P. 1
Makalah Gender

Makalah Gender

|Views: 909|Likes:
Published by Vita Sakti

More info:

Published by: Vita Sakti on Apr 05, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/23/2013

pdf

text

original

TUGAS UAS SOSIOLOGI KELUARGA DAN GENDER KODRAT SEORANG WANITA PERAN PEREMPUAN SEBAGAI ISTRI DAN IBU

RUMAH TANGGA DALAM KELUARGA

Oleh: FITRIANA SAKTI (084564220) PROGRAM STUDI SOSIOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITA NEGERI SURABAYA 2010

BAB I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah.

Didunia ini ada 2 jenis manusia, yakni kaum wanita dan adam. Wanita merupakan seseorang yang tidak punya otot yang kekar seperti halnya kaum adam. Tangannya-pun tidak sekuat kaum adam. jika dibandingkan laki-laki, ia lemah. Banyak jabatan sebagai seorang pemimpin yang didomisili dari kaum adam. sampai jabatan lurah di suatu desa juga dipangku oleh kaum adam. Wanita di kodratkan sebagai makhluk yang di fungsikan untuk melahirkan keturunan demi mempertahankan spesiesnya.Sebagai konsekuensi dari tugas melahirkan anak tersebut, wanita seara instinktif merasa wajib untuk menyususi dan memelihara anak yang di lahirkannya agar dapat terus hidup.Kelengkapan untuk melakukan tugas itupun diberi oleh Tuhan ,dengan tugas yang di terimanya tersebut (dan memang harus mau menerima tanpa syarat), wanita mesti tinggal di rumah,sementara suami dan anggota keluarga yang lain dapat bebas pergi karena tidak menerima tugas yang mendesak dan sangat penting seperti dirinya. Wanita dikodratkan di bawah laki-laki di hampir semua posisi di masyarakat. Tradisi Jawa mengatakan bahwa perempuan dikodratkan sebagai yang masak, manak, dan macak (memasak, beranak, dan berhias diri). Perempuan diposisikan menempati wilayah domestik dan sekadar patner belakang laki-laki. Posisi perempuan untuk berbagai hal masih tersubordinasi di bawah laki-laki. Peranan kunci ada pada hierarki yang note bene terdiri dari laki-laki semua. “Kadang kita memahami kodrat sebagai sesuatu yang terberi (the given), sudah harga mati dan tidak bisa diotak-atik lagi. Kata kodrat sering digunakan untuk merepresentasikan peran perempuan menurut agama, terutama Islam. Sehingga daya ikatnya begitu kuat. Bila agama sudah mengeluarkan suatu larangan, maka hal tersebut bila dilanggar dihukumi haram. Seperti yang terdapat dalam kaidah Ushul Fiqh al-ashlu fi al-Nahyi li altahrim (asal dari larangan adalah haram). Larangan melanggar kodrat bagi seorang perempuan terus dipertahankan sampai saat ini. Tradisi pemahaman ini mengendap di alam bawah sadar masyarakat. Sehingga pada saat seorang perempuan ingin

mengaktualisasikan dirinya di ranah publik, maka secara otomastis larangan melanggar kodrat menyertainya. kata kodrat berpengaruh pada konsepsi perempuan tentang dirinya. Perempuan cenderung menganggap dirinya tidak sederajat dengan laki-laki. Hadirnya perempuan hanyalah sebagai pelengkap saja. Eksistensi perempuan hanya untuk laki-laki. Sehingga wajar saat ini di layar TV sering kita saksikan perempuanperempuan yang mempercantik dirinya dan berlomba-lomba hanya untuk menarik perhatian laki-laki. Bahkan sampai terlibat konflik antar sesama perempuan demi mendapatkan laki-laki yang dicintai. Seolah itulah tujuan hidup dan kodrat seorang perempuan. Pemahaman tentang “kodrat“ yang disamakan dengan pemahaman “taqdir” membawa akibat pada terjadinya ketidakadilan gender yang dialami perempuan. Karena kata kodrat bukan sesuatu yang di dasarkan factor biologis. Kodrat bukan pula sesuatu yang terberi begitu saja dari Allah (given) yang harus dilakukan dan tak ada seorang pun yang bisa menghindarinya. Tetapi ada manusia (subjek) dan unsur-unsur budaya yang membentuknya. Kodrat perempuan pada ahirnya sarat dengan muatan-muatan lokal. Dari pengertian ini, kodrat bisa berubah dan bukan sebuah ketentuan. Perubahan kodrat dapat terjadi dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat lain. Pengertian kodrat seperti ini ternyata mempunyai kesamaan dengan definisi gender. Dimana gender diartikan sebagai “pembedaan antara perempuan dan lakilaki berdasarkan jenis kelaminnya dalam hal sifat, peran, posisi, tanggung jawab, akses, fungsi, control, yang dibentuk secara sosial yang dipengaruhi oleh berbagai factor: budaya, penafsiran agama, sosial, politik, hukum, pendidikan dan lain-lain yang bisa berubah sesuai dengan konteks waktu, tempat dan budaya”.(Yanti Muchtar (ed), 2006: 115) Pelanggaran terhadap kodrat bukan merupakan hal yang haram. Karena kodrat sendiri bisa bermakana inner power atau kemampuan yang bersumber dari

dalam diri individu untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Kesuksesan perempuan sama sekali tidak melanggar kodrat dan bukan kodrat. Perempuan memiliki kesempatan sukses dalam kehidupan dan cinta karena itu bisa berbanding lurus. Namun, apakah sudah kita sadari bahwa diatas kerberhasilan kaum adam, dibalik kecermelangannya kaum adam, wanita lah yang sangat berperan. Wanita laksana TUT WURI HANDAYANI. Ia lah yang selalu men-support, memotivasi suaminya untuk terus maju dan maju.. ia selalu mendukung semua ide-ide positif yang dilakukan oleh suaminya dan sebagai ibu, wanita juga sangat berperan dalam mendidik buah hatinya, agar kelak menjadi anak yang baik. 2. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka permasalahan dalam makalah ini adalah sebagai berikut: Apa saja peran perempuan dalam keluarga sebagai istri dan ibu rumah tangga? 3. Tujuan Untuk menambah referensi para pembaca, terutama para pembaca perempuan agar tidak lemah atau di kuasai oleh laki-laki. Meskipun dengan sikapnya yang lemah,tetapi mempunyai peranan yang sangat penting dalam keluarga baik sebagai istri atau seorang ibu rumah tangga.

BAB II LANDASAN TEORI

Pengertian Kodrat Menurut Bahasa.Kodrat berasal dari bahasa Arab qadara/qadira- yaqduru/yaqdiru- qudratan. Dalam kamus al-munjid fil-al-Lughah wa al-a’lam kata ini diartikan dengan qawiyyun ‘ala al-syai (kuasa mengerjakan sesuatu), ja’alahu ‘ala miqdarih (membagi sesuatu menurut porsinya) atau qashshara (memendekan/membatasi). Dari akar kata qadara/qadira ini juga lahir kata taqdir (qaddara-yuqaddiru-taqdir) yang berarti menentukan (ketentuan) atau menetapkan.( Nassaruddin Umar, 1999:. 4). Demikian pula dalam kamus alMunawwir yang mengartikan qudrah sebagai kekuatan, kekuasaan dan kemampuan. ( Ali Ma’shum dan Zainal Abidin Munawwir,1997: 1095). Dari akar kata ini kaitu kodrat (qudrah) dan taqdir (taqdir) dalam bahasa Indonesia sering dipakai dalam pengertian yang sama. Menunjuk pada “apa yang telah ditentukan Tuhan”. Sehingga kata kodrat dan takdir bermuara pada kekuasaan mutlak Tuhan. Kata kodrat dalam arti kemampuan, kekuasaan atau sifat bawaan menunjukan adanya keterlibatan aktif dari si pelaku terhadap apa yang bisa dilakukannya sendiri. Tanpa bergantung/terkait dengan selain dirinya. Kata kodrat kemudian lebih bermakana kemampuan yang bersumber dari dalam individu untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu (free will & free act). Sementara kata takdir (taqdir) dalam arti ketentuan/ketetapan menunjukan adanya sebuah garis kekuasaan harus tunduk patuh (bahkan tidak mampu mengelak dari) ketentuan yang berasal dari atas. Seperti pemberian alat kelamin pada manusia oleh Tuhan yang menentukan seseorang secara biologis laki-laki atau perempuan tanpa bisa ditawar kalaupun bisa itu pun hanya bisa karena operasi, itupun tidak akan pernah bisa menyamai yang alami. Dalam konsep agama Islam seperti kematian yang tak ada seorang pun bisa mengelak dari takdir ini. Yang menentukan kematian bukan dirinya. Ia hanyalah menerima apa yang telah ditentukan atas dirinya. Dengan kodrat yang sudah melekat pada seorang wanita,bawasannay lakilaki mengangga bahwa wanita adalah sosok yang lemah lembut.Namun di balik sikapnya yang lemah,yang sering diremehkan olel laki-laki.Seorang perempuan sangat berperan sekali dalam keluarga ( suami dan anaknya). Laki-laki yang bekerja dengan susah payah memeras keringat di luar rumah memerlukan seorang istri yang

dapat menyenangkan, melegakan, menenangkan, melepaskan rasa penat badan maupun pikiran dan memberikan harapan serta semangat baru untuk menunaikan tugas-tugasnya pada hari-hari berikutnya.Begitupun dengan seorang anak yang membutuhkan kasih sayang seorang ibu. A.Teori Fungsionalis dan Marxis: lingkunganlah yang membuat wanita lemah Teori-teori Freduian secara tidak langsung mengatakan bahwa pembagian kerja secara seksual merupakan akibat wajar dari”kodrat wanita” itu sendiri, yang membuat wanita kurang aktif dibandingkan laki-laki, kurang memiliki keinginan untuk berkuasa karena keinginannya yang paling utama adalah menjadi ibu. Teori fungsionalis berpendapat bahwa pembagian kerja secara seksual merupakan kebutuhan masyarakat dan diciptakan untuk keuntungan seluruh masyarakat itu sebagai keseluruhan.Teori ini berpendapat bahwa wanita harus tinggal didalam lingkungan rumah tangga karena ini merupakan pengaturan yang paling baik dan berguna bagi keuntungan masyarakat secara keseluruhan. Karena itulah Murdock mengatakan bahwa “keluarga inti merupakan pengelompokan manusia yang paling universal, terdapat di segala tempat dan segala jaman” Meskipun bentuknya sedikit berbeda-beda. Keluarga inti juga diperkuat oleh faktorfaktor lain seperti: kerja sama ekonomi yang didasarkan pada pembagian kerja secara seksual.Seperti juga halnya dengan hubungan seksual, kerja sama ekonomi lebih baik bila dilakukan oleh orang-orang yang tinggal bersama, karena dengan begitu mereka jadi saling melengkapi. Kepuasan yang satu akan memuaskan yang lainnya, dan karena itu akan saling memperkuat”. (Murdock, 1964:41). Talcot Parson tokoh dari aliran fungsionalis di amerika serikat mengatakan bahwa wanita harus bekerja didalam rumah tangga, maka ditiadakan kemungkinan terjadinya persaingan antara suami dan istri. Pembagian kerja secara seksual memperjelas fungsi suami dan isteri dalam keluarga inti, dan ini memberikan rasa tenang bagi keduanya.Kritik terhadap teori dilancarkan oleh kaum marxis.

Teori fungsionalis menganggap bahwa keserasian (harmoni) dalam masyarakat adalah sesuatu yang terberi secara wajar.keserasian itu juga perlu dan berguna bagi keseluruhan masyarakat itu sendiri. Menurut kaum marxis, keserasian dalam masyarakat bukan merupakan sesuatu yang terberi, tapi buatan manusia. Dan pembagian kerja secara seksual bias bertahan lama bukan karena itu merupakan sesuatu yang wajar dan alamiah, tapi karena laki-laki masih berkuasa. Engels dalam bukunya ,the origin of the family , private property and the state secara tidak langsung berbicara tentang asal mula pembagian kerja secara seksual ini. Dia berbicara tentang hubungan bentuk masyarakat dan bentuk keluarga. 2.Teori Scanzoni dan Scanzoni (1981) Tentang peran wanita dalam keluarga. Istri adalah milik suami sama seperti uang dan barang berharga lainnya.Tugas suami adalah mencari.nafkah dan tugas istri adalah menyediakan makanan untuk suami dan anak-anak dan menyelesaikan tugas-tugas rumah tangga yang lain. karena suami telah bekerja untuk menghidupi dirinya dan anak-anaknya. 1. Tugas istri adalah untuk membahagiakan suami dan memenuhi semua keinginan dan kebutuhan rumah tangga suami. 2. Istri harus menurut pada suami dalam segala hal. 3. Istri harus melahirkan anak-anak yang akan membawa nama suami. 4. Istri harus mendidik anak-anaknya sehingga anak-anaknya bisa membawa nama baik suami. istri dianggap bukan sebagai pribadi sebagai perpanjangan suaminya saja. Ia hanya merupakan kepentingan, kebutuhan, ambisi, dan cita-cita dari suami. Suami adalah bos dan istri harus tunduk padanya. Bila terjadi ketidaksepakatan, istri harus tunduk pada suami. Dengan demikian akan tercipta kestabilan dalam Istri juga bertugas untuk memberikan kepuasan seksual kepadasuami. Adalah hak suami untuk mendapatkan hal ini dari istrinya. Bila suami ingin melakukan hubungan seksual, istri harus menurut meskiun dunia tidak menginginkannya. Suami bisa rumah tangga. Tugas utama istri untuk mengurus keluarga. Karena istri tergantung

pada suami dalam hal pencarian nafkah, maka suami dianggap lebih mempunyaikuasa (wewenang). Kekuasaan suami dapat dikuatkan dengan adanyanorma bahwa istri harus tunduk dan tergantung pada suami secara ekonomis. Dari sudut teori pertukaran, istri mendapatkan pengakuan dari kebutuhan yang disediakan suami. Istri mendapatkan pengakuan dari kerabat dan peer group berdasarkan suami. Demikian juga dengan status sosial, status sosial istri mengikuti status sosial suami. Istri mendapat dukungan dan pengakuan dari orang lain karena ia telah menjalankantugasnya dengan baik.menceraikan istri dengan alasan bahwa istrinya tidak bisa memberikan kepuasan seksual. Bila istri ingin mengunjungi kerabat atau tetangga, tetapi suami menginginkan ia ada dirumah, istri harus menurut keinginan suami hanya karena normanyaseperti itu. Istri tidak boleh memiliki kepentingan pribadi. Kehidupan pribadi wanita menjadi hak suami begitu ia menikah, sehingga seakan-akan wanita tidak punya hak atas dirinya sendiri

BAB III METDOLOGI PENEITIAN
A. Sifat Penelitian Dalam penelitian yang di lakukan ini, akan menggunakan metode penelitian deskrptif yang bertujuan untuk membuat deskriptif atau gambaran secara umum dan sistematis, sesuai dengan fakta, dan akurat mengenai fakta-fakt, Sifat-sifat, serta hubungan antara fenomena-fenomena yang akan di teliti dalam penelitian ini. Sedangkan pendekatan yang di lakukan dalam penelitian ini bersifat kualitatif.

Peneitian kualitatif adalah riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan menggunakan indukatif. Proses dan makna (prespektif subyek) lebih di utamakan dalam penelitian ikualitatif. Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan fakta di lapangan. Selain itu landasan teori juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian. B. Lokasi dan waku penelitian Penelitian dilakukan di desa Sumbrgede kab. Bojonegoro. Sedangkan waktu pelaksanaan penelitian kurang lebih satu minggu yaitu pada tanggal 24-31 mei 2010. C. Teknik pengumpulan data Wawancara adalah bentuk komunikasi langsung antara peneliti dan informan.Peneliti bisa disebut intervier, sedangkan untuk kagiatannya di sebut interview. Adapun informan yang akan di lakukan intervier yaitu, para perempuan yang sudah berkeluarga dan mempunayi anak. Teknik wawancara di lakukan akan mempermudah peneliti menanyakan berbagai pertanyaan dan menggali informasi pada subyek peneliti yang telah di temukan. Menggali sebuah informasi dari subyek peneliti berbeda penelitian kuantitatif, Karena di sini peneliti tidak memberikan angket atau kuesioner yang jawabannya hanya terbatas pada jawaban yang di berikan oleh peneliti.

BAB IV PEMBAHASAN
Seorang wanita sebagai istri dan ibu dalam keluarga memiliki arti yang sangat penting, bahkan bisa dikatakan dia merupakan satu tiang yang menegakkan kehidupan keluarga dan termasuk pemeran utama dalam mencetak “orang-orang besar.” Sehingga tepat sekali bila dikatakan: “Di balik setiap orang besar ada seorang wanita yang mengasuh dan mendidiknya.” Di balik keberhasilan seorang pria, setidaknya ada 2 (dua) orang wanita yang ikut mengambil peran penting:

ibunya dan isterinya. Itu berarti bahwa wanita begitu penting keberadaannya dalam sebuah keluarga. Baik perempuan itu sendiri maupun anggota keluarga lainnya harus memahami peran yang dijalankan oleh wanita dalam keluarga. Kekurangpahaman dalam memahami peran wanita akan berdampak cukup fatal bagi seluruh keluarga. Sebaliknya, apabila seorang wanita dapat memainkan perannya dengan benar, maka keluarga akan memperoleh berkat bahkan menjadi berkat bagi banyak orang. A. Peran Perempuan Sebagai istri Perempuan sebagai istri dalam keluarga, berperan sebagai penolong, teman hidup pasangannya di kala suka dan duka. Melayani suami bisa disebut hak kita sebagai istri, bisa juga disebut sebagai kewajiban kita sebagai istri. Istri juga adalah teman berbagi dan teman untuk mendiskusikan segala sesuatunya sebelum keputusan diambil oleh suami sebagai kepala rumah tangga.Perempuan sebagai istri juga harus tunduk dan taat kepada suami dengan sikap hati yang benar. Artinya, sebagai istri mungkin pendapat kita kadang berbeda, tetapi bila keputusan sudah diambil kita harus mendukung keputusan tersebut, karena di sebuah kapal hanya ada satu nahkoda dan di dalam pernikahan hanya ada satu kepala keluarga. Seorang istri berperan mengelola rumah tangganya agar tercapai keharmonisan di dalam keluarga. Dalam hal keuangan, istri diharapkan dapat mengatur sedemikian rupa nafkah yang diberikan oleh suami agar mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, apalagi jika penghasilan suami tidak seberapa besar. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menyusun daftar rencana pemasukan dan pengeluaran dalam satu bulan, dengan prioritas pengeluaran yang dianggap paling penting. Jika kebutuhan hidup masih belum mencukupi, dengan izin suami seorang istri bisa saja membantu suami dalam menambah ekonomi keluarga. Jika memungkinkan carilah peluang pemasukan yang tidak banyak menyita waktu ke luar rumah, misalnya dengan menulis artikel dan buku; atau yang dapat membuka kesempatan untuk berinteraksi lebih banyak dengan masyarakat, seperti menjual busana Muslimah atau kebutuhan hidup sehari-hari di rumah; atau yang dapat

menambah wawasan dan pengalaman dalam mendidik anak, misalnya dengan menggeluti bidang pendidikan anak. Yang jelas, semua itu tidak boleh melalaikan kewajibannya yang lainnya seperti mendidik anak ataupun berdakwah. Dalam hal pemenuhan fungsi proteksi keluarga, seorang istri harus dapat mengkondisikan suasana rumah yang tenang, bersih dan tertata rapi agar menjadi tempat berlindung yang nyaman dan membuat betah para penghuninya. Rasulullah saw. memuji seorang istri yang pandai merapikan rumah dengan mengatakan, “Ia tidak memenuhi rumah kita dengan sarang burung.” (Muttafaqun ‘alaihi). Kepedulian dan kesabaran istri dalam menyikapi persoalan yang dihadapi anggota keluarga dapat menjadikan suami dan anak-anak ingin segera kembali ke rumah untuk menyampaikan setiap suka dan duka yang dihadapinya di luar rumah. Keluarga menjadi tempat yang paling aman dan menyenangkan secara fisik dan psikis bagi anggotanya untuk saling berbagi. Apalagi bagi anak-anak, sebab sangat riskan jika mereka mencari kenyamanan di tempat lain yang bisa jadi berbahaya bagi pergaulannya.Demikian tuntunan yang dapat dilakukan seorang perempuan dengan perannya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga untuk membawa keluarganya menjadi keluarga yang harmonis; sakînah mawaddah wa rahmah. Adanya kerjasama dengan suami akan sangat membantu tugas yang sangat berat ini. Seorang wanita tidak bisa menjadi sakan (ketenangan dan ketentraman) bagi suaminya sampai dia memahami hak dan kedudukan suami, kemudian ia melaksanakan hak-hak tersebut dalam rangka taat kepada Allah dengan penuh kesenangan dan keridhaan. Seorang wanita perlu mengetahui tentang besarnya hak suami terhadapnya, sampai-sampai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku perintahkan seorang istri untuk sujud kepada suami.” [HR. Ahmad, 4/381. Dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no.5295 dan Irwa-ul Ghalil no.19.

Seorang istri juga harus taat secara sempurna kepada suaminya dalam perkara yang bukan maksiat kepada Allah. Taat ini merupakan asas ketenangan karena suami sebagai qawwam (pemimpin) tidak akan bisa melaksanakan kepemimpinannya tanpa ketaatan. Dan ketaatan kepada suami ini lebih didahulukan daripada melakukan ibadah-ibadah sunnah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Tidak boleh seorang wanita puasa (sunnah) sementara suaminya ada di tempat kecuali setelah mendapatkan izin suaminya.” (HR. Al-Bukhari no. 5195 dan Muslim no. 1026) Al-Imam An-Nawawi rahimahullah juga memberikan alasan dalam hal ini: “Sebabnya adalah suami memiliki hak untuk istimta’ (bermesraan) dengan si istri sepanjang hari, haknya dalam hal ini wajib untuk segera ditunaikan sehingga jangan sampai hak ini luput ditunaikan karena si istri sedang melakukan ibadah sunnah ataupun ibadah yang wajib namun dapat ditunda.” (Syarah Shahih Muslim, 7/115) Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan: “Hadits ini menunjukkan bahwa lebih ditekankan kepada istri untuk memenuhi hak suami daripada mengerjakan kebajikan yang hukumnya sunnah, karena hak suami itu wajib sementara menunaikan kewajiban lebih didahulukan daripada menunaikan perkara yang sunnah.” (Fathul Bari, 9/356). Ciri-ciri istri yang shalih, yaitu sebagai berikut :  Melegakan hati bila dilihat.Hal ini tersebut di dalam hadits Ibnu Majah dari sahabat Abu Umamah AI-Bahily. "Bagi seorang mukmin laki-laki, sesudah taqwa kepada Allah,maka tidak ada sesuatu paling berguna bagi dirinya, selain istri yang shaleh, yaitu; taat bila diperintah, melegakan bila dilihat, nrima bila diberi janji, dan menjaga kehormatan dirinya dan suaminya, ketika suaminya pergi. " (HR. 1bnu Majah).

 Dapat diberi amanah Halini diriwayatkan oleh sahabat Sa' ad bin Abi Waqash bahwa Rasulullah saw bersabda: Ada tiga macam keberuntungan, yaitu : 1.istri yang shalihah, kalau kamu lihat melegakan dan kalau kamu tinggal pergi ia amanah serta menjaga kehormatan dirinya dan hartamu. 2. Kuda yang penurut dan cepat larinya sehingga dapat membawa kamu menyusul tementemanmu.3.Rumah besar yang banyak didatangi tamu. (HR.Hakim) .  Memberikan Hal ini Allah suasana teduh di dan ketenangan QS. 30: berpikir. 21 firmankan dalam

"Di antara tanda kekuasaan-Nya , yaitu Dia menciptakan pasangan untuk diri kamu dari jenis kamu sendiri, agar kamu dapat memperoleh ketenangan bersamanya dan Dia menjadikan rasa cinta dan kasih sayang antara kamu. Sungguh di dalam hati yang demikian itu merupakan tanda-tanda (kekuasaan) bagi kaum yang berpikir. ".  Membantu Hal ini memelihara dinyatakan akidah dalam dan ibadah. sabdanya: Rasulullah

"Barangsiapa diberi oleh Allah istri yang shalihah, maka sesungguhnya ia telah diberi pertolongan oleh Allah meraih separuh agamanya. Kemudian hendaklah ia bertakwa kepada Allah di dalam memelihara separuh lainnya. " (HR. Thabrani dan Hakim). Ketentuan ilahi yang telah menempatkan laki- laki dan wanita pada fungsi masing-masing sesuai dengan fitrahnya, adalah suatu aksioma yang tidak dapat berubah. Segala sesuatu yang ada di alam ini, Allah telah berikan fungsi dan tugas yang bersifat paten. Bumi yang ditakdirkan berputar pada porosnya, begitu pula bulan dan bintang menjadikan segala yang ada di dunia berjalan dengan teratur dan nyaman untuk dihuni. Maka begitu pulalah halnya dengan fungsi dan tugas yang dibebankan kepada laki-laki dan wanita di dunia ini. Jikalau kita mencoba untuk melanggar aksioma Ilahiyah ini. maka malapetakalah yang akan menjadi hasilnya dan kita harus siap menerima segala akibat kehancurannya. Sebaliknya, kalau kita

mentaati secara tuntas apa yang sudah menjadi aksioma Ilahiyah ini, maka kesehjateraan, ketenangan, kedamaian, persaudaraan, persatuan dan kenikmatan dunia ini selalu dapat kita rasakan dengan tiada terkirakan. Karena Allah akan Melimpahkan segala rahmat-Nya kepada umat manusia yang mau patuh dan taat kepada ketentuan-Nya. Marilah kita meniti jalan mencapai kebaikan. Wajib bagi wanita/ istri untuk taat kepada suaminya dalam perkara yang ia perintahkan dalam batasan kemampuannya, karena hal ini termasuk keutamaan yang Allah berikan kepada kaum lelaki di atas kaum wanita,bawasannya kaum lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita Seorang wanita harus bisa menjaga rahasia suami dan kehormatannya sehingga menumbuhkan kepercayaan suami secara penuh terhadapnya (Wanita itu sangat menjaga dan memelihara harta suami dengan berbuat amanah dan tidak boros dalam membelanjakannya). Bergaul dengan suami dengan cara yang baik, dengan memaafkan kesalahan suami bila ia bersalah, membuatnya ridha ketika ia marah, menunjukkan rasa cinta kepadanya dan penghargaan, mengucapkan kata-kata yang baik dan wajah yang selalu penuh senyuman. Juga memperhatikan makanan, minuman dan pakaian suami. Mengatur waktu sehingga semua pekerjaan tertunaikan pada waktunya, menjaga kebersihan dan keteraturan rumah sehingga selalu tampak rapi hingga menyenangkan pandangan suami dan membuat anak-anak pun betah. Jujur terhadap suami dalam segala sesuatu, khususnya ketika ada sesuatu yang terjadi sementara suami berada di luar rumah. Jauhi sifat dusta karena hal ini akan menghilangkan kepercayaan suami. B. Peran Perempuan Sebagai Ibu Rumah Tangga 1. Ibadah kepada Allah Dengan menegakkan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ini, akan sangat membantu seorang wanita untuk melaksanakan perannya dalam rumah tangga. Dan dengan ia melaksanakan ibadah disertai kekhusyuan dan ketenangan

yang sempurna akan memberi dampak positif kepada orang-orang yang ada di dalam rumahnya, baik itu anak-anaknya ataupun selain mereka. 2. Mengerjakan pekerjaan rumah yang dibutuhkan dalam kehidupan keluarga seperti memasak, menjaga kebersihan, mencuci. Seorang wanita semestinya melakukan tugas-tugas di atas dengan penuh kerelaan dan kelapangan hati dan kesadaran bahwa pekerjaan seorang ibu rumah hal itu merupakan ibadah kepada Allah. Telah lewat teladan dari para sahabat dalam masalah ini. 3. Mendidik Anak-anak Tugas ini termasuk tugas terpenting seorang wanita di dalam rumahnya, karena dengan memperhatikan pendidikan anak-anaknya berarti ia mempersiapkan sebuah masa depan yang baik bagi anaknya kelak. Dan tanggung jawab ini ia tunaikan bersama-sama dengan suaminya. Perempuan sebagai ibu dalam keluarga, idealnya menjadikan dirinya teladan yang bisa dicontoh anak perempuannya dalam segala hal yang dilakukannya di dalam urusan rumah tangga. 4. Mengerjakan Pekerjaan lain di dalam rumah Mengerjakan pekerjaan lain di dalam rumah bila ada kelapangan waktu dan kesempatan, seperti menjahit pakaian untuk keluarga dan selainnya. Dengan cara ini ia bisa berhemat untuk keluarganya di samping membantu suami menambah penghasilan keluarga.

BAB V PENUTUP
Arti kata Tut Wuri Handayani sangat tepat sekali untuk seorang peremuan. Karena peremuan adalah orang yang memberi motivasi, dukungan, semangat bagi anggota keluarga, termasuk didalamnya suami dan sang buah hati. Dalam rumah tangga, wanita itu seperti akar dan suami adalah pohonnya. Sedangkan anak adalah buahnya. Mengapa saya katakan demikian? 70% bagian dari akar itu ditutupi oleh tanah. tidak nampak dari luar. Itulah wanita, perannya memang tidak bisa dilihat secara riil. Namun, kita bisa lihat hasilnya, jika pohon [suami] tumbuh dengan kuat dan berbatang besar dan apabila buahnya manis dan besar, itulah hasil dari usaha akar. Bahkan kupu-kupupun yang menghinggapi pohon itu tidak akan pernah tau, apa yang dan mengabdi dilakukan oleh akar. peranan wanita itu tidak bisa kita nilai dari seberapa lama ia kerja untuk mencari nafkah demi keluarga, melainkan..

keberhasilan wanita sangatlah terlihat pada apa yang sudah dicapai dan diraih oleh sang suami dan buah hati mereka.. Itulah makna seorang istri dan ibu rumah tangga di dalam keluarga.

DAFTAR PUSTAKA
• Ali Ma’shum dan Zainal Abidin Munawwir, Kamus al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap, Surabaya: Pustaka Progresif Surabaya 1997 • Qurais Shihab, Tafsir Perempuan, Jakarta: Lentera Hati, 2006 Nassaruddin Umar, Kodrat Perempuan dalam Islam, Jakarta : LKJA, 1999 • • • Sumbulah, Umi. 2008. Spektrum Gender. Jalan Gajayana Malang: UIN-Malang Press. Yanti Muchtar (ed), Modul Pendidian Adil Gender Untuk Perempuan Marginal, Jakarta: KAPAL Perempuan, 2006 http://baitijannati.wordpress.com/2007/12/09/mengoptimalkanperan-ibu-rumah tangga

• • •

http://suryadhie.wordpress.com/2008/05/19/arti-wanita-dalamkeluarga/ http://oedzilla.blogspot.com/2009/10/teori-fungsionalis-danmarxis.html http://kodratbergerak.blogspot.com/2010/05/perempuan-kodratyang-bergerak.html

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->