Pengertian Penganiayaan

Secara umum tindak pidana terhadap tubuh pada KUHP disebut Penganiayaan. Dari segi tata bahasa, penganiayaan adalah suatu kata jadian atau kata sifat yang berasal dari kata dasar ""aniaya" yang mendapat awalan "pe" dan akhiran "an" sedangkan penganiaya itu sendiri berasal dari kata benda yang berasal dari kata aniaya yang menunjukkan subyek atau pelaku penganiayaan itu.

Dalam Kamus Bahasa Indonesia (W.J.S Poerwadarminta 1994:48) mengatakan bahwa penganiayaan adalah perlakuan sewenang-wenang(penyiksaa, penindasan, dan sbagainya). Sedangkan KUHP sendiri tidak memberikan penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan istilah penganiayaan (mishandelling) selain hanya menyebut penganiayaan saja, namun pengertian penganiayaan dapat ditemukan dalam beberapa yurisprudensi, yaitu :

1. Arrest Hoge Raad tanggal 10 desember 1902 merumuskan bahwa penganiayaan adalah dengan sengaja melukai tubuh manusia atau menyebabkan perasaan sakit sebagai tujuan, bukan sebagai cara untuk mencapai suatu maksud yang diperbolehkan, seperti memukul anak dalam batas-batas yang dianggap perlu yang dilakukan oleh orang tua anak itu sendiri atau gurunya. 2. Arrest Hoge Raad tanggal 20 April 1925 menyatakan bahwa penganiayaan adalah dengan sengaja melukai tubuh manusia. Tidak dianggap penganiayaan jika maksudnya hendak mencapai justru tujuan lain dan dalam menggunakan akal ia tak sadar bahwa ia telah melewati batas-batas yang tidak wajar. 3. Arrest Hoge Raad tanggal Februari 1929 menyatakan bahwa penganiayaan bukan saja menyebabkan perasaan sakit, tetapi juga menimbulkan penderitaan lain pada tubuh. Jadi beberapa pengertian dan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa untuk menyebut seseorang itu telah melakukan penganiayaan terhadap orang lain, maka orang tersebut harus mempunyai kesengajaan (Opzetelijk) untuk:

1. Menimbulkan rasa sakit pada orang lain 2. Menimbulkan luka pada tubuh orang lain 3. Merugikan kesehatan orang lain Dengan kata lain untuk menyebut seseorang telah melakukan penganiayaan, maka orang itu harus mempunyai kesengajaan dalam melakukan suatu perbuatan untuk membuat rasa sakit pada orang lain atau luka pada tubuh orang lain ataupun orang itu dalam perbuatannya merugikan kesehatan orang lain. Jadi unsure delik penganiayaan adalah kesengajaan yang menimbulkan rasa sakit atau luka pada tubuh orang lain dan melawan hukum.

penganiayaan terhadap anak-anak. 2. Anak-anak yang pernah mengalami penganiayaan atau menyaksikan penganiayaan terhadap ibunya. saudara kandung). ternyata wanita yang tidak menikah. Penganiayaan Terhadap Anak Semua tindak penganiayaan pada anak merupakan tindakan yang merenggut semua hak yang seharusnya dimiliki oleh anak-anak. 1998). tenaga kesehatan. 1996). Penganiayaan pada wanita tidak hanya bersifat fisik atau seksual. pakaian. dan berbagai bentuk kekerasan lainnya yang dapat menimbulkan cedera. membatasi kebebasan. anggota keluarga besar (kakek/ nenek. dan tempat tinggal. diberi makan dan pakaian serta diasuh dengan kasih sayang sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang. wanita yang bercerai atau berpisah dari suaminya cenderung lebih beresiko mengalami penganiayaan daripada wanita yang menikah (Sassetti. dan penganiayaan terhadap orang tua (Boyd & Nihart. Penganiayaan seksual akan menimbulkan trauma. Termasuk hak anak untuk berperilaku sebagai anak. merasa aman dan dilindungi dari bahaya. penelantaran. merusak properti. orang tua tiri. atau orang tua angkat (Rappley & Speare. luka bakar. A. Penganiayaan Terhadap Wanita Berdasarkan hasil penelitian. fraktur. Penelantaran Anak Ada beberapa jenis penelantaran anak. yakni inses (incest) dan penganiayaan seksual yang dilakukan bukan oleh anggota keluarga. yakni gagal melindungi anak. bibi. paman. Penganiayaan pada anak umumnya meliputi penganiayaan fisik. Cedera fisik yang mungkin dialami korban meliputi cedera pada kulit atau jaringan lunak. Inses merupakan semua bentuk kegiatan seksual antara anak di bawah usia 18 tahun dengan anggota keluarga dekat (orang tua kandung. penelantaran fisik. 1993). luka tembak. mengancam. Penganiayaan Fisik Penganiayaan fisik dapat berupa tindakan memukul menendang. d. dan penganiayaan emosional. sepupu). Gagal melindungi anak seperti terminum racun. Penelantaran medik mencakup gagal memberi kebutuhan pelayanan kesehatan pada anak. Penelantaran fisik meliputi gagal memberi makan. cenderung akan bertindak kejam pada usia dewasa. dan penelantara medik. 1993). gigi rontok. Reaksi negatif dari orang yang dekat dengan korban. jatuh dan terbakar. Penganiayaan Emosional . PENGANIAYAAN Jenis penganiayaan terdiri atas penganiayaan terhadap wanita. kebiruan karena dicambuk. b. tusuk pisau. a. seksual. melempar. kesetrum listrik. Penganiayaan Seksual Ada dua kategori penganiayaan seksual. rambut rontok karena dijambak.1. c. Penganiayaan seksual di luar keluarga adalah bentuk kontak seksual antara bukan anggota keluarga dengan anak di bawah usia 18 tahun. tetapi juga emosional. perdarahan pada retina dan perdarahan di conjungtiva (Fontaine. atau orang lain dapat memperparah trauma. menyundut dengan rokok. atau mengisolasi dari keluarga dan teman.

preokupasi dengan tindakan yang salah dan benar pada masa kanak-kanak (4-7 tahun). 1998). dan cedera pada bagian dalam tubuh. Respon Psikologis Respon psikologis terdiri atas harga diri rendah. atau membuat keputusan yang kejam. Lima kategori penelantaran emosional terhadap anak adalah menolak. dirasakan oleh orang yang sudah tua (45 tahun dan lebih tua). Respon Fisik Korban tindak kekerasan menderita sejumlah konsekuensi fisik dari yang ringan hingga berat. Cedera ringan berupa abrasi atau lecet. takut mati. Respon Interpersonal Sebagai akibat dari penganiayaan yang sering dilakukan oleh keluarga dekat bahkan orang tua yang seharusnya menyayangi dan melindungi mereka. biologis. kepedulian terhadap kredibilitas. terutama penganiayaan seksual pada masa kanak-kanak. Respon korban tindak kekerasan dapat ditinjau dari respon fisik. 2. Mengabaikan kebutuhan psikologis anak sehingga anak merasa kelaparan secara emosional. Mengisolasi dengan memutus lingkungan anak dengan lingkungan sosial. Meneror dengan menciptakan lingkungan yang menakutkan bagi anak. 3. Mengorupsi dengan melibatkan anak pada perilakudestruktif dan antisosial serta mendukung perilaku menyimpang. Foley cit Shives (1994). Respon tubuh terhadap stress bersifat kompleks. kepedulian bagaiman tindak kekerasan dapat mempengaruhi kehidupan keluarga dan gaya hidup selama masa dewasa (25-45 tahun). Rasa percaya pada orang dewasa akan terguncang selama masa bayi (0-3 tahun). meneror. kerancuan terhadap perilaku tindak kekerasan dan akibatnya sebagai remaja (pubertas sampai 18 tahun). Respon Biologis Depresi merupakan salah satu respon yang paling sering terjadi akibat penganayaan. reputasi dan kehormatan. perilaku dan respon interpersonal (Boyd & Nihart. rasa bersalah.3. Cedera berat berupa trauma gandu. sering kali menjadi peminum alkohol atau menyalahgunakan zat lainnya. serta kepedulian terhadap keselamatan diri. malu dan marah. psikologis. 5. RESPON KORBAN TINDAK KEKERASAN Respon korban tindak kekerasan sangat bergantung pada tingkat perkembangan korban pada saat terjadi tindak kekerasan tersebut. Penganiayaan Terhadap Lansia Pengniayaan terhadap lansia mengakibatkan cedera fisik atau penelantaran emosional meliputi menentang keinginan lansia. persepsi yang salah terhadap tindak kekerasan selama masa laten (7 tahun hingga remaja). B. anak-anak korban . 1. menjelaskan reaksi korban tindak kekerasan sesuai dengan tingkat perkembangan mulai dari masa bayi sampai usia dewasa tua. fraktur yang parah. 4. mengintimidasi. mengabaikan. Respon Perilaku Wanita yang pernah mengalami penganiayaan. Penganiayaan terhadap lansia umumnya dilakukan oleh anak-anak mereka. gaya hidup dan nilai moral terjadi pada masa dewasa muda (18-24 tahun). mengisolasi. sistem reaksi yang terintegrasi mempengaruhi tubuh dan jiwa. dan mengorupsi anak. Menolak untuk mengakui betapa bernilainya seorang anak.

Pemulihan keseimbangan fisik. Pada tahap akut ini. mengingkari. yang penting dialami adalah : Mendapatkan kembali rasa aman Mengatasi perasaan takut Mengakhiri perasaan kehilangan. Pengkajian dilakukan secara lengkap dan menyeluruh meliputi pengkajian aspek fisik. seperti kehilangan harga diri dan rasa percaya Menyatukan kejadian di dalam diri secara menyeluruh. Periksa permukaan kulit apakah ada bekas biru. seperti merasakan otot yang tegang. tidak percaya. seperti di rumah dan lingkungan masyarakat. psikologis. Korban dapat ditemui pada berbagai tatanan pelayanan kesehatan. PROSES ADAPTASI Proses adapatasi untuk mengembalikan keseimbangan dengan membebaskan diri dari perasaaan takut dan perasaan tidak berdaya disebut dengan sindrom trauma tindak kekerasan. bahkan merasa ingin balas dendam. takut mati. Puskesmas. fraktur (patah tulang) wajah. dan reaksi emosional terhadap situasi yang mengancam kehidupan korban. syok. 2. kemungkinan terjadi patah tulang iga.penganiayaan akan tumbuh sebagai orang dewasa yang sulit menjalin hubungan rasa percaya dan intim. periksa apakah ada tanda-tanda trauma. bahkan terjadi luka terbuka pada dinding vagina atau rektal akibat pemaksaan. Pada bagian kepala. Adaptasi Tahap Akut atau Disorganisasi Tahap disorganisasi meliputi reaksi pertama yang diekpresikan atau reaksi yang ditahan/ dikendalikan. c. atau fasilitas kesehatan lain. perilaku/ psikologis. Reaksi fisik bergantung pada cedera tubuh yang dialami. Klinik. ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA WANITA DAN LANSIA Pengkajian Pengkajian dimulai pada awal kontak perawat dengan korban. bekas biru pada wajah. b. afektif. lengan dan tungkai. terhina dan menyalahkan diri sendiri. takut membahayakan tubuh. serta tatanan lain. seperti Unit Gawat Darurat. a. Rumah Sakit. Sindrom trauma tindak kekerasan terdiri atas 2 tahap. dan rektal termasuk rasa nyeri dan bengkak pada vagina atau rektal. sosial. merasa terhina. 1. Perhatikan kondisi otot dan tulang. dan sosial budaya spiritual. Adaptasi Tahap Jangka Panjang atau Reorganisasi Reorganisasi adalah proses penyesuaian atau adaptasi selama beberapa bulan setelah terjadi tindak kekerasan. a. disertai perasaan lain seperti marah. merasa bersalah. E. biru dan perdarahan. Pada tahap ini. Reaksi emosional berupa perasaan takut. atau merasa takut mati. d. Aspek fisik Pengkajian fisik dilakukan secara lengkap dari ujung kaki hingga kepala. wanita yang mengalami tindak kekerasan biasanya merasa cemas. mata bengkak. C. marah. yaitu tahap akut atau disorganisasi dan tahap jangka panjang atau reorganisasi. Stuart & Sundeen (1995) dan Johnson (1996) menyatakan bahwa korban tindak kekerasan mengalami masalah psikologis yang berkepanjangan. Merasa sakit pada bagian tertentu yang terkena serangan atau bersifat umum. . spiritual dan seksual terjadi berbulan atau bertahun kemudian. terkilir pada persendian 1. kognitif. reaksi fisik. trauma genital.

Ada juga korban yang menggunakan pengingkaran (denial) untuk menahan pengalaman traumatik. Aspek kognitif Pertanyaan yang perlu dijawab dalam pengkajian aspek kognitif adalah : Bagaimana mekanisme pertahanan yang digunakan? Apakah korban tampak bingung? Apakah korban sudah diberi tahu tentang haknya? Uraikan kemampuan konsentrasi korban. putus asa.b. depresi. bahkan korban mungkin mengalami masalah fisik lain. sakit kepala dan nyeri. takut. Apakah korban mampu menguraikan apa yang telah terjadi? Apakah korban mampu membuat keputusan? Siapa yang telah diberitahu korban tentang kejadian tindak kekerasan yang dialaminya? Keluraga. 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) e. teman. Korban tindak kekerasan menderita trauma emosional. lihat kemungkinan adanya bekas biru atau luka serta tanda-tanda cedera bagian dalam tubuh. polisi? Apakah korban memerlukan bantuan pendamping untuk mengatakan kejadian tindak kekerasan pada orang lain? Apakah korban menyalahkan dirinya sendiri? Apakah korban mengalami kilas balik serangan tindak kekerasan? Selama tindak kekerasan yang sebenarnya terjadi. Aspek sosial budaya dan spiritual Keluarga pada umumnya mengalami perasaan dan pemikiran yang sama seperti korban. dan termasuk merasa tidak . Aspek perilaku Pertanyaan yang perlu dijawab ketika mengkaji aspek perilaku korban adalah : Apakah korban mampu menjawab pertanyaan secara verbal? Apakah korban mampu mengikuti petunjuk yang sederhana? Apakah korban telah melakukan tindakan penanggulangan sendiri sebelum datang ke pelayanan kesehatan? Ada juga korban yang tidak mampu menjawab pertanyaan atau petunjuk sederhana apapun. dan mengisolasi diri dari orang lain. takut. Aspek psikologis/ afektif Pertanyaan yang perlu dijawab dalam pengkajian aspek psikologis/ afektif adalah : Apa respon emosi yang dialami korban? Uraikan data objektif dan subjektif tentang respon berikut ini: rasa tidak percaya terhadap kejadian. Selain trauma fisik secara langsung. Keluarga juga bisa merasa bersalah. karena rasa taakut yang luar biasa. seperti gangguan pola tidur (insomnia). malu. atau mobilitas korban terganggu. tidak berdaya. banyak korban yang mengalami kecemasan dan depresi. kehilangan nafsu makan (anoreksia). dampak fisik jangka panjang juga mungkin terjadi. rasa bersalah. marah. beberapa korban menggunakan mekanisme pertahanan depersonalisasi atau disosiasi untuk melindungi integritas dirinya. 1) 2) d. Pada bagian abdomen. terhina. cemas. merasa sangat lelah. marah. Setelah masa syok dan tidak percaya. benci. baik yang langsung dialami setelah kejadian maupun berkepanjangan selama kehidupannya. 1) 2) 3) c.

Gangguan pla tidur dan istirahat. Perubahan rasa nyaman: nyeri. Merasa tidak berdaya. Mengenal perasaan dan sikap perawat sendiri. Distress spiritual. serta terisolasi. d. mengurangi rasa takut. c. Kebutuhan emosional: Ansietas. terapi keluarga. 2) a. f. Perencanaan Intervensi keperawatan meliputi hal-hal sebagai berikut: Membina hubungan dan rasa percaya. c. g. berdaya. d. perasaan tidak berdaya. h. f. 1) a. b. Perubahan dalam pertumbuhan dan perkembangan. i. a. antara lain : Kebutuhan fisik : Potensial terjadi infeksi. cedera. e. termasuk dukungan yang dapat diberikan keluarga atau teman kepada korban. meningkatkan harga diri dan rasa percaya. Gangguan konsep diri: citra tubuh. Menyarankan ventilasi tentang tindak kekerasan. Perubahan status nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh. c. Ketidakefektifan koping keluarga. terapi kelompok. h. Hambatan komunikasi verbal. m. penampilan peran. Potensial terjadi kecacatan. e. Memberi bimbingan antisipatif kepada keluarga. Menyusun rencana tindak lanjut. g. Perubahan dalam proses keluarga.2. 4. d. Perlu dikaji pola koping (mekanisme peratahanan . Defisit pengetahuan tentang respon fisik dan emosional serta kebutuhan pelayanan kesehatan. Intervensi krisis dilakukan sedini mungkin untuk meningkatkan keamanan fisik. Keluarga perlu diberikan penyuluhan tentang trauma yang dialami korban tindak kekerasan. Memfasilitasi proses tahapan sindrom trauma tindak kekerasan. b. l. Ketidakefektifan koping individu. dan trauma. 3. k. Menggali kebutuhan akan rasa aman secara fisik. Gangguan interaksi sosial. dan terapi pendidikan. f. b. j. dan identitas personal. Intervensi krisis yang dilakukan adalah untuk membantu korban mengatasi trauma dari pengalaman tindak kekerasan. Ketakutan. harga diri. Diagnosa Keperawatan Beberapa diagnosis keperawatan yang berhubungan dengan korban tindaka kekerasan. e. Penatalaksanaan Termasuk dalam modalitas penatalaksanaan adalah intervensi krisis. Menyiapkan untuk tindakan lebih lanjut. Disfungsi seksual (bagi korban dewasa). Sindrom trauma tindak kekerasan.

jiwa). . yaitu memantau perkembangan koping dan keberhasilan intervensi yang dilakukan. Kegiatan ini merupakan pencegahan tersier atau program rehabilitasi. Terapi keluarga. kemampuan membuat keputusan. biasanya berupa psikoterapi. Perawata juga mengidentifikasi keluarga yang mengalami gangguan fungsi keluarga dan membantu mereka untuk mendapatkan penanganan. Upaya rehabilitiasi meliputi : a. keluarga. perawat akan dapat menentukan apakah korban memerlukan bentuk terapi lain atau perlu dirujuk pada tenaga profesional lainnya. Pendidikan yang diberikan akan meningkatkan harga diri dan menyiapkan korban. serta bertindak sebagai narasumber yang melakukan rujukan pada berbagai fasilitas dan bertindak sebagai perantara. Evaluasi Evaluasi yang harus dilakukan oleh perawat. Biasanya intervensi krisis diakhiri setelah 6 hingga 8 minggu pascatrauma. b. dan terapi pendidikan dapat jika kondisi korban dan keluarga membutuhkan bantuan modalitas penatalaksanaan tersebut. Pendidikan Pendidikan atau pelatihan diberikan kepada masyarakat umum maupun korban dan pelaku tindak kekerasan. Kelompok Swabantu Kelompok swabantu mendukung dan menyiapkan individu. terapi kelompok dan terapi keluarga secara berkesinambungan. c. terapi kelompok (terapi swabantu/ self-help group). Pelayanan rehabilitasi Peran perawat dalam pencegahan tersier termasuk memberikan terapi individu. dan masyarakat untuk mampu menolong dirinya sendiri. maka perlu dirujuk untuk mendapatkan bantuan profesional lebih lanjut. Melalui proses ini. baik korban maupun pelaku tindak kekerasan untuk menyesuaikan diri dalam kehidupan di measyarakat dan menghindarkan situasi krisis yang mungkin terjadi. Jika ternyata korban masih mengalami disorganisasi. dan sumber pendukung. 5.

tidak dekat. Kekerasan terhadap lansia juga bisa dilakukan oleh orang-orang yang sama sekali tidak kenal. Kekerasan fisik tentu berkaitan erat dengan fisik.lansia: rentan menjadi korban kekerasan Kekerasan dalam rumah tangga adalah kekerasan yang paling banyak terjadi. Kekerasan fisik terwujud dalam aneka bentuk perilaku yang dapat menciderai lansia. Kondisi kamarnya benar-benar menyedihkan. Bau pengap menyeruak dan membuat penafasan saya menjadi sesak. pernahkah kita mendengar istilah kekerasan terhadap lansia? Jenis kekerasan ini memang jarang dibicarakan. dan kadangkadang kekerasan seksual. Pengalaman pahit saya rasakan ketika berkunjung ke rumah tetangga. Riak ini menyembunyikan realitas bahwa perlakukan sejenis atau bahkan lebih parah darinya bisa dialami dan terjadi pada lansia. Tindakan kekerasan fisik yang sering terjadi misalnya penelantaran fisik dan kesehatan. Dia adalah mertua dari teman yang sedang saya kunjungi. Di rumah tersebut terdapat seorang nenek yang sedang menderita sakit stroke. emosional. atau bukan anggota keluarga si korban. Tidak jarang. Nah. Masing-masing dengan kadar kekerasannya sendiri. namun demikian kekerasan ini pun banyak terjadi di sekitar kita. Apa yang saya lihat ini merupakan riak di permukaan. Umumnya kekerasan terhadap lansia meliputi kekerasan fisik. dll]. Kekerasan dalam rumah tangga bisa terwujud dalam aneka bentuk. Pencideraan terhadap lansia bisa mengakibatkan kemunduran kesehatan atau pun kesejahteraan hidup lansia. Umurnya sekitar 75 tahun. lansia menjadi sasaran kekerasan fisik karena ketidakmampuan mereka untuk membela diri seiring makin lemahnya kondisi fisik dan ketergantungan mereka pada pihak lain. saudaranya. finansial. menantunya. pasangan hidupnya. Saya sempat menengok ke kamarnya. Tentu tidak selalu begitu. tubuh. Sangat tidak sehat untuk ukuran seorang yang sudah tua dan sedang menderita sakit. Uniknya. . peristiwa-peristiwa seperti ini biasa terjadi dan dilakukan oleh orang-orang dekat dan bisa dipercaya [misalnya anaknya.

Rasa saya. Mislnya sindiran-sindiran seputar orga atau hal-hal berbau seks. kekerasan terhadap lansia terjadi karena mereka ditempatkan sebagai obyek. Kekerasan ini berefek berat karena dapat menimbulkan luka batin yang mendalam. tapi juga bisa berupa pelecehan seksual verbal. Faktor terbesarnya adalah faktor budaya. pemalsuan surat atau tanda tangan untuk bisa mencairkan uang. Hal ini dilakukan untuk menjaga citra keluarga. Selain itu. entah dari dana pensiun atau dari tabungan selama masih muda. Urusan dalam rumah tidak perlu di bawa ke luar rumah. stigma ini akan menempatkan mereka sebagai obyek. Relasi subyek-subyek akan meminimalisir terjadinya kekerasan terhadap lansia. Urusan dalam rumah biarlah selesai di dalam rumah. Penghormatan akan jati dirinya sebagai manusia mendapat tempat. Tidak jarang. Kekerasan ini bisa bermula dari ketidaksadaran pelaku sehingga ia menuntut korban berlaku dan bertindak sama seperti ketika mereka masih kuat. Situasi ini akan menjadi semakin parah ketika ada pihak luar yang semakin memojokkannya. Ketika tuntutan itu tidak bisa dilakukan. kerabat. Budaya masyarakat cenderung menganggap tabu untuk mengekspos halhal yang bersifat domestik. KEKERASAN PADA WANITA LANJUT USIA Kekerasan terhadap wanita lanjut usia (lansia) ini adalah kekerasan yang terjadi pada wanita yang berusia 75 tahun atau lebih tua (8). korban akan semakin mengalami kekerasan berlipat sebagai efek dari dendam pelaku. Tindakan kekerasan seksuan tidak hanya berhenti pada tindakan pemerkosaan. membuat stigma. relasi subyek-obyek akan semakin menambah daftar kekerasan pada lansia. Mengapa? Tentu ada konteks yang menjadikannya demikian. anak. di Pusat Nasional Amerika Serikat kekerasan pada lansia diperkirakan terjadi antara 1 – 2 juta warga Amerika berusia 65 tahun atau lebih yang terjadi setiap . atau yang lain. Kekerasan seksual juga kadang terjadi pada lansia. Mungkin kita pernah mendengar ada seorang nenek yang diperkosa. Jika dilaporkan ke pihak luar. rahasia yang terjadi dapat tersimpan sampai beberapa generasi atau bahkan tidak terungkap selamanya. Lama-kelamaan. Sebaliknya. sampai tindakan membatasi keuangan untuk biaya pengobatan. Kondisi fisik dan emosional yang semakin menurun disertai dengan ketergantungan mereka akan pihak lain memudahkan munculnya stigma orang lemah yang perlu dibantu. Dengan menempatkan lansia sebagai subyek maka relasi menjadi sejajar. Kekerasan yang dialaminya dibiarkan begitu saja karena muncul kekuatiran. melecehkan.Kekerasan yang berefek berat adalah kekerasan emosional. muncullah sikap-sikap yang bertendensi mempermalukan. Pada saat itulah terjadi kekerasan finansial: tindakan meminta uang secara paksa. Akibatnya. Ketika seorang lansia merasa tidak muda lagi sehingga tidak bisa melakukan aktifitas seperti dahulu. Kondisi ini sering dimanfaatkan oleh orang lain: istri. seorang lansia memiliki kekayaan berlebih. Kondisi lansia yang secara fisik melemah sangat rentan dengan jenis kekerasan emosional ini. salah satu usaha untuk mengurangi kekerasan terhadap lansia adalah bagaimana menempatkan mereka sebagai subyek. ia sudah merasa tertekan dan depresi. dan tindakan lain yang sejenis. Maka. Tindakan kekerasan terhadap lansia dengan berbagai perwujudannya sering kali tidak muncul di permukaan. ada juga faktor dari pihak korban.

bukan ditempat yayasan seperti panti. Stress dari pengasuh adalah faktor resiko yang lainnya. isolasi sosial dan pengetahuan atau keterampilan pengasuh yang kurang (1). dan aktivitas ATM yang tidak seperti biasanya. nutrisi. mereka sering mengalami kekerasan atau penganiayaan fisik atau psikologis khususnya jika pasien memiliki kelainan jiwa atau saraf. kesakitan sehingga hanya diam ditempat tidur atau dehidrasi yang tidak jelas. Hal ini merupakan indikasi dari kekerasan emosi atau psikologis. Mata cekung. Kekerasan pada lansia ini bisa berbentuk fisik. 4. pelayanan medis. Sebagai tambahan. Kebanyakan kasus kekerasan pada lansia tidak dilaporkan kepada pemerintah. sebagai berikut (1) : 1. Keadaan kehidupannya sekarang tidak sama dengan gaya hidupnya. pengasuh juga bisa dianiaya. Hal ini merupakan indikasi adanya kelalaian. Penolakan pergi ke fasilitas kesehatan kembali untuk mengobati cedera yang berulang. khususnya jika tugasnya tidak ia kenali dan kuasai dengan baik. psikologis oleh orang lain yang disebabkan adanya kegagalan pemberian asuhan. . menunjukkan penurunan ketertarikan dalam hubungan sosial atau berperilaku ketakutan dan kecurigaan yang tidak wajar.rehabilitasi dan perlindungan yang dibutuhkan. Tetapi juga bisa berbentuk eksploitasi keuangan dan kelalaian yang disengaja maupun tidak disengaja oleh pengasuh terhadap lansia (1). 5. Faktor sosial inilah yang membuat kekerasan pada lansia dengan mudah terus berlanjut tanpa adanya deteksi dan intervensi. termasuk penolakan rekening di Bank. 2. Pelaku biasanya keluarga atau anggota rumah tangga atau pengasuh yang dibayar (1). pengasuh bisa merasa diperangkap dan sendirian ketika menjaga keperluan atau kebutuhan sehari-hari seseorang. penurunan berat badan. pakaian. jika mereka kurang latihan atau juga ditemui stress karena keuangan. 3. KEKERASAN PADA LANSIA PENGERTIAN Tindakan yang disengaja atau kelalaian terhadap lansia baik dalam bentuk malnutrisi. Kekerasan pada wanita lansia biasanya terjadi dirumah korban sendiri. pengawasan. riwayat dan bentuk kekerasan rumah tangga dalam keluarga inti. pemindahan sejumlah uang dari rekeningnya atau tanda-tanda lainnya dari kekerasan keuangan atau penggelapan uang. bekas cengkeraman atau cubitan atau cedera-cedera lainnya merupakan indikasi kekerasan fisik. Beberapa memar. seperti demensia (1). psikologis atau mental dan seksual. Tanda-tanda adanya kekerasan pada wanita lanjut usia.tahunnya. fisik/tenaga atau luka fisik. Yang termasuk dalam faktor ini adalah penurunan atau berkurangnya rasa hormat pada orang lanjut usia dan menurut adat kebiasaan mempercayai bahwa sesuatu yang terjadi dalam sebuah rumah bersifat privasi (1). Faktor resiko dari kekerasan ini termasuk perselisihan paham dalam keluarga yang dibuat oleh kehadiran seorang yang lebih tua. Kurang atau tidak komunikatif.

mental dan psikologi serta jenis penyiksaan lainnya yang tidak dibenarkan Neglect : suatu keadaan dimana lansia yang tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan sendiri tidak mendapatkan bantuan dari keluarga maupun caregiver AKIBAT         Penyesalan Bunuh diri Gangguan jiwa atau depresi Malnutrisi Maltreatment Terluka Kondisi patologis Dehidrasi TINDAKAN TINDAKAN Primer : pendekatan kepada komunitas/lingkungan pemberian support pada lansia. memperkuat .BENTUK        Fisik Psikologis Pengabaian fisik Pengabaian psikologis Eksploitasi harta Pelanggaran HAM Pengabaian diri sendiri PENYEBAB           Stress Lingkungan yang kurang kondusif Harapan yang besar Faktor finansial Kedekatan keluarga Cara pandang hidup dari pengasuh Riwayat personal dan mental Riwayat pemakaian obat – obatan atau alkohol Pengetahuan keluarga Gender/jenis kelamin ABUSE DAN NEGLECT Abuse : suatu tindakan kekerasan yang disengaja seperti kekerasan fisik.

pola sehat lingkungan.koping individu dan keluarga. luka bakar atau injury lainnya yang tidak jelas Catat jenis luka Identifikasi alternatif support sistem lansia Observasi keharmonisan hubungan antar anggota keluarga Catat adanya malnutrisi. menghargai dan perduli pada anggota keluarga memprioritaskan kepada keamanan. perawatan tidak adekuat Laporkan pada dokter atau yayasan sosial jika diperlukan Meningkatkan hubungan saling percaya dengan lansia Bicara dengan korban dan pelaku secara terpisah Amati kemampuan pelaku untuk bertindak Pindahkan klien ke tempat yang aman dan terkontrol Kaji lebih dalam tentang cara – cara lansia untuk bisa lebih mandiri Kaji adanya status mental pada lansia agar tidak ada kesalahan tuduhan Akui kemampuan positif dari caregiver Kaji tingkat stress caregiver Kaji penggunaan alkohol terhadap penanganan stress Dukung ekspresi perasaan khususnya marah dan permusuhan Gali tehnik penurunan tingkat stress Sarankan untuk mengatur situasi yang dapat meningkatkan stress . bokong atau lengan atas. melihat tanda – tanda resiko tinggi Sekunder : diskusi. komunikasi yang efektif dengan keluarga Tersier : tidak mentoleransi kekerasan. tulus secara utuh dan pendayagunaan PENGKAJIAN         Memperlihatkan rasa takut yang berlebihan terhadap caregiver Malnutrisi Ada tanda memar di rahang. ada bekas luka bakar atau luka tekan Lansia tampak seperti tidak terawat Ditemukan bekas luka memar dengan tingkat kesembuhan yang berbeda Kurang perhatian pada kesehatan/pengobatan Lansia mengatakan tidak diperhatikan Selalu keluar masuk rumah sakit dengan keluhan yang tidak jelas INTERVENSI                    Bina hubungan saling percaya Observasi adanya tanda – tanda memar.

. Mary C. (http//:www.yahoo. C. Dana Bhakti Prima Jaya : Yogyakarta.1998.H. Hawarie. Margaret. D. 3. Psi. Seri Tafsir Al-Qur’an Bil Ilmi 04.yahoo. Canadian Medical Association or Its Licensors. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Pada Keperawatan Psikiatri Pedoman Untuk Pembuatan Rencana Perawatan Edisi 3. Al-Quar’an : Ilmu Kedokteran Jiwa Dan Kesehatan Jiwa Edisi III (Revisi). Abuse. 2004. Violence Againts Women : Integrating The Evidence Into Clinical Practice. Nosek. Dadang H. (online). APA.Hal : 732 – 736 5. MacMillan. 1998. Carol A.healthcentersonline. PT. Tahir M. dr.com/access on December 12th 2006).com/access on December 12th 2006) 2. Hal : 386 – 394. 4. Abuse and Women with Disabilities. Wathen. Harriet L. Dr. AAAP.com/access on September 16th 2006). JAMC.DAFTAR PUSTAKA 1. EGC : Jakarta.P. Ph. A. (online).D and Howland. . Townsend. (http//:www. National Electronic Network on Violence Againts Women. M. Vawnet applied Research Forum.Nadine. (http//:www. (online). Tellioglu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful