Pola Pemukiman Desa Dan Kota Di Indonesia (Rural and Urban Settlements

)

Oleh: Muthmainna (1107215081980)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG PROGRAM PASCASARJANA PENDIDIKAN GEOGRAFI 2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan YME, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNYA, sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah Geografi Manusia yang berjudul “ Rural and Urban Settlements ”. Pembuatan makalah ini bertujuan untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan serta dapat berpikir kritis tentang kejadian-kejadian yang berkaitan dengan Geografi Manusia. Terima kasih yang tak terhingga penulis sampaikan kepada dosen pembimbing matakuliah Geografi Manusia Dr. Budijanto, M.Pd yang telah

membimbing kami sehingga dapat menyusun makalah ini. Semoga Tuhan YME memberi balasan atas segala bantuan yang diberikan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Akhirnya, dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan makalah ini. Harapan saya, semoga karya yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, penulis khususnya dan pembaca pada umumnya .

Malang, Maret 2012

Penulis

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pemukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, dapat merupakan kawasan perkotaan dan perdesaan, berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal/hunian penghidupan. Pola pemukiman menunjukkan tempat bermukim manusia dan bertempat tinggal menetap dan melakukan kegiatan/aktivitas sehari-harinya. Pemukiman dapat diartikan sebagai suatu tempat (ruang) atau suatu daerah dimana penduduk terkonsentrasi dan hidup bersama menggunakan lingkungan setempat, untuk mempertahankan, melangsungkan, dan mengembangkan hidupnya. Pengertian pola dan sebaran pemukiman memiliki hubungan yang sangat erat. Sebaran permukiman membincangkan hal dimana terdapat permukiman dan atau tidak terdapat permukiman dalam suatu wilayah, sedangkan pola pemukiman merupakan sifat sebaran, lebih banyak berkaitan dengan akibat faktor-faktor ekonomi, sejarah dan faktor budaya. Pemukiman diseluruh dunia dapat dibedakan menjadi dua yaitu pemukiman desa dan kota. Setiap bentuk pemukiman memiliki pola dan bentuk masing-masing, sehingga untuk menggolongkan setiap pemukiman tersebut dibutuhkan kriteria dan ciri tertentu. Pemukiman kota dan desa di setiap negara baik itu negara berkembang atau negara maju juga memiliki karakteristik yang berbeda baik struktur atau morfologinya. Walaupun jika digambarkan secara umum memiliki karakteristik yang sama, namun jika dijabarkan secara khusus setiap wilayah tidak ada yang memiliki karakteristik yang sama. Ini dipengaruhi oleh letak, kondisi geografis wilayah, budaya masyarakatnya. Termasuk Indonesia sebagai negara berkembang memiliki karakater pemukiman yang berbeda dengan negara lain. Hal ini dapat dilihat dari beragam pola pemukiman yang terdapat dari Sabang sampai Merauke. dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan

Rumusan Masalah Dari uraian latar belakang di atas. pola pemukiman desa dan kota baik di negara maju dan negara berkembang.B. . Dan bagaimana terbentuknya pemukiman desa dan kota di Indonesia dilihat dari sejarah dan budaya masyarakat. maka dapat dijabarkan rumusan masalah dalam makalah ini yaitu bagaimana proses terbentuknya pemukiman desa dan kota dilihat dari pendapat para ahli yang telah mengembangkan model-model struktur kota.

Dalam memenuhi kebutuhannya. dan kota. Walter Christaller (Jerman. Bahwa berbagai jenis barang pada orde yang sama cenderung bergabung pada pusat wilayahnya. Dalam teori ini diasumsikan pada wilayah datar yang luas dihuni oleh sejumlah penduduk dengan kondisi yang merata. Sulit untuk melihat batas garis secara jelas dalam hal ukuran atau fungsi antara kota besar dan kota kecil. Treshold adalah jumlah minimal penduduk yang diperlukan untuk kelancaran dan keseimbangan suplai barang. besarnya. Christaller menyusun teori ini untuk menjawab tiga pertanyaan utama yaitu. namun secara praktis masing-masing nama tersebut dikategorikan secara berbeda antara satu dengan yang lainnya. 1933) mengemukakan tentang teori tempat sentral (Theory central place). Ringkasan Rural and Urban Settlements Pemukiman dapat berupa tempat hunian. Dengan kata lain terciptanya suatu kota didorong oleh para produsen berbagai jenis barang pada orde yang sama cenderung berlokasi pada titik sentral di wilayahnya. apakah yang menentukan banyaknya. Meskipun memiliki nama yang berbeda baik secara informal atau secara hukum memiliki definisi sebagai diskrit. . dan persebaran kota? Teori ini menyangkut hierarki pemukiman dan persebarannya secara geografis. Menurut Christaller terdapat konsep yang disebut jangkaun (range) dan batas ambang (treshold).BAB II PEMBAHASAN A. sebuah dusun. sehingga pusat itu menjadi lokasi kosentrasi (kota). desa. Teori Tempat Sentral (Central Place) Teori ini memaparkan tentang persebaran dan besarnya pemukiman (hierarki pemukiman dan persebarannya). Range adalah jarak yang perlu ditempuh manusia untuk mendapatkan barang kebutuhan pada suatu waktu tertentu saja.

Dalam teori ini ia mengeluarkan asumsi-asumsi sebagai berikut :  Pusat pasar atau kota semestinya berada pada titik pusat suatu wilayah yang secara geografis bersifat homogen  Hubungan yang berbanding lurus terjadi antara biaya transportasi dengan jarak. dan pelayanan kesehatan. seperti makanan. maka jangkauan (range) suatu barang ditentukan oleh jarak yang dinyatakan dalam biaya dan waktu. Perbedaan ongkos transportasi tiap komoditas pertanian dari tempat produksi kepasar terdekat mempengaruhi jenis penggunaan tanah yang ada disuatu daerah. pelayanan pendidikan. Untuk memperoleh kebutuhan tersebut penduduk harus menempuh jarak tertentu dari rumah yang disebut range. minuman. Von Thunen berpendapat bahwa suatu pola produksi pertanian berhubungan dengan pola tata guna lahan diwilayah sekitar pusat pasar atau kota. antara lain: (1) Karena para konsumen yang menanggung ongkos angkutan. Artinya ada hubungan antara besarnya tempat pusat dan besarnya (luas) wilayah pasaran. . (5) wilayah tersebut digagaskan sebagai dataran dimana penduduknya tersebar merata dan ciri-ciri ekonomisnya sama (besar penghasilan sama). perlengkapan rumah tangga. (3) semua konsumen dalam usaha mendapatkan barang dan jasa yang dibutuhkan menuju ke tempat pusat yang paling dekat letaknya. banyaknya penduduk dan tingginya pendapatan di wilayah yang bersangkutan. Distribusi Penggunaan Lahan di Sekitar Pemukiman Von Thunen mengidentifikasi tentang perbedaan lokasi dari berbagai kegiatan pertanian atas dasar perbedaan sewa lahan (pertimbangan ekonomi).  Biaya angkutan ditanggung oleh petani dan besarnya sebanding dengan jarak yang ditempuh. maka jarak ke tempat pusat yang dinyatakan dalam biaya dan waktu sangat penting. (4) kota-kota berfungsi sebagai tempat sentral bagi wilayah sekitarnya. (2) karena konsumen yang menanggung ongkos angkutan. Lima asumsi yang digunakan Christaller untuk membangun teori dengan pendekatan ilmu geografi ekonomi.penduduk memerlukan berbagai jenis barang dan jasa.

hirarki permukiman terbentuk sesuai dengan sebutan yang diberikan oleh manusia yaitu dusun. kota. kota terbesar sering sekitar dua kali lebih besar tempat yang paling padat penduduknya kedua. karakteristik lain dari hirarki permukiman dapat dilihat dengan peringkat tempat di suatu negara berdasarkan ukuran populasi mereka. Menurut teori tempat pusat. dan metropolis. Gagasan utama yang dapat diambil dari Teori Von Thunen adalah bahwa tata guna lahan akan mempengaruhi nilai sewa suatu lahan. sehingga para petani akan memilih untuk menyewa lahan yang lebih dekat dengan pusat pasar atau kota dengan harapan bisa mendapatkan nilai atau harga barang yang lebih tinggi tanpa harus mengeluarkan biaya transportasi yang tinggi. Petani akan cenderung memilih jenis tanaman yang dapat menghasilkan manfaat dan keuntungan yang maksimal sesuai dengan permintaan pasar. Banyaknya kegiatan yang berpusat pada kota atau pusat pasar ini menjadikan kota memiliki nilai yang lebih ekonomis untuk mendapatkan keuntungan maksimal bagi para pelaku pertanian. kota utama ini disebut . Perbandingan Ukuran Kota Pemukiman cenderung membentuk hierarki. Dalam hal ini. desa. semakin jauh jarak yang ditempuh oleh para petani maka biaya transportasi yang dikeluarkan akan semakin meningkat. jenis hubungan yang disebut aturan peringkat ukuran. hirarki dibentuk oleh ukuran daerah perdagangan dan jarak antara pusat-pusat pelayanan. Di negara maju. Kriteria ukuran tingkatan jarang berlaku pada negara berkembang. Perbedaan yang disebabkan oleh faktor jarak ini menentukan nilai suatu barang. kota. dan empat kali kota terbesar keempat. dimana kota utama umumnya lebih besar dari yang lain. Area yang berada dipusat pasar atau kota akan memiliki nilai atau harga yang lebih mahal dibandingkan lahan yang berlokasi jauh dari pusat pasar. hubungan yang muncul untuk ukuran kota adalah peringkat ukuran populasi. tiga kali ukuran pusat peringkat ketiga.

misalnya. dalam menjabarkan pemukiman desa yaitu dengan menjabarkan perbedaan antara pedesaan dan perkotaan. Beberapa bentuk permukiman yang khas untuk suatu wilayah. dan strip mobil dengan drive-in layanan merupakan bentuk abad kedua puluh khas Amerika. yang keutamaan terjadi ketika salah satu daerah menetapkan dominasi ekonomi untuk seluruh negeri. sebuah studi pola permukiman menganggap lokasi tempat sebagai titik dalam suatu wilayah yang besar. dan penggunaan lahan. dan morfologi.kota primate. alun-alun gedung pengadilan ditemukan di banyak kota-kota kecil Amerika berbeda dari town square di Eropa sebelumnya. sebaliknya. menyangkut bentuk dan susunan internal atau tata letak fitur seperti jalan. Desa hijau seperti (Angerdorf) yang umum letaknya di wilayah ujung utara dan timur eropa. rumah yang terletak di tengah-tengah area hijau. Geografer menggunakan morfologi untuk generalisasi tentang karakter dari jenis permukiman. misalnya. Pemukiman Desa Pada dasarnya. Karakteristik spasial sebuah desa pertanian kecil cukup berbeda dari sebuah kota metropolis. studi morfologi permukiman. periode sejarah. Morfologi Pemukiman Dalam arti umum. dalam bentuk lain. fungsi. Studi morfologi memeriksa distribusi spasial fitur dalam area tertutup oleh pemukiman. Ini ringkasan singkat dari konsep dalam geografi permukiman telah terkait ukuran. . lokasi. beberapa bentuk desa khas telah diakui di eropa dan Amerika Utara. bangunan. pemukiman dapat dibagi menjadi bentuk pedesaan dan bentuk perkotaan. atau budaya. Salah satu bentuk khas adalah desa jalanan (Strassendorf) dengan rumah-rumah sejajar di kedua sisi jalan utama. oleh karena itu. morfologi berhubungan dengan bentuk dan struktur. beberapa dari hubungan ini dapat ditunjukkan lebih lanjut melihat berbagai jenis pemukiman.

ada tingkatan hierarki pemukiman mereka. Lokasi pemukiman sering ditempati hanya secara musiman. Secara umum. kepadatan penduduk rendah. sebagai aktivitas ekonomi eksternal pada daerah yang diduduki oleh peladang berpindah. dan kota-kota bukan merupakan bagian dari pola pemukiman mereka. pemukiman yang tersebar dan jumlahnya sedikit. namun mereka tetap mempertahankan desa permanen. Kondisi pemukiman yang ditinggalkan oleh para peladang dapat menggambarkan lamanya waktu mereka telah meninggalkan pemukiman tersebut. kegiatan ekonomi pedesaan terdiri dari. menetukan bahwa pemukiman tersebut pemukiman yang tidak menetap. masa berburu dan pengumpul. beberapa tempat pemasaran mungkin timbul. yang merupakan bangunan tetap tunggal yang dibangun oleh seluruh penduduk dan mampu menampung sebanyak 300 orang. misalnya. peladang berpindah. mulai dari tempat tinggal nomaden masa berburu sampai ke masyarakat pertanian menetap. dengan kepadatan diperkirakan satu orang per kilometer persegi teritori (Denevan 1971). Peladang berpindah yang menghasilkan tanaman subsistensi tidak terlalu membutuhkan pasar. Meskipun masa berburu dan pengumpul tidak menghasilkan pusat-pusat kota. 1. misalnya. dalam menukar barang (barter) telah terjadi di beberpa tempat yang mudah mereka akses. ini dimungkinkan karena jumlah populasi yang rendah. Misalnya. petani padi kering dalam perbukitan teh Sarawak (Malaysia Timur). nomaden dataran indians. peladang berpindah di lembah amazon mungkin diperdagangkan pada pasar-pasar berkembang di sepanjang jalan yang sedang dibangun di seluruh wilayah. dan petani tradisional. Pemukiman terbesar adalah "rumah panjang". Di beberapa daerah. peladang berpindah mendirikan tempat tinggal sementara yang berada dekat ladang sementara. Dalam kasus Iban. semakin lama periode tidak ditanami.Seperti dijeskan pada bab 8. bentuk-bentuk tertentu dari pemukiman yang terkait dengan masing-masing jenis ekonomi. Pemukiman orang nomaden dan peladang berpindah Pada masa berburu dan berkelompok memiliki ciri-ciri yaitu. . Campa dari lereng timur hutan dari Pegunungan Andes Peru memungkinkan lahan kosong yang tidak ditempati selama lebih dari 10 tahun.

daerah penggembalaan umum. . Beberapa faktor dapat membantu menjelaskan mengapa petani di beberapa masyarakat lebih memilih tinggal di pemukiman berkelompok. Tinggal di pemukiman yang terletak di pusat dapat mengurangi waktu perjalanan ke beberapa tanah yang tersebar. Kecuali ada pembatas yang dapat melindungi mereka dari bahaya. Ketakutan merupakan faktor yang mendorong untuk pemilihan lokasi yang aman. jika petani memperoleh akses ke tanah yang subur. maka ada keuntungan untuk tinggal dekat dengan pusit di mana keputusan dibuat. Semakin tinggi intensitas penggunaan lahan semakin besar kemungkinan bahwa pemukiman tersebut merupakan pemukiman di desa permanen. Faktor sosial adalah kekuatan penting dari berkelompok terutama di mana sumber daya lahan dikendalikan secara bersama-sama. dan hutan dengan menjadi anggota dari masyarakat atau komunitas tersebut. Salah satu alasan kenapa petani menetap pada lahan yang mereka garap yakni karena masalah transportasi yang sulit pada masa itu. Sistem pemilikan tanah juga penting. petani ada sebagian tersebar pada beberapa bidang tanah karena merupakan pembagian warisan tanah antara semua ahli waris. tidak sama pada masa modern. Desa yang terkait dengan pertanian tradisional Para petani tradisional pada masa ini sudah menggunakan sistem tanam yang pendek dan secara terus menerus. tetapi letak juga menjadi pertimbangan. Alasan laian untuk tinggal berkelompok dalam masyarakat praindustri adalah adanya keuntungan dari kerjasama antara anggota kelompok. Di desa-desa tradisional.2. Di Amerika sebagian besar petani hidup pada lahan yang mereka garap dan terletak berjauhan dengan tetangga yang lain. maka tidak akan timbul keputusan untuk tinggal mengelompok. populasi pedesaan di masa lalu tinggal secara mengelompok karena untuk masalah keamanan dan pertahanan.

2) Sistem Perkembangan Kota di Amerika Di pertengahan 1980-an. 1) Kota pra-industri Pada masyarakat pra industri pemukiman yang lebih dominan yaitu pedesaan. Asia Tenggara. dan pendidikan. atau Amerika Tengah. jarang sekali daerah kota hanya ditinggali 10 persen dari jumlah penduduk. Dari masa lalu sampai sekarang. yang menjadi pusat gejolak ekonomi dan sosial sebelum Revolusi industri. fungsi dominan birokrasi kota Cina menahan diversifikasi dan perubahan. Pasar terdapat di dekat gereja. (2) sistem perkembangan perkotaan Amerika. dan took berjajar mengikuti jalan. Asia Barat Daya. agama. 80 persen dari penduduk AS tinggal di wilayah perkotaan. Asia Selatan. namun penggunaan lahan di kota tercampur. seperti yang dijelaskan oleh Teori tempat pusat Christaller ini. fungsi perdagangan berada di bawah fungsi adminisrasif. Sebuah pemukiman kota . dan (3) urbanisasi saat ini di negara-negara kurang berkembang. Meskipun ada pembagian kelas. Beberapa variasi pemukiman perkotaan dapat dilihat dengan mendeskripsikan beberapa hal yaitu. Bagaimana tempat-tempat perkotaan berkembang?Kota banyak dikembangkan karena permintaan konsumen terdekat untuk barang dan jasa. Eropa. Sjoberg (1960) berpendapat bahwa karakteristik ini dimiliki oleh kota-kota pra-industri apakah berada di Asia Timur. (1) karakteristik kota-kota pra-industri. pusatpusat kota pada masyarakat pra industri di dominasi oleh bangunan pemerintahan dan keagamaan. kecuali negara-negara kecil. kota mengendalikan daerah pedesaan sebagai lokasi untuk kegiatan komersial. namun pemukiman perkotaan juga sudah ada masa itu. di Cina. Tidak seperti kota-kota Eropa.Pemukiman Kota Urbanisasi secara besar-besaran merupakan perkembangan baru dalam masalah penduduk. Rhoads Murphey (1945) menemukan bahwa peran perdagangan di kota-kota cina berbeda dari yang di kota-kota Eropa setelah abad kedua belas. Struktur kelas pada masyarakat kota ditentukan oleh lembaga politik. Secara morfologi kota.

yang didirikan di pantai timur. Pemukiman perkotaan dimulai setelah abad ketujuh belas jajahan yang didirikan di Amerika Utara. dan Charles kota memiliki 2. Beberapa pusat grosir pertama. pada abad keenam belas. dalam fase ketiga. pusat komersial terkemuka. New York dan Philadelphia memiliki populasi sekitar 5000. kayu. Urutan perkembangan sistem perkotaan dibagi menjadi lima tahap berikut. pemukiman menyebar ke daratan. dipandang sebagai "investasi dalam perdagangan" yaitu. Inggris. Beberapa jajahan. Karena dibutuhkan "tempat penyimpanan" untuk menghubungkan mereka dan sumber daya ke Eropa. Boston. Amerika Serikat masih didominasi pedesaan pada tahun 1800 dengan hanya 7 persen dari populasi yang berada di tempat-tempat perkotaan. namun yang memiliki nilai tinggi seperti tembakau. dan bulu diekspor. seperti Virginia. Perancis.beberapa kota besar di Amerika Serikat dimulai sebagai tempat pusat grosir yang mengakses perdagangan jarak jauh. Tahap 1: Eksplorasi dan pencarian. sebagai bagian dari sistem merkantilis. dan pelaut Spanyol menjelajahi pantai Amerika Utara dan memberikan informasi tentang sumber daya daerah. Tahap 2: Membangun pondasi Kota Pesisir. timur pantai pelabuhan mulai bertindak sebagai "engsel ekonomi" antara daerah perbatasan dan " Ibu kota negara". itu besar. mulai dengan mengumpulkan dan mengekspor bahan pokok. seperti bulu ke Eropa dan dengan mengimpor dan mendistribusikan barang dari Eropa. dengan ekspansi yang cepat dari perbatasan pada abad kesembilan belas . Tahap 4: infilling dari Jaringan dan Pentingnya pertumbuhan Perdagangan Internal. yang berada di lokasi pantai. Tak satu pun dari tempat-tempat perkotaan pertama. Meskipun sebagian dari sumberdaya tersebut untuk pemanfaatan sendiri. memiliki populasi 6700. pada tahun 1700.000 penduduk Tahap 3: Perluasan Jaringan Pemukiman dan Pengembangan Perdagangan Dalam Negeri.

seperti yang dijelaskan dalam model perdagangan. kota yang terletak dekat dengan sungai. 3) Kondisi urbanisasi saat ini di negara-negara berkembang Dari 1950-1975. namun. Ketika interior mulai diselesaikan. Dalam angka absolut. ingin mendapatkan akses ke daerah dalam. lebih banyak tempat perkotaan menjadi kota besar. Secara singkat bahwa perkembangan kota di Amerika dikarenakan penggabungan lebih dari satu jenis asal dan fungsi. Tahap 5: Memodifikasi jaringan. dan kemudian saluran navigasi. seperti yang dijelaskan oleh teori tempat pusat. ketika negara-negara maju sebagai sebuah kelompok mengalami peningkatan penduduk perkotaan dari 71 persen. Masalah utama adalah transportasi. Kedua: beberapa kota muncul sebagai pusat perdagangan lokal. dan pantai timur kota. Jalur darat yang sulit dan mahal. dan 179 persen di Asia. oleh karena itu. ukuran penduduk kota dari negaranegara berkembang membengkak hampir 200 persen-222 persen di Afrika. Daerah-daerah perbatasan diperlukan koneksi dengan pemasok perkotaan dan pasar. Dengan perluasan tempat perkotaan dan semakin pentingnya fungsi layanan mereka. beberapa dimulai pada tepi selatan dan barat daya negara tersebut. tempat sentral berfungsi sebagai menjadi penting pada pusat perdagangan jarak jauh sebagai kota tambahan dikembangkan di seluruh Amerika Serikat selama fase terakhir. penduduk . sistem memuncak mencerminkan penerapan pola tempat sentral pada struktur dagang yang ada dikembangkan di distribusi dan manufaktur poin. Trasnportation air adalah bentuk termudah dan termurah koneksi. terutama untuk transportasi produk besar. Tiga: Sebuah perkotaan beberapa tempat pembangunan di lokasi bahan baku yang menarik industri. yang mengembangkan industri manufaktur. Menurut model Vance. danau. seperti kota-kota manufaktur pada coalfields di Pennsylvania barat. banyak pemukiman kota yang paling awal berasal di pantai timur. 191 persen di Amerika Latin. Satu: banyak kota yang terletak di situs diakses perdagangan jarak jauh.dan awal kedelapan belas.

orang muda beralih ke kota-kota sebagai tempat dianggap memiliki kesempatan kerja lebih banyak. pasar. lebih memilih untuk menanam investasi di daerah perkotaan di mana tenaga kerja.perkotaan di Afrika meningkat sebesar 71 juta antara 1950 dan 1975. terutama dalam mekanisasi sistem pertanian tradisional. dan fasilitas transportasi yang terbaik dikembangkan. dan penduduk perkotaan di Asia meningkat 315 juta. Jika pembangunan perkotaan seperti ini kontras dengan di daerah pedesaan yang terabaikan dari investasi. akan menjadi penataan ulang dalam urutan kota terbesar oleh setengah abad berikutnya. Penyebab penting dari migrasi desa-kota adalah persepsi dari orang-orang yang ingin melakukan urbanisasi. tetapi pada tahun 2034. tidak ada sepuluh kota atas diharapkan berada di kedua daerah. Lambatnya pertumbuhan kesempatan ekonomi di daerah pedesaan. Peningkatan secara alami ditunjukkan di Cina selama periode ketika migrasi ke daerah perkotaan. Sering kali ada kelebihan tenaga kerja. Seringkali tingginya tingkat pertumbuhan alami adalah akibat langsung dari migrasi masuk oleh orang dewasa muda selama tahun puncaknya reproduksi (Todaro 1980). Pada periode yang sama. pengangguran atau setengah pengangguran ada di daerah pertanian. Salah satu hasil yang diharapkan dari urbanisasi yang cepat di negara-negara kurang berkembang. baik domestik maupun mereka yang berafiliasi dengan perusahaan asing. . produsen. Dari 1949-1979 sekitar dua pertiga dari pertumbuhan perkotaan ini disebabkan pertumbuhan alami. ketiga terbesar kota di dunia berada di Negara bersatu dan Eropa. Pada tahun 1950. Prospek ekonomi di daerah pedesaan di negara-negara berkembang umumnya suram. Urbanisasi merupakan hasil dari peningkatan secara alami dan migrasi. Investasi baru. Di sebagian besar negara maju. Amerika Latin ditambah 130 juta orang penduduk perkotaan. dan melambatnya laju urbanisasi di Eropa dan Amerika Utara. dan terkadang kenyataan bahwa kesempatan dan kemajuan ekonomi dan sosial yang tersedia di kota-kota. terutama di bidang industri. cenderung berfokus pada kota-kota besar. ketidakseimbangan antara peluang pedesaan dan perkotaan dapat melebar.

dan kemasyarakatan. dan institusi publik. Struktur kota yang demikian akan berupa beberapa zona-zona yang terkonsentrasi pada suatu pusat. tempat tinggal untuk etnik-etnik tertentu. Teori Concentric (Burgess) Burgess mengemukakan bahwa kota-kota berawal dari sebuah pusat yang kemudian meluas dari pusat itu sendiri. Beberapa wilayah yang letaknya di bagian utama dari kios eceran. Di dalam zona ini dihuni oleh para kaum buruh kecil yang bertempat tinggal menetap di kawasan tersebut dengan jangka waktu yang relatif lama. 1. tempat tinggal bagi penduduk yang berpendapatan menetap. Zona keempat ialah middle class housing yang dihuni oleh para kaum kelas menengah. industri. Usaha untuk membuat generalisasi dari struktur kota ke dalam model yang dilakukan secara keseluruhan. gedung pemerintahan. Dan yang terakhir di zona kelima ialah . yang berisikan industri di sela-sela perumahan penduduk yang mempunyai tanah atau bangunan dari warisan masa lampau. Yang pemukimannya tidak terlalu ada karena masih ada jarak diantara rumah-rumah penduduk tersebut.Struktur Internal Kota Susunan kota pada umumnya digambarkan pada penempatan letak setiap wilayah. Kemudian di zona kedua yaitu transistion zone. Kemudian berikutnya adalah zona kaum buruh kecil yang merupakan zona ketiga di dalam struktur ini. Namun sebagian besar daerah ini telah banyak diubah menjadi kawasan perkantoran maupun kawasan pertokoan. Dan juga dikawasan ini terdapat slum atau daerah kumuh yang tidak beraturan yang biasanya ditempati oleh para pendatang atau pekerja yang berpenghasilan kurang. Dan di daerah slum ini pun rawan akan terjadinya pelanggaran hukum atau kejahatan disamping adanya kemiskinan yang melanda. Yang kemudian nantinya secara luas bertahap penduduk mulai berdatangan atau menempati wilayah perluasan tersebut. sosial. di sisi lain dari kota digunakan untuk tempat penyimpanan. Di tengah atau dipusat dari struktur kota tersebut terdapat sebuah pusat bisnis atau CBD (Central Bussines District) yang bisa dikatakan merupakan zona pertama yang di dalam pusat tersebut merupakan pusat ekonomi.

Dan perumahan bagi kaum buruh hanya akan berkembang dengan menyambung sesuai rute yang telah ada.commuter. Jadi pajak tertinggi tidak harus terdapat di kawasan pusat kota. Di sekeliling pusat-pusat tambahan tersebut akan membentuk suatu pengelompokan tata guna tanah yang berhubungan secara personal. Oleh sebab itu pendirian kawasan perumahan oleh kaum elite akan mendorong mahalnya harga tanah-tanah yang berlokasi di tepi-tepi perumahan elite tersebut. Teori sektor (Hoyt) Hoyt mengemukakan bahwa proses pertumbuhan kota lebih berdasarkan sektor-sektor daripada sistem concentric yang dikemukakan dalam teori Burgess. disini di tempati oleh para penduduk yang bekerja di kota dengan menglaju. Hoyt meneliti CBD yang terdapat di pusat kota dan Hoyt mengemukakan bahwa pengelompokan tata guna tanah di satu kota seperti alur irisan kue tart. Teori Multiple Nuclei (Harris-Ullman) Harris dan Ullman mengemukakan bahwa di dalam suatu kota terdapat kenyataan yang lebih kompleks dari apa yang dikemukakan oleh Burgess dan Hoyt. walaupun sebidang tanah yang berada di pinggiran atau perbatasan kota namun harganya mahal karena termasuk ke dalam kawasan perumahan elite. Namun didasarkan pada fungsi-fungsi daripada sektor-sektor tersebut. 2. Dan dari keadaan tersebut akan memungkinkan lahirnya struktur kota yang memiliki sel-sel pertumbuhan. Yang di dalamnya terdapat perbedaan kawasan kota berdasarkan jenis blok-blok berdasarkan fungsi ataupun jenis pengelompokan penduduk. Contohnya. Harris dan Ullman berpendapat bahwa pertumbuhan disebabkan oleh munculnya pusat-pusat tambahan yang masing-masing akan menjadi pusat pertumbuhan. Di dalam penelitiannya Hoyt menemukan bahwa pajak tanah dan bangunan berbeda-beda berdasarkan sektor-sektor dikota. . 3.

kawasan industri. dan akibatnya mereka membutuhkan lebih banyak ruang. juga daerah-daerah pinggiran atau tepian kota memiliki pusatpusat yang menaungi penduduk. harga tanah relatif rendah di pinggiran kota menciptakan insentif untuk membangun ke arah luar daripada mengembangkan kembali wilayah inti yang ada. seperti yang dijelaskan oleh model transportasi. Kedua. stasiun. Pertama. Alasan mengapa kota melakukan perluasan keluar dari inti kota. menyediakan situs yang menarik bagi produsen. Dan juga industri baru akan mencari lokasi yang strategis sesuai dengan rutetransportasi. banyak bentuk pedagang eceran menurun di distrik pusat bisnis sebagai toko telah direlokasi di mal yang dapat diakses dengan parkir mobil lebih mudah. maupun kawasan perkotaan. Ketiga. dalam perluasan kota di Amerika telah ke luar. perubahan teknologi transportasi memungkinkan orang untuk tinggal jauh dari tempat kerja mereka tanpa pengorbanan besar dalam biaya perjalanan dan waktu.Daerah-daerah yang bertipe sel-sel atau nucleus tersebut misalnya pelabuhan. Karena biaya lahan adalah bagian penting dari biaya perumahan. lebih murah nilai tanah. Pengelompokan tata guna tanah disuatu kota lebih cenderung menggunakan perhitungan secara ekonomis. . Perubahan Bentuk Dan Fungsi Dalam beberapa dekade terakhir. Taman industri berlokasi di ringroads. Jadi yang memiliki pusat bukan hanya kota. seperti Jalan Raya 128 sekitar Boston. perumahan baru akan mencari lokasi yang dekat dengan pasar atau pusat perbelanjaan. penduduk perkotaan telah berkembang pada abad terakhir. Menurut Haris dan Ullman. Seperti yang dijelaskan oleh Von Thünen lebih jauh dari kota. Pada 1970. kegiatan manufaktur banyak yang pindah dari daerah berpajak tinggi dan sesak di bagian tengah kota. sekitar 75 persen dari perdagangan eceran terdapat di daerah pinggiran kota metropolitan di Timur Laut dan Midwest. Meskipun akan mungkin untuk meningkatkan kepadatan populasi dalam inti kota (seperti yang terjadi di beberapa kota dunia). transportasi modern telah meningkatkan aksesibilitas atas tanah lebih murah yang terpencil. Contohnya. Selain itu.

awalnya. Artinya komunitas yang berbeda tentunya memiliki ciri permukiman yang berbeda pula. Pada umumnya pemukiman terbentuk dari kebiasaan hidup luhur masyarakat di desa tersebut. karena Indonesia memiliki bentuk wilayah yang luas. Di Amerika Serikat. Banyak fungsi yang sebelumnya terjadi di bagian tengah kota yang sekarang terletak di pinggiran kota. ditegaskan bahwa sebagai suatu produk komunitas. bukan merupakan produk orang per orang. Pola pemukiman desa Sejarah pembentukan desa di Indonesia Di setiap negara desa selalu identik dengan pertanian. Dalam hal teori tempat pusat. kami akan memprediksi bahwa. luas. pertumbuhan mal besar dan kawasan industri di pinggiran kota belum terhambat secara serius oleh zonasi. Efeknya adalah. dan tersebar. perluasan perkotaan menciptakan jarak antara layanan terletak di pusat dan daerah pemukiman. Hal ini juga yang terdapat di Indonesia. Outlet ini baru kemudian mulai untuk mencegat konsumen yang sebelumnya berbelanja di distrik pusat bisnis. bentuk lingkungan permukiman merupakan hasil kesepakatan sosial. sebagian kota telah menyerahkan diri dalam ke luar. Asal muasal desa di Indonesia berbeda-beda setiap daerahnya. untuk membuat outlet untuk barang kenyamanan dan jasa di lokasi pinggiran kota. B. Kelima. Perbedaan inilah yang memberikan keunikan tersendiri pada bangunan tradisional. Akibatnya. pusat baru akan muncul untuk menyediakan barang dan layanan dasar dengan wilayah pemukiman. a. bagaimanapun. sekali jarak dari CBD melebihi beberapa beberapa kilometer. hukum penetapan wilayah dan keputusan politik lainnya tidak dianjurkan perluasan kota. Desa di Indonesia terbentuk dari pembukaan lahan untuk pertanian yang dilakukan oleh individu atau sekelompok yang akhirnya menetap. Tidak ada sejarah proses pembentukan desa yang sama.Keempat. Di Eropa Barat peraturan zonasi sulit mencegah perkembangan pusat perbelanjaan terpencil. karakteristik berbeda. Pola Pemukiman Desa dan Kota di Indonesia 1. yang antara . Bahkan menurut Habraken dalam Fauzia (2006:32).

dan prasasti Walandit di daerah Tengger di Jawa Timur pada tahun 1381 M. Terbentuknya Desa di Kawali dengan terbentuknya kelompok masyarakat akibat sifat manusia sebagai makhluk sosial. Oleh karena itu Koentjaraningrat (1987) menjelaskan bahwa benda–benda hasil karya manusia merupakan wujud kebudayaan fisik. bentuk. Pola pemukiman desa di Indonesia Karakteristik Desa Pada umumnya karakteristik desa pegunungan adalah sama. relatif besar. Tindakan ini disebut tetruka. Di Tapanuli. Mereka memiliki nenek moyang sama. Keunikan tersebut sekaligus menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan. atau tanah desa tak memadai lagi untuk menghidupi penghuninya. dan bahan bangunan serta konsep religi yang melatarbelakanginya. masalah-masalah ekonomi bermunculan. dorongan kodrat. Beberapa keluarga keluar mendirikan permukiman baru dengan cara membuka hutan. 3) Hubungan penduduk akrab. yaitu para cikal bakal pendiri permukiman tsb. kepentingan yang sama dan bahaya dari luar.lain dapat dilihat dari orientasi. Karena Indonesia merupakan negara kepulauan. atau sekeliling manusia. Ciri-ciri wilayah pedesaan yaitu: 1) Perbandingan luas tanah dengan jumlah manusia. Dimana seluruh wilayah Indonesia secara administrative terbagi habis menjadi desa-desa. potensi alam yang kaya dan keadaan tanah yang berlereng. pembukaan desa baru. Keadaan Topografi Di wilayah Indonesia kira-kira 80% merupakan pedesaan dan 20% merupakan perkotaan. akan tetapi mengacu pada prasasti Kawali di Jawa Barat sekitar tahun 1350 M. 2) Lapangan kerja agraris. b. menurut Marbun. Jika desa sudah penuh. Perihal terbentuknya Desa hingga sekarang sulit diketahui secara pasti kapan awalnya. mulanya dihuni orang seketurunan. maka desa sebagai unit terendah dalam struktur pemerintahan Indonesia telah ada sejak dahulu dan murni Indonesia bukan bentukan Belanda. 4) Sifat menurut tradisi budaya setempat. maka terdapat desa di tengah pulau dan desa di tepi pantai. yaitu mempunyai udara yang sejuk. di samping itu . sebagian karena kelompok baru ingin mencapai hak dan kewajiban sebagai raja adat. termasuk di dalamnya adalah permukiman dan bangunan tradisional. Desa di Jawa.

Ketiganya akan saling kait mengkait dan saling ketergantung satu sama lain. sedangkan orangorang mempunyai sebidang tanah yang selama suatu masa tertentu harus diusahakan secara terus menerus. terutama terjadi dalam daerah yang baru dibuka. Pola permukiman dengan cara berkumpul dalam sebuah kampung/desa.c. Hal tersebut disebabkan karena belum adanya jalan besar. dan d. sedangkan tanah garapan berada di luar kampung. Rumah saling berkelompok membentuk permukiman dengan pola . seperti sawah. yaitu pola menyebar dan pola mengelompok. kegiatan kehidupan. hutan dan sebagainya. maka dapat dibedakan pula desa di dataran. ladang. Berkumpul dan tersusun melingkar mengikuti jalan. dan desa di pegunungan. b. Desa di tepi sungai merupakan pemukiman yang linier dengan tempat kegiatan ekonominya. mengikuti jalan yang melingkar. Pola permukiman tradisional berdasarkan pada pola persebarannya juga dibagi menjadi dua. Sedangkan desa yang terletak di perbukitan sering mempunyai pola pemukiman tersebar. memanjang mengikuti jalan lalu lintas (jalan darat/sungai). Berdasarkan orientasi dan topografi terdapat pemukiman memusat (linier) dan tersebar (dispersed).terdapat desa yang meliputi pulau kecil. Lingkungan Pemukiman Desa Penduduk atau manusia. Pola permukiman dengan cara berkumpul dalam sebuah kampung/desa. Jadi secara geografis di Indonesia terdapat desa pedalaman. dan perangkat yang dibutuhkan dalam kehidupan. Pola permukiman dengan cara tersebar berjauhan satu sama lain. Perkembangan dan pertumbuhan satu akan mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan yang lainnya. Menurut Widayati (2002) dijelaskan bahwa rumah merupakan bagian dari suatu permukiman. desa di perbukitan. Menurut Wiriatmadja (1981:23-25) pola spasial permukiman sebagai berikut: a. sedangkan tanah garapan berada di belakangnya. sedangkan tanah garapan berada di belakangnya. merupakan perangkat dasar terbentuknya suatu lingkungan kehidupan. Berhubung permukaan bumi tidak sama. Pola permukiman dengan cara terkumpul dalam sebuah kampung/desa. desa di lembah. desa pantai desa sungai. Pada umumnya desa di tengah pulau atau desa pedalaman mempunyai pemukiman yang terpusat dikelilingi oleh tanah untuk kegiatan ekonominya.

3. Batas teritori wilayah kekuasaan pribadi (lahan). Kedua. Tempat-tempat ini secara umum dibagi dalam empat strata utama dalam formasi perkotaan. 6. sehingga berpengaruh pada komposisi bangunan dalam kampung. . Ukuran ditentukan oleh tingkat status sosial dan derajat sang penghuni. Untuk menciptakan permukiman atau kampung pada suatu wilayah dapat dilakukan dengan dua tindakan. Hal ini ditentukan oleh status sosial sang penghuni. Seseorang yang dianggap memiliki kesaktian dan mampu menaklukkan lahan yang akan dijadikan permukiman dari kekuasaan makhluk halus penguasa hutan. Permukiman Kota 1) Pembentukan & Pertumbuhan Kota di Indonesia Menurut Werner 1987.Kesamaan atas dasar suku bangsa tertentu. 2. masyarakat agrikultural – yang kemudian berkembang . 7.Kesamaan golongan dalam masyarakat. antara lain desa pengrajin. yaitu pertama dengan membuka hutan disebut mbabat. dengan menampilkan tokoh yang membentuk tatanan dari suatu kekacauan (Aliyah 2004:35). antara lain Kampung Bali. Bentuk dan ukuran bangunan rumah tinggal.tertentu. Tokoh yang membentuk tatanan dari suatu kekacauan. yaitu sebagai berikut: 1. sehingga ada tuntunan pembatas teritori. dan memiliki aturan dalam penempatan pintu sebagai penghubung. ”Kota-kota besar dan kecil di kepulauan di India. perumahan bank. yakni pendirian kota-kota baru. Besaran lahan atau ukuran luas tapak. Perbedaan ruang publik dan ruang privat sangat kuat. misalnya terjadi dalam kelompok sosial tertentu antara lain komplek kraton. Menurut Aliyah (2004:35) elemen-elemen pembentuk karakter kampung/permukiman tradisional di Jawa. dan 8. Bentuk dan ukuran pagar yang ditentukan oleh status sosial masyarakat yang menghuni. Riwayat terbentuknya (legenda/sejarah kampung) yang secara fisik dapat dikenali dengan keberadaan situs. Susunan tata masa atau komposisi bangunan hunian. Kampung Makasar. komplek perumahan pegawai. perumahan dosen. karena tata masa bangunan Jawa memiliki aturan atau patokan tersendiri. b. 5. 4. termasuk yang ada di Indonesia memiliki akar sejarah tersendiri.Kesamaan profesi tertentu. Kelompok masyarakat dalam kesatuan tatanan bermukim. dan . Pengelompokan permukiman dapat didasari atas dasar : .

Sementara pada masa Pemerintah Kolonial (1700-1900) pertumbuhan perkotaan lebih efektif dirangsang dengan menggunakan faktor politis/administrasi ketimbang dengan faktor kegiatan perdagangan. Islam dan periode awal kekuasaan Eropa (1400-1700M). tetapi merupakan bentuk dan kreasi sejarah dan faktor kebetulan yang kemudian diteruskan dan dibina penjajah Belanda selama 350 tahun. seperti Yogyakarta. prasyarat paling penting untuk formasi awal pembentukan kota sudah ada di nusantara sebelum periode Hindu. seperti Palembang (pada masa Sriwijaya).menjadi pusat dominasi asli yang baru. pertumbuhan kota di Indonesia melalui sejarah yang cukup panjang. permukiman nelayan. sebagai pusat niaga . permukiman industri manufaktur dan pertambangan dan permukiman pariwisata. pusat-pusat perdagangan dan pusat-pusat administratif. di pusat-pusat kerjaan Nusantara juga masih dapat kita jumpai bekas kota yang terbentuk dengan kegiatan sebagai pusat pemerintahan. masyarakat yang memiliki dominasi pekerjaan berdagang di pelabuhan dan pusat dominasi kegiatan pada kekuasaan lokal (pedalaman). perdagangan merupakan faktor utama pada pembentukkan masyarakat dengan karakteristik perkotaan. Kota-kota di Indonesia saat ini bukan merupakan bentukan atau warisan dari zaman keemasan kerajaan Nusantara terdahulu. Pada periode pengaruh kerajaan Hindu. Pada mulanya kota-kota di Indonesia terbentuk akibat faktor-faktor. Masih menurut Werner (1987). Tanjung Perak di Surabaya. Kedua strata yang terakhir membentuk tempat yang dahulunya pedesaan”. Solo dan kota kecil lainnya di Bali. Barus di pantai Barat Sumatera. Jika kita telusuri sebelum kedatangan Portugis dan Belanda. Namun. Masih menurut sumber yang sama menyebutkan bahwa kota di Indonesia memiliki tiga karakter yaitu. meski tidak secara langsung namun perdagangan mempercepat proses feodalisasi dalam sebuah komunitas asli. yaitu sebagai pusat pemerintahan kolonial. yang ada adalah kota pantai atau bandar sebagai pusat lalu lintas perdagangan terbatas. hal ini dapat diindikasikan dengan adanya institusionalisasi pemerintahan yang diatur oleh seorang penguasa. Pada saat itu ada dua jenis tipe masyarakat perkotaan yang sedang berkembang yakni. Sementara itu. di Indonesia hampir tidak kita dapati satu kota atau bekas kota yang berarti. Menurut Marbun 1994.

dan perkembangan jasa-jasa pelayanan. sehingga mereka menghasilkan peradaban kota. jumlah penduduk yang tinggal di kawasan perkotaan (kini mencapai 120 juta dari total 230 juta jiwa). seperti sumber air panas di wilayah tropik. dimana kota-kota metropolitan. kedua. laju urbanisasi yang tinggi. bagi sebuah desa nelayan adalah letak permukiman yang berada di tepi pantai atau muara sungai. Sementara itu. Perkembangan urbanisasi di Indonesia dapat diamati dari 3 (tiga) aspek: pertama. Kota industri manufaktur dan kota tambang umumnya berkembang karena dorongan dari perkembangan infrastruktur. Arab Melayu dst. Pada awal pertumbuhannya. atau juga tepi danau yang tidak curam. Lebih lanjut. permukiman urban di Indonesia masih diwarnai oleh tradisi pedesaan yang dipengaruhi oleh struktur agraris dengan kehidupan sosial yang bertumpu pada ekonomi gotong royong. misalnya Sansekerta. dan tidak berlumpur. secara non fisik seperti keunikan etnik dan budaya. bukan hutan bakau. sedangkan yang tidak akan tetap berpegang pada peradaban desa dan kelompok ini jelas akan tertinggal. Namun seiring berjalan waktu. lokasi di wilayah pegunungan atau perbukitan seperti Bandung. selain itu juga memiliki akses ke laut lepas. pertumbuhan kota menghasilkan sistem pelapisan sosial dan birokrasi yang ternyata berhasil mendorong masyarakat agar mampu menghasilkan surplus pertanian dan industri domestik yang hasilnya akan mendukung kebudayaan kota. motorisasi. serta.dan sebagai pelabuhan serta terminal untuk Mendukung pernyataan di atas. seperti : . sebaran penduduk yang tidak merata (hampir 70% di Pulau Jawa dengan 125 juta jiwa dan di Pulau Sumatera dengan 45 juta jiwa). menurut Werner 1987 dalam perkembangan kota-kota di Indonesia mengungkapkan beberapa identitas kota dengan berbagai ciri fisik yaitu. 2) Perkembangan Ruang Kota: Urbanisasi dan Dampaknya Tidak dapat disangkal bahwa perkembangan fisik ruang kota sangat dipengaruhi oleh urbanisasi. sebagian kelompok masyarakat merasa perlu melengkapi dirinya dengan budaya tulis-menulis. Jawa Kuno. ketiga. selain itu umumnya tipe kota ini di Indonesia terletak diluar/bersebelahan dengan kota pemerintahan. Sedangkan kota pariwisata. secara fisik seperti karakter alamnya memiliki keunikan atau keistimewaan.

maka proporsi penduduk kota diperkirakan akan meningkat menjadi 56. Palembang. Dari sisi penyebaran kota-kota otonom. merupakan magnet utamanya. Tetapi di sisi lain. Di satu sisi.Jakarta (termasuk Bekasi. jumlah kota telah meningkat 2 (dua) kali lipat. Catatan statistik menunjukkan bahwa sejak 1970. Maluku. urbanisasi telah melipat gandakan penduduk perkotaan tiga kali lebih besar. maka 34 kota berada Pulau Sumatera dan 35 kota di Pulau Jawa.4% (1970). Bogor dan Tangerang).3% (1980). 52. telah lahir 25 kota otonom baru sebagai hasil pemekaran wilayah dengan maksud untuk meningkatkan pelayanan publik. akhirnya. Medan. Bandung. Sulawesi. tanpa batas. dan Makassar. secara bersamaan kualitas . menjadi 22. Artinya dalam 40 tahun terakhir. 30. sebagai upaya untuk mencapai efisiensi tertinggi dalam kehidupan perkotaan. Sedangkan 29 kota lainnya tersebar di Pulau Kalimantan. fraksi penduduk perkotaan Indonesia meningkat dari 17.03% (2010). 70% dari kota otonom Indonesia berada di Pulau Jawa dan Sumatera. kota merupakan katalis pertumbuhan ekonomi yang utama (engine of growth). Pada awal tahun 1970. Pada masa yang akan datang.39% di tahun 2020. baik karena pertumbuhan penduduk kota secara alamiah. namun pada tahun 2010 telah berkembang menjadi 98 kota otonom. upaya untuk menjadikan hidupnya lebih layak dan sejahtera. ekivalen dengan 70% konsentrasi PDB nasional di kedua Pulau tersebut. Surabaya.5%/tahun. Tidak hanya itu. terjadi peningkatan jumlah kota di Indonesia secara progresif untuk periode yang sama.99% (2002) dan. Proses transformasi sosial yang demikian cepat tidak mudah untuk dikelola. migrasi dari desa ke kota maupun pemekaran wilayah. dengan kata lain. 43. Dengan laju pertumbuhan moderat sebesar 1. Artinya. Urbanisasi dipandang sebagai pilihan rasional masyarakat untuk meningkatkan taraf hidupnya. ketika kota-kota bertansformasi menjadi lebih modern. Artinya dalam tempo 40 tahun.05% di tahun 2015 lalu menjadi 60.9% (1990). hanya terdapat 45 kota otonom saja. urbanisasi diyakini akan terus terjadi di Indonesia. Khususnya dalam 10 tahun terakhir (2000–2010). Nusa Tenggara dan Papua. Kota merupakan inkubasi yang ideal untuk lahirnya berbagai inovasi: locus dimana ide-ide yang kaya saling berkompetisi.

fenomena ”mengkota” menandakan terbentuknya network society yang baru dan berbeda dalam tuntutan pelayanan infrastruktur (Graham & Marvin. polusi air dan udara. Tanpa akses ke pelayanan dasar perkotaan. fungsi maupun wajah kotanya. Wujud fisik dan arsitektur kota yang kontras (antara kemewahan dan kekumuhan) merupakan bukti yang solid. Dengan kondisi yang kritis tersebut. penyediaan air yang tidak layak minum. kesemuanya menjadi potret buram kota-kota. perkembangan yang sangat pesat telah terjadi. penduduk miskin perkotaan akan menjadi korban pertama. Hotel Indonesia dan sebuah department store “Sarinah”. serta penyebaran kawasan kumuh di perkotaan. transformasi sosio-fisik dilakukan dengan . bagaimana kesenjangan dan segregasi sosial-ekonomi terjadi di kawasan perkotaan. Tiga contoh berikut. banjir yang berulang bahkan semakin parah. Kemacetan yang akut. antara lain : banjir. Namun dalam tempo 50 tahun terakhir. Secara sosio-kultural. Penduduk miskin menjadi kelompok sosial yang sangat rentan terhadap berbagai bencana perkotaan. baik dilihat dari struktur. dengan gedung-gedung modern pencakar langit yang megah (hotel. Jakarta telah bermetamorfosa menjadi sebuah kota metropolitan. Jakarta tidak lebih dari sebuah “kampoeng besar” dengan sebuah hotel berbintang. Dalam prosesnya. khususnya kota metropolitan di Indonesia. 2001). penduduk miskin tersebut kini mendiami hunian kumuh yang sangat padat (slums dan squatters) di ruang-ruang sempit perkotaan yang sama sekali tidak layak huni.kehidupan perkotaan menurun secara signifikan. kantor hingga mall/pusat-pusat perbelanjaan). kerentanan penduduk miskin perkotaan akan semakin tinggi. Dua sisi pembangunan perkotaan yang saling bertolak-belakang ini disebut oleh para ahli sebagai “the urban paradox”. Dalam jangka panjang. Jakarta. • Pada awal tahun 1960-an. dapat memberikan ilustrasi betapa cepat perubahan telah terjadi di kota-kota Indonesia. Urbanisasi mengubah morfologi kota secara drastis. khususnya di kawasan Segitiga Emas. kebakaran dan penyebaran wabah penyakit. apartemen. apabila kita memasukkan parameter perubahan iklim. Bandung dan Gorontalo.

dsb). serta dibukanya akses jalan tol Cipularang pada tahun 2005 yang memangkas jarak waktu Jakarta – Bandung secara signifikan. padahal lama sebelumnya ia direncanakan sebagai pusat hunian yang tenang. • Kota Bandung sejak lama direncanakan sebagai salah satu pusat kegiatan Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1930-an apabila merujuk pada keberadaan Gedung Sate. ditandai dengan pemekaran Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat. Bandung mengalami metamorfosa. Selain itu. Sejak beralih status menjadi kota otonom sekaligus . Perubahan morfologi kota semakin tajam pada awal tahun 2000-an. serta pusat belanja (factory outlets). dengan statusnya sebagai “multi-function” yang mengakumulasi berbagai fungsi tertinggi secara nasional (pusat pemerintahan. ditandai dengan okupansi lahan-lahan di Bandung Utara dan Bandung Selatan. 2010). rumah sakit. kini telah beralih fungsi menjadi salah satu pusat permukiman elit serta pusat kegiatan pariwisata yang dipadati oleh turis domestik saat weekend.mengkonversi kampong yang banyak berada di dataran rendah (rawa dan kebun) ke segala arah: Barat. Setiabudi dan sekitarnya kini menjadi pusat kegiatan komersial utama di Kota Bandung. restoran. perkembangan yang sangat pesat terjadi di kawasan pinggiran. Konsep yang dikembangkan awalnya adalah kota taman yang asri. Kawasan Dago. Selatan dan Timur. Jakarta telah menjema menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi yang menjanjikan di kawasan Asia-Pasifik. dari kota tempat peristirahatan para mandor perkebunan « tempoe doeloe » menjadi kota tujuan wisata (urban tourism) dengan atraksi wisata kuliner. bahkan kebudayaan). sebagai unsur esensial dari sistem internal kotanya. Kini. • Kota Gorontalo hingga akhir tahun 1990-an hanya merupakan ibukota Kabupaten Gorontalo dengan fasilitas sosial-ekonomi yang sangat terbatas (hotel. perdagangan dan jasa. Sementara itu. kesejukan alami dataran tinggi. kawasan Bandung Utara yang sebelumnya merupakan kawasan lindung untuk peresapan air. Proses urbanisasi telah terjadi secara cepat mulai tahun 1980-an. dimana tidak kurang dari 7 (tujuh) kotabaru berskala besar telah terbangun di Jabodetabek sejak tahun 1980-an (Gani.

8 juta (1980) menjadi 20. hotel dsb) tumbuh subur. dan Gorontalo sejak 2000-an). kita dapat mengamati bahwa transformasi sosial telah mengubah morfologi kota. (2) keberadaan infrastruktur sosial-ekonomi.62 juta jiwa (2010). aliran investasi yang mengalir cukup deras dipicu oleh kegiatan pemerintahan telah merubah wajah kota secara signifikan. Hal ini berlawanan dengan jumlah penduduk miskin di kawasan perdesaan yang menunjukkan kecenderungan menurun dari 32.5 juta menjadi 11. . Tidak kurang dari 47. Bandung sejak 1980-an.000 kantong-kantong kemiskinan kini tersebar di berbagai kota di Indonesia. Ketiga faktor tersebut menjadi penyebab utama terjadinya urbanisasi dan mengakselerasi alih-fungsi ruang perkotaan. Beberapa faktor tampaknya cukup dominan dalam proses tersebut : (1) aliran investasi yang mendorong peningkatan produktivitas kota. Dari tiga contoh diatas. Secara keseluruhan. khususnya yang berkaitan dengan sektor industri perikanan (pelabuhan) dan sektor pertanian tanaman pangan (industri pengolahan komoditas jagung). angka penduduk miskin tersebut masih sangat tinggi. Pusat-pusat kegiatan komersial dan jasa (perbankan. serta kecepatan transformasi yang terjadi yang banyak ditentukan oleh peran sektor swasta. Wajah kota yang relatif sederhana.Ibukota Provinsi Gorontalo pada tahun 1999. seperti jalan dan pelabuhan.91 juta jiwa. Perbedaannya terletak pada titik awal terjadinya perubahan (Jakarta sejak 1960-an. Walaupun demikian. serta (3) peningkatan status kota otonom (ibukota provinsi). khususnya yang digerakkan oleh investasi swasta . jumlah penduduk miskin di kawasan perkotaan justru menunjukkan grafik yang meningkat dari 9. restoran. secara perlahan kini berubah mengikuti perkembangan zaman. modernisasi kota tidak serta-merta menghapus kekumuhan akibat kemiskinan perkotaan yang belum dapat teratasi sepenuhnya. Infrastruktur sosial-ekonomi semakin membaik. Pada kurun waktu tiga decade terakhir (1980 – 2010).

desa. dan ukurannya. Jadi secara geografis di Indonesia terdapat desa pedalaman. Namun seiring berjalan waktu.BAB III PENUTUP Kesimpulan Pemukiman merupakan suatu kawasan yang didiami oleh manusia dapat berupa hamlet (rumah susun). dan petani tradisional. dan desa di pegunungan. dan kota. Karena Indonesia merupakan negara kepulauan. Berdasarkan orientasi dan topografi terdapat pemukiman memusat (linier) dan tersebar (dispersed). Pada umumnya desa di tengah pulau atau desa pedalaman mempunyai pemukiman yang terpusat dikelilingi oleh tanah untuk kegiatan ekonominya. hutan dan sebagainya. Desa di tepi sungai merupakan pemukiman yang linier dengan tempat kegiatan ekonominya. distribusi penggunaan lahan. desa di lembah. peladang berpindah. dusun. seluruh wilayah Indonesia secara administrative terbagi habis menjadi desadesa. Sedangkan desa yang terletak di perbukitan sering mempunyai pola pemukiman tersebar. di samping itu terdapat desa yang meliputi pulau kecil. serta penyebaran pemukiman di negara maju dan negara berkembang yang ditinjau dari beberapa pendapat para ahli dalam proses pembentukan pemukiman. Jika dirunut dari kegiatan ekonomi pedesaan terdiri dari masa berburu dan mengumpul. desa di perbukitan. ladang. permukiman urban di Indonesia masih diwarnai oleh tradisi pedesaan yang dipengaruhi oleh struktur agraris dengan kehidupan sosial yang bertumpu pada ekonomi gotong royong. Pemukiman desa pada umumnya identik dengan aktivitas manusianya berupa pertanian. morfologi. maka dapat dibedakan pula desa di dataran. Pada awal pertumbuhannya. Sedangkan perkotaan berkembang dari pertumbuhan desa akibat dari tingginya intensitas pelayanan. Berhubung permukaan bumi tidak sama. maka terdapat desa di tengah pulau dan desa di tepi pantai. Ada beberapa ciri-ciri dan karakteristik penggolongan pemukiman desa dan kota. seperti sawah. desa pantai desa sungai. .

Arab Melayu dst. Jawa Kuno. misalnya Sansekerta.sebagian kelompok masyarakat merasa perlu melengkapi dirinya dengan budaya tulis-menulis. sehingga mereka menghasilkan peradaban kota. sedangkan yang tidak akan tetap berpegang pada peradaban desa dan kelompok ini jelas akan tertinggal .

pola. asal mula.blogspot.blogspot.com. 2008. . Cetakan I. Mencari Konsep Pembangunan Tata Ruang Kota yang Beragam. 2010. (2002). Crist. Jakarta. diakses tanggal 25 Maret 2012) Septiawan. 2008. (Online) http://phiihostaa. S.blogspot.blogspot.id/blog. bentuk. Badan Penerbit Universitas Dipenogoro.uns. Sejarah perkembangan Pemerintahan di Indonesia.DAFTAR PUSTAKA Budi. 123p. http://phiihostaa. Kota Indonesia Masa Depan. diakses tanggal 21 Maret 2012) Marbun. diakses tanggal 20 Maret 2012) Dhawie. Semarang. diakses tanggal 25 Maret 2012) ____2008. Contoh Kasus Teori Tempat Pusat. ciri & romantikanya.ac. (Online) http://fisip.com diakses tanggal 20 Maret 2012) Soetomo. Desa : definisi.com. Sosiologi Perkotaan. 1994.com. (Online) http://phiihostaa. Dari Urbanisasi ke Morfologi Kota.((Online) http://klubbelajar. ((Online). Agung. 2009. Indra. Masalah dan Prospek. Sinopsis Teori Central Place.com. Penerbit Erlangga Savitri.