P. 1
ETIKA

ETIKA

|Views: 630|Likes:
Published by Jeffrey Gunawan

More info:

Published by: Jeffrey Gunawan on Apr 06, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/17/2013

pdf

text

original

Nama: Jeffrey Gunawan Nim: 110403165

MACAM – MACAM TEORI ETIKA
1. ETIKA DESKRIPTIF Etika deskriptif yaitu etika yang berusaha meneropong secara kritis dan rasional sikap dan prilaku manusia dan apa yang dikejar oleh manusia dalam hidup ini sbagai sesuatu yang bernilai. Etika deskriptif memberikan fakta sebagai dasar untuk mengambil keputusan tnatang prilaku atau siikap yang mau diambil. Etika deskriptif merupakan penggambaran dan penelaahan secara utuh dan kritis tentang tingkah laku moral manusia secara universal yang dapat kita temui sehari - hari dalam kehidupan masyarakat. Cakupan analisanya berisikan sejumlah indikator - indikator fakta actual yang terjadi secara apa adanya terhadap nilai dan perilaku manusia dan merupakan suatu situasi dan realita budaya yang berkembang di masyarakat. Hal hal yang berkaitan dengan adapt istiadat , kebiasaan ,anggapan – anggapan baik dan buruk tenggang sesuati hal,tindakan – tindakan yang tidak boleh dilakukan dan boleh dilakukan oleh individu tertentu ; dalam kebudayaan kebudayaan dan subkultur – subkultur tertentu yang terjadi dalam suatu periode sejarah adalah merupakan kajian moralitas dalam Etika Deskriptif. Telaah dalam Etika Deskriptif tidak memberikan interpretasi secara tajam dan lugas, namun tidak melukiskan suatu fakta yang sedang terjadi dan berkembang dalam suatu masyarakat tertentu. Etika Deskriptif hanya membahas dan memberikan analisa penilaiannya atas kejadian tertentu. Salah satu contoh etika deskriptif adalah didalam mempelajari pendangan pandangan moral terhadap kenyataan yang terjadi di Negara Uni Soviet yang selama ini kita kenal sebagai Negara yang menganut faham komunis atau ateis dimana masyarakatnya begitu permisif terhadap praktek – praktek pengguguran kandungan,namun disisi lain tontonan yang bersifat pornografi mereka memberlakukan aturan aturan secara ketat. Dalam contoh kasus tersebut kita menjadi paham dan mengerti tentang realita perilaku moral yang terjadi di Uni Soviet , tapi kita tidak memberikan masalah moral. Dalam situasi demikian , harus kita akui bahwa bagaimanapun manusia itu pada umumnya tahu akan adanya baik dan buruk terhadap suatu hal yang tidak boleh dan boleh dilakukan. Pengetahuan tentang baik dan buruk dalam

Etika normatif memberi penilaian sekaligus memberi norma sebagai dasar dan kerangka tindakan yang akan diputuskan. . Berbeda dengan etika deskriptif yang bersifat penggambaran yang melukiskan sebuah peristiwa yang terjadi dan berkembang di masyarakat. budaya dan sebagainya. Para ahli etika normative dalam bahasannya tidak bertindak sebagai penonton netral saja. jadi merupakan suatu hal – hal yang tidak dapat ditawar – tawar lagi karena memberlakukan suatu kondisi perilaku individu atau kelompok masyarakat disadari oleh suatu penilaian moral. elektronik maupun virtual. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kesadaran moral yang sudah timbul dan berkembang adalah ungkapan kata hati. Selain itu contoh etika deskriptif seperti masyarakat jawa yang mengajarkan tatakrama kepada orang yang lebih tua. Nilai Normatif adalah suatu hal yang preskretif (memerintahkan) . kaian Etika normative yang berkaitan dengan masalah moral maerupakan topik bahasan yang paling menarik. Tindakan (moril) manusia dalam situasi yang kongkrit tertentu berhubungan dengan kata hati yang menilai tindakan itu atas baik dan buruknya. seorang ahli memberikan suatu argumentasi argumentasi yang mengemukakan latar belakang mengapa suatu perilaku dianggap baik atau buruk sisertai analisis moral yang dianggap benar dan salah yang bertumpu kepada norma – norma atau prinsip prinsip etis yang dapat dipertanggungjawabkan baik secara keilmuan maupun empiris.Dalam perbincangan dan diskusi – diskusi yang acapkali ditampilkan dan diugkapakan di media masa baik cetak . disebut kesadaran etis atau kesadaran moral. Dalam pembahasan etika normative.perilaku manusia. pendidikan . 2. ETIKA NORMATIF Etika normatif yaitu etika yang berusaha menetapkan berbagai sikap dan pola prilaku ideal yang seharusnya dimiliki oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai. psikologi . Kata hati merupakan pengetrapan kesadaran moral tindakan etis yang tertentu dalam segala situasi. tetapi yang bersangkutan melibatkan diri dengan kajian penilaian tentang perilaku manusia. Para hali memberikan penilaian objektif yang mempertimbangkan seluruh situasi dari individu atau kelompok masyarakat yang melakukan suatu tindakan didasari acuan – acuan yang meliputi kondisi fisik. Penilaian baik dan buruk mengenai tindakan individu atau kelompok masyarakat tertentu dalam etika normatif selalu dikaitkan dengan norma – norma yang dapat menuntun manusia untuk bertindak secara baik dan menghindarkan hal hal yang buruk sesuai dengan kaidah dan norma yang disepakati dan berlaku di masyarakat.

Artinya suatu tindakan manusia selalu mempunyai suatu tujuan tertentu yang ingin dicapainya. Timbul pertanyaan : Apakah bobot moral atau baik buruknya suatu indakan terletak pada nilai moral tindakan itu sendiri ataukah terletak pada baik buruk serta besar kecilnya tujuan yang ingin dicapat itu. Tanpa kita sadari sebagai umat beragama. mencelakai orang lain melalui perbuatan ataupun ucapan. Disini kita berhadapan dengan dua teori etika yang dikenal sebagai etika deontologi dan etika teleology. Misalkan kita tidak boleh mencuri. Orang yang berpegang eguh pada agama pasti mengatakan bahwa apabila ada suatu perbuatan dikatakan buruk pasti dia akan menjawab bahwa itu dilarang agama.disiplin diri.Kita ketahui bahwa etika memberikan pegangan dan orientasi dalam menjalani kehidupan kita di dunia ini. ada etika yang bersifat individual seperti kejujuran . Contoh dari Etika Normatif. maka dalam Deontologi benar-benar melepaskan sama sekali moralitas dari konsekuensi perbuatan. Dalam suatu perbuatan pasti ada konsekuensinya. Perbuatan menjadi baik bukan dilihat dari hasilnya melainkan karena perbuatan tersebut wajib dilakukan. Deontologi menekankan perbuatan tidak dihalalkan karena tujuannya. TEORI DEONTOLOGI Dalam pemahaman teori Deontologi memang terkesan berbeda dengan Utilitarisme. dalam hal ini konsekuensi perbuatan tidak boleh menjadi pertimbangan. ”Deontologi” ( Deontology ) berasal dari kata dalam Bahasa Yunani yaitu : deon yang artinya adalah kewajiban. Di sini kita tidak boleh melakukan suatu perbuatan jahat agar sesuatu yang dihasilkan itu baik. karena dalam Teori Deontologi kewajiban itu tidak bisa ditawar lagi karena ini merupakan suatu keharusan. Selain itu contoh etika normative adalah etika dalam berbisnis 3. berdusta untuk membantu orang lain. kita berpegang teguh pada Deontologi. Jika dalam Utilitarisme menggantungkan moralitas perbuatan pada konsekuensi.mengerjakan tugas. Kemudian kita dihadapi denhgan realita kehidupan yang memberikan kepada kita alternative pilihan untuk menyelamatkan keadaan . Tujuan yang baik tidak menjadi perbuatan itu juga baik. Ada kalanya suatu perbuatan dikatakan baik tetapi perbuatan lain dikatakan buruk. Dalam agama manapun pasti mengenal ajaran seperti itu tidak terkecuali pada ajaran agama Yahudi – . yang bisa menjadi argumentasi moral tentang baik dan buruknya perbuatan tersebut. Artinya ada arah dan sasaran dari tindakan atas hidup yang dijalankan.

dan pastinya sepuluh larangan tadi juga tidak dibenarkan dalam ajaran agama lain. Orang yang mendasari filosofis pada Teori Deontologi adalah Immanuel Kant ( 1724 – 1804) dari Jerman.k. Dalam kasus ini ketidakpuasan dapat dibedakan dua pendekatan yang bersifat Utilisasi maupun Deontologi. Apabila ada pertanyaan mengapa hal – hal tersebut tidak boleh dilakukan pasti kita akan menjawab hal – hal tersebut merupakan larangan dari Tuhan. sedangkan Deontologi konsekuensi perbuatan tidak berperanan sama sekali. membunuh. hukum tidak menuntut labih dari yang dijelaskan di atas. Ada penekanan yang menyebutkan bahwa mengikuti SDSB sama saja seperti judi dan hal tersebut sangat dilarang keras oleh agama. tetapi perbuatan dikatakan baik secara moral itu belum cukup. hal tersebut harus dilakukan menurut prosedur hukum yang resmi.Kristiani dikenal dengan sebutan ”sepuluh Perintah Allah” ( The Ten Commandments ) yang bisa diterima oleh semua agama. suatu perbuatan hanya bisa dianggap baik secara moral kalau dilakukan karena kewajiban atau karena menjadi suatu keharusan. yaitu berdusta. Benar – benar berbeda dari hukum. menurut Kant bagi hukum yang terpenting adalah ”legalitas” perbuatan. Sekarang juga bisa dipahami bahwa suatu perbuatan yang baik dari segi hukum belum tentu baik dari segi etika. Contohnya dalam peristiwa SDSB ( Sumbangan Dermawan Sosial berhadiah ) dihentikan oleh Menteri Sosial yang saat itu dijabat Ny. Inten Soeweno. berzina. Pendekatan Deontologi sudah bisa diterima dalam konteks agama. dll. Program SDSB banyak menimbulkan kerugian bagi rakyat kecil yang sudah terlanjur miskin dan harus dibubarkan karena mereka tergiur prospek akan memperoleh laba besar dan banyak orang kurang mampu mengabaikan kebutuhan keluarga dan uangnya hanya dibuat untuk membeli kupon saja karena . Oleh karena itu hukum hanya menilai perbuatan yang dilakukan bertentangan dengan hukum atau tidak. Dra. Inilah pendekatan Deontologis yang saat itu ditempuh oleh para ulama.E. Contohnya dalam kasus ”petrus” ( penembak misterius ) tahun 1983 dibenarkan atas dasar pemikiran Utilitarisme. Menurut Kant ” Perbuatan adalah baik jika dilakukan karena harus dilakukan” atau dengan kata lain dilakukan sebagai kewajiban. Jika dilihat secara sekilas memang ada perbedaan antara utilitarisme dengan deontologi. Dalam contoh di atas penilaian moral dari utilitarisme dan Deontologi sanagat berbeda. mencuri. namun pada kenyataannya perbedaan itu sering tidak dirasakan. tetapi tidak diterima dalam Deontologi karena pembunuhan tidak bisa dibenarkan walaupun konsekuensinya sangat menguntungkan bagi masyarakat. Perbuatan agar menjadi lebih baik di mata hukum yang diperlukan hanyalah perbuatan tersebut harus sesuai dengan hukum yang berlaku. Utilitarisme mementingkan konsekuensi perbuatan. Jika memang seseorang patut dihukum.

kita tidak seharusnya menyelamatkan korban karena dikhawatirkan akan membahayakan nyawa diri. maka dari itu konsekuensinya harus ditolak sesuai dengan prinsip Utilitarisme.beranggapaan akan mendapatkan hadiah yang lebih dari membeli kupon tersebut. tindakan British mengeksploitasi bahan mentah di negeri-negeri melayu untuk tujuan kepentingan diri. sebaliknya menindas dan mengeksploitasi orang lain.1 Contoh yang terkait: a) Tindakan membantu orang lain Misalnya. tetapi berkesudahan dengan kecelakaan. 1. Egois tidak iltizam untuk berbakti kepada masyarakat dan melakukan kerja sukarela. Dalam praktek ini terlihat bahwa hendaknya dalam konteks etika bisnis pertentangan dan perbedaan pada Utilitarisme dan Deontologi tidak perlu dibesar – besarkan. seseorang dianggap tidak etis apabila tindakannya menolong orang buta melintasi jalan raya. Inggris dianggap golongan bangsawan yang kuat. perang Inggris untuk menaklukkan tanah melayu adalah bermoral. . EGOISME Egoisme didefinisikan sebagai teori yang menggangap nilai itu baik jika menguntungkan diri sendiri dan nilai itu buruk jika sesuatu itu merugikan diri sendiri. Peraturan harus bersifat individualistik. Mereka ini benci kepada organisasi atau organisasi. TEORI TELEOLOGIS ALIRAN TELEOLOGIS TERBAGI ATAS: 1. Egois biasanya mementingkan diri sendiri saja dan tidak memperhatikan kepentingan orang lain. Nietzsche mengakui nilai suatu sistem peraturan tetapi beliau menentang peraturan mutlak. 4. Jadi. Untuk contoh lain. b) Aksi perang Studi kasus British menaklukkan negeri-negeri Melayu sebelum Malaysia merdeka. dalam kecelakaan kebakaran. Sedangkan orang lokal dianggap lemah dan selalu memberontak mengunakan prinsip ketuhanan (hak mereka sebagai pemilik) untuk mempertahankan diri. Dalam situasi ini.

Setiap tindakan manusia harus selalu dipikirkan. Namun kesimpulan itu sulit diterima oleh kebanyakan etika-wan. . Utilitarisme mempunyai tanggung jawab kepada orang yang melakukan suatu tindakan. Dasarnya adalah kewajiban dan hak. maka menurut utilitarisme perbuatan itu harus dianggap baik. teori utilitarisme menemui banyak kritik. Misalnya. para pendukung utilitarisme mesti mengatakan bahwa dalam hal itu perbuatannya harus dinilai baik. tapi menfaat itu harus menyangkut bukan saja satu dua orang melainkan masyarakat sebagai keseluruhan. Dalam perdebatan antara para etikawan. apa akibat dari tindakannya tersebut bagi dirinya maupun orang lain dan masyarakat. Utilitarisme disebut lagi suatu teori teleoligis ( dari kata Yunani telos = tujuan).c) Tindakan kegiatan organisasi Kegiatan organisasi yang ada adalah tidak bermoral karena ia dianggap sebagai suatu paham baru untuk mempengaruhi orang lain. Bentham merumuskan prinsip utilitarisme sebagai the greatest happiness fot the greatest number (kebahagiaan yang sebesar mungkin bagi jumlah yang sebesar mungkin). suatu perbuatan adalah baik jika membawa manfaat. UTILITARISME Utilitarisme berasal dari kata Latin utilis yang berarti “bermanfaat”. sebab menurut teori ini kualitas etis suatu perbuatan diperoleh dengan dicapainya tujuan perbuatan. Keberatan utama yang dikemukakan adalah bahwa utilitarisme tidak berhasil menampung dalam teorinya dua paham etis yang amat penting. kebahagiaan terbesar dari jumlah orang terbesar. Menurut suatu perumusan terkenal. Jika suatu perbuatan membawa manfaat sebesar – besarnya untuk jumlah orang terbesar. Menurut teori ini. Jika mereka mau konsisten. 2. berfaedah atau berguna. apakah tindakan tersebut baik atau buruk. Aliran ini memberikan suatu norma bahwa baik buruknya suatu tindakan oleh akibat perbuatan itu sendiri. dalam rangka pemikiran utilitarisme (utilitarianism) kriteria untuk menentukan baik buruknya suatu perbuatan adalah the greatest happiness of the greatest number. mereka harus mengorbankan keadilan dan hak kepada manfaat. organisasi partai-partai politik. kalau mau konsisten. yaitu keadilan dan hak. Jadi. Tingkah laku yang baik adalah yang menghasilkan akibat-akibat baik sebanyak mungkin dibandingkan dengan akibat-akiba tburuknya. Sebagai contoh bisa disebut kewajiban untuk menepati janji. Tokoh-tokoh aliran ini adalah Jeremi Bentham (1748-1832) dan John Stuart Mill (18061873).

2. 2. 2. 1. kemudianmemutuskan. Variabel yang dinilai tidak semuanya dapat dikualifikasi.  Utilitarisme aturan (rule utilitarianism).1 Pembagian Utilitarisme. Etika utilitarisme tidak pernah menganggap serius kemauan baik seseorang.  Utilitarisme perbuatan (act utililitarianism) Menyatakan bahwa kita harus memperhitungkan. Oleh karena itu. perasaan sakit (pain). . 4. 3. hasil-hasil dari peraturan dan hukum-hukum. Manfaat merupakan konsep yang begitu luas sehingga dalam kenyataan praktis akan menimbulkan kesulitan yang tidak sedikit. Nikmat (pleasure) dan 2. Menurut Bentham kehidupan manusia ditentukan oleh dua ketentuan dasar: 1.Prinsip ini menurut Bentham harus mendasari kehidupan politik dan perundangan. lalu memutuskan. Menyatakan bahwa kita harus mengira-ngira. tujuan moral tindakan manusia adalah memaksimalkan perasaan nikmat dan meminimalkan rasa sakit.2 Kelemahan Utilitarisme. Etika utilitarisme tidak pernah menganggap serius nilai suatu tindakan pada dirinya sendiri dan hanya memperhatikan nilai suatu tindakan sejauh berkaitan dengan akibatnya. akibat-akibat yang dimungkinkan dari setiap tindakanaktual ataupun yang direncanakan. Prinsip dasar Ultilitarisme adalah tindakan atau peraturan yang secara moral betul adalah yang paling menunjang kebahagiaan semua yang bersangkutan atau bertindaklah sedemikian rupa sehingga akibat tindakannmu menguntungkan bagi semua yang bersangkutan.

Mengingat dalam keuangan yang ada kebanyakan adalah angka-angka. Kasus diskriminasi ras kulit hitam dan diskriminasi etnis Tionghoa sebelum tahun 1997 tampaknya tidak terdengar asing lagi di telinga.3 Contoh Penerapan Utilitarisme Dalam pemilihan suara pada Pemilihan Umum (PEMILU) suatu negara yang menganut asas demokrasi. 6. jadi keputusan dapat diambil secara mudah berdasarkan jumlah terbanyak bagi manfaat terbanyak. Oleh utilitarisme hal ini dibenarkan selama diskriminasi membawa manfaat. 2. maka akan ada kesulitan dalam menentukan prioritas diantara ketiganya.5. Seandainya ketiga kriteria dari etika utilitarisme saling bertentangan. anjing tersebut suka menggigit orang yang lewat. Perhitungan ala utilitaris ini dapat berlaku sebagai tinjauan atas keputusan yang akan diambil. Lalu saran 3 orang tadi dikemanakan? Apakah mereka harus menerima itu begitu saja? Kalau menurut teori ini YA. dan mayoritas berhak atas mereka. calon presiden dengan suara terbanyak adalah presiden yang memenangkan pemilu. Salah satu sebab mereka didiskriminasikan karena mereka minoritas. Demikian pula dengan implementasi utilitarisme Meski pun sudah dialami manfaat dari utilitarisme bukan berarti utilitarisme secara teoritis tidak memiliki masalah. maka apakah akan ada orang yang dikorbankan? Anggap saja ada anjing gila. Dibalik kengerian dari aplikasi teori utilitarisme ini. tentu dalam perkembangan peradaban ada sejarah diskriminasi ras mau pun etnis. Etika utilitarisme membenarkan hak kelompok minoritas tertentu dikorbankan demi kepentingan mayoritas . . Jika semua yang dikategorikan sebagai baik hanya diperoleh dari manfaat terbanyak bagi orang terbanyak. Salah satunya adalah ketika berkenaan dengan bisnis dan keuangan. Meski pun perbandingannya hanya 49% dengan 51% tetap saja calon yang memperoleh suara terbanyak akan menang. Kasus di atas hanyalah sebatas anjing bagaimana jika manusia? Bukan tidak mungkin hal ini terjadi bahkan sudah terjadi. 7 dari 10 orang menyarankan anjing tersebut dibunuh sedangkan 3 lainnya menyarankan dibunuh. Penganut utilitarisme akan menjawab tentu yang baik jika anjing itu dibunuh. ada pula hal yang melegakan.

Dengan demikian mereka memang dapat menghindari beberapa kesulitan dari utilitarisme perbuatan. Karena itu utilitarisme aturan ini merupakan suatu upaya teoritis yang menarik. Kita dapat menyimpulkan bahwa utilitarisme aturan membatasi diri pada justifikasi aturan – aturan moral. . melainkan atas aturan – aturan moral yang kita terima bersama dalam masyarakat sebagai pegangan bagi perilaku kita.Prinsip dasar utilitarisme tidak harus diterapkan atas perbuatan – perbuatan yang kita lakukan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->