P. 1
Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan Auksin

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan Auksin

|Views: 2,115|Likes:
Published by Rizky Yanuarista

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Rizky Yanuarista on Apr 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/15/2014

pdf

text

original

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN PENGARUH HORMON TERHADAP PERTUMBUHAN AKAR RIZKY YANUARISTA (1509 100 027) KELOMPOK

VII JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA 2011 ABSTRAK Pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Salah satu faktor internal adalah hormon. Hormon tumbuhan adalah senyawa organik yang disintesis di salah satu bagian tumbuhan dan dipindahkan ke bagian lain, dan pada konsentrasi yang sangat rendah mampu menimbulkan suatu respons fisiologis. Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kadar IAA terhadap jumlah akar. Tanaman yang digunakan adalah Piper betle yang dipotong-potong batangnya. Setiap potongan batang Piper betle direndam dalam larutan IAA dengan konsentrasi yang berbeda yaitu 0,1 ppm, 1 ppm, 10 ppm, dan 100 ppm serta direndam dalam air kran (sebagai kontrol). Perendaman dilakukan selama 1 jam. Kemudian batang tanaman dimasukkan dalam botol Nescafe yang telah diisi air kran sebanyak 200ml. Botol Nescafe yang digunakan sebanyak sepuluh buah, lima botol ditutup dengan kertas karbon (sebagai tempat gelap) dan lima botol tidak ditutupi (sebagai tempat terang). Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pada tempat terang, pertumbuhan akar yang paling banyak terdapat pada perlakuan dengan perendaman IAA konsentrasi 1 ppm. Sedangkan pada tempat gelap, pertumbuhan akar yang paling banyak terdapat perlakuan dengan perendaman IAA konsentrasi 100 ppm. Untuk variable kontrol pada tempat gelap, tumbuh akar. Sedangkan pada tempat terang, variable kontrolnya tidak tumbuh akar. Kata kunci : Piper betle, auksin, batang. ABSTRACT Plant growth and development is influenced by two factors: domestic factors and external factors. One internal factor hormone. Plant hormones are organic compounds which are synthesized in one part of the factory and moved to another part, and at very low concentrations can cause a physiological reaction. This laboratory aims to determine the effect of geteroauksina on the number of roots levels. Plants used in Piper betle cut stem. Every part of Piper betle rods immersed in a solution of IAA with different concentrations of 0.1 ppm, 1 ppm, 10 ppm, and 100 ppm and soaked in tap water (as control). Soaking performed for 1 hour. Then the stems of plants included in the Nescafe bottle filled with tap water that has been as much as 200ml. Nescafe bottle used as many as ten pieces, five bottles covered with carbon paper (as a dark spot) and five bottles are not covered (as a bright spot). Observations show that in the light, root growth is most numerous in the treatment of diving with IAA of 1 ppm concentration. While the growth of the dark roots of the most widely available treatments soak IAA 100 ppm concentration. For the control in a dark place variables, to put down roots. While in control of brightness, the variable does not take root. Keyword : Piper betle, auxin, stem.

PENDAHULUAN Hormon tumbuhan atau lebih sering disebut fitohormon merupakan senyawa organik yang disintesis di salah satu bagian tumbuhan untuk dipindahkan ke bagian lain dan mampu menimbulkan suatu respon fisiologis meskipun konsentrasinya rendah. Respon pada organ sasaran tidak perlu bersifat memacu karena proses seperti pertumbuhan ataupun diferensiasi terkadang malah terhambat oleh suatu hormon. Karena itulah dapat dikatakan bahwa setiap hormon mempengaruhi respon pada beberapa bagian tumbuhan dan respon tersebut bergantung pada spesies, bagian tumbuhan, fase tumbuh, interaksi antar hormon, serta beberapa faktor lingkungan (Salisbury, 1999). Permasalahan yang dihadapi dalam praktikum ini adalah bagaimana caranya mengetahui pengaruh kadar IAA terhadap jumlah akar dan panjang akar. Tujuan dari praktikum ini adalah mengetahui pengaruh kadar IAA terhadap jumlah dan panjang akar.

Gambar 1 : Piper betle Klasifikasi Regnum Divisio Classis Ordo Familia Genus Species

:Plantae :Spermatophyta :Dicotiledoneae :Piperales :Piperaceae :Piper :Piper betle (Tjitrosoepomo, 2010).

