Public Disclosure Authorized

49568

Diagnosis Pertumbuhan Aceh

Public Disclosure Authorized

Public Disclosure Authorized

Public Disclosure Authorized

Juli 2009

Mengidentifikasi hambatan-hambatan utama pertumbuhan ekonomi pasca konflik dan pasca bencana

KANTOR BANK DUNIA JAKARTA Gedung Indonesia Stock Exchange, Tower II/Lt. 12-13 Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53 Jakarta 12910 Tel: (6221) 5299-3000 Fax: (6221) 5299-3111

BANK DUNIA Bank Dunia 1818 H Street N.W. Washington, D.C. 20433 USA Tel: (202) 458-1876 Fax: (202) 522-1557/1560 Email : feedback@worldbank.org Website : www.worldbank.org

Dicetak bulan Juli 2009

DIAGNOSIS PERTUMBUHAN ACEH: Mengidentifikasi hambatan-hambatan utama pertumbuhan ekonomi pasca konflik dan pasca bencana adalah produk staf Bank Dunia. Temuan-temuan, penafsiran, dan kesimpulan yang dinyatakan dalam dokumen ini tidak berarti mencerminkan pandangan Direksi Eksekutif Bank Dunia atau pemerintah yang diwakilinya. Bank Dunia tidak menjamin ketepatan data yang tercantum dalam dokumen ini. Perbatasan, warna, denominasi, dan informasi lain yang ditunjukkan di setiap peta yang terdapat dalam dokumen ini tidak mengimplikasikan suatu penilaian terhadap bagian Bank Dunia sehubungan dengan status hukum setiap wilayah atau pengesahan atas persetujuan terhadap perbatasan tersebut.

Diagnosis Pertumbuhan Aceh

Mengidentifikasi hambatan-hambatan utama pertumbuhan ekonomi pasca konflik dan pasca bencana

Hasil Sosial yang Rendah a. Korupsi d. Risiko-risiko Makroekonomi b. Daftar Referensi 10. Memahami Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi di Aceh 4. Pendidikan dan modal sumber daya manusia 7.kegagalan koordinasi f. Metodologi 3. yang diadaptasi dari Hausmann. Akses Terhadap Kredit a. Lingkungan usaha c.Daftar Isi Pengantar Ucapan Terima Kasih Daftar Istilah Ringkasan Eksekutif 1. Rendahnya Kemungkinan Pengembalian atas Investasi (Appropriability) a. Infrastruktur: jalan-jalan b. Lampiran-Lampiran Lampiran I – Perkiraan hasil-hasil pendidikan Lampiran II – Tabel regresi: kinerja perusahaan dan permasalahan-permasalahan yang dihadapi Lampiran III – Uji T Kesetaraan rata-rata (T Test equality of means) Lampiran IV – Insiden-Insiden keamanan dan pertumbuhan iv v vi 1 5 9 15 21 25 25 27 28 30 32 37 38 40 42 47 47 48 51 53 59 61 65 71 77 77 78 79 80 Gambar Gambar 1 PDB per kapita di Aceh hampir sama dengan rata-rata nasional Gambar 2 Kerangka kerja. Apakah pembiayaan menjadi masalah di Aceh? b. Kesimpulan 9. Apakah permasalahannya adalah rendahnya tabungan dan tidak adanya akses terhadap pembiayaan eksternal? d. Pendahuluan 2. Rodrik dan Velasco (2005) Gambar 3 Aceh telah mengalami pertumbuhan dengan laju yang lebih lambat dibandingkan Indonesia hampir di sepanjang dasawarsa ini Gambar 4 Upah minimum provinsi di Aceh telah meningkat lebih dibandingkan daerah-daerah lain di Indonesia Gambar 5 Kekerasan di Aceh – Jan 2005 sampai dengan Des 2008 Gambar 6 Kredit terhadap PDRB sangat rendah di Aceh 6 10 15 19 24 26 ii Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Kegagalan pasar .kegagalan informasi 8. Apabila tidak. apakah persoalannya adalah pembatasan kredit oleh bank? 6. Apakah biaya modal tinggi terjadi di Aceh? c. Infrastruktur: listrik c. Biaya-biaya Transaksi: Pajak dan Iuran Keamanan e. Apakah permasalahannya adalah fungsi intermediasi (perantara) bank-bank lokal yang rendah? e. Kegagalan pasar . Tinjauan Ekonomi Pada Saat Konflik dan Pasca Konflik di Aceh 5.

rekonstruksi.Juli 2009 Gambar 7 Tingkat peminjaman investasi riil di Aceh dan rata-rata nasional Gambar 8 Tingkat peminjaman investasi nominal di Aceh dan rata-rata nasional Gambar 9 Pertumbuhan PDB tidak bereaksi terhadap perbedaan suku bunga Gambar 10 Tabungan per PDRB untuk provinsi-provinsi di Indonesia. 2006 Gambar 11 Dana-dana pemerintah menyumbangkan bagian yang besar dari simpanan di Aceh Gambar 12 Sektor konstruksi dan perdagangan menerima bagian kredit yang relatif besar di Aceh Gambar 13 Bagaimana perusahaan-perusahaan menilai kondisi dari jenis-jenis infrastruktur yang berbeda Gambar 14 Belanja pemerintah untuk infrastruktur di Aceh telah meningkat sejak tahun 2004 Gambar 15 Aceh kekurangan cadangan listrik siaga yang diperlukan untuk menghindari gangguan pasokan Gambar 17 Komposisi sektoral dari sampel survei The Asia Foundation / KKPOD Gambar 16 Lingkungan Indonesia untuk menjalankan usaha masih relatif buruk di tahun 2009 Gambar 18 Kinerja perusahaan dan peristiwa-peristiwa kekerasan. korban sipil. perbandingan antara mantan Tentara Nasional Aceh (TNA). dalam AS$ Hambatan-Hambatan terhadap Pertumbuhan di Aceh 11 13 16 18 26 30 31 35 38 39 41 42 43 44 45 52 54 55 61 66 Kotak Kotak 1 Kotak 2 Kotak 3 Kotak 4 Kotak 5 Menguraikan dampak-dampak tsunami. 2006 Tingkat elektrifikasi di Aceh berada di tingkat yang sama dengan wilayah-wilayah lain di Indonesia Capaian pendidikan Karakteristik dasar. Desember 2008 Kredit investasi dan modal kerja sebagai bagian dari keseluruhan kredit Pendapatan dan kekayaan (hanya untuk laki-laki) Kondisi infrastruktur di Aceh dan Indonesia tahun 2005 Kondisi Jalan di Aceh. dan non korban (khusus pria) Tenaga profesional dalam bidang kesehatan dan pendidikan Hasil pendidikan – perkiraan kenaikan upah Indeks persepsi korupsi Jenis penghidupan (khusus pria) Perbandingan kawan dan mitra usaha di kalangan mantan pejuang GAM (%) Ekspor non-migas Aceh. dan berakhirnya konflik terhadap pertumbuhan Data Investasi Merevitalisasi Pertanian Aceh Apakah konflik merupakan halangan untuk mengakses kredit? Industri-industri baru yang mulai berkembang di Aceh 8 18 20 32 62 iii Diagnosis Pertumbuhan Aceh . per kabupaten Gambar 19 Jumlah pelanggan telepon seluler di Aceh untuk penyedia layanan terkemuka dan jumlah warnet 27 27 28 29 29 34 39 40 41 50 49 56 62 Tabel Tabel 1 Tabel 2 Tabel 3 Tabel 4 Table 5 Tabel 6 Tabel 7 Tabel 8 Tabel 9 Tabel 10 Tabel 11 Tabel 12 Tabel 13 Tabel 14 Tabel 15 Tabel 16 Tabel 17 Tabel 18 Tabel 19 Tabel 20 Bagaimana konflik mepengaruhi perekonomian? Penciptaan lapangan kerja di Aceh Pertumbuhan ekonomi di Aceh Proyeksi tingkat kemiskinan Aceh dalam lima tahun (angka pada tahun 2008) Kredit investasi dan modal kerja sebagai bagian dari PDRB Suku bunga nomial rata-rata.

meskipun fakta menunjukkan bahwa Aceh relative aman selama kurun waktu hampir 4 tahun. Berakhirnya masa konflik pada tahun 2005 dan berlanjutnya masa-masa damai merupakan pencapaian besar. Pemerintah Aceh menyadari bahwa sebelum pelaku usaha dan masyarakat merubah persepsi mereka tentang keamanan di Aceh dan merasa percaya diri bahwa mereka dapat memperoleh manfaat penuh dari investasi mereka. kondisi ekonomi Aceh tercatat terus menurun. maka kekacauan akan menurun. serta membantu terjaganya perdamaian. Hal ini menunjukkan komitmen yang tinggi dari kedua belah pihak termasuk pemerintah pusat untuk terus memelihara perdamaian sehingga mendorong pembangunan yang lebih baik. Dampak lain dari konflik juga masih adanya pajak-pajak illegal. Beberapa daerah konflik biasanya kembali ke suasana konflik dalam tahun-tahun awal kesepakatan damai. Yaitu termasuk lingkungan usaha. dan memberikan rekomendasi pada upaya pemerintah dalam memperioritaskan dan merubah kebijakan untuk meningkatkan iklim investasi Meningkatkan kemakmuran masyarakat merupakan hal yang penting untuk menjaga perdamaian. Tentunya menghilangkan hambatan pertumbuhan dan investasi adalah penting. Namun tidak untuk Aceh. hanya sedikit investasi akan datang. Meskipun sempat memanas dalam Pemilu legislatif dalam bulan April lalu. Konflik yang ada di Aceh tidak dapat disederhanakan menjadi hanya isu lapangan pekerjaan dan ketimpangan sosial. Fakta juga menunjukkan bahwa sebenarnya ekonomi Aceh belum sembuh dari dampak negatif konflik yang terjadi selama 30 tahun. Laporan ini menunjukkan bahwa beberapa investor masih memandang Aceh sebagai daerah yang berisiko untuk berinvestasi. Kondisi penurunan ekonomi secara alamiah ini juga berhubungan dengan dampak negatif krisis keuangan global. Karena pada akhirnya dapat membuat propinsi ini terus tumbuh dengan tingkat hidup yang lebih baik bagi masyarakat. kami percaya bahwa manakala masyarakat dalam keadaan stabil dan menikmati penghasilan yang layak.Pengantar Aceh saat ini berada di persimpangan jalan. yang pada akhirnya mengurangi minat investasi. Akarnya jauh lebih rumit dan memelihara perdamaian lebih penting dari sekedar pertumbuhan ekonomi. Beberapa insiden keamanan. pertumbuhan propinsi ini akan terbatas dan upaya-upaya untuk mengurangi kemiskinan akan kurang efektif. Terdapat masalah lain yang mempengaruhi perekonomian Aceh. Searah dengan menurunnya usaha-usaha rekonstruksi yang sebelumnya telah menghasilkan tingkat pertumbuhan yang tinggi disektor-sektor ekonomi tertentu (misalnya konstruksi. Karena lingkungan konflik dan pasca konflik yang tidak positif dapat memperburuk investasi dan pertumbuhan ekonomi. akses pada permodalan dan kualitas infrastruktur. menghambat pelaku usaha dan individu untuk berinvestasi di Aceh. Akhirnya. yang lazim terjadi di daerah pasca konflik. perdagangan dan transportasi). Namun demikian. Laporan ini mencoba menunjukkan bagaimana faktorfaktor yang berbeda ini berpengaruh pada investasi dan pertumbuhan. namun secara umum kondisi keamanan mengalami perkembangan yang menggembirakan. Joachim von Amsberg Direktur Bank Dunia Indonesia iv Diagnosis Pertumbuhan Aceh .

David Newhouse. Peter Rosner. kami ingin mengucapkan terima kasih kepada Vikram Nehru. Lloyd McKay. Penelitian ini juga mendapatkan banyak bantuan dari survei di tingkat perusahaan yang dilakukan oleh KPPOD dan The Asia Foundation di Aceh pada tahun 2008. di Banda Aceh. Sukmawah Yuningsih. yang bekerjasama dengan Unit Pembangunan Sosial. yang telah memberikan masukan-masukan berharga. dari tanggal 23 sampai 24 Februari 2009. Rizki Atina yang telah memberikan bantuan untuk tim. serta masukan-masukan bermanfaat yang telah diberikan sepanjang proses penyusunan laporan ini. dan Harry Masyrafah. v Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Blair Palmer. Akhirnya. termasuk Enrique Aldaz-Carroll. Keduanya setuju untuk memberikan hasil-hasil surveinya kepada kami. Scott Guggenheim. serta kepada semua peserta yang telah meluangkan waktunya dan memberikan tanggapan-tanggapan yang bermanfaat kepada tim. Ucapan terima kasih kami haturkan kepada T. Kami sangat berterima kasih atas masukan-masukan berharga yang diberikan oleh banyak orang selama penyusunan laporan ini. yang dilakukan oleh Nielson Indonesia dengan bantuan dana dari Department for International Development (Departemen Pembangunan Internasional (DFID)) Inggris. Peter Milne dan Arsianti yang telah membantu dengan melakukan penyuntingan dan produksi laporan ini. Kami ingin berterima kasih khususnya pada Romawaty Sinaga. tim mendapatkan bantuan dari sebuah survei kecil dan serangkaian wawancara yang dilakukan dengan para pelaku usaha dan bank-bank di Aceh. Kami juga menggunakan hasil dari survei Reintegrasi Aceh dan Penghidupan (ARLS). Adam Day. yang telah memberikan bimbingan menyeluruh kepada kami. Yoko Doi. bimbingan. Neni Lestari. karena telah memberikan kepada kami kesempatan untuk menyajikan hasil-hasil awal dan memberikan kepada tim tanggapan-tanggapan yang matang tentang makalah yang disajikan. Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada para penyelenggara.Juli 2009 Ucapan Terima Kasih Laporan ini disusun oleh unit Manajemen Ekonomi dan Penanggulangan Kemiskinan Asia Timur Bank Dunia. Joachim von Amsberg. Ahya Ihsan. dan kami secara khusus berterima kasih kepada Yusran dan Eko Hermonsyah dari Bank Indonesia atas bantuannya. Achmad Budiman. Susan Wong. Tim Bulman. Fitria Fitrani. Tim juga telah mempresentasikan versi awal dari laporan ini dalam Konferensi Internasional tentang Kajian Aceh dan Kawasan Samudra Hindia (ICAIOS) kedua yang bertajuk “Konflik Sipil dan Penanggulangannya”. Hasil-hasil awal juga telah dipresentasikan kepada Pemerintah Aceh pada bulan April 2009 untuk menjelaskan hasil temyan awal dan untuk memperoleh umpan balik dari Pemerintah tentang kegiatan kami. Bimbingan dari Bank Indonesia dalam melaksanakan survei ini sangat penting. Kami juga ingin mengucapkan terima kasih kepada para rekan peninjau (peer reviewer). Said Mustafa dari Kantor Gubernur Aceh yang telah memfasilitasi pertemuan tersebut. atas dukungan. David Elmaleh. dan Wasi Abbas. Robert Wrobel. Adrian Morel. Universitas Syiah Kuala. Lina Marliani. Dalam melaksanakan penelitian ini. IAIN Ar-Raniry dan the Asia Research Institute (ARI) Universitas Nasional Singapura. dan William Wallace. Wolfgang Fengler. serta para peserta konferensi tersebut. Rodrigo Wagner. Kai Kaiser. Nazamuddin. meluangkan waktu yang cukup banyak untuk membahas survei tersebut dan hasil-hasilnya dengan tim. Elena Ianchovichina dan Nicola Pontara. dan Erman Rahman dari The Asia Foundation. Islahuddin. Tim penyusun laporan ini diketuai oleh Enrique Blanco Armas dan terdiri atas Patrick Barron. Said Fauzan Baabud. Diskusi yang kami lakukan dengan Laura Paler (Columbia) dan Yuhki Tajima (Riverside) bermanfaat bagi kami dalam penafsiran data.

Daftar Istilah APKO ARLS ARI ATAP BI BPS CSIRO DAU DFID GAM GDP GER GRDP GwH IAIN ICAIOS ICG IFC IOM IOO KDP KPM KPPOD KTP KUR kVA LDR LOGA MIGA MoU MSME MSR NAD NER NGO NPL PDRB PEG PER PLN PMA PMDN Pusdatin Asosiasi Penguasaha Kopi Aceh Reintegration and Livelihood Survey Asia Research Institute Aceh Triple-A Project Bank Indonesia Biro Pusat Statistik Australia’s Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization Dana Alokasi Umum Department for International Development Gerakan Aceh Merdeka Gross Domestic Product Gross Enrollment Rate Gross Regional Domestic Product Gigawatt Hour Institut Agama Islam Negeri International Conference on Aceh and Indian Ocean Studies International Consultative Group International Finance Corporation International Organization for Migration Investment Outreach Office Kecamatan Development Program Business Empowerment Credit Program Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah Kartu Tanda Penduduk Kredit Usaha Rakyat Kilo Volt Ampere Loan to Deposit Ratio The Law on Governing Aceh Multilateral Investment Guarantee Agency Memorandum of Understanding Micro. Small and Medium Enterprises Multi Stakeholder Review Nanggroe Aceh Darussalam Nett Enrollment Rate Non Government Organization Non Performing Loan Produk Domestik Regional Brutto Poverty Elasticities of Growth Pemberdayaan Ekonomi Rakyat Perusahaan Listrik Negara Penanaman Modal Asing Penanaman Modal Dalam Negeri Pusat Data dan Informasi vi Diagnosis Pertumbuhan Aceh .

Juli 2009 RPJMD RUPTL Sakernas SMA SME Susenas TAF TNA TNI UN Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik Survey Tenaga Kerja Nasional Sekolah Menengah Atas Small Medium Enterprise Survey Sosial Ekonomi Nasional The Asia Foundation Tentara Negara Aceh Tentara Nasional Indonesia United Nations vii Diagnosis Pertumbuhan Aceh .

.

sektor swasta perlu menjadi mesin penggerak pertumbuhan.3 kali per minggu. dan membentuk kembali sektor produktif agar tidak lagi bergantung pada sektor minyak dan gas. Pemerintah Aceh dapat mempertimbangkan untuk upaya-upaya pembaruan untuk menarik investasi dari sektor swasta dalam bidang energi dengan (i) merevisi penetapan harga listrik yang dihasilkan oleh pihak swasta untuk didistribusikan melalui PLN. Dampak-dampak tersebut mempengaruhi bagaimana perekonomian berfungsi dalam 1 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Hal ini menyebabkan sejumlah usaha kecil yang tidak memiliki generator sendiri tidak dapat menjalankan kegiatannya. sementara pelambatan tersebut belum diisi oleh sektor-sektor lain dalam perekonomian (misalnya. Seiring dengan akan berakhirnya upaya rekonstruksi. Pada saat di mana cadangan minyak dan gas yang diketahui semakin menipis dengan cepat dan program rekonstruksi pasca tsunami tidak lagi menjadi motor penggerak pertumbuhan. Seiring dengan berakhirnya masa rekonstruksi. perdagangan. dan (iii) menjajaki kemungkinan kemitraan pemerintah-swasta untuk menarik para produsen listrik yang hemat biaya. meningkatkan produktifitas. laporan ini mengidentifikasi kurangnya pasokan listrik yang dapat diandalkan sebagai hambatan utama terhadap investasi dan pertumbuhan di Aceh. Perekonomian Aceh mengalami penurunan sebesar lebih dari 8 persen di tahun 2008. energi matahari). Sisa-sisa konflik di Aceh masih terus menghambat pertumbuhan. sosial. seperti pada saat sebelum terjadinya tsunami. Pertumbuhan di Aceh pasca tsunami didominasi oleh sektor-sektor yang berkaitan erat dengan upaya rekonstruksi. dan membantu transisi Aceh menjadi perekonomian yang modern. pertumbuhan ekonomi kembali menurun. Hambatan utama lainnya terhadap investasi dan pertumbuhan di Aceh adalah masalah pungutan liar dan masalah keamanan yang masih menjadi perhatian para calon investor. Usaha manufakturing dan pengolahan hasil pertanian merupakan sektor yang secara khusus sangat dirugikan apabila terjadi pemadaman listrik. dan politik yang menjadi landasan pertumbuhan. yaitu sebesar 1. pertumbuhan sektor-sektor tersebut telah melambat. (ii) mendorong keikutsertaan sektor swasta dalam pembangkitan listrik dari sumber-sumber energi yang dapat diperbaharui (panas bumi.9 persen. jauh di bawah pertumbuhan di tingkat nasional sebesar 6 persen. Dengan menggunakan kerangka diagnosa pertumbuhan. Berbagai perusahaan di Aceh melaporkan bahwa pasokan listrik mengalami gangguan rata-rata 4. Selain untuk meningkatkan tingkat keandalan pasokan energi dari Sistem Interkoneksi Sumatera. pertanian dan industri). seperti konstruksi.Ringkasan Eksekutif Hambatan-hambatan terhadap investasi dan pertumbuhan di Aceh perlu segera ditangani. Hal tersebut harus menjadi fokus instansi-instansi terkait dalam upaya untuk menarik investasi di Aceh. Sedangkan perekonomian dari sektor non-migas menunjukkan pertumbuhan yang cukup rendah. lebih dari dua kali lipat dari jumlah gangguan yang dialami oleh daerah-daerah lain di Indonesia. Konflik dapat menimbulkan dampak yang mendasar pada lembaga-lembaga ekonomi. dan transportasi. biomassa setempat.

dan sejumlah sektor jasa. Untuk memperkuat supremasi hukum. dan fungsi kelembagaan. dibandingkan dengan angka di provinsi-provinsi yang lain yang hanya mencapai 4 persen. satu dari empat usaha swasta menyatakan mengeluarkan biaya untuk tambahan keamanan. instansi-instansi terkait harus mendukung pertumbuhan dan pembangunan ekonomi di daerah-daerah yang dilanda konflik. Secara rata-rata.Ringkasan Eksekutif masa pasca konflik. preferensi. yaitu pertanian dan perikanan. maka hal tersebut mungkin kurang efektif dan akan menimbulkan masalah baru serta kecemburuan lainnya. Pungutan liar dan masalah-masalah keamanan dianggap sebagai hambatan-hambatan yang sangat besar oleh usaha-usaha: 9. Mengingat terbatasnya kapasitas dan modal politik yang harus dimiliki oleh instansi-instansi pemerintah daerah untuk melaksanakan reformasi. sektor manufaktur lain. Sifat inklusif dari pertumbuhan ekonomi menjadi sangat relevan dalam situasi pasca konflik. instansi-instansi terkait harus meningkatkan kapasitas kepolisian untuk melakukan penyelidikan dan menyelesaikan kasus-kasus kejahatan. Hal tersebut mungkin membutuhkan modal politik yang cukup besar. perusahaan dan para individu akan dapat lebih mudah menilai biaya-biaya dan hasil investasinya secara lebih pasti dan tentunya akan melakukan investasi apabila investasi tersebut secara jelas dapat berkembang. Pertumbuhan inklusif di Aceh akan timbul dari pertumbuhan sektor-sektor yang menjadi sumber mata pencaharian mayoritas masyarakat miskin. Selain pengaruh-pengaruh destruktif langsung. walaupun hal tersebut tidak selalu mungkin dilakukan. 2 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . agribisnis. Kabupaten-kabupaten tempat terjadinya insiden-insiden yang paling hebat sejak penandatanganan Kesepakatan Damai cenderung merupakan kabupaten-kabupaten di mana perusahaan-perusahaan mencatat kinerja yang lebih rendah. Kekhawatiran akan keamanan dan persepsi negatif di luar Aceh nampaknya merupakan faktor yang kuat yang menghalangi investasi di provinsi tersebut. Semua hal tersebut meningkatkan ketidakpastian dalam menjalankan usaha di Aceh. dengan melibatkan masyarakat madani dan sektor swasta dalam diskusi-diskusi dan pemantauan situasi keamanan. Situasi keamanan yang lebih baik dan penghapusan pungutan dan pajak liar kemungkinam besar akan mendorong meningkatnya investasi dan pertumbuhan. lintas sektoral dan bermanfaat bagi sebagian besar dari angkatan kerja. Berbagai perusahaan mencoba mengatasi ketidakpastian tersebut dengan menjalin kerjasama dengan prusahaan-perusahaan atau jaringan-jaringan setempat yang dapat menawarkan perlindungan dan rasa aman. terutama perdagangan dan transportasi. reformasi harus terlebih dahulu difokuskan pada sektor-sektor yang menghasilkan pertumbuhan yang berkesinambungan dan menyeluruh dengan penciptaan lapangan pekerjaan dan pemerataan manfaat pertumbuhan ekonomi secara luas. Persepsi peningkatan risiko juga dapat juga menimbulkan kurangnya kredit untuk sektor swasta. Khususnya di lingkungan pasca konflik seperti Aceh. yang sama pentingnya dengan modal yang diperlukan untuk membangun konstituen yang diperlukan yang akan mendukung reformasi tersebut. Seiring dengan pengurangan biaya-biaya yang terkait dengan keamanan dan pungutan liar. kekhawatiran akan masalah keadilan dan kepastian bahwa ’para pihak yang berpotensi akan mengganggu perdamaian’ merupakan sebuah masalah yang penting. terutama masyarakat miskin sebagai produsen. serta kapasitas sistem peradilan untuk menuntut dan menghukum para pelaku kejahatan. Pertumbuhan inklusif juga akan didorong oleh penciptaan lapangan pekerjaan di sektor-sektor padat karya. Untuk menangani faktor-faktor penyebab yang mendasar dari ancaman kekerasan dan keamanan. Pertumbuhan harus bersifat inklusif. dampak-dampak tersebut juga dapat membahayakan keamanan para individu dan masyarakat dengan cara-cara yang secara tidak langsung mengubah perilaku.3 persen dari usaha-usaha tersebut menyatakan keamanan dan kemudahan penyelesaian konflik sebagai hambatan di Aceh. Apabila bantuan hanya diberikan kepada para mantan pejuang GAM. dengan fokus pada kelompok-kelompok yang berisiko dan rentan. Upaya untuk mengatasi kekhawatiran para calon investor tentang keamanan dan pemberantasan pungutan liar serta suap membutuhkan strategi dua arah: memperkuat supremasi hukum dan menangani hal-hal yang menjadi penyebab timbulnya ancaman kekerasan dan keamanan.

seperti pemberian kredit. sehingga meningkatkan kemampuan masyarakat miskin dan rentan di Aceh untuk merasakan manfaat dari pertumbuhan.). Terdapat pula intervensi khusus untuk memastikan agar pertumbuhan bersifat inklusif. juga memberikan perhatian khusus terhadap peluang terhadap ‘pihak yang berpotensi akan mengganggu perdamaian’. dll. irigasi. 3 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . harus menjadi bagian dari setiap strategi untuk memelihara perdamaian di provinsi Aceh. Upaya untuk mengatasi hambatan-hambatan yang telah teridentifikasi akan bermanfaat bagi masyarakat secara keseluruhan. Intervensi tersebut juga termasuk memulihkan ketidakadilan yang ada baik dalam modal manusia maupun modal fisik dengan menambah keterampilan masyarakat miskin di daerah-daerah pedesaan. Strategi umum untuk mengatasi persoalan keamanan dan konflik harus mencakup upaya untuk mendorong pertumbuhan yang inklusif dan merata. sehingga pada akhirnya memperkecil kemungkinan terulangnya konflik. Pemerataan manfaat pertumbuhan akan memberikan masyarakat Aceh tanggung jawab yang besar atas perdamaian dan stabilitas.Juli 2009 Pertumbuhan yang inklusif dan merata yang bermanfaat bagi mayoritas penduduk. Intervensi tersebut antara lain berupa upaya umtuk terus fokus pada sektor pertanian (namun juga dengan meningkatkan layanan publik lainnya.

.

dan memastikan bahwa “pihak yang berpotensi akan mengganggu perdamaian” yang juga merasakan manfaat dari pertumbuhan. Hambatan-hambatan utama adalah faktor-faktor penentu pertumbuhan tersebut yang apabila dikurangi. Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu faktor pendorong utama bagi upaya pengentasan kemiskinan di banyak negara. Berbagai tantangan terhadap perekonomian Aceh telah banyak didokumentasikan secara luas.01 Pendahuluan Laporan ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang menjadi penghambat pertumbuhan di Aceh. Rodrik. Namun dampak pertumbuhan pada upaya pengentasan kemiskinan dan kesinambungan pertumbuhan sangat bergantung pada laju dan pola pertumbuhan. Meski demikian. Hal ini pada akhirnya menciptakan sektor industri produktif lainnya di samping sektor migas dan membantu transisi Aceh untuk menjadi perekonomian yang modern. Kerangka ini telah di modifikasi sedemikian rupa agar dapat diterapkan dengan latar belakang daerah yang merupakan daerah pasca konflik. Laporan ini menggunakan Kerangka Diagnosa Pertumbuhan yang dikembangkan oleh Hausmann. struktur dasar sosial. Pada daerah pasca konflik. Masalah-masalah tersebut disebut sebagai hambatan-hambatan utama1. persoalan-persoalan seperti. analisis yang dilakukan untuk menjawab beberapa pertanyaan seperti . Sektor swasta yang kuat dapat meningkatkan produktifitas dan dapat membantu menciptakan investasi baru dalam sektor industri tradisional dan non tradisional. dan Velasco (2005) yang bertujuan untuk mengidentifikasi masalah-masalah utama yang menghambat pertumbuhan perekonomian Aceh dan harus segera menjadi fokus utama dari kebijakan ekonomi. memberikan wawasan tentang apa yang menghambat investasi dan pertumbuhan sektor swasta di Aceh. karena sejumlah faktor penentu relatif lebih rendah daripada faktor-faktor penentu yang lain. Di dalam berbagai bagian dalam laporan ini. akan menghasilkan dampak positif langsung tertinggi pada kinerja pertumbuhan. Laporan ini mengidentifikasi hambatanhambatan terhadap investasi dan pertumbuhan. menjadi semakin penting dan tidak dapat ditangani secara mudah dengan menggunakan kerangka diagnosa pertumbuhan. ketidakmampuan untuk menghasilkan laba atas investasi karena rendahnya hasil investasi sosial atau rendahnya tingkat laba atas investasi yang mungkin diperoleh. apakah hambatan-hambatan terhadap investasi timbul dari tingginya biaya atau rendahnya akses terhadap kredit. Laporan ini bertujuan mengidentifikasi dan memahami secara lebih rinci persoalan-persoalan pertumbuhan ekonomi yang paling mendesak untuk di perbaiki dan bagaimana upaya reformasi yang tepat terkait dengan perkembangan dan pertumbuhan sektor swasta. Pada saat di mana cadangan minyak dan gas tercatat semakin menipis dan program rekonstruksi pasca tsunami yang akan segera berakhir. Oleh karena itu. khususnya minimnya data investasi sektor swasta yang dapat diandalkan. dan dampak yang terjadi di daerah pasca konflik. laporan ini dapat digunakan sebagai masukan yang berharga dalam proses pengambilan keputusan politik. sektor swasta harus menjadi mesin penggerak pertumbuhan. Di 1 Pendekatan ini didasari oleh dalil bahwa faktor-faktor penentu pertumbuhan lebih merupakan pelengkap daripada pengganti. semua tindakan kebijakan tidak akan memiliki dampak yang sama pada pertumbuhan. 5 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Terdapat hambatan yang penting terkait dengan ketersediaan data di tingkat daerah. Penggunaan kerangka ini dalam latar tersebut memiliki beberapa keterbatasan.

Pencarian faktor-faktor penentu pertumbuhan yang dapat memandu pembuatan kebijakan masih jauh dari kata usai.000. a k Pr Sum pu art a a Pr op. PDB Aceh per kapita yang berjumlah Rp 11 juta (sekitar AS$1. K nt ap g ep an u Pr ula Tim a op u .000) hampir sama dengan jumlah rata-rata di tingkat nasional pada tahun 2006 (Gambar 1). ur op a R . N . menunjukkan bahwa rendahnya pertumbuhan tidak dapat diejawantahkan ke dalam tingkat kemiskinan yang lebih rendah (World Bank. J n n . P n . K P si T gah al ro en im p g Pr an . 1956).000. Model-model pertumbuhan modern berfokus pada latar dan kebijakan-kebijakan kelembagaan yang memberikan insentif yang benar untuk investasi (Aghion and Howitt. B im r an uss ali P ta ala Pr rop n Te m op .000. atr Ba Su a op r Pr la Se at . Tingkat pertumbuhan Aceh tercatat cukup lambat dan berfluktuatif yang juga menjelaskan penyebab dari tingginya angka kemiskinan di Aceh. P y a at . S at ara Pr um ra B t op at ar . dengan demikian meningkatkan produktifitas. Investasi memungkinan penerapan teknologiteknologi baru. Su awa gah op m B . S Go im Pr ul ro u op . S law en rat g ul aw esi k ul P e Se u Pr rop si Te lata op .Pendahuluan Indonesia.000. menjangkau pasar-pasar baru dan memperkenalkan peningkatan proses usaha dapat 2 Teori pertumbuhan telah banyak berevolusi dalam beberapa dekade terakhir dengan berusaha mengidentifikasi faktor-faktor penentu pertumbuhan. K eh rop tan al D a . Model pertumbuhan klasik. Te La Bara n Pr P gg m p t o r a u Pr p. 2006a).5 persen di tahun 2008. J ra at Pr aw Ut op . 2008a). dampak ikutan. Hal tersebut bertolak belakang dengan angka kemiskinan. sebesar 23. yang sangat bergantung pada sektor minyak dan gas dengan sedikit peluang terhadap ketenagakerjaan dan kaitannya dengan sektor-sektor perekonomian yang lain. N P aw nt a r us ro esi lo a p.K op al Pr w e lat . Dengan tidak menyertakan sektor migas dari sumber-sumber pendapatan daerah. B Ut gg ta an ara n t r Se en Pr oe A op c P la . n b Pr rop Yog Bar i op . tidak dapat menjelaskan perbedaan angka-angka pertumbuhan di seluruh negara. J n Pr .000 10.2 Investasi menyebabkan terjadinya akumulasi modal (fisik.000 50. 1990) memperkenalkan konsep insentif untuk inovasi. Struktur perekonomian Aceh.000 40.N im o si an an an p. tahun 2006 (nilai saat ini) 60. namun angka ini hanya sedikit lebih tinggi daripada pertumbuhan rata-rata di tingkat pusat.000 20. D an ur KI Ria Ja u ka rta ACEH Sumber: BPS dan perhitungan staf Bank Dunia Salah satu faktor penentu utama pertumbuhan adalah insentif-insentif yang diberikan oleh pemerintah guna mendorong sektor swasta dan para individu untuk melakukan investasi. meskipun terdapat aliran dana rekonstruksi yang sangat besar yang masuk ke provinsi Aceh. 6 Diagnosis Pertumbuhan Aceh Pr op . perlu dicapai untuk menurunkan angka kemiskinan di provinsi tersebut secara signifikan. dan Litbang dan bagaimana hal-hal tersebut penting untuk menghasilkan pertumbuhan produktifitas. Pertumbuhan di sektor non-migas menguat sebesar lebih dari 7 persen pada tahun 2006 dan 2007. manusia) dan dapat menimbulkan kemajuan teknologi. Hal ini menimbulkan kekhawatiran tentang prospek pertumbuhan seiring dengan berkurangya aliran dana rekonstruksi: Tingkat pertumbuhan awal untuk tahun 2008 menunjukkan bahwa pertumbuhan di sektor non-migas telah melambat sampai dengan 1. B P a T ara an ro im Pr gk p.9 persen dibandingkan dengan pertumbuhan di tingkat pusat yang mencapai lebih dari 6 persen. yang berfokus pada akumulasi modal manusia dan modal. S op ra B ng op u .000 30. Pertumbuhan yang inklusif dan berkesinambungan.000.000. Teori pertumbuhan endogen (Romer. 1992). yang mengamati tingkat tabungan dan memperkenalkan konsep kemajuan teknologi. Gambar 1 PDB per kapita di Aceh hampir sama dengan rata-rata nasional PDRB non-migas per kapita.M a us P luk a ro u Te p Ut n . Aceh merupakan salah daerah dengan angka kemiskinan tertinggi di Indonesia. atau model pertumbuhan neoklasik (Solow. B a . S aw gg ul a ara aw Te Pr op e n . a T ku . pertumbuhan dari pertengahan tahun 1960-an hingga terjadinya krisis keuangan pada tahun 1997-98 merupakan pertumbuhan yang memihak pada masyarakat miskin dikarenakan meningkatnya produktifitas dalam bidang pertanian dan perluasan sektor-sektor padat karya (World Bank. terutama di sektor non-migas. K P Be iau Pr alim rop lit u op a . namun terdapat kesepakatan bahwa investasi merupakan faktor penentu utama pertumbuhan.000 Pr op . J a ah op ta m P . a Pr gga M al ra Pr op r u op .

Karena badan usaha tersebut seringkali tidak dihadapkan dengan hambatan anggaran yang besar. namun bukti yang ada menunjukkan tingkat investasi tersebut sangat rendah. apabila diserahkan kepada sektor swasta. Para investor swasta kemungkinan memiliki informasi yang lebih baik karena mereka memiliki pemahaman tentang usaha tertentu. sebagaimana ditunjukkan oleh data dari Bank Indonesia. yang paling menonjol melalui penyediaan barang-barang publik. terutama apabila alokasi belanja berfokus pada penyediaan barang-barang publik dibandingkan dengan pemberian subsidi atau penyediaan barang-barang dan masukan-masukan dari swasta. pendidikan. pemerintah memiliki serangkaian tujuan yang lebih luas yang dapat mengakibatkan inefisiensi dalam pengelolaan badan usaha milik negara.org/data_files/english_format/economic/economic_analysis/ eco_analysis_2008_07_00. seperti prasarana umum. kesehatan. Terdapat keprihatian tentang efisiensi belanja dan mutu investasi pemerintah di provinsi Aceh.Juli 2009 memiliki dampak ikutan positif yang bermanfaat bagi perekonomian secara keseluruhan. pemerintah harus berfokus untuk memberikan layanan-layanan publik tersebut: infrastruktur yang modern. menciptakan eksternalitas positif di mana laba atas investasi sosial lebih tinggi daripada laba atas investasi swasta. jauh lebih rendah dari porsi di tingkat pusat yang berjumlah 24 persen. juga tercatat rendah di Aceh dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain di Indonesia. perbaikan layanan kesehatan dan lain-lain. 2006b dan 2008b) dan sepanjang makalah tersebut relevan. sektor swasta lebih efektif dalam menghasilkan jenis inovasi dan pertumbuhan produktifitas yang diperlukan untuk memelihara tingkat pertumbuhan dibandingkan dengan pemerintah. 3 Aceh Hijau adalah sebuah prakarsa yang diluncurkan oleh Gubernur Aceh untuk melaksanakan visinya untuk “Strategi Investasi dan Pembangunan Ekonomi Hijau untuk Aceh”. Pemerintah merupakan investor swasta yang kurang optimal. Laporan ini berfokus pada analisis atas hambatan-hambatan terhadap investasi sektor swasta. Pemerintah provinsi Aceh menyadari hal ini dan telah berupaya untuk menarik investasi swasta yang secara nyata tersaji dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) dan prakarsa-prakarsa lain yang diusung oleh pemerintah provinsi. Kredit investasi. terutama tentang investasi swasta.3 Namun demikian.aceh-eye. mengingat langkanya sumber daya dan adanya kebutuhan akan perbaikan penyediaan layanan publik. tingkat investasi di Aceh tertinggal dari daerah-daerah lain di Indonesia. Sebagai akibat dari eksternalitas tersebut. sebagai akibatnya. 4 7 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . yang kurang dari 8 persen dari PDB. Investasi pemerintah penting bagi pertumbuhan dalam hal bahwa pemerintah menyediakan barang dan layanan publik yang tidak akan dapat disediakan oleh pasar atau dapat disediakan oleh pasar dalam jumlah yang kurang memadai. Infrastruktur. dan keamanan adalah sejumlah bidang yang lebih menonjol di mana pemerintah memiliki peranan yang penting. namun tidak memiliki pengalaman untuk mengalokasikan sumber daya tersebut secara efisien. Yang lebih penting lagi. Tidak ada data tentang investasi yang dapat diandalkan. Investasi sebagai bagian dari PDB berjumlah sekitar 13 persen pada tahun 2008 di Aceh.4 Laporan ini berasumsi bahwa terkait dengan investasi dalam usaha. Kajian tersebut juga menunjukkan bahwa investasi publik melengkapi (dan tidak menggantikan) investasi swasta sebagai penggerak pertumbuhan. Pemerintah setempat tidak kekurangan sumber daya. www. Barang-barang dan layanan-layanan tersebut.pdf Mutu investasi pemerintah telah dianalisis dalam berbagai makalah analisa (World Bank. pendidikan. mereka mungkin dapat melakukan investasi dengan cara-cara yang sama sekali tidak dapat menghasilkan laba. 2008) yang dilakukan oleh Bank Dunia di sejumlah negara berkembang. temuan-temuan tersebut telah dimasukkan ke dalam analisis ini. penyediaan barang-barang dan layanan publik tersebut tidak memadai dan hasilnya kurang optimal dari segi sosial. Kajian terbaru (Moreno-Dodson. dapat memberikan manfaat bagi semua pelaku perekonomian dengan biaya marjinal yang terbatas bagi pengguna tambahan. menunjukkan hubungan yang positif antara belanja publik dan pertumbuhan. pendidikan yang lebih baik. termasuk Indonesia. dan infrastruktur) cukup tinggi apabila dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain dan mutu layanan secara umum setara dengan provinsi-provinsi lain di Indonesia. Investasi pemerintah dapat mengalahkan investasi swasta karena mereka mungkin khawatir akan adanya persaingan yang tidak sehat dari badan usaha milik pemerintah. Belanja untuk layanan umum (kesehatan. seperti “Aceh Hijau”. dengan tetap mengakui peran penting yang dimiliki oleh investasi pemerintah dalam meningkatkan pertumbuhan. Dibandingkan dengan para pelaku usaha swasta yang umumnya digerakkan oleh laba.

periode pasca konflik menimbulkan tantangan-tantangan baru. Pada tahun 2004. situasi politik di Aceh berubah secara dramatis dengan berakhirnya konflik antara GAM dan Pemerintah Indonesia. sisa-sisa konflik dapat terus menghambat pertumbuhan dalam waktu dekat ini. Kekerasan telah mengalami pasang surut sejak tahun 1976. Masa-masa kekerasan bersenjata telah menjadi bagian dari sejarah Aceh setidak-tidaknya sejak jaman penjajahan (Reid. Analisis atas dampak dari setiap kejadian tersebut pada pertumbuhan merupakan analisis yang rumit. 8 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . di mana 75 persen anggota GAM yang kembali ke kampung halaman masih menganggur pada tahun 2006 (World Bank. gempa bumi yang dahsyat dan tsunami menghancurkan Aceh. atau oleh dinamika konflik. Sekurang-kurangnya 10. ketergantungan pada donor dan bantuan) sebagian besar tidak berlaku terhadap Aceh (lihat Barron. kebanyakan persoalan tersebut yang dapat mempengaruhi perekonomian pasca konflik yang lain (lemah atau gagalnya negara. upaya rekonstruksi. Kotak1 Menguraikan dampak-dampak tsunami. dan konstruksi. sehingga pengidentifikasian penyebab-penyebab dan dampak-dampak sangat sulit untuk dilakukan.000 meninggal (Aspinall. World Bank. Aceh merupakan bagian dari suatu negara yang cukup besar. Walaupun demikian. 2009). 2007. 2007). diperhitungkan mencapai 80 persen dari PDB Aceh. lebih dari 100. ICG.000 orang harus mengungsi (IOM. perekonomian mengalami penurunan. transportasi. dan kerusakan infrastruktur yang signifikan (World Bank/KDP.Pendahuluan Konflik turut memiliki andil dalam buruknya kinerja perekonomian Aceh dan. 5 Laporan ini menganalisis secara mendalam dampak konflik terhadap investasi dan pertumbuhan. Laporan ini. yang berupaya menganalisis pertumbuhan dan hambatan-hambatan terhadap pertumbuhan. serta pasar dalam negeri yang besar. Berakhirnya konflik pada bulan Agustus 2005 memungkinkan banyak masyarakat Aceh untuk kembali melakukan kegiatan sehari-harinya dan kembali bekerja. Naiknya tingkat kekerasan yang baru-baru ini terjadi menunjukkan bahwa stabilitas dan perdamaian Aceh tidak dapat dianggap mudah (World Bank. 2009). 2008). rekonstruksi. Walaupun konflik merupakan inti dari berbagai masalah yang dihadapi oleh Aceh pada saat ini. yang menawarkan tingkat stabilitas politik dan ekonomi yang tinggi. 2008). 2009). sehingga menimbulkan potensi masalah setelah berakhirnya program tersebut (MSR. yang lebih penting lagi.000 sampai dengan 20.5 Laporan ini mencoba mengungkap apa saja dampak yang ditimbulkan oleh konflik yang berkepanjangan antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Indonesia pada pertumbuhan dan investasi. yang terbaru adalah konflik separatis antara GAM dan Pemerintah Indonesia. dengan lebih dari AS$7 milyar dialokasikan untuk Aceh dalam jumlah tahun yang terbatas. 2006c). Nazamuddin (2008) berpendapat bahwa tantangan utama dalam pelaksanaan reintegrasi bagi para mantan pejuang GAM adalah lapangan kerja.5 milyar. Konflik tersebut berakhir dengan penandatanganan Nota Kesepahaman Helsinki oleh GAM dan Pemerintah Indonesia pada tanggal 15 Agustus 2005. Laporan ini akan berupaya untuk melakukan hal tersebut dengan menggunakan serangkaian indikator untuk menidentifikasi daerah-daerah di Aceh yang terutama terdampak oleh tsunami. sehingga mereka bergantung pada sanak keluarganya. hasil-hasilnya harus ditafsirkan secara seksama mengingat mutu data dan kesulitan-kesulitan untuk menguraikan dampak-dampak dari kejadiankejadian yang berbeda tersebut. Hal tersebut menyebabkan kaitan ke belakang (backward linkage) dengan sektor-sektor lain dalam perekonomian. terutama di sejumlah sektor seperti perdagangan. Walaupun tidak sempurna. Bantuan dan upaya rekonstruksi yang luar biasa dimulai tidak lama setelah itu. Pada bulan Desember 2004. menghadapi masalah yang serupa. Kerusakan dan kerugian. yang mengakibatkan sekitar 12.000 mantan pejuang dan penduduk sipil GAM menghadapi tantangantantangan reintegrasi (Barron and Burke. 2006). 2008b). 2009). trauma yang tersebar luas (IOM/Harvard Medical School. dan berakhirnya konflik terhadap pertumbuhan Setiap analisis tentang perekonomian Aceh setelah tsunami dan berakhirnya konflik akan menghadapi suatu tantangan: muara dari serangkaian kejadian-kejadian dramatis yang berdampak besar pada perekonomian. karena konflik yang berkepanjangan dan menipisanya cadangan gas. 2009. MSR. penting pula untuk mengakui bahwa Aceh bukanlah lingkungan pasca konflik yang biasa. pendekatan tersebut telah berhasil digunakan di masa lalu (misalnya. diperkirakan sebesar AS$4. 2009b). mengingat singkatnya jangka waktu di mana semua hal tersebut terjadi. banyak yang melakukan pekerjaan terkait dengan rekonstruksi pasca tsunami. Segera setelah terjadinya tsunami. Meskipun sebagian besar dari mereka telah kembali bekerja. Terkait dengan hal tersebut. Laporan ini berupaya menguraikan berbagai macam dampak yang ditimbulkan oleh komflik pada struktur perekonomian masyarakat Aceh dan bagaimana sisa-sisa peperangan terus membentuk insentif untuk investasi dalam masa pasca-konflik. Walaupun demikian.

Bagian ini menjelaskan metodologi yang akan digunakan untuk mengidentifikasi hambatan yang paling utama terhadap pertumbuhan. atau karena beberapa prasarana penting telah hancur selama terjadinya konflik. Tidak ada cara kuantitatif lain untuk mengukur semua hambatan potensial berdasarkan seberapa besarnya hambatan-hambatan tersebut. Pertama. kerangka kerja tersebut dikembangkan untuk menganalisis hambatan-hamatan terhadap pertumbuhan pada tingkat nasional. Pendekatan ini mengakui bahwa konteks-konteks negara atau daerah tertentu memerlukan tindakan kebijakan yang berbeda untuk diterapkan. Rodrik. namun suatu kombinasi analisis ekonomi dan pemahaman tentang keadaan ekonomi di provinsi ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi hambatan yang paling utama. pendekatan ini mengakui kenyataan bahwa pemerintah seringkali memiliki modal politik yang terbatas dan tidak dapat melakukan reformasi besar-besaran yang sering bersifat kontraproduktif.02 Metodologi Laporan ini menggunakan kerangka diagnosa pertumbuhan yang dikembangkan oleh Hausmann. atau hanya karena masyarakat percaya bahwa konflik akan berkobar kembali dan mereka akan kehilangan semua investasi mereka. 2008. 6 Suatu gambaran kerangka yang lebih terperinci serta jenis analisis ekonomi yang digunakan untuk mengidentifikasi hambatanhambatan yang mengikat dapat ditemukan di dalam Hausmann. dapat membantu meningkatkan rekomendasi-rekomendasi kebijakan. Selain itu. 9 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . pada akhirnya. Kerangka diagnosa pertumbuhan memberikan suatu kerangka kerja untuk mengidentifikasi. Pendekatan diagnosa pertumbuhan dapat membantu dalam memberikan suatu penilaian atas kebutuhan yang lebih terkait dengan konteks setempat. dan Velasco (2005). Tujuan diagnosa ini adalah untuk mengidentifikasi hambatan(-hambatan) yang utama terhadap pertumbuhan yang bersifat khusus dalam kasus yang diteliti dan yang harus menjadi target reformasi. masyarakat khawatir akan keamanan mereka dan keamanan aset mereka. Apakah konflik merupakan suatu masalah bagi investasi karena dalam suatu lingkungan pasca-konflik. dan harus menjadi fokus utama dari suatu kebijakan ekonomi. serta bagaimana metodologi ini disesuaikan dengan kondisi khusus di Aceh. di antara begitu banyak masalah yang mungkin melanda suatu perekonomian yang menjadi penghambat utama pertumbuhan. Kerangka kerja tersebut perlu disesuaikan untuk menganalisis hambatan-hambatan terhadap pertumbuhan di daerah pasca-konflik pada tingkat daerah. Pendekatan diagnosa pertumbuhan ini mempertimbangkan setiap kategori hambatan untuk menentukan apakah dan bagaimana suatu kategori telah dipengaruhi oleh konflik. dan bagaimana sisasisa konflik terus mempengaruhinya.6 Pemahaman tentang konteks sosial-politik setempat juga dapat membantu dalam penentuan prioritas rekomendasi-rekomendasi tentang hal-hal yang perlu direformasi. Pilihan metodologi ini juga didorong oleh keinginan tim untuk menguji persepsi yang tersebar luas dan berdasarkan intuisi bahwa bagaimanapun juga konflik pasti terkait dengan hambatan-hambatan yang paling mengikat di Aceh. Kerangka kerja diagnosa pertumbuhan dapat digunakan untuk memahami bagaimana situasi konflik atau pasca konflik dapat mempengaruhi investasi dan pertumbuhan. di mana.

Metodologi Penerapan kerangka kerja tersebut pada tingkat daerah menimbulkan beberapa tantangan teoretis dan metodologis. maka konflik tersebut akan diintegrasikan dengan dua cara yang berbeda. Analisis tersebut dilakukan mulai dari tingkat yang paling atas dari diagram pohon di atas dan kemudian terus turun ke tingkat yang lebih rendah. Dalam keadaan seperti demikian. Untuk menganalisis dampak konflik terhadap investasi. Para calon investor mungkin mengkaitkan Aceh dengan risiko yang lebih tinggi. moneter. Data yang tersedia pada tingkat daerah lebih sedikit dibandingkan yang tersedia di tingkat nasional. Gambar 2 Kerangka kerja. 2008). walaupun kebijakan-kebijakan yang menyebabkan timbulnya hambatan yang mengikat tersebut berada di luar kendali provinsi. Kerangka yang telah disesuaikan tersebut dijelaskan dalam Gambar 2. Akan tetapi.resiko pemerintah Rendahnya Keuangan lokal yang kurang baik Tabungan domestik + Keuangan internasional yang kurang baik Kegagalan pasar Rendahnya kompetisi yang tidak baik Infrastruktur tidak baik Resiko mikro: hak bangunan. Terdapat permasalahan tentang suatu perekonomian pasca-konflik yang tidak dapat sepenuhnya ditangkap dengan menggunakan kerangka kerja ini. Laporan ini menganalisis dampak langsung yang ditimbulkan oleh konflik terhadap insentif-insentif untuk berinvestasi. sehingga analisis menjadi lebih sulit. sambil 10 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . serta suatu lingkungan usaha yang tidak kondusif. termasuk “besarnya jumlah aktor-aktor politik yang bersaing atau keberadaan lembaga-lembaga negara dan daerah (tradisional) yang bersaing” (Ulloa. seperti kebijakan moneter atau aturan nilai tukar. Mungkin kenyataannya adalah bahwa hambatan yang mengikat terletak di suatu daerah yang bukan di bawah kendali provinsi. kerangka kerja tersebut memberikan suatu metode yang terstruktur untuk mempertimbangkan serangkaian mekanisme yang mungkin digunakan untuk bagaimana konflik dan dampak-dampaknya menentukan bentuk peluang-peluang untuk investasi dan pertumbuhan. Resiko besar Biaya besar Analisis ini menerapkan suatu pendekatan sistematis untuk mengidentifikasi apa saja yang dapat menghambat pertumbuhan dan investasi. khususnya risiko terjadinya kembali konflik. Rodrik dan Velasco (2005) Rendahnya tingkat investasi swasta dan wirausaha Rendahnya pendapatan dari aktivitas ekonomi Biaya keuangan yang besar Rendahnya pendapatan sosial Rendahnya appropriability Kurangnya Kegagalan keamanan . struktur pemerintahan dan kekuasaan yang paralel yang menciptakan ketegangan-ketegangan dan masalah-masalah keamanan. korupsi. perpajakan Rendahnya SDM Bagian luar Bagian luar informasi: koordinasi Resiko makro: “ self-discovery” keuangan. Konflik dapat juga mempengaruhi insentif-insentif masyarakat untuk berinvestasi dengan berbagai cara yang tidak langsung sebagai akibat dari jumlah modal manusia (human capital) yang lebih sedikit dan prasarana yang tidak terawat. sehingga mengurangi hasil-hasil sosial dari investasi. Namun demikian. karena para investor memperhitungkan kemungkinan terjadinya kembali konflik. namun provinsi masih dapat bertindak untuk mengurangi akibat-akibat dengan kebijakan-kebijakan “terbaik kedua”. kerangka kerja ini akan relatif lebih tepat untuk kasus-kasus di mana data dengan kualitas yang baik sukar didapatkan. yang pada akhirnya dapat mengakibatkan timbulnya faktor diskon yang lebih tinggi yang dibuat oleh para investor dalam investasi di Aceh atau penjatahan kredit oleh bank-bank. yang diadaptasi dari Hausmann.

Prasarana yang buruk • Pemberian layanan publik setempat yang buruk • Kerusakan langsung terhadap prasarana • Kurangnya pemeliharaan terhadap sarana publik 3. Apabila hambatan yang mengikat tersebut adalah rendahnya tingkat manfaat. Terkait dengan data kuantitatif. yaitu: Survei pemerintahan ekonomi daerah Aceh yang dilakukan oleh The Asia Foundation / KPPOD dan Aceh Reintegration and Livelihood Surveys (ARLS). terdapat banyak penelitian yang dilakukan atas Aceh dan ada banyak literatur tentang provinsi ini. Tabel 1 Bagaimana konflik mepengaruhi perekonomian? Kategori 1. Penelitian ini juga menggunakan dua set data tertentu tentang Aceh.Juli 2009 berupaya pada setiap tahap untuk mengidentifikasi apa saja yang menghambat investasi sektor swasta. seseorang harus menjalani suatu proses yang berulang: yakni diagnostik pertumbuhan itu sendiri. Penelitian ini berdasar pada sebagian dari penelitian yang sudah ada sebelumnya ini. Biaya kredit yang besar • Pajak-pajak ilegal • Biaya pemantauan yang tinggi Penelitian ini menggunakan sumber-sumber data kualitatif dan kuantitatif untuk mengidentifikasi hambatan(-hambatan) pertumbuhan utama. Meskipun sebagian besar dari data-data tersebut tersedia untuk Aceh. Pertanyaan yang harus dijawab pada tahap ini adalah apakah hambatan yang mengikat tersebut adalah rendahnya tingkat manfaat bagi kegiatan ekonomi atau biaya kredit yang tinggi. Setiap cabang menggambarkan potensi “gejala” atau “penyakit” perekonomian yang dapat memberikan penjelasan tentang tingkat-tingkat investasi swasta dan kewirausahaan yang rendah. Risiko-risiko kredit yang • Risiko pengambilalihan atau kerusakan apabila konflik berlanjut tinggi • Kemungkinan kecenderungan kemerosotan ekonomi yang lebih besar karena situasi keamanan 5. yang digunakan untuk mengembangkan hipotesis-hipotesis dan untuk memperluas pemahaman-pemahaman tentang temuan-temuan kuantitatif. Survei-survei tersebut mencakup informasi sosial 11 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . yang digambarkan dalam tabel di bawah ini. atau prasarana yang baik) atau kesulitan yang dihadapi pihak-pihak swasta untuk memberikan manfaat tersebut (karena kegagalankegagalan pemerintah atau pasar)? Apabila permasalahannya adalah tingginya biaya kredit. Sumber daya manusia yang rendah Mekanisme • Banyaknya korban jiwa akibat bencana atau konflik • Kerusakan pada sistem pendidikan • Ketidakhadiran para guru selama terjadinya konflik • Keahlian-keahlian yang tertinggal dari pembaharuan • Perpindahan-perpindahan penduduk secara terpaksa sebagai akibat dari konflik • Perpindahan keluar para tenaga ahli 2. Bagian-bagian dalam laporan ini sesuai dengan berbagai cabang pohon yang menganalisis apa yang dapat menjadi hambatan-hambatan utama terhadap pertumbuhan di Aceh. sumber daya manusia. maka apakah permasalahannya adalah simpanan yang rendah atau sistem keuangan dalam negeri yang buruk di mana fungsi intermediasi tidak berjalan secara efisien? Untuk mengidentifikasi hambatan-hambatan yang paling mengikat. Karena tsunami dan konflik horizontal. Laporan ini mendalilkan bahwa konflik yang melanda Aceh selama lebih dari suatu generasi menimbulkan dampak negatif terhadap pertumbuhan di provinsi Aceh dalam berbagai bentuk. beberapa indikator tidak tersedia atau tidak dapat cukup dipercaya (lihat Kotak 2 untuk perincian-perincian lebih lanjut). Risiko-risiko mikro • “Pajak-pajak” ilegal yang dikenakan kepada usaha-usaha karena pemerasan yang dilakukan para mantan pejuang GAM • Lembaga-lembaga pemerintah yang tidak berdaya • Korupsi 4. apakah masalahnya terletak pada manfaat sosial (karena kurangnya faktor-faktor pelengkap seperti geografi. penelitian ini mengandalkan sumber-sumber data standar seperti BPS (Biro Pusat Statistik) dan BI (Bank Indonesia) untuk sebagian besar indikator-indikator makroekonomi dan keuangan yang digunakan.

fokusnya terletak pada pertumbuhan ekonomi yang memiliki basis yang luas di semua sektor dan mencakup mayoritas angkatan kerja. Perhatian yang terkait dengan pertumbuhan yang inklusif diejawantahkan dalam tiga bidang utama. Sebuah kerangka kerja pertumbuhan yang inklusif untuk menganalisis hambatan-hambatan terhadap pertumbuhan mungkin merupakan hal yang penting khususnya untuk Aceh. Analisis ini difokuskan pada upaya untuk mengidentifikasi hambatan-hambatan utama terhadap pertumbuhan yang inklusif. Dengan demikian. 2008f ). karena penurunan kemiskinan yang berkesinambungan memerlukan suatu jenis pertumbuhan yang memungkinkan masyarakat untuk memberikan kontribusi kepada dan mendapatkan keuntungan dari pertumbuhan ekonomi. contohnya untuk menyelidiki masalah-masalah yang terkait dengan pertumbuhan yang inklusif. diperlukan suatu analisis atas persediaan modal manusia yang dimiliki oleh masyarakat (pendidikan dan kesehatan). dan suatu lingkungan pengaturan yang tidak memihak bagi usaha dan individu. Hal yang sangat mengkhawatirkan adalah bahwa sebagian besar dari lapangan kerja yang tercipta (transportasi. Jumlah tenaga kerja pada sektor pertanian dan perdagangan telah berkurang. Tabel di bawah ini menunjukkan bahwa sampai dengan tahun 2008. di mana sektor pertanian dan perdagangan memiliki nilai tambah per pekerja yang sangat rendah (terkecuali sektor jasa. Analisis atas pertumbuhan yang inklusif difokuskan pada laju dan pola pertumbuhan. penilaian tentang lingkungan usaha dan peluang-peluang-peluang untuk memanfaatkan sumber daya yang tersedia dalam lingkungan usaha tersebut. Hal ini juga mencakup upaya untuk menyelidiki peluang kerja (employability) masyarakat miskin. seperti pertanian atau perdagangan kecil.Metodologi dan ekonomi pada tingkat perusahaan atau perorangan yang membantu menguraikan mekanismemekanisme mikroekonomi yang mendasari perekonomian masyarakat Aceh. Bagian berikut ini akan meninjau fakta-fakta terhadap hambatan-hambatan yang paling utama terhadap pertumbuhan yang inklusif. karena ketimpangan yang sistematis pada peluang dapat menggelincirkan proses pertumbuhan dengan adanya konflik (Komisi Pertumbuhan dan Pembangunan – Commission on Growth and Development. Laporan ini terkait dengan pertumbuhan secara inklusif dan berkesinambungan. serta peluang-peluang bagi mereka untuk dipekerjakan (World Bank. khususnya masyarakat miskin sebagai produsen. Dengan demikian. 12 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Bidang-bidang tersebut adalah: fokus pada sektor-sektor yang padat karya. Upah bulanan rata-rata memberikan cerminan yang jelas tentang nilai tambah per pekerja dalam sektor tersebut. Untuk menilai peluang kerja masyarakat miskin. yaitu peluang kerja. jumlah orang yang bekerja telah mengalami penurnan sampai dengan lebih dari 100. meneliti pertumbuhan yang inklusif secara tidak langsung menyiratkan upaya untuk meneliti sisi persediaan tenaga kerja (masyarakat miskin dan keterampilan mereka).000 orang. Sifat inklusif tersebut merujuk kepada kesetaraan peluang terkait dengan akses terhadap pasar. Pilar kedua dari pertumbuhan yang inklusif. Oleh karena itu. yang bergantung kepada sektor swasta yang dapat menawarkan peluang kerja. berakhirnya rekonstruksi dapat disertai dengan penurunan lapangan kerja di Aceh. kemampuan mereka untuk mendapatkan keterampilan dan kemampuan mereka untuk memasuki pasar tenaga kerja di mana mereka dapat memperoleh pendapatan dengan menggunakan keterampilan mereka. sementara sektor-sektor lain tidak mampu menciptakan pekerjaan dengan laju yang sama. konstruksi) yang terkait dengan upaya rekonstruksi juga mempekerjakan sebagian besar dari para mantan pejuang GAM. serta sisi permintaan tenaga kerja (perusahaan dan investor). 2008). yang kebanyakan termasuk layanan umum). serta fokus pada kelompokkelompok tertentu. Peningkatan pada penghidupan masyarakat yang bekerja dalam sektor pertanian dan perdagangan eceran sebagian besar akan hanya dapat tercapai dengan mengalihkan kedua sektor tersebut ke dalam kegiatan-kegiatan yang memiliki nilai yang lebih tinggi. sumber daya. serta pemahaman tentang dampak ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat karena konflik pada tingkat individu.

568 9.587 47.749 232.092 14.670 72.175 1.50 0.03 1.855 59.078 3.538.10 1.613 8.504 2006 866.687 187.720 178.088 1.497 5.733.261 2004 906.2 28.4 20.494 2008 876.522.914 51.668 69.687 757 34.8 4.02 0.606 60.92 1.334 7.528 8.046 8.3 -3.90 1.849 5.622 Pertumbuhan ratarata 2002-08 (%) -3.64 1.907 246.371 9.182 293.Juli 2009 Tabel 2 Penciptaan lapangan kerja di Aceh Jumlah pekerjaan 2002 Pertanian Pertambangan Industri Utilitas Bangunan Perdagangan Transportasi Keuangan Jasa Total 1.772 1.1 Upah bulanan ratarata 2008 (jutaan Rp) 0.322 74.5 -1.6 -1.402 215.617 77.5 6.180 1.081.343 224.180 3.085 72.2 -1.486 62.30 Sumber: BPS dan perhitungan staf Bank Dunia 13 Diagnosis Pertumbuhan Aceh .387 103.4 5.617.879 231.92 1.

.

7 Pada tahun 2003. Penemuan-penemuan baru di Aceh dapat memberikan tambahan pendapatan yang. 15 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Sebuah catatan terbaru yang dibuat oleh World Bank dan IFC (2008) mengidentifikasikan beberapa hambatan utama bagi lingkungan usaha dalam sektor ini. apabila dibelanjakan dengan bijaksana. Bagian ini bertujuan untuk memberikan suatu pemahaman yang lebih baik tentang pola-pola pertumbuhan dan investasi di Aceh. Pertumbuhan ekonomi tanpa sektor migas tumbuh dengan laju yang relatif rendah (dan lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional) hingga upaya-upaya rekonstruksi tsunami dimulai (Gambar 3).0% -20. Rendahnya tingkat pertumbuhan perekonomian non-migas sebagian disebabkan oleh konflik yang melanda Aceh sampai terjadinya tsunami. Hanya ada sedikit investasi baru dalam sektor minyak. Gambar 3 Aceh telah mengalami pertumbuhan dengan laju yang lebih lambat dibandingkan Indonesia hampir di sepanjang dasawarsa ini Perbandingan pertumbuhan ekonomi non migas per kapita 10. Jumlah ini telah merosot sampai kurang dari 20 7 Cadangan minyak dan gas menipis dengan cepat.0% 0. yang diperlukan untuk diagnosis atas hambatan-hambatan terhadap pertumbuhan dan investasi. meskipun terdapat ledakan yang berkesinambungan untuk komoditas tersebut di seluruh dunia. yang membuatnya menjadi salah satu dari daerah dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Indonesia. Aceh terus menunjulkan tingkat pertumbuhan yang rendah atau negatif selama jangka waktu tersebut.5 persen pada tahun 2008. sebagian sebagai akibat dari menipisnya cadangan gas alam. Aceh merupakan provinsi yang relatif makmur di Indonesia pada tahun 1970-an dan sampai awal tahun 1980-an.0% -15. gas dan pertambangan selama lebih dari satu dasawarsa di seluruh Indonesia.0% 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 -5. akan meredam proyeksi penurunan dana dari pembagian pendapatan dan upaya rekonstruksi. minyak dan gas serta usaha manufaktur terkait menyumbangkan lebih dari 50 persen dari PDB Aceh. namun hanya ada sedikit investasi dalam eksplorasi yang baru.0% 5. namun sejak saat itu perekonomian Aceh terlihat sulit untuk tumbuh.0% -10. yaitu 23.03 Memahami Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi di Aceh Aceh memiliki tingkat pertumbuhan yang negatif hampir di sepanjang dasawarsa ini. Sementara daerah lain di Indonesia telah pulih dari krisis keuangan tahun 1997.0% Aceh Indonesia Sumber: BPS dan perhitungan oleh staf Bank Dunia Kinerja ekonomi Aceh pra-tsunami ditandai oleh konflik serta menipisnya cadangan-cadangan minyak dan gas di pantai timur Aceh.

1 12.2 -5. yang menyumbangkan 17 persen dari PDRB pada tahun 2003. meningkat menjadi 25 persen pada tahun 2008.9 -2. seperti penurunan minyak dan gas yang hampir 50 persen pada tahun 2008.6 23.2 1.4 5.0 14. 2004 6.4 -9.3 1.8 3.6 19. Sekitar setengah dari semua produksi pertanian adalah tanaman pangan.6 -4.2 -7.6 1.6 3. dan perikanan Pertambangan dan penggalian9 Minyak dan gas Penggalian Industri manufaktur Industri minyak dan gas Industri non-minyak and gas Listrik. khususnya pada sisi produksi.0 -16. kecenderungan-kecenderungan besar yang dibahas dalam bab ini tetap valid.7 13.6 2006 1.9 6.7 -10. dan air (utilitas) Bangunan Perdagangan.9 5.7 4. dan rumah makan Transportasi dan komunikasi Keuangan Jasa PDB Aceh PDB Aceh non migas PDB Indonesia PDB Indonesia non-minyak dan gas Sumber: BPS.5 7. cokelat.1 -9. seperti pupuk.8 -22.5 0.3 1. Porsi pertanian.6 -21.2 5.4 Perekonomian pasca-tsunami Aceh didominasi oleh aliran masuk dana rekonstruksi dalam jumlah besar.2 -17.6 -23. Sebagian dari laju pertumbuhan yang dilaporkan. khususnya kopi.0 -24.9 -22. minyak sawit. Sebagian besar dari pertumbuhan pada tahun 2006 dan 2007 terjadi dalam sektorsektor yang terkait erat dengan upaya rekonstruksi. Sebuah perbandingan tentang pengurang-pengurang yang dimaksud secara tak langsung di tingkat Aceh dan nasional menunjukkan perbedaan-perbedaan yang besar yang tidak dapat sepenuhnya dijelaskan oleh perbedaan-perbedaan tingkat inflasi.1 6.1 -2.2 -4. hotel.0 -24.8 5.5 9. *Angka-angka pendahuluan.8 -11.3 -2.0 -0.9 6.0 2005 -3.7 5. upaya rekonstruksi yang besar serta menipisnya cadangan minyak dan gas secara signifikan menyulitkan perluasan statistik daerah. Penurunan produksi gas menimbulkan dampak negatif terhadap industri yang bergantung pada ketersediaan gas dengan harga yang murah dan terletak berdekatan dengan ladang-ladang gas. 9 16 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Tabel 3 Pertumbuhan ekonomi di Aceh Persen9 Pertanian.6 -22. seperti konstruksi.7 8.0 -10.1 -16.Memahami Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi di Aceh persen sampai dengan tahun 2008. secara signifikan lebih tinggi daripada porsinya pada tingkat nasional sebesar 14 persen. Akan tetapi. Ketidakkonsistenan ini mungkin merupakan akibat dari data pengurang yang digunakan untuk memperkirakan laju pertumbuhan.0 6.3 -26. di mana 20 persen lainnya adalah tanaman non-pangan (perkebunan). karena industri gas dan industri-industri terkait di sekitar Lhokseumawe memiliki sedikit keterkaitan dengan bagian lain dari perekonomian . Pada saat upaya rekonstruksi berakhir. pertumbuhan mulai melambat dan angka-angka awal untuk tahun 2008 menunjukkan suatu 8 McGibbon (2006) berpendapat bahwa upaya-upaya pemerintah untuk membangun Aceh gagal sehingga pertumbuhan dan pembangunan ekonomi tersebut terpusatkan pada pengembangan sebuah daerah di sekitar Lhokseumawe yang memiliki sedikit keterkaitan dengan daerah lainnya di provinsi tersebut. kehutanan.0 6. Perekonomian Aceh telah mengalami perubahan yang signifikan selama beberapa tahun terakhir.6 1.4 1.9 1. tampaknya tidak sesuai dengan data dari sumber-sumber lain (seperti data produksi dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral). kertas atau bahan-bahan kimia.7 6.8 -44.7 -0. gas.7 10.1 2007 3.5 -2.9 4.5 6.0 0.3 78.9 2008* 0.4 7.4 10. Sebelum tsunami.2 -8.6 14.1 1. tanaman non-pangan dan perikanan memberikan sumbangan terbesar untuk pertumbuhan dalam sektor ini.8 -13.4 7.6 -37.7 -47.9 11.5 2. Menggunakan pengurang yang sama di Aceh seperti yang digunakan di daerah lainnya di Indonesia akan menunjukkan suatu penurunan dalam pertanian yang nyata dan suatu penurunan yang agak lebih lambat di sektor pertambangan pada tahun 2008.0 48.3 19.4 20. sementara pasca-tsunami sebagian besar pertumbuhan dalam sektor pertanian berasal dari sektor tanaman non-pangan. walaupun pertanian juga telah tumbuh dalam beberapa tahun terakhir. Tsunami.3 -17.3 6.6 7. perdagangan dan transportasi. Meskipun terjadi ketidakkonsistenan-ketidakkonsistenan dalam deretan PDB. dan sedikit tanaman perkebunan lainnya.6 12.8 dampaknya mungkin dapat dirasakan terutama pada tingkat makro.

2006a) namun perkekonomian Aceh tetap tertinggal karena perekonomian yang tumbuh secara lambat selama tahuntahun terjadinya konflik dan karena sebagian besar dari pertumbuhan tersebut adalah dalam sektor minyak dan gas bumi.1999. Berawal dari suatu tingkat kemiskinan sebesar 23. yang mungkin memiliki dampak yang lebih besar pada kegiatan-kegiatan yang bernilai lebih tinggi yang membutuhkan pekerja-pekerja terampil dalam jumlah lebih besar. Sebagian besar usaha manufaktur adalah usaha skala kecil dan hanya melayani pasar setempat. Di Aceh. Konflik juga mungkin mempunyai dampak yang berbeda pada faktor-faktor produksi yang digunakan secara intensif dalam berbagai sektor. intensitasnya terlokalisir dan oleh karena itu tidak mempengaruhi semua wilayah secara merata. khususnya apabila pertumbuhan ini mencakup mayoritas penduduk Aceh.4 persen. 2008a dan 2006a). seperti ditunjukkan dalam Tabel 4. pertumbuhan selama lima tahun dengan laju rata-rata sebesar 2 persen per tahun dan sehingga PEG sebesar -1. Tiga perubahan besar pada penghidupan masyarakat Indonesia timbul karena perubahan-perubahan tersebut dan turut membantu masyarakat Indonesia untuk keluar dari kemiskinan: mata pencaharian telah mengalami perubahan dari pertanian bernilai rendah menjadi pertanian yang bernilai lebih tinggi. Pertumbuhan yang memihak kepada masyarakat miskin mencakup berinvestasi dalam aset-aset manusia dan fisik termasuk pengurangan biaya-biaya transaksi. kebanyakan terkait dengan ketersediaan gas murah (pupuk. hanya kurang dari 5 persen dari PDRB (apabila dibandingkan dengan 22 persen pada tingkat nasional). pertumbuhan ekonomi yang bergantung pada industri-industri ekstraksi mineral jarang mengalir ke bawah ke masyarakat miskin yang dapat meningkatkan penghidupan mereka. kemiskinan akan berkurang sampai 15. perubahan-perubahan tersebut serta laju pertumbuhan yang lebih tinggi dapat menimbulkan dampakdampak positif yang sangat besar.4 akan menurunkan kemiskinan sampai 20. Semuanya adalah industri-industri padat modal yang memiliki sedikit keterkaitan dengan bagian lain dari perekonomian. serta sebuah pabrik semen dekat Banda Aceh. PEG mengukur bagaimana pertumbuhan ekonomi mewujudkan penurunan kemiskinan.Juli 2009 perlambatan yang signifikan dalam sektor-sektor yang sebelumnya digerakkan oleh upaya rekonstruksi. Tabel tersebut menggambarkan sembilan skenario dengan tingkat pertumbuhan per kapita dan elastisitas pertumbuhan kemiskinan10 (PEG) yang berbeda. 10 Rasio perubahan persentase tingkat kemiskinan terkait dengan perubahan persentase pendapatan per kapita. -1. dan merupakan suatu skenario kasus terbaik (World Bank. Ibu kota provinsi dan pantai barat paling sedikit mengalami dampak konflik. yang merupakan nilai tertinggi yang dicapai oleh Indonesia selama periode 1984 . apabila pertumbuhan akan mencapai 4 persen dan PEG sebesar -2. dari pertanian menjadi non-pertanian dan dari kegiatan-kegiatan yang berbasis pedesaan menjadi berbasis perkotaan (World Bank. Daerah-daerah terpencil yang fokus pada pertanian.6. meski demikian beberapa usaha-usaha swasta di kotakota juga mengalami pemerasan. Usaha manufaktur non-migas masih relatif tidak terlalu besar. Sebuah PEG sebesar -1.4 persen. Hanya ada empat perusahaan yang relatif besar dalam sektor industri di Aceh. kertas). 2006a). Meskipun konflik mempengaruhi provinsi ini secara keseluruhan. sementara pemerasan atau perusakan lebih sulit dilakukan pada usaha-usaha yang dapat dengan mudah berpindah tempat.5 persen. dengan penurunan pada perekonomian sebesar lebih dari 8 persen (non migas). seperti perkebunan.5 persen dalam 5 tahun. sampai -2. seperti para pedagang atau pada perusahaan-perusahaan jasa angkutan. Sektor-sektor yang lebih spesifik dalam hal lokasi. mungkin lebih mudah menjadi sasaran kelompok-kelompok bersenjata. Nilai-nilai dalam tabel tersebut berkisar dari nilai yang saat ini dimiliki masayarakat Aceh. 17 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . khususnya di pedalaman. Eksploitasi gas mengalami dampak yang sangat besar pada tahun 2001 ketika situasi keamanan memburuk. Para pekerja yang cakap merasa lebih baik meninggalkan Aceh dan mencari kesempatan-kesempatan di luar Aceh. sehingga menyebabkan beberapa petani tidak dapat merawat lahannya. lebih terdampak oleh konflik. Tidak semua jenis pertumbuhan memiliki manfaat yang sama bagi masyarakat miskin: contohnya.4 berarti bahwa satu titik persentase pertumbuhan mewujudkan suatu penurunan tingkat kemiskinan sebesar 1. Indonesia telah mengalami pertumbuhan yang memihak kepada masyarakat miskin sejak tahun 1970 (World Bank.4. Tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi dapat secara drastis menurunkan kemiskinan. Akan tetapi.

sebagian besar digunakan untuk konsumsi. yang menggambarkan tingkat investasi sektor swasta yang relatif rendah. perdagangan. Data tentang investasi swasta yang dikumpulkan oleh Bank Indonesia. yang disebabkan oleh konflik dan tsunami. Data Pembetukan Modal Dalam Negeri Bruto yang dikeluarkan oleh BPS hanya akan mencakup proyek-proyek investasi besar yang dilakukan dengan dana-dana masyarakat sebagai bagian dari upaya rekonstruksi. Upaya untuk menarik minat investasi swasta merupakan kunci untuk memodernisasikan perekonomian Aceh.06 8. yang mengidikasikan rendahnya tingkat investasi di provinsi ini. mendapatkan pinjaman dari bank bukan dari para pemberi pinjaman informal atau anggota keluarga.0 -2. (angka pada tahun 2008) Persen Pertumbuhan yang lebih tinggi Pertumbuhan yang lebih inklusif Laju pertumbuhan PEG -1. pertambangan. Sebagian besar dari semua usaha yang informasinya tersedia telah menghentikan kegiatan operasional untuk sementara waktu sampai dengan tahun 2006. perikanan. bukti yang ada menunjukkan bahwa keadaannya tidak seperti itu di Aceh. Dari kredit tersebut.61 Catatan: Menggunakan tingkat dasar sebesar 23.57 14. 2008). 18 Diagnosis Pertumbuhan Aceh .16 15.49 17. 2008) berdasar pada analisis rantai nilai yang dilakukan dalam beberapa komoditas dan menyoroti kurangnya investasi swasta yang diperlukan untuk memperbaiki kualitas dan kuantitas produksi serta meningkatkan produktivitas. meningkatkan produktivitasnya dan penghematan biaya poduksi dari skala usaha. Menggunakan volume kredit bank sebagai representasi investasi memiliki beberapa kekurangan. semua bukti yang tersedia menunjukkan tingkat investasi yang relatif rendah.5% (tingkat kemiskinan pada tahun 2008) Sumber: Perkiraan-perkiraan Bank Dunia berdasarkan World Bank. Kotak 2 Data Investasi Tidak ada data yang cukup akurat tentang investasi swasta di Aceh. Kelangkaan data tentang volume investasi swasta yang relatif rendah menunjukkan suatu konsentrasi dalam sektor-sektor pengembangan perkebunan. Aceh tertinggal dari provinsi-provinsi lainnya dalam hal menarik investasi dan hal ini mendorong ke arah kinerja pertumbuhan provinsi yang relatif buruk. 2006a dan World Bank. BPS dan Bainprom menunjukkan ketidakkonsistenan dan terdapat permasalahan-permasalahan metodologi yang berarti. namun para pemberi pinjaman uang. keuntungan sendiri atau bahkan keluarga dan teman-teman seringkali merupakan sumber modal yang penting untuk investasi. yang menunjukkan investasi swasta yang sangat kecil yang menambah persediaan modal di provinsi ini.03 11. yang merupakan suatu tantangan yang cukup besar untuk setiap jenis analisis atas investasi.Memahami Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi di Aceh Tabel 4 Proyeksi tingkat kemiskinan Aceh dalam lima tahun. Penelitian yang baru-baru ini dilakukan atas perekonomian Aceh dan iklim investasinya (IFC. Hampir 50 pesen dari semua perusahaan bergerak dalam sektor pertanian. 2007. Rasio kredit terhadap PDB di Aceh merupakan yang terendah kedua di Indonesia (lihat bagian tentang akses terhadap kredit).39 17. IFC. yang mengindikasikan terbatasnya peran investasi swasta dalam membentuk perekonomian Aceh.99 13.4 -2.6 2% 4% 7% 20. 2008a. Survei lainnya yang dilakukan oleh Bank Dunia menunjukkan bahwa pada tahun 2008 sebanyak 44 persen rumah tangga juga telah mendapatkan pinjamanpinjaman dari bank-bank bukan dari sumber-sumber informal yang lain (Survei Akses Keuangan). dan pariwisata (ATAP. IFC (2007) menunjukkan bahwa pada tahun 2006 hampir 50 persen dari semua usaha mikro dan kecil yang mengambil pinjaman. Akan tetapi. Sebagian besar investasi baru pada tahun 2006 juga ddilakukan dalam sektor pertanian dan sebagian kecil dalam sektor perdagangan. Kecilnya jumlah investasi swasta merupakan sebagai hambatan terhadap pertumbuhan. suatu indikasi tentang keunggulan komparatif provinsi Aceh.62 19. Data Bank Indonesia tentang kredit menunjukkan bahwa Aceh mempunyai rasio PDB kredit/non-minyak dan gas terendah kedua di seluruh Indonesia. Meski demikian. dan salah satu kekurangan yang penting adalah bahwa di negara-negara berpenghasilan rendah bank bukanlah satu-satunya sumber pinjaman untuk usaha.

Gambar 4 Upah minimum provinsi di Aceh telah meningkat lebih dibandingkan daerah-daerah lain di Indonesia Perbandingan UMP Daerah 2004-08 1. akan tetapi kenaikan upah nyata yang tinggi dalam sektor-sektor jasa mungkin memberikan sebagian dari penjelasan tentang hal tersebut. Pertanian masih merupakan lapangan kerja yang utama di provinsi Aceh.000 600.000 Rp 0 2004 Aceh 2005 Lhokseumawe 2006 2007 Sumatera Utara 2008 Nasional Sumber: BPS. pertanian mungkin akan terus mengurangi jumlah lapangan kerja dan terus mendekati tingkat nasional (41 persen). Sektor-sektor jasa dan manufaktur harus menjadi pengerak penciptaan lapangan kerja yang utama.000 200. Peningkatan dalam produktivitas pertanian dipercayai memberikan kontribusi kepada keberhasilan penurunan kemiskinan yang mengesankan di Indonesia dari tahun 1970-an sampai krisis keuangan tahun 1997. hal ini terjadi melalui urbanisasi dari beberapa daerah pedesaan dan integrasi daerah-daerah pedesaan yang ditingkatkan dengan pilar-pilar pertumbuhan perkotaan. mendatang). Pemerintah Aceh dapat memfasilitasi hubungan masayarakat miskin di pedesaan dengan pilar-pilar pertumbuhan dengan memperbaiki prasarana pedesaan dan akses pasar serta menyediakan insentif untuk peningkatan mobilitas tenaga kerja antara daerah-daerah pedesaan dan perkotaan. Pada saat upaya rekonstruksi berakhir. upah minimum regional ditentukan pada tingkat provinsi.Juli 2009 Perhatian khusus terhadap pertumbuhan yang inklusif adalah penting.000 400. Hal ini sesuai dengan langkah utama untuk melepaskan diri dari kemiskinan yang terdapat di Indonesia selama tahun 1980-an dan 1990-an (World Bank.000 1.000. 19 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Diversifikasi tanaman dan kepemilikan usaha kecil selain pertanian merupakan strategi-strategi kunci masyarakat Aceh untuk melepaskan diri dari kemiskinan sebagai akibat dari tsunami (World Bank.200. Revitalisasi sektor pertanian masih penting untuk memastikan bahwa masyarakat miskin di Aceh dapat memperoleh keuntungan dari pertumbuhan. Sampai sejauh ini. karena hampir 30 persen populasi pedesaan di Aceh hidup di bawah garis kemiskinan pada tahun 2006 (World Bank.000 800. namun di beberapa daerah lain di Indonesia. Upah yang tinggi mungkin memberikan pengaruh yang lebih besar pada Aceh. seiring dengan kenaikan harga dan upah menjadi lebih tinggi daripada daerah-daerah lain di Indonesia sebagai akibat dari tsunami (Gambar 4). Walaupun reformasi-reformasi di pasar tenaga kerja dapat mengatasi beberapa hambatan penciptaan lapangan kerja yang kebanyakan di luar yurisdiksi pemerintah provinsi. Salah satu ciri dari pengurangan kemiskinan dalam periode ini adalah transisi masyarakat dari lingkungan pedesaan ke perkotaan dan penciptaan lapangan kerja selain di sektor pertanian. Seiring dengan modernisasi di Aceh. 2006a). Terdapat beberapa alasan tentang rendahnya lapangan kerja yang tercipta dalam sektor non-pertanian. Suatu strategi pertumbuhan yang inklusif adalah fokus pada upaya untuk merevitalisasi sektor pertanian dan industri-industri padat karya. menyerap lebih dari 50 persen dari angkatan kerja. Hal ini terkait dengan bahwa kebanyakan pertumbuhan dan lapangan kerja yang diciptakan di Aceh beberapa tahun belakangan terkait dengan ketersediaan dana rekonstruksi. hal ini tidak terjadi (World Bank. banyak lapangan kerja yang akan hilang. Hal ini memberikan pengaruh yang diperlukan pemerintah provinsi untuk menghindari kenaikan upah yang merupakan suatu hambatan terhadap penciptaan lapangan kerja. 2008a). 2008a).

Memahami Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi di Aceh Kotak 3 Merevitalisasi Pertanian Aceh Pertanian masih memiliki andil besar dalam PDB non minyak dan gas propinsi Aceh. 2008a). 2008e). terdapat suatu kebutuhan yang mendesak untuk mengorientasikan kembali belanja pemerintah. akses terhadap pasar dan kemunduran sistem irigasi. Manfaat yang diperoleh dari tren-tren baru ini tidak timbul begitu saja. ada sedikit perdebatan tentang peran utama pertanian dalam pembangunan ekonomi propinsi Aceh dalam waktu dekat. dan sering kali negosiasi dilakukan langsung dengan bupati di daerah yang direncanakan untuk investasi. Oleh karena itu. para otoritas propinsi dapat mengkoordinasikan informasi penggunaan tanah dan kepemilikan tanah dalam sebuah unit pusat yang akan mempermudah akses bagi para investor terhadap informasi. Terdapat anggapan luas bahwa desentralisasi memberikan dampak negatif terhadap penyediaan layanan-layanan penyuluhan. guna menghilangkan subsidi pasokan bahan kebutuhan swasta (pupuk. Banyak hak atas tanah yang hilang karena tsunami dan ada banyak insiden di mana mantan anggota GAM menuntut kembali tanah-tanah serta banyak lahan yang berada di bawah hak kepemilikan adat yang tidak terdokumentasi. Terdapat peningkatan permintaan untuk produk-produk pertanian bernilai lebih tinggi seperti hortikultura atau perternakan sebagai akibat dari meningkatnya permintaan dari pasar-pasar dalam negeri karena Indonesia menjadi lebih kaya dan masyarakat menginginkan jenis makanan yang berbeda-beda. yakni mengorientasikan kembali dukungan pemerintah untuk membantu para petani kecil dan kelompok-kelompok petani untuk mendapatkan akses terhadap rantai nilai global dengan (i) meningkatkan infrastruktur. karena sebagian besar fungsi ini dialihkan ke pemerintah-pemerintah daerah yang tidak selalu menyediakan tenaga dan tingkat layanan-layanan penyuluhan yang memadai. masalah tersebut mungkin semakin memburuk di Aceh. Memang terdapat alasan dalam membantu rumah tangga miskin untuk memulihkan modal fisik dan manusia yang hilang karena tsunami atau konflik. Walaupun hak atas tanah merupakan masalah di seluruh Indonesia. maupun munculnya rantai pasokan global (toko-toko serba ada) yang mencari barang-barang pertanian bernilai lebih tinggi dari negara-negara berkembang. bibit. bukan dengan ketidakmampuan untuk membeli bahan-bahan kebutuhan pertanian. Hambatanhambatan yang ditemukan dalam meningkatkan produktivitas pertanian berkaitan dengan kurangnya layanan publik . Pada saat yang bersamaan. yang sering kali mendapatkan informasi pasar hanya dari satu penjual (cengkeh. mesin dan pasokan bahan kebutuhan pertanian lainnya) dan untuk meningkatkan penyediaan layanan publik seperti layanan-layanan penyuluhan. Peningkatan akses bagi para petani terhadap informasi tersebut akan memungkinkan para produsen untuk lebih cepat menanggapi sinyal-sinyal pasar serta mendorong penyediaan pasokan sebagai akibat dari peningkatan laba dari investasi yang dilakukan. peningkatan penyediaan layanan-layanan penyuluhan sepenuhnya berada di tangan pemerintah propinsi dan kabupaten/kota. 2008). mereka juga menyebutkan kesulitan-kesulitan dalam memperoleh akses terhadap lahan dan bagaimana hal ini dapat menghalangi investasi. Kurangnya informasi pasar (khususnya informasi tentang harga) sering kali diidentifikasi sebagai hambatan utama dalam meningkatkan bagian sewa yang menguntungkan para produsen di Aceh dari kegiatan produksi mereka. Pemerintah Aceh telah mengembangkan sebuah strategi untuk peningkatan ekonomi propinsi ini yang berfokus pada dukungan terhadap serangkaian kelompok komoditas. Apa yang diperlukan untuk merevitalisasi pertanian dan menjadikannya mesin pertumbuhan yang inklusif dan berkesinambungan di Aceh? Di daerah lain di Indonesia. 2008). Sebagai permulaan. akses terhadap teknologi dan kurangnya kredit sebagai hambatan-hambatan dalam meningkatkan produktivitas mereka (World Bank. Tidak ada pusat pendaftaran tanah yang dapat digunakan oleh para investor untuk mengidentifikasi lahan-lahan yang tersedia untuk perkebunan komersial. Para petani juga telah mengidentifikasi ketrampilan. Mengingat fakta bahwa Aceh merupakan wilayah yang cukup terdesentralisasi. baik tanaman perkebunan maupun pengolahan hasil pertanian (agro-processing) (IFC. 20 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . (ii) mendukung pelatihan petani untuk memenuhi persyaratan mutu dan perlindungan. akses terhadap lahan. namun hal ini perlu dibatasi dan fokus yang lebih besar harus ditujukan pada upaya untuk menyediakan barang dan layanan publik yang diperlukan. dan penelitian terbaru menunjukkan bahwa sering kali para petani yang lebih besar dan berpendidikan lebih baik adalah pihak-pihak yang mampu berhubungan dan menerima manfaat dari peningkatan permintaan ini (World Bank. akan segera diterbitkan). Hal ini tampaknya juga terjadi di Aceh (IFC. (iii) memperlengkapi para petani dengan ketrampilan-ketrampilan yang diperlukan untuk mengadakan negosiasi dengan rantai-rantai pasokan besar dan (iv) mendorong penggunaan instrumen-instrumen berbasis pasar untuk mengendalikan risiko-risiko yang meningkat. dan menyediakan lapangan kerja bagi sebagian besar masyarakat. udang). Minat para investor baik investor dalam negeri maupun investor asing di propinsi ini berfokus pada sektor pertanian. Para calon investor telah mengidentifikasi ketersediaan lahan subur sebagai aset utama di Aceh. irigasi atau mempermudah akses ke pasar-pasar (World Bank. yang mungkin baru diketahui oleh para investor setelah menyewa tanahtanah tersebut. Pemerintah propinsi memiliki peran yang harus dimainkan.layanan-layanan penyuluhan. Mutu layanan-layanan penyuluhan yang diberikan juga diidentifikasi sebagai bidang yang harus diperhatikan.

dan dengan demikian. 2003. Konflik dan kekerasan menimbulkan dampak yang mendasar pada lembaga-lembaga politik.04 Tinjauan Ekonomi Pada Saat Konflik dan Pasca Konflik di Aceh Untuk menganalisis hambatan-hambatan terhadap pertumbuhan di Aceh.2 persen (Collier. Collier and Hegre (2008) memperkirakan bahwa rata-rata. 2008). Hal ini cenderung mengakibatkan berkurangnya tabungan.. sosial dan ekonomi yang melandasi pertumbuhan. 2006). Perilaku investasi juga berubah. mengingat bahwa beberapa pihak berargumen bahwa cara-cara pengelolaan ekonomi Aceh di masa lalu memiliki kaitan dengan pemberontakan di propinsi tersebut. konflik mengurangi keamanan individu dan masyarakat dengan cara-cara yang mengubah perilaku. Hoeffler and Reynal-Querol.11 Walaupun ini berarti bahwa hasil analisis dan temuan tersebut tidak mempertimbangkan unsur-unsur penting dalam hubungan antara konflik dan pertumbuhan.0-2. mengurangi pendapatan sekitar 15 persen (Moser. Akses terhadap kredit juga menjadi semakin sulit apabila bank-bank atau penyedia kredit lainnya kemungkinan besar tidak meminjamkan dan/atau hanya meminjamkan dengan tingkat bunga yang lebih tinggi (Nagarajan and McNulty. studi ini diperlukan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang dampak yang ditimbulkan oleh konflik pada keputusan-keputusan investasi. dampak konflik berdarah pada pertumbuhan dan kemiskinan juga sangat luas. 2004). Restrepo et. Selain akibat-akibat konflik yang merugikan secara langsung (infrastruktur rusak. pilihan dan fungsi lembaga (Bodea and Elbadawi. perang saudara merugikan sebuah negara sebesar AS$123 milyar per tahun. 2008). banyak orang yang pindah ke luar daerah). dan bagaimana konflik pada gilirannya membentuk pola-pola pertumbuhan dan institusi di era pasca konflik perlu ditelusuri. akumulasi modal manusia yang lebih rendah dan perilaku yang berisiko (Lorentzen. Nazamuddin. 21 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . 2006). Secara khusus. Chauvet. Dampak-dampak ini mempengaruhi bagaimana ekonomi berfungsi di periode pasca konflik. Dampak konflik pada pertumbuhan dan perkembangan propinsi tersebut telah dan akan terus meluas dan telah dianalisa secara terperinci di bagian-bagian penelitian lainnya (Dawood and Sjafrizal. 2008). pemahaman tentang hubungan antara konflik dan pertumbuhan merupakan hal yang penting. Studi ini tidak berupaya menganalisa secara mendalam pengaruh yang ditimbulkan konflik pada pertumbuhan melalui jalur-jalur lainnya — yaitu antara lain memburuknya mutu lembaga-lembaga pemerintah atau putusnya jaringan-jaringan sosial. banyak orang terbunuh. al. 1999. Studi ini berfokus pada dampak konflik pada hambatan-hambatan terhadap investasi sektor swasta dan pertumbuhan ekonomi dari sudut pandang yang cukup sempit – namun yang justru merupakan kuncinya. dampaknya pada pertumbuhan . Di wilayah-wilayah yang tidak mengalami perang saudata yang berkepanjangan. Diperkirakan bahwa produktivitas yang hilang karena konflik berdarah dan kejahatan 11 Sebagian dampak ini dianalisa di MSR (2009). Negara-negara yang mengalami perang saudara mengalami penurunan PDB tahunan rata-rata sebanyak 2. perlu dilakukan penelusuran atas berbagai dampak yang ditimbulkan oleh konflik terhadap jalannya fungsi ekonomi. 1989. McMillan and Wacziarg.

13 Seperti yang dikemukakan Ross (2007. 2005.4 persen per tahun (Kantor PBB untuk masalah Obat-obatan Terlarang dan Kejahatan/World Bank. Dinamika-dinamika yang biasanya berkaitan dengan akhir suatu konflik dan kekerasan yang tinggi — berlanjutnya persepsi dan perasaan tidak aman serta kekerasan yang kadang-kadang terjadi. 40).Tinjauan Ekonomi Pada Saat Konflik dan Pasca Konflik di Aceh di luar zona-zona perang secara global mencapai AS$95 milyar per tahun (Sekretariat Deklarasi Jenewa/ Geneva Declaration Secretariat. klaim-klaim tersebut benar-benar terjadi dan persepsi-persepsi tentang eksploitasi ekonomi berkembang. karena propinsi tersebut memiliki standar hidup yang lebih tinggi daripada propinsi lainnya di Indonesia selama tahun 1970an (Hill and Wiedermann. Penyimpangan-penyimpangan terhadap ekonomi tersebut cenderung berlanjut dalam periode pasca konflik. Konflik memiliki dampak negatif baik pada akumulasi modal fisik maupun manusia. Cadangan gas bumi yang banyak ditemukan di lepas pantai Aceh pada tahun 1971. kesulitankesulitan yang dihadapi dalam mempersatukan para anggota kelompok pemberontak ke dalam sistem politik dan ekonomi — pada gilirannya mengubah kesempatan-kesempatan dan hambatan-hambatan menjadi pertumbuhan. sumber daya alam tidak menjadi alasan bagi GAM untuk memberontak melawan pemerintah pusat namun mendorong timbulnya keluhan-keluhan setempat. 47) — dan menerapkan langkah-langkah tegas untuk penumpasan pemberontakan dalam mengamankan pengoperasian ladang-ladang gas tersebut (Sukma. Infrastruktur swasta dan publik sering kali sengaja dijadikan target dari pertikaian-pertikaian tersebut guna menghilangkan jalur-jalur pasokan dan mengintimidasi masyarakat. pertumbuhan pesat dalam sektor-sektor yang sebelumnya terhalang oleh konflik.14 Meskipun pendapatan gas Aceh menurun dengan tajam. yang mengemukakan bahwa adanya sumber daya alam meningkatkan kemungkinan perang sipil dengan memampukan kelompok-kelompok pemberontak untuk membiayai biaya permulaan dan biaya yang berkelanjutan untuk pemberontakan mereka. 2008). hal. Keluhan-keluhan terhadap eksploitasi ladang gas yang dirasakan yang mendorong perjuangan dan ketegangan GAM diperburuk oleh perbedaan-perbedaan budaya antara kaum pendatang dan orang Aceh. 1986). pencantuman dalam penetapan MoU bahwa Aceh akan menguasai 70 persen dari pendapatan minyak dan gas sangat penting secara simbolis bagi para pemimpin GAM. 13 Di antara tahun 1974 dan 1986. hal. 2004). Sebagian dari konflik Aceh didorong oleh persaingan atas sumber daya alam di propinsi ini dan wewenang untuk mengelola sumber daya alam tersebut. 14 Penjelasan sebab-akibat ini berbeda dengan penjelasan Collier and Hoeffler (2004). Pada awalnya. 22 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . 36). Persepsi-persepsi tentang eksploitasi sumber daya Aceh digunakan sebagai seruan perang untuk membangun adanya suatu gerakan kebebasan. sebuah penelitian baru-baru ini mengemukakan bahwa apabila Jamaika dan Haiti mengurangi tingkat pembunuhan mereka ke tingkat seperti yang dimiliki Kosta Rika. maka mereka dapat melihat peningkatan angka pertumbuhan sebesar 5. klaimklaim tersebut memiliki dasar lemah. yang mencakup klaim bahwa Aceh telah dimiskinkan oleh kekuasaan orang-orang Jawa dan membebankan kesalahan atas penderitaan mereka pada penyalahgunaan yang dilakukan pemerintah pusat atas gas alam yang baru saja ditemukan (Ross. Konflik berdarah berdampak negatif pada modal manusia dengan 12 Bagian ini banyak disadur dari Ross (2005). 2005.000 pendatang dari bagian-bagian lain di Indonesia datang ke Aceh (Hiorth. diperkirakan berpotensi menghasilkan AS$2-3 milyar per tahun selama 20-30 tahun. sekitar 50. Keluhan-keluhan tentang eksploitasi ladang gas turut membangun cerita yang lebih luas bahwa Aceh tertinggal secara ekonomi dari propinsi-propinsi lain di Indonesia. Adanya konflik berdarah juga mempersulit pembangunan infrastruktur baru dan perbaikan infrastruktur yang rusak. 1989). 2007). Konflik berdarah cenderung mengurangi aktifitas sosial terhadap kegiatan-kegiatan ekonomi karena dampak merugikan dari konflik pada modal fisik dan manusia. hal. Pemerintah pusat menjadi semakin bergantung pada gas alam Aceh — pada tahun 1998. Hanya beberapa orang setempat dipekerjakan dalam eksploitasi gas tersebut sehingga menimbulkan kemarahan.12 Produksi dimulai pada tahun 1977 dan royalti besar dibayarkan kepada pemerintah pusat Indonesia. Sebagai contoh. Namun karena konflik tersebut menjadi berkepanjangan. 9 persen dari total pendapatannya berasal dari sumber ini (Ross.

sehingga harus menghentikan operasinya pada tahun 2001. sebagai contohnya. Hal ini dapat mengurangi keinginan usaha-usaha di dalam dan di luar Aceh untuk berinvestasi. IFC (2008) memperkuat pendapat ini dan melaporkan ketidakstabilan politik dan 15 Lihat Sulaiman and van Klinken (2007. 2006. Konflik berdarah sering kali berkaitan dengan kegagalan pemerintahan dalam bidang-bidang ini. 2008 dan Sekretariat Deklarasi Jenewa/Geneva Declaration Secretariat. kekerasan ekonomi dan kejahatan. Collier et al. 2008). PT Arun sering kali menjadi target serangan GAM. diambil dari Chaudhary and Suhrke. Bentuk-bentuk kekerasan baru termasuk kekerasan politik. serta sengketa-sengketa terkait dengan hak milik pasca konflik (Muggah. (2006). karena pihak-pihak yang terpilih berusaha membayar kembali para pendukungnya (Clark and Palmer. 2005). korupsi meningkat dan supremasi hukum menjadi lemah. Walaupun sebagian dari konflik di Aceh disebabkan oleh persepsi-persepsi tentang tidak efektifnya fungsi negara (Barron and Clark. McGibbon. 2009b). Di Aceh. Konflik tersebut menawarkan peluang bagi kedua belah pihak untuk mendapatkan laba dari kegiatan-kegiatan ilegal dan dari lemahnya supremasi hukum (McCulloch. terdapat masa yang cukup tenang. karena kekhawatiran bahwa aset-aset produktif akan dihancurkan atau menjadi tidak dapat beroperasi apabila kekerasan meningkat. Kegagalan untuk memberikan keamanan di wilayah-wilayah yang terdampak oleh konflik cenderung menurunkan tingkat investasi karena para calon investor mempertimbangkan risiko-risiko keamanan. Setelah perjanjian damai di Aceh. sehingga mengurangi investasi dalam modal fisik (Knight et al. 2007). namun setelah periode awal ini.Juli 2009 mempercepat perpindahan ke luar daerah. yang mungkin berkontribusi pada persepsipersepsi risiko yang lebih tinggi. dan merusak sekolah-sekolah dan universitas-universitas. 23 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Di Aceh. konflik tersebut selanjutnya mengikis lembaga-lembaga negara (McGibbon. masalah keadilan masyarakat dan informal.15 Dalam periode pasca konflik. Konflik berdarah dapat memperlemah lembaga-lembaga dan menggangu pasar karena negara menjadi alat pemangsa dan/ atau di mana negara kehilangan monopolinya atas upaya pemaksaan (Bates. 231) dan Saraswati (2004). Imai and Weinstein. khususnya selama persiapan pemilihan legislatif pada bulan April 2009 (Gambar 1). 2001. Sebagian disebabkan karena risiko berlanjutnya konflik tetap tinggi pada awal periode pasca konflik. 2006). Fungsi-fungsi utama pemerintah mencakup perlindungan hak milik dan langkah-langkah peraturan lainnya yang memastikan persaingan yang efisien dan fungsi pasar yang efektif. Olken and Barron. mengurangi insentif-insetif investasi dalam pendidikan (Steward and Fitzegerald. 2000). 2008). Sulaiman. yang mengakibatkan adanya beberapa kasus korupsi tingkat tinggi yang melibatkan para pejabat pemerintah lokal dan propinsi. kekerasan mulai timbul lagi. 2001). 2008). konflik berdarah mengubah ketrampilan-ketrampilan yang berharga dalam suatu perekonomian . menyatakan bahwa masyarakat-masyarakat yang telah melewati konflik memiliki peluang sebesar 40 persen untuk jatuh kembali ke dalam konflik. 2005. Selain itu. karena sering kali orang-orang yang berpendidikan terbaik dan berpenghasilan cukup menjadi orang-orang pertama yang pindah dan melarikan diri dari konflik. 2009. infrastruktur pendidikan sengaja dijadikan target selama konflik. Persepsi-persepsi tentang keamanan yang buruk dapat berlanjut dalam periode pasca konflik. bahkan ketika GAM atau konflik tersebut hanya memiliki andil sedikit (Jones. Konflik sering kali digunakan sebagai dalih untuk kurang efektifnya pemerintah. terdapat bukti empiris bahwa praktik-praktik korupsi dan pajak ilegal telah berlanjut (Aspinall. Masalah-masalah keamanan pasca konflik yang berkaitan dengan insiden-insiden keamanan dapat menghambat investasi. hal. Konflik tersebut juga membuat sumber-sumber daya negara lebih dialokasikan melalui jaringan-jaringan neopatrimonial yang membawa pada peningkatan korupsi. Para politikus dan pegawai sipil setempat bertindak tanpa mendapatkan hukuman dan menyedot sumber-sumber daya penting dari anggaran negara (Sukma. Pertumbuhan yang berkesinambungan dan inklusif memerlukan lembaga-lembaga publik yang memastikan bahwa para investor dapat memperoleh laba atas investasi. Insiden-insiden keamanan yang berlanjut dan persepsi-persepsi negatif tentang risiko di luar Aceh dapat menjadi penghalang besar terhadap investasi di propinsi tersebut. 2006).. Konflik mengakibatkan lembaga-lembaga pemerintah menjadi lebih lemah. 2006. 2006).

Bagian ini telah mengkaji mekanisme di mana konflik di Aceh dapat membentuk pola-pola pertumbuhan dalam periode pasca konflik. GAM vs GoI) GAM vs GoI untuk insiden kekerasa Sumber: Update Pemantauan Konflik Aceh. 24 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Bagian-bagian berikut ini akan memperdalam analisis tentang hubungan antara konflik dan pertumbuhan. dan menggabungkan ciri-ciri konflik Aceh ke dalam analisis tersebut.Tinjauan Ekonomi Pada Saat Konflik dan Pasca Konflik di Aceh keamanan sebagai dua kekhawatiran yang dikemukakan oleh usaha-usaha yang mempertimbangkan untuk berinvestasi di Aceh. menganalisa hambatan-hambatan investasi dan pertumbuhan. Gambar 5 Kekerasan di Aceh – Jan 2005 sampai dengan Des 2008 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 J F M A M J J A S O N D J F M A M J J A S O N D J F M A M J J A S O N D J F MA M J J A S O N D 05 06 07 08 Insiden kekerasan (excl. Bank Dunia.

2007). yang menyumbangkan sekitar 80 persen dari semua simpanan. kurangnya akses terhadap kredit atau biaya kredit yang tinggi dapat menghambat pertumbuhan.20. Hal ini bersesuaian dengan rasio pinjaman terhadap simpanan sebesar 46 persen. 25 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Dengan kata lain. Banyak bank swasta menutup usahanya di provinsi ini setelah krisis keuanganan tahun 1997-98 dan intensifikasi konflik. Sektor perbankan di Aceh terdiri dari 18 bank umum dan 20 bank perkreditan rakyat. Dalam rangka memastikan konsistensi. sejak bulan September 2008. rendah. jumlah total simpanan adalah sebesar Rp. Salah satu cara melihat permasalahan ini adalah dengan melihat apakah kredit. Perbankan di Aceh didominasi oleh bank umum milik pemerintah. bagian ini akan menganalisis apakah kredit berbiaya tinggi atau sulit diakses oleh usaha serta alasan-alasan di balik keadaan ini.05 Akses Terhadap Kredit Kerangka kerja diagnosa pertumbuhan menguji apakah biaya yang tinggi.5 triliun dan jumlah pinjaman terutang adalah sebesar Rp. lebih rendah dari rata-rata nasional. a. Kredit investasi sebagai bagian dari PDRB non-migas di Aceh lebih rendah dari kredit investasi di provinsi-provinsi lain. besarnya pinjaman yang diberikan oleh bank di Aceh lebih rendah dibandingkan dengan tingkat pembangunannya. Dengan mempertimbangkan bahwa usaha-usaha biasanya beralih kepada bank sebagai sumber pembiayaan kegiatan-kegiatannya. Rasio pinjaman macet adalah sebesar 1. Perbankan syariah masih relatif kecil namun menjadi semakin penting pada tahun-tahun terakhir.9. Bank-bank umum menyumbangkan lebih dari 97 persen dari aset. Menurut Bank Indonesia. Gambaran berikut menunjukkan kredit investasi sebagai bagian dari PDRB16 dan PDRB per kapita (sebagai ukuran yang menunjukkan tingkat pembangunan atau pendapatan). Pertanyaan pertama yang perlu dijawab adalah apakah pembiayaan merupakan masalah di Aceh. Suatu sistem keuangan yang tidak menyediakan modal kerja dan modal investasi bagi usaha-usaha yang mampu berkembang dapat menjadi gejala dari penyakit yang lebih luas. simpanan dan pinjaman (IFC. sebagaimana ditunjukkan pada gambar 16 PDB non-migas digunakan untuk menghindari PDB yang besar yang ditentukan oleh minyak dan gas. sektor minyak dan gas dikurangkan dari data PDB di provinsi-provinsi lain. yang tergolong rendah untuk Indonesia. khususnya kredit investasi. Apakah pembiayaan menjadi masalah di Aceh? Kredit investasi relatif rendah di Aceh. di mana sebagian besar dari kedua kategori bank tersebut adalah bank umum. Setelah menjelaskan sistem perbankan di Aceh.4 triliun. yang menimbulkan rasio kredit-terhadap-PDB yang rendah pada tingkat kredit ‘normal’. dan bank-bank tersebut baru kembali ke provinsi ini setelah penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) pada tahun 2005.9 persen. atau tidak adanya kredit merupakan hambatan yang mengikat bagi investasi sektor swasta.

0 PDRB non-migas per kapita tahun 2006 (Jt Rupiah.8 persen dari PDRB di Aceh.7 29. hanya 28.0 5.1 Aceh North Sumatera Riau East Kalimantan Papua Central Sulawesi Maluku Sumatera Java Indonesia Sumber: Kalkulasi Bank Indonesia dan staf Bank Dunia 17 Tingkat kredit bankyang rendah mungkin tidak harus diwujudkan dalam tingkat-tingkat investasi yang lebih rendah. kredit investasi dan modal kerja mencapai 7.0 20. harga tahun 2000) Aceh Nasional Sumatera Utara Kalimantan Timur DKI Jakarta Sumber: Kalkulasi Bank Indonesia dan staf Bank Dunia Table 5 Kredit investasi dan modal kerja sebagai bagian dari PDRB Persentase Kredit investasi dan modal kerja sebagai bagian dari PDRB 2005 6.3 18.0 0.7 35. sebagai akibat dari kurangnya kesempatan investasi.1 persen.4 0. Bukti yang ada menunjukkan bahwa kredit bank merupakan patokan yang relevan untuk mengukur tingkat investasi.4 15. Hal ini barangkali hanya mencerminkan permintaan kredit yang rendah di provinsi tersebut.8 0.0 35. volume pemberian kredit yang rendah untuk investasi dan modal kerja tampaknya menjadi lebih mencolok (angka-angka ini adalah perkiraan Bank Dunia.0 30.3 16. tetapi mungkin juga sebagai akibat dari sistem perbankan yang tidak dapat memenuhi permintaan kredit dari sektor swasta. Pada tahun 2006.9 persen rumah tangga yang memperoleh pinjaman dari bank.6 0. 2008).3 7. berdasarkan Access to Finance Survey.2 15.5 0. Mengingat rumah tangga di Aceh relatif lebih mengandalkan bank.9 0.7 0. Nilai kredit terhadap PDRB merupakan yang terendah kedua untuk semua provinsi di Indonesia.0 38.1 23.6 35. apabila usaha menerima pinjaman dari sumber-sumber non-bank lainnya (keluarga. teman atau rentenir).0 2006 7.0 40.9 32.Akses terhadap Kredit di bawah ini17. sementara rata-rata nasional adalah 32.0 25. Kredit bank mewakili sumber penting bagi pembiayaan di Aceh: 43. Gambar 6 Kredit terhadap PDRB sangat rendah di Aceh Kredit per PDRB untuk provinsi-provinsi di Indonesia. 26 Diagnosis Pertumbuhan Aceh .1 0.2 15.3 13.2 0.0 15.2 3. 2006 Kredit per PDRB non-migas tahun 2006 1.7 20.3 0.3 persen rumah tangga memperoleh pinjaman dari bank.0 0.7 16. Jumlah ini lebih tinggi dari rata-rata nasional: di Indonesia.0 10.0 26.3 32.

00% -10. suku bunga peminjamaan riil untuk pinjaman investasi di Aceh adalah 2. dapat dengan sendirinya menjadi hambatan terhadap pemberian kredit bagi usaha. sebagaimana diilustrasikan dalam Gambar 7.18 Suku bunga riil telah berfluktuasi secara signifikan di provinsi ini sejak tsunami. Data tentang inflasi yang dibunakan untuk memperkirakan suku bunga sebenarnya hanya berlaku untuk Banda Aceh 27 Diagnosis Pertumbuhan Aceh .00% -20.00% 5.Juli 2009 b.Investasi Sumber: Bank Indonesia dan kalkulasi staf Bank Dunia 18 Data tentang suku bunga rata-rata mungkin tidak dapat diandalalkan untuk Aceh.00% -15.00% 0. Apakah biaya modal tinggi terjadi di Aceh? Biaya untuk pembiayaan di Aceh sama dengan di daerah-daerah lain di Indonesia. Ketidakmampuan bank untuk secara aktual menentukan biaya risiko yang lebih besar dalam menjalankan usaha di Aceh. semua jenis suku bunga peminjaman riil didorong turun oleh inflasi yang tinggi yang dialami provinsi ini sebagai akibat upaya rekonstruksi. dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Indonesia. Suku bunga naik kembali ketika inflasi menurun pada tahun-tahun berikutnya.00% Dec-04 -5. Perbedaanperbedaan dalam biaya modal terutama disebabkan oleh tingkat-tingkat inflasi yang berbeda. sementara suku bunga nominal yang dibebankan di Aceh secara umum sama dengan di daerah-daerah lain di Indonesia. Perbandingan antara suku bunga di Aceh dan suku bunga nasional dengan demikian harus ditafsirkan dengan hati-hati. Tingkat suku bunga nominal yang sama juga ditegaskan dalam diskusi-diskusi tim dengan bank-bank di Aceh. Gambar 7 Tingkat peminjaman investasi riil di Aceh dan rata-rata nasional 15. sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar 8. sehingga bank hanya melakukan operasi-operasi yang relatif aman.05 persen.82 persen dan rata-rata nasional adalah 1. sebagaimana dibahas lebih lanjut di bawah ini. Pada tahun 2005.Investasi ACEH .00% Jun-05 Dec-05 Jun-06 Dec-06 Jun-07 Dec-07 Jun-08 Sumber: Kalkulasi Bank Indonesia dan staf Bank Dunia Gambar 8 Tingkat peminjaman investasi nominal di Aceh dan rata-rata nasional 19 18 17 16 15 14 13 12 11 10 Dec-04 Jun-05 Dec-05 Jun-06 Dec-06 Jun-07 Dec-07 Jun-08 NASIONAL .00% 10. Pada bulan September 2008.

Akses terhadap Kredit Biaya modal tidak menghambat pertumbuhan dan investasi di Aceh. Namun demikian.19 Akan tetapi.50 juta hingga Rp. Aceh merupakan salah satu daerah yang memiliki rasio tabungan-terhadap-PDRB tertinggi di Indonesia.00% 1. misalnya dengan menyebabkan inflasi yang sangat tinggi dan dengan demikian menyebabkan suku bunga riil menjadi sangat rendah pada tahun 2005. persyaratan-persyaratan jaminan tidak terlalu ketat: tidak seperti biasa di tingkat 110-120 persen dari jumlah pinjaman.00% 2003 2006 2007 2002 0. Gambar 10 menunjukkan hal ini di mana Provinsi Aceh menduduki peringkat ke-empat 19 Data ini menangkap situasi ekonomi di provinsi ini sebelum dimulainya kiris keuangan global. Satu penjelasan klasik tentang mengapa kredit dapat menjadi mahal atau mengapa bisa terdapat penjatahan kredit adalah rendahnya persediaan dana serta tidak adanya akses terhadap pembiayaan eksternal. Pertama.00% 2005 -20. Hal ini seharusnya menciptakan tingkat pertumbuhan yang lebih rendah ketika suku bunga menjadi lebih tinggi.00% -15.00% -10.00% 4. masih dapat terjadi bahwa biaya modal menghambat investasi swasta dan.00% 7. jumlah penerimaan yang relatif kecil atas dana “yang lebih murah” ini lebih jauh menunjukkan bahwa suku bunga yang tinggi tidak menghambat usahausaha dalam mengakses kredit di Aceh. Walaupun terdapat beberapa perbedaan antara Aceh dan daerah-daerah lain di Indonesia. dengan demikian.00% 8.00% 2.00% 2008 2004 2001 5. jangka waktu yang pendek ini mencakup peristiwa tsunami dan program pemulihan setelahnya yang mungkin mendistorsi pengamatan. penemuan ini sebaiknya ditafsirkan dengan hati-hati. 80 persen saja yang diminta dari para peminjam. pernyataan di atas mungkin memerlukan kualifikasi.00% -5.00% Tingkat bunga riil (pinjaman investasi) Sumber: Bank Indonesia.500 juta.00% 0. kepala program.00% -1.00% 2000 10.00% 15.00% 3. menghambat pertumbuhan. Gambar 9 Pertumbuhan PDB tidak bereaksi terhadap perbedaan suku bunga Tingkat pertumbuhan riil (sebelumnya migas) Hubungan antara angka dan pertumbuhan 9. 20 Sumber: Pak Dahlan Sulaiman.5 milyar. Program Kredit Pemberdayaan Pengusaha yang mulai digulirkan pada bulan Oktober 2008 memberikan pinjaman dengan suku bunga tetap bersubsidi sebesar 8 persen bagi usaha-usaha di Aceh. Pengamatan ini menunjukkan bahwa biaya kredit barangkali bukan merupakan hambatan yang mengikat bagi pertumbuhan. Apakah permasalahannya adalah rendahnya tabungan dan tidak adanya akses terhadap pembiayaan eksternal? Tingkat tabungan yang rendah bukan merupakan alasan bagi rendahnya volume kredit di provinsi ini. BPS dan kalkulasi staf Bank Dunia c.00% 5. Kedua. Data terakhir mendukung gagasan bahwa biaya kredit bukan merupakan hambatan yang mengikat di Aceh. Ukuran pinjaman berkisar antara Rp. Setelah terjadinya krisis kredit dalam ekonomi riil. 28 Diagnosis Pertumbuhan Aceh .00% 6.20 Walaupun masih terlalu dini untuk menilai efektivitas keseluruhan dari program tersebut. Dengan program tersebut. rangkaian data yang digunakan agak pendek dan tingkat pertumbuhan mungkin bersifat responsif terhadap perubahan-perubahan suku bunga selama jangka waktu yang lebih panjang. bukan ini yang terjadi di Aceh: pertumbuhan PDRB tidak bereaksi terhadap menurunnya suku bunga riil. Sejak bulan April 2009. jumlah total dana yang telah dipinjamkan di bawah program ini hanya sekitar Rp.

Aceh masih memiliki rasio tabungan-terhadap-PDRB yang relatif tinggi.00 40.5000 Tabungan per PDRB non migas2006 2. Untuk menguji hipotesis ini.00 20.5000 1.00 10. Gambar 10 Tabungan per PDRB untuk provinsi-provinsi di Indonesia.21 Bahkan setelah dibandingkan tingkat tingkat tabungan nasional.0000 0. diasumsikan adanya tingkat yang sama pada ‘dana-dana yang dapat dipinjamkan’ dengan daerah-daerah lain di Indonesia dibandingkan dengan tingkat tabungan di Aceh (titik data “Aceh*” pada Gambar 10 di atas). 2004-07 1800 1600 1400 1200 1000 800 600 400 200 0 25 20 15 10 5 2004 83% 17% 18% 2005 82% 30% 2006 Dana swasta 36% 2007 70% 64% 89% 11% 2004 86% 84% 86% 14% 2005 16% 2006 Dana swasta 14% 2007 Dana pemerintah Sumber: Bank Indonesia.00 5.00 15. Sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar 11. 2006 2. Aceh Dana pemerintah Sumber: Bank Indonesia 21 Penyesuaian ini adalah untuk mengurangi tabungan masyarakat di Aceh sehinga bagian tabungan masyarakat dalam tabungan total sama dengan rata-rata nasional.0000 Aceh Aceh* Nasional Sumatra Utara DKI Jakarta Kalimantan Timur 0. yang secara signifikan lebih rendah dari rasio nasional sebesar 70 persen. pada tahun 2007 dana-dana pemerintah mewakili 36 persen dari seluruh simpanan. Gambar 11 Dana-dana pemerintah menyumbangkan bagian yang besar dari simpanan di Aceh Deposit Aceh. dibandingkan dengan rata-rata sebesar kira-kira 14 persen secara nasional.00 30. kecilnya jumlah sisa ‘dana-dana yang yang boleh dipinjamkan/loanable funds” ini bisa menjelaskan mengapa hanya ada sedikit kredit di Aceh sementara total tabungan begitu besar. Situasi di Aceh dapat menyesatkan karena tingkat rekonstruksi yang tinggi dan dana-dana pemerintah yang telah dimasukkan ke provinsi ini oleh berbagai badan pemerintah dan non-pemerintah.. namun demikian tingkat tabungan tidak menjadi hambatan bagi pembiayaan di provinsi tersebut.00 35.00 25.0000 1.00 PDRB non migas riil per kapita 2006 (Rp juta. LDR berada di tingkat 46 persen.5000 0.Juli 2009 pada tahun 2006. harga 2000) * disesuaikan terhadap deposit pemerintah menurut rata-rata nasional Sumber: Bank Indonesia dan staf Bank Dunia Sebagian besar simpanan di Aceh adalah simpanan jangka pendek. yang membawa kita pada kesimpulan bahwa persediaan dana tidak menjadi alasan rendahnya rasio kredit-terhadap-PDRB. 29 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Tidaklah mengherankan. 2004-07 Trillion Rp Trillion Rp Deposit Nasional. Aceh memiliki rasio pinjaman-terhadap-simpanan (loan-todeposit ratio/LDR) yang rendah: pada bulan Desember 2008. Karena dana-dana tersebut tidak dapat dipinjamkan.

Bank-bank tidak mengenakan suku bunga yang lebih tinggi di Aceh untuk menentukan biaya akibat dari persepsi risiko-risiko yang lebih besar dalam menjalankan usaha perbankan di provinsi tersebut.11 14. Apakah permasalahannya adalah fungsi intermediasi (perantara) bank-bank lokal yang rendah? Rendahnya fungsi perantara oleh bank-bank lokal di Aceh dapat menghambat kemampuan mereka untuk memberikan kredit kepada dunia usaha.71 14.73 15.Akses terhadap Kredit Apabila tabungan memang tinggi di Aceh. Untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang peran intermediasi yang dimainkan bank-bank di Aceh. Bank-bank di Aceh tampaknya belum yakin dalam mengevaluasi permohonan-permohonan pinjaman.) namun tidak bergantung di provinsi mana pinjaman tersebut diberikan.37 Sumber: Bank Indonesia. semua bank yang diwawancarai oleh tim menyatakan bahwa mereka mengenakan suku bunga yang sama seperti di daerah-daerah lain di Indonesia. Menariknya. serangkaian wawancara secara mendalam dengan delapan bank umum di Banda Aceh te. antara lain.26 Papua (%) 15. mengenakan suku bunga yang lebih tinggi di provinsi ini. karena semua bank yang diwawancarai menyatakan bahwa suku bunga yang mereka kenakan bergantung pada banyak faktor (besarnya pinjaman. Data Bank Indonesia yang disajikan dalam Tabel 6 menunjukkan bahwa suku bunga nominal rata-rata di Aceh lebih rendah dari rata-rata nasional dan suku bunga di provinsi-provinsi lain pada bulan Desember 2008. Sebagaimana ditunjukkan dalam Tabel 7.95 14. orang akan mengira bank-bank tersebut.22 14. kalkulasi staf Bank Dunia Satu cara bagi bank untuk mempertahankan portofolio pinjaman yang besar tanpa kemungkinan menanggung persepsi risiko yang lebih besar dari pemberian pinjaman investasi adalah dengan mengfokuskan pada pemberian pinjaman konsumsi. atau apakah bank tidak memiliki keahlian yang mungkin diperlukan untuk menjalankan usaha di Aceh dan memberikan pinjaman.10 13. walaupun proses kajian seharusnya secara resmi berlangsung selama tidak lebih dari satu bulan.4 16. Tabel 6 Suku bunga nomial rata-rata. porsi kredit investasi dan kredit modal kerja dari dari total kredit di Aceh lebih rendah dari daerah-daerah lain 30 Diagnosis Pertumbuhan Aceh .65 12.29 13. Tujuannya adalah untuk melihat apakah bank-bank tidak mampu dalam menentukan nilai risiko khusus berkaitan dengan kredit di Aceh. Perbedaan-perbedaan suku bunga yang diamati mungkin dikarenakan bank-bank memiliki portofolio berbeda di provinsi yang berbeda.73 Kalimantan Timur (%) 14. jatuh tempo. peminjam. UKM kadang-kadang harus menunggu sampai dengan enam bulan apabila mereka mengajukan permohonan pinjaman untuk pertama kali (IFC. Suku bunga yang rendah di Aceh menunjukkan bahwa bank-bank tidak memperhitungkan biaya risiko yang lebih tinggi yang dipersepsikan dalam menjalankan usaha di Aceh.4 Aceh (%) 14.00 Sumatera Utara (%) 15.22 Sulawesi Tengah (%) 15. dll. 2007). d. yang menyebabkan bank tidak bersedia memberi pinjaman.ah dilakukan pada bulan Desember 2008 untuk mengkaji perspektif bank dalam menjalankan usaha di Aceh serta tantangan-tantangan khusus yang mereka hadapi.16 13. harus ada penjelasan lain tentang mengapa volume kredit rendah: apakah karena sektor perbankan tidak melaksanakan fungsinya sebagai perantara (intermediary function) dengan baik atau karena kredinya yang dibatasi? Hal – hal dibawah ini mencoba mengfokuskan untuk menggali beberapa opsi yang berbeda dalam melihat masalah diatas.14 14. Desember 2008 Nasional (%) Modal Kerja Investasi Konsumsi 15. Apabila bank khawatir tentang tingkat gagal bayar (default rate) di Aceh.70 14.

Lebih lanjut. Masalahnya mungkin adalah bahwa bank tidak memiliki sumber daya manusia (pejabat bagian kredit) yang diperlukan untuk menilai permohonan pinjaman secara memadai.3 70. bank mengakui bahwa sebagian besar nasabah mereka adalah pegawai negeri sipil dan sebagian besar permohonan pinjaman mereka disetujui. Walaupun demikian.1 49.0 68.5 50. dengan besarnya dana yang dikeluarkan dalam rekonstruksi dalam jangka waktu yang pendek. hanya ada sedikit bukti pasti yang menunjukkan bahwa bank tidak akan memperbaiki kapasitasnya untuk melayani permintaan kredit.3 54. Beberapa pelaku terbesar yang ada di daerah-daerah pedesaan mengirim personil kredit ke lapangan untuk mengidentifkasi dan melakukan pendekatan kepada usaha-usaha yang dianggapnya layak untuk memperoleh kredit dan memberikan kredit kepada usaha-usaha tersebut.Juli 2009 di Indonesia. Pendekatan proaktif ini efektif untuk memperluas portofolio pinjaman dan mempertahankan agar tingkat pengembalian tetap tinggi.3 Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa fungsi perantara bank menjadi penghambat investasi di Aceh.8 71. 2006 49. 31 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . apabila bank menganggap bahwa sektor usaha ini menguntungkan. Pinjamanpinjaman konsumsi biasanya dianggap lebih aman dan tidak mengharuskan penyaringan yang ketat terhadap pemohon.8 72. Hal ini menunjukkan bahwa tetap ada ruang untuk meningkatkan intermediasi keuangan dan bank yang mengirim personil kredit yang terlatih ke lapangan bertemu dengan nasabah potensial telah berhasil melayani lebih banyak pemohon dan badan usaha.8 79. digunakan sebagai barang jaminan.6 78.9 38.9 47.7 71.8 78. khususya motor atau mobil.9 76.8 71.3 78.6 51.6 71.5 80. Hal ini berpengaruh lebih besar bagi Aceh dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain. bank telah dengan cepat memberi tanggapan dengan membuka cabang-cabang untuk memperoleh simpanan dan mempekerjakan tenaga-tenaga ahli yang diperlukan untuk memberi pinjaman bagi sektor-sektor yang dianggapnya aman.6 68. Tabel 7 Kredit investasi dan modal kerja sebagai bagian dari keseluruhan kredit Persentase Bagian kredit investasi dan modal kerja dalam keseluruhan kredit 2005 Aceh Sumatera Utara Riau Kalimantan Timur Papua Sulawesi Tengah Maluku Sumatera Java Indonesia Sumber: Kalkulasi Bank Indonesia dan staf Bank Dunia.8 42.3 48. karena barang-barang yang dibeli.9 57.7 71. dan lebih rendah lagi dibandingkan dengan provinsi tetangga. Mengingat juga sifat yang relatif kompetitif dari sektor perbankan. namun lebih memilih untuk menolak permohonan-permohonan dan berfokus pada portofolio pinjaman yang lebih aman dan melewatkan peluang-peluang usaha yang menguntungkan.9 40. Sumatera Utara. mengingat bahwa bank tidak banyak melayani wilayah selama konflik.7 68.7 71.4 2007 50.3 70.

22 atau karena bank enggan memberi pinjaman bagi jenis- 22 Hal ini mungkin bukan merupakan hambatan dalam mengakses pinjaman-pinjaman kecil. Tidak ada bank yang mengutarakan bahwa pihak mereka mengenakan biaya suku bunga yang berbeda di provinsi ini (sebagai akhibat dari risiko yang lebih besar yang dipersepsikan). Walaupun tampaknya masih ada ruang bagi peningkatkan dalam cara bagaimana bank memenuhi fungsi penengahan keuangannya — terutama untuk banyak bank yang meninggalkan provinsi tersebut selama konflik dan lambat laun datang kembali — hal ini tidak mungkin menjadi faktor utama di balik rendahnya tingkat kredit bagi sektor swasta. pertumbuhan yang kuat selama upaya rekonstruksi dan keamanan relatif di sebagian besar daerah Aceh. dan bukan pula buruknya fungsi perantara dari bankbank lokal. melainkan mensyaratkan KTP atau kartu pendaftaran keluaraga dan referensi-referensi informal lainnya (misalnya. Alasan lain bagi rendahnya tingkat kredit yang diberikan bagi usaha-usaha barangkali adalah bahwa bank-bank tidak mempunyai pilihan untuk melakukan hal tersebut. Mengingat sejarah Aceh yang ditandai kekerasan dan perdamaian yang masih baru. yakni bahwa saat ini perdamaian telah bertahan hingga lebih dari tiga tahun. Temuan-temuan dari wawancara-wawancara bervariasi: terdapat konsensus yang kuat bahwa masalah keamanan. apakah persoalannya adalah pembatasan kredit oleh bank? Pembatasan kredit dapat menjadi suatu alasan rendahnya tingkat kredit. Perbedaan jumlah kredit yang diberikan kepada dunia usaha pada daerah-daerah lain di negeri ini. e. Mengingat ketersediaan dana. dari kepala desa). Apabila tidak. Jika konflik masih mungkin untuk terjadi. karena bank tidak meminta nomor pendaftaran usaha atau pajak. tampaknya masuk akal bahwa bank berhati-hati akan munculnya kembali bentuk kekerasan. semuanya menampakkan keprihatinan tentang pemilu lokal dan pemilihan umum presiden tahun 2009 dan fakta bahwa terdapat banyak keputusan strategis yang ditunda hingga bank-bank tersebut dapat mengamati apakah pemilu kembali menimbulkan ketidakstabilan. hal tersebut dapat terjadi karena banyak usaha bersifat informal.Akses terhadap Kredit Kotak 4 Apakah konflik merupakan halangan untuk mengakses kredit? Dalam melakukan pendekatan terhadap permasalahan pembiayaan di Aceh. walaupun bank tidak menunjukkan kekhawatiran bahwa konflik mungkin akan muncul kembali. atau telah menetapkan persyaratan-persyaratan barang jaminan yang ketat. hal tersebut akan tetap menjadi pertimbangan bank untuk menjalankan usaha di Aceh. Fokus pada pinjaman konsumsi. salah satu hipotesis dari tim adalah bahwa bank mungkin enggan untuk memberi pinjaman bagi usaha-usaha lokal karena bank masih mengkhawatirkan stabilitas provinsi ini. banyak bank menyebutkan bahwa selama konflik. dan secara khusus pada pinjaman yang melayani pegawai negeri sipil. Misalnya. juga menunjukkan suatu upaya dari bank-bank untuk mengurangi risiko menjalankan usaha di Aceh. Namun demikian. khususnya dengan menjangkau hingga ke kabupaten dan kota-kota selain ibukota provinsi. ini dapat mencerminkan perbaikan daya tarik provinsi tersebut. Beberapa bank menyatakan maksudnya untuk memperluas jaringan cabang mereka di Aceh. tampaknya tidak mungkin bagi bank untuk tidak menyediakan sumber daya dan kapasitas yang diperlukan. 32 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . sekarang menjadi “bisnis seperti biasa” bagi bank di Aceh dan masalah-masalah yang lebih berat juga masih ada. bank-bank tersebut mengurangi keberadaan (atau tidak ada sama sekali) dan membuka cabang baru di provinsi ini. setidaknya pada tingkat yang sama dengan yang dilakukannya di tempat-tempat lain di Indonesia. dan dengan demikian bank dengan sukarela membatasi kegiatannya di provinsi ini. Biaya kredit tampaknya bukan merupakan halangan utama bagi investasi. tidak bisa dijelaskan sebagai kurangnya kapasitas bank-bank lokal. Lebih lanjut. Sumber: Survei terhadap bank di Aceh. Setiap perbedaan dalam suku bunga dapat dijelaskan dengan perbedaan dalam portofolio pinjam (misalnya pinjaman-pinjaman yang lebih kecil yang akan menghasilkan suku bunga rata-rata yang lebih tinggi yang dibebankan sebagai biaya).

23 Bank bersikap hati-hati dalam pendekatannya untuk beroperasi di Aceh. walaupun banyak bank menyatakan ketertarikannya untuk memberi pinjaman lebih untuk mendorong pengembangan pertanian. yakni menghindari sektor-sektor yang lebih berisiko seperti pertanian atau menghindari para peminjam seperti UKM. Alokasi kredit yang besar bagi sektor konstruksi akan tampak bertentangan dengan pernyataan-pernyataan yang disampaikan para bankir yang diwawancarai. beberapa orang telah dimasukkan dalam “daftar hitam” oleh bank. Rp. 24 Wawancara dengan bank-bank. Dalam wawancara-wawancara yang dilakukan terhadap bank-bank umum di Banda Aceh. 23 Kesulitan akses terhadap kredit bagi usaha-usaha dan para petani yang lebih kecil bukan hanya masalah khusus di Aceh.24 Hal ini dapat menjadi halangan yang serius bagi akses karena banyak orang dan usaha kehilangan aset dan sertifikat selama tsunami. Sektorsektor tersebut sebagian besar adalah ekonomi perkotaan. pada tingkat yang lebih rendah. mereka tetap tidak dapat mengajukan permohonan pinjaman baru walaupun sebagian besar pinjamanpinjaman lama tersebut telah diputihkan. walaupun terdapat kesangsian seperti yang diutarakan. Di Aceh. Pertama. bagian kredit yang masuk ke sektor ini masih lebih tinggi daripada di daerah lain di Sumatera dan rata-rata nasional.1 – Rp. tampak bahwa bank-bank tersebut bersikap sangat hati-hati di provinsi ini (sebagaimana ditunjukkan oleh rendahnya pinjaman macet (non-performing loan/NPL) dari sebagian besar bank dan sektor perbankan secara umum). Hal ini terjadi setelah mereka gagal mengembalikan pinjaman sebagai akibat dari kehilangan-kehilangan selama tsunami dan. yang mengidentifikasi konstruksi sebagai sektor yang juga relatif berisiko: para kontraktor sering menghadapai persoalan-persoalan berkaitan dengan pemberian hak atas tanah. seperti perdagangan dan. 33 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Desember 2008. hal ini masih harus ditindaklanjuti dengan kegiatan selanjutnya. yang membatasi akses masyarakat dan usaha terhadap kredit. program PER (Pemberdayaan Ekonomi Rakyat) diluncurkan pada 2001 dan terdiri dari pinjaman-pinjaman kecil (Rp. bankbank biasanya enggan menawarkan produk-produk pinjaman yang tidak mewajibkan adanya barang jaminan dan sebagian besar menargetkan Usaha Mikro. tsunami dan akibat-akibatnya serta tidak baiknya perencanaan program (pemerintah. yang agaknya membenarkan keengganan bank swasta untuk memberi pinjaman bagi sektor ini. Program ini tidak mempersyaratkan barang jaminan. Kedua. Sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 12. untuk saat ini. Pemberian pinjaman bagi industri pengolahan makanan dihambat oleh ukuran yang kecil dari industri tersebut di Aceh. Membatasi investasi modal tetap dengan alasan bahwa mereka mungkin dipaksa meninggalkan usaha dalam keadaan seperti itu merupakan cara yang mudah bagi usaha untuk melindungi diri dari risiko tersebut. Antara tahun 2001 dan 2003. Hal ini mungkin dapat menjadai petunjuk bahwa dunia usaha masih belum berniat melakukan investasi yang besar di provinsi ini karena mereka mempersepsikan adanya risiko yang besar bahwa konflik dapat timbul kembali dan membuat mereka terpaksa tidak bisa melanjutkan usaha. seperti konstruksi dan perdagangan. Kecil dan Menengah (UMKM). Tingkat pengembalian yang rendah dari skema bersubsidi yang disponsori oleh pemerintah juga disoroti oleh beberapa bank yang menjadi sumber diskusi tim di Aceh selama persiapan kajian ini. yang menunjukkan bahwa. Banda Aceh. Sektor-sektor yang paling banyak menerima kredit adalah sektor-sektor di mana investasi modal tetap rendah. yang menyeleksi para pemohon). Namun demikian. Ketiga. Struktur kredit di Aceh lebih mengarah ke sektor-sektor yang dianggap kurang berisiko. Tingkat pengembalian yang rendah ini kemudian dijelaskan dengan tidak adanya persyaratan barang jaminan. alokasi kredit investasi dan modal kerja secara sektoral lebih diarahkan ke sektor-sektor yang dianggap lebih aman. pungutan liar atau harga bahan bangunan yang berubah-ubah. konstruksi. pertanian tampaknya merupakan sektor yang relatif berisiko dan. dan bukan bank. dan bagian kredit yang masuk ke sektor pertanian lebih rendah dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Sumatera. sehingga mereka tidak lagi dapat menggunakanya sebagai barang jaminan. Upaya-upaya yang dilakukan pemerintah untuk menangani permasalahan ini melalui skema kredit yang disubsidi atau dijamin menunjukkan tingkat pengembalian yang rendah. Bagian dari kredit yang masuk ke sektor manufaktur sejalan dengan daerah-daerah lain di Sumatera dan Indonesia.250 juta) bagi UKM informal. seperti perdagangan. karena masalah tersebut mempengaruhi seluruh negara (dan sebagian negara lain untuk hal tersebut). konstruksi merupakan pendorong utama perekonomian provinsi ini selama beberapa tahun terakhir di mana bagian yang besar dari semua sumber daya – pemerintah dan swasta – diberikan kepada sektor ini.Juli 2009 jenis pemohon kredit tertentu.47 milyar dicairkan di mana sejumlah Rp.40 milyar gagal bayar.

sangat berhasil dan memperoleh permintaan yang tinggi. tampak bahwa bank-bank tidak bersedia memberikan pinjaman bagi sektor agrobisnis dan perkebunan yang berskala kecil apabila pemerintah atau LSM tidak membantu penjaminan pinjaman tersebut.27 Orang atau kelompok yang telah kehilangan aset-asetnya karena tsunami atau karena konflik mungkin bisa terhalang untuk mengakses kredit. dan saat ini tidak bersedia mengambil kredit komersial yang wajib mereka kembalikan. November 2007.26 Lagi pula. hal. November 2007. Banda Aceh. basis aset mereka lebih rendah.0% Pertanian Pertambangan Manufaktur Listrik Gas. Jasa usaha gudang & restoran dan komunikasi hotel Jasa sosial Aceh Sumatera Utara Kalimantan Timur Sulawesi Tengah Papua SUMATERA INDONESIA Sumber: Kalkulasi Bank Indonesia dan staf Bank Dunia Secara umum.0% 60.0% 50. 27 IFC.0% 70.2.0% 40. sebagian dari keberhasilan perbankan syariah akhir-akhir ini dapat dijelaskan dengan fakta bahwa perbankan ini tidak mensyaratkan barang jaminan untuk memberikan pinjaman. 25 IFC. dan berpengalaman memeberikan pinjaman bagi ekonomi pedesaan di provinsi-provinsi lain tampaknya juga enggan untuk melaksanakan program-program pemberian pinjaman pembiayaan mikro di Aceh. “Aceh Financial Sector Diagnostics”. Kasus mantan kombatan GAM juga patut dilihat bahwa: secara rata-rata.Akses terhadap Kredit Gambar 12 Sektor konstruksi dan perdagangan menerima bagian kredit yang relatif besar di Aceh Bagian dari investasi dan kredit modal kerja yang masuk ke sektor yang diseleksi. Transportasi. atau yang hanya menerima peralatan atau perabotan rumah tangga sebagai barang jaminan. yang pada gilirannya dapat menjadi penghalang bagi mereka untuk dapat melakukan kegiatan ekonomi dan berinvestasi. Terdapat bukti bahwa para korban konflik memiliki lebih sedikit aset dibandingkan yang bukan korban konflik (Tabel 8). walaupun mereka memiliki pendapatan yang sama dengan warga sipil. 2007 80. Ada pemahaman bahwa pasar telah terdistorsi ketika para petani dan nelayan telah menerima hibah dan pinjaman dari LSM selama rekonstruksi. “Aceh Financial Sector Diagnostics”. Bahkan bank-bank yang memiliki tenaga ahli di bidang kredit mikro. 2009. 26 Wawancara dengan bank-bank.0% 10.0% 0. Mungkin juga ada beberapa kelompok yang kurang beruntung di Aceh mengalami hambatan untuk mengakses kredit. 34 Diagnosis Pertumbuhan Aceh .25 Program-program pemberian pinjaman mikro yang tidak mensyaratkan barang jaminan.0% 20.0% 30. & Air Bangunan Perdagangan.

17. 2008d). Bank-bank memberi pinjaman kepada para peminjam yang tidak memiliki resiko tinggi yaitu: usaha-usaha dan perusahaan-perusahaan yang mapan dan memiliki arus kas yang tinggi yang dapat mengembalikan pinjaman dengan cepat atau memberikan pinjaman konsumsi bagi pegawai negeri sipil. seperti pertanian dan perikanan. bukti menunjukkan bahwa proses ini barangkali lebih lambat daripada yang diperkirakan oleh bank. dan manufaktur skala kecil semuanya memiliki potensi untuk menciptakan pertumbuhan 35 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Setelah berakhirnya konflik. Sumber: MSR.370 23. tampaknya menjadi persoalan di Aceh. 2009. Pada saat ini.426 24. Sektor-sektor pertanian. kontraktor.596 16.586* ‘000) Meter persegi tanah yang digarap oleh 7. Tidak ada bank yang memberikan pinjaman usaha kepada perusahaan-perusahaan yang berusia kurang dari satu tahun. sebagian besar bank hanya beroperasi di kota-kota utama provinsi dan sangat sedikit menjangkau daerah-daerah pedesaan. Di Aceh. Usaha kecil dan menengah yang mengajukan permohonan pinjaman pada umumnya berhasil: hanya 4. pada tingkat yang lebih kecil. Bank-bank sebagian besar memberi pinjaman kepada usaha-usaha yang sudah berkembang dan memiliki aliran kas yang besar dan jaminan yang cukup. Walaupun agak rendah. Akan tetapi. usaha-usaha tersebut sebagian besar adalah usaha perdagangan dan.912 10. mereka kekurangan kapasitas untuk memberikan pinjaman bagi sektor-sektor ekonomi yang utama dalam perekonomian.887 rumah tangga (rata-rata) Bagian rumah yang terbuat dari beton 27 36 31 40 -9*** -9** (%) Akses terhadap air dari sumber yang 46 60 56 63 -15*** -7** bersih/terlindungi (%) Persepsi tentang Kemiskinan Rumah tangga di kalangan sepertiga 65 47 53 42 18*** 12*** termiskin di desa†† *** Signifikan pada 99%. Bank-bank sebagian besar melayani para peminjam yang paling tidak beresiko.800 -2.628 10. * Signifikan pada 90%. ‘000) 16. dan kembali ke Aceh saat-saat terakhir ini.520 25. Akses terhadap pembiayaan. Persoalan-personalan akses terhadap pembiayaan tampaknya menyebar di Indonesia dan tidak dapat menjadi alasan tingkat kredit yang rendah di Aceh. dan harus mendirikan kembali usaha serta jaringan nasabah mereka. ** Signifikan pada 95%.416 -1. sehingga bank-bank tersebut memiliki sedikit cabang di provinsi ini. pengolahan makanan. terutama untuk beberapa sektor usaha.838 -694*** -2.Juli 2009 Tabel 8 Pendapatan dan kekayaan (hanya untuk laki-laki) Semua Laki-Laki TNA (n=1024) Perbandingan Kelompok-Kelompok Warga Ex-TNA Korban Sipil terhadap terhadap warga non-korban (n =1792) (n = 974) (n = 1321) sipil 16. Fungsi perantara bank juga terhalang oleh fakta bahwa banyak bank beranjak dari provinsi ini selama konflik. Tabel melaporkan rata-rata penduduk dan n sampel. Rendahnya tingkat kredit yang diberikan kepada sektor swasta mungkin merupakan suatu upaya dari bank untuk menghadapai apa yang oleh banyak pihak dianggap sebagai risiko-risiko yang lebih besar dalam beroperasi di Aceh. akses terhadap kredit di Aceh tampaknya bukan merupakan hambatan yang mengikat bagi pertumbuhan di provinsi ini.146 16.918 -347 -771 Laki-Laki Warga Sipil NonKorban korban Pendapatan Rata-Rata (Rp. Akibatnya.044 8. 2008 Aset-aset rumah tangga (rata-rata) (Rp. bank telah memulai kembali operasinya di Aceh dan secara bertahap kembali ke modus operasi “ bismis seperti biasa” di daerah tersebut.13 persen yang ditolak selama paruh pertama tahun 2008 (World Bank.248 Pengukuran Kemiskinan Rumah Tangga.

Lembaga-lembaga pemerintah dapat melakukan dua intervensi utama untuk meningkatkan akses sektor swasta di Aceh untuk memperoleh kredit: • Memperluas/memperkenalkan program-program jaminan sebagian jenis Kredit Usaha Rakyat (KUR). Mengingat pengalaman Aceh dengan program-program tersebut. Walaupun mungkin terdapat persoalan-persoalan berkaitan dengan peran intermediasi yang dimainkan oleh bank.Akses terhadap Kredit ekonomi yang berkelanjutan dan bersama. perhatian khusus harus diberikan bagi rencana programnya agar menghindari rendahnya tingkat pengembalian. untuk memberikan insentif bagi bank dalam rangka memberikan pinjaman kepada nasabah-nasabah baru. alasanalasan bagi rendahnya tingkat pemberian kredit kepada usaha-usaha lebih disebabkan oleh risiko-risiko yang lebih tinggi yang dipersepsikan dalam menjalankan usaha di Aceh serta potensi keuntungan yang rendah dari usulan-usulan investasi terkait. Bagian berikut dari laporan ini menganalisis alasan-alasan yang mungkin di balik keadaan ini. atau rendahnya daya serap (intake). Akses terhadap kredit bukanlah halangan utama bagi pertumbuhan di Aceh. • Bagian ini telah memberikan bukti bahwa dunia usaha di Aceh memiliki akses yang rendah terhadap kredit. Mendukung layanan pengembangan usaha (misalnya melalui Pusat-Pusat Layanan Usaha Pembangunan atau Development Business Services Center – DBS) yang menyediakan informasi bagi usaha-usaha kecil dan menengah tentang pengembangan usaha. tidak terdapat alasan yang kuat untuk meyakini bahwa fungsi intermediasi bank-bank di Aceh secara signifikan lebih buruk dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Indonesia. Sebagai akibatnya. 36 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Program tersebut seharusnya mempertimbangkan strategi transisi (exit strategies) bagi perusahaanperusahaan yang telah membuktikan pengembalian kreditnya dengan baik dan dengan demikian dapat mengakses kredit tanpa jaminan yang memberatkan. tetapi mengingat sektor swasta maupun individu-individu tersebut telah mengidentifikasi keadaan tersebut sebagai hambatan produktifitas. tetapi tidak dapat dengan mudah mengakses kredit karena sektor-sektor tersebut masuk dalam kategori yang membuat bank enggan memberikan pembiayaan. sebagaimana dalam program Pemberdayaan Ekonomi Rakyat. sambil mengidentifikasi usaha-usaha yang memiliki potensi yang bisa dikembangkan dan menghubungkan usahausaha tersebut dengan sumber-sumber kredit. DBS seharusnya berfokus pada sektor pertanian. dan juga telah menganalisis sebab-sebabnya. hingga ke tingkat yang lebih besar. yang dibantu Pemerintah Aceh/Pemerintah Indonesia. karena sektor-sektor ini berpotensi menjadi mesin pertumbuhan inklusif di Aceh maupun karena fakta bahwa sektor-sektor ini seringkali oleh bank diidentifikasi sebagai sektor-sektor yang sangat berisiko. perikanan dan pengolahan hasil pertanian. seperti dalam program Kredit Pemberdayaan Pengusaha yang telah diluncurkan. upaya meningkatkan akses terhadap kredit mungkin menjadi penting agar kaum miskin juga dapat mengambil manfaat dari pertumbuhan.

dan air serta sanitasi masih rendah. termasuk negara tetangga Malaysia dan Singapura. Para calon investor menganggap kedekatan dan logistik angkutan ke Medan sebagai sebuah aset untuk Aceh. lemahnya pemberian layanan dan kualitas produk (IFC. dan ketiadaan sumber daya alam atau tanah yang dapat digarap sebagai faktor-faktor geografis yang dapat memberikan pengaruh buruk terhadap pertumbuhan. karena hal tersebut memungkinkan kemajuan teknologi dan perkembangan industri-industri padat keterampilan. faktor geografis tampaknya tidak menimbulkan hambatan yang signifikan bagi pertumbuhan. karet. Penelitian yang dilakukan baru-baru ini tidak hanya menyoroti keuntungan yang dilihat oleh para investor dari kedekatan Aceh dengan pusat industri dan perdagangan utama seperti Medan serta Malaysia.06 Hasil Sosial yang Rendah Insentif untuk melakukan investasi boleh jadi turun karena rendahnya kualitas atau tidak tersedianya sama sekali beberapa faktor produksi yang bersifat pendukung. Modal sumber daya manusia sangat penting untuk meningkatkan produktivitas. kakao. indikator infrastruktur dasar. Kekurangan-kekurangan tersebut dapat menimbulkan kendala serius dalam upaya untuk mencapai produktivitas usaha dan dengan demikian berdampak pada insentif bagi perusahaan-perusahaan dalam melakukan investasi. di sanalah terdapat salah satu dari beberapa hutan hujan yang tersisa di Asia Tenggara. Hal ini mencakup lemahnya hubungan rantai pasokan dengan rantai domestik dan global yang lebih luas. Lokasinya dekat dengan pusat industri dan perdagangan utama di Sumatera. Iklim Aceh memungkinkan pembudidayaan beberapa jenis tanaman ekspor. dan bukanlah sebagai sebuah 37 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . 2008). Sumatera Utara. dan kopi dan bersama-sama dengan provinsi tetangganya. Dalam menganalisis kualitas dan ketersediaan faktor-faktor produksi yang bersifat komplementer. rendahnya kualitas infrastruktur atau kondisi geografis yang merugikan perkembangan usaha. khususnya dalam bidang energi. Aceh terletak di ujung bagian utara Sumatera dan berada di pusat rute perdagangan dan dikaruniai dengan sumber daya alam. Mengingat lokasi Aceh yang menguntungkan. kegagalan informasi pasar dan lemahnya daya tawar perkebunan skala kecil. Medan dan pasar-pasar regional. Di tingkat nasional. Kerangka kerja diagnosa pertumbuhan menganggap lokasi dan karakteristik geografis sebagai serangkaian faktor yang bersifat komplementer yang berdampak pada hasil sosial untuk investasi: kita dapat menganggap kondisi negara yang tidak memiliki daerah pantai. seperti kelapa sawit. Produktivitas para pekerja mungkin boleh jadi rendah karena rendahnya keterampilan. Indikator dasar pencapaian pendidikan Indonesia masih rendah dibandingkan dengan negara lain di kawasan yang sama. transportasi. akan sangat bermanfaat untuk membandingkan Aceh dengan provinsi-provinsi lain di Indonesia untuk menilai sejauh mana keberhasilan yang dicapainya atau kegagalan yang dialaminya dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain. melainkan juga menyebutkan beberapa hambatan yang menghalangi Aceh untuk memperoleh manfaat dari kedekatan tersebut.

laporan ini mengandalkan ukuran-ukuran cakupan dan kualitas infrastruktur yang lebih objektif di Aceh dan membandingkannya dengan provinsi-provinsi lain.2 8. Namun demikian. lahan yang mendapat irigasi sebagai persentase terhadap tanah tegalan (porsi). skor Aceh jauh lebih rendah dalam indikatorindikator yang berhubungan dengan sambungan telepon. sambungan telepon (porsi desa yang telah tersambung).6 52. lebih dari 35 persen menilai layanan tersebut “buruk” atau “sangat buruk”. pada saat membahas tentang manfaat dari kedekatan Aceh dengan Medan dan apakah pengelompokan kekuatan. Tabel 9 Kondisi infrastruktur di Aceh dan Indonesia tahun 200528 Kondisi Infrastruktur28 Rumah tangga yang memiliki akses terhadap listrik Desa-desa yang tidak dilengkapi listrik Sambungan telepon Lahan yang mendapat irigasi sebagai persentase terhadap tanah tegalan Sanitasi pribadi Pengelolaan limbah Sumber: Podes. dan pengelolaan limbah.5 Sektor swasta memiliki anggapan yang beragam tentang kondisi infrastruktur. Apakah kebutuhan pertumbuhan perekonomian menjadi tidak berimbang karena terjadinya konsentrasi kegiatan ekonomi masih menjadi perdebatan yang hangat (World Bank. Beberapa jenis infrastruktur masih menimbulkan hambatan bagi investasi dan pertumbuhan dengan tidak mendukung para investor baru untuk menetap di provinsi tersebut.Hasil Sosial yang Rendah hambatan. 2005.3 12. Untuk memahami jenis infrastruktur mana yang jauh lebih buruk di Aceh. a. desa-desa tanpa listrik (porsi). Aceh (%) 73.8 34. penerangan jalan. Namun demikian. merupakan suatu insentif atau disinsentif (misalnya oleh semua kegiatan bernilai tambah yang berlangsung di Medan alih-alih di Aceh) untuk melakukan investasi di Aceh. yang keduanya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keberhasilan pembangunan sektor swasta.7 6. indikator-indikator persepsi tampaknya sebanding untuk sebagian besar jenis infrastruktur.2 54. Tanpa bermaksud mengakhiri perdebatan tersebut melainkan berdasarkan bukti yang ada dan wawancara dengan para calon investor. 2009b). Ketika perusahaan-perusahaan di Aceh dimintai pandangannya tentang kondisi jalan-jalan kabupaten dan kota.7 7. yang tidak memiliki jenis tunggal atau kelompok yang dikhususkan oleh perusahaan yang telah ada sebagai hal yang lebih bermasalah.0 7. ketiadaan pasokan listrik yang dapat diandalkan dianggap sebagai kendala utama bagi gagasan-gagasan usaha yang dalam kondisi yang berbeda akan mampu bertahan hidup. Semua jenis infrastruktur tidak sama pentingnya untuk beberapa usaha dan bagian ini akan berfokus pada pemahaman tentang masalah-masalah khusus terkait jaringan jalan dan listrik.2 52. dan listrik di dekat lokasi kegiatan operasi mereka. seperti irigasi dan akses terhadap tenaga listrik. sanitasi pribadi (porsi rumah tangga yang memiliki septic tank). Perdebatan ini juga berlangsung di Aceh. sanitasi pribadi.7 Indonesia (%) 68. seperti tempat pembuangan sampah akhir) 38 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . pengelolaan limbah (porsi desa yang dilengakapi dengan sistem pengolahan limbah yang memadai. Dalam diskusi dengan Kantor Penunjang Investasi (Investors Outreach Office) di Aceh.2 3. sebagaimana ditunjukkan dalam gambar di bawah ini. Indikatorindikator infrastruktur dasar tampaknya sebanding dengan rata-rata nasional di sejumlah bidang. 28 Indikator (ukuran): Rumah tangga yang memiliki akses terhadap listrik (porsi). yang menarik kegiatan investasi dan perekonomian ke Medan. laporan ini menunjukkan bahwa lokasi geografis Aceh tidak merupakan kendala yang mengikat bagi investasi dan pertumbuhan. Infrastruktur: jalan-jalan Infrastruktur seringkali disoroti sebagai hambatan utama terhadap investasi di Aceh.

2006 Jalan yang berada dalam kondisi baik.7 0. pertokoan.409 pasar desa (dari total 2.000 orang Km / 100 km2 3.7 2.7 Sumber: Bina Marga. Beberapa dari indikator ketertinggalan dapat dijelaskan sebagai akibat dari konflik. fasilitas perekonomian. hanya 12 persen dari kerusakan ini yang telah diperbaiki.4 0. Infrastruktur mengalami kerusakan signifikan selama konflik.179 km jalan kabupaten (43 persen dari total).4 2.1 0 Kab/Kota jalan iluminasi jalan Air minum Listrik yang disuplai pemerintah daerah Telephone Jelek sekali Jelek Bagus Bagus sekali Tidak tahu Sumber: The Asia Foundation / KPPOD Kendati persepsi yang berkembang berbeda. di mana jalan-jalan nasional di sepanjang pantai timur dan barat rusak parah akibat tsunami. dan warung makanan dan hampir 1. Sebanyak 2. Tabel 10 Kondisi Jalan di Aceh. 2. irigasi. 278.7 3. fasilitas desa.9 6. Sembilan puluh enam ribu hektar sawah (31 persen dari jumlah total di Aceh) terlantar. gantung.000 ekor ternak (sapi dan kerbau) hilang selama konflik.000 hektar lahan perkebunan lainnya (49 persen) tidak dapat digunakan karena konflik dan lebih dari 200. Infrastruktur yang rusak selama konflik yang cenderung dibangun kembali relatif rendah.2 10.9 20. Hanya jaringan jalan nasional yang berada dalam kondisi yang lebih buruk.641 km jalan akses ke desa (60 persen).2 0. 39 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Dalam hal kepadatan jalan.8 Kepadatan jalan* Kepadatan jalan* Km/ 10.5 0. khususnya apabila dibandingkan dengan jangka waktu pembangungan kembali infrastruktur yang rusak akibat tsunami.368) rusak atau hancur.195 jembatan beton dan 4. air dan sanitasi. listrik. jaringan jalan kabupaten dan provinsi Aceh berada dalam kondisi yang lebih baik dibandingkan dengan rata-rata jaringan jalan di Sumatera atau Indonesia secara keseluruhan. Di sektor usaha. Pada tahun 2006. 2009). Aceh lebih baik dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Indonesia dan sangat serupa dengan Sumatera secara keseluruhan. dan 1.2 17.8 1. 1.468 jembatan jenis lain (kayu. 78 persen jaringan jalan nasional di Aceh berada dalam kondisi yang baik. * Jalan Provinsi.9 2. baja) juga rusak. Sebuah penilaian tentang kerusakan dan kerugian akibat konflik yang dilakukan baru-baru ini menunjukkan bahwa lebih dari 50 persen dari sembilan jenis infrastruktur yang rusak selama konflik adalah sebagai berikut: transportasi.2 Jalan Nasional (%) 6 42 57 52 Jalan Provinsi (%) 9.483 penggilingan padi dan pabrik pengolahan kecil lainnya rusak (47 persen dari jumlah total). infrastruktur jalan di Aceh tampaknya tidak lebih buruk dibandingkan dengan kondisi di daerah lain di Indonesia. dan tanah produktif (MSR.6 0.6 1. jembatan. sekitar 6. Data yang diperoleh dari dinas Pekerjaan Umum menunjukkan bahwa pada tahun 2006.3 0.442 km jalan akses ke dusun (61 persen) rusak.5 4.Juli 2009 Gambar 13 Bagaimana perusahaan-perusahaan menilai kondisi dari jenis-jenis infrastruktur yang berbeda 0.707 toko.5 1. Pada tahun 2000. 2006 Aceh Sumatera Utara Pulau Sumatera Nasional Jalan Kabupaten (%) 28 12. perumahan. Pekerjaan Umum. dibandingkan dengan 69 persen jaringan jalan di Sumatera secara keseluruhan dan 54 persen jaringan jalan di tingkat nasional. Hampir 1.

Hasil Sosial yang Rendah

Rekonstruksi setelah tsunami telah memberi Aceh infrastruktur yang lebih baik. Proyek-proyek infrastruktur senilai sekitar AS$1,5 miliar (dalam bidang transportasi, irigasi, dan energi) telah dialokasikan. Sejak bulan Desember 2008, sekitar 3.000 km jalan (semua jenis jalan) telah dibangun, 273 jembatan telah diperbaiki, demikian pula 12 landasan pacu dan 20 pelabuhan.29 Semua ini dilakukan terutama di daerah-daerah yang terkena dampak tsunami, dengan sejumlah kecil investasi di wilayah tengah Aceh dan daerah-daerah lain yang tidak terkena dampak tsunami: hanya sembilan persen dari nilai kerusakan dan kerugian terkait konflik yang telah dialokasikan dalam bentuk dukungann pasca konflik (MSR, 2009). Di daerah-daerah pasca konflik, masih diperlukan bantuan yang cukup besar dalam bidang perumahan, pertanian, dan pengangkutan. Di daerah-daerah di mana infrastruktur telah diperbaiki setelah tsunami, belum pasti apakah pemerintah daerah memiliki sumber daya dan kemampuan untuk memelihara aset baru tersebut. Pemerintah tetap menjadi investor utama dalam bidang infrastruktur. Walaupun beberapa industri terpaksa membangun infrastruktur mereka sendiri (minyak dan gas, industri pupuk, dan beberapa perkebunan), sebagian besar dari sektor swasta masih mengandalkan penyediaan infrastruktur oleh pemerintah. Belanja pemerintah untuk infrastruktur turun secara signifikan seiring dengan diterapkannya desentralisasi, tetapi kemudian meningkat kembali (baik secara mutlak maupun relatif ) sejak tahun 2004, sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar 14. Penelitian yang dilakukan baru-baru ini tentang belanja pemerintah di Aceh menunjukkan kenaikan belanja pemerintah untuk infrastruktur secara keseluruhan (World Bank, 2008b) serta kenaikan dalam alokasi untuk operasional dan pemeliharaan (World Bank, 2006b) sebesar sampai dengan 9 persen, masih di bawah rata-rata nasional sebesar 12 persen. Mempertahankan alokasi dana yang tinggi untuk infrastruktur dan belanja khusus untuk operasional dan pemeliharaan perlu dilakukan untuk terus meningkatkan infrastruktur jalan di Aceh. Gambar 14 Belanja pemerintah untuk infrastruktur di Aceh telah meningkat sejak tahun 2004
Investasi pemerintah untuk infrastruktur Bagian dari anggaran total (%) 3000 2500 Rp Billion 2000 1500 1000 500 0 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Bagian (kanan) Belanja Pemerintah (kiri) 60 50 40 30 20 10 0

Catatan: Harga konstan 2006. Sumber: Provinsi, Departemen Keuangan, perhitungan staf Bank Dunia.

b. Infrastruktur: listrik
Permintaan akan listrik terus meningkat dan ketiadaan pasokan listrik yang dapat tersedia seringkali diidentifikasi sebagai hambatan utama bagi pembangunan perekonomian di Aceh. Tidak berbeda dengan tren nasional, pertumbuhan permintaan listrik mencapai hampir 10 persen selama lima tahun terakhir. Sektor rumah tangga mencatat 67 persen dari permintaan, sementara permintaan dari sektor usaha dan pemerintah masing-masing sebesar 14,5 persen dan 18,5 persen. Hampir 80 persen pasokan listrik di Aceh berasal dari sistem interkoneksi Sumatera (Sumatra Interconnection System) melalui Sumatera Utara. Sistem ini telah dirancang untuk meningkatkan efisiensi dalam distribusi, tetapi hal ini sekaligus menunjukkan secara tidak langsung bahwa Aceh rentan terhadap gangguan koneksi jarak jauh, yang kadang-kadang dapat terjadi, misalnya dalam keadaan cuaca buruk. Aceh memiliki pasokan listrik yang memadai untuk memenuhi kebutuhan dalam kondisi normal, tetapi kekurangan
29 Sektor energi merupakan salah satu dari sedikit sektor yang tidak mendapakan dana yang memadai untuk melakukan pemulihan dari dampak tsunami. Dengan kebutuhan minimum diperkirakan mencapai hampir sebesar AS$120 juta, dana yang dialokasikan mencakup kurang dari 40 persen kebutuhan minimum.

40

Diagnosis Pertumbuhan Aceh

Juli 2009

cadangan listrik siaga yang diperlukan sebagai cadangan apabila jaringan pasokan terganggu (Gambar 15). Hal ini sering terjadi di Aceh: perusahaan-perusahaan di Aceh melaporkan bahwa pasokan listrik terganggu rata-rata selama 4,3 kali per minggu, sementara di wilayah lain di Indonesia, gangguan listrik ini hanya terjadi dua kali seminggu. Diskusi-diskusi yang diadakan dengan para perwakilan sektor swasta juga menggarisbawahi bahwa ketiadaan listrik yang dapat diandalkan merupakan kendala utama yang dihadapi oleh jenis-jenis kegiatan tertentu (pengolahan ikan, peternakan unggas) yang dalam keadaan sebaliknya akan mampu berkembang. Gambar 15 Aceh kekurangan cadangan listrik siaga yang diperlukan untuk menghindari gangguan pasokan
Listrik di Aceh (GwH) 2500 2000 1500 1000 500 0 2007 2008 Kapasitas 2009 2010 2011 2012 Permintaan (termasuk cadangan)

Sumber: RUPTL NAD 2008-2017, PLN, perhitungan staf Bank Dunia.

Menurut PLN, tingkat elektrifikasi di Aceh lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah-wilayah lain di Sumatera dan Indonesia (Tabel 11). Elektrifikasi di tingkat rumah tangga tidaklah selalu dapat dilihat sebagai yang sesuatu yang dapat diandalkan dan lancar. Beberapa industri, seperti minyak dan gas bumi atau semen, terpaksa harus menyediakan pasokan listrik mereka sendiri: secara bersama-sama industri tersebut memproduksi sekitar 427.000 kVA untuk kebutuhan mereka sendiri pada tahun 2007. Pada tahun tersebut, sekitar 575.000 kVA atau 3 persen dari total pasokan listrik di Aceh dihasilkan oleh sektor swasta untuk konsumsi mereka sendiri. Untuk industri-industri berskala menengah dan kecil, yang beroperasi dalam skala yang lebih kecil, menghasilkan listrik secara swadaya seringkali bukanlah suatu pilihan dan pasokan listrik dapat menjadi hambatan yang signifikan. Tabel 11 Tingkat elektrifikasi di Aceh berada di tingkat yang sama dengan wilayah-wilayah lain di Indonesia
Tingkat Elektrifikasi – Provinsi (%) Java - Bali – Madura NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kalimantan Timur Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Gorontalo Papua NTT Batam Sumatera Indonesia
Sumber: PLN.

2003 59,5 56,2 67,1 60,5 38,5 49,8 46,2 27,4 22,4 68,7 50,3 54,8

2008 67,3 69,8 78,2 72,9 47,1 65,4 53,5 34 28,7 96 62,8 63,5

2013 77,3 86,5 93,2 94,3 56,9 91,1 63 42,6 37,2 100 80,3 75,2

41

Diagnosis Pertumbuhan Aceh

Hasil Sosial yang Rendah

Pemadaman listrik yang sering dilakukan, bahkan di ibukota provinsi Banda Aceh, sebagai akibat dari kekurangan kapasitas, peralatan yang relatif tua, dan pemeliharaan yang seringkali diperlukan, kemungkinan menimbulkan hambatan yang signifikan terhadap pertumbuhan. Investasi yang cukup signifikan dalam sektor kelistrikan diperlukan untuk menjamin pasokan listrik yang lancar dan menghindari keharusan sektor swasta untuk menghasilkan listriknya sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan listrik yang terus meningkat, PLN memperkirakan bahwa diperlukan investasi sebesar sekitar AS$130 juta selama lima tahun ke depan (PLN, 2007). Sebagian besar investasi berasal dari sektor publik. Struktur pasar energi yang berlaku saat ini tampaknya tidak mendorong investasi yang signifikan dalam hal produksi energi oleh sektor swasta, mengingat kebijakan harga yang diberlakukan saat ini oleh PLN. Masih belum dipastikan apakah pemerintah provinsi mempunyai kemampuan untuk melakukan investasi yang diperlukan dalam jangka pendek. Selain meningkatkan kehandalan pasokan energi dari Sistem Interkoneksi Sumatera, Pemerintah Aceh dapat mempertimbangkan penggunaan sumber energi yang lebih terkini, yang sebelumnya telah diidentifikasi memiliki potensi untuk Aceh (CSIRO, 2008). Terdapat beberapa peluang untuk meningkatkan perkembangan energi panas bumi, bio-masa lokal, dan sinar matahari, untuk menjamin pasokan energi lokal yang handal guna mendukung pembangunan provinsi tersebut.

c. Pendidikan dan modal sumber daya manusia
Tingkat capaian pendidikan di Aceh cukup tinggi dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain dan rata-rata di Indonesia, tetapi para mantan anggota GAM kurang mendapat pendidikan dibandingkan dengan masyarakat sipil. Tingkat partisipasi di tingkat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama pada tahun 2007 lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat partisipasi secara nasional dan dibandingkan dengan provinsi tetangganya yang lebih kaya, Sumatera Utara (Tabel 12). Belum terjadi evolusi yang signifikan sejak berakhirnya konflik dan tsunami karena tingkat partisipasi pada tahun 2007 masih sama dibandingkan dengan tingkat partisipasi pada tahun 2004. Tabel 12 Capaian pendidikan
2004 Pendidikan Aceh Angka Partisipasi Bersih SD Angka Partisipasi Bersih SMP Angka Partisipasi Bersih SMA Angka Partisipasi Kotor SD Angka Partisipasi Kotor SMP Angka Partisipasi Kotor SMA
Sumber: Susenas, 2004-07.

2007 Nasional (rata-rata) 93,0 65,2 42,9 107,1 82,2 54,4 Aceh 95,7 76,4 61,8 114,3 91,1 76,8 Sumatera Utara 93,9 73,6 54,8 111,0 91,3 69,0 Nasional (rata-rata) 93,8 66,6 44,6 110,4 82,0 56,7

95,9 80,0 62,0 108,8 95,9 75,2

Sumatera Utara 93,6 73,0 56,6 106,6 89,9 70,9

Data yang diperoleh dari Survei tentang Reintegrasi dan Penghidupan di Aceh (Aceh Reintegration and Livelihood Survey/ARLS) menunjukkan bahwa rata-rata para mantan anggota GAM kurang mendapat pendidikan dibandingkan dengan masyarakat sipil. Rangkaian data dari ARLS memberikan informasi tentang individu, rumah tangga, dan desa-desa dan berfokus pada reintegrasi pasca konflik di Aceh. ARLS dilaksanakan sejak bulan Juli-September 2008 di 754 desa di Aceh. Contoh yang diambil diupayakan agar representatif untuk para pria di seluruh Aceh (dan perempuan dalam sebuah kelompok di kabupaten-kabupaten) dan memungkinkan diadakannya perbandingan antara beberapa kelompok, termasuk mantan anggota GAM versus masyarakat sipil dan para korban versus non-korban. Kajian tersebut menggunakan data ini untuk mengetahui situasi sosial ekonomi yang dihadapi oleh sebagian dari kelompok tersebut, termasuk para mantan anggota GAM dan tantangan-tantangan khusus yang

42

Diagnosis Pertumbuhan Aceh

30 Upaya rekonstruksi pada gilirannya telah memberikan kontribusi terhadap makin meningkatnya modal sumber daya manusia di provinsi tersebut. tampak bahwa para mantan anggota GAM kemungkinan besar berhenti bersekolah di tingkat sekolah dasar atau sekolah menengah pertama (Tabel 13). lebih banyak dari mereka yang melek huruf yang menunjukkan bahwa kemungkinan besar mereka telah memperoleh pendidikan dasar. infrastruktur pendidikan banyak menjadi target. Dalam hal pendidikan. 47 persen sekolah menengah pertama. Namun demikian. memperkirakan bahwa lebih dari 180.000 orang meninggalkan Aceh antara tahun 1999 dan 2002. 43 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . terdapat tanda-tanda bahwa situasi keamanan yang membaik dan peluang-peluang yang diciptakan melalui upaya rekonstruksi berhasil membawa kembali beberapa pelaku usaha dan tenaga kerja terampil ke Aceh. Sumber: MSR 2009. apabila membandingkan antara para mantan anggota GAM dan masyarakat sipil. Penilaian terhadap kerusakan dan kehilangan (MSR. Czaika dan Kis-Katos (2007). dan 74 persen taman kanak-kanak rusak selama konflik. ** Signifikan 95%. di mana pihak yang bertikai berupaya untuk menghancurkan tempat-tempat persembunyian potensial dan penghancuran yang infrastruktur pemerintah. Proyek-proyek rekonstruksi telah meningkatkan fasilitas pendidikan dan kemampuan para pejabat pemerintah. Pertimbangan tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya untuk menggariskan kebijakan yang terkait untuk mencapai pertumbuhan inklusif. di antara mereka terdapat banyak pelajar dan pelaku usaha (Misbach. Selama konflik. 2009) memperkirakan bahwa 49 persen sekolah menengah atas. lebih dari 100. Sekolah-sekolah seringkali ditutup sementara terutama pada saat kekerasan meningkat. 2007).000 penduduk Aceh meninggalkan wilayah tersebut. Setelah pemerintah mendeklarasikan darurat militer di Aceh pada bulan Mei 2003. Selama enam bulan setelah kegagalan Perjanjian Penghentian Permusuhan pada bulan Mei 2003. dan non korban (khusus pria) Semua Pria Mantan-TNA Sipil (n=1024) (n=1794) 35 40 94 70 96 91 15 40 29 17 17 29 20 34 Kelompok Pembanding Mantan-TNA terhadap sipil -6 *** 24 *** 5 *** -3 11 *** 9 *** -17 *** Usia (rata-rata) Penduduk Aceh (%) Melek Huruf (%) Pendidikan (%) Tidak memiliki pendidikan Lulus sekolah dasar Lulus sekolah menengah pertama Lulus sekolah menengah atas atau lebih tinggi *** Signifikan 99%. 2008). Sejumlah besar penduduk Aceh meninggalkan provinsi ini selama periode ini.Juli 2009 mereka hadapi. Namun demikian. korban sipil. misalnya. 880 sekolah harus ditutup (Barron. perbandingan antara mantan Tentara Nasional Aceh (TNA). yang membuktikan bahwa konflik tersebut merupakan faktor penentu dalam migrasi penduduk keluar dari provinsi tersebut. Industri-industri berbasis pertanian dan para pedagang meninggalkan provinsi tersebut dan ratusan mahasiswa Universitas Syiah Kuala melanjutkan pendidikan mereka di luar Aceh. Hanya 17 persen dari mereka yang lulus sekolah menengah atas atau memperoleh pendidikan di tingkat perguruan tinggi dibandingkan dengan 34 persen masyarakat sipil (MSR. Sejak bulan Desember 30 Wawancara dengan Kepala Kamar Dagang dan Industri dan para pemimpin perusahaan. Beberapa universitas juga diserang. Tabel reports population means and sample n’s. 54 persen sekolah dasar. Tabel 13 Karakteristik dasar. dan madrasah tradisional (sekolah Islam). 2009). * Signifikan 90%.

Hasil Sosial yang Rendah

2008, 40.000 guru telah mendapatkan pelatihan selama upaya rekonstruksi.31 Beberapa pelaku rekonstruksi telah mempekerjakan staf lokal, yang kemungkinan telah menciptakan alih pengetahuan secara signifikan.

Ketersediaan tenaga kerja terampil tampaknya bukan hambatan dan tidak terjadi kekurangan tenaga kerja terampil di provinsi Aceh. Pasar tenaga kerja tampaknya tidak mampu menyerap tenaga kerja yang telah ada dan hanya terdapat beberapa peluang lapangan kerja untuk para pekerja terampil di Aceh. Mayoritas angkatan kerja di Aceh (lebih dari 60 persen) bekerja di sektor informal. Pemberi kerja utama adalah sektor pertanian diikuti oleh sektor perdagangan dan jasa, dengan peluang lapangan kerja yang terbatas di sektor industri. Pemerintah daerah tampaknya harus menyerap bagian terbesar dari angkatan kerja terampil,32 karena terbatasnya peluang lapangan kerja di sektor formal bagi para lulusan sarjana dan lebih dari sepertiga dari semua lulusan universitas mencari peluang kerja di luar provinsi.33 Namun demikian, ketiadaan tenaga kerja terampil saat ini boleh jadi tidak menghambat pertumbuhan, karena mungkin Aceh berada dalam ekuilibrium pertumbuhan yang cukup rendah, dengan sejumlah tenaga kerja Aceh yang lebih terampil yang telah meninggalkan provinsi selama terjadinya konflik. Kita mungkin berharap hal ini akan tercermin dalam jumlah tenaga profesional yang bekerja di provinsi, misalnya dengan menunjukkan jumlah guru dan tenaga profesional di bidang kesehatan yang lebih rendah. Sebagaimana yang ditunjukkan dalam tabel 12 di bawah ini, tidak terjadi kekurangan tenaga profesional di Aceh untuk memberikan layanan kesehatan dan pendidikan. Jumlah tenaga profesional di provinsi Aceh setara dengan rata-rata nasional atau di atas rata-rata dan lebih baik dibandingkan dengan Sumatera Utara (Tabel 14). Hal ini memberikan dukungan lebih besar terhadap gagasan bahwa tenaga kerja terampil tersedia dalam jumlah yang memadai. Seiring dengan pertumbuhan provinsi, keterampilan angkatan kerjanya mungkin menimbulkan kendala lebih besar, tetapi saat ini hal itu tampaknya bukan merupakan kendala bagi investasi dan pertumbuhan. Tabel 14 Tenaga profesional dalam bidang kesehatan dan pendidikan
Guru/1000 * (2008) NAD Sumatera Utara Sumatera Total Nasional 14,84 14,04 n/a 14,98 Profesional bidang kesehatan/1000 ** (2007) 2,6 2,3 2,1 2,.0

* Termasuk para guru SD, SMP, SMA ** Termasuk para dokter umum, dokter spesialis, nutrisionis, perawat, operator peralatan medis, bidan. Sumber: Departemen Kesehatan, Departemen Pendidikan, BPS

Selain itu, para pekerja terampil mendapat penghargaan atas keterampilan mereka setara dengan yang diterima oleh para pekerja di Sumatera (tetapi di bawah rata-rata nasional), yang menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan yang memerlukan tenaga kerja terampil di Aceh tidak menghadapi kesulitan untuk mendapatkannya. Hasil pendidikan didefinisikan sebagai premi upah yang diterima oleh para karyawan dengan tingkat pendidikan tertentu dibandingkan para karyawan yang kurang terdidik. Dalam kondisi tidak terpenuhinya kebutuhan akan keterampilan di Aceh, masyarakat
31 Kemajuan Pemulihan di Aceh dan Nias, data dari Pusdatin-RAN Database-BRR di http://www.e-aceh-nias.org/home/default. aspx?language=EN, diakses pada tanggal 14 April 2009 32 Sebagian besar peluang lapangan kerja untuk para lulusan sarjana tersedia dalam sektor layanan Publik, industri perbankan, dan jasa. Sebagai gambaran, lebih dari 60.000 lulusan sarjana berkompetisi hanya untuk 6.000 jabatan baik dalam pemerintahan provinsi dan kabupaten di Aceh pada tahun 2008. 33 Wawancara dengan Ketua Alumni Universitas Syiah Kuala.

44

Diagnosis Pertumbuhan Aceh

Juli 2009

berharap agar hasil pendidikan di Aceh lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah-wilayah lain di Indonesia, yang ditunjukkan oleh premi yang dibayarkan terhadap upah di provinsi tersebut. Tabel 15 menunjukkan perbandingan antara premi-premi upah di Aceh, Sumatera Utara, dan Indonesia secara keseluruhan: penduduk yang hanya lulus SMA versus penduduk yang kurang berpendidikan, penduduk yang lulus SMA atau perguruan tinggi versus semua penduduk lain dan penduduk yang telah mengikuti pendidikan tersier versus semua penduduk lain (lihat Lampiran I untuk rincian). Tujuannya adalah untuk memperoleh harga perkiraaan (shadow price) dari keterampilan di Aceh, yang berarti seberapa tinggi perusahaan menghargai keterampilan para pekerjanya. Hasilnya menunjukkan bahwa keterampilan di Aceh mendapat penghargaan yang sama sebagaimana di Sumatera, tetapi lebih rendah dari penghargaan di tingkat nasional. Dengan mengendalikan variabel-variabel lain yang juga mempengaruhi upah, seperti usia, gender atau lokasi, seorang pekerja lulusan SMA atau lulusan pendidikan yang lebih tinggi boleh jadi berharap untuk memperoleh 39 persen lebih tinggi dibandingkan dengan para pekerja lain di Aceh. Di Sumatera, premi ini setara dengan 38 persen dan di Indonesia setara dengan 67 persen. Untuk pendidikan tersier, premi upah adalah 53 persen di Aceh, sementara di Sumatera Utara dan Indonesia mencapai sebesar masing-masing 61 persen dan 105 persen. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan pekerja dengan pendidikan tersier di Aceh lebih rendah dibandingkan dengan kebutuhan di Sumatera Utara. Tabel 15 Hasil pendidikan – perkiraan kenaikan upah Persen
SMA vs. Pendidikan lebih rendah Aceh Noth Sumatera Sumatera Indonesia 33 29 30 47 SMA dan di atas SMA vs. Pendidikan Lebih rendah (SMP dan pendidikan di Bawah SMP ) 39 39 38 67 Pendidikan tinggi vs. Pendidikan yang lebih rendah 53 61 52 105

Sumber: Perhitungan staf Bank Dunia berdasarkan Sakernas, 2008 kecuali untuk Indonesia (Bank Dunia, yang akan datang (b))

Penyediaan tenaga kerja terampil mungkin bukan hambatan utama terhadap pertumbuhan di provinsi Aceh, tetapi hal itu tidak berarti bahwa ketersediaan keterampilan bukanlah hambatan bagi penduduk Aceh untuk memperoleh manfaat dari pertumbuhan. Kebutuhan untuk mendatangka tenaga kerja dalam jumlah besar dari provinsi-provinsi tetangga untuk mengisi pekerjaan yang memerlukan keterampilan sedang yang tercipta melalui upaya rekonstruksi menandakan bahwa penduduk Aceh tidak memiliki serangkaian keterampilan yang diperlukan untuk ikut serta dalam pasar tenaga kerja. Penduduk Aceh yang tinggal di wilayah perdesaan (World Bank, 2008a) menyoroti terjadinya kekurangan keterampilan dan modal sumber daya manusia sebagai hambatan utama untuk meningkatkan produktivitas mereka dan melepaskan diri dari kemiskinan. Berbagai keterampilan diidentifikasi sebagai kebutuhan untuk meningkatkan produktivitas di wilayah perdesaan, di antaranya penerapan teknologi perikanan dan pertanian yang makin baik, pengalaman dalam menjalankan pengolahan barang primer yang sederhana, pemeliharaan peralatan pelayaran atau industri rumah tangga (jahit menjahit, menganyam tikar, dan membuat roti). Meningkatkan kesesuaian antara penawaran dan permintaan keterampilan telah diidentifikasi sebagai bidang pokok untuk memudahkan penciptaan pekerjaan di Indonesia (World Bank, yang akan datang), yang berfokus pada peningkatan kualitas pelatihan kejuruan dan penyediaan pembinaan keterampilan bagi para pekerja.

45

Diagnosis Pertumbuhan Aceh

Hasil Sosial yang Rendah

Yang muncul dari analisis ini adalah bahwa walaupun terdapat peluang untuk meningkatkan penyediaan layanan pendidikan di Aceh, alih-alih kelangkaan pasokan tenaga kerja terampil, tidak ada cukup permintaan akan tenaga kerja terampil.34 Sebagai akibatnya sejumlah besar angkatan kerja terampil harus mencari peluang di luar provinsi atau dalam pemerintahan daerah. Di masa yang akan datang, hal ini dapat berubah seiring dengan perkembangan dan modernisasi yang terjadi di provinsi. Sektor swasta mulai mengalami kelangkaan keterampilan profesional, dengan keharusan untuk meningkatkan kesesuaian antara keterampilan yang diperlukan oleh pasar tenaga kerja dengan yang disediakan oleh lembaga-lembaga setempat. Namun demikian, hal ini tampaknya tidak merupakan hambatan utama dewasa ini. Para mantan anggota GAM kurang memperoleh kesempatan pendidikan dibandingkan dengan masyarakat sipil. Untuk menjamin bahwa mereka juga memperoleh manfaat dari pertumbuhan, mereka harus dilengkapi dengan keterampilan yang diperlukan. Memberikan penghidupan kepada para mantan anggota GAM juga akan mendukung proses perdamaian dan memperkuat stabilitas di provinsi.

34 Inflasi upah yang signifikan bagi para pekerja terampil dan semi terampil selama periode rekonstruksi di Aceh serta masuknya para pekerja migran dari provinsi lain selama periode yang sama tampaknya bertentangan dengan pernyataan bahwa ketersediaan tenaga kerja terampil bukanlah sebuah masalah di Aceh. Namun demikian, upaya rekonstruksi, dengan tingkat pencairan tahunan lebih dari 20 persen dari PDB dan kematian sekitar 167.000 orang, merupakan guncangan berat bagi pasar tenaga kerja serta perekonomian. Dalam situasi normal (sebelum tsunami dan seiring dengan makin berkurangnya upaya rekonstruksi), hingga taraf tertentu, pasar tenaga kerja lokal tampaknya mampu memasok serangkaian tenaga kerja terampil yang diperlukan oleh pasar.

46

Diagnosis Pertumbuhan Aceh

tidak dapat mengambil manfaat dari investasi-investasinya karena terhalangi oleh mekanisme. Pertanyaan ini terlepas dari pertimbangan apakah faktor-faktor pelengkap yang diperlukan — prasarana. setelah meningkat tajam di Indonesia akibat melonjaknya harga sembako. walaupun mereka memperoleh penghasilan. hal ini bukanlah hambatan bagi investasi dan pertumbuhan. Kemudian akan dikaji kemungkinan terjadinya kegagalan pasar dan bagaimana hal tersebut dapat menghambat pertumbuhan. tenaga kerja terampil. ketidakpastian pengaturan. Kemudian akan ditinjau kualitas keseluruhan dari lingkungan usaha sebelum membahas isu-isu mikroekonomi khusus yang melandasi lingkungan usaha.07 Rendahnya Kemungkinan Pengembalian atas Investasi (Appropriability) Kemungkinan terdapat disinsentif investasi. dan sebagainya — tersedia bagi perusahaan-perusahaan untuk memungkinkan perusahaanperusahaan tersebut memperoleh penghasilan. lemahnya hak-hak kepemilikan harta. Walaupun terdapat kekhawatiran tentang seberapa kuat perekonomian Indonesia dapat bertahan menghadapi krisis keuangan saat ini. misalnya: tingginya tingkat korupsi. Masalah-masalah tersebut terjadi apabila perusahaan-perusahaan. mulai menurun di semester kedua tahun 2008. yang telah dibahas pada bagian sebelumnya. tingkat inflasi 47 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Mekanisme-mekanisme tersebut dapat berupa banyak hal. tingginya pajak (legal maupun ilegal). Setelah beberapa tahun Aceh mengalami tingkat inflasi yang tinggi akibat program restrukturisasi dan aliran pemasukan dana. kurangnya penegakan hukum. Akhirnya. mereka tidak akan melakukan investasi apa pun. a. Ini adalah pertanyaan penting karena apabila para pelaku ekonomi tidak dapat memperoleh penghasilan atas investasi. Bab ini akan dimulai dengan menilai kemantapan lingkungan makroekonomi di Aceh. tetapi karena mereka tidak dapat memperoleh penghasilan atas investasi mereka seperti yang diharapkan. bab ini akan ditutup dengan menjawab pertanyaan tentang apakah hambatan yang mengikat terhadap pertumbuhan terletak pada masalah rendahnya kemungkinan penghasilan atas investasi. hampir mendekati 0 persen dari PDB. Menilik kestabilan makroekonomi Indonesia. Semua faktor ini dapat menghalangi para investor untuk memperoleh bagian penghasilannya dan dengan demikian dapat menurunkan tingkat investasi. sementara perbandingan utang pemerintah terhadap PDB menurun drastis beberapa tahun terakhir. Inflasi. Situasi makro di Aceh juga tampak seimbang. terdapat kesepakatan di antara sebagian besar pengamat bahwa Indonesia relatif mampu bertahan dan hanya terdapat sedikit risiko makroekonomi yang dihadapi oleh perekonomian Indonesia. atau gagalnya pasar. Terdapat banyak permasalahan yang dapat menghalangi para investor untuk mengambil manfaat dari investasiinvestasi mereka. Defisit pemerintah pusat berhasil dipertahankan di tingkat yang sangat rendah pada tahun 2008. Risiko-risiko Makroekonomi Tinjauan makroekonomi di Aceh secara luas berkaitan dengan tinjauan makroekonomi di Indonesia. bukan karena para investor tidak dapat memperoleh laba.

pemerintah provinsi dan kabupaten di Aceh banyak bergantung pada penyaluran dana dari pusat sebagai pendapatan. mempekerjakan pegawai. membayar pajak. Walaupun pendapatan bersama dari pengusahaan sumber daya alam menurun karena berkurangnya persediaan. Karena pemerintah tingkat daerah bertanggung jawab atas pengadaan sebagian besar prasarana. hal ini kemungkinan besar menyebabkan kualitas jalan-jalan tertentu menurun serta menghambat provinsi dalam memperlengkapi dirinya dengan prasarana listrik yang lebih baik. melaksanakan kontrak. menentukan penyaluran dana tambahan dalam bentuk Dana Otonomi Khusus (Dana Otsus) sebesar 2 persen dari Dana Alokasi Umum (DAU) nasional. Tanggung jawab antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota tidak disebutkan dengan jelas. pendapatan ini. yang seringkali menyebabkan kebingungan dalam hal pemerintah yang mana yang harus membangun jenis-jenis prasarana tertentu dan pemerintah mana yang harus membayar biaya pemeliharaannya. keadaan ini mengharuskan dilakukannya kajian yang lebih mendalam lagi tentang lingkungan usaha di Aceh untuk dapat memahami hal yang spesifik untuk lingkungan tersebut. 11/2006. mendaftarkan harta milik. Akan tetapi. dan dapat menghambat pengadaan prasarana yang sangat dibutuhkan. Permasalahan ini kemungkinan besar juga merupakan permasalahan di Aceh. sehubungan dengan Dana Otsus menjamin adanya sumber pendapatan yang sesuai dan peningkatan belanja bagi pemerintah di tingkat daerah. dan menutup suatu usaha. provinsi tersebut menerima 70 persen dari pendapatan minyak dan gas yang dihasilkannya. Lingkungan usaha Lingkungan usaha di Indonesia secara keseluruhan cukup rendah: Indonesia berada di peringkat 129 dari 181 negara dalam hal kemudahan usaha di tahun 2009 (Gambar 16).35 Kinerja Indonesia cukup rendah terutama dalam enam bidang. UU Pemerintahan Aceh (UUPA). Selain itu. karena permasalahan pengaturan ini menyangkut seluruh negeri. Data ini mengamati peraturan perundang-undangan resmi tetapi tidak menilai apakan praktik-praktik ilegal seperti korupsi mempengaruhi jalannya usaha.2 persen dari jumlah pendapatan pada tahun 2008. yang meninjau ulang peraturan perundangundangan tentang 10 tahap kehidupan usaha. sementara tingkat pertumbuhan dan investasi Aceh termasuk rendah dibandingkan dengan daerah-daerah lain. b. dan di tingkat kabupaten/kota. Angka pengangguran di Aceh kini hanya sedikit di atas angka pengangguran di tingkat nasional. dan beberapa isu seperti pendaftaran harta milik mungkin lebih parah di provinsi tersebut. keterlambatan yang terjadi baru-baru ini dalam menyetujui anggaran secara tepat waktu telah menimbulkan keraguan tentang kemampuan pemerintah daerah dalam melaksanakan program-program pembangunan secara keseluruhan. 35 Data berikut ini diperoleh dari Doing Business Survey 2009 (Bank Dunia. pendapatan dari sumber sendiri hanya mencapai 7. Tinjauan fiskal di Aceh diuntungkan oleh adanya sumber-sumber pendapatan khusus provinsi. 2008c). Dana Otonomi Khusus harus mendanai agenda pembangunan provinsi karena dana tersebut akan digunakan untuk pengeluaran sosial dan prasarana dan tidak dapat membiayai administrasi umum pemerintah. Rendahnya kapasitas pemerintah di tingkat daerah menyebabkan timbulnya permasalahan dalam hal pembelanjaan sumber-sumber daya yang tersedia. Akan tetapi. yaitu UU No. yaitu: memulai suatu usaha. Seperti semua pemerintah daerah di Indonesia. 48 Diagnosis Pertumbuhan Aceh .Rendahnya Kemungkinan Pengembalian atas Investasi (Appropriability) provinsi tersebut saat ini telah berada di bawah tingkat inflasi nasional.

dan perlindungan aset yang kurang memadai. prosedur-prosedur investasi yang rumit. apabila memungkinkan. Status otonomi khusus dalam beberapa hal terkadang dikhawatirkan dapat menimbulkan ketidak jelasan peraturan investasi. Misalnya. Selanjutnya. dan para investor harus menggunakan sarana pendukung dari provinsi tersebut. yang seringkali menyebabkan kebingungan di kalangan investor dalam interaksi mereka dengan administrasi. sambil “memperhatikan kepentingan daerah dan nasional”. Selain itu. Penelitian yang dilakukan baru-baru ini (IFC. yang juga mungkin mencakup pengaturan-pengaturan yang memberatkan. 36 Rancangan UU investasi yang terbaru per tanggal 6/5/09. sumber: DPRD Aceh 37 Sebagai contoh. Selain itu. terdapat beberapa pengaturan yang dapat merugikan dalam rancangan undang-undang tersebut.37 Akan tetapi. serta hak usaha-usaha tersebut untuk menarik investasi langsung baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri.36 UU tersebut akan menjamin akses ke pasar-pasar dalam negeri maupun luar negeri bagi usaha-usaha di Aceh. dapat diperpanjang satu kali untuk 25 tahun. dapat diperpanjang satu kali untuk 30 tahun 3) Hak-hak guna diberikan untuk 45 tahun.Juli 2009 Gambar 16 Lingkungan Indonesia untuk menjalankan usaha masih relatif buruk di tahun 2009 Melakukan bisnis 2009 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 Singapura Thailand Malaysia Indonesia Filipina Lao PDR Timor-Leste Sumber: Doing Business 2009 Kerangka pengaturan yang buruk terkait dengan praktik-praktik ilegal yang membebani usaha-usaha menjadi ciri iklim investasi di Aceh. UU tersebut akan menjamin perlakuan yang sama bagi para investor dalam negeri dan luar negeri. Pemerintah Aceh akan mempertahankan hak untuk membuat dan memungut pajak daerah untuk membiayai kegiatan-kegiatan dinas di luar lingkup peraturan-peraturan keuangan standar yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. RUU tersebut menetapkan bahwa: 1) Hak sewa awalnya dapat diberikan untuk 60 tahun. dimana bisa saja terjadi perbedaan definisi dan pertentangan diantara tingkat pusat dan daerah. Penilaian ini juga memperjelas bahwa risiko politis terkait dengan kesulitan-kesulitan memulai kembali. bahan-bahan mentah dan input harus dibeli di Aceh. Pemerintah Aceh sedang merancang sebuah undang-undang investasi yang baru (“Qanun”) yang seharusnya dapat memberikan kepastian yang sangat diperlukan bagi para investor yang ada saat ini maupun para calon investor. dengan ketentuan bahwa usahanya berjalan 2) Hakhak Bangunan diberikan untuk 50 tahun. Penelitian tersebut menekankan bahwa pemerintah belum membuat suatu kerangka pengaturan yang secara khusus kondusif bagi investasi. UU tersebut akan menjamin kepastian dan keamanan untuk operasi usaha dan menyederhanakan proses perizinan usaha. pembebanan-pembebanan yang tidak sah. 49 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Qanun tersebut masih dibahas di tingkat DPRD Provinsi pada pertengahan tahun 2009. Rancangan undang-undang tersebut juga memperjelas beberapa peraturan tentang sewa guna usaha. adalah faktor-faktor penting yang menghambat investasi. beberapa ketentuan dalam UU tersebut yang bertujuan untuk melindungi perekonomian lokal dapat menghalangi investasi dan pada akhirnya merugikan bagi provinsi tersebut: para investor tidak diperbolehkan mempekerjakan staf di luar provinsi apabila staf dengan profil serupa tersedia di provinsi tersebut. dapat diperpanjang satu kali untuk 35 tahun untuk perusahaan-perusahaan PMA dan PMDN. dan kecerdasan pasar yang kurang memadai. 2008) menunjukkan beberapa kekurangan yang bersifat spesifik dalam lingkungan usaha di Aceh: risiko-risiko dan ketidakpastian terkait akses lahan. bangunan dan hak-hak pengguna.

nepotisme) dan variabel yang kedua. yang tampaknya cukup mewakili usaha-usaha di Aceh.97 3.74 Sumber: The Asia Foundation/ KPPOD dan perhitungan staf Bank Dunia. Gambar di bawah ini menunjukkan bahwa sektor-sektor yang paling terwakili adalah industri pengolahan dan perdagangan. Tujuan dari regresi-regresi ini adalah untuk mengetahui permasalahan mana yang memiliki dampak paling besar terhadap kinerja.09 1. dll Transportasi dan gudang perumahan.09 1. prasarana. di antara banyak permasalahan yang dibahas dalam survei tersebut. perburuan Bisnis yang tidak dijelaskna Publik.63 1. Kedua permasalahan yang tampaknya paling mempengaruhi kinerja perusahaan adalah perilaku pemerintah kabupaten dan biaya-biaya transaksi yang dihadapi. interaksi pemerintah kabupaten dengan para pengusaha. kemauan untuk membantu. Dua variabel yang terus-menerus memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap kinerja aktual perusahaan adalah “interaksi pemerintah kabupaten dengan para pengusaha” dan “biaya-biaya transaksi”.71 17. izin usaha. Serangkaian regresi di tingkat perusahan digunakan untuk memahami permasalahan apa. laporan ini menggunakan survei di tingkat perusahaan dari The Asia Foundation dan KPPOD yang melibatkan 1. Variabel yang pertama mencakup semua permasalahan yang berkaitan dengan perilaku pemerintah daerah terhadap sektor swasta (kemampuan dalam hal-hal yang berkaitan dengan sektor swasta. Karena di Aceh lebih dari separuh penduduknya bekerja di sektor pertanian. oleh sebab itu. Variabel-variabel tak bebas yang dicoba adalah dua ukuran kinerja perusahaan yang berbeda: angka penjualan per karyawan dan investasi per karyawan.99 6. biayabiaya transaksi. dapat membantu pemahaman tentang pentingnya temuan-temuan survei tersebut. dan rata-rata usia perusahaan-perusahaan tersebut adalah 12 tahun. Variabel-variabel bebas adalah variabel-variabel berpasangan yang menunjukkan apakah suatu perusahaan yang melaporkan masing-masing permasalahan tergolong signifikan atau sangat signifikan. sosial. yang paling mempengaruhi perusahaan-perusahaan. sebagian besar temuan kemungkinan masih relevan sepanjang sebagian besar hambatan yang mempengaruhi perusahaan-perusahaan di sampel survei tersebut kemungkinan besar juga mempengaruhi semua perusahaan di Aceh.63 1.99 3. kapasitas dan integritas bupati/walikota. keamanan dan penyelesaian konflik (lihat Lampiran II).Rendahnya Kemungkinan Pengembalian atas Investasi (Appropriability) Dalam rangka menetapkan faktor-faktor apa yang mempengaruhi kinerja usaha di tingkat mikro. Rata-rata besarnya perusahaan-perusahaan yang berpartisipasi dalam survei tersebut adalah 13 karyawan. semua jenis biaya transaksi yang sah maupun tidak sah yang dihadapi oleh usaha- 50 Diagnosis Pertumbuhan Aceh .17 4. penyewaan broker keuangan Akomodasi dan restoran Perikanan Bangunan Jasa pendidikan 0.07 6. Gambar 17 Komposisi sektoral dari sampel survei The Asia Foundation / KKPOD % 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 Perdagangan dan penjualan eceran Pemrosesan industri Jasa kesehatan dan sosial Pertambangan dan penggalian Pertanian.99 4. Dengan mengetahui beberapa ciri dasar dari perusahaan-perusahaan dalam survei tersebut. dengan asumsi bahwa para responden dapat menilai secara akurat sejauh mana permasalahan tersebut mempengaruhi mereka.104 perusahaan di semua kabupaten di Aceh.39 45. Akan tetapi. Permasalahan tersebut meliputi: akses ke lahan dan kepastian hukum. temuan-temuan dari survei tersebut perlu untuk dikualifikasi. survei tersebut hanya mewakili perusahaanperusahaan yang mempekerjakan sebagian tenaga kerja dan. perilaku pemangsa.54 0. persaingan tidak sehat.

Hukum. dan di Aceh. c. Ini membuktikan bahwa usaha-usaha mungkin dirugikan akibat perilaku pemangsa yang dilakukan oleh pemerintah daerah dan kelompok-kelompok pelaku kejahatan. Persepsi tentang upaya-upaya pemerintah daerah dalam memberantas korupsi cukup tinggi. Menariknya. Survei yang dilakukan oleh Transparency International menempatkan Banda Aceh pada peringkat ketiga sebagai kota yang paling rendah tingkat korupsinya di antara 50 kota di Indonesia. Hal ini menciptakan citra Aceh yang berbeda dengan citra korupsi yang biasanya ditampilkan. “Indeks persepsi korupsi dan indeks suap di Indonesia tahun 2008”. dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Indonesia. bea. Akan tetapi. disini diuraikan bahwa laporan tersebut tidak dapat menjelaskan tentang tingkat investasi yang rendah di provinsi tersebut. Perbedaan ini signifikan pada tingkat 5 persen. Korupsi Terdapat pemahaman yang luas bahwa korupsi terjadi meluas sehingga mempengaruhi cara sebagian besar perusahaan dan perorangan dalam menjalankan usaha mereka di Aceh. pertama dengan membahas tentang korupsi. beberapa hambatan yang seringkali disebut (seperti ketersediaan lahan. Hal ini menunjukkan bahwa usahausaha mungkin tidak perlu membayar para pejabat pemerintah untuk sebagian besar layanan yang mereka perlukan. pajak legal atau ilegal mana yang menimbulkan masalah terbesar. dibandingkan dengan usaha-usaha yang lain (lihat Lampiran III). yang mengindikasikan bahwa korupsi adalah fenomena yang merata di Indonesia. Aspek lingkungan usaha yang paling mempengaruhi investasi perusahaan adalah “biaya-biaya transaksi”.Juli 2009 usaha (pajak-pajak legal dan ilegal. dalam hal investasi sebagai persentase penjualan. Bidang di mana Aceh mendapat skor paling buruk adalah pemberian kontrak pemerintah. tetapi data survei menunjukkan bahwa korupsi bukan masalah besar di Aceh dibandingkan dengan di wilayah lain Indonesia. yang dipahami sebagai pajak-pajak sah dan tidak sah yang dibayarkan kepada entitas resmi maupun tidak resmi. survei tersebut tidak menyebutkan jenis biaya transaksi. Peraturan yang Mempengaruhi / Mempercepat Proses Birokrasi 51 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . yang membenarkan tanggapantanggapan para pelaku dari sektor swasta yang diwawancarai untuk laporan ini. jauh berbeda dibandingkan usaha-usaha lainnya. Berdasarkan hal tersebut. Indeks ini mencakup ukuran persepsi Suap dalam hal-hal berikut ini: Mengajukan Izin Usaha / Prosedur Utilitas Umum / Pembayaran Pajak Tahunan / Pemberian Kontrak Pemerintah / Memperoleh Putusan Pengadilan yang Menguntungkan / Kebijakan. isu yang seringkali mengemuka terkait dengan lingkungan usaha di Aceh. yang melakukan investasi sebesar 21 persen dari nilai penjualan mereka. Bagian berikutnya menyelidiki lebih lanjut tentang permasalahan pajak dan biaya-biaya ilegal. menurut indeks persepsi korupsi38 yang ditetapkan dengan melakukan survei terhadap para pengusaha (Tabel 16). Nilai yang cukup tinggi untuk Banda Aceh dalam hal korupsi ini bukan berarti bahwa korupsi bukanlah masalah. Yang cukup membesarkan semangat adalah fakta bahwa Aceh mengalami peningkatan skor yang signifikan sejak survei terakhir yang dilakukan pada tahun 2006. walaupun laporan ini tidak berpendapat bahwa tidak ada masalah korupsi di Aceh. Hal ini menunjukkan bahwa pajak legal dan ilegal merupakan hambatan yang signifikan bagi usaha-usaha. uang “keamanan”). Analisis survei tersebut kemudian meninjau apakah usaha-usaha yang melaporkan bahwa setiap permasalahan ini signifikan sebenarnya tidak banyak melakukan investasi. prasarana) tidak signifikan selama pelaksanaan. Indonesia menduduki peringkat 126 dari 180 negara dalam hal korupsi (peringkat 1 adalah negara yang paling rendah tingkat korupsinya) dalam suatu survei yang diadakan oleh Transparency International pada tahun 2008. pajak ilegal mungkin merupakan inti permasalahan. 38 Transparency International. Ternyata hanya dalam hal “biaya-biaya transaksi” terletak perbedaan yang paling signifikan antara perusahaan-perusahaan yang terkena dampak dengan yang tidak: badan-badan usaha yang melaporkan bahwa biaya-biaya tersebut merupakan beban melakukan investasi rata-rata sebesar 6 persen dari nilai penjualan mereka pada tahun 2007.

yaitu “jatah pimpro”. menaikkan biaya dan menghalangi perusahaanperusahaan dalam memasuki pasar. Hal ini dapat mempengaruhi investasi melalui prasarana yang kurang memadani. seperti konstruksi. mulai beroperasi pasca tsunami dan berharap dapat memperoleh manfaat dari upaya rekonstruksi. seperti pengawasan proses tender kontrak.43 6. 50 berarti tingkat korupsi paling tinggi. Para pimpinan usaha membenarkan bahwa praktik-praktik ini banyak dilakukan di Aceh dan masyarakat usaha setempat mengetahuinya. penebangan hutan atau penambangan ilegal (Aspinall. Jumlah bea ini biasanya mewakili 5-10 persen dari nilai proyek.32 2. di mana para penawar berpura-pura bersaing tetapi sebenarnya mereka berkolusi dalam menyusun proposal. Banyak kontraktor lokal. dengan keahlian dan modal yang terbatas. Bukti berdasarkan pengalaman menunjukkan bahwa para mantan pejuang GAM memainkan peran yang semakin penting di sektor-sektor dengan kemungkinan yang besar untuk memungut iuran. Sebagian besar proyek kecil terindikasi diberikan pada kontraktor-kontraktor lokal yang terhubung dengan GAM. Mungkin terdapat bentuk-bentuk korupsi lainnya yang berkaitan dengan proses tender umum di provinsi tersebut. potensi investasi dan semua pengalihan teknologi yang terkait seringkali gagal terwujud di daerah tersebut. Perusahaan-perusahan lokal tidak terdorong untuk meningkatkan produktivitas mereka karena diberi jaminan sekumpulan kontrak-kontrak kecil. Korupsi di Aceh mempengaruhi efektivitas belanja pemerintah.87 4. Januari 2009. Hal ini juga dapat menyebabkan kelemahan-kelemahan dalam lingkungan pengaturan.1 5. kepada para pejabat pemerintah. di mana bukti-bukti berdasarkan pengalaman menunjukkan bahwa secara sistematis usaha-usaha harus membayar suap apabila mereka melakukan penawaran untuk kontrak-kontrak pemerintah. Sedangkan kontrak-kontrak besar sebagian besarnya dimenangkan oleh perusahaan-perusahan lebih besar yang bukan berasal dari Aceh. Terdapat indikasi bahwa sebagain besar proyek pemerintah menggunakan hubungan patronage ini bahkan intimidasi terhadap panitia tender.97 Sumber: Transparency International. Banda Aceh. indeks persepsi korupsi Indonesia tahun 2008. Sistem perlindungan pada gilirannya akan memperbesar penghalang masuknya usaha-usaha yang tidak dijalankan oleh orang-orang dengan koneksi politik yang tepat. tetapi terbatas hanya dalam proyek-proyek kecil dikarenakan kapasitas mereka yang terbatas.Rendahnya Kemungkinan Pengembalian atas Investasi (Appropriability) Tabel 16 Indeks persepsi korupsi Peringkat 1 2 3 30 50 Kota (n=jumlah responden dari kalangan pengusaha) Yogyakarta (n=44) Palangkaraya (n=31) Banda Aceh (n=30) Ambon (n=31) Kupang (n=44) CPI 6. 2009a). Kemungkinan masalah lainnya dalam proses tender adalah “intat linto”. Membiarkan pihak illegal (tidak resmi) memungut iuran dari kegiatan-kegiatan ekonomi melalui korupsi dapat menjadi cara memberikan imbalan terhadap para pihak yang dapat menggangu perdamaian dengan memastikan 39 Wawancara dengan para pengusaha dan para pimpinan asosiasi usaha. Proses tender untuk pengadaan barang dan jasa umum seharusnya tidak digunakan sebagai “imbalan” terhadap para pihak yang dapat mengganggu perdamaian. Akibat dari segmentasi ini adalah kurangnya persaingan. Mekanisme sektor konstruksi merupakan contoh dari kekurangan sistem perlindungan (patronage) dan inefisiensi yang dapat ditimbulkannya. Akibatnya. Catatan: 1 berarti tingkat korupsi paling rendah. 52 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Seringkali perusahaan-perusahaan yang menjadi pemenang tender untuk suatu proyek pemerintah di Aceh harus membayar “bea”.39 Hubungan patronage antara pemerintah dan GAM sejak dimulainya konflik atas alasan keamanan diri terus berjalan. Korupsi dalam proses tender dapat mempengaruhi efektivitas belanja pemerintah.

tambahan-tambahan biaya untuk minyak kelapa sawit yang diproduksi di provinsi tersebut). 2008). 2008). Pertumbuhan dengan basis yang lebih luas dan lebih inklusif kemungkinan menguntungkan masyarakat secara keseluruhan. dengan adanya ketidakpastian tentang biaya-biaya tersebut. Akibatnya. Terjadi asimilasi secara luas dalam proses perdamaian di antara para mantan pimpinan GAM karena banyak di antara mereka diangkat menduduki jabatan pemerintah atau menjalankan usaha yang menguntungkan. d. Pajak-pajak dan retribusi lokal tampaknya ditargetkan pada sektor-sektor yang berkembang (mis. yang menjamin dukungan jangka panjang mereka terhadap proses perdamaian dengan cara yang lebih efektif. pajak-pajak dan retribusi lokal tidak terlalu memberatkan di Aceh juga tercermin dari pandangan-pandangan para calon investor (IFC. 40 Bank Dunia. kadangkala mereka menggunakan cara-cara kekerasan untuk mencari nafkah. tampaknya pajak dan bea lokal tersebut merupakan bagian biaya yang relatif rendah (kurang dari 2 persen) dan lebih dari 80 persen perusahaan menganggap pajakpajak dan retribusi tidak terlalu memberatkan.40 Peristiwa-peristiwa tersebut mengacam keamanan perorangan dan usaha. Dalam jangka waktu dua tahun mulai bulan Oktober 2006 hingga September 2008. Transportasi dipengaruhi terutama oleh retribusi lokal untuk penggunaan jalan. Walaupun terdapat proliferasi pajak dan bea lokal ini. Akan tetapi. Akan tetapi. Secara keseluruhan. 2008). telah terdapat tren yang jelas dalam peningkatan pajak dan bea lokal. data Tim Konflik dan Pembangunan. transportasi) telah menjadi semakin bermasalah. menjadi lebih bermasalah dan kemungkinan besar merupakan hambatan yang mengikat terhadap pertumbuhan. setelah adanya desentralisasi di awal dekade. laporan ini berpendapat bahwa pajak-pajak ilegal atau biayabiaya keamanan tambahan yang harus ditanggung oleh perusahaan-perusahaan di Aceh. teh.Juli 2009 bahwa mereka memiliki kepentingan dalam stabilitas provinsi tersebut. secara keseluruhan. dan menyebabkan penurunan ekuilibrium angka pertumbuhan. tampaknya pajak-pajak dan retribusi lokal tersebut bukan merupakan hambatan pertumbuhan. walaupun menjadi hambatan pertumbuhan di sejumlah sektor tertentu. yang mana para investor cukup terdorong oleh reformasi di tingkat nasional. banyak di antara para pengikutnya yang tidak dapat melakukan dan mungkin merasa bahwa mereka tidak menerima keuntungan dari suksesnya perdamaian (Apsinall. Sehubungan dengan pajak legal dan retribusi lokal. yang dapat menurunkan insentif untuk berinvestasi di sektor-sektor tersebut. dalam jangka panjang kemungkinan besar hal ini tidak dapat bertahan. Tampaknya kecil kemungkinan bahwa di Aceh akan kembali terjadi konflik bersenjata. pelintasan batas atau stasiun-stasiun penimbangan (KPPOD dan The Asia Foundation. tergolong relatif rendah dan kecil kemungkinannya hal tersebut menghambat pertumbuhan dan investasi di provinsi secara keseluruhan. Fakta bahwa. Bagian berikut ini memberi bukti lebih lanjut tentang batas-batas suatu strategi yang menggunakan kontrak-kontrak pemerintah dalam mempertahankan perdamaian dan stabilitas. dengan adanya sektiar 6. Pemungutan iuran oleh sekelompok kecil orang dapat menghalangi investasi dan kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh para pelaku ekonomi lainnya. mereka juga menyuarakan kekhawatiran bahwa Status Otonomi Khusus Aceh dapat digunakan untuk mengenakan pajak-pajak dan retribusi tambahan (mis. kopi. tetapi peristiwa-peristiwa kekerasan masih lazim terjadi dan dunia usaha masih menganggap bahwa provinsi ini tidak aman.000 pajak dan bea lokal baru yang dikenakan oleh pemerintah daerah dalam lima tahun pertama desentralisasi (Lewis dan Suharnoko. hasil-hasil hutan). Dengan demikian. MSR. 2009). tercatat 588 peristiwa kekerasan yang telah terjadi. termasuk para pihak yang mungkin menjadi pengganggu. yang dapat menjadi penghalang masuknya investasi swasta. 2009b. Biaya-biaya Transaksi: Pajak dan Iuran Keamanan Pajak-pajak dan retribusi lokal. tetapi berkemungkinan kecil untuk meningkat menjadi terulangnya konflik. 53 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Akan tetapi walaupun hal ini mungkin benar dalam jangka pendek. walaupun dalam beberapa keadaan tertentu (mis.

Mungkin tampaknya mengejutkan bahwa keadaan ekonomi para mantan pejuang tidak lebih baik. mengingat luasnya keyakinan tentang jaringan hubungan yang erat di antara para mantan pejuang GAM dan nepotisme yang terjadi di provinsi tersebut. Source: MSR 2009. yang sangat diandalkan oleh para mantan pejuang GAM adalah pekerjaan-pekerjaan dengan upah yang rendah. Tabel tersebut melaporkan rata-rata populasi dan sampel n populasi. Akibatnya. Termasuk jenis penghidupan yang dilaporkan sebagai kegiatan utama oleh sedikitnya tiga persen dari populasi. seperti pertanian. Tabel 18 menunjukkan bahwa di antara para mantan pejuang GAM. Pekerjaan-pekerjaan pertanian ini. Akan tetapi. dan memiliki kemungkinan lebih kecil untuk memperoleh pendapatan dari pekerjaan-pekerjaan seperti pegawai negeri. dengan demikian memberikan kontribusi untuk stabilitas provinsi tersebut. Hal ini kemungkinan besar mengindikasikan bahwa para pejabat GAM memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapat manfaat dari koneksi mereka dengan GAM dan menjadi sukses. Tabel 17 Jenis penghidupan (khusus pria) Semua Pria TNA Jenis Penghidupan (%): Petani padi di sawah Buruh non-tani harian Pedagang Buruh tani harian Pegawai negeri Tenaga kerja terampil lainnya Petani kopi Karyawan sektor swasta Guru Tenaga kerja tidak terampil lainnya Petani sayuran/rempah-rempah (n=1024) 22 19 9 10 1 3 2 3 0 4 5 Penduduk Sipil (n=1794) 17 18 13 6 4 4 4 4 2 3 3 Kelompok-kelompok Pembanding Mantan Korban Non-korban TNA Korban terhadap terhadap (n=764) (n=1030) penduduk non-korban sipil 18 16 6 *** 2 20 17 1 3 11 14 -4 ** -3 7 5 4 *** 2 3 5 -4 *** -1 4 4 -1 * 0 4 5 -2 -1 3 4 -1 -1 2 3 -2 *** -1 2 5 1 -3 *** 4 3 1 1 Penduduk Sipil *** Signifikan pada 99%.Rendahnya Kemungkinan Pengembalian atas Investasi (Appropriability) Sebahagian besar para mantan pejuang GAM hidup dalam sektor-sektor ekonomi yang tertinggal. upaya-upaya yang menguntungkan pembangunan pertanian tidak hanya akan membantu masyarakat Aceh yang paling miskin. ** Signifikan pada 95%. 54 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Survei Reintegrasi dan Penghidupan Aceh (Aceh Reintegration and Livelihoods Survey atau ARLS) menunjukkan bahwa para mantan pejuang Tentara Negara Aceh (TNA) memiliki kemungkinan lebih besar dibandingkan para penduduk sipil untuk memperoleh pendapatan dari menanam padi atau menjadi buruh tani upahan. misalnya dengan memperoleh kontrak-kontrak konstruksi melalui jaringan ini. tetapi juga menjangkau banyak mantan pejuang GAM. guru atau pedagang (Tabel 17). sementara sebagian besar mantan pejuang GAM yang bukan pejabat harus membanting tulang untuk mencari nafkah. * Signifikan pada 90%. para pejabat mempertahankan hubungan yang lebih erat dengan para mantan pejuang GAM dibandingkan dengan mereka yang bukan pejabat.

2007. Pajak-pajak ilegal dikenakan oleh GAM dan angkatan bersenjata selama konflik (Olken dan Barron. 2006). Non-Pejabat Korban Mantan TNA vs. Hal itu tidak menciptakan hubungan sebab-akibat di antara keduanya dan mungkin terdapat faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi kedua parameter tersebut. 2009). dan beberapa mantan pejuang masih melakukan kegiatan semacam ini. sehingga memungkinkan penarikan iuran yang cukup besar (McCulloch. melakukan ancaman dan kadangkala tindak kekerasan untuk menarik pajak dari orang dan usaha serta menggunakan tekanan untuk memperoleh kontrakkontrak pemerintah. dengan menggunakan survei TAF/KPPOD. Sumber: MSR 2009 Praktik pemungutan pajak-pajak ‘ilegal’ berkembang selama konflik dan terus berlanjut hingga hari ini. GAM membentuk suatu pemerintahan berstruktur paralel yang dikembangkan sangat baik dan sangat teratur. Usaha-usaha legal dan ilegal juga berkembang selama konflik. kendali atas akses ke lahan dan penyelesaian konflik setempat (MSR. Wanita Mantan TNA Pejabat vs. cukup intuitif bahwa gejolak-gejolak kekerasan dapat membawa dampak negatif terhadap kinerja usaha dan keputusan-keputusan investasi. Sistem-sistem tersebut berlanjut sampai periode pasca konflik. Meskipun demikian. berarti bahwa kabupaten-kabupaten yang mengalami kekerasan lebih banyak cenderung memiliki lebih sedikit jumlah perusahaan yang kinerjanya baik dan hubungan ini signifikan pada tingkat 10 persen (lihat Lampiran IV untuk hasil-hasil regresi). 2004.Juli 2009 Tabel 18 Perbandingan kawan dan mitra usaha di kalangan mantan pejuang GAM (%) Pria (n=1. Gambar tersebut menunjukkan hubungan yang melandai turun.045) Tahanan (n=97) Korban Konflik (n=800) Non-Korban Konflik (n=280) Perbedaan Pria vs. 55 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . 2001). Peristiwa-peristiwa kekerasan yang paling parah sejak MoU cenderung terjadi di kabupatenkabupaten di mana perusahaan-perusahaan memiliki kinerja yang rendah Gambar 18 menunjukkan jumlah peristiwa-peristiwa kekerasan yang terjadi di kabupaten (sumbu X) terhadap porsi usaha di kabupaten tersebut yang telah mengalami kenaikan penjualan per karyawan pada tahun 200607 (sumbu Y). Tabel melaporkan rata-rata populasi dan perbedaan dalam rata-rata tersebut. Schultz. Non Korban Konflik 61 57 62 61 64 69 38 4 1 30*** Anggota KPA 57 35 76 56 40 57 56 22* 20* 1 Mantan TNA 61 47 83 60 54 61 61 14 22** -1 IDP 1 2 7 1 1 1 2 -1 6 -1 Returnee 10 18 10 10 12 13 3 -7 0 10*** *** Signifikan pada 99% ** Signifikan pada 95% * Signifikan pada 90%. Selama tahun-tahun konflik.024) Wanita (n=51) Pejabat (n=30) Non-Pejabat (n=1. ICG.

Hasil dari keadaan yang kurang sempurna ini mengakibatkan meningkatnya kekerasan dan berlanjutnya penegasan kekuasaan dari kelompok-kelompok di luar proses politik formal.8 0. 56 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . seringkali merupakan cara untuk memungut iuran ilegal. Para mantan pejuang GAM dan kelompok-kelompok kejahatan lainnya kadangkala menggunakan kekerasan untuk mencari nafkah.Rendahnya Kemungkinan Pengembalian atas Investasi (Appropriability) Gambar 18 Kinerja perusahaan dan peristiwa-peristiwa kekerasan.6 0.1 0 0 10 20 30 Jumlah insiden kekerasan. Usaha-usaha di Aceh melaporkan bahwa mereka harus membayar para mantan pejuang GAM ketika mereka menjalankan usaha di provinsi tersebut. 2009). 41 KPPOD dan The Asia Foundation (2008).5 0. Januari 2009. dan (kemungkinan) berkembangnya konflik. para mantan pejuang GAM memungut bea melalui pengendalian “akses ke lapangan”. Kekerasan. Akibatnya. Mereka sering menggunakan paksaan untuk memungut secara paksa iuran dari usaha-usaha. dibandingkan dengan 4 persen di provinsi-provinsi lainnya.7 0. Diagnosa ini mengidentifikasi adanya kekerasan yang terus-menerus terjadi dan tingginya tingkat ‘pajak’ tidak resmi yang ilegal sebagai faktor-faktor penghambat utama bagi investasi dan pertumbuhan. bahkan di ibukota provinsi. Seringkali tidak begitu jelas kepada organisasi atau pihak mana iuran ilegal tersebut harus dibayarkan. Bank Dunia Pemerasan dan masalah keamanan menyebabkan tambahan-tambahan biaya dan ketidakpastian usaha di Aceh yang menghambat investasi dan pertumbuhan.9 Bagian dari perusahaan yang telah meningkatkan penjualan mereka per pekerja tahun 2006-07 0. yang menciptakan rasa tidak aman dan ketidakpastian di provinsi tersebut (ICG. 23. Usaha-usaha yang ingin menetap harus membayar iuran rutin kepada GAM atau kelompok ilegal (preman) lainnya agar diizinkan beroperasi. Banda Aceh. Kedua faktor tersebut berkaitan erat. kadangkala walaupun iuran tersebut telah dibayarkan. Kedua permasalahan tersebut berkaitan karena kelompok ilegal (preman) yang biasanya menggunakan ancaman kekerasan untuk memaksa perusahaan membayar biaya “keamanan”.2 0.41 Sementara itu.4 persen usaha-usaha melaporkan bahwa mereka membayar uang lebih untuk iuran keamanan tambahan. perusahaan-perusahaan masih diancam karena mereka tidak membayar iuran kepada orang-orang yang tepat. 2005-06 40 50 Sumber : Survei TAF/KPPOD.4 0. 42 Wawancara dengan para pengusaha dan para pimpinan asosiasi usaha. per kabupaten 0.3 persen dari usaha-usaha melaporkan bahwa masalah keamanan dan penyelesaian konflik merupakan faktor penghambat di Aceh. Mendorong investasi mengharuskan diputuskannya lingkaran setan (yang terkadang diwarnai dengan kekerasan) intimidasi. pajak ilegal. Pemerasan ilegal dan masalah keamanan dianggap sebagai faktor penghambat yang signifikan oleh usaha-usaha: 9. Pada akhirnya hal ini akan menyebabkan meningkatnya persepsi di antara para calon investor bahwa terdapat potensi berkembangnya konflik. yaitu Banda Aceh. yang memungkinkan perbandingan lintas provinsi.3 0. The Asia Foundation dan KPPOD telah melaksanakan survei serupa di semua provinsi di Indonesia. untuk mengatasi kedua permasalahan tersebut kembali diperlukan kekuatan dan ketegasan negara dalam menetapkan pajak dan penggunaan kekuasaan.42 Di daerah-daerah pedesaan. Dengan demikian. Situasi semacam itu mempersulit usaha-usaha untuk dapat beroperasi di Aceh karena menambah ketidakpastian pada informalitas dan rasa tidak aman. atau ancaman kekerasan. yang mereka peroleh setelah kesepakatan perdamaian.

Dalam banyak konteks pasca konflik. Dengan demikian. Telah lama diakui bahwa para mantan pejuang GAM seringkali menghadapi tantangantantangan tertentu dalam beradaptasi dengan kehidupan sebagai masyarakat sipil. termasuk kurangnya kemampuan dan. sehingga mereka yang ditahan. Apabila para pelaku tindak kejahatan. apabila terbukti bersalah. Hal ini dianggap dapat membangun legitimasi kepolisian di mata warga biasa di Aceh. Tujuan tersebut juga mungkin memerlukan digalangnya ‘tuntutan’ para warga untuk sistem yang lebih efektif dan tidak memihak. Di Aceh. dan memberikan kepada mereka peralatan fisik agar dapat melaksanakan pekerjaannya dengan baik. bantuan reintegrasi yang ditargetkan disediakan untuk tujuan ini. kadangkala. tujuan tersebut juga memerlukan peningkatan sumber-sumber daya yang dimiliki oleh kepolisian: dengan mempekerjakan para petugas kepolisian yang lebih banyak dan lebih baik. mengatasi akar permasalahan dari kejahatan-kejahatan tersebut juga akan meningkatkan situasi keamanan di Aceh. Sistem peradilan di Aceh juga perlu diperkuat. banyak dukungan yang diterima oleh kepolisian di Aceh yang lebih berkaitan dengan permasalahan yang lebih “lunak”. Intervensi tidak langsung yang menangani ‘penyebab-penyebab’ mendasar dari kejahatan dan kekerasan juga diperlukan. Tujuan tersebut juga memerlukan tekad yang kuat—dari para petugas polisi senior di Aceh dan Jakarta. Meski tidak mudah untuk melakukan hal ini. Selain berurusan langsung dengan tindak-tindak kejahatan. cara itu juga pernah 57 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . perlu untuk mengembangkan program-program dan strategi-strategi untuk membantu para mantan pejuang GAM dalam memperoleh pekerjaan. Membangun suatu sistem peradilan yang kuat dan profesional memerlukan peningkatan kapasitas. Sampai saat ini. Terdapat kelemahan-kelemahan yang signifikan dalam sistem peradilan formal di Aceh. pihak kepolisian memiliki kapasitas yang terbatas untuk mengadakan penyelidikan yang efektif terhadap tindak kejahatan. sampai pada tahap tertentu merupakan masalah nasional yang tidak dapat diselesaikan di Aceh saja tetapi para otoritas lokal dapat mendukung sistem peradilan di provinsi. Para mantan pejuang diberi uang tunai dan bentuk-bentuk dukungan lainnya seperti pembinaan dan pelatihan. sumber-sumber daya tambahan dan kemauan politik (political will). seperti peningkatan pengetahuan tentang hak-hak asasi manusia dan metode-metode penentuan kebijakan di tingkat masyarakat. Akan tetapi. dan memperkecil hambatan-hambatan yang ditimbulkannya dalam memerangi pemerasan dan tindakan-tindakan ilegal. penting untuk memperkuat rule of law. para pembuat undang-undang dan pemangku kebijakan memiliki beberapa alat yang potensial dengan pendekatan langsung dan tidak langsung. termasuk kekerasan dan pemerasan ditangkap dan dijatuhi hukuman. akan tetapi legitimasi kepolisian lebih mungkin ditingkatkan apabila mereka dapat menangkap para pelaku kejahatan dan tindak-tindak kekerasan. praktik ‘keadilan orang kaya’ di mana uang dapat menentukan putusan pengadilan. Menangkap mereka yang terlibat dalam pemerasan dan kekerasan tidaklah cukup. Pertama. dengan demikian meningkatkan hubungan dan kepercayaan antara negara dan masyarakat. Strategi-strategi yang komprehensif untuk mendukung pertumbuhan dan pembangunan perekonomian di daerah-daerah terdampak konflik dapat lebih bermanfaat daripada programprogram yang hanya menargetkan para mantan pejuang GAM. Saat ini di Aceh. Pengangguran. Meningkatkan kemampuan penyelidikan memerlukan pelatihan dan metode-metode peningkatan kemampuan lainnya. atau jenis pekerjaan tidak memuaskan ambisi-ambisi sebelumnya dari para mantan pejuang GAM tersebut dapat memicu para mantan pejuang GAM untuk menggunakan cara-cara kekerasan dan kejahatan (Collier 1994). Hal ini penting. dijatuhi hukuman. dan para politisi senior di Aceh—untuk dapat mencapai hasilhasil yang baik. Hal ini dilakukan dengan meningkatkan kinerja kepolisian. termasuk dalam mencari pekerjaan (Tajima 2009).Juli 2009 Peningkatan kapasitas kepolisian dalam penyelidikan dan penyelesaian kasus-kasus tindak kejahatan sangat diperlukan untuk memperkuat supremasi hukum (rule of law). Sistem peradilan yang kuat dan profesional adalah elemen kunci lainnya untuk memperkuat rule of law di provinsi tersebut. perhitunganperhitungan biaya-manfaat dari mereka yang turut serta dalam tindakan-tindakan tersebut dapat berubah. Hal ini.

yaitu: sektor pertanian dan usaha pertanian. yang bertujuan membangun perekonomian di daerah-daerah yang terkena dampak konflik mungkin memiliki lebih banyak kegunaan. mereka kemungkinan besar akan mendapatkan manfaat. Terdapat kebencian yang semakin meningkat dari banyak pihak di Aceh yang telah melihat berkurangnya manfaat-manfaat perdamaian akibat praktik-praktik masa perang yang masih terus dilakukan.Rendahnya Kemungkinan Pengembalian atas Investasi (Appropriability) dicoba (Barron dan Burke. apabila proyek-proyek ditargetkan pada daerah-daerah yang mengalami dampak konflik terbesar. Terdapat risiko nyata bahwa untuk jangka menengah. 2008). Pemberian bantuan dengan sasaran perorangan kepada para mantan pejuang GAM juga menimbulkan kecemburuan dan ketegangan. terutama manufaktur padat karya. 2009). kegiatan-kegiatan perluasan pertanian untuk meningkatkan produktivitas. Para mantan pejuang yang telah menerima bantuan reintegrasi tidak lagi atau berkemungkinan kecil untuk memiliki pekerjaan saat ini dibandingkan dengan mereka yang tidak menerima bantuan tersebut. Akan tetapi hal itu sulit dipertahankan kelangsungannya. Pekerjaan analitis dan pemantauan yang menunjukkan seberapa besar pengaruh negatif pemerasan dan kekerasan terhadap perekonomian Aceh. dan pemberian layanan-layanan dukungan usaha (MSR. Para mantan pejuang GAM dan kelompokkelompok ‘berisiko’ lainnya dapat disertakan dalam skema-skema tersebut dan. dan telah menciptakan suatu “mentalitas merasa berhak” yang dalam beberapa kasus telah menghalangi upaya reintegrasi sosial dan ekonomi yang lebih mendalam (Barron. reformasi-reformasi mungkin merugikan secara politis dan perlu dibangun konstituen-konstituen untuk menuntut adanya perubahan. beberapa proyek pekerjaan umum yang membuka lapangan kerja. dampak-dampaknya terbatas. 2009). dengan menyoroti kebutuhan untuk menghindari pengucilan kelompok-kelompok tertentu. Membangun konstituen yang mendukung reformasi-reformasi tersebut harus menjadi bagian dari suatu strategi untuk memerangi pemerasan dan pajak-pajak ilegal. Skema ini dapat memberikan asuransi terhadap tindakan-tindakan ilegal dan retribusi yang tidak sah. Hal ini meliputi penggunaan proyek-proyek pembangunan yang digerakkan oleh masyarakat untuk menyediakan barang-barang swasta dan publik. terdapat kebutuhan akan adanya tindakan penyeimbang yang hati-hati dan berfokus pada pembatasan peluang pemungutan iuran besar-besaran sementara membuka jalur-jalur legal lainnya bagi para mantan pimpinan dan elit pejuang GAM agar dapat hidup sejahtera. Persepsi tentang risiko-risiko yang lebih tinggi dalam berinvestasi di Aceh dapat diatasi melalui suatu skema untuk memberikan jaminan bagi investasi. pertumbuhan yang tidak merata dan kurang — terus terjadi pada masa pasca konflik (Barron dan Clark. Selain itu. Adalah hal yang masuk akal untuk memfokuskan upaya-upaya dalam memerangi pemerasan dan penarikan pajak-pajak ilegal pada bidang di mana terdapat potensi terbesar untuk meningkatkan pertumbuhan yang inklusif dan terciptanya konstituen pro-reformasi yang diperlukan. walaupun faktanya mereka yang menerima bantuan mungkin memiliki tingkat aset yang lebih tinggi di pada saat perang berakhir (MSR. 2009). Hal ini akan berarti bahwa usahausaha dan pemerintah-pemerintah daerah sama-sama menanggung risiko terkait dengan permasalahan 58 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . masyarakat dagang dan transportasi serta manufaktur. Dukungan terhadap reformasi untuk meningkatkan rule of law dan mengurangi pemerasan dan pajak-pajak ilegal harus bersifat luas. Menilik pertentangan yang mungkin timbul dari perorangan dan kelompok yang saat ini diuntungkan dari kegiatan-kegiatan ilegal. dan manfaat-manfaat yang dapat diberikan melalui pengurangan hal-hal tersebut sangat penting bagi tercapainya tujuan ini. Menilik hambatan-hambatan kapasitas yang disoroti dalam paragraf di atas. hal ini dapat menimbulkan pergolakan baru apabila faktor-faktor yang memicu terjadinya konflik — seperti penyelenggaraan jasa yang buruk. Pendekatan-pendekatan yang ditargetkan secara geografis. Akan tetapi. dan pemerintah provinsi dapat memfasilitasi ketersediaan asuransi investasi tersebut di provinsi Aceh. perlu juga untuk mencari cara-cara guna memenuhi ‘kebutuhan-kebutuhan’ mereka yang berada di tingkat yang lebih tinggi yang saat ini memperoleh keuntungan dari tindakan pemerasan dan pemberian perlindungan yang tidak sah. 2006). Akses ke kontrak-kontrak berskala besar menjadi cara yang penting dalam menjamin pelibatan para pengganggu kedamaian di Aceh ke dalam perdamaian.

Asuransi dapat ditawarkan sebagai perlindungan terhadap risiko-risiko terkait dengan pembatasan-pembatasan pengalihan mata uang. Suatu skema asuransi dapat membuka jalan menuju investasi-investasi baru di provinsi tersebut dan menunjukkan peluang untuk memperoleh laba atas investasi. Selain memberikan perlindungan bagi para investor dari tindak kejahatan kecil dan pemerasan. mekanisme penyelesaian sengketa yang biasanya melibatkan pemerintah dan para investor perlu diadaptasi ke dalam suatu konteks di mana sebagian besar risiko berasal dari kelompok-kelompok non-pemerintah. Kedua jenis kegagalan pasar ini biasanya menghambat pengembangan yang sukses dari produk-produk baru dalam skala besar.43 Jenis-jenis jaminan investasi lainnya mungkin dapat diberikan. peranan pemerintah pusat harus ditentukan secara tepat. Penyediaan asuransi tersebut dapat mengurangi risiko-risiko yang dihadapi oleh para investor di Aceh karena mereka dapat menanggung risiko yang bersumber dari ketidakstabilan umum bersama dengan pihak penjamin. akan muncul pembahasan tentang apakah para investor dari provinsiprovinsi lain di Indonesia dapat ditanggung. penyimpanan beku atau pengolahan hasil pertanian. Pertama. Skema tersebut bukan merupakan solusi jangka panjang. Terdapat lembaga-lembaga yang memiliki spesialisasi di bidang penyediaan produk-produk asuransi terhadap risiko politis (mis. skema tersebut juga dapat mengirimkan isyarat yang sangat kuat bahwa provinsi tersebut berminat untuk menarik investasi. Ketiga. Jaminan tersebut berpotensi untuk membuka jalan bagi investasi-investasi berskala relatif besar di sektor-sektor seperti energi.miga. perikanan. tetapi lebih berupa bantuan untuk memulai investasi dan pertumbuhan. kemungkinan besar dalam jumlah yang disubsidi. dalam pengaturan inovatif ini. Kegagalan koordinasi terjadi ketika perusahaan-perusahaan tidak dapat meningkatkan produk-produk baru yang 43 http://www. Skema asuransi yang dirancang khusus perlu untuk disusun bersama dengan otoritas lokal untuk memenuhi kebutuhan provinsi tersebut. sementara di Aceh. tetapi kemungkinan manfaat-manfaat dari skema tersebut perlu dinilai secara teliti terhadap biaya-biaya untuk menghindari kewajiban-kewajiban fiskal yang tidak perlu yang harus ditanggung oleh pemerintah provinsi. para penyedia asuransi risiko politis biasanya bekerjasama dengan pemerintah pusat. perang dan gangguan sipil serta pelanggaran terhadap kontrak. MIGA. dan menunjukkan Aceh kepada para calon investor lainnya. karena para investor tersebut merupakan para calon investor yang jelas dapat berinvestasi di Aceh. Akibatnya.kegagalan koordinasi Kegagalan pasar yang paling sering mempengaruhi perusahaan-perusahaan terdiri atas dua jenis: kegagalan koordinasi dan kegagalan informasi. Badan Jaminan Investasi Multilateral atau Multilateral Investment Guarantee Agency. Keempat. rekan imbangan utama mereka adalah pemerintah daerah dan beberapa disposisi produk-produk standar mungkin perlu disesuaikan. perspesi adanya risiko ini masih menghalangi usaha-usaha dan para investor untuk datang ke Aceh. perampasan. Walaupun kemungkinan terjadinya kembali ketidakstabilan besar di provinsi tersebut cukup rendah. suatu organisasi Bank Dunia).Juli 2009 keamanan dan pajak-pajak ilegal. Akan tetapi. Para investor akan membayar premi. e. Perlunya menyediakan asuransi bagi para investor disebabkan adanya risiko perampasan atau pengrusakan yang ditimbulkan oleh kelompok-kelompok sipil dan ancaman keamanan di lingkungan pasca konflik serta pandanganpandangan negatif terhadap Aceh di luar provinsi tersebut. penyediaan jaminan risiko politis dapat menjadi tambahan yang berharga untuk asuransi risiko keamanan. Kegagalan pasar . sementara jaminan tersebut biasanya memberikan pertanggungan hanya bagi para investor asing. Skema ini dapat ditawarkan kepada para investor besar maupun kecil. Kedua.org 59 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Rancangan yang teliti juga dapat mencegah diberikannya pertanggungan atas kegagalan komersil karena adanya risiko bahwa skema asuransi tersebut dapat disalahgunakan oleh perusahaan-perusahaan yang belum terkena dampak lingkungan pasca konflik. beberapa dimensi dari skema ini perlu mendapat perhatian khusus.

Jaringan perdagangan yang ada saat ini didominasi oleh sejumlah pedagang. serta bukti berdasarkan pengalaman dalam bentuk studi-studi kasus untuk menyelidiki kegagalan pasar yang mungkin terjadi. data ekspor untuk Aceh kurang tepat karena sebagian besar perdagangannya masuk ke Medan dan tidak dicatat dalam angka-angka resmi. seperti kondisi jalan yang baik. Kajian terhadap kegagalan pasar potensial ini memberikan data perdagangan yang dapat diandalkan untuk menyelidiki apakah yang diekspor oleh perekonomian yang sedang dipelajari tersebut dan bagaimana keranjang ekspor perekonomian tersebut berkembang seiring berjalannya waktu. Produk-produk baru tidak perlu menjadi yang terdepan dalam teknologi global. 60 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Walaupun permasalahan ini relatif penting. Akan tetapi. sehingga membatasi daya tawar produsen-produsen Aceh. perikanan dan budidaya air. 44 Wawancara dengan para pengusaha dan para pemimpin asosiasi usaha.44 Usaha-usaha menunjukkan kurangnya hubungan pasar dengan usaha-usaha di luar provinsi. keberhasilan prakarsa-prakarsa yang dilaksanakan baru-baru ini untuk menyediakan informasi pasar dan mendukung pembentukan jaringan dengan usaha-usaha di luar provinsi (Kantor Penunjang Investasi. terutama usaha pertanian. melalui konsultasi dengan para pemangku kepentingan di sektor industri. Sektor-sektor yang disebutkan sebelumnya. pasokan air. Januari 2009. Pusat Pengembangan Ekspor) relatif terbatas. peternakan. seperti fasilitas penyimpanan beku. Akibatnya. 2008). bagian analisis ini mengandalkan data perdagangan yang relatif lemah. Banda Aceh. Tujuannya adalah untuk mengevaluasi kecanggihan produk-produk tersebut dan laju perkembangan kecanggihan tersebut selagi produk-produk baru “ditemukan”. hortikultura.Rendahnya Kemungkinan Pengembalian atas Investasi (Appropriability) sukses akibat kurangnya layanan-layanan pelengkap atau masukan. Sektor-sektor seperti hortikultura. Beberapa sektor perekonomian. Usaha-usaha lokal menyatakan kekhawatirannya terhadap sitausi ini dan keyakinan bahwa meningkatkan informasi pasar (mis. Akan tetapi. memerlukan prasarana spesifik industri dan layanan-layanan pelengkap. menunjukkan kegagalan koordinasi. perikanan. tetapi justru produk-produk baru yang proses produksinya memerlukan penyesuaian terhadap teknologi yang telah ada. yang pada gilirannya membatasi peningkatan kegiatan-kegiatan tersebut. dan budidaya air belum tercatat belum meningkat dan belum dapat menciptakan tingkat produktivitas yang lebih tinggi (IFC. peternakan. upaya-upaya yang kurang berhasil dalam menangani kegagalan tersebut menunjukkan bahwa kegagalan koordinasi bukanlah hambatan pertumbuhan dan investasi yang mengikat. Terdapat kebutuhan akan prasarana spesifik industri akan tetapi jenis-jenis prasarana yang paling diperlukan saat ini akan memberi manfaat bagi semua industri di Aceh. Setelah kualitas dari jenis-jenis prasarana tersebut ditingkatkan. sebagian besar pengusaha yang diwawancarai oleh tim mengungkapkan bahwa prasarana yang paling tertinggal di Aceh adalah prasarana yang bersifat “dasar’ dan umum. Kegagalan informasi terjadi ketika perusahaan-perusahaan gagal untuk melakukan eksplorasi produk-produk baru untuk menemukan bidang yang dapat mereka kuasai. Hal ini menyebabkan kurangnya pengadaan jenis-jenis prasarana tersebut. melalui suatu pangkalan data dengan informasi tentang para eksportir dari komoditas-komoditas yang paling umum) dapat memiliki dampak positif yang penting. Sayangnya. yang menunjukkan bahwa faktor-faktor penghambat investasi dan pertumbuhan lainnya mungkin lebih menekan. dan pasokan listrik yang memadai. Skala kecil menyebabkan pemenuhan kualitas dan standar-standar keamanan tertentu menjadi lebih mahal. Kegagalan koordinasi dapat terjadi ketika terdapat keuntungan dari skala besar (economies of scale) yang terkait dengan pengadaan jenis-jenis prasarana yang bersifat eksternal bagi perusahaan-perusahaan tetapi bersifat internal bagi suatu industri. sehingga membatasi jangkauan produk-produk dari Aceh. pemerintah Aceh dapat mulai melakukan eksplorasi terhadap kebutuhan-kebutuhan prasarana spesifik industri dan peranan sektor publik dalam pengadaan prasarana tersebut.

049. sangat sedikit perusahaan di Aceh yang melaporkan pengeksporan produkproduk mereka.080 22. yang menunjukkan bahwa penduduk Aceh memiliki minat terhadap teknologi baru dan teknologi baru dapat dengan mudah masuk ke provinsi tersebut.3 persen dari jumlah keseluruhan. terdapat sedikit halangan dalam melakukan perdagangan dengan provinsiprovinsi lainnya dan negara-negara lain di dunia. dan produk-produk perikanan.Juli 2009 f.870 5. penyedia layanan telepon seluler yang terkemuka memiliki 1. Pasca tsunami dan selama program rekonstruksi yang mengikutinya. kakao. Selain itu.234 Akan tetapi. Sebaliknya.379 632. Ekspor non-migas di Aceh meningkat sebesar 80 persen pada tahun 2008. Jumlah pelanggan telepon seluler meningkat sangat cepat (Gambar 19) dan pada tahun 2008. 2009c. dan termasuk pupuk.040. Sebagaimana daerahdaerah lainnya di Indonesia. 134. Aceh telah membuktikan keterbukaannya terhadap perdagangan dan cepat beradaptasi dengan teknologi-teknologi baru di tahun-tahun pasca tsunami.45 Sebagai masukan utamanya. rempah-rempah. Pangsa produk-produk pertanian mewakili 14 persen dan sebagian besar terdiri atas kopi yang belum diolah.5 persen dari usaha-usaha di Aceh melakukan ekspor ke luar negeri dan hanya 4. Survei usaha The Asia Foundation / KPPOD menemukan bahwa hanya 1.082 227. tetapi hal ini sebagian besar disebabkan oleh peningkatan ekspor pupuk.127 15.7 juta pelanggan. Pemanfaatan teknologi baru di provinsi tersebut cukup cepat dalam tahun-tahun terakhir ini. industri pupuk di Aceh menggunakan gas bersubsidi dan ekspor mewakili lebih dari 80 persen dari jumlah ekspor non-migas (Tabel 19). Sejalan dengan pengamatan ini.936. barang-barang manufaktur hanya mewakili sebagian kecil dari keseluruhan ekspor non-migas: pada tahun 2008 hanya mewakili 3. Data perdagangan yang tersedia tampaknya menunjukkan bahwa Aceh mengekspor sedikit sekali barang-barang manufaktur. Kegagalan pasar .kegagalan informasi Sangat sedikit usaha-usaha di Aceh yang merupakan eksportir atau melakukan penjualan di luar provinsi. dalam AS$ US$ 2008 Bahan-bahan kimia Makanan dan hewan hidup Barang-barang manufaktur Minyak & lemak hewani & nabati Mesin dan peralatan transportasi Bahan-bahan mentah yang tidak dapat dimakan Berbagai barang manufaktur Source: BPS. 45 Bank Dunia. Tabel 19 Ekspor non-migas Aceh. Aceh telah membuka jalur-jalur perdagangan yang besar untuk membeli bahan-bahan konstruksi serta komoditas-komoditas dasar seperti makanan.3 persen dari perusahaan-perusahaan tersebut memiliki para pelanggan utama yang berdomisili di luar provinsi tersebut.100 250. jumlah warung internet (warnet) meningkat sangat cepat di provinsi tersebut. 61 Diagnosis Pertumbuhan Aceh .

000 1. Bendrain Swiss. dalam bentuk bantuan teknis dan peningkatan mutu mesin. bukti berdasarkan pengalaman menunjukkan bahwa produk-produk baru sedang dicoba di Aceh.600 1. Olam dan cokelat Delfi. Sebagian besar produksi tersebut diekspor ke luar negeri. tempurung kelapa. dengan modal awal sekitar Rp. dsb.000 petani memperoleh sertifikasi kakao organik yang memungkinkan produk mereka diperdagangkan secara internasional.000 ton kakao organik dijadwalkan akan dilakukan pada bulan Agustus 2009. Yayasan Daur Ulang Plastik Palapa berhasil membangun suatu fasilitas pengolahan di Lhokseumawe atas biaya sendiri. Upaya-upaya peragaman produk ini menunjukkan bahwa usaha-usaha di Aceh tidak kehabisan ide untuk berinovasi (Lihat Kotak 5 di bawah ini). 62 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Ekspor pertama dari koperasi tersebut yaitu sekitar 10. Yayasan tersebut kini mempekerjakan sekitar 25 pegawai tetap dan mendaur ulang 50 ton limbah plastik setiap bulannya. Kakao Organik (Sumber: APKO Pidie Jaya) Dengan dukungan sejumlah donor. Dengan dukungan beberapa donor. di mana kemudian potongan-potongan plastik tersebut diubah menjadi produk-produk akhir seperti kursi plastik.000 800 600 400 200 2004 2005 2006 2007 2008 150 100 50 250 200 300 Jumlah warnet di provinsi (hitam) Sumber: Penyedia layanan telepon seluler dan Dinas Informasi dan Komunikasi di Aceh Selanjutnya. usaha ini dijalankan dengan mengikuti contoh yang sama seperti usaha-usaha lainnya: limbah plastik dikumpulkan di Aceh kemudian dikirim ke Sumatra Utara di mana kemudian limbah tersebut diolah. Sebelumnya. dan arang. 1 milyar yang diperoleh dari para donor dan para anggota koperasi. dengan demikian memberikan penghasilan bagi lebih dari 1.Rendahnya Kemungkinan Pengembalian atas Investasi (Appropriability) Gambar 19 Jumlah pelanggan telepon seluler di Aceh untuk penyedia layanan terkemuka dan jumlah warnet 2.100 petani.500 pemulung. Beberapa donor memberikan bantuan kepada usaha ini dalam berbagai bentuk. terutama di sektor pertanian. Pada bulan Juni 2005. Dalam beberapa tahun terakhir ini terdapat beberapa percobaan. Modal tersebut terutama digunakan untuk membeli mesin pengolah kelapa. dengan tujuan-tujuan utama meliputi Malaysia dan Singapura. Para petani telah mencoba beberapa produk baru seperti: ternak. tetapi hanya sedikit yang berhasil ditingkatkan. Aceh Barat. Usaha baru ini mampu memberikan penghidupan bagi banyak penduduk Aceh.200 1. Inilah alasan mengapa pengkajian terhadap kisah-kisah sukses dapat membawa pengaruh besar: kotak di bawah ini menunjukkan tiga sektor usaha baru di Aceh. koperasi petani kakao bernama APKO Pidie Jaya didirikan pada tahun 2007 dan saat ini memiliki 7. Akan tetapi. tali. 150 juta. Perjanjian juga telah ditandatangani antara kooperasi tersebut dan para pembeli internasional seperti The Body Shop. Mesin tersebut dapat menghasilkan beberapa produk dari kelapa mentah: serat kelapa. hanya sedikit dari gagasan-gagasan usaha ini yang berhasil menjadi perusahaan-perusahaan baru dan bahkan lebih sedikit lagi dari antaranya yang menjadi sektor-sektor perekonomian baru. Kelapa dan industri sampingannya (Sumber: Austcare) Perusahaan ini didirikan pada awal tahun 2008 di Meulaboh.800 Jumlah pelanggan telpon ribuan (merah) 1. minyak nilam dan jamur. Seluruh produksi potongan-potongan plastik dikirim ke Medan untuk kemudian diekspor ke China dan Singapura. perusahaan tersebut mampu terus berkembang dan kini mempekerjakan 20 pegawai tetap dan menghasilkan laba bulanan sekitar Rp. mulai dari peningkatan kapasitas bagi para pemulung sampai teknologi yang lebih baik untuk daur ulang plastik.400 1. Kotak 5 Industri-industri baru yang mulai berkembang di Aceh Industri Daur Ulang (Sumber: Yayasan Daur Ulang Plastik Palapa) Daur ulang plastik merupakan salah satu industri yang sedang berkembang di Aceh. Lebih dari 7.

Agar dapat memahami alasannya. hanya sedikit di antaranya yang berhasil berkembang menjadi usaha-usaha yang maju karena alasan-alasan yang tidak banyak terkait dengan kegagalan pasar dibandingkan dengan permasalahan seperti faktor lemahnya kelembagaan. Kemungkinan besar lingkungan mikroekonomi adalah faktor hambatan yang mengikat di Aceh. terbuka terhadap perdagangan dengan negara-negara lain di dunia. tetapi masih memiliki sedikit industri-industri baru. Usaha-usaha kurang memiliki kepastian ketika mereka beroperasi di Aceh: mereka tidak mengetahui kepada siapa dan berapa banyak yang harus mereka bayar untuk dapat menjalankan usaha. Walaupun terdapat banyak gagasan-gagasan baru di Aceh. biaya-biaya transaksi dan faktor pemerintahan. salah satu mekanisme yang menjelaskan keberhasilan perusahaan-perusahaan yang memiliki hubungan politik mungkin ada kaitannya dengan fakta bahwa perusahaan-perusahaan tersebut terlindungi dengan baik dari pemerasan. Pengamatan ini sejalan dengan isu rendahnya kemungkinan penghasilan atas investasi (appropriability) yang disebutkan sebelumnya sebagai hambatan yang mengikat terhadap pertumbuhan di Aceh. konflik dan warisannya memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap insentif-insentif yang harus diinvestasikan oleh perusahaan-perusahaan dan terhadap kemampuan perusahaan-perusahaan tersebut untuk memperoleh penghasilan atas investasi mereka. Ancamanancaman keamanan dan biaya-biaya yang terkait dengan hal tersebut juga menghambat investasi dan pertumbuhan.Juli 2009 Kegagalan pasar bukan penyebab upaya-upaya yang kurang berhasil dalam meningkatkan usaha-usaha di Aceh. Bab ini telah meninjau ulang faktor-faktor yang mungkin dapat menghalangi usaha-usaha untuk memperoleh manfaat dari investasi mereka dan khususnya. menarik untuk disimak bahwa banyak usaha yang berhasil berkembang dan maju adalah usahausaha yang memang cukup besar sejak awalnya untuk menggalang dukungan politis. 63 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Sistem perlindungan yang diperkokoh selama konfilk telah menghasilkan sektor swasta yang menjadi maju justru karena koneksi mereka dengan sektor publik dan bukan karena efisiensi mereka. dan memiliki sarjana-sarjana dalam jumlah yang memadai. Sebagaimana yang seringkali menjadi anggapan. Walaupun sulit untuk menguji hipotesis ini. Aceh terbuka terhadap teknologi-teknologi baru. Hal ini juga menghalangi perusahaanperusahaan baru untuk masuk ke Aceh karena mereka tidak menjadi bagian dari jaringan lokal. dan terdapat beberapa fenomena yang terjadi yang mengancam kualitasnya. peranan konflik dalam keadaan tersebut.

.

08 Kesimpulan Kerangka kerja diagnosa pertumbuhan Aceh membantu mengidentifikasi hambatan-hambatan utama terhadap investasi dan pertumbuhan di provinsi tersebut. Hambatan-hambatan yang teridentifikasi berdampak pada para investor lokal. Permasalahan-permasalahan seperti prasarana (jalan. listrik) mungkin lebih menjadi masalah bagi para investor lokal daripada bagi para investor asing. Ekonomi Aceh terbilang lemah karena jaringanjaringan patronasi yang kuat dan lingkungan yang tidak aman sebagai akibat konflik selama 30 tahun. Pada akhirnya hal ini membatasi investasi dan pertumbuhan di provinsi tersebut. bobot kesimpulan-kesimpulan dan implikasi kebijakan. Para calon investor telah mengungkapkan kekhawatiran mereka tentang kemungkinan konflik akan berlanjut dan tedapat bukti bahwa kekhawatiran atas keamanan dan pemerasan serta pajak-pajak ilegal yang timbul menghalangi perusahaan-perusahaan dan perorangan untuk memetik keuntungan penuh dari investasi mereka. apakah hambatan-hambatan yang terindentifikasi bersifat utama. Dua hambatan utama terhadap pertumbuhan adalah. terutama investasi swasta. Meyakinkan para investor atas keamanan investasi mereka merupakan prasyarat untuk meningkatkan kembali investasi sektor swasta di provinsi ini. pada tingkatan yang relatif rendah. domestik dan luar negeri secara merata. 65 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Perekonomian Aceh tumbuh dengan laju yang lebih lambat dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Indonesia. Tabel di bawah ini merangkum temuan-temuan pada laporan ini. Situasi ini menghambat kinerja pertumbuhan dan membatasi investasi swasta. Kekhawatiran tentang masalah keamanan mempengaruhi semua jenis investor. ketersediaan tenaga listrik yang dapat diandalkan dan risiko-risiko keamanan yang diperburuk oleh pemerasan dan pembayaranpembayaran ilegal dianggap lebih tinggi di Aceh. walaupun para investor besar mungkin dapat mengurangi kekhawatiran mereka akan hal ini dengan cara memperoleh perlindungan dari pemerintah daerah yang ingin sekali mendapatkan investasi.

Pemerintah Aceh telah mengidentifikasi bahwa ketersediaan listrik merupakan bidang perhatian utama untuk pembangunan provinsi ini. Oleh karena itu. • 66 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . dalam rangka meningkatkan insentif bagi pihak swasta untuk berinvestasi dalam bidang pembangkitan energi di provinsi ini. Beberapa badan usaha dapat menghasilkan listrik mereka sendiri.Kesimpulan Tabel 20 Hambatan-Hambatan terhadap Pertumbuhan di Aceh Jenis hambatan Akses terhadap Kredit Modal Manusia yang rendah Kualitas Prasarana Tingkat hambatan ? Bobot Kesimpulan Implikasi Kebijakan Tidak menghambat Sedang Tidak menghambat Tinggi Menghambat Tinggi • • Revisi strategi penetapan harga oleh PLN Dukung partisipasi sektor swasta dalam pembangkitan listrik menggunakan sumber enegi terbarukan Tingkatkan keandalan pasokan energi dari Sumatra Utara Tingkatkan kemampuan kepolisian dan pengadilan untuk menegakkan supremasi hukum Fokus pada program-program pembangunan ekonomi di daerah yang terkena dampak konflik Bantu membangun konstituensi untuk reformasi – contohnya melibatkan komunitas dan masyarakat madani dalam upayaupaya pemantauan Fasilitasi skema asuransi risiko politik untuk menarik para investor • Pemerasan dan PajakPajak Ilegal Menghambat Tinggi • • • • Risiko-risiko makro Kegagalan Informasi Kagagalan Koordinasi Tidak menghambat Tidak menghambat Tidak menghambat Tinggi Sedang Sedang - Ketersediaan listrik yang andal adalah hambatan paling utama terhadap investasi dan pertumbuhan. Upaya-upaya yang diperbarui untuk menarik investasi sektor swasta dapat didukung dengan cara: • Merevisi penetapan harga listrik yang dihasilkan oleh pihak swasta untuk didistribusikan melalui PLN. terutama untuk perusahaan-perusahan skala lebih kecil. seperti panas bumi (geothermal). tetapi hal ini hanya merupakan solusi yang mungkin bagi usaha-usaha yang relatif besar. yang memungkinkan usaha-usaha tersebut untuk membiayai investasi ini. sektor ternak atau agrobisnis) tidak mampu membiayai investasi yang diperlukan dan listrik menjadi hambatan bagi usaha-usaha prospektif ini. biomassa lokal (local biomass) atau energi matahari. ketersediaan listrik merupakan hal yang penting untuk memajukan usaha-usaha kecil di sektor pengolahan. Meningkatkan partisipasi sektor swasta dalam bidang pembangkitan listrik dengan menggunakan sumber-sumber energi terbarukan. dan Pemerintah Aceh juga sedang meningkatkan upaya mereka untuk menghasilkan energi dan menjamin ketersediaan listrik dari PLN. Usaha-usaha yang lebih kecil (misalnya pengolahan ikan. Pasokan energi tidak mencukupi dan tidak dapat diandalkan kemungkinan besar menjadi hambatan yang paling utama bagi investasi dan ekonomi secara keseluruhan.

• • • 67 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Permasalahan-permasalahan keamanan. Semua hal ini menambah ketidakpastian menjalankan usaha di Aceh. yang berfokus pada kelompokkelompok yang menhadapi risiko dan rawan di daerah-daerah yang terkena dampak konflik. sehingga tidak mendorong pertumbuhan investasi di provinsi ini. dengan memperkenalkan reformasi yang memperkuat kemampuan pemerintah untuk menegakkan supremasi hukum dan intervensi yang bertujuan menangani penyebab-penyebab yang mendasari munculnya tindak kerjahatan dan kekerasan. pengolahan hasil pertanian (agro-processing). akibat masalah keamanan dan pajak-pajak ilegal. Mendukung pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di daerah-daerah yang terkena dampak konflik. sumber daya tambahan dan kemauan politik. melalui pengembangan kapasitas. melalui pelatihan dan pengembangan kapasitas. perikanan. Strategi untuk melakukan hal ini harus berupa strategi ganda. Kalangan usaha pada saat ini mencoba untuk mengatasi ketidakpastian ini dengan bergabung bersama kalangan usaha atau jaringan kerja yang dapat memberikan perlindungan serta rasa aman. dengan pengecualian pada prasarana energi. telah terbukti lebih efektif. • Ketidakmampuan perusahaaan dan individu untuk memperoleh keuntungan dari investasi mereka. dan juga mendukung konstituensi. Meningkatkan kemampuan sistem peradilan untuk menuntut dan menjatuhkan hukuman atas para penjahat. yang akan menuntut reformasi ini. Pendekatan-pendekatan yang ditargetkan secara geografis. pemerasan. Memfokuskan reformasi pada peningkatan supremasi hukum dan memerangi pemerasan serta pajak-pajak ilegal pada sektor-sektor yang menghasilkan pertumbuhan inklusif. meningkatkan sumber daya yang dapat digunakan polisi serta memperkuat angkatan kepolisian. Demikian pula. Untuk menghilangkan hambatan ini. dan sektor-sektor jasa tertentu (perdagangan. merupakan faktor penghambat investasi dan pertumbuhan. yang memiliki dampak yang lebih terbatas dan dapat memicu ketegangan. dan pajak-pajak serta pembayaran-pembayaran ilegal membatasi kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba dari investasi mereka. transportasi). Meningkatkan keandalan pasokan-pasokan energi dari Sistem Interkoneksi Sumatra (Sumatra Interconnection System) untuk menghindari sering terputusnya pasokan listrik. penting untuk mengikutsertakan kembali monopoli negara dalam penggenaan pajak serta penggunaan ketegasan terhadap hukum . Laporan ini menyajikan serangkaian bukti bahwa biaya atau ketersediaan modal bukanlah hambatan terhadap pertumbuhan dan investasi di provinsi ini. pada sektor swasta dan masyarakat madani. yang mendukung pembentukan konstituensi pro-reformasi. Hal ini berbeda dengan pemberian bantuan reintegrasi bagi para mantan pejuang GAM. dengan cara: • Meningkatkan kemampuan polisi untuk menyelidiki dan menyelesaikan masalah kejahatan untuk memperkuat supremasi hukum. Kalangan-kalangan usaha yang tidak dapat atau tidak bersedia mengadakan perjanjian-perjanjian tersebut mungkin saja memutuskan untuk tidak berinvestasi di provinsi ini sama sekali. Upaya ini termasuk sektor pertanian. faktor-faktor pelengkap produksi tidak tampaknya tidak menjadi hambatan terhadap pertumbuhan dan investasi. dengan memasukkan akses yang aman dan berharga menarik terhadap sumber-sumber energi dan lahan yang terkait ke dalam MoU dan kontrak. Penggalakan investasi tentunya memerlukan pemutusan lingkaran setan permasalahan intimidasi terkadang disertai kekerasan dan pajak ilegal. dan berdampak pada biaya-biaya setiap investor potensial.Juli 2009 • Menelaah kemungkinan kemitraan pemerintah-swasta untuk menarik produsen tenaga linstrik independen dengan biaya murah. walaupun hal ini tidak selalu dapat dilakukan. Persepsi tentang risiko yang lebih tinggi juga berakibat pada kurangnya kredit bagi sektor swasta.

Intervensi-intervensi 68 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Karena biaya yang berhubungan dengan kemanan dan pembayaran ilegal menurun. Jaminan-jaminan yang diberikan oleh para pihak ketiga untuk proyek-proyek tunggal dapat ditemukan di banyak kawasan di dunia dan sering digunakan di lingkungan pasca-konflik. di mana ketidakpastian peraturan. dengan demikian. fakta bahwa Aceh adalah sebuah provinsi di negara yang lebih besar dan relatif stabil akan menimbulkan tantangan-tantangan tambahan dalam rancangan skema tersebut yang harus dipecahkan bersama-sama oleh pemerintah nasional dan provinsi. Walapun prasarana transportasi yang ada sekarang terlihat cukup untuk ekuilibrium pertumbuhan Aceh yang rendah. perusahaan-perusahaan dan individu-individu akan dapat mengakses biaya dan keuntungan investasi mereka dengan kepastian yang lebih besar dan melakukan investasi ketika investasi-investasi tersebut jelas-jelas dapat berkembang secara komersial. hampir tidak mungkin untuk melakukan investasi. Rancangan yang menyeluruh terhadap skema asuransi tersebut sangat penting untuk menghindari kewajiban fiskal yang tidak perlu bagi pemerintah provinsi dan untuk menghindari penyalahgunaan skema-skema asuransi tersebut oleh para pengusaha. hambatan-hambatan tersebut kemungkinan besar sama dengan hambatan-hambatan yang ada di daerah lain di Indonesia. termasuk kalangan yang berpotensi mengganggu perdamaian. secara berkala. meningkatkan kemampuan kelompok miskin dan rawan di Aceh untuk memperoleh manfaat dari pertumbuhan. akan menghambat investasi dan pertumbuhan. • Situasi keamanan yang membaik serta pemberantasan iuran dan pajak-pajak ilegal kemungkinan besar akan meningkatkan investasi dan pertumbuhan. Memfasilitasi pemberian asuransi politik oleh sektor swasta. dan berlanjut dengan sebuah proses untuk. Dengan mempertimbangkan kemauan politik dan modal yang besar yang akan dibutuhkan untuk reformasi yang diusulkan tersebut. karena hambatan-hambatan lain menjadi lebih utama apabila hambatan-hambatan ini dipecahkan.Kesimpulan • Melibatkan masyarakat madani dalam pemantauan tindakan-tindakan ilegal sebagai upaya mengatasi permasalahan ini. Selanjutnya. Pemerintah daerah dapat memperkenalkan sebuah sistem. di kemudian hari. Apabila masalah-masalah yang berkaitan dengan ketersediaan listrik dan situasi keamanan membaik. dan usaha-usaha tidak lagi terkena pemerasan dan pajak-pajak ilegal. Pada saat ini. bersama dengan sektor swasta. ketika provinsi ini berupaya menjadi lebih modern dan berkembang. meninjau kembali rekomendasi-rekomendasi tersebut dan mengidentifikasi hambatan-hambatan yang mengikat lainnya terhadap investasi dan pertumbuhan. Upaya mengatasi hambatan-hambatan yang utama kemungkinan akan memberi manfaat bagi penduduk secara keseluruhan. Dengan demikian. mereka tidak dapat memperoleh keuntungan dari investasi mereka dan. Laporan ini berfokus pada hambatanhambatan utama terhadap pertumbuhan dan menawarkan rekomendasi tentang intervensi-intervensi potensial untuk menyelesaikan masalah-masalah ini. Perhatian yang lebih khusus harus diberikan dalam penyusunan strategi besar untuk mendorong pertumbuhan yang inklusif dan merata bermanfaat bagi sebagian besar penduduk. maka hal ini kemungkinan besar akan menjadi hambatan. dan juga penegakan hukum yang kurang. Jenis-jenis jaminan ini juga dapat berfungsi sebagai sinyal penarik yang kuat bagi para investor potensial. perusahaan-perusahaan dan individu tidak dapat mengambil keputusan untuk berinvestasi. karena mereka tidak yakin dengan biaya yang akan mereka hadapi yang timbul dari ancaman-ancaman keamanan dan pemerasan. hambatan-hambatan lain akan menjadi lebih utama dan seperangkat reformasi yang berbeda menjadi sangat diperlukan. Diperlukan intervensiintervensi khusus untuk memastikan bahwa pertumbuhan tersebut bersifat inklusif. Jaminan-jaminan investasi ini biasanya dibuat pada tingkat nasional. untuk membahas analisis dan rekomendasi-rekomendasi dalam laporan ini. Hambatan-hambatan yang utama terhadap pertumbuhan kemungkinan besar dapat berubah seiring berjalannya waktu. pajak-pajak dan peraturan-peraturan daerah yang diberlakukan oleh para pemerintah daerah. terutama terhadap pajakpajak dan peraturan perizinan. Kualitas prasarana transpotasi yang buruk juga telah teridentifikasi sebagai hambatan utama bagi investasi dan pertumbuhan di Indonesia.

Mendistribusikan manfaat-manfaat pertumbuhan akan memberikan hal yang penting dalam perdamaian dan stabilitas di Aceh bagi bagian masyarakat yang lebih besar. menurunkan kekhawatiran tentang masalah keamanan dan pada akhirnya menjaga agar konflik tidak terjadi lagi. 69 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . dan juga meningkatkan penyediaan layanan publik di daerah ini. juga intervensi-intervensi yang memfasilitasi akses terhadap kredit bagi orang-perorangan dan usaha-usaha kecil yang bergerak dalam sektor pertanian dan perikanan.Juli 2009 tersebut termasuk melanjutkan fokus pada sektor pertanian. Intervensi-intervensi tersebut juga termasuk menata ulang ketidaksetaraan yang ada baik dalam hal modal manusia maupun fisik dengan meningkatkan tingkat keahlian orang-orang miskin di daerah-daerah pedesaan.

.

Washington.humansecurity gateway. “Supporting Peace in Aceh: Development Agencies and International Involvement”. No. Bates. “Reconfiguring Politics: The Indonesia-Aceh Peace Process”. Indonesia May-June. Aguswandi and Judith Large. Edward. Conflict Prevention and Reconstruction Paper No. Dubious Democracy”. Indonesia”. Local Governance and Conflict in Aceh”. 2008. 2006. “The Limits of DDR: Reintegration Lessons from Aceh” in Small Arms Survey Yearbook 2009. “Managing the Resource for Peace: Reconstruction and Peace building in Aceh” in Aguswandi and Judith Large (eds. <http://www. “Combatants to Contractors: The Political Economy of Peace in Aceh”. Edward. 2009a. Barron. Barron. DC: East-West Center. 2009. mimeo. “State Failure”. Washington. Copenhagen: Copenhagen Consensus Centre.info/documents/CP_Collier_securitychallengein conflictpronecountries. Conflicts Challenge Paper. 11: 1-12. and Samuel Clark. Econometrica. 2008. D. Elbadawi. Patrick. 1992. and Haavard Hegre. London: Conciliation Resources. Commission on Growth and Development. “Decentralizing Inequality? Center-Periphery Relations. Jakarta: World Bank. Aspinall. 2008. “From Growth Theory to Policy Design”. 1992). 39.) Reconfiguring Politics: The Indonesia-Aceh Peace Process. “A Model of Growth through Creative Destruction”. CA. 2008. Annual Review of Political Science. Small Arms Survey.. Policy Research Working Paper No. London: Conciliation Resources. 2008. 11. 2008.. Chaudhary. “Political Violence and Economic Growth”. Indonesian Social Development Paper No. “Islam and Nation: Separatist Rebellion in Aceh. Barron. Diakses bulan Juni 2008. “The Security Challenge in Conflict-prone Countries”. 2. P. 2008.: Stanford University Press. mimeo. 323-351 Aghion. Cambridge: Cambridge University Press.C: World Bank. “Postwar Violence”. Philippe and Steven Durlauf. Edisi situs internet. 2007. Patrick and Adam Burke.: World Bank. Patrick. Paul Collier.09 Daftar Referensi Aghion. 2009b. Patrick. 71 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Bodea. 60. “Peaceful Pilkada.pdf> Clark. Samuel. Christina and Ibrahim A. Stanford. Barron. 4692. Aspinall.C. Vol. (Mar. D. Robert H. hal. and Peter Howitt. Torunn and Astri Suhrke. Lisa. Chauvet. Geneva. and Blair Palmer. Washington. 2008.

2007. 2. 32. Paul. Elliott. and Anna Weidermann. DC: World Bank. “Civil Conflict and Displacement. 4851. Washington. Hausmann. Anke Hoeffler. Collier. “Environmental Management for a Sustainable Economic Development Strategy for Nanggroe Aceh Darussalam”. 177. University of Oxford. “Doing growth diagnostics in practice: A ‘Mindbook’”.: The World Bank. Havard Hegre. “Breaking the Conflict Trap: Civil War and Development Policy”. Elena and Susanna Lundstrom. “On the Economic Consequences of Civil War”. Singapore: Oxford University Press. Harvard University. Nota Kebijakan untuk Bank Dunia oleh Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO). Journal of International Development. Mei 2007 Hausmann. Hill. 2008. Journal of Development Economics. Hoeffler. 2003. framework and application”. Washington. “Growth Diagnostics”.C: World Bank 72 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Vol. CID Working Paper No. 2003. Anke Hoeffler. Collier. Anke. Village-Level Determinants of Forced Migration in Aceh”. Oxford: Centre for the Study of African Economics. Hiorth. Oxford Economic Papers 51 (1): 168–83. 2007. 1989. Washington. Washington. D. No. “The Global Burden of Armed Violence”. Commission on Growth and Development. Paul. hal. in Hal Hill (ed. and Nicholas Sambanis.L. Dayan. and Marta Reynal-Querol. 2008. 603-633. 1994. and Mans Soderboom. “Demobilization and Insecurity: A Study in the Economics of the Transition from War to Peace”. 256. 2004. Collier. 1989. 2008. Government of Aceh. “Measuring the Costs of Conflict”. HiCN Working Paper No. 2008. Hausmann. “Inclusive growth analytics.Daftar Referensi Collier. 2006. 6(3): 343-51. Kabar Seberang 17: 182-194. Oxford Economic Papers 54: 563595. Czaika. “Aceh: The LNG Boom and Enclave Development”. “Atlas – Economic Development NAD Province – Aceh Triple A Project (ATAP)”. “Free Aceh: An Impossible Dream?”. and Sjafrizal. Rodrik. in Hal Hill (ed. Working Paper No.. D. Paul and Anke Hoeffler. Brighton. Households in Conflict Network.) Unity and Diversity: Regional Economic Development in Indonesia since 1970. University of Sussex. Paul. DC: World Bank and Oxford University Press.C. Klinger and Wagner. 1999. “Greed and Grievance in Civil War”. “Post-Conflict Risks”.. Finnegar. Mathias and Krisztina Kis-Katos. “Growth Report: Strategies for Sustained Growth and Inclusive Development”. 2005. Ricardo. 72. Dani and Andrés Velasco. Initial Edition. Singapore: Oxford University Press. V. Collier. Dawood. Ricardo and Dani Rodrik. 1986. Marta Reynal-Querol. Geneva: Geneva Declaration Secretariat. Hal. mimeo. 2008. Inter-American Development Bank. “Regional Development in Indonesia: Patterns and Issues”. “Economic Development as Self-Discovery”. 2003. Geneva Declaration Secretariat. UK. Paul. CSIRO. Institute of Development Studies.) Unity and Diversity: Regional Economic Development in Indonesia since 1970. Ianchovichina. Policy Research Working Paper No.

Moser. Washington. 2001. “Measuring the Economic Impact of Civil War. Indonesia”. “Local Leadership and the Aceh Conflict”. “Assessing the Impact of Public Spending on Growth . Rodd. A Survey of Businesses in 243 Regencies/ Cities in Indonesia. “The importance of good governance in easing separatist conflicts”.) Violence In Between: Security Issues in Archipelagic South-East Asia. 2008.C. Multi-Stakeholder Review of Post-Conflict Programming in Aceh: Identifying the Foundations for Sustainable Peace and Development in Aceh. Jones. 1-37. Jakarta. 2006. International Organization for Migration. 2008. 23. Wacziarg. 73 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Ithica. Blanca. DC: Brookings Institute. in Inside Indonesia No. Political Economies and Policies. McMillan. and Bambang Suharnoko. 2008. J. Decentralization Support Facility. Robert. “Aceh: Why Military Force Won’t Bring Lasting Peace”. Melbourne/Singapore: Monash Asia Institute/ Institute for Southeast Asian Studies. McGibbon.” Mimeo. 1989-1992”. Cambridge and Geneva: Cambridge University Press. 17. 2009. “Greed: The Silent Force of Conflict in Aceh”. Meitzner. Norman Loayza. Washington. “The Politics of Military Reform in Post-Suharto Indonesia: Elite Conflict. “Indonesia: Deep Distrust in Aceh as Elections Approach”. Sidney.: The World Bank. “A Psychological Assessment of Communities in 14 Conflict-Affected Districts in Aceh”. Caroline O. “Post-conflict armed violence and security promotion. Kell. 90: Special Aceh Reports Moreno-Dodson. Jakarta/Brussels.. Nationalism and International Resistance”. 2009. Timothy. D. Asia Briefing No. “Aceh Financial Sector Diagnostics”. in Damian Kingsbury (ed. NY: Cornell University Press.An Empirical Analysis for Seven Fast Growing Countries”. Stanford University. 2006. 1996.” IMF Staff Paper Vol. and Delano Villanueva.. Blane D. 2006. “Local Economic Governance in Indonesia. Kosuke. 43. 2007”. 2009. N.” CID Working Paper No. P.” Policy Brief 2006-1. Harvard Medical School. Banda Aceh/Jakarta: MSR. International Crisis Group. “The Peace Dividend: Military Spending Cuts and Economic Growth. 2007. 90. “Reducing Urban Violence in Developing Countries. Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) and The Asia Foundation. 2006. Januari 2008 International Finance Corporation. Antje. “Meta Analysis: Vulnerability. 2007. al. D. Malcolm. International Crisis Group. Lesley. “The Roots of Acehnese Rebellion. 2006. International Finance Corporation. “Local Tax Effects on the Business Climate”. 51. Displacement and Reintegration: Issues Facing the Peace Process in Aceh. 2008. 4663. 1995. “Aceh Homebound?”. 2000. “Death and development. and Jeremy Weinstein. 2008. “Aceh Investment Climate Policy Note”. Jakarta: IOM. Washington. Jakarta/Brussels. Policy Studies No. Marcus. Missbach.) Violent Internal Conflicts in Asia Pacific: Histories. and R. Harvard University. McCulloch.C. in Anthony Reid (ed. hal. Stability. Juli 2008 Lorentzen. Singapore: Singapore University Press. MSR.Juli 2009 Imai. 2007.” Small Arms Survey Yearbook 2009. 2005.) Verandah of Violence: the Background to the Aceh Problem. Muggah. (eds. in Dewi Fortuna Anwar et. Jakarta: IOM. Policy Research Working Paper No. November 2007 International Organization for Migration. Asia Report No. Knight.: East-West Center. Jakarta: LIPI/Yayasan Obor. Lewis.

Geoffrey. “The Simple Economics of Extortion: Evidence from Trucking in Aceh”.: World Bank and Oxford University Press. 2004.) Verandah of Violence: the Background to the Aceh Problem. 98. in Aguswandi and Judith Large (eds). Washington D.C.. Michael L. 2. The Quarterly Journal of Economics. “The Acehnese Rebellion: Secessionist Movement in Post-Suharto Indonesia”. 2004. Washington.. and Other Regions. The Jakarta Post.. 2004. 2001. 3. Cartagena. No. 2007. 70.. Saraswati. “Estimating Lost Product Due to Violent Deaths in 2004”.” in Paul Collier and Nicholas Sambanis (eds. “Puteh to sit in the dock”. “War and Underdevelopment: The Economic and Social Consequences of Conflict. Robinson. Reid. 2008. S71-S102 Ross. Policy Studies No. Kirsten. 1998. Muninggar Sri. and Michael McNulty. Volume 1”.Daftar Referensi Nagarajan. Schulze. Understanding Civil War: Europe. in Andrew Tan and Kennethn Boutin. 1990). “The Free Aceh Movement (GAM): Anatomy of a Separatist Organization”.” Indonesia 66 (October): 127-156. DC: East-West Center. 2006. Paul M. Zúñiga. “A Contribution to the Theory of Economic Growth”. Benjamin and Patrick Barron. “Economic Injustice: Cause and Effect of the Aceh Conflict”. 1956) Stewart.” Washington. The Journal of Political Economy.. Washington. London Olken. “Background Paper on Economic Reintegration. and Adriana Villamarin. Geetha. NBER Working Paper No. Colombia. No. 1. “Rawan is as Rawan Does: The Origins of Disorder in New Order Indonesia.: United States Agency for International Development. 2005. 18 Desember. Singapore: Singapore University Press. Cambridge.C.). 2001. Transparency International. Brodie Ferguson. Special Aceh issue in Accord: An International Review of Peace Initiatives. Non-Traditional Security Issues in Southeast Asia.). Central Asia. Sukma. 1990. (Feb. in Henke Schulte Nordholt and Gerry van Klinken (eds. 2004. Geneva/ Bogota: Small Arms Survey/CERAC. Jorge. “The Rise and Fall of Governor Puteh”. 5. Demobilization and Reintegration. “Endogenous Technological Change”. 1956. Solow. 2006.” Prepared for International Congress on Disarmament. (Okt. “Resources and Rebellion in Indonesia. Rizal.: East-West Center. M. Anthony (ed. Yuhki.Aceh peace process. Makalah yang tidak diterbitkan untuk Small Arms Survey. 2008. “Microfinance Amid Conflict: Taking Stock of Available Literature. D. Frances and Vaply Fitzgerald (eds. Sulaiman. Jukliana M. 2007. Rizal. Vol. Nazamuddin Basyah Said. D.C. “From Autonomy to Periphery: A Critical Evaluation of the Acehnese Nationalist Movement”. Consequences and Lessons”. “Security Operations in Aceh: Goals. M. April 2009. Oxford: Oxford University Press. “Verandah of Violence: the Background to the Aceh Problem”. Tajima. Isa. 13145.) Renegotiating Boundaries: Local Politics in Post-Suharto Indonesia. MA: NBER. Singapore: Singapore University Press. Isa. hal. Vol. Robert M. Singapore: Institute of Defense and Strategic Studies. Policy Studies No.). Sukma. Reconfiguring politics: the Indonesia . in Anthony Reid (ed. 2009. Leiden: KITLV Press. and Gerry van Klinken. 2008. “Measuring corruption in Indonesia: Indonesia Corruption Perception Index 2008 and Bribery Index” 74 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Romer. Part 2: The Problem of Development: A Conference of the Institute for the Study of Free Enterprise Systems. Restrepo. Sulaiman.

Australian National University. GAM Reintegration Needs Assessment: Enhancing Peace Through Community-Level Development Programming. Banda Aceh/ Jakarta: The World Bank. 2008e. UN Office on Drugs and Crime/ World Bank. “Indonesia. The World Bank: Jakarta 75 Diagnosis Pertumbuhan Aceh .Juli 2009 Ulloa. 2008. Barbara F. “Aceh Conflict Monitoring Update: 1 Desember 2008 – 31 Januari 2009”. Jakarta: The World Bank World Bank. World Bank. Jakarta: The World Bank World Bank. World Bank. the Tsunami and the Reconstruction on Poverty in Aceh”. “Social foundations: illegality in the construction sector in provincial Indonesia. “Crime. Jakarta: The World Bank World Bank. 2008d. 2008. Policy Note for the Indonesia Agriculture Public Expenditure Review World Bank/BRR. “Aceh Public Expenditure Analysis Update”. 2007. “Connecting to compete: trade logistics in the global economy”. “Aceh Poverty Assessment 2008 – The Impact of the Conflict. 2008a. Canberra. Washington DC: World Bank World Bank. Gas and Mining Investment Climate”. World Bank. Banda Aceh: The World Bank. The World Bank: Washington DC World Bank.” Makalah yang dipresentasikan dalam lokakarya tentang “The State and Illegality in Indonesia”. Van Klinken. 2008. 2004. 2006b. Walter. World Bank. “Indonesia Jobs Report”. Washington DC: The World Bank World Bank. September 2008. “Aceh Economic Update. World Bank.: World Bank. June 2009”. 2009a. “What Are the Constraints to Inclusive Growth in Zambia?”. 2006a. 2007. DFID Understanding Afghanistan. 2006c. Agriculture Public Spending and Growth”. Banda Aceh: World Bank. 2006. “Trucking and Illegal Payments in Aceh”. “Aceh Public Expenditure Analysis – Spending for Reconstruction and Poverty Reduction”. 2008f. Costs and Policy Options in the Caribbean”. “World Development Report 2008 – Agriculture for Development”.. Jakarta: The World Bank. Jakarta: The World Bank World Bank. World Bank. 2009c. World Bank/ IFC. Oktober 2008”. Alfie. Jakarta: The World Bank.” Journal of Peace Research 41(3): 371-388. “Growth Diagnostic Scoping Study Final Report – Technical”. 44286-ZM. yang akan datang (b). Banda Aceh/Jakarta: World Bank/BRR. 2007. 2009b. D. “Does Conflict Beget Conflict? Explaining Recurring Civil War. “2006 Village Survey in Aceh: An Assessment of Village Infrastructure and Social Conditions”. Violence and Development: Trends. World Bank/KDP. 2008c. “Aceh Economic Update. 2008b. yang akan datang (a).C. Washington DC: The World Bank. World Bank. Banda Aceh/Jakarta: World Bank/Government of Indonesia. “Public-Private Dialogue Promotes Change in Oil. “Making the New Indonesia Work for the Poor”. report No. 22-24 September. “Doing Business 2009 – Country Profile for Indonesia”. Washington. Washington DC: The World Bank World Bank. “World Development Report 2009 – Reshaping Economic Geography”.

.

2. 4.67 Berpendidikan tinggi vs.02) 0. variabel boneka gender. yang akan datang (b)). NTB/NTT/Maluku.53*** (0. Kalimantan.30*** (0.47 SMA dan di atas SMA vs. Jawa/Bali. Variabel-variabel kendali mencakup: umur dan umur kuadrat.05) 0.33*** (0.39*** (0. Nilai-nilai nasional diambil dari “laporan Kerja” (Bank Dunia. SMA = Sekolah Menengah Atas 5. variabel boneka wilayah (Sumatra. 3. Kesalahan-kesalahan standard (Standard errors) ada dalam tanda kurung.52*** (0.05) 0.03) 0. variabel boneka perkotaan. Sulawesi. kurang berpendidikan 0. *** signifikan pada tingkat 1 persen.39*** (0.10 Lampiran-Lampiran Lampiran I – Perkiraan hasil-hasil pendidikan Spesifikasi Aceh Sumatera Utara Sumatera Indonesia SMA vs.04) 0.61*** (0.38*** (0.02) 0. dan pada tingkat nasional. kurang berpendidikan 0.03) 1.29*** (0. Papua). * signifikan pada tingkat 10 persen. ** signifikan pada tingkat 5 persen.07) 0.03) 0. 77 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . kurang berpendidikan 0.05 Sumber: Perhitungan staf bank berdasarkan Sakernas (Feb 2008) Catatan: 1.

71) 3.63 (1.03** (16.42** (1.31 (3. 4.17 (16.25** (18. 6.18 (2.42) -40. *** signifikan pada tingkat 1 persen.13) --- 6.05) -1.97) Sumber: The Asia Foundation / survei KPPOD (2008).62 (11.37** (16. Insiden per 1000 adalah jumlah insiden keamanan di kabupaten/kota di mana perusahaan tersebut beroperasi dari Januari 05 – Juli 08 per 1000 penduduk.71 (29.13) -31.21) Dengan insiden per 1000 0.61) -- --17.89 (2. Indikator tersebut mengukur dampak jangka panjang konflik dalam bentuk korban.61** (17. 78 Diagnosis Pertumbuhan Aceh .51 (1.40) Dengan insiden per 1000 0.47) -34.31) -45.25 (273. Investasi dan penjualan per karyawan adalah nilai-nilai tahunan yang dinyatakan dalam juta rupiah.68 (36. 5.31) Dengan intensitas konflik 0.33 (25. 2006c).18) -2.12 (15.70 (17.02 (1.73* (26.73) 21.73* (0.60) -0.39) 0.44 (35.39 (2.66** (1. orang-orang yang kembali dari pengungsian.13) 1.63 (22.54) -49.85 (1.64) -1. ** signifikan pada tingkat 5 persen. Kesalahan-kesalahan standar (Standard errors) ada dalam tanda kurung.08 (1.97) -38. Konflik adalah indikator intensitas konflik yang dikembangkan oleh staf Bank Dunia.36 (41.87) -1. 2.Studi ini menggunakan indikator tersebut pada tingkatan kabupaten (lihat World Bank.87 (1.50) Dengan intensitas konflik -0.Lampiran-Lampiran Lampiran II – Tabel regresi: kinerja perusahaan dan permasalahanpermasalahan yang dihadapi Variabel dependen Spesifikasi Akses lahan dan kepastian hukum Pemberian surat izin usaha Interaksi pemerintah daerah dengan kalangan pengusaha Kemampuan dan integritas Utama Biaya-biaya transaksi Prasarana Penyelesaian masalah keamanan dan konflik Insiden per 1000 Intensitas konflik Penjualan per karyawan (2007) Dasar -6.97 (30.40 (1.02) -1.05) -- --2.75 (1. Tim Konflik dan pembangunan Bank Dunia Catatan: 1.19** (18. dll….63 (28.02) -43.18 (36.08*** (14.68) --- 262.69** (0.94) -1.03) -17.06 (31.36 (14. * signifikan pada tingkat 10 persen.86) 6.14) 2.14) -42.74) -41.65) 0.29) 1. persepsi intensitas. 3.06** (0.86) -1.59 (1.70) -0. tahanan politik..14 (1.42) -0.44) 1.73 (1.40) 1.55) Investasi per karyawan (2007) Dasar -0. Variabel dependen (kecuali 2 yang terakhir) adalah variabel boneka yang mengindikasikan apakah responden memperkirakan bahwa tiap-tiap hambatan menghambat kinerja perusahaannya secara signifikan atau sangat signifikan.89 (2.00 (2.57* (20.69) -36.65) -36.51) -16.39) -2.86) -2.17) -36.

21 0.06 0.19 0.09 (0.08 (0.11 0.11 0. 2. Kategori-kategori di sini mengindikasikan apakah responden memperkirakan bahwa tiap-tiap hambatan menghambat kinerja perusahaannya secara signifikan atau sangat signifikan.55 (0.19 0.10) 0.07 (0.25 0.06 (0. ** signifikan pada tingkat 5 persen.7 0.18 Selisih -0.2 0.15** (0. 79 Diagnosis Pertumbuhan Aceh .19 0.11) -0. 3.07) -0. *** signifikan pada tingkat 1 persen.11) Sumber: The Asia Foundation / survei KPPOD (2008) Catatan: 1.22 0. * signifikan pada tingkat 10 persen. Kesalahan-kesalahan standar (Standard errors) ada di dalam tanda kurung.07) -0.16 0.Juli 2009 Lampiran III – Uji T Kesetaraan rata-rata (T Test equality of means) Rata-rata Investasi per penjualan (2007) Untuk grup yang Untuk grup yang TIDAK melaporkan … sebagai melaporkan … sebagai sebuah hambatan sebuah hambatan Akses atas tanah dan kepastian hukum Pemberian surat izin usaha Interaksi pemerintah daerah dengan kalangan pengusaha Kemampuan dan integritas Utama Biaya-biaya transaksi Prasarana Penyelesaian masalah keamanan dan konflik 0.15 0.07) 0.57) 0 (0.

711608 0.Lampiran-Lampiran Lampiran IV – Insiden-Insiden keamanan dan pertumbuhan Statistik Regresi Regresi Berganda Regresi Kuadrat Regresi Kuadrat yang Disesuaikan Kesalahan Standar Observasi Koefisien Konstanta Variabel X 0.002768 Sumber: The Asia Foundation / survei KPPOD (2008).0527 0.01065 Lebih Tinggi 95.711608 0.748 Nilai P 1. Koefisien variabel independen. 80 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . tim konflik dan pembangunan World Bank Catatan: 1.490169 -0.14E-09 0.402 -1.097479 Lebih rendah 95% 0. signifikan pada tingkat 10 persen.166216 20 Statistik t 11.380964 0.490169 -0.0% 0. Variabel dependen di sini adalah saham perusahaan-perusahaan di sebuah kabupaten yang telah meningkatkan penjualan per pegawai mereka pada 2006-07. 2.01065 Lebih Tinggi 95% 0.00484 0.145134 0.0% 0. Variabel independen adalah jumlah insiden keamanan yang terjadi di sebuah kabupaten pada tahun 2005-06.600889 -0.000976 Lebih Rendah 95.097641 0.000976 Kesalahan Standar 0. 3. jumlah insiden keamanan.