P. 1
Askep Astma Bronkial Pada Anak

Askep Astma Bronkial Pada Anak

|Views: 789|Likes:

More info:

Published by: Amelia Imbarini Merli on Apr 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/22/2013

pdf

text

original

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK “S” DENGAN ASMA BRONKHIAL DI POLIKLINIK ANAK RSUD PALEMBANG BARI

NAMA : AMELIA IMBARINI MERLI NIM : PO.71.20.1.09.053

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLTEKKES KEMENKES PALEMBANG JURUSAN KEPERAWATAN 2010-2011

serbuk bunga.Asuhan Keperawatan Anak dengan Asma Bronchial A. B. . logam. Contoh: debu. bakteri. Asma bronchial adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respon trachea dan bronkhus terhadap berbagai rangsangandengan manifestasi adanya penyempitan jalan nafas yang luas dan derajatnya dapat berubah-ubah baik secara spontan maupun hasil dari pengobatan. Etiologi Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi timbulnya serangan asma bronkhial. yang masuk melalui kontak dengan kulit. dan jam tangan. Contoh: perhiasan. Faktor Predisposisi Genetik Yang diturunkan adalah bakat alergi meskipun belum diketahui bagaimana cara penurunannya. 2. b) c) Ingestan. yaitu: a) Inhalan. dan polusi. Pengertian Asma bronchial adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermitten. Contoh: makanan dan obat-obatan Kontaktan. reversibel dimana trakheobronkhial berespon secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu. spora jamur. penderita sangat mudah terkena penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan faktor pencetus. bulu binatang. yang masuk melalui mulut. Faktor Presipitasi Alergen Alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis. Penderita dengan penyakit alergi biasanya mempunyai keluarga dekat yang juga menderita penyakit alergi. yang masuk melalui saluran pernapasan. 1. Karena adanya bakat alergi ini.

Asma gabungan Bentuk asma yang paling umum. - Olah raga/aktivitas jasmani yang berat Sebagian besar penderita akan mendapat serangan juka melakukan aktivitas jasmani atau olahraga yang berat. yaitu: 1. - Stress Stress/gangguan emosi dapat menjadi pencetus asma dan memperberat serangan asma yang sudah ada. serbuk bunga. Kadang-kadang serangan berhubungan dengan musim. Serangan asma ini menjadi lebih berat dan sering sejalan dengan berlalunya waktu dan dapat berkembang menjadi bronkhitis kronis dan emfisema. . 3. 2. Ekstrinsik (alergik) Ditandai dengan reaksi alergi yang disebabkan oleh faktor-faktor pencetus yang spesifik. Intrinsik (non alergik) Ditandai dengan adanya reaksi non alergi yang bereaksi terhadap penctus yang tidak spesifik atau tidak diketahui. musim bunga. Asma ekstrinsik sering dihubungkan dengan adanya suatu predisposisi genetik terhadap alergi. dan debu. Hal ini berhubungan dengan arah angin. bulu binatang. Penderita diberikan motivasi untuk menyelesaikan masalah pribadinya karena jika stressnya belum diatasi maka gejala asmanya belum bisa diobati. serbuk bunga. asma bronkhial dapat diklasifikasikan menjadi 3 tipe. Klasifikasi Berdasarkan penyebabnya. Asma ini mempunyai karakteristik dari bentuk alergik dan non-alergik. dan spora jamur. Beberapa pasien akan mengalami asma gabungan. C.lari cepat paling mudah menimbulkan serangan asma. seperti udara dingin atau bisa juga disebabkan oleh adanya infeksi saluran pernafasan dan emosi. seperti musim hujan. seperti debu. obat-obatan (antibiotik dan aspirin). musim kemarau.- Perubahan cuaca Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma.

Gejala klasik: sesak nafas. Efek gabungan dari semua faktor ini akan menghasilkan edema lokal pada dinding bronkhiolus kecil maupun sekresi mukus yang kental dalam lumen bronkhiolus dan spasme otot polos bronkhiolus sehingga menyebabkan tahanan saluran napas menjadi sangat meningkat. Hal in dapat menyebabkan barrel chest. Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas bronkhiolus terhadap benda-benda asing di udara. diameter bronkhiolus berkurang selama ekspirasi daripada selama inspirasi karena peningkatan tekanan dalam paru selama ekspirasi paksa menekan bagian luar bronkhiolus. diantaranya histamin. Pada asma. Hal ini menyebabkan dispnea. antibodi ini terutama melekat pada sel mast yang terdapat pada interstisial paru yang berhubungan erat dengan bronkhiolus dan bronkhus kecil. duduk dengan menyangga ke depan. gejala yang timbul .D. mengi (wheezing).pada penderita asma biasanya dapat melakukan inspirasi dengan baik dan adekuat tetapi hanya sekali-kali melakukan ekspirasi. serta tanpa otot-otot bantu pernafasan bekerja dengan keras. Bila seseorang menghirup alergen maka antibodi IgE orang tersebut meningkat. dan bradikinin. Kapasitas residu fungsional dan volume residu paru menjadi sangat meningkat selama serangan asma akibat kesulitan mengeluarkan udara ekspirasi dari paru. Manifestasi Klinis Biasanya pada penderita yang sedang bebas serangan tidak ditemukan gejala klinis. Pada serangan asma yang lebih berat. Pada asma. batuk. alergen bereaksi dengan antibodi yang telah terlekat pada sel mast dan menyebabkan sel ini akan mengeluarkan berbagai macam zat. E. Reaksi yang timbul pada asma tipe alergi diduga reaksi alergi. tapi pada saat serangan penderita tampak bernafas cepat dan dalam. Patofisiologi Asma ditandai dengan kontraksi spastik dari otot polos bronkhiolus yang menyebabkan sukar bernafas. dan pada sebagian penderita ada yang merasa nyeri di dada. Bronkhiolus sudah tersumbat sebagian maka sumbatan selanjutnya adalah akibat dari tekanan eksternal yang menimbulkan obstruksi berat terutama selama ekspirasi. faktor kemotaktik eosinofilik. zat anafilaksis yang bereaksi lambat (yang merupakan leukotrien). gelisah.

Penderita harus dirawat dengan terapi yang intensif. Status asmatikus adalah setiap serangan asma berat atau yang kemudian menjadi berat dan tidak memberikan respon (refrakter) adrenalin dan atau aminofilin suntikan dapat digolongkan pada status asmatikus. Meliputi pengobatan dan perjalanan penyakitnya sehingga penderita mengerti tujuan pengobatan yang diberikan dan bekerjasama dengan dokter atau perawat yang merawat. . gangguan kesadaran. 4. Menghilangkan obstruksi jalan nafas dengan segera Mengenal dan menghindari faktor-faktor yang dapat mencetuskan serangan asma Memberikan penerangan kepada penderita atau keluarganya mengenai penyakit asma. hiperinflasi dada. Atelektasis adalah pengerutan sebagian atau seluruh paru-paru akibat penyumbatan saluran udara (bronkus maupun bronkiolus) atau akibat pernafasan yang sangat dangkal. antara lain: silent chest. dan pernafasan cepat-dangkal. Hipoksemia adalah tubuh kekurangan oksigen Pneumotoraks adalah terdapatnya udara pada rongga pleura yang menyebabkan kolapsnya paru. Penatalaksanaan Prinsip umum pengobatan asma bronkhial adalah: 1. F. 3. 3. Emfisema adalah penyakit yang gejala utamanya adalah penyempitan (obstruksi) saluran nafas karena kantung udara di paru menggelembung secara berlebihan dan mengalami kerusakan yang luas. sianosis. G. takikardi.makin banyak. Serangan asma sering terjadi pada malam hari. Komplikasi Berbagai komplikasi yang mungkin timbul adalah: 1. 2. 2. 5.

fenoterol (berotec). Terbagi dalam 2 golongan: a.- Pengobatan Pengobatan pada asma bronkhial terbagi 2. Aminofilin (Euphilin Retard). Simpatomimetik/andrenergik (adrenalin dan efedrin) Nama obat: Orsiprenalin (Alupent). b. Teofilin (Amilex) Penderita dengan penyakit lambung sebaiknya berhati-hati bila minum obat ini. yaitu: 1) a.Bronkodilator: obat yang melebarkan saluran nafas. 2) Pengobatan non farmakologik Memberikan penyuluhan Menghindari faktor pencetus Pemberian cairan Fisioterapi Beri O₂ bila perlu Pengobatan farmakologik . terbutalin (bricasma). Biasanya diberikan dosis 2 kali 1 mg/hari. b. e. Ketolifen Mempunya efek pencegahan terhadap asma seperti kromalin. Kromalin Kromalin bukan bronkodilator tetapi merupakan tetapi merupakan obat pencegah serangan asma. Kromalin biasanya diberikan bersama-sama obat anti asma yang lain dan efeknya baru terlihat setelah pemakaian 1 bulan. c. . d. Santin (teofilin) Nama obat: Aminofilin (Amicam supp). Keuntungan obat ini adalah dapat diberikan secara oral.

Gelisah f.Ansietas .Adanya bunyi napas mengi . Integritas ego .Menggunakan alat bantu pernapasan.Adanya penurunan kemampuan/peningkatan kebutuhan bentuan melakukan aktivitas sehari-hari .Napas memburuk ketika klien berbaring telentang di tempat tidur .Ketidakmampuan melakukan aktivitas karena sulit bernafas .Kaji riwayat reksi alergi atau sensitivitas terhadap zat/faktor lingkungan b.Warna kulit atau membran mukosa normal/abu-abu/sianosis e.Ketakutan .Adanya peningkatan frekuensi jantung . Pernapasan .Peka rangsangan .Kaji riwayat pribadi atau keluarga tentang penyakit paru sebelumnya . .Adanya batuk berulang d. Pengkajian Riwayat kesehatan masa lalu . Aktivitas . Sirkulasi . a.Adanya peningkatan tekanan darah .Penurunan berat badan karena anoreksia .Tidur dalam posisi duduk tinggi c.Ketidakmampuan untuk makan karena distress pernapasan . melebarkan hidung. Asupan nutrisi .ASKEP TEORITIS PADA ANAK DENGAN ASMA BRONKHIAL 1. misal meninggikan bahu.Dispnea pada saat istirahat atau respon terhadap aktivitas atau latihan .

yaitu: . pada umumnya terjadi right axis deviasi dan clock wise rotation .Bila terdapat komplikasi empisema (COPD). pneutoraks. dan VES atau terjadinya depresi segmen ST negatif.Tanda-tanda hipoksemia. Hubungan sosial . maka gambaran radiolusen akan semakin bertambah.Bila terjadi pneumonia mediastinum.Bila disertai dengan bronkhitis. maka bercak-bercak di hilus akan bertambah . c. b. maka kelainan yang didapat adalah sebagai berikut: .Keterbatasan mobilitas fisik . yakni terdapatnya RBB (Right Bundle branch Block) . . .Dapat pula menimbulkan gambaran atelektasis lokal .Bila terdapat komplikasi.Adanya ketergantungan pada orang lain Pemeriksaan Penunjang a. Pemeriksaan tes kulit Dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan berbagai alergen yang dapat menimbulkan reaksi yang positif pada asma. Pada waktu serangan menunjukkan gambaran hiperinflasi pada paru-paru yakni radiolusen yang bertambah dan peleburan rongga intercostalis. maka terdapat gambaran infiltrat pada paru . Elektrokardiografi Gambaran elektrokardiografi yang terjadi selama serangan dapat dibagi menjadi 3 bagian dan disesuaikan dengan gambaran yang terjadi pada empisema paru.g. Pemeriksaan radiologi Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal. SVES. yaitu terdapatnya sinus takikardia. serta diafragma yang menurun.Susah bicara atau bicara terbata-bata .Terdapat tanda-tanda hipertropi otot jantung. Akan tetapi bila terdapat komplikasi. maka dapat dilihat bentuk gambaran radiolusen pada paru-paru.Perubahan aksis jantung. dan pneumoperikardium.

