P. 1
Pasar Tradisional

Pasar Tradisional

|Views: 795|Likes:
Published by Andini Juniar

More info:

Published by: Andini Juniar on Apr 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/05/2013

pdf

text

original

Pasar Tradisional: Sebuah Review Kritis

11:10 Suhadi Rembang No comments ABSTRAK Arus utama dari berbagai studi tentang pasar tradisional adalah menaruh empati pasar tradisional yang dalam ambang kehancuran. Akhir beberapa studi pasar tradisional sebagian besar juga menawarkan revitalisasi pasar tradisional. Namun sebagian besar pula memberikan rekomendasi agar pasar tradisional mengejar pasar modern. Menurut penulis, pengarusutamaan pasar tradisional mengejar pasar modern hanya sebatas kontes empati semu, dan tidak disadari bahwa cara pandang tersebut telah berperan aktif dalam meluluhlantakkan pasar tradisional di lembah kemunduran. Karena mengejar pasar modern hanya sia-sia saja, sebab pasar tradisional akan selalu menggunakan teknologi sampah dari pasar modern. Untuk itu pasar tradisional perlu menggunakan haluan yang khas pasar tradisional, bukan berhaluan pasar modern. Mengedepankan pasar tradisional sebagai identitas lokal, media membangun karakter bangsa, sumber sosialisasi generasi, sumber nilai-nilai sosial, basik laboratorium ekonomi, media pendidikan formal-nonformal dan informal, pengauatan dan ketahanan ekonomi lokal, hingga penguatan tradisi lokal, adalah suatu diversitas fungsi pasar tradisional yang tidak dimiliki oleh pasar modern. Pada saat itulah, pasar tradisional sebagai pemangku dan pemegang ekonomi lokal yang kokoh dan mapan, yang tidak akan terkikis oleh desakan pasar modern. Tulisan ini disuguhkan sebagai review kritis dari beberapa studi tentang pasar tradisional, khususnya tulisan dari saudara Awan Santosa dan Puthut Indroyono dengan studinya yang berjudul Pedagang Pasar Tradisional Terancam dalam junal JER - No. 108/13 - 2011-03-11. Kata kunci: Pasar tradisional, pasar modern, haluan pasar

Agustinawati (2007). Saranita (2010). dan Suhadi (2011). Susilo (2007). Sanjaya (2011). Menurut kedua penulis di atas. Jauh sebelum itu.PENDAHULUAN Tulisan ini berangkat pada Jurnal Ekonomi Rakyat dalam tulisan yang berjudul “Pedagang Pasar Tradisional Terancam” oleh Awan Santosa dan Puthut Indroyono. Namun kepekaan penulis terdahulu dalam memandang social problem pasar tradisional ini berhenti pada kewajiban pasar tradisional untuk mengejar pasar modern. atau malah semakin tinggal landas menuju keadaan gawat dan terpinggirkan. Apakah rekomendasi ini cukup teruji di lapangan. Beberapa studi terdahulu yang terplih dalam mereview jurnal saudara Awan Santosa dan Puthut Indroyono adalah Gustriandi (2005). pasar tradisional dalam keadaan gawat. Tulisan ini akan menyusuri berbagai pandangan dari ahli yang diawali dengan studi yang mendalam dan ketat. Anam (2011). Dengan demikian tulisan ini dapat meletakkan diri akan mengapa dan bagaimana pasar tradisional sebagai simbol diversitas kemandirian ekonomi lokal yang cukup penting untuk dilestarikan. Nelawati (2010). . bahwa pasar tradisional dalam keadaan terpinggirkan. studi yang dilakukan oleh Saputro (2008) juga berargumen demikian.

bangunan biasanya terdiri dari kios-kios atau gerai. Namun mengapa kekuatan itu kiranya menjadi kelemahan saat ini. karena akan meningkatkan bahaya keamanan pangan. Menggambarkan struktur yang meliputi bentuk. Inilah yang menjadi daya tarik yang cukup luar biasa. relasi. kain. Pasar seperti ini masih banyak ditemukan di Indonesia. kolektivitas dan hubungan antar golongan. daging. pasar modern akan meminjam proses interaksi sosial yang ada di pasar tradisional.org (2011) pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli serta ditandai dengan adanya transaksi penjual pembeli secara langsung dan biasanya ada proses tawar-menawar. jauh dari itu ada fungsi pasar tradisional yaitu sebagai laboratorium ekonomi sosial budaya yang cukup luas. Selain itu. buah. Pedagang bertemu dengan pedagang. telur. Untuk itu para pedagang dan pembeli bersama-sama menjadi interaksi ekonomi sosial budaya di pasar tradisional untuk lebih mantap dan berkualitas. barang yang diperdagangkan sebagian besar adalah hasil tani yang masih dalam kondisi segar. Di sisi lain. Kemudian beralihlah para pembeli ke pasar tradisional. Hubungan atau relasi dalam perilaku ekonomi tidak berjalan dengan sendirinya. memfokuskan studinya tentang gambaran kultur sosial yang ada di komunitas pedagang kain pasar Klewer. dan lokasi pasar yang dekat dengan pemukiman. tetapi masih diwarnai dengan nilai-nilai turun-temurun tentang sistem yang digunakan dalam kehidupan pasar. pasar Klewer di Solo. Kerena tindakan tersebut tidak sulit ditemukan dalam transaksi di pasar modern yang mengandalkan media iklan yang berfungsi laten. dan umumnya terletak dekat kawasan perumahan agar memudahkan pembeli untuk mencapai pasar. dalam proses tawar menawar yaitu bertemunya pedagang dan pembeli. sayur-sayuran. jasa dan lain-lain. Nilai-nilai ini melembaga . pembeli bertemu dengan pembeli. tidak hanya secara lokasi tetapi juga oleh konsumen. ada pula yang menjual kue-kue dan barang-barang lainnya.KAJIAN PUSTAKA Menurut wikipedia. Jika hanya demikian. proses interaksi sosial secara luas juga terjadi di dalam pasar. pakaian barang elektronik. Beberapa pasar tradisional yang "legendaris" antara lain adalah pasar Beringharjo di Yogyakarta. revitalisasi terhadap pasar tradisional mendesak untuk dilakukan agar tidak punah Dalam studi Agustinawati (2007) tentang Kehidupan Pasar Tradisional (Studi Struktur dan Organisasi Pedagang Kain Pasar Tradisional Klewer). pasar Johar di Semarang. Tindakan penyimpangan perilaku ekonomi seminimal mungkin tidak ditampilkan. Ketersediaan fasilitas dan utilitas yang tidak memadai di pasar-pasar tradisional harus diakhiri. Saya lihat tidak hanya tawar menawar. Kebanyakan menjual kebutuhan sehari-hari seperti bahan-bahan makanan berupa ikan. Kekuatan pasar tradisional menurut wikipedia. walaupun semu. Kejujuran dan kearifan menjadi daya tarik dalam transasksi ekonomi sosial budaya dalam pasar tradisional. los dan dasaran terbuka yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar. Pasar tradisional di seluruh Indonesia terus mencoba bertahan menghadapi serangan dari pasar modern. Hanya saja para pembeli dan pedagang tidak melandasi interaksinya dengan tatanan nilai yang dasar yang sifatnya tidak tergantikan. dan pertemuan pedagang dengan pembeli tidak hanya sebatas tawar menawar harga barang.org di atas yaitu adanya proses tawar-menawar. Menurut Saputro (2008) keberadaan pasar tradisional kini secara pelan tapi pasti kian terpinggirkan.

Paparan Susilo tersebut kembali mengingatkan kita pada urgensitas pasar tradisional yang masih dilirik oleh masyarakat. Jika demikian perlu direkayasan ulang akan nilai-nilai sosial yang mampu menciptakan ketahanan pasar tradisional. narik becak. Menurut Anam (2011. rekreasi dengan anak. maka kualitas ikatan sosial perlu diketahu derajatnya. jika terjadi kehancuran pasar tradisional. Banyak literatur menyatakan dalam pasar tradisional terdapat interaksi sosial beragam dari individu yang berkecimpung di dalamnya. jalan-jalan. seperti: jualan. namun asal-usul barang-barang yang mendominasi di pasar modern adalah lebih penting untuk diperhatikan. Dalam studi ini belum nampak nilai-nilai sosial yang dibedah. Hubungan nilai-nilai sosial degan eksistensi pasar tradisional juga belum dipertajam. Apa muatan yang ada di dalamnya. dalam http://sendyakalaning. Ini bukan pekerjaan mudah untuk civitas pasar tradisional. apakah barang-barang dari produk lokal atau produk non lokal. Menjadi penting kemudian adalah apa barang akan dipilih oleh konsumen. Jumlah di atas perlu ditangkap oleh pasar tradisional. Banyak fenomena yang meluas bahwa pasar tradisional semakin menggeliat. Memang secara fungsional. pasar modern tidak hanya sebatas pendekatan ruang dan waktu saja. mobilitas konsumen tidak hanya sebatas kemana konsumen membeli barang. Pasar tradisional masih menjadi ruang publik dan masih menjadi milik publik. apakah ke pasar tradisional atau ke pasar modern. menabung. namun produknya tidak produk lokal. mencari teman. Jika kemudian ikatan sosial di pasar tradisional itu membangun struktur relasi antara pedagang dan pembeli. namun produk import.html) ikatan sosial yang terbangun dari intensitas pertemuan di pasar kemudian berubah menjadi struktur yang mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat pasar tradisional. baik barang konsumtif maupun nonkonsumtif sebagai tanda kelas sosial mereka. Dalam penelitian Susilo (2010) dinyatakan terdapat 32% dari sampelnya terdapat keperluan lain dari masyarakat selain membeli barang. bekerja sebagai tukang parkir. Untuk itu perlu eksplanasi tentang dua hubungan hal di atas. Ikatanikatan sosial yang berperan aktif dalam memproduksi ikatan yang mesra antara pedagan dan pembeli di pasar konsumen tidak banyak dilakukan. Ini yang menjadi subtansi pasar tradisional sebagai ruang publik bagi masyarakat terutama masyarakat kelas menengah kebawah. Studi tentang ikatan sosial sudah mendesak dikritisi ulang. Ingat. Apakah ikatan sosial itu . memulung plastik dan ngojek. tentu ada nilai pendukung yang berperan aktif dalam pengancuran pasar tradisional. nongkrong.com/2011/02/analisapermasalahan-pasar-dinoyo. Tiga puluh dua persen masyarakat adalah jumlah yang tinggi dimana masyarakat masih melakukan proses pembelian barang. Studi antroposentris tentang ikatan sosial sebagian besar hanya fokus pada kepentingan regulasi dan kepentingan kuasa.blogspot. menyetok barang. baik dari masyarakat sekitar maupun dari pedagang pasar sendiri. Dengan demikian. mengambil sampah.dalam kehidupan sebagai nilai hakekat kehidupan yang mampu menyeimbangkan hubungan antar individu ditengah persaingan dagang yang ketat dan sering sangat tajam. Ikatan-ikatan sosial dan identitas sosial barangkali menjadi petanda untuk disuguhkan agar pasar tradisional sebagai kontekstualisasi dan aktualisasi konsumen agar tidak lepas dari pasar tradisional. dan membendung mobilitas konsumen ke pasar modern.

jaringan pertemanan. Konsumsi bukan lagi sekedar sebagai sarana untuk bertahan hidup atau menjaga kelangsungan hidup manusia. sesama pedagang kaki lima. pasar tradisional juga tidak. kemoderenan diukur dengan tindakan-tindakan konsomsi yang dilakukan manusia. tapi tindakan untuk menyelesaikan seperti pasar tradisional. Lima faktor ala Susilo ini (over confidence. alias pasar modern tidak. Kelima. Dari hasil penelitian Gustriandi (2005) tentang social capital pedagang kaki lima. faith in technology. Selanjutnya keempat. Ketiga. dan Iangganan. Akibatnya. formal. individualism. yakni sikap dan keyakinan dengan menekankan dorongan personal tanpa memikirkan kepentingan dan kerugian dari pihak lain. Dua hal ini kemudian bercampuraduk dengan melahirkan aroma baru. yakni etika ingin maju terus. Keempat jaringan tersebut dapat dikategorikan menjadi 3 (tiga) jaringan. masyarakat pemilik mutlak pasar tradisional harus kritis melihat fenomena ini. Memang. dan legal. Perkembangannya pada era modern merubah pemikiran manusia dalm kaitannya dengan ethos. namun juga dari dalam sendiri (inward looking). . terbentuknya jaringan pedagang kaki lima dengan berbagai pihak adalah dari kerjasama yang dilandasi hubungan moral kepercayaan. Pertama. meyimpulkan. yakni. paham antroposentrisme menjadi bagian interaksi antara manusia dengan lingkungan tidak terlepas dari rasa percaya diri manusia yang berlebihan (over confidence). Ataukah ikatan sosial di pasar tradisional itu lebih pada modern.seperti yang ungkapkan oleh Durkheim dengan gemainschaft-nya. Sekelompok masyarakat yang memiliki hak mengelola dan hak mengatur alam tidak jarang menyebabkan watak indiviualisme berkembang subur. Terpinggirkannya pasar tradisional tak dapat lepas dari meanstream manusia pada saat iin. mau tidak mau. yaitu jaringan keluarga. Ketiga jaringan pedagang kaki lima ini masing-masing memiliki pola hubungan sosial yang berbeda. Konsumsi dianggap gaya hidup baru yang diyakini sebagai salah satu simbol dari kemodernan. Permasalahan yang muncul seperti pasar modern. tetapi justru konsumsi berubah menjadi pola hidup. Pada awalnya terkait dengan etika agama yang mengharuskan pemeluknya untuk terus berusaha dalam mencapai kesuksesan hidup. materialism. materialism. Hukum-hukum alam dikesampingkan dan manusia selalu berubah dan tidak terbatas. konsumsi menjadi semacam candu yang tidak bisa dikendalikan sehingga Negara maupun masyarakat berlomba-lomba mencari sumber-sumber material untuk memanjakan nafsu mereka. agen. Menurut Susilo (2007) paham ini tumbuh subur dikarenakan beberapa hal. dan jaringan usaha. dan individualism) telah tampak dengan jelas bahwa gerbang kehancuran pasar tradisional tidak hanya dirusak dari luar (exward looking). Selain keberhasilan ethos ini diukur melalui keberhasilan melainkan diukur dari prestasi kerja yang dihasilkan dan keberhasilan mengumpulkan kekayaan material atau dalam bahasa yang umum sebagai akumulasi materiil. growth ethic. Tekhnologi telah menghadirkan pemenuhan kebutuhan dengan cara instan dan bersifat masal. yaitu pasar tengahan. Kedua faith in technology adalah keyakinan yang mengilhami segala sesuatu dapat diselesaikan dengan bantuan tekhnologi. growth ethic. yaitu jaringan dengan keluarga. Temuan Gustriandi di lapangan menunjukkan ada 4 (empat) pedagang kaki lima dengan berbagai pihak. yaitu meanstream industrialism.

Premis kedua.nilai atau pilihan yang merekapertimbangkan sebagai pilihan rasional. sebagian responden tidak pernah kecewa dengan sikap penjual.000. Pilihan rasional seseorang yang memilih untuk berbelanja di pasar modern karena kenyamanan berbelanja. Premis ketiga yang melalui proses interaksi dapat meningkatkan pemahaman. pandangan dan pengalaman yang dimiliki oleh pembeli tentang pasar tradisional dan pasar modern.Fifiyani (2008) menyatakan kehidupan pasar tradisional sebagai sebuah mata rantai dalam menumbuhkembangkan serta pemberdayaan pasar tradisional sebagai salah satu urat nasi kehidupan masyarakat. Produk yang biasa dibeli oleh konsumen Pasar Soponyono Rungkut adalah kebutuhan pokok. yang didasarkan pada tiga premis yaitu premis pertama bahwa manusia bertindak atas "yang berarti". pandangan dan pengalaman pembeli dapat hasil dari interaksi dengan konsumen lainnya baik dengan tetangga. Pelayanan penjual Pasar Soponyono Rungkut baik dengan pertimbangan kejujuran. Hal ini juga dipengaruhi oleh pemahman dan pengalaman mereka merasa bahwa berdasarkan pelanggan ini untuk membuat tindakan. Hal ini juga berlaku untuk pembeli yang memilih pasar modern.00-Rp 3.000. bahwa sikap dan perilaku orang dalam transaksi di pasar tradisionallah yang tak dapat dilepaskan dari budaya dan sistem kepercayaan yang bertumpu pada perwatakan lokal. dengan pemahaman. Harga produk di Pasar Soponyono Rungkut masih wajar atau normal. itu mengarah ke tujuan mana tujuan juga ditentukan oleh nilai atau pilihan. mereka memilih untuk melakukan tindakan berbelanja di pasar modern. Coleman. Dalam hal ini ketika pembeli membuat tindakan yang mengarah ke tujuan pembeli tindakan mereka memilih berbelanja di pasar tradisional. Ini adalah pilihan bagi individu apakah mereka akan lebih memilih pasar tradisional atau pasar modern.00. penghasilan tiap bulan sebesar diatas Rp 1. itu akan menjadi tujuan pilihan mereka di mana untuk berbelanja di pasar tradisional ditentukan oleh nilai . Saranita (2010) dari hasil Analisis Perilaku Konsumen yang Berbelanja Pada Pasar Tradisional (Studi Kasus pada Konsumen di Pasar Soponyono) menyimpulkan bahwa sebagian besar konsumen yang berbelanja di Pasar Soponyono Rungkut adalah wanita dengan usia 44-52 tahun dengan status sudah menikah dan memiliki pekerjaan sebagai ibu rumah tangga. atau fasilitas yang diberikan lengkap dan lain-lain. dengan menggunaan pendekatan teori interaksi simbolik Herbert Blumer dan teori pilihan rasional James C. dan melalui interpretasi tindakan mereka. kerabat atau teman dan mempengaruhi berarti mereka disebabkan.001. Lokasi Pasar Soponyono Rungkut strategis dan rata-rata jarak rumah responden dengan pasar berjarak kurang dari 1 km. dan tujuan (dan juga tindakan) ditentukan oleh nilai atau pilihan (preferensi). Dalam teori interaksi simbolik Herbert Blumer. Teori pilihan rasional dengan ide dasar bahwa tindakan Coleman dalam satu tujuan menagarah. Studi Nelawati (2010) tentang makna sosial pasar bagi kosumen.000. keramahan dan kecepatan dalam pelayanan penjualan. produk di Pasar Soponyono Rungkut lengkap dengan kualitas yang baik. Pasar tradisional bukanlah berbau tradisonal. konsumen pernah dan selalu menawar produk yang akan dibeli dan sering memperoleh produk yang sesuai dengan yang diharapkan konsumen. Kondisi kebersihan dan kondisi lingkungan Pasar Soponyono . Keamanan lingkungan maupun fasilitas parkir Pasar Soponyono Rungkut baik dengan petugas keamanan yang telah terkoordinasi dengan baik.

Thailand. Supermarket bermerek asing mulai masuk ke Indonesia pada akhir 1990-an semenjak kebijakan investasi asing langsung dalam sektor usaha ritel dibuka pada 1998. menjelang dekade akhir milenium lalu persaingan telah meluas hingga ke negara-negara berkembang. penjamuran supermarket hingga ke kota-kota kecil dan adanya praktik pemangsaan melalui strategi pemangkasan harga memungkinkan konsumen kelas menengah-bawah untuk mengakses supermarket.Rungkut baik. Harga. Beberapa tragedi karena imbas rekomendasi di atas adalah pasar terbakar. Taiwan. khususnya di Amerika Serikat dan Eropa Barat. Studi Saranita (2010) di atas mendapatkan temuan penting bahwa pasar tradisional adalah milik pembeli perempuan yang usianya paruh baya. konflik pasar. Reardon et al (2003) menemukan bahwa sejak 2003 pangsa pasar supermarket di sektor usaha ritel makanan di banyak Negara berkembang seperti Korea Selatan. Persaingan terjadi terutama antara usaha ritel tradisional dan ritel modern (supermarket dan hipermarket). Dengan mudahnya mereka berdua merekomendasikan bahwa pasar tradisional harus mengejar pasar modern. Meningkatnya persaingan telah mendorong kemunculan supermarket di kotakota lebih kecil dalam rangka untuk mencari pelanggan baru dan terjadinya perang harga. Di Brazil dan Argentina. Fasilitas tempat parkir dan fasilitas toilet di Pasar Soponyono Rungkut cukup baik. Lokasi. Apakah ini proses sosialisasi yang putus antara generasi tua dan generasi muda? Jika demikian perlu dilakukan proses sosialisasi generasi tua dan muda akan fungsi pasar tradisional. Fasilitas. Karena masyarakat pengikut dari pasar tradisional dalam keadaan riskan dan menyedihkan. pangsa pasar supermarket akan mencapai 61% di Argentina. Menurut Sanjaya (2011) persaingan sengit dalam industri ritel telah melanda negara-negara maju sejak abad yang lalu. dan Polandia. supermarket lokal telah ada sejak 1970-an. Meksiko. Kebersihan. atas rekomendasi demikian. PEMBAHASAN Rekomendasi Terpuruk Rekomendasi dari saudara Awan Santosa dan Puthut Indroyono tak ubahnya sebagai rekomendasi terpuruk untuk pasar tradisional. Polandia. pangsa pasarnya mencapai sekitar 60%. pedagang pasar yang gulungtikar. Meksiko. Traill (2006) menggunakan berbagai asumsi dan memprediksi bahwa menjelang 2015. Tragedi muncul kemudian telah terbukti. Pasar tradisional yang berfungsi media besar dan terbuka untuk belajar perdagangan dengan kearifan dan kejujuran. Namun. Akibatnya. kelahnya pedagang pasar imbas monopoli pemodal besar. dan Hongaria telah mencapai 50%. telah ditinggalkan para generasi muda. Sanjaya (2011) menambahkan. Keamanan. Pelayanan. 67% di Hongaria. regulasi harga tidak menentu. Keyword : Produk. hingga . Lantas dimana pembeli yang berusia muda? Apakah mereka tidak membeli barang atau membeli barang di luar pasar tradisional? Temuan studi ini cukup penting diperhatikan. meskipun masih terkonsentrasi di kota-kota besar. di mana perkembangan supermarket telah lebih dulu dimulai. di Indonesia. bila supermarket Indonesia hanya melayani masyarakat kelas menengah-atas pada era 1980-an dan awal 1990-an. di mana deregulasi sektor usaha ritel yang bertujuan untuk meningkatkan investasi asing langsung (IAL) telah berdampak pada pengembangan jaringan supermarket (Reardon & Hopkins 2006). dan 76% di Brazil.

Pasar tradisional yang telah di himpit oleh rekomendasi terpuruk. Mengapa demikian? Rekomendasi yang dipandang baik ini telah dimainkan oleh ruang yang salah. Mengedepankan pasar tradisional sebagai identitas lokal. Jika demikian. Katakanlah pasar tradisional sudah jatuh tertimpa tangga. media pendidikan formalnonformal dan informal. adalah suatu diversitas fungsi pasar tradisional yang tidak dimiliki oleh pasar modern. Impacnya adalah kualitas hasil rekomendasi itu dibawah rata-rata. pemodal. agar mobilitas konsumen tidak meninggalkan pasar tradisional. Untuk itu pasar tradisional perlu menggunakan haluan yang khas pasar tradisional. dan pedagang berduit tebal saling mengedepankan keuntungan. pasar tradisional sebagai pemangku dan pemegang ekonomi lokal yang kokoh dan mapan. termasuk pada pedagang berduit tebal. media membangun karakter bangsa. Renovasi pasar dan relokasi pasar misalnya. Jelas tidak hanya pasar tradisional semakin terpinggirkan seperti yang diungkap Saputro (2008) namun juga semakin terlemparnya pedagang pasar yang hanya memiliki modal recehan. pengauatan dan ketahanan ekonomi lokal. strategi mengejar pasar modern adalah tindakan yang fatal apalagi eksekusi dari rekomendasi itu terjadi kesemrawutan. Para kuasa. masih ditampah terbuangnya ruang sosial para konsumen di pasar tradisional karena mereka dipaksa mobilisasi ke pasar modern dengan hadirnya iklan di televisi dalam sehari-harinya. sumber nilai-nilai sosial. yang tidak akan terkikis oleh desakan pasar modern. Menurut Suhadi (2011) inilah awal penghancuran pasar tradisional karena antara pedagang pasar saling membunuh satu dengan yang lain. Pemodal pun demikian. iklan telah mendorong ke gerbang pasar modern. Haluan Pasar Tradisional Menurut penulis. Peran kelompok sosial dalam memobilitasi konsumen ke pasar tradisional tidak hadir di permukaan. Para kuasa sebisa mungkin untung dengan proyek rekomendasi. bukan berhaluan pasar modern. Dengan sentuhan budaya semu. betul apa kata Susilo (2007) dimana kita telah teracuni faham-faham industrialism yang bercorak individualism. sumber sosialisasi generasi. . Sungguh keadaan yang penuh dengan kesemrawutan. Anehnya para tokoh masyarakat yang menjadi penjaga di garda depan dalam menyelamatkan pasar tradisonal malah memilih dapat royalti dari bintang iklan pada pemodal dan pemegang pasar modern. Pada saat itulah. Mobilitasi Pembeli Hilang Kendali Keadaan darurat itu kemudian ditambah dengan peranan iklan di televisi yang massif dalam menawarkan barang dagangan di pasar modern.kekuasaan pasar modern menjadi pengendali sirkulasi barang dan harga di pasar tradisional. basik laboratorium ekonomi. hingga penguatan tradisi lokal. Dalam ulasan Suhadi (2011) memaparkan bahwa langkah seribu pasar tradisional mengejar pasar modern hanya menciptakan kesemrawutan akan status dan peranan sturktus pasar tradisional yang kemudian melahirkan stadart safety pasar tradisional di bawah rata-rata. mereka saling berebut untuk cari untung dengan berbagai kesempatan dalam mengendalikan proyek. Sudah saatnya membangkitkan peranan kelompok sosial dalam menyadarkan para konsumen. Hal ini terjadi karena tindakan menjalankan rekomendasi tidak diatur dengan ketat. Perilaku rekomendasi yang diharapkan akan membawa kabar baik malah sebaliknya.

.

jauh dari itu. setiap tahunnya 400 kios tutup. tak bijak bila kita tak menganalisa kedua jenis pasar tersebut. Pasar tradisional adalah simbol pembangunan mental sosial ekonomi masyarakat. Sangat mudah menjumpai minimarket. namun tidak berkembang dan mati. hubungan sosial antara penjual dan pelanggan. . supermarket. tidak hanya di kota metropolitan tetapi juga telah merambah sampai ke kota kecil di tanah air. Apalagi masyarakat Indonesia cenderung konsumtif sehingga dengan cepat pasar modern berkembang. relatif lebih dekat dengan pemukiman dan memberikan banyak pilihan barang segar. mana yang seharusnya kita lakukan. Bukan pasar tradisonal yang menjadi ruang pasar modern. Haluan pasar tradisional tidak semata-mata menolak kehadiran pasar tradisional. Pasar tradisional pun mulai tergoyah keberadaannya.4% per tahun) bahkan di Jakarta. hal ini mengubah cara pandang konsumen Indonesia terhadap gerai ritel modern. Semenjak diterimanya pasar modern(ritel) pasar tradisional-pun semakin mengkhawatirkan keberadaannya. pada saat itu perusahaan ritel SevenEleven asal Jepang merupakan waralaba pertama yang masuk Indonesia. Pasar tradisional memiliki kekuatan harga yang relatif lebih murah dan bisa ditawar. Proses tawar menawar. simulasi pasar bebas yang sesungguhnya.PENUTUP Haluan pasar tradisional merupakan suatu meanstrem sikap dan perilaku untuk mewujudkan tatanan sosial yang mandiri dalam meraih kesejahteraan sosial. pertumbuhan pasar tradisional menyusut 8. sebisa mungkin pasar tradisional jauh mencari ruang di pasar-pasar modern. hal ini merupakan salah satu budaya yang patut dipertahankan. Pasar modern mulai masuk ke Indonesia tahun 1980. Menjadi pengendali atau dikendalikan adalah suatu tindakan. Tempat – tempat tersebut menjajikan tempat belanja yang nyaman dengan harga yang tidak kalah menariknya. masihkah mendapat perhatian? Banyaknya pasar modern yang muncul di Indonesia. Pada tahun 1990-an masuk kembali peritel asing dengan format Hipermarket. Pasar tradisional. bahkan hipermarket di sekitar tempat tinggal kita. Sebelum melangkah lebih jauh. Kelebihan lainnya adalah kontak sosial yang dilakukan oleh pembeli dan penjual pada saat transaksi yang tidak kita jumpai di pasar modern.1% setiap tahunnya (sedangkan pasar modern berkembang sebesar 31.

Dengan mayoritas produk dalam negeri. terlalu padat lalu lintas pembeli. pemerintah hingga kini terlihat kurang sigap dalam membatasi pertumbuhan pasar modern yang tidak sehat. Di era otonomi daerah. Padahal kita semua tahu. Secara makro. Berbagai hal diatas menyebabkan kepercayaan masyarakat terhadap pasar tradisional turun. Memang hal ini tak bisa disalahkan. bau menyengat. becek. Paling tidak ada dua hal yang membuat eksistensi pasar tradisional kian terpuruk. Pelan tapi pasti. Pedagang yang tidak mampu bertahan akhirnya harus gulung tikar. pemerintah pusat kian sulit mengontrol kebijakan pemerintah daerah menyangkut keberadaan pasar modern. Kebijakan pertumbuhan pasar modern berada di . pasar tradisional kian terpinggirkan. pilihan yang banyak. Sebagian besar usaha ekonomi yang menghidupkan urat nadi pasar tradisional berbasis pada inisiatif usaha rakyat. memang begitu banyak hal yang disuguhkan pasar modern kepada konsumen. Belum lagi gembargembornya media yang menyoroti kasus produk yang dijual di pasar tradisional menggunakan zat kimia berbahaya. Pasar tradisional merupakan sentra penggerak kehidupan masyarakat kita yang mayoritas menggaantungkan hidupnya pada usaha berskala kecil-menengah. ketidak sesuaian timbangan barang.Sedangkan kelemahannya. Indonesia hanya akan menjadi negara konsumen produk asing dan ketimpangan ekonomi yang terjadi akan sangat tinggi. dan daging “glonggongan” dan trik-trik tidak sehat lainnya dalam bidang perdagangan. pasar tradisional merupakan penggerak “GDP riil”. bukan hanya presties tapi juga memenuhi kebutuhan akan rasa nyaman. kotor. pasar tradisional berperan besar dalam roda perekonomian nasional. Jika dibandingkan dengan pasar modern. dapat membayar dengan menggunakan kredit. putaran roda ekonomi dalam transaksi pasar tradisional yang melibatkan pedagang kecil hingga unit-unit usaha berskala menengah merupakan sinergi mata rantai yang menopang basis ekonomi rakyat. Pertama. copet berkeliaran dan berbagai ketidaknyamanan lainnya. aman. pasar tradisional yang lebih tepat disebut wet market terkenal dengan kondisi tempat yang kumuh. maraknya daging oplosan. namun jika hal ini terus berlanjut. kualitas barang yang higienis.daging „tiren‟. Berbeda dengan ritel yang lebih mengedapankan faktor harga dalam pemilihan produknya tanpa mempedulikan asal produk tersebut yang akhirnya berujung pada keuntungan pengusaha besar dan negera maju. tertib. bahkan jika tidak dapat datang ke supermarket tersebut konsumen dapat menelfon dan memesan barang belanjaannya maka akan diantar sampai tujuan.

Pemerintah selalu berpikir praktis dan pragmatis dalam menyelesaikan . Lalu apakah pemerintah akan diam saja melihat hal itu? Kedua.tangan kepala daerah tanpa ada regulasi pengontrol yang mengawal kebijakan kepala daerah. Regulasi pembatasan yang telah dibuatpun menjadi ompong karena tak berlaku mundur. masih ada oknum-oknum pedagang tak bertanggung-jawab yang berdagang dengan cara yang tidak sehat. Wajar jika bayi Indonesia kurang gizi yang baru belajar berjalan kalah cepat berlari dengan pelari cepat Perancis yang pada masa mudanya selalu diberi ransum. Sedikit menyoroti hal lain. di negara yang bisa kita sebut surga belanja hanya terdapat 1 outlet ritel asal Perancis. Wajar jika ritel asing lebih efisien. Tapi mengapa pemerintah tak pernah memberi kesempatan industri nasional untuk berkembang. Demi mengejar target pendapatan asli daerah (PAD). pemerintah daerah dengan bebasnya mengijinkan berdirinya ritel dan pasar modern dengan kuantitas dan tata letak yang sangat mengancam keberadaan pasar tradisional. pengelolaan pertumbuhan pasar modern begitu tidak terkontrol. Seperti sudah dijelaskan diatas. dan karena ritel nasional kalah bersaing karena bekerja kurang efisien. industri ritel nasional-pun menjadi bulan-bulanan industri ritel asing. namun silahkan tengok Singapura. Tengok saja di Jakarta. Sekali lagi kita dapat berdalih itu adalah konsekuensi perdagangan bebas. Akhirnya banyak ritel nasional yang bangkrut atau diakuisisi oleh ritel asing. Mungkin pemerintah berdalih bahwa itu adalah hasil dari perdagangan bebas dan merupakan bentuk investasi asing yang menguntungkan. Pemerintah memang berusaha memperbaiki citra pasar tradisional. mereka telah berdiri dan berkembang lebih dulu di negera asalnya. namun ternyata hanya berujung pada relokasi paksa dan penggusuran pasar. belum lagi media yang selalu latah dengan berita-berita tersebut yang sayangnya memang tak dapat disalahkan. mereka cukup mendapatkan proteksi di negara asalnya sehingga menjadi eficien multi-national company yang bisa ekspansi ke negara lain. terdapat berpuluh-puluh alasan dan fakta negatif mengenai pasar tradisional. Persaingan usaha benar-benar dijaga di negeri tersebut. Tak dapat disangkal. Pemerintah Indonesia lupa bahwa nasib para pengusaha kecil dan pedagang pasar tradisional seharusnya menjadi prioritas untuk dilindungi. citra pasar tradisional yang buruk di mata masyarakat. tercatat lebih dari 50 outlet pasar modern ( dengan dominasi ritel prancis) berdiri megah tanpa menghiraukan tata kota dan keberadaan pasar tradisional. Sementara penyerahan pengelolaan kepada pihak swasta sering kali berujung pada konflik antara pedagang dan pengelola.

pola kemitraan. yang berimbas positif bagi tumbuhnya usaha rakyat. Pasar modern harus hadir sebagai penanda bagi kemajuan ekonomi bangsa. peraturan tersebut tidak berlaku mundur. paling tidak ada perbedaan dalam waktu pelayanan. Pengaturan pembagian zonasi ruang usaha. namun sekali lagi. mekanisme perlindungan. Sedangkan sudah terlanjur banyak pasar modern yang berdiri. negeri ini membutuhkan regulasi pasar yang pro-wet market. Kita tidak mengharapkan kehadiran pasar modern menjadi sinyal bagi peminggiran pasar tradisional yang menjadi tumpuan hidup dari mayoritas masyarakat kita yang miskin. dan tata kelola pasar tradisional diperlukan pendekatan ethnografi dan sosial budaya yang lebih kompleks dan “bersahabat” dengan masyarakat pasar tradisional. namun jika pemerintah serius dalam melakukannya perbaikan citra dan pengelolaan pasar tradisional bukan sekedar impian Faktual. Peluang usaha yang adil dan proporsional bagi seluruh lapisan masyarakat harus tercermin disana. Solusi yang dibutuhkan untuk mempertahankan eksistensi pasar tradisional dapat dilakukan dengan lima cara. bentuk. Kedua adalah substansi pengaturan waktu pelayanan dimana pasar-pasar pagi yang menjadi tradisi pasar tradisional tidak boleh diganggu oleh pasar modern. bukan malah menggusur mereka. hidup berdampingan dengan pasar modern. Memang perlu ketegasan dan keberanian pemerintah dalam menyikapi permasalahan ini. Pasar modern harus ditempatkan di kawasan baru dan berada di luar pemukiman. Kita seharusnya bisa mencontoh Singapura. Masalah ini prinsipnya dilakukan berbagi waktu. Ketiga adalah pengaturan kewajiban perusahaan besar untuk memberikan ruangannya sekitar 20 persen untuk usaha kecil dan menengah. yang mampu menata dengan baik pasar tradisionalnya. Memang sudah ada regulasi yang mengatur jarak minimal pasar dsb. Dalam perbaikan citra. yaitu: Pertama adalah pengaturan tata kelola wilayah dimana pasar tradisional tidak boleh dikepung oleh pasar modern. . dan alokasi distribusi barang menyangkut pasar tradisional harus menjadi bagian integral dari regulasi pasar. Ini sudah pernah dilaksanakan oleh pemerintah DKI tetapi perlu dijalankan lebih serius lagi. tanpa harus saling menegasikan. Memang sulit dan membutuhkan kerja dan waktu yang lama.persoalan ini.

Walalupun memang tak bisa diterapkan pada semua. Kelima adalah dapat dengan spesifikasi pasar sehingga masing – masing pasar dapat memiliki kekhas-an. Hal ini dapat terlihat dari tempat pasar tradisional selalu diletakkan jauh dari hypermarket yang tersisihkan bahkan susah untuk dijangkau konsumen. pasar beringharjo (Yogyakarta) yang menjual bermacam – macam batik dan pasar gede bage (Bandung) yang menjual pakaian – pakaian bekas. kecil kemungkinan pasar rakyat ini bisa bertahan hidup di tengah iklim persaingan usaha yang kian ketat dan tak toleran. Pengangguran yang meningkat menjadi salah satu faktor peningkatan tindak kriminal pula. Mengapa? Hal ini dapat kita lihat bahwa hypermarket sebagai pemodal yang sebenarnya hanya menyediakan tempat dan fasilitas lain untuk mencari keuntungan dengan memanfatkan sumber daya lokal. Sangat arif dan bijaksana jika pemerintah tidak hanya cakap dalam menarik setoran retribusi. tapi juga mau memikirkan kelangsungan hidup pasar tradisional. Departemen Kajian Strategis Fakultas Ekonomika dan Bisnis Hypermarket adalah bentuk nyata dari pasar kapitalisme. Tanpa upaya serius pemerintah melindungi eksistensi pasar tradisional. dan tak harus berupa spesialisasi produk yang dijual. tenaga kerja dan pemasok barang berasal dari bumi Indonesia. bahkan kalangan pelaku ekonomi ”kaki lima” dan pasar tradisional akan runtuh. Kemitraan ini sudah banyak dilakukan di berbagai bidang dan bisa juga dilaksanakan untuk sektor perdagangan.Keempat adalah pengaturan untuk membangun kemitraan antara yang besar dan yang kecil agar keduanya saling membantu satu sama lain. sehingga mempersulit kegiatan perekonomian yang dapat meningkatkan kesejahteraan kalangan bawah. namun memberikan nilai lebih dan ke-khas-an pada suatu produk(dalam hal ini pasar) dapat diterapkan dan biasanya berdampak baik. seperti contohnya pasar tanah abang (Jakarta) yang menjual barang – barang grosir. . Hal inilah yang menyebabkan koperasi menjadi luntur seperti yang diutarakan oleh Bapak Koperasi kita (Drs Moh. Hatta) Masalah sosial yang timbul jika hypermarket terus berjamuran adalah munculnya persaingan tidak sehat antar pelaku ekonomi. Masalah menjadi semakin rumit dapat muncul jika suatu hypermarket bangkrut karena suatu hal yaitu munculnya pengangguran. Artinya kegiatan perekonomian mulai dari pasokan barang. Namun untuk teknisnya diperlukan perhatian yang lebih.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->