Stroke Hemoragik A.

PENDAHULUAN Penyakit yang timbul akibat lesi vaskular di susunan saraf merupakan penyebab kematian nomor tiga dalam urutan daftar kematian di Amerika Serikat. Sebagai masalah kesehatan masyarakat, penyakit itu merupakan juga penyebab utama cacat menahun dan kematian nomor dua dunia. Penyakit ini telah menjadi masalah kesehatan mendunia dan semakin penting terutama di negara-negara berkembang. Secara global, pada saat tertentu sekitar 80 juta orang menderita stroke. Terdapat sekitar 13 juta korban stroke baru setiap tahunnya, dimana sekitar 4,4 juta meninggal dalam 12 bulan.(1) Stroke merupakan gangguan fungsi saraf yang disebabkan oleh gangguan aliran darah dalam otak yang dapat timbul secara mendadak (dalam beberapa detik) atau secara cepat (dalam beberapa jam) dengan gejala atau tanda yang sesuai dengan daerah yang terganggu sebagai hasil dari infark cerebri (stroke iskemik), perdarahan intraserebral atau perdarahan subarachnoid.. Stroke hemorragik adalah stroke yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak yang menyebabkan pengeluaran darah ke parenkim otak, ruang cairan cerebrospinal di otak, atau keduanya. Adanya perdarahan ini pada jaringan otak menyebabkan terganggunya sirkulasi di otak yang mengakibatkan terjadinya iskemik pada jaringan otak yang tidak mendapat darah lagi, serta terbentuknya hematom di otak yang mengakibatkan penekanan. Proses ini memacu peningkatan tekanan intrakranial sehingga terjadi shift dan herniasi jaringan otak yang dapat mengakibatkan kompresi pada batang otak.(12) Stroke dahulu dianggap sebagai penyakit yang tidak dapat diduga yang dapat terjadi pada siapa saja, dan sekali terjadi tidak ada lagi tindakan efektif yang dapat dilakukan untuk mengatasinya. Namun, data-data ilmiah terakhir secara meyakinkan telah membuktikan hal yang sebaliknya. Selama dekade terakhir telah terjadi kemajuan besar dalam pemahaman mengenai faktor resiko, pencegahan, pengobatan, dan rehabilitasi stroke. (1,2)

B.

ETIOLOGI Penyebab stroke antara lain aterosklerosis( trombosis), embolisme, hipertensi yang menimbulkan perdarahan intraserebral dan rupture aneurisma . Stroke biasanya disertai satu atau

Penyakit liver C. Leukemia 2. setiap penambahan usia 3 tahun meningkatkan risiko stroke sebesar 11-20%. Resiko terkena stroke meningkat sejak usia 45 tahun. Pecahnya aneurisma 3. FAKTOR RESIKO Berbagai faktor resiko berperan bagi terjadinya stroke antara lain: a. Infeksi (meningoensefalitis) b. Pecahnya malformasio arterio-venosa 4. atau penyakit vaskuler perifer. peningkatan lemak dalam darah. Pembuluh darah yang tidak normal tersebut dapat pecah atau robek sehingga menimbulkan perdarahan otak. Ekstrakranial : 1. Anemia 4. penyakit jantung. biasanya merupakan kelainan bawaan. 2. Adapula yang dapat mengganggu kelancaran aliran darah otak sehingga menimbulkan iskemik. Hemofilia 3. Jenis kelamin dan penuaan. yaitu : Kelainan pembuluh darah otak.beberapa penyakit lainnya yang menjadi faktor resiko seperti hipertensi. Obat-obat antikoagulan 5. . Intrakranial : 1. 1. Setelah mencapai 50 tahun. Faktor resiko yang tak dapat dimodifikasi. diabetes mellitus. Perdarahan intraserebral primer (hipertensiva) 2. Tumor otak (primer/metastasis) 6. pria berusia 65 tahun memiliki resiko terkena stroke iskemik ataupun perdarahan intraserebrum lebih tinggi sekitar 20 % daripada wanita. (3) Adapun penyebab perdarahan pada stroke hemoragik(4) : a. Penyakit moya-moya 5. dengan peningkatan bertambah seiring usia terutama pada pasien yang berusia lebih dari 64 tahun dimana pada usia ini 75% stroke ditemukan.

dan kelainan pembuluh darah. makin lanjut usia seseorang makin tinggi kemungkinan terjadinya hipertensi. Serangan iskemik sesaat.000 jiwa dengan tingkat kematian mencapai 51% sedang pada wanita negro memiliki insidens 79 per 100. Lelaki kulit putih memiliki insidens 62. diabetes mellitus. Faktor resiko yang dapat di modifikasi yaitu : 1. merupakan faktor resiko utama bagi terjadinya trombosis infark cerebral dan perdarahan intrakranial. Pecahnya pembuluh darah otak menimbulkan perdarahan otak. 5.2%. Riwayat keluarga dan genetika. penyakit jantung.5.3% sedang pada wanita kulit putih memiliki insidens 59 per 100. 4. diabetes.(2. obesitas ataupun hiperkolesterolemia.6) 4.4. Penyakit jantung.2%. 3.000 jiwa dengan tingkat kematian 39. namun gen berperan besar dalam beberapa faktor risiko stroke misalnya hipertensi.8 per 100. sekitar 1 dari 100 orang dewasa akan mengalami paling sedikit satu kali serangan iskemik sesaat ( transient ischemic attack atau TIA) seumur hidup mereka. dan sekitar sepertiga akn terkena stroke dalam lima tahun setelah serangan pertama. Hipertensi mengakibatkan pecahnya maupun menyempitnya pembuluh darah otak. dan gangguan irama jantung.000 jiwa dengan tingkat kematian 39. insidens stroke lebih tinggi pada populasi kulit hitam daripada populasi kulit putih. dan apabila pembuluh darah otak menyempit maka aliran darah ke otak terganggu mengakibatkan sel-sel otak mengalami kematian. b. . Ras Di Amerika Serikat.000 jiwa dengan tingkat kematian mencapai 26. Hipertensi. Lelaki negro memiliki insidens 93 per 100. Usia 30 tahun merupakan kewaspadaan terhadap munculnya hipertensi. meningginya kadar kolesterol dalam darah. penyakit diabetes mellitus menyebabkan penebalan dinding pembuluh darah otak yang berukuran besar dan akhirnya mengganggu kelancaran aliran darah otak dan menimbulkan infark otak. Faktor resiko ini umumnya menimbulkan sumbatan/hambatan darah ke otak karena jantung melepas gumpalan darah atau sel-sel/jaringan yang mati ke dalam aliran darah. 2. beberapa penyakit jantung berpotensi menyebabkan stroke dikemudian hari antara lain: penyakit jantung rematik.3. Jika tidak diobati dengan benar. terutama LDL merupakan faktor resiko penting bagi terjadinya aterosklerosis sehingga harus segera dikoreksi. sekitar sepersepuluh dari pasien ini akan mengalami stroke dalam 3 bulan serangan pertama. kelainan turunan sangat jarang menjadi penyebab langsung stroke. Munculnya penyakit jantung dapat disebabkan oleh hipertensi. penyakit jantung koroner. Diabetes mellitus. Hiperkolesterolemia.

terjadinya infark hemoragik yang telah lama diketahui adalah adanya reperfusi oleh pembuluh darah setelah oklusi hilang. Obesitas. Pada usia lebih dari 65 tahun penyumbatan atau penyempitan dapat disebabkan oleh aterosklerosis. Hampir 85% stroke nonhemoragik disebabkan oleh sumbatan bekuan darah. stroke Hemoragik di bagi atas : . Infark hemoragik. Diasumsikan bahwa adanya tekanan baru arteri pada kapiler-kapiler menyebabkan terjadinya diapedesis eritrosit melalui dinding kapiler yang hipoksia.6.8) 2. merokok dapat meningkatkan konsentrasi fibrinogen. Merokok. semakin rusak pula dinding kapiler dan makin memperbanyak kemungkinan daerah infark hemoragik. penyempitan arteri/ beberapa arteri yang mengarah ke otak. Semakin sering terjadi reperfusi. Ini adalah jenis stroke yang sangat mematikan. Infark nonhemoragik/iskemik. peningkatan ini akan mempermudah terjadinya penebalan dinding pembuluh darah dan peningkatan viskositas darah sehingga memudahkan terjadinya aterosklerosis. Menurut WHO dalam International Statistical Classification of Disease and Related Health Problems 10th Revision. mencegah adanya reperfusi pada organ yang infark sehingga menyebabkan terjadinya keadaannya anemia atau iskemik Secara patologi didapatkan infiltrasi leukosit selama beberapa hari terutama pada daerah tepi infark. Berbeda dengan infark nonhemoragik secara patologik pada infark hemoragik ditemukan banyak eritrosit di sekeliling daerah nekrosis yang umumnya menetap lebih lama yaitu beberapa jam sampai 2 minggu ataupun setelah oklusi arteri.8) 1. umumnya disebabkan oleh trombus yang menyebabkan oklusi menetap.(2. D. 7. masih menjadi perdebatan apakah suatu faktor resiko stroke atau bukan. Obesitas merupakan faktor resiko terjadinya penyakit jantung sehingga obesitas mungkin menjadi faktor resiko sekunder bagi terjadinya stroke. KLASIFIKASI STROKE Secara garis besar stroke dibagi menjadi dua yaitu infark non hemoragik/iskemik dan hemoragik. embolus (kotoran) yang terlepas dari jantung atau arteri ekstrakranium yang menyebabkan sumbatan di satu atau beberapa arteri ekstrakranium. berat badan berlebih. Eritrosit sangat jarang ditemukan.(7. tetapi relatif hanya menyusun sebagian kecil dari stroke total (10-15% untuk perdarahan intraserebrum dan 5% untuk perdarahan subarakhnoid). Makrofag menginvasi daerah infark dan aktif bekerja sampai produk-produk infark telah dibersihkan selama periode waktu tertentu ( beberapa minggu).

8) Pada perdarahan intraserebral. Penyebab perdarahan subarachnoid : - Aneurisma (70-75%) Malformasi arterivenous (5%) Antikoagulan ( < 5%) Tumor ( < 5% ) Vaskulitis (<5%) Tidak di ketahui (15%) E. INSIDENS DAN EPIDEMIOLOGI .(7. Adapun penyebab perdarahan intraserebral : 2. perdarahan terjadi di sekeliling otak hingga ke ruang subarachnoid dan ruang cairan serebrospinal. perdarahan terjadi pada parenkim otak itu sendiri. Perdarahan Intraserebral Perdarahan intraserebral biasanya disebabkan suatu aneurisma yang pecah ataupun karena suatu penyakit yang menyebabkan dinding arteri menipis dan rapuh seperti pada hipertensi dan angiopati amiloid. Pada perdarahan subarachnoid.1. Hipertensi (80%) Aneurisma Malformasi arteriovenous Neoplasma Gangguan koagulasi seperti hemofilia Antikoagulan Vaskulitis Trauma Idiophatic (6) Perdarahan Subarachnoid Perdarahan subarachnoid merupakan perdarahan yang terjadi di rongga subarachnoid. Perdarahan subarachnoid terdiri dari 5% dari semua kejadian stroke. Perdarahan ini kebanyakan berasal dari perdarahan arterial akibat pecahnya suatu aneurisma pembuluh darah serebral atau AVM yang ruptur di samping juga sebab-sebab yang lain.

terutama pada trimester ketiga kehamilan. Selama kehamilan. stroke adalah penyebab kematian nomor tiga di negara-negara industri di Eropa. terutama pada eklampsia yaitu sekitar 40% dari kasus perdarahan intraserebral pada kehamilan. hanya 80. Populasi yang terkena kasus perdarahan subarachnoid bervariasi dari 6 ke 16 kasus per 100. Proses aterosklerosis ditandai dengan adanya plak berlemak pada lapisan intima arteria besar. Insidens global stroke diperkirakan akan semakin meningkat sejak populasi manula berusia lebih dari 65 tahun meningkat dari 390 juta jiwa menjadi 800 juta jiwa yang diperkirakan pada tahun 2025. Insidens Perdarahan Intraserebral (PIS) dari keseluruhan kasus stroke adalah lebih tinggi di Asia dan lebih rendah di Amerika Serikat. pons (8%). Perdarahan intraserebral adalah penyebab utama kecacatan dan kematian dan mencakup 10-15% dari kasus stroke pada orang kulit putih dan sekitar 30% pada orang kulit hitam dan Asia. Sedangkan stroke hemoragik mencakup 15% dari seluruh kasus stroke. Lokasi dari perdarahan intraserebral adalah putamen(40%). PATOFISIOLOGI Aterosklerosis atau trombosis biasanya dikaitkan dengan kerusakan lokal pembuluh darah akibat aterosklerosis.Di Eropa.000 kasus adalah stroke hemoragik. sedangkan sel-sel ototnya menghilang. dengan jumlah kasus tertinggi di laporkan di Finlandia dan Jepang. cerebellum (8%) dan caudate (7%). sehingga lumen pembuluh darah sebagian terisi oleh materi sklerotik. termasuk kasus baru dan kasus rekuren.000 per tahun bervariasi dari 6 kasus di Kuwait hingga 411 di China.000 kasus stroke terjadi setiap tahun. Insidens perdarahan subarachnoid meningkat seiring umur dan lebih tinggi pada wanita daripada laki-laki. Di USA. resiko untuk terjadinya rupture malformasi arteriovenous meningkat.(12. menyebabkan kecacatan dan kematian. Stroke iskemik adalah tipe yang paling sering ditemukan. Trombosit yang menghasilkan enzim mulai melakukan . lobar(22%). Plak cenderung terbentuk pada daerah percabangan ataupun tempat-tempat yang melengkung. Bagian intima arteri serebri menjadi tipis dan berserabut.(12) F. Perdarahan Subarachnoid biasanya didapatkan pada usia dewasa muda baik pada laki-laki maupun perempuan.14) Kehamilan dapat meningkatkan factor resiko terkena stroke hemoragik. kira-kira 85% dari seluruh kasus stroke. sebanyak 705. Dari semua kasus tersebut. Estimasi insidens perdarahan intraserebral per 100.000. Lamina elastika interna robek dan berjumbai. (12) Perdarahan Subarachnoid memiliki kasus yang signifikan di seluruh dunia. thalamus (15%).

Pada lonjakan tekanan darah sistemik seperti sewaktu orang marah. nafas mendengkur dalam sekali dan . Pada saat itu juga. aneurismata tersebut berkembang terutama pada rami perforantes arteria serebri media yaitu arteria lentikolustriata. Meskipun lebih jarang terjadi embolus juga mungkin berasal dari plak ateromatosa sinus karotis atau arteri karotis interna. orangnya jatuh pingsan. Karena sebab-sebab yang belum jelas.(3) Emboli kebanyakan berasal dari suatu thrombus dalam jantung. Aneurisma tersebut timbul pada orang-orang dengan hipertensi kronik. yang biasanya menimbulkan hemiparalisis. sehingga jaringan yang terletak di dekatnya akan tergeser dan tertekan. Karena perubahan degeneratif itu dan ditambah dengan beban tekanan darah tinggi. Ekstravasasi darah terjadi di daerah otak dan/atau subarakhnoid. temapt yang paling sering terserang emboli serebri adalah arteri serebri media.(4. Sumbat fibrinotrombosit dapat terlepas dan membentuk emboli atau dapat tetap tinggal di tempat dan menutup arteri secara sempurna. pernapasan. tekanan darah sistemik dan nadi. Daerah infark itu tidak berfungsi lagi sehingga menimbulkan deficit neurologik.10) Arteri yang sering pecah adalah arteria lentikulostriata di wilayah kapsula interna. Perdarahan intraserebral sebagian besar terjadi akibat hipertensi dimana tekanan darah diastoliknya melebihi 100 mmHg. sebagai hasil proses degeneratif pada otot dan unsure elastic dari dinding arteri. dengan kata lain hal merupakan perwujudan dari masalah jantung.proses koagulasi dan menempel pada permukaan dinding pembuluh darah yang kasar. Dan darah ekstravasal yang tertimbun intraserebral merupakan hematom yang cepat menimbulkan kompresi terhadap seluruh isi tengkorak berikut bagian rostral batang otak. Hipertensi kronik dapat menyebabkan pecah/ruptur arteri serebri. Keadaan demikian menimbulkan koma dengan tanda-tanda neurologik yang sesuai dengan kompresi akut terhadap batang otak secara rostrokaudal yang terdiri dari gangguan pupil. Dinding arteri yang pecah selalu menunjukkan tanda-tanda bahwa disitu terdapat aneurisme kecilkeci yang dikenal sebagai aneurisme Charcot Bouchard. terutama bagian atas. Daerah distal dari tempat dinding arteri pecah tidak lagi kebagian darah sehingga daerah tersebut menjadi iskemik dan kemudian menjadi infark yang tersiram darah ekstravasal hasil perdarahan. maka timbullah beberapa pengembungan kecil setempat yang dinamakan aneurismata Charcot Bouchard. Apa yang dilukis diatas adalah gambaran hemoragia intraserebral yang di dalam klinik dikenal sebagai apopleksia serebri atau hemorrhagic stroke. aneurima kecil itu bisa pecah. mengeluarkan tenaga banyak dan sebagainya.

maka terjadilah perdarahan yang menimbulkan gambaran penyakit yang menyerupai perdarahan intraserebral akibat pecahnya aneurisma Charcor Bouchard. sehingga dinamakan juga aneurisme sakular (berbentuk seperti saku) congenital. Aneurisme yang terletak di system vertebrobasiler paling sering dijumpai pada pangkal arteria serebeli posterior inferior. Apabila oleh lonjakan tekanan darah atau karena lonjakan tekanan intraandominal. Aneurisme juga dapat berkembang akibat trauma. Konservatif . Pasien dengan stroke hemoragik harus dirawat dalam ruangan khusus. Maka perdarahan akibat pecahnya aneurisme ekstraserebral yang berimplikasi juga bahwa aneurisme itu terletak subarakhnoidal. (10) Pada orang-orang muda dapat juga terjadi perdarahan akibat pecahnya aneurisme ekstraserebral.10) G. yang biasanya langsung bersambung dengan vena. maka stroke hemorrhagic ini juga dikenal sebagai “stress stroke”. sehingga membentuk “shunt” arteriovenosus. yang karena beban tekanan darah tinggi dapat menggembung. Pada umumnya factor presipitasi tidak jelas. pangkal arteria komunikans anterior dan tempat percabangan arteria serebri media di bagian depan dari sulkus lateralis serebri. Oleh karena stress yang menjadi factor presipitasi. dinamakan hemoragia subduralis spontanea atau hemoragia subdural primer. Aneurisme tersebut biasanya congenital dan 90% terletak di bagian depan sirkulus Willisi. dan pada percabangan arteria basilaris terdepan. aneurisma ekstraserebral itu pecah. sehingga dengan demikian terbentuklah suatu aneurisme.(11) Penatalaksaan pasien dengan infark hemoragik terdiri atas dua yaitu: 1. yang merupakan pangkal arteria serebri posterior. PENATALAKSANAAN Penanganan tepat dan segera pada pasien dengan infark hemoragik merupakan penanganan kegawatdaruratan. Aneurisme berkembang dari dinding arteri yang mempunyai kelemahan pada tunika medianya. (4. Tempat ini merupakan tempat dengan daya ketahanan yang lemah (lokus minoris resistensiae).memperlihatkan tanda-tanda hemiplegia. Tiga tempat yang paling sering beraneurisme adalah pangkal arteria serebri anterior. Fakta bahwa hampir selalu aneurisme terletak di daerah percabangan arteri menyokong anggapan bahwa aneurisme itu suatu manifestasi akibat gangguan perkembangan embrional.

Beberapa peneliti menyarankan penurunan tekanan darah menuju tekanan darah rata-rata harus dilakukan perlahan hingga . Analisa gas darah harus diukur pada pasien dengan gangguan kesadaran  Keseimbangan cairan. Penurunan tekanan darah pada stroke akut dapat mencegah terjadinya perdarahan ulangan. · Kontrol hipertensi melalui pemberian antihipertensi Manajemen pasien stroke hemoragik disertai hipertensi masih kontroversi. Amankan jalan napas dan pernapasan. Demam merupakan prediktor bagi prognosis buruk sehingga harus ditemukan penyebabnya. Mereka menemukan bahwa konsentrasi serum albumin mempunyai hubungan signifikan dengan komplikasi infeksi dan merupakan prediktor independen kematian dalam waktu 3 bulan. Jika demam. · · · Follow up ketat Mannitol dan diuretik berguna untuk menurunkan tekanan intrakranial lebih cepat. Monitoring keseimbangan cairan dan elektrolit perlu dilakukan. . Intubasi endotrakeal dilakukan pada pasien dengan koma yang tidak dapat mempertahankan jalan napas dan pasien dengan gagal pernapasan. berikan acetominofen dan kompres mekanik. dan pemberian diuretik ataupun obat-obat lainnya. regimen nutrisi yang tidak adekuat. Pilihan terapi enteral/ cairan isotonik intravena. malnutrisi merupakan faktor independen bagi prognosis buruk pada pasien stroke. subsitusi cairan/elektrolit yang tidak seimbang. 130 mmHg namun penurunan tekanan darah lebih darah 20% harus dicegah dan tekanan darah tidak boleh turun lebih dari 84 mmHg. · Keadaan hiperglikemia menunjukkan adanya cedera sel-sel saraf ataupun pemberian tissue plasminogen activator (rt-PA) pada iskemik akut yang memicu peninggian serum glukosa. Hasil penelitian yang sama oleh Gariballa dan kawan-kawan bahwa status nutrisi mempengaruhi perburukan pasien secara signifikan selama periode tertentu.  Nutrisi. Penelitian ini menunjukkan pentingnya suplai kalori dan protein adekuat pada pasien stroke akut. Menurut penelitian Davaks dan kawan-kawan. Jika perlu pemberian intubasi dan hiperventilasi mekanik. Hal ini disebabkan oleh respon simpatis terhadap adanya injuri neuron akibat iskemik ataupun hemoragik. namun dilain pihak hal ini dapat mencetuskan iskemik perihematomal. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit mudah ditemui pada pasien-pasien ICU.

mudah segera dikeluarkan dan kecil kemungkinan menimbulkan defisit neurologis. Walaupun terdapat indikasi-indikasi jelas bahwa pasien memerlukan suatu tindakan operatif ataupun tidak. (14) .(4) Kontraindikasi tindakan operasi terhadap kasus-kasus perdarahan intraserebral adalah hematom yang terletak jauh di dalam otak (dekat kapsula interna) mengingat biasanya walaupun hematomnya bisa dievakuasi. (4) Operasi juga tidak dipertimbangkan pada pasien dengan volume hematoma sedikit dan defisit fokal minimal tanpa gangguan kesadaran. dan transfusi darah. Sebagai contoh pasien usia muda dengan perdarahan intraserebral pada hemisfer nondominan yang awalnya sadar dan berbicara kemudian keadaannya memburuk secara progresif dengan perdarahan intraserebral area lobus memerlukan penanganan operatif. b. seringkali mudah diangkat dan tidak memperburuk defisit neurologis. Intervensi bedah pada kasus-kasus demikian adalah : a. transfusi platelet. masih terdapat daerah ”abu-abu” diantaranya.(12) Penatalaksaan operatif pada pasien dengan perdarahan intraserebral masih kontroversi. Pasien yang masih dapat tetap bertahan setelah iktus awal setelah beberapa hari.· Mencegah diatesis perdarahan dengan pemberian plasma darah.13) 2. antihemofilik. Hematom intraserebral yang letaknya supericial. Dalam hal ini biasanya dapat segera dilakukan operasi pada hari-hari pertama. di mana pada saat itu bekuan sudah mulai mencair dan memungkinkan untuk di aspirasi sehingga massa desakan atau defisit dapat dikurangi. Hematom intraserebeler. pasien usia lanjut dengan perdarahan intraserebral luas pada hemisfer dominan disertai perluasan ke area talamus dan berada dalam kondisi koma tergambar memiliki prognosis jelek sehingga tindakan operatif tidak perlu dipertimbangkan. (14) Tindakan pembedahan untuk evakuasi atau aspirasi bekuan darah pada stadium akut kurang begitu menguntungkan. Hal inilah yang menjadi ketidakmenentuan mengenai indikasi apakah operasi diperlukan atau tidak. tindakan ini malahan menambah kerusakan otak. vitamin K. c. Sebaliknya. · · · · Operasi Drainase hematoma – drainase stereotaktik atau evakuasi operasi Drainase ventrikular atau shunt Evakuasi perdarahan malformasi arterivenous atau tumor Memperbaiki aneurisma.12. Hal tersebut diatas menunjukkan indikasi jelas mengapa seseorang memerlukan tindakan operatif atau tidak.(11.

Insisi Linear.(14) Gambar 2. ahli bedah lebih memilih melakukan operasi jika perdarahan intraserebral terletak pada hemisfer nondominan. B.(15) . keadaan pasien memburuk. Kraniotomi (14) Mayoritas ahli bedah saraf masih memilih kraniotomi untuk evakuasi hematoma. Flap lebar tulang kranium pada Hemicraniotomi dan dekompresi operasi untuk infrak area arteri cerebri media.Jenis-jenis operasi pada stroke hemoragik antara lain: 1. Insisi kulit pada suboksipital kraniotomi dan drainase ventrikular. Gambar 1. dan jika bekuan terletak pada lobus dan superfisial karena lebih mudah dan kompresi yang lebih besar mungkin dilakukan dengan resiko yang lebih kecil. Secara umum. A. Insisi question mark untuk kepentingan kosmetik. Beberapa ahli bedah memilih kraniotomi luas untuk mempermudah dekompresi eksternal jika terdapat udem serebri yang luas.

Aspirasi dengan bantuan USG Hondo dan Lenan melaporkan keberhasilan penggunaan aspirator USG pada aspirasi stereotaktik perdarahan intracerebral supratentorium. Prosedur Sub-sekuen Kraniotomi.Gambar 3. Endoskopi Melalui penelitian Ayer dan kawan-kawan dikatakan bahwa evakuasi hematoma melalui bantuan endoskopi memberikan hasil lebih baik.(16) 2. Namun cara ini belum melalui penelitian prospektif luas dan patut dicatat bahwa melalui penelitian observasi menunjukkan prognosis buruk. 3. Trombolisis intracavitas Blaauw dan kawan-kawan melalui penelitian prospektif kecil meneliti pasien perdarahan intraserebral supratentorial dengan memasukkan urokinase pada kavitas serebri (perdarahan intraserebri) dan setelah menunggu periode waktu tertentu kemudian melakukan aspirasi. 4. walaupun pada beberapa pasien menunjukkan keberhasilan. pada laporan observasi lainnya penggunaan endoskopi dengan tuntunan stereotaktik dan ultrasonografi memberikan hasil memuaskan dengan evakuasi hematoma lebih sedikit (volume < 30 ml) namun teknik ini belum banyak diaplikasikan dan validitasnya belum dibuktikan. Pasien perdarahan intraserebral dengan ruptur menuju ke ventrikel drainase ventrikular eksternal mungkin berguna. namun prosedur ini masih diobservasi. (13) . Namun penelitian ini dinyatakan tidak berpengaruh pada angka mortalitas.

dan proton menginduksi deposisi kolagen subendotelial dan substansi hialin yang menyempitkan lumen pembuluh darah kecil dan mengerutkan AVM dalam beberapa bulan setelah terapi. perdarahan. Apabila perdarahan intraserebral di terapi secara konservatif biasanya ahli bedah saraf memilih menunggu 6-8 minggu dahulu karena operasi dapat mencetuskan AVM yang terletak pada dinding perdarahan intraserebral. yaitu pneumonia. dan komplikasi yang muncul di kemudian hari.(11. Pada perdarahan intraserebral yang luas biasanya muncul dalam 12 jam setelah penanganan. infeksi traktus urinarius. Komplikasi postfibrinolitik di sekeliling pusat perdarahan. Penanganan ini berguna untuk lesi yang tidak dapat terjangkau melalui operasi ataupun tambahan pengangkatan pada operasi. 2. defisit fungsi kongnitif. 1. dan kombinasi diantaranya. kehilangan regulasi temperatur. Radioterapi. Eksisi langsung AVM semakin berkembang dengan adanya mikroskop operasi sehingga menurunkan resiko kecacatan dan kematian. 3. Pilihan penanganan operatif pada AVM antara lain: pengangkatan endovaskular. biasanya dalam 72 jam. Komplikasi yang dapat berkembang yaitu perdarahan. dan angionekrosis karena toksisitas materi emboli. trombosis vena dalam dan emboli pulmonal. KOMPLIKASI Komplikasi stoke dapat di bagi menjadi komplikasi akut. teknik ini menggunakan energi tinggi x-ray.13) 1. 2. peningkatan TIK dan kemungkinan herniasi. kontraktur. komplikasi cara ini berupa radionekrosis jaringan otak normal. luka dekubitus. Perdarahan potensial yang lain juga dapat muncul di traktus gastrointestinal. Komplikasi mayor eksisi langsung seperti kehilangan jaringan otak normal beserta fungsi neurologisnya yang dikenal dengan breakthrough phenomenon. masalah sendi dan malnutrisi. stereotaxic radiosurgery.13) H. gamma. kejang post terapi. hidrosefalus. Komplikasi akut berupa edema serebri. eksisi. .Perdarahan intraserebral dan subarahnoid biasanya dikaitkan dengan adanya malformasi arterivenous (AVM). spasme. Pengangkatan endovaskular menggunakan teknik embolisasi dapat dilakukan sebelum ataupun saat berlangsungnya operasi. Jika lesi dapat terlihat maka evakuasi perdarahan harus dilakukan sehingga perdarahan tidak terkontrol dari AVM dapat diatasi. 3.(12. Komplikasi subakut. pneumonia aspirasi dan kejang.iskemik. traktus genitourinarius dan kulit terutama di sekitar pemasangan intravenous line.

(12) . Pasien dengan hematoma kecil. Hal ini dapat diatasi dengan identifikasi dan penanganan dini depresi pada pasien untuk meningkatkan kualitas hidup penderita. Jika tidak di terapi segera. pasien dapat bertahan dengan resiko perdarahan ulangan pada beberapa hari/minggu berikut setelah perdarahan subarahnoid pertama. Namun jika perdarahan terbatas. Pasien dengan perdarahan subarahnoid masif sejak awal dapat berakhir dengan kematian ataupun kerusakan otak. I. perdarahan subarahnoid yang disebabkan oleh ruptur AVM beresiko terhadap perdarahan ulangan pada 24 jam sesudahnya. dan kecepatan perkembangan hematoma.4. 1-2 % 1 bulan sesudahnya. PROGNOSIS Angka kesembuhan pada perdarahan intraserebral bergantung pada lokasi. ukuran. Penyembuhan pasien dengan perdarahan intraserebral biasanya disertai defisit neurologis. berlokasi jauh ke dalam dan dekat dengan midline sering diikuti dengan herniasi sekunder dan massa sehingga mortalitasnya tinggi. dan sebesar 3 % terjadi 3 bulan setelah serangan awal. beberapa orang yang selamat dari stroke juga mengalami depresi. Evaluasi dan penanganan pasien dengan perdarahan subarahnoid harus segera diberikan untuk mencegah prognosis buruk pasien.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful