P. 1
Pembelajaran Berbasis Proyek

Pembelajaran Berbasis Proyek

|Views: 559|Likes:
Published by Yo Wis

More info:

Published by: Yo Wis on Apr 07, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/17/2014

pdf

text

original

Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning) Kecenderungan abad XXI yang ditandai oleh peningkatan kompleksitas peralatan

teknologi, dan munculnya gerakan restrukturisasi korporatif yang menekankan kombinasi kualitas teknologi dan manusia, menyebabkan dunia kerja akan memerlukan orang yang dapat mengambil inisiatif, berpikir kritis, kreatif, dan cakap memecahkan masalah. Hubungan “manusia-mesin” bukan lagi merupakan hubungan mekanistik akan tetapi merupakan interaksi komunikatif yang menuntut kecakapan berpikir tingkat tinggi. Kecenderungan-kecenderungan tersebut mulai direspon oleh dunia pendidikan di Indonesia, yang semenjak tahun 2000 menerapkan empat pendekatan pendidikan, yakni (1) pendidikan berorientasi kecakapan hidup (life skills), (2) kurikulum dan pembelajaran berbasis kompetensi, (3) pembelajaran berbasis produksi, dan (4) pendidikan berbasis luas (broadbased education). Orientasi baru pendidikan itu berkehendak menjadikan lembaga pendidikan sebagai lembaga pendidikan kecakapan hidup, dengan pendidikan yang bertujuan mencapai kompetensi (selanjutnya disebut pembelajaran berbasis kompetensi), dengan proses pembelajaran yang otentik dan kontekstual yang dapat menghasilkan produk bernilai dan bermakna bagi mahasiswa, dan pemberian layanan pendidikan berbasis luas melalui berbagai jalur dan jenjang pendidikan yang fleksibel multi-entry-multiexit (Depdiknas, 2002, 2003). Oleh sebab itu secara tidak langsung terbentuk open-ended contextual activity-based learning, sebagai bagian dari proses pembelajaran yang memberikan penekanan kuat pada pemecahan masalah yang dihasilkan dari suatu usaha kolaboratif (Richmond & Striley, 1996), yang dilakukan dalam proses pembelajaran dalam periode tertentu (Hung & Wong, 2000). Hal ini didefinisikan Blumenfeld et.al. (1991) sebagai model belajar berbasis proyek (project-based learning) yaitu proses pembelajaran yang berpusat pada proses relatif berjangka waktu, berfokus pada masalah, unit pembelajaran bermakna dengan mengitegrasikan konsep-konsep dari sejumlah komponen pengetahuan, atau disiplin, atau lapangan studi. Pendidikan berorientasi kecakapan hidup, pembelajaran berbasis kompetensi, dan proses pembelajaran yang diharapkan menghasilkan produk yang bernilai, menuntut lingkungan belajar yang kaya dan nyata (rich and natural environment), yang dapat memberikan pengalaman belajar dimensidimensi kompetensi secara integratif. Lingkungan belajar yang dimaksud ditandai oleh: 1. Situasi belajar, lingkungan, isi dan tugas-tugas yang relevan, realistik, otentik, dan menyajikan kompleksitas alami “dunia nyata”; 2. Sumber-sumber data primer digunakan agar menjamin keotentikan dan kompleksitas dunia nyata; 3. Mengembangkan kecakapan hidup dan bukan reproduksi pengetahuan; 4. Pengembangan kecakapan ini berada di dalam konteks individual dan melalui negosiasi sosial, kolaborasi, dan pengalaman; 5. Kompetensi sebelumnya, keyakinan, dan sikap dipertimbangkan sebagai prasyarat;

Mergendoller. 2000). dan pemahaman mendalam ditekankan. yang akan meliputi penggunaan konsep dan keterampilan yang digambarkan dari matakuliah matematika. 2001. dan 10. dan belajar interdisipliner. 2000. dan (3) dalam proses membangun pengetahuan melalui pengalaman dunia nyata dan negosiasi kognitif antarpersonal yang berlangsung di dalam suasana kerja kolaboratif. Proyek seringkali bersifat interdisipliner. dan mencapai puncaknya menghasilkan produk nyata (Thomas. 2000). pembuatan dokumen proses pembangunan. (2) memperluas pengetahuan melalui keotentikan kegiatan kurikuler yang terdukung oleh proses kegiatan belajar melakukan perencanaan (designing) atau investigasi yang open-ended. Belajar kooperatif dan kolaboratif diutamakan agar dapat mengekspos mahasiswa ke dalam pandangan-pandangan alternatif. pemerolehan pengetahuan dan keterampilan. memberi kesempatan pebelajar bekerja secara otonom mengkonstruk pengetahuan mereka sendiri. 1996. suatu proyek merancang draft untuk bangunan struktur (konstruksi bangunan tertentu) melibatkan pebelajar dalam kegiatan investigasi pengaruh lingkungan. melibatkan pebelajar dalam investigasi pemecahan masalah dan kegiatan tugas-tugas bermakna yang lain.6. 1998). unik. dengan hasil atau jawaban yang tidak ditetapkan sebelumnya oleh perspektif tertentu. Model Pembelajaran Berbasis Proyek membantu mahasiswa dalam belajar: (1) pengetahuan dan keterampilan yang kokoh dan bermakna-guna (meaningful-use) yang dibangun melalui tugas-tugas dan pekerjaan yang otentik (CORD. & Michaelson. Moss & Van-Duzer. Biasanya memerlukan beberapa tahapan dan beberapa durasi — tidak sekedar merupakan rangkaian pertemuan kelas— serta belajar kelompok kolaboratif. Pengukuran adalah otentik dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran (Simons. Memperhatikan karakteristiknya yang unik dan komprehensif. Hung & Wong. dan mungkin perdagangan bahan dan bangunan. dan . KONSEP DAN KARAKTERISTIK BELAJAR BERBASIS PROYEK Belajar berbasis proyek (project-based learning) adalah sebuah model atau pendekatan pembelajaran yang inovatif. Menurut Alamaki (1999). dan mensintesis informasi. 8. Kompleksitas pengetahuan dicerminkan oleh penekanan belajar pada keterhubungan konseptual. Marzano. dan mengembangkan lembar kerja. Myers & Botti. Mahasiswa diberi peluang untuk belajar secara apprenticeship di mana terdapat penambahan kompleksitas tugas. berpikir tingkat tinggi. proyek selain dilakukan secara kolaboratif juga harus bersifat inovatif. 7. Misalnya. Willis. 2000. 2001. Keterampilan pemecahan masalah. drafting dan/atau desain. lingkungan dan kesehatan kerja. 1992). 9. Fokus pembelajaran terletak pada konsep-konsep dan prinsip-prinsip inti dari suatu disiplin studi. yang menekankan belajar kontekstual melalui kegiatan-kegiatan yang kompleks (CORD. Proyek memfokuskan pada pengembangan produk atau unjuk kerja (performance). model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning) cukup potensial untuk memenuhi tuntutan pembelajaran tersebut. yang secara umum pebelajar melakukan kegiatan: mengorganisasi kegiatan belajar kelompok mereka. memecahkan masalah. 1999. Thomas. melakukan pengkajian atau penelitian.

di dalam Pembelajaran Berbasis Proyek. apakah mereka sedang belajar di perguruan tinggi maupun pelatihan transisional untuk memasuki lapangan kerja (Gaer. seperti siswa. Di dalam kerja kelompok suatu proyek. Kini. dan sebagai tenaga kerja merupakan keterampilan yang amat penting di tempat kerja. dan memahami pikiran pembelajar. fasilitator. kerja kelompok (kolaboratif). Keterampilan-keterampilan yang telah diidentifikasi oleh pebelajar ini merupakan keterampilan yang amat penting untuk keberhasilan hidupnya. Kalau dalam . Bellisimo. problem-based learning diterapkan secara luas pada pendidikan medis di negara-negara maju.berfokus pada pemecahan masalah yang berhubungan dengan kehidupan pebelajar atau kebutuhan masyarakat atau industri lokal. dan bagaimana informasi akan dikumpulkan dan disajikan. 1999). siapa yang bertanggungjawab untuk setiap tugas. mereka menemukan keterampilan merencanakan. Pendekatan Pembelajaran Berbasis Proyek (project-based learning) ini mirip pendekatan belajar berbasis masalah (problem-based learning) yang awalnya berakar pada pendidikan medis (kedokteran). Di dalam Pembelajaran Berbasis Proyek. maka pengembangan keterampilan tersebut berlangsung di antara pebelajar. Karena kemiripannya itu. pendidikan medis mengembangkan program pembelajaran yang men-cemplung-kan siswa ke dalam skenario penanganan pasien baik simulatif ataupun sungguhan. instruktur memberi kemudahan dan mengevaluasi proyek baik kebermaknaannya maupun penerapannya untuk kehidupan mereka sehari-hari. Produk yang dibuat pebelajar selama proyek memberikan hasil yang secara otentik dapat diukur oleh guru atau instruktur di dalam pembelajarannya. mengorganisasi. akan tetapi instruktur menjadi pendamping. Pendidikan medis menaruh perhatian besar terhadap fenomena praktisi medis muda yang memiliki pengetahuan faktual cukup tetapi gagal menggunakan pengetahuannya saat menangani pasien sungguhan (Maxwell. kekuatan individu dan cara belajar yang diacu memperkuat kerja tim sebagai suatu keseluruhan. Proses ini kemudian dikenal sebagai pendekatan problem-based learning. dalam literatur istilahnya sering kali dipertukarbalikkan. instruktur berposisi di belakang dan pebelajar berinisiatif. Karena hakikat kerja proyek adalah kolaboratif. negosiasi. Ketika pebelajar bekerja di dalam tim. & Mergendoller. guru atau instruktur tidak lebih aktif dan melatih secara langsung. Perbedaannya terletak pada perbedaan objek. dan membuat konsensus tentang isu-isu tugas yang akan dikerjakan. 1998). Oleh karena itu. Keduanya menekankan lingkungan belajar siswa aktif. Pembelajaran Berbasis Proyek memiliki potensi yang amat besar untuk membuat pengalaman belajar yang lebih menarik dan bermakna untuk pebelajar usia dewasa. sedangkan pebelajar belajar di dalam kelompok kolaboratif antara 4—5 orang. Proyek pebelajar dapat disiapkan dalam kolaborasi dengan instruktur tunggal atau instruktur ganda. Setelah melakukan pengkajian bagaimana tenaga medis dididik. pebelajar menjadi terdorong lebih aktif di dalam belajar mereka. dan teknik evaluasi otentik (authentic assessment).

(g) hasil akhir berupa produk dan dievaluasi kualitasnya. Hung & Wong. Kegiatan ini berbasis pada konteks kehidupan sehari-hari pebelajar. melaksanakan pekerjaan. Seperti didefinisikan oleh Buck Institute fo Education (1999). Istilah project-based learning dan problem-based larning masing-masing digunakan untuk menyatakan strategi pembelajaran. Keduanya adalah strategi pembelajaran yang dimaksudkan untuk melibatkan pebelajar di dalam tugas-tugas otentik dan dunia nyata agar dapat memperluas belajar mereka. meskipun sebenarnya di antara keduanya berbeda. dan penggunaan singkatan yang sama. dan menempatkan peranan guru sebagai fasilitator. Kedua pendekatan ini juga didefinisikan sebagai student-centered. yang mensimulasikan situasi profesional. (c) pebelajar merancang proses untuk mencapai hasil. . menghasilkan kerancuan di dalam leteratur dan penelitian (lihat juga Thomas. baik fisik maupun sosial. PBL. pengumpulan data. (d) pebelajar bertanggungjawab untuk mendapatkan dan mengelola informasi yang dikumpulkan. Pebelajar diberi tugas proyek atau problem yang open-ended dengan lebih dari satu pendekatan atau jawaban. 2000). (f) pebelajar secara teratur melihat kembali apa yang mereka kerjakan. merancang (designing). 2000. dan (i) kelas memiliki atmosfer yang memberi toleransi kesalahan dan perubahan. maka dalam project-based learning pebelajar lebih didorong pada kegiatan desain: merumuskan job.atau problembased learning yang secara umum bekerja di dalam kelompok secara kolaboratif. bahwa belajar berbasis proyek memiliki karakteristik: (a) pebelajar membuat keputusan.problem-based learning pebelajar lebih didorong dalam kegiatan yang memerlukan perumusan masalah. Kebalikan dari pendekatan tradisional yang umumnya bercirikan apprenticeship. dan membuat kerangka kerja. dan mengevaluasi hasil. (e) melakukan evaluasi secara kontinu. Pendekatan ini menekankan pengukuran hasil belajar otentik dan dengan basis unjuk kerja (performance-based assessment). Kegiatan pembelajaran seperti tersebut mendukung proses konstruksi pengetahuan dan pengembangan kompetensi produktif pebelajar yang secara aktual muncul dalam bentuk-bentuk keterampilan okupasional/teknikal (technical skills). 2000). dan keterampilan emploiabiliti sebagai pekerja yang baik (employability skills). dan analisis data (berhubungan dengan proses diagnosis pasien). Oakey (1998) mempertegas konsep dan karakteristik project-based learning dengan membedakannya dengan problem based learning yang seringkali saling dipertukarkan dalam penggunaan istilah ini. ciri khas strategi Pembelajaran Berbasis Proyek bersifat kolaboratif (Hung & Chen. Project-based learning dan problem-based learning memiliki beberapa kesamaan karakteristik. Pebelajar dilibatkan dalam project. (b) terdapat masalah yang pemecahannya tidak ditentukan sebelumnya. dan didorong mencari berbagai sumber informasi yang berhubungan dengan proyek atau problem yang dikerjakan. mengkalkulasi. Kemiripan konsep kedua pendekatan pembelajaran itu.

investigasi konstruktif atau desain. 1991). proyek yang dimaksud adalah tak lebih dari sebuah latihan. atau keterampilan baru) pada pihak pebelajar (Bereiter & Scardamalia.Tidak semua kegiatan belajar aktif dan melibatkan proyek dapat disebut Pembelajaran Berbasis Proyek. aplikasi proyek tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai Pembelajaran Berbasis Proyek. Akan tetapi. atau dapat dilakukan dengan penerapan informasi atau keterampilan yang siap dipelajari. menurut kriteria di atas. tetapi itu belum sepenuhnya dapat dikatakan sebuah proyek. Akan tetapi. praktik tambahan. & The Cognition and Technology Group at Vanderbilt. Berangkat dari pertanyaan “apa yang harus dimiliki proyek agar dapat digolongkan sebagai Pembelajaran Berbasis Proyek. Thomas (2000) menetapkan lima kriteria apakah suatu pembelajaran berproyek termasuk sebagai Pembelajaran Berbasis Proyek. produk. sepadan dengan aktivitas. Moore. diskoveri. Proyek dalam Pembelajaran Berbasis Proyek adalah pusat atau inti kurikulum. pemecahan masalah. otonomi pebelajar. berfokus pada pertanyaan atau masalah. Biasanya dilakukan dengan pengajuan pertanyaanpertanyaan atau ill-defined problem (Thomas. Ada kerja proyek yang mengikuti pembelajaran tradisional dengan cara proyek tersebut memberi ilustrasi. atau gabungan (intersection) topik-topik dari dua atau lebih disiplin. Schwartz. et al. yang mendorong pebelajar menjalani (dengan kerja keras) konsep-konsep dan prinsip-prinsip inti atau pokok dari disiplin. Difinisi proyek (bagi pebelajar) harus dibuat sedemikian rupa agar terjalin hubungan antara aktivitas dan pengetahuan konseptual yang melatarinya yang diharapkan dapat berkembang menjadi lebih luas dan mendalam (Baron. pengambilan keputusan. Petrosino. aktivitas inti dari proyek itu harus meliputi transformasi dan konstruksi pengetahuan (dengan pengertian: pemahaman baru. Membersihkan peralatan . agar dapat disebut proyek memenuhi kriteria Pembelajaran Berbasis Proyek. Vye. Proyek melibatkan pebelajar dalam investigasi konstruktif. Kriteria ini sangat halus dan agak susah diraba. harus digubah (orchestrated) dalam tugas yang bertujuan intelektual (Blumenfeld. penemuan masalah. atau aplikasi praktik yang diajarkan sebelumnya dengan maksud lain. Jika pusat atau inti kegiatan proyek tidak menyajikan “tingkat kesulitan” bagi anak. Proyek dalam Pembelajaran Berbasis Proyek adalah terfokus pada pertanyaan atau masalah. dan realisme. pebelajar mengalami dan belajar konsep-konsep inti suatu disiplin ilmu melalui proyek. 1999). Proyek dalam Pembelajaran Berbasis Proyek mungkin dibangun di sekitar unit tematik. Di dalam Pembelajaran Berbasis Proyek. atau proses pembangunan model. Kegiatan proyek yang dimaksudkan untuk pengayaan di luar kurikulum juga tidak termasuk Pembelajaran Berbasis Proyek. Zech. bukan pelengkap kurikulum. 2000). proyek adalah strategi pembelajaran. Pertanyaan-pertanyaan yang mengejar pebelajar. dan unjuk kerja yang mengisi waktu mereka.. Lima kriteria itu adalah keterpusatan (centrality). 1998). Bransford. Investigasi mungkin berupa proses desain. dan bukan proyek Pembelajaran Berbasis Proyek yang dimaksud. contoh.” dan keunikan Pembelajaran Berbasis Proyek yang ditemukan dari sejumlah leteratur dan hasil penelitian.

akan tetapi mungkin bukan proyek dalam Pembelajaran Berbasis Proyek. Karakteristik proyek memberikan keontentikan pada pebelajar. 1993). waktu kerja yang tidak bersifat rigid. Proyek mendorong pebelajar sampai pada tingkat yang signifikan. kolaborator yang bekerja dengan pebelajar dalam proyek. Proyek Pembelajaran Berbasis Proyek lebih mengutamakan otonomi. peranan yang dimainkan pebelajar. Proyek dapat mereduksi kompetisi di dalam kelas dan mengarahkan pebelajar lebih kolaboratif daripada kerja sendiri-sendiri. Proyek dalam Pembelajaran Berbasis Proyek tidak berakhir pada hasil yang telah ditetapkan sebelumnya atau mengambil jalur (prosedur) yang telah ditetapkan sebelumnya. tugas. Bagian ini mencoba mengetengahkan bahasan teoretik yang mendasari Pembelajaran Berbasis Proyek. dan pemecahannya berpotensi untuk diterapkan di lapangan yang sesungguhnya. DUKUNGAN TEORETIK PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK Pembelajaran Berbasis Proyek atau Belajar Berbasis Proyek adalah pendekatan pembelajaran yang merangkum sejumlah ide-ide pembelajaran. Implikasi pergeseran pandangan terhadap belajar dan pembelajaran tersebut adalah munculnya pandangan bahwa kurikulum sebagai body of knowledge atau keterampilan-keterampilan yang ditransfer adalah naif. Lingkungan kelas dirancang untuk memberikan setting sosial yang mendukung konstruksi pengetahuan dan keterampilan (Driver & Leach. atau terpaketkan. Jika pandangan konstruktivis mengenai individu sebagai pengkonstruk pengetahuan mereka sendiri dapat diterima. tertuliskan dalam naskah. kecuali jika berfokus pada masalah dan merupakan inti pada kurikulum. dalam praktik pendidikan. atau kriteria di mana produk-produk atau unjuk kerja dinilai. konteks dimana kerja proyek dilakukan. perspektif kehidupan kelas pun menjadi berubah. yang didukung oleh teori-teori dan penelitian substansial. Oleh karena itu. Hakekat hubungan guru-siswa tidak lagi guru sebagai penjaja informasi dan siswa sebagai penerima informasi semata. Proyek adalah realistik.laboratorium mungkin sebuah proyek. dari aliran teori belajar behavioristik ke kognitif. Latihan laboratorium bukanlah contoh Pembelajaran Berbasis Proyek. Pembelajaran berbasis proyek bisa menjadi bersifat revolusioner di dalam isu pembaruan pembelajaran. telah terjadi pergeseran teori-teori belajar. Menurut Mayer (1992). terutama setengah abad terakhir. dan tanggung jawab pebelajar daripada proyek trandisional dan pembelajaran tradisoonal. Proyek dapat mengubah hakikat hubungan antara guru dan pebelajar. Proyek dalam Pembelajaran Berbasis Proyek bukanlah ciptaan guru. dari kognitif ke konstruktivistik. Pembelajaran Berbasis Proyek melibatkan tantangan-tantangan kehidupan nyata. berfokus pada pertanyaan atau masalah otentik (bukan simulatif). Karakteristik ini boleh jadi meliputi topik. audien bagi produk-produk proyek. . tetapi guru lebih sebagai pembimbing dan pendamping berpikir kritis yang konstruktif. maka mungkin lebih tepat memandang kurikulum sebagai serangkaian tugas dan strategi belajar. produk yang dihasilkan. pilihan. Proyek juga dapat menggeser fokus pembelajaran dari mengingat fakta ke eksplorasi ide.

Kegiatan nyata yang dilakukan dalam proyek memberikan pengalaman belajar yang dapat membantu refleksi dan mendekatkan hubungan aktivitas dunia nyata dengan pengetahuan konseptual yang melatarinya yang diharapkan akan dapat berkembang lebih luas dan lebih mendalam (Barron. Perluasan dan pendalaman pemahaman pengetahuan tersebut dapat diamati dengan mengukur peningkatan kecakapan akademiknya. Petrosino. 1995). Sebagaimana dinyatakan . akan tetapi belajar adalah proses yang memerlukan pengaturan diri sendiri (self-regulation) dan pembangunan struktur konseptual melalui refleksi dan abstraksi (von Glaserfeld. Peranan guru yang utama adalah mengendalikan ide-ide dan interpretasi siswa dalam belajar. Bransford. berpotensi memperluas dan memperdalam pengetahuan konseptual dan prosedural (Gagne. diskusi. Dalam konteks pembaruan di bidang teknologi pembelajaran. Pembelajaran konstruktivistik berfokus pada kegiatan aktif pebelajar dalam memperoleh pengalaman langsung (“doing”). episodik. Vye. ketimbang pasif “menerima” pengetahuan. Knowing ‘that’ and ‘how’ is not sufficient without the disposition to ‘do’ (Kerka. pemecahan masalah. 1995). Fraser. Prinsip-prinsip Pembelajaran Berbasis Proyek juga dilandasi oleh teori belajar konstruktif. (b) mengutamakan aktivitas siswa daripada aktivitas guru. brainstorming. pengalaman lapangan. Strategi pembelajaran yang menonjol dalam pembelajaran konstruktivistik antara lain adalah strategi belajar kolaboratif. Zech. dan memberikan alternatif-alternatif melalui aplikasi. dalam Murphy. mengenai kegiatan laboratorium. Moore. & The Cognition and Technology Group at Vanderbilt. 1998). (c) mengenai kegiatan laboratorium. dan tindakan. (d) pengalaman lapangan. Dari berbagai karakteristiknya. Pembelajaran Berbasis Proyek didukung teoriteori belajar konstruktivistik. studi kasus. Dari perspektif konstruktivis. Pembelajaran Berbasis Proyek dapat dipandang sebagai pendekatan penciptaan lingkungan belajar yang dapat mendorong pebelajar mengkonstruk pengetahuan dan keterampilan melalui pengalaman langsung. 1997). yang menunjukkan tingkat terhubungan yang kuat antara pengetahuan semantik. yaitu (a) strategi belajar kolaboratif. Beberapa dari strategi tersebut juga terdapat dalam Pembelajaran Berbasis Proyek. 1993. Driver & Leach. konstruktivisme adalah teori belajar yang bersandar pada ide bahwa pebelajar mengkonstruk pengetahuan mereka sendiri di dalam konteks pengalaman mereka sendiri (Murphy. yang pada khasanah lain disebut juga knowing that dan knowing how (Wilson. Menurut banyak literatur. dan pebelajar mengalami proses belajar pemecahan masalah itu secara langsung. 1997. Proyek dalam Pembelajaran Berbasis Proyek dibangun berdasarkan ide-ide pebelajar sebagai bentuk alternatif pemecahan masalah riil tertentu. bukti-bukti. dan argumen-argumen. belajar bukanlah murni fenomena stimulusrespon sebagaimana dikonsepsikan para behavioris. Menurut Simons (1996) belajar konstruktif harus dilakukan dengan menumbuhkan upaya siswa membangun representasi memori yang kompleks dan kaya. 1993. 1993). 1999. Brook & Brook.Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan model pembelajaran yang didukung oleh atau berpijak pada teori belajar konstruktivistik. Schwartz. (e) dan pemecahan masalah. yang mendasarkan pada aktivitas dunia nyata. mengutamakan aktivitas siswa daripada aktivitas guru. panel diskusi. Hal ini menunjukkan bahwa Pembelajaran Berbasis Proyek. 1997). dan simulasi (Ajeyalemi. 1985).

prinsip belajar konstruktif adalah menekankan usaha keras untuk menghasilkan keterhubungan tiga jenis representasi pengetahuan tersebut. Idealnya. Strategi belajar kolaboratif yang diposisikan amat penting dalam Pembelajaran Berbasis Proyek juga menjadi tekanan teoretik belajar konstruktif. Vygotsky mendifinisikan ZPD sebagai “jarak antara tingkat perkembangan aktual seperti ditunjukkan oleh kemampuan memecahkan masalah secara mandiri dengan tingkat perkembangan potensial seperti ditunjukkan oleh kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau kolaborasi dengan teman sebaya yang lebih mampu (the distance between the actual development level as determined by independent problem-solving and the level of potential development as determined through problem-solving under adult guidance or in collaboration with more capable peers) (Gipps. Bagian-bagian dari prinsip belajar konstruktif seperti belajar yang berorientasi pada diskoveri. misalnya penyelesaian jenis masalah tertentu. Cunningham. Tidak ada dua orang yang membangun makna yang sama. dalam Dunn. episodik. 1994:24—25). berorientasi masalah. representasi episodik didasarkan pada pengalaman personal dan afektif. dan berhubungan erat dengan konteks di mana pengetahuan akan digunakan. Learning together with other learners can be a very powerful form of learning. Duffy. Strategi belajar kolaboratif tersebut juga dilandasi oleh teori Vygotsky tentang Zone of Proximal Development (ZPD). Para konstruktivis itu tidak menyangkal eksistensi (objektivitas) dunia nyata. Pembelajaran Berbasis Proyek adalah salah satu model pembelajaran yang . Oleh karena itu. Seperti telah diuraikan di bagian depan. representasi memori terbagi menjadi tiga jenis: representasi semantik. dan tindakan. Vygotsky merekomendasikan adanya level atau zona. & Perry. Singkatnya. pembelajaran perlu otentik. akan tetapi dikatakannya bahwa makna apa yang kita bangun dari dunia nyata adalah indiosyncratic. kontekstual. Atas dasar keyakinan tersebut direkomendasikan bahwa pembelajaran perlu diletakkan dalam konteks yang kaya yang merefleksikan dunia nyata. 1994). Bagaimana pun. modeling dan sejenisnya. 1996:294). Prinsip belajar konstruktif tersebut juga mendasari Pembelajaran Berbasis Proyek. in which learners help each other’s construction processes (Simons. Prinsip kontekstualisasi yang menjadi karakteristik penting dalam Pembelajaran Berbasis Proyek. karena kombinasi pengalaman dan pengetahuan sebelumnya akan menghasilkan interpretasi yang berbeda. Para konstruktivis mengatakan bahwa belajar adalah proses aktif membangun realitas dari pengalaman belajar. hubungan antar tiga jenis representasi pengetahuan tersebut kuat. Representasi semantik mengacu pada konsep dan prinsip dengan karakteriktik yang menyertainya.Simons (1996). belajar tidak dapat terlempas dari apa yang sudah diketahui pebelajar dan konteks di mana hal itu dipelajari (Bednar. di mana siswa dapat lebih berhasil tetapi dengan bantuan partner yang lebih bisa atau berpengalaman. dengan menggunakan pengetahuan tertentu. Partner ini tidak mendekte apa yang harus dilakukan sejawat yang belajar padanya. dan representasi tindakan mengacu pada hal-hal yang dapat dilakukan dengan menggunakan informasi semantik dan episodik. diturunkan dari ide dasar teori belajar konstruktivistik. demonstratif. dan motivasi sosial juga menjadi bagian-bagian prinsip Pembelajaran Berbasis Proyek. akan tetapi mereka terlibat di dalam tindakan kolaboratif.

Lingkungan belajar konstruktivistik yang dimaksud adalah: “a place where learners may work together and support each other as they use a variety of tools and information resources in their pursuit of learning goals and problem-solving activities (Wilson. yang akan mengembangkan kemampuan berpikir produktif. sebagaimana juga dikatakan oleh Marzano (1992) bahwa belajar melalui pengalaman nyata (misalnya. dan bahwa konteks menjadi bagian penting dari basis pengetahuan yang berhubungan dengan proses belajar tersebut. Jonassen (1991). Makna dari berbagai pengalaman adalah sebuah hubungan yang saling tergantung antara apa yang dibawa oleh pebelajar dalam situasi belajar dan apa yang terjadi di dalam situasi itu. Guru/dosen berperan sebagai pembimbing. memperluas pengetahuan yang belum luas. pengalaman sensoris adalah dasar untuk belajar. Knoll. dan Brown. Guru dan model pembelajaran yang diciptakannya berfokus pada pendekatan realistik yang memudahkan siswa belajar memecahkan masalah dunia nyata (Jonassen. (3) belajar kolaboratif yang memberi peluang pebelajar saling membelajarkan yang akan meningkatkan pemahaman konseptual maupun kecakapan . Pembelajaran Berbasis Proyek juga merupakan pendekatan menciptakan lingkungan belajar yang realistik. Ditegaskan oleh John Dewey bahwa pengalaman adalah elemen kunci dalam proses pembelajaran (Moore. Kerja proyek dapat dipandang sebagai proses belajar memantapkan pengalaman yang belum mantap. 2002). dan memperhalus pengetahuan yang belum halus. fasilitator. Apa yang dilakukan pebelajar dalam proses pembelajaran adalah pengalamanpengalaman sensoris sebagai basis belajar. 1991). 1996). Prinsip-prinsip ini juga diterapkan dalam Pembelajaran Berbasis Proyek. Berdasarkan teori-teori belajar konstruktivistik yang dirujuk di atas. dan partner belajar. pada pengalaman baru orang membangun pengetahuan baru (Billet. Pembelajaran Berbasis Proyek juga didukung oleh teori belajar eksperiensial. 1995:27). maka Pembelajaran Berbasis Proyek dapat disimpulkan memiliki kelebihankelebihan sebagai lingkungan belajar: (1) otentik-kontekstual (goal-directed activities) yang akan memperkuat hubungan antara aktivitas dan pengetahuan konseptual yang melatarinya. investigasi dan pemecahan masalah-masalah nyata) dapat memperluas dan memperhalus pengetahuan. (2) mengedepankan otonomi pebelajar (self-regulation) dan guru/dosen sebagai pembimbing dan partner belajar. Dewey memandang belajar sebagai “process of making determinate the indeterminate experience”. karena mengandung unsur berbagai disiplin yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah dalam proyek yang dikerjakan itu. 1999). Berdasarkan pengetahuan yang diturunkan dari pengalaman sebelumnya. dan interdisipliner (dalam Moore. Seperti dikatakan William James bahwa belajar yang paling baik adalah melalui aktivitas diri sendiri. mulai dari pengidentifikasian masalah yang akan dijadikan proyek sampai dengan mengevaluasi hasil proyek. Implikasinya di dalam pembelajaran adalah penciptaan lingkungan belajar yang riil. Collins dan Duguid (1988) juga berpendapat bahwa belajar terjadi secara lebih efektif di dalam konteks. dan belajar yang efektif adalah holistik. Tema proyek yang dipilih juga bersifat interdisipliner.berlatar dunia otentik. otentik dan relevan sebagai konteks belajar tertentu. Pebelajar mengendalikan belajarnya sendiri. dan berfokus pada belajar memecahkan masalah-masalah yang terjadi di dunia nyata. 1999.

& Underwood (1997) meneliti sejumlah artikel tentang proyek di kelas yang dapat dipertimbangkan sebagai bahan testimonial terhadap guru. siapa yang bertanggungjawab untuk setiap tugas. . Bielefeldt. Ketika siswa bekerja di dalam tim. Guru juga melaporkan pengembangan dalam kehadiran dan berkurangnya keterlambatan. dan (6) memberikan reinforcement intrinsik (umpan balik internal) yang dapat menajamkan kecakapan berpikir produktif. Keterampilan-keterampilan yang telah diidentifikasi oleh siswa ini merupakan keterampilan yang amat penting untuk keberhasilan hidupnya. mengorganisasi. Siswa melaporkan bahwa belajar dalam proyek lebih fun daripada komponen kurikulum yang lain. Kelompok kerja kooperatif. Karena hakikat kerja proyek adalah kolaboratif. dan sebagai tenaga kerja merupakan keterampilan yang amat penting di tempat kerja kelak. (4) holistik dan interdisipliner. dan bagaimana informasi akan dikumpulkan dan disajikan. terutama bagaimana guru menggunakan proyek dan persepsi mereka tentang bagaimana keberhasilannya. pertukaran informasi online adalah aspekaspek kolaboratif dari sebuah proyek. Di dalam kerja kelompok suatu proyek. (5) realistik. negosiasi. mereka menemukan keterampilan merencanakan. Teori-teori kognitif yang baru dan konstruktivistik menegaskan bahwa belajar adalah fenomena sosial. Davydov. berorientasi pada belajar aktif memecahkan masalah riil. Pentingnya kerja kelompok dalam proyek memerlukan siswa mengembangkan dan mempraktikkan keterampilan komunikasi (Johnson & Johnson. berusaha keras dalam mencapai proyek. evaluasi siswa. dan membuat konsensus tentang isu-isu tugas yang akan dikerjakan. maka pengembangan keterampilan tersebut berlangsung di antara siswa. 1989). Penelitian pada pengembangan keterampilan kognitif tingkat tinggi siswa menekankan perlunya bagi siswa untuk terlibat di dalam tugas-tugas pemecahan masalah dan perlunya untuk pembelajaran khusus pada bagaimana menemukan dan memecahkan masalah.teknikal. kekuatan individu dan cara belajar yang diacu memperkuat kerja tim sebagai suatu keseluruhan. 1995). KEUNTUNGAN BELAJAR BERBASIS PROYEK Moursund. Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. yang memberi kontribusi pada pengembangan kecakapan pemecahan masalah. Meningkatkan kecakapan kolaboratif. Atribut keuntungan dari Belajar Berbasis Proyek adalah sebagai berikut: • • • Meningkatkan motivasi. Banyak sumber yang mendiskripsikan lingkungan belajar berbasis proyek membuat siswa menjadi lebih aktif dan berhasil memecahkan problem-problem yang kompleks. dan bahwa siswa akan belajar lebih di dalam lingkungan kolaboratif (Vygotsky. 1978. Laporan-laporan tertulis tentang proyek itu banyak yang mengatakan bahwa siswa suka tekun sampai kelewat batas waktu.

Diadapatasi dari: Kamdi. Waras. Materi Pelatihan Penyusunan Bahan Ajar Guru SMP dan SMA Kota Tarakan . 2 November 2008 .d. 31 Oktober s. 2008. Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->