P. 1
birokrasi

birokrasi

|Views: 352|Likes:
Published by Hasri Puspita Ainun

More info:

Published by: Hasri Puspita Ainun on Apr 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/12/2014

pdf

text

original

Model Reformasi Birokrasi Indonesia

Syafuan Rozi Soebhan"

Abstrak
Pada masa Orde Baru sampai menjelang masa transisi tahun 1998,Kondisi birokrasi di Indonesia mengalami sakit bureaumania seperti kecenderungan inefisiensi; penyalahgunaan wewenang, kolusi, korupsi dan nepotisme. Birokrasi dijadikan alat status quo mengkooptasi masyarakat guna mempertahankan dan memperluas kekuasaan monolitik. Birokrasi Orde Baru rdijadikan secara struktural untuk mendukung pemenangan partai politik pemerintoh. Padahal birokrasi diperlukan sebagai aktor public services yang netral dan adil, tapt dalam beberapa kasus menjadi penghambat dan sumber masalah yang menghalangi berkembangnya keadilan dan demokrasi. Reformasi merupakan langkah-langkah perbaikan terhadap proses pembusukan politik, termasuk buruknya kinerja birokrasi. Tujuan tulisan tnt berupaya untuk mengelaborasi model reformasi birokrasi di Indonesia pasca Orde Baru.

Pendahuluan
Buruknya birokrasi tetap menjaeli salah satu problem terbesar yang dihadapi Asia, meskipun reformasi dalam skala lwnayan telah berlangsung eli beberapa negara yang terpukul oleh krisis finansial ill tahun .1997. Dari beberapa negara yang eliteliti Political and Economic Risk Consultancy (PERC) yang berbasis di Hongkong terhadap para eksekutif bisnis asing (expatriats), birokrasi Indonesia termasuk terburuk dan belum mengalami perbaikan berarti dibandingkan keadaan eli tahun 1999, meskipun lebih baik dibanding keadaan Cina, Vietnam dan India Di tahun 2000, Indonesia memperoleh skor 8,0 atau tak bergerak dari skor 1999, dari kisaran skor yang dimungkinkan, yakni nol untuk terbaik dan 10 untuk . terburuk. Skor 8,0 atau jauh di bawah rata-rata ini diperoleh berdasarkan pengalaman dan persepsi expatriats yang menjaeli responden bahwa masih banyak pejabat tinggi pemerintah Indonesia yang memanfaatkan posisi mereka untuk memperkaya diri sendiri dan orang terdekat,' Para eksekutifbisnis yang disurvei PERC juga berpendapat, sebagian besar negara eli kawasan Asiamasih perlu menekan hambatan birokrasi (red tape barriers) tersebut. Meskipun demikian, mereka juga mencatat beberapa kemajuan, terutama dengan tekanan terhadap birokrasi untuk melakukan reformasi. Hal ini, menurut temuan PERC teIjadi di beberapa negara Asia seperti Thailand dan Korea .Selatan. Peringkat Thailand dan Korea Selatan tahun 2000 membaik, meskipun di bawah
.) Kandidat Peneliti Puslitbang Kependudukan dan Kewilayahan UP! 1 Lihat Masalah Birokrasi di Indonesia, Jumal Transparansi, Website Masyarakat
Indonesia, Edisi 18 Maret 2000.

Transparansi

Widyariset, Vol. /,2000

211

rata-rata, yakni masing-rnasing 6,5 dan 7,5 dari tahun lalu yang 8,14 dan 8,7. Tahun laln, hasil penelitian PERC menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat korupsi tertinggi dan sarat kroniisrne dengan skor 9,91 untuk korupsi dan 9,09 untuk kroniisme dengan skala penilaian yang sama antara nol yang terbaik hingga sepuluh yang terburuk. Kemunculan reformasi birokrasi seiring dengan terjadinya gelombang transisi menuju demokrasi di tahun 1998. Hal ini dipicu oleh krisis ekonomi dan pembusukan politik yang rnengundang unjuk rasa mahasiswa, kalangan intelektual dan massa. Soeharto kemudian mengundurkan diri sebagai presiden RI tanggal 21 Mei 1998. Kondisi politik nasional mengalami dinamika perubahan yang begitu cepat. Berbagai visi dan agenda reformasi bergulir, muaranya antara lain ingin mengembalikan kedaulatan pada rakyat dengan mengontrol eksekutif, dengan menuntut dicabutnya dwi fungsi ABRI atau militerisme di Indonesia, ditegakkannya supremasi hukum, diadilinya Soeharto dan kroninya, dilakukannya amandemen UUD 45, diberikannya otonomi daerah seluas-luasnya, dibudayakannya demokrasi yang rasional dan egaliter serta dimintakannya pertanggung jawaban Orde Barn. Dalam konteks Orde Barn, kooptasi kelembagaan terhadap birokrasi terjadi sejak 1970, lewat kebijakan monoloyalitas pegawai negeri. Mulai saat itu Pegawai Negeri Sipil (PNS), menjadi mesin politik untuk mendukung status quo Presiden Soeharto. Organisasi birokrasi KORPRI dijadikan bagian dari Golkar, yaitu jalur B untuk memperkuat dukungan dengan memobilisasi PNS dalam setiap pemilu Orde Barn. Pada tahun 1998 terjadi gerakan yang ingin membenahi kepolitikan birokrasi di Indonesia. Oleh karena itu, menarik untuk mempelajari lebih lanjut mengenai upaya dan alternatif model refonnasi birokrasi Indonesia tersebut. Sampai akhir kekuasaan presiden kedua, Indonesia belum memiliki kebijakan publik yang mengatur pembatasan hubungan partai politik terhadap birokrasi dan akibatnya peran birokrasi menjadi infinitas (meluas tidak terbatas). Lewat kooptasi Golkar, peran birokrasi sipil cenderung menjadi penggerak mobilisasi partisipasi semu masya rakat dalam pemilu. Belum ada peraturan perundangan yang membatasi birokrasi untuk tidak diperbolehkan terlibat dalam kegiatan memperoleh kekuasaan.' Berikut ini ilustrasi atau model yang menggambarkan perbandingan antara birokrasi yang menimbulkan pembusukan politik karena politisasi dan model netralitas politik birokrasi, yang diharapkan ideal dan sehat untuk Indonesia ke

2

Birokrasi yang ideal dan sehat adalah hirokrasi yang tidak berpolitik, tidak ikut dalam pemenangan partai dalam suatu Pemilu dan tidak diskriminatif dalam rangka memobilisasi dukungan puhlik

untuk kemenangan partai tertentu, Birokrasi yang ideal dan sehat adalah birokrasi yang menjaga jarak terhadap partai politik, bersikap profesional, sensitif terhadap keinginan publik yang membutnhkan eflsiensi, kualitas, Birokrasi yang ideal dan sehat mendukung terbangunnya
dernokrasi, keadilan dan pen egak kan H A\1.

212

Model Reformasi Birokrasi Indonesia

Syafuan Rozi Soebhan

Clt~ciri: • KORPRI dOIyllUlkanI""apenden darl Panai PoIMo.ingan dan organisasi masyarakat. antara lain menggunakan dana. LKMD. mendukung Golkar. t PanIlU wadJII!tJlmlal «gantsasi"~S T«fIaofa9 PWIi.. beIjat3k dengan ParIaI 1'Ilm. sebagai berikutr' Mod'el2 N..r1Ialp •• r.1 din r--crina~I_. Paltiolpllll DlDnornM. Struktur yang mengukuhkan politisasi birokrasi. Jika Golkar kalah di suam daen!h. menggambarkan KORPRl sebagai organisasi profeai pegawai negeri ·sipil menyatakan dirinya independen dari partai politik manapun. . unluk. melarang birokrasi melakukan tindakan diskriminatif tedtadap pengurus dan pendukung partai politik tertentu. Ilustrasi di atas diharapkan bisa menjadi model ketangka berfddrtentang ada atau tidaknya jarak antara birokrasi dengan pactai polit1k pemerintah pada maW negara. Model ini menggambadcan berlangsungnya korporatisme negara terbadap organisasi kepeot. fasilitas umum tidak eliprioritaskan elibangun di tempat tersebut Tujuannya untuk meo. • MilS)'lIZIkat. Karang T8runa. 2000. KNPI. Jab" pareua. hahwa PNS (birokrasj) adalah bagian atau faksi dari Gob. dan model n tampak berusaha diwujudkan pada masa Orde Reformasi dewasa ini di Indonesia. 511999 yang dibuat saat gerakan reformasi bergulir disebutkan. dengan memakai instrumen birokrasi daJam rangka mencari dukungan dan mempertahankan kekuasaan rezim. PKK. • BRkruI lIdol< bct_ PoIKIk.~_uan~OOj)Iasipciik. . aranya dengan kooptasil mobiJisasi C _partisipasi organisasi kemasyarakatan (Dharma Wanita. Model pertama tampak terjadi pada masa Orde Bam. Nege". program dan fasilitas negara untuk kepentingan Golkar. •MilI)'lI_lImIobilull & loIIIooplDI.. Kalimat kunci dari kedua model ini adalah apakah ada jarak yang tegas atau tidak antara birokrasi dan partai politik..6 Tahun 1970 yang mengharuskan sikap monoloyalitas PNS terbadap Gob. Hal ito dapat di1acak dari pendekatan stIUkturaI.. Bersl<op NQn OiII<dr!IInatIrlerfuld~p paI1aj polik manapun. berpolitik. Serbagai praktik tekanan politis dan tindakan diskriminatif terjaeli terbadap masyarakat pemilih daJam pemilihan umum Orde.2000 213 .. Model 2.' Widyariset. digambarkan terjadinya proses politisasi birokrasi melalui kebijakan publik untuk melibatkan organisasi birokrasi (KORPRI).SMdaIIKMontpI>Ir~/tKIopMdonIahlllIo"_.en teknis dan di pemerintahan daerah.n: BlIPI' 1"1dlawun 010IISyaI\Ian R~. . darnol<rall oallit.-omoitPNS . Vol.. yaitu bagaimana peraturan yang dibuat oleh pemerintah Orde Baru maupun Orde Refonnasi. Civil Soci8ty ralcal Ciri·cirl: · ~a ~IIU KORPRl • B•• •. 3 Pada model I.dominasi dan menguasai parlemen seeara teNsmenerus. PP No.Monoloyalllu B. 1. J Hal ini bertolak belakang sekali dengan kebijakan eliawal Orde Baru. melarang penggunaan program. dana dan fasilitas negara untuk kepcntingan pcmenangan partai politik tertentu. -+ -- . Orde Bam. Pada pasal 3.._ . ~-'... dst. PP (Peraturan Pemerintah) No." Wn membaflllun eM Socioly (alia dernokres~ HAMdan kaadilon OWI~.depan.yang berp. • Pooron I.tnl"tlU~ PoUtlk Blrokras! r------.). PNS iw"us bersikap netral dan menghindari penggunaan fasilitas negara untuk golongan tertentu. PemooWM.. Kemudian dibuat kebijakan publik berupa peraturan dan sanksi yang melarang pejabat dan pegawai birokrasi. pejabat birokrasi dan star pegawainya eli departem. _I'oIIfIIIK<tpotI"l!.Im".

M. tidak ada pelaksanaan otoritas yang benar-benar birokratis yakni semata-mata melalui pejabat yang dibayar dan diangkat secara kontraktual.Tujuan Penulisan Birokrasi diperlukan. filsuf dari Peraneis. 1753-1769. 146. 214 Model Reformasi Birokrasi Indonesia ~qfUan RoziSoebhan .F. Reformasi merupakan langkah-Iangkah perbaikan pembusukan politik di Indonesia 4 Tujuan tulisan ini berupaya untuk. dengan civil society yang terdiri dari berbagai kepentingan khusus dalam masyarakat. yang merefleksikan kepentingan urnurn. tapi terkadang menjadi penghambat dan sumber masalah berkembangnya demokrasi. Max Weber. menurut Weber. karena dalam kenyataannya kebijaksanaan-kebijaksanaan negara seringkali hanya menguntungkan sekelompok orang dalam masyarakat.W. terj. him. Philosophique et Critique. Vol. (Jakarta:LP3ES. 1. disebabkan adanya sosok birokrasi yang bersifat infmitas. Konsep Weber ini membantu menjelaskan siapa yang dimaksud dan apa ciri-ciri suatu birokrasi modem. 4. guburnur. tidak lagi menjadi bagian Golkar atau partai politik rnanapun. Baron de Grimm. PRlSMA No. Birokrasi. Selain itu." Weber memandang birokrasi sebagai 4 Deugau adanya gerakan reforrnasi yang berhasil menggantikanSoeharto. Yogyakarta: Tiara Wacana.. 31. M: Rusli Karim dan Totok Daryanto. dan sejenisnya yang dipilih lewat proses pemilihan politik. timbul pula gerakan yang menginginkun posisi hirokrasi (KORPRI) menjadi netral atau independen. Weber menolak untuk." Hegel membicarakan birokrasi dalam konteks perlunya menciptakan suatu struktur yang dapat menjembatani antara negara. Berpolitiknya birokrasi merupakan bagian kooptasi kelembagaan oleh penguasa yang merupakan salah satu faktor penyebab yang menyurnbang terjadinya pembusukan politik dan ekonomi di Indonesia di kemudian had. 5. 1989. 1989. suatu istilah yang ditulis oIeh filsuf Perancis. 1982) hIm. Informasi ini diambil dari Martin Albrow. Hegel. Correspondance.552. 8 Hal yang lazim disebut sebagai pejabat negara atau pejabat politik seperti presiden. rnenyebut birokrasi bagi pejabat yang dipilih atau seseorang yang diseleksi oleh sekumpulan orang. Kerangka Pemikiran Studi birokrasi terc\ahulu dilakukan oleh filsuf Jerman. 6 Bureaumania. Baron de Grimm. Rusli Karim et. yaitu suatu institusi yang melakukan pengaturan yang memiliki ketidakterbatasan wewenang dan ruang gerak di suatu negara". him. dnlam Arief Budiman. edisi 1813. him. terj. Birokrasl. Litteraire. Bentuk gerakannya cukup beragam dari yang menyatakan keluar dari KORPRl. Seorang bureaumania Teoritisi birokrasi modern yang terkenal dan sering dijadikan acuan ilmuan sosial adalah Max Weber. Yogyakarta: Tiara Wacana. para menteri.al. 5 Lihat G. mengelaborasi model arah reformasi birokrasi di Indonesia pasca Orde Barn. dikutip dari Martin Albrow.' Weber berpendapat eiri pokok pejabat birokratis bahwa ia adalah orang yang diangkat. sampai menginginkan pembubaran organisasi birokrasi tersebut.7. "Bentuk Negara dan Pemerataan Hasil-hasil Pembangunan". hlm. Wirtschaft lind Gesellschaft. Friederich Hegel menilai bahwa birokrasi seharusnya melayani kepentingan umum. edisi ke empat. pernah meneliti keadaan yaitu adanya sebuah penyakit yang jelas-jelas merusak di Perancis.

sangat menentuk:an apakah perubahan sosial ekonomi yang ternsmenerus itu akan bisa menuju kepada sejumlah altematif sebagai berikut: (a) ke arah pengembangan sistem demokratik yang kompetitif berdasarkan partai politik 9 Ibid hlm. ed.'! Bila dikaitkan dengan konteks perubahan. Ada hierarki. Mereka merniliki gaji berjenjang menumt kedudukan dalam hierarki dan hak-hak pensiun. 9 10. dalam Political Power and Communications in Indonesia. berdasarkan suatu 2. 3. 4. New York. Pos jabatan adalah lapangan kerjanya sendiri atau lapangan keIja pokoknya. 1947. Para pejabat diangkat berdasarkan suatu kontrak. Pejabat mungkin tidak sesuai dengan posnya maupun dengan sumber yang tersedia di pos tersebut. hanya menjelaskan tugas-tugas impersonal jabatan (berkemampuan mernisahkan urusan pnbadi dengan urusan dinas). Para anggota staf secara pribadi bebas. (penjenjangan. 9. Pejabat dapat selalu menempati posnya dan dalam keadaan tertentu dapatjuga diberhentikan. 33·34. "Bureaucratic Polity: A Theortticai Framework for The Analysis of Power and Communications in Indonesia".unsur pokok dalam rasionalisasi dunia modem. The Free Press. Mereka dipiIih berdasarkan kualifikasi profesional. dalam pandangan Jakson pada situasi bureaucratic polity ini. birokrasi atau aparat administrasi ini merupakan unsur terpenting bagi pertumbuhan dan perkembangan organisasi. suatu birokrasi yang legal rasional. Fungsi-fungsi jabatan ditentukan secara tegas (pembagian kerja yangjelas). 6. (ada pembagian kerja yangjelas). Hal ini merupakan un sur formal yang menjadi ciri khas dati Weber dengan ideal type of bureaucracy-uye. Jakson. 1978) hlm. Vol. 2000 215 . 5. 3·22. dan Lucian W. Pye (Berkley: University of California Press. Bagi Weber. Terdapat suatu struk:tur karirdan senioritas maupun keahlian (merit). tingkatan) jabatan yang jelas. Widyariset. yang antara lain menjelaskan keterlibatan birokrasi dalam bidang politik. yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: " 1. Organisasi ini mempakan alat untuk mencapai tujuan tertentu. Oleh karena itu perhatian Weber tertuju pada stmktur yang diatur secara normatif dan mekanisme untuk mempertahankan struktur itu. 8. Pejabat tunduk pada sistem disipliner dan kontrol yang seragam. pilihan kaum elit terutama presiden. promosi dimungkinkan berdasarkan 7. 1. The Theory of Social and Economic Organization. 11 Karl D. Jackson." diploma (ijazah) yang diperoleh melalui ujian. 10 Max Weber.' 0 Beberapa model teoritis yang digunakan untuk: memahami ciri politik dan birokrasi di Indonesia masa Orde Bam adalah model bureaucratic polity yang dikemukakan oleh Karl D.

lembaga-Iembaga politik lainnya seperti parlernen. "The New Order: The Prospect {or Political Stability" dalam Indonesia: The Making of Nation. 12 Sebagai competiting theory atau teori pembanding. "Indonesia New Order as a Bureaucratic Polity. Mackie (Canberra: Research School of Pacific Studies. Harold Crouch melihat bahwa kepolitikan birokratik di Indonesia mengandung tiga ciri utama. unit-unit pokok dibentuk dan dijaga sebagai organ-organ pembantu dan tergantung sepenuhnya pada negara dari pada dengan korporatisme masyarakat. yang sebagian merupakan kclemahan partai-partai politik. Bahan ini diambil dari Manuel Kaisiepo dalam Jurnal Ilmu PolitikNo. The Politics of Modernization (Chicago: The University of Chicago Press.27. partai politik dan kelompok-kelompok kepentingan berada dalam keadaan lemah sehingga tidak mampu mengimbangi atau mengontrol kekuasaan birokrasi.A.'6 suatu strategi mobilisasi dalam korporatisme negara dapat dipaoclang sebagai menggalang atau diarahkan pada mobilisasi. (b) bergerak ke arah terbenmknya suatu s partai tunggal ke arah suatu rezim mobilisasi dengan pendasaran ideologis. 13 Harold Crouch. Sebaliknya. Jakarta: AIPI-Gramedia. King mengemukakan konsep korporatisme negara. 4. apter.hlm. maka sua III strategi organisasi korporatis akan dilihat sebagai strategi mengasingkan dan membungkam partisipasi. kalau mobilisasi digunakan dalam pengertian David Apter. 2. Dalam hal ini. a Neopatrimonial Regime or a Bureaucratic-authoritarian Regime: What Difference Does it Make]. korporatisme dikecam karena kecendenmgannya untuk mcmobilisasi masyarakat tanpa diikuti partisipasi yang otonomous. 1980). him. 31. Ketiga. hlm. 17 thid. didukung secara resmi. dalam Interpreting Indonesian Politics. tanpa partisipasi. J. mengungkung individu dan kelompok di dalam kerangka struktur yang ditetapkan secara legal yang mendapat legitimasi keberadaan mereka dari dan diintegrasikan oleh suatu pusat birokrasi tunggal. Ibid. 14 Dwight Y. Kedua. disisi lain. dikutip dari Manuel Kaisiepo. spontan atau kalkulatif Kalau mobilisasi digunakan dalam pengertian Karl Deutsch. The Australian Nattonal Universtty.: 16 David E." Model korporatisme negara di satu sisi menguntungkan negara otoriter untuk mempolarisasikan konfrontasi kelompok yang cenderung membahayakan otonomi kekuasaan eksekutif negara. massa di luar birokrasi secara politik adalah pasif. (j59.'" Dwight Y. Jurnal Ilmu Politik No. lembaga politik yang dominan adalah birokrasi.. 216 Model Reformasi Birolcrasi Indonesia $Yq1Uan RoziSoebhan . Akan tetapi. ed.111<1SSa erta partisipasi warga negara. King. 31. Pertama. ed.' i 12 Ibid .C. tidak bersaingan dan diawasi oleh agen-agen birokrasi negara.. hlm. Iegitimasi dan bekerjanya negara tergantung pada dukungan dan pengakuan atas unsur-unsur pokok berupa unit-unit persekutuan yang otonom. Anderson dan Kahin. Sistem korporatis negara membuat segmentasi masyarakat secara vertikal." Selanjutnya dijelaskan lebih lanjut oleh Manuel Kaisiepo bahwa korporatisme dapal dipahami sebagai monopolisasi perwakilan kepentingan oleh organisasiorganisasi fungsional. Gramedill-AIPI. atau (c) terjadinya kelangsungan atau siklus berulang suatu kepolitikan-birokratik. Pada masa Orde Barn. IS Manuel Kaisiepo. 1965).

sebaIiknya upaya mobilisasi cenderung Iebih kuat pada era Orde Bam. Lihat Samuel P. lihat Eep. Peranan politik birokrasi ini semakin jelas bila dikaitkan dengan fenomena Golkar sebagai kekuatan politik utama. Hal itu melemahkan kontrol terhadap pemerintah. Penelitian Liddle itu menunjukkan bahwa apa yang disebut Huntington dan Nelson sebagai partisipasi politik yang otonom. Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) diakui. dan tentang organisasi buruh Princen. 187. Pemilih cenderung lebih banyak dikendalikan oleh 'komando' pamong atau pejabat birokrasi dim militer. yang eksistensi dan peranannya tidak bisa dipahami secara lain kecuali sebagai "perpanjangan tangan" dari birokrasi itu sendiri. Orde Barn ditandai oleh adanya gejala ke arah krisis partisipasi (kooptasi dan mobilisasi poIitik) yang antara lain diterapkan lewat tangan-tangan birokratisasi yaitu. 21 Untuk menjelaskan sebab kemuculan gerakan netralitas politik birokrasi yang dilakukan oleh Departemen Penerangan. lewat negara hanya mengakui ada satu wadah tunggal organisasi payung (Surat Izin Pendirian Organisasi hanya diberikan untuk satu organisasi. 2000 217 . baik birokrasi pusat maupun Iokal. Federasi Buruh Indonesia (FBI). Aliansi Jurnalistik Indonesia (AJI) dipersoaikan. bisa mengacu pada pendapat Antlov and Cederroth.C Princen dipersoalkan keberadaannya 1994. Serikat Buruh Independen yang didirikan H. 18 Kooptasi masyarakat lewat instrumen birokrasi bukanlah suatu gejala yang sehat. et.J. 18 William 9 1 Lihat Myron Weiner. Jurnal Jlmu Politik No. lewat lembaga perizinan departemen tertentu yang dinyatakanterkait (Surat Izin PenerbitartBurat Izin Us aha.William Liddle di daIam penelitiannya tentang Pemilu-Pemilu Orde Bam menunjukkan sejumlah partisipan pemilu memberikan suara dan pilihan partai politiknya relatif lebih banyak disebabkan atau dipengaruhi oleh mobilisasi birokrasi negara. Krisis partisipasi politik menurut Myron Weiner adalah sebagai suatu keadaan yang ditandai oleh dianggap tidak sah dan tidak legalnya tuntutan dan tingkah laku tertentu masyarakat yang ingin berperan serta dalam politik dan pemerintahan. 21 Lihat Manuel Kaisiepo. Hal itu terjadi karena alasan berikut bersamaan dengan proses depolitisasi massa di lapisan bawah melalui konsep massa mengambang (floating mass) dan pengebirian partai-partai politik lewat proses fusi. 1971 hIm. terj. New Jersey: Princeton University Press. petisi." daIam Leonard Binder. Crisis and Sequences in Political Development.. Nug Kagasungkana (Jakarta: Grafiti Press. him. 1. Nelson. Vol. sehingga berlangsunglah krisis partisipasi politik di dalam negara. terj. 20 Kepolitikan R. Jakarta: AIPI-Gramedia Widyariset. "Political Participation: Crisis of The Political Process. Huntington dan Joan M. Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI).berarti.l'' Sehingga berbagai bentuk oposisi yang bertindak sebagai kekuatan pengimbang dan kontrol sosial masyarakat seperti penyampaian kritik. Surat Izin Keramaian dan Berkumpul). Sabat Simamora (Jakarta: Rineke Cipta. hIm. 32-33. 46." Manuel Kaiseipo menjelaskan beberapa sebab mengapa peranan birokrasi semakin penting dan meluas selama Orde Bam. unjuk rasa mendapatkan tekanan represif dari pemerintah lewat instrumen birokrasi yang berpihak terhadap kekuatan politik partai yang sedang berkuasa. Partisipasi Politik di Negara Berkembang. him. contob Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) diakui. 1992).4. maka birokrasi dimunculkan baik sebagai agen pembangunan maupun sebagai alat untuk mengontrol perilaku politik rakyat.al. 1990). 9-14. Liddle" Pemilu-Pemilu Orde Baru. kurang terlihat secara .

khususnya dari pegawai birokrasi itu sendiri". perbaikan aspek kultural kejujuran. efektif dan produktif (good governance). sistem penyelenggaraan pemerintahan yang demokratis. yang menyatakan: "Praktik birokrasi di negara-negara berkembang menunjukkan pemihakan birokrasi pada suatu partai politik telah memunculkan ketidakpuasan. Jum'at. Politisasi Birokrasi berlangsung dengan peraturan pemerintah yang mewajibkan monoloyalitas birokrasi terhadap Golkar. dibuatnya aturan-aturan yang adil mengenai mekanisme pelaksanaan Iewat proses politik yang trnnsparan. Golkar" 218 Model Reformasi Birokrasi Indonesia ~~an RoziSoebhan . toleransi. Nepotisme dan Kroniisme terjadi juga dalam pengangkatan anggota DPRIMPR Penyalahgunaan hukurn untuk kekuasaan dan bisnis terjaeli Iewat Keppres untuk. sistem perwakilan politik. eksekutif yang bertanggung jawab terhadap publik. Kedua. semangat kerja sarna. terjaeli juga sakralisasi kekuasaan eli tangan presiden. Dalam kekaryaan ini. sistem pemilu. disiplin. 1994. Ketiga. antikekerasan. Kontrol terhadap media massa oleh Departemen Penerangan terjadi lewat pencabutan Surat Izin Penerbitan Pers. dirjen. memperhatikan aspek struktur. kepentingan bisnis keluarga dan kroni. fungsi. Selain itu terjadi juga penyeragaman pemerintahan lokal eli berbagai daerah menjadi bentuk kelurahan yang mematikan keberadaan tokoh dan adat Iokal. KORPRI dan Kekaryaan ABRI menjaeli mesin politik Golkar sehingga bertindak kooptasi dan diskriminatif terhadap masyarakat. teruji dan dikajinya aspek ideologi dan konstitusi. "PNS Berpolitik untuk Kepentingan dalam Harlan Umum Suara Merdeka. Akibat berkuasa cukup lama. 22 Januari 1999. ditunjuk dan diangkat menjaeli pejabat yang memimpin posisi kunci di jajaran pemerintahan sipil dari tingkat menteri. Selain itu berlangsung juga program Kekaryaan ABRI. personil ABRI masuk atau 'dimasukkan'. Kelima. perbaikan rancang bangun sistem kepartaian.22 Pembusukan Politik di Indonesia Pada akhir pemerintahan presiden Soeharto terjadi pemusatan kekuasaan yang disebabkan oleh belum adanya pembatasan yang tegas tentang masa jabatan presiden. menghargai perbedaan. Kritik sosial dan sikap oposisi tidak mendapat tempat dalam keadaan tersebut. lihat Teguh Yuwono.1994. menyumbang terjadinya pembusukan politik di Indonesia Agenda Reformasi Reformasi politik mengacu pada proses perubahan politik bertahap menuju pembentukan format politik barn yang demokratis. proses dan produk 22 Antlov and Cederroth. Keempat. Beberapa persyaratan yang diperlukan antara lain: Pertama. irjen sampai kepala-kepala bagian eli berbagaidepartemen.

. "Wacana Reformasi Politik: Rekonstruksi dati Disknsi Publik". sehingga pada tahun 2000-an nanti negeri dan penduduk Indonesia sudah siap memasuki zaman persaingan global. Widyariset. kedua. pada hari pemilihan pemberian suara dilakukan pada hari kerja di TPS ( Tempat Pemungutan Suara) terdekat dengan kantor. perlunya dibangun kesadaran (Iewat iklan layanan masyarakat. SiC) bahwa refonnasi politik di Indonesia perlu dijaJankan secara terarah dan bertahap sesuai agenda yang ditetapkan secara bersama-sama dan partisipatif. Beberapa sarannya a. ada yang menyatakan setuju (pro) dan ada yang menyatakan menolak (kontra) 23 Pada masa Orde Bam. 1998.23 Berkaitan dengan reformasi birokrasi. 26 Dalam jangka pendek. anarldIis dan anomi. pada praktiknya birokrasi terlibat dalam kepengurusan dan pemenangan parmi politik pemerintah. Untuk kasus Orde Barn. yakni lima taboo ke depan setelah Pemilu 1999. 2S Dielaborasi dati Seri Penerbitan Studi Politik.setiap komponen dalam sistem politik. dalam rangka reformasi politik perlu diciptakan beberapa kondisi. yang ber1angSllllg di sebagian kalangan masyarakat. 2000 219 . mendorong muncu1nya komitmen individual (kelompok dan komunal. dari artikel Valina Singka. penggalangan ibu-ibu Dharma Wanita mendukung Golkar lewat acara Santiaji. setiap PNS mempercleh kartu keanggotaan Golkar. Pada tahun diharapkan 2004 reformasi politik di Indonesia dapat mencapai sasaran akhir. Caranya lewat peraturan pemerintah dan KORPRI yang mewajibkan PNS memilih Golkar. pertama. c. adaIah membangun: Reinventing Government. Catalytic government: Steering rather than rowing yang maksudnya pemerintah disarankan melepaskan pekerjaan pelaksanaan yang sekiranya dapat dikerjakan masyarakat sendiri. Lab. Community-Owned Government: Empowering rather than serving. him. hal. mutu dan kenyamanan pelayanan. 24 Lihat David Osborne and Ted Gaebler. 1992. setelah Soeharto menyatakan berhenti. Walaupun. yaitu terbentuknya sistem kehidupan politik yang benar-benar terkonsolidasi berlandaskan demokrasi. sebagaimana kalangan aktor politik. b. yang maksudnya Pemerintah adalah kepunyaan masyarakat: Berilah pemberdayaan kepada masyarakat ketimbang pemerintah yang melayani. 17-26." Dengan reformasi menuju kehidupan politik yang demokratis itu akan menjadi dasar yang kuat untuk pengembangan ekonomi yang sehat. Ilmu Politik FISIP UI & Mizan.sic) terhadap dimilikinya nilai-nilai dasar demokrasi yang kemudian dikembangkan daIam interaksi sosial yang akan menghasilkan terbangunnya interkasi sistemis. Abduralunan Wahid sebagai presiden barn." Model Reformasi Birokrasi Indonesia Pembahasan pertanyaan pokok apakah birokrasi perlu berpolitik atau tidak. birokrasi diharuskan untuk hanya menyalutkan aspirasi politik mereka melalui Golkar dengan memberlakukan kebijakan monoloyalitas. I. ix. mencoba melakukan pembenahan birokrasi dengan beberapa prinsip Osborn dan Gebler tentang reinventing government?4 Konsep refonnasi politik memiliki agenda jangka pendek sebelum dilaksanakannya Pemilu 1999 dan agenda jangka panjang. dan beberapa prinsip-prinsip yang lain. Vol. Mengubur Sistem Pol/tik Orde Baru.sudnya pemerintah perlu rnenjadikan birokrasinya antar bagian bersaing dalam memberikan ketepatan. ketiga diperlukan semangat kohesivitas dan pengendalian did di tengah suasana euphoria. para ilmuwan politik dan cendikiawan pun ada yang berbeda pandangan. agar tidak terjadi suasana kontraproduktif yang mendorong kembalinya kekuatan otoritarian untuk berkuasa Iagi. merupakan persoalan yang sering dibahas dalam studi ilmn politik. Competitive Government: Injecting competition into service delivery mak.

sikap oposisi Ali Sa dikin agar KaRP Rl menyatakan keluar dari Golkar. keberpihakkan birokrasi pada Golkar lebih mengakibatkan ancamanancaman struktural ketimbang fungsional. Untuk kasus Indonesia masa transisi pemcrintahan Soeharto ke pemerintahan reformasi (1998-1999) telah memunculkan gerakan netralitas politik birokrasi yang juga dipelcpori oleh PNS seperti pembubaran KORPRl di unit Departemen Penerangan. Kedua. pelepasan seragam KORPRl oIeh dokter-dokter RSCMlFKUI. jika ada pegawai birorkasi yang memilih atau menjadi pengurus partai nonGolkar. pemihakan birokrasi pada suatn partai politik telah memunculkan ketidakpuasanketidakpuasan politik. karier organisatorisnya lebih didasarkan pada kepentingan politik (Golkar) ketimbang profesionalisme kerja. menrsak salah satu wadah tersebut. Akibatnya.27 Belajar dari pengalaman Orde Bam. karena hanya akan menjadi sasaran ketidakpuasan simpatisan partai non-Golkar atas praktik keberpihakan birokrasi itu. haruskeluar dad jajaran birokrasi. PNS Berpolitik untuk Kepentingan Golkar dalam Harian Umum Suara Merdeka. '!7 AnLlov and Cederroth. Gejala tumpang tindihnya kedua peran tersebut (sebagai pelayan masyarakat dan aktor politik sekaligus) baik dalam tingkatan perorangan manpun institusi birokrasi. 220 Model Reformasi Birokrasi Indonesia ~qtUan RoziSoebhan . keberpihakan birokrasi pada Golkar telah membawa ketakutan terhadap sebagian anggotanya. lihat Teguh Yuwono. ada kecenderungan beberapa aspek negatif yang bisa dikemukakan untuk dikaji ulang. terjadi kcterpasungan pegawai birokrasi dalam kehidupan politik. kalangan muda FKP di parlemen yang menginginkan agar PNS netral. khususnya saat kampanye. untuk membangun paradigma bam birokrasi. sebagai dampak dari keberpihakkan birokrasi dalam poIitik di Indonesia. Praktik birokrasi di negara-negara berkembang menunjukkan. desakan pembuatan PP (Peraturan Pemerintah) agar PNS bersikap netral dan tidak menggunakun fasilitas negara untuk golongan tertentu. merusak kinerja birokrasi ataupun bisa merusak kehidupan politik. KORPRI unit Departemen Kehutanan menyatakan tidak berafiliasi terhadap partai politik manapun. diduga dan diyakini akan menyebabkan conflict of interest yang pada akhimya akan. Presiden dan Menteri Dalam Negeri yang menginginkan PNS nctral. Pembatasan hak merupakan tindakan pelanggaran hak asasi manusia (HAM). seorang pegawai tak akan perna h naik pangkat secara lancar jika disinyalir tidak memilih Golkar. 22 Januari 1999. khususnya dari kalangan birokrasi itu sendiri. Kenyataan sepert i itu hampir terjad i d i semua daerah. Contolmya. Jum'at. khususnya akibat yang menimpanya jika memilih partai selain Golkar. Ketiga. yang menciptakan pembusukan politik dalam jangka panjang. Mereka yang setuju birokrasi boleh berpolitik antara lain mendasarkan diri pada asumsi dasar bahwa semua orang mempunyai hak memilih dan hak dipilih. Pcrtama. Mereka tak lagi berani rnengenakan seragam KORPRI dan PSH (Pakaian Seragam Harlan) saat kampanye berlangsung. tidak rasional membatasi peran politik birokrasi. 1994. Saat itu. khususnya soal hak-hak rakyat.terhadap peran pegawai pemerintah dalarn kebidupan politik.

Mewirausahakan Birokrast. Bahkan permohonan pembangunan fisik seperti pengaspalan jalan. Jakarta. Ix Buku ini dialibahasakan ke dalam bahasa Indonesia: David Osborne dan Ted Gaebler. antar bagian daIam memberikan pendampingan dan penyediaan regulasi dan barang-barang kebutuhan publik?9 28 Ibid .. Juga disarankan paradigma birokrasi yang bam antara lain: (a) Catalytic government: steering rather than rowing. baik dalam aspek administratif maupun pembangunan Sudah bisa ditebak saat itu. Kelima. keberpihakkan birorkasi pada salah satu partai politik memperlemah profesionaIisme organisasi pemerintahan.Keempat. him. 2000 221 . bukan lagi dominasi atau kontrol atasan. tetapi jika bukan. Vol. jangan terIalu berharap atau perIu menambahkan "nang pelicin". maka akan dengan lancar mengurusnya. berIaku hal yang sarna. kerja tim dan kontrol rekan kerja (peer group). Reinventing Government. Tegnh Yuwono. karenanya menjadi milik masyarakat Pemerintah akan bertindak lebih utama jika memberikan pemberdayaan kepada masyarakat untuk mengurus masalalmya secara mandiri. (c) Competitive government: injecting competition into service delivery. Charles E. disarankan untuk berubah menjadi birokrasi yang memperhatikan partisipasi. Widyariset. Kondisi ini nyata dalam pengurusan persoalan perizinan. Dalam pengurusan surat-surat administratif. Pemerintah perIu menjadikan birokrasinya saling bersaing. jangan berharap daerah tersebut mampu dan diperioritaskan untuk dibangun sarana dan prasana fisiknya dengan lancar. pembuatan jernbatan dan penyediaan fasilitas listrik. tidak akan tercapai jika Golkar kaIah di tempat itu. Pemerintah dipilih oleh wakil masyarakat. Pemerintah dan birokrasinya disarankan untuk melepaskan bidang-bidang atau pekerjaan yang seldranya sudah dapat dikerjakan oleh masyarakat sendiri. Pemerintah adalah rnilik masyarakat: lebih baik memberdayakan daripada melayani. 1. 1992. Lindblom mengingatkan. Jika mereka Golkar. pada suatu titik tertentu akan menghasilkan birokrasi yang korup. Pustaka Binaman Pressindo. Hal itu disarankan oleh David Osborne dan Ted Gaebler. lebih balk rnenyetir daripada mendayung. pembuatan akte dan Kartu Tanda Penduduk. Pemerintahan yang kompetitif adalah pemerintahan yang memasukan semangat kompetisi di dalam birokrasinya. jika suatu daerah tidak bisa memenangkan Golkar. (b) Community-owned government: empowering rather than serving. keasyikan birokrasi bermain dalam politik. 29 Lihat David Osborne and Ted Gaebler. Pemerintah sebagai katalis. 1995. tidak efisien dan amoral. daripada menjadikan masyarakat tergantung terhadap pemerintah. 28 Pada tahun 1992. ada koreksi terhadap paradigma birokrasi modern Weber yang hirarkis. kecenderungan pelayanan birokrasi yang diskriminatif.

Berikut ini perbandingan sistem birokratis pemerintahan enterpreuner sebagai berikut dan model perubahannya menjadi 30 Gifford and Pinchot. 1993. and The Rise of The Intelligent George. The End of Bureaucracy Organization. 222 . Elizabeth. perlu memperhitungkan terjadinya perubahan lingkungan kerja dan kecenderungan dinarnika sosial ekonomi masyarakat universal.Dalanimenyusun arab reformasi birokrasi Indonesia. San Fransisco: Barret-Koehler Publishers. 31 Frediekson. The Spirit of Public Administration. 1993. seperti yang dikemukakan berikut ineo Power of bosses (Atasan berkuasa) Power of customers/public/stakeholder (Konsumcn/publik berkuasa) Coordination from above (Koordinasi dari atas) Coordination rekan kerja) among peers (Kordinasi antar Sumber: Gifford and Pinchot. San Fransisco: Jossey Bass. 1997.

menghasilkan pendanaan bukan menunggu anggaran.2000 223 . penuh inisiatif. Membangun birokrasi yang mempunyai kultur dan struktur rasional-egaliter. 1. swasta khawatir akan ditinggalkan oleh pelanggannya.mengurus semua bidang. inisiatif dan sikap kemandirian birokrasi menjadi berkurang." Padahal urusan masyarakat dan pasar tersebut akan Iebih cepat. lama. PNS perlu dibiasakan mencari cara-cara bam yang praktis untuk pelayanan publik. memandang semna orang sederajat di muka hukum. selain untuk menggantikan posisi PNS yang pensiun. berbelit-belit. jumlah personal tidak sebanding dengan beban kerja birokrasi yang sebenamya. mencegah daripada mengobati. yang scmestinya bisa dilakukan oleh masyarakat sendiri. Berikut ini paradigma bani atau model yang ditawarkan untuk birokrasi Indonesia masa depan. Dalam model pemerintahan pnblik. terIihat ketika ada kebiasaan kerja bahwa setiap hal atau pekerjaan harus menunggu petunjuk. melakukan kerja kelompok bukan kerja individu dan memperhatikan kemauan pasar atau rnengarahkan. Widyariset. 32 Kebijakan Zero Growth membatasi pengangkatan PNS baru. cerdas membaca keadaan kebutuhan publik. digerakkan oleh misi yang ditetapkan olehnegara bukan aturan yang dibuat sendiri. Birokrasi yang membesar ini jika tidak dibatasi peran dan fungsinya maka dengan sendirinya akan "mengurusi" dan memaksa masuk semua bidang kemasyarakatan menjadi urusannya. Membangun kultur birokrasi yang rasional egaliter dengan melatih PNS untuk menghargai penggunaan nalar sehat dan mengunakan hasil-hasil ilmu pengetahuan.Dalam praktiknya di negara dunia ketiga yang memiliki sifat patron-client yang kental. pemerintah dan birokrasi hanya bukan . Sebelum adanya kebijakan zero growth. enterpreneur. memperhitungkan tabungan. efisien dan bisa berjalan dengan sendirinya (anpa memerlukan campur tangan berlebihan dari birokrasi. Contoh birokrasi yang terlalu hirarkis. dikendalikan oleh warga negara pembayar pajak. antisipatif dan proaktif. Akibatnya kreatifitas. kompetitif dan cepat. Hal itu berbeda sekali dengan swasta yang memberikan pelayanan interaktif. perintah dan persetujuan dari atasan. bukan irasional-hirarkis. Keadaan itu menunjukkan gejala over-bureaucratic. rnenghargai prinsip kesederajatan kemanusian setiap orang yang berurusan dengan rnereka untuk diperIakukan dengan sama pentingnya. J ika t ida k begitu. d. ciri h.ianggap berdampak telah mematikan inisiatif masyarakat dan kualitas pelayanan masyarakat menjadi tidak efisien. Sasarannya agar Indonesia mampu keluar dari terulangnya gejala pernbusukan politik dan melanjutkan penerapan agenda demokratisasi yang sedang dibangun. Vol. sebagai berikut: I. dipecat dan meninggal dunla. berkecendmngan jumlah personilnya dibuat membesar untuk menampung pencari kerja dan para kader politiknya. . PNS perlu memiliki semangat pioner. saling bersaing dalam memberikan yang terbaik. melakukan pemberdayaan masyarakat. bukan memelihara budaya minta petunjuk dari atasan. Kualitas pelayanan birokrasi dinilai buruk.irarkis birokrasi Weber.

PNS perlu mengurangi kadar pengawasan dan represinya terhadap hak ekspresi masyarakat PNS meninggalkan cara-cara penguasaan masyarakat lewat kooptasi kelembagaan masyarakat dan menghindari sikap dominasi peran dan pengawasan secara berjenjang. Birokrasi yang bertindak profesional terhadap publik. Birokrasi yang melakukan rekruitmen sumber claya manusianya melalui seleksi fit and proper test. pola reward dan punishment kurang berjalan). salah urns.2. 6. tidak diskriminatif. PNS berperan menjadi pelayan masyarakat (public servent). tidak 3. Dalam memberikan pelayanan ada transparansi biaya dan tidak terjadi pungutan liar. dan ketidakpcdulian. Molakukan pemberdayaan publik dan mendukung terbangunnya proses demokratisasi. Birokrasi yang saling bersaing antar bagian dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas dalarn melavani publik secara kompetitif. PNS perIu memberikan informasi dan transparansi sebagai hak masyarakat dan bisa dimintai pertanggungiawabannya (public accountibility) lewat dengar pendapat (hearing) dengan legislatif atau kelompok kepentingan yang datang. Birokrasi yang bersikap netralitas politik. 4. memanfaatkan fasilitas negara untuk kepentingan partai politik tertentu Berdasarkan paparau di atas. Birokrasi Indonesia ke depan perlu mendukung dan melakukan peran pemberdayaan dan memerdekakan masyarakat untuk berkarya dan berkreatifitas. Birokrasi yang memberikan reward merit system (memberikan pcnghargaan dan imbalan gaji sesuai pencapaian prestasi) bukan spoil system (hubungan kerja yang kolutif. Birokrasi yang propartisipan-outonomus bukan komando-hirarkis. bukan minta dilayani atau membebani masyarakat dengan pungutan liar. berikut ini tabel arah perubahan paradigma lama ke paradigma baru untuk membangun birokrasi sipillndonesia yang lebih sehat: 224 Model Reformasi Birokrasi Indonesia ~ajUan RoziSoebhan . 5. diskriminatif dan kurang mendidik. bukan mengangkat staf atau pimpinan karena alasan kolusi dan nepotisme. Kontrol sosial antaranggota masyarakat akan berjalan dengan sendirinya.

Demokratisasi Profesional. obyektiiJ ikatan primordial -suku. agama) Model Pelayanan Tidak Ada Kompetisi dalam Pelayanan Ada Kompetisi dalam Memberikan PeJayanan Penutup Ada sejumlah gagasan kode etik yang akan menuntun perilaku birokrat untuk menjalankan prinsip netralitas poIitik dan reformasi birokrasi. diskriminasi berdasarkan Merit System (pengangkatan karena keah1ian. apalagi memakai dana APBNI APBD di luar dana peruntukkan untuk partai yang untuk berkampanye. Pengendalian Publik Pemberdayaan Publik.epentingan salah satu partai politik pada saat apapun. dilakukan beberapa pengembangan ide. antara lain: 33 1.Perbandingan Paradigma Lama dan Bam Birokrasi untnk Indonesia Tujuan ketja Pengnasaan. pelayanan pubJik. Contoh: Partai peserta pernilu akan terkena sanksi pidana. sebagai langkah membangun peradaban politik Indonesia. Widyariset. Kornite Pernilihan Umum (KPU) dan Panwaslu (panitia 2. 2000 225 . J. Vol. yang diharapkan mampn menciptakan birokrasi Indonesia yang lebih bersih dalam berkinerja Ada beberapa tabn yang hams dihindari oleh setiap pegawai birokrasi. BirokrasiJPNS "tidak boleh" menggunakan program dan anggaran pembangunan dari APBNI APBD atan sumber milik negara yang lain untuk k. sanksi perdata atan sanksi sosial bila terbukti mengaku program pembangunan adalah miliknya. BirokrasiIPNS ''tidak boleh" menyerahkan penyelenggaraan program pemerintah. pelaksanaan ataupun pemantauan kepada suatu partai politik atau politisinya. 33 Diclaborasi dari Ramlan Surbakti . Pemain yang sekaligus wasit akan mengalami konflik kepentingan yang rumit termasuk tindakan korupsi oleh partai daIam menyelenggarakan program. ras. pengawasan & Penghargaan Spoil System (Nepotisme. apalagi saat kampanye. transparansi biaya. pengawasan kolektit. public accountibility Sikap terhadap publik Rent-seeking tinggi) (ekonomi biaya Pola Rekruitmen.

22 Januari 1999. seniman. 3. 1989 Apter. cendikiawan mahasiswa. melakukan transparansi dalam berbagai urusan publik. mendorong tegaknya hukum dan bersedia memberikan pertanggungjawaban terhadap publik (public accountibility) secara teratur. penegakkan hukum. Crouch. pengolahan dan pemberian infonnasi. (SR) Daftar Pustaka Albrow.Pengawasan Pemilu). Chicago: The University Chicago Press. berupa dukungan atau kritik di luar bidangnya. Arief "Bentuk Negara dan Pemerataan Hasil-hasil . tidak boleh diisi oleh wakil partai politik. Pembangunan" . perlindungan dan pengayoman keamanan dan ketertiban terhadap suatu partai politik tertentu saja. of Antlov and Cederroth. Tiara Wacana. SuaraMerdeka. "The New Order: The Prospect for Political Stability" dalam Indonesia: The Making of Nation. terj. BirokrasiJPNS diskriminasi Birokrasi pasca berhentinya Presiden Soeharto ada dalam persimpangan jalan antara adanya upaya pihak yang ingin tetap mempertahankan berlangsungnya politisasi birokrasi (bureaucratic polity). M. birokrasi perlu mendukung demokratisasi dan terbentuknya clean and good governance yaitu tumbulmya pemerintahan yang rasional. BirokrasiJPNS "tidak boleh" memasang satu atau lebih atribut parpol pada kantor. tapi diisi oleh kelompok independen seperti ilmuan sosial. Martin. rohaniwan dan wartawan yang'. pelayanan administratif. The Australian National University.rasi hams netral terhadap partai politik peserta pemilu. budayawan. "tidak boleh" memberikan keistimewaan atau melakukan terhadap suatu parpol dalam pemberian izin. politik dan hukum. dalam Teguh Yuwono. punya integritas tinggi. 1965. ed. Prisma No. Jakarta:LP3ES. BirokrasiJPNS "tidak boleh" memberikan pernyataan secara terbuka kepada umum tentang parpol. memiliki sikap kompetisi dalam memberikan pelayanan.7. BirokrasiJPNS "tidak boleh" menggunakan waktu kerja (jam dinas). Budiman. Jum'at. "PNS Berpolitik untuk Kepentingan Golkar". fasilitas kantor dananggaran kantor untuk kepentingan suatu partai politik. memobilisasi atau mengintimidasi seseorang. Mackie. 5. lA. Yogyakarta. David E.C. Harold. Rusli Karim dan Totok Daryanto. 6. 1980. Canberra: Research School of Pacific Studies. berhadapan dengan pihak yang menginginkan ditegakkannya ketidakberpihakan politik dan profesionalisme. 226 . 4. 1982. gedung dan kendaraan milik negara. Arah bam atau reformasi birokrasi mulai diperbincangkan orang antara lain posisi birok. Birokrasi. The Politics of Modernization.

" dalam Leonard Binder. Weber. Seri Penerbitan Studi Politik. edisi 18 Maret 2000. 1971. New Jersey: Princeton University Press. Fredickson. San Fransisco: Barret-Koehler Publishers.al. Nug Katjasungkana. 1978. Jakarta: Rineke Cipta. . Jumal Ilmu Politik No. Anderson danKahin. Nelson. 1998. "Bureaucratic Polity: A Theoritical Framework-for The Analysis of Power and Communications in Indonesia". New York: The Free Press. dan Lucian W. Philosophique 1769. Litteraire. 2000 227 . Vol. Indonesia Gramedia-Asosiasi Ilmu Politik Liddle. Weiner. Kaisiepo.1753- Dwight Y. The Spirit of Public Administration. 1995. Manue1. Lab. George.. dalam Political Power and Communications in Indonesia. Gifford and Pinchot. Jackson. 1992. Pustaka Binaman Pressindo.1990. ed. Jakarta: Masyarakat Transparansi Indonesia. 1993. Jakarta. King. San Fransisco: Jossey Bass. ed. Berkley: University of California Press. 1992 Osborne and Gaebler. «Indonesia New Order as a Bureaucratic Polity. Crisis and Sequences in Political Development. Reinventing Government. Vol. Baron. et. a Neopatrimonial Regime or a Bureaucratic-authoritarian Regime: What Difference Does it Make? Interpreting Indonesian Politics. Max. Jumal Transparansi. Mengubur Sistem Politik Orde Baru. Samuel P. Sahat Simamora.De Grimm. "Political Participation: Crisis of The Political Process. William R Pemilu-Pemilu Orde Baru. 1. 1997. edisi 1813. Osborne dan Gaebler. terj. Pye. Correspondence. 1947. The Theory of Social and Economic Organization. Ilmu PolitikFISIP VI & Mizan. Huntington. The End of Bureaucracy and The Rise of The Intelligent Organization. et Critique.2. Widyariset. Jakarta: Grafiti Press. Mewirausahakan Birokrasi. terj. Karl D. Elizabeth. dan Joan M. Partisipasi Politik di Negara Berkembang. 4. Myron.

...namak ... . Mematikan hak perdata. penculikan para oposan dan kritikus politik. Tidak berfungsinya kontrol kelembagaan oleh DPRIMPR terhadap presiden. Soeharto tidak boleh dikritik MPR tidak berperan mengawasi dan mengontrol Presiden. Terjadi kolusi dan nepotisme dalam transaksi bisnis Nepotisme dim Kroniisme di MPR Penyalahgunaan Hukumuntuk Kekuasaan dan Bisnis. . . nagari.Lampiran 1 Gejala Pembusukan Politik Orde Baru: Indikasi dan Dampakoya Terhadap Demokrasi ~: Pemusatan Kekuasaan ·:.. Berlangsungnya ketldakadilan dalam bisnis. wanua.. Blrokrasi Indonesia mengawasi masyarakat secara birokratis... . Kontrol oleh media mass a terhadap eksekutif tidak bisa berjalan.Jn~~ka~i ••••••••••• ... 228 . Utusan Daerah belumlah orang-orang yang aseli mewakili daerah Mengeluarkan Keppres untuk kepentingan bisnis keluarga dan kroni. Terjadi sakralisasi . berlangsung diskriminasi pelayanan terbadap publik dan pihak non-Golkar bila suatu daerah tidak bisa memenangkan Golkar dalam pemilu di wilayah tersebut. Pemerintahan Perorangan Soeharto (personal ruler). lemahnya kekuataan pengimbang/ pengontrol terhadap pemerintah. pemenjaraan. Berlangsungnya personal rule. .. Diolah oleh: Syafuan 2000 dan berbagai sumber . ••• "' Belum ada pembatasan yang tegas tentang masajabatan presiden. dsb. . Lewat Yayasan dan pengeluaran Keppres memungut berbagai macam pungutan dari dunia usaha Kampung... mukim. kekuasaan di tangan Soeharto Pengangkatan anggota utusan golongan di MPR terdiri dari kerabat. Pembesaranjumlah PNS sebagai kantong kader dan pendukung Golkar. ternan & keluarga. Presiden secara aklamasi dipilih oleh kronikroninyasehingga terpilih lag! setiap 5 tahun. Sebagai presiden.P. serta teguran keras terhadap Majalah D&R Birokrat dijadikan bagian dari faksi dalam Golkar. Presiden berkuasa terlalu lama. Para Menteri merangkap sebagai anggota MPR. Penghapusan Pemerintahan Lokal untuk pemusatan kekuasaan Kontrol Media Massaoleh Departemen Penerangan Politisasi Birokrasi Depdagri cenderung menyeragamkan pemerintahan lokal di masyarakat.. diubah menjadi kelurahan Penyeragaman desa adat menj adi kelurahan di seluruh Indonesia Pembreidelanfpencabutan Izin Usaha Penerbitan Pers terhadap majalah Tempo. Hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang akurat dan faktual menjadi diabaikan Berlangsung mobilisasi politik oleh birokrasi untuk memenangkan Golkar. Editor dan Tabloid Detik. penangkapan. berjenjang dan pengendalian yang ketat ROZl. kepasirahan.. Lurah diangkat oleh pemerintah. tidak dipilih oleh masyarakat setempat. banjar desa adat.

Terlalu menonjolkan hak pregoratif. tumpang tindih kewenangan.. mengawasi perkembangan peran eksekutif.. l\1asaDemokrasi Pancasila ideologi terbuka. Terbentuk Dewan Utusan Daerah yang merupakan wakil rakyat asel i asal daerah berdasarkan pertimbangan keterwakilan geografis RI. . Tidak ada akuntabilitas dan transparansi terhadap publik. Vol. pergiliran kekuasaan. Agenda ~ . Berdaulat Penuh dan melakukan Sidang Umum Tahunan.. Fraksi hanya alat administratif Masajabatan presiden maksimal dua kali periode jabatan (5 tahun). Ada pertanggungjawaban kebijakan (akuntabilitas) dan transparansi kekayaan pribadi eksekutif dengan pengawasan Komisi Pemeriksaan Kekayaan Pejabat Negarayang independen dan Lembaga Kepresidenan dan kabinet Tanpa betas peri ode boleh memerintah. Tidak ada rationale struktur dan personel. Masyarakat Madani).: Penghapusan Monopoli interpretasi. Pembagian peran antar cabang kekuasaan (check and balances). Persiapan dibentuknya Dewan Utusan daerah yang dipilih lewat pemilu dalam MPR. Terjadi pengawasan dan pembatasan kekuasaan. Seleksi anggota kabinet perlu lewatflt dan proper test yang transparan Widyariset. pengawasan. Pancasila sebagai prilaku bukan slogan Ideologi & UUDlKonstitusi Dasar MPRIDPR Anggota MPR yang diangkat berjumlah 57. penegakan HAM. Hak prerogatif presiden. Pancasila sebagai alat legitimasi status quo Mass Translsl . Dominasi fraksi dikurangi dengan mengubah Tatib DPR Tidak ada anggota MPR yang diangkat tapi dipilih lewat Pemilu. Departemen Penerangan melakukan Masa jabatan maksimal 2 priode. 'l\1:ass Orde Baru Monopoli interpretasi Pancasila. terus bisa dipilih kernbali. Dominasi fraksi dan dewan Pimpinan Partai dikurangi.. 2000 229 . Penguatan Pancasila sebagai ideologi kerakyatan (Civil Society.5%. penegakkan keadilan sosial Jumlah anggota pengangkatan .Lampiran 2 Agenda Reformasi Politik di Indonesia Pasca 1998 . Ada akuntibilitas kebijakan dan transparansikekayaan pejabat negara terhadap publik. 1. Berdaulat dalam Sidang Umum Tahunan MPR. Pancasila ideologi nasional milik bangsa. Hak dan kekuasaan MPR dibatasi/dibuat lemah. Perubahan UUD atau amandemen batang tubuh (pasal-pasalnya) yangmemuat pembarasan kekuasaan.. Terlalu banyak Keppres/inpres yang dibuat. Produk perundangan perlu melewati konsultasi dan klarifikasi dengan DPR.

Sistem Pemerintahan Daerah. Banjar. menjadi bagian yang mendukung Golkar. Memisahkan Polri dari TN! Otonomi daerah yang luas dalam bingkai negara dengan semangat kesatuan dan jiwa federalisme yang alamiah. Politik TN] adalah politik nasional. Membiarkan terbentuknya pemerintahan lokal dan konstiusi lokal yang mengakar di daerah. aktualisasi dan redefinisi peran dan fungsi TNI. Menghidupkan kembali bentuk-bentuk pemerintahan lokal Penghapusan kebijakan monoloya1itas terhadap organisasi peserta pemilu.. Sentralisasi kekuasaan dan alokasi kekayaan nasional oleh pus at. Penyeragaman pemerintahan lokal ke dalam bentuk kelurahan.·. Penegakan prinsip profesionalisme dan pemberdayaan masyarakat Melakukan reposisi. dsb. Kepasirahan. Majalah' FORUM edisi Khusus 1998 dan RIDEP.Agenda MasaOrde Baru pengendalian yang berlebihan Masa Transisi Masa Demoki'asi terpercaya. Mengurangi secara bertahap peran Sospol (Dwifungsi TNI). Wanua. 230 . dalarn bingkai negara nasional yang Bhineka Tungga\ Ika Institusi netral dantidak diskriminitif terhadap pactai politik peserta pemilu manapun Birokrasi Sipil Birokrasi Militer (ABRIITentara Nasional Indonesia) Menjadi institusi yang netral terhadap pactai politik. Desentral isasi kekuasaan lewat persiapan otonomi daerah yang diperJuas sesuai dengan kemampuan dan pembagian alokasi pendapatan yang lebih berimbang. Tidak otonom. Kebijakan dan penanganan masalah oleh kabinet perlu konsultasi dan hearing dengan DPR . Marga. Desa Adat.) Berpol itik secara institusional. Kampong. Birkorasi menjadi salah satu unsur/faksi dalam Golkar. Menjadi profesional dalam bidang pertahanan Sumber: Diolah dan bahan-bahan LIP-FISIP UI. PNS diwajibkan memberikan suaranya kepada Golkar (monoloyalitas) Alat kekuasaan.1 . Mukim. pemerintahan adat dihapuskan (Nagari.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->