P. 1
Nilai Moral Dan Hukum

Nilai Moral Dan Hukum

|Views: 321|Likes:
Published by Rosalina Ocha

More info:

Published by: Rosalina Ocha on Apr 05, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/02/2014

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pendidikan pada hakikatnya adalah upaya untuk menjadikan manusia berbudaya.Budaya dalam pengertian yang sangat luas mencakup segala aspek kehidupan manusia, yang dimulai dari cara berpikir,bertingkah laku sampai produk-produk (materil)maupun berpikir dalam manusia yang berwujud sistem dalam bentuk (inbenda materil).

bentuk

nilai

Pergaulan antar umat di dunia yang semakin intensif akan melahirkan budayabudaya baru, baik berupa pencampuran budaya, penerimaan budaya oleh salah satu pihak atau keduanya, dominasi budaya, atau munculnya budaya baru.Keseluruhan proses ini tentu saja dipengaruhi oleh proses pendidikan di masyarakat. Pemunculan kebudayaan baru tidak sepenuhnya memberikan efek positif terhadap perkembangan suatu bangsa, tetapi ada juga yang berdampak negative. Untuk menghindari hal-hal negatif dari suatu kebudayaan baru, diperlukan berbagai upaya untuk mengadakan saringan kebudayaan yang dianggap paling tepat untuk diterapkan . Oleh karena , pemahaman terhadap kebudayaan menjadi penting bagi seorang pendidik agar pendidik memahami secara persis kebudayaan dan pengaruhnya terhadap perkembangan masyarakat. 1.2 Sistem Penulisan BAB I BAB II : PENDAHULUAN : PEMBAHASAN

BAB III : PENUTUP

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Manusia Secara bahasa manusia berasal dari kata “manu” (Sansekerta), “mens” (Latin), yang berarti berpikir, berakal budi atau makhluk ang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain). Secara istilah manusia dapat diartikan sebuah konsep atau sebuah fakta, sebuah gagasan atau realitas, sebuah kelompok (genus) atau seorang individu. Dalam hubungannya dengan lingkungan, manusia merupakan suatu oganisme hidup (living organism). Terbentuknya pribadi seseorang dipengaruhi oleh lingkungan bahkan secara ekstrim dapat dikatakan, setiap orang berasal dari satu lingkungan, baik lingkungan vertikal (genetika, tradisi), horizontal (geografik, fisik, sosial), maupun kesejarahan. Tatkala seoang bayi lahir, ia merasakan perbedaan suhu dan kehilangan energi, dan oleh kaena itu ia menangis, menuntut agar perbedaan itu berkurang dan kehilangan itu tergantikan. Dari sana timbul anggapan dasar bahwa setiap manusia dianugerahi kepekaan (sense) untuk membedakan (sense of discrimination) dan keinginan untuk hidup. Untuk dapat hidup, ia membutuhkan sesuatu. Alat untuk memenuhi kebutuhan itu bersumber dari lingkungan Manusia adalah makhluk yang tidak dapat dengan segera menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Pada masa bayi sepenuhnya manusia tergantung kepada individu lain. Ia belajar berjalan,belajar makan,belajar berpakaian,belajar membaca,belajar membuat sesuatu dan sebagainya,memerlukan bantuan orang lain yang lebih dewasa. Malinowski(1949), salah satu tokoh ilmu Antropologi dari Polandia menyatakan bahwa ketergantungan individu terhadap individu lain dalam kelompoknya dapat

Adanya nilai ini menjadikan semua orang terdorong untuk bisa mencapai derajat ketakwaan. Selain itu ditentukan pula siapa yang berhak mengatur kehidupan kelompok untuk tercapainya tujuan bersama. Hal yang dapat diamati hanyalah objek yang bernilai itu. cita-cita dan suatu keharusan sehingga nilai memiliki sifat ideal das sollen. dalam pengertian gangguan/kelompok lain akan lebih mudah diwujudkan kalau manusia berkelompok. . tetapi kita tidak bias menindra kejujuran itu.terlihat dari usaha-usaha manusia dalam memenuhi kebutuhan biologis dan kebutuhan sosialnya yang dilakukan melalui perantaraan kebudayaan. Kejujuran adalah nilai. Nilai memiliki sifat normative. bermutu. 1. Misalnya nilai keadilan. Nilai yang bersifat abstrak tidak dapat diindra. Untuk menghasilkan keamanan dan kenyamanan hidup berkelompok ini. Sifat-sifat nilai adalah Sebagai berikut.pakaian dan peralatan. Nilai itu suatu relitas abstrak dan ad dalam kehidupan manusia. diciptakan aturan-aturan dan kontrol-kontrol social tentang apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan oleh setiap anggota kelompok. Nilai diwujudkan dalam bentuk norma sebagai landasan manusia dalam bertindak. Niliai berfungsi sebagai daya dorong dan manusia adalah pendukung nilai. Pengertian Nilai Nilai adalah sesuatu yang berharga. dan berguna bagi manusia. Misalnya nilai ketakwaan. Manusia bertindak berdasar dan didorong oleh nilai yang diyakininya.2. Rasa aman secara khusus tergantung kepada adanya system perlindungan dalam rumah. 2. menunjukkan kualitas. 3. Sesuatu itu bernilai berarti sesuatu itu berharga atau berguna bagi kehidupan manusia. Semua orang berharap manusia dan mendapatkan dan berperilaku yang mencerminkan nilai keadilan. 2. Misalnya orang yang memiliki kejujuran. Perlindungan secara umum. artinya nilai mengandung harapan.

artinya nilai sangat tergantung pada subjek yang menilainya.bahkan memandang nilai telah ada sebelum adanya manusia sebagai penilai.dalam arti terdapatnya hubungan yang harmonis dan kreatif . Dalam bahasa Indonesia.sehingga berfungsi untuk menyempurnakan manusia .9)sebagai berikut: Nilai bagi manusia merupakan landasan atau motivasidalam segala tingkah laku atau perbuatannya.dan sebagainya.Oleh karena itu nilai melekat dengan subjek penilai.kata moral berarti akhlak (bahasa Arab)atau kesusilaan yang mengandung makna tata tertib batin atau tata tertib hati nurani yang menjadi pembimbing tingkah laku batin dalam hidup.Pandangan kedua memandang nilai itu subjektif.Kata moral ini dalam bahasa Yunani sama dengan ethos yang menjadi etika.1).pertama akan memandang nilai sebagai sesuatu yang objektif.3.benar dan salah bukan hadir karena hasil persepsi dan penafsiran manusia. Manusia sebagai makhluk yang bernilai akan memaknai nilai dalam dua konteks. Menurut Lasyo(1999.moris.etika adalah ajaran tentang baik buruk.perbuatan. Pengertian Moral Moral berasal dari kata bahasa Latin mores yang berarti adat kebiasaan.Menurut Cheng(1995): Nilai merupakan sesuatu yang potensial.Baik dan buruk.hlm. Secara etimologis .apabila dia memandang nilai itu ada meskipun tanpa ada yang menilainya.manner mores atau manners.kewajiban. yang diterima masyarakat umum tentang sikap. .1999.hlm.Kata mores ini mempunyai sinonim mos.Jadi nilai memang tidak akan ada dan tidak akan hadir tanpa hadirnya penilai. Jadi dapat disimpulkan bahwa nilai yaitu sesuatu yang menjadi etika atau estetika yang menjadi pedoman dalam berperilaku.tetapi ada sebagai sesuatu yang ada dan menuntun manusia dalam kehidupannya.sedangkan kualitas merupakan atribut atau sifat yang seharusnya dimiliki(dalam Lasyo.morals. 2.

4. Keseluruhan kaidah dalam masyarakat pada intinya adalah mengatur masyarakat agar mengikuti pola perilaku yang disepakati oleh system social dan budaya yang berlaku pada masyarakat tersebut. Moral dalam zaman sekarang mempunyai nilai implisit karena banyak orang yang mempunyai moral atau sikap amoral itu dari sudut pandang yang sempit. Moral itu sifat dasar yang diajarkan di sekolah-sekolah dan manusia harus mempunyai moral jika ia ingin dihormati oleh sesamanya. Penilaian terhadap moral diukur dari kebudayaan masyarakat setempat.Moral secara ekplisit adalah hal-hal yang berhubungan dengan proses sosialisasi individu tanpa moral manusia tidak bisa melakukan proses sosialisasi.Setiap tindakan manusia dalam masyarakat selalu . apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan masyarakatnya.Moral adalah produk dari budaya dan Agama. begitu juga sebaliknya. Jadi moral adalah tata aturan norma-norma yang bersifat abstrak yang mengatur kehidupan manusia untuk melakukan perbuatan tertentu dan sebagai pengendali yang mengatur manusia untuk menjadi manusia yang baik. Pengertian Hukum Disamping adat istiadat tadi . maka orang itu dinilai mempunyai moral yang baik. Pola-pola perilaku merupakan cara-cara masyarakat bertindak atau berkelakuan yang sama dan harus diikuti oleh semua anggota masyarakat tersebut.Pada masyarakat modern hukum dibuat oleh lembaga – lembaga yang diberikan wewenang oleh rakyat.Hukum dibuat dengan tujuan untuk mengatur kehidupan masyarakat agar terjadi keserasian diantara wrga masyarakat dan system social yang dibangun oleh suatu masyarakat. Moral adalah nilai ke-absolutan dalam kehidupan bermasyarakat secara utuh. yang biasanya dibuat dengan sengaja danmempunyai sanksi yang jelas.ada kaidah yang mengatur kehidupan manusia yaitu hukum. 2. Moral adalah perbuatan/tingkah laku/ucapan seseorang dalam ber interaksi dengan manusia.

Nilai. Nilai itu penting bagi manusia.Pola perilaku berbeda dengan kebiasaan. sehingga nilai lebih dipandang sebagai kegiatan menilai. Definisi yang mengarah pada pereduksian nilai oleh status benda. . Pengertian nilai yang telah dikemukakan oleh setiap pakar pada dasarnya adalah upaya dalam memberikan pengertian secara holistik terhadap nilai. dan selanjutnya nilai itu penting. Keputusan itu menyatakan apakah sesuatu itu bernilai positif (berguna. Menilai dapat diartikan menimbang yakni suatu kegiatan manusia untuk menghubungkan sesuatu dengan sesuatu lainnya yang kemudian dilanjutkan dengan memberikan keputusan.mengikuti pola-pola perilaku masyarakat tadi. 2. Nilai itu harus jelas. baik. baik disadari maupun tidak. dinamakan social organization. harus semakin diyakini oleh individu dan harus diaplikasikan dalam perbuatan. Value Is Object Of Social Interest. Nilai dapat diartikan sebagai sifat atau kualitas dari sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia baik lahir maupun batin. Bagi manusia nilai dijadikan sebagai landasan. karena ia melihat nilai dari sudut kepentingannya. Hukum dan Moral Meskipun banyak pakar yang mengemukakan pengertian nilai. Kebiasaan merupakan cara bertindak seseorang yang kemudian diakui dan mungkin diikuti oleh orang lain. alasan atau motivasi dalam bersikap dan bertingkah laku. Pola perilaku dan norma-norma yang dilakukan dan dilaksanakan pada khususnya apabila seseorang berhubungan dengan orang lain. terlihat pada pengertian nilai yang dikemukakan oleh John Dewney yakni. Apakah nilai itu dipandang dapat mendorong manusia karena dianggap berada dalam diri manusia atau nilai itu menarik manusia karena ada di luar manusia yaitu terdapat pada objek.5 Manusia. akan tetapi setiap orang tertarik pada bagian bagian yang “relatif belum tersentuh” oleh pemikir lain. namun ada yang telah disepakati dari semua pengertian itu bahwa nilai berhubungan dengan manusia.

keindahan dan kejelekan. Nilai kebenaran yang bersumber pada unsur akal atau rasio manusia 2. Nilai keindahan atau nilai estetis yang bersumber pada unsur perasaan estetis manusia 3. Nilai juga berkaitan dengan cita-cita. 2. Nilai tersusun secara hierarkis yaitu hierarki urutan pentingnya. Nilai memiliki polaritas dan hirarki. dan segala sesuatu pertimbangan internal (batiniah) manusia. Nilai material yaitu sesuatu yang berguna bagi unsur jasmani manusia. Hal ini dihubungkan dengan unsur-unsur yang ada pada diri manusia yaitu jasmani. Nilai yang abstrak dan subyektif ini perlu lebih dikonkretkan serta dibentuk menjadi lebih objektif. Nilai vital yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan atau aktivitas. cipta. Nilai kerohanian yaitu sesuatu yang berguna bagi rohani manusia. Nilai menampilkan diri dalam aspek positif dan aspek negatif yang sesuai polaritas seperti baik dan buruk. Nilai kebaikan moral yang bersumber pada kehendak atau karsa manusia 4. bahkan sesuatu yang immaterial seringkali menjadi nilai yang sangat tinggi dan mutlak bagi manusia seperti nilai religius. Nilai kerohanian terbagi menjadi empat macam: 1. Nilai religius yang bersumber pada kepercayaan manusia dengan disertai penghayatan melalui akal budi dan nuraninya Hal-hal yang mempunyai nilai tidak hanya sesuatu yang berwujud (benda material) saja. Nilai (value) biasanya digunakan untuk menunjuk kata benda abstrak yang dapat diartikan sebagai keberhargaan (worth) atau kebaikan (goodness). dan kepercayaan. karsa. rasa.indah) atau sebaliknya bernilai negatif. 4. Wujud yang lebih . Dengan demikian nilai itu tidak konkret dan pada dasarnya bersifat subyektif. Notonagoro membagi hierarki nilai pokok yaitu: 3. 5. harapan. antara lain: 1. keinginan.

Dengan norma ini orang dapat menilai kebaikan atau keburukan suatu perbuatan. aturan atau kebiasaan. Bisa dikatakan manusia yang bermoral adalah manusia yang sikap dan tingkah lakunya sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Derajat kepribadian seseorang sangat ditentukan oleh moralitas yang dimilikinya. Sedangkan dalam bahasa Indonesia moral diartikan dengan susila.konkret dan objektif dari nilai adalah norma/kaedah. Jadi norma ialah sesuatu yang dipakai untuk mengatur sesuatu yang lain atau sebuah ukuran. Ada beberapa macam norma/kaedah dalam masyarakat. ukuran. Makna moral yang terkandung dalam kepribadian seseorang itu tercermin dari sikap dan tingkah lakunya. Norma berasal dari bahasa latin yakni norma. Moral berasal dari bahasa latin yakni mores kata jamak dari mos yang berarti adat kebiasaan. Norma kepercayaan atau keagamaan Norma kesusilaan Norma sopan santun/adab Norma hokum Dari norma-norma yang ada. yaitu: 1. yang berarti penyikut atau siku-siku. mana yang baik dan mana yang wajar. 2. 4. norma hukum adalah norma yang paling kuat karena dapat dipaksakan pelaksanaannya oleh penguasa (kekuasaan eksternal). suatu alat perkakas yang digunakan oleh tukang kayu. . Nilai dan norma selanjutnya berkaitan dengan moral. Sedangkan moral adalah sesuai dengan ide-ide yang umum diterima tentang tindakan manusia. 3. Dari sinilah kita dapat mengartikan norma sebagai pedoman. Istilah moral mengandung integritas dan martabat pribadi manusia.

ah makhluk bebas. pertimbangan etis dalam pengambilan keputusan terhadap sesuatu dansebagainya. Moral yang pengertiaannya sama dengan etika dalam makna nilai-nilaidan ormanorma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau kelompok dalammengatur tingkah lakunya. Kebebasan adalah milik individu yang sangat hakiki dan manusiawi dankarena manusia pada dasar nya adal. Moral lebih kepada sifat aplikatif yaitu berupa nasehat tentang hal-halyang baik. Etika berasal daribahasa kuno yang berarti ethos dalam bentuk tunggal ethos memiliki banyak artiyaitu tempat tinggal biasa. padang rumput. adat. Hati NuraniMerupakan fenomena moral yang sangat hakiki. Dengan hati nurani manusia akan sanggupmererfleksikandirinya terutama dalam mengenai dirinya sendiri atau juga mengenal orang. watak sikap . dan caraberfiki. prinsipkebaikan. Tetapi didalam kebebasanitu juga terbatas karena tidak boleh bersinggungan dengan kebebasan orang lainketika .6 Hubungan Manusia dengan Moral Moral memiliki arti yang hampir sama dengan etika. kebiasaan. 1. di landasi rasionalitas manusia seperti sifat hakiki manusia. Ada beberapa unsur dari kaidah moral yaitu : 1. Hati nurani merupakanpenghayatan tentang baik atau buruk mengenai perilaku manusia dan hati nuraniini selalu dihubunngkan dengan kesadaran manusia dan selalu terkait dalamdengan situasi kongkret. cara. Kebebasan dan tanggung jawab. Dalam ilmu filsafat moral banyak unsur yang dikajisecara kritis. Moralberasal dari bahsa latin yaitu mos (jamaknya mores) yang berarti adat. Dengan demikian secara etismologi kedua kata tersebut bermaknasama hannya asal uasul bahasanya yang berbeda dimana etika dari bahasa yunanisementara moral dari bahasa latin. dantampat tinggal. Dalam bentuj jamak ethos (ta etha) yang artinya adat kebiasaan.2.

Antara hukum dan moral terdapat hubungan yang erat sekali.h. Nilai dan moral akan muncul ketika berada pada orang lain dan ia akanbergabung dengan nilai lain seperti agama. Dengan demikian hukum tidak akan berarti tanpa disertai moralitas. Hukum lebih dikodifikasikan daripada moralitas.6). perundang-undangan yang immoral harus diganti. Nilai moralterkait dalam tanggung jawab seseorang.Berten : 1. Jadi. Ada pepatah roma yang mengatakan “quid leges sine moribus?” (apa artinya undang-undang jika tidak disertai moralitas?). dan budaya.mereka melakukan interaksi. Perbedaan antara hukum dan moral menurut K. sebab moral tanpa hukum hanya angan-angan saja kalau tidak di undangkan atau di lembagakan dalam masyarakat. Disisi lain moral juga membutuhkan hukum. namun hukum dan moral tetap berbeda. Oleh karena itu kualitas hukum harus selalu diukur dengan norma moral. Oleh karena itu norma hukum lebih memiliki kepastian dan objektif dibanding dengan norma moral. 1. Nilai dan Norma Moral. Apalagi dalam konteks membutuhkan hukum. artinya dibukukan secara sistematis dalam kitab perundang-undangan. sebab dalam kenyataannya „mungkin‟ ada hukum yang bertentangan dengan moral atau ada undang-undang yang immoral. Tanpa moralitas hukum tampak kosong dan hampa (Dahlan Thaib. Kualitas hukum terletak pada bobot moral yang menjiwainya. manusia itu adalah makhluk bebas yang dibatasi oleh lingkungannya sebagai akibat tidak mampunya ia untuk hidupsendiri. Namun demikian perbedaan antara hukum dan moral sangat jelas. Sedangkan norma moral lebih subjektif dan akibatnya lebih banyak . Meskipun hubungan hukum dan moral begitu erat. Untuk itu dalam konteks ketatanegaraan indonesia dewasa ini. yang berarti terdapat ketidakcocokan antara hukum dan moral. hukum.

Sanksi yang berkaitan dengan hukum berbeda dengan sanksi yang berkaitan dengan moralitas. sedangkan moral mengatur kehidupan manusia sebagai manusia. moral berbentuk sanksi kodrati. Dengan cara demokratis atau dengan cara lain masyarakat dapat mengubah hukum. Meskipun hukum tidak langsung berasal dari negara seperti hukum adat. 2. 4. 3. Dilihat dari otonominya hukum bersifat heteronom (datang dari luar diri manusia). namun hukum itu harus di akui oleh negara supaya berlaku sebagai hukum. 3. namun hukum membatasi diri sebatas lahiriah saja. 5. Moral menilai hukum dan tidak sebaliknya. hukum memiliki dasar yuridis. Meski moral dan hukum mengatur tingkah laku manusia. Hukum untuk sebagian besar dapat dipaksakan. konsesus dan hukum alam sedangkan moral berdasarkan hukum alam. hukum mengatur kehidupan manusia dalam kehidupan bernegara.„diganggu‟ oleh diskusi yang yang mencari kejelasan tentang yang harus dianggap utis dan tidak etis. sedangkan perbuatan etis justru berasal dari dalam. . Sedangkan Gunawan Setiardja membedakan hukum dan moral : 1. Dilihat dari tujuannya.pelanggar akan terkena hukuman. Dilihat dari sanksinya hukum bersifat yuridis. Satu-satunya sanksi dibidang moralitas hanya hati yang tidak tenang. batiniah. tapi masyarakat tidak dapat mengubah atau membatalkan suatu norma moral. 4. malu terhadap diri sendiri. Dilihat dari pelaksanaanya hukum secara lahiriah dapat dipaksakan. menyesal. sebab paksaan hanya menyentuh bagian luar. 2. Tapi norma etis tidak bisa dipaksakan.moralitas berdasarkan atas norma-norma moral yang melebihi pada individu dan masyarakat. Hukum didasarkan atas kehendak masyarakat dan akhirnya atas kehendak negara. sedangkan moral menyangkut juga sikap batin seseorang. Dilihat dari dasarnya. sedangkan moral bersifat otonom (datang dari diri sendiri).

hukum tergantung pada waktu dan tempat.119).7 Hubungan Manusia dengan Hukum Hukum dalam masyarakat merupakan tuntutan. diperlukan adanya kepastian dalam pergaulan antar-manusia dalam masyarakat.6. maka manusia membutuhkan pranata pengatur yang terdiri dari dua hal: aturan (hukum) dan si pengatur(kekuasaan). Artinya bahwa dalam setiap pembentukan suatu bangunan struktur sosial yang bernama masyarakat. Hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup (the living law) dalam masyarakat. Kepastian ini bukan saja agar kehidupan masyarakat menjadi teratur akan tetapi akan mempertegas lembaga-lembaga hukum mana yang melaksanakannya. Maka manusia. sedangkan moral secara objektif tidak tergantung pada tempat dan waktu (1990. Untuk mewujudkan keteraturan. yang tentunya sesuai pula atau merupakan pencerminan dari nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Manusia dan hukum adalah dua entitas yang tidak bisa dipisahkan. dan hukum merupakan pengertian yang tidak bisa dipisahkan. mengingat bahwa kita tidak mungkin menggambarkan hidup manusia tanpa atau di luar masyarakat. terdapat adagium yang terkenal yang berbunyi: “Ubi societas ibi jus” (di mana ada masyarakat di situ ada hukumnya). maka selalu akan dibutuhkan bahan yang bersifat sebagai “semen perekat” atas berbagai komponen pembentuk dari masyarakat itu. dan yang berfungsi sebagai “semen perekat” tersebut adalah hukum. 2. masyarakat. Untuk mencapai ketertiban dalam masyarakat. . maka mula-mula manusia membentuk suatu struktur tatanan (organisasi) di antara dirinya yang dikenal dengan istilah tatanan sosial (social order) yang bernama: masyarakat. Bahkan dalam ilmu hukum. Dilihat dari waktu dan tempat. Guna membangun dan mempertahankan tatanan sosial masyarakat yang teratur ini.

4. 5. Prof. 2.8 Tujuan Hukum Banyak teori atau pendapat mengenai tujuan hukum. 3.2.. Tujuan hukum menurut hukum positif Indonesia termuat dalam pembukaan UUD 1945 alinea keempat yang berbunyi “. Geny : Tujuan hukum semata-mata ialah untuk mencapai keadilan. Pada umumnya hukum bertujuan menjamin adanya kepastian hukum dalam masyarakat. Dengan menimbang kepentingan yang bertentangan secara teliti dan seimbang. LJ. Roscoe Pound berpendapat bahwa hukum berfungsi sebagai alat merekayasa masyarakat (law is tool of social engineering). Prof. Berikut teori-teori dari para ahli : 1. menjaga dan mencegah agar tiap orang tidak menjadi hakim atas dirinya sendiri. Muchatr Kusumaatmadja berpendapat bahwa tujuan pokok dan utama dari hukum adalah ketertiban. namun tiap perkara harus diputuskan oleh hakim berdasarkan dengan ketentuan yang sedang berlaku. mencerdaskan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial”. Hukum menghendaki perdamaian antara sesama. . Dan ia kepentingan daya guna dan kemanfaatan sebagai unsur dari keadilan. Selain itu. Keadilan itu menuntut bahwa dalam keadaan yang sama tiap orang mendapat bagian yang sama pula. Subekti. Mr. Dr. Kebutuhan akan ketertiban ini merupakan syarat pokok bagi adanya suatu masyarakat manusia yang teratur. SH: Hukum itu mengabdi pada tujuan negara yaitu mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya dengan cara menyelenggarakan keadilan. van Apeldoorn: Tujuan hukum adalah mengatur hubungan antara sesama manusia secara damai.untuk membentuk suatu pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum.

Substansi hokum yaitu materi atau muatan hukum. namun juga penegakan hukum dan perlindungan hak asasi manusia (HAM) –nya berjalan baik. otomatis keseluruhan penyelenggaraan negara ini harus sedapat mungkin berada dalam koridor hukum. Dalam hal ini peraturan haruslah peraturan yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat untuk mewujudkan ketertiban bersama. Dalam menegakkan hukum ada tiga unsur yang harus diperhatikan yaitu kepastian hukum. adalah suatu kemestian dalam suatu negara hukum. para bapak bangsa ini sudah menginginkan bahwa negara Indonesia harus dikelola berdasarkan hukum. Budaya Hukum yaitu budaya hukum yang dimaksud adalah budaya masyarakat yang tidak berpegang pada pemikiran bahwa hukum ada untuk dilanggar. Penegakan hukum adalah juga ukuran untuk kemajuan dan kesejahteraan suatu negara. Semua harus diselenggarakan secara teratur (in order) dan setiap pelanggaran terhadapnya haruslah dikenakan sanksi yang sepadan. tidak sekedar perekonomiannya maju. dengan demikian. sebaliknya hukum ada untuk dipatuhi demi terwujudnya kehidupan bersama yang tertib dan saling menghargai sehingga harmonisasi kehidupan bersama dapat terwujud. bukan berdasarkan kekuasaan (machstaat) apalagi bercirikan negara penjaga malam (nachtwachterstaat). Penegakkan hukum. 3. Friedmann berpendapat bahwa efektifitas hukum ditentukan oleh tiga komponen. Ketika memilih bentuk negara hukum.9 Penegakan Hukum Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum (rechtstaat). Sejak awal kemerdekaan. kemanfaatan dan keadilan. negara-negara maju di dunia biasanya ditandai. diperlukan pengawalan yang dilaksanakan oleh aparat penegak hukum yang memiliki komitmen dan integritas tinggi terhadap terwujudnya tujuan hukum. yaitu: 1. Aparat Penegak Hukum agar hukum dapat ditegakkan. .2. 2. Karena.

Contoh paling aktual adalah tentang Perda Kawasan Bebas Rokok misalnya. apakah telah berjalan efektif? Ternyata belum. Istilah hukum sendiri sudah luas. penegakan hukum menuntut konsistensi dan keberanian dari aparat. Namun. yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana menciptakan budaya hukum masyarakat yang kondusif untuk penegakan hukum. Hukum-pun bisa diartikan sebagai pedoman bersikap tindak ataupun sebagai petugas. Sehingga. Misalnya. namun juga bagaimana memberdayakan aparat dan fasilitas hukum. perda kawasan bebas rokok harus didukung dengan . kebiasaan untuk merokok di tempat-tempat publik adalah suatu budaya yang agak sulit diberantas. Dalam suatu penegakkan hukum. Namun sesungguhnya penegakan hukum bersifat luas.Banyak pihak menyoroti penegakan hukum di Indonesia sebagai „jalan di tempat‟ ataupun malah „tidak berjalan sama sekali. hadirnya fasilitas penegakan hukum yang optimal adalah suatu kemestian. alias hanya memilih kasus-kasus kecil dengan „penjahat-penjahat kecil‟ daripada buronan kelas kakap yang lama bertebaran di dalam dan luar negeri. Juga. tata laksana hukum (structure of law) dan budaya hukum (culture of law). hukum harus diartikan sebagai suatu isi hukum (content of law). Peraturan ini secara normatif sangat baik karena perhatian yang begitu besar terhadap kesehatan masyarakat. juga aparat penegaknya yang terkadang tidak memberikan contoh yang baik. Karena. Hukum tidak semata-mata peraturan perundang-undangan namun juga bisa bersifat keputusan kepala adat. Juga. Oleh karenanya. Sama halnya dengan masyarakat perokok. fasilitas yang minim. sesuai kerangka Friedmann. penegakan hukum tidak saja dilakukan melalui perundang-undangan. Pendapat tersebut bisa jadi benar kalau penegakan hukum dilihat dari sisi korupsi saja.‟ Pendapat ini mengemuka utamanya dalam fenomena pemberantasan korupsi dimana tercipta kesan bahwa penegak hukum cenderung „tebang pilih‟.

pendidikan. Peneggakkan hukum tidak berjalan sebagaimana mestinya karena sering mengalami intervensi kekuasaan dan uang. 4. atau menyediakan ruangan khusus perokok. adalah hak dari warganegara untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan yang tepat dan benar akan hal-hal yang penting dan berguna bagi kelangsungan hidupnya. Uang menjadi permasalahan karena negara belum mampu mensejahterakan aparatur penegak hukum. program penyadaran. Bila aparatur penegak hukum tidak paham betul isi peraturan perundang-undangan tidak mungkin ada efektivitas peraturan di tingkat masyarakat. 2.memperbanyak tanda-tanda larangan merokok. 3. Padahal SDM yang sangat ahli serta memiliki integritas dalam jumlah yang banyak sangat dibutuhkan. Karena. apapun namanya. kampanye. Masyarakatpun harus senantiasa mendapatkan penyadaran dan pembelajaran yang kontinyu. Kurang diperhatikannya kebutuhan waktu untuk mengubah paradigma dan pemahaman aparatur. Para pembentuk peraturan perundang-undangan sering tidak memerhatikan keterbatasan aparatur. Aparatur penegak hukum ditengarai kurang banyak diisi oleh sumber daya manusia yang berkualitas. ataupun memasang alarm di ruangan yang sensitif dengan asap. harus terus menerus digalakkan dengan metode yang partisipatif. 2. Problem berikutnya adalah hukum di Indonesia hidup di dalam masyarakat . Hal ini berakibat pada tindakan anarkis masyarakat untuk menentukan sendiri siapa yang dianggap adil. Maka. Kepercayaan masyarakat terhadap aparatur penegak hukum semakin surut. Problem akut dan mendapat sorotan lain adalah: 1.10 Problematika Hukum Problema paling mendasar dari hukum di Indonesia adalah manipulasi atas fungsi hokum oleh pengemban kekuasaan. 5. Peraturan perundang-undangan yang dibuat sebenarnya sulit untuk dijalankan.

Keadilan kerap berpihak pada mereka yang memiliki status sosial yang lebih tinggi dalam masyarakat. Dalam bidang pendidikan. tetapi juga membahas kode-kode etik yang menjadi patokan individu dalam kehidupan sosisalnya. Menurut Bartens ada tiga jenis makna etika. oleh karena itu bukan hanya nilai moral individu yang dikaji. Dan Perwujudan Nilai. Hakikat. . Akibatnya hukum hanya dianggap sebagai representasi dan simbol negara yang ditakuti. Berbagai upaya perlu dilakukan agar bangsa dan rakyat Indonesia sebagai pemegang kedaulatan dapat merasakan apa yang dijanjikan dalam hukum. yang tentu saja karena manusia adalah makhluk sosial. Etika berarti juga kumpulan asas atau nilai moral (kode etik). yaitu: 1. Kata etika bisa dipakai dalam arti nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Fungsi. namun karena manusia selalu berhubungan dengan masalah keindahan.yang tidak berorientasi kepada hukum. Keduanya berbeda karena estetika berhubungan dengan keindahan sedangkan etika berhubungan dengan baik dan salah. ketiga pengertian di atas menjadi materi bahasannya. dan buruk bahkan dengan persoalan-persoalan layak atau tidaknya sesuatu. baik. 2. 2.11. Etika mempunyai arti ilmu tentang yang baik dan yang buruk (filsafat moral). maka pembahasan etika dan estetika jauh melangkah ke depan meningkatkan kemampuannya untuk mengkaji persoalan nilai dan moral tersebut sebagaimana mestinya. 3. Dan Hukum Terdapat beberapa bidang filsafat yang ada hubungannya dengan cara manusia mencari hakikat sesuatu. Moral. Contoh kasus adalah kasus ibu Prita Mulyasari. Pekerjaan besar menghadang bangsa Indonesia di bidang hukum. satu di antaranya adalah aksiologi (filsafat nilai) yang mempunyai dua kajian utama yakni estetika dan etika.

apakah objek itu memiliki nilai karena kita mendambakannya. Norma menyangkut perilaku-perilaku yang pantas dilakukan dalam menjalani interaksi sosialnya. sering juga disebut dengan peraturan sosial. atau kita mendambakannya karena objek itu memiliki nilai Kedua. memandang nilai sebagai sesuatu yang subjektif. kenikmatan. Manusia sebagai makhluk yang bernilai akan memaknai nilai dalam dua konteks.  Nilai Moral di Antara Pandangan Objektif dan Subjektif Manusia Nilai erat hubungannya dengan manusia.Norma sosial adalah kebiasaan umum yang menjadi patokan perilaku dalam suatu kelompok masyarakat dan batasan wilayah tertentu. pertama akan memandang nilai sebagai sesuatu yang objektif. 2001. atau kita mengalami preferensi karena kenyataan bahwa objek tersebut memiliki nilai mendahului dan asing bagi reaksi psikologis badan organis kita (Frondizi. 19-24). hlm. artinya nilai sangat tergantung pada subjek yang menilainya. Dua kategori nilai itu subjektif atau objektif: Pertama. Kedua. norma disusun agar hubungan di antara manusia dalam masyarakat dapat berlangsung tertib sebagaimana yang diharapkan. Keberadaan norma dalam masyarakat bersifat memaksa individu atau suatu kelompok agar bertindak sesuai dengan aturan sosial yang telah terbentuk.  Nilai di Antara Kualitas Primer dan Kualitas Sekunder Kualitas primer yaitu kualitas dasar yang tanpanya objek tidak dapat menjadi ada. Norma akan berkembang seiring dengan kesepakatan-kesepakatan sosial masyarakatnya. perhatian yang memberikan nilai pada objek. apabila dia memandang nilai itu ada meskipun tanpa ada yang menilainya. Pada dasarnya. dalam hal etika maupun estetika. sedangkan kualitas sekunder merupakan kualitas yang dapat ditangkap oleh . sama seperi kebutuhan primer yang harus ada sebagai syarat hidup manusia. apakah hasrat.

Nilai bukan benda atau unsur benda. yakni. Perbedaan antara kedua kualitas ini adalah pada keniscayaannya. nilai kenikmatan. nilai tidaklah independen yakni tidak memiliki kesubstantifan. hubungan antara pengembangan nilai dengan keuntungan. kualitas primer harus ada dan tidak bisa ditawar lagi. yaitu hierarki urutan pentingnya. dan nilai kerohanian. jadi kualitas sekunder seperti halnya kualitas sampingan yang memberikan nilai lebih terhadap sesuatu yang dijadikan objek penilaian kualitasnya. nilai instrumental. dan sebagainya.  Metode Menemukan dan Hierarki Nilai dalam Pendidikan Menilai berarti menimbang. nilai memiliki polaritas dan hierarki.pancaindera seperti warna. Nilai milik semua objek. yang selanjutnya diambil sebuah keputusan. kehidupan. kualitas. . keindahan dan kejelekan. keuntungan yang diperoleh. Sedangkan Max Scheller berpendapat bahwa hierarki terdiri dari. tujuan yang akan dicapai. Nilai menampilkan diri dalam aspek positif dan aspek negatif yang sesuai (polaritas) seperti baik dan buruk. Nilai tersusun secara hierarkis. 2. namun adapula pembagian hierarki di Indonesia (khususnya pada masa dekade Penataran P4). yang dimiliki objek tertentu yang dikatakan “baik”. bau. Nilai bukan sebuah keniscayaan bagi esensi objek. Ada beberapa klasifikasi nilai yaitu klasifikasi nilai yang didasarkan atas pengakuan. dan yang terakhir nilai praksis. sedangkan kualitas sekunder bagian eksistesi objek tetapi kehadirannya tergantung subjek penilai. rasa. Nilai bukan kualitas primer maupun sekunder sebab nilai tidak menambah atau memberi eksistensi objek. yaitu kegiatan manusia menghubungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain. nilai dasar. kejiwaan. yaitu: 1. Dan masih banyak lagi klasifikasi lainnya dari para pakar. melainkan sifat. dan hubungan yang dihasilkan nilai itu sendiri dengan hal lain yang lebih baik. objek yang dipermasalahkan.

cepat tanggap terhadap apa yang menimpa tetangga. sehingga . aktif bergotongroyong.  Makna Nilai bagi Manusia Nilai itu penting bagi manusia. menyukai kerjasama. Pengertian nilai yang telah dikemukakan oleh setiap pakar pada dasarnya upaya memberikan pengertian secara holistik terhadap nilai. rumah pun dipagari dengan setinggi-tingginya bermaksud tidak menyelinap secara diam-diam (ada kecurigaan sosial yang tidak jelas alasannya). karena ia melihat nilai dari sudut kepentingannya. terlihat pada pengertian nilai yang dikemukakan oleh John Dewney yakni. mungkin tidaklah aneh semua itu terjadi disebabkan susahnya mencari uang akhirnya beberapa jalan yang sekiranya tidak pantas pun sering dilakukan oleh masyarakat sekarang. Value Is Object Of Social Interest. kebersamaan mulai menjemukan lebih senang sendiri-sendiri pada akhirnya banyak kasus jika menengok orang meninggal karna hanya ingin dapatkan bingkisan nasi bukan berniat meringankan beban atau menghiburnya. akan tetapi setiap orang tertarik pada bagian bagian yang “relatif belum tersentuh” oleh pemikir lain. kepedulian terhadap sesama. Definisi yang mengarah pada pereduksian nilai oleh status benda. apakah nilai itu dipandang dapat mendorong manusia karena dianggap berada dalam diri manusia atau nilai itu menarik manusia karena ada di luar manusia yaitu terdapat pada objek. dan selanjutnya nilai itu penting. dan seterusnya. Pengertian Nilai Nilai Sosial adalah nilai yang tertanam dalam kehidupan bermasyarakat. Sayangnya. saat ini nilai sosial di masyarakat Indonesia sebagian banyaknya mengalami penurunan drastis antara tetangga mulai berjarak. namun ada yang telah disepakati dari semua pengertian itu bahwa nilai berhubungan dengan manusia. bekerja bakti pun terkadang harus diiming-iming dengan upah yang akan didapatkannya sehingga segala sesuatu itu sekarang ditentukan oleh nominal uang. aktif bermusyawarah. diantaranya: kesetiakawanan. Walaupun begitu banyaknya pakar yang mengemukakan pengertian nilai.

mengakibatkan merosotnya fungsi keluarga dalam pembinaan nilai moral anak. seberapa sering harus melakukan. serta terputusnya komunikasi yang harmonis antara orang tua dengan anak.  Pengaruh Teman Sebaya Terhadap Pembinaan Nilai Moral Setiap orang yang menjadi teman anak akan menampilkan kebiasaan yang dimilikinya. dan juga kapan harus mengakhirinya. terutama bagi para orang tua yang memiliki anak yang masih di bawah umur. Oleh karena itu dalam media komunikasi mutakhir tentu akan mengembangkan suatu pandangan hidup yang terfokus sehingga memberikan .  Pengaruh Kehidupan Keluarga dalam Pembinaan Nilai Moral Persoalan merosotnya intensitas interaksi dalam keluarga. di mana harus dilakukan.  Pengaruh Figur Otoritas Terhadap Perkembangan Nilai Moral Individu Orang dewasa mempunyai pemikiran bahwa fungsi utama dalam menjalin hubungan dengan anak-anak adalah memberi tahu sesuatu kepada mereka: memberi tahu apa yang harus mereka lakukan.nilai lebih dipandang sebagai kegiatan menilai. kapan waktu yang tepat untuk melakukannya. Itulah sebabnya seorang figur otoritas (bisa juga seorang public figure) sangat berpengaruh dalam perkembangan nilai moral.  Pengaruh Media Komunikasi Terhadap Perkembangan Nilai Moral Setiap orang berharap pentingnya memerhatikan perkembangan nilai anak- anak. sebaliknya akan berpengaruh negatif jika sikap dan tabiat yang ditampikan memang buruk. Nilai itu harus jelas. Keluarga bisa jadi tidak lagi menjadi tempat untuk memperjelas nilai yang harus dipegang bahkan sebaliknya menambah kebingungan nilai bagi si anak. jadi diperlukan pula pendampingan orang tua dalam tindakan anak-anaknya. pengaruh pertemanan ini akan berdampak positif jika isu dan kebiasaan teman itu positif juga. harus semakin diyakini oleh individu dan harus diaplikasikan dalam perbuatan.

stabilitas nilai pada anak. apalagi bila informasi itu sama kuatnya maka akan mempengaruhi disonansi kognitif yang sama. maka institusi pendidikan perlu mengupayakan jalan keluar bagi peserta didiknya dengan pendekatan klarifikasi nilai. Maka manusia.  Manusia Dan Hukum Hukum dalam masyarakat merupakan tuntutan. yang tentunya sesuai pula atau merupakan pencerminan dari nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat tersebut.  Pengaruh Informasi Terhadap Perkembangan Nilai Moral Munculnya berbagai informasi. diperlukan adanya kepastian dalam pergaulan antar-manusia dalam masyarakat. Untuk mencapai ketertiban dalam masyarakat. dan hukum merupakan pengertian yang tidak bisa dipisahkan. Kepastian ini bukan saja agar kehidupan masyarakat menjadi teratur akan tetapi akan mempertegas lembaga-lembaga hukum mana yang melaksanakannya. . mengingat bahwa kita tidak mungkin menggambarkan hidupnya manusia tanpa atau di luar masyarakat. meskipun diakui bahwa ada pendekatan lain dalam pendidikan nilai yang memiliki orientasi yang berbeda. Namun ketika anak dipenuhi oleh kebingungan nilai. Hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup (the living law) dalam masyarakat. masyarakat.  Pengaruh Otak atau Berpikir Terhadap Perkembangan Nilai Moral Pendidikan tentang nilai moral yang menggunakan pendekatan berpikir dan lebih berorientasi pada upaya-upaya untuk mengklarifikasi nilai moral sangat dimungkinkan bila melihat eratnya hubungan antara berpikir dengan nilai itu sendiri. misalnya saja pengaruh tuntutan teman sebaya dengan tuntutan aturan keluarga dan aturan agama akan menjadi konflik internal pada individu yang akhirnya akan menimbulkan kebingungan nilai bagi individu tersebut.

maka mula-mula manusia membentuk suatu struktur tatanan (organisasi) di antara dirinya yang dikenal dengan istilah tatanan sosial (social order) yang bernama: m a s y a r a k a t. sedangkan moral menyangkut juga sikap bathin seseorang. namun hukum dan moral tetap berbeda. namun hukum membatasi diri pada tingkah laku lahiriah saja. maka selalu akan dibutuhkan bahan yang bersifat sebagai “semen perekat” atas berbagai komponen pembentuk dari masyarakat itu. ketiga. maka manusia membutuhkan pranata pengatur yang terdiri dari dua hal: aturan (hukum) dan si pengatur(kekuasaan). Bahkan dalam ilmu hukum. yang berarti terdapat ketidakcocokan antara hukum dengan moral. dan yang berfungsi sebagai “semen perekat” tersebut adalah hukum. sebab dalam kenyataannya mungkin ada hukum yang bertentangan dengan moral atau ada undang-undang yang immoral. K. Bertens menyatakan ada setidaknya empat perbedaan antara hukum dan moral. keempat.Manusia dan hukum adalah dua entitas yang tidak bisa dipisahkan. hukum akan kosong tanpa moralitas. pertama. Artinya bahwa dalam setiap pembentukan suatu bangunan struktur sosial yang bernama masyarakat. meski hukum dan moral mengatur tingkah laku manusia. Oleh karena itu kualitas hukum harus selalu diukur dengan norma moral dan perundang-undangan yang immoral harus diganti. . hukum lebih dikodifikasikan daripada moralitas (hukum lebih dibukukan daripada moral). sanksi yang berkaitan dengan hukum berbeda dengan sanksi yang berkaitan dengan moralitas.  Hubungan Hukum Dan Moral Hukum tidak akan berarti tanpa dijiwai moralitas. kedua. Guna membangun dan mempertahankan tatanan sosial masyarakat yang teratur ini. Untuk mewujudkan keteraturan. terdapat adagium yang terkenal yang berbunyi: “Ubi societas ibi jus” (di mana ada masyarakat di situ ada hukumnya). Meskipun hubungan hukum dan moral begitu erat. hukum didasarkan atas kehendak masyarakat dan akhirnya atas kehendak negara sedangkan moralitas didasarkan pada norma-norma moral yang melebihi para individu dan masyarakat.

pengabdian. Prinsipnya keadilan terletak apada keseimbangan atau keharmonisan antara menuntut hak dan menjalankan kewajiban. Jadi kita harus member kesempatan pada orang lain untuk mempertahankan hidupnya. Bila kedua orang terschut mempunyai kesamaan dalam ukuran yang telah ditetapkan. schab pemerintah adalah pimpinan pokok yang mencntukan dinamika masyarakat. keindahan dan kegelisahan. kalau tidak sama. maka masing-masing orang akan menerima bagian yang . Keadilan. maka masing-masing orang harus memperoleh benda atau hasil yang sama.12. pandangan hidup. Pengakuan atas hak hidup individu harus diimbangi melalui kerja keras tanpa merugikan pihak lain. tanggung jawab. Ketertiban. Manusia harus memahami dan menghayati konsep keadilan. Kedua ujung ekstrem itu menyangkut dua orang atau benda. dan pcrasaannya dikendalikan oleh akal. Dan Kesejahteraan Dalam upaya memanusiakan manusia (homohumanus = manusia yang bersikap manusia. Kelayakan diartikan sebagai titik tengah diantara ke dua ujung ekstrem yang terlalu banyak dan terlalu sedikit. karena orang lain punya hak hidup seperti kita. berbudaya dan halus). Keadilan adalah pengakuan yang seimbang antara hak dan kewajiban.2. Keadilan menurut Aristoteles adalah kelayakan dalam tindakan manusia. Tindakan-tindakan yang menuntut hak dan lupa pada kewajiban merupakan pemerasan. Sedangkan tindakan yang hanya menjalankan kewajiban tanpa menuntut hak berakibat pada mudah diperbudak atau dipengaruhi orang lain. keadilan tercipta bilamana warga negara sudah merasakan bahwa pihak pemerintah sudah melaksanakan tugasnya dengan baik. penderitaan. Menurut Socrates. Mengapa diproycksikan pada pemerintah. Pengertian Keadilan: Keadilan oleh Plato diproyeLsikan pada diri manusia schingga yang dikatakan adil adalah orang yang mengendalikan diri. cinta kasih.

keluarga.tidak sama. Kehancuran : diri. Tidak memihak 2. masyarakat. menimbulkan daya kreativitas manusia. Macam-macam Keadilan : 1. setiap orang menjalankan pekerjaan menurut sifat dasar yang paling cocok baginya (the man behind the gun). sedangkan pelanggaran terhadap proporsi tersebut berarti ketidak adilan. Benar secara moral Sedangkan akibat dari ketidakadilan adalah : 1. Kesadaran adanya hak yang sama bagi setiap warga Negara 2. Keadilan Legal (keadilan moral) Dalam suatu komunitas yang adil. puisi. Hak dan kewajiban untuk menciptakan kesejahteraan dan kemakmuran yang merata. Oleh sebab itu keadilan dan ketidakadilan. musik dan lain-lain. Kezaliman yaitu keadaan yang tidak lagi menghargai. Ciri-ciri keadilan adalah : 1. Sama hak 3. bangsa dan Negara 2. perusahaan. seperti drama. sewenang-wenang merampas hak orang lain demi keserakahan dan kepuasan nafsu. Sah menurut hokum 4. keadilan tidak akan terjadi bila ada intervensi . Jadi keadilan bila disimpulkan adalah : 1. Kesadaran adanya kewajiban yang sama bagi setiap warga Negara 3. Keadilan dan ketidak adilan tidak dapat dipisahkan dalarn kehidupan manusia karena dalam ludupnya manusia menghadapi keadilan / ketidakadilan setiap hari. Banyak hasil seni lahir dari imajinasi ketidakadilan. Rasa keadilan akan terwujud bila setiap individu melakukan fungsinya sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. novel. menghormati hak-hak orang lain. Layak dan wajar 5.

2. Sebagai penggerak pembangunan. Disamping itu. Keadilan Distributive Keadilan akan terlaksana bila hal yang sama diperlukan secara sama dan hal yang tidak sama diperlakukan secara tidak sama diperlakukan secara tidak sama (justice is done when equals are treated equally). c. Dengan demikian. 3) Mempunyai daya yang mengikat fisik dan psikologis. Fungsi hukum dalam perkembangan masyarakat sebagai berikut: a. Sebagai fungsi kritis. mana yang harus diperbuat dan mana yang tidak boleh diperbuat. 2) Mempunyai sifat memaksa. mana yang baik dan mana yang tidak. hukum dapat memberi keadilan yaitu menentukan siapa yang salah dan siapa yang benar serta memaksa agar peraturan itu ditaati sehingga terwujud keadilan sosial lahir dan batin. b. Sebagai sarana untuk mewujudkan keadaan sosial lahir dan batin. d. Hal itu dikarenakan hukum mempunyai: 1) Ciri memerintah dan melarang. segala sesuatunya dapat berjalan tertib dan teratur. Sebagai pengatur tata tertib. karena hukum mempunyai sifat memaksa. Contoh : gaji pegawai lulusan smu dan sarjana harus dibedakan.pada pihak lain dalam melaksanakan tugas kemasyarakatan dan hal ini dapat memicu pertentangan. Sebagai pengatur tata tertib hubungan masyarkat. . konflik dan ketidakserasian. yang melanggar peraturan akan dikenai sanksi hukuman. Yang dimaksud dengan fungsi kritis hukum ialah daya kerja hukum yang dapat melakukan pengawasan tidak hanya terbatas pada aparatur pengawas saja tetapi juga termasuk aparatur penegak hukum. Dengan demikian. daya mengikat dan memaksa dari hukum dapat dipergunakan atau didayagunakan untuk menggerakan pembangunan. hukum memberi petunjuk kepada kehidupan bermasyarakat.

Dengan nilai dari perkawinan tidak terwujud sebagaimana yang kita dambakan. Moral. seorang suami tidak bertanggung jawab pada anak dan istri dan lain sebagainya. bahkan ingin terlepas dari tanggung jawabnya. namur kenyataannya masih banyak istilah kawin sirih (kawin di bawah tangan). akan tetapi kenyataan-kenyataan yang ada banyak problem yang terjadi dalam keluarga. Semua orang tahu bahwa tujuan dari perkawinan adalah untuk menciptakan keluarga sakinah mawadah warahmah.13. bahkan ada juga yang dikenal dengan “kawin kontrak”. . Dan Hukum Dalam Masyarakat Dan Negara Terbentuknya nilai dari hubungan yang bersifat ketergantungan sikap manusia terhadap nilai dari suatu maka manusia akan berbuat sesuatu yang merupakan modal dasar dalam menjalin kehidupan manusia. Problema yang demikian harus diperhatikan dan perlu dipikirkan secara arif dan bijaksana baik oleh kalangan masyarakat awam maupun oleh pemerintah.2. Karena dengan perkawinan sirih dan perkawinan sirih dan perkawinan kontrak ini. Perbuatan yang bersifat amoral inilah yang dijadikan problema dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Statu contoh adalah masalah perkawinan. untuk penduduk Islam). apakah baik buruknya sepanjang niali itu dalam arti positif berarti perubahan bermoral . ditinjau dari aspek lahiriah yaitu untuk mencapai ketertiban atau kedamaian. begitu juga sebaliknya jika nilai itu dalam arti negatif berarti perbuatan yang amoral. misalnya: terjadi kekerasan dalam rumah tangga. Secara hukum suatu perkawinan itu dapat diakui oleh negara apanila dilakukan dihadapan catatan sipil (untuk penduduk non Islam) dan tercatat di Kantor Urusan Agama (KUA. karena sifat perkawinan yang demikian ini sangat merugikan bagi kaum perempuan dan nasib anak-anak. dengan begitu mudah kaum laki-laki untuk meninggalkannya. Tujuan hukum mengatur pergaulan hidup secara damai. dan jika di tinjau dari aspek batiniah yaitu untuk mencapai ketenangan atau ketentraman. Problematika Nilai. Dengan menilai dapat menentukan moral seseorang.

Maka yang perlu kita ketahui dalam hal ini di samping hukum dasar yang tertulis ada hukum yang tidak tertulis. dan ketenangan atau ketentraman maka harus patuh lepada hukum yanng berlaku dan mennjalani nilai-nilai yang ada di masyarakat dengan baik dan sempurna. Manusia sebagai makhluk yang hidup bermasyarakat untuk terwujudnya apa yang dikatakan ketertiban atau keamanan. yaitu misalnya “hukum adat perkawinan” yang setiap daerah mempunyai adat masing-masing. Juga sebaliknya jika perkawinan yang dilakukan tidak melalui prosedur atau tidak dilakukan sesuai dengan aturan yang ada dalam suatu masyarakat tertentu maka perkawinan itu dikenal dengan cara tidak bermoral. maka orang yang melaksanakan perkawinan demikian dikatakan yang bermoral. .Perkawinan itu apabila dilakukan menurut prosedur atau menurut aturanaturan yang ada dalam suatu masyarakat.

Penegakan hukum-pun harus dilakukan dalam proporsi yang baik dengan penegakan hak asasi manusia. moral dan hukum agar terjadi keselarasan dan harmoni kehidupan. Penegakan hukum jangan dipertentangkan dengan penegakan HAM. nilai. menghayati dan melaksanakan dengan ikhlas mengenai nilai. Karena. moral dan hukum adalah suatu hal yang saling berkaitan dan saling menunjang. menyuguhkan kekerasan dan tidak sensitif jender.BAB III PENUTUP 3. Karena. kepastian hukum (certainty of law). 3.1 Kesimpulan Manusia. sesungguhnya keduanya dapat berjalan seiring ketika para penegak hukum memahami betul hak-hak warga negara dalam konteks hubungan antara negara hukum dengan masyarakat sipil. dan kesebandingan hukum (equality before the law). tujuan hukum antara lain adalah untuk menjamin terciptanya keadilan (justice). Dalam arti. Sebagai warga negara kita perlu mempelajari.2 Saran Penegakan hukum harus memperhatikan keselarasan antara keadilan dan kepastian hukum. jangan lagi ada penegakan hukum yang bersifat diskriminatif. .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->