Deskripsi Tanaman sirih mempunyai sistem perakaran serabut. Dan pada pada akar tanaman sirih memiliki bagian-bagian seperti batang akar, cabang akar dan serabut akar. Akar pada tanaman sirih merupakan suatu modifikasi untuk memenuhi fungsinya dari akar yang disebut akar pelekat yaitu akar-akar yang keluar pada buku-buku batang tumbuhan memanjat dan berguna untuk melekatkan diri pada penunjangnya (Tjitrosoepomo, 2010). Pola pembentukan akar lateral merupakan suatu proses perkembangan yang kompleks diatur secara ketat untuk mencapai efisien dan akuisisi nutrisi dari kelembaban tanah. Pada kebanyakan tanaman akar primer Eudicotylédones hanya terbentuk di dalam embrio dan muncul selama perkecambahan biji. Setelah perkecambahan, Pericycle sel-sel di akar menjadi kompeten untuk menjalani serangkaian divisi yang tepat, dan membentuk primordia akar lateral. Akar lateral muncul melalui jaringan akar induk, memanjang, dan pada gilirannya telah bercabang, sehingga memungkinkan tanaman untuk menggambarkan sistem akar mereka dan untuk menjelajahi volume besar tanah. Isyarat lingkungan tampaknya memainkan peran yang berbeda dalam inisiasi akar lateral dan munculnya, secara efektif mengoptimalkan distribusi akar di dalam tanah. Auksin umumnya dianggap memiliki efek positif pada inisiasi akar lateral (Ivanchenko, 2008). Hormon tumbuhan (disebut juga fitohormon) adalah zat kimia yang berperan dalam proses pertumbuhan tumbuhan. Fitohormon mempengaruhi bentuk tumbuhan, pembentukan biji dan pembentukan organorgan tumbuhan. Ada 7 macam hormon dalam tumbuhan, yaitu:  Asam Absisat (ABA) Berperan dalam dormansi kuncup dan gugurnya daun-daun (Salisbury, 1995).

Auksin (IAA) Terdapat di meristem apikal dan berperan dalam pertumbuhan memanjang. Auksin menyebabkan terjadinya dominasi apikal (Salisbury, 1995).  Sitokinin Berperan mempercepat pembelahan sel dan memperkecil dominasi apikal (Salisbury, 1995).  Etilen Terdapat pada buah yang sudah tua. Berperan dalam pemasakan buah (Salisbury, 1995).  Giberelin Giberelin merupakan hormon tumbuh pada tanaman yang bersifat sintesis dan berperan mempercepat perkecambahan. Penggunaan giberelin untuk mempercepat perkecambahan telah banyak dilakukan. Penelitian Murniati dan Zuhri (2002) mengungkapkan bahwa giberelin mampu mempercepat perkecambahan biji kopi. Giberelin dapat mempercepat pembentukan plb pada anggrek bulan (Bey dkk, 2005). Giberelin merupakan senyawa organik yang berperan penting dalam proses perkecambahan, karena dapat mengaktifkan reaksi enzimatik di dalam benih (Wilkins, 1989). Giberelin juga terkandung di dalam bahan alami seperti air kelapa dalam jumlah yang sangat (Bey, 2006).  Kalin, yang dapat dibedakan menjadi empat: a. Kaulokalin : merangsang proses pembentukan batang. b. Rizokalin : merangsang proses pembentukan akar. c. Filokalin : merangsang proses pembentukan daun d. Antokalin : merangsang proses pembentukan bunga (Salisbury, 1995).  Asam traumalin Hormon yang berperan dalam memperbaiki bagian tubuh tumbuhan yang rusak (Salisbury, 1995). Auksin merupakan fitohormon yang berperan penting pada proses pertumbuhan tunas. Disintesis di bagian meristem, seperti

ujung tunas, membuat akusin dikenal sebagai hormon dominansi apikal. Walaupun disintesis di ujung tunas auksin juga diedarkan ke bagianbagian lain tumbuhan yang letaknya di bagian bawah tunas. Hal ini berarti auksin terdapat pula pada akar suatu tanaman. Karena auksin berperan pada proses pertumbuhan sel maka dapat dikatakan bahwa auksin dapat pula berperan pada proses pertumbuhan akar dimana akar terlihat memanjang. Namun, proses pemanjangan akar dan tunas membutuhkan konsentrasi auksin yang berbeda. Hal tersebut dikarenakan respon fisiologis pada akar berbeda dengan respon fisiologis pada ujung tunas. Karena itulah dilakukan percobaan untuk mengetahui seberapa besar kadar auksin ,terutama IAA, terhadap jumlah dan panjang akar tanaman. Hormon tumbuhan adalah senyawa organik yang disintesis di salah satu bagian tumbuhan dan dipindahkan ke bagian lain, dan pada konsentrasi yang sangat rendah mampu menimbulkan suatu respons fisiologis. Karena hormon harus disintesis oleh tumbuhan, maka ion anorganik seperti K+ atau Ca2+, yang dapat juga menimbulkan respons penting, dikatakan bukan hormon. Zat pengatur tumbuh organik yang disintesis oleh ahli kimia organik (misalnya, 2,4-D, sejenis auksin), atau yang disintesis organisme selain tumbuhan bukan termasuk hormon tumbuhan. Batasan tentang hormon tumbuhan juga ditambah, yakni sebagai zat yang dapat dipindahkan di dalam tubuh tumbuhan, namun tidak dijelaskan bagaimana atau sejauh mana pemindahan tersebut (Salisbury, 1999). Sementara IAA dikenal sebagi auksin utama pada tanaman, sejumlah substansi yang secara alami mirip auksin (analog) diubah menjadi IAA. Indolasetonitril (IAN), Asam Indolpiruvat (IPyA), dan Indolasetaldehid (IAAld) merupakan zat perantar dalam sintesis IAA dari asam amino prekursor triptofan. IAN merupakan hormon pertama yang diekstrak

dari daun dan batang tumbuhan tingkat tinggi (Cruciperae) (Gardner, 1991). IAA biasanya tidak dijumpai di alam dalam bentuk bebas; biasanya zat itu bergabung dengan asam askorbat, gula, asam amino, dan senyawa organik lainnya (bentuk terikat). Bentuk terikat ini siap diubah menjadi IAA bebas dengan hidrolisis menggunakan enzim (Gardner, 1991). Lintasan yang lebih banyak terjadi pada sebagian besar spesies barangkali mencakup tahapan berikut : gugus amino bergabung dengan sebuah asam α-keto melalui reaksi transaminasi menjadi asam indolpiruvat, kemudian dekarboksilasi indolpiruvat, kemudian dekarboksilasi indolpiruvat membentuk indolasetaldehid; akhirnya, indolasetaldehid dioksidasi menjadi IAA. Enzim yang paling efektif diperlukan untuk mengubah triptofan menjadi IAA terdapat di jaringan muda, seperti meristem tajuk, serta daun dan buah yang sedang tumbuh. Di semua jaringan ini, kandungan auksin juga paling tinggi, yang menunjukkan bahwa IAA memang disintesis di tempat tersebut (Salisbury, 1999). METODOLOGI Alat dan bahan Peralatan yang digunakan yang digunakan pada praktikum pengaruh auksin terhadap pertumbuhan akar yaitu, botol nescafe sebanyak 10 buah, gelas ukur, penggaris, alat tulis, solatip, gunting, kertas aluminium foil, kertas karbon dan penggaris. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum antara lain, potongan tanaman Piper betle sebanyak 10 yang memiliki panjang 10-15 cm, larutan IAA dengan konsentrasi yang berbeda (0,1 ppm, 1 ppm, 10 ppm dan 100 ppm) dan air kran. Cara kerja Batang tanaman Piper betle dipotong dengan ukuran 10-15 cm sebanyak 10 buah. Delapan buah potongan tanaman direndam dalam larutan IAA dengan konsentrasi yang

berbeda (0,1 ppm, 1 ppm, 10 ppm dan 100 ppm) masing-masing 2 buah dan dua buah potongan tanaman lainnya direndam dalam air kran (sebagai kontrol). Dibiarkan perendaman selama 1-2 jam. Tanaman dimasukkan ke dalam botol Nescafe melalui lubang yang telah dibuat pada kertas aluminium foil yang digunakan untuk menutup lubang mulut botol. Botol yang digunakan sebanyak sepuluh buah yang sebelumnya telah diisi 200 ml air kran. Sepuluh botol Nescafe yang digunakan dibagi menjadi dua kelompok (masing-masing 5 botol). Kelompok yang pertama pada bagian dinding luar botol ditutup dengan kertas karbon (mewakili tanaman yang diletakkan daerah gelap). Sedangkan kelompok botol yang kedua dibiarkan bening tanpa ditutupi (mewakili tanaman yang diletakkan daerah terang). Pertumbuhan akar diamati selama tujuh hari. PEMBAHASAN Pada praktikum ini dilakukan perlakuan dengan merendam batang tanaman sirih dengan hormon IAA dan akuades sebagai perlakuan kontrol. Perendaman dengan hormon IAA berfungsi untuk mengetahui pengaruh hormon auksin untuk pertumbuhan akar tanaman. Perendaman dilakukan dengan berbagai konsentrasi hormon IAA. Hal ini berfungsi untuk mengetahui sampai pada batas konsentrasi hormon auksin manakah suatu tanaman dapat tumbuh akar dengan cepat. Perlakuan kontrol dengan perendaman akuades ini berfungsi untuk membandingkan pertumbuhan akar jika tidak mendapat tambahan hormon IAA dari luar tubuh tumbuhan.
1 terang 0 0,1 ppm gelap

Grafik 1 : Pertumbuhan akar pada IAA 0,1 ppm dalam cm.

Dari grafik di atas, dapat dilihat bahwa pertumbuhan jumlah akar pada tanaman Piper betle dengan perlakuan direndam dalam larutan IAA 0,1 ppm, tanaman di tempat terang dan gelap tidak terdapat pertumbuhan akar. Hingga pengamatan hari terakhir akar tetap tidak tumbuh. Gambar 4 : Batang tanaman sirih yang direndam IAA 1 ppm.

Gambar 2 : Batang tanaman sirih yang direndam IAA 0,1 ppm.

Gambar 5 : (kiri) tanaman yang ditaruh di tempat gelap. (kanan) tanaman yang diaruh di tempat terang.
1 0.5 0 10 ppm terang gelap

Gambar 3 : (kiri) tanaman yang ditaruh di tempat gelap. (kanan) tanaman yang diaruh di tempat terang.
4 2 0 1 ppm terang gelap

Grafik 3 : Pertumbuhan akar pada IAA 10 ppm dalam cm. Dari grafik di atas, dapat dilihat bahwa pertumbuhan jumlah akar pada tanaman Piper betle dengan perlakuan direndam dalam larutan IAA 10 ppm, tanaman di tempat terang dan gelap tidak terdapat pertumbuhan akar. Hingga pengamatan hari terakhir akar tetap tidak tumbuh.

Grafik 2 : Pertumbuhan akar pada IAA 1 ppm dalam cm. Dari grafik di atas, dapat dilihat bahwa pertumbuhan jumlah akar pada tanaman Piper betle dengan perlakuan direndam dalam larutan IAA 1 ppm, tanaman di tempat terang tumbuh akar 1 cm dan di tempat gelap tumbuh akar 3 cm.

Gambar 6 : Batang tanaman sirih yang direndam IAA 10 ppm.

Gambar 8 : Batang tanaman sirih yang direndam IAA 100 ppm.

Gambar 7 : (kiri) tanaman yang ditaruh di tempat gelap. (kanan) tanaman yang diaruh di tempat terang.
10 5 0 100 ppm terang gelap

Gambar 9 : (kiri) tanaman yang ditaruh di tempat gelap. (kanan) tanaman yang diaruh di tempat terang.
1.5 1 0.5 0 kontrol terang gelap

Grafik 4. Pertumbuhan akar pada IAA 100 ppm dalam cm. Dari grafik di atas, dapat dilihat bahwa pertumbuhan jumlah akar pada tanaman Piper betle dengan perlakuan direndam dalam larutan IAA 100 ppm, tanaman di tempat terang tidak tumbuh akar. Sedangkan di tempat gelap tumbuh akar hingga 9 cm.

Grafik 5. Pertumbuhan akar pada perlakuan kontrol dalam cm. Dari grafik di atas, dapat dilihat bahwa pertumbuhan jumlah akar pada tanaman Piper betle yang direndam air kran (sebagai kontrol) pada tempat terang tidak tumbuh akar. Sedangkan di tempat gelap tumbuh akar 1 cm.

Gambar 10 : Batang tanaman sirih yang direndam akuades.

Gambar 11 : (kiri) tanaman yang ditaruh di tempat gelap. (kanan) tanaman yang diaruh di tempat terang. Hasil praktikum tersebut sesuai dengan literature yang menyebutkan bahwa kerja auksin pada daerah gelap memacu pertumbuhan akar lebih maksimal dari pada daerah terang. Karena pada daerah gelap tidak ada cahaya yang akan menghambat kerja dari auksin. Sedangkan pada praktikum ini jumlah akar yang berada pada daerah gelap lebih banyak pada daerah terang. Tanaman jika konsentrasi auksin terlalu tinggi maka justru akan menghambat pertumbuhan akar, jika konsentrasi terlalu rendah juga akan menghambat pada pertumbuhan akar tetapi jika konsentrasi sesuai maka akan tumbuh akar dengan baik. Pada perlakuan perendaman dengan larutan IAA 0,1 ppm dan 1 ppm menunjukkan pertumbuhan akar di tempat gelap lebih banyak. Tetapi pada perlakuan perendaman dengan larutan IAA 100 ppm, hasilnya berbeda dengan literatur.

Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pada tempat gelap, pertumbuhan akar terdapat pada perlakuan dengan perendaman IAA konsentrasi 100 ppm. Sedangkan pada tempat terang, tidak tumbuh sama sekali akarnya. Akan tetapi, pada konsentrasi yang lebih rendah, yaitu pada perendaman IAA 10 ppm tidak ditemukan adanya pertumbuhan akar, baik di tempat terang maupun gelap. Hal tersebut dapat terjadi karena perbedaan kemampuan setiap tanaman dalam menyerap rendaman IAA, walaupun berasal dari spesies yang sama. Sedangkan pada kontrol, pertumbuhan akar tanaman yang di tempat gelap lebih banyak daripada di tempat terang. Hal ini mengindikasikan bahwa hormon tumbuhan tidak dapat bekerja sendiri tetapi selalu saja dipengaruhi oleh kerja hormon lain, dapat diinduksi atau dihambat. Selain itu, respon tumbuhan terhadap perlakuan fitohormon juga bergantung pada tiap-tiap tumbuhan serta bagian-bagiannya. Artinya meskipun tumbuhan tersebut termasuk satu spesies, tetapi responnya terhadap stimulus ataupun hormon bisa saja berbeda (Dwidjoseputro, 1989).

Gambar 12 : Botol – botol yang diletakkan ditempat terang (tidak ditutupi dengan kertas karbon). Sebenarnya pada tumbuhan yang diletakkan ditempat gelap didapatkan akar lebih cepat tumbuh daripada ditempat terang. Hal ini disebabkan jika diletakkan ditempat terang maka kerja auksin dihambat oleh matahari sedangkan ditempat yang gelap pertumbuhannya cepat karena kerja auksin tidak dihambat sehingga ujung tanaman tersebut cenderung mengikuti arah sinar

matahari yang disebut fototropisme. Auksin terlibat dalam respon tropisme. Auksin menyingkir dari cahaya, yang menyebabkan elongasi/pemanjangan sel yang tidak rata pada daerah bayang-bayang dibandingkan dengan daerah yang terekspos sinar.

merupakan larutan dengan struktur kimia seperti dalam auksin.

Gambar 14 : Struktur Macam-Macam Auksin (Anonim, 2010) Mekanisme kerja hormon Auksin antara lain hormon Auksin menginisiasi pemanjangan sel dan juga memacu protein tertentu yg ada di membran plasma sel tumbuhan untuk memompa ion H+ ke dinding sel. Ion H+ mengaktifkan enzim ter-tentu sehingga memutuskan beberapa ikatan silang hidrogen rantai molekul selulosa penyusun dinding sel. Sel tumbuhan kemudian memanjang akibat air yg masuk secara osmosis. Setelah pemanjangan ini, sel terus tumbuh dengan mensintesis kembali material dinding sel dan sitoplasma. Selain memacu pemanjangan sel, hormon Auksin yg di kombinasikan dengan Giberelin dapat memacu pertumbuhan jaringan pembuluh dan mendorong pembelahan sel pada kambium pembuluh sehingga mendukung pertumbuhan diameter batang. Transpor auksin berlangsung secara basipetal, yaitu dari ujung ke basal. Pembalikan ujung sepotong batang tidak mengubah gerakan polaritas ini. Umumnya transpor auksin itu simplastik (dalam floem) dan aktif, yaitu laju ini menurun tanpa O2 atau dengan adanya karbondioksida (CO2). Tingkat diatas optimal juga juga menyebabkan transpor apoplastik (dalam xilem) maupun transpor simplastik. Sitokinin dan giberelin mempercepat transpor auksin. Natrium, fluorida dan asam triodobenzoat, juga hormon etilen merupakan penghambat transpor. Secara keseluruhan pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan tidak hanya dipengaruhi oleh auksin. Tetapi juga oleh factor-faktor luar dan dalam dari tumbuhan itu

Gambar 13 : Botol – botol yang diletakkan ditempat gelap (ditutup dengan kertas karbon). Asam indol-3 asetat (IAA) diidentifikasi tahun 1934 sebagai senyawa alami yang menunjukkan aktivitas auksin yang mendorong pembentukan akar adventif. IAA sintetik juga telah terbukti mendorong pertumbuhan akar adventif. Pada era yang sama juga ditemukan asam indol butirat (IBA) dan asam naptalen asetat (NAA) yang mempunyai efek sama dengan IAA. Dan sekarang sesungguhnya, hal itu ditunjukkan bahwa inisiasi sel untuk membentuk akar tergantung dari kandungan. Pembentukan inisiasi akar dalam batang terbukti tergantung pada tersedianya aiksin di dalam tanaman ditambah pemacu auksin (Rooting Co-factors) yang secara bersama-sama mengatur sintesis RNA untuk membentuk primordia akar. Pemberian auksin memacu pemanjangan potongan akar atau bahkan akar utuh pada banyak spesies, tapi hanya pada konsentrasi yang sangat rendah. Pada konsentrasi yang lebih tinggi pemanjangan hampir selalu terhambat. Diperkirakan, sel akar umumnya mengandung cukup atau hampir cukup auksin untuk memanjang secara normal. (Hartmann dan Kester, 1975). IAA adalah auksin sintesis sehingga dapat menggantikan auksin alami yang hilang ada pada tumbuhan sehingga auksin berperan sebagai pengontrol absisi pada tumbuhan. IAA dikenal sebagi auksin utama pada tanaman. IAA

sendiri. Pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan merupakan hasil interaksi yang kompleks antara tiga pengatur atau faktor, yang meliputi faktor intraseluler (dari dalam sel), interseluler dan lingkungan. Bentuk dan ukuran tumbuhan banyak ditentukan oleh faktor hereditas. Gen berpengaruh pada setiap struktur tumbuhan dan juga terhadap perkembangannya, walaupun gen bukan satusatunya faktor yang berpengaruh. Faktor hereditas inilah yang merupakan faktor intraseluler, sedangkan faktor interseluler berupa hormon. Masing-masing hormon bekerja secara khusus dan memilki pengaruh antara satu dengan yang lainnya.

Gambar 15 : Auksin pada tanaman (Anonim,2010). Menurut Larsen, 1944 dalam Abidin (1982) Indole acetaldehyde diidentifikasikan sebagai bahan auksin yang aktif dalam tanaman. Selanjutnya Larsen (1951); Bentley dan Houstley (1952) mengemukakan bahwa zat kimia tersebut aktif dalam menstimulasi pertumbuhan kemudian berubah menjadi IAA. Perubahan tersebut menurut Gordon (1956) adalah perubahan dari Tripthopan menjadi IAA. Tryptamine sebagai salah satu zat organic, merupakan salah satu zat yang terbentuk dalam biosintesis IAA. Dalam hal ini perlu dikemukakan pula bahwa Tryptophan adalah zat organik terpenting dalam proses biosintesis IAA (Thimann,1935). Bahan organik lain yaitu Indole acetonitrile adalah bahan organik yang ditemukan dalam tanaman Cruciferae dan

dapat dikelompokkan ke dalam auksin (Jones et al.,1952). Menurut Thimann dan Mahadevan (1958), zat tersebut atas bantuan enzim nitrilase dapat membentuk aksin. Cmelin dan Virtanen (1961) menerangkan bahwa Indole acetonitrile yang terdapat pada tanaman, terbentuk dari Glucobrassicin atas bantuan aktivitas enzim myrosinase. Dan zat organik lain (Indoleeethanol) yang terbentuk dari Trypthopan dalam biosintesis IAA atas bantuan bakteri (Rayle dan Purves, 1976 dalam Abidin, 1982). IAA adalah endogenous auksin yang terbentuk dari Tryptophan yang merupakan suatu senyawa dengan inti Indole dan selalu terdapat dalam jaringan tanaman. Didalam proses biosintesis, Trytophan berubah menjadi IAA dengan membentuk Indole pyruvic acid dan indole-3-acetaldehyde. Tetapi IAA ini dapat pula terbentuk dari Tryptamine yang selanjutnya menjadi Indole-3-acetaldehyde, selanjutnya menjadi Indole-3-acetic acid (IAA). Sedangkan mengenai perubahan dari ndole-3-acetonitrile menjadi IAA dengan bantuan enzim nitrilase prosesnya masih belum diketahui (Abidin, 1982). Secara sederhana bahwa gula (glukosa, arabinosa) dan lemak membentuk kompleks IAA. Pemecahan IAA dapat pula terjadi di alam. Hal ini adalah sebagai akibat adanya photo oksidasi dan enzim. Dalam photo oksidasi, pigmen pada tanaman akan menyerap cahaya, kemudian energi ini dapat mengoksidasi IAA. Adapun pigmen yang erperan adalah Ribovlavin dan B-Carotene (Abidin, 1982). Enzymatic oxidation yang terjadi pada IAA telah ditemukan oleh para ahli dalam berbagi jaringan tanaman. Oksidasi IAA oleh hydrogen peroksida, kemudian di katalisasi oleh enzim peroksida sehingga menghasilkan indole aldehyde yang bersifat naktif. Ada hubungan yang berbanding terbalik antara aktivitas oksidase IAA dengan kandungan IAA dalam tanaman. Apabila kandungan IAA tinggi, maka aktivitas IAA oksidase menjadi rendah, begitu

pula sebaliknya. Di daerah meristematik yang kadar auksinnya tinggi, ternyata aktivitas IAA oksidasenya rendah. Sedangkan di daerah perakaran yang kandungan auksinnya rendah ternyata aktivitas IAA oksidasenya tinggi (Abidin, 1982). Macam-macam hormon pertumbuhan pada tumbuhan antara lain: Auksin penting dalam pembentukan akar, batang, daun, dan organ tumbuhan. Giberelin merupakan hormon pada tumbuhan yang diduga bmendorong hidrolisis pati/amilum menjadi gula pada tumbuhan inang dengan cara menginduksi pembentukan enzim amylase, sehingga diperoleh sumber makanan gula. Sitokinin merupakan hormon yang memacu pembelahan sel yang menghasilkan cambium-gabus dan memicu sitokinesis. Ditemukan pada tahun 1013 oleh Gottlieb Haberlandt pada umbi kentang (Salisbury dan Ross, 1995). KESIMPULAN Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa hormon adalah senyawa organik bukan unsur hara yang disintesis oleh salah satu bagian tumbuhan yang kemudian dipindahkan ke bagian lain untuk proses fisiologisnya. Hormon IAA berpengaruh terhadap pertumbuhan akar tanaman sirih terutama di tempat gelap.

DAFTAR PUSTAKA Anonima. 2010. Piper betle. Diakses dari www.plantamor.com pada tanggal 20 Nopember 2011 pukul 14.00 WIB. Bey, Yusnida, Wan Syafii dan Sutrisna. 2006. Pengaruh Pemberian Giberelin (Ga3) Dan Air Kelapa Terhadap Perkecambahan Bahan Biji Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabilis Bl) Secara In Vitro. Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Riau. Jurnal Biogenesis Vol. 2(2):41-46, 2006. Dwijoseputro. 1990. Pengantar Fisiologi Tumbuhan . Penerbit PT. Gramedia : Jakarta. Gardner, Franklin. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. UI PRESS : Jakarta. Ivanchenko, Maria G., Gloria K. Muday, and Joseph G. Dubrovsky. 2008. Ethylene– Auxin Interactions Regulate Lateral Root Initiation And Emergence In Arabidopsis thaliana. The Plant Journal (2008) 55, 335–347. Salisbury, F. B. dan Cleon. W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan, Jilid 1. Terjemahan dari Plant Physiologi 4 Edition oleh Diah R. Lukman dan Sumaryono. ITB: Bandung. Tjitrosoepomo, Gembong. 2010. Taksonomi Tumbuhan. UGM Press. Yogyakarta.
th

LAMPIRAN Tabel Pengamatan Auksin Pada Piper betle Jumlah akar Terang kontrol 0 0.1 ppm 0 1 ppm 1 10 ppm 0 100 ppm 0 Kontrol 1 0.1 ppm 0 Gelap 1 ppm 3 10 ppm 0 100 ppm 9

FOTO HASIL PENGAMATAN a. Pengamatan ke-1 tanggal 08-11-2011

Tempat terang (kontrol)

Tempat gelap (kontrol)

Tempat terang (0,1 ppm)

Tempat gelap (0,1 ppm)

Tempat terang (1 ppm)

Tempat gelap (1 ppm)

Tempat terang (10 ppm)

Tempat gelap (10 ppm)

Tempat terang (100 ppm) b. Pengamatan hari ke-6 tanggal 14-11-2011

Tempat gelap (100 ppm)

Tempat terang (kontrol)

Tempat gelap (kontrol)

Tempat terang (0,1 ppm)

Tempat gelap (0,1 ppm)

Tempat terang (1 ppm)

Tempat gelap (1 ppm)

Tempat terang (10 ppm)

Tempat gelap (10 ppm)

Tempat terang (100 ppm) c. Pengamatan hari ke-1 tanggal 15-11-2011

Tempat gelap (100 ppm)

Tempat terang

Tempat gelap

Tempat terang (kontrol)

Tempat gelap (kontrol)

Tempat terang (0,1 ppm)

Tempat gelap (0,1 ppm)

Tempat terang (1 ppm)

Tempat gelap (1 ppm)

Tempat terang (10 ppm)

Tempat gelap (10 ppm)

Tempat terang (100 ppm) d. Keadaan batang 15-11-2011

Tempat gelap (100 ppm)

Tempat terang (kontrol)

Tempat gelap (kontrol)

Tempat terang (0,1 ppm)

Tempat gelap (0,1 ppm)

Tempat terang (1 ppm)

Tempat gelap (1 ppm)

Tempat terang (10 ppm)

Tempat gelap (10 ppm)

Tempat terang (100 ppm)

Tempat gelap (100 ppm)

DISKUSI 1. Sebutkan dan jelaskan faktor-faktor internal dan eksternal pertumbuhan dam perkembangan tumbuhan!. 2. Sebutkan dan jelaskan macam-macam hormon pertumbuhan!. 3. Bandingkan hasil pengamatan kelompok anda dalam percobaan :  Pengaruh konsentrasi IAA terhadap pertumbuhan akar.  Pengaruh sinar matahari terhadap pertumbuhan akar dan konsentrasi hormon. Jawaban 1. Menurut Gardner et al. (1991), faktor eksternal yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan adalah : 1. Iklim: cahaya, air, temperatur, panjang hari, angin, dan gas. 2. Edafik (tanah) : tekstur, struktur, bahan organik, kapasitas pertukaran kation, pH, kejenuhan basa, dan ketersediaan nutriea. 3. Biologis: gulma, serangga, organisme penyebab penyakit, nematoda, macam-macam tipe herbivora, dan mikroorganisme tanah. Faktor internal yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan menurut Gardner et al. (1991) : Ketahanan terhadap iklim, tanah, dan biologis; Laju fotosintetik; Respirasi; Pembagian hasil asimilasi dan N; Klorofil, karoten, dan kandungan pigmen lainnya; Tipe dan letak meristem; Kapasitas untuk menyimpan cadangan makanan; Aktivitas enzim; Pengaruh langsung (misalnya, heterosis dan epistasis); Diferensiasi; Hormon Pertumbuhan (Anonimous, 2006). 2. Macam-macam hormon pertumbuhan pada tumbuhan : a. Auksin Disintesis pada daerah meristematik, terutama pada tunas apical dan daun-daun muda. Penting dalam pembentukan akar, batang, daun, dan organ tumbuhan (Anonimous, 2006). b. Giberelin Hormon pada tumbuhan yang diduga bmendorong hidrolisis pati/amilum menjadi gula pada tumbuhan inang dengan cara menginduksi pembentukan enzim amylase, sehingga diperoleh sumber makanan gula. Pertama kali ditemukan di Jepang pada tahun 1952, dihasilkan oleh cendawan Gibberella fujikuroi yang menyebabkan penyakit bakanae (“kecambah tolol”) pada tanaman padi (Salisbury dan Ross, 1995). c. Sitokinin Hormon yang memacu pembelahan sel yang menghasilkan cambium-gabus dan memicu sitokinesis. Ditemukan pada tahun 1013 oleh Gottlieb Haberlandt pada umbi kentang (Salisbury dan Ross, 1995). 3. Konsentrasi IAA yang paling efektif dalam percobaan ini adalah sebesar 10 ppm pada tempat gelap dan pada konsentrasi 100 ppm pata tempat terang. Untuk variable control (air kran) pada tempat gelap, tidak tumbuh sama sekali akarnya. Sedangkan pada tempat terang, variable kontrolnya tumbuh tetapi dalam jumlah yang sedikit. Pada saat terkena cahaya matahari, kerja hormone auksin akan terhambat.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->