P. 1
MITIGASI BENCANA GEOLOGI

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

|Views: 1,959|Likes:
Published by Djauhari Noor

More info:

Published by: Djauhari Noor on Apr 05, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/30/2013

pdf

text

original

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

1P

endahuluan

Proses-proses geologi baik yang bersifat endogenik maupun eksogenik dapat menimbulkan bahaya bahkan bencana bagi kehidupan manusia. Bencana yang disebabkan oleh proses-proses geologi disebut dengan bencana geologi. Longsoran Tanah, Erupsi Gunungapi, dan Gempabumi adalah contoh-contoh dari bahaya geologi yang dapat berdampak pada aktivitas manusia di berbagai wilayah di muka bumi. Berdasarkan catatan, bencana yang diakibatkan oleh bahaya geologi yang terjadi di berbagai belahan dunia meningkat secara tajam, baik dalam tingkat dan frekuensi kejadiannya dan secara statistik jumlah korban jiwa dan harta benda juga meningkat. Berdasarkan catatan BAKORNAS, bencana yang melanda Indonesia dari tahun ke tahun menunjukan peningkatan yang cukup signifikan. Selama periode 2003 – 2005 telah terjadi 1.429 bencana, baik yang disebabkan oleh bencana geologi maupun bencana hidro-meteorologi. Untuk membangun sistem mitigasi bencana alam (geologi), pertama tama yang harus dilakukan adalah mengkaji dan menganalisa bagaimana suatu bahaya geologi dapat berubah menjadi bencana dan seberapa besar tingkat probabilitas daerah yang rentan bahaya geologi terkena bencana geologi serta resiko apa saja yang mungkin terjadi apabila bencana geologi menimpa daerah tersebut. Bahaya geologi akan berubah menjadi bencana geologi hanya jika bahaya tersebut mengakibatkan korban jiwa atau kerugian harta benda. Sebagai contoh jika suatu gempa yang sangat kuat terjadi di daerah yang tidak berpenghuni, maka gempa tersebut boleh jadi hanya akan menjadi catatan statistik saja bagi para seismolog, akan tetapi sebaliknya apabila gempa tersebut terjadi di kawasan yang penghuninya sangat padat, seperti gempa yang terjadi di Bantul, Yogyakarta pada tahun 2006, walaupun kekuatan gempanya tidak begitu besar namun menyebabkan kerusakan yang sangat luas serta menelan korban jiwa yang tidak sedikit. Pertanyaannya selanjutnya adalah mengapa hal ini dapat terjadi ? Jawabannya adalah karena hampir semua bangunan yang ada di wilayah tersebut tidak dirancang sebagai bangunan tahan gempa, sehingga ketika terjadi gempa, bangunan-bangunan tersebut runtuh yang mengakibatkan banyak penghuninya menemui ajalnya terkena oleh reruntuhan rumahnya. Oleh karena itu diperlukan suatu standarisasi bangunan tahan gempa, terutama untuk bangunanbangunan yang berada di wilayah wilayah yang rentan terkena bahaya gempabumi, sehingga dapat menyelamatkan penghuninya ketika terjadi gempabumi. Penerapan strategi pengelolaan resiko bencana berbasis masyarakat saat ini sudah mulai diterapkan dan program ini didukung oleh pemerintah, baik dukungan yang berupa bantuan keuangan dan pembangunan kembali rumah rumah yang rusak melalui standarisasi bangunan tahan gempa. Bahaya geologi yang berada di muka bumi pada hakekatnya merupakan hasil dari proses-proses geologi, baik yang bersifat endogenik maupun eksogenik dimana proses proses tersebut tidak bisa dikendalikan oleh manusia. Dalam beberapa kasus, tingkat kerusakan relatif terhadap jumlah korban dan kerugian harta benda dapat dipakai sebagai pembanding antara skala bencana dan resiko bencana yang terjadi di suatu wilayah. Manusia dapat juga menjadi faktor penyebab yang merubah bahaya geologi menjadi bencana geologi serta menjadi faktor penentu dari tingkat kerusakan suatu bencana, seperti misalnya pertumbuhan penduduk yang tinggi, kemiskinan, degradasi lingkungan, dan kurangnya informasi. Meskipun ke-empat faktor tersebut dianggap 1
Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

sebagai faktor yang saling berpengaruh satu dan lainnya serta ke-empat faktor tersebut sulit dipisahkan mana yang paling dominan berpengaruh terhadap tingkat kerusakan suatu bencana. Kerentanan terhadap bencana geologi di suatu wilayah akan semakin besar seiring dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk dan menjadi salah satu faktor utama dari penyebab bencana geologi. Tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi secara langsung akan berdampak pada tingginya tingkat pembangunan infrastruktur. Apabila tidak ada upaya upaya untuk mencegah bahaya geologi yang mungkin terjadi, maka apabila bencana geologi benar-benar terjadi di kawasan tersebut maka sudah barang tentu akan memakan korban serta kerugian harta benda yang tinggi pula. Dibeberapa kawasan yang konsentrasi penduduknya tinggi, meskipun sudah menpunyai sistem peringatan dini untuk suatu bahaya geologi tertentu, namun untuk menyebarkan informasi dan peringatan ke setiap orang di seluruh kawasan tersebut tidak dimungkinkan, sehingga sangat memungkinkan setiap orang bertindak dan merespon suatu peringatan bahaya sesuai dengan persepsinya masing-masing. Dan hal ini akan menimbulkan kepanikan dan kekacauan di masyarakat yang pada akhirnya dapat menimbulkan korban jiwa yang lebih besar.

1.1.

Pengertian

a. Mitigasi:
Berdasarkan Undang-undang No 24 Tahun 2007, Bab I Ketentuan Umum, Pasal 1 angka 9 (PP No 21 Tahun 2008, Bab I Ketentuan Umum, Pasal 1 angka 6, pengertian mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Adapun mitigasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 huruf c dilakukan untuk mengurangi risiko bencana bagi masyarakat yang berada pada kawasan rawan bencana. (UU No 24 Tahun 2007 Pasal 47 ayat (1). Mitigasi bencana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf c dilakukan untuk mengurangi risiko dan dampak yang diakibatkan oleh bencana terhadap masyarakat yang berada pada kawasan rawan bencana. (PP No 21 Tahun 2008 Pasal 20 ayat (1) Secara umum pengertian mitigasi adalah pengurangan, pencegahan atau bisa dikatakan sebagai proses mengupayakan berbagai tindakan preventif untuk meminimalisasi dampak negatif bencana yang akan terjadi. Pengertian dari Mitigasi Bencana Geologi (Geological Hazard Mitigation) adalah pengurangan, pencegahan atau proses mengupayakan berbagai tindakan preventif untuk meminimalisasi dampak negatif terhadap bencana alam geologi. Definisi Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. (Definisi bencana menurut UU No. 24 tahun 2007).

b. Mitigasi Bencana
Mitigasi bencana adalah istilah yang digunakan untuk menunjuk pada tindakan untuk mengurangi dampak dari suatu bencana yang dapat dilakukan sebelum bencana itu terjadi, termasuk kesiapan dan tindakan-tindakan pengurangan resiko jangka panjang. Dalam UU No. 24 Tahun 2007, usaha mitigasi dapat berupa prabencana, saat bencana dan pasca bencana. Prabencana berupa kesiapsiagaan atau upaya memberikan pemahaman pada penduduk untuk mengantisipasi bencana, melalui pemberian informasi, peningkatan kesiagaan kalau terjadi bencana ada langkah-langkah untuk memperkecil resiko bencana. Penanganan bencana harus dengan strategi proaktif, tidak semata-mata bertindak pascabencana, tetapi melakukan berbagai kegiatan persiapan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana. Berbagai tindakan yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi datangnya bencana dengan 2
Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

membentuk sistem peringatan dini, identifikasi kebutuhan dan sumber-sumber yang tersedia, penyiapan anggaran dan alternatif tindakan, sampai koordinasi dengan pihak-pihak yang memantau perubahan alam. Dalam mitigasi dilakukan upaya-upaya untuk meminimalkan dampak dari bencana yang akan terjadi yaitu program untuk mengurangi pengaruh suatu bencana terhadap masyarakat atau komunitas dilakukan melalui perencanaan tata ruang, pengaturan tata guna lahan, penyusunan peta kerentanan bencana, penyusunan data base, pemantauan dan pengembangan. Mitigasi bencana merupakan kegiatan yang amat penting dalam penanggulangan bencana karena kegiatan ini merupakan kegiatan sebelum terjadinya bencana yang dimaksudkan untuk mengantisipasi agar korban jiwa dan kerugian materi yang ditimbulkan dapat dikurangi. Masyarakat yang berada di daerah rawan bencana maupun yang berada di luar sangat besar perannya, sehingga perlu ditingkatkan kesadarannya, kepeduliannya dan kecintaannya terhadap alam dan lingkungan hidup serta kedisiplinan terhadap peraturan dan norma-norma yang ada. Istilah program mitigasi bencana mengacu kepada dua tahap perencanaan yaitu: Pertama, perencanaan sebelum kejadian untuk manajemen bencana, mencakup aktivitas-aktivitas mitigasi dan perencanaan bencana; Kedua, perencanaan serta tindakan sesudah kejadian, meliputi peningkatan standar teknis dan bantuan medis serta bantuan keuangan bagi korban (Inoghuci et.al, 2003). Dalam mitigasi bencana dilakukan tindakan-tindakan antisipatif untuk meminimalkan dampak dari bencana yang terjadi dilakukan melalui perencanaan tata ruang, pengaturan tata guna lahan, penyusunan peta kerentanan bencana, penyusunan data, pemantauan dan pengembangan. Di negara-negara maju, kesalahan dalam pembangunan diimbangi melalui perencanaan yang matang (Inoghuci et.al, 2003). Informasi tempat pengungsian saat terjadi bencana alam sangat penting sebab penduduk yang menyelamatkan diri saat terjadinya bencana seharusnya tahu kemana mereka harus menyelamatkan diri. Keberadaan rambu-rambu petunjuk arah penyelamatan seperti yang dilakukan di Jepang mutlak diperlukan agar masyarakat tahu jalur yang akan dilaluinya untuk menyelamatkan diri sebelum terjadi bencana. Dengan demikian akan berkurang kepanikan masyarakat pada saat bencana akan terjadi sehingga masyarakat bisa dengan lebih tenang dalam melakukan upaya mitigasi bencana. Penerapan informasi yang efektif dan program-program pendidikan, masyarakat dapat menggunakan brosur, instruksi satu lembar, uji coba sistem peringatan secara berkala, informasi media cetak dan elektronik dan lain-lain. Beberapa informasi ini ditujukan bagi institusi-institusi seperti sekolah-sekolah, rumah sakit, fasilitas perawatan-pemulihan, dan komunitas yang tidak bisa berbahasa setempat (para wisatawan). Upaya-upaya informasi dan pendidikan ini penting diadakan secara rutin dan komprehensif. Kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah kota ditujukan untuk mengurangi kerugian dan kerusakan akibat bencana yang sewaktu-waktu dapat melanda kota. Pemerintah pada daerah yang rawan bencana gempa intensif melakukan simulasi upaya evakuasi dan penyelamatan terhadap bencana. Demikian juga media membantu dengan menayangkan program yang memberi informasi upaya penyelamatan terhadap bencana gempa. Dalam hal bencana yang disebabkan oleh gempa bumi di daerah perkotaan, berdasarkan fakta dan hasil penelitian beberapa pakar, menunjukkan bahwa sebagian besar korban terjadi akibat keruntuhan dan kerusakan bangunan, seperti jatuhnya atap, runtuhnya kolom, hancurnya dinding, dll. Hal ini menunjukkan bahwa upaya mitigasi bencana gempa bumi melalui pengembangan disain rumah tahan gempa sampai saat ini belum sepenuhnya berhasil. Hal lain juga yang menyebabkan korban akibat bencana gempa sangat besar adalah tidak adanya lokasi evakuasi yang mampu memberikan perlindungan bagi warga ketika bencana terjadi yaitu berupa bangunan penyelamatan yang telah dilengkapi dengan peralatan dan perlengkapan dalam keadaan darurat. Mitigasi harus memperhatikan semua tindakan yang diambil untuk mengurangi pengaruh dari bencana dan kondisi yang peka dalam rangka untuk mengurangi bencana yang lebih besar

3

Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

dikemudian hari. Karena itu seluruh aktivitas mitigasi difokuskan pada bencana itu sendiri atau bagian/elemen dari ancaman.

c.

Kesiapsiagaan

Upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi melalui pengorganisasian yang tepat dan berdaya guna. Menurut Randolph Kent (1994) kesiapan bencana mencakup peramalan dan pengambilan keputusan tindakan-tindakan pencegahan sebelum munculnya ancaman, didalamnya meliputi pengetahuan tentang gejala munculnya bencana, gejala awal bencana, pengembangan dan pengujian secara teratur terhadap sistem peringatan dini, rencana evakuasi atau tindakan lain yang harus diambil selama periode waspada untuk meminimalisir kematian dan kerusakan fisik yang mungkin terjadi. Kesiapsiagaan merupakan salah satu bagian dari proses manajemen bencana dan di dalam konsep pengelolaan bencana yang berkembang saat ini, peningkatan kesiapsiagaan merupakan salah satu elemen penting dari kegiatan pengurangan risiko bencana yang bersifat pro-aktif, sebelum terjadinya suatu bencana. Di dalam proses pengelolaan bencana yang direpresentasikan sebagai model siklus, peningkatan kesiapsiagaan merupakan bagian dari proses pengelolaan risiko bencana, seperti diperlihatkan pada gambar 1.

Bencana

Peringatan

Pertolongan Bencana

Penilaian Resiko

Pembangunan

Mitigasi

Gambar 1. Kesiapsiagaan dalam Model Siklus Pengelolaan Bencana Model ini memiliki kelemahan karena seolah-olah komponen-komponen kegiatan pengelolaan bencana tersebut berjalan secara sekuensial (berurutan), padahal sesungguhnya tidak demikian. Gambar 1. memperlihatkan peranan peningkatan fase pengurangan resiko bencana terjadi Fase pemulihan setelah bencana terjadi. Kegiatan tanggap darurat meliputi langkah-langkah tindakan sesaat sebelum bencana, seperti: peringatan dini (bila memungkinkan) meliputi penyampaian peringatan dan tanggapan terhadap peringatan; tindakan saat kejadian bencana, seperti: melindungi/menyelamatkan diri, melindungi nyawa dan beberapa jenis benda berharga, tindakan evakuasi; dan tindakan yang harus dilakukan segera setelah terjadi bencana, seperti SAR, evakuasi, penyediaan tempat berlindung sementara, perawatan darurat, dapur umum, bantuan darurat, survei untuk mengkaji kerusakan dan

4

Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

kebutuhan-kebutuhan darurat serta perencanaan untuk pemulihan segera terhadap infrastuktur kritis, sarana sosial seperti pendidikan dan ibadah.

1.2.

Respon Manusia Terhadap Bencana

Untuk dapat hidup secara aman dan nyaman selaras dengan perubahan yang terjadi dimuka bumi, maka kita harus dapat memahami lingkungan alam dan kecepatan perubahan yang terjadi di bumi serta mampu menyesuaikan diri dari karakteristik perubahan alam tersebut. Berkaitan dengan reaksi manusia terhadap bencana alam yang mungkin terjadi di lingkungan dimana manusia itu tinggal adalah antara lain : 1. Menghindar (Avoidance). Reaksi manusia terhadap potensi bencana alam yang paling banyak adalah dengan cara menghindar, yaitu dengan cara tidak membangun dan menempatkan bangunan di tempat-tempat yang berpotensi terkena bencana alam seperti daerah banjir, daerah rawan longsor atau daerah rawan gempa. 2. Stabilisasi (Stabilization). Beberapa bencana alam dapat diseimbangkan dengan menerapkan rekayasa keteknikan, seperti misalnya di daerah-daerah yang berlereng dan berpotensi longsor, yaitu dengan cara membuat kemiringan lereng menjadi landai dan stabil sehingga kemungkinan longsor menjadi kecil, atau bangunan yang akan didirikan menggunakan pondasi tiang pancang sampai ke bagian lapisan tanah yang stabil. 3. Penetapan Persyaratan Keselamatan Struktur Bangunan (Provision for safety in structures). Dalam banyak kasus bangunan yang akan didirikan di tempat-tempat yang berpotensi terjadi bencana alam seperti gempa bumi, maka struktur bangunan harus dirancang dengan memperhitungkan keselamatan jiwa manusia, yaitu dengan bangunan yang tahan gempa. Untuk daerah-daerah yang berpotensi terkena banjir, maka bangunan harus dibuat dengan struktur panggung guna menghindari terpaan air. 4. Pembatasan penggunaan lahan dan penempatan jumlah jiwa (Limitation of land-use and occupancy). Jenis peruntukan lahan, seperti lahan pertanian atau lahan pemukiman dapat dilakukan dengan cara membuat peraturan peraturan yang berkaitan dengan potensi bencana yang mungkin timbul. Penempatan jumlah jiwa per hektar dapat disesuaikan untuk mengurangi tingkat bencana. 5. Membangun Sistem Peringatan Dini (Establishment of early warning system). Beberapa bencana alam dapat diprediksi, sehingga memungkinkan tindakan darurat dilakukan. Banjir, Angin Puyuh, Gelombang Laut, serta Erupsi Gunungapi adalah beberapa jenis bencana alam yang dapat diprediksikan. Sistem Peringatan Dini telah terbukti efektif dalam mencegah dan meminimalkan bencana yang akan terjadi di suatu daerah, seperti banjir dan gelombang laut di daerah-daerah pantai. Dimanakah tempat yang baik dan aman bagi aktifitas manusia? Barangkali yang paling mudah dan kecil resikonya adalah dengan cara menghindar dari lokasi-lokasi yang rawan bencana. Dalam kenyataannya kebanyakan komunitas manusia bertempat tinggal pada lingkungan yang rawan bencana. Dengan demikian untuk meminimalkan dampak bencana geologi yang mungkin melanda di tempat dimana manusia berdomisili adalah cara nomor 2 sampai nomor 5 diatas. Tingkat keselamatan yang ingin dicapai dalam menghadapi bencana geologi seringkali merupakan fungsi dari nilai investasi yang dibelanjakan untuk mencegah bencana tersebut. Pertanyaan yang sering muncul adalah seberapa besar biaya yang harus disediakan untuk mencegah suatu bencana geologi? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka harus ada suatu keputusan tentang tingkat resiko yang akan terjadi dan ikut terlibat di dalamnya. Sebagai contoh adalah resiko penggunaan dan pemanfaatan lahan pemukiman yang berada di kawasan dataran banjir dapat dikurangi menjadi nol, apabila semua kontruksi bangunan dan aktivitas manusia yang berada di wilayah tersebut terlindungi. Akan tetapi pada kenyataannya, biaya produktivitas serta ruang dimana manusia beraktivitas apabila dihitung akan sangat mahal dan bahkan tidak mungkin 5
Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

dikonversi kedalam nilai rupiah. Oleh karena itu resiko banjir yang hanya terjadi seratus tahun satu kali barangkali merupakan tingkat resiko yang dapat diterima untuk kasus diatas. Tingkat resiko yang dapat diterima adalah tingkat resiko yang harus memperhitungkan semua aspek secara rinci dan biasanya hanya untuk beberapa jenis bencana saja. Walaupun perhitungan secara tepat sangat sulit dilakukan, akan tetapi perhitungan suatu resiko sangat erat kaitannya dengan pengambilan keputusan. Pertanyaan yang sama dapat kita ajukan untuk tempat-tempat dimana gempabumi sering melanda di suatu daerah yaitu: Berapa banyak dana tambahan yang harus disediakan dan dikeluarkan untuk membangun suatu konstruksi bangunan yang akan didirikan di lokasi yang tingkat kegempaannya sangat tinggi, walaupun frekuensi kejadian gempabuminya sangat jarang terjadi? Tingkat resiko yang dapat diterima adalah tingkat resiko yang harus sudah mempertimbangkan secara sistematis untuk beberapa tipe bencana saja. Meskipun perhitungan secara akurat tidak mungkin dilakukan, akan tetapi suatu penilaian umum dari resiko harus dituangkan dalam suatu keputusan dan harus mendapat pertimbangan dari suatu badan/ lembaga yang berwenang. Oleh karena itu biasanya perhitungan suatu resiko bencana dilakukan oleh suatu lembaga pembuat keputusan dan dalam hal ini dapat juga dilakukan oleh suatu perusahaan asuransi yang memang bergerak dalam bidang pertanggungan asuransi bencana alam.

1.3.

Sistem Penanggulangan Bencana

Undang-undang no. 24 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana merupakan landasan bagi sistem nasional penanggulangan bencana yang terdiri atas: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Legislasi Kelembagaan Perencanaan Pendanaan Ilmu Penegtahuan dan Teknologi Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana

1.4.

Pengelolaan Resiko Bencana (Disaster Risk Management)

Pengelolaan resiko bencana pada dasarnya adalah suatu upaya yang ditujukan untuk meminimalkan resiko yang mungkin terjadi serta melakukan upaya-upaya pencegahan (mitigasi) di wilayah yang rentan terkena bencana. Pengelolaan resiko bencana merupakan istilah yang umum dipakai dalam penilaian resiko, pencegahan bencana, mitigasi bencana, dan persiapan menghadapi bencana. Beberapa istilah yang sering dipakai dalam pembahasan pengelolaan resiko bencana antara lain adalah Bahaya (Hazard), Bencana (Disaster), Kerentanan (Vulnerability), Resiko Bencana (Disaster Risk), Penilaian Resiko / Analisa Resiko (Risk Assessment/Risk Analysis), Pencegahan Bencana dan Mitigasi (Disaster Prevention and Mitigation), Kewaspadaan Terhadap Bencana (Disaster Preparedness). Adapun pengertian dari istilah-istilah tersebut adalah sebagai berikut : Bahaya (Hazard) adalah suatu ancaman yang berasal dari peristiwa alam yang bersifat ekstrim yang dapat berakibat buruk atau keadaan yang tidak menyenangkan. Tingkat ancaman ditentukan oleh probabilitas dari lamanya waktu kejadian (periode waktu), tempat (lokasi), dan sifatnya saat peristiwa itu terjadi. Bahaya alam (Natural hazard) adalah probabilitas potensi kerusakan yang mungkin terjadi dari fenomena alam di suatu area / wilayah. Bencana (Disaster) merupakan fungsi dari kondisi yang tidak normal yang terjadi pada masyarakat dan mempunyai kecenderungan kehilangan kehidupannya, harta benda dan lingkungan sumberdayanya, serta kondisi dimana masyarakat tidak mempunyai kemampuan untuk keluar dari dampak / akibat yang ditimbulkannya.

6

Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

Kerentanan/kerawanan (Vulnerability) dapat diartikan sebagai ketidakmampuan menangkal /menahan dampak dari kejadian/peristiwa alam yang berasal dari luar atau kecenderungan dari sekumpulan masyarakat terkena atau mengalami kerusakan, masalah dan sebab akibat sebagai hasil dari suatu bahaya. Resiko Bencana (Disaster Risk) adalah tingkat kerusakan dan kerugian yang sudah diperhitungkan dari suatu kejadian atau peristiwa alam. Resiko Bencana ditentukan atas dasar perkalian antara faktor bahaya dan faktor kerentanannya. Yang termasuk bahaya disini adalah probabilitas dan besaran yang dapat diantisipasi pada peristiwa alam; sedangkan kerentanan/kerawanan dipengaruhi oleh faktor politik, ekonomi, sosial budaya dan geografis. Berikut ini adalah rumusan yang dipakai secara luas untuk menghitung resiko bencana yang merupakan perkalian 2 faktor, yaitu: Resiko (Risk) = Bahaya (Hazard) x Kerentanan (Vulnerability) Pengelolaan resiko bencana (Disaster risk management) secara teknis terdiri dari tindakan (program, proyek dan atau prosedur) serta pengadaan peralatan yang dipersiapkan untuk menghadapi dampak atau akibat dari suatu bencana sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, yaitu untuk mengurangi resiko bencana yang ditimbulkannya. Secara operasional, pengelolaan resiko bencana adalah kegiatan yang terdiri dari penilaian resiko, pencegahan bencana, mitigasi dan waspada bencana. Penilaian Resiko atau Analisa Resiko adalah survei yang dilakukan terhadap bahaya yang baru terjadi yang disebabkan oleh suatu peristiwa alam yang ekstrim seperti yang terjadi juga pada kerentanan lokal dari populasi yang didasari atas kehidupan untuk memastikan resiko tertentu di wilayah. Berdasarkan informasi ini resiko bencana dapat dikurangi. Kapasitas adalah kebijakan dan sistem kelembagaan yang dimiliki oleh pemerintah pusat maupun daerah dalam upaya mengurangi potensi kerusakan akibat bencana serta mengurangi kerentanan terhadap bencana. Bencana alam yang disebabkan oleh gempabumi, angin topan, banjir, tanah longsor dan kekeringan seringkali mengingatkan pada kita tentang bencana akan benar-benar terjadi. Resiko bencana sebagai hasil dari frekuensi dan kondisi yang rentan dapat berubah menjadi suatu bencana. Resiko bencana adalah hasil dari tingkat kejadian, intensitas bahaya dan sistem kehidupan yang sangat rentan. Peran dari sistem sosial dalam arti kepedulian masyarakat dan sistem pengelolaan memungkinkan merubah sifat kerentanan terhadap bahaya dan mengurangi tingkat kerawanan melalui intervensi yang sistematik. Pencegahan Bencana dan Mitigasi Adalah aktivitas / kegiatan dalam rangka mencegah dan memitigasi dampak yang sangat buruk dari peristiwa alam yang sangat ekstrim yang dilakukan untuk periode jangka menengah dan jangka panjang. Dari sudut pandang politik, hukum, administrasi, dan infrastruktur, pencegahan bencana merupakan salah satu ukuran untuk menyatakan kondisi /situasi bahaya dan disisi lain melibatkan gaya hidup dan karakter dari penduduk/masyarakat yang tinggal di daerah yang rentan untuk dapat mengurangi resiko bencana yang mungkin dapat menimpanya. Kewaspadaan Terhadap Bencana Kewaspadaan terhadap bencana adalah suatu ukuran yang mencakup kegiatan evakuasi yang dapat dilakukan secara cepat dan efektif dalam usaha penyelamatan nyawa manusia, mitigasi terhadap hilang dan rusaknya harta benda serta penyediaan bantuan darurat. Kewaspadaan terhadap bencana dalam arti yang lebih luas adalah suatu usaha dalam menyediakan sistem peringatan dini, kemampuan dalam meng-koordinasi dan meng-operasikan, perencanaan kondisi darurat, menyalurkan bantuan dalam keadaan darurat dan pelatihan.

7

Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

1.5.

Kegiatan Pengelolaan Resiko Bencana

1. Penilaian Resiko a. Melakukan pendataan bencana yang pernah terjadi dimasa lalu termasuk pendataan terhadap kejadian/peristiwa bencana yang besar yang pernah terjadi b. Mengkaji secara terukur bencana yang disebabkan oleh hidro-meteorologi dan geologi, termasuk penyebab bencana c. Mendata jumlah penduduk (populasi penduduk) yang berada di areal yang beresiko tinggi terkena bencana atau areal yang paling bahaya. d. Melakukan persiapan dan memperbaharui (updating) peta-peta bencana dan area yang sangat berbahaya. 2. Pencegahan dan Mitigasi Bencana a. Menetapkan dan memperkuat pembangunan regional dan perencanaan tataguna lahan, perencanaan pengawasan bangunan yang sesuai dengan zonasi bahaya dan peraturan bangunan. b. Melaksanakan pelatihan bagi masyarakat dan perwaklian kelembagaan c. Membangun dan meningkatkan kemampuan pengelolaan resiko bencana di tingkat lokal dan nasional d. Pengelolaan sumberdaya yang berkelanjutan (seperti misalnya pengelolaan Daerah Aliran Sungai), meningkatkan infrastruktur (bendungan, saluran air, bangunan yang mampu menahan suatu bencana). 3. Kesiapan Menghadapi Bencana a. b. c. d. Partisipasi dan kesadaran terhadap pentingnya rencana tanggap darurat Mempersiapkan infrastruktur (akomodasi saat kondisi darurat, Melakukan latihan secara teratur dalam menghadapi situasi darurat Membangun dan atau meningkatkan kemampuan dalam kesiapan menghadapi bencana, baik di tingkat lokal maupun nasional dan pelayanan penyelamatan e. Koordinasi dan perencanaan operasional f. Sistem Peringatan Dini : 1) Menyiapkan dan meng-operasikan sistem komunikasi 2) Menempatkan peralatan teknis di tempat yang aman 3) Melakukan pelatihan tenaga penyelamat 4. Pengelolaan resiko bencana sebagai bagian dari rehabilitasi dan rekontruksi a. Melakukan penilaian resiko bencana b. Melakukan penilaian infrastruktur, seperti kontruksi banguan tahan gempa, kontruksi bangunan tahan banjir, skema pembangunan, selter tempat pengungsian, dsb c. Membentuk kelembagaan, seperti peran serta masyarakat dan meningkatkan kerjasama diantara individu-individu d. Membentuk organisasi, untuk memperkuat kapabilitas lokal e. Mengembangkan dan memperkenalkan ukuran-ukuran pencegahan dimasa mendatang (seperti pengelolaan DAS, konservasi sumberdaya alam, skema pencegahan banjir) 5. Peran pengelolaan resiko bencana dalam sektor kerjasama pembangunan Kebutuhan pencegahan harus di-integrasikan kedalam sektor pembangunan, hal ini akan membantu pada peningkatan pengelolaan resiko bencana, terutama pada sektor-sektor yang terkait, termasuk desentralisasi dan atau pembangunan masyarakat, pembangunan desa, pencegahan lingkungan dan konservasi sumberdaya alam, perumahan, kesehatan dan pendidikan.

8

Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

1.6.

Pendekatan Multi Sektoral

1. Meningkatkan kewaspadaaan a. Dukungan keuangan untuk meningkatkan kewaspadaan, dinilai berdasarkan hubungan antara biaya yang diinvestasikan dengan keuntungan yang akan diperoleh dalam pengeloalaan resiko bencana. b. Meningkatkan kewaspadaan diantara penduduk/masyarakat yang bermukim di areal yang beresiko tinggi terkena bencana dan dikawasan yang rentan serta mendapat prioritas utama dalam memperoleh pelatihan untuk mengelola resiko bencana. c. Meng-implementasikan sistem peringatan dini d. Partisipasi antara masyarakat, pemerintah kota dan lembaga-lembaga lainnya dalam pengelolaan resiko bencana. 2. Penguatan kemampuan pengelolaan resiko bencana di tingkat daerah (lokal) Efektifitas pengelolaan resiko bencana adalah memantapkan dan atau penguatan sistem di tingkat daerah/lokal yang berupa kegiatan seperti yang ada dalam daftar diatas dari keseluruhan sistem nasional, memobilisasi semua yang mungkin dilakukan oleh para relavan dibidang sosial dan politik, baik ditingkat lokal dan perkotaan serta bertanggungjawab atas apa yang dilakukan.

1.7.

Pengurangan Resiko Bencana (Disaster Risk Reduction)

Indonesia merupakan salah satu negara yang sering dilanda bencana. Lebih dari 4 tahun terakhir Indonesia mengalami serangkaian bencana alam yang menewaskan manusia dan mempengaruhi perekonomian negeri ini. Bencana ini termasuk tsunami Aceh pada Desember 2004, Gempa Nias di Maret 2005, Gempa di Yogyakarta dan Jawa Tengah di Mei 2005 dan gempa serta tsunami di Jawa Barat pada bulan Juli 2006. Indonesia juga berpotensi tinggi terhadap gunung meletus dengan 128 gunung api aktif (31 di antaranya dalam pemantauan) dari 600 gunung berapi di seluruh khatulistiwa. Bencana-bencana ini memberikan dampak besar terhadap perekonomian negara, kerusakan yang ditimbulkan oleh tsunami diperkirakan sebesar 4 juta Dolar AS dan gempa Yogyakarta dan Jawa Tengah sebesar 3 juta Dolar AS. Bencana alam mengancam pembangunan manusia di Indonesia dan mengakibatkan rusaknya pencapaian kesejahteraan nasional. Upaya untuk melindungi dan mempersiapkan masyarakat yang tinggal di daerah-daerah yang sering dilanda bencana, serta upaya untuk meningkatkan kapasitas Pemerintah dalam menaggapi keadaan darurat, dapat membantu mengurangi resiko secara signifikan bila terjadi bencana serta mendorong masyarakat untuk menerapkan budaya aman. Untuk meningkatkan ketahanan nasional dan daerah dalam mengurangi resiko bencana dan membantu peralihan dari budaya tanggap dan meminta bantuan menjadi budaya mengurangi resiko bencana yang komprehensif dan terintegrasi dalam fungsi utama pemerintah di seluruh tingkat serta di sektor swasta dan Organisasi-organisasi Masyarakat Madani: a. menyediakan saran kebijakan dan peningkatan kapasitas untuk mengurangi dan mengelola resiko bencana ke dalam kerangka kebijakan, hukum, regulasi dan perencanaan; b. meningkatkan kapasitas dalam mempersiapkan diri menghadapi situasi darurat dan sistem tanggap di tingkat nasional, provinsi dan daerah; dan c. membantu penanganan resiko bencana berdasarkan kemasyarakatan. Untuk membantu meningkatkan peraturan yang terkait dengan upaya untuk mengurangi resiko bencana di Indonesia, perlu penyediaan petunjuk strategis dan saran kebijakan untuk perumusan RUU dan regulasi penanggulangan bencana. RUU ini telah disahkan pada tahun 2007. Meningkatkan kapasitas pemerintah pusat maupun daerah untuk menyiapkan dan mengelola bencana dan pemulihan selanjutnya adalah penting pada negara yang mudah terkena bencana dan pemerintahan terpusat seperti Indonesia. Kapasitas pengurangan resiko bencana dan penanganan memerlukan 9
Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

pengetahuan, sistem, informasi, perangkat dan sumberdaya yang diperlukan dalam merespon bencana. Kapasitas yang efektif dalam menurunkan resiko bencana memerlukan pengurangan resiko bencana yang terintegrasi ke dalam perencnaan dan anggaran nasional di tingkat nasional, propinsi dan kabupaten. Perumusan dan penyebaran Rencana Aksi Nasional untuk Pengurangan Resiko Bencana (DRR) dan rencana aksi DRR di tingkat regional. Perencanaan menjadi penting untuk meningkatkan kapasitas Pemerintah dalam mengurangi dampak bencana, mengelola bahaya bencana dan menurunkan resiko bencana ke dalam pengembangan perencanaan dan anggaran. Untuk meningkatkan kapasitas Pemerintah perlu adanya perencanaan Sistem Informasi Resiko Bencana yang membantu mengadakan informasi yang relevan sehubungan dengan pengurangan, pencegahan, dan penanggulangan bencana.

1.8.

Rencana Tindak Mengurangi Resiko Bencana (Action Plan for Disaster Risk Reduction)

Usaha usaha untuk mengurangi resiko bencana di Indonesia telah diatur dan disusun dalam suatu kerangka kerja yang implementasinya menfokuskan pada beberapa kegiatan yang menjadi kunci dalam menanggulangi resiko bencana. Beberapa prioritas diantaranya harus diimplementasikan dalam rencana kegiatan operasionalnya.

1. Prioritas
Inisiatif untuk mengurangi resiko bencana di Indonesia terutama diprioritaskan pada keberlanjutan dan partisipasi seluruh stakeholder. Perlu adanya komitmen yang kuat dalam memilih prioritas serta tindakan tindakan yang akan diambil menjadi ciri dalam usaha ini. Prioritas prioritas tersebut diperlukan sebagai dasar yang terintegrasi dalam implementasi program pengurangan resiko bencana yang berkelanjutan yang sejalan dengan usaha usaha yang sudah dilaksanakan pada tingkat internasional. Ada 5 prioritas kunci yang yang harus diperhatikan dalam mengurangi resiko bencana, yaitu: 1. Memastikan bahwa pengurangan resiko bencana merupakan prioritas nasional dan daerah, oleh karenanya diperlukan suatu kelembagaan yang kuat yang menjadi dasar dalam implementasinya. 2. Melakukan kegiatan yang berkaitan dengan identifikasi, penilaian dan pengawasan resiko bencana dan peningkatan terhadap peringatan dini. 3. Memanfaatkan pengetahuan, inovasi dan pendidikan untuk membangun suatu budaya yang aman dan fleksibel untuk semua tingkatan. 4. Mengurangi faktor faktor penyebab resiko bencana. 5. Meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana disetiap tingkat dan mampu bertindak secara efektif.

2. Rencana Tindak (Action Plan)
Cermin dari perubahan paradigma pencegahan dimasa depan adalah sebagai bagian dalam memenuhi persyaratan dasar hak asasi manusia, pengurangan resiko bencana diperlukan ciri-ciri sebagai berikut: 1. Mengakui bahwa hak azasi merupakan suatu kehormatan hidup dan kehidupan setiap manusia, oleh karenanya pemerintah bertanggungjawab dalam memberi perlindungan terhadap bencana, terutama menghindari dengan tanpa membuat resiko pada proses perbaikan. 2. Mengurangi faktor-faktor resiko bencana dari praktek pembangunan yang tidak berkelanjutan adalah suatu hal yang lebih buruk dari dampak perubahan iklim.

10

Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

3. Agar supaya kepercayaan dapat diraih, maka resiko dan atau bencana yang berdampak pada masyarakat serta kepekaan pada gender, partisipasi, kesetaraan dan perspektif hukum harus ditingkatkan. Berikut adalah aktivitas / kegiatan yang menjadi kunci dan harus ditingkatkan sebagai bagian dari implementasi Rencana Tindak Nasional dalam mengurangi resiko bencana: 1. Memastikan bahwa pengurangan resiko bencana harus menjadi prioritas utama bagi pemerintah pusat maupun daerah yang diimplementasikan dalam suatu kelembagaan yang kuat untuk melakukan kegiatan sebagai berikut: 1). Kelembagaan Nasional dan Kerangka Hukum a. Mendukung pembentukan dan penguatan mekanisme pengurangan resiko bencana tingkat nasional secara terpadu. b. Mengurangi resiko secara terpadu melalui kebijakan pembangunan dan perencanaan, termasuk strategi mengurangi kemiskinan. c. Bila perlu mengadopsi atau memodifikasi undang-undang guna mendukung pengurangan resiko bencana, termasuk didalamnya mekanisme serta peraturan peraturan yang memperkuat dan memberi insentif kepada pihak pihak yang mensosialisasikan kegiatan mitigasi dan pengurangan resiko. d. Menyadarkan betapa pentingnya penanganan resiko bencana serta tanggungjawab masyarakat yang terdesentralisasi untuk mengurangi resiko bencana, terutama dalam hal kewenangan daerah atau propinsi. 2). Sumberdaya a. Akses kepada sumberdaya manusia yang memiliki kemampuan dalam mengurangi resiko bencana dan kemampuan dalam pengembangan dan perencanaan serta membuat program program dalam menyatukan kondisi saat ini dan kebutuhan dimasa yang akan datang. b. Mempersiapkan dan menyediakan sumberdaya untuk pengembangan dan implementasi dari kebijakan pengelolaan resiko bencana, program-program, hukum dan peraturan yang berhubungan dengan pengurangan resiko bencana. c. Pemerintah berkewajiban memperlihatkan kemauan politik yang kuat yang dibutuhkan untuk mensosialisasikan dan memadukan pengurangan resiko bencana kedalam program program pembangunan. 3). Partisipasi Masyarakat Secara sistimatik melibatkan peran masyarakat dalam pengurangan resiko bencana, termasuk dalam proses pengambilan keputusan untuk hal hal yang berkaitan dengan pemetaan, perencanaan, implementasi, pengawasan, dan evaluasi melalui pembuatan jejaring, termasuk jejaring tenaga sukarela, manajemen sumberdaya strategis, dan dengan membuat aturan-aturan hukum serta menetapkan tanggungjawab dan otoritas/kewenangan perwakilan. 2. Mengidentifikasi, akses, dan pengawasan resiko bencana dan meningkatkan peringatan dini, melalui kegiatan-kegiatan: 1). Penilaian Resiko pada skala Nasional dan Daerah a. Membangun, memperbaharui, dan menyebarkan peta peta resiko bencana serta informasi informasi yang berhubungan dengan bencana kepada para pengambil keputusan dan masyarakat umum.

11

Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

b. Membangun sistem penciri/penunjuk resiko bencana dan kerentanan pada tingkat nasional dan propinsi yang memungkinkan pembuat keputusan dapat meng-akses dampak dari bencana. c. Mencatat, meng-analisa, menyimpulkan, dan menyebarkan informasi secara statistik terhadap kejadian kejadian bencana, dampaknya dan kerugiannya. 2). Peringatan Dini a. Membangun sistem peringatan dini di tengah tengah masyarakat, terutama sistem yang dapat memberi peringatan tepat waktu dan dapat dimengerti makna masalah resikonya. b. Secara periodik mengulang kembali dan merawat sistem informasi sebagai bagian dari sistem peringatan dini. c. Memantapkan kapasitas kelembagaan untuk memastikan bahwa sistem peringatan dini benar-benar terintegrasi dalam kebijakan pemerintah dan proses pengambilan keputusan. d. Memperkuat koordinasi dan kerjasama diantara semua sektor yang terkait dan aktor dalam rantai peringatan dini dalam rangka memperoleh efektifitas penuh dari sistem peringatan dini. e. Membangun dan memperkuat efektiifitas sistem peringatan dini di pulau pulau yang lebih kecil. 3). Kapasitas a. Mendukung pengembangan dan keberlanjutan infrastruktur, ilmu pengetahuan dan teknologi, kapasitas kelembagaan serta teknis lainnya yang diperlukan untuk penelitian, pengamatan, analisa, pemetaan, prediksi alam dan bahaya yang terkait, kerentanan serta dampak bencana. b. Mendukung dalam pengembangan dan peningkatan basisdata yang relevan dan memperkenalkan pertukaran data secara terbuka dan penyebaran data untuk keperluan penilaian, pengawasan dan keperluan peringatan dini. c. Mendukung dalam peningkatan metoda metoda melalui ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemampuan dalam penilaian resiko, pengawasan, dan peringatan dini melalui penelitian, kerjasama, pelatihan dan membangun kemampuan teknis. d. Memantapkan dan memperkuat kemampuan dalam menrekam, menganalisa, meringkas, menyebarkan, serta pertukaran data dan informasi. 4). Resiko Darurat Regional a. Mengkompilasi dan membuat standarisasi data dan informasi pada resiko bencan regional, dampak dan kerugiannya. b. Kerjasama secara regional dan internasional untuk penilaian dan pengawasan regional dan bahaya lintas batas. c. Penelitian, analisa, dan pelaporan perubahan jangka panjang dan isu isu bersama yang mungkin meningkat kerentanannya dan resiko atau kapasitas otoritas dan masyarakat dalam menghadapi bencana. 3. Memanfaatkan pengetahuan, inovasi dan pendidikan sebagai sarana untuk membangun suatu budaya aman dan nyaman pada setiap tingkatan, melalui kegiatan sebagai berikut: 1) Menyediakan informasi yang mudah dimengerti mengenai resiko bencana dan pilihan pencegahan, khususnya kepada penduduk perkotaan yang berada di wilayah yang beresiko tinggi. 2) Peningkatan jejaring diantara sesama akhi kebencanaan, para manajer, dan perencana lintas sektoral dan antar wilayah, dan membangun atau meningkatkan prosedur

12

Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

3) 4) 5) 6) 7)

pemanfatan tenaga akhli yang tersedia pada pembangunan perencanaan pengurangan resiko di daerah. Mempromosikan dan meningkatkan dialog dan kerjasama diantara masyarakat ilmiah dan praktisi yang bekerja dibidang pengurangan resiko bencana. Memperkuat dan mengimplementasikan penggunaan informasi terbaru, serta informasi dan teknologi untuk penanganan pengurangan resiko bencana. Dalam jangka menengah, mengembangkan direktori, inventarisasi, dan sistem pertukaran informasi pada tingkat daerah, propinsi, nasional dan tingkat internasional. Kelembagaan yang berorientasi kepada pembangunan perkotaan harus menyediakan informasi pada masyarakat mengenai pilihan pengurangan bencana terutama kepada para kontraktor bangunan, pembeli lahan atau penjual tanah. Memperbaharui dan menyebarkan secara luas dengan menggunakan standar internasional yang berkaitan dengan pengurangan resiko bencana.

4. Pendidikan dan pelatihan 1) Memperkenalkan pengetahuan tentang pengurangan resiko bencana dalam kurikulum sekolah 2) Memperkenalkan implementasi dari penilaian resiko di tingkat daerah dan program kewaspadaan terhadap bencana di sekolah sekolah dan lembaga pendidikan tinggi. 3) Memperkenalkan implementasi program dan kegiatan di sekolah untuk pembelajaran bagaimana meminimalkan suatu dampak bencana. 4) Mengembangkan pelatihan dan program pembelajaran dengan sasaran untuk mengurangi resiko bencana pada sektor tertentu (Perencana Pembangunan, Pegawai/staff Pemerintah Daerah, Manajer Pabrik, dsb) 5) Memperkenalkan inisiatif pelatihan berbasis masyarakat guna meningkatkan kapasitas daerah dalam mitigasi dan keluar dari bencana. 6) Memastikan kesetaraan akses untuk mendapat kesempatan mengikuti pelatihan dan pendidikan, baik untuk perempuan maupun dari kalangan yang rentan. 5. Penelitian 1) Pengembangan metoda metoda untuk memprediksi penilaian multi resiko dan analisa untung rugi berdasarkan sosial-ekonomi dari tindakan dalam pengurangan resiko. 2) Meningkatkan kemampuan, secara ilmu pengetahuan dan teknologi, untuk mengembangakan dan menerapkan metodologi dan model untuk menilai kerentanan terhadap dan dampak geologi, cuaca, air, dan iklim yang berhubungan dengan bahaya. 6. Kepedulian masyarakat Memperkenalkan melalui media guna membangun budaya peduli terhadap bencana dan mengajak seluruh masyarakat untuk terlibat langsung dalam pencegahan terhadap bencana. 7. Mengurangi faktor faktor penyebab resiko, melalui kegiatan : 1). Pengelolaan Sumberdaya alam dan Lingkungan, meliputi: a. Pengelolaan ekosistem dan pemanfaatan yang berkelanjutan, termasuk melalui perencanaan tata guna lahan yang lebih baik dan aktivitas kegiatan untuk mengurangi resiko dan kerentanan. b. Mengimplementasikan pendekatan pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan terpadu yang selaras dengan pengurangan resiko bencana c. Memperkenalkan pengurangan resiko secara terpadu yang berkaitan dengan variabilitas iklim yang ada dan perubahan iklim dimasa mendatang. 2). Pembangunan Ekonomi dan Sosial a. Memperkenalkan pentingnya keamanan pangan

13

Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

b. Memadukan perencanaan pengurangan resiko bencana kedalam bidang kesehatan sebagai panduan keamanan rumah sakit dari dampak bencana. c. Pencegahan dan peningkatan fasilitas darurat milik masyarakat/publik (sekolahan, rumahsakit, pembangkit listrik, dll) sehingga aman terhadap dampak bencana. d. Meningkatkan implementasi mekanisme keselamatan masyarakat e. Mengintegrasikan pengurangan resiko bencana kedalam perbaikan pasca bencana dan proses rehabilitasi. f. Meminimilisasi resiko bencana dan kerentanan yang disebabkan oleh gerakan masa. g. Mempromosikan diserfikasi pilihan pendapatan untuk penduduk yang berada di areal yang beresiko tinggi guna mengurangi kerentanan terhadap bahaya. h. Mempromosikan pengembangan resiko keuangan dengan cara mengasuransikan melalui asuransi bencana. i. Mempromosikan pembentukan kerjasama swasta dan masyarakat untuk mendorong sektor swasta peduli terhadap kegiatan pengurangan resiko bencana. j. Mengembangkan dan mempromosikan alternatif dan inovasi intrumen keuangan dalam mendorong pengurangan resiko bencana. 3). Perencanaan tata guna lahan dan peraturan teknis lainnya. a. Mengintegrasikan penilaian resiko bencana kedalam perencanaan kota dan pengelolaan pemukiman manusia yang rentan bencana. b. Menjadikan resiko bencana kedalam prosedur perencanaan untuk proyek proyek kunci infrastruktur, termasuk pada kriteria desain, persetujuan dan implementasi dari proyek. c. Mengembangkan panduan dan alat pengawasan untuk mengurangi resiko bencana dalam kontek kebijakan tataguna lahan dan perencanaan. d. Mengintegrasikan penilaian resiko bencana kedalam perencanaan pembangunan kota. e. Menyarankan perlu adanya revisi kode bangunan baru atau yang ada, perlu adanya standarisasi, rehabilitasi, dan rekontruksi. 4). Meningkatkan kesiapan/kewaspadaan terhadap bencana disemua tingkatan, melalui kegiatan: a. Penguatan kebijakan, kapasitas dan kelembagaan dan teknis dalam pengelolaan bencana, baik secara lokal, regional, dan nasional, termasuk didalamnya yang berkaitan dengan teknologi, pelatihan, dan sumberdaya manusia dan sumberdaya material. b. Memberi dukungan diadakannya dialog, pertukaran informasi dan melakukan koordinasi diantara lembaga-lembaga yang berhubungan dengan peringatan dini, pengurangan resiko bencana, tanggap darurat, pembangunan dan hal-hal lainnya yang relevan. c. Memperkuat dan apbila diperlukan membangun koordinasi dengan penndekatan regional dan membuat atau meningkatkan kebijakan regional, mekanisme operasional, perencanaan dan sistem komunikasi pada kejadian bencana yang melewati batas wilayah/propinsi. d. Mempersiapkan atau menilai ulang secara periodik tentang persiapan menghadapi bencana dan rencana darurat dan kebijakan pada semua tingkat. e. Mempromosikan pembangunan dana darurat untuk mendukung kesiapan, perbaikan dan reaksi terhadap bencana. f. Mengembangkan mekanisme khusus untuk menggugah partisipasi aktif dan pemilik/stakeholder.

1.9.

Bencana Alam Di Indonesia

Indonesia adalah negara yang rentan terhadap bencana alam, apakah itu bencana yang berasal dari peristiwa alamiah maupun bencana yang disebabkan oleh ulah manusia. Beberapa penyebab bencana erat kaitannya dengan kondisi geografi, geologi, iklim atau faktor-faktor lainnya.

1.9.1. Faktor Faktor Penyebab Bencana Alam.
Bencana alam dapat disebabkan oleh peristiwa alamiah ataupun akibat dari aktifitas manusia. Berikut ini adalah interaksi antara faktor-faktor yang berperan pada terjadinya bencana: 14
Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

1. Faktor alamiah, meliputi kondisi geografi, geologi, hidro-meteorologi, biologi, dan degradasi lingkungan. 2. Komunitas yang padat, infrastruktur dan elemen-elemen dalam wilayah / kota yang berada di kawasan yang rawan bencana. 3. Rendahnya kapasitas dari elemen-elemen masyarakat Secara geografis, Indonesia merupakan negara kepulauan yang berada pada pertemuan 4 lempeng tektonik, yaitu lempeng Asia, lempeng Australia, lempeng Samudra India, dan lempeng Samudra Pasifik. Di Indonesia bagian selatan dan timur terbentang rangkaian busur gunungapi, yang tersebar mulai dari Sumatra-Jawa-NusaTenggara-Sulawesi. Sebagian besar kepulauan Indonesia ditempati oleh jalur gunungapi dan dataran rendah sedangkan sisanya ditempati oleh daratan rawa. Kondisi ini menempatkan Indonesia sebagai wilayah yang rawan dan berpotensi terkena bencana, seperti rawan terkena letusan gunungapi, gempa bumi, tsunami, banjir dan longsor. Berdasarkan data bahwa Indonesia memiliki tingkat seismisitas yang sangat tinggi diantara negara-negara di dunia, dengan frekuensi rata-rata lebih dari 10 kali lipat dibandingkan dengan Amerika Serikat (Arnold, 1986). Pergerakan lempeng bumi memicu terjadinya gempabumi yang apabila terjadi dibawah laut seringkali menghasilkan gelombang pasang. Kecenderungan yang tinggi terhadap pergerakan lempeng tektonik, Indonesia sudah sering terkena bencana tsunami. Hampir semua tsunami di Indonesia disebabkan oleh gempabumi tektonik yang terjadi disepanjang zona tumbukan (subduksi) dan di daerah daerah yang seismisitasnya aktif. Sejak tahun 1600 hingga tahun 2000 telah terjadi 105 kali tsunami di Indonesia, 90% tsunami tersebut disebabkan oleh gempabumi tektonik, 9 % disebabkan oleh letusan gunungapi, dan 1 % oleh longsoran. Kawasan pantai /pesisir di Indonesia umumnya rawan terhadap tsunami. Daerah daerah seperti pantai barat Sumatra, pantai selatan Jawa, pantai utara dan selatan Nusa Tenggara, kepulauan Maluku, pantai utara Papua dan sebagian besar pesisir Sulawesi, serta laut Maluku merupakan daerah yang sangat rawan terkena tsunami. Antara tahun 1600 hingga tahun 2000, sudah terjadi 32 kali tsunami, dimana 28 kali disebabkan oleh gempabumi dan 4 kali disebabkan oleh letusan gunungapi bawah laut. Keberadaan Indonesia yang terletak di daerah yang beriklim tropis dan hanya mengenal 2 musim, yaitu musim kemarau dan penghujan serta perubahan cuaca, temperatur, arah angin yang cukup ekstrim menyebabkan Indonesia sangat rentan terkena bencana geologi. Perpaduan antara keadaan bentangalam dan jenis bebatuan yang ada dimana secara fisik dan kimiawi berbeda menjadikan kondisi tanah di Indonesia cukup subur disamping berpotensi dan rawan terkena bencana hidrometeorologi, seperti banjir, longsor, kebakaran hutan dan kekeringan. Seiring dengan meningkatnya aktifitas manusia, kerusakan lingkungan juga semakin bertambah luas dan pada akhirnya dapat menjadi pemicu terjadinya bencana hidro-meteorologi dengan frekuensi dan intensitas yang semakin tinggi di beberapa wilayah di Indonesia. Sebagai contoh bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi di Jember, Banjarnegara, Manado, Trenggalek dan beberapa tempat lainnya pada tahun 2006. Meskipun ada usaha usaha dalam meminimalkan terjadinya degradasi lingkungan, proses pembangunan di indonesia juga telah mengakibatkan rusaknya ekologi dan lingkungan hidup. Pembangunan yang dilaksanakan di Indonesia sejauh ini hanya terfokus pada eksploitasi sumberdaya alam (terutama dalam skala besar) untuk kelangsungan hidup manusia Indonesia. Sumberdaya hutan Indonesia menurun dari tahun ke tahun, sedangkan penambangan sumberdaya mineral telah menyebabkan rusaknya ekosistem dan struktur tanah serta meningkatkan resiko terkena bencana.

1.9.2. Jenis Bencana Alam Yang Sering Terjadi Di Indonesia
Berdasarkan catatan BAKORNAS, bencana yang melanda Indonesia dari tahun ke tahun menunjukan peningkatan yang cukup signifikan. Selama periode 2003 – 2005 telah terjadi 1.429 bencana, baik yang disebabkan oleh bencana geologi maupun bencana yang berasal dari bencana hidro-meteorologi. 15
Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

Berdasarkan jenis bencananya, bencana banjir menempati urutan pertama, yaitu sebesar 34,1 % diikuti oleh bencana tanah longsor sebesar 16 %, sedangkan bencana geologi (gempabumi, tsunami dan letusan gunungapi) menempati 6,4 %. Meskipun bencana geologi hanya menempati urutan ketiga dari seluruh bencana yang terjadi pada periode tersebut, namun tingkat kerusakan dan besarnya kerugian yang disebabkan oleh bencana geologi tersebut sangat tinggi. Berdasarkan catatan, tingkat kerusakan dan kerugian yang terjadi oleh kombinasi antara bencana gempabumi dan tsunami di Nangroe Aceh Darussalam dan Sumatra Utara pada 26 Desember 2004 serta gempabumi di Nias, Sumatra Utara pada tanggal 28 Maret 2005 merupakan bencana yang paling dahsyat sepanjang sejarah Indonesia.

1. Gempabumi dan Tsunami
Gempabumi relatif sering terjadi di Indonesia dan umumnya disebabkan oleh pergerakan lempeng lempeng tektonik dan letusan gunungapi. Pergerakan lempeng tektonik yang terjadi disepanjang pantai barat pulau Sumatra merupakan tempat pertemuan lempeng Asia dan lempeng Samudra India sedangkan di pantai selatan pulau Jawa dan kepulauan Nusa Tenggara merupakan tempat pertemuan lempeng Australia dan lempeng Asia. Sulawesi dan Maluku sebagai tempat pertemuan lempeng Asia dan lempeng Samudra Pasifik. Pusat pertemuan antar lempeng tersebut menjadikan Indonesia sebagai daerah yang sering dilanda gempabumi dengan ribuan episenter yang tersebar disepanjang pertemuan lempeng. Gempabumi bawah laut merupakan pemicu terjadinya tsunami, terutama gempabumi yang terjadi di bawah laut yang diikuti oleh deformasi lantai samudra, seperti yang terjadi di pantai barat Sumatra dan pantai utara Papua. Letusan Gunungapi juga dapat menimbulkan tsunami seperti yang terjadi pada Gunung Krakatau di Selat Sunda pada tahun 1883. Bencana gempabumi dan tsunami umumnya berdampak pada hilanganya harta benda dan korban jiwa dan untuk merehabilitasi dan rekontruksinya dibutuhkan waktu yang cukup lama. Waktu yang diperlukan untuk membangun kembali infrastruktur dan bangunan yang rusak akibat bencana tidak dapat secara langsung dilakukan namun memerlukan waktu hingga bertahun tahun. Dalam sejarah modern kehidupan manusia, bencana tsunami sangat merusak dan berdampak sangat luas serta memakan korban jiwa dan harta benda adalah tsunami yang terjadi pada tanggal 26 desember 2004 di samudra India sebagai akibat dari gempabumi berskala 8.9 Richter yang berpusat di dekat pulau Simeulue, provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Tsunami ini telah merusak kota Banda Aceh, Pantai Barat Aceh dan Nias. Bencana juga menghantam negara-negara disepanjang Samudra India termasuk Thailand, Malaysia, Andaman dan Nicobar, Sri Langka hingga ke pantai timur Afrika. Berdasarkan catatan lebih dari 165.862 jiwa manusia menjadi korban dalam peristiwa ini dan 37.066 orang dinyatakan hilang. Total kerugian ekonomi diperkirakan mencapai 41 triliun rupiah diluar dari kerugian yang diakibatkan oleh terganggunya kegiatan ekonomi dan produksi. Hanya 3 bulan setelah gempabumi Aceh terjadi lagi gempabumi yang sangat kuat yang menghantam pulau Nias pada tanggal 28 Maret 2005. Pusat gempabumi ini berada didasar laut disekitar kepulauan Nias dengan magnitud 8,2 skala Richter. Meskipun tidak memicu terjadinya tsunami, gempa Nias menyebabkan kerusakan yang cukup luas, terutama di kepulauan Nias dan Nias Selatan yang berada di propinsi Sumatra Utara serta wilayah Simeulue di Aceh. Jumlah korban jiwa yang tercatat sebanyak 915 jiwa dengan tingkat kerusakan yang cukup berat di seluruh kepulauan Nias. Pada tanggal 27 Mei 2006 terjadi lagi gempabumi dengan magnitude 5,9 skala Richter yang berpusat di selatan Yogyakarta, tepatnya kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Gempabumi ini telah menelan korban sebanyak 5.749 jiwa, 38.568 luka-luka dan ratusan ribu orang kehilangan tempat tinggalnya. Total kerugian ekonomi diperkirakan mencapai 29,2 triliun rupiah.

2. Letusan Gunungapi
Di Indonesia terdapat 129 gunungapi aktif dan 500 gunungapi tidak aktif. Dari 129 gunungapi aktif atau 13 persen dari jumlah gunungapi aktif di dunia ada di Indonesia dan 70 persen eruptif dan 15 dalam kondisi kritis. Persebaran gunungapi di Indonesia membentuk satu jalur yang berupa garis mulai dari Sumatra, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara sebelum membelok ke arah utara, kearah laut Banda dan Sulawesi bagian utara. Panjang jalur gunungapi kurang lebih 7000 kilometer yang terdiri 16
Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

dari gunungapi dengan karakteristik campuran. Saat ini lebih dari 10 persen penduduk Indonesia mendiami wilayah wilayah yang rentan terhadap letusan gunungapi. Selama lebih dari 100 tahun, sudah 175.000 jiwa telah menjadi korban dari letusan gunungapi. Indonesia yang berada pada zona beriklim tropis dengan musim kemarau dan penghujan telah berpengalaman menghadapi ancaman bencana longsoran dari material piroklastik yang berasal dari hasil erupsi gunungapi, seperti aliran lahar atau perpindahan material gunungapi (piroklastik) yang berbahaya. Gunung Merapi adalah salah satu gunungapi sangat aktif di dunia. Gunungapi ini menunjukkan erupsi menghasilkan awan panas piroklastik dan longsoran kubah lava. Luncuran kubah lava yang terjadi secara berulang-ulang sepanjang periode erupsi dan dapat memakan waktu hingga berbulan bulan. Sebagai gambaran, dari 13 Mei hingga 21 Juni 2006, gunung Merapi ditetapkan dalam kondisi Siaga namun demikian tidak menunjukkan tanda tanda penurunan aktivitasnya. Semburan material piroklastik mencapai ratusan kali dengan radius hingga mencapai 6 kilometer yang membahayakan pemukiman penduduk, terutama di wilayah kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Klaten, dan Magelang di wilayah Jawa Tengah. Lebih dari 17.212 jiwa telah diungsikan sementara dan 2 orang meninggal dikarenakan terperangkap di lubang perlindungan yang berada di Kaliadem, Cangkringan, Sleman. (Data Bakornas pada 15 Juni 2006).

3. Banjir
Banjir merupakan kejadian yang selalu berulang setiap tahunnya di Indonesia, tercatat bahwa kebanyakan terjadi pada musim penghujan. Berdasarkan sudut pandang morfologi, banjir terjadi di negara negara yang mempunyai bentuk bentangalam yang sangat bervariasi dengan sungai nya yang banyak. Banjir di Indonesia umumnya terjadi di Indonesia bagian barat, karena tingkat curah hujan yang sangat tinggi dibandingkan dengan wilayah Indonesia bagian timur. Pertumbuhan penduduk di Indonesia dan kebutuhan ruang sebagai tempat untuk mengakomodasi kehidupan manusia dan mendukung aktivitasnya secara tidak langsung telah berperan terjadinya banjir. Penebangan hutan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan ruang telah meningkatkan sedimentasi di sungai-sungai, tidak terkendalinya air permukaan dan tanah menjadi jenuh air. Hal ini yang memungkinkan air permukaan menjangkau kawasan yang lebih luas yang pada akhirnya menjadi penyebab banjir bandang seperti yang terjadi pada tahun 2003 di wilayah Bahorok dan Langkat, Sumatra Utara dan di wilayah Ayah, Jawa Tengah. Dalam tahun 2006 bencana banjir yang melanda beberapa wilayah, termasuk bencana banjir bandang dan tanah longsor. Di Jember, Jawa Timur akibat banjir bandang dan tanah longsor telah menelan korban sebanyak 92 orang meninggal dan 8.861 hanyut, sedangkan di Trenggalek 18 orang meninggal. Banjir bandang yang disertai dengan tanah longsor terjadi juga di Manado, Sulawesi Utara yang memakan korban sebanyak 27 jiwa dan 30.000 hanyut. Bencana yang sama terjadi juga di Sulawesi Selatan pada bulan Juni 2006. Lebih dari 200 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya hilang (Data Provinsi dari BAKORNAS, 23 Juni 2006).

4. Tanah Longsor
Di Indonesia peristiwa tanah longsor sering kali terjadi, terutama di tempat tempat yang berlereng terjal. Peristiwa tanah longsor umumnya dipicu oleh curah hujan yang sangat tinggi. Berdasarkan data, daerah daerah yang diduga rentan terhadap tanah longsor adalah kawasan pegunungan Bukit Barisan di Sumatra, kawasan pegunungan di Jawa, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Tanah longsor yang yang sangat fatal juga terjadi di lokasi pemboran dan penggalian yang terjadi di daerah pertambangan. Tanah longsor juga terjadi setiap tahun, terutama di tempat tempat yang lahannya tidak stabil seperti di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Hampir semua lahan di daerah tropis merupakan daerah yang rentan terhadap tanah longsor karena tingkat pelapukan yang tinggi yang menyebabkan komposisi tanah didominasi oleh lapisan material lepas. Di Indonesia, kestabilan lahan sangat besar peranannya sebagai zonasi penyangga kerusakan. Penebangan hutan yang sangat ektensif di zona penyangga telah meningkatkan potensi terjadinya tanah longsor. Sebagai contoh di Jawa Barat tercatat pada tahun 1990, sebanyak 791.519 Ha areal hutan telah mengalami penurunan menjadi 323.802 Ha pada tahun 2002. Hal ini 17
Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

memungkinkan bahwa potensi tanah longsor diperkirakan terjadi di daerah ini. Tanah longsor yang terjadi di Banjarnegara, Jawa Tengah pada awal 2006 telah merenggut 76 jiwa, dan 44 jiwa dilaporkan hilang karena tertimbun longsoran tanah. Kerugian lainnya termasuk kerusakan yang cukup parah pada 104 rumah penduduk dan rusaknya tanaman padi.

5. Kekeringan
Apabila peristiwa banjir dan tanah longsor terjadi pada musim penghujan, maka kekeringan pada umumnya terjadi dimusim kemarau. Bencana kekeringan sudah menjadi permasalahan yang serius ketika berdampak pada produksi tanaman pangan di suatu daerah, seperti yang terjadi di Bojonegoro dengan 1000 ha sawah mengalami gagal panen ketika sistem irigasi tidak berfungsi karena musim kemarau. Kasus yang sama juga terjadi di pantai Jawa bagian Utara, ketika kekeringan melanda 12.985 ha. penghasil tanaman pangan di wilayah tersebut. Saat ini bencana kekeringan juga berdampak pada pasokan energi listrik, hal ini disebabkan oleh turunnya produksi listrik yang berasal dari PLTA. Perununan pasokan energi listrik yang berasal dari PLTA akan mengganggu sistem jaringan interkoneksi kelistrikan di wilayah Jawa dan Bali. Kekeringan yang melanda Indonesia, terutama terjadi pada musim kemarau yang berkepanjangan, khususnya di Indonesia bagian timur seperti NTB, NTT dan beberapa daerah di Sulawesi, Kalimantan dan Papua. Kekeringan juga dapat memicu penyebaran penyakit penyakit tropis seperti malaria dan demam berdarah.

18

Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

2M
2.1.

itigasi Bencana Gempabumi

Pendahuluan

Gempabumi adalah getaran dalam bumi yang terjadi sebagai akibat dari terlepasnya energi yang terkumpul secara tiba-tiba dalam batuan yang mengalami deformasi. Gempabumi dapat didefinisikan sebagai rambatan gelombang pada masa batuan/tanah yang berasal dari hasil pelepasan energi kinetik yang berasal dari dalam bumi. Sumber energi yang dilepaskan dapat berasal dari hasil tumbukan lempeng, letusan gunungapi, atau longsoran masa batuan/tanah. Hampir seluruh kejadian gempa berkaitan dengan suatu patahan, yaitu satu tahapan deformasi batuan atau aktivitas tektonik dan dikenal sebagai gempa tektonik. Sebaran pusat-pusat gempa (epicenter) di dunia tersebar di sepanjang batas-batas lempeng (divergent, convergent, maupun transform), oleh karena itu terjadinya gempabumi sangat berkaitan dengan teori Tektonik Lempeng. Gempa bumi merupakan peristiwa pelepasan energi yang menyebabkan dislokasi (pergeseran) pada bagian dalam bumi secara tiba-tiba. Gempabumi dapat disebabkan antara lain oleh: 1. Proses tektonik akibat pergerakan kulit/lempeng bumi 2. Aktivitas sesar di permukaan bumi 3. Pergerakan geomorfologi secara lokal, contohnya terjadi runtuhan tanah 4. Aktivitas gunung api 5. Ledakan Nuklir Sebagaimana diuraikan diatas bahwa penyebaran pusat-pusat gempabumi sangat erat kaitannya dengan batas-batas lempeng. Pola penyebaran pusat gempa di dunia yang berimpit dengan batasbatas lempeng. Disamping gempa tektonik, kita mengenal juga gempa minor yang disebabkan oleh longsoran tanah, letusan gunungapi, dan aktivitas manusia. Gempa minor umumnya hanya dirasakan secara lokal dan getarannya sendiri tidak menyebabkan kerusakan yang signifikan atau kerugian harta benda maupun jiwa manusia. Adapun mekanisme terjadinya gempabumi dapat dijelaskan seperti yang diilustrasikan pada gambar 2-1. Dalam gambar bagian atas mengilustrasikan gambar permukaan bumi yang berada pada suatu jalur patahan aktif dengan beberapa bangunan rumah sebelum terjadi gempa. Pada kondisi ini batuan berada dalam keadaan tegang (strained). Gambar bagian tengah menjelaskan saat terjadi pergeseran disepanjang jalur patahan yang diakibatkan oleh gaya yang bekerja dengan arah yang berlawanan dan energi yang terhimpun di dalam masa batuan akan dilepas dan merambat kesegala arah sebagai gelombang longitudinal (gelombang P) dan gelombang transversal (gelombang S). Rambatan gelombang yang menjalar didalam batuan inilah yang menghancurkan bangunan bangunan yang ada disekitarnya. Gambar bagian bawah mengilustrasikan kondisi setelah terjadi gempa dimana batuan kembali berada pada keadaan seperti semula.

2.2. Intensitas dan Magnitude Gempabumi
Intensitas dan magnitude gempa yang terjadi di permukaan bumi dapat diketahui melalui alat seismograf, yaitu suatu alat pencatat getaran seismik yang sangat peka yang ditempatkan diberbagai lokasi di bumi. Alat seismograf akan mencatat setiap getaran seismik yang sampai ke alat tersebut. Pada gambar 2-3 diperlihatkan bagaimana alat seismograf mencatat gelombang seismik melaui suatu bandul yang digantung pada pegas dan dilengkapi dengan jarum pena sebagai 19
Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

alat pencatat getaran seismik diatas kertas yang ada pada tabung silinder yang berputar. Pusat gempa dapat diketahui dengan cara menghitung selisih waktu tiba dari gelombang P dan gelombang S, sedangkan untuk mengetahui lokasi dari epicenter gempa melalui perpotongan 3 lokasi alat seismograf yang mencatat getaran seismik tersebut (gambar 2-4). Untuk menentukan magnitute gempa didasarkan atas besarnya amplitudo gelombang seismik yang tercatat pada alat seismograf.

Gambar 2- 1 Urut-urutan proses terjadinya gempabumi

Gambar 2-2 Gelombang P (Primer) sebagai gelombang kompresi yang mampu merubah volume batuan dan gelombang S (Sekunder) sebagai gelombang “Shear” yang mampu merubah bentuk.

20

Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

Gambar 2-3 Alat seismograf yang mencatat arah gerakan gempabumi oleh jarum seismograf pada kertas yang berada dipermukaan silinder

Gambar 2-4 Penentuan lokasi epicenter gempa didasarkan atas selisih waktu tiba dari gelombang P dan gelombang S yang tercatat pada alat seismograf (gambar kiri) dan epicenter gempa yang ditentukan berdasarkan perpotongan dari 3 lokasi alat seismograf yang mencatat kejadian gempabumi (gambar kanan).

21

Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

Skala Richter adalah satuan yang dipakai untuk mengukur besarnya magnitute gempa. Satuan besaran gempa berdasarkan satuan skala Richter adalah 1 hingga 10. Satuan intensitas dan magnitute gempabumi dapat juga diukur berdasarkan dampak kerusakan yang ditimbulkan oleh getaran gelombang seismik dan satuan ini dikenal dengan satuan Intensitas Modifikasi Mercalli (MMI), nilai satuan ini berkisar dari 1 s/d 12 (lihat Tabel 2-1). Tabel 2-1 Skala Intensitas Modifikasi Mercalli (MMI)

2.3.

Dampak Bencana Gempabumi

Sebagaimana telah dijelaskan diatas bahwa rambatan gelombang seismik yang berasal dari energi yang dilepaskan dari hasil pergerakan lempeng dapat menimbulkan bencana. Bencana yang disebabkan oleh gempabumi dapat berupa rekahan tanah (ground rupture), getaran tanah (ground shaking), gerakan tanah (mass-movement), kebakaran (fire), perubahan aliran air (drainage changes), gelombang pasang/tsunami, dsb.nya. Gelombang gempa yang merambat pada masa batuan, tanah, ataupun air dapat menyebabkan bangunan gedung dan jaringan jalan, air minum, telepon, listrik, dan gas menjadi rusak. Tingkat kerusakan sangat ditentukan oleh besarnya magnitute dan intensitas serta waktu dan lokasi epicenter gempa.

1. Rekahan / patahan di permukaan bumi (Ground rupture)
Pada umumnya gempabumi seringkali berdampak pada rekah dan patahnya permukaan bumi yang secara regional dikenal sebagai deformasi kerakbumi. Deformasi kerakbumi dapat mengakibatkan permukaan daratan rekah dan terpatahkan hingga mencapai areal yang sangat luas. Salah satu bukti nyata terjadinya ground rupture adalah gempa yang terjadi pada Februari, 1976 dimana areal seluas 12.000 km2 yang terletak di jalur patahan San Andreas, 65 km di sebelah utara kota Los Angeles mengalami pegangkatan (uplifted) oleh pergeseran sesar San Andreas. 22
Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

Pada umumnya gempabumi seringkali berdampak pada rekah dan patahnya permukaan bumi yang secara regional dikenal sebagai deformasi kerakbumi. Deformasi kerakbumi dapat mengakibatkan permukaan daratan rekah dan terpatahkan hingga mencapai areal yang sangat luas. Salah satu bukti nyata terjadinya ground rupture adalah gempa yang terjadi pada Februari, 1976 dimana areal seluas 12.000 km2 yang terletak di jalur patahan San Andreas, 65 km di sebelah utara kota Los Angeles mengalami pegangkatan (uplifted) oleh pergeseran sesar San Andreas. Contoh lain dari deformasi kerakbumi adalah gempabumi yang terjadi pada tahun 1964 di Alaska yang menghasilkan suatu rekahan dan patahan serta deformasi batuan dimana daerah seluas 260.000 km2 terdiri dari dataran pantai dan dasar laut secara lokal terangkat setinggi 2 meter dan secara regional mencapai 16 meter (gambar 2-5). Rekahan dan patahan yang terjadi di permukaan bumi dapat berdampak pada bangunan-bangunan, jalan dan jembatan, pipa air minum, pipa listrik, saluran telepon, serta prasarana lainnya yang ada di daerah tersebut.

Gambar 2-5 Gempa Alaska tahun 1964 yang menyebabkan wilayah seluas 260.000 km2 mengalami ground rupture setinggi 2 – 16 meter

2. Getaran / guncangan permukaan tanah (Ground shaking) Bencana gempa yang secara langsung terasa dan berdampak sangat serius adalah runtuhnya bangunan-bangunan yang disebabkan oleh getaran/guncangan gempa yang merambat pada media batuan/tanah. Pada umumnya bangunan-bangunan yang berada diatas lapisan batuan yang padat (firm) dampaknya tidak terlalu parah bila dibandingkan dengan bangunan-bangunan yang berada diatas batuan sedimen jenuh. Gambar 2-6 menunjukkan bangunan yang roboh akibat goncangan gempa yang merusak kota San Francisco pada tahun 1906 adalah gempa yang epicenter-nya berada di sepanjang jalur patahan (sesar) San Andreas dan bagian dari segmen lepas pantai yang terletak disisi luar Golden Gate merupakan segmen yang bertanggung jawab terhadap kerusakan kota San Francisco.

23

Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

Gambar 2-6 Gempa California tahun 1995 yang disebabkan oleh ground shaking

3. Longsoran Tanah (Mass Movement)
Berbagai jenis luncuran dan longsoran tanah umumnya dapat terjadi bersamaan dengan terjadinya gempa. Hampir semua longsoran tanah dapat terjadi pada radius 40 km dari pusat gempa (epicenter) dan untuk gempa yang sangat besar dapat mencapai radius 160 km dan salah satu contoh adalah gempabumi Alaska tahun 1964 yang memicu terjadinya longsoran-longsoran tanah yang terletak jauh dari epicenter gempa. Pada dasarnya getaran gempa lebih bersifat sebagai pemicu terjadinya longsoran atau gerakan tanah. Dalam hal ini gempa bersifat meng-induksi terjadinya gerakan tanah, sedangkan longsoran dan gerakan tanah baru akan terjadi apabila daya ikat antar butiran lemah, kejenuhan batuan/sedimen, porositas dan permiabilitas batuan/tanah tinggi.

Gambar 2-7 Gempa California tahun 1995 yang menyebabkan longsoran tanah

4. Kebakaran
Kerusakan yang utama dan sering terjadi pada saat terjadinya gempabumi adalah bahaya kebakaran. Hampir sembilan puluh persen kerusakan yang terjadi di kota San Francisco pada tahun 1906 adalah disebabkan oleh kebakaran yang berasal dari material bahan bangunan yang mudah terbakar, kerusakan peralatan yang berkaitan dengan listrik serta pecah dan patahnya saluran pipa 24
Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

gas, listrik, dan air. Pada umumnya gempa meng-induksi api yang berasal dari putusnya saluran listrik, gas, dan pembangkit listrik yang sedang beroperasi yang pada akhirnya menyebabkan kebakaran.

5. Perubahan Pengaliran (Drainage Modifications)
Terbentuknya danau yang cukup luas akibat amblesnya (subsidence) permukaan daratan seperti dataran banjir (floodplain), delta, rawa, yang diakibatkan oleh gempabumi merupakan suatu permasalahan yang cukup serius. Perubahan pengaliran akibat penurunan permukaan daratan yang disebabkan oleh gempa memungkinkan terbentuknya danau–danau buatan dan reservoir baru serta rusaknya bendungan. Contoh kasus terjadinya perubahan pengaliran (drainage) adalah gempa yang terjadi pada tahun 1971 di San Fernando, California telah menyebabkan hancurnya bendungan Van Norman Dam, sedangkan gempa Alaska yang terjadi pada tahun 1864 meruntuhkan 2 Bendungan tipe earth-fill yang berada di selatan kota Anchorage. Kedua bendungan tersebut dilalui oleh suatu rekahan dan patahan yang memotong badan bendungan dan telah merubah pengaliran (drainase) yang ada di wilayah tersebut.

6. Perubahan Air Bawah Tanah (Ground Water Modifications)
Regim air bawah tanah dapat mengalami perubahan oleh perpindahan yang disebabkan oleh sesar atau oleh goncangan. Contoh kasus dari perubahan air bawah tanah adalah gempa yang terjadi disepanjang suatu patahan yang mengakibatkan terjadinya offset batuan di kedua sisi permukaan tanah dan aliran air bawah tanah di wilayah Santa Clara County, California, yaitu suatu wilayah yang terletak di bagian selatan teluk San Francisco. Dalam kasus ini kipas aluvial yang sangat luas yang terletak di Alameda Creek mengalami offset/perpindahan sejauh 2 km ke arah barat perbukitan. Gawir yang terbentuk oleh sesar setinggi 8 meter menutup saluran-saluran sungai yang menuju ke teluk San Francisco sehingga membentuk kolam-kolam yang sangat luas. Patahan ini juga berimbas pada air yang berada dibawah tanah, offset yang terjadi pada batuan yang berada di bawah tanah telah menyebabkan lapisan batuan yang permeabel tertutup oleh lapisan batuan impermeabel sehingga mengakibatkan daerah yang berada diantara gawir dan perbukitan mendapat air bawah tanah yang melimpah sebaliknya daerah yang lain sedikit menerima air bawah tanah.

7. Tsunami
Tsunami adalah suatu pergeseran naik atau turun yang terjadi secara tiba-tiba pada dasar samudra pada saat terjadi gempabumi bawah laut, kondisi ini akan menimbulkan gelombang laut pasang yang sangat besar yang lazim disebut “tidal waves”. Tsunami berasal dari bahasa Jepang. "tsu" berarti pelabuhan, "nami" berarti gelombang sehingga secara umum diartikan sebagai pasang laut yang besar di pelabuhan. Istilah tsunami telah digunakan secara luas, baik untuk gelombang pasang (“tidal waves”) maupun gelombang yang disebabkan oleh gempabumi atau yang lebih dikenal dengan istilah “seismic sea waves”. Tsunami dapat diartikan sebagai gelombang laut dengan periode panjang yang ditimbulkan oleh gangguan impulsif dari dasar laut. Gangguan impulsif tersebut bisa berupa gempa bumi tektonik, erupsi vulkanik atau longsoran? Kecepatan tsunami yang naik ke daratan berkurang menjadi sekitar 25-100 Km/jam. Ketinggian tsunami yang pernah tercatat terjadi di Indonesia adalah 36 meter yang terjadi pada saat letusan gunung api Krakatau tahun 1883. Penyebab terjadinya Tsunami antara lain:  Gempa bumi yang diikuti dengan dislokasi/perpindahan masa tanah/batuan yang sangat besar dibawah air (laut/danau)  Tanah longsor didalam laut  Letusan gunungapi dibawah laut atau gunungapi pulau.

25

Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI Gejala terjadinya tsunami:     

2012

Gelombang air laut datang secara mendadak dan berulang dengan energi yang sangat kuat. Kejadian mendadak dan pada umumnya di Indonesia didahului dengan gempa bumi besar dan susut laut. Terdapat selang waktu antara waktu terjadinya? gempa bumi sebagai sumber tsunami dan waktu tiba tsunami di pantai mengingat kecepatan gelombang gempa jauh lebih besar dibandingkan kecepatan tsunami. Metode pendugaan secara cepat dan akurat memerlukan teknologi tinggi. Di Indonesia pada umumnya tsunami terjadi dalam waktu kurang dari 40 menit setelah terjadinya gempa bumi besar di bawah laut?

Mekanisme terjadinya tsunami (gambar 2-8): 1. Diawali dengan terjadinya gempa yang disertai oleh pengangkatan sebagai akibat kompresi. 2. Gelombang bergerak keluar ke segala arah dari daerah yang terangkat 3. Panjang gelombang berkurang tetapi tingginya meningkat saat mencapai bagian yang dangkal, kemudian melaju ke arah darat dengan kecepatan +/-100 km/jam setelah sebelumnya surut dulu untuk beberapa saat (gambar 2-9). Gambar 2-10 s/d 2-12 memperlihatkan pembentukan, sebaran, dan dampak dari gelombang tsunami yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 dengan pusat gempa berada disebelah barat pantai Sumatra, propinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Gambar 2-8 Mekanisme terjadinya tsunami

Gambar 2-9 Pergerakan gelombang tsunami ke daratan

26

Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

Gambar 2-10

Model gelombang tsunami yang terjadi oleh gempabumi tanggal 26 Desember 2004 dengan pusat gempa di pesisir sebelah utara pulau Sumatra (source: www.usgs,gov).

Gambar 2-11 Kecepatan dan waktu tempuh gelombang tsunami yang terjadi oleh gempabumi tanggal 26 Desember 2004 dengan pusat gempa di pesisir sebelah utara pulau Sumatra

27

Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

Gambar 2-12 Menunjukan tinggi gelombang tsunami yang terjadi oleh gempabumi tanggal 26 Desember 2004 dengan pusat gempa di utara pantai pulau Sumatra.

2.4.

Mitigasi Dan Upaya Pengurangan Bencana

Adanya tsunami tidak bisa diramalkan dengan tepat kapan terjadinya, akan tetapi kita bisa menerima peringatan akan terjadinya tsunami sehingga kita masih ada waktu untuk menyelamatkan diri. Sebesar apapun bahaya tsunami, gelombang ini tidak datang setiap saat. Janganlah ancaman bencana alam ini mengurangi kenyamanan menikmati pantai dan lautan. Namun jika berada di sekitar pantai, terasa ada guncangan gempa bumi, air laut dekat pantai surut secara tiba-tiba sehingga dasar laut terlihat, segeralah lari menuju ke tempat yang tinggi (perbukitan atau bangunan tinggi) sambil memberitahukan teman-teman yang lain. Jika sedang berada di dalam perahu atau kapal di tengah laut serta mendengar berita dari pantai telah terjadi tsunami, jangan mendekat ke pantai. Arahkan perahu ke laut. Jika gelombang pertama telah datang dan surut kembali, jangan segera turun ke daerah yang rendah. Biasanya gelombang berikutnya akan menerjang. Jika gelombang telah benar-benar mereda, lakukan pertolongan pertama pada korban. Strategi Mitigasi Dan Upaya Pengurangan Bencana Tsunami: 1. Peningkatan kewaspadaaan dan kesiapsiagaan terhadap bahaya tsunami. 2. Pendidikan kepada masyarakat terutama yang tinggal di daerah pantai tentang bahaya tsunami. 3. Pembangunan Tsunami Early Warning System (Sistem Peringatan Dini Tsunami). 4. Pembangunan tembok penahan tsunami pada garis pantai yang beresiko. 5. Penanaman mangrove serta tanaman lainnya sepanjang garis pantai untuk meredam gaya air tsunami. 6. Pembangunan tempat-tempat evakuasi yang aman disekitar daerah pemukiman yang cukup tinggi dan mudah dilalui untuk menghindari ketinggian tsunami.

28

Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

7. Peningkatan pengetahuan masyarakat lokal khususnya yang tinggal di pinggir pantai tentang pengenalan tanda-tanda tsunami cara-cara penyelamatan diri terhadap bahaya tsunami. 8. Pembangunan rumah yang tahan terhadap bahaya tsunami. 9. Mengenali karakteristik dan tanda-tanda bahaya tsunami. 10. Memahami cara penyelamatan jika terlihat tanda-tanda akan terjadi tsunami. 11. Meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi tsunami. 12. Melaporkan secepatnya jika mengetahui tanda-tanda akan terjadinyan tsunami kepada petugas yang berwenang : Kepala Desa, Polisi, Stasiun Radio, SATLAK PB maupun institusi terkait 13. Melengkapi diri dengan alat komunikasi.

2.5.

Mitigasi Bencana Gempabumi

Mitigasi bencana gempabumi adalah hal yang paling sulit diatasi, hal ini dikarenakan berbagai faktor yang sangat komplek seperti:  Interval kejadian yang tidak pasti. Karena interval kejadian gempa yang tidak pasti disepanjang suatu patahan sehingga menyulitkan dalam perencanaan. Data yang sangat minim akan menyulitkan dalam penyesuaian peruntukan lahan secara spesifik serta dalam pembuatan aturan yang berkaitan dengan pemanfaatan lahan di sekitar dan di sepanjang suatu patahan. Peraturan yang dibuat dengan data yang sangat minim secara politis akan sulit memperoleh dukungan. Penetapan lebar zona patahan. Di perbagai instansi, data tentang lebar suatu zona patahan dapat berbeda beda. Tanpa suatu dasar yang pasti maka untuk memprediksi patahan mana yang berikutnya yang akan bergerak/patah sangat sulit dilakukan, sehingga penyesuaian peruntukan lahan dan penyusunan aturan yang berkaitan dengan lahan juga menjadi sulit dipertahankan. Bangunan yang sudah terlanjur ada. Pembangunan yang dilaksanakan di tempat tempat yang berdekatan dengan zona patahan dan disepanjang jalur patahan akan sulit dilarang dan untuk menyadarkan masyarakat agar tidak melakukan pembangunan di tempat tempat tersebut akan menjadi sia-sia, hal ini disebabkan karena pemerintah / lembaga yang berwenang tidak memiliki data yang memadai dan akurat terhadap kemungkinan bencana yang mungkin terjadi.

Berkaitan dengan ketidak pastian dan waktu terjadinya gempa, maka bencana gempa harus diposisikan dalam perhitungan dan pengambilan keputusan yang tepat didasarkan atas data-data yang tersedia. Oleh karena itu untuk bangunan bangunan, seperti perumahan, rumah sakit, sekolahan dilarang dibangun di zona patahan. Untuk itu diperlukan suatu peraturan yang melarang warga masyarakat membangun bangunan di tempat tempat yang berada di zona patahan aktif. Mitigasi bencana geologi pada hakekatnya adalah mengurangi resiko bencana geologi terhadap harta benda maupun jiwa manusia. Mitigasi merupakan suatu upaya kerjasama antara ahli-ahli teknik dan para pembuat kebijakan dan menghasilkan peraturan peraturan pembangunan untuk suatu wilayah yang rentan bahaya geologi. Usaha-usaha dalam penanggulangan bencana untuk meminimalkan kerugian, baik kerugian harta benda ataupun jiwa manusia yang disebabkan oleh gempabumi dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain adalah: 1. Melakukan pemetaan penyebaran lokasi-lokasi gempa yang disajikan dalam bentuk Peta Rawan Bencana Gempabumi / Seismik. 2. Membuat peraturan peraturan yang berkaitan dengan desain struktur bangunan tahan gempa guna mencegah runtuhnya bangunan ketika terjadi gempa. 3. Tidak membangun bangunan di wilayah-wilayah yang rawan bencana gempa. 4. Menghindari lahan-lahan yang rawan gempa untuk areal pemukiman, dan aktivitas manusia.

29

Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

5. Melakukan penataan ruang baik yang berada di sekitar pantai ataupun di daratan guna mencegah dan menghindari terjadinya korban jiwa dan harta serta dampak yang mungkin timbul ketika bencana itu terjadi. 6. Memasang Sistem Peringatan Dini (Early Warning System). 2.5.1. Strategi Mitigasi dan Upaya Pengurangan Bencana Gempa Bumi 1. Bangunan harus dibangun dengan konstruksi tahan gempa khususnya di daerah rawan gempa. 2. Perkuatan bangunan yang telah ada dengan mengikuti standar kualitas bangunan. 3. Pembangunan fasilitas umum dengan standar kualitas yang tinggi. 4. Perkuatan bangunan-bangunan vital yang telah ada. 5. Rencanakan penempatan pemukiman untuk mengurangi tingkat kepadatan hunian di daerah rawan gempa bumi. 6. Zonasi daerah rawan gempa bumi dan pengaturan penggunaan lahan. 7. Pendidikan dan penyuluhan kepada masyarakat tentang bahaya gempa bumi dan cara cara penyelamatan diri jika terjadi gempa bumi. 8. Ikut serta dalam pelatihan program upaya penyelamatan, kewaspadaan masyarakat terhadap gempa bumi, pelatihan pemadam kebakaran dan pertolongan pertama. 9. Persiapan alat pemadam kebakaran, peralatan penggalian, dan peralatan perlindungan masyarakat lainnya. 10. Rencana kedaruratan untuk melatih anggota keluarga dalam menghadapi gempa bumi. 11. Pembentukan kelompok aksi penyelamatan bencana dengan pelatihan pemadaman kebakaran dan pertolongan pertama. 12. Persiapan alat pemadam kebakaran, peralatan penggalian, dan peralatan perlindungan masyarakat lainnya. 13. Rencana kedaruratan untuk melatih anggota keluarga dalam menghadapi gempa bumi. 2.5.2. Sistem komunikasi dan peringatan dini Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa bencana alam geologi yang menjadi ancaman adalah gempa bumi tektonik. Gempa bumi tektonik sulit diprediksi kepastian waktu dan magnitudonya hanya dapat dipetakan daerah patahan serta prakiraan kemungkinannya yaitu berdasarkan sejarah kegempaan serta karakteristik wilayah kegempaan. Namun seperti dijelaskan para ahli bahwa apabila pernah terjadi kegempaan besar yang merusak di suatu kawasan baik satu kali maupun beberapa kali, maka dapat dipastikan bahwa wilayah tersebut rawan terhadap gempa bumi yang paling tidak berkekuatan sama dengan yang pernah terjadi. Artinya wilayah tersebut harus siap menghadapi kejadian gempa bumi serupa atau lebih besar dimasa yang akan datang, karena setiap kejadian gempa bumi pasti berhubungan dengan adanya patahan aktif pada atau sekitar wilayah tersebut dan proses gempa dengan skala magnitudo tertentu mempunyai siklus atau akan selalu berulang dengan kisaran periode ulang tertentu (Natawidjaja, et. all, 1995). Dalam persitiwa bencana alam gempa bumi dapat menimbulkan bencana ikutan seperti tanah longsor seperti di Garut, tsunami di Aceh dan kebakaran di San Francisco AS. Jadi sistem komunikasi dan peringatan dini bertujuan untuk menilai efektivitas sebuah informasi peramalan potensi bencana dapat dikomunikasikan hingga ke tingkat komunitas yang terancam. Sehingga saat terjadi sebuah bencana komunitas memiliki waktu untuk menyelamatkan aset-aset kehidupannya. Tantangan yang seringkali muncul dalam sistem peringatan dini adalah bagaimana menterjemahkan informasi teknis menjadi informasi yang mudah diterima dan dipahami oleh masyarakat, sehingga masyarakat dapat bertindak pada saat yang tepat. Tantangan tersebut sebenarnya dapat di reduksi melalui keterlibatan komunitas yang terancam dan pihak yang berwenang dalam memberikan informasi tersebut. Untuk itu maka sebuah sistem informasi peringatan dini harus memiliki parameter sebagai berikut: pertama menjangkau sebanyak mungkin anggota masyarakat, kedua segera, ketiga tegas, jelas dan tidak membingungkan dan keempat bersifat resmi atau disepakati oleh semua pihak. Sistem peringatan dini biasanya melalui jalur komunikasi yang menginformasikan ramalan ancaman dari 30
Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

suatu lembaga yang berwenang hingga ke satuan kelompok masyarakat terkecil. Penyampaian informasi peringatan dini harus mempertimbangkan hal-hal: 1. Menginformasikan peringatan secara bertingkat ke masyarakat. Setiap perubahan tingkat peringatan bermakna pada peningkatan kewaspadaan yang harus dilakukan masyarakat. 2. Penyeragaman dan kesepakatan informasi mengenai tanda, simbol dan suara baik dari lembaga yang berwenang maupun dari tim siaga desa sehingga semua pihak dapat mengerti dan memahami informasi peringatan dini yang disamapaikan. 3. Menyepakati atau penunjukan terhadap individu yang berwenang di tingkat dusun, desa atau kota untuk membunyikan tanda peringatan dini apabila terjadi ancaman berpotensi menimbulkan risiko. 4. Penggunaan alat sistem informasi peringatan dini yang tepat guna. Peralatan informasi peringatan dini yang digunakan tidaklah harus berteknologi tinggi dan mahal, yang penting dapat berfungsi efektif dan cepat dalam memberikan informasinya. Disamping itu pemilihan alat peringatan dini harus mempertimbangkan waktu ancaman berlangsung mulai dari sumber ancaman hingga sampai di areal pemukiman. Masyarakat pedesaan pada umumnya memiliki alat-alat tradisional yang berfungsi untuk menyampaikan informasi peringatan. 5. Penempatan alat peringatan dan papan informasi di tempat yang strategis sehingga semua orang bisa mengetahui dan mendengarnya. 6. Saran tindakan yang harus dilakukan oleh masyarakat harus konkret dan spesifik, saran mengenai tindakan yang tidak boleh dilakukan masyarakat sehingga dapat mengurangi risiko. 7. Bahasa penyampaian informasi sesederhana mungkin dan dalam bahasa lokal/setempat agar dapat dimengerti seluruh orang. 8. Melakukan latihan simulasi sistem komunikasi dan peringatan dini yang teratur dalam periode tertentu di kawasan yang rawan bencana. Hal ini bertujuan untuk membentuk kebiasaan dan melatih naluri penduduk untuk selalu siap siaga dalam menghadapi ancaman. Disamping itu sebagai kontrol dan penilaian efektivitas dari sistem komunikasi dan peringatan dini yang dilakukan di sebuah kawasan rawan bencana serta pengecekan apakah alat komunikasi dan peringatan dini masih berfungsi dengan baik atau tidak.

2.6.

Tindakan Yang Harus Dilakukan Saat Terjadi Gempabumi

Jika gempa bumi menguncang secara tiba-tiba, berikut ini 10 petunjuk yang dapat dijadikan pegangan di manapun anda berada. 1. Di dalam rumah Getaran akan terasa beberapa saat. Selama jangka waktu itu, anda harus mengupayakan keselamatan diri anda dan keluarga anda. Masuklah ke bawah meja untuk melindungi tubuh anda dari jatuhan benda-benda. Jika anda tidak memiliki meja, lindungi kepala anda dengan bantal. Jika anda sedang menyalakan kompor, maka matikan segera untuk mencegah terjadinya kebakaran. 2. Di sekolah Berlindunglah di bawah kolong meja, lindungi kepala dengan tas atau buku, jangan panik, jika gempa mereda keluarlah berurutan mulai dari jarak yang terjauh ke pintu, carilah tempat lapang, jangan berdiri dekat gedung, tiang dan pohon. 3. Di luar rumah Lindungi kepada anda dan hindari benda-benda berbahaya. Di daerah perkantoran atau kawasan industri, bahaya bisa muncul dari jatuhnya kaca-kaca dan papan-papan reklame. Lindungi kepala anda dengan menggunakan tangan, tas atau apapun yang anda bawa. 4. Di gedung, mall, bioskop, dan lantai dasar mall Jangan menyebabkan kepanikan atau korban dari kepanikan. Ikuti semua petunjuk dari petugas atau satpam. 31
Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

5. Di dalam lift Jangan menggunakan lift saat terjadi gempa bumi atau kebakaran. Jika anda merasakan getaran gempa bumi saat berada di dalam lift, maka tekanlah semua tombol. Ketika lift berhenti, keluarlah, lihat keamanannya dan mengungsilah. Jika anda terjebak dalam lift, hubungi manajer gedung dengan menggunakan interphone jika tersedia. 6. Di kereta api Berpeganganlah dengan erat pada tiang sehingga anda tidak akan terjatuh seandainya kereta dihentikan secara mendadak. Bersikap tenanglah mengikuti penjelasan dari petugas kereta. Salah mengerti terhadap informasi petugas kereta atau stasiun akan mengakibatkan kepanikan. 7. Di dalam mobil Saat terjadi gempa bumi besar, anda akan merasa seakan-akan roda mobil anda gundul. Anda akan kehilangan kontrol terhadap mobil dan susah mengendalikannya. Jauhi persimpangan, pinggirkan mobil anda di kiri jalan dan berhentilah. Ikuti instruksi dari radio mobil. Jika harus mengungsi maka keluarlah dari mobil, biarkan mobil tak terkunci. 8. Di gunung/pantai Ada kemungkinan longsor terjadi dari atas gunung. Menjauhlah langsung ke tempat aman. Di pesisir pantai, bahayanya datang dari tsunami. Jika anda merasakan getaran dan tanda-tanda tsunami tampak, cepatlah mengungsi ke dataran yang tinggi. 9. Beri pertolongan Sudah dapat diramalkan bahwa banyak orang akan cedera saat terjadi gempa bumi besar. Karena petugas kesehatan dari rumah-rumah sakit akan mengalami kesulitan datang ke tempat kejadian, maka bersiaplah memberikan pertolongan pertama kepada orang-orang yang berada di sekitar anda. 10. Dengarkan informasi Saat gempa bumi besar terjadi, masyarakat terpukul kejiwaannya. Untuk mencegah kepanikan, penting sekali setiap orang bersikap tenang dan bertindaklah sesuai dengan informasi yang benar. Anda dapat memperoleh informasi yag benar dari pihak yang berwenang atau polisi. Jangan bertindak karena informasi orang yang tidak jelas.

2.7.

Arahan Mitigasi Bencana Perkotaan

Kepadatan penduduk yang terpusat di perkotaan, ditambah dengan pertumbuhan penduduknya yang cukup tinggi (proses intensifikasi) menyebabkan daerah perkotaan tersebut menjadi rawan/rentan terhadap bencana. Permintaan lahan untuk perumahan dan indusri (proses ekstensifikasi) juga menyebabkan bertambahnya area yang potensial terhadap bencana. Mengingat bahwa mitigasi ditujukan untuk mengurangi atau menghilangkan resiko akibat bencana terhadap manusia dan harta bendanya, maka prioritas perlu diberikan untuk kawasan-kawasan perkotaan yang secara inherent mengandung potensi resiko yang tinggi jika terjadi bencana sebagai akibat akumulasi dari tingkat kerentanan yang relatif lebih tinggi bila dibandingkan dengan wilayah lain yang secara umum kurang terbangun, dengan potensi bahaya yang dimilikinya. Secara umum dalam prakteknya mitigasi dapat dikelompokkan kedalam mitigasi struktural dan mitigasi non struktural. Mitigasi struktural berhubungan dengan pembangunan konstruksi fisik, sedangkan mitigasi non-struktural antara lain meliputi perencanaan tata guna lahan yang disesuaikan dengan kerentanan wilayahnya dan memberlakukan peraturan pembangunan. Mitigasi bencana meliputi pengenalan dan adaptasi terhadap bahaya alam dan buatan manusia, serta kegiatan berkelanjutan untuk mengurangi atau menghilangkan resiko panjang, baik terhadap kehidupan manusia maupun harta benda. Salah satu arahan kebijakan mitigasi perkotaan adalah menitikberatkan pada sosialisasi bencana, dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat.

32

Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

Kebijakan ini dilakukan dengan program peningkatan pengetahuan masyarakat melalui penyuluhan, diklat maupun sosialisasi. Kebijakan penting lainnya melakukan evaluasi dan merevisi RTRK untuk kawasan terbangun, penerapan kebijakan ini dilakukan melalui program penambahan Ruang Terbuka yang ada dalam rangka memfasilitasi terbentuknya fungsi-fungsi intergrasi sosial masyarakat sekaligus sebagai tempat evakuasi bila terjadi bencana.

2.7.1. Konsep Kota yang Adaptif dan Berbasis Mitigasi Bencana
Konsep dasar penataan ruang adalah untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik dan aman dari bencana, untuk itu di setiap wilayah rawan bencana perlu dilengkapi: fasilitas perlindungan baik berupa bentuk alami maupun bangunan, jalur penyelamatan menuju ketempat yang lebih aman dan tempat aman untuk penyelamatan dapat berupa bangunan, alami dan lain-lain. Hancur dan terkoyaknya fisik kota akibat bencana alam seperti gempa bumi, banjir dan lain-lain yang membawa kesengsaraan penghuni kota tidak dapat begitu saja kita menyalahkan fenomena alam tersebut. Namun yang perlu kita salahkan adalah diri kita sendiri yang mengembangkan atau membuat fisik kota menjadi tidak adaptif terhadap bencana alam seperti disebutkan di atas. Pengembangan kota sebaiknya tidak hanya dikembangkan berdasarkan aspek sosial, ekonomi, politik dan kultural saja, namun sebaiknya kota juga dikembangkan berdasarkan aspek kebijakan teknis sebagai berikut: 1. Struktur bangunan dan sistem infrastruktur di perkotaan sebaiknya dikembangkan dengan sistem tahan terhadap gaya lateral atau gempa bumi. 2. Penyediaan ruang-ruang terbuka dan jauh dari kemungkinan runtuhnya bangunan yang lebih banyak sebagai tempat berlindung dan tempat penyelamatan ketika terjadi gempa bumi. 3. Vegetasi sebagai tata hijau kota sebaiknya dipilih model tanaman keras yang tidak mudah tumbang. 4. Air hujan harus diberikan ruang yang cukup agar dapat menyerap dalam tanah sehingga menjadi cadangan air tanah dan selebinya dibuang dengan saluran bebas sampah dengan dimensi yang cukup agar tidak menimbulkan banjir. Seperti telah dijelaskan pada bagian sebelumnya bahwa resiko bencana selain terkait dengan fenomena alam yang bersifat given juga sangat berhubungan dengan proses pembangunan yang dilakukan oleh manusia. Disatu sisi keberadaan ancaman bencana alam menempatkan pembangunan menjadi beresiko, tetapi di sisi lain, pembangunan yang dilakukan oleh manusia dapat menimbulkan atau membangkitkan resiko bencana, tetapi sebaliknya ada juga pembangunan yang dilakukan oleh manusia yang dilakukan sesuai dengan karakter suatu kawasan dapat mengurangi resiko bencana. Berdasarkan pemikiran tersebut maka perencanaan pembangunan sebaiknya dilakukan untuk menghindari dan mengurangi ancaman bencana yang ada. Banyak kasus khususnya di Indonesia, dimana pembangunan wilayah tanpa melalui perencanaan yang baik dan menyeluruh dapat menimbulkan/memacu tingginya tingkat resiko bencana, khususnya untuk ancaman bencana geologi dikawasan daerah patahan. Pembangunan di kawasan patahan yang tidak terencana dengan baik dan khas sebagai satu kawasan yang unik dapat meningkatkan tingkat kerentanan kawasan tersebut, dimana dengan semakin berkembangnya kawasan tersebut otomatis dibarengi oleh proses urbanisasi dan konversi lahan yang tidak terkendali secara keseluruhan, sangat mengundang resiko bencana untuk kawasan tersebut. Kebijaksanaan Mitigasi perkotaan merupakan suatu kerangka konseptual yang disusun untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh bencana terutama di daerah perkotaan. Mitigasi bencana meliputi pengenalan dan adaptasi terhadap bahaya alam buatan manusia, serta kegiatan berkelanjutan untuk mengurangi atau menghilangkan resiko panjang, baik terhadap kehidupan manusia maupun harta benda. Tujuan utama dari penyusunan kebijaksanaan mitigasi bencana perkotaan adalah mengurangi resiko/dampak yang ditimbulkan oleh bencana khususnya bagi penduduk perkotaan, seperti korban jiwa, kerugian ekonomi dan kerusakan sumber daya alam, sebagai landasan (pedoman) untuk perencanaan pembangunan perkotaan, meningkatkan pengetahuan masyarakat perkotaan dalam 33
Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

menghadapi serta mengurangi dampak/resiko bencana, sehingga masyarakat dapat hidup bekerja dengan aman.

2.7.2. Sistem Kota
1. Aksesibilitas dan mobilitas Aksesibilitas adalah suatu ukuran kenyamanan atau kemudahan mengenai cara lokasi tata guna lahan berinteraksi satu sama lain dan mudah atau susahnya lokasi tersebut dicapai melalui suatu sistem jaringan. Faktor yang menyatakan tingkat aksesibilitas adalah waktu tempuh, meskipun ada juga yang menyatakan dengan faktor jarak. Suatu tempat yang berjarak jauh belum tentu dapat dikatakan mempunyai aksesibilitas rendah atau sebaliknya, karena terdapat faktor lain dalam menentukan aksesibilitas yaitu waktu tempuh. Dari sisi jaringan transportasi, kualitas pelayanan transportasi pasti berbeda-beda baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Terkait dengan jalur evakuasi, tidak ada ketentuan yang baku tentang ukuran jalur evakuasi namun secara umum yang harus diperhatikan adalah apakah jalur tersebut dapat dilalui dengan baik dan cepat, untuk jalur evakuasi di luar bangunan hendaknya bisa memuat dua kendaraan jika saling berpapasan tidak menghalangi proses evakuasi. Kemudian ada tempat pengungsian sementara yang merupakan tempat aman dan tempat pengungsian akhir. Yang menjadi perhatian tentang jalur evakuasi adalah jalur evakuasi cukup lebar bisa dilewati 2 kendaraan atau lebih, harus menjauh dari sumber ancaman dan efek dari ancaman, harus baik dan mudah dilalui, harus disepakati bersama oleh masyarakat, aman dan teratur. 2. Pola permukiman dan alokasi lahan Pertumbuhan kota, selain memberikan dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat juga dapat menyebabkan bencana karena mendorong lebih banyak orang yang tinggal di wilayah yang berbahaya dan rentan bencana. Pendatang dan penduduk kumuh rentan terutama karena mereka sering bertempat tinggal ditempat yang berbahaya seperti di kanal atau pinggiran saluran dan sering tidak memiliki pelayanan dasar yang memadai (Inoghuci, 2003). Sebagaimana kota di Indonesia, pola permukiman penduduk cenderung berada di sepanjang pinggir jalan dan di sepanjang bantaran sungai dan umumnya membentuk kelompok-kelompok bangunan hunian maupun tempat usaha yang cenderung tidak teratur. Hal ini tidak terlepas dari kehidupan sosial budaya penduduk. Munculnya pola pemukiman yang mengabaikan bahaya dan berada di kawasan rawan bencana, dan juga berada pada daerah dataran rendah yang terlalu dekat dengan kemiringan lereng yang curam karena pada kawasan tertentu gempa bumi yang terjadi dapat disertai dengan longsor atau banjir, memberikan resiko yang besar ketika terjadi bencana (Eisner and Gallion,1994). Budaya masyarakat Indonesia khususnya kaum petani yang menetap di wilayah rawan bencana tentunya memerlukan pemahaman sosial dan antropologi budaya lokal agar strategi penempatan pemukiman mereka di daerah bebas ancaman gempa berhasil dengan efektif. Secara teoritis luasan kawasan penggunaan lahan telah terpolakan dalam ’’teori tata guna lahan perkotaan’’. Teori ini mencakup atas penggunaan lahan bagi perumahan, industri, perbelanjaan /niaga dan sebagainya. Pola tata guna lahan ini dikemukaan oleh B.W. Burgess dengan teori ’’pola konsentrik/consentric zone theory)”, Hummer Hoyt dengan ’’teori sektor /sector theory’’ dan R.D. Mc Kenzic dengan teori ’’pusat lipat ganda/multiple nuclei theory)”. Mereka membuat suatu pola penggunaan lahan di perkotaan. Pada pola jalur terpusat oleh Burgess menjelaskan bahwa penggunaan lahan di perkotaan mempunyai atau pola bahwa pusat kota merupakan sumbu yang dikelilingi oleh lahan-lahan yang sesuai dengan penggunaannya. Pola consentric zone dapat diterangkan sebagai berikut: 1. Pusat Kota Central Business Distric (CBD) terdiri dari bangunan kantor, hotel, bank, bioskop, pasar dan pusat perbelanjaan. 2. Merupakan jalur alih, yang terdapat rumah-rumah sewaan, kawasan industri dan perumahan buruh. 34
Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

3. Jalur wisma buruh yang yang terdapat kawasan perumahan untuk tenaga kerja pabrik/industri (lower class residential). 4. Jalur madya wisma, yang terdapat kawasan perumahan yang luas untuk tenaga kerja (kantoran) dan kaum madya (medium class residenial). 5. Di luar lingkaran terdapat jalur ’’pendugdag’’ atau ’’penglajon’’ dimana terdapat masyarakat golongan madya dan golongan atas (high class residential). Teori sektor oleh H. Hoyt dapat diterangkan sebagai berikut: 1. Sektor ini terdapat pusat kota atau CBD. 2. Kawasan ini terdapat kawasan industri ringan dan kawasan perdagangan. 3. Sektor ini dekat dengan pusat kota pada bagian sebelah menyebelahnya terdpata kawasan murbawisma yaitu kawasan tempat tinggal kaum murba atau kaum buruh (low income housing). 4. Sektor ini agak jauh dari pusat kota dan sektor industri serta perdagangan. Terdapat sektor madya wisma atau perumahan kaum madya (middle income housing). 5. Sektor ini terdapat sektor adiwisma, yaitu kawasan tempat tinggal golongan atas (high income housing). Teori pusat lipat ganda atau Multiple Nuclei merupakan teori R.D. Mc Kenzic dengan keterangan sebagai berikut: 1. Pusat kota atau CBD. 2. Kawasan niaga dan industri ringan. 3. Kawasan murbawisma, tempat tinggal kualitas rendah. 4. Kawasan madyawisma, tempat tinggal berkualitas menengah. 5. Kawasan adiwisma, tempat tinggal berkualitas tinggi. 6. Kawasan industri berat. 7. Pusat niaga, perbelanjaan lain di pinggiran. 8. Upakota (sub urban), untuk kawasan madyawisma dan adiwima. 9. Upakota (sub urban) kawasan industri. 3. Jaringan jalan dan struktur ruang kota Pada kota yang memiliki pola jaringan jalan berbentuk grid, untuk kawasan yang memiliki kepadatan tinggi tingkat kemudahan dalam mitigasi sangat sulit hal ini disebabkan pada setiap siku jalan (persimpangan) menjadi titik-titik kemacetan karena penuhnya kendaraan dari setiap blok-blok bangunan yang akan melalui siku jalan dan memperlambat laju kendaraan. Demikian juga sebaliknya untuk kawasan yang berkepadatan rendah tingkah mitigasinya lebih mudah karena kepadatan lalulintas relatif lebih kecil. Kemudahan dalam proses mitigasi turut menentukan tingkat resiko dan korban yang ditimbulkan ketika suatu daerah dilanda bencana. Jaringan-jaringan yang saling menghubungkan dan memberikan lebih dari satu jalur menuju tempat evakuasi (Coburn, et.al, 1994). Jalur-jalur jalan untuk mitigasi perlu disesuaikan dengan struktur bangunan yang ada sehingga masyarakat dapat mengamankan diri menuju tempat tempat penyelamatan sementara atau permanen dengan cepat. Pelebaran jalan-jalan di daerah perkotaan yang memiliki kepadatan tinggi untuk memudahkan proses evakuasi (Coburn, et.al, 1994). Selain pelebaran jalan maka perlu adanya jalan-jalan baru dari daerah perkotaan yang memiliki kepadatan tinggi menuju tempat-tempat yang aman. Jalan tersebut merupakan jalan koridor dari pusat kota yang dapat mengurangi titik-titik kemacetan di persimpangan jalan akibat pola jaringan jalan yang berbentuk grid dan kelebihan kapasitas jalan. Jaringan jalan pada kota yang rawan bencana gempa sebaiknya direncanakan sebagai satu kesatuan dengan rencana umum tata ruang kota. Rencana tata ruang tersebut mengarah pada kelancaran evakuasi serentak dan besar-besaran dengan pola jaringan radial yang lebar dan dilengkapi jalan lingkar yang berlapis-lapis. Kota yang rawan bencana harus ditata ulang dengan jaringan jalan yang mengarah ke upaya mitigasi massal yaitu pola menyebar ke arah daerah yang ditetapkan sebagai area evakuasi dengan jalan raya radial yang dilengkapi dengan jalan lingkar (ring road) secukupnya. 35
Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

Pengertian jalan sesuai dengan Undang-Undang No.38 tahun 2004 adalah suatu prasarana perhubungan darat dalam bentuk apapun yang meliputi segala bagian jalan termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalulintas. Pola jaringan jalan merupakan salah satu unsur terpenting dari morfologi kota. Beberapa pola jaringan jalan menurut Northam dalam Yunus (2004) adalah sebagai berikut: 1. Sistem pola jalan tidak teratur, pada sistem ini terlihat adanya ketidak teraturan sistem jalan baik ditinjau dari segi lebar maupun arah jalan. Ketidakteraturan ini terlihat pada polajalan yang melingkar-lingkar, lebarnya bervariasi dengan cabang-cabang yang banyak. Ketidakteraturan ini tercipta karena keadaan topografi kota yang mengharuskan demikian. Bagi kota yang tidak mempunyai kendala medan, ketidakteraturan tersebut menunjukkan tidak adanya perencanaan untuk menertibkan unsur-unsur morfologi kotanya dan ini biasanya terjadi pada kota yang baru tumbuh. 2. Sistem pola jalan radial konsentris, dalam sistem ini ada beberapa sifat khusus yaitu mempunyai pola jalan konsentris dan radial, bagian pusatnya merupakan daerah kegiatan utama sekaligus tempat pertahanan terakhir dari suatu kekuasaan, punya keteraturan geometris, serta jalan besar menjari dari titik pusat dan membentuk “asterisk shaped pattern”. 3. Sistem pola jalan bersudut siku atau grid, pada kota dengan sistem pola jalan bersudut siku atau, bagian-bagian kotanya dibagi sedemikian rupa menjadi blok-blok empat persegi panjang dengan jalan-jalan yang pararel longitudinal dan transversal membentuk sudut siku-siku. Jalan-jalan utama membentang dari pintu gerbang utama kota sampai pada bagian pusat kota. Sistem ini merupakan pola yang cocok untuk pembagian lahan dan pengembangan kota akan tampak teratur dengan mengikuti pola yang telah terbentuk. 4. Prinsip penataan sirkulasi dan jalan penghubung Prinsip penataan sirkulasi dan jalan penghubung mengacu kepada Peraturan Menteri No. 06/PRT/M/2006 dan Peraturan Menteri No. 30/PRT/M/2006. Dimana prinsip-prinsip penataan tersebut meliputi: 1. Kejelasan sistem sirkulasi terkait dengan jaringan evakuasi 2. Mobilitas publik menyangkut: a. Peningkatan kaitan antar sistem pada kawasan perencanaan dengan sistem sirkulasi kawasan sekitar. b. Penciptaan sistem sirkulasi yang mudah diakses sebesar-besarnya oleh publik termasuk penyandang cacat dan lanjut usia (difabel) sehingga memperkaya karakter dan integritas sosial para pemakainya. 5. Keandalan bangunan rumah tinggal dan lingkungan terhadap bencana Persyaratan keandalan bangunan rumah tinggal dan lingkungan di daerah rawan benanca gempa meliputi persyaratan keselamatan, kesehatan, kemudahan dan kenyamanan. Berikut ini adalah beberapa persyaratan bangunan rumah tinggal dan lingkungan di daerah rawan gempa:  Tata letak

Tata letak bangunan rumah tinggal dan lingkungan di daerah rawan gempa: a. Struktur bangunan rumah tinggal harus mampu memikul semua beban dan atau pengaruh yang mungkin bekerja selama kurun waktu umur layan bangunan, termasuk pembebanan yang kritis seperti beban gempa dan beban-beban lain. b. Tata letak bangunan rumah tinggal untuk daerah rawan bencanan gempa harus diusahakan sederhana, simetris, seragam dan satu kesatuan. c. Jumlah lantai maksimum 1 lantai, didirikan di atas tanah yang stabil serta denah bangunan simetris dengan dinding penyekat merupakan kotak-kotak tertutup.

36

Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

d. Deretan bangunan dalam satu blok tidak boleh bergandengan hingga lebih dari 60m, setiap 60m panjang blok bangunan harus dipisahkan dengan jalan darurat sebagai akses penyelamatan.  Bangunan dan Jalur Penyelamatan Akibat kejadian gempa dapat menyebabkan kebakaran pada bangunan, oleh karena itu lingkungan permukiman harus memperhitungkan aspek penyelamatan, baik berupa bangunan penyelamatan maupun jalur penyelamatan. Untuk bencana gempa bumi, bangunan penyelamatan dapat memanfaatkan bangunan ibadah, sekolah, balai pertemuan, perkantoran dan bangunan lainnya apabila memiliki konstruksi yang kokoh dapat dicapai dalam waktu 15 menit dan mempunyai radius pelayanan maksimum 2 km dan dapat menampung orang banyak. Dalam konteks bangunan penyelamatan dari bencana gempa dikenal 4 jenis shelter di Jepang yang dikelompokkan ke dalam 2 bagian yakni: pertama temporary shelter, suatu tempat terbuka untuk penampungan sementara, kedua accommodation shelter, suatu tempat tertutup yang mencakup akomodasi untuk penampungan yang lebih lama, (Misumi. J, 1998). Berdasarkan tipologi kawasan yang merupakan daerah rawan bencana khususnya bencana gempa bumi, penyediaan RTH di lingkungan permukiman sangat diperlukan sebagai lokasi evakuasi (Permen PU No. 05/PRT/M/2008). Aksesibilitas ke lokasi RTH sangat penting, karena akan berfungsi sebagai jalur penyelamatan. Untuk konteks jalur penyelamatan, jalur penyelamatan merupakan jalur terpendek keluar lingkungan ke arah jalan lokal dan kolektor maupun ke lokasi RTH, dengan lebar minimal 6 meter. Pada jalur penyelamatan harus dilengkapi dengan rambu-rambup penandaan dan arah penyelamatan, yang mudah terlihat, kuat dan terpelihara. Untuk antisipasi bencana kebakaran, dalam lingkungan perumahan harus disediakan jalur evakuasi berupa jalan lingkungan dengan lebar perkerasan jalan minimal 4 meter tanpa hambatan. Akses jalan lingkungan minimal masuk 45 meter ke dalam lingkungan dari jalan masuk utama, harus mudah diakses oleh kendaraan pemadam kebakaran dan sirkulasi petugas pemadam kebakaran. Konsep Taman Rumah Tangga (RT) yang difungsikan sebagai lokasi pengungsian dalam konteks pengungsian sementara dapat menerapkan konsep Taman RT untuk lokasi evakuasi. Fasilitas yang harus dilengkapi untuk Taman RT yang difungsikan sebagai lokasi pengungsian dalam konteks temporary shelter dapat berupa poskamling, pos kesehatan (P3K), gudang penyimpanan tenda-tenda, sumber energi, MCK dan R. Genset & Menara, MCK, Poskamling, Poskes, Pedestrian, Pohon Pelindung, Evacuation route, sumber air bersih, menara yang diletakkan ditengah lapangan dilengkapi sirene, peralatan telekomunikasi. Konsep ini sesuai dengan Peraturan Menteri PU No. 05/PRT/M/2008 tentang penyediaan dan pemanfaatan RTH di perkotaan berdasarkan tipologi perkotaan, dimana untuk tipologi kawasan rawan bencana maka fungsi utama RTH adalah sebagai sarana mitigasi atau lokasi evakuasi serta. Alasan lainnya mengapa konsep ini lebih tepat adalah terkait dengan kebiasaan manusia yang tidak mau berjalan atau menjangkau suatu lokasi jika lebih dari 400m dan dapat dicapai kurang dari 15 menit. Taman Rukun Tetangga (RT) adalah taman yang ditujukan untuk melayani penduduk dalam lingkup satu RT, khususnya untuk keperluan mitigasi bencana yakni sebagai lokasi evakuasi sesuai dengan tipologi kawasan perkotaan yang rawan bencana, selain fungsi tersebut juga untuk sarana kegiatan sosial di lingkungan RT tersebut. Luas taman ini adalah minimal 1 m per penduduk RT, dengan luas minimal 250 m2. Lokasi taman berada pada radius kurang dari 300 meter dari rumah-rumah penduduk yang dilayani. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) minimal seluas 70%-80% dari luas taman. Pada taman ini selain ditanami dengan berbagai tanaman, juga terdapat minimal tiga pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang (Permen PU No. 05/PRT/M/2008). Selain bangunan penyelamatan yang dapat memanfaatkan untuk kebutuhan pengungsian yang lebih lama (accommodation shelter) berupa bangunan ibadah, sekolah, balai pertemuan, perkantoran dan fasilitas publik lainnya, konsep Taman Evakuasi Bencana dapat diterapkan.

37

Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

Konsep ini dilatarbelakangi pengembangan konsep taman bale kambang yang sudah lama dikenal masyarakat tradisional Jawa dan Bali. Konsep ini dikembangkan sesuai kebutuhan antisipasi bencana karena memiliki kelenturan dan kemudahan modifikasi sesuai kondisi dan bentuk lahan di setiap lokasi. Taman memiliki dua bentuk dasar taman dan bale kambang (mengambang/melayang/menggantung). Bale merupakan bentuk tradisional yang biasa digunakan untuk tempat berkumpul, bersantai, atau bersosialisasi di teras rumah. Rancangan taman memiliki nilai artistik, prinsip optimalisasi lahan, multifungsi, menciptakan keteduhan lingkungan, ruang gerak, dan berinteraksi sosial budaya. Pengembangan taman evakuasi bencana mensyaratkan fungsi ekologis, ekonomis, edukatif, evakuasi (ruang penyelamatan bencana banjir, kebakaran, gempa bumi), konservasi energi (suplai energi surya, biogas), dan estetis. Lantai dasar taman dibangun sumur resapan air tersusun dari koral, pasir, pecahan batu bata, ijuk, dan batu belah, seluas 75% dari luas taman. Sisanya 25% berupa tandon air untuk cadangan air bersih pada musim kemarau dan kebakaran. Untuk membangun satu unit Taman Evakuasi Bencana pemerintah cukup membebaskan lahan seluas 500 meter persegi. Dengan standar kebutuhan ruang setiap orang 1m2 maka untuk ruang evakuasi setiap lantai dapat menampung pengungsi 300-400 orang per lantai atau total 600-800 orang dengan syarat pengungsi tidak membawa banyak barang. Pada lantai satu seluas 400m2, lantai dapat digunakan sebagai ruang evakuasi bencana dan di saat normal dapat difungsikan untuk kegiatan sosial, kegiatan ibadah, balai warga RT/RW, perkawinan, atau pentas seni. Lantai ini dilengkapi fasilitas dapur umum dan toilet bersama. Pada lantai teratas berupa atap rumput seluas 250m2. Fasilitas dapur umum dan toilet bersama dilengkapi panel sel surya untuk menyuplai kebutuhan energi listrik taman dan dapat ditingkatkan kapasitasnya untuk rumah tangga, sangat bermanfaat pada saat bencana terjadi ketika aliran listrik mati total. Sebagian permukaan dinding bangunan taman dapat dipakai untuk layar pemutaran film cerita atau film penyuluhan warga.

38

Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

3M
3.1.

itigasi Letusan Gunungapi

Pendahuluan

Bahaya Gunungapi adalah bahaya yang ditimbulkan oleh letusan/kegiatan gunungapi, berupa benda padat, cair dan gas serta campuran diantaranya yang mengancam atau cenderung merusak dan menimbulkan korban jiwa serta kerugian harta benda dalam tatanan (lingkungan) kehidupan manusia. Di Indonesia terdapat 129 gunungapi aktif dan 500 gunungapi tidak aktif. Dari 129 gunungapi aktif atau 13 persen dari jumlah gunungapi aktif di dunia ada di Indonesia dan 70 persen eruptif dan 15 dalam kondisi kritis. Persebaran gunungapi di Indonesia membentuk satu jalur yang berupa garis mulai dari Sumatra, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara sebelum membelok ke arah utara, kearah laut Banda dan Sulawesi bagian utara. Panjang jalur gunungapi kurang lebih 7000 kilometer yang terdiri dari gunungapi dengan karakteristik campuran. Saat ini lebih dari 10 persen penduduk Indonesia mendiami wilayah wilayah yang rentan terhadap letusan gunungapi. Selama lebih dari 100 tahun, sudah 175.000 jiwa telah menjadi korban dari letusan gunungapi. Sebagaimana diketahui bahwa danau Toba yang terkenal itu sebetulnya adalah sebuah Kaldera atau lubang dipermukaan bumi yang diakibatkan oleh gempa vulkanik. Bila luas danau toba mencapai 100 kilometer persegi, bisa dibayangkan betapa besar gempa yang terjadi saat itu, yang konon terjadi sekitar 74000 tahun lalu. Berikut ini adalah beberapa catatan bencana letusan gunungapi yang pernah terjadi di Indonesia, antara lain: 1. 1815 : Gunung tambora meletus. Jumlah korban saat itu tidak tercatat dengan baik, namun dapat dipastikan melebihi jumlah korban letusan gunung krakatau. 2. 1883 : Gunung krakatau meletus, mengakibatkan tsunami dan menghilangkan lebih dari 36000 jiwa. Letusan ini menjadi catatan sejarah dunia tersendiri karena tsunami yang diakibatkan mencapai hingga Hawaii dan Amerika Selatan. 3. 1930 : Gunung merapi meletus. Mengakibatkan 1300 orang harus kehilangan nyawa 4. 1963 : Gunung Agung Meletus. Menewaskan sekitar 1000 jiwa Indonesia yang berada pada zona beriklim tropis dengan musim kemarau dan penghujan telah berpengalaman menghadapi ancaman bencana aliran material piroklastik yang berasal dari hasil erupsi gunungapi, seperti aliran lahar atau perpindahan material gunungapi (piroklastik) yang berbahaya. Gunung Merapi adalah salah satu gunungapi sangat aktif di dunia. Gunungapi ini menunjukkan erupsi menghasilkan awan panas piroklastik dan longsoran kubah lava. Luncuran kubah lava yang terjadi secara berulang-ulang sepanjang periode erupsi dan dapat memakan waktu hingga berbulan bulan. Sebagai gambaran, dari 13 Mei hingga 21 Juni 2006, gunung Merapi ditetapkan dalam kondisi Siaga namun demikian tidak menunjukkan tanda tanda penurunan aktivitasnya. Semburan material piroklastik mencapai ratusan kali dengan radius hingga mencapai 6 kilometer yang membahayakan pemukiman penduduk, terutama di wilayah kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Klaten, dan Magelang di wilayah Jawa Tengah. Lebih dari 17.212 jiwa telah diungsikan sementara dan 2 orang meninggal dikarenakan terperangkap di lubang perlindungan yang berada di Kaliadem, Cangkringan, Sleman. 39
Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

3.2.

Dampak Letusan Gunungapi Terhadap Lingkungan

Dampak letusan gunungapi terhadap lingkungan dapat berupa dampak yang bersifat negatif dan positif. Dampak negatif dari letusan suatu gunungapi dapat berupa bahaya yang langsung dapat dirasakan oleh manusia seperti awan panas, jatuhan piroklastik, gas beracun yang keluar dari gunungapi dan lain sebagainya, sedangkan bahaya tidak langsung setelah erupsi berakhir, seperti lahar hujan, kerusakan lahan pertanian, dan berbagai macam penyakit akibat pencemaran. Adapun dampak positif dari aktivitas suatu gunungapi terhadap lingkungan adalah bahan galian mineral industri, energi panasbumi, sumberdaya lahan yang subur, areal wisata alam, dan sebagai sumberdaya air. 1. Dampak Negatif: a. Bahaya langsung, terjadi pada saat letusan (lava, awan panas, jatuhan piroklastik/bom, lahar letusan dan gas beracun). b. Bahaya tidak langsung, terjadi setelah letusan (lahar hujan, kelaparan akibat rusaknya lahan pertanian/perkebunan/ perikanan), kepanikan, pencemaran udara/air oleh gas racun: gigi kuning/ keropos, endemi gondok, kecebolan dsb. 2. Dampak Positif : a. Bahan galian: seperti batu dan pasir bahan bangunan, peralatan rumah tangga,patung, dan lain lain. b. Mineral : belerang, gipsum,zeolit dan juga mas (epitermal gold). c. Energi panas bumi: listrik, pemanas ruangan, agribisnis d. Mataair panas : pengobatan/terapi kesehatan. e. Daerah wisata: keindahan alam f. Lahan yang subur: pertanian dan perkebunan g. Sumberdaya air: air minum, pertanian/peternakan, dll.

3.3.

Material Produk Gunungapi

1. Awan panas a. Awan Panas : Kecepatan sekitar 60 – 145 km/jam, suhu tinggi sekitar 2000 – 800oC, jarak dapat mencapai 10 km atau lebih dari pusat erupsi, sehingga dapat menghancurkan bangunan, menumbangkan pohon-pohon besar (pohon-pohon dapat tercabut dengan akarnya atau dapat terpotong pangkalnya). b. Awan panas “Block and Ash Flow” arahnya mengikuti lembah; sedangkan awan panas “Surge” pelamparannya lebih luas dapat menutupi morfologi yang ada di lereng gunungapi sehingga daerah yang rusak/hancur lebih luas (gambar 3-1). 2. Guguran Longsoran Lava Guguran atau longsoran lava pijar pada erupsi efusif, sumbernya berasal dari kubah lava atau aliran lava. Longsoran kubah lava dapat mencapai jutaan meter kubik sehingga dapat menimbulkan bahaya. Guguran kubah lava dapat membentuk awan panas. Contoh : G. Merapi – Jawa Tengah, G. Semeru – Jawa Timur. Jatuhan Piroklastik; Lemparan Bom yang di sebabkan oleh erupsi eksplosif dapat merusak/menghancurkan, menimbulkan korban manusia, menimbulkan kebakaran (hutan atau bangunan). Jarak lemparan batu tergantung dari tenaga dan sifat erupsinya, G. Agung (1963) mencapai 7 km (kebakaran rumah), G. Semeru (1962–1963) mencapai 4 km (kebakaran hutan), G. Krakatau 1883 mencapai 10 km. Hujan abu dapat menyebabkan runtuhnya bangunan, udara gelap, jalan licin, mengganggu penerbangan, rusaknya tanaman, mengganggu kesehatan (mata, pernapasan).

40

Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

Gambar 3-1 : Aliran lava yang memicu aliran awan panas

3. Lontaran Batuan Pijar Pecahan batuan gunungapi, berupa bom atau bongkah batu gunungapi yang dilontarkan saat gunungapi meletus. Dapat menyebar kesegala arah. Dapat menyebabkan kebakaran hutan, bangunan dan kematian manusia, termasuk hewan. Cara terbaik untuk menyelamatkan diri dari bahaya ini adalah menjauhi daerah yang akan terlanda lontaran batu (pijar). 4. Hujan Abu Hujan material jatuhan yang terdiri dari material lepas berukuran butir lempung sampai pasir. Dapat menyebabkan kerusakan hutan dan lahan pertanian. Dapat meninggikan keasaman air. Dapat menyebabkan sakit mata dan saluran pernapasan. Pada saat hujan abu sebaiknya orang berlindung. 5. Aliran Lava Karena suhunya yang tinggi (7000C – 1200oC), volume lava yang besar, berat, sehingga aliran lava mempunyai daya perusak yang besar, dapat menghancurkan dan membakar apa yang dilandanya (gambar 3-2). 6. Lahar Kecepatan aliran lava sangat lamban antara 5–300 meter/hari, Kecepatannya tergantung dari viskositas dan kemiringan lereng. Manusia dapat menghindar untuk menyelamatkan diri. Lahar dapat dibedakan menjadi 2 jenis, lahar letusan dan lahar hujan. Lahar letusan disebut juga lahar primer, sedangkan lahar hujan disebut juga lahar sekunder. Aliran lahar mempunyai berat jenis yang besar (2–2,5), dapat mengangkut berbagai macam ukuran, sehingga laliran lahar ini mempunyai daya perusak yang sangat besar dan sangat berbahaya terutama pada daerah aliran yang cukup miring atau landai. Bangunan beton seperti jembatan dapat dihancurkan dalam sekejap mata. a. Lahar letusan : Lahar ini terjadi akibat letusan eksplosif pada gunungapi yang mempunyai danau kawah.Luas daerah yang dilanda oleh lahar letusan tergantung kepada volum air didalam kawah dan kondisi morfolog di sekitar kawah.Makin besar volum air di dalam

41

Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

kawah dan makin luas dataran daerah sekitarnya, maka makin jauh dan makin luas pula penyebaran laharnya. b. Lahar hujan : Lahar hujan : lahar yang terbentuk akibat hujan. Bisa terjadi segera setelah gunungapi meletus atau setelah lama meletus. Faktor yang menentukan besar kecilnya lahar hujan adalah volume air hujan (curah hujan) yang turun diatas daerah endapan abu gunungapi dan volume endapan gunungapi yang mengandung abu sebagai sumber material pembentuk lahar. Di G. Merapi, curah hujan 70 mm/jam selama 3 jam mengakibatkan terjadinya lahar. Contoh lahar hujan yang terkenal adalah: G. Semeru, G. Merapi, G. Agung, juga G. Galunggung.

Gambar 3-2 : Aliran lava pijar

Gambar 3-3 : Pemandangan saat gunung Merapi mengeluarkan asap dilihat dari desa Cangkringan, kabupaten Sleman pada tanggal 25 Oktober 2010.

42

Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

Gambar 3-4 : Pemandangan desa Kinahrejo, kabupaten Sleman pada tanggal 27 Oktober 2010.

Gambar 3-5 : Terbakarnya pepohonan dan rumah akibat awan panas di desa Kinahrejo, kabupaten Sleman pada tanggal 27 Oktober 2010.

43

Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

Gambar 3-6 : Dampak aliran piroklastik panas yang menerjang desa Kinahrejo pada tanggal 27 Oktober 2010 yang mengakibatkan seekor sapi mati dan tertutup oleh debu volkanik.

Gambar 3-7 : Team SAR sedang mencari para korban akibat letusan gunung Merapi di daerah Sleman setelah erupsi tanggal 27 Oktober 2010.

44

Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

Gambar 3-8 : Dampak aliran piroklastik panas yang menerjang desa Pakem pada tanggal 27 Oktober 2010. Tampak sebuag mobil yang rusak akibat aliran piroklastik yang bersumber dari gunung Merapi,

Gambar 3-9 : Pemandangan desa Pakem, kabupaten Sleman setelah dilanda aliran piroklastik gunung Merapi pada tanggal 27 Oktober 2010.

45

Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

Gambar 3-10 : Para relawan membawa korban letusan gunung Merapi di desa Kinahrejo, kabupaten Sleman pada tanggal 27 Oktober 2010.

Gambar 3-11 : Pemandangan desa Pakem, kabupaten Sleman setelah dilanda aliran piroklastik gunung Merapi pada tanggal 27 Oktober 2010. Tampak sapi-sapi yang terbakar oleh aliran piroklastik (awan panas).

46

Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

Gambar 3-12: Aliran lahar Merapi yang menimbum bis

3.4.

Bahaya Letusan Gunungapi

Bahaya letusan gunungapi di bagi menjadi 2 (dua) berdasarkan waktu kejadiannya, yaitu: 1. Bahaya Utama (Primer) a) Awan Panas, merupakan campuran material letusan antara gas dan bebatuan (segala ukuran) terdorong ke bawah akibat densitas yang tinggi dan merupakan adonan yang jenuh menggulung secara turbulensi bagaikan gunung awan yang menyusuri lereng. Selain suhunya sangat tinggi, antara 300 - 700? Celcius, kecepatan lumpurnyapun sangat tinggi, > 70 km/jam (tergantung kemiringan lereng). b) Lontaran Material (pijar),terjadi ketika letusan (magmatik) berlangsung. Jauh lontarannya sangat tergantung dari besarnya energi letusan, bisa mencapai ratusan meter jauhnya. Selain suhunya tinggi (>200?C), ukuran materialnya pun besar dengan diameter > 10 cm sehingga mampu membakar sekaligus melukai, bahkan mematikan mahluk hidup. Lazim juga disebut sebagai "bom vulkanik". c) Hujan Abu lebat, terjadi ketika letusan gunung api sedang berlangsung. Material yang berukuran halus (abu dan pasir halus) yang diterbangkan angin dan jatuh sebagai hujan abu dan arahnya tergantung dari arah angin. Karena ukurannya yang halus, material ini akan sangat berbahaya bagi pernafasan, mata, pencemaran air tanah, pengrusakan tumbuh-tumbuhan dan mengandung unsur-unsur kimia yang bersifat asam sehingga mampu mengakibatkan korosi terhadap seng dan mesin pesawat. d) Lava, merupakan magma yang mencapai permukaan, sifatnya liquid (cairan kental dan bersuhu tinggi, antara 700 - 1200?C. Karena cair, maka lava umumnya mengalir mengikuti lereng dan membakar apa saja yang dilaluinya. Bila lava sudah dingin, maka wujudnya menjadi batu (batuan beku) dan daerah yang dilaluinya akan menjadi ladang batu. e) Gas Racun, muncul tidak selalu didahului oleh letusan gunung api sebab gas ini dapat keluar melalui rongga-rongga ataupun rekahan-rekahan yang terdapat di daerah gunung api. Gas utama yang biasanya muncul adalah CO2, H2S, HCl, SO2, dan CO. Yang kerap menyebabkan kematian adalah gas CO2. Beberapa gunung yang memiliki karakteristik letusan gas beracun adalah Gunung Api Tangkuban Perahu, Gunung Api Dieng, Gunung Ciremai, dan Gunung Api Papandayan. f) Tsunami, umumnya dapat terjadi pada gunung api pulau, dimana saat letusan terjadi material-material akan memberikan energi yang besar untuk mendorong air laut ke arah 47
Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

pantai sehingga terjadi gelombang tsunami. Makin besar volume material letusan makin besar gelombang yang terangkat ke darat. Sebagai contoh kasus adalah letusan Gunung Krakatau tahun 1883. 2. Bahaya Ikutan (Sekunder) Bahaya ikutan letusan gunung api adalah bahaya yang terjadi setelah proses peletusan berlangsung. Bila suatu gunung api meletus akan terjadi penumpukan material dalam berbagai ukuran di puncak dan lereng bagian atas. Pada saat musim hujan tiba, sebagian material tersebut akan terbawa oleh air hujan dan tercipta adonan lumpur turun ke lembah sebagai banjir bebatuan, banjir tersebut disebut lahar.

3.5.

Penanggulangan Bahaya Letusan Gunungapi

Erupsi gunungapi merupakan proses alam dan sampai saat ini belum dapat dicegah, sehingga untuk menekan terjadinya korban dan kerugian harta benda perlu diadakan upaya penanggulangan bencana. Berikut ini adalah beberapa upaya yang dilakukan dalam rangka penanggulangan bencana geologi yang disebabkan oleh erupsi gunungapi, yaitu: a. Melakukan pengamatan dan pemantauan terhadap gunungapi aktif. b. Dengan melakukan pengamatan dan pemantauan yang terus menerus, maka diharapkan dapat dipelajari tingkah laku dan aktifitas semua gunungapi aktif yang ada sehingga usaha perkiraan erupsi dan bahaya gunungapi akan tepat dan cepat. Penyampaian informasi dalam rangka pengamanan penduduk dari kawasan rawan bencana dapat dilaksanakan tepat waktu sehingga korban bisa dihindarkan.

Gambar 3-13 : Citra Satelit Gunung Semeru, Jawa Timur : Aliran Lahar (warna biru)

48

Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

c.

Melakukan pemetaan kawasan rawan bencana gunungapi: Untuk mengetahui dan menentukan kawasan rawan bencana gunungapi (I, II,III, lihat gambar 3-6), tempat-tempat yang aman jika terjadi letusan, tempat pengungsian, alur pengungsian, puskesmas. Sehingga pada saat terjadi peningkatan aktifitas /letusan, kita sudah siap dengan peta operasional lapangan.

d. Mengosongkan kawasan rawan bencana III Daerah atau kawasan yang termasuk kedalam kawasan rawan bencana III harus dikosongkan dan dilarang untuk hunian tetap, karena daerah ini sering terlanda oleh produk letusan gunungapi (lava, awan panas, jatuhan piroklastika) e. Melakukan usaha preventif: Upaya untuk mengurangi bahaya akibat aliran lahar, yaitu dengan cara membuat tanggul penangkis, tanggul–tanggul untuk mengurangi kecepatan lahar, serta mengurangi volume air di kawah (Kelud, Galunggung).

Gambar 3-14 : Contoh Peta Kawasan Rawan Bencana Gunungapi hasil penafsiran citra satelit

49

Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

Gambar 3-15: Contoh Peta Kawasan Rawan Banjir Lahar Dingin Gunung Merapi

3.6.

Status / Tingkat Kegiatan Gunungapi

1. Aktif Normal (Tingkat I). Kegiatan gunungapi dalam keadaan normal dan tidak memperlihatkan adanya peningkatan kegiatan berdasarkan hasil pengamatan secara visual, maupun hasil penelitian secara instrumental 2. Waspada (Tingkat II). Terjadi peningkatan kegiatan berupa kelainan yang teramati secara visual dan atau secara instrumental 3. Siaga (Tingkat III). Peningkatan kegiatan semakin nyata, yang teramati secara visual dan atau secara instrumental serta berdasarkan analisis perubahan kegiatan tersebut cenderung diikuti letusan/erupsi 4. Awas (Tingkat IV). Peningkatan kegiatan gunungapi mendekati/menjelang letusan utama yang diawali oleh letusan abu/asap

3.7.

Kegiatan Mitigasi Bencana Letusan Gunungapi

1. Penyelidikan gunungapi; untuk mengetahui karakter dan sifat letusannya. 2. Pemetaan kawasan rawan bencana; menentukan kawasan-kawasan yang rawan bagi Penduduk terhadap ancaman bahaya letusan awan panas, aliran lava, aliran lahar, lontaran batupijar, dan hujan abu, dalam bentuk peta. 3. Monitoring atau pemantauan gunungapi; memantau kegiatan gunungapi dengan berbagai metode (kegempaan, deformasi, pengukuran geofisik gas gunungapi, remote sensing, hidrologi, geologi dan geokimia), untuk mengetahui secara tepat pergerakan 50
Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

magma dan gas yang terkandung didalamnya dalam bentuk manifestasi permukaan maupun bawah permukaan. 4. Bimbingan, Informasi dan Rekomendasi; Data dan informasi dikemas dalam bentuk tingkat kegiatan gunungapi setiap perubahan tingkat kegiatan gunungapi disampaikan kepada masyarakat melalui provinsi, pemkab/kota disekitar gunungapi, membangkitkan antisipasi terhadap pandangan dan reaksi dari masyrakat yang diberi “informasi”. 5. Komunikasi dan Pelaporan; komunikasi interaktif untuk memudahkan pelaksanaan penanggulangan bencana bilamana diperlukan, pelaporan dari setiap pos pengamatan gunungapi secara periodik.

3.8.

Apa yang harus dilakukan dalam menghadapi letusan gunungapi
2. Sebelum terjadi letusan gunungapi: a) b) c) d) Mengenali daerah setempat dalam menentukan tempat yang aman untuk mengungsi. Membuat perencanaan penanganan bencana. Mempersiapkan pengungsian jika diperlukan. Mempersiapkan kebutuhan dasar

3. Jika Terjadi Letusan Gunungapi : a) Hindari daerah rawan bencana seperti lereng gunung, lembah dan daerah aliran lahar. b) Ditempat terbuka, lindungi diri dari abu letusan dan awan panas. Persiapkan diri untuk kemungkinan bencana susulan. c) Kenakan pakaian yang bisa melindungi tubuh seperti: baju lengan panjang, celana panjang, topi dan lainnya. d) Jangan memakai lensa kontak. e) Pakai masker atau kain untuk menutupi mulut dan hidung f) Saat turunnya awan panas usahakan untuk menutup wajah dengan kedua belah tangan. 4. Setelah Terjadi Letusan Gunungapi : a) Jauhi wilayah yang terkena hujan abu b) Bersihkan atap dari timbunan abu. Karena beratnya, bisa merusak atau meruntuhkan atap bangunan. c) Hindari mengendarai mobil di daerah yang terkena hujan abu sebab bisa merusak mesin.

51

Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

4M

itigasi Longsoran Tanah

4.1. Pendahuluan
Longsoran Tanah atau gerakan tanah adalah proses perpindahan masa batuan / tanah akibat gaya berat (gravitasi). Longsoran tanah telah lama menjadi perhatian ahli geologi karena dampaknya banyak menimbulkan korban jiwa maupun kerugian harta benda. Tidak jarang pemukiman yang dibangun di sekitar perbukitan kurang memperhatikan masalah kestabilan lereng, struktur batuan, dan proses proses geologi yang terjadi di kawasan tersebut sehingga secara tidak sadar potensi bahaya longsoran tanah setiap saat mengancam jiwanya. Faktor internal yang menjadi penyebab terjadinya longsoran tanah adalah daya ikat (kohesi) tanah/batuan yang lemah sehingga butiran-butiran tanah/batuan dapat terlepas dari ikatannya dan bergerak ke bawah dengan menyeret butiran lainnya yang ada disekitarnya membentuk massa yang lebih besar. Lemahnya daya ikat tanah/batuan dapat disebabkan oleh sifat kesarangan (porositas) dan kelolosan air (permeabilitas) tanah/batuan maupun rekahan yang intensif dari masa tanah/batuan tersebut. Sedangkan faktor eksternal yang dapat mempercepat dan menjadi pemicu longsoran tanah dapat terdiri dari berbagai faktor yang kompleks seperti kemiringan lereng, perubahan kelembaban tanah/batuan karena masuknya air hujan, tutupan lahan serta pola pengolahan lahan, pengikisan oleh air yang mengalir (air permukaan), ulah manusia seperti penggalian dan lain sebagainya.

4.2. Jenis Jenis Longsoran Tanah
Berdasarkan tipenya, longsoran tanah dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) yaitu: (1). Longsoran tanah tipe aliran lambat (slow flowage ) terdiri dari: a. Rayapan (Creep): perpindahan material batuan dan tanah ke arah kaki lereng dengan pergerakan yang sangat lambat. b. Rayapan tanah (Soil creep): perpindahan material tanah ke arah kaki lereng c. Rayapan talus (Talus creep): perpindahan ke arah kaki lereng dari material talus/scree. d. Rayapan batuan (Rock creep): perpindahan ke arah kaki lereng dari blok-blok batuan. e. Rayapan batuan glacier (Rock-glacier creep): perpindahan ke arah kaki lereng dari limbah batuan. f. Solifluction/Liquefaction: aliran yang sangat berlahan ke arah kaki lereng dari material debris batuan yang jenuh air. (2). Longsoran tanah tipe aliran cepat (rapid flowage) terdiri dari: a. Aliran lumpur (Mudflow) : perpindahan dari material lempung dan lanau yang jenuh air pada teras yang berlereng landai. b. Aliran masa tanah dan batuan (Earthflow): perpindahan secara cepat dari material debris batuan yang jenuh air. c. Aliran campuran masa tanah dan batuan (Debris avalanche): suatu aliran yang meluncur dari debris batuan pada celah yang sempit dan berlereng terjal. (3) Longsoran tanah tipe luncuran (landslides) terdiridari: a. Nendatan (Slump): luncuran kebawah dari satu atau beberapa bagian debris batuan, umumnya membentuk gerakan rotasional. 52
Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

b. Luncuran dari campuran masa tanah dan batuan (Debris slide): luncuran yang sangat cepat ke arah kaki lereng dari material tanah yang tidak terkonsolidasi (debris) dan hasil luncuran ini ditandai oleh suatu bidang rotasi pada bagian belakang bidang luncurnya. c. Gerakan jatuh bebas dari campuran masa tanah dan batuan (Debris fall): adalah luncuran material debris tanah secara vertikal akibat gravitasi. d. Luncuran masa batuan (Rock slide): luncuran dari masa batuan melalui bidang perlapisan, joint (kekar), atau permukaan patahan/sesar. e. Gerakan jatuh bebas masa batuan (Rock fall): adalah luncuran jatuh bebas dari blok batuan pada lereng-lereng yang sangat terjal. f. Amblesan (Subsidence): penurunan permukaan tanah yang disebabkan oleh pemadatan dan isostasi/gravitasi.

4.3. Faktor Penyebab Longsoran Tanah
Faktor-faktor yang mempengaruhi longsoran tanah dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu faktor yang bersifat pasif dan faktor yang bersifat aktif. (1) Faktor yang bersifat pasif pada longsoran tanah adalah: a. Litologi: material yang tidak terkonsolidasi atau rentan dan mudah meluncur karena basah akibat masuknya air ke dalam tanah. b. Susunan Batuan (stratigrafi): perlapisan batuan dan perselingan batuan antara batuan lunak dan batuan keras atau perselingan antara batuan yang permeable dan batuan impermeabel. c. Struktur geologi: jarak antara rekahan/joint pada batuan, patahan, zona hancuran, bidang foliasi, dan kemiringan lapisan batuan yang besar. d. Topografi: lereng yang terjal atau vertikal. e. Iklim: perubahan temperatur tahunan yang ekstrim dengan frekuensi hujan yang intensif. f. Material organik: lebat atau jarangnya vegetasi. (2) Faktor yang bersifat aktif pada longsoran tanah adalah: a. Gangguan yang terjadi secara alamiah ataupun buatan. b. Kemiringan lereng yang menjadi terjal karena aliran air. c. Pengisian air ke dalam tanah yang melebihi kapasitasnya, sehingga tanah menjadi jenuh air. d. Getaran-getaran tanah yang diakibatkan oleh seismisitas atau kendaran berat. Pada gambar 4-1 diperlihatkan 5 tipe longsoran tanah yang didasarkan atas cara dan mekanisme longsorannya, yaitu tipe runtuhan, tipe aliran, tipe luncuran, tipe nendatan, dan tipe rayapan.

4.4.

Metoda Penanggulangan dan Pencegahan Longsoran Tanah

Penanggulangan dan pencegahan bahaya longsoran tanah dapat dilakukan dengan berbagai cara dan metoda, baik yang berkaitan dengan tipe longsoran dan faktor penyebabnya. Terdapat beberapa tipe longsoran tanah yang dapat ditanggulangi melalui rekayasa keteknikan, seperti membuat terasering di kawasan perbukitan yang berlereng terjal agar lereng menjadi stabil, atau struktur pondasi bangunannya menggunakan tiang pancang hingga mencapai kedalaman tertentu sehingga dapat menahan bangunan jika terjadi longsoran tanah. Untuk dapat mengetahui secara detil tentang tipe dan faktor penyebab longsoran tanah di suatu wilayah, maka diperlukan penyelidikan geologi secara detail dan komprehensif sehinga dapat diketahui secara pasti sebaran, lokasi, jenis gerakan tanahnya serta kestabilan wilayah di daerah tersebut. Peta kestabilan wilayah dan lokasi gerakan tanah merupakan out-put dari penyelidikan geologi yang berguna untuk perencanaan tataguna lahan.

53

Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

Gambar 4-1. Tipe-tipe longsoran tanah

Pada gambar 4-2 diperlihatkan beberapa lokasi pemukiman yang terlanjur ada di kawasan rawan bencana geologi, terutama bahaya tanah longsor. Dalam gambar tampak lokasi pemukiman yang berada di sekitar suatu jalur patahan (kiri) dan kawasan pemukiman yang berada di kaki perbukitan yang rentan terhadap longsoran tanah (kanan). Pada gambar tampak pemukiman yang tersebar hingga mencapai kawasan yang berada di lereng-lereng berbukitan tanpa memperhitungkan faktor kestabilan lerengnya yang berpotensi longsor. Penelitian geologi untuk kerentanan longsoran tanah 54
Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

umumnya melibatkan pemetaan dan kajian terhadap karakteristik tanah dan batuan. Sifat tanah/struktur tanah yang harus diteliti adalah: kekerasan, klastisitas, permeabilitas, plastisitas, dan komposisi mineralnya, terutama untuk tanah yang tersusun dari mineral lempung (mineral montmorilonite) yang dapat memicu terjadinya gerakan tanah, sedangkan untuk batuan yang dikaji adalah jenis dan struktur batuannya, terutama untuk lapisan batuan yang lemah dan banyak rekahannya (kekarnya).

Gambar 4-2 Pemukiman yang berada di kawasan rawan bencana longsoran tanah (gambar atas) dan pemukiman di daerah rawan amblesan (gambar bawah).

Faktor hidrologi juga harus menjadi perhatian dalam penyelidikan, terutama mengenai penyebaran pola pengaliran, sebaran mata air dan mata air panas, serta lapisan-lapisan batuan permeable yang berhubungan dengan air tanah. Keterlibatan faktor pemicu gerakan tanah harus dikaji dan di evaluasi, seperti: a) b) c) d) cuaca dan iklim guna mengetahui hubungan antara periode curah hujan dengan longsoran. data air bawah tanah sebelum dan sesudah terjadi longsoran. catatan kegempaan untuk menentukan hubungan antara longsoran dengan gempabumi. catatan mengenai pembukaan dan penggalian lahan dan aktivitas di atas lahan yang kemungkinan melebihi beban atau penambangan tanah pada lereng-lereng bukit.

55

Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

Penelitian bawah permukaan diperlukan guna mengetahui hubungan 3 (tiga) dimensinya serta mendapatkan contoh batuan yang diperlukan untuk diuji di laboratorium, seperti pengujian kuat tekan (shear-strength), sensitivitas batuan, serta sifat-sifat keteknikan lainnya. Begitu juga dengan sifat dan struktur tanah perlu dilakukan pengujian baik di laboratorium maupun pengujian lapangan dengan cara pembuatan sumuran uji (testpit), pembuatan paritan uji (trenches) dan pemboran. Observasi air tanah perlu dilakukan untuk mendapatkan data-data tinggi muka air, tekanan air, dan arah aliran. Penyelidikan geofisika dapat juga dilakukan untuk mendapatkan data data tentang ketebalan lapisan tanah dan kedalaman batuan dasar. Pada tabel 4-1. diperlihatkan beberapa metoda penanggulangan dan pencegahan serta perbaikan terhadap gejala gerakan tanah yang ditujukan terutama untuk mengurangi gaya geser (shearstress), peningkatan resistensi geser (shear-strength) atau kedua-duanya. Untuk mengurangi gaya geser dapat dilakukan dengan cara penggalian material penyebab longsor, atau dengan cara mengurangi keterjalan lereng serta memindahkan permukaan tanah yang tidak stabil. Pengurangan derajat kelerengan akan berdampak pada berkurangnya beban masa batuan/ tanah yang dapat meluncur atau longsor. Pemindahan masa batuan/tanah yang ada di bagian muka luncuran sekaligus akan mengurangi beban dan gaya geser. Pada tipe gerakan tanah jenis luncuran rotasional (slumping), resistensi geser batuan akan semakin meningkat jika masa batuan/tanah dipindahkan ke arah bagian belakang luncuran. Menstabilkan suatu longsoran yang komplek seringkali melibatkan pengendalian eksternal dan internal dari pengaliran air. Air yang jatuh dan mengalir di permukaan lahan yang berlereng harus di alirkan dan diusahakan jangan sampai diam ditempat. Pada beberapa lereng perlu dibuat agar supaya aliran air lancar serta dihindarkan jangan sampai air terjebak pada bagian undak lereng. Untuk mencegah aliran air yang masuk ke dalam rekahan (kekar) batuan, maka batuan harus ditutup dengan lempung, aspal atau dengan material yang impermeable. Aliran air bawah tanah harus dikurangi guna menghindari meningkatnya resistensi geser batuan. Untuk mengurangi aliran air bawah tanah dilakukan dengan cara memindahkannya melalui terowongan air yang dibuat secara horizontal atau dengan bantuan pipa perforasi, sumur vertikal atau dibuat paritan (trench) yang diisi kembali dengan material yang kasar dan permeable. Menstabilkan struktur untuk meningkatkan resistensi geser merupakan cara yang paling efektif sebelum longsoran terjadi dibandingkan apabila longsoran sudah terjadi. Jenis yang sangat umum dari masa batuan/tanah diletakkan sebagai beban dan ditempatkan pada bagian luar dari masa longsoran untuk menahan reaksi gerakan ke atas, sedangkan bagian dasar berfungsi sebagai penopang kearah lateral untuk bagian tepi dari masa longsoran, bagian pinggir atau lereng yang sudah dikupas diisi untuk mencegah gerakan ke arah kaki lereng. Dinding yang dibuat dari semen atau beton akan berguna untuk menahan laju masa batuan/tanah yang tidak stabil. Untuk gerakan tanah yang berada di lereng bukit, pencegahan dapat dilakukan dengan cara memasang tiang pancang, namun demikian untuk menahan luncuran masa batuan/tanah yang aktif pemasangan tiang pancang tidak akan mampu menahan gerakan masa batuan/tanah tersebut dan hal ini disebabkan karena perpindahan debris tanah yang mampu melewati tiang pancang, atau membuat tiang pancang menjadi miring dan bahkan mematahkannya. Hal yang lebih ekstrim adalah tiang pancang meluncur bersamaan dengan luncuran tanah. Resistensi geser pada masa batuan atau tanah yang tidak stabil dapat meningkat karena pemadatan dan pengerasan internal melalui injeksi semen, aspal atau bahan kimia tertentu. Masalah longsoran yang terjadi di reservoir bendungan adalah masalah yang berkaitan dengan luncuran masa batuan/tanah yang bersifat lepas dan erosi yang cepat. Luncuran masa batuan/tanah dan erosi di dalam reservoir bendungan dapat mengakibatkan banjir yang cukup besar dan bahkan bendungan dapat mengalami retak atau hancur. Kecepatan rembasan yang terjadi melalui luncuran debris dapat memperbesar rembasan, yaitu melalui pelarutan atau perpindahan sedimen yang berukuran halus dan dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya breakout dibawah poros bendungan. Pengendalian rembasan yang melewati badan bendungan dari jenis luncuran debris dapat di lakukan dengan cara menyuntik material/bahan penstabil atau dengan cara bagian belakang bendungan ditutupi dengan material lempung, disiram semen, atau 56
Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

dilapisi oleh bahan yang bersifat tidak lolos air. Apabila cara-cara tersebut diatas tidak bisa dilakukan maka disarankan untuk dilakukan pendangkalan bagian dasar reservoir agar supaya keamanan menjadi meningkat atau dengan cara menguras atau mengalirkan air yang terdapat dalam reservoir melalui saluran pembuangan atau dengan cara memotong saluran.
Tabel 4-1 Metoda Pencegahan dan Perbaikan Gerakan Tanah / Longsoran (Root, A.W., Prevention of Landslides, 1958)

57

Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

4.5.

Perencanaan Tataguna Lahan Dikawasan Rawan Longsor

Perencanaan tataguna lahan di kawasan rawan longsor lebih sulit dibandingkan dengan perencanaan pada lahan yang rawan banjir atau pada lahan rawan gempa. Kesulitan perencanaan pada lahan yang rawan longsor disebabkan oleh dua faktor, yaitu: 1. Longsoran seringkali terjadi dengan jenis yang sangat komplek sehingga memerlukan pemetaan yang lebih rinci guna menentukan batas-batas yang tegas yang akan dipakai dalam perencanaan dan pembuatan aturan. 2. Longsoran seringkali memiliki tingkat potensi perpindahan masa tanah/batuan yang berbeda beda. Penelitian yang lebih rinci perlu dilakukan untuk meng-klasifikasi-kan tipetipe longsoran serta memperkirakan kapan longsoran tersebut akan terjadi. Oleh karena itu untuk mengatasi hal tersebut diatas maka diperlukan suatu peta yang disebut dengan peta “Kestabilan Lahan” atau peta “Kerentanan Longsoran Tanah”. Peta kestabilan lahan telah dikembangkan untuk membantu para perencana dalam mengenal lokasi lahan yang tidak stabil (rawan longsor) dan peta ini dapat dipakai untuk pertimbangan awal dalam proses perencanaan. Dengan peta kestabilan lahan, dimungkinkan untuk disiapkan suatu rencana umum dari pemanfaatan lahan yang sesuai, terutama untuk lahan-lahan yang tidak stabil. Pemanfaatan pada lahan-lahan yang tidak stabil harus mempertimbangkan resiko yang mungkin terjadi serta biaya yang akan dikeluarkan untuk menstabilkan longsoran atau mencegah instalasi yang ada.

Gambar 4-3

Peta Kestabilan Lahan (warna hijau merupakan areal dengan kestabilan sedang dan warna merah merupakan areal yang tidak stabil).

Pada Peta Kerentanan Longsoran Tanah (gambar 4-4) dapat dilihat sebaran dari area–area yang berpotensi/rawan terhadap longsoran tanah. Pada peta, warna coklat tua adalah areal yang berpotensi longsor dengan kedalaman bidang longsor kurang dari 10 meter sedangkan warna kuning adalah areal yang berpotensi longsor dengan kedalaman bidang longsor kurang dari 3 meter dan warna hijau merupakan area yang relatif stabil dengan lapisan tanah kurang dari 2 meter. 58
Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

Pada peta terlihat juga daerah yang landai bersifat stabil dan tidak rentan terhadap longsoran tanah. Areal ini memiliki kesesuaian lahan yang cocok untuk dikembangkan menjadi areal pemukiman, sedangkan di areal-areal yang bertopografi terjal secara umum tidak cocok/sesuai untuk areal lahan pemukiman, mengingat prosentasi kelerengannya diatas 50%. Areal ini sangat cocok untuk pengembangan hutan lindung. Pada gambar 4-4 diperlihatkan beberapa jenis longsoran tanah yang berdampak pada bangunan dan infrastruktur. Pemukiman yang berada dikawasan perbukitan yang rentan longsor (kiri atas); pemukiman yang berada diatas tanah yang rentan terhadap amblesan (kanan atas); Bangunan yang berada diatas areal tanah yang rentan longsor (kiri tengah); Jalan Raya yang melalui lereng yang mudah longsor (kanan tengah); Bangunan yang berada di kaki lereng yang rentan longsor (kiri bawah); dan Jalan Raya yang berada diatas tanah yang tidak stabil (kanan bawah)

Gambar 4-4 Peta Kerentanan Longsoran Tanah

59

Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

4.6.

Strategi dan upaya penanggulangan bencana longsoran tanah:

1. Hindarkan daerah rawan bencana untuk pembangunan pemukiman dan fasilitas utama lainnya 2. Mengurangi tingkat keterjalan lereng 3. permukaan maupun air tanah. (Fungsi drainase adalah untuk menjauhkan airn dari lereng, menghidari air meresap ke dalam lereng atau menguras air ke dalam lereng ke luar lereng. Jadi drainase harus dijaga agar jangan sampai tersumbat atau meresapkan air ke dalam tanah). 4. Pembuatan bangunan penahan, jangkar (anchor) dan pilling 5. Terasering dengan sistem drainase yang tepat.(drainase pada teras - teras dijaga jangan sampai menjadi jalan meresapkan air ke dalam tanah) 6. Penghijauan dengan tanaman yang sistem perakarannya dalam dan jarak tanam yang tepat (khusus untuk lereng curam, dengan kemiringan lebih dari 40 derajat atau sekitar 80% sebaiknya tanaman tidak terlalu rapat serta diseling-selingi dengan tanaman yang lebih pendek dan ringan , di bagian dasar ditanam rumput). 7. Mendirikan bangunan dengan fondasi yang kuat 8. Melakukan pemadatan tanah disekitar perumahan 9. Pengenalan daerah rawan longsor 10. Pembuatan tanggul penahan untuk runtuhan batuan (rock fall) 11. Penutupan rekahan di atas lereng untuk mencegah air masuk secara cepat kedalam tanah. 12. Pondasi tiang pancang sangat disarankan untuk menghindari bahaya liquefaction(infeksi cairan). 13. Utilitas yang ada didalam tanah harus bersifat fleksibel 14. Dalam beberapa kasus relokasi sangat disarankan.

60

Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

5M
5.1.

itigasi Bencana Banjir

Pendahuluan

Banjir merupakan kejadian yang selalu berulang setiap tahunnya di Indonesia, tercatat bahwa kebanyakan terjadi pada musim penghujan. Berdasarkan sudut pandang morfologi, banjir terjadi di negara negara yang mempunyai bentuk bentangalam yang sangat bervariasi dengan sungai nya yang banyak. Banjir di Indonesia umumnya terjadi di Indonesia bagian barat, karena tingkat curah hujan yang sangat tinggi dibandingkan dengan wilayah Indonesia bagian timur. Pertumbuhan penduduk di Indonesia dan kebutuhan ruang sebagai tempat untuk mengakomodasi kehidupan manusia dan mendukung aktivitasnya secara tidak langsung telah berperan terjadinya banjir. Penebangan hutan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan ruang telah meningkatkan sedimentasi di sungai-sungai, tidak terkendalinya air permukaan dan tanah menjadi jenuh air. Hal ini yang memungkinkan air permukaan menjangkau kawasan yang lebih luas yang pada akhirnya menjadi penyebab banjir bandang seperti yang terjadi pada tahun 2003 di wilayah Bahorok dan Langkat, Sumatra Utara dan di wilayah Ayah, Jawa Tengah. Dalam tahun 2006 bencana banjir yang melanda beberapa wilayah, termasuk bencana banjir bandang dan tanah longsor. Di Jember, Jawa Timur akibat banjir bandang dan tanah longsor telah menelan korban sebanyak 92 orang meninggal dan 8.861 hanyut, sedangkan di Trenggalek 18 orang meninggal. Banjir bandang yang disertai dengan tanah longsor terjadi juga di Manado, Sulawesi Utara yang memakan korban sebanyak 27 jiwa dan 30.000 hanyut. Bencana yang sama terjadi juga di Sulawesi Selatan pada bulan Juni 2006. Lebih dari 200 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya hilang (Data Provinsi dari BAKORNAS, 23 Juni 2006). Hal yang sangat menarik dari peristiwa bencana banjir adalah mengapa kebanyakan dari manusia bermukim di wilayah-wilayah yang berpotensi terkena bencana banjir. Berdasarkan sejarah kehidupan manusia di muka bumi, umumnya pemukiman dan perkotaan dibangun di tepi tepi pantai dan sungai. Hal ini dapat dimengerti karena manusia membutuhkan air untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Permasalahannya adalah bagaimana cara untuk meminimalkan resiko dan menghindar dari bencana banjir yang sudah terlanjur ada ditempat dimana manusia tinggal.

5.2.

Penanggulangan Bahaya Banjir

Gambar 5-1 adalah contoh Peta Zona Genangan Dikawasan Rawan Banjir. Pada gambar diperlihatkan zona genangan air yang dibuat berdasarkan hasil perhitungan data hidrologi untuk siklus bencana banjir 1 tahunan, 5 tahunan, 10 tahunan, 25 tahunan, dan 100 tahunan serta areal / kawasan yang terbebas dari zona genangan air. Pada umumnya, pencegahan fisik untuk semua jenis bencana banjir dilakukan untuk siklus banjir yang terjadi hingga 100 tahun. Adapun perhitungan siklus genangan bencana banjir biasanya dihitung untuk siklus 100 tahunan dengan pertimbangan tingkat resiko yang dapat diterima dan umumnya dibutuhkan oleh pihak perusahaan asuransi, khususnya yang menangani asuransi kerugian properti yang disebabkan oleh bencana banjir. Terdapat 4 cara untuk mengurangi potensi bahaya banjir, yaitu: 1. rekayasa keteknikan, 2. kebijakan tataguna lahan dan regulasi, 61
Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 3. sistem peringatan dini, 4. asuransi.

2012

Dalam penanggulangan bencana banjir, metoda pertama dan kedua merupakan metoda yang menjadi perhatian utama. Metoda pendekatan rekayasa keteknikan dapat dilakukan dengan pembangunan sistem drainase yang baik dan kontruksi bangunan yang tahan banjir serta membangun sistem peringatan dini, sedangkan pendekatan kebijakan dan peraturan melalui penerbitan aturan-aturan yang berkaitan dengan pemanfaatan lahan, khususnya peruntukan lahan melalui zonasi kerentanan terhadap bahaya banjir. Hal yang terpenting dalam membuat kebijakan dan peraturan adalah bahwa dengan adanya peraturan dapat memastikan masyarakat yang bermukim di wilayah wilayah rawan bencana banjir tidak menjadi subyek dari bencana yang akan menimpa dan aktivitas masyarakat tidak terganggu apabila terjadi banjir.

Gambar 5-1 Klasifikasi bencana banjir yang disajikan dalam bentuk peta Zona Genagan Air dengan siklus genangan 1 tahunan, 5 tahunan, 10 tahunan, 25 tahunan, dan 100 tahunan serta zona bebas genangan

62

Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

Salah satu pendekatan di dalam pengendalian banjir adalah dengan cara melakukan perencanaan penanggulangan bencana banjir secara komprehensif, seperti misalnya perencanaan yang disesuaikan dengan zona-zona genangan air, dan diikuti dengan pembuatan aturan aturan yang berhubungan dengan persyaratan konstruksi bangunan yang diijinkan pada setiap zona. Agar dapat efektif maka dalam perencanaan umum harus ada peta dokumen tentang zona-zona genangan air serta frekuensi kejadian banjir. Informasi semacam ini sangat penting dan diperlukan dalam proses perencanaan tataguna lahan, terutama dalam penetapan peruntukan lahan. Dalam pemanfaatan lahan dapat juga terjadi dan sangat dimungkinkan membangun bangunan di daerah dataran banjir (floodplain area) akan tetapi harus memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu, seperti misalnya konstruksi bangunannya harus berada diatas genangan air atau konstruksi jembatan yang melintasi sungai harus ditingkatkan guna menghindari terpaan arus air ketika terjadi banjir, dan dapat juga bagian dari areal dataran banjir dibiarkan sebagai ruang terbuka atau digunakan sebagai taman atau sarana olah raga. Dalam persiapan perencanaan, pertimbangan harus diberikan untuk pemanfaatan lahan yang berada bagian hulu yang dapat membantu meminimalkan frekuensi terjadinya banjir. Pemanfaatan lahan dan penggunaan aspal dan beton pada lahan harus diminimalkan untuk membantu penyerapan air dan mengurangi runoff. Aturan yang berkaitan dengan penggunaan lahan dan persyaratan konstruksi di daerah rawan bencana banjir merupakan hal yang umum diterapkan dan merupakan suatu kebijakan pemerintah dalam rangka melindungi masyarakatnya terhadap bencana banjir. Peraturan yang berhubungan dengan larangan membangun pada areal yang mudah tergenang air (flood plain area), dan aturan yang berkaitan dengan jenis penggunaan lahan yang diijinkan serta konstruksi bangunan yang diperbolehkan merupakan aturan-aturan yang harus dipatuhi dan dilaksanakan, baik oleh pemerintah (pemberian IMB), swasta, maupun masyarakat secara konsisten. Peta Zona Genangan Air sangat berguna baik bagi Pemerintah Daerah dan Kontraktor karena peta ini merupakan rujukan dasar dalam membuat aturan aturan yang berkaitan dengan jenis dan tipe bangunan yang harus dipenuhi dalam membangun infrastruktur serta struktur dan fondasi bangunan. Perusahaan asuransi dapat memanfaatkan peta zona genangan air sebagai dasar dalam penilaian bangunan yang akan diasuransikan, khususnya untuk asuransi bencana banjir. Pemerintah bertanggungjawab atas pembuatan aturan aturan yang berkaitan dengan persyaratan bangunan, seperti konstruksi dan tipe bangunan yang akan dibangun di wilayah banjir, baik untuk banjir yang sifatnya tahunan, 5 tahunan, 10 tahunan, dan seterusnya serta aturan-aturan yang berkaitan dengan pemanfaatan lahan. Para kontraktor wajib memenuhi aturan-aturan yang telah dibuat dan ditetapkan terhadap persyaratan konstruksi bangunan. Sedangkan bagi Perusahaan Asuransi peta zona genangan banjir diperlukan guna kepentingan dalam penilaian dan besarnya tanggungan suatu bangunan yang akan diasuransikan, khususnya asuransi kerugian bencana alam (banjir).

5.3.

Mitigasi Bencana Banjir

Banjir adalah suatu peristiwa alamiah yang disebabkan oleh meluapnya air ke luar alur sungai karena volume air yang melebihi kapasitas saluran sungai yang tersedia. Wilayah luapan air sungai disebut sebagai daerah dataran banjir (flood-plain area). Disamping itu banjir juga dapat disebabkan oleh akumulasi air hujan di suatu daratan yang berbentuk cekungan dimana lapisan tanahnya bersifat impermeabel atau lapisan tanahnya jenuh air. Bencana banjir baru akan timbul ketika di daerah tersebut terdapat areal pemukiman sehingga luapan air berdampak pada kerugian dan kerusakan harta benda dan jiwa manusia. Peran dan kontribusi manusia terhadap terjadinya bencana banjir sangatlah besar, hal ini dapat kita lihat dari berbagai kasus bencana banjir yang melanda diberbagai wilayah dan perkotaan. Sebagai contoh Jakarta sebagai ibukota negara setiap tahun menjadi langganan banjir. Adapun beberapa faktor faktor yang menjadi penyebab banjir di wilayah Jakarta antara lain adalah: 1. Pembangunan dan perluasan pemukiman yang tidak mengikuti peta arahan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), 63
Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

2. Topografi Jakarta yang berbentuk cekungan sehingga di beberapa wilayah berfungsi sebagai tandon aliran air, 3. Berkurangnya daerah resapan air sebagai dampak dari pembangunan, 4. Meningkatnya surface runoff yang disebabkan perubahan tutupan lahan, 5. Tidak berfungsinya sistem drainase secara maksimal akibat banyaknya sampah dan kotoran lainnya, 6. Sistem Pengelolaan Daerah Aliran Sungai yang tidak terintegrasi serta degradasi lingkungan di wilayah DAS akibat perubahan tataguna lahan dan tutupan lahan. Usaha untuk mengurangi bencana banjir dapat dilakukan antara lain dengan cara antara lain: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Melakukan reboisasi di daerah tangkapan hujan, Membuat sumur-sumur resapan air, Mengurangi surface runoff dengan pembuatan drainase yang baik, Pembuatan check-dam untuk pengendalian banjir, Memodifikasi saluran sungai dan drainase, Membersihkan saluran sungai dan pengelolaan DAS secara terintegrasi dan komprehensif.

5.4.

Mengenal Penyebab Banjir

1. Curah hujan tinggi 2. Permukaan tanah lebih rendah dibandingkan muka air laut. 3. Terletak pada suatu cekungan yang dikelilingi perbukitan dengan pengaliran air keiuar sempit. 4. Banyak pemukiman yang dibangun pada dataran sepanjang sungai. 5. Aliran sungai tidak lancar akibat banyaknya sampah serta bangunan di pinggir sungai. 6. Kurangnya tutupan lahan di daerah hulu sungai. 5.4.1. Tindakan Untuk Mengurangi Dampak Banjir a. Penataan daerah aliran sungai secara terpadu dan sesuai fungsi lahan. b. Pembangunan sistem pemantauan dan peringatan dini pada bagian sungai yang sering menimbulkan banjir. c. Tidak membangun rumah dan pemukiman di bantaran sungai serta daerah banjir. d. Tidak membuang sampah ke dalam sungai. e. Mengadakan Program Pengerukan sungai. f. Pemasangan pompa untuk daerah yang lebih rendah dari permukaan laut. g. Program penghijauan daerah hulu sungai harus selalu dilaksanakan serta mengurangi aktifitas di bagian sungai rawan banjir. 5.4.2. Yang Harus Dilakukan Sebelum Banjir 1. Di Tingkat Warga a. Bersama aparat terkait dan pengurus RT/RW terdekat bersihkan lingkungan sekitar Anda, terutama pada saluran air atau selokan dari timbunan sampah. b. Tentukan lokasi Posko Banjir yang tepat untuk mengungsi lengkap dengan fasilitas dapur umum dan MCK, berikut pasokan air bersih melalui koordinasi dengan aparat terkait, bersama pengurus RT/RW di lingkungan Anda. c. Bersama pengurus RT/RW di lingkungan Anda, segera bentuk tim penanggulangan banjir di tingkat warga, seperti pengangkatan Penanggung Jawab Posko Banjir. d. Koordinasikan melalui RT/RW, Dewan Kelurahan setempat, dan LSM untuk pengadaan tali, tambang, perahu karet dan pelampung guna evakuasi. e. Pastikan pula peralatan komunikasi telah siap pakai, guna memudahkan mencari informasi, meminta bantuan atau melakukan konfirmasi.

64

Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI 2. Di Tingkat Keluarga

2012

a. Simak informasi terkini melalui TV, radio atau peringatan Tim Warga tentang curah hujan dan posisi air pada pintu air. b. Lengkapi dengan peralatan keselamatan seperti: radio baterai, senter, korek gas dan lilin, selimut, tikar, jas hujan, ban karet bila ada. c. Siapkan bahan makanan mudah saji seperti mi instan, ikan asin, beras, makanan bayi, gula, kopi, teh dan persediaan air bersih. d. Siapkan obat-obatan darurat seperti: oralit, anti diare, anti influenza. e. Amankan dokumen penting seperti: akte kelahiran, kartu keluarga, buku tabungan, sertifikat dan benda-benda berharga dari jangkauan air dan tangan jahil. 5.4.3. Yang Harus Dilakukan Saat Banjir a. Matikan aliran listrik di dalam rumah atau hubungi PLN untuk mematikan aliran listrik di wilayah yang terkena bencana, b. Mengungsi ke daerah aman sedini mungkin saat genangan air masih memungkinkan untuk diseberangi. c. Hindari berjalan di dekat saluran air untuk menghindari terseret arus banjir. Segera mengamankan barang-barang berharga ketempat yang lebih tinggi. d. Jika air terus meninggi hubungi instansi yang terkait dengan penanggulangan bencana seperti Kantor Kepala Desa, Lurah ataupun Camat. 5.4.4. Yang Harus Dilakukan Setelah Banjir a. Secepatnya membersihkan rumah, dimana lantai pada umumnya tertutup lumpur dan gunakan antiseptik untuk membunuh kuman penyakit. b. Cari dan siapkan air bersih untuk menghindari terjangkitnya penyakit diare yang sering berjangkit setelah kejadian banjir. c. Waspada terhadap kemungkinan binatang berbisa seperti ular dan lipan, atau binatang penyebar penyakit seperti tikus, kecoa, lalat, dan nyamuk. d. Usahakan selalu waspada apabila kemungkinan terjadi banjir susulan.

65

Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

6M
6.1. Kekeringan

itigasi Bencana Hidrometeorologi

Kekeringan adalah hubungan antara ketersediaan air yang jauh dibawah kebutuhan air baik untuk kebutuhan hidup, pertanian, kegiatan ekonomi dan lingkungan. Kekeringan diklasifikasikan sebagai berikut : 1. Kekeringan Alamiah a. Kekeringan Meteorologis berkaitan dengan tingkat curah hujan di bawah normal dalam satu musim. b. Kekeringan Hidrologis berkaitan dengan kekurangan pasokan air permukaan dan air tanah. c. Kekeringan Pertanian berhubungan dengan kekurangan kandungan air di dalam tanah sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan tanaman tertentu pada periode waktu tertentu pada wilayah yang luas. d. Kekeringan Sosial Ekonomi berkaitan dengan kondisi dimana pasokan komoditi ekonomi kurang dari kebutuhan normal akibat kekeringan meteorologi, hidrologi, dan pertanian 2. Kekeringan Antropogenik Kekeringan yang disebabkan karena ketidak-patuhan pada aturan terjadi karena : a. Kebutuhan air lebih besar dari pasokan yang direncanakan akibat ketidak-patuhan pengguna terhadap pola tanam/pola penggunaan air. b. Kerusakan kawasan tangkapan air, sumber-sumber air akibat perbuatan manusia. Dari data historis, kekeringan di Indonesia sangat berkaitan dengan fenomena ENSO (El-Nino Southern Oscilation). Pengaruh El-Nino lebih kuat pada musim kemarau dari pada musim hujan. Pengaruh El-Nino pada keragaman hujan memiliki beberapa pola: a. akhir musim kemarau mundur dari normal b. awal masuk musim hujan mundur dari normal c. curah hujan musim kemarau turun tajam dibanding normal d. deret hari kering semakin panjang, khususnya di daerah Indonesia bagian Timur Kekeringan akan berdampak pada kesehatan manusia, tanaman serta hewan. Kekeringan menyebabkan pepohonan akan mati dan tanah menjadi gundul yang pada musim hujan menjadi mudah tererosi dan banjir. Dampak dari bahaya kekeringan mengakibatkan bencana berupa hilangnya bahan pangan akibat tanaman pangan dan ternak mati, petani kehilangan mata pencaharian, banyak orang kelaparan dan mati, sehingga berdampak terjadinya urbanisasi. 3. Gejala Terjadinya Kekeringan a. Kekeringan berkaitan dengan menurunnya tingkat curah hujan dibawah normal dalam satu musim. Pengukuran kekeringan Meteorologis merupakan indikasi pertama adanya bencana kekeringan. b. Tahap kekeringan selanjutnya adalah terjadinya kekurangan pasokan air permukaan dan air tanah. Kekeringan ini diukur berdasarkan elevasi muka air sungai, waduk, danau dan air tanah. Kekeringan Hidrologis bukan merupakan indikasi awal adanya kekeringan. 66
Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI c.

2012

Kekeringan pada lahan pertanian ditandai dengan kekurangan lengas tanah (kandungan air di dalam tanah) sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan tanaman tertentu pada periode waktu tertentu pada wilayah yang luas yang menyebabkan tanaman menjadi kering dan mengering.

4. Strategi Mitigasi dan Upaya Pengurangan Bencana a. Penyusunan peraturan pemerintah tentang pengaturan sistem pengiriman data iklim dari daerah ke pusat pengolahan data. b. Penyusunan PERDA untuk menetapkan skala prioritas penggunaan air dengan memperhatikan historical right dan azas keadilan. c. Pembentukan pokja dan posko kekeringan pada tingkat pusat dan daerah. d. Penyediaan anggaran khusus untuk pengembangan/perbaikan jaringan pengamatan iklim pada daerah-daerah rawan kekeringan. e. Pengembangan/perbaikan jaringan pengamatan iklim pada daerah-daerah rawan kekeringan f. Memberikan sistem reward dan punishment bagi masyarakat yang melakukan upaya konservasi dan rehabilitasi sumber daya air dan hutan/lahan.

6.2. Angin Topan
Angin Topan adalah pusaran angin kencang dengan kecepatan angin 120 km/jam atau lebih yang sering terjadi di wilayah tropis diantara garis balik utara dan selatan, kecuali di daerah-daerah yang sangat berdekatan dengan khatulistiwa. Angin topan disebabkan oleh perbedaan tekanan dalam suatu sistem cuaca. Angin paling kencang yang terjadi di daerah tropis ini umumnya berpusar dengan radius ratusan kilometer di sekitar daerah sistem tekanan rendah yang ekstrem dengan kecepatan sekitar 20 Km/jam. Di Indonesia dikenal dengan sebutan angin badai. 1. Gejala dan Peringatan Dini Angin topan tropis dapat terjadi secara mendadak, tetapi sebagian besar badai tersebut terbentuk melalui suatu proses selama beberapa jam atau hari yang dapat dipantau melalui satelit cuaca. Monitoring dengan satelit dapat untuk mengetahui arah angin topan sehingga cukup waktu untuk memberikan peringatan dini. Meskipun demikian perubahan sistem cuaca sangat kompleks sehingga sulit dibuat prediksi secara cepat dan akurat. 2. Strategi Mitigasi dan Upaya Pengurangan Bencana Angin Topan a. Membuat struktur bangunan yang memenuhi syarat teknis untuk mampu bertahan terhadap gaya angin. b. Perlunya penerapan aturan standar bangunan yang memperhitungkan beban angin khususnya di daerah yang rawan angin topan c. Penempatan lokasi pembangunan fasilitas yang penting pada daerah yang terlindung dari serangan angin topan. d. Penghijauan di bagian atas arah angin untuk meredam gaya angin. e. Pembuatan bangunan umum yang cukup luas yang dapat digunakan sebagai tempat penampungan sementara bagi orang maupun barang saat terjadi serangan angin topan. f. Pengamanan/perkuatan bagian-bagian yang mudah diterbangkan angin yang dapat membahayakan diri atau orang lain disekitarnya. g. Kesiapsiagaan dalam menghadapi angin topan, mengetahui bagaimana cara penyelamatan diri h. Pengamanan barang-barang disekitar rumah agar terikat/dibangun secara kuat sehingga tidak diterbangkan angin i. Untuk para nelayan, supaya menambatkan atau mengikat kuat kapal-kapalnya. 67
Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

6.3. Gelombang Pasang
Gelombang pasang adalah gelombang air laut yang melebihi batas normal dan dapat menimbulkan bahaya baik di lautan, maupun di darat terutama daerah pinggir pantai. Umumnya gelombang pasang terjadi karena adanya angin kencang/topan, perubahan cuaca yang sangat cepat, dan karena ada pengaruh dari gravitasi bulan maupun matahari. Kecepatan gelombang pasang sekitar 10-100 Km/jam. Gelombang pasang sangat berbahaya bagi kapal-kapal yang sedang berlayar pada suatu wilayah yang dapat menenggelamkan kapal-kapal tersebut. Jika terjadi gelombang pasang di laut akan menyebabkan tersapunya daerah pinggir pantai atau disebut dengan abrasi. 1. Karakteristik Terjadinya Gelombang Pasang a. Angin kencang . b. Terjadinya badai di tengah laut dan menyebabkan terjadinya gelombang pasang di pinggir pantai. c. Perubahan cuaca yang tiba-tiba menjadi gelap 2. Penanganan Bencana Gelombang Pasang a. Pemberitahuan dini kepada masyarakat dari hasil prakiraan cuaca melalui radio maupun alat komunikasi. b. Bila sedang berlayar di tengah laut, usahakan menghindari daerah laut yang sedang dilanda cuaca buruk. c. Membuat/merencanakan pengungsian apabila terjadi gelombang pasang di pinggir pantai d. Membuat infrastruktur pemecah ombak untuk mengurangi energi gelombang yang datang terutama di daerah pantai yang bergelombang besar. e. Tetap tenang jika terjadi gelombang pasang di tengah laut maupun di pinggir pantai.

68

Copyright by @ Djauhari Noor 2012

MITIGASI BENCANA GEOLOGI

2012

7D
1. 2. 3. 4. 5. 6.

aftar Pustaka

Arthur D. Howard & Irwin Remson, 1978, Geology in Environmental Planning, Mc Graw Hill Publishing Company, Inc. Avery T. E., Interpretation of Aerial Photographs, Burgess Publishing Company, Minneapolis, Minnesota, 1977. Blyth, F.G.H and M.H. de Freitas, 1974, A Geology for Engineers, English Language Book Society, Edward Arnold Publishers Ltd. 41 Bedford Square, London WC 1B3DQ. Davenport, Th.E., 2003, The Watershed Project Management Guide, Lewis Publishing company, New York, USA Eckel, E. B., ed.,1958, “Landslides and Engineeering Practice”, Highway Research Board Special Rept. 29, NAS-NRC Publ. 554, National Academy of Sciences, Washington, D.C. Edward J. Tarbuck and Frederick K. Lutgens, 1987, The Earth : An Introduction to physical geology, second edition, Merrill Publishing Company, A Bell & Howell Company, Columbus, Ohio 43216. Gerals Kiely, 1997, Environmental Engineering, Mc Graw Hill Publishing Company, Inc. Nichols, D.R., and C.C. Campbell., eds., 1971, “Environmental Planning and Geology”, Published cooperatively by U. S. Geological Survey, U.S. Dept. of Interior, and Office of Research and Technology of U.S. Dept. of Housing and Urban Development, 1971. National Action Plan For Disaster Risk Reduction 2006 – 2009, Cooperation between Office of State Minister for National Development Planning / National Planning Agency with National Coordinating Agency for Disaster Managemen, Perum. Percetakan Negara Republik Indonesia. Tagata, E., 1995, Understanding the Coastal Zone. Living in the Coastal Zone: ECOS: 83 (Autumn issue). CSIRO Coastal Zone Program. Australia. Thornbury, W.D., 1969, Principles of Geomorphology, John Willey & Sons, New York. United Nations Development Programmes - Indonesia, Laporan Tahunan 2007.

7. 8.

9.

10. 11. 12.

69

Copyright by @ Djauhari Noor 2012

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->