P. 1
Uu No.20 Tahun 2003 Dan Pp No.19 Tahun 2005 Tentang Smk

Uu No.20 Tahun 2003 Dan Pp No.19 Tahun 2005 Tentang Smk

|Views: 3,152|Likes:
Published by ulyahs

More info:

Published by: ulyahs on Apr 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/24/2015

pdf

text

original

Tugas

: Individu

Mata Kuliah : Perencanaan Pembelajaran

UUD NO 20 TAHUN 2003 DAN PP NO 19 TAHUN 2005 BERKAITAN DENGAN PENDIDIKAN KEJURUAN

ULYAH SAINI 092514005 S1

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRONIKA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR 2012

A. Pendahuluan Ditinjau secara sistemik, pendidikan kejuruan pada dasarnya merupakan subsistem dari sistem pendidikan. Terdapat banyak definisi yang diajukan oleh para ahli tentang pendidikan kejuruan dan definisidefinisi tersebut berkembang seirama dengan persepsi dan harapan masyarakat tentang peran yang harus dijalankannya (Muchlas Samani, 1992:14) Evans & Edwin (1978:24) mengemukakan bahwa: “pendidikan kejuruan merupakan bagian dari sistem pendidikan yang mempersiapkan individu pada suatu pekerjaan atau kelompok pekerjaan”. Sementara Harris dalam Slamet (1990:2), menyatakan: ”Pendidikan kejuruan adalah pendidikan untuk suatu pekerjaan atau beberapa jenis pekerjaan yang disukai individu untuk kebutuhan sosialnya”. Menurut House Committee on Education and Labour (HCEL) dalam (Oemar H. Malik, 1990:94) bahwa: “pendidikan kejuruan adalah suatu bentuk pengembangan bakat, pendidikan dasar keterampilan, dan kebiasaan-kebiasaan yang mengarah pada dunia kerja yang dipandang sebagai latihan keterampilan”. Dari definisi tersebut terdapat satu pengertian yang bersifat universal seperti yang dinyatakan oleh National Council for Research into Vocational Education Amerika Serikat (NCRVE, 1981:15), yaitu bahwa “pendidikan kejuruan merupakan subsistem pendidikan yang secara khusus membantu peserta didik dalam mempersiapkan diri memasuki lapangan kerja”. Pendidikan kejuruan menurut Undang-Undang Negara Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 18 dijelaskan bahwa: “Pendidikan Kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja pada bidang tertentu”. Sebagai tindak lanjut dari implementasi undangundang di atas, maka perlu dikembangkan suatu bentuk pendidikan kejuruan. Khususnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menurut depdiknes bertujuan untuk: 1. Menyiapkan siswa-siswi untuk memasuki lapangan pekerjaan serta mengembangkan sikap professional 2. Menyiapkan siswa agar mampu memilih karir, mampu berkompetisi, dan mampu mengembangkan diri

Menyiapkan tenaga kerja tingkat menengah yang mandiri dan atau untuk mengisi kebutuhan dunia usaha dan industri pada saat ini maupun masa yang akan dating.Untuk selebihnya saya merangkumnya ke dalam summary UUD NO 20 TAHUN 2003 DAN PP NO 19 TAHUN 2005 BERKAITAN DENGAN PENDIDIKAN KEJURUAN. adaptif. . Menyiapkan tamatan agar menjadi warga negara yang produkti. Kompetensi lulusan SMK mengacu pada standar kompetensi yang sesuai dengan tuntutan dunia kerja. 4. Dalam tujuan Sekolah Menengah Kejuruan tersebut di atas dikemukakan bahwa siswa SMK disiapkan oleh lembaga pendidikan untuk dapat menjadi produktif yang terampil dalam mengisi kebutuhan dunia usaha dan dunia industry. dan kreatif.3. Permintaan tenaga kerja kompeten dan professional seiring dengan pesatnya perkembangan industrialisasi hal ini mutlak diperlukan.

B. menurut Elliot (1983:15). Dengan demikian pola magang relatif lebih terprogram dan jaminan bahwa karyawan baru akan dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan tertentu lebih besar dibanding pola latihan dalam pekerjaan (Evans & Edwin.\ Pada pola magang terdapat seorang karyawan senior yang secara khusus ditugasi sebagai instruktur bagi karyawan baru (peserta didik) yang sedang belajar. sehingga pola magang dan latihan dalam pekerjaan kurang memadai karena tidak memberikan dasar teori dan keterampilan sebelum peserta didik memasuki lapangan kerja sebagai karyawan baru. dengan tujuan memberikan bekal teori dan keterampilan sebelum peserta didik memasuki lapangan kerja. 1978:38). Pekerjaan menjadi kompleks dan memerlukan bekal pengetahuan dan keterampilan yang makin tinggi. Instruktur tersebut bertanggungjawab untuk membimbing dan mengajarkan pengetahuan serta keterampilan yang sesuai dengan tugas karyawan baru yang menjadi asuhannya. Teori Undang-Undang Tentang Pendidikan Kejuruan Ciri pendidikan kejuruan yang utama adalah sebagai persiapan untuk memasuki dunia kerja. Secara historis. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang makin canggih membawa pengaruh terhadap pola kerja manusia. Walaupun demikian. . peserta didik belajar sambil langsung bekerja sebagai karyawan baru tanpa ada orang yang secara khusus ditunjuk sebagai instruktur. Oleh karena itu kemudian berkembang bentuk sekolah dan latihan kejuruan yang diselenggarakan oleh sekolah kejuruan bekerja sama dengan kalangan industri. Pada pola latihan dalam pekerjaan. pola latihan dalam pekerjaan memiliki keunggulan karena peserta didik dapat langsung belajar pada keadaan yang sebenarnya sehingga mendorong dia belajar secara inkuiri. menurut Evans & Edwin (1978:36) pendidikan kejuruan sesungguhnya merupakan perkembangan dari latihan dalam pekerjaan (on the job training) dan pola magang (apprenticeship). sehingga tidak ada jaminan bahwa peserta didik akan mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan.

Mendorong dan meningkatkan kualitas masyarakat. Tujuan Pendidikan Kejuruan Ditinjau dari tujuannya. e. Membantu peserta didik memperoleh atau mempertahankan pekerjaan dengan jalan memberikan bekal keterampilan yang berkaitan dengan pekerjaan yang diinginkannya. Dengan bekal kemampuan mengembangkan diri tersebut diharapkan karier yang . Menurut Miner (1974:4856) bekal yang dipelajari dalam pendidikan kejuruan akan merupakan bekal untuk mengembangkan diri dalam bekerja. dapat disimpulkan bahwa di samping mengemban tugas pendidikan secara umum. Memberikan bekal keterampilan individual dan keterampilan yang laku di masyarakat. sehingga peserta didik secara ekonomis dapat menopang kehidupannya. dan (3) memberikan motivasi kerja kepada peserta didik untuk menerapkan berbagai pengetahuan yang diperolehnya. menurut Thorogood (1982:328) pendidikan kejuruan bertujuan untuk: a. Crunkilton (1984:25) menyebutkan bahwa: ”salah satu tujuan utama pendidikan kejuruan adalah meningkatkan kemampuan peserta didik sehingga memperoleh kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya”.” Dari tujuan pendidikan kejuruan yang diajukan oleh Thorogood dan Evans di atas. Di samping tujuan khusus yang diajukan oleh Thorogood dan Evans di atas. Mendorong produktivitas ekonomi secara regional maupun nasional. Agak berbeda dengan Thorogood. c. d. pendidikan kejuruan mengemban misi khusus. b. Mendorong terjadinya tenaga terlatih untuk menopang perkembangan ekonomi dan industri.1. yaitu memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan kepada peserta didik untuk memasuki lapangan kerja dan sekaligus menghasilkan tenaga kerja terampil yang dibutuhkan oleh masyarakat. (2) meningkatkan pilihan pekerjaan yang dapat diperoleh oleh setiap peserta didik. Evans seperti yang dikutip oleh Wenrich & Wenrich (1974:63) menyebutkan bahwa pendidikan kejuruan bertujuan untuk: “(1) menghasilkan tenaga kerja yang diperlukan oleh masyarakat.

Nurhadi (1988) dan Samani (1992) ternyata memperkuat pendapat Miner serta Karabel dan Hasley tersebut. Jenjang pendidikan formal yang berlaku dikenal pendidikan kejuruan tingkat sekolah menengah (secondary) atau sekolah menengah kejuruan (SMK) dengan berbagai program keahlian seperti Listrik. Evans seperti yang dikutip oleh Hadiwiratama (1980:60-69) membagi sekolah kejuruan menjadi lima kategori. Dengan kata lain sekolah kejuruan dapat membantu meningkatkan mobilitas vertikal dalam masyarakat (Elliot. khususnya dalam kaitan dengan bagaimana sekolah kejuruan mendekatkan programnya dengan dunia kerja. Teknik Pendingin. Otomotif. Pengelompokan berdasarkan jenjang dapat didasarkan atas jenjang kecanggihan keterampilan yang dipelajari atau jenjang pendidikan formal yang berlaku (Zulbakir dan Fazil. Pengelompokan Pendidikan Kejuruan Pendidikan kejuruan dapat dikelompokkan berdasarkan jenjang dan menurut struktur programnya. 1986:124) Berdasarkan struktur programnya. (3) program persiapan bidang pekerjaan secara umum (occupational area preparation education). sangat penting karena pada umumnya siswa sekolah kejuruan berasal dari masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi rendah (Suprapto Brotosiswoyo. Gambar Bangunan. Konstruksi Baja. Tata Busana. sehingga apabila sekolah kejuruan berhasil mewujudkan misinya berarti akan membantu menaikan status sosial ekonomi masyarakat tingkat bawah. 2. (4) program persiapan bidang kerja . Elektronika Otomasi.bersangkutan dapat meningkat dan pada gilirannya kehidupan mereka akan makin baik (Karabel & Hasley. 1991:8). manajemen perkantoran dan sebagainya serta tingkat di atas sekolah menengah (post secondary) misalnya politeknik (IEES. Tata Boga. Elektronika Manufaktur. seperti diungkapkan oleh Crunkilton tersebut. 1988:7). Penelitian yang dilakukan Mulyani A. 1977:14). penjualan. Travel and Tourism. (2) program persiapan kerja (employability preparation education). Metals. yaitu (1) program pengarahan kerja (pre vocational guidance education). akuntansi. 1983:42).Bagi masyarakat Indonesia misi pendidikan kejuruan.

sekolah memberikan pengetahuan dasar dan umum tentang berbagai jenis pekerjaan di masyarakat sekaligus menumbuhkan apresiasi terhadap berbagai pekerjaan tersebut. Dengan bekal tersebut diharapkan lulusan sekolah menengah kejuruan tidak hanya terpancang pada jenis pekerjaan yang ada. Untuk program persiapan bidang pekerjaan secara umum. peralatan yang sejenis. Dengan program ini diharapkan peserta didik mempunyai pilihan lapangan pekerjaan yang lebih jelas dan lebih cepat mengikuti latihan di dalam pekerjaan. sedangkan pada program persiapan kerja. Dengan program ini diharapkan peserta didik mempunyai peluang yang lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan. Lebih khusus lagi adalah program pendidikan kejuruan khusus yang sudah terarah pada pekerjaan khusus. meskipun masih bersifat umum. mengingat jenis industri di Indonesia sangat bervariasi. meskipun belum pada suatu perusahaan tertentu. tetapi juga makin sempit bidang pekerjaan yang dapat dimasuki. Makin khusus jenis pendidikan kejuruan akan makin siap lulusannya memasuki lapangan kerja. sekolah memberikan dasar-dasar sikap dan keterampilan kerja. meskipun tentunya masih harus melalui latihan di dalam pekerjaan. Perjenjangan kedekatan pendidikan kejuruan yang disebutkan oleh Evans di atas berarti juga kesiapan lulusan dalam memasuki lapangan kerja. Di sini mulai timbulnya dilema antara siap pakai atau siap latih dalam pendidikan kejuruan. yaitu mendidik siswa untuk memenuhi persyaratan yang diminta oleh suatu perusahaan tertentu. sekolah memberikan bekal guna meningkatkan kemampuan bekerja untuk bidang pekerjaan yang memerlukan pengetahuan. menurut Semiawan (1991:6). Walaupun demikian. dan (5) program pendidikan kejuruan khusus (job specific education). kecuali untuk keperluan tertentu pendidikan kejuruan yang khusus (job specific education) sangat sulit diterapkan di Indonesia. tetapi juga terdorong .spesifik (occupational specific education). yang penting adalah kesiapan mental untuk mengembangkan dirinya serta keterampilan dasar untuk setiap kali dapat menyesuaikan diri kembali pada perubahan tertentu (retrain ability). Dalam kaitan dengan hal tersebut. Pada program pengarahan kerja. Program persiapan kerja yang spesifik memberikan bekal yang sudah mengarah kepada jenis pekerjaan tertentu.

Mendapatkan biaya pendidikan bagi mereka yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya. minat. kecuali bagi peserta didik yang dibebaskan dari kewajiban tersebut sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan. mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama. Menyelesaikan program pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar masingmasing dan tidak menyimpang dari ketentuan batas waktu yang ditetapkan. baik di dalam industri atau lembaga pelatihan tertentu”. Pindah ke program pendidikan pada jalur dan satuan pendidikan lain yang setara. dan kemampuannya. C. 2) Setiap peserta didik berkewajiban: a. c. f. . e. Mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat. Menjaga norma-norma pendidikan untuk menjamin keberlangsungan proses dan keberhasilan pendidikan. Peserta Didik Menurut Undang-Undang Negara Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 12 mengenai peserta didik dijelaskan bahwa : 1) Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak: a. Penjelasan UUD No 20 Tahun 2003 dan PP No 19 Tahun 2005 Tentang Kejuruan i. b. b. Warga negara asing dapat menjadi peserta didik pada satuan pendidikan yangdiselenggarakan dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya.untuk mewujudkan lapangan kerja baru dengan mengembangkan prakarsa dan kreativitasnya secara optimal. c. Sejalan dengan itu Tilaar (1991:12) menegaskan bahwa: “pendidikan formal (sekolah kejuruan) seharusnya menghasilkan lulusan yang memiliki kualifikasi siap latih yang kemudian diteruskan dengan program pelatihan. d.

sekolah menengah kejuruan (SMK). Bahasa pengantar Menurut Undang-Undang Negara Republik Indonesia No. 2. Pendidikan menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar. atau bentuk lain yang sederajat. Ketentuan mengenai pendidikan menengah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan khusus. . dan madrasah aliyah kejuruan (MAK). kejuruan. dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara menjadi bahasa pengantar dalam pendidikan nasional.jenjang. vokasi. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 18 mengenai pendidikan menengah. Jalur. Pendidikan menengah terdiri atas pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan. dan Jenis Pendidikan Nasional Menurut Undang-Undang Negara Republik Indonesia No. Ketentuan mengenai hak dan kewajiban peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1). iii. 4.d. Pendidikan menengah Menurut Undang-Undang Negara Republik Indonesia No. yaitu : 1. ii. keagamaan. Pendidikan menengah berbentuk sekolah menengah atas (SMA). menyebutkan bahwa : 1. iv. ayat (2). 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 15 mengenai Jalur. Bahasa daerah dapat digunakan sebagai bahasa pengantar dalam tahap awal pendidikan apabila diperlukan dalam penyampaian pengetahuan dan/atau keterampilan tertentu. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 33 mengenai bahasa pengantar. profesi. 3. dan Jenis pendidikan yaitu : Jenis pendidikan mencakup pendidikan umum. akademik.Jenjang. madrasah aliyah (MA). ayat (2). 2.

g. Muatan lokal. d. Kelompok mata pelajaran jasmani. e. Kurikulum Menurut Undang-Undang Negara Republik Indonesia No. Seni dan budaya. menyatakan bahwa: 1. Pendidikan agama. b. Kelompok mata pelajaran estetika. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 37 mengenai kurikulum. Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. b. Ilmu pengetahuan sosial. Bahasa. Pendidikan kewarganegaraan. Ilmu pengetahuan alam. e. h. dan khusus pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas: a. Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor. Kurikulum untuk jenis pendidikan keagamaan formal terdiri atas kelompok mata pelajaran yang ditentukan berdasarkan tujuan pendidikan keagamaan. Kurikulum untuk jenis pendidikan umum. Bahasa asing dapat digunakan sebagai bahasa pengantar pada satuan pendidikan tertentu untuk mendukung kemampuan berbahasa asing peserta didik. disebutkan bahwa : 1. Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian. c.19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan BAB III mengenai standar isi pasal 6. i. f. Matematika. Pendidikan jasmani dan olahraga. Keterampilan/kejuruan. dan kesehatan. kejuruan. Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia. olah raga. c.3. d. . 2. dan j. v. Kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat: a.

dan bernegara. tanggung jawab . dan pembudayaan serta pembentukan masyarakat madani. serta pengamalan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan. (maksud dari pasal 6 ayat 1) adalah Yang dimaksud pendidikan umum meliputi SD/MI/paket A. dan SMA/MA/Paket C atau bentuk lain yang sederajat. Ayat (1) butir a Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia pada SD/MI/SDLB/Paket A. demokrasi. dan penanaman nilai-nilai keagamaan. SMK/MAK. Kesadaran dan wawasan dalam bermasyarakat. berbangsa. kesetaraan gender. 4. Peningkatan potensi spiritual dalam kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia mencakup pengenalan.3. kemajemukan bangsa. pelestarian lingkungan hidup. penghargaan terhadap hak asasi manusia. Yang dimaksud pendidikan kejuruan meliputi SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat. dan bernegara mencakup upaya pendidikan untuk pembentukan pribadi yang unggul secara individual. Kesadaran dan wawasan termasuk wawasan kebangsaan. Semua kelompok mata pelajaran sama pentingnya dalam menentukan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah. SMP/MTs/Paket B. jiwa dan patriotisme bela negara. Ayat (1) butir b Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian pada SD/MI/SDLB/Paket A. SMA/ MA/SMALB/ Paket C. atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk peningkatan kesadaran dan wawasan peserta didik akan status. SMP/MTs/SMPLB/Paket B. SMA/MA/ SMALB/Paket C. SMK/MAK. berbangsa. serta peningkatan kualitas dirinya sebagai manusia. Setiap kelompok mata pelajaran dilaksanakan secara holistic sehingga pembelajaran masing-masing kelompok mata pelajaran mempengaruhi pemahaman dan/atau penghayatan peserta didik. Peningkatan potensi spiritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan. pemahaman. dan kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat. hak. SMP/MTs/ SMPLB/Paket B. atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk peningkatan potensi spiritual.

Ayat (2) dan Ayat (3) Terkait dengan itu SMP/MTs/SMPLB atau bentuk lain yang sederajat. SMA/MA/SMALB/ Paket C. baik dalamkehidupan individual sehingga mampu menikmati dan mensyukuri hidup. dan nepotisme. atau bentuk lain yang sederajat yang berkategori mandiri harus menerapkan sistem SKS jika menghendaki tetap berada pada kategori mandiri. BSNP menetapkan karya-karya sastra Indonesia unggulan yang wajib dipelajari oleh peserta didik pada setiap jenjang pendidikan. Kemampuan mengapresiasi dan kemampuan mengekspresikan keindahan serta harmoni mencakup apresiasi dan ekspresi. Ayat (1) butir d Kelompok mata pelajaran estetika pada SD/MI/SDLB/Paket A.sosial. kolusi. atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk meningkatkan sensitifitas. dan SMA/MA/SMLB. dan sikap serta perilaku anti korupsi. SMA/MA/SMALB/Paket C. atau bentuk lain yang sederajat dapat menerapkan sistem SKS. SMK/ MAK. Untuk menanamkan apresiasi terhadap karya sastra Indonesia. ketaatan pada hukum. SMK/MAK. atau bentuk lain yang sederajat diamalkan sehari-hari oleh peserta didik di dalam dan di luar sekolah. Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia serta Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian pada SD/MI/SDLB/Paket A. SMP/MTs/SMPLB/Paket B. maupun dalam kehidupan kemasyarakatan sehingga mampu menciptakan kebersamaan yang harmonis. serta dikembangkan menjadi bagian dari budaya sekolah. dan kemandirian kerja. SMK/MAK. SMP/MTs/SMPLB/Paket B. SMK/MAK. kecakapan. Khusus untuk SMA/MA/SMLB. AYAT(1) butir c Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi. ketaatan membayar pajak. Muatan bahasa mencakup antara lain penanaman kemahiran berbahasa dan apresiasi terhadap karya sastra. . kemampuan mengekspresikan dan kemampuan mengapresiasi keindahan dan harmoni. dengan contoh pengamalan diberikan oleh setiap pendidik dalam interaksi sosialnya di dalam dan di luar sekolah. membentuk kompetensi.

SMP. Kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya untuk program paket A. di bawah supervisi dinas kabupaten/kota yang bertanggungjawab di bidang pendidikan untuk SD. atau madrasah dan komite madrasah. Kurikulum tingkat satuan pendidikan SD/MI/SDLB.19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 16 dan 17 mengenai kurikulum tingkat satuan pendidikan. Panduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berisi sekurangkurangnya: a.Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor. atau bentuk lain yang sederajat dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan. . B. 2. sosial budaya masyarakat setempat. Kurikulum tingkat satuan pendidikan untuk setiap program studi di perguruan tinggi dikembangkan dan ditetapkan oleh masing-masing perguruan tinggi dengan mengacu StandarNasional Pendidikan. 2. dan departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama untuk MI. SMP/MTs/SMPLB. potensi daerah/karakteristik daerah. mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan. Penyusunan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah berpedoman pada panduan yang disusun oleh BSNP. Sekolah dan komite sekolah. 3. dan SMK. Model-model kurikulum tingkat satuan pendidikan untuk SD/MI/ SDLB/SMP/MTs/SMPLB/SMA/MA/SMALB. 4. SMK/MAK. MA. SMA/MA/SMALB. MTs. dan peserta didik. dan C ditetapkan oleh dinas kabupaten/kota yang bertanggungjawab di bidang pendidikan berdasarkan kerangka dasar kurikulum sesuai dengan peraturan pemerintah ini dan standar kompetensi lulusan. dan SMK/MAK pada jalur pendidikan formal kategori standar. Pasal 17 1. dan MAK. SMA. menyebutkan bahwa : 1.

ilmu pengetahuan alam. atau bentuk lain yang sederajat dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. 2. SMA/MA/SMALB/ Paket C. akhlak mulia. serta muatan lokal yang relevan. SMK/MAK. Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SMP/MTs/SMPLB/Paket B. serta muatan lokal yang relevan. estetika. Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SMA/MA/SMALB/Paket C. keterampilan/kejuruan.vi. jasmani. dan kesehatan. dan/atau teknologi informasi dan komunikasi. 5. kepribadian. ilmu pengetahuan sosial. SMK/MAK. SMP/MTs/SMPLB/Paket B. Standar Isi Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor. ilmu pengetahuan dan teknologi. dan muatan lokal yang relevan. kewarganegaraan. olah raga. ilmu pengetahuan alam. SMA/MA/SMALB/ Paket C. ilmu pengetahuan sosial. . atau bentuk lain yang sederajat dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan agama. keterampilan/kejuruan. atau bentuk lain yang sederajat dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian pada SD/MI/SDLB/Paket A. Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia pada SD/MI/SDLB/Paket A. kewarganegaraan. SMP/MTs/SMPLB/Paket B. teknologi informasi dan komunikasi. ilmu pengetahuan alam. bahasa. matematika. Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SD/MI/ SDLB/Paket A. 4. atau bentuk lain yang sederajat dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan agama. dan pendidikan jasmani. matematika. keterampilan/kejuruan. 3. disebutkan bahwa : 1. senidan budaya. matematika. ilmu pengetahuan sosial. atau bentuk lain yang sederajat dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa.19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan BAB III mengenai standar isi pasal 7.

pendidikan kesehatan. SMA/MA/SMALB/ Paket C. atau bentuk lain yang sederajat dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. ilmu pengetahuan alam. keterampilan. SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat pada jalur pendidikan formal kategori standar dapat dinyatakan dalam satuan kredit semester. olahraga. SMP/MTs/SMPLB/Paket B. ilmu pengetahuan alam. Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SMK/MAK. serta muatan lokal yang relevan. dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. dan muatan lokal yang relevan. sesuai kebutuhan dan ciri khas masing-masing. 7. keterampilan. seni dan budaya.19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 10. Beban Belajar Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor. kejuruan. Beban belajar untuk SD/MI/SDLB. SMK/MAK. vii. matematika. SMA/MA/SMALB/Paket C. atau bentuk lain yang sederajat dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan pendidikan jasmani. dan 13 mengenai beban belajar . . atau bentuk lain yang sederajat dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. SMA/MA/SMLB. penugasan terstruktur. SMP/MTs/SMPLB. 11. teknologi informasi dan komunikasi. Kelompok mata pelajaran jasmani.6. SMK/ MAK. SMP/MTs/SMPLB/Paket B. disebutkan bahwa : 1. 8. olah raga. dan kesehatan pada SD/MI/SDLB/ Paket A. dan muatan lokal yang relevan. ilmu pengetahuan sosial. SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat menggunakan jam pembelajaran setiap minggu setiap semester dengan sistem tatap muka. Kelompok mata pelajaran estetika pada SD/MI/SDLB/Paket A. Beban belajar untuk SMA/MA/SMLB.

kelompok mata pelajaran pendidikan estetika. atau bentuk lain yang sederajat memiliki: a.1. 2. Standar Pendidik dan Tenaga kependidikan Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor. olah raga. kecakapan sosial. Pendidikan kecakapan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) dapat merupakan bagian dari pendidikan kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia. Kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (DIV) atau sarjana (S1) . dan kesehatan. Beban belajar untuk SMA/MA/SMLB. Kurikulum untuk SMP/MTs/SMPLB atau bentuk lain yang sederajat. SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat dapat memasukkan pendidikan kecakapan hidup. pendidikan kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendidikan kecakapan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup kecakapan pribadi. viii. 3. 4. menyebutkan bahwa : Pendidik pada SMK/MAK. atau kelompok mata pelajaran pendidikan jasmani. dan (3) dapat diperoleh peserta didik dari satuan pendidikan yang bersangkutan atau dari satuan pendidikan nonformal yang sudah memperoleh akreditasi.19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 28 dan 30 mengenai standar pendidik dan tenaga kependidikan. (2). dan kecakapan vokasional. SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat pada jalur pendidikan formal kategori mandiri dinyatakan dalam satuan kredit semester. Pasal 13 1. SMA/MA/SMALB atau bentuk lain yang sederajat. pendidikan kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian. kecakapan akademik. Beban belajar minimal dan maksimal bagi satuan pendidikan yang menerapkan sistem SKS ditetapkan dengan Peraturan Menteri berdasarkan usul dari BSNP. 2. Pendidikan kecakapan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Standar Pengelolaan Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor. tenaga perpustakaan. ix. Berstatus sebagai guru SMP/MTS/SMA/MA/SMK/ MAK. Latar belakang pendidikan tinggi dengan program pendidikan yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan. dan d.19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 35 dan 38 mengenai tenaga kependidikan. b. Memiliki pengalaman mengajar sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun di SMP/MTs/SMA/MA/SMK/MAK. Tenaga kependidikan Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor. x. SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat sekurangkurangnya terdiri atas kepala sekolah/madrasah. dan tenaga kebersihan sekolah/madrasah. Pasal 38 Kriteria untuk menjadi kepala SMP/MTs/SMA/MA/SMK/ MAK meliputi: a. dan c. menyebutkan bahwa : .b. Pasal 30 Pendidik pada SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat terdiri atas guru mata pelajaran dan instruktur bidang kejuruan yang penugasannya ditetapkan oleh masing-masing satuan pendidikan sesuai dengan keperluan. Memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran sesuai ketentuan perundangundangan yang berlaku. Memiliki kemampuan kepimpinanan dan kewirausahaan di bidang pendidikan. menyebutkan bahwa : Pasal 35 1. tenaga laboratorium.19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 50 mengenai standar pengelolaan. tenaga administrasi. Sertifikat profesi guru untuk SMK/MAK. c.

disebutkan bahwa : Pasal 68 Hasil ujian nasional digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk: a. Satuan pendidikan dapat melakukan seleksi dengan menggunakan instrumen seleksi yang materinya tidak diujikan dalam Ujian Nasional.Pada satuan pendidikan SMA/MA/SMALB. Pemetaan mutu program dan/atau satuan pendidikan. misalnya tes bakat skolastik. d. tes minat. Dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya. Ujian Nasional mencakup pelajaran Bahasa Indonesia. tes bakat. Status kelulusan Ujian Nasional. c. (maksud dari butir b) Hasil ujian nasional dijadikan sebagai salah satu dasar seleksi untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. b. SMK/MAK. xi. Pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upayanya untuk meningkatkan mutu pendidikan. sarana dan prasarana. Penentuan kelulusan peserta didik dari program dan/atau satuan pendidikan. tes kesehatan. mengenai penilaian hasil belajar oleh pemerintah. Bahasa Inggris. dan mata pelajaran kejuruan yang menjadi ciri khas program pendidikan. atau tes lainnya sesuai dengan Kriteria pada satuan pendidikan tersebut. .19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 68. untuk jenjang SMP/SMPLB/MTs atau bentuk lain yang sederajat. 1. atau bentuk lain yang sederajat kepala satuan pendidikan dalam melaksanakan tugasnya dibantu minimal oleh tiga wakil kepala satuan pendidikan yang masing-masing secara berturut-turut membidangi akademik. serta kesiswaan. Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor. Penilaian hasil Belajar oleh Pemerintah Pada jenjang SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat. tes intelegensi. Matematika.

Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor. Matematika. dan mata pelajaran kejuruan yang menjadi ciri khas program pendidikan. (maksud dari ayat 3) adalah penunjukan tim ahli didasarkan atas keahlian yang relevan dengan bidang yang dikembangkan yang berasal dari asosiasi profesi. BSNP dipimpin oleh seorang ketua dan seorang sekretaris yang dipilih oleh dan dari anggota atas dasar suara terbanyak. dan Pasal 70 Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor. Untuk membantu kelancaran tugasnya BSNP didukung oleh sebuah sekretariat yang secara ex-officio diketuai oleh pejabat Departemen yang ditunjuk oleh Menteri. . sederajat. Misalnya. Ujian Nasional mencakup pelajaran Bahasa Indonesia.19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 75. Bahasa Inggris. BSNP menunjuk tim ahli yang bersifat ad-hoc sesuai kebutuhan. pengembangan kompetensi lulusan SMK di bidang pariwisata melibatkan ahli dari Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) dan asosiasi jasa travel. disebutkan bahwa : Pada jenjang SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat. xi. disebutkan bahwa : 1.19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 70. mengenai Penilaian Hasil Belajar oleh Satuan Pendidikan. pengembangan kompetensi lulusan SMK di bidang pelayaran melibatkan departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang perhubungan.SMA/SMALB/MA atau bentuk lain yang SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat. 3. tenaga ahli yang direkomendasikan oleh instansi pemerintah terkait dan lainnya. 2.

pengembangan kompetensi lulusan SMK di bidang kesehatan melibatkan unsur profesi bidang kesehatan dan departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang kesehatan. .

Perlu diupayakan adanya pembenahan terhadap berbagai hal yang berkaitan dengan optimalisasi prestasi belajar siswa. karena UU Sisdiknas mengatur tentang evaluasi. sehingga akan memudahkan siswa dalam memasuki bidang pekerjaan yang sesuai dengan bidang kompetensinya. Mengingat bahwa siswa merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan pendidikan. maka hasil dari proses pembelajaran untuk menguasai kompetensi keahliannya akan lebih baik dan lebih optimal. . Jika faktor kesiapan dalam belajar ini benar-benar dilaksanakan oleh siswa.D. adapun ketentuan-ketentuan yang berlaku yang mendasari pendidikan kejuruan yaitu pada UUD no 20 tahun 2003 dan peraturan pemerintah no 19 tahun 2005 ini menjadi acuan bagi para calon pendidik maupun yang sudah menjadi pendidik haruslah mengerti betul tentang peraturan yang dibuat oleh pemerintah melalui ini. oleh sebab itu perlu dikaji ulang. akreditasi. Kesimpulan Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Materi mata pelajaran Ujian Nasional untuk peserta didik SMK non teknis yang menyertakan matematika adalah tidak sesuai dengan karakteristik kejuruan dan harus dihilangkan. serta lebih menitik beratkan pada kompetensi keahlian. Pada dasarnya Ujian Nasional tidak tersirat di dalam UU No: 20 tahun 2003. dan sertifikasi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->