P. 1
4 Penyebab Anak Malas Belajar

4 Penyebab Anak Malas Belajar

|Views: 79|Likes:

More info:

Published by: Maryam Susantiningsih on Apr 06, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/06/2012

pdf

text

original

4 PENYEBAB ANAK MALAS BELAJAR Berbagai upaya sudah dilakukan agar anak semangat belajar.

Tapi, hasilnya justru sebaliknya. Seringkali penyebabnya muncul dari orangtua. Memahami anak sebagai individu yang sedang menjalani tahapan-tahapan dalam masa pertumbuhannya, diperlukan kesabaran ekstra. Demikian pula ketika mendapati anak yang telah memasuki usia sekolah begitu malas belajar. Mengandalkan guru untuk menyelesaikan masalah? Tentu tak bisa begitu. Apalagi bila kita menyadari bahwa anak sesungguhnya memulai pendidikannya dari rumah. Sehingga, peran orangtua untuk membantu secara langsung kesulitan yang dialami anak merupakan hal yang sangat penting. Mencari penyebabnya adalah langkah awal untuk menerapkan solusi yang tepat. Robert D. Carpenter MD adalah seorang peneliti yang pernah mengadakan pengamatan terhadap perkembangan belajar murid sekolah dasar di California, Amerika Serikat. Dalam pengamatannya ditemukan adanya penyebab mengapa anak-anak kerap mengalami masalah dalam belajar yang cenderung membuat mereka jadi malas. Berikut ini empat penyebab yang kerap terjadi dan menyebabkan anak malas belajar.

1. Komunikasi tidak efektif
Ingat, target kita berkomunikasi adalah memastikan bahwa ‘pesan’ yang ingin kita sampaikan kepada penerima pesan (anak) diterima dengan benar. Tentu orangtua ingin agar anak mengerti, menyukai dan melakukan apa-apa yang dipikirkan orangtua. Komunikasi yang efektif juga bisa mengungkapkan kehangatan dan kasih sayang orangtua, misalnya, “Ayah bangga sekali, kamu sudah berusaha keras belajar di semester ini.” Coba ingat-ingat bagaimana pola komunikasi yang kita bangun selama ini. Sudahkah anak-anak menangkap pesan yang kita sampaikan sesuai dengan yang kita maksud? Seringkali orangtua lupa menyampaikan ‘isi’ dari pesannya, tapi lebih banyak merembet pada halhal yang sebenarnya di luar maksud utamanya. Misal, nilai ulangan harian anak di bawah rata-rata teman sekelasnya. Tanpa bertanya terlebih dulu kepada anak kenapa nilainya jelek, Ibu langsung komentar, “Itulah akibatnya kalau kamu nggak nurut Ibu. Main melulu sih. Ibu tuh dulu waktu sekolah nggak pernah dapat nilai 6. Kamu kok nilainya jelek begini. Gimana sih?” Apa inti pesan yang disampaikan Ibu? Anak salah karena nilainya jelek dan semakin salah karena Ibu selalu membandingkan anak dengan keadaan Ibunya sewaktu sekolah. Akibatnya, anak akan berpendapat, “Ah, nggak ada gunanya bilang ke Ibu kalau nilai jelek. Nanti pasti dimarahin.” Padahal, mengetahui nilai anak yang di bawah rata-rata buat orangtua sangat penting untuk mengevaluasi penyebabnya. “Wah, nilai anak saya untuk mata pelajaran matematika kenapa selalu jelek ya? Apa yang perlu dibantu?” Sederet pertanyaan itu bisa terjawab bila kita berkomunikasi secara efektif, bukan menyalah-nyalahkan anak. Bila penyebab bisa segera diketahui, maka orangtua bisa mencari solusinya dan melakukan perbaikan.

1

Komunikasi yang tidak efektif yang berjalan selama bertahun-tahun, pastinya akan berdampak negatif pada pembentukan karakter anak. Padahal, salah satu fungsi komunikasi adalah untuk mengenal diri sendiri dan orang lain. Bisa dipastikan pola seperti itu akan membuat anak bingung dalam mengenali dirinya sendiri dan orangtuanya. ‘Apa sih sebenarnya maunya Ayah/Ibu?’ Kebingungan ini mengakibatkan dalam diri anak tidak tumbuh motivasi kuat untuk berprestasi, toh mereka tak tahu apa gunanya mereka belajar.

2. Tak terbantahkan
‘Pokoknya kamu harus ranking satu. Dulu, ayah sekolah jalan kaki, tapi selalu ranking satu. Kenapa kamu nggak bisa?’ Menekankan dengan kalimat, ‘pokoknya’, ‘seharusnya’, dan kata sejenis lainnya menunjukkan tidak adanya celah untuk pilihan lain. Orangtua yang tak terbantahkan membuat anak sulit mengemukakan pendapatnya. Bahkan, sulit mengetahui potensi dirinya sendiri, apalagi mengoptimalkan potensinya. Kecenderungan tak terbantahkan ini kalau berlanjut terus bisa menjurus pada upaya memaksakan kehendak orangtua pada anak. Misalnya, “Nanti kamu harus jadi dokter.” Kalaupun akhirnya anak mengikuti kehendak orangtuanya kuliah di fakultas kedokteran, ia akan menjalaninya dengan setengah hati. Bisa jadi, hanya setahun dijalani, selanjutnya keluar karena bertentangan dengan keinginannya. Tentu kita tak ingin ini terjadi bukan?

3. Target tidak pas
Target yang tidak pas, bisa terlalu rendah atau terlalu tinggi dari kemampuannya. Jangan sampai memaksakan begitu banyak kegiatan pada seorang anak sehingga mereka jadi jenuh dan terlalu lelah. Akibat overaktivitas, banyak anak yang kemudian mulai meninggalkan belajar sebagai kegiatan yang seharusnya paling utama. Di sinilah peranan orangtua sangat penting, jangan sampai terlalu memaksa anak dengan harapan agar mereka dapat menuai prestasi sebanyak-banyaknya. Mereka didaftarkan pada berbagai macam kursus atau les privat tanpa mengetahui bahwa batas IQ seorang anak tidak memungkinkannya menerima berbagai macam kegiatan yang disodorkan oleh orangtua. Namun, sebaliknya bagi anak yang memiliki IQ tinggi, juga perlu penanganan khusus, karena mereka tidak cukup dengan target regular untuk anak lainnya. Mereka membutuhkan tantangan lebih supaya potensinya teroptimalkan. Untuk mengetahui potensi ini, orangtua perlu bantuan psikolog.

4. Aturan dan hukuman yang tidak mendidik
Terlalu ketat dalam rutinitas harian bisa menyebabkan akhirnya anak malas belajar. Namun, sebaliknya tanpa membuat rutinitas harian anak tidak terbiasa memiliki jadwal belajar yang harus dipatuhinya. Jalan tengahnya, rutinitas tidak bisa ditetapkan secara sepihak oleh orangtua, namun dibangun bersama-sama.

2

Membuat aturan juga harus diikuti dengan konsekuensi. Jadi, anak dapat mengerti apa hubungannya antara kepatuhan menjalani aturan dengan konsekuensinya, bukan sekadar hukuman yang tidak mendidik, seperti hukuman cubitan bila dapat nilai jelek Bagi anak usia SD ke atas, orangtua perlu mendiskusikannya dengan anak. Aturan tersebut ditandatangani dan dipasang di dekat meja belajar. Misal, 1. Belajar sehabis shalat Maghrib sampai Isya; 2. Boleh nonton Avatar pada minggu pagi; 3. Main PS paling lama 2 jam di hari libur; 4) dan seterusnya. Jangan bosan juga untuk meng-up date kesepakatan dan mengingatkan kalau ada yang melanggar. Ingatkan juga akan konsekwensinya, misalnya “Belajar yuk! Kemarin kita sepakat kan kalau nggak belajar, gimana hayo?” Biarkan anak menjawab konsekwensinya. Jika aturan itu sudah dibuat bersama, pasti anak ingat akan konsekwensinya. Harapannya, kesadaran untuk belajar akan tumbuh dari dalam diri anak, bukan dipaksakan orangtua. Tidak ada lagi hukuman yang tidak mendidik, karena hukuman akan membuat anak berpikir “Ugh, belajar sangat tidak menyenangkan!” Mewaspadai empat hal tersebut penting untuk mencegah kemalasan anak semakin parah. Yuk, bantu anak-anak kita agar rajin dan senang belajar.

Agar Anak Suka Membaca
Anak | Firdaus | 9 February, 2012 Jam 17:43 - dibaca sebanyak 137 kali {lang: 'id'}

3

Buku merupakan jendela ilmu, maka membaca perlu dijadikan salah satu kegiatan wajib sejak anak-anak masih kecil. Sayangnya, karena berbagai alasan banyak anak tidak suka membaca. Sebagai orangtua, Anda bisa melakukan berbagai trik untuk membiasakan anak gemar membaca. Misalnya, Anda bisa membacakan buku cerita untuk anak, dan membuat kegiatan membaca menjadi lebih menyenangkan baginya.

1. Beri contoh dengan rajin membaca.
Anak akan meniru apa yang dilakukan oleh orangtuanya. Sebelum meminta anak untuk rajin membaca, Anda lebih dulu harus gemar membaca. Ajak mereka membaca setiap hari, walaupun hanya satu jam setiap harinya. Dengan cara ini, anak akan menganggap membaca adalah kegiatan yang penting dan harus dilakukan.

2. Ciptakan tempat yang nyaman untuk membaca,
misalnya kursi yang empuk, atau sofa dengan bantal empuk.

3. Biarkan anak memilih buku yang akan dibaca.
Hal ini akan membantu Anda untuk tetap membuat anak tertarik pada buku bacaan sekaligus membuat mereka merasa berguna. Mengunjungi perpustakaan secara rutin akan membantu proses pemilihan buku yang dibaca menjadi lebih mudah dan menyenangkan.

4. Bicarakan tentang sampul buku.
Anak biasanya akan memilih buku dengan desain sampul yang menarik dan lucu. Ajak mereka untuk menebak isi buku dari penampilan sampulnya. Siapa saja tokoh ceritanya, atau siapa yang menjadi “penjahatnya”.

5. Sering menonton film asing,
4

dimana sang tokoh membacakan dongeng dengan mengubah intonasi suara yang berbeda untuk setiap karakternya? Sesekali lakukan hal ini untuk menambah ketertarikan anak saat membaca buku. Pastikan Anda tidak membacanya terlalu cepat agar mereka bisa memahami isi cerita Anda.

6. Tunjukkan gambar-gambar menarik
ketika membacakan buku cerita. Gambar tidak hanya membuat anak lebih terpaku pada isi buku, tetapi juga membantu mereka untuk lebih memahami perilaku tokoh-tokohnya, dan jalan ceritanya.

7. ceritakan kembali pesan moral dalam cerita tersebut
Setelah membacakan buku, ceritakan kembali pesan moral dalam cerita tersebut. Beri penekanan pada kata-kata penting yang bisa bermanfaat untuk mereka.

8. Menghubungkan kisah di dalam buku
Cobalah untuk menghubungkan kisah di dalam buku, dengan realita dalam kehidupan Anda dan anak. Berikan contoh bagaimana anak harus bertindak ketika menghadapi sesuatu, berdasarkan apa yang dilakukan tokoh dalam cerita.

9. Pancing sifat kritis anak terhadap buku
dengan memberikan beberapa pertanyaan seperti, “Cerita mana yang kamu suka?”, atau, “Cerita mana yang tak kau suka?”, atau “Apa yang kamu pelajari dari cerita ini?”

10. Berikan variasi pada aneka bacaan yang Anda pilih,
agar anak tidak bosan saat mendengarkan Anda bercerita MARI BAHAGIAKAN MEREKA Sebagai orang tua, ada banyak tugas yang harus Anda selesaikan berkaitan dengan tumbuh kembang si buah hati. Tanggung jawab Anda sebagai orang tua tentunya sangat beragam, mulai dari masalah pendidikan, kesehatan, keamanan dan lain sebagainya. Tetapi dari banyaknya tanggung jawab yang Anda tanggung, yang diinginkan anak tidak banyak, mereka hanya ingin bahagia bersama orang tua mereka. Nah, bagaimana Anda bisa membahagiakan anak-anak Anda tanpa keluar dari jalur tanggung jawab sebagai orang tua. Ini dia 10 cara yang harus Anda praktikkan. 1. Bergerak Dan Terus Aktif Lupakan televisi dan menatap layar komputer sepanjang hari. Rencanakan berbagai kegiatan yang bisa membuat tubuh seluruh anggota keluarga bergerak. Anda bisa membuat rencana liburan di pantai atau daerah perbukitan. Bersama-sama memasang tenda, membuat api unggun,

5

2. masak di alam bebas, dan bernyanyi di bawah siraman langit penuh bintang. Tidak hanya memupuk rasa kebersamaan dan tubuh yang aktif bergerak, memori yang menyenangkan akan tertinggal pada anak-anak Anda. 2. Fleksibel Dalam Mengatur Jadwal Mengatur jadwal memang penting, misalnya kapan buah hati harus sudah duduk di meja makan saat sarapan, kapan mereka harus mendapat pelajaran tambahan atau kegiatan di luar sekolah, dan kapan mereka bisa bermain. Tetapi ingat bahwa semua hal kadang tidak bisa berjalan seperti yang telah direncanakan. Selalu fleksibel pada anak-anak Anda tanpa mengurangi tingkat disiplin yang Anda tanamkan. Terus amati apakah anak-anak Anda menikmati jadwal mereka sehari-hari. Jika tampak jenuh, beri kelonggaran pada mereka untuk bernapas dan menikmati free selama beberapa hari. 3. Rileks Bersama Anak-anak biasanya selalu aktif dan jarang beristirahat, mereka biasanya tidak ingat untuk rileks sampai mereka jatuh sakit. Kebiasaan ini harus Anda waspadai, jika sampai mereka tidak menikmati waktu-waktu untuk beristirahat setiap hari. Anda bisa mencontohkan pada mereka bagaimana caranya untuk rileks sejenak dan beristirahat. Misalnya saja membaca buku yang isinya ringan, berbaring sebentar di sofa, atau duduk di teras sambil memandang matahari terbenam. Ajak buah hati Anda untuk beristirahat sejenak disela-sela kesibukan mereka. 4. Banyak Tertawa Jangan lagi menganggap hubungan antara anak dan orang tua bagaikan tembok yang menjadi penghalang untuk saling melucu dan tertawa. Anak-anak selalu suka dengan berbagai cerita lucu dan tertawa bersama. Selain itu, tertawa akan membuat stres jauh dari keluarga Anda. Tetapi ingat untuk tidak membuat bahan lelucon yang berkaitan dengan fisik orang lain. Anda bisa memulai dengan saling menggelitik pinggang, ceritakan hal-hal lucu yang pernah Anda alami sewaktu kecil, dan biarkan buah hati Anda bercerita apa yang menurut mereka lucu. 5. Jauhi Kata “Jangan!” Seringkali para orang tua mengucapkan kata “Jangan!” pada buah hati mereka karena alasan keamanan, disiplin, dan lain sebagainya. Misalnya saja “Jangan main bola di dalam rumah!”, “Jangan lupa mengucapkan terima kasih!”, “Jangan ini!”, “Jangan itu!”. Padahal jika Anda mendapat perintah, “Jangan membayangkan gajah menari balet!” yang Anda lakukan justru membayangkannya, hal ini juga terjadi pada buah hati Anda. Akan lebih baik jika Anda mengatakan, “Bermain bola memang menyenangkan, tetapi itu membahayakan benda-benda di dalam rumah, lebih aman kalau kalian main di halaman,” Atau “Kamu tahu kan pelajaran sopan santunnya? Ucapkan terima kasih, dan bunda akan bangga kalau kamu selalu ingat pelajaran itu,” 6. Jangan Terlalu Mengejar Sempurna Saat buah hati Anda mulai belajar sesuatu, Anda harus bersabar dengan hasilnya. Bila bayi kerabat Anda sudah bisa berjalan sebelum usia satu tahun, dan bayi Anda masih merangkak saat ulang tahun pertamanya, jangan memaksa buah hati Anda untuk berjalan secepat mungkin. Jika menurut dokter tidak ada yang salah dengan perkembangan si kecil, Anda harus bersabar. Setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda, hal ini berlaku juga bila buah hati Anda sudah masuk pada

6

masa sekolah. Sekalipun Anda punya keinginan membuat sang buah hati menjadi pianis hebat, jika buah hati tidak tertarik dengan piano, jangan dipaksakan. 7. Beri Makanan Bergizi Untuk yang satu ini, Anda tentu perlu ekstra pengetahuan mengenai kesehatan dan nutrisi untuk anak-anak. Hindari terlalu sering memanjakan lidah buah hati dengan junk food, camilan berkalori tinggi dan berbagai minuman atau makanan siap saji. Anak-anak perlu asupan makanan sehat untuk menunjang aktivitas mereka yang tidak ada habisnya. Selalu sediakan makanan sehat di lemari dan kulkas. Jauhkan buah hati Anda dari kegiatan nonton tv sambil makan. Selalu ukur berat badan buah hati Anda dan pastikan berada dalam angka ideal yang sesuai dengan usianya. 8. Kembangkan Bakatnya Berbahagialah jika buah hati Anda memiliki bakat yang bisa dikembangkan. Sekolah tidak terlalu banyak memiliki peran untuk mengembangkan bakat, sehingga peran Anda sangat diperlukan di sini. Bila buah hati Anda suka dengan musik klasik dan tertarik dengan biola, tidak ada salahnya Anda memasukkan buah hati Anda ke sanggar musik. Jika buah hati Anda suka dengan kegiatan melukis, sediakan kanvas dan berbagai peralatan melukis. Demikian juga untuk bakat yang lain, motivasi, arahan dan dukungan dari Anda akan sangat membantu si buah hati untuk mengapresiasi bakat yang dia miliki. 9. Ajarkan Kemandirian Kadang para orang tua tidak tega melihat buah hati mereka mencuci piring bekas makan malam mereka atau merapikan kamar mereka. Tetapi Anda harus ‘tega’ menanamkan kemandirian sebagai bekal kehidupannya kelak. Buah hati Anda harus bisa membantu Anda tanpa diperintah, termasuk merapikan kamar dan barang-barang miliknya, meletakkan barang kembali di tempat semua, dan menyusun apa saja yang mereka miliki. Ini akan menjadi kontrol dalam keseharian mereka, dan jangan lupa untuk terus memantau mereka setiap hari. 10. Dengarkan Mereka Komunikasi adalah hal terpenting dalam membina hubungan antara orang tua dan anak. Jangan membuat arisan, koran dan internet menjadi sesuatu yang lebih penting daripada anak Anda. Beri waktu luang untuk berbincang dengannya. Dengarkan tanpa menyela atau memarahi mereka, karena percayalah, Anda akan lebih mengenal buah hati Anda dari apa yang dia ceritakan, apa yang menjadi kekhawatiran mereka dan apa impian mereka. Jaga kontak mata saat mereka bercerita dan dengarkan mereka. (sumber : waspada.co.id) MENGAJARKAN DISIPLIN ANAK Saat si kecil memasuki usia balita, dia bisa menjadi sangat sulit untuk ditangani. Anak mulai susah diajak mandi atau makan. Dia bisa tiba-tiba marah dan menangis kencang saat keinginannya tidak dituruti, dan masih banyak masalah lainnya. Masa balita bisa jadi saat yang sulit sekaligus menyenangkan untuk orangtua. Di usia ini, anak mulai menunjukkan berbagai kepintarannya. Namun di sisi lain, dia juga mulai terlihat mandiri. Hambatannya adalah, mereka masih memiliki kemampuan terbatas dalam berkomunikasi dan memahami sesuatu.

7

“Mereka (anak-anak berusia balita) mengerti kalau mereka bisa melakukan sesuatu,” ujar Spesialis Perkembangan Anak, Claire Lerner, seperti dikutip WebMD. “Hal ini pun membuat mereka ingin menunjukkan pada dunia dan menegaskan pada diri mereka sendiri dengan cara yang baru, bukan bayi lagi. Namun masalahnya mereka memiliki kontrol diri yang kurang dan belum berpikir rasional,” urai Lerner. Dengan segala kombinasi cara berpikir dan tingkah laku itu, bukan tidak mungkin Anda kerap merasa hilang akal menghadapi si kecil. Apalagi jika kata-kata yang sering diucapkannya adalah ‘tidak’. Jadi, adakah solusi agar mengurus si balita menjadi lebih mudah? Berikut ini beberapa cara mudah mendisiplinkan si kecil:

1. Konsisten
Perintah dan rutinitas membuat si kecil merasa memiliki tempat perlindungan dari dunia yang mereka lihat tidak dapat diprediksi,” ujar Lerner. “Saat ada sesuatu yang sudah bisa diprediksi dan dilakukan dengan rutin, ini membuat anak merasa lebih nyaman dan aman. Mereka pun jadi lebih bersikap manis dan tenang karena tahu apa yang akan terjadi,” tambahnya. Sesuai dengan saran Lerner tersebut, cobalah untuk melakukan segala kegiatan si kecil sesuai jadwal, setiap hari. Artinya Anda harus memiliki waktu tidur siang, makan dan tidur malam yang konsisten. Begitu juga konsisten kapan waktu dia bisa bermain. Jika Anda hendak membuat perubahan, misalnya saat Anda harus pergi ke luar kota, katakan padanya sejak jauh-jauh hari. Persiapkan anak menghadapi hal ini agar mereka tidak terlalu kaget pada perubahan tersebut. Konsistensi juga penting dalam hal disiplin. Contohnya saat Anda mengatakan ‘tidak boleh memukul’, saat si kecil untuk pertama kalinya memukul anak lain di taman bermain, Anda harus terus mengatakan hal yang sama, jika ia melakukannya untuk kedua atau ketiga kalinya.

2. Hindari Situasi yang Membuat Stres atau Marah
Saat si kecil mulai menginjak usia balita, Anda sebaiknya meluangkan waktu untuk memahami apa saja yang membuatnya marah. Biasanya adalah karena mereka lapar, mengantuk dan perubahan mendadak. Dengan melakukan perencanaan, Anda sebenarnya bisa menghindari kemarahannya ini dan membuatnya tetap tenang. “Misalnya saja, Anda jangan pergi ke supermarket di waktu anak seharusnya tidur siang, jika tidak mau anak tiba-tiba marah-marah,” ujar dr. Lisa Asta, dokter anak di California yang juga asisten professor di Universitas California.

3. Berpikirlah Seperti Anak Balita

8

Anak balita belum bisa memahami segala sesuatunya apa adanya. Misalnya saja soal bagaimana harus bersikap dengan benar dan sesuai aturan. Jadi saat menghadapi si kecil, cobalah melihat dari perspektif anak untuk mencegah dia tantrum. “Anda bisa bilang, ibu tahu, kamu tidak suka mandi, tapi kamu harus melakukannya,” ujar Lerner. “Ucapan itu membuatnya tidak terintimidasi. Kita seolah memahami perasaannya,” tambahnya. Memberikan anak pilihan juga bisa Anda lakukan untuk menunjukkan kalau Anda menghargainya dan memahami perasaannya. Misalnya saja, saat anak tidak mau memakai sepatu, tanyakan saja padanya sepatu warna apa yang mau ia pakai, merah atau biru. Dengan memiliki pilihan, anak merasa mereka memiliki kontrol terhadap situasi yang sedang dialami.

4. Belajar Bagaimana Mengalihkan Perhatian
Saat si kecil sudah lebih dari 10 kali melempar bola ke dinding ruang tamu dan dia tidak berhenti meskipun Anda sudah menyuruhnya, inilah saatnya Anda mengalihkan perhatiannya ke hal lain. Anda juga bisa mencoba mengajaknya bermain di luar. “Orangtua sebaiknya menciptakan lingkungan yang bisa kondusif untuk perilaku balita,” saran Rex Forehand, PhD, Professor Psikologi di University of Vermont dan penulis buku ‘Parenting the Strong-Willed Child’. “Jika mereka melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan (seperti bermain bola di ruang tamu), Anda seharusnya bukan melarangnya, tapi coba cari aktivitas lain,” tambah Rex.

5. Berikan Anak Time Out
Time out merupakan salah satu fondasi untuk membangun disiplin anak. Meskipun cara ini sebenarnya belum bisa benar-benar diterapkan saat anak berusia balita. Akan ada implikasi negatif jika Anda memberikan anak balita time out terlalu lama. Anak akan merasa mereka nakal. Padahal sebenarnya Anda ingin mengajarkannya bersikap yang baik. Jika Anda memberikan si kecil time out, batasi waktunya hanya 1-2 menit. Jangan juga katakan pada anak kalau itu adalah time out karena anak di bawah tiga tahun belum memahaminya. Gunakan kalimat yang lebih positif untuk menyebut time out. Lerner menyarankan buat tempat yang nyaman untuk anak sehingga dia bisa tenang. Perbaiki sikapnya yang tidak baik, namun jangan lupa juga untuk memberikan pujian atas sikap baiknya. “Jika Anda tidak memberikan pujian saat anak bersikap baik, terkadang mereka akan melakukan hal buruk hanya untuk mendapatkan perhatian,” tambah Asta. Kalau Anda memuji anak atas perbuatan baiknya, kemungkinan besar anak mau melakukannya lagi.

6. Tetap Tenang

9

Saat si kecil mengalami tantrum di mall, Anda sudah pasti berusaha menghindari tatapan orang yang lewat. Saat itu Anda pasti akan dengan mudah tersulut emosi dan memarahinya. Merasa tetap tenang memang sulit, namun dengan kehilangan kontrol diri, bisa membuat situasi semakin panas dan Anda pun stres. Coba tarik napas sejenak dan dinginkan kepala. “Kemarahan malah akan membuat Anda lebih buruk dan merasa bersalah. Hal itu juga tidak akan berdampak baik pada anak,” saran Forehand. Sedangkan Lerner menyarankan, jangan tunjukkan emosi Anda saat si kecil mengamuk. Bersikaplah seperti tidak ada yang terjadi. “Diamkan saja sikap anak. Saat anak tahu kalau teriakannya tidak menarik perhatian Anda, dia akhirnya akan lelah berteriak,” tuturnya. (sumber : kaskus.us)
CARA AGAR ANAK LEBIH PEDE

Salah satu masalah yang sering dihadapi anak adalah kurang percaya diri dengan kemampuannya. Padahal rasa percaya diri, ditambah kemampuan menghargai diri sendiri, adalah modal besar bagi anak untuk mampu melakukan berbagai hal yang bisa membuat mereka bertahan dalam hidup. Ketika anak mengalami masalah dengan dua hal ini, orangtua perlu membantu anak dalam meningkatkan kepercayaan diri mereka. Bagaimana caranya? 1. Ajar mereka berpikir sendiri Salah satu masalah yang sering ditemui pada orangtua adalah terlalu sayang pada anak. Akibatnya, Anda tak pernah membiarkan anak berpikir sendiri dan selalu membantu memecahkan masalah. Mungkin ini termasuk naluri alami orangtua, namun sadarkah Anda bila hal ini sebenarnya bisa membuat anak menjadi manja dan selalu tergantung pada orangtuanya? Jika Anda terus-menerus memberitahu mereka apa yang harus dilakukan, dan bagaimana cara melakukan sesuatu, mereka akan selalu mengikuti perintah Anda, dan tidak belajar untuk mempercayai intuisi mereka. Mereka juga menjadi anak yang tidak kreatif. Dalam setiap masalah tidak hanya ada satu jalan untuk menyelesaikannya, sehingga mungkin saja cara pikir mereka berbeda dengan Anda. Namun jika Anda ingin anak selalu mengikuti cara Anda, maka mereka akan berhenti berusaha untuk menemukan solusi kreatif. Berpikir kritis dan kemampuan memecahkan masalah akan menjadi sangat penting, karena ketika dewasa dan memasuki dunia kerja, mereka membutuhkan “soft skill” dalam untuk bisa bekerjasama dengan orang lain. 2. Beri mereka fondasi identitas diri Kepercayaan diri anak bisa dibangun dengan memberikan penjelasan tentang identitas keluarga, atau budaya keluarga. Anda bisa menceritakan berbagai hal tentang sejarah, warisan, budaya, ataupun cerita keluarga yang membanggakan dan patut dicontoh oleh anak. Dengan berbagi latar belakang budaya, dan sejarah keluarga, Anda bisa memberikan fondasi bagi mereka untuk mencontoh berbagai pencapaian keluarga, dan melakukan berbagai hal positif yang sesuai dengan sejarah dan budaya keluarga. Mengetahui cerita tentang pencapaian salah satu anggota keluarga

10

membuat anak-anak menjadi lebih pede, karena mereka yakin akan kemampuan hebat yang dimiliki di dalam aliran darahnya. 3. Ajak mereka menjaga kesehatan Apa hubungannya kesehatan dan percaya diri? Penampilan fisik merupakan salah satu penanda kepercayaan diri. Di lain pihak, fisik yang baik juga akan membuat orang jadi lebih percaya diri. Postur tubuh merupakan salah satu bentuk komunikasi non-verbal atau bahasa tubuh. Postur tubuh yang baik menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi, sedangkan orang dengan bahu merosot dan gerakan lesu memberi isyarat bahwa ia kurang percaya diri. Orang-orang yang bungkuk menunjukkan mereka tidak antusias dengan apa yang mereka lakukan, bahkan tidak menganggap diri mereka penting. Dengan melatih postur tubuh yang tegak, secara otomatis anak-anak akan merasa lebih percaya diri. Berdiri tegak, kepala tegak, dan melakukan kontak mata pada lawan bicara, akan menciptakan kesan postif pada orang lain.
AJARKAN ANAK MEMBUAT BUKAN MEMBELI

Jiwa kewirausahaan perlu ditanamkan dalam diri anak sejak belia. Sasarannya bukan pada memicu anak berbisnis atau menjual sesuatu. Namun lebih kepada pembentukan karakter pribadi yang tangguh dan berdaya tahan tinggi. Cara sederhana yang bisa dibiasakan orangtua adalah ajak anak membuat, membuat sesuatu, bukan membeli barang yang diinginkan. Pakar pendidikan, Arief Rachman, mengatakan orangtua terbiasa mengajak anak membeli sesuatu saat ke mal misalnya. Orangtua merasa perlu menyenangkan hati anak karena terlalu sibuk bekerja. Kecenderungan yang terjadi adalah, anak dihadapkan pada berbagai macam kesenangan atau barang. “Orangtua terbiasa menawarkan anak untuk bebas membeli apa saja yang mereka suka, sebagai bentuk penggantian atas rasa bersalahnya karena kesibukan sehari-hari. Padahal, anak perlu diajak untuk berpikir kreatif, berinisiatif, dengan mengajukan pertanyaan ke mereka seperti, ‘Ayo, kita mau membuat apa?’” jelas Arief kepada Kompas Female, beberapa waktu lalu. Kebiasaan membuat sesuatu inilah yang melandasi cara berpikir anak. Pola pikir seperti ini bisa dilatih, dan butuh peran orangtua sebagai pendukungnya. Dengan semangat membuat, anak tak tumbuh menjadi pribadi yang mengandalkan orang lain untuk menghidupi dirinya. Orientasi anak tak seperti kebanyakan orang, sekolah, lalu mencari pekerjaan untuk menafkahi diri. Namun yang akan terjadi adalah sebaliknya, anak akan berpikir kreatif membuka lapangan pekerjaan bagi dirinya dan orang lain. Nah, untuk menumbuhkan semangat kewirausahaan ini, Arief menyebutkan sejumlah syarat. Ia menjelaskan, anak perlu memahami bahwa hidup punya aturan dan etiket. “Aturan perlu dibarengi dengan dorongan dari orangtua,” lanjutnya. Mengajak anak untuk membuat sesuatu daripada membeli adalah juga bentuk etiket dan aturan. Pesannya, untuk mendapatkan sesuatu, setiap orang perlu berusaha, tidak menerima begitu saja dengan mudahnya.

11

Syarat lain yang juga penting, kata Arief, adalah dalam menjalani hidup, seseorang harus memiliki perilaku positif. Sikap positif perlu ditanamkan dalam diri anak sejak belia. Dengan kepribadian positif inilah jiwa kewirausahaan tertanam dalam diri anak. Kewirausahaan juga bisa ditanamkan melalui kebiasaan. Kebiasaan mencipta tadi bisa menjadi cara yang dibiasakan sejak kecil. Syarat menanamkan jiwa kewirausahaan lainnya adalah juga pengetahuan dan keterampilan. “Pengetahuan juga diperlukan namun tak perlu banyak. Banyak pengetahuan namun tak punya etiket juga tak ada gunanya,” jelas Arief. Jiwa kewirausahaan yang tertanam dalam diri ini memiliki pengaruh besar dalam hidup seseorang. Ia akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki tujuan, tangguh menjalani proses, pantang menyerah. “Jika pun gagal dalam hidup ia tak mudah menyerah,” tutup Arief. (Jakarta, 2 Mei 2011) Sumber: kaskus.us
AGAR ANAK TIDAK MATERIALISTIS

Orangtua zaman sekarang memiliki pekerjaan rumah demikian banyak dalam mengasuh dan membesarkan anak-anaknya. Hal yang paling kentara dan dirasa cukup sulit bagi orangtua adalah membesarkan anak tanpa tumbuh menjadi pribadi materialistis. Upaya orangtua harus demikian kuat agar bombardir iklan di televisi, majalah, maupun pengaruh teman sebaya, yang menjadi beberapa faktor atas sifat materialistis, dapat diredam. Studi yang dilakukan oleh Penn State’s Smeal College of Business, seperti dikutip dalam No More Misbehavin’ yang ditulis oleh Michele Borba, Ed.D, menyimpulkan bahwa anak-anak sekarang lebih materialistis di usia yang lebih muda lagi. Karena itu, menjadi tugas orangtua untuk menanamkan pemahaman kepada anak bahwa karakter moral, kontribusi terhadap lingkungan, dan kualitas hubungan mereka akan jauh lebih bernilai ketimbang materi yang bisa diperoleh. Dengan kata lain, orangtua perlu meyakinkan anak bahwa identitas mereka tidaklah didasarkan pada apa yang mereka punya, tetapi pada siapa mereka. Orangtua perlu mempelajari sejumlah cara bagaimana cara membesarkan anak tanpa membuat mereka menjadi individu yang materialistis. Berikut cara-cara yang disarankan: Membatasi tontonan televisi : Ini aturan yang sering disebutkan oleh para ahli. Sebaiknya anak tidak menonton lebih dari dua jam setiap hari. Selain sejumlah program yang dibuat banyak yang masih tidak sesuai dengan usia anak, iklan yang muncul di antara program tersebut kerap menarik perhatian anak dan pada akhirnya membuat mereka menginginkannya. Cara lain yang juga dapat dilakukan adalah dengan mengalihkan perhatian anak saat jeda iklan. Kalaupun tidak, jelaskan kepada anak tentang teknik pemasaran yang biasa digunakan dalam iklan. Atau tonton acara yang tidak ada iklannya. Perhatikan apa yang diperhatikan anak:

12

Bila Anda melihat anak ingin menggunakan celana jins skinny, pakaian dengan merek ternama karena melihatnya di majalah, inilah waktunya untuk menjelaskan kepada mereka agar tidak selalu mengikuti arus. Pada awalnya anak mungkin saja akan kesal, sebal, dan mengatakan Anda tidak paham perasaan mereka. Namun, dengan mengingatkan akan hal tersebut, pada akhirnya anak akan meresapi penjelasan Anda. * Katakan “tidak”: Bukan tindakan tepat untuk selalu memberikan apa saja yang diinginkan anak. Lagipula, menurut Michele, Anda tidak selalu mendapatkan apa yang diinginkan dalam hidup ini ‘kan? Mengatakan “tidak” atau menolak membelikan benda-benda yang diinginkan anak bukanlah hal keliru. Hadiah tanpa membeli: Sesekali ada baiknya juga melatih anak untuk tidak membeli hadiah bagi anggota keluarga. Hal itu akan mendorong anak untuk kreatif dalam membuat hadiah tanpa mengeluarkan uang, misalnya membuat kartu, puisi, atau poster yang menggambarkan rasa sayang mereka bagi penerima hadiah. Menjadi panutan: Sebelum terburu-buru menyalahkan iklan di televisi maupun teman sepermainan anak, coba lihat kembali diri sendiri. Apakah Anda gemar mengoleksi barang tertentu yang harganya sangat mahal? Apakah Anda sebagai orangtua suka membeli aneka busana dari perancang atau merek terkemuka? Kalau jawabannya iya, orangtua perlu membenahi diri. Perlu diingat, anak lebih meniru orangtuanya. Dengan kata lain, kalau orangtua ingin memiliki anak yang tidak materialistis, harus bisa menjadi contoh. Percuma saja orangtua mengajarkan anak untuk tidak selalu membeli barang mewah sementara sang ibu masih asyik membeli sepatu atau tas dengan harga selangit. Ajarkan prioritas: Gunakan keputusan berbelanja sebagai peluang untuk mengajarkan perencanaan keuangan, termasuk bagaimana mengontrol keinginan yang tidak perlu. Saat berbelanja untuk keperluan sekolah, misalnya, minta anak untuk membuat daftar barang yang diinginkan lalu buat prioritasnya. Latih kesadaran untuk menyumbang: Tidak harus memaksa anak untuk mau menyumbangkan benda kesayangan mereka. Orangtua bisa menjadi contoh baik dengan menyumbangkan barang sendiri untuk kegiatan amal dan jelaskan alasan Anda melakukan itu. Setelah itu biarkan anak tahu bahwa mereka dapat mendonasikan barang-barangnya juga. Barang tersebut bisa diberikan kepada sepupu yang lebih kecil ataupun kepada anak-anak yang tidak mampu. Hal itu akan membantu anak menyadari bahwa barang hanya objek semata.

13

Mereka juga belajar untuk melepaskan kesenangan dari barang yang dimiliki agar orang lain dapat merasakan, kesenangan yang sama, seperti yang dialaminya. (sumber : health.kompas.com
HINDARI STRESS PADA ANAK

Berbagai kejadian buruk yang pernah dialami di masa kecil ternyata akan selalu terbayang sampai dewasa. Jika seorang anak memiliki ingatan yang mendalam mengenai masa kecil yang kurang menyenangkan, otak mereka akan merespons hal tersebut dan merekamnya, sehingga ketika dewasa mereka akan lebih peka terhadap stres. Ketika pernah mengalami stres, otak anak akan terprogram untuk bereaksi lebih kuat untuk menghadapi stres ini, dan hal ini akan membuat orang cenderung mengalami stres lebih besar dibanding orang yang tidak memiliki sejarah stres di masa kecilnya. Namun jenis stres seperti apakah yang bisa membuat anak-anak menderita stres sampai dewasa? Penelitian yang dilakukan oleh Yale Stress Center menunjukkan bahwa hal yang paling mungkin menyebabkan anak-anak menjadi stres adalah pengalaman sakit, penyakit, atau cidera yang pernah dialami. Tingkat stres seorang anak bisa meningkat menjadi stres berat ketika ia mengalami berbagai konflik keluarga seperti perceraian, mengalami dan menyaksikan kekerasan, krisis keuangan, kematian orang yang dicintai, atau menghadapi orangtua yang memiliki masalah kesehatan, kecanduan, atau gangguan mental. Kecemasan adalah reaksi normal anak-anak terhadap stres, namun beberapa anak ternyata mengalami tingkat kecemasan yang berlebihan ketika menghadapi stres. Satu dari delapan anak mengalami gangguan kecemasan berlebihan. Menurut Anxiety Disorders Association of America, anak-anak seperti ini dianggap memiliki atau pernah mengalami fase paska traumatik stres. Banyak anak pernah mengalami stres dini sebelum mereka siap secara fisik dan psikologis untuk mengatasinya. Hal ini akan membuat mereka akan lebih mudah terserang stres tingkat tinggi saat mereka tumbuh menjadi dewasa. “‘Jalur’ stres akan terus berkembang selama masa kanak-kanak, namun mereka membutuhkan waktu untuk tumbuh dan berfungsi secara optimal,” ujar Dr Rajita Sinha, direktur Yale Stress Center. Ketika menginjak remaja, anak-anak yang pernah mengalami stres sewaktu kecil akan cenderung mengisolasi diri, makan berlebihan, sulit tidur, sampai terlibat narkoba. Untuk menghindari hal ini, bantuan dari orangtua, guru, ataupun anggota keluarga lain, diperlukan agar tak membiarkan anakanak berada di bawah tekanan. “Jika orangtua, guru, dan keluarga membimbing anak-anak untuk menghilangkan trauma dan stres yang mereka alami dengan mengalihkan pikiran mereka ke berbagai keterampilan adaptif, maka mereka akan lebih cenderung memiliki perlindungan dan ketahanan diri terhadap serangan stres,” tukasnya. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk melindungi anak-anak dari stres berkepanjangan yang berbahaya saat mereka dewasa.

14

1. Beri dukungan sosial. Sinha mengatakan bahwa berinteraksi dengan orang lain dan menggalang dukungan keluarga untuk anak yang stres adalah cara utama orangtua untuk melindungi anak-anak dari resiko stres. 2. Pendidikan dan tantangan intelektual. Anak-anak lebih mungkin untuk belajar mengatasi hal yang sulit ketika mereka ditantang dalam lingkungan yang “aman” seperti sekolah. Doronglah anak untuk berpikir kreatif, untuk membantu perkembangan mereka dalam jangka panjang. 3. Tingkatkan optimisme dan taktik pengendalian emosi. Orangtua dan keluarga yang terlibat aktif dalam kehidupan anak dapat membantu melindungi anak-anak dari serangan stres yang mungkin dialami. Sebuah penelitian yang dilakukan di University of Wisconsin-Madison mengungkapkan bahwa suara ibu dapat menghasilkan respons biokimia yang signifikan dan bisa meredakan stres pada anak. Cukup tidur secara konsisten juga mampu membantu anak mengatasi stres dengan lebih efektif. (sumber : kompas.com)
PERILAKU ORANG TUA YANG MEMBUAT STRESS ANAK

Siapa bilang hanya orang dewasa saja yang bisa terserang stres? Anak-anak pun bisa. Biasanya orang dewasa terserang stres karena masalah pekerjaan, keuangan dan lainnya. Bagaimana dengan anak, apa pemicu stres mereka? “Faktor penyebab anak menjadi stres adalah perilaku dari orangtuanya sendiri,” tukas Rustika Thamrin, Spsi, CHt, CI, MTLT, psikolog dari Brawijaya Women and Children Hospital kepada Kompas Female, saat talkshow “How to be a Healhty & Productive Career Women“ di Thamrin Nine, Jakarta Pusat, Jumat (27/1/2012) lalu. Menurut Rustika ada beberapa perilaku orangtua yang tidak disadari bisa menimbulkan tekanan pada anak, yang pada akhirnya mengakibatkan stres. Berikut beberapa penyebabnya: 1. Melarang anak menangis Semua orangtua pasti ingin anaknya menjadi anak yang hebat. Namun seringkali orangtua tidak menyadari bahwa kata-kata motivasi yang diberikan justru membebani anak, dan mungkin saja membuat mereka menjadi stres. “Beban dan tekanan ini terutama dialami oleh anak laki-laki dibanding perempuan, karena di kultur Indonesia laki-laki itu dianggap mahluk yang paling kuat sehingga tidak boleh menunjukkan kelemahannya sedikit pun,” ungkapnya. Pola pikir anak-anak dan dewasa berbeda. Anak, terutama pada balita, hanya akan menyerap katakata yang terdengar, dan belum bisa memprosesnya dengan sempurna seperti yang dilakukan orang dewasa. Misalnya, ketika anak terjatuh dari sepeda dan kemudian menangis. Jika yang terjatuh adalah anak perempuan, orangtua biasanya akan membiarkannya untuk menangis. Tetapi ketika yang mengalami adalah anak laki-laki, orangtua pasti akan melarangnya menangis diiringi pesan, “Kamu tidak boleh menangis”, “Kamu kan laki-laki, tidak boleh cengeng”, atau “Kamu kan anak laki-laki yang kuat, luka ini tidak ada apa-apanya.” Sekilas, tak ada yang salah dengan kalimat tersebut, karena tujuannya memotivasi anak untuk tidak cengeng. Namun, ketika diserap oleh otak anak, kalimat ini akan memiliki arti yang berbeda.

15

Kalimat tersebut akan diterima sebagai sebuah perintah, yang akan selalu ada di otak mereka sampai dewasa. Masuknya perkataan ini ke otak anak akan membuat anak selalu menahan tangisnya, dan memendam perasaan sedihnya. Hal inilah yang membuat anak menjadi stres. “Tidak heran kalau laki-laki jarang dan malu menangis, karena dari kecil sudah dijejali dengan perkataan seperti itu. Padahal orang sah-sah saja untuk menangis dan mengeluarkan perasaan mereka,” tambah Rustika. Menangis boleh saja, yang harus dikontrol adalah frekuensinya. 2. Perilaku orangtua tidak konsisten Menurut penelitian, anak-anak usia 1-7 tahun akan lebih mudah menyerap berbagai hal di sekitarnya melalui bahasa tubuh seseorang (90 persen), intonasi suara (7 persen), dan kata-kata (3 persen). “Orangtua yang plin-plan akan membuat anak kebingungan, dan akhirnya stres karena orangtuanya tidak konsisten,” tambahnya. Seharusnya orangtua bersikap tegas dalam mendidik anak, dan antara suami dan istri bekerjasama agar tercapai kata sepakat. Misalnya, anak dihukum ketika melakukan sebuah kesalahan. Namun ketika ia mengulangi kesalahannya, orangtua tidak menghukumnya. Bahasa tubuh orangtua yang tidak konsisten ketika menghadapi masalah yang sama, seperti kadang bersikap galak dan kadang baik, akan membuat anak tertekan. 3. Membeda-bedakan anak Banyak orangtua yang secara tak sadar membeda-bedakan anaknya. Meski dalam perbuatan tidak terlalu terlihat, namun intonasi suara yang turun naik ketika menghadapi kakak dan adik akan membuat anak merasakan adanya pembedaan sikap orangtua. “Ketika adik kakak berkelahi, biasanya nada bicara orangtua akan lebih lembut ke adik dibanding kakak, karena mengganggap bahwa kakak yang sudah lebih dewasa harus mengalah,” bebernya. Intonasi suara yang berbeda ketika menghadapi kakak dengan nada yang keras, dan adik dengan nada yang lembut, akan membuat si kakak merasa si adik lebih disayang dan ia pun menjadi tertekan. 4. Labeling pada anak Salah satu yang paling berbahaya yang dilakukan orangtua kepada anak adalah memberi label atau cap kepada anak. Kata-kata seperti, “Dasar kamu anak pemalas”, atau “Kamu kegemukan, makanya pakai baju apa saja tidak ada yang cocok”, atau “Kamu kok lemot sih, nggak pinter seperti kakakmu?”. Hati-hati, labeling, apalagi yang diiringi dengan tindakan membandingbandingkan anak, tak hanya membuat anak merasa tertekan, tetapi juga mengalami luka batin yang akan terbawa hingga ia dewasa. 5. Terlalu sering melarang Ketika anak berusia 4-6 tahun, anak sedang berada dalam zona kreatif dengan peningkatan rasa ingin tahu dan ingin belajar yang sangat tinggi. Namun, sikap kreatif anak dan daya ekplorasinya dianggap sebagai kenakalan orangtua, lalu berusaha membatasi gerak mereka. “Jangan main di sana”, atau “Jangan dipegang-pegang!”, dan masih banyak kata larangan lain yang digunakan orangtua untuk membatasi kreativitas anak. Meski memiliki tujuan yang baik agar si anak tidak terluka, namun kata-kata “jangan” dan “tidak” ternyata bisa membuat anak menjadi stres karena mereka tidak bebas untuk melakukan apapun. Gunakan kata-kata lain yang lebih baik untuk mengarahkan anak, sehingga anak akan menerimanya dengan positif. Anak akan mengerti bahwa Anda melarangnya melakukan hal tersebut karena berbahaya, dan bukan karena tidak sayang pada anak. “Kalau selalu dilarang, suatu

16

saat anak bisa mencuri-curi untuk melakukannya saat Anda tidak tahu,” ujar Rustika. (sumber : female
SUMBER MAKANAN PENAMBAH IMUNITAS ANAK

Imunitas secara alami didapatkan seorang anak dari ibunya melalui ASI. Meski begitu, ada beberapa sumber nutrisi yang bisa menjadi sumber penambah imunitas bagi anak. Anak yang sering terserang sakit tentu merisaukan setiap orang tua. Hal ini ditunjukkan dengan sistem kekebalan tubuh atau imunitas anak rendah karenanya mudah mengalami gangguan atau penurunan. Gangguan ini bisa disebabkan, antara lain karena kurangnya asupan gizi seimbang dalam menu harian anak. Makanan dan sistem imunitas tubuh memang berhubungan erat. Seperti diungkapkan Dr. Zakiudin Munasir, Sp.A(K), Ketua Divisi Alergi Imunologi, Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM, bahwa bila kekebalan saluran pencernaan baik, maka kekebalan tubuh secara umum juga akan baik. Dari banyak makanan sumber nutrisi yang dibutuhkan anak-anak, beberapa jenis di bawah ini merupakan sumber penambah imunitas anak. 1. Flavonoids Menurut penelitian, susu kedelai umumnya mengandung protein, lemak, karbohidrat, serat, vitamin, dan sejumlah kecil mineral yang sangat tinggi dan dibutuhkan oleh tubuh, baik untuk memperlancar metabolisme maupun untuk pertumbuhan, perbaikan sel yang rusak, sumber energi, ataupun untuk menambah imunitas. Ikatan sejumlah asam amino dengan vitamin dan beberapa zat gizi lainnya di dalam biji kedelai akan membentuk flavonoid. Flavonoid adalah sejenis pigmen, seperti halnya zat hijau daun yang terdapat pada tanaman yang berwarna hijau. Secara ilmiah, flavonoid terbukti mampu mencegah dan mengobati berbagai penyakit. Dan, salah satu jenis flavonoid yang sangat banyak terdapat pada biji kedelai adalah isoflavon. Salah satu fungsi isoflavon adalah untuk meningkatkan sistem imunitas. 2. Spirulina Spirulina, mikroalga yang berwarna biru, merupakan sumber protein yang sangat tinggi. Warna biru pada spirulina berperan penting untuk sistem kekebalan tubuh. Spirulina kaya akan vitamin B kompleks, vitamin D, magnesium, seng, selenium, zat besi, dan gamma linoleic acid (GLA). Phycocyanin merupakan protein kompleks terbanyak dalam spirulina yang memiliki manfaat bagi kesehatan, antara lain untuk menstimulasi kerja sel batang pada sumsum tulang, berperan dalam produksi sel darah putih, yang berfungsi meningkatkan imunitas tubuh. Serta sel darah merah, yang berfungsi mengedarkan oksigen ke seluruh tubuh. Spirulina juga sangat kaya akan kandungan selenium, yang sangat berperan dalam sistem imunitas tubuh. Spirulina lebih banyak dikonsumsi sebagai suplemen. 3. Seng Seng atau zinc adalah salah satu unsur utama kehidupan. Di dalam tubuh manusia, seng merupakan mikronutrien penting yang paling banyak tersebar, juga merupakan mikronutrien terkaya dalam sel. Seng tersebar di dalam sistem syaraf, imunitas, darah dan sistem pencernaan manusia, dan ikut serta dalam penyatuan dan aktivitas ratusan jenis enzim di dalam tubuh. Fungsi seng antara lain

17

adalah meningkatkan perkembangan tubuh, menambah inteligensi, memperkuat imunitas, meningkatkan kesehatan mata, meningkatkan pertumbuhan, perpecahan dan regenerasi sel, dan lainnya. Seng merupakan mikro-nutrien penting dalam otak besar, banyak terdapat pada ikan, daging, telur, dan produk makanan hewani lainnya, inti biji buah aprikot serta buah cemara. Kini, seng lebih banyak dikonsumsi dalam bentuk suplemen. 4. Madu Protein merupakan salah satu nutrisi penting pembangun imunitas. Dan, madu merupakan salah satu makanan sumber protein, yang mampu menjaga stamina tubuh, jika dikonsumsi secara teratur setiap harinya. Menurut hasil penelitian Y. Widodo, peneliti pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi di Bogor, madu dapat membantu mengatasi kekurangan energi protein yang banyak diderita anak-anak dan balita. Penelitian Peter C. Molan (1992), peneliti dari Departement of Biological Sciences, University of Waikoto, di Hamilton, Selandia Baru, membuktikan madu mengandung zat antibiotik yang aktif melawan serangan berbagai patogen penyebab penyakit. Beberapa penyakit infeksi dari berbagai patogen yang dapat “disembuhkan” dan dihambat dengan madu secara teratur antara lain penyakit lambung dan saluran penpencernaanan; penyakit kulit, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), batuk dan demam, penyakit jantung, hati, paru, dan penyakit-penyakit yang dapat mengganggu mata, telinga, dan syaraf. 5. Omega 3 Minyak ikan adalah salah satu zat gizi yang mengandung asam lemak kaya manfaat bagi kesehatan, karena mengandung sekitar 25% asam lemak jenuh dan 75% asam lemak tidak jenuh. Asam lemak tak jenuh ganda di dalam minyak ikan akan membantu proses tumbuh-kembang otak (kecerdasan), serta perkembangan indera penglihatan dan sistem kekebalan tubuh bayi dan balita. Minyak ikan mengandung DHA dan EPA, yang gabungan keduanya dikenal sebagai omega-3. Jenis ikan laut yang kaya kandungan omega-3 antara lain salmon, tuna (khususnya tuna sirip biru, tuna sirip kuning, dan albacore), sardin, herring, makerel, dan kerang-kerangan. 6. Prebiotik Prebiotik dapat menumbuhkan bakteri baik dalam sistem penpencernaanan dan mencegah timbulnya alergi dalam tubuh anak. Menurut Dr Zakiudin, mengkonsumsi prebiotik sangat baik dalam memperkuat kekebalan terutama dalam saluran pencernaan. Karena bila kekebalan saluran pencernaan baik, kekebalan tubuh secara umum juga akan baik. Selain berfungsi memelihara bakteri baik, prebiotik juga secara tidak langsung mampu menyeimbangkan sistem kekebalan tubuh sekaligus menekan resiko alergi. Sumber prebiotik dapat diperoleh dari makanan alami seperti gandum, bawang, pisang, bawang putih, madu, dan kacang-kacangan. Ada pula yang dalam bentuk lain atau ditambahkan dalam susu formula. 7. Meniran Ekstrak daun meniran atau Phyllantus Niruri L, adalah salah satu obat herbal yang telah dikembangkan menjadi obat yang membuat sistem imun lebih aktif dan maksimal menjalankan fungsinya atau disebut immunodulator. Obat herbal ini kini telah dikembangkan menjadi suplemen imunitas bagi anak-anak. 8. Kalsium Sistem imunitas bertugas mengadakan perlawanan terhadap bermacam-macam kuman dan

18

menelan berbagai benda asing yang berada dalam tubuh. Dalam proses membasmi musuh dari luar ini, yang memberi aba-aba kepada sistem imunitas untuk menangkap musuh adalah ion kalsium. Sumber kalsium dari hewani antara lain adalah udang, daging sapi, kuning telur, ikan, dan susu. Sedangkan, sumber kalsium dari nabati antara lain adalah sayuran berdaun hijau seperti brokoli, daun singkong, daun pepaya, dan bayam. Selain itu, kalsium juga banyak terkandung dalam biji kenari, wijen, almon, kacang kedelai, dan kacang merah. 9. Vitamin C Vitamin C sangat penting peranannya dalam tubuh karena mampu meningkatkan ketahanan tubuh terhadap infeksi dan mempercepat penyembuhan luka. Fluktuasi lingkungan yang mengakibatkan kesehatan tidak selalu berada pada kondisi yang optimal, membuat tubuh harus selalu memiliki sistem kekebalan yang baik. Salah satunya adalah oleh asupan vitamin C yang memadai. (sumber : ibudanbalita.com) TIPS AGAR ANAK TIDAK BOROS Kasih sayang orang tua terhadap anak memang tidak ada batasnya. Namun kasih sayang terhadap anak bukan berarti semua yang diinginkan oleh anak mesti dipernuhi oleh orang tua. Orang tua juga mesti mempertimbangkan apa yang sebaiknya dipenuhi dari permintaan si anak, apa yang mesti ditunda dilain waktu, serta apa yang tidak harus diberikan. Tanpa memikirkan prioritas untuk anak, apa yang diminta langsung diberi, maka tidak jarang anak semakin lama justru akan menjadi manja. Semua keinginan harus dituruti, entah itu sebenarnya bermanfaat atau enggak untuk mereka. Akibatnya pengeluaran keluarga juga menjadi semakin tidak terkendali. Untuk mengatasi perilaku boros pada anak, simak tips berikut :

Sebelum mengajarkan perilaku hemat pada anak, orang tua sebaiknya memberikan contoh pada anak agar tidak boros atau berlaku konsumtif. Bagaimanapun juga anak akan meniru apa yang ada dilingkungan dekatnya terlebih dahulu, termasuk orang tua. Jika anak menginginkan beberapa barang sekaligus, tanyakan pada anak barang mana yang urgent untuk saat ini, buat urutan skala prioritas. Beritahukan pada anak bahwa tidak semua keinginan itu harus dipenuhi saat ini, tetapi pilih barang mana yang ditamakan segera dimiliki untuk saat ini, tentu menyesuaikan dengan dana yang tersedia. Tidak semua barang yang diinginkan anak mesti dipenuhi. Saat ini banyak permintaan oleh anak yang tidak semestinya harus dituruti, misalnya anak Anda yang masih SD minta dibelikan HP karena melihat teman kelasnya membawa HP. Orang tua harus dapat menjelaskan bawah barang tersebut tidak perlu untuk saat ini, bahkan malah kemungkinan akan mengganggu belajar. Ajarkan pada anak untuk mengatur keuangan sendiri. Orang tua mencoba memberikan uang saku pada anak untuk jangka waktu satu minggu sekaligus. Disitu anak diajarkan tanggung jawab mengatur keuangannya sendiri, dan mencoba berhemat.

19

Pujilah anak Anda jika telah berhasil mengatur keuangan sendiri sesuai waktu yang telah ditentukan. Selalu konsisten dengan peraturan yang ada, jangan sampai Ibu membatasi uang saku, tetapi Ayah malah memenuhi apa saja keinginan anak. Bicarakan rencana tersebut dengan pasangan dan pengasuh Anda. Jangan lupa, ajarkan juga kepada Anak untuk menyisihkan sebagian uang saku untuk ditabung, misalnya untuk memberi barang-barang yang selama diinginkan anak dikemudian hari atau untuk membantu orang lain.

sumber: kaskus.us

AIR KEMASAN

{lang: 'id'}

“Air kemasan adalah air yang bersih dan sehat” – Itulah yang para produsen dan pemasar ingin Anda percayai. Pemasar tanpa lelah membombardir kita dengan gambar indah dari mata air pegunungan yang mengalir, murni, puncak gunung es, artis yang menenggak air kemasan ketika bersepeda. Jangan sampai Anda mempercayai semua itu. Air kemasan adalah bisnis besar, dengan penjualan di seluruh dunia diproyeksikan untuk menjadi antara $ 50 dan $ 100 miliar per tahun. Tapi apakah botol kemasan benar-benar lebih murni daripada air keran biasa disaring di rumah Anda? Nah, mengingat bahwa banyak merek-merek ternama sebenarnya hanya menyaring air keran, hal ini dianggap bahwa air kemasan lebih murni daripada air keran bahkan dari sumber mata air alam. Yang benar adalah, air kemasan biasanya mahal, kadang-kadang tidak sehat, dan selalu merusak lingkungan. Artikel ini tidak mengajak Anda ramai-ramai meninggalkan SEMUA air kemasan, karena ada juga air kemasan yang benar-benar sehat. Artikel ini bertujuan untuk memberikan kewaspadaan supaya kita bisa lebih bijaksana dalam mengambil keputusan yang berhubungan dengan kesehatan kita dan keluarga.

Kimia Plastik
Kebanyakan air kemasan dalam kemasan kecil terbuat dari bahan plastik polyethylene terephthalate (PET), yang dapat melepaskan senyawa kimia plastik berbahaya dan pengganggu hormon ke dalam air kemasan tersebut. Air minum kemasan dalam kemasan lebih besar juga tidak lebih baik. Pada tahun 2000, Consumer Reports menemukan bahwa 8 dari 10 galon besar yang mereka uji meninggalkan disruptor endokrin berbahaya bisphenol A (BPA) dalam air kemasan

20

tersebut. BPA telah dikaitkan dengan kanker payudara, kanker prostat dan diabetes serta gangguan reproduksi. Lebih parah lagi, pelepasan bahan plasitik ke dalam air kemasan akan makin meningkatkan seiring usia kemasan dan paparan terhadap panas.

Bakteri Berbahaya
Anda beresiko meminum suatu koloni bakteri dengan rutin minum air kemasan tertentu. Ketika NRDC (National Resources Defense Council) menguji lebih dari 1000 botol air, termasuk 103 merek air kemasan, organisasi tersebut menemukan bahwa 1/3 dari merek yang ada mengandung arsenik, bakteri dan organik sintetik melebihi batas yang diijinkan. Dan pengujian NRDC ini tidak sendirian. C-crest Laboratories Kanada, sebuah perusahaan pengujian farmasi di Montreal, menemukan bahwa 70% dari selusin merek air kemasan diuji memiliki tingkat tinggi bakteri heterotrofik, yang bersifat patogen dan menyebabkan penyakit menular seperti E. coli. United States Pharmacopoeia mengatakan, bakteri heterotrofik dalam air minum sebaiknya tidak melebihi 500 unit koloni (CFUs) per mililiter, namun tingkat tertinggi dari sampel dicatat adalah 80.000 CFUs per mililiter!

Kualitas Buruk
Environmental Protection Agency (EPA) memiliki pedoman ketat untuk air keran tetapi tidak mengawasi air kemasan. Sebaliknya, air kemasan diatur oleh Food and Drug Administration (FDA = BPOM-nya Amerika), yang memiliki peraturan yang lebih lemah dan menerapkan aturan EPA hanya selektif untuk air kemasan. Juga, FDA hanya memeriksa air kemasan jika melintasi batas negara, dan sekitar 70% dari air kemasan tidak pernah meintasi batas negara, sehingga dibebaskan dari pengawasan FDA. Kebenarannya adalah, rasa air kemasan dan kualitas dapat berkisar dari sangat baik sampai sangat buruk tergantung pada merek, dan itu adalah masalah serius untuk industri. Sayangnya, seperti kucing dalam karung, Anda tidak pernah tahu apa yang akan Anda dapatkan.

Distribusi Buruk
Banyak dari air dalam kemasan galon diangkut di atas truk atau mobil pick-up yang terbuka, dimana air galon tersebut terpapar panas sinar matahari selama dalam perjalanan distribusi. Hal ini membuat senyawa plastic terlepas dan bercampur ke dalam air serta menciptakan proses kimiawi yang dapat membahayakan kesehatan Anda.

Terlalu Mahal
Harga air botol bisa 500-3.000 kali lebih mahal dari air keran. Karena banyak produsen air kemasan yang paling airnya hanya disaring dari air keran, itu jauh lebih masuk akal untuk hanya membeli alat pemurni air dan memurnikan air sendiri di rumah. Memiliki pemurni air sendiri akan

21

memberikan air bersih yang rasanya sama denga air kemasan tetapi dengan biaya yang jauh lebih rendah.

Tidak Ramah Lingkungan

Ketergantungan kita untuk minum air kemasan memberikan kontribusi besar terhadap polusi global. Diluar niat baik kampanye daur ulang, 85% dari botol PET terus dibuang, jatuh di sekitar kita sebagai sampah, atau sebagian lagi surut di laut dan mengancam kehidupan laut. Pada tahun 2006 produksi air kemasan yang digunakan setara dengan lebih dari 17 juta barel minyak, melepaskan lebih dari 2,5 juta ton karbon dioksida. (sumber: http://healindonesia.wordpress.com) BAHAYA MINUMAN ENERGI

Bahaya Minuman Berenergi Untuk Anak
Kesehatan | Firdaus | 6 June, 2011 Jam 05:39 - dibaca sebanyak 796 kali

{lang: 'id'}

Para dokter mengatakan orang tua seharusnya tidak pernah memberi anak-anak mereka minuman berenergi karena kandungan tingkat kafeinnya sangat berbahaya. Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Paediatrics menemukan minuman berenergi mengandung hingga 14 kali lebih banyak kafein dari minuman ringan lainnya. Maka, kandungan ini bisa dianggap sebagai ‘racun’ untuk anak-anak. Peringatan terhadap minuman berenergi dan olahraga menyatakan bahwa mereka mengandung kalori ekstra yang kebanyakan tidak dapat dibakar . Minuman berenergi juga mengandung gula yang dapat menyebabkan kerusakan gigi. Mereka meminta orang tua untuk lebih memberikan air putih pada anak-anak mereka. Air putih diklaim sebagai minuman terbaik untuk sebagian besar anak-anak yang melakukan aktivitas fisik rutin. Minuman berenergi mengandung stimulan, termasuk kafein yang dikaitkan dengan diabetes, masalah jantung, masalah perilaku, dan bahkan kematian dini. Minuman olahraga mengandung karbohidrat, mineral, dan elektrolit, serta dirancang untuk menggantikan air dan elektrolit yang hilang melalui keringat. Penelitian itu mengkritik iklan yang mendorong anak muda untuk percaya bahwa minuman berenergi dapat membantu mereka mencapai puncak kinerja fisik. Merek minuman energi yang disorot dalam laporan itu termasuk Red Bull, Monster dan Rockstar. Adapun minuman olahraga yang disebut adalah All Sport, Gatorade dan Powerade.

22

Dr Holly Benjamin, penulis utama laporan dan dokter di Rumah Sakit Anak Comer yang merupakan bagian dari University of Chicago, mengatakan kepada Independen, “Minuman olahraga mengandung kalori ekstra yang tidak diperlukan anak-anak dan dapat memberikan kontribusi untuk obesitas dan kerusakan gigi.” Para ahli menyerukan produsen untuk membuat perbedaan jelas antara minuman berenergi dan minuman olahraga. Dr Marcie Beth Schneider, penulis dan anggota Komite Nutrisi American Academy of Paediatrics mengatakan, “Beberapa anak minum minuman berenergi yang mengandung sejumlah besar kafein, padahal tujuan mereka adalah hanya untuk rehabilitasi setelah latihan.” “Hal ini berarti mereka menelan sejumlah besar kafein dan stimulan lainnya yang bisa berbahaya.” Dia mengatakan beberapa minuman berenergi dapat memiliki lebih dari 500mg kafein, setara dengan 14 kaleng soda. Penelitian mengatakan minuman olahraga dapat mengandung 10-70 kalori per porsi dan minuman energi hingga 270 kalori.

Bahaya Minuman Energi Bagi Anak
Minuman energi biasanya menjadi minuman pokok di kalangan mahasiswa dan anak-anak klub. Sebuah penelitian yang tercantum dalam jurnal Pediatrics terbaru menemukan, minuman energi ini cenderung berbahaya bagi kesehatan anak-anak.Kandungan kafein dalam minuman tersebut malah membuat anak lelah. Minuman ini memang dipasarkan untuk meningkatkan energi, daya tahan, dan meningkatkan kinerja. Namun minuman ini cenderung berbahaya bagi kesehatan, khususnya menghawatirkan bagi anak-anak dengan kondisi ADHD, diabetes, atau gangguan jantung. Ketua Departemen Pediatri di University of Miami, Dr Steven Lipshultz, dan rekan-rekannya mengumpulkan semua penelitian mengenai efek kesehatan dari minuman energi dan menemukan bahwa tidak hanya 30% sampai 50% anak-anak yang mengonsumsinya. Sementara minuman tersebut dapat merugikan dengan tidak meningkatkan tingkat kinerja atau energi secara substansial. Apa yang menjadi kekhawatiran dokter anak adalah kenyataan bahwa minuman energi yang diklasifikasikan sebagai suplemen, tidak mengikuti aturan Food and Drug Administration (FDA). Itu berarti mereka tidak mengikuti batas aman yang ditentukan FDA yang dapat berpotensi berbahaya bagi kesehatan, seperti kadar kafein (komponen utama minuman energi) yang harus diikuti. Sebelum tahun 2010, pusat kontrol racun AS tidak melacak efek samping dari minuman energi khusus. Mereka hanya memonitor masalah yang timbul dari overdosis kafein. Ketika dikonsumsi dalam jumlah cukup tinggi selama jangka waktu yang cukup lama, kafein dapat menyebabkan perubahan dalam aliran darah dan mengurangi sensitivitas insulin, yang mempengaruhi kemampuan tubuh untuk mengatur gula dari makanan. Di Jerman, para pejabat kesehatan telah melacak efek bagi kesehatan dari minuman energi sejak tahun 2002. Efek samping minuman tersebut antara lain kerusakan hati, kejang, denyut jantung yang cepat, gangguan pernapasan hingga kematian.

23

Penemuan yang juga mengejutkan, bahwa pengawasan kandungan minuman energi kurang, yang memungkinkan produsen minuman energi untuk memasukkan bahan-bahan potensial lain dalam produk mereka. Berdasarkan label pada kaleng mereka, misalnya, beberapa minuman energi mengandung kafein dua kali lipat sebagai stimulan NoDoz, kandungan kafein melebihi tiga kali lipat yang ditemukan dalam soda berkafein. Minuman energi juga terkadang tak menyebutkan zat tambahan lainnya seperti guarana, yerba mate dan biji coklat (kakao). Secara umum, kafein dapat mengganggu tidur anak-anak, dan menyebabkan gabungan masalah energi karena kurang tidur juga bisa membuat anak lebih lesu dan lelah. Beberapa anak yang mengonsumsi minuman energi ini berisiko menimbulkan efek samping, seperti anak-anak yang memiliki attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) dan sedang pengobatan (mengonsumsi obat untuk terapi). Dengan tambahan stimulan dalam minuman berenergi terhadap obat-obatan, cenderung tidak dapat memproduksi efek yang diinginkan untuk meningkatkan konsentrasi. Anak-anak dengan diabetes juga harus berhati-hati minum terlalu banyak minuman energi, karena beberapa dari minuman mengandung gula dan bahan-bahan lain yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan dalam gula dan tingkat insulin

Jauhi Minuman Berenergi
Sekelompok dokter di Amerika Serikat mendorong anak-anak dan remaja, untuk menghindari minuman berenergi dan hanya mengonsumsi minuman sejenis sport drink dalam jumlah terbatas. Rekomendasi itu datang menyusul terjadinya perdebatan nasional mengenai efek samping minuman berenergi. “Anak-anak tidak perlu minuman energi,” kata Holly Benjamin dari American Academy of Pediatrics. “Minuman itu mengandung zat kafein dan stimulan lainnya yang tidak bergizi, sehingga Anda tidak membutuhkan minuman-minuman jenis itu.” Menurut benjamin, anak-anak kemungkinan akan lebih rentan terkena efek samping minuman berenergi ketimbang orang dewasa. “Jika Anda mengonsumsi minuman berenergi secara teratur, itu bisa menekan tubuh Anda. Anda pastinya tidak ingin melihat pertumbuhan tubuh anak Anda terganggu,” katanya. Dalam jurnal yang diterbitkan Pediatrics, para peneliti sebelumnya menyatakan bahwa minuman berenergi dan minuman olahraga tidak mengandung stimulan. Menurut mereka, minuman energi mengandung tumpukan zat, termasuk vitamin dan ekstrak herbal, dengan efek samping yang belum dipahami dengan baik. Meskipun belum ada banyak kasus terkait minuman tersebut, stimulan yang ditemukan diduga dapat mengganggu irama jantung dan dapat menyebabkan kejang pada kasus-kasus tertentu. Awal tahun ini, para dokter anak di Florida memublikasikan tinjauan literatur lain pada minuman energi.

24

Para dokter itu menjelaskan, adanya kejang, delusi, masalah jantung, dan ginjal atau kerusakan hati, pada orang yang sudah meminum satu atau lebih minuman berenergi nonalkohol. Sejumlah merek minuman disebutkan para peneliti, di antaranya Red Bull, Spike Shooter, dan Redline. Walaupun mereka mengakui bahwa kasus-kasus semacam itu sangat langka dan tidak dapat meyakinkan hubungan langsung dengan minuman, mereka merekomendasikan agar berhati-hati. Terutama, anak-anak dengan kondisi medis tertentu. Menurut Benjamin, air putih merupakan jalan terbaik untuk memuaskan dahaga bagi anak-anak. Jika seorang atlet muda, minuman olahraga kemungkinan bisa membantu juga, karena mengandung gula. Tetapi, bagi anak-anak yang cenderung tidak aktif, minuman olahraga dan energi hanya berefek menambah berat badan dan memicu epidemi obesitas nasional. sumber: kaskus.us TIPS MEMBEDAKAN MADU

Tips Membedakan Madu Asli dan Palsu
Madu | Firdaus | 30 June, 2011 Jam 00:55 - dibaca sebanyak 772 kali

{lang: 'id'}

Madu palsu atau tiruan adalah larutan yang menyerupai madu. Dibuat tanpa pertolongan lebah atau menggunakan gula sebagai nektar. Umumnya mempunyai warna sama dengan madu asli. Karena itu bagi orang awam sulit untuk membedakan antara madu asli dan madu tiruan. Pada perusahaan-perusahaan yang telah mendapat izin produksi akan mencantumkan keterangan produknya sehingga dapat diketahui apakah itu madu asli atau sintetis. Madu sintetis yang beredar di antaranya adalah madu melon, labu semangka, dan kurma. Sejak lama madu palsu telah banyak diproduksi orang. Dengan cara mencampur glukosa dengan gula pasir, buah, flavour serta zat warna. Di laboratorium madu palsu akan mudah dikenali dengan analisis kimia. Kandungan HMF (5 hydroxyl-methyl furfural) dengan jumlah maksimum 3mg/100gram, aktivitas enzim diastase minimal 5 serta rasio kandungan kalium (K) dan natrium (Na) dalam madu asli sekitar 4,0 sedangkan madu palsu 0,005-0,1. Pengujian kadar keaslian madu memang tidak gampang, di samping biayanya juga mahal. Dibutuhkan alat-alat canggih untuk mendeteksi ada tidaknya campuran dengan gula lainnya di dalam madu. Sementara, khasiat madu yang sudah jelas manfaat bagi kesehatan, membuat para pedagang nakal melakukan campuran dengan gula tebu atau gula aren. Bagi orang kebanyakan, rasa manis yang dikeluarkan oleh madu asli dan campuran sulit dibedakan. Dengan melihat dan merasakannya, ahli madu akan dapat membedakan antara madu asli dan yang palsu. Salah satu pengujian yang paling praktis adalah dengan menggunakan pH meter. Madu palsu biasanya memiliki pH 2,4-3,3 atau di atas 5, sedangkan madu asli mempunyai pH 3,4-4,5. Untuk

25

mengetahui lebih lanjut dapat dilakukan uji kandungan madu di laboratorium. Salah satu laboratorium tempat pengujian madu terdapat di Bogor. Madu di Indonesia sendiri terbagi menjadi dua, yaitu madu hasil lebah ternak dan madu hutan. Yang dimaksud madu ternak adalah madu tersebut diambil dari nektar bunga pohon-pohon tertentu seperti rambutan, kelengkeng, durian dan sebagainya. Ketika pohon-pohon tersebut sedang berbunga, maka digiringlah lebah-lebah yang sudah berada dalam kotak-kotak menuju perkebunan pohon tersebut. Ciri khas dari madu ternak adalah aroma madunya sesuai dengan nektar bunga dari pohon yang dihinggapi. Sedangkan madu hutan, lebih variatif nektar bunganya karena dihisap dari berbagai pohon. Madu hutan ini dikenal lebih baik karena lebih banyak mengandung nutrisi yang terdiri dari mineral dan vitamin. Jenis tawon madu hutan pun lebih baik daripada tawon madu ternak. Madu terbaik jenis ini tidak akan beku walaupun diletakkan di freezer selama berbulan-bulan karena kadar airnya di bawah 20%. Kendati demikian, baik madu hutan maupun madu ternak mempunyai kelemahan. Ketika dipanen pada musim hujan madu akan banyak mengandung air hujan, sedangkan sifat air hujan sendiri bersifat asam. Selain menyebabkan lebih cair, madu juga teroksidasi udara menjadi lebih asam dan akan terfermentasi. Akibatnya, timbul gas yang bisa menjebol tutup botolnya. Semut pun tidak mau menghampiri karena rasanya yang masam-masam manis. Bila madu jenis ini dimasukkan ke dalam freezer akan mudah beku, meski termasuk asli. Sebenarnya, ada beberapa cara untuk mengetahui keaslian madu secara ilmiah. Misalnya dengan analisis karbon, analisis mikroskopis, analysis hydroxymethylfurfural, analisis polaritas cahaya dan terakhir tes keasaman. Dari lima cara tersebut, empat yang pertama harus menggunakan alat bantu yang cukup mahal harganya dan keahlian tertentu. Jadi, tidak semua orang bisa melakukannya. Sedangkan tes keasaman, merupakan tes yang terbilang relatif mudah dan tidak mahal. Tapi, masih tetap memerlukan pengetahuan tentang madu yang mendalam. Jika tidak, tetap akan sulit membedakan mana madu asli, madu campuran, dan madu buatan (artificial honey). Di masyarakat berkembang kebiasaan uji keaslian madu yang ditunjukkan menyala ketika dibakar dengan korek api, telur bisa matang, tidak rembes ketika diteteskan pada kertas koran, dan sebagainya. Pengujian tersebut sebenarnya tidak seratus persen benar, masih butuh pembuktian melalui laboratorium. Sebenarnya masih ada cara lain yang bisa menjadi tolok ukur dan dilakukan oleh semua orang, yakni dengan meneteskan madu di air di atas piring beling putih. Ketika piring digoyang ke kiri dan ke kanan, maka sebelum madu itu bercampur akan membentuk segi enam atau sarang lebah. Semakin lama bentuk segi enam itu bertahan, berarti semakin baik nutrisi yang terkandung dalam madu tersebut alias madu asli. Semakin cepat bentuk segi enam itu memudar, maka jelaslah itu madu campuran, karena nutrisinya sudah jauh berkurang. Cara lain yang mungkin mudah dilakukan adalah sama seperti di atas, namun piringnya tidak digoyang-goyang. Cukup didiamkan saja. Madu asli yang memiliki kadar air rendah tidak akan membuat air di piring menjadi keruh. Sedangkan madu yang telah dicampur atau madu buatan

26

perlahan-lahan akan membuat air menjadi keruh. Apakah semut bisa menjadi patokan untuk menentukan madu itu asli atau tidak? Pada dasarnya, sifat semut suka pada yang manis-manis, termasuk rasa manis yang ada pada madu. sebab rata-rata kandungan madu adalah 80 % gula yang terdiri dari glukosa, fruktosa dan sakarosa serta 20 % air (Fatawa Vol.III/No.01 | Desember 2006 / Dzulqa’dah 1427) sumber: dwiheriyanto.wordpress.com dengan sedikit perubahan Saat ini banyak sekali beredar madu palsu. Namun, dengan mengerti sifat dan kandungan madu, dapat dinilai mana madu yang “asli” dan “palsu”, serta kualitas madu apakah baik atau jelek. Lalu bagaimana ciri-ciri madu yang asli, serta bagaimana cara membedakannya dengan madu palsu? Ada beberapa tipe pemalsuan pada madu yang biasa di lakukan oleh para pelaku pemalsuan madu :
1. Pemalsuan JUMLAH, dilakukan dengan menambah volume madu “asli” dengan madu

“palsu”, misalkan mencampurkan gula/madu buatan yang relatif lebih murah untuk kemudian diaduk. 2. Pemalsuan MUTU, biasanya dilakukan dengan mengubah kadar air madu yang tadinya tinggi, lalu diturunkan dengan pemanasan. 3. Pemalsuan MENYELURUH, yakni madu yang diklaim “asli” padahal sebenarnya 100% buatan, jadi bukan madu yang nerasal dari lebah dengan komposisi aslinya. Secara kasat mata memang sulit membedakannya, diperlukan pengujian kuantitatif untuk memastikan keaslian madu. Lewat uji kuantitas, madu dapat diperkirakan dipalsukan atau ditambahkan sesuatu apabila; kadar sukrosa madu naik, kadar enzim naik/turun, kadar abu menjadi naik/turun, daya hantar listrik naik, kandungan pollen dalam sedimen turun, kandungan mineral turun, aroma dan rasa berubah, kandungan HMF (Hidroksi metal Furfuraldehid) berubah, kadar protein turun, warnanya terang, madu mengandung PbCl2, PbSO4, anion dan kation. Kandungan HMF yang merupakan produk pemecahan glukosa dan fruktosa pada madu asli maksimal 3 mg/100 gram. Madu asli juga memiliki keasaman (pH) yang tetap berkisar 3,4-4,5, sedangkan pH madu palsu 2,4-3,3 atau diatas 5. Aktifitas enzim diastase pada madu asli yang berkualitas minimal 5 dengan rasio Kalium(K) dan Natrium(Na) sekitar 4,0. Pada madu palsu rasionya 0,05-0,1. Madu asli memiliki sifat khas memutar optic ke kiri yang bisa diperiksa dengan alat polarimeter. Secara sederhana, madu asli dan palsu dapat dibedakan dengan melihat ciri khas fisis madu asli sebagai berikut : 1. Cara pertama, meneteskan madu pada selembar kertas. Madu palsu akan mudah terserap kertas karena kandungan airnya tinggi. 2. Cara kedua, dengan mengocoknya. Madu asli akan membentuk gas atau uap air jika dikocok.

27

3. Cara keempat, dituang ke wadah berisi air. Madu asli akan langsung jatuh ke dasar wadah, sedangkan madu palsu cenderung akan menyebar. Itu adalah cara simpel membedakan madu asli dan palsu. Dan berikut ini ada informasi tambahan tentang ciri-ciri madu asli dan palsu : Madu yang beredar di Indonesia umumnya dihasilkan dari tiga jenis lebah; apis dorsata (lebah hutan), apis mellifera (lebah unggul) dan apis cerana (lebah lokal) yang ada di atas atap rumah. Dari segi kualitas, madu hutan (madu organik) berwarna hitam pekat lebih baik daripada madu yang di budidaya. Sayangnya, masyarakat Indonesia sudah terbiasa konsumsi madu budidaya berwarna coklat cerah. Akibatnya, madu hutan dianggap sebagai madu palsu. Banyak orang penasaran untuk membedakan madu asli yang dihasilkan lebah pencari makan di alam bebas dari madu palsu (sirup gula, misalnya). Disinyalir, peredaran madu palsu di Indonesia sangat tinggi. Uji coba madu asli atau palsu lewat aroma, semut yang mengerubuti, kekentalan jika diteteskan pada debu, belum jadi jaminan keaslian sebuah produk madu. Di laboratorium, kandungan glukosa pada madu murni agak dominan kelihatan dan kandungan sukrosa lebih menonjol pada madu palsu. Madu asli mengandung mineral seperti natrium, kalsium, magnesium, alumunium, besi, fosfor dan kalium. Vitamin dalam madu berupa thiamin (B1), riboflavin (B2), asam askorbat (C), piridoksin (B6), niasin, asam pantotenat, biotin, asamfolat dan vitamin K. Madu asli mengandung enzim sedangkan madu palsu tidak. Enzim tidak bisa dibuat manusia, dan hanya bisa dibuat lebah madu. Enzim-enzim terpenting dalam madu; diatase, invertase, glukosa oksidase, peroksidase dan lipase. Diastase merupakan enzim pengubah karbohidrat komplek (polisakarida) jadi karbohidrat sederhana (mono sakarida). Invertase merupakan enzim pemecah molekul sukrosa jadi glukosa dan fluktosa. Oksidase mengemban peran sebagai enzim pembantu oksidasi glukosa jadi asam peroksida. Enzim peroksidase melakukan proses oksidasi metabolisme. Semua zat berguna untuk proses metabolisme tubuh. Sedangkan madu palsu mengandung campuran glukosa dengan gula pasir, buah, flavour dan zat warna sangat merugikan kesehatan manusia. Ciri-ciri madu asli harus berwarna-warni, hitam pekat (berasal dari bunga akasia), hitam kemerah-merahan, kuning cerah, kekuning-kuningan atau kuning keputih-putihan (lebah budidaya). Bila mendapatkan madu dengan warna dan kekentalan sama perlu diwaspadai karena warna madu asli tidak pernah sama. Aroma juga bisa dijadikan media untuk menentukan asli atau palsunya sebuah produk madu. Madu asli punya aroma dan bau khas seperti madu dari bunga rambutan, kapuk randu atau kelengkeng. Ini berbeda dengan madu palsu yang sama sekali tidak beraroma.

28

Pengujian lain, madu asli bila dituangkan di atas piring sebanyak dua senduk lalu disirami air putih dan digoyang ke kanan ke kiri akan membentuk sarang lebah. Jika tidak menyebar bahkan bercampur dengan air, maka terkategori madu palsu. Konsumen juga dianjurkan untuk mencoba sendiri dengan menjadikan tubuh sebagai lab alam. Caranya, puasa selama 10 jam, lalu periksa gula darah. Katakan A minum madu 2-3 sendok. Sesudah 2 jam, periksa lagi gula darah. Katakan B bila madunya murni dan alami, selisih antara B dengan A kecil. Penderita diabetes mellitus (DM) yang berpengalaman minum madu bisa merasakan madu murni dan madu palsu. Bila setelah minum madu, badan jadi segar dan bertenaga kembali (sama seperti bukan penderita DM yang baru saja minum teh manis), itu menandakan madu yang baru diminum murni dan alami. Dalam tubuh penderita DM, madu diubah jadi tenaga (tanpa bantuan insulin). Sayangnya, saat ini banyak madu palsu yang menyerupai madu asli hingga cara-cara tersebut hanya bisa sebagai bahan pertimbangan saja. Tipsnya adalah dengan membeli madu di tempat yang sudah terpercaya. Bila terpaksa membeli di tempat lain, bandingkan apakah harganya tidak terlalu beda jauh dengan madu sejenis dari merk lain. Jika harganya sangat murah, bias jadi madu tersebut adalah madu buatan. Semoga informasi tentang cara memilih madu dengan membedakan ciri-ciri madu asli dan palsu ini bermanfaat bagi Anda. terbaruterkini.com

29

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->