P. 1
Manfaat Abu Batu Limbah Stone Crusher Sebagai Bahan Bangunan Di Kota Rembang

Manfaat Abu Batu Limbah Stone Crusher Sebagai Bahan Bangunan Di Kota Rembang

|Views: 614|Likes:
Published by ruslysmg
MANFAAT ABU BATU LIMBAH STONE CRUSHER SEBAGAI BAHAN BANGUNAN DI KOTA REMBANG Tjokro Hadi Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Semarang Abstract Stone dust of stone crushed waste is nontoxic waste, waste of stone crushed its for smooth item like of sand, but its high mud rate so that ineligible for the mixture of concrete, the considering its enough amount so that effort exploit to increase economic and also overcome the problem contamination of environment. Research to see optimum proportion d
MANFAAT ABU BATU LIMBAH STONE CRUSHER SEBAGAI BAHAN BANGUNAN DI KOTA REMBANG Tjokro Hadi Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Semarang Abstract Stone dust of stone crushed waste is nontoxic waste, waste of stone crushed its for smooth item like of sand, but its high mud rate so that ineligible for the mixture of concrete, the considering its enough amount so that effort exploit to increase economic and also overcome the problem contamination of environment. Research to see optimum proportion d

More info:

Published by: ruslysmg on Apr 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/14/2014

pdf

text

original

MANFAAT ABU BATU LIMBAH STONE CRUSHER SEBAGAI BAHAN BANGUNAN DI KOTA REMBANG Tjokro Hadi Jurusan Teknik

Sipil Politeknik Negeri Semarang Abstract Stone dust of stone crushed waste is nontoxic waste, waste of stone crushed its for smooth item like of sand, but its high mud rate so that ineligible for the mixture of concrete, the considering its enough amount so that effort exploit to increase economic and also overcome the problem contamination of environment. Research to see optimum proportion discard to material waste potency to made for paving block, how far this material can be exploited, finally will overcome the problem of contamination and get worthwhile added value to increase earnings. Key word : Stone dust,aggregate sieve analys,moisture content PENDAHULUAN Abu batu yang diteliti berfungsi sebagai agregate halus merupakan bahan bangunan. Dalam bidang Teknik Sipil dikenal dua macam agregat sebagai bahan pengisi yaitu agregate halus dan agregat kasar, agregat halus adalah butiran yang lolos ayakan dengan diameter 4,75 mm dan tertahan ayakan 0,075 mm, dalam bahasa sehari hari aggregat halus ini disebut pasir. Tahun 2002 secara resmi pemerintah menaikkan harga rumah, menurut sekretaris REI Jateng. Ir. Djoko Santoso. Di Jawa Tengah angka kenaikan bervariasi antara 10-20 % untuk semua type RS, Menengah maupun Mewah. Pada rumah RS rata rata kenaikan sebesar 20%, tahun 2004 naik lagi karena dipicu oleh kenaikan bahan bangunan (Suara Merdeka, 16-4-2004) hal ini dipicu oleh kenaikan Tarif Dasar listrik dan Telepon. Tahun 2006 kenaikan harga bahan bangunan terutama Pasir sangat tinggi karena kenaikan BBM yang hampir 100% ditambah adanya rencana kenaikan Tarif Dasar Listrik lagi yang tentu akan di ikuti dengan harga yang lain, Pebruari 2006 inflasi yang terjadi secara Nasional mencapai 0,58 % (Suara Merdeka 8-3-2006) Abu batu ini sulit dipasarkan mengingat kwalitasnya terutma kadar lumpurnya tinggi (lebih besar 5 %), kadar Lumpur maksimum untuk Beton adalah 5% ( PBI, 71) maka tidak dapat dijual pada industri beton atau Concrette Ready Mix, sehingga banyak menumpuk sebagai limbah. Syarat aggregat halus menurut SK.SNI. S-04-1989 F adalah sebagai berikut; 1. Aggregat halus harus terdiri dari butir butir yang tajam dan keras, dengan indek kekerasa kurang dari atau sama dengan 2,2 2. Butir butir aggregat halus harus bersifat kekal, artinya tidak pecah atau hancur oleh pengaruh cuaca seperti terik matahari dan hujan. 3. Sifat kekal apabila diuji dengan larutan jenuh garam sulfat sebagai berikut; a. Jika dipakai Natrium Sulfat, bagian yang hancur maximum 12 % b. Jika dipakai Magnesium Sulfat, bagian yang hancur maximum 10% 4. Aggregat halus tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5 % (ditentukan terhadap berat kering). Yang diartikan dengan lumpur adalah bagian bagian yang lolos ayakan 0,06 mm, apabila kadar lumpur melebihi 5% maka harus di cuci. 5. Agregat halus tidak boleh mengandung bahan bahan organis terlalu banyak yang harus dibuktikan dengan percobaan warna dari Abram Herder. Untuk itu bila direndam dalam larutan 3 % NaOH, cairan diatas endapan tidak boleh lebih gelap dari larutan pembanding. Aggregat yang tidak memenuhi percobaan ini dapat juga dipakai asal kekuatan tekan adukan tersebut pada umur 7 dan 28 hari tidak kurang dari 95 % dari kekuatan adukan yang sama tetapi dicuci dalam larutan 3 % NaOH yang kemudian dicuci hingga bersih dengan air, pada umur yang sama. 6. Susunan butir aggregat halus harus memiliki modulus kehalusan antara 1,5 3,8 % dan harus terdiri dari butir butir yang beraneka ragam besarnya Apabila diayak dengan susunan ayakan yang ditentukan, harus masuk dala salah satu Zona; 1, 2, 3, atau 4 (SKBI / BS. 882) dan harus memenu syarat syarat sebagai berikut;

16

a. Sisa diatas ayakan 4,8 mm, maksimum 2 % berat b. Sisa diatas ayakan 1,2 mm, maksimum 10% berat c. Sisa diatas ayakan ),3 mm, maksimum 15 % berat. 7. Untuk beton dengan tingkat keawetan tinggi, reaksi pasir terhadap alkali hari negatif (tidak terjadi reaksi antara pasir dengan alkali) 8. Pasir laut tidak boleh dipakai sebagai aggregat halus untuk semua mutu beto kecuali dengan petinjuk-petunjuk dari lembaga-lembaga pemeriksaan bate bahan yang diakui. 9. Aggregat halus yang digunakan untuk maksud sepesi plesterran dan sepe terapan harus memenuhi persyaratan di atas (pasir pasang) Gradasi aggregat halus yang yang selama ini terjadi tergantung pasir alam atau pasir buatan yang dikirim oleh leveransir, sehinga abu bat yang memiliki gradasi lebih kasar kemungkinan dapat langsung digunakan atau perlu penambahan pasir sebagai campuran. Dalam praktik pengujian kadar air agregat dapat menentukan kandungan air dalam agregat dengan cara pengeringan. Kadar air dalam agregat ada dua macam yaitu kadar air bebas dan kadar air terikat. Kadar air bebas adalah air pada permukaan agregat, sedangkan kadar air terikat adalah air yang dikandung oleh agregat baik dalam keadaan basah atau SSD. Kadar air merupakan perbandingan antara berat air seluruhnya yang terkandung dalam agregat dengan berat agregat kering oven yang dinyatakan dalam porsen. Besar kadar air agregat re'atif tergantung letak dimana agregat tersebut disimpan (dipengaruhi oleh suhu dan cuaca). Sebelum agregat digunakan, sebaiknya diuji langsung untuk mengetahui kadar air yang terkandung di dalamnya, sehingga dapat dipastikan kebutuhan air yang digunakan dalam adukan. Selain itu dengan diketahuinya kadar air agregat, maka perencanaan mix design menjadi lebih akurat karena adanya faktor koreksi kadar air terhadap tegangan yang direncanakan. Kadar air normal agregat halus adalah 6,5%, sedangkan agregat kasar adalah 1,06%. Berat air yang terkandung dalam agregat besar sekali pengaruhnya pada pekerjaan yang menggunakan agregat terutama beton. Dengan

diketahui kadar air yang terkandung dalam agregat, maka perencanaan mix design menjadi lebih akurat karena adanya faktor koreksi kadar air campuran beton terhadap tegangan tekan rencana yang akan dicapai. METODE PENELITIAN Dalam penelitian ini merupakan penelitian di Laboratorium, sehingga semua aktifitas dilakukan di laboratorium dalam hal ini menggunakan laboratorium bahan bangunan Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Semarang. Pengambilan sampel berupa Abu batu sebagai bahan bangunan dipilih yang kadar lumpurnya paling tinggi 1) Ayakan standard, untuk mengayak pasir dengan susunan berdasar lobang ayakan 4 mm, 2 mm, lmm, 0,5mm, 0,25mm, 0,125mm, 0,075mm. 2) Timbangan, menggunakan timbangan kecil dan besar timbangan kecil dengan ketelitian 0,1 gram untuk analisa Laborat dan timbangan besar untuk produssi atau pembuatan benda uji. Langkah-langkah penelitian ini adalah sebagai berikut: Persiapan Material dan peralatan

Abu batu Analisa Lab.

Benda Uji Pengujian Pengumpulan data Analisi Data Pembahasan Kesimpulan Gambar 1. Model Flow Chart Penelitian

MANFAAT ABU BATU LIMBAH STONE CRUSHER SEBAGAI BAHAN BANGUNAN ..…(Tjokro Hadi)

17

Pengujian Analisa Ayak Agregat 1) Menentukan gradasi agregat halus dan kasar dengan menggunakan hasil analisa saringan. 2) Menghitung perbandingan agregat halus dan kasar menjadi agregat gabungan yang mempnyai gradasi yang diinginkan. 3) Menggambar distribusi besaran butiran ke dalam tabel atau grafik. Secara garis besar agregat dibagi menjadi dua yaitu agregat halus dan agregat kasar. Agregat halus untuk beton adalah agregat berupa pasir alam sebagai hasil desintegrasi alami dari batu-batuan atau berupa pasir buatan. Agregat halus ini mempunyai ukuran butir antara 1,5 - 3,8 atau butirannya menembus ayakan ukuran kurang lebih 5,0 mm.Sedang agregat kasar adalah agregat berupa kerikil sebagai hasil desintegrasi alami batu-batuan atau batu pecah yang ukuran butirannya lebih besar dari 5,0 mm. Gradasi agregat merupakan distribusi ukuran butiran agregat. Alat untuk mengukur besar butir agregat biasanya digunakan ayakan atau saringan. Bila butir-butir agregat mempunyai ukuran yang seragam volume pori akan besar. Sebaliknya bila ukuran butirnya bervariasi maka volume pori akan kecil. Untuk pembuatan adukan beton atau mortar diperlukan suatu butiran yang mempunyai volume pori sesedikit mungkin. Hal ini karena jika volume pori agregat kecil membutuhkan volume perekat sedikit. Menurut peraturan yang dipakai saat ini ( SK SNI S -04 -1989-F dan SK SNI T- 15-1990-03 ) kekasaran agregat halus dibagi menjadi ampat zone yaitu pasir halus, agak halus, agak kasar, dan kasar, demikian halnya dengan agregat kasar. Pralatan dan Bahan Peralatan o Timbangan, ketelitian 0,2 % dari berat benda uji o Satu set saringn o Oven, dilengkapi pengatur suhu untuk memanasi sampai (110±5)°C o Alat pemisah contoh o Mesin pengguncang saringan o Talam o Kuas o Spatula

Bahan Contoh agregat dikeringkan udara, dicampur rata, kemudian contoh agregat diambil sebagian. Jumlah Contoh: • Agregat halus Ukuran agregat maks 4,76 mm : berat contoh min 500 gr Ukuran agregat maks 2,36 mm : berat contoh min 100 gr • Agregat kasar Ukuran agregat maks 3 ½” min 35,0. kg Ukuran agregat maks 3" min 30,0 kg Ukuran agregat maks 2 ½ min 25,0 kg Ukuran agregat maks 2” min 20,0 kg Ukuran agregat maks 1 ½ min 15,0 kg Ukuran agregat maks 1” min 10,0 kg Ukuran agregat maks 3/4" min 5,00 kg Ukuran agregat maks ½ min 2,50 kg Ukuran agregat maks 3/8” min 1,00 kg Prosedur Pelaksanaan Agregat halus a. Mengeringkan agregat halus dalam oven dengan suhu (110)°C sampai berat tetap; b. Menimbang agregat halus sebanyak 500 gr; c. Menyaring banda uji dengan menggunakan susunan ayakan 4,75 mm ke atas; d. Dari benda uji yang tembus ayakan 4,75 mm ditimbang sebanyak 500 gr; e. Ayak agregat yang sebanyak 500 gr tersebut dengan susunan ayakan 0,15mm; 0,30 mm; 0,60 mm; 1.18mm; 2,36mm; ayakan paling besar ditempatkan paling atas. Pengayakan dilakukan dengan meletakkan susunan ayakan pada mesin pengguncang, dan agregat diguncang seiama 15menit; f. Menimbang berat agregat yang tertahan di masing-masing ayakan; g. Menghitung prosentase berat benda uji yang tertahan di rnasing-masing ayakan dengan berat tetap:

: berat contoh : berat contoh : berat contoh : berat contoh : berat contoh : berat contoh : berat contoh : berat contoh : berat contoh

18

TEKNIS Vol. 7, No. 1, April 2012 : 16 - 20

o Prosentase berat benda uji yang tertahan di atas ayakan 4 mm ke atas dihitung berdasarkan berat 500 gram; o Prosentase berat benda uji yang tertahan di atas ayakan 2 mm ke bawah dihitung berdasarkan berat 500 gr. HASIL DAN PEMBAHASAN Prosentase benda uji yang tertahan di atas saringan a= xl00%

A = berat benda uji yang tertahan di atas saringan a mm B = berat benda uji total (gram) Tabel 1. Data Analisa Saringan Agregat Halus Berat bahan kering 5000
Diameter Jumlah JUMLAH (%) Berat Saringan Berat Tertahan Tertahan Lewat (mm) Tertahan 38,1 0,00 0,00 0,00 100,00 19,05 9,5 4,75 2,36 1,18 0,60 0,30 0,15 0,075 Pan 0,00 107,00 251,00 220,00 60,00 1390,00 1140,00 980,00 70,00 520,00 0,00 107,0 358,00 578,00 638,00 2028,00 3168,00 4148,00 4218,00 4738,00 0,00 2,14 7,16 11,56 12,76 40,56 63,36 82,96 84,36 94,76 100,00 97,86 92,84 88,44 87,24 59,44 36,64 17,04 15,64 5,24

Gambar 3. Proses Ayakan Peralatan Dan Bahan Alat • Talam logam tahan karat • Timbangan ketelitian 0,01 gram • Oven, dilengkapi pengatur suhu untuk memanasi sampai (110±5)°C Tabel 2. Bahan Ukuran butir mak Berat contoh agregat min (mm) (kg) 6,3 0,5 9,6 1,5 12,7 2,0 19,1 3,0 25,4 4,0 38,1 6,0 50,8 8 63,5 10 76,2 13 88,9 16 101,6 25 152,4 50 Prosedur Pelaksanaan

Gambar 2. Kurva Gradasi dan Batas Gradasi Agregat Halus Zona Catatan • Kelembaban : 35 % HR • Suhu ruang : 30° C

