P. 1
khawarij

khawarij

|Views: 109|Likes:
Published by bocahwanguk

More info:

Published by: bocahwanguk on Apr 05, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/30/2013

pdf

text

original

Setiap orang yang ingin mengetahui seluk beluk agamanya secara mendalam, perlu mempelajari teologi yang terdapat

dalam agamanya. Mempelajari teologi akan memberikan kepada seseorang keyakinan yang didasarkan pada landasan yang kuat, yang tidak mudah diombang-ambingkan oleh perubahan zaman. Teologi dalam islam dikenal dengan nama “ilmu Aqaid” atau “Ilmu Tauhid”. Dinamakan demikian karena dalam islam keyakinan tentang ke-Maha Esaan Tuhan adalah termasuk ajarang yang sangat penting. Teologi Islam disebut juga “Ilmu Kalam”. Dinamakan demikian, karena masalah “kalam” atau firman Tuhan, yaitu AlQuran, pernah menjadi polemic yang menimbulkan pertentangan-pertentangan keras dikalangan umat Islam, terutama dalam abad 9 sampai 10 Masehi yang membawa kepada penganiayaan-penganiayaan bahkan pembunuhan pembunuhan terhadap sesama muslim pada waktu itu. Dalam Islam sebenarnya terdapat lebih dari satu aliran teologi. Ada aliran yang bersifat liberal, ada yang bersifat tradisional dan ada pula yang bersifat tengah-tengah antara liberal dan tradisional. Hal ini mungkin ada hikmahnya. Orang yang bersifat tradisional dalam pemikirannya, mungkin lebih sesuai dan dapat menerima paham-paham dari ajaran teologi tradisional. Sedangkan orang yang bersifat liberal dalam pemikirannya, mungkin lebih sesuai dan dapat menerima paham-paham dari ajaran teologi liberal. Dalam soal paham jabariyah (fatalism) dan paham qadariyah (free will) misalnya, orang yang bersifat liberal dalam pemukimannya, tentu tidak dapat menerima paham jabariyah (fatalisme). Bagi faham qadariyah (free will) yang terdapat dalam ajaran teologi liberalisme yang lebih sesuai dengan jiwa dan pemikirannya. Begitu pula sebaliknya. Adapun beberapa aliran teologi dalam Islam, yaitu aliran Khawarij, aliran Murji’ah, aliran Qadariyah dan aliran Jabariyah.

PENDAHULUAN

BAB I

bahwa pemberian nama “Khawarij” tersebut didasarkan pada ayat 100 dari surat An-Nisa yang berbunyi:                        Artinya: barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya. Tauhid Ilmu Kalam. juga sebagai system politik. bahwa Nabi Muhammad di samping sebagai Rasul beliau juga pemimpin umat. 151 . bahwa kaum khawarij pada mulanya adalah pengikut-pengikut Ali bin Abi Thalib. Muhammad Ahmad. Nama “Khawarij” berasal dari kata “kharaja” yang berarti: keluar. kalau pada waktu Nabi Muhammad wafat.A. Ini berarti bahwa Islam disamping sebagai system agama. 1998. tetapi kemudaian mereka meninggalkan barisannya. Ada pula pendapat lain yang mengatakan. Bandung. Hal. Pustaka Setia. Oleh karena itu tidak mengherankan.1 Kaum Khawarij menganggap dirinya sebagai orang yang pergi untuk meninggalkan rumahnya. Nama tersebut diberikan kepada mereka karena mereka menyatakan diri keluar dari barisan Ali dalam persengketaannya dengan Mu’awiyah. yang mengatur tentang ketatanegaraan.2 B. Sebagaimana kita ketahui dalam sejarah lslam. Kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju). karena tidak setuju dengan sikap Ali bin Abi Thalib yang menerima “tahkim” (arbitrase) sebagai jalan untuk menyelesaikan persengketaannya dengan Mu’awiyah ibnu Abi Sufyan. Dengan bertujuan untuk dapat mengebdika diri kepada Allah dan Rasul-Nya. sebagai kepala Negara.Latar belakang kemunculannya. BAB II Pembahasan Pengertian dan rujukan pemikiran. Maka sungguh Telah tetap pahalanya di sisi Allah. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sebagaimana kita ketahui dalam sejarah. masyarakat Madinah menjadi bingung memikirkan 1 2 Al-Quran H.

sebagai Gubernur Mesir. mereka tidak mempersoalkannya. Perasaan tidak senang muncul di daerah-daerah. Tetapi ia mendapat tantangan dari pemuka-pemuka yang ingin pula menjadi khalifah. Orang-orang yang semula ingin menjadi khalifah mulai pula menangguk di air keruh yang timbul pada waktu itu. Talhah dan Zubair mati terbunuh dan Aisyah dikirim kembali ke Mekkah. maka Ali menjadi khalifah yang keempat. Gubernur-gubernur yang diangkat oleh Umar ibn al-Khattab. Kaum keluarganya terdiri dari orang-orang aristokrasi Mekkah. Tindakan-tindakan politik yang dijalankan Usman ini sudah barang tentu menimbulkan reaksi yang tidak menguntungkan bagi khalifah Usman sendiri. yaitu siapakah yang akan menggantikan Nabi Muhammad sebagai kepala Negara. karena pengalaman dagang. yang semakin lama semakin bertambah banyak masuk ke bawah kekuasaan Islam.pengganti beliau untuk mengepalai Negara Islam yang belum lama berdiri. mulai meninggalkan khalifah yang ketiga ini. Dalam sejarah kita ketahui bahwa masyarakat Islam pada waktu itu menyetujui Abu Bakar sebagai pengganti Nabi Muhammad dalam mengepalai Negara mereka. Dalam pertempuran yang terjadi di Irak pada tahun 656 M. Kemudian Abu Bakar digantikan oleh Umar ibn alKhatab sebagai khalifah kedua. dan kemudian Umar digantikan oleh Usman ibn Affan sebagai khalifah ketiga. Setelah Usman wafat. khalifah yang terkenal sebagai orang kuat dan tak memikirkan kepentingan sendiri atau kepentingan keluarganya itu dijatuhkan oleh Usman. Pengetahuan mereka ini sangat bermanfaat dalam mengelola administrasi daerah-daerah di luar semenanjung Arabia. Selanjutnya Al-Tabari menerangkan. Seperti halnya Talhah dan Zubair. Perkembangan suasana di Madinah selanjutnya menimbulkan pembunuhan terhadap Usman. salah satu anggota kaum keluarga Usman. Usman termasuk dalam golongan pedangan Quraisy yang sangat kaya. Sahabat-sahabat Nabi yang mulanya menyokong Usman. terutama Talhah dan Zubair dari Mekkah. ia tak mau mengakui Ali sebagai . yang mendapat sokongan dari Aisyah. ketika melihat tindakan yang kurang tepat itu. sebab Nabi atau Rasul itu tidak dapat digantikan. Maka timbullah masalah besar bagi mereka. lima ratus pemberontak bergerak ke Madinah. yang dilakukan oleh pemuka-pemuka pemberontakan dari Mesir ini. bahwa tantangan kedua datang dari Mu’awiyah. Karena itu Abu Bakar dikenal sebagai khalifah pertama. mereka mempunyai pengetahuan tentang administrasi. Harun Nasution. Dari Mesir sebagai reaksi terhadap dijatuhkannya Umar ibn al-As yang diganikan oleh Abdullah ibn Sa’d ibn Abi Sarh. Gubernur Damaskus dan keluarga dekat Usman. Tantangan dari Aisyah-Talhah Zubair ini dapat dipatahkan oleh kekuatan Ali. Dr. Masalah ini dikenal dalam sejarah Islam sebagai masalah khilafah. Sebagai Nabi atau Rasul. Menurut Prof.

khalifah. Dalam pertempuran yang terjadi antara kedua golongan ini di Siffin. Mereka berpendapat. yaitu Amr ibn al-As dari pihak Mu’awiyah dan Abu Musa al-Asy’ari dari pihak Ali. Menurut tradisi. dan ia tak mau meletakkan jabatannya sebagai khalifah. sampai beliau wafat karena terbunuh pada tahun 661 M. Salah seorang pemuka pemberontak Mesir yang datang ke Madinah dan kemudian membunuh Usman adalah Muhammad ibn Abi Bakr. bahwa kejadian tersebut sangat merugikan Ali dan sangat menguntungkan Mu’awiyah. Dalam pertemuan mereka. Putusan hanya dapat diterima apabila datang dari Allah. Sebagai arbiters diangkatlah dua orang. Tetapi dengan arbitrage ini Mu’awiyah dapat diangkat menjadi khalifah. sungguhpun dalam keadaan terpaksa. Menurut mereka Ali telah melakukan kesalahan. Lagi pula Ali nampak tidak mengambil tindakan keras terhadap kaum pemberontak itu. Karena itu mereka meninggalkan . Dalam sejarah dapat kita baca. tidak dapat diterima oleh sebagian dari pasukannya. Tetapi tangan kanan Mu’awiyah. dan itulah kelicikannya terhadap Abu Musa alAsy’ari. yaitu Ali dan Mu’awiyah. bahwa putusan serupa itu tidak dapat diberikan oleh manusia. Kemudian setelah itu berdirilah Amr ibn al-‘As. Ia menuntut kepada Ali agar ia menghukum orang-orang yang membunuh Usman. Maka jelaslah bagi anda. Maka berdirilah Abu Musa al-Asy’ari untuk mengumumkan kepada khalayak ramai putusan menjatuhkan kedua pemuka yang bertentangan itu. dan dengan demikian dicarinyalah perdamaian dengan mengadakan arbitrase (tahkim). Padahal yang sah menurut hukum Ali-lah yang berhak menjadi khalifah. kelicikan Amr ibn al-‘As dapat mengalahkan Abu Musa yang terkenal sangat takwa itu. bahwa antara Amr ibn al-‘As dan Abu Musa al-Asy’ari terjadi kesepakatan untuk menjatuhkan kedua pemuka yang saling bertentangan itu. Qurra’ yang ada di pihak Ali mendesak Ali supaya menerima tawaran itu. orang yang lebih tua harus melakukannya lebih dahulu. Dengan demikian Amr ibn al-‘As telah sengaja melanggar kesepakatan bersama. sesuai dengan kesepakatan mereka. anak angkatnya Ali bin Abi Thalib. tetapi menolak penjatuhan Mu’awiyah. minta berdamai dengan mengangkatkan Quran ke atas. pasukan Ali dapat mendesak pasukan Mu’awiyah. sedangkan Mu’awiyah kedudukannya tak lebih dari Gubernur daerah yang tak mau tunduk kepada Ali sebagai khalifah. yaitu Amr ibn al-‘As. Karena itu tidak mengherankan kalau putusan ini ditolak oleh Ali. karena tidak berpegang kepada hukum Allah. yang terkenal sebagai orang yang sangat licik. dan mengumumkan kepada khalayak ramai bahwa ia hanya menyetujui penjatuhan Ali. Keadaan Ali menerima tipu muslihat Amr ibn al-‘As dalam arbitrase. bahkan Muhammad ibn Abi Bakr diangkat oleh Ali menjadi Gubernur Mesir. Bahkan ia menuduh Ali turut campur dalam pembunuhan itu.

Pasukan perang jamal yang melawan Ali juga kafir. Utsman r. 2. Khalifah Ali adalah sah. maka Ali harus memusatkan perhatiannya untuk menghancurkan kaum Khawarij itu lebih dahulu. Mu’awiyah dengan mudah dapat memperoleh pengakuan sebagai Khalifah Umat Islam pada tahun 661 M. Khalifah sebelum Ali (Abu Bakar. Ia harus dijatuhkan bahkan dibunuh kalau melakukan kezaliman. 1. 6. sehingga Ali sekarang menghadapi dua musuh. pasukan Ali merasa sudah terlalu capai untuk meneruskan pertempuran dengan pasukan Mu’awiyah. Dengan demikian setiap orang mulim berhak menjadi khalifah apabila sudah memenuhi syarat. Seseorang yang berdosa besar tidak lagi disebut muslim sehingga harus dibunuh.barisannya. Bila tidak mau bergabung. Muawiyah dan Amr bin Ash serta Abu Musa Al-Asy’ari juga dianggap menyeleweng dan telah menjadi kafir. Mereka memisahkan diri dari barisan Ali. sedang golongan mereka sendiri dianggap berada dalam dar al-Islam (Negara Islam). 3.a dianggap telah menyeleweng. ia wajib diperangi karena hidup di dalam dar al-harb (Negara musuh). Seseorang harus menghindar dari pimpinan yang menyeleweng. Doktrin-doktrin pokoknya. 9. Golongan yang keluar dari barisan Ali inilah yang dalam sejarah dikenal dengan nama Khawarij. Khalifah dipilih secara permanen selama yang bersangkutan bersikap adil dan menjalankan syariat Islam. Karena itu Mu’awiyah tetap berkuasa di Damaskus. dan setelah Ali ibn Abi Thalib wafat. 5. Yang sangat anarkis (kacau) lagi. mereka menganggap bahwa muslim dapat menjadi kafir apabila ia tidak mau membunuh muslim lain yang telah dianggap kafir dengan resiko ia menanggung beban harus dilenyapkan pula. Khalifah tidak harus berasal dari keturunan Arab. 7. maka mereka memusuhi Ali. Umar. ia dianggap telah menyeleweng. yaitu pasukan Mu’awiyah dan kaum Khawarij. tetapi setelah tahun ke 7 kekhalifahannya. Adanya wa’ad dan wa’id (orang yang baik harus masuk surga dan orang yang jahat harus masuk neraka). Karena selalu mendapat serangan dari golongan Khawarij. 4. Karena menganggap Ali bersalah dan berbuat dosa. dan Utsman) adalah sah. C. tetapi setelah terjadi arbitrase (tahkim). Setiap muslim harus berhijrah dan bergabung dengan golongan mereka. 10. . Tetapi setelah mereka ini kalah. 11. Khalifah atau Imam harus dipilih secara bebas oleh seluruh umat Islam. 8.

tokohtokoh yg disebut diatas sepakat bahwa subsekte Khawarij yang besar terdiri dari delapan macam.Perkembangan. yang kemudian memisahkan diri. 15. Menurut golongan ini. Memalingkan ayat-ayat al-qur’an yang tampak mutsyabih (samar). Al-Asfarayani. Adapun. tokoh dan sekte-sektenya. mengatakan bahwa sekte ini pecah menjadi 22 subsekte. Khawarij telah menjadikan imamah-khalifah (politik) sebagai doktrin sentral yang memicu timbulnya doktrin-doktrin teologis lainnya. Terlepas dari berapa banyak subsekte pecahan khawarij. Demikian pula membunuh sesame muslim tanpa sebab adalah termasuk dosa besar. dia telah menjadi orang kafir. 3 . yaitu Amr ibn ‘As dan Abu Musa Al-Asy’ari. Demikian pula dengan dosa-dosa besar lainnya Prof. Al-qur’an adalah makhluk. 14. “Ilmu Kalam”. Rosihon. maupun secara eksternal deangan sesame kelompok Islam lainnya. D. Pustaka Setia. Radikalitas yang melekat pada watak dan perbuatan kelompok Khawarij menyebabkan mereka sangat rentan pada perpecahan. dan kemudian menentang Ali. Dr. yaitu: 1. serta semua orang yang telah menyetujui arbitrase. dan dikeluarkan dari Islam. Dr.. Sebagaimana telah dikemukakan.12. perbuatan mereka itu membuat mereka menjadi kafir. sehingga orang yang melakukan dosa besar pun termasuk orang yang telah kafir. Para pengamat berbeda pendapat tentang jumlah sekte yang terbentuk akibat perpecahan yang terjadi dalam tubuh Khawarij.Ag. Bandung : 2001. Manusia bebas memutuskan perbuatannya bukan dari 3 Tuhan. mereka itu telah melakukan perbuatan salah. Abdul Rozak. Amar ma’ruf nahi mungkar. karena menyimpang dari ajaran Islam. bekas pengikutpengikut Ali. Hal. Berbuat zina adalah termasuk dosa besar. 13. AlBagdadi mengatakan bahwa sekte ini telah terpecah menjadi 18 subsekte. baik secara internal kaum Khawarij sendiri. Al-Muhhakkimah Al-Muhakkimah adalah golongan khawarij asli. dan keluar dari Islam. karena itu menurut golongan ini orang yang mengerjakan zina. Selanjutnya hukum kafir ini mereka luaskan artinya. M. dan Prof. 51. Ali dan Mu’awiyah serta kedua pengantarnya. M. seperti dikutip Al-Bagdadi.Ag. Karena itu menurut golongan ini perbuatan membunuh manusia itu membuat si pembunuhnya menjadi orang kafir.

mereka pandang musyrik. Padalah di dalam Islam. Musyrik lebih besar dosanya daripada kafir. juga dianggap sebagai orang musyrik.2. Manurut golongan ini. Golongan ini mempunyai sikap yang lebih radikal di bandingkan dengan golongan al-Muhakkimah. “Amir al-Mu’minin”. mereka juga dipandang sebagai orang yang musyrik. Nama AlAzariqah diambil dari nama seorang pemuka golongan ini. karena itu wajib diperangi. Dengan kata lain. Dalam kitab Al-Farqu baina al-firaq. Daerahdaerah kekuasaan mereka terletak di perbatasan antara Iran dan Irak.orang Islam yang sepaham dengan ajaran-ajaran al-Azariqah. dan mengaku sebagai pengikut alAzariqah. Orang yang melakukan perbuatan dosa besar tidak lagi mereka sebut sebagai orang yang kafir. sedangkan daerah-daerah Islam lainnya merupakan “Dar al-Herb”. tetapi mereka sebut sebagai orang yang ‘musyrik’ (politeist). al-Bagdadi menyebutkan bahwa jumlah pengikut al-Azariqah itu mencapai 20. apabila tidak mau pindah ke daerah kekuasaan mereka. Keengganan membunuh tawanan itu dianggap sebagai bukti bahwa ia berdusta dan sebenarnya ia itu bukan penganut paham al-Azariqah. tetapi mereka tidak berhijrah kedalam lingkungan mereka. seperti dalam golongan al-Muhakkimah. Nafi’ meninggal dunia dalam pertempuran di Irak pada tahun 686 M. termasuk musyrik juga orang. Dan yang mereka pandang musyrik itu bukan hanya orang-orang yang telah dewasa. orang-orang dari golongan al-Azariqah sendiri. atau “Dar al-Kufr”. maka mereka tidak dapat diterima begitu saja. Selanjutnya al-Bagdadi menyebutkan. hanya daerah mereka sajalah yang merupakan “Dar al-Islam”. tetapi juga anak-anak mereka. yaitu mau membunuh seorang yang ditawan. Bahkan orang-orang Islam yang sepaham dengan al-Azariqah. yaitu. dan golongan ini kemudian menjadi lebih besar dan lebih kuat dibandingkan dengan golongan Al-Muhakkimah sendiri. . Sebagai khalifah yang pertama mereka memilih Nafi’ ibn al Azraq.000 orang. Nafi’ ibn al-Azraq. musyrik itu merupakan dosa yang paling besar. sebelum mereka lulus dalam menjalani suatu ujian. Bahkan anakanak dan istri-istri orang-orang yang demikian pun boleh ditawan. Golongan al-Azariqah ini mempunyai paham. bahwa barang siapa yang datang ke daerah mereka. maka ia diterima sebagai pengikut al-Azariqah yang baik. Al-Azriqah Golongan ini muncul setelah hancurnya golongan Al-Muhakkimah. tetapi apabila ia tidak berhasil membunuh tawanan tersebut maka ia sendirilah yang harus dihukum bunuh. dan kepadanya diberi gelar. dijadikan budak ataupun dibunuh. Kalau ia telah berhasil membunuh tawanan.

tetapi karena dalam kalangan al-Azariqah ini timbul perpecahan. Pada mulanya golongan ini ingin menggabungkan diri dengan orang al-Azariqah. yaitu. Dalam kalangan khawarij.Golongan al-Azariqah ini jelas mempunyai paham yang sangat ekstrim. Setelah memisahkan diri dari Nafi’ Abu Fudaik dan kawankawannya pergi ke Yamamah. diantaranya ialah Abu Fudaik. golongan al-Nadjat inilah kelihatan yang pertama kali membawa paham taqiyah. Ia berasal dari daerah Yamamah. Mereka tidak mau mengakui lagi Nafi ‘ibn al-Azraq sebagai Imam. Orang Islam yang berdomisili di luar lingkungan mereka adalah kaum musyrik yang harus diperangi. hanya mereka sajalah yang sebenarnya Islam. Rasyidal Tawil dan ‘Atiah al-Hanafi. sehinggah Najdah dan pengikut-pengikutnya membatalkan rencana untuk hijrah ke daerah kekuasaan al-Azariqah. Najdah ibn “Amr al-Hanafi”. Perpecahan dalam kalangan al-Azariqah itu disebabkan oleh sebagian dari pengikut-pengikut Nafi’ibnal-Azraq. sebagaimana disebutkan oleh ibn al-Hazm. 3. dan memilih Najdah ibn ‘Amir al-Hanaf’ sebagai Imam mereka. An-Nadjat Nama golongan ini diambil dari nama seorang pemuka dari golongan ini. Kalau orang tersebut mengaku sebagai orang Islam. maka mereka tidak jadi menggabungkan diri dengan al-Azariqah. Selanjutnya Abu Fudaik dan pengikut-pengikutnya Najdah bersatu. Oleh karena itu kaum al-Azariqah. Jadi seseorang boleh mengucapkan kata-kata dan boleh melakukan perbuatan- . selalu mengadakan “istri’radh”. yaitu bertanya tentang pendapat atau keyakinan seseorang yang mereka jumpai. maka mereka pun membunuhnya. tetapi boleh juga dalam bentuk perbuatan. yaitu paham bahwa seseorang boleh saja merahasiakan atau menyembunyikan keyakinannya atau keimanannya. dan orang-orang yang masih mengikutinya pun mereka pandang sebagai orang-orang yang kafir juga. Taqiyah menurut pandangan mereka. Disinilah mereka dapat membujuk Najdah bergabung dengan mereka dalam menentang Nafi’. demi untuk menjaga keamanan dirinya dari musuhnya. pandang sebagai golongan musyrik. sebab menurut paham mereka. bukan hanya dalam bentuk ucapan. Mereka juga tidak setuju dengan paham dalam golongan al-Azariqah. tetapi tidak termasuk dalam golongan al-Azariqah. Bahkan mereka telah menganggap Nafi’ telah menjadi kafir. bahwa anak-anak dan istri-istri orang yang tak sepaham dengan golongan al-Azariqah itu boleh dibunuh. mereka tidak dapat menyetujui paham bahwa pengikut-pengikut alAzariqah yang tidak mau berhijrah ke daerah lingkungan mereka.

menurut mereka. 4. Dalam perpecahan itu Abu Fudaik. tetapi pada hakekatnya ia tetap penganut agama Islam. perpecahan di kalangan mereka itu terutama disebabkan oleh pembagian ghanimah (harta rampasan perang). Kaum Ajaridah ini mempunyai paham puritanisme. ternyata permintaan itu dikabulkan oleh Najdah. Tetapi menurut al-Bagdadi. yang menurut al-Syahrastani. Sikap seperti itu tentu saja tak dapat diterima oleh sebagian pengikut-pengikut mereka. dan Atiah al-Hanafi memisahkan diri dari Najdah. Hal ini diangapnya bertentangan dengan ketentuan dalam Al-Quran. . Perpecahan itu disebabkan oleh sebagian pengikut al-Najdat itu tidak dapat menerima bahwa orang yang melakukan dosa kecil itu bisa menjadi dosa besar. pernah mereka memperolah harta rampasan dalam peperangan. Surat Yusuf dalam Al-Quran membawa cerita tentang cinta. Atiah mengasingkan diri ke Sijistan di Iran. termasuk salah seorang teman dari ‘Atiah al-Hanafi. Menurut paham mereka. Paham al-Ajaridah ini lebih lunak dibandingkan dengan golongangolongan lain dalam kalangan khawarij. Mengenai harta yang boleh dijadikan sebagai harta rampasan perang. tetapi mereka tidak mengeluarkan seperlima lebih dulu. Dengan demikian kaum Ajaridah bebas tinggal dimana saja di luar daerah kekuasaan mereka.perbuatan yang mungkin menunjukkan bahwa pada lahirnya ia bukan orang Islam. Dalam masalah ghanimah. Bagi mereka berhijrah itu hanyalah merupakan kebajikan saja. berhijrah bukanlah merupakan kewajiban bagi setiap orang Islam sebagaimana diajarkan dalam paham al-Azariqah dan paham alNadjat. Di kemudian hari terjadilah perpecahan diantara pengikutpengikut al-Najdat. Akhirnya Najdah dapat mereka tangkap dan mereka potong lehernya. Rasyid al-Tawil. karena mereka itu adalah pengikut dari ‘Abd Karim ibn ‘Ajrad. dan mereka tidak dianggap sebagai orang kafir. Al-Baihasiyah 5. Al-Ajaridah Golongan ini dinamakan Al-Ajaridah. dan sikap lunak yang dilakukan oleh Najdah terhadap Khalifah ‘Abd al-Malik ibn Marwandari dinasti Bani Umayah. karena Khalifah ‘Abd al-Malik adalah musuh mereka. sedangkan Abu Fudaik dan Rasyid al-Tawil mengadakan perlawanan terhadap Najdah.mereka dapat menawan seorang anak perempuan. Khalifah ‘Abd al-Malik meminta kembali tawanan itu. mereka langsung membaginya untuk orang-orang yang turut dalam peperangan. hanyalah harta musuh yang telah mati terbunuh. Dan sikap lunak yang ditunjukkan oleh Najdah kepada Khalifah ‘Abd al-Malik ialah bahwa dalam serangan terhadap kota Madinah. tidak mungkin mengandung cerita cinta. Menurut mereka AlQuran sebagai kitab suci.

Menurut mereka. Anak-anak dan wanita-wanit tidak boleh dibunuh atau dijadikan tawanan. seperti dosa karena meninggalkan shalat atau puasa bulan Ramadhan. karena pemimpin golongan ini ialah Ziad ibn al-Asfar. yaitu kufur karena mengingkari rahmat Tuhan. seorang wanita Islam boleh kawin dengan lakilaki kafir. Daerah golongan Islam yang tidak sepaham dengan mereka. As-Saalabiyah 7. mereka itu bukan mukmin dan bukan pula musyrik. e. taqiyah hanya dibolehkan dalam bentuk perkataan saja. Tidak setuju bahwa anak-anak orang yang musyrik itu boleh dibunuh. d. dan tidak boleh dalam bentuk perbuatan. tetapi pada tahun 686 M. dan dosa yang tidak diancam dengan hukum dunia. seperti membunuh dan berzina. untuk menjaga keamanan dirinya. Diantara pendapat-pendapat mereka itu ialah : a. Selanjutnya tidak semua orang sufriyah sependapat bahwa orang yang melakukan dosa besar itu telah menjadi musyrik. Orang yang berbuat dosa besar golongan pertama. dan kufr bin inkar al-rububiyah. Orang Islam yang tidak sepaham dengan mereka. Orang sufriyah yang tidak berhijrah tidak dianggap menjadi kafir. tidak dipandang kafir. yaitu markas-markas pasukan musuh. Menurut mereka. yaitu daerah yang harus diperangi. Paham moderat mereka itu dapat dilihat dari ajaran-ajaran mereka sebagai berikut : a. As-Sufriyah Golongan ini dinamakan demikian. Ada diantara mereka yang membagi dosa besar menjadi dua golongan. Pada mulanya dia adalah pengikut golongan al-Azariqah. Al-Ibadiyah Nama golongan ini diambil dari nama seorang pemuka mereka yaitu Abdullah ibn Ibad. Menurut mereka kufur itu ada dua macam yaitu : kufr bi inkar al-ni’mah. 6. 8. apabila dia berada di daerah bukan Islam. yaitu kufur karena mengingkari adanya Tuhan. Tetapi sungguhpun demikian. Golongan al-Ibadiyah ini merupakan golongan yang paling moderat di bandingkan dengan golongan-golongan khawarij lainnya. b. c. daerah yang boleh diperangi itu hanya daerah ma’askar. tetapi diancam dengan hukuman karena di akhirat. mereka itu adalah . tidak selamanya sebutan kafir itu mesti diartikan keluar dari Islam.Oleh karena itu mereka tidak mengakui surat Yusuf sebagai bagian dalam Al-Quran. f. tetapi orang yang berbuat dosa golongan kedua itulah yang dipandang kafir. Karena itu menurut mereka. Golongan Al-Sufriyah ini mempunyai paham yang agak ekstrim dibandingankan dengan yang lain. yaitu dosa yang diancam dengan hukum dunia. ia memisahkan diri dari golongan al-Azariqah. tidak dianggap sebagai dar al-harb.

Afrika Utara. menurut mereka. pengakuan dengan lisan dan perbuatan dengan badan. berarti mereka telah berbuat dosa besar. karena itu daerah seperti itu tidak boleh diperangi. Dengan orang Islam yang demikian boleh diadakan hubungan perkawinan dan hubungan warisan. jika perbuatan seseorang tidak cocok dengan iman. Bahkan sebaliknya ia mempunyai hubungan yang baik dengan Khalifah Abdul Malik ibn Marwan. mereka sebut orang muwahhid.4 E. Sebagaimana diketahui bahwa iman itu terdiri dari tiga unsur pokok yaitu pembenaran oleh hati. merupakan afar altawhid. Oleh karena itu. Membunuh mereka haram hukumnya. 153-158 . b. c. pemimpin golongan al-Ibadiyah sesudah Ibn Ibad. Harta yang boleh dijadikan ghanimah (harta rampasan). kalau golongan khawarij lainnya telah hilang dan hanya tinggal dalam sejarah saja. 4 Drs. yaitu orang yang meng-Esakan Tuhan. Orang Islam yang berbuat dosa besar. mempunyai hubungan yang baik dengan al-Hajjah. Persoalan itu dimunculkan pertama kali oleh kaum Khawarij. Dengan demikian orang Islam yang mengerjakan dosa besar. Hal. maka ia dianggap kafir (keluar dari Islam). Masalah pelaku dosa besar (Murtakib alKabāir) inilah yang berkaitan langsung dengan iman dan kufur. Syahadat mereka dapat diterima. Omman dan Arabia Selatan. Iman dan Kufur (Kehendak Mutlak Tuhan). d. Masalah iman dan kufur. hanyalah kuda dan senjata saja. Karena ‘Ali dan Mu‘awiyah beserta para pendukungnya telah melakukan tahkim. Bandung : 1998. Tidak mengherankan kalau paham moderat seperti yang digambarkan diatas membuat Abdullah ibn Ibad tidak mau turut dengan golongan al-Azariqah dalam melawan Khalifah Bani Umayah. bagi mereka merupakan afar al-kufr. Pustaka Setia. Muhammad Ahmad.kafir. yang pada waktu itu sedang giat-giatnya memerangi golongan khawarij yang ekstrim. Daerah orang Islam yang tidak sepaham dengan golongan alIbadiyah. H. tetapi ia bukan orang yang mukmin. yaitu daerah orang yang meng-Esakan Tuhan. perbuatannya itu tidak membuatnya keluarnya dari Islam. kecuali markas pemerintah. maka golongan al-Ibadiah ini masih ada sampai sekarang dan terdapat di Zanzibar. “Tauhid Ilmu Kalam”. karena itu harus diperangi. Demikian pula Jabir ibn Zaid alAzdi. Emas dan perak harus dikembalikan kepada yang empunya. Sedangkan daerah ma’askar pemerintah.

membunuh manusia tanpa sebab yang sah dan orang Islam yang tidak menganut ajarannya. Adapun yang dipandang dosa besar antara lain berbuat zina.Menurut kaum Khawarij. maka kafirlah dia. karena ia kafir maka wajib dibunuh. Barang siapa tidak mengamalkan ibadah seperti shalat. BAB III . iman bukan hanya membenarkan dalam hati dan ikrar lisan saja. dalam arti telah keluar dari Islam (murtad). Sehubungan dengan pelaku dosa besar. zakat dan lain-lain. puasa. kaum Khawarij berpendapat bahwa pelaku dosa besar adalah kafir. tetapi amal ibadah menjadi bagian dari iman.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->