Pengertian Penganiayaan

Secara umum tindak pidana terhadap tubuh pada KUHP disebut Penganiayaan. Dari segi tata bahasa, penganiayaan adalah suatu kata jadian atau kata sifat yang berasal dari kata dasar ""aniaya" yang mendapat awalan "pe" dan akhiran "an" sedangkan penganiaya itu sendiri berasal dari kata benda yang berasal dari kata aniaya yang menunjukkan subyek atau pelaku penganiayaan itu.

Dalam Kamus Bahasa Indonesia (W.J.S Poerwadarminta 1994:48) mengatakan bahwa penganiayaan adalah perlakuan sewenang-wenang(penyiksaa, penindasan, dan sbagainya). Sedangkan KUHP sendiri tidak memberikan penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan istilah penganiayaan (mishandelling) selain hanya menyebut penganiayaan saja, namun pengertian penganiayaan dapat ditemukan dalam beberapa yurisprudensi, yaitu :

1. Arrest Hoge Raad tanggal 10 desember 1902 merumuskan bahwa penganiayaan adalah dengan sengaja melukai tubuh manusia atau menyebabkan perasaan sakit sebagai tujuan, bukan sebagai cara untuk mencapai suatu maksud yang diperbolehkan, seperti memukul anak dalam batas-batas yang dianggap perlu yang dilakukan oleh orang tua anak itu sendiri atau gurunya. 2. Arrest Hoge Raad tanggal 20 April 1925 menyatakan bahwa penganiayaan adalah dengan sengaja melukai tubuh manusia. Tidak dianggap penganiayaan jika maksudnya hendak mencapai justru tujuan lain dan dalam menggunakan akal ia tak sadar bahwa ia telah melewati batas-batas yang tidak wajar. 3. Arrest Hoge Raad tanggal Februari 1929 menyatakan bahwa penganiayaan bukan saja menyebabkan perasaan sakit, tetapi juga menimbulkan penderitaan lain pada tubuh. Jadi beberapa pengertian dan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa untuk menyebut seseorang itu telah melakukan penganiayaan terhadap orang lain, maka orang tersebut harus mempunyai kesengajaan (Opzetelijk) untuk:

1. Menimbulkan rasa sakit pada orang lain 2. Menimbulkan luka pada tubuh orang lain 3. Merugikan kesehatan orang lain Dengan kata lain untuk menyebut seseorang telah melakukan penganiayaan, maka orang itu harus mempunyai kesengajaan dalam melakukan suatu perbuatan untuk membuat rasa sakit pada orang lain atau luka pada tubuh orang lain ataupun orang itu dalam perbuatannya merugikan kesehatan orang lain. Jadi unsure delik penganiayaan adalah kesengajaan yang menimbulkan rasa sakit atau luka pada tubuh orang lain dan melawan hukum.

Reaksi negatif dari orang yang dekat dengan korban. paman. ternyata wanita yang tidak menikah. Termasuk hak anak untuk berperilaku sebagai anak. membatasi kebebasan. orang tua tiri. dan penelantara medik. 1996). dan tempat tinggal. Cedera fisik yang mungkin dialami korban meliputi cedera pada kulit atau jaringan lunak.1. b. Penganiayaan Seksual Ada dua kategori penganiayaan seksual. PENGANIAYAAN Jenis penganiayaan terdiri atas penganiayaan terhadap wanita. fraktur. sepupu). Penelantaran fisik meliputi gagal memberi makan. 2. penelantaran fisik. cenderung akan bertindak kejam pada usia dewasa. bibi. merasa aman dan dilindungi dari bahaya. Penganiayaan pada anak umumnya meliputi penganiayaan fisik. penelantaran. seksual. merusak properti. pakaian. d. jatuh dan terbakar. atau orang tua angkat (Rappley & Speare. Penganiayaan Terhadap Anak Semua tindak penganiayaan pada anak merupakan tindakan yang merenggut semua hak yang seharusnya dimiliki oleh anak-anak. rambut rontok karena dijambak. yakni inses (incest) dan penganiayaan seksual yang dilakukan bukan oleh anggota keluarga. tenaga kesehatan. kebiruan karena dicambuk. 1993). c. tusuk pisau. penganiayaan terhadap anak-anak. gigi rontok. dan penganiayaan emosional. tetapi juga emosional. yakni gagal melindungi anak. dan penganiayaan terhadap orang tua (Boyd & Nihart. saudara kandung). melempar. Penganiayaan Terhadap Wanita Berdasarkan hasil penelitian. Penganiayaan Emosional . menyundut dengan rokok. atau mengisolasi dari keluarga dan teman. a. A. perdarahan pada retina dan perdarahan di conjungtiva (Fontaine. dan berbagai bentuk kekerasan lainnya yang dapat menimbulkan cedera. Gagal melindungi anak seperti terminum racun. mengancam. Penelantaran Anak Ada beberapa jenis penelantaran anak. Penganiayaan Fisik Penganiayaan fisik dapat berupa tindakan memukul menendang. Penelantaran medik mencakup gagal memberi kebutuhan pelayanan kesehatan pada anak. Penganiayaan pada wanita tidak hanya bersifat fisik atau seksual. Inses merupakan semua bentuk kegiatan seksual antara anak di bawah usia 18 tahun dengan anggota keluarga dekat (orang tua kandung. luka tembak. kesetrum listrik. Penganiayaan seksual di luar keluarga adalah bentuk kontak seksual antara bukan anggota keluarga dengan anak di bawah usia 18 tahun. Anak-anak yang pernah mengalami penganiayaan atau menyaksikan penganiayaan terhadap ibunya. wanita yang bercerai atau berpisah dari suaminya cenderung lebih beresiko mengalami penganiayaan daripada wanita yang menikah (Sassetti. diberi makan dan pakaian serta diasuh dengan kasih sayang sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang. Penganiayaan seksual akan menimbulkan trauma. atau orang lain dapat memperparah trauma. 1998). 1993). luka bakar. anggota keluarga besar (kakek/ nenek.

1. Penganiayaan Terhadap Lansia Pengniayaan terhadap lansia mengakibatkan cedera fisik atau penelantaran emosional meliputi menentang keinginan lansia. reputasi dan kehormatan. Meneror dengan menciptakan lingkungan yang menakutkan bagi anak. perilaku dan respon interpersonal (Boyd & Nihart. kepedulian terhadap kredibilitas. Respon korban tindak kekerasan dapat ditinjau dari respon fisik. Mengorupsi dengan melibatkan anak pada perilakudestruktif dan antisosial serta mendukung perilaku menyimpang. Respon Biologis Depresi merupakan salah satu respon yang paling sering terjadi akibat penganayaan. meneror. dan mengorupsi anak. takut mati. Rasa percaya pada orang dewasa akan terguncang selama masa bayi (0-3 tahun).3. preokupasi dengan tindakan yang salah dan benar pada masa kanak-kanak (4-7 tahun). Mengisolasi dengan memutus lingkungan anak dengan lingkungan sosial. atau membuat keputusan yang kejam. anak-anak korban . 4. B. kerancuan terhadap perilaku tindak kekerasan dan akibatnya sebagai remaja (pubertas sampai 18 tahun). malu dan marah. 3. Respon Perilaku Wanita yang pernah mengalami penganiayaan. menjelaskan reaksi korban tindak kekerasan sesuai dengan tingkat perkembangan mulai dari masa bayi sampai usia dewasa tua. Cedera berat berupa trauma gandu. Foley cit Shives (1994). Cedera ringan berupa abrasi atau lecet. mengabaikan. Respon tubuh terhadap stress bersifat kompleks. Penganiayaan terhadap lansia umumnya dilakukan oleh anak-anak mereka. rasa bersalah. mengintimidasi. Lima kategori penelantaran emosional terhadap anak adalah menolak. dan cedera pada bagian dalam tubuh. RESPON KORBAN TINDAK KEKERASAN Respon korban tindak kekerasan sangat bergantung pada tingkat perkembangan korban pada saat terjadi tindak kekerasan tersebut. dirasakan oleh orang yang sudah tua (45 tahun dan lebih tua). Mengabaikan kebutuhan psikologis anak sehingga anak merasa kelaparan secara emosional. persepsi yang salah terhadap tindak kekerasan selama masa laten (7 tahun hingga remaja). fraktur yang parah. sering kali menjadi peminum alkohol atau menyalahgunakan zat lainnya. sistem reaksi yang terintegrasi mempengaruhi tubuh dan jiwa. Respon Interpersonal Sebagai akibat dari penganiayaan yang sering dilakukan oleh keluarga dekat bahkan orang tua yang seharusnya menyayangi dan melindungi mereka. gaya hidup dan nilai moral terjadi pada masa dewasa muda (18-24 tahun). Respon Psikologis Respon psikologis terdiri atas harga diri rendah. Respon Fisik Korban tindak kekerasan menderita sejumlah konsekuensi fisik dari yang ringan hingga berat. 1998). serta kepedulian terhadap keselamatan diri. psikologis. biologis. Menolak untuk mengakui betapa bernilainya seorang anak. 2. 5. kepedulian bagaiman tindak kekerasan dapat mempengaruhi kehidupan keluarga dan gaya hidup selama masa dewasa (25-45 tahun). terutama penganiayaan seksual pada masa kanak-kanak. mengisolasi.

PROSES ADAPTASI Proses adapatasi untuk mengembalikan keseimbangan dengan membebaskan diri dari perasaaan takut dan perasaan tidak berdaya disebut dengan sindrom trauma tindak kekerasan. kognitif. afektif.penganiayaan akan tumbuh sebagai orang dewasa yang sulit menjalin hubungan rasa percaya dan intim. seperti merasakan otot yang tegang. b. terhina dan menyalahkan diri sendiri. dan rektal termasuk rasa nyeri dan bengkak pada vagina atau rektal. Korban dapat ditemui pada berbagai tatanan pelayanan kesehatan. Stuart & Sundeen (1995) dan Johnson (1996) menyatakan bahwa korban tindak kekerasan mengalami masalah psikologis yang berkepanjangan. mata bengkak. C. takut mati. Pada tahap ini. ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA WANITA DAN LANSIA Pengkajian Pengkajian dimulai pada awal kontak perawat dengan korban. Perhatikan kondisi otot dan tulang. merasa bersalah. a. Pada tahap akut ini. wanita yang mengalami tindak kekerasan biasanya merasa cemas. syok. Puskesmas. trauma genital. Adaptasi Tahap Jangka Panjang atau Reorganisasi Reorganisasi adalah proses penyesuaian atau adaptasi selama beberapa bulan setelah terjadi tindak kekerasan. bahkan terjadi luka terbuka pada dinding vagina atau rektal akibat pemaksaan. takut membahayakan tubuh. atau merasa takut mati. . 1. merasa terhina. dan reaksi emosional terhadap situasi yang mengancam kehidupan korban. Pemulihan keseimbangan fisik. Klinik. atau fasilitas kesehatan lain. Pengkajian dilakukan secara lengkap dan menyeluruh meliputi pengkajian aspek fisik. c. sosial. tidak percaya. biru dan perdarahan. fraktur (patah tulang) wajah. periksa apakah ada tanda-tanda trauma. mengingkari. 2. perilaku/ psikologis. Merasa sakit pada bagian tertentu yang terkena serangan atau bersifat umum. Sindrom trauma tindak kekerasan terdiri atas 2 tahap. yang penting dialami adalah : Mendapatkan kembali rasa aman Mengatasi perasaan takut Mengakhiri perasaan kehilangan. spiritual dan seksual terjadi berbulan atau bertahun kemudian. seperti di rumah dan lingkungan masyarakat. d. terkilir pada persendian 1. Pada bagian kepala. marah. Reaksi emosional berupa perasaan takut. bahkan merasa ingin balas dendam. Rumah Sakit. E. psikologis. a. seperti Unit Gawat Darurat. Periksa permukaan kulit apakah ada bekas biru. bekas biru pada wajah. kemungkinan terjadi patah tulang iga. Adaptasi Tahap Akut atau Disorganisasi Tahap disorganisasi meliputi reaksi pertama yang diekpresikan atau reaksi yang ditahan/ dikendalikan. disertai perasaan lain seperti marah. Aspek fisik Pengkajian fisik dilakukan secara lengkap dari ujung kaki hingga kepala. lengan dan tungkai. Reaksi fisik bergantung pada cedera tubuh yang dialami. serta tatanan lain. reaksi fisik. seperti kehilangan harga diri dan rasa percaya Menyatukan kejadian di dalam diri secara menyeluruh. dan sosial budaya spiritual. yaitu tahap akut atau disorganisasi dan tahap jangka panjang atau reorganisasi.

karena rasa taakut yang luar biasa. Selain trauma fisik secara langsung. malu. Aspek psikologis/ afektif Pertanyaan yang perlu dijawab dalam pengkajian aspek psikologis/ afektif adalah : Apa respon emosi yang dialami korban? Uraikan data objektif dan subjektif tentang respon berikut ini: rasa tidak percaya terhadap kejadian. Apakah korban mampu menguraikan apa yang telah terjadi? Apakah korban mampu membuat keputusan? Siapa yang telah diberitahu korban tentang kejadian tindak kekerasan yang dialaminya? Keluraga. marah. Aspek perilaku Pertanyaan yang perlu dijawab ketika mengkaji aspek perilaku korban adalah : Apakah korban mampu menjawab pertanyaan secara verbal? Apakah korban mampu mengikuti petunjuk yang sederhana? Apakah korban telah melakukan tindakan penanggulangan sendiri sebelum datang ke pelayanan kesehatan? Ada juga korban yang tidak mampu menjawab pertanyaan atau petunjuk sederhana apapun. 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) e. rasa bersalah. terhina. dan mengisolasi diri dari orang lain. tidak berdaya. takut. bahkan korban mungkin mengalami masalah fisik lain. merasa sangat lelah. sakit kepala dan nyeri. Pada bagian abdomen. 1) 2) 3) c. depresi. teman. Ada juga korban yang menggunakan pengingkaran (denial) untuk menahan pengalaman traumatik. kehilangan nafsu makan (anoreksia). atau mobilitas korban terganggu. dan termasuk merasa tidak . takut. lihat kemungkinan adanya bekas biru atau luka serta tanda-tanda cedera bagian dalam tubuh. baik yang langsung dialami setelah kejadian maupun berkepanjangan selama kehidupannya. banyak korban yang mengalami kecemasan dan depresi. putus asa. cemas. Korban tindak kekerasan menderita trauma emosional. Keluarga juga bisa merasa bersalah. 1) 2) d. Aspek kognitif Pertanyaan yang perlu dijawab dalam pengkajian aspek kognitif adalah : Bagaimana mekanisme pertahanan yang digunakan? Apakah korban tampak bingung? Apakah korban sudah diberi tahu tentang haknya? Uraikan kemampuan konsentrasi korban. dampak fisik jangka panjang juga mungkin terjadi. marah. benci. Setelah masa syok dan tidak percaya. seperti gangguan pola tidur (insomnia). polisi? Apakah korban memerlukan bantuan pendamping untuk mengatakan kejadian tindak kekerasan pada orang lain? Apakah korban menyalahkan dirinya sendiri? Apakah korban mengalami kilas balik serangan tindak kekerasan? Selama tindak kekerasan yang sebenarnya terjadi. Aspek sosial budaya dan spiritual Keluarga pada umumnya mengalami perasaan dan pemikiran yang sama seperti korban.b. beberapa korban menggunakan mekanisme pertahanan depersonalisasi atau disosiasi untuk melindungi integritas dirinya.

4. termasuk dukungan yang dapat diberikan keluarga atau teman kepada korban. Diagnosa Keperawatan Beberapa diagnosis keperawatan yang berhubungan dengan korban tindaka kekerasan. Kebutuhan emosional: Ansietas. Defisit pengetahuan tentang respon fisik dan emosional serta kebutuhan pelayanan kesehatan. l. Perubahan status nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh. dan identitas personal. penampilan peran. Distress spiritual. Perubahan dalam pertumbuhan dan perkembangan. 2) a. Menyiapkan untuk tindakan lebih lanjut. b. dan terapi pendidikan. Menyarankan ventilasi tentang tindak kekerasan. Gangguan konsep diri: citra tubuh. Disfungsi seksual (bagi korban dewasa). b. g. h. f. Menggali kebutuhan akan rasa aman secara fisik. terapi kelompok. dan trauma. Perubahan rasa nyaman: nyeri. Menyusun rencana tindak lanjut. Ketidakefektifan koping keluarga. c. Perubahan dalam proses keluarga. meningkatkan harga diri dan rasa percaya. m. j. Perlu dikaji pola koping (mekanisme peratahanan . Ketidakefektifan koping individu. e. k. c. d. 3. f. Perencanaan Intervensi keperawatan meliputi hal-hal sebagai berikut: Membina hubungan dan rasa percaya. d. Sindrom trauma tindak kekerasan. a. harga diri. c. b. Potensial terjadi kecacatan. Gangguan pla tidur dan istirahat. Mengenal perasaan dan sikap perawat sendiri. Ketakutan.2. g. Penatalaksanaan Termasuk dalam modalitas penatalaksanaan adalah intervensi krisis. perasaan tidak berdaya. Keluarga perlu diberikan penyuluhan tentang trauma yang dialami korban tindak kekerasan. Intervensi krisis yang dilakukan adalah untuk membantu korban mengatasi trauma dari pengalaman tindak kekerasan. mengurangi rasa takut. berdaya. Memberi bimbingan antisipatif kepada keluarga. f. Gangguan interaksi sosial. e. cedera. Merasa tidak berdaya. serta terisolasi. i. h. 1) a. e. d. Hambatan komunikasi verbal. antara lain : Kebutuhan fisik : Potensial terjadi infeksi. Memfasilitasi proses tahapan sindrom trauma tindak kekerasan. Intervensi krisis dilakukan sedini mungkin untuk meningkatkan keamanan fisik. terapi keluarga.

Perawata juga mengidentifikasi keluarga yang mengalami gangguan fungsi keluarga dan membantu mereka untuk mendapatkan penanganan. Biasanya intervensi krisis diakhiri setelah 6 hingga 8 minggu pascatrauma. Evaluasi Evaluasi yang harus dilakukan oleh perawat. c. Jika ternyata korban masih mengalami disorganisasi. Melalui proses ini. Terapi keluarga. b. Kelompok Swabantu Kelompok swabantu mendukung dan menyiapkan individu. Upaya rehabilitiasi meliputi : a. baik korban maupun pelaku tindak kekerasan untuk menyesuaikan diri dalam kehidupan di measyarakat dan menghindarkan situasi krisis yang mungkin terjadi. maka perlu dirujuk untuk mendapatkan bantuan profesional lebih lanjut. biasanya berupa psikoterapi. Pendidikan Pendidikan atau pelatihan diberikan kepada masyarakat umum maupun korban dan pelaku tindak kekerasan. keluarga. terapi kelompok dan terapi keluarga secara berkesinambungan. kemampuan membuat keputusan. Pendidikan yang diberikan akan meningkatkan harga diri dan menyiapkan korban. 5. yaitu memantau perkembangan koping dan keberhasilan intervensi yang dilakukan.jiwa). dan terapi pendidikan dapat jika kondisi korban dan keluarga membutuhkan bantuan modalitas penatalaksanaan tersebut. dan masyarakat untuk mampu menolong dirinya sendiri. . perawat akan dapat menentukan apakah korban memerlukan bentuk terapi lain atau perlu dirujuk pada tenaga profesional lainnya. Kegiatan ini merupakan pencegahan tersier atau program rehabilitasi. terapi kelompok (terapi swabantu/ self-help group). dan sumber pendukung. Pelayanan rehabilitasi Peran perawat dalam pencegahan tersier termasuk memberikan terapi individu. serta bertindak sebagai narasumber yang melakukan rujukan pada berbagai fasilitas dan bertindak sebagai perantara.

Pencideraan terhadap lansia bisa mengakibatkan kemunduran kesehatan atau pun kesejahteraan hidup lansia. Uniknya. Umurnya sekitar 75 tahun. Sangat tidak sehat untuk ukuran seorang yang sudah tua dan sedang menderita sakit. menantunya. Nah. Di rumah tersebut terdapat seorang nenek yang sedang menderita sakit stroke. atau bukan anggota keluarga si korban. lansia menjadi sasaran kekerasan fisik karena ketidakmampuan mereka untuk membela diri seiring makin lemahnya kondisi fisik dan ketergantungan mereka pada pihak lain. Riak ini menyembunyikan realitas bahwa perlakukan sejenis atau bahkan lebih parah darinya bisa dialami dan terjadi pada lansia. Kondisi kamarnya benar-benar menyedihkan. Umumnya kekerasan terhadap lansia meliputi kekerasan fisik. Kekerasan fisik terwujud dalam aneka bentuk perilaku yang dapat menciderai lansia. Bau pengap menyeruak dan membuat penafasan saya menjadi sesak. pernahkah kita mendengar istilah kekerasan terhadap lansia? Jenis kekerasan ini memang jarang dibicarakan. Kekerasan dalam rumah tangga bisa terwujud dalam aneka bentuk. Saya sempat menengok ke kamarnya. finansial. . dan kadangkadang kekerasan seksual. Tidak jarang. emosional.lansia: rentan menjadi korban kekerasan Kekerasan dalam rumah tangga adalah kekerasan yang paling banyak terjadi. peristiwa-peristiwa seperti ini biasa terjadi dan dilakukan oleh orang-orang dekat dan bisa dipercaya [misalnya anaknya. tidak dekat. pasangan hidupnya. Apa yang saya lihat ini merupakan riak di permukaan. Dia adalah mertua dari teman yang sedang saya kunjungi. Kekerasan fisik tentu berkaitan erat dengan fisik. Pengalaman pahit saya rasakan ketika berkunjung ke rumah tetangga. Masing-masing dengan kadar kekerasannya sendiri. dll]. namun demikian kekerasan ini pun banyak terjadi di sekitar kita. Tindakan kekerasan fisik yang sering terjadi misalnya penelantaran fisik dan kesehatan. saudaranya. tubuh. Kekerasan terhadap lansia juga bisa dilakukan oleh orang-orang yang sama sekali tidak kenal. Tentu tidak selalu begitu.

Tidak jarang. korban akan semakin mengalami kekerasan berlipat sebagai efek dari dendam pelaku. entah dari dana pensiun atau dari tabungan selama masih muda.Kekerasan yang berefek berat adalah kekerasan emosional. Urusan dalam rumah tidak perlu di bawa ke luar rumah. stigma ini akan menempatkan mereka sebagai obyek. Ketika seorang lansia merasa tidak muda lagi sehingga tidak bisa melakukan aktifitas seperti dahulu. Situasi ini akan menjadi semakin parah ketika ada pihak luar yang semakin memojokkannya. Faktor terbesarnya adalah faktor budaya. ia sudah merasa tertekan dan depresi. Lama-kelamaan. relasi subyek-obyek akan semakin menambah daftar kekerasan pada lansia. Budaya masyarakat cenderung menganggap tabu untuk mengekspos halhal yang bersifat domestik. Tindakan kekerasan terhadap lansia dengan berbagai perwujudannya sering kali tidak muncul di permukaan. Kondisi lansia yang secara fisik melemah sangat rentan dengan jenis kekerasan emosional ini. kerabat. rahasia yang terjadi dapat tersimpan sampai beberapa generasi atau bahkan tidak terungkap selamanya. Akibatnya. Mungkin kita pernah mendengar ada seorang nenek yang diperkosa. pemalsuan surat atau tanda tangan untuk bisa mencairkan uang. Hal ini dilakukan untuk menjaga citra keluarga. Kekerasan ini berefek berat karena dapat menimbulkan luka batin yang mendalam. Kondisi fisik dan emosional yang semakin menurun disertai dengan ketergantungan mereka akan pihak lain memudahkan munculnya stigma orang lemah yang perlu dibantu. Kekerasan seksual juga kadang terjadi pada lansia. KEKERASAN PADA WANITA LANJUT USIA Kekerasan terhadap wanita lanjut usia (lansia) ini adalah kekerasan yang terjadi pada wanita yang berusia 75 tahun atau lebih tua (8). kekerasan terhadap lansia terjadi karena mereka ditempatkan sebagai obyek. muncullah sikap-sikap yang bertendensi mempermalukan. tapi juga bisa berupa pelecehan seksual verbal. Ketika tuntutan itu tidak bisa dilakukan. atau yang lain. salah satu usaha untuk mengurangi kekerasan terhadap lansia adalah bagaimana menempatkan mereka sebagai subyek. Penghormatan akan jati dirinya sebagai manusia mendapat tempat. Sebaliknya. Tindakan kekerasan seksuan tidak hanya berhenti pada tindakan pemerkosaan. Relasi subyek-subyek akan meminimalisir terjadinya kekerasan terhadap lansia. melecehkan. di Pusat Nasional Amerika Serikat kekerasan pada lansia diperkirakan terjadi antara 1 – 2 juta warga Amerika berusia 65 tahun atau lebih yang terjadi setiap . Kekerasan ini bisa bermula dari ketidaksadaran pelaku sehingga ia menuntut korban berlaku dan bertindak sama seperti ketika mereka masih kuat. Mengapa? Tentu ada konteks yang menjadikannya demikian. Dengan menempatkan lansia sebagai subyek maka relasi menjadi sejajar. Maka. Selain itu. Kekerasan yang dialaminya dibiarkan begitu saja karena muncul kekuatiran. sampai tindakan membatasi keuangan untuk biaya pengobatan. Mislnya sindiran-sindiran seputar orga atau hal-hal berbau seks. Rasa saya. Urusan dalam rumah biarlah selesai di dalam rumah. membuat stigma. dan tindakan lain yang sejenis. seorang lansia memiliki kekayaan berlebih. anak. ada juga faktor dari pihak korban. Pada saat itulah terjadi kekerasan finansial: tindakan meminta uang secara paksa. Jika dilaporkan ke pihak luar. Kondisi ini sering dimanfaatkan oleh orang lain: istri.

nutrisi. 5. pengawasan. termasuk penolakan rekening di Bank. kesakitan sehingga hanya diam ditempat tidur atau dehidrasi yang tidak jelas. Tanda-tanda adanya kekerasan pada wanita lanjut usia. Faktor resiko dari kekerasan ini termasuk perselisihan paham dalam keluarga yang dibuat oleh kehadiran seorang yang lebih tua. . Keadaan kehidupannya sekarang tidak sama dengan gaya hidupnya. Kekerasan pada lansia ini bisa berbentuk fisik. jika mereka kurang latihan atau juga ditemui stress karena keuangan. seperti demensia (1). Sebagai tambahan. Stress dari pengasuh adalah faktor resiko yang lainnya.rehabilitasi dan perlindungan yang dibutuhkan. Faktor sosial inilah yang membuat kekerasan pada lansia dengan mudah terus berlanjut tanpa adanya deteksi dan intervensi. menunjukkan penurunan ketertarikan dalam hubungan sosial atau berperilaku ketakutan dan kecurigaan yang tidak wajar. pengasuh bisa merasa diperangkap dan sendirian ketika menjaga keperluan atau kebutuhan sehari-hari seseorang. penurunan berat badan. pemindahan sejumlah uang dari rekeningnya atau tanda-tanda lainnya dari kekerasan keuangan atau penggelapan uang. Hal ini merupakan indikasi adanya kelalaian. KEKERASAN PADA LANSIA PENGERTIAN Tindakan yang disengaja atau kelalaian terhadap lansia baik dalam bentuk malnutrisi. Pelaku biasanya keluarga atau anggota rumah tangga atau pengasuh yang dibayar (1). pelayanan medis. Kekerasan pada wanita lansia biasanya terjadi dirumah korban sendiri. pakaian. Kurang atau tidak komunikatif.tahunnya. 4. riwayat dan bentuk kekerasan rumah tangga dalam keluarga inti. psikologis oleh orang lain yang disebabkan adanya kegagalan pemberian asuhan. bukan ditempat yayasan seperti panti. Kebanyakan kasus kekerasan pada lansia tidak dilaporkan kepada pemerintah. 3. isolasi sosial dan pengetahuan atau keterampilan pengasuh yang kurang (1). sebagai berikut (1) : 1. pengasuh juga bisa dianiaya. fisik/tenaga atau luka fisik. khususnya jika tugasnya tidak ia kenali dan kuasai dengan baik. Mata cekung. Yang termasuk dalam faktor ini adalah penurunan atau berkurangnya rasa hormat pada orang lanjut usia dan menurut adat kebiasaan mempercayai bahwa sesuatu yang terjadi dalam sebuah rumah bersifat privasi (1). 2. Tetapi juga bisa berbentuk eksploitasi keuangan dan kelalaian yang disengaja maupun tidak disengaja oleh pengasuh terhadap lansia (1). psikologis atau mental dan seksual. dan aktivitas ATM yang tidak seperti biasanya. Penolakan pergi ke fasilitas kesehatan kembali untuk mengobati cedera yang berulang. bekas cengkeraman atau cubitan atau cedera-cedera lainnya merupakan indikasi kekerasan fisik. Hal ini merupakan indikasi dari kekerasan emosi atau psikologis. mereka sering mengalami kekerasan atau penganiayaan fisik atau psikologis khususnya jika pasien memiliki kelainan jiwa atau saraf. Beberapa memar.

memperkuat .BENTUK        Fisik Psikologis Pengabaian fisik Pengabaian psikologis Eksploitasi harta Pelanggaran HAM Pengabaian diri sendiri PENYEBAB           Stress Lingkungan yang kurang kondusif Harapan yang besar Faktor finansial Kedekatan keluarga Cara pandang hidup dari pengasuh Riwayat personal dan mental Riwayat pemakaian obat – obatan atau alkohol Pengetahuan keluarga Gender/jenis kelamin ABUSE DAN NEGLECT Abuse : suatu tindakan kekerasan yang disengaja seperti kekerasan fisik. mental dan psikologi serta jenis penyiksaan lainnya yang tidak dibenarkan Neglect : suatu keadaan dimana lansia yang tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan sendiri tidak mendapatkan bantuan dari keluarga maupun caregiver AKIBAT         Penyesalan Bunuh diri Gangguan jiwa atau depresi Malnutrisi Maltreatment Terluka Kondisi patologis Dehidrasi TINDAKAN TINDAKAN Primer : pendekatan kepada komunitas/lingkungan pemberian support pada lansia.

ada bekas luka bakar atau luka tekan Lansia tampak seperti tidak terawat Ditemukan bekas luka memar dengan tingkat kesembuhan yang berbeda Kurang perhatian pada kesehatan/pengobatan Lansia mengatakan tidak diperhatikan Selalu keluar masuk rumah sakit dengan keluhan yang tidak jelas INTERVENSI                    Bina hubungan saling percaya Observasi adanya tanda – tanda memar. perawatan tidak adekuat Laporkan pada dokter atau yayasan sosial jika diperlukan Meningkatkan hubungan saling percaya dengan lansia Bicara dengan korban dan pelaku secara terpisah Amati kemampuan pelaku untuk bertindak Pindahkan klien ke tempat yang aman dan terkontrol Kaji lebih dalam tentang cara – cara lansia untuk bisa lebih mandiri Kaji adanya status mental pada lansia agar tidak ada kesalahan tuduhan Akui kemampuan positif dari caregiver Kaji tingkat stress caregiver Kaji penggunaan alkohol terhadap penanganan stress Dukung ekspresi perasaan khususnya marah dan permusuhan Gali tehnik penurunan tingkat stress Sarankan untuk mengatur situasi yang dapat meningkatkan stress .koping individu dan keluarga. komunikasi yang efektif dengan keluarga Tersier : tidak mentoleransi kekerasan. bokong atau lengan atas. tulus secara utuh dan pendayagunaan PENGKAJIAN         Memperlihatkan rasa takut yang berlebihan terhadap caregiver Malnutrisi Ada tanda memar di rahang. luka bakar atau injury lainnya yang tidak jelas Catat jenis luka Identifikasi alternatif support sistem lansia Observasi keharmonisan hubungan antar anggota keluarga Catat adanya malnutrisi. melihat tanda – tanda resiko tinggi Sekunder : diskusi. menghargai dan perduli pada anggota keluarga memprioritaskan kepada keamanan. pola sehat lingkungan.

2004. Hal : 386 – 394. 4. National Electronic Network on Violence Againts Women.yahoo. Psi. EGC : Jakarta. Abuse.H. PT. Abuse and Women with Disabilities.yahoo. D. JAMC. Harriet L. Nosek. Vawnet applied Research Forum.com/access on September 16th 2006). Margaret.. AAAP.healthcentersonline. 3.com/access on December 12th 2006) 2. 1998. (http//:www. (http//:www. (online).D and Howland. Tellioglu. APA. A. (http//:www.com/access on December 12th 2006). C. Dadang H. Seri Tafsir Al-Qur’an Bil Ilmi 04.1998. Al-Quar’an : Ilmu Kedokteran Jiwa Dan Kesehatan Jiwa Edisi III (Revisi). Wathen. (online). Ph. Tahir M. Dr. . Dana Bhakti Prima Jaya : Yogyakarta.Hal : 732 – 736 5. dr. Violence Againts Women : Integrating The Evidence Into Clinical Practice. Mary C.P.Nadine. MacMillan. Townsend. M. (online). Carol A. Hawarie. Canadian Medical Association or Its Licensors.DAFTAR PUSTAKA 1. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Pada Keperawatan Psikiatri Pedoman Untuk Pembuatan Rencana Perawatan Edisi 3.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful