P. 1
IRR dan BEP

IRR dan BEP

|Views: 1,186|Likes:
Published by Dhani Aprisal R
Tugas mata kuliah ekonomi teknik
Tugas mata kuliah ekonomi teknik

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Dhani Aprisal R on Apr 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/03/2013

pdf

text

original

Internal Rate of Return (IRR) and Break Event Point (BEP

)

Teori,Pembahasan serta Analisis

Oleh Dhani Aprisal R. 07 0404 091 Tugas Mata Kuliah Ekonomi Teknik 6 Desember 2010

Dosen: Ir. Muslim Tampubolon,M.Eng

Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara 2010/2011

Ekonomi Teknik Dosen: Ir.Muslim Tampubolon,M.Eng Mahasiswa: Dhani Aprisal R. (07 0404 091)

Break Even Point (BEP) I. Umum Dalam rangka memproduksi atau menghasilkan suatu produk, baik barang maupun jasa, perusahaan terkadang perlu terlebih dulu merencanakan berapa besar laba yang ingin diperoleh. Artinya dalam hal ini besar laba merupakan prioritas yang harus dicapai perusahaan, disamping hal-hal lainnya. Agar perolehan labih mudah ditentukan, salah satu caranya adalah perusahaan harus mengetahui terlebih dulu berapa titik impasnya. Artinya perusahaan beroperasi pada jumlah produksi atau penjualan tertentu sehingga perusahaan tidak mengalami kerugian ataupun keuntungan. Analisis titik impas atau analisis pulang pokok atau dikenal dengan nama analisis Break Even Point (BEP) merupakan salah satu analisis keuangan yang sangat penting dalam perencanaan keuangan perusahaan. Analisis titik impas sering disebut analisis perencanaan laba (profit planning). Analisis ini biasanya lebih sering digunakan apabila perusahaan ingin mengeluarkan suatu produk baru. Artinya dalam memproduksi produk baru tentu berkaitan dengan masalah biaya yang harus dikeluarkan, kemudian penentuan harga jual serta jumlah barang atau jasa yang akan diproduksi atau dijual kekonsumen. Analisis BEP digunakan untuk mengetahui pada titik berapa hasil penjualan sama dengan jumlah biaya. Atau perusahaan beroperasi dalam kondisi tidak laba dan tidak rugi, atau laba sama dengan nol. Melalui titik BEP, kita akan dapat mengetahui bagaimana hubungan antara biaya tetap, biaya variabel, keuntungan dan volume kegiatan (penjualan atau produksi). Oleh karena itu, analisis ini juga sering disebut dengan nama cost profit volume analysis. Analisis BEP juga memberikan pedoman tentang berapa jumlah produk minimal, yang harus diproduksi atau dijual. Tujuannya adalah agar perusahaan mampu memperoleh keuntungan yang maksimal. Artinya dengan memproduksi sejumlah barang dengan kapasitas produksi yang dimilikinya, perusahaan akan tahu batas minimal yang harus dijual dan keuntungan maksimal yang diperoleh apabila diproduksi secara penuh. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa arti analisis BEP adalah suatu keadaan di mana perusahaan beroperasi dalam kondisi tidak memperoleh pendapatan (laba) dan tidak pula menderita kerugian. Artinya dalam kondisi ini jumlah pendapatan yang diterima sama dengan jumlah biaya yang dikeluarkan. Lebih lanjut harus dijual agar kita memperoleh keuntungan, baik dalam volume penjualan dalam unit maupun rupiah.

BEP dan IRR

2

Ekonomi Teknik Dosen: Ir.Muslim Tampubolon,M.Eng Mahasiswa: Dhani Aprisal R. (07 0404 091)

Menurut situs organisasi.org, Break Even Point adalah suatu analisis untuk menentukan dan mencari jumlah barang atau jasa yang harus dijual kepada konsumen pada harga tertentu untuk menutupi biaya-biaya yang timbul serta mendapatkan keuntungan / profit. Menurut situs ilmumanajemen.wordpress.com, Break Even Point adalah suatu keadaan dimana dalam suatu operasi perusahaan tidak mendapat untung maupun rugi/ impas (penghasilan = total biaya) BEP penting apabila kita membuat usaha agar kita tidak mengalami kerugian, apa itu usaha jasa atau manufaktur. Manfaat BEP diantaranya adalah 1. Alat perencanaan untuk menghasilkan laba 2. Memberikan informasi mengenai berbagai tingkat volume penjualan, serta hubungannya dengan kemungkinan memperoleh laba menurut tingkat penjualan yang bersangkutan. 3. Mengevaluasi laba dari perusahaan secara keseluruhan 4. Mengganti sistem laporan yang tebal dengan grafik yang mudah dibaca dan dimengerti 5. Mengetahui jumlah penjualan minimal yang harus dipertahankan agar perusahaan tidak mengalami kerugian 6. Mengetahui jumlah penjualan yang harus dicapai untuk memperoleh tingkat keuntungan tertentu 7. Mengetahui seberapa jauh berkurangnya penjualan 8. Mengetahui bagaimana efek perubahan harga jual, biaya, dan volume penjualan terhadap keuntungan Setelah kita mengetahui betapa manfaatnya BEP dalam usaha yang kita rintis, kompenen yang berperan disini yaitu biaya, dimana biaya yang dimaksud adalah biaya variabel dan biaya tetap, dimana pada prakteknya untuk memisahkannya atau menentukan suatu biaya itu biaya variabel atau tetap bukanlah pekerjaan yang mudah, Biaya tetap adalah biaya yang harus dikeluarkan oleh kita untuk produksi ataupun tidak, sedangkan biaya variabel adalah biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan satu unit produksi jadi kalau tidak produksi maka tidak ada biaya ini. Salah satu kelemahan dari BEP yang lain adalah bahwa hanya ada satu macam barang yang diproduksi atau dijual. Jika lebih dari satu macam maka kombinasi atau komposisi penjualannya (sales mix) akan tetap konstan. Jika dilihat di jaman sekarang bahwa perusahaan untuk meningkatkan daya saingnya mereka menciptakan banyak produk jadi sangat sulit dan ada satu asumsi lagi yaitu Harga jual persatuan barang tidak akan berubah berapa pun jumlah satuan barang yang dijual atau tidak ada perubahan harga secara umum. Hal ini demikian pun sulit ditemukan dalam kenyataan dan prakteknya.

BEP dan IRR

3

Ekonomi Teknik Dosen: Ir.Muslim Tampubolon,M.Eng Mahasiswa: Dhani Aprisal R. (07 0404 091)

Gambar I Grafik Break Even Point II. Asumsi dan Keterbatasan Analisis BEP Seperti yang telah diuraikan di atas bahwa satu kelemahan analisis BEP adalah karena banyaknya asumsi yang mendasari analisis ini. Akan tetapi, asumsi-asumsi ini memang harus dilakukan jika kita mau analisis ini dapat dilakukan secara tepat. Kemudian dengan asumsi-asumsi ini, analisis BEP dapat dilakukan secara cepat dan akurat. Hanya saja asumsi-asumsi yang dilakukan terkadang terlalu memaksa dan pertanggungjawabannya sering diambangkan. Oleh karena itu para manager menganggap bahwa asumsi ini harus tetap dilakukan dan ini merupakan salah satu keterbatasan analisis BEP bila kita mau menggunakannya. Adapun asumsi-asumsi dan keterbatasan analisis BEP adalah sebagai berikut : 1. Biaya Dalam analisis BEP, hanya digunakan dua macam biaya, yaitu fixed cost dan variable cost. Oleh karena itu, kita harus memisahkan dulu komponen antara biaya tetap dan biaya variabel. Artinya mengelempokkan biaya tetap disatu sisi dan biaya variabel disisi lain. Dalam hal ini secara umum untuk memisahkan kedua biaya ini relatif sulit karena ada biaya yang tergolong semi variabel dan tetap. Untuk memisahkan biaya ini dapat dilakukan melalui dua pendekatan sebagai berikut : a. Pendekatan analitis, yaitu kita harus meneliti setiap jenis dan unsur biaya yang terkandung satu per satu dari biaya yang ada beserta sifat-sifat biaya tersebut.

BEP dan IRR

4

Ekonomi Teknik Dosen: Ir.Muslim Tampubolon,M.Eng Mahasiswa: Dhani Aprisal R. (07 0404 091)

b. Pendekatan historis, dalam hal ini yang harus dilakukan adalah memisahkan biaya tetap dan variabel berdasarkan angka-angka dan data biaya masa lampau. 2. Biaya tetap (Fixed Cost) Biaya tetap merupakan biaya yang secara total tidak mengalami perubahan, walaupun ada perubahan volume produksi atau penjualan (dalam batas tertentu). Artinya kita menganggap biaya tetap konstan sampai kapasitas tertentu saja, biasanya kapasitas produksi yang dimiliki. Namun, untuk kapasitas produksi bertambah, biaya tetap juga menjadi lain. Contoh biaya tetap adalah seperti gaji, penyusutan aktiva tetap, bunga, sewa atau biaya kantor dan biaya tetap lainnya. 3. Biaya variabel (Variable Cost) Biaya variabel merupakan biaya yang secara total berubah-ubah sesuai dengan perubahan volume produksi atau penjualan. Artinya asumsi kita biaya variabel berubah-ubah secara sebanding (proporsional) dengan perubahan volume produksi atau penjualan. Dalam hal ini sulit terjadi dalam praktiknya karena dalam penjualan jumlah besar akan ada potongan-potongan tertentu, baik yang diterima maupun diberikan perusahaan . Contoh biaya variabel adalah biaya bahan baku, upah buruh langsung, dan komisi penjualan biaya variabel lainnya. 4. Harga Jual Harga jual maksudnya dalam analisis ini hanya digunakan untuk satu macam harga jual atau harga barang yang dijual atau diproduksi. 5. Tidak Ada Perubahan Harga Jual Artinya diasumsikan harga jual per satuan tidak dapat berubah selama periode analisis. Hal ini bertentangan dengan kondisi yang sesungguhnya, dimana harga jual dalam suatu periode dapat berubah-ubah seiring dengan perubahan biaya-biaya lainnya yang berhubungan langsung dengan produk maupun tidak. III. Formula Untuk menghitung BEP kita bisa hitung dalam bentuk unit atau price tergantung untuk kebutuhan a. Perhitungan BEP atas dasar unit: BEP unit =

BEP dan IRR

5

Ekonomi Teknik Dosen: Ir.Muslim Tampubolon,M.Eng Mahasiswa: Dhani Aprisal R. (07 0404 091)

B, Perhitungan BEP atas dasar penjualan dalam rupiah BEP rupiah = Dimana: FC = biaya tetap (Total Fixed Cost), yaitu biaya yang nilainya cenderung stabil tanpa dipengaruhi unit yang diproduksi. P = harga jual per unit VC = biaya variabel per unit (Variable Cost), yaitu biaya variabel yang besar nilainya tergantung pada benyak sedikit jumlah barang yng diproduksi.

c. Perhitungan BEP untuk menghitung berapa uang penjualan yang perlu diterima agar terjadi BEP BEP = x harga jual/unit

IV. Contoh Perhitungan Diketahui : PT. Sungailiat memiliki usaha di bidang alat perkakas gergaji dengan data sebagai berikut : 1. kapasitas produksi yang mampu dipakai adalah 100.000 unit mesin gergaji. 2. harga jual persatuan diperkirakan Rp. 5000,- unit 3. total biaya tetap sebesar Rp. 150.000.000,- dan total biaya variabel sebesar Rp.250.000.000,Perincian masing-masing biaya adalah sebagai berikut : 1. Fixed Cost Overhead pabrik Biaya Distribusi Biaya administrasi Total Biaya tetap 2. Variable Cost Biaya lahan langsung Biaya tenaga kerja Overhead pabrik

Rp. 60.000.000 Rp. 65.000.000 Rp. 25.000.000 Rp.150.000.000

Rp. 70.000.000 Rp. 85.000.000 Rp. 20.000.000

BEP dan IRR

6

Ekonomi Teknik Dosen: Ir.Muslim Tampubolon,M.Eng Mahasiswa: Dhani Aprisal R. (07 0404 091)

Biaya distribusi Biaya umum Total biaya variabel Pertanyaan:

Rp. 45.000.000 Rp. 30.000.000 Rp.250.000.000

Cari BEP dalam unit maupun rupiah Penyelesaian:   Kapasitas produksi 100.000 unit Harga jual per unit Rp. 5000,-

Maka Total Penjualan 100.000 unit x Rp 5000,- = Rp. 500.000.000,Biaya tetap unit = Biaya variable unit = = Rp. 1.500,- / unit = Rp. 2500,- /unit

Ringkasan Budget laba-rugi adalah sebagai berikut: Total penjualan unit x Rp. 5000,- .............................................. Rp.500.000.000,- (100%) Total biaya variable ........................................................................ Rp.250.000.000,- (50%) Marginal income .............................................................................. Rp.250.000.000,- (50%) Total biaya tetap .............................................................................. Rp.150.000.000,- (30%) Laba .................................................................................... Rp.100.000.000,- (20%) Untuk mencari BEP dalam unit adalah sebagai berikut: BEP = = 60.000 unit

Kemudian untuk mencari BEP dalam rupiah adalah sebagai berikut: BEP (rupiah) = = Rp.300.000.000

Cara lain dapat dilakukan untuk membuktikan kedua hasil tersebut dengan : BEP = Unit BEP x harga jual unit BEP = 60.000 unit x Rp.5000 = Rp.300.000.000,-

BEP dan IRR

7

Ekonomi Teknik Dosen: Ir.Muslim Tampubolon,M.Eng Mahasiswa: Dhani Aprisal R. (07 0404 091)

Internal Rate of Return (IRR) I. Umum Internal Rate of Return adalah salah suatu Metode yang digunakan dalam analisis kelayakan ekonomi atas investasi. Metode Internal Rate of Return (IRR) menggambarkan profitabilitas suatu proyek yang dinyatakan dalam persentase. Internal Rate of return (IRR) adalah cara mengevaluasi profitabilitas rencana investasi proyek kedua, yang mempergunakan nilai waktu dari uang. IRR adalah discount rate yang apabila dipergunakan untuk mendiskon seluruh nett cash flow, akan menghasilkan jumlah present value yang sama dengan nilai investasi proyek. Perhitungan IRR dilakukan pada NPV = 0 dimana nilai sekarang penerimaan sama dengan nilai investasi yang ditanamkan. Untuk jelasnya, Bambang Riyanto (1997:129) yang menulis tentang pengertian dari pada IRR, sebagai berikut: ”Pengertian IRR itu sendiri didefinisikan sebagai tingkat bunga yang menjadikan jumlah nilai sekarang dari proceed yang di harapkan diterima sama dengan jumlah nilai sekarang dari pengeluaran modal”. Dengan memperhatikan defenisi-defenisi yang dikemukakan diatas, maka dapat dikatakan bahwa pada metode internal rate of return yang dicari adalah tingkat pengembalian investasi atau discount rate yang akan menjadikan NPV sama dengan nol. Sedangkan pada metode net present yang dicari adalah net present value dengan discount rate yang telah ditentukan. Pada dasarnya internal rate of return dapat dicari dengan cara trial dan error atau sistem coba-coba. Pertama-tama dihitung dahulu PV dari proceed yang diharapkan dengan menggunakan discount rate kita tentukan,kemudian hasilnya dibandingkan dengan investment dari outlay kalau PV dari proceed lebih besar dari pada PV dari investasi,maka kita harus menggunakan tingkat bunga yang lebih tinggi,begitu pula sebaliknya. Cara tersebut dilakukan sampai kita menentukan tingkat bunga yang dapat menjadikan NPV dari proceed sama besar dengan NPV dari outlaynya,atau dengan kata lain PV sama dengan kata lain NPV sama dengan nol. II. Analisis terhadap Alternatif Tunggal Ketentuan untuk pengambilan keputusan dengan menggunakan metode IRR adalah sebagai berikut: Apabila IRR lebih besar daripada tingkat biaya modal yang diperhitungkan, maka proyek investasi layak untuk dilaksanakan.

BEP dan IRR

8

Ekonomi Teknik Dosen: Ir.Muslim Tampubolon,M.Eng Mahasiswa: Dhani Aprisal R. (07 0404 091)

-

Apabila IRR lebih kecil daripada tingkat biaya modal, maka sebaliknya proyek investasi tersebut ditolak Jika i* ≥ MARR, alternative layak diterima. Jika i* ≤ MARR, alternative tidak layak diterima.

-

MARR (Minimum Attractive Rate of Return) adalah tingkat bunga yang dipakai sebagai patokan dasar dalam mengevaluasi dan membandingkan berbagai alternatif. MARR merupakan nilai minimal dari tingkat pengembalian atau bunga yang bisa diterima investor. Bila suatu investasi menghasilkan tingkat pengembalian yang lebih kecil dari MARR maka investasi tersebut dinilai tidak ekonomis sehingga tidak layak dikerjakan. Nilai MARR harus ditetapkan lebih tinggi dari cost of capital. Besarnya MARR dapat ditetapkan dengan penambahan suatu persentase tetap (premi risiko) terhadap cost of capital. Bila modal digunakan untuk investasi adalah modal sendiri maka cost of capital nya adalah tingkat suku bunga deposito bank, bila modal yang dipakai merupakan gabungan dari modal bank dan modal sendiri, harus digabung menggunakan persentase. III. Formula Dengan perumusan matematika, internal of return dapat dicari dengan menggunakan rumus sebagai berikut: I0 = ∑

(

)

…….Initial Investment

Dimana: t n I0 CF IRR

= tahun = jumlah tahun = nilai investasi awal = arus kas bersih = tingkat bunga yang dicari nilainya

Atau dapat digunakan perhitungan IRR secara praktis: IRR = Bunga rendah + bunga rendah) x (bunga tinggi-

BEP dan IRR

9

Ekonomi Teknik Dosen: Ir.Muslim Tampubolon,M.Eng Mahasiswa: Dhani Aprisal R. (07 0404 091)

Atau disedrhanakan: IRR = Ir + x (It - Ir)

IV. Contoh Perhitungan Diketahui: Pembelian sebuah mesin seharga Rp.20.000.000 akan memampukan perusahaan untuk berhemat sebesar Rp.6.000.000 per tahun. Mesin tersebut diperkirakan memiliki usia pakai 5 tahun dan memiliki nilai sisa di akhir usia pakai sebesar Rp.4.000.000. Jika pemilik perusahaan menghendaki tingkat pengembalian minimal 15% per tahun, apakah pembelian mesin tersebut layak dilakukan? Penyelesaian: PWpendapatan = PWpengeluaran 6.000.000(P / A,i*,5) + 4.000.000(P / F,i*,5) = 20.000.000 Jika i* = 18% maka 6.000.000(3.12717) + 4.000.000 (0.43711) = 20.511.460 Jika i* = 20% maka 6.000.000(2.99061) + 4.000.000 (0.40188) = 19.551.180 Dengan interpolasi linear, diperoleh tingkat suku bunga untuk nilai 20.000.000 adalah: i* = 18 +[ {
( )

} x (20 – 18)] = 19,07%

Oleh karena i* ≥ MARR, maka pembelian mesin tersebut layak dilakukan.

BEP dan IRR

10

Ekonomi Teknik Dosen: Ir.Muslim Tampubolon,M.Eng Mahasiswa: Dhani Aprisal R. (07 0404 091)

DAFTAR PUSTAKA

Joyowiyono,FX. Marsudi. 2002. Ekonomi Teknik (Engineering Economics).Jilid 1, cetakan ke 4. Jakarta: PT Medisa. Raharjo, Ferianto. Yogyakarta:Andi. 2007. Ekonomi Teknik Analisis Pengambilan Keputusan.

Herbudiman, Bernardinus, Ratnayanti, Rini, Sethyanegara, Yudhistira. 2006. Analisis Kelayakan Investasi pada Rumah Sakit X di Cimahi. Media Teknik Sipil (Jurnal Ilmiah).Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, ITB. http://ilmumanajemen.wordpress.com/2009/02/20/break-event-point-bep/ http://organisasi.org/pengertian_definisi_dan_rumus_bep_break_even_point_ilmu_ekon omi_studi_pembangunan http://simplestudies.com/accounting-cost-volume-profit-analysis.html/page/8 http://www.scribd.com/doc/21097489/Analisis-BEP http://datastudi.wordpress.com/2008/12/25/analisis-kelayakan-investasi/

BEP dan IRR

11

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->