P. 1
A. PBL Pondok Jagung

A. PBL Pondok Jagung

|Views: 611|Likes:
Published by kindry

More info:

Published by: kindry on Apr 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/14/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Menurut Winslow yang dikutip dalam Notoadmodjo (2002), Kesehatan Masyarakat merupakan suatu ilmu dan seni mencegah penyakit,

memperpanjang hidup dan meningkatkan kesehatan melalui usaha untuk pengorganisasian masyarakat yang bertujuan untuk memperbaiki sanitasi lingkungan, pemberantasan penyakit menular, pendidikan kesehatan dan pengembangan rekayasa sosial dalam rangka pemeliharan kesehatan masyarakat. Batasan kesehatan masyarakat mencakup dua aspek, yaitu keilmuan (science) dan seni (art) atau aplikasinya. Oleh karena itu, kesehatan masyarakat bukan hanya berbicara mengenai teori tentang gizi masyarakat, epidemiologi penyakit, kesehatan lingkungan, pendidikan kesehatan,

manajemen kesehatan dan biostatistika tetapi juga bagaimana penerapan teoriteori tersebut dalam rangka memelihara dan meningkatkan kesehatan masyarakat. Program Studi Kesehatan Masyarakat FKIK-UIN Syarif Hidayatullah Jakarta merupakan salah satu program pendidikan yang diharapkan dapat menghasilkan Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) yang berkompetensi sesuai dengan penerapan konsep teoritis dari kesehatan masyarakat dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dalam aspek kesehatan. Untuk menghasilkan Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) yang berkompetensi dan berdaya guna bagi masyarakat, Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dituntut untuk memberikan suatu proses pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada pemahaman konsep teori kesehatan masyarakat, namun juga penerapan teori tersebut ke dalam struktur masyarakat. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran calon ahli Kesehatan
Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 1|Page

Masyarakat dituntut untuk mampu menerapkan konsep-konsep teori yang ada melalui kegiatan praktek lapangan. Adapun salah satu praktek yang diberikan bagi para calon ahli Kesehatan Masyarakat berupa Praktek Belajar Lapangan. Kegiatan Praktek Belajar Lapangan ini diorientasikan kepada mahasiswa semester V (lima) kesehatan masyarakat, dimana mahasiswa dalam prakteknya ditempatkan di beberapa Puskesmas yang berada di bawah Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan. Hal ini tidak terlepas dari keberadaan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah yang berada di lingkungan Kota Tangerang Selatan. Sehingga diharapkan, dengan adanya kegiatan PBL ini juga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat kota Tangerang Selatan. Praktek Belajar Lapangan (PBL) merupakan salah suatu proses pembelajaran dan sebagai wadah bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmunya di bidang kesehatan, baik secara langsung kepada instansi pelayanan kesehatan maupun di tengah-tengah masyarakat yang bersifat menyeluruh dan multi disipliner. Sehingga dengan adanya Praktek Belajar Lapangan ini, diharapkan mahasiswa mampu mengidentifikasi dan memahami peran dan fungsi instansi kesehatan, struktur dan sistem sosial yang ada di masyarakat, mampu mengidentifikasi masalah kesehatan dan dapat menetapkan prioritas

permasalahan serta memberikan alternatif pemecahan masalah yang tepat pada suatu spot area, sehingga dapat melakukan intervensi secara tepat dan terpadu terhadap permasalahan kesehatan di masyarakat. Dengan melaksanakan kegiatan PBL ini, diharapkan mahasiswa kesehatan masyarakat mampu terampil dalam pemahaman teori dan penerapannya sesuai dengan isu kesehatan yang ada dan mampu menganalisis prioritas masalah kesehatan masyarakat yang dapat dijadikan suatu pembelajaran dan pengalaman yang berarti untuk profesinya ke depan, yaitu sebagai Ahli Kesehatan Masyarakat.
Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 2|Page

1.2 Tujuan PBL 1.2.1 Tujuan Umum Diperolehnya gambaran mengenai masalah kesehatan yang terdapat di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung dan dapat menentukan prioritas masalah kesehatan disertai spot area yang akan diintervensi untuk mengidentifikasi akar masalah kesehatan tersebut sebagai langkah perencanaan dalam pelaksanaan program dan kegiatan untuk menanggulangi masalah kesehatan tersebut. 1.2.2 Tujuan Khusus 1. Mengetahui struktur dan karakteristik masyarakat di wilayah kerja puskesmas pondok jagung 2. Mendapatkan gambaran masalah kesehatan di wilayah kerja puskesmas pondok jagung. 3. Menentukan prioritas masalah kesehatan yang terjadi di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung. 4. Menentukan spot area utuk melakukan intervensi program dalam menanggulangi permasalahan kesehatan. 5. Mengidentifikasi penyebab (akar) masalah kesehatan yang

menyebabkan terjadinya permasalahan di spot area tersebut. 6. Menyusun gambaran program intervensi dengan analisis SWOT untuk menanggulangi masalah kesehatan yang menjadi prioritas. 1.3 Manfaat PBL Adapun manfaat yang diperoleh dari kegiatan Praktek Belajar Lapangan I (PBL I), yaitu: a. Mahasiswa Memperdalam keilmuan dan melatih skill mahasiwa dalam menganalisis masalah kesehatan masyarakat serta melatih kreativitas mahasiswa dalam menanggulangi masalah kesehatan masyarakat yang terjadi.
Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 3|Page

Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 4|Page . Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan Memperoleh masukan dan bantuan pemikiran dalam rangka perencanaan dan pelaksanaan pembangunan masyarakat yang berwawasan kesehatan. materi perkuliahan dan pengembangan ilmu yang dikelola perguruan tinggi dapat lebih disesuaikan dengan tuntutan nyata pembangunan masyarakat di bidang kesehatan. sehingga kurikulum. d. Puskesmas Pondok Jagung Memperoleh masukan dan bantuan pemikiran pada salah satu program Puskesmas yang telah ada dengan mencoba mengoptimalkan dan menekan angka kesakitan dan mencegah risiko penyakit lainnya. c.b. Perguruan Tinggi Memperoleh umpan balik sebagai pengintegrasian mahasiswa dengan proses pembangunan kesehatan di tengah-tengah masyarakat.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Analisa situasi juga dapat digunakan dalam rangka perencanaan program dan analisis hambatan. Dengan dilakukan analisis situasi kita dapat memotret kondisi kesehatan masyarakat yang sedang dihadapi suatu daerah serta determinan-determinannya atau faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. Analisis situasi bertujuan untuk memperoleh gambaran dan dinamika permasalahan secara jelas serta faktor-faktor yang mempengaruhi masalah tersebut terutama masalah kesehatan.1. Semua itu memerlukan dukungan informasi yang tepat dari proses analisa situasi. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 5|Page . Dalam proses pemecahan masalah selalu dimulai dari analisa situasi.1 Analisa Situasi Masalah Kesehatan 2. Analisis situasi merupakan suatu kegiatan mengumpulkan dan memahami informasi tentang suatu situasi yang berguna untuk menetapkan masalah.1 Definisi Analisis Situasi merupakan proses pengamatan situasi kini (present condition the existing condition) dengan melakukan pengamatan secara langsung di lapangan dan mengumpulkan informasi atau data dari laporan-laporan atau publikasi melalui metode observasi dan wawancara. Analisa situasi merupakan langkah awal dalam Problem Solving Cycle (Siklus Pemecahan Masalah). Sehingga dapat diperkirakan secara tidak langsung derajat kesehatan masyarakat atau masalah kesehatan yang dialami masyarakat. Proses pemecahan masalah diharapkan benar-benar memecahkan masalah kesehatan yang ada di masyarakat.

kelompok. 2) Lingkungan yaitu karakter fisik alamiah dari lingkungan seperti iklim. juga saling berpengaruh satu sama lainnya. Secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi. 3) Keturunan atau pengaruh faktor genetik adalah sifat alami didalam diri seseorang yang dianggap mepunyai pengaruh primer dan juga sebagai penyebab penyakit. keadaan tanah. maupun masyarakat. budaya. dan topografi berhubungan langsung dengan kesehatan sebagaimana halnya interaksi ekonomi. politik. apabila keempat faktor tersebut bersama-sama mempunyai kondisi yang optimal pula. dan sebagainya). Faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan. baik kesehatan individu maupun kesehatan masyarakat. sosial. dan keturunan. tetapi harus dilihat dari seluruh segi yang ada pengaruhnya terhadap masalah “sehat-sakit” atau kesehatan tersebut. baik individu. budaya. ekonomi. Demikian pula pemecahan masalah kesehatannya sendiri. dan kekuatan-kekuatan lain yang mempunyai andil dalam keadaan sehat. masalah kesehatan adalah suatu masalah yang sangat komplek.Menurut Blum yang dikutip dalam Notoadmodjo (2002). perilaku. Status kesehatan akan tercapai secara optimal. Keempat faktor tersebut di samping berpengaruh langsung kepada kesehatan. yang saling berkaitan dengan masalah-masalah lain di luar kesehatan itu sendiri. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 6|Page . dikelompokkan menjadi empat berdasarkan urutan besarnya atau pengaruh terhadap kesehatan yaitu sebagai berikut:lingkungan yang mencakup lingkungan (fisik. pelayanan kesehatan. untuk hal ini Blum menjelaskan secara ringkas sebagai berikut : 1) Perilaku yaitu perilaku perorangan dan kebiasaan yang mengabaikan higiene perorangan.

4) Pelayanan kesehatan termasuk pelayanan kesehatan masyarakat dilaksanakan oleh unit pelayanan kesehatan dan pembinaan kesehatan lingkungan. nasional. Analisis situasi kesehatan selanjutnya menggunakan metode-metode epidemiologi untuk menganalisis lebih lanjut.2 Metode Menurut Modul Analisis Situasi Kesehatan Dati II dan sistem Informasi Kesehatan (1998). 2. dapat digunakan untuk penentuan prioritas masalah dan tujuan program yang akan dicapai.3 Penyampaian Data Penyajian data analisa situasi dapat berupa : Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 7|Page . standar lokal. Analisis pembandingan Data dari suatu indikator dibandingkan dengan standar yang berlaku umum atau dibandingkan dengan target yang harus dicapai seperti.1. Dapat pula dibandingkan dengan data yang diperoleh dari daerah lain. internasional. Ada berbagai metode yang dapat digunakan untuk menganalisis data yang ada. Tujuannya untuk mengetahui epidemiologi penyakit pada kelompok masyarakat tertentu. melihat apakah kejadian penyakit tertentu mempunyai kecenderungan siklus atau tidak serta dapat memperkirakan hubungan kejadian penyakit dengan terjadinya kasus-kasus tertentu 2. nilai cakupan.1. Metode kecenderungan (trend) Analisis kecenderungan sangat berguna untuk melihat kecenderungan kejadian penyakit di suatu daerah. 2. target dari suatu program kesehatan. Beberapa analisis sederhana yang dapat dilakukan pada analisis situasi kesehatan yaitu : 1.

objek. laporan-laporan yang Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 8|Page Informasi yang Tersedia (using available . Naratif atau deskriptif untuk data kualitatif b. 2009) Penggunaan informasi yang tersedia dapat dengan menganalisis data sistem informasi kesehatan.a.2. grafik garis. fenomena) dan mengenai lokasi dari objek tersebut berada. diantaranya yaitu: 1.1 Penggunaan information) Menggunakan informasi yang tersedia artinya biasanya terdapat berbagai data yang telah dikumpulkan oleh pihak lain meskipun mungkin data tersebut belum dianalisa atau dipublikasikan. Grafik. Pengisian kuesioner secara tertulis 5. seperti analisis informasi yang secara rutin dikumpulkan oleh fasilitas kesehatan dapat menjadi sangat berguna untuk mengidentifikasi masalah dan melaksanakan intervensi untuk menyelesaikan masalah penyakit. scatter plot. Pengamatan (Observing) 3. data sensus.2 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dilakukan untuk dapat mengumpulkan data secara sistematik mengenai objek studi yang sedang dipelajari (masyarakat. grafik batang. Dalam pengumpulan data harus dilakukan secara sistematik. untuk memudahkan pembacaan dan interpretasi data jenis histogram. mudah dipahami c. pie chart. Menggunakan informasi yang tersedia (Using available information) 2. Beberapa teknik pengumpulan data menurut Suratman (2009) yang dikutip dari buku panduan PBL FKIK UNSOED. Diskusi Kelompok Terarah (Focus Group Discussions) 2. Tabel secara sistematik dan detail. 2. (Suratman. Wawancara (face-to-face) 4.

Pengamatan ini dapat dilakukan dengan cara yang berbeda. Keuntungan menggunakan metode ini adalah murah. maka peneliti berperan sebagai pasien yang akan mengamati setiap prosedur yang dilakukan tanpa diketahui oleh petugas puskesmas tersebut). Serta dapat juga menggunakan informan kunci yang berasal dari para stakholder seperti pemimpin masyarakat. dan pencatatan perilaku dan karakteristik makhluk hidup. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 9|Page . untuk meningkatkan akses terhadap informasi yang tersedia. dan lain-lain. Observasi partisipasi (participant observation): pengamat mengambil bagian dalam situasi yang sedang diamati (misalnya untuk mengetahui apakah petugas puskesmas mengikuti prosedur dalam mendiagnosa pasien yang diduga mengidap penyakit TB. objek.2 Pengamatan (Observing) Pengamatan adalah teknik yang secara sistematik melibatkan pemilihan.tidak dipublikasikan serta publikasi di perpustakaan atau kantorkantor pada berbagai tingkatan pelayanan kesehatan atau yang berhubungan dengan kesehatan dapat juga merupakan studi itu sendiri. atau fenomena. antara lain (Suratman. 2. penglihatan. b. walaupun kadang-kadang sulit untuk meningkatkan akses pada hasil pencatatan dan pelaporan serta kemungkinan rendahnya kelengkapan. hanya melakukan pengamatan saja. staf kesehatan. 2009): a. Observasi bukan partisipasi (Non participant observation): pengamat melihat situasi secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi tetapi tidak melibatkan diri dalam situasi yang sedang diamati. ketepatan ataupun kurang terorganisasi dengan baik.2.

Kuesioner digunakan dengan daftar pertanyaan yang sudah terstruktur data pada teknik yang digunakan untuk ini disebut Panduan Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 10 | P a g e . Teknik observasi ini dapat mengecek kebenaran informasi yang telah dikumpulkan melalui wawancara khususnya mengenai hal yang bersifat sensitif seperti penggunaan obat-obatan terlarang atau stigmatisasi terhadap suatu penyakit.3 Wawancara (Interviewing) Wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang melibatkan pertanyaan secara lisan terhadap responden baik secara individu atau sebagai kelompok.Observasi dapat memberikan informasi tambahan mengenai perilaku seseorang dan lebih akurat daripada wawancara atau kuesioner. Metode yang tidak terstruktur ini dapat digunakan saat wawancara terhadap individu ataupun terhadap kelompok informan kunci. Wawancara dapat dilaksanakan dengan berbagai derajat fleksibilitas yaitu (Suratman. 2. Peneliti harus mempunyai daftar topik tambahan yang sudah disiapkan ketika responden diam saja tidak mau menjawab (ketika bertanya mengenai metodemetode aborsi yang digunakan. b.2. Derajat fleksibilitas yang tinggi Peneliti menggunakan daftar topik daripada pertanyaanpertanyaan yang sudah pasti.siapa yang membuat keputusan. Derajat fleksibilitas yang rendah Metode wawancara ini berguna saat peneliti secara relatif mengetahui jawaban-jawaban yang diharapkan atau ketika jumlah responden yang diwawancarai relatif besar. siapa yang membayar). 2009): a. Alat mengumpulkan wawancara.

FGD lebih dari sekedar interaksi tanya-jawab. 2. Memfokuskan penelitian dan mengembangkan hipotesis penelitian yang relevan melalui eksplorasi masalah secara mendalam yang akan diteliti penyebab-penyebabnya. Merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang sesuai untuk survei dengan skala yang besar dan terstruktur. Populasi juga diartikan keseluruhan individu yang menjadi Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 11 | P a g e . Membantu untuk memahami dan memecahkan masalahmasalah yang tidak diharapkan dalam intervensi. Mengembangkan pesan yang sesuai untuk program pendidikan kesehatan dan kemudian mengevaluasi pesan-pesan tersebut untuk kejelasan. dan ide-ide dari kelompok diskusi. b.4 Diskusi Kelompok Terarah (Focus Group Discussion) Focus Group Discussion (FGD) merupakan diskusi kelompok dengan diikuti oleh sekitar 6-12 orang yang dipandu oleh fasilitator dan selama diskusi setiap orang dapat berbicara secara bebas dan spontan mengenai topik tertentu.3 Teknik Penentuan Sampel 2. FGD adalah metode kualitatif yang bertujuan untuk memperoleh informasi secara mendalam mengenai konsep. d. 2.menggunakan urutan sesuai standar yang membutuhkan jawaban yang sudah ditentukan serta berupa kategori.3. c.2. persepsi.1 Definisi Populasi Menurut Sastroasmoro (1995) Populasi atau universe adalah jumlah keseluruhan dari unit analisa yang ciri-cirinya akan diduga. 2009) : a. Teknik FGD dapat digunakan untuk (Suratman.

banyak masalah yang tidak dapat dipecahkan tanpa memanfaatkan teknik sampling.3. yaitu (Rahardjo. Memperoleh hasil yang lebih akurat 5. yang terdiri dari berbagai sub bidang. 2. Mempercepat pelaksanaan penelitian 3. Random Sampling / Probability Sampling : Pengambilan sampel secara acak 2. 2009): 1. dan tenaga 2.3. Memperluas ruang lingkup penelitian 4. analisis data dan penyajiannya. Apabila dilakukan penelitian tidak hanya dapat dilakukan terhadap unit atau sub bidang tertentu saja.waktu. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 12 | P a g e . 2009): 1. dimana sampel dipilih berdasarkan pertimbanganpertimbangan tertentu. Menghemat biaya.2 Kegunaan Sampel Dalam penelitian ilmiah. Kegunaan sampling di dalam penelitian antara lain (Rahardjo. peneliti dapat melakukan pengambilan sampel terhadap objek yang diteliti. Memudahkan dalam pengolahan data. Sedangkan sampel adalah sebagian dari populasi yang mana ciri-cirinya diselidiki atau diukur. Oleh karena itu agar dapat dilakukan penelitian terhadap semua sub bidang dan dengan biaya murah.3 Teknik Sampling Pada dasarnya ada dua macam metode pengambilan sampel.acuan hasil-hasil penelitian akan berlaku. Non Random Sampling : Pengambilan sampel yang bersifat tidak acak. 2. Penelitian kesehatan dan kedokteran meliputi bidang yang sangat luas.

Contoh: Populasi masyarakat seringkali sudah terbagi menurut kelompok tertentu. cukup untuk klaster yang terpilih saja sehingga biaya dan waktu yang diperlukan lebih sedikit. Cara ini dipakai : bila populasi dapat dibagi dalam kelompok-kelompok dan setiap karakteristik yang dipelajari ada dalam setiap kelompok. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 13 | P a g e cluster random sampling .usu.ac. dll.4 Acak Rancangan Klaster (Cluster Random Sampling) Menurut Nasution (http://library.3. seperti RT. Kluster dipilih secara acak dan sampel dalam kluster diambil secara acak atau diambil seluruhnya.2. Populasi heterogen dan menyebar b. Tiap item (individu) di dalam kelompok yang terpilih akan diambil sebagai sampel. Sampel dalam kluster harus seheterogen mungkin c. desa. Pengambilan sampel dilakukan terhadap sampling unit. Keuntungan menggunakan teknik adalah sebagai berikut : a. Populasi dibagi berdasarkan kelompok (cluster). dimana sampling unitnya terdiri dari satu kelompok (cluster). Adapun syarat teknik adalah sebagai berikut : a. Antar kluster harus sehomogen mungkin Sedangkan langkah teknik cluster random sampling adalah sebagai berikut : a. misal: cluster random sampling kelurahan / desa. RW.pdf) Pengambilan sampel acak rancangan klaster adalah metode pengambilan sampel yang menggunakan suatu rangka yang terdiri dari klaster-klaster. Tidak diperlukannya daftar kerangka sampling dari unit elementer untuk seluruh populasi. b.id/download/fkm/fkmrozaini.

2009) : Z2 1-/2 .3. masyarakat dapat berperan aktif di dalamnya. termasuk masyarakat.P(1-P) n = -----------------------.5 Penentuan Besar Sampel Perhitungan besar sampel pada rancangan acak sederhana secara umum adalah sebagai berikut (Rahardjo. Adapun kelemahan teknik cluster random sampling adalah sangat sulit untuk menghitung standar error. Penetapan prioritas masalah menjadi bagian penting dalam proses pemecahan masalah dikarenakan dua alasan.b. 2. Pertama.4 Penetapan Prioritas Masalah Prioritas masalah kesehatan merupakan bagian dari proses perencanaan harus dilaksanakan dengan baik dan melibatkan seluruh unsur terkait.x deff d2 n d z = besar sampel = presisi mutlak = z score ditentukan berdasarkan derajat kepercayaan P = proporsi penelitian sebelumnya (jika tidak diketahui gunakan 0. karena terbatasnya Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 14 | P a g e . Sehingga masalah yang ditetapkan untuk ditanggulangi benar-benar merupakan masalah dari masyarakat. Metode ini lebih murah dan mudah dilakukan untuk survei pada manusia.5) 2. Maka metode ini sangat sering digunakan dalam penelitian survei walaupun menghasilkan estimasi parameter dengan presisi yang lebih rendah dibandingkan dengan sampel acak stratifikasi dan sampel acak sederhana. Dan pelaksanaan kegiatan yang dilakukan untuk menanggulangi masalah kesehatan yang ada.

metode USG . Dalam menentapkan prioritas masalah ada beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan. yakni (Satar. maka cara menetapkan prioritas masalah yang lazim digunakan adalah : 1). Pertimbangan politis 3. dan karena itu tidak perlu semua masalah diselesaikan (Azwar. Persepsi masyarakat 4. Non scoring technique (kualifikasi) Memilih prioritas masalah dengan mempergunakan berbagai parameter. dilakukan bila tersedia data yang lengkap. Parameter yg dimaksud adalah : 1) Besarnya masalah 2) Berat ringannya akibat yang ditimbulkan 3) Kenaikan prevalensi masalah 4) Keinginan masyarakat untuk menyelesaikan masalah tersebut Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 15 | P a g e . Misalnya: metode hanlon. 2010): 1. 2010) : a. Kedua.yaitu (Satar. Scoring technique (kuantifikasi) Pemilihan prioritas dilakukan dengan memberikan score (nilai) untuk pelbagai parameter tertentu yang telah ditetapkan. metode bryant. Delphi Technique 2) Delbeque Technique b. Bisa tidaknya masalah tersebut diselesaikan Cara pemilihan prioritas masalah ada 2 macam. karena adanya hubungan antara satu masalah dengan masalah lainnya. Besarnya masalah yang terjadi 2.sumber daya yang tersedia. Bila tidak tersedia data. 1996). dan karena itu tidak mungkin menyelesaikan semua masalah.

Dengan interval 1-5. Definisi Suatu teknik yang digunakan untuk menentukan prioritas masalah dengan cara 4 (empat) kriteria. yakni Merupakan tingkat keseriusan penyakit yang berkaitan dengan keparahan suatu penyakit terhadap penderita. 1. Dengan interval 1-5.2010): 1) Community Concern. 6) Rasa prihatin masyarakat terhadap masalah 7) Sumber daya yang tersedia yang dapat dipergunakan untuk mengatasi masalah.4. yakni Menunjukkan tingkat kepedulian maupun perhatian masyarakat terhadap suatu penyakit. Teknik Bryant a.yaitu: 1= Tidak gawat 2= agak gawat Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 4= Tinggi 5= Sangat Tinggi 4= gawat 5= sangat gawat 16 | P a g e . Dengan interval 1-5.5) Keuntungan sosial yang dapat diperoleh jika masalah tersebut terselesaikan.yaitu: 1= Tidak peduli 2= kurang peduli 3= sedang 2) Prevalensi.1 Teknik Scoring (Kuantifikasi) 1. yaitu (Satar.yaitu: 1= Sangat rendah 2= Rendah 3= Sedang 3) Seriousness. Menunjukkan seberapa besar tingkat 4=peduli 5=sangat peduli kejadian suatu penyakit baik kasus baru maupun kasus lama yang terlaporkan.

Masalah-masalah dengan skor tertinggi. Penanganan terhadap suatu penyakit dilihat dari bagaimana cara penyakit tersebut diatasi (sulit atau mudah penanganannya). masalah dengan skor tertinggi adalah masalah prioritas tertinggi.yaitu: 1=tidak mudah 2=agak mudah 3= sedang b. Jadi. c. Kelebihan dan Kekurangan Teknik Bryant Kelebihan dari metode Bryant yaitu relative lebih mudah dibanding dengan metode-metode lain.3= Sedang 4) Manageability. kemudian masing-masing skor dikalikan. 4=mudah 5= sangat mudah Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 17 | P a g e . akan mendapat prioritas yang tinggi pula. Sedangkan kekurangannya yaitu Pemberian skor terhadap masingmasing kriteria tergantung yang memahami masalah tersebut (Subjektif). sumber daya yang dimiliki untuk mengatasi masalah kesehatan tersebut dan sarana prasarana pelayanan kesehatan yang menunjang. Dengan interval 1-5. Hasil perkalian ini dibandingkan antara masalah-masalah yang dinilai. Langkah Menurut cara ini masing-masing kriteria tersebut diberi scoring.

Melakukan brainstorming 3. Melakukan perhitungan skor d.1. 2. Dapat digunakan bila data kuantitatif tidak tersedia dan pokok permasalahan sangat kompleks. Syarat 1. 2009) a. 4. Membatasi kontak antar grup untuk menghindari pembentukan kesepakatan (konsensus) c. Definisi Menurut JAF Stoner. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 18 | P a g e .2 Teknik Non Scoring (Kualifikasi) 1.4. Teknik delphi merupakan teknik peramalan yang menggunakan curah pendapat/saran (brainstorming) kelompok utk mencapai konsensus dan pemahaman ttg masa depan . Memilih orang yang benar-benar ahli dalam bidang yang ditelaah. Keuntungan teknik delphi 1. Langkah 1. Mengkaji kriteria 3. Teknik Delphi (Wardhani. b. Melakukan inventarisasi kriteria dalam penentuan prioritas masalah 2. Melakukan pembobotan terhadap kriteria antara 1 s/d 5 disertai justifikasinya. Normal C Dalkey juga mengatakan teknik delphi adalah suatu metode untuk mendapatkan pandangan dari kelompok ahli yangg melakukan barinstorming tentang satu topik tertentu dengan sasaran memperoleh kemungkinan masa depan.

2. tidak ada validitas ataupun realibilitas. Merangsang kreatifitas kelompok 6.1 Teori Fishbone Teori Fishbone ditemukan oleh ilmuwan Jepang yang bernama dr. melibatkan partisipasi semua orang. Suasana demokratis menghasilkan keputusan yang bebas dari bias akibat adanya dominasi kelompok ahli 4. 2. Adapun kelebihan dari teori fishbone ini adalah suatu metode sederhana yang dapat dipergunakan untuk menelusuri penyebab suatu permasalahan yang terjadi. Dapat dilakukan dengan surat dalam format tulisan/ computer e. Fungsi dari teori fishbone ini adalah adanya Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 19 | P a g e . Keputusan yang diambil belum matang 3.2. Ramalan masa depan dapat dimonitor 5. Acara diskusi dapat ditutup/ diakhiri lebih awal karena peserta kelelahan 4. dengan permasalahan sebagai kepalanya. serta menjadi dasar suatu prinsip bahwa pemikiran yang bersumber dari orang banyak lebih baik daripada satu orang. Kerugian teknik delphi 1. Pemilihan peserta harus hati-hati untuk menghindari bias terhadap keputusan yang dihasilkan. Tidak memerlukan biaya besar 3. Kaori Ishikawa yang pada mulanya disebut diagram Ishikawa. Dinamakan diagram tulang ikan karena bentuk dari diagram ini seperti tulang ikan.5 Akar Masalah 2. Merupakan taksiran yang subjektif dan alamiah. dan penyebabpenyebab yang ada sebagai duri-durinya.5.

Menulis nama kategori penyebab pada bagian atas dan pada bagian bawah garis horizontal. Menggambar sebuah kotak pada ujung kanan tengah. Tergantung pada letak dimensi yang akan dipakai b. Katergorisasi teori fishbone terdiri dari : a. “mengapa ini terjadi”. Dibayangkan ini sebagai duri kecil dari tulang ikan masalah. 3. Menggambar sebuah panah horizontal yang menunjuk pada kotak tersebut. Menggambar rincian data penyebab dari setiap kategori. Masing-masing penggolongan bisa dibreakdown lagi ke dalam diagram tulang ikan dimana yang menjadi permasalahan adalah kelompok-kelompok tersebut. 5. 4. Mengacu pada teori d. Langkah penyusunan teori fishbone adalah : 1. Dibayangkan sebagai duri utama dari tulang ikan permasalahan. 2.setiap kemungkinan yang ditemukan sebagai penyebab terjadinya permasalahan akan dituliskan pada salah satu “duri”. Tergantung pada permasalahan yang akan dikaji c. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 20 | P a g e . Di dalam kotak ditulis masalah yang akan diatasi. Cara lain yang cukup sering digunakan untuk memulai menyusun diagram tulangikan yaitu dengan bertanya berulang kali.

seseorang dikatakan menderita hipertensi jika tekanan darah sistolik/diastolik melebihi 140/90 mmHg. (Sutanto. Hipertensi diartikan sebagai peningkatan tekanan darah secara terus menerus sehingga melebihi batas normal. di ukur di kedua lengan tiga kali dalam jangka beberapa minggu. Menurut ilmu kedokteran. Hipertensi biasanya terjadi pada seseorang dengan tekanan darah 140/90 mmHg ke atas. 2005). Pada populasi lanjut usia. hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg (Sheps. Sistolik adalah tekanan darah pada saat jantung memompa darah ke dalam pembuluh nadi (saat jantung mengerut).Gambar 2. disebut sebagai penderita hipertensi atau darah tinggi jika tekanan darah dalam arteri meningkat secara kronik. 2002).1 Contoh Penerapan Teori Fishbone 2. Hipertensi merupakan produk dari resistensi pembuluh darah perifer dan kardiak output (Wexler. tekanan darah tinggi adalah kondisi medis tekanan darah seseorang yang meningkat secara kronis. Secara umum. Diastolik adalah tekanan darah pada saat jantung mengembang dan menyedot darah kembali (pembuluh nadi mengempis kosong). 2010) Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 21 | P a g e .6 Landasan Teori Hipertensi Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan diastolik diatas 90 mmHg.

Penyakit darah tinggi atau Hipertensi (Hypertension) adalah suatu keadaan di mana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal yang ditunjukkan oleh angka systolic (bagian atas) dan angka bawah (diastolik) pada pemeriksaan tensi darah menggunakan alat pengukur tekanan darah baik yang berupa cuff air raksa (sphygmomanometer) ataupun alat digital lainnya. Walaupun penyakit ini dianggap tidak memiliki gejala awal. gagal jantung. hipertensi merupakan keadaan tanpa gejala. Nilai normal tekanan darah seseorang dengan ukuran tinggi badan. Gejala-gejala tersebut mulai bisa dirasakan oleh para penderita hipertensi dengan tekanan darah lebih besar dari 140/90 mmHg. Dalam aktivitas sehari-hari.6. angka pemeriksaan tekanan darah menurun saat tidur dan meningkat diwaktu beraktifitas atau berolahraga. hipertensi dapat menyerang siapa saja. tingkat aktifitas normal dan kesehatan secara umum adalah 120/80 mmHG. 2. tekanan darah normalnya adalah dengan nilai angka kisaran stabil. dari berbagai kelompok umur dan status sosial ekonomi. Secara umum. berat badan. dimana tekanan darah yang tinggi di dalam arteri menyebabkan meningkatnya resiko terhadap penyakit-penyakit yang berhubungan dengan kardiovaskular seperti stroke. sebenarnya ada beberapa gejala yang tidak terlalu tampak sehingga sering tidak dihiraukan oleh penderita. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 22 | P a g e . Tetapi secara umum. dan kerusakan ginjal.1 Tanda dan Gejala Hipertensi Penyakit hipertensi sering disebut sebagai penyakit tersembunyi. Secara umum. serangan jantung. gejala-gejala yang dirasakan penderita hipertensi antara lain sebagai berikut: pusing. sebutan tersebut berawal dari banyaknya orang yang tidak sadar telah mengidap penyakit hipertensi sebelum mereka melakukan pemeriksaan tekanan darah.

rasa berat di tengkuk. dan ginjal sanggup menahan tekanan darah tinggi untuk waktu yang cukup lama. sukar tidur. mimisan (jarang dilaporkan). serangan jantung. jika tekanan darah semakin tinggi maka semakin berat pula kerja jantung. stroke juga dapat terjadi sebagai akibat dari melemahnya dinding pembuluh darah di otak karena tekanan darah tinggi. jika tekanan darah tinggi tidak segera diobati. serta kelumpuhan.2 Akibat Hipertensi Hipertensi terus-menerus adalah salah satu faktor penyebab berbagai penyakit yang berhubungan dengan kardiovaskular seperti stroke. ginjal. serta kemungkinan terjadi pembengkakan pada kaki dan pergelangan kaki. organ jantung. 2. di samping merupakan faktor utama penyakit jantung dan pembuluh darah. gagal jantung. Tekanan darah tinggi mempercepat penyumbatan arteri yang mengarah pada serangan jantung atau stroke jika arteri yang mengalirkan darah ke jantung atau ke otak tersumbat. napas pendek atau terengah-engah. tekanan darah tinggi juga menimbulkan kelemahan pada arteri bagian lain tubuh seperti pada mata. muka pucat. pecahnya pembuluh darah di otak. sesak napas. jika keadaan ini dibiarkan berkepanjangan Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 23 | P a g e . mata berkunang-kunang. dan suhu tubuh rendah. dan merupakan penyebab utama gagal ginjal kronik. jantung akan menjadi lemah untuk melaksanakan beban tambahan. Akibat lain yang ditimbulkan tekanan darah yang selalu tinggi adalah pendarahan pada selaput bening (retina mata). telinga berdengung. mudah lelah. dan kaki. otak.mudah marah.6. hal ini menyebabkan tidak disadari kemunculannya sehingga merasa dalam kondisi sehat. hal tersebut memungkinkan terjadinya penyempitan pembuluh darah dan gagal jantung dengan gejala-gejala seperti kelelahan.

perawatan di rumah sakit dan atau penggunaan obat jangka panjang. 2. hipertensi terdeteksi saat pemeriksaan fisik karena alasan penyakit tertentu. Jantung : Gangguan jantung sebagai organ pemompa darah menyebabkan penyakit jantung koroner dan gagal jantung. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 24 | P a g e . jika tekanan darah terus-menerus tinggi maka akan menimbulakan komplikasi pada organ tubuh lainnya.3 Faktor Resiko Hipertensi Faktor resiko hipertensi menurut Sutanto (2010). Ginjal : Menyebabkan penyakit ginjal kronik. Pada kebanyakan kasus. c. b. Genetika (Keturunan) Apabila riwayat hipertensi didapat pada kedua orang tua maka dugaan terjadinya hipertensi primer pada seseorang cukup besar.6. Mata : Gangguan pada mata biasanya menyebabkan kerusakan selsel retina sehingga jika sangat parah dapat menimbulkan kebutaan. gagal ginjal terminal. yaitu: a. Otak : Gangguan pada otak biasanya akibat rusaknya pembuluh darah sehingga menyebabkan stroke. sehingga sering disebut sebagai “silent killer”. 2010) : a. Pengaruh genetika ini terjadi pula pada anak kembar yang lahir dari satu sel telur. d. bagian tubuh yang paling sering menjadi sasaran kerusakan antara lain (Sutanto. Hal ini terjadi karena pewarisan sifat melalui gen.maka bagian tubuh akan mengalami kerusakan yang serius. Hipertensi bertanggung jawab terhadap tingginya biaya pengobatan dikarenakan alasan tingginya angka kunjungan ke dokter. jika salah satu dari anak kembar tersebut adalah penderita hipertensi maka akan dialami juga oleh anak kembar yang lain.

Secara umum trend stress muncul dari masyarakat perkotaan. dan rendahnya status pekerjaan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan. c. Stress Lingkungan Jika dalam keadaan stress maka terjadi respons sel-sel saraf yang mengakibatkan kelainan pengeluaran atau pengangkutan Natrium. Hal Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 25 | P a g e . Sedangkan pada kaum pria. Hubungan antara stress dengan hipertensi diduga melalui aktivitas saraf simpatis (saraf yang bekerja ketika beraktivitas) yang dapat meningkatkan tekanan darah secara bertahap. sebagian besar kasus hipertensi saat ini dipengaruhi oleh faktor ketururnan. ternyata prevalensi hipertensi meningkat dengan bertambahnya usia.Menurut sebagian ahli kesehatan. Penyakit hipertensi merupakan penyakit yang timbul akibat adanya interaksi dari berbagai faktor resiko yang dimiliki seseorang. Hilangnya elastisitas jaringan dan arterisklerosis serta pelebaran pembuluh darah adalah faktor penyebab hipertensi pada usia tua. Wanita seringkali mengadopsi perilaku tidak sehat seperti merokok dan pola makan yang tidak seimbang sehingga menyebabkan kelebihan berat badan. Usia Dengan semakin bertambahnya usia. kemungkinan seseorang menderita hipertensi juga semakin besar. hipertensi lebih berkaitan dengan pekerjaan seperti perasaan kurang nyaman terhadap pekerjaan dan pengangguran. Jenis Kelamin (Gender) Hipertensi berdasarkan gender ini dapat pula dipengaruhi oleh faktor psikologis. Terjadi kecenderungan bahwa hipertensi lebih banyak dialami oleh masyarakat perkotaan dibanding masyarakat pedesaan. b. depresi. d.

Keadaan ini akan diikuti oleh peningkatan ekskresi (pengeluaran) kelebihan garam sehingga kembali pada kondisi keadaan sistem hemodinamik (pendarahan) yang normal. Adat Kebiasaan Kebiasaan-kebiasaan buruk seseorang merupakan ancaman kesehatan bagi orang tersebut seperti Sutanto (2010): 1) Gaya hidup modern yang mengagungkan sukses. minum alkohol atau kopi. kerja keras dalam situasi penuh tekanan. g. dan stres terjadi yang berkepanjangan adalah hal yang paling umum serta membuat orang kurang berolahraga. 2) Indra perasa kita sejak kanak-kanak telah dibiasakan untuk memiliki ambang batas yang tinggi terhadap rasa asin. padahal semuanya termasuk dalam daftar penyebab yang meningkatkan resiko hipertensi. Asupan Garam Garam merupakan hal yang sangat penting pada mekanisme timbulnya hipertensi. e. dan berusaha mengatasi stresnya dengan merokok. sehingga Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 26 | P a g e .tersebut berkaitan dengan gaya hidup masyarakat kota yang rentan berinteraksi dengan resiko penyakit hipertensi seperti stress dan pola hidup yang kurang sehat. Obesitas merupakan ciri dari populasi penderita hipertensi. Curah jantung dan sirkulasi volume darah hipertensi yang obesitas lebih tinggi dari penderita hipertensi yang tidak mengalami obesitas. Obesitas (Kegemukan) Obesitas atau kegemukan juga merupakan salah satu faktor resiko timbulnya hipertensi. Pengaruh asupan garam terhadap hipertensi adalah melalui peningkatan volume plasma atau cairan tubuh dan tekanan darah. f.

Faktor-faktor tersebut antara lain merokok. Hindari kebiasaan lainnya seperti merokok dan mengkonsumsi alkohol diduga berpengaruh dalam meningkatkan resiko hipertensi walaupun mekanisme timbulnya belum diketahui pasti. dapat meningkatkan tekanan darah kerana mengandung natrium dalam jumlah yang berlebih.4 Pencegahan Hipertensi Hipertensi dapat dicegah dengan pengaturan pola makan yang baik dan aktivitas fisik yang cukup. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 27 | P a g e . asupan asam lemak jenuh. namun kebiasaan buruk dan gaya hidup yang tidak sehat juga menjadi sebab peningkatan tekanan darah. 2. faktor makanan modern sebagai penyumbang utama terjadinya hipertensi. dan lain-lain). Makanan yang diawetkan dan garam dapur serta bumbu penyedap dalam jumlah tinggi.6. restoran.sulit untuk dapat menerima makanan yang agak tawar. 4) Gaya Hidup Kurang Sehat Walaupun tidak terlalu jelas hubungannya dengan hipertensi. dan faktor hormon yang mempengaruhi tekanan darah. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan timbulnya gangguan atau kerusakan pada pembuluh darah turut berperan terhadap munculnya penyakit hipertensi. Selain faktor-faktor tersebut. Konsumsi garam ini sulit dikontrol. terutama jika kita terbiasa mengonsumsi makanan di luar rumah (warung. dan tingginya kolesterol dalam darah. 3) Pola makan yang salah. faktor lain yang mempengaruhi terjadinya hipertensi antara lain alkohol. gangguan mekanisme natrium yang mengatur jumlah cairan tubuh. hotel.

dan produk rendah lemak dengan kandungan lemak jenuh dan lemak total yang rendah Penurunan asupan natrium sampai tidak lebih dari 100 mmol/ hari setara dengan 2. sayuran.4 gram natrium murni atau 6 garam natrium klorida 2 – 8 mmHg 8 – 14 mmHg ikan asin. setiap hari dalam seminggu) Penurunan asupan Pembatasan asupan alkohol sampai alcohol tidak lebih dari 2 kali (30 ml etanol) per hari pada pria dan 15 ml pada 2 – 4 mmHg 4 – 9 mmHg Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 28 | P a g e . garam (garam dapur) dapur) Aktifitas fisik (olahraga) Melakukan aktifitas fisik aerobic rutin seperti jalan cepat (paling kurang 30 menit/ hari.Pola hidup sehat memiliki peranan yang sangat penting baik sebagai pencegahan maupun sebagai terapi awal terhadap hipertensi.5 – 24. Modifikasi Rekomendasi Penurunan tekanan darah sistolik rata-rata Penurunan bobot Pertahankan berat badan ideal badan (IMT/ BMI 18.9) 5 – 20 mmHg/ 10 kg penurunan berat badan Mengadopsi pendekatan diet untuk menstop hipertensi Pembatasan asupan natrium (seperti yang terdapat dalam Konsumsi diet kaya dengan buahbuahan. Tabel berikut menjelaskan bagaimana pengaturan pola hidup berefek terhadap penurunan tekanan darah sistolik.

Dan lakukan pengecekan ulang minimal setiap 2 tahun untuk kelompok nomotensi dan setiap tahun untuk kelompok pre hipertensi. Hindari minuman beralkohol e. Upaya-upaya ini tidak hanya ditujukan untuk orang sehat. Sedapat mungkin atasi stres dan emosi c. Pertahankan berat badan ideal. Meski demikian. Periksa tekanan darah secara berkala. tapi juga kelompok risiko tinggi maupun pasien hipertensi itu sendiri. Olahraga teratur.wanita atau orang dengan ukuran badan yang lebih ringan atau kecil. Caranya yakni : a. antara lain tidak mengonsumsi makanan tinggi garam dan tinggi lemak. tapi juga pemicu terjadinya penyakit jantung dan stroke. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 29 | P a g e . Hentikan kebiasaan merokok d. Atur pola makan. serta perbanyak konsumsi buah dan sayur b. tentunya dengan upaya perbaikan gaya hidup dan mengatasi faktor resikonya. yaitu tekanan darah sistolik 120-139 mmHg atau diastolik 80-90mmHg dan bila diperlukan konsumsi obat-obatan penurunan tekanan darah serta makan secara teratur. hipertensi dan komplikasinya dapat dicegah. Hipertensi bukan saja penyakit mematikan.

Melihat gambaran umum demografi dan permasalahan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Menganalisis 10 penyakit teratas. Data profil kelurahan Data Kecamatan 1.BAB III ALUR KEGIATAN PBL 3. Data geografi 2. Data demografi Data Puskesmas 1. Data laporan bulanan penyakit (LB1) tahun 2011 Pengolahan Data Sekunder: 1. Data demografi 3. Data profil & Laporan Tahunan Puskesmas tahun 2010 2.1 Bagan Alur Kegiatan PBL I Pengenalan wilayah kerja dan program Puskesmas dari Profil Puskesmas dan Laporan Tahunan Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2010 Pengumpulan data sekunder Data Kelurahan 1. membuat trend penyakit dan menetapkan 5 prioritas penyakit Penentuan 3 penyakit utama berdasarkan teknik Bryant Pengumpulan data primer di 4 Kelurahan Pengolahan data primer (analisis dan interpretasi data) Penentuan Prioritas Masalah dengan menggunakan teknik Delphi Penentuan Spot area dan Sasaran Intervensi Pelaksanaan FGD dan Indepth Interview Penentuan Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya masalah dan peluang untuk dilakukannya intervensi Pembuatan Laporan PBL-1 Seminar Hasil PBL-1 Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 30 | P a g e . Data 10 penyakit teratas di wilayah kerja puskesmas 2010 3. Data geografi 2. 2.

Dari 10 (sepuluh) penyakit teratas tersebut. didapatkan bahwa 10 (sepuluh) penyakit teratas di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung adalah ISPA. Berdasarkan laporan tahunan di Puskesmas Pondok Jagung tahun 2010. Pengerucutan penyakit menjadi 5 (lima) penyakit terpilih kami lakukan dengan melihat trend (kecenderungan) 10 penyakit tersebut dari bulan Januari hingga Oktober tahun 2011. Dengan menggunakan trend penyakit. Demam. Data sekunder diperoleh dari Puskesmas Pondok Jagung. kami lakukan pengerucutan penyakit menjadi 5 (lima) penyakit. Dermatitis. Hipertensi dan penyakit lainnya. penurunan atau stabil. Data terkait trend penyakit tersebut didapatkan dari Laporan Bulanan (LB1) Puskesmas Pondok Jagung tahun 2011. Kemudian mahasiswa mulai melakukan pengumpulan data sekunder yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi permasalahan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 31 | P a g e . dilakukan pengolahan dan analisis data sekunder.2 Deskripsi Alur Kegiatan PBL 1 Kegiatan PBL-1 di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung tahun 2011 diawali dengan melakukan pengenalan dan pemahaman mahasiswa tentang ruang lingkup dan program puskesmas melalui Profil dan Laporan tahunan Puskesmas Pondok Jagung pada tahun 2010. sehingga 5 (lima) penyakit terpilih dapat ditentukan secara tepat.3. dapat diketahui perubahan kasus penyakit tersebut apakah mengalami peningkatan. Ganggguan gigi dan mulut. Gastritis. Batuk. Influensa Karena Virus Ytt. Setelah data sekunder diperoleh. Data 10 (sepuluh) penyakit teratas tersebut. Pulpa. kami manfaatkan untuk mengidentifikasi permasalahan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung. Kecamatan Serpong Utara dan Kelurahan di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung. Pengerucutan dilakukan agar proses penentuan prioritas masalah kesehatan lebih terfokus.

Penentuan spot area didasarkan pada prevalensi data sekunder. yaitu teknik Delphi. Kelurahan Jelupang dan Kelurahan Lengkong Karya. tahap selanjutnya adalah penentuan sasaran intervensi. Kemudian tahap selanjutnya adalah melakukan penentuan prioritas masalah dengan menggunakan teknik non scoring. Penentuan sasaran dimaksudkan agar intervensi lebih terfokus dan mencapai target. tahap selanjutnya adalah melakukan pengumpulan data primer terkait 3 (tiga) penyakit tersebut. Kelurahan Pondok Jagung Timur. faktor resiko. yaitu teknik Bryant dengan mempergunakan data sekunder yang telah dikumpulkan. Hipertensi dan Dermatitis merupakan fokus permasalahan kesehatan yang akan dianalisis kembali untuk menetapkan satu prioritas utama masalah kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung tahun 2011. Setelah mendapatkan 3 (tiga) penyakit terpilih. Hasil pengumpulan data primer dari kuesioner tersebut kami lakukan tindak lanjut berupa pengolahan dan analisis data. Instrumen data primer berupa kuesioner yang disebar kepada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung. yaitu Kelurahan Pondok Jagung. Setelah menentukan prioritas masalah. aksesbilitas dan sistem sosial di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung. Penentuan 3 (tiga) penyakit dilakukan dengan menggunakan teknik scoring.Setelah dilakukan pengerucutan 5 (lima) penyakit terpilih. Berdasarkan hasil penentuan 3 (tiga) penyakit dengan teknik Bryant didapatkan bahwa ISPA. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 32 | P a g e . prevalensi data primer. tahap selanjutnya adalah melakukan pengerucutan penyakit dari 5 (lima) penyakit menjadi 3 (tiga) penyakit terpilih. Pengumpulan data primer dimaksudkan untuk mengumpulkan fakta di lapangan dan dapat digunakan untuk melengkapi atau menunjang data sekunder dalam tahap penentuan prioritas masalah selanjutnya. langkah selanjutnya adalah menetapkan spot area. Setelah didapatkan spot area.

Setelah mendapatkan masalah kesehatan dan penyebeb dari masalah kesehatan tersebut. Pondok Jagung Timur. langkah selanjutnya adalah melakukan FGD (Focus Group Discussion) dengan petugas puskesmas. Tokoh masyarakat dan beberapa warga di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung. Kegiatan PBL ini dilaksanakan pada tanggal 5–19 Desember 2011.4 Lokasi dan Waktu Kegiatan Kegiatan PBL 1 ini dilaksanakan di Puskesmas Pondok Jagung dan wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung yaitu kelurahan Pondok Jagung.3 Sumber informasi Informan yang terlibat dan memberikan informasi-informasi yang dibutuhkan dalam PBL 1 ini terdiri dari : 1. kami juga melakukan Indepth Interview kepada narasumber yang dapat dipercaya keakuratan informasi yang diberikan.Setelah spot area dan sasaran ditetapkan. Staff administrasi puskesmas pondok jagung 4. Selain dilakukan FGD. Penanggungjawab program pra lansia dan lansia 3. tahap selanjutnya adalah membuat formulasi alternatif solusi masalah kesehatan tersebut. 3. kader posbindu. tokoh masyarakat dan penderita. Propinsi Banten. Jelupang dan legkong Karya Kecamatan Serpong Utara. Tujuan dilakukan FGD dan Indepth interview adalah untuk mengidentifikasi penyebab masalah dari masalah yang akan diintervensi. 3. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 33 | P a g e . Kader kelurahan terutama kelurahan pondok jagung timur 6. Kepala puskesmas Pondok Jagung 2. Kota Tangerang selatan. Bidan desa terutama kelurahan pondok jagung timur 5.

Selain itu. Pengumpulan data primer dilakukan pada saat masalah kesehatan telah dikerucutkan menjadi 3 (tiga) penyakit terpilih di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung./2) p d deff nispa = 2. 2007 = 10 % = 0.4 Instrumen Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data primer berupa lembar kuesioner terstruktur dan berisi pernyataan yang berhubungan dengan variabel penelitian yang harus dijawab oleh responden. digunakan juga pedoman wawancara sebagai alat instrumen dalam indepth interview.5 Penentuan dan Perhitungan Sampel Sampel adalah sebagian individu yang diteliti atau diselidiki (Alghifari. 2001). dimana pertanyaan sudah disediakan alternatif jawabannya.3./2)2 p (1-p) x deff d2 x deff = 28 x 2 = 94 sample Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 34 | P a g e . Perhitungan sampel dilakukan guna menentukan berapa besar jumlah sampel yang akan diambil untuk pengumpulan data primer. Dalam kuesioner disediakan pertanyaan tertutup.01 =2 = = ( ( ) ) = (Z1. sehingga responden hanya memilih salah satu jawaban yang dianggap sesuai.53 = prevalensi 3 penyakit di wilayah Banten pada Riskesdas. 3. yaitu : ISPA. Adapun perhitungan sampel yang dilakukan sebagai berikut : nsample dimana : (Z1. Hipertensi dan Dermatitis.

28% x 318 = 120 sample Pondok jagung Timur = Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 35 | P a g e .ndermatitis ( = ) ( ) ( ) x deff = = x 2 = 318 sample nhipertensi = = ( ) ( ) ( ) x deff = 28 x 2= 56 sample Dari perhitungan di atas. Justifikasi peneliti mengambil sampel sebanyak 330 adalah sampel minimal adalah 318 dan semakin banyak sampel yang diambil berarti semakin baik penelitian. didapat hasil n sample terbanyak yaitu sebanyak 318 sampel. Berikut ini adalah rincian distribusi sampel di masing-masing kelurahan: Pondok Jagung = = = 18. tahap selanjutnya adalah menentukan pendistirbusian sampel berdasarkan teknik Cluster Random Sampling. dimana sampel diambil secara acak dengan proporsi tiap kelurahan dihitung berdasarkan presentase jumlah penduduk.31 % x 318 = 58 Sample Jelupang = = = 38. Pada penelitian ini sampel yang kami ambil sebanyak 330 sampel. Setelah perhitungan jumlah sampel dilakukan.

Selain itu. Kecamatan Serpong Utara dan Kelurahan di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung. Hal ini dikarenakan Profil dan Laporan Tahunan Puskesmas Pondok Jagung tahun 2011 belum dapat diakses. Data sekunder yang kami dapatkan dari Puskesmas merupakan Profil dan Laporan Tahunan Puskesmas Pondok Jagung pada tahun 2010. Data Primer Pengumpulan data primer dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang disebarkan secara langsung kepada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung.= Lengkong Karya = = 3. Pelaksanaan FGD dilakukan Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 36 | P a g e . Untuk lebih jelasnya akan dijelaskan sebagai berikut: a. tokoh masyarakat. Selain itu. FGD dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai penyebab masalah kesehatan. b.41% x 318 = 111 sample = 7. petugas puskesmas dan penderita. kami juga mendapatkan Laporan Bulanan (LB1) Puskesmas Pondok Jagung pada bulan Januari hingga Oktober tahun 2011. Pengumpulan data sekunder dilakukan bertujuan untuk mendapatkan informasi yang valid guna mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung. Data Sekunder Data sekunder diperoleh dari Puskesmas. Posbindu.99% x 318 = 26 sample Data yang dikumpulkan dalam kegiatan PBL ini adalah data sekunder dan data primer. Anggota FGD adalah para kader.6 Pengumpulan Data = 35. pemgumpulan data primer juga kami lakukan melalui Foccus Group Discussion (FGD) dan indepth interview.

Data primer dari hasil penyebaran kuesioner dikonversikan ke dalam bentuk program pengolah data yaitu Epidata dan SPSS. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 37 | P a g e .8 Teknik Analisis dan Interpretasi Data dari Puskesmas yang telah diolah. dan data sekunder dianalisis untuk mendukung data primer yang telah diolah. Data primer dan data sekunder ditulis secara lengkap di bab hasil dan pembahasan. ISPA. kemudian dianalisis untuk menentukan prioritas masalah. Selanjutnya.7 Cara Pengolahan Data Data primer dan data sekunder yang telah diperoleh. Hasil kuesioner dianalisis dengan menggunakan program SPSS dan didapatkan satu prioritas penyakit. Kemudian membandingkan hasil studi lapangan yang telah dilakukan dengan teori yang ada. Tahap selanjutnya adalah menentukan prioritas utama masalah kesehatan dengan mengumpulkan data primer di lapangan melalui instrumen kuesioner. dari 10 penyakit tersebut dipilih lima penyakit dengan melihat trend penyakit per bulan pada tahun 2011. dikumpulkan dan dilakukan pengolahan data agar menghasilkan informasi yang selanjutnya akan dianalisis. Tahap kedua adalah menentukan tiga penyakit dari lima penyakit tersebut dengan menggunakan teknik Bryant. Hasilnya diperoleh tiga penyakit yaitu penyakit Hipertensi. Tahap pertama yaitu dengan memperoleh data sekunder terkait 10 prioritas penyakit teratas di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung pada tahun 2010. 3. Sedangkan data primer yang bersifat kualitatif dideskripsikan dengan narasi dan lampiran dokumentasi kegiatan. 3.secara dua sesi yang bertujuan untuk mendapatkan data yang valid dari beberapa narasumber. dan Dermatitis.

dan Kelurahan Pondok Jagung Timur. Geografis wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung secara spesifik. Kelurahan Lengkong Karya. Termasuk dataran rendah dengan ketinggian kirakira 80 m di atas permukaan laut dengan curah hujan rata-rata 1. Sebelah Barat b. : Kecamatan Serpong Ruang lingkup wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung terdiri dari 04 Kelurahan. yaitu Kelurahan Pondok Jagung. Adapun batas-batas wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung adalah : a.1. Kelurahan Jelupang. Sebelah Timur c.710 mm / tahun. Sebelah Utara d.1 Data Geografi Puskesmas Pondok Jagung terletak di Kecamatan Serpong Utara.BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4. terletak di sebelah Timur Pusat Kota tangerang selatan dengan luas wilayah 22. dapat dilihat di peta wilayah kerja di bawah ini : Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 38 | P a g e . Sebelah Selatan : Kecamatan Kelapa Dua dan Pagedangan : Kecamatan Pondok Aren : Kecamatan Cipondoh/Kota Tangerang.245 km2.1 Gambaran Umum Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung 4.

Gambar 4. Kelurahan Lengkong Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 39 | P a g e .1 Peta Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas Pondok Jagung. Informasi keheterogenan penduduk ini diperoleh berdasarkan data sekunder yang dikumpulkan. wilayah kerja puskesmas pondok jagung mengalami pemekaran dan hanya mencakup 4 (empat) kelurahan. dimana memiliki keadaan penduduk yang dapat dikatakan berheterogen.1.2 Data Demografi Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung merupakan bagian dari Kecamatan Serpong Utara. 2010 4. Hal ini tercermin pada karakteristik kepadatan penduduk dan kondisi sosial ekonomi penduduk di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung. Kepadatan Penduduk Secara demografis wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung pada tahun 2010 mempunyai penduduk sebanyak 84. dimana mencakup 7 (tujuh) kelurahan.151 jiwa. Kelurahan Pondok Jagung Timur. a. Namun pada tahun 2011. yaitu Kelurahan Pondok Jagung.

dan Universitas dari 21. dimana frekuensi perempuan 11. Adapun kepadatan penduduk tertinggi di wilayah Puskesmas Pondok Jagung adalah Kelurahan Jelupang yaitu 19. Berdasarkan data sekunder Puskesmas Pondok Jagung pada tahun 2010. Sosial Ekonomi 1.845 jiwa. yaitu 26. yaitu 9. Sedangkan frekuensi penduduk tertinggi berdasarkan kelompok usia di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung pada tahun 2010 adalah kelompok umur 15-44 tahun. Diploma. Sedangkan kelurahan yang memiliki kepadatan penduduk terendah adalah Kelurahan Lengkong Karya hanya berjumlah 4.1.1 tabel 4.Karya dan Kelurahan Jelupang.372 jiwa yang menempuh pendidikan hingga tingkat SLTA/SMA. b. didapatkan bahwa laki-laki memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan. dimana jumlah penduduk di 4 (empat) kelurahan tersebut pada tahun 2010 adalah berjumlah 50.375 penduduk. Berdasarkan data Puskesmas. Untuk penjelasan yang lebih rinci dapat dilihat pada pada lampiran 4. Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui kemampuan pengetahuan seseorang terkait permasalahan kesehatan.2.822 jiwa dan laki-laki 9. Hal ini Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 40 | P a g e .525 jumlah penduduk laki-laki. Untuk penjelasan yang lebih rinci dapat dilihat pada lampiran 4.888 jiwa.049 penduduk.1 tabel 4.671 jiwa. diketahui bahwa frekuensi penduduk tertinggi berdasarkan kelompok jenis kelamin di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung pada tahun 2010 adalah perempuan.

Presentase penduduk berusia diatas 10 tahun ke atas yang melek huruf dapat dilihat pada tabel 4. total persentase penduduk berumur 10 tahun keatas yang melek huruf sebesar 84.5 %. Sedangkan berdasarkan hasil pengumpulan data primer yang telah dilakukan.4 diatas. yaitu sebesar 84. penduduk perempuan memiliki presentase melek huruf lebih tinggi dibandingkan laki-laki. 2010 Berdasarkan tabel 4. yang diukur dengan persentase penduduk usia 10 tahun keatas yang dapat membaca dan menulis. Sedangkan kemampuan membaca dan menulis dapat dilihat dari angka melek huruf sebagai salah satu indikator tingkat pendidikan. Sedangkan jika dikategorikan berdasarkan jenis kelamin.1 tabel 4.berarti kualitas pendidikan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung sudah cukup baik.4 Persentase Penduduk berumur 10 Tahun ke Atas Yang Melek Huruf di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2010 Sumber : Profil Puskesmas Pondok Jagung. didapatkan bahwa tingkat pendidikan Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 41 | P a g e .3. Untuk penjelasan yang lebih rinci dapat dilihat pada lampiran 4.8 %.4 dibawah ini: Tabel 4.

2 100 Sumber : Hasil Pengolahan Kuesioner 2.4 22. Status Ekonomi Status ekonomi merupakan salah satu indikator untuk mengetahui tingkat kemampuan seseorang dalam akses pelayanan kesehatan dan upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan. Hal ini dapat dilihat dari presentase tingkat pendidikan pada tabel 4.4 3.masyarakat di wilayah kerja Pondok Jagung tergolong rendah dan sedang.5 Presentase Tingkat Pendidikan di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2011 Kelurahan Pondok Jagung ∑ % Pondok Jagung Timur ∑ % Jelupang Lengkong Karya ∑ % Tingkat Pendidikan Rendah Sedang Tinggi Total ∑ % 48 14 62 77.6 dibawah ini : Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 42 | P a g e .4 61.6 3.6 100 41 45 9 89 46.4 48.4 100 48 91 9 148 32.5 6.5 dibawah ini : Tabel 4. Berdasarkan hasil pengolahan data primer didapatkan bahwa sebagian besar masyarakat memiliki status ekonomi rendah.1 100 15 15 1 31 48. Untuk penjelasan yang lebih rinci dapat dilihat pada tabel 4.1 50.

yaitu 71 %. Sarana dan Prasarana 1. dapat diketahui bahwa Kelurahan Pondok Jagung merupakan kelurahan dengan presentase status ekonomi rendah tertinggi.9 55 22 12 61.3 Sumber Daya Kesehatan a.6 Presentase Status Ekonomi di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2011 Kelurahan Pondok Jagung ∑ Ekonomi Rendah Sedang Tinggi 44 10 8 71 16.7 13. Sarana Prasarana Puskesmas Sarana dan Prasarana yang terdapat di Puskesmas Pondok Jagung untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat sudah cukup lengkap.1.Tabel 4.9 25.1 % Pondok Jagung Timur ∑ % Jelupang Lengkong Karya ∑ % ∑ % Sumber : Hasil Pengolahan Kuesioner Berdasarkan tabel 4. Adapun sarana dan prasana yang tersedia di Puskesmas Pondok Jagung adalah sebagai berikut : Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 43 | P a g e .8 24.7 21 5 5 67.1 16.5 79 31 38 53.7 16.1 12.6 diatas.4 20. 4.

2010 2.7 Sarana dan Prasarana Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2010 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 SARANA Ruang Kepala Puskesmas Ruang Dokter Ruang Staf Puskesmas Ruang KIA & KB Ruang Mushola Ruang Gudang Ruang Loket Ruang Apotik Ruang BP Umum Ruang BP Anak dan Gizi Ruang BP Gigi Ruang Bersalin dan Nifas Ruang Klinik TB dan Kesling Ruang Laboratorium Ruang Gudang Obat Dapur WC JUMLAH (Ruang ) 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas Pondok Jagung. Sarana Kesehatan Adapun sarana kesehatan yang terdapat di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung adalah sebagai berikut : Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 44 | P a g e .Tabel 4.

7.Tabel 4. Sarana Tenaga Kesehatan Tenaga kesehatan merupakan bagian terpenting didalam peningkatan pelayanan kesehatan yang baik. 11. 2. 9. b. 3.8 Sarana Kesehatan di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2010 NO. 5.9 dibawah ini : Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 45 | P a g e . FASILITAS KESEHATAN Puskesmas Puskesmas Pembantu Puskesmas Keliling Rumah Sakit Swasta Rumah Bersalin Swasta Balai Pengobatan Swasta Praktek Dokter Umum Swasta Praktek Bidan Swasta Dokter Gigi Praktek Swasta Apotik Polindes Poskesdes JUMLAH 1 1 1 2 1 22 137 38 45 5 0 1 Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas Pondok Jagung. 2010 Berdasarkan tabel 4.8 diatas. 8. 12. 10. Jumlah Tenaga Kesehatan berdasarkan Jenis Ketenagaan dan Status Kepegawaian di Puskesmas Pondok jagung Tahun 2010 dapat dilihat pada tabel 4. 4. diketahui bahwa praktek dokter umum swasta merupakan sarana kesehatan dengan jumlah tertinggi yaitu sebesar 137 dan pelayanan kesehatan swasta sangat mendominasi pelayanan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung. 1. 6.

9 Data Ketenagaan Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2010 Status No. 6. 7. 2. 3. 1. Apoteker Pekarya Kebersihan 2 3 9 10 1 1 1 1 1 2 JUMLAH PTT 6 Honor 1 2 1 2 2 3 1 11 16 1 1 1 1 1 3 2 43 Jml Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas Pondok Jagung. 8. Pembiayaan Biaya Operasional Puskesmas Pondok Jagung bersumber dari dana operasional retribusi dan dana Jamkesmas. 9. Kategori Tenaga PNS Dokter Umum Dokter Gigi SKM Perawat Bidan Sanitarian TU Perawat Gigi Pranata Laboratorium Ass. 2010 Berdasarkan tabel 4.9 diatas. c. diketahui bahwa tenaga kesehatan di Puskesmas Pondok Jagung sebagian besar adalah profesi bidan dengan jumlah 16 orang. Adapun rincian penjelasannya dapat dilihat pada tabel 4.10 dibawah ini : Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 46 | P a g e . 12. 5. 11.Tabel 4. 10. 4.

292. diketahui bahwa untuk tahun 2010 jumlah keluarga yang diperiksa yang memiliki akses air bersih 100%. 201 4. Bersama dengan faktor perilaku.- Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas Pondok Jagung.Tabel 4. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 47 | P a g e . 46. 10 Anggaran Kesehatan Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2010 No 1 2 3 4 Sumber Biaya Operasional Puskesmas Program Jamkesmas Sumber lain Total Anggaran Alokasi Anggaran Kesehatan Rp. lingkungan menentukan baik buruknya status derajat kesehatan masyarakat.2 Gambaran Analisis Situasi Kesehatan 4. yaitu persentase keluarga yang memiliki akses air bersih. 235.Rp. 178. 1. Berdasarkan data puskesmas.263. persentase rumah sehat.000.438. Untuk menilai keadaan lingkungan dan upaya yang dilakukan untuk menciptakan lingkungan sehat melalui empat indikator. Tempat Umum dan Pengolahan Makanan (TUPM). pelayanan kesehatan. Distribusi Rumah Tangga yang Memiliki Sarana Air Bersih Menurut data Puskesmas Pondok Jagung tahun 2010.2.498. keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar.953. dan genetik/demografi.1 Gambaran Lingkungan Lingkungan merupakan salah satu variabel yang kerap mendapatkan perhatian khusus dalam menilai kondisi kesehatan masyarakat.Rp.

4 Pondok Jagung Timur ∑ 78 % 87.diketahui bahwa total akses air bersih di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung adalah 7.12 Presentase Akses Air Bersih di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2011 Pondok Jagung ∑ 61 % 98. yaitu 2. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik tabel 4. dengan kelurahan pondok jagung merupakan kelurahan yang memiliki akses air bersih tertinggi.991.657.6 Jelupang ∑ 123 % 83.1 Lengkong Karya ∑ 27 % 87. diperoleh data yang memiliki akses terhadap air bersih adalah sebagai berikut: Tabel 4.3 Sumber : Hasil Pengolahan Kuesioner Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 48 | P a g e . 2010 Berdasarkan data primer yang dikumpulkan.11 dibawah ini : Tabel 4. 11 Persentase Keluarga memiliki Akses Air Bersih di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung tahun 2010 Sumber : Profil Puskesmas Pondok Jagung.

diketahui bahwa kelurahan yang memiliki akses air bersih tertinggi adalah Kelurahan Pondok Jagung. kepemilikan jamban keluarga.4 %. 2. Data Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 49 | P a g e . Untuk penjelasan yang lebih rinci dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel 4. yaitu 98. 2010 3.Berdasarkan tabel 4.12 diatas. Distribusi Rumah Tangga yang bersanitasi sehat Rumah merupakan tempat berkumpul bagi semua anggota keluarga dan menghabiskan sebagian besar waktunya. Keseluruhan hal tersebut sangat diperlukan didalam peningkatan kesehatan lingkungan. Distribusi Keluarga dengan Kepemilikan Sarana Sanitasi Dasar Keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar meliputi persediaan air bersih. 13 Persentase Rumah Sehat di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2010 Sumber : Profil Puskesmas Pondok Jagung. jumlah rumah sehat di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung adalah 292 rumah dari 361 rumah yang diperiksa. sehingga kondisi kesehatan perumahan dapat berperan sebagai media penularan penyakit diantara anggota keluarga atau tetangga sekitarnya. tempat sampah dan pengelolaan air limbah keluarga. Berdasarkan data puskesmas tahun 2010.

Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan Terjadinya peristiwa keracunan dan penularan penyakit akut yang sering membawa kematian banyak bersumber dari makanan Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 50 | P a g e . Sedangkan kepemilikan tempat sampah dari 158 KK yang diperiksa.84 % dengan kategori sehat.14 dibawah ini : Tabel 4. didapatkan bahwa keluarga dengan kepemilikan jamban sehat sebesar 352 KK atau 82.05%. Kondisi ini menunjukan adanya kesadaran masyarakat akan pentingnya sarana sanitasi dasar. didapatkan sebesar 123 KK atau 77. 4.terkait keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar dapat dilihat pada tabel 4. 2010 Persentase kepemilikan sarana sanitasi dasar di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung adalah sebagai berikut : dari 429 KK yang diperiksa. 14 Distribusi Keluarga dengan Kepemilikan Sarana Sanitasi Dasar di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2010 Sumber : Profil Puskesmas Pondok Jagung.

rumah makan dan makanan jajanan yang pengelolaannya tidak memenuhi syarat kesehatan atau sanitasi lingkungan. kami berusaha mengidentifikasi struktur sosial di lingkungan masyarakat tersebut. Berdasarkan data puskesmas. diketahui jumlah TUPM yang ada adalah 48 dan jumlah yang diperiksa 15 dengan kategori 100% sehat.yang berasal dari tempat umum dan pengolaan makanan (TUPM) khususnya jasa boga. 2010 5. ketua RT. Kami melakukan pendekatan dengan petugas puskesmas. Untuk penjelasan yang lebih rinci dapat dilihat pada tabel 4. 15 Persentase TPUM Sehat di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2010 Sumber : Profil Puskesmas Pondok Jagung. dan warga untuk mendapatkan gambaran mengenai kondisi kesehatan di masyarakat.15 dibawah ini : Tabel 4. kader. kami mendapatkan Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 51 | P a g e . ketua RW. staf kelurahan. Gambaran Lingkungan Sosial Masyarakat Selama dua pekan kami melaksanakan kegiatan Praktek Belajar Lapangan I di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung. Dari hasil diskusi kami tersebut.

informasi tentang kondisi sosial masyarakat setempat dan hubungan/interaksi antar warga yaitu masyarakat. Masyarakat merupakan manusia yang heterogen. Begitu juga masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung. Keheterogenan tersebut sangat nampak terlihat dari lingkungan masyarakat, yang terdiri dari lingkungan perumahan dan

lingkungan perkampungan. Sehingga ada kesenjangan yang signifikan di antara keduanya. Berdasarkan hasil pengamatan, masyarakat di lingkungan perumahan kurang bersosialisasi dan melakukan kegiatan

kemasyarakatan. Kegiatan kemasyarakatan mayoritas ditemukan di lingkungan perkampungan seperti kegiatan majelis ta’lim. Dalam hal kesehatan, kegiatan ini dapat berfungsi sebagai wadah para kader untuk melakukan promosi kesehatan, sharing informasi kesehatan dan diskusi untuk menemukan solusi masalah kesehatan yang sedang terjadi di masyarakat. Budaya di lingkungan perkampungan di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung masih sangat kental. Umumnya masyarakat dilingkungan tersebut merupakan masyarakat dengan suku Betawi yang masih kental memegang adat kebudayaan, seperti dalam hal makanan dan perilaku kesehatan. 4.2.2 Gambaran Perilaku Untuk menggambarkan

keadaan

perilaku

masyarakat

yang

berpengaruh terhadap derajat kesehatan dapat dilihat dalam bentuk indikator PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat). 1. PHBS Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Rumah Tangga adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar
Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 52 | P a g e

tahu, mau dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat. Persentase rumah tangga ber-PHBS dapat dilihat pada tabel 4.16 dibawah ini : Tabel 4.16 Persentase Rumah Tangga Ber-PHBS di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2010 No. Kelurahan Rumah Tangga Jml dipantau 1 2 3 4 Pondok jagung Jelupang Pondok jagung timur Lengkong karya Jumlah 210 210 210 210 1470
Ber – PHBS

%

118 207 131 119 1049

56,195 98,557 62,38 56,67 71,36

Sumber : Profil Puskesmas Pondok Jagung, 2010

Berdasarkan data puskesmas tahun 2010, jumlah rumah tangga ber-PHBS di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung adalah 1049 rumah atau 71,36 % dari 1470 rumah yang dipantau. Salah satu indikator PHBS yang kami gunakan pada saat pengumpulan data primer adalah indikator perilaku merokok. Adapun hasil pengumpulan data primer yang telah kami lakukan dapat dilihat pada tabel 4.17 berikut ini :

Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung

53 | P a g e

Tabel 4.17 Presentase Perilaku Merokok di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2011
Pondok Jagung ∑ 47 % 75.8 Pondok Jagung Timur ∑ 75 % 84.3 Jelupang ∑ 99 % 66.9 Lengkong Karya ∑ 22 % 71

Sumber : Hasil Pengolahan Kuesioner

Berdasarkan data primer, diketahui bahwa presentase perilaku merokok tertinggi di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung adalah Kelurahan Pondok Jagung Timur, yaitu 84,3 %. 4.2.3 Gambaran Pelayanan Kesehatan Gambaran mengenai pelayanan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung dapat dilihat dari cakupan pelayanan kesehatan dalam menangani permasalahan kesehatan di masyarakat. Dalam hal ini, kami menjabarkan beberapa pelayanan kesehatan terkait masalah kesehatan yang kami identifikasi. Adapun cakupan pelayanan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung adalah sebagai berikut :
1. Pelayanan Imunisasi

a. Pelaksanaan imunisasi Pelaksanaan imunisasi dilaksanakan secara rutin. Untuk penjelasannya dapat dilihat pada lampiran 4.2 tabel 4.18. b. Pelaksanaan TT Untuk Kecamatan Serpong Utara tidak melaksanakan TT WUS dengan sasaran Wanita Usia Subur tetapi dengan sasaran wanita hamil. Untuk penjelasannya dapat dilihat pada lampiran 4.2 tabel 4.19.
Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 54 | P a g e

Upaya yang dilakukan untuk mengurangi risiko antara lain dengan melakukan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan pelayanan kesehatan pada neonatus (0-28 hari) minimal dua kali. satu kali pada umur 0-7 hari dan satu kali pada umur 8-28 hari.c. 2.25. angka kelahiran kasar dan angka kematian ibu.22 dan tabel 4. Pelayanan neonatal secara jelasnya dapat dilihat pada lampiran 4. Pelayanan neonatal secara jelasnya dapat dilihat pada lampiran 4. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 55 | P a g e . Cakupan pelayanan kesehatan usia lanjut yang ditangani Puskesmas dapat dilihat pada lampiran 4.2 tabel 4.21.23. 4.2 tabel 4.20 dan tabel 4.24 dan data pelayanan kesehatan tingkat posbindu hingga November tahun 2011 dapat dilihat pada tabel lampiran 4.3 tabel 4. untuk imunisasi campak biasanya dilakukan sekalian penjaringan murid kelas satu SD dan mencapai lebih dari 90%. Pelayanan Neonatal Bayi hingga usia kurang dari satu bulan merupakan golongan yang berisiko kesehatan paling tinggi. 3. Pada tahun 2010 di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung telah terbentuk sebanyak 6 Posbindu. Pelaksanaan BIAS BIAS adalah Bulan Imunisasi Anak Sekolah dengan sasaran murid SD dan MI. Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut Program Pelayanan kesehatan usia lanjut juga telah diupayakan melalui penjaringan usia lanjut di Posbindu.2 tabel 4. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak Pelayanan KIA ditujukan sebagai upaya dalam penanggulangan masalah-masalah kesehatan ibu dan anak dan menitikberatkan pada upaya-upaya penurunan angka kematian bayi dan anak.

diketahui bahwa 45 % jumlah kunjungan yang memanfaatkan pelayanan puskesmas Puskesmas Pondok Jagung berasal dari masyarakat umum. Sedangkan pelayanan kesehatan untuk masyarakat miskin di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung yang dilayani kesehatannya adalah sebesar 5.26 Persentase Keluarga Miskin Mendapat Pelayanan Kesehatan di Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2010 s Sumber : Profil Puskesmas Pondok Jagung. 2010 Berdasarkan data Puskesmas.026 orang. Pelayanan Pengobatan Jumlah kunjungan pasien ke Puskesmas Pondok jagung dapat dilihat pada grafik 4.2 dibawah ini : Grafik 4. Sumber : Profil Puskesmas Pondok Jagung. 2010 Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 56 | P a g e .2 Jumlah Kunjungan Berdasarkan Jenis Pasien di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2010 4% 2% 36% 1% 45% 12% Umum Askes Astek Jamkesmas Kader/ Lansia Luar Ged.5. Adapun rinciannya adalah sebagai berikut : Tabel 4.

dilakukan penentuan 5 (lima) penyakit terpilih dari 10 (sepuluh) penyakit teratas di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung.3. Berikut ini adalah daftar penyakit teratas di wilayah kerja puskesmas pondok jagung pada tahun 2010: Tabel 4.27 Daftar 10 Besar Penyakit Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2010 Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas 2010 Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 57 | P a g e . Tahap pertama Pada tahap pertama. yaitu sebagai berikut : a. dimana dilakukan dengan beberapa tahap. Data 10 penyakit teratas tersebut diperoleh dari laporan kunjungan masyarakat (LB1) di Puskesmas Pondok Jagung pada tahun 2010.3 Gambaran Epidemiologi Penyakit di Puskesmas Pondok Jagung 4.4.1 Identifikasi Masalah Identifikasi masalah dilakukan untuk menentukan prioritas masalah kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung.

Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 58 | P a g e .

Penyakit tertinggi yang tercatat di Puskesmas Pondok Jagung adalah ISPA dan penyakit terendah adalah Hipertensi. penurunan atau kecenderungan stabil. gastritis. dermatitis. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 59 | P a g e . terpilih lima penyakit yaitu ISPA. penyakit yang jumlahnya cukup tinggi dan sudah umum di masyarakat yaitu Penyakit Pulpa dengan jumlah 2673 kasus. Selain ISPA. (lampiran 4.Tabel 4.27 di atas diolah berdasarkan data kunjungan pasien yang memeriksakan kesehatan di Puskesmas Pondok Jagung pada tahun 2010. Data tabel 4. Data 10 (sepuluh) besar penyakit teratas di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung pada tahun 2010 dimanfaatkan untuk menentukan penyakit terpilih yang kemudian akan dianalisis guna menentukan 5 penyakit terpilih. Berdasarkan trend penyakit per bulan di tahun 2011 hingga bulan Oktober. hipertensi.27 di atas menunjukkan bahwa penyakit terbesar di Puskesmas Pondok Jagung pada tahun 2010 adalah ISPA dengan jumlah sebanyak 4. Penentuan lima penyakit terpilih didasarkan atas grafik kecenderungan penyakit perbulan apakah mengalami peningkatan. Analisis dilakukan dengan menggunakan laporan trend penyakit 10 (sepuluh) penyakit teratas tersebut pada bulan Januari hingga Oktober tahun 2011. dan penyakit pulpa.3). Hal yang menjadikan ISPA kasus terbanyak adalah karena penyakit ISPA terdiri dari beberapa penyakit selain pneumonia yang diklasifikasikan ke dalam kasus ISPA sehingga jumlahnya besar.203 kasus. dan penyakit lainnya.

yaitu teknik Bryant.Berdasarkan laporan trend penyakit tersebut. Oleh karena itu. grafik trend kelima penyakit tersebut cenderung meningkat setiap bulannya. seriousness. Sehingga dianggap sebagai permasalahan kesehatan masyarakat yang serius. Tahap kedua Setelah diperoleh 5 (lima) penyakit terpilih. tahap selanjutnya adalah melakukan pengerucutan menjadi 3 (tiga) penyakit utama yang dilakukan menggunakan teknik scoring. grafik trend yang cenderung terus meningkat tiap bulannya juga dapat menunjukkan kemungkinan program pencegahan atau program pengobatan (penanggulangan) yang dilakukan oleh puskesmas belum optimal. begitu pula sebaliknya. tetapi penurunan tersebut tidak terlalu berarti bila diikuti dengan kenaikan prevalensi penyakit pada bulan berikutnya. community concern dan manageability. Masalah yang mendapat total skor terbesar akan menjadi masalah yang diprioritaskan. b. Dinas Kesehatan setempat maupun instansi kesehatan lainnya terkait distribusi kelima penyakit tersebut di 4 (empat) kelurahan di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung. Semakin besar skor maka semakin memungkinkan untuk menjadi prioritas. yaitu terkait prevalence. dimana masing-masing indikator diberikan skor 1-5. Justifikasi penggunaan teknik Bryant dikarenakan teknik Bryant merupakan teknik scoring Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung yang telah menetapkan 60 | P a g e . kelima penyakit tersebut dipilih menjadi 5 (lima) penyakit terpilih. Meskipun grafik menunjukkan terjadinya penurunan prevalensi penyakit. Teknik Bryant merupakan teknik scoring dimana indikator prioritas masalah telah ditetapkan. Selain itu.

sehingga memudahkan kami dalam penentuan prioritas masalah dikarenakan adanya keterbatasan kami dalam mengumpulkan dan memperoleh data sekunder. maka didapatkan ISPA. frekuensi penyakit 5 (lima) terpilih adalah sebagai berikut : Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 61 | P a g e . Berdasarkan data sekunder di Puskesmas. Hipertensi dan Dermatitis menjadi 3 (tiga) penyakit untuk dilakukan analisis kembali guna mendapatkan 1 (satu) prioritas utama masalah kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung tahun 2011.28 Penentuan 3 Prioritas Penyakit Berdasarkan Teknik Bryant di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2011 Masalah Kesehatan B ISPA Dermatitis Hipertensi Gastritis Peny. Prevalence Menunjukkan seberapa besar tingkat kejadian suatu penyakit baik kasus baru maupun kasus lama yang terlaporkan.Pulpa Prevalence (P) 5 2 1 3 4 Seriousness (S) 4 1 5 3 2 5 4 3 1 1 Community Concern (CC) Manageability (M) 5 3 4 1 2 500 24 60 9 16 PxSxCCxM Berdasarkan teknik Bryant yang telah dilakukan. Adapun penjelasan terhadap pemberian masing-masing scoring diatas adalah sebagai berikut : a. Adapun pembobotan scoring terhadap indikator teknik Bryant adalah sebagai berikut : Tabel 4.indikator/kriteria dalam penentuan prioritas masalah.

29 diatas. didapatkan bahwa ISPA memiliki prevalensi tertinggi dengan jumlah kasus sebesar 4203 kasus. Seriousness Merupakan tingkat keparahan dan kegawatan yang ditimbulkan suatu penyakit. gangguan fungsi ginjal. b. 2. gagal jantung. meningkatnya kebutuhan metabolic. gangguan saraf. ISPA Seseorang yang mengalami ISPA akan mengalami kondisi seperti kehilangan nutrisi air.29 Frekuensi Penyakit di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2010 Penyakit ISPA Dermatitis Penyakit Pulpa Gastritis Hipertensi Kasus 4203 1079 2673 1259 843 Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas Pondok Jagung Berdasarkan tabel 4. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 62 | P a g e . Adapun penjelasan seriousness pada masing-masing penyakit adalah sebagai berikut : 1. Hipertensi Gejala akibat komplikasi hipertensi antara lain : gangguan penglihatan. dan dapat juga menyebabkan kematian. anoreksia.Tabel 4. kekurangan absorbsi makann. gangguan serebral (otak) kejang dan pendarahan pembuluh darah otak yang mengakibatkan kelumpuhan serta gangguan kesadaran hingga koma. Sedangkan kasus terendah adalah Hipertensi dengan 843 kasus.

ulkus peptikum. c. Penyakit pulpa Karies gigi merupakan suatu penyakit jaringan keras gigi yaitu email. Selain itu. Penderita gastritis biasanya menggangap enteng. Semakin tinggi Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 63 | P a g e . masyarakat biasanya cukup dengan meminum obat sakit akan reda.3. dermatitis juga dapat menyebabkan infeksi dan iritaso pada kulit. Akibatnya terjadi infeksi bakteri dan kematian pulpa serta penyebaran infeksinya ke jaringan periapeks yang dapat menyebabkan nyeri (Ginting B. dentin. dan sementum. 5. Gastritis Komplikasi gastritis menyebabkan perdarahan saluran cerna bagian atas. Community concern Menunjukkan tingkat kepedulian atau perhatian masyarakat terhadap suatu penyakit. 4. 1984). perforasi dan anemia karena gangguan absorbsi vitamin. Dermatitis Gejala dermatitis yang mengganggu secara fisik dapat menimbulkan rasa ketidaknyamanan pada diri dan penurunan percaya diri sehingga menjadi minder/aktifitas sosial mereka terganggu. Perhatian masyarakat ini dapat dilihat dari persentase perilaku pencegahan masalah kesehatan tersebut. padahal komplikasi dari penggunaan obat berlebih dapat mengganggu fungsi hati secara jangka panjang. Tandanya adalah adanya demineralisasi jaringan keras gigi yang diikuti timbulnya kerusakan komponen organiknya. yang disebabkan oleh aktivitas suatu jasad renik dalam suatu karbohidrat dapat diragikan.

657 rumah tangga dari 15. Gastritis Tanggapan masyarakat terhadap Gastritis dapat dilihat dari jumlah kunjungan penderita Gastritis sebanyak 1259 orang.573 yang diperiksa. 2.tingkat kepedulian masyarakat terhadap suatu penyakit. ISPA Tanggapan masyarakat terhadap ISPA sudah sangat tinggi dilihat dari jumlah kunjungan penderita ispa rawat jalan yaitu mencapai 2848. Jumlah rumah tangga yang menggunakan akses air bersih sebesar 7. Penyakit pulpa Tanggapan masyarakat terhadap Penyakit Pulpa dapat dilihat dari jumlah kunjungan penderita Penyakit Pulpa sebanyak 2673 orang. 5. 3. Hipertensi Keaktifan penderita untuk memeriksakan kesehatannya ke puskesmas rata-rata sebesar 129 orang dan rutin setiap bulan ke posbindu di 4 kelurahan sebanyak + 313 orang.89 %. semakin tinggi skor yang diberikan.. Jumlah rumah tangga yang menggunakan akses air bersih sebesar 7. 1. Manageability Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 64 | P a g e .89 %. Dari jumlah rumah sehat yang tertinggi dari 4 kelurahan yaitu 292 dari 361 yang diperiksa dan telah mencapai 80. 4.573 yang diperiksa. d.657 rumah tangga dari 15. Dermatitis Jumlah rumah sehat yang tertinggi dari 4 kelurahan yaitu 292 dari 361 yang diperiksa dan telah mencapai 80.

Hipertensi Adanya sarana kesehatan berupa posbindu yang mendukung dalam upaya penanggulangan dan pencegahan penyakit hipertensi. sumber daya yang dimiliki untuk mengatasi masalah kesehatan tersebut dan sarana prasarana pelayanan kesehatan yang menunjang. Gastritis Diberikan point 1 karena belum adanya program-program Puskesmas untuk penanggulangan penyakit Gastritis. Penanganan ISPA terkait dengan kasus gizi buruk dan BBLR yang telah ditangani sebesar 100%. telah terdapat 6 Posbindu di tiap kelurahan di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung.50 %. Adapun penjabaran manageability masing-masing penyakit adalah sebagai berikut : 1. 2.Penanganan terhadap suatu penyakit dilihat dari bagaimana cara penyakit tersebut diatasi (sulit atau mudah penanganannya). penyuuhan tentang NAPZA turut pula membantu dalam penanggulangan penyakit hipertensi ini. 3. upaya penanganan juga dilakukan dengan penyuluhan PHBS ke masyarakat dan instansi-instansi. ISPA Upaya penanganan ISPA di wilayah kerja Puskesmas erat kaitannya dengan penanganan kasus gizi buruk dan BBLR serta promotif terkait NAPZA. 4. Selain itu. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 65 | P a g e . Dermatitis Adanya penyuluhan PHBS ke Rumah Tangga dengan cakupan telah memenuhi target yaitu 1470. Sedangkan penyuluhan NAPZA tertinggi masih sebesar 12. Saat ini. Selain itu.

5. Penyakit Pulpa Adanya pelayanan kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas Pondok Jagung bagi siswa SD/MI dengan presentase cakupan sebesar 71.65 %. 4.4 Penentuan Prioritas Masalah Pada tahap penentuan prioritas masalah, dilakukan pengerucutan masalah kesehatan menjadi 1 (satu) prioritas utama masalah kesehatan di wilayah kerja Pondok Jagung. Pada tahap ini, dilakukan penentuan prioritas masalah dengan menggunakan Teknik Delphi (Nominal Group Technique). Teknik Delphi merupakan suatu teknik prioritas masalah kualitatif dimana kriteria suatu masalah dikemukakan dan dirumuskan oleh kelompok yang memiliki keahlian yang sama. Dalam perumusan kriteria tersebut, kami berlandaskan pada indikator/kriteria penentuan prioritas masalah secara umum yang diintegrasikan dengan data sekunder dan data primer yang kami peroleh. Penggunaan teknik delphi berdasarkan pertimbangan kami dalam hal keterbatasan dalam memperoleh data sekunder dan data primer. Oleh karena itu, kami memilih teknik delphi sebagai metode kami dalam menentukan prioritas masalah kami. Adapun kriteria yang digunakan dalam penentuan prioritas masalah adalah tingkat keparahan penyakit, trend penyakit, prevalensi, manageability, community concern dan sosial benefit. Hasil penilaian terhadap masingmasing kriteria dengan teknik Delphi adalah sebagai berikut :

Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung

66 | P a g e

Tabel 4.30 Penentuan Prioritas Masalah Kesehatan di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2011
Kriteria Seriousness Trend Prevalensi Manageability Community Concern Social benefit Total Ranking Hipertensi 5 4 5 3 3 4 24 1 ISPA 3 3 3 3 4 2 18 2 Dermatitis 2 5 2 2 3 3 15 3

Dari hasil pembobotan nilai berdasarkan kriteria-kriteria diatas, didapatkan bahwa Hipertensi merupakan penyakit yang terpilih menjadi prioritas masalah di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung. Adapun justifikasi terhadap pembobotan kriteria diatas adalah sebagai berikut : 1. Seriousness Seriousness pada masalah hipertensi mendapatkan angka tertinggi dikarenakan penyakit hipertensi bersifat kronis dan gejala yang diakibatkan dari komplikasi hipertensi yaitu gangguan penglihatan, gangguan saraf, gagal jantung, gangguan fungsi ginjal, gangguan serebral (otak) kejang dan pendarahan pembuluh darah otak yang mengakibatkan kelumpuhan serta gangguan kesadaran hingga koma bahkan kematian. Selain itu, mayoritas hipertensi menyerang pada usia produktif, pra lansia

Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung

67 | P a g e

dan lansia sehingga keluarga juga ikut menjadi korban terutama bila penderita adalah kepala keluarga.

2. Trend Penyakit Trend penyakit menunjukkan kecenderungan pergerakan kasus penyakit apakah mengalami peningkatan, penurunan atau stabil. Adapun trend ketiga penyakit tersebut dapat dilihat pada grafik dibawah ini : a. Hipertensi Grafik 4.3 Trend Penyakit Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung pada Bulan Januari – Oktober 2011

Hipertensi
150 100 50 0 Hipertensi

Sumber : Laporan Bulanan Penyakit Tahun 201

Berdasarkan Trend penyakit, masalah hipertensi diberikan angka 4 (empat) dikarenakan kecenderungan terjadi peningkatan yang signifikan meskipun pada bulan Oktber terjadi penurunan. Namun, kami mendapatkan informasi Laporan Bulanan Penyakit pada bulan November tahun 2011, penyakit hipertensi mengalami peningkatan kembali yaitu sebesar 138 orang mengalami hipertensi.

Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung

68 | P a g e

b.4 Trend Penyakit ISPA di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung pada Bulan Januari – Oktober 2011 ISPA 500 400 300 200 100 0 ISPA Sumber : Laporan Bulanan Penyakit Tahun 2011 Meskipun prevalensi data sekunder ISPA merupakan penyakit dengan jumlah kasus tertinggi. kami memberikan pembobotan nilai 3 (tiga) pada trend penyakit ISPA. namun jika dilihat dari trend penyakit kecenderungan ISPA stabil dan mengalami penurunan sedikit demi sedikit. c. ISPA Grafik 4.5 Trend Penyakit Dermatitis di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung pada Bulan Januari – Oktober 2011 Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 69 | P a g e . Dermatitis Grafik 4. Oleh karena itu.

Dermatitis 150 100 50 0 Dermatitis Sumber : Laporan Bulanan Penyakit Tahun 2011 Berdasarkan Trend penyakit. Sedangkan prevalensi penyakit di masing-masing kelurahan adalah sebagai berikut : Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 70 | P a g e . diperoleh bahwa Hipertensi merupakan penyakit dengan jumlah tertinggi dengan presentase 46.4 % dan terendah adalah dermatitis dengan presentase 27 %. masalah dermatitis diberikan angka 4 (empat) dikarenakan kecenderungan penyakit terjadi peningkatan yang signifikan tiap bulannya.9 % 100 % Dermatitis ∑ 89 241 330 % 27 % 73 % 100 % Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer Berdasarkan tabel 4.1 % 60.4 % 53. 3.31 Frekuensi 3 Penyakit di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2011 Hipertensi ∑ Ya Tidak Total 153 177 330 % 46.31 diatas. Prevalence Berdasarkan pengumpulan data primer yang telah dilakukan.6 % 100% ∑ 129 201 330 ISPA % 39. didapatkan hasil prevalensi ketiga penyakit di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung adalah sebagai berikut : Tabel 4.

32 Frekuensi 3 Penyakit di Kelurahan Pondok Jagung Tahun 2011 Keterangan Hipertensi Ya Tidak Total ISPA Ya Tidak Total Dermatitis Ya Tidak Total Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer Frekuensi 33 29 62 24 38 62 14 48 62 Presentase 53 % 47 % 100 % 38.4 % 100 % Tabel 4.7 % 61.3 % 100 % 22.6 % 77.33 Frekuensi 3 Penyakit di Kelurahan Pondok Jagung Timur Tahun 2011 Keterangan Hipertensi Ya Tidak Total Frekuensi 48 41 89 Presentase 54 % 46 % 100 % Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 71 | P a g e .Tabel 4.

ISPA Ya Tidak Total 60 29 89 29 60 89 67.7 % 74.4 % 100 % Dermatitis Ya Tidak Total Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer Tabel 4.3 % 100 % 27 % 73 % 100 % Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer Tabel 4.6 % Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 72 | P a g e .6 % 100 % 32.6 % 67.35 Frekuensi Penyakit di Kelurahan Lengkong Karya Tahun 2011 Keterangan Hipertensi Ya Tidak Total ISPA Ya Frekuensi 20 11 31 7 Presentase 64 % 36 % 100 % 22.34 Frekuensi Penyakit di Kelurahan Jelupang Tahun 2011 Keterangan Hipertensi Ya Tidak Total ISPA Ya Tidak Total Dermatitis Ya Tidak Total Frekuensi 52 96 148 38 110 148 40 108 148 Presentase 35 % 65 % 100 % 25.4 % 32.

4.5%. Kelurahan Lengkong Karya dan Kelurahan Jelupang. Jumlah rumah tangga yang menggunakan akses air bersih sebesar 7. Dermatitis Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 73 | P a g e . Manageability Hipertensi diberikan angka 3 karena Penyuluhan NAPZA sebagai faktor pemicu hipertensi tertinggi masih mencapai 12.89%. b.657 rumah tangga dari 15. Selain itu telah adanya upaya kesehatan yang telah dilakukan dengan adanya posbindu sebulan 1x yang dilakukan oleh bidan dan dibantu para kader sebagai alat kontrol para lansia dalam upaya kesehatan termasuk hipertensi.7 % 100 % Berdasarkan data primer. Oleh karena itu.4 % 100 % 19. dari jumlah rumah sehat dari 4 kelurahan mencapai 80. 5. Community Concern a. ISPA Tanggapan masyarakat terhadap ISPA sudah cukup tinggi dilihat dari jumlah kunjungan penderita ISPA rawat jalan yaitu mencapai 2848. didapatkan bahwa Hipertensi merupakan penyakit dengan presentase tertinggi di 3 (tiga) kelurahan yaitu Kelurahan Pondok Jagung. kami memberikan pembobotan nilai tertinggi untuk penyakit hipertensi.Tidak Total Dermatitis Ya Tidak Total Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer 24 31 6 25 31 77.573 yang diperiksa.3 % 80.

4. Penjelasan terhadap masing-masing kriteria diatas adalah sebagai berikut: a. Jumlah rumah tangga yang menggunakan akses air bersih sebesar 7. Social benefit Hipertensi diberikan nilai tertinggi karena apabila penyakit ini ditanggulangi maka secara otomatis akan memotong mata rantai penyakit degeneratif lainnya karena hipertensi merupakan awal dari munculnya beberapa penyakit lainnya. Serta membantu masyarakat untuk hidup lebih produktif. selain itu. Prevalensi data primer Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 74 | P a g e .5 Penentuan Lokasi Spot Area Penentuan spot area untuk intervensi penyakit hipertensi dilakukan dengan menyeleksi kelurahan di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung berdasarkan prevalensi data primer dan data sekunder penyakit hipertensi di wilayah tersebut.Jumlah rumah sehat tertinggi sebesar 80. pola hidup penderita akan lebih baik dan sehat sehingga meminimalisisr timbulnya penyakit-penyakit lainnya.573 yang diperiksa. Penentuan angka 3 dikarenakan masih terdapat masyarakat yang belum memiliki kesadaran untuk memeriksakan tensinya sebelum gejala hipertensi menghampirirnya baik yang memiliki riwayat hipertensi ataupun tidak. 6.657 rumah tangga dari 15. dan sistem sosial yang mendukung untuk dilakukannya intervensi di wilayah tersebut.89%. Hipertensi Keaktifan penderita untuk memeriksakan kesehatannya ke puskesmas rata-rata sebesar 129 orang dan rutin setiap bulan ke posbindu di 4 kelurahan sebanyak + 313 orang. c.

Tabel 4. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 75 | P a g e .36 Persentase Penderita Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung Timur Tahun 2011 Pondok Jagung Hipertensi Tidak Total 33 29 62 53 % 47 % 100 % Pondok Jagung Timur 48 41 89 54 % 46 % 100 % Jelupang 52 96 148 35 % 65 % 100 % Lengkong Karya 20 11 31 64 % 37 % 100 % Sumber : hasil analisis statistik kuesioner Dari hasil analisis. dapat disimpulkan bahwa kelurahan Lengkong karya merupakan kelurahan dengan persentase hipertensi tertinggi sebesar 64 % dan posisi kedua ditempati oleh kelurahan Pondok Jagung Timur dengan 54 %. Namun. sedangkan kelurahan lainnya hanya memiliki satu posbindu. dapat disimpulkan bahwa Kelurahan Pondok Jagung merupakan kelurahan yang menempati urutan tertinggi dengan 129 orang. b.37 Penderita Hipertensi Berdasarkan Data Posbindu di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2011 Pondok Jagung Hipertensi 129 orang Jumlah Penduduk 9270 penduduk 17923 penduduk 19275 penduduk 4049 penduduk PondokJagung Timur 97 orang 50 orang Jelupang Lengkong Karya 16 orang Sumber : laporan kader Posbindu tiap Keelurahan Dari hasil analisis. Prevalensi data sekunder Tabel 4. data tersebut didapatkan dari dua posbindu.

Faktor Risiko 1) Perilaku Merokok Rokok merupakan salah satu factor risiko yang dapat memicu terjadinya hipertensi.7 100 Jelupang ∑ 99 49 148 % 66.38 Presentase Perilaku Merokok di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2011 Pondok Jagung ∑ Merokok Tidak Total 47 15 62 % 75.3 15. Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner yang telah dilakukan. Aksestabilitas Aksestabilitas terhadap pelayanan kesehatan menjadi pertimbangan kami dalam menentukan spot area intervensi di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung. masuk kedalam aliran darah dan merusak lapisan endotel pembuluh darah arteri.c. Penjelasan yang lebih rinci dapat dilihat pada tabel 4. didapatkan bahwa Kelurahan Pondok Jagung Timur merupakan Kelurahan dengan presentase tertinggi mengenai perilaku merokok di masyarakat. dimana zat kimia beracun. Hal tersebut dikarenakan masyarakat yang memiliki Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 76 | P a g e .3 %.2 100 Pondok Jagung Timur ∑ 75 14 89 % 84.38 dibawah ini : Tabel 4. seperti nikotin dan karbon monoksida yang dihisap melalui rokok. mengakibatkan proses aterosklerosis dan hipertensi.8 24.1 100 Lengkong Karya ∑ 22 9 31 % 71 29 100 Sumber : Hasil Pengolahan Kuesioner d. yaitu 84.9 33. Sitepoe. M (1997) menyatakan bahwa rokok yang dihisap akan mengakibatkan peningkatan tekanan darah.

Sistem Sosial Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan. Setelah didapatkan bahwa penyakit Hipertensi menjadi prioritas utama di kelurahan Pondok Jagung Timur. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 77 | P a g e . e. fasilitas kesehatan dan sumber daya yang menunjang di Kelurahan Pondok Jagung Timur. RW 5) adalah lingkungan perkampungan dan 11 RW sisanya adalah lingkungan perumahan. RW 4. Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan.aksestabilitas yang jauh akan pelayanan kesehatan mempunyai hambatan/kendala dalam upaya peningkatan kesehatan. didapatkan bahwa Kelurahan Pondok Jagung Timur merupakan wilayah yang dapat diakses untuk dilaksanakannya program intervensi. keterbukaan dan respon positif masyarakat dalam menerima peneliti dan dukungan dari Kader. RW 2. Sehingga diperlukan upaya intervensi guna meningkatkan kesehatan masyarakat dan memperbaiki perilaku dan pola hidup masyarakat di Kelurahan Pondok Jagung Timur agar terhindar dari penyakit khususnya Hipertensi. seperti kemudahan dalam pengumpulan masyarakat. maka ditetapkan bahwa spot area untuk intervensi akan dilaksanakan di Kelurahan Pondok Jagung Timur. Kelurahan Pondok Jagung Timur terdiri dari 15 RW. yaitu 4 RW (RW 1. didapatkan bahwa Kelurahan Pondok Jagung Timur merupakan kelurahan yang memiliki aksestabilitas yang jauh ke Puskesmas dan sarana pelayanan kesehatan di wilayah tersebut masih dapat dikategorikan minim jika dibandingkan dengan kelurahan lainnya. Hal itu dapat dilihat dari sistem sosial di wilayah Kelurahan Pondok Jagung Timur. tahap selanjutnya adalah mengidentfifikasi dan melakukan kategorisasi kedalam ruang lingkup yang lebih kecil yaitu RW.Berdasarkan atas pertimbangan tersebut.

1 : Pakujaya/Pakualam : Pondok Kacang Barat : Pondok Jagung/Jelupang : Pakulonan Data Demografi a. sebagian besar penduduk Kelurahan Pondok Jagung Timur merupakan laki-laki dengan presentase sebesar 55 %. Untuk lebih rinci dapat dilihat pada grafik 4.6 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin Di Kelurahan Pondok Jagung Timur Tahun 2011 Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 78 | P a g e . Berdasarkan Jenis Kelamin Berdasarkan jenis kelamin. Desa Pondok Jagung Timur ini menjadi desa definitif berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat No. yaitu lingkungan perkampungan dan 4.9 Tahun 2000 pada tanggal 26 Februari 2000 yang pada saat itu diresmikan oleh Bupati Tangerang. Batas Wilayah Pondok Jagung Timur: Sebelah Barat Sebelah Timur Sebelah Utara Sebelah Selatan 4. Jumlah Penduduk 1. lingkungan perumahan.6 dibawah ini : Grafik 4. hasil dari Pamekaran Desa Pondok Jagung Kecamatan Serpong.6.Sehingga program intervensi akan dilakukan berdasarkan pengkategorisasian tersebut.6 Gambaran Umum Kelurahan Pondok Jagung Timur Pondok Jagung Timur adalah sebuah desa persiapan yang berada dalam pemerintahan Kecamatan Serpong Utara Kota Tangerang Selatan.

430 jiwa atau 45% dari 16.980 jiwa atau 55% dari jumlah penduduk dan perempuan 7.410 jumlah penduduk yang ada. Berdasarkan Kelompok Umur Berdasarkan kelompok umur.7 Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur di Kelurahan Pondok Jagung Timur Tahun 2011 Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 79 | P a g e .Jumlah Penduduk Kelurahan Pondok Jagung Timur Tahun 2011 Laki-Laki Perempuan 45% 55% Sumber : data kelurahan Pondok Jagung Timur Distribusi penduduk di kelurahan Pondok Jagung Timur adalah laki-laki 8.043 jiwa dan terendah pada kelompok umur 57-97 tahun sebesar 1.430 jiwa. 2. Berikut ini adalah grafik mengenai jumlah penduduk berdasakan kelompok umur Grafik 4. distribusi penduduk tertinggi terletak pada kelompok umur 17-56 tahun 10.

8 dibawah ini : Grafik 4.Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur 12 bulan-11 tahun 12-16 tahun 8% 17-56 tahun 11% 22% 59% 57-97 tahun Sumber : data kelurahan b. Sosial Ekonomi 1. Untuk penjelasan yang lebih rinci dapat dilihat pada grafik 4. Tingkat Pendidikan Dari distribusi penduduk berdasarkan tingkat pendidikan diperoleh jumlah terbanyak adalah tingkat pendidikan lulusan SMA/sederajat dengan jumlah 4.760 atau 28% dari 16.8 Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Kelurahan Pondok Jagung Timur Tahun 2011 Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 80 | P a g e .410 jumlah penduduk.

Penjelasan lebih rinci dapat dilihat pada tabel 4. Jenis Pekerjaan Berdasarkan jenis pekerjaan.9 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Pekerjaan Di Kelurahan Pondok Jagung Timur Tahun 2011 Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 81 | P a g e . karyawan BUMN menjadi jenis pekerjaan yang paling banyak di wilayah kerja Pondok Jagung Timur dengan jumlah 3.410 jumlah penduduk.9 dibawah ini : Grafik 4.Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan 5% 0% 5% 10% 5% 3% Tidak/blm Sekolah Blm Tamat SD Tamat SD/sdj 21% 23% SMP/sdj SMA/Sdj Diploma 28% S1 S2 Sumber : data kelurahan 2.204 jiwa atau 33% dari 16.

Berdasarkan Jenis Pekerjaan Blm/Tdk Bekerja PNS Petani Guru Bidan 0% 0% 0% 12% 0% 0% 11% IRT TNI Peternak Dosen Pelajar/Mhsswa POLRI Karyawan BUMN Dokter Pensiun Pedagang Buruh Perawat 23% 33% 16% 4% 0% 0% 0% 0% 0% 1% Sumber : data kelurahan 4. Sarana Kesehatan Adapun sarana kesehatan yang terdapat di Kelurahan Pondok Jagung Timur adalah sebagai berikut : Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 82 | P a g e .6.2 Sarana Umum 1.

8. 5. 2. 9.39 Sarana dan Prasarana Kesehatan Kelurahan Pondok Jagung Timur Tahun 2011 No 1. 6. 3. Jumlah Tenaga Kesehatan berdasarkan Jenis Ketenagaan dan Status Kepegawaian di Kelurahan Pondok Jagung Timur dapat dilihat pada tabel 4. 4. 7.39 dibawah ini : Tabel 4. Sarana Rumah Sakit Puskesmas Puskesmas Pembantu Klinik Umum/Gigi/Bersalin Rumah Bersalin Dokter Praktek Bidan Praktek Posyandu Posbindu Jumlah 1 1 1 1 1 1 1 Sumber : data kelurahan 2.Tabel 4. Tenaga Kesehatan Tenaga kesehatan merupakan bagian terpenting didalam peningkatan pelayanan kesehatan.40 Tenaga Kesehatan Kelurahan Pondok Jagung Timur Tahun 2011 No Tenaga Medis Jumlah Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 83 | P a g e .

Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 84 | P a g e . Dokter Umum Dokter Anak Dokter Kandungan Dokter Gigi Dokter Spesialis Bidan Perawat Dukun Bayi/Beranak 5 1 1 2 1 3 Sumber : data kelurahan 4. 6. 8. 2. 7. Oleh karena itu. lansia dan ibu hamil. Prevalensi Hipertensi Berdasarkan data sekunder dari posbindu di kelurahan pondok jagung timur. Sustainability Pertimbangan penentuan sasaran intervensi dilihat juga dari tingkat keberlangsungan suatu penyakit tersebut dapat menyerang kelompok umur. 5. Namun. penyakit hipertensi banyak menyerang pada usia pra lansia (4560 tahun) dan lansia (60 tahun ke atas). sasaran intervensi yang kami lakukan adalah kelompok umur pra lansia (4560 tahun) dan lansia (60 tahun ke atas). Hal tersebut didasarkan atas : a. diperlukan penanganan dan upaya preventif untuk mengatasi masalah ini. yaitu sebanyak 97 orang dari 127 penduduk pra lansia dan lansia mengalami hipertensi.1.7 Penentuan Sasaran Intervensi Pada umumnya. 4. 3. penyakit hipertensi menyerang pada kelompok umur pra lansia. b.

dimana penyebab atau akar masalah dapat bermacam-macam. Sedangkan pada kelompok pra lansia dan lansia kurang mendapatkan mengenai penanganan hipertensi. Intervensi pada masalah saja hanya akan menyelesaikan masalah untuk sementara dan biasanya masalah akan muncul lagi.Hipertensi pada pra lansia dan lansia umumnya bersifat jangka panjang dan dapat memicu timbulnya penyakit degeneratif lain yang membahayakan. intervensi yang akan dilakukan difokuskan pada kelompok umur pra lansia dan lansia. c. 4. Sedangkan hipertensi pada ibu hamil lebih bersifat sementara. Tulang-tulang yang menuju tulang belakang merupakan penyebab masalah yang merupakan keterkaitan antara fakta di lapangan dengan teori. yaitu : Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 85 | P a g e . Intervensi yang tepat yaitu pada penyebab atau akar masalah. sehingga tekanan darah dapat diketahui dan dikontrol. Oleh karena itu. Teknik yang digunakan dalam menentukan akar masalah dari penyakit Hipertensi di Kelurahan Pondok Jagung Timur adalah dengan menggunakan teknik fish bone (diagram tulang ikan). Dalam menentukan penyebab suatu masalah dapat menggunakan beberapa teknik atau metode penentuan akar atau penyebab masalah.8 Penentuan Akar Masalah Masalah merupakan manifestasi dari penyebab. Masalah diletakkan pada kepala dan tulang belakang ikan. Manageability (Penanganan Hipertensi) Cakupan penanganan hipertensi pada ibu hamil telah dimanage oleh program Jampersal dan ibu hamil pada umumnya melakukan control kesehatan kehamilan kepada pelayanan kesehatan. Teknik ini menggunakan diagram tulang ikan untuk merepresentasikan penyebab masalah. Berikut ini adalah bagan akar masalah penyakit Hipertensi di Kelurahan Pondok Jagung Timur yang telah diintegrasikan antara teori dengan fakta.

Temuan fakta diperoleh berdasarkan pengumpulan data primer.Bagan 4. dan adat kebiasaan. et al 2005) KETURUNAN (Rohaendi. yaitu FGD dan Indepht Interview. stress.1 dapat diuraikan bahwa faktor penyebab terjadinya hipertensi adalah karena faktor keturunan. Sehingga dengan adanya fakta dan teori yang berkesinambungan akan diperoleh suatu spesifikasi akar masalah yang tepat dari masalah hipertensi di wilayah Kelurahan Pondok Jagung Timur. Minum kopi. 2010) ADAT KEBIASAAN (Sutanto.Merokok. umur.Tingkat ekonomi rendah . 2008) - > 35 tahun berpotensi terkena hipertensi - Riwayat keluarga yang mengidap hipertensi .Pola makan salah/ asupan garam berlebih . Hasil tersebut telah diintegrasikan antara teori terkait Hipertensi dan fakta temuan di lapangan. persepsi. dimana merupakan metode kualitatif yang bertujuan untuk memperoleh informasi secara mendalam mengenai konsep. STRES (Sutanto.Kurang olah raga HIPERTENSI .1 Akar Masalah Penyakit Hipertensi UMUR (Kumar. dan ideLaporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 86 | P a g e . 2010) Berdasarkan bagan 4. FGD (Forum Group Discussion) merupakan suatu diskusi kelompok dengan diikuti oleh sekitar 6-12 orang yang dipandu oleh fasilitator dan selama diskusi setiap orang dapat berbicara secara bebas dan spontan mengenai topik tertentu.

FGD kami lakukan pada hari Kamis. Tekanan darah yang sedikit meningkat karena bertambahnya usia ini disebabkan oleh perubahan fisiologis pada jantung. pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama. 15 Desember 2011 yang bertempat di Aula Kelurahan Pondok Jagung Timur dengan anggota FGD adalah petugas puskesmas para kader. Berdasarkan fakta di lapangan yang didapatkan dari hasil FGD dan indepth interview dapat disimpulkan bahwa semakin tua usia seseorang maka semakin rentan untuk terkena hipertensi. Umur Umur merupakan faktor risiko dari hipertensi yang tidak dapat dikontrol atau dimodifikasi. tokoh masyarakat. Sedangkan Indepth interview adalah wawancara mendalam yang merupakan suatu proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai. Hal ini diperkuat dengan teori yang dikemukakan oleh beberapa ahli diantaranya. semakin tua seseorang maka semakin besar risiko terserang penyakit hipertensi. pembuluh darah dan Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 87 | P a g e .ide dari kelompok diskusi. dengan atau tanpa menggunakan pedoman wawancara. Berikut ini adalah salah satu kutipan FGD : “Sebagian besar penderita hipertensi di daerah kami diderita oleh kelompok umur pada golongan pra lansia sekitar 50 tahun. menurut Gunawan (2001) yang dikutip oleh Aris Sugiharto. Adapun penjelasan mengenai penyebab masalah yang didapatkan berdasarkan teori dan fakta dilapangan melalui hasil FGD dan Indeph interview adalah sebagai berikut : 1. dan lansia sekitar umur 70 tahun”. Hal ini dikarenakan arteri kehilangan elastisitas atau kelenturan serta tekanan darah meningkat seiring bertambahnya umur. dan penderita Hipertensi.

Dari hasil FGD diperoleh fakta di lapangan terkait faktor keturunan sebagai pemicu hipertensi. Keturunan Riwayat keluarga atau keturunan juga merupakan faktor risiko dari hipertensi yang tidak dapat dikontrol atau dimodifikasi. keturunan atau riwayat keluarga dengan hipertensi terbukti sebagai faktor risiko terjadinya hipertensi. 2. karena orang tua saya kena. (2005) yang dikutip oleh Syukraini Irza menyatakan setelah usia 45 tahun terjadi peningkatan resistensi perifer dan aktivitas simpatik. 2005). Tekanan darah sistolik (TDS) meningkat karena kelenturan pembuluh darah yang berkurang pada penambahan usia sampai dekade ketujuh sedangkan tekanan darah diastolik (TDD) meningkat sampai dekade kelima dan kemudian menetap atau cenderung menurun (Kumar. Penelitian Julia Hippisley-Cox dkk yang dikutip oleh Aris Sugiharto juga menyatakan bahwa riwayat keluarga dengan hipertensi beresiko 3. et al. Hal ini didukung dengan hasil indepth interview dengan salah seorang penderita hipertensi yang menyatakan bahwa katanya karena faktor keturunan. saya pun mengidap hipertensi karena orangtua juga menderita penyakit tersebut.hormon tetapi bila perubahan tersebut disertai dengan faktor-faktor lain yang memicu terjadinya hipertensi.. saya juga kena. Fakta tersebut didukung dengan teori dari beberapa ahli.38 kali Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 88 | P a g e . Dinding arteri akan mengalami penebalan oleh karena adanya penumpukan zat kolagen pada lapisan otot. sehingga pembuluh darah akan berangsur-angsur menyempit dan menjadi kaku.. seperti menurut Rohaendi (2008) dalam Syukraini Irza. Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akan menyebabkan keluarga itu mempunyai risiko menderita hipertensi. seperti yang telah diungkapkan oleh salah satu peserta FGD. yang menyatakan Hipertensi itu salah satu penyebabnya karena faktor keturunan. Menurut Kumar. et al.

Menurut Sheps dalam Aris Sugiharto. Hal ini diduga melalui aktivitas saraf simpatis yang dapat meningkatkan tekanan darah secara intermiten. kemungkinan terkena penyakit tersebut 60%. Hal ini berdasarkan pernyataan dari beberapa peserta FGD. Jika seorang dari orang tua kita mempunyai hipertensi. Stress diyakini memiliki hubungan dengan hipertensi. sepanjang hidup kita mempunyai 25% kemungkinan terkena pula. Fakta di atas diperkuat dengan teori yang dikemukakan oleh Sutanto. Stres Stres adalah suatu kondisi yang kita rasakan saat tuntutan emosi. Stress dapat meningkatkan tekanan darah untuk Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 89 | P a g e . hal inilah yang dianggap sebagai penyebab stress yang kemudian berlanjut pada kejadian hipertensi. Chunfang Qiu. yang menyatakan bahwa pendapatan yang rendah menyebabkan tidak terpenuhinya kebutuhan sehari-hari. Jika kedua orang tua kita mempunyai hipertensi. fisik atau lingkungan tak mudah diatasi atau melebihi daya dan kemampuan kita untuk mengatasinya dengan efektif. 2010). dkk mengatakan keluarga yang memiliki hipertensi dan penyakit jantung meningkatkan risiko hipertensi 2–5 kali lipat. Dari hasil FGD dan indepth interview diperoleh fakta dilapangan terkait stress yang dapat memicu timbulnya hipertensi. 3. Faktor yang menurut masyarakat Kelurahan Pondok Jagung Timur yang menyebabkan stress adalah karena tingkat ekonomi yang rendah. hipertensi cenderung merupakan penyakit keturunan.terhadap kejadian hipertensi. Di samping itu juga dapat merangsang anak kelenjar ginjal melepaskan hormone adrenalin dan memacu jantung berdenyut lebih cepat serta lebih kuat sehingga tekanan darah alan meningkat (Sutanto.

Dari hasil FGD diperoleh fakta dilapangan terkait pola makan yang salah/asupan garam berlebih yang dapat memicu terjadinya hipertensi. keturunan dan stress. Adat Kebiasaan Berdasarkan teori yang telah dikemukakan oleh Sutanto 2010 terkait faktor penyebab terjadinya hipertensi adalah karena adat kebiasaan. Adat kebiasaan yang tergolong dalam penyebab timbulnya hipertensi adalah sebagai berikut : a.sementara waktu dan bila stress sudah hilang tekanan darah bisa normal kembali. Masyarakat Kelurahan Pondok Jagung Timur yang sebagian besar suku Betawi gemar mengonsumsi makanan yang mengandung kadar garam (ikan asin). Pola Makan yang Salah Menurut Husaini (1989) yang dikutip oleh Ahmad Fitri Hariyanto yang dimaksud pola makan adalah ide tentang makanan. Bahkan menurut mereka apabila dalam lauknya belum terdapat ikan asin maka Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 90 | P a g e . 4. sikap terhadap makanan dan praktek makan yang memberikan gambaran makanan mengenai macam dan jumlah makanan yang dikonsumsi tiap hari oleh seseorang dan merupakan ciri khas suatu kelompok masyarakat. selain adanya faktor umur. Hal itu diperjelas dengan hasil FGD yang menyatakan sebagaian besar masyarakat kami Betawi yang notabene mereka senang mengkonsumsi ikan asin. Pola makan yang salah seperti makanan yang diawetkan dan garam dapur serta bumbu penyedap dalam jumlah tinggi misalnya monosodium glutamate (MSG) dapat meningkatkan tekanan darah karena mengandung natrium dalam jumlah yang berlebih (Sutanto. Kebiasaan-kebiasaan buruk seseorang merupakan ancaman bagi kesehatan orang tersebut. Frekuensi makan ikan asin masyarakat Kelurahan Pondok Jagung Timur sering atau hampir setiap hari. 2010).

diantaranya penelitian Radecki Thomas E. karena menarik cairan di luar sel agar tidak keluar. Berikut salah satu kutipannya “saya paling hobi sama garem.dianggap “belum makan”. sedangkan asupan garam sekitar 7–8 gram tekanan darahnya rata-rata lebih tinggi. Hal inilah yang dapat memicu terjadinya penyakit Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 91 | P a g e . Menurut Lany Gunawan dalam Aris Sugiharto. Fakta tersebut didukung berdasarkan hasil indepth interview yang dilakukan ke beberapa penderita hipertensi. dkk (1993) yang dikutip oleh Agus Sediadi kandungan garam yang terdapat dalam ikan asin sekitar 10-20%. Saya paling hobi sama garem. kalau tanpa ikan asin rasanya gimana gitu kaya ada yang kurang”. Mengkonsumsi garam ≤ 3 gram ditemukan tekanan darah rata-rata rendah. J. Konsumsi garam yang dianjurkan tidak lebih dari 6 gram/hari setara dengan 110 mmol natrium atau 2400 mg/hari (Nurkhalida. ada garem sama sambel juga udah jadi. 2003). Konsumsi ikan asin yang merupakan makanan sehari-hari dan sangat digemari oleh masyarakat pondok jagung timur mengandung kadar garam yang tinggi. Menurut Tri Margono.35 kali lipat dibandingkan yang tidak biasa mengkonsumsi asin. jika asupan garam 5–15 gram/hari prevalensi hipertensi meningkat menjadi 15-20 % Garam menyebabkan cairan dalam tubuh menumpuk. makanya kalo makan apa-apa harus asin kalo gak asin saya gak suka dan saya suka banget makan ikan asin. yang dikutip oleh Aris Sugiharto menunjukkan bahwa orang yang mempunyai kebiasaan konsumsi asin akan berisiko terserang hipertensi sebesar 4. sehingga meningkatkan volume dan tekanan darah. Fakta di atas diperkuat dengan adanya teori yang dikemukakan oleh beberapa ahli. jujur aja ni saya makan gak ada apa-apa.D. Mereka menyatakan bahwa mereka suka mengonsumsi makanan yang mengandung kadar garam tinggi seperti ikan asin.

Adapun dari hasil indepth interview didapatkan bahwa rata-rata masyarakat memang kurang untuk berolah raga atau aktivitas fisik. b. Dari hasil wawancara mendalam dengan penderita didapatkan bahwa penderita memang suka minum kopi. Gaya hidup lainnya yang kurang sehat seperti konsumsi kafein yang terdapat dalam minuman kopi.al. Fakta dilapangan yang diperoleh dari hasil diskusi dengan peserta dalam forum FGD didapatkan bahwa salah satu yang memicu terjadinya hipertensi adalah karena kurangnya olahraga atau aktivitas fisik. teh dan cola akan meningkatkan risiko terjadinya hipertensi pada seseorang. Pemberian kafein 2-3 cangkir kopi Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 92 | P a g e . Gaya Hidup Kurang Sehat Gaya hidup yang kurang sehat seperti kurang aktivitas fisik atau berolah raga dapat memicu terjadinya hipertensi.33 kali dibanding yang biasa berolah raga. Berikut kutipannya “saya memang pengopi berat.hipertensi ditambah konsumsi ikan asin pada masyarakat Pondok Jagung Timur yang hampir setiap hari mengonsumsi ikan asin yang mengandung kadar garam yang tinggi dan ditambah lauk pauk lain yang mengandung garam juga. sehari saya 4x ngopi. Fakta di atas diperkuat dengan adanya penelitian yang dilakukan oleh Hernelahti M. yang dikutip oleh Aris Sugiharto menyatakan bahwa tidak biasa melakukan olah raga akan meningkatkan risiko hipertensi 2. Hal ini dikarenakan masih minimnya kesedaran masyarakat untuk melakukan olahraga secara rutin dan khusus karena anggapan mereka dengan berjalan kaki ke tempat kerja sudah termasuk olahraga harian. Fakta di atas didukung dengan teori dari Sianturi (2004) yang dikutip oleh Made Wirnata bahwa kopi mengandung kafein yang meningkatkan debar jantung dan naiknya tekanan darah. et. kalo gak minum kopi malah pusing saya.

Akibat gas CO terjadi kekurangan oksigen yang menyebabkan pasokan jaringan berkurang. Hal ini dapat disebabkan karena merokok secara aktif maupun pasif pada dasarnya mengisap CO (karbon monoksida) yang bersifat merugikan. masuk kedalam aliran darah dan merusak lapisan endotel pembuluh darah arteri. Hal ini diperkuat dengan teori yang diungkapkan oleh Sitepoe. Merokok sebatang setiap hari akan meningkatkan tekanan sistolik 10–25 mmHg dan menambah detak jantung 5–20 kali per menit. Hal ini dapat diketahui dari kutipannya sebagai berikut ”ya. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 93 | P a g e . Hal ini terlihat pada orang yang bukan peminum kopi atau peminum kopi yang menghentikannya paling sedikit 12 jam sebelumnya. diduga kafein mempunyai efek langsung pada medula adrenal untuk mengeluarkan epinefrin. Peningkatan tekanan darah ini bertahan sampai 2 jam. mengakibatkan proses aterosklerosis dan hipertensi. Konsumsi kopi menyebabkan curah jantung meningkat dan terjadi peningkatan sistole yang lebih besar dari tekanan diastole. Dari fakta di atas dapat diambil kesimpulan bahwa dengan seringnya merokok dapat meningkatkan terjadinya penyakit hipertensi. saya memang perokok aktif sehari bisa 2 bungkus”. Zat-zat kimia beracun. Gaya hidup kurang sehat lainnya yang dapat memicu terjadinya hipertensi adalah karena kebiasaan merokok. Dengan menghisap sebatang rokok maka akan mempunyai pengaruh besar terhadap kenaikan tekanan darah atau hipertensi.akan meningkatkan tekanan darah 5-15 mmHg dalam waktu 15 menit. Dari hasil indepth interview dengan beberapa penderita khususnya para bapak-bapak didapatkan bahwa mereka sering sekali merokok setiap harinya. seperti nikotin dan karbon monoksida yang dihisap melalui rokok. M (1997) yang menyatakan rokok yang dihisap dapat mengakibatkan peningkatan tekanan darah.

Sel tubuh yang menderita kekurangan oksigen akan berusaha meningkatkan yaitu melalui kompensasi pembuluh darah dengan jalan menciut atau spasme dan mengakibatkan meningkatnya tekanan darah. diharapkan rantai akar pokok masalah akan bisa mengeliminasi atau memperkecil frekuensi terjadinya hipertensi untuk selanjutnya terutama di Wilayah Kelurahan Pondok Jagung Timur karena mengingat faktor umur dan keturunan merupakan faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi. Sosialisasi Kegiatan Sosialisasi kegiatan ini bertujuan untuk menyampaikan kepada masyarakat mengenai rencana kegiatan yang akan dilaksanakan. Penyuluhan Kesehatan Tentang Hipertensi a.9. Dengan menetapkan adat kebiasaan sebagai akar masalah Hipertensi di Kelurahan Pondok Jagung Timur. Deskripsi Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 94 | P a g e yang akan kami . Adapun adat kebiasaan masyarakat berdasarkan hasil FGD dan Indepth interview didapatkan bahwa mayoritas masyarakat Pondok Jagung Timur gemar mengkonsumsi makanan dengan kadar garam tinggi dan ikan asin serta kebiasaan merokok dan minum kopi ditambah dengan kurangnya aktivitas fisik atau olahraga. 4.9 Rancangan Program Intervensi 4. sehingga masyarakat dapat mengetahui dan turut berpartisipasi dalam kegiatan intervensi laksanakan.1 Deskripsi Kegiatan 1. Berdasarkan pada fakta dan teori yang telah dikemukakan di atas dapat ditarik suatu spesifikasi akar masalah Hipertensi berupa adat kebiasaan yang menjadi penyebab masalah utama yang dapat memicu faktor resiko terjadinya hipertensi di Kelurahan Pondok Jagung Timur. 2.

yaitu: 1) Penyuluhan penatalaksanaan. Kegiatan penyuluhan hipertensi ini bertujuan untuk memberikan informasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya. Dimana majelis ta’lim ini sebagai penguatan kegiatan masyarakat dibidang spiritual juga sebagai pusat kegiatan Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) setiap bulannya pada lansia dan pra-lansia. factor risiko. Adapun kegiatan penyuluhan ini dikategorikan menjadi 2.Penyuluhan merupakan salah satu bentuk kegiatan yang memberikan informasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga pola hidup sehat agar terhindar dari penyakit dan upaya peningkatan kesehatan. pola makan dan aktivitas fisik bagi Hiperensi pada Lansia dan Pra-lansia Penyuluhan ini dilakukan dari majelis ta’lim ke majelis ta’lim. gejala. dampak dan upaya pencegahan hipertensi sekaligus pemaparan menumenu makanan yang dapat mencegah hipertensi. 2) Penyuluhan Pencegahan Hipertensi secara sederhana sekaligus Demo perancangan menu untuk penderita Hipertensi Penyuluhan ini dilakukan kepada seluruh warga sekitar mengenai bahaya. gejala. penyebab. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 95 | P a g e . faktor risiko serta upaya pencegahan dan pengendalian untuk mengurangi penyakit hipertensi dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masayarakat dan produktivitas pondok jagung timur. di Posbindu ini lah bagi penderita hipertensi juga dilakukan pemeriksaan tekanan darah dan pencatatan yang kemudian dilaporkan ke Puskesmas Pondok Jagung.

dan mengemas makanan tanpa menghilangkan kandungan zat gizi dalam makanan tersebut. Meskipun Posbindu ini bukan suatu program utama dari Puskesmas melainkan dari Kelurahan setempat.9. Upaya yang akan dilakukan adalah menggerakkan senam jantung sehat kembali yang belakangan ini vacuum. Pelatihan Kader Posbindu Pelatihan ini dilaksanakan pada 5 (lima) anggota kader Posbindu Kelurahan Pondok Jagung Timur. pemberdayaan dan pemberian motivasi kerja pada kader agar jangkauan masyarakatnya semakin meluas. 5. memasak. 4. 4. sekaligus menerapkan menu-menu masakan yang sehat ditinjau dari kuantitas dan kualitasnya. Oleh karena itu kami berinisiatif untuk memberikan pelatihan pelayanan posbindu secara baik.2 Tujuan Kegiatan Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 96 | P a g e . peran Posbindu juga cukup membantu bagi masyarakat dalam memriksakan kesehatan dasarnya. Menghidupkan kembali program Senam Jantung Sehat Senam jantung sehat adalah kegiatan yang berhubungan dengan aktivitas fisik dimana kegiatan yang dilakukan ini bertujuan untuk mengurangi risiko dari berbagai penyakit khusunya hipertensi dan menjadi fasilitas bagi masyarakat untuk menerapkan perilaku dan budaya hidup sehat di lingkungannya. dan membuat makanan sederhana menjadi lebih menarik untuk disantap.3. Demo masak dan Menu Sehat Dengan diadakan demo masak ini diharapkan masyarakat dapat menambah pengetahuan mengenai cara mengolah.

Adapun kelompok sasaran organisasi meliputi : a) Kelompok kader dan anggota Kader Posbindu Labuh.3 Sasaran Kegiatan Sasaran yang menjadi fokus dari pelaksanaan kegiatan intervensi dari PBL 2 ini adalah masyarakat di tingkat RW Kelurahan Pondok Jagung Timur. 4. pengelolaan pada pelaksanaan penyuluhan dan senam jantung sehat. c) Bertambahnya pengetahuan masyarakat mengenai pola hidup sehat dan dapat menerapkan dalam kegiatan sehari-hari 4.4 Indikator Keberhasilan Indikator keberhasilan dari kegiatan intervensi PBL 2 ini adalah : a) Menjadikan kegiatan intervensi tersebut sebagai meningkatkan kesadaran dalam berperilaku hidup sehat di masyarakat. 4.9.Tujuan dari pelaksanaan program intervensi ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan agar menerapkan perilaku hidup sehat dalam rangka untuk mengurangi dan mencegah penyakit khususnya penyakit hipertensi.5 Ringkasan Kegiatan Intervensi 97 | P a g e Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung .9. b) Terbangunnya pranata-pranata sosial pada masyarakat melalui pemberdayaan. c) Seluruh Masyarakat Kelurahan Pondok Jagung Timur.9. b) Bapak/Ibu pengajian setempat di RW01-05 Pondok Jagung Timur.

04. 05.  Meningkatk an motivasi masyarakat dalam penalataksa naan Hipertensi pada penderita  Meningkatk an pengetahuan masyarakat sekitar mengenai penyebab.NO 1.11 dan 12 Kelurahan Pondok Jagung Timur Masyarak at termotivas i untuk lebih mawas diri terhadap Hipertensi . Tokoh masyara kat 2. Seluruh Masyarakat Kelurahan Pondok Jagung Timur Masyarak at dapat turut serta berpartisip asi dalam kegiatan Aula Kelurahan Pondok Jagung Timur 2.02. pola makan dan aktivitas fisik bagi Hipertensi pada Lansia dan Pra-lansia TUJUAN SASARAN OUTPUT TEMPAT Diperoleh informasi yang komprehens if tentang rencana pelaksaan program  Masyarakat penderita hipertensi yang ada dilingkunga n majelis ta’lim lebih mengetahui pemeliharaa n diri pada penderita. Kader kesehata n 4. Penyuluha Majelis Ta’lim Penyuluhan penatalaksanaan. KEGIATAN Sosialisasi Kegiatan Menyampaikan kepada masyarakat mengenai rencana kegiatan yang akan dilaksanakan. Tokoh agama 3. 1.. Majelis Ta’lim masingmasing RW 3. gejala. Penguru Masyarak at mengetah ui hal-hal dasar mengenai pencegaha n Hipertensi Kantor Kelurahan Pondok Jagung Timur Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 98 | P a g e . Ibu-ibu pengajian RW 01. bahaya. Penyuluhan Kelurahan Penyuluhan Pencegahan Hipertensi secara sederhana sekaligus Demo perancangan menu untuk penderita Hipertensi.

05 di Kelurah an Pondok Jagung dan pola dan menu makan sehat sebagai pencegaha n dan penatalaks anaan Hipertensi Kader Posbindu Kel.  Meningkatk an pengetahuan masyarakat pada pola konsumsi makanan yang sehat sebagai pencegahan Hipertensi 3.pencegahan penanggulan gannya dari Hipertensi. Karang Taruna 6. Pelatihan Kader Posbindu Menyampaikan peran dan pentingnya Posbindu dalam penatalaksanaan Hipertensi sekaligus penambahan alat sbg skrining kasus.04 .Pondok Jagung Timur Kader dapat termotiv asi dalam pelaksa naan Posbind u di Rwnya dan dapat mening katkan kinerja Posbind u.  Meningkatk an motivasi kader dalam pelaksanaan programnya. Posbindu Kel. s RT/RW 5. Dan seluruh masyara kat RW 01.Ponjati 4.  Menambah alat tensi meter sebagai alat skringing kasus.02. Senam Jantung Sehat Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 99 | P a g e .

Karang Taruna 6. Pengurus RT/RW 5. Tokoh masyarak at 2. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 100 | P a g e .04. 5. Pondok Jagung Timur Kelompok Kerja PBL Diketahui nya tingkat pencapaia n dan kesesuaiaa n antara tujusn dan pelaksana an program Kelurahan Pondok Jagung Timur. Evaluasi Program  Membandin gkan tujuan program dengan capaian pada pertengahan dan akhir program 1. Kader kesehatan 3.02. Membangun kembali kebiasaan senam mingguan yang sempat fakum sebelumnya  Meningkatk an kesadaran akan pentingnya aktivitas fisik sebagai pencegahan penyakit  Membangun perilaku hidup sehat. Dan seluruh masyarak at RW 01. 04 Kel. Kader PKK 4. 05 di Keluraha n Masyarak at termotivas i untuk melakuka n aktivitas fisik sebagai pencegaha n penyakit. Lapang Sepak Bola RW.

6 No 1 Rancangan Jadwal Program Intervensi PBL-2 Kegiatan Sosialisai dan Persiapan Kegiatan Penyuluhan Majelis Ta'lim RW01 Penyuluhan Majelis Ta'lim RW01. 11 Senam Jantung Sehat Pelatihan Kader Mon Tue Minggu Ke-1 Wen Th Fr Sat Sun Mon Minggu Ke-2 Tue Wen Th Fr Sat Sun 2 3 4 5 Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 101 | P a g e .4.9.04.05.02.

tokoh masyarakat. puskesmas.4.7 Analisa SWOT Kegiatan Intervensi Strength Weakness Kurangnya fasilitas dalam mendukung pelaksanaan kegiatan intervensi. Sulit memanage waktu dan biaya dengan kegiatan yang berbeda-beda Opportunities Adanya dukungan dari pihak kelurahan.9. kader. dan penderita hipertensi untuk melakukan kegiatan intervensi Sudah terjalinnya hubungan dan kerja sama yang baik dengan pihak kelurahan. Threat Karakteristik (budaya) masyarakat yang mempengaruhi antusiasme setiap kegiatan intervensi Adanya SDM yang mencukupi untuk mengorganisir kegiatan intervensi. kader. Kesenjangan yang signifikan antara lingkungan perkampungan dan perumahan menjadi ancaman dalam intervensi. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 102 | P a g e . dan warga Kesesuaian program intervensi yang dipilih dengan program yang dimiliki puskesmas Adanya wadah seperti pengajian posbindu memudahkan dalam pengumpulan masyarakat untuk kegiatan program intervensi. Tersedianya waktu yang terjadwalkan dalam pelaksanaan kegiatan intervensi (PBL 2) Adanya motivasi dan kerjasama antar tim yang kuat untuk menjalankan intervensi. Sulit menyesuaikan waktu kegiatan dengan kondisi dilapangan.

seperti dalam hal tingkat pendidikan. Penyakit Pulpa dan Hipertensi. yaitu pola makan yang salah seperti banyak masyarakat Pondok Jagung Timur yang gemar Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 103 | P a g e . Penyebab masalah utama dari masalah Hipertensi di Kelurahan Pondok Jagung Timur adalah adat kebiasaan masyarakat.1 Simpulan Berdasarkan analisis situasi masalah yang dilakukan pada PBL 1 di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung pada tanggal 05 November-19 Desember 2011 adalah sebagai berikut : 1. didapatkan bahwa karakteristik masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung merupakan masyarakat yang heterogen. diperoleh hasil adalah Hipertensi sebagai prioritas masalah utama di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung. serta sistem sosial masyarakat didapatkan bahwa wilayah Pondok Jagung Timur merupakan spot area untuk dilaksanakannya intervensi dengan sasaran intervensi kelompok umur pra lansia dan lansia. 5. 3. Hal ini tampak terlihat dari adanya lingkungan perumahan dan perkampungan yang memiliki kesenjangan yang signifikan diantara keduanya. 4. Berdasarkan hasil observasi. Hipertensi.BAB V PENUTUP 5. Dermatitis. status ekonomi dan pola hidup masyarakat. Hasil identifikasi masalah dilakukan dengan cara mengumpulkan data sekunder dari Puskesmas Pondok Jagung. Berdasarkan penentuan prioritas masalah dengan metode Delphi. Kecamatan Serpong Utara dan Kelurahan Pondok Jagung Timur didapatkan bahwa 5 (lima) masalah kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Pondok Jagung adalah ISPA. 2. Berdasarkan pertimbangan prevalensi data sekunder dan data primer.

2 Saran 1. Pelatihan. Diharapkan adanya koordinasi yang baik dari pemerintah sebagai stakeholders kepada bawahannya terutama dalam menangani masalah Hipertensi. b. Saran untuk Puskesmas a. 5. d. Perlu dilakukan penyuluhan terhadap masyarakat guna meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai permasalahan hipertensi.mengkonsumsi makanan dengan kadar garam tinggi dan ikan asin. yaitu: a. 2. Saran untuk Dinkes (Dinas Kesehatan) a. Penyuluhan penatalaksanaan. 6. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 104 | P a g e . b. penguatan motivasi dan Pengadaan alat pada Kader Posbindu Kelurahan Pondok Jagung Timur. Formulasi solusi masalah Hipertensi di Kelurahan Pondok Jagung Timur dalam bentuk kegiatan intervensi yang akan dilaksanakan pada PBL II. Menghidupkan kembali Senam Jantung Sehat di Kelurahan Pondok Jagung Timur.dan gaya hiduo yang kurang sehat seperti kebiasaan merokok dan kurangnya aktifitas fisik dan olahraga. pola makan dan aktivitas fisik bagi Hipertensi pada Lansia dan Pra-lansia b. Penyuluhan Pencegahan Hipertensi secara sederhana sekaligus Demo perancangan menu untuk penderita Hipertensi c. Meningkatkan pelatihan bagi kader-kader posbindu secara menyeluruh agar semua kader mempunyai keahlian dan kemampuan yang sama. Diharapkan memberikan perhatian terhadap keadaan dan masalah kesehatan di lingkungan masyarakat wilayah Tangerang Selatan.

b. c. Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 105 | P a g e . Diharapkan kepada semua mahasiswa kesehatan masyarakat mampu mengapliksikan semua ilmu keprofesiannya agar mampu menanggulangi masalah kesehatan. 5. sehingga target dan tujuan PBL dapat tercapai. Diharapkan kepada semua mahasiswa agar dapat bekerja sama dengan baik antar kelompok dan antar anggota kelompok agar tujuan kegiatan PBL ini dapat tercapai dan diadakan evaluasi kembali pada saat melakukan kegiatan program intervens. 4. Masyarakat hendaknya senantiasa pola hidup yang sehat agar terhindar dari berbagai penyakit terutama Hipertensi.c. Diharapkan Fakultas dengan Puskesmas membina hubungan lebih baik melalui kunjungan dosen pembimbing akademik ke Puskesmas dan melakukan diskusi dengan pembimbing lapangan. Puskesmas sebaiknya lebih dekat dan lebih berinteraksi dengan masyarakat serta menjalin kerjasama dengan masyarakat untuk menanggulangi permasalahan hipertensi ini. b. 3. Kader dan pemegang kebijakan setempat lebih berkoordinasi aktif dalam menanggapi masalah kesehatan yang terjadi di lingkungannya. Masyarakat diharapkan berperan aktif dalam meningkatkan derajat kesehatan mereka. Saran untuk Mahasiswa a. Saran untuk masyarakat a. Saran untuk Fakultas a.

. Warta Kesehatan Masyarakat.Teknik Sampling.A.pdf Nawawi. “Analisis Faktor Risiko Hipertensi Pada Masyarakat Nagari Bungo Tanjung.ristek. Sudigdo.unimus.DAFTAR PUSTAKA Azwar. diakses pada tanggal 15 Desember 2011 dari http://library. 1995. Fitri. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. Sofyan Ismael. “Teknik Sampling”.Yogyakarta:Gadjah Mada University Press Nurkhalida. Jakarta: Binarupa Aksara Sediadi. Hadari H. 1996. “Faktor– Faktor yang Berhubungan dengan Tingkat Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Rawat Inap Halmahera Semarang” http://digilib. “Ikan Asin Cara Kombinasi Penggaraman dan Peragian (Ikan Peda)”http://www.2009.ac. A. Purwokerto: buku panduan PBL UNSOED Sastroasmoro.usu.id/download/fkm/fkm-rozaini.ac. 1995.Prof.pdf Irza.id/pangan_kesehatan/pangan/piwp/ik an_asin_kombinasi.Setiyowati .pdf Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 106 | P a g e .warintek. Jakarta: Binarupa Aksara Hariyanto.ac.Pengantar Administrasi Kesehatan.id/bitstream/123456789/14464/1/09E02696.go. 2003 Profil Puskesmas Pondok Jagung Tahun 2010 Profil Kecamatan Serpong Utara Tahun 2010 Profil Kelurahan Pondok Jagung Timur Tahun 2010 Rahardjo.id/files/disk1/107/jtptunimus-gdl-ahmadfitri-53012-bab1. diakses tanggal 04 Januari 2012 dari http://repository. SKM.usu.Rozaini SKM. Jakarta: Depkes R.pdf Laporan Tahunan Puskesmas Pondok jagung Tahun 2010 Nasution. Instrumen Penelitian Bidang Sosial. Syukraini. HM Martini Hadani. MKM. Agus. Sumatera Barat”.

1997.ac.Sitepoe. 2009. Usaha Mencegah Bahaya Merokok. dan Diabetes). Jakarta Sugiharto. “Faktor-Faktor Risiko Hipertensi Grade II Pada Masyarakat (Studi Kasus di Kabupaten Karanganyar)”. dkk.pdf Suratman.undip. Hadisaputro. Kolesterol. Yagyakarta : ANDI Yogyakarta Laporan PBL I Puskesmas Pondok Jagung 107 | P a g e . Jantung. Purwokerto: Buku Panduan PBL UNSOED Sutanto. Cetakan I. M. Aris. Teknik Pengumpulan Data. 2010. Suharyo. CEKAL (Cegah dan Tangkal) Penyakit Modern (Hipertensi.id/16523/1/Aris_Sugiharto. diakses tanggal 04 Januari 2012 dari http://eprints. Stroke. Penerbit PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->