Pengertian Hak Milik
• Hak Milik adalah hak atas tanah yang turun temurun, terkuat dan terpenuh. Kata “terkuat” dan “terpenuh” tidak berarti bahwa hak milik itu merupakan hak yang mutlak, tidak dapat diganggu gugat dan tidak terbatas seperti Hak Eigendom, akan tetapi kata terkuat dan terpenuh itu dimaksudkan untuk membedakan dengan hak-hak lainnya, yaitu untuk menunjukkan bahwa diantara hak-hak atas tanah maka Hak Milik yang terkuat dan terpenuh.

karena itu tidak meliputi pemilikan kekayaan alam yang terkandung dalam tubuh bumi dan yang ada di bawah/di dalamnya. dapat beralih karena perbuatan hukum dan peristiwa hukum. oleh karena itu harus didaftarkan menurut PP No.Sifat Hak Milik (1) merupakan hak yang tekuat. (3) turun temurun. (2) terpenuh. 24/1997. artinya Hak Milik tidak mudah hapus dan musnah serta mudah dipertahankan terhadap hak pihak lain. berarti jangka waktunya tidak terbatas. ini menandakan kewenangan pemegang hak milik itu paling penuh dengan dibatasi ketentuan pasal 6 UUPA tentang fungsi sosial tanah. Hak Milik adalah hak atas tanah. .

Badan-badan Keagamaan.Subyek Yang Menjadi Pemegang Tanah Hak Milik (1) Menganut asas kewarganegaraan dan asas persamarataan bagi pria dan wanita (pasal 9 UUPA). (4) WNI Tunggal (asas khusus). Badan-badan Koperasi Pertanian. b. yaitu: a. (5) Badan-badan Hukum tertentu (pasal 21 ayat 2 UUPA) yang berdasarkan PP 38/1963 dapat mempunyai Hak Milik. karena pada saat lahirnya UUPA masih dikenal dwi-kewarganegaraan. Badan-badan Sosial. (2) Asas umum: Perorangan (pasal 20 ayat 1 UUPA). . c. UUPA memandang seorang yang mempunyai 2 kewarganegaraan (dwikewarganegaraan/bipatride) sebagai orang asing (pasal 21 ayat 4 UUPA). Bank-bank Pemerintah. (3) Warganegara Indonesia merupakan pelaksana asas kebangsaaan sebagai salah satu dasar UUPA (pasal 21 ayat 1 UUPA). d.

Pewarisan tanpa wasiat (pewarisan ab intestato). (2) Peristiwa hukum yang menyebabkan beralihnya Hak Milik kepada pihak-pihak yang tidak berwenang sebagai pemegang Hak Milik seperti warga negara asing. WNI kehilangan status kewarganegaraan Indonesianya (peralihan dari WNI menjadi WNA). . masih diakui/diperbolehkan oleh UUPA dengan syarat orang asing tersebut tidak boleh memegang Hak Milik itu lebih dari 1 tahun dan harus mengalihkannya kepada pihak yang memenuhi syarat. b. Percampuran harta karena perkawinan campuran. Peristiwa hukum yang menyebabkan berakhirnya Hak Milik kepada WNA adalah: a. 38/1963) dan badan hukum asing (pasal 26 ayat 2 UUPA). badan hukum Indonesia (kecuali yang ditetapkan dalam PP No.Permasalahan Hukum (1) Larangan pemindahan Hak Milik kepada warga negara asing. c.

• Hak untuk mengusahakan tanah yang dikuasai langsung oleh Negara selama jangka waktu tertentu guna usaha pertanian. perkebunan dan peternakan . perikanan.

(4) diajukan selambat-lambatnya dua tahun sebelum berakhirnya jangka waktu HGU tersebut. (3) pemegang hak masih memenuhi syarat sebagai pemegang HGU. (2) Tanaman muda: 25 tahun dan dapat diperpanjang 25 tahun lagi. (2) syarat-syarat pemberian hak tersebut masih dipenuhi dengan baik oleh pemegang hak. sifat dan tujuan pemberian hak tersebut. pemegang hak dapat mengajukan pembaharuan HGU di atas tanah yang sama. Sesudah jangka waktu dan perpanjangan tersebut berakhir.Jangka waktu HGU (1) Tanaman keras: 35 tahun dan dapat diperpanjang 25 tahun lagi. Syarat permohonan perpanjangan dan pembaharuan HGU: (1) tanahnya masih diusahakan dengan baik sesuai dengan keadaan. .

23/1980.Subyek HGU (1) Warganegara Indonesia. bahwa Hak Guna Usaha dapat langsung diberikan kepada perusahaan PMA yang berbentuk Perusahaan Patungan yang didirikan menurut hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia. (3)Untuk meningkatkan penanaman modal asing dalam sektor perkebunan ditetapkan berdasarkan Keppres No. (2) Badan Hukum Indonesia. .

(2) Melaksanakan usaha pertanian. (5) Memelihara kesuburan tanah. . (8) Menyerahkan sertipikat HGU yang telah hapus kepada Kepala Kantor Pertanahan. perikanan dan/atau peternakan sesuai peruntukan dan persyaratan sebagaimana ditetapkan dalam keputusan pemberian haknya. perikanan dan atau peternakan. perkebunan. (3) Mengusahakan sendiri tanah HGU dengan baik sesuai dengan kelayakan usaha berdasarkan kriteria yang ditetapkan oleh instansi teknis. (4) Membangun dan memelihara prasarana lingkungan dan fasilitas tanah yang ada dalam lingkungan areal HGU. mencegah kerusakan sumber daya alam dan menjaga kelestarian kemampuan lingkungan hidup sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (7) Menyerahkan kembali tanah yang diberikan dengan HGU kepada Negara sesudah HGU tersebut hapus. Pemegang HGU berhak untuk : (1) Menguasai dan mempergunakan tanahnya untuk melaksanakan usaha di bidang pertanian. (6) Menyampaikan laporan tertulis setiap akhir tahun mengenai penggunaan HGU.Kewajiban dan Hak Pemegang HGU Pemegang HGU berkewajiban untuk : (1) Membayar uang pemasukan kepada Negara. (2) Penguasaan dan penggunaan sumber air dan sumber daya alam lainnya di atas tanah HGU untuk mendukung pelaksanaan usaha pada nomor (1).

untuk perorangan: 25 hektar. . . Pasal 5 PP 40/1996) (2) Maksimum : .Luas Tanah HGU (1) Minimum 5 hektar (pasal 28 UUPA jo.untuk badan hukum: ditetapkan oleh Menteri Agraria dengan pertimbangan dari pejabat yang berwenang dan luas tanah yang diperlukan untuk usaha tersebut.

penyertaan dalam modal. BUKAN PPAT BIASA) Sedangkan jual beli melalui lelang dibuktikan dengan Berita Acara Lelang. tukar menukar. hibah. Peralihan karena jual beli kecuali melalui lelang. (PPAT HGU ADALAH DIREKTUR PENDAFTARAN TANAH-BPN PUSAT. tukar menukar. pewarisan.…. Peralihan tersebut harus didaftarkan pada Kantor Pertanahan. penyertaan dalam modal dan hibah dilakukan dengan akta PPAT.Peralihan Hak Guna Usaha (1) (2) (3) (4) (5) jual beli.. dan peralihan karena pewarisan dibuktikan dengan surat wasiat atau surat keterangan waris yang dibuat oleh instansi yang berwenang .

2. Pengertian bukan miliknya sendiri. pemberian/permohonan hak (HGB-HAT PRIMER) Perjanjian pembebanan HGB di atas tanah Hak Milik kepunyaan orang lain (HGB-HAT SKUNDER) Luas Tanah HGB: Tidak ada pembatasan.Hak Guna Bangunan (HGB) adalah hak untuk mendirikan dan mempunyai bangunan di atas tanah yang bukan miliknya sendiri dalam jangka waktu tertentu (pasal 35 ayat 1 UUPA). tetapi disesuaikan dengan kebutuhan hanya ada ketentuan bahwa apabila satu keluarga telah mempunyai 5 (lima) sertipikat tanah maka untuk setiap perubahannya harus mendapat izin dari BPN. . berarti HGB dapat lahir dari: 1.

(2) syarat-syarat pemberian hak tersebut masih dipenuhi dengan baik oleh pemegang hak. . Sesudah jangka waktu dan perpanjangan tersebut berakhir.JANGKA WAKTU HGB . sifat dan tujuan pemberian hak tersebut. Pasal 25 PP 40/1996). (3) pemegang hak masih memenuhi syarat sebagai pemegang HGB. . Untuk perpanjangan atau pembaharuan HGB atas tanah Hak Pengelolaan. Atas kesepakatan pemegang Hak Milik dan pemegang HGB. Adapun syarat permohonan perpanjangan dan pembaharuan HGB: (1) tanahnya masih diusahakan dengan baik sesuai dengan keadaan. harus dengan persetujuan dari pemegang Hak Pengelolaan. paling lama 30 tahun (pasal 29 ayat 1 PP 40/1996).Sedangkan untuk HGB di atas tanah Hak Milik. (5) permohonan diajukan selambat-lambatnya dua tahun sebelum berakhirnya jangka waktu HGB tersebut. maksimum 30 tahun dan dapat diperpanjang 20 tahun lagi (pasal 35 ayat 1 UUPA jo. maka HGB atas tanah Hak Milik dapat diperbaharui dengan akta PPAT dan didaftar di Kantor pertanahan. selain dengan syarat tersebut di atas. (4) tanah tersebut masih sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah yang bersangkutan.Untuk HGB di atas Tanah Negara atau tanah Hak Pengelolaan. pemegang HGB di atas tanah Negara dapat mengajukan pembaharuan hak.

(2) Menggunakan tanah sesuai dengan peruntukkan. pemegang Hak Pengelolaan atau pemegang Hak Milik sesudah HGB tersebut hapus. serta (2) Mengalihkan hak tersebut kepada pihak lain dan membebaninya. (3) Memelihara dengan baik tanah dan bangunan yang ada di atasnya serta menjaga kelestarian hidup. (6) Menyerahkan sertipikat HGB yang telah hapus kepada Kepala Kantor Pertanahan. (5) Menyerahkan kembali tanah yang diberikan dengan HGB kepada Negara.Kewajiban dan Hak Pemegang HGB Kewajiban: (1) Membayar uang pemasukan kepada Negara. Pemegang HGB berhak untuk : (1) Menguasai dan mempergunakan tanahnya selama waktu tertentu untuk mendirikan dan mempunyai bangunan untuk keperluan pribadi atau usahanya. (4) Memberikan jalan keluar atau jalan air atau kemudahan lain bagi pekarangan atau bidang tanah yang terkurung karena Keadaan geografis atau sebab lain. .

Dibatalkan karena syarat tidak terpenuhi. 20/1961). Dilepaskan secara suka rela oleh pemegang haknya sebelum jangka waktu berakhir. 2. Tanahnya ditelantarkan. 6. Tanahnya musnah. Jangka waktunya berakhir. 4. Dicabut untuk kepentingan umum (UU No. 7.Hapusnya HGB 1. 5. 3. Pemegang hak tidak memenuhi syarat sebagai pemegang HGB .

.  kata “memungut hasil” menunjukkan bahwa tanah dapat digunakan untuk usaha pertanian (sebagai faktor produksi).Hak Pakai (pasal 41 UUPA) adalah hak untuk menggunakan dan/atau memungut hasil dari tanah yang langsung dikuasai oleh negara atau tanah milik orang lain. yang memberi wewenang dan kewajiban yang ditentukan dalam surat keputusan pemberian haknya (tanah negara) atau dalam perjanjian dengan pemilik tanahnya yang bukan perjanjian sewa menyewa atau perjanjian pengolahan tanah (tanah milik orang lain) Dari rumusan di atas dapat disimpulkan bahwa Hak Pakai adalah hak atas tanah yang dapat dipergunakan untuk non pertanian dan pertanian. menunjukkan bahwa tanah itu dapat digunakan untuk bangunan (sebagai wadah). yaitu:  Kata “menggunakan”.

Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai atas Tanah Negara. PP No. 41 Tahun 1996 tentang Pemilikan Rumah Tempat Tinggal atau Hunian oleh Orang Asing Yang Berkedudukan di Indonesia. PMA No.Peraturan (dasar hukumnya) HAK PAKAI (1) UUPA: pasal 41 s/d 43. PP No. (2) Luar UUPA: UU No. 1/1967 tentang Penanaman Modal Asing. 9 Tahun 1999. 1/1966 tentang Pendaftaran Hak Pakai dan Hak Pengelolaan. Pasal 1 PMA No. 40 Tahun 1996 tentang Hak Guna Usaha. Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan No. pasal 49 ayat 1. UU No. 9/1965 tentang Pelaksanaan Konversi Hak atas Tanah dan Ketentuan -ketentuan tentang Kebijaksanaan selanjutnya. tentang Tata cara Pemberian dan Pembatalan Hak Atas Tanah Negara dan Hak Pengelolaan . pasal 50 ayat 2 jo. 4/1996 tentang Hak Tanggungan atas Tanah Beserta Benda-benda Yang Berkaitan Dengan Tanah. Pasal 52.

dapat diperpanjang 20 tahun dan dapat diperbaharui. sosial serta perwakilan negara asing dan badan internasional.Jangka waktu HAK PAKAI (1) Untuk penggunaan umum (individual): . keagamaan. dan dapat diperbaharui dengan pemberian Hak Pakai baru dengan akta PPAT dan didaftarkan di Kantor Pertanahan (2)Hak Pakai khusus jangka waktu haknya adalah diberikan selama dipergunakan untuk keperluan khusus. . . yaitu kepentingan instansi pemerintah.atas tanah Negara adalah 25 tahun.atas tanah Hak Milik adalah 25 tahun dan tidak dapat diperpanjang.

Lembaga Pemerintah Non Departemen.SUBYEK PEMEGANG HAK PAKAI (1) Warganegara Indonesia. (5) Warganegara asing yang berkedudukan di Indonesia. (4) Badan-badan keagamaan dan sosial. dan Pemerintah Daerah. (2) Badan Hukum Indonesia. (6) Badan hukum asing yang mempunyai perwakilan di Indonesia. (3) Departemen. (7) Perwakilan negara asing dan perwakilan badan internasional .

serta (2) Mengalihkan hak tersebut kepada pihak lain dan membebaninya. Pemegang Hak Pakai berhak untuk : (1) Menguasai dan mempergunakan tanahnya selama waktu tertentu untuk mendirikan dan mempunyai bangunan untuk keperluan pribadi atau usahanya.Kewajiban dan Hak Pemegang Hak Pakai Pemegang Hak Pakai berkewajiban untuk : (1) Membayar uang pemasukan kepada Negara. (5) Menyerahkan kembali tanah yang diberikan dengan Hak Pakai kepada Negara. (3) Memelihara dengan baik tanah dan bangunan yang ada di atasnya serta menjaga kelestarian hidup. (4) Memberikan jalan keluar atau jalan air atau kemudahan lain bagi pekarangan atau bidang tanah yang terkurung karena keadaan geografis atau sebab lain. (2) Menggunakan tanah sesuai dengan peruntukkan dan persyaratan. . (6) Menyerahkan sertipikat Hak Pakai yang telah hapus kepada Kepala Kantor Pertanahan. pemegang Hak Pengelolaan atau pemegang Hak Milik sesudah Hak Pakai tersebut hapus.

.Berasal dari konversi hak-hak lama pada tanggap 24 September 1960 . . maka terjadinya adalah melalui permohonan hak dengan Surat Keputusan Pemberian Hak (SKPH). 56/Prp/1960.Jika asal tanah adalah Tanah Negara.LUAS TANAH DAN TERJADINYA Luas Tanah (1) Untuk tanah bangunan : tidak terbatas (2) Untuk tanah pertanian : dibatasi dengan UU No.Jika berasal dari tanah yang telah dikuasai dengan hak tertentu (Hak Milik dan Hak Pengelolaan) maka terjadinya melalui perjanjian antara pemilik tanah tersebut dengan pihak yang akan memperoleh Hak Pakai. Terjadinya (pasal 41 ayat 1) .

5/1974) Hak Pengelolaan adalah hak atas tanah yang memberikan wewenang kepada pemegangnya untuk : Pengertian dan Isi kewenangan 1.(Baca : Pasal 3 PMDN No. Menggunakan tanah untuk keperluan sendiri. 2. . Menyerahkan bagian dari tanahnya kepada pihak ketiga menurut persyaratan yang telah ditentukan bagi pemegang hak tersebut yang meliputi segi peruntukkan. 3. segi penggunaan. Merencanakan peruntukkan dan penggunaan tanahnya. segi jangka waktu dan segi keuangannya.

penggunaan dan jangka waktu dan keuangan. yaitu hak penguasaan atas tanah negara yang dengan PMA No.9/1965 dikonversi menjadi hak atas tanah menurut hukum tanah nasional : 1. maka Hak Beheer dikonversi menjadi Hak Pengelolaan. maka dikonversi menjadi Hak Pakai.Sejarah HPL • Hak Pengelolaan ini berasal dari “Hak Beheer”. Jika tanah Hak Beheer tsb. Jika tanah Hak Beheer tsb. . digunakan oleh instansi pemerintah untuk keperluan sendiri. tidak hanya digunakan sendiri tetapi akan diserahkan kepada pihak ketiga bagian-bagian dari tanah lainnya yang meliputi segi peruntukkan. 2.

tetapi hanya tersirat dalam Penjelasan Umum bagian A. 8/1953 tentang Penguasaan Tanah-Tanah Negara b. 9 Tahun 1999. (2).Peraturan (Dasar Hukumnya) (1) Di dalam UUPA: UUPA tidak secara tegas mengatur dan memuat definisi HPL. PMA Nomor 9/1965 tentang Pelaksanaan Konversi Hak atas Tanah dan Ketentuan-ketentuan tentang Kebijaksanaan selanjutnya c. PMDN No. 3/1987 tentang Penyediaan dan Pemberian Hak atas Tanah untuk keperluan Pembangunan Perumahan . PP No. 1/1966 tentang Pendaftaran Hak Pakai dan Hak Pengelolaan f. PMA No. II. 5/1974 tentang Ketentuan-ketentuan mengenai penyediaan dan pemberian tanah untuk keperluan perusahaan d. PMDN No. tentang Tata cara Pemberian dan Pembatalan Hak Atas Tanah Negara dan Hak Pengelolaan menggantikan PMDN 1/19777 e. (2) Di luar UUPA: a. Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan No.

.Setelah jangka waktu hak atas tanah yang diberikan kepada pihak ketiga itu berakhir maka tanah tersebut kembali lagi ke dalam penguasaan sepenuhnya pemegang Hak Pengelolaan dalam keadaan bebas dari hakhak yang membebaninya.

Sifat dan Ciri-ciri HPL • • • • • Tergolong hak yang wajib didaftarkan menurut ketentuan Peraturan Pemerintah No. . 24/1997 tentang Pendaftaran Tanah Tidak dapat dipindahtangankan Tidak dapat dijadikan jaminan hutang Berisi kewenangan perdata dan kewenangan publik Jangka waktu HPL adalah selama tanah tersebut dipergunakan sesuai ketentuan dalam pemberian HPL tsb.

Siapa saja yang dapat menjadi Subyek HPL ??? • Badan Hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia yang seluruh modalnya dimiliki oleh Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah yang bergerak dalam kegiatan usaha sejenis dengan industri dan pelabuhan (BUMN dan BUMD) Lembaga dan instansi pemerintah pusat dan pemda • .

• Luas Tanah HPL: Tidak dibatasi tetapi disesuaikan dengan kebutuhan peruntukan dan penggunaan tanahnya • Apa saja yang menjadi sebab hapusnya HPL ??? (1) Dilepaskan oleh pemegang haknya (Pelepasan Hak) (2) Dicabut untuk kepentingan umum (Pencabutan Hak) (3) Diterlantarkan (4) Tanahnya musnah .More About HPL • Bagaimana Lahirnya HPL ??? • Melalui Penetapan Pemerintah (PEMBERIAN HAK) karenanya HPL dapat digolongkan Jenis HAK ATAS TANAH PRIMER/ORIGINER.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful