SEMIOTIKA: TEORI, METODE, DAN PENERAPANNYA DALAM PEMAKNAAN SASTRA

1. Pengantar emiotika, ilmu tentang tanda-tanda, sudah lahir pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Akan tetapi, ilmu ini baru berkembang mulai pada pertengahan abad ke-20. Meskipun pada akhir abad ke20, dalam bidang penelitian sastra, sudah ada teori-teoti sastra yang baru seperti sosiologi sastra, teori dan kritik feminis, dekonstruksi, dan estetika resepsi, tetapi semiotika menduduki posisi dominan dalam penelitian sastra. Perlu dikemukakan di sini bahwa teori dan metode semiotika tidak dapat dipisahkan dengan teori strukturalisme karena seperti dikemukakan oleh Junus (1981 :17) bahwa semiotika itu merupakan lanjutan strukturalisme. Karena pentingnya semiotika dalam pemaknaan karya sastra, di sini, diuraikan teori, metode, dan penerapan semiotika dalam pemaknaan sastra secara ringkas dan garis besarnya saja. Oalam uraian ini dipergunakan teori dan metode semiotika Michael Riffaterre dalam bukunya Semiotics of Poetry (1978). Akan tetapi, dalam uraian ini sedikit dimodifikasi, tidak hanya diterapkan pada puisi (sajak), tetapi diperluas penerapannya pada karya fiksi (novel). Sebelum dilakukan penerapannya, perlu lebih dahulu diuraikan teori dan metode semiotika secara umum. 2. Kerangka Teori Semiotika, ilmu tentang tanda-tanda, mempelajari fenomena sosial-budaya, termasuk sastra sebagai sistem tanda (Preminger, 1974:980). Tanda mempunyai dua aspek, yaitu penanda (signifie, signifiant) dan petanda (signified, signifie) (Preminger, 1974:981-1982). Penanda adalah bentuk formal tanda itu dalam bahasa berupa satuan bunyi, ata~

S

huruf dalam sastra tulis, sedangkan petanda (signified) adalah artinya, yaitu apa yang ditandai oleh penandanya itu. Berdasarkan hubungan antara penanda dan petanda dan petandanya ada tiga jenis tanda, yaitu ikon, indeks, dan simbol. Ikon adalah tanda yang penanda dan petandanya menunjukkan ada hubungan yang bersifat alamiah, yaitu penanda sarna dengan petandanya, misalnya gambar, potret, atau patung. Gambar rumah (penanda) sarna dengan rumah yang ditandai (petanda) atau gambar rumah menandai rumah yang sesungguhnya. Indeks adalah tanda yang penanda dan petandanya menunjukkan adanya hubungan alamiah yang bersifat kausalitas, misalnya, asap menandai api, mendung menandai hujan. Kalau di lal:;lgitada mendung penanda kalau akan ada hujan. Simbol adalah tanda yang penanda dan petandanya tidak menunjukkan adanya hubungan alamiah; hubungannya arbitrer (semau-maunya) berdasarkan konvensi. Misalnya, kata "ibu" (penanda) menandai "orang yang melahirkan kita", dalam bahasa Inggris: mother, dalam bahasaPrancis la mere, dan sebagainya. Sebagian besar tanda bahasa berupa simbol. Hubungan antara penanda dan petanda bersifat konvensional, yaitu artinya ditentukan oleh konvensi. Oi samping ketiga tanda itu, ada tanda yang disebut simtom (gejala), yaitu penanda yang penunjukannya (petandanya) belum pasti, misalnya suhu panas orang sakit tidak menunjukkan penyakit tertentu. Suhu panas itu hanya menunjukkan bahwa orang itu sakit, tetapi apakah sakit malaria, tip us, atau influensa belum [elas sebab semua penyakit mesti diikuti suhu panas badan. Berdasarkan tanda-tanda itu, dicari tanda-tanda yang penting untuk pemak-

Pertama kali. dieari tema dan masalahnya dengan meneari matriks. Sebelum menjadi karya sastra. atau simbol. 1. Matriks ini adalah kata kunei (keyword). yaitu puisi itu merupakan ekspresi tidak langsung (Iihat 1a. (3) matriks. Oleh karena itu. Metode Pemaknaan Riffaterre Oalam buku Riffaterre. Pembaeaan heuristik ini belum memberikan makna sajak atau makna sastra (significance). . atau simbol. Oengan ditemukan matriks. burung pipit. Matriks itu harus diabstraksikan dari sajak atau karya sastra yang dibahas. atau kaneil. 3. pemburu menembak (memburu) kijang. la tidak menembak kodok. ditingkatkan menjadi sistem semiotik tingkat kedua. dalam lapangan semiotika. Arti bahasa menjadi arti sastra. yaitu dibaea berdasarkan tata bahasa normatif. karena tanda-tanda itu mempunyai makna berdasarkan konvensi. bahasa disebut sistem semiotik tingkat pertama yang kemudian menjadi tanda sastra. dan sintaksis. metode semiotik dalam pemaknaan sastra itu berupa penearian tanda-tanda yang penting sebab keseluruhan sastra itu merupakan tanda-tanda. Keempat hal itu adalah (1) puisi itu ekspresi tidak langsung. Ekspresi tidak langsung itu disebabkan oleh (a) penggantian arti (displacing of meaning). atau kalimat sederhana. dapat berupa satu kata. tidak semua binatang ditembak. berturut-turut sebagai berikut. model. Semiotics of Poetry. Pembaeaan hermeneutik adalah pembaeaan menurut sistern semiotik tingkat kedua (second order semiotics). indeks. Jadi. semantik.-- naan sastra. Karena dalam pemaknaan sastra dieari tanda-tanda yang penting itu. bagian kalimat.-/ ----. matriks bukan tema atau belum merupakan terna. 2. yaitu menyatakan suatu hal dengan arti yang lain. 1978:13.2). Makna ini arti dari arti (meaning of meaning) atau significance makna (Preminger. Misalnya. Oengan demikian. dan (4) hipogram (Riffaterre. Pembaeaan heuristik ini menghasilkan arti (meaning) sajak seeara keseluruhan menurut tata bahasa normatif sesuai dengan sistem semiotik tingkat pertama (first order semiotics). bahasa sudah merupakan tanda yang mempunyai arti (meaning). b. baik berupa ikon. ada empat hal yang penting. Keempat hal itu uraiannya sebagai berikut. (2) pembaeaan heuristik dan pembaeaan retroaktif atau hermeneutik. dan varian-variannya (Riffaterre. 1978:13. indeks. 1978:5-6). menyatakan suatu hal dengan arti yang lain (1978:1). sajak dibaea seeara heuristik. Matriks itu bukan kiasan. Hal ini seperti halnya para pemburu binatang di hutan memilih binatang yang diburu. Untuk pemaknaan sajak (puisi) dipergunakan metode dengan memperhatikan empat aspek pemaknaan. rusa. gabungan kata. Pembaeaan heuristik dan pembaeaan retroaktif atau pembaeaan hermeneutik (Riffaterre. sistern semiotika tingkat kedua (second order semiotics). dan varian-varian. karya sastra (sajak. (b) penyimpangan atau pemeneongan arti (distorting of meaning). memberi makna itu meneari konvensi-konvensi apa yang menyebabkan tanda-tanda itu mempunyai arti atau makna. Karya sastra itu adalah karya seni yang bermedium bahasa.1974:981-982). 1978:1.. Pembaeaan retroaktif dan hermeneutik itu berdasarkan konvensi sastra. Pertama. pada hakikatnya memahami sastra itu oleh Culler disebut memburu tanda-tanda dalam bukunya The Pursuit of Signs (1981). nanti akan ditemukan tema. c). Oleh karena itu. sistem semiotik tingkat pertarna (first order semiotics). 19-21) lebih dahulu. atau belalanq. yang harus diperhatikan dalam pemaknaan sastra. apakah tanda itu ikon. Oi samping itu. model. fiksi) harus dibaea ulang (retroaktif) dengan memberikan tafsiran (hermeneutik) (Riffaterre 1978:5-6). Oleh karena itu.14-15). Puisi itu merupakan ekspresi tidak langsung. dan kedua. rnaka arti sastra ini disebut significance atau makna. Untuk memperjelas (dan mendapatkan) makna sajak (karya sastra) lebih lanjut. 1978:19-21). dan (c) penclptaan arti (creating of meaning) (Riffaterre. Bahasa adalah bahan sastra (karya sastra). Matriks itu tidak dieksplisitkan dalam sajak (karya sastra) (Riffaterre. ada dua sistem semiotik. yang semuanya tidak penting untuk tujuan pemburuannya: meneari daging binatang dan layak dimakan. morfologi. Matriks ini "mengarah pada tema". 3.

rawa-rawa mengganti tempat yang tidak baik. aturan-aturan adalah teks. Dewa mengganti Tuhan. yaitu teks yang menjadi latar belakang penciptaannya. sinekdoki. atau cerita lisan.__ . Dalam bait ketiga: Bumi adalah perempuan jalang. Begitu pula.. menurut Riffaterre (1978:2). OEWA TELAH MATI Tak ada dewa di rawa-rawa ini Hanya gagak yang mengakak maJam hari Dan siang terbang mengitari bangkai Pertapa yang terbunuh dekat kuil Dewa teJah mati di tepi-tepi ini Hanya uJar yang mendesir dekat sumber Lalu minum dan mulut Pelacur yang tersenyum dengan bayang sendiri Bumi ini perempuan jalang Yang menarik laki-Jaki jantan dan pertapa Ke rawa-rawa mesum ini Dan membunuhnya pagi hari (Sastrowardojo. Dengan keempat komponen pemaknaan di atas.1 Puisi itu Ekspresi Tidak Langsung Riffaterre (1978:1) mengemukakan bahwa puisi itu dari waktu ke waktu selalu berubah disebabkan oleh perbedaan konsep estetik dan evolusi selera. saJak dapat dimaknai secara penuh atau lebih penuh daripada tanpa metode analisis intertekstual. pertapa: orang suci.. metafora.: 11_. bahkan juga bagian-bagian fiksi (alinea. mengiaskan bumi ini sebagai barang maksiat: pelacur. di ra- Ll •• : "'_ 4'" . 3. ". adat. Varian ini merupakan transformasi model pada setiap satuan tanda: baris atau bait. bangkai: barang (hartal yang haram. ada ketaklangsungan ekspresi dalam puisi atau sajak. Dengan adanya hipogram itu. 4. Akan tetapi. kuil: tempat peribadatan. ada satu yang tetap. bahkan pertapa: pemuka agama/pemeluk agama pun tertarik barang maksiat. sumber: tempat/pusat rezeki. ular itu minum dari (dengan) rnulut pelacur. Sering kali sajak itu (karya sastra) merupakan transformasi teks lain (teks sebelumnya) yang merupakan hipogramnya. yang menarik lelaki jantan (hanya mengumbar hawa nafsu).:. benda-benda alam adalah teks. disebabkan oleh tiga hal. Menurut Julia Kristeva. gagak adalah metafora untuk orang jahat.. malam hari: masa yang gelap waktu orang-orang jahat melakukan kejahatannya. pemaknaan membuat makna sajak (karya sastra) menjadi lebih penuh. Pelacur adalah metafora yang mengiaskan orang yang suka menjual dirinya dengan KKN. Misalnya. Dari matriks model. dan varian-varian ini. pohon itu teks.1. batu. Ketaklangsungan ekspresi itu. Matriks dan model ditransformasikan menjadi "varian-varian". menurut mitos ular penjelmaan setan yang menggoda Adam dan Hawa untuk makan buah terlarang. maka dilakukan analisis metode intertekstual dengan "menjajarkan" sajak (karya sastra) yang dimaknai dengan sajak (karya sastra) lain yang menjadi hipogramnya. Jadi. dapat "disimpulkan" atau "diabstraksikan" tema sajak (karya sastra). dari nomor 1 sampai nomor 4. . masyarakat. Akan tetapi..1 Penggantian Arti Yang dimaksudkan dengan rnetafora dan metonimi adalah bahasa kiasan pada umumnya. Varian-varian itu berupa "masalahnya". yaitu (1) penggantian arti (displacing of meaning). dan (3) penciptaan arti (creating of meaning). dalam sajak Subagio Sastrowardojo berikut dipergunakan banyak metafora. dunia ini adalah teks. 1978:2). (2) pemencongan arfi (distorting of meaning). 1975:9) Penggantian arti disebabkan oleh metafora dan metonimi (Riffaterre.. tempat terjadinya kejahatan. _.Matriks itu sebagai "hipogram" intern yang ditransformasikan ke dalam (menjadi) model yang berupa kiasan. bahasa. yaitu puisi itu menyatakan suatu hal dengan arti yang lain. 3.1\ . "72 Dalam sajak di atas banyak dipergunakan metafora. seperti air. yaitu simile (perbandingan). Dalam bait kedua: tepi-tepi adalah tempat pinggir.. Oleh karena itu. dan metonimi. bab yang merupakan wacana). sama dengan rawa-rawa. baik metafora eksplisit maupun metafora implisit.. teks bukan hanya tulisan. Jadi. tidak halal. tempat terjadinya kejahatan. ia masih tersenyum dengan bayangannya sendiri (di cermin) yang menyombongkan kecantikannya. kegagahannya karena mempunyai harta kekayaan yang didapat dengan menjual harga dirinya. personifikasi. Ular adalah orang jahat.

dalam sajak di atas. Orang-orang hanya memuaskan hawa nafsu di tempattempat mesum.wa-rawa mesum: tempat-tempat berbuat maksiat. sedangkan "sihka" itu "dendam" atau "kebencian". Nonsense ini berupa deretan bunyi tanpa arti. yaitu orang tidak percaya lagi kepada Tuhan. dan lupa kepada Tuhan. dapat ditafsirkan bermacam-macam menurut konteksnya. atau juga mempunyai makna lain sesuai dengan konteks.. di situ justru hati manusia sudah tidak percaya pada Tuhan. kallrnat.1.. mengumpulkan harta yang (dengan cara) tidak halal. ! nama kalian bebas carilah Tuhan semaumu (8achri. 3. tepi-tepi dapat ditafsirkan sebagai tempat yang penuh kejahatan. "bangkainya". tetapi berdasarkan konvensi. paradoks. khususnya sajak dapat . Nonsense ini untuk mempengaruhi dunia gaib.dewa tidak pernah mati. di antaranya (a) enjambement.3 Penciptaan Arti Penciptaan artidisebabkan oleh pengorgailisasian ruang teks. kolusi. Orang yang suka melacur akan kena penyakit raja singa atau Aids yang dapat membunuhnya. tetapi dalam karya sastra. Dalam teks biasa (bukan teks sastra). dan (c) nonsense (Riffaterre. tetapi mempunyai makna gaib. (b) sajak. kata rawa-rawa. Nonsense itu tidak mempunyai arti. Misalnya. dan sebagainya. "Pertapa yang terbunuh dekat kuil" adalah ironi. dapat berbalik menjadi tragedi "winka & sihka": perceraian karena dendam dan kebencian. Contoh nonsense dalam penggalan sajak Sutardji "Amuk" berikut bermakna mempengaruhi dunia gaib. Nonsense juga dapat bermakna lucu atau kebalikan. 3. yaitu makna kebalikan dari arti kata yang dibalik. kemesuman. yang tidak ada dalam kamus. korupsi. Misalnya Sajak Sutardji Calzoem Bachri yang berjudul "Tragedi Winka dan Sihka" "winka" dan sihka" itu nonsense dari kata "kawin" dan "kasih". yaitu saat akan timbulnya harapan. 1981 :68) :2). hartanya yang haram dan tidak halal dikelilingi oleh "gagak". Jadi. "Kasih" itu cinta. Nonsense adalah "kata-kata" yang tidak mempunyai arti. Pertapa yang berbuat kejahatan dan berbuat maksiat itu pada hakikatnya sudah terbunuh. tetapi melalui jalan kehidupan "yang berliku-liku penuh bahaya". "Kawin" itu persatuan (pertemuan).1. biasanya untuk mengejek atau memperolok. Semua itu merupakan olok-olok untuk hal-hal yang kontradiktif. Nonsense ini banyak terdapat dalam mantra atau sajak bergaya mantra seperti sajak-sajak Sutardji Calzoum Bachri. sedangkan "winka" itu perpisahan atau perceraian. Perkawinan yang penuh kasih dan cinta itu yang pada mulanya penuh kebahagian. Ironi menyatakan sesuatu secara kebalikan. "Dewa telah mati" itu ironi. Pada pagi hari.2 Penyimpangan Arti atau Pemencongan (c) Penyimpangan atau pemencongan arti ini disebabkan oleh (a) ambiguitas. dan (d) homologue. ruang teks itu tidak ada artinya. (a) Ambiguitas disebabkan oleh penggunaan kata-kata. orang jahat. Sajak "Dewa telah mati" secara keseluruhan merupakan ironi: dunia tidak lain tempat orang-orang me- (b) Kata yang dibalik itu tidak mempunyai arti. yaitu para penjilat. dan antitesis. kalau dewa telah mati. Oleh karena itu. tempat melakukan KKN dan maksiat. frase. Kontradiksi disebabkaa oleh penggunaan ironi. Terbunuhnya pun dekat kuil tempat peribadatannya. (b) kontradiksi. di dunia ini hanya dipenuhi orang-orang jahat yang berbuat jahat. di dalam karya sastra dapat mempunyai makna. Pelacur: orang yang menjual harga dirinya. hei Kau dengar manteraku Kau dengar kucing memanggilMu izukalizu rnapakazaba itasatali tutulita papaliko arukabazaku kodega zuzukalibu tutukaliba dekodega zamzam lagotokoco kuzangga zegezegeze aahh . 1978- ngumbar hawa nafsunya. atau wacana yang taksa atau ambigu. mereka justru mati terbunuh oleh kejahatan dan kemaksiatannya. yaitu mempunyai makna yang lebih dari satu (polyinterpretable). (c) tipografi. yang mati adalah "jiwa" manusia. manipulasi.

SEBUAH KAMAR Sebuah jendela menyerahkan kamar ini pada dunia. Dalam kamar itu. misalnya tipografi dalam sajak Sutardji Calzoum Baehri yang berjudul "Tragedi Winka dan Sihka Hurufhuruf dari kata kawin dan kasih ditata. dan dibalik.2 Pembacaan Heuristik dan Hermeneutik Untuk meinberikan makna karya sastra lebih lanjut. ibu si aku tertidur sementara masih menangis tersedu-sedu. banyak orangnya. hubungan antarbaris dan baitnya bersifat implisit.2. Tuhanku. pembaeaan sastra harus mewajarkan hal-hal yang tidak wajar. menurut Sajak "Sebuah Karnar" itu dapat dinaturalisasikan sebagai berikut.menimbulkan makna atau meneiptakan arti atau makna. Misalnya sajak Chairil Anwar yang berikut dibaea secara heuristik. Bahasa sastra harus dinaturalisasikan menjadi bahasa biasa. 1995:23) (d) Homologue adaJah persejajaran bentuk atau persejajaran baris. Berakit-rakit ke hulu Berenang-renang ke tepian Bersakit-sakit dahulu Bersenang-senang kemudian Sampiran pantun berhomologue dengan. 3x4 m. karya sastra dibaea berdasarkan sistem bahasa sebagai sistem semiotik tlngkat pertama dan sistem semiotik tingkat kedua. Pembaeaan berdasarkan sistem semiotik tingkat pertama adalah pembaeaan heuristik dan pembaeaan berdasarkan sistem semiotik tingkat kedua adalah pembaeaan retroaktif atau hermeneutik. (a) Enjambemen. "Sudah lima anak bernyawa di sini. misalnya tampak dalam pantun berikut. Bulan yang menyinar ke dalam kamar itu membuat kamar itu menjadi lebih jelas (terang). tetapi selalu sepi. lebih-Iebih puisi. Tipografi ini memberikan makna jalan kehidupan yang berliku-liku penuh bahaya. Melalui sebuah jendela.1 Pembacaan Heuristik Pembaeaan heuristik ini adalah pembaeaan menurut sistem bahasa. salah satunya si aku. Kesejajaran bentuk itu menimbulkan arti yang sarna. terlalu sempit buat meniup nyawa! (Chairil Anwar. seeara keseluruhan membentuk lukisan jalan yang zigzak. hal-hal yang "tidak perlu" tidak usah dinyatakan. peneurahan perasaan pada sajak yang berpola sajak itu. Oleh karena itu. dipotong-potong. Sajak menimbulkan intensitas arti dan makna liris. Hal ini disebabkan oleh puisi itu hanya mengekpresikan inti gagasan atau pikiran. isinya. Baik kata maupun kalimatnya dapat diganti dengan sinonimnya atau yang searti. Oleh karena itu. H • sistem tata bahasa normatif. ia menatap pada orang yang tersalib batu (yaitu Yesus Kristus yang disalib). Ada awalan dan akhiran yang dihilangkan hingga tinggal inti katanya. bahasa normatif. 3. perloneatan baris dalam sajak. Bentuk yang sejajar itu menimbulkan makna yang sarna. membuat intensitas arti atau perhatian pada kata akhir atau kata "yang dlloncatkan" ke baris berikutnya. Tata huruf ini dalam teks biasa tidak ada artinya. Susunannya diubah menjadi susunan tata bahasa normatif. Ayah si aku pun hanya bisa terbaring jemu. Ada susunan kalimat yang dibalik. Keadaan kamar itu seperti penjara meskipun ramai. Dalam penaturalisasian ini kata-kata yang tidak berawalan dan berakhiran diberi awalan dan akhiran. Dapat ditambahkan kata atau kata-kata atau kalimat untuk memperjelas hubungan antarkalimat dan antarbaitnya. 3. berJiku-Jiku penuh bahaya. Keramaian penjara sepi selalu. karena mereka berada di luar hitungan: kamar begini. Bapakku sendiri terbaring jemu Matanya menatap orang tersalib di batu! Sekeliling dunia bunuh diri! Aku minta adik lagi pada Ibu dan bapakku. aku hilang bentuk (b) remuk (penggalan "Doa" Chairil Anwar) (e) Tipografi adalah tata huruf. Bulan yang menyinar ke dalam mau lebih banyak tahu. Aku salah satu!" Ibuku tertidur dalam tersedu. tetapi dalam sajak dapat meneiptakan makna. ditulis seeara sugestif. . dunia luar dapat melihat kamar ini. Karya sastra. Dalam kamar itu sudah lahir lima orang anak.

3 Matriks. matriks diabstraksikan dari karya sastra yang dlanalisis. Varian pad a bait kedua: orang telah tidak percaya kepada bagian dunia penuh kejahatan: kolusi. kamar si aku ini pun menjadi simbol kehidupan bangsa di dunia ini yang kian bertambah jumlah jiwanya. mengincar harta para "orang suci" yang sudah lagi percaya pada Tuhan (terbunuh) di dekat rumah peribadatan. beban sudah berat masih ditambah beban lagi dengantambahnya seorang bayi. yang ukurannya hanya 3x4 m. kosong. Begitu juga. kejahatan-kejahatan. Meskipun sudah tidak mempunyai harga diri. 3. Model itu berupa kiasan atau metafora. Oleh karena itu. Orang sudah tidak percaya kepada Tuhan. Oi sini tergambar kehidupan sebuah keluarga (si aku) yang menderita. kemaksiata~ ini dilakukan juga oleh "pertapa". maka mereka hanya berbuat maksiat di tempat-tempat mesum. dalam arti. mereka tidak mau memperhitungkan kamar yang sernplt. kamar itu terlalu sempit untuk ditambah lagi dengan seorang anak. penuh penderitaan. Si ibu hanya bisa menagis saja dan ironisnya. Matriks ini sebagai hipogram intern ditransformasikan menjadi varianvarian berupa "masalah" atau "uraian" dalam bait 1. Kiasan-kiasan (metafora dan metoniminya) ditafsirkan. manipulasi. Matriks ini dapat berupa satu kata. si ayah hanya bisa berdoa saja (menatap orang tersalib di batu).2. 3. dan pelacuran.1 Matriks. gabungan kata. digambarkan kamar itu seperti penjara. Hal ini sarna saja dengan bunuh diri. tetapi sepi.Sekeliling dunia (kamar) itu bunuh diri. Si aku bunuh diri dengan minta adik kepada ibu dan bapaknya. Jadi. banyak j~mlah penduduknya. Hal ini menggambarkan kemiskinan keluarga itu. dalam arti kamar itu tidak ada apa-apanya. tujuh orang.3. tetapi "kamar" ini menjadi simbol kehidupan bangsa Indonesia dalam keadaan kesukaran miskin. tidak dapat berbuat lain. tetapi selalu ditambah atau bertambah terus. Bahkan. Varian pada bait pertama: orang telah tak percaya kepada Tuhan. Puisi Model. Meskipun dalam sajak ini yang dikemukakan adalah kehidupan keluarga si aku. puisi) yang lain adalah puisi itu bersifat universal. Mereka para penjual harga dirinya (melacurkan diri) demi harta. meskipun keadaannya demikian. dan Varian-Varian Secara teoretis sajak merupakan perkembangan dari matriks menjadi model dan ditransformasikan menjadi varian-varian. Bahkan. sajak ini harus dibaca ulang (retroaktif) dan diberi tafsirannya berdasarkan konvensi sastra yang merupakan sistem semiotik tingkat kedua. Matriks ini ditransformasikan menjadi model "Oewa Telah Mati" dan "burung gagak" serta " ular". Oleh karena yang ada hanya orang jahat (ular) yang melakukan kejahatan di sekitar tempattempat kekayaan (rezeki). Ounia ini menjadi tidak lain tempat memuaskan hawa nafsu tempat kemaksiatan. masih membanggakan kehebatannya: kegagahan. maka yang ada hanya orang jahat yang melakukan kejahatan. kecantikan yang palsu oleh harta benda yang tidak halal. Varian pada bait ketiga adalah ketakpercayaan dan kemaksiatan di (bag ian) dunia. 2. banyak orangnya. jadi. padahal kesejahteraannya sedikit bertambahnya.2 Pembacaan Retroaktif dan atau Henneneutik Untuk memberi makna sajak harus dibaca berdasarkan konvensi sastra. korupsi. belum memberikan makna sajak itu. yaitu dari yang bersifat individual menjadi nasional atau bahkan bersifat internasional. Model. tidak ada perabotannya. mereka masih akan menambah jumlah keluarga lagi. Oalam analisis sajak (karya sastra) . Konvensi sastra (sajak. Mereka bunuh diri. Pembacaan heuristik di atas baru memberikan arti sajak berdasarkan konvensi bahasanya sebagai sistem semiotik tingkat pertama. orang . dan Varian dalam Matriks dalam sajak "Oewa Telah Mati" adalah "orang· sudah tak percaya kepada Tuhan" dan "kejahatan dan kemaksiatan". hanya 3x4 m dihuni oleh 7 orang. yang sudah dihuni lima orang anak serta ayah dan ibunya. Barangkali si ibu sedang hamil. 3. 3. Sebuah kamar merupakan kiasan kehidupan keluarga. Akan tetapi. bagian kalimat atau kalimat sederhana. yaitu sajak itu merupakan ekspresi tidak langsung seperti diterangkan di atas. Kamarnya sempit. Untuk memberi makna. ramai.

kecuali hasil kerjanya. "Bekisar Merah" ini adalah kiasan Lasi. Lasi "diambil anak" oleh mucikari: Bu Koneng dan Bu Lanting. dan varian-varian ini dapat diabstraksikan temanya. anak Indo-Jepang. . Varian kedua (bait kedua) adalah sebuah kamar yang seperti penjara. tidak ada barang-barang kekayaan. sudahmenjadi tiga kali lipat! 3. indah.3. Yang menjadi masalah di sini adalah eksplisitasi matriks. Pak Handarbeni sudah tua dan impoten. dan analisis struktur cerpen dan ekspJisitasi hubungan antarunsur strukturnya. Hal ini menunjukkan adanya kepadatan penduduk yang tinggal di tempat (Iahan) yang sempit. karena dimadu dengan Sipah. dan varian tersebut dapat disimpulkan (diabstraksikan) tema "Dewa Telah Mati" sebagai berikut. Sajak itu dibuat tahun 1946. dan ketiga. maka di dunia ini yang ada hanyalah kejahatan (orang-orang jahat) dan kemaksiatan (orang-orang yang hanya memuaskan hawa nafsu keduniawian). untuk menyingkat uraian. la cantik dan trendi pada zaman Bung Karno yang mempunyai istri wanita Jepang. masih akan menambah anggota keluarga lagi. Hal ini berarti bunuh diri. Kalau orang sudah tidak percaya lagi kepada Tuhan. tinggal di kamar sempit. Model. kedua. paginya mereka terbunuh oleh akibat kemaksiatannya. model. Dari matriks. tetapi tidak ada apaapanya. ia dijual kepada Pak Handarbeni yang kava. la melarikan diri dari suaminya. adalah "perempuan blasteran yang hidup menderita". model. tak perlu hubungan suami istri. Karangsoga. di Banyumas ke kota Jakarta. hanya terbaring jemu. yaitu sebuah kamar yang tidak lebar. Mereka tinggal di kamar yang sangat sempit: 3x4 m. oleh Pak Handarbeni sebab sesungguhnya. tak perlu dipaparkan di sini. Dari matriks. Matriks ini ditransformasikan menjadi model: "bekisar merah". dengan jumlah anggota keluarga yang banyak. tertidur pun masih menagis tersedu-sedu. dan ditransformasikan menjadi varianvarian dalam bait pertama. tidak bisa mencari ~ezeki lain. Matriks ini ditransformasikan menjadi model "Sebuah kamar". blasteran antara ayam biasa dengan ayam hutan. banyak orangnya (ramai). Bisanya cuma tinggal berdoa.2 Matriks. Darsa terpaksa mengawini Sipah karena terpaksa sebab ia telah ditolong. Si ibu sangat sedih. Warna bag us. tetapi hid up menderita. ibunya Indonesia (Jawa) dan bapaknya Jepang. Darsa. Matriks dalam sajak "Sebuah Kamar" dapat diabstraksikan: kehidupan rumah tangga yang menderita. Lasi tidak tahu kalau ia akan diperjualbelikan. Varian ketiga adalah gambaran keluarga yang miskin dan menderita itu masih menambah kesukaran lagi. Dalam novel tersebut digambarkan (diceritakan) perempuan blasteran (Indo-Jepang). menjadi piaraan kaum elite yang bergengsi. Raja singa dan Aids kemaksiatan ini adalah hukuman orang yang hanya memuaskan hawa nafsu duniawi. mereka masih menambah beban dengan manambah (membuat) anak lagi. disembuhkan oleh emak Sipah. Ayah si aku sesudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi. penduduk Indonesia sudah 200 juta sekarang ini. Akhirnya. mungkin ta buruh rendah. la cantik. Mbah Bunek. Akan tetapi. Hal ini sarna saja dengan bunuh diri. dan Varian dalarn Prosa (Fiksi) Dalam uraian ini diambil novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari. Penduduk Indonesia masih 70 juta. "Bekisar Merah" adalah ayam blasteran antara ayam biasa dengan ayam hutan. Akan tetapi. Ringkasan cerita terse but merupakan hasil pembacaan heuristik. la melarikan diri dari desanya. dan varian-varian Bekisar Merah. harganya mahal. Keluarga yang m~nderita. Di Jakarta. model. berdasarkan uraian di atas. sedangkan pembacaan hermeneutik berupa penafsiran terhadap kiasan-kiasan. Matriks Bekisar Merah. Pak Handarbeni pun akan menjual Lasi kepada atasannya demi mempertahankan jabatannya yang bergengsi dan sumber uang Lasi dijadikan wanita piaraan seperti bekisar merah.yang mengaku sebagai "orang suci". kamar sempit dihuni 7 orang. yaitu terkena raja singa atau Aids. Varian pertama adalah gambaran sebuah kamar yang di situ telah lahir lima orang anak. Dalam kamar itu orang tua si aku hidup menderita. ibunya Jawa dan ayahnya Jepang. yang melambangkan kemelaratannya. Dalam waktu 50 tahun. namanya Lasi. la cantik dan "harganya" mahal menjadi wanita piaraan yang bergengsi. Karena mereka melakukan kemaksiatan pada waktu "malam".

Varian pertama adalah episode kehidupan Lasi di Karangsoga. Respon (jawaban. Lasi dipelihara oleh Bu Lanting dengan lebih baik daripada peliharaan Bu Koneng. Bu Koneng tidak hendak memberikan Lasi. Lasi diberi pakaian yang bagus menurut ukuran Bu Koneng. Singkatnya. model. sebuah karya sastra perJu dijajarkan sengan karya sastra Jain yang menjadi hipogram atau Jatar beJakang penciptaannya (Teeuw. dukun. la dirias dengan alat-alat make-up yang mahal.Matriks dan model itu ditransformasikan menjadi varian-varian yang berupa episodeepisode (alur) cerita Bekisar Merah. Maklum. Meskipun hidupnya makin mernbaik karena perlakuan yang makin membaik dan harta yang melimpah. dan varianvarian itu dapat diabstraksikan tema Bekisar Merah.4 Hipogram: Hubungan Intertekstual Untuk memberikan makna yang lebih penuh daJam pemaknaan sastra. tidak hidup dengan wajar sebagai manusia bebas. la menjadi sangat cantik. diberi baju yang mahal. perawan tua yang tidak "Iaku jual" karena cacat kaki. ia melihat Lasi. la ke Jakarta menumpang truk. tanggapan) ini dapat berupa penentangan atau penerusan . Lasi kembali ke Jakarta membawa surat cerai itu. la menginap di warung Bu Koneng. warung Bu Koneng menjadi bertambah laris. la dipelihara oleh Bu Koneng. 1983:65-66). dibawa ke rumah sakit. ayam blasteran yang mahal dan bergengsi. Akan tetapi. Cerita berhenti di sini. Diajari berhias dengan alat-alat make-up yang tidak mahal. Lasi dibeli dengan harga yang sangat rnahal. Dengan begitu. Pada suatu hari. Meskipun Lasi cantik. Lasi dibeli oleh Bu Lanting dengan harga mahal. anaknya. 3. Pak Handarbeni menikahi Lasi secara sah. pernuda-pemuda di desanya "tidak berminat" padanya karena ia "haram jadah". Akhirnya ia dinikahi oleh Darsa karena "terpaksa" oleh hubungan kekeluargaan yang baik. Menurut Riffaterre (Teeuw. dan sembuh. la membeli Lasi hanya untuk dipelihara seperti bekisar merah. Pak Handarbeni tidak bermaksud hidup suami-istri secara wajar dengan Lasi. Seorang wanita indo mengalami hidup menderita karena hanya dianggap sebagai barang dagangan yang diperjualbelikan. Varian ketiga adalah episode kehidupan Lasi di rumah Bu Lanting. Berdasarkan matriks. Akan tetapi. ia jatuh dari pohon kelapa. maklum ia hanya pemilik warung. Pak Handarbeni sudah tua dan impoten. Lasi disuruh minta cerai kepada Darsa. Banyak laki-Iaki hidung belang yang mau mengajak berkencan intim dengan Lasi. Lasi di situ sudah menjadi primadona dan menjadi incaran para lelaki langganan Bu Koneng. Singkatnya. Sampai di Jakarta. sahabatnya sesama mucikari. tetapi terpaksa dibawa pulang karena kekurangan biaya untuk penyembuhan. Bu Lanting mendapat untung yang sangat banyak. tetapi sudah cukup bagus dibandingkan dengan kepolosan Lasi ketika baru datang. Di rumah ia diobati oleh Mbok Bunek. la dipaksa oleh Bunek untuk menghamili Sipah. Ketika Bu Lanting ke warung Bu Koneng. Darsa seorang penyadap nira. Akan tetapi. Sampailah saatnya. luka parah. yang sekaligus menjadi tempat berkencan untuk lacuran. Bu Lanting menepati janji pesanan kepada Pak Handarbeni. Darsa pun memberi suratcerai kepada Lasi. ia lari ke Jakarta. Bu Lanting mencari wanita pesanan seorang pejabat perusahaan yang kaya. Di rumah Bu Lanting. Bu Koneng tidak mengizinkan sebab Lasi akan dijual lebih mahal. Karena Lasi tidak mau dimadu. Akan tetapi. Oleh kehadiran Lasi. Sipah hamil. Varian kedua adalah episode kehidupan Lasi di Jakarta. Varian keempat adalah episode kehidupan Lasi di rumah Pak Handarbeni. terpaksa dinikahi oleh Darsa. wanita IndoJepang yang cantik. menurut ukuran Bu Koneng. Lasi ditunjukkan kepada Pak Handarbeni yang langsung menyetujui tawaran Bu Lanting. Sejak kecil ia hidup menderita karena di samping ibunya miskin. Wanita pesanan yang dimaksud adalah wanita Jepang atau setengah Jepang untuk menyamai Bung Karno yang beristri seorang wanita turunan Jepang. Itulah yang dicari. tidak ada tempat yang dituju. la dianggap hasil perkosaan serdadu Jepang meskipun pada akhirnya ibu Lasi dinikah oleh prajurit Jepang-Amerika. Ketika pada waktu hujan ia menyadap nira. 1983: 65) sebuah sajak (karya sastra) itu merupakan respon terhadap kartya sastra lain. la dianggap anak haram jadah oleh masyarakat desanya. ia tetap menderita karena hanya hidup menjadi peliharaan. Tujuan lebih lanjut Lasi akan "dijual" untuk memuaskan atasannya yang diharapkan akan tetap memberikan kedudukan Pak Handarbeni di perusahaan yang dipimpinnya.

1995. Cetakan ke-5. Culler. Mengenai hubungan intertekstual ini tidak akan diuraikan di sini mengingat tempat dan waktu yang terbatas. 1995). 1981. Junus. Chairil. Teeuw. Jakarta: Gramedia. dengan Ratnasari Dewi. Daftar Pustaka Anwar. Semiotics of Poetry. seorang wanita turunan Jepang. Jadi. yang kemudian melahirkan seorang wanita Kartika. dan Penerapannya. Princeton Encyclopedia of Poetry and Poetics. Tohari. Deru Campur Debu. Michael. Beberapa Teori Sastra. Konkretisasi dengan teori dan metode semiotika ini merupakan salah satu teori yang berorientasi objektif. R4 I. Simphoni Jakarta: Pustaka Jaya.Ltd. Rachmat Djoko. 1974. 4. 1997. presiden Indonesia pertama. dan Penerapannya (Pustaka Pelajar. 1983: 65).) dkk. 1995. 1978. Sastrowardojo. Metode Kritik. Ahmad. peristiwa dalam sejarah. --. sebagai pembaca juga. Riffaterre. untuk menentukan dan mencari hipogram ini adalah tugas peneliti. Pradopo. Hipogram merupakan latar penciptaan karya sastra. dapat dilihat dalam buku penulis yang berjudul Pengkajian Puisi (cetakan ke-5. Jakarta: Sinar Harapan. Yang merupakan hipogram Bekisar Merah adalah episode atau peristiwa pernikahan Bung Kamo. London: Methuen & Co. Subagio. tentu saja tidak hanya ada satu teori dan metode. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.tradisi atau dapat berupa."" l!!)ft'H!liri_lIftri'''lltlll . atau alam dan kehidupan. 1993. New Jersey: Princeton University Press. kritikus termasuk pembaca canggih. Alex (ed. Penutup Untuk pemaknaan sastra (konkretisasi). A. baik penentangan dan penerusan tradisi. Jonathan. 1997) dan Beberapa Teori Sastra. Preminger. Umar. Bloomington: Indiana University Press.Jllrn~nj"r~ AI" . Ada hipogram yang berupa karya sastra tertentu yang menjadi latar sebuah karya sastra. Latar penciptaan ini dapat berupa masyarakat. 1975. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia. Pengkajian Puisi. 1981. Metode Kritik. The Pursuit of Sign. Bekisar Merah. Untuk mengetahui analisisdengan metode intertekstual. Mitos dan Komunikesi. Untuk menafsirkan respon ini adalah tugas pembaca (Teeuw. 1983. Jakarta: Dian Rakyat.