1. Menimbang berat cawan (Wi); 2. Memasukkan benda uji kedalam cawan dan menimbang beratnya (W2); 3. Mengeringkan benda uji berikut cawan dalam oven dengan suhu (115)° C sampai beratnya tetap; 4. Menimbang berat talam dan benda uji (W4);

MANFAAT ABU BATU LIMBAH STONE CRUSHER SEBAGAI BAHAN BANGUNAN ..…(Tjokro Hadi)

19

Perhitungan Kadar air agregat = x 100%

W3 = berat benda uji semula (gr) W5 = berat benda uji kering oven (gr) Tabel 3. Data Pengujian Kadar Air Agregat
Jenis agregat No talam yang dipakai Agregat halus A B 230 216 14 30 Agregat kasar A B 1722 1694 28 722 1135 1119 j 16 135

1. berat talam + contoh 233 basah (gr) 2. Berat talam + contoh 221 kering (gr) 3. Berat air: 1-2 (gr) 12 4. Berat talam (gr) 33

Saran a. Abu batu ini merupakan hasil sampingan industri harus diupayakan, sehingga tidak mencemari lingkungan dan memiliki nilai tambah. b. Dari hasil penelitian pengujian analisa ayak angregat halus, gradasi Abu Batu masih belum memenuhi syarat sehingga untuk memperbaiki gradasinya perlu dicampur pasir muntilan, untuk campuran pasir muntilan perlu diteliti lebih lanjut untuk campuran beton. c. Pengujian kadar air Abu Batu menghasilkan kadar air rata-rata 6,955% sedang syarat maksimum 6,5% , apabila Abu Batu dipakai untuk campuran beton, sehingga perlu koperasi kadar air maka perencanaan mix design lebih akurat. DAFTAR PUSTAKA Anonim, 1983. Pengujian Bahan, PEDC, Bandung. Anonim,1989, Spesifikasi Bahan Bangunan Bagian A, SK SNI S - 04 - 1089 F, Yayasan LPMB, Bandung. Anonim, 1995 Annual Book of ASTM Standards Vol. 04.02, Philadelphia. Kusdiyono,dkk, 2002, Modul Praktikum Uji Bahan Bangunan I, Politeknik Negeri Semarang. Murdock LJ dan Brook KM. ( alih bahasa : Stefanus Hendarko Ir. ), 1986, Bahan dan Praktek Beton, edisi ke empat, Penerbit Erlangga Jakarta. Moh. Nasir Ph.D.,1983, Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Jakarta. Neville AM., 1981, Propertis of Concrette, 3rd Edition, The English Language Books Society and Pitman Publishing, London. Subakti Aman, 1994, TeknologiBeton Dalam Praktek, ITS, Surabaya.' Supardjo,dkk., 2002, Penelitian " Studi Komparasi Karakteristik Batu Bata di Semarang " Politeknik Negeri Semarang Trihendardi Cornelius,2004, Memecahkan Kasus Statistik;DeskriptifParametri, dan NonParametrik dengan SPSS12, Andi,Yogyakarta.

5. Berat contoh kering : 2 - 188 186 9.72 9.84 4 (gr) 6. Kadar air : 3:5 X 100 % 6.383 7.527 2.881 1.626 Rata - rata 6.955 2.253

Catatan o Kelembaban o Suhu ruang

: 35% HR : 280 C

Gambar 4. Uji Kadar Air Agregat KESIMPULAN Kesimpulan a. Kadar air agregat kasar Pada pengujian kadar air agregat kasar dengan benda uji ukuran butir maksimal 19,1 menghasilkan kadar air rata-rata 2.253%. b. Kadar air agregat halus Pada pengujian kadar air agregat halus dengan benda uji ukuran butir maksimal 4,75 menghasilkan kadar air rata-rata 6.955 %.

20

TEKNIS Vol. 7, No. 1, April 2012 : 16 - 20

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->