I. Konseling Trait & Factor (Wolter Bingham, John Darley, Donald G. Paterson, dan E. G.

Williemson) Menurut teori ini, kepribadian merupakan suatu system sifat atau factor yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya seperti kecakapan,minat,sikap,dan tempramen. Proses konseling dibagi dalam lima tahap sebagai berikut : 1. Tahap Analisis Tahap kegiatan yang terdiri pengumpulan informasi dan data mengenai klien. 1. Tahap Sintesis Langkah merangkum dan mengatur data dari hasil analisis yang sedemikian rupa sehingga menunjukkan bakat, kekuatan, kelemahan dan kemampuan penyesuaian diri klien. 1. Tahap Diagnosis Sebenarnya merupakan langkah pertama dalam bimbingan dan hendaknya dapat menemukan ketetapan yang dapat mengarah kepada permasalahan, sebab-sebabnya, sifat-sifat klien yang relevan dan berpengruh pada penyesuaian diri. Diagnosis meliputi : 1. Identifikasi masalah yang sifatnya deskriptif misalnya dengan menggunakan kategori Bordin dan Pepinsky Kategori diagnosis Bordin a. dependence (ketergantungan) b. lack of information (kurangnya informasi) c. self conflict (konflik diri) d. choice anxiety (kecemasan dalam membuat pilihan) Kategori diagnosis Pepinsky a. lack of assurance (kurang dukungan) b. lack of information (kurang informasi) c. dependence (ketergantungan) d. self conflict (konlflik diri) 1. Menentukan sebab-sebab, mencakup perhatian hubungan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan yang dapat menerangkan sebab-sebab gejala. Konselor menggunakan intuisinya yang dicek oleh logika, oleh reaksi klien, oleh uji coba dari program kerja berdasarkan diagnosa sementara.

belajar terpimpin menuju pengertian diri 2. Tiga metode pemberian nasehat yang dapat digunakan oleh Konselor : a. baik dilembaga. penuh pemahaman dan terhindar dari hal-hal yang mengancam konseli. Dalam kaitan ini ada lima jenis konseling adalah : 1. dan dibantu untuk menggunakan kekuatannya dalam upaya mengatasi kelemahannya. pandangan atau sikap Konselor dan kemudian menunjukkan data yang mendukung atau tidak mendukung dari hasil diagnosis. agar klien mengerti dan trampil dalam menggunakan prinsip dan teknik yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Teknik yang digunakan harus disesuaikan dengan individualitas klien. dengna menunjukan pilihan yang pasti secara jelas. Penafsiran data dan diagnosis dilakukan bersama-sama dengan klien dan Konselor menunjukkan profil tes secara arif. Penjelasan mengenai pemberian nasehat harus dipahami klien. tetapi secara emosional belum mau menerima. Bantuan pribadi dan Konselor. intim. Untuk dirinya sendiri. Pemberian nasehat dan perencanaan program kegiatan. maka Konselor bertanggung jawab dan membantu klien untuk mencapai tingkat pengambilan tanggung jawab. Memperbaiki pemahaman diri. 3. Tahap Tindak Lanjut Mencakup bantuan kepada klien dalam menghadapi maslaah baru dengan mengingatkannya kepada masalah sumbernya sehingga menjamin keberhasilan konsleing. Mencakup hubungan dan teknik yang bersifat menyembuhkan dan efektif.2. 5. 4. yang berarti dia mampu dan mengerti secara logis. bersifat pribadi. Nasehat langsung (direct advising). Mendidik kembali yang sifatnya sebagai katarsis atau penyaluran 1. Tahap Konseling Merupakan hubungan membantu klien untuk menemukan sumber diri sendiri maupun sumber diluar dirinya. . tujuan. Metode persuasif. Pengunaan hungan intim (Rapport). dimana Konselor secara terbuka dan jelas menyatakan pendapatnya. sekolah dan masyarakat dalam upaya mencapai perkembangan dan penyesuaian optimal. mendidik kembali atau mengajar kembali sesuai dengan kebutuhan individu sebagai alat untuk mencapai tujuan kepribadiannya dan penyesuaian hidupnya. 1. Teknik Konseling 1. Prognosis yang sebenarnya terkandung didalam diagnosis misalnya diagnosisnya kurang cerdas pronosisnya menjadi kurang cerdas untuk pekerjaan sekolah yang sulit sehingga mungkin sekali gagal kalau ingin belajar menjadi dokter. 2. 3. Konselor harus menerima konseli dalam hubungan yang hangat. sesuai dengan kemampuannya. Konselor mulai dari pilihan. konseli harus memahami kekuatan dan kelemahan dirinya. 1. Kalau klien belum sanggup berbuat demikian. b.

2. (antecedent or activating event) Irrational Beliefs. Metode penjelasan. penekanan pada aspek kognitif merupakan upaya menseimbangkan pandangan lain yang lebih menekankan aspek afektik atau emosional. 4. 4. Secara umu dijelaskan dalam bagan sebagai berikut : Komponen A Activity / action / agent Hal-hal. membawa kepad aupaya perbaikan dalam pengembangan dan penggunaannya.T) Salah satu teori utama mengenai kepribadian yang ditemukan oleh Albert Ellis dan para penganut Rational Emotive therapy dikenal dengan “Teori A-B-C-D-E). Konselor secara hati-hati dan perlahan-lahan menjelaskan data diagnostic dan menunjukan kemungkinan situasi yang menuntut penggunaan potensi konseli. yang merupakan metode ynag paling dikehendaki dan memuaskan. serta perbaikan dalam pengumpulan dan pengunaan data lingkungan. situasi. yakni keyakinankeyakinan yang rasional atau layak dan Self verbalization External event Proses Kejadian diluar atau sekitar individu Terjadi dalam diri individu. kegiatan atau peristiwa yang mengawaliatau yang mengerakkan individu. yakni keyakinanrB keyakinan irasional atau tidak layak terhadap kejadian eksternal (A) iB Rational Beliefs. yakni apa yang terus mnenerus ia katakan berhubungan dengan A terhadap dirinya . menunjukkan kepada petugas lain (alih tangan) bila dirasa Konselor tidak dapat mengatasi masalah klien. Teori sifat dan faktor menerapkan pendekatan ilmiah kepada konseli. Penekanan pada penggunaan data tes obyektif. Melaksanakan rencana. Penekanan yang diberikan pada diagnosis mengandung makna sebagai suatu perhatian masalah dan sumbernya dan mengarah pada upaya mengkreasikan teknik-teknik untuk mengatasinya. Kontribusi yang diberikan oleh teori Trait & Faktor 1. yaitu Konselor memberikan bantuan dalam menetapkan pilihan atau keputusan secara implementasinya. teori ini merupakan sentral dari teori dan praktek RET. 3. d. II. Konseling Rational Emotive (Albert Ellis) dikenal dengan Rational Emotive Therapy (R.E.c.

rasa berdosa. 2. d. Mengajak. yakni keyakinankonsekuensi-konsekuensi yang tidak layak keyakinan yang rasional atau layak secara rC yang berasal dari (A) empirik mendukung kejadian-kejadian eksternal (A) Rational or reasonable Consequences. Konselor melatih dan mengajar klien untuk menghadapi kenyataan-kenyataan hidup secara rasional dan membangkitkan kepercayaan. D Tujuan konseling Rasional-Emotif 1. rasa cemas. Validate or invalidate self-verbalization : yakni suatu proses self-verbalization dalam diri individu. dan rasa marah. Menantang klien dengan berbagai ide yang valid dan rasional. Change self-verbalization. cara berpikir. c. yakni terjadinya perubahan perilaku dalam diri individu . Memperbaiki dan merubah sikap. meningkatkan self actualizationnya seoptimal mungkin melalui perilaku kognitif dan afektif yang positif.yakni efek kognitif yang terjadi dari pertentangan (dispating) dalam keyakinan-keyakinan irasional. persepsi.secara empirik mendukung kejadian eksternal (A) Irrational Consequences. Menggunakan analisis logis untuk mengurangi keyakinan-keyakinan irasional (irrational beliefs) klien. apakah valid atau tidak. yakni keyakinan-keyakinan irasional dalam diri individu saling bertentangan (disputing) CE Cognitive Effect of Disputing. yaitu Rational Beliefs. iC yakni konsekuensi-konsekuensi rasional atau layak yang dianggap berasal dari rB=keyakinan yang rasional Dispute irrational beliefs. keyakinan serta pandangan-pandangan klien yang irasional dan tidak logis menjadi rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan diri. rasa bersalah. Change Behavior. BE Behavioral Effect of Disputing yakni efek dalam perilaku yang terjadi dalam pertentangan dalam keyakinan-keyakinan irasional diatas. b. Menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti : rasa takut. Albert Ellis (1973) memberikan gambaran tentang apa yang dapat dilakukan oleh praktisi rasionalemotive yaitu : a. terjadinya perubahan dalam verbalisasi dari pada individu. merasa was-was. nilai-nilai dan kemampuan diri sendiri. mendorong klien untuk menanggalkan ide-ide irasional yang mendasari gangguan emosional dan perilaku. Menunjukkan kepada klien azas ilogis dalam berpikirnya.

Kebanyakan perilaku manusia dipelajari oleh sebab itu dapat diubah. Bandura. Menggunakan absurdity dan humaor untuk menantang irasionalitas pemikiran klien. Thoresen (shertzer & Stone 1980. obyektif dan logis dalam berpikir dan selanjutnya melatih diri klien untuk mengobservasi dan menghayati sendiri bahwaide-ide irasional dan deduksi-deduksi hanya kan membantu perkembangan perilaku dan perasaan-perasaan yang dapat menghambat perkembangan dirinya. 188) memberikan ciri-ciri konseling behavioral sebagai berikut : 1. Ray E. . sehingga dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkresi kondisi-kondisi belajar. 5. dapat digunakan untuk mengembangkan prosedur-prosedur konseling. tetap atau ditentukan sebelumnya. Perubahan-perubahan khusus terhadap lingkungan individu dapat membantu dalam mengubah perilaku-perilaku yang relevan. Prinsip-prinsip belajar spesial seperti : “reinforcement” dan “social modeling” . 1980. Prosedur-prosedur konseling berusaha membawa perubahan-perubahan yang relevan dalam perilaku klien dengan mengubah lingkungan 3. Krumboltz. Wolpe dll) Konsep behavioral : perilaku manusia merupakan hasil belajar. Mengajarkan kepada klien bagaimana mengaplikasikan pendekatan-pendekatan ilmiah.e. proses konseling merupakan suatu penataan proses atau pengalaman belajar untuk membantu individu mengubah perilakunya agar dapat memecahkan masalahnya. Proses konseling Menurut Krumboltz dan Thoresen (Shertzer & Stone. Prosedurprosedur konseling tidak statik. f. Hosfor . Thoresen. 4. g. Konseling Behavioral (D. tetapi dapat secara khusus didesain untuk membantu klien dalam memecahkan masalah khusus. Menunjukkan bahwa keyakinan-keyakinan irasional ini adalah inoperative dan bahkan hal ini pasti senantiasa mengarahkan klien pada gangguan-gangguan behavioral dan emosional. h. 190) konsseling behavior merupakan suatu proses membantu orang untuk memecahkan masalah. Pada dasarnya. Carl E. 2.interpersonal. emosional dan keputusan tertentu. Menjelaskan kepada klien bagaimana ide-ide irasional ini dapat ditempatkankembali dan disubtitusikan kepada ideide rasional yang harus secara empirik melatar belakangi kehidupannya. Keefektifan konseling dan hasil konseling dinilai dari perubahan dalam perilaku-perilaku khusus diluar wawancara prosedur-prosedur konseling. III.

Metode Emotional Learning. 178) sebagai salah satu bentuk kerja sama antara konselor dan klien sebagai berikut : 1. 3. Carl Jung. 6. Klien dan konselor menetapkan tujuan yang telah ditetapkan apakah merupakan perubahan yang dimiliki oleh klien. Harry Stack Sullivan. Adler. Bersama-sama menjajaki apakah tujuan itu realistik. dan bermain peranan. 7. Mendiskusikan kemungkinan kerugian tujuan. 4. dan simbolisme sebagai konsep primer. konflik. . Mendiskusikan kemungkinan manfaat tujuan. IV. konselor dan klien membuat salah satu keputusan berikut : untuk meneruskan konseling atau mempertimbangkan kembali tujuan akan mencari referal. Konseling Psikoanalisa (Sigmund Freud. atau pembelajaran emosional diterapkan pada individu yang mengalami suatu kecemasan.Urutan pemilihan dan penetapan tujuan dalan konseling yang digambarkan oleh Cormier and Cormier (Corey. 4. Otto Rank. 2. Klien mengkhususkan perubahan positif yang dikehendaki sebagai hasil konseling. Metode yang dapat digunakan 1. Atas dasar informasi yang diperoleh tentang tujuan klien. 2. Metode Unitative Learning aau social modeling diterapkan oleh konselor dengna merancang suatu perilaku adaptif yang dpaat dijadikan model oleh klien. Manusia pada hakekatnya bersifat biologis. 1986. Konselor menjelaskan maksud dan tujuan. dilahirkan dengan dorongan-dorongan instingtif. 5. dan perilaku merupakan fungsi mereaksi secara mendalan terhadap dorongan-dorongan itu. 3. kontrak antara konselor dan klien. Manusia bersifat tidak rasional dan tidak sosial. Karen Honey. dan destruktif terhadap dirinya dan orang lain. Pendekatan operant learning hal yang penting adalah pengutan (reinfocement) yang dapat menghasilkan perilaku klien yang dikehendaki. William Reich.dll) Konsep Freud yang anti rasionalisme menekankan motivasi tidak sadar. Metode Cognitive Learning atau pembelajaran kognitif merupakan metode yang berupa pengajaran secara verbal. Energi psikis yang paling dasar disebut libido yang bersumber dari dorongan seksual yang terarah kepada pencapaian kesenangan.

Satu karakteristik konseling psikonalisa adalah bahwa terapi atau analisis bersikap anonim (tak dikenal) dan bertindak sangat sedikit menunjukkan perasaan dan pengalamannya. Pengalaman masa lampau ditata. dan Donal Dinkmeyer) Konstruk utama psikologi individual adalah bahwa perilaku manusia dipandang sebagai suatu kompensasi terhadap perasaan inferioritas (kurang harga diri). Kekurangan dalam hal fisik 2. didiskusikan. Proses konseling dipusatkan pada usaha menghayati kembali pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak. Anak yang mendapat penolakan Proses Konseling . Konselor harus membangun hunbungan kerja sama dengan klien kemudian melakukan serangkaian kegiatan mendengarkan dan menafsirkan. Konselor mengajari klien memaknai proses ini sehingga klien memperoleh tilikan mengenai masalahnya. Yaitu klien mengatakan apa saja ynag terlintas dalam pikirannya. Teknik-teknik terapi 1. Interpretasi 3. Anak yang dimanja 3. Asosiasi bebas 2. 7. Analisis transferensi (pemindahan) V. 1. 8. Konseling Psikologi Individual (Alfred Adler. Kompleks rasa rendah diri (inferiority complex) menurut Adler berasal dari tiga sumber : 1. tetapi yang lebih adalah mengasosiasikan antara perasaan dan ingatan dengan pemahaman diri. Perilaku merupakan suatu upaya untuk mencapai keseimbangan. Setelah beberapa kali pertemuan kemudian klien melakukan kegiatan asosiasi bebas. 6. Istilah yang digunakan oleh Adler adalah “inferiority complex” untuk menggambarkan keadaan perasaan harga diri kurang yang selalu mendorong individu untuk melakukan kompensasi mencapai keunggulan. Konseling analitik menekankan dimensi afektif dalam membuat pemahaman ketidak sadaran. 2. Tilikan dan pemahaman intelektual sangat penting. Klien harus menyanggupi dirinya sendiri untuk melakukan proses terapi dalam jangka panjang.Proses konseling Tujuan konseling psikoanalitikadalah membentuk kembali struktur karakter individu dengan membuat yang tidak sadar menjadi sadar dalam diri klien. sehingga dengan demikian klien akan memantulkan perasaannya kepada konselor. Analisis mimpi 4. Menata proses terapeutik yang demikian dalam konteks pemahaman struktur kepribadian dan psikodinamika memungkinkan konselor merumuskan masalah klien secara sesungguhnya. 3. Setiap pertemuan biasa berlangsung satu jam. Rudolph Dreikurs. Analisis Resistensi 5. Proyeksi klien merupakan bahan terapi yang ditafsirkan dan dianalisia. dianalisa dan ditafsirkan dengan tujuan untuk merekonstruksi kepribadian. 5. 4. Martin Son Tesgard.

gejala dan masalahnya. Tujuan konseling adalah : 1. Menurut Ansbacher & Anbacher (Shertzer & Stone. 2. Proses memperkuat minat sosial. Psikologi individual menekankan pentingnya membantu klien untuk memperoleh tilikan terhadap kondisinya. Proses menjelaskan kepada klien. Memperoleh pemahaman gaya hidup klein yang spesifik. Kelompok yang melibatkan pendekatan rasional. klien dengan menghadapkan mereka. Sebagai fungsi tujuan tertentu.Tujuan konseling menurut Adler adalah mengurangi intensitas perasaan rasa rendah diri (inferior). dan menunjukkan minat dan kepedulian mereka. Konseling Analisis Transaksional (Eric Berne) pioner yang menerapkan analisa transaksional dalam psikoterapi. Kelompok yangh melibatkan sugesti. 204) ada tiga komponen pokok dalam proses konseling : 1. melalui empati. dan fungsi parental lain. dan mempunyai tanggung jawab untuk memelihara perhatian pada transaksi. dukungan kembali (reassurence). memperbaiki kebiasaan-kebiasaan yang salah dalam persepsi. tindakan yang diambil. Proses Konseling Tugas utama konselor yang menggunakan analisis transaksional adalah mengajar bahasa dan ide-ide sistem untuk mendiagnosa transaksi. Membantu klien dalam memprogram pribadinya. Konselor transaksional selalu aktif. dalam komponen ini hipotesis gaya hidup yang dikembangkan dalam komponen pertama harus ditafsirkan dan dikomunikasikan dengan klien sehingga dapat diterima. 2. menghindarkan keadaan diam yang terlalu lama. Dalam terapi ini hubungan konselor dan klien dipandang sebgai suatu transaksional (interaksi. . intuisi dan penaksiran konselor. Transaksi menurut Berne merupakan manivestasi hubungan sosial. tanya jawab) dimana masing0masing partisipan berhubungan satu sama lain. 3. dengan menggunakan konfrontasi dan interpretasi seperti terapi non direktif dan psiko analisa. Berne membagi psikoterapi konvensional menjadi dua kelompok 1. VI. secara seimbang. menetapkan tujuan hidup. Dalam unsur ini konselor membentuk hipotesis mengenai gaya hidup dan situasi klien. 1980. mengembangkan kasih sayang terhadap orang lain. dan meningkatkan kegiatan.

Karakteristik konseling berpusat pada klien 1. Klien dibantu untuk menjadi bebas dalam berbuat. Klien berpartisipasi aktif dalam diagnosis dan diajar untuk membuat tafsiran dan pertimbangan nilai sendiri. 6. 5. remaja. Proses terapi merupakan penyerasian antara gambaran diri klien dengan keadaan dan pengalaman diri yang sesungguhnya. Konseling memusatkan pada pengalaman individual. Konsep pokok yang mendasari adalah hal yang menyangkut konsep-konsep mengenai diri (self). aktualisasi diri. Hubungan konselor dan klien merupakan situasi pengalaman terapeutik yang berkembang menuju kepada kepribadian klien yang integral dan mandiri. bermain. konseling berupaya meminimalisir rasa diri terancam. Melalui penerimaan terhadap klien. Pertumbuhan emosional terjadi dalam hubungan konseling. 2. 3. 4. Masa kini lebih banyak diperhatikan dari pada masa lalu. Aawancara merupakan alat utama dalam konseling untuk menumbuhkan hubungan timbal balik. 5. 4. pengalaman. teori kepribadian.2. VIII.dan hakekat kecemasan. Klien dibantu mengkaji keputusan yang telah dibuat dan membuat keputusan baru atas dasar kesadaran. Konseling / Terapi Gestalt . Klien memegang peranan aktif dalam konseling sedangkan konselor bersifat pasif reflektif. Teknik konfrontasi juga dapat digunakan dalam analisis transaksional dan pengajuan pertanyaan merupakan pendeatan dasar. 2. dan anak-anak. Menurut Roger konsep inti konseling berpusat pada klien adalah konsep tentang diri dan konsep menjadi diri atau pertumbuhan perwujudan diri. dan menjadi orang mandiri dalam memilih apa yang mereka inginkan. VII. mengkaji dan memadukan pengalamanpengalaman sebelunya ke dalam konsep diri. 5. Teknik-teknik daftar cek. 3. 7. Lebih mengutamakan sasaran perasaan dari pada intelek. analisis script atau kuisioner digunakan untuk mengenal keputusan yang telah dibuat sebelumnya. Konseling Client Centered (Berpusat Pada Klien) (Carl R. 4. 3. Proses konseling 1. 7. dengan redefinisi. Fokus utama adalah kemampuan individu memecahkan masalah bukan terpecahnya masalah. untuk berlangsungnya konseling kontrak antara konselor dan klien sangat diperlukan. Pendekatan konseling client centered menekankan pada kecakapan klien untuk menentukan isu yang penting bagi dirinya dan pemecahan masalah dirinya. membuatnya untuk memperjelas dan mendapat tilikan pearasaan yang mengarah pada pertumbuhan. Roger) menurut Roger Konseling dan Psikoterapi tidak mempunyai perbedaan. dan memaksimalkan dan serta menopang eksplorasi diri. individu mencapai penerimaan diri dan menerima orang lain dan menjadi orang yang berkembang penuh. 6. Perubahan perilaku datang melalui pemanfaatan potensi individu untuk menilai pengalamannya. konselor membantu untuk menyatakan. Konseling yang berpusat pada klien sebagai konsep dan alat baru dalam terapi yang dapat diterapkan pada orang dewasa.

. Fase kedua : melaksanakan pengawasan . Kesehatan merupakan keseimbangan yang layak. Psikologi Gestalt Peris menyatakan bahwa individu. Pertentangan antara keberadaan sosial dan biologis merupakan konsep dasar terapi Gestaslt. konselor berusaha meyakinkan atau memaksa klien mengikuti prosedur yang telah ditetapkan sesuai dengan keadaan klien. Konsep utama terapi Peris adalah 8. dalam hal ini manusia. 2. Dua hal yang harus dilakukan :  · Menimbulkan motivasi pada klien. Fokus utama dalam konseing Gestalt adalah membantu individu melalui transisinya dari keadaan yang selalu dibantu oleh lingkungan ke keadaan mandiri (selft-support). Proses Konseling Tujuan utama konseling Gestalt adalah meningkatkan proses pertumbuhan klien dan membantu klien mengembangkan potensi manusiawinya. Situasi mengandung komponen emosional dan intuitif. selalu aktif sebagai keseluruhan. Peris 1989-1970) terapi ini dikembangkan dari sumber dan pengaruh tiga disiplin yang sangat berbeda yaitu : 1. yang terhambat dinyatakan oleh individu yang bersangkutan. peristiwa-peristiwa.(dikembangkan oleh Frederick S. Psikoanalisis terutama yang dikembangkan oleh Wilhelm Reih 2. merupakan koordinasi dari seluruh organ. mengganti terapist. Garis-garis besar terapi Gestalt 1. mengubah pasangan. Fenomenolohi eksistensialisme Eropa dan 3. ingatan-ingatan (memories). Bentuk-bentuk avoidance antara lain phobia. Unfinished business yang tercakup didalamnya adalah emisi-emosi. melarikan diri. Fase pertama : membentuk pola pertemuan terapeutik agar tercapai situasi yang memungkinkan perubahanperubahan yang diharapkan pada klien. Konselor membuat klien menjadi kecewa sehingga klien dipaksa untuk menemukan caranya atau mengembangkan potensinya sendiri. Avoidance atau penghindaran adalah segala cara yang digunakan oleh seseorang untuk melarikan diri dari Unfinished business. 9.

perasaan-perasaannya. Menyadari diriny. Klien harus memiliki kepercayaan pada potensinya. Pada fase ini klien harus memiliki ciri-ciri yang menunjukan integritas kepribadiannya sebagai individu yang unik dan manusiawi. Fase terakhir : setelah klien memperoleh pemahaman dan penyadaran tentang dirinya. maka terapi ada pada fase terakhir. sadar dan bertanggung jawab atas sifat otonominya. 4. tindakannya. 3. . Fase ketiga : klien didorong untuk mengatakan perasaan-perasaannya pada pertemuan-pertemuan terapi saat ini. pikiran-pikirannya. perasaannya. bukan menceritakan masa lalu atau harapan-harapan masa datang. · Menciptakan rapport yaitu hubungan baik antara konselor dan klien agar timbul rasa percaya klien bahwa segala usaha konselor itu disadari benar oleh klien untuk kepentingannya. perbuatannya.