P. 1
Jawaban Soal, Hukum Perikatan

Jawaban Soal, Hukum Perikatan

|Views: 248|Likes:
Published by Wahid Abdulrahman

More info:

Published by: Wahid Abdulrahman on Apr 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/23/2012

pdf

text

original

Dalam pertanyaan, Bentuk perjanjian apa yang masih mungkin dialksanakn dan yang tidak mungkin lagi dialaksanakan

? Dapat saya paparkan sebagai berikut : Perjanjian yang mungkin bisa dilaksanakan adalah perjanjian yang masih memenuhi syarat sahnya perjanjian oleh sebab itu perlu kita ketahui bahwa, Perjanjian yang sah artinya perjanjian yang memenuhi syarat yang telah ditentukan oleh undang- undang, sehingga ia diakui oleh hukum (legally concluded contract). Menurut ketentuan pasal 1320 KUHPdt, syarat- syarat sah perjanjian adalah sebagai berikut : ( Abdulkadir Muhamad : 1992 : 88 ) 1) 2) 3) 4) Ada persetujuan kehendak antara pihak- pihak yang membuat perjanjian (consensus) Ada kecakapan pihak- pihak untuk membuat perjanjian (capacity) Ada suatu hal tertentu (a certain subject matter) Ada suatu sebab yang halal (legal cause)

Perlu diperhatikan bahwa perjanjian yang memenuhi syarat menurut undang-undang, diakui oleh hukum. Sebaliknya perjanjian yang tidak memenuhi syarat tidak akan diakui oleh hukum, walaupun diakui oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Karena itu selagi pihak-pihak mengakui dan mematuhi perjanjian yang mereka buat walaupun tidak memenuhi syarat, perjanjian itu berlaku antara mereka. Apabila sampai suatu ketika ada pihak yang tidak mengakuinya lagi, maka hakim akan membatalkan atau menyatakan perjanjian itu batal. Secara ringkas syarat sahnya perjanjian itu harus memenuhi syarat subjektif dan syarat objektif Syarat Subjektif, syarat ini apabila dilanggar maka kontrak dapat dibatalkan, meliputi : 1. Kecakapan untuk membuat kontrak (dewasa dan tidak sakit ingatan); 2. Kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya. Dan syarat objektif syarat ini apabila dilanggar maka kontraknya batal demi hukum, meliputi : 1. Suatu hal (objek) tertentu; 2. Sesuatu sebab yang halal (kuasa). Contoh perjanjian yang bisa terlaksana :

Dalam perjanjian jual beli kemudian perjanjian jual beli barang tersebut memenuhi syatsyarat sahnya suatu perjanjian dan syart-syarat jul beli tersebut. Adapun apabila kita kaitkan sama wanvrestasi maka bisa dikatakan bahwa wanvrestasi artinya tidak terpenuhi kewajiban yang telah ditetapkan dalam perikatan, baik perikatan yang timbul karena perjanjian atau perikatan yang timbul karena undang-undang. Tidak terpenuhi kewajiban itu ada dua kemungkinan. a. Karena kesalahan debitur, baik karena kesalahan atau karena kelalaian. b. Karena keadaan memaksa (force majeure), jadi diluar kemampuan debitur, debitur tidak bersalah. Adapun bentuk perjanjian yang tidak mungkin bisa dilaksanakan lagi adalah perjanjian yang tidak memenuhi syarat sahnya perjanjian.karna syarat sahnya perjanjian akan menunjang pada terjadinya suatu pelaksanaan perjanjian. 1. Pelaksanaan perjanjian Dalam arti pelaksanan perjanjian, salah satu aspek yang amat penting dalm perjanjian adalah pelaksanaan perjanjian itu sendiri. Bahkan, dapat dikatakan justeru pelaksanaan inilah yang menjadi tujuan orang-orang yang mengadakan perjanjian, pihak-pihak yang membuatnya yang akan dapat memenuhi kebutuhannya. Melaksanakan perjanjian berarti melaksanakan sebagimana mestinya apa yang merupakan kewajiban terhadap siapa perjanjian itu dibuat. Oleh karena itu, melaksanakan perjanjian pada hakikatnya adalah berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu untuk kepentingan orang lain yakni pihak yang berhak atas pelaksanaan perjanjian tersebut.(Ridwan Syahrani : 2006 : 244) Jadi bisa disimpulkan bahwa perjanjian yang masih mungkin dilaksanakan adalah perjanjian yang memenuhi syarat sahnya perjanjian dan yang tidak mungkin lagi bisa dilakukan perjanjian yaitu perjanjian yang sudah tidak memenuhi syarat sahnya perjanjian. Argument :

Dalam perjanjian masih mungkin dilaksanakan apabila debitur masih memenuhi prestasi, dan tidak sebagaimana mestinya apabila debitur tidak memenuhi prestasi maka tidaklah

terlaksana perjanjian tersebut, oleh karena itu apabila dalam masalah perjanjian maka harus melihat dulu syarat-syarat sahnya perjanjian. Dan jikalau debitur tidak memenuhi prestasi sama sekali dan juga debitur memenuhi prestasi, tetapi debitur melakukan perbuatan yang dilarang dalam perjanjian, maka perjanjian tidak dapat dilaksanakan maka terjadilah wanvrestasi. Mungkin hanya itu yang bisa saya paparkan, mohon maaf atas sgala kekurangannya . terimakasih.

Reperensi : Abdulkadir Muhamad, Hukum Perikatan, Citra Aditia Bakti, 1992 Ridwan Syahrani, Seluk-Beluk dan Asas-asas Hukum Perdata, P.T Alumni. 2004

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->