Pola Pemukiman Desa Dan Kota Di Indonesia (Rural and Urban Settlements

)

Oleh: Muthmainna (1107215081980)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG PROGRAM PASCASARJANA PENDIDIKAN GEOGRAFI 2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan YME, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNYA, sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah Geografi Manusia yang berjudul “ Rural and Urban Settlements ”. Pembuatan makalah ini bertujuan untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan serta dapat berpikir kritis tentang kejadian-kejadian yang berkaitan dengan Geografi Manusia. Terima kasih yang tak terhingga penulis sampaikan kepada dosen pembimbing matakuliah Geografi Manusia Dr. Budijanto, M.Pd yang telah

membimbing kami sehingga dapat menyusun makalah ini. Semoga Tuhan YME memberi balasan atas segala bantuan yang diberikan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Akhirnya, dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan makalah ini. Harapan saya, semoga karya yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, penulis khususnya dan pembaca pada umumnya .

Malang, Maret 2012

Penulis

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pemukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, dapat merupakan kawasan perkotaan dan perdesaan, berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal/hunian penghidupan. Pola pemukiman menunjukkan tempat bermukim manusia dan bertempat tinggal menetap dan melakukan kegiatan/aktivitas sehari-harinya. Pemukiman dapat diartikan sebagai suatu tempat (ruang) atau suatu daerah dimana penduduk terkonsentrasi dan hidup bersama menggunakan lingkungan setempat, untuk mempertahankan, melangsungkan, dan mengembangkan hidupnya. Pengertian pola dan sebaran pemukiman memiliki hubungan yang sangat erat. Sebaran permukiman membincangkan hal dimana terdapat permukiman dan atau tidak terdapat permukiman dalam suatu wilayah, sedangkan pola pemukiman merupakan sifat sebaran, lebih banyak berkaitan dengan akibat faktor-faktor ekonomi, sejarah dan faktor budaya. Pemukiman diseluruh dunia dapat dibedakan menjadi dua yaitu pemukiman desa dan kota. Setiap bentuk pemukiman memiliki pola dan bentuk masing-masing, sehingga untuk menggolongkan setiap pemukiman tersebut dibutuhkan kriteria dan ciri tertentu. Pemukiman kota dan desa di setiap negara baik itu negara berkembang atau negara maju juga memiliki karakteristik yang berbeda baik struktur atau morfologinya. Walaupun jika digambarkan secara umum memiliki karakteristik yang sama, namun jika dijabarkan secara khusus setiap wilayah tidak ada yang memiliki karakteristik yang sama. Ini dipengaruhi oleh letak, kondisi geografis wilayah, budaya masyarakatnya. Termasuk Indonesia sebagai negara berkembang memiliki karakater pemukiman yang berbeda dengan negara lain. Hal ini dapat dilihat dari beragam pola pemukiman yang terdapat dari Sabang sampai Merauke. dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan

Rumusan Masalah Dari uraian latar belakang di atas. pola pemukiman desa dan kota baik di negara maju dan negara berkembang. Dan bagaimana terbentuknya pemukiman desa dan kota di Indonesia dilihat dari sejarah dan budaya masyarakat.B. maka dapat dijabarkan rumusan masalah dalam makalah ini yaitu bagaimana proses terbentuknya pemukiman desa dan kota dilihat dari pendapat para ahli yang telah mengembangkan model-model struktur kota. .

Dalam memenuhi kebutuhannya. sehingga pusat itu menjadi lokasi kosentrasi (kota). dan persebaran kota? Teori ini menyangkut hierarki pemukiman dan persebarannya secara geografis. 1933) mengemukakan tentang teori tempat sentral (Theory central place).BAB II PEMBAHASAN A. apakah yang menentukan banyaknya. dan kota. Sulit untuk melihat batas garis secara jelas dalam hal ukuran atau fungsi antara kota besar dan kota kecil. Dalam teori ini diasumsikan pada wilayah datar yang luas dihuni oleh sejumlah penduduk dengan kondisi yang merata. besarnya. Ringkasan Rural and Urban Settlements Pemukiman dapat berupa tempat hunian. Teori Tempat Sentral (Central Place) Teori ini memaparkan tentang persebaran dan besarnya pemukiman (hierarki pemukiman dan persebarannya). Christaller menyusun teori ini untuk menjawab tiga pertanyaan utama yaitu. desa. Walter Christaller (Jerman. Menurut Christaller terdapat konsep yang disebut jangkaun (range) dan batas ambang (treshold). sebuah dusun. Meskipun memiliki nama yang berbeda baik secara informal atau secara hukum memiliki definisi sebagai diskrit. Range adalah jarak yang perlu ditempuh manusia untuk mendapatkan barang kebutuhan pada suatu waktu tertentu saja. Treshold adalah jumlah minimal penduduk yang diperlukan untuk kelancaran dan keseimbangan suplai barang. Bahwa berbagai jenis barang pada orde yang sama cenderung bergabung pada pusat wilayahnya. . namun secara praktis masing-masing nama tersebut dikategorikan secara berbeda antara satu dengan yang lainnya. Dengan kata lain terciptanya suatu kota didorong oleh para produsen berbagai jenis barang pada orde yang sama cenderung berlokasi pada titik sentral di wilayahnya.

maka jangkauan (range) suatu barang ditentukan oleh jarak yang dinyatakan dalam biaya dan waktu. pelayanan pendidikan. (4) kota-kota berfungsi sebagai tempat sentral bagi wilayah sekitarnya. Lima asumsi yang digunakan Christaller untuk membangun teori dengan pendekatan ilmu geografi ekonomi. . Artinya ada hubungan antara besarnya tempat pusat dan besarnya (luas) wilayah pasaran. (2) karena konsumen yang menanggung ongkos angkutan. Perbedaan ongkos transportasi tiap komoditas pertanian dari tempat produksi kepasar terdekat mempengaruhi jenis penggunaan tanah yang ada disuatu daerah. Dalam teori ini ia mengeluarkan asumsi-asumsi sebagai berikut :  Pusat pasar atau kota semestinya berada pada titik pusat suatu wilayah yang secara geografis bersifat homogen  Hubungan yang berbanding lurus terjadi antara biaya transportasi dengan jarak. Distribusi Penggunaan Lahan di Sekitar Pemukiman Von Thunen mengidentifikasi tentang perbedaan lokasi dari berbagai kegiatan pertanian atas dasar perbedaan sewa lahan (pertimbangan ekonomi). dan pelayanan kesehatan. (5) wilayah tersebut digagaskan sebagai dataran dimana penduduknya tersebar merata dan ciri-ciri ekonomisnya sama (besar penghasilan sama). (3) semua konsumen dalam usaha mendapatkan barang dan jasa yang dibutuhkan menuju ke tempat pusat yang paling dekat letaknya. minuman.  Biaya angkutan ditanggung oleh petani dan besarnya sebanding dengan jarak yang ditempuh. antara lain: (1) Karena para konsumen yang menanggung ongkos angkutan. Untuk memperoleh kebutuhan tersebut penduduk harus menempuh jarak tertentu dari rumah yang disebut range. seperti makanan.penduduk memerlukan berbagai jenis barang dan jasa. Von Thunen berpendapat bahwa suatu pola produksi pertanian berhubungan dengan pola tata guna lahan diwilayah sekitar pusat pasar atau kota. maka jarak ke tempat pusat yang dinyatakan dalam biaya dan waktu sangat penting. perlengkapan rumah tangga. banyaknya penduduk dan tingginya pendapatan di wilayah yang bersangkutan.

kota. Perbandingan Ukuran Kota Pemukiman cenderung membentuk hierarki. kota terbesar sering sekitar dua kali lebih besar tempat yang paling padat penduduknya kedua. semakin jauh jarak yang ditempuh oleh para petani maka biaya transportasi yang dikeluarkan akan semakin meningkat. Kriteria ukuran tingkatan jarang berlaku pada negara berkembang. Area yang berada dipusat pasar atau kota akan memiliki nilai atau harga yang lebih mahal dibandingkan lahan yang berlokasi jauh dari pusat pasar. Di negara maju. Banyaknya kegiatan yang berpusat pada kota atau pusat pasar ini menjadikan kota memiliki nilai yang lebih ekonomis untuk mendapatkan keuntungan maksimal bagi para pelaku pertanian. hubungan yang muncul untuk ukuran kota adalah peringkat ukuran populasi. desa. Dalam hal ini. tiga kali ukuran pusat peringkat ketiga. hirarki permukiman terbentuk sesuai dengan sebutan yang diberikan oleh manusia yaitu dusun. Perbedaan yang disebabkan oleh faktor jarak ini menentukan nilai suatu barang. Gagasan utama yang dapat diambil dari Teori Von Thunen adalah bahwa tata guna lahan akan mempengaruhi nilai sewa suatu lahan. dimana kota utama umumnya lebih besar dari yang lain. dan empat kali kota terbesar keempat. kota. sehingga para petani akan memilih untuk menyewa lahan yang lebih dekat dengan pusat pasar atau kota dengan harapan bisa mendapatkan nilai atau harga barang yang lebih tinggi tanpa harus mengeluarkan biaya transportasi yang tinggi. dan metropolis. kota utama ini disebut . jenis hubungan yang disebut aturan peringkat ukuran. hirarki dibentuk oleh ukuran daerah perdagangan dan jarak antara pusat-pusat pelayanan. karakteristik lain dari hirarki permukiman dapat dilihat dengan peringkat tempat di suatu negara berdasarkan ukuran populasi mereka. Petani akan cenderung memilih jenis tanaman yang dapat menghasilkan manfaat dan keuntungan yang maksimal sesuai dengan permintaan pasar. Menurut teori tempat pusat.

menyangkut bentuk dan susunan internal atau tata letak fitur seperti jalan. alun-alun gedung pengadilan ditemukan di banyak kota-kota kecil Amerika berbeda dari town square di Eropa sebelumnya. sebaliknya. dan morfologi. Morfologi Pemukiman Dalam arti umum. rumah yang terletak di tengah-tengah area hijau. lokasi. beberapa dari hubungan ini dapat ditunjukkan lebih lanjut melihat berbagai jenis pemukiman. sebuah studi pola permukiman menganggap lokasi tempat sebagai titik dalam suatu wilayah yang besar. atau budaya. dalam bentuk lain. bangunan. Studi morfologi memeriksa distribusi spasial fitur dalam area tertutup oleh pemukiman. misalnya. Ini ringkasan singkat dari konsep dalam geografi permukiman telah terkait ukuran. beberapa bentuk desa khas telah diakui di eropa dan Amerika Utara. Desa hijau seperti (Angerdorf) yang umum letaknya di wilayah ujung utara dan timur eropa. dan penggunaan lahan. misalnya. Geografer menggunakan morfologi untuk generalisasi tentang karakter dari jenis permukiman. Beberapa bentuk permukiman yang khas untuk suatu wilayah. yang keutamaan terjadi ketika salah satu daerah menetapkan dominasi ekonomi untuk seluruh negeri. dan strip mobil dengan drive-in layanan merupakan bentuk abad kedua puluh khas Amerika. Salah satu bentuk khas adalah desa jalanan (Strassendorf) dengan rumah-rumah sejajar di kedua sisi jalan utama. pemukiman dapat dibagi menjadi bentuk pedesaan dan bentuk perkotaan. fungsi. Pemukiman Desa Pada dasarnya. Karakteristik spasial sebuah desa pertanian kecil cukup berbeda dari sebuah kota metropolis. morfologi berhubungan dengan bentuk dan struktur.kota primate. dalam menjabarkan pemukiman desa yaitu dengan menjabarkan perbedaan antara pedesaan dan perkotaan. periode sejarah. studi morfologi permukiman. oleh karena itu. .

pemukiman yang tersebar dan jumlahnya sedikit. Pemukiman terbesar adalah "rumah panjang". dan kota-kota bukan merupakan bagian dari pola pemukiman mereka. mulai dari tempat tinggal nomaden masa berburu sampai ke masyarakat pertanian menetap. namun mereka tetap mempertahankan desa permanen. Lokasi pemukiman sering ditempati hanya secara musiman. ini dimungkinkan karena jumlah populasi yang rendah. Kondisi pemukiman yang ditinggalkan oleh para peladang dapat menggambarkan lamanya waktu mereka telah meninggalkan pemukiman tersebut. kegiatan ekonomi pedesaan terdiri dari. Pemukiman orang nomaden dan peladang berpindah Pada masa berburu dan berkelompok memiliki ciri-ciri yaitu. Peladang berpindah yang menghasilkan tanaman subsistensi tidak terlalu membutuhkan pasar. Misalnya. beberapa tempat pemasaran mungkin timbul. dalam menukar barang (barter) telah terjadi di beberpa tempat yang mudah mereka akses. misalnya. Meskipun masa berburu dan pengumpul tidak menghasilkan pusat-pusat kota. dengan kepadatan diperkirakan satu orang per kilometer persegi teritori (Denevan 1971). Di beberapa daerah. semakin lama periode tidak ditanami. Dalam kasus Iban. menetukan bahwa pemukiman tersebut pemukiman yang tidak menetap. yang merupakan bangunan tetap tunggal yang dibangun oleh seluruh penduduk dan mampu menampung sebanyak 300 orang. peladang berpindah mendirikan tempat tinggal sementara yang berada dekat ladang sementara. kepadatan penduduk rendah. . dan petani tradisional. sebagai aktivitas ekonomi eksternal pada daerah yang diduduki oleh peladang berpindah. peladang berpindah di lembah amazon mungkin diperdagangkan pada pasar-pasar berkembang di sepanjang jalan yang sedang dibangun di seluruh wilayah. masa berburu dan pengumpul. Secara umum. peladang berpindah. bentuk-bentuk tertentu dari pemukiman yang terkait dengan masing-masing jenis ekonomi. nomaden dataran indians. ada tingkatan hierarki pemukiman mereka. misalnya.Seperti dijeskan pada bab 8. 1. petani padi kering dalam perbukitan teh Sarawak (Malaysia Timur). Campa dari lereng timur hutan dari Pegunungan Andes Peru memungkinkan lahan kosong yang tidak ditempati selama lebih dari 10 tahun.

Tinggal di pemukiman yang terletak di pusat dapat mengurangi waktu perjalanan ke beberapa tanah yang tersebar. maka ada keuntungan untuk tinggal dekat dengan pusit di mana keputusan dibuat. Alasan laian untuk tinggal berkelompok dalam masyarakat praindustri adalah adanya keuntungan dari kerjasama antara anggota kelompok. jika petani memperoleh akses ke tanah yang subur. Di desa-desa tradisional. Ketakutan merupakan faktor yang mendorong untuk pemilihan lokasi yang aman. Desa yang terkait dengan pertanian tradisional Para petani tradisional pada masa ini sudah menggunakan sistem tanam yang pendek dan secara terus menerus. Kecuali ada pembatas yang dapat melindungi mereka dari bahaya.2. maka tidak akan timbul keputusan untuk tinggal mengelompok. petani ada sebagian tersebar pada beberapa bidang tanah karena merupakan pembagian warisan tanah antara semua ahli waris. Sistem pemilikan tanah juga penting. tetapi letak juga menjadi pertimbangan. Faktor sosial adalah kekuatan penting dari berkelompok terutama di mana sumber daya lahan dikendalikan secara bersama-sama. dan hutan dengan menjadi anggota dari masyarakat atau komunitas tersebut. Beberapa faktor dapat membantu menjelaskan mengapa petani di beberapa masyarakat lebih memilih tinggal di pemukiman berkelompok. tidak sama pada masa modern. populasi pedesaan di masa lalu tinggal secara mengelompok karena untuk masalah keamanan dan pertahanan. . Semakin tinggi intensitas penggunaan lahan semakin besar kemungkinan bahwa pemukiman tersebut merupakan pemukiman di desa permanen. daerah penggembalaan umum. Salah satu alasan kenapa petani menetap pada lahan yang mereka garap yakni karena masalah transportasi yang sulit pada masa itu. Di Amerika sebagian besar petani hidup pada lahan yang mereka garap dan terletak berjauhan dengan tetangga yang lain.

yang menjadi pusat gejolak ekonomi dan sosial sebelum Revolusi industri. di Cina. Rhoads Murphey (1945) menemukan bahwa peran perdagangan di kota-kota cina berbeda dari yang di kota-kota Eropa setelah abad kedua belas. Pasar terdapat di dekat gereja. fungsi dominan birokrasi kota Cina menahan diversifikasi dan perubahan. jarang sekali daerah kota hanya ditinggali 10 persen dari jumlah penduduk. dan pendidikan. Sjoberg (1960) berpendapat bahwa karakteristik ini dimiliki oleh kota-kota pra-industri apakah berada di Asia Timur. (1) karakteristik kota-kota pra-industri. fungsi perdagangan berada di bawah fungsi adminisrasif. (2) sistem perkembangan perkotaan Amerika. Eropa. Bagaimana tempat-tempat perkotaan berkembang?Kota banyak dikembangkan karena permintaan konsumen terdekat untuk barang dan jasa. 80 persen dari penduduk AS tinggal di wilayah perkotaan. Beberapa variasi pemukiman perkotaan dapat dilihat dengan mendeskripsikan beberapa hal yaitu. kecuali negara-negara kecil.Pemukiman Kota Urbanisasi secara besar-besaran merupakan perkembangan baru dalam masalah penduduk. Dari masa lalu sampai sekarang. dan took berjajar mengikuti jalan. dan (3) urbanisasi saat ini di negara-negara kurang berkembang. seperti yang dijelaskan oleh Teori tempat pusat Christaller ini. Asia Selatan. Struktur kelas pada masyarakat kota ditentukan oleh lembaga politik. Meskipun ada pembagian kelas. agama. Secara morfologi kota. Asia Tenggara. pusatpusat kota pada masyarakat pra industri di dominasi oleh bangunan pemerintahan dan keagamaan. Sebuah pemukiman kota . namun pemukiman perkotaan juga sudah ada masa itu. namun penggunaan lahan di kota tercampur. 2) Sistem Perkembangan Kota di Amerika Di pertengahan 1980-an. Asia Barat Daya. kota mengendalikan daerah pedesaan sebagai lokasi untuk kegiatan komersial. Tidak seperti kota-kota Eropa. 1) Kota pra-industri Pada masyarakat pra industri pemukiman yang lebih dominan yaitu pedesaan. atau Amerika Tengah.

Perancis. timur pantai pelabuhan mulai bertindak sebagai "engsel ekonomi" antara daerah perbatasan dan " Ibu kota negara". Meskipun sebagian dari sumberdaya tersebut untuk pemanfaatan sendiri. Tahap 2: Membangun pondasi Kota Pesisir. Boston. Karena dibutuhkan "tempat penyimpanan" untuk menghubungkan mereka dan sumber daya ke Eropa. Tak satu pun dari tempat-tempat perkotaan pertama. pemukiman menyebar ke daratan.beberapa kota besar di Amerika Serikat dimulai sebagai tempat pusat grosir yang mengakses perdagangan jarak jauh. Beberapa pusat grosir pertama. yang berada di lokasi pantai. pada tahun 1700. Inggris. Pemukiman perkotaan dimulai setelah abad ketujuh belas jajahan yang didirikan di Amerika Utara. Tahap 1: Eksplorasi dan pencarian. Beberapa jajahan. dan pelaut Spanyol menjelajahi pantai Amerika Utara dan memberikan informasi tentang sumber daya daerah. memiliki populasi 6700. seperti bulu ke Eropa dan dengan mengimpor dan mendistribusikan barang dari Eropa. kayu. itu besar. Amerika Serikat masih didominasi pedesaan pada tahun 1800 dengan hanya 7 persen dari populasi yang berada di tempat-tempat perkotaan.000 penduduk Tahap 3: Perluasan Jaringan Pemukiman dan Pengembangan Perdagangan Dalam Negeri. seperti Virginia. pusat komersial terkemuka. namun yang memiliki nilai tinggi seperti tembakau. Urutan perkembangan sistem perkotaan dibagi menjadi lima tahap berikut. dan bulu diekspor. New York dan Philadelphia memiliki populasi sekitar 5000. dipandang sebagai "investasi dalam perdagangan" yaitu. dan Charles kota memiliki 2. pada abad keenam belas. dalam fase ketiga. Tahap 4: infilling dari Jaringan dan Pentingnya pertumbuhan Perdagangan Internal. yang didirikan di pantai timur. sebagai bagian dari sistem merkantilis. mulai dengan mengumpulkan dan mengekspor bahan pokok. dengan ekspansi yang cepat dari perbatasan pada abad kesembilan belas .

seperti kota-kota manufaktur pada coalfields di Pennsylvania barat. Satu: banyak kota yang terletak di situs diakses perdagangan jarak jauh. tempat sentral berfungsi sebagai menjadi penting pada pusat perdagangan jarak jauh sebagai kota tambahan dikembangkan di seluruh Amerika Serikat selama fase terakhir. terutama untuk transportasi produk besar. beberapa dimulai pada tepi selatan dan barat daya negara tersebut. Dengan perluasan tempat perkotaan dan semakin pentingnya fungsi layanan mereka. ukuran penduduk kota dari negaranegara berkembang membengkak hampir 200 persen-222 persen di Afrika. dan pantai timur kota. namun. Jalur darat yang sulit dan mahal. Tiga: Sebuah perkotaan beberapa tempat pembangunan di lokasi bahan baku yang menarik industri. dan 179 persen di Asia. yang mengembangkan industri manufaktur. danau. 191 persen di Amerika Latin. 3) Kondisi urbanisasi saat ini di negara-negara berkembang Dari 1950-1975. Ketika interior mulai diselesaikan. lebih banyak tempat perkotaan menjadi kota besar. Masalah utama adalah transportasi. ingin mendapatkan akses ke daerah dalam. Kedua: beberapa kota muncul sebagai pusat perdagangan lokal. sistem memuncak mencerminkan penerapan pola tempat sentral pada struktur dagang yang ada dikembangkan di distribusi dan manufaktur poin. ketika negara-negara maju sebagai sebuah kelompok mengalami peningkatan penduduk perkotaan dari 71 persen. oleh karena itu. penduduk . seperti yang dijelaskan oleh teori tempat pusat. kota yang terletak dekat dengan sungai. Daerah-daerah perbatasan diperlukan koneksi dengan pemasok perkotaan dan pasar. Tahap 5: Memodifikasi jaringan. Menurut model Vance.dan awal kedelapan belas. Secara singkat bahwa perkembangan kota di Amerika dikarenakan penggabungan lebih dari satu jenis asal dan fungsi. seperti yang dijelaskan dalam model perdagangan. Trasnportation air adalah bentuk termudah dan termurah koneksi. Dalam angka absolut. banyak pemukiman kota yang paling awal berasal di pantai timur. dan kemudian saluran navigasi.

Penyebab penting dari migrasi desa-kota adalah persepsi dari orang-orang yang ingin melakukan urbanisasi. terutama dalam mekanisasi sistem pertanian tradisional. orang muda beralih ke kota-kota sebagai tempat dianggap memiliki kesempatan kerja lebih banyak. Dari 1949-1979 sekitar dua pertiga dari pertumbuhan perkotaan ini disebabkan pertumbuhan alami. tidak ada sepuluh kota atas diharapkan berada di kedua daerah. Salah satu hasil yang diharapkan dari urbanisasi yang cepat di negara-negara kurang berkembang. produsen. pasar. Sering kali ada kelebihan tenaga kerja. Amerika Latin ditambah 130 juta orang penduduk perkotaan. dan penduduk perkotaan di Asia meningkat 315 juta. Investasi baru. Seringkali tingginya tingkat pertumbuhan alami adalah akibat langsung dari migrasi masuk oleh orang dewasa muda selama tahun puncaknya reproduksi (Todaro 1980).perkotaan di Afrika meningkat sebesar 71 juta antara 1950 dan 1975. baik domestik maupun mereka yang berafiliasi dengan perusahaan asing. terutama di bidang industri. Di sebagian besar negara maju. ketiga terbesar kota di dunia berada di Negara bersatu dan Eropa. Lambatnya pertumbuhan kesempatan ekonomi di daerah pedesaan. cenderung berfokus pada kota-kota besar. ketidakseimbangan antara peluang pedesaan dan perkotaan dapat melebar. Peningkatan secara alami ditunjukkan di Cina selama periode ketika migrasi ke daerah perkotaan. Prospek ekonomi di daerah pedesaan di negara-negara berkembang umumnya suram. Jika pembangunan perkotaan seperti ini kontras dengan di daerah pedesaan yang terabaikan dari investasi. pengangguran atau setengah pengangguran ada di daerah pertanian. akan menjadi penataan ulang dalam urutan kota terbesar oleh setengah abad berikutnya. Urbanisasi merupakan hasil dari peningkatan secara alami dan migrasi. dan terkadang kenyataan bahwa kesempatan dan kemajuan ekonomi dan sosial yang tersedia di kota-kota. Pada periode yang sama. tetapi pada tahun 2034. Pada tahun 1950. dan fasilitas transportasi yang terbaik dikembangkan. . lebih memilih untuk menanam investasi di daerah perkotaan di mana tenaga kerja. dan melambatnya laju urbanisasi di Eropa dan Amerika Utara.

Struktur Internal Kota Susunan kota pada umumnya digambarkan pada penempatan letak setiap wilayah. Teori Concentric (Burgess) Burgess mengemukakan bahwa kota-kota berawal dari sebuah pusat yang kemudian meluas dari pusat itu sendiri. sosial. 1. Di tengah atau dipusat dari struktur kota tersebut terdapat sebuah pusat bisnis atau CBD (Central Bussines District) yang bisa dikatakan merupakan zona pertama yang di dalam pusat tersebut merupakan pusat ekonomi. gedung pemerintahan. Di dalam zona ini dihuni oleh para kaum buruh kecil yang bertempat tinggal menetap di kawasan tersebut dengan jangka waktu yang relatif lama. Dan juga dikawasan ini terdapat slum atau daerah kumuh yang tidak beraturan yang biasanya ditempati oleh para pendatang atau pekerja yang berpenghasilan kurang. Zona keempat ialah middle class housing yang dihuni oleh para kaum kelas menengah. Kemudian berikutnya adalah zona kaum buruh kecil yang merupakan zona ketiga di dalam struktur ini. yang berisikan industri di sela-sela perumahan penduduk yang mempunyai tanah atau bangunan dari warisan masa lampau. tempat tinggal untuk etnik-etnik tertentu. industri. Dan di daerah slum ini pun rawan akan terjadinya pelanggaran hukum atau kejahatan disamping adanya kemiskinan yang melanda. Usaha untuk membuat generalisasi dari struktur kota ke dalam model yang dilakukan secara keseluruhan. Yang kemudian nantinya secara luas bertahap penduduk mulai berdatangan atau menempati wilayah perluasan tersebut. dan institusi publik. Yang pemukimannya tidak terlalu ada karena masih ada jarak diantara rumah-rumah penduduk tersebut. Kemudian di zona kedua yaitu transistion zone. Struktur kota yang demikian akan berupa beberapa zona-zona yang terkonsentrasi pada suatu pusat. Namun sebagian besar daerah ini telah banyak diubah menjadi kawasan perkantoran maupun kawasan pertokoan. dan kemasyarakatan. Beberapa wilayah yang letaknya di bagian utama dari kios eceran. Dan yang terakhir di zona kelima ialah . tempat tinggal bagi penduduk yang berpendapatan menetap. di sisi lain dari kota digunakan untuk tempat penyimpanan.

Dan perumahan bagi kaum buruh hanya akan berkembang dengan menyambung sesuai rute yang telah ada. Teori Multiple Nuclei (Harris-Ullman) Harris dan Ullman mengemukakan bahwa di dalam suatu kota terdapat kenyataan yang lebih kompleks dari apa yang dikemukakan oleh Burgess dan Hoyt. walaupun sebidang tanah yang berada di pinggiran atau perbatasan kota namun harganya mahal karena termasuk ke dalam kawasan perumahan elite.commuter. Di dalam penelitiannya Hoyt menemukan bahwa pajak tanah dan bangunan berbeda-beda berdasarkan sektor-sektor dikota. Contohnya. Hoyt meneliti CBD yang terdapat di pusat kota dan Hoyt mengemukakan bahwa pengelompokan tata guna tanah di satu kota seperti alur irisan kue tart. Teori sektor (Hoyt) Hoyt mengemukakan bahwa proses pertumbuhan kota lebih berdasarkan sektor-sektor daripada sistem concentric yang dikemukakan dalam teori Burgess. Oleh sebab itu pendirian kawasan perumahan oleh kaum elite akan mendorong mahalnya harga tanah-tanah yang berlokasi di tepi-tepi perumahan elite tersebut. Harris dan Ullman berpendapat bahwa pertumbuhan disebabkan oleh munculnya pusat-pusat tambahan yang masing-masing akan menjadi pusat pertumbuhan. Di sekeliling pusat-pusat tambahan tersebut akan membentuk suatu pengelompokan tata guna tanah yang berhubungan secara personal. disini di tempati oleh para penduduk yang bekerja di kota dengan menglaju. . Yang di dalamnya terdapat perbedaan kawasan kota berdasarkan jenis blok-blok berdasarkan fungsi ataupun jenis pengelompokan penduduk. Namun didasarkan pada fungsi-fungsi daripada sektor-sektor tersebut. Jadi pajak tertinggi tidak harus terdapat di kawasan pusat kota. 3. Dan dari keadaan tersebut akan memungkinkan lahirnya struktur kota yang memiliki sel-sel pertumbuhan. 2.

dan akibatnya mereka membutuhkan lebih banyak ruang. harga tanah relatif rendah di pinggiran kota menciptakan insentif untuk membangun ke arah luar daripada mengembangkan kembali wilayah inti yang ada. lebih murah nilai tanah. kegiatan manufaktur banyak yang pindah dari daerah berpajak tinggi dan sesak di bagian tengah kota. dalam perluasan kota di Amerika telah ke luar. Kedua. menyediakan situs yang menarik bagi produsen. Perubahan Bentuk Dan Fungsi Dalam beberapa dekade terakhir. Selain itu. Seperti yang dijelaskan oleh Von Thünen lebih jauh dari kota. seperti Jalan Raya 128 sekitar Boston. stasiun. Taman industri berlokasi di ringroads. perubahan teknologi transportasi memungkinkan orang untuk tinggal jauh dari tempat kerja mereka tanpa pengorbanan besar dalam biaya perjalanan dan waktu. maupun kawasan perkotaan. Alasan mengapa kota melakukan perluasan keluar dari inti kota. . juga daerah-daerah pinggiran atau tepian kota memiliki pusatpusat yang menaungi penduduk. transportasi modern telah meningkatkan aksesibilitas atas tanah lebih murah yang terpencil. Karena biaya lahan adalah bagian penting dari biaya perumahan. banyak bentuk pedagang eceran menurun di distrik pusat bisnis sebagai toko telah direlokasi di mal yang dapat diakses dengan parkir mobil lebih mudah. Pengelompokan tata guna tanah disuatu kota lebih cenderung menggunakan perhitungan secara ekonomis. Menurut Haris dan Ullman.Daerah-daerah yang bertipe sel-sel atau nucleus tersebut misalnya pelabuhan. Pertama. seperti yang dijelaskan oleh model transportasi. Contohnya. Dan juga industri baru akan mencari lokasi yang strategis sesuai dengan rutetransportasi. Jadi yang memiliki pusat bukan hanya kota. sekitar 75 persen dari perdagangan eceran terdapat di daerah pinggiran kota metropolitan di Timur Laut dan Midwest. Meskipun akan mungkin untuk meningkatkan kepadatan populasi dalam inti kota (seperti yang terjadi di beberapa kota dunia). Pada 1970. penduduk perkotaan telah berkembang pada abad terakhir. Ketiga. perumahan baru akan mencari lokasi yang dekat dengan pasar atau pusat perbelanjaan. kawasan industri.

Pola Pemukiman Desa dan Kota di Indonesia 1. bukan merupakan produk orang per orang. pertumbuhan mal besar dan kawasan industri di pinggiran kota belum terhambat secara serius oleh zonasi. Banyak fungsi yang sebelumnya terjadi di bagian tengah kota yang sekarang terletak di pinggiran kota. Pada umumnya pemukiman terbentuk dari kebiasaan hidup luhur masyarakat di desa tersebut. bentuk lingkungan permukiman merupakan hasil kesepakatan sosial. Dalam hal teori tempat pusat. B. Efeknya adalah. Pola pemukiman desa Sejarah pembentukan desa di Indonesia Di setiap negara desa selalu identik dengan pertanian. awalnya. Akibatnya. karena Indonesia memiliki bentuk wilayah yang luas. bagaimanapun. a. sebagian kota telah menyerahkan diri dalam ke luar. Outlet ini baru kemudian mulai untuk mencegat konsumen yang sebelumnya berbelanja di distrik pusat bisnis. hukum penetapan wilayah dan keputusan politik lainnya tidak dianjurkan perluasan kota. ditegaskan bahwa sebagai suatu produk komunitas. untuk membuat outlet untuk barang kenyamanan dan jasa di lokasi pinggiran kota. Hal ini juga yang terdapat di Indonesia. pusat baru akan muncul untuk menyediakan barang dan layanan dasar dengan wilayah pemukiman. yang antara . Artinya komunitas yang berbeda tentunya memiliki ciri permukiman yang berbeda pula. Asal muasal desa di Indonesia berbeda-beda setiap daerahnya. perluasan perkotaan menciptakan jarak antara layanan terletak di pusat dan daerah pemukiman. Di Amerika Serikat. dan tersebar. sekali jarak dari CBD melebihi beberapa beberapa kilometer.Keempat. Tidak ada sejarah proses pembentukan desa yang sama. Kelima. kami akan memprediksi bahwa. Di Eropa Barat peraturan zonasi sulit mencegah perkembangan pusat perbelanjaan terpencil. Bahkan menurut Habraken dalam Fauzia (2006:32). karakteristik berbeda. Desa di Indonesia terbentuk dari pembukaan lahan untuk pertanian yang dilakukan oleh individu atau sekelompok yang akhirnya menetap. luas. Perbedaan inilah yang memberikan keunikan tersendiri pada bangunan tradisional.

Perihal terbentuknya Desa hingga sekarang sulit diketahui secara pasti kapan awalnya. di samping itu . mulanya dihuni orang seketurunan. termasuk di dalamnya adalah permukiman dan bangunan tradisional. b. pembukaan desa baru. menurut Marbun. akan tetapi mengacu pada prasasti Kawali di Jawa Barat sekitar tahun 1350 M. kepentingan yang sama dan bahaya dari luar. Mereka memiliki nenek moyang sama. Desa di Jawa. atau sekeliling manusia. Di Tapanuli. yaitu para cikal bakal pendiri permukiman tsb. potensi alam yang kaya dan keadaan tanah yang berlereng. Terbentuknya Desa di Kawali dengan terbentuknya kelompok masyarakat akibat sifat manusia sebagai makhluk sosial. dan bahan bangunan serta konsep religi yang melatarbelakanginya. atau tanah desa tak memadai lagi untuk menghidupi penghuninya. Jika desa sudah penuh. maka desa sebagai unit terendah dalam struktur pemerintahan Indonesia telah ada sejak dahulu dan murni Indonesia bukan bentukan Belanda. Oleh karena itu Koentjaraningrat (1987) menjelaskan bahwa benda–benda hasil karya manusia merupakan wujud kebudayaan fisik. 4) Sifat menurut tradisi budaya setempat. Keadaan Topografi Di wilayah Indonesia kira-kira 80% merupakan pedesaan dan 20% merupakan perkotaan. bentuk. relatif besar. yaitu mempunyai udara yang sejuk.lain dapat dilihat dari orientasi. Keunikan tersebut sekaligus menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan. masalah-masalah ekonomi bermunculan. Beberapa keluarga keluar mendirikan permukiman baru dengan cara membuka hutan. 3) Hubungan penduduk akrab. dan prasasti Walandit di daerah Tengger di Jawa Timur pada tahun 1381 M. 2) Lapangan kerja agraris. Ciri-ciri wilayah pedesaan yaitu: 1) Perbandingan luas tanah dengan jumlah manusia. dorongan kodrat. Pola pemukiman desa di Indonesia Karakteristik Desa Pada umumnya karakteristik desa pegunungan adalah sama. maka terdapat desa di tengah pulau dan desa di tepi pantai. Tindakan ini disebut tetruka. sebagian karena kelompok baru ingin mencapai hak dan kewajiban sebagai raja adat. Dimana seluruh wilayah Indonesia secara administrative terbagi habis menjadi desa-desa. Karena Indonesia merupakan negara kepulauan.

Pola permukiman dengan cara berkumpul dalam sebuah kampung/desa. maka dapat dibedakan pula desa di dataran. mengikuti jalan yang melingkar. kegiatan kehidupan. desa di lembah. Pola permukiman dengan cara terkumpul dalam sebuah kampung/desa. ladang. sedangkan tanah garapan berada di luar kampung.terdapat desa yang meliputi pulau kecil. terutama terjadi dalam daerah yang baru dibuka.c. Desa di tepi sungai merupakan pemukiman yang linier dengan tempat kegiatan ekonominya. dan perangkat yang dibutuhkan dalam kehidupan. dan desa di pegunungan. sedangkan orangorang mempunyai sebidang tanah yang selama suatu masa tertentu harus diusahakan secara terus menerus. b. seperti sawah. Rumah saling berkelompok membentuk permukiman dengan pola . Ketiganya akan saling kait mengkait dan saling ketergantung satu sama lain. sedangkan tanah garapan berada di belakangnya. Berhubung permukaan bumi tidak sama. desa pantai desa sungai. Lingkungan Pemukiman Desa Penduduk atau manusia. Menurut Wiriatmadja (1981:23-25) pola spasial permukiman sebagai berikut: a. Pada umumnya desa di tengah pulau atau desa pedalaman mempunyai pemukiman yang terpusat dikelilingi oleh tanah untuk kegiatan ekonominya. yaitu pola menyebar dan pola mengelompok. merupakan perangkat dasar terbentuknya suatu lingkungan kehidupan. Menurut Widayati (2002) dijelaskan bahwa rumah merupakan bagian dari suatu permukiman. Jadi secara geografis di Indonesia terdapat desa pedalaman. memanjang mengikuti jalan lalu lintas (jalan darat/sungai). dan d. Berdasarkan orientasi dan topografi terdapat pemukiman memusat (linier) dan tersebar (dispersed). Pola permukiman tradisional berdasarkan pada pola persebarannya juga dibagi menjadi dua. Pola permukiman dengan cara berkumpul dalam sebuah kampung/desa. sedangkan tanah garapan berada di belakangnya. hutan dan sebagainya. desa di perbukitan. Berkumpul dan tersusun melingkar mengikuti jalan. Hal tersebut disebabkan karena belum adanya jalan besar. Perkembangan dan pertumbuhan satu akan mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan yang lainnya. Pola permukiman dengan cara tersebar berjauhan satu sama lain. Sedangkan desa yang terletak di perbukitan sering mempunyai pola pemukiman tersebar.

Susunan tata masa atau komposisi bangunan hunian. Hal ini ditentukan oleh status sosial sang penghuni.Kesamaan profesi tertentu. Ukuran ditentukan oleh tingkat status sosial dan derajat sang penghuni. dengan menampilkan tokoh yang membentuk tatanan dari suatu kekacauan (Aliyah 2004:35). Kedua. yaitu pertama dengan membuka hutan disebut mbabat. . Batas teritori wilayah kekuasaan pribadi (lahan).tertentu. termasuk yang ada di Indonesia memiliki akar sejarah tersendiri. komplek perumahan pegawai. Permukiman Kota 1) Pembentukan & Pertumbuhan Kota di Indonesia Menurut Werner 1987. 5. Bentuk dan ukuran pagar yang ditentukan oleh status sosial masyarakat yang menghuni. yaitu sebagai berikut: 1. dan 8. 7. perumahan dosen. Untuk menciptakan permukiman atau kampung pada suatu wilayah dapat dilakukan dengan dua tindakan. perumahan bank. antara lain Kampung Bali. 3. Tokoh yang membentuk tatanan dari suatu kekacauan. sehingga berpengaruh pada komposisi bangunan dalam kampung. antara lain desa pengrajin. 4. Seseorang yang dianggap memiliki kesaktian dan mampu menaklukkan lahan yang akan dijadikan permukiman dari kekuasaan makhluk halus penguasa hutan. ”Kota-kota besar dan kecil di kepulauan di India. b. karena tata masa bangunan Jawa memiliki aturan atau patokan tersendiri. Perbedaan ruang publik dan ruang privat sangat kuat. Tempat-tempat ini secara umum dibagi dalam empat strata utama dalam formasi perkotaan. misalnya terjadi dalam kelompok sosial tertentu antara lain komplek kraton. 6. Menurut Aliyah (2004:35) elemen-elemen pembentuk karakter kampung/permukiman tradisional di Jawa. sehingga ada tuntunan pembatas teritori. masyarakat agrikultural – yang kemudian berkembang . Besaran lahan atau ukuran luas tapak. Riwayat terbentuknya (legenda/sejarah kampung) yang secara fisik dapat dikenali dengan keberadaan situs. dan memiliki aturan dalam penempatan pintu sebagai penghubung. Pengelompokan permukiman dapat didasari atas dasar : . dan . yakni pendirian kota-kota baru.Kesamaan atas dasar suku bangsa tertentu. Kelompok masyarakat dalam kesatuan tatanan bermukim. Bentuk dan ukuran bangunan rumah tinggal.Kesamaan golongan dalam masyarakat. Kampung Makasar. 2.

yang ada adalah kota pantai atau bandar sebagai pusat lalu lintas perdagangan terbatas. tetapi merupakan bentuk dan kreasi sejarah dan faktor kebetulan yang kemudian diteruskan dan dibina penjajah Belanda selama 350 tahun. Sementara itu. sebagai pusat niaga . Pada saat itu ada dua jenis tipe masyarakat perkotaan yang sedang berkembang yakni. Pada periode pengaruh kerajaan Hindu. Kota-kota di Indonesia saat ini bukan merupakan bentukan atau warisan dari zaman keemasan kerajaan Nusantara terdahulu. masyarakat yang memiliki dominasi pekerjaan berdagang di pelabuhan dan pusat dominasi kegiatan pada kekuasaan lokal (pedalaman). seperti Palembang (pada masa Sriwijaya). permukiman nelayan. Menurut Marbun 1994.menjadi pusat dominasi asli yang baru. yaitu sebagai pusat pemerintahan kolonial. pertumbuhan kota di Indonesia melalui sejarah yang cukup panjang. Solo dan kota kecil lainnya di Bali. Kedua strata yang terakhir membentuk tempat yang dahulunya pedesaan”. Masih menurut sumber yang sama menyebutkan bahwa kota di Indonesia memiliki tiga karakter yaitu. seperti Yogyakarta. Barus di pantai Barat Sumatera. perdagangan merupakan faktor utama pada pembentukkan masyarakat dengan karakteristik perkotaan. Sementara pada masa Pemerintah Kolonial (1700-1900) pertumbuhan perkotaan lebih efektif dirangsang dengan menggunakan faktor politis/administrasi ketimbang dengan faktor kegiatan perdagangan. pusat-pusat perdagangan dan pusat-pusat administratif. meski tidak secara langsung namun perdagangan mempercepat proses feodalisasi dalam sebuah komunitas asli. Masih menurut Werner (1987). di pusat-pusat kerjaan Nusantara juga masih dapat kita jumpai bekas kota yang terbentuk dengan kegiatan sebagai pusat pemerintahan. Jika kita telusuri sebelum kedatangan Portugis dan Belanda. di Indonesia hampir tidak kita dapati satu kota atau bekas kota yang berarti. Pada mulanya kota-kota di Indonesia terbentuk akibat faktor-faktor. hal ini dapat diindikasikan dengan adanya institusionalisasi pemerintahan yang diatur oleh seorang penguasa. Namun. prasyarat paling penting untuk formasi awal pembentukan kota sudah ada di nusantara sebelum periode Hindu. permukiman industri manufaktur dan pertambangan dan permukiman pariwisata. Tanjung Perak di Surabaya. Islam dan periode awal kekuasaan Eropa (1400-1700M).

permukiman urban di Indonesia masih diwarnai oleh tradisi pedesaan yang dipengaruhi oleh struktur agraris dengan kehidupan sosial yang bertumpu pada ekonomi gotong royong. sedangkan yang tidak akan tetap berpegang pada peradaban desa dan kelompok ini jelas akan tertinggal. Arab Melayu dst. jumlah penduduk yang tinggal di kawasan perkotaan (kini mencapai 120 juta dari total 230 juta jiwa). sehingga mereka menghasilkan peradaban kota. Jawa Kuno. sebaran penduduk yang tidak merata (hampir 70% di Pulau Jawa dengan 125 juta jiwa dan di Pulau Sumatera dengan 45 juta jiwa). dan perkembangan jasa-jasa pelayanan. serta. 2) Perkembangan Ruang Kota: Urbanisasi dan Dampaknya Tidak dapat disangkal bahwa perkembangan fisik ruang kota sangat dipengaruhi oleh urbanisasi. Pada awal pertumbuhannya. Namun seiring berjalan waktu. kedua. secara fisik seperti karakter alamnya memiliki keunikan atau keistimewaan. ketiga. pertumbuhan kota menghasilkan sistem pelapisan sosial dan birokrasi yang ternyata berhasil mendorong masyarakat agar mampu menghasilkan surplus pertanian dan industri domestik yang hasilnya akan mendukung kebudayaan kota. misalnya Sansekerta. menurut Werner 1987 dalam perkembangan kota-kota di Indonesia mengungkapkan beberapa identitas kota dengan berbagai ciri fisik yaitu. seperti sumber air panas di wilayah tropik. Lebih lanjut. laju urbanisasi yang tinggi. dan tidak berlumpur. lokasi di wilayah pegunungan atau perbukitan seperti Bandung. Sementara itu. dimana kota-kota metropolitan. Sedangkan kota pariwisata. selain itu juga memiliki akses ke laut lepas. motorisasi. seperti : . atau juga tepi danau yang tidak curam. sebagian kelompok masyarakat merasa perlu melengkapi dirinya dengan budaya tulis-menulis. bagi sebuah desa nelayan adalah letak permukiman yang berada di tepi pantai atau muara sungai.dan sebagai pelabuhan serta terminal untuk Mendukung pernyataan di atas. Perkembangan urbanisasi di Indonesia dapat diamati dari 3 (tiga) aspek: pertama. Kota industri manufaktur dan kota tambang umumnya berkembang karena dorongan dari perkembangan infrastruktur. bukan hutan bakau. selain itu umumnya tipe kota ini di Indonesia terletak diluar/bersebelahan dengan kota pemerintahan. secara non fisik seperti keunikan etnik dan budaya.

urbanisasi diyakini akan terus terjadi di Indonesia. 52. 30. Artinya dalam 40 tahun terakhir. migrasi dari desa ke kota maupun pemekaran wilayah. secara bersamaan kualitas . ekivalen dengan 70% konsentrasi PDB nasional di kedua Pulau tersebut.3% (1980). Pada awal tahun 1970. Maluku. Palembang.5%/tahun. terjadi peningkatan jumlah kota di Indonesia secara progresif untuk periode yang sama. Nusa Tenggara dan Papua. jumlah kota telah meningkat 2 (dua) kali lipat.4% (1970). Medan. baik karena pertumbuhan penduduk kota secara alamiah. Bandung. telah lahir 25 kota otonom baru sebagai hasil pemekaran wilayah dengan maksud untuk meningkatkan pelayanan publik. kota merupakan katalis pertumbuhan ekonomi yang utama (engine of growth). 70% dari kota otonom Indonesia berada di Pulau Jawa dan Sumatera. upaya untuk menjadikan hidupnya lebih layak dan sejahtera. Dengan laju pertumbuhan moderat sebesar 1. ketika kota-kota bertansformasi menjadi lebih modern. namun pada tahun 2010 telah berkembang menjadi 98 kota otonom. Proses transformasi sosial yang demikian cepat tidak mudah untuk dikelola. Tetapi di sisi lain.9% (1990). Sulawesi. sebagai upaya untuk mencapai efisiensi tertinggi dalam kehidupan perkotaan. Urbanisasi dipandang sebagai pilihan rasional masyarakat untuk meningkatkan taraf hidupnya. Surabaya. tanpa batas. maka 34 kota berada Pulau Sumatera dan 35 kota di Pulau Jawa. Catatan statistik menunjukkan bahwa sejak 1970. fraksi penduduk perkotaan Indonesia meningkat dari 17. maka proporsi penduduk kota diperkirakan akan meningkat menjadi 56. Di satu sisi.99% (2002) dan. Kota merupakan inkubasi yang ideal untuk lahirnya berbagai inovasi: locus dimana ide-ide yang kaya saling berkompetisi.Jakarta (termasuk Bekasi. Tidak hanya itu. Khususnya dalam 10 tahun terakhir (2000–2010). 43. Pada masa yang akan datang. Bogor dan Tangerang). akhirnya.39% di tahun 2020. merupakan magnet utamanya. Artinya.05% di tahun 2015 lalu menjadi 60. Artinya dalam tempo 40 tahun.03% (2010). Dari sisi penyebaran kota-kota otonom. Sedangkan 29 kota lainnya tersebar di Pulau Kalimantan. dengan kata lain. urbanisasi telah melipat gandakan penduduk perkotaan tiga kali lebih besar. hanya terdapat 45 kota otonom saja. menjadi 22. dan Makassar.

Jakarta telah bermetamorfosa menjadi sebuah kota metropolitan. Urbanisasi mengubah morfologi kota secara drastis. Tiga contoh berikut. khususnya di kawasan Segitiga Emas. apartemen. Jakarta. Dua sisi pembangunan perkotaan yang saling bertolak-belakang ini disebut oleh para ahli sebagai “the urban paradox”. Secara sosio-kultural. kantor hingga mall/pusat-pusat perbelanjaan). kesemuanya menjadi potret buram kota-kota. penduduk miskin perkotaan akan menjadi korban pertama.kehidupan perkotaan menurun secara signifikan. khususnya kota metropolitan di Indonesia. polusi air dan udara. • Pada awal tahun 1960-an. Kemacetan yang akut. kebakaran dan penyebaran wabah penyakit. baik dilihat dari struktur. Jakarta tidak lebih dari sebuah “kampoeng besar” dengan sebuah hotel berbintang. Penduduk miskin menjadi kelompok sosial yang sangat rentan terhadap berbagai bencana perkotaan. Hotel Indonesia dan sebuah department store “Sarinah”. bagaimana kesenjangan dan segregasi sosial-ekonomi terjadi di kawasan perkotaan. penyediaan air yang tidak layak minum. Bandung dan Gorontalo. dengan gedung-gedung modern pencakar langit yang megah (hotel. transformasi sosio-fisik dilakukan dengan . dapat memberikan ilustrasi betapa cepat perubahan telah terjadi di kota-kota Indonesia. kerentanan penduduk miskin perkotaan akan semakin tinggi. 2001). Tanpa akses ke pelayanan dasar perkotaan. penduduk miskin tersebut kini mendiami hunian kumuh yang sangat padat (slums dan squatters) di ruang-ruang sempit perkotaan yang sama sekali tidak layak huni. antara lain : banjir. banjir yang berulang bahkan semakin parah. Dalam prosesnya. Wujud fisik dan arsitektur kota yang kontras (antara kemewahan dan kekumuhan) merupakan bukti yang solid. Namun dalam tempo 50 tahun terakhir. fungsi maupun wajah kotanya. perkembangan yang sangat pesat telah terjadi. Dalam jangka panjang. fenomena ”mengkota” menandakan terbentuknya network society yang baru dan berbeda dalam tuntutan pelayanan infrastruktur (Graham & Marvin. serta penyebaran kawasan kumuh di perkotaan. Dengan kondisi yang kritis tersebut. apabila kita memasukkan parameter perubahan iklim.

dengan statusnya sebagai “multi-function” yang mengakumulasi berbagai fungsi tertinggi secara nasional (pusat pemerintahan. kawasan Bandung Utara yang sebelumnya merupakan kawasan lindung untuk peresapan air. • Kota Gorontalo hingga akhir tahun 1990-an hanya merupakan ibukota Kabupaten Gorontalo dengan fasilitas sosial-ekonomi yang sangat terbatas (hotel. Jakarta telah menjema menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi yang menjanjikan di kawasan Asia-Pasifik. bahkan kebudayaan). ditandai dengan pemekaran Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat. Sejak beralih status menjadi kota otonom sekaligus . sebagai unsur esensial dari sistem internal kotanya. Sementara itu. Konsep yang dikembangkan awalnya adalah kota taman yang asri.mengkonversi kampong yang banyak berada di dataran rendah (rawa dan kebun) ke segala arah: Barat. ditandai dengan okupansi lahan-lahan di Bandung Utara dan Bandung Selatan. Proses urbanisasi telah terjadi secara cepat mulai tahun 1980-an. restoran. kini telah beralih fungsi menjadi salah satu pusat permukiman elit serta pusat kegiatan pariwisata yang dipadati oleh turis domestik saat weekend. padahal lama sebelumnya ia direncanakan sebagai pusat hunian yang tenang. dimana tidak kurang dari 7 (tujuh) kotabaru berskala besar telah terbangun di Jabodetabek sejak tahun 1980-an (Gani. kesejukan alami dataran tinggi. serta dibukanya akses jalan tol Cipularang pada tahun 2005 yang memangkas jarak waktu Jakarta – Bandung secara signifikan. Bandung mengalami metamorfosa. dari kota tempat peristirahatan para mandor perkebunan « tempoe doeloe » menjadi kota tujuan wisata (urban tourism) dengan atraksi wisata kuliner. Selatan dan Timur. serta pusat belanja (factory outlets). Setiabudi dan sekitarnya kini menjadi pusat kegiatan komersial utama di Kota Bandung. Kini. Kawasan Dago. Selain itu. • Kota Bandung sejak lama direncanakan sebagai salah satu pusat kegiatan Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1930-an apabila merujuk pada keberadaan Gedung Sate. perdagangan dan jasa. dsb). Perubahan morfologi kota semakin tajam pada awal tahun 2000-an. 2010). rumah sakit. perkembangan yang sangat pesat terjadi di kawasan pinggiran.

Pusat-pusat kegiatan komersial dan jasa (perbankan. hotel dsb) tumbuh subur.8 juta (1980) menjadi 20.Ibukota Provinsi Gorontalo pada tahun 1999. Beberapa faktor tampaknya cukup dominan dalam proses tersebut : (1) aliran investasi yang mendorong peningkatan produktivitas kota. serta kecepatan transformasi yang terjadi yang banyak ditentukan oleh peran sektor swasta. jumlah penduduk miskin di kawasan perkotaan justru menunjukkan grafik yang meningkat dari 9. Infrastruktur sosial-ekonomi semakin membaik. Pada kurun waktu tiga decade terakhir (1980 – 2010). khususnya yang berkaitan dengan sektor industri perikanan (pelabuhan) dan sektor pertanian tanaman pangan (industri pengolahan komoditas jagung). Perbedaannya terletak pada titik awal terjadinya perubahan (Jakarta sejak 1960-an.91 juta jiwa. modernisasi kota tidak serta-merta menghapus kekumuhan akibat kemiskinan perkotaan yang belum dapat teratasi sepenuhnya. angka penduduk miskin tersebut masih sangat tinggi. aliran investasi yang mengalir cukup deras dipicu oleh kegiatan pemerintahan telah merubah wajah kota secara signifikan. Wajah kota yang relatif sederhana. Secara keseluruhan. (2) keberadaan infrastruktur sosial-ekonomi. seperti jalan dan pelabuhan. Ketiga faktor tersebut menjadi penyebab utama terjadinya urbanisasi dan mengakselerasi alih-fungsi ruang perkotaan. Dari tiga contoh diatas. kita dapat mengamati bahwa transformasi sosial telah mengubah morfologi kota. Walaupun demikian.5 juta menjadi 11.000 kantong-kantong kemiskinan kini tersebar di berbagai kota di Indonesia. Hal ini berlawanan dengan jumlah penduduk miskin di kawasan perdesaan yang menunjukkan kecenderungan menurun dari 32. . khususnya yang digerakkan oleh investasi swasta . Bandung sejak 1980-an. dan Gorontalo sejak 2000-an).62 juta jiwa (2010). Tidak kurang dari 47. serta (3) peningkatan status kota otonom (ibukota provinsi). restoran. secara perlahan kini berubah mengikuti perkembangan zaman.

desa. . distribusi penggunaan lahan. dan petani tradisional. Berdasarkan orientasi dan topografi terdapat pemukiman memusat (linier) dan tersebar (dispersed). maka terdapat desa di tengah pulau dan desa di tepi pantai. Pemukiman desa pada umumnya identik dengan aktivitas manusianya berupa pertanian. Pada awal pertumbuhannya. desa di perbukitan. peladang berpindah. Sedangkan perkotaan berkembang dari pertumbuhan desa akibat dari tingginya intensitas pelayanan. seperti sawah. Jika dirunut dari kegiatan ekonomi pedesaan terdiri dari masa berburu dan mengumpul. desa pantai desa sungai. dusun. Ada beberapa ciri-ciri dan karakteristik penggolongan pemukiman desa dan kota. morfologi. di samping itu terdapat desa yang meliputi pulau kecil. permukiman urban di Indonesia masih diwarnai oleh tradisi pedesaan yang dipengaruhi oleh struktur agraris dengan kehidupan sosial yang bertumpu pada ekonomi gotong royong. dan kota. hutan dan sebagainya. maka dapat dibedakan pula desa di dataran. dan desa di pegunungan. Karena Indonesia merupakan negara kepulauan.BAB III PENUTUP Kesimpulan Pemukiman merupakan suatu kawasan yang didiami oleh manusia dapat berupa hamlet (rumah susun). Berhubung permukaan bumi tidak sama. Pada umumnya desa di tengah pulau atau desa pedalaman mempunyai pemukiman yang terpusat dikelilingi oleh tanah untuk kegiatan ekonominya. Desa di tepi sungai merupakan pemukiman yang linier dengan tempat kegiatan ekonominya. ladang. Sedangkan desa yang terletak di perbukitan sering mempunyai pola pemukiman tersebar. seluruh wilayah Indonesia secara administrative terbagi habis menjadi desadesa. Jadi secara geografis di Indonesia terdapat desa pedalaman. Namun seiring berjalan waktu. serta penyebaran pemukiman di negara maju dan negara berkembang yang ditinjau dari beberapa pendapat para ahli dalam proses pembentukan pemukiman. desa di lembah. dan ukurannya.

sedangkan yang tidak akan tetap berpegang pada peradaban desa dan kelompok ini jelas akan tertinggal . Arab Melayu dst.sebagian kelompok masyarakat merasa perlu melengkapi dirinya dengan budaya tulis-menulis. Jawa Kuno. sehingga mereka menghasilkan peradaban kota. misalnya Sansekerta.

id/blog. (2002). http://phiihostaa. Sosiologi Perkotaan.DAFTAR PUSTAKA Budi.blogspot. Indra.ac. Jakarta. Penerbit Erlangga Savitri.blogspot. ((Online). Agung. diakses tanggal 25 Maret 2012) ____2008. 2008.com. diakses tanggal 20 Maret 2012) Dhawie.blogspot. Mencari Konsep Pembangunan Tata Ruang Kota yang Beragam.blogspot. pola. diakses tanggal 25 Maret 2012) Septiawan.((Online) http://klubbelajar. 2009. .com. (Online) http://fisip. S. 1994. Kota Indonesia Masa Depan. Badan Penerbit Universitas Dipenogoro.com. Crist. (Online) http://phiihostaa. 2010. bentuk. Contoh Kasus Teori Tempat Pusat. Sejarah perkembangan Pemerintahan di Indonesia. Semarang. Desa : definisi. Dari Urbanisasi ke Morfologi Kota.uns. ciri & romantikanya. asal mula. Masalah dan Prospek. (Online) http://phiihostaa. Cetakan I. 2008. 123p. Sinopsis Teori Central Place. diakses tanggal 21 Maret 2012) Marbun.com diakses tanggal 20 Maret 2012) Soetomo.com.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful