Public Disclosure Authorized

49568

Diagnosis Pertumbuhan Aceh

Public Disclosure Authorized

Public Disclosure Authorized

Public Disclosure Authorized

Juli 2009

Mengidentifikasi hambatan-hambatan utama pertumbuhan ekonomi pasca konflik dan pasca bencana

KANTOR BANK DUNIA JAKARTA Gedung Indonesia Stock Exchange, Tower II/Lt. 12-13 Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53 Jakarta 12910 Tel: (6221) 5299-3000 Fax: (6221) 5299-3111

BANK DUNIA Bank Dunia 1818 H Street N.W. Washington, D.C. 20433 USA Tel: (202) 458-1876 Fax: (202) 522-1557/1560 Email : feedback@worldbank.org Website : www.worldbank.org

Dicetak bulan Juli 2009

DIAGNOSIS PERTUMBUHAN ACEH: Mengidentifikasi hambatan-hambatan utama pertumbuhan ekonomi pasca konflik dan pasca bencana adalah produk staf Bank Dunia. Temuan-temuan, penafsiran, dan kesimpulan yang dinyatakan dalam dokumen ini tidak berarti mencerminkan pandangan Direksi Eksekutif Bank Dunia atau pemerintah yang diwakilinya. Bank Dunia tidak menjamin ketepatan data yang tercantum dalam dokumen ini. Perbatasan, warna, denominasi, dan informasi lain yang ditunjukkan di setiap peta yang terdapat dalam dokumen ini tidak mengimplikasikan suatu penilaian terhadap bagian Bank Dunia sehubungan dengan status hukum setiap wilayah atau pengesahan atas persetujuan terhadap perbatasan tersebut.

Diagnosis Pertumbuhan Aceh

Mengidentifikasi hambatan-hambatan utama pertumbuhan ekonomi pasca konflik dan pasca bencana

Pendidikan dan modal sumber daya manusia 7. Rendahnya Kemungkinan Pengembalian atas Investasi (Appropriability) a. Rodrik dan Velasco (2005) Gambar 3 Aceh telah mengalami pertumbuhan dengan laju yang lebih lambat dibandingkan Indonesia hampir di sepanjang dasawarsa ini Gambar 4 Upah minimum provinsi di Aceh telah meningkat lebih dibandingkan daerah-daerah lain di Indonesia Gambar 5 Kekerasan di Aceh – Jan 2005 sampai dengan Des 2008 Gambar 6 Kredit terhadap PDRB sangat rendah di Aceh 6 10 15 19 24 26 ii Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Akses Terhadap Kredit a. Biaya-biaya Transaksi: Pajak dan Iuran Keamanan e. Apakah pembiayaan menjadi masalah di Aceh? b. Hasil Sosial yang Rendah a. Apakah permasalahannya adalah rendahnya tabungan dan tidak adanya akses terhadap pembiayaan eksternal? d.kegagalan informasi 8. Risiko-risiko Makroekonomi b. Infrastruktur: listrik c. Memahami Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi di Aceh 4. Lampiran-Lampiran Lampiran I – Perkiraan hasil-hasil pendidikan Lampiran II – Tabel regresi: kinerja perusahaan dan permasalahan-permasalahan yang dihadapi Lampiran III – Uji T Kesetaraan rata-rata (T Test equality of means) Lampiran IV – Insiden-Insiden keamanan dan pertumbuhan iv v vi 1 5 9 15 21 25 25 27 28 30 32 37 38 40 42 47 47 48 51 53 59 61 65 71 77 77 78 79 80 Gambar Gambar 1 PDB per kapita di Aceh hampir sama dengan rata-rata nasional Gambar 2 Kerangka kerja. Tinjauan Ekonomi Pada Saat Konflik dan Pasca Konflik di Aceh 5. Korupsi d. Daftar Referensi 10. Pendahuluan 2. Lingkungan usaha c. apakah persoalannya adalah pembatasan kredit oleh bank? 6. Kesimpulan 9.kegagalan koordinasi f. Metodologi 3. yang diadaptasi dari Hausmann. Apakah biaya modal tinggi terjadi di Aceh? c. Apakah permasalahannya adalah fungsi intermediasi (perantara) bank-bank lokal yang rendah? e. Apabila tidak. Infrastruktur: jalan-jalan b.Daftar Isi Pengantar Ucapan Terima Kasih Daftar Istilah Ringkasan Eksekutif 1. Kegagalan pasar . Kegagalan pasar .

per kabupaten Gambar 19 Jumlah pelanggan telepon seluler di Aceh untuk penyedia layanan terkemuka dan jumlah warnet 27 27 28 29 29 34 39 40 41 50 49 56 62 Tabel Tabel 1 Tabel 2 Tabel 3 Tabel 4 Table 5 Tabel 6 Tabel 7 Tabel 8 Tabel 9 Tabel 10 Tabel 11 Tabel 12 Tabel 13 Tabel 14 Tabel 15 Tabel 16 Tabel 17 Tabel 18 Tabel 19 Tabel 20 Bagaimana konflik mepengaruhi perekonomian? Penciptaan lapangan kerja di Aceh Pertumbuhan ekonomi di Aceh Proyeksi tingkat kemiskinan Aceh dalam lima tahun (angka pada tahun 2008) Kredit investasi dan modal kerja sebagai bagian dari PDRB Suku bunga nomial rata-rata.Juli 2009 Gambar 7 Tingkat peminjaman investasi riil di Aceh dan rata-rata nasional Gambar 8 Tingkat peminjaman investasi nominal di Aceh dan rata-rata nasional Gambar 9 Pertumbuhan PDB tidak bereaksi terhadap perbedaan suku bunga Gambar 10 Tabungan per PDRB untuk provinsi-provinsi di Indonesia. dan berakhirnya konflik terhadap pertumbuhan Data Investasi Merevitalisasi Pertanian Aceh Apakah konflik merupakan halangan untuk mengakses kredit? Industri-industri baru yang mulai berkembang di Aceh 8 18 20 32 62 iii Diagnosis Pertumbuhan Aceh . korban sipil. perbandingan antara mantan Tentara Nasional Aceh (TNA). rekonstruksi. 2006 Gambar 11 Dana-dana pemerintah menyumbangkan bagian yang besar dari simpanan di Aceh Gambar 12 Sektor konstruksi dan perdagangan menerima bagian kredit yang relatif besar di Aceh Gambar 13 Bagaimana perusahaan-perusahaan menilai kondisi dari jenis-jenis infrastruktur yang berbeda Gambar 14 Belanja pemerintah untuk infrastruktur di Aceh telah meningkat sejak tahun 2004 Gambar 15 Aceh kekurangan cadangan listrik siaga yang diperlukan untuk menghindari gangguan pasokan Gambar 17 Komposisi sektoral dari sampel survei The Asia Foundation / KKPOD Gambar 16 Lingkungan Indonesia untuk menjalankan usaha masih relatif buruk di tahun 2009 Gambar 18 Kinerja perusahaan dan peristiwa-peristiwa kekerasan. Desember 2008 Kredit investasi dan modal kerja sebagai bagian dari keseluruhan kredit Pendapatan dan kekayaan (hanya untuk laki-laki) Kondisi infrastruktur di Aceh dan Indonesia tahun 2005 Kondisi Jalan di Aceh. 2006 Tingkat elektrifikasi di Aceh berada di tingkat yang sama dengan wilayah-wilayah lain di Indonesia Capaian pendidikan Karakteristik dasar. dan non korban (khusus pria) Tenaga profesional dalam bidang kesehatan dan pendidikan Hasil pendidikan – perkiraan kenaikan upah Indeks persepsi korupsi Jenis penghidupan (khusus pria) Perbandingan kawan dan mitra usaha di kalangan mantan pejuang GAM (%) Ekspor non-migas Aceh. dalam AS$ Hambatan-Hambatan terhadap Pertumbuhan di Aceh 11 13 16 18 26 30 31 35 38 39 41 42 43 44 45 52 54 55 61 66 Kotak Kotak 1 Kotak 2 Kotak 3 Kotak 4 Kotak 5 Menguraikan dampak-dampak tsunami.

Akhirnya. maka kekacauan akan menurun. Karena lingkungan konflik dan pasca konflik yang tidak positif dapat memperburuk investasi dan pertumbuhan ekonomi. meskipun fakta menunjukkan bahwa Aceh relative aman selama kurun waktu hampir 4 tahun. dan memberikan rekomendasi pada upaya pemerintah dalam memperioritaskan dan merubah kebijakan untuk meningkatkan iklim investasi Meningkatkan kemakmuran masyarakat merupakan hal yang penting untuk menjaga perdamaian. Pemerintah Aceh menyadari bahwa sebelum pelaku usaha dan masyarakat merubah persepsi mereka tentang keamanan di Aceh dan merasa percaya diri bahwa mereka dapat memperoleh manfaat penuh dari investasi mereka. yang pada akhirnya mengurangi minat investasi. Joachim von Amsberg Direktur Bank Dunia Indonesia iv Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Tentunya menghilangkan hambatan pertumbuhan dan investasi adalah penting. Laporan ini menunjukkan bahwa beberapa investor masih memandang Aceh sebagai daerah yang berisiko untuk berinvestasi. Beberapa daerah konflik biasanya kembali ke suasana konflik dalam tahun-tahun awal kesepakatan damai. Beberapa insiden keamanan. perdagangan dan transportasi). Kondisi penurunan ekonomi secara alamiah ini juga berhubungan dengan dampak negatif krisis keuangan global. Konflik yang ada di Aceh tidak dapat disederhanakan menjadi hanya isu lapangan pekerjaan dan ketimpangan sosial. serta membantu terjaganya perdamaian. Terdapat masalah lain yang mempengaruhi perekonomian Aceh. hanya sedikit investasi akan datang. Yaitu termasuk lingkungan usaha. menghambat pelaku usaha dan individu untuk berinvestasi di Aceh. Namun tidak untuk Aceh. Karena pada akhirnya dapat membuat propinsi ini terus tumbuh dengan tingkat hidup yang lebih baik bagi masyarakat. kondisi ekonomi Aceh tercatat terus menurun. Berakhirnya masa konflik pada tahun 2005 dan berlanjutnya masa-masa damai merupakan pencapaian besar. Meskipun sempat memanas dalam Pemilu legislatif dalam bulan April lalu. akses pada permodalan dan kualitas infrastruktur. Namun demikian.Pengantar Aceh saat ini berada di persimpangan jalan. namun secara umum kondisi keamanan mengalami perkembangan yang menggembirakan. Dampak lain dari konflik juga masih adanya pajak-pajak illegal. Searah dengan menurunnya usaha-usaha rekonstruksi yang sebelumnya telah menghasilkan tingkat pertumbuhan yang tinggi disektor-sektor ekonomi tertentu (misalnya konstruksi. pertumbuhan propinsi ini akan terbatas dan upaya-upaya untuk mengurangi kemiskinan akan kurang efektif. Hal ini menunjukkan komitmen yang tinggi dari kedua belah pihak termasuk pemerintah pusat untuk terus memelihara perdamaian sehingga mendorong pembangunan yang lebih baik. yang lazim terjadi di daerah pasca konflik. Akarnya jauh lebih rumit dan memelihara perdamaian lebih penting dari sekedar pertumbuhan ekonomi. kami percaya bahwa manakala masyarakat dalam keadaan stabil dan menikmati penghasilan yang layak. Fakta juga menunjukkan bahwa sebenarnya ekonomi Aceh belum sembuh dari dampak negatif konflik yang terjadi selama 30 tahun. Laporan ini mencoba menunjukkan bagaimana faktorfaktor yang berbeda ini berpengaruh pada investasi dan pertumbuhan.

Said Mustafa dari Kantor Gubernur Aceh yang telah memfasilitasi pertemuan tersebut. Peter Rosner. atas dukungan. Universitas Syiah Kuala. Achmad Budiman. IAIN Ar-Raniry dan the Asia Research Institute (ARI) Universitas Nasional Singapura. Bimbingan dari Bank Indonesia dalam melaksanakan survei ini sangat penting. Kami juga ingin mengucapkan terima kasih kepada para rekan peninjau (peer reviewer). Ucapan terima kasih kami haturkan kepada T. yang bekerjasama dengan Unit Pembangunan Sosial. Kami ingin berterima kasih khususnya pada Romawaty Sinaga. Akhirnya. yang dilakukan oleh Nielson Indonesia dengan bantuan dana dari Department for International Development (Departemen Pembangunan Internasional (DFID)) Inggris. dan Erman Rahman dari The Asia Foundation. Blair Palmer. Dalam melaksanakan penelitian ini. Tim Bulman. Scott Guggenheim. serta para peserta konferensi tersebut. dari tanggal 23 sampai 24 Februari 2009. dan William Wallace. Hasil-hasil awal juga telah dipresentasikan kepada Pemerintah Aceh pada bulan April 2009 untuk menjelaskan hasil temyan awal dan untuk memperoleh umpan balik dari Pemerintah tentang kegiatan kami. Said Fauzan Baabud. Diskusi yang kami lakukan dengan Laura Paler (Columbia) dan Yuhki Tajima (Riverside) bermanfaat bagi kami dalam penafsiran data. bimbingan. serta masukan-masukan bermanfaat yang telah diberikan sepanjang proses penyusunan laporan ini. Tim penyusun laporan ini diketuai oleh Enrique Blanco Armas dan terdiri atas Patrick Barron. Rodrigo Wagner. Lina Marliani. David Elmaleh. David Newhouse. kami ingin mengucapkan terima kasih kepada Vikram Nehru. Fitria Fitrani.Juli 2009 Ucapan Terima Kasih Laporan ini disusun oleh unit Manajemen Ekonomi dan Penanggulangan Kemiskinan Asia Timur Bank Dunia. Adam Day. Kai Kaiser. karena telah memberikan kepada kami kesempatan untuk menyajikan hasil-hasil awal dan memberikan kepada tim tanggapan-tanggapan yang matang tentang makalah yang disajikan. Adrian Morel. dan Wasi Abbas. Peter Milne dan Arsianti yang telah membantu dengan melakukan penyuntingan dan produksi laporan ini. tim mendapatkan bantuan dari sebuah survei kecil dan serangkaian wawancara yang dilakukan dengan para pelaku usaha dan bank-bank di Aceh. Neni Lestari. Tim juga telah mempresentasikan versi awal dari laporan ini dalam Konferensi Internasional tentang Kajian Aceh dan Kawasan Samudra Hindia (ICAIOS) kedua yang bertajuk “Konflik Sipil dan Penanggulangannya”. Lloyd McKay. Rizki Atina yang telah memberikan bantuan untuk tim. Elena Ianchovichina dan Nicola Pontara. Yoko Doi. Penelitian ini juga mendapatkan banyak bantuan dari survei di tingkat perusahaan yang dilakukan oleh KPPOD dan The Asia Foundation di Aceh pada tahun 2008. Ahya Ihsan. Islahuddin. Joachim von Amsberg. Kami juga menggunakan hasil dari survei Reintegrasi Aceh dan Penghidupan (ARLS). di Banda Aceh. Susan Wong. yang telah memberikan bimbingan menyeluruh kepada kami. meluangkan waktu yang cukup banyak untuk membahas survei tersebut dan hasil-hasilnya dengan tim. Wolfgang Fengler. Keduanya setuju untuk memberikan hasil-hasil surveinya kepada kami. termasuk Enrique Aldaz-Carroll. Kami sangat berterima kasih atas masukan-masukan berharga yang diberikan oleh banyak orang selama penyusunan laporan ini. serta kepada semua peserta yang telah meluangkan waktunya dan memberikan tanggapan-tanggapan yang bermanfaat kepada tim. Sukmawah Yuningsih. dan Harry Masyrafah. Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada para penyelenggara. dan kami secara khusus berterima kasih kepada Yusran dan Eko Hermonsyah dari Bank Indonesia atas bantuannya. v Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Robert Wrobel. Nazamuddin. yang telah memberikan masukan-masukan berharga.

Daftar Istilah APKO ARLS ARI ATAP BI BPS CSIRO DAU DFID GAM GDP GER GRDP GwH IAIN ICAIOS ICG IFC IOM IOO KDP KPM KPPOD KTP KUR kVA LDR LOGA MIGA MoU MSME MSR NAD NER NGO NPL PDRB PEG PER PLN PMA PMDN Pusdatin Asosiasi Penguasaha Kopi Aceh Reintegration and Livelihood Survey Asia Research Institute Aceh Triple-A Project Bank Indonesia Biro Pusat Statistik Australia’s Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization Dana Alokasi Umum Department for International Development Gerakan Aceh Merdeka Gross Domestic Product Gross Enrollment Rate Gross Regional Domestic Product Gigawatt Hour Institut Agama Islam Negeri International Conference on Aceh and Indian Ocean Studies International Consultative Group International Finance Corporation International Organization for Migration Investment Outreach Office Kecamatan Development Program Business Empowerment Credit Program Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah Kartu Tanda Penduduk Kredit Usaha Rakyat Kilo Volt Ampere Loan to Deposit Ratio The Law on Governing Aceh Multilateral Investment Guarantee Agency Memorandum of Understanding Micro. Small and Medium Enterprises Multi Stakeholder Review Nanggroe Aceh Darussalam Nett Enrollment Rate Non Government Organization Non Performing Loan Produk Domestik Regional Brutto Poverty Elasticities of Growth Pemberdayaan Ekonomi Rakyat Perusahaan Listrik Negara Penanaman Modal Asing Penanaman Modal Dalam Negeri Pusat Data dan Informasi vi Diagnosis Pertumbuhan Aceh .

Juli 2009 RPJMD RUPTL Sakernas SMA SME Susenas TAF TNA TNI UN Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik Survey Tenaga Kerja Nasional Sekolah Menengah Atas Small Medium Enterprise Survey Sosial Ekonomi Nasional The Asia Foundation Tentara Negara Aceh Tentara Nasional Indonesia United Nations vii Diagnosis Pertumbuhan Aceh .

.

Sedangkan perekonomian dari sektor non-migas menunjukkan pertumbuhan yang cukup rendah. meningkatkan produktifitas. Usaha manufakturing dan pengolahan hasil pertanian merupakan sektor yang secara khusus sangat dirugikan apabila terjadi pemadaman listrik. Dampak-dampak tersebut mempengaruhi bagaimana perekonomian berfungsi dalam 1 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Konflik dapat menimbulkan dampak yang mendasar pada lembaga-lembaga ekonomi. pertumbuhan sektor-sektor tersebut telah melambat. pertanian dan industri). seperti pada saat sebelum terjadinya tsunami. jauh di bawah pertumbuhan di tingkat nasional sebesar 6 persen.3 kali per minggu. dan membentuk kembali sektor produktif agar tidak lagi bergantung pada sektor minyak dan gas. dan transportasi. sementara pelambatan tersebut belum diisi oleh sektor-sektor lain dalam perekonomian (misalnya. Seiring dengan berakhirnya masa rekonstruksi. Pertumbuhan di Aceh pasca tsunami didominasi oleh sektor-sektor yang berkaitan erat dengan upaya rekonstruksi. Pemerintah Aceh dapat mempertimbangkan untuk upaya-upaya pembaruan untuk menarik investasi dari sektor swasta dalam bidang energi dengan (i) merevisi penetapan harga listrik yang dihasilkan oleh pihak swasta untuk didistribusikan melalui PLN. Hal ini menyebabkan sejumlah usaha kecil yang tidak memiliki generator sendiri tidak dapat menjalankan kegiatannya. (ii) mendorong keikutsertaan sektor swasta dalam pembangkitan listrik dari sumber-sumber energi yang dapat diperbaharui (panas bumi. lebih dari dua kali lipat dari jumlah gangguan yang dialami oleh daerah-daerah lain di Indonesia. Selain untuk meningkatkan tingkat keandalan pasokan energi dari Sistem Interkoneksi Sumatera. Pada saat di mana cadangan minyak dan gas yang diketahui semakin menipis dengan cepat dan program rekonstruksi pasca tsunami tidak lagi menjadi motor penggerak pertumbuhan.9 persen. laporan ini mengidentifikasi kurangnya pasokan listrik yang dapat diandalkan sebagai hambatan utama terhadap investasi dan pertumbuhan di Aceh. dan membantu transisi Aceh menjadi perekonomian yang modern. Hambatan utama lainnya terhadap investasi dan pertumbuhan di Aceh adalah masalah pungutan liar dan masalah keamanan yang masih menjadi perhatian para calon investor. energi matahari). Perekonomian Aceh mengalami penurunan sebesar lebih dari 8 persen di tahun 2008. perdagangan.Ringkasan Eksekutif Hambatan-hambatan terhadap investasi dan pertumbuhan di Aceh perlu segera ditangani. Sisa-sisa konflik di Aceh masih terus menghambat pertumbuhan. Berbagai perusahaan di Aceh melaporkan bahwa pasokan listrik mengalami gangguan rata-rata 4. biomassa setempat. Dengan menggunakan kerangka diagnosa pertumbuhan. pertumbuhan ekonomi kembali menurun. dan politik yang menjadi landasan pertumbuhan. sosial. sektor swasta perlu menjadi mesin penggerak pertumbuhan. dan (iii) menjajaki kemungkinan kemitraan pemerintah-swasta untuk menarik para produsen listrik yang hemat biaya. Hal tersebut harus menjadi fokus instansi-instansi terkait dalam upaya untuk menarik investasi di Aceh. yaitu sebesar 1. seperti konstruksi. Seiring dengan akan berakhirnya upaya rekonstruksi.

dengan melibatkan masyarakat madani dan sektor swasta dalam diskusi-diskusi dan pemantauan situasi keamanan. reformasi harus terlebih dahulu difokuskan pada sektor-sektor yang menghasilkan pertumbuhan yang berkesinambungan dan menyeluruh dengan penciptaan lapangan pekerjaan dan pemerataan manfaat pertumbuhan ekonomi secara luas.3 persen dari usaha-usaha tersebut menyatakan keamanan dan kemudahan penyelesaian konflik sebagai hambatan di Aceh. kekhawatiran akan masalah keadilan dan kepastian bahwa ’para pihak yang berpotensi akan mengganggu perdamaian’ merupakan sebuah masalah yang penting. Semua hal tersebut meningkatkan ketidakpastian dalam menjalankan usaha di Aceh. satu dari empat usaha swasta menyatakan mengeluarkan biaya untuk tambahan keamanan. 2 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . dan sejumlah sektor jasa. Pertumbuhan inklusif di Aceh akan timbul dari pertumbuhan sektor-sektor yang menjadi sumber mata pencaharian mayoritas masyarakat miskin. maka hal tersebut mungkin kurang efektif dan akan menimbulkan masalah baru serta kecemburuan lainnya. sektor manufaktur lain. Untuk memperkuat supremasi hukum. Pertumbuhan harus bersifat inklusif. terutama perdagangan dan transportasi. Upaya untuk mengatasi kekhawatiran para calon investor tentang keamanan dan pemberantasan pungutan liar serta suap membutuhkan strategi dua arah: memperkuat supremasi hukum dan menangani hal-hal yang menjadi penyebab timbulnya ancaman kekerasan dan keamanan. instansi-instansi terkait harus mendukung pertumbuhan dan pembangunan ekonomi di daerah-daerah yang dilanda konflik. Kabupaten-kabupaten tempat terjadinya insiden-insiden yang paling hebat sejak penandatanganan Kesepakatan Damai cenderung merupakan kabupaten-kabupaten di mana perusahaan-perusahaan mencatat kinerja yang lebih rendah. dibandingkan dengan angka di provinsi-provinsi yang lain yang hanya mencapai 4 persen. dengan fokus pada kelompok-kelompok yang berisiko dan rentan. preferensi. Hal tersebut mungkin membutuhkan modal politik yang cukup besar. Sifat inklusif dari pertumbuhan ekonomi menjadi sangat relevan dalam situasi pasca konflik. Khususnya di lingkungan pasca konflik seperti Aceh. Kekhawatiran akan keamanan dan persepsi negatif di luar Aceh nampaknya merupakan faktor yang kuat yang menghalangi investasi di provinsi tersebut. Pertumbuhan inklusif juga akan didorong oleh penciptaan lapangan pekerjaan di sektor-sektor padat karya. Apabila bantuan hanya diberikan kepada para mantan pejuang GAM. perusahaan dan para individu akan dapat lebih mudah menilai biaya-biaya dan hasil investasinya secara lebih pasti dan tentunya akan melakukan investasi apabila investasi tersebut secara jelas dapat berkembang. Pungutan liar dan masalah-masalah keamanan dianggap sebagai hambatan-hambatan yang sangat besar oleh usaha-usaha: 9. Mengingat terbatasnya kapasitas dan modal politik yang harus dimiliki oleh instansi-instansi pemerintah daerah untuk melaksanakan reformasi. yang sama pentingnya dengan modal yang diperlukan untuk membangun konstituen yang diperlukan yang akan mendukung reformasi tersebut. dan fungsi kelembagaan. dampak-dampak tersebut juga dapat membahayakan keamanan para individu dan masyarakat dengan cara-cara yang secara tidak langsung mengubah perilaku. serta kapasitas sistem peradilan untuk menuntut dan menghukum para pelaku kejahatan. Berbagai perusahaan mencoba mengatasi ketidakpastian tersebut dengan menjalin kerjasama dengan prusahaan-perusahaan atau jaringan-jaringan setempat yang dapat menawarkan perlindungan dan rasa aman. walaupun hal tersebut tidak selalu mungkin dilakukan. Secara rata-rata. instansi-instansi terkait harus meningkatkan kapasitas kepolisian untuk melakukan penyelidikan dan menyelesaikan kasus-kasus kejahatan. Selain pengaruh-pengaruh destruktif langsung. Persepsi peningkatan risiko juga dapat juga menimbulkan kurangnya kredit untuk sektor swasta. agribisnis. Situasi keamanan yang lebih baik dan penghapusan pungutan dan pajak liar kemungkinam besar akan mendorong meningkatnya investasi dan pertumbuhan. terutama masyarakat miskin sebagai produsen. Seiring dengan pengurangan biaya-biaya yang terkait dengan keamanan dan pungutan liar. yaitu pertanian dan perikanan. Untuk menangani faktor-faktor penyebab yang mendasar dari ancaman kekerasan dan keamanan.Ringkasan Eksekutif masa pasca konflik. lintas sektoral dan bermanfaat bagi sebagian besar dari angkatan kerja.

irigasi. Pemerataan manfaat pertumbuhan akan memberikan masyarakat Aceh tanggung jawab yang besar atas perdamaian dan stabilitas. harus menjadi bagian dari setiap strategi untuk memelihara perdamaian di provinsi Aceh. Upaya untuk mengatasi hambatan-hambatan yang telah teridentifikasi akan bermanfaat bagi masyarakat secara keseluruhan. Intervensi tersebut antara lain berupa upaya umtuk terus fokus pada sektor pertanian (namun juga dengan meningkatkan layanan publik lainnya. Strategi umum untuk mengatasi persoalan keamanan dan konflik harus mencakup upaya untuk mendorong pertumbuhan yang inklusif dan merata. sehingga meningkatkan kemampuan masyarakat miskin dan rentan di Aceh untuk merasakan manfaat dari pertumbuhan.Juli 2009 Pertumbuhan yang inklusif dan merata yang bermanfaat bagi mayoritas penduduk. juga memberikan perhatian khusus terhadap peluang terhadap ‘pihak yang berpotensi akan mengganggu perdamaian’. seperti pemberian kredit. sehingga pada akhirnya memperkecil kemungkinan terulangnya konflik. Terdapat pula intervensi khusus untuk memastikan agar pertumbuhan bersifat inklusif.). Intervensi tersebut juga termasuk memulihkan ketidakadilan yang ada baik dalam modal manusia maupun modal fisik dengan menambah keterampilan masyarakat miskin di daerah-daerah pedesaan. 3 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . dll.

.

Hal ini pada akhirnya menciptakan sektor industri produktif lainnya di samping sektor migas dan membantu transisi Aceh untuk menjadi perekonomian yang modern. dan dampak yang terjadi di daerah pasca konflik. apakah hambatan-hambatan terhadap investasi timbul dari tingginya biaya atau rendahnya akses terhadap kredit. Masalah-masalah tersebut disebut sebagai hambatan-hambatan utama1. Penggunaan kerangka ini dalam latar tersebut memiliki beberapa keterbatasan. Namun dampak pertumbuhan pada upaya pengentasan kemiskinan dan kesinambungan pertumbuhan sangat bergantung pada laju dan pola pertumbuhan. dan Velasco (2005) yang bertujuan untuk mengidentifikasi masalah-masalah utama yang menghambat pertumbuhan perekonomian Aceh dan harus segera menjadi fokus utama dari kebijakan ekonomi. Laporan ini mengidentifikasi hambatanhambatan terhadap investasi dan pertumbuhan. persoalan-persoalan seperti. Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu faktor pendorong utama bagi upaya pengentasan kemiskinan di banyak negara. memberikan wawasan tentang apa yang menghambat investasi dan pertumbuhan sektor swasta di Aceh. Di dalam berbagai bagian dalam laporan ini. Rodrik. Hambatan-hambatan utama adalah faktor-faktor penentu pertumbuhan tersebut yang apabila dikurangi. Berbagai tantangan terhadap perekonomian Aceh telah banyak didokumentasikan secara luas. akan menghasilkan dampak positif langsung tertinggi pada kinerja pertumbuhan. Pada daerah pasca konflik. semua tindakan kebijakan tidak akan memiliki dampak yang sama pada pertumbuhan. Laporan ini menggunakan Kerangka Diagnosa Pertumbuhan yang dikembangkan oleh Hausmann. karena sejumlah faktor penentu relatif lebih rendah daripada faktor-faktor penentu yang lain. Oleh karena itu. Meski demikian.01 Pendahuluan Laporan ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang menjadi penghambat pertumbuhan di Aceh. struktur dasar sosial. Kerangka ini telah di modifikasi sedemikian rupa agar dapat diterapkan dengan latar belakang daerah yang merupakan daerah pasca konflik. dan memastikan bahwa “pihak yang berpotensi akan mengganggu perdamaian” yang juga merasakan manfaat dari pertumbuhan. analisis yang dilakukan untuk menjawab beberapa pertanyaan seperti . menjadi semakin penting dan tidak dapat ditangani secara mudah dengan menggunakan kerangka diagnosa pertumbuhan. Pada saat di mana cadangan minyak dan gas tercatat semakin menipis dan program rekonstruksi pasca tsunami yang akan segera berakhir. Di 1 Pendekatan ini didasari oleh dalil bahwa faktor-faktor penentu pertumbuhan lebih merupakan pelengkap daripada pengganti. Terdapat hambatan yang penting terkait dengan ketersediaan data di tingkat daerah. khususnya minimnya data investasi sektor swasta yang dapat diandalkan. ketidakmampuan untuk menghasilkan laba atas investasi karena rendahnya hasil investasi sosial atau rendahnya tingkat laba atas investasi yang mungkin diperoleh. 5 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Sektor swasta yang kuat dapat meningkatkan produktifitas dan dapat membantu menciptakan investasi baru dalam sektor industri tradisional dan non tradisional. sektor swasta harus menjadi mesin penggerak pertumbuhan. laporan ini dapat digunakan sebagai masukan yang berharga dalam proses pengambilan keputusan politik. Laporan ini bertujuan mengidentifikasi dan memahami secara lebih rinci persoalan-persoalan pertumbuhan ekonomi yang paling mendesak untuk di perbaiki dan bagaimana upaya reformasi yang tepat terkait dengan perkembangan dan pertumbuhan sektor swasta.

J ra at Pr aw Ut op . Struktur perekonomian Aceh. dan Litbang dan bagaimana hal-hal tersebut penting untuk menghasilkan pertumbuhan produktifitas. K nt ap g ep an u Pr ula Tim a op u .K op al Pr w e lat . menjangkau pasar-pasar baru dan memperkenalkan peningkatan proses usaha dapat 2 Teori pertumbuhan telah banyak berevolusi dalam beberapa dekade terakhir dengan berusaha mengidentifikasi faktor-faktor penentu pertumbuhan. yang berfokus pada akumulasi modal manusia dan modal.000 40. P n . B a . K eh rop tan al D a . Gambar 1 PDB per kapita di Aceh hampir sama dengan rata-rata nasional PDRB non-migas per kapita. tahun 2006 (nilai saat ini) 60. S law en rat g ul aw esi k ul P e Se u Pr rop si Te lata op .M a us P luk a ro u Te p Ut n . B Ut gg ta an ara n t r Se en Pr oe A op c P la .2 Investasi menyebabkan terjadinya akumulasi modal (fisik. manusia) dan dapat menimbulkan kemajuan teknologi. J n Pr . B im r an uss ali P ta ala Pr rop n Te m op . terutama di sektor non-migas. 2008a). Pertumbuhan di sektor non-migas menguat sebesar lebih dari 7 persen pada tahun 2006 dan 2007. B P a T ara an ro im Pr gk p. perlu dicapai untuk menurunkan angka kemiskinan di provinsi tersebut secara signifikan.000 30. 1990) memperkenalkan konsep insentif untuk inovasi. Pertumbuhan yang inklusif dan berkesinambungan.000) hampir sama dengan jumlah rata-rata di tingkat nasional pada tahun 2006 (Gambar 1).5 persen di tahun 2008.Pendahuluan Indonesia. ur op a R .000 Pr op . P y a at . S at ara Pr um ra B t op at ar . 6 Diagnosis Pertumbuhan Aceh Pr op . J n n . n b Pr rop Yog Bar i op . 1956). K P Be iau Pr alim rop lit u op a . menunjukkan bahwa rendahnya pertumbuhan tidak dapat diejawantahkan ke dalam tingkat kemiskinan yang lebih rendah (World Bank. Tingkat pertumbuhan Aceh tercatat cukup lambat dan berfluktuatif yang juga menjelaskan penyebab dari tingginya angka kemiskinan di Aceh. Dengan tidak menyertakan sektor migas dari sumber-sumber pendapatan daerah. K P si T gah al ro en im p g Pr an .000.000. Te La Bara n Pr P gg m p t o r a u Pr p. atr Ba Su a op r Pr la Se at . a Pr gga M al ra Pr op r u op .000. Investasi memungkinan penerapan teknologiteknologi baru.000 10. S aw gg ul a ara aw Te Pr op e n . sebesar 23.000 20. J a ah op ta m P . pertumbuhan dari pertengahan tahun 1960-an hingga terjadinya krisis keuangan pada tahun 1997-98 merupakan pertumbuhan yang memihak pada masyarakat miskin dikarenakan meningkatnya produktifitas dalam bidang pertanian dan perluasan sektor-sektor padat karya (World Bank. a T ku . N P aw nt a r us ro esi lo a p. N . Teori pertumbuhan endogen (Romer. Hal ini menimbulkan kekhawatiran tentang prospek pertumbuhan seiring dengan berkurangya aliran dana rekonstruksi: Tingkat pertumbuhan awal untuk tahun 2008 menunjukkan bahwa pertumbuhan di sektor non-migas telah melambat sampai dengan 1. Pencarian faktor-faktor penentu pertumbuhan yang dapat memandu pembuatan kebijakan masih jauh dari kata usai. Model-model pertumbuhan modern berfokus pada latar dan kebijakan-kebijakan kelembagaan yang memberikan insentif yang benar untuk investasi (Aghion and Howitt.000. dampak ikutan. namun terdapat kesepakatan bahwa investasi merupakan faktor penentu utama pertumbuhan. namun angka ini hanya sedikit lebih tinggi daripada pertumbuhan rata-rata di tingkat pusat.000. meskipun terdapat aliran dana rekonstruksi yang sangat besar yang masuk ke provinsi Aceh. yang mengamati tingkat tabungan dan memperkenalkan konsep kemajuan teknologi.000. 1992). a k Pr Sum pu art a a Pr op.N im o si an an an p. S op ra B ng op u . dengan demikian meningkatkan produktifitas. atau model pertumbuhan neoklasik (Solow. Su awa gah op m B . Model pertumbuhan klasik. D an ur KI Ria Ja u ka rta ACEH Sumber: BPS dan perhitungan staf Bank Dunia Salah satu faktor penentu utama pertumbuhan adalah insentif-insentif yang diberikan oleh pemerintah guna mendorong sektor swasta dan para individu untuk melakukan investasi. PDB Aceh per kapita yang berjumlah Rp 11 juta (sekitar AS$1.000 50. tidak dapat menjelaskan perbedaan angka-angka pertumbuhan di seluruh negara. yang sangat bergantung pada sektor minyak dan gas dengan sedikit peluang terhadap ketenagakerjaan dan kaitannya dengan sektor-sektor perekonomian yang lain. S Go im Pr ul ro u op . Aceh merupakan salah daerah dengan angka kemiskinan tertinggi di Indonesia. 2006a).9 persen dibandingkan dengan pertumbuhan di tingkat pusat yang mencapai lebih dari 6 persen. Hal tersebut bertolak belakang dengan angka kemiskinan.

pendidikan. penyediaan barang-barang dan layanan publik tersebut tidak memadai dan hasilnya kurang optimal dari segi sosial. Barang-barang dan layanan-layanan tersebut. Pemerintah merupakan investor swasta yang kurang optimal. seperti prasarana umum. terutama apabila alokasi belanja berfokus pada penyediaan barang-barang publik dibandingkan dengan pemberian subsidi atau penyediaan barang-barang dan masukan-masukan dari swasta. Investasi pemerintah penting bagi pertumbuhan dalam hal bahwa pemerintah menyediakan barang dan layanan publik yang tidak akan dapat disediakan oleh pasar atau dapat disediakan oleh pasar dalam jumlah yang kurang memadai. Dibandingkan dengan para pelaku usaha swasta yang umumnya digerakkan oleh laba.org/data_files/english_format/economic/economic_analysis/ eco_analysis_2008_07_00. Investasi sebagai bagian dari PDB berjumlah sekitar 13 persen pada tahun 2008 di Aceh.aceh-eye. mereka mungkin dapat melakukan investasi dengan cara-cara yang sama sekali tidak dapat menghasilkan laba. Karena badan usaha tersebut seringkali tidak dihadapkan dengan hambatan anggaran yang besar. Kajian tersebut juga menunjukkan bahwa investasi publik melengkapi (dan tidak menggantikan) investasi swasta sebagai penggerak pertumbuhan. Kredit investasi. mengingat langkanya sumber daya dan adanya kebutuhan akan perbaikan penyediaan layanan publik.pdf Mutu investasi pemerintah telah dianalisis dalam berbagai makalah analisa (World Bank.Juli 2009 memiliki dampak ikutan positif yang bermanfaat bagi perekonomian secara keseluruhan. yang paling menonjol melalui penyediaan barang-barang publik. perbaikan layanan kesehatan dan lain-lain. 4 7 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . seperti “Aceh Hijau”. sektor swasta lebih efektif dalam menghasilkan jenis inovasi dan pertumbuhan produktifitas yang diperlukan untuk memelihara tingkat pertumbuhan dibandingkan dengan pemerintah. pendidikan. tingkat investasi di Aceh tertinggal dari daerah-daerah lain di Indonesia. dan keamanan adalah sejumlah bidang yang lebih menonjol di mana pemerintah memiliki peranan yang penting. Belanja untuk layanan umum (kesehatan. Terdapat keprihatian tentang efisiensi belanja dan mutu investasi pemerintah di provinsi Aceh. sebagaimana ditunjukkan oleh data dari Bank Indonesia. pemerintah memiliki serangkaian tujuan yang lebih luas yang dapat mengakibatkan inefisiensi dalam pengelolaan badan usaha milik negara. Para investor swasta kemungkinan memiliki informasi yang lebih baik karena mereka memiliki pemahaman tentang usaha tertentu. Kajian terbaru (Moreno-Dodson. dapat memberikan manfaat bagi semua pelaku perekonomian dengan biaya marjinal yang terbatas bagi pengguna tambahan. pemerintah harus berfokus untuk memberikan layanan-layanan publik tersebut: infrastruktur yang modern. terutama tentang investasi swasta. Tidak ada data tentang investasi yang dapat diandalkan. yang kurang dari 8 persen dari PDB. dengan tetap mengakui peran penting yang dimiliki oleh investasi pemerintah dalam meningkatkan pertumbuhan. Yang lebih penting lagi. sebagai akibatnya. pendidikan yang lebih baik. temuan-temuan tersebut telah dimasukkan ke dalam analisis ini. termasuk Indonesia. Pemerintah provinsi Aceh menyadari hal ini dan telah berupaya untuk menarik investasi swasta yang secara nyata tersaji dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) dan prakarsa-prakarsa lain yang diusung oleh pemerintah provinsi. apabila diserahkan kepada sektor swasta. menciptakan eksternalitas positif di mana laba atas investasi sosial lebih tinggi daripada laba atas investasi swasta. Pemerintah setempat tidak kekurangan sumber daya. 3 Aceh Hijau adalah sebuah prakarsa yang diluncurkan oleh Gubernur Aceh untuk melaksanakan visinya untuk “Strategi Investasi dan Pembangunan Ekonomi Hijau untuk Aceh”. jauh lebih rendah dari porsi di tingkat pusat yang berjumlah 24 persen. Investasi pemerintah dapat mengalahkan investasi swasta karena mereka mungkin khawatir akan adanya persaingan yang tidak sehat dari badan usaha milik pemerintah. menunjukkan hubungan yang positif antara belanja publik dan pertumbuhan.3 Namun demikian. www. juga tercatat rendah di Aceh dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain di Indonesia. namun tidak memiliki pengalaman untuk mengalokasikan sumber daya tersebut secara efisien. 2006b dan 2008b) dan sepanjang makalah tersebut relevan. dan infrastruktur) cukup tinggi apabila dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain dan mutu layanan secara umum setara dengan provinsi-provinsi lain di Indonesia. Infrastruktur. namun bukti yang ada menunjukkan tingkat investasi tersebut sangat rendah. Laporan ini berfokus pada analisis atas hambatan-hambatan terhadap investasi sektor swasta. kesehatan. 2008) yang dilakukan oleh Bank Dunia di sejumlah negara berkembang. Sebagai akibat dari eksternalitas tersebut.4 Laporan ini berasumsi bahwa terkait dengan investasi dalam usaha.

gempa bumi yang dahsyat dan tsunami menghancurkan Aceh. ketergantungan pada donor dan bantuan) sebagian besar tidak berlaku terhadap Aceh (lihat Barron.000 orang harus mengungsi (IOM. Pada bulan Desember 2004. Naiknya tingkat kekerasan yang baru-baru ini terjadi menunjukkan bahwa stabilitas dan perdamaian Aceh tidak dapat dianggap mudah (World Bank. sisa-sisa konflik dapat terus menghambat pertumbuhan dalam waktu dekat ini.000 mantan pejuang dan penduduk sipil GAM menghadapi tantangantantangan reintegrasi (Barron and Burke. perekonomian mengalami penurunan. sehingga mereka bergantung pada sanak keluarganya. Laporan ini. Aceh merupakan bagian dari suatu negara yang cukup besar.5 Laporan ini mencoba mengungkap apa saja dampak yang ditimbulkan oleh konflik yang berkepanjangan antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Indonesia pada pertumbuhan dan investasi. Segera setelah terjadinya tsunami. 2007. dan kerusakan infrastruktur yang signifikan (World Bank/KDP. Walaupun demikian. Walaupun demikian. banyak yang melakukan pekerjaan terkait dengan rekonstruksi pasca tsunami. 2009). Meskipun sebagian besar dari mereka telah kembali bekerja. dan berakhirnya konflik terhadap pertumbuhan Setiap analisis tentang perekonomian Aceh setelah tsunami dan berakhirnya konflik akan menghadapi suatu tantangan: muara dari serangkaian kejadian-kejadian dramatis yang berdampak besar pada perekonomian. trauma yang tersebar luas (IOM/Harvard Medical School. terutama di sejumlah sektor seperti perdagangan. 2007). Konflik tersebut berakhir dengan penandatanganan Nota Kesepahaman Helsinki oleh GAM dan Pemerintah Indonesia pada tanggal 15 Agustus 2005. rekonstruksi. 2009b). menghadapi masalah yang serupa. karena konflik yang berkepanjangan dan menipisanya cadangan gas. World Bank. Kekerasan telah mengalami pasang surut sejak tahun 1976. mengingat singkatnya jangka waktu di mana semua hal tersebut terjadi. hasil-hasilnya harus ditafsirkan secara seksama mengingat mutu data dan kesulitan-kesulitan untuk menguraikan dampak-dampak dari kejadiankejadian yang berbeda tersebut. Kotak1 Menguraikan dampak-dampak tsunami. Masa-masa kekerasan bersenjata telah menjadi bagian dari sejarah Aceh setidak-tidaknya sejak jaman penjajahan (Reid. 2008). dengan lebih dari AS$7 milyar dialokasikan untuk Aceh dalam jumlah tahun yang terbatas. dan konstruksi. pendekatan tersebut telah berhasil digunakan di masa lalu (misalnya. 2009). Analisis atas dampak dari setiap kejadian tersebut pada pertumbuhan merupakan analisis yang rumit. 2008). 2008b). yang terbaru adalah konflik separatis antara GAM dan Pemerintah Indonesia. 2009. serta pasar dalam negeri yang besar. situasi politik di Aceh berubah secara dramatis dengan berakhirnya konflik antara GAM dan Pemerintah Indonesia. sehingga menimbulkan potensi masalah setelah berakhirnya program tersebut (MSR. periode pasca konflik menimbulkan tantangan-tantangan baru. yang berupaya menganalisis pertumbuhan dan hambatan-hambatan terhadap pertumbuhan. Laporan ini berupaya menguraikan berbagai macam dampak yang ditimbulkan oleh komflik pada struktur perekonomian masyarakat Aceh dan bagaimana sisa-sisa peperangan terus membentuk insentif untuk investasi dalam masa pasca-konflik. Terkait dengan hal tersebut. diperhitungkan mencapai 80 persen dari PDB Aceh.5 milyar. kebanyakan persoalan tersebut yang dapat mempengaruhi perekonomian pasca konflik yang lain (lemah atau gagalnya negara. penting pula untuk mengakui bahwa Aceh bukanlah lingkungan pasca konflik yang biasa. Bantuan dan upaya rekonstruksi yang luar biasa dimulai tidak lama setelah itu. ICG. yang lebih penting lagi. yang mengakibatkan sekitar 12. 2009). 2009). 5 Laporan ini menganalisis secara mendalam dampak konflik terhadap investasi dan pertumbuhan. transportasi. 2006c). yang menawarkan tingkat stabilitas politik dan ekonomi yang tinggi. diperkirakan sebesar AS$4.Pendahuluan Konflik turut memiliki andil dalam buruknya kinerja perekonomian Aceh dan. Kerusakan dan kerugian.000 sampai dengan 20. Pada tahun 2004. Nazamuddin (2008) berpendapat bahwa tantangan utama dalam pelaksanaan reintegrasi bagi para mantan pejuang GAM adalah lapangan kerja. di mana 75 persen anggota GAM yang kembali ke kampung halaman masih menganggur pada tahun 2006 (World Bank. MSR. upaya rekonstruksi. Walaupun tidak sempurna. 8 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . sehingga pengidentifikasian penyebab-penyebab dan dampak-dampak sangat sulit untuk dilakukan. Sekurang-kurangnya 10. Laporan ini akan berupaya untuk melakukan hal tersebut dengan menggunakan serangkaian indikator untuk menidentifikasi daerah-daerah di Aceh yang terutama terdampak oleh tsunami. atau oleh dinamika konflik. Berakhirnya konflik pada bulan Agustus 2005 memungkinkan banyak masyarakat Aceh untuk kembali melakukan kegiatan sehari-harinya dan kembali bekerja. lebih dari 100.000 meninggal (Aspinall. 2006). Walaupun konflik merupakan inti dari berbagai masalah yang dihadapi oleh Aceh pada saat ini. Hal tersebut menyebabkan kaitan ke belakang (backward linkage) dengan sektor-sektor lain dalam perekonomian.

6 Suatu gambaran kerangka yang lebih terperinci serta jenis analisis ekonomi yang digunakan untuk mengidentifikasi hambatanhambatan yang mengikat dapat ditemukan di dalam Hausmann.02 Metodologi Laporan ini menggunakan kerangka diagnosa pertumbuhan yang dikembangkan oleh Hausmann. kerangka kerja tersebut dikembangkan untuk menganalisis hambatan-hamatan terhadap pertumbuhan pada tingkat nasional. dan harus menjadi fokus utama dari suatu kebijakan ekonomi. dan Velasco (2005). pendekatan ini mengakui kenyataan bahwa pemerintah seringkali memiliki modal politik yang terbatas dan tidak dapat melakukan reformasi besar-besaran yang sering bersifat kontraproduktif. Bagian ini menjelaskan metodologi yang akan digunakan untuk mengidentifikasi hambatan yang paling utama terhadap pertumbuhan. Pendekatan diagnosa pertumbuhan dapat membantu dalam memberikan suatu penilaian atas kebutuhan yang lebih terkait dengan konteks setempat. Kerangka kerja tersebut perlu disesuaikan untuk menganalisis hambatan-hambatan terhadap pertumbuhan di daerah pasca-konflik pada tingkat daerah. Pertama. di mana. atau hanya karena masyarakat percaya bahwa konflik akan berkobar kembali dan mereka akan kehilangan semua investasi mereka. namun suatu kombinasi analisis ekonomi dan pemahaman tentang keadaan ekonomi di provinsi ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi hambatan yang paling utama. Tujuan diagnosa ini adalah untuk mengidentifikasi hambatan(-hambatan) yang utama terhadap pertumbuhan yang bersifat khusus dalam kasus yang diteliti dan yang harus menjadi target reformasi. 2008. serta bagaimana metodologi ini disesuaikan dengan kondisi khusus di Aceh. di antara begitu banyak masalah yang mungkin melanda suatu perekonomian yang menjadi penghambat utama pertumbuhan. dan bagaimana sisasisa konflik terus mempengaruhinya. Apakah konflik merupakan suatu masalah bagi investasi karena dalam suatu lingkungan pasca-konflik. Tidak ada cara kuantitatif lain untuk mengukur semua hambatan potensial berdasarkan seberapa besarnya hambatan-hambatan tersebut. Kerangka diagnosa pertumbuhan memberikan suatu kerangka kerja untuk mengidentifikasi. masyarakat khawatir akan keamanan mereka dan keamanan aset mereka. Selain itu. dapat membantu meningkatkan rekomendasi-rekomendasi kebijakan. Pendekatan diagnosa pertumbuhan ini mempertimbangkan setiap kategori hambatan untuk menentukan apakah dan bagaimana suatu kategori telah dipengaruhi oleh konflik. atau karena beberapa prasarana penting telah hancur selama terjadinya konflik. Pendekatan ini mengakui bahwa konteks-konteks negara atau daerah tertentu memerlukan tindakan kebijakan yang berbeda untuk diterapkan. Kerangka kerja diagnosa pertumbuhan dapat digunakan untuk memahami bagaimana situasi konflik atau pasca konflik dapat mempengaruhi investasi dan pertumbuhan. 9 Diagnosis Pertumbuhan Aceh .6 Pemahaman tentang konteks sosial-politik setempat juga dapat membantu dalam penentuan prioritas rekomendasi-rekomendasi tentang hal-hal yang perlu direformasi. pada akhirnya. Rodrik. Pilihan metodologi ini juga didorong oleh keinginan tim untuk menguji persepsi yang tersebar luas dan berdasarkan intuisi bahwa bagaimanapun juga konflik pasti terkait dengan hambatan-hambatan yang paling mengikat di Aceh.

Resiko besar Biaya besar Analisis ini menerapkan suatu pendekatan sistematis untuk mengidentifikasi apa saja yang dapat menghambat pertumbuhan dan investasi. kerangka kerja tersebut memberikan suatu metode yang terstruktur untuk mempertimbangkan serangkaian mekanisme yang mungkin digunakan untuk bagaimana konflik dan dampak-dampaknya menentukan bentuk peluang-peluang untuk investasi dan pertumbuhan. struktur pemerintahan dan kekuasaan yang paralel yang menciptakan ketegangan-ketegangan dan masalah-masalah keamanan. Dalam keadaan seperti demikian. yang pada akhirnya dapat mengakibatkan timbulnya faktor diskon yang lebih tinggi yang dibuat oleh para investor dalam investasi di Aceh atau penjatahan kredit oleh bank-bank. perpajakan Rendahnya SDM Bagian luar Bagian luar informasi: koordinasi Resiko makro: “ self-discovery” keuangan. korupsi. Analisis tersebut dilakukan mulai dari tingkat yang paling atas dari diagram pohon di atas dan kemudian terus turun ke tingkat yang lebih rendah.resiko pemerintah Rendahnya Keuangan lokal yang kurang baik Tabungan domestik + Keuangan internasional yang kurang baik Kegagalan pasar Rendahnya kompetisi yang tidak baik Infrastruktur tidak baik Resiko mikro: hak bangunan. walaupun kebijakan-kebijakan yang menyebabkan timbulnya hambatan yang mengikat tersebut berada di luar kendali provinsi. Terdapat permasalahan tentang suatu perekonomian pasca-konflik yang tidak dapat sepenuhnya ditangkap dengan menggunakan kerangka kerja ini. karena para investor memperhitungkan kemungkinan terjadinya kembali konflik.Metodologi Penerapan kerangka kerja tersebut pada tingkat daerah menimbulkan beberapa tantangan teoretis dan metodologis. yang diadaptasi dari Hausmann. termasuk “besarnya jumlah aktor-aktor politik yang bersaing atau keberadaan lembaga-lembaga negara dan daerah (tradisional) yang bersaing” (Ulloa. Mungkin kenyataannya adalah bahwa hambatan yang mengikat terletak di suatu daerah yang bukan di bawah kendali provinsi. Konflik dapat juga mempengaruhi insentif-insentif masyarakat untuk berinvestasi dengan berbagai cara yang tidak langsung sebagai akibat dari jumlah modal manusia (human capital) yang lebih sedikit dan prasarana yang tidak terawat. Akan tetapi. Rodrik dan Velasco (2005) Rendahnya tingkat investasi swasta dan wirausaha Rendahnya pendapatan dari aktivitas ekonomi Biaya keuangan yang besar Rendahnya pendapatan sosial Rendahnya appropriability Kurangnya Kegagalan keamanan . maka konflik tersebut akan diintegrasikan dengan dua cara yang berbeda. khususnya risiko terjadinya kembali konflik. Gambar 2 Kerangka kerja. Laporan ini menganalisis dampak langsung yang ditimbulkan oleh konflik terhadap insentif-insentif untuk berinvestasi. Data yang tersedia pada tingkat daerah lebih sedikit dibandingkan yang tersedia di tingkat nasional. serta suatu lingkungan usaha yang tidak kondusif. Namun demikian. seperti kebijakan moneter atau aturan nilai tukar. namun provinsi masih dapat bertindak untuk mengurangi akibat-akibat dengan kebijakan-kebijakan “terbaik kedua”. 2008). sambil 10 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . sehingga analisis menjadi lebih sulit. Para calon investor mungkin mengkaitkan Aceh dengan risiko yang lebih tinggi. kerangka kerja ini akan relatif lebih tepat untuk kasus-kasus di mana data dengan kualitas yang baik sukar didapatkan. Untuk menganalisis dampak konflik terhadap investasi. sehingga mengurangi hasil-hasil sosial dari investasi. moneter. Kerangka yang telah disesuaikan tersebut dijelaskan dalam Gambar 2.

Penelitian ini juga menggunakan dua set data tertentu tentang Aceh. maka apakah permasalahannya adalah simpanan yang rendah atau sistem keuangan dalam negeri yang buruk di mana fungsi intermediasi tidak berjalan secara efisien? Untuk mengidentifikasi hambatan-hambatan yang paling mengikat. Tabel 1 Bagaimana konflik mepengaruhi perekonomian? Kategori 1. Sumber daya manusia yang rendah Mekanisme • Banyaknya korban jiwa akibat bencana atau konflik • Kerusakan pada sistem pendidikan • Ketidakhadiran para guru selama terjadinya konflik • Keahlian-keahlian yang tertinggal dari pembaharuan • Perpindahan-perpindahan penduduk secara terpaksa sebagai akibat dari konflik • Perpindahan keluar para tenaga ahli 2. yang digunakan untuk mengembangkan hipotesis-hipotesis dan untuk memperluas pemahaman-pemahaman tentang temuan-temuan kuantitatif. Risiko-risiko kredit yang • Risiko pengambilalihan atau kerusakan apabila konflik berlanjut tinggi • Kemungkinan kecenderungan kemerosotan ekonomi yang lebih besar karena situasi keamanan 5. beberapa indikator tidak tersedia atau tidak dapat cukup dipercaya (lihat Kotak 2 untuk perincian-perincian lebih lanjut). sumber daya manusia. Terkait dengan data kuantitatif. Biaya kredit yang besar • Pajak-pajak ilegal • Biaya pemantauan yang tinggi Penelitian ini menggunakan sumber-sumber data kualitatif dan kuantitatif untuk mengidentifikasi hambatan(-hambatan) pertumbuhan utama. terdapat banyak penelitian yang dilakukan atas Aceh dan ada banyak literatur tentang provinsi ini. Setiap cabang menggambarkan potensi “gejala” atau “penyakit” perekonomian yang dapat memberikan penjelasan tentang tingkat-tingkat investasi swasta dan kewirausahaan yang rendah. Bagian-bagian dalam laporan ini sesuai dengan berbagai cabang pohon yang menganalisis apa yang dapat menjadi hambatan-hambatan utama terhadap pertumbuhan di Aceh. atau prasarana yang baik) atau kesulitan yang dihadapi pihak-pihak swasta untuk memberikan manfaat tersebut (karena kegagalankegagalan pemerintah atau pasar)? Apabila permasalahannya adalah tingginya biaya kredit. seseorang harus menjalani suatu proses yang berulang: yakni diagnostik pertumbuhan itu sendiri. Prasarana yang buruk • Pemberian layanan publik setempat yang buruk • Kerusakan langsung terhadap prasarana • Kurangnya pemeliharaan terhadap sarana publik 3. penelitian ini mengandalkan sumber-sumber data standar seperti BPS (Biro Pusat Statistik) dan BI (Bank Indonesia) untuk sebagian besar indikator-indikator makroekonomi dan keuangan yang digunakan. apakah masalahnya terletak pada manfaat sosial (karena kurangnya faktor-faktor pelengkap seperti geografi. Risiko-risiko mikro • “Pajak-pajak” ilegal yang dikenakan kepada usaha-usaha karena pemerasan yang dilakukan para mantan pejuang GAM • Lembaga-lembaga pemerintah yang tidak berdaya • Korupsi 4. Survei-survei tersebut mencakup informasi sosial 11 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Penelitian ini berdasar pada sebagian dari penelitian yang sudah ada sebelumnya ini. Pertanyaan yang harus dijawab pada tahap ini adalah apakah hambatan yang mengikat tersebut adalah rendahnya tingkat manfaat bagi kegiatan ekonomi atau biaya kredit yang tinggi. yang digambarkan dalam tabel di bawah ini.Juli 2009 berupaya pada setiap tahap untuk mengidentifikasi apa saja yang menghambat investasi sektor swasta. Apabila hambatan yang mengikat tersebut adalah rendahnya tingkat manfaat. Meskipun sebagian besar dari data-data tersebut tersedia untuk Aceh. Laporan ini mendalilkan bahwa konflik yang melanda Aceh selama lebih dari suatu generasi menimbulkan dampak negatif terhadap pertumbuhan di provinsi Aceh dalam berbagai bentuk. yaitu: Survei pemerintahan ekonomi daerah Aceh yang dilakukan oleh The Asia Foundation / KPPOD dan Aceh Reintegration and Livelihood Surveys (ARLS). Karena tsunami dan konflik horizontal.

khususnya masyarakat miskin sebagai produsen. serta fokus pada kelompokkelompok tertentu. Dengan demikian. kemampuan mereka untuk mendapatkan keterampilan dan kemampuan mereka untuk memasuki pasar tenaga kerja di mana mereka dapat memperoleh pendapatan dengan menggunakan keterampilan mereka. Oleh karena itu. serta sisi permintaan tenaga kerja (perusahaan dan investor). karena penurunan kemiskinan yang berkesinambungan memerlukan suatu jenis pertumbuhan yang memungkinkan masyarakat untuk memberikan kontribusi kepada dan mendapatkan keuntungan dari pertumbuhan ekonomi. yang bergantung kepada sektor swasta yang dapat menawarkan peluang kerja. penilaian tentang lingkungan usaha dan peluang-peluang-peluang untuk memanfaatkan sumber daya yang tersedia dalam lingkungan usaha tersebut. Sebuah kerangka kerja pertumbuhan yang inklusif untuk menganalisis hambatan-hambatan terhadap pertumbuhan mungkin merupakan hal yang penting khususnya untuk Aceh. Peningkatan pada penghidupan masyarakat yang bekerja dalam sektor pertanian dan perdagangan eceran sebagian besar akan hanya dapat tercapai dengan mengalihkan kedua sektor tersebut ke dalam kegiatan-kegiatan yang memiliki nilai yang lebih tinggi. diperlukan suatu analisis atas persediaan modal manusia yang dimiliki oleh masyarakat (pendidikan dan kesehatan). jumlah orang yang bekerja telah mengalami penurnan sampai dengan lebih dari 100. Dengan demikian. 12 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . di mana sektor pertanian dan perdagangan memiliki nilai tambah per pekerja yang sangat rendah (terkecuali sektor jasa. 2008f ).Metodologi dan ekonomi pada tingkat perusahaan atau perorangan yang membantu menguraikan mekanismemekanisme mikroekonomi yang mendasari perekonomian masyarakat Aceh. Perhatian yang terkait dengan pertumbuhan yang inklusif diejawantahkan dalam tiga bidang utama. serta peluang-peluang bagi mereka untuk dipekerjakan (World Bank. serta pemahaman tentang dampak ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat karena konflik pada tingkat individu. Bidang-bidang tersebut adalah: fokus pada sektor-sektor yang padat karya. Laporan ini terkait dengan pertumbuhan secara inklusif dan berkesinambungan. Sifat inklusif tersebut merujuk kepada kesetaraan peluang terkait dengan akses terhadap pasar. contohnya untuk menyelidiki masalah-masalah yang terkait dengan pertumbuhan yang inklusif. Jumlah tenaga kerja pada sektor pertanian dan perdagangan telah berkurang. Untuk menilai peluang kerja masyarakat miskin. Analisis atas pertumbuhan yang inklusif difokuskan pada laju dan pola pertumbuhan. Bagian berikut ini akan meninjau fakta-fakta terhadap hambatan-hambatan yang paling utama terhadap pertumbuhan yang inklusif. Hal ini juga mencakup upaya untuk menyelidiki peluang kerja (employability) masyarakat miskin. Analisis ini difokuskan pada upaya untuk mengidentifikasi hambatan-hambatan utama terhadap pertumbuhan yang inklusif. 2008).000 orang. berakhirnya rekonstruksi dapat disertai dengan penurunan lapangan kerja di Aceh. yaitu peluang kerja. konstruksi) yang terkait dengan upaya rekonstruksi juga mempekerjakan sebagian besar dari para mantan pejuang GAM. yang kebanyakan termasuk layanan umum). Pilar kedua dari pertumbuhan yang inklusif. Upah bulanan rata-rata memberikan cerminan yang jelas tentang nilai tambah per pekerja dalam sektor tersebut. sumber daya. Tabel di bawah ini menunjukkan bahwa sampai dengan tahun 2008. karena ketimpangan yang sistematis pada peluang dapat menggelincirkan proses pertumbuhan dengan adanya konflik (Komisi Pertumbuhan dan Pembangunan – Commission on Growth and Development. meneliti pertumbuhan yang inklusif secara tidak langsung menyiratkan upaya untuk meneliti sisi persediaan tenaga kerja (masyarakat miskin dan keterampilan mereka). seperti pertanian atau perdagangan kecil. dan suatu lingkungan pengaturan yang tidak memihak bagi usaha dan individu. sementara sektor-sektor lain tidak mampu menciptakan pekerjaan dengan laju yang sama. Hal yang sangat mengkhawatirkan adalah bahwa sebagian besar dari lapangan kerja yang tercipta (transportasi. fokusnya terletak pada pertumbuhan ekonomi yang memiliki basis yang luas di semua sektor dan mencakup mayoritas angkatan kerja.

613 8.081.2 28.5 -1.02 0.855 59.6 -1.497 5.092 14.402 215.50 0.03 1.8 4.92 1.92 1.180 3.5 6.10 1.3 -3.587 47.90 1.538.568 9.Juli 2009 Tabel 2 Penciptaan lapangan kerja di Aceh Jumlah pekerjaan 2002 Pertanian Pertambangan Industri Utilitas Bangunan Perdagangan Transportasi Keuangan Jasa Total 1.486 62.687 187.849 5.1 Upah bulanan ratarata 2008 (jutaan Rp) 0.4 20.334 7.617 77.175 1.180 1.622 Pertumbuhan ratarata 2002-08 (%) -3.668 69.2 -1.687 757 34.182 293.772 1.085 72.64 1.617.749 232.088 1.387 103.914 51.670 72.322 74.606 60.494 2008 876.371 9.522.30 Sumber: BPS dan perhitungan staf Bank Dunia 13 Diagnosis Pertumbuhan Aceh .907 246.343 224.879 231.733.504 2006 866.078 3.4 5.261 2004 906.720 178.528 8.046 8.

.

0% 0. Rendahnya tingkat pertumbuhan perekonomian non-migas sebagian disebabkan oleh konflik yang melanda Aceh sampai terjadinya tsunami. yang diperlukan untuk diagnosis atas hambatan-hambatan terhadap pertumbuhan dan investasi. Aceh terus menunjulkan tingkat pertumbuhan yang rendah atau negatif selama jangka waktu tersebut. gas dan pertambangan selama lebih dari satu dasawarsa di seluruh Indonesia. yaitu 23. 15 Diagnosis Pertumbuhan Aceh .03 Memahami Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi di Aceh Aceh memiliki tingkat pertumbuhan yang negatif hampir di sepanjang dasawarsa ini. Jumlah ini telah merosot sampai kurang dari 20 7 Cadangan minyak dan gas menipis dengan cepat. Bagian ini bertujuan untuk memberikan suatu pemahaman yang lebih baik tentang pola-pola pertumbuhan dan investasi di Aceh. Sementara daerah lain di Indonesia telah pulih dari krisis keuangan tahun 1997. namun sejak saat itu perekonomian Aceh terlihat sulit untuk tumbuh. Aceh merupakan provinsi yang relatif makmur di Indonesia pada tahun 1970-an dan sampai awal tahun 1980-an. namun hanya ada sedikit investasi dalam eksplorasi yang baru.5 persen pada tahun 2008.0% 5. apabila dibelanjakan dengan bijaksana. sebagian sebagai akibat dari menipisnya cadangan gas alam. minyak dan gas serta usaha manufaktur terkait menyumbangkan lebih dari 50 persen dari PDB Aceh.0% -10. Gambar 3 Aceh telah mengalami pertumbuhan dengan laju yang lebih lambat dibandingkan Indonesia hampir di sepanjang dasawarsa ini Perbandingan pertumbuhan ekonomi non migas per kapita 10. yang membuatnya menjadi salah satu dari daerah dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Indonesia. akan meredam proyeksi penurunan dana dari pembagian pendapatan dan upaya rekonstruksi. Pertumbuhan ekonomi tanpa sektor migas tumbuh dengan laju yang relatif rendah (dan lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional) hingga upaya-upaya rekonstruksi tsunami dimulai (Gambar 3). Hanya ada sedikit investasi baru dalam sektor minyak.0% -20.0% Aceh Indonesia Sumber: BPS dan perhitungan oleh staf Bank Dunia Kinerja ekonomi Aceh pra-tsunami ditandai oleh konflik serta menipisnya cadangan-cadangan minyak dan gas di pantai timur Aceh. Penemuan-penemuan baru di Aceh dapat memberikan tambahan pendapatan yang. meskipun terdapat ledakan yang berkesinambungan untuk komoditas tersebut di seluruh dunia.0% 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 -5.7 Pada tahun 2003.0% -15. Sebuah catatan terbaru yang dibuat oleh World Bank dan IFC (2008) mengidentifikasikan beberapa hambatan utama bagi lingkungan usaha dalam sektor ini.

0 -16. secara signifikan lebih tinggi daripada porsinya pada tingkat nasional sebesar 14 persen.Memahami Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi di Aceh persen sampai dengan tahun 2008.9 5.7 8. tampaknya tidak sesuai dengan data dari sumber-sumber lain (seperti data produksi dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral). Porsi pertanian.4 1. seperti konstruksi.7 -47.1 -2.6 2006 1. pertumbuhan mulai melambat dan angka-angka awal untuk tahun 2008 menunjukkan suatu 8 McGibbon (2006) berpendapat bahwa upaya-upaya pemerintah untuk membangun Aceh gagal sehingga pertumbuhan dan pembangunan ekonomi tersebut terpusatkan pada pengembangan sebuah daerah di sekitar Lhokseumawe yang memiliki sedikit keterkaitan dengan daerah lainnya di provinsi tersebut. upaya rekonstruksi yang besar serta menipisnya cadangan minyak dan gas secara signifikan menyulitkan perluasan statistik daerah. kehutanan.4 7. perdagangan dan transportasi.3 -26.2 -4.0 0. Penurunan produksi gas menimbulkan dampak negatif terhadap industri yang bergantung pada ketersediaan gas dengan harga yang murah dan terletak berdekatan dengan ladang-ladang gas.0 -24.9 11. Sebuah perbandingan tentang pengurang-pengurang yang dimaksud secara tak langsung di tingkat Aceh dan nasional menunjukkan perbedaan-perbedaan yang besar yang tidak dapat sepenuhnya dijelaskan oleh perbedaan-perbedaan tingkat inflasi. Perekonomian Aceh telah mengalami perubahan yang signifikan selama beberapa tahun terakhir.6 3.2 -8.9 -2.4 -9.5 2.4 Perekonomian pasca-tsunami Aceh didominasi oleh aliran masuk dana rekonstruksi dalam jumlah besar.4 5. minyak sawit. hotel. Pada saat upaya rekonstruksi berakhir.3 78.2 -5. Tabel 3 Pertumbuhan ekonomi di Aceh Persen9 Pertanian. Sekitar setengah dari semua produksi pertanian adalah tanaman pangan.6 -4.0 14.7 4.2 1.5 9.3 6. meningkat menjadi 25 persen pada tahun 2008.6 23.8 -11.6 -21. di mana 20 persen lainnya adalah tanaman non-pangan (perkebunan).7 5.9 6. yang menyumbangkan 17 persen dari PDRB pada tahun 2003. dan rumah makan Transportasi dan komunikasi Keuangan Jasa PDB Aceh PDB Aceh non migas PDB Indonesia PDB Indonesia non-minyak dan gas Sumber: BPS. Sebelum tsunami.9 -22. seperti pupuk. sementara pasca-tsunami sebagian besar pertumbuhan dalam sektor pertanian berasal dari sektor tanaman non-pangan.6 -23. *Angka-angka pendahuluan.7 13.0 -10.2 -7.5 6.0 48.7 -10.9 6.3 19. Ketidakkonsistenan ini mungkin merupakan akibat dari data pengurang yang digunakan untuk memperkirakan laju pertumbuhan.2 5. dan perikanan Pertambangan dan penggalian9 Minyak dan gas Penggalian Industri manufaktur Industri minyak dan gas Industri non-minyak and gas Listrik. khususnya kopi.1 -16.8 -44. khususnya pada sisi produksi.0 -0.1 12. walaupun pertanian juga telah tumbuh dalam beberapa tahun terakhir.8 -22. dan sedikit tanaman perkebunan lainnya.7 -0. dan air (utilitas) Bangunan Perdagangan.0 2005 -3.1 -9.5 -2. Akan tetapi.6 14.0 -24.6 1.8 3. gas.8 dampaknya mungkin dapat dirasakan terutama pada tingkat makro.5 7.0 6.3 1.5 0.6 -22.1 2007 3. 2004 6.7 10.8 -13. kecenderungan-kecenderungan besar yang dibahas dalam bab ini tetap valid.2 -17.6 12. karena industri gas dan industri-industri terkait di sekitar Lhokseumawe memiliki sedikit keterkaitan dengan bagian lain dari perekonomian .6 7. Sebagian dari laju pertumbuhan yang dilaporkan.1 1.6 1. Meskipun terjadi ketidakkonsistenan-ketidakkonsistenan dalam deretan PDB. cokelat. seperti penurunan minyak dan gas yang hampir 50 persen pada tahun 2008.6 19.4 20.1 6.8 5.4 7.6 -37. kertas atau bahan-bahan kimia.4 10. tanaman non-pangan dan perikanan memberikan sumbangan terbesar untuk pertumbuhan dalam sektor ini. Menggunakan pengurang yang sama di Aceh seperti yang digunakan di daerah lainnya di Indonesia akan menunjukkan suatu penurunan dalam pertanian yang nyata dan suatu penurunan yang agak lebih lambat di sektor pertambangan pada tahun 2008. Sebagian besar dari pertumbuhan pada tahun 2006 dan 2007 terjadi dalam sektorsektor yang terkait erat dengan upaya rekonstruksi.9 4.9 1. Tsunami.7 6.0 6.9 2008* 0. 9 16 Diagnosis Pertumbuhan Aceh .3 -2.3 -17.3 1.

lebih terdampak oleh konflik. mungkin lebih mudah menjadi sasaran kelompok-kelompok bersenjata. PEG mengukur bagaimana pertumbuhan ekonomi mewujudkan penurunan kemiskinan. Hanya ada empat perusahaan yang relatif besar dalam sektor industri di Aceh. kemiskinan akan berkurang sampai 15.6. perubahan-perubahan tersebut serta laju pertumbuhan yang lebih tinggi dapat menimbulkan dampakdampak positif yang sangat besar. Indonesia telah mengalami pertumbuhan yang memihak kepada masyarakat miskin sejak tahun 1970 (World Bank. seperti para pedagang atau pada perusahaan-perusahaan jasa angkutan. serta sebuah pabrik semen dekat Banda Aceh. Berawal dari suatu tingkat kemiskinan sebesar 23. pertumbuhan selama lima tahun dengan laju rata-rata sebesar 2 persen per tahun dan sehingga PEG sebesar -1.1999. Akan tetapi. Daerah-daerah terpencil yang fokus pada pertanian. Usaha manufaktur non-migas masih relatif tidak terlalu besar. Semuanya adalah industri-industri padat modal yang memiliki sedikit keterkaitan dengan bagian lain dari perekonomian. Sebagian besar usaha manufaktur adalah usaha skala kecil dan hanya melayani pasar setempat.5 persen. dengan penurunan pada perekonomian sebesar lebih dari 8 persen (non migas).4 persen. hanya kurang dari 5 persen dari PDRB (apabila dibandingkan dengan 22 persen pada tingkat nasional). khususnya di pedalaman.Juli 2009 perlambatan yang signifikan dalam sektor-sektor yang sebelumnya digerakkan oleh upaya rekonstruksi. Sektor-sektor yang lebih spesifik dalam hal lokasi. Pertumbuhan yang memihak kepada masyarakat miskin mencakup berinvestasi dalam aset-aset manusia dan fisik termasuk pengurangan biaya-biaya transaksi. Tiga perubahan besar pada penghidupan masyarakat Indonesia timbul karena perubahan-perubahan tersebut dan turut membantu masyarakat Indonesia untuk keluar dari kemiskinan: mata pencaharian telah mengalami perubahan dari pertanian bernilai rendah menjadi pertanian yang bernilai lebih tinggi. intensitasnya terlokalisir dan oleh karena itu tidak mempengaruhi semua wilayah secara merata. Tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi dapat secara drastis menurunkan kemiskinan. kertas). 10 Rasio perubahan persentase tingkat kemiskinan terkait dengan perubahan persentase pendapatan per kapita. sementara pemerasan atau perusakan lebih sulit dilakukan pada usaha-usaha yang dapat dengan mudah berpindah tempat. sampai -2.5 persen dalam 5 tahun. Tabel tersebut menggambarkan sembilan skenario dengan tingkat pertumbuhan per kapita dan elastisitas pertumbuhan kemiskinan10 (PEG) yang berbeda. Eksploitasi gas mengalami dampak yang sangat besar pada tahun 2001 ketika situasi keamanan memburuk. Tidak semua jenis pertumbuhan memiliki manfaat yang sama bagi masyarakat miskin: contohnya. Konflik juga mungkin mempunyai dampak yang berbeda pada faktor-faktor produksi yang digunakan secara intensif dalam berbagai sektor. Sebuah PEG sebesar -1. apabila pertumbuhan akan mencapai 4 persen dan PEG sebesar -2. dari pertanian menjadi non-pertanian dan dari kegiatan-kegiatan yang berbasis pedesaan menjadi berbasis perkotaan (World Bank.4. khususnya apabila pertumbuhan ini mencakup mayoritas penduduk Aceh. seperti perkebunan. 2008a dan 2006a). -1.4 akan menurunkan kemiskinan sampai 20. Ibu kota provinsi dan pantai barat paling sedikit mengalami dampak konflik. Nilai-nilai dalam tabel tersebut berkisar dari nilai yang saat ini dimiliki masayarakat Aceh. seperti ditunjukkan dalam Tabel 4. yang merupakan nilai tertinggi yang dicapai oleh Indonesia selama periode 1984 .4 berarti bahwa satu titik persentase pertumbuhan mewujudkan suatu penurunan tingkat kemiskinan sebesar 1. Di Aceh. 2006a) namun perkekonomian Aceh tetap tertinggal karena perekonomian yang tumbuh secara lambat selama tahuntahun terjadinya konflik dan karena sebagian besar dari pertumbuhan tersebut adalah dalam sektor minyak dan gas bumi. dan merupakan suatu skenario kasus terbaik (World Bank. meski demikian beberapa usaha-usaha swasta di kotakota juga mengalami pemerasan. yang mungkin memiliki dampak yang lebih besar pada kegiatan-kegiatan yang bernilai lebih tinggi yang membutuhkan pekerja-pekerja terampil dalam jumlah lebih besar. pertumbuhan ekonomi yang bergantung pada industri-industri ekstraksi mineral jarang mengalir ke bawah ke masyarakat miskin yang dapat meningkatkan penghidupan mereka.4 persen. 2006a). 17 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Para pekerja yang cakap merasa lebih baik meninggalkan Aceh dan mencari kesempatan-kesempatan di luar Aceh. sehingga menyebabkan beberapa petani tidak dapat merawat lahannya. Meskipun konflik mempengaruhi provinsi ini secara keseluruhan. kebanyakan terkait dengan ketersediaan gas murah (pupuk.

dan pariwisata (ATAP. 2008) berdasar pada analisis rantai nilai yang dilakukan dalam beberapa komoditas dan menyoroti kurangnya investasi swasta yang diperlukan untuk memperbaiki kualitas dan kuantitas produksi serta meningkatkan produktivitas. Aceh tertinggal dari provinsi-provinsi lainnya dalam hal menarik investasi dan hal ini mendorong ke arah kinerja pertumbuhan provinsi yang relatif buruk. Dari kredit tersebut. yang mengidikasikan rendahnya tingkat investasi di provinsi ini. Hampir 50 pesen dari semua perusahaan bergerak dalam sektor pertanian.4 -2. Data tentang investasi swasta yang dikumpulkan oleh Bank Indonesia. Data Bank Indonesia tentang kredit menunjukkan bahwa Aceh mempunyai rasio PDB kredit/non-minyak dan gas terendah kedua di seluruh Indonesia. (angka pada tahun 2008) Persen Pertumbuhan yang lebih tinggi Pertumbuhan yang lebih inklusif Laju pertumbuhan PEG -1. 18 Diagnosis Pertumbuhan Aceh .39 17.62 19. Meski demikian. 2008a. yang menunjukkan investasi swasta yang sangat kecil yang menambah persediaan modal di provinsi ini. Akan tetapi.03 11. 2008). Menggunakan volume kredit bank sebagai representasi investasi memiliki beberapa kekurangan. IFC (2007) menunjukkan bahwa pada tahun 2006 hampir 50 persen dari semua usaha mikro dan kecil yang mengambil pinjaman. semua bukti yang tersedia menunjukkan tingkat investasi yang relatif rendah. mendapatkan pinjaman dari bank bukan dari para pemberi pinjaman informal atau anggota keluarga.99 13. yang disebabkan oleh konflik dan tsunami.16 15. Penelitian yang baru-baru ini dilakukan atas perekonomian Aceh dan iklim investasinya (IFC. meningkatkan produktivitasnya dan penghematan biaya poduksi dari skala usaha. Sebagian besar dari semua usaha yang informasinya tersedia telah menghentikan kegiatan operasional untuk sementara waktu sampai dengan tahun 2006. yang mengindikasikan terbatasnya peran investasi swasta dalam membentuk perekonomian Aceh. 2007. IFC. Kelangkaan data tentang volume investasi swasta yang relatif rendah menunjukkan suatu konsentrasi dalam sektor-sektor pengembangan perkebunan. yang merupakan suatu tantangan yang cukup besar untuk setiap jenis analisis atas investasi. BPS dan Bainprom menunjukkan ketidakkonsistenan dan terdapat permasalahan-permasalahan metodologi yang berarti. Sebagian besar investasi baru pada tahun 2006 juga ddilakukan dalam sektor pertanian dan sebagian kecil dalam sektor perdagangan. perdagangan. bukti yang ada menunjukkan bahwa keadaannya tidak seperti itu di Aceh.49 17. sebagian besar digunakan untuk konsumsi.Memahami Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi di Aceh Tabel 4 Proyeksi tingkat kemiskinan Aceh dalam lima tahun.0 -2. Rasio kredit terhadap PDB di Aceh merupakan yang terendah kedua di Indonesia (lihat bagian tentang akses terhadap kredit). Survei lainnya yang dilakukan oleh Bank Dunia menunjukkan bahwa pada tahun 2008 sebanyak 44 persen rumah tangga juga telah mendapatkan pinjamanpinjaman dari bank-bank bukan dari sumber-sumber informal yang lain (Survei Akses Keuangan). namun para pemberi pinjaman uang. suatu indikasi tentang keunggulan komparatif provinsi Aceh.57 14. Kotak 2 Data Investasi Tidak ada data yang cukup akurat tentang investasi swasta di Aceh. Upaya untuk menarik minat investasi swasta merupakan kunci untuk memodernisasikan perekonomian Aceh. perikanan. keuntungan sendiri atau bahkan keluarga dan teman-teman seringkali merupakan sumber modal yang penting untuk investasi. pertambangan. dan salah satu kekurangan yang penting adalah bahwa di negara-negara berpenghasilan rendah bank bukanlah satu-satunya sumber pinjaman untuk usaha.6 2% 4% 7% 20.5% (tingkat kemiskinan pada tahun 2008) Sumber: Perkiraan-perkiraan Bank Dunia berdasarkan World Bank.06 8. yang menggambarkan tingkat investasi sektor swasta yang relatif rendah.61 Catatan: Menggunakan tingkat dasar sebesar 23. Kecilnya jumlah investasi swasta merupakan sebagai hambatan terhadap pertumbuhan. 2006a dan World Bank. Data Pembetukan Modal Dalam Negeri Bruto yang dikeluarkan oleh BPS hanya akan mencakup proyek-proyek investasi besar yang dilakukan dengan dana-dana masyarakat sebagai bagian dari upaya rekonstruksi.

akan tetapi kenaikan upah nyata yang tinggi dalam sektor-sektor jasa mungkin memberikan sebagian dari penjelasan tentang hal tersebut. Pemerintah Aceh dapat memfasilitasi hubungan masayarakat miskin di pedesaan dengan pilar-pilar pertumbuhan dengan memperbaiki prasarana pedesaan dan akses pasar serta menyediakan insentif untuk peningkatan mobilitas tenaga kerja antara daerah-daerah pedesaan dan perkotaan. Pertanian masih merupakan lapangan kerja yang utama di provinsi Aceh.000. karena hampir 30 persen populasi pedesaan di Aceh hidup di bawah garis kemiskinan pada tahun 2006 (World Bank. 2008a).200. pertanian mungkin akan terus mengurangi jumlah lapangan kerja dan terus mendekati tingkat nasional (41 persen).000 1. upah minimum regional ditentukan pada tingkat provinsi. Pada saat upaya rekonstruksi berakhir. Seiring dengan modernisasi di Aceh. seiring dengan kenaikan harga dan upah menjadi lebih tinggi daripada daerah-daerah lain di Indonesia sebagai akibat dari tsunami (Gambar 4). hal ini tidak terjadi (World Bank. Gambar 4 Upah minimum provinsi di Aceh telah meningkat lebih dibandingkan daerah-daerah lain di Indonesia Perbandingan UMP Daerah 2004-08 1. Sampai sejauh ini. Hal ini sesuai dengan langkah utama untuk melepaskan diri dari kemiskinan yang terdapat di Indonesia selama tahun 1980-an dan 1990-an (World Bank. Suatu strategi pertumbuhan yang inklusif adalah fokus pada upaya untuk merevitalisasi sektor pertanian dan industri-industri padat karya. Salah satu ciri dari pengurangan kemiskinan dalam periode ini adalah transisi masyarakat dari lingkungan pedesaan ke perkotaan dan penciptaan lapangan kerja selain di sektor pertanian.000 Rp 0 2004 Aceh 2005 Lhokseumawe 2006 2007 Sumatera Utara 2008 Nasional Sumber: BPS. namun di beberapa daerah lain di Indonesia.000 600. Peningkatan dalam produktivitas pertanian dipercayai memberikan kontribusi kepada keberhasilan penurunan kemiskinan yang mengesankan di Indonesia dari tahun 1970-an sampai krisis keuangan tahun 1997.Juli 2009 Perhatian khusus terhadap pertumbuhan yang inklusif adalah penting. hal ini terjadi melalui urbanisasi dari beberapa daerah pedesaan dan integrasi daerah-daerah pedesaan yang ditingkatkan dengan pilar-pilar pertumbuhan perkotaan. Upah yang tinggi mungkin memberikan pengaruh yang lebih besar pada Aceh. Walaupun reformasi-reformasi di pasar tenaga kerja dapat mengatasi beberapa hambatan penciptaan lapangan kerja yang kebanyakan di luar yurisdiksi pemerintah provinsi. Hal ini terkait dengan bahwa kebanyakan pertumbuhan dan lapangan kerja yang diciptakan di Aceh beberapa tahun belakangan terkait dengan ketersediaan dana rekonstruksi. Hal ini memberikan pengaruh yang diperlukan pemerintah provinsi untuk menghindari kenaikan upah yang merupakan suatu hambatan terhadap penciptaan lapangan kerja. 2008a). menyerap lebih dari 50 persen dari angkatan kerja. Sektor-sektor jasa dan manufaktur harus menjadi pengerak penciptaan lapangan kerja yang utama. mendatang). Revitalisasi sektor pertanian masih penting untuk memastikan bahwa masyarakat miskin di Aceh dapat memperoleh keuntungan dari pertumbuhan.000 200.000 800. 2006a). Diversifikasi tanaman dan kepemilikan usaha kecil selain pertanian merupakan strategi-strategi kunci masyarakat Aceh untuk melepaskan diri dari kemiskinan sebagai akibat dari tsunami (World Bank. Terdapat beberapa alasan tentang rendahnya lapangan kerja yang tercipta dalam sektor non-pertanian.000 400. 19 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . banyak lapangan kerja yang akan hilang.

Terdapat peningkatan permintaan untuk produk-produk pertanian bernilai lebih tinggi seperti hortikultura atau perternakan sebagai akibat dari meningkatnya permintaan dari pasar-pasar dalam negeri karena Indonesia menjadi lebih kaya dan masyarakat menginginkan jenis makanan yang berbeda-beda. 2008). (iii) memperlengkapi para petani dengan ketrampilan-ketrampilan yang diperlukan untuk mengadakan negosiasi dengan rantai-rantai pasokan besar dan (iv) mendorong penggunaan instrumen-instrumen berbasis pasar untuk mengendalikan risiko-risiko yang meningkat. Mengingat fakta bahwa Aceh merupakan wilayah yang cukup terdesentralisasi. dan penelitian terbaru menunjukkan bahwa sering kali para petani yang lebih besar dan berpendidikan lebih baik adalah pihak-pihak yang mampu berhubungan dan menerima manfaat dari peningkatan permintaan ini (World Bank. Walaupun hak atas tanah merupakan masalah di seluruh Indonesia. 2008e). yakni mengorientasikan kembali dukungan pemerintah untuk membantu para petani kecil dan kelompok-kelompok petani untuk mendapatkan akses terhadap rantai nilai global dengan (i) meningkatkan infrastruktur. Minat para investor baik investor dalam negeri maupun investor asing di propinsi ini berfokus pada sektor pertanian. karena sebagian besar fungsi ini dialihkan ke pemerintah-pemerintah daerah yang tidak selalu menyediakan tenaga dan tingkat layanan-layanan penyuluhan yang memadai. mereka juga menyebutkan kesulitan-kesulitan dalam memperoleh akses terhadap lahan dan bagaimana hal ini dapat menghalangi investasi. Banyak hak atas tanah yang hilang karena tsunami dan ada banyak insiden di mana mantan anggota GAM menuntut kembali tanah-tanah serta banyak lahan yang berada di bawah hak kepemilikan adat yang tidak terdokumentasi. Kurangnya informasi pasar (khususnya informasi tentang harga) sering kali diidentifikasi sebagai hambatan utama dalam meningkatkan bagian sewa yang menguntungkan para produsen di Aceh dari kegiatan produksi mereka. bukan dengan ketidakmampuan untuk membeli bahan-bahan kebutuhan pertanian. maupun munculnya rantai pasokan global (toko-toko serba ada) yang mencari barang-barang pertanian bernilai lebih tinggi dari negara-negara berkembang. Oleh karena itu. Manfaat yang diperoleh dari tren-tren baru ini tidak timbul begitu saja. 2008a). para otoritas propinsi dapat mengkoordinasikan informasi penggunaan tanah dan kepemilikan tanah dalam sebuah unit pusat yang akan mempermudah akses bagi para investor terhadap informasi. Hambatanhambatan yang ditemukan dalam meningkatkan produktivitas pertanian berkaitan dengan kurangnya layanan publik . Memang terdapat alasan dalam membantu rumah tangga miskin untuk memulihkan modal fisik dan manusia yang hilang karena tsunami atau konflik.Memahami Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi di Aceh Kotak 3 Merevitalisasi Pertanian Aceh Pertanian masih memiliki andil besar dalam PDB non minyak dan gas propinsi Aceh. Apa yang diperlukan untuk merevitalisasi pertanian dan menjadikannya mesin pertumbuhan yang inklusif dan berkesinambungan di Aceh? Di daerah lain di Indonesia. Pemerintah propinsi memiliki peran yang harus dimainkan. akan segera diterbitkan). (ii) mendukung pelatihan petani untuk memenuhi persyaratan mutu dan perlindungan. Hal ini tampaknya juga terjadi di Aceh (IFC. akses terhadap lahan. akses terhadap teknologi dan kurangnya kredit sebagai hambatan-hambatan dalam meningkatkan produktivitas mereka (World Bank. terdapat suatu kebutuhan yang mendesak untuk mengorientasikan kembali belanja pemerintah. dan sering kali negosiasi dilakukan langsung dengan bupati di daerah yang direncanakan untuk investasi. irigasi atau mempermudah akses ke pasar-pasar (World Bank. 2008). bibit. Sebagai permulaan. yang sering kali mendapatkan informasi pasar hanya dari satu penjual (cengkeh. mesin dan pasokan bahan kebutuhan pertanian lainnya) dan untuk meningkatkan penyediaan layanan publik seperti layanan-layanan penyuluhan. dan menyediakan lapangan kerja bagi sebagian besar masyarakat. Pada saat yang bersamaan. udang).layanan-layanan penyuluhan. Peningkatan akses bagi para petani terhadap informasi tersebut akan memungkinkan para produsen untuk lebih cepat menanggapi sinyal-sinyal pasar serta mendorong penyediaan pasokan sebagai akibat dari peningkatan laba dari investasi yang dilakukan. ada sedikit perdebatan tentang peran utama pertanian dalam pembangunan ekonomi propinsi Aceh dalam waktu dekat. Tidak ada pusat pendaftaran tanah yang dapat digunakan oleh para investor untuk mengidentifikasi lahan-lahan yang tersedia untuk perkebunan komersial. masalah tersebut mungkin semakin memburuk di Aceh. Para petani juga telah mengidentifikasi ketrampilan. peningkatan penyediaan layanan-layanan penyuluhan sepenuhnya berada di tangan pemerintah propinsi dan kabupaten/kota. baik tanaman perkebunan maupun pengolahan hasil pertanian (agro-processing) (IFC. 20 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . akses terhadap pasar dan kemunduran sistem irigasi. Para calon investor telah mengidentifikasi ketersediaan lahan subur sebagai aset utama di Aceh. Pemerintah Aceh telah mengembangkan sebuah strategi untuk peningkatan ekonomi propinsi ini yang berfokus pada dukungan terhadap serangkaian kelompok komoditas. namun hal ini perlu dibatasi dan fokus yang lebih besar harus ditujukan pada upaya untuk menyediakan barang dan layanan publik yang diperlukan. guna menghilangkan subsidi pasokan bahan kebutuhan swasta (pupuk. yang mungkin baru diketahui oleh para investor setelah menyewa tanahtanah tersebut. Terdapat anggapan luas bahwa desentralisasi memberikan dampak negatif terhadap penyediaan layanan-layanan penyuluhan. Mutu layanan-layanan penyuluhan yang diberikan juga diidentifikasi sebagai bidang yang harus diperhatikan.

2006). Konflik dan kekerasan menimbulkan dampak yang mendasar pada lembaga-lembaga politik. banyak orang yang pindah ke luar daerah). perang saudara merugikan sebuah negara sebesar AS$123 milyar per tahun. studi ini diperlukan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang dampak yang ditimbulkan oleh konflik pada keputusan-keputusan investasi. Chauvet. Negara-negara yang mengalami perang saudara mengalami penurunan PDB tahunan rata-rata sebanyak 2. dampaknya pada pertumbuhan . Studi ini tidak berupaya menganalisa secara mendalam pengaruh yang ditimbulkan konflik pada pertumbuhan melalui jalur-jalur lainnya — yaitu antara lain memburuknya mutu lembaga-lembaga pemerintah atau putusnya jaringan-jaringan sosial. pilihan dan fungsi lembaga (Bodea and Elbadawi. Restrepo et. Di wilayah-wilayah yang tidak mengalami perang saudata yang berkepanjangan. banyak orang terbunuh. Diperkirakan bahwa produktivitas yang hilang karena konflik berdarah dan kejahatan 11 Sebagian dampak ini dianalisa di MSR (2009). Perilaku investasi juga berubah. 1999. dan bagaimana konflik pada gilirannya membentuk pola-pola pertumbuhan dan institusi di era pasca konflik perlu ditelusuri. Collier and Hegre (2008) memperkirakan bahwa rata-rata. pemahaman tentang hubungan antara konflik dan pertumbuhan merupakan hal yang penting. mengurangi pendapatan sekitar 15 persen (Moser. Nazamuddin. dan dengan demikian. 2003. sosial dan ekonomi yang melandasi pertumbuhan. 1989. mengingat bahwa beberapa pihak berargumen bahwa cara-cara pengelolaan ekonomi Aceh di masa lalu memiliki kaitan dengan pemberontakan di propinsi tersebut. Secara khusus. konflik mengurangi keamanan individu dan masyarakat dengan cara-cara yang mengubah perilaku. Studi ini berfokus pada dampak konflik pada hambatan-hambatan terhadap investasi sektor swasta dan pertumbuhan ekonomi dari sudut pandang yang cukup sempit – namun yang justru merupakan kuncinya. Hal ini cenderung mengakibatkan berkurangnya tabungan. Selain akibat-akibat konflik yang merugikan secara langsung (infrastruktur rusak. McMillan and Wacziarg. Dampak konflik pada pertumbuhan dan perkembangan propinsi tersebut telah dan akan terus meluas dan telah dianalisa secara terperinci di bagian-bagian penelitian lainnya (Dawood and Sjafrizal. al. akumulasi modal manusia yang lebih rendah dan perilaku yang berisiko (Lorentzen. Akses terhadap kredit juga menjadi semakin sulit apabila bank-bank atau penyedia kredit lainnya kemungkinan besar tidak meminjamkan dan/atau hanya meminjamkan dengan tingkat bunga yang lebih tinggi (Nagarajan and McNulty.04 Tinjauan Ekonomi Pada Saat Konflik dan Pasca Konflik di Aceh Untuk menganalisis hambatan-hambatan terhadap pertumbuhan di Aceh.2 persen (Collier. 2006). Dampak-dampak ini mempengaruhi bagaimana ekonomi berfungsi di periode pasca konflik. 21 Diagnosis Pertumbuhan Aceh .11 Walaupun ini berarti bahwa hasil analisis dan temuan tersebut tidak mempertimbangkan unsur-unsur penting dalam hubungan antara konflik dan pertumbuhan. Hoeffler and Reynal-Querol. 2004). 2008).. dampak konflik berdarah pada pertumbuhan dan kemiskinan juga sangat luas. 2008). 2008). perlu dilakukan penelusuran atas berbagai dampak yang ditimbulkan oleh konflik terhadap jalannya fungsi ekonomi.0-2.

Sebagai contoh. kesulitankesulitan yang dihadapi dalam mempersatukan para anggota kelompok pemberontak ke dalam sistem politik dan ekonomi — pada gilirannya mengubah kesempatan-kesempatan dan hambatan-hambatan menjadi pertumbuhan. sumber daya alam tidak menjadi alasan bagi GAM untuk memberontak melawan pemerintah pusat namun mendorong timbulnya keluhan-keluhan setempat. 2005. maka mereka dapat melihat peningkatan angka pertumbuhan sebesar 5. Infrastruktur swasta dan publik sering kali sengaja dijadikan target dari pertikaian-pertikaian tersebut guna menghilangkan jalur-jalur pasokan dan mengintimidasi masyarakat. Konflik berdarah berdampak negatif pada modal manusia dengan 12 Bagian ini banyak disadur dari Ross (2005). Konflik berdarah cenderung mengurangi aktifitas sosial terhadap kegiatan-kegiatan ekonomi karena dampak merugikan dari konflik pada modal fisik dan manusia. Cadangan gas bumi yang banyak ditemukan di lepas pantai Aceh pada tahun 1971. pencantuman dalam penetapan MoU bahwa Aceh akan menguasai 70 persen dari pendapatan minyak dan gas sangat penting secara simbolis bagi para pemimpin GAM. hal. hal. yang mencakup klaim bahwa Aceh telah dimiskinkan oleh kekuasaan orang-orang Jawa dan membebankan kesalahan atas penderitaan mereka pada penyalahgunaan yang dilakukan pemerintah pusat atas gas alam yang baru saja ditemukan (Ross. 1986). Namun karena konflik tersebut menjadi berkepanjangan. 1989). karena propinsi tersebut memiliki standar hidup yang lebih tinggi daripada propinsi lainnya di Indonesia selama tahun 1970an (Hill and Wiedermann. Keluhan-keluhan tentang eksploitasi ladang gas turut membangun cerita yang lebih luas bahwa Aceh tertinggal secara ekonomi dari propinsi-propinsi lain di Indonesia. yang mengemukakan bahwa adanya sumber daya alam meningkatkan kemungkinan perang sipil dengan memampukan kelompok-kelompok pemberontak untuk membiayai biaya permulaan dan biaya yang berkelanjutan untuk pemberontakan mereka. 2007). 13 Di antara tahun 1974 dan 1986. 47) — dan menerapkan langkah-langkah tegas untuk penumpasan pemberontakan dalam mengamankan pengoperasian ladang-ladang gas tersebut (Sukma. 14 Penjelasan sebab-akibat ini berbeda dengan penjelasan Collier and Hoeffler (2004). Hanya beberapa orang setempat dipekerjakan dalam eksploitasi gas tersebut sehingga menimbulkan kemarahan. 2005. klaim-klaim tersebut benar-benar terjadi dan persepsi-persepsi tentang eksploitasi ekonomi berkembang. diperkirakan berpotensi menghasilkan AS$2-3 milyar per tahun selama 20-30 tahun. Sebagian dari konflik Aceh didorong oleh persaingan atas sumber daya alam di propinsi ini dan wewenang untuk mengelola sumber daya alam tersebut. klaimklaim tersebut memiliki dasar lemah. sekitar 50. Dinamika-dinamika yang biasanya berkaitan dengan akhir suatu konflik dan kekerasan yang tinggi — berlanjutnya persepsi dan perasaan tidak aman serta kekerasan yang kadang-kadang terjadi. 36). pertumbuhan pesat dalam sektor-sektor yang sebelumnya terhalang oleh konflik.000 pendatang dari bagian-bagian lain di Indonesia datang ke Aceh (Hiorth. 22 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . 2008). hal. 40). Penyimpangan-penyimpangan terhadap ekonomi tersebut cenderung berlanjut dalam periode pasca konflik. Pemerintah pusat menjadi semakin bergantung pada gas alam Aceh — pada tahun 1998.Tinjauan Ekonomi Pada Saat Konflik dan Pasca Konflik di Aceh di luar zona-zona perang secara global mencapai AS$95 milyar per tahun (Sekretariat Deklarasi Jenewa/ Geneva Declaration Secretariat. Pada awalnya. 9 persen dari total pendapatannya berasal dari sumber ini (Ross.13 Seperti yang dikemukakan Ross (2007. Konflik memiliki dampak negatif baik pada akumulasi modal fisik maupun manusia. Keluhan-keluhan terhadap eksploitasi ladang gas yang dirasakan yang mendorong perjuangan dan ketegangan GAM diperburuk oleh perbedaan-perbedaan budaya antara kaum pendatang dan orang Aceh.12 Produksi dimulai pada tahun 1977 dan royalti besar dibayarkan kepada pemerintah pusat Indonesia. Adanya konflik berdarah juga mempersulit pembangunan infrastruktur baru dan perbaikan infrastruktur yang rusak. sebuah penelitian baru-baru ini mengemukakan bahwa apabila Jamaika dan Haiti mengurangi tingkat pembunuhan mereka ke tingkat seperti yang dimiliki Kosta Rika.4 persen per tahun (Kantor PBB untuk masalah Obat-obatan Terlarang dan Kejahatan/World Bank. 2004).14 Meskipun pendapatan gas Aceh menurun dengan tajam. Persepsi-persepsi tentang eksploitasi sumber daya Aceh digunakan sebagai seruan perang untuk membangun adanya suatu gerakan kebebasan.

diambil dari Chaudhary and Suhrke. 2006. mengurangi insentif-insetif investasi dalam pendidikan (Steward and Fitzegerald. Imai and Weinstein. Konflik sering kali digunakan sebagai dalih untuk kurang efektifnya pemerintah. khususnya selama persiapan pemilihan legislatif pada bulan April 2009 (Gambar 1). sehingga harus menghentikan operasinya pada tahun 2001. bahkan ketika GAM atau konflik tersebut hanya memiliki andil sedikit (Jones.Juli 2009 mempercepat perpindahan ke luar daerah. Kegagalan untuk memberikan keamanan di wilayah-wilayah yang terdampak oleh konflik cenderung menurunkan tingkat investasi karena para calon investor mempertimbangkan risiko-risiko keamanan. 2001. 2006). 2008). 2009. Olken and Barron. terdapat bukti empiris bahwa praktik-praktik korupsi dan pajak ilegal telah berlanjut (Aspinall. Konflik mengakibatkan lembaga-lembaga pemerintah menjadi lebih lemah. 23 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . 2001). konflik tersebut selanjutnya mengikis lembaga-lembaga negara (McGibbon. serta sengketa-sengketa terkait dengan hak milik pasca konflik (Muggah. namun setelah periode awal ini. sebagai contohnya. Insiden-insiden keamanan yang berlanjut dan persepsi-persepsi negatif tentang risiko di luar Aceh dapat menjadi penghalang besar terhadap investasi di propinsi tersebut. terdapat masa yang cukup tenang. 2008). 2008 dan Sekretariat Deklarasi Jenewa/Geneva Declaration Secretariat. menyatakan bahwa masyarakat-masyarakat yang telah melewati konflik memiliki peluang sebesar 40 persen untuk jatuh kembali ke dalam konflik. 2006). karena kekhawatiran bahwa aset-aset produktif akan dihancurkan atau menjadi tidak dapat beroperasi apabila kekerasan meningkat. yang mungkin berkontribusi pada persepsipersepsi risiko yang lebih tinggi. 2006. hal. Bentuk-bentuk kekerasan baru termasuk kekerasan politik. 2000). PT Arun sering kali menjadi target serangan GAM. Fungsi-fungsi utama pemerintah mencakup perlindungan hak milik dan langkah-langkah peraturan lainnya yang memastikan persaingan yang efisien dan fungsi pasar yang efektif. (2006). Di Aceh. 2005. Konflik berdarah sering kali berkaitan dengan kegagalan pemerintahan dalam bidang-bidang ini. masalah keadilan masyarakat dan informal. yang mengakibatkan adanya beberapa kasus korupsi tingkat tinggi yang melibatkan para pejabat pemerintah lokal dan propinsi. Konflik tersebut menawarkan peluang bagi kedua belah pihak untuk mendapatkan laba dari kegiatan-kegiatan ilegal dan dari lemahnya supremasi hukum (McCulloch. Setelah perjanjian damai di Aceh. Para politikus dan pegawai sipil setempat bertindak tanpa mendapatkan hukuman dan menyedot sumber-sumber daya penting dari anggaran negara (Sukma. Hal ini dapat mengurangi keinginan usaha-usaha di dalam dan di luar Aceh untuk berinvestasi. kekerasan mulai timbul lagi. Di Aceh. dan merusak sekolah-sekolah dan universitas-universitas. IFC (2008) memperkuat pendapat ini dan melaporkan ketidakstabilan politik dan 15 Lihat Sulaiman and van Klinken (2007. 231) dan Saraswati (2004). 2005). 2006). Selain itu. Pertumbuhan yang berkesinambungan dan inklusif memerlukan lembaga-lembaga publik yang memastikan bahwa para investor dapat memperoleh laba atas investasi. Konflik tersebut juga membuat sumber-sumber daya negara lebih dialokasikan melalui jaringan-jaringan neopatrimonial yang membawa pada peningkatan korupsi. 2009b). Persepsi-persepsi tentang keamanan yang buruk dapat berlanjut dalam periode pasca konflik. 2008). kekerasan ekonomi dan kejahatan. infrastruktur pendidikan sengaja dijadikan target selama konflik. Masalah-masalah keamanan pasca konflik yang berkaitan dengan insiden-insiden keamanan dapat menghambat investasi. Konflik berdarah dapat memperlemah lembaga-lembaga dan menggangu pasar karena negara menjadi alat pemangsa dan/ atau di mana negara kehilangan monopolinya atas upaya pemaksaan (Bates. McGibbon. Collier et al. konflik berdarah mengubah ketrampilan-ketrampilan yang berharga dalam suatu perekonomian . Sebagian disebabkan karena risiko berlanjutnya konflik tetap tinggi pada awal periode pasca konflik. karena sering kali orang-orang yang berpendidikan terbaik dan berpenghasilan cukup menjadi orang-orang pertama yang pindah dan melarikan diri dari konflik..15 Dalam periode pasca konflik. sehingga mengurangi investasi dalam modal fisik (Knight et al. Sulaiman. karena pihak-pihak yang terpilih berusaha membayar kembali para pendukungnya (Clark and Palmer. Walaupun sebagian dari konflik di Aceh disebabkan oleh persepsi-persepsi tentang tidak efektifnya fungsi negara (Barron and Clark. korupsi meningkat dan supremasi hukum menjadi lemah. 2007).

menganalisa hambatan-hambatan investasi dan pertumbuhan. 24 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Bagian ini telah mengkaji mekanisme di mana konflik di Aceh dapat membentuk pola-pola pertumbuhan dalam periode pasca konflik. dan menggabungkan ciri-ciri konflik Aceh ke dalam analisis tersebut. Bank Dunia. GAM vs GoI) GAM vs GoI untuk insiden kekerasa Sumber: Update Pemantauan Konflik Aceh.Tinjauan Ekonomi Pada Saat Konflik dan Pasca Konflik di Aceh keamanan sebagai dua kekhawatiran yang dikemukakan oleh usaha-usaha yang mempertimbangkan untuk berinvestasi di Aceh. Gambar 5 Kekerasan di Aceh – Jan 2005 sampai dengan Des 2008 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 J F M A M J J A S O N D J F M A M J J A S O N D J F M A M J J A S O N D J F MA M J J A S O N D 05 06 07 08 Insiden kekerasan (excl. Bagian-bagian berikut ini akan memperdalam analisis tentang hubungan antara konflik dan pertumbuhan.

Pertanyaan pertama yang perlu dijawab adalah apakah pembiayaan merupakan masalah di Aceh. Sektor perbankan di Aceh terdiri dari 18 bank umum dan 20 bank perkreditan rakyat. 2007). dan bank-bank tersebut baru kembali ke provinsi ini setelah penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) pada tahun 2005. sejak bulan September 2008. Banyak bank swasta menutup usahanya di provinsi ini setelah krisis keuanganan tahun 1997-98 dan intensifikasi konflik. jumlah total simpanan adalah sebesar Rp. yang menimbulkan rasio kredit-terhadap-PDB yang rendah pada tingkat kredit ‘normal’. Dalam rangka memastikan konsistensi. Setelah menjelaskan sistem perbankan di Aceh. a. di mana sebagian besar dari kedua kategori bank tersebut adalah bank umum. Dengan kata lain.9. sebagaimana ditunjukkan pada gambar 16 PDB non-migas digunakan untuk menghindari PDB yang besar yang ditentukan oleh minyak dan gas. yang tergolong rendah untuk Indonesia. Salah satu cara melihat permasalahan ini adalah dengan melihat apakah kredit. Dengan mempertimbangkan bahwa usaha-usaha biasanya beralih kepada bank sebagai sumber pembiayaan kegiatan-kegiatannya. lebih rendah dari rata-rata nasional. Suatu sistem keuangan yang tidak menyediakan modal kerja dan modal investasi bagi usaha-usaha yang mampu berkembang dapat menjadi gejala dari penyakit yang lebih luas.9 persen. Rasio pinjaman macet adalah sebesar 1. Perbankan syariah masih relatif kecil namun menjadi semakin penting pada tahun-tahun terakhir. Kredit investasi sebagai bagian dari PDRB non-migas di Aceh lebih rendah dari kredit investasi di provinsi-provinsi lain.5 triliun dan jumlah pinjaman terutang adalah sebesar Rp.05 Akses Terhadap Kredit Kerangka kerja diagnosa pertumbuhan menguji apakah biaya yang tinggi. kurangnya akses terhadap kredit atau biaya kredit yang tinggi dapat menghambat pertumbuhan. Apakah pembiayaan menjadi masalah di Aceh? Kredit investasi relatif rendah di Aceh.4 triliun. Bank-bank umum menyumbangkan lebih dari 97 persen dari aset.20. sektor minyak dan gas dikurangkan dari data PDB di provinsi-provinsi lain. besarnya pinjaman yang diberikan oleh bank di Aceh lebih rendah dibandingkan dengan tingkat pembangunannya. Perbankan di Aceh didominasi oleh bank umum milik pemerintah. atau tidak adanya kredit merupakan hambatan yang mengikat bagi investasi sektor swasta. khususnya kredit investasi. rendah. yang menyumbangkan sekitar 80 persen dari semua simpanan. simpanan dan pinjaman (IFC. bagian ini akan menganalisis apakah kredit berbiaya tinggi atau sulit diakses oleh usaha serta alasan-alasan di balik keadaan ini. Hal ini bersesuaian dengan rasio pinjaman terhadap simpanan sebesar 46 persen. Gambaran berikut menunjukkan kredit investasi sebagai bagian dari PDRB16 dan PDRB per kapita (sebagai ukuran yang menunjukkan tingkat pembangunan atau pendapatan). 25 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Menurut Bank Indonesia.

teman atau rentenir). berdasarkan Access to Finance Survey.9 32. hanya 28. tetapi mungkin juga sebagai akibat dari sistem perbankan yang tidak dapat memenuhi permintaan kredit dari sektor swasta.9 0. Bukti yang ada menunjukkan bahwa kredit bank merupakan patokan yang relevan untuk mengukur tingkat investasi. Kredit bank mewakili sumber penting bagi pembiayaan di Aceh: 43. Jumlah ini lebih tinggi dari rata-rata nasional: di Indonesia.0 2006 7.1 persen.6 35. Mengingat rumah tangga di Aceh relatif lebih mengandalkan bank.0 30. sementara rata-rata nasional adalah 32.4 15.3 7. apabila usaha menerima pinjaman dari sumber-sumber non-bank lainnya (keluarga. sebagai akibat dari kurangnya kesempatan investasi. volume pemberian kredit yang rendah untuk investasi dan modal kerja tampaknya menjadi lebih mencolok (angka-angka ini adalah perkiraan Bank Dunia.0 5. 2006 Kredit per PDRB non-migas tahun 2006 1. Hal ini barangkali hanya mencerminkan permintaan kredit yang rendah di provinsi tersebut.2 0. Nilai kredit terhadap PDRB merupakan yang terendah kedua untuk semua provinsi di Indonesia.0 0.1 Aceh North Sumatera Riau East Kalimantan Papua Central Sulawesi Maluku Sumatera Java Indonesia Sumber: Kalkulasi Bank Indonesia dan staf Bank Dunia 17 Tingkat kredit bankyang rendah mungkin tidak harus diwujudkan dalam tingkat-tingkat investasi yang lebih rendah.6 0.3 16. 26 Diagnosis Pertumbuhan Aceh .0 38.3 0.9 persen rumah tangga yang memperoleh pinjaman dari bank.0 PDRB non-migas per kapita tahun 2006 (Jt Rupiah.2 15.7 16. Gambar 6 Kredit terhadap PDRB sangat rendah di Aceh Kredit per PDRB untuk provinsi-provinsi di Indonesia.0 0.4 0.7 29.3 13. harga tahun 2000) Aceh Nasional Sumatera Utara Kalimantan Timur DKI Jakarta Sumber: Kalkulasi Bank Indonesia dan staf Bank Dunia Table 5 Kredit investasi dan modal kerja sebagai bagian dari PDRB Persentase Kredit investasi dan modal kerja sebagai bagian dari PDRB 2005 6.2 3.8 0.0 10.1 23. Pada tahun 2006.7 20.1 0.7 35. kredit investasi dan modal kerja mencapai 7.0 25.0 26.2 15.7 0.8 persen dari PDRB di Aceh.3 18.0 20.3 32.0 40.0 15.Akses terhadap Kredit di bawah ini17. 2008).0 35.3 persen rumah tangga memperoleh pinjaman dari bank.5 0.

Data tentang inflasi yang dibunakan untuk memperkirakan suku bunga sebenarnya hanya berlaku untuk Banda Aceh 27 Diagnosis Pertumbuhan Aceh .18 Suku bunga riil telah berfluktuasi secara signifikan di provinsi ini sejak tsunami.00% 10.82 persen dan rata-rata nasional adalah 1.05 persen. Gambar 7 Tingkat peminjaman investasi riil di Aceh dan rata-rata nasional 15. sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar 8. suku bunga peminjamaan riil untuk pinjaman investasi di Aceh adalah 2.00% 5.00% Dec-04 -5.Investasi ACEH . Perbandingan antara suku bunga di Aceh dan suku bunga nasional dengan demikian harus ditafsirkan dengan hati-hati. sementara suku bunga nominal yang dibebankan di Aceh secara umum sama dengan di daerah-daerah lain di Indonesia.00% 0. semua jenis suku bunga peminjaman riil didorong turun oleh inflasi yang tinggi yang dialami provinsi ini sebagai akibat upaya rekonstruksi.00% -15.00% -10. Pada tahun 2005. Suku bunga naik kembali ketika inflasi menurun pada tahun-tahun berikutnya. Pada bulan September 2008. sebagaimana diilustrasikan dalam Gambar 7. sebagaimana dibahas lebih lanjut di bawah ini. sehingga bank hanya melakukan operasi-operasi yang relatif aman. Perbedaanperbedaan dalam biaya modal terutama disebabkan oleh tingkat-tingkat inflasi yang berbeda. Tingkat suku bunga nominal yang sama juga ditegaskan dalam diskusi-diskusi tim dengan bank-bank di Aceh.00% Jun-05 Dec-05 Jun-06 Dec-06 Jun-07 Dec-07 Jun-08 Sumber: Kalkulasi Bank Indonesia dan staf Bank Dunia Gambar 8 Tingkat peminjaman investasi nominal di Aceh dan rata-rata nasional 19 18 17 16 15 14 13 12 11 10 Dec-04 Jun-05 Dec-05 Jun-06 Dec-06 Jun-07 Dec-07 Jun-08 NASIONAL . Ketidakmampuan bank untuk secara aktual menentukan biaya risiko yang lebih besar dalam menjalankan usaha di Aceh. Apakah biaya modal tinggi terjadi di Aceh? Biaya untuk pembiayaan di Aceh sama dengan di daerah-daerah lain di Indonesia.00% -20.Investasi Sumber: Bank Indonesia dan kalkulasi staf Bank Dunia 18 Data tentang suku bunga rata-rata mungkin tidak dapat diandalalkan untuk Aceh.Juli 2009 b. dapat dengan sendirinya menjadi hambatan terhadap pemberian kredit bagi usaha. dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Indonesia.

Kedua.00% 2005 -20. Pengamatan ini menunjukkan bahwa biaya kredit barangkali bukan merupakan hambatan yang mengikat bagi pertumbuhan. BPS dan kalkulasi staf Bank Dunia c.00% -10. jumlah penerimaan yang relatif kecil atas dana “yang lebih murah” ini lebih jauh menunjukkan bahwa suku bunga yang tinggi tidak menghambat usahausaha dalam mengakses kredit di Aceh.00% 2008 2004 2001 5.00% 2003 2006 2007 2002 0.00% 7. jangka waktu yang pendek ini mencakup peristiwa tsunami dan program pemulihan setelahnya yang mungkin mendistorsi pengamatan. Gambar 10 menunjukkan hal ini di mana Provinsi Aceh menduduki peringkat ke-empat 19 Data ini menangkap situasi ekonomi di provinsi ini sebelum dimulainya kiris keuangan global.00% 15. Namun demikian. misalnya dengan menyebabkan inflasi yang sangat tinggi dan dengan demikian menyebabkan suku bunga riil menjadi sangat rendah pada tahun 2005. masih dapat terjadi bahwa biaya modal menghambat investasi swasta dan. pernyataan di atas mungkin memerlukan kualifikasi.00% -5. 80 persen saja yang diminta dari para peminjam.19 Akan tetapi.00% -15. persyaratan-persyaratan jaminan tidak terlalu ketat: tidak seperti biasa di tingkat 110-120 persen dari jumlah pinjaman.00% 4. 28 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . jumlah total dana yang telah dipinjamkan di bawah program ini hanya sekitar Rp.00% 8.00% 2000 10. Ukuran pinjaman berkisar antara Rp. Aceh merupakan salah satu daerah yang memiliki rasio tabungan-terhadap-PDRB tertinggi di Indonesia.00% Tingkat bunga riil (pinjaman investasi) Sumber: Bank Indonesia.00% 0.00% -1. penemuan ini sebaiknya ditafsirkan dengan hati-hati. Sejak bulan April 2009.Akses terhadap Kredit Biaya modal tidak menghambat pertumbuhan dan investasi di Aceh.500 juta. dengan demikian. Data terakhir mendukung gagasan bahwa biaya kredit bukan merupakan hambatan yang mengikat di Aceh.00% 6.00% 2. Apakah permasalahannya adalah rendahnya tabungan dan tidak adanya akses terhadap pembiayaan eksternal? Tingkat tabungan yang rendah bukan merupakan alasan bagi rendahnya volume kredit di provinsi ini.20 Walaupun masih terlalu dini untuk menilai efektivitas keseluruhan dari program tersebut. bukan ini yang terjadi di Aceh: pertumbuhan PDRB tidak bereaksi terhadap menurunnya suku bunga riil. Setelah terjadinya krisis kredit dalam ekonomi riil. kepala program.5 milyar.00% 1. Hal ini seharusnya menciptakan tingkat pertumbuhan yang lebih rendah ketika suku bunga menjadi lebih tinggi. Program Kredit Pemberdayaan Pengusaha yang mulai digulirkan pada bulan Oktober 2008 memberikan pinjaman dengan suku bunga tetap bersubsidi sebesar 8 persen bagi usaha-usaha di Aceh. Dengan program tersebut. Gambar 9 Pertumbuhan PDB tidak bereaksi terhadap perbedaan suku bunga Tingkat pertumbuhan riil (sebelumnya migas) Hubungan antara angka dan pertumbuhan 9. Walaupun terdapat beberapa perbedaan antara Aceh dan daerah-daerah lain di Indonesia.00% 5. 20 Sumber: Pak Dahlan Sulaiman. rangkaian data yang digunakan agak pendek dan tingkat pertumbuhan mungkin bersifat responsif terhadap perubahan-perubahan suku bunga selama jangka waktu yang lebih panjang. Pertama. menghambat pertumbuhan.50 juta hingga Rp.00% 3. Satu penjelasan klasik tentang mengapa kredit dapat menjadi mahal atau mengapa bisa terdapat penjatahan kredit adalah rendahnya persediaan dana serta tidak adanya akses terhadap pembiayaan eksternal.

Tidaklah mengherankan.21 Bahkan setelah dibandingkan tingkat tingkat tabungan nasional. Gambar 11 Dana-dana pemerintah menyumbangkan bagian yang besar dari simpanan di Aceh Deposit Aceh. 2004-07 Trillion Rp Trillion Rp Deposit Nasional.00 5.0000 0.00 40.00 35. Situasi di Aceh dapat menyesatkan karena tingkat rekonstruksi yang tinggi dan dana-dana pemerintah yang telah dimasukkan ke provinsi ini oleh berbagai badan pemerintah dan non-pemerintah.00 10. Gambar 10 Tabungan per PDRB untuk provinsi-provinsi di Indonesia. yang membawa kita pada kesimpulan bahwa persediaan dana tidak menjadi alasan rendahnya rasio kredit-terhadap-PDRB. Aceh masih memiliki rasio tabungan-terhadap-PDRB yang relatif tinggi. 2004-07 1800 1600 1400 1200 1000 800 600 400 200 0 25 20 15 10 5 2004 83% 17% 18% 2005 82% 30% 2006 Dana swasta 36% 2007 70% 64% 89% 11% 2004 86% 84% 86% 14% 2005 16% 2006 Dana swasta 14% 2007 Dana pemerintah Sumber: Bank Indonesia. 29 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . yang secara signifikan lebih rendah dari rasio nasional sebesar 70 persen.5000 Tabungan per PDRB non migas2006 2.00 PDRB non migas riil per kapita 2006 (Rp juta. diasumsikan adanya tingkat yang sama pada ‘dana-dana yang dapat dipinjamkan’ dengan daerah-daerah lain di Indonesia dibandingkan dengan tingkat tabungan di Aceh (titik data “Aceh*” pada Gambar 10 di atas).00 30. dibandingkan dengan rata-rata sebesar kira-kira 14 persen secara nasional. pada tahun 2007 dana-dana pemerintah mewakili 36 persen dari seluruh simpanan.00 15.Juli 2009 pada tahun 2006. namun demikian tingkat tabungan tidak menjadi hambatan bagi pembiayaan di provinsi tersebut. LDR berada di tingkat 46 persen.5000 0.5000 1.00 25. Sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar 11. 2006 2.0000 Aceh Aceh* Nasional Sumatra Utara DKI Jakarta Kalimantan Timur 0. kecilnya jumlah sisa ‘dana-dana yang yang boleh dipinjamkan/loanable funds” ini bisa menjelaskan mengapa hanya ada sedikit kredit di Aceh sementara total tabungan begitu besar.. Aceh Dana pemerintah Sumber: Bank Indonesia 21 Penyesuaian ini adalah untuk mengurangi tabungan masyarakat di Aceh sehinga bagian tabungan masyarakat dalam tabungan total sama dengan rata-rata nasional. Karena dana-dana tersebut tidak dapat dipinjamkan. harga 2000) * disesuaikan terhadap deposit pemerintah menurut rata-rata nasional Sumber: Bank Indonesia dan staf Bank Dunia Sebagian besar simpanan di Aceh adalah simpanan jangka pendek.00 20.0000 1. Untuk menguji hipotesis ini. Aceh memiliki rasio pinjaman-terhadap-simpanan (loan-todeposit ratio/LDR) yang rendah: pada bulan Desember 2008.

29 13. kalkulasi staf Bank Dunia Satu cara bagi bank untuk mempertahankan portofolio pinjaman yang besar tanpa kemungkinan menanggung persepsi risiko yang lebih besar dari pemberian pinjaman investasi adalah dengan mengfokuskan pada pemberian pinjaman konsumsi. Suku bunga yang rendah di Aceh menunjukkan bahwa bank-bank tidak memperhitungkan biaya risiko yang lebih tinggi yang dipersepsikan dalam menjalankan usaha di Aceh. mengenakan suku bunga yang lebih tinggi di provinsi ini.11 14. karena semua bank yang diwawancarai menyatakan bahwa suku bunga yang mereka kenakan bergantung pada banyak faktor (besarnya pinjaman. Apabila bank khawatir tentang tingkat gagal bayar (default rate) di Aceh.10 13.ah dilakukan pada bulan Desember 2008 untuk mengkaji perspektif bank dalam menjalankan usaha di Aceh serta tantangan-tantangan khusus yang mereka hadapi. Menariknya. atau apakah bank tidak memiliki keahlian yang mungkin diperlukan untuk menjalankan usaha di Aceh dan memberikan pinjaman.4 16. Sebagaimana ditunjukkan dalam Tabel 7. antara lain.Akses terhadap Kredit Apabila tabungan memang tinggi di Aceh. d.70 14.14 14. jatuh tempo. yang menyebabkan bank tidak bersedia memberi pinjaman. Data Bank Indonesia yang disajikan dalam Tabel 6 menunjukkan bahwa suku bunga nominal rata-rata di Aceh lebih rendah dari rata-rata nasional dan suku bunga di provinsi-provinsi lain pada bulan Desember 2008.71 14.) namun tidak bergantung di provinsi mana pinjaman tersebut diberikan.22 Sulawesi Tengah (%) 15.22 14. harus ada penjelasan lain tentang mengapa volume kredit rendah: apakah karena sektor perbankan tidak melaksanakan fungsinya sebagai perantara (intermediary function) dengan baik atau karena kredinya yang dibatasi? Hal – hal dibawah ini mencoba mengfokuskan untuk menggali beberapa opsi yang berbeda dalam melihat masalah diatas. dll.95 14. Tabel 6 Suku bunga nomial rata-rata.73 Kalimantan Timur (%) 14.26 Papua (%) 15.65 12.4 Aceh (%) 14. Apakah permasalahannya adalah fungsi intermediasi (perantara) bank-bank lokal yang rendah? Rendahnya fungsi perantara oleh bank-bank lokal di Aceh dapat menghambat kemampuan mereka untuk memberikan kredit kepada dunia usaha. walaupun proses kajian seharusnya secara resmi berlangsung selama tidak lebih dari satu bulan. 2007).73 15. Bank-bank di Aceh tampaknya belum yakin dalam mengevaluasi permohonan-permohonan pinjaman. semua bank yang diwawancarai oleh tim menyatakan bahwa mereka mengenakan suku bunga yang sama seperti di daerah-daerah lain di Indonesia. peminjam.16 13. Perbedaan-perbedaan suku bunga yang diamati mungkin dikarenakan bank-bank memiliki portofolio berbeda di provinsi yang berbeda.37 Sumber: Bank Indonesia. porsi kredit investasi dan kredit modal kerja dari dari total kredit di Aceh lebih rendah dari daerah-daerah lain 30 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Desember 2008 Nasional (%) Modal Kerja Investasi Konsumsi 15. Tujuannya adalah untuk melihat apakah bank-bank tidak mampu dalam menentukan nilai risiko khusus berkaitan dengan kredit di Aceh. Bank-bank tidak mengenakan suku bunga yang lebih tinggi di Aceh untuk menentukan biaya akibat dari persepsi risiko-risiko yang lebih besar dalam menjalankan usaha perbankan di provinsi tersebut.00 Sumatera Utara (%) 15. orang akan mengira bank-bank tersebut. Untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang peran intermediasi yang dimainkan bank-bank di Aceh. UKM kadang-kadang harus menunggu sampai dengan enam bulan apabila mereka mengajukan permohonan pinjaman untuk pertama kali (IFC. serangkaian wawancara secara mendalam dengan delapan bank umum di Banda Aceh te.

6 51.4 2007 50.7 68.9 38. Walaupun demikian.6 68. namun lebih memilih untuk menolak permohonan-permohonan dan berfokus pada portofolio pinjaman yang lebih aman dan melewatkan peluang-peluang usaha yang menguntungkan.3 48.8 79. Sumatera Utara.7 71.3 54. Hal ini berpengaruh lebih besar bagi Aceh dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain.7 71.8 78.Juli 2009 di Indonesia.5 50.0 68. 31 Diagnosis Pertumbuhan Aceh .8 71.8 42. bank telah dengan cepat memberi tanggapan dengan membuka cabang-cabang untuk memperoleh simpanan dan mempekerjakan tenaga-tenaga ahli yang diperlukan untuk memberi pinjaman bagi sektor-sektor yang dianggapnya aman.9 57.9 76. Hal ini menunjukkan bahwa tetap ada ruang untuk meningkatkan intermediasi keuangan dan bank yang mengirim personil kredit yang terlatih ke lapangan bertemu dengan nasabah potensial telah berhasil melayani lebih banyak pemohon dan badan usaha. khususya motor atau mobil.3 70.7 71. digunakan sebagai barang jaminan.3 70. apabila bank menganggap bahwa sektor usaha ini menguntungkan. Lebih lanjut. Masalahnya mungkin adalah bahwa bank tidak memiliki sumber daya manusia (pejabat bagian kredit) yang diperlukan untuk menilai permohonan pinjaman secara memadai.3 Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa fungsi perantara bank menjadi penghambat investasi di Aceh.8 71.5 80.3 78. Beberapa pelaku terbesar yang ada di daerah-daerah pedesaan mengirim personil kredit ke lapangan untuk mengidentifkasi dan melakukan pendekatan kepada usaha-usaha yang dianggapnya layak untuk memperoleh kredit dan memberikan kredit kepada usaha-usaha tersebut. Tabel 7 Kredit investasi dan modal kerja sebagai bagian dari keseluruhan kredit Persentase Bagian kredit investasi dan modal kerja dalam keseluruhan kredit 2005 Aceh Sumatera Utara Riau Kalimantan Timur Papua Sulawesi Tengah Maluku Sumatera Java Indonesia Sumber: Kalkulasi Bank Indonesia dan staf Bank Dunia. Pinjamanpinjaman konsumsi biasanya dianggap lebih aman dan tidak mengharuskan penyaringan yang ketat terhadap pemohon. hanya ada sedikit bukti pasti yang menunjukkan bahwa bank tidak akan memperbaiki kapasitasnya untuk melayani permintaan kredit.1 49. Mengingat juga sifat yang relatif kompetitif dari sektor perbankan.9 40. bank mengakui bahwa sebagian besar nasabah mereka adalah pegawai negeri sipil dan sebagian besar permohonan pinjaman mereka disetujui.6 78. Pendekatan proaktif ini efektif untuk memperluas portofolio pinjaman dan mempertahankan agar tingkat pengembalian tetap tinggi. 2006 49. dan lebih rendah lagi dibandingkan dengan provinsi tetangga.9 47.8 72. dengan besarnya dana yang dikeluarkan dalam rekonstruksi dalam jangka waktu yang pendek. karena barang-barang yang dibeli. mengingat bahwa bank tidak banyak melayani wilayah selama konflik.6 71.

tidak bisa dijelaskan sebagai kurangnya kapasitas bank-bank lokal.22 atau karena bank enggan memberi pinjaman bagi jenis- 22 Hal ini mungkin bukan merupakan hambatan dalam mengakses pinjaman-pinjaman kecil. e. atau telah menetapkan persyaratan-persyaratan barang jaminan yang ketat. Perbedaan jumlah kredit yang diberikan kepada dunia usaha pada daerah-daerah lain di negeri ini. Namun demikian. Fokus pada pinjaman konsumsi. hal tersebut dapat terjadi karena banyak usaha bersifat informal. yakni bahwa saat ini perdamaian telah bertahan hingga lebih dari tiga tahun. ini dapat mencerminkan perbaikan daya tarik provinsi tersebut.Akses terhadap Kredit Kotak 4 Apakah konflik merupakan halangan untuk mengakses kredit? Dalam melakukan pendekatan terhadap permasalahan pembiayaan di Aceh. Lebih lanjut. 32 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . semuanya menampakkan keprihatinan tentang pemilu lokal dan pemilihan umum presiden tahun 2009 dan fakta bahwa terdapat banyak keputusan strategis yang ditunda hingga bank-bank tersebut dapat mengamati apakah pemilu kembali menimbulkan ketidakstabilan. Misalnya. dan secara khusus pada pinjaman yang melayani pegawai negeri sipil. karena bank tidak meminta nomor pendaftaran usaha atau pajak. Setiap perbedaan dalam suku bunga dapat dijelaskan dengan perbedaan dalam portofolio pinjam (misalnya pinjaman-pinjaman yang lebih kecil yang akan menghasilkan suku bunga rata-rata yang lebih tinggi yang dibebankan sebagai biaya). setidaknya pada tingkat yang sama dengan yang dilakukannya di tempat-tempat lain di Indonesia. dan dengan demikian bank dengan sukarela membatasi kegiatannya di provinsi ini. Apabila tidak. dan bukan pula buruknya fungsi perantara dari bankbank lokal. melainkan mensyaratkan KTP atau kartu pendaftaran keluaraga dan referensi-referensi informal lainnya (misalnya. khususnya dengan menjangkau hingga ke kabupaten dan kota-kota selain ibukota provinsi. bank-bank tersebut mengurangi keberadaan (atau tidak ada sama sekali) dan membuka cabang baru di provinsi ini. Temuan-temuan dari wawancara-wawancara bervariasi: terdapat konsensus yang kuat bahwa masalah keamanan. tampaknya tidak mungkin bagi bank untuk tidak menyediakan sumber daya dan kapasitas yang diperlukan. banyak bank menyebutkan bahwa selama konflik. Walaupun tampaknya masih ada ruang bagi peningkatkan dalam cara bagaimana bank memenuhi fungsi penengahan keuangannya — terutama untuk banyak bank yang meninggalkan provinsi tersebut selama konflik dan lambat laun datang kembali — hal ini tidak mungkin menjadi faktor utama di balik rendahnya tingkat kredit bagi sektor swasta. Tidak ada bank yang mengutarakan bahwa pihak mereka mengenakan biaya suku bunga yang berbeda di provinsi ini (sebagai akhibat dari risiko yang lebih besar yang dipersepsikan). sekarang menjadi “bisnis seperti biasa” bagi bank di Aceh dan masalah-masalah yang lebih berat juga masih ada. Sumber: Survei terhadap bank di Aceh. tampaknya masuk akal bahwa bank berhati-hati akan munculnya kembali bentuk kekerasan. Beberapa bank menyatakan maksudnya untuk memperluas jaringan cabang mereka di Aceh. apakah persoalannya adalah pembatasan kredit oleh bank? Pembatasan kredit dapat menjadi suatu alasan rendahnya tingkat kredit. salah satu hipotesis dari tim adalah bahwa bank mungkin enggan untuk memberi pinjaman bagi usaha-usaha lokal karena bank masih mengkhawatirkan stabilitas provinsi ini. juga menunjukkan suatu upaya dari bank-bank untuk mengurangi risiko menjalankan usaha di Aceh. Mengingat sejarah Aceh yang ditandai kekerasan dan perdamaian yang masih baru. hal tersebut akan tetap menjadi pertimbangan bank untuk menjalankan usaha di Aceh. dari kepala desa). Mengingat ketersediaan dana. walaupun bank tidak menunjukkan kekhawatiran bahwa konflik mungkin akan muncul kembali. Biaya kredit tampaknya bukan merupakan halangan utama bagi investasi. pertumbuhan yang kuat selama upaya rekonstruksi dan keamanan relatif di sebagian besar daerah Aceh. Jika konflik masih mungkin untuk terjadi. Alasan lain bagi rendahnya tingkat kredit yang diberikan bagi usaha-usaha barangkali adalah bahwa bank-bank tidak mempunyai pilihan untuk melakukan hal tersebut.

Sektor-sektor yang paling banyak menerima kredit adalah sektor-sektor di mana investasi modal tetap rendah. konstruksi merupakan pendorong utama perekonomian provinsi ini selama beberapa tahun terakhir di mana bagian yang besar dari semua sumber daya – pemerintah dan swasta – diberikan kepada sektor ini. Banda Aceh. Namun demikian. pertanian tampaknya merupakan sektor yang relatif berisiko dan.1 – Rp. Hal ini terjadi setelah mereka gagal mengembalikan pinjaman sebagai akibat dari kehilangan-kehilangan selama tsunami dan. Sektorsektor tersebut sebagian besar adalah ekonomi perkotaan. Program ini tidak mempersyaratkan barang jaminan. Pemberian pinjaman bagi industri pengolahan makanan dihambat oleh ukuran yang kecil dari industri tersebut di Aceh. hal ini masih harus ditindaklanjuti dengan kegiatan selanjutnya. Membatasi investasi modal tetap dengan alasan bahwa mereka mungkin dipaksa meninggalkan usaha dalam keadaan seperti itu merupakan cara yang mudah bagi usaha untuk melindungi diri dari risiko tersebut. yang membatasi akses masyarakat dan usaha terhadap kredit. 24 Wawancara dengan bank-bank. Dalam wawancara-wawancara yang dilakukan terhadap bank-bank umum di Banda Aceh. program PER (Pemberdayaan Ekonomi Rakyat) diluncurkan pada 2001 dan terdiri dari pinjaman-pinjaman kecil (Rp. mereka tetap tidak dapat mengajukan permohonan pinjaman baru walaupun sebagian besar pinjamanpinjaman lama tersebut telah diputihkan. Bagian dari kredit yang masuk ke sektor manufaktur sejalan dengan daerah-daerah lain di Sumatera dan Indonesia. Alokasi kredit yang besar bagi sektor konstruksi akan tampak bertentangan dengan pernyataan-pernyataan yang disampaikan para bankir yang diwawancarai. Tingkat pengembalian yang rendah ini kemudian dijelaskan dengan tidak adanya persyaratan barang jaminan. karena masalah tersebut mempengaruhi seluruh negara (dan sebagian negara lain untuk hal tersebut). alokasi kredit investasi dan modal kerja secara sektoral lebih diarahkan ke sektor-sektor yang dianggap lebih aman. Struktur kredit di Aceh lebih mengarah ke sektor-sektor yang dianggap kurang berisiko.40 milyar gagal bayar. Antara tahun 2001 dan 2003. Tingkat pengembalian yang rendah dari skema bersubsidi yang disponsori oleh pemerintah juga disoroti oleh beberapa bank yang menjadi sumber diskusi tim di Aceh selama persiapan kajian ini. Pertama. untuk saat ini. bankbank biasanya enggan menawarkan produk-produk pinjaman yang tidak mewajibkan adanya barang jaminan dan sebagian besar menargetkan Usaha Mikro. Desember 2008.23 Bank bersikap hati-hati dalam pendekatannya untuk beroperasi di Aceh. seperti perdagangan dan. yakni menghindari sektor-sektor yang lebih berisiko seperti pertanian atau menghindari para peminjam seperti UKM. bagian kredit yang masuk ke sektor ini masih lebih tinggi daripada di daerah lain di Sumatera dan rata-rata nasional. yang menyeleksi para pemohon). sehingga mereka tidak lagi dapat menggunakanya sebagai barang jaminan. walaupun terdapat kesangsian seperti yang diutarakan. 23 Kesulitan akses terhadap kredit bagi usaha-usaha dan para petani yang lebih kecil bukan hanya masalah khusus di Aceh.24 Hal ini dapat menjadi halangan yang serius bagi akses karena banyak orang dan usaha kehilangan aset dan sertifikat selama tsunami. yang menunjukkan bahwa. Di Aceh. seperti konstruksi dan perdagangan. tsunami dan akibat-akibatnya serta tidak baiknya perencanaan program (pemerintah. pungutan liar atau harga bahan bangunan yang berubah-ubah. yang agaknya membenarkan keengganan bank swasta untuk memberi pinjaman bagi sektor ini. konstruksi. Hal ini mungkin dapat menjadai petunjuk bahwa dunia usaha masih belum berniat melakukan investasi yang besar di provinsi ini karena mereka mempersepsikan adanya risiko yang besar bahwa konflik dapat timbul kembali dan membuat mereka terpaksa tidak bisa melanjutkan usaha. dan bukan bank. tampak bahwa bank-bank tersebut bersikap sangat hati-hati di provinsi ini (sebagaimana ditunjukkan oleh rendahnya pinjaman macet (non-performing loan/NPL) dari sebagian besar bank dan sektor perbankan secara umum). walaupun banyak bank menyatakan ketertarikannya untuk memberi pinjaman lebih untuk mendorong pengembangan pertanian. Ketiga. Kedua. yang mengidentifikasi konstruksi sebagai sektor yang juga relatif berisiko: para kontraktor sering menghadapai persoalan-persoalan berkaitan dengan pemberian hak atas tanah. Upaya-upaya yang dilakukan pemerintah untuk menangani permasalahan ini melalui skema kredit yang disubsidi atau dijamin menunjukkan tingkat pengembalian yang rendah.250 juta) bagi UKM informal.47 milyar dicairkan di mana sejumlah Rp.Juli 2009 jenis pemohon kredit tertentu. seperti perdagangan. dan bagian kredit yang masuk ke sektor pertanian lebih rendah dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Sumatera. Sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 12. 33 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . beberapa orang telah dimasukkan dalam “daftar hitam” oleh bank. Kecil dan Menengah (UMKM). Rp. pada tingkat yang lebih rendah.

2009. Transportasi. walaupun mereka memiliki pendapatan yang sama dengan warga sipil. yang pada gilirannya dapat menjadi penghalang bagi mereka untuk dapat melakukan kegiatan ekonomi dan berinvestasi.0% 70. tampak bahwa bank-bank tidak bersedia memberikan pinjaman bagi sektor agrobisnis dan perkebunan yang berskala kecil apabila pemerintah atau LSM tidak membantu penjaminan pinjaman tersebut.Akses terhadap Kredit Gambar 12 Sektor konstruksi dan perdagangan menerima bagian kredit yang relatif besar di Aceh Bagian dari investasi dan kredit modal kerja yang masuk ke sektor yang diseleksi. 2007 80. November 2007. 34 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . dan berpengalaman memeberikan pinjaman bagi ekonomi pedesaan di provinsi-provinsi lain tampaknya juga enggan untuk melaksanakan program-program pemberian pinjaman pembiayaan mikro di Aceh. November 2007. Terdapat bukti bahwa para korban konflik memiliki lebih sedikit aset dibandingkan yang bukan korban konflik (Tabel 8). “Aceh Financial Sector Diagnostics”. dan saat ini tidak bersedia mengambil kredit komersial yang wajib mereka kembalikan.27 Orang atau kelompok yang telah kehilangan aset-asetnya karena tsunami atau karena konflik mungkin bisa terhalang untuk mengakses kredit. Banda Aceh.0% 20.0% 0.0% 10.0% 60.0% Pertanian Pertambangan Manufaktur Listrik Gas.0% 40.2. atau yang hanya menerima peralatan atau perabotan rumah tangga sebagai barang jaminan. Bahkan bank-bank yang memiliki tenaga ahli di bidang kredit mikro.0% 50. Jasa usaha gudang & restoran dan komunikasi hotel Jasa sosial Aceh Sumatera Utara Kalimantan Timur Sulawesi Tengah Papua SUMATERA INDONESIA Sumber: Kalkulasi Bank Indonesia dan staf Bank Dunia Secara umum. basis aset mereka lebih rendah. “Aceh Financial Sector Diagnostics”. Kasus mantan kombatan GAM juga patut dilihat bahwa: secara rata-rata. 26 Wawancara dengan bank-bank. sangat berhasil dan memperoleh permintaan yang tinggi. sebagian dari keberhasilan perbankan syariah akhir-akhir ini dapat dijelaskan dengan fakta bahwa perbankan ini tidak mensyaratkan barang jaminan untuk memberikan pinjaman. 27 IFC.0% 30. 25 IFC. hal.25 Program-program pemberian pinjaman mikro yang tidak mensyaratkan barang jaminan. Mungkin juga ada beberapa kelompok yang kurang beruntung di Aceh mengalami hambatan untuk mengakses kredit.26 Lagi pula. & Air Bangunan Perdagangan. Ada pemahaman bahwa pasar telah terdistorsi ketika para petani dan nelayan telah menerima hibah dan pinjaman dari LSM selama rekonstruksi.

akses terhadap kredit di Aceh tampaknya bukan merupakan hambatan yang mengikat bagi pertumbuhan di provinsi ini.596 16. Persoalan-personalan akses terhadap pembiayaan tampaknya menyebar di Indonesia dan tidak dapat menjadi alasan tingkat kredit yang rendah di Aceh.838 -694*** -2. Akibatnya. Akan tetapi. bank telah memulai kembali operasinya di Aceh dan secara bertahap kembali ke modus operasi “ bismis seperti biasa” di daerah tersebut. ‘000) 16.887 rumah tangga (rata-rata) Bagian rumah yang terbuat dari beton 27 36 31 40 -9*** -9** (%) Akses terhadap air dari sumber yang 46 60 56 63 -15*** -7** bersih/terlindungi (%) Persepsi tentang Kemiskinan Rumah tangga di kalangan sepertiga 65 47 53 42 18*** 12*** termiskin di desa†† *** Signifikan pada 99%. pada tingkat yang lebih kecil. Walaupun agak rendah.912 10. seperti pertanian dan perikanan.370 23. Di Aceh. 2008 Aset-aset rumah tangga (rata-rata) (Rp. dan harus mendirikan kembali usaha serta jaringan nasabah mereka. usaha-usaha tersebut sebagian besar adalah usaha perdagangan dan.146 16.426 24. Rendahnya tingkat kredit yang diberikan kepada sektor swasta mungkin merupakan suatu upaya dari bank untuk menghadapai apa yang oleh banyak pihak dianggap sebagai risiko-risiko yang lebih besar dalam beroperasi di Aceh. sebagian besar bank hanya beroperasi di kota-kota utama provinsi dan sangat sedikit menjangkau daerah-daerah pedesaan. Usaha kecil dan menengah yang mengajukan permohonan pinjaman pada umumnya berhasil: hanya 4. terutama untuk beberapa sektor usaha. Tidak ada bank yang memberikan pinjaman usaha kepada perusahaan-perusahaan yang berusia kurang dari satu tahun.248 Pengukuran Kemiskinan Rumah Tangga.918 -347 -771 Laki-Laki Warga Sipil NonKorban korban Pendapatan Rata-Rata (Rp. dan kembali ke Aceh saat-saat terakhir ini.628 10. Akses terhadap pembiayaan. pengolahan makanan.800 -2. sehingga bank-bank tersebut memiliki sedikit cabang di provinsi ini. Bank-bank memberi pinjaman kepada para peminjam yang tidak memiliki resiko tinggi yaitu: usaha-usaha dan perusahaan-perusahaan yang mapan dan memiliki arus kas yang tinggi yang dapat mengembalikan pinjaman dengan cepat atau memberikan pinjaman konsumsi bagi pegawai negeri sipil. tampaknya menjadi persoalan di Aceh.520 25. kontraktor. 2009. mereka kekurangan kapasitas untuk memberikan pinjaman bagi sektor-sektor ekonomi yang utama dalam perekonomian. Bank-bank sebagian besar melayani para peminjam yang paling tidak beresiko.416 -1. * Signifikan pada 90%. 17. Fungsi perantara bank juga terhalang oleh fakta bahwa banyak bank beranjak dari provinsi ini selama konflik. 2008d). Sumber: MSR. bukti menunjukkan bahwa proses ini barangkali lebih lambat daripada yang diperkirakan oleh bank. Sektor-sektor pertanian.13 persen yang ditolak selama paruh pertama tahun 2008 (World Bank. Setelah berakhirnya konflik. Bank-bank sebagian besar memberi pinjaman kepada usaha-usaha yang sudah berkembang dan memiliki aliran kas yang besar dan jaminan yang cukup.586* ‘000) Meter persegi tanah yang digarap oleh 7.Juli 2009 Tabel 8 Pendapatan dan kekayaan (hanya untuk laki-laki) Semua Laki-Laki TNA (n=1024) Perbandingan Kelompok-Kelompok Warga Ex-TNA Korban Sipil terhadap terhadap warga non-korban (n =1792) (n = 974) (n = 1321) sipil 16. Tabel melaporkan rata-rata penduduk dan n sampel. Pada saat ini.044 8. ** Signifikan pada 95%. dan manufaktur skala kecil semuanya memiliki potensi untuk menciptakan pertumbuhan 35 Diagnosis Pertumbuhan Aceh .

hingga ke tingkat yang lebih besar. atau rendahnya daya serap (intake). DBS seharusnya berfokus pada sektor pertanian. Mendukung layanan pengembangan usaha (misalnya melalui Pusat-Pusat Layanan Usaha Pembangunan atau Development Business Services Center – DBS) yang menyediakan informasi bagi usaha-usaha kecil dan menengah tentang pengembangan usaha.Akses terhadap Kredit ekonomi yang berkelanjutan dan bersama. seperti dalam program Kredit Pemberdayaan Pengusaha yang telah diluncurkan. Bagian berikut dari laporan ini menganalisis alasan-alasan yang mungkin di balik keadaan ini. • Bagian ini telah memberikan bukti bahwa dunia usaha di Aceh memiliki akses yang rendah terhadap kredit. Lembaga-lembaga pemerintah dapat melakukan dua intervensi utama untuk meningkatkan akses sektor swasta di Aceh untuk memperoleh kredit: • Memperluas/memperkenalkan program-program jaminan sebagian jenis Kredit Usaha Rakyat (KUR). perikanan dan pengolahan hasil pertanian. sambil mengidentifikasi usaha-usaha yang memiliki potensi yang bisa dikembangkan dan menghubungkan usahausaha tersebut dengan sumber-sumber kredit. Sebagai akibatnya. alasanalasan bagi rendahnya tingkat pemberian kredit kepada usaha-usaha lebih disebabkan oleh risiko-risiko yang lebih tinggi yang dipersepsikan dalam menjalankan usaha di Aceh serta potensi keuntungan yang rendah dari usulan-usulan investasi terkait. yang dibantu Pemerintah Aceh/Pemerintah Indonesia. Walaupun mungkin terdapat persoalan-persoalan berkaitan dengan peran intermediasi yang dimainkan oleh bank. dan juga telah menganalisis sebab-sebabnya. tetapi mengingat sektor swasta maupun individu-individu tersebut telah mengidentifikasi keadaan tersebut sebagai hambatan produktifitas. upaya meningkatkan akses terhadap kredit mungkin menjadi penting agar kaum miskin juga dapat mengambil manfaat dari pertumbuhan. tidak terdapat alasan yang kuat untuk meyakini bahwa fungsi intermediasi bank-bank di Aceh secara signifikan lebih buruk dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Indonesia. Mengingat pengalaman Aceh dengan program-program tersebut. tetapi tidak dapat dengan mudah mengakses kredit karena sektor-sektor tersebut masuk dalam kategori yang membuat bank enggan memberikan pembiayaan. untuk memberikan insentif bagi bank dalam rangka memberikan pinjaman kepada nasabah-nasabah baru. karena sektor-sektor ini berpotensi menjadi mesin pertumbuhan inklusif di Aceh maupun karena fakta bahwa sektor-sektor ini seringkali oleh bank diidentifikasi sebagai sektor-sektor yang sangat berisiko. perhatian khusus harus diberikan bagi rencana programnya agar menghindari rendahnya tingkat pengembalian. Program tersebut seharusnya mempertimbangkan strategi transisi (exit strategies) bagi perusahaanperusahaan yang telah membuktikan pengembalian kreditnya dengan baik dan dengan demikian dapat mengakses kredit tanpa jaminan yang memberatkan. Akses terhadap kredit bukanlah halangan utama bagi pertumbuhan di Aceh. sebagaimana dalam program Pemberdayaan Ekonomi Rakyat. 36 Diagnosis Pertumbuhan Aceh .

Kerangka kerja diagnosa pertumbuhan menganggap lokasi dan karakteristik geografis sebagai serangkaian faktor yang bersifat komplementer yang berdampak pada hasil sosial untuk investasi: kita dapat menganggap kondisi negara yang tidak memiliki daerah pantai. Produktivitas para pekerja mungkin boleh jadi rendah karena rendahnya keterampilan. dan air serta sanitasi masih rendah. kegagalan informasi pasar dan lemahnya daya tawar perkebunan skala kecil. Hal ini mencakup lemahnya hubungan rantai pasokan dengan rantai domestik dan global yang lebih luas. melainkan juga menyebutkan beberapa hambatan yang menghalangi Aceh untuk memperoleh manfaat dari kedekatan tersebut. Mengingat lokasi Aceh yang menguntungkan. akan sangat bermanfaat untuk membandingkan Aceh dengan provinsi-provinsi lain di Indonesia untuk menilai sejauh mana keberhasilan yang dicapainya atau kegagalan yang dialaminya dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain. karet. lemahnya pemberian layanan dan kualitas produk (IFC. Indikator dasar pencapaian pendidikan Indonesia masih rendah dibandingkan dengan negara lain di kawasan yang sama. termasuk negara tetangga Malaysia dan Singapura. indikator infrastruktur dasar. seperti kelapa sawit. di sanalah terdapat salah satu dari beberapa hutan hujan yang tersisa di Asia Tenggara. Penelitian yang dilakukan baru-baru ini tidak hanya menyoroti keuntungan yang dilihat oleh para investor dari kedekatan Aceh dengan pusat industri dan perdagangan utama seperti Medan serta Malaysia. rendahnya kualitas infrastruktur atau kondisi geografis yang merugikan perkembangan usaha. Sumatera Utara. khususnya dalam bidang energi. dan bukanlah sebagai sebuah 37 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Kekurangan-kekurangan tersebut dapat menimbulkan kendala serius dalam upaya untuk mencapai produktivitas usaha dan dengan demikian berdampak pada insentif bagi perusahaan-perusahaan dalam melakukan investasi. Lokasinya dekat dengan pusat industri dan perdagangan utama di Sumatera. Di tingkat nasional. transportasi. 2008). Iklim Aceh memungkinkan pembudidayaan beberapa jenis tanaman ekspor. faktor geografis tampaknya tidak menimbulkan hambatan yang signifikan bagi pertumbuhan. Para calon investor menganggap kedekatan dan logistik angkutan ke Medan sebagai sebuah aset untuk Aceh. kakao. Modal sumber daya manusia sangat penting untuk meningkatkan produktivitas. Aceh terletak di ujung bagian utara Sumatera dan berada di pusat rute perdagangan dan dikaruniai dengan sumber daya alam. dan ketiadaan sumber daya alam atau tanah yang dapat digarap sebagai faktor-faktor geografis yang dapat memberikan pengaruh buruk terhadap pertumbuhan. Dalam menganalisis kualitas dan ketersediaan faktor-faktor produksi yang bersifat komplementer. karena hal tersebut memungkinkan kemajuan teknologi dan perkembangan industri-industri padat keterampilan. dan kopi dan bersama-sama dengan provinsi tetangganya.06 Hasil Sosial yang Rendah Insentif untuk melakukan investasi boleh jadi turun karena rendahnya kualitas atau tidak tersedianya sama sekali beberapa faktor produksi yang bersifat pendukung. Medan dan pasar-pasar regional.

Semua jenis infrastruktur tidak sama pentingnya untuk beberapa usaha dan bagian ini akan berfokus pada pemahaman tentang masalah-masalah khusus terkait jaringan jalan dan listrik.8 34. Untuk memahami jenis infrastruktur mana yang jauh lebih buruk di Aceh. lahan yang mendapat irigasi sebagai persentase terhadap tanah tegalan (porsi). Dalam diskusi dengan Kantor Penunjang Investasi (Investors Outreach Office) di Aceh. lebih dari 35 persen menilai layanan tersebut “buruk” atau “sangat buruk”.5 Sektor swasta memiliki anggapan yang beragam tentang kondisi infrastruktur. Perdebatan ini juga berlangsung di Aceh. 2009b).2 3. sebagaimana ditunjukkan dalam gambar di bawah ini.7 Indonesia (%) 68. Ketika perusahaan-perusahaan di Aceh dimintai pandangannya tentang kondisi jalan-jalan kabupaten dan kota. Aceh (%) 73. Indikatorindikator infrastruktur dasar tampaknya sebanding dengan rata-rata nasional di sejumlah bidang. yang keduanya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keberhasilan pembangunan sektor swasta. dan pengelolaan limbah. Apakah kebutuhan pertumbuhan perekonomian menjadi tidak berimbang karena terjadinya konsentrasi kegiatan ekonomi masih menjadi perdebatan yang hangat (World Bank. pada saat membahas tentang manfaat dari kedekatan Aceh dengan Medan dan apakah pengelompokan kekuatan.3 12. Infrastruktur: jalan-jalan Infrastruktur seringkali disoroti sebagai hambatan utama terhadap investasi di Aceh. pengelolaan limbah (porsi desa yang dilengakapi dengan sistem pengolahan limbah yang memadai. Namun demikian. Namun demikian. seperti tempat pembuangan sampah akhir) 38 Diagnosis Pertumbuhan Aceh .6 52. indikator-indikator persepsi tampaknya sebanding untuk sebagian besar jenis infrastruktur. ketiadaan pasokan listrik yang dapat diandalkan dianggap sebagai kendala utama bagi gagasan-gagasan usaha yang dalam kondisi yang berbeda akan mampu bertahan hidup. sanitasi pribadi. 28 Indikator (ukuran): Rumah tangga yang memiliki akses terhadap listrik (porsi).0 7. Tanpa bermaksud mengakhiri perdebatan tersebut melainkan berdasarkan bukti yang ada dan wawancara dengan para calon investor.7 7. yang menarik kegiatan investasi dan perekonomian ke Medan.7 6. sanitasi pribadi (porsi rumah tangga yang memiliki septic tank). laporan ini mengandalkan ukuran-ukuran cakupan dan kualitas infrastruktur yang lebih objektif di Aceh dan membandingkannya dengan provinsi-provinsi lain. dan listrik di dekat lokasi kegiatan operasi mereka. sambungan telepon (porsi desa yang telah tersambung). merupakan suatu insentif atau disinsentif (misalnya oleh semua kegiatan bernilai tambah yang berlangsung di Medan alih-alih di Aceh) untuk melakukan investasi di Aceh. Tabel 9 Kondisi infrastruktur di Aceh dan Indonesia tahun 200528 Kondisi Infrastruktur28 Rumah tangga yang memiliki akses terhadap listrik Desa-desa yang tidak dilengkapi listrik Sambungan telepon Lahan yang mendapat irigasi sebagai persentase terhadap tanah tegalan Sanitasi pribadi Pengelolaan limbah Sumber: Podes. penerangan jalan.2 54. seperti irigasi dan akses terhadap tenaga listrik.2 52. 2005.2 8.Hasil Sosial yang Rendah hambatan. desa-desa tanpa listrik (porsi). Beberapa jenis infrastruktur masih menimbulkan hambatan bagi investasi dan pertumbuhan dengan tidak mendukung para investor baru untuk menetap di provinsi tersebut. laporan ini menunjukkan bahwa lokasi geografis Aceh tidak merupakan kendala yang mengikat bagi investasi dan pertumbuhan. a. yang tidak memiliki jenis tunggal atau kelompok yang dikhususkan oleh perusahaan yang telah ada sebagai hal yang lebih bermasalah. skor Aceh jauh lebih rendah dalam indikatorindikator yang berhubungan dengan sambungan telepon.

2 0. 2.5 1.468 jembatan jenis lain (kayu. infrastruktur jalan di Aceh tampaknya tidak lebih buruk dibandingkan dengan kondisi di daerah lain di Indonesia. 1. pertokoan.2 Jalan Nasional (%) 6 42 57 52 Jalan Provinsi (%) 9. Pada tahun 2000.4 2. dan 1. Hanya jaringan jalan nasional yang berada dalam kondisi yang lebih buruk. jaringan jalan kabupaten dan provinsi Aceh berada dalam kondisi yang lebih baik dibandingkan dengan rata-rata jaringan jalan di Sumatera atau Indonesia secara keseluruhan. listrik.195 jembatan beton dan 4. Hampir 1.707 toko. Sembilan puluh enam ribu hektar sawah (31 persen dari jumlah total di Aceh) terlantar. dan tanah produktif (MSR.5 0. * Jalan Provinsi.9 20.4 0. sekitar 6. Infrastruktur yang rusak selama konflik yang cenderung dibangun kembali relatif rendah. perumahan.7 0.2 10.3 0. Aceh lebih baik dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Indonesia dan sangat serupa dengan Sumatera secara keseluruhan.6 1. dibandingkan dengan 69 persen jaringan jalan di Sumatera secara keseluruhan dan 54 persen jaringan jalan di tingkat nasional. di mana jalan-jalan nasional di sepanjang pantai timur dan barat rusak parah akibat tsunami. Data yang diperoleh dari dinas Pekerjaan Umum menunjukkan bahwa pada tahun 2006.6 0.5 4. 2006 Jalan yang berada dalam kondisi baik.1 0 Kab/Kota jalan iluminasi jalan Air minum Listrik yang disuplai pemerintah daerah Telephone Jelek sekali Jelek Bagus Bagus sekali Tidak tahu Sumber: The Asia Foundation / KPPOD Kendati persepsi yang berkembang berbeda.641 km jalan akses ke desa (60 persen). Di sektor usaha. irigasi.Juli 2009 Gambar 13 Bagaimana perusahaan-perusahaan menilai kondisi dari jenis-jenis infrastruktur yang berbeda 0.000 ekor ternak (sapi dan kerbau) hilang selama konflik. 2009). 39 Diagnosis Pertumbuhan Aceh .179 km jalan kabupaten (43 persen dari total).368) rusak atau hancur.8 Kepadatan jalan* Kepadatan jalan* Km/ 10. Sebanyak 2.7 Sumber: Bina Marga. khususnya apabila dibandingkan dengan jangka waktu pembangungan kembali infrastruktur yang rusak akibat tsunami.000 orang Km / 100 km2 3.8 1. 278.483 penggilingan padi dan pabrik pengolahan kecil lainnya rusak (47 persen dari jumlah total). Tabel 10 Kondisi Jalan di Aceh. fasilitas perekonomian. Infrastruktur mengalami kerusakan signifikan selama konflik.7 3.9 2.000 hektar lahan perkebunan lainnya (49 persen) tidak dapat digunakan karena konflik dan lebih dari 200. fasilitas desa. baja) juga rusak. 2006 Aceh Sumatera Utara Pulau Sumatera Nasional Jalan Kabupaten (%) 28 12. Dalam hal kepadatan jalan. Pekerjaan Umum. Sebuah penilaian tentang kerusakan dan kerugian akibat konflik yang dilakukan baru-baru ini menunjukkan bahwa lebih dari 50 persen dari sembilan jenis infrastruktur yang rusak selama konflik adalah sebagai berikut: transportasi. hanya 12 persen dari kerusakan ini yang telah diperbaiki.7 2. Pada tahun 2006. Beberapa dari indikator ketertinggalan dapat dijelaskan sebagai akibat dari konflik.2 17. air dan sanitasi.442 km jalan akses ke dusun (61 persen) rusak. jembatan. 78 persen jaringan jalan nasional di Aceh berada dalam kondisi yang baik.409 pasar desa (dari total 2. dan warung makanan dan hampir 1.9 6. gantung.

Hasil Sosial yang Rendah

Rekonstruksi setelah tsunami telah memberi Aceh infrastruktur yang lebih baik. Proyek-proyek infrastruktur senilai sekitar AS$1,5 miliar (dalam bidang transportasi, irigasi, dan energi) telah dialokasikan. Sejak bulan Desember 2008, sekitar 3.000 km jalan (semua jenis jalan) telah dibangun, 273 jembatan telah diperbaiki, demikian pula 12 landasan pacu dan 20 pelabuhan.29 Semua ini dilakukan terutama di daerah-daerah yang terkena dampak tsunami, dengan sejumlah kecil investasi di wilayah tengah Aceh dan daerah-daerah lain yang tidak terkena dampak tsunami: hanya sembilan persen dari nilai kerusakan dan kerugian terkait konflik yang telah dialokasikan dalam bentuk dukungann pasca konflik (MSR, 2009). Di daerah-daerah pasca konflik, masih diperlukan bantuan yang cukup besar dalam bidang perumahan, pertanian, dan pengangkutan. Di daerah-daerah di mana infrastruktur telah diperbaiki setelah tsunami, belum pasti apakah pemerintah daerah memiliki sumber daya dan kemampuan untuk memelihara aset baru tersebut. Pemerintah tetap menjadi investor utama dalam bidang infrastruktur. Walaupun beberapa industri terpaksa membangun infrastruktur mereka sendiri (minyak dan gas, industri pupuk, dan beberapa perkebunan), sebagian besar dari sektor swasta masih mengandalkan penyediaan infrastruktur oleh pemerintah. Belanja pemerintah untuk infrastruktur turun secara signifikan seiring dengan diterapkannya desentralisasi, tetapi kemudian meningkat kembali (baik secara mutlak maupun relatif ) sejak tahun 2004, sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar 14. Penelitian yang dilakukan baru-baru ini tentang belanja pemerintah di Aceh menunjukkan kenaikan belanja pemerintah untuk infrastruktur secara keseluruhan (World Bank, 2008b) serta kenaikan dalam alokasi untuk operasional dan pemeliharaan (World Bank, 2006b) sebesar sampai dengan 9 persen, masih di bawah rata-rata nasional sebesar 12 persen. Mempertahankan alokasi dana yang tinggi untuk infrastruktur dan belanja khusus untuk operasional dan pemeliharaan perlu dilakukan untuk terus meningkatkan infrastruktur jalan di Aceh. Gambar 14 Belanja pemerintah untuk infrastruktur di Aceh telah meningkat sejak tahun 2004
Investasi pemerintah untuk infrastruktur Bagian dari anggaran total (%) 3000 2500 Rp Billion 2000 1500 1000 500 0 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Bagian (kanan) Belanja Pemerintah (kiri) 60 50 40 30 20 10 0

Catatan: Harga konstan 2006. Sumber: Provinsi, Departemen Keuangan, perhitungan staf Bank Dunia.

b. Infrastruktur: listrik
Permintaan akan listrik terus meningkat dan ketiadaan pasokan listrik yang dapat tersedia seringkali diidentifikasi sebagai hambatan utama bagi pembangunan perekonomian di Aceh. Tidak berbeda dengan tren nasional, pertumbuhan permintaan listrik mencapai hampir 10 persen selama lima tahun terakhir. Sektor rumah tangga mencatat 67 persen dari permintaan, sementara permintaan dari sektor usaha dan pemerintah masing-masing sebesar 14,5 persen dan 18,5 persen. Hampir 80 persen pasokan listrik di Aceh berasal dari sistem interkoneksi Sumatera (Sumatra Interconnection System) melalui Sumatera Utara. Sistem ini telah dirancang untuk meningkatkan efisiensi dalam distribusi, tetapi hal ini sekaligus menunjukkan secara tidak langsung bahwa Aceh rentan terhadap gangguan koneksi jarak jauh, yang kadang-kadang dapat terjadi, misalnya dalam keadaan cuaca buruk. Aceh memiliki pasokan listrik yang memadai untuk memenuhi kebutuhan dalam kondisi normal, tetapi kekurangan
29 Sektor energi merupakan salah satu dari sedikit sektor yang tidak mendapakan dana yang memadai untuk melakukan pemulihan dari dampak tsunami. Dengan kebutuhan minimum diperkirakan mencapai hampir sebesar AS$120 juta, dana yang dialokasikan mencakup kurang dari 40 persen kebutuhan minimum.

40

Diagnosis Pertumbuhan Aceh

Juli 2009

cadangan listrik siaga yang diperlukan sebagai cadangan apabila jaringan pasokan terganggu (Gambar 15). Hal ini sering terjadi di Aceh: perusahaan-perusahaan di Aceh melaporkan bahwa pasokan listrik terganggu rata-rata selama 4,3 kali per minggu, sementara di wilayah lain di Indonesia, gangguan listrik ini hanya terjadi dua kali seminggu. Diskusi-diskusi yang diadakan dengan para perwakilan sektor swasta juga menggarisbawahi bahwa ketiadaan listrik yang dapat diandalkan merupakan kendala utama yang dihadapi oleh jenis-jenis kegiatan tertentu (pengolahan ikan, peternakan unggas) yang dalam keadaan sebaliknya akan mampu berkembang. Gambar 15 Aceh kekurangan cadangan listrik siaga yang diperlukan untuk menghindari gangguan pasokan
Listrik di Aceh (GwH) 2500 2000 1500 1000 500 0 2007 2008 Kapasitas 2009 2010 2011 2012 Permintaan (termasuk cadangan)

Sumber: RUPTL NAD 2008-2017, PLN, perhitungan staf Bank Dunia.

Menurut PLN, tingkat elektrifikasi di Aceh lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah-wilayah lain di Sumatera dan Indonesia (Tabel 11). Elektrifikasi di tingkat rumah tangga tidaklah selalu dapat dilihat sebagai yang sesuatu yang dapat diandalkan dan lancar. Beberapa industri, seperti minyak dan gas bumi atau semen, terpaksa harus menyediakan pasokan listrik mereka sendiri: secara bersama-sama industri tersebut memproduksi sekitar 427.000 kVA untuk kebutuhan mereka sendiri pada tahun 2007. Pada tahun tersebut, sekitar 575.000 kVA atau 3 persen dari total pasokan listrik di Aceh dihasilkan oleh sektor swasta untuk konsumsi mereka sendiri. Untuk industri-industri berskala menengah dan kecil, yang beroperasi dalam skala yang lebih kecil, menghasilkan listrik secara swadaya seringkali bukanlah suatu pilihan dan pasokan listrik dapat menjadi hambatan yang signifikan. Tabel 11 Tingkat elektrifikasi di Aceh berada di tingkat yang sama dengan wilayah-wilayah lain di Indonesia
Tingkat Elektrifikasi – Provinsi (%) Java - Bali – Madura NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kalimantan Timur Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Gorontalo Papua NTT Batam Sumatera Indonesia
Sumber: PLN.

2003 59,5 56,2 67,1 60,5 38,5 49,8 46,2 27,4 22,4 68,7 50,3 54,8

2008 67,3 69,8 78,2 72,9 47,1 65,4 53,5 34 28,7 96 62,8 63,5

2013 77,3 86,5 93,2 94,3 56,9 91,1 63 42,6 37,2 100 80,3 75,2

41

Diagnosis Pertumbuhan Aceh

Hasil Sosial yang Rendah

Pemadaman listrik yang sering dilakukan, bahkan di ibukota provinsi Banda Aceh, sebagai akibat dari kekurangan kapasitas, peralatan yang relatif tua, dan pemeliharaan yang seringkali diperlukan, kemungkinan menimbulkan hambatan yang signifikan terhadap pertumbuhan. Investasi yang cukup signifikan dalam sektor kelistrikan diperlukan untuk menjamin pasokan listrik yang lancar dan menghindari keharusan sektor swasta untuk menghasilkan listriknya sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan listrik yang terus meningkat, PLN memperkirakan bahwa diperlukan investasi sebesar sekitar AS$130 juta selama lima tahun ke depan (PLN, 2007). Sebagian besar investasi berasal dari sektor publik. Struktur pasar energi yang berlaku saat ini tampaknya tidak mendorong investasi yang signifikan dalam hal produksi energi oleh sektor swasta, mengingat kebijakan harga yang diberlakukan saat ini oleh PLN. Masih belum dipastikan apakah pemerintah provinsi mempunyai kemampuan untuk melakukan investasi yang diperlukan dalam jangka pendek. Selain meningkatkan kehandalan pasokan energi dari Sistem Interkoneksi Sumatera, Pemerintah Aceh dapat mempertimbangkan penggunaan sumber energi yang lebih terkini, yang sebelumnya telah diidentifikasi memiliki potensi untuk Aceh (CSIRO, 2008). Terdapat beberapa peluang untuk meningkatkan perkembangan energi panas bumi, bio-masa lokal, dan sinar matahari, untuk menjamin pasokan energi lokal yang handal guna mendukung pembangunan provinsi tersebut.

c. Pendidikan dan modal sumber daya manusia
Tingkat capaian pendidikan di Aceh cukup tinggi dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain dan rata-rata di Indonesia, tetapi para mantan anggota GAM kurang mendapat pendidikan dibandingkan dengan masyarakat sipil. Tingkat partisipasi di tingkat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama pada tahun 2007 lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat partisipasi secara nasional dan dibandingkan dengan provinsi tetangganya yang lebih kaya, Sumatera Utara (Tabel 12). Belum terjadi evolusi yang signifikan sejak berakhirnya konflik dan tsunami karena tingkat partisipasi pada tahun 2007 masih sama dibandingkan dengan tingkat partisipasi pada tahun 2004. Tabel 12 Capaian pendidikan
2004 Pendidikan Aceh Angka Partisipasi Bersih SD Angka Partisipasi Bersih SMP Angka Partisipasi Bersih SMA Angka Partisipasi Kotor SD Angka Partisipasi Kotor SMP Angka Partisipasi Kotor SMA
Sumber: Susenas, 2004-07.

2007 Nasional (rata-rata) 93,0 65,2 42,9 107,1 82,2 54,4 Aceh 95,7 76,4 61,8 114,3 91,1 76,8 Sumatera Utara 93,9 73,6 54,8 111,0 91,3 69,0 Nasional (rata-rata) 93,8 66,6 44,6 110,4 82,0 56,7

95,9 80,0 62,0 108,8 95,9 75,2

Sumatera Utara 93,6 73,0 56,6 106,6 89,9 70,9

Data yang diperoleh dari Survei tentang Reintegrasi dan Penghidupan di Aceh (Aceh Reintegration and Livelihood Survey/ARLS) menunjukkan bahwa rata-rata para mantan anggota GAM kurang mendapat pendidikan dibandingkan dengan masyarakat sipil. Rangkaian data dari ARLS memberikan informasi tentang individu, rumah tangga, dan desa-desa dan berfokus pada reintegrasi pasca konflik di Aceh. ARLS dilaksanakan sejak bulan Juli-September 2008 di 754 desa di Aceh. Contoh yang diambil diupayakan agar representatif untuk para pria di seluruh Aceh (dan perempuan dalam sebuah kelompok di kabupaten-kabupaten) dan memungkinkan diadakannya perbandingan antara beberapa kelompok, termasuk mantan anggota GAM versus masyarakat sipil dan para korban versus non-korban. Kajian tersebut menggunakan data ini untuk mengetahui situasi sosial ekonomi yang dihadapi oleh sebagian dari kelompok tersebut, termasuk para mantan anggota GAM dan tantangan-tantangan khusus yang

42

Diagnosis Pertumbuhan Aceh

2009) memperkirakan bahwa 49 persen sekolah menengah atas. Industri-industri berbasis pertanian dan para pedagang meninggalkan provinsi tersebut dan ratusan mahasiswa Universitas Syiah Kuala melanjutkan pendidikan mereka di luar Aceh. 47 persen sekolah menengah pertama. Sejak bulan Desember 30 Wawancara dengan Kepala Kamar Dagang dan Industri dan para pemimpin perusahaan. perbandingan antara mantan Tentara Nasional Aceh (TNA). di mana pihak yang bertikai berupaya untuk menghancurkan tempat-tempat persembunyian potensial dan penghancuran yang infrastruktur pemerintah.Juli 2009 mereka hadapi. memperkirakan bahwa lebih dari 180. Czaika dan Kis-Katos (2007). Sekolah-sekolah seringkali ditutup sementara terutama pada saat kekerasan meningkat. infrastruktur pendidikan banyak menjadi target. dan non korban (khusus pria) Semua Pria Mantan-TNA Sipil (n=1024) (n=1794) 35 40 94 70 96 91 15 40 29 17 17 29 20 34 Kelompok Pembanding Mantan-TNA terhadap sipil -6 *** 24 *** 5 *** -3 11 *** 9 *** -17 *** Usia (rata-rata) Penduduk Aceh (%) Melek Huruf (%) Pendidikan (%) Tidak memiliki pendidikan Lulus sekolah dasar Lulus sekolah menengah pertama Lulus sekolah menengah atas atau lebih tinggi *** Signifikan 99%. Sumber: MSR 2009. misalnya. 54 persen sekolah dasar. Hanya 17 persen dari mereka yang lulus sekolah menengah atas atau memperoleh pendidikan di tingkat perguruan tinggi dibandingkan dengan 34 persen masyarakat sipil (MSR.30 Upaya rekonstruksi pada gilirannya telah memberikan kontribusi terhadap makin meningkatnya modal sumber daya manusia di provinsi tersebut. di antara mereka terdapat banyak pelajar dan pelaku usaha (Misbach. Sejumlah besar penduduk Aceh meninggalkan provinsi ini selama periode ini. yang membuktikan bahwa konflik tersebut merupakan faktor penentu dalam migrasi penduduk keluar dari provinsi tersebut. Tabel 13 Karakteristik dasar. 2008). 2009).000 penduduk Aceh meninggalkan wilayah tersebut. terdapat tanda-tanda bahwa situasi keamanan yang membaik dan peluang-peluang yang diciptakan melalui upaya rekonstruksi berhasil membawa kembali beberapa pelaku usaha dan tenaga kerja terampil ke Aceh. Proyek-proyek rekonstruksi telah meningkatkan fasilitas pendidikan dan kemampuan para pejabat pemerintah. lebih banyak dari mereka yang melek huruf yang menunjukkan bahwa kemungkinan besar mereka telah memperoleh pendidikan dasar. Dalam hal pendidikan. 880 sekolah harus ditutup (Barron. lebih dari 100. Pertimbangan tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya untuk menggariskan kebijakan yang terkait untuk mencapai pertumbuhan inklusif. tampak bahwa para mantan anggota GAM kemungkinan besar berhenti bersekolah di tingkat sekolah dasar atau sekolah menengah pertama (Tabel 13). apabila membandingkan antara para mantan anggota GAM dan masyarakat sipil. 43 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Namun demikian. Penilaian terhadap kerusakan dan kehilangan (MSR. Tabel reports population means and sample n’s. Setelah pemerintah mendeklarasikan darurat militer di Aceh pada bulan Mei 2003. Selama konflik. Beberapa universitas juga diserang. 2007). dan madrasah tradisional (sekolah Islam). ** Signifikan 95%. * Signifikan 90%. dan 74 persen taman kanak-kanak rusak selama konflik.000 orang meninggalkan Aceh antara tahun 1999 dan 2002. Namun demikian. korban sipil. Selama enam bulan setelah kegagalan Perjanjian Penghentian Permusuhan pada bulan Mei 2003.

Hasil Sosial yang Rendah

2008, 40.000 guru telah mendapatkan pelatihan selama upaya rekonstruksi.31 Beberapa pelaku rekonstruksi telah mempekerjakan staf lokal, yang kemungkinan telah menciptakan alih pengetahuan secara signifikan.

Ketersediaan tenaga kerja terampil tampaknya bukan hambatan dan tidak terjadi kekurangan tenaga kerja terampil di provinsi Aceh. Pasar tenaga kerja tampaknya tidak mampu menyerap tenaga kerja yang telah ada dan hanya terdapat beberapa peluang lapangan kerja untuk para pekerja terampil di Aceh. Mayoritas angkatan kerja di Aceh (lebih dari 60 persen) bekerja di sektor informal. Pemberi kerja utama adalah sektor pertanian diikuti oleh sektor perdagangan dan jasa, dengan peluang lapangan kerja yang terbatas di sektor industri. Pemerintah daerah tampaknya harus menyerap bagian terbesar dari angkatan kerja terampil,32 karena terbatasnya peluang lapangan kerja di sektor formal bagi para lulusan sarjana dan lebih dari sepertiga dari semua lulusan universitas mencari peluang kerja di luar provinsi.33 Namun demikian, ketiadaan tenaga kerja terampil saat ini boleh jadi tidak menghambat pertumbuhan, karena mungkin Aceh berada dalam ekuilibrium pertumbuhan yang cukup rendah, dengan sejumlah tenaga kerja Aceh yang lebih terampil yang telah meninggalkan provinsi selama terjadinya konflik. Kita mungkin berharap hal ini akan tercermin dalam jumlah tenaga profesional yang bekerja di provinsi, misalnya dengan menunjukkan jumlah guru dan tenaga profesional di bidang kesehatan yang lebih rendah. Sebagaimana yang ditunjukkan dalam tabel 12 di bawah ini, tidak terjadi kekurangan tenaga profesional di Aceh untuk memberikan layanan kesehatan dan pendidikan. Jumlah tenaga profesional di provinsi Aceh setara dengan rata-rata nasional atau di atas rata-rata dan lebih baik dibandingkan dengan Sumatera Utara (Tabel 14). Hal ini memberikan dukungan lebih besar terhadap gagasan bahwa tenaga kerja terampil tersedia dalam jumlah yang memadai. Seiring dengan pertumbuhan provinsi, keterampilan angkatan kerjanya mungkin menimbulkan kendala lebih besar, tetapi saat ini hal itu tampaknya bukan merupakan kendala bagi investasi dan pertumbuhan. Tabel 14 Tenaga profesional dalam bidang kesehatan dan pendidikan
Guru/1000 * (2008) NAD Sumatera Utara Sumatera Total Nasional 14,84 14,04 n/a 14,98 Profesional bidang kesehatan/1000 ** (2007) 2,6 2,3 2,1 2,.0

* Termasuk para guru SD, SMP, SMA ** Termasuk para dokter umum, dokter spesialis, nutrisionis, perawat, operator peralatan medis, bidan. Sumber: Departemen Kesehatan, Departemen Pendidikan, BPS

Selain itu, para pekerja terampil mendapat penghargaan atas keterampilan mereka setara dengan yang diterima oleh para pekerja di Sumatera (tetapi di bawah rata-rata nasional), yang menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan yang memerlukan tenaga kerja terampil di Aceh tidak menghadapi kesulitan untuk mendapatkannya. Hasil pendidikan didefinisikan sebagai premi upah yang diterima oleh para karyawan dengan tingkat pendidikan tertentu dibandingkan para karyawan yang kurang terdidik. Dalam kondisi tidak terpenuhinya kebutuhan akan keterampilan di Aceh, masyarakat
31 Kemajuan Pemulihan di Aceh dan Nias, data dari Pusdatin-RAN Database-BRR di http://www.e-aceh-nias.org/home/default. aspx?language=EN, diakses pada tanggal 14 April 2009 32 Sebagian besar peluang lapangan kerja untuk para lulusan sarjana tersedia dalam sektor layanan Publik, industri perbankan, dan jasa. Sebagai gambaran, lebih dari 60.000 lulusan sarjana berkompetisi hanya untuk 6.000 jabatan baik dalam pemerintahan provinsi dan kabupaten di Aceh pada tahun 2008. 33 Wawancara dengan Ketua Alumni Universitas Syiah Kuala.

44

Diagnosis Pertumbuhan Aceh

Juli 2009

berharap agar hasil pendidikan di Aceh lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah-wilayah lain di Indonesia, yang ditunjukkan oleh premi yang dibayarkan terhadap upah di provinsi tersebut. Tabel 15 menunjukkan perbandingan antara premi-premi upah di Aceh, Sumatera Utara, dan Indonesia secara keseluruhan: penduduk yang hanya lulus SMA versus penduduk yang kurang berpendidikan, penduduk yang lulus SMA atau perguruan tinggi versus semua penduduk lain dan penduduk yang telah mengikuti pendidikan tersier versus semua penduduk lain (lihat Lampiran I untuk rincian). Tujuannya adalah untuk memperoleh harga perkiraaan (shadow price) dari keterampilan di Aceh, yang berarti seberapa tinggi perusahaan menghargai keterampilan para pekerjanya. Hasilnya menunjukkan bahwa keterampilan di Aceh mendapat penghargaan yang sama sebagaimana di Sumatera, tetapi lebih rendah dari penghargaan di tingkat nasional. Dengan mengendalikan variabel-variabel lain yang juga mempengaruhi upah, seperti usia, gender atau lokasi, seorang pekerja lulusan SMA atau lulusan pendidikan yang lebih tinggi boleh jadi berharap untuk memperoleh 39 persen lebih tinggi dibandingkan dengan para pekerja lain di Aceh. Di Sumatera, premi ini setara dengan 38 persen dan di Indonesia setara dengan 67 persen. Untuk pendidikan tersier, premi upah adalah 53 persen di Aceh, sementara di Sumatera Utara dan Indonesia mencapai sebesar masing-masing 61 persen dan 105 persen. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan pekerja dengan pendidikan tersier di Aceh lebih rendah dibandingkan dengan kebutuhan di Sumatera Utara. Tabel 15 Hasil pendidikan – perkiraan kenaikan upah Persen
SMA vs. Pendidikan lebih rendah Aceh Noth Sumatera Sumatera Indonesia 33 29 30 47 SMA dan di atas SMA vs. Pendidikan Lebih rendah (SMP dan pendidikan di Bawah SMP ) 39 39 38 67 Pendidikan tinggi vs. Pendidikan yang lebih rendah 53 61 52 105

Sumber: Perhitungan staf Bank Dunia berdasarkan Sakernas, 2008 kecuali untuk Indonesia (Bank Dunia, yang akan datang (b))

Penyediaan tenaga kerja terampil mungkin bukan hambatan utama terhadap pertumbuhan di provinsi Aceh, tetapi hal itu tidak berarti bahwa ketersediaan keterampilan bukanlah hambatan bagi penduduk Aceh untuk memperoleh manfaat dari pertumbuhan. Kebutuhan untuk mendatangka tenaga kerja dalam jumlah besar dari provinsi-provinsi tetangga untuk mengisi pekerjaan yang memerlukan keterampilan sedang yang tercipta melalui upaya rekonstruksi menandakan bahwa penduduk Aceh tidak memiliki serangkaian keterampilan yang diperlukan untuk ikut serta dalam pasar tenaga kerja. Penduduk Aceh yang tinggal di wilayah perdesaan (World Bank, 2008a) menyoroti terjadinya kekurangan keterampilan dan modal sumber daya manusia sebagai hambatan utama untuk meningkatkan produktivitas mereka dan melepaskan diri dari kemiskinan. Berbagai keterampilan diidentifikasi sebagai kebutuhan untuk meningkatkan produktivitas di wilayah perdesaan, di antaranya penerapan teknologi perikanan dan pertanian yang makin baik, pengalaman dalam menjalankan pengolahan barang primer yang sederhana, pemeliharaan peralatan pelayaran atau industri rumah tangga (jahit menjahit, menganyam tikar, dan membuat roti). Meningkatkan kesesuaian antara penawaran dan permintaan keterampilan telah diidentifikasi sebagai bidang pokok untuk memudahkan penciptaan pekerjaan di Indonesia (World Bank, yang akan datang), yang berfokus pada peningkatan kualitas pelatihan kejuruan dan penyediaan pembinaan keterampilan bagi para pekerja.

45

Diagnosis Pertumbuhan Aceh

Hasil Sosial yang Rendah

Yang muncul dari analisis ini adalah bahwa walaupun terdapat peluang untuk meningkatkan penyediaan layanan pendidikan di Aceh, alih-alih kelangkaan pasokan tenaga kerja terampil, tidak ada cukup permintaan akan tenaga kerja terampil.34 Sebagai akibatnya sejumlah besar angkatan kerja terampil harus mencari peluang di luar provinsi atau dalam pemerintahan daerah. Di masa yang akan datang, hal ini dapat berubah seiring dengan perkembangan dan modernisasi yang terjadi di provinsi. Sektor swasta mulai mengalami kelangkaan keterampilan profesional, dengan keharusan untuk meningkatkan kesesuaian antara keterampilan yang diperlukan oleh pasar tenaga kerja dengan yang disediakan oleh lembaga-lembaga setempat. Namun demikian, hal ini tampaknya tidak merupakan hambatan utama dewasa ini. Para mantan anggota GAM kurang memperoleh kesempatan pendidikan dibandingkan dengan masyarakat sipil. Untuk menjamin bahwa mereka juga memperoleh manfaat dari pertumbuhan, mereka harus dilengkapi dengan keterampilan yang diperlukan. Memberikan penghidupan kepada para mantan anggota GAM juga akan mendukung proses perdamaian dan memperkuat stabilitas di provinsi.

34 Inflasi upah yang signifikan bagi para pekerja terampil dan semi terampil selama periode rekonstruksi di Aceh serta masuknya para pekerja migran dari provinsi lain selama periode yang sama tampaknya bertentangan dengan pernyataan bahwa ketersediaan tenaga kerja terampil bukanlah sebuah masalah di Aceh. Namun demikian, upaya rekonstruksi, dengan tingkat pencairan tahunan lebih dari 20 persen dari PDB dan kematian sekitar 167.000 orang, merupakan guncangan berat bagi pasar tenaga kerja serta perekonomian. Dalam situasi normal (sebelum tsunami dan seiring dengan makin berkurangnya upaya rekonstruksi), hingga taraf tertentu, pasar tenaga kerja lokal tampaknya mampu memasok serangkaian tenaga kerja terampil yang diperlukan oleh pasar.

46

Diagnosis Pertumbuhan Aceh

Pertanyaan ini terlepas dari pertimbangan apakah faktor-faktor pelengkap yang diperlukan — prasarana. tingkat inflasi 47 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . kurangnya penegakan hukum. tingginya pajak (legal maupun ilegal). Menilik kestabilan makroekonomi Indonesia. a. tenaga kerja terampil. ketidakpastian pengaturan. bukan karena para investor tidak dapat memperoleh laba. yang telah dibahas pada bagian sebelumnya. terdapat kesepakatan di antara sebagian besar pengamat bahwa Indonesia relatif mampu bertahan dan hanya terdapat sedikit risiko makroekonomi yang dihadapi oleh perekonomian Indonesia. Mekanisme-mekanisme tersebut dapat berupa banyak hal. tidak dapat mengambil manfaat dari investasi-investasinya karena terhalangi oleh mekanisme. Terdapat banyak permasalahan yang dapat menghalangi para investor untuk mengambil manfaat dari investasiinvestasi mereka. hal ini bukanlah hambatan bagi investasi dan pertumbuhan. Masalah-masalah tersebut terjadi apabila perusahaan-perusahaan. misalnya: tingginya tingkat korupsi. Inflasi. mereka tidak akan melakukan investasi apa pun. setelah meningkat tajam di Indonesia akibat melonjaknya harga sembako. Situasi makro di Aceh juga tampak seimbang. tetapi karena mereka tidak dapat memperoleh penghasilan atas investasi mereka seperti yang diharapkan. Semua faktor ini dapat menghalangi para investor untuk memperoleh bagian penghasilannya dan dengan demikian dapat menurunkan tingkat investasi. Setelah beberapa tahun Aceh mengalami tingkat inflasi yang tinggi akibat program restrukturisasi dan aliran pemasukan dana. Bab ini akan dimulai dengan menilai kemantapan lingkungan makroekonomi di Aceh. Ini adalah pertanyaan penting karena apabila para pelaku ekonomi tidak dapat memperoleh penghasilan atas investasi. Defisit pemerintah pusat berhasil dipertahankan di tingkat yang sangat rendah pada tahun 2008. Akhirnya. mulai menurun di semester kedua tahun 2008.07 Rendahnya Kemungkinan Pengembalian atas Investasi (Appropriability) Kemungkinan terdapat disinsentif investasi. hampir mendekati 0 persen dari PDB. Walaupun terdapat kekhawatiran tentang seberapa kuat perekonomian Indonesia dapat bertahan menghadapi krisis keuangan saat ini. atau gagalnya pasar. bab ini akan ditutup dengan menjawab pertanyaan tentang apakah hambatan yang mengikat terhadap pertumbuhan terletak pada masalah rendahnya kemungkinan penghasilan atas investasi. Kemudian akan ditinjau kualitas keseluruhan dari lingkungan usaha sebelum membahas isu-isu mikroekonomi khusus yang melandasi lingkungan usaha. dan sebagainya — tersedia bagi perusahaan-perusahaan untuk memungkinkan perusahaanperusahaan tersebut memperoleh penghasilan. Kemudian akan dikaji kemungkinan terjadinya kegagalan pasar dan bagaimana hal tersebut dapat menghambat pertumbuhan. walaupun mereka memperoleh penghasilan. sementara perbandingan utang pemerintah terhadap PDB menurun drastis beberapa tahun terakhir. Risiko-risiko Makroekonomi Tinjauan makroekonomi di Aceh secara luas berkaitan dengan tinjauan makroekonomi di Indonesia. lemahnya hak-hak kepemilikan harta.

keterlambatan yang terjadi baru-baru ini dalam menyetujui anggaran secara tepat waktu telah menimbulkan keraguan tentang kemampuan pemerintah daerah dalam melaksanakan program-program pembangunan secara keseluruhan. pendapatan ini. melaksanakan kontrak. Rendahnya kapasitas pemerintah di tingkat daerah menyebabkan timbulnya permasalahan dalam hal pembelanjaan sumber-sumber daya yang tersedia. 48 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . yaitu: memulai suatu usaha. 11/2006. dan dapat menghambat pengadaan prasarana yang sangat dibutuhkan. sehubungan dengan Dana Otsus menjamin adanya sumber pendapatan yang sesuai dan peningkatan belanja bagi pemerintah di tingkat daerah. Angka pengangguran di Aceh kini hanya sedikit di atas angka pengangguran di tingkat nasional. pendapatan dari sumber sendiri hanya mencapai 7. Seperti semua pemerintah daerah di Indonesia. dan di tingkat kabupaten/kota. 35 Data berikut ini diperoleh dari Doing Business Survey 2009 (Bank Dunia. Data ini mengamati peraturan perundang-undangan resmi tetapi tidak menilai apakan praktik-praktik ilegal seperti korupsi mempengaruhi jalannya usaha. Permasalahan ini kemungkinan besar juga merupakan permasalahan di Aceh. membayar pajak. hal ini kemungkinan besar menyebabkan kualitas jalan-jalan tertentu menurun serta menghambat provinsi dalam memperlengkapi dirinya dengan prasarana listrik yang lebih baik. Tanggung jawab antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota tidak disebutkan dengan jelas. Akan tetapi. mendaftarkan harta milik. keadaan ini mengharuskan dilakukannya kajian yang lebih mendalam lagi tentang lingkungan usaha di Aceh untuk dapat memahami hal yang spesifik untuk lingkungan tersebut.Rendahnya Kemungkinan Pengembalian atas Investasi (Appropriability) provinsi tersebut saat ini telah berada di bawah tingkat inflasi nasional. Tinjauan fiskal di Aceh diuntungkan oleh adanya sumber-sumber pendapatan khusus provinsi. Karena pemerintah tingkat daerah bertanggung jawab atas pengadaan sebagian besar prasarana. UU Pemerintahan Aceh (UUPA). sementara tingkat pertumbuhan dan investasi Aceh termasuk rendah dibandingkan dengan daerah-daerah lain. dan menutup suatu usaha. Akan tetapi. Dana Otonomi Khusus harus mendanai agenda pembangunan provinsi karena dana tersebut akan digunakan untuk pengeluaran sosial dan prasarana dan tidak dapat membiayai administrasi umum pemerintah. dan beberapa isu seperti pendaftaran harta milik mungkin lebih parah di provinsi tersebut.2 persen dari jumlah pendapatan pada tahun 2008. provinsi tersebut menerima 70 persen dari pendapatan minyak dan gas yang dihasilkannya. Walaupun pendapatan bersama dari pengusahaan sumber daya alam menurun karena berkurangnya persediaan. pemerintah provinsi dan kabupaten di Aceh banyak bergantung pada penyaluran dana dari pusat sebagai pendapatan. Selain itu. 2008c). karena permasalahan pengaturan ini menyangkut seluruh negeri. menentukan penyaluran dana tambahan dalam bentuk Dana Otonomi Khusus (Dana Otsus) sebesar 2 persen dari Dana Alokasi Umum (DAU) nasional. yang seringkali menyebabkan kebingungan dalam hal pemerintah yang mana yang harus membangun jenis-jenis prasarana tertentu dan pemerintah mana yang harus membayar biaya pemeliharaannya. mempekerjakan pegawai. Lingkungan usaha Lingkungan usaha di Indonesia secara keseluruhan cukup rendah: Indonesia berada di peringkat 129 dari 181 negara dalam hal kemudahan usaha di tahun 2009 (Gambar 16). b.35 Kinerja Indonesia cukup rendah terutama dalam enam bidang. yaitu UU No. yang meninjau ulang peraturan perundangundangan tentang 10 tahap kehidupan usaha.

adalah faktor-faktor penting yang menghambat investasi. dapat diperpanjang satu kali untuk 35 tahun untuk perusahaan-perusahaan PMA dan PMDN. 49 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . RUU tersebut menetapkan bahwa: 1) Hak sewa awalnya dapat diberikan untuk 60 tahun. Misalnya. beberapa ketentuan dalam UU tersebut yang bertujuan untuk melindungi perekonomian lokal dapat menghalangi investasi dan pada akhirnya merugikan bagi provinsi tersebut: para investor tidak diperbolehkan mempekerjakan staf di luar provinsi apabila staf dengan profil serupa tersedia di provinsi tersebut. Selanjutnya. pembebanan-pembebanan yang tidak sah. serta hak usaha-usaha tersebut untuk menarik investasi langsung baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Penelitian yang dilakukan baru-baru ini (IFC. dengan ketentuan bahwa usahanya berjalan 2) Hakhak Bangunan diberikan untuk 50 tahun. Status otonomi khusus dalam beberapa hal terkadang dikhawatirkan dapat menimbulkan ketidak jelasan peraturan investasi.36 UU tersebut akan menjamin akses ke pasar-pasar dalam negeri maupun luar negeri bagi usaha-usaha di Aceh. bangunan dan hak-hak pengguna. dapat diperpanjang satu kali untuk 25 tahun. terdapat beberapa pengaturan yang dapat merugikan dalam rancangan undang-undang tersebut. Pemerintah Aceh sedang merancang sebuah undang-undang investasi yang baru (“Qanun”) yang seharusnya dapat memberikan kepastian yang sangat diperlukan bagi para investor yang ada saat ini maupun para calon investor. dapat diperpanjang satu kali untuk 30 tahun 3) Hak-hak guna diberikan untuk 45 tahun.37 Akan tetapi. Selain itu. Qanun tersebut masih dibahas di tingkat DPRD Provinsi pada pertengahan tahun 2009. prosedur-prosedur investasi yang rumit. apabila memungkinkan. Penelitian tersebut menekankan bahwa pemerintah belum membuat suatu kerangka pengaturan yang secara khusus kondusif bagi investasi. 2008) menunjukkan beberapa kekurangan yang bersifat spesifik dalam lingkungan usaha di Aceh: risiko-risiko dan ketidakpastian terkait akses lahan. dan kecerdasan pasar yang kurang memadai. sambil “memperhatikan kepentingan daerah dan nasional”. yang seringkali menyebabkan kebingungan di kalangan investor dalam interaksi mereka dengan administrasi. yang juga mungkin mencakup pengaturan-pengaturan yang memberatkan. dan para investor harus menggunakan sarana pendukung dari provinsi tersebut. UU tersebut akan menjamin perlakuan yang sama bagi para investor dalam negeri dan luar negeri. dimana bisa saja terjadi perbedaan definisi dan pertentangan diantara tingkat pusat dan daerah. Rancangan undang-undang tersebut juga memperjelas beberapa peraturan tentang sewa guna usaha. UU tersebut akan menjamin kepastian dan keamanan untuk operasi usaha dan menyederhanakan proses perizinan usaha. Pemerintah Aceh akan mempertahankan hak untuk membuat dan memungut pajak daerah untuk membiayai kegiatan-kegiatan dinas di luar lingkup peraturan-peraturan keuangan standar yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. 36 Rancangan UU investasi yang terbaru per tanggal 6/5/09. dan perlindungan aset yang kurang memadai. Selain itu.Juli 2009 Gambar 16 Lingkungan Indonesia untuk menjalankan usaha masih relatif buruk di tahun 2009 Melakukan bisnis 2009 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 Singapura Thailand Malaysia Indonesia Filipina Lao PDR Timor-Leste Sumber: Doing Business 2009 Kerangka pengaturan yang buruk terkait dengan praktik-praktik ilegal yang membebani usaha-usaha menjadi ciri iklim investasi di Aceh. sumber: DPRD Aceh 37 Sebagai contoh. Penilaian ini juga memperjelas bahwa risiko politis terkait dengan kesulitan-kesulitan memulai kembali. bahan-bahan mentah dan input harus dibeli di Aceh.

kemauan untuk membantu. Tujuan dari regresi-regresi ini adalah untuk mengetahui permasalahan mana yang memiliki dampak paling besar terhadap kinerja.97 3.99 4. Variabel-variabel tak bebas yang dicoba adalah dua ukuran kinerja perusahaan yang berbeda: angka penjualan per karyawan dan investasi per karyawan. Gambar di bawah ini menunjukkan bahwa sektor-sektor yang paling terwakili adalah industri pengolahan dan perdagangan. Variabel-variabel bebas adalah variabel-variabel berpasangan yang menunjukkan apakah suatu perusahaan yang melaporkan masing-masing permasalahan tergolong signifikan atau sangat signifikan.63 1.09 1. sosial. Serangkaian regresi di tingkat perusahan digunakan untuk memahami permasalahan apa. Dengan mengetahui beberapa ciri dasar dari perusahaan-perusahaan dalam survei tersebut. survei tersebut hanya mewakili perusahaanperusahaan yang mempekerjakan sebagian tenaga kerja dan.07 6. Permasalahan tersebut meliputi: akses ke lahan dan kepastian hukum. temuan-temuan dari survei tersebut perlu untuk dikualifikasi.74 Sumber: The Asia Foundation/ KPPOD dan perhitungan staf Bank Dunia. Rata-rata besarnya perusahaan-perusahaan yang berpartisipasi dalam survei tersebut adalah 13 karyawan.99 3. penyewaan broker keuangan Akomodasi dan restoran Perikanan Bangunan Jasa pendidikan 0. Variabel yang pertama mencakup semua permasalahan yang berkaitan dengan perilaku pemerintah daerah terhadap sektor swasta (kemampuan dalam hal-hal yang berkaitan dengan sektor swasta.09 1.39 45. dll Transportasi dan gudang perumahan. oleh sebab itu. Karena di Aceh lebih dari separuh penduduknya bekerja di sektor pertanian. kapasitas dan integritas bupati/walikota. biayabiaya transaksi.71 17. laporan ini menggunakan survei di tingkat perusahaan dari The Asia Foundation dan KPPOD yang melibatkan 1. yang paling mempengaruhi perusahaan-perusahaan. dapat membantu pemahaman tentang pentingnya temuan-temuan survei tersebut. perilaku pemangsa.54 0. Dua variabel yang terus-menerus memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap kinerja aktual perusahaan adalah “interaksi pemerintah kabupaten dengan para pengusaha” dan “biaya-biaya transaksi”. Akan tetapi.17 4.Rendahnya Kemungkinan Pengembalian atas Investasi (Appropriability) Dalam rangka menetapkan faktor-faktor apa yang mempengaruhi kinerja usaha di tingkat mikro. nepotisme) dan variabel yang kedua.63 1. interaksi pemerintah kabupaten dengan para pengusaha. perburuan Bisnis yang tidak dijelaskna Publik. semua jenis biaya transaksi yang sah maupun tidak sah yang dihadapi oleh usaha- 50 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . sebagian besar temuan kemungkinan masih relevan sepanjang sebagian besar hambatan yang mempengaruhi perusahaan-perusahaan di sampel survei tersebut kemungkinan besar juga mempengaruhi semua perusahaan di Aceh. keamanan dan penyelesaian konflik (lihat Lampiran II). dengan asumsi bahwa para responden dapat menilai secara akurat sejauh mana permasalahan tersebut mempengaruhi mereka. dan rata-rata usia perusahaan-perusahaan tersebut adalah 12 tahun. Gambar 17 Komposisi sektoral dari sampel survei The Asia Foundation / KKPOD % 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 Perdagangan dan penjualan eceran Pemrosesan industri Jasa kesehatan dan sosial Pertambangan dan penggalian Pertanian. Kedua permasalahan yang tampaknya paling mempengaruhi kinerja perusahaan adalah perilaku pemerintah kabupaten dan biaya-biaya transaksi yang dihadapi.104 perusahaan di semua kabupaten di Aceh. persaingan tidak sehat. di antara banyak permasalahan yang dibahas dalam survei tersebut. yang tampaknya cukup mewakili usaha-usaha di Aceh.99 6. prasarana. izin usaha.

jauh berbeda dibandingkan usaha-usaha lainnya. Yang cukup membesarkan semangat adalah fakta bahwa Aceh mengalami peningkatan skor yang signifikan sejak survei terakhir yang dilakukan pada tahun 2006. tetapi data survei menunjukkan bahwa korupsi bukan masalah besar di Aceh dibandingkan dengan di wilayah lain Indonesia. yang mengindikasikan bahwa korupsi adalah fenomena yang merata di Indonesia. Menariknya. walaupun laporan ini tidak berpendapat bahwa tidak ada masalah korupsi di Aceh. dan di Aceh. yang membenarkan tanggapantanggapan para pelaku dari sektor swasta yang diwawancarai untuk laporan ini. Perbedaan ini signifikan pada tingkat 5 persen.Juli 2009 usaha (pajak-pajak legal dan ilegal. Ternyata hanya dalam hal “biaya-biaya transaksi” terletak perbedaan yang paling signifikan antara perusahaan-perusahaan yang terkena dampak dengan yang tidak: badan-badan usaha yang melaporkan bahwa biaya-biaya tersebut merupakan beban melakukan investasi rata-rata sebesar 6 persen dari nilai penjualan mereka pada tahun 2007. beberapa hambatan yang seringkali disebut (seperti ketersediaan lahan. Ini membuktikan bahwa usaha-usaha mungkin dirugikan akibat perilaku pemangsa yang dilakukan oleh pemerintah daerah dan kelompok-kelompok pelaku kejahatan. Indonesia menduduki peringkat 126 dari 180 negara dalam hal korupsi (peringkat 1 adalah negara yang paling rendah tingkat korupsinya) dalam suatu survei yang diadakan oleh Transparency International pada tahun 2008. Hal ini menunjukkan bahwa usahausaha mungkin tidak perlu membayar para pejabat pemerintah untuk sebagian besar layanan yang mereka perlukan. Korupsi Terdapat pemahaman yang luas bahwa korupsi terjadi meluas sehingga mempengaruhi cara sebagian besar perusahaan dan perorangan dalam menjalankan usaha mereka di Aceh. isu yang seringkali mengemuka terkait dengan lingkungan usaha di Aceh. “Indeks persepsi korupsi dan indeks suap di Indonesia tahun 2008”. bea. Berdasarkan hal tersebut. c. Survei yang dilakukan oleh Transparency International menempatkan Banda Aceh pada peringkat ketiga sebagai kota yang paling rendah tingkat korupsinya di antara 50 kota di Indonesia. menurut indeks persepsi korupsi38 yang ditetapkan dengan melakukan survei terhadap para pengusaha (Tabel 16). dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Indonesia. yang melakukan investasi sebesar 21 persen dari nilai penjualan mereka. Nilai yang cukup tinggi untuk Banda Aceh dalam hal korupsi ini bukan berarti bahwa korupsi bukanlah masalah. Bagian berikutnya menyelidiki lebih lanjut tentang permasalahan pajak dan biaya-biaya ilegal. dalam hal investasi sebagai persentase penjualan. pertama dengan membahas tentang korupsi. Akan tetapi. 38 Transparency International. Aspek lingkungan usaha yang paling mempengaruhi investasi perusahaan adalah “biaya-biaya transaksi”. Analisis survei tersebut kemudian meninjau apakah usaha-usaha yang melaporkan bahwa setiap permasalahan ini signifikan sebenarnya tidak banyak melakukan investasi. pajak ilegal mungkin merupakan inti permasalahan. Peraturan yang Mempengaruhi / Mempercepat Proses Birokrasi 51 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Persepsi tentang upaya-upaya pemerintah daerah dalam memberantas korupsi cukup tinggi. disini diuraikan bahwa laporan tersebut tidak dapat menjelaskan tentang tingkat investasi yang rendah di provinsi tersebut. prasarana) tidak signifikan selama pelaksanaan. survei tersebut tidak menyebutkan jenis biaya transaksi. pajak legal atau ilegal mana yang menimbulkan masalah terbesar. Hal ini menunjukkan bahwa pajak legal dan ilegal merupakan hambatan yang signifikan bagi usaha-usaha. Bidang di mana Aceh mendapat skor paling buruk adalah pemberian kontrak pemerintah. Hukum. Indeks ini mencakup ukuran persepsi Suap dalam hal-hal berikut ini: Mengajukan Izin Usaha / Prosedur Utilitas Umum / Pembayaran Pajak Tahunan / Pemberian Kontrak Pemerintah / Memperoleh Putusan Pengadilan yang Menguntungkan / Kebijakan. dibandingkan dengan usaha-usaha yang lain (lihat Lampiran III). uang “keamanan”). yang dipahami sebagai pajak-pajak sah dan tidak sah yang dibayarkan kepada entitas resmi maupun tidak resmi. Hal ini menciptakan citra Aceh yang berbeda dengan citra korupsi yang biasanya ditampilkan.

Sistem perlindungan pada gilirannya akan memperbesar penghalang masuknya usaha-usaha yang tidak dijalankan oleh orang-orang dengan koneksi politik yang tepat. potensi investasi dan semua pengalihan teknologi yang terkait seringkali gagal terwujud di daerah tersebut. tetapi terbatas hanya dalam proyek-proyek kecil dikarenakan kapasitas mereka yang terbatas. Korupsi di Aceh mempengaruhi efektivitas belanja pemerintah. Januari 2009. penebangan hutan atau penambangan ilegal (Aspinall. 52 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Membiarkan pihak illegal (tidak resmi) memungut iuran dari kegiatan-kegiatan ekonomi melalui korupsi dapat menjadi cara memberikan imbalan terhadap para pihak yang dapat menggangu perdamaian dengan memastikan 39 Wawancara dengan para pengusaha dan para pimpinan asosiasi usaha. 2009a).Rendahnya Kemungkinan Pengembalian atas Investasi (Appropriability) Tabel 16 Indeks persepsi korupsi Peringkat 1 2 3 30 50 Kota (n=jumlah responden dari kalangan pengusaha) Yogyakarta (n=44) Palangkaraya (n=31) Banda Aceh (n=30) Ambon (n=31) Kupang (n=44) CPI 6. Proses tender untuk pengadaan barang dan jasa umum seharusnya tidak digunakan sebagai “imbalan” terhadap para pihak yang dapat mengganggu perdamaian. Terdapat indikasi bahwa sebagain besar proyek pemerintah menggunakan hubungan patronage ini bahkan intimidasi terhadap panitia tender. Perusahaan-perusahan lokal tidak terdorong untuk meningkatkan produktivitas mereka karena diberi jaminan sekumpulan kontrak-kontrak kecil. Catatan: 1 berarti tingkat korupsi paling rendah. Hal ini juga dapat menyebabkan kelemahan-kelemahan dalam lingkungan pengaturan. Akibat dari segmentasi ini adalah kurangnya persaingan. Banyak kontraktor lokal. Kemungkinan masalah lainnya dalam proses tender adalah “intat linto”. Bukti berdasarkan pengalaman menunjukkan bahwa para mantan pejuang GAM memainkan peran yang semakin penting di sektor-sektor dengan kemungkinan yang besar untuk memungut iuran. menaikkan biaya dan menghalangi perusahaanperusahaan dalam memasuki pasar. 50 berarti tingkat korupsi paling tinggi.39 Hubungan patronage antara pemerintah dan GAM sejak dimulainya konflik atas alasan keamanan diri terus berjalan. seperti konstruksi.43 6. mulai beroperasi pasca tsunami dan berharap dapat memperoleh manfaat dari upaya rekonstruksi. Sedangkan kontrak-kontrak besar sebagian besarnya dimenangkan oleh perusahaan-perusahan lebih besar yang bukan berasal dari Aceh. Hal ini dapat mempengaruhi investasi melalui prasarana yang kurang memadani. Seringkali perusahaan-perusahaan yang menjadi pemenang tender untuk suatu proyek pemerintah di Aceh harus membayar “bea”.87 4.97 Sumber: Transparency International. Sebagian besar proyek kecil terindikasi diberikan pada kontraktor-kontraktor lokal yang terhubung dengan GAM. di mana para penawar berpura-pura bersaing tetapi sebenarnya mereka berkolusi dalam menyusun proposal. seperti pengawasan proses tender kontrak. Banda Aceh. Akibatnya.1 5. Korupsi dalam proses tender dapat mempengaruhi efektivitas belanja pemerintah. yaitu “jatah pimpro”.32 2. Mungkin terdapat bentuk-bentuk korupsi lainnya yang berkaitan dengan proses tender umum di provinsi tersebut. indeks persepsi korupsi Indonesia tahun 2008. dengan keahlian dan modal yang terbatas. Mekanisme sektor konstruksi merupakan contoh dari kekurangan sistem perlindungan (patronage) dan inefisiensi yang dapat ditimbulkannya. Para pimpinan usaha membenarkan bahwa praktik-praktik ini banyak dilakukan di Aceh dan masyarakat usaha setempat mengetahuinya. di mana bukti-bukti berdasarkan pengalaman menunjukkan bahwa secara sistematis usaha-usaha harus membayar suap apabila mereka melakukan penawaran untuk kontrak-kontrak pemerintah. kepada para pejabat pemerintah. Jumlah bea ini biasanya mewakili 5-10 persen dari nilai proyek.

dalam jangka panjang kemungkinan besar hal ini tidak dapat bertahan. termasuk para pihak yang mungkin menjadi pengganggu. tampaknya pajak dan bea lokal tersebut merupakan bagian biaya yang relatif rendah (kurang dari 2 persen) dan lebih dari 80 persen perusahaan menganggap pajakpajak dan retribusi tidak terlalu memberatkan. 53 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . 2009). Akan tetapi walaupun hal ini mungkin benar dalam jangka pendek. Dengan demikian. 2008). 40 Bank Dunia. hasil-hasil hutan). walaupun menjadi hambatan pertumbuhan di sejumlah sektor tertentu. Akan tetapi. Bagian berikut ini memberi bukti lebih lanjut tentang batas-batas suatu strategi yang menggunakan kontrak-kontrak pemerintah dalam mempertahankan perdamaian dan stabilitas. yang dapat menjadi penghalang masuknya investasi swasta. pelintasan batas atau stasiun-stasiun penimbangan (KPPOD dan The Asia Foundation. tetapi peristiwa-peristiwa kekerasan masih lazim terjadi dan dunia usaha masih menganggap bahwa provinsi ini tidak aman. Dalam jangka waktu dua tahun mulai bulan Oktober 2006 hingga September 2008. 2009b. Transportasi dipengaruhi terutama oleh retribusi lokal untuk penggunaan jalan. tambahan-tambahan biaya untuk minyak kelapa sawit yang diproduksi di provinsi tersebut). tampaknya pajak-pajak dan retribusi lokal tersebut bukan merupakan hambatan pertumbuhan. Walaupun terdapat proliferasi pajak dan bea lokal ini. Akan tetapi. yang mana para investor cukup terdorong oleh reformasi di tingkat nasional. laporan ini berpendapat bahwa pajak-pajak ilegal atau biayabiaya keamanan tambahan yang harus ditanggung oleh perusahaan-perusahaan di Aceh.Juli 2009 bahwa mereka memiliki kepentingan dalam stabilitas provinsi tersebut. 2008). Pemungutan iuran oleh sekelompok kecil orang dapat menghalangi investasi dan kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh para pelaku ekonomi lainnya.000 pajak dan bea lokal baru yang dikenakan oleh pemerintah daerah dalam lima tahun pertama desentralisasi (Lewis dan Suharnoko. Fakta bahwa. Biaya-biaya Transaksi: Pajak dan Iuran Keamanan Pajak-pajak dan retribusi lokal. Pajak-pajak dan retribusi lokal tampaknya ditargetkan pada sektor-sektor yang berkembang (mis. transportasi) telah menjadi semakin bermasalah. Secara keseluruhan. MSR. d. data Tim Konflik dan Pembangunan. yang menjamin dukungan jangka panjang mereka terhadap proses perdamaian dengan cara yang lebih efektif. dengan adanya ketidakpastian tentang biaya-biaya tersebut. setelah adanya desentralisasi di awal dekade. tetapi berkemungkinan kecil untuk meningkat menjadi terulangnya konflik. kadangkala mereka menggunakan cara-cara kekerasan untuk mencari nafkah. 2008). Sehubungan dengan pajak legal dan retribusi lokal. tercatat 588 peristiwa kekerasan yang telah terjadi. Tampaknya kecil kemungkinan bahwa di Aceh akan kembali terjadi konflik bersenjata. secara keseluruhan. menjadi lebih bermasalah dan kemungkinan besar merupakan hambatan yang mengikat terhadap pertumbuhan. Terjadi asimilasi secara luas dalam proses perdamaian di antara para mantan pimpinan GAM karena banyak di antara mereka diangkat menduduki jabatan pemerintah atau menjalankan usaha yang menguntungkan. pajak-pajak dan retribusi lokal tidak terlalu memberatkan di Aceh juga tercermin dari pandangan-pandangan para calon investor (IFC. mereka juga menyuarakan kekhawatiran bahwa Status Otonomi Khusus Aceh dapat digunakan untuk mengenakan pajak-pajak dan retribusi tambahan (mis. walaupun dalam beberapa keadaan tertentu (mis. teh. kopi. dengan adanya sektiar 6. banyak di antara para pengikutnya yang tidak dapat melakukan dan mungkin merasa bahwa mereka tidak menerima keuntungan dari suksesnya perdamaian (Apsinall. Pertumbuhan dengan basis yang lebih luas dan lebih inklusif kemungkinan menguntungkan masyarakat secara keseluruhan. dan menyebabkan penurunan ekuilibrium angka pertumbuhan.40 Peristiwa-peristiwa tersebut mengacam keamanan perorangan dan usaha. Akibatnya. yang dapat menurunkan insentif untuk berinvestasi di sektor-sektor tersebut. tergolong relatif rendah dan kecil kemungkinannya hal tersebut menghambat pertumbuhan dan investasi di provinsi secara keseluruhan. telah terdapat tren yang jelas dalam peningkatan pajak dan bea lokal.

Tabel 17 Jenis penghidupan (khusus pria) Semua Pria TNA Jenis Penghidupan (%): Petani padi di sawah Buruh non-tani harian Pedagang Buruh tani harian Pegawai negeri Tenaga kerja terampil lainnya Petani kopi Karyawan sektor swasta Guru Tenaga kerja tidak terampil lainnya Petani sayuran/rempah-rempah (n=1024) 22 19 9 10 1 3 2 3 0 4 5 Penduduk Sipil (n=1794) 17 18 13 6 4 4 4 4 2 3 3 Kelompok-kelompok Pembanding Mantan Korban Non-korban TNA Korban terhadap terhadap (n=764) (n=1030) penduduk non-korban sipil 18 16 6 *** 2 20 17 1 3 11 14 -4 ** -3 7 5 4 *** 2 3 5 -4 *** -1 4 4 -1 * 0 4 5 -2 -1 3 4 -1 -1 2 3 -2 *** -1 2 5 1 -3 *** 4 3 1 1 Penduduk Sipil *** Signifikan pada 99%. sementara sebagian besar mantan pejuang GAM yang bukan pejabat harus membanting tulang untuk mencari nafkah. misalnya dengan memperoleh kontrak-kontrak konstruksi melalui jaringan ini. 54 Diagnosis Pertumbuhan Aceh .Rendahnya Kemungkinan Pengembalian atas Investasi (Appropriability) Sebahagian besar para mantan pejuang GAM hidup dalam sektor-sektor ekonomi yang tertinggal. dengan demikian memberikan kontribusi untuk stabilitas provinsi tersebut. Termasuk jenis penghidupan yang dilaporkan sebagai kegiatan utama oleh sedikitnya tiga persen dari populasi. Tabel tersebut melaporkan rata-rata populasi dan sampel n populasi. Akan tetapi. Survei Reintegrasi dan Penghidupan Aceh (Aceh Reintegration and Livelihoods Survey atau ARLS) menunjukkan bahwa para mantan pejuang Tentara Negara Aceh (TNA) memiliki kemungkinan lebih besar dibandingkan para penduduk sipil untuk memperoleh pendapatan dari menanam padi atau menjadi buruh tani upahan. yang sangat diandalkan oleh para mantan pejuang GAM adalah pekerjaan-pekerjaan dengan upah yang rendah. Source: MSR 2009. upaya-upaya yang menguntungkan pembangunan pertanian tidak hanya akan membantu masyarakat Aceh yang paling miskin. Hal ini kemungkinan besar mengindikasikan bahwa para pejabat GAM memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapat manfaat dari koneksi mereka dengan GAM dan menjadi sukses. * Signifikan pada 90%. dan memiliki kemungkinan lebih kecil untuk memperoleh pendapatan dari pekerjaan-pekerjaan seperti pegawai negeri. guru atau pedagang (Tabel 17). Akibatnya. tetapi juga menjangkau banyak mantan pejuang GAM. mengingat luasnya keyakinan tentang jaringan hubungan yang erat di antara para mantan pejuang GAM dan nepotisme yang terjadi di provinsi tersebut. ** Signifikan pada 95%. Mungkin tampaknya mengejutkan bahwa keadaan ekonomi para mantan pejuang tidak lebih baik. para pejabat mempertahankan hubungan yang lebih erat dengan para mantan pejuang GAM dibandingkan dengan mereka yang bukan pejabat. seperti pertanian. Tabel 18 menunjukkan bahwa di antara para mantan pejuang GAM. Pekerjaan-pekerjaan pertanian ini.

Sistem-sistem tersebut berlanjut sampai periode pasca konflik.045) Tahanan (n=97) Korban Konflik (n=800) Non-Korban Konflik (n=280) Perbedaan Pria vs. Selama tahun-tahun konflik. Non-Pejabat Korban Mantan TNA vs. Wanita Mantan TNA Pejabat vs. Schultz. Sumber: MSR 2009 Praktik pemungutan pajak-pajak ‘ilegal’ berkembang selama konflik dan terus berlanjut hingga hari ini. 2004. 2006).Juli 2009 Tabel 18 Perbandingan kawan dan mitra usaha di kalangan mantan pejuang GAM (%) Pria (n=1. Hal itu tidak menciptakan hubungan sebab-akibat di antara keduanya dan mungkin terdapat faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi kedua parameter tersebut. melakukan ancaman dan kadangkala tindak kekerasan untuk menarik pajak dari orang dan usaha serta menggunakan tekanan untuk memperoleh kontrakkontrak pemerintah. 2007. Non Korban Konflik 61 57 62 61 64 69 38 4 1 30*** Anggota KPA 57 35 76 56 40 57 56 22* 20* 1 Mantan TNA 61 47 83 60 54 61 61 14 22** -1 IDP 1 2 7 1 1 1 2 -1 6 -1 Returnee 10 18 10 10 12 13 3 -7 0 10*** *** Signifikan pada 99% ** Signifikan pada 95% * Signifikan pada 90%. dan beberapa mantan pejuang masih melakukan kegiatan semacam ini.024) Wanita (n=51) Pejabat (n=30) Non-Pejabat (n=1. Gambar tersebut menunjukkan hubungan yang melandai turun. GAM membentuk suatu pemerintahan berstruktur paralel yang dikembangkan sangat baik dan sangat teratur. ICG. sehingga memungkinkan penarikan iuran yang cukup besar (McCulloch. 2009). 55 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . 2001). cukup intuitif bahwa gejolak-gejolak kekerasan dapat membawa dampak negatif terhadap kinerja usaha dan keputusan-keputusan investasi. dengan menggunakan survei TAF/KPPOD. berarti bahwa kabupaten-kabupaten yang mengalami kekerasan lebih banyak cenderung memiliki lebih sedikit jumlah perusahaan yang kinerjanya baik dan hubungan ini signifikan pada tingkat 10 persen (lihat Lampiran IV untuk hasil-hasil regresi). kendali atas akses ke lahan dan penyelesaian konflik setempat (MSR. Usaha-usaha legal dan ilegal juga berkembang selama konflik. Pajak-pajak ilegal dikenakan oleh GAM dan angkatan bersenjata selama konflik (Olken dan Barron. Meskipun demikian. Peristiwa-peristiwa kekerasan yang paling parah sejak MoU cenderung terjadi di kabupatenkabupaten di mana perusahaan-perusahaan memiliki kinerja yang rendah Gambar 18 menunjukkan jumlah peristiwa-peristiwa kekerasan yang terjadi di kabupaten (sumbu X) terhadap porsi usaha di kabupaten tersebut yang telah mengalami kenaikan penjualan per karyawan pada tahun 200607 (sumbu Y). Tabel melaporkan rata-rata populasi dan perbedaan dalam rata-rata tersebut.

dibandingkan dengan 4 persen di provinsi-provinsi lainnya. Mereka sering menggunakan paksaan untuk memungut secara paksa iuran dari usaha-usaha. 56 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Januari 2009.2 0. Akibatnya. Diagnosa ini mengidentifikasi adanya kekerasan yang terus-menerus terjadi dan tingginya tingkat ‘pajak’ tidak resmi yang ilegal sebagai faktor-faktor penghambat utama bagi investasi dan pertumbuhan. seringkali merupakan cara untuk memungut iuran ilegal.3 persen dari usaha-usaha melaporkan bahwa masalah keamanan dan penyelesaian konflik merupakan faktor penghambat di Aceh. Banda Aceh. Seringkali tidak begitu jelas kepada organisasi atau pihak mana iuran ilegal tersebut harus dibayarkan.4 persen usaha-usaha melaporkan bahwa mereka membayar uang lebih untuk iuran keamanan tambahan. Kedua permasalahan tersebut berkaitan karena kelompok ilegal (preman) yang biasanya menggunakan ancaman kekerasan untuk memaksa perusahaan membayar biaya “keamanan”. Dengan demikian.3 0.41 Sementara itu. Bank Dunia Pemerasan dan masalah keamanan menyebabkan tambahan-tambahan biaya dan ketidakpastian usaha di Aceh yang menghambat investasi dan pertumbuhan. 2009). 2005-06 40 50 Sumber : Survei TAF/KPPOD. Kedua faktor tersebut berkaitan erat. The Asia Foundation dan KPPOD telah melaksanakan survei serupa di semua provinsi di Indonesia.Rendahnya Kemungkinan Pengembalian atas Investasi (Appropriability) Gambar 18 Kinerja perusahaan dan peristiwa-peristiwa kekerasan.7 0. yang mereka peroleh setelah kesepakatan perdamaian. Pemerasan ilegal dan masalah keamanan dianggap sebagai faktor penghambat yang signifikan oleh usaha-usaha: 9.6 0. yang menciptakan rasa tidak aman dan ketidakpastian di provinsi tersebut (ICG.5 0. 41 KPPOD dan The Asia Foundation (2008). Kekerasan.9 Bagian dari perusahaan yang telah meningkatkan penjualan mereka per pekerja tahun 2006-07 0.8 0. 23.4 0. perusahaan-perusahaan masih diancam karena mereka tidak membayar iuran kepada orang-orang yang tepat. Mendorong investasi mengharuskan diputuskannya lingkaran setan (yang terkadang diwarnai dengan kekerasan) intimidasi. Hasil dari keadaan yang kurang sempurna ini mengakibatkan meningkatnya kekerasan dan berlanjutnya penegasan kekuasaan dari kelompok-kelompok di luar proses politik formal. yaitu Banda Aceh. para mantan pejuang GAM memungut bea melalui pengendalian “akses ke lapangan”. yang memungkinkan perbandingan lintas provinsi. Para mantan pejuang GAM dan kelompok-kelompok kejahatan lainnya kadangkala menggunakan kekerasan untuk mencari nafkah. Pada akhirnya hal ini akan menyebabkan meningkatnya persepsi di antara para calon investor bahwa terdapat potensi berkembangnya konflik.42 Di daerah-daerah pedesaan. atau ancaman kekerasan. Usaha-usaha di Aceh melaporkan bahwa mereka harus membayar para mantan pejuang GAM ketika mereka menjalankan usaha di provinsi tersebut. Situasi semacam itu mempersulit usaha-usaha untuk dapat beroperasi di Aceh karena menambah ketidakpastian pada informalitas dan rasa tidak aman. kadangkala walaupun iuran tersebut telah dibayarkan. dan (kemungkinan) berkembangnya konflik. bahkan di ibukota provinsi. Usaha-usaha yang ingin menetap harus membayar iuran rutin kepada GAM atau kelompok ilegal (preman) lainnya agar diizinkan beroperasi. 42 Wawancara dengan para pengusaha dan para pimpinan asosiasi usaha. per kabupaten 0. untuk mengatasi kedua permasalahan tersebut kembali diperlukan kekuatan dan ketegasan negara dalam menetapkan pajak dan penggunaan kekuasaan.1 0 0 10 20 30 Jumlah insiden kekerasan. pajak ilegal.

termasuk kekerasan dan pemerasan ditangkap dan dijatuhi hukuman. akan tetapi legitimasi kepolisian lebih mungkin ditingkatkan apabila mereka dapat menangkap para pelaku kejahatan dan tindak-tindak kekerasan. termasuk dalam mencari pekerjaan (Tajima 2009). Meski tidak mudah untuk melakukan hal ini. Meningkatkan kemampuan penyelidikan memerlukan pelatihan dan metode-metode peningkatan kemampuan lainnya. Tujuan tersebut juga mungkin memerlukan digalangnya ‘tuntutan’ para warga untuk sistem yang lebih efektif dan tidak memihak. Sistem peradilan yang kuat dan profesional adalah elemen kunci lainnya untuk memperkuat rule of law di provinsi tersebut. perlu untuk mengembangkan program-program dan strategi-strategi untuk membantu para mantan pejuang GAM dalam memperoleh pekerjaan. Pengangguran. Apabila para pelaku tindak kejahatan. Tujuan tersebut juga memerlukan tekad yang kuat—dari para petugas polisi senior di Aceh dan Jakarta. Membangun suatu sistem peradilan yang kuat dan profesional memerlukan peningkatan kapasitas. praktik ‘keadilan orang kaya’ di mana uang dapat menentukan putusan pengadilan. penting untuk memperkuat rule of law. sehingga mereka yang ditahan. dan memperkecil hambatan-hambatan yang ditimbulkannya dalam memerangi pemerasan dan tindakan-tindakan ilegal. Hal ini penting. perhitunganperhitungan biaya-manfaat dari mereka yang turut serta dalam tindakan-tindakan tersebut dapat berubah. dan para politisi senior di Aceh—untuk dapat mencapai hasilhasil yang baik. banyak dukungan yang diterima oleh kepolisian di Aceh yang lebih berkaitan dengan permasalahan yang lebih “lunak”. cara itu juga pernah 57 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Saat ini di Aceh.Juli 2009 Peningkatan kapasitas kepolisian dalam penyelidikan dan penyelesaian kasus-kasus tindak kejahatan sangat diperlukan untuk memperkuat supremasi hukum (rule of law). Selain berurusan langsung dengan tindak-tindak kejahatan. Sistem peradilan di Aceh juga perlu diperkuat. Hal ini dilakukan dengan meningkatkan kinerja kepolisian. dan memberikan kepada mereka peralatan fisik agar dapat melaksanakan pekerjaannya dengan baik. Terdapat kelemahan-kelemahan yang signifikan dalam sistem peradilan formal di Aceh. bantuan reintegrasi yang ditargetkan disediakan untuk tujuan ini. Sampai saat ini. Menangkap mereka yang terlibat dalam pemerasan dan kekerasan tidaklah cukup. tujuan tersebut juga memerlukan peningkatan sumber-sumber daya yang dimiliki oleh kepolisian: dengan mempekerjakan para petugas kepolisian yang lebih banyak dan lebih baik. Intervensi tidak langsung yang menangani ‘penyebab-penyebab’ mendasar dari kejahatan dan kekerasan juga diperlukan. sampai pada tahap tertentu merupakan masalah nasional yang tidak dapat diselesaikan di Aceh saja tetapi para otoritas lokal dapat mendukung sistem peradilan di provinsi. dengan demikian meningkatkan hubungan dan kepercayaan antara negara dan masyarakat. seperti peningkatan pengetahuan tentang hak-hak asasi manusia dan metode-metode penentuan kebijakan di tingkat masyarakat. pihak kepolisian memiliki kapasitas yang terbatas untuk mengadakan penyelidikan yang efektif terhadap tindak kejahatan. Hal ini dianggap dapat membangun legitimasi kepolisian di mata warga biasa di Aceh. Akan tetapi. Para mantan pejuang diberi uang tunai dan bentuk-bentuk dukungan lainnya seperti pembinaan dan pelatihan. mengatasi akar permasalahan dari kejahatan-kejahatan tersebut juga akan meningkatkan situasi keamanan di Aceh. Strategi-strategi yang komprehensif untuk mendukung pertumbuhan dan pembangunan perekonomian di daerah-daerah terdampak konflik dapat lebih bermanfaat daripada programprogram yang hanya menargetkan para mantan pejuang GAM. sumber-sumber daya tambahan dan kemauan politik (political will). para pembuat undang-undang dan pemangku kebijakan memiliki beberapa alat yang potensial dengan pendekatan langsung dan tidak langsung. termasuk kurangnya kemampuan dan. Dalam banyak konteks pasca konflik. atau jenis pekerjaan tidak memuaskan ambisi-ambisi sebelumnya dari para mantan pejuang GAM tersebut dapat memicu para mantan pejuang GAM untuk menggunakan cara-cara kekerasan dan kejahatan (Collier 1994). apabila terbukti bersalah. dijatuhi hukuman. Hal ini. Di Aceh. kadangkala. Dengan demikian. Telah lama diakui bahwa para mantan pejuang GAM seringkali menghadapi tantangantantangan tertentu dalam beradaptasi dengan kehidupan sebagai masyarakat sipil. Pertama.

Persepsi tentang risiko-risiko yang lebih tinggi dalam berinvestasi di Aceh dapat diatasi melalui suatu skema untuk memberikan jaminan bagi investasi. walaupun faktanya mereka yang menerima bantuan mungkin memiliki tingkat aset yang lebih tinggi di pada saat perang berakhir (MSR. dan telah menciptakan suatu “mentalitas merasa berhak” yang dalam beberapa kasus telah menghalangi upaya reintegrasi sosial dan ekonomi yang lebih mendalam (Barron. 2006). dan pemberian layanan-layanan dukungan usaha (MSR. masyarakat dagang dan transportasi serta manufaktur. Adalah hal yang masuk akal untuk memfokuskan upaya-upaya dalam memerangi pemerasan dan penarikan pajak-pajak ilegal pada bidang di mana terdapat potensi terbesar untuk meningkatkan pertumbuhan yang inklusif dan terciptanya konstituen pro-reformasi yang diperlukan. perlu juga untuk mencari cara-cara guna memenuhi ‘kebutuhan-kebutuhan’ mereka yang berada di tingkat yang lebih tinggi yang saat ini memperoleh keuntungan dari tindakan pemerasan dan pemberian perlindungan yang tidak sah. Membangun konstituen yang mendukung reformasi-reformasi tersebut harus menjadi bagian dari suatu strategi untuk memerangi pemerasan dan pajak-pajak ilegal. Menilik hambatan-hambatan kapasitas yang disoroti dalam paragraf di atas. dampak-dampaknya terbatas. dan pemerintah provinsi dapat memfasilitasi ketersediaan asuransi investasi tersebut di provinsi Aceh. 2009). Akses ke kontrak-kontrak berskala besar menjadi cara yang penting dalam menjamin pelibatan para pengganggu kedamaian di Aceh ke dalam perdamaian. Selain itu. Terdapat kebencian yang semakin meningkat dari banyak pihak di Aceh yang telah melihat berkurangnya manfaat-manfaat perdamaian akibat praktik-praktik masa perang yang masih terus dilakukan. terutama manufaktur padat karya. Hal ini meliputi penggunaan proyek-proyek pembangunan yang digerakkan oleh masyarakat untuk menyediakan barang-barang swasta dan publik. apabila proyek-proyek ditargetkan pada daerah-daerah yang mengalami dampak konflik terbesar. mereka kemungkinan besar akan mendapatkan manfaat. Menilik pertentangan yang mungkin timbul dari perorangan dan kelompok yang saat ini diuntungkan dari kegiatan-kegiatan ilegal. reformasi-reformasi mungkin merugikan secara politis dan perlu dibangun konstituen-konstituen untuk menuntut adanya perubahan. Skema ini dapat memberikan asuransi terhadap tindakan-tindakan ilegal dan retribusi yang tidak sah. Pendekatan-pendekatan yang ditargetkan secara geografis. Pekerjaan analitis dan pemantauan yang menunjukkan seberapa besar pengaruh negatif pemerasan dan kekerasan terhadap perekonomian Aceh. terdapat kebutuhan akan adanya tindakan penyeimbang yang hati-hati dan berfokus pada pembatasan peluang pemungutan iuran besar-besaran sementara membuka jalur-jalur legal lainnya bagi para mantan pimpinan dan elit pejuang GAM agar dapat hidup sejahtera. Hal ini akan berarti bahwa usahausaha dan pemerintah-pemerintah daerah sama-sama menanggung risiko terkait dengan permasalahan 58 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . 2009). hal ini dapat menimbulkan pergolakan baru apabila faktor-faktor yang memicu terjadinya konflik — seperti penyelenggaraan jasa yang buruk. yaitu: sektor pertanian dan usaha pertanian. pertumbuhan yang tidak merata dan kurang — terus terjadi pada masa pasca konflik (Barron dan Clark. yang bertujuan membangun perekonomian di daerah-daerah yang terkena dampak konflik mungkin memiliki lebih banyak kegunaan.Rendahnya Kemungkinan Pengembalian atas Investasi (Appropriability) dicoba (Barron dan Burke. Akan tetapi. Para mantan pejuang GAM dan kelompokkelompok ‘berisiko’ lainnya dapat disertakan dalam skema-skema tersebut dan. Terdapat risiko nyata bahwa untuk jangka menengah. 2009). Para mantan pejuang yang telah menerima bantuan reintegrasi tidak lagi atau berkemungkinan kecil untuk memiliki pekerjaan saat ini dibandingkan dengan mereka yang tidak menerima bantuan tersebut. Dukungan terhadap reformasi untuk meningkatkan rule of law dan mengurangi pemerasan dan pajak-pajak ilegal harus bersifat luas. beberapa proyek pekerjaan umum yang membuka lapangan kerja. Pemberian bantuan dengan sasaran perorangan kepada para mantan pejuang GAM juga menimbulkan kecemburuan dan ketegangan. Akan tetapi hal itu sulit dipertahankan kelangsungannya. dan manfaat-manfaat yang dapat diberikan melalui pengurangan hal-hal tersebut sangat penting bagi tercapainya tujuan ini. dengan menyoroti kebutuhan untuk menghindari pengucilan kelompok-kelompok tertentu. 2008). kegiatan-kegiatan perluasan pertanian untuk meningkatkan produktivitas.

Kegagalan pasar . suatu organisasi Bank Dunia). Kegagalan koordinasi terjadi ketika perusahaan-perusahaan tidak dapat meningkatkan produk-produk baru yang 43 http://www. Jaminan tersebut berpotensi untuk membuka jalan bagi investasi-investasi berskala relatif besar di sektor-sektor seperti energi. Akibatnya. skema tersebut juga dapat mengirimkan isyarat yang sangat kuat bahwa provinsi tersebut berminat untuk menarik investasi. Walaupun kemungkinan terjadinya kembali ketidakstabilan besar di provinsi tersebut cukup rendah. Perlunya menyediakan asuransi bagi para investor disebabkan adanya risiko perampasan atau pengrusakan yang ditimbulkan oleh kelompok-kelompok sipil dan ancaman keamanan di lingkungan pasca konflik serta pandanganpandangan negatif terhadap Aceh di luar provinsi tersebut.Juli 2009 keamanan dan pajak-pajak ilegal. perang dan gangguan sipil serta pelanggaran terhadap kontrak. Keempat. Asuransi dapat ditawarkan sebagai perlindungan terhadap risiko-risiko terkait dengan pembatasan-pembatasan pengalihan mata uang. Ketiga.43 Jenis-jenis jaminan investasi lainnya mungkin dapat diberikan. akan muncul pembahasan tentang apakah para investor dari provinsiprovinsi lain di Indonesia dapat ditanggung. rekan imbangan utama mereka adalah pemerintah daerah dan beberapa disposisi produk-produk standar mungkin perlu disesuaikan. Penyediaan asuransi tersebut dapat mengurangi risiko-risiko yang dihadapi oleh para investor di Aceh karena mereka dapat menanggung risiko yang bersumber dari ketidakstabilan umum bersama dengan pihak penjamin. e. Skema asuransi yang dirancang khusus perlu untuk disusun bersama dengan otoritas lokal untuk memenuhi kebutuhan provinsi tersebut. peranan pemerintah pusat harus ditentukan secara tepat. dan menunjukkan Aceh kepada para calon investor lainnya. Rancangan yang teliti juga dapat mencegah diberikannya pertanggungan atas kegagalan komersil karena adanya risiko bahwa skema asuransi tersebut dapat disalahgunakan oleh perusahaan-perusahaan yang belum terkena dampak lingkungan pasca konflik. mekanisme penyelesaian sengketa yang biasanya melibatkan pemerintah dan para investor perlu diadaptasi ke dalam suatu konteks di mana sebagian besar risiko berasal dari kelompok-kelompok non-pemerintah. MIGA. para penyedia asuransi risiko politis biasanya bekerjasama dengan pemerintah pusat. kemungkinan besar dalam jumlah yang disubsidi. Skema tersebut bukan merupakan solusi jangka panjang. perikanan. Akan tetapi. sementara jaminan tersebut biasanya memberikan pertanggungan hanya bagi para investor asing.kegagalan koordinasi Kegagalan pasar yang paling sering mempengaruhi perusahaan-perusahaan terdiri atas dua jenis: kegagalan koordinasi dan kegagalan informasi. penyediaan jaminan risiko politis dapat menjadi tambahan yang berharga untuk asuransi risiko keamanan. Badan Jaminan Investasi Multilateral atau Multilateral Investment Guarantee Agency. tetapi kemungkinan manfaat-manfaat dari skema tersebut perlu dinilai secara teliti terhadap biaya-biaya untuk menghindari kewajiban-kewajiban fiskal yang tidak perlu yang harus ditanggung oleh pemerintah provinsi. dalam pengaturan inovatif ini. beberapa dimensi dari skema ini perlu mendapat perhatian khusus. penyimpanan beku atau pengolahan hasil pertanian. Selain memberikan perlindungan bagi para investor dari tindak kejahatan kecil dan pemerasan. Kedua jenis kegagalan pasar ini biasanya menghambat pengembangan yang sukses dari produk-produk baru dalam skala besar. Para investor akan membayar premi. perspesi adanya risiko ini masih menghalangi usaha-usaha dan para investor untuk datang ke Aceh. tetapi lebih berupa bantuan untuk memulai investasi dan pertumbuhan. karena para investor tersebut merupakan para calon investor yang jelas dapat berinvestasi di Aceh.org 59 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Terdapat lembaga-lembaga yang memiliki spesialisasi di bidang penyediaan produk-produk asuransi terhadap risiko politis (mis. perampasan. Skema ini dapat ditawarkan kepada para investor besar maupun kecil.miga. Pertama. sementara di Aceh. Suatu skema asuransi dapat membuka jalan menuju investasi-investasi baru di provinsi tersebut dan menunjukkan peluang untuk memperoleh laba atas investasi. Kedua.

bagian analisis ini mengandalkan data perdagangan yang relatif lemah. melalui suatu pangkalan data dengan informasi tentang para eksportir dari komoditas-komoditas yang paling umum) dapat memiliki dampak positif yang penting. sehingga membatasi daya tawar produsen-produsen Aceh. 60 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Terdapat kebutuhan akan prasarana spesifik industri akan tetapi jenis-jenis prasarana yang paling diperlukan saat ini akan memberi manfaat bagi semua industri di Aceh. hortikultura. perikanan. Sayangnya. pemerintah Aceh dapat mulai melakukan eksplorasi terhadap kebutuhan-kebutuhan prasarana spesifik industri dan peranan sektor publik dalam pengadaan prasarana tersebut. Januari 2009. tetapi justru produk-produk baru yang proses produksinya memerlukan penyesuaian terhadap teknologi yang telah ada. Pusat Pengembangan Ekspor) relatif terbatas. perikanan dan budidaya air. seperti kondisi jalan yang baik. Skala kecil menyebabkan pemenuhan kualitas dan standar-standar keamanan tertentu menjadi lebih mahal. Akibatnya. Jaringan perdagangan yang ada saat ini didominasi oleh sejumlah pedagang.Rendahnya Kemungkinan Pengembalian atas Investasi (Appropriability) sukses akibat kurangnya layanan-layanan pelengkap atau masukan. sebagian besar pengusaha yang diwawancarai oleh tim mengungkapkan bahwa prasarana yang paling tertinggal di Aceh adalah prasarana yang bersifat “dasar’ dan umum. 44 Wawancara dengan para pengusaha dan para pemimpin asosiasi usaha. Hal ini menyebabkan kurangnya pengadaan jenis-jenis prasarana tersebut. Walaupun permasalahan ini relatif penting. Usaha-usaha lokal menyatakan kekhawatirannya terhadap sitausi ini dan keyakinan bahwa meningkatkan informasi pasar (mis. sehingga membatasi jangkauan produk-produk dari Aceh. yang pada gilirannya membatasi peningkatan kegiatan-kegiatan tersebut. 2008). serta bukti berdasarkan pengalaman dalam bentuk studi-studi kasus untuk menyelidiki kegagalan pasar yang mungkin terjadi. keberhasilan prakarsa-prakarsa yang dilaksanakan baru-baru ini untuk menyediakan informasi pasar dan mendukung pembentukan jaringan dengan usaha-usaha di luar provinsi (Kantor Penunjang Investasi. dan budidaya air belum tercatat belum meningkat dan belum dapat menciptakan tingkat produktivitas yang lebih tinggi (IFC. Akan tetapi. melalui konsultasi dengan para pemangku kepentingan di sektor industri. Akan tetapi. Kajian terhadap kegagalan pasar potensial ini memberikan data perdagangan yang dapat diandalkan untuk menyelidiki apakah yang diekspor oleh perekonomian yang sedang dipelajari tersebut dan bagaimana keranjang ekspor perekonomian tersebut berkembang seiring berjalannya waktu. dan pasokan listrik yang memadai. menunjukkan kegagalan koordinasi. terutama usaha pertanian. Sektor-sektor seperti hortikultura. yang menunjukkan bahwa faktor-faktor penghambat investasi dan pertumbuhan lainnya mungkin lebih menekan. Produk-produk baru tidak perlu menjadi yang terdepan dalam teknologi global. seperti fasilitas penyimpanan beku. Setelah kualitas dari jenis-jenis prasarana tersebut ditingkatkan. peternakan.44 Usaha-usaha menunjukkan kurangnya hubungan pasar dengan usaha-usaha di luar provinsi. pasokan air. Tujuannya adalah untuk mengevaluasi kecanggihan produk-produk tersebut dan laju perkembangan kecanggihan tersebut selagi produk-produk baru “ditemukan”. data ekspor untuk Aceh kurang tepat karena sebagian besar perdagangannya masuk ke Medan dan tidak dicatat dalam angka-angka resmi. Banda Aceh. memerlukan prasarana spesifik industri dan layanan-layanan pelengkap. peternakan. Sektor-sektor yang disebutkan sebelumnya. Beberapa sektor perekonomian. Kegagalan koordinasi dapat terjadi ketika terdapat keuntungan dari skala besar (economies of scale) yang terkait dengan pengadaan jenis-jenis prasarana yang bersifat eksternal bagi perusahaan-perusahaan tetapi bersifat internal bagi suatu industri. upaya-upaya yang kurang berhasil dalam menangani kegagalan tersebut menunjukkan bahwa kegagalan koordinasi bukanlah hambatan pertumbuhan dan investasi yang mengikat. Kegagalan informasi terjadi ketika perusahaan-perusahaan gagal untuk melakukan eksplorasi produk-produk baru untuk menemukan bidang yang dapat mereka kuasai.

Pemanfaatan teknologi baru di provinsi tersebut cukup cepat dalam tahun-tahun terakhir ini. Ekspor non-migas di Aceh meningkat sebesar 80 persen pada tahun 2008. kakao. Kegagalan pasar . Selain itu. tetapi hal ini sebagian besar disebabkan oleh peningkatan ekspor pupuk.7 juta pelanggan. barang-barang manufaktur hanya mewakili sebagian kecil dari keseluruhan ekspor non-migas: pada tahun 2008 hanya mewakili 3. 134. 45 Bank Dunia.kegagalan informasi Sangat sedikit usaha-usaha di Aceh yang merupakan eksportir atau melakukan penjualan di luar provinsi. terdapat sedikit halangan dalam melakukan perdagangan dengan provinsiprovinsi lainnya dan negara-negara lain di dunia.936.Juli 2009 f.082 227. Data perdagangan yang tersedia tampaknya menunjukkan bahwa Aceh mengekspor sedikit sekali barang-barang manufaktur. Pangsa produk-produk pertanian mewakili 14 persen dan sebagian besar terdiri atas kopi yang belum diolah. Sebagaimana daerahdaerah lainnya di Indonesia. 2009c. Pasca tsunami dan selama program rekonstruksi yang mengikutinya. Sejalan dengan pengamatan ini.379 632. penyedia layanan telepon seluler yang terkemuka memiliki 1. yang menunjukkan bahwa penduduk Aceh memiliki minat terhadap teknologi baru dan teknologi baru dapat dengan mudah masuk ke provinsi tersebut.100 250. Jumlah pelanggan telepon seluler meningkat sangat cepat (Gambar 19) dan pada tahun 2008. Tabel 19 Ekspor non-migas Aceh. sangat sedikit perusahaan di Aceh yang melaporkan pengeksporan produkproduk mereka.127 15. dalam AS$ US$ 2008 Bahan-bahan kimia Makanan dan hewan hidup Barang-barang manufaktur Minyak & lemak hewani & nabati Mesin dan peralatan transportasi Bahan-bahan mentah yang tidak dapat dimakan Berbagai barang manufaktur Source: BPS.45 Sebagai masukan utamanya. Survei usaha The Asia Foundation / KPPOD menemukan bahwa hanya 1. dan produk-produk perikanan. dan termasuk pupuk.080 22.049. industri pupuk di Aceh menggunakan gas bersubsidi dan ekspor mewakili lebih dari 80 persen dari jumlah ekspor non-migas (Tabel 19). Aceh telah membuktikan keterbukaannya terhadap perdagangan dan cepat beradaptasi dengan teknologi-teknologi baru di tahun-tahun pasca tsunami.234 Akan tetapi.5 persen dari usaha-usaha di Aceh melakukan ekspor ke luar negeri dan hanya 4.040. jumlah warung internet (warnet) meningkat sangat cepat di provinsi tersebut. Aceh telah membuka jalur-jalur perdagangan yang besar untuk membeli bahan-bahan konstruksi serta komoditas-komoditas dasar seperti makanan.870 5.3 persen dari jumlah keseluruhan. Sebaliknya. 61 Diagnosis Pertumbuhan Aceh .3 persen dari perusahaan-perusahaan tersebut memiliki para pelanggan utama yang berdomisili di luar provinsi tersebut. rempah-rempah.

tempurung kelapa. 150 juta.000 ton kakao organik dijadwalkan akan dilakukan pada bulan Agustus 2009. koperasi petani kakao bernama APKO Pidie Jaya didirikan pada tahun 2007 dan saat ini memiliki 7. hanya sedikit dari gagasan-gagasan usaha ini yang berhasil menjadi perusahaan-perusahaan baru dan bahkan lebih sedikit lagi dari antaranya yang menjadi sektor-sektor perekonomian baru. Kakao Organik (Sumber: APKO Pidie Jaya) Dengan dukungan sejumlah donor. dan arang. 62 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Yayasan tersebut kini mempekerjakan sekitar 25 pegawai tetap dan mendaur ulang 50 ton limbah plastik setiap bulannya. perusahaan tersebut mampu terus berkembang dan kini mempekerjakan 20 pegawai tetap dan menghasilkan laba bulanan sekitar Rp.000 800 600 400 200 2004 2005 2006 2007 2008 150 100 50 250 200 300 Jumlah warnet di provinsi (hitam) Sumber: Penyedia layanan telepon seluler dan Dinas Informasi dan Komunikasi di Aceh Selanjutnya. Perjanjian juga telah ditandatangani antara kooperasi tersebut dan para pembeli internasional seperti The Body Shop. Kelapa dan industri sampingannya (Sumber: Austcare) Perusahaan ini didirikan pada awal tahun 2008 di Meulaboh. Kotak 5 Industri-industri baru yang mulai berkembang di Aceh Industri Daur Ulang (Sumber: Yayasan Daur Ulang Plastik Palapa) Daur ulang plastik merupakan salah satu industri yang sedang berkembang di Aceh.200 1. dengan modal awal sekitar Rp. Bendrain Swiss. terutama di sektor pertanian. 1 milyar yang diperoleh dari para donor dan para anggota koperasi. dsb. Beberapa donor memberikan bantuan kepada usaha ini dalam berbagai bentuk. minyak nilam dan jamur. Para petani telah mencoba beberapa produk baru seperti: ternak.Rendahnya Kemungkinan Pengembalian atas Investasi (Appropriability) Gambar 19 Jumlah pelanggan telepon seluler di Aceh untuk penyedia layanan terkemuka dan jumlah warnet 2.600 1. Aceh Barat. di mana kemudian potongan-potongan plastik tersebut diubah menjadi produk-produk akhir seperti kursi plastik. Usaha baru ini mampu memberikan penghidupan bagi banyak penduduk Aceh. tali.500 pemulung. Upaya-upaya peragaman produk ini menunjukkan bahwa usaha-usaha di Aceh tidak kehabisan ide untuk berinovasi (Lihat Kotak 5 di bawah ini). Mesin tersebut dapat menghasilkan beberapa produk dari kelapa mentah: serat kelapa. dengan demikian memberikan penghasilan bagi lebih dari 1.000 petani memperoleh sertifikasi kakao organik yang memungkinkan produk mereka diperdagangkan secara internasional. Inilah alasan mengapa pengkajian terhadap kisah-kisah sukses dapat membawa pengaruh besar: kotak di bawah ini menunjukkan tiga sektor usaha baru di Aceh. dalam bentuk bantuan teknis dan peningkatan mutu mesin. Dengan dukungan beberapa donor. Sebagian besar produksi tersebut diekspor ke luar negeri. Lebih dari 7. tetapi hanya sedikit yang berhasil ditingkatkan.000 1. Dalam beberapa tahun terakhir ini terdapat beberapa percobaan. bukti berdasarkan pengalaman menunjukkan bahwa produk-produk baru sedang dicoba di Aceh. mulai dari peningkatan kapasitas bagi para pemulung sampai teknologi yang lebih baik untuk daur ulang plastik. dengan tujuan-tujuan utama meliputi Malaysia dan Singapura. Ekspor pertama dari koperasi tersebut yaitu sekitar 10. Seluruh produksi potongan-potongan plastik dikirim ke Medan untuk kemudian diekspor ke China dan Singapura.400 1. Pada bulan Juni 2005.100 petani. Modal tersebut terutama digunakan untuk membeli mesin pengolah kelapa. Akan tetapi. usaha ini dijalankan dengan mengikuti contoh yang sama seperti usaha-usaha lainnya: limbah plastik dikumpulkan di Aceh kemudian dikirim ke Sumatra Utara di mana kemudian limbah tersebut diolah. Yayasan Daur Ulang Plastik Palapa berhasil membangun suatu fasilitas pengolahan di Lhokseumawe atas biaya sendiri. Sebelumnya. Olam dan cokelat Delfi.800 Jumlah pelanggan telpon ribuan (merah) 1.

Kemungkinan besar lingkungan mikroekonomi adalah faktor hambatan yang mengikat di Aceh. dan memiliki sarjana-sarjana dalam jumlah yang memadai. tetapi masih memiliki sedikit industri-industri baru. Walaupun terdapat banyak gagasan-gagasan baru di Aceh. Aceh terbuka terhadap teknologi-teknologi baru. Ancamanancaman keamanan dan biaya-biaya yang terkait dengan hal tersebut juga menghambat investasi dan pertumbuhan. konflik dan warisannya memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap insentif-insentif yang harus diinvestasikan oleh perusahaan-perusahaan dan terhadap kemampuan perusahaan-perusahaan tersebut untuk memperoleh penghasilan atas investasi mereka. Pengamatan ini sejalan dengan isu rendahnya kemungkinan penghasilan atas investasi (appropriability) yang disebutkan sebelumnya sebagai hambatan yang mengikat terhadap pertumbuhan di Aceh. Bab ini telah meninjau ulang faktor-faktor yang mungkin dapat menghalangi usaha-usaha untuk memperoleh manfaat dari investasi mereka dan khususnya. hanya sedikit di antaranya yang berhasil berkembang menjadi usaha-usaha yang maju karena alasan-alasan yang tidak banyak terkait dengan kegagalan pasar dibandingkan dengan permasalahan seperti faktor lemahnya kelembagaan. Agar dapat memahami alasannya. Hal ini juga menghalangi perusahaanperusahaan baru untuk masuk ke Aceh karena mereka tidak menjadi bagian dari jaringan lokal. Usaha-usaha kurang memiliki kepastian ketika mereka beroperasi di Aceh: mereka tidak mengetahui kepada siapa dan berapa banyak yang harus mereka bayar untuk dapat menjalankan usaha. Sebagaimana yang seringkali menjadi anggapan. salah satu mekanisme yang menjelaskan keberhasilan perusahaan-perusahaan yang memiliki hubungan politik mungkin ada kaitannya dengan fakta bahwa perusahaan-perusahaan tersebut terlindungi dengan baik dari pemerasan. Walaupun sulit untuk menguji hipotesis ini. Sistem perlindungan yang diperkokoh selama konfilk telah menghasilkan sektor swasta yang menjadi maju justru karena koneksi mereka dengan sektor publik dan bukan karena efisiensi mereka. biaya-biaya transaksi dan faktor pemerintahan. terbuka terhadap perdagangan dengan negara-negara lain di dunia. 63 Diagnosis Pertumbuhan Aceh .Juli 2009 Kegagalan pasar bukan penyebab upaya-upaya yang kurang berhasil dalam meningkatkan usaha-usaha di Aceh. peranan konflik dalam keadaan tersebut. dan terdapat beberapa fenomena yang terjadi yang mengancam kualitasnya. menarik untuk disimak bahwa banyak usaha yang berhasil berkembang dan maju adalah usahausaha yang memang cukup besar sejak awalnya untuk menggalang dukungan politis.

.

Kekhawatiran tentang masalah keamanan mempengaruhi semua jenis investor. Tabel di bawah ini merangkum temuan-temuan pada laporan ini. 65 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . walaupun para investor besar mungkin dapat mengurangi kekhawatiran mereka akan hal ini dengan cara memperoleh perlindungan dari pemerintah daerah yang ingin sekali mendapatkan investasi. pada tingkatan yang relatif rendah. bobot kesimpulan-kesimpulan dan implikasi kebijakan.08 Kesimpulan Kerangka kerja diagnosa pertumbuhan Aceh membantu mengidentifikasi hambatan-hambatan utama terhadap investasi dan pertumbuhan di provinsi tersebut. Perekonomian Aceh tumbuh dengan laju yang lebih lambat dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Indonesia. ketersediaan tenaga listrik yang dapat diandalkan dan risiko-risiko keamanan yang diperburuk oleh pemerasan dan pembayaranpembayaran ilegal dianggap lebih tinggi di Aceh. Dua hambatan utama terhadap pertumbuhan adalah. apakah hambatan-hambatan yang terindentifikasi bersifat utama. Ekonomi Aceh terbilang lemah karena jaringanjaringan patronasi yang kuat dan lingkungan yang tidak aman sebagai akibat konflik selama 30 tahun. terutama investasi swasta. Permasalahan-permasalahan seperti prasarana (jalan. Situasi ini menghambat kinerja pertumbuhan dan membatasi investasi swasta. domestik dan luar negeri secara merata. Para calon investor telah mengungkapkan kekhawatiran mereka tentang kemungkinan konflik akan berlanjut dan tedapat bukti bahwa kekhawatiran atas keamanan dan pemerasan serta pajak-pajak ilegal yang timbul menghalangi perusahaan-perusahaan dan perorangan untuk memetik keuntungan penuh dari investasi mereka. listrik) mungkin lebih menjadi masalah bagi para investor lokal daripada bagi para investor asing. Meyakinkan para investor atas keamanan investasi mereka merupakan prasyarat untuk meningkatkan kembali investasi sektor swasta di provinsi ini. Pada akhirnya hal ini membatasi investasi dan pertumbuhan di provinsi tersebut. Hambatan-hambatan yang teridentifikasi berdampak pada para investor lokal.

biomassa lokal (local biomass) atau energi matahari. tetapi hal ini hanya merupakan solusi yang mungkin bagi usaha-usaha yang relatif besar. Oleh karena itu. Upaya-upaya yang diperbarui untuk menarik investasi sektor swasta dapat didukung dengan cara: • Merevisi penetapan harga listrik yang dihasilkan oleh pihak swasta untuk didistribusikan melalui PLN. • 66 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Pemerintah Aceh telah mengidentifikasi bahwa ketersediaan listrik merupakan bidang perhatian utama untuk pembangunan provinsi ini. dalam rangka meningkatkan insentif bagi pihak swasta untuk berinvestasi dalam bidang pembangkitan energi di provinsi ini. Meningkatkan partisipasi sektor swasta dalam bidang pembangkitan listrik dengan menggunakan sumber-sumber energi terbarukan. terutama untuk perusahaan-perusahan skala lebih kecil.Kesimpulan Tabel 20 Hambatan-Hambatan terhadap Pertumbuhan di Aceh Jenis hambatan Akses terhadap Kredit Modal Manusia yang rendah Kualitas Prasarana Tingkat hambatan ? Bobot Kesimpulan Implikasi Kebijakan Tidak menghambat Sedang Tidak menghambat Tinggi Menghambat Tinggi • • Revisi strategi penetapan harga oleh PLN Dukung partisipasi sektor swasta dalam pembangkitan listrik menggunakan sumber enegi terbarukan Tingkatkan keandalan pasokan energi dari Sumatra Utara Tingkatkan kemampuan kepolisian dan pengadilan untuk menegakkan supremasi hukum Fokus pada program-program pembangunan ekonomi di daerah yang terkena dampak konflik Bantu membangun konstituensi untuk reformasi – contohnya melibatkan komunitas dan masyarakat madani dalam upayaupaya pemantauan Fasilitasi skema asuransi risiko politik untuk menarik para investor • Pemerasan dan PajakPajak Ilegal Menghambat Tinggi • • • • Risiko-risiko makro Kegagalan Informasi Kagagalan Koordinasi Tidak menghambat Tidak menghambat Tidak menghambat Tinggi Sedang Sedang - Ketersediaan listrik yang andal adalah hambatan paling utama terhadap investasi dan pertumbuhan. yang memungkinkan usaha-usaha tersebut untuk membiayai investasi ini. ketersediaan listrik merupakan hal yang penting untuk memajukan usaha-usaha kecil di sektor pengolahan. dan Pemerintah Aceh juga sedang meningkatkan upaya mereka untuk menghasilkan energi dan menjamin ketersediaan listrik dari PLN. Usaha-usaha yang lebih kecil (misalnya pengolahan ikan. seperti panas bumi (geothermal). sektor ternak atau agrobisnis) tidak mampu membiayai investasi yang diperlukan dan listrik menjadi hambatan bagi usaha-usaha prospektif ini. Beberapa badan usaha dapat menghasilkan listrik mereka sendiri. Pasokan energi tidak mencukupi dan tidak dapat diandalkan kemungkinan besar menjadi hambatan yang paling utama bagi investasi dan ekonomi secara keseluruhan.

Upaya ini termasuk sektor pertanian. akibat masalah keamanan dan pajak-pajak ilegal. pemerasan. pada sektor swasta dan masyarakat madani. faktor-faktor pelengkap produksi tidak tampaknya tidak menjadi hambatan terhadap pertumbuhan dan investasi. Mendukung pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di daerah-daerah yang terkena dampak konflik. Penggalakan investasi tentunya memerlukan pemutusan lingkaran setan permasalahan intimidasi terkadang disertai kekerasan dan pajak ilegal. yang mendukung pembentukan konstituensi pro-reformasi. dan berdampak pada biaya-biaya setiap investor potensial. pengolahan hasil pertanian (agro-processing). Hal ini berbeda dengan pemberian bantuan reintegrasi bagi para mantan pejuang GAM. • Ketidakmampuan perusahaaan dan individu untuk memperoleh keuntungan dari investasi mereka. merupakan faktor penghambat investasi dan pertumbuhan. yang akan menuntut reformasi ini. yang berfokus pada kelompokkelompok yang menhadapi risiko dan rawan di daerah-daerah yang terkena dampak konflik. meningkatkan sumber daya yang dapat digunakan polisi serta memperkuat angkatan kepolisian. Meningkatkan keandalan pasokan-pasokan energi dari Sistem Interkoneksi Sumatra (Sumatra Interconnection System) untuk menghindari sering terputusnya pasokan listrik. penting untuk mengikutsertakan kembali monopoli negara dalam penggenaan pajak serta penggunaan ketegasan terhadap hukum . melalui pengembangan kapasitas. Strategi untuk melakukan hal ini harus berupa strategi ganda. walaupun hal ini tidak selalu dapat dilakukan. Laporan ini menyajikan serangkaian bukti bahwa biaya atau ketersediaan modal bukanlah hambatan terhadap pertumbuhan dan investasi di provinsi ini. Untuk menghilangkan hambatan ini. dengan memasukkan akses yang aman dan berharga menarik terhadap sumber-sumber energi dan lahan yang terkait ke dalam MoU dan kontrak. Semua hal ini menambah ketidakpastian menjalankan usaha di Aceh. dengan memperkenalkan reformasi yang memperkuat kemampuan pemerintah untuk menegakkan supremasi hukum dan intervensi yang bertujuan menangani penyebab-penyebab yang mendasari munculnya tindak kerjahatan dan kekerasan. dan sektor-sektor jasa tertentu (perdagangan.Juli 2009 • Menelaah kemungkinan kemitraan pemerintah-swasta untuk menarik produsen tenaga linstrik independen dengan biaya murah. perikanan. Kalangan-kalangan usaha yang tidak dapat atau tidak bersedia mengadakan perjanjian-perjanjian tersebut mungkin saja memutuskan untuk tidak berinvestasi di provinsi ini sama sekali. melalui pelatihan dan pengembangan kapasitas. Kalangan usaha pada saat ini mencoba untuk mengatasi ketidakpastian ini dengan bergabung bersama kalangan usaha atau jaringan kerja yang dapat memberikan perlindungan serta rasa aman. Pendekatan-pendekatan yang ditargetkan secara geografis. dengan pengecualian pada prasarana energi. dengan cara: • Meningkatkan kemampuan polisi untuk menyelidiki dan menyelesaikan masalah kejahatan untuk memperkuat supremasi hukum. dan juga mendukung konstituensi. dan pajak-pajak serta pembayaran-pembayaran ilegal membatasi kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba dari investasi mereka. transportasi). Demikian pula. • • • 67 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Persepsi tentang risiko yang lebih tinggi juga berakibat pada kurangnya kredit bagi sektor swasta. telah terbukti lebih efektif. Meningkatkan kemampuan sistem peradilan untuk menuntut dan menjatuhkan hukuman atas para penjahat. sehingga tidak mendorong pertumbuhan investasi di provinsi ini. Memfokuskan reformasi pada peningkatan supremasi hukum dan memerangi pemerasan serta pajak-pajak ilegal pada sektor-sektor yang menghasilkan pertumbuhan inklusif. sumber daya tambahan dan kemauan politik. yang memiliki dampak yang lebih terbatas dan dapat memicu ketegangan. Permasalahan-permasalahan keamanan.

untuk membahas analisis dan rekomendasi-rekomendasi dalam laporan ini. pajak-pajak dan peraturan-peraturan daerah yang diberlakukan oleh para pemerintah daerah. karena hambatan-hambatan lain menjadi lebih utama apabila hambatan-hambatan ini dipecahkan. mereka tidak dapat memperoleh keuntungan dari investasi mereka dan. Dengan demikian. Kualitas prasarana transpotasi yang buruk juga telah teridentifikasi sebagai hambatan utama bagi investasi dan pertumbuhan di Indonesia. Upaya mengatasi hambatan-hambatan yang utama kemungkinan akan memberi manfaat bagi penduduk secara keseluruhan. Pemerintah daerah dapat memperkenalkan sebuah sistem. secara berkala. karena mereka tidak yakin dengan biaya yang akan mereka hadapi yang timbul dari ancaman-ancaman keamanan dan pemerasan. dan usaha-usaha tidak lagi terkena pemerasan dan pajak-pajak ilegal. Pada saat ini. Laporan ini berfokus pada hambatanhambatan utama terhadap pertumbuhan dan menawarkan rekomendasi tentang intervensi-intervensi potensial untuk menyelesaikan masalah-masalah ini. akan menghambat investasi dan pertumbuhan. meninjau kembali rekomendasi-rekomendasi tersebut dan mengidentifikasi hambatan-hambatan yang mengikat lainnya terhadap investasi dan pertumbuhan. Jaminan-jaminan yang diberikan oleh para pihak ketiga untuk proyek-proyek tunggal dapat ditemukan di banyak kawasan di dunia dan sering digunakan di lingkungan pasca-konflik. dengan demikian. meningkatkan kemampuan kelompok miskin dan rawan di Aceh untuk memperoleh manfaat dari pertumbuhan. Jenis-jenis jaminan ini juga dapat berfungsi sebagai sinyal penarik yang kuat bagi para investor potensial. ketika provinsi ini berupaya menjadi lebih modern dan berkembang. terutama terhadap pajakpajak dan peraturan perizinan. hampir tidak mungkin untuk melakukan investasi. dan juga penegakan hukum yang kurang. Perhatian yang lebih khusus harus diberikan dalam penyusunan strategi besar untuk mendorong pertumbuhan yang inklusif dan merata bermanfaat bagi sebagian besar penduduk. di mana ketidakpastian peraturan. bersama dengan sektor swasta. hambatan-hambatan tersebut kemungkinan besar sama dengan hambatan-hambatan yang ada di daerah lain di Indonesia. Selanjutnya. Walapun prasarana transportasi yang ada sekarang terlihat cukup untuk ekuilibrium pertumbuhan Aceh yang rendah. Rancangan yang menyeluruh terhadap skema asuransi tersebut sangat penting untuk menghindari kewajiban fiskal yang tidak perlu bagi pemerintah provinsi dan untuk menghindari penyalahgunaan skema-skema asuransi tersebut oleh para pengusaha. Hambatan-hambatan yang utama terhadap pertumbuhan kemungkinan besar dapat berubah seiring berjalannya waktu. Apabila masalah-masalah yang berkaitan dengan ketersediaan listrik dan situasi keamanan membaik. Intervensi-intervensi 68 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . fakta bahwa Aceh adalah sebuah provinsi di negara yang lebih besar dan relatif stabil akan menimbulkan tantangan-tantangan tambahan dalam rancangan skema tersebut yang harus dipecahkan bersama-sama oleh pemerintah nasional dan provinsi. perusahaan-perusahaan dan individu tidak dapat mengambil keputusan untuk berinvestasi. • Situasi keamanan yang membaik serta pemberantasan iuran dan pajak-pajak ilegal kemungkinan besar akan meningkatkan investasi dan pertumbuhan. di kemudian hari. termasuk kalangan yang berpotensi mengganggu perdamaian. dan berlanjut dengan sebuah proses untuk. Memfasilitasi pemberian asuransi politik oleh sektor swasta. Jaminan-jaminan investasi ini biasanya dibuat pada tingkat nasional. Diperlukan intervensiintervensi khusus untuk memastikan bahwa pertumbuhan tersebut bersifat inklusif. perusahaan-perusahaan dan individu-individu akan dapat mengakses biaya dan keuntungan investasi mereka dengan kepastian yang lebih besar dan melakukan investasi ketika investasi-investasi tersebut jelas-jelas dapat berkembang secara komersial. maka hal ini kemungkinan besar akan menjadi hambatan.Kesimpulan • Melibatkan masyarakat madani dalam pemantauan tindakan-tindakan ilegal sebagai upaya mengatasi permasalahan ini. Karena biaya yang berhubungan dengan kemanan dan pembayaran ilegal menurun. Dengan mempertimbangkan kemauan politik dan modal yang besar yang akan dibutuhkan untuk reformasi yang diusulkan tersebut. hambatan-hambatan lain akan menjadi lebih utama dan seperangkat reformasi yang berbeda menjadi sangat diperlukan.

menurunkan kekhawatiran tentang masalah keamanan dan pada akhirnya menjaga agar konflik tidak terjadi lagi.Juli 2009 tersebut termasuk melanjutkan fokus pada sektor pertanian. dan juga meningkatkan penyediaan layanan publik di daerah ini. Mendistribusikan manfaat-manfaat pertumbuhan akan memberikan hal yang penting dalam perdamaian dan stabilitas di Aceh bagi bagian masyarakat yang lebih besar. Intervensi-intervensi tersebut juga termasuk menata ulang ketidaksetaraan yang ada baik dalam hal modal manusia maupun fisik dengan meningkatkan tingkat keahlian orang-orang miskin di daerah-daerah pedesaan. 69 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . juga intervensi-intervensi yang memfasilitasi akses terhadap kredit bagi orang-perorangan dan usaha-usaha kecil yang bergerak dalam sektor pertanian dan perikanan.

.

“The Limits of DDR: Reintegration Lessons from Aceh” in Small Arms Survey Yearbook 2009. Patrick. Geneva. 2008. Bodea. (Mar. mimeo. Bates. Barron. “Political Violence and Economic Growth”. Lisa. Conflicts Challenge Paper. “Managing the Resource for Peace: Reconstruction and Peace building in Aceh” in Aguswandi and Judith Large (eds. Barron. Indonesia May-June. Christina and Ibrahim A. Patrick. 2. 60. Copenhagen: Copenhagen Consensus Centre. Conflict Prevention and Reconstruction Paper No. Torunn and Astri Suhrke. Edward. Diakses bulan Juni 2008. Patrick and Adam Burke. 2008.pdf> Clark. Policy Research Working Paper No. Annual Review of Political Science. Aspinall. 2006.. “Islam and Nation: Separatist Rebellion in Aceh. 1992). 2007. Philippe and Steven Durlauf. Vol. 2009b.C. P. Cambridge: Cambridge University Press. Dubious Democracy”. Local Governance and Conflict in Aceh”. and Samuel Clark. 11: 1-12.09 Daftar Referensi Aghion. “Reconfiguring Politics: The Indonesia-Aceh Peace Process”. Patrick. Barron. Washington. 11. “From Growth Theory to Policy Design”. Aguswandi and Judith Large. Indonesia”. D. Elbadawi. “The Security Challenge in Conflict-prone Countries”. 2008. Washington.. 2008. Jakarta: World Bank. 2008. Washington. Econometrica. Samuel.) Reconfiguring Politics: The Indonesia-Aceh Peace Process. 2008. D. 2008. “A Model of Growth through Creative Destruction”. 39. No. and Blair Palmer. Chauvet. Indonesian Social Development Paper No. CA. 1992.: World Bank. Edward. 2009a. <http://www. hal. 4692. and Peter Howitt. “Peaceful Pilkada.C: World Bank. Barron. and Haavard Hegre. Chaudhary. Robert H.info/documents/CP_Collier_securitychallengein conflictpronecountries. “Supporting Peace in Aceh: Development Agencies and International Involvement”. 71 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Aspinall. Small Arms Survey. 323-351 Aghion. “State Failure”. mimeo. “Combatants to Contractors: The Political Economy of Peace in Aceh”. “Decentralizing Inequality? Center-Periphery Relations. London: Conciliation Resources. Paul Collier.: Stanford University Press.humansecurity gateway. London: Conciliation Resources. Commission on Growth and Development. “Postwar Violence”. Stanford. 2008. Edisi situs internet. DC: East-West Center. 2009.

) Unity and Diversity: Regional Economic Development in Indonesia since 1970. Mei 2007 Hausmann. Hausmann. in Hal Hill (ed. No. “Greed and Grievance in Civil War”. HiCN Working Paper No. 2008. Commission on Growth and Development. Ianchovichina. “Atlas – Economic Development NAD Province – Aceh Triple A Project (ATAP)”. D. “Measuring the Costs of Conflict”. “The Global Burden of Armed Violence”.. Collier. Singapore: Oxford University Press. Dawood. Nota Kebijakan untuk Bank Dunia oleh Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO). 2006. Hoeffler. “Aceh: The LNG Boom and Enclave Development”. Paul. Paul and Anke Hoeffler. 2004. Geneva: Geneva Declaration Secretariat. Brighton. Washington. hal. 2007. Journal of International Development. Washington. “Regional Development in Indonesia: Patterns and Issues”. CID Working Paper No. Harvard University. UK. 2008.. 32. “Demobilization and Insecurity: A Study in the Economics of the Transition from War to Peace”. Oxford: Centre for the Study of African Economics. “Growth Report: Strategies for Sustained Growth and Inclusive Development”. Institute of Development Studies. Kabar Seberang 17: 182-194. Hausmann.) Unity and Diversity: Regional Economic Development in Indonesia since 1970. Hal. Elena and Susanna Lundstrom. Hiorth. mimeo. 4851. V. 2003. Journal of Development Economics. 1989. 1994. Policy Research Working Paper No. Collier.Daftar Referensi Collier. 603-633. 2008. Oxford Economic Papers 54: 563595. Paul. “Inclusive growth analytics. Rodrik. 177. 1986. Klinger and Wagner. Anke. Singapore: Oxford University Press. 1999. “On the Economic Consequences of Civil War”. 1989. and Marta Reynal-Querol. Collier. 2005. Oxford Economic Papers 51 (1): 168–83. 256. Havard Hegre. and Mans Soderboom. Initial Edition. 2003. “Breaking the Conflict Trap: Civil War and Development Policy”. Washington. Village-Level Determinants of Forced Migration in Aceh”. Czaika. Hill. Working Paper No. “Civil Conflict and Displacement. 2008.C. Government of Aceh. Anke Hoeffler. University of Oxford. Dayan. “Free Aceh: An Impossible Dream?”. Elliott. Paul.L. University of Sussex. CSIRO. D. Marta Reynal-Querol. Ricardo and Dani Rodrik. 2003. DC: World Bank and Oxford University Press. 2. Paul. 6(3): 343-51. Dani and Andrés Velasco. Washington. and Nicholas Sambanis. Collier. 72. framework and application”. and Sjafrizal. “Post-Conflict Risks”. Geneva Declaration Secretariat. in Hal Hill (ed. 2008. Ricardo. Inter-American Development Bank. Households in Conflict Network. 2007. and Anna Weidermann.: The World Bank. “Doing growth diagnostics in practice: A ‘Mindbook’”.C: World Bank 72 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . Mathias and Krisztina Kis-Katos. “Environmental Management for a Sustainable Economic Development Strategy for Nanggroe Aceh Darussalam”. “Growth Diagnostics”. “Economic Development as Self-Discovery”. DC: World Bank. Anke Hoeffler. Finnegar. Vol.

“Greed: The Silent Force of Conflict in Aceh”. 1996. 2007. D. 2001. 2006.: East-West Center. Indonesia”. “Post-conflict armed violence and security promotion. “Aceh Investment Climate Policy Note”. 90. Decentralization Support Facility. P. “Death and development. 2008. Harvard University. 4663. al. Policy Studies No. “A Psychological Assessment of Communities in 14 Conflict-Affected Districts in Aceh”. and R. Moser. Asia Report No. Rodd. 1995.. 2007. “The importance of good governance in easing separatist conflicts”. 90: Special Aceh Reports Moreno-Dodson. in Inside Indonesia No. Cambridge and Geneva: Cambridge University Press. “Assessing the Impact of Public Spending on Growth . Norman Loayza. Nationalism and International Resistance”. Washington. Blane D. Washington. Policy Research Working Paper No. Singapore: Singapore University Press. “Meta Analysis: Vulnerability. NY: Cornell University Press. in Anthony Reid (ed. International Finance Corporation. Stability.C. Kosuke.An Empirical Analysis for Seven Fast Growing Countries”. Washington. 43. International Crisis Group. Timothy. “The Politics of Military Reform in Post-Suharto Indonesia: Elite Conflict. Lewis. “The Peace Dividend: Military Spending Cuts and Economic Growth. “Local Tax Effects on the Business Climate”. Jakarta/Brussels. Banda Aceh/Jakarta: MSR.” Policy Brief 2006-1. 2000. “Aceh Homebound?”. International Crisis Group.Juli 2009 Imai. Jakarta/Brussels. A Survey of Businesses in 243 Regencies/ Cities in Indonesia. MSR. 2008.. 2006. 2005. 1-37. N. 2009. 17. 1989-1992”. and Delano Villanueva. 2009. DC: Brookings Institute. in Dewi Fortuna Anwar et. Juli 2008 Lorentzen. “The Roots of Acehnese Rebellion. Wacziarg. Januari 2008 International Finance Corporation. Melbourne/Singapore: Monash Asia Institute/ Institute for Southeast Asian Studies. 2008. Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) and The Asia Foundation. hal. Jakarta: LIPI/Yayasan Obor. 2006. Robert. McMillan.” Mimeo. and Bambang Suharnoko. Lesley. Ithica.C. Marcus. “Aceh Financial Sector Diagnostics”. Antje. McCulloch. Stanford University. Knight. 2008.” CID Working Paper No. in Damian Kingsbury (ed. J.” IMF Staff Paper Vol. “Measuring the Economic Impact of Civil War. Jones.: The World Bank. Blanca. Displacement and Reintegration: Issues Facing the Peace Process in Aceh. November 2007 International Organization for Migration. International Organization for Migration. 2008. Political Economies and Policies. 2006.) Violence In Between: Security Issues in Archipelagic South-East Asia. and Jeremy Weinstein. Kell. 2007. 23.) Violent Internal Conflicts in Asia Pacific: Histories.” Small Arms Survey Yearbook 2009. Multi-Stakeholder Review of Post-Conflict Programming in Aceh: Identifying the Foundations for Sustainable Peace and Development in Aceh. McGibbon. Jakarta. “Local Leadership and the Aceh Conflict”. 2007”. Harvard Medical School. Meitzner. 2009. “Indonesia: Deep Distrust in Aceh as Elections Approach”. Jakarta: IOM. Caroline O. “Reducing Urban Violence in Developing Countries. 51. Malcolm. Sidney. Muggah. “Aceh: Why Military Force Won’t Bring Lasting Peace”. “Local Economic Governance in Indonesia.) Verandah of Violence: the Background to the Aceh Problem. D. Asia Briefing No. 2006. (eds. Jakarta: IOM. Missbach. 73 Diagnosis Pertumbuhan Aceh .

1990).” Indonesia 66 (October): 127-156. 13145. and Adriana Villamarin.Daftar Referensi Nagarajan. Policy Studies No. D.. “Background Paper on Economic Reintegration. “The Rise and Fall of Governor Puteh”. Reid. 1998. D. Sukma. Transparency International..C. Jorge. “The Simple Economics of Extortion: Evidence from Trucking in Aceh”. 18 Desember. Cambridge. 2008. in Aguswandi and Judith Large (eds). 2001. Special Aceh issue in Accord: An International Review of Peace Initiatives. in Henke Schulte Nordholt and Gerry van Klinken (eds. Solow.C.) Verandah of Violence: the Background to the Aceh Problem. Consequences and Lessons”. 3. Vol. 1. in Anthony Reid (ed. Zúñiga. Non-Traditional Security Issues in Southeast Asia. Robinson. “Puteh to sit in the dock”. Romer. Kirsten. Leiden: KITLV Press. Jukliana M. and Other Regions. Policy Studies No. Geetha. The Quarterly Journal of Economics. “Endogenous Technological Change”. Restrepo. Benjamin and Patrick Barron. and Michael McNulty.). MA: NBER. 2008. 1956. and Gerry van Klinken. Brodie Ferguson. Anthony (ed. No. M. Part 2: The Problem of Development: A Conference of the Institute for the Study of Free Enterprise Systems. Robert M. Washington. 1990. Sulaiman. 98. Volume 1”. “Microfinance Amid Conflict: Taking Stock of Available Literature. “Resources and Rebellion in Indonesia. Geneva/ Bogota: Small Arms Survey/CERAC. “Estimating Lost Product Due to Violent Deaths in 2004”. Tajima.: United States Agency for International Development.Aceh peace process. Rizal. Colombia. Oxford: Oxford University Press. Understanding Civil War: Europe. (Feb. 2006. “Verandah of Violence: the Background to the Aceh Problem”. 2.: East-West Center. “The Free Aceh Movement (GAM): Anatomy of a Separatist Organization”. Yuhki. Isa. Singapore: Singapore University Press. Nazamuddin Basyah Said. April 2009. NBER Working Paper No. 2004. Reconfiguring politics: the Indonesia .” Washington. The Journal of Political Economy. 2004. Sulaiman. 2005.” in Paul Collier and Nicholas Sambanis (eds. “Economic Injustice: Cause and Effect of the Aceh Conflict”. Washington D. The Jakarta Post. 70. Makalah yang tidak diterbitkan untuk Small Arms Survey. Isa. 1956) Stewart. “Measuring corruption in Indonesia: Indonesia Corruption Perception Index 2008 and Bribery Index” 74 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . 2004. 2001.C. “A Contribution to the Theory of Economic Growth”. Central Asia. “The Acehnese Rebellion: Secessionist Movement in Post-Suharto Indonesia”. hal. Paul M. Singapore: Institute of Defense and Strategic Studies. Washington. Muninggar Sri.” Prepared for International Congress on Disarmament.. “Security Operations in Aceh: Goals.). Schulze. in Andrew Tan and Kennethn Boutin. “Rawan is as Rawan Does: The Origins of Disorder in New Order Indonesia.. Geoffrey.: World Bank and Oxford University Press. Rizal. 2007. (Okt.). 2004. Frances and Vaply Fitzgerald (eds. Singapore: Singapore University Press. “War and Underdevelopment: The Economic and Social Consequences of Conflict. Sukma. 2008. London Olken. DC: East-West Center. No. S71-S102 Ross. “From Autonomy to Periphery: A Critical Evaluation of the Acehnese Nationalist Movement”. 2009.) Renegotiating Boundaries: Local Politics in Post-Suharto Indonesia. Vol. Cartagena. 2007. Saraswati. M. 2006. Michael L. Demobilization and Reintegration.. 5.

Banda Aceh/Jakarta: World Bank/BRR. “Aceh Poverty Assessment 2008 – The Impact of the Conflict. World Bank. 2008a. report No. Jakarta: The World Bank World Bank. Washington DC: The World Bank World Bank. World Bank.C. “Indonesia.Juli 2009 Ulloa. 2008f. Alfie. “World Development Report 2008 – Agriculture for Development”. World Bank. 2008b.” Journal of Peace Research 41(3): 371-388. 2006c. UN Office on Drugs and Crime/ World Bank. 2007. Walter. Violence and Development: Trends. Jakarta: The World Bank World Bank. June 2009”. World Bank/ IFC. the Tsunami and the Reconstruction on Poverty in Aceh”. Banda Aceh: The World Bank. “Indonesia Jobs Report”. Banda Aceh/Jakarta: World Bank/Government of Indonesia. “Does Conflict Beget Conflict? Explaining Recurring Civil War. “Crime. Gas and Mining Investment Climate”. Oktober 2008”. Banda Aceh/ Jakarta: The World Bank. World Bank. “What Are the Constraints to Inclusive Growth in Zambia?”. yang akan datang (b). 2009c. “Aceh Economic Update. World Bank. Jakarta: The World Bank. “Trucking and Illegal Payments in Aceh”. D. GAM Reintegration Needs Assessment: Enhancing Peace Through Community-Level Development Programming. “Social foundations: illegality in the construction sector in provincial Indonesia. Washington DC: World Bank World Bank. “Doing Business 2009 – Country Profile for Indonesia”. 2008e. Washington DC: The World Bank World Bank. September 2008.: World Bank. World Bank. Costs and Policy Options in the Caribbean”. 2008. 2008d. “Aceh Conflict Monitoring Update: 1 Desember 2008 – 31 Januari 2009”. Agriculture Public Spending and Growth”. 2008. “Aceh Public Expenditure Analysis Update”. 2006. 22-24 September. 2008c.” Makalah yang dipresentasikan dalam lokakarya tentang “The State and Illegality in Indonesia”. Washington DC: The World Bank. Jakarta: The World Bank World Bank. 44286-ZM. 2004. “Aceh Economic Update. Policy Note for the Indonesia Agriculture Public Expenditure Review World Bank/BRR. 2009b. Washington. “Making the New Indonesia Work for the Poor”. 2009a. Banda Aceh: World Bank. DFID Understanding Afghanistan. 2006b. 2007. Barbara F. “Growth Diagnostic Scoping Study Final Report – Technical”. “Public-Private Dialogue Promotes Change in Oil.. Jakarta: The World Bank. The World Bank: Jakarta 75 Diagnosis Pertumbuhan Aceh . 2007. “World Development Report 2009 – Reshaping Economic Geography”. Van Klinken. World Bank/KDP. Australian National University. “2006 Village Survey in Aceh: An Assessment of Village Infrastructure and Social Conditions”. Jakarta: The World Bank World Bank. “Connecting to compete: trade logistics in the global economy”. 2008. yang akan datang (a). 2006a. World Bank. “Aceh Public Expenditure Analysis – Spending for Reconstruction and Poverty Reduction”. The World Bank: Washington DC World Bank. Canberra.

.

10 Lampiran-Lampiran Lampiran I – Perkiraan hasil-hasil pendidikan Spesifikasi Aceh Sumatera Utara Sumatera Indonesia SMA vs. Nilai-nilai nasional diambil dari “laporan Kerja” (Bank Dunia.38*** (0.05) 0. Kalimantan.03) 0. Papua). variabel boneka wilayah (Sumatra. SMA = Sekolah Menengah Atas 5.03) 0.39*** (0. ** signifikan pada tingkat 5 persen.29*** (0. Sulawesi. 4. kurang berpendidikan 0.53*** (0. 3. 77 Diagnosis Pertumbuhan Aceh .02) 0.33*** (0.03) 1. kurang berpendidikan 0. variabel boneka gender. 2.04) 0. NTB/NTT/Maluku. variabel boneka perkotaan. Variabel-variabel kendali mencakup: umur dan umur kuadrat.02) 0.05 Sumber: Perhitungan staf bank berdasarkan Sakernas (Feb 2008) Catatan: 1. *** signifikan pada tingkat 1 persen. * signifikan pada tingkat 10 persen.67 Berpendidikan tinggi vs.61*** (0.05) 0. Jawa/Bali. Kesalahan-kesalahan standard (Standard errors) ada dalam tanda kurung. yang akan datang (b)).52*** (0.47 SMA dan di atas SMA vs. dan pada tingkat nasional.39*** (0.30*** (0.07) 0. kurang berpendidikan 0.

87) -1. *** signifikan pada tingkat 1 persen. 4.73) 21.73 (1. ** signifikan pada tingkat 5 persen..97) -38.02) -43.13) 1.59 (1.18) -2.08 (1.42) -0.40 (1.18 (36.25** (18. 5.47) -34.62 (11.42** (1.06 (31.29) 1.70 (17.70) -0.39) -2.63 (22.05) -1.14) 2.50) Dengan intensitas konflik -0.44) 1.97 (30.39 (2. Tim Konflik dan pembangunan Bank Dunia Catatan: 1.14) -42.03) -17.68) --- 262.65) 0.36 (14.08*** (14.18 (2.86) -2.89 (2.51 (1.17) -36. 2.71 (29.00 (2.21) Dengan insiden per 1000 0.44 (35. orang-orang yang kembali dari pengungsian.75 (1.Studi ini menggunakan indikator tersebut pada tingkatan kabupaten (lihat World Bank.66** (1.55) Investasi per karyawan (2007) Dasar -0.94) -1. Investasi dan penjualan per karyawan adalah nilai-nilai tahunan yang dinyatakan dalam juta rupiah.12 (15.54) -49.36 (41.63 (28.17 (16.37** (16.40) 1.89 (2.87 (1.33 (25.03** (16.02 (1.73* (0.39) 0.63 (1. 78 Diagnosis Pertumbuhan Aceh .57* (20. Kesalahan-kesalahan standar (Standard errors) ada dalam tanda kurung.86) -1. 6.05) -- --2.61** (17.85 (1.86) 6.13) -31. Konflik adalah indikator intensitas konflik yang dikembangkan oleh staf Bank Dunia. persepsi intensitas.13) --- 6.51) -16.25 (273.69** (0.02) -1. tahanan politik.31 (3. Insiden per 1000 adalah jumlah insiden keamanan di kabupaten/kota di mana perusahaan tersebut beroperasi dari Januari 05 – Juli 08 per 1000 penduduk.06** (0.97) Sumber: The Asia Foundation / survei KPPOD (2008). Variabel dependen (kecuali 2 yang terakhir) adalah variabel boneka yang mengindikasikan apakah responden memperkirakan bahwa tiap-tiap hambatan menghambat kinerja perusahaannya secara signifikan atau sangat signifikan.68 (36.73* (26.64) -1.40) Dengan insiden per 1000 0.14 (1.74) -41.60) -0.Lampiran-Lampiran Lampiran II – Tabel regresi: kinerja perusahaan dan permasalahanpermasalahan yang dihadapi Variabel dependen Spesifikasi Akses lahan dan kepastian hukum Pemberian surat izin usaha Interaksi pemerintah daerah dengan kalangan pengusaha Kemampuan dan integritas Utama Biaya-biaya transaksi Prasarana Penyelesaian masalah keamanan dan konflik Insiden per 1000 Intensitas konflik Penjualan per karyawan (2007) Dasar -6. 3.19** (18. dll….65) -36.61) -- --17.42) -40.69) -36. 2006c). Indikator tersebut mengukur dampak jangka panjang konflik dalam bentuk korban.71) 3.31) Dengan intensitas konflik 0.31) -45. * signifikan pada tingkat 10 persen.

11) Sumber: The Asia Foundation / survei KPPOD (2008) Catatan: 1. *** signifikan pada tingkat 1 persen.Juli 2009 Lampiran III – Uji T Kesetaraan rata-rata (T Test equality of means) Rata-rata Investasi per penjualan (2007) Untuk grup yang Untuk grup yang TIDAK melaporkan … sebagai melaporkan … sebagai sebuah hambatan sebuah hambatan Akses atas tanah dan kepastian hukum Pemberian surat izin usaha Interaksi pemerintah daerah dengan kalangan pengusaha Kemampuan dan integritas Utama Biaya-biaya transaksi Prasarana Penyelesaian masalah keamanan dan konflik 0.06 (0.22 0. ** signifikan pada tingkat 5 persen.57) 0 (0. Kesalahan-kesalahan standar (Standard errors) ada di dalam tanda kurung.19 0.07) -0.19 0.06 0. 3. Kategori-kategori di sini mengindikasikan apakah responden memperkirakan bahwa tiap-tiap hambatan menghambat kinerja perusahaannya secara signifikan atau sangat signifikan.10) 0.11 0.07 (0.7 0.55 (0.07) 0.18 Selisih -0.07) -0.21 0. * signifikan pada tingkat 10 persen.08 (0.11) -0. 2. 79 Diagnosis Pertumbuhan Aceh .16 0.15 0.09 (0.25 0.15** (0.11 0.19 0.2 0.

600889 -0. Variabel dependen di sini adalah saham perusahaan-perusahaan di sebuah kabupaten yang telah meningkatkan penjualan per pegawai mereka pada 2006-07.000976 Lebih Rendah 95.002768 Sumber: The Asia Foundation / survei KPPOD (2008). signifikan pada tingkat 10 persen.380964 0.166216 20 Statistik t 11. Koefisien variabel independen.097479 Lebih rendah 95% 0.402 -1. jumlah insiden keamanan.145134 0.711608 0.0527 0.14E-09 0.490169 -0. tim konflik dan pembangunan World Bank Catatan: 1.000976 Kesalahan Standar 0.0% 0.01065 Lebih Tinggi 95% 0.01065 Lebih Tinggi 95.711608 0.Lampiran-Lampiran Lampiran IV – Insiden-Insiden keamanan dan pertumbuhan Statistik Regresi Regresi Berganda Regresi Kuadrat Regresi Kuadrat yang Disesuaikan Kesalahan Standar Observasi Koefisien Konstanta Variabel X 0. 3. 80 Diagnosis Pertumbuhan Aceh .0% 0.748 Nilai P 1.490169 -0.097641 0. 2.00484 0. Variabel independen adalah jumlah insiden keamanan yang terjadi di sebuah kabupaten pada tahun 2005-06.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful