Sistem Kekerabatan Suku Bangsa Jawa

A. Fungsi Ideal Kekerabatan

Sistem kekerabatan orang Jawa berdasarkan prinsip keturunan bilateral (garis keturunan diperhitungkan dari dua belah pihak, ayah dan ibu). Dengan prinsip bilateral atau parental ini maka ego mengenal hubungannya dengan sanak saudara dari pihak ibu maupun dari pihak ayah, dari satu nenek moyang sampai generasi ketiga, yang disebut sanak saudulur (kindred). Khusus di daerah Yogyakarta bentuk kerabat disebut alur waris (sistem trah), yang terdiri dari enam sampai tujuh generasi.

Dari sistem kekerabatan ini maka:

1. Seorang ego mempunyai dua orang kakek dan dua orang nenek.

2. Suku Jawa mengenal keluarga luas (kindred).

3. Hak dan kedudukan anak laki-laki dan perempuan sama, dimata hukum.

4. Adat setelah menikah adalah Neolokal.

5. Perkawinannya bersifat Eksogami, meskipun ada yang melakukan perkawinan Cross Cousin.

6. Perkawinan yang dilarang antara lain:

a. perkawinan dengan saudara sekandung (incest taboo).

b. perkawinan pancer lanang (perkawinan antara anak-anak dari dua orang tua yang bersaudara laki-laki.

c. Kawin lari.

7. Suku Jawa mengenal (diijinkan):

a. Perkawinan Ngarang Wulu yaitu perkawinan duda dengan saudara perempuan istrinya yang sudah meninggal (sororat).

Dalam kehidupan sehari-hari, istilah-istilah kekerabatan untuk menyebut seseorang didalam kelompok kerabatnya adalah sebagai berikut.

a. Ego menyebut orang tua laki-laki dengan Bapak atau Rama.

b. Dhimas. Uwa. Sebaliknya Ego akan disebut Putu Canggah. karena orang yang lebih tua dianggap merupakan pembimbing. Mbok Cilik. Ndhuk. Eyang Canggah. Sebaliknya Ego akan disebut Putu. Ego menyebut kakak perempuan dari ayah atau ibu dengan Bu Dhe. m. Ego menyebut kakak perempuan dengan Mbak Yu. Pak Lik. Kakang Mas. k. Kang. e. Ego menyebut orang tua laki-laki/perempuan tiga tingkat diatas ayah dan ibu Ego dengan Mbah Canggah. masing-masing anggota keluarga lebih fokus terhadap keluarga intinya. h. g. Dhi Ajeng. Mbak. Mbok Dhe. Pak Cilik. f. Dhenok. Mbah. Ego menyebut adik perempuan dengan Adhi. Fungsi Aktual Kekerabatan Dalam masyarakat Jawa. Kakek. Ibu Cilik. Melanggar semua perintah dan nasihat kaum tua dapat menimbulkan sengsara yang disebut dengan kuwalat. d. Kakang. j. Ego menyebut kakak laki-laki dengan Kamas. c. Ego menyebut orang tua perempuan dengan Simbok atau Biyung. Dik. Ego menyebut adik laki-laki dari ayah atau ibu dengan Paman. Siwa. Buklik. Simbah Canggah. adanya istilah kindred (keluarga luas) menunjukkan arti penting dalam kebersamaan keluarga luas. B. i. Di Yogyakarta tata cara sopan santun pergaulan seperti diatas berlaku diantara kelompok kerabat (kinship behavior). pelindung. Ego menyebut orang tua ayah atau ibu baik laki-laki maupun perempuan dengan Eyang. Le. Canggah. Ego menyebut kakak laki-laki dari ayah atau ibu dengan Pak Dhe. Pak Tua. Ego menyebut adik perempuan dari ayah atau ibu dengan Bibi. dalam kehidupan keluarga saya. Mas. Simbah. Ego menyebut orang tua laki-laki/ perempuan dua tingkat diatas ayah dan ibu Ego dengan Mbah Buyut. walaupun memang . l. atau penasehat kaum muda. Buyut. Yu. Sebaliknya Ego akan disebut dengan Putu Buyut. Namun. namun hal itu tidak memutus tali silahturahmi antar anggota keluarga luas. Siwa. Bagi orang muda adalah keharusan menyebut seseorang yang lebih tua darinya baik laki-laki maupun perempuan dengan istilah tersebut diatas. Ego menyebut adik laki-laki dengan Adhi.

utrolokal-pria. namun dengan panggilan “mama”. neolokal-baru. Begitu pula dalam memanggil adik laki-laki dari ayah atau ibu. Bukan berarti melanggar perintah dan nasihat orang tua itu mulai diperbolehkan. sebutan atau panggilan yang menunjukkan kekerabatan keluarga sedikit demi sedikit telah terkikis. namun sekarang karena menghindari timbulnya dosa dan sebagai sikap hormat terhadap orang yang lebih tua. avunkulokal-saudara ibu laki-laki) . namun maksud dari pergeseran tersebut adalah pergeseran pola pikir yang tadinya sikap menaati perintah dan nasihat orang tua adalah untuk menghindari “kuwalat“. Selain itu. b.Sistem kekerabatan Prinsip kekerabatan berdasarkan bilateral/parental yaitu menarik garis keturunan dari dua belah pihak ayah dan ibu. keluarga saya menggunakan panggilan “oom” dan panggilan untuk adik perempuan dari ayah atau ibu adalah “tante”. Sebagai contoh. dalam keluarga saya dalam memanggil orang tua perempuan (ibu) tidak dengan panggilan “simbok” atau “biyung”. Pada masyarakat Jawa perkawinan yang dilarang adalah perkawinan panjer lanang yaitu saudara sepupu. Dalam hal melanggar perintah dan nasihat orang tua di masyarakat Jawa juga mulai tergeser nilainya.frekuensi silahturahmi tersebut jarang. Pola menetap setelah perkawinan bebas memilih tempat (uxorilokal-wanita.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful