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang
saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih
dekat kepada tidak berbuat aniaya.

Dalam hal ini Muhammad Quraish Shihab memahami dengan menafsirkan
ayat tersebut dengan penjelasan sebagai berikut:
Muhammad Quraish Shihab membagi menjadi dua makna adil tersebut, Ayat
diatas menggunakan kata tuqsithuu dan ta’diluu yang keduanya diterjemahkan
berlaku adil. Kata tuqsithuu berarti berlaku adil antara dua orang atau lebih, keadilan
yang menjadikan keduanya senang. Sedangkan, ta’diluu adalah berlaku baik
terhadap orang lain maupun diri sendiri, tapi keadilan itu bisa saja tidak
menyenangkan salah satu pihak. Dalam hal ini Quraish Shihab membagi makna adil
tersebut menjadi dua yaitu: adil secara subjektif dan adil secara objektif, dimana
makna adil yang pertama adil dari kedua belah pihak baik isteri maupun suami,
sedangkan adil yang kedua cenderung dari pihak suami saja. Jika makna kedua ini
dipahami, itu berarti izin berpoligami hanya diberikan kepada mereka yang menduga
bahwa langkahnya itu dia harapkan dapat menyenangkan semua isteri yang
dinikahinya. Ini dipahami dari kata tuqsithuu, tetapi kalau itu tidak tercapai, paling
tidak ia harus berlaku adil, walaupun itu bisa tidak menyenangkan salah satu diantara
mereka.


85
Quraish Shihab memaknai kata “khiftum” dengan mengartikan mengetahui,
menunjukkan bahwa siapa yang yakin atau menduga keras atau bahkan menduga
tidak akan berlaku adil terhadap isteri-isterinya maka mereka itu tidak diperkenankan
oleh ayat diatas melakukan poligami. Yang diperkenankan oleh ayat diatas hanyalah
yang yakin atau menduga keras dapat berlaku adil. Yang ragu, apakah bisa berlaku
adil atau tidak, seyogianya tidak diizinkan berpoligami. Dan memaknai huruf (و )
wauw pada ayat diatas bukan berarti dan, melainkan berarti atau sehingga dua-dua,
tiga-tiga, atau empat-empat . Sehingga dalam berpoligami hanya terbatas empat
orang isteri saja.
Dari sini kita dapat memahami bahwa Quraish Shihab dalam pemikirannya
membolehkan poligami, namun dalam pelaksanaan poligami tersebut beliau sangat
menekankan pada unsur keadilan dan juga beliau lebih sepakat kepada pendapat ,
bahwa pembatasan jumlah isteri yang boleh dinikahi yaitu empat orang isteri, karena
menurut hemat kami, dalam pembatasan empat orang isteri tersebut seorang suami
yang melakukan poligami lebih bisa berlaku adil dan juga lebih tidak membebani
tanggungan yang harus dipikul, dari pada pemahaman bahwa jumlah isteri yang
boleh di poligami lebih dari empat.
Dan juga dalam memahami ayat yang terdapat dalam surat an-Nisa: 129,
yaitu:
9´ρ #θ`苸ÜF`¡@ β& #θ9¸‰è? / ¸$¡¸Ψ9# ¯θ9´ρ ¯ΝF¹m Ÿξù #θ=Š¸ϑ? ≅2 ¸≅Šϑ9#
$δρ'‘‹Gù ¸π)‾=èϑ9$. β¸)´ρ #θs¸=`Á? #θ)−G?´ρ χ¸*ù ´!# β%. #´‘θî $ϑŠ¸m¯‘ ∩⊇⊄∪
Artinya: Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-
isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, Karena itu
janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga
kamu biarkan yang lain terkatung-katung. dan jika kamu mengadakan


86
perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), Maka Sesungguhnya
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dalam hal ini, Quraish Shihab memahami bahwa ayat ini mengisyaratkan
yang di maksud dengan keadilan yang tidak mungkin dapat tercapai itu adalah dari
segi kecenderungan hati yang memang berada diluar kemampuan manusia.
Nabi Muhammad saw sendiri, sebagaimana dinyatakan oleh isteri beliau,
Aisyah ra, berlaku adil terhadap isteri-isteri beliau yang lain, tetapi dalam saat yang
sama beliau mengakui dengan mengadu kepada Allah bahwa:


“Ya Allah, inilah bagian (keadilan) yang berada dalam kemampuanku. Maka
janganlah tuntut aku menyangkut (keadilan cinta) yang berada diluar
kemampuanku”. (HR. an-Nasa’i).
Hal ini juga berarti keadilan yang dituntut bukan keadilan yang menyangkut
kecenderungan hati, melainkan keadilan material yang memang dapat terukur.
Keadilan yang dituntut dalam poligami adalah keadilan dalam hal materi,
yaitu sandang, pangan, papan dan juga dalam hal giliran pada setiap isterinya, namun
dalam kecenderungan hati tidak dituntut, tetapi tidak boleh terlalu cenderung pada
salah satu isterinya tersebut.
Poligami menurut Quraish Shihab merupakan mirip dengan pintu darurat
dalam pesawat terbang, yang hanya boleh dibuka dalam keadaan emergency tertentu;
yang duduk disamping pintu darurat pun haruslah mereka yang memiliki
pengetahuan dan kemampuan membukanya serta baru diperkenankan membukanya
pada saat mendapat izin dari pilot. Dan itu pun merupakan pintu kecil yang hanya


87
dapat dilalui oleh siapa yang sangat amat membutuhkan, dan dengan syarat yang
tidak ringan.
Bila pendapat Quraish Shihab tersebut di tinjau dari sudut pandang Undang-
undang No. 1 tahun 1974, dimana dijelaskan dalam Undang-undang No 1 tahun 1974
bahwa:
Dalam pasal 4 pada ayat 2 Undang-undang perkawinan dinyatakan; seorang
suami yang akan beristeri lebih dari seorang apabila:
d. Isteri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai isteri.
e. Isteri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan.
f. Isteri tidak dapat melahirkan keturunan.
Dengan adanya bunyi pasal-pasal yang membolehkan untuk berpoligami
kendatipun dengan alasan-alasan tertentu, jelaslah bahwa asas yang dianut oleh
undang-undang perkawinan sebenarnya bukan asas monogami mutlak melainkan
disebut monogami terbuka atau menurut Yahya harahap, monogami yang tidak
bersifat mutlak. Poligami ditempatkan pada status hukum darurat (emergency law),
atau dalam keadaan yang luar biasa (extra ordinary circumstance). Di samping itu
lembaga poligami tidak semata-mata kewenangan penuh suami tyetapi atas dasar izin
dari hakim (pengadilan).
56

Dan pada pasal 3 ayat 2 yang telah disebutkan, bahwa ayat tersebut, undang-
undang perakwinan telah melibatkan Pengadilan Agama sebagai intitusi yang cukup
penting untuk mengabsahkan kebolehan poligami bagi seorang. Didalam penjelasan
pasal 3 ayat 2 tersebut dinyatakan:

56
Yahya Harahap, Hukum Perkawinan Nasional (Medan: Zahir Trading Co Medan, 1975), 26.


88
Pengadilan dalam memberikan putusan selain memeriksa apakah syarat yang
tersebut pasal 4 dan 5 telah dipenuhi harus mengingat pula apakah ketentuan-
ketentuan hukum perkawinan dari calon suami mengizinkan adanya poligami.
Berkenaan dengan pasal 4 diatas, setidaknya menunjukkan ada tiga alasan
yang di jadikan dasar mengajukan permohonan poligami, Pertama Isteri tidak dapat
menjalankan kewajibannya sebagai isteri. Kedua Isteri mendapat cacat badan atau
penyakit yang tidak dapat disembuhkan (menurut dokter). Ketiga tidak dapat
melahirkan keturunan.
Tampaknya alasan-alasan ini bernuansa fisik kecuali alasan nomor tiga,
terkesan karena suami tidak memperoleh kepuasan yang maksimal dari isterinya,
maka alternatifnya adalah poligami. Namun demikian ternyata undang-undang
perkawinan juga memuat syarat-syarat untuk kebolehan poligami. Seperti yang
termuat dalam pasal 5 ayat 1 undang-undang perkawinan, syarat-syarat yang
dipenuhi bagi seorang suami yang ingin melakukan poligami ialah:
1. Adanya persetujuan dari isteri/isteri-isteri;
2. Adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan hidup isteri-
isteri dan anak-anak mereka;
3. Adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap isteri dan anak-anak
mereka.
Untuk membedakan persyaratan yang ada dalam pasal 4 dan 5 adalah pasal 4
disebut dengan persyaratan alternatif yang artinya salah satu harus ada untuk dapat


89
mengajukan permohonan poligami. Sedangkan pasal 5 adalah persyaratan kumulatif
dimana seluruhnya harus dapat dipenuhi suami yang akan melakukan poligami.
57

Terkait dengan prosedur melaksanakan poligami, aturannya dapat dilihat
didalam PP No.9/1975. pada pasal 40 dinyatakan:
Apabila seorang suami bermaksud untuk beristeri lebih dari seorang, maka ia
wajib mengajukan permohonan secara tertulis kepada pengadilan.
Sedangkan tugas pengadilan di atur di dalam pasal 41 PP N0. 9 tahun 1975
yang berbunyi sebagai berikut:
Pengadilan kemudian memeriksa mengenai:
a. Ada atau tidaknya alasan yang memungkinkan seseorang suami kawin
lagi.
b. Ada atau tidaknya adanya persetujuan dari isteri, baik persetujuan lisan
maupun tertulis, apabila persetujuan itu merupakan persetujuan lisan,
persetujuan itu harus diucapkan di depan sidang pengadilan.
c. Ada atau tidaknya adanya kemampuan suami untuk menjamin keperluan
hidup isteri-isteri dan anak-anak, dengan memperlihatkan:
i. Surat keterangan mengenai penghasilan suami yang ditandatangani
oleh bendahara tempat bekerja; atau
ii. Surat keterangan pajak penghasilan; atau
iii. Surat keterangan lain yang dapat di terima oleh pengadilan
d. Ada atau tidaknya adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil
terhadap isteri-isteri dan anak-anak mereka dengan pernyataan atau janji
dari suami yang dibuat dalam bentuk yang di tetapkan untuk itu.

57
Amiur Nuruddin dan Azhari Akmal Tarigan, Op.Cit., 164.


90
Berikutnya pada pasal 42 juga dijelaskan keharusan pengadilan untuk
memanggil para isteri untuk memberikan penjelasan atau kesaksian. Di dalam pasal
ini juga dijelaskan, bahwa pengadilan diberi waktu selama 30 hari untuk memeriksa
permohonan poligami setelah diajukan oleh suami lengkap dengan persyaratannya.
Pengadilan Agama memiliki wewenang untuk memberi izin kepada
seseorang untuk melakukan poligami. Hal ini dinyatakan di dalam pasal 43 yang
berbunyi:
Apabila Pengadilan berpendapat bahwa cukup alasan bagi pemohon untuk
beristeri lebih dari seorang, maka pengadilan memberikan putusannya yang
berupa izin untuk beristeri lebih dari seorang.
Izin Pengadilan Agama tampaknya menjadi sangat menentukan, sehingga
didalam pasal 44 dijelaskan bahwa Pegawai Pencatat di larang untuk melakukan
pencatatan perkawinan seorang suami yang akan beristeri lebih dari seorang sebelum
adanya izin Pengadilan.
Menurut Mohammad Daud Ali, bahwa izin poligami dari Pengadilan Agama
tidak boleh dianggap sebagai syarat sah perkawinan kedua. Cukuplah dianggap
sebagai syarat yang harus di penuhi dalam rangka melindungi kaum wanita dan
anak-anak. Di samping itu, untuk mengurangi poligami dapat juga ditempuh dengan
cara memberi sanksi pidana bagi suami yang menikah untuk kedua kalinya, tanpa
melalui izin Pengadilan Agama.
58

Sementara itu, poligami jika di tinjau dari sudut pandang dalam Kompilasi
Hukum Islam (KHI). Kompilasi Hukum Islam (KHI) memuat masalah poligami ini

58
Mohammad Daud Ali, Hukum Islam dan Peradilan Agama (Jakarta: Rajawali Pers, 1997), 32.


91
pada bagian IX dengan judul, Beristeri lebih dari satu orang yang diungkapkan dari
pasal 55 sampai pasal 59. pada pasal 55 dinyatakan:
1. beristeri lebih dari satu orang pada waktu bersamaan, terbatas hanya
sampai empat orang isteri.
2. Syarat utama beristeri lebih dari satu orang, suami harus mampu berlaku
adil terhadap isteri-isteri dan anak-anaknya.
3. Apabila Syarat utama yang disebut pada ayat (2) tidak mungkin dipenuhi,
suami dilarang beristeri lebih dari satu orang.
Lebih lanjut dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) pada pasal 56 di jelaskan:
1. Suami yang hendak beristeri lebih dari satu orang harus mendapat izin
dari Pengadilan Agama.
2. Pengajuan permohonan izin dimaksudkan pada ayat 1 dilakukan
menurut tata cara sebagaimana diatur dalam Bab VII PP No.9 tahun
1975.
3. Perkawinan yang di lakukan dengan isteri kedua, ketiga atau keempat
tanpa izin dari Pengadilan Agama, tidak mempunyai kekuatan hukum.
Dari pasal-pasal diatas, Kompilasi Hukum Islam (KHI) sepertinya tidak jauh
berbeda dengan undang-undang perkawinan bahkan dengan semangat fikih.
Kendatipun pada dasarnya undang-undang perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam
(KHI) menganut prinsip monogami, namun sebenarnya peluang yang di berikan
untuk poligami juga terbuka.
Terkait dengan prosedur poligami. Pada pasal 57 di jelaskan:
Pengadilan Agama hanya memberi izin kepada suami yang akan beristeri
lebih dari seorang apabila:


92
d. Isteri tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai isteri.
e. Isteri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat di sembuhkan.
f. Isteri tidak dapat melahirkan keturunan.
Selain syarat-syarat yang telah di terangkan di atas, terdapat syarat-syarat lain
juga yang harus dipenuhi oleh suami yang akan melakukan pernikahan poligami atau
beristeri lebih dari seorang. Seperti yang di jelaskan pada pasal 58 Kompilasi Hukum
Islam (KHI), yang berbunyi:
1. Selain syarat utama yang di sebut pada pasal 55 ayat 2 maka untuk
memperoleh izin Pengadilan Agama, harus pula dipenuhi syarat-syarat
yang ditentukan pada pasal 5 undang-undang No.1 tahun 1974, yaitu:
a. adanya persetujuan isteri;
b. adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan hidup isteri-
isteri dan anak-anak mereka.
2. Dengan tidak mengurangi ketentuan pasal 41 huruf b Peraturan
Pemerintah No.9 tahun 1975, persetujuan isteri atau isteri-isteri dapat
diberikan secara tertulis atau dengan lisan, tetapi sekalipun telah ada
persetujuan tertulis, persetujuan ini dipertegas dengan persetujuan lisan
isteri pada siding Pengadilan Agama.
3. Persetujuan dimaksud pada ayat 1 huruf a tidak diperlukan bagi seorang
suami apabila isteri atau isteri-isterinya tidak mungkin dimintai
persetujuannya dan tidak dapat menjadi pihak dalam perjanjian atau
apabila tidak ada kabar dari isteri atau isteri-isterinya sekurang-kurangnya
2 (dua) tahun atau karena sebab lain yang perlu mendapat penilaian
Hakim.


93
Selanjutnya pada pasal 59 Kompilasi Hukum Islam (KHI) juga digambarkan
betapa besarnya wewenang Pengadilan Agama dalam memberikan persetujuan
kepada suaminya untuk berpoligami, persetujuan itu dapat diambil alih oleh
Pengadilan Agama. Lebih lengkapnya bunyi pasal tersebut sebagai berikut:
Dalam hal isteri tidak mau memberikan persetujuan, dan permohonan izin
untuk beristeri lebih dari satu orang berdasarkan atas salah satu alasan yang
diatur dalam pasal 55 ayat (2) dan 57, Pengadilan Agama dapat menetapkan
tentang pemberian izin setelah memeriksa dan mendengar isteri yang
bersangkutan di persidangan Pengadilan Agama, dan terhadap penetapan ini
isteri atau suami dapat mengajukan banding atau kasasi.
Dari penjelasan diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan, bahwa perundang-
undangan perkawinan di Indonesia tentang poligami sebenarnya telah berusaha
mengatur agar laki-laki yang melakukan poligami atau beristeri lebih dari satu orang
adalah laki-laki yang benar-benar (1) mampu secara ekonomi menghidupi dan
mencukupi seluruh kebutuhan (sandang-pangan-papan) keluarga (isteri-isteri dan
anak-anak), serta (2) mampu berlaku adil terhadap isteri-isterinya sehingga isteri-
isteri dan anak-anak dari suami yang berpoligami tidak disia-siakan. Demikian juga
perundang-undangan Indonesia terlihat berusaha menghargai isteri sebagai pasangan
hidup suami. Terbukti, bagi suami yang akan melaksanakan poligami, suami harus
terlebih dahulu mendapatkan persetujuan para isteri.
59


59
Kahiruddin Nasution, Riba dan Poligami: Sebuah Studi atas Pemikiran Muhammad Abduh,
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), 100.


94
Pada sisi lain peranan Pengadilan Agama untuk mengabsahkan praktik
poligami menjadi sangat menentukan bahkan dapat di katakana satu-satunya lembaga
yang memiliki otoritas untuk mengizinkan poligami.
60

Dari sini tidak terjadi perbedaan antara Quraish Shihab dan juga Undang-
undang perkawinan No.1 tahun 1974, di mana dari keduanya baik itu dari Quraish
Shihab maupun dari sudut pandang Undang-undang perkawinan No.1 tahun 1974
yang menganggap poligami merupakan pelaksanaan hukum dalam keadaan darurat.
Sebagai bentuk solusi atau salah satu bentuk alternatif dalam menyelesaikan problem
rumah tangga. Namun juga dalam pelaksanaan poligami tersebut dengan beberapa
syarat dan ketentuan. Begitu juga prosedur yang ditentukan dalam Kompilasi Hukum
Islam (KHI).
Syarat maupun ketentuan yang di berlakukan diatas, hal tersebut bertujuan
dalam pencapaian nilai keadilan yang diinginkan dan tidak menimbulkan
kekhawatiran dalam berlaku adil.
Dalam masalah keadilan baik itu Quraish Shihab maupun ketentuan hukum
yang berlaku diIndonesia, yang dituntut adalah keadilan dalam bentuk materi, baik
itu terkait dengan nafkah, tempat tinggal, maupun pakaian atau dengan kata lain
keadilan dalam sandang, pangan dan papan. Bukan dalam hal immaterial, karena
tidak dapat di ukur.
Dalam KHI dalam pasal 59 di jelaskan, pengadilan tetap dapat memberikan
izin poligami walau tidak mendapat izin dari isteri setelah memeriksa dan
mendengarkan isteri yang bersangkutan dipersidangan. Hal ini terlihat lebih memberi
peluang kepada suami untuk poligami dan kurang mendukung pihak perempuan atau

60
Amiur Nuruddin dan Azhari Akmal Tarigan., Op.Cit., 169.


95
isteri. Namun tidaklah demikian, karena walaupun dalam hal ini Pengadilan Agama
dapat memberi izin poligami, tetapi masih ada kesempatan untuk dapat mengajukan
banding maupun kasasi.
Saya setuju dengan pendapat Muhammad Quraish Shihab dengan
mengatakan bahwa poligami merupakan mirip pintu darurat dalam pesawat, yang
hanya boleh dibuka dalam keadaan emergency tertentu; yang duduk disamping pintu
darurat pun haruslah mereka yang memiliki pengetahuan dan kemampuan
membukanya serta baru diperkenankan membukanya pada saat mendapat izin dari
pilot. Dan itu pun merupakan pintu kecil yang hanya dapat dilalui oleh siapa yang
sangat amat membutuhkan, dan dengan syarat yang tidak ringan.
Dalam hal ini, saya menganggap bahwa pendapat Muhammad Quraish
Shihab lebih relevan daripada pendapat yang menutup pintu atau melarang poligami,
karena mereka yang melarang poligami memang benar apabila di lihat satu sisi yaitu
dalam perlindungan wanita dalam kesetaraan, namun apabila melihat sisi yang lain
poligami juga untuk melindungi kaum wanita yang itu apabila terjadi dalam kondisi
tertentu. Dan juga dapat menjadi salah satu alternatif dalam menanggulangi
permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat, seperti prostitusi yang banyak terjadi
yang cenderung karena alasan ekonomi. Dan juga dengan pelarangan poligami dapat
menimbulkan problem sosial, seperti prostitusi atau yang lainnya yang itu juga dapat
menjadi problem tersendiri.
Poligami dalam perspektif Quraish Shihab ini juga bukan suatu anjuran
maupun kewajiban untuk melakukan poligami, melainkan suatu alternatif untuk
menyelesaikan permasalahan keluarga. Dalam pelaksanaan poligami tersebut pun,
dengan beberapa syarat dan ketentuan yang harus dilakukan oleh suami yang


96
menikah lebih dari satu isteri atau suami yang melakukan poligami tersebut untuk
harapan untuk mencapai keadilan dan juga melindungi perempuan.
Dari semua penjelasan baik itu dari al-Qur’an, hadits, pendapat ulama,
maupun Undang-undang yang berlaku diIndonesia, menjelaskan bahwa syarat dan
juga ketentuan yang di inginkan tidak lain untuk mencapai keadilan. Demikian juga
yang terdapat dalam pendapat Quraish Shihab.
Pendapat Quraish Shihab dapat dijadikan suatu solusi atau jalan tengah untuk
menjembatani bagi mereka yang berbeda pendapat baik itu yang pro maupun kontra.
Karena pendapat Quraish Shihab tersebut tidak menutup rapat-rapat atau melarang
poligami juga tidak menganjurkan, namun beliau menganggap hal itu merupakan
solusi yang harus ditempuh dalam keadaan darurat tertentu dengan syarat dan
ketentuan yang tidak ringan.
Sehingga implikasi hukumnya untuk dapat dijalankan atau dapat
direalisasikan dalam kehidupan masyarakat. Implikasi tersebut menguatkan yang
telah diterapkan dalam Undang-undang yang berlaku diIndonesia yaitu dalam
Undang-undang No 1 tahun 1974, Kompilasi Hukum Islam (KHI), maupun
penjelasan dari Undang-undang tersebut, disana sudah mencoba mengatur poligami,
yang tidak lain untuk mencapai keadilan dan melindungi perempuan.
Peran pemerintah dalam hal ini Pengadilan Agama yang merupakan
perpanjangan tangan dari pemerintah yang memiliki wewenang dalam pemberian
izin poligami sangatlah penting, selain melindungi hak-hak perempuan dan anak-
anak juga sebagai pengawas dan pengatur bagi suami yang melakukan poligami agar
tidak semaunya saja atau dalam poligami dengan tidak melaksanakan syarat dan
ketentuannya. Sehingga poligami benar-benar menjadi solusi ditengah masyarakat


97
dan bukan menimbulkan permasalahan baru, seperti yang dikhawatirkan oleh
pendapat yang melarang poligami. Oleh karena dalam mengatur poligami,
pemerintah harus tegas baik itu dalam melaksanakan ketentuan-ketentuan yang
menjadi syarat poligami maupun sanksi yang diberikan sehingga poligami dapat
menjadi alternatif seperti yang diharapkan.
















98

BAB V
PENUTUP

Dari hasil analisa diatas dapat ditarik kesimpulan, sebagaimana sebagai
berikut:
1. Quraish Shihab Membolehkan poligami, dengan beberapa ketentuan yang harus
terpenuhi. Menurut Muhammad Quraish Shihab, poligami seperti sebuah pintu
darurat yang hanya boleh dibuka atau dilakukan dalam keadaan tertentu saja. Dan
orang yang melakukan itu haruslah mereka yang memiliki pengetahuan dan
kemampuan membukanya serta baru diperkenankan membukanya. Dan hanya
dapat dilalui oleh siapa yang sangat amat membutuhkan, dan dengan syarat yang
tidak ringan. Dari situ dapat kita pahami bahwa poligami dalam pemikiran
Quraish Shihab merupakan salah satu alternatif yang dilakukan dalam kondisi
darurat atau tertentu, dan juga dengan beberapa syarat dan ketentuan. Dalam
memahami makna adil yang harus dicapai bagi seorang suami yang melakukan
poligami menurut Quraish Shihab adalah adil dalam hal materi, baik itu sandang,
pangan, dan papan. Bukan dalam kecenderungan hati atau perasaan, karena hal
itu tidak mungkin diwujudkan, namun pun bukan kecenderungan hati tapi tidak
boleh terlalu cenderung pada salah satu isterinya, karena hal tersebut dapat
menimbulkan kecemburuan yang dapat berdampak kurang baik.
2. Implikasi hukum dari pemikiran Quraish Shihab tersebut yaitu menguatkan
peraturan yang berlaku di Indonesia, sebagaimana yang dilaksanakan pemerintah


99
Indonesia, dimana yang tertuang dalam Undang-undang perkawinan No 1 tahun
1974, bahwa pemerintah membolehkan poligami, walaupun perkawinan
Indonesia berasas monogami. Poligami tersebut dapat dilaksanakan dalam
kondisi atau keadaan tertentu yang memang menuntut untuk dilaksanakan
poligami demi untuk mencapai kemaslahatan, namun dalam pelaksanaan
poligami tersebut pihak suami juga dituntut untuk memenuhi persyaratan dan
ketentuan Undang-undang tersebut, bila tidak maka tidak diperkenankan
poligami. Persyaratan dan ketentuan tersebut tidak saja sebagai bentuk
perlindungan terhadap perempuan (isteri) dan anak-anak dalam keluarga yang
melaksanakan poligami, tetapi juga untuk mencegah lelaki (suami) dari berbuat
semena-mena dalam melakukan poligami.

Daftar Pustaka
Departemen Agama Republik Indonesia (1994) Al-Qur’an dan Terjemahnya, edisi
revisi, Semarang: PT. Kumudasmoro Grafindo Semarang.
Ali, Zainuddin (2006) Hukum Perdata Islam diIndonesia. Cet. I, Jakarta: Sinar
Grafika.
Ashshofa, Burhan (2004) Metode Penelitian Hukum. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Dahlan. A dan M Alfarisi, Zaka , (2006) Asbabun Nuzul, Latar Belakang Historis
Turunnya Ayat-Ayat Al-qur’an. edisi kedua Cet. VIII, Bandung: Diponegoro.
Dairobi, Ahmad (2007) Poligami dan Kekuatan Opini Perempuan, Buletin Sidogiri,
edisi 13, tahun ke II, Dzul Hijjah 1427 H.
Daud Ali, Mohammad (1997) Hukum Islam dan Peradilan Agama. Jakarta: Rajawali
Pers.
Eri Mahani, Masfida (2004) Pandangan Hakim Terhadap Pernyataan Berlaku Adil
Dalam Poligami (Studi Kasus di Pengadilan Agama Malang. Skripsi,
Malang: Fakultas Syaria’ah UIN Malang.


100
Fahmie, Anshori (2007) Siapa Bilang Poligami Itu Sunah. Cet. I, Depok: Pustaka
IIMaN.
Fikri, Abu (2007) Poligami yang tak Melukai Hati. Cet. I, Bandung: Mizan.
Fakultas Syari’ah UIN Malang,Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, Fakultas Syari’ah
UIN Malang.
Ghany A.R, Abdul (2004) Zauzat an-Nabi Muhammad Saw wa Hikmat
Ta’addudihin, diterjemahkan Dwi Ratnasari, Mengapa Rasulullah
Berpoligami dan Sebaiknya kita tidak. Cet. I, Yogyakarta: Diva Press.
Harahap, Yahya (1975) Hukum Perkawinan Nasional. Medan: Zahir Trading Co
Medan.
Hilmi Farhat Ahmad, Karim (2007) Ta’addu az-Zauzah fi al-Adyan diterjemahkan
oleh Munirul Abidin Farhan, Poligami Berkah atau Musibah. Cet. I, Jakarta:
Senayan Publishing.
Husain, Musfir aj-Jahrani (1997) Nazharatun fi Ta’addudi az-Zaujat diterjemahkan
Muh. Suten Ritonga, Poligami Dari Berbagai Persepsi. Cet. II, Jakarta:
Gema Insani Press.
Imam az-Zabidi (2002) Mukhtashar Shahih al-Bukhari diterjemahkan Achmad
Zaidun, Ringkasan Hadits Shahih al-Bukhari. Cet. I, Jakarta: Pustaka Amani.
Inpres RI Nomor 1 tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam.
Jumhairiyah (2001) “Konsepsi dan Aplikasi Adil Sebagai Salah Satu Syarat Poligami
(Studi Kasus Pada Perizinan Poligami diPengadilan Agama Malang dan
Persepsi Adil Menurut Para Isteri)”. Skripsi, Malang: Fakultas Syari’ah UIN
Malang.
Mahmoud al-‘akkad, Abbas (1984) al-Mar’atul fil Qur’an diterjemahkan Chadidjah
Nasution, Wanita Dalam Al-Qur’an. Cet. II, Jakarta: Bulan Bintang.
Mazhariri, Husain (2006) Akhlak dar Khoneh diterjemahkan Abdullah Assegaf,
Membangun Surga Dalam Rumah Tangga. Cet. X, Jakarta: Cahaya.
Moleong, J. Lexy (2005) Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Mubarak, Saiful Islam (2007) Poligami Antara Pro dan Kontra. Cet. II, Bandung:
Syamil.
Musthofa al-Adawi, Abu Abdillah (2005) Ahkam an-Nikah wa az-Zifaf,
diterjemahkan Aris Munandar dan Eko Haryono, Tanya Jawab Masalah
Nikah Dari A sampai Z. Cet. I; Yogyakarta: Media Hidayah.
Muarif Ambary, Hasan (et al) (2000) Ensiklopedi Islam. Cet. V, Jakarta: PT Ichtiar
Baru van Hoeve.


101
Mubarok, Jaih (2005) Modernisasi Hukum Perkawinan di Indonesia. Cet. I,
Bandung: Pustaka Bani Quraisy.
Nasution, Kahiruddin (1996) Riba dan Poligami: Sebuah Studi atas Pemikiran
Muhammad Abduh. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Nata, Abuddin, dkk (2002) Insiklopedi Islam. Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve,
jilid III.
Nuruddin, Amiur dan Akmal Tarigan, Azhari (2004) Hukum Perdata Islam
diIndonesia, Studi Kritis Perkembangan Hukum Islam dan Fikih, UU
No.1/1974 sampai KHI. Jakarta: Prenada Media.
Rachman, Noer Aini (2007) ”Poligami Dalam Pandangan Ulama ( Studi Pada
pengasuh Pondok Pesantren di Kecamatan Kraksaan Kabupaten
Probolinggo)”. Skripsi, Malang: Fakultas Syari’ah UIN Malang.

Rahayu, Islami (2003) “Poligami Sebagai Salah Satu Alternatif Mengangkat Derajat
Kaum Wanita (Studi Komparatif Terhadap Pandangan Ulama Dalam Hukum
Islam dan Undang-undang No 1 tahun 1974)”. Skripsi, Malang: Fakultas
Syariah UIN Malang.

Rahman Ghazaly, Abd. (2006) Fiqh Munakahat. Cet. II, Jakarta: Kencana.
Rakhmawati, N. Rosyidah (2005) Poligami diIndonesia dilihat dari Aspek Yuridis
Normatif editor Rochayah Machali, Wacana Poligami diIndonesia. Cet. I,
Bandung: Mizan.
Rahman I Doi, Abdul (1996) Shari’ah The Islamic Law, terjemahan, Basri Iba
Asghary dan Wadi Masturi, Perkawinan Dalam Syari’at Islam. Cet. II
Jakarta: PT Rineka Cipta.
Sabtia Irawan, Chandra (2007) Perkawinan dalam Islam Monogami atau Poligami.
Cet. I, Yogyakarta: An Naba’.
Shiddieq, Umay M. Dja’far (2004) Indahnya Keluarga Sakinah Dalam Naungan al-
Qur’an dan as-Sunah. Cet. I, Jakarta: Zakia Press.
Shihab, M. Quraish (2006) Perempuan Dari Cinta Samapi Seks, Dari Nikah Mut’ah
sampai Nikah Sunah, Dari Bias Lama Samapi Bias Baru. Cet. III, Jakarta:
Lentera Hati.
------- (2005) Tafsir Al-Mishbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Cet. IV,
Jakarta: Lentera Hati.
------- (2007) Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i Atas Pelbagai Persoalan Umat.
Cet. XIX, Jakarta: Mizan.
------- (1995) Membumikan Al-Qur’an. Bandung: Mizan.


102
------- (2007) Pengantin Al-Qur’an, Kalung Permata Buat Anak-anakku. Cet. III,
Jakarta: Lentera Hati.
Soekanto, Soerjono (1984) Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta: Universitas
Indonesia.
Suryadilaga, M. Alfatih, dkk (2005) Metodologi Ilmu Tafsir. Yogyakarta: Teras.
Suryadilaga, M. Alfatih, dkk (2005) Metodologi Ilmu Tafsir. Yogyakarta: Teras.
Soekanto (1996) Meninjau Hukum Adat Indonesia: Suatu Pengantar Untuk
Mempelajari Hukum Adat. Cet.III, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Syaltut, Syekh Mahmud (1984) al-Islam Aqidah wa Syari’ah, alih bahasa
Fachruddin dan Nasharuddin, Aqidah dan Syari’at Islam. Cet.I Jakarta: PT.
Bina Aksara.
Triwulan Tutik, Titik dan Trianto (2007) Poligami Perspektif Perikatan Nikah,
Telaah Kontekstual Menurut Hukum Islam dan Undang-undang Perkawinan
No.1 Tahun 1974. Cet. I, Jakarta: Prestasi Pustakaraya
UU No.1 tahun 1974, Lembaran Negara RI tahun 1974 nomor 1.
Wibisono, Yusuf (1980) Monogami Atau Poligami, Masalah Sepanjang Masa. Cet.
I, Jakarta: Bulan Bintang.

MOTTO

Νà6uΖ÷t/ Ÿ≅yèy_uρ $yγøŠs9Î) (#þθãΖä3ó¡tFÏj9 %[`≡uρø—r& öΝä3Å¡à Ρr& ôÏiΒ /ä3s9 t,n=y{ ÷βr& ÿϵÏG≈tƒ#u ôÏΒuρ tβρ㍩3x tGtƒ 5Θöθs)Ïj9 ;M≈tƒUψ y7Ï9≡sŒ ’Îû ¨βÎ) 4 ºπyϑômu‘uρ Zο¨Šuθ¨Β

”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteriisteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (Q.S Ar-Ruum: 21)1

1

Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya (edisi revisi, Semarang: PT. Kumudasmoro Grafindo Semarang, 1994), 644.

2

PERSEMBAHAN

Alhamdulillah, puji syukur selalu terpanjatkan ke hadirat Allah SWT, dengan segala rahmat dan hidayah –Nya. Shalawat serta salam tak lupa dihaturkan ke haribaan junjungan Nabi besar Sayyidul Anbiya Muhammad SAW yang telah memperjuangkan agama yang haq. Kupersembahankan karya tulis ini untuk : Bapak dan Ibuku tercinta, Bapak Suroso dan Ibu Marfu’atun, dorongan dan bait doa yang tak pernah henti menjadi motivasi semangat dalam hidupku untuk selalu mempersembahkan yang terbaik Moga Alllah selalu menjaga keduanya di Dunia maupun di Akhirat. Mbakku Sri Dewi Handayani dan Masku Andi Santoso terima kasih untuk do’a dan supportnya. Tak lupa buat Dinda Rohma seorang terkasih yang Allah ciptakan untuk menemani dalam perjalanan hidupku. Saudara-saudaraku yang selalu menyemangatiku untuk menjadi yang bermanfaat dan dapat dibanggakan.

3

SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama NIM Alamat : Rahmat Hidayat : 04210012 : Menanti, Kecamatan Bilah Hulu, Kabupaten Labuhan Batu Sumatera Utara 21462 Menyatakan bahwa Skripsi yang saya buat untuk memenuhi persyaratan kelulusan pada Program Studi Al-Ahwal Al-Syakhshiyah Fakultas Syari’ah Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, dengan judul: PEMIKIRAN MUHAMMAD QURAISH SHIHAB TENTANG POLIGAMI

adalah hasil karya saya sendiri, bukan duplikasi dari karya orang lain. Selanjutnya, apabila dikemudian hari ada claim dari pihak lain, bukan menjadi tanggung jawab Dosen Pembimbing dan atau Pengelola Fakultas Syari’ah Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, tetapi menjadi tanggung jawab saya sendiri. Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan tanpa paksaan dari siapapun.

Malang, 24 Oktober 2008 Penulis

Rahmat Hidayat NIM. 04210012

4

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Pembimbing penulisan skripsi saudara Rahmat Hidayat, NIM 04210012, mahasiswa Fakultas Syari’ah Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, setelah membaca, mengamati kembali berbagai data yang ada di dalamnya dan mengoreksi, maka skripsi yang bersangkutan dengan judul: PEMIKIRAN MUHAMMAD QURAISH SHIHAB TENTANG POLIGAMI

Telah dianggap memenuhi syarat-syarat ilmiah untuk disetujui dan diajukan pada majelis dewan penguji.

Malang, 24 Oktober 2008 Pembimbing

H. Isroqunnajah, M.Ag NIP. 150 278 262

5

PEMIKIRAN MUHAMMAD QURAISH SHIHAB TENTANG POLIGAMI

SKRIPSI Nama NIM Jurusan Fakultas : Rahmat Hidayat : 04210012 : Al-Ahwal As-Syakhshiyyah : Syari’ah

Tanggal, 24 Oktober 2008 Yang mengajukan Rahmat Hidayat 04210012/S-1 Telah disetujui oleh: Pembimbing

H. Isroqunnajah, M.Ag NIP. 150 278 262 Mengetahui Dekan Fakultas Syari’ah

Drs. H. Dahlan Tamrin, M.Ag NIP. 150 216 425

6

M. 150 216 425 7 . 04210012. M.H. Dahlan Tamrin M. NIP. Isroqunnajah.Ag (Penguji Utama) NIP.Ag. H. M.PENGESAHAN SKRIPSI Dewan penguji skripsi saudara Rahmat Hidayat. 29 Oktober 2008 Dekan Fakultas Syari’ah Drs. 150 278 262 (Sekretaris Penguji) ( ) 3. 150 289 266 ( ) Malang. Musleh Herry. S. NIM. 150 294 456 ( ) 2. Umi Sumbulah. H. Mahasiswa Fakultas Syari’ah angkatan 2004. dengan judul: PEMIKIRAN MUHAMMAD QURAISH SHIHAB TENTANG POLIGAMI Telah dinyatakan LULUS dan berhak menyandang gelar Sarjana Hukum Islam (SHI) Dewan Penguji: 1.Ag NIP. Dr.Hum (Ketua Penguji) NIP.

2.Ag. baik materil maupun spritual sampai selesainya skripsi ini. 3. dukungan. maka dengan segala kerendahan hati penulis menghaturkan ucapan terima kasih kepada: 1. Bapak Prof. 5.” Shalawat dan salam atas Nabi Muhammad saw.Ag. selaku Dekan Fakultas Syari’ah Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. Bapak Drs. wawasan dan pengetahuannya kepada penulis. 4. selaku Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Malang.KATA PENGANTAR Dengan pertolongan Allah Swt dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini sebagai tugas akhir dalam menyelesaikan studi tingkat pertama dalam jenjang akademis dengan judul “PEMIKIRAN MUHAMMAD QURAISH SHIHAB TENTANG POLIGAMI. Imam Suprayogo. M. Isroqunnajah. 8 . pikiran serta tenaga dalam membimbing penulisan dan penyusunan skripsi ini. Oleh karena itu. Dr. H. keluarga dan sahabat. selaku dosen pembimbing yang dengan sabar dan tulus ikhlas telah mengorbankan waktu. Dahlan Tamrin M. Bapak dan Ibuku tercinta dan saudaraku mbak Dewi dan mas Andi yang senantiasa memberikan kasih sayang. serta ummatnya yang setia sampai hari kiamat. yang telah banyak berperan aktif dalam menyumbangkan ilmu. Segenap dosen Fakultas Syari’ah Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. Bapak H. Penelitian ini tidak mungkin akan terwujud tanpa bantuan banyak pihak.

Fikri. Umam. Agung. Muttaqin Jambi. teman-teman P. Elmi (Kediri). Tuti (NTB). Alfu. teman-teman kamar Sunan Ampel. Gus fik. Sulaeman (Cirebon). 9. KH. Malang.6. Aisyah. Lily. Teman-teman dan Sedulurku. Syahrul. Solikhah (Pasuruan). Adinda Rohma dan tujuh cahaya hidupku. Zainuddin. 8. Ramadha (Nganjuk). Tabi’in. Gasek-Sukun Malang. Adik-adik di FKMM-SUMUT. Teman-teman satu angkatan Fakultas Syari’ah tahun 2004. Teman kontrakan Slamet Sidoarjo.P Sabilurrosyad. Kamsay. Ali Akbar (Makassar). wawasan dan pengalaman penulis. Rizky. Rifa. Marzuki Mustamar dan Seluruh keluarga besar Pondok Pesantren Sabilurrosyad. 24 Oktober 2008 Penulis 9 . Mas Qowim. Zen. dan lainnya yang tidak dapat di sebutkan satu persatu. Mas Hanan. Amin ya rabbal ‘alamin. Ridho. Irfan. Husna. Shodiq. Amin. Penulis menyadari sepenuh hati bahwa penyelesaian tugas akhir ini masih jauh dari sempurna karena keterbatasan kemampuan. semoga Allah menjadikan kami dari golongan orang yang taqwa. Mas Heri. Fitri. Juwartin (Ngantang). dan lainnya yang tidak dapat di sebutkan satu persatu. pengetahuan. Neta. Reza. Wiwin (Pasuruan). Ronny. Untuk itu penulis sangat berharap semoga dapat bermanfaat bagi penulis dan bagi orang yang membacanya. Anis (Madiun). Wahyu (Bengkulu). Fahmi. 7. Saudah. Hubeb. Hasanuddin Berutu (Sidikalang). Eva. Ziza. Fifin (Pamekasan).

...............11 3.......... xi BAB I................................................. Latar Belakang Masalah ..... Tujuan Penelitian ................................. Sistematika Pembahasan ......................................................................................................................................9 E............................................................................................9 D..................................................11 2.................................................................9 F...................... Rumusan Masalah .................................................................................................................................. Metode Penelitian.......................... iii Halaman Persetujuan Pembimbing ............................................................................... vi Kata Pengantar ................................................. Metode Pengumpulan Data .............................vii Daftar Isi ...........13 10 ................. Jenis Penelitian ............ ix Abstrak........1 B....8 C.....................................................ii Halaman Pernyataan ....................................... PENDAHULUAN ......................................................................................................... Manfaat Penelitian .............................................................................................................v Halaman Pengesahan............................................................. Penelitian Terdahulu .......................................................................... iv Halaman Pengajuan Skripsi.........1 A...DAFTAR ISI Halaman Judul Halaman Motto ................................................................................................................................................. i Halaman Persembahan.......11 1..................................

.................................BAB II.... Poligami Dalam Al-Qur’an dan Hadits .....15 1............................. Poligami Pra-Islam .................................................................................... Biografi Muhammad Quraish Shihab .....53 Bab IV......................41 Bab III.86 Daftar Pustaka Lampiran 11 ....... Sejarah Poligami ................................... Poligami Menurut Muhammad Quraish Shihab ..............................................................49 B....................... Poligami Pada Masa Islam .........................................49 A.................. Pengertian Poligami .........19 2.................................................................................... Poligami Dalam Perspektif Muhammad Quraish Shihab.......................................... Analisa Data ...................... Penutup ......71 Bab V..................14 B.......... KAJIAN TEORI ............................................. Poligami Dalam Hukum Yang Berlaku DiIndonesia........................14 A..........37 D.........................22 C.............................

Dosen Pembimbing: H. Muhammad Quraish Shihab berpendapat bahwa poligami seperti pintu darurat yang boleh dibuka dalam keadaan tertentu saja. Isroqunnajah. sehingga dapat menjadi solusi atau sebaliknya. Hasil analisis terhadap permasalahan yang dibahas dipaparkan secara deskriptif dalam laporan hasil penelitian. Dalam pengumpulan data. dan dengan syarat yang tidak ringan. dukungan baik materil maupun spritual sampai selesainya skripsi ini. dan juga harus melihat kepada aspek sejarah pada masa pelaksanaan poligami baik pada masa Rasulullah dan juga melihat situasi dan kondisi masyarakat. peneliti mengumpulkan buku-buku Quraish Shihab yang membahas poligami yang kemudian memaparkannya.Ag. Fakultas Syari’ah Jurusan Al-Ahwal Al-Syakhshiyah Universitas Islam Negeri Malang (UIN) Malang.Abstrak Rahmat Hidayat (04210012). Kata kunci: Pemikiran. Pemikiran Muhammad Quraish Shihab Tentang Poligami. Dalam memahami ayat tentang poligami terjadi perbedaan sehingga menimbulkan pro dan kontra. dan poligami juga dikenal oleh syariat agama-agama sebelum Islam. Oleh karena itu perlu ada pemahaman yang lebih mendalam lagi untuk memahami ayat poligami tersebut. M. Penelitian ini merupakan penelitian literatur (Library Research). Muhammad Quraish Shihab Poligami sudah muncul sejak dahulu sebelum agama Islam lahir. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pemikiran Muhammad Quraish Shihab tentang poligami dan juga implikasi dari pemikiran tersebut. Perbedaan tersebut terjadi dalam memahami ayat poligami tersebut. Poligami. 12 . Sumber data yang digunakan meliputi primer dan sekunder. Sehingga poligami merupakan salah satu alternatif dalam kondisi darurat saja dan orang yang ingin melakukan poligami haruslah memiliki pengetahuan tentang kasih sayang. apakah membutuhkan poligami atau tidak. poligami dan dapat memenuhi persyaratan dan ketentuan dalam melakukan poligami. dimana hal poligami tersebut sudah dilakukan oleh orang-orang Yunani dahulu.

2 Sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an surat adz-Dzariyat: 49 : tβρ㍩. Allah menciptakan makhluk dengan berpasangpasangan.BAB I PENDAHULUAN A. 2 13 . Jakarta: Lentera Hati. 2007). Kalung Permata Buat Anak-anakku (Cet. III. 2. Quraish Shihab. dengan naluri makhluk masing-masing memiliki pasangan dan berupaya bertemu dengan pasangannya.x‹s? ÷/ä3ª=yès9 È÷y`÷ρy— $oΨø)n=yz >óx« Èe≅à2 ÏΒuρ M. Latar Belakang Masalah Pernikahan merupakan hal yang fitrah bagi setiap manusia yang bertujuan untuk melangsungkan kehidupan. Pengantin Al-Qur’an.

terkadang hal itu tidak dapat terwujud yaitu hidup dengan satu pasangan saja (sepasang suami isteri). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. Sedangkan di dalam agama Islam pernikahan merupakan suatu ibadah. supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya. bahagia.M≈tƒUψ y7Ï9≡sŒ ’Îû ¨βÎ) 4 ºπyϑômu‘uρ Artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri. wa rahmah. seperti 14 . Dari sinilah dapat dipahami bahwa setiap manusia sangat mendambakan setiap pasangannya dan dapat hidup bersama dengan pasangannya tersebut. dan kasih sayang seluruh anggota keluarga nantinya. Sebagaimana Allah jelaskan dalam firman-Nya yang terdapat dalam al-Qur’an surat ar-Rum: 21: Zο¨Šuθ¨Β Νà6uΖ÷t/ Ÿ≅yèy_uρ $yγøŠs9Î) (#þθãΖä3ó¡tFÏj9 %[`≡uρø—r& öΝä3Å¡à Ρr& ôÏiΒ /ä3s9 t. Karena tujuan pernikahan itu sendiri untuk menciptakan rasa tenang.n=y{ ÷βr& ÿϵÏG≈tƒ#u ôÏΒuρ ∩⊄⊇∪ tβρ㍩3x tGtƒ 5Θöθs)Ïj9 .Artinya: Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah. cinta. hal ini terjadi karena beberapa faktor. sejahterah atau dengan kata lain untuk membentuk sakinah. dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. cinta dan kasih sayang dalam suatu bingkai keluarga yang itu merupakan bagian dari komunitas masyarakat terkecil dan sebuah keluaga diharapkan akan menjadi sumber mata air kebahagian. Keadaan tersebut merupakan dambaan setiap pasangan yang melakukan pernikahan untuk mengarungi kebahagiaan. Namun. melainkan ada seseorang yang menemani dan mendampingi baik suka maupun duka. sehingga dalam mengarungi kehidupannya tidak merasa sendiri. mawaddah.

Menanggapi permasalahan tersebut.1 Tahun 1974 (Cet. Isi dari sidang singkat tersebut berupa peninjauan kembali Undang-undang No. dan menteri-menteri lain yang terkait. Poligami Perspektif Perikatan Nikah. sehingga membutuhkan dari yang lain. 3 15 . I. Permasalahan poligami pernah menjadi sorotan publik ketika berpoligaminya da’i selebritis. Menteri Pemberdayaan Perempuan. permasalahan poligami tersebut sampai sekarang masih banyak menimbulkan kontroversi dan mengalami pro dan kontra. terjadi tambah ramainya pesan pendek melalui handphone (sms) kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Telaah Kontekstual Menurut Hukum Islam dan Undang-undang Perkawinan No. 2007). 2.salah satu antara suami isteri tersebut tidak mendapatkan suatu kebahagiaan atau merasa kurang. Oleh karena itu dibutuhkan solusi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.1 tahun 1974 tentang perkawinan tersebut. antara lain Menteri Agama. kondang dan menjadi idola para wanita KH Abdullah Gymnastiar yang lebih terkenal dengan sebutan AA Gym yang telah menguak kembali polemik lama mengenai eksistensi poligami dalam Islam. Namun. dalam menyelesaikan permasalan tersebut sudah dikenal sejak dahulu di masyarakat dengan poligami. Poligini adalah ikatan perkawinan yang salah satu pihak (suami) mengawini beberapa (lebih dari satu) isteri dalam waktu yang bersamaan. sehingga membuat orang nomor satu di Indonesia tersebut serta merta mengadakan sidang singkat dengan para menterinya. Jakarta: Prestasi Pustakaraya.3 Sikap pro maupun kontra terhadap poligami sebenarnya sangat bergantung pada latar belakang sosial budaya dalam suatu komunitas dan sejauh mana Titik Triwulan Tutik dan Trianto.

pemahaman suatu kelompok masyarakat (bahkan dalam tingkat negara) terhadap ajaran agama (Islam) mengenai poligami itu sendiri. 16 . Dan mereka juga berdalil pada al-Qur’an yang terdapat dalam surat an-Nisa: 3. hal tersebut terlihat pada akhir ayat tersebut dimana apabila para suami takut tidak berlaku adil maka seyogyanya melakukan monogami (menikah tidak lebih hanya satu isteri saja). sehingga dapat di maklumi bila dalam memahami makna di balik hukum Islam khususnya mengenai poligami terjadi pro dan kontra. Sedangkan pada golongan yang kontra atau tidak sepakat dengan poligami mengutarakan dengan berbagai pendapatnya. dan juga melihat bolehnya poligami tersebut di pandang dari sisi atau sudut pandang bahwa praktik poligami tersebut dalam rangka untuk menyelesaikan suatu problem yang terjadi di dalam keluarga secara khusus maupun masyarakat secara umum yang mana dalam praktik poligami tersebut dapat mendapatkan maslahah. sehingga tidak mungkin dapat melakukan praktik poligami. Dan juga yang terdapat dalam al-Qur’an surat an-Nisa: 129.S an-Nisa: 3 tersebut. mereka memahami bahwa praktik poligami adalah suatu yang di bolehkan didalam al-Qur’an sebagaimana termaktup dalam Q. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang plural. ayat tersebut mengutarakan bahwa suami tidak mungkin dapat berlaku berlaku adil. karena hal itu merupakan “penindasan” terhadap kaum wanita. Pada golongan yang pro atau sepakat dengan poligami itu. Dari sinilah dapat dipahami bahwa pada dasarnya ajaran agama Islam dalam hal pernikahan berasaskan kepada asas monogami. bahwa asas yang berlaku dalam agama Islam adalah monogami.

maka jangan coba-coba melakukan poligami.4 Namun. sehingga menimbulkan pro dan kontra. harus dilihat dari berbagai sisi. Tetapi. baik laki-laki maupun perempuan. maka poligami bisa menjadi solusi ekonomi. Jika tidak memenuhi kewajiban. Buletin Sidogiri. Tidak bisa hanya memandang dari keuntungan dari pihak suami yang melakukan poligami. tahun ke II.Dalam menyikapi poligami. tidak diragukan lagi. hadits maupun pernyataan ulama-ulama salaf. maka minimal hal itu akan mengurangi angka pelacuran karena alasan ekonomi. juga dibarengi dengan syarat-syarat dan ketentuan yang telah di tentukan. jika kedua belah pihak yang pro dan kontra tersebut sama-sama jernih dalam bersikap dan berpandangan. Masalah poligami ini hanyalah pertarungan opini. maka ancaman akhiratnya sangat berat. Namun. solusi moral dan juga kesucian diri. Dalil yang bisa digunakan untuk mempersoalkan poligami. Poligami dan Kekuatan Opini Perempuan. Oleh karena itu. kemudian poligami menjadi isu yang selalu memancing reaksi di Indonesia yang mana mayoritas penduduknya muslim. 4 Ahmad Dairobi. Bila seluruh lelaki yang ekonominya mapan mendapat rekomendasi kawin dua dari isterinya. Dzul Hijjah 1427 H. Kewajiban yang paling pokok adalah bisa berlaku adil kepada isteri-isterinya dan bisa memberikan nafkah kepada mereka. jika kira-kira tidak bisa memenuhi berbagai tanggung jawab dan kewajibannya. yaitu berbagai kewajiban yang ditetapkan oleh Islam untuk orang yang berpoligami. sehingga poligami benar-benar dapat menjadi solusi di tengah masyarakat dan tidak ada yang merasa dirugikan atas praktik poligami tersebut. hal 14. Dalil tentang berpoligami dalam agama Islam sangatlah kuat. edisi 13. 17 . mulai dari al-Qur’an.

memaknai dan menafsiri ayat poligami itu sendiri. $yδρâ‘x‹tGsù 18 . sehingga terjadi perbedaan dibanyak kalangan.Dan yang menjadikan perbedaan sehingga menimbulkan pro dan kontra tersebut adalah terkait dalam memahami. Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua. memaknai dan menafsiri ayat poligami tersebut. yang sama-sama menggunakan dalil Al-Qur’an dan Hadits. atau budak-budak yang kamu miliki. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil. seperti yang terdapat dalam Q. dengan perbedaan tersebut menghasilkan pemikiran yang berbeda dan berimplikasi pada hukum yang dihasilkan yang kemudian menjadi bervariasi pula terkait dengan pelaksanaan hukumnya. terdapat didalam Al-qur’an. Karena poligami atau mempunyai lebih dari satu isteri itu. Maka (kawinilah) seorang saja. dalam pertentangan tersebut didukung dengan argumen-argumen yang menguatkan pendapatnya. tiga atau empat. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor. Dan juga pada al-Qur’an surat an-Nisa: 129 È≅øŠyϑø9$# ¨≅à2 (#θè=ŠÏϑs? Ÿξsù ( öΝçFô¹tym öθs9uρ Ï!$|¡ÏiΨ9$# t÷t/ (#θä9ω÷ès? βr& (#þθãè‹ÏÜtFó¡n@ s9uρ ∩⊇⊄∪ $VϑŠÏm§‘ #Y‘θà xî tβ%x. Oleh karena itulah. ©!$# €χÎ*sù (#θà)−Gs?uρ (#θßsÎ=óÁè? βÎ)uρ 4 Ïπs)‾=yèßϑø9$$x.S An-Nisa: 3 y]≈n=èOuρ 4o_÷WtΒ Ï!$|¡ÏiΨ9$# zÏiΒ Νä3s9 z>$sÛ $tΒ (#θßsÅ3Ρ$$sù 4‘uΚ≈tGu‹ø9$# ’Îû (#θäÜÅ¡ø)è? āωr& ÷Λäø Åz ÷βÎ)uρ (#θä9θãès? āωr& #’oΤ÷Šr& y7Ï9≡sŒ 4 öΝä3ãΨ≈yϑ÷ƒr& ôMs3n=tΒ $tΒ ÷ρr& ¸οy‰Ïn≡uθsù (#θä9ω÷ès? āωr& óΟçFø Åz ÷βÎ*sù ( yì≈t/â‘uρ Artinya: Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya). yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. sampai saat sekarang ini poligami masih menimbulkan polemik bagi banyak kalangan. yang membedakannya adalah dalam memahami. ada yang setuju dan ada juga yang menentang.

2005). Membumikan Al-Qur’an (Bandung: Mizan. Karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai). Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Pemikiran terhadap satu ayat hukum juga tidak sepi dari pengaruh-pengaruh luar teks sebagai pangkal pemikiran. M. Metodologi Ilmu Tafsir (Yogyakarta: Teras. sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. 1995). 108.6 Demikian juga dengan pemikiran terhadap ayat-ayat hukum. dan juga penafsiran itu sesungguhnya merupakan satu bagian dari usaha untuk mendekatkan teks dengan realitas kontemporer. Itu tak lain karena pemikiran tersebut yang diwujudkan dalam satu karya pemahaman.Quraish Shihab dalam bukunya membumikan Al-Qur’an menjelaskan bahwa pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Qur’an. mempunyai peranan yang sangat besar bagi maju mundurnya umat. dkk. melalui penafsiranpenafsirannya. pemaknaan. Demikian juga dengan Muhammad Quraish Shihab yang akan diteliti ini. Pemikiran terhadap satu ayat hukum dalam Al-Qur’an selalu berimbas pada pembentukan implikasi hukumnya. walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian. karena hal itu dipengaruhi oleh lingkungan dimana dan kapan ia hidup. Alfatih Suryadilaga. Pemikiran terhadap satu ayat hukum selalu berimbas pula pada perubahan-perubahan dalam pelaksanaan hukum itu sendiri. Quraish Shihab adalah seorang ulama dan cendekiawan muslim dan juga sebagai mufassir yang cukup terkenal dengan kitab tafsirnya Al-Mishbah. Sekaligus penafsiran-penafsiran itu dapat mencerminkan perkembangan serta corak pemikiran mereka. Oleh karena itu diperlukan pemahaman.Quraish Shihab.5 Bahkan M. 5 6 M. Satu pemikiran dengan pemikiran lainnya tidak mustahil berbeda pendapat. 19 . 83. dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan). pemaknaan dan penafsiran yang teliti untuk dapat menjelaskan petunjuk-petunjuk dan pesan-pesan Al-Qua’an.Artinya: Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteriisteri(mu).

Oleh karena itulah. memaknai dan menafsiri ayat-ayat hukum dalam Al-Qur’an patut di perhatikan karena beliau di kenal luas masyarakat yang pastinya berdampak luas pula dalam pemikiran hukum Islam.Pemikiran beliau dalam memahami. yaitu bagaimana beliau memahami terkait tentang ayat-ayat poligami. sehingga dapat ditarik suatu implikasi hukum dari pemikiran tersebut. yang termasuk permasalahan disini adalah: 1. Bagaimana Pemikiran Quraish Shihab tentang poligami? 2. maka permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah yang terkait dengan pemikiran dari Muhammad Quraish Shihab terkait masalah poligami. Dalam hal ini peneliti menelaah pemikiran Quraish Shihab tentang poligami. kami tertarik menelaah dan menganalisis pemikiran Quraish Shihab dalam masalah poligami. Rumusan Masalah Dengan memperhatikan latar belakang masalah yang penulis ungkapkan di atas. Oleh sebab itu. Dari hasil pemikiran Quraish Shihab tersebut dapat ditarik suatu pemahaman dalam masalah poligami. Bagaimana Implikasi Hukum Dari Pemikiran Tersebut? 20 . peneliti dalam menelaah pemikiran Quraish Shihab tersebut dengan menelaah dari buku-buku dan juga hasil penafsiran Quraish Shihab tentang ayat poligami yang terdapat dalam tafsir Al-Mishbah. maka akan timbul permasalahan yang banyak. Dan agar lebih fokus. di B. Penelitian ini bermaksud melihat pemikiran Muhammad Quraish Shihab dalam memahami ayat tentang poligami dalam Al-Qur’an yang dikaitkan dengan konteks sejarah dan realita masa kini.

Sehingga dapat memberikan masukan dan wawasan terkait dengan poligami. Untuk memberikan kontribusi keilmuan bagi Fakultas Syariah UIN Malang tentang poligami. kiranya penting untuk mengetahui penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian ini baik secara teori maupun kontribusi keilmuan. b. E. dan implikasi hukum dari pemikiran Quraish Shihab tersebut. Praktis Dapat dijadikan sumber wacana bagi setiap pembaca dalam hal poligami. D. yaitu: untuk mengetahui pemikiran Quraish Shihab tentang poligami. Manfaat Penelitian Adapun manfaat dari penelitian ini adalah: 1. Untuk memperkaya khasanah keilmuan dalam hal masalah poligami. Teoritis a. Penelitian yang dilakukan oleh: Jumhairiyah. Tujuan Penelitian Berkaitan dengan permasalahan diatas. Penelitian Terdahulu Untuk mengetahui lebih jelas tentang penelitian ini. pada tahun 2001 dengan judul “Konsepsi dan Aplikasi Adil Sebagai Salah Satu Syarat Poligami (Studi Kasus Pada Perizinan Poligami diPengadilan Agama Malang dan Persepsi Adil Menurut Para Isteri)”. penulis memaparkan bahwa secara konsep syarat adil sebagai salah satu syarat poligami yang terdapat dalam permohonan izin poligami di Pengadilan Agama 21 . maka disini terdapat beberapa tujuan yang ingin dicapai oleh peneliti.C. 2. Dalam penelitin ini.

penulis menyatakan bahwa pernyataan berlaku adil dalam poligami menurut beberapa hakim sangat bervariasi.Malang yang mengacu pada semua aspek bidang perkawinan yang diatur dalam Undang-undang No 1 tahun 1974. nafkah dan kasih sayang. Dimana kekuatan argumenasi kelompok yang setuju dan kelompok yang tidak setuju terhadap poligami hal tersebut terletak pada kemashlahatan dan kemudharatan dagi wanitan dan kesanggupan untuk berlaku adil diantara isteri-isterinya. Islami Rahayu. Dalam penelitian ini. Dalam penelitian ini. Sedangkan konsep adil dalam poligami menurut para isteri adalah lancarnya materi. penggiliran yang tepat. pada tahun 2003 dengan judul “Poligami Sebagai Salah Satu Alternatif Mengangkat Derajat Kaum Wanita (Studi Komparatif Terhadap Pandangan Ulama Dalam Hukum Islam dan Undang-undang No 1 tahun 1974)”. pada tahun 2007 dengan judul ”Poligami Dalam Pandangan Ulama ( Studi Pada pengasuh Pondok Pesantren di Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo)”. pada tahun 2004 dengan judul “Pandangan Hakim Terhadap Pernyataan Berlaku Adil Dalam Poligami (Studi Kasus di Pengadilan Agama Malang)”. kehormatan. Dalam penelitian ini. Noer Aini Rachman. Masfida Eri Mahani. penulis membagi kepada dua kelompok ulama yang setuju dengan poligami dan kelompok yang tidak setuju terhadap poligami. Sedangkan tingkat relevansinya terletak pada tingkat harga diri. dan derajat kaum wanita itu sendiri. penulis dalam hal ini 22 . dari hasil wawancara penulis dengan empat hakim hanya ada satu hakim yang menyatakan bahwa pernyataan adil dalam poligami merupakan keharusan atau prasyarat untuk dapat diterimanya izin poligami. Lain halnya pendapat hakim yang lainnya yang menyatakan bahwa tanpa pernyataan adil poligami dapat berlangsung.

8 7 8 Soerjono Soekanto. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan. M.Cit.7 Dalam hal ini peneliti memaparkan pemikiran Quraish Shihab terkait dengan poligami. yaitu menggambarkan secara umum tentang objek yng akan diteliti. Dimana kesemuanya dari kiai menyetujui praktik poligami karena menurut para kiai ada dasar hukum dan telah dipraktekkan pada masa Rasulullah SAW.. dan penelitian ini merupakan penelitian literatur atau kajian pustaka.meneliti terkait dengan pandangan ulama atau kiai yang bermonogami dan yang berpoligami terhadap praktek poligami. Pengantar Penelitian Hukum (Jakarta: Universitas Indonesia. Op. dkk. yang kemudian ditarik suatu implikasi hukum dari pemikirannya. 23 . Metode Penelitian 1. deskriptif analitis dengan metode pendekatan conten analysis. 48. Jenis Penelitian Penelitian ini bersifat kepustakaan murni (Library Research). Dari beberapa penelitian diatas. F. 171. Selalu ada hubungan antara metode pengumpulan data dengan masalah penelitian yang akan dipecahkan. 2. 1984). bahwa penelitian ini belum pernah diteliti tentang pemikiran hukum Quraish Shihab dan juga implikasi hukumnya. Dalam hal ini menelaah dari buku-buku Quraish Shihab yang membahas tentang poligami. Alfatih Suryadilaga.

Pengolahan dan Analisa data Menurut Patton. Analisis data adalah proses mengatur urutan data. Dalam bahan primer ini. dan mencari hubungan diantara dimensi-dimensi uraian. yaitu dengan memberikan arti yang signifikan terhadap hasil analisis. menjelaskan pola uraian. 2004). yang menjadi bahan primer adalah karya Quraish shihab dalam buku Perempuan dan bahan sekunder yaitu Wawasan Al-Qur’an. 103. yakni bahan utama dalam penelitian. dan satuan uraian dasar. yaitu bahan pustaka yang berisikan tentang pemikiran Quraish shihab terkait poligami. Ia membedakannya dengan penafsiran. 9 10 Burhan Ashshofa. 2005). serta melihat implikasi hukum dari pemikirannya. b. 280.Moleong.10 Dalam metode ini dilakukan dengan melihat dan menelaah pemikiran dari Quraish Shihab terkait dengan poligami. Bahan primer.a. dan tafsir Al-Mishbah yang di jadikan bahan utama dalam penelitian. b. Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: PT.9 Dalam hal ini buku-buku atau artikel-artikel dan juga buletin yang mendukung dari bahan primer tersebut. mengorganisasikannya kedalam suatu pola. kategori. 24 . Sumber data Pengelompokan data kepustakaan berdasarkan kekuatan mengikat dari isinya. Bahan sekunder. peneliti membagi lagi menjadi dua. adalah: a. Metode Penelitian Hukum (Jakarta: PT Rineka Cipta. yaitu bahan pustaka yamg berisi tentang informasi yang menjelaskan dan membahas tentang bahan primer. Lexy J. Remaja Rosdakarya.

Untuk mengetahui bagaimana pemikiran Quraish Shihab. tujuan dan manfaat penelitian ini. poligami dalam Al-Qur’an dan Hadits. poligami pada masa Islam. yang berisi kesimpulan merupakan penjelasan secara singkat. Pada Bab IV analisis data mengenai pemikiran Quraish Shihab dan Implikasi hukum dari pemikiran tersebut. dengan memaparkan karyanya. Pembahasan ini ditulis sebagai telaah atas pertanyaan. rumusan masalah kepada apa yang akan di teliti. dan dalam bab ini berisi latar belakang yang memberi gambaran umum atas permasalahan yang akan diteliti. sehingga tidak membuat melebar pembahasan.pertanyaan dalam rumusan masalah. Hal ini bertujuan untuk memberikan deskripsi secara umum mengenai obyek penelitian yang diambil dari berbagai referensi. yang meliputi pengertian poligami. padat. Sistematika Pembahasan Untuk lebih mempermudah dalam memahami isi pembahasan hasil penelitian yang dalam bentuk skripsi ini. Dengan perincian sebagai berikut : Bab satu dalam hal ini penelitian akan memberi gambaran kenapa hal tersebut harus teliti. sejarah poligami. dan juga dalam pengelolahan data. 25 . yang meliputi poligami Pra-Islam. dan juga poligami ditinjau dari hukum di Indonesia. Sehingga mempermudah dalam memahami dari hasil penelitian ini. dan jelas terhadap hasil penelitian.G. metode penelitian. yaitu dalam buku-bukunya yang membahas tentang poligami. penelitian terdahulu. Bab lima penutup. maka dalam pembahasannya peneliti membagi menjadi lima bab agar tersusun secara sistematis. Bab dua berisi tentang poligami dalam Islam. Bab III berisi tentang biografi Muhammad Quraish Shihab dan juga poligami menurut Quraish Shihab.

jilid III). Insiklopedi Islam (Jakarta: PT. 26 . dkk. 107.BAB II POLIGAMI DALAM ISLAM A.11 11 Abuddin Nata. yaitu poly atau polus yang berarti banyak dan gamein atau gamos yang berarti kawin atau perkawinan. Ichtiar Baru Van Hoeve. 2002. Jadi menurut bahasa poligami adalah “suatu perkawinan yang banyak” atau “suatu perkawinan yang lebih dari seorang” baik pria maupun wanita. Sedangkan poligami menurut istilah adalah ikatan perkawinan yang salah satu pihak mengawini beberapa (lebih dari satu) dalam waktu bersamaan. Pengertian Poligami Kata poligami berasal dari bahasa Yunani.

27 . Para raja dan pembesar kerajaan umumnya memiliki isteri lebih dari seorang. c. I. maka peneliti disini tetap menggunakan istilah poligami untuk poligini tersebut. Perkawinan kelompok merupakan kombinasi poliandri dan poligini.Poligami ini dapat digolongkan menjadi tiga bentuk. 13 Soekanto.III. termasuk di Indonesia. poligami 12 Chandra Sabtia Irawan. Meninjau Hukum Adat Indonesia: Suatu Pengantar Untuk Mempelajari Hukum Adat. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 1996). b. 21.13 Poligami ada setiap zaman sebelum Nabi Muhammad. B. 2007). (Cet.12 Namun poligami yang berkembang di masyarakat adalah seorang suami yang mempunyai isteri lebih dari satu. Sejarah Poligami Keberadaan poligami atau menikah lebih dari seorang isteri dalam lintasan sejarah bukan merupakan masalah baru. Poliandri adalah sistem perkawinan yang membolehkan seorang perempuan mempunyai suami lebih dari satu orang dalam waktu yang bersamaan. Orang-orang Arab telah berpoligami jauh sebelum kedatangan Islam. Poligami telah ada dalam kehidupan manusia sejak dahulu kala di antara berbagai kelompok masyarakat di berbagai kawasan dunia. Poligini adalah sistem perkawinan yang membolehkan seorang laki-laki memiliki atau mengawini beberapa perempuan sebagai isterinya dalam waktu yang bersamaan. demikian pula masyarakat lain di sebagian besar kawasan dunia selama masa itu. Untuk memudahkan pemahaman pembaca. yaitu: a. Perkawinan Dalam Islam Monogami atau Poligami (Cet. 105. Yogyakarta: An-Naba’.

46. 1996). al-Islam Aqidah wa Syari’ah. Perkawinan Dalam Syari’at Islam (Cet.15 Para ahli ilmu pengetahuan yang mengadakan pembahasan sekitar sebabsebab poligami mempunyai beberapa pendapat. mengasuh dan melayani suami serta memelihara kesinambungan dalam keluarga. 47. menyusui. 16 Syekh Mahmud Syaltut. ibu rumah tangga yang akan melahirkan anak. Poligami adalah pengaruh dari faktor seksual yang ada pada laki-laki dan wanita. dan Al-Qur’an. 3. Semua nabi yang disebutkan dalam Talmud.16 1. alih bahasa Fachruddin dan Nasharuddin. 1984). kepala rumah tangga.I Jakarta: PT. Masalah Sepanjang Masa (Cet. terjemahan. I. beristeri lebih dari seorang. Jakarta: Bulan Bintang. Nabi daud. Basri Iba Asghary dan Wadi Masturi.ini juga telah dilakukan oleh orang-orang Yunani yang berkebudayaan tinggi dan bangsa-bangsa lainnya di dunia. maka akan mendapatkan bahwa poligami telah merupakan jalan hidup yang diterima. pencari nafkah bagi kehidupan dan juga Pembina Yusuf Wibisono. 15 Abdul Rahman I Doi. Bina Aksara. 2. Poligami timbul sebagai pengaruh dari sifat yang ada pada laki-laki terhadap wanita. Aqidah dan Syari’at Islam (Cet. 1980). Sifat yang ada pada laki-laki terhadap wanita Secara fungsi wanita di ciptakan sebagai pendamping pria (suami). dan pria adalah pemimpin dari kaum wanita. Shari’ah The Islamic Law. Nabi Sulaiman dan lain-lain. 195. II Jakarta: PT Rineka Cipta. Poligami adalah pengaruh Undang-undang alam yang amat mempermudah hidup wanita lebih mudah dari hidup kaum lelaki. Monogami Atau Poligami.14 Bila orang menelaah kitab suci agama Yahudi dan Nasrani. seperti Nabi Ibrahim. 14 28 . antara lain: 1. Perjanjian Lama (Bibble).

oleh Karena Allah Telah memelihara (mereka).kehidupan keluarga. feminism. dan lmbut budi pekertinya dibanding pria. berotot. Sifat itu kalau memang ada dan boleh dijadikan sebab untuk gejala-gejala poligami. baik dari fungsi maupun fisik. perkasa. dan pukullah mereka. Sedangkan pria memiliki postur tubuh yang gentle. Pengaruh dari faktor seksual yang ada pada laki-laki dan wanita Wanita secara kodrati diciptakan berbeda dengan pria. 2. wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya. Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka. Sehingga tidak salah apabila pria adalah pelindung keluarga (wanita). Kemudian jika mereka mentaatimu. Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sifat ini yang mendorong laki-laki untuk memiliki sebanyak mungkin wanita. sebab itu Maka wanita yang saleh. termasuk di dalamnya sistem reproduksi biologisnya. Kondisi biologis demikian berpengaruh terhadap perilaku seksual mereka. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar. dan Karena mereka (laki-laki) Telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. oleh Karena Allah Telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita). 29 . ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada. Sebagaimana firman Allah dalam surat an-Nisa: 34 yang berbunyi: ôÏΒ (#θà)x Ρr& !$yϑÎ/uρ <Ù÷èt/ 4’n?tã óΟßγŸÒ÷èt/ ª!$# Ÿ≅āÒsù $yϑÎ/ Ï!$|¡ÏiΨ9$# ’n?tã šχθãΒ≡§θs% ãΑ%y`Ìh9$# tβθèù$sƒrB ÉL≈©9$#uρ 4 ª!$# xáÏ ym $yϑÎ/ É=ø‹tóù=Ïj9 ×M≈sàÏ ≈ym ìM≈tGÏΖ≈s% àM≈ysÎ=≈¢Á9$$sù 4 öΝÎγÏ9≡uθøΒr& Ÿξsù öΝà6uΖ÷èsÛr& ÷βÎ*sù ( £èδθç/ΎôÑ$#uρ ÆìÅ_$ŸÒyϑø9$# ’Îû £èδρãàf÷δ$#uρ €∅èδθÝàÏèsù €∅èδy—θà±èΣ ∩⊂⊆∪ #ZŽÎ6Ÿ2 $wŠÎ=tã šχ%x. dan kuat. Secara fisik (jasmani) wanita diciptakan dengan sosok lebih lemah. ©!$# ¨βÎ) 3 ¸ξ‹Î6y™ £ÍκöŽn=tã (#θäóö7s? Artinya: Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita. terang pula bahwa itu bukan bertujuan menguasai dan memiliki semata-mata melainkankan bertujuan memperkenankan panggilan seksual yang ada pada laki-laki.

bahwa seorang laki-laki memiliki kekuatan seksual selama dalam kondisi sehat. Dalam pada itu. itu saja sudah cukup kiranya untuk membuktikan kekejaman alam terhadap laki-laki. bahwa poligami untuk memelihara kesucian dan kesopanan adalah suatu yang baik. Hal ini akan mengancam kesehatan dan susila lakilaki jika tidak di salurkan. terutama di lapisan yang melakukan 30 . dan wanita. asal sanggup mengendalikan hati untuk adil antara isteri. seperti dalam masa haid. Kalau tidak ada sebab-sebabnya selain peperangan yang selalu dikobarkan diseluruh pelosok dunia.Pengaruh dari faktor seksual yang ada pada laki-laki dan wanita tersebut menuntut senantiasa adanya kekuatan dan kesediaan untuk itu. Artinya. sedangkan kesediaan laki-laki mengingat kesehatan dan kekuatan badannya sampai kepada umur 40 atau 50 tahun. Apalagi kalau dipikirkan bahaya peperangan yang menyikat jiwa laki-laki dan mengakibatkan kebanyakan penduduk terdiri anak-anak. bagi laki-laki kesediaan seksual tidak mengenal batas umur asalkan kondisi tubuhnya sehat. Masa kesediaan wanita habis sampai wanita berhenti haid. Tambah lagi menghadang kesulitan perjuangan hidup yang meminta korban nyawa. Berdasarkan demikian. 3. Pengaruh Undang-undang alam yang amat mempermudah hidup wanita lebih mudah dari hidup kaum lelaki Undang-undang alam menentukan kekejaman alam terhadap laki-laki yang menyebabkan tingkat angka kematian di kalangan laki-laki lebih tinggi dari pada dikalangan perempuan. Juga kesediaan masa penerimaan wanita lebih pendek dari pada masa kesediaan laki-laki. pada wanita terjadi di mana kesediaannya sama sekali tidak ada. orang tua. mengandung. Bahkan hasil medis menentukan. melahirkan dan nifas.

dan Persia. 31 . Ibid. Poligami Pra-Islam Praktek poligami sudah dilakukan sejak sebelum agama Islam lahir. Sebab-sebab itu dirumuskan oleh karenanya poligami mendapatkan kedududukan kuat dalam pergaulan di zaman dahulu. di dasar lautan. hal itu terdapat dalam Talmud. dan Al-Qur’an. hal itu terlihat sudah dipaktikkan oleh masyarakat sejak dahulu. bahwa Nabi-nabi terdahulu juga beristeri lebih dari seorang.18 17 18 Titik Triwulan Tutik dan Trianto. Bentuk poligami ini di kenal pula oleh orang-orang Medes.Cit. Titik Triwulan Tutik dan Trianto.pekerjaan di antara besi dan api. Op. 57. biologis.. dan norma menurut pendapat para sarjana dan ahli-ahli penyelidik. Dan poligami pada dasarnya merupakan kodrati yang dimiliki oleh manusia (lelaki) yang keberadaannya sudah ada sejak peradaban manusia itu sendiri. Itulah sebab-sebab sosial. Nabi Sulaiman dan lain-lain. 62. Bahkan diArab sebelum Islam juga telah dipraktikkan poligami yang tanpa batas tersebut. di tengah-tengah ombak dan gelombang serta pekerjaan lain yang banyak menimbulkan resiko korban jiwa bagi laki-laki.17 1. seperti Nabi Ibrahim. Nabi daud. Namun. dan juga agama Yahudi dan Nasrani tidak melarang poligami. Nabi Muhammad saw membolehkan poligami di antara masyarakatnya karena hal itu telah dipraktekkan juga oleh orang-orang Yunani yang diantaranya bahkan seorang isteri bukan hanya dapat dipertukarkan tetapi juga bisa diperjual belikan secara lazim antara mereka. praktik poligami sebelum Islam dilakukan tanpa batas. Abbesinia. Babilonia. Perjanjian Lama (Bibble).

Isa pergi ke Ismail untuk memeristeri Mahlah binti Ismail bin Ibrahim. Taurat juga menyebutkan bahwa nabi Sulaiman a. sebagaimana terkandung dalam Taurat.19 Poligami sudah dikenal sejak lama oleh orang-orang Mesir. sebagaimana diketahui oleh orang-orang Rusia dan Jerman. 25. Op.s) memiliki 900 isteri dari perempuan bebas dan 300 dari budak. “Seorang perempuan dengan saudara perempuannya tidak boleh dijadikan isteri simpanan untuk membuka keburukannya dalam hidupnya”. Taurat juga menyebutkan beberapa Nabi yang melakukan poligami tanpa menyebutkan jumlahnya. Kitab Taurat ini juga mengandung berita yang mengatakan bahwa nabi Daud memiliki 99 isteri dari perempuan merdeka dan 300 isteri dari budak. saudara perempuan Nabayut.s memiliki lebih dari satu isteri dengan mengatakan: “Dia (Sulaiman a. sebagian raja-raja Yunani. 32 . Asyuria. Babilonia. Risalah Taurat memberikan kebebasan kepada kaumnya untuk berpoligami tanpa ada batasan-batasan tertentu. “Maka. Maksud kitab ini adalah tidak pernah ada pengharaman terhadap poligami.Cit.” 19 Chandra Sabtia Irawan. bahkan para perempuan menggauli banyak pria dan menjadikannya suami.Bahkan budaya Arab sebelum Islam mengenal institusi pernikahan yang kurang beradab. Taurat menyebutkan. dan India. atas isteri-isterinya”. dan sebagaimana juga yang telah diberitakan oleh agama Yahudi dan kitab mereka tidak melarang adanya poligami. Perancis. dimana tidak saja para laki-laki memilih banyak isteri. Sedangkan Isa bin Ishaq memiliki isteri lebih dari satu. tetapi yang diharamkan apabila seorang laki-laki menikahi saudara perempuan isterinya. yakni jumlah perempuan yang boleh dinikahi.

Lain halnya dengan dengan Bani Israil yang mengharamkannya dan sebagian mereka menghalalkannya dengan alasan apabila isterinya sakit. Jerman.s mengucapkan insya Allah. Pada mulanya ketetapan ini hanya berlaku bagi orang Yahudi di Jerman dan diutara Perancis. dan tidak ada undangundang regional ataupun syariat yang melarangnya. mandul. Sehingga Bani Talmud memberikan batasan dalam berpoligami. Ketetapan tersebut terjadi kurang lebih pada abad sebelas yang dipublikasikan oleh Dewan Gereja dikota Warmes. tidak ada yang hamil kecuali satu perempuan saja yang melahirkan seorang anak laki-laki yang cacat kakinya. dan sebagainya. Saya akan tidur dengan isteri-isteri saya sebanyak 99 orang dalam satu malam. Kemudian sahabat Sulaiman berkata insya Allah.”Sulaiman bin Daud a.Rasulullah bersabda. Yang kemudian menyebar keseluruh umat Yahudi di Eropa. Tetapi nabi Sulaiman tidak mengatakan insya Allah. yang akan menghasilkan para penunggang kuda dalam berjihad. Undang-undang perdata 33 . Dasar poligami telah muncul pada zaman Bani Israil. berkhianat. Ketika Allah swt mengutus Musa a. Jadi poligami pernah lahir dalam syariat-syariat sebelum Islam. untuk menekan kehidupan masyarakat pada saat itu. Orang yang bersama Rasullah berpendapat apabila Sulaiman a.s maka dia menetapkan poligami tanpa ada batasan jumlah wanita yang boleh dinikahi. berkata. sehingga dari semua isterinya itu. maka semua anaknya akan menjadi penunggang kuda yang mampu berjihad di jalan Allah”. Dan Yahudi hidup dalam kelompok masyarakat yang sudah terbiasa dengan poligami sampai akhirnya terdapat ketetapan gereja yang melarang poligami.s. Hadits tersebut menegaskan bahwa nabi Sulaiman melakukan poligami. Menurut Yahudi bahwa Talmud membolehkan poligami tetapi memberi batasan tertentu.

Mereka juga dibolehkan untuk berpoligami. Poligami Pada Masa Islam Islam membolehkan poligami untuk tujuan kemaslahatan yang ditetapkan bagi tuntunan kehidupan. 2. Apabila seorang laki-laki ingin menikah dengan perempuan lain lagi. kecuali apabila isterinya membolehkan untuk menikah lagi. 9. sebagaimana yang dikatakan oleh Bulls yang mengatakan. dan dengan lapang hati untuk berkeluarga dengan dua isteri dan berbuat adil antara keduanya. 20 34 . Ta’addu az-Zauzah fi al-Adyan diterjemahkan oleh Munirul Abidin Farhan. Allah Karim Hilmi Farhat Ahmad.Yahudi telah memtuskan untuk melarang poligami. Allah paling mengetahui kemaslahatan hambanya. Agama al-Masih. “Seharusnya para uskup tidak hanya memiliki satu isteri saja”. Ibid. 2007). seperti apabila isterinya mandul. I. 6.21 Dari keterangan diatas bahwa poligami sudah dilakukan atau dipraktikkan sebelum agama Islam muncul. bahkan dalam ajarannya terdapat nash yang membolehkan mereka untuk berpoligami. pada dasarnya tidak melarang umatnya untuk berpoligami.20 Apabila kita melihat dari penjelasan diatas maka kita akan dapat mengetahui bahwa praktek poligami sudah terjadi pada zaman Bani Israil yaitu dari golongan orang-orang Yahudi. Jakarta: Senayan Publishing. dan mengharuskan untuk bersumpah setia ketika mengadakan akad nikah. 21 Karim Hilmi Ahmad.. maka dia harus menceraikan isteri pertamanya dan memberikan semua hak-haknya. Begitu juga dia mengatakan. “Seharusnya penjaga gereja memiliki isteri satu”. Poligami Berkah atau Musibah (Cet.

dan mereka berhak menolak jika dikhawatirkan sebaliknya. Seorang wanita yang bersedia dimadu membuktikan kerelaan dan kepuasannya bahwa perkawinannya itu tidak akan mengakibatkan kemudharatan. Islam tidak menciptakan aturan poligami dan tidak mewajibkan poligami terhadap kaum muslimin. persyaratan. mengabaikan haknya. atau merendahkan martabatnya.Q.S an-Nisa: 3 35 . dan jumlah tertentu. seperti agama Yahudi dan Nasrani. Kedatangan Islam memberikan landasan dan dasar yang kuat untuk mengatur dan serta membatasi keburukan dan kemudharatannya yang terdapat dalam masyarakat yang melakukan poligami. Syariat memberikan hak kepada wanita dan keluarganya untuk menerima poligami jika terdapat manfaat atau maslahat bagi putri mereka. memelihara kemuliaan mereka yang dahulu terabaikan karena poligami yang tanpa ikatan. Syariat poligami dan pembatasannya terdapat dalam dua ayat firman Allah berikut ini: a. Tujuan semua itu adalah untuk memelihara hak-hak wanita.mensyariatkan poligami untuk diterima tanpa keraguan demi kebahagian seorang mukmin didunia dan akhirat. Dan hukum dibolehkannya telah didahului oleh agama-agama lainnya. Syariat Islam tidak menjadikan poligami sebagai kewajiban terhadap laki-laki muslim dan tidak mewajibkan pihak wanita atau keluarganya menagawinkan anaknya dengan laki-laki yang telah beristeri satu atau lebih.

Boleh berpoligami paling banyak hingga empat orang isteri.S an-Nisa: 129 È≅øŠyϑø9$# ¨≅à2 (#θè=ŠÏϑs? Ÿξsù ( öΝçFô¹tym öθs9uρ Ï!$|¡ÏiΨ9$# t÷t/ (#θä9ω÷ès? βr& (#þθãè‹ÏÜtFó¡n@ s9uρ ∩⊇⊄∪ $VϑŠÏm§‘ #Y‘θà xî tβ%x. Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua. ©!$# €χÎ*sù (#θà)−Gs?uρ (#θßsÎ=óÁè? βÎ)uρ 4 Ïπs)‾=yèßϑø9$$x. Barang siapa yang belum mampu memenuhi ketentuan diatas. dan minum. dan jumhur ulama muslimin tentang hukumhukum berikut ini: 1. Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. tiga atau empat. tetapi tetap melakukan poligami. walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian. atau budak-budak yang kamu miliki. sahabat-sahabatnya. dikatakan bahwa akad nikahnya sah.Q. sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan). dia tidak boleh mengawini wanita lebih dari satu orang. tabi’in. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil. 3. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.y]≈n=èOuρ 4o_÷WtΒ Ï!$|¡ÏiΨ9$# zÏiΒ Νä3s9 z>$sÛ $tΒ (#θßsÅ3Ρ$$sù 4‘uΚ≈tGu‹ø9$# ’Îû (#θäÜÅ¡ø)è? āωr& ÷Λäø Åz ÷βÎ)uρ (#θä9θãès? āωr& #’oΤ÷Šr& y7Ï9≡sŒ 4 öΝä3ãΨ≈yϑ÷ƒr& ôMs3n=tΒ $tΒ ÷ρr& ¸οy‰Ïn≡uθsù (#θä9ω÷ès? āωr& óΟçFø Åz ÷βÎ*sù ( yì≈t/â‘uρ Artinya: Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya). makan. Disyariatkan dapat berbuat adil diantara isteri-isterinya. $yδρâ‘x‹tGsù Artinya: Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteriisteri(mu). Maka (kawinilah) seorang saja. Seorang laki-laki yang sebenarnya meyakini dirinya tidak akan mampu berbuat adil. 36 . tetapi dia telah berbuat dosa. Keadilan yang disyaratkan oleh ayat diatas mencakup keadilan dalam tempat tinggal. 2. b. serta perlakuan lahir bathin. Karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai). Kedua ayat di atas cukup menjelaskan hal-hal yang telah dipahami Rasulullah.

dan juga tidak dicerai. 2005). tidak diperlakukan sebagai isteri. 23 Abu Abdillah Musthofa al-Adawi. tetapi beliau lebih menaruh kecenderungan cintanya kepada ‘Aisyah ra melebihi isteri-isteri lainnya.23 Dalam masalah fisik material. Tanya Jawab Masalah Nikah Dari A sampai Z (Cet. 298. Jakarta: Gema Insani Press. I. II. Tetapi. 41. Rasulullah saw sangat adil kepada seluruh isterinya. diterjemahkan Aris Munandar dan Eko Haryono. ayat pertama membolehkan praktik poligami dengan syarat harus ada keadilan di antara isteriisterinya.4. Allah tidak menuntut suami atas kecenderungan hatinya asalkan tidak berlebih-lebihan dan tetap mengindahkan isteri pertamanya. sedangkan ayat kedua menetapkan bahwa keadilan terhadap isteri Musfir Husain aj-Jahrani. maka janganlah menuntut aku terhadap apa yang Engkau miliki dan yang tidak aku miliki”. Poligami Dari Berbagai Persepsi (Cet. Nazharatun fi Ta’addudi az-Zaujat diterjemahkan Muh. Tentang kecenderungan cintanya itu. beliau berdoa kepada Allah: “Ya Allah. 22 dan juga poligami dilakukan kalau memang lelaki itu merasa aman tidak akan terganggu dengan isteri-isterinya. Yogyakarta: Media Hidayah. Menurut mereka. Suten Ritonga. Kalangan yang tidak memahami syariat Islam mengklaim bahwa al-Qur’an melarang poligami dalam dua ayat diatas. Ayat kedua ditafsirkan bahwa keadilan yang berkaitan dengan kasih sayang dan kecenderungan hati tidak mungkin terlaksana. seorang suami tidak boleh menjauhi isteri pertamanya dan membiarkannya terkatung-katung. Kemampuan suami dalam hal nafkah kepada isteri kedua dan anak-anaknya. Suami harus memperlakukan isterinya dengan baik agar memperoleh cintanya. 1997). ini adalah bagian yang bisa kumiliki. 22 37 . Dia tidak akan melalaikan hak Allah pada dirinya lantaran isteri-isterinya dan tidak tersibukkan dengan mereka untuk beribadah kepada Allah. Ahkam an-Nikah wa az-Zifaf.

dan perlakuan.sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil diantara isteri-isterimu walaupun kamu sangat ingin berlaku demikian. giliran bermalam. sandang. Jika Allah menghendaki. Nash al-Qur’an atas pengharaman menghimpun dua isteri yang bersaudara kandung.S an-Nisa: 3) bukanlah adil yang di tetapkan sebagai mustahil yang tercantum pada ayat kedua: “. Bersikap adil yang disyaratkat pada ayat pertama “. untuk melarangnya.” ( Q. seperti papan. Adil pada ayat pertama erat kaitannya dengan masalah fisik (material) yang terasa. Tidak masuk akal jika Allah membolehkan praktik poligami kemudian dikaitkan dengan persyaratan yang mustahil dapat dilakukan manusia..S an-Nisa: 129).S an-Nisa: 23 : öΝä3çG≈n=≈yzuρ öΝä3çG≈£ϑtãuρ öΝà6è?≡uθyzr&uρ öΝä3è?$oΨt/uρ öΝä3çG≈yγ¨Βé& öΝà6ø‹n=tã ôMtΒÌhãm Νà6è?≡uθyzr&uρ öΝä3oΨ÷è|Êö‘r& ûÉL≈©9$# ãΝà6çF≈yγ¨Βé&uρ ÏM÷zW{$# ßN$oΨt/uρ ˈF{$# ßN$oΨt/uρ 38 .. Dengan demikian.maka kawinilah wanitawanita lain yang kamu cintai. Q.. pasti Dia akan langsung melarangnya dengan satu ungkapan kita (lafal) yang tercantum dalam satu ayat. praktik poligami harus memenuhi persyratan-persyaratan yang mustahil dapat dipenuhi sehingga poligami itu dilarang. Kita lihat bahwa tuduhan itu tidaklah benar karena alasan-alasan di bawah ini: 1.merupakan hal yang mustahil.... pangan.. 2.” (Q. Adapun adil yang mustahil direalisasikan oleh manusia adalah keadilan yang berkaitan dengan masalah immaterial. seperti dalam ayat berikut ini. 3. seperti kecintaan dan kecenderungan hati..

. ©!$# āχÎ) 3 y#n=y™ ô‰s% $tΒ āωÎ) È÷tG÷zW{$# Artinya: Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu. 4.Cit. kecuali yang Telah terjadi pada masa lampau. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Hal-hal tersebut merupakan argumenasi atau dalil yang kuat tentang bolehnya melakukan praktik poligami. 44. Rasulullah saw pun juga melakukan paktik poligami dan ketika wafat beliau meninggalkan sembilan orang isteri. Rasullah saw pernah memerintah para suami yang memiliki isteri lebih dari empat (diantaranya Qais bin Tsabit beristeri delapan orang dan Naufal bin Muawiyah beristeri lima orang) untuk menceraikan lebihnya jika praktik poligami mereka telah keluar dari ketentuan. ibu-ibumu yang menyusui kamu. 5. saudara perempuan sepersusuan. anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan.24 24 Musfir Husain aj-Jahrani. anak-anakmu yang perempuan saudara-saudaramu yang perempuan. Maka tidak berdosa kamu mengawininya. 39 . Para sahabat dan kaum muslimin pun melakukan praktik poligami. Op. anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki. ibu-ibu isterimu (mertua).ÏiΒ Νà2Í‘θàfãm ’Îû ÉL≈©9$# ãΝà6ç6Í×‾≈t/u‘uρ öΝä3Í←!$|¡ÎΣ àM≈yγ¨Βé&uρ Ïπyè≈|ʧ9$# š∅ÏiΒ yy$oΨã_ Ÿξsù €∅ÎγÎ/ ΟçFù=yzyŠ (#θçΡθä3s? öΝ©9 βÎ*sù £ÎγÎ/ ΟçFù=yzyŠ ÉL≈©9$# ãΝä3Í←!$|¡ÎpΣ š÷t/ (#θãèyϑôfs? βr&uρ öΝà6Î7≈n=ô¹r& ôÏΒ tÉ‹©9$# ãΝà6Í←!$oΨö/r& ã≅Í×‾≈n=ymuρ öΝà6ø‹n=tæ ∩⊄⊂∪ $VϑŠÏm§‘ #Y‘θà xî tβ%x. anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang Telah kamu campuri. Saudara-saudara bapakmu yang perempuan. Saudara-saudara ibumu yang perempuan. dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara. (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu). tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan).

amat mengherankan karena justru problem ini tidak ditakuti walaupun telah membuat wanita menderita. dalam hal ini sebagian ulama fuqaha berpendapat bahwa seorang wanita berhak membuat perjanjian dengan laki-laki yang akan menikahinya bahwa setelah menikah nanti dia tidak akan dimadu. Sehingga masyarakat Eropa dipenuhi dengan kaum wanita yang telah kehilangan suami dan gadis-gadis yang masih menunggu giliran sampai memasuki usia lanjut. Karena itu. Mengatasi Problem Sosial Poligami dalam kehidupan masyarakat kita sering dipandang sebagai suatu problem yang sangat ditakuti kaum wanita. yaitu: Berkurangnya kaum pria akibat perang baik sebab politik maupun agama. Tidak diragukan bahwa dalam agama Islam menetapkan poligami dengan kandungan hikmah yang sangat tinggi serta membawa maslahat bagi semua lapisan masyarakat baik secara langsung ataupun tidak. isteri berhak mengajukan cerai.Poligami ini juga bukan kewajiban bagi setiap muslim. Hal itu terjadi karena kurangnya pemahaman makna dan sasaran poligami serta kurangnya persiapan bagi yang melakukan poligami. Padahal justru karena tidak diterapkannya sistem poligami. kemaslahatan tersebut paling tidak. jika ternyata suami tidak mampu menepati janji. artinya dia ternyata menikah lagi. Ada problem sosial yang tidak dapat dipungkiri keberadaannya sehingga menuntut agar poligami diterapkan dalam kehidupan masyarakat. maka problem terus meningkat dikalangan kaum wanita. meliputi tiga hal yaitu: 1. Di Eropa telah terjadi dua kali perang dunia yang telah menelan korban mencapai jutaan kaum pria. Namun. sangat logis jika organisasi wanita di Eropa seperti jerman menuntut pemerintah setempat agar poligami diperbolehkan bagi setiap laki-laki 40 .

Hal ini merupakan pilihan tepat untuk berpoligami dari pada isteri di ceraikan dan menjadi janda. sementara suami mengharapkan untuk memiliki keturunan. Faktor Jumlah 25 Saiful Islam Mubarak. Allah swt telah mensyariatkan poligami untuk hamba-Nya. Mengatasi Kerusakan Akhlak Secara umum. laki-laki dan wanita yang berpoligami sesuai dengan syariat akan diantarkan kepada kehidupan yang istiqamah. memperkuat hubungan kemasyarakatan. isteri memiliki penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Poligami merupakan solusi syariat untuk memelihara manusia agar tidak jatuh kepada kehidupan yang asusila (melampiaskan hawa nafsunya secara liar). Bagaimanapun. mereka menuntut agar ditetapkan atas setiap pria berkewajiban memenuhi keperluan wanita lebih dari satu orang karena setiap seorang laki-laki diperlukan untuk melindungi lebih dari seorang perempuan.yang mampu. 3. suami yang sering keluar kota atau negeri yang tidak mungkin membawa isteri. dan suami yang memiliki kekuatan seksual yang tinggi. dalam kondisi seperti inilah yang akan menjadi problem lagi bagi wanita. Dalam hal ini. Bandung: Syamil. 20. Islam telah mengatur dan membatasi praktik poligami dengan syarat-syarat poligami dalam tiga faktor berikut ini: a.25 2. serta menciptakan ketenangan dan keamanan hidup. 41 . II. Mengatasi Problem Pribadi Poligami sangat berperan dalam mengatasi problem pribadi yang muncul dengan beberapa sebab seperti isteri mandul. poligami mampu memelihara kebaikan akhlak. 2007). dan hidupnya jauh dari kesesatan. Poligami Antara Pro dan Kontra (Cet. Atau dengan kata lain.

Rasulullah saw berkata: “ Pilih empat orang dan ceraikan yang lainnya”. aku memiliki lima orang isteri. Telah dikatakan bahwa ada hadits yang mengatakan terdapatnya poligami di kalangan orang-orang Arab ketika mereka memeluk agama Islam dan tanpa pembatasan jumlah. Majusi. dasar-dasar dan syarat poligami diatur sedemikian rupa sehingga jelaslah bahwa jumlah yang di perbolehkan adalah empat orang dan ditekankan prinsip keadilan di antara para isteri dalam masalah fisik material atau nafkah bagi isteri dan anak-anaknya. Pada dasarnya. Aturan tentang poligami memang sudah dikenal dan berlaku dalam kabilahkabilah Arab Jahiliyah tanpa batasan tertentu. selama suami mampu memenuhi beban nafkah kepada isteri dan anak-anaknya. Seperti yang diriwayatkan dari Ghailan bin Salamah ats Tsaqafi bahwa dirinya memiliki sepuluh orang isteri. Faktor Keadilan di Antara Para Isteri a. Dan juga Naufal bin Muawiyah berkata: “Tatkala aku masuk Islam. Ketika masuk Islam. Faktor Nafkah c. Setelah Islam lahir.b. 42 . seperti Yahudi. dan juga yang lainnya. poligami dibolehkan dalam Islam dan bukan dengan syarat karena Isteri pertama sakit atau mandul. Rasulullah saw berkata: “Ceraikanlah yang satu dan pertahankan yang empat”. Agama-agama tersebut membolehkan praktik poligami dengan jumlah yang tidak terbatas. Faktor Jumlah Peraturan poligami telah di kenal dan dibolehkan sebelum Islam lahir dan itu berlaku di kalangan penganut agama-agama lain.

hal ini terkait dengan penafsiran Q. Adapun mengenai praktik poligami Rasulullah saw hingga sembilan orang isteri. Kalangan pakar hanya menduga-duga penyebab pembatasan jumlah wanita yang boleh dimadu hanya empat orang.. itu merupakan kekhususan beliau yang tidak boleh ditiru oleh umatnya.Umar ibnul Khattab telah menawarkan anaknya. ada yang menyimpulkan jumlah laki-laki satu banding empat. umat muslim telah sepakat mengatakan bahwa tidak boleh terjadi poligami untuk lebih dari empat orang wanita walaupun ada beberapa kalangan ada berbeda. Ada juga berpendapat karena ingin menghimpun wanita yang beragama kuat. dan gemuk dalam soal bentuk tubuh. ada yang berpendapat karena kalangan laki-laki mencoba menghimpun berbagai jenis wanita pendek. pirang. Namun. 43 . kurus. kepada Abu Bakar yang telah mempunyai isteri lebih dari seorang dan isteri-isterinya itu tidak dalam keadaan sakit atau mandul. keturunan bangsawan. berparas cantik. 54.S an-Nisa: 3 tersebut. hitam manis. hafshah. ada juga yang karena menginginkan dari jenis kulit. Dan terkait pembatasan jumlah hanya empat orang itu. Dalam hal ini. tinggi. putih. Abu Bakar menolak dengan halus tawaran tersebut.26 Terkait dengan hikmah yang terkandung dalam pembatasan jumlah empat orang wanita (tidak kurang dan tidak lebih). Ada yang berpendapat mungkin disesuaikan dengan adaptasi dari empat musim. dan memiliki harta (empat perkara ini merupakan hal yang dipandang sebagai pertimbangan laki-laki dalam memilih isteri). 26 Musfir Husain aj-Jahrani. begitu juga dengan Utsman. telah terbukti sejak kehidupan Rasulullah saw sampai dengan sekarang. hingga akhirnya dinikahi oleh Nabi saw.Cit. Batasan itupun sesuai dengan situasi bulanan kaum wanita yang meliputi masa haid. Op. dan kuning langsat.

Secara universal. jika seorang laki-laki belum memiliki sumber rizki atau penghasilan untuk menafkahi isteri. 2004). maka disini letak sasaran nikah mendapat sakinah (ketenangan) karena terpenuhinya kebutuhan materi. Jakarta: Zakia Press. maka akan dapat diraih ketentraman. Dan telah dihalalkan kepadamu kesucian mereka dengan kalimat Allah. dia belum dibolehkan kawin. minuman.Jika dia memiliki empat isteri. 2006). 16. Jika mereka berbuat demikian pukullah mereka dengan pukulan yang tidak memberi bekas. Faktor Nafkah Nafkah mencakup makanan. X. Akhlak dar Khoneh diterjemahkan Abdullah Assegaf. 28 Umay M. Dan bagimu atas mereka. dan alat-alat rumah tangga yang umum. pakaian. dia akan mendapati diantara isteri-isterinya satu orang yang telah suci. yaitu tidak menginjak tempat tidurmu seseorang yang kamu tidak sukai. sesungguhnya kamu telah mengambil mereka dengan amanah Allah. Hal pertama yang harus diperhatikan laki-laki dan perempuan dalam berumah tangga adalah pemenuhan kebutuhan material. I.27 Dengan kecukupan materi. hukum memberi nafkaf itu adalah wajib. Indahnya Keluarga Sakinah Dalam Naungan al-Qur’an dan as-Sunah (Cet. Jakarta: Cahaya. 247. Dan hanya Allah-lah yang Maha Tahu. b. Membangun Surga Dalam Rumah Tangga (Cet. 44 .28 Menurut ijma’. tempat tinggal. Dja’far Shiddieq. 27 Husain Mazhariri. Laki-laki yang ingin menikah pertama-tama harus mampu menyediakan biaya untuk menafkahi wanita yang akan dinikahi. sebagaimana wasiat Nabi pada hajjatul wada’: “Bertakwalah kamu dalam urusan wanita. pernyataan tersebut hanyalah intepretasi ijtihadiah dan pendapat yang bisa benar dan juga bisa tidak. Sebagaimana menurut syariat.

maka suami tidak dituntut mewujudkannya. pakaian. Allah swt berfirman dalam surat al-Baqarah: 286: $yγyèó™ãρ āωÎ) $²¡ø tΡ ª!$# ß#Ïk=s3ムŸω “Allah tidak memberati seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…” 29 Musfir Husain aj-Jahrani.Kewajiban kamu atas mereka bahwa kamu menafkahi mereka dan memberi pakaian dengan baik”. dan jangan menjauhi dia kecuali di dalam rumah”.. Adapun keadilan dalam urusan yang tidak mampu diwujudkan dan disamakan seperti cinta atau kecenderungan hati. tidak ada ikhtilaf di antara fuqaha tentang kewajiban suami terhadap isterinya. 57. dan perlakuan yang layak terhadap mereka masing-masing. jangan pukul muka (wajah). pangan. tempat tinggal. beliau menjawab: “Beri makan dia jika kamu makan. rumah tempat tinggal. Keadilan yang dimaksud adalah keadilan yang mampu diwujudkan manusia dalam kehidupan sehari-harinya. jangan menjelek-jelekkan dia. dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. 45 . baik makanan. Faktor Keadilan di Antara Para Isteri Dalam Q. c.Cit. Op. beri pakaian dia jika kamu berpakaian. yaitu persamaan diantara isteri-isteri dalam urusan sandang. Pada hadits yang lain Rasulullah saw ditanya tentang kewajiban nafkah suami terhadap isterinya.S an-Nisa: 3 merupakan dasar keadilan yang harus ditegakkan..29 Dengan demikian.

haid.Kecintaan terhadap seseorang isteri dan kecenderungan hati padanya berkenaan dengan surat an-Nisa: 129: “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil diantara isteri-isterimu walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian…”. maka itu adalah dosa di sisi Allah. karena beliau lebih mencintai Aisyah daripada isteri-isterinya yang lain. Allah bagian yang aku miliki dan janganlah Engkau menyalahkan aku dalam hal yang tidak aku miliki”. maka dia akan datang pada hari kiamat dengan badannya miring”. sehingga dari situ akan terdapat jadwal kapan seorang suami berada di rumah isteri yang satu jika dia memiliki rumah atau di kamar yang khusus. atau nifas. Rasulullah bersabda: “Apabila ada seorang laki-laki mempunyai dua orang isteri dan tidak berlaku adil diantara keduanya. dan wajib baginya untuk tidak kawin lebih dari seorang isteri. Adil yang dituntut pada ayat pertama mencakup adil dalam hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan yang bersifat dzahir atau nyata. Rasulullah saw adalah orang yang paling mengetahui tentang agama dan paling berhasrat melaksanakan keadilan diantara isteri-isterinya. Apabila seorang muslim ingin berpoligami. Masalah yang berkaitan dengan bermalamnya seorang suami dengan isteriisterinya harus jelas. dimana beliau pernah berdoa: “Ya. sakit. sedangkan dia yakin bahwa dirinya tidak mampu menerapkan keadilan diantara isteri-isterinya dalam masalah kebutuhan materi. Pembagian jadwal yang jelas seperti itu harus sama bagi isteri yang sehat. Allah swt mengingatkan kita agar hati dan kecintaan kita tidak terlalu cenderung kepada salah seorang isteri sementara yang lain dilupakan dan ditelantarkan. karena yang di maksud dengan bermalam beramanya (suami-isteri) itu 46 .

isteri-isteri yang lama tidak berhak menuntut diperlakukan seperti isteri yang baru (muda). Jakarta: Kencana. 129. Karena hal tersebut sebagai bentuk adil dalam melayani isteri. 30 Abd. Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah ra dikatakan: “Bahwasanya Nabi saw bila ingin bepergian. menginapnya seorang suami di tempat seorang isteri tidak boleh lebih dari tiga malam kecuali atas kesepakatan isteri-isteri lainnya. Jika suatu waktu suami bepergian dan dia memerlukan di temani salah seorang dari isteri-isterinya. pakaian. dialah yang akan menemani Nabi saw” (HR. tetapi juga dengan saling memandang. Dalam hal ini. Siapa yang terpilih dalam undian itu. Boleh juga dilakukan pembagian dengan dua malam atau tiga malam. 47 . Rahman Ghazaly. beliau mengundi di antara para isterinya. Apabila hal itu di tolak oleh isteri-isteri yang lain dan menimbulkan sengketa. 2006). dia di haruskan tinggal (tidur bersama) isterinya itu selama tiga hari dan jika mengawini seorang gadis (perawan). Fiqh Munakahat (Cet. Hal seperti itu juga dilakukan oleh Rasulullah saw yaitu dengan cara undian untuk menemaninya dalam perjalanan. Penyamarataan dalam jima’ sebaiknya satu hari satu malam untuk setiap isteri.30 Penyamarataan dalam hubungan jima’ antara isteri yang satu dengan isteri yang lain tidaklah wajib atas suami. Jika seorang suami menikah dengan seorang janda. Dalam hal ini. dia berhak untuk memilih salah satu diantara mereka. II.adalah hiburan dan kesenangan bagi isteri karena seorang suami terhibur oleh isterinya meskipun tanpa bersetubuh. Abu Daud). pegang memegang. berbincang-bincang. hendaknya suami mengundi di antara mereka untuk menentukan siapa yang akan menemaninya. berciuman dan lain sebagainya. dia harus tinggal bersamanya selama tujuh hari. tempat tinggal. baik itu urusan nafkah. giliran dan segala hal yang bersifat lahiriah.

setiap isteri senantiasa mengusahakan agar kebaikan suaminya hanya terlimpah kepadanya sehingga akan tumbuh kebencian dan kecemburuan jika suaminya memberikan sesuatu kepada orang tua.31 Ada beberapa adab yang perlu di pelihara seorang suami dalam bergaul dengan isteri-isterinya. Tidak membeberkan apa yang terjadi antara dia dan salah seorang dari isterinya di hadapan isteri-isterinya yang lain. Op. atau paling tidak muncul kecemburuan dan persengketaan di antara mereka. Tujuan diharamkannya menghimpun dua orang bersaudara dalam poligami adalah untuk menjaga hubungan cinta dan kasih saying diantara anggota keluarga muslim. Bagaimanapun.Demikian ketiga syarat yang ditetapkan syariat Islam dalam hal berpoligami.. yaitu mengawini dua orang kakak beradik sebagaimana ketetapan dalam kitab Allah swt. Persamaan sikap dalam pergaulan sehari-hari.. 2. Seorang suami harus memelihara hubungan antaristeri sehingga tidak terjadi seorang isteri membicarakan kejelekan atau kekurangan isteri yang 31 Musfir Husain aj-Jahrani. para isteri akan saling menghalangi dalam memperoleh kebaikan suami sehingga terputuslah hubungan cinta dan kasih saying antara mereka yang bersaudara kandung. Menyebutkan kekurangan akan menyebabkan dia merasa di hina dan memuji-muji menyebabkan mereka dengki kepadanya. 63. Karena itulah Allah melarang para laki-laki memadu dua wanita kakak beradik. 4. 48 . yaitu antara lain: 1. termasuk hubungan intim suami isteri. 3. Jangan menyebut kekurangan atau memuji (yang berlebihan) isteri-isteri yang lain.Cit. Jika hal itu dilanggar. kakak atau adiknya. Dan juga tidak boleh memadu dua orang yang mahram.

Dari ayat ini apabila dibaca secara harfiah. atau budak-budak yang kamu miliki. Seorang suami hendaknya mengantisipasi dengan baik ungkapan isteri yang keliru dan di dorong oleh perasaan cemburu. Q. 84. sangat jelas bahwa ada tekanan lebih pada perlakuan adil. Q. Maka (kawinilah) seorang saja. Dan seharusnya ini tidak ditentukan oleh si suami sendirian apakah dia bisa memperlakukan para isterinya dengan adil atau tidak.32 2. 2007). C. khususnya jika isteri yang bersangkutan tidak hadir. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil. 49 .S an-Nisa: 3 y]≈n=èOuρ 4o_÷WtΒ Ï!$|¡ÏiΨ9$# zÏiΒ Νä3s9 z>$sÛ $tΒ (#θßsÅ3Ρ$$sù 4‘uΚ≈tGu‹ø9$# ’Îû (#θäÜÅ¡ø)è? āωr& ÷Λäø Åz ÷βÎ)uρ (#θä9θãès? āωr& #’oΤ÷Šr& y7Ï9≡sŒ 4 öΝä3ãΨ≈yϑ÷ƒr& ôMs3n=tΒ $tΒ ÷ρr& ¸οy‰Ïn≡uθsù (#θä9ω÷ès? āωr& óΟçFø Åz ÷βÎ*sù ( yì≈t/â‘uρ Artinya: Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya). baik diarahkan kepadanya atau kepada salah seorang dari isteri-isterinya yang lain tersebut. I.lain di hadapannya. Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.S an-Nisa: 127 32 Abu Fikri. Bandung: Mizan. dia harus menasehatinya dan menyebutkan kebaikan isteri yang di bicarakan kejelekannya. Jika hal tersebut terjadi. tiga atau empat. Poligami yang tak Melukai Hati (Cet. 5. Poligami dalam Al-Qur’an dan Hadits 1.

Katakanlah: "Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka. sampai pada barang yang sekecil-kecilnya. $tΒ £ßγtΡθè?÷σè? Ÿω ÉL≈©9$# Ï!$|¡ÏiΨ9$# ‘yϑ≈tGtƒ 9Žöyz ôÏΒ (#θè=yèø s? $tΒuρ 4 ÅÝó¡É)ø9$$Î/ 4’yϑ≈tFu‹ù=Ï9 (#θãΒθà)s? χr&uρ Èβ≡t$ø!Èθø9$# š∅ÏΒ tÏ yèôÒtFó¡ßϑø9$#uρ ∩⊇⊄∠∪ $VϑŠÎ=tã ϵÎ/ tβ%x. Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahuinya. dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan). ahli waris dan wali seorang putri yatim. dan (Allah menyuruh kamu) supaya kamu mengurus anak-anak yatim secara adil.S an-Nisa: 127 Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ada seorang laki-laki. dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Al Quran (juga memfatwakan) tentang para wanita yatim yang kamu tidak memberikan kepada mereka apa yang ditetapkan untuk mereka. karena takut harta 50 .’Îû É=≈tGÅ3ø9$# ’Îû öΝà6ø‹n=tæ 4‘n=÷Fム$tΒuρ £ÎγŠÏù öΝà6‹ÏGø ムª!$# È≅è% ( Ï!$|¡ÏiΨ9$# ’Îû y7tΡθçGø tGó¡o„uρ £èδθßsÅ3Ζs? βr& tβθç6xîös?uρ £ßγs9 |=ÏGä. menggabungkan seluruh harta si yatim itu dengan hartanya.S an-Nisa: 129 È≅øŠyϑø9$# ¨≅à2 (#θè=ŠÏϑs? Ÿξsù ( öΝçFô¹tym öθs9uρ Ï!$|¡ÏiΨ9$# t÷t/ (#θä9ω÷ès? βr& (#þθãè‹ÏÜtFó¡n@ s9uρ ∩⊇⊄∪ $VϑŠÏm§‘ #Y‘θà xî tβ%x. dan kebajikan apa saja yang kamu kerjakan. Asbabun Nuzul (sebab turunnya) Q. sedang kamu ingin mengawini mereka dan tentang anak-anak yang masih dipandang lemah. Karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai). sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. 3. Q. ©!$# ¨βÎ*sù Artinya: Dan mereka minta fatwa kepadamu tentang para wanita. walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian. Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ©!$# €χÎ*sù (#θà)−Gs?uρ (#θßsÎ=óÁè? βÎ)uρ 4 Ïπs)‾=yèßϑø9$$x. Bahkan sampai-sampai ia mau menikahinya dan tidak mau menikahkannya dengan orang lain. $yδρâ‘x‹tGsù Artinya: Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteriisteri(mu).

. 33 51 .S an-Nisa: 127) yang menjelaskan bagaimana seharusnya mengurus anak yatim. Maka turunlah ayat ini (Q. VIII. Ia bertanya kepada Rasulullah saw.S an-Nisa: 127) sebagai pedoman bagi mereka yang mengurus anak yatim.” (Q. Diriwayatkan dari ’Aisyah ra bahwa dia ditanya oleh Urwah mengenai firman Allah swt: ”Dan jika kamu khawatir tidak dapat berlaku adil terhadap anak-anak yatim. Wanita yatim itu dilarang menikah sama sekali. Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa Jabir mempunyai saudara misan wanita yang rupanya jelek.. tapi mempunyai harta warisan dari ayahnya.S an-Nisa: 3). dibawa oleh suaminya. Kemudian ’Aisyah menyatakan kepada Urwah: ”Wahai Asbabun Nuzul. Bandung: Diponegoro. (edisi kedua Cet. 173.” (Q. Jabir sendiri enggan menikahinya dan juga tidak mau menikahkannya kepada orang lain. karena takut harta bendanya lepas dari tangannya.S an-Nisa: 3). Diriwayatkan oleh Bukhari yang bersumber dari Aisyah. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari as-Suddi.. Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-Ayat Al-qur’an.bendanya terlepas dari tangannya. lalu turunlah ayat ini (Q. 2006).33 Adapun penjelasan tentang surat an-Nisa: 3 terdapat dalam kitab Shahih Bukhari pada Bab 18: Firman Allah ’Azza wa Jalla: ”Dan jika kamu khawatir tidak dapat berlaku adil terhadap anak-anak yatim..

” (Q.sedangkan kamu ingin mengawini mereka.. 849. Dengan demikian. ’Aisyah ra melanjutkan: Sesudah ayat ini. 2002). maka Allah menurunkan ayat lagi (yang artinya): ”Mereka meminta fatwa kepadamu mengenai para wanita”. kemudian wali tersebut terpikat oleh harta dan kecantikan anak yatim itu sehingga dia ingin mengawininya tanpa berlaku adil dalam memberikan maskawin.34 Hadits tentang mengundi isteri mana yang akan di ajak pergi Imam az-Zabidi. (HR. Mukhtashar Shahih al-Bukhari diterjemahkan Achmad Zaidun. mereka para wali yang mengurus perempuan-perempuan yatim yang menyukai harta dan kecantikan mereka di larang menikahi mereka kecuali dengan adil. orang-orang meminta fatwa kepada Rasulullah saw. Adapun lanjutan ayat (yang artinya): ”.. Ringkasan Hadits Shahih al-Bukhari (Cet.putra saudara perempuanku! Anak perempuan yatim yang dimaksud dalam ayat tersebut berada dalam asuhan walinya yang mengurus hartanya. 34 52 . Para wali yatim tersebut diperintahkan menikahi perempuan-perempuan lain yang baik bagi mereka (jika mereka khawatir tidak dapat berlaku adil terhadap anak-anak yatim yang ada dalam perwalian mereka)”.. yakni hanya memberinya maskawin sebanding dengan apa yang diberikan kepadanya oleh lakilaki lain..S an-Nisa: 127). Bukhari).S an-Nisa: 127) adalah karena kebiasaan wali yang tidak suka mengawini perempuan yatim dalam perwaliannya yang hartanya hanya sedikit dan tidak seberapa cantik. Jakarta: Pustaka Amani. I. (Q. Dengan adanya kasus tersebut maka wali yang mengasuh perempuan yatim dilarang mengawininya kecuali jika bisa berlaku adil dan memberinya maskawin lebih tinggi dari pada apa yang diberikan oleh laki-laki lain pada umumnya. karena seandainya yatim-yatim tersebut hanya berharta sedikit dan tidak cantik tentu wali-wali mereka tidak ingin menikahi mereka..

apa yang akan terjadi dengan Nabi saw”. Poligami dalam Hukum yang Berlaku di Indonesia Poligami merupakan salah satu persoalan dalam perkawinan yang paling banyak dibicarakan sekaligus kontroversial. kemudian kita lihat nanti. beliau mengundi isteri-isterinya (untuk menentukan isteri yang mana yang akan diajak pergi). Ketika semua orang turun. Suatu ketika undian jatuh kepada Aisyah dan Hafshah. nanti malam kamu menaiki ontaku dan aku menaiki ontamu. lalu pada malam itu Nabi saw mendekati onta Aisyah yang dinaiki oleh Hafshah lalu beliau mengucapkan salam kepada Aisyah (Nabi saw mengira bahwa Aisyah berada diatas ontanya sendiri). 920. D. Satu sisi poligami ditolak dengan 35 Imam az-Zabidi. Maka Hafshah menaiki onta Aisyah. Ibid.R Bukhari).”Diriwayatkan dari Aisyah ra bahwa apabila Nabi saw akan bepergian jauh. 53 . Hafshah berkata kepada Aisyah: ” Ayo kita coba. Nabi saw terus berjalan di samping onta Aisyah tersebut sehingga mereka semua turun. sementara Aisyah sendiri tertinggal. karena aku tidak kuasa mengatakan sesuatu kepada Nabi saw”. kaki Aisyah terjepit kayu idzkhir dan berkata: ”Ya Tuhan! Perintahkan kalajengking atau ular menggigitku. Pada malam hari biasanya Rasulullah saw berjalan bersama Aisyah dan bercakap-cakap dengannya.35 (H. Aisyah mengatakan: ”Ya”.

Lembaran Negara RI tahun 1974 nomor 1. Isteri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai isteri. terkesan karena suami tidak memperoleh kepuasan yang maksimal dari isterinya.1 tahun 1974. Isteri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Isteri tidak dapat melahirkan keturunan.36 Namun pada bagian yang lain dinyatakan bahwa dalam keadaan tertentu poligami dibenarkan. c. Seperti yang tercantum dalam UU No 1 tahun 1974 pada pasal 3 ayat 2 yang berbunyi.berbagai macam argumenasi baik yang bersifat normatif. UU No. Pada dasarnya dalam suatu perkawinan seorang pria hanya boleh mempunyai seorang isteri. 1 tahun 1974 Kendatipun Undang-undang perkawinan menganut asas monogami seperti yang terdapat didalam pasal 3 ayat 1 yang menyatakan. Pada sisi yang lain. Pengadilan dapat memberi izin kepada seorang suami untuk beristeri lebih dari seorang apabila dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan. b. 36 37 UU No.37 Kebolehan poligami di dalam undang-undang perkawinan sebenarnya hanyalah pengecualian dan untuk itu pasal-pasalnya mencamtumkan alasan-alasan yang membolehkan poligami tersebut. psikologis bahkan selalu dikaitkan dengan ketidakadilan jender. Dalam pasal 4 pada ayat 2 Undang-undang perkawinan dinyatakan. Ibid. Tampaknya alasan-alasan ini bernuansa fisik kecuali alasan nomor tiga. seorang suami yang akan beristeri lebih dari seorang apabila: a. a.1 tahun 1974. Seorang wanita hanya boleh mempunyai seorang suami. 54 . poligami dikampanyekan dianggap memiliki sandaran normatif yang tegas dan dipandang sebagai salah satu alternatif untuk menyelesaikan fenomena selingkuh dan prostitusi. Poligami dalam Perspektif UU No.

Untuk membedakan persyaratan yang ada dalam pasal 4 dan 5 adalah pasal 4 disebut dengan persyaratan alternatif yang artinya salah satu harus ada untuk dapat mengajukan permohonan poligami. Adanya persetujuan dari isteri/isteri-isteri. 39 N. Studi Kritis Perkembangan Hukum Islam dan Fikih. 2004). aturannya dapat dilihat didalam PP No.maka alternatifnya adalah poligami. Bandung: Mizan. UU No. 38 55 . Sedangkan pasal 5 adalah Persyaratan kumulatif dimana seluruhnya harus dapat dipenuhi suami yang akan melakukan poligami. 3. I. 2005). Rosyidah Rakhmawati.39 Terkait dengan prosedur melaksanakan poligami. 2. Amiur Nuruddin dan Azhari Akmal Tarigan. Poligami diIndonesia dilihat dari Aspek Yuridis Normatif editor Rochayah Machali.1/1974 sampai KHI (Jakarta: Prenada Media. maka ia wajib mengajukan permohonan secara tertulis kepada pengadilan. Wacana Poligami diIndonesia (Cet.38 Ketentuan syarat-syarat bersifat kumulatif tersebut dalam arti bahwa kesemua syarat yang tersebut harus terpenuhi dan dibuktikan dengan persetujuan tertulis untuk diperbolehkannya berpoligami. Adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap isteri dan anakanak mereka. pada pasal 40 dinyatakan: Apabila seorang suami bermaksud untuk beristeri lebih dari seorang. Namun demikian ternyata undang-undang perkawinan juga memuat syarat-syarat untuk kebolehan poligami. 164. 30. Adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan hidup isteriisteri dan anak-anak mereka.9/1975. syarat-syarat yang dipenuhi bagi seorang suami yang ingin melakukan poligami ialah: 1. Seperti yang termuat dalam pasal 5 ayat 1 undang-undang perkawinan. Hukum Perdata Islam diIndonesia.

Surat keterangan mengenai penghasilan suami yang ditandatangani oleh bendahara tempat bekerja. bahwa pengadilan diberi waktu selama 30 hari untuk memeriksa permohonan poligami setelah diajukan oleh suami lengkap dengan persyaratannya.Sedangkan tugas pengadilan di atur di dalam pasal 41 PP N0. b. Surat keterangan pajak penghasilan. Pengadilan Agama memiliki wewenang untuk memberi izin kepada seseorang untuk melakukan poligami. apabila persetujuan itu merupakan persetujuan lisan. Surat keterangan lain yang dapat di terima oleh pengadilan d. dengan memperlihatkan: i. Ada atau tidaknya adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap isteri-isteri dan anak-anak mereka dengan pernyataan atau janji dari suami yang dibuat dalam bentuk yang di tetapkan untuk itu. persetujuan itu harus diucapkan di depan sidang pengadilan. ada atau tidaknya alasan yang memungkinkan seseorang suami kawin lagi. Berikutnya pada pasal 42 juga dijelaskan keharusan pengadilan untuk memanggil para isteri untuk memberikan penjelasan atau kesaksian. Hal ini dinyatakan di dalam pasal 43 yang berbunyi: 56 . 9 tahun 1975 yang berbunyi sebagai berikut: Pengadilan kemudian memeriksa mengenai: a. baik persetujuan lisan maupun tertulis. Ada atau tidaknya adanya kemampuan suami untuk menjamin keperluan hidup isteri-isteri dan anak-anak. Ada atau tidaknya adanya persetujuan dari isteri. Di dalam pasal ini juga dijelaskan. atau iii. atau ii. c.

Modernisasi Hukum Perkawinan di Indonesia (Cet. 57 . beristeri lebih dari satu orang pada waktu bersamaan. 129. 2. Apabila Syarat utama yang disebut pada ayat (2) tidak mungkin dipenuhi. Syarat utama beristeri lebih dari satu orang. Izin Pengadilan Agama tampaknya menjadi sangat menentukan. peraturan mengenai poligami dalam KHI dapat dibedakan menjadi dua: pengaturan mengenai proses poligami dan pengaturan mengenai syaratsyarat poligami. Secara umum. masalah poligami juga diatur dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI). I. b. terbatas hanya sampai empat orang isteri. suami harus mampu berlaku adil terhadap isteri-isteri dan anak-anaknya. Bandung: Pustaka Bani Quraisy. Beristeri lebih dari satu orang yang diungkapkan dari pasal 55 sampai pasal 59.Apabila Pengadilan berpendapat bahwa cukup alasan bagi pemohon untuk beristeri lebih dari seorang. sehingga didalam pasal 44 dijelaskan bahwa Pegawai Pencatat di larang untuk melakukan pencatatan perkawinan seorang suami yang akan beristeri lebih dari seorang sebelum adanya izin Pengadilan. suami dilarang beristeri lebih dari satu orang. maka pengadilan memberikan putusannya yang berupa izin untuk beristeri lebih dari seorang. pada pasal 55 dinyatakan: 1. Lebih lanjut dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) pada pasal 56 di jelaskan: 40 Jaih Mubarok. 3. 2005). Poligami dalam Perspektif Kompilasi Hukum Islam (KHI) Sementara itu.40 Kompilasi Hukum Islam (KHI) memuat masalah poligami ini pada bagian IX dengan judul.

58 . ketiga atau keempat tanpa izin dari Pengadilan Agama.41 Terkait dengan prosedur poligami. 2006). yang berbunyi: 1. Pada pasal 57 di jelaskan: Pengadilan Agama hanya memberi izin kepada suami yang akan beristeri lebih dari seorang apabila: a. Seperti yang di jelaskan pada pasal 58 Kompilasi Hukum Islam (KHI). Jakarta: Sinar Grafika. Pengajuan permohonan izin dimaksudkan pada ayat 1 dilakukan menurut tata cara sebagaimana diatur dalam Bab VII PP No. I. Suami yang hendak beristeri lebih dari satu orang harus mendapat izin dari Pengadilan Agama. Selain syarat-syarat yang telah di terangkan di atas. Isteri tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai isteri. Isteri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat di sembuhkan. Isteri tidak dapat melahirkan keturunan. yaitu: a. 48.1. b. c. Perkawinan yang di lakukan dengan isteri kedua. Hukum Perdata Islam diIndonesia (Cet. adanya persetujuan isteri. Selain syarat utama yang di sebut pada pasal 55 ayat 2 maka untuk memperoleh izin Pengadilan Agama. terdapat syarat-syarat lain juga yang harus dipenuhi oleh suami yang akan melakukan pernikahan poligami atau beristeri lebih dari seorang.1 tahun 1974.9 tahun 1975. harus pula dipenuhi syarat-syarat yang ditentukan pada pasal 5 undang-undang No. 2. tidak mempunyai kekuatan hukum. 41 Zainuddin Ali. 3.

persetujuan ini dipertegas dengan persetujuan lisan isteri pada siding Pengadilan Agama. persetujuan isteri atau isteri-isteri dapat diberikan secara tertulis atau dengan lisan.b. 3. Lebih lengkapnya bunyi pasal tersebut sebagai berikut: Dalam hal isteri tidak mau memberikan persetujuan. Persetujuan dimaksud pada ayat 1 huruf a tidak diperlukan bagi seorang suami apabila isteri atau isteri-isterinya tidak mungkin dimintai persetujuannya dan tidak dapat menjadi pihak dalam perjanjian atau apabila tidak ada kabar dari isteri atau isteri-isterinya sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun atau karena sebab lain yang perlu mendapat penilaian Hakim. 2.9 tahun 1975. Dengan tidak mengurangi ketentuan pasal 41 huruf b Peraturan Pemerintah No. Selanjutnya pada pasal 59 Kompilasi Hukum Islam (KHI) juga digambarkan betapa besarnya wewenang Pengadilan Agama dalam memberikan persetujuan kepada suaminya untuk berpoligami. persetujuan itu dapat diambil alih oleh Pengadilan Agama. dan permohonan izin untuk beristeri lebih dari satu orang berdasarkan atas salah satu alasan yang diatur dalam pasal 55 ayat (2) dan 57. tetapi sekalipun telah ada persetujuan tertulis. Pengadilan Agama dapat menetapkan tentang pemberian izin setelah memeriksa dan mendengar isteri yang 59 . adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan hidup isteri-isteri dan anak-anak mereka.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. dan terhadap penetapan ini isteri atau suami dapat mengajukan banding atau kasasi. maka perundangundangan di Indonesia juga mengatur terkait dengan masalah poligami. 42 Inpres RI Nomor 1 tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam.1 tahun 1974 . 60 . 9 tahun 1975 tentang pelaksanaan Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan. maupun juga terdapat dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI). hal ini tertuang pada Undang-undang Perkawinan No.bersangkutan di persidangan Pengadilan Agama.42 Demikianlah penjelasan tentang poligami bila di tinjau dari sudut pandang atau dari perspektif perundang-undangan yang berlaku di Negara Republik Indonesia. Bila kita melihat dari pemaparan penjelasan di atas.

Quraish Shihab mendapatkan motivasi awal dan benih kecintaan terhadap bidang studi tafsir dari ayahnya yang sering 61 . dilahirkan di Rappang. dan IAIN Alauddin Ujungpandang. sebuah perguruan tinggi swasta terbesar dikawasan Indonesia bagian timur. Ayah Quraish Shihab. Sebagai putra dari seorang guru besar. Abdurrahman Shihab dipandang sebagai salah seorang tokoh pendidik yang memiliki reputasi yang baik dikalangan masyarakat Sulawesi Selatan. 16 Februari 1944.BAB III POLIGAMI DALAM PERSPEKTIF MUHAMMAD QURAISH SHIHAB A. adalah Prof. yaitu Universitas Muslim Indonesia (UMI). Ia juga tercatat sebagai mantan rector pada kedua perguruan tinggi tersebut: UMI 1959-1965 dan IAIN 1972-1977. KH Abdurrahman Shihab. Ia merupakan ulama dan cendekiawan muslim Indonesia yang dikenal sebagai ahli dalam bidang tafsir al-Qur’an. Kontribusinya dalam dunia pendidikan terbukti dari usahanya membina dua perguruan tinggi di Ujungpandang. Biografi Muhammad Quraish Shihab Muhammad Quraish Shihab. seorang ulama dan guru besar dalam bidang tafsir. Sulawesi Selatan.

Cairo. antara lain “Penerapan Kerukunan Hidup Beragama di Indonesia Timur (1975)” dan “Masalah Wakaf Sulawesi Selatan (1978)”. 62 . Quraish Shihab berhasil meraih gelar M. dan sederetan jabatan lainnya diluar kampus. Pendidikan formalnya dimulai dari sekolah dasar di Ujungpandang. ia melanjutkan studinya ke Universitas al-Azhar pada fakultas Ushuluddin.A pada jurusan yang sama dengan thesis berjudul “al-I’jaz at-tasyri’I li al-Qur’an al-Karim” (kemukjizatan al-Qur’an al-Karim dari segi hukum). Pada tahun 1967 ia meraih gelar LC (setingkat sarjana S1). Untuk lebih mendalami studi keislamannya. Dicelah-celah kesibukannya ia masih sempat merampungkan beberapa tugas penelitian. Setelah itu ia melanjutkan kesekolah lanjutan tingkat pertama di kota Malang sambil “nyantri” di Pondok Pesantren Darul Hadits al-Falaqiyah di kota yang sama. Quraish Shihab diserahi berbagai jabatan. Ia menjadi wakil rector bidang akademis dan kemahasiswaan sampai tahun 1980. Setelah itu. ia juga sering mewakili ayahnya yang uzur karena usia dalam menjalankan tugas-tugas pokok tertentu. Di samping menduduki jabatan resmi itu. pembantu pimpinan kepolisian Indonesia timur dalam bidang pembinaan mental. pada tahun 1958 dan diterima di kelas dua tsanawiyah. untuk membantu mengelola pendidikan di IAIN Alauddin. Pada tahun 1973 ia di panggil pulang oleh ayahnya yang ketika itu menjabat rector. Dua tahun kemudian (1969).mengajak anak-anaknya duduk bersama. Quraish Shihab dikirim oleh ayahnya ke alAzhar. Berturut-turut setelah itu. seperti koordinator Perguruan Tinggi Swasta Wilayah VII Indonesia bagian timur. Jurusan Tafsir dan Hadits. Pada saat-saat seperti inilah sang ayah menyampaikan nasehatnya yang kebanyakan berupa ayat-ayat al-Qur’an.

al-Azhar. pada tahun 1980. Selain itu ia juga menjadi direktur Pendidikan 63 . Quraish Shihab kembali mengabdi di tempat tugasnya semula. Karena keahliannya dalam bidang kajian al-Qur’an. IAIN Alauddin di Ujungpandang. sejak 1984). mengambil spesialisasi dalam studi tafsir al-Qur’an. baik di dalam maupun di luar negeri. Quraish tidak memerlukan waktu lama untuk dikenal dikalangan masyarakat intelektual Indonesia. Disertasinya yang berjudul “Najm adDurar li al-Biqaa’i Tahqiq wa Diraasah (suatu kajian terhadap kitab Nazm ad-Durar [rangkaian mutiara] karya sl-Biqa’i) berhasil dipertahankannya dengan predikat summa cum laude dengan penghargaan Mumtaz ma’a martabah asy-syaraf al-ula (sarjana teladan dengan prestasi istimewa). Selain itu. Dalam waktu singkat ia segera dilibatkan dalam berbagai forum tingkat nasional. Namun. ia juga aktif diberbagai organisasi lain seperti Organisasi Perhimpunan Ilmu-Ilmu Syariat. Konsorsium IlmuIlmu Agama Depdikbud. Setelah pulang ke tanah air. antara lain menjadi wakil ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia. dan anggota Badan Pertimbangan Pendidikan nasional (sejak 1989). dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Quraish Shihab kembali lagi menuntut ilmu ke almamaternya. Ia hanya memerlukan waktu dua tahun untuk meraih gelar doktor dalam bidang ini. Di samping itu ia tetap memberikan ceramah keagamaan dalam berbagai forum dan menghadiri berbagai kegiatan ilmiah. dua tahun kemudian (1984) ia ditarik ke Jakarta sebagai dosen pada fakultas Ushuluddin dan Fakultas Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah. anggota Lajnah Pentashih al-Qur’an Departemen Agama (sejak 1989).Untuk mewujudkan cita-citanya mendalami studi tafsir. Sejak tahun 1993 pemerintah mempercayainya untuk mengemban tugas sebagai rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dalam bidang intelektual kontribusinya terbukti dari beberapa karya tulisnya. Kesan Dan Keserasian Al-qur’an sebanyak 15 vol (Lentera hati. Perempuan Dari Cinta Sampai Seks Dari Nikah Mut’ah Sampai Nikah Sunnah Dari Bias Lama Sampai Bias Baru (Lentera Hati. 112.43 Dan adapun dari karya ilmiahnya yang berbentuk buku adalah Tafsir Al-Mishbah. Dan lain sebagainya yang belum tertuang dalam tulisan ini. V. Dan Menteri Agama Kabinet Pembangunan VII (1998). 2005). Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve. Filsafat Hukum Islam (Jakarta. 1988. Adapun yang berupa uraian tafsir muncul pada rubrik “Tafsir al-amanah” dalam majalah Amanah yang kemudian dikompilasikan dan diterbitkan menjadi buku dengan judul Tafsir al-Amanah jilid I. Kalung Permata Buat Anak-Anakku (Lentera Hati. 1996). B. Ensiklopedi Islam. Untagma. Departemen Agama. 1987).Kader Ulama (PKU) yang merupakan salah satu usaha MUI untuk membina kaderkader ulama di tanah air. Keistimewaan dan Kelemahannya (Ujungpandang. 2000). IAIN Alauddin. Karyanya berupa artikel singkat muncul secara rutin pada rubrik “Pelita Hati” dalam surat kabar Pelita dan pada rubrik “Hikmah” dalam surat kabar Republika. dan Mahkota Tuntunan Ilahi (Tafsir al-Fatihah) (Jakarta. 2007). 2002). Wawasan AlQur’an: Tafsir Maudhu’i Atas Pelbagai Persoalan Umat (Mizan. 43 64 . 1984). Sejumlah makalah dan ceramah tertulisnya sejak tahun 1975 dikumpulkan dan diterbitkan dalam bentuk dua buah buku oleh penerbit Mizan dengan judul “Membumikan” al-Qur’an (1992) dan Lentera Hati (1994). Pesan. (Cet. Karya lainnya adalah Tafsir al-Manar. Poligami Menurut Muhammad Quraish Shihab Hasan Muarif Ambary (et al). Pengantin al-Qur’an.

Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil. izin berpoligami hanya diberikan kepada para pemelihara anak-anak yatim. Ada beberapa hal yang perlu digaris bawahi pada ayat diatas. tetapi enggan berlaku adil. 2006). Ayat diatas ditujukan kepada pemelihara anak-anak yatim yang hendak menikahi mereka tanpa berlaku “adil”. bahkan juga dikenal oleh agama-agama sebelum Islam. orang boleh jadi berkata. dan karena kenyataannya sejak masa nabi Muhammad saw dan sahabat beliau menunjukkan bahwa yang tidak memelihara anak yatim 44 M. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. Jakarta: Lentera Hati. karena redaksinya bersifat umum. Agama Islam membenarkan poligami berdasarkan firman Allah dalam Q.44 1. Kendati konteksnya demikian. Ayat di atas. atau budak-budak yang kamu miliki. Dari Bias Lama Sampai Bias Baru (Cet. bukan kepada setiap orang.Poligami sudah dikenal umat manusia sejak dahulu. yang berbicara tentang bolehnya berpoligami. jika demikian. Quraish Shihab. 65 . Secara redaksional. seperti yang terdapat dalam perjanjian lama yang membenarkan adanya poligami. tiga atau empat. Maka (kawinilah) seorang saja.S An-Nisa ayat 3 yang menyatakan: y]≈n=èOuρ 4o_÷WtΒ Ï!$|¡ÏiΨ9$# zÏiΒ Νä3s9 z>$sÛ $tΒ (#θßsÅ3Ρ$$sù 4‘uΚ≈tGu‹ø9$# ’Îû (#θäÜÅ¡ø)è? āωr& ÷Λäø Åz ÷βÎ)uρ (#θä9θãès? āωr& #’oΤ÷Šr& y7Ï9≡sŒ 4 öΝä3ãΨ≈yϑ÷ƒr& ôMs3n=tΒ $tΒ ÷ρr& ¸οy‰Ïn≡uθsù (#θä9ω÷ès? āωr& óΟçFø Åz ÷βÎ*sù ( yì≈t/â‘uρ Artinya: Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya). III. Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua. Dari Nikah Mut’ah sampai Nikah Sunah.162. turun berkaitan dengan sikap sementara pemelihara anak yatim perempuan yang bermaksud menikahi mereka karena harta mereka. Perempuan Dari Cinta Samapi Seks.

seyogianya tidak diizinkan berpoligami. walaupun itu bisa tidak menyenangkan salah satu diantara mereka. itu berarti izin berpoligami hanya diberikan kepada mereka yang menduga bahwa langkahnya itu dia harapkan dapat menyenangkan semua isteri yang dinikahinya. Ini dipahami dari kata tuqsithuu. 3. dan itu terjadi sepengetahuan Rasulullah saw. Ada ulama yang mempersamakan maknanya dan ada juga yang membedakannya dengan berkata bahwa tuqsithuu adalah berlaku adil antara dua orang atau lebih. paling tidak ia harus berlaku adil. 4. Yang ragu. tetapi kalau itu tidak tercapai. kata “khiftum” yang biasa diartikan takut. Jika makna kedua ini dipahami. Firman-Nya: Maka Nikahilah apa yang kamu senangi bukan siapa yang kamu senangi. Yang diperkenankan oleh ayat diatas hanyalah yang yakin atau menduga keras dapat berlaku adil. 2. bukan dimaksudkan – seperti tulis sementara ulama lama yang memiliki bias – untuk mengisyaratkan bahwa perempuan kurang berakal. menunjukkan bahwa siapa yang yakin atau menduga keras atau bahkan menduga tidak akan berlaku adil terhadap isteri-isterinya – yang yatim maupun yang bukan – maka mereka itu tidak diperkenankan oleh ayat diatas melakukan poligami. Ayat diatas menggunakan kata tuqsithuu dan ta’diluu yang keduanya diterjemahkan berlaku adil. apakah bisa berlaku adil atau tidak. dengan alasan 66 . keadilan yang menjadikan keduanya senang. tapi keadilan itu bisa saja tidak menyenangkan salah satu pihak. yang juga dapat berarti mengetahui.pun berpoligami. Sedangkan. maka tidaklah tepat menjadikan ayat diatas hanya terbatas kepada para pemelihara anak-anak yatim. ta’diluu adalah berlaku baik terhadap orang lain maupun diri sendiri.

yang dimulai dengan apa adalah bagi suatu yang tidak berakal dan siapa untuk yang berakal. 165. Quraish Shihab. Huruf (‫ ) و‬wauw pada ayat diatas bukan berarti dan. atau keturunannya. Di samping secara redaksional ayat tersebut tidak bermakna demikian. Bukankah jika anda berkata: “Siapa yang dia nikahi?” Maka. namanya dan anak siapa dia? Sedangkan. perintah menghabiskan makanan lain itu hanya sekedar menekankan perlunya mengindahkan larangan untuk tidak makan makanan tertentu itu. orang baik. dan untuk menguatkan larangan itu dia berkata: “Jika anda khawatir akan sakit bila makan makanan ini. Akan tetapi. cantik atau tidak. bukan orang tertentu. misalnya janda atau gadis. Sekali lagi. Ibid. melainkan berarti atau sehingga dua-dua. jawabannya yang anda nantikan adalah sifat dari yang ditanyakan itu. agaknya pemilihan kata itu bertujuan untuk menekankan sifat perempuan itu.45 Perlu digarisbawahi bahwa ayat poligami ini tidak membuat peraturan baru tentang poligami karena poligami telah dikenal dan dilaksanakan oleh penganut 45 M. anda menanti jawaban tentang perempuan tertentu. bila anda bertanya dengan menggunakan kata apa. Tentu saja. atau empat-empat bukan izin menjumlah angkaangka tersebut sehingga dibolehkan berpoligami dengan sembilan atau bahkan delapan belas perempuan. habiskan saja makanan selainnya yang ada dihadapan anda”. atau tidak dan sebagainya. 67 . nama. tiga-tiga. Redaksi ayat ini mirip dengan ucapan seseorang yang melarang orang lain makan makanan tertentu. Rasulullah saw pun secara tegas memerintahkan Gilan Ibnu Ummayyah ats-Tsaqafi yang ketika itu memiliki sepuluh isteri agar mencukupkan dengan empat orang dan menceraikan selainnya. bukan itu tujuannya. 5.

I. Demikian pandangan tentang cinta disejalankan dengan pandangan tentang keesahan Tuhan. Keduanya berdasarkan tauhid (kesatuan). 341. 2007). Dengan demikian. Itulah yang ideal. tetapi ini pun dengan syarat yang ketat sehingga bisa dikatakan kebolehannya berlaku dalam keadaan darurat saja.berbagai syariat agama serta adat-istiadat masyarakat sebelum turunnya ayat ini. Quraish Shihab. bukan hanya mengorbankan apa yang boleh atau dapat dimilikinya (dalam hal ini berpoligami). pembahasan tentang poligami dalam pandangan al-Qur’an hendaknya tidak ditinjau dari segi ideal atau baik dan buruknya. Ada ungkapan literatur agama yang menyatakan: ‫در ن‬ ‫ا‬ ‫نو‬ ‫ا‬ “Tidak ada didalam hati dua cinta. itulah yang didambakan – kalau enggan berkata oleh pasangan suami isteri – maka paling tidak itulah yang didambakan oleh isteri dan bila seorang benar-benar mencintai. Pesan. Jakarta: Lentera Hati. 68 . 2005). sebagaimana tidak ada dalam wujud ini dua Tuhan”. 50. Cinta yang sebenarnya menuntut agar seseorang tidak mencintai kecuali pasangannya. Tafsir Al-Mishbah. dan dengan syarat yang tidak ringan. tetapi harus dilihat 46 47 Anshori Fahmie. Ayat ini tidak juga menganjurkan apalagi mewajibkan poligami.47 Islam mendambakan kebahagiaan keluarga. tetapi ia hanya berbicara tentang bolehnya poligami. IV. Siapa Bilang Poligami Itu Sunah (Cet.46 Dan itu pun merupakan pintu kecil yang hanya dapat dilalui oleh siapa yang sangat amat membutuhkan. Kesan dan Keserasian Al-Qur’an (Cet. melainkan juga mengorbankan jiwa raganya demi cinta. Depok: Pustaka IIMaN. kebahagiaan yang antara lain didukung oleh cinta kepada pasangan. M.

Adanya penyakit parah ataupun kemandulan. walau hanya untuk beberapa tahun saja.48 Serta melihat pula sisi pemilihan aneka alternatif yang terbaik. 200. apalagi menjadi sebuah kewajiban. M. Namun dalam hal ini Quraish Shihab menekankan bahwa poligami ini bukan merupakan sebuah anjuran. Ada beberapa alasan Quraish Shihab dalam memperbolehkan poligami adalah: 1. 2007). Peperangan yang hingga kini terjadi lebih banyak merenggut nyawa laki-laki dari pada perempuan. apalagi agama yang bersifat universal dan berlaku untuk setiap waktu dan tempat. 48 69 . sekian banyak perempuan di Jerman Barat menghimbau agar poligami dapat dibenarkan. Quraish Shihab. yaitu: 1. Argumen Quraish Shihab adalah merujuk pada ayat an-Nisa ayat 3 tersebut.dari sudut pandang penetapan hukum dalam aneka kondisi yang mungkin terjadi. sehingga ini menjadi suatu problem yang membutuhkan penyelesaian. dimana beliau berpendapat “Seandainya poligami tersebut sebuah anjuran. Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i Atas Pelbagai Persoalan Umat (Cet. walaupun kejadian itu baru merupakan kemungkinan. Ada beberapa argumen beliau. Seperti yang terjadi beberapa tahun yang lalu. namun pemerintah dan gereja tidak mengijinkan. Adalah wajar bagi suatu perundangan. Maka pintu poligami merupakan suatu jalan yang tepat. Jakarta: Mizan. mempersiapkan ketetapan hukum yang boleh jadi terjadi pada suatu ketika. 2. namun dengan syarat-syarat yang tidak ringan seperti harus dapat berlaku adil. XIX.

Dan poligami Rasulullah tersebut guna mensukseskan misi dakwanya. Bahwa perintah yang terdapat didalam ayat tersebut dimulai dengan bilangan dua-dua. Dan bukan juga tidak dapat dikatakan bahwa Rasul saw menikah lebih dari satu perempuan dan pernikahan semacam ini hendaknya diteladani. atau empat-empat. Op. Menurut Quraish Shihab pendapat tersebut tidak dapat diterima karena pandangan tersebut. 70 . Lima belas tahun setelah pernikahan dengan Khadijah ra. bahkan dua banding satu. Dan isteri beliau (Khadijah 49 M. tiga-tiga. Perempuan.pastilah Allah menciptakan perempuan lebih banyak empat kali lipat dari pada jumlah laki-laki karena tidak mungkin Allah menganjurkan sesuatu. wajib atau terlarang pula bagi umatnya. baik dari makna redaksi ayat maupun konteksnya. Ayat ini hanya memberi wadah bagi mereka yang menginginkannya ketika menghadapi kondisi atau kasus tertentu. Seperti. tidak boleh menerima zakat. karena tidak semua yang wajib atau yang terlarang bagi Rasulullah. 3. wajib bangun malam. Dan diketahui bahwa Rasulullah menikah dengan Khadijah pada usia 25 tahun.49 2. hal 168.Cit. beliau diangkat menjadi Rasul. dan ini merupakan alasan logis untuk tidak menutup rapat atau mengunci mati pintu poligami yang di benarkan oleh ayat tersebut dengan syarat yang tidak ringan itu”.Quraish Shihab. kalau apa yang dianjurkan tidak tersedia. dan juga dari segi kenyataan sosiologis yang didalamnya perbandingan perempuan dan lelaki tidak mencapai empat banding satu. Khadijah ra. baru perintah bermonogami kalau khawatir tidak dapat berlaku adil. Rasulullah baru berpoligami setelah pernikahan pertamanya sekian lama setelah meninggal isteri beliau.

yang juga anak pamannya – luka dalam perang 71 . yang dikenal dengan Ummu Salamah. Namun realita yang terjadi pada saat sekarang ini.ra) wafat pada tahun ke-9 kenabian. Hindun Binti Abi Umayyah ra. baru menggauli Aisyah ra. yakni pada tahun ke-3 H. setelah tiga atau empat tahun sesudah wafatnya Khadijah ra. sedangkan beliau wafat pada tahun ke-11 H dalam usia 63 tahun. Ini berarti beliau berpoligami hanya sekitar delapan tahun. Saudah binti Zam’ah ra. jauh lebih pendek daripada hidup bermonogami beliau. suaminya Abdullah al-Makhzumi. kebanyakan orang yang melakukan poligami berbeda dengan yang dilakukan Rasulullah. Jadi seharusnya meneladani yang lebih lama. seorang wanita tua suaminya meninggal diperantauan (Etiopia) sehingga ia terpaksa kembali ke Mekkah menanggung beban kehidupan bersama anak-anaknya dengan resiko dipaksa murtad. Perlu juga di ingat juga bahwa semua yang beliau nikahi. Lalu. Dan meneladani beliau dalam kesetiaannya yang demikian besar pada isteri yang pertamanya. Dan juga meneladaninya dalam memilih calon-calon isteri yang telah mencapai usia senja. ialah janda-janda yang sebagian diantaranya sudah memasuki usia senja atau tidak lagi memiliki daya tarik yang memikat. sampai-sampai beliau menyatakan kecintaan dan kesetiaannya walau dihadapan isteri-isteri beliau yang lain. Dengan demikian. pernikahan beliau kesemuanya untuk tujuan menyukseskan dakwah atau membantu dan menyelamatkan para perempuan yang kehilangan suami itu. Ini berarti beliau bermonogami selama 25 tahun. kecuali Aisyah ra. Hal ini berbeda dengan poligami yang dilakukan Rasulullah. dimana dapat kita lihat alasan poligami sekarang ini salah satunya adalah karena isteri tidak dapat memberikan keturunan.

setelah tadinya ia menantang keras. Ummu Salamah ra bersedia menerima lamaran Rasul saw demi meraih kehormatan dipersunting pesuruh Allah dan demi anak-anaknya. Huriyah sendiri memilih untuk menetap bersama Nabi Muhammad saw dan enggan kembali bersama ayahnya. meninggalkan orangtuanya untuk berhijrah ke Habasyah (Etiopia) bersama suaminya. 1984). al-Mar’atul fil Qur’an diterjemahkan Chadidjah Nasution. yakni semua tawanan yang dibebaskan pada akhirnya memeluk agama Islam.Uhud kemudian gugur – juga seorang tua. Wanita Dalam Al-Qur’an (Cet. sampai-sampai pada mulanya Ummu Salamah ra menolak lamaran Rasul saw. putri Abu Sufyan ra. sebagaimana telah menolak sebelumnya lamaran Abu Bakar dan Umar ra akan tetapi. 50 72 . Abbas Mahmoud al-‘akkad. Nabi saw melamarnya dengan harapan mengangkatnya dari jurang penderitaan. melalui Negus. pada akhirnya.50 Dia lalu keluar dari kegelapan musyrik menuju cahaya Islam. sekaligus menjalin hubungan dengan ayahnya yang ketika itu merupakan salah satu tokoh utama kaum musyrikin diMekkah. Dan mungkin perkawinan itulah yang menjadi landasan hubungan silaturrahim karena kekeluargaan antara Rasulullah saw dengan Abu Sufyan. Maka. Huriyah binti Alharis ra adalah putri kepala suku dan termasuk salah seorang yang ditawan pasukan Islam. 153. Nabi saw menikahinya sambil memerdekakannya dengan harapan kaum muslimin dapat membebaskan para tawanan yang mereka tawan sehingga hasilnya seperti yang beliau harapkan. tetapi sang suami kemudian memeluk agama Nasrani disana dan menceraikannya sehingga ia hidup sendiri di perantauan. Penguasa Etiopia. Jakarta: Bulan Bintang. Ramlah. II. yang kemudian menyebabkan Abu Sufyan tertarik perhatiannya kepada agama Islam.

Hafshah putri Umar Ibnu al-Khaththab ra ketika suaminya wafat. sekaligus untuk membatalkan adat jahiliyah yang menganggap anak angkat sebagai anak kandung sehingga ayah angkatnya tidak boleh menikahi bekas isteri anak angkatnya 73 . Maka ia “menawarkan” putrinya kepada putrinya kepada Abu Bakar ra untuk dipersunting. Zainab binti Jahesy ra – sepupu Nabi Muhammad saw – dinikahkan langsung oleh Nabi dengan bekas anak angkat dan budak beliau. Shafiyah hidup terhormat sampai suatu ketika Nabi saw mendengar seseorang yang memakinya bertubuh pendek. maka Nabi menghibur Shafiyah sambil mengecam dengan keras pemakinya. yang kemudian bersedia menikahi Hafshah ra demi persahabatan dan demitidak membedakan Umar ra dengan sahabatnya abu Bakar ra. Utsman pun diam. Syafiyah binti Huyay ra. diberi pilihan kembali kepada keluarganya atau tinggal bersama Nabi dalam keadaan bebas merdeka. yakni Aisyah ra. ayahnya merasa sedih melihat anaknya hidup sendiri. Rumah tangga mereka tidak bahagia sehingga mereka bercerai dan sebagai penanggung jawab pernikahan itu. sehingga tawaran diajukan kepada Utsman ra. yang sebelum ini putrinya telah beliau nikahi. tetapi yang ditawari tidak menyambut. Dirumah itu. Nabi Muhammad menikahinya atas perintah Allah. Zaid Ibnu Haritsah ra. putri pemimpim Yahudi dari Bani Quraizhah yang ditawan setelah kekalahan mereka dalam pengepungan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. Nah ketika itu Umar mengadukan kesedihannya kepada Nabi Muhammad. Dia memilih untuk tinggal bersama Nabi.

diterjemahkan Dwi Ratnasari. 51 74 .S al-Ahzab : 36-37). Maka. Zauzat an-Nabi Muhammad Saw wa Hikmat Ta’addudihin. yang keseluruhannya janda.S an-Nisa: 129 yang menyatakan: öΝçFô¹tym öθs9uρ Ï!$|¡ÏiΨ9$# t÷t/ (#θä9ω÷ès? βr& (#þθãè‹ÏÜtFó¡n@ s9uρ Artinya: Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteriisteri(kamu).51 Zainab binti Khuzaimah ra suaminya gugur dalam perang Uhud dan tidak ada seorang pun – dari kaum muslimin ketika itu – yang berminat. Itulah isteri-isteri Nabi Muhammad saw. Hal ini menandakan poligami Rasulullah adalah karena ada kepentingan pemberlakuan hukum.itu (baca Q. dan mengabaikan kelanjutan ayat guna mendukung pendapat yang mereka inginkan. Yogyakarta: Diva Press. Sebagian dari mereka menampilkan penggalan pertama dari Q. “Berdasar firman Abdul Ghany A. 2004). Nabi Muhammad saw pun menikahinya. I. Isteri-isteri yang disebut diatas yang disebut diatas inilah yang sering kali disorot oleh mereka yang tidak mau tahu atau enggan memahami latar belakang pernikahan itu. karena mereka yang melarang poligami hanya mengambil sepenggal ayat. Yang menurut Quraish Shihab jauh dari kebenaran. Mengapa Rasulullah Berpoligami dan Sebaiknya kita tidak (Cet. 13.R. kecuali Aisyah ra – yang beliau nikahi setelah bermonogami hingga usia 50 tahun lebih. Quraish Shihab juga berargumen menanggapi orang yang melarang poligami dengan memberi interpretasi terhadap ayat-ayat al-Qur’an atau hadits-hadits Nabi saw. walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian… Mereka menampilkan untuk tujuan menutup rapat-rapat pintu poligami dengan alasan bahwa keadilan dalam berpoligami – oleh ayat ini – secara tegas dinyatakan tidak akan mungkin tercapai sehingga mereka berkata.

sebagaimana dinyatakan oleh isteri beliau. Quraish Shihab. Hal ini juga berarti keadilan yang dituntut bukan keadilan yang menyangkut kecenderungan hati. 176.Cit. Nabi Muhammad saw sendiri. sahabat-sahabat beliau berpoligami – tanpa dilarang oleh Nabi saw. Op. tetapi dalam saat yang sama beliau mengakui dengan mengadu kepada Allah bahwa: “Ya Allah. (HR.Allah itu. Perempuan. sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung… Lanjutan ayat ini mengisyaratkan bahwa keadilan yang tidak mungkin dapat tercapai itu adalah dari segi kecenderungan hati yang memang berada diluar kemampuan manusia. Aisyah ra. dan juga tidak melanggar terhadap teks yang digunakan orang yang mencoba menutup pintu poligami tersebut. melainkan keadilan material yang memang dapat terukur. inilah bagian (keadilan) yang berada dalam kemampuanku. $yδρâ‘x‹tGsù È≅øŠyϑø9$# ¨≅à2 (#θè=ŠÏϑs? Ÿξsù ( Artinya: Karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai). 52 M.52 Dari sini dapat dipahami bahwa poligami tidak dilarang. berlaku adil terhadap isteri-isteri beliau yang lain. an-Nasa’i). poligami harus dilarang!” pendapat ini jauh dari kebenaran karena mereka mengabaikan lanjutan ayat diatas yang menyatakan: Ïπs)‾=yèßϑø9$$x. 75 . Maka janganlah tuntut aku menyangkut (keadilan cinta) yang berada diluar kemampuanku”. Mereka yang bermaksud menutup rapat-rapat pintu poligami itu mengabaikan juga kenyataan bahwa pada masa Nabi saw.

76 . Disini perlu disadari bahwa dalam masyarakat yang melarang poligami atau menilainya buruk – baik di Timur lebihlebih di Barat – telah mewabah hubungan seks bebas atau tanpa nikah dan muncul perempuan-perempuan simpanan serta pernikahan dibawah tangan. menurut Quraish Shihab sebelum menutup mati pintu poligami. Dampak buruk inilah yang mengantarkan sementara orang melarang poligami secara mutlak. perlu diketahui bahwa poligami yang mengakibatkan dampak buruk yang dilukiskan diatas adalah yang dilakukan oleh mereka yang tidak mengikuti tuntunan agama. Perlakuan buruk inilah yang akan mengakibatkan hubungan antara anak-anak pun memburuk. Ibid. bila cenderung kepada salah satu isteri yang dicintainya. Dalam hal ini Quraish Shihab dalam menanggapi pendapat yang menutup rapat-rapat pintu poligami dengan alasan bahwa poligami berdampak buruk dan menimbulkan mudharat yang besar. Quraish Shihab. Ini mempunyai dampak yang sangat buruk lagi bagi masyarakat. bahkan sampai hubungan antar-keluarga. lebih-lebih terhadap perempuan. apalagi bila pembatalan tersebut mengakibatkan dampak buruk bagi masyarakat. 177. juga berdampak pada anak-anak dari perlakuan ibu tiri maupun ayahnya sendiri. Mereka beralasan longgarnya syarat poligami ditambah dengan rendahnya kesadaran dan pengetahuan tentang tuntunan agama serta makna dan tujuan pernikahan yang mengakibatkan mudharat yang menimpa isteri karena terjadi iri. Terjadinya pelanggaran terhadap ketentuan hukum bukanlah alasan yang tepat untuk membatalkan ketentuan hukum itu.Sementara menurut Quraish Shihab orang yang melarang poligami dengan alasan dampak buruk yang diakibatkan dari poligami sangat besar.53 para 53 M.

Ia sering digugurkan sebelum lahir dan kalaupun dibiarkan hidup. Sang ibu kandung. bila mengakuinya – seandainya ia masih mengakui norma agama dan budaya – akan menanggung malu yang dibawa mati. melalui pernikahan yang sah dan permanen. 77 . Hal ini berbeda dengan anak-anak yang dilahirkan dari hubungan gelap. kita akan melihat bahwa apa yang ditawarkan Islam sungguh jauh lebih manusiawi dan bermoral dibanding dengan apa yang terjadi ditengah masyarakat yang melarang poligami. kalau membandingkan hal tersebut dengan poligami bersyarat yang ditetapkan oleh al-Qur’an. sebagaimana yang banyak terjadi dewasa ini. bahkan seharusnya atau paling tidak dengan restu wali.Disini. Dalam ajaran Islam. Anak yang lahir dari pernikahan akibat poligami adalah anak yang sah sehingga ayahnya bertanggung jawab untuk membesarkan dan mendidiknya. Bandingkanlah dengan pernikahan rahasia atau wanita-wanita simpanan dan sebagainya yang terjadi dimana-mana. Islam menganjurkan agar dilakukan pesta dan dirayakan dengan bunyi-bunyian (musik) yang menggambarkan kesyukuran dan kegembiraan. Atas dasar itulah banyak ulama dewasa ini menetapkan syarat-syarat buat bolehnya berpoligami – tanpa melarangnya secara mutlak dan juga tidak membuka pintu poligami selebar-lebarnya. Poligami yang diajarkan Islam tidak membenarkan seorang laki-laki berhubungan seks. pernikahan tidak boleh dilakukan secara diam-diam tanpa saksi-saksi. kecuali dengan empat perempuan. tidak jarang dibuang ketempat sampah atau hamper selalu tidak diakui oleh “ayah”-nya.

tanpa harus mengorbankan teks atau memberinya penafsiran yang sama sekali tidak sejalan dengan kandungan teks itu sendiri. “Tidak ada dalam al-Qur’an sesuatu yang melarang untuk menempuh jalan tersebut. dan kewajiban infak dalam hal pernikahan. Abu Zahrah.S al-Baqarah: 229 – dan sebagaimana yang berlaku pada masa Nabi saw. karena dalam pertimbangan Umar ra. termasuk dalam hal poligami. tentu saja bukan berarti membuka pintu poligami lebar-lebar 78 . Yang menetapkan jatuhnya talak tiga yang diucapkan selaligus dalam satu majelis – bukannya hanya jatuh satu talak saja. pergaulan baik. sebagaimana dipahami dari teks ayat yang terdapat dalam Q. antara lain seperti yang ditempuh oleh mereka yang menafsirkan ayat yang berbicara tentang ketidakmungkinan keadilan dalam hal poligami atau melarangnya secara mutlak. Sayyidina Umar ra pada masanya menetapkan sekian banyak peraturan guna mengatur masyarakat mematuhi ketentuan-ketentuan Allah”. Pandangan Abu Zahrah diatas tidak melebihi penetapan Sayyidina Umar ra. para suami ketika itu perlu dididik/dijatuhi sanksi sebab pada ketika itu mereka seenaknya saja menjatuhkan talak dan tidak mengikuti tuntunan Allah tentang perlunya kehati-hatian dalam hal tersebut. Dalam hal ini Quraish Shihab menegaskan bahwa teks ayat diatas dan penjelasan Nabi saw. menegaskan bahwa tidak terdapat dalam teks ayat al-Qur’an yang menghalangi pemerintah untuk menetapkan syarat-syarat yang mengantar kepada keadilan.Ulama besar dan pakar hukum Islam Mesir. dalam bukunya alAhwal asy-Syakhshiyah. Quraish Shihab mengemukakan dengan contoh diatas adalah bahwa banyak jalan yang dapat ditempuh guna menghalangi ketidakadilan terhadap perempuan.

Dalam yang sama. Poligami menurut Quraish Shihab mirip dengan pintu darurat dalam pesawat terbang. sebagaimana yang dikehendaki oleh sementara orang.54 Dalam hal poligami. poligami bukan anjuran. Disini. Islam membenarkan lelaki menghimpun dalam saat yang bersamaan empat orang isteri. Lalu. yang duduk disamping pintu darurat pun haruslah mereka yang memiliki pengetahuan dan kemampuan membukanya serta baru diperkenankan membukanya pada saat mendapat izin dari pilot. apabila dia melahirkan. perempuan itu menunjuk salah seorang dari anggota kelompok yang menggaulinya untuk dijadikan sebagai ayah dari anaknya. Begitu isterinya hamil. Ibid. Dalam masyarakat jahiliyah di Jazirah Arab dahulu – disamping pelacuran seperti yang dikenal pada dewasa ini – dikenal juga apa yang dinamai nikah al-Istibdha’ yakni seorang suami membiarkan isterinya digauli – untuk masa tertentu – oleh seorang lelaki dengan harapan memperoleh keturunan yang berkualitas melalui lelaki pilihannya. hubungan tersebut segera dihentikan. baik dikemukakan masyarakat manusia pernah mengenal poliandri. sedangkan melarang perempuan tidak diperbolehkan kecuali dengan seorang lelaki atau dilarang poliandri. 79 . Bentuk poliandri yang lain adalah “percampuran” seorang perempuan dengan sekelompok lelaki (tidak lebih dari sepuluh orang). melainkan salah satu solusi yang diberikan kepada mereka yang sangat membutuhkan dan memenuhi syarat-syarat poligami. 54 M.tanpa batas dan syarat. 180. yang hanya boleh dibuka dalam keadaan emergency tertentu. Disamping itu. ia tidak juga dapat dikatakan menutup pintu poligami rapat-rapat. dan yang bersangkutan tidak dapat mengelak dari tanggung jawabnya sebagai ayah. Quraish Shihab.

ketika itu pula cairan yang 80 . apalagi manusia. akan terjadi kekacauan. karena yang menjadi kepala rumah tangga biasanya suami. Begitu terlibat dua lakilaki dalam hubungan seksual dengan seorang perempuan. Jika telah dibuahi oleh seorang lelaki. Hal tersebut dapat dilihat. melakukan pemeriksaan kesehatan rutin bagi perempuan-perempuan berperilaku seks bebas.Kendati poliandri dikenal oleh masyarakat tertentu pada masa lalu. Manusia mendambakan anak yang jelas statusnya. Dan juga masalah dalam hubungan seks. Binatang saja memiliki “kehormatan dan kecemburuan” apalagi manusia terhormat. Negara-negara yang membolehkan prostitusi. Dari sinilah poliandri tidak di benarkan karena terkait dengan status anak tersebut. yaitu masalah pemimpin rumah tangga. Poliandri juga akan menimbulkan permasalahan baru yakni terkait dalam hal rumah tangga. dan tidak melakukannya bagi pasangan yang sah. Binatang saja enggan bergiliran. Kegagalan itu utamanya disebabkan poliandri bertentangan dengan kodrat lelaki dan perempuan sekaligus serta karena kekaburan status anak yang dilahirkan. seorang perempuan tidak dapat lagi dibuahi oleh lelaki lain selama buah tersebut masih berada dalam kandungannya. Ini berbeda dengan lelaki yang dapat membuahi sekian banyak perempuan. Memang benar dengan kemajuan teknologi dapat menguji untuk mengetahui siapa ayah anak tersebut. Hal tersebut dikarenakan kenyataan menunjukkan bahwa perempuan hanya diciptakan untuk disentuh oleh cairan yang bersih. terlalu panjang jika harus dilakukan pemeriksaan laboratorium dan menghabiskan dana yang tidak sedikit. Boleh jadi. ada yang tidak menerima pendapat ilmuan yang menyatakan bahwa fitrah pria cenderung berpoligami dan fitrah wanita cenderung bermonogami. ternyata ia tidak berhasil dan akhirnya ditinggalkan. yakni sperma satu orang (sperma satu orang lelaki).

Kasih sayang isteri/ibu tidak dapat terpenuhi kecuali dalam suasana cinta penuh seorang suami. Banyak lelaki apabila telah menguasai jasad perempuan. sedikit atau banyak tidak dapat dinilai sebagai keistimewaan bagi perempuan. ia tidak terlalu membutuhkan hatinya. melainkan juga untuk kepentingan anak yang dikandungnya. karena dimadu dapat menjadi bukti pudar atau berkurangnya cinta. sedangkan perempuan sebaliknya. yakni unsur jasmani dan rohani. anak yang tumbuh dalam rahim seorang isteri menjadikan ibu yang mengandungnya membutuhkan kasih sayang. Karena lelaki cenderung menginginkan jasad perempuan. bukan saja guna kepentingan dirinya. Itu pula sebabnya ada sekian banyak perempuan dewasa ini yang rela membiarkan suaminya “melacur” asal dia jangan dimadu. seorang suami sering kali tidak memedulikan hati isterinya yang lain. dalam berpoligami. cinta dan kasih sayang. Unsur jasmani tercermin dalam dorongan seksual yang meluap pada masa muda dan berangsur menurun menjelang tua. sedangkan perempuan mendambakan hati lelaki. salah satu perbedaan antara lelaki dan perempuan adalah lelaki biasanya lebih memerhatikan unsur jasmani atau paling tidak seimbang – pada masa mudanya – antara unsur jadsmani dan rohani itu. Adapun poliandri. Karena itu. Poligami boleh jadi dinilai sebagai keistimewaan bagi lelaki. sedangkan perempuan selalu mementingkan unsur rohani. ada dua unsur utama dalam pernikahan. Kenyataan ini menjadi bukti yang sangat jelas menyangkut hal ini. Nah. Disisi lain. sedangkan unsur rohani tercermin dalam perasaan cinta dan kasih sayang yang mestinya dari hari kehari menguat dan menguat. Inilah antara lain yang membuktikan bahwa perempuan memang cenderung bersifat 81 .merupakan benih anak itu tidak bersih lagi dan sangat dikhawatirkan menjangkitkan penyakit. Memang.

monogami. Karena itu, ajakan agar mereka berpoliandri tidak akan disambut oleh perempuan-perempuan yang mengikuti kodratnya.55 Dari sini dapat dilihat bahwa poligami bisa dapat di jadikan alternatif baik secara individu maupun kolektif. Secara individu, terjadi antara lain pada saat isteri tidak dapat melaksanakan fungsinya yang ketika itu ia lebih baik dimadu daripada dicerai, dan secara kolektif terjadi seandainya jumlah perempuan lebih banyak daripada jumlah lelaki.

55

M. Quraish Shihab, Ibid, 184.

82

BAB IV ANALISIS DATA Analisis dalam bab ini akan mengangkat permasalahan poligami yang masih banyak mengundang pro dan kontra baik dikalangan intelektual maupun masyarakat. Menganalisis ayat-ayat tentang poligami melihat dari pemikiran Muhammad Quraish Shihab tentang poligami, dan implikasi hukumnya. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, munculnya praktik poligami sudah ada atau berlaku sebelum Islam lahir, dimana praktik poligami yang dilakukan sebelum lahirnya agama Islam dilakukan tanpa batas dan tidak ada ketentuan atau syarat. Datangnya agama Islam melakukan perubahan besar terhadap praktik poligami sebelumnya, dimana dalam ajaran agama Islam membatasi jumlah isteri dan memberi syarat-syarat dan ketentuan yang harus dilakukan suami yang melakukan praktik poligami. Poligami perlu diatur dalam islam, karena poligami merupakan bagian dari kehidupan masyarakat, sementara itu agama Islam mengatur seluruh aspek kehidupan dan juga berlaku disetiap zaman dan tempat. Sehingga wajar bila Islam mengatur poligami, karena harus bersifat universal agar dapat digunakan dalam setiap keadaan dan waktu. Poligami sampai saat sekarang ini, masih menjadi pembicaraan yang hangat untuk di bicarakan, karena masalah poligami ini masih menimbulkan banyak perspektif terkait pelaksanaan poligami tersebut. Hal tersebut tidak lain karena terkait dengan perbedaan dalam memahami ayat yang menerangkan poligami tersebut.

83

Perbedaan tersebut dalam memahami ayat yang terdapat dalam surat an-Nisa: 3, yang berbunyi sebagai berikut:

y]≈n=èOuρ 4o_÷WtΒ Ï!$|¡ÏiΨ9$# zÏiΒ Νä3s9 z>$sÛ $tΒ (#θßsÅ3Ρ$$sù 4‘uΚ≈tGu‹ø9$# ’Îû (#θäÜÅ¡ø)è? āωr& ÷Λäø Åz ÷βÎ)uρ (#θä9θãès? āωr& #’oΤ÷Šr& y7Ï9≡sŒ 4 öΝä3ãΨ≈yϑ÷ƒr& ôMs3n=tΒ $tΒ ÷ρr& ¸οy‰Ïn≡uθsù (#θä9ω÷ès? āωr& óΟçFø Åz ÷βÎ*sù ( yì≈t/â‘uρ
Artinya: Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. Dalam hal ini Muhammad Quraish Shihab memahami dengan menafsirkan ayat tersebut dengan penjelasan sebagai berikut: Muhammad Quraish Shihab membagi menjadi dua makna adil tersebut, Ayat diatas menggunakan kata tuqsithuu dan ta’diluu yang keduanya diterjemahkan berlaku adil. Kata tuqsithuu berarti berlaku adil antara dua orang atau lebih, keadilan yang menjadikan keduanya senang. Sedangkan, ta’diluu adalah berlaku baik terhadap orang lain maupun diri sendiri, tapi keadilan itu bisa saja tidak menyenangkan salah satu pihak. Dalam hal ini Quraish Shihab membagi makna adil tersebut menjadi dua yaitu: adil secara subjektif dan adil secara objektif, dimana makna adil yang pertama adil dari kedua belah pihak baik isteri maupun suami, sedangkan adil yang kedua cenderung dari pihak suami saja. Jika makna kedua ini dipahami, itu berarti izin berpoligami hanya diberikan kepada mereka yang menduga bahwa langkahnya itu dia harapkan dapat menyenangkan semua isteri yang dinikahinya. Ini dipahami dari kata tuqsithuu, tetapi kalau itu tidak tercapai, paling tidak ia harus berlaku adil, walaupun itu bisa tidak menyenangkan salah satu diantara mereka.

84

karena menurut hemat kami. atau empat-empat . Dan juga dalam memahami ayat yang terdapat dalam surat an-Nisa: 129. Yang diperkenankan oleh ayat diatas hanyalah yang yakin atau menduga keras dapat berlaku adil. sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Sehingga dalam berpoligami hanya terbatas empat orang isteri saja. dari pada pemahaman bahwa jumlah isteri yang boleh di poligami lebih dari empat. apakah bisa berlaku adil atau tidak. walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian. ©!$# €χÎ*sù (#θà)−Gs?uρ (#θßsÎ=óÁè? βÎ)uρ 4 Ïπs)‾=yèßϑø9$$x.Quraish Shihab memaknai kata “khiftum” dengan mengartikan mengetahui. Karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai). menunjukkan bahwa siapa yang yakin atau menduga keras atau bahkan menduga tidak akan berlaku adil terhadap isteri-isterinya maka mereka itu tidak diperkenankan oleh ayat diatas melakukan poligami. Yang ragu. bahwa pembatasan jumlah isteri yang boleh dinikahi yaitu empat orang isteri. dan jika kamu mengadakan 85 . yaitu: È≅øŠyϑø9$# ¨≅à2 (#θè=ŠÏϑs? Ÿξsù ( öΝçFô¹tym öθs9uρ Ï!$|¡ÏiΨ9$# t÷t/ (#θä9ω÷ès? βr& (#þθãè‹ÏÜtFó¡n@ s9uρ ∩⊇⊄∪ $VϑŠÏm§‘ #Y‘θà xî tβ%x. dalam pembatasan empat orang isteri tersebut seorang suami yang melakukan poligami lebih bisa berlaku adil dan juga lebih tidak membebani tanggungan yang harus dipikul. Dari sini kita dapat memahami bahwa Quraish Shihab dalam pemikirannya membolehkan poligami. seyogianya tidak diizinkan berpoligami. Dan memaknai huruf (‫) و‬ wauw pada ayat diatas bukan berarti dan. melainkan berarti atau sehingga dua-dua. namun dalam pelaksanaan poligami tersebut beliau sangat menekankan pada unsur keadilan dan juga beliau lebih sepakat kepada pendapat . $yδρâ‘x‹tGsù Artinya: Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteriisteri(mu). tiga-tiga.

berlaku adil terhadap isteri-isteri beliau yang lain. Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan itu pun merupakan pintu kecil yang hanya 86 . melainkan keadilan material yang memang dapat terukur. Quraish Shihab memahami bahwa ayat ini mengisyaratkan yang di maksud dengan keadilan yang tidak mungkin dapat tercapai itu adalah dari segi kecenderungan hati yang memang berada diluar kemampuan manusia. inilah bagian (keadilan) yang berada dalam kemampuanku. Dalam hal ini. pangan. Poligami menurut Quraish Shihab merupakan mirip dengan pintu darurat dalam pesawat terbang. yaitu sandang. yang duduk disamping pintu darurat pun haruslah mereka yang memiliki pengetahuan dan kemampuan membukanya serta baru diperkenankan membukanya pada saat mendapat izin dari pilot. Aisyah ra. tetapi dalam saat yang sama beliau mengakui dengan mengadu kepada Allah bahwa: “Ya Allah. namun dalam kecenderungan hati tidak dituntut. an-Nasa’i). sebagaimana dinyatakan oleh isteri beliau. Keadilan yang dituntut dalam poligami adalah keadilan dalam hal materi.perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan). Nabi Muhammad saw sendiri. Maka janganlah tuntut aku menyangkut (keadilan cinta) yang berada diluar kemampuanku”. Hal ini juga berarti keadilan yang dituntut bukan keadilan yang menyangkut kecenderungan hati. papan dan juga dalam hal giliran pada setiap isterinya. tetapi tidak boleh terlalu cenderung pada salah satu isterinya tersebut. (HR. yang hanya boleh dibuka dalam keadaan emergency tertentu.

56 Dan pada pasal 3 ayat 2 yang telah disebutkan. 87 . Di samping itu lembaga poligami tidak semata-mata kewenangan penuh suami tyetapi atas dasar izin dari hakim (pengadilan). Isteri tidak dapat melahirkan keturunan. Isteri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Bila pendapat Quraish Shihab tersebut di tinjau dari sudut pandang Undangundang No. Didalam penjelasan pasal 3 ayat 2 tersebut dinyatakan: 56 Yahya Harahap. 26. jelaslah bahwa asas yang dianut oleh undang-undang perkawinan sebenarnya bukan asas monogami mutlak melainkan disebut monogami terbuka atau menurut Yahya harahap. dan dengan syarat yang tidak ringan. Dengan adanya bunyi pasal-pasal yang membolehkan untuk berpoligami kendatipun dengan alasan-alasan tertentu. Isteri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai isteri. undangundang perakwinan telah melibatkan Pengadilan Agama sebagai intitusi yang cukup penting untuk mengabsahkan kebolehan poligami bagi seorang. f. Hukum Perkawinan Nasional (Medan: Zahir Trading Co Medan.dapat dilalui oleh siapa yang sangat amat membutuhkan. Poligami ditempatkan pada status hukum darurat (emergency law). dimana dijelaskan dalam Undang-undang No 1 tahun 1974 bahwa: Dalam pasal 4 pada ayat 2 Undang-undang perkawinan dinyatakan. 1 tahun 1974. atau dalam keadaan yang luar biasa (extra ordinary circumstance). monogami yang tidak bersifat mutlak. e. bahwa ayat tersebut. seorang suami yang akan beristeri lebih dari seorang apabila: d. 1975).

3.Pengadilan dalam memberikan putusan selain memeriksa apakah syarat yang tersebut pasal 4 dan 5 telah dipenuhi harus mengingat pula apakah ketentuanketentuan hukum perkawinan dari calon suami mengizinkan adanya poligami. Berkenaan dengan pasal 4 diatas. terkesan karena suami tidak memperoleh kepuasan yang maksimal dari isterinya. 2. setidaknya menunjukkan ada tiga alasan yang di jadikan dasar mengajukan permohonan poligami. Kedua Isteri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan (menurut dokter). Pertama Isteri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai isteri. Namun demikian ternyata undang-undang perkawinan juga memuat syarat-syarat untuk kebolehan poligami. Adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap isteri dan anak-anak mereka. maka alternatifnya adalah poligami. syarat-syarat yang dipenuhi bagi seorang suami yang ingin melakukan poligami ialah: 1. Tampaknya alasan-alasan ini bernuansa fisik kecuali alasan nomor tiga. Untuk membedakan persyaratan yang ada dalam pasal 4 dan 5 adalah pasal 4 disebut dengan persyaratan alternatif yang artinya salah satu harus ada untuk dapat 88 . Ketiga tidak dapat melahirkan keturunan. Seperti yang termuat dalam pasal 5 ayat 1 undang-undang perkawinan. Adanya persetujuan dari isteri/isteri-isteri. Adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan hidup isteriisteri dan anak-anak mereka.

Surat keterangan lain yang dapat di terima oleh pengadilan d..mengajukan permohonan poligami. 89 .57 Terkait dengan prosedur melaksanakan poligami. Surat keterangan mengenai penghasilan suami yang ditandatangani oleh bendahara tempat bekerja.Cit. Surat keterangan pajak penghasilan. Ada atau tidaknya adanya persetujuan dari isteri. Ada atau tidaknya adanya kemampuan suami untuk menjamin keperluan hidup isteri-isteri dan anak-anak. pada pasal 40 dinyatakan: Apabila seorang suami bermaksud untuk beristeri lebih dari seorang. Sedangkan pasal 5 adalah persyaratan kumulatif dimana seluruhnya harus dapat dipenuhi suami yang akan melakukan poligami. Ada atau tidaknya alasan yang memungkinkan seseorang suami kawin lagi. baik persetujuan lisan maupun tertulis. 9 tahun 1975 yang berbunyi sebagai berikut: Pengadilan kemudian memeriksa mengenai: a. 57 Amiur Nuruddin dan Azhari Akmal Tarigan. apabila persetujuan itu merupakan persetujuan lisan. maka ia wajib mengajukan permohonan secara tertulis kepada pengadilan. Sedangkan tugas pengadilan di atur di dalam pasal 41 PP N0. Ada atau tidaknya adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap isteri-isteri dan anak-anak mereka dengan pernyataan atau janji dari suami yang dibuat dalam bentuk yang di tetapkan untuk itu. persetujuan itu harus diucapkan di depan sidang pengadilan. 164. atau iii. Op. aturannya dapat dilihat didalam PP No. c.9/1975. dengan memperlihatkan: i. atau ii. b.

Berikutnya pada pasal 42 juga dijelaskan keharusan pengadilan untuk memanggil para isteri untuk memberikan penjelasan atau kesaksian. 32. poligami jika di tinjau dari sudut pandang dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI). Menurut Mohammad Daud Ali. 90 . Hukum Islam dan Peradilan Agama (Jakarta: Rajawali Pers. untuk mengurangi poligami dapat juga ditempuh dengan cara memberi sanksi pidana bagi suami yang menikah untuk kedua kalinya. 1997). maka pengadilan memberikan putusannya yang berupa izin untuk beristeri lebih dari seorang.58 Sementara itu. Di samping itu. sehingga didalam pasal 44 dijelaskan bahwa Pegawai Pencatat di larang untuk melakukan pencatatan perkawinan seorang suami yang akan beristeri lebih dari seorang sebelum adanya izin Pengadilan. Cukuplah dianggap sebagai syarat yang harus di penuhi dalam rangka melindungi kaum wanita dan anak-anak. Hal ini dinyatakan di dalam pasal 43 yang berbunyi: Apabila Pengadilan berpendapat bahwa cukup alasan bagi pemohon untuk beristeri lebih dari seorang. Pengadilan Agama memiliki wewenang untuk memberi izin kepada seseorang untuk melakukan poligami. Di dalam pasal ini juga dijelaskan. tanpa melalui izin Pengadilan Agama. Kompilasi Hukum Islam (KHI) memuat masalah poligami ini 58 Mohammad Daud Ali. Izin Pengadilan Agama tampaknya menjadi sangat menentukan. bahwa izin poligami dari Pengadilan Agama tidak boleh dianggap sebagai syarat sah perkawinan kedua. bahwa pengadilan diberi waktu selama 30 hari untuk memeriksa permohonan poligami setelah diajukan oleh suami lengkap dengan persyaratannya.

2. Suami yang hendak beristeri lebih dari satu orang harus mendapat izin dari Pengadilan Agama. Pengajuan permohonan izin dimaksudkan pada ayat 1 dilakukan menurut tata cara sebagaimana diatur dalam Bab VII PP No. Apabila Syarat utama yang disebut pada ayat (2) tidak mungkin dipenuhi. Syarat utama beristeri lebih dari satu orang. beristeri lebih dari satu orang pada waktu bersamaan. Terkait dengan prosedur poligami. terbatas hanya sampai empat orang isteri. 3. suami harus mampu berlaku adil terhadap isteri-isteri dan anak-anaknya. ketiga atau keempat tanpa izin dari Pengadilan Agama. Kompilasi Hukum Islam (KHI) sepertinya tidak jauh berbeda dengan undang-undang perkawinan bahkan dengan semangat fikih. tidak mempunyai kekuatan hukum. suami dilarang beristeri lebih dari satu orang.pada bagian IX dengan judul.9 tahun 1975. Pada pasal 57 di jelaskan: Pengadilan Agama hanya memberi izin kepada suami yang akan beristeri lebih dari seorang apabila: 91 . Perkawinan yang di lakukan dengan isteri kedua. 2. Kendatipun pada dasarnya undang-undang perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam (KHI) menganut prinsip monogami. Dari pasal-pasal diatas. namun sebenarnya peluang yang di berikan untuk poligami juga terbuka. Lebih lanjut dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) pada pasal 56 di jelaskan: 1. 3. pada pasal 55 dinyatakan: 1. Beristeri lebih dari satu orang yang diungkapkan dari pasal 55 sampai pasal 59.

d. tetapi sekalipun telah ada persetujuan tertulis.1 tahun 1974. 92 . adanya persetujuan isteri. Dengan tidak mengurangi ketentuan pasal 41 huruf b Peraturan Pemerintah No. 3. Seperti yang di jelaskan pada pasal 58 Kompilasi Hukum Islam (KHI). f. Isteri tidak dapat melahirkan keturunan. b. Persetujuan dimaksud pada ayat 1 huruf a tidak diperlukan bagi seorang suami apabila isteri atau isteri-isterinya tidak mungkin dimintai persetujuannya dan tidak dapat menjadi pihak dalam perjanjian atau apabila tidak ada kabar dari isteri atau isteri-isterinya sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun atau karena sebab lain yang perlu mendapat penilaian Hakim. persetujuan isteri atau isteri-isteri dapat diberikan secara tertulis atau dengan lisan. 2. Selain syarat-syarat yang telah di terangkan di atas. harus pula dipenuhi syarat-syarat yang ditentukan pada pasal 5 undang-undang No.9 tahun 1975. terdapat syarat-syarat lain juga yang harus dipenuhi oleh suami yang akan melakukan pernikahan poligami atau beristeri lebih dari seorang. persetujuan ini dipertegas dengan persetujuan lisan isteri pada siding Pengadilan Agama. adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan hidup isteriisteri dan anak-anak mereka. Isteri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat di sembuhkan. Selain syarat utama yang di sebut pada pasal 55 ayat 2 maka untuk memperoleh izin Pengadilan Agama. yaitu: a. e. yang berbunyi: 1. Isteri tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai isteri.

Lebih lengkapnya bunyi pasal tersebut sebagai berikut: Dalam hal isteri tidak mau memberikan persetujuan. dan permohonan izin untuk beristeri lebih dari satu orang berdasarkan atas salah satu alasan yang diatur dalam pasal 55 ayat (2) dan 57. suami harus terlebih dahulu mendapatkan persetujuan para isteri. 59 93 . serta (2) mampu berlaku adil terhadap isteri-isterinya sehingga isteriisteri dan anak-anak dari suami yang berpoligami tidak disia-siakan. Riba dan Poligami: Sebuah Studi atas Pemikiran Muhammad Abduh. bagi suami yang akan melaksanakan poligami. 1996). bahwa perundangundangan perkawinan di Indonesia tentang poligami sebenarnya telah berusaha mengatur agar laki-laki yang melakukan poligami atau beristeri lebih dari satu orang adalah laki-laki yang benar-benar (1) mampu secara ekonomi menghidupi dan mencukupi seluruh kebutuhan (sandang-pangan-papan) keluarga (isteri-isteri dan anak-anak). Demikian juga perundang-undangan Indonesia terlihat berusaha menghargai isteri sebagai pasangan hidup suami. 100. persetujuan itu dapat diambil alih oleh Pengadilan Agama.Selanjutnya pada pasal 59 Kompilasi Hukum Islam (KHI) juga digambarkan betapa besarnya wewenang Pengadilan Agama dalam memberikan persetujuan kepada suaminya untuk berpoligami. dan terhadap penetapan ini isteri atau suami dapat mengajukan banding atau kasasi. Terbukti. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Dari penjelasan diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan. Pengadilan Agama dapat menetapkan tentang pemberian izin setelah memeriksa dan mendengar isteri yang bersangkutan di persidangan Pengadilan Agama.59 Kahiruddin Nasution.

Sebagai bentuk solusi atau salah satu bentuk alternatif dalam menyelesaikan problem rumah tangga. pangan dan papan. hal tersebut bertujuan dalam pencapaian nilai keadilan yang diinginkan dan tidak menimbulkan kekhawatiran dalam berlaku adil.. 169.. baik itu terkait dengan nafkah. pengadilan tetap dapat memberikan izin poligami walau tidak mendapat izin dari isteri setelah memeriksa dan mendengarkan isteri yang bersangkutan dipersidangan.Pada sisi lain peranan Pengadilan Agama untuk mengabsahkan praktik poligami menjadi sangat menentukan bahkan dapat di katakana satu-satunya lembaga yang memiliki otoritas untuk mengizinkan poligami. 94 . Dalam KHI dalam pasal 59 di jelaskan. Syarat maupun ketentuan yang di berlakukan diatas. Namun juga dalam pelaksanaan poligami tersebut dengan beberapa syarat dan ketentuan. Begitu juga prosedur yang ditentukan dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI).60 Dari sini tidak terjadi perbedaan antara Quraish Shihab dan juga Undangundang perkawinan No. karena tidak dapat di ukur.Cit. Hal ini terlihat lebih memberi peluang kepada suami untuk poligami dan kurang mendukung pihak perempuan atau 60 Amiur Nuruddin dan Azhari Akmal Tarigan. Dalam masalah keadilan baik itu Quraish Shihab maupun ketentuan hukum yang berlaku diIndonesia. maupun pakaian atau dengan kata lain keadilan dalam sandang. tempat tinggal. Bukan dalam hal immaterial. Op.1 tahun 1974. yang dituntut adalah keadilan dalam bentuk materi.1 tahun 1974 yang menganggap poligami merupakan pelaksanaan hukum dalam keadaan darurat. di mana dari keduanya baik itu dari Quraish Shihab maupun dari sudut pandang Undang-undang perkawinan No.

karena mereka yang melarang poligami memang benar apabila di lihat satu sisi yaitu dalam perlindungan wanita dalam kesetaraan.isteri. seperti prostitusi yang banyak terjadi yang cenderung karena alasan ekonomi. namun apabila melihat sisi yang lain poligami juga untuk melindungi kaum wanita yang itu apabila terjadi dalam kondisi tertentu. Dalam pelaksanaan poligami tersebut pun. yang duduk disamping pintu darurat pun haruslah mereka yang memiliki pengetahuan dan kemampuan membukanya serta baru diperkenankan membukanya pada saat mendapat izin dari pilot. Dalam hal ini. Saya setuju dengan pendapat Muhammad Quraish Shihab dengan mengatakan bahwa poligami merupakan mirip pintu darurat dalam pesawat. Dan juga dapat menjadi salah satu alternatif dalam menanggulangi permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat. dan dengan syarat yang tidak ringan. Dan itu pun merupakan pintu kecil yang hanya dapat dilalui oleh siapa yang sangat amat membutuhkan. saya menganggap bahwa pendapat Muhammad Quraish Shihab lebih relevan daripada pendapat yang menutup pintu atau melarang poligami. dengan beberapa syarat dan ketentuan yang harus dilakukan oleh suami yang 95 . Dan juga dengan pelarangan poligami dapat menimbulkan problem sosial. Poligami dalam perspektif Quraish Shihab ini juga bukan suatu anjuran maupun kewajiban untuk melakukan poligami. tetapi masih ada kesempatan untuk dapat mengajukan banding maupun kasasi. karena walaupun dalam hal ini Pengadilan Agama dapat memberi izin poligami. seperti prostitusi atau yang lainnya yang itu juga dapat menjadi problem tersendiri. yang hanya boleh dibuka dalam keadaan emergency tertentu. Namun tidaklah demikian. melainkan suatu alternatif untuk menyelesaikan permasalahan keluarga.

disana sudah mencoba mengatur poligami. maupun Undang-undang yang berlaku diIndonesia. Dari semua penjelasan baik itu dari al-Qur’an. hadits.menikah lebih dari satu isteri atau suami yang melakukan poligami tersebut untuk harapan untuk mencapai keadilan dan juga melindungi perempuan. menjelaskan bahwa syarat dan juga ketentuan yang di inginkan tidak lain untuk mencapai keadilan. Kompilasi Hukum Islam (KHI). Implikasi tersebut menguatkan yang telah diterapkan dalam Undang-undang yang berlaku diIndonesia yaitu dalam Undang-undang No 1 tahun 1974. pendapat ulama. Sehingga poligami benar-benar menjadi solusi ditengah masyarakat 96 . namun beliau menganggap hal itu merupakan solusi yang harus ditempuh dalam keadaan darurat tertentu dengan syarat dan ketentuan yang tidak ringan. selain melindungi hak-hak perempuan dan anakanak juga sebagai pengawas dan pengatur bagi suami yang melakukan poligami agar tidak semaunya saja atau dalam poligami dengan tidak melaksanakan syarat dan ketentuannya. Sehingga implikasi hukumnya untuk dapat dijalankan atau dapat direalisasikan dalam kehidupan masyarakat. Karena pendapat Quraish Shihab tersebut tidak menutup rapat-rapat atau melarang poligami juga tidak menganjurkan. Peran pemerintah dalam hal ini Pengadilan Agama yang merupakan perpanjangan tangan dari pemerintah yang memiliki wewenang dalam pemberian izin poligami sangatlah penting. Pendapat Quraish Shihab dapat dijadikan suatu solusi atau jalan tengah untuk menjembatani bagi mereka yang berbeda pendapat baik itu yang pro maupun kontra. yang tidak lain untuk mencapai keadilan dan melindungi perempuan. maupun penjelasan dari Undang-undang tersebut. Demikian juga yang terdapat dalam pendapat Quraish Shihab.

pemerintah harus tegas baik itu dalam melaksanakan ketentuan-ketentuan yang menjadi syarat poligami maupun sanksi yang diberikan sehingga poligami dapat menjadi alternatif seperti yang diharapkan.dan bukan menimbulkan permasalahan baru. seperti yang dikhawatirkan oleh pendapat yang melarang poligami. 97 . Oleh karena dalam mengatur poligami.

dan juga dengan beberapa syarat dan ketentuan. pangan. Dan hanya dapat dilalui oleh siapa yang sangat amat membutuhkan. karena hal tersebut dapat menimbulkan kecemburuan yang dapat berdampak kurang baik. baik itu sandang. sebagaimana sebagai berikut: 1.BAB V PENUTUP Dari hasil analisa diatas dapat ditarik kesimpulan. 2. Dari situ dapat kita pahami bahwa poligami dalam pemikiran Quraish Shihab merupakan salah satu alternatif yang dilakukan dalam kondisi darurat atau tertentu. Dalam memahami makna adil yang harus dicapai bagi seorang suami yang melakukan poligami menurut Quraish Shihab adalah adil dalam hal materi. namun pun bukan kecenderungan hati tapi tidak boleh terlalu cenderung pada salah satu isterinya. Dan orang yang melakukan itu haruslah mereka yang memiliki pengetahuan dan kemampuan membukanya serta baru diperkenankan membukanya. Implikasi hukum dari pemikiran Quraish Shihab tersebut yaitu menguatkan peraturan yang berlaku di Indonesia. karena hal itu tidak mungkin diwujudkan. Quraish Shihab Membolehkan poligami. Bukan dalam kecenderungan hati atau perasaan. dengan beberapa ketentuan yang harus terpenuhi. Menurut Muhammad Quraish Shihab. dan dengan syarat yang tidak ringan. dan papan. sebagaimana yang dilaksanakan pemerintah 98 . poligami seperti sebuah pintu darurat yang hanya boleh dibuka atau dilakukan dalam keadaan tertentu saja.

Dahlan. edisi kedua Cet. Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-Ayat Al-qur’an. Burhan (2004) Metode Penelitian Hukum. Dzul Hijjah 1427 H. tetapi juga untuk mencegah lelaki (suami) dari berbuat semena-mena dalam melakukan poligami. 99 . Jakarta: Rajawali Pers. Daud Ali. Malang: Fakultas Syaria’ah UIN Malang. Kumudasmoro Grafindo Semarang. Ali. Poligami tersebut dapat dilaksanakan dalam kondisi atau keadaan tertentu yang memang menuntut untuk dilaksanakan poligami demi untuk mencapai kemaslahatan. Cet. A dan M Alfarisi. (2006) Asbabun Nuzul. Dairobi. Eri Mahani. Semarang: PT. VIII.Indonesia. Daftar Pustaka Departemen Agama Republik Indonesia (1994) Al-Qur’an dan Terjemahnya. namun dalam pelaksanaan poligami tersebut pihak suami juga dituntut untuk memenuhi persyaratan dan ketentuan Undang-undang tersebut. Ashshofa. edisi 13. Zainuddin (2006) Hukum Perdata Islam diIndonesia. Mohammad (1997) Hukum Islam dan Peradilan Agama. Jakarta: PT Rineka Cipta. bila tidak maka tidak diperkenankan poligami. dimana yang tertuang dalam Undang-undang perkawinan No 1 tahun 1974. Buletin Sidogiri. Skripsi. bahwa pemerintah membolehkan poligami. Zaka . Masfida (2004) Pandangan Hakim Terhadap Pernyataan Berlaku Adil Dalam Poligami (Studi Kasus di Pengadilan Agama Malang. Jakarta: Sinar Grafika. I. edisi revisi. Persyaratan dan ketentuan tersebut tidak saja sebagai bentuk perlindungan terhadap perempuan (isteri) dan anak-anak dalam keluarga yang melaksanakan poligami. Bandung: Diponegoro. walaupun perkawinan Indonesia berasas monogami. tahun ke II. Ahmad (2007) Poligami dan Kekuatan Opini Perempuan.

diterjemahkan Aris Munandar dan Eko Haryono. Mazhariri. Tanya Jawab Masalah Nikah Dari A sampai Z. Musfir aj-Jahrani (1997) Nazharatun fi Ta’addudi az-Zaujat diterjemahkan Muh. Moleong. Cet. Cet. Cet. Musthofa al-Adawi. Imam az-Zabidi (2002) Mukhtashar Shahih al-Bukhari diterjemahkan Achmad Zaidun. Abdul (2004) Zauzat an-Nabi Muhammad Saw wa Hikmat Ta’addudihin. Jumhairiyah (2001) “Konsepsi dan Aplikasi Adil Sebagai Salah Satu Syarat Poligami (Studi Kasus Pada Perizinan Poligami diPengadilan Agama Malang dan Persepsi Adil Menurut Para Isteri)”. Bandung: Mizan. Membangun Surga Dalam Rumah Tangga. I. Suten Ritonga. Jakarta: Gema Insani Press. II. Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve. Wanita Dalam Al-Qur’an. I. Jakarta: Pustaka Amani. J. Fikri. V. Bandung: PT. Hilmi Farhat Ahmad. I. Cet. 100 . Anshori (2007) Siapa Bilang Poligami Itu Sunah. Bandung: Syamil. Lexy (2005) Metodologi Penelitian Kualitatif. Cet. Remaja Rosdakarya. I. Yahya (1975) Hukum Perkawinan Nasional. Cet. Jakarta: Cahaya. Husain (2006) Akhlak dar Khoneh diterjemahkan Abdullah Assegaf. Husain. Jakarta: Senayan Publishing. diterjemahkan Dwi Ratnasari.Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Skripsi. Abbas (1984) al-Mar’atul fil Qur’an diterjemahkan Chadidjah Nasution. Medan: Zahir Trading Co Medan. Depok: Pustaka IIMaN. Malang: Fakultas Syari’ah UIN Malang. Inpres RI Nomor 1 tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam. Cet. Abu (2007) Poligami yang tak Melukai Hati. Jakarta: Bulan Bintang. X. Mengapa Rasulullah Berpoligami dan Sebaiknya kita tidak. Cet. Yogyakarta: Diva Press. II. Cet. Poligami Berkah atau Musibah. Mubarak. Cet. II. Saiful Islam (2007) Poligami Antara Pro dan Kontra. Yogyakarta: Media Hidayah. Ghany A. Harahap. I. Muarif Ambary.R. Poligami Dari Berbagai Persepsi. I. Abu Abdillah (2005) Ahkam an-Nikah wa az-Zifaf. Mahmoud al-‘akkad. Karim (2007) Ta’addu az-Zauzah fi al-Adyan diterjemahkan oleh Munirul Abidin Farhan. Hasan (et al) (2000) Ensiklopedi Islam. Cet. Fakultas Syari’ah UIN Malang. Ringkasan Hadits Shahih al-Bukhari.Fahmie. Fakultas Syari’ah UIN Malang.

Rosyidah (2005) Poligami diIndonesia dilihat dari Aspek Yuridis Normatif editor Rochayah Machali.1/1974 sampai KHI. Cet. Bandung: Mizan. M.(2007) Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i Atas Pelbagai Persoalan Umat. Jaih (2005) Modernisasi Hukum Perkawinan di Indonesia. Kahiruddin (1996) Riba dan Poligami: Sebuah Studi atas Pemikiran Muhammad Abduh. jilid III. Cet. Rakhmawati. N. Cet. Skripsi. Quraish (2006) Perempuan Dari Cinta Samapi Seks. I. Nuruddin. Chandra (2007) Perkawinan dalam Islam Monogami atau Poligami. Pesan. Bandung: Pustaka Bani Quraisy. Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Cet. Perkawinan Dalam Syari’at Islam. III. Jakarta: Mizan. Amiur dan Akmal Tarigan. Jakarta: Lentera Hati. Dari Bias Lama Samapi Bias Baru. Dari Nikah Mut’ah sampai Nikah Sunah. XIX. II Jakarta: PT Rineka Cipta. ------. II. Sabtia Irawan. Jakarta: PT. Skripsi. Abuddin.(1995) Membumikan Al-Qur’an. Ichtiar Baru Van Hoeve.Mubarok. Abdul (1996) Shari’ah The Islamic Law. Cet. terjemahan. Rahman I Doi. Cet. ------. 101 . Cet. Jakarta: Lentera Hati. Noer Aini (2007) ”Poligami Dalam Pandangan Ulama ( Studi Pada pengasuh Pondok Pesantren di Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo)”. Shihab. Malang: Fakultas Syariah UIN Malang. Rahman Ghazaly. Malang: Fakultas Syari’ah UIN Malang. Studi Kritis Perkembangan Hukum Islam dan Fikih. Rachman. Rahayu. Cet. Jakarta: Kencana.(2005) Tafsir Al-Mishbah. dkk (2002) Insiklopedi Islam. Wacana Poligami diIndonesia. (2006) Fiqh Munakahat. Cet. Yogyakarta: An Naba’. ------. I. Dja’far (2004) Indahnya Keluarga Sakinah Dalam Naungan alQur’an dan as-Sunah. Nata. Islami (2003) “Poligami Sebagai Salah Satu Alternatif Mengangkat Derajat Kaum Wanita (Studi Komparatif Terhadap Pandangan Ulama Dalam Hukum Islam dan Undang-undang No 1 tahun 1974)”. Abd. IV. Nasution. Jakarta: Zakia Press. Basri Iba Asghary dan Wadi Masturi. Umay M. Bandung: Mizan. UU No. I. Jakarta: Prenada Media. I. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Azhari (2004) Hukum Perdata Islam diIndonesia. Shiddieq.

Syekh Mahmud (1984) al-Islam Aqidah wa Syari’ah. Soerjono (1984) Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta: Lentera Hati. Yogyakarta: Teras. Jakarta: Prestasi Pustakaraya UU No. Wibisono. Lembaran Negara RI tahun 1974 nomor 1. Titik dan Trianto (2007) Poligami Perspektif Perikatan Nikah. Jakarta: Universitas Indonesia. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. alih bahasa Fachruddin dan Nasharuddin. Syaltut. Suryadilaga. dkk (2005) Metodologi Ilmu Tafsir. Alfatih. Yusuf (1980) Monogami Atau Poligami. I. Cet. Triwulan Tutik. Suryadilaga. Jakarta: Bulan Bintang. Kalung Permata Buat Anak-anakku. Masalah Sepanjang Masa. Cet. Cet.------. M. Cet. Soekanto (1996) Meninjau Hukum Adat Indonesia: Suatu Pengantar Untuk Mempelajari Hukum Adat. M. Alfatih. III. Bina Aksara. Aqidah dan Syari’at Islam. Cet. Yogyakarta: Teras.III.I Jakarta: PT. Telaah Kontekstual Menurut Hukum Islam dan Undang-undang Perkawinan No.1 Tahun 1974. I. 102 .1 tahun 1974. dkk (2005) Metodologi Ilmu Tafsir.(2007) Pengantin Al-Qur’an. Soekanto.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->