Sianosis mungkin perifer atau sentral mengindikasikan beratnya hipoksemia .Awasi tanda vital dan irama jantung .Kaji/pantau frekuensi pernafasan.Kolaborasi: . Spirometri Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan napas reversibel.Kaji/awasi secara rutin keadaan kulit klien dan membran mukosa . asap.Auskultasi bunyi nafas.dll . ex: mengi .Tempatkan klie pada posisi yang nyaman.Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat sesuai indikasi. Scanning Paru Dapat diketahui bahwa redistribusi udara selama serangan asma tidak menyeluruh pada paru-paru.Tingkatkan masukan cairan sampai dengan 3000 ml/hari sesuai toleransi jantung. ansietas. memberikan air hangat. Pemeriksaan spirometri tdak saja penting untuk menegakkan diagnosis tetapi juga penting untuk menilai berat obstruksi dan efek pengobatan.Takikardi. duduk pada sandaran TT . . penggunaan obat . disritmia.d.Penurunan getaran vibrasi diduga adanya penggumpalan cairan/udara . catat adanya bunyi nafas.Pertahankan polusi lingkungan minimum. Contoh: debu. 2. e.d gangguan suplai oksigen Tujuan: perbaikan ventilasi dan oksigen jaringan adekuat Intervensi: . catat rasio inspirasi/ekspirasi .d bronkospasme Tujuan: mempertahankan jalan napas paten dengan bunyi bersih dan jelas Intervensi: .berikan oksigen tambahan sesuai dengan indikasi hasil AGDA dan toleransi klien . distress pernafasan. 1) Diagnosa Keperawatan Bersihan jalan napas tidak efektif b. 2) Gangguan pertukaran gas b.Catat adanya derajat dispnea. Contoh: meninggikan kepala TT. dan perubahan tekanan darah dapat menunjukkan efek hipoksemia sistemik. .

Berikan bimbingan antisipasi terhadap pertumbuhan dan perkembangan .d tidak terpenuhinya kebutuhan psikososial orang tua Tujuan: koping keluarga kembali efektif Intervensi: .Berikan informasi pada orang tua tentang perkembangan anak .Mengurangi perpisahan dengan orang tuanya .Tekankan pentingnya sistem pendukung .Buat hubungan dengan orang tua yang mendorong mereka mengungkapkan kesulitan .Informasikan kepada orang tua tentang pelayanan yang tersedia di masyarakat. Intervensi untuk anak: .Mendorong keluarga untuk terlibat dalam perawatan anaknya .Mendorong untuk mengekspresikan perasaannya .Memberikan rasa nyaman .Melibatkan anak dalam bermain .Bina hubungan saling percaya .Anjurkan orang tua untuk menyediakan waktu sesuai kebutuhan . misal: pprosedur tindakan .Mendorong keluarga dengan memberikan pengertian informasi (Waley & Wong.3) Cemas pada orang tua dan anak b.Bantu orang tua untuk merujuk pada ahli penyakit . 1989) . 1989).d penyakit yang dialami anak Tujuan: menurunkan kecemasan pada orang tua dan anak Intervensi untuk orang tua: .Memberikan rasa nyaman .Mendorong keluarga dengan memberikan pengertian dan informasi (Waley & Wong.Konsultasi dengan tim medis untuk mengetahui kondisi anaknya.Berikan ketanangan pada orang tua .Siapkan anak untuk menghadapi pengalaman baru. . 4) Risiko tinggi koping keluarga tidak efektif b.

Betz Cecily. EGC: Jakarta. Edisi 29. .DAFTAR PUSTAKA . Diagnosa Keperawatan Aplikasi pada Praktik Klinis. 1997. EGC: Jakarta.Kamus Kedokteran Dorland. .Capernito. Perawatan Anak Sakit. Buku Saku Keperawatan Pediatrik.EGC: Jakarta . 2002. Linda A Sowden. . Lynda J. 2000.Ngastiyah. EGC: Jakarta.

Bicara f. Jumlah gigi : : : : : .11 rw.B : 6th : Laki-laki no. Tengkurap : b. Riwayat penyakit terdahulu III.A :Jl. Duduk d. Merangkak c. Berjalann e.14 6 ulu Panjang badan Nama Orang Tua Alamat : 89cm : Tn.21 rt. Tumbuh Kembang a. B dengan Asma Bronkhial Di Poliklinik Anak RSUD Palembang BARI Nama Umur Jenis Kelamin : An.Asuhan Keperawatan pada An. Alasan datang ke Poliklinik Anak mengalami sesak nafas II. Riwayat Imunisasi IV.pancausaha Berat Badan : 20kg I.

Masalah Keperawatan Diagnose Intervensi Implementasi Evaluasi .V.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->