TRANSFORMASI BILINEAR

Di susun untuk memenuhi tugas matakuliah Fungsi Kompleks
yang dibimbing oleh Ibu Indriati Nurul H.











KELOMPOK 7
Anggota: Maharani Kusuma Arumsari (409312413115)
Andrie Kurniawan (409312417687)
Herlin Dwi Kartikasari (409312419799)
Erlina Tri Susianti (409312419801)

MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
November 2011
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kelompok lain yang penting dari pemetaan elementer dipelajari oleh
Ferdinand Bilinear Agustus (1790-1868). Pemetaan ini dinyatakan sebagai hasil bagi
dari dua ekspresi linear dan biasanya dikenal sebagai transformasi bilinear atau
pecahan linier. Mereka muncul secara alami dalam masalah pemetaan yang
melibatkan fungsi arctan (z).
Transformasi Bilinear didefinisikan pada bidang kompleks perluasan (yaitu
bidang kompleks ditambah dengan titik di tak terhingga) yaitu
̂
. Bidang
perluasan komplek ini dapat dianggap sebagai suatu bidang. Transformasi tersebut
adalah bentuk paling umum dari pemetaan konformal dari domain. Sebuah
transformasi bilinear dapat dinyatakan sebagai transformasi linier diikuti dengan
transformasi kebalikan dan dilanjutkan dengan transformasi linier dan invers.
Beberapa sifat-sifat pada transformasi bilinear analog pada transformasi kebalikan.
Kemudian transformasi bilinear dapat ditentukan bahwa transformasi tersebut
memiliki dua titik tetap.
Dalam makalah ini akan dijelakan bagaimana bidang perluasan dapat
terbentuk pada transformasi bilinear. Serta akan ditunjukkan bahwa transformasi
bilinear dapat dinyatakan dalam transformasi linier diikuti dengan transformasi
kebalikan dan dilanjutkan dengan transformasi linier dan inversnya yang juga
merupakan transformasi bilinear. Dan akan ditentukan bahwa transformasi bilinear
memiliki sifat-sifat yang salah satunya akan analog dengan transformasi kebalikan.
Pada transformasi bilinear akan ditentukan bagaimana mencari titik tetapnya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud transformasi bilinear?
2. Bagaimana contoh dan non contoh dari transformasi bilinear?
3. Bagaimana sifat-sifat dan bukti dari transformasi bilinear?
4. Bagaimana teorema, bukti teorema, dan contoh penggunaan dalam soal dari
transformasi bilinear?


C. Tujuan
1. Mengetahui definisi transformasi bilinear pada bidang kompleks.
2. Dapat membedakan contoh dan noncontoh dari trasnformasi bilinear.
3. Mengetahui sifat-sifat transformasi bilinear beserta buktinya.
4. Mengetahui teorema dan buktinya dari transformasi bilinear serta penggunaannya
dalam soal.


BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Transformasi bilinier
Pemetaan
az b
w
cz d
+
=
+
, dengan dinamakan transformasi
bilinear.
Keterangan:
1. Dalam hal , maka transformasi bilinier akan menjadi transformasi
(fungsi) konstan.

2. Untuk selanjutnya, diasumsikan bahwa untuk menghindari transformasi bilinier
berubah menjadi transformasi linier.
Syarat agar tidak menjadi linear karena jika maka


3. Persamaan bilinier ini memetakan bidang-z diperluas dalam bentuk satu-satu ke
bidang w diperluas; titik ‘perkecualian ’ pada pemetaan ini adalah

yang
dipetakan ke dan yang dipetakan ke


Oleh karena itu, agar pada

analitik dank arena

maka untuk

kita petakan ke

( )
( )
az b
w
cz d
w cz d az b
wcz wd az b
wcz az b wd
z cw a dw b
dw b
z
cw a
+
=
+
+ = +
+ = +
÷ = ÷
÷ = ÷ +
÷ +
=
÷

Maka untuk nilai

invers transformasinya diberikan

Kita dapat memperluas

ke pemetaan dalam bidang kompleks diperluas.
Nilai dapat ditentukan dari nilai limit untuk . Oleh karena itu,

dan inversnya adalah

(

) . Dengan cara yang sama, nilai

diperoleh
dengan

dan inversnya adalah (

) . Dengan perluasan kita simpulkan bahwa
transformasi adalah pemetaan satu-satu dari bidang komplek diperluas ke
bidang komplek diperluas.
B. Contoh Transformasi Bilinear
1
z
w
z
=
+
Alasan:
1, 0, 1, 1
1 0,
1 0 1 0
a b c d
c
ad bc
= = = =
= =
÷ = ÷ = =

C. Bukan Contoh Transformasi Bilinear
1 w z = + Alasan :
1, 0, 0, 1
0 menjadikan persamaan linear
0 menjadikan fungsi konstan
a b c d
c
ad bc
= = = =
= ÷
÷ = ÷

D. Sifat-Sifat dan Teorema pada Transformasi Bilinear
1. Pemetaan bilinier merupakan gabungan dari fungsi-fungsi berikut

Dengan demikian, transformasi bilinier merupakan gabungan dari transformasi linier
diikuti dengan transformasi kebalikan dan dilanjutkan dengan transformasi linier
sekali lagi.










Bukti:
( )
( )
( )
( ) ( )
( ) ( )
( ) ( )
( ) ( )
( )
( ) ( )
b
a z
az b
a
w f z
d
cz d
c z
c
d d b d b
a z a
a
c c a c a
d d
c
c z c z
c c
d d b d b
a z a
a
c c a c a
d d
c
c z c z
c c
ad
b
a a bc ad
c
c c cz d c c cz d
+
+
= = =
+
+
÷
+ ÷ + +
= = +
+ +
÷
+ ÷ + +
= = +
+ +
÷
÷
= + = +
+ +

Diperoleh komposisi

2. Analog dengan transformasi kebalikan, maka transformasi bilinier juga memetakan
garis dan lingkaran menjadi suatu garis atau lingkaran.
Bukti:
Bukti didasarkan pada dua kenyataan sebagai berikut:
(a). Pemetaan bilinear merupakan gabungan dari tiga fungsi berikut, dalam urutan
yang diberikan

Jadi pemetaan bilinear merupakan gabungan dari pemetaan linear diikuti dengan
pemetaan kebalikan, kemudian sekali lagi dengan pemetaan linear.
(b). Pemetaan linear merupakan transformasi sama dan transformasi kebalikan
memetakan garis-garis dan lingkaran-lingkaran ke garis-garis atau lingkaran-
lingkaran.
Kenyataan-kenyataan diatas dapat digunakan untuk menunjukkan bahwa suatu garis
atau lingkaran, katakanlah pada bidang z oleh fungsi pertama dalam (a) akan
diputar, diperbesar, dan digeser menjadi garis atau lingkaran , selanjutnya oleh
fungsi yang kedua hasilnya akan dibalikkan menjadi garis atau lingkaran dan
akhirnya oleh fungsi yang ketiga akan diputar, diperbesar, dan digeser menjadi
garis atau lingkaran.

3. Pemetaan bilinier (dengan asumsi ) mempunyai paling banyak dua titik tetap,
yang merupakan akar-akar persamaan

.
Bukti:
2
2
2
2
1,2
misalkan ,
sehingga
( )
0
( ) 0
dari persamaan kuadrat di atas, diperoleh akar-akarnya
( ) ( ) 4
2
w z
az b
z
cz d
z cz d az b
cz dz az b
cz dz az b
cz d a z b
a d a d bc
z
c
=
+
=
+
+ = +
+ = +
+ ÷ ÷ =
+ ÷ ÷ =
÷ ± ÷ +
=

4. Invers dari transformasi bilinier
az b
w
cz d
+
=
+
adalah
dw b
z
cw a
÷ +
=
÷
yang juga merupakan
transformasi bilinier.
Bukti:
( )
( )
az b
w
cz d
w cz d az b
wcz wd az b
wcz az b wd
z cw a dw b
dw b
z
cw a
+
=
+
+ = +
+ = +
÷ = ÷
÷ = ÷ +
÷ +
=
÷

5. Teorema
Jika z
1
≠ z
2
≠ z
3
sebarang titik pada bidang-Z dan w
1
≠ w
2
≠ w
3
sebarang titik pada
bidang-W, maka terdapat fungsi transformasi bilinear yang memetakan z
i
ke w
i

dengan i=1,2,3 adalah


Bukti:
1 2 3 1 2 3
3 2 1 3 2 1
( )( ) ( )( )
( )( ) ( )( )
w w w w z z z z
w w w w z z z z
÷ ÷ ÷ ÷
=
÷ ÷ ÷ ÷
Misal:

dengan
Maka,

Bentuk pecahan di atas dikenal sebagai pecahan silang dari titik-titik

dan .
Bila dikalikan silang, maka persamaan di atas menjadi

Dengan melakukan penyederhanaan, persamaan di atas dapat diubah menjadi bentuk




Bukti :

( )( )( )( ) ( )( )( )( )
1 2 3 3
1 2 3 1 2 3
3 2
2 1 3 2 1 1 2
1 3 2 1
3
( )( ) ( )( )
( )( ) ( )( )
w w w w z z
w w w w z z z z
w w w w z z
z z w w w w z
z z
z z z ÷ ÷ ÷ ÷
÷ ÷ ÷ ÷
=
÷ ÷ ÷
= ÷ ÷ ÷ ÷
÷


1 2 2 3 3 1 1 3 2 1 3 2
1 2 1 1 3 3 2 3 2 1 2 2 1 3 1 2 3 3
1 1 2 2 2 3 3 1 3 1 1 3 2 1 2 3 2 3
1 2 1 3 1 3 2 3 2 3 1 2 1 2 2 3 1 3 1 2 2 3 1 3
( ( ))
( ( ))
( ( ))
( ( )) 0
zw z w z w z w z w z w z w
w z z w z z w z z w z z w z z w z z w
z z ww z w w z ww z ww z ww z w w
z z ww z z w w z z ww z z w w z z ww z z ww
+ + ÷ + + +
+ + ÷ + + ÷
+ + ÷ + + ÷
+ + ÷ + + =


1 1 2 2 2 3 3 1 3 1 1 3 2 1 2 3 2 3
1 2 1 3 1 3 2 3 2 3 1 2 1 2 2 3 1 3 1 2 2 3 1 3
1 2 2 3 3 1 1 3 2 1 3 2
1 2 1 1 3 3 2 3 2 1 2 2 1 3 1 2 3 3
misalkan
( )
( )
( )
( )
maka dipe
:
r
z w w z w w z w w z w w z w w z w w
b z z w w z z w w z z w w z z w w z z w w z z w w
c z w z w z w z w z w z w
d z z w z z w z z w z z w z z w z z
a
w
+ + ÷ + +
= + + ÷ + +
= + + ÷ + +
= + + ÷ +
=
+
oleh
0
0
( )
zwc wd za b
cwz dw az b
cwz dw az b
w cz d az b
az b
w
cz d
+ ÷ ÷ =
+ ÷ ÷ =
+ = +
+ = +
+
=
+




Contoh 1:
Di bawah pemetaan bilinier

setengah bidang dipetakan ke
dalam lingkaran satuan || .
Penyelesaian :
Pemetaan


⁄ dapat dinyatakan sebagai gabungan fungsi-fungsi

Pemetaan dikerjakan dalam tiga tahap, sebagai berikut
1. Diputar sebesar , didilatasi || , dan ditranslasi sejauh
.
2.

(

)

Daerah dalam lingkaran dengan pusat

dan jari-jari

3. Diputar sebesar , di dilatasi || , dan ditranslasi sejauh
1.
Perhatikan Gambar 1


-1

-1 0


1
1
-1
-1
0

0
0
Contoh 2 ( Penggunaan Teorema )
Tentukan suatu transformasi bilinier yang memetakan titik-titik

berturu-turut ke titik-titik

.
Penyelesaian :
Dengan memasukan nilai-nilai

dan

, pada persamaan (*), diperoleh

Yang menghasilkan transformasi bilinier




E. Soal-Soal dari Buku Paliouras
14.1) Carilah bayangan setiap titik 0, 1, -1, , z i i = ÷ di bawah pemetaan
2 iz
w
z i
÷ +
=
+

Jawab
untuk 0,
(0) 2
0
2
2
2
1
z
i
w
i
i
i i
i
i
=
÷ +
=
+
= ×
= = ÷
÷

untuk z = 1,
(1) 2
1
2 1
1 1
1 3
( )
2
i
w
i
i i
i i
i
÷ +
=
+
÷ + ÷
= ×
+ ÷
÷
= ÷

untuk z = ,
( ) 2
1 2
2
3
2
3
2
i
i i
w
i i
i
i
i i
i
÷ +
=
+
+
=
= ×
= ÷

untuk z =- ,
( )( ) 2
1 2
0
1
tidak terdefinisi, oleh karena itu dipetakan ke
0
i
i i
w
i i
z i w
÷ ÷ +
=
÷ +
÷ +
=
÷
= ÷ = ÷ = ·


14.2) Carilah titik-titik tetap pada transformasi
a.
iz i
w
z i
÷ +
=
÷

misalkan w z
iz i
z
z i
=
÷ +
=
÷

2
2
( )
0
z z i iz i
z zi iz i
z i
÷ = ÷ +
÷ = ÷ +
÷ =

2
2
2
2 2 2 2
( ) 0
4
2 2 2 2
( )( ) 0
2 2
2 2 2 2 2 2 2 2
( ) ( ) ( )( ) 0
2 2 2 2
2 2 2 2
( ( ))( ( )) 0
2 2
2 2
2
i i
z
i i
z
i i i i
z z z
i i
z z
i
z
+ + ÷
÷ =
+ +
÷ =
+ + + +
÷ + ÷ =
+ +
÷ + =
+
= ±

b.
2
1
z
w
z
÷
=
÷

misalkan
2
1
w z
z
z
z
=
÷
=
÷

2
2
( 1) 2
2
2 2 0
z z z
z z z
z z
÷ = ÷
÷ = ÷
÷ + =

( (1 ))( (1 )) 0
(1 )
z i z i
z i
÷ + ÷ ÷ =
= ±

14.3) Carilah transformasi bilinear yang memetakan berturut-turut 0, 1, dan i, ke -1, 0,
dan i.
1 1
2 2
3 3
misalkan
z 0 1
1 0

w
z w
z i w i
= = ÷
= =
= =

1 2 3 1 2 3
3 2 1 3 2 1
( )( ) ( )( )
( )( ) ( )( )
( 1)( ) (1 )
( ) ( )
( )( ) ( )( )
1
1
( 1) 1
1
1
w w w w z z z z
w w w w z z z z
w i z i
w i z i
z zi w i z i wi i
zw z w
zw w z
w z z
z
w
z
÷ ÷ ÷ ÷
=
÷ ÷ ÷ ÷
+ ÷ ÷
=
÷ ÷
÷ ÷ = ÷ ÷ ÷
÷ = ÷ ÷
+ = ÷
+ = ÷
÷
=
+

14.4) Carilah bayangan garis
1
( )
2
I z =
di bawah pemetaan
4
2
z
w
iz i
=
+

Penyelesaian:

Misalkan ,

, dan . Diperoleh pengaitannya adalah

Pemetaan dikerjakan dalam tiga tahap, sebagai berikut
1. Dibawah pemetaan , merotasikan z sebesar

, diperbesar
dengan faktor || || , dan digeser dengan vektor .
2. Dibawah pemetaan

, garis dipetakan kebagian dalam lingkaran

(

)

(

)

Sehingga diperoleh persamaan lingkaran dengan pusat (

) dan jari-jari

3. Dibawah pemetaan , merotasikan t sebesar ,
diperbesar dengan faktor || || , dan digeser dengan vektor .
Gambar peta hasil masing-masing transformasi komposisinya adalah sebagai berikut


























0

0

0

0
-1
2 1

)
14.5 Berikan suatu contoh pemetaan bilinear yang mempunyai tepat satu titik tetap
Penyelesaian :
2 1
z
w
z
=
+

misalkan
2 1
w z
z
z
z
=
=
+

2
2
2
(2 1)
2
2 0
0
0
z z z
z z z
z
z
z
+ =
+ =
=
=
=

Jadi
2 1
z
w
z
=
+
memiliki satu titik tetap yaitu 0 z =
14.6 Berikan suatu contoh pemetaan bilinear yang tidak mempunyai titik tetap
Penyelesaian :
1 untuk mencari titik tetap , misal
1
jadi 1 tidak punya titik tetap.
3 untuk mencari titik tetap, misal

w z w z
z z
w z
w z w z
= + ÷ =
= +
= +
= ÷ ÷ =
3
jadi 3 tidak punya titik tetap.
z z
w z
= ÷
= ÷

Tidak mempunyai titik tetap
14.7 Buktikan bahwa jika 0 ad bc ÷ = , maka (1) berubah menjadi pemetaan konstan
jika 0 ad bc
ad bc
bc
a
d
÷ =
=
=

2
maka
( )
bernilai konstan
bc
z b
az b
d
cz d cz d
bcz bd
dcz d
b cz d
d cz d
b
d
+
+
=
+ +
+
=
+
+
=
+
= ÷


14.8 Buktikan bahwa pemetaan bilinear kontinu pada semua
d
z
c
= ÷
Jika
d
z
c
= ÷
Maka pemetaanya adalah
( )
( )
TD
0
az b
w
cz d
d
a b
c
d
c d
c
ad
b
c
d d
ad
b
c
+
=
+
÷ +
=
÷ +
÷ +
=
÷ +
÷ +
= ÷

sehingga
d
z
c
= ÷ mengakibatkan bukan pemetaan bilinear kontinu
14.9 Carilah bayangan setengah bidang dibawah pemetaan

Penyelesaian:

Misalkan ,

, dan . Diperoleh pengaitannya adalah

Pemetaan dikerjakan dalam tiga tahap, sebagai berikut
4. Dibawah pemetaan , setiap titik pada setengah bidang yang diberikan
diputar dengan sudut sebesar arg(1)= 0 (tidak berubah), diperbesar dengan faktor
|| || (tidak berubah) , dan digeser dengan vektor (-1) sehingga
menghasilkan setengah bidang
5. Dibawah pemetaan

setengah bidang dipetakan kebagian dalam
lingkaran

(

)

(

)

Sehingga diperoleh persamaan lingkaran dengan pusat (

) dan jari-jari

6. Dibawah pemetaan , bagian dalam lingkaran yang di dapat di tahap dua
akan diputar dengan sudut sebesar arg(1)=0, diperbesar dengan faktor || ||
, dan digeser dengan vektor 1.
Gambar peta hasil masing-masing transformasi komposisinya adalah
0 0
-i



0

1 0

14.10 Carilah bayangan setengah bidang dibawah pemetaan

Penyelesaian:








Misalkan ,

, dan . Diperoleh pengaitannya adalah

Pemetaaan ini dilaksanakan dalam tiga tahap, sebagai berikut
1. Dibawah pemetaan , setiap titik pada setengan bidang yang diberikan
diputar dengan sudut sebesar arg(1)= 0 (tidak berubah), diperbesar dengan faktor
|| || (tidak berubah) , dan digeser dengan vektor sehinggan
menghasilkan setengah bidang
2. Dibawah pemetaan

setengah bidang dipetakan kebagian dalam
lingkaran

(

)

(

)

Sehingga diperoleh persamaan lingkaran dengan pusat (

) dan jari-jari

3. Dibawah pemetaan bagian dalam lingkaran yang di dapat di tahap
dua akan diputar dengan sudut sebesar

, diperbesar dengan faktor
|| , dan di geser dengan vektor 1.
Gambar peta hasil masing-masing transformasi komposisinya adalah sebagai berikut
















0

0 -1

1

0

0
i
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Pemetaan
az b
w
cz d
+
=
+
, dengan dinamakan transformasi bilinear.
Sifat-sifat pada transformasi bilinear antara lain
1. Analog dengan transformasi kebalikan (memetakan garis dan lingkaran menjadi suatu
garis atau lingkaran).
2. Pemetaan bilinier merupakan gabungan (komposisi) dari beberapa fungsi.
3. Pemetaan bilinier (dengan asumsi ) mempunyai paling banyak dua titik tetap.
4. Invers dari transformasi bilinier juga merupakan transformasi bilinier.

DAFTAR PUSTAKA
Paliouras, John D. 1987. Peubah Kompleks untuk Ilmuwan dan Insinyur. Terjemahan
Wibisono Gunawan. Jakarta : Erlangga.
Dedy, E., Encum Sumiaty. 2001. Fungsi Variabel kompleks. Bandung : JICA
Wikipedia, 2011. Möbius transformation [online]
http://en.wikipedia.org/wiki/M%C3%B6bius_transformation. Diakses tanggal 29
Oktober 2011

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Kelompok lain yang penting dari pemetaan elementer dipelajari oleh Ferdinand Bilinear Agustus (1790-1868). Pemetaan ini dinyatakan sebagai hasil bagi dari dua ekspresi linear dan biasanya dikenal sebagai transformasi bilinear atau pecahan linier. Mereka muncul secara alami dalam masalah pemetaan yang melibatkan fungsi arctan (z). Transformasi Bilinear didefinisikan pada bidang kompleks perluasan (yaitu bidang kompleks ditambah dengan titik di tak terhingga) yaitu ̂ . Bidang

perluasan komplek ini dapat dianggap sebagai suatu bidang. Transformasi tersebut adalah bentuk paling umum dari pemetaan konformal dari domain. Sebuah transformasi bilinear dapat dinyatakan sebagai transformasi linier diikuti dengan transformasi kebalikan dan dilanjutkan dengan transformasi linier dan invers. Beberapa sifat-sifat pada transformasi bilinear analog pada transformasi kebalikan. Kemudian transformasi bilinear dapat ditentukan bahwa transformasi tersebut memiliki dua titik tetap. Dalam makalah ini akan dijelakan bagaimana bidang perluasan dapat terbentuk pada transformasi bilinear. Serta akan ditunjukkan bahwa transformasi bilinear dapat dinyatakan dalam transformasi linier diikuti dengan transformasi kebalikan dan dilanjutkan dengan transformasi linier dan inversnya yang juga merupakan transformasi bilinear. Dan akan ditentukan bahwa transformasi bilinear memiliki sifat-sifat yang salah satunya akan analog dengan transformasi kebalikan. Pada transformasi bilinear akan ditentukan bagaimana mencari titik tetapnya. B. Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud transformasi bilinear? 2. Bagaimana contoh dan non contoh dari transformasi bilinear? 3. Bagaimana sifat-sifat dan bukti dari transformasi bilinear? 4. Bagaimana teorema, bukti teorema, dan contoh penggunaan dalam soal dari transformasi bilinear?

Dapat membedakan contoh dan noncontoh dari trasnformasi bilinear.C. 2. Mengetahui definisi transformasi bilinear pada bidang kompleks. 3. 4. Mengetahui sifat-sifat transformasi bilinear beserta buktinya. Tujuan 1. Mengetahui teorema dan buktinya dari transformasi bilinear serta penggunaannya dalam soal. .

Definisi Transformasi bilinier Pemetaan w  bilinear. maka transformasi bilinier akan menjadi transformasi az  b . . dengan cz  d dinamakan transformasi 2. Dalam hal (fungsi) konstan. Keterangan: 1. diasumsikan bahwa berubah menjadi transformasi linier. Untuk selanjutnya. titik ‘perkecualian ’ pada pemetaan ini adalah dipetakan ke dan yang dipetakan ke → yang . Syarat untuk menghindari transformasi bilinier agar tidak menjadi linear karena jika maka 3. Persamaan bilinier ini memetakan bidang-z diperluas dalam bentuk satu-satu ke bidang w diperluas.BAB II PEMBAHASAN A.

Oleh karena itu. Dengan cara yang sama. nilai diperoleh . dan inversnya adalah dengan ( ) .Oleh karena itu. agar pada kita petakan ke analitik dank arena maka untuk az  b cz  d w(cz  d )  az  b wcz  wd  az  b wcz  az  b  wd z (cw  a )  dw  b dw  b z cw  a w Maka untuk nilai invers transformasinya diberikan Kita dapat memperluas Nilai dapat ditentukan dari nilai limit ke pemetaan dalam bidang kompleks diperluas. untuk .

B. d  1 w  z  1 Alasan : c  0  menjadikan persamaan linear ad  bc  0  menjadikan fungsi konstan D. Bukan Contoh Transformasi Bilinear a  1.dan inversnya adalah ( ) transformasi bidang komplek . d  1 z Alasan: c  1  0. Sifat-Sifat dan Teorema pada Transformasi Bilinear 1. Contoh Transformasi Bilinear a  1. Dengan perluasan kita simpulkan bahwa diperluas ke adalah pemetaan satu-satu dari bidang komplek diperluas. c  1. . Pemetaan bilinier merupakan gabungan dari fungsi-fungsi berikut Dengan demikian. w z 1 ad  bc  1  0  1  0 C. b  0. b  0. c  0. transformasi bilinier merupakan gabungan dari transformasi linier diikuti dengan transformasi kebalikan dan dilanjutkan dengan transformasi linier sekali lagi.

Bukti: Bukti didasarkan pada dua kenyataan sebagai berikut: (a). akan diputar. dan digeser menjadi . Kenyataan-kenyataan diatas dapat digunakan untuk menunjukkan bahwa suatu garis atau lingkaran. katakanlah pada bidang z oleh fungsi pertama dalam (a) akan . diperbesar. dalam urutan yang diberikan Jadi pemetaan bilinear merupakan gabungan dari pemetaan linear diikuti dengan pemetaan kebalikan. Pemetaan linear merupakan transformasi sama dan transformasi kebalikan memetakan garis-garis dan lingkaran-lingkaran ke garis-garis atau lingkaranlingkaran. kemudian sekali lagi dengan pemetaan linear. (b). maka transformasi bilinier juga memetakan garis dan lingkaran menjadi suatu garis atau lingkaran. selanjutnya oleh dan diputar. diperbesar. Pemetaan bilinear merupakan gabungan dari tiga fungsi berikut.Bukti: b a( z  ) az  b a w  f ( z)   cz  d c( z  d ) c d d b d b a( z    ) a(  ) a c c a   c a  d d c c( z  ) c( z  ) c c d d b d b a( z    ) a(  ) c c a a c a  d d c c( z  ) c( z  ) c c ad b a c  a  (bc  ad )   c c(cz  d ) c c(cz  d ) Diperoleh komposisi 2. Analog dengan transformasi kebalikan. dan digeser menjadi garis atau lingkaran fungsi yang kedua hasilnya akan dibalikkan menjadi garis atau lingkaran akhirnya oleh fungsi yang ketiga garis atau lingkaran.

yang merupakan akar-akar persamaan . Bukti: az  b cz  d w(cz  d )  az  b wcz  wd  az  b wcz  az  b  wd z (cw  a )  dw  b dw  b z cw  a w 5.2  (a  d )  (a  d ) 2  4bc 2c az  b dw  b adalah z  yang juga merupakan cz  d cw  a 4. sehingga az  b cz  d z (cz  d )  az  b z cz 2  dz  az  b cz 2  dz  az  b  0 cz 2  (d  a) z  b  0 dari persamaan kuadrat di atas.3. Teorema Jika z1 ≠ z2 ≠ z3 sebarang titik pada bidang-Z dan w1 ≠ w2 ≠ w3 sebarang titik pada bidang-W. Bukti: misalkan w  z.3 adalah ( w  w1 )( w2  w3 ) ( z  z1 )( z2  z3 )  ( w  w3 )( w2  w1 ) ( z  z3 )( z2  z1 ) Bukti: . Pemetaan bilinier (dengan asumsi ) mempunyai paling banyak dua titik tetap. Invers dari transformasi bilinier w  transformasi bilinier. diperoleh akar-akarnya z1. maka terdapat fungsi transformasi bilinear yang memetakan zi ke wi dengan i=1.2.

dengan .Misal: Maka.

maka persamaan di atas menjadi dan . persamaan di atas dapat diubah menjadi bentuk Bukti :  w  w1  w2  w3  z  z3  z2  z1    w  w3  w2  w1  z  z1  z2  z3  zw( z1w2  z2 w3  z3 w1  ( z1w3  z2 w1  z3 w2 ))  w( z1 z2 w1  z1 z3 w3  z2 z3 w2  ( z1 z2 w2  z1 z3w1  z 2 z3w3 ))  z ( z1w1w2  z2 w2 w3  z3 w1w3  ( z1w1w3  z2 w1w2  z3 w2 w3 ))  ( z1 z2 w1w3  z1 z3 w2 w3  z2 z3 w1w2  ( z1 z2 w2 w3  z1 z3 w1w2  z2 z3w1w3 ))  0 ( w  w1 )( w2  w3 ) ( z  z1 )( z2  z3 )  ( w  w3 )( w2  w1 ) ( z  z3 )( z2  z1 ) .Bentuk pecahan di atas dikenal sebagai pecahan silang dari titik-titik Bila dikalikan silang. Dengan melakukan penyederhanaan.

misalkan : a  z1w1w2  z2 w2 w3  z3 w1w3  ( z1w1w3  z2 w1w2  z3 w2 w3 ) b  z1 z2 w1w3  z1 z3 w2 w3  z2 z3 w1w2  ( z1 z2 w2 w3  z1 z3w1w2  z 2 z3w1w3 ) c  z1w2  z2 w3  z3 w1  ( z1w3  z2 w1  z3 w2 ) d  z1 z2 w1  z1 z3 w3  z2 z3 w2  ( z1 z2 w2  z1 z3 w1  z 2 z3 w3 ) maka diperoleh zwc  wd  za  b  0 cwz  dw  az  b  0 cwz  dw  az  b w(cz  d )  az  b az  b w cz  d Contoh 1: Di bawah pemetaan bilinier dalam lingkaran satuan | | Penyelesaian : Pemetaan ⁄ dapat dinyatakan sebagai gabungan fungsi-fungsi . → . Diputar sebesar . dan ditranslasi sejauh . 2. setengah bidang dipetakan ke → → → Pemetaan dikerjakan dalam tiga tahap. sebagai berikut 1. didilatasi | | .

dan ditranslasi sejauh Daerah dalam lingkaran dengan pusat 3. Perhatikan Gambar 1 .( ) dan jari-jari . di dilatasi | | 0 -1 0 ⁄ 1 1 -1 0 -1 -1 0 . Diputar sebesar 1.

Yang menghasilkan transformasi bilinier E.Contoh 2 ( Penggunaan Teorema ) Tentukan suatu transformasi bilinier yang memetakan titik-titik berturu-turut ke titik-titik Penyelesaian : Dengan memasukan nilai-nilai dan . diperoleh . 1. i di bawah pemetaan w  Jawab untuk z  0. -1. i (1)  2 w 1 i i  2 1  i   1 i 1 i 1  3i  ( ) 2 .1) Carilah bayangan setiap titik z  0. i (0)  2 w 0i 2 i   i i 2i   2i 1 iz  2 z i untuk z = 1. pada persamaan (*). i. Soal-Soal dari Buku Paliouras 14.

i. w (i)(i)  2 i  i 1  2  0 1   tidak terdefinisi. oleh karena itu z  i dipetakan ke w   0 .untuk z = i. (i )i  2 w ii 1 2  2i 3 i   2i i 3  i 2 untuk z =.

w  iz  i z i misalkan w  z iz  i z z i z ( z  i )  iz  i z 2  zi  iz  i z2  i  0 z2  ( z 2  z( 2 i 2 2 i 2 )  z( )( 2 2 2 i (z  ( 2 2  2i  2i  2 )0 4 2 i 2 2 i 2 )( )0 2 2 2 i 2 2 i 2 )( )0 2 2 2 2 i 2 ))( z  ( ))  0 2 z2  ( z 2 i 2 2 b. ke -1. w  z2 z 1 misalkan w  z z2 z z 1 z ( z  1)  z  2 z2  z  z  2 z2  2z  2  0 ( z  (1  i ))( z  (1  i ))  0 z  (1  i ) 14. misalkan z1  0 z2  1 z3  i w1  1 w2  0 w3  i . 0.2) Carilah titik-titik tetap pada transformasi a. dan i.3) Carilah transformasi bilinear yang memetakan berturut-turut 0.14. 1. dan i.

garis dipetakan kebagian dalam lingkaran .4) Carilah bayangan garis Penyelesaian: 1 4z w 2 di bawah pemetaan 2iz  i Misalkan . . dan digeser dengan vektor . dan .( w  w1 )( w2  w3 ) ( z  z1 )( z2  z3 )  ( w  w3 )( w2  w1 ) ( z  z3 )( z2  z1 ) ( w  1)(i ) z (1  i )  ( w  i) ( z  i) ( z  zi )( w  i )  ( z  i )(  wi  i ) zw  z   w  1 zw  w  z  1 w( z  1)  z  1 z 1 w z 1 I ( z)  14. diperbesar . sebagai berikut 1. Diperoleh pengaitannya adalah Pemetaan dikerjakan dalam tiga tahap. merotasikan z sebesar . Dibawah pemetaan | | . . Dibawah pemetaan dengan faktor | | 2.

merotasikan t sebesar . Sehingga diperoleh persamaan lingkaran dengan pusat ( 3.( ) ( ) ) dan jari-jari . Dibawah pemetaan diperbesar dengan faktor | | | | . . dan digeser dengan vektor Gambar peta hasil masing-masing transformasi komposisinya adalah sebagai berikut 0 0 0 1 2 -1 0 ) .

Tidak mempunyai titik tetap 14. misal w  z z  z 1 jadi w  z  1 tidak punya titik tetap.5 Berikan suatu contoh pemetaan bilinear yang mempunyai tepat satu titik tetap Penyelesaian : w z 2z 1 misalkan w  z z z 2z 1 z (2 z  1)  z 2z2  z  z 2z2  0 z2  0 z0 Jadi w  z memiliki satu titik tetap yaitu z  0 2z 1 14.14. maka (1) berubah menjadi pemetaan konstan jika ad  bc  0 ad  bc a bc d maka bc zb az  b d  cz  d cz  d bcz  bd  dcz  d 2 b cz  d  ( ) d cz  d b   bernilai konstan d . w  z  3  untuk mencari titik tetap.7 Buktikan bahwa jika ad  bc  0 . misal w  z z  z 3 jadi w  z  3 tidak punya titik tetap.6 Berikan suatu contoh pemetaan bilinear yang tidak mempunyai titik tetap Penyelesaian : w  z  1  untuk mencari titik tetap .

.8 Buktikan bahwa pemetaan bilinear kontinu pada semua z   Jika z   d c d c Maka pemetaanya adalah az  b cz  d d a( )  b c  d c( )  d c ad  b  c d  d ad  b c   TD 0 w sehingga z   d mengakibatkan bukan pemetaan bilinear kontinu c 14. setiap titik pada setengah bidang yang diberikan diputar dengan sudut sebesar arg(1)= 0 (tidak berubah).9 Carilah bayangan setengah bidang Penyelesaian: dibawah pemetaan Misalkan . sebagai berikut 4. Diperoleh pengaitannya adalah Pemetaan dikerjakan dalam tiga tahap. diperbesar dengan faktor .14. Dibawah pemetaan . dan .

Dibawah pemetaan . bagian dalam lingkaran yang di dapat di tahap dua | | akan diputar dengan sudut sebesar arg(1)=0. dan digeser dengan vektor 1.| | | | (tidak berubah) . Dibawah pemetaan lingkaran setengah bidang dipetakan kebagian dalam ( ) ( ) ) dan jari-jari Sehingga diperoleh persamaan lingkaran dengan pusat ( 6. diperbesar dengan faktor | | . Gambar peta hasil masing-masing transformasi komposisinya adalah 0 0 -i 0 1 0 . dan digeser dengan vektor (-1) sehingga menghasilkan setengah bidang 5.

10 Carilah bayangan setengah bidang dibawah pemetaan Penyelesaian: Misalkan . Diperoleh pengaitannya adalah Pemetaaan ini dilaksanakan dalam tiga tahap.14. Dibawah pemetaan | | | | . sebagai berikut 1. . diperbesar dengan faktor (tidak berubah) . dan digeser dengan vektor sehinggan menghasilkan setengah bidang 2. setiap titik pada setengan bidang yang diberikan diputar dengan sudut sebesar arg(1)= 0 (tidak berubah). dan . Dibawah pemetaan lingkaran setengah bidang dipetakan kebagian dalam ( ) ( ) ) dan jari-jari Sehingga diperoleh persamaan lingkaran dengan pusat ( .

dan di geser dengan vektor 1.3. Gambar peta hasil masing-masing transformasi komposisinya adalah sebagai berikut . Dibawah pemetaan bagian dalam lingkaran yang di dapat di tahap . diperbesar dengan faktor dua akan diputar dengan sudut sebesar | | .

i 0 0 -1 0 1 0 .

2. dengan cz  d dinamakan transformasi bilinear. Analog dengan transformasi kebalikan (memetakan garis dan lingkaran menjadi suatu garis atau lingkaran). Sifat-sifat pada transformasi bilinear antara lain 1. .BAB III PENUTUP Kesimpulan Pemetaan w  az  b . Invers dari transformasi bilinier juga merupakan transformasi bilinier. 3. 4. Pemetaan bilinier (dengan asumsi ) mempunyai paling banyak dua titik tetap. Pemetaan bilinier merupakan gabungan (komposisi) dari beberapa fungsi.

2001. Encum Sumiaty.. Terjemahan Wibisono Gunawan. Möbius transformation [online] http://en. Diakses tanggal 29 Oktober 2011 . 2011. Bandung : JICA Wikipedia. Jakarta : Erlangga. Peubah Kompleks untuk Ilmuwan dan Insinyur.DAFTAR PUSTAKA Paliouras. Fungsi Variabel kompleks. E. Dedy.wikipedia. John D.org/wiki/M%C3%B6bius_transformation. 1987.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful