Inseminasi Buatan (IB) atau Kawin Suntik

Ditulis oleh admin Sunday, 19 October 2008 Inseminasi Buatan (IB) atau kawin suntik adalah suatu cara atau teknik untuk memasukkan mani (sperma atau semen) yang telah dicairkan dan telah diproses terlebih dahulu yang berasal dari ternak jantan ke dalam saluran alat kelamin betina dengan menggunakan metode dan alat khusus yang disebut 'insemination gun'. Tujuan Inseminasi Buatan 1. Memperbaiki mutu genetika ternak; 2. Tidak mengharuskan pejantan unggul untuk dibawa ketempat yang dibutuhkan sehingga mengurangi biaya; 3. Mengoptimalkan penggunaan bibit pejantan unggul secara lebih luas dalam jangka waktu yang lebih lama; 4. Meningkatkan angka kelahiran dengan cepat dan teratur; 5. Mencegah penularan / penyebaran penyakit kelamin.

Keuntungan Inseminasi Buatan (IB) 1. 2. 3. 4. Menghemat biaya pemeliharaan ternak jantan; Dapat mengatur jarak kelahiran ternak dengan baik; Mencegah terjadinya kawin sedarah pada sapi betina (inbreeding); Dengan peralatan dan teknologi yang baik sperma dapat simpan dalam jangka waktu yang lama; 5. Semen beku masih dapat dipakai untuk beberapa tahun kemudian walaupun pejantan telah mati; 6. Menghindari kecelakaan yang sering terjadi pada saat perkawinan karena fisik pejantan terlalu besar; 7. Menghindari ternak dari penularan penyakit terutama penyakit yang ditularkan dengan hubungan kelamin. Inseminator Adalah tenaga teknis menengah yang telah dididik dan mendapat sertifikat sebagai inseminator dari pemerintah (dalam hal ini Dinas Peternakan). Pelayanan Petugas Inseminasi Buatan Pelayanan inseminasi buatan dilakukan oleh Inseminator yang telah memiliki surat izin melakukan inseminasi (SIM) dengan sistem aktif, pasif dan semi-aktif. Bila inseminator belum memiliki SIM maka tanggung jawab hasil kerjanya jatuh pada Dinas Peternakan Propinsi tempatnya bekerja.

Pelaporan pelaksanaan Inseminasi Buatan (IB) mengikuti pedoman sebagai berikut: 1. Inseminator wajib melaporkan jumlah sapi yang "repeat breeder" (sapi yang telah di Inseminasi Buatan (IB) lebih dari tiga kali dan tidak bunting) kepada Asisten Teknis Reproduksi.18 bulan. ketiga dan seterusnya pada kartu catatan Inseminasi Buatan (IB) masing-masing akseptor 2. Tugas pokok inseminator adalah: 1. oleh karena itulah buatlah suatu perjanjian dengan para akseptor mengenai cara-cara komunikasi yang baik yang disepakati bersama. Petugas IB (inseminator) hanya boleh menginseminasi kalau betina sedang birahi saja.  Gizi Bila jumlah dan kandungan gizi pakan kurang jumlah atau mutunya. Kotak laporan. Melaksanakan Inseminasi Buatan (IB) pada ternak. maka dewasa kelamin akan . kedua. Anatomi dan Fisiologi Alat Kelamin Betina Pubertas (kematangan alat kelamin / dewasa kelamin) terjadi akibat aktivitas dalam ovarium (indung telur). atau dengan berat badan telah mencapai kurang lebih 75% dari berat dewasa. Setiap daerah mempunyai keadaan yang berbeda. 4. cepat. Menerima laporan dari pemilik ternak mengenai sapi birahi dan memenuhi panggilan tersebut dengan baik dan tepat waktu 2. petugas IB sebaiknya memberitahukan ke peternak dan memintanya untuk memperhatikan gejala birahi dengan lebih baik lagi. Membuat laporan pelaksanaan Inseminasi Buatan (IB) dan menyampaikan kepada pimpinan SPT IB Untuk mempermudah pelaporan / permintaan pelayanan Inseminasi Buatan (IB) maka harus dibuat suatu sistem pelaporan yang sederhana. mudah dan murah. Inseminator wajib melaporkan jumlah sapi yang tidak birahi kembali setelah Inseminasi Buatan (IB) pertama (kemungkinan bunting) dan tempat serta nama peternak yang sapi / ternaknya yang baru di Inseminasi Buatan (IB) kepada Petugas Pemeriksa Kebuntingan 3. Menangani alat dan bahan Inseminasi buatan sebaik-baiknya 3. Melakukan identifikasi akseptor Inseminasi Buatan (IB) dan mengisi kartu peserta Inseminasi Buatan (IB). Komitmen untuk mematuhi keputusan tersebut juga diperlukan. kartu birahi dan lain-lain adalah beberapa sistem komunikasi yang telah dijalankan pada beberapa tempat di Indonesia. Kecepatan tercapainya umur dewasa kelamin tergantung dari:  Jenis / bangsa sapi. Kalau betina tidak sedang birahi. 5. umur pubertas pada sapi adalah antara 7 . Inseminator mengisi tanggal pelaksanaan Inseminasi Buatan (IB) pertama. bendera di depan rumah / kandang.

apalagi bila menyerang alat kelamin. Setelah ovulasi terjadi.lebih lama dicapai.  Metaestrus Waktu setelah estrus berakhir.  Proestrus Waktu sebelum estrus. yaitu 13 hari. Siklus birahi akan berhenti secara sementara pada keadaan-keadaan: 1. ovum dibebaskan oleh ovarium. umur dewasa kelamin lebih cepat / muda  Penyakit Karena mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan berat badan. Waktu estrus. Pada saat keadaan dewasa kelamin tercapai. Periode ini paling lama berlangsungnya karena berhubungan dengan perkembangan dan pematangan badan kuning. hal ini disebabkan berat badan yang kurang. aktivitas dalam indung telur (ovarium) dimulai. Lama periode ini pada sapi adalah 12 . Lamanya 3 hari.24 jam. Tahapan dan lamanya pada sapi dapat ditemui di bawah ini :  Estrus Pada tahap ini sapi betina siap untuk dikawinkan (baik secara alam maupun IB). 3. dan berbeda-beda pada setiap spesies hewan. folikelnya masak. corpus luteum meningkat dan memproduksi hormon progesteron. Siklus birahi pada sapi betina yang normal biasanya berulang setiap 21 hari. Masa post-partum. Siklus birahi dibagi dalam 4 tahap. karena ditandai dengan sapi terlihat gelisah dan kadang-kadang sapi betina tersebut menaiki sapi betina yang lain. bekas tempat ovarium tersebut itu dipenuhi dengan sel khusus dan membentuk apa yang disebut corpus luteum (badan kuning) .  Diestrus Waktu setelah metaestrus. Selama kebuntingan.  Cuaca Di daerah tropis seperti di Indonesia. kemudian terjadi ovulasi diikuti dengan pertumbuhan / pembentukan corpus luteum (badan kuning). Ovulasi terjadi 15 jam setelah estrus selesai. 2. Sebelum dewasa kelamin. Lama periode ini 3 . dengan selang antara 17-24 hari. Tahap ini dapat terlihat.5 hari. maka kemungkinan besar umur dewasa kelamin lebih lambat dicapai.

indung telur / ovarium juga memproduksi hormon.gejala birahi ini memang harus diperhatikan minimal 2 kali sehari oleh pemilik ternak. Pelaksanaan Program Inseminasi Buatan (IB) Pemeriksaan Awal Deteksi birahi yang tepat adalah kunci utama keberhasilan Inseminasi Buatan. Kegagalan kebuntingan setelah pelaksanaan Inseminasi Buatan (IB) juga akan berakibat pada terbuangnya waktu percuma. nafsu makan berkurang Gejala .Corpus luteum ini dibentuk selama 7 hari. abuh. selanjutnya adalah kecepatan dan ketepatan pelayanan Inseminasi Buatan itu sendiri dilaksanakan. 3. Tanda . ternak gelisah sering berteriak suka menaiki dan dinaiki sesamanya vulva : bengkak. Sebelum ovulasi: hormon estrogen. selain kerugian materiil dan immateriil karena terbuangnya semen cair dan alat pelaksanaan Inseminasi Buatan (IB) serta terbuangnya biaya transportasi baik untuk melaporkan dan memberikan pelayanan dari pos Inseminasi Buatan (IB) ke tempat sapi birahi berada. bila diraba terasa hangat (3 A dalam bahasa Jawa: abang. dan bertahan selama 17 hari dan setelah waktu itu mengecil lagi karena ada satu hormon (prostaglandin) yang merusak corpus luteum dan mencegah pertumbuhannya untuk jangka waktu yang relatif lama (sepanjang kebuntingan). Jika tanda-tanda birahi sudah muncul maka pemilik ternak tersebut tidak boleh menunda laporan kepada petugas inseminator agar sapinya masih dapat memperoleh pelayanan Inseminasi Buatan . Untuk memudahkan. Jarak antara satu birahi ke birahi selanjutnya adalah kira-kira 21 hari sehingga bila satu birahi terlewati maka kita masih harus menunggu 21 hari lagi untuk melaksanakan Inseminasi Buatan (IB) selanjutnya. berwarna merah.tanda birahi pada sapi betina adalah : 1. sebagai patokan biasa dilakukan sebagai berikut: Pertama kali terlihat tanda-tanda birahi Pagi Sore Harus diinseminasi pada Hari yang sama Hari berikutnya (pagi dan paling lambat siang hari) Terlambat Hari berikutnya Sesudah jam 15:00 besoknya Keterlambatan pelayanan Inseminasi Buatan (IB) akan berakibat pada kerugian waktu yang cukup lama. dari vulva keluar lendir yang bening dan tidak berwarna 6. Baseuh) 5. Selain membentuk sel telur . anget. Setelah ovulasi corpus luteum di ovarium memproduksi: hormon progesteron Hormon-hormon ini mengontrol (beri jarak) kejadian siklus birahi di dalam ovarium. Bareuh. 2. atau 3 B dalam bahasa Sunda: Beureum. 4. 2. yaitu: 1.

5. Kemungkinan terjadinya konsepsi (kebuntingan) bila diinseminasi pada periode-periode tertentu dari birahi telah dihitung oleh para ahli. Penanganan bidang reproduksi adalah suatu hal yang rumit. asisten teknis reproduksi. Jelaslah disini bahwa faktor yang paling penting adalah mendeteksi birahi. Kemungkinan adanya gangguan reproduksi / kesehatan sapi betina. . perkiraannya adalah :        permulaan birahi : 44% pertengahan birahi : 82% akhir birahi : 75% 6 jam sesudah birahi : 62. 3.(IB) tepat pada waktunya. 2. Koordinasi dari berbagai tingkatan birokrasi ini yang biasanya selalu disoroti dengan negatif oleh para petugas lapang dan petani.Faktor Penyebab Rendahnya Kebuntingan Faktor .faktor yang menyebabkan rendahnya prosentase kebuntingan adalah : 1. sarjana peternakan dan tenaga menengah seperti inseminator. adalah dengan memberi cat diatas ekor. karena tanda-tanda birahi sering terjadi pada malam hari. petugas IB harus mensosialisasikan cara-cara mendeteksi tanda-tanda birahi. bila sapi betina minta kawin (birahi) cat akan kotor / pudar / menghilang karena gesekan akibat dinaiki oleh betina yang lain.5% 12 jam sesudah birahi : 32. Koordinasi juga bukan hanya pada bidang keahlian tetapi juga pada jenjang birokrasi karena pelaksanaan Inseminasi Buatan (IB) masih lewat proyek yang dibiayai oleh pemerintah sehingga birokrasi masih memegang peranan yang besar disini. 4. Oleh karena itu petani diharapkan dapat memonitor kejadian birahi dengan baik dengan cara:   Mencatat siklus birahi semua sapi betinanya (dara dan dewasa). Ia membutuhkan suatu kerja sama dan koordinasi yang baik antara petugas yang terdiri atas dokter hewan. Keterbuakaan adalah kunci keberhasilan keseluruhan program ini. Inseminator kurang / tidak terampil. Sapi dara umumnya lebih menunjukkan gejala yang jelas dibandingkan dengan sapi yang telah beranak. Fertilitas dan kualitas mani beku yang jelek / rendah. Waktu Melakukan Inseminasi Buatan (IB) Pada waktu di Inseminasi Buatan (IB) ternak harus dalam keadaan birahi. petugas pemeriksa kebuntingan. Petani / peternak tidak / kurang terampil mendeteksi birahi. Pelaporan yang terlambat dan / atau pelayanan Inseminator yang lamban.5% 18 jam sesudah birahi : 28% 24 jam sesudah birahi : 12% Faktor . karena pada saat itu liang leher rahim (servix) pada posisi yang terbuka. Salah satu cara yang sederhana dan murah untuk membantu petani untuk mendeteksi birahi.

Petugas Inseminasi Buatan (IB) memakai sarung tangan (glove) pada tangan yang akan dimasukkan ke dalam rektum 7. Setelah dithawing. pastikan bahwa : Sapi betina resipien harus dalam keadaan sehat dan tidak kurus (kaheksia). selama 7-18 detik. ekor diikat 6. Sinkronisasi birahi ini mahal biayanya karena harga hormon yang tinggi dan biaya transportasi serta biaya lain untuk petugas lapang. sinkronisasi birahi adalah upaya untuk menginduksi terjadinya birahi dengan menggunakan hormon Progesteron. Preparatnya biasanya adalah hormon sintetik dari jenis Prostaglandin F2a. Sapi dipersiapkan (dimasukkan) dalam kandang jepit. 3. 2. Prosedur Inseminasi Buatan adalah sebagai berikut: 1. Suhu untuk thawing yang baik adalah 37oC. Setelah itu Plastic sheath dimasukkan pada gun yang sudah berisi semen beku/straw 5. Jadi semen/straw tersebut dimasukkan dalam air dengan suhu badan 37 oC. Birahi akan terjadi 2 sampai 4 hari setelah penyuntikan kedua. Pada dasarnya. Nama dagang yang paling sering ditemui di Indonesia adalah Enzaprost F. Sapi tidak dalam keadaan bunting. Setelah semua prosedur tersebut dilaksanakan maka keluarkanlah gun dari uterus dan servix dengan perlahan-lahan. hingga dapat menjangkau dan memegang leher rahim (servix).   Laksanakan penyuntikan hormon kedua dengan selang 11 hari setelah penyuntikan pertama. straw dikeluarkan dari air kemudian dikeringkan dengan tissue. bila sapi sedang bunting dan penyerentakkan birahi dilakukan maka keguguran akan terjadi. dan ujung yang mencuat dipotong dengan menggunakan gunting bersih 4. Semen disuntikkan/disemprotkan pada badan uterus yaitu pada daerah yang disebut dengan 'posisi ke empat'. . apabila dalam rektum banyak kotoran harus dikeluarkan lebih dahulu 8. Sebelum melaksanakan prosedur Inseminasi Buatan (IB) maka semen harus dicairkan (thawing) terlebih dahulu dengan mengeluarkan semen beku dari nitrogen cair dan memasukkannya dalam air hangat atau meletakkannya dibawah air yang mengalir. Kemudian straw dimasukkan dalam gun. Tangan petugas Inseminasi Buatan (IB) dimasukkan ke rektum. Cara apikasi hormon untuk penyerentakkan birahi adalah sebagai berikut :  Laksanakan penyuntikan hormon pertama.Sinkronisasi Birahi Pada beberapa proyek pemerintah. Oleh karena itu harus dilaksanakan apa yang disebut dengan sinkronisasi birahi. seringkali inseminasi buatan dilaksanakan secara crashprogram dimana pada suatu saat yang sama harus dilaksanakan Inseminasi padahal tidak semua betina birahi pada waktu yang bersamaan.