Daerah Tangkapan, Konservasi Tanah dan Ekonomi Pemanfaatan Air Studi Kasus Waduk Sermo, Kabupaten Kulonprogo, Propinsi

DIY 1. Pendahuluan Dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya dalam hal pemanfaatan sumberdaya air untuk memenuhi berbagai kebutuhan, seperti misalnya kebutuhan air untuk irigasi, air minum, PLTA, industri, dll, Pemerintah Indonesia telah melakukan pembangunan berbagai fasilitas pendukung, seperti misalnya pembangunan bangunan bendungan/waduk, embung, bendung, jaringan irigasi, jaringan distribusi air bersih, jaringan penanganan air limbah dan lain-lain, yang pada umumnya dibangun dengan biaya investasi yang tinggi. Penetapan usia operasi dari bangunan-bangunan tersebut di atas seringkali hanya didasarkan atas asas besarnya manfaat (benefit) yang akan diperoleh oleh masyarakat, tanpa memperhitungkan apakah bangunan air tersebut memiliki “kemandirian ekonomi” atau tidak; kemandirian ekonomi adalah kemampuan secara mandiri untuk menghasilkan pendapatan yang dapat digunakan untuk membiayai biaya operasional dan biaya pemeliharaan bangunan, dan bilamana memungkinkan dapat menambah pendapatan bagi pemerintah pusat maupun daerah, termasuk kemampuan untuk mengembalikan biaya investasi yang telah dikeluarkan. Selama ini nilai ekonomi air hanya diperhitungkan pada penggunaan air untuk jenis-jenis tertentu saja, seperti misalnya penggunaan air untuk air minum (PDAM), air untuk industri, dan air untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), sedangkan air untuk memenuhi kebutuhan iriga

nyata. Keberadaan waduk dengan daerah tangkapan tertentu memiliki peranan yang sangat penting dalam pengelolaan sumberdaya air pada suatu daerah, karena waduk memiliki fungsi multi guna bagi pengembangan daerah. Operasi waduk yang dijalankan, sangat dipengaruhi kebijakan maupun prinsip pengelolaan yang ditetapkan, yang biasanya didasarkan pada optimasi pengaturan air antara ketersediaan air waduk dengan perkiraan kebutuhan air yang akan dilayani oleh

waduk. Kemampuan untuk melayani berbagai kebutuhan air sangat dipengaruhi oleh kapasitas tampungan waduk. Kapasitas tampungan waduk dapat dibedakan sebagai tampungan aktif, dimana tampungan air di dalamnya dapat dimanfaatkan untuk memenuhi berbagai kebutuhan, dan tampungan mati (dead storage), dimana tampungan airnya tidak dapat dimanfaatkan, yang diperuntukkan untuk menampung sedimen selama masa operasi waduk. Seiring dengan bertambahnya usia operasi waduk, kapasitas tampungan waduk (total) cenderung selalu berkurang, yang disebabkan oleh bertambahnya volume sedimen yang masuk ke dalam waduk yang berasal dari sungai-sungai yang menuju ke waduk. Pada kondisi dimana sedimen yang masuk ke dalam waduk masih lebih kecil atau sama dengan nilai perencanaan, volume air di dalam tampungan aktif masih dapat dimanfaatkan sesuai dengan perencanaan. Sebaliknya, bila sedimen yang masuk ke dalam waduk sudah melebihi kapasitas dead storage, maka tampungan aktif waduk dapat berkurang, yang pada akhirnya akan mempengaruhi pemanfaatan air waduk untuk memenuhi berbagai kebutuhan, termasuk nilai pendapatan ekonominya. Disamping itu, terlalu banyaknya sedimen yang masuk ke dalam waduk juga akan mempengaruhi kualitas air waduk, yang dapat menimbulkan dampak negatif dalam pemanfaatan airnya. Sebagai contoh, pemanfaatan air bersedimen untuk keperluan irigasi, dapat mempercepat terjadinya pendangkalan saluran-saluran irigasi. Juga pemanfaatan air untuk PDAM, diperlukan treatment khusus untuk pemanfaatan airnya, karena adanya sedimen cenderung menurunkan kualitas air. Permasalahan sedimentasi waduk yang berlebihan banyak terjadi pada waduk-waduk di Indonesia. Permasalahan sedimentasi waduk tidak lepas dari permasalahan erosi yang terjadi di daerah tangkapan dan teknologi konservasi yang diterapkan. Pada kondisi dimana sedimentasi waduk yang terjadi berlebihan, perlu upaya pengendalian erosi (konservasi tanah) yang tepat agar waduk tetap dapat beroperasi sesuai dengan perencanaan, dan pemanfaatan air dapat berjalan sesuai dengan rencana. Sehubungan dengan itu, sebelum disampaikan teknologi konservasi tanah, berikut ini akan disampaikan pengertian tentang erosi dan

Proses kejadian normal / geological erosion adalah melalui tahap-tahap : a. gully erosion (erosi parit) dan stream bank erosion (erosi tebing sungai). dan faktor kegiatan/perlakuan manusia terhadap tanah. pengendapan partikel-partikel tanah yang terpindahkan atau terangkut ke tempat-tempat yang lebih rendah atau di dasar-dasar sungai/waduk. Secara lebih rinci lagi. Banyak sedikitnya partikel tanah tererosi sangat dipengaruhi oleh faktor iklim. pada tempat-tempat yang lebih rendah dan/atau pada sungai-sungai atau waduk-waduk. Sedimentasi adalah merupakan proses pengendapan butir-butir tanah yang telah terhanyutkan atau terangkut. yaitu normal atau geological erosion dan accelerated erosion. Proses kejadian accelerated erosion sama seperti proses kejadian normal/geological erosion. 3. Erosi yang dipercepat seringkali menimbulkan dampak yang merugikan bagi kehidupan manusia. dalam Prinz. pemecahan agregat-agregat tanah atau bongkah-bongkah tanah ke dalam partikel-partikel tanah yang berukuran lebih kecil. erosi ini dapat dibedakan lagi sebagai sheet erosion (erosi permukaan).sedimentasi. bentuk kewilayahan (topografi). baik dengan melalui penghanyutan oleh air (maupun karena kekuatan angin). tanaman penutup tanah (vegetasi). 2. c. rill erosion (erosi alur). akan tetapi kejadiannya dipercepat akibat tindakantindakan atau perbuatan manusia yang bersifat negatif. baik yang terjadi secara alamiah maupun sebagai akibat tindakan/perbuatan manusia. 1978. model erosi yang dikembangkan oleh Wischmeier dan Smith (1965. atau karena adanya kesalahan dalam pengelolaan tanah/lahan. dan metode (rumusan) untuk memprediksi besarnya erosi. Permasalahan tentang erosi tidak dapat terpisahkan dari proses sedimentasi. Prediksi dan Evaluasi Erosi Dari sekian banyak rumusan prediksi erosi yang ada di literatur. dan dalam hal ini dikenal dua jenis erosi. the Universal Soil Loss Equation (USLE . Pengertian Erosi dan Sedimentasi Erosi adalah merupakan suatu proses penghanyutan tanah oleh kekuatan air (dan angin). pemindahan partikel-partikel tanah. b. tanah.

faktor panjang lereng. L. R.1 m) dan terletak pada lereng 9 % tanpa tanaman. dalam Kironoto dan Yulistyanto. Persamaan USLE mengelompokkan berbagai parameter fisik (dan pengelolaan) yang mempengaruhi laju erosi ke dalam enam parameter utama. termasuk di dalamnya adalah erosi alur (gully erosion).dianggap paling populer dan paling banyak digunakan. yaitu petak percobaan yang panjangnya 72. dan merupakan rumusan yang dikembangkan di pulau Jawa dan Madura. C. untuk setiap macam pertanaman dan tindakan pengelolaan (tindakan konservasi tanah) yang sedang atau yang mungkin dapat dilakukan. dari Wischmeier dan Smith. 2000). dan P adalah faktor tindakantindakan khusus konservasi tanah. Dengan menggunakan persamaan USLE dapat diprediksi laju rata-rata erosi dari suatu bidang tanah tertentu. faktor curah hujan dan aliran permukaaan (erosivitas hujan). pada suatu kecuraman lereng dan dengan pola hujan tertentu. faktor kecuraman lereng. faktor kecuraman lereng. L. S. S. EI30. C. K. faktor panjang lereng. yaitu : dimana A adalah banyaknya tanah yang tererosi dalam [ton per hektar per tahun]. dan P adalah faktor tindakantindakan . Erosivitas hujan dihitung dengan persamaan yang diusulkan oleh Bols (1978. faktor vegetasi penutup tanah dan pengelolaan tanaman. R. dimana A adalah banyaknya tanah yang tererosi dalam [ton per hektar per tahun]. yang merupakan rumus pendekatan dari besarnya erosivitas hujan. pada suatu keadaan tertentu dari suatu bidang tanah. adalah faktor erodibilitas tanah. adalah faktor erodibilitas tanah. USLE adalah suatu model erosi yang dirancang untuk memprediksi rata-rata erosi jangka panjang dari erosi lembar (sheet erosion). K. faktor vegetasi penutup tanah dan pengelolaan tanaman.6 ft (22. faktor curah hujan dan aliran permukaaan (erosivitas hujan). Persamaan USLE dikembangkan untuk suatu petak tanah percobaan standar.

1)m (0.065 + 0. seperti misalnya penanaman mengikuti kontour. didasarkan pada kondisi tanah di lapangan. dan merupakan rumusan yang dikembangkan di pulau Jawa dan Madura.0065 s2) dimana m = suatu tetapan yang dipengaruhi oleh nilai s Θ = sudut kemiringan lereng tanah dalam [derajat] s = kemiringan lereng tanah dalam [persen] C adalah faktor yang mengukur pengaruh jenis tanaman terhadap erosi. dan permeabilitas tanah. Nilai faktor P adalah faktor praktek pengendalian laju erosi (pengelolaan) secara mekanis. dalam Kironoto dan Yulistyanto. S. Panjang lereng.56 sin Θ + 65. K. yaitu parameter alami dan parameter yang dipengaruhi oleh sistem pengelolaannya. sering dinyatakan dengan faktor LS. dari Wischmeier dan Smith. lumpur.1)m (0. struktur tanah. strip cropping. L.065 + 4. 2000). Nilai LS untuk suatu bidang tanah dapat dihitung dengan persamaan: LS = (X/22. pasir sangat halus. yang merupakan rumus pendekatan dari besarnya erosivitas hujan.41 sin2Θ) atau LS = (X/22. dan kecuraman lereng. dan pembuatan teras. Rm = 2. Teknologi Pengendalian Erosi Pengendalian atau pencegahan erosi (konservasi tanah) berarti menjaga . Dengan mengetahui besarnya erosi yang terjadi (dengan persamaan USLE).36 dimana Rm = erosivitas hujan bulanan Pm = hujan bulanan dalam [cm] Faktor erodibilitas tanah. bahan organik. yang nilainya dipengaruhi oleh prosentase pasir. EI30.045 s + 0. Nilai faktor C dipengaruhi oleh banyak parameter yang dapat dibedakan dalam dua kelompok. 4. Erosivitas hujan dihitung dengan persamaan yang diusulkan oleh Bols (1978.khusus konservasi tanah.21 Pm 1. dapat diperoleh gambaran tentang besarnya erosi yang terjadi pada suatu daerah tangkapan (sungai/waduk).

3. Cara mekanis meliputi pembentukan permukaan lahan (misalnya membuat terasering) yang bertujuan mengurangi laju aliran permukaan dan mengarahkannya keluar lahan dengan sedapat mungkin mereduksi erosi yang terbawa. cara vegetatif. Menutup tanah dengan tumbuh-tumbuhan dan tanaman (atau sisa-sisa tanaman). dan 3). dimana dengan cara vegetatif saja penanggulangan erosi masih kurang efektif. menjaga infiltrasi yang besar. Untuk lahan dengan nilai permeabilitas tanah cukup besar diupayakan sebanyak mungkin air hujan terinfiltrasi ke dalam tanah sehingga jumlah aliran permukaan berkurang dan erosi lahan akan berkurang. sehingga tanah tidak terdispersi. Butir-butir hujan yang jatuh diusahakan tidak langsung mengenai tanah. akan menghindarkan butiran tanah untuk ikut terbawa aliran permukaan.agar struktur tanah tidak terdispersi. yang dapat dilakukan dengan mengatur kekuatan gerak dan jumlah aliran permukaan. 2). Dalam hal ini diupayakan agar aliran permukaan tidak mengalir searah lereng akan tetapi sejajar dengan arah garis kontur sehingga kecepatan aliran permukaan kecil. Dengan memperhatikan prinsip-prinsip di atas. serta memperbesar daya tanah untuk menyerap air di permukaan tanah. dan mereduksi atau mengurangi aliran permukaan. Beberapa usaha berikut ini dapat digunakan sebagai dasar dalam rangka mengendalikan erosi. cara mekanis. Kedua metode tersebut sering dilakukan secara simultan. Cara vegetatifmekanis . metode mekanis sangat diperlukan jika kemiringan lahan cukup besar. agar tanah terlindung dari daya rusak butir-butir hujan yang jatuh. sehingga tanah dapat menahan energi hujan yang bersifat erosif. Memperbaiki dan menjaga keadaan tanah agar resisten terhadap penghancuran butiran tanah dan terhadap pengangkutan butir tanah oleh aliran permukaan. usaha pengendalian erosi dapat dilaksanakan dengan teknologi atau cara-cara sebagai berikut: 1). 2. Disamping itu dengan adanya tanaman penutup (atau sisa-sisa tanaman yang menutup tanah).cara vegetatif-mekanis Cara vegetatif umumnya dilakukan dengan cara memberi proteksi tanah dengan vegetasi. 1. Mengatur aliran permukaan agar mengalir dengan kecepatan yang tidak merusak dan memperbesar jumlah air yang terinfiltrasi ke dalam tanah.

Kali Pantaran. 2002. Contoh Hitungan Erosi Permukaan Sehubungan dengan permasalahan erosi sedimentasi sebagaimana disebutkan di atas. Kali Papan. Kabupaten Kulon Progo. upaya konservasi (pengendalian erosi) di daerah tangkapan waduk. Kelurahan Hargowilis. Saat ini waduk Sermo hanya difungsikan untuk menyediakan air minum. Kecamatan Kokap.9 juta m3 sebagai volume tampungan air dan 3. berikut ini disampaikan contoh kasus permasalahan erosi dan sediimentasi (waduk). Kali Kembang.1 juta m3 sebagai volume dead storage. yang terdiri dari 21. yaitu sebesar 62000 m3/th. Waduk Sermo terletak di Dusun Sermo. . usaha perikanan dan pariwisata. yang melebihi nilai perencanaan. 5. Propinsi Daerah Istemewa Yogyakarta. anak sungai Kali Dungpagap. tidak menutup kemungkinan air waduk Sermo juga dapat dimanfaatkan untuk keperluan industri dan PLTA.6 m. Luas daerah tangkapan air waduk adalah 22 km2. Kecamatan Kokap.merupakan gabungan antara cara vegetatif dan penggunaan konstruksi tambahan (mekanis) yang dapat menggunakan konstruksi batu atau beton. dan beberapa kali kecil lainnya yang bermuara ke Kali Ngrancah. dan usia operasi waduk tidak akan mencapai usia 50 th seperti yang direncanakan. Dari hasil pengukuran echosounding yang pernah dilakukan sejak th. Kali Menguri. Daerah tangkapan ini adalah merupakan daerah aliran waduk Sermo. dan telah mulai dioperasikan sejak bulan Oktober Tahun 1996. Kabupaten Kulon Progo. 1998. diketahui bahwa besarnya sedimen yang masuk ke dalam waduk pertahunnya rata-rata adalah sekitar 95000 m3/th. air irigasi.57 km2. dan keterkaitannya dengan nilai ekonomi pemanfaatan air. Bendungan Sermo dibangun dengan biaya sebesar 17. dengan kondisi tersebut. kapasitas tampungan waduk diperkirakan akan terpengaruh. dan terakhir th.655 milyar rupiah dan. Waduk Sermo mempunyai volume tampungan (kotor) sebesar 25 juta m3 pada elevasi + 136. melihat potensinya. Namun. serta mempunyai luas genangan waduk sebesar 1. yang meliputi bagian dari daerah aliran sungai Ngrancah. Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. mengatasi banjir. Adapun waduk yang akan ditinjau adalah Waduk Sermo yang berada di desa Hargowilis.

C (Gambar 3 ). LS. berikut ini diberikan contoh perhitungan erosi di daerah tangkapan waduk. Perhitungan erosi dilakukan dengan menggunakan persamaan USLE (Universal Soil Loss Equation). Data hujan Data hujan dipergunakan untuk menghitung erosivitas hujan. a. Perhitungan Faktor erosivitas hujan. 1. R .Untuk mengetahui seberapa besar permasalahan erosi yang terjadi di daerah tangkapan waduk Sermo. Dari peta tersebut dapat diperoleh pula nilai Indeks faktor panjang kemiringan lereng. Beberapa jenis data yang diperlukan untuk perhitungan erosi permukaan di Daerah Tangkapan Waduk Sermo adalah sebagai berikut ini. b. K (Gambar 2). Analisis Data Analisis/ perhitungan erosi permukaan dimulai dengan menghitung beberapa parameter sebagai berikut : 1. baik data yang berupa peta maupun data fisik lapangan. Dalam kasus DAS Ngrancah (Sermo) digunakan 5 stasiun hujan yang berada pada / di dekat DAS Ngrancah. ❐ Peta jenis tanah Peta tanah ini dipergunakan untuk mendapatkan informasi tentang jenis tanah yang selanjutnya dipergunakan untuk mendapatkan faktor erodibilitas tanah. 2. dengan berdasarkan data sekunder yang didapatkan dari berbagai instansi terkait. Kebutuhan Data Untuk memprediksi besarnya erosi yang terjadi diperlukan beberapa data. ❐ Peta penggunaan lahan Informasi dari peta tata guna lahan ini dipakai untuk menentukan faktor penutup tanah. Data berupa peta Beberapa jenis peta yang diperlukan untuk perhitungan adalah sebagai berikut: ❐ Peta kelerengan tanah Dengan peta ini dapat diperoleh informasi tentang kemiringan lereng dan panjang lereng pada DAS yang bersangkutan (Gambar 1).

32 336. yaitu Stasiun Sermo.59 242. dengan hasil seperti diberikan pada Tabel 1.97 27.65 286. Data curah hujan untuk kelima stasiun tersebut adalah berupa data hujan harian. Selanjutnya dihitung faktor erosivitas hujan.61 12. Departemen Kehutanan.52 30.23 14.41 106.35 115.75 3. yang . yang untuk kasus DAS Ngrancah diperoleh dari 5 stasiun hujan. Dari data curah hujan harian tersebut selanjutnya dihitung hujan rerata bulanan tiap stasiun pada seluruh DAS Ngrancah dengan metode Thiessen (atau metode Isohyet). Di DAS Ngrancah umumnya mempunyai kemiringan lereng yang cukup besar.51 222.60 72.28 124.82 223.49 Tegiri 184.79 199.52 237. sesuai dengan kondisi jenis tanah yang seragam di DAS Ngrancah.69 418.71 21. Penentuan Faktor L dan S Faktor kemiringan lereng juga ditentukan berdasarkan peta kemiringan lereng yang diperoleh dari Kanwil DIY.70 100.60 177.73 52.27 15. Tabel 1.27 Sermo 298.48 77.10 173.20 161.48 139. Tegiri dan Pantaran.25 145.33 247.61 373. K Dalam menentukan nilai erodibilitas tanah di DAS Ngrancah.87 19.24 Pantaran 305.10 213. Penentuan Faktor Erodibilitas Tanah.514 32. yaitu tanah Latosol coklat kemerahan.16 (satuan dalam mm) 2.46 27.24 27.15 326. nilai K diperoleh dari peta tanah yang diperoleh dari Kanwil DIY.73 377.29 95. diketahui bahwa nilai faktor erodibilitas tanah untuk DAS Ngrancah adalah sebesar 0.83 68. 3.87 45.43.475 26. Stasiun Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Agt Sep Okt Nop Des Parakan Kulon 289.97 38.77 Katerban 472.71 25.63 14.62 256.16 152. Dari data yang diperoleh.04 257.41 462. Departemen Kehutanan.51 315. Hasil hitungan erosivitas hujan. Katerban. Peta daerah pengaruh Thiessen diberikan pada Gambar 4.63 239.41 130.Faktor erosivitas hujan diperoleh dari data curah hujan.674 39. Parakan Kulon.728 367.83 31.65 70.44 189.

6. sehingga perhitungan dilakukan berdasarkan unit lahan. sebagaimana diberikan pada Gambar 5.8 dan 9. dengan penyumbang erosi terbesar diketahui berasal dari areal kebun campur. tegalan. Pada masing-masing unit lahan tersebut dapat ditentukan indeks dari masing-masing faktor penentu besarnya tanah yang hilang berdasarkan persamaan USLE. yaitu hutan. yaitu sekitar 8. melainkan ada sebagian yang akan tertahan di permukaan tanah/lahan. 1997). kebun campur. Dari peta tersebut dapat diklasifikasikan jenis-jenis lahan beserta nilai faktor pengelolaan tanaman. Perlu diingat bahwa rumus USLE dikembangkan untuk suatu bidang tanah yang berukuran kecil. Nilai laju erosi permukaan sebesar 8. Dari peta dan hasil survei diketahui penggunaan lahan di DAS Ngrancah beraneka ragam. dan peta penggunaan lahan diperoleh peta unit lahan. IV dan V.130.1.30 mm/tahun. Pembuatan Peta Tingkat Erosi Aktual Peta tingkat erosi aktual dapat diperoleh dengan cara menumpang tindihkan (overly) peta-peta yang ada peta erosivitas hujan.berada pada kelas kelerengan III. Perbandingan antara sedimen yang masuk ke dalam waduk dengan sedimen yang tererosi sering . yang selanjutnya dapat peta kelerengan tanah. sawah. Mengacu pada hasil overly dari beberapa peta yang ada terutama peta penggunaan lahan. C (Kironoto dan Yulistyanto. Penentuan Faktor C dan P Indeks faktor pengelolaan tanaman dan teknik konservasi tanah diperoleh dari dua sumber utama. . peta jenis tanah. dengan nilai faktor kemiringan lereng adalah 3. pemukiman/perkampungan dan lahan untuk jalan dan sungai.8 ton/m3). daerah tangkapan waduk Sermo dapat dibagi dalam 46 unit lahan. 2000). 4. Hasil hitungan erosi lahan untuk bulan Januari diperlihatkan pada Tabel 2. Nilai erosi sebesar 8.30 mm/thn ini ekivalen dengan besarnya erosi sebesar 160. e). lahan pekarangan. Dari tabel tersebut diketahui bahwa laju erosi permukaan di DAS Ngrancah cukup besar. yaitu peta penggunaan lahan dan (didukung) hasil observasi lapangan.30 mm/th ini tidak semua masuk ke dalam waduk. sedangkan rekap hasil hitungan untuk bulan-bulan yang lain diberikan pada Tabel 3.11 m3/thn (dengan mengambil nilai berat volume tanah sebesar γ = 1.5 (Departemen Kehutanan.

Dengan perbaikan teras diharapkan nilai faktor P (dalam persamaan USLE) dapat diturunkan dari nilai P = 0. Tanaman yang dimaksud dapat berupa tanaman tahunan. usaha untuk mengurangi laju erosi dapat juga dilakukan dengan cara mengubah pola tanam beserta jenis tanamannya.105. dll) di daerah tangkapan waduk Sermo.dinamakan sebagai sediment delevary ratio (SDR). kopi dan lain-lain. Dengan mengganti jenis tanaman.4 % sisanya tertinggal di permukaan tanah. Nilai SDR pada waduk Sermo untuk kondisi sekarang (eksisting) dapat diperoleh dengan jalan membagi besarnya sedimen yang masuk dan mengendap di dalam waduk Sermo (hasil pengukuran echo-sounding) dengan besarnya erosi permukaan yang terjadi di DAS Sermo (hasil hitungan rumus USLE). Selain perbaikan teras. Dari hasil penelitian oleh Departemen Kehutanan DIY (1997). dan sebaliknya. Tanaman pengganti yang diusulkan adalah berupa tanaman yang mempunyai sifat baik untuk penutupan lahan dan mampu menjaga/menahan tanah dari bahaya erosi permukaan. usia operasi waduk diperkirakan akan berkurang.15 menjadi 0. sementara 40. Berarti bahwa 59. sehingga dapat . diketahui bahwa usaha untuk mengurangi laju erosi (permukaan) yang tampaknya masih memungkinkan untuk diterapkan adalah perbaikan teras dari teras sedang (kondisi eksisting) menjadi teras yang lebih baik. konservasi tanah.6 % dari erosi permukaan yang terjadi (hasil rumus USLE) akan masuk ke dalam waduk Sermo. Mengingat bahwa volume sedimen yang masuk ke dalam waduk (hasil pengukuran echo-sounding) melebihi nilai perencanaan. Makin kecil nilai SDR berarti makin efektif sistem pengendalian erosi yang ada. mengingat tegalan dengan tanaman ketela termasuk rawan terhadap bahaya erosi. nilai C untuk jenis tanaman (dalam persamaan USLE) dapat lebih kecil dari kondisi sekarang. seperti misalnya tanaman kakau. terutama pada daerah tegalan dengan tanaman utama ketela. Sehubungan dengan itu perlu adanya upaya pengendalian erosi /konservasi di daerah tangkapan Waduk Sermo.596. Nilai SDR dapat menunjukkan keefektifan dari sistem pengendalian erosi yang ada (tata guna lahan. Perbaikan teras dapat dilakukan dengan cara penanaman tanaman kakau dan atau rumput-rumputan. Nilai SDR DAS Sermo untuk kondisi saat ini adalah sekitar : SDR = 0.

751 127.43 184.104 Kc 9.43 305.8 0.5 0.721 982.0150 13.005 0.448 0.077 9 4.43 305.43 305.a 40.523 Kp 3.43 305.15 0.8 0.b 117.a 19.211 0.43 305.104 Tg 9.memperkecil laju erosi permukaannya.43 305.P A ton/ha/bl A × luas LU ton/bl 1 1 16.8 0.43 184.0150 18.1 0.15 0.0938 70.865 0.751 726.8 0.15 0.43 305.859 6 3.43 184.43 305.b 4.177 2 2 8.506 132.523 Kc 9.0150 18.15 0. unit Lahan (UL) Luas UL (ha) K R TL L S C P C.523 Kc 6.608 12 6.104 Kc 6.0150 13.5 0.15 0.c 7.43 305. Dengan perubahan nilai CP seperti diberikan pada Tabel 4.523 Kc 9.1 0.a 169.0675 60.5 0.b 6. Hasil hitungan erosi lahan bulan Januari No.45 0.893 0. No.15 0.15 0.104 Tg 6.15 0.15 0.b 361.0938 117.5 0.43 305. Arahan tata guna lahan dan perkiraan perubahan faktor C dan P diperlihatkan pada Tabel 4.5 0.43 184.a 23.575 11 5.625 0.15 0.006 1185.364 0.523 Kp 9.281 188.0938 50.15 0.523 Kp 6.45 0.8 0.15 0.313 10 5.576 0.523 Tg 9.0938 83.523 Kc 6.625 0.100 5 3.43 305. diperoleh hasil hitungan erosi permukaan seperti diperlihatkan pada Tabel 5.220 4 3.0150 8. Tabel 2.5 0.523 Tg 6.1 0.039 14 7.8 0.1 0.681 0.784 0.15 0.8 0.400 1570.1 0.0150 11.c 4.0675 84.701 0.1 0.d 32.15 0.109 248.674 0.a 299.299 8 4.489 0.648 .0938 83.1 0.301 104.0150 18.1 0.400 59.075 1370.721 370.5 0.625 0.1 0.43 305.721 5612.8 0.523 Tg 6.643 15 7.659 16 8 52.400 4849.15 0.469 3 3.523 Kp 9.1 0.812 0.702 0.0150 13.523 Kp 6.0150 6.468 371.b 35.625 0.244 662.755 13 6.795 0.15 0.472 0.625 0.424 7 4.

1 0.15 0.695 22 14 64.0938 83.0938 38.43 472.43 298.109 783.43 184.075 167.0938 81.835 38 24.837 24 15.104 Kc 6.0010 0.494 46 30 6.018 25 15.596 Kc 6.8 0.43 472.337 853.45 0.151 30 19 11.873 11.b 3.43 298.45 0.15 0.281 140.15 0.934 544.43 298.345 0.5 0.992 354.15 0.112 0.0675 58.972 18 10 76.104 Kc 3.625 0.15 0.0675 16.43 305.17 9 128.1 0.672 0.596 Kc 9.15 0.1 0.104 Kp 9.0938 38.15 0.a 6.985 29 18 6.0675 58.1 0.596 Kc 3.0150 28.15 0.523 Tg 3.596 Kc 3.098 2.43 298.b 20.45 0.104 Kc 6.124 36 23.249 40 26 105.878 28 17 14.45 0.419 43.0150 8.684 0.281 12.5 0.43 298.43 298.45 0.43 305.1 0.8 0.625 0.0150 3.43 184.290 21 13 41.45 0.681 188.0675 26.15 0.470 45 29.43 184.625 0.341 0.625 0.635 27 16.1 0.320 Kc 9.104 Kc 3.340 0.15 0.672 0.565 27.895 0.0675 16.5 0.43 184.205.0150 11.0938 180.104 Kc 9.43 298.5 0.8 0.0150 13.455 0.45 0.231 0.15 0.8 0.0938 110.15 0.934 212.337 53.055 0.320 Tg 9.625 0.5 0.1 0.596 Kc 6.1 0.0675 82.15 0.0004 0.523 Tg 6.a 12.b 1.1 0.43 305.43 305.941 2207.338 26 16.8 0.506 34 22.752 43 28 8.43 184.435 23 15.867 39.468 28.93 .224 0.0675 36.007 35.0675 58.15 0.15 0.899 41 27.104 Kp 3.697 20 12 10.909 0.116 0.8 0.15 0.1 0.8 0.1 0.15 0.1 0.1 0.096 122.15 0.334 126.43 289.1 0.651 44 29.591 0.1 0.104 Tg 3.751 232.43 184.450 0.779 0.181 37.625 0.140 0.15 0.15 0.1 0.788 0.b 1.15 0.45 0.0675 26.104 Kp 6.43 184.0150 3.672 0.5 0.a 28.a 2.596 H 6.884 288.04 0.625 0.1 0.104 Tg 6.43 298.0150 6.596 Tg 6.b 7.8 0.625 0.523 Tg 3.a 22.43 184.646 0.523 Tg 3.523 Kc 3.43 184.45 0.1 0.332 0.146 0.819 Tg 9.596 Kp 3.681 121.022 35 23.15 0.181 76.625 0.15 0.0150 5.868 19 11 5.a 6.8 0.853 301.45 0.288 0.0938 50.546 JUMLAH 1929.181 26.897 0.b 13.43 184.992 32 21 51.15 0.1 0.a 16.596 Kc 6.104 Kc 3.43 305.15 0.0938 38.0675 36.236 0.934 375.1 0.c 9.43 298.867 382.15 0.070 42 27.01 0.276 33 22.8 0.017 37 24.040 31 20 33.0150 11.1 0.093 39 25 4.43 298.104 S 3.8 0.15 0.0938 23.43 184.234 0.43 184.893 0.114 0.565 388.15 0.1 0.596 Kc 6.970 84.b 6.691 0.

UNIT LAHAN Tata guna lahan Faktor C Faktor P Eksisting Arahan Eksisting Arahan Eksisting Arahan 1 1 Kc: ch.325-0.325-0.419 27838.a Tg: ke.26 0.L Erosi (Ha) Ton/bulan mm/bulan 1 Januari 1929.150 7 4.91 0.15 0.8 ton/m3 Tabel 4.775* 0.41 1.419 36608.054 3 Maret 1929.278 A (Ton/tahun) 288234.bb B V6a T3 0.67 0.kl A V6a L8 0.890 12 Desember 1929.96 1.mli.325-0.15 0. NO.775* 0.419 65623.150 6 3. Rekap Hasil hitungan erosi permukaan selama 1 tahun (eksisting) NO Bulan Luas U.670 5 Mei 1929.775* 0.ps B V6a T3 0.kl A V6a L8 0.419 44378.10 0.419 43205.a Kc: dr.105 3 3.Tabel 3.15 0.513 6 Juni 1929.045 9 September 1929.10 0.10 0.419 15209. Arahan tata guna lahan dan perubahan faktor C dan P No.93 1.775* 0.131 7 Juli 1929.ch.b Tg: ke.66 0.sgn.150 4 3.10 0.325-0.10 0.10 0.325-0.kl.33 0.15 0.94 0.10 0.10 0.c Tg: ke.15 0.d Tg: ke.105 .64 0.kl.438 11 November 1929.419 17812.775* 0.419 2561.15 0.802 4 April 1929.10 0.074 10 Oktober 1929.sgn.97 1.419 23260.419 4541.150 5 3.56 0.105 2 2 Tg: ke.15 0.243 2 Februari 1929.419 1565.mli C V6a T3 0.sgn.30 * dengan mengambil nilai berat volume tanah sebesar γ = 1.2 A (Ton/ha/thn) 149.162 8 Agustus 1929.389 A ( mm/tahun) 8.kl A V6a L8 0.sgn.mgs.kl A V6a L8 0.419 5626.

55* 0.45-0.150 33 29.mli.10 0.15 0.10 0.sgn A V5a T3 0.15 0.bb.15 0.15 0.15 0.8 4.kl.ke C V6a L8 0.10 0.kl B V6a L8 0.105 30 27.jt.ch.b Tg: ke.55* 0.a Tg: ke.ps.45-0.kl.15 0.sng.105 13 10 Kc: ch.b Kc: dr.kl.150 16 13 Kc: kl.150 20 15.10 0.10 0.150 27 24. tanah sangat peka terhadap erosi.10 0.bb B V6a T3 0.sng.0 0.325-0.10 0.sgn A V5a T3 0.10 0.ch B V6a L8 0.ps B V6a L8 0.mli.775* 0.325-0.a Kc: dr.10 0.b Tg: ke. merupakan pelindung mata air.10 0.jt.a Tg: ke.8-1.10 0.105 26 23.jt.15 0.15 0.325-0.b Kc: ch.ke C V6a L8 0.55* 0.10 0.10 0.10 0.55* 0.kl B V6a T3 0.150 28 24.snk.10 0.10 0.55* 0.bb.150 *) variasi bulanan Keterangan arahan tata guna lahan adalah sebagai berikut ini.mli.45-0.15 0.b Kc: kl.kp.10 0.45-0.105 24 19 Tg: ke.15 0.15 0.bb A V5a T3 0.a Kc: kl.ch.105 9 4.45-0.kl.bb.ke C V6a L8 0.a Kc: kl.ke.c Kc: kl.kl.ps B V3 0.10 0.b Kc: kl.ke.snk C V6a T3 0.15 0.kl.ke C V6a T3 0.105 22 16.10 0.kl A V5a T3 0.775* 0.325-0.bb.45-0.15 0.15 0. atau guna keperluan/kepentingan .mli.15 0.sng.mgs.kla.325-0.775* 0.b Kc: kl.jt.105 21 16.0 0.105 11 6.15 0.150 18 15.15 0.775* 0.ke.c Kc: ch.45-0.kk C V6a L8 0.mli.10 0.150 29 26 Kc: kl.45-0.55* 0.45-0. A = Kawasan lindung.10 0.10 0.55* 0.ch.kla.10 0.55* 0.ch.15 0. merupakan jalur pengamanan sungai/air.15 0.775* 0.325-0.sng.sng.kl.150 19 15.10 0.45-0.ps.105 25 23.105 14 11 Tg: ke.sng.10 0.45-0.105 23 18 Kc: ke.15 0.105 15 12 Tg: ke.15 0.10 0.b Tg: ke.jt.a Kc: kl.kla.ke C V6a T3 0. yaitu kawasan dengan kriteria: mempunyai kelerengan > 40 %.150 12 9 Kc: ch.a Tg: ke.325-0.snk D V6a L8 0.sgn.10 0.mli.15 0.mli B V6a T3 0.775* 0.105 10 6.ke B V3 0.ke C V6a T3 0.55* 0.150 17 14 Kc: kl.55* 0.55* 0.10 0.snk.8-1.ke B V3 0.150 32 29.150 31 27.sng.kl B V6a L8 0.15 0.775* 0.15 0.15 0.10 0.15 0.10 0.kl A V6a T3 0.10 0.ps A V5a T3 0.10 0.sng.ps B V6a L8 0.

D = Kawasan budidaya tanaman setahun/semusim. Tabel 5. yaitu kawasan yang cock atau seharusnya dikembangkan usaha tani tanaman tahunan (kayu-kayuan. kl: ketela.057 0.216 6 Juni 1929. Kp: kampung.650 0. V5a = Hutan rakyat dengan jenis tanaman pokok albizia. sgn: sengon. dan tidak merugikan segi-segi ekologi/lingkungan C = Kawasan budidaya tanaman tahunan. acasia.452 3 Maret 1929.419 7489.419 11325. ch: cengkeh. saluran.419 19729.055 . bb: bambu. jt: jati.659 0. ps: pisang. mgs : manggis. jalan dan halaman V3 = Hutan produksi terbatas V6a = Kebun campur dengan tanaman pokok kakau. secara ekonomis lokasi mudah dikembangkan sebagai daerah penyangga. B = Kawasan penyangga. tanaman perkebunan dan tanaman industri ). dr : durian. kawasan yang mempunyai kriteria umum sbb : keadaan fisik areal memungkinkan untuk dilakukan budidaya secara ekonomis.419 10199.568 2 Februari 1929. alpokat dan albizia V6b = Agroforestry dengan jenis tanaman pokok jati/ albizia/ sonokeling/ acasia dan pete/mlinjo. Erosi (Ha) ton/bulan mm/bulan 1 Januari 1929.khusus ditetapkan pemerintah sebagai kawasan lindung. No Bulan Luas U. mli: mlinjo.419 1921.L. areal seperti dalam ketetapan budidaya tanaman tahunan aka tetapi areal tersebut terletak pada tanah milik. ke: kelapa.639 0. kakau dan atau rumput L8 = Pengaturan drainase. jati. T3 = Penyempurnaan teras dengan penanaman kopi.326 4 April 1929. sonokeling. snk : sono keling. S: sawah.294 5 Mei 1929. tanah adat dan tanah negara yang seharusnya dikembangkan usaha tani tanaman semusim.018 0. H: hutan. Hasil hitungan erosi permukaan dengan faktor CP yang baru (arahan). Kc = kebun campur. Tg: tegalan.419 15691.392 0.

419 6355.419 552.034 10 Oktober 1929.419 28010.072 8 Agustus 1929.419 1197.355 0. dari yang semula 8. namun tidak dapat mencegah sedimen yang masuk melalui alur sungai.183 11 November 1929.338 0. Harga satuan air adalah sejumlah uang yang dibebankan kepada pengguna air atas penggunaan air pada suatu tempat dengan debit tertentu dan waktu tertentu yang terdiri dari harga satuan berikut ini : • harga satuan air baku untuk PDAM.016 9 September 1929.562 A (Ton/tahun) 124502. sehingga pengendalian harus dilakukan di daerah atasan genangan waduk (DAS). diperkirakan akan dapat menurunkan laju erosi di Daerah Aliran Waduk Sermo.30 mm/thn menjadi 3.529 A ( mm/tahun) 3.715 mm/th. Nilai Ekonomi Air Waduk Pendapatan yang diperoleh dari pengelolaan waduk dihitung dari perkalian antara jumlah air yang dapat dilepas waduk dengan harga satuan air dari masingmasing kebutuhan. 6.585 Nilai erosi permukaan dengan faktor C dan P hasil dari rencana arahan dapat menyebabkan terjadinya penurunan laju erosi permukaan sebesar 4. . menurunkan faktor C) dan penanganan secara mekanis (dengan memperbaiki sistem teras yang ada.7 Juli 1929.419 2500. Pengendalian dapat dilakukan baik pada DAS atau mengelilingi daerah genangan waduk (pengendalian daerah sabuk hijau atau green belt).784 0. Pengendalian di daerah sabuk hijau dapat mencegah masuknya sedimen (hasil erosi) langsung ke dalam daerah genangan waduk. Dari hasil hitungan di atas dapat disimpulkan bahwa dengan penanganan secara vegetatif (dengan mengganti beberapa jenis tanaman yang rawan erosi.320 0. menurunkan faktor P).796 A (Ton/ha/thn) 64.689 0.807 12 Desember 1929.419 19529.585 mm/thn. yang pada gilirannya dapat mengurangi sedimen yang masuk ke dalam waduk.894 0.

tempat rekreasi. olah raga air. dll. Sebagai gambaran untuk Waduk Sermo. Untuk waduk Sermo. dll. dll). meliputi kebutuhan air untuk air baku PDAM dan air irigasi. Untuk melihat kemandirian ekonomi waduk Sermo. seperti misalnya untuk rekreasi. seperti misalnya untuk penanaman pohon di sekeliling waduk (misal sengon laut untuk diambil kayunya. pendapatan yang diperoleh dari “menjual” aset waduk Sermo . dari tahun 1996-2046). pendapatan waduk dari air juga dapat diperoleh melalui “penjualan” fungsi genangan air waduk untuk berbagai keperluan. Dan hanya dari air untuk keperluan air minum (PDAM) sajalah yang dapat diharapkan nilai ekonomi airnya. pihak pengelola Waduk Sermo saat ini juga memanfaatkan lahan kosong di sekeliling Waduk untuk berbagai keperluan.• harga satuan air baku untuk industri. yaitu 50 tahun. serta besarnya volume tampungan air waduk yang tersedia. Nilai ekonomi air waduk Sermo juga diperoleh melalui “pengoptimalan” fungsi dari “aset” waduk. pemanfaatan air waduk saat ini hanya diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan air irigasi dan PDAM saja. Kalau hanya untuk menutup biaya O & P waduk saja. pemancingan. Untuk menutup biaya O & P. Besarnya air yang dapat dilepas waduk sangat dipengaruhi oleh besarnya inflow dan out flow waduk (sesuai dengan jenis dan besar kebutuhan air). seperti misalnya rekreasi. Kebutuhan tersebut diperhitungkan selama usia operasi waduk (untuk waduk Sermo. Khusus harga satuan air irigasi (dan penggelontoran) tidak memiliki nilai yang pasti karena dalam kenyataannya memang tidak ada kontribusi langsung dari pengguna air terhadap jasa pengelolaan kedua air tersebut. hasil pendapatan dari menjual air. dll. agro wisata. karamba. Besar kebutuhan air tersebut didasarkan pada pedoman (manual) operasi yang terdapat pada Bagian Proyek Pengembangan dan Konservasi Sumber Air Waduk Sermo. olah raga air. warung. • harga satuan air untuk PLTA. perlu melihat biaya O & P waduk. Disamping itu. jenis kebutuhan air yang diharapkan dapat dipenuhi oleh Waduk Sermo. yang berupa pemanfaatan genangan air untuk berbagai keperluan. dan biaya investasi yang telah dikeluarkan untuk pembangunan waduk.

Departemen Kehutanan. sedangkan total operasional dan biaya investasinya adalah sekitar Rp. Bogor. bahwa dengan asumsi bahwa harga satuan air mengacu pada nilai yang ditetapkan oleh Perusahaan Umum Jasa Tirta I Malang (Tahun 2000.644 Milyar (present worth value. yang pada akhirnya akan mempengaruhi kemampuan waduk dalam memenuhi berbagai kebutuhan air. Prinz. Dari hasil studi yang dilakukan oleh Purnomo (2001) pada waduk Sermo.041 Milyar. karena standar nilai air di waduk Sermo belum ada) diketahui bahwa selama usia operasi waduk (50 tahun). Yogyakarta... D. 7. 2001. . total pendapatan yang diperoleh adalah sekitar Rp.sebenarnya sudah mencukupi. Sebagaimana disampaikan di depan bahwa besarnya volume tampungan air waduk Sermo akan sangat dipengaruhi oleh besarnya sedimentasi waduk yang terjadi selama waktu operasional waduk. Konservasi Lahan. 1997. B. Buku I dan II. kalau harus memeperhitungkan biaya investasi. Kironoto. Sitanalaya. Program Pascasarjana. Tinjauan Pustaka 1. 1991. I. 2000). Teknologi Konservasi Tanah dan Air. Rencana Teknik lapangan. Purnomo.. Tesis Program MPSA. 1989.. pendapatan waduk yang diperoleh biasanya tidak akan mampu menutup biaya investasi. Namun. 30. 12.A. Kartasapoetra. A. Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah. th. Diktat Kuliah MPSA. Program Pascasarjana UGM. G. Yogyakarta 3. Konservasi Tanah dan Air. yang berarti bahwa waduk Sermo sebenarnya tidak memiliki kemandirian ekonomi.. 6. Global Environmental Problems : Soil Erosion Assessment and Control. Pada kondisi dimana sedimen yang masuk ke dalam waduk melebihi kapasitas dead storage. 2. yang pada akhirnya akan mengurangi pendapatan waduk. 2000. 5. B. . dan Yulistyanto. Studi Model Operasi Pengaturan Air Waduk Sermo dengan Pendekatan Nilai Ekonomi Air. Jakarta 4. besarnya tampungan air waduk akan terkurangi oleh sedimen yang masuk ke dalam waduk. Dalam penelitian tersebut belum diperhitungkan berkurangnya kapasitas tampungan ai waduk oleh sedimen. UGM. 1999. Germany.

7. Tatareka Paradya. Yogyakarta. Studi Sedimentasi Waduk Sermo dan Penanggulangannya. . 1999.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful