Analisis soal dilakukan untuk mengetahui berfungsi tidaknya sebuah soal.

Analisis pada umumnya dilakukan melalui dua cara, yaitu analisis kualitatif (qualitative control) dan analisis kuantitatif (quantitative control). Analisis kualitatif sering pula dinamakan sebagai validitas logis (logical validity) yang dilakukan sebelum soal digunakan. Gunanya untuk melihat berfungsi tidaknya sebuah soal. Analisis soal secara kuantitatif sering pula dinamakan sebagai validitas empiris (empirical validity) yang dilakukan untuk melihat lebih berfungsi tidaknya sebuah soal setelah soal itu diujicobakan kepada sampel yang representatif. Salah satu tujuan dilakukannya analisis adalah untuk meningkatkan kualitas soal, yaitu apakah suatu soal (1) dapat diterima karena telah didukung oleh data statistic yang memadai, (2) diperbaiki, karena terbukti terdapat beberapa kelemahan, atau bahkan (3) tidak digunakan sama sekali karena terbukti secara empiris tidak berfungsi sama sekali.

Analisis Kuantitatif. Digunakan untuk mengetahui sejauh mana soal dapat membedakan antara peserta tes yang kemampuannya tinggi dalam hal yang didefinisikan oleh kriteria dengan peserta tes yang kemampuannya rendah (melalui analisis statistik). Analisis soal secara kuantitatif menekankan pada analisis karakteristik internal tes melalui data yang diperoleh secara empiris. Karakteristik internal secara kuantitatif dimaksudkan meliputi parameter soal tingkat kesukaran, daya pembeda, dan reliabilitas. Khusus soal-soal pilihan ganda, dua tambahan parameter yaitu dilihat dari peluang untuk menebak atau menjawab soal dengan benar dan berfungsi tidaknya pilihan jawaban, yaitu penyebaran semua alternatif jawaban dari subyek-subyek yang dites.
Analisis soal dilakukan untuk mengetahui berfungsi tidaknya sebuah soal. Analisis pada umumnya dilakukan melalui dua cara, yaitu analisis kualitatif (qualitative control) dan analisis kuantitatif (quantitative control). Analisis kualitatif sering pula dinamakan sebagai validitas logis (logical validity) yang dilakukan sebelum soal digunakan. Gunanya untuk melihat berfungsi tidaknya sebuah soal. Analisis soal secara kuantitatif sering pula dinamakan sebagai validitas empiris (empirical validity) yang dilakukan untuk melihat lebih berfungsi tidaknya sebuah soal setelah soal itu diujicobakan kepada sampel yang representatif. Salah satu tujuan dilakukannya analisis adalah untuk meningkatkan kualitas soal, yaitu apakah suatu soal (1) dapat diterima karena telah didukung oleh data statistic yang memadai, (2) diperbaiki, karena terbukti terdapat beberapa kelemahan, atau bahkan (3) tidak digunakan sama sekali karena terbukti secara empiris tidak berfungsi sama sekali.

Analisis Kuantitatif. Digunakan untuk mengetahui sejauh mana soal dapat membedakan antara peserta tes yang kemampuannya tinggi dalam hal yang didefinisikan oleh kriteria dengan peserta tes yang kemampuannya rendah (melalui analisis statistik). Analisis soal secara kuantitatif menekankan pada analisis karakteristik internal tes melalui data yang diperoleh secara empiris. Karakteristik internal secara kuantitatif dimaksudkan meliputi parameter soal tingkat kesukaran, daya pembeda, dan reliabilitas. Khusus soal-soal pilihan ganda, dua tambahan parameter yaitu dilihat dari peluang untuk menebak atau menjawab soal dengan benar dan berfungsi tidaknya pilihan jawaban, yaitu penyebaran semua alternatif jawaban dari subyek-subyek yang dites. Tingkat Kesukaran. Ada beberapa alasan untuk menyatakan tingkat kesukaran soal. Bisa saja tingkat kesukaran soal ditentukan oleh kedalaman soal, kompleksitas, atau hal-hal lain yang berkaitan dengan kemampuan yang diukur oleh soal. Namun demikian, ketika kita mengkaji lebih mendalam terhadap tingkat kesukaran soal, akan sulit menentukan mengapa sebuah soal lebih sukar dibandingkan dengan soal yang lain.

Angka yang dapat memberikan petunjuk mengenai tingkat kesulitan item itu dikenal dengan istilah difficulty index (angka indeks kesukaran item). butir-butir yang terlalu sulit dapat digunakan kembali dalam tes (terutama tes seleksi) yang sifatnya sangat ketat. 3. apakah petunjuk cara mengerjakan solnya sulit dipahami. apakah kalimat soalnya kurang jelas. dsb. dan ditelusuri sehingga dapat diketahui faktor yang menyebabkan butir item yang bersangkutan sulit dijawab oleh testee.Secara umum. (3) indeks Davis. Setelah dilakukan perbaikan. butir item dibuang atau didrop dan tidak dikeluarkan lagi dalam tes-tes hasil belajar yang akan datang 2. Proporsi jawaban benar (p). dilacak. Butir item ini dapat dikeluarkan lagi dalam tes-tes hasil belajar pada waktu-waktu yang akan datang 1. diteliti ulang. Sukar Sedang Mudah . yaitu singkatan dari kata proportion (proporsi = proporsa). butir-butir item tersebut dikeluarkan lagi dalam tes hasil belajar yang akan datang. Butir-butir item tes hasil belajar dapat dinyatakan sebagai butir-butir item yang baik.7 Sukar Sedang Mudah Kategori Tindak Lanjut Hasil Analisis Interpretasi Item 1. (2) skala kesukaran linear. dan (4) skala bivariat. yaitu jumlah peserta tes yang menjawab benar pada butir soal yang dianalisis dibandingkan dengan jumlah peserta tes seluruhnya merupakan tingkat kesukaran yang paling umum digunakan.7 P > 0. dilacak. apakah kalimat soalnya kurang jelas. dsb. butir-butir yang terlalu sulit dapat digunakan kembali dalam tes (terutama tes seleksi) yang sifatnya longgar. apabila butir-butir item tersebut tidak terlalu sukar dan tidak pula terlalu mudah dengan kata lain derajat kesukaran item itu adalah sedang atau cukup. apakah petunjuk cara mengerjakan soalnya sulit dipahami.3 0. 3. dan ditelusuri sehingga dapat diketahui faktor yang menyebabkan butir item yang bersangkutan sulit dijawab oleh testee.3 ≤ p ≤ 0. menurut teori klasik. Setelah dilakukan perbaikan. ataukah dalam soal tersebut terdapat istilah-istilah yang tidak jelas. Kategori Tingkat Kesukaran Nilai p P < 0. butir-butir item tersebut dikeluarkan lagi dalam tes hasil belajar yang akan datang. diteliti ulang. tingkat kesukaran dapat dinyatakan melalui beberapa cara diantaranya (1) proporsi menjawab benar. Tindak Lanjut butir item dibuang atau didrop dan tidak dikeluarkan lagi dalam tes-tes hasil belajar yang akan datang 2. yang dalam dunia evaluasi hasil belajar umumnya dilambangkan dengan huruf P. Intinya. bermutu atau tidaknya butir-butir item tes hasil belajar pertama-tama dapat diketahui dari derajat kesukaran atau taraf kesukaran yang dimiliki oleh masing-masing butir item tersebut. ataukah dalam soal tersebut terdapat istilah-istilah yang tidak jelas.

Salah satu tujuan analisis kuantitatif soal adalah untuk menentukan dapat tidaknya suatu soal membedakan kelompok dalam aspek yang diukur sesuai dengan perbedaan yang ada dalam kelompok itu.40 Satisfactory memiliki daya pembeda yang cukup (sedang) Butir item yang bersangkutan telah memiliki daya pembeda yang baik Butir item yang bersangkutan telah memiliki daya pembeda yang baik sekali Butir item yang bersangkutan daya pembedanya negative sekali (jelek sekali) 0. Tanda negatif menunjukkan bahwa peserta tes yang kemampuannya rendah dapat menjawab benar sedangkan peserta tes yang kemampuannya tinggi menjawab salah.70 – 1.20 Poor pembedanya yang baik lemah sekali (jelek). Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda berkisar antara -1 sampai dengan +1. Indeks Dsikriminasi Item (D) Klasifikasi Interpretasi Butir item yang bersangkutan daya < 0. Indeks ini menunjukkan kesesuaian antara fungsi soal dengan fungsi tes secara keseluruhan. Dengan demikian validitas soal ini sama dengan daya pembeda soal yaitu daya dalam membedakan antara peserta tes yang berkemampuan tinggi dengan peserta tes yang berkemampuan rendah. Dengan demikian soal indeks daya pembedanya negatif menunjukkan terbaliknya kualitas peserta.20 – 0. dianggap tidak memiliki daya pembeda Butir item yang bersangkutan telah 0. Indeks diskriminasi item umumnya diberi lambang dengan huruf D (singkatan dari discriminatory power). Indeks daya pembeda soal-soal yang ditetapkan dari selisih proporsi yang menjawab dari masing-masing kelompok.70 0. Indeks yang digunakan dalam membedakan antara peserta tes yang berkemampuan rendah adalah indeks daya pembeda (item discrimination).Daya Pembeda.40 – 0.00 Bertanda negatif (-) Good Excellent - .

Sebagai tindak lanjut atas hasil penganalisaan terhadap fungsi distraktor tersebut maka distraktor yang sudah dapat menjalankan fungsinya dengan baik dapat dipakai lagi pada tes-tes yang akan datang. dan dari kemungkinan-kemungkinan jawaban yang terpasang pada setiap butir item itu. Dengan kata lain. yaitu bahwa dari keseluruhan alternatif yang dipasang pada butir item tertentu. a. sedangkan sisanya adalah merupakan jawaban salah. Jawaban-jawaban salah itulah yang biasa dikenal dengan istilah distractor (pengecoh). keajegan respon peserta didik terhadap pilihan jawaban (misalnya mereka cenderung memberi jawaban A dari 4 alternatif yang disediakan atau cenderung memilih B dari soal benar salah yang disajikan) Khusus yang berkaitan dengan soal a. Distraktor dinyatakan telah dapat menjalankan fungsinya dengan baik apabila distraktor tersebut sekurang-kurangnya sudah dipilih oleh 5 % dari seluruh peserta tes. pengetahuan dan kemampuan khusus yang berkaitan dengan soal 2 c. sama sekali tidak dipilih oleh testee. Adapun yang dimaksud dengan pola penyebaran jawaban item adalah suatu pola yang dapat menggambarkan bagaimana testee menentukan pilihan jawabnya terhadap kemungkinankemungkinan jawab yang telah dipasangkan pada setiap butir item. Option atau alternatif itu jumlahnya berkisar antara 3 sampai dengan 5 buah. pengetahuan dan kemampuan khusus yang berkaitan dengan soal Karakteristik umum yang temporer seperti : 3 a. testee menyatakan “blangko”. kelelahan b. Menganalisis fungsi distraktor sering dikenal dengan istilah lain. kemampuan yang dimiliki peserta didik dalam menghadapi tes kemampuan umum untuk memahami petunjuk tes kemampuan peserta didik yang berkaitan dengan atribut yang diukur dalam sebuah tes b. Berikut adalah faktor yang mempengaruhi perolehan skor peserta didik (Thorndike) yang berakibat pada ketidakajegan terhadap skor. Keajegan dan ketidakajegan skor tes merupakan fokus dari pengkajian tentang reliabilitas. Reliabilitas. Suatu kemungkinan dapat terjadi. yaitu : menganalisis pola penyebaran jawaban item. pengetahuan khusus yang berkaitan dengan fakta atau konsep khusus b. atau yang sering dikenal dengan istilah option atau alternatif. salah satu diantaranya adalah merupakan jawaban betul (kunci jawaban). Faktor yang Mempengaruhi Reliabilitas Skor Karakteristik umum yang permanen peserta tes 1 a. Pernyataan blangko ini sering dikenal dengan istilah omiet dan biasa diberi lambang dengan huruf O. c. kemampuan umum dan teknik yang digunakan ketika mengambil tes Karakteristik khusus yang permanent peserta tes . kesehatan b.Fungsi Distraktor Pada saat membicarakan tes objektif bentuk multiple choice item tersebut untuk setiap butir item yang dikeluarkan dalam tes hasil belajar telah dilengkapi dengan beberapa kemungkinan jawab. sedangkan distraktor yang belum dapat berfungsi dengan baik sebaiknya diperbaiki atau diganti dengan distraktor yang lain.

bebas dari gangguan. 4 c. pemahaman terhadap petunjuk tes pengalaman/latihan menghadapi tes terlebih lagi dalam tes psikomotor b. dan lain sebagainya d. hal-hal yang berkaitan dengan perhatian dan keakuratan Faktor penyelenggaraan 5 a. kebiasaan menghadapi sebuah tes Khusus yang berkaitan dengan soal a. g. pengawasan Faktor yang tidak pernah diperhitungkan b. 6 a.c. trik atau teknik-teknik mengatasi tes d. f. ventilasi. cahaya. c. e. gangguan emosi Karakteristik khusus yang temporer seperti : Khusus yang berkaitan dengan tes secara keseluruhan a. fluktuasi ingatan yang dimiliki peserta didik b. motivasi kemampuan umum dan teknik yang digunakan ketika mengambil tes pemahaman mekanisme tes faktor panas. mengingat soal yang telah dilihatnya . waktu. dan petunjuk yang jelas penskoran keberuntungan karena faktor menebak b.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful