P. 1
Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas

Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas

|Views: 1,745|Likes:
Published by fatinjauharah

More info:

Published by: fatinjauharah on Apr 05, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/23/2013

pdf

text

original

MAKALAH ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS TENTANG SUPRESI ASI IBU NIFAS YANG BAYINYA MENINGGAL

Dosen Pembimbing : Nur Fitriana S. S, ST.

Disusun Oleh : Fatin Jauharah M10.02.0022

PROGRAM STUDI D 3 KEBIDANAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MADANI YOGYAKARTA

1

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat, nikmat, rizki, hidayah dan hikmah yang Ia berikan sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas dengan judul “ SUPRESI ASI IBU NIFAS YANG BAYINYA MENINGGAL”. Dalam menyelesaian pembuatan makalah ini penulis telah banyak menerima bantuan dan dorongan dari berbagai pihak, untuk itu penulis ingin mengucapkan terima kasih bayak kepada : 1. Nur Fitriana Sholihah,S. ST selaku Dosen pengampu mata kuliah asuhan kebidanan pada ibu nifas 2. Rekan-rekan sesama

Penulis menyadari dalam makalah ini masih banyak kekurangan, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran demi memperbaiki kekurangan dan kekeliruan yang ada. Penulis mengharapkan semoga dengan disusunnya makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca, khususnya bagi mahasiswa untuk menambah wawasan dalam bidang kesehatan.

Yogyakarta, 28 Maret 2012

Penulis

2

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................ i DAFTAR ISI ............................................................................................... ii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ................................................................................ 1 B. Tujuan ............................................................................................ 1 BAB II PEMBAHASAN A. Greafing (Kesedihan Dan Duka Cita) ............................................. 2 B. Tahap Kehilangan .......................................................................... 2 1. Menurut kibber ross dan murray parkes, 1978.......................... 2 2. Menurut davidson, 1984 ........................................................... 2 3. Menurut kubler ross, 1970 ....................................................... 2 C. Asuhan yang diberikan pada greafing ............................................. 2 D. Ibu nifas yang bayinya meninggal .................................................. 3 E. Supresi laktasi ................................................................................. 6 F. Supresi mekanis .............................................................................. 7 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan .................................................................................... 8 B. Saran ................................................................................................ 8 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 9

3

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Secara psikologis, setelah melahirkan seorang ibu akan merasakan gejala-gejala psikiatrik, demikian juga pada masa menyusui. Meskipun demikian, ada pula ibu yang tidak mengalami hal ini. Agar perubahan psikologis yang dialami tidak berlebihan, ibu perlu mengetahui tentang hal yang lebih lanjut. Wanita banyak mengalami perubahan emosi selama masa nifas semenara ia menyesuaikan diri menjadi seorang ibu. Demikian pula bagi ibu yang bayinya meninggal. ibu yang bayinya meninggal memiliki resiko depresi yang lebih besar dari pada ibu yang lainnya. Oleh karena itu agar perubahan psikologis yang dialami tidak berlebihan, peran tenaga kesehatan sangat penting terutama bidan. Merupakan peristiwa Penting sekali sebagian bidan untuk mengetahui tentang penyesuaian psikologis yang normal sehingga ia dapat menilai apakah seorang ibu memerlukan asuhan khusus dalam masa nifas ini, untuk suatu variasi atau penyimpangan dari penyesuaian yang normal yang terjadi. Ibu yang bayi meninggal mempunyai penanganan khusus terutama dalam masalah ASI. Makalah ini membahas tentang bagaimana supresi ASI bagi ibu nifas yang bayinya meninggal. umum

B. TUJUAN Tujuan makalah ini adalah agar pembaca: 1. Mengetahui adaptasi psikologis ibu yang bayinya meninggal 2. Mengetahui cara mengatasi kesedihan dan duka cita pada masa nifas 3. Mengetahui supresi ASI ibu nifas yang bayinya meninggal

4

BAB II PEMBAHASAN

A. GREAFING (KESEDIHAN & DUKA CITA)

Greafing adalah pengalaman seseorng yg mengalami kehilangan sst benda, org t’dkt, bag/fngsi tbh, emosi yg sblmny ada, kmdn hilang (Potter Perry, 1998).

B. TAHAP KEHILANGANTAHAP KEHILANGAN

1. Menurut Kibber Ross & Murray Parkes, 1978 : a. b. c. Tahap I (Shock) Tahap II (Pinning, marah, menawar, depresi, merasa bersalah) Tahap III (Penerimaan & penyesuaian)

2. Menurut Davidson, 1984 : a. Shock & Numbrese (mati rasa) b. Keingintahuan & kerinduan c. Disorganisasi d. Reorganisasi 3. Menurut Kubler Ross, 1970 : a. Denial b. Anger c. Bargaining d. Depression e. Acceptance

C. ASUHAN YANG DIBERIKAN PADA GREAFING

1. Knowing 2. Doing For 3. Enabling 4. Mantaining Believe
5

D. IBU NIFAS YANG BAYINYA MENINGGAL

Perawat mungkin harus merawat ibu tanpa bayi. Bayi mungkin lahirmati. Meninggal setelah dilahirkan, mungkin diadopsi orang lain atau mungkin pula menderita sakit yang berat atau premature. Pada masingmasing kasus, ibu memerlukan perawatan khusus dan perawatan psikologi tambahan. Kebutuhan ini tidak boleh diabaikan. Bab ini terutama membahas situasi tersebut yang dapat timbul pada kasus-kasus lahir-mati (stillbirth) atau kematian neonatal. Pada beberapa rumah sakit, ibu tanpa bayi dikirim ke bangsal perawatan umum karena diperkirakan bahwa perawatan bersama ibu-ibu lain yang memiliki bayi dapat menambah stress emisional. Ini merupakan masalah yang diperdebatkan; sebagai ibu dapat mengatasi masalah-masalah dengan lebih baik. Jika ia mampu menerima kenyataan dengan melihat dan mendengar bayi dari permulaan. Kerapkali kita mudah sekali mengurangi perawatan pada ibu tanpa bayi karena penyebab utama untuk menghabiskan waktu bagi ibu postnatal berpusat di sekitar penanganan bayi dan pemberian makannya. Padahal ibu tanpa bayi memiliki kebutuhan yang sama akan perwatan fisik dan observasi seperti halnya ibu yang memiliki bayi, dan ibu tanpa bayi juga sangat memerlukan kesempatan untuk berbicara mengenai perasaannya ketika ia sudah siap. Kewaspadaan ekstra akan respon ibu terhadap para tamunya sangat penting. Pada kasus lahir-mati atau kematian neonatal, pengunjung sendiri mungkin merasakan bahwa situasi terssebut sulit diatasi dan hanya memberikan sedikit hiburan bagi ibu tersebut. Ia harus ditanya siapa yang tidak ingin ditemuinya pada saat ini. Jam berkunjung yang ditentukan harus fleksibel untuk memenuhi kebutuhannya. Suami harus dibiarkan untuk mengunjungi isterinya kapan saja ia mampu baik bagi kepentingan isterinya maupun kepentingannya sendiri. Meskipun ibu sampai derajat tertentu terhadap dunia luar, namun suaminya tidak. Biasanya suami merupakan orang yang membiarkan orang-

6

orang lain megetahui kemalangannya. Merupakan orang yang harus pulang ke rumah. Sering kembali kerumah yang kosong, dan mengemasi semua barang yang tadinya mereka siapkan bagi keperluan bayi yang mereka nantikan. Kerapkali ia harus melakukan pekerjaannya dengan baik setiap hari, harus berkonsentrasi serta memperhatikan pekerjaannya, dan mengemudikan kendaraan dengan aman. Tidak ada perawatan yang sebaik apapun yang dapat menghilangkan kesediha`n dan kekecewaan akibat kematian seorang bayi yang sungguh didambakan itu. Namun, pemberian waktu dan privasi kepada pasangan suami-istri yang malang tersebut untuk berada bersama-sama akan sangat membantu. Kebijakan yang diambil oleh berbagai rumah sakit bervariasi dalam hal pemberian kesempatan kepada orang tua untuk berhubungan dengan bayinya sesudah bayi itu meninggal. Pada sebagian rumah sakit, orang tua ditawari kesempatan bukan hanya untuk melihat dan memelukan jenazah bayinya tetapi juga untuk memandikan dan mengenakan pakaiannya. Waktu yang tersedia bagi kebersamaan mereka sungguh sangat berharga dan amat singkat, namun kontak ini dapat membantu pasangan tersebut untuk menerima kenyataan mengenai kematian bayi mereka dan dapat mulai mengatasi kesedihan mereka. Benda-benda yang dapat mengingatkan mereka kepada sang bayi sseperti gumpalan rambut, pita nama,kartu catatan bayi, foto bayi sering disimpan oleh orangtua bayi sebagai kenangan. Benda-benda semacam ini biasanya sangat dihargai. Kalau kelainan pada tubuh bayi tidak begitu nyata, bayi tersebut dapat dibungkus dengan cermat untuk menyembunyikan pemandangan yang kurang enak dilihat. Sebaiknya orangtua diperbolehkan melihat dan memeluk bayinya segera setelah kematian bayi dinyatakan, karena biasanya diperlukan otopsi atau pemeriksaan postmortem dan sekalipun otopsi dilakukan dengan hati-hati sekali, namun penampakan bayi yang sudah diotopsi dapat melukai hati orangtuanya, Pengaturan pemakaman bayi dapat diatur oleh orang tua atau rumah sakit; sebagian rumah sakit memiliki hubungan dengan yayasan yang

7

mengurus pemakaman sehingga biayanya tidak terlalu memberatkan orangtua. Bidan yang berpengalaman akan meluangkan waktu untuk membicarakan masalah ini dengan pihak orangtua bayi. Jika orangtua menghendakinya, bidan atau perawat dapat membantu memanggilkan ulama atau pendeta yang akan mendoakan. Ada beberapa hal penting tambahan yang harus dipertimbangkan oleh perawat yang merawat ibu tanpa bayi: 1. Orangtua mungkin tidak menyukai istilah “kehilangan”. Mereka menganggap bayinya meninggal dan bukan hilang. Sebagian orang merasa bahwa perkataan “hilang” mengurangi nilai atau personifikasi bayi yang bagi mereka sangat nyata. 2. Kalau pengumuan kelahiran sudah diiklankan dapat surat kabar, mungkin iklan tersebut terbaca secara lengkap oleh beberapa perusahaan jasa yang mengirimkan surat penawaran (sampel, penawaran gratis dll) kepada ibu yang baru melahirkan. Jika perusahaan itu tidak membaca bahwa bayi tersebut “lahir mati” atau hanya hidup selama beberapa jam, mungkin mereka menawarkan perlengkapan bayi atau asuransi. Kedatangan barang-barang ini dapat menggugah kesedihan ibu sehingga sebaiknya disisihkan dahulu dan ditanyakan kepada suaminya pada kunjungan berikutnya. 3. Laktasi harus disupresi (hal 187) tanpa ribut-ribut dan secepat mungkin. Perawat dapat menawarkan kepada pasien untuk mencucikan setiap BH atau pakaian tidur yang kotor oleh rembesan ASI perkerjaan mencuci seperti ini mungin merupakan tugas yang berat bagi suami atau ibu pasien karena membawa permasalahan emosional 4. Kepada ibu dapat dianjurkan untuk tinggal di rumah sakit cukup lama sehingga tersedia kesempatan bagi kesembuhan dan supresi laktasi. Dengan kata lain, jika ia menginginkannya. Kadang-kadang ibu ingin segera pulang agar bisa bersama suaminya. Kerapkali ibu merasa perlu lebih lama tinggal di rumah sakit sampai ia benar-benar pulih dan siap untuk menghadapi dunia sekitarnya kendati terdapat kesan (lewat

8

komentar kecil tetapi maksudnya baik) bahwa seharusnya tidak demikian. Setelah masalah tersebut dibicarakan antara suami-istri dengan bidan yang bertanggung jawab dan dokternya, staf keperawatan yang lain tidak boleh menganjurkannya untuk cepat-cepat pulang dari rumah sakit. 5. Pulang ke rumah merupakan persoalan yang berat. Proses berpakaian untuk pulang ke rumah, mungkin pula mengemas semua pakaian bayi yang tidak terpakai dan mengucapkan selamat tinggal kepada staf keperawatan yang telah membantunya untuk melewati masa kritis ini, mungkin tidak mudah dilakukan. Ketika ibu tiba dirumah, mungkin ia harus menghadapi kekecewaan orang lain dan berbagai macam orang akan bereaksi dengan cara yang berbeda-beda. Sebagian mungkin mengunjunginya pada saat ia tidak mampu menghadapi, atau menghindari pertemuan dengannya (misalnya, memalingkan muka ketika berpapasan atau antri pada barisan yang paling jauh ketika bertemu dan harus mengantri dibank atau supermarket). Jika ibu sudah menyadari semua kemungkinan, mungkin ia tidak begitu merasa kesal atau sedih ketika menghadapi hal ini. Diluar negri terdapat kelompok-kelompok khusus untuk ibu yang kematian bayinya. Di Australia misalnya, terdapat dua kelompok di mana para ibu yang menderita kesedihan akibat kematian bayi dapat berbagi perasaan atau pengalaman mereka. The compassionate friends merupakan organisasi internasional bagi para orang tua yang ditinggal mati puteranya; organisasi ini menawarkan persahabatan dan pengertian kepada orang lain (nomer teleponnya dapat dijumpai dalam buku telepon internasional di bawah huruf c). SANDS (the stillbirth and neonatal death support group) bekerja dengan maksud yang sama, tetapi mungkin lebih spesifik untuk para orangtua yang kematian bayinya. Nomer telepon organisasi tersebut juga tercantum dalam buku petunjuk telepon internasional.

9

E. SUPRESI LAKTASI

Jika pasien memilih untuk tidak menyusui bayinya, atau karena bayinya meninggal dunia pemberian estrogen atau androgen (atau kombinasi keduanya) akan menurunkan hPL, atau inhibisi mekanis laktasi (bebat payudara) mungkin efektif. Semua metode paling efektif hanya jika dimulai segera setelah melahirkan, dan semuanya mempunyai angka kegagalan yang tinggi. Dan lagi, kecemasan tentang efek samping yang tidak diingini, terutama estrogen (misal, tromboemboli), menyebabkan penurunan

penggunaan steoroid seks. Dopamin agonis, bromokriptin (parlodel) 2,5 mg peroral selama 14 hari menghambat sekresi prolaktin dan akan menekan laktasi, namun mungkin diperlukan pengobatan jangka panjang dengan obat ini, dan kadang-kadang timbul efek samping (missal: hidung tersumbat, sakit kepala atau mual). Obat yang mensupresi atau menghambat laktasi antara lain bromokriptin, estradiol, kontrasepsi oral dosis besar, levodopa, dan antidepresan trazodon serta piridoksin dosis tinggi. Bromokriptin bekerja melalui supresi sekresi prolaktin dari kelenjar hipofise yang terjadi setelah melahirkan.

F.

SUPRESI MEKANIS Cara sederhana untuk menghentikan laktasi adalah dengan

menghentikan laktasi dan menghindari rangsangan pada puting susu. Meskipun terasa sakit, penumpukan air susu dalam sistem saluran akan dapat menekan produksi ASI dan terjadi reabsorbsi pada ASI. Untuk mengurangi rasa sakit dapat diberikan analgesik. Pasien sebaiknya tidak menyusui, dan tidak mengeluarkan air susu atau memompa payudaranya. Diperlukan alat penyanggah Payudara yang menekan dengan ketat selama 72 jam dan setelah itu menggunakan bh yang sempit, jika perlu dapat diberikan kantong es dan analgesic (missal, asetaminofen atau aspirin dan kodein). Pembatasan cairan dan laksatif tidak membantu supresi laktasi.

10

Mula-mula payudara menjadi teregang, keras dan nyeri bila ditekan. Setelah 48-72jam, laktasi biasanya berhenti dan rasa nyeri berkurang. Involusi lengkap akan terjadi dalam waktu kira-kira 1 bulan.

11

BAB II PENUTUP
A. KESIMPULAN Tahap kehilangantahap kehilangan mnrt kibber ross & murray parkes, 1978 ;tahap I (shock), tahap II (pinning, marah, menawar, depresi, merasa bersalah), tahap III (penerimaan & penyesuaian). Supresi ASI ibu menyusui dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu: 1. Supresi dengan obat-obatan seperti bromokriptin, estradiol, kontrasepsi oral dosis besar, levodopa, dan antidepresan trazodon serta piridoksin dosis tinggi. 2. Supresi Cara sederhana untuk menghentikan laktasi adalah dengan menghentikan laktasi dan menghindari rangsangan pada puting susu. Meskipun terasa sakit, penumpukan air susu dalam sistem saluran akan dapat menekan produksi ASI dan terjadi reabsorbsi pada ASI. Untuk mengurangi rasa sakit dapat diberikan analgesik.

B. SARAN Adapun saran yang dapat penulis berikan adalah sebagai berikut: 1. Untuk memperdalam pengetahuan mahasiswa asuhan yang diberikan dan supresi ASI pada ibu nifas yang bayinya meninggal 2. Mahasiswa diharapkan mempersiapkan diri sebaik mungkin dengan materi yang telah diberikan.

12

DAFTAR PUSTAKA

http://books.google.co.id/books?id=w1ntk4OgUIUC&pg=PA285&dq=supresi+la ktasi&hl=id&ei=KsrzTsaVHozJrAfZ05nkDw&sa=X&oi=book_result&ct=bookthumbnail&resnum=1&ved=0CCwQ6wEwAA#v=onepage&q=supresi%20laktasi &f=false http://books.google.co.id/books?id=8svztyjUXN8C&pg=PA245&lpg=PA245&dq =supresi+laktasi+ibu+yang+bayinya+meninggal&source=bl&ots=yKHkEm_Xl&sig=T2LjHXwA4sLfCSGqbzs8qzftt5E&hl=id&sa=X&ei=dFPzTrCGHISr rAeMz4TkDw&ved=0CCwQ6AEwBA#v=onepage&q=supresi%20laktasi%20ibu %20yang%20bayinya%20meninggal&f=false

13

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->