P. 1
1

1

|Views: 126|Likes:
Published by buyuangunp

More info:

Published by: buyuangunp on Apr 05, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/09/2012

pdf

text

original

Milestone Report – December

Development of Post-Earthquake rehabilitation and Reconstruction Plan (Padang City)

Attachment 2 | 1

Milestone Report – December

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang

Pada tahun 2007 Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri bekerjasama dengan Pemerintah Kota Padang menyelenggarakan aplikasi Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) untuk menelaah implikasi kebijakan dan rencana reklamasi Pantai Padang yang pada waktu itu disebut dengan “Padang Bay City”. Gagasan penataan pantai ini terkait dengan dua gagasan pembangunan sekala besar, yakni jalan terowongan Pengambiran – Bungus dan pengembangan Pelabuhan Internasional Teluk Kabung. Berdasarkan rumusan mitigasi dampak negatif kebijakan dan rencana reklamasi Padang Bay City yang demikian banyak serta alternatif tahapan pelaksanaan komponen program yang menuntut spesifikasi tinggi, sedangkan luas efektif areal hasil reklamasi yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan ekonomi relative terbatas, maka ditarik kesimpulan agar Pemerintah Kota Padang melakukan kaji ulang opsi penataan pantai Padang yang berkesesuaian dengan bentang alam Gunung Padang dan Bukit Siti Nurbaya, bentang budaya Kawasan Padang Lama dan fungsi pelabuhan Muaro. Atas dasar pertimbangan keterkaitan Padang Bay City dengan rencana kegiatan Jalan Terowongan dan rencana pengembangan Pelabuhan Teluk Kabung, Tim Review DANIDA tahun 2008 menyampaikan saran agar KLHS diarahkan untuk menelaah implikasi kebijakan dan tiga rencana kegiatan dimaksud. Direktorat Jenderal Bina Bangda dan Pemerintah Kota Padang menyambut baik saran tersebut. Pertengahan tahun 2009 dilaksanakan Seminar Awal KLHS Tiga Mega Proyek Kota Padang. Walaupun Tim KLHS Kota Padang telah melakukan penelaahan dokumen dan pengumpulan data serta diskusi instansional, ternyata KLHS Tiga Mega Proyek tersebut tidak dapat dilaksanakan sampai tahap akhir, karena bencana gempa bumi tanggal 30 September 2009 melanda kota Padang. Rapat evaluasi pelaksanaan KLHS yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah dengan Pemerintah Kota Padang tgl 30 Oktober 2009 sepakat untuk menghentikan penyelenggaraan KLHS Tiga Mega Proyek dan mengusulkan kepada Pihak DANIDA untuk menyelenggarakan KLHS Rencana Rekonstruksi dan Rehabilitasi Kota Padang. Tanggal 10 Desember tahun 2009, Pemerintah Kota Padang membakukan rumusan “Pokok pokok kebijakan rehabilitasi dan rekonstruksi kota Padang serta rencana aksi darurat. Dokomen dimaksud menjelaskan visi “Padang New City” jangka panjang dan rangkaian program untuk mendukungnya. Untuk mewujudkan kota Padang dalam jangka panjang, Pemerintah Kota Padang akan melakukan serangkaian kegiatan perencanaan, meliputi: 1 2 3 4 5 6 7. 8. 9. 10. Revisi RPJMD dan RTRW Kota Padang Masterplan Pusat Pemerintahan Kota Padang Menyusun Road Map Pemulihan dan Pengembangan Ekonomi Membuat Manual Capacity Building Pembangunan rumah masyarakat korban gempa. Road map pemulihan fasilitas pendidikan dan kesehatan. Rencana Induk jaringan transportasi Kota Padang Revitalisasi Kawasan Pasar Raya. Revitalisasi kawasan Padang Lama (Muaro Batang Arau, Pondok, Pasar Gadang, dan Mudik) dan Membuat skenario pemulihan dini mental masyarakat pasca gempa.

Pasar

Tanggal 4 sampai dengan 6 Mei 2010 dilaksanakan Seminar Awal Penyelenggaraan KLHS Rekonstruksi dan Rehabilitasi Kota Padang. Berdasarkan materi paparan tentang kondisi, masalah dan kerangka rencana pembangunan yang disampaikan para penyaji (provinsi Sumatera Barat dan kota Padang) para peserta seminar mengidentifikasi isu lingkungan hidup dan isu pembangunan berkelanjutan kota Padang. Rangkaian isu dimaksud dibahas lebih cermat sehingga disepakati isu strategis yang akan digunakan sebagai acuan penelaahan kebijakan, rencana dan program rekonstruksi dan rehabilitasi kota Padang. Perlu juga dijelaskan bahwa dalam rangka penyusunan rencana rekonstruksi dan rehabilitasi kota Padang, Walikota telah menetapkan Keputusan Walikota Padang Nomor 05 Tahun 2010 Tentang Organisasi Badan Pendukung Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kota Padang. Di dalam uraian tugas pokok dan fungsinya, antara lain Bidang Pengawasan, yang terdiri atas Sub Bidang Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) dan Amdal, Sub Bidang Pengawasan dan Pengendalian (Wasdal), dan Sub
Attachment 2 | 2

Milestone Report – December

Bidang Monitoring dan Evaluasi (Monev) dan Pelaporan. Mengacu ke organisasi Badan Pendukung Rehabilitasi dan Rekonstruksi tersebut, maka aplikasi KLHS Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kota Padang dilaksanakan oleh Sub Bidang Kajian Lingkungan Hidup Strategis (daftar anggota tim KLHS terlampir). Tim KLHS ini bekerja sama dengan Tim KLHS Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah – Kementerian Dalam negeri dan dibantu tenaga Ahli (konsultan individual) kota Padang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penyelenggaraan aplikasi KLHS ini sesungguhnya sudah berlangsung sejak bulan Mei tahun 2010. Perlu dijelaskan bahwa Pemerintah Kota Padang belum melakukan penelitian tentang kapasitas daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup bagian bagian kota Padang. Oleh sebab itu, mengacu ke muatan KLHS sebagaimana diisyaratkan di dalam pasal 16 Undang-Undang nomor 32 tahun 2009, maka orientasi telaah KLHS ini mengarah pada : (a) perkiraan mengenai dampak dan risiko lingkungan hidup, (b) kinerja layanan/ jasa ekosistem, dan (c) tingkat kerentanan dan kapasitas adaptasi masyarakat pantai terhadap kebencanaan dan perubahan iklim. Semoga hasil telaah ini mencapai sasarannnya, yakni memperbaiki rumusan kebijakan, rencana dan program rehabilitasi dan rekonstruksi kota Padang. 1.2. Maksud dan Tujuan

Maksud kegiatan adalah menyelenggarakan Kajian Lingkungan Hidup Strategis Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kota Padang, mencakup rencana tata ruang wilayah, rencana pembangunan jangka menengah dan rangkaian rencana tematik kota Padang sebagai panduan pembangunan Padang New City Tujuan utama penyelenggaraan Kajian Lingkungan Hidup Strategis ini adalah: (1) Tersajinya hasil telaah prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan (prinsip keterkaitan, prinsip keseimbangan dan prinsip keadilan) untuk menyempurnakan materi rumusan kebijakan, rencana rehabilitasi dan rekonstruksi kota Padang. Tersajinya rekomendasi mitigasi dan alternatif untuk menyempurnakan materi Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Padang dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kota Padang (2009 – 2014). Tersajinya hasil telaah konsistensi dan telaah koherensi materi RTRW Kota Padang dan RPJM Kota Padang dengan perangkat Rencana Tematik dalam rangka rehabilitasi dan rekonstruksi kota Padang. Terselenggaranya pengambilan keputusan oleh Walikota Padang tentang pilihan rekomendasi KLHS yang akan diintegrasikan ke dalam rumusan Raperda RTRW Kota Padang (2028) dan RPJMD (2009 – 2014) Cara Pelaksanaan KLHS

(2)

(3)

(4)

1.3.

Penyelenggaraan KLHS Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kota Padang ini dilaksanakan melalui kerjasama Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri dengan Pemerintah Kota Padang atas dukungan Kementerian Negara Lingkungan Hidup dan Danish International Development Agency. (Denmark) 1.4. Lingkup Kegiatan KLHS

Sebagaimana dijelaskan pada bagian terdahulu, walaupun Tim KLHS Kota Padang sudah dibentuk pada akhir tahun 2009, tetapi Seminar Awal Penyelenggaraan KLHS baru dapat dilaksanakan dari tanggal 4 sampai dengan 6 Mei 2010. Untuk mencapai maksud dan tujuan aplikasi KLHS ini lingkup kegiatan yang telah berlangsung mencakup: a. b. c. Telaah dokumen perencanaan pembangunan (nasional, provinsi Sumatera Barat dan Kota Padang) dan dokumen peraturan perundang-undangan. Identifikasi lintas pemangku kegiatan dalam konteks penyelenggaraan KLHS. Penyusunan Rencana Kerja Tim KLHS Padang
Attachment 2 | 3

i. m. Workshop ke 3 yang berlangsung tanggal 1 – 3 November 2010 Diskusi Tim KLHS Kota Padang untuk menindaklanjuti workshop ke 3. Bagan alir untuk pendugaan implikasi kebijakan dan rencana kegiatan. Diskusi terbatas Instansional di lingkungan Pemerintah Kota Padang. n. k. Metoda Pelaksanaan KLHS Interpretasi data dasar. Diskusi Instansional lintas Kabupaten Kota sekitar kota Padang. e. yang selanjutnya ditapis menjadi isu strategis KLHS. rencana dan program. p. Workshop ke 2 tanggal 4 – 5 Oktober 2010 Rapat Tim KLHS Kota Padang.Milestone Report – December d. o. j. Konsigneer analisis implikasi KRP dan perumusan mitigasi dan alternative.5. f. l. Rapat konsultasi Tim KLHS Kota Padang dengan Walikota Padang tentang hasil KLHS. Penyusunan Laporan KLHS Seminar akhir KLHS. g. Penyusunan daftar Pertanyaan E_question untuk menelaah pengarusutamaan lingkungan hidup di dalam rumusan kebijakan. Metoda yang digunakan di dalam penyelenggaraan KLHS disederhanakan sbb: Attachment 2 | 4 . 1. Diskusi terbatas Tim KLHS Kota Padang dengan Instansi Perencana Provinsi SUMBAR. Finalisasi dan Penyerahan Laporan. Content Analysis untuk menelaah materi peraturan perundangan dan dokumen-dokumen perencanaan. Aplikasi Sistem Informasi Geografi (SIG) dan Pemodelan Dinamis untuk menjelaskan aspek spasial isu strategis dan kebencanaan serta keterkaitan antar komponen. a) b) c) d) e) f) g) Pengumpulan dan pengolahan data instansional. Diskusi Terbatas (FGD) untuk membahas hasil-hasil telaah Tim KLHS dan bersma-sama merumuskan alternatif dan mitigasi. h. digunakan untuk identifikasi masalah pokok lingkungan dan masalah pembangunan berkelanjutan. Daftar Periksa (Cheklist) untuk telaah konsistensi rencana dengan program.

1. 7. 2. 9. Kawasan dengan kelerengan lahan >40% ini merupakan kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan hutan lindung.853 m diatas permukaan laut. mulai 0 m dpl .44 Ha. dengan daerah tertinggi adalah Kecamatan Lubuk Kilangan. Sebagian besar topografi wilayah Kota Padang memiliki tingkat kelerengan lahan rata-rata >40%.068. Kuranji. Attachment 2 | 5 .Milestone Report – December BAB II BASELINE WILAYAH KAJIAN. Padang Utara. sedangkan yang bertopografi berbukit /bergelombang ± 5. Lubuk Kilangan. 3.85 Ha. Kecamatan Pauh dan Kecamatan Lubuk Kilangan yakni berada pada bagian tengah Kota Padang dan kawasan dengan kelerengan lahan 15% – 40% tersebar di Kecamatan Lubuk Begalung.10 0–8 0 – 25 3–8 8 . Pauh dan Kecamatan Koto Tangah.1. Nanggalo. dengan variasi ketinggian dari permukaan yang cukup besar. FISIOGRAFI KOTA PADANG DAN POTENSI BENCANA ALAM FISIOGRAFI KOTA PADANG TOPOGRAFI Wilayah Kota Padang memiliki topografi yang bervariasi. dan bagian Selatan Kecamatan Lubuk Kilangan dan Lubuk Begalung dan sebagian besar Kecamatan Bungus Teluk Kabung. Kecamatan Padang Selatan.000 m dpl. 8. tahun 2008 Kawasan dengan kelerengan lahan antara 0 – 2% umumnya terdapat di Kecamatan Padang Barat. Pauh.>1. Ketinggian wilayah Kota Padang dari permukaan laut juga bervariasi. A. Kota Padang memiliki kondisi lahan yang beragam. 10.1. 2. 4. 6. 2. sebagian Kecamatan Kuranji. Sedangkan kawasan dengan kelerengan lahan lebih dari 40% tersebar di bagian Timur Kecamatan Koto Tangah. 11. 5. Jika dilihat kondisi topografi dari sudut kemiringan dan ketinggian di atas permukaan laut dapat digambarkan sebagaimana terdapat dalam tabel berikut : Tabel 2. Tinggi Daerah Menurut Kecamatan NO 1. Kawasan dengan kelerengan lahan antara 2 –15% tersebar di Kecamatan Koto Tangah. KECAMATAN Bungus Teluk Kabung Lubuk Kilangan Lubuk Begalung Padang Selatan Padang Timur Padang Barat Padang Utara Nanggalo Kuranji Pauh Koto Tangah Relung TINGGI (MDPL) 0 – 850 25 – 1853 8 – 400 0 – 322 4 . Kecamatan Lubuk Begalung dan Kecamatan Koto Tangah. perpaduan daratan yang landai dan perbukitan bergelombang yang curam.1. Padang Timur. Wilayah daratan Kota Padang ketinggiannya sangat bervariasi yaitu antara 0 .1000 10 – 1600 0 – 1600 0 – 1853 Sumber : BPN Kota Padang. Wilayah yang memiliki topografi datar adalah 15.715. Kuranji.1.

25 17. Kelas Lereng di Kota Padang NO 1. batuan vulkanik dan intrusi serta batuan sedimen dan metamorf.2. KELAS LERENG Lereng 0-2% Lereng 2-15% Lereng 15-40% Lereng >40% Total LUAS (HA) 15. 2. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 2. 4.496 PERSENTASE 22.3.486 3.Milestone Report – December Tabel 2. Secara garis besar jenis batuan tersebut adalah sebagai berikut : • • • • • • • Aliran yang tak teruraikan (Qtau) Alluvium (Qal) Kipas Alluvium (Qt) Tufa Kristal (QTt) Andesit (Qta) dan Tufa (QTp) Batu Gamping (PTls) Fillit.26 7. 3.028 12. ketinggian tempat Kota Padang dapat diklasifikasikan menjadi lima zona dengan perincian menurut kecamatan. GEOMORFOLOGI ZONA III (10-25 M) Bungus Telkab Padang Selatan Padang Barat Padang Utara Pauh Kota Tangah ZONA IV (25-100 M) Bungus Tlk Kabung Lubuk Kilangan Lubuk Begalung Padang Selatan Kuranji Pauh Kota Tangah ZONA V (>100 M) Lubuk Kilangan Lubuk Begalung Padang Selatan Kuranji Pauh Kota Tangah Geologi wilayah Kota Padang dibentuk oleh endapan permukaan. Ketinggian Tempat Kota Padang Menurut Zona KLASIFIKASI ZONA MENURUT KETINGGIAN ZONA I (0-5 M) Bungus Tekab Padang Selatan Padang Timur Sebaran di Kecamatan Padang Barat Padang Utara Nanggolo Kota Tangah ZONA II ( 5-10 M) Lubuk Begalung Bungus Tlk Kabung Padang Selatan Padang Timur Padang Barat Padang Utara Nanggalo Kuranji Kota Tengah Sumber : BPN Kota Padang 2007 B.63 100. Batu Pasir.412 36. Daya dukung batuan tersebut di atas bervariasi dari rendah sampai tinggi.00 Sumber: BPN Kota Padang tahun 2008 Dengan variasi ketinggian dari permukaan yang cukup besar.570 69. Batu Lanau Meta (PTps) Attachment 2 | 6 .86 52.

00 Persentase 31. Jenis batuan endapan merupakan jenis yang lunak sangat tidak cocok untuk kawasan guna lahan permukiman. kondisi alam wilayah Kota Padang merupakan dataran rendah yang terdiri dari dataran pantai dan dataran aluvial.158. 6. 7. Organosol.09 15.70. Podsolik.36 0. Regosol (batuan yang melapuk pada bagian atas) serta Organosol dan glei humus (humus permukaan bagian bawah.794.Jenis Tanah Wilayah Kota Padang No.496.56 1. 2.34 100. umumnya jenis ini terdapat di dataran pantai dengan jumlah sebaran sebesar 25. Berdasarkan pada kondisi tanah. Aluvial Andosol Komplek Podsolik Merah Kuning Latosol dan Litosol Latosol Latosol dan Podsolik Merah Kuning Organosol dan Glei Humus Regosol Kota Padang Jenis Tanah Luas ( Ha ) 15.70 4.67 0.00 Persentase 22.972. 3.189. 4. batuan sedimen dan metamorf.566. 4.3. serta wilayah perbukitan. Daerah perbukitan mempunyai kemiringan lereng yang bervariasi.496. 6.948. 2.00 Sumber : Hasil Perhitungan Aplikasi ArcGIS.2.89 34. 1.99 1.81 69.00 Sumber : Hasil Perhitungan Aplikasi ArcGIS.03 50.337. Secara garis besar batuan Kota Padang terdiri : • • Aluvium (Qal) terdiri dari pasir dan kerikil.32 1. podsolik merah kuning dan Andosol (humus).07 5.71 1.34 1.30 960. 3. Aluvium (Qpas) terdiri dari perombakan andesit yang berasal dari gunung api yang berbentuk kipas jenis ini tersebar dengan jumlah 6. dan Latosol. 5. Jenis Batuan (Litologi) Aluvium Batuan Gunung Api Batuan Intrusi Batuan Metamorf Batu Kapur Formasi Palepat Formasi Painan KOTA PADANG Luas (Ha) 21. 5. batuan vulkanik dan intridi.68 32.01 9.46%. sedangkan pada daerah perbukitan didominasi oleh jenis tanah Podsolik. Tahun 2008 Geologi Kota Padang dibentuk oleh: endapan permukaan.15 3.77 10. Seperti diketahui jenis tanah Podsolik dan Latosol ini tergolong peka terhadap erosi. wilayah Kota Padang terdapat 7 jenis tanah yaitu : Aluvial. Batuan Wilayah Kota Padang No 1.95 8.00 13. Attachment 2 | 7 .453.21 688.56 0.270. 7. Pada dataran rendah terdapat jenis tanah Aluvial.93 1. litosol (batuan yang melapuk pada bagian bawah). Latosol.Milestone Report – December Tabel 2. dan hampir 65 % daerah perbukitan tersebut mempunyai kemiringan agak curam.623. Tabel 2. Tahun 2008 Secara geomorfologis.83 69.38 100. Regosol. Dari semua jenis tersebut yang terluas adalah jenis tanah latosol mencapai 46.027. Secara rinci jenis tanah di wilayah Kota Padang dapat dilihat pada tabel berikut .58%.81 1.53 46.

Milestone Report – December

• • • • •

Andesit dan Tufa (Qtp) umumnya mengandung horen blenda yang telah digantikan oleh epidot dan klorit. Dengan jumlah sebaran sebesar 0,7% dan 0,14%. Aliran yang tak teruraikan(Qtau) terdiri dari lahar, Fanglo merat, dan endapan – endapan Kolovium. Tufa Kristal (Qtt) terdiri dari pejal dan tersemen baik, ini disebabkan oleh Tufa kristal yang telah mengeras dan banyak mengandung serabut serabu gelas dengan Frakmen –frakmen kuarsa dengan jumlah sebaran sebesar 140,53%. Batuan Metamort (JS) terdiri dari kuarsit, serpih, batu sabak dan lain-lain dengan jumlah sebaran sebesar 1,24%. Batuan kapur /granit kapur (KGR) bersusunan lenko granit sampai monzanit kuarsa umumnya bertesktur faneritik setempat pekmati.jenis batuan ini tidak cocok untuk lahan permukiman dengan jumlah sebaran sebesar 1,65%. HIDROLOGI

C.

Wilayah Kota Padang dilalui oleh banyak aliran sungai besar dan kecil. Terdapat tidak kurang dari 23 aliran sungai yang mengalir di wilayah Kota Padang dengan total panjang mencapai 155,40 Km (10 sungai besar dan 13 sungai kecil). Umumnya sungai-sungai besar dan kecil yang ada di wilayah Kota Padang ketinggiannya tidak jauh berbeda dengan tinggi permukaan laut. Kondisi ini mengakibatkan cukup banyak bagian wilayah Kota Padang yang rawan terhadap banjir/genangan. Wilayah Kota Padang terbagi dalam 6 Daerah Aliran Sungai (DAS), yaitu : DAS Air Dingin, DAS Air Timbalun, DAS Batang Arau, DAS Batang Kandis, Kota Padang memiliki banyak sungai yaitu 5 sungai besar dan 16 sungai kecil dengan sungai terpanjang yaitu Sungai Batang Kandis sepanjang 20 km dan sungai terpendek yaitu Sungai Batang Muar. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 2.4. Sungai-Sungai dan Lokasinya di Kota Padang NO 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. NAMA SUNGAI Batang Kuranji Batang Belimbing Batang Guo Batang Arau Batang Muar Sungai Banjir Kanal Batang Logam Batang Kandis Sungai Tarung Batang Dagang Sungai Gayo Sungai Padang Aru Sungai Padang Idas Batang Kampung Juar Batang Aru Batang Kayu Aro Sungai Timbulun Sungai Sarasah PANJANG (KM) 17 5 5 5 0,4 5,5 15 20 12 11 3 5 4,5 2,5 6 5 3 2 LOKASI (KECAMATAN) Pauh, Kuranji, Nanggalo, Padang Utara Kuranji Kuranji Padang Selatan Padang Utara Padang Timur, Padang Utara Koto Tangah Koto Tangah Koto Tangah Nanggalo Pauh Lubuk Kilangan Lubuk Kilangan Lubuk Begalung Lubuk Begalung Bungus Teluk Kabung Bungus Teluk Kabung Bungus Teluk Kabung

Attachment 2 | 8

Milestone Report – December

NO 19. 20. 21.

NAMA SUNGAI Sungai Pisang Bandar Jati Sungai Koto

PANJANG (KM) 3 2 2

LOKASI (KECAMATAN) Bungus Teluk Kabung Bungus Teluk Kabung Padang Timur

Sumber : Dinas Kimpraswil Kota Padang, tahun 2008 Kota Padang memiliki banyak sungai yaitu 5 sungai besar dan 16 sungai kecil dengan sungai terpanjang yaitu Batang Kandis sepanjang 20 km. Selain di daratan pulau Sumatera, Kota Padang memiliki 19 buah pulau yang terbesar adalah Pulau Sikuai di Kecamatan Bungus Teluk Kabung seluas 38,6 km2. Panjang garis pantai adalah 68,126 km (diluar pulau-pulau kecil). Hal ini membuat Kota Padang menjadi salah satu kota pantai yang mempunyai resiko terhadap berbagai kemungkinan munculnya bahaya gelombang pasang dan tsunami karena tumbukan lempeng Eurasia dan Indo Australia di Samudera Indonesia. D. GEOGRAFIS

Kota Padang adalah ibukota Propinsi Sumatera Barat yang terletak di pantai Barat Pulau Sumatera dan berada antara 0o44’00“ dan 1o08’35“ Lintang Selatan serta antara 100o05’05“ dan 100o34’09“ Bujur Timur. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Padang Pariaman, sebelah Selatan dengan Kabupaten Pesisir Selatan, sedangkan sebelah Barat berbatasan dengan Samudera Indonesia dan sebelah Timur dengan wilayah Kabupaten Solok. Menurut PP No. 17 Tahun 1980, luas Kota Padang adalah 694,96 Km2 atau setara 1,65 % dari luas Propinsi Sumatera Barat dengan keliling 165,35 km2. Luas daerah efektif termasuk sungai adalah 205.007 km2, sedangkan luas daerah bukit termasuk sungai adalah 486.209 km2. Kota Padang terdiri dari 11 Kecamatan dan 103 Kelurahan dengan kecamatan terluas adalah Koto Tangah yang mencapai 232,25 Km2 (34,32 %) dan yang paling kecil adalah Kecamatan Padang Barat yaitu 7,00 Km2 (1,01 %). Dari keseluruhan luas Kota Padang sebagian besar atau 52,52 % berupa hutan yang dilindungi oleh pemerintah, berupa bangunan dan pekarangan seluas 9,01 % atau 62,63 km2, sedangkan yang digunakan untuk lahan sawah seluas 7,52 % atau 52,25 km2. Tabel 2.5. Luas Lahan Per Kecamatan Di Kota Padang NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11. KECAMATAN Bungus Teluk Kabung Lubuk Kilangan Lubuk Begalung Padang Selatan Padang Timur Padang Barat Padang Utara Nanggalo Kuranji Pauh Koto Tangah Total Sumber : BPS Kota Padang tahun 2009 LUAS (KM2) 100,78 85,99 30,91 10,03 8,15 7,00 8,08 8,07 57,41 146,29 232,25 694,96 PERSENTASE 14,50 12,37 4,45 1,44 1,17 1,01 1,16 1,16 8,26 21,05 33,42 100,00

Attachment 2 | 9

Milestone Report – December

2.1.2.

POTENSI BENCANA ALAM/KERAWANAN BENCANA ALAM

2.1.2.1. Gempa Bumi Pusat-pusat gempa di Kota Padang paling banyak berkaitan dengan gempa tektonik. Pusat-pusat gempa tektonik di Kota Padang terbentuk di sepanjang jalur gempa mengikuti zona subduksi sepanjang 6.500 km di sebelah Barat Pulau Sumatra. Tumbukan Lempeng Samudera Hindia dan Lempeng Australia yang menyusup di bawah Lempeng Eurasia membentuk Zona Benioff, yang secara terus menerus aktif bergerak ke arah Barat - Timur yang merupakan zona bergempa dengan seismisitas cukup tinggi. Kondisi ini menyebabkan Kota Padang menjadi daerah tektonik giat dan merupakan sumber gempa merusak. Data kegempaan dari BMG dan USGS memperlihatkan lokasi pusat-pusat gempa di perairan Kota Padang tersebar cukup merata. Pusat gempa terlihat lebih banyak di perairan antara Pulau Enggano dan daratan Pulau Sumatera. Frekuensi kejadian gempa dari tahun 1900 hingga 1963 relatif sedikit, sedangkan dari tahun 1963 hingga 1995 terjadi peningkatan. Gempa terjadi 3 sampai 16 kali per tahun dalam kurun 1963-1975, frekuensi ini menurun hingga 2 kali kejadian dalam tahun 1984, dan kemudian meningkat lagi dengan 2 kali kejadian pada tahun 1995. Kebanyakan sumber-sumber gempa tersebut berada pada kedalaman 33 hingga 100 Km, dengan magnitude lebih besar dari 5 skala Richter. Gempa berkekuatan lebih besar dari 6,5 skala Richter di permukaan, berpeluang besar menyebabkan deformasi di daratan dan di dasar laut. Zona tektonik aktif yang terbentuk dari penujaman lempeng di sebelah Barat Pulau Sumatera juga dapat dilihat dari adanya gunung api aktif yang muncul di sepanjang jalur patahan aktif di bagian sisi Barat Pulau Sumatera yang bergerak geser kanan (dextral strike slip fault). Jalur patahan Sumatera yang juga biasa disebut dengan Patahan Semangko sepanjang 1.650 Km, menyebabkan blok sebelah kiri pulau Sumatera bergerak ke Utara sedangkan yang di sebelah kanan bergerak ke Selatan serta melahirkan kepulauan busur dalam (inner island arc) seperti Pulau Nias, Mentawai, Enggano, Pisang dan sebagainya. Gempa vulkanik di Kota Padang disebabkan posisi Kota Padang yang berada di dekat 3 gunung api aktif, yaitu Gunung Talang, Marapi dan Tandikek. 2.1.2.2. Gelombang Tsunami Letak Kota Padang yang berada di Pantai Barat Sumatera, yang berbatasan langsung dengan laut terbuka (Samudera Hindia) dan zona tumbukan aktif dua lempeng menjadikan Padang salah-satu kota paling rawan bahaya gelombang Tsunami. Gempa tektonik sepanjang daerah subduksi dan adanya seismik aktif, dapat mengakibatkan gelombang yang luar biasa dahsyat. Pusat gempa, umumnya menunjukkan tipe sesar naik. Sumber patahan seperti ini jika mempunyai magnitude lebih besar dari atau sama dengan 7 Skala Richter sangat berpotensi sebagai pembangkit gelombang tsunami. Dari catatan sejarah bencana, gelombang tsunami pernah melanda Sumatera Barat pada 1797 dan 1833. 2.1.2.3. Liquifaksi Liquifaksi adalah suatu proses atau kejadian berubahnya sifat tanah dari keadaan padat menjadi keadaan cair, yang disebabkan oleh beban siklik pada waktu terjadi gempa sehingga tekanan air pori meningkat atau melampaui tegangan vertikal. Berdasarkan analisis potensi liquifaksi dengan mempertimbangkan percepatan gempa sebesar 490 cm/detik di permukaan tanahnya , maka wilayah Kota Padang akan mengalami penurunan yang cenderung semakin besar ke arah utara hangga mencapai 25 cm. Penurunan lapisan tanah tersebut, kemungkinan besar disebabkan oleh penyebaran endapan pasir gembur yang semakin tebal di wilayah utara. Penurunan lapisan tanah iniu akan mengancam infrastruktur penting seperti Bandara Internasional Minangkabau (BIM). 2.1.2.4. Gerakan Tanah Gerakan tanah di Kota Padang meliputi daerah-daerah sebagai berikut : A. 1) Dataran Kondisi Stabil (S)

Terdapat pada daerah dataran yang tersusun oleh Endapan aluvial, rawa, Kipas aluvial, pematang pantai dan dataran pantai, berupa lempung pasir, kerikil-kerakal, lepas-agak padat, sudut lereng 0 – 5 % berupa dataran dengan elevasi 0 – 5 m (dml), tipe erosi limpasan-alur, serta runtuhan tebing sungai sebagai akibat limpasan aktifitas aliran air sungai. Meliputi sepanjang pesisir pantai bagian barat Kota Padang.
Attachment 2 | 10

99%. Adanya goncangan gempabumi dapat menimbulkan rekahan-rekahan ke arah lembah yang dapat menyebabkan terjadinya longsoran ke arah hulu. Tingkat Sedang .. Bentuk lereng pada umumnya tidak beraturan (irreguler). tipe erosi alur lembah (runtuhan tebing sungai) akibat aktifitas aliran air permukaan dan sungai. biasanya terjadi di sekitar tebing sungai/pantai yang disebabkan oleh arus/ombak. kompleks perbukitan vulkanik. Terdapat pada batuan Qa. Sedangkan longsoran terjadi pada tanah pelapukan. kecuali untuk daerah Sungai Sapih. tuf dan koluvium.000 meter dpl.sangat padat.5. Air Dingin. dan kompleks pegunungan vulkanik. sifat endapan lepas-lepas dan dapat terjadi Abrasi/Akresi sebagai akibat dari aktifitas air laut. b. Akibat curah hujan yang tinggi. Gelinciran Batuan/Runtuhan Gelinciran/runtuhan batuan terjadi karena adanya perlapisan dari batuan dan juga adanya patahan. Tipe erosi limpasan-galur-jurang.perbukitan yang tersusun oleh batuan tua yang terdiri dari malihan/metamorf. sedangkan tingkat bahaya longsoran lahan sedang terdapat pada daerah lereng-kaki pegunungan.Stabil (S – T): Terdapat pada daerah dataran . mulai dari 12 hingga 150 meter. padat.Milestone Report – December 2) a. sedikit berada pada bagian barat Kota Padang.1. sifat endapan padat . sifat endapan sangat padat. Faktor yang mempengaruhi tingkat bahaya longsoran lahan di daerah Kota Padang adalah karakteristik lahannya berupa kemiringan lereng yang umumnya berkisar 23 . dan curah hujan yang tinggi. dengan panjang lereng yang bervariasi.tenggara. B. air tanah yang tergolong dangkal dan banyak terdapat jalur mata air dan rembesan mempercepat terjadinya longsoran lahan. Tingkat bahaya longsoran lahan yang rendah umumnya terdapat pada daerah dataran alluvial dan dataran alluvial pantai dengan lereng 0-8%. Meliputi bagian timur laut hingga tenggara.dan selatan Kota Padang. mudah tererosi oleh aliran air permukaan dan terdapat dinding dengan > 30 % hingga tegak lurus. dan Bukit Lantiak. sudut lereng 5 – 30 % berupa dataran bergelombang dengan elevasi 5 – 10 m (dml). Meliputi bagian timur laut . kecuali di daerah Kuranji yang mempunyai struktur masif sehingga akan mempermudah terbentuknya bidang gelincir. Ketinggian daerah yang sebagian besar berupa kompleks perbukitan vulkanik. Kondisi Tidak Stabil (TS) : Tingkat Rendah – Sedang (R –S) : Terdapat pada daerah baratlaut hingga ke arah selatan.2. Longsoran Lahan Hasil analisis tingkat bahaya longsoran lahan pada daerah Kota Padang menunjukkan sebagian besar daerahnya memiliki tingkat bahaya longsoran lahan yang sedang dan tinggi. dapat runtuh. Struktur batuan wilayah Kota Padang umumnya miring. yaitu berkisar dari 86 cm hingga kedalaman 7 m dan memiliki jalur mata air (spring) dan jalur rembesan (seepage). • • Longsoran Terjadi pada batuan/tanah pelapukan yang mempunyai lereng. yang tersusun oleh Endapan Dataran Aluvial berupa endapan volkanik (dominan) berupa lahar.1. Pantai Abrasi/Akresi (A) : Terdapat pada daerah yang tersusun oleh Endapan Pematang Pantai berupa lanaupasir. 2. Kedalaman air tanah umumnya dangkal. Adapun jenis gerakan tanah bisa berupa : • Erosi Tersebar di bagian barat laut – tenggara sepanjang tepi pantai yang meliputi daerah Padang. dan kompleks pegunungan vulkanik dengan ketinggian relief berkisar antara 500 . Attachment 2 | 11 .

bentuk lahan aluvial bagian Tengah dan bentuk lahan marin bagian Barat. Perkembangan Kota Padang yang relatif pesat. Hal ini didukung lagi bahwa Kota Padang merupakan daerah tropis mempunyai curah hujan yang cukup tinggi rata-rata . Banjir Berdasarkan terminologi banjir. Salah-satu faktor penyebab tingginya laju abrasi pantai di daerah Pasir Parupuk disebabkan oleh konstruksi yang dibangun di pantai seperti pemecah gelombang (creep). sisa-sisa terumbu karang yang dominan.2. sering mengalami banjir.7. Untuk daerah pasir di sekitar Kampus Universitas Bung Hatta. sangat rawan dengan banjir. dan lambat keluar dari areal tersebut dan banjir luapan sungai/kiriman yang berasal dari hujan deras yang turun di bagian hulu DAS yang menggenangi dataran rendah yang telah dimanfaatkan dan semula merupakan dataran banjir (flood plain). Tata Letak Kota Padang dan Tinjauan Sistem Kota Di Sumbar.2. yang mempunyai kedalaman kurang dari 40 meter. Kota Padang dilihat dari geomorfologinya merupakan perpaduan antara bentuk lahan pebukitan vulkanik bagian Timur.16 hari per-bulan. karena dikepung dari kedua arah.6. banjir yang terjadi di Kota Padang dapat dibedakan atas dua jenis yaitu banjir genangan yang disebabkan terjadinya genangan pada suatu areal akibat dari hujan deras. maka akan terbentuk arus menyusur pantai (longshore curent) yang disebabkan oleh perbedaan tekanan hidrostatis. Gelombang yang datang menuju pantai dapat menimbulkan arus pantai yang berpengaruh terhadap proses sedimentasi/abrasi di pantai. Kondisi semacam ini akan memicu proses abrasi yang terjadi di wilayah tersebut. Batang Arau. karena pantai ini terletak pada daerah teluk. Batang Air Dingin dan Batang Kandis pada periode Kuarter (Qal). maka kecepatan arus sepanjang pantainya cenderung menjadi rendah. Pada umumnya konstruksi ini akan menghadang aliran litoral (litoral drift) alami di wilayah pantai tersebut. Pada umumnya proses interaksi antara perairan pantai dengan laut lepas lebih banyak ditemui pada pantai di Kota Padang karena pantai-pantai tersebut banyak berhubungan dengan lautan. Pantai ini dibatasi hanya di daerah tempat gerakan air yang kuat mengangkut partikel-partikel yang halus dan ringan. Hal ini terlihat dalam bentuk kebutuhan Attachment 2 | 12 . industri dan perdagangan. Erosi pantai/abrasi terjadi akibat pengaruh yang berasal dari laut yaitu berupa gelombang.300 mm per-bulan dengan rata-rata hari hujan 15 . maka akan terbentuk arus meretas pantai (rip curent) dengan arah menjauhi pantai di samping terbentuknya arus menyusur pantai. bagian yang paling banyak dan paling keras sisa-sisa pelapukan lahan atas (upland). arus laut dan longshore current atau arus sejajar pantai. 2. Pola arus pantai terutama ditentukan oleh besarnya sudut datang yang dibentuk antara gelombang yang datang dengan garis pantai. Batang Kuranji.1. yang berarti terganggunya pemasokan air ke pantai di bagian hilir aliran lithoral tersebut.Milestone Report – December 2. dengan fungsi sebagai pusat pemerintahan. Berpedoman pada “ Catalogue of Landforms for Indonesia (Dessaunattes. Kota Padang merupakan pusat pertumbuhan wilayah Sumatera Barat. Jika sudut datang gelombang kecil atau sama dengan nol (gelombang yang datang sejajar dengan pantai). pariwisata. Jika sudut datang itu cukup besar. Sebagai kawasan yang dekat dengan pantai dan pengaruh pasang air laut. Daerah bagian Timur merupakan perbukitan vulkanik yang lebih tinggi dari daerah bagian Tengah dan Barat. Erosi Pantai/Abrasi Erosi pantai/abrasi merupakan peristiwa alam yang mengakibatkan terjadinya pengikisan pada pantai sehingga luas daerah pantai menjadi berkurang.2. 1977). pendidikan. sehingga daerah bentuk lahan aluvial dan marin yang dilalui oleh beberapa sungai besar seperti Batang Bungus. 2. Batang Kuranji dan Batang Air Dingin serta masih ada lagi 18 sungai kecil lainnya yang mempunyai aliran permanen sepanjang tahun. Apalagi luapan sungai tersebut bersamaan dengan terjadinya pasang di laut. ekosistemnya termasuk terumbu karang yang dari segi tipenya termasuk kepada jenis terumbu karang tepi (fringing reef). wilayah dataran rendah Kota Padang tergolong kepada sistim aluvial (Alluvial plain) dan dataran banjir (Flood Plain) yang terbentuk dari bahan endapan sungai (Recent Deposits) dari luapan luapan sungai Batang Arau.1. di sebelah barat dari laut dan di sebelah timur dari hulu sungai. Pada umumnya pantai yang ada di Kota Padang kebanyakan adalah pantai pasir yang terdiri dari kwarsa dan feldspar. yang tidak dapat mengalir. terkecuali Pantai Bungus. Pada umumnya banjir di Kota Padang tergolong pada banjir genangan. dilihat dari kegiatan ekonomi dan fungsi pelayanan primer dan sekunder sangat berpengaruh terhadap kegiatan kota secara keseluruhan. Untuk pantai di sekitar Kampus Universitas Bung Hatta.

Tabing. dan pengembangan pendidikan. Gunung Padang. Kota Padang merupakan suatu entity yang memperlihatkan sejarah perkembangan kota pesisir dengan dinamika masyarakatnya yang tumbuh dan berkembang menjadi kota jasa. sementara sumber daya alam yang dapat diolah untuk menunjang perkembangan diatas sangat terbatas. kawasan perbatasan sekitar Bandara Internasional Minangkabau. dan kawasan sepanjang pantai. Sub Pusat Pelayanan Utama di kawasan Lubuk Buaya. kawasan Industri Maritim Bungus. Sentra perkembangan Timur: kawasan Bandar Buat. Luas penggunaan lahan total yang terdapat dalam wilayah Kota Padang adalah 69. Implementasi konsep dasar Induk Kota Padang yang dituangkan dalam pengaturan tata ruang kota tampak bahwa pemukiman/perumahan merupakan salah satu dasar membentuk struktur kota. arahan pengembangan pusatpusat pelayanan yaitu: Pusat Pelayanan Utama di kawasan pusat kota. b. c. Batasan kepemilikan lahan yang masih banyak kurang jelas.3. kawasan Padang By Pass. Pemukiman/perumahan merupakan unsur pendukung /penunjang dari pusat pengembangan kota yaitu pusat pengembangan industri. Limau Manis. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kota Padang Tahun 2004-2008 (berdasarkan Perda No. jasa maupun industri. 2008). Sentra perkembangan Selatan: kawasan Teluk Bayur. Pemanfaatan lahan di kawasan sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) di Kota Padang yang dapat mengganggu fungsi ekologis DAS tersebut sehingga berdampak terhadap kawasan pemukiman di hilirnya. Air Pacah. Perubahan Penggunaan Tanah 2. Sentra perkembangan dan kawasan prioritas Kota Padang yaitu: a. d. Attachment 2 | 13 . kawasan perkantoran Pemko Padang.Milestone Report – December akan wadah atau ruang yang cukup besar untuk mendukung aktifitas ekonomi dan fungsi pelayanan sebagai penunjang kegiatan ekonomi tersebut. kawasan Kampus Universitas Andalas Limau Manis. Terjadinya konversi lahan hutan menjadi lahan permukiman dan kebun Pembangunan yang melanggar sempadan bangunan yang ditetapkan dan pembangunan yang tidak sesuai dengan penggunaan lahan yang ditetapkan. perdagangan dan industri. Kondisi ini akan mempengaruhi pergeseran penggunaan lahan. Pergeseran penggunaan lahan tersebut dapat terlihat dari tumbuh dan berkembangannya bangunan baru untuk menampung kegiatan-kegiatan pemukiman. Bandar Buat. kawasan Padang Industrial Park. kawasan wisata terpadu Gunung Padang.47% dari total penggunaan lahan yang ada setelah penggunaan lahan untuk hutan/konservasi dan lahan kosong/pertanian. dan Bungus serta Pusat Pelayanan Kegiatan di kawasan Anak Air. kawasan eks Bandara Tabing. 19 Tahun 2004) ditetapkan 4 (empat) Sentra Perkembangan Kota dan 18 (delapan belas) Kawasan Prioritas Pengembangan. kawasan Pasar Induk Anak Air. Teluk Bayur. Perkembangan dan perubahan Kota Padang dipengaruhi oleh perkembangan dan pertumbuhan serta dinamika kegiatan social ekonomi yang berlangsung. kawasan eks Terminal Lintas Andalas. Pasar Baru. dan Sungai Pisang. d. kawasan Pasar Lubuk Buaya. pusat kota/inti kota. Sektor pemukiman/perumahan menduduki urutan ketiga yaitu sekitar 15. kawasan Pasar Baru. kawasan wisata Sungai Pisang. Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Padang Tahun 2004-2013. perdagangan. Sentra Perkembangan Pusat Kota: kawasan Pasar Raya.496 ha (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Padang. Dalam pemanfaatan ruang untuk berbagai kegiatan di Kota Padang terdapat berbagai masalah seperti : a. c. tetapi pemukiman juga menjadi struktur wilayah kota itu sendiri. b. Pasar Raya. Sentra perkembangan Utara: kawasan Air Pacah. Untuk mengembangkan kawasan prioritas tersebut masih perlu dilengkapi dengan Rencana Detail Tata Ruang Kota dan Rencana Teknis Tata Ruang Kota sebagai acuan untuk melaksanakan pembangunan.

732 14.248 4. Tipologi Penggunaan Lahan Berdasarkan Status Penggunaan Lahan Kota Padang NO 1.595 4. Lahan persawahan terdiri dari sawah beririgasi. perukiman. 2008 Penggunaan Lahan di Kota Padang berdasarkan status penggunaan lahan menunjukan luas wilayah hutan 36.248 3. tanah terlantar dan lain lain. Status Penggunaan Wilayah Hutan Hutan Lindung Hutan bakau Sawah beririgasi Sawah Pasang surut b.50 12. serta hutan bakau. Lahan non sawah terdiri dari rawa-rawa.173 543 1.588 26. a.00 g.50 12. a. perumahan.50 Ha. Lain lain Attachment 2 | 14 .539. Berikut ini tabel penggunaan lahan di Kota Padang. ladang/tegalan.00 6. e.50 Ha . Sawah lainnya Lahan non sawah a. Tabel 2.301. Sawah tadah hujan d. Permukiman Luas(Ha) 36. dan sawah lainnya. c. Padang rumput alami h. sawah pasang surut. Hutan suaka alam dan wisata Lahan persawahan b. perkebunan.850 23. c. Lahan persawahan 12. Penggunaan lahan yang terdapat di kota Padang terdiri dari wilayah hutan yang terdiri dari hutan lindung. tanah tandus/rusak. Ladang /tegalan d. Total Sumber : Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Padang. padang rumput alami. 2. c. Rawa rawa Perkebunan Kolam air tawar Tanah tandus/rusak b. 3.05 1536 75 768 1099.899.Milestone Report – December Lahan di kota Padang dimanfaatkan untuk mendukung berbagai kegiatan.361. yaitu untuk pertanian. 69.361.538.00 Ha dan lahan non sawah 26. Tanah terlantar i.496. perdagangan. f. hutan suaka alam dan wisata.899.18.50 125 1. kolam air tawar. maupun untuk pembangunan berbagai fasilitas pelayanan perkotaan.655 34.6. sawah tadah hujan.

Pauh.934. 4.133. kebun campuran 13. Dari luas kawasan hutan tersebut 5.00 135.17 0.50 13.42 1. Dampak lain dari keberadaan lahan kritis tersebut dapat dilihat ketika terjadi hujan diatas normal pada wilayah DAS bagian hulu.00 291. Kondisi yang ekstrim dapat dilihat pada muara sungai Batang Attachment 2 | 15 .00 Sumber : Kota Padang Dalam Angka Tahun 2008 Luas lahan di Kota Padang menurut jenis penggunaannya menunjukan hutan lebat 35. sedangkan untuk kawasan non hutan sebesar 16.5 ha. Luas Lahan menurut Jenis Penggunaannya Di Kota Padang No 1.5 Ha.03 7.01 0.00 26.Milestone Report – December Tabel 2.568. Perincian luas lahan kritis tersebut di dalam kawasan hutan 1.924. DAS Batang Kandis. 7. dan 1.00 1. 10.45 69. 2. yang terdiri dari 17.7.924.00 35.496 ha mempunyai lahan kritis seluas 6. 496 ha . Kota Padang dengan luas 69.. 15. tanah perumahan 6.343.28 234. 17.000 ha.02 2. 76 ha.00 379.46 % berada dalam kondisi kritis.25 71532 4.288.995. Lubuk Begalung.70 ha berpotensi kritis. Lahan Kritis Total luas lahan kritis di kota Padang adalah 49. 16.07 1. Penyebaran lahan kritis di dalam kawasan hutan terdapat di Kecamatan Koto Tangah.28 Ha. Pada kondisi ini debit sungai relatif lebih tinggi dan disertai warna air yang keruh oleh bahan bahan sedimen.496.00 Persentase (%) 9.00 2.19 51.70 ha sudah kritis. 12.75 702. 6.281.15 0.55 100. 5.01 1.05 0. 8. 11.00 120. DAS Batang Air Dingin.500. DAS Batang Air Timbalun dan DAS Sungai Pisang.288.148. 14.999.34 1. Kuranji.36 %. A.00 956.598.934 Ha dan perkebunan rakyat 2. 19.22 % dari luas Kota Padang.10 ha agak kritis. DAS Batang Kuranji. 24.254.148. 9. 18.80 162.23 0.448 Ha. Lubuk Kilangan dan Bungus Teluk Kabung yang meliputi 6 daerah aliran sungai (DAS) yaitu DAS Batang Arau.38 3.04 1.24 ha dan areal non hutan 32.10 0.410 ha atau 12.83 100. 3.04 0.448.93 0. sawah beririgasi teknis 4.410 ha dan di luar kawasan hutan 5. Berpedoman pada luas kawasan hutan Kota Padang menunjukan bahwa luas hutan (hutan lindung dan hutan konservasi adalah 36. 5.00 ha dalam kondisi sangat kritis Jumlah total lahan kritis ini lebih dari setengah luas wilayah kota Padang yaitu 69. yang selanjutnya bahan bahan sedimen tersebut akan diendapkan di sekitar muara sungai.26 0. Jenis Penggunaan Tanah Perumahan Tanah Perusahaan Tanah Industri Termasuk PT Semen Padang Tanah Jasa Sawah BeririgasiTeknis Sawah Non Irigasi Ladang Perkebunan Rakyat Kebun Campuran Kebun Sayuran Peternakan Kolam Ikan Danau Buatan Tanah Kosong Tanah Kota Semak Rawa/Hutan Mangrove Hutan Lebat Sungai dan Lain-lain Jumlah Luas Lahan (Ha) 6. 13.50 16.09 20.07 Ha.

Sesuatu yang dikhawatirkan dimasa yang akan datang adalah terjadinya perubahan pemanfaatan lahan produktif dan perubahan pemanfaatan lahan pada kawasan lindung yang tanpa terkendali. Pada kawasan-kawasan tertentu terlihat kecenderungan perkembangan yang pesat dalam penggunaan alih fungsi lahan untuk kegiatan pertanian. Adanya upaya untuk memanfaatkan kawasan lindung menjadi areal budidaya semakin meningkat. Hal tersebut diatas jelas akan menjadikan timbulnya tekanan terhadap sumberdaya lahan serta lingkungan. Tingginya kebutuhan masyarakat akan lahan seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Hal ini jelas akan mengurangi kapasitas tampung sungai dan penyempitan badan sungai. Dimana pada beberapa kecamatan ini yang semula mempunyai kawasan lindung yang cukup signifikan dengan daerah tangkapan air (catchment area) Kota Padang yang seharusnya dipelihara atau dilestarikan. pembangunan perumahan. Disamping itu juga adanya kecenderungan masyarakat menggunakan sistim ladang berpindah serta pembukaan lahan bagi keperluan pertanian dan kawasan terbangun. jasa dan keperluan kegiatan lainnya. ladang berpindah. pedagangan ataupun jasa masih banyak yang belum sesuai dengan konsep lingkungan.Milestone Report – December Arau. kegiatan pertanian. jelas mempengaruhi pergeseran penggunaan lahan di Kota Padang. Keadaan ini sudah sepantasnya untuk diwaspadai oleh masyarakat dan Pemerintah Kota Padang. dimana telah terjadi pendangkalan dan banyak tumpukan bahan-bahan sedimen pada bagian pinggir sungai. Pertambahan lahan kritis. Berbagai kegiatan seperti Pembukaan lahan berpindah. Attachment 2 | 16 . perubahan pemanfaatan lahan produktif dan kawasan lindung akibat kegiatan yang tidak memperhatikan konservasi lingkungan masih cenderung untuk terus bertambah di Kota Padang. terlihat sudah mulai berubah fungsi dan dialihkan untuk peruntukan lain seperti untuk kegiatan-kegiatan perladangan dan kegiatan lainnya. pola perubahan ini harus dikendalikan semaksimal mungkin dengan kebijakan pemerintah. Oleh sebab itu. perkembangan kawasan pemukiman.

Milestone Report – December Attachment 2 | 17 .

Milestone Report – December Attachment 2 | 18 .

Milestone Report – December Attachment 2 | 19 .

Milestone Report – December Attachment 2 | 20 .

Tabel 2. Penyebaran dan kepadatan penduduk Kota Padang terlihat tidak merata antar wilayah kecamatan.57 3.310 50. yang nantinyamenurunkan kualitas sumberdaya lingkungan. pencemaran dan masalah sampah.865 39.922 67.31 0.886 LAJU PERTUMBUHAN PENDUDUK PERTAHUN (%) 2.535 117. Penduduk merupakan modal dasar dalam setiap proses pembangunan di suatu negara karena penduduk adalah subjek sekaligus objek bagi upaya pembangunan yang dilaksanakan.087 88. Kuranji. Kecamatan dengan kepadatan tertinggi tersebut merupakan kecamatan yang mempunyai laju pertumbuhan penduduk yang tinggi yaitu diatas rata-rata kepadatan penduduk Kota Padang sekitar 1.490 64.055 113. tahun 2008 Attachment 2 | 21 . 11.036 2008 25.64 3.234 orang per Km2. Wilayah kecamatan yang merupakan daerah terpadat penduduknya adalah beberapa kecamatan bekas wilayah Kota Padang sebelum peremajaan kota tahun 1981.26 2. Di bawah ini merupakan tabel jumlah dan laju pertumbuhan penduduk menurut kecamatan di Kota Padang tahun 1998 dan 2008.064 55. pencemaran dan masalah sampah.31 1.65 0. Lubuk Kilangan. KEPENDUDUKAN Pesatnya perkembangan Kota Padang di berbagai sektor.876 62. Hal ini terlihat dengan semakin tingginya tingkat hunian penduduk ke areal-areal pemukiman khususnya di berbagai perumahan yang dikembangkan pada daerah pinggiran kota tersebut.4. KECAMATAN Bungus Teluk Kabung Lubuk Kilangan Lubuk Begalung Padang Selatan Padang Timur Padang Barat Padang Utara Nanggalo Kuranji Pauh Koto Tangah Jumlah 1998 19.Milestone Report – December 2. seiring dengan semakin tingginya angka pertambahan penduduk kota.57 1.572 857. 10. Otomatis juga akan berimbas kepada perkembangan kawasan pemukiman yang cenderung semakin mengarah ke daerah pinggiran kota. 6.234 orang per Km2. 5. yang nantinyamenurunkan kualitas sumberdaya lingkungan. 8 Jumlah dan Laju Pertumbuhan Penduduk Menurut Kecamatan PENDUDUK NO 1.74 3.629 77. Akibatnya akan timbul berbagai masalah seperti pembukaan lahan baru. dalam proses penyusunan perencanaan pembangunan faktor penduduk menjadi dasar yang memegang peranan penting.144 696.250 43. 8.958 54.508 88.412 104. 4. 9. Penyebaran dan kepadatan penduduk Kota Padang terlihat tidak merata antar wilayah kecamatan. Oleh sebab itu. pembukaan lahan baru.59 1.20 1. 2.987 62. 3. 7.096 81.802 59.77 4. Pauh dan Koto Tangah.730 159. Kecamatan dengan kepadatan tertinggi tersebut merupakan kecamatan yang mempunyai laju pertumbuhan penduduk yang tinggi yaitu diatas rata-rata kepadatan penduduk Kota Padang sekitar 1. Perkembangan penduduk yang cukup pesat ini terjadi akibat arus urbanisasi dan berkembangnya beberapa kawasan di kecamatan pemekaran sejak perluasan kota yaitu Bungus Teluk Kabung. Untuk mengetahui perkembangan Kota Padang baik sekarang maupun masa yang akan datang maka perlu dilakukan kajian dan analisis kependudukan. Wilayah kecamatan yang merupakan daerah terpadat penduduknya adalah beberapa kecamatan bekas wilayah Kota Padang sebelum peremajaan kota tahun 1981.234 37.851 80.35 Sumber : BPS Kota Padang.

17 1. Cupak Tangah hingga terus ke arah tenggara Kota Padang. B.08 8.75 6.16 8. Peta Bahaya Goncangan Gempabumi Indonesia.45 1. 3. Kertapati. 11. Kamawan.886 % 2.876 62.572 857. • • Secara umum Kota Padang dibagi dalam beberapa zona bahaya sebagai berikut : Attachment 2 | 22 . Kertapati.78 85.06 12. 10. Di bawah ini adalah tabel luas daerah dan kepadatan penduduk menurut kecamatan tahun 2008 di Kota Padang.03 8.490 64. Dkk.Kabung Lubuk Kilangan Lubuk Begalung Padang Selatan Padang Timur Padang Barat Padang Utara Nanggalo Kuranji Pauh Koto Tangah Jumlah LUAS DAERAH km2 100.905 8.5. KECAMATAN Bungus Tlk.05 33.250 43. Pemukiman yang berada di sekitar pantai dengan ketinggian < 1o m diperkirakan akan hancur diterjang gelombang tsunami.234 2..K. E. Kawasan ini disebut Kawasan Bahaya I.412 104. Lokasi Rawan Bencana Gempa Bumi Berdasarkan data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. 2001.802 59.Milestone Report – December Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa jumlah penduduk tertinggi tahun 2008 terdapat di Kecamatan Koto Tangah yaitu 159. 7.337 10.37 4. yaitu : • • Skala V – VI : Tersebar dominan ke bagian barat laut – tenggara yang meliputi daerah bagian tengah hingga timur laut Kota Padang.29 232.629 77.50 12. 4.. Intensitas Gempabumi (MMI) Daerah Padang mempunyai tingkat besaran gempa berkisar antara V hingga VII (skala MMI). Luas Daerah dan Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan NO 1. 9.38 18.. Skala VI – VII : Tersebar mulai dari bagian barat laut – tenggara.36 7.01 1.42 100 JUMLAH PENDUDUK Jiwa 25.9.96 % 14.377 2.44 1.. namun tidak sampai hancur.26 %.958 54.947 9. S.18 7. E.00 8. Kawasan ini disebut Kawasan Bahaya II. Peta Wilayah Rawan Bencana Gempabumi Indonesia.07 57. Dkk.47 10.99 30.91 10. 2.572 jiwa dengan laju pertumbuhannya sebesar 4. 6. Pemukiman (dengan konstruksi permanen) yang berada pada ketinggian > 10 m. diperkirakan juga akan terkena gelombang tsunami. 5. 1999.07 6.25 694.380 6. Tabel 2. Peta Geomorfologi Lembar Padang.41 146.30 9. 2004. bagian tengah meliputi daerah Pasir Jambak. 2009 – 2010.94 5.16 1. Gelombang Tsunami..626 7.087 88. dkk.47 13. 8.60 100 KEPADATAN PENDUDUK (JIWA/KM2) 251 505 3..055 374 687 1.26 21. A.K.535 117.15 7.730 159.

500 Ha. sedangkan tingkat bahaya longsoran lahan yang rendah umumnya terdapat pada setiap kecamatan yang ada di Kota Padang. Erosi Pantai/Abrasi Hampir sepanjang pantai pada bagian utara Kota Padang mengalami gejala abrasi yang sangat kuat. tersusun oleh Kipas Aluvial dan Endapan Rawa. Pasir Air Tawar. Tingkat bahaya banjir terbesar terdapat pada Kecamatan Koto Tangah dengan luas daerah 790 ha. Sedang – Tinggi : meliputi daerah bagian pesisir bagian barat kota Padang tersusun oleh Kipas luvial dan Pematang Pantai. walaupun telah dibenahi berbagai sarana untuk pengendalian banjir. terdapat daerah-daerah yang terbagi dalam Tingkat Rawan Liquifaksi. rawa belakang. Hal ini disebabkan karena pada daerah tersebut umumnya memiliki topografi daerah yang datar dengan kemiringan lereng sebagian besar berkisar 0 8%. Tingginya tingkat Attachment 2 | 23 . kekuatan kekuatan gelombang tsunami terus menurun ke arah pedalaman seperti banjir biasa. dari luas tersebut 3. Di Kota Padang diperkiarakan air akan mengalir 2 – 2. Tingkat bahaya banjir sedang yang terbesar terdapat pada Kecamatan Kuranji dengan luas daerah 802 Ha. Tingkat bahaya banjir di Kota Padang dapat dibedakan menjadi bahaya banjir tinggi dan sedang. E. Penggunaan lahan permukiman dan prasarana publik pada daerah ini umumnya terkonsentrasi pada daerah yang memiliki topografi datar. Tingkat bahaya banjir tinggi umumnya tersebar pada daerah dataran yang memiliki satuan bentuk lahan dataran banjir.496 ha.5 Km dari Liquifaksi • C. sehingga tidak memiliki potensi untuk mengalami longsor. dataran aluvial. Tingkat bahaya longsoran lahan tinggi hampir terdapat pada setiap Kecamatan di Kota Padang. Perupuk Tabing serta Pasie Nan Tigo F. Rendah – Sedang : meliputi daerah bagian tengah Kota Padang. Tersusun oleh pematang pantai dan dataran pantai. sekitar 50 % dari luas wilayah tersebut merupakan kawasan pemukiman. Air tsunami ini akan mematikan semua jenis tanaman. hewan bahkan manusia yang sempat menghirupnya. Longsor Lahan D.Milestone Report – December • Kawasan daerah datar akan terendam selama beberapa waktu oleh air tsunami yang terjebak karena terhalang banjir kanal yang lebih tinggi letaknya dari permukiman beserta dengan material yang dibawanya . Permasalahan banjir merupakan fenomena alam dan termasuk bencana geologi yang tidak dapat dipisahkan dengan masalah lingkungan hidup dan aktifitas manusia. Kawasan ini disebut Kawasan Bahaya Ib. Tingkat risiko longsoran lahan tinggi yang memiliki luasan terbesar terdapat pada Kecamatan Padang Selatan dengan luas 16 Ha. Kawasan pesisir pantai Padang yang terancam abrasi adalah Purus. Permasalahan banjir ini ternyata masih belum mampu dapat dikendalikan sebagaimana mestinya. kecuali Kecamatan Padang Utara dan Padang Timur. yaitu • • • • Tinggi : meliputi pesisir pantai bagian barat Kota Padang. Banjir Bencana banjir hampir selalu terjadi tiap tahunnya di Kota Padang. terutama pada saat curah hujan tinggi. sehingga dapat mengancam pemukiman penduduk yang berdomisili di sekitar kawasan pantai. dan depresi antar gisik. Kota Padang yang memiliki luas 69. merupakan kawasan yang sangat rentan terhadap banjir. sehingga apabila terjadi longsoran lahan tidak menimbulkan korban jiwa. Rendah – Sangat Rendah : meliputi daerah daerah bagian tengah Kota Padang tersusun atas Kipas Aluvial dan sedikit Endapan Aluvial. Ulak Karang. Tingkat bahaya longsoran lahan yang rendah ini umumnya terdapat pada daerah yang memiliki penggunaan lahan berupa non permukiman. Bahaya abrasi diketahui berdasarkan hasil pengukuran pada daerah tersebut yaitu terjadinya kemunduran garis pantai lebih kurang 6 meter per tahun. Setelah melalui Kawasan Bahaya II. Akibat bencana gempa bumi.

dalam artian dalam satu hari terjadi dua kali pasang dan dua kali mengalami surut air laut. sehingga air yang akan mengalir ke laut terhambat karena bertemunya dua massa air. Pasang-surut di Kota Padang memiliki tipe pasang-surut ganda campuran.Milestone Report – December bahaya banjir Kota Padang umumnya disebabkan oleh curah hujan yang tinggi dan kejadian pasangsurut air laut di Kota Padang. Kejadian banjir di Kota Padang sering bertepatan dengan kejadian pasang naik. yaitu massa air tawar dan massa air laut ini yang sering menyebabkan banjir. Attachment 2 | 24 .

Daftar Isu Lingkungan Strategis dan Pembangunan Berkelanjutan NO 1 2 3 4 5 ISU STRATEGIS Diperlukan perencanaan jalur transportasi dengan kab/kota tetangga Perlunya pengembangan pelabuhan Teluk Bayur dan infrastruktur pendukung. Koto panjang. keresahan sosial. Akumulasi masalah-masalah lingkungan hidup ini selain diakibatkan oleh pembuangan berbagai jenis limbah padat dan cair serta gas secara langsung ke lingkungan. keterlibatan masyarakat) Lemahnya pengendalian pemanfaatan ruang implementasi) (banjir. ketidakjelasan SOP bencana) Ketersediaan. P2T (Pemilikan & Penguasaan Tanah) dan daya dukung lahan Kekkhawatiran pedagang pasar yang ada sekarang terhadap kepemilikan bangunan pasar baru 16 17 Attachment 2 | 25 . dan RPJM dan pelksanaannya Illegal logging dan penambangan liar Perizinan yang belum berbasiskan kajian geologis ( rumah runtuh. Masalah Lingkungan Hidup dan Isu Pembangunan Berkelanjutan. Masalah lingkungan hidup dan isu pembangunan berkelanjutan yang sangat nyata pada bagian-bagian kota Padang disederhanakan pada uraian berikut. rawan longsor. korban jiwa) Minimnya akses jalan dari hinterland menuju ibukota propinsi (kemacetan. Semen. baik degradasi lingkungan fisik alami. longsor pasca bencana (catchment area) Terancamnya relief dan bangunan bersejarah kota tua Tidak terjaganya ketersediaan sumber daya secara berkelanjutan untuk obyek wisata (ex wisata air terjun. RTRW. inkonsistensi dan 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Belum siapnya pemerintah dalam menghadapi bencana (RTRW tidak mencakup mitigasi bencana. kerugian masyarakat.1. terutama sarana dan prasarana drainase dan sanitasi lingkungan. salah satu kawasan strategis propinsi. batubara Ketergantungan keberlanjutan hutan di kabupaten untuk ketersediaan air dan pencegahan banjir. Sebagaimana halnya dengan kota-kota besar di Indonesia. mengingat makin meningkatnya produksi CPO. Danau singkarak). juga akibat keterbatasan kapasitas layanan sarana dan prasarana lingkungan. Danau maninjau. kerawanan sosial. dan daya dukung kapasitas jalan) Lemahnya validitas data bencana (kebijakan. tidak siapnya masyarakat. penurunan keanekaragamanan hayati dan meningkatnya masalah-masalah sosial kemasyarakatan. perkembangan fisik bagian-bagian kota Padang diikuti oleh berbagai masalah lingkungan. kurikulum pendidikan tidak memperhatikan mitigasi bencana. PEMUSATAN ISU STRATEGIS DAN WILAYAH KAJIAN 3. meningkat daerah ini merupakan kawasan multifungsi Menjadikan Sumatera Barat sebagai pusat perdagangan berkaitan dengan Sumbar merupakan pintu gerbang Pulau Sumatera Konflik kepentingan pemanfaatan ruang Terbatasnya kualitas sumber daya manusia Inkonsistensi RPP.Milestone Report – December BAB III PELINGKUPAN.

Tingkat bahaya longsor yang terdapat pada kawasan Gunung Padang dan Bukit Gaung berskala sedang dan tinggi. Permasalahan ini harus menjadi perhatian oleh pemerintah dan instansi terkait sebagai pembuat kebijakan serta seluruh masyarakat Kota Padang. walaupun telah dibenahi berbagai sarana untuk pengendalian banjir. dimana diantaranya terdapat 5 (lima) muara sungai besar. permasalahan banjir patut untuk diwaspadai. Kondisi seperti ini sesungguhnya kurang menggembirakan bila dilihat dari keberhasilan Pemerintah Kota Padang dalam menyikapi berbagai permasalahan lingkungan di daerah ini. Berdasarkan standar pelayanan minimal yang telah disusun. karena hal ini akan memperlambat dan menyumbat aliran air. Pencemaran limbah B3 (bahan berbahaya dan mencemari lingkungan. Hal ini tentu bakal menimbulkan berbagai macam kerugian di Kota Padang. maka ditetapkan isu-isu lingkungan strategis antara lain : • • • • • • Menurunnya kualitas air sungai dan kualitas air di wilayah pesisir pantai Menurunnya kualitas udara perkotaan akibat emisi gas buang industri dan kendaraan bermotor Degradasi lahan yang disebabkan penggalian bahan galian C. Abrasi dan Tanah Longsor Sebagai kota yang merupakan dataran rendah. Attachment 2 | 26 . Seberang Padang. Berbagai isu lingkungan yang pernah diungkapkan melalui laporan Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD) Tahun 2008 masih menjadi isu yang mengemuka untuk Kota Padang pada saat ini. terutama pada saat curah hujan tinggi. Kurangnya kapasitas tampung sungai yang akhirnya menjadi pemicu terjadinya banjir di daerah ini.Milestone Report – December 18 19 20 21 22 23 24 Kesemrawutan akibat pemanfaatan jalan diluar kepentingan lalu lintas Insfranstruktur jalur transportasi ke arah Solok dan Pesisir Selatan yang Rawan bencana. Banjir. Teluk Bayur dan Air Manis. Permasalahan banjir ini ternyata masih belum mampu dapat dikendalikan sebagaimana mestinya. Mata Air. Peristiwa banjir yang terjadi di Kota Padang pada 2009 ini cenderung meningkat dan semakin meluas. Sungai-sungai tersebut adalah Sungai Batang Arau. berbagai kendala dalam pengendalian lingkungan di daerah ini masih saja terjadi. Batang Kuranji. disamping faktor curah hujan dan fluktuasi gelombang laut adalah pembukaan lahan pada hulu sungai yang menyebabkan erosi sehingga terjadi sedimentasi dari erosi permukaan sungai. Bencana banjir hampir selalu terjadi tiap tahunnya di Kota Padang. Kota Padang dialiri oleh 21 buah sungai. Kawasan yang memiliki tingkat bahaya longsor lahan yang tinggi di kawasan Gunung Padang adalah lereng kaki Gunung Padang yaitu Kelurahan Batang Arau. Diantara isu lingkungan yang masih menjadi sorotan pada tahun 2009 adalah sebagai berikut : A. beracun) oleh kegiatan yang berpotensi Rendahnya pengelolaan limbah domestik dan sampah oleh masyarakat Rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya memelihara sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Sedangkan di Bukit Gaung adalah lereng kaki Bukit Gaung yaitu Kelurahan Gates. Batang Belimbing dan Sungai Aia Penjalinan. Faktor adanya pembuangan dan penumpukan sampah pada sungai dan saluran drainase kota juga dapat menyebabkan terjadinya banjir. Hal tersebut mengakibatkan pendangkalan dan penyempitan badan sungai. Penyebab dari permasalahan banjir di Kota Padang ini tak lepas dari berbagai faktor. Rawang. Terganggunga aktifitas pelayanan pendidikan dan kesehatan akibat gempa Kuranya nya kepedulian pemangku kepentingan terhadap kelestarian bangunan yang nilai sejarah dan budaya Traumatik masyarakat akan gempa Lemahnya akurasi data sebagai dasar untuk pengambilan kebijakan Terbatasnya kemampuan daerah untuk menyediakan dana pembangunan Bagi Kota Padang.

Permasalahan ini tidak hanya menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah dengan segala kebijakannya. Pasir Air Tawar. B. Kawasan pesisir pantai Padang yang terancam abrasi adalah Purus. bahwa dari beberapa parameter seperti nilai Coliform. seperti tertuang dalam PP No 82 tahun 2001 dan Peraturan Gubernur No. BOD. Pencemaran akibat sampah masih menjadi masalah utama yang harus diperhatikan dan diwaspadai. Sehingga masalah pencemaran lingkungan masih menjadi isu lingkungan selama tahun 2009. minyak/lemak. Pencemaran udara ini masih akan menjadi masalah utama bagi masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan industri. pasar dan berbagai kegiatan lain yang menghasilkan limbah. dan parit. Tingginya kebutuhan masyarakat akan lahan seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. COD. Hal ini disebabkan oleh masih terbatasnya peralatan dan armada yang ada serta masih kurangnya kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempat yang disediakan. Semen Padang. dikategorikan sebagai sungai yang tercemar berat. serta beberapa jenis logam berat terutama oleh Zn dan Cu.Milestone Report – December Hampir sepanjang pantai pada bagian utara Kota Padang mengalami gejala abrasi yang sangat kuat. 95 Tahun 2008. C. Beberapa sungai di daerah ini telah dijadikan sebagai tempat pembuangan limbah cair dari kegiatan industri tanpa melalui pengolahan terlebih dahulu. Dari hasil pengamatan di lapangan. kandungan bahan padatan tersuspensi (TSS). Masih terdapatnya sejumlah industri. Faktor lainnya adalah pantai dan sungai juga masih dijadikan tempat pembuangan berbagai limbah domestik yang berasal dari masyarakat yang belum mengerti akan arti penting dari kebersihan lingkungan. Nilai parameter di atas tampak telah berada di atas nilai baku mutu kualitas air. Sesuatu yang dikhawatirkan di masa Attachment 2 | 27 . tingkat pencemaran pada Sungai Batang Arau di Kota Padang. Bahaya abrasi diketahui berdasarkan hasil pengukuran pada daerah tersebut yaitu terjadinya kemunduran garis pantai lebih kurang 6 meter per tahun. Keadaan ini terungkap dari beberapa kali pemeriksaan mendadak (sidak) yang dilakukan oleh pihak pengambil kebijakan lingkungan bersama instansi teknis terkait. Hasil analisis laboratorium menunjukkan. Pemerintah Kota Padang dengan kebijakannya bersama masyarakat diharapkan dapat melakukan peningkatan baik dari segi penanganan. dan berdasarkan hasil monitoring. sehingga dapat mengancam pemukiman penduduk yang berdomisili di sekitar kawasan pantai. hal ini akan menambah lahan kritis di Kota Padang. Dampak pencemaran udara akan menyebar luas sesuai dengan perilaku iklim dan arah angin. akan tetapi juga harus menjadi tanggung jawab segenap unsur masyarakat Kota Padang. pabrik pada beberapa ruas sungai dan di tepi pantai dapat mengakibatkan pencemaran. Ulak Karang. Disamping itu meningkatnya jumlah kendaraan seiring dengan tingginya berbagai aktivitas di Kota Padang juga akan berakibat meningkatnya tingkat pencemaran udara akibat emisi gas buang kendaraan tersebut. Sumber utama dari sektor industri yang menyebabkan terjadinya pencemaran udara adalah berasal dari kegiatan operasional pabrik semen PT. Semen Padang sampai ke Unit Indarung V. Bentuk pencemaran lain yang menjadi masalah utama di Kota Padang adalah pencemaran udara akibat kegiatan industri dan meningkatnya jumlah kendaraan bermotor. dan coli tinja. Semua kegiatan-kegiatan ini cenderung mengalami peningkatan setiap tahunnya. Permasalahan pencemaran akibat dari pembuangan sampah di Kota Padang juga menjadi masalah utama yang perlu diperhatikan. Penyebaran pencemaran udara ini tidak mengenal batas administratif. selokan. peningkatan sarana dan prasarana serta peningkatan kesadaran masyarakat akan arti penting kebersihan dan kesehatan dan kelestarian lingkungan. lingkungan pemukiman. Masih banyak masyarakat yang membuang sampah ke pantai. Hal ini tentu menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit dan tersumbatnya aliran air. Disamping itu dampak pencemaran sampah tersebut akan menjadi sumber yang dapat menimbulkan pencemaran pada lingkungan. Amoniak. Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Pencemaran air di Kota Padang selama tahun 2009 masih didominasi oleh pencemaran akibat kegiatan industri. sungai. Lahan Kritis dan Alih Fungsi Lahan Permasalahan lingkungan yang terus dan semakin menjadi perhatian serius yang dapat kita cermati secara bersama adalah pemanfaatan lahan yang tidak memperhatikan aspek konservasi tanah sehingga mempercepat degradasi tingkat kesuburan tanah. Tingkat pencemaran udara diperkirakan masih belum terkendali dengan meningkatnya kapasitas pabrik semen PT. PO 4 . jelas mempengaruhi pergeseran penggunaan lahan di Kota Padang. Perupuk Tabing serta Pasie Nan Tigo. hal ini terjadi karena aktifitas untuk menjaga lingkungan dari dunia industri di Kota Padang juga masih belum seperti yang diharapkan.

perubahan pemanfaatan lahan produktif dan kawasan lindung akibat kegiatan yang tidak memperhatikan konservasi lingkungan masih cenderung untuk terus bertambah di Kota Padang. Hal tersebut diatas jelas akan menjadikan timbulnya tekanan terhadap sumberdaya lahan serta lingkungan. Degradasi Ekosistem Pesisir Pantai Kawasan hutan mangrove yang terdapat di sepanjang wilayah pesisir pantai dan pulau-pulau kecil merupakan sumberdaya alam yang memberikan manfaat besar bila dikelola dengan baik. E. terumbu karang juga menghasilkan nilai ekonomi penting seperti berbagai jenis ikan. Berbagai kegiatan seperti pembukaan lahan berpindah. Terumbu karang merupakan potensi sumberdaya laut yang sangat penting dan strategis. pelindung fisik. Kuranji. perdagangan ataupun jasa masih banyak yang belum sesuai dengan konsep lingkungan. kegiatan pertanian. Kerusakan terumbu karang pada umumnya disebabkan oleh kegiatan perikanan yang bersifat destruktif seperti penggunaan bahan peledak. Pada tanggal 30 Serptember 2009.9 SR yang berpotensi tsunami telah meluluh lantakan Kota Padang dan Kabupaten/Kota lain di Sumatera Barat Attachment 2 | 28 . kawasan wisata pantai. jasa dan keperluan kegiatan lainnya. Begitulah peluang gelombang tsunami yang akan menimpa daerah pesisir pantai Sumatera Barat. Terjadinya kerusakan biogeofisik sumberdaya pesisir dan laut seperti pada ekosistem mangrove dan terumbu karang ini telah sampai pada tingkat yang mengkhawatirkan.Milestone Report – December yang akan datang adalah terjadinya perubahan pemanfaatan lahan produktif dan perubahan pemanfaatan lahan pada kawasan lindung yang tanpa terkendali. Dimana pada beberapa kecamatan ini yang semula mempunyai kawasan lindung yang cukup signifikan dengan daerah tangkapan air (catchment area) Kota Padang yang seharusnya dipelihara atau dilestarikan. Banyak pakar geofisika yang telah memprediksi bahwa di sepanjang Sesar atau patahan Mentawai. Terjadinya konversi kawasan hutan mangrove menjadi peruntukan lain seperti pemukiman. ladang berpindah. pembangunan perumahan. Lubuk Begalung. karena mempunyai produktifitas organik yang sangat tinggi dibanding ekosistem lain. D. perkembangan kawasan pemukiman. Faktor penyebab timbulnya permasalahan perekonomian tersebut adalah dimasa mendatang dengan meningkatnya kepadatan penduduk yang mengakibatkan tingginya tingkat persaingan hidup. kawasan konservasi dan sempadan air tak luput dijadikan sebagai tempat tinggal dan berusaha. telah terjadi gempa besar 7. Hal ini akan berakibat kepada terganggunya keberadaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan yang akan menjadi objek pemanfaatan yang tidak lagi memandang aspek koservasi lingkungan. seperti halnya pada kawasan-kawasan di Kecamatan Koto Tangah. udang. Mangrove di Kota Padang tersebar hanya di Kecamatan Bungus Teluk Kabung. pola perubahan ini harus dikendalikan semaksimal mungkin dengan kebijakan pemerintah. ibarat buah yang hampir masak yang hampir jatuh ke tanah. Pada kawasan-kawasan tertentu terlihat kecenderungan perkembangan yang pesat dalam penggunaan alih fungsi lahan untuk kegiatan pertanian. Pauh. jika dilihat dari letak geografis dan keadaan alam Sumatera Barat yang sebagian besar kotanya berada di pesisir pantai serta memiliki dua patahan yang berada di daratan dan di lautan yang sewaktu-waktu dapat memicu terjadinya gempa bumi dan tsunami. karang. khususnya Kota Padang. teripang dan kerang mutiara. tambak serta tumpang tindih dalam pemanfaatannya untuk berbagai kegiatan pembangunan disebabkan belum adanya tata ruang dan rencana pengembangan pantai. Gempa Bumi Kota Padang merupakan daerah rawan dan beresiko tertinggi terhadap ancaman gempa dan tsunami. Lubuk Kilangan dan Bungus Teluk Kabung. Disamping fungsi ekologis sebagai penyedia nutrien bagi biota perairan. Keadaan ini sudah sepantasnya untuk diwaspadai oleh masyarakat dan Pemerintah Kota Padang. Pertambahan lahan kritis. Di samping itu juga adanya kecenderungan masyarakat menggunakan sistim ladang berpindah serta pembukaan lahan bagi keperluan pertanian dan kawasan terbangun. alga. habitat biota perairan. Oleh sebab itu. racun potasium dan sianida untuk penangkapan ikan. kecilnya kesempatan kerja dan berusaha. terlihat sudah mulai berubah fungsi dan dialihkan untuk peruntukan lain seperti untuk kegiatan perladangan dan kegiatan lainnya. pembuangan jangkar perahu dan pengambilan batu karang. Adanya upaya untuk memanfaatkan kawasan lindung menjadi areal budidaya semakin meningkat. Seiring dengan makin tingginya faktor kebutuhan kehidupan penduduk Kota Padang tersebut maka akan beragam pula alternatif mata pencaharian yang coba digeluti oleh masyarakat Kota Padang untuk pemenuhan kebutuhannya. Kawasan seperti kawasan lindung. tempat pemijahan.

Attachment 2 | 29 . yang lebih dititik beratkan pada upaya pencegahan dan penanggulangan. Untuk itu penyediaan. Tsunami pasti selalu didahului oleh gempa karena tsunami terjadi pergeseran lempeng secara vertikal setelah berbenturan. F. yang nantinya menurunkan kualitas sumberdaya lingkungan.5 skala Richter lah yang berpotensi menimbulkan tsunami. Hal ini terlihat dengan semakin tingginya tingkat hunian penduduk ke areal-areal pemukiman khususnya di berbagai perumahan yang dikembangkan pada daerah pinggiran kota tersebut. Bahkan teknologinya pun belum ditemukan. maka sekarang kita berada pada masa pengulangan tersebut. yang jika bertumbukan pasti akan sangat terasa kekuatan gempanya. Para ilmuwan menyebutkan bahwa pengulangan gempa yang berpotensi tsunami terjadi dalam kurun waktu 200 ± 30 tahun. Pada saat ini telah diupayakan peningkatan kesehatan masyarakat dengan berbagai aktivitas pelayanan. sejahtera lahir dan batin. Benturan inilah menyebabkan gempa dan perubahan posisi lempeng yang menyebabkan perubahan permukaan air laut dan menimbulkan gelombang laut yang disebut tsunami. Lubuk Kilangan.153 orang per Km2. Penyediaan sarana dan prasarana kesehatan sangat terkait dengan kondisi kesehatan masyarakat. Otomatis juga akan berimbas kepada perkembangan kawasan pemukiman yang cenderung semakin mengarah ke daerah pinggiran kota. namun jika ditinjau dari aspek mutu. maka pelayanan yang diberikan. walaupun rasionya belum terpenuhi. Pauh dan Koto Tangah. Permasalahan yang timbul di bidang kesehatan ini adalah masih terbatasnya program pengiriman dokter-dokter spesialis selain dokter gigi ke berbagai puskesmas yang ada di berbagai daerah di Kota Padang ini membuat jenis-jenis penyakit tertentu akhirnya belum mampu ditangani secara baik. Hal ini tak lepas dari peran serta pemerintah melalui instansi terkait yang semakin meningkatkan jumlah sarana dan prasarana kesehatan di Kota Padang. Jumlah dan penyebaran sarana kesehatan di Kota Padang dinilai telah cukup memadai. Gempa bumi dan tsunami hingga kini belum dapat diprediksi kapan akan terjadi. Kebijakan pembangunan kesehatan diprioritaskan kepada upaya peningkatan pelayanan kesehatan dasar. Hal ini mengakibatkan penduduk yang menderita jenis penyakit yang relatif membutuhkan penanganan serius/khusus harus berobat ke rumah sakit-rumah sakit atau ke dokter-dokter spesialis yang kecenderungannya terkonsentrasi di pusat kota. Berdasarkan data yang ada kondisi kesehatan masyarakat cenderung membaik dan mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. dan tenaga bidan di berbagai Puskesmas dan Puskesmas Pembantu yang tersebar di Kota Padang. Sumatera Barat dilalui oleh lempeng Eurasia dan Indo Australia yang semakin mendekat satu sama lainnya. Wilayah kecamatan yang merupakan daerah terpadat penduduknya adalah beberapa kecamatan bekas wilayah Kota Padang sebelum peremajaan kota tahun 1981. masih perlu terus ditingkatkan. seiring dengan semakin tingginya angka pertambahan penduduk kota. Tidak semua gempa menyebabkan tsunami. Penyebaran dan kepadatan penduduk Kota Padang terlihat tidak merata antar wilayah kecamatan. Namun hanya sistem peringatan dini dalam bentuk peringatan lunak dan peringatan keras. • Masalah-Masalah Sosial Tingginya Pertambahan dan Tidak Merata Penyebaran Penduduk Pesatnya perkembangan Kota Padang di berbagai sektor. dokter gigi. • Terbatasnya Fasilitas dan Pelayanan Kesehatan Pembangunan kesehatan merupakan salah satu bagian dari bagian dari pengembangan sumberdaya manusia dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Kecamatan dengan kepadatan tertinggi tersebut merupakan kecamatan yang mempunyai laju pertumbuhan penduduk yang tinggi yaitu diatas rata-rata kepadatan penduduk Kota Padang sekitar 1. sehingga dapat mewujudkan bangsa yang sehat. Hal ini terlihat dari semakin meratanya jumlah tenaga dokter umum. tapi hanya dapat diketahui lokasi dan skalanya. Hanya gempa di laut dangkal dengan kekuatan 6. Kuranji. pemeliharaan dan pengembangan sarana kesehatan perlu di upayakan dengan memobilisasi peran serta swasta dan masyarakat. pencemaran dan masalah sampah. Perkembangan penduduk yang cukup pesat ini terjadi akibat arus urbanisasi dan berkembangnya beberapa kawasan di kecamatan pemekaran sejak perluasan kota yaitu Bungus Teluk Kabung. Akibatnya akan timbul berbagai masalah seperti pembukaan lahan baru.Milestone Report – December Padang pernah dilanda tsunami pada tahun 1797 dan 1833.

(2) mengembangkan pemahaman mengapa isu tersebut tergolong strategis. secara umum ada kecenderungan pada tahun 2009 terjadi penurunan jumlah kasus gangguan keamanan dan ketertiban. Kondisi ini memudarkan nilai solidaritas dan menerobos perubahan nilai etika moral dalam kehidupan masyarakat. namun hal tersebut di atas tetap memerlukan perhatian khusus dari pemerintah untuk dapat terciptanya keamanan dan ketertiban yang akan menunjang kelancaran roda pembangunan. Isu Strategis Yang Akan Dikaji. masih besarnya jumlah siswa yang mengulang. Disamping itu masih maraknya terjadi penyakit masyarakat seperti prostitusi. ekonomi dan kelembagaan. Hal ini lebih jauh berdampak pada munculnya berbagai tindakan maksiat dan lain sebagainya. Hasil diskusi pembahasan isu strategis dimaksud disederhanakan sebagai berikut: • • • • • Alih Fungsi Lahan Pencemaran Lingkungan/Pendangkalan Sungai Banjir dan Genangan Air Longsor dan Gerakan Tanah Pendapatan Masyarakat Attachment 2 | 30 . 3. Pelayanan kesehatan terhadap Balita dan ibu hamil masih belum maksimal penanganannya seperti masih rendahnya pelayanan terhadap ibu hamil beresiko tinggi dan pendeteksian perkembangan anak Balita dan pra sekolah serta penanganan terhadap penyakit menular yang belum maksimal. narkoba dan miras. Berdasarkan data Poltabes Padang. skala lintas sector. Masih banyaknya anak putus sekolah. Kriteria identifikasi isu strategis antara lain adalah: (1) mengenali isu penting yang prioritas ditangani karena dampaknya tergolong “besar dan penting”. namun jumlah penduduk yang besar telah mendorong meningkatnya masalah pokok perkotaan yaitu keamanan dan ketertiban kota. Penanggulangan masalah penduduk miskin dan rawan sosial telah banyak dilakukan. sosial dan budaya. cukup besarnya kualitas guru yang perlu ditingkatkan. lintas wilayah. Kurangnya perhatian masyarakat dalam pembangunan sangat dirasakan terutama dalam pemeliharaan sarana dan prasarana kota. Masalah diatas membawa dampak kepada kebijakan perkotaan lainnya seperti bidang perdagangan dan jasa. gepeng (gelandangan dan penggemis) dan mulai menggejalanya fenomena anak jalanan. Disamping itu masih rendahnya tingkat partisipasi masyarakat kota. rendahnya semangat kebersamaan dan gotong royong yang semakin menipis. visi dan misi pembangunan jangka panjang dan sasaran penyelenggaraan KLHS Rencana rehabilitasi dan rekonstruksi Kota Padang dilakukan diskusi untuk menapis isu lingkungan hidup dan isu pembangunan berkelanjutan yang tergolong sebagai isu strategis. masih cukup rendahnya angka partisipasi kasar dan angka partisipasi murni peserta didik. hayati. Hal ini tentu akan berakibat pada terjadinya masalah keamanan dan ketertiban umum. Penyerapan budaya global akan berdampak pada lemahnya ketahanan budaya dan pengamalan terhadap ajaran agama. (3) menentukan akibatnya terhadap lingkungan fisik. Tingginya laju pertumbuhan penduduk dan tingginya urbanisasi ke kota Padang merupakan masalah yang rumit dihadapi Pemerintah Kota Padang serta banyak penduduk miskin yang rawan sosial. Masih lemahnya penegakan hukum dan masih banyaknya persoalan hukum yang belum tertangani telah berdampak kepada kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap aparat hukum. masih kurangnya fasilitas yang disediakan sekolah.Milestone Report – December • Kerawanan dan Kerentanan Sosial Di Kota Padang juga terlihat kecenderungan semakin meningkatnya permasalahan sosial dalam bentuk peningkatan jumlah anak-anak terlantar. sosial dan budaya bila isu tersebut tidak diarahkan dan (4) menelusuri keterkaitan antar isu tersebut agar dapat dikelompokkan menurut kategori lingkungan fisik alami. SK4 dan Kepolisian sudah sering melakukan penertiban. walaupun aparat penegak hukum seperti Satpol Polsi Pamong Praja. hayati. Tingginya laju pertumbuhan penduduk dan urbanisasi juga menyebabkan kualitas pendidikan yang masih rendah dan belum optimalnya pelayanan kesehatan. Hal ini sebagai akibat derasnya arus globalisasi dan arus informasi serta kemajuan teknologi. Mengacu ke kondisi riel kota saat ini. Masih lemahnya pemahaman dan pengamalan ajaran agama dan pelaksanaan adat budaya Minangkabau.2. dengan cara membahas karakteristik ada atau tidaknya hubungan kausatif rehabilitasi dan rekonstruksi dengan isu dimaksud. sistem transportasi kota serta kenakalan remaja dan narkoba.

Wilayah Kota Padang memiliki topografi yang bervariasi. 3. perpaduan daratan yang landai dan perbukitan bergelombang yang curam.>1. 3) Wilayah Metropolitan. sedangkan sebelah Barat berbatasan dengan Samudera Indonesia dan sebelah Timur dengan wilayah Kabupaten Solok. sebelah Selatan dengan Kabupaten Pesisir Selatan. dan sebagian wilayah Kabupaten Pesisir Selatan. 2) Wilayah Administrasi Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Padang Pariaman.Milestone Report – December • • • • • • • • • Kesempatan Kerja Kerusakan Lingkungan Kesehatan Masyarakat Kerjasama Daerah Sistem Pusat daerah Manajemen Transportasi Livability Kota Bencana Geologis RTH 3. maka kerangka waktu KLHS Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi kota Padang ini. rangkaian perbukitan. Kerangka Waktu KLHS Mengacu ke kerangka waktu RTRW Kota Padang. dataran bergelombang dan dataran pantai. Kota Padang terletak pada wilayah pegunungan Bukit Barisan.3. Tarik garis batas (polygon) administrasi kota Padang. administrasi dan interaksi perkotaan perlu dijelaskan delineasi wilayah sebagai berikut. yakni sampai dengan tahun 2028. mulai 0 m dpl . disesuaikan dengan periodesasi RPJM (5 tahunan) Attachment 2 | 31 . baik dari perspektif fisik alami.000 m dpl. Sebagian besar topografi wilayah Kota Padang memiliki tingkat kelerengan lahan rata-rata >40%. 1) Wilayah Fisiografis.4. Ketinggian wilayah Kota Padang dari permukaan laut juga bervariasi. mencakup sebagian wilayah Kabupaten Padang Pariaman. sebagian wilayah Kabupaten Solok. Deliniasi Wilayah Kajian Mengacu ke aspek tata letak kota Padang.

Milestone Report – December Attachment 2 | 32 .

Korban jiwa meninggal terbanyak di Kecamatan Padang Barat (81 orang) dan yang paling sedikit di Kecamatan Lubuk Kilangan (5 orang).1.1.Milestone Report – December BAB IV DAMPAK GEMPA BUMI DAN PENANGGULANGAN PASCA GEMPA 4. 4. berikut: Tabel 4.1. Dampak Gempa Bumi Pada Bagian-Bagian Kota Padang Korban Jiwa Gempa bumi 30 September 2009 yang melanda Provinsi Sumatera Barat. Untuk lebih jelasnya seperti terlihat pada Tabel 4.1. Rekapitulasi Korban Jiwa akibat Gempa Bumi 30 September 2009 Korban Jiwa Hilang 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 Meninggal 5 19 36 81 28 35 41 27 40 13 8 11 39 2 383 431 771 0 Lk Berat Lk Ringan Mengungsi 31 32 0 23 29 110 52 42 109 10 24 1 0 61 38 264 31 43 113 59 60 32 38 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Kecamatan Lubuk Kilangan Koto Tangah Kuranji Padang Barat Padang Utara Padang Selatan Padang Timur Nanggalo Lubuk Begalung Pauh Bungus Teluk Kabung Alamat tidak diketahui Luar Daerah Jumlah Sumber : BPBD Kota Padang Attachment 2 | 33 . meninggal 383 orang (termasuk 11 orang yang alamatnya tidak diketahui dan 39 orang berasal dari luar Kota Padang). luka berat 411 orang dan luka ringan 771 orang. khususnya Kota Padang telah banyak menimbulkan korban jiwa.1. Korban jiwa akibat gempa bumi di kota Padang terdiri dari : hilang 2 orang.

000 800.968.000.1.650.000.3 berikut ini : Attachment 2 | 34 . Kerugian Sarana dan Prasarana Kota A.2.000. berikut ini : Tabel 4.627. 2. Rekapitulasi Kerusakan Sarana Kesehatan akibat Gempa Bumi 30 September 2009 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 KECAMATAN Lubuk Kilangan Koto Tangah Kuranji Padang Barat Padang Utara Padang Selatan Padang Timur Nanggalo Lubuk Begalung Pauh SARANA KESEHATAN RS / PUSKESMAS / PUSTU RB 0 1 2 3 1 2 3 1 0 1 RS 0 2 0 0 6 1 3 1 2 1 RR 2 8 5 6 6 6 10 2 4 2 2 53 ESTIMASI KERUGIAN (Rp) 200.000 800.000.000.000.00. Sarana Kesehatan Kerugian sarana kesehatan yang mengalami kerusakan : rusak berat 15 unit.000. Selengkapnya dapat terlihat pada Tabel 4.000 Bungus Teluk Kabung 1 1 Jumlah 15 17 Sumber : BPBD Kota Padang Ket : RB = rusak berat.000.800.200. 200.000 2. 40.000. Kerusakan yang paling bayak terjadi di Kecamatan Padang Timur (33 unit) dengan nilai kerugian Rp.000. dengan jumlah kerugian Rp.000. Selengkapnya dapat terlihat pada Tabel 4. Kerusakan berat yang paling bayak terjadi di Kecamatan Padang Barat (296 unit) dengan nilai kerugian Rp.000.2.2. RS = rusak sedang.000.000 2.00.707.00.262. 11. Sarana Pendidikan Kerugian sarana pendidikan yang mengalami kerusakan : rusak berat 1006 unit.000 1.550.650.000.000 1.00 dan yang terkecil di Kecamatan Lubuk Kilangan (2 unit) dengan nilai kerugian Rp.000 14.000.800.000.000.000.000 800.00 dan yang terkecil Kecamatan Lubuk Kilangan (2 unit) dengan nilai kerugian Rp.000.800. RR = rusak ringan B.000 1. 14.200.450.000.000 1.200.800.000.Milestone Report – December 4. rusak sedang 17 unit dan rusak ringan 53 unit. dengan jumlah kerugian Rp.000 900.000. rusak sedang 1038 unit dan rusak ringan 903 unit.00.

rusak sedang 63 unit dan rusak ringan 32 unit.400.355.597 unit).200.000 20.) (Rp) 11.4.816 unit) dan rusak ringan (37. RS = rusak sedang.000 40.000 262.000 11. RS = rusak sedang.000.1.707.250.339. RR = rusak ringan C.000 22.3.000 28. Selengkapnya dapat terlihat pada Tabel 4. RR = rusak ringan 4.384.598.000 21.000.615 unit) dengan nilai kerugian Rp. Sarana Pariwisata dan Budaya Kerugian sarana pariwisata dan budaya yang mengalami kerusakan : rusak berat 133 unit. Kerusakan rumah penduduk Gempa bumi yang melanda Kota Padang tanggal 30 September2009 telah menimbulkan Kerusakan rumah penduduk yang terdiri dari rusak berat (33.836. rusak sedang 2 unit dan rusak ringan 7 unit.506.000 1606 1038 Sumber : BPBD Kota Padang Ket : RB = rusak berat.751.000.200.000 18.627.968.995. Sarana pariwisata dan budaya yang paling banyak mengalami kerusakan aadalah gedung bersejarah (heritage) yaaitu rusak berat 104 unit. Rekapitulasi Kerusakan Sarana Pariwuisata dan Budaya akibat Gempa Bumi 30 September 2009 SARANA PARIWISATA DAN HERITAGE RB RS 7 16 2 63 88 RR 32 48 7 32 119 NO 1 2 3 4 JENIS USAHA HOTEL 11 RESTORAN / RUMAH MAKAN 16 TOKO SOUVENIR 2 GEDUNG BERSEJARAH (HERITAGE) 104 Jumlah 133 Sumber : BPBD Kota Padang Ket : RB = rusak berat.000 21.000. Rekapitulasi Kerusakan Sarana Pendidikan akibat Gempa Bumi 30 September 2009 SARANA PRASARANA PENDIDIKAN (KELAS/PERPUS/LABOR/KANTOR/ RUMDIN/MUSHALA) RB RS RR 65 169 89 296 157 129 240 164 159 46 92 Jumlah 54 109 120 103 68 80 141 51 129 79 104 54 120 130 129 57 72 90 41 114 48 48 903 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 KECAMATAN Lubuk Kilangan Koto Tangah Kuranji Padang Barat Padang Utara Padang Selatan Padang Timur Nanggalo Lubuk Begalung Pauh Bungus Teluk Kabung ESTIMASI KERUGIAN (Rp.200. rusak berat 2 unit.200.044.200.363. rusak sedang 88 unit dan rusak ringan 119 unit. rusak sedang (35.00.24 berikut ini : Tabel 4.000.000 39.3.936.200. 5. Kerusakan rumah yang paling banyak terjadi di Kecamatan Koto Tangah (4990 unit) dan yang Attachment 2 | 35 . sedangkan yang paling sedikit adalah toko souvenir .800.000 28.Milestone Report – December Tabel 4.

386.000 347.250.751.000 381.887 3.5.500.666 2.Milestone Report – December paling sedikit di Kecamatan Pauh (1.441 7.210. masyarakat dan komunitas lainnya.566 4.5. RS = rusak sedang.000 1.2.000.044 35. Kementerian Negara Perumahan Rakyat.098 8.036 2.506 2.000 176.160 2.129 1. Bappeda Propinsi Sumatera Barat dan Pemerintah Kota Padang.468 6.753 2. Kegiatan Masa Tanggap Darurat Pada masa ini penanganan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan Pemerintah.506. RR = rusak ringan 4.000 5.990 2.426 1.000.328.000 Sumber : BPBD Kota Padang Ket : RB = rusak berat.219 37.202 3.670 2.750.399 3.535 3.000 399.005 1. berukut ini : Tabel 4.000 214.000 836.940.750.423 4. Bappenas.151 33. pasca musibah gempa bumi sampai dengan bisa dimulainya kembali aktifitas masyarakat di Kota Padang.087 1.250. Dengan bantuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).750.315 7. telah dilakukan proses DaLA (Damage and Lossess Assessment) yaitu proses penilaian kerusakan akibat musibah gempa bumi di Sumatera Barat dan Kota Padang khususnya.233.816 RR 2. World Bank.000.250. Rekapitulasi Kerusakan Rumah Penduduk kibat Gempa Bumi 30 September 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Kecamatan Lubuk Kilangan Koto Tangah Kuranji Padang Barat Padang Utara Padang Selatan Padang Timur Nanggalo Lubuk Begalung Pauh Bungus Teluk Kabung Jumlah KERUSAKAN RUMAH PDDK RB 2.749 2.651.000 450.750. Depertemen Pekerjaan Umum.615 KETERANGAN 362.597 RS 2. Attachment 2 | 36 .436 1. Perhitungan DaLA didasarkan kepada data awal pasca terjadinya musibah.395 1.787 4.036.000.543.250. Selengkapnya dapat dilihat padaTabel 4.320.793.191 4.000 767.000 360.976 1.911 5. UNDP. yang telah diverifikasi oleh Tim Pusat yang melibatkan Tim Daerah.305 1.102 2.517.129 unit). pihak Perguruan Tinggi.

per orang dan maksimal untuk 5 orang dalam 1 keluarga. dengan prioritas aksi : Perlindungan kelompok rentan. • • • 3. Semua bantuan yang diterima kemudian dibagi ke setiap kecamatan untuk dapat diteruskan kepada masyarakat melalui kelurahan-kelurahan. Uang lauk pauk ini diberikan selama masa tanggap darurat (30 hari) Mobilisasi bantuan masyarakat • 4. terutama yang berhubungan dengan kesehatan. alokasi anggaran. dengan prioritas aksi : • • • • • • Inventarisasi kerusakan sarana/prasarana Melakukan penilaian kelayakan bangunan Pembersihan reruntuhan bangunan Pembersihan sarana/prasarana ekonomi Penyiapan sarana perdagangan Pemanfaatan Terminal Regional Bingkuang sebagai tempat perkantoran sementara Pemerintah Kota Padang. yang berimplikasi terhadap pembangunan ekonomi daerah dan nasional.. dan pemulihan prasarana publik jangka panjang. untuk temporary settlement dan sekolah/kantor Perbaikan bangunan sekolah Penyediaan tenda darurat untuk keperluan perawatan Mobilisasi bantuan. Penyelamatan dan penempatan masyarakat ketempat aman (SAR dan evakuasi). 2. Menilai besarnya dampak kerusakan yang ditimbulkan oleh bencana terhadap prasarana publik. dengan prioritas aksi : • • • • • 2. Pemenuhan kebutuhan dasar. Menyusun kebijakan dan strategi pemulihan. Menilai dampak kerugian langsung dan tidak langsung yang ditimbulkan oleh bencana terhadap sektor ekonomi. • Pendistribusian bantuan lauk pauk khusus bagi korban yang rumahnya mengalami rusak berat dengan nilai Rp. Prioritas penanganan pada masa tanggap darurat. Pemulihan fasilitas kritis. Attachment 2 | 37 . 3. Perbaikan jaringan listrik Perbaikan jaringan air bersih Penyediaan air bersih Pengumpulan data Pendistribusian bantuan sembako. dengan prioritas aksi : Bantuan sembako dan kebutuhan logistik lainnya ditampung di posko tanggap darurat Palanta Walikota.000.Milestone Report – December Perhitungan DaLA dilakukan dengan tujuan : 1. • • Evakuasi korban bencana Pemasangan tenda/bangunan darurat. serta mekanisme pendanaan dan pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi. yang berimplikasi terhadap pemulihan pelayanan dasar. diarahkan pada : 1. 5.

Pemerintah Kota Padang telah mempunyai Badan Penanggulangan Bencana Daerah yang dibentuk melalui Peraturan Daerah Kota Padang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Kota Padang. 4. Tentu saja BPBD yang mempunyai tugas langsung dalam penanggulangan bencana belum siap menghadapi hal tersebut.2. dan terakhir disempurnakan menjadi Badan Pendukung Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kota Padang Pasca Gempa Bumi 30 September 2009 melalui Keputusan Walikota Padang Nomor 05 Tahun 2010. Kebutuhan sarana dan prasarana tersebut baru dapat dipenuhi dari dukungan daerah tetangga. Selama tanggap darurat terlihat kurangnya sarana dan prasarana untuk kegiatan evakuasi dan pencarian korban.3. Namun sistem ini belum ditandatangani oleh Walikota Padang.1. Bappeda dan instansi terkait lainnya sebagai bahan dalam mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi Kota Padang Pasca Gempa Bumi Tahun 2009. Badan Pelaksana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kota Padang Sebagai Institusi Pemerintah.4. Belum siapnya Sistim dan Prosedur SOP tanggap darurat sudah dipersiapkan oleh BPBD Kota Padang. Untuk mengatasinya. 4. Attachment 2 | 38 . 4. Berdasarkan pertimbangan tersebut di atas dibentuklah Badan Pelaksana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kota Padang Pasca Gempa Bumi 30 September 2009 melalui Keputusan Walikota Padang Nomor 969 Tahun 2009.3. Beberapa Masalah Tanggap Darurat Ketersediaan dan dukungan SDM yang terbatas Untuk menangani bencana yang besar seperti gempa 30 September 2009. Keterbatasan Sarana dan Prasarana Penanggulangan Bencana Kota Padang tidak memiliki sarana dan prasarana yang lengkap untuk menanggulangi dampak bencana. Beberapa panggilan untuk pencarian korban tidak dapat dipenuhi secepatnya. namun baru efektif pada bulan Maret 2009 dengan dilantiknya pejabat struktural Esselon IV dilingkungan BPBD Kota Padang.3. yang diundangkan dalam Lembaran Daerah Kota Padang tanggal 10 Maret 2008. Dalam Kondisi BPBD yang baru terbentuk tersebut dan masih dalam pembenahan ke dalam. Badan Pendukung Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kota Padang Padang Pacsa Gempa Bumi 30 September 2009 ini bertujuan mendukung tugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Padang dalam menanggulangi akibat bencana bempa bumi tersebut dimana seluruh output yang dihasilkan oleh BPRR disampaikan kepada BPBD.3. Pemerintah Kota Padang merasa perlu untuk membentuk suatu wadah yang bertugas untuk mendukung tugas-tugas BPBD dalam penanggulangan bencana. Hal ini dikarenakan usia BPBD yang masih terlalu dini (kurang dari 1 tahun) dan dukungan SDM yang sangat terbatas. Beberapa pos anggaran yang tidak terlalu penting terpaksa harus dialihkan untuk tanggap darurat dan masa pemulihan dini 4. sementara tugas berat harus tetap dilaksanakan.3. SOP (protap) bahkan sudah direncanakan untuk disimulasikan pada bulan November 2009. bencana gempa yang cukup besar dengan dampak yang besar juga melanda Kota Padang.4. Sementara pendanaan utama hanya bersumber dari APBD Kota Padang. Kurangnya Dukungan Pendanaan Dampak gempa yang besar membutuhkan dukungan pendanaan yang besar pula. Menghadapi kondisi tersebut dan untuk mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi Kota Padang pasca gempa bumi. Pemerintah Kota Padang berkewajiban dan bertanggung jawab dalam penanggulangan bencana.3. dibutuhkan dukungan SDM yang cukup dan memadai. Pemerinah Kota Padang harus melakukan perubahan anggaran belanja.Milestone Report – December 4. Hal ini secara tegas diatur dalam UU Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. BPBD Kota Padang sebagai instansi yang bertugas menanggulangi bencana ini masih belum bisa bekerja secara optimal. 4. Berdasarkan amanat UU tersebut.

Upaya ini juga harus diiringi dengan pembangunan pasar-pasar satelit yang juga mengalami kerusakan akibat gempa. menjadi pertimbangan dalam merevisi dokumen perencanaan strategis Kota Padang (seperti Rencana Tata Ruang Wilayah/RTRW dan Rencana Pembanguan jangka Menengah/RPJM). Selain itu. Kegiatan ini nantinya akan melahirkan beberapa guidance terkait dengan kebijakan economic recovery yang harus dilakukan oleh Pemerintah Kota Padang ke depan.Milestone Report – December Koordinator BPRR adalah Sekretaris Daerah Kota Padang. Perubahan trip demand tersebut diantaranya disebabkan karena terjadinya perpindahan pemukiman sebagian penduduk dari kawasan pesisir pantai ke kawasan timur. pertumbuhan ekonomi stagnan. Inflasi tinggi. didukung oleh Tenaga Ahli yang merupakan expert yang berasal dari Universitas Andalas dan Universitas Bung Hatta.5. Seiring dengan itu Pemerintah Kota Padang juga harus mendorong optimalisasi pemanfaatan ruang kota dan pertumbuhan kawasan. Memindahkan Pusat Pemerintahan Kota ke Wilayah Baru Kebijakan ini diambil oleh Pemerintah Kota Padang dengan pertimbangan bahwa berdasarkan analisi ilmiah bahwa peluang terjadinya gempa dengan kekuatan lebih besar dan tsunami relatif tinggi. proposal/rekomendasi yang akan dilaksanakan oleh pemko Padang serta melakukan pendampingan secara intensif dalam setiap proses rehabilitasi dan rekonstruksi agar erjalan dengan baik sesuai tujuan. 4. sekolah dan lain-lain. anggota BPRR juga berasal dari perwakilan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dilingkungan Pemerintah Kota Padang yang terkait langsung dengan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca gempa di Kota Padang. 4. Pasar raya sebagai urat nadi perekonomian Kota Padang harus segera dipulihkan dengan cara membangun kembali Pasar Raya yang telah hancur. Attachment 2 | 39 . Tugas dari BPRR adalah antara lain mempersiapkan action plan yang akan menjadi pedoman pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi dalam bentuk kajian. sasaran dan waktu yang telah ditetapkan.3. Pokok-pokok Kebijakan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kota Padang Untuk memulihkan kembali Kota Padang pasca gempa bumi tanggal 30 September 2009 dibutuhkan upaya rehabilitasi dan rekonstruksi yang dilakukan secara sistematis. Disamping itu konsentrasi massa dalam jangka waktu lama di kawasan yang rentan terhadap dampak bencana perlu dikurangi. Oleh karena itu perlu segera dicarikan solusi terbaik agar economic recovery dapat berlangsung lebih cepat sehingga inflasi turun dan pertumbuhan ekonomi berada pada posisi ideal kembali sesuai dengan kondisi yang ada.5.5. Reorganisasi Jaringan Transportasi Kota Kebijakan ini berkaitan erat dengan adanya indikasi perubahan pola trip demand masyarakat pasca musibah gempa bumi. Membangun Kota Padang yang sensitif terhadap bahaya bencana dan peningkatan perekonomian. yang pada gilirannya menyebabkan rendahnya daya beli masyarakat.1. Dalam kebijakan ini akan dibahas juga rencana relokasi Terminal Regional Bingkuang Type A di Aie Pacah yang akan dijadikan sebagai lokasi Pusat Pemerintahan Kota Padang yang baru. Upaya ini memerlukan pokok-pokok kebijakan yang dapat dijadikan landasan untuk merencanakan dan membangun kembali Padang sebagai kota dengan samangat baru (Padang New City) yang mempunyai semangat pembangunan ekonomi yang tinggi dan respon terhadap bencana yang baik.2. Memulihkan Perekonomian Kota dan Merevitalisasi Pasar Raya & Pasar Satelit Perekonomian Kota Padang pasca bencana gempa bumi merupakan sektor yang paling terpukul. 4. angka pengangguran meningkat akibat hancurnya berbagai fasilitas publik. Pokok-pokok kebijakan untuk kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi Kota Padang ini adalah sebagai berikut : 4.5. serta diakibatkan oleh berpindahnya beberapa pusat aktifitas publik seperti kantor. terorganisir dengan baik dan efektif. serta penetapan beberapa kebijakan strategis disektor transportasi Kota Padang kedepan.

4. 4. dan yang paling penting adalah mengarahkan masyarakat agar lebih siap menghadapi bencana sejenis apabila terjadi lagi pada masa-masa yang akan datang.8. maka RPJM tersebut perlu direvisi kembali. Memulihkan rumah masyarakat dan prasarana pemukiman Rumah masyarakat yang mengalami kerusakan tersebar hampir merata di seluruh Kota Padang. tetapi prasarananya juga mengalami hal yang sama.7. Banyak bangunan yang tergolong bangunan cagar budaya yang mengalami kehancuran pada musibah gempa bumi beberapa waktu yang lalu. 4.5.6. Oleh karena itu. Memulihkan mental masyarakat dan mitigasi bencana Kegiatan ini lebih diarahkan kepada upaya mencarikan solusi menghilangkan rasa trauma masyarakat terhadap bencana gempa bumi. Sampai sekarang. reorganisasi jalur transportasi. perlu segera dilakukan penelitian dan identifikasi terhadap fasilitas pendidikan yang telah hancur dan rusak tersebut. Menata Kawasan Pusat Kota Lama Kawasan Padang Lama di Kota Padang sebagian terkonsentrasi di Kecamatan Padang Selatan.Milestone Report – December 4. RSUD. Fasilitas kesehatan juga mengalami hal yang sama.5. Puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya banyak yang hancur dan rusak berat.5. Upaya pemulihan rumah masyarakat ini tentunya membutuhkan dukungan dana yang sangat besar. masih banyak siswa sekolah yang mengikuti proses belajar mengajar menggunakan bangunan-bangunan atau tenda-tenda darurat. Namun demikian Pemerintah tetap harus menstimulasi dan memfasilitasi seta membantu pembangunan dan perbaikan rumah masyarakat. Penataan ini dimaksudkan untuk melahirkan guidance bagi pemiliknya manakala bangunan yang hancur atau rubuh tersebut akan dibangun kembali. pengembangan pusat ekonomi baru. RPJM Kota Padang sebenarnya sudah selesai disusun pada tahun 2009 yang lalu. Tidak saja gedungnya yang mengalami kehancuran.5. Meninjau ulang dan merevisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kebijakan ini diambil untuk mengidentifikasi perubahan mendasar dalam struktur dan pemanfaatan ruang kota.4. untuk kemudian dibuatkan pemetaannya berdasarkan skala prioritas untuk pembangunannya kembali.5. Di lokasi ini terdapat bangunan-bangunan kuno peninggalan zaman Belanda yang sebagian besar merupakan bangunan cagar budaya dan termasuk dalam kelompok Padang Herritage. Selanjutnya perlu diidentifikasi aspek-aspek yang memerlukan penyesuaian terhadap revisi RTRW dan RPJM. Program rehabilitasi dan rekonstruksi rumah masyarakat ini harus memperhatikan wilayah kota Padang sebagai daerah rawan gempa sehingga dalam pelaksanaan penyaluran bantuan. Fasilitas publik ini perlu segera dipulihkan kembali untuk menjamin tersedianya fasilitas kesehatan bagi masyarakat luas.5. Attachment 2 | 40 . Namun karena beberapa hal terkait dengan mitigasi bencana dan kebijakan-kebijakan khusus pasca bencana. supaya bentuk bangunannya tidak berubah total sehingga unsur herritage-nya masih dapat dipertahankan sebagai bangunan cagar budaya. 4. perubahan dinamika aktifitas masyarakat terkait pemindahan pusat pemerintahan. syarat-syarat rumah tahan gempa menjadi acuan dalam desain maupun pembangunan kembali rumah masyarakat. Memulihkan Prasarana dan Sarana Pendidikan dan Kesehatan Fasilitas pendidikan di Kota Padang merupakan salah satu fasilitas yang paling parah terkena dampak musibah gempa bumi beberapa waktu yang lalu.

Kota Padang sebagai pusat koleksi-distribusi yang mempunyai akses keluar wilayah Provinsi Sumatera Barat. mengindikasikan Kota Padang dalam proses pertumbuhan menuju Kota Metropolitan. Kota Padang telah tumbuh pesat dan berpotensi memiliki penduduk diatas 1 juta jiwa. serta respon terhadap bencana yang tinggi.Milestone Report – December BAB V TELAAHAN DOKUMEN KRP REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 5. dan Bandara Minangkabau. Kedelapan kegiatan Pokok Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kota Padang tersebut. status Hutan dan Suaka Alam di wilayah sekitar Kota Padang merupakan rangkaian peluang dan permasalahan Kota Padang yang harus diantisipasi secara holistik. baik akses yang ditunjang oleh transportasi darat maupun transportasi laut dan udara. Lantamal. Kota dengan problematika pemenuhan kebutuhan permukiman yang meningkat seiring perkembangan jumlah penduduk kota Padang dan wilayah sekitarnya yang berdekatan (jumlah penduduk Kota Padang Tahun 2028 diperkirakan 1. karena memiliki tingkat aksesbilitas yang cukup tinggi. Kota Padang sebagai ibukota Provinsi Sumatera Barat menjadi orientasi perkembangan bagi wilayah lainnya di Provinsi Sumatera Barat serta wilayah lain yang terkait.tertib dan sejahtera. Kota Padang sebagai pusat kegiatan Provinsi Sumatera Barat terdapat Pelabuhan Internasional Teluk Bayur. nyaman. namun dalam bentuk yang lebih baik menuju Kota Padang yang lebih humanis. Pemerintah Kota Padang jelas tidak akan sanggup membiayainya sendiri karena kemampuan keuangan yang sangat terbatas. Tinjauan Umum Secara keseluruhan. Pemerintah Kota Padang telah mengaplikasikan seluruh Kebijakan Pokok Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kota Padang. sejalan dengan konsep menjadikan Kota Padang sebagai Kota metropolitan. Prasarana pelabuhan dan bandara inilah yang menjadi factor utama Kota Padang dijadikan pusat kegiatan di Sumatera Barat. dinamis. Pabrik Semen. Persoalan utama adalah masalah pendanaan yang akan dimanfaatkan untuk mengaplikasikan program rehabilitasi dan rekonstruksi tersebut. mulai Tahun Anggaran 2010 telah dialokasikan dana untuk melaksanakan sebagan rekomendasi tesebut. Pengalokasian dana APBD Kota Padang tersebut tersebar di beberapa SKPD di lingkungan Pemerintah Kota Padang dan diharapkan mampu memenuhi misi yang telah ditetapkan di dalam pokok-pokok rehabilitasi dan rekonstruksi Kota Padang tersebut. Dikaitkan dengan pertumbuhan wilayah sekitar Kota Padang dan interaksi sosial-ekonomi yang terjadi. Pemerintah Kota Padang telah menyiapkan dokumen yang berisikan Strategi Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kota Padang untuk periode 2010 – 2014.437. Wisata Pantai Mandeh. Keberadaan potensi bencana alam tsunami dan gempa bumi serta keterbatasan pengembangan wilayah kota terkait fisiografis. Attachment 2 | 41 . untuk menuju Padang New City dan persiapan menuju Padang sebagai kota metropolitan 5.2. dukungan dari Pemerintah Pusat melalui dana APBN dan dari Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melalui APBD Sumatera Barat sangat dibutuhkan. yang diawali dengan membuat kajian-kajian terkait dengan masing-masing agenda rehabilitasi dan rekonstruksi. Oleh karena itu.800 jiwa). Inilah sebenarnya refleksi dari perwujudan Padang New City yang menjadi tujuan Pemerintah Kota Padang. sebagai bagian dari upaya menarik dana APBN dan APBD Provinsi Sumatera Barat dalam membantu merealisasikan program Rehabilitasi dan Rekonstruksi di Kota Padang. Visi “Padang New City” dan Padang Menuju Metropolitan Berdasarkan pokok-pokok kebjakan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kota Padang yang telah disusun oleh Pemerintah Kota Padang bersama-sama dengan BPRR Kota Padang.1. yaitu bagaimana Kota padang dapat pulih kembali pasca musibah gempa bumi setahun yang lalu. kondisi ini perlu diantisipasi agar terwujud Metropolitan Padang yang tumbuh harmonis sebagai tempat bermukim dan tujuan investasi yang aman. mempunyai tujuan dan agenda yang muaranya sama. produktif dan berkelanjutan. nyaman.

Kawasan strategis ini artinya kawasan yang memiliki potensi pengembangan yang tinggi yang ditandai dengan banyaknya sarana dan prasarana kota yang cukup lengkap. dan Kabupaten Solok sudah termasuk kedalam kawasan Metropolitan Padang sehingga luas total lahan Metropolitan Padang menjadi 1. Kawasan Strategis Metropolitan Palapa (Padang-Lubuk Alung-Pariaman) yang mencakup Kota Pariaman dan sebagian besar Kota Padang.833 jiwa. kecenderungan Kota Padang mengarah ke kawasan Metropolitan dan penetapan sebagai PKN di Sumatera bagian barat.128 jiwa.964. Jumlah penduduk terbesar tetap berada pada Kota Padang yaitu sebesar 1. Pengembangan Metropolitan Padang di Kota Padang diharapkan dapat menjadi penyempurnaan Kawasan Metropolitan di sekitar Kota Padang lainnya seperti : 1) 2) 3) Kawasan Strategis Poros Barat-Timur (Padang-Bukittinggi-Batas Riau) dengan kota inti Padang Panjang.649. Skenario Tata Ruang Metropolitan Padang Pertimbangan dasar dalam skenario perencanaan kawasan adalah penetapan Kota Padang sebagai PKN (PP 26/2008 tentang RTRWN). Kawasan Strategis Intelbungeh (Indarung-Teluk Bayur-Bungus-Mandeh) yang mencakup sebagian besar Kota Padang dan Kabupaten Pesisir Selatan.Milestone Report – December Kota Padang sebagai Kawasan Strategis Provinsi Sumatera Barat diarahkan menjadi Kota Inti dalam pengembangan Kota Padang menjadi Kawasan Metropolitan Padang.55 km2 dengan jumlah penduduk total di kelima kabupaten dan kota sebanyak 1.386 jiwa.61 jiwa/km2 (Kota Padang) dan sebesar 620.609 jiwa sedangkan jumlah penduduk terendah terdapat pada Kabupaten Solok yaitu sebesar 40.49 km2 untuk penduduk sebanyak 1. dengan kepadatan penduduk yang berbeda jauh yaitu 2. Pada tahap 1. Pada tahap 2 yang akan dilaksanakan pada tahun 2015-2019. Kabupaten Pesisir Selatan. hanya terdapat 2 kabupaten/kota yang menjadi anggota dari Metropolitan Padang yaitu Kota Padang dan Kabupaten Padang Pariaman. Berdasarkan hasil analisis pengembangan Kota Padang menuju Metropolitan Padang.031. Draft RTRW Provinsi Sumatera Barat dan Visi Misi Kota Padang.186. Kota Padang yang menjadi inti pengembangan Metropolitan Padang telah mampu memberikan efek multiplayer (EM) penyebaran penduduk terhadap kota/kabupaten di sekitarnya.557. Luas total Metropolitan Padang pada tahap 1 adalah sebesar 504. Kota Pariaman. Sedangkan lingkup wilayah perencanaan yang digunakan adalah: 1) 2) Kota Padang sebagai Pusat Kegiatan Nasional Kawasan sekitar sebagai embrio Kawasan Metropolitan Padang Attachment 2 | 42 . Adanya efek penyebaran penduduk ini diharapkan dapat disertakan dengan pengembangan sumber daya alam di Kota Padang. Terkait dengan pengembangan Kota Padang. maka pada sub bab berikutnya akan dijelaskan tentang : 1) 2) 3) Kota Padang sebagai kota inti metropolitan Kabupaten/kota sekitar Metropolitan Padang Padang sebagai kota satelit yang terkait dengan batasan Hipotesis rencana struktur dan pola ruang Kawasan Metropolitan Padang Pengembangan Metropolitan Padang terbagi kedalam 2 (dua) tahap.17 jiwa/km2 (Kabupaten Padang Pariaman). Penyebaran penduduk di Metropolitan Padang telah tercapai pada pengembangan tahap akhir di tiap alternatif.

Pusat Primer Perdagangan dan Jasa Pusat Primer Industri Pusat Primer Transportasi Laut Pusat Primer Pendidikan Tinggi Pusat Budaya dan Wisata Pusat Pemerintahan Provinsi Pusat Pertahanan dan Keamanan/Militer b. dan pelestarian lingkungan hidup secara harmonis. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai pusat kegiatan industri dan jasa skala nasional atau yang melayani beberapa provinsi. kesenian. sistem jaringan prasarana perkotaan untuk mendukung perkembangan kawasan metropolitan Tantangan dan permasalahan tersebut pada dasarnya merupakan akumulasi dari berbagai permasalahan sehingga penanganannya perlu dilakukan secara komprehensif tidak hanya dari Kota Padang saja. berdasarkan kajian terhadap RTRW kota Padang. yaitu sebagai pusat jasa pelayanan pemerintah. c) Tantangan dan Persoalan Metropolitan Padang Sebagai salah satu wilayah yang berkembang pesat menuju Kota Metropolitan. yaitu sebagai pusat pemerintahan. dan/atau sebagai pusat koleksi dan distribusi barang. dan/atau sebagai pusat simpul transportasi. kesehatan. pertumbuhan penduduk perkotaan dan dampaknya terhadap kebutuhan pengembangan kawasan terbangun. abrasi pantai. maka ditetapkan fungsi wilayah Kota Padang sebagai pusat primer meliputi. sosial. banjir. serta jaringan prasarana dan sarana pelayanan penduduk yang sesuai dengan kebutuhan dan menunjang fungsi pusat perkotaan dalam wilayah nasional. dan/atau budaya. pusat perkotaan nasional mempunyai fungsi: a) b) ekonomi. pusat pelayanan pendidikan. Pusat sekunder. yaitu sebagai pusat pelayanan kegiatan keuangan/bank. Pusat Primer. dan jasa sosial. pemerintahan. tsunami. Sebagai pusat pelayanan perkembangan kegiatan budi daya. budaya. Sedangkan Visi Penataan Ruang Kota Padang 2028 (Draft RTRW Kota Padang 2008 – 2028) adalah : “Terwujudnya Struktur dan Pola Ruang Kota Pesisir yang Modern dan Berbudaya dengan Didukung oleh Pengembangan Sektor Perdagangan. Terkait skenario pembagian fungsi wilayah. longsor dan gelombang pasang. Jasa dan Pariwisata”. yaitu sebagai pusat produksi dan pengolahan barang. Attachment 2 | 43 . Kota Padang dan sekitarnya dihadapkan pada berbagai tantangan dan persoalan antara lain: • • • • tingginya potensi bencana geologi dan meteorologi seperti gempabumi. RTRW Propinsi Sumatera Barat dan kajian persiapan Kota Padang sebagai Kota Metropolitan. baik dalam wilayahnya maupun wilayah sekitarnya. maka Kota Padang mempunyai fungsi sesuai Pasal 14 yaitu: a) b) c) kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul utama kegiatan eksporimpor atau pintu gerbang menuju kawasan internasional.Milestone Report – December Berdasarkan PP 26/2008 tentang RTRWN yang menetapkan Kota Padang sebagai salah satu Pusat Kegiatan Nasional. Dalam pusat perkotaan nasional dikembangkan kawasan untuk peningkatan kegiatan ekonomi. sistem transportasi perkotaan yang belum terintegrasi. dan/atau kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul utama transportasi skala nasional atau melayani beberapa provinsi. tetapi juga dikaitkan wilayah sekitarnya dalam konteks pengembangan wilayah metropolitan. jasa perekonomian. a.

Pusat Pemerintahan Pusat Pemerintahan Kota Padang saat ini berada di kawasan CBD di Jl. adalah : 1. Beberapa argumentasi utama direkomendasikannnya pemindahan Pusat Pemerintahan Kota Padang. supaya aktifitas pemerintahan tetap berjalan meskipun apabila Kota Padang mengalami musibah bencana. 5. peluang terjadinya gempa bumi dengan kekuatan yang besar yang diikuti dengan gelombang tsunami. maka Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kota Padang. reorganisasi jalur transportasi.3. maka lokasi Pusat Pemerintahan harus terletak pada kawasan yang lebih aman. baik berdasarkan hasil penelitian ilmiah. a. Penataan Ruang–Kementerian Pekerjaan Umum. relatif tinggi. RTRW Kota Padang dan RPJM Kota Padang. Sebagai simbol daerah. M. Pusat Pusat Primer.4. Mendorong optimalisasi pemanfaatan ruang kota dan pertumbuhan kawasan. Pusat Budaya dan Wisata Pusat Permukiman b. pengembangan pusat ekonomi baru. 5. Pusat Primer Perdagangan dan Jasa Pusat Primer Industri Pusat Primer Transportasi Udara Pusat Budaya dan Wisata sekunder. Sedangkan untuk revisi RPJM Kota Padang. Attachment 2 | 44 . Mengidentifikasi perubahan mendasar dalam struktur dan pemanfaatan ruang kota. telah mengalokasikan dana dalam APBN 2010 ini berupa Kegiatan Revisi RTRW Kota Padang Periode 2008 – 2028. harus direvisi dengan memperhatikan sungguh-sungguh kondisi eksisting Kota Padang pasca bencana. Berdasarkan analisi ilmiah. 70. Pemerintah Pusat melalui Ditjen. 2. Diharapkan penetapan pembagian fungsi yang dimaksud dapat membagi beban pambangunan wilayah sesuai daya dukung masing-masing wilayah terkait Metropolitan Padang. Upaya untuk mengurangi konsentrasi massa dalam jangka waktu lama di kawasan yang rentan terhadap dampak bencana. yang berjarak hanya ± 800 m dari pesisir pantai. maupun yang mengacu kepada kecenderungan perilaku masyarakat Kota Padang. 3. dilaksanakan dengan mempergunakan dana dari APBD Kota Padang Tahun 2010. perubahan dinamika aktifitas masyarakat terkait pemindahan pusat pemerintahan. Kecamatan Padang Barat.Milestone Report – December - Pusat Sekunder Perdagangan dan Jasa Pusat Sekunder Transportasi Darat dan Laut Pusat Permukiman Sedangkan fungsi wilayah di luar kota Padang meliputi. Oleh karena itu. Untuk mempersiapkan Kota Padang yang responsif terhadap bencana serta menjadikan Padang sebagai Kota Metropolitan. Yamin No.

Banyak orang kehilangan pekerjaan. Pemerintahan Umum – Kementerian Dalam Negeri. Pemerintahan Umum – Kementerian Dalam Negeri beberapa waktu yang lalu. Beberapa hal penting yang harus dilakukan terkait dengan program pemulihan ekonomi dan revitalisasi pasar-pasar satelit di Kota Padang.Milestone Report – December Gambar: Estimasi Pusat Pertumbuhan Kota Padang Memindahkan Pusat Pemerintahan Kota Padang merupakan salah satu skenario Pemerintah Kota Padang untuk memacu pertumbuhan kawasan-kawasan baru. tetap dipertahankan. namun fungsi primer sebagai kawasan pusat perekonomian dan perdagangan Kota Padang dikawasan CBD. III. Sejalan dengan pemindahan pusat pemerintahan ke kawasan Aie Pacah.5. Oleh karena itu pembangunan kembali Pasar Raya Inpres diharapkan menjadi starting point pemulihan ekonomi Kota Padang secara umum. dan telah disetujui oleh Ditjend. Pemindahan Pusat Pemerintahan Kota Padang ini telah mendapat Persetujuan Prinsip dari Presiden Republik Indonesia. 5. Hal ini diperparah oleh hancurnya sebagian besar Pasar Raya. dan pada saat ini sedang dalam proses penerbitan Peraturan Pemerintah oleh Kementerian Dalam Negeri. maka kawasan yang ditinggalkan perlu ditata ulang untuk dijadikan sebagai fungsi lain tetapi tetap mengacu kepada dokumen RTRW yang telah direvisi. sehingga pedagang terancam kehilangan mata pencahariannya. Guna mewujudkannya. Guna mewujudkannya. yang pada gilirannya daya beli mayarakat turun sangat drastis. Oleh karena itu perlu dirumuskan penataan kawasan CBD pasca pindahnya aktifitas pemerintahan dari kawasan ini melalui Kegiatan Penataan Kawasan CBD dalam APBD Kota Padang Tahun Anggaran 2010. Road Map Pemulihan Ekonomi dan Revitalisasi Pasar Kondisi perekonomian Kota Padang pasca musibah sangat tidak stabil. sekaligus merupakan himbauan bagi masyarakat luas untuk dapat lebih selektif memilih tempat tinggal yang lebih aman dari ancaman gempa bumi dan gelombang tsunami. yang diharapkan akan mendapat tambahan dana melalui APBN-P Tahun Anggaran 2011 yang akan datang. banyak pula yang kehilangan peluang usaha. Pemerintah Kota Padang bersama-sama dengan BPRR telah menyusun Naskah Akademis Pemindahan Pusat Pemerintahan Kota Padang. Meski aktifitas pemerintahan akan dipindahkan. serta mengikutsertakan mereka dalam Attachment 2 | 45 . Berdasarkan Naskah Akademis dan Penyamaan Persepsi yang dilakukan di Ditjend. dan IV). Gedung DPRD dan Mesjid). II. telah pula dialokasikan dana sebesar Rp. adalah diantaranya : • Mengidentifikasi pedagang yang sebelum gempa sudah punya hak pakai dan beraktifitas di Pasar Raya (Pasar Inpres I. Dan didalam APBD Kota Padang Tahun Anggaran 2011. sehingga perputaran uang di Kota Padang sangat sedikit. 20 Milyard untuk pembangunan fisiknya. Pemerintah Kota Padang telah mengalokasikan dana melalui APBD Kota Padang Tahun Anggaran 2010 untuk Penyusunan Master Plan Pusat Pemerintahan Kota Padang dan Penyusunan DED Pusat Pemerintahan Kota Padang (khusus untuk Kantor Walikota Padang.

sebagai panduan bagi pelaksanaan pemulihan ekonomi Kota Padang pada masa-masa yang akan datang.6. Merehabilitasi dan mengembangkan Pasar Raya menjadi pasar rakyat modern Membangun Pangkalan Angkot di kawasan Pasar Raya untuk meningkatkan dinamika perdagangan dan interaksi publik. Untuk mewujudkannya. diharapkan berasal dari APBN. Demikian juga dengan skenario pemulihan ekonomi. Pemerintah atau sumber lainnya. Kawasan kota lama Padang saat ini berada dalam kondisi gawat dan perlu mendapat prioritas penanganan. Membangun dan mengembangkan Pasar-pasar Satelit yang dilengkapi dengan pangkalan angkutan kota (Siteba. Belimbing. Kegiatan pelestarian atau perlindungan bangunan bersejarah atau bangunan pembentuk karakter kota baru dimulai dari segi fisiknya saja. II. • • • • • Pemulihan ekonomi Kota Padang sangat dipengaruhi terutama oleh aktifitas jual beli masyarakat di Pasar Raya Padang. menengah dan kecil. serta menjadi tempat berbelanja bagi warga sekitarnya sehingga tidak perlu lagi berbelanja ke Pasar Raya. Bandar Buat. Ulak Karang. Pembangunan kembali Pasar Inpres tersebut dimulai dengan pembangunan kios-kios darurat yang kemudian akan dilanjutkan dengan pembangunan gedung pasar yang permanen pada lokasi yang sama dengan bangunan yang rubuh tersebut. Oleh karena itu. belum ada usaha yang sistematis yang Attachment 2 | 46 • • . III dan IV. Aspek hukum yang ada hanya berupa daftar bangunan yang dilindungi berupa Surat Keputusan Walikota. Kawasan kota lama Padang ditetapkan sebagai kawasan cagar Budaya yang diarahkan sebagai kawasan wisata budaya dan peninggalan sejarah.Milestone Report – December pembangunan kembali Pasar Inpres dan menjamin penempatan kembali pada bangunan pasar yang baru. Aspek hukum yang dipakai dalam perlindungan bangunan dan site bersejarah belum diintegrasikan dengan perangkat dan mekanisme pengendalian pembangunan. selain itu mekanisme pengendalian pembangunan yang ada tidak menjangkau hal substansial perancagan bangunan. Pasar-pasar satelit ini khususnya yang berada dikawasan pesisir. • Mengupayakan pembiayaan pembangunan baru Pasar Raya yang bersumber dari dari pedagang. Pemerintah Kota Padang telah mengalokasikan dana untuk Penyusunan DED Pasar Inpres I. telah pula dianggarkan dana untuk Penyusunan Road Map Pemulihan Ekonomi di Kota Padang. Sedangkan dana pembangunan Pasar Inpres II. Memfasilitasi pedagang Pasar Raya yang ingin merelokasi usahanya ke Pasar Satelit yang terdekat dengan tempat tinggalnya. dan Lubuk Buaya) untuk mengurangi kepadatan Pasar Raya dan menumbuhkembangkan pusat ekonomi baru. Perubahan tersebut disebabkan belum adanya panduan desain yang implementatif yang dapat menjaga karakter kawasan. Simpang Haru. sehingga harga petak toko/kios menjadi terjangkau dan sekaligus sebagai jaminan bagi keberlanjutan bisnis pedagang yang ada. II. Revitalisasi Padang Kota Lama Kawasan kota lama Padang merupakan kawasan bersejarah yang banyak meninggalkan bangunan-bangunan lama. 5. Indarung. pemulihan ekonomi Kota Padang diawali dengan pelaksanaan pembangunan kembali Pasar Inpres I. Pemerintah Kota Padang juga telah mengalokasikan dana untuk penyusunan DED beberapa Pasar Satelit yang diharapkan mampu menjadi pasar modern dengan pengelolaan yang lebih baik. serta dana pembangunan fisik Tahap I melalui APBD Kota Padang Tahun Anggaran 2010. Gempa yang terjadi pada 30 September 2009 yang lalu telah menghancurkan sebahagian bangunan cagar budaya tersebut. Gaung. III dan IV yang sudah rubuh akibat gempa. diharapkan mampu sekaligus berfungsi sebagai shelter untuk vertical evaquation bagi warga disekitarnya. Menyiapkan format untuk mensinergikan kegiatan perdagangan antara pelaku usaha skala besar. Beberapa permasalahan aktual pada kawasan ini antara lain: • Kecenderungan yang sistematis terjadinya perubahan karakter pada kawasan tersebut. khususnya pada kawasan yang bersejarah. III dan IV.

Masuknya fungsi-fungsi baru atau tradisi baru yang kurang compatible dengan historis kawasan Kerusakan berat bahkan kehancuran berat akibat gempa bumi Arahan program tentang Pelestarian Kawasan dan Bangunan Bersejarah Kota Padang. Tumbuhnya kantong-kantong kumuh. b. Kawasan kehilangan kemampuan untuk berkompetisi dengan kawasan lain. tahun 2011 – 2015 1. • Kegiatan pelestarian baru dipahami sebagai upaya elit masyarakat atau pemerintah saja. Pembentukan Forum Masyarakat Peduli Bangunan Bersejarah Kota Padang Pembentukan Tim Ahli Bangunan Gedung (TABG) Kota Padang Perencanaan Lanjutan Rencana Rehabilitasi Dengan menyusun Pedoman Teknik Perbaikan dan Penanganan Bangunan Lama Bersejarah Kota Padang. Padang. 2. Perencaan Detail Engineering Design (DED) Bangunan Bersejarah di Jalan Pasar Hilir. Rendahnya intervensi publik sehingga mengakibatkan kawasan tersebut semakin kurang nyaman. Pembentukan Kelembagaan. Kawasan Kota Lama. Menyusun Peraturan Bangunan Gedung di Kota Padang dengan mengajukan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Tentang Bangunan Gedung Kota Padang dan Rancangan Peraturan Walikota (Ranperwako) Tentang Bangunan Gedung Bersejarah Kota Padang.Milestone Report – December mampu menggerakan aktivitas masyarakat sehingga kegiatan pelestarian merupakan kegiatan yang dilakukan sejalan dengan dengan gerakan pembangunan perkotaan lainnya. Kawasan Kota Lama. Nilai properti yang ada tergolong negatif. Terjadi penghancuran nilai-nilai lamanya. Padang dan Bangunan Bersejarah di Jalan Pasar Mudik. Oleh karena itu mekanisme yang mengatur pola insentif dan deinsentif bagi kegiatan pelestarian ini. 3. Terjadinya residential flight (pindahnya penduduk atau penghuni) ke luar dari Kawasan. Terjadi penghancuran diri sendiri (self destruction) baik dari segi aktivitas kawasan. bahkan kehilangan nilai strategisnya. baik bangunan maupun lingkungan. Pelaksanaan Rehabilitasi Bangunan Bersejarah di Kawasan Kota Lama Padang 4. angunan dan komponen lain pembentuk kawasannya. Attachment 2 | 47 . karena secara ekonomis dan praktis kegiatan ini belum dirasakan manfaatnya bagi masyarakat umum. Penurunan kualitas (degradasi) kawasan kota lama Padang yang telah berada pada titik gawat ditandai dengan gejala-gejala sebagai berikut : • • • • • • • • • • • • • • Kehilangan kemampuan untuk merawat. Rendahnya keinginan untuk melakukan investasi baik pemerintah. 5. termasuk signifikasi historis dan budaya. Forum Lintas Pelaku Pelestarian Kawasan dan Bangunan Bersejarah Kota Padang : a. swasta dan masyarakat. Umumnya status kepemilikannya tidak atau kurang jelas. Terjadinya bussiness flight (pindahnya kegiatan bisnis) Terjadinya infrastructure distress yang mengakibatkan terjadinya degradasi lingkungan dan kualitas hidup serta tumbuhnya squatters.

abrasi pantai. merupakan Pusat Kegiatan Nasional (PKN) yang berfungsi sebagai pusat pelayanan jasa. Untuk menjalankan peran sebagai pusat kegiatan diatas dibutuhkan suatu sistem transportasi kota yang handal dan mampu memberikan pelayanan aksesbilitas dan mobilitas manusia. hal ini dipengaruhi oleh letak Kota Padang yang berada di pertemuan lempeng. tanah longsor dan tsunami. Masyarakat Kota Padang mulai memilih hunian atau tempat tinggal yan jauh dari pantai. Ditambah lagi rencana pemindahan pusat pemerintahan Kota Padang ke kawasan Aie Pacah. Reorganisasi jaringan transportasi kota juga diarahkan untuk mendeteksi lokasi Terminal Bus AKDP ditiga penjuru Kota Padang. distribusi barang serta menjadi pintu masuk atau simpul transportasi bagi wilayah sekitarnya (hinterland). Ancaman bahaya tsunami menyebabkan masyarakat lebih memilh berinvestasi pada bagian timur kota. prasarana. Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan trip demand masyarakat yang pada gilirannya akan mempengaruhi pola jaringan trayek angkutan umum. Kota Padang sebagai ibukota Provinsi Sumatera Barat. perlu segera dilakukan reorganisasi jaringan transportasi Kota Padang dalam memenuhi trip demand masyarakat. Oleh karena itu. Dalam melakukan recovery kawasan ini. yang dikaitkan dengan program Angkutan Massal yang telah mulai diprogramkan oleh Dinas Perhubungan Kota Padang yang dibantu oleh Kementerian Attachment 2 | 48 . cepat.7.Milestone Report – December Kawasan pondok merupakan salah satu kawasan yang terparah kondisinya pasca musibah gempa bumi tanggal 30 September 2009 yang lalu. Kota Padang sangat rentan terhadap bencana. Oleh karena itu perlu diantisipasi dengan perencanaan dan pembangunan sarana dan prasarana transportasi yang mempertimbangkan perkiraan perubahan pola aktivitas. tetapi juga sebagian kantor swasta dan toko/ruko juga ikut pindah kekawasan timur kota. Tidak saja tempat tinggal yang pindah. Kondisi di atas akan menyebabkan perubahan pola pergerakan orang dan barang di Kota Padang. barang dan jasa secara lancar. diantaranya rawan gempa bumi. menyebabkan sebagian warga yang semula bertempat tinggal dikawasan pesisir pantai. pola pergerakan serta peruntukan lahan sehingga tidak terjadi kesenjangan antara transportasi supply dan transportasi demand. Perkembangan Kota Padang yang mengarah ke Timur Kota ini. sistem pelayanan dan mekanisme pendanaan sebagai satu kesatuan yang harmonis serta sejalan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Di kawasan ini terdapat bangunan-bangunan tua peninggalan zaman Kolonial Belanda yang sebagain merupakan bangunan yang tergolong kedalam bangunan cagar budaya. menjadi issue penting dalam pembangunan sarana dan prasarana transportasi di Kota Padang. produksi. Oleh karena itu perlu disusun Rencana Induk Transportasi Kota Padang yang akan digunakan sebagai panduan dalam penentuan kebijakan pengelolaan dan pengembangan sistem transportasi dari semua moda transportasi yang ada dan mendukung Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kota Padang pasca gempa yang meliputi sistem jaringan. tanah labil. diperlukan panduan khusus agar hasil recoverynya tidak menghilangkan jejak langkah bangunan-bangunan tua yang sudah dikelompokkan sebagai bangunan peninggalan bersejarah dan bangunan cagar budaya. Sehingga memberi konsekuensi pada tingkat kerawanan yang tinggi terhadap bencana alam. serta mengantisipasi akan dipindahkannya Terminal Type A dari kawasan Aie Pacah. aman. Re-organisasi Jaringan Transportasi Kota Padang 5. murah dan nyaman. lebih memilih pindah rumah menjauhi pantai. Beberapa hal yang hendaknya dilakukan sehubungan dengan penataan kawasan Padang lama adalah antara lain : • • • • Membangun ruang publik untuk interaksi dan kehidupan masyarakat kota yang lebih baik dan menyenangkan Revitalisasi Kawasan Kota Lama agar lebih mempunyai nilai ekonomis dan humanis Mengembangkan pola kehidupan kota yang multikultural Mengembangkan pola kemitraan swasta dan pemerintah (public private partnership) dalam membangun kembali prasarana bisnis skala menengah dan besar. Ketakutan warga Kota Padang akan terjadinya musibah gempa bumi yang diikuti dengan gelombang tsunami. banjir. hal ini sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Padang.

Dalam upaya mengembalikan kepercayaan diri masyarakat serta menghilangkan trauma yang mendalam pasca musibah gempa bumi yang dialaminya setahun yang lalu. Beberapa hal penting yang akan dilakukan dalam melakukan re-organisasi jaringan transportasi Kota Padang adalah antara lain : 1. bangunan sekolah dan fasilitas kesehatan lainnya harus kokoh dan ramah terhadap gempa serta aman dari gelombang tsunami. Tata ulang regulasi tentang rute dan trayek angkutan kota. Oleh karena itu.8. zikir bersama) Penyediaan fasilitas untuk mitigasi bencana (percepatan penyelesaian jalur evakuasi. dan lain-lain). Traumatik akibat mengalami gempa dahsyat. diantaranya adalah : • Memastikan bahwa sekolah/rumah sakit adalah tempat yang paling aman dari apabila gempa bumi dan tsunami benar-benar terjadi di Kota Padang. Trauma healing (belajar berkelompok. dan menentukan kriteria kelayakan operasional moda transportasi. menggambar. Melakukan kajian dan membuka jalur baru moda transportasi dengan sistem bus way dan kereta rel listrik (monorail/skytrain) untuk jalur utama. Kondisi mental yang labil seperti ini harus segera diobati dengan traumatic healing bagi seluruh lapisan masyarakat. kepemilikan moda transportasi kota. 3. Roap Map Pemulihan Fasilitasi Pendidikan dan Fasilitas Kesehatan Sebagian besar sarana pendidikan dan kesehatan di Kota Padang mengalami kehancuran dan rusak parah akibat musibah gempa. escape building. olah raga. Kegiatan ini difokuskan pada upaya mendeteksi penyebab utama trauma dan rekomendasi mengatasi rasa trauma. pemutaran film. 4. rekreasi. menyebabkan sebagian masyarakat seperti kehilangan pegangan. escape hill. Pemerintah Kota Padang melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah melaksanakan Kegiatan Traumatic Healing melalui APBD Kota Padang Tahun Anggaran 2010. Pemulihan Dini Mental Masyarakat 5. Menata kembali jalur angkutan kota yang ada sekarang untuk mendukung perkembangan dan penyebaran pusat pertumbuhan ekonomi. Rencana pengoperasian monorail tersebut telah masuk dalam PPP (Public Private Partnership) Book Bappenas. 5.9. pembangunannya kembali harus mengikuti standar bangunan yang tahan gempa • Attachment 2 | 49 . Hal ini sejalan dengan rencana pengoperasian monorail di Kota Padang dalam rangka persiapan Kota Padang menuju Kota Metropolitan. paling tidak mampu menurunkan kinerja masyarakat. Beberapa hal yang harus dilakukan dan menjadi perhatian dalam rangka pemulihan sarana pendidikan dan kesehatan. angkutan penumpang dan angkutan barang. Ketakutan akan mengalami hal yang sama. Menata manajemen angkutan kota. Artinya. 2. 2. games. ceramah. Sekolah dan fasilitas kesehatan yang rubuh. serta upaya mengembalikan kepercayaan diri masyarakat untuk segera bangkit dari keterpurukan mental dan menatap hari-hari mendatang dengan lebih tegar lagi. apalagi bagi masyarakat yang kehilangan anggota keluarganya pada saat musibah tersebut terjadi. pemulihan sarana pendidikan dan kesehatan harus menjadi perhatian serius bagi keberlangsungan dunia pendidikan dan terjaminnya fasilitas kesehatan bagi masyarakat. Hal-hal yang akan dilakukan adalah antara lain : 1.Milestone Report – December Perhubungan RI.

dalam hal ini menentukan skala prioritas serta scenario pembebanan anggarannya. terutama program pembangunan sekolah shelter di kawasan pesisir Kota Padang. Mengupayakan bantuan khusus kepada sekolah swasta yang bangunannya rusak (terutama TK. atau dibangun dengan sistem bangunan shelter. SD dan SMP) Memberikan perhatian khusus pada fasilitas kesehatan didaerah pinggiran Membangun kembali/melengkapi sarana dan prasarana pendidikan dan kesehatan yang rusak dengan mengakses sumber pembiayaan non Pemerintah. walaupun belum sepenuhnya tuntas. recoverinya telah dimulai dengan memanfaatkan bantuan dari pemerintah pusat dan NGO. Dokumen ini diharapkan mampu menggiring dan mengarahkan Pemerintah Kota Padang dalam hal pemulihan fasilitasi pendidian dan kesehatan. Untuk membantu mengarahkan Pemerintah Kota Padang dalam melakukan pemulihan fasilitas pendidikan dan kesehatan di Kota Padang. • • • Disektor pendidikan dan kesehatan. perlu segera direlokasi ke lokasi baru pada lahan milik Pemerintah dengan pola ruislag. telah dialokasikan dana melalui APBD Kota Padang Tahun 2010 untuk Kegiatan Road Map Pemulhan Fasilitas Pendidikan dan Kesehatan di Kota Padang. Attachment 2 | 50 .Milestone Report – December • Bangunan sekolah atau fasilitas kesehatan yang berada di kawasan merah bahaya tsunami.

2. Dalam sistem pusat-pusat. 1) Analisis Kebijakan dan Rencana Pembangunan Daerah Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Padang. bahkan cenderung membentuk kawasan perkotaan cukup luas. 2) A.1.1. Kebijakan RTRW Provinsi Sumatera Barat telah diakomodir dlm kebijakan RTRW Kota Padang. Kedudukan Kota Padang dalam RTRW NASIONAL Kota Padang termasuk ke dalam kota-kota pusat pertumbuhan nasional yang akan dilakukan revitalisasi dan percepatan pengembangannya. B. Attachment 2 | 51 . Konsistensi Kebijakan Tata Ruang dengan Struktur dan Pola Ruang. 2. perkebunan dan pariwisata. industri manufaktur dan industri pengolahan hasil pertanian. Kota Padang didukung oleh kotakota lain di sekitarnya: b. c. Kota Padang ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN). Untuk dapat mengkaji KRP RTRW Kota Padang. Transportasi Kota Padang akan menjadi salah-satu simpul utama dalam sistem jaringan Jalan Arteri Primer: Pengembangan Pelabuhan Internasional Teluk Bayur dan Pelabuhan Muaro. Analisis Kebijakan dan Rencana Yang Lebih Tinggi. a. Akan dilakukan pengembangan jaringan jalan bebas hambatan Padang Bukittinggi untuk tahap pengembangan I. 6.Milestone Report – December BAB VI ANALISIS IMPLIKASI KEBIJAKAN. Kedudukan Kota Padang dalam RTRW Propinsi Sumatera Barat Dalam Gambaran Umum Provinsi Sumatera Barat point Penggunaan Lahan sub point Kawasan Pemukiman. 1. Sedangkan substansi dari RTRW Kota Padang dinilai dari acuan yang dirumuskan dalam RPJPD Kota Padang dan RPJM Kota Padang. perdagangan dan jasa. RENCANA DAN PROGRAM 6. maka terlebih dahulu dikaji perencanaan yang lebih makro secara ruang dan memilki keterkaitan dengan RTRW Kota Padang yaitu RTRW Provinsi Sumatera Barat dan RTRWN. Perkembangan kawasan permukiman Kota Padang berjalan cukup pesat baik dari segi jumlah penduduk maupun luas kawasan.2. 1. Kebijakan RTRW Kota Padang dan RPJM Kota Padang merupakan penjabaran dari kebijakan dan rencana yang lebih tinggi yaitu RTRW Provinsi Sumatera Barat dan RPJMD Provinsi Sumatera Barat serta RTRWN dan RPJMN. baik dalam hal struktur ruang maupun pola ruang. Konsistensi Kebijakan Provinsi Sumatera Barat dengan Kota Padang. Pelabuhan Laut Internasional Teluk Bayur sebagai outlet komoditi Sumatera Barat menuju pasar internasional. Pembentukan Pola Ruang Kawasan Andalan dengan sektor unggulan: perikanan. 6.

Lubuk Alung. Kota Pariaman. Di Kota Padang. Dalam Gambaran Umum Provinsi Sumatera Barat point Pariwisata. Kota Pariaman. 6. Kota Solok dan Painan (Kabupaten Pesisir Selatan) dapat dikembangkan sebagai kota Metropolitan dengan peran masing-masing sebagai berikut : a. Dalam Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang. c. 4. b.3 juta jiwa. luas hutan mangrove tidak lebih dari 10 hektar. Penyusunan sinkronisasi penataan ruang kawasan perkotaan metropolitan terutama sistim jaringan prasarana dan sarana fasilitas perkotaan. Rencana pengembangan jaringan jalan Provinsi Sumatera Barat akan dibedakan dalam tiga wilayah yaitu wilayah bagian tengah. dan selatan. yang terdapat di kawasan Sungai Pisang. Untuk itu maka penataan wilayah Kota Padang mengakumulasikan jumlah penduduk tersebut perlu dilakukan secara terpadu dengan wilayah yang berbatasan (Kabupaten Padang Pariaman. melalui a. Kota Pariaman. 5. Selanjutnya Attachment 2 | 52 . Dalam Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang. Sistem jaringan jalan di bagian tengah diarahkan pada pola jaringan jalan yang memperkuat keterkaitan antara Kota Padang. Dalam Rencana Sistem Perkotaan point Rencana Pusat Kegiatan. Kota Payakumbuh. 10. sub point Jaringan Jalan. Bahan pertambangan mineral bukan logam. Dalam Gambaran Umum Provinsi Sumatera Barat point Pengunaan Lahan sub point Kawasan Pertambangan. Dalam Rencana Sistem Perkotaan point Rencana Pengembangan Kawasan Metropolitan Padang. utara. 3. Kota Solok. c. Pantai Air Manis. b.Milestone Report – December 2. Pantai Bungus. Batusangkar. Penetapan pusat-pusat kegiatan untuk mendukung pelayanan sosial/ekonomi dan pengembangan wilayah. Fasilitasi peningkatan fungsi Kota Padang menjadi kawasan metropolitan melalui kajian wilayah yang berbatasan langsung dengan Kota Padang sebagai wilayah pengaruh dan kota-kota sekitar sebagai pendukungnya. Kota Solok yang membentuk pola radial. diantaranya adalah Pantai Kota Padang. secara wilayah administrasi pemerintahaan saat ini maka Kota Padang dan sekitarnya yang meliputi wilayah Lubuk Alung (Kabupaten Padang Pariaman). melalui pemantapan pengembangan PKN Kota Padang sebagai pusat orientasi wilayah menuju Metropolitan Padang. peningkatan fungsi Kota Padang menjadi kota metropolitan. Pengembangan wisata tirta telah menjadi salah satu produk usaha dan tujuan wisata (destinasi) yang penting. prasarana pejalan kaki dan pedagang informal. berdasarkan pengertian dan kriteria kawasan metropolitan sesuai pengertian dalam PP Nomor 26 tahun 2008. Kota Padang Panjang. Kota Bukittinggi. Pengembangan dan peningkatan pelayanan sarana dan prasarana transportasi laut dan udara dalam rangka menunjang kegiatan koleksi dan distribusi barang/penumpang di Pelabuhan Laut Internasional Teluk Bayur dan Bandar Udara Internasional Minangkabau. Dalam Gambaran Umum Provinsi Sumatera Barat point Prasarana Wilayah. Dalam Gambaran Umum Provinsi Sumatera Barat point Pengunaan Lahan sub point Perikanan dan Kelautan. 9. Dalam Rencana Sistem Perkotaan point Rencana Sistem Jaringan Transportasi. Hal ini dapat dilakukan dengan penyediaan sarana dan prasarana perkotaan secara terpadu melalui pengembangan konsep kawasan perkotaan metropolitan. 11. Kota Padang masih menjadi orientasi utama penduduk Provinsi Sumatera Barat dan diperkirakan berjumlah sebanyak 1. Prasarana transportasi laut provinsi ini telah ditunjang oleh pelabuhan Internasional Teluk Bayur dan pelabuhan skala lokal di Kota Padang. Aro Suka dan Painan sebagai kawasan perkotaan satelit. Aro Suka (Kabupaten Solok). Kabupaten Solok dan Kabupaten Pesisir Selatan) dan kota-kota di sekitarnya yang menjadi satu kesatuan kawasan pendukung kawasan metropolitan (Kota Pariaman dan Kota Solok). terutama kawasan RTH minimal 30 %. Kota Padang sebagai kawasan perkotaan inti. Peningkatan pelayanan sarana dan prasarana kawasan perkotaan metropolitan sesuai hirarki pelayanan dan tetap memperhatikan kaidah lingkungan. fosfat dan pertambangan batuan untuk industri yang berupa batu kapur menyebar di Kota Padang. 8. d. berdasarkan kriteria dan arahan kebijakan pengembangan yang telah disampaikan maka rencana struktur pusat kegiatan di Provinsi Sumatera Barat sampai tahun 2029 terdiri dari 1 (satu) kota PKN yaitu Kota Padang. Kota-kota kecamatan selain yang berfungsi sebagai ibukota kabupaten berfungsi sebagai kota kecil. Dalam Gambaran Umum Provinsi Sumatera Barat point Kependudukan. Pantai Caroline dan Wisata Bahari Pulau Sikuai. 7.

Dalam Rencana Sistem Perkotaan point Rencana Sistem Jaringan Transportasi sub point Pengembangan Sistim Angkutan Umum Massal. 15. Penetapan kawasan sempadan pantai Kota Padang bertujuan salah satunya adalah untuk Attachment 2 | 53 . Danau dan Penyeberangan. 16. Painan. Dalam Rencana Kawasan Lindung point Kawasan Perlindungan Setempat. dan untuk jangka panjang akan dikembangkan juga untuk angkutan penumpang melalui pembangunan shortcut antara Solok-Padang dengan jarak lebih pendek dan tidak mengunakan rel bergigi. Dalam Rencana Sistem Perkotaan point Jaringan Transportasi Sungai. Pelabuhan Muara Padang (Kota Padang) adalah salah satu pelabuhan utama tersier sedangkan Pelabuhan Teluk Bayur di Padang merupakan pelabuhan terbesar dan potensial untuk dikembangkan menjadi pelabuhan ekspor-impor skala besar. Sikakap dan Muara Siberut di Kabupaten Kepulauan Mentawai yang dikelola oleh PT. 17. ASDP (Persero) Cabang Padang. Arahan pengembangan sistim terminal di provinsi Sumatera Barat meliputi : Fungsionalisasi terminal yang belum difungsikan dengan baik ((Terminal Regional Bingkuang Air Pacah Padang) 1 A Kota Padang (Terminal Regional Bingkuang) Fungsionalisasi 14. sebagai berikut : Rencana pengembangan jalan bebas hambatan adalah yang menghubungkan Kota Padang – Kota Bukittinggi 12. Tapan menuju Muko-muko Provinsi Bengkulu. saat ini terdapat Pelabuhan Penyeberangan Teluk Bungus yang melayani kapal penyeberangan dari Kota Padang ke pelabuhan Tua Pejat. Rencana jalan arteri primer yang menghubungkan simpul-simpul sebagai berikut : 1) 2) 3) 4) b. Berdasarkan uraian tersebut. Kota Solok. 1) Kota Kota Kota Kota Padang Padang Padang Padang – – – – Kota Bukittinggi. pelabuhan penyeberangan yang dikembangkan di masa mendatang adalah Pelabuhan Penyeberangan Bungus di Kota Padang Dalam Rencana Sistem Perkotaan point Transportasi Laut. yang ada saat ini lintasannya mengelilingi perbukitan dengan panjang trase sekitar 148 km dan sebagian jalur menggunakan konstruksi rel bergigi. untuk Jaringan jalur kereta api yang menghubungkan Sawahlunto dengan Padang. Painan. Kota Pariaman.Milestone Report – December masih wilayah bagian selatan yaitu dari Kota Padang. beberapa kawasan resapan air di Kota Padang direncanakan sebagai kawasan lindung. Rencana pengembangan angkutan kereta api dalam jangka pendek dan menengah adalah untuk pengangkutan barang terutama batubara. 18. Pengembangan angkutan umum masal perlu direncanakan untuk mendukung fungsi kawasan Metropolitan Padang dan sekitarnya. Dalam Rencana Sistem Perkotaan point Rencana Sistem Jaringan Transportasi sub point Jaringan Jalur Kereta Api. semen dan CPO. maka rencana pengembangan jaringan jalan di Provinsi Sumatera Barat meliputi : a. Dalam Rencana Kawasan Lindung point Kawasan yang Memberikan Perlindungan Terhadap Kawasan Bawahannya. adalah pengoperasian kereta api komuter dan kereta api bandara meliputi jalur Padang (Pulau Air – Simpang Haru) – Duku – Lubuk Alung – Pariaman – Bandara Internasional Minangkabau (BIM). Rencana jalan kolektor primer yang menghubungkan simpul-simpul. 13. Arahan pengembangan perkeretaapian di Sumatera Barat. Dalam Rencana Sistem Perkotaan point Rencana Sistem Jaringan Transportasi sub point Pengembangan Sistim Terminal. selanjutnya untuk angkutan penyeberangan.

Dalam Prioritas Pemanfaatan Ruang point Perwujudan Rencana Pengembangan Struktur Ruang. Peningkatan pelabuhan perikanan Samudera Bungus. Hutan dengan Pusat Layanan di Kota Padang. d. dan jasa. rencana lokasi untuk kawasan instalasi militer. setidaknya oleh sistem komuting. Peninggalan Sejarah. memiliki areal seluas 200 hektar. ditetapkan di wilayah Kota Padang yaitu Taman Hutan Raya Bung Hatta dengan luas lebih kurang 240 Ha. industri Semen Padang di Kawasan Indarung. Padang Industrial Park (PIP) merupakan pusat kawasan industri di Provinsi Sumatera Barat. a. Dalam Rencana Kawasan Budidaya point Kawasan Permukiman.Milestone Report – December 19. Kota Padang diusulkan sebagai kota metropolitan. 23. 27. Kota Padang termasuk daerah yang mempunyai zona kerentanan gerakan tanah tinggi dan menengah yang dapat menimbulkan tanah longsor. Dalam Rencana Kawasan Budidaya. Pulau-pulau. Kawasan Bungus Teluk Kabung di Kota Padang ditetapkan sebagai Kawasan Pantai Berhutan Bakau. kegiatan industri. Kota Padang termasuk dalam rencana pengembangan kawasan perikanan tangkap. h. i. f. Dalam Kawasan Budidaya yang Memiliki Nilai Strategis. Perkotaan baru mandiri ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas umum kota. Peningkatan kapasitas pelayanan Bandara Internasional Minangkabau sebagai pengumpul b. Djamil sebagai salah satu rumah sakit tipe A di Indonesia. melindungai kawasan pantai dari ancaman abrasi air laut. Kota Padang menjadi Kawasan Pertanian Lahan Kering terutama untuk tanaman hias dan obat-obatan. Dalam Rencana Kawasan Budidaya point Kawasan Pariwisata. Pegunungan. 25. Pengembangan sarana perdagangan Pasar Raya Padang sebagai pasar induk antar wilayah. Pengembangan pelabuhan laut Teluk Bayur sebagai pelabuhan laut internasional c. Dalam Rencana Kawasan Lindung point Kawasan Lindung Geologi. kota inti maupun sebagai pusat pelayanan. Attachment 2 | 54 . yang terletak di pinggir jalan By Pass antara Kota Padang dan Kabupaten Padang Pariaman. Pengembangan sarana kesehatan Rumah Sakit Umum (RSU) dr. Kota Padang termasuk kawasan rawan gempa bumi. Pengembangan infrastruktur jalan Kota. a. b. 29. Kota Padang merupakan pengembangan dan penataan PKN. Dalam Rencana Kawasan Lindung point Kawasan Rawan Bencana Alam. Pengembangan sarana pendidikan tinggi Universitas Andalas (UNAND) dan Universitas Negeri Padang (UNP) sebagai perguruan tinggi terkemuka di tingkat nasional. 28. Antara kota inti dengan perkotaan satelit dan permukiman skala besar memiliki hubungan atau aksesibilitas yang tinggi. Dalam Rencana Kawasan Budidaya point Kawasan Pertambangan. Kesenian. point Kawasan Peruntukan Budidaya Perikanan. 22. serta MICE. seperti markas komando ditetapkan di bukit peti-peti Teluk Bayur Kota Padang dan pangkalan militer ditetapkan di Pulau Pisang Kota Padang. M. Kota Padang termasuk dalam rencana pengembangan kawasan industri berupa Kawasan Padang Industrial Park (PIP). Dalam Kawasan Strategis Provinsi Sumatera Barat. point Kawasan Strategis Provinsi. sebanyak 45 hektar di antaranya telah siap dibangun. Pelestarian Alam dan Cagar Budaya. selain untuk melindungi ekosistem pantai dari kerusakan baik yang diakibatkan oleh alam maupun kegiatan manusia. Peningkatan dan pengem-bangan prasarana dan sarana Terminal Barang. Dalam Rencana Kawasan Lindung point Kawasan Suaka Alam. j. Kawasan Taman Hutan Raya (Tahura). Penataan PKN dilakukan melalui kegiatan : a. rawan abrasi pantai. g. b. serta prasarana dan sarana Sistem Angkutan Umum Massal e. Kota Padang termasuk DPP II yang didominasi atraksi dari jenis wisata bahari seperti Pantai. 20. rawan gerakan tanah. 24. Fungsionalisasi Terminal Regional Bingkuang (tipe A) di Kawasan Aia Pacah. Budaya. 21. Sungai. Pantai Kota Padang merupakan kawasan rawan gelombang pasang dan Kota Padang termasuk kawasan rawan banjir. Dalam Rencana Kawasan Budidaya. Pengembangan agro industri dan manufaktur di kawasan PIP. 26. Kawasan Strategis ITBM (Indarung – Teluk Bayur – Bungus – Mandeh) sebagai kawasan yang merupakan salah satu sumber pendapatan utama Provinsi Sumatera Barat sampai saat ini masih merupakan salah satu andalan pendapatan daerah hingga 20 tahun mendatang.

m. Pembangunan sistem drainase primer. Ecodrain dan Ecosan. Peningkatan dan pengembangan prasarana dan sarana permukiman. dan bangunan penampung air lainnya untuk penyediaan air baku alternatif dilakukan di Kota Padang. Bab 6 Prioritas Pemanfaatan Ruang yang merupakan perwujudan dari masing-masing rencana prioritas di atas. Rehabilitasi/fungsionalisasi. Pembangunan Waste Water. b. waduk. Dapat dilihat pada Program Perwujudan Kawasan Lindung adalah : Attachment 2 | 55 . Pembangunan prasarana dan sarana air limbah kawasan RSH. e. Padang (Teluk Bayur) – Lubuk Alung – Padang Panjang – Solok –Sawahlunto. Bab 6 Prioritas Pemanfaatan Ruang : Perwujudan Pengembangan Sistem Prasarana Perumahan dan Permukiman. Peningkatan dan pengembangan sarana dan prasarana terminal. Padang Panjang – Bukittinggi – Payakumbuh dan Double Track Teluk Bayur – Indarung. danau serta sumber air lainnya. f. dan Pengembangan sistem pengendalian banjir Kota Padang dengan membangun integrasi saluran sekunder dan tersier. Ruas jalan Padang – Solok – Kiliran Jao – Batas Provinsi Riau. c. Pembangunan jalur short cut Pauh Limo (Padang) – Solok. Pengembangan jaringan transportasi sungai. Ruas jalan Jalan Tol Padang – Bukittinggi – Payakumbuh – Batas Provinsi Riau. Peningkatan jalan arteri primer Ruas jalan Padang – Bukittinggi – Payakumbuh – Batas Provinsi Riau. o. n. Peningkatan TPA Regional di Aie Dingin serta prasarana dan sarana persampahan. c. danau dan penyeberangan. antara lain embung/bendungan. l. Pengembangan. p. Pembangunan jaringan jalan arteri primer Ruas jalan Teluk Bayur– Pesisir Pantai Padang – Bandara Ketaping – Pariaman. Ruas jalan Padang – Bukittinggi – Lubuk Sikaping b. Peningkatan kapasitas pelayanan air minum sesuai kebutuhan masyarakat. 32. Ruas jalan Padang – Painan – Tapan – Batas Provinsi Bengkulu Ruas jalan Padang – Pariaman – Manggopoh – Simpang Empat Batas Provinsi Sumatera Utara. 31. Bab 6 Prioritas Pemanfaatan Ruang : Perwujudan Rencana Pengembangan Struktur Ruang adalah : a. pengelolaan dan konservasi sungai. Program pembangunan prasarana pengendalian banjir pada alur sungai Batang Kandis. a. Peningkatan dan pengembangan sistem pengelolaan limbah terpadu melalui pipanisasi. 30. d. dan pengembangan angkutan kereta api Rehabilitasi/fungsionalisasi/ pengembangan prasarana kereta api pada lintas barat Sumatera di Provinsi Sumatera Barat meliputi jalur Lubuk Alung – Naras – Sungai Limau – Simpang Empat. Pengembangan pelabuhan laut regional/lokal Muara Padang dan Bungus (Kota Padang). g. • • 1. Peningkatan dan pengembangan jaringan transportasi penyeberangan dilakukan melalui peningkatan pelayanan transportasi penyeberangan yang meliputi Pelabuhan Bungus di Kota Padang. q. Fungsionalisasi Terminal Regional Bingkuang (Kota Padang). Pembangunan TPA Kota Padang (Aia Dingin Kecamatan Koto Tangah). Pengembangan pelabuhan untuk kegiatan wisata yang tersebar di Pelabuhan Marina Padang. Program pengamanan abrasi pantai yaitu di : Pesisir Pantai Padang – Batas Kota.Milestone Report – December k.Muaro Bungo yang merupakan bagian dari rencana pembangunan jaringan Kereta Api Trans Sumatera (Connecting Trans Sumatera Railway) Pengoperasian kereta api komuter dan kereta api bandara meliputi jalur Padang (Pulau Air – Simpang Haru) – Duku – Lubuk Alung – Pariaman – Bandara Internasional Minangkabau (BIM). dan pembangunan kanal timur. Rehabilitasi dan peningkatan pelayanan Instalasi Pengolahan Limbah Tinja (IPLT) di Kota Padang. Bab 6 Prioritas Pemanfaatan Ruang : Perwujudan Pengembangan Sistem Prasarana Sumber Daya Air. Sawahlunto – Muaro – Teluk Kuantan/Pekanbaru dan Muaro .

. 4. Penetapan kawasan rawan bencana alam berupa kawasan rawan tanah longsor. Mengkaji RTRW dengan kondisi eksisting. kesehatan dan fasilitas pasar. Dalam PENTAHAPAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH. Longsor sering terjadi pada daerah yang berada pada punggung bukit dan beberapa ruas jalan negara daerah. Dalam hal ini pengembangan Pelabuhan Teluk Bayur berikut fasilitas penunjangnya serta prasarana dan sarana perhubungan menuju ke pelabuhan ini menjadi faktor kunci yang sangat menentukan. telah membawa kemunduran (setback) terhadap bidang kesehatan dan makin menambah permasalahan kesehatan yang telah ada Attachment 2 | 56 B. 2. perumuhan rakyat dan prasarana jalan dan jembatan. sub bagian Pengembangan Pusat Kegiatan. Pusat-pusat pengembangan di wilayah Sumatera yang merupakan Pusat Kegiatan Nasional (PKN) diarahkan untuk mendorong pengembangan Kota Padang di wilayah Barat sebagai pusat pelayanan primer.821 Ha) berbatasan di Kota Padang. 1. kawasan rawan banjir di Kota Padang. Kota Padang sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN) harus didorong pengembangannya sebagai pusat pelayanan primer di wilayah Barat. sepanjang pantai Kota Padang berpotensi pasir besi.377 Ha) di Kota Padang.2. 5.2. Dalam ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN WILAYAH. kerusakan gempa 30 september 2009 yang cukup besar dalam bidang perumahan. serta sebagai simpul utama transportasi skala nasional atau melayani beberapa provinsi. Kota Padang merupakan Pusat Kegiatan Nasional (PKN). 3) Implikasi Rencana Struktur Tata Ruang dan Pola Pemanfaatan Ruang. Kota Padang. dampak terhadap lingkungan (eksisting land use) terutama pada daerah-daerah liquifaksi 6. poin RPJM ke 2 (20112015). A. gedung perkantoran pemerintah. Hal ini dapat dilakukan dengan mendukung kegiatan ekspor-impor dan Kota Padang dijadikan sebagai pintu gerbang menuju kawasan internasional. sub bab BIDANG SOSIAL BUDAYA DAN KEHIDUPAN BERAGAMA pada poin BIDANG KESEHATAN. Dalam PENGEMBANGAN WILAYAH PULAU-PULAU BESAR. mengembangkan kegiatan industri dan jasa skala nasional atau yang melayani beberapa provinsi. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (2010 – 2014) Kedudukan Kota Padang dalam RPJM Nasional Dalam PENGEMBANGAN WILAYAH KELAUTAN SUMATERA. ditetapkan di wilayah Kota Padang yaitu Taman Hutan Raya Bung Hatta dengan luas lebih kurang 240 Ha. Penetapan Kawasan Taman Hutan Raya (Tahura). Dengan jalan demikian diharapkan dampak negatif terhadap pembangunan daerah sebagai akibat terjadinya gempa yang sangat kuat tersebut secara bertahap akan dapat ditanggulangi. perkantor dan prasarana jalan dan jembatan yang ada di Kota Padang perlu ditanggulangi segera dalam periode RPJMD ke 2 ini. Dalam Arah Pembangunan Jangka Panjang Daerah poin Terciptanya Sumatera Barat Sebagai Pusat Pertumbuhan dan Pintu Gerbang Pantai Barat Sumatera. 3. rawan gelombang pasang.Milestone Report – December • • • • Penetapan kawasan suaka alam di Cagar Alam Arau Hilir (5. Kedudukan Kota Padang dalam RPJMD Provinsi Sumatera Barat Dalam Kondisi Geografis sub bab Kawasan Rawan Bencana. 1. 2. merupakan satu-satunya daerah yang berkembang cukup maju di Pantai Barat Pulau Sumatera dengan fasilitas pelabuhan alam yang cukup baik. Dalam KEBIJAKAN DAN PROGRAM BIDANG PEMBANGUNAN DAERAH. Kota Padang merupakan daerah rawan longsor terutama musim hujan dengan curah hujan tinggi. Cagar Alam Barisan I (74. Penanggulangan dilakukan dengan memprioritas kegiatan pembangunan pada upaya rehabilitasi dan pembangunan baru fasilitas pelayanan sosial seperti pendidikan. Penetapan Kawasan Pantai Berhutan Bakau di Bungus Teluk Kabung di Kota Padang. terjadinya gempa pada tanggal 30 September 2009.

bagian kondisi umum Peternakan. untuk menjadikan angkutan kereta api menjadi angkutan umum massal di wilayah Sumatera Barat. sub bagian BIDANG SOSIAL BUDAYA DAN KEHIDUPAN BERAGAMA pada poin Penduduk dan Ketenagakerjaan. a. point lingkungan hidup. Secara umum permasalahan utama dan issue strategis di bidang kesehatan masih meliputi pelayanan kesehatan dasar dan permasalahan gizi kurang. Kegiatan ini dapat dirasakan oleh peternak bahwa tingkat kesejahteraan peternak dapat lebih meningkat. Dalam KEBIJAKAN DAN PROGRAM BIDANG PEMBANGUNAN DAERAH. Attachment 2 | 57 . Dalam KEBIJAKAN DAN PROGRAM BIDANG PEMBANGUNAN DAERAH. perlindungan pekerja dan kebebasan berserikat. pada point Kondisi Umum dan Permasalahan Pembangunan Bidang Perhubungan. terlaksananya pembinaan dan evaluasi kepada peternak penerima dana KMK-PER dan LTN di 14 Kab/Kota se Sumatera Barat salah satunya Kota Padang. Abrasi paling parah saat ini terlihat di Kota Padang. Diperlukan peningkatan kualitas moda angkutan untuk pelabuhan penyeberangan lintas Kota Padang – Kab. yang pada beberapa daerah belum memiliki sanitasi lingkungan yang memadai. Sub point Perkeretaapian Diperlukan suatu terobosan dan kerja yang cukup keras dan konsisten.85 juta jiwa. terutama di kota-kota dengan tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi. gempa tahun 2009 juga telah mengakibatkan menurunnya kegiatan ekspor daerah sebagai akibat dari hancurnya beberapa kantor dan pergudangan perusahaan ekspor yang berada di Kota Padang. Sub point Angkutan darat ke BIM. Salah satu peluang yang besar adalah untuk angkutan perkotaan (komuter) untuk kawasan Kota Padang dan sekitarnya. sub bidang BIDANG SUMBER DAYA ALAM. peningkatan produktivitas. b.90 persen berada di Kota Padang. kemandirian. sebelumnya.Milestone Report – December 6. sub bab BIDANG EKONOMI pada poin Perdagangan. sub bidang BIDANG SUMBER DAYA ALAM. Dalam KEBIJAKAN DAN PROGRAM BIDANG PEMBANGUNAN DAERAH. c. serta diarahkan pada kompetensi. peningkatan upah. atau angkutan wisata untuk perkotaan di Kota Padang. yang perlu juga menjadi perhatian penting adalah kondisi terkait dengan lingkungan pemukiman. Dalam upaya pengendalian laju pertumbuhan penduduk Kota Padang dilakukan melalui program Keluarga Berencana (KB). DAN LINGKUNGAN HIDUP. Peluang ini terbuka lebar dan sangat potensi untuk menjadikan Kota Padang menjadi kota wisata budaya dan sejarah yang dimilikinya. Dalam KEBIJAKAN DAN PROGRAM BIDANG PEMBANGUNAN DAERAH. penjaminan kesejahteraan. pengarahan mobilitas penduduk dan pemberdayaan keluarga untuk mencapai keluarga sejahtera masih perlu dilanjutkan dan lebih diintensifkan lagi. sub bab BIDANG EKONOMI pada poin Pertanian dan Ketahanan pangan. DAN LINGKUNGAN HIDUP. 10. Sehingga transportasi antara Mentawai dan Kota Padang menjadi terputus. Namun akan dengan terjadinya peningkatan aktivitas BIM dimasa datang diperlukan perencanaan dan pengembangan sarana dan prasarana perhubungan yang memudahkan aksesibilitas dan mobilitas masyarakat penguna angkutan darat dari dan ke BIM. Dalam KEBIJAKAN DAN PROGRAM BIDANG PEMBANGUNAN DAERAH. Selain itu. 9. seperti Kota Padang. Kepulauan Mentawai. 7. sehingga feri yang beroperasi tidak mampu untuk mengarungi perairan ini. Mengembangkan ketenagakerjaan secara menyeluruh melalui peningkatan lapangan usaha produktif dan terpadu untuk mengurangi tingkat pengangguran. dimana jika musim angin barat gelombang laut diperairan ini menjadi sangat besar. BIDANG PRASARANA DAN SARANA. sensus penduduk Sumatera Barat tahun 2010 sudah mencapai 4. sebanyak 26. Dalam KEBIJAKAN DAN PROGRAM BIDANG PEMBANGUNAN DAERAH. dimana biasanya mereka mempunyai ternak 1 – 2 ekor saat ini dapat menambah jumlah ternak menjadi 4 – 5 ekor. 8. Sub point Angkutan laut Keberadaan dan operasional angkutan ASDP Mentawai – Padang dipengaruhi oleh cuaca dan keadaan gelombang laut di perairan antara Sumatera dan kepulauan Mentawai menjadi penentu. point energi 11.

barang dan jasa dari dan ke pusat pelayanan.256 3.846 17. Mentawai Sepanjang Pantai Barat 6.047 18.77 193. sistem jaringan transportasi yang jelas akan memudahkan mobilitas penduduk. Pesisir Selatan.896 730. kepadatan penduduk dengan ketersediaan lahan potensial No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Kecamatan Bungus Tl.380 870.3.594 8703.85 699. Tabel Keterkaitan strategi pengembangan.491 236.302 1.433 102.451 Jumlah Total Penduduk Attachment 2 | 58 .653 4720.241 144. kemudian ketersediaan lahan potensial untuk kawasan permukiman per kecamatan dikonversi ke jumlah penduduk (jiwa) berdasarkan arahan kepadatan per kecamatan.008 111.017 123.586 1161. Kabung Lubuk Kilangan Lubuk Begalung Padang Selatan Padang Timur Padang Barat Padang Utara Nanggalo Kuranji Pauh Koto Tangah Strategi pengembangan Dikendalikan Dikendalikan Dikendalikan Ditekan & Dikendalikan Ditekan & Dikendalikan Ditekan & Dikendalikan Ditekan & Dikendalikan Ditekan & Dikendalikan Dikendalikan Dikendalikan Didorong Arahan Kepadatan Kriteria Sedang Sedang Sedang Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Sedang Sedang Tinggi Jiwa/ha 50 50 50 25 25 25 25 25 50 50 100 Daya Dukung Lahan Lahan Jumlah Potensial Penduduk (Ha) (jiwa) 3871.799 633. Hal ini penting untuk diidentifikasi agar diketahui sampai sejauh mana kesiapan Kota Padang sebagai kota inti mampu menampung penduduk sehingga diperlukan pengembangan permukiman pada wilayah pendukungnya.2.620 15.165 2227.721. Kab.479 29. Kep. Dari tabel tersebut diketahui bahwa daya dukung lahan untuk menampung penduduk sebesar 1. Rencana Pengembangan Metropolitan Padang Struktur perkotaan dalam RTRW Kota Padang 2008-2028 telah mempunyai kejelasan sistem jaringan trasportasi.Milestone Report – December Jenis Pembangkit Listrik Yang Belum Tergarap Di Sumatera Barat (Energi Baru Dan Terbarukan) No 1 2 JENIS PEMBANGKIT Ocean Thermal Energy Convertion (OTEC) Pembangkit Listrik Tenaga Ombak LOKASI Kota Padang Kab. sub-sub pusat pelayanan dan pusat-pusat kegiatan serta Memperkuat interaksi antar pusat-pusat perkembangan/pelayanan di wilayah Kota Padang dan ke wilayah sekitarnya. Pendekatan ketersediaan daya dukung lahan vs proyeksi penduduk sampai tahun tertentu digunakan untuk mengetahui sampai tahun berapa Kota Padang memerlukan lahan di luar kota atau kabupaten/kota sekitarnya.721. Tabel di bawah menjelaskan strategi pengembangan kawasan terkait arahan kepadatan penduduk per kecamatan.589 2468.66 2049. Hal ini terlihat dengan tujuan pengembangan transportasi yaitu meningkatkan aksesibilitas dan mobilitas orang.451 jiwa.

913 136.445 526.619 123.026 1.996 328.060 131.921 96.052 206.481 66.5. diperoleh kesimpulan bahwa Kota Padang memerlukan lahan di wilayah pendukungnya (kota-kota satelit) untuk kegiatan permukiman dimulai pada tahun 2033.256 317.541 1.659 100.721.952 41.688 98.479 29. Pengembangan fasilitas perdagangan dan jasa dilaksanakan dengan memenuhi kebutuhan sarana tempat usaha yang ditata secara adil untuk semua golongan usaha termasuk di dalamnya kegiatan usaha kecil dan sektor informal.566.754 41.622 219.709.008 111.752 44.712 69.766 115.331 97.2.983 1.944 225.256 3.644 101.380 870.665 239. Tabel 1 Perbandingan Daya Dukung Lahan dengan Proyeksi Penduduk Kota Padang Jumlah Penduduk berdasarkan strategi pengem bangan (jiwa) 193.548 305.153 68.986 100.334 99.785 1.491 236.721. Road Map Pemulihan dan Pengembangan Ekonomi Telaah road map ekonomi telah memuat pengembangan kawasan perdagangan dan jasa sebagai bagian dari penyediaan lapangan pekerjaan bagi masyarakat dan menyediakan fasilitas perdagangan dan jasa dengan skala pelayanan kota dan regional serta nasional Telaah RPJM. Oleh karena itu.671 64.112 1. untuk kawasan pusat kota telah memuat pengembangan kegiatan perdagangan dan jasa skala kota dan regional yang dilaksanakan dengan pengembangan secara vertikal terbatas.001 119.043 443. 6.479. Attachment 2 | 59 .045 102.492 103.224 284.124 44.512 70.897 87.418 92.620 15.799 72. Kabung Lubuk Kilangan Lubuk Begalung Padang Selatan Padang Timur Padang Barat Padang Utara Nanggalo Kuranji Pauh Koto Tangah 37.659 42.303 42.192 406.292 232.751 86.325 212.612.900 111.899 71.173 462.371 Dari dua tabel diatas.108 41.057 89.173 100.633 127.302 1.053 38.110 69. dimana di tahun 2033 Kota Padang sudah tidak bisa menampung penduduk dengan jumlah 1.478 1.384 43. Kota Padang perlu berkoordinasi dengan kabupaten/kota sekitar untuk menyediakan lahan untuk kegiatan permukiman.051 424.481 69.442 68.230 90.4.819 39.451 jiwa.619 94.308 67.607 273.2.433 102.589 123.017 69.702 69.019 43.451 Proyeksi Penduduk tahun No Kecamatan 2028 2029 2030 2031 2032 2033 2034 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Bungus Tl.Milestone Report – December Tabel di bawah menjelaskan proyeksi penduduk sampai pada tahun 2034.019 263.447 482.869 503.748 99. Rencana Kawasan Pusat Pemerintahan Telaah revisi RTRW terhadap rencana pengembangan kawasan perkantoran yang mendorong terciptanya peningkatan kinerja aparatur pemerintah Kota Padang telah memuat kawasan air pacah sebagai kawasan perkantoran pemerintahan Telaah RPJM telah mengakomodir Pengembangan pusat pemerintahan kota di Kawasan Air Pacah yang akan dikembangkan sebagai sub pusat kota dengan dukungan infrastruktur yang memadai dan modern 6.010 98.760.314 101.151 40.659.605 101.871 294.047 18.835 95.803 200.152 42.392 1.517 70.846 17.521.

Kabupaten Padang Pariaman dan Kabupaten Solok. Rencana Induk Jaringan Transportasi Kota Padang Telaah terhadap Rencana pengembangan jaringan transportasi telah memuat rencana pengembangan angkutan umum massal berbasiskan rel dan jalan raya yang dapat menghubungan kota inti dengan kota satelit. 6. Jalan lingkar dalam untuk mendukung pengembangan pusat-pusat baru di empat kawasan yang telah ditetapkan dalam RPJP dan RTRW Kota Padang. Attachment 2 | 60 . Pasar raya sebagai pusat pelayanan didukung dengan pasar-pasar satelit Telaah RPJM.6.Milestone Report – December 6.2. Pengembangan fasilitas perdagangan dan jasa dilaksanakan dengan memenuhi kebutuhan sarana tempat usaha yang ditata secara adil untuk semua golongan usaha termasuk di dalamnya kegiatan usaha kecil dan sektor informal. Pada rencana pusat pelayanan kota thn 2008-2018.2.8.7. Roadmap Kesehatan hanya menyentuh pengembangan fasilitas olahraga untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Namun pada periode 2018-2028. Kawasan pasar raya masih berfungsi sebagai Pusat Pelayanan Kota. terutama memacu pengembangan kawasan pinggiran. sedangkan jalan akses menghubungkan antar sub pusat kota 6. pusat primer dan pusat sekunder antar sub pusat pelayanan dalam kota serta pengembangan jaringan transportasi yang menghubungkan Kota Padang dengan wilayah sekitarnya Telaah RPJM telah merencanakan pengembangan sistem jaringan jalan berupa jalan lingkar luar dan lingkar dalam serta jalan akses.2. untuk kawasan pusat kota telah memuat pengembangan kegiatan perdagangan dan jasa skala kota dan regional yang dilaksanakan dengan pengembangan secara vertikal terbatas. Rencana pemulihan sarana dan prasarana pendidikan yang rusak belum dimuat dalam RTRW. 6.9. Kota Padang.2. Kawasan Kota lama sudah termuat sebagai kawasan cagar budaya kota tua. Kawasan Padang Lama Di dalam rencana Pola Ruang di dalam RTRW. pengembangan Kawasan Kota Tua (WP-I) untuk kegiatan Perdagangan dan Jasa dan kegiatan Pariwisata dengan tetap mempertahankan bentuk arsitektur dan fungsinya sebagai bangunan ataupun kawasan cagar budaya (berdasarkan ketentuan Undang-Undang Cagar Budaya). Penataan Kawasan CBD Didalam rencana pola ruang. Kawasan pasar raya dimasukkan ke dalam kawasan perdagangan dan jasa. Jalan lingkar luar sebagai bagian dari sistem metropolitan akan menghubungkan Kabupaten Pesisir Selatan. Rodmap Kesehatan dan Pendidikan Telaah terhadap roadmap pendidikan hanya memuat pengembangan kawasan pendidikan tinggi dalam rangka penyediaan ruang untuk peningkatan kualitas sumberdaya manusia sesuai dengan kebutuhan pengembangan kota dimasa yang akan datang. Telaah terhadap RPJM pada kawasan kota lama.

5. maka ada alternatif program yang dapat dilakukan antara lain. 8. 14. 7.2. 9. Memindahan SD & pra SD keluar red zone gelombang tsunami Merelokasi perumahan warga dari area yang rawan pergerakan tanah/longsor Penetapan green belt di sepanjang kawasan hutan yang berbatasan langsung dengan aktifitas masyarakat Penetapan sawah beririgasi teknis sebagai lahan abadi Swastanisasi pengelolaan sampah (bank sampah) Pengalihan pengelolaan perpakiran kepada pihak ketiga Parkir off street untuk jalan padat lalu lintas dan jalur evakuasi Pelaksanaan Penilaian PROPER tingkat Kota Padang Pelaksanaan tindak pidana ringan (TIPIRING) bagi pembuang sampah Penetapan kewenangan antara kota inti metropolitan dengan kota satelit Mitigasi Beberapa upaya mitigasi yang dapat dilakukan untuk perbaikan KRP RTRW. publik 2. 3. Mewajibkan setiap bangunan di zona merah yang lebih dari 2 lantai agar dilengkapi dengan tangga darurat menuju atap. Memperhatikan ketentuan bangunan tahan gempa SNI dalam pemberian IMB (sudah diadopsi dalam strategi dan IP RTRW). Pembangunan pagar/dinding pembatas di sepanjang jalur jalan yang berbatasan langsung dengan hutan lindung. Pengawasan yang ketat dalam proses konstruksi bangunan untuk aktifitas sehubungan dengan penguatan struktur bangunan yang tahan gempa. kawasan usaha/jasa. 4. 4. industri. 15. dll. 3. 2. 6. Kajian yang mendalam untuk pemanfaatan hutan sebagai jalur transportasi Kerjasama dengan lembaga donor untuk pengembangan hutan kota. perlu diperhatikan lebih lanjut dalam implementasinya) Moda kereta api atau sistem jalan bebas hambatan di sepanjang jalur transportasi yang berbatasan langsung dengan hutan Pembangunan drainase kota yang terintegrasi dengan mempertimbangkan elevasi Penetapan kewajiban untuk pembuatan lubang biopori dan sumur resapan pada setiap komplek pemukiman. 5. tetapi belum masuk dalam kebijakan/strategi). RPJM dan rencana tematik Rehab Rekon Kota Padang antara lain : 1. 16. 8. Membagi fungsi pelayanan kawasan Aie Pacah ke sub pusat pelayanan yang lain Menetapkan sebagian daerah rawa sebagai kawasan konservasi resapan air (sudah diadopsi dalam kebijakan. Pembatasan dan pengawasan pengembangan permukiman/usaha di kawasan dengan daya dukung rendah dan merupakan daerah resapan air (sudah diadopsi dalam RTRW tapi perlu mendapat perhatian dalam implementasinya) Penambahan persyaratan RTBL dengan memperhatikan pengelolaan banjir dan genangan Pengembangan Corporate Social Responsibility (CSR) dari pengguna kawasan untuk bersama-sama Pemkot Padang melaksanakan pengelolaan banjir dan genangan melalui sistem pemberian insentif. 7. 11. 1. 6.1. Alternatif Dari hasil analisis implikasi KRP RTRW. Menjadikan sepanjang jalur sesar minor (patahan dan kekar-kekar) yang rawan sekali terhadap gempa sebagai RTH (sudah diadopsi ke dalam IP RTRW. 7. Attachment 2 | 61 . strategi dan Indikasi Program RTRW. 13. 9. 10. RPJM dan rencana tematik Rehab Rekon Kota Padang terhadap lingkungan hidup. 12.Milestone Report – December BAB VII ALTERNATIF DAN MITIGASI 7.

16. Pembuatan peta detail dan sosialisasi sesar minor/alur patahan kepada masyarakat (studi untuk alur patahan telah diadopsi dalam RTRW. 14. 17. pelayanan publik dan kepariwisataan (hasil KLHS sudah ditampung dalam revisi RTRW) Pengembangan RTH dan menambah jumlah tegakan vegetasi (hasil KLHS sudah ditampung dalam RTRW) Penguatan infrastruktur Padang sebagai kota inti metropolitan dan ibukota propinsi Sumatera Barat. 15. 19. 21. 13.Milestone Report – December 10. tapi sosialisasi belum) Pengawasan yang ketat terhadap pemanfaatan hutan dan area yang rawan pergerakan tanah (belum ada indikasi program untuk pengendalian pemanfaatan kawasan yang rentan pergerakan tanah/longsor) Penerbitan Perda Kota Padang tentang Penetapan Lahan Sawah Abadi Selektifitas pemberian izin serta penerapan sistem insentif dan disinsentif untuk lahan yang dialih fungsikan Pengembang diharuskan dialihfungsikan untuk menyediakan lahan pengganti untuk lahan yang 12. 20.kabupaten tetangga dalam pembangunan infrastruktur Attachment 2 | 62 . 11. 18.Kota Padang . Kejelasan sharing pendanaan antara Pusat . Pengawasan pembukaan hutan untuk perladangan masyarakat Kepastian status hutan ulayat hukum adat Memprioritaskan penyediaan dan pengembangan sarana .prasarana mitigasi bencana (hasil KLHS sudah ditampung dalam revisi RTRW) Peningkatan kenyamanan transportasi.

1. Attachment 2 | 63 . Kesimpulan  Padang Metropolitan belum mendapatkan porsi yang memadai dalam pembahasan RTRW Kota Padang (hanya sampai Tujuan) dan dalam Rencana Induk Jaringan Transportasi. 8. 1. 2. propinsi dan kota/kab dalam mewujudkan Padang Metropolitan Perlu harmonisasi lebih lanjut antara setiap Pokok-pokok KRP Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kota Padang dengan RTRW dan RPJM Kota Padang serta dengan perencanaan propinsi dan nasional. Rekomendasi Rekomendasi mitigasi dampak KRP RTRW. RPJM dan rencana tematik Padang New City harus dimasukan ke dalam dokumen rencana yang lebih operasional yaitu tingkat penyusunan program dan penyusunan usulan kerja (rencana kerja tahunan). 6. 10. serta law enforcement bagi pelanggar Meningkatkan perhatian pemerintah untuk menjamin kenyamanan hidup warga Penegasan penempatan kawasan industri Menetapkan bersama kewenangan pusat.. 8. 9. 7.Milestone Report – December BAB VIII KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 8. 4. 5. 3.2. Membentuk dan membina Tim Kerja Tim KLHS Kota Padang Menjadikan kawasan dengan daya dukung rendah sebagai kawasan pembangunan terbatas Peningkatan sarana dan prasarana pengendali banjir dan genangan (sudah diadopsi dalam strategi dan Indikasi Program RTRW) Menjadikan kawasan rawan bencana geologi sebagai kawasan minim aktifitas dan pemanfaatan terbatas (sudah diadopsi dalam kebijakan RTRW) Peningkatan pengawasan terhadap pemanfaatan hutan dan alih fungsi lahan.

Ministry of The Environment. Sadler. 19 (1999) 143-173 IAIA (2002) Strategic Environmental Assessment: Performance Criteria. Sadler. Earthscan.Milestone Report – December DAFTAR PUSTAKA Briffetta. Noord-Holland.1. Lincoln and EIA Centre. Sadler B (2002) From environmental assessment to sustainability appraisal.. (1999) Benefits Arising from SEA Application: A Comparative Review of North West England. Editor. Current Status and Future Prospect. R. Blackwell Scientific Ltd. Sadler B.R. dan Verheem. Transport and the Regions. UK. J.iaia. Special Publication Series No. University of Manchester. Challenges and Future Directions. (1996) Strategic Environmental Assessment: Status. 145-152. International Association for Impact Assessment (www. Department of the Environment. Environmental Assessment Yearbook 2002.) Handbook of Environmental Impact Assessment. OECD (2006) Applying Strategic Environmental Impact Assessment: Good Practice Guidance for Development Co-operation. T. (2000) Elements of an SEA framework—improving the added-value of SEA. 23 (2003) 171–196 Fischer. Physical Planning and Environment.P. Institute of Environmental Management and Assessment. London. C. OECD Publishing. Czech Republic. dan Mackee (2003) Towards SEA for the developing nations of Asia. Environmental Impact Assessment Review. The Hague: Ministry of Housing. M. 12-32. Environmental Impact Assessment Review. and Brandenburg-Berlin..B. Partidario. B. London: Earthscan. (Volume 1). B (2005) Strategic Environmental Assessment at the Policy Level: Recent Progress. Report no. and Brook C. Therivel et al (1992) Strategic Environmental Assessment. Attachment 2 | 64 . Sadler. 20 (2000) 647–663. in Petts J (ed. UNEP (United Nation Environmental Program) (2002) EIA Training Resource Manual.org/publications). Environmental Impact Assessment Review. Praha. B (1999) A framework for environmental sustainability assessment and assurance. Oxford. (1998) Strategic Environmental Appraisal. Obbardb. 53.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->